Posts tagged ‘White Fox’

26/09/2016

Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu

Pikiranku tersita belakangan. Tapi kalau ada satu seri anime baru yang benar-benar aku rekomendasikan untuk tahun ini, maka itu adalah Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu, atau yang juga dikenal dengan judul Re: Zero –Starting Life in Another World- atau juga Re: Life in a different world from zero. (Judulnya kira-kira berarti: ‘memulai hidup baru di dunia lain dari nol’).

Anime ini diadaptasi dari seri novel berjudul sama (seperti banyak seri lain belakangan, yang semula web novel, tapi kemudian diterbitkan resmi secara cetak sebagai light novel) terbitan Kadokawa Shoten. Pengarang aslinya adalah Nagatsuki Tappei dan ilustrasi orisinilnya dibuat oleh Otsuka Shinichirou.

Produksi animasinya sendiri dilakukan oleh studio animasi White Fox, dengan penyutradaraan dilakukan oleh  Watanabe Masaharu, komposisi seri dilakukan oleh Yokotani Masahiro, dan musik oleh Suehiro Kenichiro. Total jumlah episodenya sebanyak 25. Tapi kalau kau menghitung jumlah efektif penceritaannya, termasuk episode awal yang berdurasi dua kali lipat yang lain, durasinya secara efektif mungkin mencapai 27 episode anime normal.

Mungkin aku sudah tak perlu mengatakan ini, berhubung kebanyakan fans pasti sudah tahu, tapi jujur, ini termasuk salah satu adaptasi novel ke anime paling bagus yang pernah dibuat dalam tahun-tahun terakhir.

Waiting for your touch

Tanpa terlalu masuk ke detil, cerita Re: Zero dibuka dengan tiba-tiba tersadarnya seorang remaja laki-laki bernama Natsuki Subaru di tengah sebuah pasar di dunia lain. Hal terakhir yang diingatnya adalah bahwa dirinya baru pulang dari convenience store. Pakaian yang dikenakannya adalah track suit biasa yang sering dikenakannya. Lalu di tangannya ada kantong plastik berisi sejumlah belanjaan.

Ide cerita Re: Zero sekilas memang terkesan biasa-biasa saja. Tapi jujur, perkembangannya ternyata bisa ke mana-mana.

‘Dunia lain’ tempat Subaru kini berada rupanya adalah ibukota negeri Lugunica. Seperti tipikal ‘dunia lain’ dalam cerita-cerita macam begini, ada ras-ras manusia dan non-manusia dalam suatu peradaban abad pertengahan. Kotanya sendiri benar-benar besar, dengan gerobak-gerobak dan kereta yang ditarik naga-naga darat dan gang-gang sempit di mana-mana. Ada hal-hal ajaib, yang terwujud dengan kekuatan sihir roh. Subaru langsung kebingungan dengan apa-apa yang telah ada di sekelilingnya, tapi ia mendapati diri tak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya.

Singkat cerita, Subaru mendapati nasibnya seakan terhubung dengan seorang gadis berambut perak berdarah separuh elf bernama Emilia.

Emilia sempat menolong Subaru saat ia terdesak oleh gerombolan penjahat di tengah kota. Lalu untuk membalas budi—dan sekaligus karena terpikat oleh kecantikan dan kebaikannya—Subaru memutuskan membantu Emilia yang saat itu seperti sedang mencari suatu barang hilang.

Urusan ‘membantu mencari barang hilang’ ini ternyata berbuntut panjang.

Terungkap ada suatu pihak tertentu yang hendak menghilangkan nyawa Emilia. Pihak tersebut ikut membuat Subaru terbunuh karena ulah mereka. Tapi terungkap pula bahwa—agak sesuai sekaligus tidak sesuai dengan pengharapan Subaru, yang ternyata tak asing dengan cerita-cerita pindah ke dunia lain kesukaan para otaku—Subaru dihadirkan ke dunia ini dengan kemampuan misterius untuk memutar kembali waktu setiap kali dirinya terbunuh.

Berbekal kemampuan baru itu, Subaru bertekad untuk menemukan jalan keluar demi bisa menolong Emilia.

Sekalipun, itu secara harfiah berarti ia harus mati berulangkali demi gadis yang ia sukai.

Untuk Sekarang, Aku Mengantarmu Pergi

Adaptasi anime Re: Zero mencakup kurang lebih tiga arc-nya yang pertama.

Meski ini tak terlihat di awal, sebenarnya, terutama kalau dibandingkan dengan seri-seri bertema sejenis, struktur dan arah perkembangan cerita Re: Zero terbilang tak biasa. Sesudah kasus yang pertama di ibukota, masih bersama Emilia, Subaru terbawa ke lingkungan baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan dihadapkan pada persoalan-persoalan baru. Tapi persoalan-persoalan ini terus ‘mengambil fondasi’ dari yang sebelum-sebelumnya, dan kerap membawa ceritanya ke arah-arah yang tak terduga.

Ini paling mencolok dari tantangan-tantangan yang Subaru hadapi. Kalau pakai acuan angka, misalnya, tingkat kesulitan yang Subaru hadapi di arc pertama levelnya 2. Tingkat kesulitan yang Subaru temui di arc kedua adalah 4. Tapi pada arc ketiga, yang memakan durasi lebih dari separuh seri, Subaru serta merta menghadapi tingkat kesulitan berlevel 10 yang sedemikian menguras mentalnya; inilah titik ketika sebagian besar pemerhati sudah tak lagi bisa melepas mata mereka dari Re: Zero.

Perkembangan ceritanya, kalau dipikir, sebenarnya tak bisa dibilang besar. Tapi perkembangannya mengambil jalur-jalur yang sedemikian tak disangka—memanfaatkan segala kemisteriusannya yang dijaga—sehingga apa-apa yang terjadi bisa sedemikian melarutkan mereka yang menonton.

Dari mana kekuatan Subaru berasal? Siapa pihak-pihak yang ingin membuat Emilia terbunuh? Lalu, siapa sesungguhnya Satella, sang Jealous Witch (‘penyihir cemburu’) yang sedemikian ditakuti semua orang, yang wujud dan rasnya konon sangat mirip dengan sosok Emilia?

Dampak perkembangan ceritanya sangat terasa karena Re: Zero semula adalah jenis seri yang tertarik atau tidaknya kau terhadapnya bisa sangat hit or miss. Lebih tepatnya, pada bisa atau tidaknya kau mentolerir pribadi Subaru dengan segala tingkah dan kelakuannya.

Ada beberapa hal di awal cerita yang akan langsung terasa janggal oleh mereka yang mencoba mengikuti Re: Zero. Salah satunya misalnya, adalah betapa minimnya Subaru membahas soal kehidupannya di dunia sebelumnya, yang alasannya baru tersirat belakangan. Atau pada bagaimana Subaru berbicara dengan cara sok akrab dan banyak omong sekaligus keotakuan. Normalnya, sikap Subaru tersebut akan membuat kita yang menonton merasa sebal. Tapi bagi para penduduk Lugunica, sikap Subaru yang sangat egaliter justru adalah hal tak biasa sekaligus menarik yang mungkin menjadi alasan mengapa mereka membuka diri.

