Posts tagged ‘UFOtable’

17/01/2015

Fate/stay night – Unlimited Blade Works

Fate/stay night – Unlimited Blade Works diadaptasi dari seri visual novel legendaris Fate/stay night.

Tepatnya, ini adaptasi anime ketiga dari Fate/stay night, sesudah sebelumnya dianimasikan dua kali—sekali ke bentuk seri TV dan sekali ke layar lebar—oleh studio DEEN, masing-masing pada tahun 2007 dan tahun 2010.

Sudah berapa kali ya aku menulis soal seri ini?

Fate/stay night bermula dari game VN dewasa yang dikembangkan grup doujin (indie) Type-Moon. Keluar pertama kali untuk PC pada tahun 2004, gamenya langsung disambut antusias berkat reputasi Type-Moon yang sebelumnya terbangun lewat Tsukihime dan dua seri lepasannya: Kagetsu Tohya dan Melty Blood.

Type-Moon terbentuk oleh duo Kinoko Nasu sebagai penulis dan Takeuchi Takashi selaku ilustrator. Kinoko-sensei punya gaya cerita dan pilihan tema yang khas. Sedangkan Takeuchi-sensei punya gaya desain karakter yang sekilas sederhana, tapi mengandung suatu kedalaman dan perhatian terhadap detil. FSN adalah seri pertama Type-Moon sesudah mereka jadi perusahaan komersil. Seri tersebut, ringkasnya, sukses luar biasa. Karakternya terbukti populer bahkan hingga sekarang. Lalu sesudah sepuluh tahun, kini seri tersebut diangkat menjadi anime lagi.

Sebelum masuk ke soal animenya, perlu disinggung kalo versi game Fate/stay night terbagi ke dalam tiga percabangan cerita (rute):

  • rute Fate, dengan karakter Saber sebagai tokoh utama perempuan;
  • rute Unlimited Blade Works, dengan Tohsaka Rin sebagai karakter utama perempuan;
  • dan rute Heaven’s Feel, dengan Matou Sakura sebagai fokus utama.

Ketiga rute di atas memiliki alur cerita serta tema yang agak beda juga.

Terkait percabangan cerita di masing-masing rute, anime TV-nya yang keluar tahun 2007 secara umum mengadaptasi rute Fate, tapi ada tambahan elemen rute-rute lain di dalamnya juga. Adaptasi kedua berupa film layar lebar di tahun 2010 mengadaptasi rute Unlimited Blade Works, dalam versi agak padat (aku sempet nulis soal itu di sini, btw.). Sedangkan anime yang ketiga ini, yang keluar tahun 2014, kembali mengadaptasi rute Unlimited Blade Works, tapi kali ini dalam format seri TV. Kabarnya, rute Heaven’s Feel sendiri akan dianimasikan sesudah seri TV ini berakhir dalam format film layar lebar.

Studio yang menganimasikan kali ini adalah Ufotable, yang seakan menjadi studio langganan Type-Moon untuk menganimasikan karya-karya mereka. Karena sebelumnya Ufotable juga menganimasikan rangkaian film layar lebar Kara no Kyoukai pada tahun 2007, yang juga diangkat dari seri novel berjudul sama buatan Type-Moon. Ufotable juga yang menganimasikan seri prekuel dari Fate/stay night, yakni Fate/Zero, di tahun 2012, yang terbukti menarik perhatian banyak kalangan. Dengan demikian, kualitas anime ini dari awal seakan sudah terjamin.

Seri TV FSN – UBW juga jadi punya kesan sebagai semacam sekuel dari seri TV Fate/Zero. Selain bisa dibilang ‘melanjutkan’ ceritanya, penayangan FSN – UBW seperti Fate/Zero juga dibagi ke dua tahap, dengan jeda satu season di antara keduanya.

Tulisan ini membahas season pertamanya saja, yang ditayangkan pada musim gugur 2014 lalu dengan total sebanyak 12 13 episode.

Angin yang Menenggelamkan Kata-kata

Premis cerita Fate/stay night mungkin terdengar sedikit ribet.

Fate/stay night bercerita tentang suatu ritual sihir rahasia yang disebut Holy Grail War/Seihai no Sensou/Perang Cawan Suci, yang berlangsung di sebuah kota bernama Fuyuki, di pertengahan dekade 2000an. Ritual ini pada dasarnya merupakan ajang saling bunuh antara tujuh orang penyihir (magus) yang disebut Master, yang masing-masing telah memanggil tujuh makhluk semi roh berstatus familiar dengan kemampuan jauh melampaui manusia yang disebut Servant.

Ketujuh pasangan Master-Servant itu akan saling memburu dan saling menjatuhkan satu sama lain dalam ‘perang’ ini, yang secara rahasia berlangsung di seluruh penjuru Fuyuki. Ada suatu perwakilan dari Gereja yang menjadi pihak netral sekaligus ‘penengah’ dari ritual ini. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapat akses ke pusaka sihir legendaris Holy Grail/Seihai/Cawan Suci, yang konon dapat mengabulkan permintaan apapun.

Setidaknya, pemahamannya di permukaan seperti demikian. Kenyataannya, ada banyak intrik dan rahasia yang terjadi di belakang layar…

Seri Fate/stay night mengisahkan peristiwa terjadinya Perang Cawan Suci kelima yang pernah terjadi (dengan prekuelnya, Fate/Zero, mengisahkan yang keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelumnya). Tokoh utamanya adalah seorang remaja yatim piatu bernama Emiya Shirou.

Sesudah tanpa sengaja terlibat dalam perang, Shirou saat terdesak memanggil Servant Saber—seorang ksatria wanita berzirah dan berambut pirang yang menjunjung tinggi keadilan dan kehormatan—yang sekaligus membuatnya menjadi Master terakhir yang ‘dipilih’ Cawan Suci.

Tohsaka Rin, teman sekolah Shirou yang cantik dan sangat populer, ternyata merupakan salah satu magus yang terlibat dan menjadi penyebab tak langsung keterlibatan Shirou. Rin, yang pada dasarnya baik hati, merasa tak bisa membiarkan Shirou yang sedemikian tak tahu apa-apa tentang dunia sihir begitu saja. Karenanya, untuk sementara waktu mereka menyepakati suatu gencatan senjata.

Bersama, keduanya kemudian bekerjasama dalam menghadapi Master-Master lain yang tak segan melibatkan orang-orang biasa dalam Perang.

Aku Tahu Surga yang Menanti Kita

Setiap Servant pada dasarnya merupakan perwujudan suatu roh pahlawan (Eirei/Heroic Spirit) yang dapat berasal dari berbagai mitologi dunia. Kesemuanya konon memiliki kekuatan yang jauh melebihi batasan manusia normal, dan karenanya menjadi andalan masing-masing Master untuk menang.

Ketujuh Servant terbagi ke dalam tujuh ‘kelas’ yang akan kuulas di bawah. Kesemuanya memiliki ‘nama asli’ masing-masing. Tapi karena memanggil mereka dengan nama asli’ bisa membeberkan asal-usul—sekaligus kelemahan—mereka, para Servant lebih banyak dipanggil dengan nama kelas mereka.

Setiap Servant juga memiliki setidaknya satu ‘pusaka’ yang disebut Noble Phantasm/Hougu, yaitu pusaka khusus yang menjadi bagian ‘identitas’ mereka. Semakin tenar mitologi yang melandasinya, konon akan semakin kuat pula kekuatan Noble Phantasm tersebut. Karena bisa membeberkan identitas asli seorang Servant juga, Noble Phantasm biasanya hanya dikeluarkan pada saat terdesak dan menjadi kartu as masing-masing pihak.

Selain berkat kekuatan Cawan Suci, setiap Servant termanifestasi di dunia ini karena mendapat pasokan energi sihir dari Master masing-masing.

Namun Shirou—yang mendiang ayah angkatnya, Emiya Kiritsugu, ternyata merupakan seorang penyihir/magus—ternyata tak pernah mendapat pelatihan sihir secara benar. Sehingga walau ia ‘menarik kartu’ Saber, yang merupakan Servant dengan parameter paling seimbang dan karenanya dipandang punya peluang menang paling besar, dirinya kurang bisa mengoptimalkan potensi sesungguhnya yang Saber miliki.

Satu-satunya jenis sihir bisa Shirou lakukan secara lumayan hanyalah tracing. Tracing merupakan sihir yang memungkinkannya menganalisa struktur suatu benda serta memperkuat dan memperlemah parameter-parameter benda tersebut. Karena kemampuannya itu, Shirou sering dimintai tolong oleh Ryudou Issei, sahabatnya yang menangani OSIS/Dewan Siswa di Perguruan Homurahara tempat mereka bersekolah, untuk memperbaiki barang-barang rusak di sekitar kampus (meski Issei tak pernah mengetahui bahwa keahlian Shirou sebenarnya berasal dari kemampuan sihir).

Berkebalikan dengan Shirou, Rin adalah magus terlatih yang sihir spesialisasi keluarganya memungkinkannya ‘menyimpan’ energi sihir dalam benda-benda tertentu. Sihir andalannya adalah tembakan Gandr, yang mana ia melepas peluru-peluru yang dibuat oleh sihir.

Rin terlibat dalam Perang sebenarnya lebih karena suatu peran yang diwariskan oleh keluarganya. Namun kenyataannya, Rin tak punya permohonan khusus yang ingin dikabulkan melalui Cawan Suci (seperti Shirou, dirinya juga sudah tak punya orangtua). Shirou sendiri berpartisipasi dalam perang tergerak oleh suatu ideologi kepahlawanan yang ia warisi dari mendiang ayah angkatnya.

Sepuluh tahun silam, suatu bencana kebakaran yang teramat besar pernah terjadi di Fuyuki. Di peristiwa itu, Shirou kehilangan seluruh anggota keluarga kandungnya. Tapi ia akhirnya diselamatkan oleh Kiritsugu, dan kemudian dibesarkan olehnya sebagai anak angkat. Shirou tak begitu tahu banyak tentang latar belakang Kiritsugu. Tapi dirinya memahami suatu penyesalan mendalam yang ayah angkatnya dulu punyai, yang disampaikan menjelang ajalnya, tentang keinginannya untuk menjadi semacam ‘pahlawan pembela kebenaran.’

