Posts tagged ‘Tatsunoko Production’

31/08/2014

Gatchaman Crowds

Aku sudah agak lama menunda-nunda pembahasan tentang Gatchaman Crowds. Alasannya karena enggak lama sesudah penayangannya, aku mendengar rumor yang agak enggak biasa.

Jadi ceritanya, sang sutradara, Nakamura Kenji, yang cukup dikenal karena pernah menyutradarai Tsuritama, [C]: Control, dan seri misteri supernatural Mononoke yang melejitkan namanya, sempat melakukan kesalahan perhitungan dalam masa produksi seri itu. Beliau salah menghitung durasi waktu keseluruhan seri, sehingga ada satu adegan penentuan dalam klimaks cerita di episode terakhir yang terlewat dimasukkan selama masa penayangan seri ini.

Perbaikan kemudian dilakukan, dan adegan hilang ini tentu saja jadi dimasukkan sesudah versi DVD/Blu-raynya keluar. Tapi rumor tentang adegan hilang ini sempat mengusik rasa ingin tahuku. Karena ingin tahu dulu tentang seri ini secara menyeluruh, yah, aku menunggu sampai ada kejelasan lebih soal adegan itu seperti apa.

Sebenarnya, perbedaan di akhirnya memang tak terlalu kentara. Tapi memang ada yang ‘klik’ di kepalaku begitu memahami beberapa hal yang sebelumnya tersamar berkat adanya adegan itu.

Terlepas dari semuanya, aku memang mengikuti seri ini pada paruh kedua tahun 2013 lalu. Alasan utamanya adalah karena dulu waktu masih kecil, aku sempat menyukai seri animasi Gatchaman yang darinya seri ini dibasiskan.

Buat yang belum tahu, Gatchaman pertama dibuat pada tahun 1972 oleh studio Tatsunoko Production. Seri tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak anime superhero keluaran mereka yang banyak mengetengahkan adegan aksi dan robot, macam Casshern dan Hurricane Polymar. Lalu, walau aku tak begitu ingat ceritanya berhubung aku menontonnya sewaktu masih kecil, Gatchaman itu keren.

Beneran, seriusan, keren.

Konsep Gatchaman yang semula mengetengahkan suatu kelompok rahasia yang melindungi bumi dari ancaman serbuan alien yang menggunakan kombinasi antara ninjutsu dan teknologi. Mereka menggunakan kostum-kostum bermotif burung. Lalu saat benar-benar terancam, mereka juga memiliki kendaraan-kendaraan canggih yang dapat bergabung untuk melawan mesin tempur penghancur yang digunakan oleh musuh-musuh mereka.

Aku tak begitu yakin soal apa yang aku harapkan waktu dengar bahwa seri Gatchaman akan mendapatkan reimaging dalam bentuk Gatchaman Crowds. (Pengumuman ini kalau enggak salah keluar bersamaan dengan pengumuman soal film tokusatsu live action Gatchaman, yang meski berkesan awal keren, agak gimanaa gitu saat kau sampai ke akhir.) Kurasa aku membayangkan sesuatu yang berkesan tragis dan penuh pengorbanan?

Tapi singkat kata, Gatchaman Crowds berakhir sebagai sesuatu yang teramat sangat jauh dari segala ekspektasiku.

Gunting dan Buku Catatan

Gatchaman Crowds (arti ‘crowds‘ kurang lebih adalah ‘kerumunan’) berlatar di awal musim panas tahun 2015.

Kota Tachikawa, metropolis kedua sesudah Tokyo yang Jepang miliki, secara diam-diam dilindungi oleh kelompok rahasia bernama Gatchaman dari intervensi makhluk-makhluk asing dari luar Bumi; yang terkini adalah dari ancaman makhluk-makhluk kubus yang mengabduksi orang yang disebut MESS.

