Posts tagged ‘SHAFT’

07/01/2015

Tsukimonogatari

Tanggal 13 Februari. Sehari sebelum Valentine.

Sekitar sebulan sebelum hari ujian seleksi masuk ke perguruan tinggi.

Pada tanggal tersebutlah, Araragi Koyomi—lewat serangkaian kejadian konyol sekaligus mengkhawatirkan yang lagi-lagi melibatkan kedua adik perempuannya—menyadari bahwa pantulan dirinya tahu-tahu sudah tidak lagi tampak di cermin.

Itu pertanda awal bahwa karena suatu alasan, dirinya telah semakin berkurang ‘kemanusiaannya’ dan telah semakin bertambah ‘kevampirannya.’

Setidaknya, itulah gagasan awal dalam Tsukimonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bulan?’). Ini episode khusus yang ditayangkan secara khusus pada pergantian tahun 2014 ke 2015 kemarin, dan masih dianimasikan oleh studio SHAFT dan masih juga diangkat dari rangkaian seri novel Monogatari karangan Nisio Isin.

Yeah, tentu saja aku mengikutinya. Aku sudah jadi penggemar.

Tsukimonogatari kembali menghadirkan Koyomi sebagai narator cerita, dan tokoh utama, setelah musim kedua yang tokoh sentralnya berganti-ganti. Karakter yang menjadi fokusnya kali ini adalah Ononoki Yotsugi, shikigami sekaligus tsukumogami milik Kagenui Yozuru, satu dari tiga spesialis kenalan lama Oshino Meme yang pernah tergabung dalam klub yang sama di universitas.

Cerita ini menjadi pembuka dari ‘musim’ ketiga sekaligus terakhir dari seri Monogatari, yang sesudah ini kayaknya akan dilanjutkan dengan Koyomimonogatari, sebelum baru memasuki babak akhirnya yang mencakup Owarimonogatari (yang lumayan panjang) serta Zoku Owarimonogatari.

Ngomong-ngomong soal settingnya, Tsukimonogatari berlatar sesudah Koimonogatari, tapi sebelum Hanamonogatari, yang sempat tayang pada pertengahan tahun kemarin. Lebih tepatnya: ceritanya terjadi sesudah semua urusan yang menyangkut berubahnya Sengoku Nadeko menjadi dewata pada akhir anime Monogatari Series Second Season beres. Tapi juga sebelum kasus iblis yang berujung pada pertemuan kembali Kanbaru Suruga dengan Numachi Rouka terjadi.

Koyo Koyo ❤

Karena aku sedang malas, kayak biasa, ayo kita bahas soal hal teknisnya dulu.

Ini cuma pendapatku pribadi, tapi kayaknya kualitas teknisnya mengalami peningkatan drastis dibandingkan sebelumnya.

Man, apa yang terjadi ya?

Cara pengungkapan adegan-adegannya secara visual jadi lebih bagus. Mereka kali ini kayak nyoba ngelakuin hal-hal baru. Dan jadinya kayak kerasa lebih segar. Paling jelas terlihat dengan gimana layar hitam yang biasa digunakan sebagai sekat antar bab kini digantikan dengan semacam kolase kata dan corak yang cerah sih. (Walau layar hitam itu sendiri masih ada.)

Sudahlah. Mungkin kaiian juga enggak ngerti apa yang aku omongin.

Dari segi audio, kualitasnya solid.

Beneran solid.

Ini salah satu bab cerita yang relatif lebih berat di percakapan. Tapi dari awal cerita-cerita Monogatari emang lebih berat di percakapan. Dan kali ini segala distraksi visual dan referensi yang bikin kita lupa soal panjangnya percakapan-percakapan ini kembali ada dan jadi sebagus di awal-awal. Pemilihan warnanya yang memainkan kontras kali ini benar-benar bagus. Lalu tampil bersamanya para karakter, bahkan yang hanya cameo, terbilang berkesan.

…Seenggaknya menurutku gitu sih.

Selebihnya, kalau ada kekurangan, mungkin soal nuansa ceritanya sendiri? Seri Monogatari paling bagus saat kita mulai larut dalam perasaan karakternya. Lalu Tsukimonogatari, mungkin karena durasinya, menurutku termasuk yang agak kurang dalam hal ini. Tapi enggak sampe jadi jelek sih. Hasilnya masih beneran bagus, dan seriusan lebih thoughtful dari yang kusangka. Cuma pada saat yang sama, ini kembali menghadirkan segala keenggakjelasan soal apa yang disampaikan itu serius apa enggak.

