Posts tagged ‘TYPE-MOON’

03/01/2017

Fate/Grand Order: First Order

Ini catatan singkat(?), berhubung sekarang masih suasana tahun baru.

Episode spesial Fate/Grand Order: First Order beberapa hari lalu ditayangkan.

Diangkat dari game sosial ponsel Fate/Grand Order yang sekarang terkenal, produksi animasinya dilakukan studio Lay-duce (studio relatif baru yang sebelumnya memproduksi Magi: Adventure of Sinbad, Classroom Crisis), penyutradaraannya dilakukan oleh staff veteran Nanba Hitoshi (Baki the Grappler, Gosick, Heroman) dengan dibantu sutradara episode Tsukada Takurou, serta naskah yang dibuat pendatang baru Sekine Ayumi (Makura no Danshi).

Menyambut sekitar setahun semenjak perilisan gamenya, sekaligus mungkin menyambut tahap penutup Final Order yang dirilis di dalamnya belum lama ini (walau sudah dikonfirmasi akan ada perkembangan cerita baru yang menyusulnya), penganimasian FGO menjadi yang pertama dari rangkaian berita menggembirakan bagi para penggemar waralaba Fate keluaran perusahaan pengembang Type Moon. Selain FGO, bagian pertama dari trilogi film layar lebar Fate/stay night: Heaven’s Feel akhirnya akan rilis, seri anime Fate/Extra: Last Encore yang diproduksi studio SHAFT dengan disutradarai Shinbo Akiyuki sudah dijadwalkan untuk akhir tahun, lalu seri novel Fate/Apocrypha juga dikonfirmasi akan diangkat ke bentuk seri anime TV.

Kayak beberapa kasus sebelumnya, sebenarnya yang menggemari Fate/Grand Order adalah adik perempuanku, bukan aku. Kegemarannya terhadap game ini bahkan sempat mengalihkan perhatiannya dari kegemaran ngegamenya yang biasa. Tapi sejauh yang aku tahu, ini game sosial pertama yang Type Moon kembangkan, yang memang jadinya lumayan sukses.

Garis besar permainannya tak jauh beda dari game-game seluler mobage lain. Di dalamnya, kita jalankan misi-misi dengan karakter-karakter yang punya, memperoleh karakter-karakter baru, meningkatkan level karakter-karakter kita melalui misi-misi baru, dalam proses yang terus berulang hingga akhir cerita. Tentu saja, perolehan karakter barunya, sebagaimana yang kerap terjadi untuk game-game macam begini, kalau tidak kita beli khusus, ya terjadi secara acak (istilahnya: gacha, seperti halnya mesin gachapon). Tapi yang membuat FGO benar-benar istimewa dibandingkan game-game sejenis (macam Chain Chronicle, Rage of Bahamut, atau Final Fantasy Brave Exvius misalnya), kudengar adalah sistem pertempurannya yang bernuansa Perang Cawan Suci (tentu saja, dengan sedikit modifikasi), seluruh karakternya yang mendapat pengisi suara, serta konsep ceritanya yang menarik dan khas Nasu Kinoko-sensei.

Sejauh ini perilisannya hanya di Jepang dan menggunakan bahasa Jepang. Tapi berhubung user interface (UI)-nya dirancang sedemikian rupa agar sangat mudah dinavigasi, ditambah dengan banyaknya penggemarnya, ada banyak juga pemainnya dari negara-negara lain.

Terlepas dari itu, kalau kalian misalnya baca sejauh ini dan tak tahu Perang Cawan Suci itu apa, mungkin kalian nyadar Fate/Grand Order bukan judul tepat untuk memperkenalkan waralaba Fate kepada penggemar-penggemar baru. Soalnya, apa-apa yang ditampilkan dalam game ini mereferensikan hampir seluruh karya yang pernah dikeluarkan Type Moon. Jadi bukan hanya Fate/stay night dan berbagai turunannya, melainkan Kara no Kyoukai dan Tsukihime juga.

Di sisi lain, kalau kalian sudah lumayan tahu tentang semesta Nasuverse buatan Type Moon, dan ingin tahu lebih tentang FGO, maka episode spesial ini mungkin pilihan tepat.

Simulasi Dunia

Berlangsung di linimasa berbeda dari Fate/stay night, FGO mengetengahkan sebuah lembaga rahasia di bawah naungan PBB yang didirikan dengan maksud untuk memastikan keberlangsungan hidup umat manusia. Lembaga tersebut bernama Chaldea Security Organization, dan saat ini dipimpin oleh seorang perempuan bernama Olga Marie Amusphere yang mewarisi jabatan direktur dari mendiang ayahnya.

Urutan apa-apa yang terjadi agak membingungkan. Namun singkat cerita, Chaldea yang dipimpin Olga Marie tersebut, melalui kombinasi sihir dan teknologi, menjalankan suatu simulasi dunia bernama Chaldeas (yang dibangun dengan fondasi ‘roh Dunia’ itu sendiri) yang dengannya, mereka bisa memperkirakan masa depan. Dengan simulasi tersebut, mereka bisa memastikan keberlangsungan umat manusia dalam waktu dekat. Hanya saja pada tahun 2005, terjadi sesuatu yang ganjil. Masa depan yang sebelumnya dapat mereka pandang sampai satu abad ke depan tahu-tahu tersamar. Lalu umat manusia, dan mungkin sekaligus juga dunia, diperkirakan oleh sistem akan berakhir pada bulan Desember 2015.

Apa yang terjadi besar kemungkinan berkaitan dengan suatu wilayah bernama Fuyuki di Jepang pada tahun 2004. Pihak Chaldea memiliki suatu sistem bernama Shiva ciptaan ilmuwan Lev Lainur yang bisa mereka gunakan untuk memantau setiap titik geografis dan waktu di Chaldeas. Namun wilayah dan masa yang dikenal sebagai Singularity F tersebut merupakan area dari sejarah dunia yang entah kenapa tak pernah bisa mereka amati.

Menurut catatan sejarah yang mereka tahu, suatu ritual sihir bernama Perang Cawan Suci konon pernah berlangsung di Fuyuki pada tahun 2004. Lalu bencana kepunahan yang kini manusia hadapi bisa jadi berkaitan dengan artefak Cawan Suci yang didesas-desuskan sanggup mengabulkan permohonan apapun.

Untuk mengatasi masalah ini, ditemukan suatu proses bernama Rayshift yang memungkinkan untuk mengirimkan roh-roh orang-orang masa kini ke masa lalu. Lewat proses ini, kebenaran dari apa yang terjadi akan bisa terkuak.

Chaldea lalu mengumpulkan orang-orang yang memiliki potensi menjadi Master, sebutan untuk para peserta Perang Cawan Suci, untuk kemudian mereka kirim ke masa lalu demi menyelidiki apa yang terjadi dalam Singularity F. Tentu saja, juga untuk memastikan apakah benar sejarah yang mereka kenal telah berubah.

Gudao dan Gudako

Fate/Grand Order: First Order pada dasarnya mencakup cerita yang dipaparkan di prolog game. Meski… sifatnya lumayan berdiri sendiri, cerita First Order benar-benar lebih bersifat perkenalan terhadap para karakter dan dunianya.

Dalam versi game FGO, kita bermain sebagai agen Chaldea yang diutus ke masa lalu. Dalam perkembangan sesudah prolog Singularity F di atas, kita hanya dijelaskan perlu mendatangi berbagai ‘titik anomali’ lain yang tersebar di berbagai zaman, di mana konon konsep Cawan Suci disebut-sebut pernah muncul.

Ada dua avatar yang bisa pemain pilih dalam gamenya, yakni tokoh utama cowok (yang sebelumnya fans sebut Gudao) dan tokoh utama cewek (yang sebelumnya dipanggil Gudako). Tokoh utama untuk adaptasi anime ini dipilih tokoh utama cowok, yang kini memiliki nama resmi Fujimaru Ritsuka.

Sebagai catatan, Gudako (yang berkuncir dan berambut coklat) juga sempat tampil secara cameo sebagai salah satu calon Master potensial. Dirinya karakter yang lumayan populer. Tak ada perbedaan mencolok antara Gudao dan Gudako dari segi cerita. Tapi Gudako konon memang dikenal sebagai pribadi yang lebih… uh, ‘agresif’ di kalangan fans.

Fujimaru Ritsuka sendiri intinya pemuda biasa yang kebetulan terpilih menjadi salah satu Master potensial di Chaldea. Berhubung sifat Ritsuka sebagai ‘pengganti pemain,’ selain kedudukan anehnya di antara para karakter lain, tak banyak latar belakang cerita yang ia punya.

Kalau tak salah, berbeda dari para Master potensial lain, Ritsuka hanya diceritakan belum pernah mendapat pendidikan atau pelatihan khusus sebagai penyihir. Dirinya benar-benar seperti orang biasa. Orang yang kebetulan melihat iklan lowongan pekerjaan, melamar, dan secara tak terduga diterima. Tapi meski sempat membuat Olga Marie marah dengan sikapnya di awal, Ritsuka dipertahankan karena terbatasnya jumlah orang yang berpotensi sebagai Master.

Namun tak dinyana, hukuman Olga Marie padanya justru menyelamatkan Ritsuka dari ledakan misterius yang terjadi di awal misi.

Selain Ritsuka, kita juga diperkenalkan pada Mash Kyrielight (namanya juga sempat diromanisasikan sebagai ‘Matthew’ meski dia perempuan), seorang gadis ramah namun dengan sisi misterius yang memiliki kedudukan agak aneh di Chaldea; Fou, makhluk serupa tupai yang menjadi semacam hewan peliharaan Mash; Olga Marie yang terkesan tinggi hati dan keturunan terakhir keluarga magus ternama Animusphere; Lev Lainur yang necis dan tampak sangat dipercayai Olga Marie; serta Dr. Romani Archaman yang ceria dan menjabat sebagai kepala medis di Chaldea.

Ada sejumlah hal tersamar tentang Chaldea yang masih sebatas diimplikasikan. Tapi porsi besar cerita First Order pada dasarnya tentang bagaimana Ritsuka, Mash, Fou dan Olga Marie justru menjadi harapan terakhir Chaldea untuk mengetahui apa yang terjadi, sesudah mereka terbawa proses Rayshift ke Fuyuki di tahun 2004.

Di sana, mereka menjumpai kota Fuyuki yang telah hancur dengan nyaris tak menyisakan manusia. Perang Cawan Suci, karena suatu sebab, berkembang ke arah yang sepenuhnya berbeda dari yang tercatat di sejarah, dengan bagaimana para Servant yang didatangkan para Master telah lepas kendali. Dengan bantuan Caster, satu-satunya Servant yang masih ‘waras,’ Ritsuka dan kawan-kawannya harus berhadapan dengan Saber Alter, wujud korup dari Saber, sang Servant terkuat, yang menjadi rintangan terakhir mereka untuk menjangkau Cawan Suci.

Unobservable Realm

Cerita episode spesial berdurasi 72 menit ini berakhir menggantung dengan cakupan sangat terbatas. Tapi secara umum, First Order lumayan berhasil menyampaikan premis awal FGO. Soal cerita, aku dengar babak-babak cerita selanjutnya konon akan dianimasikan juga. Jadi kurasa kita tak perlu khawatir soal itu.

Kalau bicara soal teknis, kualitas presentasi First Order memang tak sebagus seri-seri animasi Fate lain sih. Apalagi kalau dibandingkan dengan keluaran-keluarannya Ufotable.

Soal ini… bagaimana bilangnya ya?

Aku dapat kesan aneh bahwa produksi First Order dibuat dengan agak dadakan. Sehingga studio yang Type Moon perlukan bukanlah studio animasi yang bisa memberi hasil ‘bagus,’ tapi studio yang bisa memberi hasil ‘lumayan’ dalam waktu relatif singkat. Lay-duce sendiri, sesudah kasus Classroom Crisis, agaknya bisa dibilang sebagai pilihan yang tepat. Menurut pendapatku, mereka pasti sedang butuh proyek gampang yang pasti laku. Karena itu format episode spesial First Order cocok buat mereka. Makanya, karena itu pula, First Order berakhir dengan kesan yang worksmanship sekali. Terlepas dari kualitas ceritanya, kualitas presentasinya hanya sebatas ‘enggak bagus, tapi enggak jelek juga.’ Ketimpangannya lumayan distraktif, apalagi kalau kalian terbiasa dengan kerennya visual dari anime-anime Fate yang lain. Tapi itu sama sekali tak menutup kemungkinan kualitasnya bisa meningkat di kemudian hari kok. Apalagi dengan kualitas seiyuu dan BGM yang terbilang oke.

Kembali ke soal cerita, sekali lagi, cerita First Order memang kurang begitu menonjol. Alasannya bukan karena adaptasinya jelek, tapi lebih karena di game aslinya, cakupan ceritanya memang baru sebatas itu. Kalau di seri-seri Fate lain, kita belum apa-apa sudah langsung dilarutkan dengan tema cerita yang nampaknya akan ditonjolkan. Kita bisa langsung dibuat tertarik dengan apa yang terjadi. Kita langsung disodorkan koneksi dengan para karakternya. Tapi kalau di FGO, kalau tak salah, pihak Type Moon sendiri pernah mengakui bahwa mereka semula masih meraba-raba karena ini pengalaman pertama mereka membuat mobage. Pada babak-babak permainan yang lebih ke sana, sesudah adanya input dari para pemain, baru pihak Type Moon memberi lampu hijau untuk lebih menitikberatkan cerita. Lalu baru dari sana pula kualitas ceritanya mengalami peningkatan secara drastis.

Apa? Kalau benar ini ada lanjutannya, mulai bagusnya kira-kira nanti episode kapan?

Uh, berhubung aku enggak main gamenya, aku juga enggak tahu. Ahahahaha. Mungkin nanti akan aku tanyakan ke adikku. Menurut adikku, ceritanya mulai bagus pas masuk ke latar London. Jadi kira-kira bab keempat dari tujuh. Mungkin kalo lanjut, maka itu sekitar episode 4-5?

Sekedar klarifikasi beberapa hal sebelum penutup, Perang Cawan Suci di Fuyuki tahun 2004 yang ditampilkan di First Order memang berbeda dari yang berlangsung di Fate/stay night. Ini terlihat dengan bagaimana sejumlah roh pahlawan dipanggil dengan kelas yang berbeda dari yang kita kenal. Roh pahlawan Medusa, yang menjadi Servant Rider di Fate/stay night, di sini ditampilkan menjadi Servant Lancer. Sedangkan Cu Chulainn, sosok Lancer yang kita kenal di Fate/stay night, di sini didatangkan sebagai Caster berkat ia dikisahkan menguasai sihir rune dalam mitologinya. Identitas Archer, Berserker, Assassin, dan Saber tak berubah (Assassin yang tampil di linimasa ini kelihatannya adalah True Assassin dari rute Heaven’s Feel). Aku lumayan penasaran dengan identitas Rider. Kudengar kalau di prolog gamenya, yang menjadi Lancer juga bukanlah Medusa, melainkan Benkei? Tak ada informasi jelas juga tentang para Master, tapi berhubung mereka tak tampil, mungkin mereka memang tak penting.

First Order sendiri lumayan berhasil menonjolkan jalinan hubungan Master-Servant antara Ritsuka dan Mash.

Soal Mash, ringkasnya, gadis manis ini adalah produk dari upaya pemanggilan Servant yang diprakarsai Chaldea untuk meniru sistem Perang Cawan Suci. Tapi upaya ini baru menampakkan hasil sesudah kekacauan yang terjadi dalam misi ke Singularity F. Dengan demikian, Mash menjelma menjadi Demi-Servant, atau manusia yang menjadi wadah dari roh pahlawan yang dipanggil Cawan Suci. Kelasnya adalah kelas istimewa Shielder yang terpisah dari ketujuh kelas Servant yang wajar.

(Uhukdiamanusiabuatanuhuk. UhukuhukuhukGalahaduhukKsatriauhukMejauhukuhukBundaruhuk.)

Kudengar kelas Shielder yang mengandalkan tameng sebenarnya pertama dicetus sebagai karakter orisinil untuk adaptasi anime Fate/stay night yang pertama dari Studio DEEN. Tapi sesudah diputuskan cerita anime tersebut akan mengadaptasi rute Fate, konsepnya terbengkalai, dan baru mencuat kembali sesudah proyek FGO berjalan.

Masih soal Mash, menyusul isu-isu kesehatan yang menerpa seiyuu Taneda Risa yang mengisi suara Mash dalam gamenya, perannya di First Order digantikan oleh Takahashi Rie yang menurutku berhasil memberikan good job. (Aku selalu merasa Taneda-san mendapat peran tersebut karena kebiasaan Mash memanggil orang-orang di sekelilingnya dengan sebutan ‘senpai,’ termasuk pada Ritsuka yang bergabung dengan Chaldea justru sesudah dirinya.)

Ada satu kejadian menarik di First Order tatkala Ritsuka kehilangan salah satu dari tiga command seal-nya. Aku mengira dia mengorbankan satu untuk mengembalikan mereka ke masa kini? Tapi sesudah aku mengikuti beberapa diskusi, nampaknya ada mistranslasi di teks. Ritsuka kelihatannya sebenarnya kehilangan command seal tersebut dalam adegan saat ia tanpa sadar memerintahkan Mash untuk ‘percaya pada diri sendiri.’ Tapi mungkin ini bukan isu penting berhubung di game FGO, command seal yang sudah terpakai nanti akan bisa terpakai kembali seiring dengan waktu.

Akhir kata:

  1. Ya, ini bukan adaptasi yang wah.
  2. Ya, ini bukan seri yang cocok disodorkan buat para penggemar baru waralaba Fate.
  3. Enggak, aku masih belum tertarik buat main FGO.
  4. Ya, kalau nanti ada lanjutannya, aku masih ingin lihat.

Eh? Makhluk apa itu Fou? Kenapa dia perlu ada? Yah, dia punya kaitan dengan Tsukihime dan Fate/Prototype sekaligus. FGO memang sesuatu yang sangat lintas semesta sih.

Mudah-mudahan proyek ini menjadi awal baru bagi Lay-duce untuk menciptakan sebuah hit.

Yah, kita lihat saja nanti.

Iklan
11/06/2016

Fate/stay night (2006)

(Ini adalah bahasan tentang seri TV FSN yang paling awal. Bahasan seri TV UBW aku buat di sini.)

Aku pernah ditanya tentang perbedaan apa saja yang seri TV orisinil Fate/stay night buatan Studio DEEN punyai dibandingkan adaptasi ceritanya yang lebih baru, Fate/stay night: Unlimited Blade Works yang dibuat Ufotable pada tahun 2014.

Tentu saja aku menjawab: ‘rute cerita’ yang diambil dari gamenya berbeda.

Seperti yang kebanyakan penggemar sudah tahu, animenya diadaptasi dari game visual novel buatan Type-Moon berjudul sama. Game tersebut memiliki tiga percabangan cerita utama, dengan perkembangan cerita dan tokoh utama wanita yang berbeda pada masing-masing rute. Tiga percabangan cerita tersebut masing-masing adalah Fate, Unlimited Blade Works, dan Heaven’s Feel. Fate dan UBW sudah dianimasikan (UBW bahkan sudah dianimasikan dua kali.). Sedangkan Heaven’s Feel sedang dalam proses dianimasikan dalam bentuk rangkaian film layar lebar oleh Ufotable seperti halnya proyek Kara no Kyoukai dulu.

Hanya saja, berhubung kebanyakan orang yang bertanya juga belum pernah memainkan gamenya, mereka jadi bertanya juga soal perbedaan-perbedaannya secara lebih rinci.

(Aku jadi merasa bego sendiri karena sebelumnya enggak lebih awal menyadari hal ini.)

Sebelum aku bahas lebih lanjut, aku mau singgung apa saja judul seri Fate yang signifikan saat ini kutulis selain Fate/Zero dan Fate/stay night, berhubung kelihatannya banyak yang suka mencari informasi tentang ini. (Signifikan yang kumaksud di sini adalah dari segi cerita ya.)

