Posts tagged ‘VN-based’

04/07/2015

Fate/stay night – Unlimited Blade Works (Season 2)

Fate/stay night – Unlimited Blade Works belum lama ini berakhir paruh keduanya dengan total jumlah episode sebanyak 13. (Paruh pertamanya aku bahas di sini.)

Bersama season sebelumnya, termasuk episode prolog, total keseluruhan episode seri ini jadi sebanyak 26, dengan tiga episode di antaranya yang berdurasi satu jam. Ditayangkan pada musim semi 2014 dengan jeda satu cour sesudah paruh sebelumnya, studio Ufotable menurutku sudah melakukan hasil kerja lumayan bagus dalam mengadaptasinya.

Yeah. Hasil kerja mereka bagus.

Sial. Aku enggak bisa ngatain kalau hasil kerja mereka enggak bagus.

Paruh ini memaparkan kelanjutan perjuangan Emiya Shirou dan Tohsaka Rin dalam ajang Perang Cawan Suci di kota Fuyuki, sesudah keduanya sama-sama kehilangan Servant masing-masing.

Caster bersama Master-nya, Kuzuki Souichirou yang merupakan wali kelas Rin, bergerak untuk menemukan lokasi sesungguhnya di mana Cawan Suci ditempatkan. Caster menyerang Gereja Fuyuki dan seakan telah menyingkirkan Kotomine Kirei. Saber hanya tinggal menunggu waktu sampai berada di bawah kuasanya, dan Archer menyatakan diri telah berada di pihaknya. Sementara, Rider telah takluk. Caster kini berkeyakinan bisa menemukan jalan pintas untuk menggunakan kekuatan Cawan sebelum para Servant lain terkalahkan.

Tapi Gilgamesh, Servant Archer dari Perang Cawan Suci terdahulu, mulai bergerak untuk suatu agenda pribadi. Lalu dirinya jelas mengetahui betapa Caster masih belum memahami sifat Cawan Suci dan tujuan penciptaannya yang sesungguhnya…

Harapan-harapan Tak Terwujud, Terjebak Dalam Mimpi Tiada Akhir

Sejujurnya, aku sempat bingung untuk bahasan kali ini.

Soal teknisnya dulu: season kali ini mempertahankan kualitas presentasinya. Visualnya masih keren. Bagian-bagian frame yang dipergelap untuk penayangan televisi masih ada, tapi seperti yang kita tahu, itu akan dihilangkan di versi DVD/BD-nya. Soundtrack-nya tetap berkesan, dengan Aimer yang lewat warna suara khasnya kali ini membawakan pembuka berjudul ‘Brave Shine’ dan grup Kalafina membawakan penutup yang baru berjudul ‘Ring Your Bell.’

Tapi menurutku, ada sesuatu yang agak kurang.

Ada lumayan banyak porsi cerita tambahan yang aslinya tak ada di visual novel-nya, walau anime UBW tetap terbilang adaptasi yang sangat setia sih. Tapi anehnya, mungkin justru di situ masalahnya. Bahkan dengan seluruh penambahan itu, cerita untuk adaptasi ini sebenarnya enggak perlu harus sesetia ini.

…Ini beneran aneh. Soalnya buatku, di season ini kayak enggak ada lagi ‘hal baru’ yang bisa membuat wah para penggemar lama. Seperti adegan pertarungan antara Shirou dan Kuzuki di pom bensin, misalnya. Jadi memang ada hal-hal baru di dalamnya. Tapi hal-hal itu bukan hal-hal baru juga. Agak susah menjelaskannya. Mungkin ibaratnya, masakanmu kurang bawang. Tapi bukannya bawang, yang kau tambahkan adalah merica, saus tiram, dan jahe. Jadinya, masakanmu tetap kurang bawang.

Aku senang dengan adanya bagian-bagian tambahan tersebut. Contohnya seperti pemaparan soal masa lalu Caster dan bagaimana ia membunuh Master-nya yang semula; serta sedikit soal masa lalu dan motivasi Illyasviel von Einzbern. Tapi selain karena alasan di atas, jadinya ada semacam ‘masalah tematik’ di seri ini. Maksudku, entah bagaimana di season kedua ini, jadinya makin enggak jelas seri ini sebenarnya tentang apa dan mau menyampaikan soal apa.

Karenanya, UBW sayangnya jadi tak benar-benar bisa dipandang sebagai sekuel anime Fate/Zero. Kalau dibilang tema seri ini adalah tentang ideologi kepahlawanan yang dianut Shirou, yang terwujud dalam konfliknya antara dirinya melawan Archer, maka dengan semua tambahan subplot yang ada, maka tema UBW kayaknya bukan itu juga.

Jadi, yah, itu. Temanya enggak jelas.

Seperti yang pernah aku singgung, versi asli visual novel Fate/stay night memang sebenarnya agak ‘cacat’ ceritanya. Aspek-aspek cerita yang hilang dimaksudkan untuk bisa kita simpulkan sendiri atau diketahui lewat pemaparan dari rute-rute lain. Jadinya, kalau disampaikan dalam format seri TV seperti ini, bukannya menjelaskan keseluruhan subplot secara menyeluruh, elemen-elemen subplot yang terjelaskan dalam rute-rute lain itu malah bisa terasa seperti dilupakan begitu saja.

Makanya, semua penggemar sempat berharap sangat banyak begitu melihat kualitas yang diperlihatkan pada paruh awal UBW. Tapi… uh, demikian.

Meski penceritaan ulang yang dilakukan anime ini secara umum terbilang memukau, tetap ada beberapa hal mengecewakan di dalamnya. Hal-hal yang sengaja disembunyikan ‘agar diketahui lewat rute lain’ sayangnya masih ada. Sehingga kalaupun ini bisa dimaklumi oleh para penggemar lama, para penggemar baru yang hanya tahu ceritanya lewat anime ini kemungkinan besar akan kurang puas. Tentang teknis penceritaannya sendiri, ada bagian-bagian yang diceritakan secara bagus dan ada bagian-bagian lain yang diceritakan dengan ‘kurang’ bagus.

Serius. Aku secara pribadi merasa kurang lebih seperti itu.

Aku benar-benar berharap akan ada cerita seperti Fate/Zero yang akan menceritakan ulang apa yang terjadi dalam VN Fate/stay night. Tapi kelihatannya itu masih belum bisa terwujud untuk saat ini.

Kenangan Kosong yang Tak Terlihat Bagi Semua

Terlepas dari semuanya, berikut beberapa poin soal cerita yang kusadari.

Buat mereka yang sama sekali tak ingin melihat spoiler, kusarankan bagian ini tidak dilihat.

  • Sekali lagi, anime ini merupakan hasil adaptasi salah satu dari tiga rute cerita di game visual novel Fate/stay night, yaitu rute Unlimited Blade Works. Sebagai informasi, Fate/stay night semula direncanakan memiliki empat rute. Namun karena isu keterbatasan produksi, rute ketiga dan keempat akhirnya disatukan, dan karenanya rute UBW masih memiliki kemiripan nuansa dengan rute Fate, namun keduanya berbeda lumayan jauh dengan rute ketiga dan terakhir, Heaven’s Feel, yang ceritanya sudah dikabarkan akan dianimasikan dalam format layar lebar.
  • Di dalam VN, Master pertama Caster hanya disinggung secara benar-benar selintas. Wajah dan identitas Atram Galiast selaku Master pertama Caster, serta situasi di mana hubungan mereka memburuk, benar-benar baru dibeberkan secara gamblang pada versi anime ini.
  • Masa lalu Kuzuki dalam VN juga hanya dikisahkan sepintas. Kuzuki hanya dijelaskan sudah dibesarkan sejak kecil oleh suatu organisasi rahasia tertentu untuk menjadi pembunuh. Organisasi apa yang membesarkannya, serta bagaimana dirinya bisa sampai ke Fuyuki, juga tak terlalu banyak diungkap.
  • Tak seperti para Master lain, Kuzuki bukanlah magus. Dirinya tak memiliki magic circuit, dan karenanya tak memiliki kekuatan sihir. Tapi kemampuan tempur tangan kosongnya jauh di atas rata-rata. Ditambah dengan penguatan sihir yang diberikan Caster, Kuzuki punya kemampuan tempur setara dengan Saber. Hal ini menjadikannya Master langka yang justru lemah terhadap serangan-serangan sihir dari jarak jauh, tapi sangat kuat di pertarungan garis depan. (Yang membuatnya disebut bahkan lebih menyerupai assassin ketimbang Assassin sendiri.)
  • Meski berperan sebagai ‘jangkar’ bagi Caster untuk tetap di dunia, karena alasan di atas, Kuzuki tak dapat menyuplai mana yang Caster perlukan untuk bertahan sebagai Servant. Karena itu, kekuatan sihir yang Caster perlukan untuk bertahan di dunia harus diambilnya dari sumber-sumber lain, yang berujung pada kasus-kasus jatuhnya korban koma massal di Fuyuki. Jadi tindakan tersebut Caster lakukan bukan karena ia jahat, melainkan lebih karena dirinya tak punya pilihan lain demi mewujudkan tujuan akhirnya.
  • Adegan saat Shirou dewasa (versi masa lalu Archer) membuat kontrak dengan Dunia untuk menjadi Guardian juga dipaparkan pertama kali di anime ini. Aku pribadi baru ngeh kalau Archer benar-benar membuat ‘perjanjian’ di atas sesudah melihat adegan tersebut di anime ini.
  • Sekali lagi, identitas Archer adalah versi masa depan ‘alternatif’ Shirou. Pada anime ini dipertegas bahwa terlepas dari hasil akhir Perang Cawan Suci, selama ideologi kepahlawanan itu masih Shirou anut, maka Shirou masa kini akan berujung seperti dirinya juga. Tapi keberadaan Rin di sisinya memberi keyakinan bahwa Shirou akan mencapai hasil yang agak berbeda dari yang Archer temukan.
  • Bagi mereka yang agak lupa, Shirou di awal cerita sempat tergabung di Klub Kyudo Homurahara bersama Sakura dan Shinji, tapi diceritakan belum lama keluar karena alasan yang tak ia ungkap. Jadi sebagai Archer, dirinya memang berbakat ‘memanah.’ Keputusannya untuk keluar disayangkan, karena dirinya sudah dianggap salah satu anggota mereka yang paling berbakat.
  • Ingatan Rin soal bagaimana Shirou dengan pantang menyerah berlatih lompat tinggi sendirian sebenarnya terjadi belum lama sesudah Kiritsugu meninggal. Ingatan ini memberi kesan pertama Rin terhadap Shirou, dan mempunyai arti besar dalam perkembangan cerita.
  • Pada versi cerita di rute UBW ini, pemenang Perang Cawan Suci secara teknis adalah Rin.
  • Pada beberapa adegan ketika Lancer membahas tipe perempuan favoritnya kepada Shirou, salah satu yang Lancer maksudkan sebenarnya Bazett Fraga McRemitz, satu dari dua tokoh utama Fate/hollow ataraxia, sekaligus Master asli Lancer yang pada titik ini telah ‘disingkirkan’ oleh Kirei. Berhubung ini salah satu rute ketika Lancer berperan menonjol, menurutku sayang bagaimana upaya balas dendam Lancer terhadap Kirei tak digambarkan lebih jauh di sini. (Ya, ini Bazett yang sama dengan yang belum lama ini muncul di Fate/Kaleid Liner Prisma Illya 2wei!. Kalian juga bisa melihat mereka berdua flirting dengan satu sama lain di salah satu episode Carnival Phantasm)
  • Sebagaimana Rin memahami Archer melalui mimpi-mimpinya tentang masa lalu Archer, masa lalu Saber pada rute Fate diungkap melalui mimpi-mimpi yang dilihat Shirou. Pada rute UBW ini, meski konflik dan masa lalu Saber tak banyak diungkap, Saber dikisahkan mencapai kesimpulan yang dicarinya dengan menyaksikan sampai akhir perselisihan antara Shirou dan Archer, yang bisa dibilang selaras dengan konflik ideologi yang selama ini melandanya.
  • Kemampuan regenerasi yang Shirou perlihatkan berasal dari Avalon, sarung pedang Excalibur sekaligus Noble Phantasm terakhir milik Saber yang telah lama diyakini hilang. Avalon ditanamkan dalam diri Shirou oleh Emiya Kiritsugu untuk menyelamatkan nyawa Shirou sepuluh tahun silam. Dalam Fate/Zero dikisahkan bahwa sarung pedang ini awalnya ditemukan pihak Einzbern dan digunakan sebagai katalis untuk memanggil Saber dalam Perang Cawan Suci keempat, dan selanjutnya dibawa secara pribadi oleh Kiritsugu dalam duel mautnya melawan Kirei.
  • Selain memberikan kekuatan regenerasi, Avalon juga dapat berfungsi sebagai ‘benteng portabel’ yang akan melindungi penggunanya dari segala bentuk kerusakan dari segala dimensi dengan mengisolasi penggunanya ke semesta lain. Kemampuan ini yang menjadi penentu kemenangan Shirou dan Saber dalam klimaks cerita di rute Fate. Avalon memiliki keterhubungan tersamar dengan Excalibur. Karena alasan itu pula, daya penyembuh Avalon akan menguat seiring dengan semakin dekatnya jarak antara Shirou dan Saber.
  • Keberadaan Avalon dalam diri Shirou adalah alasan utama mengapa dirinya selamat dari serangan Lancer di awal cerita. Keberadaan Avalon ini pula yang menjadi katalis sihir yang Shirou secara tak sadar gunakan untuk memanggil Saber. Konon pula, keberadaan Avalon dalam diri Shirou juga telah mengubah ‘awal mula’-nya sedemikian rupa sehingga ia memiliki afinitias yang tinggi terhadap ‘pedang.’
  • Berbeda dari Noble Phantasm milik Servant lain, Avalon tidak datang bersama Saber dari Tahta Pahlawan karena status unik Saber sebagai Servant yang tak sempurna. Hal ini disebabkan karena menjelang kematiannya, karena tidak puas dengan kegagalannya dalam menemukan Cawan Suci semasa hidupnya, Arturia menjalin kontrak dengan Dunia (seperti halnya yang Archer/Shirou dewasa lakukan) yang memungkinkannya untuk dapat menemukan (suatu bentuk) Cawan Suci semasa hidupnya. Ini yang memungkinkan Saber, yang berada di ambang kematiannya, dapat dipanggil oleh Dunia pada rentang waktu dan masa manapun selama dirinya masih berupaya menemukan Cawan Suci. Kontraknya dengan Dunia ini baru akan terputus sesudah Cawan Suci ini berhasil ia temukan (yang sudah pasti akan ia temukan pada suatu masa, karena tak terbatasnya kesempatan yang ia punya, walau ia tak bisa mengulang kesempatan yang telah lalu). Hal ini pula yang menjadi alasan Saber hanya memiliki tubuh fisik dan tak bisa mewujud ke roh. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Saber bisa mempertahankan ingatannya tentang Perang Cawan Suci keempat sesudah dipanggil kembali dalam Perang Cawan Suci kelima.
  • Noble Phantasm Gate of Babylon miliki Gilgamesh adalah ruang harta yang di dalamnya terkandung semua Noble Phantasm yang telah terlupakan namanya oleh sejarah, tapi sebenarnya menjadi ‘akar’ dari sebagian besar Noble Phantasm lain dalam legenda-legenda kepahlawanan di seluruh dunia. Sifat ‘akar’ tersebut membuat Gilgamesh, yang sudah separuh dewa, disebut hampir tak tersentuh oleh semua Noble Phantasm ‘modern’ yang merupakan ‘turunan’ dari semua Noble Phantasm yang dimilikinya.
  • Alasan Shirou terkesan menjadi kuat sesudah mengaktifkan Reality Marble Unlimited Blade Works adalah karena selain bisa meniru ‘bentuk’ dan ‘komposisi’ hampir setiap Noble Phantasm yang dilihatnya, Shirou juga memperoleh pengetahuan tentang sejarah dan cara pemakaiannya. Karena itu, meski kualitas tiruan-tiruan yang diciptakannya satu peringkat lebih rendah, Shirou mampu mengungguli Gilgamesh karena tahu ‘keistimewaan’ dan ‘cara pakai’ masing-masing Noble Phantasm ketimbang sekedar ‘memilikinya.’
  • Reality Marble Shirou tercipta berkat idealisme kepahlawanan yang dianutnya. Reality Marble merupakan sihir yang mewujudkan ‘dunia pribadi’ dalam diri seseorang. Idealisme Shirou membuatnya memiliki aspirasi untuk mewujudkan keyakinan dan mimpi semua roh pahlawan yang nantinya dapat menjadi Servant. Upaya Shirou tersebut membuatnya mampu memahami latar belakang dan sejarah hidup hampir setiap roh pahlawan, dan berujung pada bagaimana Shirou mampu mereplika persenjataan Noble Phantasm yang mereka miliki.
  • Salah satu (satu-satunya?) Noble Phantasm pengecualian yang tak dapat Shirou buat replikanya adalah pedang Ea milik Gilgamesh. Ea adalah Noble Phantasm tertua, yang konon menyimpan ingatan tentang awal penciptaan Dunia, dan telah ada bahkan sebelum ‘konsep pedang’ ada. Meski berkekuatan sangat dahsyat dan berstatus penghancur dunia, Gilgamesh sangat jarang menggunakan kekuatan Ea secara penuh dan hanya berkeinginan menggunakannya terhadap lawan-lawan yang ‘pantas.’ Aku sempat lama bertanya-tanya kenapa Gilgamesh tak menggunakan Ea saat melawan Shirou, dan baru paham sekarang kalau dirinya tak sempat. Konon Ea juga memberikan pengetahuan tentang hal-hal tertentu kepada Gilgamesh, dan membuatnya mengetahui berbagai hal yang tak diketahui manusia lain…
  • Sebagaimana terungkap di pertengahan seri, artefak Cawan Suci telah terkontaminasi oleh ‘segala kejahatan di dunia’, Angra Mainyu. Sifatnya masih dapat mengabulkan permohonan, namun dengan mengintepretasikan permohonannya sedemikian rupa sehingga mewujudkannya melalui penghancuran. Yang semenjak awal sepenuhnya mengetahui tentang ini pada Perang Cawan Suci kelima adalah Kirei dan Gilgamesh.
  • Sosok yang berbincang sebentar dengan Shirou menjelang adegan terakhirnya di Clock Tower adalah Lord El-Melloi II, atau yang di masa muda dikenal sebagai Waver Valvet, Master dari Rider dalam Perang Cawan Suci keempat di Fate/Zero. Sifatnya sudah jauh berubah dibanding waktu masih muda. Dirinya juga dikisahkan telah menjadi salah satu guru Rin.
  • Luviagelita Edelfelt, saingan abadi Rin semasa pembelajarannya di Clock Tower, juga tampil di episode terakhir. Meski keluarga Tohsaka dan Edelfelt lama berselisih karena pertentangan mereka di Perang Cawan Suci ketiga, sepertinya awal mula permusuhan antara Rin dan Luvia dipicu alasan yang agak beda.