Ada aspek-aspek menyebalkan di awal cerita. Ada banyak elemen di Re: Zero yang juga terasa tipikal dan seperti dicomot dari seri-seri yang sudah-sudah. Tapi lambat laun, kita mulai menyadari, ada pilihan-pilihan tertentu yang sengaja diambil oleh Nagatsuki-sensei karena ingin memaparkan ide-ide tersebut ke arah yang lumayan berbeda dari yang pernah diambil. Sampai akhir, Subaru tak berkembang menjadi karakter yang sakti, misalnya. Lalu ada hal-hal tertentu lain, seperti asal usul dan masa lalu para karakternya, yang memang sengaja ditahan dulu untuk diungkap pada saat yang tepat.

Rasanya seolah… Nagatsuki-sensei sengaja ingin membuat semacam komentar sosial bagi jenis kalangan yang lazimnya memperhatikan seri semacam Re: Zero. Tapi untuk itu, beliau sebelumnya mencoba berbicara dulu dalam ‘bahasa’ yang tepat.

Beliau seperti sadar bahwa hasilnya tak perlu notabene bagus. Hasilnya hanya perlu… tepat.

Sekali lagi, tanpa terlalu masuk ke detil (karena salah satu daya tarik utama Re: Zero, meski pembangunan dunianya terbatas, terdapat pada berbagai detilnya yang tersamar), bahaya yang Emilia hadapi ternyata berkenaan statusnya sebagai salah satu kandidat penguasa baru dari aristokrasi Lugunica. Ada sejumlah kandidat penguasa yang mau dipilih sesudah nasib misterius yang menimpa keluarga penguasa sebelumnya. Lalu ada hal-hal terkait isu-isu takdir dan hal-hal gaib.

Alasan aku merasa Nagatsuki-sensei seperti mau membuat semacam komentar sosial adalah karena masing-masing kandidat ini mengusung paham yang berbeda-beda. Diperkenalkan menjelang pertengahan seri, kandidat-kandidat untuk tahta Lugunica mencakup:

  • Felt, kandidat paling baru, seorang gadis kecil yatim piatu dengan berkah roh angin (membuatnya sangat lincah) yang sebelumnya hidup terbatas di kawasan kumuh Lugunica, mengusung paham anarki (ketiadaan kekangan, yang lemah bisa dimakan yang kuat) karena keinginannya menggulingkan sistem pemerintahan yang berjalan. Dirinya diusung oleh ksatria Reinhard van Astrea yang menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
  • Crusch Karsten, seorang gadis bangsawan yang mendalami ilmu militer, yang menganut paham meritkorasi. (Dalam paham ini, semua orang harus dihargai sesuai jasa mereka. Namun kelemahannya, latar belakang orang yang berbeda-beda menyebabkan tak semua orang memiliki keleluasaan untuk memberikan kontribusi jasa yang sama.) Dirinya didukung oleh ksatria tua ahli pedang sangat tangguh, Wilhelm van Astrea, serta ksatria pengguna kekuatan air penyembuhan terkuat, Felix “Ferris” Argyle.
  • Priscilla Barielle, perempuan bangsawan sangat cantik yang seakan mampu memikat dan menundukkan semua yang melihatnya. Konon bertanggungjawab atas kematian suami(-suami?)nya. Paham yang diusungnya adalah totalitarian (kediktatoran). Salah satu pendukung andalannya adalah ksatria kekar bertopeng misterius tapi ramah bernama Al.
  • Anastasia Hoshin, seorang gadis muda dengan dialek khas dan rupa manis yang menyembunyikan kecerdasannya. Dirinya menganut paham kapitalis oligarki yang mengutamakan perolehan kekayaan materi. Sebagian pendukungnya termasuk ksatria ahli pedang sekaligus ilmu roh, Julius Euclius, salah satu orang yang paling pertama menantang kehadiran Subaru.
  • Emilia, gadis separuh elf yang mengharapkan kesetaraan derajat semua penduduk Lugunica, dan karenanya mengusung demokrasi. Dirinya ditakuti karena kemiripan rupanya dengan Satella. Selain oleh Subaru, Emilia didukung oleh bangsawan eksentrik Roswaal L. Mathers, yang mendukungnya karena suatu sebab pribadi; serta oleh Puck, makhluk mirip kucing mungil yang sebenarnya adalah roh agung yang telah mengikat kontrak dengan Emilia.

Ide perebutan tahta ini sedemikian menariknya, sampai-sampai adaptasi game Re: Zero yang sedang dikembangkan 5pb. akan dibuat seputar gagasan ini, memungkinkan kita sebagai Subaru mendukung kandidat penguasa yang berbeda-beda.

Agak seperti kasus season kedua Log Horizon, cerita di animenya juga sebenarnya sudah sempat menyusul cerita versi light novel-nya yang sudah terbit. Sedikit bagian akhir ceritanya (sekitar episode 23 ke atas) malah sebenarnya adalah porsi cerita yang belum muncul di versi ranobe (yang kalau tak salah waktu itu baru sampai buku kedelapan). Cerita versi web novel-nya tentu saja sudah lebih jauh, tapi itupun belakangan sudah lumayan tersusul.

Perkembangan ceritanya ngomong-ngomong sudah lumayan gila-gilaan. Tapi kurasa bakal menyakitkan kalau aku mengungkap apa yang kebetulan sudah aku tahu di sini.

Meski demikian, aku perlu singgung bahwa cerita animenya berhasil diakhiri di titik yang bagus. Penyesuaian cerita yang dilakukan staf produksinya tak sia-sia, dengan hasil yang secara langka terbilang memuaskan

Andai Aku Ada di Sana

Membahas soal teknis, Re: Zero termasuk anime yang benar-benar melampaui perkiraan.

Sejak zaman mereka memproduksi Katanagatari, White Fox memang dikenal sebagai studio yang nilai-nilai produksinya di atas rata-rata. Tapi khusus untuk Re: Zero, mereka seakan melampaui batasan-batasan mereka yang terdahulu. Mereka benar-benar terasa all out. Habis-habisan. Seolah seluruh aspek studio telah menyatu hatinya dan berjuang dengan sepenuh jiwa dan raga demi mengerjakan proyek ini.

Bahkan, orang awam soal animasi pun mungkin sudah bisa merasakannya dari episode pertama. Perhatian terhadap detil latar belakang keramaian Lugunica, adegan saat Subaru untuk pertama kalinya menyaksikan Emilia berinteraksi dengan para roh di saat senja, dialog bermakna mendalam antara Subaru dan Rem yang menjadi semacam pesan bagi para pemirsa NEET yang otaku, adegan-adegan pertarungannya yang membuat terbelalak, sampai perjuangan habis-habisan Subaru menjelang akhir … Re: Zero itu jadi seolah… tidak sepenuhnya memberikan apa yang semula kau harapkan, tapi malah kemudian memberikan apa yang tidak kau harapkan, yang ternyata tetap kau nikmati, dalam porsi-porsi besar.

