Posts tagged ‘Shoji Kawamori’

08/04/2016

Macross Delta preview & Daftar Seri Macross

Pada awal tahun 2016 lalu, ada episode spesial bersifat preview untuk anime baru Macross Delta. Macross Delta resminya mulai tayang April ini, dan episode pertamanya yang ‘lengkap’ telah keluar saat ini kutulis. Tapi episode spesial tersebut sempat memberi gambaran nuansanya akan kayak apa.

Buat yang belum tahu, Macross Delta merupakan keluaran terbaru dari waralaba anime mecha Macross cetusan Kawamori Shouji. Produksinya dilakukan oleh studio Satelight, dan direncanakan akan tayang sepanjang dua cour.

Alasan kenapa aku menulis ini karena: satu, tiba-tiba aku menyadari banyaknya detil visual bermakna pada setiap frame, yang mestinya kusadari dari zaman Macross Frontier dulu; lalu dua, karena penayangan Macross Delta agak membuat orang-orang penasaran soal waralaba Macross belakangan.

Kayak beberapa penggemar lain, aku membandingkan perbedaan antara versi preview waktu itu dengan versi lengkap yang keluar kali ini. Beberapa hal yang terlintas di kepalaku saat membandingkan keduanya adalah:

  • Tokoh utama cowoknya ternyata benar adalah Hayate Immelman.
  • Freyja Wion benar-benar karakter yang ekspresif. Pemilihan Suzuki Minori sebagai seiyuu untuknya pasti lagi-lagi ketat.
  • Keterampilan pengendalian mecha Hayate yang peka terhadap irama, yang membuatnya pandai menari, sebelumnya luput dari perhatianku karena aku terlalu terfokus pada Walküre.
  • Para personil Walküre dikisahkan memiliki suara yang trans dimensional. Jangan-jangan itu syarat untuk bisa terpilih sebagai personil?
  • Aksesoris-aksesoris yang Hayate kenakan! Terutama kalung di lehernya! Gara-gara film layar lebar Macross Frontier, aku jadi terus-terusan berpikir kalau kayaknya itu bakal punya peran dalam cerita.
  • Bentuk hati yang terpasang di rambut Freyja sekilas terlihat seperti jepit rambut. Tapi ternyata bukan, itu sesuatu yang memang ‘mencuat’ dari dalam percabangan rambutnya. Mungkin itu apa yang disebut sebagai Rune olehnya, dan merupakan ciri khas orang-orang dari planet Winderemere? Berarti Winderemere benar termasuk jenis spesies manusia baru yang ditemukan manusia Bumi?
  • Aku perhatikan bahwa setiap anggota Aerial Knights dari Kingdom of Wind ternyata juga memiliki sesuatu serupa Rune di rambut mereka. Apa mungkin ada kaitan antara Winderemere dengan Kingdom of Wind?
  • Ada cinta segitiga. Pasti. Romansa kelihatannya akan terjalin antara para personil Walküre dengan pilot-pilot Delta Squadron yang melindungi mereka. Pengecualiannya mungkin pada Mirage Fallyna Jenius, satu-satunya perempuan di Delta Squadron, yang sepertinya bertugas mengawal Mikumo Guynemer.
  • Dengan demikian, kalau menilai materi-materi promo seri ini, maka cinta segitiga utamanya akan antara Hayate, Freyja, dan Mirage?
  • …Tunggu, ini aneh. Berarti nanti Mikumo dengan siapa?
  • Oiya. Masih ada para bishounen di Aerial Knights. Iya juga. Pasti ada salah satu dari mereka yang bisa jadi pasangan Mikumo. Berarti di masa mendatang kayaknya bakal ada adegan penawanan.
  • Kelihatannya, kalau sudah terbawa untuk menyanyi, Freyja benar-benar menjadi sulit mengendalikan diri.
  • Delta Suadron masih belum jelas dibekingnya sama siapa…

Selain adegan klimaks di akhir yang tak ada di preview—yang mana Hayate menjalankan aksi klasik mengambil alih sebuah pesawat Valkyrie demi menyelamatkan Freyja—ternyata ada sejumlah adegan dialog tambahan juga di tengah episode. Episode komplitnya juga memaparkan sedikit lebih banyak soal para personil Walküre lain selain Mikumo, serta interaksi antara mereka dengan Delta Squadron.

Seperti yang bisa diharapkan, untuk ukuran sebuah episode pertama, episode ini dipenuhi berbagai adegan mencolok. Terlepas dari semuanya, kurasa ini satu seri yang perkembangannya ingin kuikuti di musim ini. Kesan awalnya buatku lumayan positif.

Kalian juga tak harus mengikuti seri-seri Macross sebelumnya untuk menikmati seri ini kok. Ceritanya lumayan berdiri sendiri. Sedikit pengetahuan tentang seri-seri sebelumnya memang bisa membuatmu lebih menikmatinya sih.

Trilogi Super Dimension dan Robotech

Meski dicetuskan di zaman yang sama dengan waralaba Gundam, waralaba Macross memiliki sejarah agak rumit, sekalipun dengan jumlah keluarannya yang lebih sedikit.

(Aku bukan penggemar besar Macross, jadi yang kutulis ini baiknya nanti aku lengkapi lagi.)

Seri Macross ini, pada awalnya, menjadi yang pertama dari trilogi Super Dimension (Chou Jikuu). Trilogi ini terdiri atas tiga seri anime sains fiksi yang tidak saling berhubungan, tapi sama-sama mengusung motif soal drama kehidupan di tengah konflik melawan alien serta mecha-mecha yang bisa bertransformasi. Menariknya, hanya Macross saja di antara ketiga seri ini yang kemudian berkembang menjadi waralaba besar.

Ketiga seri TV yang menjadi bagian dari trilogi di atas antara lain:

  • The Super Dimension Fortress Macross (1982) tentang pesawat luar angkasa raksasa berteknologi asing yang jatuh ke Bumi. Tak dinyana, pengaktifan kembali kapal ini sesudah diperbaiki manusia Bumi mengundang datangnya ras alien Zentradi (dan nantinya, ras alien Meltlandi) untuk menyerang. Produksi animasinya dibuat oleh Tatsunoko Production, dan ciri khas seri ini terdapat pada bagaimana musik ternyata berperan vital dalam penyelesaian peperangan.
  • Super Dimension Century Orguss (1983) yang dibuka dengan konflik perebutan space elevator antara dua pihak superpower, yang berujung pada diledakkannya suatu senjata dahsyat jenis baru yang mempengaruhi ruang dan waktu. Ledakan tersebut di luar dugaan membawa si tokoh utama, Katsuragi Kei, ke masa depan yang hancur dua puluh tahun mendatang. Kei kini dikejar banyak pihak karena suatu alasan yang tak dipahaminya, dan Orguss adalah nama mecha yang kemudian dikemudikannya. Produksi animasinya dibuat oleh Tokyo Movie Shinsha (yang sekarang kita kenal sebagai TMS Entertainment) dan sempat disusul dengan sekuel berupa OVA. Konfliknya terdapat pada berbagai hubungan cinta yang dijalin si tokoh utama, serta tragedi bagaimana ia jadi meninggalkan kekasihnya yang sedang mengandung di masa lalu.
  • Super Dimension Cavalry Southern Cross (1984) tentang konflik di sebuah planet baru bernama Glorie yang kini ditempati manusia sesudah ekosistem Bumi hancur, tapi kemudian diperebutkan sesudah terkuak planet itu tempat asal ras alien Zor yang datang kembali setelah meninggalkannya di masa silam. Southern Cross adalah nama kesatuan tentara yang melindungi manusia di planet ini. Tokoh utamanya adalah tiga wanita muda Jeanne Fránçaix, Mary Angel, dan Lana Isavia yang masing-masing memiliki misi pribadi dalam perang tersebut. Produksi animasinya kembali dibuat oleh Tatsunoko Production. Konfliknya terutama terdapat pada bagaimana pihak Zor menggunakan tawanan manusia yang telah dicuci otak sebagai ‘inti’ pasukan mecha mereka.

Produksi ketiga seri tersebut disponsori oleh perusahaan media Big West Advertising, yang juga mensponsori seri-seri Macross modern di masa sekarang.

Pada tahun 1985, ada upaya untuk memasukkan seri Macross yang pertama ke dunia barat. Pemrakarsanya adalah perusahaan Harmony Gold USA yang bekerjasama dengan Tatsunoko Production. Namun sehubungan dengan ketentuan sindikasi seri televisi yang dihadapi di masa itu—yang hanya memungkinkan penayangan di hari-hari kerja, dan bukan mingguan, selama kurun waktu yang ditentukan (dibutuhkan total 65 episode, 13 minggu dengan lima episode per minggu)—pihak Harmony Gold memutuskan untuk ‘menggabungkan’ tiga seri TV yang tak saling berkaitan menjadi satu seri baru yang dinamai Robotech.

Karena kerjasama Harmony Gold adalah dengan Tatsunoko, maka dari trilogi Super Dimension, yang akhirnya bisa ‘diambil’ hanyalah Macross dan Southern Cross (mengambil Orguss konon perlu proses lagi lewat TMS). Maka untuk melengkapi Robotech, kemudian diambil satu seri Tatsunoko yang lain, yaitu Genesis Climber MOSPEADA, yang diproduksi tahun 1984 dan menampilkan mecha yang bisa bertransformasi (dalam hal ini, ke bentuk sepeda motor).