Permohonan yang Melintasi Waktu

Sedikit membahas lagi soal teknis, walau penceritaannya tak selalu optimal, adegan-adegan pertarungannya tetap keren untuk dilihat. Rematch antara Shirou dan Kuzuki di ruang bawah tanah Gereja Fuyuki kembali berkesan. Adegan pertarungan antara Berserker melawan Gilgamesh mendapatkan ekstensi dibandingkan di VN-nya, menjadikan hasil akhirnya jauh lebih dramatis. Duel ulang Lancer lawan Archer tetap keren, walau sayangnya kembali berakhir menggantung. Akhir perselisihan antara Archer lawan Shirou di Puri Einzbern mungkin sedikit mengecewakan bagi sebagian orang. Tapi adegan yang telah lama ditunggu-tunggu, yaitu konfrontasi Shirou melawan Gilgamesh, lumayan tereksekusi lebih bagus dari yang kukira.

Bagian di mana Shirou menguji keseimbangan pedang ciptaannya di animasi lagu pembuka seriusan memberikan kesan keren. Bagian ini semata memberi kesan yang begitu kuatnya, sampai-sampai aku jadi tersadar ada beberapa bagian season ini yang tereksekusi jauh lebih bagus dibandingkan beberapa bagian lainnya.

Jadi buat yang merasa ada sedikit ketimpangan di beberapa bagian, seperti di soal perkembangan karakter Rin maupun pemaparan debat ideologi antara Shirou dan Archer, kurasa itu bukan perasaan kalian saja.

Selebihnya, bagian-bagian cerita tambahan yang tak ada di gamenya di atas ditulis oleh Nasu Kinoko-sensei sendiri, sehingga penceritaannya konsisten dengan apa yang para penggemar Type-Moon sudah tahu.

Satu hal khusus yang perlu kusebut adalah epilog di episode terakhir. Dalam VN, akhir rute UBW hanya menampilkan bagaimana pada sepulang sekolah suatu hari, Rin mengajak Shirou untuk ikut bersamanya belajar ke markas Mages Association di Clock Tower di Inggris. Tapi versi anime ini bahkan sampai menampilkan kehidupan ‘kuliah’ mereka di sana dua tahun sesudah Perang berakhir. Pemaparan ini terbilang keren, menampilkan konklusi tekad Shirou, dan lengkap dengan bagaimana Rin mengajak Shirou ke Cormwall, tempat di mana makam ‘Raja Arthur’ diperkirakan berada.

Episode epilog ini benar-benar tak disangka, dan karenanya mungkin menjadi episode paling berkesan di season ini.

Sebenarnya, masih ada beberapa hal lain yang mungkin membuat heran beberapa penggemar yang jeli memperhatikan kesinambungan cerita antara seri ini dengan Fate/Zero. Terutama soal pengetahuan rahasia yang mungkin hanya Gilgamesh ketahui. Hal-hal tersebut kayaknya lebih baik kuulas sesudah adaptasi anime Heaven’s Feel keluar. Walau kalau dipikir baik-baik, itu bisa kalian simpulkan sendiri sih.

Akhir kata, paruh kedua Fate/stay night – Unlimited Blade Works sayangnya tak sekuat paruh pertamanya. Tapi seri ini tetap terbilang salah satu yang paling menonjol di musim kemarin.

Pastinya seri ini kelihatannya telah menarik banyak penggemar baru ke karya-karya Type-Moon.

Kelihatannya sekarang tinggal menunggu konfirmasi adaptasi layar lebar Heaven’s Feel.

(Sori, aku juga kurang tahu soal orang yang Shirou sebut sering berpapasan dengannya. Adegan tersebut benar-benar terasa seperti teaser sih. Mungkin benar akan ada kaitannya dengan kabar-kabar soal Tsukihime Rebirth? Yah, kita lihat saja nanti.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

(Konfirmasi beberapa poin diperoleh dari Type-Moon Wiki)

Iklan
22/06/2015

Ushinawareta Mirai o Motomete

Aku sudah agak lama ingin menulis tentang Ushinawareta Mirai o Motomete, atau yang judul bahasa Inggrisnya adalah In Search of the Lost Future. Subjudulnya yang berbahasa Perancis, À la recherche du futur perdu, kurang lebih berarti sama, yang kira-kira adalah ‘mencari masa depan yang hilang.’

Sebelumnya, perlu aku sampaikan kalau ini bukan seri yang cocok buat kebanyakan orang. Ada beberapa hal tertentu tentangnya… yang kalau dibahas bisa agak memicu perdebatan.

Terlepas dari semuanya, anime ini diangkat dari game visual novel dewasa berjudul sama buatan Trumple yang keluar tahun 2010 (dan konon merupakan satu-satunya judul yang perusahaan tersebut keluarkan sebelum bubar). Adaptasi animasinya berjumlah 12 episode, diproduksi studio Feel, dan pertama mengudara pada musim gugur tahun 2014.

Pengumuman anime ini secara khusus menarik perhatianku karena nama Hosoda Naoto tercantum sebagai sutradara. Beliau yang mengarahkan seri komedi Hataraku Maou-sama! yang hasil akhirnya benar-benar mengesankan. Karenanya, aku jadi penasaran seperti apa seri-seri berikutnya yang akan beliau tangani.

Alasan lain lagi: desain karakter dalam versi game Waremete sangat memikat.

…Benar-benar sangat memikat. Kata-kata doang enggak cukup buat menjabarkannya. VN-nya kayak jenis yang dengan melihat desain karakternya saja, kau bisa langsung jatuh cinta dan penasaran soal apa ceritanya.

Tapi berhubung aku masih belum tahu banyak, mari kita kesampingkan dulu bahasan versi VN untuk saat ini.

Change the Past and Future

Waremete berlatar di Perguruan Uchihama.

Dikisahkan bangunan lama di sekolah tersebut rencananya akan dirubuhkan dan diganti yang baru. Festival sekolah berikutnya pada tahun itu akan menjadi yang terakhir yang diadakan di sana. Karena itu, para murid sepakat untuk mewujudkan festival yang akan datang ini menjadi yang paling meriah yang pernah ada.

Ceritanya sendiri berfokus pada sekelompok teman yang tergabung dalam Klub (Komunitas?) Astronomi. Meski sekilas terkesan seperti klub biasa, para anggotanya terdiri atas orang-orang yang paling dikenal di Uchihama. Karenanya, mereka sering dimintai tolong saat ada persoalan yang timbul di lingkungan sekolah mereka.

Di awal cerita, para anggotanya terdiri atas:

  • Akiyama Sou; karakter utama, dan mungkin satu-satunya anggota yang benar-benar menekuni astronomi di klub tersebut.
  • Sasaki Kaori; teman masa kecil Sou, yang perhatian tapi sedikit ceroboh, serta diakui sebagai salah satu gadis tercantik di Uchihama.
  • Hasekura Airi; gadis ramping sahabat dekat Sou dan Kaori yang punya bawaan mengurusi orang, memiliki pembawaan atletis yang membuatnya dikenal sebagai salah satu orang ‘terkuat’ di sekolah, dan secara teknis menjabat sebagai ketua klub.
  • Hanamiya Nagisa; satu-satunya kakak kelas di klub, yang berbadan mungil tapi anggun, berasal dari keluarga (sangat) terpandang, dan sangat pengertian dalam mengurusi adik-adik kelasnya.
  • Kenny Eitarou Osafune; sahabat Sou, anak blasteran dari luar negeri yang sering bicara menggunakan dialek asing (terutama tentang kekasihnya di seberang lautan, Jennifer).

Dalam perkembangan cerita—seiring dengan rangkaian kejadian aneh yang dilaporkan terjadi selama persiapan festival, yang mencakup laporan-laporan gempa bumi ‘setempat’ dan kesaksian-kesaksian adanya hantu—Klub Astronomi kemudian kedatangan seorang murid baru bernama Furukawa Yui, gadis berambut perak yang untuk sementara ditampung di rumah Nagisa-sempai, sesudah ditemukan oleh Sou dan Kaori dalam keadaan telanjang dan hilang ingatan sesudah salah satu insiden.

Mengulang-ulang Takdir

Sebelum bahas lebih jauh soal apa yang terjadi, baiknya aku bahas dulu seri ini sebenarnya seperti apa.

Dulu aku pernah menyinggung kalau anime-anime yang diangkat dari VN (galge) biasanya punya kekhasan tertentu. Nah, Waremete menurutku merupakan anime sejenis itu yang ‘kekhasannya’ paling kuat sejauh ini.

Bagaimana seri ini memaparkan dunianya, kerumitan hubungan yang dimiliki para karakternya, serta dorongan untuk mengungkapkan perasaan sekaligus mengubah nasib; hal-hal tersebut terasa sangat kuat di sepanjang cerita. Jadi walau ada beberapa rincian yang tersamar dan tak benar-benar dijelaskan sampai tuntas, nuansa khasnya itu berhasil tersampaikan secara kuat.

Terlepas dari beberapa kelemahan teknis yang seri ini punya (dan beberapa elemen cerita yang terbilang klise untuk genrenya), itu suatu keberhasilan langka yang jarang terlihat pada seri-seri anime bergenre serupa.

…Sori, aku juga enggak yakin bagaimana menjelaskannya. Tapi kekhasan situasi yang kumaksud kira-kira seperti berikut.

Kaori misalnya, memendam perasaan cinta pada Sou, yang kini ikut diasuh oleh keluarga Kaori (yang hanya terdiri atas Kaori dan ibu Kaori, Sasaki Shiori), sehingga situasi mereka sudah kayak sebuah rumah tangga walau nyatanya hubungan mereka belum ke arah sana. Hanya saja, Airi nyatanya juga memendam perasaan yang sama terhadap Sou. Airi enggan mengungkapkannya karena tak ingin merusak hubungan persahabatan yang terlanjur dimilikinya dengan mereka.

Nagisa-sempai, terlepas dari sikap dewasa yang selalu ia perlihatkan, juga punya masalah-masalahnya pribadi. Tapi dengan pengaruh keluarganya yang besar, dirinya tetap mengambil tindakan untuk menolong dan menampung Yui; dan bahkan mendaftarkannya sebagai seorang murid pindahan di Uchihama juga, seolah-olah itu hal mudah baginya.

Kenny… hmm, dia agak aneh.

Tapi intinya, setiap karakter seperti punya ‘cerita’ mereka masing-masing yang perlahan tergali seiring berlalunya waktu. Lalu selama hari-hari persiapan festival ini, ada suatu keseharian membahagiakan dan seakan tidak akan berakhir bagi para anggota Klub Astronomi ini.

…Sampai suatu kecelakaan terjadi, persis menjelang terlaksananya festival. Lalu terungkap bahwa di balik sifat pendiam dan ingatannya yang hilang(?), ada suatu hal tertentu yang Yui harus lakukan apapun yang terjadi.

Kemungkinan Otak adalah Mesin Turing

Perkembangan cerita Waremete sebenarnya lumayan gampang tertebak. Ada elemen-elemen khas galge yang sudah diperlihatkan sejak awal, ditambah unsur-unsur sains fiksi yang sudah diindikasikan sesekali (terutama melalui kubus berbahan misterius yang ditemukan Nagisa). Tapi anehnya, tetap ada daya tarik tertentu yang seri ini punya dibandingkan seri-seri lain sejenisnya.