Judul-judul tersebut antara lain: (Mungkin akan kulengkapi sambil jalan nanti)

  • Fate/hollow ataraxia (format: game): fun disc dari gamenya yang orisinil, dan bisa dibilang semacam sekuel. Mirip seperti Kagetsu Tohya bagi Tsukihime, ceritanya berlatar di semacam dunia mimpi(?) di mana ada hari-hari yang terus berulang, ketika Perang Cawan Suci seharusnya sudah berakhir tapi hal-hal aneh masih terjadi. Karakter utamanya adalah Bazett Fraga McRemitz (Master asli dari Lancer/Chu Chulainn) dan sesosok Servant misterius bernama Avenger (yang seolah ‘menumpangi’ identitas Emiya Shirou) yang sama-sama berusaha untuk bisa membebaskan diri dari siklus tersebut. Meski sifatnya adalah ‘lepasan’ dari seri utama, ada beberapa bagiannya yang memaparkan sejarah beberapa Perang Cawan Suci yang pernah terjadi di Fuyuki.
  • Fate/Prototype (format: anime pendek, novel): konsep cerita asli Fate/stay night di tahap-tahap awal pengembangannya. Mencolok karena memiliki tokoh utama berjenis kelamin perempuan (Sajyou Ayaka) dan karakter Saber yang laki-laki. Latar ceritanya di Tokyo, bukan Fuyuki. Di samping itu, beberapa detil tentang Perang Cawan Suci di dalamnya juga berbeda jauh dari yang kita sudah kenal. Meski ada kemiripan, karakter-karakter Servant dan Master-nya juga berbeda sama sekali. Teaser animasi untuk seri ini disertakan dalam rangkaian seri OVA Carnival Phantasm yang diproduksi studio Lerche.
  • Fate/kaleid liner Prisma Illya (format: anime, manga): cerita lepasan yang menuturkan bagaimana seandainya karakter Illyasviel von Einzbern adalah seorang anak perempuan normal yang kemudian diubah menjadi seorang gadis penyihir (mahou shoujo). Sudah dianimasikan beberapa kali oleh studio Silver Link. Cerita di manganya (bagian ketiga) masih berjalan saat ini kutulis. Meski lebih berat di humor, adegan-adegan aksinya tetap lumayan intens. (Meski berbagi kemiripan, ceritanya berlatar di semesta terpisah dari Fate/stay night dan Fate/Zero)
  • Fate/Extra (format: game, manga, anime sedang diproduksi): game RPG yang dikembangkan bersama Image Epoch dan diterbitkan Marvelous Entertainment. Genrenya kombinasi visual novel dan dungeon crawler. Ceritanya berlatar di masa depan tahun 2032, di suatu semesta terpisah sesudah ‘mana’ di dunia mengering akibat suatu insiden besar tertentu di era 1970an. Karakter utamanya adalah Kishinami Hakuno, murid Perguruan Tsukumihara yang terlibat dalam Perang Cawan Suci sesudah mendapati bahwa dunia yang ditempatinya ternyata adalah dunia virtual. Game ini mendapat sekuel berjudul Fate/Extra CCC yang berperan sebagai sekuel sekaligus pelengkap cerita (semacam rute Heaven’s Feel-nya), yang melanjutkan kisah pelarian Hakuno dan orang-orang yang ditemuinya. Meski sistem permainannya agak tanggung, ceritanya terbilang bagus. Ini seri yang mulai memperkenalkan banyak karakter Servant baru, dengan percabangan cerita salah satunya ditentukan oleh Servant mana yang kita pilih. Seri ini juga menonjolkan karakter Saber ‘merah’ yang identitas aslinya adalah Kaisar Romawi Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus, yang sosoknya mirip dengan Saber yang sudah kita kenal. Adaptasi animenya sudah dikonfirmasi akan diproduksi studio SHAFT. (Meski berbagi banyak kemiripan, seri ini sebenarnya berlatar di semesta terpisah.)
  • Fate/Extella (format: game): game aksi relatif baru yang tak lama lagi akan rilis, yang dikembangkan bersama Koei Tecmo. Gaya permainannya serupa dengan game-game Musou/Dynasty Warriors, dengan latar cerita yang sama dengan seri Fate/Extra.
  • Fate/Apocrypha (format: tadinya game, novel): proyek yang semula direncanakan untuk dijadikan MMO, sebelum batal karena suatu sebab. Konsepnya tentang Perang Cawan Suci Agung yang melibatkan 14 pasangan Master-Servant. Sesudah proyek gamenya batal, konsep ceritanya diadaptasi ke bentuk novel yang tamat dalam lima buku. Ceritanya mengetengahkan klan magus Yggdmillenia yang menyatakan perang terhadap Mages’ Association lewat keinginan mereka untuk memisahkan diri. Ini berujung pada konflik besar antara kubu ‘hitam’ dan kubu ‘merah’ dengan kepemilikan Cawan Suci Agung yang telah lama hilang dari Fuyuki sebagai taruhan. Seri ini juga mencolok karena turut memperkenalkan Servant baru, Ruler (identitas asli: pahlawan wanita Perancis, Jeanne d’Arc), yang didatangkan khusus oleh Cawan Suci sebagai ‘pengawas’ konflik ini. (Seri ini juga berlatar di semesta terpisah.)
  • Fate/Grand Order (format: game): social game untuk ponsel yang dikembangkan dari ide awal Fate/Apocrypha. Berawal dari insiden di Fuyuki di tahun 2004, kita sebagai pemain akan menjumpai dan mengumpulkan berbagai Servant dalam menjelajahi berbagai ‘cawan suci’ di berbagai titik di sepanjang sejarah manusia. Ceritanya melibatkan dunia-dunia yang bercabang. Sampai ini kutulis, layanan permainannya masih aktif walau servernya hanya ada di Jepang. Permainannya lumayan seru. Seri ini memperkenalkan jumlah Servant paling banyak.
  • Fate/strange fake (format: novel): cerita yang semula berawal dari lelucon April Mop buatan Narita Ryohgo-sensei (pengarang Baccano! dan Durarara!!) yang kemudian terbit sebagai novel resmi dari Type-Moon. Ceritanya mengetengahkan Perang Cawan Suci ‘tiruan’ yang berlangsung di kota Snowfield, Amerika Serikat, serta hal-hal aneh yang terjadi di dalamnya, yang salah satunya adalah ketiadaan kelas Saber yang digantikan suatu kelas lain….

Mungkin suatu saat, masing-masing akan aku bahas secara terpisah.

Membiarkan Saat Ini Menjadi Segalanya

Kembali bicara soal seri TV Fate/stay night yang orisinil, produksinya dilakukan oleh Studio DEEN dengan jumlah episode sebanyak 24. Sutradaranya adalah Yamaguchi Yuuji, yang sekarang dikenali sebagai sutradara Angel Links dan Dansai Bunri no Crime Edge. Naskahnya dikerjakan Shimo Fumihiko, yang sebelum ini ikut mengerjakan naskah adaptasi anime dari Air dan Clannad (beliau sekarang dikenal karena menyusun komposisi banyak seri lainnya). Shimo-san turut dibantu untuk komposisi seri oleh Takuya Sato, yang sekarang lebih dikenal sebagai sutradara Wixoss dan Steins;Gate. Musiknya sendiri ditangani oleh Kawai Kenji yang sekarang telah dipandang sebagai komposer veteran.

Pada masanya, menyusul kesuksesan gamenya, hype untuk seri ini terbilang luar biasa. Di atas kertas, staf yang mengerjakan produksi anime ini juga terbilang solid. Lalu ini penting mengingat bagaimana Shingetsutan Tsukihime (yang dipandang kebanyakan orang datar, meski juga diangkat dari game buatan Type-Moon) masih segar dalam ingatan orang.

…Yah, soal Shingetsutan Tsukihime, meski aku memahami berbagai kekurangannya, secara pribadi aku tak sebegitu mempermasalahkannya.

Tapi terkait dengan itu, meski kualitas Fate/stay night sekarang dipandang kalah dibandingkan seri TV Fate/Zero dan Fate/stay night: Unlimited Blade Works, kalau melihat ke belakang, hasil adaptasi ini sebenarnya sama sekali tak jelek. Setidaknya, feel yang ada di gamenya berhasil tersampaikan. Kayak, soal dunia malam di mana hal-hal yang tersembunyi dari mata manusia awam tengah berlangsung, hal-hal ajaib yang merasuk di antara kehidupan perkotaaan modern, serta soal pengharapan akan cita-cita yang telah lama hilang.

Anime ini berhasil membuat Fate/stay night dipandang sebagai semacam dongeng di zaman modern.

Hal yang mencolok adalah bagaimana anime ini menjadi media pertama yang memvisualisasikan aksi antara karakter-karakter Servant. Di gamenya, adegan-adegan aksi ini diceritakan berlangsung dengan benar-benar dahsyat, dan secara visual hanya digambarkan lewat efek-efek garis tebasan dan tusukan gitu. Yamaguchi-san terutama menjadi dikenal karena menggunakan banyak teknik ‘potongan pendek’ untuk memvisualisasikan adegan-adegan berkecepatan tinggi (yang sekarang dengan sebelah mata agak dipandang sebagai cara untuk menekan anggaran). Lalu kalau kupikir sekarang, sebenarnya seri ini punya banyak adegan aksi keren. Hanya saja sebagian berakhir kurang memuaskan karena seolah ada terlalu banyak yang berusaha disampaikan.

Terlepas dari beberapa sentuhan… uh, ‘khusus’ (seperti bagaimana mereka mengadaptasi salah satu adegan di game yang takkan mungkin disiarkan di TV, atau bagaimana nekomimi Kaleido Ruby bisa tiba-tiba kelihatan di satu adegan), seri TV orisinil Fate/stay night mengikuti rute cerita Fate, hanya saja dengan menambah banyak elemen dari rute UBW dan Heaven’s Feel. Hasilnya: seolah ada banyak elemen cerita yang ditampilkan sebatas teaser, yang di akhir tak benar-benar sampai dijelaskan. Ini menjadikan para penonton awam yang belum mengenal gamenya sempat kebingungan dengan sejumlah hal.

Bagaimana Matou Sakura yang lama tidak muncul bisa tiba-tiba masuk lagi dalam cerita, misalnya. Diimplikasikan bahwa dirinya punya suatu keterkaitan terselubung dengan Tohsaka Rin, tapi apa persisnya hubungan itu berakhir tak terjelaskan (poin cerita ini memang dijelaskannya di Heaven’s Feel). Motif beberapa karakternya tak terjelaskan, seperti rasa permusuhan/ingin tahu Illya terhadap Emiya Shirou. Cara kerja kekuatan dan kemampuan masing-masing karakter juga tak benar-benar terjelaskan.

Stafnya seakan… tak rela bila ada elemen-elemen dalam gamenya yang gagal dimasukkan.

Mereka mengupayakan masuknya elemen cerita dari semua rute, terlepas dari berapa banyak durasi episode yang mereka punya. Masalahnya, tak benar-benar (belum?) ada cara untuk bisa memasukkan semuanya secara bagus.

Buatku pribadi, dampaknya seperti pada bagaimana aku—yang kebetulan lebih suka Rin ketimbang Saber—gregetan dengan tumbuhnya kedekatan antara Shirou dan Rin. Berhubung ceritanya akan mengambil jalur cerita Saber, aku kesal karena kedekatan yang tumbuh itu kesannya jadi takkan berujung ke mana-mana.

Atau pada bagaimana Archer mengorbankan diri saat menghadapi Berserker, lalu tetap tewas sekalipun telah menggunakan Reality Marble Unlimited Blade Works. Dalam gamenya, Archer berhasil menaklukkan Berserker sampai enam kali, tapi tak dijelaskan kalau ia sampai menggunakan Reality Marble miliknya (mungkin karena ingatannya belum pulih?). Atau pada bagaimana Archer yang kehilangan ingatannya, tetap menjadi tak jelas identitasnya hingga akhir.

…Atau pada bagaimana Shirou berkat saran Archer pada beberapa titik seakan bakal bisa membuka potensi Reality Marble miliknya, tapi kembali tak jadi.

Rasanya kayak… uuurgh, kayak ada harapan palsu yang terus diiming-imingi di depan kita, yang kita tahu pada akhirnya takkan terwujud

Bagusnya, terlepas dari isu-isu adaptasinya, yang membuat ada plot-plot tangensial yang bolong di mana-mana, cerita di seri TV ini koheren dan terasa tertuntaskan. Fokus ceritanya, yaitu hubungan Shirou dan Saber yang menjadi Servant-nya, lumayan berhasil tergali. Lalu konflik tertutup dengan pembeberan kalau si pendeta Kotomine Kirei sebenarnya orang jahat, dan Saber pernah memiliki hubungan dengan mendiang ayah angkat Shirou, Emiya Kiritsugu, yang darinya Shirou mewarisi idealismenya.

Singkat kata, seri TV ini tetap jadi seri aksi fantasi yang seru.

Mungkin berkat eksekusinya atau bagaimana, begitu episode terakhir usai, ada rasa kecewa yang berhasil timbul karena episodenya tak lebih banyak. Lalu ada kesan kalau sebenarnya materi ceritanya memang ada lebih banyak, hanya saja para pembuatnya sudah kehabisan cara buat menyampaikannya.

Jauh, Jauh di Dalam Hutan

Untuk kalian yang penasaran tentang plot ceritanya; awal ceritanya sama, namun apa yang kemudian terjadi setelah Shirou dan Saber pertama bertemu sedikit berbeda.

Meski sempat dibayang-bayangi oleh Lancer dan Caster, lawan utama pertama yang harus dihadapi Shirou dan Rin adalah teman sekolah Shirou, Matou Shinji (yang baru terungkap sebagai magus) beserta Servant-nya, Rider. Ini diikuti dengan konflik melawan Illya dan Berserker di Puri Einzbern, yang berakhir dengan bagaimana Berserker dikalahkan bersama oleh Shirou dan Saber dengan susah payah. Barulah selanjutnya mereka menghadapi Caster, yang berhasil mengetahui kalau Sakura juga bisa dijadikan ‘wadah’ untuk Cawan Suci. Caster masih didukung oleh Assassin dan guru wali kelas Rin yang misterius, Kuzuki Souichirou. Lalu menjelang akhir, barulah Servant Archer dari Perang Cawan Suci terdahulu, Gilgamesh, menampakkan diri dengan keinginannya untuk bisa ‘memiliki’ Saber, dan membuka jalan bagi Kirei untuk mewujudkan kembali Cawan Suci.

Sekali lagi buat yang penasaran, masing-masing rute juga punya tokoh antagonis utama dan penentu kemenangan sendiri-sendiri. Setiap tokoh antagonis sebenarnya berperan di masing-masing rute sih, hanya saja dalam porsi berbeda-beda.

  • Di Fate, tokoh antagonis utamanya adalah Kotomine Kirei. Penentu kemenangan Shirou adalah penemuan kembali sarung pedang Avalon, pusaka Noble Phantasm terakhir Saber yang telah lama hilang, serta keberhasilan Shirou dalam mereplikanya di hadapan Cawan Suci.
  • Di Unlimited Blade Works, tokoh antagonis utamanya adalah Gilgamesh. Penentu kemenangan Shirou adalah keberhasilannya menguasai Reality Marble Unlimited Blade Works yang dipelajarinya dari Archer untuk menghadapi Gate of Babylon milik Gilgamesh.
  • Di Heaven’s Feel, tokoh antagonis utamanya adalah Matou Zouken, sosok misterius yang merupakan salah satu pemrakarsa asli Perang Cawan Suci. Penentu kemenangannya terdapat pada bagaimana Shirou kehilangan separuh lengannya dalam pertempuran, dan kemudian memperoleh lengan Archer yang akhirnya tewas sebagai pengganti. Lengan tersebut membuat Shirou jadi memperoleh semua pengetahuan Archer, menjadikannya manusia separuh Servant yang memiliki kemampuan bertarung setara dengan mereka, namun dengan timbal balik tubuh yang sekarat karena Reality Marble Archer menggerogotinya dari dalam.

Segmen hiburan Tiger Dojo, yang dibawakan Illya dan Fujimura Taiga-sensei, yang kita temui setiap kali mencapai salah satu akhir cerita dalam gamenya (baik yang good ending maupun bad ending), tentu saja tak dianimasikan. Aku baru sadar kalau mungkin itulah alasan kenapa Illya dan Fuji-nee dibuat sebagai karakter comic relief di anime ini. Aku sempat heran karena adegan-adegan komedi mereka jadinya terasa kontras dengan adegan-adegan serius dan membuat nuansa cerita agak campur aduk.

Setelah aku pikirkan lagi, cuma di rute Fate ini pula Illya memperoleh akhir cerita yang (secara argumentatif) bahagia. Jadi mungkin itu satu lagi alasan yang jadi pertimbangan.

Soal visual, presentasi seri TV ini terbilang benar-benar baik di masanya. Desain karakternya jelas berbeda dari desain karakter versi Ufotable yang sekarang lebih populer. Tapi bahkan hingga sekarang pun anime ini masih termasuk enak dilihat.

Satu kelebihan yang dipunyai hasil adaptasi yang ini dibandingkan yang baru adalah audionya.

Anime ini mempertahankan vokal bertenaga sekaligus merdu Tainaka Sachi yang selain membawakan kembali lagu “Disillusion”  yang merupakan theme song asli dari gamenya, juga membawakan dua lagu lain yaitu lagu pembuka kedua “Kirameku no Namida no Hoshi” dan lagu penutup “Kimi to no Ashita.” Vokal yang beliau bawakan seakan mewujudkan warna khas untuk seri ini.

Lalu  (aku juga baru menyadari ini setelah ada orang lain yang mengatakannya) penataan musik di seri TV orisinil ini sebenarnya lebih baik ketimbang di versi Fate/stay night: Unlimited Blade Works. Aku juga tak benar-benar bisa menjelaskannya. Tapi rasanya seperti momentum cerita di versi ini lebih berhasil dijaga.

Akhir kata, aku gregetan dengan banyak hal yang ada pada anime ini. Ada kelemahan-kelemahan di sana-sini, dengan naskah yang terasa ‘aneh’ di beberapa bagian. (Seperti adegan “Orang akan mati bila terbunuh!” yang sempat menjadi meme. Menurutku itu contoh kendala penerjemahan yang hanya bisa terasa wajar dalam konteks bahasa aslinya. Di adegan itu, Shirou sedang berusaha menekankan sesuatu tentang melawan hukum alam dengan akan adanya korban-korban yang jatuh.) Namun setelah aku pikirkan lagi, hasil segini benar-benar sudah lumayan. Kenyataannya, kayak dengan bagaimana Saber kesampaian menuntaskan duelnya dengan Assassin misalnya, hasil jadinya bisa saja malah lebih enggak memuaskan ketimbang ini.

The Far-Distant Utopia

Sedikit lagi sebelum penutup, kalau kalian menemukan animasi pembuka Fate/stay night yang diiringi musik dari band Earthmind, maka itu adalah animasi pembuka dari versi Realta Nua dari gamenya. Di versi Realta Nua, ada satu episode tambahan yang diberikan di penghujung rute Fate. Di episode itu ditampilkan bagaimana Saber akhirnya bisa berjumpa kembali dengan Shirou di Avalon (Tahta Pahlawan?) setelah penantian selama berabad-abad. Shirou, yang kini secara fisik mirip Archer, diimplikasikan telah berhasil mewujudkan idealisme kepahlawanannya dan diterima sebagai salah seorang Heroic Spirit.

Aku pernah baca kalau sepeninggal Saber, kesudahan cerita rute ini sebenarnya menyamai akhir cerita di rute Unlimited Blade Works, yang mana Shirou ikut ke Clock Tower bersama Rin untuk menuntut ilmu. Tapi selebihnya baiknya dikembalikan saja pada imajinasi masing-masing.

Anime Fate/stay night yang mencampurkan elemen-elemen cerita antar rute ini sebenarnya agak mirip pula dengan adaptasi manganya yang pertama, tapi dengan hasil agak beda. (Sial, aku lupa nama pengarangnya.) Jadi kalau kalian masih belum juga puas dengan cerita Fate/stay night selama ini, masih ada versi manga tersebut.

Mungkin ini cuma aku, tapi anime Fate/stay night awal ini seolah jadi proyek yang ‘memastikan’ begitu banyak hal. Siapa yang mengisi suara inilah, adegan-adegan aksinya sebenarnya kayak apalah, adegan-adegan sihirnya kayak gimana, tempat-tempat ini sebenarnya lengkapnya gimana lah. Jadi meski sekarang mungkin agak dipandang sebelah mata, aku merasa anime satu ini punya signifikasi lumayan besar.

Buatku pribadi, ini media pertama yang mengenalkanku pada Fate/stay night sebelum aku berkesempatan mencoba gamenya.

Bahkan hingga kinipun, ideologi Shirou yang mendorongnya untuk terus berusaha dan pantang menyerah, sekalipun untuk waktu lama tak ada jalan yang benar-benar jelas di hadapannya, masih kerap membuatku tergugah. Lalu dalam adegan saat Sakura membangunkannya yang tertidur di gudang, aku jadi tersadar kalau dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil saja, orang sebenarnya sudah bisa merasa berkecukupan dalam hidup.

Lagu penutup “Kimi to no Ashita” di episode terakhir, yang dibawakan saat Artoria akhirnya menerima jalan hidup yang telah dilaluinya dan mencapai ujung mimpinya, benar-benar menutupnya secara keren.

Mari kita harapkan saja proyek Heaven’s Feel kelak berjalan lancar. (Dan suatu saat akan ada versi cerita yang memberikan akhir yang memuaskan untuk semua karakter.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

04/07/2015

Fate/stay night – Unlimited Blade Works (Season 2)

Fate/stay night – Unlimited Blade Works belum lama ini berakhir paruh keduanya dengan total jumlah episode sebanyak 13. (Paruh pertamanya aku bahas di sini.)

Bersama season sebelumnya, termasuk episode prolog, total keseluruhan episode seri ini jadi sebanyak 26, dengan tiga episode di antaranya yang berdurasi satu jam. Ditayangkan pada musim semi 2014 dengan jeda satu cour sesudah paruh sebelumnya, studio Ufotable menurutku sudah melakukan hasil kerja lumayan bagus dalam mengadaptasinya.

Yeah. Hasil kerja mereka bagus.

Sial. Aku enggak bisa ngatain kalau hasil kerja mereka enggak bagus.

Paruh ini memaparkan kelanjutan perjuangan Emiya Shirou dan Tohsaka Rin dalam ajang Perang Cawan Suci di kota Fuyuki, sesudah keduanya sama-sama kehilangan Servant masing-masing.

Caster bersama Master-nya, Kuzuki Souichirou yang merupakan wali kelas Rin, bergerak untuk menemukan lokasi sesungguhnya di mana Cawan Suci ditempatkan. Caster menyerang Gereja Fuyuki dan seakan telah menyingkirkan Kotomine Kirei. Saber hanya tinggal menunggu waktu sampai berada di bawah kuasanya, dan Archer menyatakan diri telah berada di pihaknya. Sementara, Rider telah takluk. Caster kini berkeyakinan bisa menemukan jalan pintas untuk menggunakan kekuatan Cawan sebelum para Servant lain terkalahkan.

Tapi Gilgamesh, Servant Archer dari Perang Cawan Suci terdahulu, mulai bergerak untuk suatu agenda pribadi. Lalu dirinya jelas mengetahui betapa Caster masih belum memahami sifat Cawan Suci dan tujuan penciptaannya yang sesungguhnya…

Harapan-harapan Tak Terwujud, Terjebak Dalam Mimpi Tiada Akhir

Sejujurnya, aku sempat bingung untuk bahasan kali ini.

Soal teknisnya dulu: season kali ini mempertahankan kualitas presentasinya. Visualnya masih keren. Bagian-bagian frame yang dipergelap untuk penayangan televisi masih ada, tapi seperti yang kita tahu, itu akan dihilangkan di versi DVD/BD-nya. Soundtrack-nya tetap berkesan, dengan Aimer yang lewat warna suara khasnya kali ini membawakan pembuka berjudul ‘Brave Shine’ dan grup Kalafina membawakan penutup yang baru berjudul ‘Ring Your Bell.’

Tapi menurutku, ada sesuatu yang agak kurang.

Ada lumayan banyak porsi cerita tambahan yang aslinya tak ada di visual novel-nya, walau anime UBW tetap terbilang adaptasi yang sangat setia sih. Tapi anehnya, mungkin justru di situ masalahnya. Bahkan dengan seluruh penambahan itu, cerita untuk adaptasi ini sebenarnya enggak perlu harus sesetia ini.

…Ini beneran aneh. Soalnya buatku, di season ini kayak enggak ada lagi ‘hal baru’ yang bisa membuat wah para penggemar lama. Seperti adegan pertarungan antara Shirou dan Kuzuki di pom bensin, misalnya. Jadi memang ada hal-hal baru di dalamnya. Tapi hal-hal itu bukan hal-hal baru juga. Agak susah menjelaskannya. Mungkin ibaratnya, masakanmu kurang bawang. Tapi bukannya bawang, yang kau tambahkan adalah merica, saus tiram, dan jahe. Jadinya, masakanmu tetap kurang bawang.

