Posts tagged ‘supernatural’

25/09/2017

Phenomeno

Maaf lama enggak nulis.

Aku ngalamin sedikit kecelakaan kerja beberapa minggu lalu. Aku sampai perlu beberapa kali ke rumah sakit segala. Lalu sejak itu, kondisi kesehatanku gampang naik turun. (Selama beberapa hari terakhir, aku bahkan terkapar karena diare.)

Sehubungan dengan itu, aku jadi ingin bahas soal Phenomeno.

Phenomeno sebenarnya judul yang sudah lama ingin aku bahas. Keluarnya pertama kali di sekitar tahun 2012. Tapi aku mengalami kesulitan, berhubung minimnya informasi yang bisa kutemukan tentangnya.

Alasan aku ingin membahas seri ini adalah entah karena kebetulan atau bukan, semenjak aku… uh, kena kecelakaan di atas, aku berkenalan dengan semakin banyak orang aneh. Salah satunya, (yang bukan yang pertama, dan juga kuragukan apakah bakal jadi yang terakhir) adalah seorang mahasiswa depresi(?) di kota lain yang berkeinginan untuk bisa melihat hantu.

Aku bukan penggila hal-hal supernatural. Tapi aku mengakui kalau sisi dunia lain itu ada. (Heh, aku bahkan melihat sendiri bagaimana salah satu pembantu di rumahku sempat kesurupan.)

Aku bertanya soal alasan keinginan aneh(?)nya itu ke dia. Lalu mahasiswa itu memberi jawaban ngawang soal gimana dia ingin tahu bentuk ‘mereka’ kayak gimana. Jujur, dari sejumlah pengalaman orang yang pernah aku denger, keinginan kayak gini biasanya enggak berujung ke hal baik. Tapi, aku putuskan buat coba telaah lebih jauh soal keinginannya itu. Akhirnya dia mengakui kalau sekalipun dia punya alasan, alasan tersebut sudah lama ia lupakan pada titik ini.

Phenomeno, atau yang juga dikenal dengan judul Phenomeno: Mitsurugi Yoishi wa Kowagaranai (subjudulnya mungkin kira-kira berarti: ‘Mitsurugi Yoishi tidak mengenal takut’) bermula dari seri light novel yang dikarang oleh Ninomae Hajime. Ilustrasinya dibuat oleh ABe Yoshitoshi (ilustrator orisinil untuk Serial Experiments Lain dan NHK no Youkoso!) yang sangat dikenal dengan nuansa karakternya yang khas. Ini seri horor supernatural yang sudah tamat dalam enam buku. Walau begitu, daripada takut-takutan ala jump scare, ceritanya lebih berat ke suspens.

Kayak, perasaan berat menggantung yang mengindikasikan adanya sesuatu yang ‘salah,’ tapi kita enggak bisa mengungkapkan apa.

Phenomeno mulai dikenal di luar Jepang berkat versi visual novel-nya yang sempat dibuat Nitroplus. Versi ini mengadaptasi cerita dari babnya yang paling pertama. VN pendek ini memang dimaksudkan untuk mempromosikan seri novelnya; sifatnya freeware. Karenanya, meski sama sekali enggak jelek, juga enggak sepenuhnya bisa dibilang menonjol.

Tapi karena VN ini pula, aku jadi pertama tahu tentang seri ini. Kebetulan, sejumlah fans telah membuatkan patch untuk terjemahan Bahasa Inggrisnya. Lalu semenjak menuntaskannya, aku beberapa kali mencari terjemahan lanjutan ceritanya.

Soalnya, aku penasaran dengan hal-hal menggantung yang ada di dalamnya.

Bukan Untuk Manusia

Ringkasnya, Phenomeno dibuka dengan rangkaian pengalaman supernatural yang disaksikan oleh seorang mahasiswa baru bernama Yamada Nagito.

Seperti mahasiswa kenalanku yang aku sebutkan di atas, Yamada adalah orang yang penasaran tentang keberadaan dunia lain. Dirinya penasaran apakah ‘dunia lain’ itu benar-benar ada atau tidak. Dia kerap mempertanyakan apa mungkin berbagai fenomena aneh tersebut sebenarnya diakibatkan kondisi kejiwaan manusia belaka.

Karena memang punya minat terhadap occult, Yamada sejak dulu adalah pengunjung berkala suatu situs web bernama Ikaigabuchi. Di Ikaigabuchi, para ahli soal bidang supernatural konon berkumpul dan Yamada seperti menjadi semacam penggemar mereka. Mereka kerap membedah berita-berita kasus supernatural, membedakan apakah sesuatu benar-benar terjadi atau tidak.

Di awal, si Yamada ceritanya baru pindah ke perkotaan untuk urusan kuliah. Dia berusaha mencari tempat menginap yang kira-kira murah. Lalu sesudah dia berulangkali ‘diganggu’ lewat bunyi-bunyi aneh dan mimpi-mimpi aneh di rumah kontrakannya yang baru, akhirnya dia terdorong untuk mencari bantuan.

Yamada berusaha mengangkat kasusnya di Ikaigabuchi. Bahkan sempat memberanikan diri datang ke acara kopi darat segala. Sayangnya, dirinya secara menyedihkan kurang mendapat tanggapan. Tapi berkat itu, Yamada kemudian berkenalan dengan seorang gadis remaja sangat aneh bernama Mitusurugi Yoishi.

Singkat cerita, Yoishi adalah seorang gadis asosial yang—menurut pendapatku pribadi—kadang tidak jelas apakah dirinya benar-benar manusia atau bukan. Kulitnya pucat. Postur tubuhnya aneh. Dirinya adalah pengunjung berkala Ikaigabuchi seperti Yamada, tapi tidak ada seorangpun anggota lain yang tahu tentang latar belakangnyanya. Ada kabar-kabar aneh tentang dirinya, seperti soal bagaimana dirinya hanya muncul pada saat-saat yang paling ganjil. Hanya saja, Yoishi pulalah satu-satunya orang yang mempertimbangkan masalah si Yamada secara serius.

Episode pertama Phenomeno membahas tentang rumah kontrakan si Yamada yang konon berhantu. Membahas tentang awal mula berdirinya, kasus-kasus yang pernah terjadi di dalamnya, lalu, pengamatan Yoishi saat mendatanginya secara langsung, dan apa yang disaksikannya di sana lewat kemampuannya untuk melihat hal-hal gaib.

Orang-orang Hilang

Karena hubungannya dengan Yoishi, dan juga karena rasa penasarannya sendiri, si Yamada ujung-ujungnya terbawa dalam berbagai kasus lain. Mereka mengunjungi berbagai tempat seram ‘bersejarah’ lain, seperti rumah sakit angker, dsb. Semua kelihatannya agak berujung pada pembeberan soal siapa Yoishi sebenarnya. (Aku juga penasaran dengan jawaban ini.)

Tapi, perkembangannya enggak cuma sampai sana. Berbagai karakter lain yang tergabung dalam Ikaigabuchi juga sesekali diperkenalkan. Lalu menariknya, sebagian dari mereka juga terungkap memiliki situasi dan kondisi pribadi yang tidak kalah janggal.

Seperti yang bisa kau harapkan dengan tema-tema kayak gini, cerita Phenomeno dan cara pemaparannya tidak benar-benar bisa dibilang nyaman. Tidak ada perkembangan karakter mencolok di dalamnya. Juga tidak ada konflik yang benar-benar jelas. Ceritanya buat kebanyakan orang juga kurasa agak membosankan. Tapi, buat yang suka cerita-cerita begini, tetap ada daya tarik aneh soal kasus-kasus yang diangkatnya.

Seperti pada bagaimana pengarangnya mengangkat pola berpikir ‘berbeda’ yang berujung ke hal-hal yang suram dan seram gitu.

Pastinya, cerita ini yang menyadarkanku bahwa kamu enggak perlu bisa melihat sesuatu hanya untuk sekedar tahu bahwa sesuatu itu ada atau enggak. (Seperti halnya dengan listrik, udara, dsb.) Memperhatikan jejak dan dampaknya saja cukup. Tapi masalahnya, kebanyakan orang susah nerima karena merasa susah berpindah sesudah mengakuinya.

Balik ke soal mahasiswa kenalanku tersebut, aku sempat mempertimbangkan buat mengenalkan Phenomeno kepadanya. Bagaimanapun, kelihatannya dia juga pemerhati kebudayan visual Jepang. Jadi harusnya bukan masalah kalau aku membicarakan soal ini dengannya.

Tapi… pada akhirnya, aku berubah pikiran.

Entah ya. Sukar menjelaskannya.

Intinya, aku tiba-tiba tersadar bahwa kalau dia emang jadi bisa melihat ‘mereka’ pun, masalah-masalah yang sedang dia hadapi tetap saja enggak akan selesai.

Lebih baik menunggu sampai dia bosan sendiri dengan topik ini daripada memanas-manasinya.

Iklan
12/03/2017

Shibito no Koe o Kiku ga Yoi

Shibito no Koe o Kiku ga Yoi, atau You Will Hear the Voice of the Dead (‘kau akan mendengar suara orang-orang yang mati’) adalah seri manga horor remaja karangan Hiyodori Sachiko (juga dikenal dengan nama Uguisu Sachiko) yang belakangan menarik perhatian. Diterbitkan sejak tahun 2011 oleh Akita Shoten dan diserialisasikan di majalah Champion Red, perlu kuakui ini salah satu manga horor modern paling menarik buatku.

Premisnya benar-benar sederhana.

Kishida Jun adalah seorang siswa SMA yang memiliki tubuh sakit-sakitan sejak kecil. Sebenarnya, dirahasiakan olehnya sendiri, selain kerap mimisan, Kishida juga sering bisa melihat hantu dan roh orang-orang mati. Tapi Kishida sangat enggan mengakui hal ini. Alasannya karena berdasarkan pengalaman-pengalamannya pribadi, berurusan dengan roh orang-orang mati tak pernah berujung pada hal baik.

Pada suatu ketika, terjadi serangkaian kasus menghilangnya siswa di sekolahnya. Lalu salah satu yang menghilang tersebut adalah Hayakawa Ryoko, seorang siswi cantik yang merupakan teman Kishida semasa kecil. Hayakawa dan Kishida dulu sering sekali bermain sama-sama. Namun pada suatu titik, mereka mulai jarang berbicara. Hayakawa lalu menjadi salah satu yang menghilang. Kemudian sejak saat itu, Kishida mulai sering melihat hantunya.

Mengikuti roh Hayakawa, Kishida akhirnya mengetahui tentang penyebab kematiannya. Namun anehnya, meski kebenarannya terungkap, roh Hayakawa semenjak itu menjadi sering mengikuti Kishida ke manapun ia pergi, senantiasa memperingatkannya dan memberinya petunjuk setiap kali Kishida menghadapi bahaya.

Kelihatannya Mereka Bukan Kappa, Tapi Alien

Semenjak kematian Hayakawa, untuk suatu alasan, Kishida menjadi sering menghadapi kasus-kasus aneh yang berhubungan dengan dunia supernatural. Sebagian alasannya mungkin memang karena Koizumi, teman sekelas Kishida yang gemuk dan realis, telah menyeretnya untuk bergabung dengan klub sejarah (yang belakangan, berubah menjadi klub supernatural) pimpinan Shikino, seorang siswi cantik berkacamata (yang sebenarnya bersifat lumayan egois di balik penampilannya). Tapi keberadaan roh Hayakawa sedikit banyak selalu memungkinkan Kishida dan orang-orang di dekatnya untuk bertahan hidup.

Manga ini menonjol karena pemaparan lewat dialognya yang terbilang minim. Setiap kasus biasanya secara khusus dihadirkan hanya dalam satu bab, walau memang dalam perkembangannya, ada kasus-kasus tertentu yang relatif lebih panjang. Hasilnya, Shibito no Koe o Kiku ga Yoi benar-benar terasa seperti manga yang singkat, padat, dan jelas. Menyenangkan untuk dibaca, mudah untuk dimengerti, dan menarik untuk dibaca lagi, terutama dengan bagaimana Hiyodori-sensei sudah disuruh editornya untuk memastikan selalu ada karakter-karakter perempuan (selain Hayakawa) yang imut di dalamnya.

Menariknya, dalam segala interaksi mereka, Kishida dan Hayakawa tak bisa berbicara dengan satu sama lain sama sekali. Jadi terlepas dari judulnya (yang diakui pengarangnya sendiri terdengar gaje, walau ini mungkin juga foreshadowing terhadap perkembangan cerita ke depan), tak ada suara roh mati apapun yang bisa Kishida dengar.  Kishida dan Hayakawa lebih banyak berinteraksi melalui bahasa tubuh dan pandangan mata. Mimik muka Hayakawa senantiasa datar dan tak ada kata-kata yang ia ucapkan, walau sebaliknya, Hayakawa agaknya bisa memahami apa-apa yang Kishida katakan, dan terkadang ia seperti sengaja bersikap dengan cara-cara tertentu.