Gatchaman menggunakan pakaian pelindung khusus yang digerakkan oleh teknologi alien. Pakaian mereka ditenagai oleh suatu kekuatan spiritual yang disebut NOTE, yang mewujud sebagai buku notes yang masing-masing anggotanya punyai. Timnya sendiri terdiri atas gabungan antara manusia dan alien, mereka dipimpin sosok misterius bernama J. J. Robinson yang membimbing para Gatchaman lewat misi-misi yang ditentukan oleh serangkaian ‘ramalan’ menggunakan burung-burung origami.

Tapi berbeda jauh dari apa yang ditampilkan dalam seri orisinilnya, suatu kelesuan/kemalasan/apatisme melanda para anggota Gatchaman terkini. Mereka harus beraksi secara rahasia, dengan memanfaatkan sesuatu bernama Amnesia Effect yang menghapus ingatan orang-orang yang sempat menyaksikan mereka, sehingga pengetahuan orang awam tentang para Gatchaman hanya terbatas pada kabar-kabar burung dan urban legend. Ditambah lagi karena mereka hanya boleh mengurusi persoalan terkait para alien, ini membuat pekerjaan mereka seakan tak dihargai tanpa rasa terima kasih. Masing-masing dari mereka seakan telah mencapai titik jenuh. Sebagian bahkan merasa peran mereka sebagai Gatchaman sebagai sesuatu yang tak layak dijalankan.

Namun semuanya berubah saat J. J. Robinson memutuskan untuk merekrut seorang gadis muda eksentrik (yang teramat sangat suka terhadap stationary dan alat-alat tulis) bernama Ichinose Hajime.

Crowds and the City

Singkat cerita, kedua belas episode Gatchaman Crowds mengisahkan berbagai persoalan dan perubahan yang tim Gatchaman lalui semenjak bergabungnya Hajime. Bergabungnya Hajime segera memicu konflik, karena cara pendekatannya terhadap segala sesuatu sama sekali berlawanan dengan metode kerja para Gatchaman selama ini.

Sebagai foil terhadap Hajime, hadir kakak kelasnya, sesama Gatchaman bernama Tachibana Sugane. Sugane adalah seorang pemuda ‘lurus’ yang menekuni kendo dan memiliki cara berbicara dan cara berpikir seperti samurai. Keterikatannya terhadap aturan kemudian disadarinya membuatnya lupa soal apa sebenarnya persoalan yang asli, dan hal itu yang kemudian disadarinya seiring dengan waktu sesudah beraksi beberapa lama bersama Hajime.

Pada awalnya, keeksentrikan Hajime dipandang menyebalkan—dan maksudku di sini benar-benar menyebalkan—yang membuat Sugane dan beberapa anggota lain berasumsi terhadapnya dengan cara yang salah. Paiman, makhluk alien serupa panda mungil yang cerewet dan menjadi pemimpin ‘resmi’ dari Gatchaman sekarang, yang paling bereaksi terhadapnya. Namun langkah-langkah yang Hajime ambil di waktu yang sama kemudian menyadarkan Paiman akan kepengecutannya sendiri, sekalipun dirinya memiliki kekuatan yang dapat ia gunakan.

Para karakter Gatchaman lain meliputi O.D., seorang pria alien kemayu yang menyatakan bahwa dirinya merupakan Gatchaman menyedihkan karena tak bisa mengakses wujud Gatchaman-nya sendiri (belakangan terungkap karena wujud Gatchaman-nya benar-benar terlampau kuat sampai-sampai bisa menghancurkan satu planet sendiri); Utsutsu, seorang gadis alien pemuram yang mampu menciptakan klon-klon dari dirinya sendiri dan serta menyerap dan memberikan kekuatan kehidupan; serta Hibiki Jou, pegawai negeri muda lulusan Universitas Tokyo yang keputusasaan dan rasa kosongnya terhadap dunia juga mulai berubah semenjak bertemu Hajime.

Dunia di mana Gatchaman Crowds berlatar digambarkan sebagai semacam dunia ‘datar’ yang masyarakatnya tergila-gila oleh suatu jaringan sosial bernama GALAX.

