Posts tagged ‘sports’

06/10/2014

Baby Steps

…Aku jarang mengikuti seri manga olahraga.

Ya, dulu aku penggemar Slam Dunk karangan Inoue Takehiko. (Gimana caranya kau bisa enggak jadi penggemar Slam Dunk sesudah baca sekali?!) Baik anime maupun komiknya dulu sama-sama pernah kuikuti. Tapi makin ke sini, hmm, minatku terhadap seri-seri olahraga kelihatannya agak menurun.

Ya, sesekali aku baca manga bertema baseball karangan Adachi Mitsuru. Tapi ceritanya kan banyak dipadu dengan drama, jadi paling cuma itu. Prince of Tennis tak pernah benar-benar aku minati, walau animenya sempat cukup meledak. Lalu meski harus mengakui kebagusan dan keseruan Kuroko no Basuke serta Haikyuu!, aku tak pernah benar-benar sampai jadi penggemar keduanya. (Oh, manga Kuroko sempat tamat belakangan.) Kalau kupikir lagi, aku juga enggak pernah terlalu menggemar manga-manga yang mengangkat tema soal sepakbola.

Makanya, apa yang kualami sekarang mungkin memang sesuatu yang agak aneh.

Memang jarang-jarang sih. Tapi secara berkala aku mengikuti perkembangan manga tenis Baby Steps (‘langkah-langkah bayi/kecil’) karangan Katsuki Hikaru, yang sudah diterbitkan di sini oleh Elex, dan aslinya diterbitkan mingguan oleh Weekly Shonen Magazine punya Kodansha.

Segala Sesuatu Bisa Diatasi Dengan Akal dan Kemauan

Baby Steps, ringkasnya, mengisahkan pengalaman-pengalaman seorang remaja SMA bernama Maruo Eiichirou yang mulai menggeluti dunia tenis.

Premis ini sekilas kedengaran biasa. Tapi kalau kalian pernah mendapat pelatihan tenis formal sebelumnya, mungkin kalian akan terenyuh karena dalam pandangan umum, mengejar dunia tenis profesional pada usia SMA tidak dipandang sebagai ide yang bagus. Tenis itu, singkatnya, merupakan olahraga yang idealnya turut ‘membentuk’ badan selama masa pertumbuhan. Jadi para petenis dunia yang beneran jago konon telah ditentukan masa depan mereka semenjak mereka masih kecil. Sehingga status Ei-chan (demikian dirinya dipanggil, salah satunya karena sebelumnya berkat nilai-nilai pelajarannya yang bagus dan catatan-catatannya yang teramat rapi ia dikenal sebagai seorang straight A student) sebagai seseorang yang belum lama mendalami tenis berulangkali membuat terkesima orang-orang baru di sekelilingnya. Terlebih saat bagaimana kekurangan pengalaman dan fisiknya ia imbangi lewat kemampuan analitiknya serta kontrol bolanya yang benar-benar jauh di atas rata-rata.

Ei-chan memutuskan untuk tenis saat ia bergabung dengan klub tenis di dekat rumahnya yang bernama Southern Tennis Club atau STC. Semula, dirinya bergabung semata-mata karena merasa dirinya kurang olahraga. Tapi kemudian ia mendapati bahwa ada teman sekolahnya, seorang siswi populer bernama Takasaki Natsu, yang ternyata menjadi anggota pelatihan di sana.

Natchan inilah, yang bercita-cita menjadi seorang petenis profesional, yang kemudian menyadarkan Ei-chan akan adanya jalur kehidupan lain selain mendapat nilai bagus dan kemudian mendapat pekerjaan bagus.

Mungkin separuh agak terpikat olehnya, Ei-chan kemudian mulai serius mendalami tenis demi bisa mengejar Natchan. Terutama sesudah Ei-chan mengetahui bahwa tujuan Natchan tak lain adalah karena ingin mengejar teman masa kecilnya sendiri, Ike Souji, yang seusia dengan mereka, tapi kini telah menjadi rising star dalam dunia tenis profesional internasional.