Aku benar-benar puas mengikutinya.

White Fox tak mengadaptasi teknik-teknik animasi yang revolusioner atau canggih atau bagaimana. Mereka hanya mengimplementasikan teknik-teknik animasi yang sudah umum dengan cara seefektif mungkin. Hasilnya benar-benar terasa maksimal.

Luar biasa, malah. Setahuku, belum pernah ada seri light novel yang mendapat perlakuan sedalam ini untuk adaptasi animasinya sebelumnya.

Visualnya indah. Meski jarang, dari waktu-waktu muncul visual yang akan membuatku wow. Musiknya pas, kalau tak bisa dibilang keren. Lalu para seiyuu juga berperan maksimal.

Sedikit bicara soal para seiyuu-nya. Ada beberapa pilihan pengisi suara veteran yang meski tak mengejutkan, menurutku sangat pas dengan karakter yang mereka mainkan. Koyasu Takehito misalnya, berperan sebagai Roswaal L. Mathers yang sisi misterius dan kuatnya (menurutku) menjadikannya karakter yang sangat ‘Koyasu Takehito’ sekali. Lalu ada Arai Satomi, yang berperan sebagai Beatrice, gadis kecil(?) misterius penjaga perpustakaan di kediaman Roswaal yang menjadi semacam sekutu Subaru dalam arc kedua. Peran Beatrice menurutku juga adalah peran yang sangat ‘Arai Satomi’ sekali kalau melihat peran-peran beliau yang telah lalu. Hal yang sama juga bisa kukatakan soal Noto Mamiko yang suara menggodanya, yang sudah agak lama tak kudengar, menghidupkan Elsa Granhilte, karakter antagonis pertama seri ini.

Tapi selain mereka, ada beberapa kejutan. Matsuoka Yoshitsugu, pengisi suara Kirito dari Sword Art Online (dan sejumlah karakter sejenis dari seri-seri lain), secara sangat mengesankan berperan sebagai musuh besar Subaru, Betelgeuse Romanee-Conti, dengan kegilaannya yang khas. Gaya pemaparannya menurutku begitu meyakinkan (cukup untuk membuat kita maklum soal mengapa Subaru sampai punya dendam pribadi terhadapnya), para seiyuu lain hanya perlu mengikuti contohnya! Meski awalnya tak mencolok, seiyuu muda Minase Inori melanjutkan daftar peran meyakinkannya sebagai karakter pelayan Rem yang berperan besar bagi Subaru bersama kakak kembarnya, Ram. Suara lembut Takahashi Rie juga sukses menghidupkan karakter Emilia, yang sekaligus sukses meyakinkan para fans sekaligus Subaru soal EMT! (Emilia-tan maji tenshi, ‘Emilia-tan benar-benar adalah bidadari.’) Tapi di antara semuanya, tentu saja kredit terbesar perlu diberikan pada Kobayashi Yuusuke yang berhasil menghidupkan karakter Subaru melalui beragam spektrum emosi.

Grup musik MYTH & ROID, yang mulai dikenal semenjak membawakan lagu penutup anime OverLord tahun lalu, membawakan lagu penutup “STYX HELIX” yang secara pas memberi kombinasi nuansa suram, patah arang, bimbang, namun sekaligus pengharapan dan pantang menyerah yang seri ini usung. Lagu-lagu lainnya tak kalah bagusnya, tapi lagu ini benar-benar mencolok dibandingkan yang lain.

Lumayan mengejutkan bagaimana hasilnya, apalagi mengingat bagaimana ini karya pertama Watanabe-san sebagai sutradara anime berdurasi normal. Kalau melihat track record-nya, beliau memang sudah banyak berkecimpung dalam berbagai posisi staf sih, jadi mungkin kehandalan beliau sejak semula memang tak diragukan.

Kau masih bisa merasakan kelemahan-kelemahan cerita dari konsep asalnya. Tapi kalau kau memang bisa cocok dengan cerita Re: Zero, kau akan memaafkan segala kekurangannya. Lalu kau akan mulai sangat menghargai apa yang telah studionya kerjakan.

Terlebih, novelnya sendiri masih lanjut. Perkembangan ceritanya setahuku juga semakin rumit dengan begitu banyak rahasia yang masih belum terungkap. Lalu edisi baru novelnya, yang akan memaparkan kelanjutan dari cerita di animenya, sudah akan langsung tersedia bulan depan.

Menanti Hari yang Baru

Akhir kata, Re: Zero mungkin anime paling sukses di tahun 2016 sejauh ini. Kesuksesannya seolah menyatukan kalangan penggemar otaku dan penggemar anime kasual, baik yang berasal dari Jepang maupun luar Jepang. Sehingga, seperti Attack on Titan dan One Punch Man, season kedua Re: Zero seperti sudah terjamin bakal ada, dan masalahnya hanya soal kapan.

Belakangan, ada fans yang berupaya mencoba menerjemahkan web novel-nya sih, terlepas seperti apa perkembangan light novel-nya nanti. Versi ranobenya sendiri sudah dilisensi bahasa Inggrisnya, dan kuharap terjemahannya bisa segera menyusul penerbitannya di Jepang.

Tentu saja, bukan berarti ini seri yang cocok buat semua. Di samping kontennya lebih cocok buat pemirsa remaja dan dewasa, ceritanya sebenarnya berdampak paling besar bagi para otaku yang menggemari cerita-cerita tipikal tentang pindah ke dunia lain (isekai). Mereka yang masih kurang mendalami cerita-cerita bertema ini, mungkin takkan merasakan dampak yang sama.

Bagiku sendiri, kurasa aku takkan melupakan saat pertama aku memperhatikan kerumunan orang di sekeliling Subaru pada episode pertama. Itu saat pertama aku menyadari White Fox tak main-main dengan seri ini.

Adegan favoritku? Itu saat menjelang akhir, ketika Emilia berterima kasih pada Subaru karena telah menyelamatkannya lagi, sementara yang tercermin di bola mata Subaru adalah ingatan akan sikap dingin Emilia saat ia pertama menemuinya.

Kalian ngerti? Itu benar-benar membuat kita berpikir ulang alasan kita bersusah payah begini itu sebenarnya buat apa.

Dan tentu saja… sejauh apa sebenarnya kita bisa melangkah.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

Iklan
22/03/2014

Hataraku Maou-sama!

Hataraku Maou-sama!, atau yang dikenal juga sebagai The Devil is a Part-Timer!, sebenarnya adalah salah satu anime komedi paling berkesan tahun lalu. Pertama muncul pada bulan April 2013 (jadi, musim semi? Judulnya kira-kira berarti ‘bekerja keraslah, Raja Setan!’) dengan animasi buatan White Fox dan Hosoda Naoto sebagai sutradara, seri ini didasarkan oleh seri novel buatan Wagahara Satoshi dengan ilustrasi buatan 029 (baca: Oniiku), yang pertama diterbitkan oleh ASCII Media Works pada Februari 2011.

