Posts tagged ‘Studio DEEN’

05/05/2017

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! 2

(Ini adalah ulasan untuk musim tayang kedua Konosuba. Ulasan untuk yang pertama bisa dilihat di sini.)

Lagi ada banyak yang kuurusi belakangan. Urusan pribadi (salah satu hubunganku gagal belum lama ini), urusan kantor (ada teman sekantor mau dirumahkan), urusan hubungan sama orang (ada sedikit konflik antar tetangga). Ditambah lagi, belum lama ini komunitas lagi ramai dengan hilangnya salah satu situs paling berarti bagi para penggemar kebudyaan visual Asia. Tapi temanku memintai pendapat soal Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku o! 2 (di samping soal sejumlah hal lain). Lalu aku jadi mikir, mungkin ini waktu tepat untuk mengungkapkannya.

Sebagaimana yang semua penggemar tahu, KONOSUBA – God’s blessing on this wonderful world! 2 adalah musim tayang kedua dari adaptasi anime Konosuba. Ceritanya masih diangkat dari seri novel fantasi komedi karangan Akatsuki Natsume dengan ilustrasi buatan Mishima Kurone. Produksinya masih dibuat Studio DEEN. Staf yang menanganinya juga masih sama; Kanasaki Takaomi sebagai sutradara, Uezu Makoto yang membuat naskah untuk komposisi seri, dan musik oleh Kouda Masato.

Tentu saja, berhubung ini sekuel yang sudah direncanakan, kalau kalian sudah menggemari season pertamanya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal season keduanya.

Paling soal bagaimana Satou Kazuma, sang tokoh utama, jadi dihukum mati atau tidak.

Untuk yang lupa, di akhir musim tayang sebelumnya, Kazuma ditahan sesudah (tanpa sengaja) melakukan sesuatu yang membuatnya dituduh (ehem!) makar. (Ini tuduhan yang populer sekali belakangan.) Tapi dengan cepat kita juga tahu kalau kematian pun bukan sesuatu yang agaknya Kazuma permasalahkan…

Terlepas dari itu, jumah episodenya lagi-lagi hanya sebanyak sepuluh. Dengan kata lain, season kali ini kurang lebih mengadaptasi buku 3 dan 4 dari seri novelnya. Lalu enggak, sayangnya, belum ada konfirmasi soal ada apa enggaknya season 3, walau ada lumayan banyak fans mengharapkannya.

Pengalaman Dengan Bank

Enggak rame kalau aku ceritain. Tapi kalau mau sedikit disinggung, paruh pertama Konosuba 2 tentang bagaimana Kazuma harus membersihkan nama baiknya sesudah dituduh yang aneh-aneh. Dua rekan sekelompoknya, Megumin dan Aqua, sama-sama mencoba. Tapi justru Darkness yang menjadi penentu akhir kasus Kazuma saat dirinya mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya.

Darkness ternyata adalah putri bangsawan keluarga Dustiness yang ternama,  Dustiness Ford Lalatina. Lalu dengan kuasanya sebagai bangsawan, Darkness membantu Kazuma dengan dakwaan yang ditimpakan kepadanya.

Uh, bener ini yang terjadi ‘kan? Darkness membantu Kazuma?

Yah, pada waktu yang hampir sama, ada hal-hal lainnya juga. Ujung-ujungnya, Kazuma dan kawan-kawannya jadi berhadapan dengan Vanir, satu lagi antek Raja Iblis yang merupakan rekan kerja lama Wiz, sang lich pemilik toko.

Paruh keduanya sendiri mengisahkan sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu, yakni keluarnya Kazuma dan kawan-kawannya dari kota Axel, tempat di mana sebagian besar cerita berlatar selama ini, menuju kota lain! Dalam hal ini, kota indah Arcanretia, walau urusan mereka cuma untuk berwisata ke pemandian air panas sih.

Tapi lagi-lagi di sini pun, banyak hal terjadi! Ujung-ujungnya mereka bertemu dengan Hans, satu lagi antek Raja Iblis yang lain!

Seperti yang Kazuma sendiri bilang, dunia game ini benar-benar punya keseimbangan yang buruk.

“Aku tak keberatan dengan pad!”

Bicara soal teknis, meski sebenarnya enggak jauh beda, Konosuba 2 menurutku sedikit lebih bagus dari season sebelumnya. Selain berhasil mengembangkan lebih jauh fondasi yang sudah terbangun dari musim sebelumnya, ceritanya juga dituntaskan dalam titik yang positif.

Warna-warna cerah dan terang masih banyak digunakan dalam visualnya. Ekspresi muka para karakternya yang fleksibel kali ini dikasi fokus lebih banyak, yang lumayan nyambung dengan berbagai lelucon plesetannya. Ini diseimbangkan dengan penggambaran adegan-adegan aksi dramatis yang benar-benar keren. Tentu saja, meliputi ledakan-ledakan biasa yang dibuat Megumin serta aksi-aksi nekat Kazuma. Eksekusi animenya dalam hal ini benar-benar memuaskan, dan membuat kita kayak bisa memaklumi jumlah episodenya yang relatif sedikit.

Soal audio, Machico kembali hadir membawakan lagu pembuka yang tak kalah menariknya dari yang sebelumnya. Lagu penutupnya, seperti halnya “Chiisana Bokensha”, lagi-lagi adalah jenis yang dinyanyikan bersama oleh Aqua, Megumin, dan Darkness, walau perlu kuakui kalau aku sedikit lebih menyukai lagu penutup yang lama. Tapi yang paling berkesan dalam aspek ini, yang lagi-lagi perlu kusinggung khusus, meski seiyuu para karakter lain juga memberi kerja bagus, adalah peran Fukushima Jun sebagai Kazuma. Beliau benar-benar berhasil menjadi kayak penentu keberhasilan keseluruhan seri ini. Lalu dirinya benar-benar memberikan good job.

Rasanya aneh mengatakan ini. Konosuba 2 memperkenalkan banyak karakter baru dan mereka tampil hanya sebentar. Seperti Yun Yun, teman sekampung Megumin yang diperkenalkan kembali dari OVA-nya, yang agaknya kesepian karena tak punya teman. Lalu Sena, juri Kerajaan Belzerg yang menangani kasus Kazuma. Lalu ada juga ayah Darkness, Dustiness Ford Ignis, serta tunangannya, Alexei Barnes Walter. Belum lagi Eris, sang dewi junior Aqua yang kelembutan hatinya membuat hati Kazuma meleleh. (Dugaan sejauh ini adalah bahwa dirinya saat sedang menitis adalah sebagai Chris, sahabat Darkness yang berprofesi sebagai Thief. Itu, yang celana dalamnya pernah Kazuma curi.) Tapi meski demikian, hasil akhir Konosuba 2 tetap memuaskan.

Maksudku, agak tersamar peran para karakter baru ini apa. Kita juga tak benar-benar bisa bilang mereka mengalami banyak perkembangan. (Atau bisa?) Lalu para karakter utama yang kita ikuti nasibnya juga gitu-gitu aja (walau memang sedikit membaik?).Tapi kepuasan saat kita tiba di akhir cerita Konosuba 2 tetap ada.

Berkah Untuk Dunia Ini AND YOU

Akhir kata, mengikuti Konosuba 2, aku belajar bahwa separah apapun keadaan, segimana kayaknya segalanya enggak ada harapan, betapapun kamu merasa enggak ada lagi yang bisa kamu lakukan, segala sesuatu—secara konyol—masih bisa berakhir baik.

Aku suka dengan gimana Kazuma dkk secara rutin jadi mengacungkan jempol tiap kali mereka berhasil membereskan misi.

Tentu saja, semua para karakter lama, seperti Luna, sang penjaga kasir petualang; mendiang Beldia; si berandalan; dan bahkan Mitsurugi Kyouya juga sama-sama tampil kembali. Jadi singkat cerita, secara enggak terduga, kedua musim tayang anime Konosuba benar-benar adalah waktu menyenangkan.

Lumayan wajar bagaimana para penggemar mengharapkan kelanjutannya.

Apa aku jadi kepengin membaca novelnya atau enggak? Hmm. Mungkin saja ya?

Yah, kita lihat nanti.

Yeah, dunia ini suram. Tapi selalu ada berkah yang bisa kalian dapatkan kalau kalian mencarinya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A

Iklan
11/06/2016

Fate/stay night (2006)

(Ini adalah bahasan tentang seri TV FSN yang paling awal. Bahasan seri TV UBW aku buat di sini.)

Aku pernah ditanya tentang perbedaan apa saja yang seri TV orisinil Fate/stay night buatan Studio DEEN punyai dibandingkan adaptasi ceritanya yang lebih baru, Fate/stay night: Unlimited Blade Works yang dibuat Ufotable pada tahun 2014.

Tentu saja aku menjawab: ‘rute cerita’ yang diambil dari gamenya berbeda.

Seperti yang kebanyakan penggemar sudah tahu, animenya diadaptasi dari game visual novel buatan Type-Moon berjudul sama. Game tersebut memiliki tiga percabangan cerita utama, dengan perkembangan cerita dan tokoh utama wanita yang berbeda pada masing-masing rute. Tiga percabangan cerita tersebut masing-masing adalah Fate, Unlimited Blade Works, dan Heaven’s Feel. Fate dan UBW sudah dianimasikan (UBW bahkan sudah dianimasikan dua kali.). Sedangkan Heaven’s Feel sedang dalam proses dianimasikan dalam bentuk rangkaian film layar lebar oleh Ufotable seperti halnya proyek Kara no Kyoukai dulu.

Hanya saja, berhubung kebanyakan orang yang bertanya juga belum pernah memainkan gamenya, mereka jadi bertanya juga soal perbedaan-perbedaannya secara lebih rinci.

(Aku jadi merasa bego sendiri karena sebelumnya enggak lebih awal menyadari hal ini.)