Ideologi yang Shirou punyai ini, yang membuatnya tak segan menempatkan diri dalam bahaya, segera mendapat perhatian Archer, Servant milik Rin. Karena alasan tertentu, hal ini menimbulkan konflik di antara mereka. Lalu lambat laun, Rin sendiri ikut menyadari, mungkin memang ada suatu hal abnormal tentang ideologi yang Shirou anut…

Masa Depan Putih Terang Ini

Terlepas dari semuanya, masing-masing Servant yang terlibat dalam Perang Cawan Suci kali ini (sekali lagi) antara lain:

  • Saber, spesialis pedang, konon berparameter paling seimbang. Master-nya adalah Emiya Shirou. Identitas aslinya pada perang ini adalah Arturia, raja legendaris Britannia yang menyembunyikan jati dirinya sebagai perempuan. Noble Phantasm miliknya yang paling dikenal adalah pedang suci Excalibur, yang disembunyikan dengan berkah roh angin agar tak kasat mata. Sebagaimana dikisahkan dalam Fate/Zero, Saber terlibat dalam Perang Cawan Suci terdahulu dengan Kiritsugu sebagai Master-nya. Ia ingin mengetahui mengapa Perang Cawan Suci sebelumnya berakhir prematur.
  • Lancer, spesialis senjata tombak, konon memiliki kelebihan di sisi kelincahan. Dirinya Servant yang menyeret Shirou sampai terlibat dalam Perang. Identitas aslinya adalah Cu Chulainn, pemburu legendaris dari Irlandia. Master-nya pada titik ini belum terungkap. Namun Master aslinya, Bazette Fraga McRemitz, sebagaimana dikisahkan dalam Fate/hollow ataraxia, sebenarnya telah tewas. Noble Phantasm miliknya adalah tombak Gae Bolg yang dapat selalu mengenai jantung bidikannya akibat pembalikan fenomena sebab akibat.
  • Archer, spesialis busur dan panah, memiliki mata tajam dan kemampuan untuk bergerak secara independen, dalam artian dirinya tidak melulu harus mengandalkan asupan kekuatan sihir (mana) dari Master-nya. Master-nya adalah Tohsaka Rin. Mungkin karena kecendrungan Rin untuk melakukan kesalahan bodoh di saat genting, Archer kehilangan sebagian ingatannya saat dipanggil. Karenanya identitas aslinya masih belum benar-benar diketahui. Sepasang pedang kembar yang sering digunakannya sebenarnya bukan Noble Phantasm milikinya.
  • Rider, spesialis tunggangan, konon memiliki potensi daya rusak paling besar. Identitas aslinya, walau tak benar-benar terungkap pada rute ini, adalah Medusa dari mitologi Yunani. Master-nya pada titik ini adalah Matou Shinji, teman lama Shirou di sekolah yang tampan tapi menjengkelkan. Noble Phantasm miliknya sebenarnya adalah kuda bersayap Bellerophon yang kelihatannya tak sempat tampil di rute ini. (Buat yang memperhatikan, ada alasan tertentu kenapa frame yang menampilkan dirinya ditampilkan sebelum Sakura pada beberapa saat menjelang berakhirnya animasi lagu pembuka.)
  • Caster, spesialis sihir, memiliki kuasa khusus untuk menciptakan teritori yang sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Identitas aslinya adalah Medea, putri negeri Colchis dalam legenda Yunani tentang para Argonaut yang memiliki kisah hidup tragis. Master-nya adalah Kuzuki Shoichirou, wali kelas Rin di sekolah, yang menjadi pengganti dari Master asli Caster yang dibunuh oleh Caster sendiri. Noble Phantasm miliknya adalah belati Rule Breaker yang dapat mematahkan ikatan sihir.
  • Berserker, yang mengorbankan kewarasannya dengan imbalan kekuatan sangat besar. Master-nya adalah gadis kecil, Illyasviel von Einzbern, yang seperti Rin, berasal dari salah satu keluarga pemrakarsa ritual Cawan Suci. Identitas Berserker adalah Hercules. Noble Phantasm miliknya yang utama, 12 Labors, mengharuskan Berserker dibunuh 12 kali untuk bisa ditaklukkan. Seperti yang dikisahkan dalam Fate/Zero, Ilya juga sebenarnya adalah putri kandung Kiritsugu.
  • Assassin, spesialis penyusupan dan serangan dari bayangan. Master-nya, entah bagaimana, adalah Caster, dan ada indikasi bahwa Assassin yang tampil di sini bukanlah Servant Assassin yang sesungguhnya. Identitas aslinya adalah pemain pedang legendaris Sasaki Kojirou yang justru bila dilihat dari sisi sejarah mungkin merupakan tokoh fiktif. Noble Phantasm miliknya adalah teknik pedang Tsubame Gaeshi yang memotong batas-batas dimensi dan memungkinkan keberadaan senjatanya pada beberapa titik sekaligus.

Satu-satunya Emosi yang Mungkin Masih Kupunya

Waktu pertama mendengar tentang pengumumannya, aku sebenarnya merasa Fate/stay night tidak perlu dianimasikan lagi. Buat apa sih? Emang kalian masih belum cukup puas? Kira-kira gitu.

Tapi melihat sendiri hasil akhirnya, Fate/stay night – Unlimited Blade Works terbilang mencengangkan. Kualitas presentasi dan eksekusinya benar-benar bagus. Visualnya beneran luar biasa. Seriusan benar-benar memukau; mulai dari efek sihir, pergerakan awan, desain lingkungan latar, pakaian karakter, sampai adegan-adegan aksi. Audionya agak sunyi di beberapa bagian, mungkin karena ceritanya berat di percakapan. Tapi para seiyuu-nya memperlihatkan hasil yang beneran berkesan. Kelihatan betapa besarnya sumber daya yang dikeluarkan untuk anime ini, walau memang ada beberapa kelemahan yang pada cerita yang tetap tak bisa dihindari.

Terkait cerita, cerita dari gamenya telah diekspansi pada beberapa titik. Ada beberapa adegan minor tapi menarik yang tak ada di game aslinya, seperti bagaimana Rin sempat berhadapan langsung dengan Ilya misalnya. Atau ditambahnya interaksi antara Shirou dengan teman-temannya di sekolah.

Walau dimaksudkan sebagai kelanjutan cerita Fate/Zero, Fate/stay night pada dasarnya jenis cerita yang berbeda. Di samping dibuat lebih awal, ceritanya terstruktur sedemikian rupa agar detil-deti yang dibeberkan pada tiap rute bisa saling melengkapi. Karena itu, kualitas ceritanya secara umum sebenarnya agak kalah berbobot dibandingkan Fate/Zero. Tapi kualitas eksekusi animenya seakan mengimbangi kelemahan ini. Pada beberapa titik, kualitas penceritaannya bahkan kerasa lebih baik dibanding gamenya.

Ada beberapa detil tersirat yang akan terasa ‘nyambung’ dengan Fate/Zero saat kau perhatikan. Misalnya pada ekspresi Saber saat mendengar nama Kiritsugu disebut kembali. Juga tentang bagaimana Kotomine Kirei—pendeta yang menjadi ‘wasit’ dalam Perang Suci kali ini—mengenali siapa Shirou bahkan tanpa Shirou benar-benar sadari.

Jadi sekalipun kau sudah tahu cerita FSN sebelumnya, anime ini tetap menarik. Ada banyak hal terselubung yang hanya bakal kau pahami kalau kau sudah tahu ceritanya sebelumnya.

Mengingat game orisinilnya sudah berusia 10 tahun, ada perombakan di segi desain karakter. Paling mencolok terlihat pada jaket yang dikenakan Shirou serta baju musim dingin yang Saber kenakan. Saber maupun Sakura—meski tokoh utama di rute ini adalah Rin—sama-sama ditampilkan sangat adorable di versi ini. Maksudku, keduanya seriusan luar biasa manis dalam desain karakter yang baru ini. Aku sempat lupa heroine utamanya harusnya siapa.

Rin sendiri, di samping secara tampilan, dipaparkan secara ekstensif latar belakang ceritanya. Kita dibawa mengenal lebih jauh tentang latar belakang kehidupannya yang rumit serta kepribadiannya kayak apa. (Mungkin malah agak terlalu ekstensif?)

Bab prolog dari gamenya, yang diambil dari sudut pandang Rin dan secara khusus memperkenalkan dirinya serta konflik Cawan Suci, bahkan ditampilkan pada episode 0 yang berdurasi satu jam. Apa yang membuatku benar-benar kaget adalah bagaimana sesudah episode 0 itu, episode 1 yang memaparkan rentang waktu cerita yang sama di episode 0 dari sudut pandang Shirou ternyata berdurasi satu jam juga. Episode 12, yang menjadi klimaks season ini, berdurasi satu jam pula. Jadi secara efektif seri ini punya durasi sekitar tiga episode lebih panjang dari seri anime seukurannya!

Mencari Fajar Itu

Akhir kata, FSN/UBW jelas merupakan seri paling ambisius pada musim gugur 2014 lalu. Cukup mengejutkan sebagus apa hasilnya. Miura Takahiro yang menjadi sutradaranya kurasa menjadi nama yang patut diingat. Ini kali pertama beliau menjadi sutradara penuh sesudah sebelumnya menangani film layar lebar Kara no Kyoukai yang keenam.

Secara pribadi, aku sebelumnya lebih suka Tsukihime dan Kara no Kyoukai ketimbang seri Fate. Tapi anime satu ini, agak membuatku berubah pikiran. Dulu, sempat ada rumor kalau mungkin anime ini akan menampilkan cerita orisinil yang akan ‘menyatukan’ ketiga rute di gamenya. Jadi jujur saja aku sempat agak kecewa saat tahu kalau ini adaptasi rute UBW lagi. Tapi kebagusan kualitasnya terus terang melampaui pengharapanku, walau mungkin aku merasa kayak gini karena sudah akrab dengan seri ini juga.