Membahas soal teknisnya, animenya terus terang gagal mengimbangi daya tarik visual gamenya. Sekejap melihat episode pertamanya saja, aku langsung sadar akan dua hal: satu, anime ini dibuat dengan anggaran sangat ketat, karena itu kelemahan visual anime ini seakan menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari; dua, dalam budget ketat itu, masih juga sempat ada ‘sesuatu’ yang terjadi dalam proses produksinya. Kendala apaa gitu yang membuat produksinya tak optimal.

Aspek visualnya mengalami perbaikan selama penayangannya berlanjut (mungkin ini gelagat kalau stafnya sempat kurang orang). Tapi tetap saja kualitas visualnya tak bisa mengimbangi kualitas CG gamenya yang sekali lagi, sangat luar biasa.

Eksekusinya di sisi lain terbilang bagus.

Kalau kau berpengalaman dalam mengedit video, terlepas dari kualitas naskahnya sendiri, kau mungkin bisa menyadari betapa rapinya pengaturan adegan dan tempo cerita di sepanjang seri ini. Walau animasinya sederhana, dalam satu frame kadang ada beberapa interaksi karakter yang terjadi sekaligus. Jadi selama kau enggak keberatan dengan tema ceritanya, kau enggak bakal benar-benar bisa bilang kalau penceritaannya membosankan.

Sifat para karakter juga lumayan berhasil tercermin bahkan hanya dari bahasa tubuh mereka. Setiap pergantian hari ditandai dengan munculnya angka yang ditimpakan pada keseluruhan frame, yang meski mungkin enggak langsung disadari sebagian orang, tapi sebenarnya sangat membantu untuk memahami apa-apa yang terjadi dalam cerita. (Petunjuk: itu penanda tanggal dan hari.)

Aspek audionya sama sekali tak buruk. Para seiyuu, yang merupakan gabungan dari beberapa nama veteran dan beberapa nama yang belum terlalu kukenal, terbilang melakukan peran mereka dengan sangat, sangat baik. Musik pembuka dan penutupnya terbilang lumayan. Lalu soundtrack latarnya lumayan ‘masuk’ dalam suasana.

Sekali lagi, naskahnya tipikal cerita romansa ala galge. Jadi kalau kau bukan jenis yang mentolerirnya, lebih baik kau jauhi seri ini. Jangan maksain diri. Tapi kalau kau tipe orang sentimentil yang suka dengan hal-hal kayak gini, anime Waremete termasuk yang benar-benar berkesan.

Berkesan dalam artian, bahkan bisa agak ‘menghantui’ kamu pada saat-saat yang enggak kamu duga…

“Besok kita akan bertemu lagi, ‘kan?”

Aku sebenarnya termasuk yang hati-hati dalam memilih seri-seri kayak gini (Penyebabnya karena aku pernah trauma dengan sesuatu berjudul Kimi ga Nozomu Eien.). Tapi walau mengangkat tema-tema yang kadang menurutku stupid, Waremete menurutku berhasil karena menyampaikan tema-tema tersebut dengan cara yang tak membuatku eneg.

Karakter utama, yang biasanya menjadi sumber keenggaksukaanku, termasuk mending di seri ini. Sou punya bawaan tipikal seperti protagonis-protagonis lain dari seri-seri sejenis. Dalam perkembangan cerita, dirinya juga berbuat kesalahan-kesalahan yang serupa. Tapi entah kenapa, aku tak merasa antipati seperti yang biasa kurasakan terhadap karakter-karakter sejenis. Bahkan, sebelum ‘titik balik’ yang dialaminya pun, Sou menurutku karakter yang lumayan simpatik.

…Sekali lagi, alasannya tak  bisa kujelaskan. Lalu aku juga sadar ada banyak orang yang mungkin punya pendapat sebaliknya.

Dengan segala keterbatasannya, Waremete berhasil jadi seri yang konsisten kualitasnya dari awal sampai akhir (kalau bukan agak meningkat di tengah-tengah). Ya, kau mungkin kecewa karena penggalian karakter Kaori ternyata tak lebih dalam dari yang kau harap. Ya, kau juga mungkin agak aneh dengan perkembangan ceritanya yang… memang agak aneh (mungkin ini salah satu tanda kalau ada ‘rute’ berubah. Ini salah satu jenis cerita yang memiliki true ending). Lalu ya, kau juga mungkin aneh—dan agak seram—dengan sebagian aspek sains fiksi yang tahu-tahu saja telah ada di cerita. Mungkin juga kau gimanaa gitu dengan aksen Inggris aneh yang Kenny perlihatkan. Tapi terlepas dari semua keterbatasannya, tetap ada beberapa hal luar biasa yang seri ini punya.

Di akhir, mungkin kau juga enggak benar-benar bakal mengerti beberapa hal terkait ending-nya… Tapi tetap saja, ada sesuatu yang luar biasa!

Aku serius penasaran kenapa Hosoda-san memilih menyutradarai seri ini. Aku juga jadi ingin tahu seperti apa sebenarnya selera pribadi beliau. Tapi terlepas dari itu, aku kagum dengan bagaimana beliau mengerjakan sesuatu yang akan dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, tapi tetap memberikan hasil terbaik yang beliau bisa.

Kau bisa lumayan ‘merasakan’ kalau misalnya ada orang yang enggak suka hasil akhir karyanya sendiri. Tapi dari Waremete, aku enggak merasakan apa-apa seperti itu.

Ini termasuk seri yang tak akan kurekomendasikan. Tapi tetap ada beberapa hal pribadi yang kusadari dari mengikuti ini. Jadi kurasa ini bukan seri yang akan bisa kubenci.

Mohon pendapatnya untuk mereka-mereka yang sudah tahu tentang VN-nya.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B

Update, 5 Januari 2016

Jadi belum lama ini, aku kesampaian melihat episode OVA Waremete, yang bisa dibilang merupakan episode 13. Ceritanya membeberkan closure yang menarik terhadap nasib Yui dengan tiba-tiba menempatkannya bukan di bulan Oktober seperti sebelum-sebelumnya, melainkan di pertengahan musim panas. Jadi ‘kali ini’ Yui diindikasikan tiba di Uchihama lebih awal dari sebelumnya. (Atau… ini musim panas sesudah festival? Kesadaran Yui tiba lebih akhir, yang berarti Nagisa-senpai sudah lulus dan semua tragedi yang sebelumnya terjadi berhasil dihindari?)

Berasumsi bahwa episode ini terjadi sesudah cerita di seri TV-nya, maka kelihatannya episode ini mengindikasikan kalau ada good ending yang akan ia dapat? (Lagi, aku enggak bisa jelasin kenapa aku mikir kayak gini.)

Ceritanya benar-benar tambahan dan bisa dibilang side story, tapi sedikit memberi informasi soal kubus berbahan misterius yang usianya mungkin lebih tua dari yang semula disangka.

Hasilnya menurutku menarik. Seenggaknya cukup memuaskan keinginan untuk bisa melihat lebih banyak soal Sou dan kawan-kawannya.

17/01/2015

Fate/stay night – Unlimited Blade Works

Fate/stay night – Unlimited Blade Works diadaptasi dari seri visual novel legendaris Fate/stay night.

Tepatnya, ini adaptasi anime ketiga dari Fate/stay night, sesudah sebelumnya dianimasikan dua kali—sekali ke bentuk seri TV dan sekali ke layar lebar—oleh studio DEEN, masing-masing pada tahun 2007 dan tahun 2010.

Sudah berapa kali ya aku menulis soal seri ini?

Fate/stay night bermula dari game VN dewasa yang dikembangkan grup doujin (indie) Type-Moon. Keluar pertama kali untuk PC pada tahun 2004, gamenya langsung disambut antusias berkat reputasi Type-Moon yang sebelumnya terbangun lewat Tsukihime dan dua seri lepasannya: Kagetsu Tohya dan Melty Blood.

Type-Moon terbentuk oleh duo Kinoko Nasu sebagai penulis dan Takeuchi Takashi selaku ilustrator. Kinoko-sensei punya gaya cerita dan pilihan tema yang khas. Sedangkan Takeuchi-sensei punya gaya desain karakter yang sekilas sederhana, tapi mengandung suatu kedalaman dan perhatian terhadap detil. FSN adalah seri pertama Type-Moon sesudah mereka jadi perusahaan komersil. Seri tersebut, ringkasnya, sukses luar biasa. Karakternya terbukti populer bahkan hingga sekarang. Lalu sesudah sepuluh tahun, kini seri tersebut diangkat menjadi anime lagi.

Sebelum masuk ke soal animenya, perlu disinggung kalo versi game Fate/stay night terbagi ke dalam tiga percabangan cerita (rute):

  • rute Fate, dengan karakter Saber sebagai tokoh utama perempuan;
  • rute Unlimited Blade Works, dengan Tohsaka Rin sebagai karakter utama perempuan;
  • dan rute Heaven’s Feel, dengan Matou Sakura sebagai fokus utama.

Ketiga rute di atas memiliki alur cerita serta tema yang agak beda juga.

Terkait percabangan cerita di masing-masing rute, anime TV-nya yang keluar tahun 2007 secara umum mengadaptasi rute Fate, tapi ada tambahan elemen rute-rute lain di dalamnya juga. Adaptasi kedua berupa film layar lebar di tahun 2010 mengadaptasi rute Unlimited Blade Works, dalam versi agak padat (aku sempet nulis soal itu di sini, btw.). Sedangkan anime yang ketiga ini, yang keluar tahun 2014, kembali mengadaptasi rute Unlimited Blade Works, tapi kali ini dalam format seri TV. Kabarnya, rute Heaven’s Feel sendiri akan dianimasikan sesudah seri TV ini berakhir dalam format film layar lebar.

Studio yang menganimasikan kali ini adalah Ufotable, yang seakan menjadi studio langganan Type-Moon untuk menganimasikan karya-karya mereka. Karena sebelumnya Ufotable juga menganimasikan rangkaian film layar lebar Kara no Kyoukai pada tahun 2007, yang juga diangkat dari seri novel berjudul sama buatan Type-Moon. Ufotable juga yang menganimasikan seri prekuel dari Fate/stay night, yakni Fate/Zero, di tahun 2012, yang terbukti menarik perhatian banyak kalangan. Dengan demikian, kualitas anime ini dari awal seakan sudah terjamin.

Seri TV FSN – UBW juga jadi punya kesan sebagai semacam sekuel dari seri TV Fate/Zero. Selain bisa dibilang ‘melanjutkan’ ceritanya, penayangan FSN – UBW seperti Fate/Zero juga dibagi ke dua tahap, dengan jeda satu season di antara keduanya.

Tulisan ini membahas season pertamanya saja, yang ditayangkan pada musim gugur 2014 lalu dengan total sebanyak 12 13 episode.

Angin yang Menenggelamkan Kata-kata

Premis cerita Fate/stay night mungkin terdengar sedikit ribet.

Fate/stay night bercerita tentang suatu ritual sihir rahasia yang disebut Holy Grail War/Seihai no Sensou/Perang Cawan Suci, yang berlangsung di sebuah kota bernama Fuyuki, di pertengahan dekade 2000an. Ritual ini pada dasarnya merupakan ajang saling bunuh antara tujuh orang penyihir (magus) yang disebut Master, yang masing-masing telah memanggil tujuh makhluk semi roh berstatus familiar dengan kemampuan jauh melampaui manusia yang disebut Servant.

Ketujuh pasangan Master-Servant itu akan saling memburu dan saling menjatuhkan satu sama lain dalam ‘perang’ ini, yang secara rahasia berlangsung di seluruh penjuru Fuyuki. Ada suatu perwakilan dari Gereja yang menjadi pihak netral sekaligus ‘penengah’ dari ritual ini. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapat akses ke pusaka sihir legendaris Holy Grail/Seihai/Cawan Suci, yang konon dapat mengabulkan permintaan apapun.

Setidaknya, pemahamannya di permukaan seperti demikian. Kenyataannya, ada banyak intrik dan rahasia yang terjadi di belakang layar…

Seri Fate/stay night mengisahkan peristiwa terjadinya Perang Cawan Suci kelima yang pernah terjadi (dengan prekuelnya, Fate/Zero, mengisahkan yang keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelumnya). Tokoh utamanya adalah seorang remaja yatim piatu bernama Emiya Shirou.

Sesudah tanpa sengaja terlibat dalam perang, Shirou saat terdesak memanggil Servant Saber—seorang ksatria wanita berzirah dan berambut pirang yang menjunjung tinggi keadilan dan kehormatan—yang sekaligus membuatnya menjadi Master terakhir yang ‘dipilih’ Cawan Suci.

Tohsaka Rin, teman sekolah Shirou yang cantik dan sangat populer, ternyata merupakan salah satu magus yang terlibat dan menjadi penyebab tak langsung keterlibatan Shirou. Rin, yang pada dasarnya baik hati, merasa tak bisa membiarkan Shirou yang sedemikian tak tahu apa-apa tentang dunia sihir begitu saja. Karenanya, untuk sementara waktu mereka menyepakati suatu gencatan senjata.

Bersama, keduanya kemudian bekerjasama dalam menghadapi Master-Master lain yang tak segan melibatkan orang-orang biasa dalam Perang.

Aku Tahu Surga yang Menanti Kita

Setiap Servant pada dasarnya merupakan perwujudan suatu roh pahlawan (Eirei/Heroic Spirit) yang dapat berasal dari berbagai mitologi dunia. Kesemuanya konon memiliki kekuatan yang jauh melebihi batasan manusia normal, dan karenanya menjadi andalan masing-masing Master untuk menang.

Ketujuh Servant terbagi ke dalam tujuh ‘kelas’ yang akan kuulas di bawah. Kesemuanya memiliki ‘nama asli’ masing-masing. Tapi karena memanggil mereka dengan nama asli’ bisa membeberkan asal-usul—sekaligus kelemahan—mereka, para Servant lebih banyak dipanggil dengan nama kelas mereka.

Setiap Servant juga memiliki setidaknya satu ‘pusaka’ yang disebut Noble Phantasm/Hougu, yaitu pusaka khusus yang menjadi bagian ‘identitas’ mereka. Semakin tenar mitologi yang melandasinya, konon akan semakin kuat pula kekuatan Noble Phantasm tersebut. Karena bisa membeberkan identitas asli seorang Servant juga, Noble Phantasm biasanya hanya dikeluarkan pada saat terdesak dan menjadi kartu as masing-masing pihak.

Selain berkat kekuatan Cawan Suci, setiap Servant termanifestasi di dunia ini karena mendapat pasokan energi sihir dari Master masing-masing.

Namun Shirou—yang mendiang ayah angkatnya, Emiya Kiritsugu, ternyata merupakan seorang penyihir/magus—ternyata tak pernah mendapat pelatihan sihir secara benar. Sehingga walau ia ‘menarik kartu’ Saber, yang merupakan Servant dengan parameter paling seimbang dan karenanya dipandang punya peluang menang paling besar, dirinya kurang bisa mengoptimalkan potensi sesungguhnya yang Saber miliki.

Satu-satunya jenis sihir bisa Shirou lakukan secara lumayan hanyalah tracing. Tracing merupakan sihir yang memungkinkannya menganalisa struktur suatu benda serta memperkuat dan memperlemah parameter-parameter benda tersebut. Karena kemampuannya itu, Shirou sering dimintai tolong oleh Ryudou Issei, sahabatnya yang menangani OSIS/Dewan Siswa di Perguruan Homurahara tempat mereka bersekolah, untuk memperbaiki barang-barang rusak di sekitar kampus (meski Issei tak pernah mengetahui bahwa keahlian Shirou sebenarnya berasal dari kemampuan sihir).