Aku pertama tahu tentang seri ini dari sepupuku.

Ini kayak… salah satu seri yang dari awal aku tahu sebenarnya bagus, tapi aku pada awalnya enggak begitu ketarik karena aku udah bisa ngebayangin kalo ini bagus. Kalian tahu saat-saat ketika kalian tahu sesuatu itu bagus tapi kalian enggak ketarik karena merasa enggak terlalu ‘perlu’ sehingga akhirnya enggak melakukan apa-apa terhadapnya? Jadi pada saat sepupuku cerita tentangnya, aku hanya bisa menanggapi dengan tertawa kering, sembari berjanji dalam hati kalau suatu waktu ntar aku pasti bakal melihat juga.

Namun kenyataannya, sesudah kuperiksa sendiri berbulan-bulan kemudian, aku mendapati bagusnya seri ini jauh melebihi bayanganku, baik secara teknis maupun konten. Karenanya, aku beneran kaget sendiri.

Bentar, apa kalian ngerti maksudku?

Khatsu-Dhom

Aih, aku malas menjelaskan tetek-bengeknya.

Tapi intinya, seri ini berkisah tentang bagaimana Raja Iblis (Maou) Satan Jacob (aku masih enggak percaya kalau ini namanya) yang berupaya menguasai tanah ajaib Ente Isla, harus melarikan diri melalui portal ke dunia lain seusai kekalahannya di tangan sang Pahlawan (Yuusha), Emilia.

Dengan ditemani jenderal terpercayanya, Alciel, keduanya mendapati diri mereka terdampar di Tokyo zaman modern, dan mereka syok setengah mati bukan hanya dengan segala modernisasi dan teknologi dan peradaban, tapi juga karena kekuatan sihir yang begitu mereka andalkan nyaris tak dapat ditemukan di dunia ini. Tanpa kekuatan sihir tersebut, otot-otot besar yang sebelumnya dibanggakan Maou menyusut menjadi tulang kurus kering, tanduknya hilang, dan keduanya menjadi nyaris tak ada bedanya dari manusia biasa.

Memanfaatkan sedikit kekuatan sihirnya yang masih tersisa untuk memanipulasi pikiran dan mengumpulkan informasi (sesudah sejumlah keributan terkait pakaian dan bahasa asing), Maou Satan dan Alciel memutuskan untuk sementara menyembunyikan identitas (berganti nama menjadi Maou Sadao dan Shiro Ashiya), blend-in di antara kerumunan, dan mencari cara untuk bertahan hidup.

Payung di Tengah Hujan

Ceritanya, sederhananya, kemudian mengikuti keseharian Maou dan Ashiya dalam mencari uang.

Maou, yang sebelumnya jadi pemimpin di antara mereka, merasa jadi yang bertanggung jawab dalam mencari pemasukan. Maka ia kemudian mencari nafkah dengan bekerja paruh waktu di restoran waralaba yang sudah terkemuka, MgRonalds (pelesetan jelas-jelas dari McDonalds). Maou merasa bahwa dunia ini bekerja melalui sistem korporat. Lalu karenanya, untuk bisa mengembalikan kejayaan mereka yang hilang, ia memutuskan untuk memulainya dari anak tangga yang benar-benar bawah.

Ashiya, sebaliknya, kemudian ‘menjaga benteng’ dengan menangani segala urusan rumah tangga di stronghold baru yang berhasil mereka dapatkan. Keduanya kini tinggal di sebuah kamar apartemen sederhana dan tak terlalu luas yang dikelola seorang wanita paruh baya gemuk—dan maksudku bener-bener gemuk—bernama Shiba Miki, yang berbaik hati menampung dua pendatang malang ini.

Tentu saja, mungkin agak susah ngebayangin kayak gimana perkembangan ceritanya dari sana. Tapi ceritanya itu beneran berkembang dan perkembangannya itu benar-benar bagus, lengkap dengan unsur-unsur aksi dan romansa, sampai bahkan bisa dikatakan keren.

Pada suatu ketika, dalam perjalanan pulang pergi ke tempat kerja, Maou menolong seorang perempuan cantik di pinggir jalan. Tapi saat keduanya bertemu lagi, si perempuan memojokkannya dengan maksud membunuh. Ternyata perempuan itu tak lain adalah sang Pahlawan, Emilia, yang ternyata menyusul Maou dan Ashiya yang kabur melalui portal, dan kini menggunakan nama Yusa Emi, dan bekerja sebagai petugas call center di perusahaan telekomunikasi Docodemo (yang jelas pelesetan dari DoCoMo).

Dendam membara yang Emi miliki terhadap Maou atas kematian ayahnya kembali berlanjut di dunia ini, tapi… Emi terkejut karena sang Maou ternyata telah berubah menjadi sosok yang tak ia duga. Ditambah lagi, keduanya kini senasib dan sama-sama tak bisa pulang ke Ente Isla.

Situasi diperumit dengan kehadiran siswi SMA manis yang jadi teman sekerja Maou, Sasaki Chiho, yang jelas-jelas memendam rasa suka padanya. Belum lagi mulai terjadi serangkaian keanehan yang menandai kedatangan pihak-pihak lain dari Ente Isla yang datang menyusul mereka. Ditambah lagi, walau soal yang ini tak langsung terlihat, ada kemungkinan juga kalau Maou dan Ashiya bukan pendatang pertama (ataupun terakhir) yang Shiba pernah tampung dari Ente Isla…

Segala Sesuatu Bermula Dari Nol

Sekalipun apa yang ditampilkan adalah materi komedi, satu hal yang membuat seri ini keren adalah penyampaiannya yang benar-benar serius. Enggak ada lelucon yang sengaja dibuat.  Semuanya benar-benar situasional. Mimik muka dan nada para karakternya itu serius. Jadi sekalipun ada muka kocak yang mereka tampakkan, terlihat betapa sungguhannya mereka dalam hal tersebut, dan itu yang membuat segalanya jadi semakin lucu.

Eksekusi dan perkembangan cerita di seri ini benar-benar bagus.

Ceritanya enggak pernah benar-benar terkesan konyol (walau kalau diceritakan ulang mungkin akan terkesan demikian). Setiap perkembangan baru yang terjadi dapat dipandang sebagai sesuatu yang mengancam yang benar-benar jadi bahan pikiran para karakternya, sekonyol apapun bagi kita kedengarannya.

Bicara soal teknis, paruh pertama episode awal yang menampilkan hal-hal fantasiyah di Ente Isla benar-benar memukau, dan itu menjadi kontras yang lumayan mencolok pada saat mereka pindah dunia. Tapi bahkan pada versi penayangan televisinya, kualitas teknisnya sampai akhir sama sekali tak mengalami penurunan kentara.

Secara visual, segitiga-segitiga berwarna yang menjadi kekhasan artwork di novelnya muncul kembali di seri ini. Ada permainan frame konsisten yang mencolok di mata. Lalu saat ada adegan-adegan aksi dan sihir (ya, ada adegan-adegan seperti ini di dalamnya), semuanya terwaktu secara baik dan enak dipandang mata.

