Posts tagged ‘Silver Link’

17/07/2017

Busou Shoujo Machiavellianism

Belakangan, waktuku tersita oleh naskah yang aku lagi kerjain.

Tapi belum lama ini, aku masih sempat mengikuti perkembangan anime Busou Shoujo Machiavellianism.

Juga dikenal dengan judul Armed Girls Machiavellianism (‘Machiavellianisme gadis-gadis bersenjata’; buat yang belum tahu, ‘Machiavellianisme’ adalah suatu paham yang digagas filsuf sekaligus ahli sejarah Niccolò di Bernardo dei Machiavelli pada awal abad ke-16, yang intinya membolehkan—dan mungkin bahkan menekankan—kepalsuan, pemaksaan, manipulasi, dan amoralitas untuk tercapainya suatu tujuan). Ini seri komedi romantis aksi bernuansa ilmu bela diri yang didasarkan seri manga karya Karuna Kanzaki. Ceritanya sendiri dipenai Kurokami Yuuya. Diserialisasikannya di majalah bulanan Monthly Shonen Ace milik penerbit Kadokawa Shoten, dan saat ini aku tulis, serialisasinya masih berlanjut.

Adaptasi animenya sendiri dikerjakan studio animasi Silver Link. Tachibana Hideki yang menyutradarai. Hasil akhirnya, mengingat beliau sebelumnya menangani Chaos Dragon, H2O: Footprints in the Sand, dan BlazBlue Alter Memory, menurutku terbilang bagus. Naskahnya dikerjakan oleh Shimoyama Kento. Musiknya ditangani Mizutani Hiromi dari Team MAX.

Ditayangkan pada musim semi tahun 2017, jumlah episodenya sebanyak 12.

(Sebenarnya, ada cerita panjang soal lisensi anime ini dan beberapa judul lain pada musim bersangkutan, tapi mungkin soal itu enggak usah aku ceritain.)

Bertingkah Seperti Burung-burung Kecil

Sekilas, Busou Shoujo Machiavellianism terkesan punya cerita yang enggak penting. …Tapi kalau dilihat secara menyeluruh pun, cerita seri ini memang sebenarnya enggak terlalu penting.

Seorang remaja SMA santai bernama Nomura Fudou dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena meng-KO 40 orang dalam suatu tawuran hebat. Tapi kemudian, dia pindah ke Akademi Simbiosis Swasta Aichi (apa ini bener terjemahannya?) yang prestisius dan berasrama, yang ternyata secara harfiah dikuasai oleh para siswi.

Alasan anak-anak perempuan menguasai sekolah ini adalah karena mereka semua diizinkan membawa senjata. Senjata beneran. Perguruan Aichi sebelumnya adalah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga terhormat yang baru pada tahun-tahun belakangan menerima siswa laki-laki. Sebagai langkah untuk melindungi kehormatan para siswi, para siswi diizinkan membawa senjata agar bisa menjaga diri dari para laki-laki.

Lalu entah siapa yang memulai, meski resminya murid-murid laki-laki diterima di sekolah ini, selama bersekolah di perguruan ini, mereka diwajibkan berhenti hidup sebagai laki-laki. Dengan kata lain, mereka semua harus hidup sebagai banci.

Nomura (aksen saat menyebut namanya diberikan pada suku kata pertama) jelas tak bisa menerima aturan ini. Meski mengusung moral yang lurus, Nomura juga menjunjung kebebasan lebih dari apapun. Tapi bahkan sebelum penolakannya, karena prestasinya dalam menghajar 40 orang dalam satu tawuran hanya dengan tangan kosong, Nomura telah menarik perhatian kelompok Tenka Goken (Supreme Five Swords, ‘Lima Pedang Terkuat’).

Tenka Goken adalah kelompok penjaga keamanan yang terdiri atas lima siswi paling kuat di Aichi. Selama bertahun-tahun, mereka menjaga harmoni di perguruan Aichi karena dibolehkan menegakkan aturan dengan membawa pedang sungguhan.

Singkat cerita, meyakini Nomura akan berbuat onar, diprakarsai seorang gadis bertopeng bernama Onigawara Rin yang ternyata menjadi teman sekelas Nomura, masing-masing anggota Tenka Goken memulai langkah-langkah mereka untuk mendisiplinkannya. Sementara di sisi lain, Nomura belakangan mengetahui bahwa untuk memperoleh izin pergi ke luar sekolah, ia perlu melengkapi kartu izin dengan stempel dari kelima anggota Tenka Goken. Karena Nomura ingin memperoleh izin untuk bisa bebas keluar, tanpa dapat dihindari, jalan hidup Nomura dan kelompok ini akhirnya berseberangan.

Namun, meski tak bersenjata apa-apa selain sarung tangan berpelindung yang menjadi andalannya, Nomura ternyata seorang ahli bela diri. Dia telah dididik oleh kakeknya sejak kecil dan digembleng oleh kakeknya untuk menguasai suatu ilmu bela diri tertentu. Hasilnya adalah jurus rahasia yang disebut Madan (‘peluru ajaib’), suatu serangan hentakan telapak dahsyat yang dapat dilepasnya dari kedua belah tangan dari posisi apapun.

Seiring dengan bentrokan demi bentrokan yang terjadi, satu demi satu gadis yang berhadapan dengan Nomura juga lambat laun menyadari kalau dirinya ternyata tidak seburuk yang mereka kira…

Catatan-catatan Skandal

Terlepas dari semuanya, para heroine utama seri ini, yang tergabung dalam Tenka Goken, terdiri atas:

  • Onigawara Rin, gadis berambut hitam pendek yang punya ciri khas berupa separuh topeng oni yang hampir selalu menutupi separuh wajahnya. Rin adalah pemimpin tidak resmi dari Tenka Goken, meski ia berada di kedudukan tersebut lebih karena dirinya yang paling punya inisiatif. Pembawaannya galak. Ia juga selalu lurus dan taat peraturan. Tapi dirinya juga punya sisi rendah diri yang membuatnya terkadang ragu terhadap diri sendiri. Dalam bertarung, Rin menggunakan ilmu pedang aliran Kashima Shinden Jikishinkage-ryuu yang mengutamakan ketepatan bentuk yang dipadukan dengan teknik-teknik pernafasan. Pedangnya berupa katana yang dinamai Onimaru. Adik kelas yang paling dekat dengannya adalah Mozunono Nono, yang kagum terhadap Rin dan menggunakan aliran pedang yang sama, tapi untuk pedang pendek jenis kodachi, meski ia sendiri bersenjatakan baton.
  • Kikakujou Mary, seorang gadis pirang rupawan berdarah campuran Jepang-Perancis. Ke mana-mana, ia senantiasa membawa kamus bahasa Jepang. Ia ahli anggar yang agaknya menggabungkan ilmu pedang konvensional dari Barat dengan ilmu pedang Jepang (aliran Jigen-ryuu?). Dalam bertarung, Mary melancarkan serangan-serangan beruntun yang mengincar titik-titik saraf lawan yang juga dipadukan pengendalian jarak yang lihai. Pedang yang digunakannya sejenis rapier, yang mengutamakan gerakan-gerakan tusukan. Sangat cantik dan anggun meski terkadang pemalu. Dirinya juga bisa bersikap licik saat sedang mau. Adik kelas yang dengan setia mengikutinya adalah si burikko, Chouka U. Baragasaki (bukan nama asli), yang menggunakan senjata cambuk.
  • Hanasaka Warabi, anggota paling senior dalam generasi Tenka Goken saat ini, seorang gadis pendek berambut pirang yang memiliki pembawaan seperti bangsawan. Memiliki seekor beruang peliharaan bernama Kyobo. Sebagai anggota senior, Warabi juga memiliki banyak pengikut serta pengaruh luas. Meski semula berkesan kaku dan tanpa ampun, Warabi bisa menjadi pengertian dan sangat bisa diandalkan kalau sudah kenal. Dalam bertarung, Warabi menggunakan aliran pedang Taisha-ryuu yang menonjolkan serangan kejutan dan gerak tipuan. Pedang yang digunakannya kurasa adalah sejenis nodachi.
  • Tamaba Satori, gadis penyendiri berambut gelap panjang dengan tingkah laku sulit ditebak. Dikenal memiliki perangai sangat aneh dan cenderung berbahaya. Matanya yang membelalak membuatnya pikirannya sulit dibaca. Menaruh rasa permusuhan terhadap Nomura bahkan sebelum mereka pertama berhadapan. (Alasannya ternyata karena ia tak terima bila disamakan dengan Morgan Freeman. Ceritanya panjang.) Dalam bertarung, Satori menggunakan gerakan-gerakan bercabang yang sangat sukar ditebak. Ilmu pedang yang digunakannya sedikit spoiler, tapi pada dasarnya ia merangkai bentuk dan gerakan dari berbagai ilmu pedang lain. Pedang yang digunakannya adalah nihontou polos bergagang dan bersarung kayu, tanpa pelindung tangan. Satori punya masa lalu aneh yang menjadi penyebab ia menjadi seperti demikian.
  • Inaba Tsukuyo, seorang gadis mungil serupa kelinci dengan mata buta yang hampir selalu terpejam. Meski demikian, pendengaran Tsukuyo luar biasa tajam. Hanya dengan mendengar sekelilingnya, Tsukuyo bisa mengintepretasi berbagai kejadian yang terjadi di Aichi. Tsukuyo anggota termuda dari Tenka Goken yang masih duduk di bangku SMP, tapi dirinya sekaligus juga yang paling kuat dengan ilmu pedang paling mengerikan. Gerakan-gerakan kilatnya membuat lawan-lawannya tak mampu berkutik. Ilmu pedang yang digunakannya juga sedikit spoiler. Kalau tak salah, pedang yang digunakannya adalah sejenis tachi. Mungkin karena selalu disegani, diam-diam Tsukuyo terkadang kesepian.

Sebenarnya ada satu heroine lagi, yaitu Amou Kirukiru, seorang gadis jangkung berambut panjang dan sangat cantik yang merupakan murid pindahan seperti halnya Nomura.

Amou di masa lalu dikisahkan berhasil menundukkan Tenka Goken saat mereka berupaya mendisiplinkannya. Dirinya satu-satunya murid di Aichi sebelum Nomura yang tidak bisa Tenka Goken kendalikan. Karenanya, Amou kemudian dikenal dengan julukan Joutei (Empress). Motivasi Amou di sepanjang cerita menjadi tanda tanya besar. Pengetahuannya tentang jurus Madan milik Nomura (dan soal bagaimana aksen diberikan pada suku kata pertama di namanya) mengimplikasikan adanya semacam hubungan masa lalu di antara mereka.

Amou adalah praktisi karate aliran Uechi-Ryu yang menekankan pengerasan tubuh. Setiap gerakan tangannya serupa tebasan pedang. Dalam dirinya telah tertanam teknik Auto Counter yang membuatnya mampu membalas setiap serangan yang ditujukan padanya bahkan secara separuh sadar. Dirinya berperan jadi semacam final boss yang harus Nomura hadapi di penghujung cerita. (Belakangan diimplikasikan Amou terobsesi dengan Nomura karena serangan Nomura bisa memberinya rasa sakit, sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya karena sudah lama mati rasa.)

“Buriburi! Buriburi!”

Sekali lagi, Busou Shoujo Machiavellianism itu… aneh.

Garis besar ceritanya enggak penting. Meski ada aksinya, genrenya yang utama sebenarnya adalah komedi romantis. Tapi romansa yang ada di dalamnya enggak bisa dibilang berat juga. Latar ceritanya terkadang sureal. Perkembangan karakternya terkadang mengangkat alis, dan cenderung konyol. Tapi… ada sesuatu tentangnya yang sulit dijelaskan, yang membuatnya berakhir lebih bagus dari dugaan.

Intinya: siapa sih yang nyangka seri tentang cowok yang berantem dengan cewek-cewek semata-mata agar dapet izin buat bisa keluar sekolah akan meninggalkan kesan sedemikian kuatnya tentang persahabatan dan pemahaman jati diri?

It’s weird.

Komedinya, meski benar-benar aneh, sebenarnya lumayan lucu. Jenisnya lebih ke komedi situasi yang lebih berbasis percakapan ketimbang slapstick. Jenis yang lebih mengandalkan interaksi karakter. …Meski memang perkembangan situasinya terkadang absurd.