Cerita MOSPEADA sendiri adalah tentang perjuangan umat manusia melawan ras alien misterius Inbit dengan tema-tema tentang polusi lingkungan dan sumber daya alam. Tokoh utamanya adalah pejuang bernama Stikk Bernard yang ingin membalas dendam pada Inbit atas kematian kekasihnya.

(…Setelah kupikir, banyak juga seri buatan Tatsunoko yang di masa itu disindikasi di barat. Dua di antaranya termasuk Gatchaman dan Time Bokan. Kurasa ini berarti mereka semacam pionir?)

Dalam perkembangannya, Robotech berkembang menjadi waralaba besar tersendiri yang terkenal di Amerika. Mulanya memang hanya terbentuk dari pengeditan cerita, video, dan sulih suara besar-besaran. Intinya soal bagaimana video dari ketiga seri di atas bisa jadi cerita yang saling nyambung. Tapi yang menarik adalah bagaimana penulisan ulang yang dilakukan untuk membuat Robotech ternyata benar-benar bagus.

Sebagai efek samping dari itu, hak atas merk dagang ‘Macross’ di Amerika hingga sekarang masih dipegang oleh Harmony Gold. Karenanya, hingga saat ini kutulis, semua seri Macross baru sesudahnya (yang diproduksi oleh pihak selain Tatsunoko?) jadi tak bisa dilisensi secara resmi di Amerika.

Apa kau masih ingat cinta?

Terlepas dari perkembangannya di barat, kesan kuat yang diberikan seri Macross pertama berlanjut dengan dibuatnya film layar lebar The Super Dimension Fortress Macross: Do You Remember Love? pada tahun 1984 dan seri OVA The Super Dimension Fortress Macross: Flash Back 2012 pada tahun 1987. Produksinya sama-sama masih dilakukan lewat kerjasama Big West dan Tatsunoko Production.

Kedua proyek ini sama-sama mewujudkan sebagian visi yang belum terwujud dari Studio Nue yang sudah direncanakan, tapi pada akhirnya tak sempat dianimasikan untuk versi seri TV-nya. Ini terutama menyangkut kesudahan nasib akhir ketiga tokoh utamanya, sang pilot Ichijyou Hikaru, sang penyanyi idola Lin Minmei, serta sang wakil laksamana Hayase Misa. Proyek ini memvisualisasikan adegan konser terakhir Minmei di Bumi sebelum ia berangkat bersama Hikaru dan Misa sebagai bagian awak kapal induk baru penerus SDF-1 Macross, SDF-2 Megaroad-01, yang akan menjelajahi alam semesta.

Do You Remember Love? merupakan penceritaan ulang dari seri TV-nya, dengan cerita yang lebih dipadatkan serta penambahan animasi baru. Ada beberapa perbedaan poin cerita yang mencolok. Salah satunya ada pada lagu baru yang dibawakan Minmei, “Ai, Oboete imasuka?”, yang liriknya konon berasal dari peradaban kuno Protoculture. Karena ceritanya agak ‘berbeda’ dari versi seri TV, yang menarik adalah bagaimana film layar lebar ini juga direferensikan sebagai suatu film layar lebar bersejarah ternama di dalam dunia Macross sendiri dalam beberapa seri ke belakang.

Sedangkan Flash Back 2012 merupakan seri pendek yang menampikan rangkaian video klip lagu-lagu hit Minmei,  yang diambil dari konsernya yang terakhir di Bumi, yang di antaranya diselingi klip-klip cerita menjelang keberangkatan armada Megaroad-01 pimpinan Misa (kini bernama Ichijyou Misa) sebelum mereka dikisahkan menghilang di dekat pusat alam semesta.

Generasi Baru

Pada tahun 1991, pihak Big West ingin mengeluarkan suatu seri Macross baru untuk memperingati ulang tahun kesepuluh seri ini. Namun pihak Studio Nue tidak terlibat dalam proyek ini, karena konon sedang tidak tertarik untuk memproduksi sebuah sekuel.

Hasilnya adalah seri OVA enam episode Macross II – Lovers Again yang diproduksi lewat kerjasama studio animasi AIC dan Oniro. Ceritanya berlatar 80 tahun sesudah akhir seri pertama, dan menampilkan konflik antara pihak Bumi dengan ras alien humanoid Marduk. Kaum Marduk dikisahkan tiba di tata surya Bumi dengan pejuang-pejuang Zentradi dan Meltlandi yang diperbudak. Tokoh utama seri ini adalah seorang wartawan bernama Kanzaki Hibiki, yang menolong seorang perempuan Marduk bernama Ishtar yang ternyata merupakan salah satu Emulator, penyanyi istimewa yang membuat pasukan Marduk kebal terhadap efek nyanyian dari pasukan Bumi. Dengan bantuan seorang pilot bernama Silvie Gena, Hibiki berupaya memperkenalkan budaya Bumi pada Ishtar dengan harapan nyanyian baru Ishtar dapat membawa perdamaian antara manusia dan Marduk.

Macross II diikuti beberapa media pelengkap seperti game, manga dan novel. Namun keterlibatan kembali Studio Nue dalam produksi seri-seri Macross berikutnya membuat cerita Macross II dinyatakan non-canon.

Ini bukan seri yang pernah kuikuti. Jadi maaf karena tak bisa berkomentar.

Pada tahun 1994, seri OVA empat episode Macross Plus kemudian dirilis. Versi OVA ini lalu disusul versi layar lebarnya pada tahun 1995. Produksi animasinya dilakukan oleh Triangle Staff (studio yang tersusun atas staf dari Madhouse, tapi sekarang sudah tak aktif) dengan perilisan yang dilakukan oleh Bandai Visual. Ceritanya berlatar pada tahun 2040 di planet Eden, salah satu planet baru yang telah dikolonisasi manusia, tiga puluh tahun sesudah akhir perang di seri yang pertama. Tiga tokoh utamanya adalah dua pilot rival Isamu Alva Dyson dan Guld Goa Bowman—yang saling bersaing dalam Project Super Nova, suatu pekerjaan tender untuk menentukan teknologi pesawat tempur yang akan dipilih sebagai pesawat baru pemerintahan UN—serta kawan masa kecil mereka, Myung Fang Lone. Hubungan persahabatan ketiganya tercabik akibat suatu insiden di masa lalu. Lalu pertemuan mereka kembali menimbulkan konflik batin bagi Myung. Ini berdampak terutama pada pekerjaan Myung sebagai produser musik bagi idola virtual yang sedang hit saat itu, Sharon Apple, AI yang terwujud lewat hologram, yang lagu-lagunya merupakan ekspresi dari perasaan Myung.

Macross Plus lumayan bersejarah di dunia anime, karena menjadi seri animasi pertama yang mengkombinasi teknik animasi sel tradisional dengan teknik animasi CG dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. (Versi layar lebarnya lebih direkomendasikan.)

Aku sempat melihat sebagian Macross Plus. Nuansanya lumayan berbeda dari seri Macross yang orisinil maupun seri-seri Macross yang lebih modern. Mungkin juga karena arahannya oleh Watanabe Shinichirou yang belakangan menyutradarai Cowboy Bebop. Aku ingat aku merasakan sedikit kekecewaan karena pemaparan dunianya tidak lebih banyak.

Seri TV Macross 7 kemudian menyusul pada tahun yang sama, dengan produksi animasi oleh Ashi Productions. Berlatar 35 tahun sesudah akhir seri pertama, ceritanya berkisah tentang kapal induk Macross 7 yang memimpin armada kolonial ke-37. Di dalam Macross 7, ada band Fire Bomber pimpinan Nekki Basara, yang musiknya menjadi andalan utama dalam menghadapi ancaman ras alien Protodeviln. Protodeviln dikisahkan hendak memanen energi Spiritia yang diperoleh dari manusia. Sesudah diambil Spiritia-nya, manusia bersangkutan akan jatuh ke dalam koma. Namun nyanyian Basara mampu membangkitkan kembali energi Spiritia ini dan membangunkan kembali para korban. Dengan demikian, Basara dan kawan-kawannya terlibat dalam suatu proyek militer kontroversial untuk menggunakan kembali nyanyian sebagai senjata pertahanan. Sementara di sisi lain, kaum Protodeviln lambat laun memandang Basara sebagai sumber Spiritia tak terbatas yang selama ini mereka cari.

Macross 7 cukup dikenal di masanya, dengan seri TV yang tayang selama setahun penuh dengan diiringi film layar lebar dan serangkaian OVA. Film layar lebar pendek Macross 7: The Galaxy’s Calling Me, dan rangkaian OVA tiga episode Macross 7 Encore berlatar di tengah berlangsungnya seri TV-nya. Baru sesudahnya, seri OVA empat episode Macross Dynamite 7 (kini diproduksi Hal Film Maker) melanjutkan cerita di seri TV-nya, yang menampilkan apa yang dialami dalam pengelanaan Basara sepeninggal ia dari Macross 7. Seri ini juga mencolok karena menampilkan karakter Mylene Flare Jenius, putri ketujuh dari pasangan manusia-Meltlandi pertama, Maximilian Jenius dan Milia Fallyna Jenius, yang merupakan pasangan pilot as dari seri Macross pertama.

Aku sama sekali tak mengikuti Macross 7. Tapi aku banyak mendengar bahwa lagu-lagunya bagus dan enak didengar, sekalipun alur ceritanya terasa lamban dan ke mana-mana.

