Posts tagged ‘Shinichiro Watanabe’

18/01/2013

Cowboy Bebop

Dua hari lalu, aku selesai menonton episode kedua puluh enam dari Cowboy Bebop.

Memang perlu waktu lama. Karena alasan yang nanti akan kujelaskan, aku memang enggak bisa menonton episode-episodenya sekaligus. Tapi memang ada kepuasan tersendiri sesudah menontonnya. Lalu akhirnya aku bisa mengerti kenapa anime ini disebut sebagai salah satu mahakarya anime sains-fiksi, yang menjadikannya salah satu seri anime terbaik dari era 90-an.

Pertama digagas di awal tahun 1998, tapi terkendala penayangannya secara menyeluruh hingga tahun 1999 (konon karena beberapa adegan aksi yang dipandang terlalu keras di dalamnya), Cowboy Bebop merupakan buah karya tim pimpinan Watanabe Shinichirou di studio Sunrise yang mencoba menghasilkan sesuatu yang berbeda. Nama-nama penting di dalamnya mencakup Nobumoto Keiko sebagai penulis skenario, Kanno Yoko yang menangani musik, Kawamoto Toshihiro selaku desainer karakter serta Yamane Kimitoshi selaku desainer mekanik.

Agak susah ngejelasin hebatnya seri ini gimana.

Pertama, seri ini ngedobrak batasan-batasan konvensi seri-seri anime pada masanya. Jadi, dorongan buat bikin ini datang dari seri-seri anime koboi luar angkasa yang lagi populer saat itu, meliputi Outlaw Star dan Trigun (aku ingat jelas masa ini, soalnya itu pas anime lagi mulai mendunia). Tapi jadinya itu sesuatu yang beneran… lain.

Cowboy Bebop itu kayak bukan anime.

Ini kayaknya paling kerasa banget di masa waktu seri ini pertama keluar.

Ini kayak… semacam seri live action. Kayak semacam novel fiksi ilmiah. Sesuatu yang enggak dibikin buat penonton anime pada umumnya. Tapi lebih buat penonton-penonton dewasa yang kayaknya bukan jenis yang bakal suka nonton anime.

Aku ngatain ini bahkan dengan ngebandinginnya dengan beberapa judul anime yang emang dibikin dengan sasaran orang dewasa. Kayak Ghost in the Shell atau Patlabor atau Jin-Roh. Bahkan di masa sekarang, kayaknya enggak ada judul anime lain yang benar-benar bisa dibilang sejenis dengannya.

Terus mungkin karena itu, karena kita enggak diharuskan tahu sedikit-banyak tentang budaya Jepang buat menikmatinya, ini jadi salah satu judul yang pada masanya sangat mengangkat ‘citra’ anime di dunia barat. (Sekitar setahun lalu, novelis sains fiksi populer Orson Scott Card menyebutkan bagaimana Cowboy Bebop mengubah persepsinya terhadap dunia anime dan ia menilainya sebagai cerita yang menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam genre sci-fi.)

Kau Suka Jazz?

Aku perlu waktu lama buat mengikuti Cowboy Bebop karena yang disajikannya sebenarnya bukan ‘cerita’, melainkan ‘premis’.

Jadi latarnya, di tahun 2071, umat manusia telah menemukan teknologi untuk melakukan perjalanan lebih cepat dari cahaya melalui penciptaan gerbang-gerbang hyperspace (mungkin agak kayak… itu loh, yang ada di Mass Effect?). Tapi suatu kecelakaan besar terjadi di salah satu gerbang yang berada di dekat bulan, mengakibatkan hancurnya bulan dan bencana kehancuran besar di Bumi. Sebagai gantinya, manusia telah melakukan penjelajahan terhadap seluruh tata surya, dan planet-planet lain macam Venus, Mars, Jupiter, dan satelit-satelit alaminya telah diteraform sebagian, sehingga dapat ditinggali oleh manusia.