Aku senang dengan adanya bagian-bagian tambahan tersebut. Contohnya seperti pemaparan soal masa lalu Caster dan bagaimana ia membunuh Master-nya yang semula; serta sedikit soal masa lalu dan motivasi Illyasviel von Einzbern. Tapi selain karena alasan di atas, jadinya ada semacam ‘masalah tematik’ di seri ini. Maksudku, entah bagaimana di season kedua ini, jadinya makin enggak jelas seri ini sebenarnya tentang apa dan mau menyampaikan soal apa.

Karenanya, UBW sayangnya jadi tak benar-benar bisa dipandang sebagai sekuel anime Fate/Zero. Kalau dibilang tema seri ini adalah tentang ideologi kepahlawanan yang dianut Shirou, yang terwujud dalam konfliknya antara dirinya melawan Archer, maka dengan semua tambahan subplot yang ada, maka tema UBW kayaknya bukan itu juga.

Jadi, yah, itu. Temanya enggak jelas.

Seperti yang pernah aku singgung, versi asli visual novel Fate/stay night memang sebenarnya agak ‘cacat’ ceritanya. Aspek-aspek cerita yang hilang dimaksudkan untuk bisa kita simpulkan sendiri atau diketahui lewat pemaparan dari rute-rute lain. Jadinya, kalau disampaikan dalam format seri TV seperti ini, bukannya menjelaskan keseluruhan subplot secara menyeluruh, elemen-elemen subplot yang terjelaskan dalam rute-rute lain itu malah bisa terasa seperti dilupakan begitu saja.

Makanya, semua penggemar sempat berharap sangat banyak begitu melihat kualitas yang diperlihatkan pada paruh awal UBW. Tapi… uh, demikian.

Meski penceritaan ulang yang dilakukan anime ini secara umum terbilang memukau, tetap ada beberapa hal mengecewakan di dalamnya. Hal-hal yang sengaja disembunyikan ‘agar diketahui lewat rute lain’ sayangnya masih ada. Sehingga kalaupun ini bisa dimaklumi oleh para penggemar lama, para penggemar baru yang hanya tahu ceritanya lewat anime ini kemungkinan besar akan kurang puas. Tentang teknis penceritaannya sendiri, ada bagian-bagian yang diceritakan secara bagus dan ada bagian-bagian lain yang diceritakan dengan ‘kurang’ bagus.

Serius. Aku secara pribadi merasa kurang lebih seperti itu.

Aku benar-benar berharap akan ada cerita seperti Fate/Zero yang akan menceritakan ulang apa yang terjadi dalam VN Fate/stay night. Tapi kelihatannya itu masih belum bisa terwujud untuk saat ini.

Kenangan Kosong yang Tak Terlihat Bagi Semua

Terlepas dari semuanya, berikut beberapa poin soal cerita yang kusadari.

Buat mereka yang sama sekali tak ingin melihat spoiler, kusarankan bagian ini tidak dilihat.

  • Sekali lagi, anime ini merupakan hasil adaptasi salah satu dari tiga rute cerita di game visual novel Fate/stay night, yaitu rute Unlimited Blade Works. Sebagai informasi, Fate/stay night semula direncanakan memiliki empat rute. Namun karena isu keterbatasan produksi, rute ketiga dan keempat akhirnya disatukan, dan karenanya rute UBW masih memiliki kemiripan nuansa dengan rute Fate, namun keduanya berbeda lumayan jauh dengan rute ketiga dan terakhir, Heaven’s Feel, yang ceritanya sudah dikabarkan akan dianimasikan dalam format layar lebar.
  • Di dalam VN, Master pertama Caster hanya disinggung secara benar-benar selintas. Wajah dan identitas Atram Galiast selaku Master pertama Caster, serta situasi di mana hubungan mereka memburuk, benar-benar baru dibeberkan secara gamblang pada versi anime ini.
  • Masa lalu Kuzuki dalam VN juga hanya dikisahkan sepintas. Kuzuki hanya dijelaskan sudah dibesarkan sejak kecil oleh suatu organisasi rahasia tertentu untuk menjadi pembunuh. Organisasi apa yang membesarkannya, serta bagaimana dirinya bisa sampai ke Fuyuki, juga tak terlalu banyak diungkap.
  • Tak seperti para Master lain, Kuzuki bukanlah magus. Dirinya tak memiliki magic circuit, dan karenanya tak memiliki kekuatan sihir. Tapi kemampuan tempur tangan kosongnya jauh di atas rata-rata. Ditambah dengan penguatan sihir yang diberikan Caster, Kuzuki punya kemampuan tempur setara dengan Saber. Hal ini menjadikannya Master langka yang justru lemah terhadap serangan-serangan sihir dari jarak jauh, tapi sangat kuat di pertarungan garis depan. (Yang membuatnya disebut bahkan lebih menyerupai assassin ketimbang Assassin sendiri.)
  • Meski berperan sebagai ‘jangkar’ bagi Caster untuk tetap di dunia, karena alasan di atas, Kuzuki tak dapat menyuplai mana yang Caster perlukan untuk bertahan sebagai Servant. Karena itu, kekuatan sihir yang Caster perlukan untuk bertahan di dunia harus diambilnya dari sumber-sumber lain, yang berujung pada kasus-kasus jatuhnya korban koma massal di Fuyuki. Jadi tindakan tersebut Caster lakukan bukan karena ia jahat, melainkan lebih karena dirinya tak punya pilihan lain demi mewujudkan tujuan akhirnya.
  • Adegan saat Shirou dewasa (versi masa lalu Archer) membuat kontrak dengan Dunia untuk menjadi Guardian juga dipaparkan pertama kali di anime ini. Aku pribadi baru ngeh kalau Archer benar-benar membuat ‘perjanjian’ di atas sesudah melihat adegan tersebut di anime ini.
  • Sekali lagi, identitas Archer adalah versi masa depan ‘alternatif’ Shirou. Pada anime ini dipertegas bahwa terlepas dari hasil akhir Perang Cawan Suci, selama ideologi kepahlawanan itu masih Shirou anut, maka Shirou masa kini akan berujung seperti dirinya juga. Tapi keberadaan Rin di sisinya memberi keyakinan bahwa Shirou akan mencapai hasil yang agak berbeda dari yang Archer temukan.
  • Bagi mereka yang agak lupa, Shirou di awal cerita sempat tergabung di Klub Kyudo Homurahara bersama Sakura dan Shinji, tapi diceritakan belum lama keluar karena alasan yang tak ia ungkap. Jadi sebagai Archer, dirinya memang berbakat ‘memanah.’ Keputusannya untuk keluar disayangkan, karena dirinya sudah dianggap salah satu anggota mereka yang paling berbakat.
  • Ingatan Rin soal bagaimana Shirou dengan pantang menyerah berlatih lompat tinggi sendirian sebenarnya terjadi belum lama sesudah Kiritsugu meninggal. Ingatan ini memberi kesan pertama Rin terhadap Shirou, dan mempunyai arti besar dalam perkembangan cerita.
  • Pada versi cerita di rute UBW ini, pemenang Perang Cawan Suci secara teknis adalah Rin.
  • Pada beberapa adegan ketika Lancer membahas tipe perempuan favoritnya kepada Shirou, salah satu yang Lancer maksudkan sebenarnya Bazett Fraga McRemitz, satu dari dua tokoh utama Fate/hollow ataraxia, sekaligus Master asli Lancer yang pada titik ini telah ‘disingkirkan’ oleh Kirei. Berhubung ini salah satu rute ketika Lancer berperan menonjol, menurutku sayang bagaimana upaya balas dendam Lancer terhadap Kirei tak digambarkan lebih jauh di sini. (Ya, ini Bazett yang sama dengan yang belum lama ini muncul di Fate/Kaleid Liner Prisma Illya 2wei!. Kalian juga bisa melihat mereka berdua flirting dengan satu sama lain di salah satu episode Carnival Phantasm)
  • Sebagaimana Rin memahami Archer melalui mimpi-mimpinya tentang masa lalu Archer, masa lalu Saber pada rute Fate diungkap melalui mimpi-mimpi yang dilihat Shirou. Pada rute UBW ini, meski konflik dan masa lalu Saber tak banyak diungkap, Saber dikisahkan mencapai kesimpulan yang dicarinya dengan menyaksikan sampai akhir perselisihan antara Shirou dan Archer, yang bisa dibilang selaras dengan konflik ideologi yang selama ini melandanya.
  • Kemampuan regenerasi yang Shirou perlihatkan berasal dari Avalon, sarung pedang Excalibur sekaligus Noble Phantasm terakhir milik Saber yang telah lama diyakini hilang. Avalon ditanamkan dalam diri Shirou oleh Emiya Kiritsugu untuk menyelamatkan nyawa Shirou sepuluh tahun silam. Dalam Fate/Zero dikisahkan bahwa sarung pedang ini awalnya ditemukan pihak Einzbern dan digunakan sebagai katalis untuk memanggil Saber dalam Perang Cawan Suci keempat, dan selanjutnya dibawa secara pribadi oleh Kiritsugu dalam duel mautnya melawan Kirei.
  • Selain memberikan kekuatan regenerasi, Avalon juga dapat berfungsi sebagai ‘benteng portabel’ yang akan melindungi penggunanya dari segala bentuk kerusakan dari segala dimensi dengan mengisolasi penggunanya ke semesta lain. Kemampuan ini yang menjadi penentu kemenangan Shirou dan Saber dalam klimaks cerita di rute Fate. Avalon memiliki keterhubungan tersamar dengan Excalibur. Karena alasan itu pula, daya penyembuh Avalon akan menguat seiring dengan semakin dekatnya jarak antara Shirou dan Saber.
  • Keberadaan Avalon dalam diri Shirou adalah alasan utama mengapa dirinya selamat dari serangan Lancer di awal cerita. Keberadaan Avalon ini pula yang menjadi katalis sihir yang Shirou secara tak sadar gunakan untuk memanggil Saber. Konon pula, keberadaan Avalon dalam diri Shirou juga telah mengubah ‘awal mula’-nya sedemikian rupa sehingga ia memiliki afinitias yang tinggi terhadap ‘pedang.’
  • Berbeda dari Noble Phantasm milik Servant lain, Avalon tidak datang bersama Saber dari Tahta Pahlawan karena status unik Saber sebagai Servant yang tak sempurna. Hal ini disebabkan karena menjelang kematiannya, karena tidak puas dengan kegagalannya dalam menemukan Cawan Suci semasa hidupnya, Arturia menjalin kontrak dengan Dunia (seperti halnya yang Archer/Shirou dewasa lakukan) yang memungkinkannya untuk dapat menemukan (suatu bentuk) Cawan Suci semasa hidupnya. Ini yang memungkinkan Saber, yang berada di ambang kematiannya, dapat dipanggil oleh Dunia pada rentang waktu dan masa manapun selama dirinya masih berupaya menemukan Cawan Suci. Kontraknya dengan Dunia ini baru akan terputus sesudah Cawan Suci ini berhasil ia temukan (yang sudah pasti akan ia temukan pada suatu masa, karena tak terbatasnya kesempatan yang ia punya, walau ia tak bisa mengulang kesempatan yang telah lalu). Hal ini pula yang menjadi alasan Saber hanya memiliki tubuh fisik dan tak bisa mewujud ke roh. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Saber bisa mempertahankan ingatannya tentang Perang Cawan Suci keempat sesudah dipanggil kembali dalam Perang Cawan Suci kelima.
  • Noble Phantasm Gate of Babylon miliki Gilgamesh adalah ruang harta yang di dalamnya terkandung semua Noble Phantasm yang telah terlupakan namanya oleh sejarah, tapi sebenarnya menjadi ‘akar’ dari sebagian besar Noble Phantasm lain dalam legenda-legenda kepahlawanan di seluruh dunia. Sifat ‘akar’ tersebut membuat Gilgamesh, yang sudah separuh dewa, disebut hampir tak tersentuh oleh semua Noble Phantasm ‘modern’ yang merupakan ‘turunan’ dari semua Noble Phantasm yang dimilikinya.
  • Alasan Shirou terkesan menjadi kuat sesudah mengaktifkan Reality Marble Unlimited Blade Works adalah karena selain bisa meniru ‘bentuk’ dan ‘komposisi’ hampir setiap Noble Phantasm yang dilihatnya, Shirou juga memperoleh pengetahuan tentang sejarah dan cara pemakaiannya. Karena itu, meski kualitas tiruan-tiruan yang diciptakannya satu peringkat lebih rendah, Shirou mampu mengungguli Gilgamesh karena tahu ‘keistimewaan’ dan ‘cara pakai’ masing-masing Noble Phantasm ketimbang sekedar ‘memilikinya.’
  • Reality Marble Shirou tercipta berkat idealisme kepahlawanan yang dianutnya. Reality Marble merupakan sihir yang mewujudkan ‘dunia pribadi’ dalam diri seseorang. Idealisme Shirou membuatnya memiliki aspirasi untuk mewujudkan keyakinan dan mimpi semua roh pahlawan yang nantinya dapat menjadi Servant. Upaya Shirou tersebut membuatnya mampu memahami latar belakang dan sejarah hidup hampir setiap roh pahlawan, dan berujung pada bagaimana Shirou mampu mereplika persenjataan Noble Phantasm yang mereka miliki.
  • Salah satu (satu-satunya?) Noble Phantasm pengecualian yang tak dapat Shirou buat replikanya adalah pedang Ea milik Gilgamesh. Ea adalah Noble Phantasm tertua, yang konon menyimpan ingatan tentang awal penciptaan Dunia, dan telah ada bahkan sebelum ‘konsep pedang’ ada. Meski berkekuatan sangat dahsyat dan berstatus penghancur dunia, Gilgamesh sangat jarang menggunakan kekuatan Ea secara penuh dan hanya berkeinginan menggunakannya terhadap lawan-lawan yang ‘pantas.’ Aku sempat lama bertanya-tanya kenapa Gilgamesh tak menggunakan Ea saat melawan Shirou, dan baru paham sekarang kalau dirinya tak sempat. Konon Ea juga memberikan pengetahuan tentang hal-hal tertentu kepada Gilgamesh, dan membuatnya mengetahui berbagai hal yang tak diketahui manusia lain…
  • Sebagaimana terungkap di pertengahan seri, artefak Cawan Suci telah terkontaminasi oleh ‘segala kejahatan di dunia’, Angra Mainyu. Sifatnya masih dapat mengabulkan permohonan, namun dengan mengintepretasikan permohonannya sedemikian rupa sehingga mewujudkannya melalui penghancuran. Yang semenjak awal sepenuhnya mengetahui tentang ini pada Perang Cawan Suci kelima adalah Kirei dan Gilgamesh.
  • Sosok yang berbincang sebentar dengan Shirou menjelang adegan terakhirnya di Clock Tower adalah Lord El-Melloi II, atau yang di masa muda dikenal sebagai Waver Valvet, Master dari Rider dalam Perang Cawan Suci keempat di Fate/Zero. Sifatnya sudah jauh berubah dibanding waktu masih muda. Dirinya juga dikisahkan telah menjadi salah satu guru Rin.
  • Luviagelita Edelfelt, saingan abadi Rin semasa pembelajarannya di Clock Tower, juga tampil di episode terakhir. Meski keluarga Tohsaka dan Edelfelt lama berselisih karena pertentangan mereka di Perang Cawan Suci ketiga, sepertinya awal mula permusuhan antara Rin dan Luvia dipicu alasan yang agak beda.

Permohonan yang Melintasi Waktu

Sedikit membahas lagi soal teknis, walau penceritaannya tak selalu optimal, adegan-adegan pertarungannya tetap keren untuk dilihat. Rematch antara Shirou dan Kuzuki di ruang bawah tanah Gereja Fuyuki kembali berkesan. Adegan pertarungan antara Berserker melawan Gilgamesh mendapatkan ekstensi dibandingkan di VN-nya, menjadikan hasil akhirnya jauh lebih dramatis. Duel ulang Lancer lawan Archer tetap keren, walau sayangnya kembali berakhir menggantung. Akhir perselisihan antara Archer lawan Shirou di Puri Einzbern mungkin sedikit mengecewakan bagi sebagian orang. Tapi adegan yang telah lama ditunggu-tunggu, yaitu konfrontasi Shirou melawan Gilgamesh, lumayan tereksekusi lebih bagus dari yang kukira.

Bagian di mana Shirou menguji keseimbangan pedang ciptaannya di animasi lagu pembuka seriusan memberikan kesan keren. Bagian ini semata memberi kesan yang begitu kuatnya, sampai-sampai aku jadi tersadar ada beberapa bagian season ini yang tereksekusi jauh lebih bagus dibandingkan beberapa bagian lainnya.

Jadi buat yang merasa ada sedikit ketimpangan di beberapa bagian, seperti di soal perkembangan karakter Rin maupun pemaparan debat ideologi antara Shirou dan Archer, kurasa itu bukan perasaan kalian saja.

Selebihnya, bagian-bagian cerita tambahan yang tak ada di gamenya di atas ditulis oleh Nasu Kinoko-sensei sendiri, sehingga penceritaannya konsisten dengan apa yang para penggemar Type-Moon sudah tahu.

Satu hal khusus yang perlu kusebut adalah epilog di episode terakhir. Dalam VN, akhir rute UBW hanya menampilkan bagaimana pada sepulang sekolah suatu hari, Rin mengajak Shirou untuk ikut bersamanya belajar ke markas Mages Association di Clock Tower di Inggris. Tapi versi anime ini bahkan sampai menampilkan kehidupan ‘kuliah’ mereka di sana dua tahun sesudah Perang berakhir. Pemaparan ini terbilang keren, menampilkan konklusi tekad Shirou, dan lengkap dengan bagaimana Rin mengajak Shirou ke Cormwall, tempat di mana makam ‘Raja Arthur’ diperkirakan berada.

Episode epilog ini benar-benar tak disangka, dan karenanya mungkin menjadi episode paling berkesan di season ini.

Sebenarnya, masih ada beberapa hal lain yang mungkin membuat heran beberapa penggemar yang jeli memperhatikan kesinambungan cerita antara seri ini dengan Fate/Zero. Terutama soal pengetahuan rahasia yang mungkin hanya Gilgamesh ketahui. Hal-hal tersebut kayaknya lebih baik kuulas sesudah adaptasi anime Heaven’s Feel keluar. Walau kalau dipikir baik-baik, itu bisa kalian simpulkan sendiri sih.

Akhir kata, paruh kedua Fate/stay night – Unlimited Blade Works sayangnya tak sekuat paruh pertamanya. Tapi seri ini tetap terbilang salah satu yang paling menonjol di musim kemarin.

Pastinya seri ini kelihatannya telah menarik banyak penggemar baru ke karya-karya Type-Moon.

Kelihatannya sekarang tinggal menunggu konfirmasi adaptasi layar lebar Heaven’s Feel.

(Sori, aku juga kurang tahu soal orang yang Shirou sebut sering berpapasan dengannya. Adegan tersebut benar-benar terasa seperti teaser sih. Mungkin benar akan ada kaitannya dengan kabar-kabar soal Tsukihime Rebirth? Yah, kita lihat saja nanti.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

(Konfirmasi beberapa poin diperoleh dari Type-Moon Wiki)

17/01/2015

Fate/stay night – Unlimited Blade Works

Fate/stay night – Unlimited Blade Works diadaptasi dari seri visual novel legendaris Fate/stay night.

Tepatnya, ini adaptasi anime ketiga dari Fate/stay night, sesudah sebelumnya dianimasikan dua kali—sekali ke bentuk seri TV dan sekali ke layar lebar—oleh studio DEEN, masing-masing pada tahun 2007 dan tahun 2010.

Sudah berapa kali ya aku menulis soal seri ini?

Fate/stay night bermula dari game VN dewasa yang dikembangkan grup doujin (indie) Type-Moon. Keluar pertama kali untuk PC pada tahun 2004, gamenya langsung disambut antusias berkat reputasi Type-Moon yang sebelumnya terbangun lewat Tsukihime dan dua seri lepasannya: Kagetsu Tohya dan Melty Blood.

Type-Moon terbentuk oleh duo Kinoko Nasu sebagai penulis dan Takeuchi Takashi selaku ilustrator. Kinoko-sensei punya gaya cerita dan pilihan tema yang khas. Sedangkan Takeuchi-sensei punya gaya desain karakter yang sekilas sederhana, tapi mengandung suatu kedalaman dan perhatian terhadap detil. FSN adalah seri pertama Type-Moon sesudah mereka jadi perusahaan komersil. Seri tersebut, ringkasnya, sukses luar biasa. Karakternya terbukti populer bahkan hingga sekarang. Lalu sesudah sepuluh tahun, kini seri tersebut diangkat menjadi anime lagi.

Sebelum masuk ke soal animenya, perlu disinggung kalo versi game Fate/stay night terbagi ke dalam tiga percabangan cerita (rute):

  • rute Fate, dengan karakter Saber sebagai tokoh utama perempuan;
  • rute Unlimited Blade Works, dengan Tohsaka Rin sebagai karakter utama perempuan;
  • dan rute Heaven’s Feel, dengan Matou Sakura sebagai fokus utama.

Ketiga rute di atas memiliki alur cerita serta tema yang agak beda juga.

Terkait percabangan cerita di masing-masing rute, anime TV-nya yang keluar tahun 2007 secara umum mengadaptasi rute Fate, tapi ada tambahan elemen rute-rute lain di dalamnya juga. Adaptasi kedua berupa film layar lebar di tahun 2010 mengadaptasi rute Unlimited Blade Works, dalam versi agak padat (aku sempet nulis soal itu di sini, btw.). Sedangkan anime yang ketiga ini, yang keluar tahun 2014, kembali mengadaptasi rute Unlimited Blade Works, tapi kali ini dalam format seri TV. Kabarnya, rute Heaven’s Feel sendiri akan dianimasikan sesudah seri TV ini berakhir dalam format film layar lebar.

Studio yang menganimasikan kali ini adalah Ufotable, yang seakan menjadi studio langganan Type-Moon untuk menganimasikan karya-karya mereka. Karena sebelumnya Ufotable juga menganimasikan rangkaian film layar lebar Kara no Kyoukai pada tahun 2007, yang juga diangkat dari seri novel berjudul sama buatan Type-Moon. Ufotable juga yang menganimasikan seri prekuel dari Fate/stay night, yakni Fate/Zero, di tahun 2012, yang terbukti menarik perhatian banyak kalangan. Dengan demikian, kualitas anime ini dari awal seakan sudah terjamin.