Sebelum aku bahas lebih lanjut, aku mau singgung apa saja judul seri Fate yang signifikan saat ini kutulis selain Fate/Zero dan Fate/stay night, berhubung kelihatannya banyak yang suka mencari informasi tentang ini. (Signifikan yang kumaksud di sini adalah dari segi cerita ya.)

Judul-judul tersebut antara lain: (Mungkin akan kulengkapi sambil jalan nanti)

  • Fate/hollow ataraxia (format: game): fun disc dari gamenya yang orisinil, dan bisa dibilang semacam sekuel. Mirip seperti Kagetsu Tohya bagi Tsukihime, ceritanya berlatar di semacam dunia mimpi(?) di mana ada hari-hari yang terus berulang, ketika Perang Cawan Suci seharusnya sudah berakhir tapi hal-hal aneh masih terjadi. Karakter utamanya adalah Bazett Fraga McRemitz (Master asli dari Lancer/Chu Chulainn) dan sesosok Servant misterius bernama Avenger (yang seolah ‘menumpangi’ identitas Emiya Shirou) yang sama-sama berusaha untuk bisa membebaskan diri dari siklus tersebut. Meski sifatnya adalah ‘lepasan’ dari seri utama, ada beberapa bagiannya yang memaparkan sejarah beberapa Perang Cawan Suci yang pernah terjadi di Fuyuki.
  • Fate/Prototype (format: anime pendek, novel): konsep cerita asli Fate/stay night di tahap-tahap awal pengembangannya. Mencolok karena memiliki tokoh utama berjenis kelamin perempuan (Sajyou Ayaka) dan karakter Saber yang laki-laki. Latar ceritanya di Tokyo, bukan Fuyuki. Di samping itu, beberapa detil tentang Perang Cawan Suci di dalamnya juga berbeda jauh dari yang kita sudah kenal. Meski ada kemiripan, karakter-karakter Servant dan Master-nya juga berbeda sama sekali. Teaser animasi untuk seri ini disertakan dalam rangkaian seri OVA Carnival Phantasm yang diproduksi studio Lerche.
  • Fate/kaleid liner Prisma Illya (format: anime, manga): cerita lepasan yang menuturkan bagaimana seandainya karakter Illyasviel von Einzbern adalah seorang anak perempuan normal yang kemudian diubah menjadi seorang gadis penyihir (mahou shoujo). Sudah dianimasikan beberapa kali oleh studio Silver Link. Cerita di manganya (bagian ketiga) masih berjalan saat ini kutulis. Meski lebih berat di humor, adegan-adegan aksinya tetap lumayan intens. (Meski berbagi kemiripan, ceritanya berlatar di semesta terpisah dari Fate/stay night dan Fate/Zero)
  • Fate/Extra (format: game, manga, anime sedang diproduksi): game RPG yang dikembangkan bersama Image Epoch dan diterbitkan Marvelous Entertainment. Genrenya kombinasi visual novel dan dungeon crawler. Ceritanya berlatar di masa depan tahun 2032, di suatu semesta terpisah sesudah ‘mana’ di dunia mengering akibat suatu insiden besar tertentu di era 1970an. Karakter utamanya adalah Kishinami Hakuno, murid Perguruan Tsukumihara yang terlibat dalam Perang Cawan Suci sesudah mendapati bahwa dunia yang ditempatinya ternyata adalah dunia virtual. Game ini mendapat sekuel berjudul Fate/Extra CCC yang berperan sebagai sekuel sekaligus pelengkap cerita (semacam rute Heaven’s Feel-nya), yang melanjutkan kisah pelarian Hakuno dan orang-orang yang ditemuinya. Meski sistem permainannya agak tanggung, ceritanya terbilang bagus. Ini seri yang mulai memperkenalkan banyak karakter Servant baru, dengan percabangan cerita salah satunya ditentukan oleh Servant mana yang kita pilih. Seri ini juga menonjolkan karakter Saber ‘merah’ yang identitas aslinya adalah Kaisar Romawi Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus, yang sosoknya mirip dengan Saber yang sudah kita kenal. Adaptasi animenya sudah dikonfirmasi akan diproduksi studio SHAFT. (Meski berbagi banyak kemiripan, seri ini sebenarnya berlatar di semesta terpisah.)
  • Fate/Extella (format: game): game aksi relatif baru yang tak lama lagi akan rilis, yang dikembangkan bersama Koei Tecmo. Gaya permainannya serupa dengan game-game Musou/Dynasty Warriors, dengan latar cerita yang sama dengan seri Fate/Extra.
  • Fate/Apocrypha (format: tadinya game, novel): proyek yang semula direncanakan untuk dijadikan MMO, sebelum batal karena suatu sebab. Konsepnya tentang Perang Cawan Suci Agung yang melibatkan 14 pasangan Master-Servant. Sesudah proyek gamenya batal, konsep ceritanya diadaptasi ke bentuk novel yang tamat dalam lima buku. Ceritanya mengetengahkan klan magus Yggdmillenia yang menyatakan perang terhadap Mages’ Association lewat keinginan mereka untuk memisahkan diri. Ini berujung pada konflik besar antara kubu ‘hitam’ dan kubu ‘merah’ dengan kepemilikan Cawan Suci Agung yang telah lama hilang dari Fuyuki sebagai taruhan. Seri ini juga mencolok karena turut memperkenalkan Servant baru, Ruler (identitas asli: pahlawan wanita Perancis, Jeanne d’Arc), yang didatangkan khusus oleh Cawan Suci sebagai ‘pengawas’ konflik ini. (Seri ini juga berlatar di semesta terpisah.)
  • Fate/Grand Order (format: game): social game untuk ponsel yang dikembangkan dari ide awal Fate/Apocrypha. Berawal dari insiden di Fuyuki di tahun 2004, kita sebagai pemain akan menjumpai dan mengumpulkan berbagai Servant dalam menjelajahi berbagai ‘cawan suci’ di berbagai titik di sepanjang sejarah manusia. Ceritanya melibatkan dunia-dunia yang bercabang. Sampai ini kutulis, layanan permainannya masih aktif walau servernya hanya ada di Jepang. Permainannya lumayan seru. Seri ini memperkenalkan jumlah Servant paling banyak.
  • Fate/strange fake (format: novel): cerita yang semula berawal dari lelucon April Mop buatan Narita Ryohgo-sensei (pengarang Baccano! dan Durarara!!) yang kemudian terbit sebagai novel resmi dari Type-Moon. Ceritanya mengetengahkan Perang Cawan Suci ‘tiruan’ yang berlangsung di kota Snowfield, Amerika Serikat, serta hal-hal aneh yang terjadi di dalamnya, yang salah satunya adalah ketiadaan kelas Saber yang digantikan suatu kelas lain….

Mungkin suatu saat, masing-masing akan aku bahas secara terpisah.

Membiarkan Saat Ini Menjadi Segalanya

Kembali bicara soal seri TV Fate/stay night yang orisinil, produksinya dilakukan oleh Studio DEEN dengan jumlah episode sebanyak 24. Sutradaranya adalah Yamaguchi Yuuji, yang sekarang dikenali sebagai sutradara Angel Links dan Dansai Bunri no Crime Edge. Naskahnya dikerjakan Shimo Fumihiko, yang sebelum ini ikut mengerjakan naskah adaptasi anime dari Air dan Clannad (beliau sekarang dikenal karena menyusun komposisi banyak seri lainnya). Shimo-san turut dibantu untuk komposisi seri oleh Takuya Sato, yang sekarang lebih dikenal sebagai sutradara Wixoss dan Steins;Gate. Musiknya sendiri ditangani oleh Kawai Kenji yang sekarang telah dipandang sebagai komposer veteran.

Pada masanya, menyusul kesuksesan gamenya, hype untuk seri ini terbilang luar biasa. Di atas kertas, staf yang mengerjakan produksi anime ini juga terbilang solid. Lalu ini penting mengingat bagaimana Shingetsutan Tsukihime (yang dipandang kebanyakan orang datar, meski juga diangkat dari game buatan Type-Moon) masih segar dalam ingatan orang.

…Yah, soal Shingetsutan Tsukihime, meski aku memahami berbagai kekurangannya, secara pribadi aku tak sebegitu mempermasalahkannya.

Tapi terkait dengan itu, meski kualitas Fate/stay night sekarang dipandang kalah dibandingkan seri TV Fate/Zero dan Fate/stay night: Unlimited Blade Works, kalau melihat ke belakang, hasil adaptasi ini sebenarnya sama sekali tak jelek. Setidaknya, feel yang ada di gamenya berhasil tersampaikan. Kayak, soal dunia malam di mana hal-hal yang tersembunyi dari mata manusia awam tengah berlangsung, hal-hal ajaib yang merasuk di antara kehidupan perkotaaan modern, serta soal pengharapan akan cita-cita yang telah lama hilang.

Anime ini berhasil membuat Fate/stay night dipandang sebagai semacam dongeng di zaman modern.

Hal yang mencolok adalah bagaimana anime ini menjadi media pertama yang memvisualisasikan aksi antara karakter-karakter Servant. Di gamenya, adegan-adegan aksi ini diceritakan berlangsung dengan benar-benar dahsyat, dan secara visual hanya digambarkan lewat efek-efek garis tebasan dan tusukan gitu. Yamaguchi-san terutama menjadi dikenal karena menggunakan banyak teknik ‘potongan pendek’ untuk memvisualisasikan adegan-adegan berkecepatan tinggi (yang sekarang dengan sebelah mata agak dipandang sebagai cara untuk menekan anggaran). Lalu kalau kupikir sekarang, sebenarnya seri ini punya banyak adegan aksi keren. Hanya saja sebagian berakhir kurang memuaskan karena seolah ada terlalu banyak yang berusaha disampaikan.