Pada tahun 2002, Macross Zero menjadi seri OVA lima episode yang memperingati ulang tahun kedua puluh seri ini dengan produksi dilakukan studio Satelight. Ceritanya berlatar setahun sebelum seri Macross yang paling pertama, pada tahun 2008, saat perang dengan gentingnya berlangsung antara tentara UN Spacy melawan tentara anti-UN, sembilan tahun sesudah jatuhnya suatu pesawat ruang angkasa asing ke Bumi. Di lautan Pasifik selatan, seorang pilot UN bernama Kudou Shin ditembak jatuh oleh pesawat yang bisa berubah wujud. Ia kemudian mendarat darurat di suatu pulau Mayan terpencil, di mana para penduduknya hidup damai dengan menyembunyikan rahasia besar terkait peradaban makhluk asing. Shin terlibat hubungan dengan kakak beradik Sara Nome dan Mao Nome, dan mengalami konflik soal bagaimana ia mencegah pulau tersebut terseret dalam perang. Seri ini mencolok karena memberikan latar belakang lebih terhadap situasi politik di seri TV pertama, khususnya tentang masa lalu Roy Fokker, pilot as yang menjadi mentor Hikaru, yang dalam seri TV kemudian mewariskan posisi pimpinan Skull Squadron padanya.

Aku sama sekali tak mengikuti Macross Zero. Tapi sekali lagi, aku pernah mendengar komentar yang menyebut kalau ceritanya ditutup dengan agak aneh.

Lima tahun berikutnya di tahun 2007, Satelight kembali memproduksi seri Macross baru, yakni Macross Frontier untuk memperingati ulang tahun seri ini yang kedua puluh lima. Ceritanya memaparkan hubungan cinta segitiga antara remaja pilot Alto Saotome, dengan dua penyanyi: Sheryl Nome yang telah tenar dan populer, yang tengah berkunjung dari armada Macross Galaxy; dan Ranka Lee, gadis muda yang kepopulerannya sebagai penyanyi baru naik daun; di tengah ancaman makhluk asing buas Vajra yang dapat muncul sewaktu-waktu. Seri TV-nya dilanjutkan oleh dua film layar lebar yang menjadi cerita alternatif dari seri TV-nya, yaitu Macross Frontier the Movie: The False Songstress pada tahun 2009 dan Macross Frontier the Movie: The Wings of Goodbye pada tahun 2011.

Meski sempat membuatku aneh di beberapa bagian, perlu kuakui kalau Macross Frontier termasuk seri yang bisa kusukai. Kurasa seri Macross untuk pangsa pasar modern dimulai dari seri ini. Ceritanya tak seimbang di banyak bagian, tapi bisa dibilang diakhiri dengan memuaskan.

Mengiringi kepopuleran Macross Frontier, pada tahun 2012 hadir tayangan layar lebar Macross FB 7: Listen to My Song keluaran Satelight yang menampilkan ‘dokumentasi’ cerita Macross 7, yang disaksikan oleh para karakter Macross Frontier (serupa juga dengan bagaimana cerita Macross Zero sempat dijadikan film layar lebar lagi di dalam dunia Macross Frontier). Tayangan ini menitikberatkan faktor nostalgia yang dimiliki sebagian karakternya, serta diiringi beberapa lagu baru dari band Fire Bomber.

…Tayangan layar lebar ini lebih khusus diperuntukkan oleh para penyuka lagu-lagunya. Ehem. Kalau kalian ngerti maksudku.

Ada sejumlah media lain berupa komik dan game yang dapat bersifat sebagai cerita pelengkap maupun cerita yang berdiri sendiri. Tapi cakupannya terlalu banyak untuk bisa kubahas sekarang.

Yah, mungkin nanti kita lihat lagi perkembangannya sesudah Macross Delta tuntas.

Iklan
09/02/2012

Macross Frontier: Wings of Goodbye

Aku baru nyadar bahwa aku belum menulis apa-apa tentang ini. Padahal sudah ada beberapa bulan berlalu semenjak aku memeriksanya.

Macross Frontier: Sayonara no Tsubasa, adalah film layar lebar kedua yang mengadaptasi seri televisi Macross Frontier. Keluar di tahun 2011 dan masih diproduksi oleh studio Satelight, film ini melanjutkan cerita dari film sebelumnya (Itsuwari no Utahime) setelah penantian selama dua tahun.

Lamanya masa produksi film ini langsung bisa dimaklumi begitu kita melihat adegan pembukanya (yang lagi-lagi merupakan adegan konser dari sang heroineSheryl Nome). Animasinya, sekali lagi, benar-benar memukau. Adegan-adegan konsernya, seperti di film sebelumnya, secara aneh benar-benar menjadi highlight animasi dari film ini, dengan efek-efek holografik dan tiga dimensi yang gila. Baik Ranka Lee maupun Sheryl secara seimbang sama-sama mendapat porsi tampil mereka sendiri. Lalu mengikuti tradisi Macross pula, adegan-adegan nyanyi ini diselingi dengan intensnya pertempuran mecha-mecha Valkyrie. Tapi level ‘gila’-nya ini sudah lebih meningkat dibandingkan sebelumnya. Ini semua tentu masih didukung oleh musik yang secara apik telah dibangun oleh Yoko Kanno.

Soal ceritanya sendiri, agak berbeda dibandingkan film pertama, ada lebih banyak elemen dari seri televisinya yang masuk. Meski plot yang diusung memang sama sekali berbeda, aku tetap agak terkejut dengan semua kemiripan ceritanya, karena kusangka film ini akan mengambil arah perkembangan cerita yang lebih berbeda. Ditambah lagi, dengan gaya penyampaian ceritanya yang lebih dipadatkan, aku merasa ceritanya jadi agak lebih susah dicerna oleh mereka-mereka yang sebelumnya tak mengikuti seri televisinya. Ada banyak banget hal yang berusaha diliput oleh ceritanya dalam durasi yang sama dengan film sebelumnya. Karena itu, penyelesaian cerita di film ini mungkin bakal bikin sebagian di antara kalian merasa agak aneh…

Tiga Bulan Kemudian…

Pergelutan awak-awak armada kapal penjelajah Macross Frontier melawan serangan berkala dari makhluk asing misterius Vajra terus berlanjut. Kerusakan yang mereka alami dalam serangan sebelumnya telah bisa diperbaiki. Alto Saotome masih bertahan sebagai pilot di organisasi paramiliter S.M.S.. Tapi sebagian misteri tentang keberadaan Vajra mulai terungkap saat sampel organik dari mereka telah berhasil didapatkan lab-lab yang berhubungan dengan Leon Mishima. Pembeberan susunan tubuh Vajra serta kaitan mereka dengan kristal-kristal fold quartz turut diiringi dampak terhadap sejumlah hal: potensi yang dapat didapat dari penelitian tubuh mereka, suatu konspirasi besar lintas ruang dan waktu untuk memperoleh kekuasaan, masa lalu Ranka, serta penyakit misterius yang secara perlahan menggerogoti tubuh Sheryl.

Agak… susah menceritakan isi film kedua ini secara runut. Soalnya ada begitu banyak hal yang dibahas. Misteri Vajra; konspirasi manajer Sheryl, Grace O’Connor, serta sejumlah orang tertentu yang berasal dari Macross Galaxy; rencana Leon untuk mengkudeta presiden dan merebut kekuasaan N.U.N.s; serta tentunya, penuntasan jalinan cinta antara Alto, Sheryl, dan Ranka.

Satu pujian besar yang patut diberikan terhadap film ini adalah arah perkembangan ceritanya yang memang menarik. Memang sisi anehnya tetap ada di beberapa bagian. Tapi hei, seri Macross memang seperti itu. Pujian besar lainnya adalah bagaimana semua bahasan di atas benar-benar berhasil digarap dan dituntaskan, terutama soal hubungan cinta segitiga itu. Ada banyak adegan yang jelas-jelas memiliki dampak besar, tapi hanya diceritakan, dan selanjutnya diselesaikan, dalam durasi beberapa menit. Kesannya luar biasa terburu-buru, tapi ini didukung oleh visualisasi dan audio yang wah. Karenanya, meski perkembangan yang para karakternya alami hanya berlangsung sesaat, dampaknya sudah bisa lumayan kena asalkan kau menyimaknya baik-baik.

Hmm, aku enggak yakin harus mengatakan apa lagi. Intrik dan misteri yang ditampilkan di film ini masih sama dengan yang ada di seri TV. Jadi kau takkan menemukan jawaban yang berbeda untuk semua itu. Tapi kalau bicara soal romansanya sih, film ini memang memaparkan sejumlah baru yang menarik.

Intinya, kalau kau menyukai seri TV Macross Frontier dan ingin lebih, film ini dan film pendahulunya memang menjadi sesuatu yang layak tonton. Apalagi bila ada detil cerita tersamar di seri TV-nya yang belum terlalu kau pahami.

Eh? Soal adegan-adegan mechanya sendiri? Hmm. Seru sih. Luar biasa halus animasinya. Tapi… uh, gimana ya? Ahahahaha, aku agak dibuat aneh oleh penyelesaian pertempuran terakhirnya.

(Akhirnya, Sheryl yang dipilih Alto. Tapi…! *dilempar sendal*)

Penilaian

Konsep: A-; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: A-

13/01/2012

Sousei no Aquarion

Ada baiknya aku bicara soal Sousei no Aquarion. Anime yang juga dikenal sebagai Genesis of Aquarion ini merupakan seri anime mecha yang dibuat oleh studio Satelight dan pertama mengudara pada tahun 2005. Aspek yang membuat seri ini menonjol adalah keterlibatan Kawamori Shoji, pencetus seri Macross, sebagai penulis cerita sekaligus sutradara, serta bagaimana seri ini memberi ‘penghormatan’ terhadap anime-anime super robot jadul dari era 70an dan 80an (seperti Mazinger Z, Getter Robo, Combattler V, serta berbagai macam tiruan lainnya yang amat sangat menjamur pada dua dekade itu).