….Sekali lagi, senggaknya menurutku gitu sih.

UFO Catcher

Lalu, kita kali ini bahas soal cerita.

Intinya, Oshino Shinobu menyarankan kalau mereka perlu saran seorang ahli untuk kasus ini. Seorang ahli seperti Oshino Meme-san. yang keberadaannya saat ini tak diketahui.

Yang paling terbayang bagi mereka adalah Ononoki dan Kagenui. Tapi alternatif itu langsung dicoret mengingat Koyomi tak punya cara untuk menghubungi mereka. Hanya saja, tahu-tahu Gaen Izuko yang menyatakan dirinya ‘mengetahui segalanya’ kembali berperan dan memberi celah. Lalu timbul komplikasi, karena terlepas dari Ononoki sendiri, terakhir bertemu Kagenui, Koyomi dibuat hampir mati sehubungan status Araragi Tsukihi, adik perempuan Koyomi yang…

Yah, intinya, semuanya lalu berujung dengan konfrontasi melawan seseorang bernama Teori Tadatsuru, kenalan lama Oshino-san yang lain, yang seperti halnya Kagenui, seorang spesialis dalam memburu kaii yang tak bisa mati.

Seperti yang bisa kau harapkan, situasi akhirnya berkembang sedikit lebih rumit dari yang terlihat di awal.

Kualitas ceritanya sendiri kembali agak sulit dinilai. Apalagi bila membandingkan dengan versi novelnya. Tapi eksekusinya menurutku terbilang benar-benar bagus. Semuanya semakin mengerucut pada keberadaan adik kelas Araragi, Oshino Ougi, yang kelihatannya telah banyak berperan di balik layar semenjak perginya Oshino-san. (Ononoki sendiri menyinggung soal hal ini.) Namun sama sekali tak ada bayangan kelanjutannya bakal kayak gimana.

Akhir kata, aku enggak kepengen terlalu banyak spoiler, apalagi sesudah ceritanya sampai sejauh ini. Ada banyak sekali benang yang sudah terulur, dan masih ada kesan bersambung di mana-mana. Tapi buat mereka yang bisa menyukainya, perasaan “Hah?” di ujung yang jadi kekhasan seri ini masih tetap ada. Lalu buat kalian yang sudah terlanjur jadi fans, yah, kalian enggak punya alasan buat enggak melihat ini.

Sori, mungkin ada hal-hal penting lain yang terlewat.

Kayak soal gimana kemanusiaan Araragi diangkat, ke soal gimana dia ngerasa apa yang dia alami sebenarnya salahnya dia sendiri juga, lalu ke soal Ononoki dan Shinobu yang bermain di salju bersama, terus ke soal coklat Valentine dari Senjougahara Hitagi, serta teka-teki terbesar tentang kemanusiaan Ononoki sendiri.

Semuanya saat ini menurutku masih terasa kayak cerita sampingan, tapi ini cerita sampingan yang masih terbilang menarik. Klimaksnya sendiri kayaknya masih akan datang nanti.

Akan aku tambahkan, mungkin, sesudah semua aku periksa lagi.

(Apa ada di antara kalian yang sudah ingat Unlimited Rulebook itu apa?)

Penilaian

Konsep: B; Visual A+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

Iklan
06/10/2014

Hanamonogatari

Hanamonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bunga’) merupakan bagian terakhir dari musim kedua rangkaian seri novel horor(?) remaja Monogatari buatan Nisio Isin.

Episode spesial berdurasi sekitar dua jam ini kudengar sempat beberapa kali ditunda penayangannya.

Karena satu dan lain hal, ceritanya juga dibuat terpisah dari adaptasi animasi Monogatari Series Second Season keluaran SHAFT, yang kalau aku tak salah ingat, berakhir di awal tahun ini. Sesudah melihat sendiri ceritanya, kurasa aku bisa sedikit membayangkan alasannya. …Oke, alasannya sendiri sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Tapi, yah, aku bisa memahami alasan kenapa produsernya mengambil keputusan demikian.

Ceritanya berlatar beberapa waktu sesudah klimaks di Koimonogatari, dengan cerita yang berfokus sepenuhnya pada karakter Kanbaru Suruga, dengan judul bab Suruga Devil.