Luasnya cakupan kependudukan umat manusia membuat tindak-tindak kriminal yang merajalela sulit diawasi. Badan kepolisian ISSP memberi izin kepada pemburu-pemburu hadiah untuk membantu menangkap penjahat-penjahat yang singkatnya, wanted… dengan berbagai buronan dan sindikat berbahaya.

Cowboy Bebop berfokus pada suka-duka sekelompok pemburu bayaran yang berbasis di kapal ruang angkasa Bebop. Mereka meliputi seorang pemuda bernama Spike Spiegel, yang menutupi kerumitan masa lalunya dengan sikap santai dan easy going; partner paruh baya Spike bernama Jet Black, mantan polisi yang muak pada kebusukan di ISSP dan sekaligus merupakan pemilik kapal Bebop; dan ditambah dua orang baru yang kemudian ikut numpang bersama mereka: Faye Valentine, perempuan super atraktif dengan asal-usul misterius yang bisa menggoda sekaligus muram; serta Ed (nama aslinya kepanjangan), seorang gadis eksentrik yang sekaligus adalah hacker super jenius yang Bebop punyai. Belakangan mereka juga sempat memungut seekor anjing lucu bernama Ein… yang tanpa sepengetahuan yang lain sebenarnya sama sekali bukanlah anjing biasa.

Meski pada sebagian besar waktu format cerita Cowboy Bebop itu episodik dan self-contained, seperti kayak di serial TV Amerika, ada tanda-tanda plot bersinambungan yang dihadirkan dari waktu ke waktu berkenaan masa lalu masing-masing karakter. Kebanyakan tanda-tanda ini lebih berhubungan dengan Spike sih, dimulai dengan hadirnya organisasi penjahat Red Dragon Syndicate yang di dalamnya Spike pernah bergabung; hubungan permusuhan yang Spike punyai dengan bekas sahabatnya, Vicious; serta pencariannya akan wanita yang menjadi cinta sejatinya, Julia.

Seluruh ‘tanda-tanda’ ini kemudian ngebentuk crescendo pas menjelang episode-episode akhir, saat setiap karakter akhirnya diharuskan mengambil keputusan sesudah dikejar oleh masa lalu mereka masing-masing.

Real Folk Blues

Karena premisnya yang kayak di atas, mungkin ada yang ngebayangin Cowboy Bebop itu semacam seri action. Tapi sebenarnya itu enggak sepenuhnya benar juga. Emang ada adegan-adegan aksi keras yang dari waktu ke waktu ada. Buat ukuran zaman sekarang pun, aksi-aksinya masih terhitung keren dan beneran enak dilihat. Tapi Cowboy Bebop intinya bukan itu, dan bahkan atmosfernya secara umum ga bisa dibilang berat.

Intinya itu… uh, enggak bisa dijelasin.

Mungkin sesuatu yang nyaris random gitu. Tiap episode, begitu dimulai, hampir selalu enggak ketebak bakal berkembang ke arah mana. Kadang komedi. Kadang drama. Kadang malah sesuatu yang kayaknya bener-bener enggak penting. Tapi ajaibnya, di akhir setiap episode itu selalu ada kepuasan aneh yang bisa kau rasain. Aku pribadi ngerasa Cowboy Bebop itu kayak sesuatu dari John Woo, cuma lebih di-randomin.

Kau bisa sepenuhnya ngikutin asal kau udah rada dewasa dan enggak ketiduran di tengah-tengah lho, ya. Aku sendiri termasuk yang lemah dan gampang ngantuk kalau dengar jazz sih. Tapi selebihnya, yang dibahas di anime ini emang lebih ‘kena’ ke orang-orang yang agak udah berusia (yang mungkin udah lewat generasinya juga). Jadi kalau kau di bawah usia dua puluh dan maksain nonton ini, jangan kaget kalau misalnya kau enggak ngerasa suka-suka amat. Ada bahasan-bahasan berat kayak soal obsesi dan homoseksualitas. Tapi para pembuat dengan luar biasa dan hati-hati mengatur agar penyampaiannya tak eksplisit ataupun vulgar.