Teknik animasi yang canggih serta elemen-elemen modern(?) di dalamnya juga menjadikan seri ini memiliki nilai plus besar(?) pada masanya. Hingga masa kini, seri ini merupakan salah satu anime mecha yang secara estetik paling enak dilihat. Tapi, uh, lebih banyak soal itu dan elemen-elemen yang terkandung di dalamnya akan kuceritakan nanti.

Hari Ketika Dunia Bermula

Inti cerita Sousei no Aquarion sederhana. Dikisahkan pada masa lampau, umat manusia sebenarnya dikuasai oleh ras kuno bersayap yang dikenal sebagai Shadow Angels (‘Datenshi’). Mereka ceritanya adalah penguasa-penguasa bumi pada masa lampau gitu, yang berusia panjang dan mempunyai teknologi teramat canggih. Dan mereka  ‘memanen’ prana (semacam energi kehidupan) dari manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya, untuk dijadikan sumber nutrisi bagi diri mereka sendiri dan untuk sesuatu yang mereka sebut sebagai Pohon Kehidupan (Tree of Life, Seimei no Ki).

Era kekuasaan mereka berakhir sesudah salah seorang dari mereka, yang dikenal sebagai Apollonius (si ‘sayap matahari’), jatuh cinta kepada seorang perempuan manusia yang bernama Celiane, menjadi kehilangan dua belah sayapnya sendiri, dan memulai pemberontakan besar-besaran untuk membebaskan kaum kekasihnya dengan menggunakan mechanical angel legendaris, Aquarion.

Sekitar 12.000 tahun sesudah perjuangan itu, diimplikasikan bahwa sebagai akibat pencemaran lingkungan (sebenernya, aku juga enggak yakin soal ini…), para Shadow Angels bangkit kembali dari tidur panjang mereka di bawah permukaan bumi dan memulai masa penaklukkan baru terhadap umat manusia. Kota-kota besar dihancurleburkan dan manusia-manusia yang tersebar secara massal ditangkap oleh mesin-mesin shuukajuu (harvesting beasts, makhluk panen), untuk dijadikan material pembangun Pohon Kehidupan sekaligus sumber makanan. Kekuatan tempur yang dimiliki manusia tak berdaya menghadapi tentara mecha Cherudim yang mampu melintasi dimensi dan menjadi penjaga mesin-mesin shuukajuu ini.

Sampai suatu ketika, sebuah lembaga rahasia bernama DEAVA (Division of Earth Vitalization Advancement) menelusuri jejak dari legenda tentang Shadow Angels dan berhasil mengekskavasi tiga mesin kuno yang dikenal sebagai Vector Machines. Harapan untuk menang melawan Shadow Angels serta-merta kembali saat diketahui ketiga mesin berbentuk pesawat tersebut sebenarnya merupakan bagian-bagian pembentuk Aquarion.

Namun ketiga Vector Machine tersebut ternyata hanya dapat digerakkan oleh orang-orang terpilih yang memiliki kekuatan istimewa, yang disebut Elements. DEAVA mulai mengumpulkan para Element dari seluruh dunia dan secara khusus mendidik mereka untuk dijadikan pilot-pilot Aquarion, sekaligus harapan terakhir umat manusia untuk bisa selamat dari para Shadow Angels.

Surat Cinta Dari 12.000 Tahun Lampau

Inti ceritanya memang sederhana. Tapi terus terang, eksekusinya agak aneh.

Awalnya, aku juga enggak menyadarinya. Karena presentasinya yang keren sama sekali enggak mencitrakannya demikian. Tapi sebenarnya, Sousei no Aquaion itu, gamblangnya, di samping aksi-aksi mecha, (*drum roll*)juga diisi elemen-elemen filosofi pembelajaran hidup yang dipadukan aspek-aspek yuri dan yaoi.

Enggak, aku enggak bercanda.

Waktu aku pertama menonton ini, aku masih teramat innocent sehingga enggak terlalu memahami innuendo yang sebenarnya terjadi. Tapi elemen-elemen itu ada, benar-benar memainkan semacam peranan dalam cerita, dan mungkin sebenarnya lebih dimaksudkan sebagai bahan lelucon.

Heh. Setelah kupikir lagi. Bahkan keseluruhan isi anime ini mungkin sebenarnya memang dimaksudkan sebagai bahan lelucon. Hanya saja animasinya yang benar-benar wah dan musiknya yang benar-benar keren (Yoko Kanno at her best, lho!), serta tingkah para karakternya yang amaaaat sungguh-sungguh, sangat membuat kita berpikir sebaliknya.  (Aku cuma bisa ngebayangin para pengisi suaranya di balik layar saling berpandangan dengan heran saat membaca naskah-naskah skenario yang mereka terima untuk pertama kalinya.)

Kisah Sousei no Aquarion bermula sebelas tahun sesudah ‘kehancuran besar’ yang ditandai dengan muncul kembalinya Atlandia, ibukota para Shadow Angels. Para Element diyakini sebagai keturunan umat manusia yang mewarisi gen Apollonius dan Celiane. Lalu hal tersebut bagi sebagian orang berujung pada teori bahwa ada sepasang Element yang merupakan reinkarnasi Appolonius dan Celiane, yang akan membawa pembebasan sekali lagi dari para Shadow Angels.

Di awal cerita, reinkarnasi Apollonius dan Celiane diyakini (tapi belum dipastikan) adalah pasangan pemuda aristokrat Sirius de Alisia serta adik perempuannya(!) Silvia de Alisia. Sirius adalah bishonen dingin berambut pirang panjang dengan harga diri tinggi yang sangat mengagumi segala sesuatu yang indah serta piawai dalam menggunakan pedang. Sedangkan Silvia, adalah gadis periang yang sesudah mengetahui tentang dugaan ini, segera mengidap brother complex yang nyaris menjadi incest terhadap kakak laki-lakinya ini.

Tapi saat Apollo, seorang remaja yatim piatu liar yang terlibat dalam upaya pertama DEAVA dalam menyatukan Aquarion di medan perang, masuk ke dalam cerita, situasi berubah teramat drastis. Ia semula dicari oleh agen-agen DEAVA karena diduga memiliki bakat sebagai seorang Element. Tapi ketika upaya penyatuan Aquarion untuk pertama kali itu gagal, ia secara tak terduga sampai mengambil alih kendali Vector Sol, lalu ‘memaksa’ dua Vector Machine lainnya (Vector Luna dan Vector Mars) untuk secara sukses membentuk Solar Aquarion untuk pertama kalinya dan membawa kemenangan pertama umat manusia atas prajurit Cherudim.

Rupanya pada saat itu, karena desakan situasi, kesadaran Apollo telah diambil alih oleh kesadaran Apollonius yang bersemayam dalam dirinya, dan menggerakkannya untuk mengambil alih Aquarion. Kenyataan bahwa Apollo-lah reinkarnasi sesungguhnya dari sang sayap mentari segera menuai dilema. Sebab Apollo adalah anak jalanan yang tak tahu sopan santun dan sulit sekali diajak bekerjasama dengan para Element yang lain. Motivasinya bergabung bersama DEAVA di awal cerita hanyalah karena tersedianya tempat untuk tidur dan makan, serta harapan ia kelak akan bisa membebaskan Baron, sahabat dekatnya, bersama anak-anak jalanan lain di kelompok mereka dari cengkraman Shadow Angels yang telah ‘memanen’ mereka. Ia juga disalahkan oleh sebagian orang atas kondisi Glen, pilot semula dari Vector Sol, yang menderita koma karena kegagalan dalam penggabungan Vector Machine.

Kemunculan Apollo segera menarik perhatian Toma, salah satu petinggi Shadow Angels (juga seorang bishonen) yang sekaligus merupakan orang terdekat dengan Apollonius di masa lalu. Ia merasa Celiane telah ‘merenggut’ Apollonius dari dirinya, dan karenanya, Toma secara khusus menciptakan situasi-situasi yang sulit bagi Apollo agar kepribadian dan kenangannya sebagai Apollonius secepatnya kembali ke permukaan. (Salah satu adegan paling terkenal sekaligus kocak di awal seri memperlihatkan bagaimana Toma berhasil memperangkap dan menyiksa Apollo bersama Solar Aquarion dalam suatu medan energi, kemudian menutup perkataannya dengan berkata, “… Apollonius, satu-satunya LELAKI yang pernah kucintai!” yang segera ditanggapi Apollo dengan teriakan ngeri, “HUUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”)

Tak hanya sekali pula, kesadaran Apollo justru bentrok dengan kesadaran Apollonius yang Apollo tuduh telah menyeret-nyeret dirinya ke dalam masalah. Tapi sedikit demi sedikit, masalah kepribadian Apollo dan teman-teman Element lainnya mulai teratasi berkat bimbingan Gen Fudou, pria misterius yang merupakan penemu asli Vector Machine, yang seakan kembali ke DEAVA setelah lama menghilang karena mendengar kemunculan kembali sang sayap matahari.

Seperti halnya Silvia yang mulai memperoleh potongan-potongan kenangan akan kehidupannya sebagai Celiane, Apollo perlahan memperoleh kenangannya akan kehidupan lampaunya sebagai Apollonius pula. Rasa sebal yang sebelumnya ada di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lain, seiring dengan mulai terlibatnya pihak New United Nations (PBB Baru) ke dalam cerita, yang kemudian memuncak pada perang terbuka besar-besaran melawan pihak Atlandia.