Kewajiban Seorang Kakak Kelas

Araragi Koyomi dan Senjougahara Hitagi sudah tak ada lagi. Demikian pula dengan Hanekawa Tsubasa. Karenanya, Kanbaru merasa agak kesepian sebagai satu-satunya di antara mereka yang masih berada di SMA Naoetsu.

Pada suatu hari, adik kelasnya yang bernama Oshino Ougi, anak lelaki yang dikenalnya sebagai keponakan Oshino Meme, om-om yang dulu pernah menolong mereka semua, pada suatu hari secara kebetulan memberitahunya sebuah rumor tentang Akuma-sama (‘sang Iblis’). Akuma-sama konon akan dapat mengabulkan permintaan siapa saja yang memberitahukan kesulitan mereka padanya.

Lalu mendengar kabar ini, terkait dengan pengalaman masa lalunya dengan artefak jahat Monkey’s Paw yang dulu disebut-sebut juga punya kekuatan untuk mengabulkan permohonan, dan hingga kini pun masih saja tertanam di tangan kirinya, Kanbaru dicengkram kekhawatiran akan kemungkinan dirinya lagi-lagi dikendalikan oleh pusaka itu.

Mungkinkah Akuma-sama yang misterius, yang teman-temannya sekelasnya banyak bicarakan, sebenarnya tak lain adalah dirinya sendiri setiap kali ia terlelap? Mungkinkah sebenarnya tanpa sepengetahuannya selama ini ada korban-korban yang berjatuhan lagi?

Penyelidikan Kanbaru kemudian membawanya berhadapan dengan seorang kenalan lama yang pernah menjadi rivalnya di lapangan basket, Numachi Rouka.

Namun apa yang Kanbaru dapatkan tak benar-benar persis sama dengan apa yang dikiranya tampak…

Duel di Lapangan Basket

Kalau kau sebelumnya pernah melihat adaptasi anime dari Nekomonogatari (Kuro), maka kau sudah akan punya bayangan Hanamonogatari kira-kira akan seperti apa. Enggak, keajaiban yang Bakemonogatari punya masih belum juga terulang kembali. Tapi ini hasil adaptasi yang tetap terbilang lumayan rapi kalau menurutku.

Sekali lagi, itu menurutku.

Buatku, tayangan khusus ini punya hasil lebih bagus dari yang aku harapkan. Tapi, yeah, kita lagi membicarakan anime dari seri Monogatari di sini. Lalu di dalamnya sebagian besar karakter utama yang sudah kita kenal dan sayang sudah tak lagi ada, jadi, yah… Kayak biasa, ini bukan sesuatu yang bakal disukai oleh kebanyakan orang. Teman dekatku yang sedari dulu mengikuti perkembangan seri ini bersamaku sendiri menilai kualitasnya lebih jelek dari yang ia harap.

…Padahal karakter favorit temanku itu Kaiki Deishuu btw.

Tapi terlepas dari semuanya, aku seriusan enggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Rasanya kayak, apa yang dulu bisa membuatku terpukau terhadap seri ini sudah hampir enggak ada gitu. Dan aku mengikuti perkembangannya serius, semata-mata hanya karena ingin tahu kelanjutan ceritanya. Bukan karena visualnya. Bukan karena audionya. Bukan karena leluconnya. Bahkan gaya narasinya yang khas itu pada titik ini, sejujurnya, ahahaha, sudah agak membuatku muak… Dulu, setiap detik pada Bakemonogatari terasa kayak bisa mengungkapkan begitu banyak hal. Tapi sekarang, semuanya kayak kosong dan datar gitu.

Namun sekali lagi, ini adaptasi yang benar-benar rapi. Enggak bisa dibilang bagus. Tapi enggak benar-benar bisa kubilang jelek juga. Cuma, yah, datar aja. Tapi itu enggak selamanya jadi hal yang buruk.

Gunting Kuku di Antara Buku dan Bunga

Yah, oke. Kita bahas saja dikit soal ceritanya.

Selain soal hubungan lama yang Kanbaru punyai dengan Numachi, Hanamonogatari sebenarnya mengangkat juga soal hubungan(?) yang Kanbaru punyai dengan mendiang ibunya, Kanbaru Tooe, atau yang sebelum menikah bernama Gaen Tooe.