Karenanya, kerap kali interaksi di antara kedua tokoh utama berujung jadi lucu secara tak disengaja. Sehingga walau dalam setiap babnya hampir selalu ada adegan-adegan kematian mengerikan (yang tak melulu melibatkan hantu, tapi juga berbagai keanehan supernatural yang lain), ada semacam keriangan polos yang dimilikinya, yang bisa bikin kamu seram tanpa sampai meracuni pikiranmu.

Hal lain yang aku sukai dari seri ini adalah bagaimana kasus-kasus yang lalu juga tak pernah dilupakan. Sedikit banyak, semuanya terasa seperti sedang membangun sesuatu ke arah depan. Itu tetap terasa bahkan dengan pemaparan karakter yang terbatas dan minim.

Bicara soal artwork, gaya gambarnya dipertahankan bernuansa suram dengan warna-warna gelap, tapi bagus. Seriusan, bagus sekaligus rapi. Tak ada fanservice disengaja yang mendistraksi juga. Adegan-adegan kematiannya juga, sekalipun mengerikan, bukanlah jenis yang terlalu berlebihan dalam gore. Penceritaannya, sekali lagi, benar-benar efektif. Ada kedetilan yang benar-benar diperhatikan dalam penggalian latar. Di samping itu, mudah untuk menghargai keragaman temanya yang luas. Hiyodori-sensei seakan telah melakukan riset serius terhadap berbagai cerita aneh sebagai materi karyanya.

Waktu aku pertama tahu tentang manga ini, aku sempat aneh karena belum pernah mendengar tentang Hiyodori-sensei sebelumnya. Aku merasa demikian karena ada sesuatu tentang karyanya yang seakan bisa membuat pembacanya ingin bisa mendukungnya.

Aih, aku berharap judul ini makin dikenal di masa depan nanti.

31/10/2015

Charlotte

Aku lumayan sedih ketika Charlotte tamat.

Charlotte adalah anime 13 episode keluaran studio P.A. Works yang mengudara pada musim panas 2015. Anime ini sempat menjadi salah satu yang paling diperhatikan karena ceritanya dicetus oleh Maeda Jun dan desain karakternya dibuat oleh Na-Ga (keduanya dikenal karena keterlibatan mereka dalam perusahaan game Key). Makanya, seri ini jadi semacam ‘penerus’ dari karya anime orisinil mereka sebelumnya, Angel Beats!, yang dulu juga sempat menarik perhatian.

Karya-karya Maeda-san (serta game-game keluaran studio pengembang Key) memiliki kekhasan dalam nuansa komedi berbasis karakter dan drama hubungan antar tokoh yang kuat. Karya-karya mereka yang lalu (misal: AIR, Kanon, Clannad, Little Busters!) sama-sama punya kecendrungan untuk membuat kita menangis.

Jadi, dengan kata lain, kenyataan kalau aku menitikkan air mata di tamatnya Charlotte lumayan menjadi pertanda kalau ini seri yang berakhir memuaskan.

Tapi yang mengejutkan adalah… meski seharusnya aku enggak kaget kalau ini seri yang bikin aku tersentuh, aku tetap kaget karena selama penayangannya, Charlotte sebenarnya didesas-desuskan sebagai salah satu seri Maeda-san yang agak ‘kurang.’ Bukan karena jelek. Tapi lebih karena… enggak begitu berhasil bikin nangis?

…Yah, kurang atau enggak mungkin emang merupakan isu yang subjektif.

Terlepas dari itu, aku memang tak langsung mengikuti perkembangannya sih. Salah satu alasannya ya, karena itu: aku sebenarnya tak terlalu menggemari Angel Beats!. Di samping itu, seri-seri sejenis yang sempat kuikuti hanya Clannad serta AIR, dan aku tak begitu menyukai adaptasi anime Little Busters! dan Kanon. (Walau ada beberapa kenalanku yang suka sih.)

Tapi sebagian besar staf lainnya dari Angel Beats! juga berperan kembali. Lalu sutradaranya adalah Asai Yoshiyuki. Makanya, begitu aku dengar kalau mereka akan belajar dari pengalaman mereka dengan Angel Beats!, aku akhirnya punya perasaan positif kalau Charlotte akan menjadi satu seri yang layak dinantikan.

Saat Aku Memikirkan Orang Lain

Charlotte berfokus pada seorang remaja bernama Otosaka Yuu.

Ceritanya, di dunia Charlotte, ada remaja-remaja tertentu yang akan mendapati diri memiliki kekuatan-kekuatan istimewa. Kekuatan-kekuatan istimewa ini telah disebutkan sejak awal sebenarnya lebih bersifat seperti ‘penyakit’, dalam artian hanya akan muncul dan dapat digunakan pada saat pemiliknya mengalami pubertas. Jadi, sesudah mereka beranjak dewasa, sekitar usia 18 tahun, kekuatan tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Lalu kekuatan yang Yuu punya adalah kekuatan untuk mengambil alih tubuh orang lain selama lima detik. Selama Yuu mengambil alih tubuh orang lain itu, tubuhnya sendiri akan tersungkur dalam keadaan tanpa sadar. Kemudian setelah lima detik habis, Yuu akan terlempar kembali ke tubuhnya sendiri lagi.

Kekuatan tersebut selama ini dimanfaatkan Yuu untuk mencurangi ujian-ujian sekolahnya. Dia akan mengikuti ujian, menunggu sampai durasi ujian berlangsung sampai setengah jalan, kemudian dia akan mengambil alih tubuh orang-orang lain di ruang kelasnya untuk menconteki jawaban-jawaban mereka. (Tentunya, setelah sebelumnya memastikan masing-masing orang jagonya di mata pelajaran apa.)

Perbuatannya ini dilakukan sampai ia lulus SMP dan akan memasuki SMA. Lalu berhubung dirinya tampan dan punya pembawaan karismatik, tak ada yang pernah benar-benar sampai mencurigainya.

Sampai kemudian, di sekolahnya yang baru, Yuu tiba-tiba didatangi oleh dua orang sebayanya yang tak ia kenal, Tomori Nao dan Takajou Joujirou, yang dengan siasat cerdik membongkar semua perbuatan dan kebohongannya.

Mimpi-mimpi Tentang Masa Depan yang Jauh

Kepada Yuu, Nao menjelaskan tentang sifat sebenarnya dari kekuatan-kekuatan ini. Soal bagaimana ada remaja-remaja lain dengan kekuatan seperti dirinya, bagaimana kekuatan-kekuatan tersebut tak boleh diandalkan karena suatu saat nanti pasti akan hilang, serta soal bagaimana ada pihak-pihak tertentu yang berusaha mengumpulkan anak-anak berkekuatan ini untuk tujuan tidak baik, yang hanya disebutnya sebagai para peneliti.

Nao adalah gadis mungil manis, namun bermulut sinis, yang hobi membawa camcorder yang digunakannya untuk mengumpulkan bukti-bukti telah digunakannya kekuatan. Kekuatan yang dimilikinya adalah kemampuan untuk menghilangkan diri sepenuhnya dari persepsi hanya satu orang, yang sempat digunakannya untuk menghajar Yuu lewat kemampuan bela dirinya.

Takajou adalah remaja berkacamata sopan yang kekuatannya memungkinkannya bergerak dengan kecepatan teramat sangat tinggi. Kekuatan ini hampir tak dapat dikendalikannya, dan dirinya sering mengalami kecelakaan yang telah berulangkali membuatnya berdarah-darah. (“Kekuatan yang cacat!” kata Yuu.)

Lalu keduanya sama-sama adalah anggota Dewan Siswa di SMA Perguruan Hoshi-no-Umi, dengan Nao yang menduduki jabatan ketua. Oleh orang yang menampung mereka, mereka melacak keberadaan remaja-remaja yang memiliki kekuatan dengan maksud mengawasi dan menampung mereka. Perguruan Hoshi-no-Umi secara khusus didirikan untuk melindungi anak-anak ini agar mereka tak sampai jatuh ke tangan para peneliti. Lalu singkat cerita, mereka ingin Yuu menjadi bagian dari mereka juga.

Nao sendiri bisa dibilang termotivasi melakukan pekerjaan ini, karena kakak lelaki Nao yang sangat disayanginya menjadi korban para peneliti, dan kini dirawat karena kondisi kejiwaaan yang cacat.

Maka karena sudah separuh diancam, Yuu terpaksa meninggalkan SMA favorit yang dengan susah-payah(?) telah dimasukinya, dan menerima tawaran beasiswa dari Yayasan Hoshi-no-Umi. Bersama adik perempuannya yang teramat sehat dan ceria, yang sangat disayanginya, tapi tak tahu banyak tentang kekuatan maupun kebrengsekannya, Otosaka Ayumi (keduanya sama-sama sudah tak punya kerabat dekat lain), Yuu pindah sekolah dan mulai tinggal di asrama perguruan tersebut.

Kesedihan Mengiringi Ke Mana Kita Pergi

Garis besar cerita Charlotte adalah soal pengalaman-pengalaman Yuu di Dewan Siswa Hoshi-no-Umi bersama Nao dan Takajou.

Pada waktu-waktu tertentu, akan muncul sesosok remaja kurus berambut panjang yang disebut ‘kolaborator’ di dalam ruang Dewan Siswa (yang belakangan diketahui bernama Kumagami). Kolaborator ini memiliki kekuatan untuk melacak keberadaan orang-orang berkekuatan, asalkan sekujur tubuhnya berada dalam keadaan basah. (“Lagi-lagi kekuatan yang cacat!” kata Yuu.) Atas petunjuk si kolaborator ini, Nao dengan ditemani Yuu dan Takajou, akan berkunjung ke berbagai pelosok daerah dengan seizin sekolah untuk mengamankan si pemilik kekuatan baru yang mereka temukan. Biasanya dengan memastikan agar kekuatan yang mereka punya tak digunakan lagi.

Sebenarnya ceritanya enggak cuma sebatas itu sih, walau memang hal tersebut kerasa seperti harusnya menjadi bagian besar cerita, terutama berhubung Maeda-san selama ini cenderung mengangkat aspek-aspek multidimensi dalam cerita-cerita beliau. Soalnya dalam eksekusinya, lumayan terasa seperti ada banyak hal yang seakan dipotong agar ceritanya bisa ‘masuk’ dalam durasi 13 episode.

Mungkin ini kali ya, kelemahan terbesar Charlotte?

Hal ini juga sempat diakui oleh produsernya dalam suatu wawancara sesudah penayangannya berakhir. Konon katanya, naskah pertama yang disiapkan Maeda-san untuk Charlotte benar-benar panjang, dan tantangan terbesar ada pada bagaimana merampingkannya. Aku menduga kalau mau dibuat menyeluruh, Charlotte bisa saja dibuat kayak adaptasi anime Little Busters!, dengan durasi yang bisa mencapai 20an episode. Tapi kurasa hasilnya tetap takkan sebagus yang sekarang.

Mungkin ini terdengar kayak kasus Angel Beats! terulang kembali. Tapi sebenarnya enggak juga kok. Walau ada beberapa hal yang terasa kurang terpaparkan, hasil akhir Charlotte menurutku masih jauh lebih bagus.

Bertanya Pada Tuhan Soal Apa Jawabnya

Bicara soal hal-hal teknis, animasinya keren. Aku kurang menggemari gaya desain karakter Na-Ga. Tapi harus aku akui desain beliau kelihatan bagus-bagusnya di seri ini, karena berhasil mewujudkan kepribadian para karakternya. Ini terutama diwujudkan dengan desain latar yang benar-benar baik dari para staf animator, terutama dalam berbagai adegan aksi yang melibatkan kekuatan-kekuatan super terjadi. Animasi lagu pembuka seri ini, yang menyerupai suatu rangkaian mimpi (yang makna di dalamnya baru lebih kita pahami seiring perkembangan cerita), benar-benar keren.

Musik dan audionya memiliki kualitas solid (dalam artian: tidak jelek) seperti yang bisa diharapkan dari karya-karya Maeda-san. Khususnya dengan bagaimana tema-tema khas dalam cerita-cerita beliau banyak muncul kembali, seperti soal permainan musik (melalui band yang sering Nao dengar, Zhiend), olahraga, atau beraksi menegakkan keadilan bersama teman-teman dekat.

Karakter Nao buatku menjadi daya tarik Charlotte yang terbesar, dengan kesendirian yang dirasakannya sesudah orangtuanya mengkhianati dirinya, sekaligus cara pandang pragmatisnya. Sehingga rasanya sangat sayang bagaimana hubungan Yuu dengan dirinya (serta sekaligus juga hubungan Yuu dengan karakter-karakter lainnya) tak digali lebih banyak.

Maksudku, jadinya memang tergali sih.