Seri TV FSN – UBW juga jadi punya kesan sebagai semacam sekuel dari seri TV Fate/Zero. Selain bisa dibilang ‘melanjutkan’ ceritanya, penayangan FSN – UBW seperti Fate/Zero juga dibagi ke dua tahap, dengan jeda satu season di antara keduanya.

Tulisan ini membahas season pertamanya saja, yang ditayangkan pada musim gugur 2014 lalu dengan total sebanyak 12 13 episode.

Angin yang Menenggelamkan Kata-kata

Premis cerita Fate/stay night mungkin terdengar sedikit ribet.

Fate/stay night bercerita tentang suatu ritual sihir rahasia yang disebut Holy Grail War/Seihai no Sensou/Perang Cawan Suci, yang berlangsung di sebuah kota bernama Fuyuki, di pertengahan dekade 2000an. Ritual ini pada dasarnya merupakan ajang saling bunuh antara tujuh orang penyihir (magus) yang disebut Master, yang masing-masing telah memanggil tujuh makhluk semi roh berstatus familiar dengan kemampuan jauh melampaui manusia yang disebut Servant.

Ketujuh pasangan Master-Servant itu akan saling memburu dan saling menjatuhkan satu sama lain dalam ‘perang’ ini, yang secara rahasia berlangsung di seluruh penjuru Fuyuki. Ada suatu perwakilan dari Gereja yang menjadi pihak netral sekaligus ‘penengah’ dari ritual ini. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapat akses ke pusaka sihir legendaris Holy Grail/Seihai/Cawan Suci, yang konon dapat mengabulkan permintaan apapun.

Setidaknya, pemahamannya di permukaan seperti demikian. Kenyataannya, ada banyak intrik dan rahasia yang terjadi di belakang layar…

Seri Fate/stay night mengisahkan peristiwa terjadinya Perang Cawan Suci kelima yang pernah terjadi (dengan prekuelnya, Fate/Zero, mengisahkan yang keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelumnya). Tokoh utamanya adalah seorang remaja yatim piatu bernama Emiya Shirou.

Sesudah tanpa sengaja terlibat dalam perang, Shirou saat terdesak memanggil Servant Saber—seorang ksatria wanita berzirah dan berambut pirang yang menjunjung tinggi keadilan dan kehormatan—yang sekaligus membuatnya menjadi Master terakhir yang ‘dipilih’ Cawan Suci.

Tohsaka Rin, teman sekolah Shirou yang cantik dan sangat populer, ternyata merupakan salah satu magus yang terlibat dan menjadi penyebab tak langsung keterlibatan Shirou. Rin, yang pada dasarnya baik hati, merasa tak bisa membiarkan Shirou yang sedemikian tak tahu apa-apa tentang dunia sihir begitu saja. Karenanya, untuk sementara waktu mereka menyepakati suatu gencatan senjata.

Bersama, keduanya kemudian bekerjasama dalam menghadapi Master-Master lain yang tak segan melibatkan orang-orang biasa dalam Perang.

Aku Tahu Surga yang Menanti Kita

Setiap Servant pada dasarnya merupakan perwujudan suatu roh pahlawan (Eirei/Heroic Spirit) yang dapat berasal dari berbagai mitologi dunia. Kesemuanya konon memiliki kekuatan yang jauh melebihi batasan manusia normal, dan karenanya menjadi andalan masing-masing Master untuk menang.

Ketujuh Servant terbagi ke dalam tujuh ‘kelas’ yang akan kuulas di bawah. Kesemuanya memiliki ‘nama asli’ masing-masing. Tapi karena memanggil mereka dengan nama asli’ bisa membeberkan asal-usul—sekaligus kelemahan—mereka, para Servant lebih banyak dipanggil dengan nama kelas mereka.

Setiap Servant juga memiliki setidaknya satu ‘pusaka’ yang disebut Noble Phantasm/Hougu, yaitu pusaka khusus yang menjadi bagian ‘identitas’ mereka. Semakin tenar mitologi yang melandasinya, konon akan semakin kuat pula kekuatan Noble Phantasm tersebut. Karena bisa membeberkan identitas asli seorang Servant juga, Noble Phantasm biasanya hanya dikeluarkan pada saat terdesak dan menjadi kartu as masing-masing pihak.

Selain berkat kekuatan Cawan Suci, setiap Servant termanifestasi di dunia ini karena mendapat pasokan energi sihir dari Master masing-masing.

Namun Shirou—yang mendiang ayah angkatnya, Emiya Kiritsugu, ternyata merupakan seorang penyihir/magus—ternyata tak pernah mendapat pelatihan sihir secara benar. Sehingga walau ia ‘menarik kartu’ Saber, yang merupakan Servant dengan parameter paling seimbang dan karenanya dipandang punya peluang menang paling besar, dirinya kurang bisa mengoptimalkan potensi sesungguhnya yang Saber miliki.

Satu-satunya jenis sihir bisa Shirou lakukan secara lumayan hanyalah tracing. Tracing merupakan sihir yang memungkinkannya menganalisa struktur suatu benda serta memperkuat dan memperlemah parameter-parameter benda tersebut. Karena kemampuannya itu, Shirou sering dimintai tolong oleh Ryudou Issei, sahabatnya yang menangani OSIS/Dewan Siswa di Perguruan Homurahara tempat mereka bersekolah, untuk memperbaiki barang-barang rusak di sekitar kampus (meski Issei tak pernah mengetahui bahwa keahlian Shirou sebenarnya berasal dari kemampuan sihir).

Berkebalikan dengan Shirou, Rin adalah magus terlatih yang sihir spesialisasi keluarganya memungkinkannya ‘menyimpan’ energi sihir dalam benda-benda tertentu. Sihir andalannya adalah tembakan Gandr, yang mana ia melepas peluru-peluru yang dibuat oleh sihir.

Rin terlibat dalam Perang sebenarnya lebih karena suatu peran yang diwariskan oleh keluarganya. Namun kenyataannya, Rin tak punya permohonan khusus yang ingin dikabulkan melalui Cawan Suci (seperti Shirou, dirinya juga sudah tak punya orangtua). Shirou sendiri berpartisipasi dalam perang tergerak oleh suatu ideologi kepahlawanan yang ia warisi dari mendiang ayah angkatnya.

Sepuluh tahun silam, suatu bencana kebakaran yang teramat besar pernah terjadi di Fuyuki. Di peristiwa itu, Shirou kehilangan seluruh anggota keluarga kandungnya. Tapi ia akhirnya diselamatkan oleh Kiritsugu, dan kemudian dibesarkan olehnya sebagai anak angkat. Shirou tak begitu tahu banyak tentang latar belakang Kiritsugu. Tapi dirinya memahami suatu penyesalan mendalam yang ayah angkatnya dulu punyai, yang disampaikan menjelang ajalnya, tentang keinginannya untuk menjadi semacam ‘pahlawan pembela kebenaran.’

Ideologi yang Shirou punyai ini, yang membuatnya tak segan menempatkan diri dalam bahaya, segera mendapat perhatian Archer, Servant milik Rin. Karena alasan tertentu, hal ini menimbulkan konflik di antara mereka. Lalu lambat laun, Rin sendiri ikut menyadari, mungkin memang ada suatu hal abnormal tentang ideologi yang Shirou anut…

Masa Depan Putih Terang Ini

Terlepas dari semuanya, masing-masing Servant yang terlibat dalam Perang Cawan Suci kali ini (sekali lagi) antara lain:

  • Saber, spesialis pedang, konon berparameter paling seimbang. Master-nya adalah Emiya Shirou. Identitas aslinya pada perang ini adalah Arturia, raja legendaris Britannia yang menyembunyikan jati dirinya sebagai perempuan. Noble Phantasm miliknya yang paling dikenal adalah pedang suci Excalibur, yang disembunyikan dengan berkah roh angin agar tak kasat mata. Sebagaimana dikisahkan dalam Fate/Zero, Saber terlibat dalam Perang Cawan Suci terdahulu dengan Kiritsugu sebagai Master-nya. Ia ingin mengetahui mengapa Perang Cawan Suci sebelumnya berakhir prematur.
  • Lancer, spesialis senjata tombak, konon memiliki kelebihan di sisi kelincahan. Dirinya Servant yang menyeret Shirou sampai terlibat dalam Perang. Identitas aslinya adalah Cu Chulainn, pemburu legendaris dari Irlandia. Master-nya pada titik ini belum terungkap. Namun Master aslinya, Bazette Fraga McRemitz, sebagaimana dikisahkan dalam Fate/hollow ataraxia, sebenarnya telah tewas. Noble Phantasm miliknya adalah tombak Gae Bolg yang dapat selalu mengenai jantung bidikannya akibat pembalikan fenomena sebab akibat.
  • Archer, spesialis busur dan panah, memiliki mata tajam dan kemampuan untuk bergerak secara independen, dalam artian dirinya tidak melulu harus mengandalkan asupan kekuatan sihir (mana) dari Master-nya. Master-nya adalah Tohsaka Rin. Mungkin karena kecendrungan Rin untuk melakukan kesalahan bodoh di saat genting, Archer kehilangan sebagian ingatannya saat dipanggil. Karenanya identitas aslinya masih belum benar-benar diketahui. Sepasang pedang kembar yang sering digunakannya sebenarnya bukan Noble Phantasm milikinya.
  • Rider, spesialis tunggangan, konon memiliki potensi daya rusak paling besar. Identitas aslinya, walau tak benar-benar terungkap pada rute ini, adalah Medusa dari mitologi Yunani. Master-nya pada titik ini adalah Matou Shinji, teman lama Shirou di sekolah yang tampan tapi menjengkelkan. Noble Phantasm miliknya sebenarnya adalah kuda bersayap Bellerophon yang kelihatannya tak sempat tampil di rute ini. (Buat yang memperhatikan, ada alasan tertentu kenapa frame yang menampilkan dirinya ditampilkan sebelum Sakura pada beberapa saat menjelang berakhirnya animasi lagu pembuka.)
  • Caster, spesialis sihir, memiliki kuasa khusus untuk menciptakan teritori yang sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Identitas aslinya adalah Medea, putri negeri Colchis dalam legenda Yunani tentang para Argonaut yang memiliki kisah hidup tragis. Master-nya adalah Kuzuki Shoichirou, wali kelas Rin di sekolah, yang menjadi pengganti dari Master asli Caster yang dibunuh oleh Caster sendiri. Noble Phantasm miliknya adalah belati Rule Breaker yang dapat mematahkan ikatan sihir.
  • Berserker, yang mengorbankan kewarasannya dengan imbalan kekuatan sangat besar. Master-nya adalah gadis kecil, Illyasviel von Einzbern, yang seperti Rin, berasal dari salah satu keluarga pemrakarsa ritual Cawan Suci. Identitas Berserker adalah Hercules. Noble Phantasm miliknya yang utama, 12 Labors, mengharuskan Berserker dibunuh 12 kali untuk bisa ditaklukkan. Seperti yang dikisahkan dalam Fate/Zero, Ilya juga sebenarnya adalah putri kandung Kiritsugu.
  • Assassin, spesialis penyusupan dan serangan dari bayangan. Master-nya, entah bagaimana, adalah Caster, dan ada indikasi bahwa Assassin yang tampil di sini bukanlah Servant Assassin yang sesungguhnya. Identitas aslinya adalah pemain pedang legendaris Sasaki Kojirou yang justru bila dilihat dari sisi sejarah mungkin merupakan tokoh fiktif. Noble Phantasm miliknya adalah teknik pedang Tsubame Gaeshi yang memotong batas-batas dimensi dan memungkinkan keberadaan senjatanya pada beberapa titik sekaligus.

Satu-satunya Emosi yang Mungkin Masih Kupunya

Waktu pertama mendengar tentang pengumumannya, aku sebenarnya merasa Fate/stay night tidak perlu dianimasikan lagi. Buat apa sih? Emang kalian masih belum cukup puas? Kira-kira gitu.

Tapi melihat sendiri hasil akhirnya, Fate/stay night – Unlimited Blade Works terbilang mencengangkan. Kualitas presentasi dan eksekusinya benar-benar bagus. Visualnya beneran luar biasa. Seriusan benar-benar memukau; mulai dari efek sihir, pergerakan awan, desain lingkungan latar, pakaian karakter, sampai adegan-adegan aksi. Audionya agak sunyi di beberapa bagian, mungkin karena ceritanya berat di percakapan. Tapi para seiyuu-nya memperlihatkan hasil yang beneran berkesan. Kelihatan betapa besarnya sumber daya yang dikeluarkan untuk anime ini, walau memang ada beberapa kelemahan yang pada cerita yang tetap tak bisa dihindari.

Terkait cerita, cerita dari gamenya telah diekspansi pada beberapa titik. Ada beberapa adegan minor tapi menarik yang tak ada di game aslinya, seperti bagaimana Rin sempat berhadapan langsung dengan Ilya misalnya. Atau ditambahnya interaksi antara Shirou dengan teman-temannya di sekolah.

Walau dimaksudkan sebagai kelanjutan cerita Fate/Zero, Fate/stay night pada dasarnya jenis cerita yang berbeda. Di samping dibuat lebih awal, ceritanya terstruktur sedemikian rupa agar detil-deti yang dibeberkan pada tiap rute bisa saling melengkapi. Karena itu, kualitas ceritanya secara umum sebenarnya agak kalah berbobot dibandingkan Fate/Zero. Tapi kualitas eksekusi animenya seakan mengimbangi kelemahan ini. Pada beberapa titik, kualitas penceritaannya bahkan kerasa lebih baik dibanding gamenya.

Ada beberapa detil tersirat yang akan terasa ‘nyambung’ dengan Fate/Zero saat kau perhatikan. Misalnya pada ekspresi Saber saat mendengar nama Kiritsugu disebut kembali. Juga tentang bagaimana Kotomine Kirei—pendeta yang menjadi ‘wasit’ dalam Perang Suci kali ini—mengenali siapa Shirou bahkan tanpa Shirou benar-benar sadari.

Jadi sekalipun kau sudah tahu cerita FSN sebelumnya, anime ini tetap menarik. Ada banyak hal terselubung yang hanya bakal kau pahami kalau kau sudah tahu ceritanya sebelumnya.

Mengingat game orisinilnya sudah berusia 10 tahun, ada perombakan di segi desain karakter. Paling mencolok terlihat pada jaket yang dikenakan Shirou serta baju musim dingin yang Saber kenakan. Saber maupun Sakura—meski tokoh utama di rute ini adalah Rin—sama-sama ditampilkan sangat adorable di versi ini. Maksudku, keduanya seriusan luar biasa manis dalam desain karakter yang baru ini. Aku sempat lupa heroine utamanya harusnya siapa.

Rin sendiri, di samping secara tampilan, dipaparkan secara ekstensif latar belakang ceritanya. Kita dibawa mengenal lebih jauh tentang latar belakang kehidupannya yang rumit serta kepribadiannya kayak apa. (Mungkin malah agak terlalu ekstensif?)

Bab prolog dari gamenya, yang diambil dari sudut pandang Rin dan secara khusus memperkenalkan dirinya serta konflik Cawan Suci, bahkan ditampilkan pada episode 0 yang berdurasi satu jam. Apa yang membuatku benar-benar kaget adalah bagaimana sesudah episode 0 itu, episode 1 yang memaparkan rentang waktu cerita yang sama di episode 0 dari sudut pandang Shirou ternyata berdurasi satu jam juga. Episode 12, yang menjadi klimaks season ini, berdurasi satu jam pula. Jadi secara efektif seri ini punya durasi sekitar tiga episode lebih panjang dari seri anime seukurannya!

Mencari Fajar Itu

Akhir kata, FSN/UBW jelas merupakan seri paling ambisius pada musim gugur 2014 lalu. Cukup mengejutkan sebagus apa hasilnya. Miura Takahiro yang menjadi sutradaranya kurasa menjadi nama yang patut diingat. Ini kali pertama beliau menjadi sutradara penuh sesudah sebelumnya menangani film layar lebar Kara no Kyoukai yang keenam.

Secara pribadi, aku sebelumnya lebih suka Tsukihime dan Kara no Kyoukai ketimbang seri Fate. Tapi anime satu ini, agak membuatku berubah pikiran. Dulu, sempat ada rumor kalau mungkin anime ini akan menampilkan cerita orisinil yang akan ‘menyatukan’ ketiga rute di gamenya. Jadi jujur saja aku sempat agak kecewa saat tahu kalau ini adaptasi rute UBW lagi. Tapi kebagusan kualitasnya terus terang melampaui pengharapanku, walau mungkin aku merasa kayak gini karena sudah akrab dengan seri ini juga.

Konflik utama rute ini, yaitu soal ideologi kepahlawanan yang dianut Shirou, mungkin agak hit or miss bagi sebagian besar orang. Kau bakal menyukainya apa enggak kurasa tergantung kau orang kayak apa. (Aku pribadi lumayan mendalaminya sih.) Tapi seenggaknya penggemar dari kalangan manapun bakal terkesima oleh kerennya adegan-adegan aksi yang ada. Di samping itu, sebenarnya ada beberapa tema menarik lain lagi sih. Seperti soal sejauh apa tekad bisa membawa kamu, soal gimana apa yang kau yakini bisa diterima orang lain, dsb.

Kembali ke soal teknis, seri ini dipotong pada bagian yang pas. Tepatnya, pada saat Shirou dan Rin melakukan blunder yang mengakibatkan Saber terlepas dari kuasa mereka, dan akhirnya mereka berpisah jalan. Memang sangat terasa menggantung. Tapi kalau aku tak salah ingat, ceritanya mulai berkembang jadi benar-benar seru di gamenya mulai titik ini. Jadi aku berharap pada 12 episode berikutnya, cerita bisa bergulir dengan lebih cepat dan baik.

Sekali lagi, adegan aksinya seru. Skirmish dengan Berserker di tanah pemakaman pada awal cerita, benar-benar tertata secara keren. Adegan saat Shirou, Rin, dan Saber beraksi untuk mengungkap identitas Master Caster di tempat SPBU terbengkalai menjadi jauh lebih berkesan dari yang pernah kuingat dari gamenya.

Sedikit soal soundtrack, walau ada yang berpendapat sebaliknya, aku termasuk yang suka dengan lagu ‘Ideal White’ yang dibawakan Mashiro Ayano. Warna suaranya mirip dengan LiSA, walau mungkin secara performa, Mashiro-san masih belum sematang dia. Tapi nyanyiannya menurutku pas dengan tema yang sering ini usung. (Soal pemilihan judul lagunya terkait nama penyanyinya, apa ini suatu hal yang disengaja?)

Grup Kalafina seperti yang bisa disangka, membawakan ‘Believe’ yang menjadi lagu penutup seri ini. Lalu LiSA sendiri ternyata membawakan lagu ‘This Illusion’ yang melantun menjelang penutup episode akhir, mengiringi adegan melompatnya Rin dari pencakar langit. Iringan lagu-lagu ini berhasil membuat adegan tersebut—yang merupakan salah satu adegan paling berkesan di gamenya—jadi terkesan makin memukau. Lagu ini sendiri, yang dulu dibawakan Tanaka Sachi, merupakan soundtrack gamenya yang paling pertama. Jadi memang ada beberapa orang yang punya kenangan tertentu dengan lagu ini.

Sori aku enggak merasa bisa mengumbar lebih banyak soal ceritanya. Soalnya dari gelagatnya, di paruh berikutnya, para penulis akan mengembangkan konsep cerita dari gamenya secara lebih jauh lagi.

Mari kita nantikan bersama musim semi ini untuk hasil akhirnya.

Oh. Dan sesudah season keduanya nanti, sekali lagi, adaptasi layar lebar dari rute Heaven’s Feel sudah terkonfirmasi, yang memang mesti diakui merupakan rute paling ‘penuntas’ dari seri ini. Tapi soal itu mending kita bahas lain kali.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

02/01/2015

Kara no Kyoukai – Mirai Fukuin + Extra Chorus

Kara no Kyoukai: Mirai Fukuin (juga dikenal dengan subjudul Future Gospel, atau ‘Blessings for the Future,’ atau juga Recalled Out Summer), merupakan (semacam) epilog dari seri utama Kara no Kyoukai, yang dibuat oleh Nasu Kinoko dan Takeuchi Takashi dari grup pengembang Type-Moon. Adaptasi anime Mirai Fukuin berdurasi sekitar satu setengah jam dan baru dirilis tahun 2013 dalam format layar lebar, dengan produksi masih dilakukan oleh studio Ufotable, yang sebelumnya mengadaptasi cerita utamanya ke dalam bentuk tujuh film layar lebar juga.

Epilog ini berisi serangkaian cerita pendek, yang berlangsung pada latar waktu yang berbeda-beda, yang sedikit banyak memberi gambaran tentang kesudahan nasib para karakter di seri utamanya. Apa yang terjadi pada Ryohgi Shiki, Kokutou Mikiya, dan beberapa karakter lainnya, sesudah dan di sela-sela rangkaian pembunuhan berantai yang pada beberapa titik mewarnai hidup mereka. Subjudulnya kira-kira berarti ‘berkah/doa untuk masa depan,’ yang sesuai dengan tema utama yang cerita-cerita pendek ini angkat.

Episode Extra Chorus, yang menyusul keluarnya Mirai Fukuin, merupakan adaptasi anime berdurasi sekitar setengah jam yang melengkapi apa yang dikisahkan dalam film tersebut. Adaptasinya kayaknya dibuat terpisah karena memang enggak langsung nyambung dengan tema ‘masa depan’ yang film sebelumnya angkat, walau perannya sebagai epilog tetap sama.

1998

Ada tiga episode yang diangkat dalam Mirai Fukuin. Ketiganya sama-sama berpusar pada persepsi orang terhadap masa depan, terutama ke soal pertanyaan apakah masa depan merupakan sesuatu yang sebelumnya telah ditetapkan atau tidak.

Episode pertama berlatar di pertengahan tahun 1998, ketika Shiki mulai dibayang-bayangi seseorang bernama Kuramitsu Meruka, sesosok misterius yang melakukan pekerjaan-pekerjaan pemboman bayaran.

Meruka memiliki kemampuan aneh di mana mata kirinya melihat masa kini, sementara mata kanannya bisa melihat masa depan. Namun masa depan yang bisa dilihatnya merupakan masa depan yang baginya bersifat ‘pasti’ dan tak dapat diubah. Meruka akhirnya seakan menjadi budak bagi masa depan yang dilihat matanya sendiri tersebut, yang seakan hal ‘jelas’ dan tak dapat diubah itu—sampai dirinya menemui Shiki yang entah bagaimana tak muncul dalam ‘masa depan’ yang dilihatnya, mempengaruhi besar-besaran hasil yang dapat ia peroleh, dan membuatnya menjadi sedikit terobsesi dengannya.