Antara Akal dan Naluri

Aku pernah menekuni tenis waktu SMP. Bahkan pada waktu itupun aku sudah dikomentari tentang bagaimana aku sudah ketinggalan dibandingkan anak-anak lain yang sejak SD sudah tergabung dalam sekolah tenis ternama di kotaku. Yah, aku enggak merasa ada banyak dari mereka yang kemudian maju ke jenjang profesional sih. Tapi mungkin kalian bisa bayangkan maksudku.

Dulu pelajaran tenis yang kudapat itu lewat les privat. Kalau kupikir, keadaanku dulu beruntung juga. Aku enggak pernah sampai merasa aku jadi benar-benar langsing. Tapi tanpa sadar, ototku terbentuk dengan sendirinya pada masa itu. Lalu walau aku dikelilingi anak-anak yang lebih muda, ada seorang cewek sebayaku yang tomboi yang menjadi teman main.

…Aku agak menyesal karena les privat itu aku akhiri dengan begitu saja sih. Dalam artian, kayak, aku berhenti datang sama sekali, dan berhenti begitu saja tanpa pamit ataupun penjelasan. Kepada kedua orangtuaku, aku memakai kesibukan pelajaran sekolahku sesudah masuk SMA sebagai alasan (walau memang nyatanya ini enggak salah). Tapi sesudah aku dewasa sekarang dan mikir ke belakang, ini keputusan yang pada akhirnya aku sesali.

Aku benar-benar bersikap lemah (dan pengecut) pada waktu itu, dan dampak keputusan itu terasa bahkan sampai sekarang.

Membaca Baby Steps, membandingkan diriku sendiri terhadap Maruo, terutama dengan melihat perkembangan hubungannya dengan para rivalnya, dan juga dengan Natchan sendiri, aku benar-benar jadi merasa payah.

Di sisi lain, ini manga olahraga yang terbilang langka karena porsi cerita yang berfokus pada olahraganya sendiri benar-benar besar.

Yah, tenis memang olahraga yang relatif individualis sih. Jadi enggak banyak faktor hubungan antar karakter yang bisa diangkat sebagai drama.

Tapi bila dibandingkan dengan cabang-cabang olahraga lain yang banyak diangkat dalam suatu fokus pada manga, lumayan terasa perbedaan warna yang tenis punya.

Konfliknya lebih banyak ada pada mental. Segala pergulatannya cukup banyak di dalam pikiran dan hati para pemainnya sendiri. Lalu walau kau kalah di satu kesempatan, itu sama sekali enggak serta merta berarti kau lebih lemah dari lawanmu. Tenis itu olahraga di mana dua pemain yang berhadapan di dalamnya sama-sama mengalami semacam evolusi di sepanjang permainannya.

Singkatnya, bahkan saat Ei-chan kalah pun, dia enggak pernah benar-benar ‘kalah.’ Ada sesuatu yang selalu didapatkan olehnya dan lawan-lawannya seusai bertanding. Sesuatu yang bisa dibilang bersifat pribadi.

Makanya, walau sekilas membosankan, dan karenanya tak begitu meledak, ini seri yang bisa dibilang seru bagi mereka yang bisa mengikutinya.

Oh, dan agak berbeda dari Prince of Tennis, aspek realismenya lumayan besar. Jadi enggak ada jurus-jurus maupun teknik aneh yang ditampilkan di dalamnya. Semuanya murni ada pada parameter fisik, kecendrungan bermain, gaya dan filosofi permainan yang dipegang, serta kekuatan mental masing-masing karakternya.

Metode Termudah Untuk Menjadi Riajuu

Baby Steps sempat memenangkan penghargaan manga Kodansha sebagai manga shonen terbaik. Sesudah aku ikuti, lumayan mudah untuk tahu alasannya kenapa.

Judulnya mengacu pada perkataan salah seorang karakter di dalamnya, yang bilang bahwa dari langkah-langkah bayi yang kecil dan teratur dapat tercipta lompatan-lompatan raksasa yang besar, dan persis itulah yang Ei-chan alami dalam manga ini.