Satu hal lain yang mengesankan: episode terakhirnya tereksekusi dengan gila. Itu salah satu episode terakhir anime terkeren yang pernah kulihat. Penutup yang lumayan ngejutin buat sesuatu yang random di separuh jalan kayak gini.

Dengan idenya yang kayak gitu dan durasinya yang agak lumayan, dunia Cowboy Bebop terpapar dengan beneran keren. Meski bernuansa koboi, ada eksotisme yang kerap dihadirkan di dalamnya. Kayak kaum Indian yang bermukim di tengah-tengah gurun di Mars, dan tetap meyakini keberadaan the Great Spirit; sampai sindikat Red Dragon yang kayak punya kekuatan mistis oriental gitu. Vicious yang beneran jahat lebih banyak mengandalkan katana dalam pertarungan-pertarungannya (meski dia sendiri cuma muncul sesekali, gimana kita tahu lebih banyak soal karakternya lewat orang-orang lain lumayan bikin tercenung kalo dipikir baik-baik). Lalu Spike juga seorang praktisi Jeet Kune Do. Terus elemen-elemen sains fiksi tergambar melalui hal-hal kayak jaringan informasi luas yang mencakup galaksi (walau untuk suatu alasan, mungkin biar kerasa makin western, semua aspek canggih ini digambarkan kayak punya keusangan gitu). Spike, Jet, dan Faye masing-masing juga mempunyai kapal kokpit tunggal mereka pribadi. Pas ada, adegan-adegan pertempuran yang ada di luar angkasa juga terbangun secara apik.

Akhir kata, ini seri yang beneran keren. Meski belasan tahun sudah berlalu semenjak pertama keluar pun, ini seri yang masih tetap keren. Emang mungkin udah enggak terlalu cocok dengan zaman sekarang. Tapi pada suatu titik, saat orang tumbuh sampai ke suatu titik di mana dia noleh jauh ke belakang dan ngebandingin diri sama orang-orang lain seusianya, ini salah satu seri langka yang kayaknya bakal mau dilihat sama orang-orang yang udah sampai ke titik itu.

Awal dan akhirnya (dan movie-nya) memang beneran keren. Tapi setiap episodenya sendiri juga beneran berarti.

Penilaian

Konsep: S; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A+

Iklan
12/08/2012

Sakamichi no Apollon

Ada semacam stagnasi yang melanda dunia kebudayaan visual modern Jepang pada tahun-tahun belakangan. Banyak yang kayaknya setuju tentang hal itu. Ditandai dengan kerinduan orang akan hal-hal lama; buktinya ada di banyaknya seri remake yang bermunculan belakangan (mulai dari Sailor Moon sampai Jojo’s Bizzare Adventure. Terus Space Battleship Yamato dan Lupin the 3rd. Maksudku, bahkan seri anime balapan liar Initial D yang telah dibuat sampai bermusim-musim itu konon akan dibuat ulang?).

Tapi pada musim semi tahun 2012 lalu… aku sempat lupa tentang hal ini. Pengharapanku terhadap anime-anime baru yang muncul di waktu itu rasanya enggak seburuk itu. Aku sibuk belakangan, jadi detilnya mungkin aku sudah tak lagi ingat. Tapi rasanya, ada lumayan banyak seri yang bikin saya ‘Hooo!’ pada musim itu dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Salah satunya, seri drama kehidupan dan persahabatan Sakamichi no Apollon (‘Apollo tanjakan’, yang mengacu pada tanjakan yang para karakter utamanya harus lalui setiap kali ke sekolah, serta Apollo di sini mengacu pada sesuatu yang pernah dialami oleh salah satu karakter utamanya), atau yang juga dikenal dengan judul Kids on the Slope (‘anak-anak di tanjakan’).

A girl’s husky voice goes well with jazz

Berjumlah hanya 12 episode dan berlatar di paruh akhir dekade 1960-an, diangkat dari manga berjudul sama karya Kodama Yuki , seri yang diwarnai nuansa musik jazz kental ini menandai kerjasama kembali antara dua nama besar: sutradara Watanabe Shinichiro (yang memang hobi memainkan musik dalam seri-seri besutannya; semisal Samurai Champloo dan Michiko e Hatchin) dan komposer Kanno Yoko (yang benar-benar dikenal karena aransemennnya). Kerjasama  mereka sebelumnya adalah dalam seri anime lain yang kental dengan nuansa musik jazz dan sekaligus’ meledak’ juga: Cowboy Bebop.