Konflik utama rute ini, yaitu soal ideologi kepahlawanan yang dianut Shirou, mungkin agak hit or miss bagi sebagian besar orang. Kau bakal menyukainya apa enggak kurasa tergantung kau orang kayak apa. (Aku pribadi lumayan mendalaminya sih.) Tapi seenggaknya penggemar dari kalangan manapun bakal terkesima oleh kerennya adegan-adegan aksi yang ada. Di samping itu, sebenarnya ada beberapa tema menarik lain lagi sih. Seperti soal sejauh apa tekad bisa membawa kamu, soal gimana apa yang kau yakini bisa diterima orang lain, dsb.

Kembali ke soal teknis, seri ini dipotong pada bagian yang pas. Tepatnya, pada saat Shirou dan Rin melakukan blunder yang mengakibatkan Saber terlepas dari kuasa mereka, dan akhirnya mereka berpisah jalan. Memang sangat terasa menggantung. Tapi kalau aku tak salah ingat, ceritanya mulai berkembang jadi benar-benar seru di gamenya mulai titik ini. Jadi aku berharap pada 12 episode berikutnya, cerita bisa bergulir dengan lebih cepat dan baik.

Sekali lagi, adegan aksinya seru. Skirmish dengan Berserker di tanah pemakaman pada awal cerita, benar-benar tertata secara keren. Adegan saat Shirou, Rin, dan Saber beraksi untuk mengungkap identitas Master Caster di tempat SPBU terbengkalai menjadi jauh lebih berkesan dari yang pernah kuingat dari gamenya.

Sedikit soal soundtrack, walau ada yang berpendapat sebaliknya, aku termasuk yang suka dengan lagu ‘Ideal White’ yang dibawakan Mashiro Ayano. Warna suaranya mirip dengan LiSA, walau mungkin secara performa, Mashiro-san masih belum sematang dia. Tapi nyanyiannya menurutku pas dengan tema yang sering ini usung. (Soal pemilihan judul lagunya terkait nama penyanyinya, apa ini suatu hal yang disengaja?)

Grup Kalafina seperti yang bisa disangka, membawakan ‘Believe’ yang menjadi lagu penutup seri ini. Lalu LiSA sendiri ternyata membawakan lagu ‘This Illusion’ yang melantun menjelang penutup episode akhir, mengiringi adegan melompatnya Rin dari pencakar langit. Iringan lagu-lagu ini berhasil membuat adegan tersebut—yang merupakan salah satu adegan paling berkesan di gamenya—jadi terkesan makin memukau. Lagu ini sendiri, yang dulu dibawakan Tanaka Sachi, merupakan soundtrack gamenya yang paling pertama. Jadi memang ada beberapa orang yang punya kenangan tertentu dengan lagu ini.

Sori aku enggak merasa bisa mengumbar lebih banyak soal ceritanya. Soalnya dari gelagatnya, di paruh berikutnya, para penulis akan mengembangkan konsep cerita dari gamenya secara lebih jauh lagi.

Mari kita nantikan bersama musim semi ini untuk hasil akhirnya.

Oh. Dan sesudah season keduanya nanti, sekali lagi, adaptasi layar lebar dari rute Heaven’s Feel sudah terkonfirmasi, yang memang mesti diakui merupakan rute paling ‘penuntas’ dari seri ini. Tapi soal itu mending kita bahas lain kali.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

Iklan
02/01/2015

Kara no Kyoukai – Mirai Fukuin + Extra Chorus

Kara no Kyoukai: Mirai Fukuin (juga dikenal dengan subjudul Future Gospel, atau ‘Blessings for the Future,’ atau juga Recalled Out Summer), merupakan (semacam) epilog dari seri utama Kara no Kyoukai, yang dibuat oleh Nasu Kinoko dan Takeuchi Takashi dari grup pengembang Type-Moon. Adaptasi anime Mirai Fukuin berdurasi sekitar satu setengah jam dan baru dirilis tahun 2013 dalam format layar lebar, dengan produksi masih dilakukan oleh studio Ufotable, yang sebelumnya mengadaptasi cerita utamanya ke dalam bentuk tujuh film layar lebar juga.

Epilog ini berisi serangkaian cerita pendek, yang berlangsung pada latar waktu yang berbeda-beda, yang sedikit banyak memberi gambaran tentang kesudahan nasib para karakter di seri utamanya. Apa yang terjadi pada Ryohgi Shiki, Kokutou Mikiya, dan beberapa karakter lainnya, sesudah dan di sela-sela rangkaian pembunuhan berantai yang pada beberapa titik mewarnai hidup mereka. Subjudulnya kira-kira berarti ‘berkah/doa untuk masa depan,’ yang sesuai dengan tema utama yang cerita-cerita pendek ini angkat.

Episode Extra Chorus, yang menyusul keluarnya Mirai Fukuin, merupakan adaptasi anime berdurasi sekitar setengah jam yang melengkapi apa yang dikisahkan dalam film tersebut. Adaptasinya kayaknya dibuat terpisah karena memang enggak langsung nyambung dengan tema ‘masa depan’ yang film sebelumnya angkat, walau perannya sebagai epilog tetap sama.

1998

Ada tiga episode yang diangkat dalam Mirai Fukuin. Ketiganya sama-sama berpusar pada persepsi orang terhadap masa depan, terutama ke soal pertanyaan apakah masa depan merupakan sesuatu yang sebelumnya telah ditetapkan atau tidak.

Episode pertama berlatar di pertengahan tahun 1998, ketika Shiki mulai dibayang-bayangi seseorang bernama Kuramitsu Meruka, sesosok misterius yang melakukan pekerjaan-pekerjaan pemboman bayaran.

Meruka memiliki kemampuan aneh di mana mata kirinya melihat masa kini, sementara mata kanannya bisa melihat masa depan. Namun masa depan yang bisa dilihatnya merupakan masa depan yang baginya bersifat ‘pasti’ dan tak dapat diubah. Meruka akhirnya seakan menjadi budak bagi masa depan yang dilihat matanya sendiri tersebut, yang seakan hal ‘jelas’ dan tak dapat diubah itu—sampai dirinya menemui Shiki yang entah bagaimana tak muncul dalam ‘masa depan’ yang dilihatnya, mempengaruhi besar-besaran hasil yang dapat ia peroleh, dan membuatnya menjadi sedikit terobsesi dengannya.

Pada waktu yang kurang lebih sama, Kokutou berkenalan dengan seorang gadis remaja bernama Seo Shizune. Shizune, yang sedang dalam liburan musim panas dari sekolahnya di SMA Putri Raizen, sempat sedikit ditolong Kokutou saat suatu insiden terjadi, yang sedikit banyak berhubungan dengan kemampuan Shizune untuk sedikit melihat masa depan juga.

Percakapan yang berlangsung antara Kokutou dan Shizune diseling-selingi lewat alur maju-mundur dengan apa-apa yang terjadi antara Shiki dan Meruka, yang juga diwarnai sesi-sesi konsultasi mereka dengan Aozaki Tohko, atasan Kokutou yang merupakan penyihir. Kokutou melakukan tugasnya untuk menyampaikan kata-kata yang pernah Tohko katakan padanya, bila seandainya Kokutou suatu saat bertemu dengan seseorang yang bisa melihat masa depan. Sementara Shiki disarankan untuk menemui seorang figur yang dikenal sebagai Bunda Mifune, sosok peramal ‘sungguhan’ yang pernah terkenal di jalan-jalan kota Mifune pada masa silam.

Episode kedua berlatar lebih jauh di masa depan, yakni pada tahun 2010, dan memaparkan lebih jauh tentang karakter Bunda Mifune ini. Karakter sentral kali ini adalah Kuramitsu Meruka sendiri, yang pada masa ini lebih banyak menggunakan nama aslinya, Kamekura Mitsuru. Pada episode ini juga diperkenalkan sosok gadis kecil bernama Ryohgi Mana, anak perempuan Shiki dan Kokutou yang pada masa ini telah menikah.

Dikisahkan bahwa Mitsuru, karena satu dan lain hal, kini bekerja di bawah Shiki. Lalu lambat laun, karena alasan yang enggak bisa kukatakan karena bisa agak men-spoiler mereka yang belum nonton, dirinya telah menjadi salah satu orang yang paling Mana sukai. Lalu Mana memaksa menemani Mitsuru dalam satu pekerjaan ini, dan…

Yah, intinya, episode ini secara khusus memperkenalkan karakter Mana. Dan pada dirinya seakan terkumpul segala harapan masa depan yang Shiki dan Kokutou dulu punyai dalam porsi-porsi cerita sebelumnya.

Episode ketiga membawa kita kembali ke masa lalu, pada masa ketika kepribadian maskulin Shiki masih ada. Pribadi Shiki yang ini ternyata pernah berjumpa dengan Bunda Mifune sebelumnya—yang sebaliknya bisa ‘melihat’ sosok Shiki yang sesungguhnya. Lalu percakapan yang berlangsung di antara mereka—sedikit seperti akhir pertemuan antara Kokutou dan Shizune—menandai betapa Shiki yang ini ternyata telah mengetahui apa-apa yang nantinya akan ia alami.

Extra Chorus kembali menampilkan tiga cerita singkat yang agak berhubungan dengan satu sama lain. Latarnya sekali lagi di tahun 1998. Intinya tentang kepergian sementara Kokutou karena suatu hal dan bagaimana ia menitipkan seekor anak kucing pada Shiki. Tapi episode tengahnya menampilkan aftermath dari rangkaian insiden bunuh diri yang dikisahkan dalam Fuukan Fukei, episode Kara no Kyoukai paling pertama, dan sekaligus membeberkan nasib Asagami Fujino, yang mungkin agak mengejutkan bagi beberapa orang. Barulah episode terakhirnya ditutup dengan kunjungan bersama ke kuil yang dilakukan Kokutou dan Shiki—pada malam terakhir Desember di tahun 1998.