Karakter penting lain di seri ini adalah Ninomiya Rui, pemuda jenius yang menciptakan jaringan sosial itu dengan bantuan kecerdasan buatan bernama X, yang berupaya membangun dunia lebih baik lewat GALAX bahkan tanpa adanya superhero.

Namun niat baiknya dipelintir lewat kehadiran suatu entitas alien bernama Berg Katze, yang merupakan musuh lama para Gatchaman dari masa lalu, yang dengan kemampuannya berubah wujud dan mempermainkan pikiran dan persepsi manusia, berkeinginan untuk membawa seisi alam semesta menuju kehancuran.

“Gatcha!”

Seperti seri-seri lain yang disutradarai Nakamura Kenji, Gatchaman Crowds termasuk seri di mana hal-hal penting di dalamnya lebih banyak diungkap secara teselubung/tersirat daripada langsung. Selain karena… uh, betapa ‘ajaibnya’ Hajime, ini salah satu alasan kenapa seri ini tak termasuk seri yang akan kurekomendasikan ke banyak orang.

Ada fokus lebih yang diberikan kepada perkembangan para karakternya. Termasuk pada para antagonis dan sampingannya, dalam hal ini Rui dan bahkan Perdana Menteri Sugiyama. Lalu ini jelas-jelas berbeda sangat jauh dibandingkan seri orisinilnya yang terbilang simpel dan penuh aksi.

Jadi, sedikit mengesampingkan wujud Gatchaman Paiman, kalian-kalian yang berharap bisa melihat pesawat-pesawat canggih menyatu dan dan melepaskan serangan G-Phoenix ke benteng musuh kurasa bakal kecewa. Tapi sebagai gantinya, mungkin ada hal berharga lain yang bisa kalian dapatkan. Andaikan kalian bisa mengikuti dan memahami seri ini.

Selebihnya, dari segi teknis, ini seri yang sepenuhnya dua dimensi dan digambar pakai tangan. CG difokuskan lebih pada wujud Gatchaman dari Hajime dan kawan-kawannya, yang terus terang mengingatkanku akan desain karakter sentral dari OVA Karas yang memang beneran keren.

Seperti yang kusinggung di atas, adegan-adegan aksinya meski ada bisa dibilang agak terbatas. Lalu adegan-adegan kekerasan yang terjadi kelihatannya lebih banyak disiratkan agar tak tampak terlalu keras.

Ini jenis seri yang terbilang membosankan secara umum. Sekali lagi, seri yang seriusan enggak akan gampang aku rekomendasi. Tapi saat kalian ngeh soal apa-apa yang berlangsung di dalamnya, kalian mungkin bakal terkesan dan merasa tergugah.

Audionya cukup keren. Uchida Maaya tampil luar biasa sebagai Hajime dalam seri ini. Demikian pula Miyano Mamoru sebagai Berg Katze yang bisa kebanci-bancian dan menakutkan secara sekaligus.

Di balik semua keanehannya, Hajime memang jadi karakter utama yang seakan menggerakkan keseluruhan cerita. Enggak gampang menyadarinya karena memang tak ditampilkan langsung. Tapi cara Hajime berekspresi dan menatap, di sela-sela berbagai tingkah anehnya, bisa begitu menampilkan kematangan tersembunyi yang ia punyai, yang secara perlahan tapi pasti membuatnya diakui sebagai pemimpin teman-temannya yang lain.

Soal adegan hilang yang kusinggung di atas, itu menyangkut konfrontasi terakhir yang Hajime lakukan untuk menangani Berg Katze. Itu adegan yang agak bikin ‘deg!’ andai saja diceritakannya secara baik pada versi TV-nya. Itu beneran salah satu kasus di mana ada cara-cara lain selain tinju dan aksi yang bisa digunakan untuk menaklukkan lawan, mengingat betapa tak warasnya karakter Berg Katze.