Berkebalikan dengan Shirou, Rin adalah magus terlatih yang sihir spesialisasi keluarganya memungkinkannya ‘menyimpan’ energi sihir dalam benda-benda tertentu. Sihir andalannya adalah tembakan Gandr, yang mana ia melepas peluru-peluru yang dibuat oleh sihir.

Rin terlibat dalam Perang sebenarnya lebih karena suatu peran yang diwariskan oleh keluarganya. Namun kenyataannya, Rin tak punya permohonan khusus yang ingin dikabulkan melalui Cawan Suci (seperti Shirou, dirinya juga sudah tak punya orangtua). Shirou sendiri berpartisipasi dalam perang tergerak oleh suatu ideologi kepahlawanan yang ia warisi dari mendiang ayah angkatnya.

Sepuluh tahun silam, suatu bencana kebakaran yang teramat besar pernah terjadi di Fuyuki. Di peristiwa itu, Shirou kehilangan seluruh anggota keluarga kandungnya. Tapi ia akhirnya diselamatkan oleh Kiritsugu, dan kemudian dibesarkan olehnya sebagai anak angkat. Shirou tak begitu tahu banyak tentang latar belakang Kiritsugu. Tapi dirinya memahami suatu penyesalan mendalam yang ayah angkatnya dulu punyai, yang disampaikan menjelang ajalnya, tentang keinginannya untuk menjadi semacam ‘pahlawan pembela kebenaran.’

Ideologi yang Shirou punyai ini, yang membuatnya tak segan menempatkan diri dalam bahaya, segera mendapat perhatian Archer, Servant milik Rin. Karena alasan tertentu, hal ini menimbulkan konflik di antara mereka. Lalu lambat laun, Rin sendiri ikut menyadari, mungkin memang ada suatu hal abnormal tentang ideologi yang Shirou anut…

Masa Depan Putih Terang Ini

Terlepas dari semuanya, masing-masing Servant yang terlibat dalam Perang Cawan Suci kali ini (sekali lagi) antara lain:

  • Saber, spesialis pedang, konon berparameter paling seimbang. Master-nya adalah Emiya Shirou. Identitas aslinya pada perang ini adalah Arturia, raja legendaris Britannia yang menyembunyikan jati dirinya sebagai perempuan. Noble Phantasm miliknya yang paling dikenal adalah pedang suci Excalibur, yang disembunyikan dengan berkah roh angin agar tak kasat mata. Sebagaimana dikisahkan dalam Fate/Zero, Saber terlibat dalam Perang Cawan Suci terdahulu dengan Kiritsugu sebagai Master-nya. Ia ingin mengetahui mengapa Perang Cawan Suci sebelumnya berakhir prematur.
  • Lancer, spesialis senjata tombak, konon memiliki kelebihan di sisi kelincahan. Dirinya Servant yang menyeret Shirou sampai terlibat dalam Perang. Identitas aslinya adalah Cu Chulainn, pemburu legendaris dari Irlandia. Master-nya pada titik ini belum terungkap. Namun Master aslinya, Bazette Fraga McRemitz, sebagaimana dikisahkan dalam Fate/hollow ataraxia, sebenarnya telah tewas. Noble Phantasm miliknya adalah tombak Gae Bolg yang dapat selalu mengenai jantung bidikannya akibat pembalikan fenomena sebab akibat.
  • Archer, spesialis busur dan panah, memiliki mata tajam dan kemampuan untuk bergerak secara independen, dalam artian dirinya tidak melulu harus mengandalkan asupan kekuatan sihir (mana) dari Master-nya. Master-nya adalah Tohsaka Rin. Mungkin karena kecendrungan Rin untuk melakukan kesalahan bodoh di saat genting, Archer kehilangan sebagian ingatannya saat dipanggil. Karenanya identitas aslinya masih belum benar-benar diketahui. Sepasang pedang kembar yang sering digunakannya sebenarnya bukan Noble Phantasm milikinya.
  • Rider, spesialis tunggangan, konon memiliki potensi daya rusak paling besar. Identitas aslinya, walau tak benar-benar terungkap pada rute ini, adalah Medusa dari mitologi Yunani. Master-nya pada titik ini adalah Matou Shinji, teman lama Shirou di sekolah yang tampan tapi menjengkelkan. Noble Phantasm miliknya sebenarnya adalah kuda bersayap Bellerophon yang kelihatannya tak sempat tampil di rute ini. (Buat yang memperhatikan, ada alasan tertentu kenapa frame yang menampilkan dirinya ditampilkan sebelum Sakura pada beberapa saat menjelang berakhirnya animasi lagu pembuka.)
  • Caster, spesialis sihir, memiliki kuasa khusus untuk menciptakan teritori yang sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Identitas aslinya adalah Medea, putri negeri Colchis dalam legenda Yunani tentang para Argonaut yang memiliki kisah hidup tragis. Master-nya adalah Kuzuki Shoichirou, wali kelas Rin di sekolah, yang menjadi pengganti dari Master asli Caster yang dibunuh oleh Caster sendiri. Noble Phantasm miliknya adalah belati Rule Breaker yang dapat mematahkan ikatan sihir.
  • Berserker, yang mengorbankan kewarasannya dengan imbalan kekuatan sangat besar. Master-nya adalah gadis kecil, Illyasviel von Einzbern, yang seperti Rin, berasal dari salah satu keluarga pemrakarsa ritual Cawan Suci. Identitas Berserker adalah Hercules. Noble Phantasm miliknya yang utama, 12 Labors, mengharuskan Berserker dibunuh 12 kali untuk bisa ditaklukkan. Seperti yang dikisahkan dalam Fate/Zero, Ilya juga sebenarnya adalah putri kandung Kiritsugu.
  • Assassin, spesialis penyusupan dan serangan dari bayangan. Master-nya, entah bagaimana, adalah Caster, dan ada indikasi bahwa Assassin yang tampil di sini bukanlah Servant Assassin yang sesungguhnya. Identitas aslinya adalah pemain pedang legendaris Sasaki Kojirou yang justru bila dilihat dari sisi sejarah mungkin merupakan tokoh fiktif. Noble Phantasm miliknya adalah teknik pedang Tsubame Gaeshi yang memotong batas-batas dimensi dan memungkinkan keberadaan senjatanya pada beberapa titik sekaligus.

Satu-satunya Emosi yang Mungkin Masih Kupunya

Waktu pertama mendengar tentang pengumumannya, aku sebenarnya merasa Fate/stay night tidak perlu dianimasikan lagi. Buat apa sih? Emang kalian masih belum cukup puas? Kira-kira gitu.

Tapi melihat sendiri hasil akhirnya, Fate/stay night – Unlimited Blade Works terbilang mencengangkan. Kualitas presentasi dan eksekusinya benar-benar bagus. Visualnya beneran luar biasa. Seriusan benar-benar memukau; mulai dari efek sihir, pergerakan awan, desain lingkungan latar, pakaian karakter, sampai adegan-adegan aksi. Audionya agak sunyi di beberapa bagian, mungkin karena ceritanya berat di percakapan. Tapi para seiyuu-nya memperlihatkan hasil yang beneran berkesan. Kelihatan betapa besarnya sumber daya yang dikeluarkan untuk anime ini, walau memang ada beberapa kelemahan yang pada cerita yang tetap tak bisa dihindari.

Terkait cerita, cerita dari gamenya telah diekspansi pada beberapa titik. Ada beberapa adegan minor tapi menarik yang tak ada di game aslinya, seperti bagaimana Rin sempat berhadapan langsung dengan Ilya misalnya. Atau ditambahnya interaksi antara Shirou dengan teman-temannya di sekolah.

Walau dimaksudkan sebagai kelanjutan cerita Fate/Zero, Fate/stay night pada dasarnya jenis cerita yang berbeda. Di samping dibuat lebih awal, ceritanya terstruktur sedemikian rupa agar detil-deti yang dibeberkan pada tiap rute bisa saling melengkapi. Karena itu, kualitas ceritanya secara umum sebenarnya agak kalah berbobot dibandingkan Fate/Zero. Tapi kualitas eksekusi animenya seakan mengimbangi kelemahan ini. Pada beberapa titik, kualitas penceritaannya bahkan kerasa lebih baik dibanding gamenya.

Ada beberapa detil tersirat yang akan terasa ‘nyambung’ dengan Fate/Zero saat kau perhatikan. Misalnya pada ekspresi Saber saat mendengar nama Kiritsugu disebut kembali. Juga tentang bagaimana Kotomine Kirei—pendeta yang menjadi ‘wasit’ dalam Perang Suci kali ini—mengenali siapa Shirou bahkan tanpa Shirou benar-benar sadari.

Jadi sekalipun kau sudah tahu cerita FSN sebelumnya, anime ini tetap menarik. Ada banyak hal terselubung yang hanya bakal kau pahami kalau kau sudah tahu ceritanya sebelumnya.

Mengingat game orisinilnya sudah berusia 10 tahun, ada perombakan di segi desain karakter. Paling mencolok terlihat pada jaket yang dikenakan Shirou serta baju musim dingin yang Saber kenakan. Saber maupun Sakura—meski tokoh utama di rute ini adalah Rin—sama-sama ditampilkan sangat adorable di versi ini. Maksudku, keduanya seriusan luar biasa manis dalam desain karakter yang baru ini. Aku sempat lupa heroine utamanya harusnya siapa.

Rin sendiri, di samping secara tampilan, dipaparkan secara ekstensif latar belakang ceritanya. Kita dibawa mengenal lebih jauh tentang latar belakang kehidupannya yang rumit serta kepribadiannya kayak apa. (Mungkin malah agak terlalu ekstensif?)

Bab prolog dari gamenya, yang diambil dari sudut pandang Rin dan secara khusus memperkenalkan dirinya serta konflik Cawan Suci, bahkan ditampilkan pada episode 0 yang berdurasi satu jam. Apa yang membuatku benar-benar kaget adalah bagaimana sesudah episode 0 itu, episode 1 yang memaparkan rentang waktu cerita yang sama di episode 0 dari sudut pandang Shirou ternyata berdurasi satu jam juga. Episode 12, yang menjadi klimaks season ini, berdurasi satu jam pula. Jadi secara efektif seri ini punya durasi sekitar tiga episode lebih panjang dari seri anime seukurannya!

Mencari Fajar Itu

Akhir kata, FSN/UBW jelas merupakan seri paling ambisius pada musim gugur 2014 lalu. Cukup mengejutkan sebagus apa hasilnya. Miura Takahiro yang menjadi sutradaranya kurasa menjadi nama yang patut diingat. Ini kali pertama beliau menjadi sutradara penuh sesudah sebelumnya menangani film layar lebar Kara no Kyoukai yang keenam.

Secara pribadi, aku sebelumnya lebih suka Tsukihime dan Kara no Kyoukai ketimbang seri Fate. Tapi anime satu ini, agak membuatku berubah pikiran. Dulu, sempat ada rumor kalau mungkin anime ini akan menampilkan cerita orisinil yang akan ‘menyatukan’ ketiga rute di gamenya. Jadi jujur saja aku sempat agak kecewa saat tahu kalau ini adaptasi rute UBW lagi. Tapi kebagusan kualitasnya terus terang melampaui pengharapanku, walau mungkin aku merasa kayak gini karena sudah akrab dengan seri ini juga.

Konflik utama rute ini, yaitu soal ideologi kepahlawanan yang dianut Shirou, mungkin agak hit or miss bagi sebagian besar orang. Kau bakal menyukainya apa enggak kurasa tergantung kau orang kayak apa. (Aku pribadi lumayan mendalaminya sih.) Tapi seenggaknya penggemar dari kalangan manapun bakal terkesima oleh kerennya adegan-adegan aksi yang ada. Di samping itu, sebenarnya ada beberapa tema menarik lain lagi sih. Seperti soal sejauh apa tekad bisa membawa kamu, soal gimana apa yang kau yakini bisa diterima orang lain, dsb.

Kembali ke soal teknis, seri ini dipotong pada bagian yang pas. Tepatnya, pada saat Shirou dan Rin melakukan blunder yang mengakibatkan Saber terlepas dari kuasa mereka, dan akhirnya mereka berpisah jalan. Memang sangat terasa menggantung. Tapi kalau aku tak salah ingat, ceritanya mulai berkembang jadi benar-benar seru di gamenya mulai titik ini. Jadi aku berharap pada 12 episode berikutnya, cerita bisa bergulir dengan lebih cepat dan baik.

Sekali lagi, adegan aksinya seru. Skirmish dengan Berserker di tanah pemakaman pada awal cerita, benar-benar tertata secara keren. Adegan saat Shirou, Rin, dan Saber beraksi untuk mengungkap identitas Master Caster di tempat SPBU terbengkalai menjadi jauh lebih berkesan dari yang pernah kuingat dari gamenya.

Sedikit soal soundtrack, walau ada yang berpendapat sebaliknya, aku termasuk yang suka dengan lagu ‘Ideal White’ yang dibawakan Mashiro Ayano. Warna suaranya mirip dengan LiSA, walau mungkin secara performa, Mashiro-san masih belum sematang dia. Tapi nyanyiannya menurutku pas dengan tema yang sering ini usung. (Soal pemilihan judul lagunya terkait nama penyanyinya, apa ini suatu hal yang disengaja?)

Grup Kalafina seperti yang bisa disangka, membawakan ‘Believe’ yang menjadi lagu penutup seri ini. Lalu LiSA sendiri ternyata membawakan lagu ‘This Illusion’ yang melantun menjelang penutup episode akhir, mengiringi adegan melompatnya Rin dari pencakar langit. Iringan lagu-lagu ini berhasil membuat adegan tersebut—yang merupakan salah satu adegan paling berkesan di gamenya—jadi terkesan makin memukau. Lagu ini sendiri, yang dulu dibawakan Tanaka Sachi, merupakan soundtrack gamenya yang paling pertama. Jadi memang ada beberapa orang yang punya kenangan tertentu dengan lagu ini.

Sori aku enggak merasa bisa mengumbar lebih banyak soal ceritanya. Soalnya dari gelagatnya, di paruh berikutnya, para penulis akan mengembangkan konsep cerita dari gamenya secara lebih jauh lagi.

Mari kita nantikan bersama musim semi ini untuk hasil akhirnya.

Oh. Dan sesudah season keduanya nanti, sekali lagi, adaptasi layar lebar dari rute Heaven’s Feel sudah terkonfirmasi, yang memang mesti diakui merupakan rute paling ‘penuntas’ dari seri ini. Tapi soal itu mending kita bahas lain kali.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

23/04/2013

Robotics;Notes

Robotics;Notes adalah game ketiga dari rangkaian game visual novel seri science adventure yang dirilis melalui kerjasama antara Nitroplus dan 5pb.

Selaku penerus Chaos;Head dan juga Steins;Gate, ada lumayan banyak pengharapan dan perhatian yang diraih game ini bahkan saat masih digodok. Lalu, seiring dengan kesuksesan besar Steins;Gate, Robotic;Notes telah dipastikan akan dibuat adaptasi animenya bahkan sebelum gamenya sendiri pertama diluncurkan.