Walau enggak sampai mengangkat hal-hal pseudo-filosofis seperti berbagai seri bela diri sekolahan lain, di luar dugaan, tetap ada nilai-nilai berbobot yang tersampaikan di ceritanya juga. Ada soal prasangka, ada soal kesetiakawanan. Ada juga soal kerja keras dan pemahaman diri sendiri/penerimaan orang lain.

Iya sih. Ini seri fanservice. Tapi implementasi berbagai elemennya benar-benar efektif. Perkembangan ceritanya juga selalu menarik dan tak selalu gampang ditebak.

Kalau kekurangan, adegan-adegan aksinya lumayan low key sih. Koreografinya sangat sederhana. Sama sekali tidak wah.  Bagaimanapun, ceritanya memang lebih menonjolkan aspek komedi romantisnya. Tapi di sisi lain, seperti ada semacam ‘keaslian’ dalam teknik-teknik bela diri yang digunakan di dalamnya juga.

Makanya, ini aneh.

Awalnya lucu melihat gadis-gadis manis ini melancarkan gerakan-gerakan bela diri yang mungkin saja benar-benar ada di kehidupan nyata. Tapi kalau kau bisa melihat melewati kesan awalnya, kau mungkin bakal ngerasa kalau karakter-karakter di dalamnya itu menarik.

Nomura terutama berhasil mencuri perhatian sebagai karakter utama. Meski lagaknya santai dan semaunya, dia setiakawan dan kuat. Tipe yang tak keberatan bersusah-susah selama itu masih sejalan dengan prinsipnya. Prinsipnya itu yang menggerakkan dia (meski, sekilas, prinsipnya itu kayaknya bener-bener enggak penting) dari awal sampai akhir. Lalu aku terkesan pada gimana dia mengkomunikasikan prinsip itu ke orang lain, menunjukkan posisinya di mana, membuat orang lain ngehargain dia sebagaimana halnya dia juga ngehargain orang lain.

Intinya, dia karakter yang lebih dalam dari yang sekilas terlihat.

Bukti Aku Ada di Sini

Bicara soal teknis, seri ini punya nilai-nilai produksi yang solid.

Visualnya menonjolkan permainan warna-warna cerah dan efek-efek pudar dengan animasi cukup solid. Mungkin kau tak cocok dengan gaya desain karakternya. Tapi secara umum, visual seri ini beneran bagus. Pada setiap adegan aksi, perubahan ekspresi para karakter di luar dugaan menjadi hal yang sangat diperhatikan dan hampir selalu menyiratkan banyak hal.

Dari segi audio, Mizutani-san memberikan good job. BGM-nya keren. Kebanyakan seiyuu-nya juga adalah seiyuu yang belum aku kenal. Tapi kesemuanya menurutku memberikan performa brilian. Mereka berhasil membuat setiap karakter terasa hidup seaneh apapun mereka. Mulai dari tawa khas Warabi sampai nada bicara Satori yang psikopatik, itu juga termasuk teman-teman seasrama Nomura seperti Masuko. Itu lengkap pula dengan nuansa terselubung untuk hal-hal yang semula tak tampak di permukaan.

Aku benar-benar kaget karena sampai dibuat ingin tahu perkembangan seri ini. Soalnya, meski mengetengahkan aksi bela diri, manganya termasuk jenis yang punya dialog banyak. Gimana ya? Jenis yang kesan awalnya sama sekali berbeda dari kesan akhirnya.

Cerita di animenya sendiri berakhir tuntas sih. Kesan akhirnya juga cukup kuat. Tapi yea, manganya masih berlanjut. Ada sejumlah tokoh baru menjelang akhir yang juga sempat ditampilkan sebagai teaser.

Aku tak tahu apa aku akan berkesempatan buat tahu lanjutannya atau tidak sih. Meski animenya terbilang baik, aku tidak melihat gelagat akan dibuatnya season dua soalnya.

Akhir kata, kamu mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari seri ini. Mungkin kamu awalnya enggak akan ngerti karena terselubung. Mungkin itu sesuatu yang sederhana dan enggak penting. Tapi itu tetap sesuatu yang bisa kamu ambil.

Ah, pastinya lagu penutup dan pembukanya keren. Terutama lagu penutup “DECIDE” yang dinyanyikan para seiyuu Tenka Goken. Itu lagu yang sederhana, tapi pas banget dengan nuansa seri ini. Aku jadi berharap Tenka Goken sebagai grup musik bakal bisa terus berkarya.

(Uh, buat kalian yang masih bingung dengan arti judulnya, ringkasnya itu tentang bagaimana Nomura menyikapi pendekatan paksa menghalalkan segala cara ala Machiavelli dari para gadis yang mencoba mendisiplinkannya. Perlu kuakui, judulnya sangat menarik perhatian.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

Iklan
28/04/2017

Chaos;Child

Pada tahun 2009, gempa bumi dahsyat meluluhlantakkan Shibuya, Tokyo.

Dalam insiden tersebut, beredar kesaksian terlihatnya cahaya putih terang. Gempa tersebut juga menonjol karena terjadi di penghujung rangkaian pembunuhan ganjil Kegilaan New Generation di Shibuya, dan sejumlah teori mencurigai kalau keduanya sebenarnya berhubungan.

Beberapa tahun sesudahnya, kota Shibuya dibangun ulang.

Pada tahun 2015, Miyashiro Takuru, siswa SMA berkacamata sekaligus ketua Klub Surat Kabar di sekolahnya, memperoleh informasi tentang kembali terjadinya pembunuhan-pembunuhan ganjil New Generation di Shibuya. Bersama teman-teman dekatnya, Takuru memulai penyeldikan. Ini berujung pada bagaimana ia menyadari kalau kasus-kasus pembunuhan New Generation  yang baru selalu terjadi pada tanggal yang sama dengan kasus-kasus pembunuhan yang lama.

Mata itu adalah mata Dewa

Anime Chaos;Child mengudara pada Januari 2017. Anime ini menjadi cukup diantisipasi karena diadaptasi dari salah satu game science adventure produksi 5pb., yang sebelumnya mencakup seri Chaos;Head (prekuel langsung Chaos;Child), Steins;Gate, dan Robotics;Notes.

Game Chaos;Child pertama keluar di konsol Xbox One di Jepang pada penghujung tahun 2014. Perilisan ini disusul port untuk konsol PS3, PS4, dan PS Vita pada pertengahan 2015. Versi Windows keluar pada musim semi 2016. Versi iOS juga dilepas pada awal tahun ini.

Gamenya disutradarai Wakabayashi Kanji dengan diproduseri Matsubara Tatsuya. Naskahnya ditangani bersama oleh Hayashi Naotaka, penulis awal Chaos;Head, yang kini dibantu Umehara Eiji, Takimoto Masashi, dan Yasumoto Tooru. Musiknya diaransemen komposer veteran waralaba ini, Abo Takeshi. Visualnya ditangani oleh Sasaki Mutsumi, Matsuo Yukihiro, dan dibantu Choco untuk desain, uh, persenjataannya.

Sayangnya, berbeda dari Steins;Gate (dan midkuelnya yang baru-baru ini rilis, Steins;Gate 0) yang menjadi ‘saudara’-nya, versi VN dari Chaos;Child masih belum dirilis dalam Bahasa Inggris pada saat ini aku tulis.

Animenya sendiri diproduksi Silver Link. Jumlah episode totalnya sebanyak 13, dengan tambahan satu episode spesial yang masih akan menyusul. Penyutradaraannya dilakukan Jinbo Masato, yang sekarang dikenal berkat arahan beliau dalam setiap season anime Fate/kaleid liner Prisma Illya. Selain gubahan Abo-san dari game yang dipakai kembali, Onoken juga turut membantu menangani musik.

Karena aku sempat mengikuti prekuelnya, Chaos;Head, aku penasaran cerita Chaos;Child berkembang ke arah mana. Aku pribadi antusias dengan anime ini. Apalagi penayangannya langsung menyusul adaptasi anime Occultic;Nine pada musim gugur lalu.

Sayangnya, ada banyak hal tentang anime Chaos;Child yang ternyata baiknya dibahas…

Digital Native

Untuk yang belum tahu, seluruh game science adventure 5pb. saling berhubungan. Meski mengangkat tema-tema sains fiksi berbeda, semuanya bercerita tentang orang-orang biasa yang tahu-tahu terjebak dalam intrik besar yang mengancam dunia.

Berlatar di tahun 2015, Chaos;Child adalah sekuel langsung Chaos;Head, game science adventure yang pertama. Meski mengetengahkan tokoh-tokoh berbeda, cerita Chaos;Child mengangkat tema-tema hampir sama—yakni soal delusi mental dan persepsi kenyataan—di samping cerita yang berhubungan langsung dengan pendahulunya.

Perlu kukatakan, versi game Chaos;Child konon benar-benar bagus. Kata seorang kenalanku yang memainkannya (dalam Bahasa Jepang), ceritanya punya karakterisasi dan misteri yang bisa sangat melarutkanmu gitu. Karenanya, kita bisa sedemikian terpengaruh oleh perkembangan-perkembangan gelap yang menimpa para karakternya.

Kebagusan Chaos;Child juga konon karena dianggap memperbaiki kekurangan-kekurangan Chaos;Head. Dengan elemen-elemen cerita yang tak seimbang dan sejumlah aspek presentasi bermasalah, sebagai game science adventure 5pb. pertama, Chaos;Head memang tak sebagus seri-seri yang menyusulnya. Mungkin karena itu pula, pengharapan terhadap anime Chaos;Child terbilang besar.

Lalu karena itu juga… sempat ada spekulasi-spekulasi negatif saat anime Chaos;Child dikonfirmasi hanya satu cour. Meski durasi gamenya lebih panjang, ini membuat animenya hanya punya durasi yang sama dengan durasi anime Chaos;Head.

Lalu sesudah mengudara, yah, sesuai perkiraan, para penggemar gamenya ternyata benar-benar mengamuk.

Pengkhianatan

Sebelum membahas ceritanya lebih lanjut, perlu disebut kalau anime Chaos;Child secara teknis sebenarnya lumayan. Visual dan audionya termasuk bagus. Akting para seiyuu-nya meyakinkan. Beberapa BGM-nya keren. Lalu ada episode-episode tertentu yang sempat membuatku terkesima dengan cara adegannya dibawakan.

Masalahnya ada di… naskah.

Naskah animenya terlalu maksa. Gampangnya, versi anime Chaos;Child, kalau mengacu ke perkataan kenalanku tersebut, hanya sekedar menyambungkan titik-titik alur penting pada gamenya tanpa memaparkan apa-apa yang membuatnya jadi bagus.

Karakterisasinya, secara relatif, hancur. Pribadi Takuru di versi game yang menyebalkan misalnya, dengan bawaannya yang cenderung sombong karena selalu ingin bisa menjadi yang paling tahu (karena mengusung moto bahwa ‘pengetahuan adalah kekuatan’), kurang tersampaikan. Padahal Chaos;Child justru dipandang bagus karena memaparkan perkembangan kepribadian Takuru menjadi orang lebih baik.

Di samping itu, ada beberapa pembeberan mengejutkan yang jadi berantakan urutannya. Karenanya lagi, kenalanku sampai bilang, kalau dalam waktu dekat kalian berpikiran untuk memainkan game Chaos;Child, kalian sangat tidak direkomendasikan untuk mengikuti anime ini. (Edit: Perilisan gamenya ke Bahasa Inggris sudah dikonfirmasi.)

Kalau kupikir, anime Chaos;Head yang dibuat oleh Madhouse dulu juga mengadaptasi cerita dengan cara begini. Tapi selain lebih berhasil karena game Chaos;Head punya durasi lebih pendek, anime Chaos;Child juga jadi begini karena punya struktur cerita yang agak-agak… beda.

Apa kalian melihat cahaya?

Masuk ke soal cerita, agak sulit merunutkannya karena banyaknya hal yang terjadi secara bersamaan.

Miyashiro Takuru dikisahkan satu dari sejumlah yatim piatu korban gempa bumi besar yang menimpa Shibuya enam tahun silam. Takuru kehilangan kedua orangtuanya dalam insiden itu. Tapi orangtuanya wafat bukan dalam gempa itu sendiri, melainkan sesuatu yang secara tragis berlangsung sesudahnya.