Yuu yang semula brengsek mulai berubah karena tindakan-tindakan Nao. Lalu Yuu juga menemukan sesosok sahabat dalam diri Takajou yang mengulurkan tangan padanya, terlepas dari masa lalunya. Lalu Ayumi adalah sosok yang benar-benar bisa disayang. Tapi rasanya kita ingin bisa meluangkan waktu lebih banyak bersama mereka. Terutama dengan apa-apa yang terjadi dalam cerita.

Charlotte seperti punya premis sebuah seri TV Amerika yang harusnya punya format cerita yang episodik dan berdiri sendiri-sendiri, dan bukan berkesinambungan. Intinya sih, ada lebih banyak hal yang rasanya bisa lebih dieksplorasi. Apalagi dengan kualitas presentasi dan eksekusinya yang lumayan tinggi. Rasanya seperti 13 episode itu adalah makanan yang benar-benar enak. Tapi kita dikasih porsi kurang banyak, sehingga merasa sedikit kurang puas.

…Tapi makanannya beneran enak! Dan kita benar-benar jadi kepikiran mau menambah lagi kalau misalnya ada.

Makanya, kalau misalnya ada adaptasi manga yang lebih menggali para karakternya lebih jauh, atau bahkan ada game dengan penggalian cerita lebih banyak (lagi, seperti kasus ide semula Angel Beats!), itu akan jadi hal yang benar-benar menarik.

Langit Akan Berubah, dan Bintang-bintang Akan Berganti

Di awal, Charlotte seakan berlanjut secara formulaik dengan diperkenalkannya Nishimori Yusa (nama aslinya adalah Kurobane Yusa), bintang idola terkemuka dan personil band How-Low-Hello (yang sangat digandrungi oleh Ayumi dan Takajou). Yusa ternyata memiliki dua kekuatan sekaligus (salah satunya terkait mendiang kakak perempuannya, Kurobane Misa), dan karenanya kemudian turut pindah ke Hoshi-no-Umi dan menjadi anggota Dewan Siswa juga. Tapi formula ini lewat segera dipatahkan dengan pemaparan soal dari mana kekuatan-kekuatan ini berasal, hingga akhirnya memuncak dengan penentuan nasib semua pemilik kekuatan di seluruh dunia.

Meski banyak canda tawanya, seperti yang mungkin sebagian penggemar sudah bayangkan, ceritanya juga punya bagian-bagian agak gelap dengan beberapa adegan kekerasan yang sadis. Ada pemaparan tentang sosok yang sepertinya terlupakan dalam masa lalu Yuu dan Ayumi. Ada juga pembeberan tentang siapa sebenarnya benefactor yang menaungi Nao, Yuu, dan anak-anak lain seperti mereka.

Di antara semua ini, tentu saja, juga ada tentang tumbuhnya hubungan antara Nao dan Yuu…

Ada lumayan banyak tema yang diangkat. Makanya, karena durasinya yang terbatas tersebut, kerasa seperti ada beberapa detil yang terpaksa dipotong. Terutama menyangkut soal apa yang Yuu tempuh di episode terakhir. Atau lebih jauh soal Nao dan Yuu, soal Ayumi, atau bahkan hubungan sobat antara Yuu dan Takajou (uh, aku juga enggak yakin kenapa aku ngerasa perlu nyinggung ini).

Akhir kata, ada sedikit rasa kurang puas di akhir. Tapi bukan dalam arti ceritanya berakhir ‘mengecewakan’ juga.

Terus terang, daripada soal bagaimana semua bisa lebih ‘kena’ andai ada build up lebih baik, atau soal adanya foreshadowing yang enggak masuk, aku malah lebih memikirkan soal pesan apa yang Maeda-san berusaha sampaikan. Kalau menurutku, mungkin pesannya adalah soal bagaimana siapapun kita, kita pasti akan mendapat tantangan dalam hidup masing-masing. Karenanya, kita harus selalu mengusahakan yang terbaik.

Bagaimanapun, ini seri yang tetap terbilang memikat. Setiap episodenya selalu menghadirkan sesuatu yang baru dan berbeda. Lalu akhir ceritanya lumayan enggak terduga bagi sebagian orang.

Rasanya bittersweet, sekaligus penuh ketidakpastian. Tapi hei, mungkin memang semestinya demikian.

(Lagu yang paling direkomendasikan tentu saja adalah pembuka ‘Bravely You’ dari Lia dan lagu penutup ‘Yake Ochinai Tsubasa’ yang dibawakan Tada Aoi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A-

24/08/2015

Punch Line

Mungkin karena Saenai Heroine no Sodatekata, belum lama ini aku bolak-balik mempelajari halaman Wikipedia dari seri Memories Off.

Memories Off merupakan seri VN lama yang pertama dikeluarkan KID di pertengahan dekade 2000an dulu (meski sekarang sudah bubar, KID dulu juga terkenal sebagai pengembang seri VN Infinity Series). Samar-samar di masa lalu, rasanya aku pernah melihat beberapa visual dari seri OVA adaptasinya. Tapi aku tak benar-benar tahu apa-apa tentangnya sampai sekarang.

Alasan ini aku singgung adalah karena buatku, ada sesuatu yang benar-benar memikat dari konsep ‘percabangan cerita’ di seri-seri galge semacam Memories Off. Kita akan ke satu arah kalau memilih A, kita akan ke arah yang lain kalau memilih B. Hal-hal seperti itu agak membuatku mikir tentang beberapa hal, karena pilihan-pilihan yang kita ambil ditentukan oleh—dan sekaligus menentukan ke depan—‘identitas’ diri kita siapa.

Tapi terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah Punch Line.

Menutup rangkaian bahasan soal anime musim semi 2015 lalu, ini satu judul lain yang perkembangannya sempat kuikuti. Malah, ini hampir menjadi judul favorit yang paling akan aku rekomendasikan dari musim itu.

Sekali lagi, hampir.

Disutradarai Uemura Yutaka dari studio MAPPA yang memproduksinya, dengan naskah dibuat Uchikoshi Kotaro (penyusun skenario game Ever 17 keluaran KID serta seri game thriller populer Zero Escape di NDS) dengan musik yang ditangani Komuro Tetsuya (buat kalian yang belum tahu, beliau salah satu produser musik veteran tersukses di Jepang, yang berperan memperkenalkan dance music di sana secara mainstream. Aku sendiri pertama mengenal beliau sebagai salah satu personil grup musik globe), dilihat dari sudut pandang manapun, Punch Line termasuk salah satu seri yang high profile.

Berjumlah total 12 episode, dengan melibatkan idola populer Nakagawa Shoko serta grup idola Dempagumi Inc, ada versi gamenya juga yang dikembangkan dan dikeluarkan oleh 5pb (yang kini telah bergabung dalam perusahaan induk Mages) untuk PS4 dan PS Vita, yang konon akan memaparkan perkembangan dan akhir cerita alternatif yang bisa berbeda dari di animenya.

Alasan aku menyinggung soal Memories Off (selain karena dikembangkan oleh KID, dan juga karena nuansa sentimentalisme di dalamnya yang benar-benar kuat), adalah karena daripada anime, Punch Line lebih terasa dibuat untuk dijadikan game.

Jenis game yang mengutamakan soal ‘percabangan cerita’ di dalamnya.

Panties and Cinnamon

Punch Line (ini istilah bahasa Inggris, secara harfiah kira-kira berarti ‘bagian lelucon yang membuat tertawa’; walau dalam konteks ini, merupakan plesetan dari kata ‘panchira’ yang artinya ‘pantyshot’) berkisah tentang Iridatsu Yuuta, seorang remaja yang pada suatu hari terlibat dalam suatu insiden pembajakan bis. Di akhir insiden, Yuuta kemudian terpisahkan roh dan badannya, bertemu seekor roh kucing misterius bernama Chiranosuke, yang kemudian menjelaskan pada Yuuta bahwa dirinya telah menjadi harapan terakhir umat manusia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Hanya saja, Chiranosuke juga menyebutkan kalau hal ‘sebaliknya’ juga bisa terjadi: apabila Yuuta sampai dua kali melihat celana dalam perempuan secara berturut-turut, maka suatu reaksi berantai akan terjadi, yang justru kemudian akan menyebabkan bumi hancur akibat hantaman meteor.

Uh, oke. Mungkin kurang lebih gitu?

Terlepas dari tema-tema konspirasi, pembunuhan, aliran kepercayaan, dan misteri di dalamnya, Punch Line jelas-jelas bukan anime yang perlu ditanggapi serius. Tapi entah karena pemaparannya yang bagus atau gimana—terlepas dari segala pantyshot di dalamnya—lumayan susah buat enggak jadi penasaran dan kemudian berharap lebih. Ada meteor raksasa di luar angkasa yang sedang mengancam dunia. Ada suatu superhero bertopeng yang menjadi pembasmi kejahatan. Ada aliran kepercayaan Q-May yang menyatakan akan melakukan sesuatu tentang meteor ini bila kemauan mereka tak dituruti.

Lalu para pembuatnya ternyata enggak bercanda. Jumlah pantyshot di seri ini benar-benar ada banyak.

Hanya saja, entah karena gaya desain karakternya yang imut atau bagaimana, terlepas dari betapa parah dan mendetilnya desain berbagai celana dalam di dalamnya, aku hampir-hampir enggak merasakan apa-apa setiap kali adegan-adegan fanservice ini terjadi (yang ditandai dengan bagaimana Yuuta secara klasik mimisan). Alasannya? Karena aku sudah terlanjur terpikat dengan semua teka-teki yang terjadi di balik semuanya.

Apa sebenarnya yang terjadi? Dunia tengah terancam karena apa?

Episode-episode awal Punch Line membawa kita pada keseharian(?) Yuuta dan para penghuni lain di Wisma Korai yang ditempatinya. Yuuta, dengan bimbingan tak jelas dari Chiranosuke, kini melayang-layang sebagai roh di sana. Sementara, Chiranosuke menjelaskan, ada orang lain yang telah mengambil badan Yuuta. Lalu sosok tersebut telah menempeli dinding kamar Yuuta dengan berbagai kertas mantra sehingga Yuuta tak bisa masuk.

Chiranosuke kemudian berkata bahwa Yuuta harus menemukan kitab misterius Nandala-Gandala untuk bisa menyelesaikan semuanya. Lalu mungkin saja kitab ini ada di Wisma Korai. Tapi di kamar siapa?

Di samping Yuuta, para penghuni Wisma Korai yang lain antara lain (ya, semuanya cewek, karenanya, Yuuta jadi perlu berhati-hati):

  • Narugino Mikatan; seorang gadis cantik yang ramah dan ceria, yang merupakan personil sebuah grup idola terkemuka, sekaligus pahlawan bertopeng misterius Strange Juice yang sebenarnya bermarkas di Wisma Korai. …Mungkin Yuuta memiliki perasaan terhadapnya.
  • Daihatsu Meika; teman lama Mikatan sekaligus pemilik dari Wisma Korai; sebenarnya adalah penemu jenius Pumpkin Chair, yang dari jauh membantu Strange Juice dalam setiap aksinya.
  • Hikiotani Ito; seorang siswi SMA yang karena suatu alasan, sudah agak lama mengurung diri di kamarnya dan tidak ke sekolah. Sebenarnya seorang gamer sangat handal yang ternyata merupakan salah satu lawan online yang sering dihadapi Yuuta.
  • Chichibu Rabura; seorang perempuan dewasa yang terbilang cantik, tapi karena suatu hal masih single. Nampaknya dulu memiliki bakat supernatural untuk meramal dan sebagainya yang ia warisi dari keluarganya, tapi karena suatu sebab, kekuatannya sirna dan itu membuatnya frustrasi. Meski begitu, pengetahuan yang dimilikinya sedikit banyak tetap berguna bagi Yuuta. Dirinya juga sudah mulai putus asa untuk mendapatkan pasangan.

Semuanya dituturkan dengan benar-benar bagus dan mudah dipahami, sekalipun ada begitu banyak hal yang terjadi di antara adegan-adegan konyol yang muncul. Padahal cerita Punch Line latarnya hanya berkisar di hari-hari terakhir Desember di awal musim dingin, tak jauh-jauh dari Wisma Korai. Tapi apa-apa yang terjadi di sana memiliki kaitan dengan nasib seisi dunia.

Lalu semuanya terikat dengan suatu proyek rahasia di masa lalu, seekor kura-kura dan seekor anak beruang, serta peran yang ditakdirkan harus dimainkan oleh masing-masing penghuni Wisma Korai ini.