Jadi secara umum, kualitas teknis seri ini benar-benar bagus, walau memang ada kesan kayak dibuat secara bertahap (ditambah fanservice tersamar, yang jujur saja, sempat membuatku terkesan).

Band Nano Ripe membawakan ketiga lagu penutup seri ini, dan mungkin kalian sudah tahu tentang nada-nada agak sendu yang jadi khas mereka. Nuansa lagu-lagunya cocok dengan nuansa keseharian yang seri ini bawa, dan di samping itu cocok juga dengan penggambaran karakter Chiho sebagai satu-satunya yang berbeda dari para temannya yang berasal dari dunia lain. (Chiho-chan jadi kayak semacam maskot bagi seri ini btw.)

Ini bukan jenis seri yang bakal meledak atau bikin kamu ‘wow.’ Tapi ini jenis yang… bikin kamu mengernyit sesaat, tapi akhirnya bisa membuatmu terus menempel dari awal sampai akhir.

…Berhubung seri novelnya masih berlanjut, belum ada penyelesaian yang benar-benar tuntas terhadap ceritanya (para karakter masih tak bisa balik ke Ente Isla). Tapi para animatornya memberi episode terakhir yang menutup cerita ini secara baik.

Sou desu yo nee…

Sebenarnya, satu kejutan lagi yang benar-benar enggak kusangka dari seri ini adalah bagaimana di balik keseharian sederhana Maou dan Ashiya, tersembunyi hal-hal kayak dendam, kecurigaan, intrik-intrik politik, pengkhianatan, yang semuanya kayak teramu dengan baik dengan semua kesalahpahaman yang terjadi.

Nantinya akan ada semakin banyak karakter lain yang berperan, seperti Lucifer, Cretia Bell, Emeralda Etuuva, Albertio Ende, dan sang archangel Sariel; dan mereka ‘bercampur’ dengan orang-orang ‘biasa’ kayak Suzuki Rika yang merupakan teman sekantor Emi dan Kisaki Mayumi yang menjadi atasan langsung Maou di MgRonalds.

Situasinya kayak… jadi jauh lebih normal dari yang mungkin kau sangka, dan mungkin itulah hal paling keren di seri ini.

Soalnya, di sanalah terdapat sisi berat yang seri ini bawa, yakni soal pergeseran moral yang Maou dan Ashiya entah bagaimana alami begitu mereka pergi dari Ente Isla. Ingatan mereka tak hilang. Kekuatan mereka sedikit-sedikit masih bisa digunakan. Tapi di dunia ini, entah bagaimana mereka tahu-tahu saja berubah menjadi orang-orang pekerja keras dan baik. Mereka sendiri tak memahaminya. Tapi meski serba kekurangan, mereka merasa nyaman berada di dunia ini, sekalipun kesempatan untuk bisa kembali ke Ente Isla terbuka beberapa kali di sepanjang cerita. Dan itu jadi suatu hal yang sulit sekali diterima ataupun dipahami oleh mereka-mereka yang mengenalnya sebelumnya.

You know, ada nilai moral soal profesionalitas dan kerja keras yang seri ini bawa. Itu mengingatkanku akan sedikit cuplikan dari Book of Five Rings karangan Miyamoto Musashi yang pernah kubaca. Dalam bab pertamanya disinggung soal betapa pentingnya menjadikan sifat jujur sebagai bagian dari hidup. Jujur dalam artian segalanya, dalam hal apapun. Seolah dikatakan, cuma dengan kejujuran orang nanti akan bisa bertambah kuat.

Dan yah, aku keingat akan hal tersebut saat melihat kesungguhan Maou dalam bekerja, ataupun dalam melakukan hal-hal lain.

Dengan nilai-nilai produksinya yang tinggi, aku tak tahu apa mungkin seri ini bakal ada sekuelnya. Tapi enggak salahnya berharap ‘kan?

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A-

17/02/2014

Steins;Gate: Fuka Ryouiki no Déjà vu

Steins;Gate: Fuka Ryouiki no Déjà vu (subjudul kira-kira berarti ‘wilayah penopang beban déjà vu’) merupakan film layar lebar yang menjadi semacam epilog bagi adaptasi animasi Steins;Gate yang keluar pada pertengahan tahun 2011 lalu. Dirilis pada bulan April tahun 2013, sama halnya dengan seri TV-nya, movie ini berdurasi sekitar 90 menit dan animasinya masih dibuat oleh studio White Fox. Sutradaranya kali ini Wakabayashi Kanji. Tapi naskahnya masih ditangani oleh Hanada Jukki, jadi ceritanya masih nyambung dengan cerita di seri TV-nya.

Sebenernya, enggak banyak yang bisa kukatakan tentang film ini, selain kenyataan kalau ini menjadi penutup yang benar-benar manis. Ceritanya sangat terhubung dengan cerita di seri TV-nya. Jadi sebaiknya film ini dijauhi oleh mereka-mereka yang bukan (belum?) merupakan penggemar anime Steins;Gate.

Berhubung ceritanya berfokus pada efek samping yang masih tersisa dari perjalanan waktu (dan dunia paralel) yang dilakukan Okabe Rintarou (alias ilmuwan gila Hyouin Kyouma), misteri dan suspens yang sempat hadir dalam seri TV-nya agak hilang pada film ini. Sehingga pada satu sisi, film ini mungkin agak mengecewakan bagi sebagian orang. Film layar lebar ini lebih banyak diisi percakapan dan jelas tak seseru atau semenegangkan seri TV-nya.

Tapi film ini bagus.

Emang enggak bisa dibilang rame. Tapi, ini film yang jadi penutup cerita yang memuaskan jika kalian penyuka karakter-karakter seri ini.

Agustus 2011

Berlatar setahun sesudah kejadian-kejadian di seri TV-nya, Makise Kurisu kembali berkunjung ke Jepang untuk suatu acara konferensi pers. Seiring dengan banyaknya déjà vu yang ia alami berkenaan pengalaman-pengalamannya di Garis Dunia lain, Makise reuni kembali dengan teman-temannya dari Mirai Gadget Lab.

Namun tanpa sepengetahuannya, Okabe secara diam-diam telah mulai mengalami gejala-gejala aneh yang mungkin diakibatkan oleh kemampuan Reading Steiner yang dimilikinya: ia secara tiba-tiba akan mulai melihat kilasan-kilasan peristiwa dari Garis-garis Dunia lain. Sebagai puncaknya, Kurisu menjadi saksi langsung atas lenyapnya Okabe begitu saja dari depan matanya, sekaligus mendapati bagaimana para anggota lab yang lain seakan tak bisa mengingat kalau Okabe pernah ada.

Suatu kunjungan tak disangka dari Amane Suzuha membuat Makise mengetahui kalau hilangnya Okabe mungkin berkaitan dengan bagaimana kemampuan Reading Steiner-nya lepas kendali. Okabe telah kehilangan persepsi akan di Garis Dunia mana ia sebenarnya berada akibat terlalu seringnya ia mengubah masa lalu.