Sesudah insiden itu, Takuru sempat dibesarkan oleh Sakuma Wataru, dokter umum ceria yang membesarkan sejumlah anak yatim piatu lain di kliniknya. Keluarga angkat ini mencakup Kurusu Nono, gadis seusia Takuru yang menjadi semacam kakak perempuan angkatnya; lalu dua adik angkat di usia SD, Tachibana Yui dan Tachibana Yuuto. Hanya saja, menjelang remaja, Takuru tak lagi kerasan dengan mereka, dan memutuskan keluar dari rumah dokter Sakuma dan hidup sendiri.

Di sekolah, meski sesekali bertemu Nono yang aktif sebagai pengurus Dewan Siswa, Takuru lebih dekat dengan sesama anggota Klub Surat Kabar. Mereka mencakup Onoe Serika, seorang gadis manis berambut pendek yang merupakan teman sejak kecil Takuru; Itou Shinji yang supel, orang ramah dan pedulian yang menjadi teman sesama cowok paling dekat dengan Takuru saat ini; serta Kazuki Hana, gadis mungil berkacamata sangat pendiam yang handal dalam pekerjaannya, tapi sehari-harinya lebih banyak memainkan MMORPG di komputer klub bila sedang tak ada kerjaan.

Dalam penyelidikan mereka, Takuru dan Serika memperkirakan TKP pembunuhan yang berikutnya adalah sebuah love hotel. Keduanya gagal mencegah pembunuhan yang terjadi. Tapi di sana, mereka menjumpai gadis berkuncir dua bernama Arimura Hinae, adik kelas mereka yang didapati pingsan, yang agaknya menjadi saksi pembunuhan tersebut. Hinae yang bermulut pedas semula sangsi terhadap Takuru. Tapi ia lalu, secara membingungkan, memperingatkan Takuru kalau dirinya berpotensi menjadi salah satu korban.

Pada titik ini, Takuru menyadari keberadaan banyaknya gambar-gambar tempel Sumo Sticker (rikishi seal) di setiap TKP. Gambar-gambar tempel ini berwujud seperti muka-muka pesumo yang dikali tiga dan ditempelkan secara ganjil dengan satu sama lain, menyerupai wujud guci. Meski diketahui ada beberapa variasi, kesemuanya bermunculan secara misterius di sejumlah tempat di Shibuya semenjak beberapa tahun silam.

Secara ganjil merasa diawasi oleh gambar-gambar tempel ini, Takuru mulai menduga ada kaitan antara semua Sumo Sticker ini dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.

Tanpa Takuru dan Serika ketahui di awal, Shinjou Takeshi, polisi muda yang menginterogasi Hinae, menggunakan cara-caranya sendiri untuk menyelidiki. Shinjou ternyata menjalin kontak dengan seorang ilmuwan sangat muda bernama Kunosato Mio, yang ternyata juga menjadi kakak kelas di sekolah Takuru.

Kunosato—yang membenci manusia secara umum—mendalami penelitian saraf. Ia rupanya mengetahui ada sesuatu yang lebih besar di balik pembunuhan-pembunuhan New Generation. Karena suatu alasan tertentu, Kunosato terobsesi mengungkapkan kebenarannya, yang agaknya berhubungan dengan keberadaan suatu Komite.

Dengan memanfaatkan topengnya sebagai narasumber Internet bernama Kei, Kunosato membajak teori Sumo Sticker yang berhasil Takuru rumuskan dan menyebarkannya ke khalayak luas. Perhatian massal terhadap Sumo Sticker kemudian terpicu. Ini berujung pada desas-desus bahwa penciptanya ternyata seorang pasien di RSU AH Tokyo yang secara rahasia dirawat di sana sesudah menderita koma.

Ada seorang wartawan terkemuka bernama Watabe yang juga menyelidiki kasus ini. Watabe diundang sebagai narasumber untuk kegiatan festival sekolah Takuru.

Takuru untuk sementara mematuhi permintaan Nono yang mengkhawatirkan keadaannya semenjak penyelidikan dimulai. Namun di hari festival, Watabe justru menjadi korban berikutnya yang tewas. Ia meninggal secara misterius di depan umum dengan memuntahkan Sumo Sticker dalam jumlah tak terhitung.

Tak lagi bisa diam sesudah kematian Watabe, pada malam harinya, Takuru, Serika dan Shinji akhirnya nekat menginfiltrasi RSU AH Tokyo untuk menemukan kebenaran di balik gambar-gambar tempel Sumo Sticker.

Di luar dugaan, mereka menemukan instalasi bawah tanah tersembunyi di rumah sakit itu. Di sana, ada sejumlah orang yang nampak sudah hilang akal dipenjara dalam ruangan-ruangan khusus. Di sana pula, Takuru dan kawan-kawannya bersimpangan jalan lagi dengan Kunosato Mio.

Kunosato, yang rupanya memiliki maksud sama dengan mereka, kemudian mengungkapkan tentang eksperimentasi kejam dan rahasia yang rupanya pernah berlangsung sampai enam tahun silam. Tujuan eksperimentasi manusia tersebut untuk menghasilkan manusia-manusia istimewa yang disebut Gigalomaniacs. Menurut Kunosato, para Gigalomaniacs sangat berbahaya karena memiliki kemampuan untuk mewujudkan apa-apa yang mereka khayalkan menjadi nyata.

Lalu di instalasi bawah tanah rahasia itulah, mereka konon diciptakan.

Re-Real Booting

Sesudah terungkapnya keberadaan para Gigalomaniacs—orang-orang yang sampai lingkup tertentu, mampu memproyeksikan delusi menjadi kenyataan melalui proses yang disebut Real Booting—apalagi sesudah Hinae, atas permintaan Kunosato, memperlihatkan pada Takuru demonstrasi kekuatannya secara langsung; cerita Chaos;Child berkembang dengan bagaimana Takuru dan kawan-kawannya berusaha lolos dari pembunuh New Generation baru yang kini mengincar mereka.

Alasannya? Karena korban-korban pembunuhan sebelumnya rupanya adalah Gigalomaniacs.

Takuru, dan orang-orang lain yang melihat ‘cahaya’ pada hari terjadinya gempa, ternyata juga adalah Gigalomaniacs. Takuru sendiri belakangan mengetahui bahwa dorongannya untuk mengungkapkan kebenaran menyebabkan kekuatan Gigalomaniacs-nya bermanifestasi sebagai kemampuan psikokinesis untuk membuka segala jenis kunci.

Dengan kata lain, ada suatu pihak yang bermaksud melenyapkan para Gigalomaniacs dari muka bumi. Tapi pihak itu tidak diketahui siapa.

Dugaan sejauh ini jatuh pada Minamisawa Senri, seorang gadis remaja seusia Takuru, yang merupakan satu-satunya korban percobaan yang hilang tanpa ditemukan jasadnya. Apalagi sesudah Takuru dan Hinae sempat diserang seorang pengguna kekuatan api yang berwajah mirip dengan Senri.

Chaos;Child gampangnya bercerita tentang fallout yang berlangsung sesudah apa-apa yang terjadi dalam Chaos;Head. Persisnya, dampak apa-apa yang terjadi sesudah para tokoh utama Chaos;HeadNishijou Takumi dan kawan-kawannya—menghentikan upaya perusahaan jahat Nozomi sekaligus mengungkap pelaku pembunuhan berantai New Generation yang pertama. Dalam anime Chaos;Child, apa yang terjadi di Chaos;Head sedikit banyak diungkapkan melalui episode nolnya yang menjadi prolog cerita.

Game Chaos;Child dianggap istimewa katanya karena caranya menutupi bagian-bagian ‘bolong’ dari cerita Chaos;Head sembari menuturkan ceritanya sendiri. Ceritanya tak kalah ganjil dan gelap. Tapi berbeda dari Chaos;Head yang secara umum mengikuti hanya satu rute (dengan dua potensi akhir cerita), game Chaos;Child mempunyai lima rute karakter ditambah satu rute final yang hanya bisa dibuka sesudah semua rute sebelumnya kita jalani.

Jadi, meski sistem permainannya kurang lebih sama, kalian bisa bayangkan besarnya ekspansi yang diberikan Chaos;Child. Buat yang mau tahu, masing-masing rute Chaos;Child meliputi:

  • Rute utama, atau rute Onoe Serika, teman masa kecil Takuru. Bersama Serika, Takuru pernah menyaksikan bagaimana Minamisawa Senri dieksperimentasi sewaktu kecil, dan terpaksa melarikan diri tanpa sempat menolongnya. Serika semula menyembunyikannya, tapi kemampuan khusus miliknya adalah semacam telepati. Anime Chaos;Child secara umum mengikuti cerita rute ini, meski ada elemen-elemen rute Nono yang masuk juga.
  • Rute Kurusu Nono, saudara perempuan angkat Takuru yang sedikit lebih tua, yang belakangan mengakui kalau Senri adalah teman masa kecilnya. Karenanya, Nono tak bisa percaya kalau Senrilah pelaku semua pembunuhan itu. Nono semula juga enggan mengakuinya, tapi kemampuan khusus miliknya adalah kekuatan menyamarkan diri.
  • Rute Kazuki Hana, yang disebut merupakan rute yang paling ‘beda sendiri’ karena tak memaparkan misteri pembunuhan (karenanya, peran Hana di anime lumayan terbatas). Kemampuan khusus Hana, yang masih sulit dikendalikannya, berkaitan dengan alasan kenapa ia jarang berbicara. Cerita rutenya membeberkan informasi lebih jauh tentang keberadaan Komite, yang ternyata sangat dekat kehadirannya dengan keseharian para tokoh utama.
  • Rute Arimura Hinae, yang membawa Takuru lebih jauh ke latar belakang keluarga Arimura sehubungan kematian kakak lelaki Hinae enam tahun silam. Keinginan Hinae untuk mengungkap kebenaran kata-kata terakhir kakaknya membuatnya punya kemampuan untuk secara absolut membedakan kebenaran dan kebohongan. Cerita rutenya berkutat soal misteri pembunuhan yang terus berlanjut meski pelakunya harusnya sudah tertangkap. Secara pribadi, Hinae adalah karakter favoritku di seri ini.
  • Rute Yamazoe Uki, gadis kecil yang ditemukan Kunosato dan Takuru di instalasi bawah tanah RSU AH Tokyo, dan diduga telah hidup di sana sembari merawat pasien-pasien lainnya selama bertahun-tahun. Cerita rutenya memaparkan hidup yang berlanjut di dunia bahagia sesudah ia diadopsi keluarga angkat Takuru, yang sayangnya, tak seperti yang terlihat.
  • Rute Chaos Child, rute penutup, yang merupakan akhir cerita sesungguhnya yang memaparkan apa yang terjadi sesudah akhir rute utama. Mengisahkan tentang sindrom misterius yang menimpa para remaja Gigalomaniac yang memperoleh kekuatan mereka sesudah gempa enam tahun silam. Pihak sesungguhnya yang bermaksud menghapus keberadaan mereka sekali lagi terungkap di rute ini.

Sebagai catatan, meski aku pribadi kurang menyukainya, aku juga sempat heran bagaimana Kunosato tak punya rutenya sendiri.

Mungkin menarik kalau kusinggung kalau cerita Chaos;Child tak berakhir dengan sepenuhnya bahagia.

Langit yang Sunyi

Chaos;Child bukan anime yang akan aku rekomendasikan. Kalau kalian penggemar cerita-cerita science adventure 5pb., cukup wajar kalau kalian tertarik mengikutinya. Tapi anime ini bisa sedemikian merusak kesan gamenya, apalagi dengan potensinya yang sedemikian besar, dan karena itu sulit dibilang bagus.

Di animenya, ceritanya jadi kayak… sekedar saling menyambungkan kejutan demi kejutan untuk menghadirkan shock value. Ceritanya jadi berkesan kurang berbobot dan mudah disalahartikan.

Soalnya, hal-hal ‘gelap’ yang terjadi di dalam Chaos;Child itu benar-benar menakutkan dan sakit. Ada temanku yang sampai dibuat berhenti mengikuti pada satu titik karena saking muaknya. Kenalanku, yang pertama sampai di titik bersangkutan lewat gamenya, bahkan sampai dibuat meraung dan menjerit malam-malam saat sampai di bagian itu.