Terlepas dari beberapa sentuhan… uh, ‘khusus’ (seperti bagaimana mereka mengadaptasi salah satu adegan di game yang takkan mungkin disiarkan di TV, atau bagaimana nekomimi Kaleido Ruby bisa tiba-tiba kelihatan di satu adegan), seri TV orisinil Fate/stay night mengikuti rute cerita Fate, hanya saja dengan menambah banyak elemen dari rute UBW dan Heaven’s Feel. Hasilnya: seolah ada banyak elemen cerita yang ditampilkan sebatas teaser, yang di akhir tak benar-benar sampai dijelaskan. Ini menjadikan para penonton awam yang belum mengenal gamenya sempat kebingungan dengan sejumlah hal.

Bagaimana Matou Sakura yang lama tidak muncul bisa tiba-tiba masuk lagi dalam cerita, misalnya. Diimplikasikan bahwa dirinya punya suatu keterkaitan terselubung dengan Tohsaka Rin, tapi apa persisnya hubungan itu berakhir tak terjelaskan (poin cerita ini memang dijelaskannya di Heaven’s Feel). Motif beberapa karakternya tak terjelaskan, seperti rasa permusuhan/ingin tahu Illya terhadap Emiya Shirou. Cara kerja kekuatan dan kemampuan masing-masing karakter juga tak benar-benar terjelaskan.

Stafnya seakan… tak rela bila ada elemen-elemen dalam gamenya yang gagal dimasukkan.

Mereka mengupayakan masuknya elemen cerita dari semua rute, terlepas dari berapa banyak durasi episode yang mereka punya. Masalahnya, tak benar-benar (belum?) ada cara untuk bisa memasukkan semuanya secara bagus.

Buatku pribadi, dampaknya seperti pada bagaimana aku—yang kebetulan lebih suka Rin ketimbang Saber—gregetan dengan tumbuhnya kedekatan antara Shirou dan Rin. Berhubung ceritanya akan mengambil jalur cerita Saber, aku kesal karena kedekatan yang tumbuh itu kesannya jadi takkan berujung ke mana-mana.

Atau pada bagaimana Archer mengorbankan diri saat menghadapi Berserker, lalu tetap tewas sekalipun telah menggunakan Reality Marble Unlimited Blade Works. Dalam gamenya, Archer berhasil menaklukkan Berserker sampai enam kali, tapi tak dijelaskan kalau ia sampai menggunakan Reality Marble miliknya (mungkin karena ingatannya belum pulih?). Atau pada bagaimana Archer yang kehilangan ingatannya, tetap menjadi tak jelas identitasnya hingga akhir.

…Atau pada bagaimana Shirou berkat saran Archer pada beberapa titik seakan bakal bisa membuka potensi Reality Marble miliknya, tapi kembali tak jadi.

Rasanya kayak… uuurgh, kayak ada harapan palsu yang terus diiming-imingi di depan kita, yang kita tahu pada akhirnya takkan terwujud

Bagusnya, terlepas dari isu-isu adaptasinya, yang membuat ada plot-plot tangensial yang bolong di mana-mana, cerita di seri TV ini koheren dan terasa tertuntaskan. Fokus ceritanya, yaitu hubungan Shirou dan Saber yang menjadi Servant-nya, lumayan berhasil tergali. Lalu konflik tertutup dengan pembeberan kalau si pendeta Kotomine Kirei sebenarnya orang jahat, dan Saber pernah memiliki hubungan dengan mendiang ayah angkat Shirou, Emiya Kiritsugu, yang darinya Shirou mewarisi idealismenya.

Singkat kata, seri TV ini tetap jadi seri aksi fantasi yang seru.

Mungkin berkat eksekusinya atau bagaimana, begitu episode terakhir usai, ada rasa kecewa yang berhasil timbul karena episodenya tak lebih banyak. Lalu ada kesan kalau sebenarnya materi ceritanya memang ada lebih banyak, hanya saja para pembuatnya sudah kehabisan cara buat menyampaikannya.

Jauh, Jauh di Dalam Hutan

Untuk kalian yang penasaran tentang plot ceritanya; awal ceritanya sama, namun apa yang kemudian terjadi setelah Shirou dan Saber pertama bertemu sedikit berbeda.

Meski sempat dibayang-bayangi oleh Lancer dan Caster, lawan utama pertama yang harus dihadapi Shirou dan Rin adalah teman sekolah Shirou, Matou Shinji (yang baru terungkap sebagai magus) beserta Servant-nya, Rider. Ini diikuti dengan konflik melawan Illya dan Berserker di Puri Einzbern, yang berakhir dengan bagaimana Berserker dikalahkan bersama oleh Shirou dan Saber dengan susah payah. Barulah selanjutnya mereka menghadapi Caster, yang berhasil mengetahui kalau Sakura juga bisa dijadikan ‘wadah’ untuk Cawan Suci. Caster masih didukung oleh Assassin dan guru wali kelas Rin yang misterius, Kuzuki Souichirou. Lalu menjelang akhir, barulah Servant Archer dari Perang Cawan Suci terdahulu, Gilgamesh, menampakkan diri dengan keinginannya untuk bisa ‘memiliki’ Saber, dan membuka jalan bagi Kirei untuk mewujudkan kembali Cawan Suci.

Sekali lagi buat yang penasaran, masing-masing rute juga punya tokoh antagonis utama dan penentu kemenangan sendiri-sendiri. Setiap tokoh antagonis sebenarnya berperan di masing-masing rute sih, hanya saja dalam porsi berbeda-beda.

  • Di Fate, tokoh antagonis utamanya adalah Kotomine Kirei. Penentu kemenangan Shirou adalah penemuan kembali sarung pedang Avalon, pusaka Noble Phantasm terakhir Saber yang telah lama hilang, serta keberhasilan Shirou dalam mereplikanya di hadapan Cawan Suci.
  • Di Unlimited Blade Works, tokoh antagonis utamanya adalah Gilgamesh. Penentu kemenangan Shirou adalah keberhasilannya menguasai Reality Marble Unlimited Blade Works yang dipelajarinya dari Archer untuk menghadapi Gate of Babylon milik Gilgamesh.
  • Di Heaven’s Feel, tokoh antagonis utamanya adalah Matou Zouken, sosok misterius yang merupakan salah satu pemrakarsa asli Perang Cawan Suci. Penentu kemenangannya terdapat pada bagaimana Shirou kehilangan separuh lengannya dalam pertempuran, dan kemudian memperoleh lengan Archer yang akhirnya tewas sebagai pengganti. Lengan tersebut membuat Shirou jadi memperoleh semua pengetahuan Archer, menjadikannya manusia separuh Servant yang memiliki kemampuan bertarung setara dengan mereka, namun dengan timbal balik tubuh yang sekarat karena Reality Marble Archer menggerogotinya dari dalam.

Segmen hiburan Tiger Dojo, yang dibawakan Illya dan Fujimura Taiga-sensei, yang kita temui setiap kali mencapai salah satu akhir cerita dalam gamenya (baik yang good ending maupun bad ending), tentu saja tak dianimasikan. Aku baru sadar kalau mungkin itulah alasan kenapa Illya dan Fuji-nee dibuat sebagai karakter comic relief di anime ini. Aku sempat heran karena adegan-adegan komedi mereka jadinya terasa kontras dengan adegan-adegan serius dan membuat nuansa cerita agak campur aduk.

Setelah aku pikirkan lagi, cuma di rute Fate ini pula Illya memperoleh akhir cerita yang (secara argumentatif) bahagia. Jadi mungkin itu satu lagi alasan yang jadi pertimbangan.

Soal visual, presentasi seri TV ini terbilang benar-benar baik di masanya. Desain karakternya jelas berbeda dari desain karakter versi Ufotable yang sekarang lebih populer. Tapi bahkan hingga sekarang pun anime ini masih termasuk enak dilihat.

Satu kelebihan yang dipunyai hasil adaptasi yang ini dibandingkan yang baru adalah audionya.

Anime ini mempertahankan vokal bertenaga sekaligus merdu Tainaka Sachi yang selain membawakan kembali lagu “Disillusion”  yang merupakan theme song asli dari gamenya, juga membawakan dua lagu lain yaitu lagu pembuka kedua “Kirameku no Namida no Hoshi” dan lagu penutup “Kimi to no Ashita.” Vokal yang beliau bawakan seakan mewujudkan warna khas untuk seri ini.

Lalu  (aku juga baru menyadari ini setelah ada orang lain yang mengatakannya) penataan musik di seri TV orisinil ini sebenarnya lebih baik ketimbang di versi Fate/stay night: Unlimited Blade Works. Aku juga tak benar-benar bisa menjelaskannya. Tapi rasanya seperti momentum cerita di versi ini lebih berhasil dijaga.

Akhir kata, aku gregetan dengan banyak hal yang ada pada anime ini. Ada kelemahan-kelemahan di sana-sini, dengan naskah yang terasa ‘aneh’ di beberapa bagian. (Seperti adegan “Orang akan mati bila terbunuh!” yang sempat menjadi meme. Menurutku itu contoh kendala penerjemahan yang hanya bisa terasa wajar dalam konteks bahasa aslinya. Di adegan itu, Shirou sedang berusaha menekankan sesuatu tentang melawan hukum alam dengan akan adanya korban-korban yang jatuh.) Namun setelah aku pikirkan lagi, hasil segini benar-benar sudah lumayan. Kenyataannya, kayak dengan bagaimana Saber kesampaian menuntaskan duelnya dengan Assassin misalnya, hasil jadinya bisa saja malah lebih enggak memuaskan ketimbang ini.