Akhir kata, meski aku bisa menghargai segala sisi baik yang seri ini punya, aku sempat skeptis terhadap tanggapan yang orang-orang akan berikan. Maksudku, meski mengupayakan sesuatu yang benar-benar berbeda, sudah jelas ini bukan seri yang kelihatannya bakal populer. Tapi kemudian sudah diumumkan kalau musim kedua untuk seri ini telah mendapat lampu hijau, dengan judul sementara Gatchaman Crowds Second. Lalu ada teman perempuanku yang secara tiba-tiba suatu hari mulai menyenandungkan nyanyian Hajime yang “Gatcha, Gatcha, Gatchaman…” dan pada titik itu mesti kuakui kalau man, mungkin akupun belakangan telah terlalu menyepelekan humanity.

Tapi sudahlah. Setelah kupikir ulang, teman perempuanku di atas sejak dulu memang penyuka seri-seri buatan Nakamura Kenji.

Penilaian

Konsep: X; Visual: B; Audio: B; Perkembangan: B+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

Iklan
22/06/2014

Ping Pong the Animation

Kalian tahu, aku bukan penggemar ping pong. Aku bahkan hampir enggak tahu apa-apa tentang ping pong. Dulu aku pernah main tenis. Tapi aku yakin itu hampir enggak ada mirip-miripnya dengan tenis meja. Bahkan itu bisa dibilang semacam olahraga yang lain sama sekali.

…Tapi aku ngikutin seri Ping Pong the Animation, pada musim semi 2014 lalu. Dikeluarkan oleh studio Tatsunoko Production dan terdiri atas 11 episode, ini seri yang bagiku dari awal aku tahu bakal keren. Salah satu alasannya karena keterlibatan sutradara Yuasa Masaaki di dalamnya.

Aku pertama tahu tentang beliau dari mengikuti anime komedi romantis Youjo-Han Shinwa Taikei. Tapi soal itu mending dibahas di tempat lain.

Setelah sampai di sini, aku agak enggak yakin baiknya ngejabarin Ping Pong gimana. Seri anime ini diangkat dari manga berjudul sama karya Matsumoto Taiyou, yang bahkan pernah dibuat film layar lebarnya juga. Walau begitu, aku seriusan belum pernah tahu tentang seri ini sebelumnya. Aku belakangan sadar kalau ini memang bukan jenis seri yang akan ‘meledak.’

Gaya gambar Matsumoto-sensei terbilang realis (apa ini istilah yang tepat?), dan maka dari itu aku kemudian maklum kenapa Yuasa-sensei yang jadi menyutradarainya. Di samping itu, walau cukup berdarah panas sebagai sebuah seri olahraga, ada nuansa drama kehidupan yang lumayan kental di dalamnya.

Maksudku kental di sini itu benar-benar kental. Tapi adegan-adegan tenis mejanya juga tetap seru untuk diikutin.

Gaya gambar realis ini yang membuatnya seakan terimbangi oleh gaya animasi khas yang dibuat Yuasa-sensei, yang terus terang sangat mengandalkan animasi tangan dan sama sekali tidak moe, dan terang-terangan takkan dipandang menarik oleh sebagian orang.

Namun terlepas dari gaya visualnya yang unik, kalau kau suka drama, dan kau mencoba mengikuti ceritanya, sekedar mencoba saja, mungkin kau juga bakal memandang kalau eksekusi ceritanya termasuk luar biasa.

Seperti Metronome

Berlatar di suatu kota yang sempat kusangka bernuansa agak 1970-an (walau belakangan diperlihatkan ada teknologi modern dan hal-hal canggih lainnya juga di sana), Ping Pong bercerita seputar perkembangan dua orang teman semenjak kecil di SMA Katase, Hoshino Yutaka yang berjulukan Peco, serta Tsukimoto Makoto yang berjulukan Smile. Keduanya sama-sama menjadi anggota klub tenis meja di sekolah mereka, dan keduanya juga telah mendalami olahraga ini semenjak mereka kecil.