Hasil akhir animenya itu menyakitkan karena sebaliknya, dengan karakterisasinya yang sedemikian kuat, cerita dalam gamenya justru sangat berbobot. Aku pribadi terutama kecewa karena banyaknya motivasi karakter yang jadinya tersamar, gaje, atau tak diungkap.

Mungkin ini mirip kasus anime Shingetsutan Tsukihime yang konon banyak dibenci para penggemar game Tsukihime karena alasan-alasan serupa.

Yah, memang ada banyak hal mengecewakan tentang anime Chaos;Child. Tapi di pembeberan di episode terakhir, bahkan akupun dibuat tercenung dengan apa-apa yang terjadi. Jadi kayak, apa yang terjadi memang enggak segede harapan. Tapi cara semuanya bercampur berakhir lebih rumit dari dugaan. Dengan kata lain, hasil akhirnya enggak sepenuhnya jelek. Tapi sangat mengecewakan karena sedemikian kelihatan bagaimana sebenarnya ini bisa jadi bagus.

Di samping itu, ada banyak referensi terhadap judul-judul science adventure lain. RSU AH Tokyo misalnya, adalah rumah sakit tempat Nishijou Takumi beberapa kali memeriksakan kesehatan kejiwaannya. Partner lain Shinjou, Momose Katsuko yang mengepalai biro detektif swasta Freesia, adalah karakter yang sama dari Chaos;Head, yang sebelumnya membantu penyelidikan Ban Yasuji. Teman Hana di game online, Neithardt, bisa jadi adalah Nishijou Takumi sendiri. Kunosato nampaknya bahkan menjalin kontak dengan para protagonis Steins;Gate dengan upayanya melarikan para tokoh utama ke luar Shibuya. Lalu, Komite yang menjadi dalang ini semua, tak lain adalah Committee of 300 yang merupakan pihak antagonis utama di Robotics;Notes.

Aku sempat sedikit heran. Aku sudah dengar tentang bagaimana Komite berada di balik Nozomi dan SERN. Tapi sekarang, ceritanya, kita jadi melawan mereka lagi? Baru belakangan aku sadar itu karena cerita Chaos;Child berlangsung sebelum cerita Robotics;Notes. Tepatnya, lima tahun sebelum seri tersebut, yang memang berlatar di tahun 2020.

Aku terus terang makin penasaran dengan game Chaos;Child sekarang. Tapi dengan kesibukanku belakangan, sayangnya ada hal-hal lain yang perlu lebih aku dalami dulu.

Soal jalan-jalan keliling Shibuya?

Yah, ada beberapa pemandangan khas wilayah itu yang diperlihatkan dalam anime ini sih. Tapi kesempatan wisata lewat anime kali ini sayangnya enggak segede itu.

Sebagai penutup, aku setuju dengan pandangan Takuru soal bagaimana pengetahuan adalah kekuatan. Banyak-banyaklah baca koran dan mengumpulkan informasi bermanfaat. Tapi jangan sampai besar kepala dan sombong. Gunakan apa yang kau peroleh untuk membangun dirimu sendiri, dan mungkin saja kau juga akan bisa selamat sampai akhir.

(Sedikit trivia: kemunculan Sumo Sticker yang misterius di wilayah Shibuya itu benar-benar pernah terjadi. Tentu saja tak ada kaitannya dengan organisasi rahasia atau konspirasi apapun. Mungkin.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: D-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: C

(Sumber dari Wikipedia dan beberapa situs lain.)

01/08/2016

Taimadou Gakuen 35 Shiken Shoutai

Aku pertama tahu tentang Taimadou Gakuen 35 Shiken Shoutai atau Anti-Magic Academy: The 35th Test Platoon dari versi light novel-nya.

Beberapa tahun sebelum animenya keluar, terjemahan buku-buku awalnya sempat dibuat di Baka Tsuki. Walau tertarik, sesudah membacanya, aku ternyata kurang sreg dengannya. Nanti aku jelaskan soal kesanku sih. Intinya, aku jadi senang saat dengar kalau animenya akan dibuat, karena ini berarti aku bisa tahu lebih banyak soal ceritanya tanpa perlu membaca novelnya.

35 Shiken Shoutai ditulis oleh Yanagimi Touki dengan ilustrasi buatan Kippu. Penerbitannya dilakukan oleh Fujimi Shobo di bawah label Fujimi Fantasia Bunko sejak tahun 2012. Saat ini kutulis, seri ini telah terbit sebanyak 13 buku.

Animenya diproduksi oleh studio Silver Link dengan jumlah episode sebanyak 12. Pertama mengudaranya pada perempat akhir tahun 2015 (di masa ketika seri ini kalah menonjol dibandingkan beberapa seri lain). Sutradaranya adalah Kawamura Tomoyuki (nama relatif baru yang sebelum ini paling menyutradarai anime reverse harem Kamigami no Asobi, meski pernah jadi sutradara episode dari bermacam seri), dengan naskah dipenai oleh Shimoyama Kento (lagi, nama yang relatif baru), dan musik ditangani oleh A-bee.

(Sempat ada dua adaptasi manganya juga, yang dibuat dalam dua versi. Satu terbit di majalah shounen sedangkan satunya lagi, yang agak belakangan, terbit di majalah seinen. Tapi aku kurang tahu banyak tentangnya.)

Meski Senyumku Payah

Daya tarik 35 Shiken Shoutai memang tak langsung terlihat. Sekilas, seri ini benar-benar berkesan seperti seri sekolah ajaib/aksi/harem biasa.

Ceritanya berlatar di dunia di mana kekuatan sihir telah bangkit kembali, dan timbul perang terhadap para pengguna sihir menggunakan kekuatan senjata-senjata berbasis teknologi modern seperti pistol dan mesin. Ceritanya berfokus pada remaja lelaki Kusanagi Takeru dan teman-temannya yang tergabung dalam peleton uji ke-35 di Akademi Anti-sihir yang mendidik para pemburu penyihir (inquisitor), sekalipun sebelumnya dipandang sebagai tim yang gagal.

Meski punya elemen komedi romantis, ini salah satu seri LN dengan latar cerita paling suram yang pernah aku tahu. Walau para tokoh utama bersikap ceria, mereka menanggung beban pribadi masing-masing. Ditambah lagi, dunianya seakan dipenuhi ketakutan terhadap pengkhianatan dan perusakan. Kematian sering sekali terjadi, kerap dalam skala besar. Kalaupun ada perdamaian, sifatnya benar-benar sementara. Semua orang seperti hidup di bawah ancaman para penyihir, dan lingkungan para karakternya seperti berada dalam kondisi siaga perang konstan.

Di awal cerita, Takeru dikisahkan adalah orang yang cuma bisa pakai pedang (Jenis senjata yang masa jayanya mendahului masa jaya sihir. Jadi urutannya: pedang -> sihir -> senjata api). Takeru tak bisa pakai senjata api maupun sihir sama sekali, sehingga dirinya tentu saja jadi bulan-bulanan dalam latihan uji karena belum apa-apa dia langsung jadi sasaran tembak semua orang. Walau demikian, Takeru benar-benar jago berpedang. Bila diperlukan, dirinya bisa sampai membelah peluru yang melesat di udara. Lalu dia akan mengamuk bila sampai ada orang yang menghina keterampilannya.

Meski masih tahun pertama, Takeru ditempatkan sebagai pemimpin peleton uji ke-35 yang sudah hampir dibubarkan. Untuk suatu alasan, ini merupakan peleton yang memang bermasalah sejak dulu. (Salah satu anggota lamanya desersi dan akhirnya DO, satu tahu-tahu didapati telah bergabung dalam suatu aliran kepercayaan baru, sedangkan satu lagi tahu-tahu telah terdiagnosa punya penyakit mental.) Lalu agar tak bubar, Takeru perlu memimpin peleton ini dalam menjalani berbagai misi memberantas penyihir dan mengumpulkan poin.

Di peleton ini, Takeru kemudian bertemu kawan lamanya, siswi jenius penyuka lolipop Suginami Ikaruga, yang santai dan sering main-main, yang berperan sebagai teknisi. Lalu Takeru juga bertemu dengan teman Suginami, Saionji Usagi, seorang siswi mungil dari keluarga berada yang memegang posisi sniper, yang meski punya cukup keahlian, memiliki masalah demam panggung yang parah.

Upaya Takeru untuk memimpin peleton ini semula tak banyak membuahkan hasil. (Apalagi dirinya punya masalah emosinya sendiri.) Tapi kondisi kelihatannya mulai berubah saat ahli pistol Ohtori Ouka juga ditempatkan sebagai anggota mereka. Ini keputusan yang mengherankan, karena Ohtori—yang kebetulan juga adalah anak asuh dari kepala sekolah, Ohtori Sougetsu—adalah siswi jenius yang sebenarnya telah lulus awal dan bahkan telah resmi diterima sebagai bagian Inquisition (yang juga pernah mengalahkan Takeru secara telak di masa lalu, meski Takeru tak yakin apakah yang bersangkutan mengingat ini). Namun karena suatu alasan, dirinya kini disekolahkan kembali.

Berhubung poin akademis mereka sudah mencapai nol gara-gara berbagai penalti yang mereka peroleh, Takeru dan kawan-kawannya akhirnya nekat mengambil misi berbahaya, yang akhirnya membuat mereka bersimpangan jalan secara langsung dengan para penyihir jahat dari organisasi teroris Valhalla.

Hentikan Waktu, Sekarang Saatnya Berjuang

Bicara sedikit soal teknisnya dulu, kualitas teknis anime ini di luar dugaan benar-benar bagus. Gaya desainnya memang simpel dan penggunaan CG-nya terus terang saja masih kurang indah. Namun arahan visualnya kuat, dengan warna-warna yang tajam dan menonjol. Eksekusi adegan-adegannya pas. Lalu ini semua didukung dengan kualitas audio yang benar-benar kuat, baik dari segi seiyuu maupun BGM.

Satu keluhan yang aku punya dengan novelnya adalah struktur ceritanya yang terbilang tak biasa. Kita seolah-olah dibeberkan begitu saja dengan segala sesuatu tentang dunia ini, tanpa pengenalan yang benar-benar tuntas. Lalu penceritaannya juga kurang fokus dengan adanya sejumlah subplot yang berjalan sekaligus.  Buku pertama misalnya, memang menonjolkan Ouka dan latar belakanganya sebagai fokus utama. Tapi di saat yang sama, buku satu juga memperkenalkan karakter Nikaido Mari, seorang gadis penyihir baik-baik yang dimanipulasi Valhalla karena mempunyai atribut sihir kuno Aurora yang langka, sehingga ia menjadi salah satu buron yang dikejar peleton Takeru sebelum nantinya bergabung sebagai kawan (meski dengan bom di leher yang dapat meledak sewaktu-waktu bila sampai menggunakan sihir tanpa izin).

Animenya ternyata mengatasi ini lewat keberhasilannya memadatkan segala yang perlu diketahui tentang cerita dari sekitar lima buku dalam hanya 12 episode. Pacing-nya memang jadi kurang bagus. Tapi ini menjadi jenis anime adaptasi yang akhirnya berhasil menyampaikan segala yang mau disampaikan meski secara tidak sempurna. Walau kita mungkin luput soal beberapa detil, kita tetap memahami garis besar cerita. Sehingga rasa puas saat menyadari, “Oo, jadinya begini.” itu tetap ada.

Adegan-adegan aksinya terbilang lemah. Ini sayangnya terasa banget berhubung jumlah adegan aksinya bukan hanya terbilang banyak, tapi juga melibatkan hal-hal kolosal macam tembakan kekuatan dahsyat, perubahan wujud ke armor, monster-monster besar, serta mecha-mecha menakutkan yang disebut dragoon. Namun di sisi lain, kekurangan ini diimbangi dengan adegan-adegan interaksi antar karakternya yang bagus. Lalu dengan adanya plot yang terus berjalan, momentum ceritanya berhasil terus terjaga. Ini tetap seri yang paling memikatku pada musim gugur tahun 2015 lalu, dan aku sempat heran kenapa seri ini tak lebih populer.