The Far-Distant Utopia

Sedikit lagi sebelum penutup, kalau kalian menemukan animasi pembuka Fate/stay night yang diiringi musik dari band Earthmind, maka itu adalah animasi pembuka dari versi Realta Nua dari gamenya. Di versi Realta Nua, ada satu episode tambahan yang diberikan di penghujung rute Fate. Di episode itu ditampilkan bagaimana Saber akhirnya bisa berjumpa kembali dengan Shirou di Avalon (Tahta Pahlawan?) setelah penantian selama berabad-abad. Shirou, yang kini secara fisik mirip Archer, diimplikasikan telah berhasil mewujudkan idealisme kepahlawanannya dan diterima sebagai salah seorang Heroic Spirit.

Aku pernah baca kalau sepeninggal Saber, kesudahan cerita rute ini sebenarnya menyamai akhir cerita di rute Unlimited Blade Works, yang mana Shirou ikut ke Clock Tower bersama Rin untuk menuntut ilmu. Tapi selebihnya baiknya dikembalikan saja pada imajinasi masing-masing.

Anime Fate/stay night yang mencampurkan elemen-elemen cerita antar rute ini sebenarnya agak mirip pula dengan adaptasi manganya yang pertama, tapi dengan hasil agak beda. (Sial, aku lupa nama pengarangnya.) Jadi kalau kalian masih belum juga puas dengan cerita Fate/stay night selama ini, masih ada versi manga tersebut.

Mungkin ini cuma aku, tapi anime Fate/stay night awal ini seolah jadi proyek yang ‘memastikan’ begitu banyak hal. Siapa yang mengisi suara inilah, adegan-adegan aksinya sebenarnya kayak apalah, adegan-adegan sihirnya kayak gimana, tempat-tempat ini sebenarnya lengkapnya gimana lah. Jadi meski sekarang mungkin agak dipandang sebelah mata, aku merasa anime satu ini punya signifikasi lumayan besar.

Buatku pribadi, ini media pertama yang mengenalkanku pada Fate/stay night sebelum aku berkesempatan mencoba gamenya.

Bahkan hingga kinipun, ideologi Shirou yang mendorongnya untuk terus berusaha dan pantang menyerah, sekalipun untuk waktu lama tak ada jalan yang benar-benar jelas di hadapannya, masih kerap membuatku tergugah. Lalu dalam adegan saat Sakura membangunkannya yang tertidur di gudang, aku jadi tersadar kalau dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil saja, orang sebenarnya sudah bisa merasa berkecukupan dalam hidup.

Lagu penutup “Kimi to no Ashita” di episode terakhir, yang dibawakan saat Artoria akhirnya menerima jalan hidup yang telah dilaluinya dan mencapai ujung mimpinya, benar-benar menutupnya secara keren.

Mari kita harapkan saja proyek Heaven’s Feel kelak berjalan lancar. (Dan suatu saat akan ada versi cerita yang memberikan akhir yang memuaskan untuk semua karakter.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

18/03/2016

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo!

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! atau Konosuba: God’s Blessing on This Wonderful World! (judulnya kira-kira berarti ‘memberi berkah pada dunia menakjubkan ini!’ atau ‘berkah dewa pada dunia menakjubkan ini!’) menjadi seri anime paling tak terduga(?) pada musim dingin di awal tahun 2016 ini.

Sebelumnya, aku mengira Dagashikashi, yang juga merupakan seri komedi, yang akan menjadi anime paling tak terduga di musim ini. Tapi ternyata aku salah. Yang paling tak terduga ternyata adalah Konosuba. Gelagatnya sebenarnya ada sejak awal diumumkan jajaran nama stafnya. Namun tetap saja, hasil jadinya melampaui perkiraan.

Untuk informasi awal, Konosuba diangkat dari seri light novel berjudul sama karangan Akatsuki Natsume dengan ilustrasi orisinil buatan Mishima Kurone. Seperti kasus beberapa seri terkenal lain, Konosuba pada awalnya dibuat Akatsuki-sensei sebagai web novel yang diserialisasikan di situs Syousetsuka ni Narou (waktu itu beliau memakai nama pena Jitakukeibihei). Serialisasinya berlangsung dari Desember 2012 sampai Oktober 2013, sebelum diterbitkan secara cetak oleh Kadokawa Shoten di bawah label Kadokawa Sneaker Bunko.

Ceritanya kudengar punya perbedaan mencolok antara versi web novel dan light novel di sekitar buku kelima dan keenam. Tapi soal itu lebih baik tak terlalu kita bahas.

Animenya sendiri diproduksi oleh Studio Deen dengan Kanasaki Takaomi (yang sebelumnya menangani Kore wa Zombie desu ka?) sebagai sutradara, naskah oleh Uezu Makoto, dan musik oleh Koda Masato. Episodenya berjumlah hanya 10, dengan produksi untuk season kedua sudah dikonfirmasi saat ini kutulis.

Hai, hai. Kazuma desu.

Singkat cerita, Konosuba berkisah tentang berbagai pengalaman seorang mantan hikkikomori/NEET bernama Satou Kazuma sesudah ia tewas dalam suatu kecelakaan(?) lalu lintas dan dihidupkan kembali (seperti beberapa orang lain sebelum dia) ke sebuah dunia lain untuk menjadi pahlawan yang akan menaklukkan Raja Iblis (Demon Lord/Devil King/apapun sebutannya).

Ada sejumlah hal konyol yang dipaparkan terkait ini. Tapi yang terkonyol terjadi saat Kazuma berhadapan dengan dewi cantik yang menjelaskan padanya soal ini, Aqua. Aqua menawari Kazuma untuk bisa membawa ‘apapun yang diinginkannya’ sebagai bekal ke dunia lain ini. Karena tak bisa memutuskan (dan juga sebal dengan bagaimana lambat laun Aqua kelihatan seperti memandang rendah dirinya karena kelamaan menunggu), Kazuma akhirnya menunjuk Aqua saja sebagai bekal. Lalu tak dinyana, pilihan Kazuma ternyata valid. Aqua pun ‘dicabut’ dari posisinya sebagai dewi dan didamparkan bersama Kazuma ke dunia lain ini.

Meski masih memiliki segala kekuatan sebagai dewi, Aqua segera terkuak merupakan sosok yang manja, egois, dan tak bisa diandalkan (dengan status INT indikator kecerdasan di bawah rata-rata). Saat mencoba mendaftar sebagai petualang (dengan misi untuk mengalahkan Raja Iblis yang telah lama membawa kehancuran dan kekacauan di dunia ini) Kazuma pun mendapati dirinya sebagai sosok yang biasa-biasa saja (meski status INT indikator kecerdasan dan LCK indikator keberuntungan lumayan di atas rata-rata).

Kazuma dan Aqua mencoba membentuk kelompok (party), tapi orang-orang yang bersedia bergabung dengan mereka ternyata hanya seorang archmage bernama Megumin, yang berupa seorang gadis remaja bernama aneh serta pembawaan untuk bersikap chuunibyou karena ia keturunan para Crimson Demon, yang semua orangnya konon memang bersifat seperti itu; serta sesosok perempuan crusader dewasa cantik dan berkesan kuat bernama Darkness.

Tapi segera terungkap bahwa Megumin terobsesi hanya dengan satu mantera, yakni sihir ledakan tingkat tinggi Explosion, dan makanya ia enggan mempelajari sihir lain; ditambah lagi sikap chuunibyou-nya kadang menyebalkan, ditambah lagi lagi kekuatan sihirnya ternyata hanya cukup untuk melepaskan Explosion hanya sekali dalam satu hari, sehingga ia akan langsung tumbang tanpa dapat bergerak sesudah melepasnya sekali.

Lalu Darkness pun ternyata punya pembawaan masokis yang membuatnya berpikir tentang hal-hal yang benar-benar aneh (mesum) setiap kali sedang ada di medan pertempuran. Apalagi, meski daya serangnya sebenarnya tinggi, akurasi serangannya nyaris tak ada. (Setiap tebasan pedangnya hampir selalu meleset.)

Makanya, meski punya teman-teman seperjuangan yang sama-sama berstatistik tinggi, Kazuma mengurungkan rencana untuk menyerang Raja Iblis. Ia berpikir, mungkin lebih baik jika mereka bertahan saja di kota tempat awal para petualang biasa tinggal (sekalipun Aqua menuntut bahwa hanya dengan mengalahkan Raja Iblis, baru dirinya akan bisa kembali sebagai dewi).

Tapi anehnya, bahkan upaya Kazuma untuk hidup damai sehari-hari pun lambat laun tetap saja mengundang perhatian para antek Raja Iblis, dan membawa mereka ke berbagai masalah.

Hari Ini Pun Orang-orang Mengejekku Lagi

Singkat kata, Konosuba bisa dibilang merupakan plesetan dari beragam cerita tentang ‘hidup kembali’ dan ‘tersesat dan terdampar di dunia lain’ yang sedang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Jadi kalau kau asing dengan cerita-cerita begini, mungkin kau akan biasa-biasa saja terhadap Konosuba. Mungkin malah kau akan menganggap ceritanya agak tolol. Tapi kalau kau tak asing, ada kemungkinan lumayan besar kau bakal menikmatinya.

Yang membuat anime Konosuba benar-benar bagus menurutku adalah eksekusinya. Aku dapat kesan aneh kalau para staf dan produsernya kayak menyiasati semua masalah materi cerita dan dana produksi dengan benar-benar lihai, sampai bisa menghasilkan anime dengan kualitas kayak begini. Dialognya berhasil dihidupkan secara kocak, penggambaran leluconnya benar-benar kuat, lalu adegan-adegan fanservice-nya pun (aku mengatakan ini sebagai cowok) patut diacungi jempol.