Kau Akan Mati, Tapi Impianmu Akan Terus Hidup

Daya tarik teraneh yang Mirai Fukuin punyai bagiku adalah… karena latar waktunya yang maju mundur itu, ceritanya kedengerannya lebih cocok disebut gaiden atau side story. Tapi tema cerita yang dibawakannya memang beneran pas buat dijadiin epilog. Apalagi dengan gimana apa-apa yang dipaparkan di dalamnya mereferensikan sejumlah kejadian yang terjadi belakangan.

Ini seriusan epilog yang sangat keren. Jadi walau enggak membeberkan banyak hal, kalau kau suka ketujuh film layar lebar Kara no Kyoukai yang utama—dengan kesunyiannya, kemisteriusannya, kefilsafatannya, atau ke gimana apa-apa yang disampaikan di dalamnya bikin kamu mikir ulang tentang hidupmu—kau bisa sangat suka dengan apa yang ditampilkan dalam Mirai Fukuin.

(Eh, tapi kalau kau penggemar Type-Moon baru yang masih awam… uh, enggak tahu ya? Mungkin akan kusaranin buat ngelihat yang lain dulu? Seri Kara no Kyoukai memang cuma cocok buat sebagian orang sih.)

Mirai Fukuin sendiri berakhir dengan kuat. Extra Chorus sendiri memang bersifat kayak tambahan. Enggak ada hal baru apapun di dalamnya. Tapi ini tambahan yang beneran manis dan pas kalau kau melihatnya sesudah episode utama Mirai Fukuin. (Kesannya jadi kayak… epilog dari epilog? Hahaha.)

Sama seperti film-film layar lebar pendahulunya, Mirai Fukuin masih memukau dengan kualitas presentasinya yang beneran keren. Tak banyak aksi yang berlangsung—walau ada, dan misteri yang disampaikan kali ini juga tak terlalu rumit, tapi permainan sudut kamera dan pemilahan warna masih kuat di sini. Musiknya keren. Desain dunianya masih begitu mendetil. Lalu dari segi cerita, Mirai Fukuin masih mengangkat tema diskusi menarik, walau mungkin dalam versi yang lebih ringkas ketimbang episode-episode sebelumnya. Dan, yeah, bagian-bagian awalnya agak lebih lambat dari yang mungkin kau sangka.

Terlepas dari itu, satu aspek favoritku yang enggak kusangka ada pada penggambaran kamar apartemen Shiki, yang saat kulihat, langsung mengingatkanku akan saat pertama aku baca terjemahan dari versi novelnya.

Apa ya? Selain hal-hal di atas, aku juga suka kuatnya rasa nostalgia yang seri ini berikan terkait dekade 90an. Khususnya tahun 1998 dalam hal ini sih. Itu masa-masa yang… apa ya? Itu bagiku kayak zaman modern ketika dunia sedang mengalami semacam masa tenang, dan masa depan saat itu masih tersamar dan sama sekali belum terbayang. Pastinya keadaan di masa itu masih belum se-messed up sekarang. Dan karena itu pula, mungkin, pesan yang kurasa berusaha disampaikan di film ini terasa makin kuat…

Buat yang mau tahu, karakter Seo Shizune, yang belakangan terungkap menjadi teman asrama adik perempuan Mikiya, Kokutou Azaka, juga punya kemiripan desain dengan karakter Seo Akira dari semesta Tsukihime (pertama kali dia muncul di fan disc Kagetsu Tohya sih). Kemiripan mereka ada sampai ke kemampuan melihat masa depan terbatas yang Akira juga punyai, serta status mereka sebagai teman sekamar, dengan Akira pun menjadi teman asrama Tohno Akiha di seri tersebut.

Kokutou telah kutambahkan dalam daftar figur yang menjadi role model-ku (Yea, aku punya daftar kayak gitu. Kebanyakan isinya karakter anime. Seorang entrepreuner mesti punya sumber motivasi, tau). Aku beneran terkesan dengan gimana Kokutou memandang apa-apa yang dialaminya sebagai sesuatu yang positif. Aku pengen ngubah itu, tapi kudapati itu bukan sesuatu yang gampang. Dan yea, adegan percakapan dia dengan Shizune di Ahne Nerbe itu kayak memantapkan hal ini.

Kesimpulannya: kau enggak harus mengikuti ini walau pernah melihat seri film utamanya. Tapi kau akan puas kalau misalnya melihatnya.

Jangan lari dari kenyataan ataupun mengekang diri. Masa depan yang kau cari mungkin enggak akan terjadi sekalipun kau meyakininya. Tapi itu enggak berarti apa yang kau lakukan enggak akan memiliki arti.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

25/09/2013

Fate/Zero

Sebenarnya, belum lama ini, aku ngeberesin paruh kedua adaptasi anime Fate/Zero.

Kayak yang mungkin kebanyakan orang sudah tahu, seri ini adalah prekuel seri Fate/stay night, game visual novel legendaris yang dulu dikembangkan TYPE-MOON. Anime ini diadaptasi dari seri novel berjudul sama buah karya penulis Urobuchi Gen, yang dibikin di bawah pengawasan pencipta asli seri ini, Nasu Kinoko.  Desain karakter orisinilnya dibuat oleh Takeuchi Takashi. Lalu versi animenya dibuat oleh studio Ufotable, yang sebelumnya juga menarik perhatian sesudah mereka membuat versi anime dari seri novel Kara no Kyoukai yang juga dibuat Nasu-sensei.

Anime ini pertama mengudara pada bulan Oktober tahun 2011 dan berjumlah total 24 episode. Ada jeda waktu satu season antara episode 13 dan 14 (yang konon diambil untuk memperbaiki kualitas animasi), dengan paruh keduanya mulai mengudara pada bulan April sampai pertengahan Juni 2012.

Musiknya, tentu saja, ditangani oleh Kajiura Yuki (Grup paduan suara Kalafina terlibat kembali dalam proyek ini). Sutradaranya Aoki Ei, dan naskahnya dikerjakan bersama oleh Yoshida Akihiro, Hiyama Akira, Sato Kazuharu, dan Miyajima Takumi. (Apa mereka orang-orang TYPE-MOON ya?)

Return to Zero

Aku sebenarnya pernah membahas soal versi novelnya. Jadi daripada soal cerita, aku akan langsung ke lain-lainnya saja.

Versi anime Fate/Zero berkesan bukan cuma karena aspek presentasinya yang kuat, tapi juga karena hasil adaptasinya memang termasuk salah satu adaptasi dari novel ke anime paling bagus yang aku tahu.

Visualnya yang keren banyak mengingatkan akan ketajaman warna dan efek yang banyak digunakan dalam versi anime Kara no Kyoukai. Nuansanya memang sedikit berbeda. Bila Rakyou menampilkan kesan urban penuh bangunan yang agak mistis dan suram, Fate/Zero dengan caranya tersendiri memberi kesan ‘tegang’ dan ‘berat’ yang lumayan sesuai dengan tema perjuangan dan pengharapan yang seri ini usung. Kedua seri sama-sama berlatar di dekade tahun 90an (saat Bill Clinton masih berkuasa sebagai presiden Amerika). Tapi ada lebih banyak permainan sihir di Fate/Zero, dan karena itu kesan fantastisnya lebih terasa.

Latar dunianya di kota Fuyuki nampaknya telah terdesain dengan apik. Ada nuansa coklat kekuningan yang banyak mengingatkan orang akan senja. Kita bahkan sampai bisa kayak ngebayangin semacam peta di kepala tentang bentuknya yang terpisahkan oleh sungai menjadi dua distrik Miyama dan Shinto, yang masing-masing darinya merupakan akulturasi dari budaya tradisional dan budaya Barat yang lebih modern.

Aspek audionya keren, dan berperan jauh lebih penting dari yang selintas kukira.

Paruh pertama seri ini menampilkan semacam ensemble cast, di mana masing-masing pasangan Servant dan Master sama-sama memiliki peranan dan kepentingan mereka sendiri-sendiri.  Pada paruh kedua, baru ceritanya berpusar pada pribadi Emiya Kiritsugu beserta orang-orang di sekitarnya. Lalu hal ini kayak tercermin gitu dari lagu-lagu yang dipilih sebagai pembuka dan penutup.

Para Servant dan Master yang jumlahnya banyak kayak mendapat porsi perkenalan mereka satu per satu di animasi-animasi penutup dan pembuka. Lalu baru sesudah memasuki paruh kedua, nuansa perjuangan dan pengharapan yang kusebutkan tadi terangkat dengan frame-frame animasi yang banyak menampilkan masa lalu Kiritsugu serta awal mula kedekatannya ia dengan istrinya, Irisviel von Einzbern.

Hasil akhirnya beneran keren. Lagu ‘Sora wa Takaku, Kaze wa Utau’ yang dinyanyikan Haruna Luna kerasa kayak nonjok aku di perut karena seakan membalut segala sesuatu yang hendak disampaikan di seri ini.

Ditambah lagi, semua pengisi suaranya emang berperan secara keren. Mereka-mereka yang sebelumnya mengisi suara dalam adaptasi anime Fate/stay night kembali memainkan peran masa lalu karakter-karakter mereka di seri ini. Koyama Rikiya yang berperan minor sebagai Kiritsugu di Fate/stay night tampil menonjol sebagai Kiritsugu sang karakter utama di Fate/Zero. Demikian pula Nakata Joji sebagai Kotomine Kirei. Perlu kutambahkan lagi, baik Kiritsugu maupun Kirei di Fate/Zero sama-sama merupakan karakter agak berbeda dibandingkan saat mereka tampil di Fate/stay night. Kiritsugu masih seorang pembunuh berdarah dingin dan belum jadi sosok ayah angkat ramah seperti di pembukaan Fate/stay night, sedangkan Kirei adalah seseorang yang pada awalnya semata-mata hanya sekedar merasa ‘kosong’. Tapi kedua peranan tersebut dan perkembangan karakter yang kemudian keduanya alami sama-sama berhasil dibawakan dengan begitu pas.