Sebagian besar film ini berisi pada upaya Makise menemukan cara untuk mendatangkan Okabe kembali. Makise, yang skeptis pada awalnya, dengan petunjuk Suzuha dan akumulasi pengetahuan bawah sadarnya, kemudian berhasil membangun ulang perangkat Time Leap Machine dan mulai menjalani secara langsung pengalaman-pengalaman serupa dengan yang Okabe pernah jalani.

Upayanya menemukan Okabe membawanya pada sebuah kejadian bertahun-tahun lalu, yang mungkin saja mengimplikasikan pertemuan paling awal yang pernah terjadi antara keduanya, sekaligus lahirnya nama Hyouin Kyouma…

Sora no Kanshokusha

Membahas soal hal teknis… kayaknya sebenernya enggak banyak yang perlu dibahas. Sial. Soal visual ga banyak yang bisa dikatakan selain kalau hasilnya bagus. Lalu kalau soal audio, para pengisi suaranya menurutku menampilkan performa terbaik mereka.

Sebenarnya yang bisa agak banyak didiskusikan adalah soal ceritanya sendiri sih. Tapi sesudah melihat sendiri film ini, entah kenapa, aku enggak merasa perlu berkomentar apa-apa. Ceritanya terstruktur dengan baik. Walau mungkin agak tertebak, adegan-adegannya bagus. Lalu susah untuk tak menganggap bagaimana perjuangan Makise menarik. Mungkin bakal ada sejumlah pertanyaan tentang fenomena apa sebenarnya yang Okabe alami, dan seperti apa penjelasan sainsnya. Tapi entah ya. Mereka yang menonton film ini dan menikmatinya kurasa pada akhirnya juga enggak akan terlalu mempermasalahkannya. Sekalipun plotnya sendiri kalau dipikir agak keju, dan para karakter lain enggak seberperan yang mungkin kita harapkan.

Kita bisa ketemu geng yang sama dari Mirai Gadget Lab dan suatu penutup memuaskan dari kisah cinta antara Okarin dan Kurisu saja sudah cukup.

Dari segi eksekusi dan naskah, peralihan tokoh utama dari Okabe ke Makise menurutku benar-benar ide bagus. Pelaksanaannya pun efektif. Lalu awal pembukaan film yang menampilkan mimpi Makise yang kemudian dilanjutkan dengan pemandangan pesawatnya yang mulai terbang rendah, dengan BGM lagu pembuka, untuk suatu alasan menampilkan kesan yang beneran keren.

Seri TV Steins;Gate menurutku sudah berakhir cukup memuaskan untuk ukuran anime. Jadi sebenarnya enggak ada lanjutannya lagi pun kurasa takkan masalah. Maka dari itu, kurasa enggak ada motivasi apa-apa yang bisa secara khusus membuatmu ingin melihat ini. Tapi kalau kau lihat, mungkin kau bakal seneng.

Eh? Aku sendiri?

Aku cuma merasa udah lama enggak ngelihat karakter tsundere yang bagus belakangan aja.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

14/09/2011

Steins;Gate

Beberapa tahun lalu, aku pernah menulis sesuatu tentang anime Chaos;Head. Ini seri anime fiksi ilmiah yang diangkat dari game visual novel berjudul sama hasil kerjasama dua pengembang 5pb. dan Nitroplus.

Cerita Chaos;Head tentang misteri pembunuhan yang diwarnai elemen-elemen budaya otaku, dengan perkembangan plot yang benar-benar membuat penasaran. Sayang penuntasan misterinya agak tak sebagus yang aku harap. Game-nya sendiri tetap menuai perhatian yang lumayan sih, dan kerjasama kedua pengembang tersebut dalam mengembangkan game-game bertema fiksi ilmiah (science adventure) sampai saat ini masih terus berlanjut (Chaos;Head sebenarnya memiliki porsi fantasi yang lumayan besar sih, tapi ya sudahlah).

Sejauh ini, hadir dua judul lain yang dikerjakan dalam genre yang sama. Yang terkini adalah Robotics;Notes, yang pada saat ini kutulis, masih berada dalam tahap pengembangan.  Yang satunya lagi adalah Steins;Gate, yang pada masa tayang musim semi 2011 lalu, adaptasi anime-nya yang ditangani studio White Fox mulai mengudara sepanjang 24 episode.

Jadi, agak terkesan dengan premis Chaos;Head, aku mencoba menonton adaptasi animasi Steins;Gate. Hasilnya benar-benar melebihi bayanganku.

“Jika memang ini adalah ketetapan dari Steins Gate…!”

Steins;Gate mengangkat tema soal perjalanan waktu. Fokus ceritanya adalah sekelompok teman di Akihabara–distrik Tokyo yang dikenal dengan barang-barang elektronik dan ‘ke-otaku-annya’–yang menjadi anggota dari Mirai Gadget Lab (‘lab perangkat masa depan’), tempat para anggotanya hobi bereksperimentasi untuk menciptakan ‘peralatan-peralatan masa depan’ yang canggih.

Adegan-adegan awal seri ini memang terkesan sangat enggak jelas. Kita diperlihatkan bagaimana pemimpin Mirai Gadget Lab, seorang mahasiswa tahun pertama bernama Okabe ‘Okarin’ Rintarou, sangat suka memproklamirkan dirinya sebagai mad scientist Houoin Kyouma dengan suara tawanya yang membahana. Ia hampir senantiasa ditemani oleh teman masa kecilnya yang beberapa tahun lebih muda, gadis manis bernama Shiina ‘Mayushii’ Mayuri, yang adegan kemunculan pertamanya lumayan membuat kening berkerut. Terus, satu-satunya anggota yang di mataku terlihat ‘bisa diterima’ sebagai anggota lab di awal cerita, hanyalah teman gemuk Okarin bernama Hashida ‘Daru’ Itaru, seorang teknisi sekaligus super hacker. Tapi dirinya pun seorang otaku yang memiliki kecendrungan untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang bermakna agak mesum.

Okarin dan Mayushii ceritanya hendak menghadiri seminar ilmiah yang diprakarsai Professor Nakabashi di Gedung Radio. Tapi lalu… serangkaian hal aneh terjadi. Bermula dengan apa yang Okarin kira sebagai insiden pembunuhan terhadap gadis ilmuwan jenius, Makise Kurisu, kemudian berlanjut dengan disorientasi(?) ingatan Okarin, serta jatuhnya satelit misterius dari langit yang akhirnya membatalkan acara.

Okarin, dari sudut pandangnya, berusaha mencerna apa-apa persisnya yang baru terjadi. Semuanya ternyata berhubungan dengan peralatan baru yang tengah mereka kembangkan: suatu gabungan ponsel dan sebuah oven microwave yang mereka namai ‘telepon microwave’. Bersama Makise Kurisu yang kemudian menjalin kerjasama dengan mereka karena tertarik dengan fenomena gel yang dihasilkan oleh telepon microwave, Okarin dan kawan-kawannya kemudian mengetahui bahwa telepon microwave yang mereka ciptakan ternyata memiliki kemampuan untuk  mengirimkan pesan-pesan teks lewat ponsel ke masa lalu!