Soal dialog, kredit besar perlu diberikan pada Amamiya Sora yang berperan sebagai Aqua dan Fukushima Jun sebagai Kazuma. Sosok Aqua yang cengeng, tak mau kalah, tapi juga sebenarnya tak begitu tahu soal apa-apa berhasil dihidupkan secara pas oleh Amamiya-san. Ini terutama menyangkut semua mood swing-nya yang membuatnya terlihat baik hati di satu waktu dan menyebalkan di waktu lain. Tapi peran terbesar di sini ada pada Fukushima-san (mohon tak terbalik dengan Fukuyama Jun yang sangat terkenal dengan perannya sebagai Lelouch di Code Geass), yang berhasil menghidupkan Kazuma sebagai orang yang ‘sadar segala keterbatasannya’ tapi berulangkali juga menjadi ‘orang di belakang layar.’ Ini juga menyangkut sisi Kazuma yang masih pure serta rasa tanggung jawabnya yang lebih kuat dari yang lain.

Fukushima-san sebenarnya pengisi suara lumayan veteran yang selama ini kurang begitu menonjol. Makanya aku lumayan senang saat tahu dia mendapat peran ini.

Seperti yang bisa diharapkan dari Kanasaki-san sebagai sutradara, penggambaran lelucon yang elaborate (yang bisa berlangsung sampai beberapa menit) ada di seri ini.

Lalu adegan-adegan fanservice-nya itu bukan adegan-adegan yang suka tiba-tiba ada karena mesti terjadi’ gitu, tapi jenis yang dihadirkan sedemikian rupa dengan maksud tertentu karena memang adegannya menyatu dengan lelucon. Di satu episode tertentu, hasilnya benar-benar kocak.

(Ngomong-ngomong, karakter favorit fans sudah terbukti adalah Megumin.)

“Makanya, aku tanya, Destroyer itu apaan!?”

Aku berpendapat kualitas eksekusi Konosuba terbilang bagus karena aku sempat membaca terjemahan novel untuk buku pertamanya. Lalu aku bilang bagus karena meski sudah tahu tentang sejumlah leluconnya, melihatnya lagi dalam bentuk anime tetap berhasil membuatku ketawa.

Ada sedikit perasaan kurang puas begitu seri ini berakhir, mungkin dikarenakan keterbatasan jumlah episodenya. Di samping itu, cour ini memang hanya mengadaptasi cerita dari dua buku pertamanya saja (yang di dalamnya Kazuma dan kawan-kawannya sama-sama berhasil menyelamatkan orang-orang tapi ujung-ujungnya malah dituntut ‘pertanggungjawaban’ untuk berbagai hal…) yang notabene membuat ceritanya berakhir menggantung. Tapi kabar akan adanya episode OVA sekaligus season kedua sedikit mengobati kekecewaan itu.

Ada beberapa karakter lain yang menonjol (yang sayangnya tak tampil lebih banyak), seperti: Wiz, mbak-mbak penjaga toko yang cantik dan baik hati, tapi nyatanya tanpa sepengetahuan umum sebenarnya adalah undead lich yang menjadi salah satu jendral sang Raja Iblis, hanya saja dia maunya memang jadi mbak-mbak penjaga toko saja; Chris, seorang thief teman Darkness yang menemaninya mencari teman sekelompok, yang kemudian memberi Kazuma kemampuan melakukan Steal yang menjadi salah satu jurus andalan Kazuma; serta Eris, dewi manis yang menjadi junior Aqua, yang menjadi sasaran kedengkian Aqua karena memiliki pengikut lebih banyak meskipun kedudukan Aqua lebih tinggi darinya. Tapi mending aku enggak terlalu membahas soal mereka agar tak spoiler.

Soal visual, seri ini menampilkan nuansa cerah yang seakan menonjolkan dunia fantasinya yang penuh warna. Meski tak banyak, desain monster-monsternya terbilang menarik. Lalu saat ada sihir atau keterampilan yang digunakan, efeknya benar-benar keren. Ada beberapa bagian ketika penggambaran karakternya bagi beberapa orang agak aneh, tapi ini tak terlalu terasa dalam keadaan bergerak karena tetap menampilkan perkembangan adegan secara benar-benar luwes.

Audionya pas. Baik lagu pembuka dan penutupnya berkesan. Tapi yang benar-benar membuatnya kuat memang akting para seiyuu-nya.

Ngomong-ngomong kalau kalian memperhatikan terjemahan lirik versi lengkap lagu penutupnya, “Chiisana Boukensha”, yang dinyanyikan bersama oleh seiyuu ketiga heroine-nya, mungkin kalian akan merasa isi lagunya sedikit menyakitkan. Makanya, aku benar-benar salut dengan pembuatan animasi penutupnya. Ide membuat timelapse yang menampilkan keseharian kota tempat Kazuma dan kawan-kawannya tinggal benar-benar bagus dan membuat lagunya semakin berkesan.

Akhir kata, ini seri anime komedi yang paling menonjol di musim dingin 2016. Ceritanya tak bisa dibilang bagus-bagus amat, tapi ini menjadi salah satu seri yang paling menghibur dan paling banyak diikuti pada masanya.

Ada spin off yang sudah dibuat (seperti cerita prekuel yang dibintangi Megumin). Makanya kurasa popularitas seri ini belakangan sedang naik.

Yang paling kusuka dari seri ini: “Bahkan seorang dame ningen kayak Kazuma aja bisa punya rasa tanggung jawab, masa kamu enggak!”

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A

 

22/10/2010

Fate/stay night – Unlimited Blade Works

(Catatan: Bukan, ini bukan entri blog untuk seri TV FSN – UBW yang keluar tahun 2014. Untuk yang itu, ulasannya ada di sini. Trims.)

Fate/stay night – Unlimited Blade Works (aku baru nyadar cara penulisan judulnya yang semestinya) merupakan film animasi layar lebar yang mengadaptasi rute Tohsaka Rin, dari game/visual novel sangat terkenal, Fate/stay night.

Dirilis awal tahun 2010 oleh panitia Fate-UBW Project, dengan animasi yang diproduksi oleh Studio DEEN, movie ini mewujudkan pengharapan  fans untuk bisa melihat rute UBW dalam bentuk animasi.

“I am the bone of my sword, steel is my body, and fire is my blood…”

Permulaan UBW mengisahkan awal keterlibatan sang tokoh utama, remaja lelaki yang suka menolong, Emiya Shirou, dalam kompetisi Holy Grail War (perang cawan suci) yang berlangsung di kota tempat tinggalnya, Fuyuki.

Tujuh orang penyihir terpilih yang disebut ‘Master‘ akan mulai saling membunuh, sesudah ketujuh penyihir tersebut berhasil memanggil semacam roh pahlawan legendaris yang disebut ‘Servant.’ Servant pada dasarnya akan digunakan sebagai familiar dan menjadi faktor utama kekuatan mereka. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih tersisa akan memenangkan artefak sihir Cawan Suci, yang konon berpotensi mengabulkan permohonan apapun yang diminta oleh pasangan yang memenangkannya.

Pada suatu malam, Shirou tanpa sengaja menyaksikan pertarungan yang berlangsung antara Servant Lancer dan Servant Archer.

Akibat aturan bahwa tak ada saksi mata yang boleh dibiarkan hidup, sasaran Lancer beralih ke Shirou, dan Shirou segera menjadi korban kekuatan tombak Gae Bolg yang Lancer miliki.

Merasa bertanggung jawab atas keterlibatannya, dan didorong perasaan mendalam yang dipendamnya, Tohsaka Rin, teman sekolah Shirou yang ternyata merupakan Master dari Archer, dengan nekat melanggar aturan untuk mencoba menyelamatkan nyawanya. Menggunakan sisa kekuatan kristal ajaib, yang sebelumnya telah ia gunakan sebagai katalis untuk memanggil Archer, Rin berhasil menyelamatkan nyawa Shirou. Tapi tindakan Rin malah turut menyeret Shirou ke dalam pertarungan hidup mati yang kemudian mengubah hidupnya untuk selama-lamanya.

Lancer kembali memburuh Shirou. Tapi Shirou dengan tanpa sengaja kemudian berhasil memanggil sekaligus mengikat kontrak dengan Servant Saber. Kini diakui secara resmi sebagai seorang Master, Shirou, yang sebenarnya enggan bertarung, jadinya harus berhadapan dengan Rin sebagai sesama Master dalam Perang Cawan Suci.

Namun sesudah melihat sendiri ketidakberdayaan mereka sampai menghadapi Servant Berserker yang dimiliki Illyasviel von Einzbern, Shirou dan Rin memutuskan untuk menjalin kerjasama sampai Berserker kelak berhasil mereka kalahkan. Bersama, keduanya berhadapan dengan serangkaian Servant lain. Dimulai dengan Servant Rider, yang hendak menjadikan para siswa di sekolah mereka sebagai tumbal kekuatan; Servant Caster, yang ternyata merencanakan hal serupa; serta Servant Assasin, yang memiliki kesetiaan tidak lain kepada sesama Servant, yakni Caster.

Bersama Saber, Shirou dan Rin terikat kesepakatan untuk meminimalkan sebisa mungkin korban dari pihak orang-orang tak berdosa. Tujuan mereka adalah untuk mencegah terjadinya kerusakan besar seperti yang pernah menimpa Fuyuki dalam tragedi kebakaran misterius sepuluh tahun sebelumnya. Namun tingkah laku Archer—yang menyatakan diri telah kehilangan ingatan akan jati dirinya yang asli—semakin lama semakin mencurigakan.

Meski Shirou dan Rin berhasil bertahan dalam persaingan yang terjadi, kekuatan Caster seiring dengan waktu ternyata semakin tak terbendung. Tapi situasi tiba-tiba berkembang ke arah tak terduga dengan kemunculan Gilgamesh, Servant kedelapan yang semestinya tak ada. Dengan terkuaknya kelicikan Kotomine Kirei yang menjadi juri Perang Cawan Suci, serta kenyataan bahwa artefak Cawan Suci sebenarnya telah korup, harapan terakhir untuk menyelamatkan semuanya jatuh ke tangan Shirou dan Rin.