U-Turn

Bicara soal teknis, kalau kalian tanya apa ini anime yang bagus atau enggak, maka seenggaknya ini anime yang benar-benar bagus secara teknis. Presentasinya mengesankan. Walau kalian mungkin tak langsung sreg dengan gaya desainnya, para karakternya ekspresif dan visualnya ramai oleh motif. Ada banyak detil yang diperhatikan pada interior kamar masing-masing penghuninya. Mulai dari patung cowok di kamar Rabura, peralatan penuh warna di kamar Meika-emon, sampai kesuraman dan keberantakan di kamar Ito.

Adegan-adegan aksinya, yang di luar dugaan lumayan banyak (dan juga lumayan melibatkan banyak hal gila), terkoreografi dengan bagus, terutama pada episode-episode terakhirnya.

Lalu musiknya, meski di awal mungkin tak langsung kau suka, memang lama kelamaan meraih perhatian.

Cuma, ya, itu. Ini anime yang benar-benar aneh dari awal sampai akhir. Kalau kau tak suka misteri atau komedi yang jenis seperti ini, atau bahkan tak tahan dengan begitu banyaknya kilasan celana dalam yang berulangkali terjadi, mungkin ini sesuatu yang takkan cocok buat kalian.

Dan lagi, kenapa mesti celana dalam?! Maksudku, apa segitunya mereka mesti memaksakan lelucon yang berbasis permainan kata ini?

… …

Oke. Kembali membahas soal musiknya…

Man, kayaknya aku jadi mesti menuturkan pengalaman pribadi lagi.

Bukan. Bukannya musiknya jelek sih. Aku bahkan enggak bisa mengatakan musik dan audionya jelek.

Tapi terlepas dari Nakagawa-san yang akrab dipanggil Shoko-tan—yang sudah agak lama aku kenal, dan lumayan bisa kuhormati; man, aku harap dia orang baik, karena aku takkan bisa melupakan nyanyian ‘Sorairo Days’ beliau di anime Gurren Lagann—aku pertama mengenal grup Dempagumi Inc dari pengalaman mengikuti AFA Indonesia 2013 dulu. Mereka yang menjadi bintang tamu kejutan di acara pentas musiknya. Tapi aku terus terang agak dendam pada mereka, karena gara-gara mereka tampil, tampilnya Kalafina jadi tertunda.

…Oke, kita jangan singgung soal masa lalu.

Intinya, sesudah pengalaman AFA itu, aku mencari info sedikit soal mereka, dan menurutku mereka grup idola yang benar-benar aneh. Buatku, mereka memiliki kemampuan dalam semua performa mereka gitu. Cuma, mereka aneh. Kayak, aura dan wibawa idol mereka buatku sama sekali enggak kepancar gitu.

They’re just weird.

Jadi aku enggak pernah benar-benar tertarik dengan mereka.

…Yah, Shoko-tan juga sosok yang agak aneh sih. Jadi kurasa ini kolaborasi yang pas.

Namun sesudah mengikuti Punch Line, baru mesti kuakui kalau Dempagumi memang grup yang lumayan. Aku lambat laun bisa suka dengan lagu penutup terakhir yang mereka bawakan. Meski aku masih tak bisa merasakan wibawa mereka sebagai idol, Dempagumi kini telah menjadi kelompok yang juga bisa aku hormati terlepas dari… uh, sisi-sisi aneh mereka.

Jadi, yang ingin kukatakan adalah: hasilnya enggak jelek kok! Sama sekali enggak! Malah hampir bagus!

Hahahahaha!

… …

Iya.

Hampir.

Soalnya tamatnya agak…

Meski klimaksnya bagus, mereka kayak memilih tamat yang bukan tamat terbaik yang bisa terjadi. Para pembuatnya kayak menyimpan tamat terbaik itu untuk digunakan di versi gamenya saja.

Sekali lagi, karena soal ‘percabangan cerita’ di atas.

Menyebalkan? Ya, agak menyebalkan.

Tamat animenya itu kayak neutral ending. Sementara nanti gamenya yang akan menyajikan tamat-tamat yang lebih jauh tergantung rute (cewek?) mana yang nanti akan kita pilih.

Entahlah. Kesannya buatku seenggaknya kayak gitu.

Dan lagi, meski perkembangan ceritanya sudah gila-gilaan dengan berbagai kekocakan di dalamnya, memang masih ada beberapa teka-teki yang belum terungkap. Seperti soal saudara lelaki Rabura (yang disinggung sangat minim). Seperti soal Muhi. Seperti soal awal fobia Mikatan terhadap kura-kura.

Seperti soal nasib akhir yang lain-lainnya lagi…

Akhir kata, ini anime yang berhasil menuntaskan semua jalinan ceritanya, tapi dengan—anehnya—kurang memuaskan. Tapi ini seri yang bisa sangat berkesan bila kalian memilih mengikutinya.

Soal celana dalam… maaf, aku enggak bisa berkomentar banyak soal desain celana dalam.

Soal Memories Off, yah, setelah memikirkannya lagi, aku jadi agak rindu dengan seri-seri macam Memories Off. Mungkin mestinya aku lebih banyak mendalaminya di saat seri-seri seperti itu sedang menjamur.

Yah, mungkin di lain waktu.

Penilaian

Konsep: X; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+

17/06/2015

Gin no Cross to Draculea

Belum lama ini di situs Baka-Tsuki, aku membaca Silver Cross and Draculea (Gin no Cross to Draculea) sampai habis sebagai selingan.

Ini seri light novel karangan Totsuki Yuu dengan ilustrasi buatan Minato Yasaka yang diterbitkan di bawah label Fujimi Fantasia Bunko, dengan durasi yang hanya terdiri atas lima buku, dan pertama terbit tahun 2012.

Inti ceritanya tentang… bagaimana ada seorang anak remaja kurus berkulit pucat bernama Kujou Hisui yang karena suatu alasan, mempunyai tubuh yang kebal terhadap gigitan vampir. Sehingga saat ia bertemu sesosok vampir perempuan (yang sangat cantik tapi kekanakan) bernama Rushella Dahm Draculea, Hisui sama sekali tak masalah bila dihisap darahnya. Karena sesudah dihisap, dirinya tak akan berubah menjadi vampir.

…Berhubung ceritanya yang kusangka bergenre aksi ternyata lebih banyak ke komedi romantis, yang ditambah dengan bumbu-bumbu misteri (walau aksinya ada sih), aku takkan masuk terlalu detil soal pembahasan ceritanya.

Aku agak bingung gimana menjelaskannya.

Soalnya… apa ya?

Saat kesan pertama yang masuk ke kepala kamu adalah sesuatu yang penuh aksi pembasmian vampir dan adegan-adegan berdarah gitu, tapi yang kau dapat malah cerita misteri yang melibatkan situasi harem dan bumbu-bumbu fanservice, mungkin kau juga bakal agak kedistorientasi mesti bereaksi bagaimana.

Singkat cerita, walau ini bukan seri ranobe yang jelek, ini bukan seri ranobe yang bisa kubilang bagus juga.

Aku enggak begitu bisa menjelaskannya.

Intinya, pada suatu malam, Hisui yang sedang pulang ke rumah berjumpa (diserang) Rushella yang kebetulan berada di sana. Rushella serta merta syok karena dirinya yang True Ancestor (Shinsou, ‘leluhur asli’) sekalipun tak bisa mengubah Hisui menjadi pelayannya. Karena penasaran, Rushella tidak terima. Hingga akhirnya Rushella (dengan membawa peti mati segala, serta berkeping-keping uang emas) memutuskan untuk ikut tinggal di rumah Hisui karena tak bisa terima jika Hisui tak menjadi pelayannya (di samping karena darah Hisui baginya luar biasa enak).

Seiring dengan waktu, mulai dipaparkan tentang siapa Hisui sebenarnya, serta kenapa ada salib raksasa berwarna perak tersimpan di ruang bawah tanah rumahnya. Terutama sesudah terungkap bahwa Rushella telah kehilangan ingatannya, sama sekali tak tahu dari mana asal-usulnya; dan Hisui jelas-jelas secara diam-diam sadar bahwa kaum Shinsou harusnya tak ada lagi sesudah wafatnya Miraluka, vampir Shinsou yang sebelumnya telah membesarkan Hisui bagaikan seorang ibu, kakak perempuan, dan kekasih sekaligus.

Urban Legends and Kisses

Oke. Ada dua poin utama yang sebenarnya mau kubahas terkait judul ini.

Pertama, adalah bagaimana selain vampir, seri ini juga mengangkat tema bagaimana seandainya monster-monster lain dari film-film horor Hollywood zaman dulu tampil kembali di zaman sekarang. Selain Rushella yang notabene merupakan vampir, juga ditampilkan karakter-karakter lain yang merupakan penyihir, hantu, monster Frankenstein, dan dhampir. Aku pengen cerita lebih banyak, cuma kalau sudah menyinggung soal siapa-siapanya, nanti bisa jadi lumayan spoiler.

Kedua, aku aneh saja karena tak biasanya ada judul seperti ini yang diterjemahkan sampai beres di Baka-Tsuki. Ini bukan seri yang bagus, tapi juga bukan seri yang jelek. Lalu walau ini bukan seri yang terbilang panjang, aku tetap saja heran. Memang ada apa dengan seri ini? Kenapa si penerjemahnya bisa begitu segitu berminat menerjemahkan seri ini sampai beres?

Aku mesti akui kalau desain karakternya buatan Minato-sensei termasuk memikat sih (aku terus terang suka desain karakter Uno Kirika–sempai… dan, uh, Miraluka). Tapi karakterisasi dan perkembangan ceritanya sendiri lumayan mengangkat alis.

Mungkin ini cuma aku, tapi aku sempat mikir kalau perkembangan ceritanya yang aneh mungkin juga karena konflik-konflik yang diangkat dalam cerita ini sebagian besar merupakan konflik pribadi; khususnya, soal identitas Rushella dan hubungan Hisui dengan mendiang Miraluka. Tapi masa iya cuma itu? Aku yakin Totsuki-sensei juga punya alur pemikiran yang aneh. Tapi kayaknya aneh kalau misalnya aku membahas sampai ke sana…

Pastinya, ini seri komedi romantis yang berakhir dengan situasi harem. (Yay, HAREM ENDING!) Jadi kalian yang suka situasi-situasi seperti itu mungkin akan suka. Meski luar biasa aneh perkembangannya, tetap ada kepuasan aneh yang kurasakan sesudah mengikutinya. Semua jalinan plot tertuntaskan (kecuali, mungkin, soal asal usul Sudou Mei), dan ceritanya berakhir dengan relatif bittersweet kalau bukan bahagia.

Beberapa orang mungkin menganggap sifat Rushella mengesalkan. Lalu, temanya juga memang agak… disturbing pada beberapa bagian. Lalu ada juga banyak adegan di mana para karakternya yang—dengan alasan terbawa emosi?—memilih ‘pergi’ begitu saja di tengah suasana klimaks konfrontasi, dan bukannya menyelesaikan masalah mereka di situ juga. …Jadi serius, ini tetap bukan seri yang akan aku rekomendasikan.

Akhir kata, aku merasa settingannya sebenarnya lebih cocok dijadikan game ketimbang light novel. Jadi ya sudahlah.

Aku cukup berhasil dibuat penasaran selama mengikutinya sih.

…Aku benar-benar lega saat pada akhirnya berhasil menyelesaikannya.

30/04/2015

Yojou-Han Shinwa Taikei

Aku agak lupa gimana persisnya. Tapi aku sempat pernah mikir, kalau suatu hari nanti aku jatuh cinta lagi, aku ingin jatuh cinta kayak di Yojou-Han Shinwa Taikei (judulnya kurang lebih berarti: ‘catatan kronologi mitologi empat setengah tatami’; tatami—buat kalian yang enggak tahu—adalah tikar anyaman bambu Jepang berbentuk persegi panjang yang sering digunakan sebagai satuan ukur luas kamar).

Juga dikenal dengan judul The Tatami Galaxy (‘galaksi tatami’), ini seri anime keluaran tahun 2010 yang sempat aku lewatkan pada masa itu. Jumlahnya episodenya 11. Produksinya dilakukan oleh studio Madhouse. Penyutradaraannya secara mencolok dilakukan oleh Yuasa Masaaki, yang punya ciri khas gaya animasi tangan 2D yang mulus. (Belum lama ini beliau juga yang menyutradarai seri anime Ping Pong: The Animation.)

Anime ini diangkat dari seri novel buatan Morimi Tomohiko yang semula diterbitkan oleh Ota Shuppan pada tahun 2004, dan kemudian diterbitkan ulang oleh Kadokawa Shoten dalam bentuk bunko pada tahun 2008.

Kalau kalian merasa pernah dengar nama Morimi-sensei, itu karena beliau adalah pengarang asli novel Uchouten Kazoku yang dianimasikan P.A. Works beberapa waktu lalu. Seperti Uchouten Kazoku, seri ini juga sepenuhnya berlatar di Kyoto, dan menampilkan berbagai tempat wisata bersejarah yang ada di sana.