Animenya berdurasi 22 episode dan pertama tayang di blok Noitamina pada musim gugur tahun 2012. Produksi animenya dilakukan oleh Production I.G. (Anime Chaos;Head kalau tak salah dibuat oleh Madhouse, sedangkan anime Steins;Gate dibuat oleh White Fox), sehingga meski aku tak meragukan kualitas visualnya, sejak awal aku memang sudah dapat firasat aneh kalau adaptasinya mungkin takkan sebagus Steins;Gate.

Sebelumnya, aku bahkan enggak tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku cuma tahu kalo temanya berhubungan dengan upaya buat sungguh-sungguh ngebikin sebuah robot raksasa demi menyelamatkan dunia(?!).

Berhubung aku memang penggemar anime-anime yang menghadirkan robot-robot raksasa, aku memutuskan untuk tetap memeriksanya, sekalipun hasil jadinya benar-benar melenceng dari segala pengharapanku semula.

Apa yang akan terjadi jika kau sungguh-sungguh berusaha membangun sebuah robot raksasa?

Berlatar tak terlampau jauh di masa depan, Robotics;Notes dibuka dengan bagaimana klub robotika di SMA Chuo Tanegashima terancam untuk dibubarkan. Ekskul ini di awal cerita hanya terdiri dari dua anggota, yakni ketuanya, seorang gadis penuh semangat bernama Senomiya Akiho; dan teman masa kecilnya yang cuek dan lebih tertarik melewatkan waktunya dengan bermain game daripada membantu proyek robot Akiho, Yashio Kaito.

Robotics;Notes berlatar di masa ketika ketinggian permukaan laut nampaknya telah meninggi, sepeda-sepeda motor listrik lebih banyak digunakan untuk menggantikan sepeda, serta sebagian besar orang hidup dengan memiliki perangkat tablet Poke-com yang menggantikan fungsi telepon genggam. Perangkat yang kelihatannya juga disebut Phone-droid ini bisa digunakan untuk browsing, melakukan video call, mengakses jejaring sosial,  bermain game, dan yang paling berkesan mengakses IRUO, semacam aplikasi pengenalan citra berbasis augmented reality, yang mana orang dapat membidik Poke-com mereka ke berbagai arah bagaikan kamera dan memperoleh berbagai informasi secara terinci. Di samping itu, perangkat bantu bionik yang ‘dipasangkan’ pada tubuh juga telah banyak digunakan di masyarakat, untuk membantu para manula yang telah melemah tubuhnya ataupun mereka yang sempat mengalami kelumpuhan anggota tubuh pasca terjadinya kecelakaan.

Kita kemudian dibeberkan tentang bagaimana klub robotika yang dikepalai Akiho ini mewarisi cita-cita sekaligus proyek jangka panjang para sempai mereka untuk membangun sebuah robot raksasa seperti di anime-anime. Robot raksasa yang hendak mereka bangun diberi nama kode Gantsuku-1, yang desainnya didasarkan atas Gunvarrel, sebuah anime super robot yang sempat sangat populer di masa silam. Proyek ini pertama dicanangkan oleh kakak perempuan Akiho, Senomiya Misaki, yang dulu bahkan pernah memimpin klubnya memenangkan kejuaraan robotika nasional Robo-One. Namun sesuatu di masa lalu nampaknya telah terjadi, sehingga Misaki kemudian mengabaikan proyek jangka panjang ini, dan hubungannya yang dulu dekat dengan Akiho dan Kaito kemudian menjadi renggang.

Dari sudut pandang Kaito, Robotics;Notes memaparkan berbagai suka duka yang para anggota klub robotika alami selama terlibat dalam proyek Gantsuku-1. Cerita pada awalnya membeberkan cara-cara yang harus Kaito dan Akiho temukan agar klub mereka dapat terus berjalan, dimulai dari pencarian anggota-anggota baru, pencarian sponsor, sampai memenangkan kejuaraan Robo-One untuk tahun tersebut.

Anggota-anggota baru mereka kemudian meliputi:

  • Hidaka Subaru, alias Mister Pleiades, adik kelas Akiho dan Kaito yang lebih ahli tentang robotika dari sangkaan orang karena alasan pribadi.
  • Frau Koujiro, alias Furugouri Kona, murid pindahan hikkikomori yang ternyata adalah programmer game Kill-Ballad (sejenis Virtual On) yang selalu dimainkan Kaito di Poke-comnya. Menyimpan rahasia besar di masa lalunya yang terkait proyek jangka panjang klub robotika.
  • Junna Daitoku, gadis pemalu anggota klub karate yang kemudian Akiho mintai jadi model pergerakan robot-robotnya, yang ternyata adalah cucu Doc, kakek-kakek penggemar rock yang merupakan pemilik toko langganan tempat klub robotika membeli komponen-komponen robot mereka.

Tapi, sesudah itu semua, ceritanya benar-benar berkembang ke arah yang enggak disangka-sangka.

Tunggu, arah perkembangannya mungkin tertebak sih. Tapi cara ke sananya itu…

Bullet Time

Pada suatu titik, kita kemudian mengetahui bagaimana pada waktu kecil, baik Kaito maupun Akiho dulu pernah terlibat dalam suatu insiden misterius di kapal pesiar Anemone. Pada insiden ini, seluruh penumpang kapal tersebut tiba-tiba saja kehilangan kesadaran dan bahkan jatuh ke dalam koma. Insiden ini kalau tak salah diduga terpicu oleh fenomena solar flare di matahari yang menimbulkan terjadinya suatu anomali elektromagnetik. Sebagai dampak kejadian ini, Akiho dan Kaito kemudian menderita sesuatu yang disebut Elephant-Mouse Syndrome, yang pada saat sedang kambuh, mengakibatkan persepsi waktu terasa melamban bagi Kaito dan sebaliknya terasa dipercepat bagi Akiho.

Dalam upaya mereka menemukan cara untuk menyelamatkan klub mereka, Kaito secara tak sengaja berpapasan dengan Airi—sesosok gadis hantu kecil yang seakan-akan hidup dalam sistem IRUO. Airi jadi semacam sosok yang hanya bisa dilihat dan didengar melalui perangkat Poke-com masing-masing orang gitu, dan sehari-harinya ia menginformasikan pada orang-orang yang ditemuinya tentang perkiraan cuaca sehari-hari.

Melalui pertemuannya dengan Airi, Kaito turut menyadari adanya sejumlah rahasia masa lalu yang mungkin saja tersembunyi di kotanya sendiri, yang berkaitan dengan fenomena-fenomena misterius yang terjadi di dunia maya, dengan insiden kapal Anemone, dan mungkin saja dengan proyek jangka panjang klubnya sendiri.

Seiring dengan kemajuan proyek robot raksasa mereka, semakin banyak pula rahasia aneh yang terungkap oleh Kaito yang tampaknya berhubungan pula dengan sesuatu yang dirahasiakan Misaki.

Semuanya ternyata terhubung dengan sebuah konspirasi jangka panjang yang direncanakan oleh sesuatu yang disebut Committee of 300 untuk sungguh-sungguh menghancurkan dunia. Lalu satu-satunya orang yang berhasil mengungkap hal ini, seseorang bernama Kimijima Kou, ternyata telah lama meninggal karena terbunuh, dan hanya jejak pesan-pesan rahasianya semata yang tertinggal untuk ditelusuri Kaito dan dibuktikan kebenarannya.

Tapi apa yang kemudian Kaito temukan ternyata tetap lebih mengejutkan dari yang ia kira…

Lebih ke Drama Daripada Misteri

Robotics;Notes dipaparkan dengan alur yang sangat luar biasa lamban. Ini sesuatu yang membuatku skeptis pada awalnya, apalagi dengan jumlah episode yang lebih sedikit dibandingkan adaptasi seri-seri pendahulunya. Tapi seiring perkembangannya, aku mulai nyadar bahwa ‘kelambatan’ ini memang diperlukan, sebab segala sesuatunya memang perlu diceritakan secara runut.

Pastinya, sekalipun aspek misterinya tetap ada, kelambatan ini menghadirkan nuansa yang sama sekali berbeda dibandingkan Chaos;Head maupun Steins;Gate. Bila tokoh utama pada kedua seri tersebut secara berkelanjutan dihadapkan pada suatu situasi genting, Kaito berusaha menangani sesuatu yang kalau ‘dibiarkan’ juga mungkin dirinya takkan mengalami masalah.

Seiring dengan berakhirnya episode-episode awal, kau benar-benar kehilangan bayangan soal ke mana sebenarnya seri ini mau dibawa. Ceritanya jadi lebih kayak drama slice-of-life daripada misteri sains fiksi. Kamu kayak, beneran bisa kehilangan motivasi buat nonton gitu. Lalu hingga akhir, karena kaitannya dengan tempo cerita dan pembangunan suasana, seri ini tak benar-benar bisa dibilang berakhir sebagai sesuatu yang ‘seru.’

Kita kayak susah merasakan emosi apa-apa dari menonton ini. Lebih banyak datarnya.

Mungkin kaitannya ada pada hal teknisnya juga sih. Pada banyak bagian, meski kadar dramatisasinya cukup pas, aku benar-benar merasa kalau sorotan kameranya benar-benar kurang dinamis. Mungkin ada kontras yang berusaha diciptakan antara antusiasme Akiho dan kedataran sikap Kaito, tapi tetap jadinya kita sulit ‘masuk.’ (Siapa sih, art director-nya?)

Tapi perkembangan ceritanya itu seriusan gila-gilaan.

Seriusan, ada banyak sekali hal yang terjadi dalam cerita. Sehingga terkadang kita terasa kesulitan mengikutinya, sekalipun para pembuat sudah berusaha sebaiknya agar semuanya gampang dicerna dan bisa tersampaikan secara mudah.

Untung perkembangan ceritanya berbobot dan memang para karakternya menarik dan terasa hidup. Di samping itu, aspek-aspek sains fiksinya memang benar-benar memikat.

Mungkin karena memang sudah terlanjur mengikuti keseharian mereka, kita berhasil dibuat merasakan semacam kepedulian dan simpati terhadap Kaito dan kawan-kawannya. Lalu murni kita jadi sedikit ingin tahu apa di akhir cerita mereka beneran berhasil membangun robot raksasa mereka atau tidak.

Misterinya itu juga untungnya adalah jenis yang bertambah ‘aneh’ saat semakin dalam ditelusur. Ada beberapa perkembangan cerita yang serius bikin aku membelalakkan mata.

Salju

Robotics;Notes adalah jenis seri yang kayaknya lebih mending dimainin game-nya daripada ditonton animenya, tapi bukan cuma karena alasan game-nya lebih bagus dari anime. Anime Robotics;Notes itu sama sekali enggak jelek. Cuma game-nya yang kayaknya terlampau bagus untuk diangkat sebagai anime. (Walau belakangan kudengar narasi di gamenya agak bertele-tele sih.)

Ada banyak sekali detil menarik yang kayaknya jadi dipotong atau dipersingkat, mengakibatkan beberapa hal hingga akhir kerasa kayak enggak terjelaskan. Itu juga yang kayaknya mengakibatkan masalah tempo. Tapi para pembuatnya, akibat keterbatasan waktu, kelihatannya memilih untuk memasukkan hal-hal yang pentingnya saja, dan hal-hal penting tersebut itu yang pada akhirnya berusaha mereka tampilkan sebaik-baiknya. (Walau sekali lagi, kudengar narasi di gamenya beneran bertele-tele.)

Dengan begitu, kesan terakhirku terhadap seri ini berakhir agak… uh, campur aduk.

Ini sebenarnya bukan judul yang akan kurekomendasikan jika kau bukan penggemar cerita-cerita macam begini. Tapi kalau kau sempat merasakan antusiasme terhadap Chaos;Head, lalu merasakan juga antusiasme terhadap Steins;Gate, aku tak bisa tak merasa ada baiknya kau memeriksa Robotics;Notes. Soalnya cerita( dan konspirasi)nya pada beberapa titik emang terkait. (Tennoji Nae, gadis kecil putri Mr Brown di Steins;Gate, tampil sebagai karakter dewasa yang berperan lumayan penting di seri ini, tepatnya saat proyek Akiho dkk mulai melibatkan JAXA(!).)

Satu hal lain yang sungguh-sungguh kupelajari dari seri ini adalah bagaimana kau benar-benar enggak akan bisa nebak kehidupan akan mempersiapkanmu buat apa. Di balik segala kebingungan, kemarahan, keputusharapan yang mungkin pernah kau rasain, pasti ada sesuatu di ujung jalan yang akan harus kau perjuangin.

Apalagi, saat pertaruhannya juga melebihi segala yang kau bayangin…

Adegan saat robot raksasa mereka beneran jadi dibuat itu beneran kerasa keren.

(Maksudku, itu robot raksasa, man! They literally made a giant frickin’ robot!)

Penilaian

Konsep: S; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi B; Kepuasan Akhir: B

26/05/2012

Mashiro-iro Symphony: The Color of Lovers

Akhirnya. Akhirnyaaaaaaa.

Butuh waktu hampir setengah tahun, dan entah gimana aku berhasil melakukannya, tapi akhirnya aku berhasil menonton Mashiro-iro Symphony: The Color of Lovers sampai tamaaaaaat!

GYAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!

Bukan berarti itu suatu hal yang patut dibanggakan sih.

Cuma, terus terang, aku beneran mesti berjuang agar tahan menonton ini. Dan aku tahu ini enggak jelas banget, but it was worth it. …For me, at least.

Eniwei, aku sempat menyebutnya dalam daftar preview yang kubuat, tapi anime yang keluar pada musim gugur tahun 2011 lalu diangkat dari game visual novel dewasa Mashiro-iro Symphony: Love is pure white (judulnya berarti ‘simfoni berwarna putih murni’). Aku enggak tahu apa-apa soal game-nya, cuma gimana itu sebatas dibuat oleh pengembang Pallette (aku beneran udah lama enggak merhatiin perkembangan di dunia ini). Tapi aku tertarik dengan desain karakternya, dan tiba-tiba aku nyadar gimana aku lumayan kangen dengan nuansa yang dihadirkan game-game seperti ini.

Dan saat aku menonton anime ini, sesuai pengharapanku, nuansa itu pulalah yang aku dapatkan.

My Wavering Heart

Sebaiknya aku enggak terlalu masuk ke detil. Karena… yah, ini jenis cerita yang diangkat dari sebuah galge, dan galge biasanya lebih menitikberatkan pada karakter dan suasana daripada ke plotnya sendiri.

Cerita Mashiro-iro Symphony dibuka dengan bagaimana si tokoh utama cowok, seorang cowok baik hati yang memiliki pengalaman sebagai penderita asma di masa kecil, Uryuu Shingo, menjadi salah satu siswa yang terpilih di sekolahnya, Perguruan Swasta Kagamidai, untuk menjadi bagian dari ‘kelas percobaan’  di Sekolah Putri Swasta Yuihime (atau yang lebih sering dikenal sebagai Yuijo). Jadi ceritanya, karena suatu alasan, kedua sekolah tersebut rencananya akan digabung. Lalu untuk menguji prospek keberhasilan rencana tersebut, sebuah kelas percobaan diputuskan untuk diadakan di Yuijo, sehubungan dengan kenyataan bahwa rencana penggabungan tersebut masih ditentang oleh sebagian besar murid perempuan.