Memandang ke belakang sekarang, aku bisa mafhum dengan semua kelemahannya saat mengingat Silver Link memang bukan studio yang dikenal karena adegan-adegan aksinya. Aku kayak, “Perasaan, Silver Link lebih banyak membuat seri komedi? Oh, pantas saja adegan-adegan komedinya bagus.” Tapi aku jadi lebih salut lagi saat mengingat bahwa nama-nama staf kunci di baliknya adalah nama-nama relatif baru.

Ya, masih banyak kelemahannya. Tapi hasilnya buatku masih terbilang mengesankan.

Balik ke soal ceritanya, meski ada adegan-adegan fanservice-nya (ditambah tragedi-tragedi kematian sadis yang di dalamnya nyawa manusia dipandang berharga benar-benar murah)—dan lambat laun, semua teman sekelompoknya memang jatuh cinta pada Takeru—ceritanya mengusung tema soal kesetiakawanan dan pengorbanan yang kuat.

Aku selalu terenyuh setiap kali Takeru, karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin peleton, menawarkan pada para bawahannya untuk berbagi separuh beban mereka. Ceritanya berfokus pada masing-masing karakter anggota peleton secara berurut: Ouka (soal kasus yang membuatnya dikembalikan ke sekolah), Mari (soal hubungannya dengan Valhalla), Saionji (soal isu keluarga yang membuat ia terancam dikeluarkan), Suginami (masa lalunya sebagai produk percobaan suatu perusahaan alkimia), dan baru terakhir, Takeru sendiri (soal hubungannya dengan adik perempuannya, Kusanagi Kiseki, yang berstatus penyihir berbahaya karena badannya dikutuk dengan keberadaan iblis Hyakki Yakou, yang membuatnya tak bisa sekaligus tak ingin mati kalau bukan di tangan Takeru), saat ia balik menerima uluran tangan teman-temannya. Semua karakter utama ternyata memang menanggung rasa bersalah mereka sendiri-sendiri.

Lalu di antara semua ini, masih ada banyak hal lain yang terjadi.

Ada gadis kecil misterius berpakaian gothic lolita berwajah datar yang kerap mengawasi Takeru di awal cerita. Selanjutnya terungkap kalau dirinya perwujudan salah satu pusaka Relic Eater yang digunakan para Inquisitor untuk melawan penyihir. Dalam hal ini, Malleus Malficarum Type-Twilight “Mistilteinn” bernama Lapis, yang mampu mewujudkan senjata berbilah tajam jenis apapun. Lapis rupanya telah dipersiapkan Ohtori Sougetsu untuk melengkapi kemampuan berpedang Takeru, dan di ambang kematiannya, Takeru kemudian menjadi kontraktor dan tuan dari Lapis. (Identitas Lapis selama di sekolah kemudian disamarkan sebagai adik perempuan Takeru, Kusanagi Lapis, sesama anggota peleton ke-35, meski nyatanya tampang mereka tak mirip sama sekali.)

Ada serangan Valhalla ke sekolah melalui sosok Einherjar King Arthur yang memakan banyak nyawa teman-teman sekolah Takeru. Insiden ini didalangi Haunted, mantan pendeta Katolik yang menjadi musuh besar Ouka sekaligus Mari. (Kecintaannya terhadap keputusasaan, dan bagaimana ia terus menjadi duri dalam daging, menjadikannya salah satu karakter antagonis paling menarik yang pernah aku lihat.)

Ada kepulangan kembali pria dingin spesialis pisau dan pistol, Kurogane Hayato, orang nomor dua di Akademi sekaligus pemimpin pasukan elit Inquisitor EXE, yang merupakan keturunan klan yang sama dari Takeru. (Dia sebenarnya salah satu karakter paling kuat di seri ini, dengan statusnya sebagai kontraktor dua Relic Eater sekaligus, yakni Caligula dan Maximilian.)

Ada konflik api dalam sekam antara Takeru dengan kawan lamanya, Kirigaya Kyouya, menyusul tragedi penyerangan Haunted atas sekolah. Perseteruan mereka memuncak dalam kasus yang melibatkan Kiseki.

Ada status tak jelas antara Ouka dan Relic Eater miliknya sendiri yang berbentuk pistol kembar, Vlad, yang dengannya Ouka baru menjalin separuh kontrak. (Salah satu alasannya karena keengganan Ouka untuk berkaitan dengan segala sesuatu berbau sihir, terkait traumanya dengan keluarga aslinya.)

Ditambah lagi, sosok ayah asuh Ouka, Ohtori Soegetsu, yang membimbing Takeru dan kawan-kawannya, sebenarnya bukanlah tokoh yang punya niat yang sepenuhnya baik.

Penceritaannya terbilang benar-benar padat. Tapi itu pun masih dengan beberapa subplot yang masih menggantung di episode terakhir. Walau begitu, hasil akhirnya, sekali lagi, masih terbilang lumayan mengesankan.

(Setelah kupikir lagi, meski tak berlebihan, unsur fanservice-nya terbilang benar-benar dewasa. Jadi baiknya itu satu hal yang juga kalian catat.)

…Dan Bersumpah Melindungi Hingga Akhir

Akhir kata, 35 Shiken Shoutai menghadirkan kombinasi aksi komedi yang berlatar di dunia yang benar-benar suram. Kuakui, memang agak susah untuk ‘masuk’ pada awalnya. Tapi sesudah kau berhasil ‘masuk,’ ceritanya jadi benar-benar menarik.

Porsi karakternya terasa menyentuh. Adegan-adegan komedi haremnya ajaibnya tak terlalu bikin ilfil. Para karakter perempuannya cantik dengan cara mereka masing-masing. Lalu adegan-adegan aksinya, meski menampilkan aspek power level lewat keberadaan Demon Slayer Mode berwujud zirah pada para pengguna Relic Eater, sebenarnya lumayan menonjolkan pentingnya kerjasama tim.

Lagu penutup yang dibawakan Itou Kanako, “Calling My Twilight” menjadi salah satu lagu favoritku bukan hanya karena tema yang dibawakannya. Iramanya kayak, betul-betul pas sebagai penutup tiap episode.

Aku juga lumayan terkesan dengan bagaimana gaya desain wajah bulat buatan Kippu-sensei berhasil ditranslasi secara pas. (Aku agak berharap desain Demon Slayer Mode para karakternya bisa dibuat lebih keren sih. Maksudku, itu benar-benar nuansa tokusatsu banget.)

(…Aku sedikit kecewa dengan wujud Demon Slayer Mode Ouka yang ditampilkan di akhir juga, sebenarnya.)

Aku terus terang bersyukur adaptasi anime dari seri ini ada. Daripada sesuatu yang berantakan atau setengah-setengah (seperti kebanyakan kasus adaptasi anime dari ranobe belakangan), 35 Shiken Shoutai berhasil menjadi sesuatu yang lumayan berkesan. Aku lumayan merekomendasikannya untuk kalian yang suka cerita-cerita aksi fantasi yang agak enggak biasa. …Atau, oke, mereka yang ingin lihat karakter jahat yang beneran jahat, karena Haunted lumayan berkesan walau cuma tampil beberapa kali dalam durasi 12 episode.

Agak panjang bagaimana aku berpikir begini, tapi seri ini sempat membuatku berpikir kalau mungkin orang merasakan kesepian karena mereka tak pernah benar-benar mencoba untuk menjadi ‘kekuatan’ bagi orang lain. Dalam artian, mereka masih terlalu terbawa ego dan belum pernah merasakan kerelaan untuk ikut mengusung beban selain beban mereka sendiri.

Tapi entah deh. Mungkin soal itu akan kusinggung lain waktu.

Mungkin sesudah aku membaca lebih banyak soal ranobenya.

(Aku serius merasa Yanagimi-sensei memasukkan terlalu banyak hal.)

Penilaian

Konsep: B-, Visual: B+; Audio: A; Perkembangan; B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: B+

08/03/2016

Rakudai Kishi no Chivalry

Selain pemanah, aku juga pernah menganggap konsep ksatria berbaju zirah itu benar-benar keren.

Ksatria keren karena mereka harusnya melindungi orang-orang lemah. Mereka bertindak mengikuti kode etik kehormatan yang mengikat. Lalu baju zirah yang mereka kenakan memberi mereka ‘ketahanan’ melampaui manusia biasa. Kayak, kau tahu, Iron Man.

Romantismeku soal ksatria berzirah tentu saja luntur ketika aku belajar lebih jauh tentang sejarah. (Juga, sesudah mengikuti A Song of Ice and Fire karya G. R. R. Martin.) Lalu pada titik ini aku nyadar kalau aku mungkin enggak jauh bedanya dari Kinoko Nasu, Raiku Makoto, dan banyak pengarang Jepang lain yang dengan seenaknya meromantisasi Inggris sebagai negara para ksatria.

Aku teringat kembali akan semua hal di atas sesudah mengikuti perkembangan anime Rakudai Kishi no Chivalry, yang terang-terangan menyebut soal ‘ksatria’ di judulnya. (subjudulnya: A Tale of the Worst One, kira-kira berarti ‘kisah dia yang terburuk’)

Hal yang terlintas di kepalaku: para ‘ksatria’ di sini hampir enggak ada yang pakai armor. Lalu kenyataan tersebut sempat membuatku terdiam untuk beberapa lama.

Terlepas dari itu, Rakudai Kishi no Chivalry (‘chivalry’ ditulis sebagai ‘eiyuutan’, dan karena cara bacanya, kadang judulnya salah ditulis/baca sebagai Rakudai Kishi no Cavalry), atau Chivalry of a Failed Knight (‘kehormatan seorang ksatria gagal’, walau dari cara penulisan aslinya, arti judul yang dimaksudkannya adalah ‘kisah-kisah kepahlawanan seorang ksatria gagal’), berawal dari seri light novel karya Misora Riku dengan ilustrasi yang dibuat Won. Seri ini diterbitkan di bawah label GA Bunko milik penerbit SB Creative sejak pertengahan 2013, dan terbilang berhasil punya pangsa penggemarnya sendiri.

Animenya dibuat studio Silver Link (dengan dibantu Nexus) dan mengudara belum lama ini di cour terakhir tahun 2015. Oonuma Shin yang menyutradarainya dengan dibantu Tamamura Jin. Sedangkan Yasukawa Shogo menangani naskah.

Ada adaptasi manganya juga yang keluar agak lebih awal, dibuat oleh Soramichi Megumu, dan diserialisasikan di Gangan Online milik Square Enix. Saat ini kutulis, manganya telah terbit sebanyak 5 buku.

Tidak Naik Kelas

Cerita Rakudai Kishi no Chivalry berlatar di dunia di mana manusia-manusia berkekuatan supernatural yang disebut Blazer mampu memanifestasikan senjata-senjata yang disebut Device dari dalam jiwa mereka. Mereka yang diakui sebagai ‘ksatria’ kemudian dapat berpartisipasi dalam ajang pertandingan prestisius yang disebut Seven Star Sword Art Festival, yang diadakan oleh tujuh Akademi Mage Knight paling terkemuka di Jepang, untuk menentukan siapa Apprentice Knight terkuat yang akan bergelar Seven Star Sword King.

Garis besar ceritanya sendiri seputar Kurogane Ikki, siswa Blazer F-rank dari Perguruan Hagun, yang pada tahun sebelumnya, secara tidak adil dilarang turut serta dalam pertandingan. Alasan yang diberikan adalah karena kekuatan sihirnya hanya F-rank. Padahal kemampuan bela diri Ikki sebenarnya lebih dari cukup untuk mengimbangi keterbatasan kekuatan sihirnya itu.

Ditambah lagi, ada situasi rumit lain yang mempersulit turut sertanya Ikki dalam pertandingan (yang terkait dengan latar belakang keluarga Kurogane dari mana Ikki berasal). Tapi semua itu berubah pada tahun ajaran baru, seiring dengan pergantian administrasi di Hagun, yang ditandai dengan pertemuan pertama Ikki dengan teman sekamarnya yang baru, Stella Vermilion, seorang Blazer A-rank yang sekaligus merupakan putri (beneran) dari Kerajaan Vermilion.

Singkat ceritanya kurang lebih begitu.

Premis cerita Rakudai Kishi no Chivalry sekilas terkesan sederhana. Ikki, dengan ditemani Stella yang nanti menjadi teman terpercaya serta kekasihnya, harus berjuang pada kesempatan barunya untuk mengikuti ajang Seven Star Sword Art Festival ini.