Jumlah karakternya tak benar-benar sedikit. Tapi lingkup perkembangannya memang difokuskan lebih banyak pada Ei-chan, dan pada bagaimana ia mencoba membuktikan pada kedua orangtuanya dan sekaligus pada dirinya sendiri tentang cita-citanya ini.

Aku sempat mengira kalau Takasaki Natsu lebih banyak dipakai sebagai karakter pemanis. Tapi kenyataannya sama sekali enggak.

Hmmm… porsi elemen-elemen cerita di dalamnya memang agak enggak biasa untuk sebuah manga olahraga. Tapi ini seriusan seri yang bagus.

Dari segi gambar dan desain karakter, sekilas kesannya tak menonjol sih. Tapi saat kau perhatikan detil-detil yang ditampilkan di dalamnya, hasilnya sama sekali enggak jelek. Bahkan ada perhatian tak disangka, meski enggak dalam jumlah banyak, terhadap hal-hal sampingan yang ada di dalamnya juga. Dan yea, ini seri yang terbilang ‘bersih’ dari elemen-elemen aneh yang bisa ditemukan pada banyak seri belakangan.

Season 1 dari adaptasi animenya yang dibuat oleh Pierrot belum lama ini berakhir semenjak penayangan dari Oktober lalu. Berhubung ditayangkannya di saluran NHK-E, yeah, kalian tahu animenya adalah jenis yang kayak apa. Season 2 dari animenya sudah diumumkan. Tapi berhubung aku belakangan sibuk dan sudah mengikuti cerita dari manganya, maaf karena aku enggak mengikuti perkembangannya.

You know, alasan aku mengangkat pembahasan soal ini adalah karena kayak yang sebelumnya aku bilang, aku sedang berusaha melakukan pembenahan terhadap hidupku. Dan Baby Steps termasuk seri yang banyak ngasih pengaruh positif sekaligus ide tentang bagaimana baiknya cara aku melakukannya.

Ini serius telah menjadi salah satu manga olahraga favoritku untuk sekarang ini.

Iklan
Tag:
22/06/2014

Ping Pong the Animation

Kalian tahu, aku bukan penggemar ping pong. Aku bahkan hampir enggak tahu apa-apa tentang ping pong. Dulu aku pernah main tenis. Tapi aku yakin itu hampir enggak ada mirip-miripnya dengan tenis meja. Bahkan itu bisa dibilang semacam olahraga yang lain sama sekali.

…Tapi aku ngikutin seri Ping Pong the Animation, pada musim semi 2014 lalu. Dikeluarkan oleh studio Tatsunoko Production dan terdiri atas 11 episode, ini seri yang bagiku dari awal aku tahu bakal keren. Salah satu alasannya karena keterlibatan sutradara Yuasa Masaaki di dalamnya.

Aku pertama tahu tentang beliau dari mengikuti anime komedi romantis Youjo-Han Shinwa Taikei. Tapi soal itu mending dibahas di tempat lain.

Setelah sampai di sini, aku agak enggak yakin baiknya ngejabarin Ping Pong gimana. Seri anime ini diangkat dari manga berjudul sama karya Matsumoto Taiyou, yang bahkan pernah dibuat film layar lebarnya juga. Walau begitu, aku seriusan belum pernah tahu tentang seri ini sebelumnya. Aku belakangan sadar kalau ini memang bukan jenis seri yang akan ‘meledak.’

Gaya gambar Matsumoto-sensei terbilang realis (apa ini istilah yang tepat?), dan maka dari itu aku kemudian maklum kenapa Yuasa-sensei yang jadi menyutradarainya. Di samping itu, walau cukup berdarah panas sebagai sebuah seri olahraga, ada nuansa drama kehidupan yang lumayan kental di dalamnya.

Maksudku kental di sini itu benar-benar kental. Tapi adegan-adegan tenis mejanya juga tetap seru untuk diikutin.