A Sad Journey

Remaja-remaja yang dikumpulkan oleh DEAVA sebagai Element sebenarnya sangat banyak. Tapi mereka yang berperan dalam cerita dan berkesempatan menggunakan Aquarion hanyalah lingkar dalam kawan-kawan Apollo dan Silvia. Selain mereka berdua dan Sirius, terdapat juga Hong Lihua (Reika), seorang gadis mandiri yang pemuram karena kehadirannya semata seakan selalu membawa kesialan bagi orang lain; Pierre Vieira, mantan pesepakbola Amerika Latin yang memakai sifat easy going-nya untuk menutupi kesedihannya; Tsugumi Rosenmeier, gadis berkacamata yang pemalu; serta Jun Lee, remaja berkacamata yang ramah dan ahli komputer.

Masing-masing dari mereka memiliki suatu kekuatan istimewa tersendiri, yang akan turut termanifestasikan saat mereka mengendalikan Aquarion. Dan salah satu aspek bagus seri ini (meski masih dengan cara agak aneh) adalah bagaimana Gen Fudou melatih mereka agar memiliki keadaan mental yang memungkinkan manifestasi kekuatan ini di dalam pertempuran. Apollo dengan keyakinannya yang kuat mampu menghasilkan tinju memanjang (khas super robot) Infinity Punch, Silvia memiliki tenaga besar, Sirius memiliki ilmu pedang sekaligus kekuatan es, Pierre memiliki tendangan bola api Fire Kick, dan lainnya.

Soal mecha, desain dan animasi mecha ini menurutku salah satu yang paling keren di sepanjang masa. Terlepas dari aspek pertempurannya yang terkadang enggak jelas, animasi perubahan wujud dan penggabungan ketiga Vector Machine menjadi Solar Aquarion, Aquarion Luna, dan Aquarion Mars benar-benar keren, halus, sekaligus memukau. Idenya memang sama dengan ide penggabungan tiga pesawat pada Getter Robo, hanya saja untuk kasus Aquarion, masing-masing pilotnya dapat dipertukarkan, dan sekalipun wujudnya sama, kekuatan serta kemampuan yang Aquarion miliki akan berubah tergantung pada siapa yang memilotinya itu.

Berbicara soal masing-masing wujud, Solar Aquarion (warna dasar: merah) merupakan bentuk paling seimbang sekaligus bentuk asli sesungguhnya dari Aquarion. Hanya pada wujud ini, sayap matahari(?) di punggungnya dapat dimanifestasikan. Spesialisasinya adalah pertarungan melee dan menggunakan Vector Sol sebagai penyusun bagian kepala. Wujud ini nyaris selalu dikendalikan oleh Apollo.

Aquarion Luna (warna dasar: hijau) yang menggunakan Vector Luna sebagai bagian kepala, berbentuk ramping dan unggul dalam gerak refleks dan serangan jarak jauh. Wujud ini bersenjatakan semacam busur dan panah, meski dapat juga melakukan serangan-serangan melee. Aquarion pada wujud ni biasanya dikendalikan oleh Silvia dan Reika.

Aquarion Mars (warna dasar: biru) menggunakan Vector Mars sebagai pembentuk kepala dan konon merupakan wujud paling cepat dari Aquarion, dengan badan kekar dan kaki panjang. Sirius karena pedangnya sering menggunakan wujud ini, dan demikian juga Pierre dengan keterampilan sepakbolanya.

Tsugumi dan Jun sama-sama sempat mengemudikan Vector Machine, tapi dalam cerita mereka lebih banyak berpartisipasi melalui ruang kendali. Apabila detak jantungnya meninggi, Tsugumi dapat memicu distorsi ruang yang akan menghasilkan letusan secara spontan. Sedangkan Jun memiliki kemampuan untuk menganalisa dan membaca struktur dari benda-benda di hadapannya.

Ada juga beberapa tokoh pendukung lain, seperti ibu guru Sophia yang perhatian dan komandan Jerome yang kurang kompeten. Tapi peran mereka terbilang kecil dibandingkan tokoh-tokoh lain. Oh ya, ada seorang tokoh Element lain bernama Rena, seorang gadis cantik buta berkursi roda yang kerap melontarkan kalimat-kalimat yang tak jelas maknanya dan diimplikasikan adalah seorang vampir. Uh, dia juga merupakan tokoh favoritku di seri ini.

Omna Magni

Fanservice di seri ini sebenarnya tak banyak. Hanya saja seri ini punya banyak … kecendrungan aneh.  Di samping soal Apollo dan Toma yang sudah disebutkan di atas, ada juga ketertarikan kuat yang Tsugumi rasakan terhadap Reika. Lalu yang paling jelas terlihat, kenyataan merisihkan saat ketiga Vector Machine bergabung. Jadi, masing-masing Element yang memegang kemudi perlu mensinkronkan gelombang prana mereka dan menyatukannya agar Aquarion terbentik. Lalu pada saat prana mereka menyatu itu, ada sensasi luar biasa yang reaksinya agak-agak menyerupai …  uh, yah, kau tahu.

Bicara soal presentasi, musik yang digunakan dalam seri ini sangat, sangat bervariasi. Mulai dari jazz sampai nada-nada balada yang sendu. Tapi yang jelas, lagu pembukanya semata yang dinyanyikan oleh Akino sudah lebih dari cukup untuk mendorong orang sampai tertarik pada seri ini.

Serius. Lagu pembuka yang pertama dan arti lirik-liriknya memang sekeren itu.

Mechanya memang keren. Tapi gaya visual dan dunianya sendiri mungkin takkan cocok dengan sebagian orang. Latar dunianya di mataku kayak … latar dunia yang ditampilkan dalam lukisan-lukisan zaman Renaissance? Ajaib, Latin, bernuansa coklat dengan bentuk-bentuk latar yang mengingatkan dunia mimpi, kurang lebih kayak gitu. Desain karakternya juga tak terlalu menonjol. Tapi semua elemennya tetap bisa nyatu dengan baik. Sampai menjelang akhir seri, seenggaknya.

Seperti seri-seri super robot zaman dulu, ceritanya lumayan mengikuti format ‘monster mingguan.’ Meski hal itu agak berubah menjelang akhir-akhir seri. Ada fokus ke kejadian-kejadian yang dialami oleh para karakternya. Tapi pemaparan kejadian-kejadiannya agak enggak jelas terkait ceritanya secara garis besar. Mungkin bakal ada yang agak terganggu juga dengan koherensinya (beberapa episode kadang tak jelas benar-benar ada maknanya atau tidak). Apalagi bila menilai akhir ceritanya, di mana semacam kesepakatan tercapai antara kaum manusia dan Shadow Angels demi terselamatkannya dunia, serta terpisahnya Apollo dan Silvia sampai reinkarnasi mereka berikutnya 12.000 tahun lagi mendatang. Tapi terlepas dari itu, ini benar-benar sebuah seri yang lumayan menonjol pada masanya (apapun alasan sebenarnya yang membuatnya menonjol).

Yah, aku cuma merasa perlu sedikit mengulas lagi seri ini bersama kemunculan seri Aquarion Evol yang baru.

Oh ya. Di samping seri TV Sousei no Aquarion yang terdiri atas 26 episode, sempat keluar juga versi OVA yang mengangkat inti konflik yang sama, tapi memberikan pendekatan cerita berbeda. Di samping porsi hubungan antara karakter-karakter Apollo, Toma, Sirius, serta Silvia seperti yang ada di seri TV-nya; karakter Reika mendapat porsi perkembangan lebih banyak. Serta ada juga penambahan karakter legendaris Scorpius, yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Apollonius di masa lalu, yang identitas reinkarnasinya di masa kini banyak dipertanyakan.

Versi OVA ini memiliki nuansa yang agak berbeda dibandingkan seri TV-nya, dan lumayan untuk dilihat bila kau suka tema mitologinya secara umum, tapi ingin melihat penggaliannya secara lebih mendalam.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: S; Perkembangan: C+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B-

29/11/2010

Macross Frontier: The False Songstress

Belum lama ini aku kesampaian menonton Macross Frontier: Itsuwari no Utahime (subjudul kurang lebih berarti: ‘sang diva palsu’), film layar lebar pertama dari seri animasi Macross Frontier yang pertama disiarkan pada tahun 2007 lalu.  Film layar lebar ini pada dasarnya merupakan reintepretasi ulang dari cerita yang disampaikan dalam seri televisinya. Aku semula mengira bahwa ini merupakan film kompilasi, seperti halnya kebanyakan movie adaptasi seri TV mecha lainnya.

Tapi ternyata, aku salah besar.

Don’t be late to my concert night!

Berlatar 30 tahun sesudah akhir seri televisi yang paling pertama, Super Dimensional Fortress: Macross, dengan bantuan teknologi Protoculture yang diketemukan kembali dari reruntuhan kapal induk Macross yang dulu pernah jatuh ke Bumi, umat manusia telah mulai melakukan eksplorasi ke angkasa raya untuk menemukan planet-planet baru yang bisa dihuni. Upaya ini dilakukan demi mencegah kemungkinan musnahnya umat manusia seperti yang hampir terjadi dalam perang besar melawan bangsa alien Zentraedi, yang akhirnya berakhir sesudah bangsa Zentraedi berhasil diperkenalkan kembali akan adanya ‘cinta kasih’ dan ‘budaya.’

Di salah satu kapal induk penjelajah ini, Macross Frontier, cerita dibuka dengan renungan remaja Saotome Alto tentang betapa inginnya ia bisa terbang di sebuah langit sungguhan secara bebas—tak terkungkung oleh kubah kaca pencipta langit sintetik seperti yang menaungi kota di Frontier.