Ini seri aksi fantasi ala LN yang biasa ‘kan? Jenis yang sesekali diselingi fanservice? Sudah ada banyak seri macam begini! Tapi nyatanya, Rakudai Kishi no Chivalry ternyata berakhir menjadi salah satu adaptasi LN langka yang melampaui perkiraan orang.

Yeah, hasilnya secara umum disepakati lebih bagus dari perkiraan.

Adaptasi animenya dengan lumayan setia mengangkat cerita dari buku pertama sampai ketiga. Garis besarnya kurang lebih memaparkan perjuangan Ikki untuk lolos dari babak penyisihan di Hagun, dan membuktikan pada semua orang bagaimana dirinya sosok yang patut diperhtungkan.

Let’s Go Ahead

Perjuangan untuk membuktikan diri adalah tema klasik yang menarik untuk diangkat. Jujur saja, aku sampai sekarang masih yakin kalau justru itu sebenarnya yang membuat Naruto terkenal. Rakudai Kishi no Chivalry kembali mengangkat tema ini, dengan berulangkali memperlihatkan bagaimana Ikki ditempatkan dalam situasi-situasi tak adil. Tapi walaupun begitu, Ikki dengan tekad luar biasa selalu berhasil melampaui semua tantangan itu.

Sebenarnya, ini seri yang sempat agak malas kubahas berhubung ada sejumlah hal di dalamnya yang membuatku enggak sreg (seperti animasi lagu penutupnya, misalnya). Tapi di sisi lain, ada banyak hal di dalamnya yang sedemikian melampaui perkiraan sehingga aku tetap merasa seri ini baiknya aku ulas.

Anime Rakudai Kishi no Chivalry juga menampilkan adegan-adegan aksi yang benar-benar keren. Meski bobot aksinya mungkin tak sebanyak itu, koreografi semuanya benar-benar keren.

Hal ini tercermin dalam animasi pembukanya yang dibawakan dengan nuansa gekiga, diiringi suara vokal Sakai Mikio yang sudah lama sekali enggak kudengar dalam suatu anisong. Kalau kau perhatikan, ada tiga variasi untuk animasi pembuka ini, sesuai jumlah buku yang diangkat dari seri novelnya. Lalu cara pengarahannya memberikan kesan yang benar-benar kuat.

Sebelum animenya keluar, terjemahan LN-nya yang dibuat fans termasuk salah satu yang sempat kulihat. Lalu sejujurnya, alasan pertama aku tertarik dengan Rakudai Kishi no Chivalry sama sekali tak ada hubungannya dengan soal ksatria, aksi, atau lainnya. Alasannya karena pas aku secara iseng membaca terjemahan novelnya itu, aku berhasil dibuat tertawa ngakak oleh leluconnya yang paling pertama.

…Leluconnya agak fanservice-y, jadi tak akan kusinggung biar enggak spoiler.

Tapi dari sana, lambat laun ceritanya memperkenalkan kita kepada para tokoh dan karakternya. Terlepas dari deskripsi karakter Stella yang mungkin agak wish fulfillment, para karakter utama seri ini ternyata memang benar-benar simpatik. Ikki sangat pekerja keras dan pantang menyerah. Adik perempuannya yang A-rank seperti Stella, Kurogane Shizuku, meski di awal berkesan aneh, digambarkan sangat menyayangi kakaknya karena menjadi saksi semua kerja keras Ikki sekaligus semua ketidakadilan yang ditimpakan padanya. Lalu karakter teman sekamar Shizuku, Arisuin Nagi alias Alice, yang merupakan laki-laki yang merasa jiwanya perempuan, juga menjadi karakter tak biasa dengan caranya menempatkan diri di garis-garis tepi, membuatnya perhatian terhadap hal-hal yang tak disadari oleh kebanyakan orang lain.

Karakter-karakter lawan utama yang perlu Ikki hadapi selama ajang penyisihan di Hagun meliputi Kirihara Shizuya, rival lamanya dari tahun sebelumnya; Ayatsuji Ayase, seorang kakak kelas yang ternyata menjadi pewaris ilmu pedang dari orang yang pernah diidolakan Ikki, serta Toudou Touka, siswi yang telah diakui sebagai ksatria terkuat yang pernah dimiliki Hagun.

Intinya, karakterisasi seri ini di luar dugaan benar-benar tak biasa. Memang masih agak hit or miss buat sebagian orang. Tapi untuk seri-seri aksi/fantasi/komedi/adaptasi LN sejenisnya, para karakter di Rakudai Kishi no Chivalry memang terbilang gampang disukai, dan itu menjadi kekuatan seri ini yang terbesar.

Sedikit catatan biar tak lupa:

  • Kusakabe Kagami, siswi berkacamata yang menempatkan diri sebagai wartawan koran sekolah Hagun, dan selalu bekerja keras untuk bisa mendapat scoop.
  • Shinguuji Kurono-sensei, yang dulu pernah menempati peringkat ketiga sedunia, sekaligus kepala sekolah Hagun yang baru. Dirinyalah pribadi yang memberikan kesempatan baru bagi Ikki, dengan syarat bahwa Ikki harus dapat memenagi seluruh pertandingannya. Ia juga yang memecat seluruh staf yang terlibat penghalangan Ikki pada tahun sebelumnya.
  • Oriki Yuri-sensei, wali kelas Ikki yang pertama memberi Ikki kesempatan untuk bersekolah di Hagun. Karena kondisi fisiknya, ia akan memuntahkan seliter darah setiap hari.
  • Kurashiki Kuraudo, alias Sword Eater, seorang saingan Ikki dari sekolah lain.

Takkan Kubiarkan Siapapun Membantah Identitasku

It’s kinda weird.

Rakudai Kishi no Chivalry karena suatu sebab, tayang pada musim yang sama dengan anime Gakusen Toushi Asterisk yang memiliki banyak sekali kemiripan dengannya. Ini sebenarnya cerita tak asing buat mereka yang kebetulan sedang ‘aktif’ mengikuti perkembangan anime di musim bersangkutan, tapi kayaknya ini tetap patut kusinggung.

Berhubung aku sama-sama mengikuti perkembangan terjemahan versi LN dari keduanya, aku sudah lama menyadari kemiripan antara kedua seri ini. Tapi bagaimana keduanya kemudian tayang di musim yang sama, dengan kemiripan tema, dan sebagainya, seriusan memberikan kesan kalau kedua seri ini sedang ‘diadu.’

Beberapa kemiripannya antara lain:

  • Sama-sama mengetengahkan tentang suatu ajang pertandingan yang para pesertanya saling bertarung dengan kekuatan-kekuatan khusus.
  • Memiliki tokoh utama perempuan seorang putri, yang berambut merah, dan memiliki kekuatan api.
  • Lagu pembuka yang dibawakan sama-sama mengandung frasa ‘brave new world
  • Sama-sama dibuka dengan adegan pertemuan berbau fanservice yang sejenis.

Sekali lagi, kalau ini kebetulan, ini kebetulan yang seriusan aneh. Mungkin ini contoh nyata kalau collective unconciousness umat manusia yang dikemukakan Carl Jung memang benar-benar ada.

Terlepas dari itu, secara pribadi, aku berpendapat kalau Gakusen Toushi Asterisk mempunyai cerita dan pembangunan dunia lebih bagus, tetapi Rakudai Kishi no Chivalry lebih unggul dari segi karakter. Makanya saat dibawa ke bentuk anime, terasa bagaimana Rakudai Kishi no Chivalry sepertinya yang lebih bagus di antara keduanya, meski mungkin penilaian ini agak kurang adil berhubung cakupan cerita Asterisk lebih panjang dan durasinya sejak awal direncanakan sebanyak dua cour.

Pastinya, aku awalnya tak berharap banyak pada seri ini. Pada bagian-bagian komedi dan fanservice-nya, tanggapanku juga lumayan biasa. Tapi kemudian aku tersadar betapa ada bagian-bagian tertentu yang berhasil membuatku agak berpikir. Pertamanya, pada adegan-adegan saat Ikki dan Stella berusaha memperjelas keinginan dan perasaan mereka terhadap satu sama lain. Tapi lalu juga pada bagian-bagian ketika Ikki sampai tertelan oleh kelemahan mentalnya sendiri saat berhadapan dengan trauma lamanya; atau ketika ia pada satu titik mulai meragukan kata-kata yang pernah disampaikan Kurogane Ryoma, kakek buyut yang dulu mengajarkannya untuk tak pernah menyerah dan selalu bersikap kuat.

Di akhir, aku benar mesti mengakui kalau seri ini termasuk bagus.

Mereka enggak bercanda. Kalau misalnya aku mau merekomendasikan suatu anime adaptasi LN untuk mereka yang awam dengan genre ini, Rakudai Kishi no Chivalry benar-benar jadi satu pilihan yang ideal.

Dalam Satu Serangan

Adaptasi animenya sekali lagi, berakhir pada sekitaran cerita buku ketiga, tatkala Ikki akhirnya diakui sebagai orang terkuat di Hagun, yang menjadi perwakilan mereka di ajang Seven Star Sword Art Festival. Ceritanya berakhir dengan nuansa positif, dan secara pas menutup character arc yang dijalani Ikki di sepanjang ceritanya.

Tamatnya sebenarnya agak mengejutkan buatku. Selaku pemerhati anime-anime adaptasi LN, instingku seperti mengingatkan ada sesuatu yang enggak biasa.

Lalu pas kuperiksa terjemahan novelnya, ternyata benar juga. Tamatnya agak beda, berhubung cerita pada buku keempatnya akan langsung nyambung dengan bagian cerita berikutnya yang mulai memaparkan tentang masa lalu Alice. Lalu dari sana, ceritanya akan menyambung lagi dengan pembeberan jati diri Kurogane Ouma, kakak lelaki Ikki dan Shizuku yang di masa lalu menghilang tanpa jejak.

Perkembangannya, yang kali ini berlatar di ajang pertandingan Seven Star Sword Art Festival yang sesungguhnya, terbilang menarik. (Ada juga pemaparan soal Edelweiss, Blazer terkuat di dunia yang seorang kriminal, tapi karena saking kuatnya ia tak tersentuh oleh hukum.)

Yah, perkembangan novelnya juga belum kuikuti lagi sih. Jadi biar soal itu kubahas lain kali.

Hmm, apa bakal ada season keduanya atau enggak?

Yah, kayaknya enggak sih. Tapi kita selalu bisa terus berharap.

(Eh? Aku enggak ngebahas sama sekali soal kekuatan para tokohnya? Iya juga ya. Yah, sekali ini enggak usah deh.)

Penilaian

Konsep: C; Visual; A-; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

11/05/2014

Strike the Blood

Sebenarnya, aku suka Strike the Blood.

Ini salah satu anime hasil adaptasi light novel yang sempat keluar pada paruh akhir tahun 2013 lalu, macam Mahou Sensou dan Tokyo Ravens. Tapi berbeda dari judul-judul lain yang keluar di waktu itu…

Bagaimana mengatakannya ya? Pada dasarnya, ada sesuatu yang agak berbeda tentang seri ini dibandingkan yang lain.

Anime STB dibuat berdasarkan seri novel karangan Mikumo Gakuto (yang sebelumnya lumayan dikenal lewat seri Asura Cryin’) dengan ilustrasi buatan manyanko (yang punya ciri khas lumayan kuat), dengan jumlah episode total sebanyak 24. Produksi animasinya dibuat melalui kerjasama antara dua studio Silver Link dan Connect. Novelnya sendiri pertama keluar pada Mei 2011 di bawah label Dengeki Bunko terbitan ASCII Media Works. (Pada saat ini kutulis, kelihatannya seri ini telah mencapai 10 buku.)

Kalau boleh kuungkap, ini termasuk jenis anime yang sangat ‘buat cowok’ sekali. Lalu daripada bagus dari segi konsep, STB menarik lebih karena unggulnya ada pada sisi teknik. Ini bukan jenis anime yang memiliki makna mendalam atau gimana. STB sekedar sebuah anime yang ‘seru’ dan terbilang ‘asyik’ buat diikutin.

Dari beberapa segi, untuk sebuah anime, bisa segitu aja mungkin udah cukup.