Gaya gambar realis ini yang membuatnya seakan terimbangi oleh gaya animasi khas yang dibuat Yuasa-sensei, yang terus terang sangat mengandalkan animasi tangan dan sama sekali tidak moe, dan terang-terangan takkan dipandang menarik oleh sebagian orang.

Namun terlepas dari gaya visualnya yang unik, kalau kau suka drama, dan kau mencoba mengikuti ceritanya, sekedar mencoba saja, mungkin kau juga bakal memandang kalau eksekusi ceritanya termasuk luar biasa.

Seperti Metronome

Berlatar di suatu kota yang sempat kusangka bernuansa agak 1970-an (walau belakangan diperlihatkan ada teknologi modern dan hal-hal canggih lainnya juga di sana), Ping Pong bercerita seputar perkembangan dua orang teman semenjak kecil di SMA Katase, Hoshino Yutaka yang berjulukan Peco, serta Tsukimoto Makoto yang berjulukan Smile. Keduanya sama-sama menjadi anggota klub tenis meja di sekolah mereka, dan keduanya juga telah mendalami olahraga ini semenjak mereka kecil.

Singkat ceritanya sekali, keduanya dikisahkan berbakat. Tapi Peco yang ceria dan banyak gaya mulai arogan dan nyata-nyata tak bisa berkembang di lingkungannya saat ini. Lalu Smile, yang sangat pendiam dan pasif dan tanpa ekspresi—sangat berkebalikan dengan nama panggilannya, tak memiliki semangat juang untuk menjadi lebih baik dan selalu mengalah terhadap Peco.

Porsi cerita utama dibuka dengan kedatangan seorang pemain asing dari China bernama Kong Wenge ke SMA Tsujidou, sebuah SMA yang tak menonjol dalam tahun-tahun terakhir, dan pelatihnya berharap bisa memperbaiki prestasi mereka dengan mengundang Wenge, yang sekalipun remaja, telah menjadi pemain profesional.

Hanya saja, situasi Wenge ke Jepang lebih karena suatu pengusiran ketimbang lainnya. Hanya dengan ditemani seorang penerjemah yang kelihatannya merupakan satu-satunya orang yang bersimpati padanya, diimplikasikan drinya tak diperbolehkan pulang sampai dirinya berhasil ‘menaklukkan’ Jepang. Semula, begitu melihat tingkat permainan di Tsujidou, Wenge yang memancarkan aura percaya diri merasa ini akan menjadi tantangan mudah. Tapi…

…Singkat cerita, Peco dan Smile, pada hari kedatangan Wenge, membolos latihan di sekolah mereka dan datang ke Tsujidou demi melihat seperti apa Wenge secara langsung. Lalu saat dengan gegabah ia menantangnya, Peco mendapat pelajaran pahit soal kekalahan secara telak. Kejadian inilah yang kemudian menjadi titik balik bagi keduanya.

Di sisi lain, pelatih tenis meja di SMA Katase, seorang pemain profesional veteran tua bernama Koizumi Jo, mulai menyadari bakat terpendam yang Smile miliki (beliau juga guru bahasa Inggris, jadi mungkin itu alasan kenapa kadang tingkahnya agak aneh). Iapun mencoba mengambil tindakan-tindakan untuk mengasahnya. Tapi untuk itu ia harus mempelajari hubungan masa lampau unik apa yang Smile dan Peco sekiranya punyai.

Hero Kenzan!

Kesebelas episode Ping Pong merangkum masa dua tahun Peco dan Smile terlibat dalam kejuaraan Interhigh tenis meja Jepang. Ada lumayan banyak nuansa kehidupan sekaligus humor dalam ceritanya yang mungkin takkan ditangkap oleh sejumlah orang. Tapi seriusan, menurutku ini seri yang benar-benar keren.

Walau aku mengatakannya demikian, Kong hanyalah pemicu, dan bukanlah tokoh antagonis utama di seri ini.