Alto adalah remaja di SMA Mihoshi yang tengah menuntut ilmu untuk menjadi seorang pilot. Ia sebenarnya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mendalami seni peran kabuki. Ayahnya pun adalah seorang pemain kabuki ternama. Tapi Alto memberontak atas keinginan ayahnya yang berharap Alto mengikuti jejaknya, dan akhirnya lari dari rumah dan memilih untuk menjadi pilot. Sepanjang waktu, ia terus didera pertanyaan tentang benar tidaknya keputusan yang telah ia ambil ini, yang tercermin dari keinginannya untuk ‘terbang bebas’ tanpa terkekang oleh apapun yang mungkin menahannya.

Pada suatu ketika, ia dan teman-temannya diminta untuk menjadi ‘penerbang latar’ bagi penyanyi idola terkenal dari kapal induk Macross Galaxy, Sheryl Nome, yang akan mengadakan konster di Frontier. Mereka, dengan mengadakan perangkat terbang portabel Ex-Gear, akan terbang mengitari panggung konser dan bertanggung jawab dalam pemberian efek-efek khusus.

Rencana konster ini disambut dengan antusias oleh para penduduk Frontier. Terutama oleh gadis sahabat Alto dari sekolah lain yang bekerja paruh waktu di restoran Nyan-nyan, Ranka Lee. Ranka merupakan penggemar berat Sheryl, dan ia diam-diam bermimpi suatu saat bisa menjadi penyanyi tenar seperti dirinya juga.

Tapi konser meriah tersebut berakhir mendadak saat Macross Frontier tiba-tiba diserang oleh makhluk-makhluk luar angkasa misterius serupa serangga yang belakangan dikenal dengan sebutan ‘Vajra.’ Dalam kekacauan yang berlangsung, Alto mendapati dirinya terdampar bersama Ranka dan Sheryl. Lalu dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan bagaimana keberadaan organisasi paramiliter swasta SMS (Strategic Military Services) terkuak.

SMS rupanya adalah civilian miltary provider yang telah dipekerjakan oleh pemerintahan NUNs (New United Nations) untuk menyediakan sekaligus menguji persenjataan baru yang akan digunakan untuk pasukan militer mereka. Dalam pertempuran yang berlangsung, terlihat bagaimana hanya persenjataan canggih yang dibawa SMS sajalah yang mampu menjadi tandingan bagi ketangguhan fisik Vajra. Tapi kejutan terbesar yang Alto dapatkan adalah kenyataan bahwa dua teman sekolahnya, Michel Blanc dan Luca Anggeloni (dalam seri TV dikisahkan karena latar belakang keluarga mereka) juga adalah pegawai SMS. Untuk menjaga kerahasiaan keberadaan SMS, Alto mendapat tawaran untuk secara formal bergabung menjadi pilot pesawat tempur Valkyrie VF-25 Messiah.

Dengan demikian, kehidupan baru Alto bersama SMS pun dimulai.

@ Formo

Pendapat bahwa inti cerita movie ini sama persis dengan seri TV-nya sebenarnya tak salah. Tapi eksekusinya yang berbeda benar-benar menjadikannya lebih bagus secara mencengangkan.

Cerita berkembang dengan dihubunginya kembali Alto oleh Sheryl yang ingin meminta bantuan dalam mencari sebelah antingnya yang hilang. Anting tersebut hilang dalam kekacauan yang berlangsung sebelumnya, dan Sheryl tak tahu lagi siapa yang bisa ia mintai tolong karena anting tersebut memiliki arti yang teramat mendalam baginya.

Melalui rangkaian adegan yang terbentuk sesudah itu, kita disuguhi fokus lebih terhadap perkembangan hubungan mereka berdua yang anehnya tak ada dalam seri TV. Hal tersebut menjadikan baik Alto maupun Sheryl tokoh-tokoh yang lebih simpatik, dan ini diperkuat dengan performa kedua pengisi suara mereka yang di sini memainkan peranan mereka dengan benar-benar optimal.

Ranka, bintang baru yang memulai debutnya dan akan menjadi saingan Sheryl, tentu saja juga mendapatkan porsi perkembangan karakter yang pas. Trauma yang menyegel ingatan masa lalunya yang terkait dengan Vajra masih memegang peranan besar. Tapi segala sesuatu soal debutnya tak dieksposisi berlebihan seperti yang dilakukan dalam versi seri TV.

Karakter-karakter sampingan seperti Michel dan Grace O’Connor juga secara efektif mendukung perkembangan karakter yang dialami Alto dan Sheryl. Di versi ini terlihat betapa masing-masing dari mereka seseungguhnya memiliki ikatan persahabatan yang mendalam dengan satu sama lain, yang sekali lagi, tak begitu tersampaikan dalam seri TV-nya.

Sisa persoalan relationship lain hanya sebatas diimplikasikan saja. Segala sesuatu menyangkut Ozma Lee—kakak angkat Ranka yang secara diam-diam juga bekerja sebagai pemimpin Skull Squadron SMS—juga hanya dihadirkan bersama segala sangkut pautnya dengan Ranka dan Vajra. Tokoh-tokoh seperti Leon Mishima dan Brera Sterne (yang kini ditampilkan sebagai bodyguard Sheryl dan Grace) juga masih belum terlalu berperan dalam versi cerita ini. Jadi perhatian film ini tak pernah melenceng dari hubungan segitiga antara Alto, Sheryl, dan Ranka; dan pendekatan itulah yang membuatnya menjadi bagus!

Cerita mencapai klimaksnya saat Alto mencurigai Sheryl sebagai mata-mata pihak Galaxy, yang sengaja mendekatinya agar bisa mendapatkan informasi rahasia dari SMS. Tapi dugaan bahwa orang-orang Galaxy sengaja memancing Vajra ke Frontier terbantahkan saat tanda SOS telah diterima dari Galaxy yang kini di ambang kehancuran akibat serangan Vajra. Saat Ozma bersama Catherine Glass, putri presiden pemerintahan Frontier, mengetahui kenyataan sebenarnya yang pemerintahan Frontier sembunyikan ini, Sheryl secara mengejutkan menyewa jasa SMS untuk mengirim skuadron pasukan tempur ke Galaxy dan menyelamatkan para pengungsi. Hasilnya adalah salah satu adegan animasi pertempuran mecha paling memukau yang pernah kulihat.

Memang masih ada sejumlah subplot yang dibiarkan menggantung. Tapi movie ini memang baru melingkupi setengah cerita. Kisah ini masih akan dilanjutkan dan dituntaskan dalam film layar lebar kedua yang akan keluar awal tahun 2011 nanti, Macross Frontier: Sayonara no Tsubasa (subjudul kurang lebih berarti: ‘sayap-sayap perpisahan’).

Apa seri ini masih akan bisa diakhiri sebagaimana semestinya? Yah, kita lihat saja nanti. Tapi dengan melihat gelagatnya—terutama dari perkembangan plot yang dimulai dari Sheryl menginspirasi Alto, lalu dilanjutkan dengan Alto balik menginspirasi Ranka—sepertinya para pembuat telah melakukan pengkajian teramat mendalam tentang apa sesungguhnya yang bisa mereka lakukan dengan cerita ini. Kurasa kita bisa menghasilkan hasil yang baik.

(Oya. Untuk peringatan, ada beberapa adegan nudity yang agak mengganggu di dalamnya. Tapi kayaknya soal ini enggak ada artinya aku permasalahkan.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A-; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

11/11/2009

Macross Frontier

Entah mengapa, aku sedikit malas mengulas ini. Aku menikmatinya, cuma ada sesuatu tentang seri ini yang membuatku enggan mengingatnya sesudah mengikutinya sampai akhir.

Seperti halnya Gundam Seed, Macross Frontier (atau Macross F) merupakan seri Macross yang ditujukan bagi generasi baru. Seri baru ini dibuat cukup lama sesudah waralaba ini vakum. Seri Macross terakhir sebelum Macross Frontier adalah seri OVA Macross Zero yang keluar pada tahun 2002 dan berakhir dengan cara agak aneh, serta lebih dinikmati oleh kalangan terbatas. Tapi untuk seri TV, yang terakhir sebelum ini adalah Macross 7, yang cukup menarik perhatian untuk waktu lama semenjak pertama keluar tahun 1994.

Macross Frontier sendiri pertama keluar dalam format seri TV pada pertengahan tahun 2008. Jumlah episodenya sebanyak 25. Beberapa waktu kemudian, seri ini diceritakan ulang dalam bentuk dua film layar lebar (dalam cerita alternatif yang agak berbeda dari versi seri TV), masing-masing pada tahun 2009 (dengan subjudul Itsuwari no Utahime) dan 2011 (dengan subjudul Sayonara no Tsubasa, yang sekaligus menuntaskan isu cinta segitiga di dalamnya). (Aku sempat bahas kedua film layar lebarnya secara terpisah. Satu di sini dan satu lagi di sini.)

Buat yang belum tahu, seri Macross merupakan waralaba anime mecha lawas yang menonjol pada dekade 1980an seperti halnya Gundam. Di samping mecha-mecha humanoid yang dapat berubah bentuk jadi pesawat, ciri khas utama seri ini ada pada adegan pentas musik serta jalinan cinta segitiga yang (hampir) selalu ada di dalamnya.

Pencetus asli waralaba Macross adalah desainer mecha Kawamori Shoji yang pertama mendesain konsep pesawat dan robotnya, dengan konsep seri pertama yang dibuat oleh Studio Nue.