Hari yang Biasa Untuk Orang-orang Tak Biasa

Sebagian besar cerita STB (atau dikenal juga sebagai ‘Sutabura‘) berlangsung di Pulau Itogami, suatu pulau buatan yang tercipta dari kombinasi teknologi dan sihir di lautan Jepang, yang di dalamnya ada suatu tempat yang disebut Demon District yang mewadahi sejumlah penduduknya yang ‘bukan manusia.’

Dunia di mana STB berlangsung adalah dunia di mana sihir dan ras-ras nonmanusia telah menjadi suatu hal yang diketahui secara umum. Bahkan sejumlah kaum supernatural tersebut telah memiliki pemerintahan dan negara-negaranya sendiri.

Fokus ceritanya terdapat pada seorang remaja SMA bernama Akatsuki Kojou. Dia remaja agak datar yang sudah terbiasa agak terpinggirkan, yang meski baik hati, cenderung berusaha agar tak meraih perhatian.

…Dia juga punya kecendrungan aneh untuk disangka memiliki pikiran mesum.

…Lalu, uh, dia juga diimplikasikan punya kecendrungan untuk mengalami ‘kesialan’ untuk terseret-seret dalam keadaan.

Dalam suatu insiden yang Koujou sendiri tak terlalu ingat, entah bagaimana dirinya telah diubah menjadi vampir. Lalu tahu-tahu saja, dirinya diidentifikasi oleh berbagai pihak yang berkepentingan sebagai sang Fourth Progenitor (‘leluhur keempat’) yang berjulukan Kaleid Blood, salah satu dari sekian sedikit vampir ‘asli’ yang memiliki kekuatan supernatural yang luar biasa–ditandai dari banyaknya Kenjuu (‘Familiar‘–hewan metafisik panggilan?) yang dapat mereka kuasai dan gunakan. Fourth Progenitor di sisi lain sekaligus diyakini oleh berbagai legenda dan kabar burung sebagai vampir terkuat di dunia, dan ‘kemunculannya’ di Itogami dengan segera menuai bermacam pertanyaan.

Suatu pihak misterius yang disebut Lion King Organization (‘Shishio-kikan‘, ‘organisasi raja singa’) kemudian mengutus salah seorang Sword Shaman (Kennagi, sepertinya merupakan kata gabungan dari ‘ken‘ dan ‘kannagi‘) mereka, seorang gadis manis berusia SMP bernama Himeragi Yukina, untuk mengamati Kojou.

Himeragi, yang telah terlatih dalam bela diri dan sihir sebagai seorang Attack Mage, dibekali dengan salah satu senjata pusaka Schneeweizer, yakni tombak lipat portabel Sekkarou, yang merupakan senjata anti-sihir paling mutlak yang dipunyai Shihio-kikan, yang memiliki kemampuan untuk membunuh para vampir leluhur seandainya diperlukan.

STB pada dasarnya menuturkan berbagai kejadian yang berlangsung di Pulau Itogami selama Kojou berada di bawah pengawasan Yukina, walau sisi ramah dan perhatian yang keduanya miliki membuat hubungan keduanya tumbuh semakin akrab…

Pertarungan Kita, Kemenangan Kita

Genre dasar STB (mungkin) adalah aksi fantasi. Ceritanya merupakan cerita tipikal bergaya ranobe. Dalam artian, kalau aku boleh jujur, sebenarnya, meski aku beneran enggan ngatain ini, ceritanya sendiri sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Ceritanya memiliki kombinasi elemen harem, misteri, komedi romantis, dan aksi fantasi tadi. Lalu bahkan di awal seri ini, kau bisa saja langsung diingatkan akan elemen-elemen cerita yang dimiliki sejumlah ranobe populer lain, macam, misalnya, seri Monogatari (dari tema diubah menjadi vampirnya), To Aru Majutsu no Index (dari aspek kota futuristis istimewa dan kekuatan anti-sihirnya), serta Campione! (dari segi para Kenjuu yang menjadi makhluk-makhluk yang dipanggil saat ada kesulitan).

Tapi, the thing is, kalau kau bisa menikmati seri-seri kayak gini, STB termasuk seri yang rame.

Komposisi serinya, dalam artian pembuatan adaptasi naskahnya dari novel, termasuk efektif. Setiap bab cerita bisa berdurasi dari 2-4 episode. Sehingga begitu kau sampai ke episode terakhir seri ini, kau ngerasa kalau ceritanya kayak udah berjalan lumayan jauh.

Di samping itu, ceritanya pun juga enggak terlalu masuk ke bahasan konsep-konsep rumit ataupun jadi terlalu mengkhotbah. Premisnya simpel, kau bisa paham soal inti yang terjadi begitu ceritanya berakhir, dan karenanya jadinya efektif.

Lalu berhubung format ceritanya yang kayak gini dan seri novelnya sendiri masih berlanjut, ini termasuk jenis adaptasi anime yang hanya sekedar ‘mengikuti apa yang ada.’

Jadi… enggak, sayangnya, alasan soal bagaimana Kojou kemudian menjadi pewaris Kaleid Blood belum diungkapkan. Tapi lebih banyak soal itu akan kusampaikan di bawah.

Sekali lagi, ceritanya sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Lupakan juga soal pendalaman karakter. Aku kenal beberapa orang yang enggak nyaman soal karakterisasinya, tapi aku sendiri enggak merasa perlu mempermasalahkannya berhubung aku pernah nemu yang jauh lebih buruk. Tapi terlepas dari itu semua, seriusan, STB terbilang seru kalau kau suka tema-tema yang kayak gini.

Animasi dan eksekusinya enggak terlalu bagus. Kelihatan bagaimana semua adegannya berusaha dibuat dengan benar-benar minim. Dari segi kualitas animasi, STB kelihatan punya budget ketat. Kualitas animasinya yang sederhana terkesan kayak para animatornya berusaha memanfaatkan setiap draft frame yang ada semaksimal mungkin, dan karena itu nuansa beberapa frame-nya kayak enggak konsisten di beberapa bagian.

Tapi desain karakternya… man, itu kayak mengimbangi kekurangan-kekurangan ini.

Desain dan ilustrasi yang dibuat oleh manyanko-sensei memiliki ciri khas yang lumayan kuat. Ada proporsi aneh namun seimbang antara ukuran kepala para karakternya dengan bentuk badan mereka. Tapi untuk animenya, segala proporsi ini kayak ‘dinormalkan,’ dan entah gimana caranya, hasilnya menurutku jadi lumayan luar biasa.

…Oke. Aku ngasih penilaian soal desain karakter di atas sebagai cowok ya. Lalu aku juga ngasih penilaian soal ceritanya sendiri sebagai cowok otaku yang lajang dan enggak punya pacar.

Jadi kalian-kalian yang lebih intelek dan ngerasa harusnya bisa dapat yang lebih baik mungkin takkan berpendapat sama. Mungkin ibaratnya, kalau mau kasar, STB itu kayak anime kelas dua. Tapi ini anime kelas dua yang termasuk yang bagus di antara jenisnya.

Audionya sendiri sama sekali enggak buruk. Para seiyuu-nya terbilang memerankan peran mereka secara pas (terutama Taneda Risa sebagai Yukina yang benar-benar memikat, lalu Hosoya Yoshimasa, yang biasa memainkan peran-peran sampingan, terasa cocok juga sebagai Kojou). Soundtrack-nya ada yang dibawakan oleh Kanon Wakeshima serta grup band rock Kishida Kyoudan, yang mungkin sudah dikenal oleh sebagian orang dan dari segi itu, meski enggak memukau, juga sama sekali enggak bisa dibilang buruk.

Perbatasan Kebenaran dan Kenyataan

Animenya mengangkat cerita dari buku pertama sampai buku keenam (novelnya telah agak lama berada di kategori teaser projects di situs Baka-Tsuki). Dimulai dari Right Arm of the Saint, yang menceritakan pertemuan pertama antara Kojou dan Yukina, serta bagaimana mereka berhadapan dengan War Deacon Rudolf Eustach yang menggerakkan homunculus yang mampu menggunakan Familiar bernama Astarte; sampai ke Return of the Alchemist, yang mana Kojou mengejar jejak seorang pria misterius bernama Amatsuka Kou, yang memburu warisan seorang alkemis bernama Nina Adelard.

Mungkin kalian bisa bayangkan sendiri jenis-jenis cerita yang diangkat dalam STB itu kayak apa. STB unggul menurutku karena karakterisasinya. Dan bagi beberapa orang, memang agak susah untuk tak merasa tertarik pada STB sebab walau begini, ceritanya memang…

Aaaargh, aku kesusahan mengungkapkannya!

Selain Kojou dan Yukina, beberapa karakter lain yang menonjol dan secara berkelanjutan tampil, meliputi:

  • Aiba Asagi; seorang gadis cantik teman sekelas Kojou, yang bekerja sambilan sebagai pengelola sistem komputer di manajemen Pulau Itogami. Meski tak tercermin dari penampilannya, dirinya sangat cerdas. Sudah lama memendam rasa suka terhadap Kojou, dan mulai berani bertindak semenjak kemunculan Yukina. Ia memiliki asisten virtual serupa AI bernama Mogwai yang setia membantu mengerjakan tugas-tugas pemrogramannya. Tapi seiring perkembangan cerita, mulai terindikasi kejeniusan Asagi dalam memprogram mungkin bukan hanya berkat kecerdasannya semata… Sampai sejauh ini, dirinya masih belum tahu juga tentang segala urusan vampir yang dirahasiakan Yukina dan Kojou.
  • Yaze Motoki; teman lama Kojou dan Asagi yang mendukung hubungan keduanya. Tapi diam-diam dirinya memiliki kekuatan untuk mengendalikan gelombang suara dan memata-matai sekelilingnya, dan diindikasikan pula bahwa dirinya pengawas sesungguhnya yang diutus Shishio-kikan untuk mengawasi Kojou dan Yukina.
  • Akatsuki Nagisa; adik perempuan Kojou, sekaligus teman sekelas Yukina, yang manis dan bisa agak cerewet bila mengurusi kakaknya. Suatu trauma di masa lalu membuatnya fobia terhadap kaum Demon. Tanpa sepengetahuannya sendiri, dirinya memiliki kaitan sangat erat dengan alasan berubahnya Kojou sebagai vampir.
  • Kirasaka Sayaka; sahabat lama Yukina dari masa saat sama-sama dibesarkan oleh Shishio-kikan. Dirinya seorang War Dancer (Maai-hime) yang menggunakan Koukarin, pusaka Der Freischutz berbentuk gabungan busur dan pedang yang berkekuatan untuk membelah ruang, sebagai senjatanya. Dirinya beberapa kali berada di Itogami untuk berbagai penugasan. Meski semula kesal melihat kedekatan Kojou dengan Yukina, lama-lama ia mulai jatuh hati pada Kojou juga.
  • Minamiya Natsuki; guru Bahasa Inggris Kojou yang meski berusia dua puluhan tahun, memiliki tubuh seperti anak SD dan selalu terlihat berpakaian gothic lolita. Dirinya salah satu dari sekian sedikit orang yang mengetahui identitas Kojou sebagai Leluhur Keempat, dan dirinya merupakan Attack Mage yang disegani dan berkekuatan tinggi berjulukan Witch of the Void yang sedikit banyak menjadi pembimbing Kojou dan Yukina di sepanjang cerita.
  • Dimitrie Vatler; seorang bangsawan dari Warlord’s Domain bergelar Lord Ardeal, yang merupakan keturunan langsung dari Leluhur Pertama. Ia hadir di Itogami sebagai duta besar dari negaranya, dan menaruh minat(?) terhadap Kojou, berhubung sebelumnya ia jatuh cinta pada Avrora Florestina, Fourth Progenitor sesungguhnya yang telah mewariskan kekuatannya pada Kojou. Seluruh Kenjuu yang dimilikinya berwujud seperti ular.

Seperti yang sudah kusinggung, berhubung novelnya masih berlanjut, ada sejumlah subplot yang dibiarkan masih menggantung. Tapi arc terakhir yang diangkat di animasinya (yang bertajuk Empire of the Dawn) memberi penutup yang lumayan pas (aku akan jelaskan lebih lanjut di bawah), sekalipun sebenarnya berasal dari side story sehingga memiliki durasi yang lebih pendek.