“Karena kamu dan aku sama-sama terhubung oleh benang hitam takdir!”

Sebenarnya, The Tatami Galaxy termasuk seri anime aneh yang mengangkat tema yang agak-agak enggak jelas. Aku memang menyinggung soal cinta. Tapi sebagian besar ceritanya sebenarnya lebih tentang drama komedi kehidupan yang mengangkat tema-tema soal keberadaan (uh, eksistensialisme) dengan ditambah bumbu-bumbu supernatural.

Garis besarnya kira-kira begini.

Si tokoh utama (yang hanya disebut ‘aku’) adalah seorang mahasiswa tingkat tiga(?) di Universitas Kyoto(?) yang berkacamata dan berpembawaan agak-agak lembek. Lalu seri Yojou-Han Shinwa Taikei adalah tentang bagaimana si tokoh utama ini—di tengah kamar apartemennya yang berukuran empat setengah tatami—seakan mengenang kembali tahun-tahun awal masa kuliahnya dan mulai memandangnya sebagai waktu terbuang.

Cerita dibuka pada suatu malam, di suatu warung ramen misterius bernama Neko Ramen (yang sempat dicurigai memakai daging kucing dalam masakan mereka) yang kadang kali buka pada hari-hari tertentu di belakang Kuil Shimogamo. Lalu di situ, kita langsung sadar kalau ada sesuatu yang aneh dengan situasi si tokoh utama. Karena di sana si tokoh utama berpapasan dengan orang yang mengaku sebagai ‘dewa perjodohan’ bernama Kamotaketsununokami atau Kamotaketsunominokamo (agak enggak jelas yang mana karena dia menyebutnya cepat, dan ditambah sebenernya langsung kelihatan meragukan apa orang ini beneran serius apa enggak—mohon diinget bahwa Jepang adalah negeri dengan banyak dewa.).

Tapi orang yang ngaku dewa ini, yang jadi sesama pelanggan di warung ramen tersebut, kemudian menyebut satu nama yang langsung dikenal si tokoh utama: Akashi.

Akashi adalah seorang gadis pendiam dengan mulut blak-blakan yang jadi adik angkatan tokoh utama dari jurusan berbeda, yang ia tahu dikenalnya karena kegiatan-kegiatan klub yang diikutinya di kampus. Si dewa ini seperti sedang mempertimbangkan soal hubungan si tokoh utama, Akashi, dengan seorang kenalan tokoh utama lain yang hanya disebut sebagai Ozu.

Gampangnya, si Ozu ini yang si tokoh utama anggap sebagai biang kerok semua masalahnya dalam dua tahun terakhir. Ozu adalah orang yang si tokoh utama sebut ‘saking banyaknya makan makanan instan sampai-sampai tampangnya jadi kayak siluman.’ Lalu untuk suatu alasan, si Ozu ini selalu sok akrab dan sok dekat dengan si tokoh utama, dan selalu di semua skenario kayak membawa-bawa masalah bagi si tokoh utama dalam dua tahun pertama kehidupan kuliahnya tanpa bisa si tokoh utama hindari.

Mochiguman dan Castella

Mulai dari sini, ceritanya semakin aneh.

Karena tak ingin mengenang kehidupan sekolah menengahnya yang terbatas pergaulannya, pas masuk dunia kuliah ‘yang penuh warna,’ si tokoh utama bertekad untuk bergabung dengan suatu kegiatan ekskul (circle), bertemu banyak orang, dan (mudah-mudahan) bertemu seorang gadis anggun berambut hitam pekat yang bisa menjadi pujaan hatinya.

Tapi gara-gara si Ozu ini (walau sebenarnya juga karena kepayahan si tokoh utama sendiri sih), kita kemudian tahu kalau si tokoh utama ini terlibat berbagai masalah. Lalu pada setiap titik di mana dia mulai menyesal dan putus asa, waktu entah gimana akan berputar dan mengulang kembali buat si tokoh utama. Sehingga segalanya kayak ke-reset dan dia kembali ke masa awal saat dia baru pertama masuk kuliah, dan berkesempatan mengambil pilihan ekskul yang beda.

Yojou-han Shinwa Taikei memaparkan gimana si tokoh utama secara berulangkali, baik secara sadar atau enggak (karena ingatannya jadi tersamar setiap kali ini terjadi), terus-terusan mengulang-ulang waktu karena keenggakpuasan pribadinya. Iterasinya berlangsung kira-kira seperti ini:

  • Circle Tenis “Cupid”
  • Circle Perfilman “Misogi”
  • Circle Bersepeda “Soleil”
  • ???
  • Circle Softball “Honwaka”
  • Circle Percakapan Bahasa Inggris “Joingurisshu”
  • Circle Asosiasi Hero Show
  • Circle Membaca “SEA” (tiga yang terakhir ini dia ikuti sekaligus)
  • ???

Tapi ternyata pilihan ekskul manapun yang dia ambil begitu masuk kuliah, selalu, selalu, selalu, dia berjumpa dengan Ozu yang kemudian membawanya ke dalam berbagai masalah.

Seiring perkembangan cerita, kita kemudian menyadari betapa anehnya keadaan di sekitar si tokoh utama. Ada sesuatu yang besar tengah terjadi. Lalu ada suatu hal gila yang si Ozu tengah rencanakan. Lalu petunjuk-petunjuk tentang semuanya secara tersamar bisa kita temukan lewat pilihan jalan hidup berbeda yang diambil si tokoh utama setiap kali dia mengulang waktu.

Keanehan-keanehan ini mencakup tapi tidak terbatas pada: sindikat pencuri sepeda, dinding yang dihiasi replika dari semua payudara yang pernah dipegang pemiliknya, sebuah love doll, korespondensi rahasia dengan seorang gadis anggun misterius yang (mungkin) berambut hitam, upaya sabotase antar individu dan ekskul, seorang peramal yang terus-terusan naikin harga di Jalan Kiyamachi, putri cantik dari sebuah produsen makanan, sampai ke sebuah organisasi rahasia yang berkembang jadi suatu aliran kepercayaan.

Lalu setiap kali pula, di tengah itu semua, si tokoh utama selalu bersimpangan jalan dengan Akashi, yang secara tersamar pula selalu mengingatkannya akan sebuah janji yang belum dipenuhinya.

Books, Moths, and Idealogue

Alasan aku dulu tertarik pada seri ini kenapa ya?

…Aku enggak begitu inget.

Seri ini lumayan cocok buatku pastinya sih. Lalu dengan penceritaannya yang aneh, lumayan berhasil membuatku mikir tentang beragam hal yang sebelumnya enggak pernah kupikir, dari berbagai sudut pandang yang enggak pernah kusangka juga. Kalau kalian pernah mengikuti drama di Uchouten Kazoku, mungkin kalian sudah ada bayangan soal tema yang diangkat seri ini kayak gimana. Cuma, yah, itu dia, seri ini beberapa kali lipat lebih aneh lagi.

Bicara secara teknis, terlepas dari warna-warnanya yang agak gelap dan suram, ada lumayan banyak hal konyol yang ada secara visual kalau kau mau memperhatikan. Anehnya, entah gimana caranya, semua desain karakter yang agak aneh ini enggak kontras dengan desain-desain karakternya yang relatif lebih normal. Ozu tampangnya beneran kayak siluman. Tapi dia enggak terlihat aneh kalau bersebelahan dengan Hanuki Ryouko yang seksi, misalnya. Lalu Higuchi Seitarou yang agak ‘besar’ wajahnya juga kelihatan bisa pas secara aneh kalau disandingkan dengan Hanuki. Walau soal keserasian ini yang paling aneh tetap adalah Johnny sih…

…Agak susah jelasinnya.

Yang pasti, sama kayak dengan kasus Ping Pong: The Animation (karena itu contoh yang paling gampang kuambil), bahkan dengan visualisasinya yang 2D, adegan-adegan dengan sedikit aksinya saat terjadi tetap mendebarkan untuk dilihat.

Soal audio, grup band Asian Kung Fu Generation membawakan lagu pembukanya yang berjudul “Maigo Ino to Ame no Beat.”

…Apa aku perlu komen lebih dari itu?

Tapi seriusan. Audionya terbilang bagus. Setiap episodenya yang dipenuhi kekonyolan selalu diakhiri perasaan mistis aneh setiap kali waktu berulang. Lalu walau mungkin ada yang ngerasa kalau penutupnya rada antiklimatik—dan emang kayak bikin kita berharap durasinya masih ada lebih—segala keanehan seri ini dan kerapian penyajiannya tetap menutupi segala kelemahannya.

Soal rekomendasi, sejujurnya, ini bukan seri yang akan aku rekomendasikan. Kurasa cuma jenis-jenis orang tertentu saja yang bakal suka seri macam ini. Enggak semua orang bakal bisa nangkep intinya gitu. Ceritanya secara umum memang konyol, walau ada suatu pesan berarti yang disampaikan tersamar di dalamnya. Tapi, yah, seri-seri yang disutradarai Yuasa-sensei memang kerap kayak gitu.

Buatku seenggaknya, ini salah satu seri paling berarti yang pernah kuikuti. Entahlah. Mungkin akunya juga yang suka tema-tema kayak gini. Atau mungkin juga karena aku penggemar AKFG.

Lalu alasan aku menulis tentangnya sekarang… ukh, mungkin karena aku sedang jatuh cinta lagi. Hahaha.

…Gimanapun, kita enggak boleh menunda-nunda keinginan kita untuk hidup di kehidupan kita sendiri.

Penilaian

Konsep: B+, Visual: A-; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A

09/02/2015

Yu Yu Hakusho

Karena suatu alasan, aku baru memeriksa tamatnya versi komik Yu Yu Hakusho (‘buku putih si Yu?’) belum lama ini.

Buat yang belum tahu atau sudah tak ingat, Yu Yu Hakusho merupakan manga shonen karangan Togashi Yoshihiro yang terbit di Weekly Shonen Jump punya penerbit Shueisha di dekade 1990an (dan sudah diterbitkan di sini sampai tamat oleh Elex), sebelum beliau meluapkan lebih banyak keanehan seleranya melalui Level E dan tenar lebih jauh melalui Hunter x Hunter. Ceritanya tentang petualangan-petualangan seorang remaja SMP berandalan bernama Urameshi Yusuke, yang dibangkitkan kembali dari kematian untuk memburu siluman-siluman penjahat sebagai detektif alam roh.

Sebenarnya, daripada manganya, yang dulu tenar banget dari Yu Yu Hakusho adalah animenya sih. Animenya dulu pernah sempat ditayangkan di televisi sini, dan dianimasikan sebanyak 110an episode dengan lumayan sukses oleh studio Pierrot. Animenya cukup keren dengan desain monsternya yang beragam dan aksi-aksinya yang bisa berdarah-darah. Tapi cerita asli dalam manganya…

Ehm.

Lebih banyak soal itu biar kubahas nanti.

Gimanapun, konsep ceritanya, yang menampilkan empat sahabat cowok yang bertarung dan bertambah kuat dalam menumpas musuh-musuh, untuk suatu alasan sangat menarik perhatian pada masa itu. Lalu karena suatu alasan juga, beberapa minggu lalu, aku tiba-tiba terpikir untuk memeriksa cerita di versi manganya yang sudah lama kudengar agak beda ketimbang versi animenya.

Oke, sebenarnya aku sudah lama tahu tentang tamat animenya sih. Ringkasnya: tamat versi animenya meski adegannya mirip tetap jauh lebih bagus. Cuma, pada suatu hari aku benar-benar penasaran saja soal tamat manganya kayak apa.

Lalu buat yang mau tahu juga, bicara soal judul-judul manga lawas, sebenarnya aku baru mulai baca manga REAL karangan Inoue Takehiko. Tapi mending soal itu dibahas lain kali.

Telor Cahaya

Ringkasnya: Urameshi Yusuke yang dikenal sebagai berandalan paling keji di SMP Sarayashiki pada suatu hari tiba-tiba mati dalam suatu kecelakaan lalu lintas demi menolong seorang anak kecil yang nyaris ditabrak. Kematiannya ini (hampir secara harfiah) menggegerkan seluruh alam, karena dirinya dipandang sebagai pemuda nakal yang tak bisa diatur dan teramat kejam.

Cuma ada satu orang yang sungguh-sungguh menangis keras-keras saat Yusuke meninggal. Orang itu adalah sahabat masa kecil Yusuke, Yukimura Keiko, yang mungkin satu-satunya orang yang masih menganggap Yusuke orang baik.

Sementara ibu Yusuke, yang merupakan single parent, kurang begitu layak mengurus dirinya sendiri, apalagi berperan sebagai orangtua. Dan, yah, intinya, tindakan Yusuke benar-benar di luar dugaan.