Singkat kata, dari segi presentasi, seri ini benar-benar keren (aku engga tau udah berapa kali aku ngulang kata ini) dan hampir-hampir enggak ada cacatnya. Semua desain karakter Takeuchi-sensei berhasil dihidupkan secara baik dan semua adegan pertarungan dan aksinya juga tertata secara apik.

Maka dari sana, berhubung aku sudah namatin seri ini dan kini memahami perasaan orang-orang lain yang juga menamatkannya, ada baiknya aku ngebahas sejumlah hal tersisa yang mungkin bagi beberapa orang masih agak bikin penasaran.

Untuk Dunia di Mana Tak Ada yang Menangis

Sebenarnya, mungkin karena masalah budaya juga. Tapi ngedalamin dunia imajiner yang dibikin oleh Nasu-sensei ini sebenarnya enggak selalu bisa dibilang nyaman.

Tapi berikut tetap kudaftarkan sejumlah hal tertentu yang mungkin patut dicatat sesudah melihat versi anime Fate/Zero. Di dalamnya ada beberapa trivia seputar lore-nya, sebatas yang sejauh aku tahu dari bertahun-tahun mengikuti perkembangan waralabanya semenjak pertama melihat Shingetsutan Tsukihime. (Tentu aja, di dalamnya ada spoiler-spoiler bagi kalian yang belum pernah menontonnya.)  

  • Versi novel Fate/Zero menampilkan darah dan kekerasan lebih banyak ketimbang versi animenya. Adegan-adegan aksinya di novel juga dijabarkan dengan lebih ekstensif dan terinci.
  • Dalam versi novel, upaya Tohsaka Rin untuk menyelamatkan Kotone tak membuahkan hasil.
  • Pria tak dikenal yang Kiritsugu interogasi di kediaman Matou menjelang akhir cerita adalah Matou Byakuya, kakak kandung Matou Kariya (yang menjadi Master dari Berserker), serta ayah kandung Matou Shinji yang memiliki bakat sihir lebih rendah dari Kariya. Dialah yang berperan sebagai kepala keluarga Matou di depan umum. Pada titik ini, Shinji dikisahkan sedang menjalani studi ke luar, sedangkan nasib istri Byakuya lebih baik tak kusebutkan.
  • Kali-kali bagi beberapa orang masih belum jelas, Irisviel adalah ‘manusia buatan’ yang merupakan prototipe homunculus buatan keluarga Einzbern. Sekalipun dirinya tak terbunuh, bila sudah ada lima Servant tewas, kesadaran Irisviel tetap akan sirna, dan jasadnya akan mewujud menjadi bentuk fisik Cawan Suci. Anaknya bersama Kiritsugu, Ilyasviel, telah ditakdirkan menjalani nasib yang sama, sebagaimana yang kemudian terjadi dalam Fate/stay night.
  • Sosok Irisviel yang berdialog dengan Kiritsugu pada klimaks cerita adalah perwujudan dari Angra Mainyu, personifikasi dari ‘segala kejahatan di dunia’ yang telah mengkorup Cawan Suci dalam Perang Cawan Suci yang ketiga. Lebih lanjut tentangnya pertama dibahas dalam game sekuel Fate/hollow ataraxia. Tapi sedikit rinciannya akan aku singgung lagi di bawah.
  • Salah satu Noble Phantasm dari Servant Berserker milik Matou Kariya berupa kabut hitam yang membuat statistiknya sebagai Servant tak terbaca oleh para Master lain. Dalam cerita, digambarkan dengan bayaran satu Command Seal, Berserker dapat menggunakan kabut ini untuk mengubah sosoknya menjadi orang lain. Tapi kemampuan ini sebenarnya adalah bawaan miliknya sendiri; dan seandainya Lancelot dipanggil dalam kelas Servant lain selain Berserker, dirinya akan bebas mengubah wujudnya menjadi seperti siapapun yang ia mau. Kabut ini, bersama kemampuan Berserker untuk mengubah segala macam benda menjadi senjata sekelas Noble Phantasm, dengan sendirinya sirna saat ia menggunakan Noble Phantasm terakhirnya (yang berupa pedang Arondight) dalam duel terakhirnya melawan Saber.
  • Kutukan Lancer terhadap Cawan Suci sesaat sebelum dirinya terbunuh secara menyeramkan memang menjadi nyata. Namun alasan korupnya Cawan Suci sebenarnya berhubungan dengan sejarah masa lalu ritual ini sendiri. Lebih lanjut soal ini akan kusinggung di bawah.
  • Servant Assassin yang dimiliki Kirei terkesan terdiri atas banyak orang karena identitas Hassan il Sabbah yang dimiliki Asssassin pada Perang Cawan Suci ketiga ini dipegang oleh seseorang yang upayanya menyamarkan identitas dirinya berujung pada suatu kasus kepribadian berganda.
  • Meski disebutkan dapat mengabulkan permohonan apapun, tujuan sesungguhnya ritual Perang Cawan Suci, atau yang juga dikenal sebagai Heaven’s Feel, diprakarsai oleh tiga keluarga besar Einzbern, Tohsaka, dan Makiri; adalah untuk membuka jalan menuju Akasha. Akasha juga dikenal sebagai ‘awal mula segala hal’ dan menjadi tujuan akhir setiap penyihir (seperti di Kara no Kyoukai). Lalu motivasi utama pihak Einzbern untuk menjangkau Akasha sesungguhnya adalah demi memperoleh kembali Sihir Ketiga (‘materialisasi dari roh’, salah satu dari beberapa jenis sihir yang dipandang adalah sihir ‘sesungguhnya’) yang telah hilang dari mereka.
  • Cara kerja Cawan Suci kira-kira begini: para roh pahlawan legendaris dipanggil ke dunia dari Tahta Pahlawan (‘Throne of Heroes’) untuk menjadi Servant. Tahta Pahlawan merupakan semacam dimensi utopia yang tak mengenal konsep waktu, yang menjadi tempat para Pahlawan dalam berbagai legenda berpulang sesudah kematian mereka.  Sesudah mereka terpanggil kembali ke dunia sebagai Servant, mereka memperoleh pengetahuan mendasar tentang zaman dan peradaban terkini secara alami, dan akan saling bertempur dalam Perang Cawan Suci. Bila ada Servant gugur, roh mereka alaminya akan kembali ke Tahta Pahlawan; tapi artefak Cawan Suci yang tengah dibentuk ini akan ‘menampung’ roh-roh ini terlebih dahulu. Energi yang terkumpul bersama proses kembalinya mereka tersebutlah yang akan digunakan sebagai media untuk mengabulkan permohonan.
  • Artefak Cawan Suci, meski belum mewujud secara fisik, sebenarnya sudah bisa mengabulkan permohonan bila ada lima Servant yang telah gugur (Ini alasan mengapa Kiritsugu dikontak olehnya di tengah-tengah duelnya dengan Kirei). Namun untuk membuka jalan ke Akasha, energi tujuh Servant akan tetap diperlukan. Sehingga dengan kata lain, sasaran sesungguhnya bukan soal menjadi pasangan Servant-Master yang bertahan hidup hingga akhir; melainkan untuk membantai tujuh orang Servant agar energi yang terkumpul sesudah mereka tewas bisa digunakan untuk membuka jalan ke Akasha. (Ini juga alasan mengapa Archer (Gilgamesh) menyepakati usulan Kirei untuk mengkhianati Tohsaka Tokiomi.)
  • Seri Fate/Zero menegaskan bahwa dari sudut pandang tertentu, Emiya Shirou (karakter utama di Fate/stay night) dan Ilyasviel ternyata memang adalah kakak beradik.
  • Dalam Fate/stay night, sesudah menjadi Servant dari Shirou, Saber berkata kalau dirinya tak terlalu mengenal Emiya Kiritsugu secara pribadi, dan berbicara dengannya bahkan hanya sebatas tiga kali. Urobuchi-sensei menyiasati hal ini dengan membuat karakter Irisviel sebagai perantara komunikasi antara Kiritsugu dan Saber.
  • Dalam Fate/stay night, Saber tak mengenali siapa Ilya karena sepanjang hubungannya dengan Iri, Iri tak pernah sekalipun menyebut siapa nama anaknya ataupun memperlihatkan fotonya. Saber menyangka Ilya sebagai homunculus lain buatan keluarga Einzbern yang tak ada sangkut pautnya dengan Kiritsugu dan Iri.
  • Masih soal Saber, di Fate/stay night dijelaskan kalau Saber sebenarnya Servant ‘tak sempurna’ karena sudah dipandang sebagai figur pahlawan legendaris bahkan sebelum dirinya meninggal. Itu alasan kenapa di akhir cerita, dirinya bukannya kembali ke Tahta Pahlawan, melainkan kembali ke Camlann di mana pasukannya berhadapan dengan pasukan Mordred, sebelum ia terpanggil lagi sebagai Servant dalam kelanjutan cerita di Fate/stay night.
  • Adegan terbunuhnya Tokiomi sebenarnya merupakan salah satu adegan paling ironis di sepanjang seri, karena ada perkembangan cerita serupa dengannya dalam salah satu rute cerita di Fate/stay night.
  • Lebih banyak tentang kaum Dead Apostle dan para vampir lainnya, yang diteliti ayah Kiritsugu, dibahas lebih jauh dalam seri Tsukihime dan Melty Blood.
  • Sejarah ritual Perang Cawan Suci dimulai dari tahun 1800an, dengan tiga pihak di atas sebagai pemrakarsa. Einzbern menyediakan ‘wadah’ untuk Cawan, Tohsaka menyediakan tanah Fuyuki sebagai prasarana yang menyalurkan jalur-jalur sihir bumi secara alami, dan Makiri (yang kemudian berganti nama menjadi Matou) yang menyediakan sistem pemanggilan Servant dan Command Seal. Tapi format ritual tersebut berubah sesudah didapati bahwa yang dapat mengambil manfaat Cawan Suci hanya satu pihak. Akibat perbedaan keyakinan antar mereka soal metode untuk mencapai Akasha, persekutuan antara ketiga keluarga di atas terpecah; walau mereka tetap sepakat soal sistem yang akan digunakan dan mereka baru akan saling bersaing sesudah Cawan Suci mulai dipanggil. Pihak-pihak luar juga jadi harus dilibatkan sehubungan dengan jumlah Servant yang harus dipanggil sebanyak tujuh; keyakinan bahwa Cawan Suci sanggup mengabulkan permohonan apapun mulai menyebar.
  • Diperlukan waktu sampai jalur-jalur energi bumi mengumpulkan energi yang diperlukan untuk pembentukan/pemanggilan Cawan Suci. Makanya ada interval-interval waktu dalam jarak tak tentu antar satu Perang Cawan Suci dengan yang lainnya.
  • Karena sistemnya baru terbangun, Perang Cawan Suci pertama di awal 1800an menjadi lebih seperti pertengkaran dibandingkan perseteruan. Pihak-pihak luar yang diundang untuk terlibat malah berupaya memanfaatkan upacara pemanggilan ini untuk kepentingan mereka pribadi. Perang ini konon berakhir sebelum Cawan Suci sempat terbentuk. Lokasi pemanggilan Cawan Suci di Kuil Ryuudou di Gunung Enzou.
  • Perang Cawan Suci kedua di tahun 1860an berujung menjadi ajang saling bunuh secara terbuka; dan semua peserta pada akhirnya terbunuh tanpa ada yang tersisa. Sebagai tanggapan atas hasil ini, tiga keluarga besar mengajukan keterlibatan pihak Gereja (yang umumnya berseberangan dengan para penyihir) sebagai pihak yang akan menjadi ‘wasit.’ Lokasi pemanggilan Cawan kali ini adalah kediaman keluarga Tohsaka.
  • Perang Cawan Suci ketiga berlangsung di tahun 1930an, menjelang Perang Dunia II. Pihak Nazi dan Kekaisaran Jepang konon turut terlibat dalam konfliknya. Sebagai reaksi atas kekalahan mereka yang beruntun, pihak Einzbern melakukan kecurangan pada sistem pemanggilan, dalam upaya memanggil sosok dewa Zoroaster Angra Mainyu yang menempati kelas baru, Avenger, yang menggantikan kelas Berserker. Tapi Avenger ternyata Servant yang lemah, dan dengan segera tersingkir dalam persaingan. Sifat Avenger yang mewakili segala bentuk kejahatan ini yang kemudian ‘menodai’ Cawan Suci, membuatnya hanya bisa mengabulkan permohonan melalui kematian dan penghancuran, dan memungkinkan dipanggilnya Servant-Servant lain yang ‘ambigu’ kepahlawanannya dalam babak-babak Perang Cawan Suci selanjutnya, seperti Caster (Gilles De Rais) dan Assassin (Hassan i-Sabbah).
  • Dalam Perang Cawan Suci ketiga, sebagaimana disinggung dalam Fate/hollow ataraxia, ada dua peserta bersaudara dari keluarga penyihir Edelfelt yang karena kekhasan sihir mereka, sama-sama memanggil Servant dari kelas Saber. Keduanya dikalahkan oleh peserta dari pihak Tohsaka, dengan satu tewas(?) dan satu lagi disumpahi untuk tak menginjak Jepang lagi. Konon, ini awal mula permusuhan antara keluarga Tohsaka dan keluarga Edelfelt (walau awal permusuhan antara Rin dan Luvia di Fate/Kaleid Liner Prisma Ilya kelihatannya agak beda…).
  • Terlepas dari besarnya konflik yang terjadi, Perang Cawan Suci ketiga kembali berakhir dengan sia-sia akibat hancurnya Cawan Suci di tengah-tengah pertempuran. Sebagai tanggapan atas ini, pihak Einzbern merasa perlunya ada naluri pertahanan diri yang diberikan pada wadah, yang berujung pada penciptaan para homunculus ‘berkepribadian’ seperti Irisviel. Lokasi pemanggilan kali ini adalah di suatu tempat di Fuyuki yang kemudian berkembang menjadi distrik Shinto.
  • Lebih banyak tentang Avenger, Angra Mainyu, dan dendamnya terhadap dunia dipaparkan dalam Fate/hollow ataraxia. Fate/Zero sebenarnya dibuat pada waktu yang kurang lebih sama dengan saat Fate/hollow ataraxia tengah dikerjakan. Sehingga keberhasilan Urobuchi-sensei memaparkan sifat Angra Mainyu pada klimaks Fate/Zero diakui orang-orang TYPE-MOON sebagai kebetulan yang ajaib, karena hal tersebut malah belum terungkap selama pembuatan Fate/hollow ataraxia.
  • Sesudah ternoda oleh Angra Mainyu, Cawan Suci selalu berupaya untuk bisa ‘lahir’ dan sekaligus membawa kehancuran atas dunia. Hal ini kelihatannya berhubungan dengan bagaimana di penghujung cerita ia menjadikan Kirei dan Archer ‘abadi’ sebagai bidaknya.
  • Untuk mengantisipasi kemungkinan sangat kecil seandainya ketujuh Servant tak saling bertarung, tapi malah bersekutu dengan satu sama lain, sebenarnya ada suatu sistem cadangan yang memungkinkan pemanggilan tujuh orang Servant tambahan dengan menguras habis pasokan energi di tanah bersangkutan. Kasus ini yang kemudian disorot dalam cerita seri novel Fate/Apocrypha, dengan total jumlah Servant-Master sebanyak 14 pasangan.
  • Meski berseberangan dengan gurunya selama masa Perang Cawan Suci, Kayneth Archibald El Melloi (Master dari Lancer), Waver Velvet (Master dari Rider) dianggap menjaga nama besar keluarga penyihir El Melloi karena berhasil bertahan hidup, sehingga ia kemudian dinobatkan dengan gelar Lord El Melloi II. Berlakangan dirinya menjadi salah satu guru Tohsaka Rin di Mage’s Association.
  • Dengan rute Heaven’s Feel sebagai pengecualian, sepuluh tahun sesudah kemenangan Shirou di akhir Fate/stay night, Lord El Melloi II bersama Rin kembali ke Fuyuki untuk menghancurkan formasi Cawan Suci Besar di Gunung Enzou yang menjadi fondasi penciptaan Cawan Suci. Meski mendapat pertentangan dari sejumlah penyihir Mage’s Association lain, mereka berhasil menuntaskan misi mereka, dan dengan demikian sekaligus mewujudkan pengharapan terakhir Kiritsugu sebelum ia meninggal untuk mencegah Perang Cawan Suci berlangsung kembali.