Shirou harus berhasil menguasai Reality Marble yang dipelajarinya dari Archer, Unlimited Blade Works, yang merupakan satu-satunya kekuatan yang mampu menandingi Noble Phantasm Gates of Babylon yang dimiliki Gilgamesh, yang kini hanya memiliki satu keinginan tunggal untuk menghancurkan segala-galanya.

“…Unknown to death, nor known to life…”

Di game-nya, Unlimited Blade Works dipandang sebagai rute paling sarat aksi dan paling penuh kejutan di Fate/stay night. Tokoh utama wanita rute ini, Tohsaka Rin tak diragukan merupakan salah satu tokoh anime paling populer dalam dekade terakhir. Dua hal tersebut menjadikan rute ini secara argumentatif lebih ‘dikenang’ dibandingkan dua rute lainnya.

Movie ini pada dasarnya merupakan ringkasan apa-apa yang terjadi dalam game-nya. Segala adegan aksi yang hanya tergambar ‘statis’ dalam game secara memuaskan tertuang dalam animasi halus dan cepat. Adegan-adegan aksi keren ini menjadi daya tarik utama movie ini. Sedangkan kekurangannya, mungkin terdapat pada eksekusi cerita. Sebab dengan durasinya yang terbatas, hanya mereka-mereka yang sebelumnya sudah memiliki pengetahuan tentang cerita Fate/stay night yang bisa menikmati sisi-sisi positif movie ini secara penuh.

Kelemahan lain yang movie ini adalah bagaimana ia mengandalkan rute-rute lainnya untuk menjelaskan aspek-aspek cerita yang tak terjelaskan di dalamnya. Pertanyaan-pertanyaan menyangkut siapa sebenarnya Saber, mengapa ia memiliki kesetiaan penuh terhadap Shirou, atau soal mengapa Cawan Suci kini tak dapat mengabulkan permohonan lain selain kehancuran, sejak awal memang hanya diceritakan pada dua rute Fate/stay night lainnya: Fate (rute pertama) dan Heaven’s Feel (rute ketiga). UBW sendiri merupakan rute kedua yang sedikit detil plotnya memiliki kaitan langsung dengan apa yang telah diceritakan dalam Fate. Hal ini mungkin akan memunculkan kebingungan bagi penonton baru. Tapi karena yang film layar lebar ini tonjolkan sejak awal adalah aksinya, hal ini jadi bukan suatu kekurangan yang mayor.

Dalam implementasi ke movie ini, perkembangan hubungan antara Shirou dan Rin sebagai teman seperjuangan terkesan sedikit dipaksakan. Masa lalu Rin dengan ayahnya, yang melandasi motivasinya yang kompleks,  pada akhirnya tak banyak disinggung. Demikian pula landasan keterikatan antara Shirou dengan Saber dan Ilya, yang sebenarnya berawal dari keterlibatan mendiang ayah angkat Shirou sendiri. Adegan kejar-mengejar terkenal antara Shirou dan Rin di sekolah sialnya sepenuhnya absen (padahal itu adegan kesukaanku). Lalu penggambaran sederhana Rin sebagai tsundere sayangnya sepenuhnya menghapus keengganan dan sikap ofensifnya untuk melibatkan Shirou dan Saber dalam perang. Interaksi antara Rin dan Shirou—yang dilandasi rumitnya perasaan Rin terhadap idealisme Shirou—sayangnya kurang ditonjolkan. Padahal menurutku di situlah konflik utama yang menjadi daya tarik terbesar rute UBW; yaitu pada bagaimana Shirou menemukan ‘kompromi’ antara idealisme yang ia usung dengan kenyataan yang dihadapinya di dunia.

Ilya hanya ditampilkan sebagai karakter loli. Masa lalunya bersama Berserker juga tak disinggung.

Dua tokoh Matou Sakura dan Fujimura Taiga juga hanya tampil sekedarnya sebagai tokoh minor.

Untungnya, fokus lain dari UBW, yakni hubungan persaingan antara Shirou dan Archer, lumayan diangkat ke permukaan. Bagaimana Archer membenci Shirou dengan segala kenaifannya lumayan tertuang. Tapi rasa permusuhan alami keduanya dengan Gilgamesh menurutku semestinya bisa digali lebih dalam lagi.

Titik positif film ini, yakni adegan-adegan pertarungannya, sekali lagi, benar-benar layak mendapat perhatian. Adegan-adegan pertarungan pedang pada saat Reality Marble UBW diaktifkan benar-benar menjadi tontonan aksi yang memuaskan dan enak dilihat. Melihat adegan-adegan pertarungan ini saja sudah cukup mengatakan anime ini memuaskan.

…Seenggaknya, demikian kasusnya buatku.

“So as I pray, ‘Unlimited Blade Works.’ “

Kurasa, cuma ada dua alasan utama mengapa UBW dianimasikan. Satu, karakter Tohsaka Rin. Dua, teka-teki tentang identitas asli Archer—yang dengan sedikit menyebalkan tak diceritakan dalam seri TV anime-nya. Mengacu pada dua alasan tersebut, sudah jelas sekali bahwa film layar lebar ini lebih diperuntukkan bagi para fans. Tapi mereka-mereka yang sedang ingin melihat sesuatu yang keren, atau sekedar ingin tahu sedikit banyak tentang garis besar FSN, mungkin akan terpuaskan saat menonton ini juga kok.

Dari kualitas cerita, kepuasan mengikuti cerita UBW di film ini sama sekali tak sebanding dibandingkan kepuasan menamatkan rute UBW di game-nya. Tapi mereka-mereka yang gregetan karena merasa UBW di game semestinya lebih ‘keren’ lagi (bukan berarti yang di game masih belum cukup keren sih), kurasa akan terpenuhi keinginannya melalui film ini.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: B+; Eksekusi: C+; Perkembangan: B-; Kepuasan Akhir: B-

(Buat yang mau tahu, Reality Marble merupakan sebutan untuk sihir dahsyat yang mewujudkan ‘dunia’ di dalam diri seseorang. Ini agak serupa dengan kemampuan Marble Phantasm yang Arcueid miliki di Tsukihime, yang mampu memanifestasikan visi di dalam alam. Tapi penjelasannya bakal panjang dan ribet, jadi kucukupkan saja sampai di sini.)

(Archer sebenarnya adalah wujud ‘masa depan’ potensial Emiya Shirou sesudah keberhasilannya menyelamatkan dunia dan menjadi pahlawan dengan memenangkan Perang Cawan Suci, karena pemilihan Servant tak terkekang zaman dan melampaui batasan waktu.)

24/05/2010

Seitokai no Ichizon

(Buat yang belum tahu, ini adalah ulasan untuk adaptasi anime Seitokai no Ichizon yang pertama. Adaptasi anime yang kedua, Seitokai no Ichizon Lv2 yang dibuat oleh studio AIC masih belum aku lihat.)

Di SMA swasta Hekiou yang terletak di pulau Hokkaido, para anggota Dewan Siswa (baca: pengurus OSIS) dipilih berdasarkan voting popularitas. Akibat dari hal itu, para anggota terpilih biasanya terdiri atas cewek-cewek cantik yang paling menonjol di sekolah. Soal apakah mereka memiliki cukup kapasitas untuk mengurusi Dewan Siswa atau tidak, yah, itu urusan belakangan.

Tapi ada satu orang yang mendapatkan pengecualian dari sistem pemilihan ini, yakni dia yang memperoleh peringkat pertama dalam penilaian semua mata pelajaran. Peraturan menetapkan bahwa dia memiliki hak untuk diikutersetakan ke dalam Dewan Siswa sebagai seorang anggota khusus, dan itu berarti sebuah kesempatan bagi para cowok untuk bisa meluangkan waktu hampir setiap hari bersama empat cewek tercantik di sekolah di dalam satu ruangan yang sama.

Dengan sistem pemilihan yang sangat tidak bertanggung jawab ini, maka tidak heran kinerja Dewan Siswa di Hekiou cenderung dipertanyakan oleh sekolah-sekolah lain.

Tapi para anggota Dewan Siswa Hekiou tentunya tidak mau menyerah begitu saja…

Kurang lebih demikianlah gambaran awal dari seri anime 13 episode yang diangkat dari seri light novel berjudul sama(?) karya Sekina Aoi ini. Desain karakter dan ilustrasi aslinya dibuat oleh Kira Inugami, yang sebenarnya merupakan tipikal desain karakter anime biasa.

Yah, judul asli seri ini sebenarnya adalah Hekiou Gakuen Seitokai Gijiroku, yang kurang lebih berarti ‘Catatan Harian Pertemuan Dewan Siswa SMA Hekiou.’ Tapi judul itu dinilai kepanjangan, dan akhirnya seri ini lebih dikenal dengan nama judul novel pertamanya saja: Seitokai no Ichizon, yang kurang lebih berarti ‘Pertimbangan Dewan Siswa,’ yang secara relatif jauh lebih mudah diingat.

Harem End!

Untuk gampangnya, Seitokai no Ichizon pada dasarnya bergenre gag comedy. Kalau kalian tak mengerti maksudnya, bayangkan sesuatu seperti K-On! atau Yandere Kanojo atau Lucky Star, hanya saja lebih… uh, enggak jelas.

Seitokai no Ichizon hampir sepenuhnya bercerita tentang setiap pertemuan Dewan Siswa yang dilangsungkan pada setiap hari kerja sepulang sekolah di SMA Hekiou. Tak ada adegan percakapan di ruang kelas. Tak ada adegan yang terjadi pada jam pelajaran. Sekali lagi, nyaris semua adegan yang ditampilkan di anime ini berlangsung sepulang sekolah di ruang rapat Dewan Siswa SMA Hekiou.