Singkat kata, Shingo, bersama adik tiri perempuannya, Sakuno, serta sahabat baiknya, Mukunashi Hayata, berkenalan dengan sejumlah teman baru. Kemudian dari sanalah ceritanya kemudian beranjak.

Sebenarnya agak aneh sih. Karena daripada seri anime pada umumnya, seri ini secara apik seakan memutuskan untuk lebih menghadirkan pengalaman memainkan game-nya melalui media gambar yang bergerak. Mungkin berkat perhatian Suganuma Eiji, sang sutradara, terhadap detil, perasaan ‘masuk ke dunia’ seperti yang biasa ditemukan di sebuah VN benar-benar terasa di seri ini. Jadi, walau ini anime, ini lebih terasa seperti VN daripada anime. Dan mempertimbangkan alasan aku menonton ini, kurasa bisa dibilang aku menemukan apa yang aku cari.

Cuma…

Yah, itu dia. Ceritanya agak… yah, begitulah.

Sama kayak di kebanyakan galge, di mana fokus ceritanya akan berubah drastis bergantung pada rute cewek mana yang kau pilih, cerita The Color of Lovers juga seakan berubah fokusnya menjelang pertengahan cerita. Enggak dalam artian buruk sih. Tetap tipikal adaptasi galge, di mana cerita yang diangkat merupakan cerita salah satu rute dengan tambahan adegan-adegan dari rute-rute lain. Cuma, yang agak enggak kusangka dari anime ini, rute yang dipilih bukanlah rute Sena Airi yang dikenal sebagai heroine utama seri ini. Sekalipun cerita dimulai dari dirinya–dari bagaimana ia tanpa sengaja berkenalan dengan Shingo dan Sakuno, bersahabat, tapi secara tak terduga, menentang kehadiran keduanya di sekolahnya–dalam perkembangannya, cerita lebih berpusat pada hubungan Shingo dengan Amaha Miu, kakak kelas lemah lembut yang mengurusi Nukobu. Jadi, Nukobu merupakan sebuah klub yang menangani hewan-hewan liar yang terdampar di lingkungan sekolah Yuijo–mengingat lokasinya yang berada di tepi pegunungan. Dan kurasa rute Miu dipilih karena klub tersebut menjadi apa yang menyatukan kesemua tokohnya pula–suatu hal yang diperlukan untuk memberikan semua heroine porsi tayang yang proporsional.

…Sebenarnya, aku agak kesal karena ini. Soalnya, aku suka Airi. Dan cuma dia doang alasan aku tahan mengikuti seri ini. Karena jujur saja, meski elemen romansa(dewasa)nya ada, ceritanya jelas-jelas bukan jenis cerita yang akan bisa kau tanggapi serius. Hahahaha. (Bayangin, ada salah satu heroine yang secara terang-terangan bekerja sebagai maid di seri ini.) Tapi kurasa perkembangan ini menarik juga. Terutama hubungannya dengan Pannya-chan, makhluk lucu aneh yang tak jelas apa yang dipungut Miu dan menjadi maskot seri ini. Apalagi rute Airi masih bisa kuikuti di salah satu adaptasi manga-nya (seandainya suatu saat kelak aku bisa menemukan scanlation-nya).

Ding Ding Love

Bicara soal presentasi, anime ini boleh juga. Studio Manglobe sejak dulu dikenal karena konsistensi kualitasnya (walau tema-tema yang mereka pilih untuk diangkat sebagai anime kadang membuat kening mengernyit). Meski dinamika karakternya terbatas, pewarnaan dan rincian gambarnya bersih dan tajam. Pengisian suaranya benar-benar baik meski ceritanya kayak gini. Lalu lagu pembuka dan penutup serta musik latar cukup memberi kontribusi terhadap suasana.

Terus terang, kurasa salah satu alasan aku menyukai seri ini adalah lagu ‘Suisai Candy’ yang dibawakan grup band Marble, yang juga membawakan lagu pembuka Kimikiss Pure Rouge. Dan dari sana aku kepikiran untuk suatu hari membuat daftar anime yang sejauh ini kutonton karena lagu-lagunya semata.

Akhir kata, ini sama sekali bukan jenis anime yang akan kurekomendasikan. Ini benar-benar sesuatu yang kutonton karena minat pribadiku doang. Sesuatu buat membuktikan bahwa yang seperti sering diperlihatkan dalam VN, untuk menulis sebuah cerita, kamu cukup perlu dua hal, yakni konsep latar dan konsep tokoh saja. Apa yang anime ini tonjolkan benar-benar suasana saja. Suasana kehidupan damai dan agak WAFF, meski kadang dalam dosis terlalu berlebih. Kota fiktif Kagamidai yang menjadi latar cerita ini terus terang juga menjadi daya tariknya. (Aku sebenarnya juga agak heran, karakter tokoh cowok baik-baik seperti Shingo sering sekali menjadi arketipe dalam game, namun kayaknya jarang sekali menemukan jenis karakter seperti ini dalam kehidupan nyata. Cuma aku saja?)

Serius. Penggambaran suasananya benar-benar keren. Menilai dari sana saja, aku bisa ngebayangin gimana versi game-nya menjadi salah satu yang laris terjual.

Jadi jangan tonton ini kecuali kau mencari hal ini, tanpa terlalu peduli akan substansi. Atau malah sedang benar-benar haus akan desain karakter bishoujo.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: B+; Audio: B+; Pengembangan: C; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C+

Wind of Silk, Twinkle Moon

Ada hal menarik yang lupa kukatakan. Sebenarnya dalam versi game aslinya untuk Windows PC, cuma ada empat rute utama yang bisa kita pilih; yakni rute keempat tokoh cewek yang sudah kusebut di atas. Baru pada remake-nya di PSP, ada tambahan dua rute, masing-masing untuk Inui Sana dan Onomiya Yotsuki.

Sana, yang menjadi teman sekelas Shingo dan merupakan salah satu pengagum berat Miu, pada game aslinya hanya sebatas menjadi tokoh pendukung. Tapi pada remake PSP dan ini, dirinya menjadi salah satu love interest Shingo dan sekaligus salah satu paling tokoh menonjol. Sedangkan si gadis kuil sekaligus anggota klub drama, Yotsuki, merupakan karakter yang benar-benar baru. Tapi dirinya sempat tampil sebentar sebagai tokoh cameo dalam episode paling terakhir anime ini. Menariknya juga, hanya rute mereka berdua pula yang diadaptasi ke bentuk manga di samping rute Airi.

27/01/2012

Umineko no Naku Koro ni Chiru

Maafkan aku. Aku gagal.

Sebelumnya aku berniat menyajikan ulasan masing-masing episode Umineko no Naku Koro ni secara lengkap. Tapi sumpah, membuat tulisan yang mengkaji semua misteri dan drama yang ada di dalamnya itu benar-benar berat. Lalu ngebaca lagi postingan-postingan yang telah kubuat sebelumnya, rasanya kayak kurang enak dibaca. Ditambah lagi, ini bukan cuma karena banyaknya materi yang dibahas dan karakter yang berperan, cara intepretasi terhadap cerita ini sendirilah yang justru menjadi tantangan terbesar yang game ini tawarkan.

Jadi, singkat cerita, aku akhirnya berkesampaian memainkan Umineko no Naku Koro ni Chiru (‘saat para camar menangiskan pemecahan’) yang merupakan paruh kedua seri Umineko. Ceritanya meliputi episode 5 sampai 8. Sebagian besar terjemahannya sudah dibuat oleh tim penerjemah di The Witch Hunt. Lalu game-nya sendiri bisa dibeli secara online dengan cukup mudah melalui situs resmi 07th Expansion.

Paruh kedua game ini memaparkan kelanjutan permainan teka-teki yang Ushiromiya Battler lakukan melawan sang penyihir abadi, Beatrice. Lalu bersama setiap perkembangan cerita, pemecahan baru terhadap misteri-misteri yang ada di keempat episode pertama sesekali akan terungkap.

Reminisce

Bagi mereka yang mengalami kesulitan mengikutinya, berikut adalah penjelasan singkat mengenai apa-apa yang terjadi dalam keempat episode Umineko no Naku Koro ni.

Episode 1: Legend of the Golden Witch, memperkenalkan para pemain pada latar pulau Rokkenjima dan anggota-anggota keluarga Ushiromiya serta kerabat mereka. Sang kepala keluarga, Ushiromiya Kinzo, tengah sekarat. Lalu keempat anaknya, Krauss, Eva, Rudolf, dan Rosa, beserta pasangan dan anak-anak mereka, menghadiri pertemuan keluarga tahunan Ushiromiya dengan motivasi mereka masing-masing, yang pada dasarnya berhubungan dengan potensi warisan yang dapat mereka terima dari Kinzo. Ada intrik dan perseteruan berlangsung, yang kemudian memuncak pada rangkaian pembunuhan misterius. Rangkaian pembunuhan ini sesudah diamati tampak berhubungan dengan sebuah ritual/teka-teki yang Kinzo dulu pernah buat. Semuanya kembali pada kabar burung yang menyatakan bahwa Kinzo dulu memperoleh tumpukan emas batangan yang ia gunakan untuk sumber modal kekayaan awalnya dari seorang penyihir bernama Beatrice. Siapapun yang bisa menemukan tempat Kinzo menyembunyikan batangan-batangan emas tersebut akan Kinzo pilih sebagai kepala keluarga Ushiromiya baru dan sekaligus dibebaskan dari kemarahan Beatrice. Teka-teki terbesar episode ini adalah pertanyaan apakah Beatrice, orang kesembilan belas di pulau itu, sebenarnya benar-benar ada atau tidak.

Episode 2: Turn of the Golden Witch, memaparkan babak pertama permainan yang berlangsung antara Beatice dan sang tokoh utama, Battler, anak remaja Rudolf. Battler, yang menjadi satu-satunya orang yang enggan mengakui kuasa Beatrice pada akhir episode sebelumnya, dijebak oleh Beatrice di sebuah dunia lain bernama Purgatorio. Di sana, ia harus memainkan sebuah permainan dengan nyawa keluarganya sebagai taruhan. Di permainan ini, Beatrice akan merekonstruksi insiden pembunuhan penuh teka-teki yang baru berlangsung di Rokkenjima, dan Battler diharuskan menemukan kebenaran insiden itu dari sudut pandang bahwa semua itu terjadi tanpa campur tangan kekuatan ‘sihir’. Battler kalah telak pada babak ini karena gagal menjelaskan kebenaran dari balik semua ‘sihir’ yang terjadi. Tapi Beatrice pun masih belum menang karena Battler bersikukuh bahwa kelak semua penjelasannya akan bisa ia berikan. Pada episode ini, Beatrice secara jelas menampakkan diri di Rokkenjima sebagai tamu VIP sekaligus orang kesembilan belas. Lalu latar belakang lebih jauh dibeberkan tentang hubungan-hubungan antara George (putra Eva) dan si pelayan perempuan Shannon, antara Jessica (putri Krauss) dan si pelayan lelaki Kanon, serta antara Rosa dan putrinya yang masih kecil, Maria.

Episode 3: Banquet of the Golden Witch, kembali merekonstruksi pembunuhan yang terjadi. Namun kali ini, para orang dewasa memilih untuk bekerjasama dalam upaya mereka menemukan jawaban dari teka-teki keberadaan emas yang Kinzo tinggalkan. Eva berhasil memecahkan teka-teki ini. Lalu berdasarkan penuturan versi supernatural Beatrice, Eva kemudian menjadi kepala keluarga Ushiromiya dan sekaligus menjadi ‘Beatrice’ yang baru. Namun sisi terpendam Eva yang menjadi Eva-Beatrice kemudian melanjutkan rangkaian pembunuhan. Battler dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa ada salah seorang anggota keluarganya (dan bukan orang luar) yang menjadi pelaku pembunuhan ini. Ia pun bermain sungguh-sungguh untuk pertama kalinya, dan menantang Eva-Beatrice yang baru diangkat jadi penyihir dalam permainan rekonstruksi karena tak bisa menerima kekuasaannya. Cerita berakhir dengan satu tipuan terakhir dari Beatrice yang nyaris membuat Battler takluk, kalau bukan karena intervensi seorang gadis asing misterius yang tiba-tiba hadir di Purgatorio. Episode ini memaparkan lebih jauh tentang masa lalu Eva bersama saudara-saudaranya, masa lalu(?) Beatrice sebelum menjadi penyihir, serta menjadi episode di mana untuk pertama kalinya ada tokoh yang dikisahkan selamat dari pembantaian yang terjadi Rokkenjima. Semakin banyak tokoh baru turut diperkenalkan di episode ini. Lebih banyak tentang hubungan rumit keluarga Battler menyangkut Kyrie, ibu tirinya yang merupakan istri kedua Rudolf, juga diimplikasikan.

Episode 4: Alliance of the Golden Witch, menyatakan bahwa gadis misterius di akhir episode sebelumnya tak lain adalah versi masa depan dari Ange, adik perempuan Battler yang masih kecil dan tak bisa turut menghadiri pertemuan keluarga pada hari itu karena sakit. Ange merupakan pion yang dimasukkan ke papan permainan oleh Bernkastel, seorang penyihir lain yang semenjak awal telah mengawasi permainan antara Beatrice dan Battler, sekaligus menjagokan Battler, bersama temannya sesama penyihir, Lambdadelta, yang secara garis besar menjagokan Beatrice. Melalui adegan-adegan kilas balik, separuh episode ini menuturkan bagaimana Ange yang nyaris sebatang kara tumbuh dengan penuh penderitaan dan kebencian terhadap Eva, bibinya yang selamat pada babak permainan di episode sebelumnya dan memperoleh hak asuhnya. Separuh lagi menuturkan kelanjutan permainan antara Beatrice dan Battler, di mana Kinzo secara jelas menampilkan diri di dalam cerita. Ange kemudian belajar sihir lewat apa yang tersisa dari buku harian Maria, satu-satunya anggota keluarga Ushiromiya yang sepenuhnya mempercayai bahwa Beatrice dan sihir itu ada, dan diberi kesempatan untuk mengetahui ‘kebenaran’ tentang misteri yang terjadi melalui pertemuannya dengan Bernkastel.  Ange mendukung Battler dalam babak permainan kali ini, dan mengorbankan nyawanya untuk menolong Battler untuk terakhir kali. Battler dan Beatrice menuntaskan permainan mereka, dengan Battler akhirnya menemukan argumentasi untuk seluruh misteri dari babak pertama dan berhasil mengalahkan Beatrice. Meski demikian, sejumlah besar teka-teki masih belum terjawab, terutama menyangkut siapa dan apa motivasi Beatrice yang sesungguhnya.

(bersambung)

14/03/2011

Umineko no Naku Koro ni (VN5)

Melanjutkan bahasan tentang VN Umineko no Naku Koro ni yang tengah kumainkan…

Episode kedua berlanjut dengan adu argumentasi antara Battler dan Beatrice. Battler yang masih belum sepenuhnya memahami ‘aturan permainan’ mengalami kesulitan dalam menghadapi kelicikan sang penyihir. Dirinya dengan susah payah mencoba menjelaskan bagaimana orangtua para sepupu bisa terbunuh secara sekaligus di chapel, bagaimana mereka bisa sampai ditinggalkan dalam sebuah ruangan yang terkunci, lalu bagaimana semua itu berakibat pada kecurigaan terhadap para pelayan, serta bagaimana sisa pembunuhan bisa dilakukan sesudah adanya jasad-jasad yang hilang, yang menciptakan ilusi bahwa ada seseorang yang telah memalsukan kematiannya sendiri.