Yasashii Uta

Buat yang ngikutin novelnya tapi enggak ngikutin animenya sama sekali, cerita di animenya terputus saat tokoh Caster dan Uryuu Ryunosuke menciptakan makhluk raksasa dari dasar sungai. Memang terasa banget gimana paruh awal cerita masih merupakan semacam pendahuluan (meski tetap seru sih); dengan kebanyakan intisari cerita adanya di paruh kedua. (Ditambah adanya sejumlah masalah pacing lain…)

Di samping soal eksekusinya sendiri, yang paling memikat dari Fate/Zero buatku adalah bagaimana Kiritsugu melampaui segala bayangan buruk yang mungkin akan menimpanya dan melakukan apa yang harus dia lakukan. Dia memang membayar mahal atas semua tindakannya. Tapi di penghujung cerita, dia tetap dengan segala cara kayak berusaha melakukan semacam penebusan, dan buatku, seriusan, itu sesuatu yang bener-bener keren.

Itu bukan sesuatu yang bisa dengan gampangnya kulakukan sendiri, seenggaknya.

Fate/Zero di ujung-ujungnya akhirnya malah jadi sesuatu yang kebagusannya melampaui Fate/stay night. Maka dari itu, kebanyakan orang menyarankan untuk mengikuti Fate/stay night dulu sebelum mengikuti Fate/Zero. Di samping itu, mengingat sifat cerita Fate/stay night sebagai game yang terbagi atas tiga rute, memang agak susah memperbincangkan soal makna kesudahan cerita Fate/Zero. Tak ada rute yang mencakup elemen-elemen ceritanya secara menyeluruh sih.

Tapi belakangan beredar ada kabar kalau panitia pembuat anime ini mempertimbangkan dibuatnya suatu proyek animasi Fate/stay night yang baru. Mungkin mereka mempertimbangkan dampak dari kesuksesan Fate/Zero. Jadi aku enggak bisa enggak membayangkan kalau kita mungkin saja akan mendapatkan suatu cerita Fate/stay night yang orisinil dan sama sekali baru.

Yah, moga-moga aja itu terwujud.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: A-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A+

(Sumber kebanyakan dari TYPE-MOON Wikia)

23/12/2010

Anime(-anime?) Baru dari TYPE-MOON? (news)

Belum lama ini dikabarkan akan ada sejumlah adaptasi anime dari beberapa karya (tidak langsung) perusahaan pengembang visual novel TYPE-MOON.

Yah, aku penggemar karya-karya Kinoko Nasu. Jadi tentu saja aku memperhatikan berita-berita semacam ini. Tapi nampaknya beliau tidak terlihat terlalu berperan dalam apapun yang dibuat.

Pertama, adalah adaptasi anime dari Take Moon, yang pada dasarnya merupakan seri manga komedi yang mengetengahkan berbagai tokoh dari karya-karya TYPE-MOON yang sebelumnya, macam Tsukihime dan Fate/stay night. Manga aslinya dibuat oleh Takenashi Eri, yang tidak lain tidak bukan merupakan pengarang asli dari manga komedi Kannagi.