Pada awal setiap episode, sang ketua, gadis mungil kekanakan bernama Sakurano Kurimu (yang berambut merah dan pettanko), akan memproklamirkan sederet kata-kata mutiara yang kemudian ia jadikan topik bahasan rapat untuk satu hari. Biasanya topik percakapan mereka berkembang menjadi ngalor-ngidul, diselingi lelucon-lelucon tak penting, yang ditanggapi dengan reaksi yang agak terlalu berlebihan dari para anggota lainnya. Kemudian sesudah rapat mencapai kesimpulan(?), para cewek akan pulang dan sang tokoh utama, satu-satunya anggota cowok dari Dewan Siswa, dia yang menempati posisi sebagai wakil ketua sekaligus anggota khusus itu, Sugisaki Ken, akan bilang bahwa dirinya akan ‘pulang nanti saja’ dengan alasan bahwa ia masih ingin main komputer mengingat dirinya adalah seorang otaku.

Tapi di balik otaknya yang mesum dan hobinya bermain galge, Sugisaki hampir selalu pulang lebih larut demi menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang semestinya diselesaikan bersama oleh para anggota Dewan Siswa pada siang harinya.

Yea, jadi inti dari anime ini adalah soal keseharian mereka yang senantiasa diisi obrolan-obrolan enggak jelas, dengan Sugisaki yang ujung-ujungnya biasanya menjadi korban. Tapi Sugisaki sama sekali tak berkeberatan dengan perlakuan ini. Sebab ia selalu bersikeras bahwa waktu yang ia lewatkan bersama cewek-cewek itu hendaknya diisi dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan, bukan dengan rutin membosankan dalam menyelesaikan pekerjaan. Ini semua adalah bagian dari cita-citanya untuk memperoleh harem end, yang bagi yang belum paham merupakan istilah dalam game-game dating sim (simulasi kencan) untuk menyebutkan akhir cerita di mana kita sebagai pemain berhasil mendapatkan banyak cewek sekaligus!

Sebagai sesama cowok aku enggak bisa enggak salut atas cita-citanya yang begitu mulia.

Eniwei, di samping sang kaicho, cewek-cewek lain yang membentuk keanggotaan Dewan Siswa adalah: Akaba Chizuru (sekretaris), yang di balik penampilannya yang elegan, tersembunyi kecendrungan untuk memperoleh keuntungan lewat tindakan-tindakan yang status legalitasnya diragukan; Shiina Minatsu (wakil ketua), yang tomboi dan sangat menyukai komik-komik remaja cowok; serta adik Minatsu, Shiina Mafuyu, yang merupakan seorang pecandu game tingkat berat sekaligus penggemar tema-tema boy’s love (baca: cerita-cerita dengan tema homoseksual).

Dengan orang-orang berkarakter seperti ini, rasanya tak aneh jika kredibilitas Dewan Siswa Hekiou sampai diragukan.

Tapi seiring berlangsungnya cerita, mulai terungkap alasan mengapa Sugisaki yang biasanya dipandang sebagai sampah bisa berusaha begitu keras demi keempat cewek ini. Yang dengan demikian membawa kita pada kesimpulan bahwa target untuk mencapai harem end merupakan sumber motivasi yang luar biasa besar bagi para cowok.

…Lho?

I am the kaichou! I am kaichou~!

Terus terang, tak banyak yang bisa dikatakan soal Seitokai no Ichizon, selain kenyataan bahwa ini merupakan anime komedi yang sangat generik. Latar dan karakternya mungkin bisa dibilang memiliki nilai lebih sih. Tapi terus terang saja, tak ada perkembangan cerita berarti yang akan kau temukan pada anime ini.

Soal statusnya sebagai tontonan komedi, hm… entah ya. Anime ini sering sekali melontarkan lelucon berbentuk referensi terhadap anime populer lain, yang meskipun memang lucu, jadinya tak bisa dipahami oleh mereka yang tak mengetahui soal anime lain yang dijadikan referensi tersebut. Di samping itu, untuk suatu alasan, lelucon-leluconnya seringkali dilepas secara beruntun, tanpa jeda waktu ‘pembangunan suasana’ dulu. Sehingga meski kita mengerti leluconnya dan sadar bahwa lelucon itu memang lucu, pas mendengarnya kita tak sampai tertawa karena mendengarnya di saat yang kurang pas.

Tapi mungkin semua itu cuma aku saja. Sebab ada beberapa orang temanku yang terbukti sangat menyukai seri ini. Jadi tak ada salahnya bagi kalian yang merasa sudah menjadi penggemar anime untuk mengambil kesempatan dengan mencoba menontonnya.

Soal aspek presentasinya sendiri… hmm, aku benar-benar enggak bisa berkata banyak.

Tapi jika ada satu hal yang membuatku terkesan dari anime ini, maka itu adalah kesungguhan Sugisaki dalam membuat orang-orang yang disukainya bahagia, yang meski enggak dengan cara yang realistis, semakin terungkap menjelang akhir cerita. Dan itu sebenarnya sudah cukup alasan bagiku untuk tak merasa menyesal karena telah menontonnya.

Sejauh yang bisa kulihat, emang ga bisa dipungkiri seri ini memiliki para penggemarnya tersendiri. Aku akan menulis lebih banyak tentangnya begitu mendapatkan info lebih banyak lagi.

Penilaian

Konsep: B; Visual: B-; Audio: C+; Perkembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C

11/02/2010

Umineko no Naku Koro ni (end)

Berlatar di tahun 1986, sesudah bertahun-tahun sengaja menjauhkan diri, Battler Ushiromiya kembali ke rumah utama keluarga Ushiromiya di pulau terpencil Rokkenjima untuk menghadiri rapat perihal pembagian harta warisan sekaligus penentuan kepala keluarga Ushiromiya yang baru, bersama ayah kandung dan ibu tirinya, Rudolf dan Kyrie. Kakek Battler, Kinzo Ushiromiya, kepala keluarga Ushiromiya saat ini, tengah dilanda penyakit keras dan diperkirakan takkan hidup lama lagi. Karena itu, sebagai keluarga kaya-raya yang terpandang dan berpengaruh dalam dunia percaturan bisnis, penetapan siapa yang akan menjadi penerus Kinzo dipandang sebagai sesuatu yang penting.

Namun, apa yang semula direncanakan sebagai acara keluarga biasa tersebut dengan segera berubah menjadi mimpi buruk saat serangkaian kejadian aneh tiba-tiba terjadi. Hadirnya sepucuk surat misterius dari seseorang yang mengaku bernama Beatrice, wanita misterius yang konon meminjamkan emas sebagai modal usaha kepada Kinzo, dengan segera disusul insiden pembunuhan yang memakan korban dari pihak anggota keluarga maupun pelayan.

Battler dan sepupu-sepupunya, yang berada di pulau ini hanya karena keikutsertaan mereka bersama orangtua masing-masing, dengan segera menyadari bahwa intrik yang telah lama ada di tengah keluarga mereka sebenarnya memiliki sejarah yang jauh lebih dalam dari yang mereka sangka. Semua berawal berpuluh tahun lalu dan terkait dengan asal-mula kekayaan keluarga Ushiromiya, yang berhubungan dengan sebuah perjanjian yang pernah dilakukan dengan seorang penyihir…

The mysterious words make the witches smirk…

Jika yang kau bayangkan adalah drama misteri pembunuhan, maka apa yang kau bayangkan sebenarnya agak salah. Bahasan Umineko no Naku Koro ni (yang berarti ‘Tatkala Camar Menangis’) berkembang sedikit lebih dalam daripada itu. Masih diangkat dari ‘sound novel’ buatan 07thExpansion, Umineko menawarkan sesuatu yang sebenarnya ‘lebih dalam dari apa yang dari luar terlihat’ tapi dengan cara yang sedikit berbeda dari apa yang dulu Higurashi no Naku Koro Ni lakukan.

Baca pelan-pelan ya, karena ini agak memusingkan.

Pada episode-episode awal, dengan segera kita akan mengetahui bahwa mereka yang meninggal dibunuh sebagai korban persembahan bagi Beatrice. Rangkaian pembunuhan itu dilakukan sebagai semacam bentuk pembayaran atas emas yang pernah ia berikan pada Kinzo dulu. Sesudah semua ritual pengorbanan usai, Beatrice akan “bangkit kembali sebagai penyihir dengan nama yang diagungkan oleh semuanya, kemudian pintu ke ‘Negeri Emas’ akan sepenuhnya terbuka.”

Satu-satunya jalan bagi para calon korban untuk selamat katanya adalah dengan menemukan sendiri emas yang telah Kinzo sembunyikan, kemudian  mengembalikannya pada Beatrice. Hanya saja Kinzo, yang menjadi satu-satunya orang yang semestinya tahu di mana emas tersebut berada, secara misterius telah menghilang…

Battler, tokoh sentral cerita, yang hingga menjelang ajalnya menolak untuk percaya bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan bukan oleh tangan manusia (dalam hal ini, melalui kekuatan supernatural), kemudian diseret oleh Beatrice ke suatu alam dimensi lain di mana ia kemudian dipaksa Beatrice untuk membuktikan pendirian realis yang ia pegang.

Beatrice mengajak Battler untuk melawannya dalam suatu permainan ajaib, di mana mereka me-reka ulang pembunuhan-pembunuhan yang baru terjadi dengan penambahan berbagai faktor baru. Sasaran Beatrice: membuat Battler mengakui bahwa semua pembunuhan yang sebelumnya terjadi, beserta pembunuhan-pembunuhan yang terjadi kemudian dalam permainan reka ulang yang mereka mainkan, sama sekali tidak mungkin dilakukan oleh tangan manusia biasa. Sedangkan sasaran Battler: membuktikan sebaliknya; bahwa sekalipun terlihat mustahil, semua itu memang bisa dilakukan dengan tangan manusia.

Semua ini dilakukan karena keinginan Beatrice untuk membuka pintu ke Negeri Emas gagal tercapai akibat Battler yang masih belum sudi ‘mengagungkan namanya’ sebagaimana ketentuan yang telah dibuat.