Tokoh antagonis utamanya adalah lelaki yang pernah menjadi juara nasional, Kazama Ryuuichi yang berjulukan Dragon dari SMA Kaio yang sangat spartan regime tenis mejanya (semua anggotanya berkulit coklat matang karena latihan dan berkepala botak). Kazama, yang pikirannya hanya terfokus soal bagaimana menjadi juara, dibeking oleh perusahaan penyedia peralatan olahraga Poseidon yang banyak mengimplementasi teknologi termutakhir.

Ada banyak jalinan konflik yang muncul. Lalu penceritaan semuanya benar-benar efektif dan matang. Ceritanya bukan cuma ke soal persaingan dan perjuangan saja. Apa ya, ceritanya juga mulai mengupas banyak hal soal menerima kenyataan dan arti kerja keras.

Pelatih Koizumi mulai banyak melihat masa lampau dirinya sendiri dalam situasi Smile. Ia dilanda konflik tentang bagaimana ia bisa membuat Smile lebih terbuka. Terlebih saat Smile mulai tenar, orang-orang dari Kaio secara terang-terangan datang ke sekolahnya untuk mendukung Smile agar pindah ke sana.

Ada seorang pemain entah dari mana yang kalah sesudah melawan Smile dan memutuskan untuk melakukan perjalanan pencarian jati diri.

Ada seseorang bernama Sakuma Manabu yang dijuluki Akuma yang merupakan teman masa kecil Smile dan Peco juga, kini tergabung bersama Kaio, dan bertekad untuk bisa menaklukkan keduanya.

Tapi lebih dari itu, ada hal-hal tak biasa seperti kenapa Smile dalam kesunyiannya seakan terobsesi dengan heroisme, atau soal kenapa sebelum setiap pertandingan, Kazama nampak selalu mengurung diri di kamar mandi.

Yeah, ini seri soal perjuangan dan kerja keras. Tapi agak lebih berat ke melihat ke belakangnya daripada melihat ke depan. Dan itu enggak salah, sebab aku pun sempat mikir, “Walau tenis meja itu olahraga yang akan mengasah reaksi saraf sampai tingkat dewa, ini tetap cuma tenis meja!” Tapi para karakter di sini, untuk alasan mereka masing-masing, benar-benar cinta tenis meja. Lebih dari sekedar soal apa ini hobi atau bukan. Tenis meja itu seakan bisa jadi segalanya.

Aku seriusan kagum dengan bagaimana obsesi ini bisa digambarkan secara sedemikian wajar. Karena terus terang, ini kayak sisi kehidupan yang belum pernah kukenal sebelumnya.

“Aku mau menangis sebentar.”

Seri ini berakhir secara keren dengan semacam epilog yang memaparkan bagaimana kesudahan para karakter setelah turnamen Interhigh yang menentukan takdir banyak orang itu. Dan… uh, walau tenis meja beberapa kali digambarkan seakan sebagai segalanya bagi sebagian orang, tetap saja diperlihatkan bahwa olahraga ini bukan satu-satunya hal yang ada di dunia ini.

Entah ya. Ini kesan yang jarang diperlihatkan dalam kebanyakan seri olahraga yang ada.

Oke, itu mungkin agak susah dipahami. Tapi kalian ntar bisa ngerti sesudah melihatnya sendiri.

Ini seri yang menarik dan termasuk memuaskan untuk diikuti. Ada saat-saat tertentu dalam sebelas minggu terakhir ketika aku agak galau. Tapi menonton ini kayak bisa menarik semua perhatianku dan membuatku fokus kembali pada apa-apa yang semestinya penting.

Selain karena ceritanya, eksekusinya memang sebrilian itu. (Adegan-adegan saat Kong berbicara Mandarin tetap dipertahankan! Bahkan logat Mandarin-nya saat ia mulai bicara bahasa Jepang tetap ada!)

Katayama Fukujurou (Siapa orang ini? Aku belum pernah denger namanya sebelumnya!) juga berperan mengesankan sebagai Peco. Peco itu karakter yang beneran enggak biasa dan agak sulit dibayangkan sebagai tokoh utama. Dia awalnya bukan karakter yang bisa disukai. Tapi ke belakang-belakangnya dia jadi keren!

Akhir kata, ini seri yang bisa dikatakan benar-benar dalam.