Omong-omong, adegan pembuka seri ini, saat Kojou, Asagi, dan Motoki berada di sebuah restoran keluarga, entah kenapa menurutku merupakan salah satu adegan paling berkesan di seri ini.

Before/After

Masih ada lumayan banyak hal yang sebenarnya bisa kubahas tentang STB. Tapi mengingat ini bukan seri yang memiliki bobot banyak, setelah kupikir ulang, mungkin hal-hal tersebut enggak banyak gunanya juga bila kubahas. Seperti soal kekuatan kedua belas Kenjuu yang belum bisa Kojou kuasai sebelum ia mengisap darah, misalnya.

Tapi, sudahlah, mungkin ada baiknya kusinggung sedikit…

Jadi, para Kenjuu belum mau tunduk pada Kojou sebelum Kojou ‘membuktikan dirinya’ dengan mengisap darah. Lalu satu yang luput kusinggung, adalah soal bagaimana nafsu terhadap darahnya ini agak berkaitan dengan libidonya, dan dalam keadaan paling normal biasanya teratasi sendiri pada saat Kojou mulai mimisan.

Tapi pada saat-saat genting ketika kekuatan Kojou sebagai vampir dan para Kenjuu-nya diperlukan… ada beberapa karakter yang kemudian menjadi blood partner-nya agar ia bisa membangkitkan kekuatan tersebut.

Sudahlah.

Aku juga enggan membahas ini!

Ini alasan kenapa aku menunda-nunda membahas soal STB sampai sekarang!

Ada perkembangan menarik saat kita menyadari bahwa Shishio-kikan jangan-jangan memang sengaja mengutus seseorang seperti Yukina (dan nantinya, Sayaka) ke Itogami bukan sekedar untuk ‘mengawasi’ Kojou; melainkan juga untuk menjadi pasangan darahnya tersebut.

Lalu tentang dua karakter misterius yang muncul di arc terakhir, Akatsuki Reina dan Akatsuki Moegi, kelihatannya juga sudah diindikasi lumayan jelas bagaimana kalau mereka berasal dari masa depan. Tapi yang menarik adalah bagaimana di novelnya kemudian dijelaskan kalau keduanya bersaudara dari beda ibu…

Oke, pembahasan kita cukupkan sampai di sini.

Akhir kata, STB seru. Ada sisi-sisi lumayan nakal (fanservice agak banyak, tapi enggak jelek) yang membuatnya kurang berbobot. Tapi di antara kita, ada yang enggak akan peduli soal itu, mengingat sekali lagi, ceritanya seru.

Penilaian

Konsep: D+; Visual: C+; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

31/03/2010

Baka to Testo to Shokanjuu

Sebenarnya aku kurang suka dengan genre love comedy. Serial love comedy terakhir yang kutonton adalah season pertama Nogizaka Haruka no Himitsu, yang hingga sekarang pun masih tak yakin kutonton karena apa. (Apa aku… telah dicuci otak?)

Eniwei, terlepas dari itu, aku mulai nonton Baka to Testo to Shokanjuu (Orang-orang Bodoh dan Tes dan Makhluk-makhluk Panggilan) mengingat betapa tak ada lagi tontonan menarik di musim yang lalu. Meski semula kubayangkan akan berakhir sebagai tontonan love comedy generik, terlepas dari idenya, harus kuakui kalo aku mulai nonton karena menilai episode-episode awalnya lumayan lucu.

Tapi belakangan kudapati pilihan naluriku ternyata tepat. Sesudah aku menontonnya hingga akhir, BakaTesto bisa dibilang berakhir jauh lebih bagus dari apapun yang semula kubayangkan..

Enggak mungkin ada orang sebodoh itu ‘kan?

Diangkat dari seri ranobe karya Kenji Inoue (kalo ga salah), BakaTesto berlatar di Fumizuki Gakuen, di mana selain lewat proses ujian, evaluasi untuk para murid juga dilakukan melalui metode canggih di mana setiap murid, atas seizin seorang guru, bisa memanggil shokanjuu (summoned beings, makhluk panggilan, itu loh, seperti yang di RPG). Shokanjuu ini lucunya berupa versi chibi dari sang murid sendiri. Shokanjuu digunakan dalam pertandingan adu kekuatan melawan shokanjuu murid-murid kelas lain. Kekuatan shokanjuu seorang murid bergantung pada seberapa baik nilai-nilainya pada hasil ujiannya yang terakhir. Sedangkan aApa yang dipertaruhkan lewat acara saling adu shokanjuu ini tak lain adalah fasilitas-fasilitas ruang kelas.

Murid-murid kelas A, yang memiliki nilai-nilai paling bagus ditempatkan, bersekolah setiap hari dengan laptop(!), layar TV plasma(!), bantal-bantal dan sofa empuk(!), dan beraneka minuman dingin yang selalu siap sedia(!).

Sedangkan murid-murid kelas F, yang notabene secara akademis merupakan murid-murid paling goblok di angkatan mereka, harus bertahan hidup di dalam ruang kelas bobrok dengan papan-papan kardus bekas sebagai meja(!), dan sebotol lem serbaguna untuk memperbaiki barang apapun yang tiba-tiba rusak.

Satu babak ‘perang’ antar kelas ini baru dinyatakan berakhir bila shokanjuu ketua murid dari salah satu kelas dinyatakan KO (jadi ada unsur strategi dan pembagian ‘pasukan’ dalam setiap ‘pertempuran’ ini). Mata pelajaran apa yang menjadi acuan, yang menentukan kekuatan shokanjuu, ditentukan berdasarkan guru mata pelajaran apa yang ‘diseret’ para murid untuk menjadi juri. Kelas yang menang dalam adu shokanjuu ini kemudian diperbolehkan  bertukar fasilitas dengan murid-murid kelas yang kalah. Dengan demikian, kompetisi untuk meraih nilai bagus dalam ujian di antara para murid diharapkan akan tetap terjaga.

Kamu bahkan tetap ngarang jawaban ngawur di soal pilihan berganda?!

Sudah bisa ditebak, inti cerita serial ini adalah tentang betapa para murid bodoh dari kelas 2-F berupaya menjatuhkan kelas 2-A dalam adu shokanjuu demi bisa mengambil alih fasilitas mewah mereka. Di bawah kepemimpinan Sakamoto Yuuji, sang ketua murid yang dulu dikenal sebagai bocah jenius tapi belakangan jadi pemalas, murid-murid kelas F bermaksud menuntut keadilan demi Himeji Mizuki yang bertubuh lemah.

Himeji adalah seorang siswi cantik baik hati yang dengan kecerdasannya dan nilai-nilainya yang bagus, sebenarnya bisa masuk kelas A, tapi akhirnya malah masuk kelas F karena kebetulan ia jatuh sakit di hari pelaksanaan ujian penempatan. Para tokoh lain yang menonjol dari kelas F adalah Shimada Minami, seorang gadis berdada rata yang mengalami kesulitan baca kanji gara-gara kelamaan di luar negeri, sehingga nilainya yang bagus cuma ada di mata pelajaran matematika saja; Kinoshita Hideyoshi, seorang cowok berwajah cantik yang kerap diangankan oleh para jomblo di sekelilingnya sebagai seorang cewek; serta Tsuchiya Kouta, fotografer mesum berbakat ninja yang memiliki database semua cewek cantik yang ada di sekolah, di samping nilai bagusnya dalam mata pelajaran kesehatan.

Tapi yang menginisiasi revolusi ini sendiri dan yang sekaligus menjadi tokoh utama, adalah murid yang katanya merupakan yang terbodoh dari yang terbodoh dalam sejarah Fumizuki Gakuen: Yoshii Akihisa, yang sehari-hari hidup dengan larutan gula dan garam karena kiriman uang saku dari kedua orangtuanya senantiasa ia gunakan untuk membeli game dan majalah alih-alih bahan makanan.

Ceritanya, sebagai murid dengan nilai paling jelek dari yang terjelek, sebagai bentuk hukuman, shokanjuu milik si Yoshii ini dianugrahi kelebihan berupa kemampuan untuk bantu-bantu dalam mengerjakan tugas-tugas fisik. Jadi selain bisa dipakai buat bantu-bantu mindah-mindahin barang, bersih-bersihin di tempat sempit, dsb., berbeda dengan shokanjuu murid-murid lain, apapun yang dirasakan oleh shokanjuu Yoshii juga akan dirasakan oleh Yoshii sendiri. Baik itu jotosan pelampiasan, enggak sengaja keinjek, pegal-pegal habis ngangkut-ngangkutin barang, ataupun luka-luka yang didapat dari acara adu shokanjuu sendiri (kalo enggak mana bisa posisi ini disebut sebagai posisi hukuman ‘kaan?). Hal inilah yang kemudian menjadi keunggulan lebih(?) yang dimanfaatkan oleh Yuuji dan para guru dalam menyelesaikan berbagai masalah yang kemudian terjadi.

Yah, intinya, keluguan/kegoblokan/sifat baik Yoshii itulah yang kemudian menjadi salah satu aset vital yang dimiliki kelas F.

…Yah, oke, mungkin enggak persis seperti itu sih.

Pokoknya inti cerita kemudian berkembang dengan mengisahkan tentang segala upaya Yoshii dan teman-temannya untuk bertahan hidup, menjalin hubungan timbal balik dengan para guru, terjalinnya cinta segitiga(?) antara Himeji, Shimada, dan Yoshii, hingga persaingan abadi mereka melawan kelas A yang tak lain tak bukan dipimpin oleh si cantik pendiam Kirishima Shouko.

Konyolnya, Shouko diceritakan adalah teman masa kecil Yuuji yang rupanya telah lama memendam cinta mati terhadapnya. Sifatnya teramat posesif dan ia akan melakukan hal-hal ekstrim demi menjaga agar Yuuji tak melirik cewek-cewek lain. Yang dengan demikian pula, ironisnya, akhirnya malah menjadikannya sering hang out bersama anak-anak kelas F, yang akhirnya pula semakin menegaskan betapa tak jelasnya mana hal yang penting dalam serial ini dan mana yang tidak…

Satu adegan konyol secara berkelanjutan disusul dengan adegan konyol lain, sehingga akhirnya… uh, ya, begitulah. Kau dapatkan tontonan mingguan yang ga jelek-jelek amat.

Ternyata aku memang orang yang sebodoh itu…

Mengenai kualitasnya sendiri, BakaTesto sebenarnya lumayan aneh. Ada beberapa episode yang emang bisa bikin orang nyengir dari awal sampai akhir, sembari sesekali ngakak. Tapi ada episode-episodenya yang lain yang anehnya terasa datar, yang hanya sesekali membuat kita mengernyit sambil mengejap-ngejapkan mata. Karena itulah sepanjang masa tayangnya aku lumayan skeptis dengan kualitas akhir seri ini.

Apalagi aku hampir tak tahu apa-apa soal proses produksinya. Tapi terlepas dari anomali eksekusinya itu, seri ini dari luar sudah terlihat menawan dengan warna-warnanya yang cerah dan kualitas animasinya yang bagus. Para seiyuu yang menyumbang suara pun jelas terkesan seperti having fun dalam pembuatannya, dengan peran-peran yang sepertinya mereka hayati dengan ‘agak terlalu mendalam.’

Baru sesudah menonton episode finalnya saja aku bisa bilang dengan tegas bahwa aku menyukai seri ini. Eksekusinya ternyata memang cukup bagus, karena sejumah hal kecil yang semula kelihatan ga berarti ternyata bisa diimplementasikan dalam pencapaian konklusi akhir cerita.

Terlepas dari itu, kalau kalian lagi ingin menonton sesuatu yang enggak berguna yang ‘beda’ dari apa-apa yang pernah ada (terutama yang punya komedi agak berlebihan dan lelucon-lelucon yang rada homo) maka judul ini akan kurekomendasikan. Kualitas seri ini telah terbukti dengan disepakatinya pembuatan season keduanya.

Seperti halnya love comedy kebanyakan, kau ga perlu berharap akan menemukan suatu pesan bermakna di dalamnya. (Yah, oke, kecuali mungkin pesan yang menyatakan bahwa ‘nilai sekolah itu bukanlah segala-galanya.’) Tapi aku berani menjamin kau akan menemukan suatu tontonan yang ‘beda.’

Cheers.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: B+