Mungkinkah dengan ini mereka bisa memanipulasi kemenangan lotere? Apakah teori yang melandasi penemuan ini dapat menjadi kunci untuk membuka tabir penjelajahan aliran waktu?

Kekhawatiran Okarin akan hal-hal aneh yang terjadi di sekelilingnya kemudian memuncak saat ia menyadari bahwa dirinya dan kawan-kawannya ternyata tengah diawasi oleh suatu pihak misterius yang bernama SERN. Di permukaan, mereka adalah lembaga keilmuwan yang memegang perangkat hadron-particle collider terbesar di dunia. Tapi mungkinkah dengan pengawasan penuh mereka atas aliran informasi, mereka sebenarnya hendak memanfaatkan teknologi manipulasi waktu yang Okarin dkk temukan untuk menguasai dunia?

Pencarian IBN 5100

Meski cerita Steins;Gate terkesan berat, pemaparannya sebenarnya tak seberat itu kok. Salah satu daya tarik utama anime ini justru terletak pada interaksi konyol antara Okarin dan kawan-kawannya, di saat mereka belum sepenuhnya memahami apa sebenarnya yang telah mereka temukan. Ceritanya nanti memang berkembang ke arah yang agak gelap sih, tapi itu terjadi belakangan.

Sebagai tokoh utama, Okarin dengan segala tingkahnya adalah tokoh yang benar-benar aneh. Mayushii yang kapasitas keilmuwannya tak setinggi Okarin dan Daru jelas-jelas tidak jelas mengapa ia berada di sini. Lalu Kurisu yang seorang ilmuwan muda ternama ternyata adalah tsundere yang benar-benar manis. Tapi mereka semua (bersama tokoh-tokoh pendukung lain yang takkan kusebutkan di sini) akan berkembang menjadi jauh lebih dalam daripada itu. Lalu eksekusi adegan-adegan yang ada, dan bagaimana satu adegan menyambung ke adegan yang lain, terlaksana dengan benar-benar bagus. Mulai dari fokus cerita, cara pemaparan latar belakang karakter, serta bagaimana cerita mentahnya diedit agar cukup dengan durasi episode. Semua terutama didukung juga berkat keberadaan tim seiyuu yang benar-benar menghidupkan para karakternya (Mamoru Miyano? Kana Hanazawa? Yukari Tamura? Heh, yang jadi Daru itu Tomokazu Seki!?). Ada beberapa episode yang agak lemah sih. Tapi dengan semua keunggulan yang ada, soal kekurangannya kau mungkin takkan peduli.

Soal ceritanya sendiri… aku agak susah ngasi tau lebih karena benar-benar akan menjadi spoiler. Ide awalnya memang mungkin terkesan konyol. Tapi perkembangan situasi dan implikasi dari penemuan ini benar-benar tergarap dengan sangat serius.

Jadi intinya, segala keanehan yang Okarin saksikan ternyata diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang ia dan kawan-kawannya lakukan melalui perangkat D-Mail (nama baru dari telepon microwave) temuan mereka, terhadap masa lalu. Baik secara sengaja maupun tidak. Detil-detil kejadian di masa kini dan di masa lalu mengalami rekonstruksi, dan pergeseran ‘garis dunia’ yang membentuk realita kemudian terjadi setiap kali ada pesan teks yang mereka kirim ke masa lampau. Hal ini kemudian Okarin bersama Kurisu berusaha manfaatkan secara mati-matian untuk mencegah suatu bencana besar yang secara mutlak diyakini akan terjadi di masa depan.

Dalam garis dunia telah yang bergeser, mereka harus menemukan kembali perangkat komputer kuno IBN 5100 yang basis pemrogramanannya menjadi kunci untuk meng-hack basis data SERN, yang menjadi harapan mereka untuk mencegah terwujudnya distopia yang hendak SERN ciptakan. Semakin banyak tokoh baru yang diperlihatkan kemudian terlibat dengan lab mereka, dan semakin kental pula misteri soal siapa akan berkepentingan terhadap siapa. Salah satu aspek paling keren dari Steins;Gate adalah gimana tokoh antagonis yang harus Okarin dan kawan-kawannya hadapi tak pernah benar-benar jelas. Kita sebagai penonton terus ditantang untuk memahami bagaimana persisnya setiap perkembangan cerita yang baru bisa sampai terjadi.

Lalu tak seperti Chaos;Head, ada teori-teori fisika nyata (dan enggak sepenuhnya ngaco) yang melatari apa yang Okarin dan teman-temannya lakukan. Kerr black hole, attractor field theory, dan bahkan referensi-referensi terhadap legenda self-proclaimed time-traveller dunia nyata John Titor turut dimunculkan dalam cerita. Meski plotnya jelas-jelas terinspirasi oleh postingan-postingan yang dilakukan John Titor (silakan cek Wikipedia tentang hal ini), eksekusi animenya benar-benar bagus. Sehingga meski beberapa bagian plotnya tertebak pun, cara penggambarannya tetap membuatnya berkesan.

Steins;Gate mungkin memang bukan anime terbagus di musimnya. Ada banyak judul anime lain yang bakalan lebih mudah dicerna orang. Chaos;Head, sekalipun absurd, bahkan mungkin masih mengalahkannya di soal porsi perkembangan cerita. Tapi dengan semua intriknya yang memikat dan karakter-karakternya yang begitu gampang disukai, jarang-jarang kau bisa mendapatkan kombinasi yang lebih hebat dari ini.

“Tuturuu!”

Sejumlah detil misterius di Steins;Gate sayangnya belum sempat terjelaskan sampai seri berakhir. Bagaimana Okarin memiliki kemampuan untuk mempertahankan ingatannya setiap kali garis dunia berganti, misalnya (yang dengan seenaknya dinamakannya ‘Reading Steiner‘), adalah salah satu contohnya. Tapi direncanakan akan ada film layar lebar Steins;Gate yang secara mengejutkan diumumkan penggarapannya di akhir seri. Sehingga mudah-mudahan semua jawaban yang belum terjelaskan di sepanjang seri TV kelak akan bisa ditemukan di sana.

Dari segi animasi, ini salah satu anime dengan presentasi visual paling baik yang aku tahu. Kebanyakan frame menggunakan warna kelabu untuk menggambarkan hiruk-pikuk Akihabara. Agak suram sih. Tapi ini lalu mereka kontraskan dengan nuansa-nuansa biru tajam untuk menggambarkan perubahan-perubahan ‘ajaib’ yang tengah terjadi. Secara menyeluruh, kesan visualnya yang dipadu dengan desain karakter ciptaan huke jadi benar-benar keren.  Musiknya mungkin jauh dari genre pop. Tapi keseluruhan audio di seri ini menggambarkan nuansa ketidakpastian perjalanan waktu Steins;Gate secara pas (kalian yang tahu lagu-lagu yang dinyanyikan tokoh penyanyi FES di Chaos;Head akan tahu, maksudku).