Man, mungkin aku mesti lebih sering nyari seri-seri macam ini.

(Aku belum lama ini nyadar kalau manganya bergenre seinen dan diserialisasikan dari tahun 1996-1997. Pantas di dalamnya ada nuansa retro yang muncul.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: X; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

30/05/2011

H2

Aku menamatkan H2 belum lama ini. Aku tahu manga bisbol terbitan Adachi Mitsuru ini sudah diterbitkan sejak lama, tapi baru belakangan aku kesampaian membacanya sampai tamat.

Versi lokalnya sudah diterbitkan Elex di awal-awal tahun 2000an (yea, jadul, dan bayangin aku mulai ngebacanya sejak itu). Tapi dibandingkan karya-karya Adachi-sensei lainnya (kayak Rough atau Slow Step), manga ini terhitung salah satu karya beliau yang relatif ‘baru.’ Gaya gambar beliau di karya ini telah mencapai level kerapiannya yang khas, dan desain karakter yang beliau buat telah jauh lebih atraktif dibandingkan sebelum-sebelumnya. Mohon diperhatikan pula bahwa manga ini keluar dan berlatar di pertengahan awal dekade 90an.

H2, seperti halnya Touch, manga bisbol tahun 80an yang melambungkan nama beliau, berkisah tentang drama bisbol dan cinta segitiga anak-anak SMA. Agak berbeda dari Touch, H2 memiliki lebih banyak plot dan karakter (dan fanservice) sehingga menjadi salah satu seri terpanjang (338 bab) yang pernah beliau buat hingga saat ini. Melalui manga ini, Adachi-sensei, seperti biasa, berusaha mengangkat suatu perkembangan situasi kehidupan yang begitu ‘gila’ secara bertahap.

The Story of 2 Heroes and 2 Heroines

Berlatar di awal dekade 90an, inti cerita H2 berpusar di sekeliling empat tokoh utama:

  • Kunimi Hiro, pitcher andal yang karena suatu keadaan, terdampar di SMA Senkawa yang tak memiliki klub bisbol;
  • Koga Haruka, gadis manis penggemar bisbol yang nantinya memegang peranan penting dalam pendirian klub bisbol Senkawa;
  • Amamiya Hikari, gadis cantik teman masa kecil Hiro yang masuk sekolah berbeda;
  • Tachibana Hideo. sahabat terbaik sekaligus rival terbesar Hiro semenjak SMP, sekaligus pacar Hikari.

Cerita H2 dibuka dengan bagaimana Hiro dan rekannya semenjak SMP, catcher gemuk Noda Atsushi, memasuki SMA Senkawa dengan maksud untuk bisa melupakan baseball. Semua karena diagnosa dokter (gadungan) yang mengatakan keduanya telah mengalami cedera permanen yang menyebabkan mereka tak bisa bermain lagi.

Di sana, Hiro kemudian bertemu dengan Haruka, yang berupaya membentuk klub bisbol di Senkawa bersama sejumlah siswa lain yang antusias. Lalu pertemuan tersebut membuat Hiro dan Atsushi menyadari betapa mereka belum bisa melepaskan bisbol.

Cerita kemudian berkembang dengan upaya membangun impian mereka untuk bertanding di Koshien dari awal akibat ketiadaan klub bisbol di Senkawa. Berkat bakat hebat yang keduanya miliki, ditambah dengan kerja keras Haruka, langkah awal mereka untuk mendirikan klub bisbol akhirnya tercipta. (Termasuk dengan munculnya orang aneh sebagai pelatih, yang belakangan terungkap adalah kakak Haruka.)

Tapi akibat hal itu, keduanya tertunda untuk mengikuti kejuaraan tahun itu, dan selama masa itu, Hideo, yang kini terpisah dari mereka di SMA, telah menanjak sebagai bintang bisbol SMA di tim unggulan SMA Meiwa Daiichi di mana ia bersekolah bersama Hikari.