Kawamori-san juga yang kali ini menjadi sutradara sekaligus pencetus cerita dari Macross Frontier, dengan dibantu oleh Kikuchi Yasuhito dan Yoshino Hiroyuki.

Produksi animasi kali ini dibuat studio Satelight, yang menjadi studio utama yang menangani waralaba ini semenjak produksi OVA Macross Zero di tahun 2002.

Macross Frontier dibuat untuk menyambut ulang tahun ke-25 dari waralaba ini. Di dalamnya, mereka membungkus kembali berbagai elemen dari seri-seri Macross lama (alien, pesawat Valkyrie yang bisa berubah ke bentuk humanoid, cinta segitiga, penyanyi-penyanti pop) dalam suatu kemasan baru dengan kualitas animasi yang benar-benar mencolok.

Meski termasuk anime mecha, aku sebenarnya bukan penggemar seri-seri Macross. Aku sangat terkesan oleh seri Macross yang paling pertama. Tapi perasaanku terhadap seri-seri berikutnya agak campur aduk. Tapi sewaktu pertama melihat Macross Frontier, kesan pertamaku: Wow, ini benaran menarik. Singkatnya begitu.

(Tulisan ini kuedit ulang di Februari dan Maret 2016, untuk menyambut seri baru Macross Delta yang akan keluar April nanti. Uh, sori untuk kualitas tulisan yang lama.)

Sebelum Konser

Ceritanya berlatar di kapal induk Macross Frontier (aku menuliskannya dalam format miring karena memang itu nama kapalnya), sekian belas tahun sesudah armada-armada kapal raksasa sejenis mereka meninggalkan planet Bumi demi menjelajahi angkasa raya. Mereka mencari tempat-tempat hunian baru melalui teknologi perpindahan dimensi ruang yang disebut ‘fold’ yang umat manusia telah berhasil kembangkan dari teknologi asing Protoculture yang ditemukan dari kapal induk Macross yang paling pertama.

(Latar belakang kepergian umat manusia diceritakan dalam seri Macross paling pertama, The Super Dimension Fortress Macross. Singkat ceritanya adalah untuk menyebar benih-benih spesies manusia sesudah mereka nyaris ‘punah’ dalam peperangan melawan ras alien Zentradi.)

Tokoh utama kali ini adalah Alto Saotome, remaja lelaki ‘cantik’ yang memberontak terhadap tradisi seni kabuki yang ditekankan oleh ayahnya dengan bersekolah di jurusan penerbangan. Pada awal cerita, Alto depresi karena langit buatan di dalam kapal yang diterbanginya memiliki luas yang amat terbatas. Sehingga meski sudah meninggalkan rumah, Alto tetap merasa ‘terkekang’ karena belum menemukan kebebasan yang dicarinya.

Sampai suatu waktu, penyanyi pop terkenal Sheryl Nome dari kapal induk Macross Galaxy berkunjung ke Frontier untuk mengadakan konser. Alto dan dua kawan dekatnya, si playboy Mikhail Blanc dan Luca Angelloni yang mungil namun cerdas, mendapat pekerjaan sebagai penerbang latar dalam penampilannya nanti.

Sebagai murid-murid jurusan penerbangan, Alto dan kawan-kawannya akan terbang saat konser ala penari, melakukan segala macam manuver dengan menggunakan perangkat EX-Gear yang dapat dipasangkan pada badan, yang sekaligus dapat menjadi antarmuka pengendali saat hendak memiloti pesawat.

Menjelang pelaksanaan konser, di halaman belakang gedung pertunjukan yang berbatasan dengan hutan, Alto secara kebetulan menolong Ranka Lee, seorang gadis manis yang sangat mengidolakan Sheryl. Terinspirasi oleh Sheryl, (dan sangat seperti kasus Lin Minmei dari seri Macross pertama) Ranka diam-diam juga memiliki cita-cita untuk menjadi penyanyi. Ia juga meminta Alto untuk mengunjungi restoran masakan Cina Nyan-Nyan tempat Ranka bekerja agar ia bisa membalas kebaikannya nanti.

Civilian Military Provider

Meski pertemuan pertama antara Alto dan Sheryl kurang mulus karena sifat mereka yang bertentangan, konser Sheryl berhasil terlaksana dengan sukses. Namun konser terpaksa dihentikan akibat serangan tiba-tiba dari ras alien misterius yang disebut Vajra.

Vajra adalah makhluk-makhluk serupa serangga raksasa yang bisa tiba-tiba saja muncul lewat perantara lubang dimensi fold. Mereka terbukti menjadi lebih dari sekedar tandingan pesawat-pesawat Valkyrie NUNS (New United Nations) yang menjadi basis pertahanan Frontier. Para Vajra yang seakan liar ini memiliki ‘sesuatu’ yang mampu mendistorsi dimensi ruang, yang menjadikan senjata-senjata konvensional pasukan NUNS menjadi tak mempan terhadap mereka.

Dalam keadaan genting, sepasukan pesawat Valkyrie misterius yang terpisah dari NUNS tiba-tiba saja muncul dan membalikkan keadaan. Belakangan diketahui kalau pasukan ini berasal dari perusahaan militer swasta SMS (Strategic Military Services) yang dimiliki pengusaha Zentradi ternama Richard Bilrer. Pesawat-pesawat ini lebih canggih dan tampak jelas dikemudikan oleh orang-orang yang lebih ahli.

Alto, tercengang akibat kemunculan Vajra dan pasukan SMS, kini terjebak dalam aksi tembak-menembak karena berusaha menolong Ranka yang terpisah dari kerumunan penonton lain. Salah satu pesawat variabel Valkyrie VF-25 Messiah yang dikemudikan Henry Gilliam dari SMS kemudian menyadari keberadaan mereka dan mencoba ikut menolong.

Tapi upaya berani Gilliam untuk meloloskan Alto dan Ranka berakhir tragis saat salah satu Vajra tiba-tiba menyergap Gilliam ketika keluar kokpit.

Terdesak dan nekad, Alto akhirnya mengambil alih kemudi pesawat Messiah milik Gilliam dengan menggunakan EX-Gear yang masih dikenakannya. Lalu secara mengejutkan, ia berhasil membawa pesawat itu melarikan diri dari kejaran Vajra sambil membawa Ranka.

Keadaan darurat diterapkan di Frontier sesudah serangan mereda. Vajra ditetapkan sebagai ancaman yang dapat menyerang sewaktu-waktu dan keadaan siaga diberlakukan sampai informasi tentang mereka berhasil dikumpulkan.

Alto dimarahi karena sudah membawa lari sebuah Valkyrie secara seenaknya, terutama mengingat statusnya sebagai seorang warga sipil. Namun Alto balik menuntut untuk bisa bergabung bersama SMS. Alasannya agar bisa melindungi Frontier, meski sebenarnya ia masih punya sejumlah alasan pribadinya yang lain.

Secara mengejutkan, Alto mendapati bahwa kedua sahabatnya, Mikhail dan Luca, ternyata semenjak awal juga adalah anggota SMS. Mikhail berperan sebagai penembak jitu dari jarak jauh, sementara Luca adalah ahli radar dan pemantauan. Di samping itu, pemimpin Skull Squadron andalan SMS, yang telah membalikkan keadaan melawan Vajra tersebut, ternyata tak lain adalah Ozma Lee, kakak angkat Ranka, yang selama ini merahasiakan profesinya yang sesungguhnya dari sang adik.

Bersama perubahan situasi ini, Alto terseret ke dalam pusaran kebimbangan saat secara perlahan mulai menjalin hubungan mendalam dengan Sheryl dan Ranka, dua orang gadis yang menjadi sepasang sayap yang membawanya terbang tinggi.

Siapa yang Akan Kau Cium?

Macross Frontier secara garis besar bercerita tentang kehidupan orang-orang di kapal Frontier selama mereka mempertahankan diri dari ancaman Vajra. Untuk anime berdurasi 25 episode, ada banyak tokoh dan jalinan hubungan yang diperkenalkan.

Di samping bersekolah, Alto harus bekerja keras agar bisa diterima sebagai anggota SMS yang pantas menggantikan Gilliam. Akibat pertemuan langsungnya dengan Sheryl, Ranka bertekad untuk secara serius memulai karirnya sebagai penyanyi. Ia berjumpa dengan Elmo Kridanik, manajer sekaligus presiden dari agensi kecil Vector Productions, yang melihat bakat terpendam Ranka yang dengan penuh tekad ingin ia poles. Sheryl sendiri, yang kini terpaksa harus tinggal di Frontier sesudah putusnya kontak Frontier dengan Galaxy akibat serangan Vajra, berusaha menemukan kembali makna hidupnya lewat pertemuannya dengan Alto dan Ranka.

Ozma Lee, kakak laki-laki Ranka yang keras, ternyata pernah menjalin hubungan dengan Catherine Glass, putri presiden NUNS Howard Glass. Namun Catherine statusnya saat ini bertunangan dengan Leon Mishima, bawahan Howard, yang dalam perkembangan cerita mulai menyadari keterkaitan antara kemunculan Vajra dan kehadiran Ranka di konser Sheryl.

Clan Clang, teman masa kecil Mikhail dan sesama pegawai SMS, adalah Zentradi yang memiliki kelainan genetik langka yang membuatnya bersosok anak-anak dalam wujudnya yang telah di-micronized, meski dirinya bersosok dewasa dalam wujud raksasanya yang normal. Karenanya, ia memiliki hubungan pertemanan yang unik dengan Mikhail, dan Alto sedikit banyak menjadi saksi mereka.