Dihadapkan pada trik alibi yang Beatrice gunakan, Battler nantinya memahami bahwa tujuan utamanya bukanlah menemukan sang pelaku, melainkan menunjukkan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang terjadi bisa dilakukan tanpa menggunakan sihir. Pemahaman barunya inilah yang menjadi awal perkembangannya menjadi lawan yang sepadan bagi Beatrice.

Tapi meski telah berusaha keras, episode kedua tetap berakhir dengan kekalahan telak bagi Battler. Pintu ke Negeri Emas terbuka. Harapan Kinzo tercapai. Tapi seperti halnya Genji, Kinzo pun hanya berakhir sebagai korban persembahan di mata Beatrice. Battler tunduk sebagai budak peliharaan sang penyihir. Tapi pada saat mendengar teriakan penuh derita dari Rosa dan Maria—dua orang terakhir yang masih tersisa—Battler dengan tegar bangkit kembali dan menantang Beatrice sekali lagi. Dengan demikian, melenyapkan sihir yang telah tercipta, dan membuat segala ritual harus diulang kembali dari awal.

The Seven Sisters of Purgatory

Episode kedua sebenarnya dibuka dengan beberapa pembeberan baru melalui kilas balik sejumlah kejadian yang terjadi lama sebelum hari pertemuan keluarga. Awal mula jalinan cinta diam-diam antara Shannon dan George diungkap. Awal hubungan buruk antara masing-masing anak Kinzo diangkat ke permukaan. Kenyataan bahwa Shannon, Kanon, serta Genji bukan ‘manusia’ juga diindikasikan. Lalu melalui mata Shannon dan Kanon, Beatrice diperlihatkan selama ini telah lama berdiam di Rokkenjima, meski bukan dalam wujud kasat mata.

Kita juga mengetahui bahwa sihir di dunia Umineko bergantung pada kekuatan keyakinan. Ada sesuatu yang disebut ‘toksin anti-sihir’ yang terkandung dalam diri tiap manusia dengan kadar berbeda-beda, yang menentukan keberhasilan dari setiap tindakan sihir. Dalam keluarga Ushiromiya, toksin ini terkandung dengan kuat dalam diri Battler oleh Kinzo—menjadikan mereka teramat sulit mempelajari sihir, tetapi pada waktu yang sama melindungi mereka dari pengaruh-pengaruh sihir dari luar. Toksin inilah yang menjadi alasan mengapa dalam keadaan ‘normal’ sihir seakan tidak pernah ada, dan sihir hanya dapat muncul dalam lingkungan orang tertentu yang mempercayai keberadaannya.

Titik penting dalam episode ini mungkin adalah dipecahkannya cermin yang tersimpan di kuil kecil tepi karang Rokkenjima oleh Shannon, beberapa waktu sebelum ia dan George bahkan berhubungan. Cermin yang dikatakan ajaib ini diduga berhubungan dengan segel yang mengunci kekuatan Beatrice. Shannon melakukan ini sebagai bentuk pembayarannya atas bantuan Beatrice dalam membantu hubungannya dengan George.

Kemunculan Beatrice dalam wujud ragawi di Rokkenjima mematahkan salah satu ‘senjata potensial’ Battler yaitu keberadaan Beatrice yang tak bisa dipastikan. Dengan hadirnya Beatrice di papan permainan, Battler tidak bisa menggunakan alasan bahwa semua yang terjadi hanyalah permainan yang diskenariokan oleh kakeknya belaka.

Di episode ini, kita secara resmi diperkenalkan juga terhadap Seven Stakes of Purgatory, senjata-senjata pasak yang merupakan ‘perabotan’ ciptaan Beatrice yang dibuat khusus untuk keperluan ritual ini. Ketujuhnya berbentuk pasak-pasak logam yang hidup dan dapat meluncur sendiri di udara ke arah sasaran mereka dengan kecepatan tinggi. Mereka dengan ganas akan memburu sasaran-sasaran mereka dan menancapkan diri di bagian tubuh korban sesuai ketentuan ‘senja’ yang sedang berlaku. Mereka-lah wujud sebenarnya dari senjata pasak misterius yang membingungkan Battler pada permainan pertama. Bila sedang tak berwujud pasak, mereka mengambil sosok tujuh bersaudari muda berseragam merah dengan rok sangat pendek yang memiliki kepribadian masing-masing. Ketujuhnya dinamai sesuai nama suatu ‘setan’ (duh, aku enggak enak nulis ini) dan masing-masing dari mereka mewakili salah satu dari tujuh ‘dosa besar.’

Konsep pasak ini mulanya membuatku agak gimanaa gitu. Kenapa sih misteri pembunuhannya enggak pake senjata-senjata biasa aja? Tapi aku mulai memahami maksud Ryukishi07 seiring dengan berlangsungnya cerita.

Terlepas dari semuanya, episode kedua ini kembali berakhir secara menggantung dan memunculkan lebih banyak pertanyaan. Battler ingin menyangkal sang penyihir, tetapi pada waktu yang sama tak ingin membiarkan salah satu anggota keluarganya dituduh sebagai pelaku. Kontradiksi inilah yang kemudian menjadi penyebab kekalahannya.

Omong-omong, belakangan aku sadar. VN Umineko ini agak susah kuulas karena ada begitu banyak detil yang bermain di dalam ceritanya. Di samping itu, karena ada begitu banyak tokoh di dalamnya dan ada berbagai sudut pandang yang diambil dalam satu episode, tak ada fokus khusus yang bisa ‘mengikat.’ Sehingga yang tersisa hanya aspek misteri dan teka-tekinya saja yang bisa diandalkan untuk memikat pembaca, yang sebenarnya belum tentu juga bisa mencerna semua cerita ini.

Tapi, yah, aku tetap akan menulis tentangnya kok. Hanya tinggal dua episode lagi yang perlu kuulas sebelum bisa mulai mempelajari Umineko Chiru.

14/02/2011

Umineko no Naku Koro ni (VN4)

Aku lupa cerita. Di akhir episode pertama, sebelum kedua epilog, dikisahkan bahwa jenazah setiap anggota keluarga Ushiromiya akhirnya ditemukan para penduduk sekitar yang datang untuk menengok di Rokkenjima sesudah badai berakhir. Mirip seperti kasus surat wasiat Maebara Keiichi pada episode pertama Higurashi, tak ada satupun orang luar yang bisa menjelaskan apa kira-kira yang telah terjadi.

Tapi beberapa bulan berikutnya, dikatakan bahwa sebuah surat dalam botol ditemukan di suatu wilayah lepas pantai. Surat tersebut rupanya surat wasiat yang konon ditulis dan ditanda tangani oleh Maria Ushiromiya di akhir hayatnya, yang memohon agar siapapun yang menemukan dan membaca surat tersebut bisa menemukan kebenaran dari peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarganya.

Pada awalnya, aku mengernyit saat membaca keterangan soal surat ini. Ada sesuatu yang jelas-jelas tak beres tentangnya (seperti: apa benar dengan semua yang terjadi, Maria yang menulis surat tersebut?), dan akhirnya hanya berpikir bahwa ini hanya menjadi semacam ‘tanda pembuka’ misteri semata.

Tapi siapa sangka surat ini nantinya justru akan memainkan fungsi yang begitu besar di dalam cerita….

Revelations

Pada episode kedua, Turn of the Golden Witch, Ushiromiya Battler menantang Beatrice untuk membuatnya mengakui bahwa para penyihir benar-benar ada.  Sesudah segala yang terjadi di episode pertama, hanya Battler seorang yang masih tersisa dalam menghalangi kebangkitan Beatrice secara sepenuhnya. Beatrice takkan membiarkan Battler begitu saja, dan berjanji akan menyiksa dan membuat dirinya begitu menderita, sampai pendiriannya akhirnya goyah dan hancur.

Sesudah dibawa ke ‘alam sementara’ bernama Purgatorio (dan secara mengerikan dibunuh kemudian dihidupkan kembali secara berulangkali) Battler bersama Beatrice menghadiri permainan ‘reka ulang’ dari masa dua hari dirinya di Rokkkenjima, di mana waktu seolah berulang dan Battler berkesempatan melihat dirinya dan keluarganya di masa lalu sebelum peristiwa pembantaian, yang mungkin saja akan berakhir dengan cara yang berbeda dari ‘sebelumnya’…

Ini mungkin agak membingungkan bagi yang belum tahu. Tapi intinya, Battler dan Beatrice saling duduk berhadapan di sebuah meja, dan mereka akan saling bertukar teori tentang segala perkembangan yang terjadi di ‘papan permainan’.

Syarat kemenangan Battler adalah sepenuhnya membuktikan pada Beatrice bahwa segala trik pembunuhan yang berlangsung di Rokkenjima dapat dilakukan dengan tangan manusia, sama sekali tanpa campur tangan ‘sihir.’ Sebaliknya, syarat kemenangan Beatrice hanyalah membuat Battler sepenuhnya menerima bahwa penyihir dan kekuatan sihir benar-benar ada. Ada implikasi lebih mendalam dari kedua syarat kemenangan ini. Tapi soal itu akan kubahas lebih lanjut lagi.

‘Papan permainan’ yang dimaksud adalah Rokkenjima sebagai ‘panggung drama’ di mana peristiwa pembantaian dua hari itu kemudian dilangsungkan. Di dalam ‘papan permainan’ itu, waktu dimulai dari hari kedatangan Battler dan keluarganya di Rokkenjima. Lalu insiden-insiden aneh mulai terjadi seperti dalam episode sebelumnya, dan seterusnya. Di ‘papan permainan’ ini, ada ‘Battler lain’ yang berbeda dar Battler yang sedang berada di Purgatorio. ‘Battler’ inilah yang jadi pion langsung Battler karena memiliki sifat, pembawaan, serta ingatan masa lalu sama persis dengannya. ‘Battler’ ini sepertinya memang tak bisa dikendalikan langsung oleh Battler di Purgatorio. Karena meski Battler di Purgatorio, seperti Beatrice, dapat melihat segala yang terjadi secara omniscient,dalam permainan logika ini, ‘Battler di papan permainan’ harus bergerak mengikuti kerangka hukum kewajaran yang berlaku. Tapi argh, kau perlu berdiskusi untuk bisa memahami konsep ini. Jadi pembahasan ceritanya untuk sekarang kulanjutkan dulu saja.

Episode kedua ini sebenarnya dimulai dengan pembeberan sejumlah hal yang tak disinggung dalam episode pertama.

Hubungan kasih antara George dan Shannon ternyata dimulai oleh Shannon bertahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana yang telah diindikasikan pada episode pertama, perasaan cinta Shannon ditentang oleh Kanon. Tapi alasan Kanon menentang perasaan itu ternyata lebih dari sekedar karena status keduanya sebagai pelayan saja…  (buat yang belum tahun, alasannya yang pasti bukan cemburu; hubungan antara Kanon dan Shannon sepenuhnya adalah hubungan kakak-beradik)

Terungkap bahwa kedudukan Shannon dan Kanon memang rendah, karena keduanya di permukaan dipungut dari panti asuhan, dilatih dan diberi pendidikan secara khusus oleh Kinzo untuk menjadi pelayan bagi keluarga Ushiromiya sampai masa pensiun mereka yang telah ditetapkan.

Dilanda kesedihan akibat cintanya yang nyaris dipastikan kandas, Shannon (entah hanya di episode ini atau di seluruh episode juga) ternyata kemudian didekati oleh roh Beatrice, yang lalu menggodanya dengan peluang untuk memuluskan cintanya. Prasyarat yang Beatrice minta hanyalah agar Shannon pergi ke kuil kecil di salah satu tanjung Rokkenjima, dan memecahkan cermin yang tersimpan di sana.

Kuil kecil ini tidak lain adalah kuil yang Maria keluhkan hilang setibanya ia dan keluarganya di Rokkenjima pada episode pertama! Kuil ini dikatakan hancur tersambar petir dalam hujan deras yang terjadi beberapa lama sebelum acara pertemuan keluarga ini dilangsungkan.

Ada indikasi bahwa cermin ini menjadi semacam segel yang menahan Beatrice untuk bisa keluar dari Rokkenjima. Sepertinya, dengan pecahnya cermin tersebut, Beatrice menjadi semakin bisa memanifestasikan dirinya secara materil.

Kanon marah besar pada Shannon tatkala ia akhirnya mengetahui tentang pecahnya cermin ini. Terungkap pula bahwa Shannon, Kanon, beserta Genji (sang kepala pelayan) sesungguhnya adalah ‘perabot’ yang dibuat Kinzo dengan tujuan untuk melayaninya. Ketiganya adalah hasil dari percobaan Kinzo dalam mempraktekkan ilmu sihir yang tengah dipelajarinya. Kenyataan bahwa mereka ‘bukan manusia’ dan memiliki takdir (masa pensiun?) mereka sendiri inilah yang membuat Kanon begitu menentang perasaan Shannon. Kanon lebih marah lagi karena Shannon membuat kesepakatan dengan Beatrice, yang Kanon yakini entah bagaimana kelak akan memanfaatkan suatu celah dalam kesepakatan mereka dan akhirnya membuat Shannon menderita.

Tapi keadaan sudah terlambat, karena George (berkat jimat pemberian Beatrice?) telah membalas perasaan Shannon. Sebagaimana yang diceritakan di episode pertama, George tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, bahkan telah berniat untuk melamar Shannon ke jenjang pernikahan. Shannon pun di sisi lain menegaskan bahwa asalkan ia berkesempatan untuk bisa bersama George, ia tak peduli kemalangan apapun yang menantinya di masa depan karena percaya ia pasti akan bisa melaluinya. Shannon juga menyanggah pendapat Kanon soal bagaimana mereka ‘bukan manusia,’ karena sekalipun dibuat sebagai ‘perabot,’ keduanya sama-sama memiliki hati yang punya kemampuan untuk mencinta. Shannon pun balas menyinggung soal perasaan Kanon sendiri yang dipendamnya terhadap Jessica.

Kanon sadar bahwa pada akhirnya ia hanya bisa berupaya melindungi Shannon dari Beatrice sebisa mungkin. Tapi ketakutannya terbukti nyata saat melihat Beatrice sendiri hadir sebagai tamu undangan ke-19 pada hari dilangsungkannya pertemuan keluarga.

Orang Kesembilan Belas

Kehadiran Beatrice secara ragawi di Rokkenjima memicu perkembangan cerita yang berbeda dari apa yang terjadi di episode pertama.

Di Purgatorio, Beatrice seakan mengejek Battler dengan menunjukkan secara jelas bahwa orang kesembilan belas secara nyata ada. Seiring perkembangan yang terjadi di Rokkenjima, Beatrice juga menantangnya untuk membuat argumen tentang bagaimana orang kesembilan belas tersebut bisa membunuh delapan belas orang lainnya tanpa menggunakan kekuatan sihir.

Untuk membatasi argumentasi Battler, menjaganya dari berargumentasi ngawur dan membuat permainan berjalan di tempat, Beatrice membuat ketetapan bahwa dirinya akan menandai dengan warna merah setiap pernyataannya yang merupakan kebenaran. Dengan kata lain, setiap kalimat yang diucapkan Beatrice dengan warna merah merupakan kebenaran mutlak yang tak boleh ditentang lagi.