Lalu saat roh Yusuke masih dalam keadaan melayang-layang dan separuh percaya bahwa dirinya sudah mati, tiba-tiba muncul seorang gadis manis utusan alam roh bernama Botan, yang merupakan salah seorang pemandu roh melewati Sungai Sanzu. Botan lalu menjelaskan duduk perkara tentang kematian Yusuke padanya, dan…

…Oke. Kita lewatin saja cerita beberapa buku.

Intinya, beberapa buku kemudian, Yusuke diharuskan menjabat sebagai detektif alam roh yang harus memecahkan kasus-kasus yang melampaui batasan dunia orang mati dan dunia orang hidup. Ada semacam komplikasi situasi yang memaksanya mengambil jabatan itu, yang terutama berkaitan dengan siapa dirinya sebenarnya.

Lalu selain ketangguhan fisiknya, Yusuke juga dibekali dengan senjata khusus para detektif (salah satu ciri khas seri ini), yaitu kemampuan untuk menembakkan energi roh bernama Rei Gun, yang akan terlepas bila ia mengarahkan telunjuk kanannya ke depan dengan posisi jempol ke atas.

Yusuke kemudian berhadapan dengan berbagai kawan dan lawan, dan berhadapan dalam suatu konspirasi berkepanjangan untuk membuka pintu dunia manusia dengan dunia iblis Makai.

Cerita yang Baru Dimulai Dengan Tokoh Utama yang Mati

Membaca ulang cerita Yu Yu Hakusho, aku sulit buat enggak melihat beberapa elemen prototip yang kemudian muncul kembali dalam Hunter x Hunter. Teknik bertarung yang mengandalkan tenaga dalam, pertarungan-pertarungan urat saraf yang menguji mental, sampai ke desain-desain karakter aneh yang bervariasi dari seksi sampai agak menjijikkan.

Bicara soal ceritanya, terus terang, kalau kau baca manganya, kelihatan banget kalau Yu Yu Hakusho adalah jenis seri yang ceritanya ‘dibikin sambil jalan.’ Jadi, bukan jenis yang ceritanya sudah direncanakan sejak awal.

Genrenya, dari drama supernatural keseharian, tiba-tiba berubah menjadi seri aksi ala Dragon Ball begitu Yusuke diangkat sebagai detektif. Kualitasnya sebagai sebuah manga aksi—apalagi kalau menilai dari kualitas gambarnya—sebenarnya enggak bisa dibilang bagus-bagus amat. Tapi ada sesuatu yang benar-benar unik tentang elemen-elemen ceritanya, yang walau enggak bikin kamu wow, di saat yang sama juga enggak akan bisa kamu temuin dalam seri-seri manga lain. (Seenggaknya, sampai Hunter x Hunter keluar.)

Ada yang bilang itu karena ada satu arc penting dalam ceritanya yang memaparkan suatu turnamen bela diri (Dark World Tournament) yang lagi-lagi mirip Dragon Ball. (Yang kemudian juga membuatnya mirip Flame of Recca karya Anzai Nobuyuki. Tapi berbeda dari Yu Yu Hakusho, Flame of Recca lebih tenar karena komiknya, btw.) Tapi terus terang, kupikir alasannya bukan itu.

Meski banyak, adegan-adegan aksinya sebenarnya tak menonjol amat. Ada cukup banyak saat ketika Yusuke menang semata karena keberuntungan semata—walau ini enggak lagi terjadi begitu mencapai pertengahan seri.

Kalau aku menebak, mungkin karena para karakternya. Soalnya para karakternya, bahkan yang sampingan, emang beneran menarik.

Yusuke, meski berandalan, adalah orang baik, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Lalu dari yang hanya mengandalkan keberuntungan, sedikit demi sedikit dirinya benar-benar bertambah kuat.

Ada teman sekolah Yusuke bernama Kuwabara Kazuma, yang sok mengaku adalah rival Yusuke, yang di luar dugaan menjadi satu-satunya orang di dekatnya yang punya kepekaan supernatural. (Ada satu bagian cerita di mana Kuwabara didorong untuk berciuman dengan Yusuke demi menghidupkannya kembali.)

Botan adalah gadis cantik namun agak aneh yang dari waktu ke waktu memberi kabar kerjaan yang malas Yusuke hadapi.

Lalu ada dua orang bekas lawan Yusuke yang menjadi kawan: yakni Kurama, alias Minamio Shuuichi, yang merupakan siluman rubah legendaris yang bereinkarnasi menjadi remaja manusia bishonen pengguna tumbuhan-tumbuhan siluman; serta Hiei, seorang siluman berbadan kecil pencari kekuatan yang sekaligus ahli pedang, yang sebenarnya menanamkan mata ketiga pada dahinya demi menemukan adik perempuannya yang hilang.

Bos Botan adalah Koenma, anak kecil yang mengisap dot yang merupakan putra Enma Daioh, dewa alam baka. (Koenma juga berubah menjadi bishonen saat menampilkan wujud manusianya, walau masih tetap dengan mengisap dot. Tapi dotnya kemudian nanti berperan penting dalam cerita!)

Ada seorang nenek-nenek ahli roh bernama Genkai, yang sempat mengadakan turnamen juga untuk menemukan penerus ilmu bela diri Reiko Hadouken (tinju gelombang energi roh?).

Lalu ada juga Keiko, yang dengan setia terus menantikan kepulangan kembali Yusuke terlepas dari hal-hal gila yang ia hadapi.

“Mana ada musuh yang tiba-tiba curhat soal kekuatannya padamu!”

Musuh besar pertama yang Yusuke dan kawan-kawannya hadapi—dalam suatu kasus yang melibatkan Yukina, seorang yuki onna yang merupakan adik Hiei—adalah pasangan kakak beradik Toguro yang bekerja untuk suatu pihak misterius. Toguro ‘kakak’ yang berbadan kecil sanggup mengatur otot-otot di tubuhnya agar bisa berubah menjadi bentuk apapun (dirinya konon tak bisa mati.). Sedangkan Toguro ‘adik’ yang berkacamata hitam dan teramat kekar ternyata adalah teman seperguruan Genkai yang jatuh ke jalan yang salah, yang mampu memanipulasi bentuk ototnya seolah dirinya siluman.

Keduanya sebenarnya bekerja untuk seorang konglomerat sangat kaya bernama Sakyo, pemimpin Black Book Club yang terlibat dalam penyelundupan siluman dan perdagangan budak. Cita-cita Sakyo untuk membuka gerbang antar dunia adalah plot tersembunyi dalam turnamen besar yang dijalankannya. Tapi ternyata kemudian ada penerusnya: seorang pemuda berbahaya bernama Sensui Shinobu, yang ternyata pernah menjadi detektif alam roh untuk Koenma seperti Yusuke juga.

Sensui menjalankan plot berbahaya yang melibatkan sejumlah orang dengan kemampuan khusus (Game Master, Sniper, Doctor, Gatekeeper, Dark Angel, Seaman… aku lupa sisanya). Yusuke bersama sejumlah kawan lama maupun baru harus bekerjasama untuk mengejar jejaknya dan menghentikan rencananya.

Sesudah bab melawan Sensui inilah, cerita pada manga dan animenya mulai agak mencolok perbedaannya, meski secara umum alurnya benar-benar mirip.

Ceritanya sama-sama mengetengahkan konflik antara tiga kekuatan besar di Makai yang hendak merebut kekuasaan, dengan Yusuke, Kurama, dan Hiei sama-sama mendukung pihak yang berbeda. (Yusuke berada di pihak Raizo; yang secara genetik merupakan leluhur Yusuke dan tengah sekarat; Kurama berada di pihak Yomi, yang merupakan mantan bawahannya semasa dirinya masih menjadi pencuri keji; sedangkan Hiei di pihak Mukuro, yang sebenarnya adalah perempuan) Tapi ada lumayan banyak yang berbeda pada detil dan nuansa pemaparannya.

Pastinya, animenya memaparkan aksinya dengan lebih baik. Terutama pada bagian ceritanya yang paling akhir di Makai. Tapi di manganya, semuanya itu kayak… terlepas-lepas? Entah ya. Mungkin ada beberapa yang akan punya pendapat berbeda. Ceritanya sama-sama berakhir antiklimatik, tapi dengan cara ‘enggak disangka’ yang bisa dibilang benar-benar khas Togashi. Bab-bab terakhir manganya lebih kerasa kayak filler, tapi jenis fillerfiller pendek yang bikin kita agak “Hah?” dan mesti kuakui emang menarik.

Lalu saat semua berakhir, keduanya sama-sama memberi rasa puas di akhir yang (agak) sama. Meski versi manganya beneran kerasa dipercepat temponya (pertarungan terakhir enggak ditunjukin, tapi hanya dibeberkan hasilnya aja dalam dialog) dan ada kesan ‘berantakan’ dan ‘seenaknya’ pada apa-apa yang terjadi.

Foto Lama di Atas Meja

Akhir kata, kurasa ini memang seri shonen yang bakal kukenang. Alasannya terutama karena enggak benar-benar ada seri lain yang serupa dengan seri ini sebelumnya. Kalau kalian penggemar Hunter x Hunter dan mulai membaca seri ini, maka kalian mungkin bakal mulai paham kenapa Togashi-sensei menjadi satu pengarang yang begitu disegani di redaksi Shonen Jump. Soalnya, kayaknya, emang hampir enggak ada lagi pengarang yang bisa bikin cerita kayak yang beliau buat.

Sejak awal ada kesan kalau Yu Yu Hakusho emang enggak dimaksudkan buat jadi manga aksi yang penuh pertarungan. Kelihatan gimana Togashi kayak bertahan menuruti kemauan editornya dan sedikit banyak meluapkan keinginannya sendiri. Terlihat pada adegan-adegan pertarungannya yang bisa sangat ‘seadanya.’ Tapi hasil akhirnya berakhir keren.

Memang adegan aksinya tak pernah panjang dan kerap hampir tanpa koreografi. Tapi empat sekawan Yusuke, Kuwabara, Kurama, dan Hiei, bisa benar-benar berkesan dengan perbedaan kepribadian mereka dan kemampuan mereka masing-masing. Ada banyak sekali perkembangan yang enggak keduga. Ada sejumlah karakter jahat yang nasib akhirnya agak di luar bayangan.

Ya, bahkan ada aksi-aksi sadis dan tema agak berat dan gelap di dalamnya. Semuanya kayak beneran anti-mainstream.

Lalu kalau ada satu tema yang secara konsisten tetap ada dalam ceritanya dari awal sampai akhir, maka kurasa itu cuma tumbuhnya hubungan cinta antara Yusuke dan Keiko yang tergarap dengan benar-benar baik dalam versi animenya. Jadi pada dasarnya, Yu Yu Hakusho itu sebenarnya suatu kisah cinta?

Yah sudahlah.

Oh. Lalu lagu tema animenya yang berjudul ‘Daydream Generation’ terkadang masih aku putar cuma buat sedikit mengenang apa yang telah lalu. Nuansa dekade 90annya benar-benar sangat kental.

Omong-omong, belum lama ini aku berusaha meniru gaya rambut Toguro ‘adik’, cuma agak gagal. Jadi sudahlah juga kalau soal itu.

…Ngomong-ngomong lagi, dari sisi anime, belakangan kita kayak lagi ngalamin kebangkitan era 90an gitu ya? Pertama Sailor Moon, lalu Jojo’s Bizarre Adventure, kemudian ada Parasyte, dan lagi-lagi akan ada Saint Seiya. Bahkan kudengar Ushio and Tora juga tak lama lagi akan dianimasikan.

Kurasa benar kata mereka soal bagaimana sejarah akan berulang.

 

07/01/2015

Tsukimonogatari

Tanggal 13 Februari. Sehari sebelum Valentine.

Sekitar sebulan sebelum hari ujian seleksi masuk ke perguruan tinggi.

Pada tanggal tersebutlah, Araragi Koyomi—lewat serangkaian kejadian konyol sekaligus mengkhawatirkan yang lagi-lagi melibatkan kedua adik perempuannya—menyadari bahwa pantulan dirinya tahu-tahu sudah tidak lagi tampak di cermin.

Itu pertanda awal bahwa karena suatu alasan, dirinya telah semakin berkurang ‘kemanusiaannya’ dan telah semakin bertambah ‘kevampirannya.’

Setidaknya, itulah gagasan awal dalam Tsukimonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bulan?’). Ini episode khusus yang ditayangkan secara khusus pada pergantian tahun 2014 ke 2015 kemarin, dan masih dianimasikan oleh studio SHAFT dan masih juga diangkat dari rangkaian seri novel Monogatari karangan Nisio Isin.

Yeah, tentu saja aku mengikutinya. Aku sudah jadi penggemar.

Tsukimonogatari kembali menghadirkan Koyomi sebagai narator cerita, dan tokoh utama, setelah musim kedua yang tokoh sentralnya berganti-ganti. Karakter yang menjadi fokusnya kali ini adalah Ononoki Yotsugi, shikigami sekaligus tsukumogami milik Kagenui Yozuru, satu dari tiga spesialis kenalan lama Oshino Meme yang pernah tergabung dalam klub yang sama di universitas.