Grace O’Connor, manajer Sheryl yang berkemampuan, menyembunyikan sesuatu tentang dirinya yang kerap membuat Sheryl kesal.

Lalu ada Brera Sterne, pilot misterius dari Galaxy yang datang bersama pesawat Valkyrie yang tak kalah misteriusnya, yang kerap muncul tiba-tiba di hadapan Alto dan Ranka.

Seiring dengan berkembangnya masing-masing tokoh, secara perlahan tapi pasti teka-teki tentang asal-usul Vajra dan alasan penyerangan berkala mereka atas Frontier semakin terkuak. Ada suatu rencana terselubung yang benar-benar besar di balik kedatangan Sheryl ke Frontier. Semuanya ternyata terhubung dengan sebuah eksperimen gagal di masa lalu, serta suatu persekongkolan rahasia demi menguasai alam semesta…

What About My Star?

Sebagai bentuk peringatan atas ulang tahun ke-25 waralaba Macross,  ada lumayan banyak referensi terhadap seri-seri Macross terdahulu yang bisa ditemukan buat mereka yang jeli.

Ranka, Clang, dan banyak tokoh lainnya misalnya, dikisahkan sama-sama memiliki darah ras manusia raksasa Zentradi yang kini telah berdamai dengan manusia Bumi. Ranka sendiri punya seperempat darah Zentradi, yang membuatnya punya kemampuan untuk bertahan agak lama di ruang hampa udara, serta dalam kondisi-kondisi tertentu mampu mengendalikan arah pergerakan rambutnya.

Ada sejumlah adegan yang Alto lakukan yang sangat mirip adegan-adegan di seri-seri Macross terdahulu. Penyelamatan Alto terhadap Ranka serupa dengan penyelamatan  Hikaru Ichijyo atas Minmei pada seri Macross pertama. Lalu kendali Valkyrie jarak jauh yang Alto lakukan menjelang penghujung cerita juga mirip dengan yang Isamu Dyson lakukan di Macross Plus.

Lagu-lagu dari grup musik ‘lawas’ Fire Bomber dari seri Macross 7 ditampilkan sebagai lagu-lagu favorit Ozma. Ada ‘adegan nanas’ yang mirip dengan yang ada di Macross pertama. Bahkan ada satu episode yang secara khusus merangkum apa-apa yang terjadi dalam Macross Zero, dengan menampilkannya sebagai suatu proses syuting film layar lebar.

Meski tak mulus di beberapa bagian, dan jelas ada keterbatasan durasi dalam penyampaian cerita, drama kehidupan, cinta, dan komedi, yang sekaligus diwarnai aksi pertempuran mecha seru antara alien dengan pesawat-pesawat yang bisa berubah bentuk, mewarnai keseluruhan seri ini. Ceritanya juga ditutup dengan salah satu adegan pertempuran terakhir paling ‘menggelegar’ yang pernah aku lihat. Adegan pertempuran terakhir di Macross Frontier menurutku bahkan lebih memuaskan daripada adegan pertempuran akhir di Gundam 00. Melihatnya, terus terang aku terkejut sendiri dengan kualitas akhir seri ini.

Membahas soal teknis, Macross Frontier memiliki kualitas aspek presentasi yang luar biasa. Visualnya termasuk salah satu yang paling bagus untuk masanya, dengan warna-warna terang nan tajam dan pergerakan animasi yang halus dan lancar. Ada satu adegan sederhana ketika Ranka memanjati sebatang pohon tumbang yang takkan kulupakan karena saking mulus eksekusinya.

Musiknya ditangani oleh Kanno Yoko, yang kemampuan aransemennya tak perlu diragukan lagi. Beberapa lagu tema Macross Frontier yang dibuat khusus oleh beliau bertahan cukup lama di posisi-posisi atas tangga lagu Oricon Chart selama serial ini ditayangkan. May’n, penyanyi yang waktu itu masih relatif belum dikenal dan menjadi pengisi suara nyanyian Sheryl, mendapat sorotan teramat besar melalui seri ini berkat kualitas vokalnya. Lagu penutup “Diamond Crevase” yang dibawakannya memberi nuansa yang benar-benar khas untuk Macross Frontier. Lagu pembuka seri ini, “Triangular”, juga benar-benar mencolok. Vokalnya dibawakan salah satu seiyuu favoritku, Sakamoto Maaya, yang juga sempat menyumbang suaranya untuk peran Ranshe Mai, mendiang ibu Ranka.

Macross Frontier sekaligus menandai debut seiyuu Nakajima Megumi sesudah audisi terbuka yang terbilang ketat. Selain menyanyi, suara renyahnya juga menghidupkan karakter Ranka. Peran ini kalau tak salah juga melibatkannya dalam pengembangan salah satu edisi Vocaloid. (Kalau tak salah, Gumi?)

Sedikit bicara soal mecha, pesawat-pesawat Valkyrie di seri ini masih menampilkan manuver-manuver adu kelincahan berkecepatan tinggi. Meski lebih mencolok di drama, adegan-adegan aksi di Macross Frontier terbilang keren.

Agak susah menjelaskannya, berhubung aku agak awam di soal teknologinya. Tapi pesawat-pesawat Valkyrie di Macross Frontier dilengkapi peralatan-peralatan tambahan yang membuatnya berkesan lebih ‘berat’ dibandingkan seri-serinya yang telah lalu. ‘Berat’ tapi lebih ‘cepat’ di waktu yang sama.

Pastinya, adegan-adegan Itano Circus (kejaran-kejaran pesawat di antara tembakan misil berjumlah banyak) yang mempopulerkan seri ini masih tetap ada.

Sori. Karena aku juga kurang mendalaminya, aku enggak bisa komentar lebih banyak.

Selain kapal Macross Frontier yang dilengkapi kota hunian dan sebagainya (serta dapat memisah dengan kapal induknya sendiri, Battle Frontier), kapal induk utama di seri ini sebenarnya adalah Macross Quarter milik SMS yang dikomandoi oleh Jeffrey Wilder. Seiring bertambah rumitnya perpolitikan di Frontier, mereka juga berperan penting dalam resolusi konflik melawan para tokoh antagonisnya (yang bakal spoiler besar kalau kuungkap siapa identitasnya).

Sebenarnya, ada banyak aspek sains fiksi dari seri ini yang benar-benar keren. Selain seperti Ex-Gear yang kusinggung di atas dan… um, bagaimana Macross Quarter masih dilengkapi meriam besar dan dapat berubah ke bentuk humanoid (walau mungkin berukuran lebih kecil dari kapal induk Macross di seri-seri sebelumnya?), penggambaran kehidupan di Frontier terbilang menarik. Ponsel yang para karakter gunakan memiliki semacam bentuk organik. Lalu desain interior, tata kota, dan sebagainya, secara visual benar-benar menarik untuk dilihat.

Macross Frontier juga menampilkan semacam revolusi dalam penggambaran adegan-adegan konser, yang kini banyak dihiasi CG untuk menampilkan efek-efek holografis. Ini sebenarnya paling kelihatan di dua film layar lebarnya sih. Tapi bahkan di seri TV-nya pun, adegan-adegan konsernya buatku memukau. Aku sebenarnya tak terlalu menggemari seri-seri bergenre idol, tapi bahkan aku pun lumayan terkesan dengan kualitasnya.

Tentu saja, seperti tradisi Macross, nyanyian Sheryl dan Ranka berperan penting dalam penyelesaian konflik melawan Vajra. Tapi lebih banyak soal itu lebih baik kalian lihat sendiri.

Untuk kekurangannya, ada sejumlah subplot yang penyelesaiannya agak seadanya. Beberapa pertanyaan sayangnya kurang terjawab; seperti soal identitas sesungguhnya Richard Bilrer (diimplikasikan bahwa keterkaitannya dengan jaringan fold semata-mata untuk menemukan jejak Minmei, yang pada penghujung kisah Macross pertama, dikisahkan hilang bersama Hikaru, Misa Hayase, dan awak-awak lain di armada kapal induk Megaroad), bagaimana teknologi Valkyrie tercanggih jatuhnya ke pihak swasta SMS dan bukannya militer NUNS (lagi, karena intervensi Bilrer?), serta kejelasan lebih soal hubungan Sheryl dengan kakak beradik Sara dan Mao Nome yang menjadi dua tokoh utama di Macross Zero. Tapi cara penuturannya yang pas justru memperkaya warna-warni seri ini. Jadi sejujurnya, aku pribadi tak terlalu merasa ada keluhan.

Mungkin perkembangan karakternya bisa dibuat lebih mulus. Tapi dengan jumlah episode yang tak sebanyak seri Macross pertama maupun Macross 7, kurasa hal tersebut bisa dimaklumi.

Dua film layar lebar Macross Frontier merupakan penceritaan ulang dari seri TV-nya. Tapi sekali lagi, keduanya bukan film kompilasi. Keduanya memaparkan cerita yang sama sekali baru. Jadi walau ada dua movie itu, seri TV-nya tetap punya daya tariknya tersendiri. Kayak gimana hasilnya ntar tentu perlu kita liat nanti.

Akhir kata, mungkin masih jauh dari sempurna. Tapi kalau kau tertarik pada waralaba Macross, Macross Frontier merupakan seri yang pas untuk mulai mengenalnya. Dramanya lumayan pelik, dan jumlah tokohnya yang banyak mungkin membuatnya agak susah diikuti. Di samping itu, ada beberapa hal yang mungkin membuatmu tak nyaman (seperti fanservice-nya misalnya). Tapi ceritanya terbilang mengesankan, dan itu cukup memuaskan untuk beberapa orang.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: A