Aku sejujurnya nyaris enggak tahu apa-apa soal ini, jadi aku enggak bisa berkomentar banyak. Aku lumayan menyukai cerita-cerita doujin berdasarkan FSN, jadi kurasa aku bisa membayangkan intinya kayak apa. Cuma, yah, aku makin dewasa dan makin merasa ada lebih banyak karya lain yang lebih baik kuperhatiin. Jadi untuk yang satu ini aku enggak terlalu antusias.

Um, format adaptasi ini katanya akan berbentuk OVA, dan direncanakan untuk dirilis pada musim panas 2011. Lalu judulnya katanya akan diganti menjadi Carnival Phantasm. Yah, kita lihat saja kelanjutannya nanti akan gimana.

Berita kedua yang lebih mendebarkan adalah adaptasi anime dari Fate/zero, seri novel yang menjadi prekuel dari cerita dari Fate/stay night. Rangkaian novel asli ini ditulis oleh penulis Nitroplus Urobuchi Gen dengan layout cerita yang dibuat oleh Kinoko Nasu. Buat yang belum tahu, novel ini mengisahkan tentang Perang Cawan Suci keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelum cerita game-nya. Berbagai sejarah dan awal mula hubungan karakter dipaparkan dalam novel ini.  Tokoh utamanya adalah Emiya Kiritsugu, yang di akhir cerita kemudian menjadi ayah angkat Emiya Shirou yang merupakan tokoh utama FSN.

Aku sempat mengikuti novel-novelnya untuk beberapa lama. Meski gaya ceritanya berbeda dari gaya cerita Nasu-sensei, asal kau terbiasa, ceritanya lumayan seru kok. Semua tokoh Master dan Servant di dalamnya memiliki daya tarik simpatik mereka sendiri-sendiri, dan kau enggak bisa enggak meradang dalam hati karena tahu benar bahwa segalanya akan berakhir tragis.

Berita terakhir adalah soal adaptasi anime dari Girl’s Work, sebuah VN lain dari TYPE-MOON yang sejujurnya, juga belum kuketahui lebih banyak tentangnya. Aku bahkan dengar VN ini malah memang belum dirilis. Yang pasti, bukan Nasu-sensei yang menangani ceritanya. Penulis aslinya adalah dua penulis keluaran perusahaan Liarsoft, Hoshizora Meteo dan Myogaya Jinroku. Isinya kudengar adalah tentang bagaimana kota Shinjuku telah ‘menyatu’ dengan Paris. Soal plot, penokohan, ataupun yang lainnya sama sekali masih belum aku tahu.

Ini sebenarnya hal yang agak membingungkan, karena fenomena dibuat sebelum rilis gini rasanya belum pernah terjadi sebelumnya.

Visualisasi latarnya nampaknya bakal keren, seenggaknya. Seperti yang bisa dilihat pada gambar berikut.

Berita lain lagi yang bukan soal anime adalah bakal dirilisnya VN Mahou Tsukai no Yoru pada minggu ini. Setelah penantian selama dua setengah tahun, judul ini akhirnya akan dirilis juga. Sejauh yang aku tahu, ceritanya didasarkan dari sebuah cerita pendek yang Nasu-sensei pernah buat. Intinya berkisar seputar hubungan antara dua bersaudari  Aozaki Tohko dan Aozaki Aoko, sesama penyihir (magus) yang masing-masing sebelumnya telah berperan dalam Kara no Kyoukai dan Tsukihime.

Detil lebih banyak akan kukabari nanti.

(sumber dari ANN dan Moetron)


10/05/2010

Kara no Kyoukai

Belum lama ini, aku menonton sampai habis ketujuh film adaptasi animasi Kara no Kyoukai: The Garden of Sinners. Kemudian aku sadar bahwa selain menyebut beberapa hal tentangnya dalam blog-ku beberapa tahun lalu (waktu itu blog-ku belum aktif kuurusi seperti sekarang), aku sama sekali belum pernah membahasnya secara spesifik.

Kara no Kyoukai berawal sebagai seri novel (ranobe) karya kolaborasi antara Nasu Kinoko (sebagai penulis) dan Takeuchi Takashi (sebagai ilustrator), pasangan yang kelak membentuk grup TYPE-MOON yang menelurkan game doujin legendaris, Tsukihime. Kara no Kyoukai bisa dibilang merupakan ‘prototipe’ dari Tsukihime, mengingat keduanya memiliki berbagai kemiripan antara satu sama lain, baik dari segi ilustrasi visual maupun konsep cerita.

Aku sendiri pertama mengetahui tentang Kara no Kyoukai beberapa tahun sebelum booming TYPE-MOON melanda. Semua berawal dari sebuah diskusi online tentang Shingetsutan Tsukihime, adaptasi anime dari game Tsukihime, yang mendorongku untuk menelaah lebih jauh detil-detil plot penting yang ada dalam game tapi tak dapat dibahas dalam versi anime. Dari sanalah aku kemudian mengetahui lebih banyak tentang TYPE-MOON, beserta judul-judul lain yang telah mereka keluarkan. Di antaranya adalah Fate/stay night (yang waktu itu adaptasi anime-nya masih belum dikeluarkan) dan Kara no Kyoukai.

Pada waktu itu, kedua game TYPE-MOON yang terkenal, Tsukihime dan Fate/stay night, masih belum ditranslasikan oleh para fans. Tak heran informasi yang bisa ditemukan tentang Kara no Kyoukai saat itu masih sangat terbatas. Meski demikian, membaca apa yang tertulis tentang garis besar alur dan penokohannya saja sudah cukup untuk mengusik rasa ingin tahuku lebih lanjut.

Harapanku untuk tahu menikmati ceritanya secara menyeluruh pada akhirnya terpenuhi beberapa tahun kemudian, sesudah versi anime-nya dibuat oleh studio UFOtable.

Sebelumnya perlu kujelaskan, bahwa bagi orang awam, apalagi buat mereka yang belum terlalu kenal dengan gaya cerita Nasu, lumayan susah menjabarkan inti cerita Kara no Kyoukai adalah tentang apa.

Kara no Kyoukai (yang sepertinya berarti ‘garis batas ketiadaan’; subjudulnya yang dalam bahasa Inggris sendiri berarti ‘taman para pendosa’) memiliki tema yang berat dengan muatan-muatan filosofis. Alur ceritanya tidak selalu bergerak secara kronologis. Ditambah lagi, karena latarnya termasuk di dalam settingan dunia khayalnya Nasu, ada berbagai bumbu sihir dan kekuatan ajaib yang cara kerjanya tak mudah dijelaskan secara gamblang. Karena itu ceritanya jelas bukan jenis yang akan mudah diterima oleh sebagian besar orang.

Studi Pembunuhan

Ceritanya berlatar di kota… sial, aku lupa nama kotanya apa, pada rentang waktu sekitar tahun 1995 sampai sekitar tahun 1998 (Gampangnya, ini adalah masa tatkala grafis 3D di konsol PSOne sudah mulai memukau, tapi penggunaan ponsel masih belum lazim seperti sekarang.).

Tersebutlah pada suatu malam bersalju di sekitar awal tahun 1995, seorang pemuda berkacamata bernama Kokutoh Mikiya berpapasan di tengah jalan dengan seorang cewek cantik berkimono yang karena suatu alasan tertentu, teramat menarik perhatiannya. Gadis yang ternyata ditempatkan sekelas dengannya pada tahun ajaran baru itu belakangan Kokutoh ketahui bernama Ryohgi Shiki (keduanya sama-sama baru masuk SMA).

Namun Shiki ternyata bukanlah gadis yang biasa. Darah kuno keluarga Ryohgi yang mengalir kental dalam dirinya membuatnya mewarisi sejumlah keistimewaan khusus. Ia sudah dilatih ilmu bela diri sejak kecil, bakat alami yang dimilikinya dalam belajar di atas rata-rata, tetapi yang paling utama adalah bahwa Shiki memiliki semacam kepribadian ganda.

Dalam novelnya, dijelaskan bahwa keluarga Ryohgi percaya bahwa apabila manusia mendalami suatu bidang ilmu tertentu, maka secara alami akan ada bidang ilmu lain yang akan dilupakannya. Sebagai kompensasi atas hal ini—mungkin sebagai bentuk ‘keserakahan’ keluarga Ryohgi terhadap ilmu pengetahuan—anak-anak mereka dibuat sedemikian rupa agar memiliki kepribadian lebih dari satu. Satu kepribadian mendalami bidang ilmu tertentu. Sedangkan satu kepribadian satunya mendalami bidang ilmu lainnya yang lazimnya sulit dikuasai apabila bidang ilmu sebelumnya dipelajari.

Jadilah Shiki tumbuh menjadi seseorang yang memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Satu bersifat ‘yin,’ sedangkan satunya bersifat ‘yang.’ Yang satu bersifat maskulin, sedangkan yang satunya bersifat feminin. Meski yang feminin yang biasanya lebih dominan dari yang satunya.

(Kabarnya, karena masalah ini, ada banyak anggota keluarga Ryohgi berakhir dengan kehilangan kewarasannya… Adanya anggota keluarga yang mendapat kepribadian majemuk dan bisa tetap waras seperti Shiki konon merupakan kasus langka.)

Berbeda dari kebanyakan manusia yang terlahir sebagai makhluk sosial, Shiki tidak lagi mencari secara alami uluran tangan bantuan dari orang lain, karena sejak awal ia memang sudah ‘berdua.’ Karena itulah ia akhirnya tumbuh menjadi seseorang yang terlihat asosial dan antipati dari luar.

Menariknya, di sisi lain, karena seumur hidupnya belum pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk bisa ‘sendiri,’ Shiki selama ini senantiasa hidup dengan mencoba ‘mematikan’ sebagian dirinya yang lain. Hal itulah yang akhirnya membuat Shiki sedemikian terpikatnya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kematian(!).