Aku juga kurang tahu, mengingat aku sendiri belum lahir pada masa ini. Tapi konon, dekade 1960an merupakan zaman yang ditandai dengan perubahan-perubahan besar. Perubahan-perubahan ini terutama pada budaya dan tatanan sosial masyarakat. Orang-orang sepenuhnya mulai pulih dari trauma-trauma semasa Perang Dunia, ekonomi mulai tumbuh, musik rock mem-booming, idealisme-idealisme baru mulai bermunculan. Kalian yang dulu suka membaca 20th Century Boys mungkin bakal punya bayangan.

Ini berlaku bukan cuma di satu-dua tempat saja lho. Tapi di seluruh dunia. (Di Indonesia juga. Tapi yea, ada insiden PKI.)

Makanya, kebagusan anime ini mungkin belum bisa dihargai oleh mereka-mereka yang belum agak berusia. Maksudnya, mereka-mereka yang belum merasakan pahit manisnya garam kehidupan (aku jadi ngerasa agak tua bila mengatakan ini, tapi…). Makanya lagi, aku enggak akan merekomendasikan anime ini kalau kau masih remaja. Atau seenggaknya, bukan penggemar drama-drama kehidupan.

Tapi biar kukatakan di awal. Seri ini bagus.

Luar biasa beneran bagus.

Kanno Yoko yang menangani musiknya. Jadi enggak ada keraguan apapun soal bagaimana musik ditangani di seri ini. Ini penting, terlebih mengingat bagaimana musik jazz berperan penting dalam kehidupan kedua tokoh utamanya.

Tapi yang membuatnya luar biasa itu eksekusinya.

Pada setiap adegan ketika ada musik dimainkan, animasinya benar-benar mengikuti gerakan tangan para pemainnya. Maksudnya, tangan para pemain dalam menekan tuts piano, menabuh drum, itu disesuaikan dengan ritma dan irama yang keluar. Dan aku yang sudah terlalu terbiasa dengan penggunaan frame-frame diam untuk adegan-adegan musik (seperti pada kebanyakan adegan di adaptasi anime Nodame Cantabile), enggak pernah ngebayangin kalau gerakan-gerakan sederhana ini bisa jadi sesuatu yang begitu luar biasa keren dalam bentuk anime.

Di samping itu, seri ini turut menampilkan visualisasi wilayah Sasebo di paruh akhir tahun 1960an dengan teramat luar biasa detil. Jalanan-jalanan yang terkesan lebar, orang-orang berjalan kaki, alam yang masih kaya dan burung-burung liar yang berterbangan di langit yang masih bebas polusi. Rasanya seperti foto-foto hitam putih lama dihidupkan dan diwarnai kembali. Bahkan hingga kau merasa sungguh-sungguh bisa hidup di sana.

Maka dari itu, segala elemen jazz yang mewarnai kehidupan para tokohnya (dengan lagu-lagu yang sungguhan ada), yang serasa bisa melarutkan segalanya and in the end make things feel all right, benar-benar bisa terasa.

Animasi lagu pembukanya itu juga luar biasa. Kalau kalian ada waktu, sekaligus berminat dengan anime ini, kusarankan untuk mencarinya di YouTube.

Lalu soal ceritanya sendiri…

Hmm. Apa kalian tahu bagaimana rasanya punya sahabat sejati?

Someday My Prince Will Come

Fokus cerita Sakamichi no Apollon terdapat pada persahabatan antara tiga orang remaja, dua cowok dan satu cewek—khususnya pada dua cowok itu: Nishimi Kaoru, Kawabuchi Sentaro, dan Mukae Ristuko. Aku agak enggak yakin gimana cara aku bisa ngejelasin ceritanya secara menarik. Soalnya alur plotnya sendiri lumayan tipikal. Tapi eksekusinya itu yang beneran bagus.