Dikisahkan bahwa Kanbaru belakangan sering bermimpi tentang ibunya. Lalu dituturkan pula bahwa berdasarkan cerita-cerita dari mendiang ayahnya, dan sebagaimana kita ketahui dari apa-apa yang kita tahu dari Kaiki sendiri, ibunya Kanbaru ini sama sekali bukanlah orang yang normal. Ada sesuatu tentang dirinya, yang menurut ayah Kanbaru, membuatnya sebagai ‘seseorang yang berdiri mewakili Tuhan di dunia ini.’

Lalu Kanbaru sendiri punya perasaan rumit soal ini, karena alih-alih serupa dewa, perilaku ibunya malah lebih mengingatkannya akan iblis.

Ada tema menarik soal konsep iblis yang diangkat, yang senantiasa menggoda manusia dengan bermacam kemudahan semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Yang bercampur dengan tema soal kedewasaan dan merelakan masa lalu. Masalahnya, agak serupa dengan kasus adaptasi animasi Nekomonogatari (Kuro), berhubung teka-teki terkait bagian cerita ini masih bersambung, tema dan emosi yang dicoba disampaikan dalam anime ini terasa kayak bersambung juga.

Yah, bersambungnya sendiri enggak masalah. Tapi kayak, penyampaiannya sendiri yang terasa setengah hati itu loh.

Agak susah menjabarkannya. Mungkin lagi-lagi masalahnya memang ada pada durasi.

Versi novel dari cerita-cerita Monogatari, bahkan yang sudah tak lagi disampaikan dari sudut pandang Koyomi, masih bisa agak ‘menghantam’ kita dengan berbagai perdebatan menarik soal konsep-konsep kayak gini. Tapi versi animasinya yang merangkum dan memadatkan ini semua, jujur saja, terasa kayak enggak menggarapnya secara adil. Gaya visual unik, yang sebelumnya kayak mengkompensasi keterbatasan waktu buat menyampaikan semua keabstrakan dalam ceritanya, pada titik ini jadi terasa kayak cuma sekedar tempelan yang agak kosong dari makna.

Tapi entah juga. Bisa saja masalahnya pada aku sendiri yang sudah enggak lagi bisa menangkapnya.

Balik ke pembahasan utama, Hanamonogatari bukanlah hasil adaptasi yang solid. Mungkin juga itu alasan kenapa aku agak menunda pembahasannya. Tapi mereka yang sudah terlanjur jadi penggemar seri Monogatari kurasa akan tetap mengikutinya. Kalau kau memikirkannya sedikit, alasan kenapa judulnya demikian akan terungkap di akhir cerita, walau enggak secara benar-benar eksplisit…

Sesudah titik ini, cerita Monogatari akan memasuki musim ketiga, pertama dengan Tsukimonogatari yang kalau tak salah mengetengahkan identitas Ononoki Yotsugi yang pertama diperkenalkan di Nisemonogatari. Masih banyak teka-teki yang menumpuk. Tapi mari kita berharap maknanya tak tertinggal di belakang.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: C+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B: Kepuasan Akhir: B-

(Hm? Nilai yang kukasih sesudah kubandingkan ternyata kalah jauh dibandingkan Nekomonogatari (Black)? Euuh, apa ini enggak apa-apa nih?)

14/04/2014

Puela Magi Madoka Magica Movie 3

Kalau aku pikir, terlepas dari ketenarannya, enggak banyak yang menggemari Puella Magi Madoka Magica di sekitarku.

Apa karena gaya desain karakternya ya? Sekalipun penulis skenarionya Urobuchi Gen? Lingkunganku memang bukan lingkungan otaku. Tapi seriusan. Aku jadi enggak punya teman untuk ngobrol tentangnya.

Terlepas dari itu, aku berkesempatan melihat movie ketiga seri ini belum lama ini. Berjudul lengkap Mahou Shoujo Madoka Magica Gekijouban: Hangyaku no Monogatari atau Puella Magi Madoka Magica Movie: Rebellion (subjudulnya berarti ‘pemberontakan’), film layar lebar ini, singkat cerita, melanjutkan akhir cerita di seri TV-nya. Jadi berbeda dari dua film pendahulunya, materi cerita di film ketiga ini benar-benar baru dan belum ada sebelumnya.