Pada waktu yang kurang lebih sama, Kokutou berkenalan dengan seorang gadis remaja bernama Seo Shizune. Shizune, yang sedang dalam liburan musim panas dari sekolahnya di SMA Putri Raizen, sempat sedikit ditolong Kokutou saat suatu insiden terjadi, yang sedikit banyak berhubungan dengan kemampuan Shizune untuk sedikit melihat masa depan juga.

Percakapan yang berlangsung antara Kokutou dan Shizune diseling-selingi lewat alur maju-mundur dengan apa-apa yang terjadi antara Shiki dan Meruka, yang juga diwarnai sesi-sesi konsultasi mereka dengan Aozaki Tohko, atasan Kokutou yang merupakan penyihir. Kokutou melakukan tugasnya untuk menyampaikan kata-kata yang pernah Tohko katakan padanya, bila seandainya Kokutou suatu saat bertemu dengan seseorang yang bisa melihat masa depan. Sementara Shiki disarankan untuk menemui seorang figur yang dikenal sebagai Bunda Mifune, sosok peramal ‘sungguhan’ yang pernah terkenal di jalan-jalan kota Mifune pada masa silam.

Episode kedua berlatar lebih jauh di masa depan, yakni pada tahun 2010, dan memaparkan lebih jauh tentang karakter Bunda Mifune ini. Karakter sentral kali ini adalah Kuramitsu Meruka sendiri, yang pada masa ini lebih banyak menggunakan nama aslinya, Kamekura Mitsuru. Pada episode ini juga diperkenalkan sosok gadis kecil bernama Ryohgi Mana, anak perempuan Shiki dan Kokutou yang pada masa ini telah menikah.

Dikisahkan bahwa Mitsuru, karena satu dan lain hal, kini bekerja di bawah Shiki. Lalu lambat laun, karena alasan yang enggak bisa kukatakan karena bisa agak men-spoiler mereka yang belum nonton, dirinya telah menjadi salah satu orang yang paling Mana sukai. Lalu Mana memaksa menemani Mitsuru dalam satu pekerjaan ini, dan…

Yah, intinya, episode ini secara khusus memperkenalkan karakter Mana. Dan pada dirinya seakan terkumpul segala harapan masa depan yang Shiki dan Kokutou dulu punyai dalam porsi-porsi cerita sebelumnya.

Episode ketiga membawa kita kembali ke masa lalu, pada masa ketika kepribadian maskulin Shiki masih ada. Pribadi Shiki yang ini ternyata pernah berjumpa dengan Bunda Mifune sebelumnya—yang sebaliknya bisa ‘melihat’ sosok Shiki yang sesungguhnya. Lalu percakapan yang berlangsung di antara mereka—sedikit seperti akhir pertemuan antara Kokutou dan Shizune—menandai betapa Shiki yang ini ternyata telah mengetahui apa-apa yang nantinya akan ia alami.

Extra Chorus kembali menampilkan tiga cerita singkat yang agak berhubungan dengan satu sama lain. Latarnya sekali lagi di tahun 1998. Intinya tentang kepergian sementara Kokutou karena suatu hal dan bagaimana ia menitipkan seekor anak kucing pada Shiki. Tapi episode tengahnya menampilkan aftermath dari rangkaian insiden bunuh diri yang dikisahkan dalam Fuukan Fukei, episode Kara no Kyoukai paling pertama, dan sekaligus membeberkan nasib Asagami Fujino, yang mungkin agak mengejutkan bagi beberapa orang. Barulah episode terakhirnya ditutup dengan kunjungan bersama ke kuil yang dilakukan Kokutou dan Shiki—pada malam terakhir Desember di tahun 1998.

Kau Akan Mati, Tapi Impianmu Akan Terus Hidup

Daya tarik teraneh yang Mirai Fukuin punyai bagiku adalah… karena latar waktunya yang maju mundur itu, ceritanya kedengerannya lebih cocok disebut gaiden atau side story. Tapi tema cerita yang dibawakannya memang beneran pas buat dijadiin epilog. Apalagi dengan gimana apa-apa yang dipaparkan di dalamnya mereferensikan sejumlah kejadian yang terjadi belakangan.

Ini seriusan epilog yang sangat keren. Jadi walau enggak membeberkan banyak hal, kalau kau suka ketujuh film layar lebar Kara no Kyoukai yang utama—dengan kesunyiannya, kemisteriusannya, kefilsafatannya, atau ke gimana apa-apa yang disampaikan di dalamnya bikin kamu mikir ulang tentang hidupmu—kau bisa sangat suka dengan apa yang ditampilkan dalam Mirai Fukuin.

(Eh, tapi kalau kau penggemar Type-Moon baru yang masih awam… uh, enggak tahu ya? Mungkin akan kusaranin buat ngelihat yang lain dulu? Seri Kara no Kyoukai memang cuma cocok buat sebagian orang sih.)

Mirai Fukuin sendiri berakhir dengan kuat. Extra Chorus sendiri memang bersifat kayak tambahan. Enggak ada hal baru apapun di dalamnya. Tapi ini tambahan yang beneran manis dan pas kalau kau melihatnya sesudah episode utama Mirai Fukuin. (Kesannya jadi kayak… epilog dari epilog? Hahaha.)

Sama seperti film-film layar lebar pendahulunya, Mirai Fukuin masih memukau dengan kualitas presentasinya yang beneran keren. Tak banyak aksi yang berlangsung—walau ada, dan misteri yang disampaikan kali ini juga tak terlalu rumit, tapi permainan sudut kamera dan pemilahan warna masih kuat di sini. Musiknya keren. Desain dunianya masih begitu mendetil. Lalu dari segi cerita, Mirai Fukuin masih mengangkat tema diskusi menarik, walau mungkin dalam versi yang lebih ringkas ketimbang episode-episode sebelumnya. Dan, yeah, bagian-bagian awalnya agak lebih lambat dari yang mungkin kau sangka.

Terlepas dari itu, satu aspek favoritku yang enggak kusangka ada pada penggambaran kamar apartemen Shiki, yang saat kulihat, langsung mengingatkanku akan saat pertama aku baca terjemahan dari versi novelnya.

Apa ya? Selain hal-hal di atas, aku juga suka kuatnya rasa nostalgia yang seri ini berikan terkait dekade 90an. Khususnya tahun 1998 dalam hal ini sih. Itu masa-masa yang… apa ya? Itu bagiku kayak zaman modern ketika dunia sedang mengalami semacam masa tenang, dan masa depan saat itu masih tersamar dan sama sekali belum terbayang. Pastinya keadaan di masa itu masih belum se-messed up sekarang. Dan karena itu pula, mungkin, pesan yang kurasa berusaha disampaikan di film ini terasa makin kuat…

Buat yang mau tahu, karakter Seo Shizune, yang belakangan terungkap menjadi teman asrama adik perempuan Mikiya, Kokutou Azaka, juga punya kemiripan desain dengan karakter Seo Akira dari semesta Tsukihime (pertama kali dia muncul di fan disc Kagetsu Tohya sih). Kemiripan mereka ada sampai ke kemampuan melihat masa depan terbatas yang Akira juga punyai, serta status mereka sebagai teman sekamar, dengan Akira pun menjadi teman asrama Tohno Akiha di seri tersebut.

Kokutou telah kutambahkan dalam daftar figur yang menjadi role model-ku (Yea, aku punya daftar kayak gitu. Kebanyakan isinya karakter anime. Seorang entrepreuner mesti punya sumber motivasi, tau). Aku beneran terkesan dengan gimana Kokutou memandang apa-apa yang dialaminya sebagai sesuatu yang positif. Aku pengen ngubah itu, tapi kudapati itu bukan sesuatu yang gampang. Dan yea, adegan percakapan dia dengan Shizune di Ahne Nerbe itu kayak memantapkan hal ini.

Kesimpulannya: kau enggak harus mengikuti ini walau pernah melihat seri film utamanya. Tapi kau akan puas kalau misalnya melihatnya.

Jangan lari dari kenyataan ataupun mengekang diri. Masa depan yang kau cari mungkin enggak akan terjadi sekalipun kau meyakininya. Tapi itu enggak berarti apa yang kau lakukan enggak akan memiliki arti.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

26/12/2014

Carnival Phantasm

… …

Aku sibuk belakangan ini.

Aku sibuk. Tapi karena itu, aku merasa ini waktu yang tepat buat membahas Carnival Phantasm.

Mereka yang agak rajin mengikuti blogku mungkin tahu kalau aku sudah lama jadi pemerhati karya-karya keluaran Type-Moon. Siapa Type-Moon? Mereka adalah grup pengembang game yang dari status doujin ke profesional, kemudian menciptakan dua seri legendaris Tsukihime dan Fate/stay night beserta semua karya lepasannya. Aku pertama tahu tentang mereka semenjak aku masih mahasiswa, dan aku masih mengikuti perkembangan mereka sampai sekarang.

…Sekali lagi, aku mengulas soal ini karena sedang sibuk belakangan. Bukan karena musim tayang kali ini sudah hampir berakhir. Dan juga bukan karena anime Fate/stay night – Unlimited Blade Works yang luar biasa keren akan dipotong penayangannya sebelum dilanjutkan dua musim lagi, sehingga aku kecewa dan butuh pelampiasan.

Alasannya, sekali lagi, sama sekali bukan itu.

Teringat Carnival Phantasm, aku selalu ikut teringat teman yang pernah sekerja denganku dulu. Dirinyalah yang dulu terobsesi nonton seri ini. Padahal, aku sendiri enggak. Padahal, di antara kami berdua, dengan pasti aku bisa memproklamirkan diri sebagai penggemar Type-Moon yang lebih besar!

Orang enggak tahu apa-apa kayak dia maksa-maksain ngikutin seri OVA yang tahu tentangnya baru hari kemarin. Sementara aku, yang sudah lama jadi penggemar, hanya menanggapi keluarnya seri ini secara luar biasa cooool.

Yeah, aku adem ayem.

Satu, karena ini seri komedi. Dua, karena dengan demikian, isi ceritanya pasti hanya plesetan dan enggak terlalu berbobot (di masa itu, aku lebih serius ketimbang sekarang). Tiga, karena pada waktu itu aku enggak kenal Takenashi Eri itu siapa. Empat, karena seri tersebut waktu itu baru keluar dan masih berlanjut.

Masih berlanjuuut!

Total episodenya hanya 15 (ditambah satu). Durasi satu episodenya hanya sekitar 15 menit. Tapi kelima belas episode tersebut keluar secara agak enggak teratur selama paruh akhir tahun 2011 gitu.

Jadiii… hmmm.

Ini adalah sesuatu yang enaknya dinikmati sekaligus.

Mwahahahahahaha!

(Dan aku seriusan baru melihat ini semua sesudah semuanya tamat. Sebagai seorang penggemar Type-Moon, menontonnya dengan cara demikian memberikan kepuasan tersendiri.)

Terlepas dari itu, seri OVA ini diadaptasi dari seri manga komedi Take Moon yang dibuat oleh Takenashi Eri (diserialisasikan dari tahun 2004-2005), yang belakangan aku kemudian tahu sebelumnya dikenal sebagai pengarang seri Kannagi. Animasinya disutradarai dengan luar biasa apik oleh Kishi Seiji dan diproduksi oleh studio Lerche, yang saat itu baru mencuat sebagai studio animasi baru (dan belakangan mengeluarkan adaptasi animasi Persona 4 serta Danganronpa).

Hajimaru yo!

Premis dasar Carnival Phantasm kurang lebih seperti ini.

Ada suatu siklus tertentu dalam sekian ribu…? Ratus? Puluh… tahun? Sial, aku lupa. Yang pastinya, saat siklus itu terjadi, itu memungkinkan pertemuan antara orang-orang yang normalnya takkan mungkin bertemu. Di mana pertemuannya? Di sebuah kafe, bernama Ahne Nerbe. Kafe yang terkesan sepi, atau bahkan mungkin dikelola oleh orang-orang berbahaya, tapi sebenarnya nyaman di dalam.

Yah, intinya, Carnival Phantasm adalah kumpulan skit atau gag atau sketsa random yang melibatkan karakter-karakter dari semesta Fate dan Tsukihime. Ceritanya enggak sepenuhnya nyambung. Kerap kali enggak jelas. Tapi intinya, dimaksudkan untuk membuat penontonnya ketawa.

Sebenarnya, ada satu hal lain yang sudah membuatku merasa aneh sebelumnya.

Maksudku, bila ini memang diangkat dari seri manga Take Moon, kenapa anime ini enggak dinamain Take Moon aja sekalian? Aku masih belum terlalu yakin soal ini, tapi alasannya karena Carnival Phantasm memang enggak langsung ‘mengangkat’ begitu saja cerita-cerita yang ada di  Take Moon. Beberapa cerita di Carnival Phantasm bahkan rasanya pernah kulihat dalam beberapa doujin lain? Yang terutama ‘diambil’ kurasa adalah gaya desain karakternya, dengan bentuk wajah agak bulat yang menjadi ciri khas Takenashi-sensei, yang memang sesuai dengan tema komedi seri ini.

Selebihnya—sebenarnya—seri ini memang lebih ditujukan untuk para penggemar berat Type-Moon. Kebanyakan lelucon yang berpusar di dalamnya memang adalah plesetan dari apa yang terjadi di materi asalnya. Tapi materi asal yang kumaksud di sini bukan sekedar Tsukihime dan Fate/stay night, melainkan juga ditambah semua seri spin off dan sekuelnya. Dalam hal ini, meliputi fan disc Kagetsu Tohya, game tarung Melty Blood (termasuk sampai sekuelnya yang Actress Again), serta fan disc Fate/hollow ataraxia (dan bahkan RPG Fate/Extra!). Bila kau kurang familier dengan seri-seri lain tersebut, kau bisa agak kesulitan dalam mengikuti ini siapa dan itu siapa. Apalagi dengan bagaimana di lelucon-lelucon Carnival Phantasm, sifat-sifat para karakternya memang agak… dilebih-lebihkan secara dramatis. Dan jadinya berakhir enggak lucu bila kalian enggak kenal mereka sejak awal.

Ruranra, Ruranra

Ahne Nerbe, dalam perbendaharaan Type-Moon, intinya memang semacam tempat di mana… para karakter dari satu seri bisa bertemu dengan para karakter di seri lain, terlepas dari adanya… semacam siklus atau apa. Tempat ini beberapa kali muncul sebagai settingan dalam sejumlah cerita Type-Moon, sekalipun cerita-cerita tersebut berlangsung dalam latar waktu dan tempat yang berbeda-beda.

Pada tiap episodenya, kita sebagai penonton agak kayak dipandu oleh makhluk roh kucing(?) Neco Arc (pertama kali muncul di Tsukihime) dan teman-temannya sesama Neco Arc (man, kalimat ini beneran kerasa aneh, tapi sebenernya enggak salah), yang mengurusi kafe Ahne Nerbe. Di samping Neco Arc sendiri, mereka terdiri atas Neco Arc Chaos (warna dominan: hitam) yang suave, terlihat berpengalaman dalam hidup, dan kerap mengucapkan kalimat-kalimat (berkesan) keren sembari merokok (kelihatannya dirinya adalah versi Neco Arc dari tokoh antagonis di Tsukihime, Nrvnqsr Chaos); Neco Arc Destiny (warna dominan: pink), yang terkadang agak bertingkah dramatis tentang dilema-dilema kehidupan (mungkin referensi terhadap Caster?); dan Neco Arc Bubbles (warna dominan: agak pucat?), yang tak pernah bicara selain mengeluarkan kata-kata “Un-Un-Un!!” sembari mengangguk-angguk antusias (kelihatannya makhluk ini tak ada kaitannya dengan Ciel…).

Di pertengahan seri, muncul juga Neco Arc Evolution, salah seorang tamu kafe(?) yang merupakan seorang otaku, dan penggemar berat Shiroi Tsukihime Phantasmoon, karakter mahou shoujo (yang jelas-jelas adalah Arcueid Brunested, tokoh utama wanita pertama Tsukihime) yang mendapat segmen acaranya sendiri di episode-episode awal seri. Salah satu lelucon tersamar di seri ini adalah bagaimana Neco Arc Evolution bersikap luar biasa akrab dengan karakter Neco Arc yang lain. Padahal kenyataannya enggak ada yang benar-benar tahu persisnya dirinya sebenarnya siapa. (Dia referensi terhadap Tohno Shiki?)

Tapi terlepas dari kucing-kucing(?) di atas, tentu saja para pemeran sebenarnya dari Carnival Phantasm adalah para tokoh yang sudah dikenal dari Fate dan Tsukihime.

Kebanyakan segmen leluconnya kayak dibagi menjadi segmen Fate, lalu segmen Tsukihime (apalagi kalau mengingat kedua game bersangkutan memang berlatar di dua kota yang berbeda). Tapi ada juga segmen-segmennya yang nyambung kok. Walau, ya, kelakuan para karakternya agak dilebih-lebihkan untuk kebutuhan komedi.

…Um, bagaimana menggambarkannya ya?

Yah, selain Phantasmoon (yang untuk suatu alasan hanya menampilkan serangan pamungkas ke si monster mingguan (“Aku akan me-Marble Phantasm hatimu!”) sebelum berlanjut ke preview episode berikutnya), ada juga komedi Afterschool Alleyway Alliance, yang menampilkan sesi pertunjukan komedi dari tiga kawan perempuan (senasib?) Yumizuka Satsuki, Sion Eltnam Atlasia, dan Riesbyfe Stridberg (ketiganya sama-sama lebih dominan di seri game tarung Melty Blood).

Lalu ada juga sejumlah sesi yang mengumpamakan bagaimana seandainya Perang Cawan Suci kelima tak jadi dibuat sebagai ajang pertumpahan darah. Ada sesi yang agak bikin enggak nyaman, walau masih agak lucu, yang menampilkan kisah Matou Sakura bagaikan semacam seri drama televisi, di mana dirinya agak terlalu menghayati perannya sebagai seorang tragic heroine.

Ada beberapa sesi tentang Seihai-kun (Grail-kun), yang jelas-jelas mempelesetkan Doraemon, tentang bagaimana beberapa karakter mengeluh soal hidup mereka dan mengajukan permohonan ke sosok personifikasi (jahat) Cawan Suci.

Lancer ditampilkan selalu mati.

Ada bagian cerita menarik di mana kedua tokoh utama, Shiki dan Emiya Shirou, sama-sama bersekongkol tentang bagaimana mereka bisa mengencani semua heroine masing-masing secara sekaligus dalam satu hari. Dan ini termasuk para heroine minor macam Arima Miyako dan Illyasviel von Einzbern juga.

Lalu setiap episodenya akan selalu ditutup dengan sesi ‘Preview Episode Berikutnya yang Sesungguhnya,’ yang dibuat menyerupai Tiger Dojo yang muncul setiap kali kita mendapat game over di game Fate/stay night. Wali sekaligus guru sekolah Shirou, Fujimura Taiga, bersama Ilya masih menjadi pembawa acaranya, dan lumayan menarik melihat bagaimana mereka antusias sendiri karena sesi mereka dianimasikan. (Baru sekarang aku nyadar sesi ini enggak pernah muncul dalam adaptasi anime Fate/stay night yang utama.)

Hati Kita Akan Selalu Satu

Masuk ke soal teknis, yang kurasa brilian dari Carnival Phantasm adalah bagaimana meski durasi tiap episodenya lebih singkat dari durasi episode anime pada umumnya, tetap kerasa kayak ada begitu banyak hal ditampilkan. Memang tergantung sejauh apa kau akrab dengan Type-Moon sih. Tapi kalau kau jenis yang bisa menikmatinya, ada kepuasan aneh yang kau rasakan begitu tiap episodenya berakhir.

Di samping itu, kualitas visual dan audionya luar biasa konsisten. Animasi pembukanya, yang menampilkan para heroine dari kedua seri menari bersama para tokoh lainnya dalam menyambut ‘festival,’ lengkap dengan begitu banyak detil yang ditampilkan seiring dengan konfeti yang bertebaran di mana-mana, menjadi hal pertama dari seri ini yang benar-benar memukauku. Lalu gaya desain karakternya memang benar-benar manis.

Ada begitu banyak detil tersembunyi yang bisa kau sadari gitu, yang membuatnya masuk akal kenapa ini dibuat dengan format OVA.

Lalu dua hal enggak disangka yang membuatku menilai Kishi Seiji benar-benar melampaui perkiraan di anime ini, adalah bagaimana beliau berhasil memasukkan satu referensi terhadap seri komedi dewasa South Park di seri ini (dengan gimana Lancer secara konyol terus-terusan mati), serta sekaligus mendapat Endoh Masaki, salah satu personil JAM Project, untuk menyanyikan lagu “Fellows” yang menjadi lagu penutup seri ini.

Kesan akhirnya jadi benar-benar epic.

Akhir kata, ini seri yang khusus dibuat untuk para penggemar Type-Moon. Walau sempat tampil sebatas cameo, para karakter dari beberapa seri lain macam Kara no Kyoukai dan Fate/Zero masih belum masuk ke dalam cerita. (Walau Saber ‘merah’ dari Fate/Extra secara licik mendapat kesempatan tampil. Tentu saja untuk mempromosikan gamenya yang baru keluar di masa itu.) Tapi apa yang ditampilkan di sini sudah lebih dari cukup, dan ceritanya kurasa berakhir di titik yang tepat. (Apa? Fate/Apocrypha? …Segala urusan soal dimensi paralel dan linimasa ini emang bisa bikin pusing, tapi jangan nanya sesuatu yang bisa bikin aku ngegetok kepalamu, bung!)

Seri ini dibagi ke dalam tiga season, dengan satu season terdiri atas empat episode.

Lalu, yea, bahkan beberapa karakternya sendiripun agak mengeluhkan soal panjangnya durasi ‘festival’ ini. (Sudahlah. Soal ini beneran agak enggak jelas.)

Jadi, sekali lagi, ini khusus dibuat untuk penggemar Type-Moon. Jadi kalau kau bukan penggemar, mungkin kau enggak akan terlalu mengerti daya tariknya.

Yah, kurang lebih gitu. Jadi jangan memaksakan diri untuk menikmatinya. Apalagi ini kayak, kau jadi perlu agak mendalami soal cerita-ceritanya. Dan tema-tema yang diangkat dalam ceritanya agak… yah, ‘dewasa’ enggak selalu kata yang secara tepat menggambarkannya.