Meski Shiki sudah mengungkapkan kenyataan ini padanya, di luar dugaan Shiki, Mikiya tetap gigih dalam upayanya berteman dengan Shiki. Seiring dengan waktu, persahabatan di antara mereka agak terjalin. Tapi persahabatan itu mulai rapuh saat serangkaian pembunuhan sadis ditemukan terjadi di dalam kota.

Dari kakak sepupunya yang bekerja sebagai polisi, Daisuke-niisan, Mikiya kemudian mengetahui bahwa ada seseorang yang memiliki ciri-ciri seperti Shiki kerap kali terlihat di lokasi-lokasi TKP (perempuan, berkimono, dsb. perlu diperhatikan bahwa Shiki selalu berkimono, termasuk di sekolah, karena tak adanya ketentuan yang mengharuskan para siswa memakai seragam). Mikiya yang kebingungan oleh sikap Shiki yang tiba-tiba menjauhinya, mulai curiga kalau-kalau Shiki, karena suatu alasan, adalah pelaku yang sebenarnya dari pembunuhan-pembunuhan tersebut.

Konflik di antara keduanya mencapai puncaknya dengan insiden kecelakaan lalu lintas yang membuat Shiki jatuh ke dalam keadaan koma. Pada waktu yang kurang lebih sama, rangkaian pembunuhan itupun tidak terjadi lagi. Teka-teki tentang pembunuhan-pembunuhan itu untuk sementara berakhir sebagai sebuah kasus yang tak pernah terselesaikan.

Beberapa tahun berikutnya, Shiki pulih kembali dari komanya. Terbangun dari tidur panjangnya, Shiki mendapati bahwa ia tak mengalami cedera permanen pada tubuhnya. Tapi meski ia ingat jelas dan sadar sepenuhnya bahwa dirinya adalah Ryohgi Shiki, ia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan pikiran dan matanya.

The Mystic Eyes of Death Perception

Sekitar dua tahun sesudah kecelakaan itu, Mikiya mengundurkan diri dari bangku kuliah dan memutuskan untuk bekerja di agensi Garan-no-Dou milik wanita berkacamata misterius bernama Aozaki Tohko. Di balik pekerjaannya sebagai konsultan pembangunan dan seniman boneka, Tohko sebenarnya adalah seorang penyihir (magus), yang membuatnya bisa tahu dan memahami hal-hal tertentu yang orang-orang awam tidak bisa ketahui. Menyadari bakat abnormal yang Mikiya miliki dalam menemukan fakta dan barang hilang, Tohko menjadikannya aset berharga dalam perusahaannya sebagai pencari informasi.

Tohko inilah yang kemudian membantu Shiki dalam masa pemulihannya. Tohko menjelaskan bahwa Shiki kini sudah tidak lagi berkepribadian ganda (salah satu kepribadiannya ‘tewas’ dalam kecelakaan itu). Lalu garis-garis aneh yang kini Shiki bisa lihat pada segala sesuatu di sekelilingnya itu, sesungguhnya adalah ‘kematian’ yang dimiliki oleh setiap benda.

Apabila salah satu garis yang tak dapat dilihat orang lain itu digores Shiki dengan benda tajam, maka benda bersangkutan akan terbelah atau bahkan hancur seketika. Dengan kata lain, benda apapun, baik makhluk hidup atau benda mati, dapat Shiki ‘matikan’ asalkan garis yang terdapat padanya bisa ia gores.

Kemampuan baru Shiki untuk secara harfiah ‘melihat’ kematian terjadi berkat koneksi yang kini dimilikinya dengan ‘awal mula segala hal.’ Karena salah satu kepribadiannya—satu bagian yang teramat kuat dari dirinya—mati, dan kembali menjadi bagian dari ‘awal mula segala hal’—kepribadian Shiki yang masih hidup, yang notabene merupakan bagian dari dirinya yang telah mati, kini terhubung pula secara langsung dengan ‘awal mula segala hal.’ Dengan demikian, Shiki telah dianugrahi kemampuan untuk membunuh siapapun atau menghancurkan apapun yang ia mau, karena bisa melihat dan memutuskan garis-garis yang menghubungkan segala sesuatu dengan ‘awal mula segala hal’ tersebut.

Dalam perkembangan yang berlangsung inilah, Shiki dan Mikiya kemudian harus berhadapan dengan serangkaian insiden aneh yang secara tersamar namun pasti melibatkan mereka berdua…

Kimi ga Hikari ni Kaete yuku

Meski aku menceritakannya seperti ini, pada kenyataannya, novel maupun anime-nya menyampaikan apa-apa saja yang terjadi secara sepotong-sepotong. Diperlukan kesabaran yang agak lebih buat bisa mencerna apa sih sesungguhnya yang tengah terjadi. Di samping temanya yang ‘gelap’ dan sejumlah adegannya yang jelas tidak diperuntukkan anak-anak, jalinan ceritanya yang rumit menjadikan Kara no Kyoukai memang agak lebih bisa dinikmati penonton dewasa, dan itu pun jika mereka bisa mentolerir sifat para tokohnya yang agak-agak ‘sakit.’

Tapi terlepas dari semuanya, ada banyak hal mengesankan yang bisa ditemukan pada Kara no Kyoukai. Dimulai dari para karakternya; pribadi Shiki yang sebenarnya rapuh dan dilematis jelas tidak mudah dilupakan. Mikiya, yang kesetiaan dan keyakinan penuhnya pada Shiki menjadi sifatnya yang paling menonjol, memiliki kelembutan hati sedemikian rupa yang membuat kita maklum bila sebagian besar tokoh cewek di seri ini jatuh hati padanya.

Bila menghubungkan dengan karya-karya Nasu lain, kita juga akan langsung tahu bahwa mata Shiki serupa dengan mata Tohno Shiki, tokoh utama dari Tsukihime. Dari segi desain, karakter Mikiya sangat mirip dengan Tohno Shiki. Lalu adik perempuannya, Kokutou Azaka (yang jatuh cinta pada kakak kandungnya sendiri, dan belakangan menjadi murid Touko karenanya), sangat mirip dengan adik perempuan Tohno Shiki, Tohno Akiha (yang juga jatuh cinta pada kakaknya, meski dalam hal ini sejak awal keduanya memang bukan saudara kandung).

Karakter Touko adalah kasus yang lain lagi. Touko—yang sangat cantik bila memakai kacamata, tapi berubah menjadi terlihat galak bila kacamatanya dilepas—disebutkan adalah saudara kembar dari Aozaki Aoko, ‘guru’ dari Tohno Shiki sekaligus satu-satunya tokoh penyihir sejati yang muncul dari Tsukihime. Hubungan keduanya konon sangat buruk.dan sudah sampai ke tingkat saling mendendam. Tapi peran yang mereka jalani dalam kedua seri ini, sebagai semacam penasihat bagi para tokoh utama, kurang lebih sama.

Sebagian besar tokoh lain yang berperan dalam seri ini adalah tokoh-tokoh ‘tamu’ yang biasa berada dalam posisi-posisi yang agak antagonis. Tapi di antara mereka, yang memegang peran menonjol yang agak konsisten adalah Gakuto-san, sahabat dekat Mikiya; Shirazumi Lio, kakak kelas Mikiya dan Shiki; serta Araya Souren, sosok pendeta misterius yang bisa jadi merupakan dalang dari segala sesuatu yang tengah terjadi (yang wajahnya agak-agak mirip dengan tokoh serupa, Kotomine Kirei dari Fate/stay night).

Sepanjang cerita, kita akan mengikuti bagaimana para tokoh ini berkembang menjadi lebih dewasa dan manusiawi. Tema yang beberapa kali berulang dari seri ini adalah tentang upaya manusia untuk saling memahami dan menerima satu sama lain apa adanya, serta dorongan untuk terus berjuang dalam menjalani hidup di masa depan.

Dari segi teknis presentasi, Kara no Kyoukai itu memukau. Menggunakan warna-warna tajam serta efek-efek animasi khusus, setiap adegan yang berlangsung di dalamnya digambarkan teramat dramatis dan mengesankan. Meski inti ceritanya tak pernah ada di adegan-adegan pertarungannya, adegan-adegan pertarungannya itu keren. Temponya cepat, pergerakan kameranya dinamis, dan kita yang menyaksikan dibuat terkesima oleh banyaknya adegan yang berlangsung selama sekejap.

Dari audio, seri inipun memikat. Musik latarnya melarutkan dan menghantui. Lalu Sakamoto Maaya memainkan peran ‘ganda’-nya sebagai dua sisi kepribadian Ryohgi Shiki dengan teramat baik. Mungkin yang agak tak disukai semua orang adalah deretan theme song-nya yang dibawakan oleh Kalafina. Tapi nuansa agak-agak seriosa opera yang tercermin dalam lagu-lagu mereka tanpa dapat disangkal memang cocok dengan seri ini kok.

Meski mengangkat tema yang sama, masing-masing episodenya memiliki nuansa yang agak berbeda. Hanya dua dari ketujuh episodenya yang berdurasi dua jam, dua kali lipat dari episode-episode yang lain. Meski setiap episode mengangkat ceritanya sendiri-sendiri, menonton keseluruhannya adalah hal yang mutlak bila ingin memahami inti ceritanya secara penuh (tapi itu tetap bukan jaminan ceritanya dengan mudah akan bisa tercerna sih)

Akhir kata, adaptasi anime Kara no Kyoukai bisa dikatakan sebagai sesuatu yang ‘menyegarkan’ yang muncul dalam tahun-tahun terakhir. Meski untuk bisa larut dalam jalan pikiran para tokohnya yang tak biasa kita tetap harus membaca novelnya, versi anime-nya menyampaikan inti ceritanya secara memikat dan jelas.

Apabila kau menyukai cerita-cerita yang agak mistis dan filosofis (dan merasa cukup dewasa, dan memiliki pikiran yang cukup terbuka untuk tak merasa jijik), kisah cinta antara Shiki dan Mikiya ini mungkin ada baiknya kau coba ikuti.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A-; Eksekusi: A; Perkembangan: B; Kepuasan Akhir: A