Kaoru adalah remaja lelaki bertubuh lemah, yang berasal dari keluarga kaya raya, namun sedikit bermasalah. Ia dititipkan di rumah keluarga paman dan bibinya, karena suatu alasan. Lalu meski ia pandai mengikuti pelajaran dan sangat berbakat dalam musik—dalam hal ini, piano—Kaoru merasa kesulitan menjalin ‘koneksi’ dengan sekelilingnya. Dan ini membuatnya menjadi orang sinis sekaligus penyendiri dan agak-agak pemarah.

Namun segala sesuatunya berubah tatkala ia berkenalan dengan Sentaro. Berandalan separuh bule berbadan sangat besar yang ditakuti oleh anak-anak lain itu ternyata tak sesangar reputasinya. Dan mereka menemukan banyak kecocokan dalam diri satu sama lain. Lalu hubungan yang terjalin antara mereka berdua itu akhirnya jadi mengubah banyak hal.

Satu-satunya orang selain Kaoru yang sepenuhnya menyadari hal ini adalah Ritsuko, gadis ketua kelas alim dan manis yang telah menjadi tetangga sekaligus teman sepermainan Sentaro semenjak kecil. Ritsuko pada awalnya terkesan sebagai karakter sampingan dalam persahabatan mereka. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, besarnya arti kehadiran mereka dalam cerita semakin lama semakin terasa.

Koneksi antara Ritsuko, Sentaro, dan Kaoru mulai terjalin saat Kaoru mulai terbawa dalam dunia jazz yang ditekuni Sentaro—yang ternyata mendalami drum. Lalu secara berkala, mereka mulai sering berlatih bersama di studio musik di ruang bawah tanah rumah Ritsuko yang kebetulan merangkap sebagai toko rekaman piringan hitam. Bapak Ritsuko sebagai pemilik toko kadang ikut nimbrung sebagai pemain bas.

Lalu, yeah, cerita kemudian bergerak dari sana sekaligus juga dari banyak tokoh lain di sekeliling mereka.

Melodi Tanjakan

Yaps, di awal-awal, ceritanya memang cenderung sendu. Dan malah agak suram arahnya. Tapi secara mengejutkan, secara berangsur nuansanya semakin optimis seiring dengan semakin dalamnya persahabatan yang terjalin antara Kaoru dan Sentaro. Sekalipun, peristiwa-peristiwa hidup yang mereka hadapi semakin ke sini terkesan semakin berat.

Aku katakan lagi. Cerita ini, terus terang saja, agak susah ‘dimasuki.’ Kau butuh sedikit energi dan kemauan untuk bisa menikmatinya. Tapi begitu kau kenal dengan para karakternya dan terbiasa melihat pemandangan kehidupan di tahun 1960-an, kau bakal agak susah menyingkirkan pikiranmu soal bagaimana kelanjutan nasib para tokohnya. Mulai dari pertama mereka saling mengenal, berhadapan dengan berbagai kejadian dalam kehidupan, jatuh cinta dengan orang pilihan mereka masing-masing, dan bagaimana musik jazz yang pertama mereka dengar lewat album-album piringan hitam bisa membalut segalanya.

Di akhir seri, tempo ceritanya yang luar biasa bagus, beserta pengemasannya yang padat, beneran memberi akhir yang memuaskan untuk sebuah anime dengan hanya 12 episode. Aku bersyukur karena telah mengikutinya. Dan yea, aku pada akhirnya enggak terlalu mempermasalahkan gimana seri ini segitu berbedanya dari Cowboy Bebop kok.

(Manganya sudah diterbitkan di sini oleh Elex btw)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

04/11/2009

Samurai Champloo

Anime terakhir yang kutonton sampai tamat belum lama ini adalah Samurai Champloo.

Yea, aku tau ini anime lama. Aku pernah menonton beberapa episodenya beberapa tahun lalu. Tapi baru beberapa bulan lalu aku tertarik lagi dan akhirnya mau menonton ulang sampai tamat.