Cerita ini menjadi pembuka dari ‘musim’ ketiga sekaligus terakhir dari seri Monogatari, yang sesudah ini kayaknya akan dilanjutkan dengan Koyomimonogatari, sebelum baru memasuki babak akhirnya yang mencakup Owarimonogatari (yang lumayan panjang) serta Zoku Owarimonogatari.

Ngomong-ngomong soal settingnya, Tsukimonogatari berlatar sesudah Koimonogatari, tapi sebelum Hanamonogatari, yang sempat tayang pada pertengahan tahun kemarin. Lebih tepatnya: ceritanya terjadi sesudah semua urusan yang menyangkut berubahnya Sengoku Nadeko menjadi dewata pada akhir anime Monogatari Series Second Season beres. Tapi juga sebelum kasus iblis yang berujung pada pertemuan kembali Kanbaru Suruga dengan Numachi Rouka terjadi.

Koyo Koyo ❤

Karena aku sedang malas, kayak biasa, ayo kita bahas soal hal teknisnya dulu.

Ini cuma pendapatku pribadi, tapi kayaknya kualitas teknisnya mengalami peningkatan drastis dibandingkan sebelumnya.

Man, apa yang terjadi ya?

Cara pengungkapan adegan-adegannya secara visual jadi lebih bagus. Mereka kali ini kayak nyoba ngelakuin hal-hal baru. Dan jadinya kayak kerasa lebih segar. Paling jelas terlihat dengan gimana layar hitam yang biasa digunakan sebagai sekat antar bab kini digantikan dengan semacam kolase kata dan corak yang cerah sih. (Walau layar hitam itu sendiri masih ada.)

Sudahlah. Mungkin kaiian juga enggak ngerti apa yang aku omongin.

Dari segi audio, kualitasnya solid.

Beneran solid.

Ini salah satu bab cerita yang relatif lebih berat di percakapan. Tapi dari awal cerita-cerita Monogatari emang lebih berat di percakapan. Dan kali ini segala distraksi visual dan referensi yang bikin kita lupa soal panjangnya percakapan-percakapan ini kembali ada dan jadi sebagus di awal-awal. Pemilihan warnanya yang memainkan kontras kali ini benar-benar bagus. Lalu tampil bersamanya para karakter, bahkan yang hanya cameo, terbilang berkesan.

…Seenggaknya menurutku gitu sih.

Selebihnya, kalau ada kekurangan, mungkin soal nuansa ceritanya sendiri? Seri Monogatari paling bagus saat kita mulai larut dalam perasaan karakternya. Lalu Tsukimonogatari, mungkin karena durasinya, menurutku termasuk yang agak kurang dalam hal ini. Tapi enggak sampe jadi jelek sih. Hasilnya masih beneran bagus, dan seriusan lebih thoughtful dari yang kusangka. Cuma pada saat yang sama, ini kembali menghadirkan segala keenggakjelasan soal apa yang disampaikan itu serius apa enggak.

….Sekali lagi, senggaknya menurutku gitu sih.

UFO Catcher

Lalu, kita kali ini bahas soal cerita.

Intinya, Oshino Shinobu menyarankan kalau mereka perlu saran seorang ahli untuk kasus ini. Seorang ahli seperti Oshino Meme-san. yang keberadaannya saat ini tak diketahui.

Yang paling terbayang bagi mereka adalah Ononoki dan Kagenui. Tapi alternatif itu langsung dicoret mengingat Koyomi tak punya cara untuk menghubungi mereka. Hanya saja, tahu-tahu Gaen Izuko yang menyatakan dirinya ‘mengetahui segalanya’ kembali berperan dan memberi celah. Lalu timbul komplikasi, karena terlepas dari Ononoki sendiri, terakhir bertemu Kagenui, Koyomi dibuat hampir mati sehubungan status Araragi Tsukihi, adik perempuan Koyomi yang…

Yah, intinya, semuanya lalu berujung dengan konfrontasi melawan seseorang bernama Teori Tadatsuru, kenalan lama Oshino-san yang lain, yang seperti halnya Kagenui, seorang spesialis dalam memburu kaii yang tak bisa mati.

Seperti yang bisa kau harapkan, situasi akhirnya berkembang sedikit lebih rumit dari yang terlihat di awal.

Kualitas ceritanya sendiri kembali agak sulit dinilai. Apalagi bila membandingkan dengan versi novelnya. Tapi eksekusinya menurutku terbilang benar-benar bagus. Semuanya semakin mengerucut pada keberadaan adik kelas Araragi, Oshino Ougi, yang kelihatannya telah banyak berperan di balik layar semenjak perginya Oshino-san. (Ononoki sendiri menyinggung soal hal ini.) Namun sama sekali tak ada bayangan kelanjutannya bakal kayak gimana.

Akhir kata, aku enggak kepengen terlalu banyak spoiler, apalagi sesudah ceritanya sampai sejauh ini. Ada banyak sekali benang yang sudah terulur, dan masih ada kesan bersambung di mana-mana. Tapi buat mereka yang bisa menyukainya, perasaan “Hah?” di ujung yang jadi kekhasan seri ini masih tetap ada. Lalu buat kalian yang sudah terlanjur jadi fans, yah, kalian enggak punya alasan buat enggak melihat ini.

Sori, mungkin ada hal-hal penting lain yang terlewat.

Kayak soal gimana kemanusiaan Araragi diangkat, ke soal gimana dia ngerasa apa yang dia alami sebenarnya salahnya dia sendiri juga, lalu ke soal Ononoki dan Shinobu yang bermain di salju bersama, terus ke soal coklat Valentine dari Senjougahara Hitagi, serta teka-teki terbesar tentang kemanusiaan Ononoki sendiri.

Semuanya saat ini menurutku masih terasa kayak cerita sampingan, tapi ini cerita sampingan yang masih terbilang menarik. Klimaksnya sendiri kayaknya masih akan datang nanti.

Akan aku tambahkan, mungkin, sesudah semua aku periksa lagi.

(Apa ada di antara kalian yang sudah ingat Unlimited Rulebook itu apa?)

Penilaian

Konsep: B; Visual A+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

02/01/2015

Kara no Kyoukai – Mirai Fukuin + Extra Chorus

Kara no Kyoukai: Mirai Fukuin (juga dikenal dengan subjudul Future Gospel, atau ‘Blessings for the Future,’ atau juga Recalled Out Summer), merupakan (semacam) epilog dari seri utama Kara no Kyoukai, yang dibuat oleh Nasu Kinoko dan Takeuchi Takashi dari grup pengembang Type-Moon. Adaptasi anime Mirai Fukuin berdurasi sekitar satu setengah jam dan baru dirilis tahun 2013 dalam format layar lebar, dengan produksi masih dilakukan oleh studio Ufotable, yang sebelumnya mengadaptasi cerita utamanya ke dalam bentuk tujuh film layar lebar juga.

Epilog ini berisi serangkaian cerita pendek, yang berlangsung pada latar waktu yang berbeda-beda, yang sedikit banyak memberi gambaran tentang kesudahan nasib para karakter di seri utamanya. Apa yang terjadi pada Ryohgi Shiki, Kokutou Mikiya, dan beberapa karakter lainnya, sesudah dan di sela-sela rangkaian pembunuhan berantai yang pada beberapa titik mewarnai hidup mereka. Subjudulnya kira-kira berarti ‘berkah/doa untuk masa depan,’ yang sesuai dengan tema utama yang cerita-cerita pendek ini angkat.

Episode Extra Chorus, yang menyusul keluarnya Mirai Fukuin, merupakan adaptasi anime berdurasi sekitar setengah jam yang melengkapi apa yang dikisahkan dalam film tersebut. Adaptasinya kayaknya dibuat terpisah karena memang enggak langsung nyambung dengan tema ‘masa depan’ yang film sebelumnya angkat, walau perannya sebagai epilog tetap sama.

1998

Ada tiga episode yang diangkat dalam Mirai Fukuin. Ketiganya sama-sama berpusar pada persepsi orang terhadap masa depan, terutama ke soal pertanyaan apakah masa depan merupakan sesuatu yang sebelumnya telah ditetapkan atau tidak.

Episode pertama berlatar di pertengahan tahun 1998, ketika Shiki mulai dibayang-bayangi seseorang bernama Kuramitsu Meruka, sesosok misterius yang melakukan pekerjaan-pekerjaan pemboman bayaran.

Meruka memiliki kemampuan aneh di mana mata kirinya melihat masa kini, sementara mata kanannya bisa melihat masa depan. Namun masa depan yang bisa dilihatnya merupakan masa depan yang baginya bersifat ‘pasti’ dan tak dapat diubah. Meruka akhirnya seakan menjadi budak bagi masa depan yang dilihat matanya sendiri tersebut, yang seakan hal ‘jelas’ dan tak dapat diubah itu—sampai dirinya menemui Shiki yang entah bagaimana tak muncul dalam ‘masa depan’ yang dilihatnya, mempengaruhi besar-besaran hasil yang dapat ia peroleh, dan membuatnya menjadi sedikit terobsesi dengannya.

Pada waktu yang kurang lebih sama, Kokutou berkenalan dengan seorang gadis remaja bernama Seo Shizune. Shizune, yang sedang dalam liburan musim panas dari sekolahnya di SMA Putri Raizen, sempat sedikit ditolong Kokutou saat suatu insiden terjadi, yang sedikit banyak berhubungan dengan kemampuan Shizune untuk sedikit melihat masa depan juga.

Percakapan yang berlangsung antara Kokutou dan Shizune diseling-selingi lewat alur maju-mundur dengan apa-apa yang terjadi antara Shiki dan Meruka, yang juga diwarnai sesi-sesi konsultasi mereka dengan Aozaki Tohko, atasan Kokutou yang merupakan penyihir. Kokutou melakukan tugasnya untuk menyampaikan kata-kata yang pernah Tohko katakan padanya, bila seandainya Kokutou suatu saat bertemu dengan seseorang yang bisa melihat masa depan. Sementara Shiki disarankan untuk menemui seorang figur yang dikenal sebagai Bunda Mifune, sosok peramal ‘sungguhan’ yang pernah terkenal di jalan-jalan kota Mifune pada masa silam.

Episode kedua berlatar lebih jauh di masa depan, yakni pada tahun 2010, dan memaparkan lebih jauh tentang karakter Bunda Mifune ini. Karakter sentral kali ini adalah Kuramitsu Meruka sendiri, yang pada masa ini lebih banyak menggunakan nama aslinya, Kamekura Mitsuru. Pada episode ini juga diperkenalkan sosok gadis kecil bernama Ryohgi Mana, anak perempuan Shiki dan Kokutou yang pada masa ini telah menikah.

Dikisahkan bahwa Mitsuru, karena satu dan lain hal, kini bekerja di bawah Shiki. Lalu lambat laun, karena alasan yang enggak bisa kukatakan karena bisa agak men-spoiler mereka yang belum nonton, dirinya telah menjadi salah satu orang yang paling Mana sukai. Lalu Mana memaksa menemani Mitsuru dalam satu pekerjaan ini, dan…

Yah, intinya, episode ini secara khusus memperkenalkan karakter Mana. Dan pada dirinya seakan terkumpul segala harapan masa depan yang Shiki dan Kokutou dulu punyai dalam porsi-porsi cerita sebelumnya.

Episode ketiga membawa kita kembali ke masa lalu, pada masa ketika kepribadian maskulin Shiki masih ada. Pribadi Shiki yang ini ternyata pernah berjumpa dengan Bunda Mifune sebelumnya—yang sebaliknya bisa ‘melihat’ sosok Shiki yang sesungguhnya. Lalu percakapan yang berlangsung di antara mereka—sedikit seperti akhir pertemuan antara Kokutou dan Shizune—menandai betapa Shiki yang ini ternyata telah mengetahui apa-apa yang nantinya akan ia alami.

Extra Chorus kembali menampilkan tiga cerita singkat yang agak berhubungan dengan satu sama lain. Latarnya sekali lagi di tahun 1998. Intinya tentang kepergian sementara Kokutou karena suatu hal dan bagaimana ia menitipkan seekor anak kucing pada Shiki. Tapi episode tengahnya menampilkan aftermath dari rangkaian insiden bunuh diri yang dikisahkan dalam Fuukan Fukei, episode Kara no Kyoukai paling pertama, dan sekaligus membeberkan nasib Asagami Fujino, yang mungkin agak mengejutkan bagi beberapa orang. Barulah episode terakhirnya ditutup dengan kunjungan bersama ke kuil yang dilakukan Kokutou dan Shiki—pada malam terakhir Desember di tahun 1998.