Aku juga masih belum paham kenapa. Tapi memang ada daya tarik tertentu dari karakter-karakter Type-Moon yang membuat mereka bisa fenomenal bagi para penggemarnya seperti ini. Seri ini memang layak jadi perayaan atas ulang tahun Type-Moon yang kesepuluh.

Dan kualitas teknisnya benar-benar tinggi.

Jadi, yeah, sayangnya ini tipe seri yang enggak akan begitu membuatmu bosan seandainya kau ingin menontonnya lagi.

Apa? Oh, enggak. Di paragraf di atas aku seriusan enggak salah nulis.

Penilaian (rasanya aku udah lama enggak melakukan ini)

Konsep: E; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

Tambahan

Oya. Buat kalian yang tak mengerti soal adegan telepon di penghujung episode terakhir, ‘Sajyou’ yang berbicara di telepon adalah Sajyou Ayaka, karakter utama dari Fate/Prototype. Adegan ini dimaksudkan sebagai teaser soal keluarnya trailer anime Fate/Prototpe, yang merupakan olahan lebih lanjut dari konsep novel paling orisinil dari Fate/stay night. Trailer ini disertakan pada bagian akhir Carnival Phantasm.

Bahkan sejauh ini kutulis sekarang, bertahun-tahun sesudah Carnival Phantasm berakhir, Fate/Prototype masih baru ada sebatas konsep, dan jadinya belum jadi cerita yang benar-benar ‘jadi.’ Tapi segmen anime bersangkutan (yang memang tergarap secara benar-benar keren oleh Lerche juga) merangkum garis besar cerita di novelnya, yang Nasu Kinoko-sensei dahulu buat saat masih sekolah tapi berakhir tak terselesaikan. Meski punya beberapa kesamaan dengan Fate/stay night, cerita ini pada dasarnya memang berkembang menjadi cerita yang lumayan berbeda.

Beberapa perbedaannya yang mencolok meliputi:

  • Saber yang berjenis kelamin laki-laki (walau identitasnya tetap sama sebagai sang raja Britannia yang legendaris).
  • Tokoh utama, Sajyou Ayaka, yang berjenis kelamin perempuan.
  • Berlatar di kota Tokyo (bukan Fuyuki), delapan tahun sesudah Perang Cawan Suci yang pertama, yang dikenal sebagai Heaven’s Feel, berakhir dengan bencana.
  • Ada semacam penetapan strata (Master Degree) bagi para Master, yang dinamai sesuai hierarki malaikat Nasrani (Princes, Powers, Virtues, Dominions, Thrones, Cherubim, Seraphim). Command Seal juga bisa tertera di sekitar badan, dan tak selalu di sekitar tangan.
  • Hadirnya kelas Servant Beast, yang agak mirip dengan konsep Avenger di seri yang utama.
  • Karakter-karakter Master yang berbeda sama sekali, dan belum terungkap semua.
  • Beberapa perbedaan minor, tapi mencolok, terkait karakter-karakter Servant yang ada.

Ceritanya secara garis besar mengetengahkan Sajyou Ayaka, seorang siswi SMA dari keluarga penyihir yang hidup sebatang kara sesudah kematian ayah dan kakak perempuannya dalam Perang Cawan Suci delapan tahun silam. Kejadian tersebut membuatnya traumatis dan insecure. Terutama menyangkut perbedaan kemampuan Ayaka bila dibandingkan terhadap Sajyou Manaka, mendiang kakaknya yang dikenal sebagai magus yang jenius, dan bagaimana dirinya merasa takkan mungkin bisa menyelesaikan apa yang ayah dan kakaknya dulu gagal selesaikan.

Ayaka tak mau terlibat dalam Perang Cawan Suci baru yang kini akan dimulai lagi. Namun saat dirinya terpilih sebagai Master terakhir, Ayaka, seperti halnya Shirou, diburu oleh Lancer dan berhasil memanggil Saber saat benar-benar nyaris terbunuh.

Di samping punya afinitas dengan burung gagak serta tumbuhan, sihir khas Ayaka lebih berkaitan dengan ritual proses pengambilan energi dari alam ketimbang dari dalam diri. Jadi berbeda dengan Shirou, Ayaka memang memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang sihir, walaupun dirinya tak bisa dibilang hebat juga.

Beberapa karakter Master lain yang sudah diperkenalkan meliputi:

  • Reiroukan Misaya; prototipe dari Tohsaka Rin. Sama-sama cantik dan memikat, tapi bersifat lebih kejam dan perhitungan. Master dari Lancer. Sama seperti Ayaka, dirinya pun kehilangan ayahnya dalam Perang Cawan Suci sebelumnya. Spesialisasinya adalah sihir rune.
  • Isemi; seorang remaja yang semenjak anak-anak menjadi salah satu kandidat Master dalam Perang Cawan Suci pertama. Tubuhnya dimodifikasi dalam suatu percobaan yang menggabungkan ilmu medis dan sihir, oleh sekelompok magi yang selamat dalam Perang Cawan Suci sebelumnya. Master dari Rider. Sekalipun sekarat, dengan hampir seluruh organ tubuhnya bersifat buatan, dirinya tetap mengharapkan kebaikan bagi umat manusia.
  • Sancraid Pahn; prototipe Kotomine Kirei. Pendeta yang semula terlihat sangat baik hati, namun kenyataannya dirinya seorang psikopat kejam. Master dari Berserker, dan dirinya yang kelak mencuri Saber dari kuasa Ayaka.

Selebihnya, desain Lancer agak berbeda, dengan desain lebih menyerupai seorang pemburu. Ada konsep ‘pangeran’ yang seakan diwakili oleh perwujudan sosok Saber, yang Ayaka pandang telah datang menolongnya dan menyingkirkan ketidakbahagiaannya. Archer di sini sekali lagi adalah Gilgamesh, dengan sifat agak berbeda, yang jatuh cinta pada Ayaka, dan karenanya memandang Saber sebagai saingan terberatnya. Rider di sini adalah Perseus, dan bukan Medusa, dan pada suatu titik mulai bergerak sendiri. Lalu misteri masa lalu terbesar tentang apa sebenarnya yang terjadi di Perang terdahulu, dengan pengungkapan bahwa Manaka, sebagai prototipe dari Ilya, ternyata menjadi Master dari Saber delapan tahun sebelumnya…

Untuk para Servant lainnya, walau mungkin belum pasti, kurasa sama dengan yang di Fate/stay night?

Yah, karena memang benar-benar menarik (meski suram), mudah-mudahan suatu saat nanti karya ini bisa sepenuhnya terwujud, dan tak hanya sebatas konsep.

25/09/2013

Fate/Zero

Sebenarnya, belum lama ini, aku ngeberesin paruh kedua adaptasi anime Fate/Zero.

Kayak yang mungkin kebanyakan orang sudah tahu, seri ini adalah prekuel seri Fate/stay night, game visual novel legendaris yang dulu dikembangkan TYPE-MOON. Anime ini diadaptasi dari seri novel berjudul sama buah karya penulis Urobuchi Gen, yang dibikin di bawah pengawasan pencipta asli seri ini, Nasu Kinoko.  Desain karakter orisinilnya dibuat oleh Takeuchi Takashi. Lalu versi animenya dibuat oleh studio Ufotable, yang sebelumnya juga menarik perhatian sesudah mereka membuat versi anime dari seri novel Kara no Kyoukai yang juga dibuat Nasu-sensei.

Anime ini pertama mengudara pada bulan Oktober tahun 2011 dan berjumlah total 24 episode. Ada jeda waktu satu season antara episode 13 dan 14 (yang konon diambil untuk memperbaiki kualitas animasi), dengan paruh keduanya mulai mengudara pada bulan April sampai pertengahan Juni 2012.

Musiknya, tentu saja, ditangani oleh Kajiura Yuki (Grup paduan suara Kalafina terlibat kembali dalam proyek ini). Sutradaranya Aoki Ei, dan naskahnya dikerjakan bersama oleh Yoshida Akihiro, Hiyama Akira, Sato Kazuharu, dan Miyajima Takumi. (Apa mereka orang-orang TYPE-MOON ya?)

Return to Zero

Aku sebenarnya pernah membahas soal versi novelnya. Jadi daripada soal cerita, aku akan langsung ke lain-lainnya saja.

Versi anime Fate/Zero berkesan bukan cuma karena aspek presentasinya yang kuat, tapi juga karena hasil adaptasinya memang termasuk salah satu adaptasi dari novel ke anime paling bagus yang aku tahu.

Visualnya yang keren banyak mengingatkan akan ketajaman warna dan efek yang banyak digunakan dalam versi anime Kara no Kyoukai. Nuansanya memang sedikit berbeda. Bila Rakyou menampilkan kesan urban penuh bangunan yang agak mistis dan suram, Fate/Zero dengan caranya tersendiri memberi kesan ‘tegang’ dan ‘berat’ yang lumayan sesuai dengan tema perjuangan dan pengharapan yang seri ini usung. Kedua seri sama-sama berlatar di dekade tahun 90an (saat Bill Clinton masih berkuasa sebagai presiden Amerika). Tapi ada lebih banyak permainan sihir di Fate/Zero, dan karena itu kesan fantastisnya lebih terasa.

Latar dunianya di kota Fuyuki nampaknya telah terdesain dengan apik. Ada nuansa coklat kekuningan yang banyak mengingatkan orang akan senja. Kita bahkan sampai bisa kayak ngebayangin semacam peta di kepala tentang bentuknya yang terpisahkan oleh sungai menjadi dua distrik Miyama dan Shinto, yang masing-masing darinya merupakan akulturasi dari budaya tradisional dan budaya Barat yang lebih modern.

Aspek audionya keren, dan berperan jauh lebih penting dari yang selintas kukira.

Paruh pertama seri ini menampilkan semacam ensemble cast, di mana masing-masing pasangan Servant dan Master sama-sama memiliki peranan dan kepentingan mereka sendiri-sendiri.  Pada paruh kedua, baru ceritanya berpusar pada pribadi Emiya Kiritsugu beserta orang-orang di sekitarnya. Lalu hal ini kayak tercermin gitu dari lagu-lagu yang dipilih sebagai pembuka dan penutup.

Para Servant dan Master yang jumlahnya banyak kayak mendapat porsi perkenalan mereka satu per satu di animasi-animasi penutup dan pembuka. Lalu baru sesudah memasuki paruh kedua, nuansa perjuangan dan pengharapan yang kusebutkan tadi terangkat dengan frame-frame animasi yang banyak menampilkan masa lalu Kiritsugu serta awal mula kedekatannya ia dengan istrinya, Irisviel von Einzbern.

Hasil akhirnya beneran keren. Lagu ‘Sora wa Takaku, Kaze wa Utau’ yang dinyanyikan Haruna Luna kerasa kayak nonjok aku di perut karena seakan membalut segala sesuatu yang hendak disampaikan di seri ini.

Ditambah lagi, semua pengisi suaranya emang berperan secara keren. Mereka-mereka yang sebelumnya mengisi suara dalam adaptasi anime Fate/stay night kembali memainkan peran masa lalu karakter-karakter mereka di seri ini. Koyama Rikiya yang berperan minor sebagai Kiritsugu di Fate/stay night tampil menonjol sebagai Kiritsugu sang karakter utama di Fate/Zero. Demikian pula Nakata Joji sebagai Kotomine Kirei. Perlu kutambahkan lagi, baik Kiritsugu maupun Kirei di Fate/Zero sama-sama merupakan karakter agak berbeda dibandingkan saat mereka tampil di Fate/stay night. Kiritsugu masih seorang pembunuh berdarah dingin dan belum jadi sosok ayah angkat ramah seperti di pembukaan Fate/stay night, sedangkan Kirei adalah seseorang yang pada awalnya semata-mata hanya sekedar merasa ‘kosong’. Tapi kedua peranan tersebut dan perkembangan karakter yang kemudian keduanya alami sama-sama berhasil dibawakan dengan begitu pas.

Singkat kata, dari segi presentasi, seri ini benar-benar keren (aku engga tau udah berapa kali aku ngulang kata ini) dan hampir-hampir enggak ada cacatnya. Semua desain karakter Takeuchi-sensei berhasil dihidupkan secara baik dan semua adegan pertarungan dan aksinya juga tertata secara apik.

Maka dari sana, berhubung aku sudah namatin seri ini dan kini memahami perasaan orang-orang lain yang juga menamatkannya, ada baiknya aku ngebahas sejumlah hal tersisa yang mungkin bagi beberapa orang masih agak bikin penasaran.

Untuk Dunia di Mana Tak Ada yang Menangis

Sebenarnya, mungkin karena masalah budaya juga. Tapi ngedalamin dunia imajiner yang dibikin oleh Nasu-sensei ini sebenarnya enggak selalu bisa dibilang nyaman.

Tapi berikut tetap kudaftarkan sejumlah hal tertentu yang mungkin patut dicatat sesudah melihat versi anime Fate/Zero. Di dalamnya ada beberapa trivia seputar lore-nya, sebatas yang sejauh aku tahu dari bertahun-tahun mengikuti perkembangan waralabanya semenjak pertama melihat Shingetsutan Tsukihime. (Tentu aja, di dalamnya ada spoiler-spoiler bagi kalian yang belum pernah menontonnya.)  

  • Versi novel Fate/Zero menampilkan darah dan kekerasan lebih banyak ketimbang versi animenya. Adegan-adegan aksinya di novel juga dijabarkan dengan lebih ekstensif dan terinci.
  • Dalam versi novel, upaya Tohsaka Rin untuk menyelamatkan Kotone tak membuahkan hasil.
  • Pria tak dikenal yang Kiritsugu interogasi di kediaman Matou menjelang akhir cerita adalah Matou Byakuya, kakak kandung Matou Kariya (yang menjadi Master dari Berserker), serta ayah kandung Matou Shinji yang memiliki bakat sihir lebih rendah dari Kariya. Dialah yang berperan sebagai kepala keluarga Matou di depan umum. Pada titik ini, Shinji dikisahkan sedang menjalani studi ke luar, sedangkan nasib istri Byakuya lebih baik tak kusebutkan.
  • Kali-kali bagi beberapa orang masih belum jelas, Irisviel adalah ‘manusia buatan’ yang merupakan prototipe homunculus buatan keluarga Einzbern. Sekalipun dirinya tak terbunuh, bila sudah ada lima Servant tewas, kesadaran Irisviel tetap akan sirna, dan jasadnya akan mewujud menjadi bentuk fisik Cawan Suci. Anaknya bersama Kiritsugu, Ilyasviel, telah ditakdirkan menjalani nasib yang sama, sebagaimana yang kemudian terjadi dalam Fate/stay night.
  • Sosok Irisviel yang berdialog dengan Kiritsugu pada klimaks cerita adalah perwujudan dari Angra Mainyu, personifikasi dari ‘segala kejahatan di dunia’ yang telah mengkorup Cawan Suci dalam Perang Cawan Suci yang ketiga. Lebih lanjut tentangnya pertama dibahas dalam game sekuel Fate/hollow ataraxia. Tapi sedikit rinciannya akan aku singgung lagi di bawah.
  • Salah satu Noble Phantasm dari Servant Berserker milik Matou Kariya berupa kabut hitam yang membuat statistiknya sebagai Servant tak terbaca oleh para Master lain. Dalam cerita, digambarkan dengan bayaran satu Command Seal, Berserker dapat menggunakan kabut ini untuk mengubah sosoknya menjadi orang lain. Tapi kemampuan ini sebenarnya adalah bawaan miliknya sendiri; dan seandainya Lancelot dipanggil dalam kelas Servant lain selain Berserker, dirinya akan bebas mengubah wujudnya menjadi seperti siapapun yang ia mau. Kabut ini, bersama kemampuan Berserker untuk mengubah segala macam benda menjadi senjata sekelas Noble Phantasm, dengan sendirinya sirna saat ia menggunakan Noble Phantasm terakhirnya (yang berupa pedang Arondight) dalam duel terakhirnya melawan Saber.
  • Kutukan Lancer terhadap Cawan Suci sesaat sebelum dirinya terbunuh secara menyeramkan memang menjadi nyata. Namun alasan korupnya Cawan Suci sebenarnya berhubungan dengan sejarah masa lalu ritual ini sendiri. Lebih lanjut soal ini akan kusinggung di bawah.
  • Servant Assassin yang dimiliki Kirei terkesan terdiri atas banyak orang karena identitas Hassan il Sabbah yang dimiliki Asssassin pada Perang Cawan Suci ketiga ini dipegang oleh seseorang yang upayanya menyamarkan identitas dirinya berujung pada suatu kasus kepribadian berganda.
  • Meski disebutkan dapat mengabulkan permohonan apapun, tujuan sesungguhnya ritual Perang Cawan Suci, atau yang juga dikenal sebagai Heaven’s Feel, diprakarsai oleh tiga keluarga besar Einzbern, Tohsaka, dan Makiri; adalah untuk membuka jalan menuju Akasha. Akasha juga dikenal sebagai ‘awal mula segala hal’ dan menjadi tujuan akhir setiap penyihir (seperti di Kara no Kyoukai). Lalu motivasi utama pihak Einzbern untuk menjangkau Akasha sesungguhnya adalah demi memperoleh kembali Sihir Ketiga (‘materialisasi dari roh’, salah satu dari beberapa jenis sihir yang dipandang adalah sihir ‘sesungguhnya’) yang telah hilang dari mereka.
  • Cara kerja Cawan Suci kira-kira begini: para roh pahlawan legendaris dipanggil ke dunia dari Tahta Pahlawan (‘Throne of Heroes’) untuk menjadi Servant. Tahta Pahlawan merupakan semacam dimensi utopia yang tak mengenal konsep waktu, yang menjadi tempat para Pahlawan dalam berbagai legenda berpulang sesudah kematian mereka.  Sesudah mereka terpanggil kembali ke dunia sebagai Servant, mereka memperoleh pengetahuan mendasar tentang zaman dan peradaban terkini secara alami, dan akan saling bertempur dalam Perang Cawan Suci. Bila ada Servant gugur, roh mereka alaminya akan kembali ke Tahta Pahlawan; tapi artefak Cawan Suci yang tengah dibentuk ini akan ‘menampung’ roh-roh ini terlebih dahulu. Energi yang terkumpul bersama proses kembalinya mereka tersebutlah yang akan digunakan sebagai media untuk mengabulkan permohonan.
  • Artefak Cawan Suci, meski belum mewujud secara fisik, sebenarnya sudah bisa mengabulkan permohonan bila ada lima Servant yang telah gugur (Ini alasan mengapa Kiritsugu dikontak olehnya di tengah-tengah duelnya dengan Kirei). Namun untuk membuka jalan ke Akasha, energi tujuh Servant akan tetap diperlukan. Sehingga dengan kata lain, sasaran sesungguhnya bukan soal menjadi pasangan Servant-Master yang bertahan hidup hingga akhir; melainkan untuk membantai tujuh orang Servant agar energi yang terkumpul sesudah mereka tewas bisa digunakan untuk membuka jalan ke Akasha. (Ini juga alasan mengapa Archer (Gilgamesh) menyepakati usulan Kirei untuk mengkhianati Tohsaka Tokiomi.)
  • Seri Fate/Zero menegaskan bahwa dari sudut pandang tertentu, Emiya Shirou (karakter utama di Fate/stay night) dan Ilyasviel ternyata memang adalah kakak beradik.
  • Dalam Fate/stay night, sesudah menjadi Servant dari Shirou, Saber berkata kalau dirinya tak terlalu mengenal Emiya Kiritsugu secara pribadi, dan berbicara dengannya bahkan hanya sebatas tiga kali. Urobuchi-sensei menyiasati hal ini dengan membuat karakter Irisviel sebagai perantara komunikasi antara Kiritsugu dan Saber.
  • Dalam Fate/stay night, Saber tak mengenali siapa Ilya karena sepanjang hubungannya dengan Iri, Iri tak pernah sekalipun menyebut siapa nama anaknya ataupun memperlihatkan fotonya. Saber menyangka Ilya sebagai homunculus lain buatan keluarga Einzbern yang tak ada sangkut pautnya dengan Kiritsugu dan Iri.
  • Masih soal Saber, di Fate/stay night dijelaskan kalau Saber sebenarnya Servant ‘tak sempurna’ karena sudah dipandang sebagai figur pahlawan legendaris bahkan sebelum dirinya meninggal. Itu alasan kenapa di akhir cerita, dirinya bukannya kembali ke Tahta Pahlawan, melainkan kembali ke Camlann di mana pasukannya berhadapan dengan pasukan Mordred, sebelum ia terpanggil lagi sebagai Servant dalam kelanjutan cerita di Fate/stay night.
  • Adegan terbunuhnya Tokiomi sebenarnya merupakan salah satu adegan paling ironis di sepanjang seri, karena ada perkembangan cerita serupa dengannya dalam salah satu rute cerita di Fate/stay night.
  • Lebih banyak tentang kaum Dead Apostle dan para vampir lainnya, yang diteliti ayah Kiritsugu, dibahas lebih jauh dalam seri Tsukihime dan Melty Blood.
  • Sejarah ritual Perang Cawan Suci dimulai dari tahun 1800an, dengan tiga pihak di atas sebagai pemrakarsa. Einzbern menyediakan ‘wadah’ untuk Cawan, Tohsaka menyediakan tanah Fuyuki sebagai prasarana yang menyalurkan jalur-jalur sihir bumi secara alami, dan Makiri (yang kemudian berganti nama menjadi Matou) yang menyediakan sistem pemanggilan Servant dan Command Seal. Tapi format ritual tersebut berubah sesudah didapati bahwa yang dapat mengambil manfaat Cawan Suci hanya satu pihak. Akibat perbedaan keyakinan antar mereka soal metode untuk mencapai Akasha, persekutuan antara ketiga keluarga di atas terpecah; walau mereka tetap sepakat soal sistem yang akan digunakan dan mereka baru akan saling bersaing sesudah Cawan Suci mulai dipanggil. Pihak-pihak luar juga jadi harus dilibatkan sehubungan dengan jumlah Servant yang harus dipanggil sebanyak tujuh; keyakinan bahwa Cawan Suci sanggup mengabulkan permohonan apapun mulai menyebar.
  • Diperlukan waktu sampai jalur-jalur energi bumi mengumpulkan energi yang diperlukan untuk pembentukan/pemanggilan Cawan Suci. Makanya ada interval-interval waktu dalam jarak tak tentu antar satu Perang Cawan Suci dengan yang lainnya.
  • Karena sistemnya baru terbangun, Perang Cawan Suci pertama di awal 1800an menjadi lebih seperti pertengkaran dibandingkan perseteruan. Pihak-pihak luar yang diundang untuk terlibat malah berupaya memanfaatkan upacara pemanggilan ini untuk kepentingan mereka pribadi. Perang ini konon berakhir sebelum Cawan Suci sempat terbentuk. Lokasi pemanggilan Cawan Suci di Kuil Ryuudou di Gunung Enzou.
  • Perang Cawan Suci kedua di tahun 1860an berujung menjadi ajang saling bunuh secara terbuka; dan semua peserta pada akhirnya terbunuh tanpa ada yang tersisa. Sebagai tanggapan atas hasil ini, tiga keluarga besar mengajukan keterlibatan pihak Gereja (yang umumnya berseberangan dengan para penyihir) sebagai pihak yang akan menjadi ‘wasit.’ Lokasi pemanggilan Cawan kali ini adalah kediaman keluarga Tohsaka.
  • Perang Cawan Suci ketiga berlangsung di tahun 1930an, menjelang Perang Dunia II. Pihak Nazi dan Kekaisaran Jepang konon turut terlibat dalam konfliknya. Sebagai reaksi atas kekalahan mereka yang beruntun, pihak Einzbern melakukan kecurangan pada sistem pemanggilan, dalam upaya memanggil sosok dewa Zoroaster Angra Mainyu yang menempati kelas baru, Avenger, yang menggantikan kelas Berserker. Tapi Avenger ternyata Servant yang lemah, dan dengan segera tersingkir dalam persaingan. Sifat Avenger yang mewakili segala bentuk kejahatan ini yang kemudian ‘menodai’ Cawan Suci, membuatnya hanya bisa mengabulkan permohonan melalui kematian dan penghancuran, dan memungkinkan dipanggilnya Servant-Servant lain yang ‘ambigu’ kepahlawanannya dalam babak-babak Perang Cawan Suci selanjutnya, seperti Caster (Gilles De Rais) dan Assassin (Hassan i-Sabbah).
  • Dalam Perang Cawan Suci ketiga, sebagaimana disinggung dalam Fate/hollow ataraxia, ada dua peserta bersaudara dari keluarga penyihir Edelfelt yang karena kekhasan sihir mereka, sama-sama memanggil Servant dari kelas Saber. Keduanya dikalahkan oleh peserta dari pihak Tohsaka, dengan satu tewas(?) dan satu lagi disumpahi untuk tak menginjak Jepang lagi. Konon, ini awal mula permusuhan antara keluarga Tohsaka dan keluarga Edelfelt (walau awal permusuhan antara Rin dan Luvia di Fate/Kaleid Liner Prisma Ilya kelihatannya agak beda…).
  • Terlepas dari besarnya konflik yang terjadi, Perang Cawan Suci ketiga kembali berakhir dengan sia-sia akibat hancurnya Cawan Suci di tengah-tengah pertempuran. Sebagai tanggapan atas ini, pihak Einzbern merasa perlunya ada naluri pertahanan diri yang diberikan pada wadah, yang berujung pada penciptaan para homunculus ‘berkepribadian’ seperti Irisviel. Lokasi pemanggilan kali ini adalah di suatu tempat di Fuyuki yang kemudian berkembang menjadi distrik Shinto.
  • Lebih banyak tentang Avenger, Angra Mainyu, dan dendamnya terhadap dunia dipaparkan dalam Fate/hollow ataraxia. Fate/Zero sebenarnya dibuat pada waktu yang kurang lebih sama dengan saat Fate/hollow ataraxia tengah dikerjakan. Sehingga keberhasilan Urobuchi-sensei memaparkan sifat Angra Mainyu pada klimaks Fate/Zero diakui orang-orang TYPE-MOON sebagai kebetulan yang ajaib, karena hal tersebut malah belum terungkap selama pembuatan Fate/hollow ataraxia.
  • Sesudah ternoda oleh Angra Mainyu, Cawan Suci selalu berupaya untuk bisa ‘lahir’ dan sekaligus membawa kehancuran atas dunia. Hal ini kelihatannya berhubungan dengan bagaimana di penghujung cerita ia menjadikan Kirei dan Archer ‘abadi’ sebagai bidaknya.
  • Untuk mengantisipasi kemungkinan sangat kecil seandainya ketujuh Servant tak saling bertarung, tapi malah bersekutu dengan satu sama lain, sebenarnya ada suatu sistem cadangan yang memungkinkan pemanggilan tujuh orang Servant tambahan dengan menguras habis pasokan energi di tanah bersangkutan. Kasus ini yang kemudian disorot dalam cerita seri novel Fate/Apocrypha, dengan total jumlah Servant-Master sebanyak 14 pasangan.
  • Meski berseberangan dengan gurunya selama masa Perang Cawan Suci, Kayneth Archibald El Melloi (Master dari Lancer), Waver Velvet (Master dari Rider) dianggap menjaga nama besar keluarga penyihir El Melloi karena berhasil bertahan hidup, sehingga ia kemudian dinobatkan dengan gelar Lord El Melloi II. Berlakangan dirinya menjadi salah satu guru Tohsaka Rin di Mage’s Association.
  • Dengan rute Heaven’s Feel sebagai pengecualian, sepuluh tahun sesudah kemenangan Shirou di akhir Fate/stay night, Lord El Melloi II bersama Rin kembali ke Fuyuki untuk menghancurkan formasi Cawan Suci Besar di Gunung Enzou yang menjadi fondasi penciptaan Cawan Suci. Meski mendapat pertentangan dari sejumlah penyihir Mage’s Association lain, mereka berhasil menuntaskan misi mereka, dan dengan demikian sekaligus mewujudkan pengharapan terakhir Kiritsugu sebelum ia meninggal untuk mencegah Perang Cawan Suci berlangsung kembali.