Urusan kalimat merah ini mungkin agak sulit dipahami. Tapi pada dasarnya, meski sekilas kelihatan seperti dapat digunakan sembarangan, ada batasan-batasan tertentu bagi Beatrice untuk menggunakan kalimat-kalimat merah ini, sebagaimana yang Battler kemudian sadari nanti. Sejauh yang bisa kutangkap, kalimat-kalimat merah ini tak boleh menyinggung apapun soal sihir, dan hanya boleh menyinggung soal kebenaran dari akibat atau fakta yang sudah terjadi. Sebagai contoh kalimat-kalimat merah yang valid: Ruangan ini hanya dapat dimasuki lewat pintu dan jendela. Saat ditemukan, seluruh pintu dan jendela di ruangan ini berada dalam keadaan terkunci. Tak ada jalan keluar rahasia yang tersembunyi. Pintu tak dapat didobrak paksa atau dibuka dengan cara selain dengan menggunakan kunci, dsb. Menyatakan ‘sihir itu ada’ atau ‘si Anu dilenyapkan dengan kekuatan sihir’ dengan warna merah hanya akan menghasilkan pernyataan tak berarti, karena pernyataan-pernyataan seperti itu masih belum cukup untuk Battler takluk, dan hanya akan berakibat pada bekunya permainan, membuatnya berakhir tanpa hasil. Asal tahu saja, meski butuh sedikit waktu untuk mencerna, pertarungan argumentasi yang berlandaskan pada kalimat-kalimat merah inilah yang justru menjadi daya tarik utama cerita Umineko.

Beatrice yang kini hadir sebagai tamu dengan segera menuai kegemparan di kalangan anggota-anggota keluarga Ushiromiya. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan. Apakah benar dirinya Beatrice yang menuliskan surat pernyataan pengambilan hutang itu? Ataukah surat itu tetap akal-akalan buatan Kinzo, dan Beatrice ini orang lain yang menyaru sebagai dirinya? Apakah Beatrice ini kerabat wanita idaman lain yang didesas-desuskan pernah dimiliki Kinzo? Bagaimana mungkin ia bisa secara tiba-tiba hadir di sini sekarang? Tahukah ia tentang keberadaan emas tersembunyi itu?

Beatrice disambut oleh para pelayan lama yang dengan segera melihat kesamaan wajahnya dengan potret Beatrice yang telah disiapkan Kinzo. Ia ditempatkan di ruang VIP rumah utama yang secara keras tak boleh digunakan oleh siapapun sebelumnya. Genji, Shannon, dan Kanon—pelayan-pelayan lama yang memiliki izin untuk memasuki ruangan tersebut—meski memiliki reaksi mereka sendiri-sendiri, dengan segera mengenali dirinya sebagai penyihir yang telah mengikat kontrak dengan Kinzo.

Kanon tersadar bahwa Beatrice ingin tertawa kegirangan saat nanti melihat hubungan cinta yang sudah susah payah Shannon ciptakan diakhiri secara paksa melalui ritual kematian Kinzo.

Lalu seperti halnya dalam episode pertama, pada saat badai menyerang pulau dan memerangkap mereka yang berada di sana, namun kini di gereja kecil (chapel) yang ternyata dimiliki keluarga Ushiromiya di belakang rumah utama Rokkenjima, Krauss, Natsuhi, Eva, Hideyoshi, Rudolf, dan Kyrie terpilih sebagai enam korban persembahan untuk senja yang pertama.

11/02/2011

Umineko no Naku Koro ni (VN3)

Aku tahu aku punya kecendrungan untuk malas. Tapi buat yang satu ini, alasan aku lama tak meng-update adalah karena ada banyak hal tentangnya yang jadi bahan pemikiran. Aku jadi perlu waktu untuk menyortir apa yang persisnya kupikirkan tentang VN ini. Intinya begitu.

Aku memang pernah menonton anime-nya, jadi sudah tahu garis besar ceritanya. Tapi mengikutinya dalam bentuk VN, tanpa dibatasi durasi episode dengan keleluasaan untuk berhenti sejenak dan memikirkan inti ceritanya sendiri, benar-benar merupakan sebuah pengalaman tersendiri.

Di samping itu, untuk suatu alasan, ini salah satu VN paling melelahkan yang pernah kuikuti. Mungkin karena otak kita terus dirangsang untuk berpikir demi mencerna apa yang sedang terjadi? Sebab bagaimanapun juga, ini… gimana ya ngomongnya? Ini sangat membuka pikiran tentang bagaimana orang bisa berpikir dan memandang hidup.

Kurang lebih begitu.

Tea Parties 1

Game pertama Umineko, sebagaimana yang bisa dikira, berakhir menggantung. Sehingga tak banyak yang bisa diceritakan tentangnya. Strukturnya dibuat sedemikian rupa agar pemain bertanya-tanya tentang apa persisnya yang terjadi. Jadi bila ada banyak hal yang tak kita mengerti, maka kita memang dimaksudkan demikian.

Pada malam hari pertama, terungkap bahwa orangtua masing-masing sepupu memiliki alasan kuat mereka masing-masing untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Krauss, anak sulung Kinzo, dicurigai saudara-saudaranya telah menggelapkan uang sang ayah. Lalu kita disuguhi permainan adu akal antara dirinya dengan adik-adiknya saat mereka berupaya untuk memeras keuntungan dari dirinya. Semua perdebatan mereka kembali berujung pada teka-teki keberadaan emas Beatrice, yang mereka yakini seandainya bisa ditemukan, akan menyelamatkan mereka semua dari apapun krisis finansial yang sedang mereka lalui.

Pada malam hari kedua, saat serangkaian keanehan terjadi, semua yang tersisa tak bisa tak mengira insiden-insiden berdarah yang melibatkan hilangnya orang-orang yang mereka kasihi berkaitan dengan perdebatan alot soal kekayaan yang berlangsung sebelumnya. Sesudah klimaks yang berakhir dengan stand off menggetarkan, kita sepenuhnya akan memahami garis besar hubungan setiap karakter dengan lainnya. Semenjak dulu, di balik sikap ramah-tamah yang semuanya perlihatkan, hubungan antara anggota-anggota keluarga Ushiromiya jauh dari harmonis dan sebenarnya dipenuhi saling curiga. Ada suatu mitos di pulau itu yang menyebut soal adanya penyihir yang tinggal di hutan. Maria memiliki kepribadian yang tak sesuai untuk anak seusianya. Dan sebagainya.

Lalu dengan berakhirnya cerita utama, kejutan terbesar dibeberkan melalui dua opsi baru yang akan terbuka di menu utama.

Pertama, adalah Tea Party, yang berupa semacam ‘epilog’ dari cerita utama. Di sini, Battler, Jessica, George, Kanon, Shannon, dan Maria, dalam sebuah acara minum teh(!?), dengan ceria membahas segala pembunuhan yang mereka alami dsb. dan berkomentar bahwa semenjak awal memang tak ada artinya mereka mencoba melawan Beatrice. Pada titik inilah, segalanya berubah muram, saat Battler marah melihat sikap para sepupunya yang menanggapi akhir cerita ini dengan begitu santai. Keheranan akan sikap mereka yang tak berkeinginan untuk mencari tahu sendiri apa yang terjadi, sekaligus bersikeras untuk menolak kesimpulan bahwa semuanya dilakukan oleh Beatrice (yang bahkan tak jelas ada atau tidak) dengan, Battler pada akhirnya malah jadi mengundang kehadiran Beatrice sendiri dalam sosoknya yang asli.

Singkatnya, kita disuguhi twist yang menunjukkan bahwa Beatrice benar-benar ada; bukan sekedar tokoh rekaan yang namanya digunakan dalam rangkaian pembunuhan ini.

Berpijak pada kenyataan bahwa satu-satunya cara untuk melawan penyihir adalah dengan menyangkal kenyataan mereka ada, Battler ditantang Beatrice untuk menjelaskan setiap trik yang digunakan dalam masing-masing pembunuhan, melalui permainan ajaib lain yang akan dibukanya sesaat lagi. Pertandingan adu akal antara Battler dan Beatrice inilah yang menjadi inti cerita episode-episode Umineko yang berikutnya.

Epilog kedua adalah ????, yang akan terbuka begitu Tea Party diselesaikan. Epilog ini memperkenalkan keberadaan dua penyihir lain, yakni Bernkastel dan Lambdadelta, yang diceritakan memiliki pengaruh lebih besar daripada Beatrice. Keduanya diceritakan hadir atas undangan Beatrice untuk menjadi pirsawan atas permainan yang akan Beatrice buka. Di sini pula kita dikenalkan kembali akan konsep kakera (fragmen), yang merupakan istilah yang digunakan dalam seri When They Cry untuk menyebut dunia-dunia paralel.

Belakangan kita akan tahu bahwa Bernkastel (yang berkuasa atas segala bentuk keajaiban) dan Lambdadelta (yang berkuasa atas segala hal yang absolut) sama-sama adalah penyihir yang memiliki kapasitas untuk berpindah dari satu kakera ke kakera lainnya, yang dengan demikian menjadikan diri mereka lebih unggul daripada Beatrice yang sejauh ini masih terkungkung dalam kakera yang sama. Namun kuasa Beatrice di kakera ini lebih besar daripada mereka. Sehingga sekalipun Bernkastel kemudian diperlihatkan menaruh simpati pada Battler, ia tak dapat melakukan intervensi secara langsung untuk menolongnya dalam permainan yang akan ia hadapi.

Bernkastel berpenampilan sangat mirip dengan Furude Rika dari Higurashi no Naku Koro ni, seri When They Cry pertama yang 07th Expansion telah keluarkan sebelumnya. Dengan cara serupa, Lambdadelta juga berwajah sama dengan Takano Miyo, tokoh antagonis dari game yang sama. Belakangan diindikasikan bahwa kisah Higurashi pada dasarnya memang mengetengahkan konflik masa lalu antara kedua tokoh ini, yang serupa dengan apa yang Battler dan Beatrice sama-sama akan hadapi sekarang. Bernkastel konon juga dikenal sebagai penyihir yang sangat kuat berkat kemenangannya atas Lambdadelta dalam pertandingan lama mereka ini (Higurashi?). Tapi lebih banyak soal itu setahuku baru akan dijelaskan dalam episode-episode mendatang.

Beli!

Di bagian berikutnya, aku akan mengulas soal pengalamanku memainkan episode 2 dan berbagai pendapatku tentangnya.

Omong-omong, belum lama ini aku nyadar bahwa seri Umineko bisa dibeli secara unduh untuk harga yang relatif murah melalui situsnya 07th Expansion. Proyek penerjemahan seri Umineko ke bahasa Inggris oleh grup The Witch Hunt telah didukung secara pribadi oleh Ryukishi07. Jadi bagi mereka yang tertarik akan game ini, kalau bisa, beli ya! Bukan hanya sebagai bentuk ungkapan terima kasih, melainkan untuk dukungan juga.

23/12/2010

Anime(-anime?) Baru dari TYPE-MOON? (news)

Belum lama ini dikabarkan akan ada sejumlah adaptasi anime dari beberapa karya (tidak langsung) perusahaan pengembang visual novel TYPE-MOON.

Yah, aku penggemar karya-karya Kinoko Nasu. Jadi tentu saja aku memperhatikan berita-berita semacam ini. Tapi nampaknya beliau tidak terlihat terlalu berperan dalam apapun yang dibuat.

Pertama, adalah adaptasi anime dari Take Moon, yang pada dasarnya merupakan seri manga komedi yang mengetengahkan berbagai tokoh dari karya-karya TYPE-MOON yang sebelumnya, macam Tsukihime dan Fate/stay night. Manga aslinya dibuat oleh Takenashi Eri, yang tidak lain tidak bukan merupakan pengarang asli dari manga komedi Kannagi.

Aku sejujurnya nyaris enggak tahu apa-apa soal ini, jadi aku enggak bisa berkomentar banyak. Aku lumayan menyukai cerita-cerita doujin berdasarkan FSN, jadi kurasa aku bisa membayangkan intinya kayak apa. Cuma, yah, aku makin dewasa dan makin merasa ada lebih banyak karya lain yang lebih baik kuperhatiin. Jadi untuk yang satu ini aku enggak terlalu antusias.

Um, format adaptasi ini katanya akan berbentuk OVA, dan direncanakan untuk dirilis pada musim panas 2011. Lalu judulnya katanya akan diganti menjadi Carnival Phantasm. Yah, kita lihat saja kelanjutannya nanti akan gimana.

Berita kedua yang lebih mendebarkan adalah adaptasi anime dari Fate/zero, seri novel yang menjadi prekuel dari cerita dari Fate/stay night. Rangkaian novel asli ini ditulis oleh penulis Nitroplus Urobuchi Gen dengan layout cerita yang dibuat oleh Kinoko Nasu. Buat yang belum tahu, novel ini mengisahkan tentang Perang Cawan Suci keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelum cerita game-nya. Berbagai sejarah dan awal mula hubungan karakter dipaparkan dalam novel ini.  Tokoh utamanya adalah Emiya Kiritsugu, yang di akhir cerita kemudian menjadi ayah angkat Emiya Shirou yang merupakan tokoh utama FSN.

Aku sempat mengikuti novel-novelnya untuk beberapa lama. Meski gaya ceritanya berbeda dari gaya cerita Nasu-sensei, asal kau terbiasa, ceritanya lumayan seru kok. Semua tokoh Master dan Servant di dalamnya memiliki daya tarik simpatik mereka sendiri-sendiri, dan kau enggak bisa enggak meradang dalam hati karena tahu benar bahwa segalanya akan berakhir tragis.

Berita terakhir adalah soal adaptasi anime dari Girl’s Work, sebuah VN lain dari TYPE-MOON yang sejujurnya, juga belum kuketahui lebih banyak tentangnya. Aku bahkan dengar VN ini malah memang belum dirilis. Yang pasti, bukan Nasu-sensei yang menangani ceritanya. Penulis aslinya adalah dua penulis keluaran perusahaan Liarsoft, Hoshizora Meteo dan Myogaya Jinroku. Isinya kudengar adalah tentang bagaimana kota Shinjuku telah ‘menyatu’ dengan Paris. Soal plot, penokohan, ataupun yang lainnya sama sekali masih belum aku tahu.

Ini sebenarnya hal yang agak membingungkan, karena fenomena dibuat sebelum rilis gini rasanya belum pernah terjadi sebelumnya.

Visualisasi latarnya nampaknya bakal keren, seenggaknya. Seperti yang bisa dilihat pada gambar berikut.

Berita lain lagi yang bukan soal anime adalah bakal dirilisnya VN Mahou Tsukai no Yoru pada minggu ini. Setelah penantian selama dua setengah tahun, judul ini akhirnya akan dirilis juga. Sejauh yang aku tahu, ceritanya didasarkan dari sebuah cerita pendek yang Nasu-sensei pernah buat. Intinya berkisar seputar hubungan antara dua bersaudari  Aozaki Tohko dan Aozaki Aoko, sesama penyihir (magus) yang masing-masing sebelumnya telah berperan dalam Kara no Kyoukai dan Tsukihime.

Detil lebih banyak akan kukabari nanti.

(sumber dari ANN dan Moetron)