Lalu ada satu hal aneh. Aku belum tahu banyak soal game-nya. Paling hanya sebatas soal gimana pesan teks lewat hape dalam game beserta tanggapan kita terhadapnya akan sangat berpengruh pada jalan cerita. Tapi ada banyak–banyak sekali–yang bilang, bahwa plot cerita anime Steins;Gate masih belum ada apa-apanya dibandingkan game-nya. Ini suatu hal yang lazim untuk sebuah anime yang diadaptasi dari game sih. Tapi bahkan dengan penggarapan sebagus ini, reaksi para penggemar mengenai hal ini masih terkesan agak lebih ekstrim daripada biasanya.

Saking bagusnya, plot cerita game Steins;Gate bahkan pernah disebandingkan dengan 428: Fusa Sareta Shibuya de, visual novel sangat ternama yang meraih nilai penuh(!) dari majalah game Famitsu, dan belakangan menginspirasikan seri Canaan yang dipenai Kinoko Nasu. Intinya, Steins;Gate sedari awal memang memaparkan suatu konsep bagus yang sudah lama tak ditemukan sebelumnya.

Akhir kata, ini seri yang sangat memuaskan buatku. Dengan bobot kerumitan dan kesuraman(?)nya, mungkin cocoknya untuk penonton berusia dari akhir remaja hingga dewasa muda sih. Tapi kurasa yang paling akan menikmati Steins;Gate tetaplah kalangan penggemar anime secara umum.

Kalau kau tak menyukai Steins;Gate, kurasa memang itu karena pada dasarnya kau kurang cocok dengan temanya (atau bisa juga karena kamu kesulitan  mengikuti semua perkembangan ilmiahnya). Tapi jika sebaliknya, sangat mungkin kadar ketertarikanmu akan jauh melebihi ketertarikanmu atas seri-seri yang biasa. Ditambah lagi, tema cinta dan persahabatan di dalamnya tereksekusi dengan sangat baik BTW. Jadi seri ini tidak melulu soal konspirasi dan kegilaan menyelamatkan dunia. Dan, di akhir seri, kau enggak bisa enggak jadi menyukai Oka-, maksudku, Hououin Kyouma, dengan tawa membahananya.

Aku benar-benar cuma merasa seri ini merupakan sebuah pengalaman yang terlalu sayang untuk tak kau tonton.

Penilaian

Konsep: A+; Visual: A; Audio: A; Pengembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

11/03/2010

Katanagatari dan Bakemonogatari ONA: Tsubasa Cat

Mungkin semestinya aku membahas ini dari beberapa bulan lalu. Tapi tampaknya, pihak Kadokawa selaku penerbit bermaksud untuk menganimasikan seluruh karya penulis LN Nisio Isin.

Upaya pertama mereka dimulai tahun lalu dengan Bakemonogatari, kisah cinta aneh yang diselipi kasus-kasus janggal yang berkaitan dengan makhluk-makhluk halus, yang lumayan membuatku suka. Hingga kini anime Bakemonogatari masih berlanjut lewat perilisan episode-episode bab terakhirnya(?), Tsubasa Cat, secara berkala di Web.

Upaya kedua mereka yang dimulai pada awal tahun 2010 ini adalah Katanagatari, yang lumayan menuai hype karena satu, ini cerita samurai di tengah trend anime yang kayak begini; dua, ini ternyata bukan cerita samurai sebagaimana yang dibayangkan orang; dan tiga, karena draft skenario dan skema-skema rancangan awalnya sempat bocor(!) di Internet bahkan sebelum episode pertamanya keluar.

Buset, perkembangan parah macem apaan nih?

Eniwei, Bakemonogatari bab Tsubasa Cat mengisahkan kasus terkini yang harus dihadapi Araragi Koyomi saat gadis bintang kelas yang sering diandalkannya, Hanekawa Tsubasa, kembali kambuh masalah supernaturalnya akibat tekanan stres yang timbul dari permasalahan keluarganya. Sang siluman kucing kembali telah merasuki Tsubasa. Sementara di sisi lain, Oshino Meme, sang ahli tempat Koyomi seringkali meminta bantuan, telah menegaskan bahwa ia takkan selamanya berada di sisi Koyomi. Menyadari isyarat bahwa Oshino tak lama lagi mungkin akan pergi, Koyomi mulai berusaha untuk bisa menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri yang nyata-nyata terjadi karena keberadaannya sebagai seorang semi-vampir.

Katanagatari sendiri mengisahkan petualangan pewaris ilmu pedang aliran Kyotouryuu (aliran ilmu pedang tanpa pedang) Yasuri Shichika bersama Togame, sang ahli siasat, dalam melacak dan menemukan 12 pedang keramat buatan Shichizaki Kiki yang konon bila dikumpulkan, pemilik kesemuanya akan bisa menguasai dunia (klise?). Artwork-nya khas dengan desain karakter yang menarik, seolah menandai bahwa seri ini memang lebih banyak berfokus ke dialog daripada aksi (yang menjadi alasan kekecewaan cukup banyak orang). Dialog di sini adalah dialog khas Nisio Isin yang penuh sarkasme dan inti-inti pembicaraan yang sebenarnya lumayan konyol. Ya, ada sentuhan humor ga jelas di sana-sini. Lalu dengan jalinan plot yang sebenarnya teramat sederhana, tak diragukan bahwa daya tarik anime ini sesungguhnya terdapat pada para karakternya sendiri. Jadi bagi mereka yang mencari anime samurai ‘murni’ yang berat dan rada berdarah-darah, kalian mencari di tempat yang benar-benar salah. Episode-episodenya berdurasi hampir satu jam dan keluar secara bulanan(!). Hingga saat tulisan ini dibuat, seri ini sudah mencapai episode ketiga.

Meski menurutku secara pribadi tak sebagus Bakemonogatari, sebagai penggemar Isin, Katanagatari lumayan bisa kusukai kok. Karakter-karakternya cukup menarik. Togame, sang utusan keshogunan, yang semestinya menaruh dendam pada Shichika sebagai putra pembunuh ayahnya, mungkin pula karena desakan keadaan, malah membujuk (…) Shichika untuk bekerja atas dasar cinta padanya, gara-gara semua orang lain yang telah diutus untuk mencari kedua belas pedang tersebut selalu saja berkhianat. Shichika yang selama ini hidup sederhana dan pas-pasan dan dipandang tak perlu punya pedang dipandang cocok untuk tugas ini karena dinilai tak mungkin terpikat pada keindahan pedang-pedang itu atau tergoda oleh peluang kekayaan yang bisa didapatkan seandainya dunia dikuasai.

Yah, satu-satunya hal yang membuatku rada heran sekarang ialah kapan adaptasi anime dari seri misteri Zaregoto keluar. Padahal bukankah itu cerita Isin yang novelnya pertama terbit?