Yasashii Uta

Buat yang ngikutin novelnya tapi enggak ngikutin animenya sama sekali, cerita di animenya terputus saat tokoh Caster dan Uryuu Ryunosuke menciptakan makhluk raksasa dari dasar sungai. Memang terasa banget gimana paruh awal cerita masih merupakan semacam pendahuluan (meski tetap seru sih); dengan kebanyakan intisari cerita adanya di paruh kedua. (Ditambah adanya sejumlah masalah pacing lain…)

Di samping soal eksekusinya sendiri, yang paling memikat dari Fate/Zero buatku adalah bagaimana Kiritsugu melampaui segala bayangan buruk yang mungkin akan menimpanya dan melakukan apa yang harus dia lakukan. Dia memang membayar mahal atas semua tindakannya. Tapi di penghujung cerita, dia tetap dengan segala cara kayak berusaha melakukan semacam penebusan, dan buatku, seriusan, itu sesuatu yang bener-bener keren.

Itu bukan sesuatu yang bisa dengan gampangnya kulakukan sendiri, seenggaknya.

Fate/Zero di ujung-ujungnya akhirnya malah jadi sesuatu yang kebagusannya melampaui Fate/stay night. Maka dari itu, kebanyakan orang menyarankan untuk mengikuti Fate/stay night dulu sebelum mengikuti Fate/Zero. Di samping itu, mengingat sifat cerita Fate/stay night sebagai game yang terbagi atas tiga rute, memang agak susah memperbincangkan soal makna kesudahan cerita Fate/Zero. Tak ada rute yang mencakup elemen-elemen ceritanya secara menyeluruh sih.

Tapi belakangan beredar ada kabar kalau panitia pembuat anime ini mempertimbangkan dibuatnya suatu proyek animasi Fate/stay night yang baru. Mungkin mereka mempertimbangkan dampak dari kesuksesan Fate/Zero. Jadi aku enggak bisa enggak membayangkan kalau kita mungkin saja akan mendapatkan suatu cerita Fate/stay night yang orisinil dan sama sekali baru.

Yah, moga-moga aja itu terwujud.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: A-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A+

(Sumber kebanyakan dari TYPE-MOON Wikia)

05/04/2012

Fate/stay-night (bag. awal)

Mungkin sebaiknya aku membahas soal ini.

Fate/stay-night merupakan game bergenre visual novel yang dibuat oleh pengembang Type-Moon. Keluarnya sudah lumayan lama, dengan versi paling pertamanya keluar di awal tahun 2004. VN ini termasuk salah satu yang paling diantisipasi pada masanya, yang kemudian benar-benar ‘meledak’, karena menjadi keluaran pertama pengembang bersangkutan sesudah berdiri secara resmi sebagai perusahaan–bukan lagi sebagai pengembang doujin (independen)–sesudah ketenaran karya mereka yang mendahuluinya, Tsukihime.

Aku sejujurnya agak malas membahas ini. Pertama, karena beragam info tentang FSN benar-benar sudah banyak tersebar di Internet. Kedua, karena aku sudah tak lagi berada dalam usia di mana aku bisa sepenuhnya menghargai ceritanya. FSN benar-benar dibuat sebagai game, karenanya–mirip seperti Tsukihime, tapi dengan dosis agak lebih parah–ada beberapa aspek ceritanya yang sepertinya dengan sengaja dibuat sakit. Karena itu di usia segini aku merasa malas dan merasa lebih baik aku menulis tentang hal lain. Tapi akhirnya kuputuskan kalau mungkin tetap sebaiknya aku membeberkan pandanganku sendiri tentangnya, sekalian mengklarifikasi beberapa hal yang mungkin bisa dipandang ‘aneh.’

Aku sendiri pertama kali tahu tentang FSN saat sedang senang-senangnya menggali segala sesuatu tentang Tsukihime, Type-Moon dan penulis utamanya, Nasu Kinoko. Pada mulanya aku kurang tertarik, karena premis ceritanya yang rumit dan jumlah percabangan utamanya yang hanya tiga. Tapi besarnya skala cerita serta tema kepahlawanan di dalamnya membuatku tertarik juga. Seperti halnya pada Tsukihime, Nasu memasukkan gaya narasinya yang khas pada FSN dengan dihiasi oleh ilustrasi karakter yang simpel namun mencolok hasil rancangan partnernya, Takeuchi Takahashi.

Buat yang belum tahu, FSN adalah tipikal game ‘klik-klik’ di mana kita disuguhi ilustrasi gambar bersama cerita, dan sesekali diberi sejumlah pilihan tentang apa selanjutnya yang baiknya dilakukan oleh tokoh utama. Sebagai visual novel, seperti halnya Tsukihime dulu, FSN menggunakan KiriKiri sebagai engine, dengan ilustrasi dan tulisan seakan menyatu dan saling menimpa pada satu layar. Seakan sudah menjadi khas-nya Type-Moon, pilihan-pilihan yang diberikan ini ada banyak.

Meski rute cerita utama yang bisa kita ambil hanya ada tiga, ada banyak sekali peluang untuk mati tiba-tiba hanya karena salah pilih. Menyebalkannya (dan asyiknya), terkadang dampak dari suatu pilihan buruk baru kita ketahui jauuuh sesudah pilihan tersebut kita ambil. Akan ada gambar-gambar ilustrasi pengiring event yang nantinya dapat kita unlock seiring permainan. Lalu mengingat porsi adegan pertempuran lumayan banyak di game ini, FSN juga memiliki semacam menu database berisi segala informasi terkait mengenai karakter yang sudah kita ketahui dalam cerita–yang dapat kita jadikan semacam referensi sekaligus bahan pertimbangan sebelum mengambil pilihan jalan cerita (meski pada kenyataannya memang tak terlalu membantu sih).

Oh ya, dan seperti banyak game sejenisnya, ada konten pornografi di dalam versi paling awal FSN. Ceritanya juga agak berat, dan mungkin malah ofensif pada beberapa bagian. Singkatnya, ini sama sekali bukan jenis cerita yang cocok bagi yang mereka belum dewasa.

Disillusion

Rasanya aku pernah menjelaskan soal ini. Tapi kurasa tetap sebaiknya kujelaskan lagi, mengingat premisnya memang agak rumit.

FSN pada dasarnya berkisah tentang Perang Cawan Suci kelima di kota Fuyuki, salah satu kota modern di Jepang di mana pengaruh Barat dan budaya asli Jepang memberi pengaruh secara seimbang. Perang Cawan Suci (Holy Grail War, Seihai no Sensou) pada dasarnya merupakan suatu perserteruan rahasia antara tujuh orang penyihir (magus) terpilih (disebut Master), bersama tujuh orang roh pahlawan yang dipanggil ke masa tersebut sebagai ‘pelayan’ mereka (disebut Servant), yang menjadi bagian dari ritual untuk menciptakan sekaligus memperebutkan artefak sihir Cawan Suci.

Cawan Suci ini merupakan artefak legendaris berkekuatan sihir dahsyat yang diyakini dapat mengabulkan permohonan apapun. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapatkan hak untuk mendapatkan terkabulnya permohonan mereka melalui artefak ini. (FYI, Cawan Suci ini berbeda dari yang digunakan Kristus, dan hanya memiliki kesamaan nama semata.)

Masing-masing Master akan dipilih secara langsung oleh Cawan Suci yang belum sempurna–terpilihnya seseorang ditandai dengan hadirnya semacam tato ajaib yang disebut Command Seal (reiju), yang berjumlah tiga buah, pada salah satu lengan mereka. Para Master kemudian akan memanggil salah seorang roh pahlawan legendaris dari berbagai mitologi dan sejarah di seluruh dunia untuk menjadi familiar mereka dalam Perang Cawan Suci tersebut.

Para Servant yang dapat muncul pada suatu waktu terbagi ke dalam tujuh kelas, sesuai dengan spesialisasi keahlian mereka.

  • Saber, salah satu dari kelas ksatria, spesialis pengguna pedang. Dipandang sebagai kelas yang memiliki parameter paling seimbang, dan karenanya dipandang sebagai kelas Servant terkuat.
  • Lancer, salah satu dari kelas ksatria, spesialis pengguna tombak. Memiliki fokus ke kelincahan.
  • Archer, spesialis pertempuran jarak jauh. Memiliki kemampuan khusus untuk bersikap independen tanpa bergantung pada keberadaan Master-nya.
  • Rider, spesialis pengguna ‘tunggangan’. Memiliki potensi daya hancur paling besar.
  • Caster, spesialis pengguna sihir. Memiliki kemampuan untuk tak bergantung pada suplai kekuatan sihir dari Master-nya.
  • Berserker, Servant yang menukar kewarasannya dengan kegilaan dan kekuatan besar. Diyakini sulit untuk dikendalikan.
  • Assassin, spesialis kerahasiaan dan pergerakan sembunyi-sembunyi, serta serangan mendadak.

Setiap Master mengandalkan Servant mereka untuk memburu para Master yang lain. Para Servant yang bersifat astral hanya dapat mewujud di dunia berkat suplai konstan kekuatan sihir dari Master-nya.

Mengingat informasi tentang seorang Servant dapat berperan vital untuk mengalahkannya, setiap roh pahlawan yang dipanggil sebagai Servant kemudian menanggalkan nama asli mereka, dan dipanggil hanya berdasarkan kelas yang mereka sandang. (Roh pahlawan yang terpanggil sebagai Saber, sehari-harinya dipanggil oleh Master-nya dengan sebutan ‘Saber’, misalnya.)

Setiap Master terhubung dengan Servant-nya melalui ketiga buah Command Seal, yang masing-masing darinya dapat digunakan seorang Master untuk memberikan suatu perintah absolut pada Servant-nya, yang pasti akan dipatuhi, sekalipun sang Servant tak menyetujui, atau biasanya tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Apabila Command Seal seorang Master habis digunakan, maka penyihir tersebut akan kehilangan haknya sebagai Master, kecuali jika ia mendapatkan Command Seal lagi. Seorang Master yang telah kehilangan Servant-nya (karena tewas atau alasan lain), apabila masih memiliki Command Seal, dapat menjalin hubungan dengan Servant lain apabila Servant tersebut juga sudah tak memiliki Master.

Pihak Gereja, yang dalam dunia Nasu, meski berseberangan, tidak memiliki kepentingan terhadap Mage’s Association yang mewadahi para penyihir di seluruh dunia, bertindak sebagai ‘wasit’ dalam perang ini. Merekalah yang mendata para Master terpilih dan mengawasi jalannya setiap pertarungan, agar tetap berada dalam kerahasiaan, tanpa diketahui oleh masyarakat secara umum.

Welcome to the night…

Sesudah prolog yang menjelaskan latar Perang Cawan Suci dan hari-hari pertama Perang Cawan Suci dari sudut pandang Tohsaka Rin, salah satu heroine yang rutenya dapat kita pilih, kita diperkenalkan pada sang tokoh utama, remaja SMA bernama Emiya Shirou.

Shirou, yang sederhana dan gemar menolong (sampai ke tingkat di mana ia tak terlalu keberatan bila orang-orang di sekelilingnya sengaja memanfaatkannya), adalah seorang remaja yatim piatu yang belum lama ditinggal mati ayah angkat yang membesarkannya, Emiya Kiritsugu. Kiritsugu ceritanya menyelamatkan Shirou dari insiden kebakaran besar yang melanda Fuyuki sepeuluh tahun sebelumnya. Di insiden itu, Shirou kehilangan segalanya kecuali nyawanya. Dan sebagai perwujudan terima kasih karena telah diselamatkan itu, Shirou mewarisi idealisme ayah angkatnya untuk menjadi ‘pembela kebenaran’ yang menolong orang lain. Hal itu dilakukannya sebagai balas budi terhadap ratusan nyawa lain yang menurutnya gagal terselamatkan dengan ganti terselamatkannya dirinya.

Sepeninggal Kiritsugu, Shirou, yang sebenarnya sudah bisa hidup mandiri, sampai ia dewasa secara hukum kelak, kemudian hidup di bawah pengawasan kawan lama ayahnya yang sekaligus merupakan guru wali kelasnya di sekolah, Fujimura Taiga–seorang perempuan muda yang enerjik sekaligus ceroboh, yang keluarganya sebenarnya memiliki ikatan dengan keluarga Yakuza lokal. Terkadang, adik kelasnya di klub kyudo (panahan)–yang sempat Shirou ikuti sebelum sibuk kerja sambilan, Matou Sakura, dengan sukarela akan berkunjung untuk membantu Shirou mengurus urusan rumah.

FSN pada dasarnya mengisahkan keterlibatan tidak sengaja Shirou dalam Perang Cawan Suci seperti halnya ayah angkatnya dulu, yang sebenarnya adalah seorang Magus.

Shirou terlibat dalam konflik saat ia tanpa sengaja menyaksikan pertempuran antara Servant Lancer dan Servant Archer di lapangan olahraga sekolahnya, pada saat ia pulang terlambat di suatu hari di musim gugur. Lancer, yang menyadari kehadiran Shirou, kemudian memburunya dan membunuhnya sesuai aturan untuk tak membiarkan adanya saksi mata. Tohsaka Rin, seorang gadis cantik yang merupakan teman sekolah Shirou, yang ternyata adalah Master dari Archer, sesudah menyadari bahwa Shirou-lah saksi mata yang telah Lancer bunuh, menggunakan sisa kekuatan sihir yang telah lama dikumpulkannya untuk menutup luka-luka Shirou sebelum ia sepenuhnya mati.

Shirou yang terbangun sendirian dengan kebingungan kemudian kembali ke rumahnya. Tapi menyadari bahwa Shirou masih hidup, Lancer kemudian memburunya kembali dan pertarungan tak seimbang kembali terjadi antara keduanya. Pada saat Shirou–yang mempertahankan diri sebisanya dengan sedikit ilmu sihir yang pernah dipelajarinya dari Kiritsugu–terdesak sampai ke gudang, sebuah lingkaran sihir tanpa disadarinya perlahan-lahan menyala di sana. Lalu muncullah seorang gadis berzirah dan berambut pirang yang dengan pedang kemudian menyelamatkannya dari serangan Lancer. Saat itulah, gadis tersebut bertanya pada Shirou, apakah dirinya merupakan Master-nya, karena ia kemudian memperkenalkan diri sebagai Saber, Servant yang sama dengan yang dulu pernah Kiritsugu panggil sepuluh tahun sebelumnya.

Rin, yang terlambat menyadari apa yang terjadi, tiba di kediaman Shirou tak lama kemudian, dan ia sempat diserang oleh Saber yang mendeteksinya sebagai Master lain. Menghargai keadaan Shirou yang tak mengetahui apa-apa, dan mempertimbangkan keadaan Archer yang terluka karena melindungi dirinya, Rin, yang ternyata mewarisi garis keturunan keluarga penyihir, menawarkan gencatan senjata sementara kepada Shirou. Dengan pengawalan Saber, Rin menyuruh Shirou mendatangi Gereja Fuyuki dan memperkenalkannya kepada Kotomine Kirei, wakil gereja yang menjadi pengawas Perang Cawan Suci kali ini. Dari sana, Shirou kemudian mengetahui secara lengkap segala sesuatu yang terjadi. Tentang Perang Cawan Suci, tentang kasus-kasus kejahatan aneh yang belakangan melanda kota, tentang bagaimana kebakaran besar Fuyuki dahulu secara tak langsung diakibat karenanya, dan juga tentang sejarah keterlibatan ayah angkatnya dan ayah Rin di dalamnya sepuluh tahun silam…

Idealisme dan Takdir

Seperti yang sebelumnya kukatakan, ada tiga rute (percabangan cerita) utama dalam FSN; yakni: Fate, Unlimited Blade Works, serta Heaven’s Feel. Ketiganya memiliki fokus cakupan cerita yang berbeda serta arah perkembangan cerita yang lain sama sekali. Titik percabangan cerita ini terjadi tak lama sesudah Shirou memanggil Saber, dan salah satu aspek penting yang ketiga rute ini angkat adalah sampai sejauh mana Shirou berhasil mempertahankan idealisme ayahnya dalam menjadi ‘pembela kebenaran’ demi menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Masing-masing rute hanya bisa dimainkan secara berurut, dengan UBW hanya bisa dimainkan sesudah kita menamatkan Fate, dan HF hanya bisa dimainkan sesudah kita menamatkan UBW. Pengaturan ini disengaja, karena ada beberapa detil cerita pada masing-masing rute yang hanya terjelaskan dalam rute lainnya. Memainkannya secara berurut adalah untuk memahami aspek cerita FSN secara penuh.

Fate, yang merupakan rute Saber, menggambarkan bagaimana Shirou mewujudkan dirinya sebagai ideal. Mengangkat tema-tema pengorbanan dan tanggung jawab, rute ini memaparkan identitas dan masa lalu Saber, serta memberi gambaran tentang bagaimana Perang Cawan Suci sebelumnya berakhir dan keterlibatan Kiritsugu di dalamnya.