Singkat ceritanya sekali, keduanya dikisahkan berbakat. Tapi Peco yang ceria dan banyak gaya mulai arogan dan nyata-nyata tak bisa berkembang di lingkungannya saat ini. Lalu Smile, yang sangat pendiam dan pasif dan tanpa ekspresi—sangat berkebalikan dengan nama panggilannya, tak memiliki semangat juang untuk menjadi lebih baik dan selalu mengalah terhadap Peco.

Porsi cerita utama dibuka dengan kedatangan seorang pemain asing dari China bernama Kong Wenge ke SMA Tsujidou, sebuah SMA yang tak menonjol dalam tahun-tahun terakhir, dan pelatihnya berharap bisa memperbaiki prestasi mereka dengan mengundang Wenge, yang sekalipun remaja, telah menjadi pemain profesional.

Hanya saja, situasi Wenge ke Jepang lebih karena suatu pengusiran ketimbang lainnya. Hanya dengan ditemani seorang penerjemah yang kelihatannya merupakan satu-satunya orang yang bersimpati padanya, diimplikasikan drinya tak diperbolehkan pulang sampai dirinya berhasil ‘menaklukkan’ Jepang. Semula, begitu melihat tingkat permainan di Tsujidou, Wenge yang memancarkan aura percaya diri merasa ini akan menjadi tantangan mudah. Tapi…

…Singkat cerita, Peco dan Smile, pada hari kedatangan Wenge, membolos latihan di sekolah mereka dan datang ke Tsujidou demi melihat seperti apa Wenge secara langsung. Lalu saat dengan gegabah ia menantangnya, Peco mendapat pelajaran pahit soal kekalahan secara telak. Kejadian inilah yang kemudian menjadi titik balik bagi keduanya.

Di sisi lain, pelatih tenis meja di SMA Katase, seorang pemain profesional veteran tua bernama Koizumi Jo, mulai menyadari bakat terpendam yang Smile miliki (beliau juga guru bahasa Inggris, jadi mungkin itu alasan kenapa kadang tingkahnya agak aneh). Iapun mencoba mengambil tindakan-tindakan untuk mengasahnya. Tapi untuk itu ia harus mempelajari hubungan masa lampau unik apa yang Smile dan Peco sekiranya punyai.

Hero Kenzan!

Kesebelas episode Ping Pong merangkum masa dua tahun Peco dan Smile terlibat dalam kejuaraan Interhigh tenis meja Jepang. Ada lumayan banyak nuansa kehidupan sekaligus humor dalam ceritanya yang mungkin takkan ditangkap oleh sejumlah orang. Tapi seriusan, menurutku ini seri yang benar-benar keren.

Walau aku mengatakannya demikian, Kong hanyalah pemicu, dan bukanlah tokoh antagonis utama di seri ini.

Tokoh antagonis utamanya adalah lelaki yang pernah menjadi juara nasional, Kazama Ryuuichi yang berjulukan Dragon dari SMA Kaio yang sangat spartan regime tenis mejanya (semua anggotanya berkulit coklat matang karena latihan dan berkepala botak). Kazama, yang pikirannya hanya terfokus soal bagaimana menjadi juara, dibeking oleh perusahaan penyedia peralatan olahraga Poseidon yang banyak mengimplementasi teknologi termutakhir.

Ada banyak jalinan konflik yang muncul. Lalu penceritaan semuanya benar-benar efektif dan matang. Ceritanya bukan cuma ke soal persaingan dan perjuangan saja. Apa ya, ceritanya juga mulai mengupas banyak hal soal menerima kenyataan dan arti kerja keras.

Pelatih Koizumi mulai banyak melihat masa lampau dirinya sendiri dalam situasi Smile. Ia dilanda konflik tentang bagaimana ia bisa membuat Smile lebih terbuka. Terlebih saat Smile mulai tenar, orang-orang dari Kaio secara terang-terangan datang ke sekolahnya untuk mendukung Smile agar pindah ke sana.

Ada seorang pemain entah dari mana yang kalah sesudah melawan Smile dan memutuskan untuk melakukan perjalanan pencarian jati diri.