Perjuangan Senkawa berlanjut dengan upaya mengumpulkan anggota-anggota tim baru. Tokoh-tokoh baru diperkenalkan dengan beragam situasi mereka, baik sebagai kawan maupun lawan. Lalu semakin banyak pula yang kita ketahui tentang keempat tokoh utama.

Seiring dengan waktu, Haruka yang menjabat sebagai manajer klub jatuh cinta secara mendalam kepada Hiro. Tapi ia sadar bahwa Hiro belum bisa menerima perasaannya akibat rasa suka yang masih dipendamnya terhadap Hikari.

Sementara Hikari, yang menjadi saksi pertumbuhan Hiro yang terlambat, perlahan tersiksa saat menyadari bahwa ia tak bisa terus-terusan memperlakukannya sebagai adik begitu saja. Hideo di sisi lain mempertanyakan kepantasannya terus menjalani hubungannya dengan Hikari, karena resiko menyakiti sahabatnya sendiri. Semuanya memuncak dalam duel penentuan antara Hiro dan Hideo di atas lapangan Koshien.

“Mau apel?”

H2 adalah karya pertama Adachi-sensei yang kubaca. Aku juga tak yakin kenapa, tapi hingga kini H2 masih menjadi favoritku di antara semua karya beliau. Ada sesuatu yang membuatku menganggap H2 benar-benar istimewa. Yea, aku mengatakan ini bahkan sesudah aku menamatkan Cross Game.

Kurasa manga ini juga yang membuatku belajar tentang peraturan main bisbol. Berkat manga ini juga aku menjadi tertarik pada Ookiku Furikabute. Aku jadi semakin serius menanggapi seri-seri olahraga lainnya, menghapus bias yang telah lama ada semenjak aku menamatkan seri Slam Dunk yang legendaris (meski notabene, seperti halnya manga-manga olahraga Adachi-sensei yang lain, H2 lebih berat ke drama kehidupan para karakternya daripada ke soal permainannya sendiri).

Buat yang belum tahu, gaya eksekusi cerita Adachi-sensei agak unik. Beliau mengangkat tema-tema berat dengan cara jenaka, dan biasanya ini agak tak cocok dengan sebagian orang. Jadi bila kau termasuk orang yang merasa tak cocok, kusarankan agar tak memaksakan diri.

Cerita H2 tak selamanya muram kok. H2 masih bisa dibilang lebih cerah dibandingkan Cross Game. Ada cerita tentang bagaimana ayah Haruka ternyata tak lain atasan ayah Hiro (yang agak tak bertanggung jawab). Ada beragam kekonyolan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman. Ada rentetan-rentetan kebetulan yang sulit untuk dipercaya.  Ada lelucon-lelucon khas Adachi-sensei yang membuat pembaca nyengir (yang sekali lagi, belum tentu bisa dinikmati semua orang).

Yang pasti, aku sulit untuk tak bersimpati terhadap para karakternya, dan itu saja sudah menjadi suatu pencapaian yang hebat.

Tamatnya seri ini memang terkesan tiba-tiba. Tapi kalau diperhatikan, sebenarnya ada makna lumayan mendalam. Adegan percakapan terakhir antara Hikari dan Hideo secara jelas menggambarkan akhir segala konflik. Tapi adegan terakhir antara Haruka dan Hiro yang samar-samar mengindikasikan kelanjutan nasib para tokohnya.

Membandingkan dengan manga-manga Adachi-sensei lain, tamat H2 membuatku tercenung melebihi reaksiku dari manga-manga beliau yang lain. Aku kurang bisa menjelaskannya sih. Intinya, meski diwarnai rasa sendu, aku tak bisa tak bilang kalau tamatnya memuaskan.

Eh? Soal adegan-adegan bisbolnya? Yah, Adachi-sensei jago sih meramu adegan-adegan pertandingan bisbol yang seru. Aku agak malu mengatakan ini, tapi bisbol di salah satu manga Adachi-sensei buatku seringkali terasa lebih seru dibandingkan liputan-liputan pertandingan bisbol di ESPN.

Tapi entahlah. Mungkin itu juga cuma aku.