Unlimited Blade Works merupakan rute Rin, menggambarkan perjuangan untuk mempertahankan idealisme, dan memberi fokus lebih pada dinamika hubungan antara Shirou dan Archer. Dipaparkan pada rute ini bagaimana kesinisan Archer terhadap Shirou ternyata berakar jauh lebih mendalam dari apa yang semula terlihat.

Bagi mereka yang dulu memainkan FSN tanpa tahu apa-apa, Heaven’s Feel menjadi rute yang agak mengejutkan dengan mengetengahkan Matou Sakura–yang di rute-rute terdahulu seakan tak memiliki kaitan apa-apa–sebagai tokoh utama wanita. Menggambarkan ‘gesekan’ antara idealisme yang Shirou perjuangkan dengan kenyataan yang ia hadapi, pada rute ini juga dibeberkan latar belakang sesungguhnya dari sejarah ritual Perang Cawan Suci.

Konsistensi detil latar belakang pada ketiga rute tersebut merupakan salah satu daya tarik dari FSN, karena masing-masing rute tersebut saling mengisi informasi ‘bolong’ pada kedua rute lainnya. Meskipun seluruh detil latar belakangnya sama, perkembangan ceritanya memang akan sangat berbeda. Bergantung pada rute yang kita ambil, urutan lawan yang akan Shirou dan Rin hadapi akan berbeda, menghadirkan situasi-situasi yang berbeda pula. Jenis kekuatan yang nantinya Shirou kembangkan di akhir pun akan berbeda, meski semuanya berakar dari kemampuan tracing yang Shirou pelajari(?) dari Kiritsugu. (Dalam perkembangannya, Rin akan selalu menjadi rekan Shirou dalam rute manapun yang kita ambil.)

(bersambung)

Tag:
31/08/2011

Fate/Zero

Anime-nya sudah mau keluar, jadi baiknya aku menulis sesuatu tentang ini.

Aku yakin semua orang sudah tahu; seri Fate/Zero adalah seri prekuel dari seri visual novel terkenal Fate/stay night yang diciptakan pengembang game TYPE-MOON. Pertama dikeluarkan dalam bentuk rangkaian novel yang terdiri atas empat buku , seri Fate/Zero menghadirkan cerita yang lebih ‘dewasa’ dan ‘keras’ dibandingkan  Fate/stay night.

Novel Fate/Zero sepenuhnya ditulis oleh Urobuchi Gen mengikuti plot cerita yang telah disetujui penulis skenario utama TYPE-MOON, Nasu Kinoko. Bagi yang belum tahu, Urobuchi-sensei sebelumnya dikenal sebagai salah satu penulis skenario untuk perusahaan game Nitroplus. Desain karakter yang menghiasi halaman-halaman ilustrasi novel ini masih ditangani oleh partner lama Nasu-sensei, yakni ilustrator Takeuchi Takashi.

Berbicara soal adaptasi anime-nya, studio yang bertanggung jawab dalam pembuatannya adalah ufotable. Studio ini sebelumnya menarik perhatian berkat penanganannya atas rangkaian film layar lebar Kara no Kyoukai—adaptasi anime dari suatu seri novel lain keluaran Nasu-sensei yang berjudul sama.

Studio ini berbeda dari studio yang sebelumnya menangani adaptasi anime Fate/stay night  (studio DEEN), jadi perbedaan nuansa dan gaya eksekusi cerita sudah menjadi suatu hal yang diharapkan.

Bagi Mereka yang Tak Mengikuti Fate/stay night…

Serupa dengan seri induknya yang sama-sama mengangkat insiden Perang Cawan Suci (‘holy grail war,’ ‘seihai no sensou’), Fate/Zero mengisahkan Perang Cawan Suci keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelumnya, masih di kota Fuyuki, Jepang. Bagi mereka yang tak mengikuti Fate/stay night, ‘perang’ ini pada dasarnya semacam kompetisi rahasia untuk memperebutkan artefak sihir Cawan Suci yang berkekuatan dahsyat dan diyakini mampu mengabulkan permohonan apapun dari pemiliknya.

Memperebutkan hak kepemilikan atas Cawan Suci, adalah tujuh orang penyihir (magus) yang disebut para Master. Ketujuhnya ditemani suatu roh pahlawan legendaris (‘heroic spirit’, ‘eirei’) yang disebut Servant. Antara keduanya terjalin kontrak kerjasama yang terwujud dalam bentuk tiga rajah Command Seal (‘reiju’?) pada salah satu tangan setiap Master.

Setiap Command Seal ini memungkinkan Master memberikan tiga perintah absolut kepada Servant-nya, termasuk perintah-perintah yang lazimnya berada di luar kapasitas kemampuan ataupun kemauan mereka. Habisnya ketiga Command Seal ini akan menandai gugurnya seorang Master dari Perang Cawan Suci.

Setiap pasangan Master-Servant memiliki tujuan menjatuhkan keenam pasangan Master-Servant lain. Baik itu dengan membunuh atau dengan memaksa Master pasangan lain menghabiskan Command Seal yang ia punya. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapat kehormatan untuk mewujudkan satu permohonan mereka dengan kekuatan Cawan Suci.

Para Servant ini ceritanya makhluk-makhluk astral yang memiliki kemampuan jauh melebihi manusia-manusia kebanyakan. Sekalipun demikian, kekuatan mereka turut dipengaruhi pula oleh kapasitas kekuatan sihir yang Master-nya miliki.

Setiap Servant juga memiliki senjata/pusaka/kemampuan khas mereka masing-masing yang secara umum disebut Noble Phantasm, yang sekaligus juga menjadi semacam perlambang identitas mereka.

Ada tujuh kelas Servant yang mungkin dapat dipanggil—setiap kelas hanya bisa ada pada satu waktu.

Sesudah salah satu roh pahlawan menjadi Servant, roh pahlawan tersebut akan mulai disebut dengan nama kelasnya agar identitasnya terahasiakan. Alasannya agar kerahasiaan identitas seorang Servant tak sampai bocor. Karena identitas asli mereka akan membeberkan segala hal tentang kekuatan dan kelemahan mereka (para Servant merupakan figur-figur ternama yang ada dalam mitolgi-mitologi terkenal dunia).

Countdown

Inti cerita Fate/Zero sama saja dengan Fate/stay night, yaitu soal bagaimana ketujuh pasangan ini saling memburu dan bunuh. Tapi yang membuatnya menarik adalah ‘para pemerannya’ yang berbeda serta bagaimana ceritanya dituturkan dari sudut pandang ketujuh pasangan Master-Servant yang ada.

Kelas-kelas Servant yang ada beserta pasangan Master mereka dalam Perang Cawan Suci kali ini antara lain:

  • Saber, pengguna pedang yang memiliki statistik paling seimbang di antara kelas-kelas Servant lain. Dipandang sebagai kelas Servant yang paling difavoritkan menjadi juara. Identitas asli Servant Saber adalah Arturia, perempuan muda yang merupakan identitas sebenarnya dari raja ksatria yang dulu pernah memimpin Britania Raya. Master-nya adalah Emiya Kritsugu,  ‘pemburu magus’ profesional yang mewakili pihak Einzbern, salah satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini. (Ya, tokoh Saber ini sama dengan yang muncul di Fate/stay night.)
  • Archer, spesialis serangan-serangan jarak jauh. Memiliki keunggulan untuk bersikap independen tanpa tergantung pada keberadaan Master-nya. Master Servant Archer adalah Tohsaka Tokiomi yang mewakili pihak Tohsaka, satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini. Sebagaimana yang dibeberkan dalam perkembangan cerita Fate/stay night, identitas asli Servant Archer ini adalah raja para raja dari Babylon, Gilgamesh.
  • Lancer, spesialis pengguna tombak yang memiliki fokus lebih ke kelincahan. Master dari Servant Lancer yang gentleman ini adalah Kayneth El-Melloi Archibald, figur bangsawan ambisius dari pihak Mage’s Association yang mengawasi ritual.
  • Rider, spesialis pengguna ‘tungganggan’ yang memungkinkannya  memiliki daya hancur besar. Identitas asli dari Servant Rider adalah Alexander, raja pemberani yang pernah nyaris menguasai seluruh dunia. Master-nya adalah Waver Velvet, murid muda Kayneth yang menyimpan rasa antipati terhadap gurunya. Waver turut serta dalam kompetisi ini dengan mencuri artefak yang sebelumnya hendak Kayneth gunakan sebagai katalis pemanggilan Servant. Dengan demikian, Waver menjadi Master dari Rider, dan menjalin hubungan tak biasa dengan Servant-nya itu.
  • Caster, spesialis pengguna sihir. Identitas aslinya adalah Giles de Rais alias Bluebeard, penyihir keji yang konon pernah menjadi orang kepercayaan Joan of Arc sebelum kewarasannya hilang. Master-nya adalah Uryu Ryunosuke, pemuda tampan yang sebenarnya adalah pembunuh berantai anak-anak yang belakangan menghantui Fuyuki.
  • Berserker, Servant yang menukar kewarasannya dengan amarah dan kekuatan besar, karenanya sulit dikendalikan. Wujud berupa ksatria hitam yang dimilikinya mampu menggunakan apapun yang diraihnya sebagai senjata setingkat Noble Phantasm. Master Servant misterius ini adalah Matou Kariya, teman masa kecil dari istri Tokiomi,  Tohsaka Aoi, yang mengambil resiko teramat besar untuk menjadi Master untuk suatu alasan yang teramat pribadi. Kariya merupakan wakil pihak Makiri, salah satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini.
  • Assassin, spesialis kerahasiaan dan pergerakan sembunyi-sembunyi. Master Servant Assassin adalah Kotomine Kirei, pendeta executioner muda yang meski berasal dari pihak Gereja yang semestinya berperan sebagai ‘juri’ yang netral, tetap telah diutus secara khusus oleh ayahnya, Kotomine Risei, untuk membantu Tohsaka Tokiomi. (Ya, ini Servant yang  serupa/sama dengan True Assassin yang muncul dalam rute Heaven’s Feel di Fate/stay night. Demikian pula dengan Kotomine Kirei.)

Suram dan Pelik

Semua yang sempat mengikuti Fate/stay night pasti tahu bagaimana Perang Cawan Suci keempat ini akan berakhir. Tapi sebagaimana harapan para penggemar, inti cerita Fate/Zero lebih kepada detil bagaimana persisnya semua terjadi daripada soal akhir ceritanya sendiri. Jadi mungkin cerita Fate/Zero bakal lebih bisa dinikmati oleh mereka yang tak asing dengan Fate/stay night.

Dalam narasinya, sudut pandang masing-masing tokoh diangkat secara bergantian. Intrik dan rencana setiap pihak dipaparkan, beserta keterangan orang-orang yang terkait dengan mereka. Ujung-ujungnya, kita akan memahami motivasi dan latar belakang masing-masing tokoh, dan ceritanya ditulis sedemikian rupa sehingga kita sulit untuk tak simpati terhadap setiap tokohnya, termasuk yang ‘sakit’ sekalipun.

Cerita tragis Fate/Zero dalam kurun waktu hanya empat buku benar-benar berkembang ke arah yang gelap. Kita melihat bahwa sekalipun segalanya telah diupayakan, suatu hal yang tak terduga ujung-ujungnya pasti terjadi. Terus rasa simpati apapun yang sebelumnya kita miliki terhadap para tokohnya bisa jadi malah hanya membuat kita semakin depresi.

Hal ini paling terlihat dari sifat para tokohnya sih.

Emiya Kiritsugu—tokoh sentral yang kelak dikisahkan menjadi ayah angkat dari tokoh utama Fate/stay night, Emiya Shirou—digambarkan sebagai pribadi yang ‘menyedihkan.’ Dalam artian, dia mau usaha kayak gimanapun juga, dirinya pasti bakal ‘kalah’ dari satu segi, dan Kiritsugu sepenuhnya sadar tentang hal ini tapi merasa tak bisa berbuat apa-apa tentangnya.

Kesan Kiritsugu di Fate/Zero sangat berlawanan dari imejnya yang ramah dan hangat di adegan-adegan kilas balik Fate/stay night. Ideologi kepahlawanannya yang sebelumnya sekilas terkesan kekanak-kanakan digambarkan sebagai semacam fanatisme yang menakutkan di Fate/Zero. Di satu sisi dirinya adalah seorang pria sederhana yang ingin meraih kebahagiaan bersama keluarganya: istrinya, Irisviel von Einzbern, dan putrinya, Illyasviel. Tapi di sisi lain, Kiritsugu seorang pembunuh berdarah dingin yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya—termasuk mencabut nyawa banyak orang bila hal tersebut diyakininya dapat menyelamatkan nyawa lebih banyak orang lagi.

Mengimbangi Kiritsugu adalah versi muda Kotomine Kirei. Kotomine ceritanya seorang pria ‘kosong’ yang kemudian merasa bisa menemukan makna keberadaannya dalam jati diri Kiritsugu. Semenjak awal, Kotomine dan Kiritsugu menetapkan satu sama lain sebagai ‘target yang perlu diawasi’ dan dinamisnya hubungan keduanya menurutku menjadi salah satu daya tarik utama seri ini.

Sifat dan kedudukan keduanya juga digambarkan berpengaruh terhadap orang-orang di sekitar mereka: Kiritsugu terhadap Saber (terutama karena perbedaan prinsip mereka dalam menggapai tujuan) dan asistennya, wanita muda veteran perang bernama Maiya Hisau. Sedangkan Kirei terhadap ayahnya dan Servant Archer, yang ternyata diam-diam menaruh minat mendalam terhadapnya.

Konflik-konflik kepentingan serupa juga dialami oleh para Master yang lain. Waver yang lemah tapi arogan ingin menjatuhkan Kayneth. Tapi dirinya sulit bekerjasama dengan Rider yang barbar. Kayneth yang perhitungan memiliki masalah dengan tunangannya sekaligus penyuplai kekuatan sihir untuk Lancer, Sola-Ui Nuada-Re Sophia-Ri, yang memandang Kayneth tidak terhormat. Caster terkesima sekaligus frustrasi oleh Saber, yang diyakininya sebagai reinkarnasi dari Joan of Arc yang ia puja. Lalu Kariya, yang sebenarnya tidak memiliki bakat sihir, setiap hari terus digerogoti nyawanya akibat kontrak yang ia jalani dengan Servant Berserker, ditambah lagi dengan dendam pribadi yang ia miliki terhadap figur misterius Matou Zouken yang berada di balik keluarga Matou. Tohsaka Tokiomi pun, yang tidak lain merupakan ayah dari Tohsaka Rin, salah satu heroine di Fate/stay night, ternyata adalah seorang oportunis brengsek yang sangat berlawanan dengan kesan terakhir yang Rin miliki terhadapnya.

Aku masih belum menyebut semua tokoh. Tapi percayalah bahwa alur cerita Fate/Zero, sesudah kau terbiasa dengan temponya, bisa sangat seru sekaligus menyayat hati.

Dengan adegan-adegan aksi keren yang turut diwarnai intrik dan strategi, kurasa kalian yang merindukan jenis drama dan ketegangan yang dibawakan Code Geass: Hangyaku no Lelouch akan tertarik dengan adaptasi anime cerita ini.

“…What lies there is just cold despair and a sin called victory, built on the pain of the defeated.”

Sekali lagi, Fate/Zero itu paling baik diikuti sesudah tahu sedikit banyak tentang cerita Fate/stay night. Atau setidaknya pernah mengikuti versi anime-nya hingga akhir. Ada beberapa spoiler bagi mereka yang belum menamatkan Fate/stay night di seri ini. Jadi saranku, bagi yang belum tahu cerita sekuelnya, ikutinya dengan hati-hati.

Di mataku, cerita ini kayak lukisan perjuangan hidup orang-orang yang berusaha memperbaiki nasib. Kalau kau sanggup merenungkan dan mencernanya, mungkin kau akan terkesima karena ceritanya bisa membuat pikiranmu semakin terbuka. Tapi kalau kau benci cerita-cerita kayak gini, atau menganggapnya enggak guna, menjauhinya juga bukan masalah kok.

Keempat novel Fate/Zero telah usai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh para fans dan dapat ditemukan di Internet. Gaya tulisan novel Urobuchi Gen memang berbeda dari gaya cerita game Nasu Kinoko. Aku sendiri perlu waktu lama agar terbiasa dan tak menganggapnya bertele-tele. Tapi garis besar nuansa yang dibawakannya kurang lebih sama kok.

Satu hal menarik di postface buku pertama; Urobuchi Gen mengakui betapa dirinya sebenarnya ingin menjadi penulis yang menghasilkan karya-karya yang menghangatkan hati. Bagi yang tahu tentang dirinya, upayanya ini jelas-jelas gagal total bila meninjau cerita-cerita di game-game Nitroplus. Karena itu dia merasa bahwa tawaran untuk menulis Fate/Zero merupakan kesempatan bagi dirinya untuk berubah menjadi ‘pahlawan cinta’ seperti Nasu. Jadi meski gelap, kayak kebanyakan cerita TYPE-MOON yang lain, ceritanya masih sebuah cerita yang menyisakan sedikit cahaya harapan di ujung sana.

Yah, gampangnya, kalau kau masih belum menemukan kepuasan dari Fate/stay night, cobalah Fate/Zero. Seenggaknya dijamin kau akan menemukan suatu sensasi yang lumayan berbeda.

(Aku jadi ngerasa kayak lagi ngiklanin minuman bersoda…)

26/05/2011

Fate/Kaleid Liner Prisma Illya

Belum lama ini, pas lagi suntuk, aku nyoba baca-baca manga Fate/Kaleid Liner Prisma Illya karya Hiroyama Hiroshi di Internet. Seri pendek ini pada dasarnya merupakan spin off dari Fate/stay-night, yang mengetengahkan sang tokoh gadis kecil, Illyasviel von Einzbern, sebagai seorang gadis penyihir. Konsepnya lumayan konyol, jadi aku tak berharap banyak. Tapi sesudah membacanya sampai tamat, di luar dugaan aku lumayan terhibur.

Jadi ceritanya, di seri ini, Illya hidup bahagia sebagai seorang murid SD di kota Fuyuki bersama kakak laki-lakinya, Emiya Shirou, dan dua orang pengasuhnya, Sella dan Leysritt. Sampai suatu ketika, pada suatu malam, jatuhlah dua orang gadis yang bertengkar dari langit, Tohsaka Rin dan rival besarnya, Luviagelita Edelfelt. Keduanya adalah agen dari Mages Association di London yang diutus  ke Fuyuki untuk menuntaskan suatu masalah berkenaan sihir. Tapi akibat pertengkaran mereka, sepasang artefak Kaleido Stick yang seyogianya harus mereka pergunakan untuk menyelesaikan masalah ini memilih kabur karena tak lagi mengakui keduanya sebagai majikan. Salah satunya, Ruby, kemudian jatuh ke tangan ke Illya. Dan Ruby dengan liciknya menjebak Illya yang polos dan memang suka nonton anime mahou shoujo untuk mengikat kontrak sebagai majikannya.

Jadilah Rin tak punya pilihan selain meminta (menuntut) Illya membantunya menyelesaikan tugasnya. Mereka harus mengumpulkan tujuh buah kartu ajaib misterius yang mengganggu keseimbangan aliran energi di Fuyuki. Masing-masing kartu ternyata merupakan representasi  seorang roh pahlawan (eirei, heroic spirit, para penggemar Fate pasti sudah bisa melihat polanya!), yang lalu bisa mereka gabungkan ke Kaleido Stick untuk mengakses kekuatan roh pahlawan bersangkutan.

Cerita bertambah seru dengan hadirnya Miyu, teman baru di kelas Illya, yang menjadi pemilik Sapphire, Kaleido Stick satunya yang dulu dipakai Luvia. Sama halnya dengan kasus Illya, Miyu yang sangat pendiam dan serius ini dimentori oleh Luvia dan menjadi saingan sekaligus rekan Illya dalam menaklukkan roh-roh pahlawan yang masih berkeliaran dan mengembalikannya ke bentuk kartu.

Ceritanya lumayan keren kok, terlepas dari statusnya sebagai spoof dari Cardcaptor Sakura sekaligus Mahou Shoujo Lyrical Nanoha. Artwork-nya terhitung bagus. Aksi-aksinya seru dan lelucon-leluconnya lumayan bikin nyengir. Agak… bikin malu di beberapa bagian sih. Tapi kayaknya para penggemar seri Fate manapun tak akan memiliki masalah dalam menikmati seri ini.

Seperti halnya Fate/hollow ataraxia, yang menarik dari seri ini adalah kesempatan untuk melihat para karakter Fate dalam versi kehidupan sehari-hari. Para tokoh Servant hanya berperan sebagai lawan-lawan rutin yang harus dikalahkan. Tapi kita bisa melihat karakter-karakter lain yang sebelumnya hanya sampingan seperti Luvia dan kedua maid Illya.

Sifat mereka agak berbeda dibandingkan di seri-seri Fate lainnya, tentunya. Illya di sini… uh, yah, sifatnya sama kayak tokoh-tokoh gadis SD kebanyakan. Sella dan Leys sifatnya juga beda drastis. Sifat Shirou dan Rin sama sekali tak berubah.

Hal lain yang menarik adalah kenyataan bahwa Shirou dan Illya sama-sama tinggal serumah sebagai kakak beradik. Seri Fate/zero yang sangat tragis jelas menyatakan bahwa keduanya bisa dibilang memang kakak beradik; jadi di semua cerita Fate, terungkap bahwa Illya tak memanggil Shirou ‘kakak’ sebagai bentuk sopan santun belaka. Dan lebih menariknya lagi, kedua orangtua mereka diceritakan sedang berpergian keluar rumah, mengindikasikan (dan kemudian menyatakan) bahwa di cerita ini, Irisviel, ibu Illya, masih hidup, sehat, dan menjadi istri dari Emiya Kiritsugu.

Manga sekuelnya bahkan sudah ada lho, yang baru mau kubaca suatu saat nanti. (berjudul sama, hanya dengan tambahan tajuk 2wei!) Kubayangkan sebagian misteri yang belum terungkap di sini akan dibahas di sana.

Lebih lanjut soal tokoh-tokohnya akan kuceritakan lagi nanti. (<– bohong)

(Ah, kita juga berkesempatan lagi melihat Rin dalam wujud Kaleido Ruby-nya. Tapi soal itu kurasa enggak penting)