Ada seseorang bernama Sakuma Manabu yang dijuluki Akuma yang merupakan teman masa kecil Smile dan Peco juga, kini tergabung bersama Kaio, dan bertekad untuk bisa menaklukkan keduanya.

Tapi lebih dari itu, ada hal-hal tak biasa seperti kenapa Smile dalam kesunyiannya seakan terobsesi dengan heroisme, atau soal kenapa sebelum setiap pertandingan, Kazama nampak selalu mengurung diri di kamar mandi.

Yeah, ini seri soal perjuangan dan kerja keras. Tapi agak lebih berat ke melihat ke belakangnya daripada melihat ke depan. Dan itu enggak salah, sebab aku pun sempat mikir, “Walau tenis meja itu olahraga yang akan mengasah reaksi saraf sampai tingkat dewa, ini tetap cuma tenis meja!” Tapi para karakter di sini, untuk alasan mereka masing-masing, benar-benar cinta tenis meja. Lebih dari sekedar soal apa ini hobi atau bukan. Tenis meja itu seakan bisa jadi segalanya.

Aku seriusan kagum dengan bagaimana obsesi ini bisa digambarkan secara sedemikian wajar. Karena terus terang, ini kayak sisi kehidupan yang belum pernah kukenal sebelumnya.

“Aku mau menangis sebentar.”

Seri ini berakhir secara keren dengan semacam epilog yang memaparkan bagaimana kesudahan para karakter setelah turnamen Interhigh yang menentukan takdir banyak orang itu. Dan… uh, walau tenis meja beberapa kali digambarkan seakan sebagai segalanya bagi sebagian orang, tetap saja diperlihatkan bahwa olahraga ini bukan satu-satunya hal yang ada di dunia ini.

Entah ya. Ini kesan yang jarang diperlihatkan dalam kebanyakan seri olahraga yang ada.

Oke, itu mungkin agak susah dipahami. Tapi kalian ntar bisa ngerti sesudah melihatnya sendiri.

Ini seri yang menarik dan termasuk memuaskan untuk diikuti. Ada saat-saat tertentu dalam sebelas minggu terakhir ketika aku agak galau. Tapi menonton ini kayak bisa menarik semua perhatianku dan membuatku fokus kembali pada apa-apa yang semestinya penting.

Selain karena ceritanya, eksekusinya memang sebrilian itu. (Adegan-adegan saat Kong berbicara Mandarin tetap dipertahankan! Bahkan logat Mandarin-nya saat ia mulai bicara bahasa Jepang tetap ada!)

Katayama Fukujurou (Siapa orang ini? Aku belum pernah denger namanya sebelumnya!) juga berperan mengesankan sebagai Peco. Peco itu karakter yang beneran enggak biasa dan agak sulit dibayangkan sebagai tokoh utama. Dia awalnya bukan karakter yang bisa disukai. Tapi ke belakang-belakangnya dia jadi keren!

Akhir kata, ini seri yang bisa dikatakan benar-benar dalam.

Man, mungkin aku mesti lebih sering nyari seri-seri macam ini.

(Aku belum lama ini nyadar kalau manganya bergenre seinen dan diserialisasikan dari tahun 1996-1997. Pantas di dalamnya ada nuansa retro yang muncul.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: X; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

04/08/2011

[C] – Control – The Money of Soul and Possibility

Tahu anime-anime di mana sang tokoh utama berpartner dengan sebuah entitas ajaib dan terlibat serangkaian pertarungan dengan tokoh-tokoh lain yang juga berpartner dengan entitas sejenis? Macam Digimon, Giant Robo, atau bahkan, Cencoroll? [C] – Control – The Money of Soul and Possibility juga adalah jenis anime seperti itu. Hanya saja seri ini ditujukan secara khusus bagi pemirsa dewasa dan memiliki motif ekonomi makro di dalamnya.