Bagi yang belum tahu, Samurai Champloo merupakan buah karya kedua Shinichiro Watanabe sesudah seri Cowboy Bebop yang legendaris. Serupa dengan Bebop yang meramu musik jazz dengan adegan-adegan aksi koboi luar angkasa, Champloo menyelaraskan musik hiphop dengan ganasnya pertarungan pedang ala samurai di penghujung zaman feodal Jepang. Tapi beda dengan Bebop yang rada serius dan berkesinambungan, Champloo bersifat episodik, hampir ga serius, dan bahkan kadang rasa ngasal dalam netapin alur ceritanya. Tapi unsur hiphop yang Champloo usung tetap saja turut mengangkat sisi gelap kehidupan—yang seringkali dikunjungi orang setiap habis khilaf atau membuat keputusan yang salah—jadi jangan harapkan sebuah tontonan yang cocok buat anak-anak.

The sons of a battle cry, a battle cry

Gampangnya, Champloo berkisah tentang perjalanan tiga sekawan, Mugen, Jin, dan Fuu; dalam mencari seorang samurai yang menebarkan aroma bunga matahari. Mugen adalah pria kasar yang gaya berpedangnya kalau di zaman sekarang mengingatkan orang akan break dance. Jin adalah seorang cowok cool pendiam yang gayanya seperti stereotipe samurai kebanyakan. Sedangkan Fuu adalah cewek remaja enerjik yang berhasil mencegah kedua lelaki berbahaya di atas untuk saling membunuh dan memaksa mereka berdua ikut bersamanya dalam menempuh perjalanan panjang nan enggak jelas ini.

Buat kalian yang mikirin ‘samurai yang menebarkan aroma bunga matahari’ ini maksudnya apaan, tenang aja. Soalnya Mugen dan Jin juga berulangkali mempertanyakan hal yang sama sepanjang cerita. Jadi jangan terlalu dipikirin kalo kalian emang blum nonton.

Intinya, Champloo adalah tentang semua petualangan yang tiga sekawan ini alami dalam perjalanan mereka. Ada yang keren. Ada yang kocak enggak jelas. Tapi ada juga yang bisa bikin tercenung karena ceritanya lebih mirip drama kehidupan di ghetto orang negro daripada sebuah anime Jepang. Cakupan ceritanya teramat luas, mulai dari keinginan untuk membebaskan seorang cewek dari jebakan prostitusi, sampai kepada upaya menghadang kedatangan armada kapal laut Amerika Serikat lewat pertandingan bisbol. Perlahan-lahan, masa lalu pribadi ketiganya pun terkuak, dan bagaimana mereka memandang arti perjalanan mereka dan menghadapi masa lalu masing-masing menjadi tema utama terselubung dalam serial ini.

Lagu Empat Musim

Hm, gimana ngejabarinnya ya? Untuk sebuah anime engga jelas yang ceritanya bisa tentang apapun (maksudku di sini adalah beneran APAPUN), Samurai Champloo termasuk bagus. Beneran bagus. Ga mungkin bisa sedahsyat Bebop sih, tapi tetap bagus. Bahkan lima tahun sesudah pertama dibuatpun, kualitas animasinya menurutku termasuk tinggi, dengan gerakan-gerakan rumit nan halus serta warna-warna tajam yang kontras. Karakter-karakter yang mereka paparkan pun menarik meski jumlahnya cuma ‘segitu aja’. Musik yang ditampilin di dalamnya juga enggak usah diraguin.

Jadi apa kekurangannya? Hm, mungkin kenyataan bahwa ini sebuah anime enggak jelas yang kurang memiliki benang merah penyambung. Tapi dengan resep gado-gadonya, sebagai hiburan aja, Samurai Champloo termasuk berkualitas tinggi kok. Sangat direkomendasikan bagi mereka-mereka yang enggak lagi pengen nonton apa-apa secara khusus.

Penilaian

Konsep: A;Visual: S; Audio: A; Perkembangan: D; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B