Kau Akan Mati, Tapi Impianmu Akan Terus Hidup

Daya tarik teraneh yang Mirai Fukuin punyai bagiku adalah… karena latar waktunya yang maju mundur itu, ceritanya kedengerannya lebih cocok disebut gaiden atau side story. Tapi tema cerita yang dibawakannya memang beneran pas buat dijadiin epilog. Apalagi dengan gimana apa-apa yang dipaparkan di dalamnya mereferensikan sejumlah kejadian yang terjadi belakangan.

Ini seriusan epilog yang sangat keren. Jadi walau enggak membeberkan banyak hal, kalau kau suka ketujuh film layar lebar Kara no Kyoukai yang utama—dengan kesunyiannya, kemisteriusannya, kefilsafatannya, atau ke gimana apa-apa yang disampaikan di dalamnya bikin kamu mikir ulang tentang hidupmu—kau bisa sangat suka dengan apa yang ditampilkan dalam Mirai Fukuin.

(Eh, tapi kalau kau penggemar Type-Moon baru yang masih awam… uh, enggak tahu ya? Mungkin akan kusaranin buat ngelihat yang lain dulu? Seri Kara no Kyoukai memang cuma cocok buat sebagian orang sih.)

Mirai Fukuin sendiri berakhir dengan kuat. Extra Chorus sendiri memang bersifat kayak tambahan. Enggak ada hal baru apapun di dalamnya. Tapi ini tambahan yang beneran manis dan pas kalau kau melihatnya sesudah episode utama Mirai Fukuin. (Kesannya jadi kayak… epilog dari epilog? Hahaha.)

Sama seperti film-film layar lebar pendahulunya, Mirai Fukuin masih memukau dengan kualitas presentasinya yang beneran keren. Tak banyak aksi yang berlangsung—walau ada, dan misteri yang disampaikan kali ini juga tak terlalu rumit, tapi permainan sudut kamera dan pemilahan warna masih kuat di sini. Musiknya keren. Desain dunianya masih begitu mendetil. Lalu dari segi cerita, Mirai Fukuin masih mengangkat tema diskusi menarik, walau mungkin dalam versi yang lebih ringkas ketimbang episode-episode sebelumnya. Dan, yeah, bagian-bagian awalnya agak lebih lambat dari yang mungkin kau sangka.

Terlepas dari itu, satu aspek favoritku yang enggak kusangka ada pada penggambaran kamar apartemen Shiki, yang saat kulihat, langsung mengingatkanku akan saat pertama aku baca terjemahan dari versi novelnya.

Apa ya? Selain hal-hal di atas, aku juga suka kuatnya rasa nostalgia yang seri ini berikan terkait dekade 90an. Khususnya tahun 1998 dalam hal ini sih. Itu masa-masa yang… apa ya? Itu bagiku kayak zaman modern ketika dunia sedang mengalami semacam masa tenang, dan masa depan saat itu masih tersamar dan sama sekali belum terbayang. Pastinya keadaan di masa itu masih belum se-messed up sekarang. Dan karena itu pula, mungkin, pesan yang kurasa berusaha disampaikan di film ini terasa makin kuat…

Buat yang mau tahu, karakter Seo Shizune, yang belakangan terungkap menjadi teman asrama adik perempuan Mikiya, Kokutou Azaka, juga punya kemiripan desain dengan karakter Seo Akira dari semesta Tsukihime (pertama kali dia muncul di fan disc Kagetsu Tohya sih). Kemiripan mereka ada sampai ke kemampuan melihat masa depan terbatas yang Akira juga punyai, serta status mereka sebagai teman sekamar, dengan Akira pun menjadi teman asrama Tohno Akiha di seri tersebut.

Kokutou telah kutambahkan dalam daftar figur yang menjadi role model-ku (Yea, aku punya daftar kayak gitu. Kebanyakan isinya karakter anime. Seorang entrepreuner mesti punya sumber motivasi, tau). Aku beneran terkesan dengan gimana Kokutou memandang apa-apa yang dialaminya sebagai sesuatu yang positif. Aku pengen ngubah itu, tapi kudapati itu bukan sesuatu yang gampang. Dan yea, adegan percakapan dia dengan Shizune di Ahne Nerbe itu kayak memantapkan hal ini.

Kesimpulannya: kau enggak harus mengikuti ini walau pernah melihat seri film utamanya. Tapi kau akan puas kalau misalnya melihatnya.

Jangan lari dari kenyataan ataupun mengekang diri. Masa depan yang kau cari mungkin enggak akan terjadi sekalipun kau meyakininya. Tapi itu enggak berarti apa yang kau lakukan enggak akan memiliki arti.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

06/10/2014

Hanamonogatari

Hanamonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bunga’) merupakan bagian terakhir dari musim kedua rangkaian seri novel horor(?) remaja Monogatari buatan Nisio Isin.

Episode spesial berdurasi sekitar dua jam ini kudengar sempat beberapa kali ditunda penayangannya.

Karena satu dan lain hal, ceritanya juga dibuat terpisah dari adaptasi animasi Monogatari Series Second Season keluaran SHAFT, yang kalau aku tak salah ingat, berakhir di awal tahun ini. Sesudah melihat sendiri ceritanya, kurasa aku bisa sedikit membayangkan alasannya. …Oke, alasannya sendiri sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Tapi, yah, aku bisa memahami alasan kenapa produsernya mengambil keputusan demikian.

Ceritanya berlatar beberapa waktu sesudah klimaks di Koimonogatari, dengan cerita yang berfokus sepenuhnya pada karakter Kanbaru Suruga, dengan judul bab Suruga Devil.

Kewajiban Seorang Kakak Kelas

Araragi Koyomi dan Senjougahara Hitagi sudah tak ada lagi. Demikian pula dengan Hanekawa Tsubasa. Karenanya, Kanbaru merasa agak kesepian sebagai satu-satunya di antara mereka yang masih berada di SMA Naoetsu.

Pada suatu hari, adik kelasnya yang bernama Oshino Ougi, anak lelaki yang dikenalnya sebagai keponakan Oshino Meme, om-om yang dulu pernah menolong mereka semua, pada suatu hari secara kebetulan memberitahunya sebuah rumor tentang Akuma-sama (‘sang Iblis’). Akuma-sama konon akan dapat mengabulkan permintaan siapa saja yang memberitahukan kesulitan mereka padanya.

Lalu mendengar kabar ini, terkait dengan pengalaman masa lalunya dengan artefak jahat Monkey’s Paw yang dulu disebut-sebut juga punya kekuatan untuk mengabulkan permohonan, dan hingga kini pun masih saja tertanam di tangan kirinya, Kanbaru dicengkram kekhawatiran akan kemungkinan dirinya lagi-lagi dikendalikan oleh pusaka itu.

Mungkinkah Akuma-sama yang misterius, yang teman-temannya sekelasnya banyak bicarakan, sebenarnya tak lain adalah dirinya sendiri setiap kali ia terlelap? Mungkinkah sebenarnya tanpa sepengetahuannya selama ini ada korban-korban yang berjatuhan lagi?

Penyelidikan Kanbaru kemudian membawanya berhadapan dengan seorang kenalan lama yang pernah menjadi rivalnya di lapangan basket, Numachi Rouka.

Namun apa yang Kanbaru dapatkan tak benar-benar persis sama dengan apa yang dikiranya tampak…

Duel di Lapangan Basket

Kalau kau sebelumnya pernah melihat adaptasi anime dari Nekomonogatari (Kuro), maka kau sudah akan punya bayangan Hanamonogatari kira-kira akan seperti apa. Enggak, keajaiban yang Bakemonogatari punya masih belum juga terulang kembali. Tapi ini hasil adaptasi yang tetap terbilang lumayan rapi kalau menurutku.

Sekali lagi, itu menurutku.

Buatku, tayangan khusus ini punya hasil lebih bagus dari yang aku harapkan. Tapi, yeah, kita lagi membicarakan anime dari seri Monogatari di sini. Lalu di dalamnya sebagian besar karakter utama yang sudah kita kenal dan sayang sudah tak lagi ada, jadi, yah… Kayak biasa, ini bukan sesuatu yang bakal disukai oleh kebanyakan orang. Teman dekatku yang sedari dulu mengikuti perkembangan seri ini bersamaku sendiri menilai kualitasnya lebih jelek dari yang ia harap.

…Padahal karakter favorit temanku itu Kaiki Deishuu btw.

Tapi terlepas dari semuanya, aku seriusan enggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Rasanya kayak, apa yang dulu bisa membuatku terpukau terhadap seri ini sudah hampir enggak ada gitu. Dan aku mengikuti perkembangannya serius, semata-mata hanya karena ingin tahu kelanjutan ceritanya. Bukan karena visualnya. Bukan karena audionya. Bukan karena leluconnya. Bahkan gaya narasinya yang khas itu pada titik ini, sejujurnya, ahahaha, sudah agak membuatku muak… Dulu, setiap detik pada Bakemonogatari terasa kayak bisa mengungkapkan begitu banyak hal. Tapi sekarang, semuanya kayak kosong dan datar gitu.

Namun sekali lagi, ini adaptasi yang benar-benar rapi. Enggak bisa dibilang bagus. Tapi enggak benar-benar bisa kubilang jelek juga. Cuma, yah, datar aja. Tapi itu enggak selamanya jadi hal yang buruk.

Gunting Kuku di Antara Buku dan Bunga

Yah, oke. Kita bahas saja dikit soal ceritanya.

Selain soal hubungan lama yang Kanbaru punyai dengan Numachi, Hanamonogatari sebenarnya mengangkat juga soal hubungan(?) yang Kanbaru punyai dengan mendiang ibunya, Kanbaru Tooe, atau yang sebelum menikah bernama Gaen Tooe.

Dikisahkan bahwa Kanbaru belakangan sering bermimpi tentang ibunya. Lalu dituturkan pula bahwa berdasarkan cerita-cerita dari mendiang ayahnya, dan sebagaimana kita ketahui dari apa-apa yang kita tahu dari Kaiki sendiri, ibunya Kanbaru ini sama sekali bukanlah orang yang normal. Ada sesuatu tentang dirinya, yang menurut ayah Kanbaru, membuatnya sebagai ‘seseorang yang berdiri mewakili Tuhan di dunia ini.’

Lalu Kanbaru sendiri punya perasaan rumit soal ini, karena alih-alih serupa dewa, perilaku ibunya malah lebih mengingatkannya akan iblis.

Ada tema menarik soal konsep iblis yang diangkat, yang senantiasa menggoda manusia dengan bermacam kemudahan semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Yang bercampur dengan tema soal kedewasaan dan merelakan masa lalu. Masalahnya, agak serupa dengan kasus adaptasi animasi Nekomonogatari (Kuro), berhubung teka-teki terkait bagian cerita ini masih bersambung, tema dan emosi yang dicoba disampaikan dalam anime ini terasa kayak bersambung juga.

Yah, bersambungnya sendiri enggak masalah. Tapi kayak, penyampaiannya sendiri yang terasa setengah hati itu loh.

Agak susah menjabarkannya. Mungkin lagi-lagi masalahnya memang ada pada durasi.

Versi novel dari cerita-cerita Monogatari, bahkan yang sudah tak lagi disampaikan dari sudut pandang Koyomi, masih bisa agak ‘menghantam’ kita dengan berbagai perdebatan menarik soal konsep-konsep kayak gini. Tapi versi animasinya yang merangkum dan memadatkan ini semua, jujur saja, terasa kayak enggak menggarapnya secara adil. Gaya visual unik, yang sebelumnya kayak mengkompensasi keterbatasan waktu buat menyampaikan semua keabstrakan dalam ceritanya, pada titik ini jadi terasa kayak cuma sekedar tempelan yang agak kosong dari makna.

Tapi entah juga. Bisa saja masalahnya pada aku sendiri yang sudah enggak lagi bisa menangkapnya.

Balik ke pembahasan utama, Hanamonogatari bukanlah hasil adaptasi yang solid. Mungkin juga itu alasan kenapa aku agak menunda pembahasannya. Tapi mereka yang sudah terlanjur jadi penggemar seri Monogatari kurasa akan tetap mengikutinya. Kalau kau memikirkannya sedikit, alasan kenapa judulnya demikian akan terungkap di akhir cerita, walau enggak secara benar-benar eksplisit…

Sesudah titik ini, cerita Monogatari akan memasuki musim ketiga, pertama dengan Tsukimonogatari yang kalau tak salah mengetengahkan identitas Ononoki Yotsugi yang pertama diperkenalkan di Nisemonogatari. Masih banyak teka-teki yang menumpuk. Tapi mari kita berharap maknanya tak tertinggal di belakang.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: C+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B: Kepuasan Akhir: B-

(Hm? Nilai yang kukasih sesudah kubandingkan ternyata kalah jauh dibandingkan Nekomonogatari (Black)? Euuh, apa ini enggak apa-apa nih?)