Keluar pertama kali di slot tayang Noitamina pada musim semi 2011 (sekali lagi, musim tayang dengan banyak sekali anime baru yang bagus), [C] berkisah tentang seorang mahasiswa miskin bernama Yoga Kimimaro yang kehidupannya–beserta kehidupan banyak orang–terhubung dengan suatu tempat ajaib bernama Distrik Finansial yang berpengaruh besar terhadap kesejahteraan ekonomi setiap negara. [C] (setahuku) menjadi satu lagi seri keluaran studio Tatsunoko Pro di kancah anime modern. Di samping itu, beberapa staf yang terlibat dalam pembuatan anime Eden of the East juga kudengar terlibat dalam produksi seri ini.

Bantuan Finansial

Kimimaro, yang selama ini menjalani kehidupan keras karena kendala-kendala finansialnya (hidup dibesarkan oleh bibinya, kuliah dengan beasiswa, kerja untuk bisa makan, hanya bisa memandang saat teman-temannya pergi nongkrong, hanya bisa diam karena cewek yang disukainya jalan dengan cowok lain karena ia sendiri mesti kerja), pada suatu ketika didatangi seorang pria ajaib misterius bernama Masakaaki yang menawarinya uang dalam jumlah sangat besar asalkan Kimimaro bersedia menjadikan ‘masa depannya’ sebagai jaminan. Uang di dalam rekening yang diterimanya dalam bentuk semacam kartu ATM/kredit itu ternyata benar-benar besar. Kimimaro akhirnya memakainya sedikit karena memang butuh. Tapi penggunaan sedikit saja itu ternyata dinilai sebagai bentuk kesepakatan atas perjanjian itu, dan dengan mata terbelalak Kimimaro mulai memahami arti ‘masa depan’ yang Masakaaki sebelumnya bicarakan.

Jadi, dengan menggunakan pinjaman uang itu, Kimimaro menjadikan dirinya salah seorang yang disebut Entrepreneur dan diharuskan untuk mendatangi Distrik Finansial Jepang secara berkala, tempat di mana para Entre lain secara teratur dijadwalkan untuk bertemu dan beradu Asset. Para Asset ceritanya adalah perwujudan dari ‘masa depan’ masing-masing Entre, dan pada dasarnya merupakan semacam makhluk super yang akan bertarung untuk kepentingan sang Entre (para Entre juga bisa ikut terlibat dalam pertarungan). Pertarungan-pertarungan ini disebut Deal dan berlangsung dalam batas waktu tertentu.  Sesudah setiap Deal, performa kedua Entre dinilai, dan besarnya keuntungan atau kerugian keuangan(!) yang mereka dapatkan akan diperhitungkan. Jadi ya, stamina Asset para Entre ceritanya sebanding dengan besarnya uang yang mereka miliki dalam rekening mereka. Lalu bila Asset mereka KO, maka para Entre dinilai bangkrut, dan nyawa mereka masih menjadi bayaran yang terbilang murah atas hutang jaminan yang harus mereka bayar.

Kalau kalian tak langsung mengerti uraianku di atas, maka itu enggak apa-apa. Karena daya tarik anime ini memang adalah pembelajaran kita atas hal-hal tersebut bersama Kimimaro. Dan tanpa sedikit pemahaman akan ekonomi makro sebelumnya, apa yang berlangsung dalam seri ini memang agak-agak sulit dimengerti. (Buat yang belum tahu, ‘ekonomi makro’ itu artinya kondisi ekonomi dilihat dalam skala ukuran masyarakat, bukan individu. Jadi soal apa-apa saja yang menentukan apakah sebuah masyarakat sejahtera atau enggak.)

Dari premis yang masih sederhana tersebut, cerita semakin berkembang dengan beragam elemen menarik baru yang selalu bisa ditemukan di tiap episodenya. Mulai dari pengelolaan Distrik Finansial–yang seakan berada dalam dimensi lain–oleh pihak mistrius yang dinamai Bank Midas; keberadaan ‘uang hitam’ bernama Midas Money yang bercampur dengan mata uang Yen (dan mata-mata uang lainnya), namun hanya dapat dilihat oleh mereka-mereka yang pernah memasuki Distrik Finansial; konsekuensi-konsekuensi dari hasil Deal yang dilangsungkan, dan lain sebagainya.