Menyaksikan permainan mereka adalah dua orang penyihir lain: Bernkastel, yang memiliki kuasa terhadap segala bentuk keajaiban; dan Lambdadelta, yang menguasai segala yang bersifat absolut. Perlu diperhatikan bahwa Bernkastel dan Lambdadelta masing-masing memiliki wajah yang mirip sekali dengan kedua tokoh Furude Rika dan Takano Miyo dari Higurashi. Terlebih lagi diceritakan bahwa Lambdadelta tengah sebal pada Bernkastel, karena dirinya yang selama ini tak pernah kalah baru saja takluk oleh Bernkastel dalam permainan mereka yang terakhir.

Demi memenangkan permainan aneh ini, kecerdasan, pendirian, serta ketabahan Battler berulangkali sampai diuji. Tapi bahkan Beatrice pun tidak memiliki kendali terhadap perkembangan-perkembangan baru yang terjadi di dalam permainan mereka berdua. Bersama setiap babak baru, terbuka pula kemungkinan-kemungkinan baru yang selanjutnya semakin mempengaruhi permainan mereka ke depan.

Pertanyaan terakhirnya adalah…’Siapakah Aku?’

Jujur saja, pada saat aku menonton ini, pertanyaan yang semula hanyalah: ‘Apakah Beatrice benar-benar ada?’ atau ‘Apa iya emas itu betulan ada?’ dengan segera berubah menjadi ‘Ini maksudnya apaan sih?!’ seiring dengan semua perkembangan cerita yang terjadi. Sebab meski yang di atas terdengar menarik, cerita ini ternyata tidak hanya berkisar soal permainan antara Beatrice dan Battler saja.

Melalui permainan ini (yang di dalamnya ada ‘Battler lain lagi,’ yang terlepas dari Battler yang sedang bermain melawan Beatrice, jadi semacam avatar-nya gitu), terungkap berbagai kenyataan mengejutkan tentang masing-masing anggota keluarga Ushiromiya, seringkali dalam bentuk flashback. Dari sini cerita seringkali menjadi lebih berat ke sisi drama, dengan plot yang agak tangensial dengan plot utama. Karena itu, mengingat maksud semua pembeberan ini belum jelas adalah apa, para penonton yang kurang bisa menyimak apa yang terjadi dengan mudah akan menjadi bosan.

Di sisi lain, ada banyak visualisasi berdarah-darah dan permainan sihir yang menyala-nyala, membuat orang-orang yang menyukainya lumayan tertarik. Apalagi tokoh-tokoh baru yang muncul belakangan (yang… uh, ‘bukan manusia’) seringkali mengenakan outfit yang lumayan revealing. Jadi para penonton yang menyukai sedikit fanservice atau butuh inspirasi untuk membuat doujin juga kurang lebih akan menikmatinya.

Terlepas dari itu semua, Umineko adalah seri yang lumayan menarik. Karena diangkat dari ide yang dari awalnya sudah orisinil, seri ini lumayan ‘beda’ dari seri-seri anime lain yang pernah ada. Kenyataan itu saja menurutku sudah cukup untuk membuatnya layak ditonton.

Alliance of the Golden Witch

Di akhir seri, Battler memang berhasil mematahkan serangan-serangan Beatrice dengan memunculkan argumen yang menunjukkan bahwa semua pembunuhan bisa dilakukan oleh tangan manusia. Tapi hingga akhir, masih banyak teka-teki yang belum terjawab. Seperti halnya Higurashi yang mendapatkan jawaban-jawabannya dalam bentuk Higurashi Kai, Umineko memiliki Umineko no Naku Koro ni Chiru yang menjelaskan semua teka-teki dengan memberikan sudut pandang berbeda berkenaan semua hal yang telah terjadi, termasuk permainan antara Battler dan Beatrice.

Hingga saat tulisan ini dibuat, pembuatan rangkaian seri sound novel Umineko Chiru masih berlanjut. Jadi kurasa masih bakal agak lama sampai versi adaptasi anime Umineko Chiru akan muncul. Bagaimanapun, kalau sudah menonton hingga akhir dan dibiarkan penasaran seperti ini, rasanya agak merana juga.

Penilaian

Konsep: S; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: X; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

(BTW, sebelumnya aku memang bermaksud mengulas ini per babak, tapi perkembangan cerita yang berlangsung di dalamnya membuat aku malas melakukannya)

28/01/2009

Higurashi no Naku Koro ni Kai

Higurashi no Naku Koro ni Kai, atau yang juga dikenal sebagai When They Cry: Kai, diproduksi pada paruh akhir 2007 dari Studio DEEN dengan jumlah episode sebanyak 24. Seri ini merupakan kelanjutan dari anime Higurashi no Naku Koro ni yang muncul sebelumnya, dan bisa dibilang merupakan season keduanya yang diadaptasi dari game berjudul sama.

Seperti yang judulnya indikasikan (yang kira-kira berarti ‘saat para tonggeret memekikkan penyelesaian’), seri ini menawarkan ‘jawaban’ atas rangkaian misteri pembunuhan sadis yang terjadi di desa Hinamizawa pada pertengahan tahun 1983. Seri ini masih diadaptasi dari sound novel berjudul sama dari 07th Expansion yang sempat laku keras di Jepang dulu, dan season ini merupakan paruh kedua ceritanya.

Apa benar letupan gas vulkanis beracun yang membantai habis semua orang itu terjadi? Apa benar itu merupakan bentuk kutukan dari dia yang disebut-sebut sebagai Oyashiro-sama? Siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang terjadi setiap tahun menjelang Festival Watanagashi? Benarkah ini semua masih berkaitan dengan konflik pembangunan bendungan yang terjadi bertahun-tahun lalu? Semua pertanyaan itu terungkap jawabannya beserta pembeberan atas kelanjutan nasib tokoh-tokohnya.

Ada kejutan-kejutan besar yang ditampilkan. Terutama terkait ‘sifat’ sesungguhnya dari kejadian-kejadian yang lalu. Lalu ini melibatkan adanya suatu pihak misterius yang memang ‘mencelakakan’ para penduduk desa dengan sejumlah kaitan pada penelitian sebuah penyakit yang berakhir tak terungkap.

Perkembangan terbesar yang Higurashi Kai punyai adalah diperkenalkannya tokoh Hanyuu, sosok gaib(!) yang dikisahkan selama ini telah menemani Furude Rika dalam menjalani semuanya. Furude Rika menjadi karakter sentral di seri ini, yang secara mengejutkan dipaparkan mengetahui jauh lebih banyak dibandingkan para karakter lain. Namun demikian, Rika tetap berada dalam tanda tanya terkait siapa pelaku yang sesungguhnya, sekalipun dirinya sudah berkali-kali berada di ambang keputusasaannya.

Keberadaan Hanyuu semata yang mungkin saja menjadi kunci bagi Rika dan kawan-kawannya untuk bisa lepas dari takdir buruk yang mereka jalani.

“Hauu~~~! “

Seperti pendahulunya, Higurashi Kai juga terdiri atas beberapa bab. dengan satu bab tambahan khusus di anime ini untuk melengkapi beberapa plot detil yang tak sempat masuk dalam season anime terdahulu. Bab-bab di season ini meliputi:

  • Meakashi-hen (‘Bab Pembuka Mata’), yang membeberkan lebih banyak tentang masa lalu Sonozaki Shion.
  • Tsumihoroboshi-hen (‘Bab Penebusan Dosa’), yang berfokus pada Ryuugu Rena dan mengungkap bahwa dirinya pun melalui sesuatu yang serupa dengan yang Maebara Keiichi alami.
  • Yakusamashi-hen (‘Bab Menjelang Bencana’), bab tambahan untuk anime, yang di dalamnya Houjou Satoko mulai memperhatikan perilaku-perilaku aneh Rika. Rahasia Rika disadari Satoko menjelang wafatnya ia di rumah sakit.
  • Minagoroshi-hen (‘Bab Pembantaian’), yang berfokus pada Rika, yang di dalamnya, jawaban dari sebagian besar misteri akhirnya terbeberkan. Pelakunya adalah Takano Miyo.
  • Matsuribayashi-hen (‘Bab Pengiring Festival’), yang mengisahkan bagaimana Rika dan kawan-kawannya menyatukan kepingan-kepingan teka-teki dan melakukan perjuangan terakhir untuk bisa melewati Juni 1983.

Secara garis besar, karena bahkan sebelum pertengahan seri ini sebagian teka-teki telah terindikasi jawabannya, Higurashi Kai sayangnya tidak menimbulkan rasa penasaran sebesar dulu. Ada kesan seperti kita dibawa-bawa ke sejumlah bagian cerita yang tak benar-benar terlihat signifikasinya, walau mungkin memang ada makna tersembunyi yang luput kita sadari. Aspek supernaturalnya kurang benar-benar terjelaskan. Mungkin ada sesuatu tentang arahan yang dilakukan Kon Satoshi, ada beberapa hal terkait pengaturan temponya yang juga agak aneh.

Meski demikian, dari segi konsepnya sendiri, terasa bagaimana Higurashi Kai punya daya tarik yang kuat. Rasanya berkesan bagaimana para tokohnya bersatu demi mengatasi masalah mereka bersama. Ada pesan soal bagaimana ikatan persahabatan dan keteguhan yang tak tergoyahkan bisa memutarbalikkan roda nasib.

Buatku tak sebagus season pertamanya karena sebagian besar faktor suspens dan psikologisnya hilang, digantikan oleh sejumlah aspek supernatural yang mungkin agak membingungkan. Tapi Higurashi Kai tetap merupakan tontonan wajib bagi mereka yang telah menonton seri pertamanya.

Penilaian

Konsep: A+; Visual: A-; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A