Konflik-konflik yang ada menjadi pribadi saat kehidupan orang-orang yang Kimimaro kenal di luar Distrik Finansial secara langsung ternyata terpengaruh oleh dampaknya. Kimimaro juga menjadi semakin memahami apa persisnya ‘masa depan’ yang ia jaminkan seiring dengan makin dekatnya ia dengan Masyu, sosok gadis bertanduk yang telah dipasangkan sebagai Asset-nya. Jejak keberadaan ayah Kimimaro yang menghilang ternyata ditemukannya pula di tempat misterius ini.

Perkenalan Kimimaro dengan berbagai orang–terutama seorang eksekutif muda bernama Mikuni Shouichirou–mematangkannya sebagai individu. Lalu cerita memuncak dengan pertanyaan tentang apa sebenarnya yang penting seiring kegentingan akibat hadirnya C, sebuah fenomena berantai yang dampaknya bisa sampai melenyapkan sebuah negara.

Sekaijuu no subete no nazo yori, shiri-tai… kimi no kokoro wo…

Aku enggak akan masuk terlalu banyak ke detil. Plot seri ini benar-benar bagus, jadi paling baik jika kalian mengikutinya saja sendiri. Ditambah lagi, meski jumlah episodenya cuma 11, pacing-nya sampai akhir benar-benar terjaga dengan baik. Ceritanya tak sedikitpun terasa bertele ataupun dipercepat.

Visualisasi dan adegan-adegan aksinya memang keren. Tapi bukan itu sorotan utama seri ini. Segala yang perlu diketahui tentang teknis Deal memang terjelaskan secara baik, tapi tak sampai digali mendalam seperti yang mungkin kau bayangkan dari seri-seri sejenis. Sebaliknya, yang menjadi sorotan utama adalah ‘permainan kehidupan’ di mana eksistensi dan nyawa sampai ‘dinyatakan harganya’ dalam ukuran uang dan bahkan digadaikan. Dan tema itu menjadi tema yang lingkupnya mengintegrasikan tema-tema yang lain: kehidupan, persahabatan, persaingan, kekeluargaan, cinta, dan sebagainya.

Memang agak susah untuk ‘masuk’ ke dalamnya pas awal-awal karena premisnya lumayan ‘berat’. Tapi begitu kau bisa masuk ke dalamnya dan sepenuhnya memahami apa yang terjadi, ceritanya benar-benar menjadi menarik dan kau tak bisa tak bertanya-tanya soal apa selanjutnya yang terjadi.

Thought-provoking. Intriguing. Kurang lebih seperti itu.

(Tapi sekali lagi, itu cuma kalau kau bisa memahami implikasi-implikasi yang disampaikan di dalamnya, dan setuju juga dengan cara pandangnya.)

Desain-desain karakternya mungkin terbilang sederhana, tapi kesemuanya memiliki kekhasan yang kuat. Animasinya keren. Benar-benar keren. Lalu penggambaran masa depresi/krisis ekonomi yang seri ini bawakan secara agak menakutkan terkesan nyata. Dengan sedikit elemen fantasi, seri ini memberikan gambaran yang lumayan jelas tentang bagaimana cara kerja perekonomian dunia di masa sekarang ini; soal betapa pemahaman dan cara pandang orang tentangnya berbeda-beda, selayaknya yang diungkapkan dalam buku Rich Dad, Poor Dad.

Tamatnya yang agak bikin terenyuh di luar dugaan ternyata memuaskan.

Tapi entah ya. Belakangan kupikir sudut pandang dan pemahaman kalian soal ekonomi yang akan lebih menentukan soal itu.

Lalu musiknya, argh, singkat kata, mungkin itu yang pada awalnya membuatku jatuh cinta.

Penilaian

Konsep: X; Visual: A+; Audio: A; Eksekusi: A; Perkembangan: A; Kepuasan Akhir: A