Aku, kayak sebagian orang lain, sempat ngerasa kalau film ketiga ini sebenarnya enggak perlu. Cerita asli yang disampaikan lewat seri TV-nya bisa dibilang tuntas. Ada banyak sekuel yang kayak nambah-nambahin cerita secara enggak perlu ‘kan? Aku kuatirnya film ketiga ini jadinya kayak gitu.

Tapi buset, film ketiga ini beneran keren. Pantas BD/DVD-nya harganya mahal. Pantas orang-orang dulu mengantri untuk menontonnya di bioskop. Ada penuntasan yang lebih tuntas ketimbang penuntasan tuntas di seri TV-nya yang udah tuntas.

Uh, intinya, ini penutup yang benar-benar keren. Walau buat menangkap makna ceritanya secara menyeluruh, ada baiknya kau udah melihat kedua filmnya yang sebelumnya. Atau seenggaknya, udah mengikuti cerita di seri TV-nya dulu sampai tamat.

Holy Quintet

Masih berlatar di kota Mitakihara yang menjadi latar cerita-cerita sebelumnya, kita diperkenalkan kembali pada empat sekawan Kaname Madoka, Miki Sayaka, Sakura Kyoko, dan kakak kelas mereka, Tomoe Mami, yang sama-sama sebenarnya menjalani kehidupan ganda sebagai mahou shoujo yang melindungi para penduduk kota setiap malam dari ancaman makhluk-makhluk menakutkan yang disebut Nightmare .

Suatu hari, sekolah mereka kedatangan seorang murid baru bernama Akemi Homura. Memperhatikan cincin yang merupakan perwujudan Soul Gem Homura, Madoka dan kawan-kawannya seketika menyadari bahwa Homura ternyata adalah seorang mahou shoujo juga, dan Mami ternyata memang telah menantikan saat untuk bisa memperkenalkan dirinya.

Homura, yang berkacamata, serta sedikit pemalu dan ceroboh, dengan cepat bisa akrab dengan Madoka dan kawan-kawan. Tapi ada suatu keterikatan khusus yang dirasakannya khusus saat bersama Madoka. Ada rasa nostalgia aneh yang Madoka rasakan juga terhadapnya, yang ia ungkapkan seperti perasaan ingin bertemu sejak dulu…

Mereka yang sudah mengikuti  seri ini pasti tahu rangkaian deja vu yang mereka rasakan ini maknanya apa. Sebab sekitar sebulan semenjak kepindahannya ke Mitakihara, Homura mulai menyadari adanya hal-hal aneh berkenaan kota tempat tinggal barunya tersebut yang nampaknya belum disadari oleh teman-temannya yang lain.

Desain Arsitektur dan Buku Bergambar

Kayak biasa, aku enggak tega ngasih spoiler soal perkembangan ceritanya. Seriusan, perkembangannya benar-benar bagus.

Mungkin kebanyakan penggemar sudah menebak kalau film ketiga ini pada dasarnya bercerita tentang bagaimana Homura tak bisa menerima keputusan pilihan Madoka pada akhir film kedua (karena itu, dirinya ‘memberontak’ terhadap sistem yang dibuatkan Kyubey?). Itu enggak salah. Tapi seperti yang kubilang di atas, perkembangan yang terjadi itu enggak cuma itu.

Cukup berkesan. Cuma susah buatku untuk menjelaskannya. Struktur ceritanya terlapis dan sayang buatku untuk membeberkannya.

Aku mesti setuju soal gimana sesudah segala yang terjadi dalam cerita, masuk akal bila bagian cerita ini (seandainya memang telah ditulis sejak awal) dibikin terpisah dari cerita di seri TV. Sebab, sesudah semua pembeberan yang terjadi, fokus ceritanya memang telah sedikit bergeser dari Madoka ke Homura.

Secara teknis, segala hal yang membuat seri ini keren kembali hadir. Arsitektur perkotaan Mitakihara yang modern dan inorganik ditampakkan kontras dengan warna-warni cerah para karakternya. Ada adegan-adegan aksi sangat keren yang dipadu dengan efek-efek memikat. Ada nuansa misteri yang kental, konflik antar pribadi, serta gambar-gambar abstrak aneh bergaya kolase yang secara pas mengingatkan akan mimpi buruk. Bisa dibilang, semua elemen tersebut memuncak penyajiannya di film ini.

Aku perhatikan tungkai-tungkai para karakter kelihatannya dibuat agak lebih panjang. Tapi ini bisa diterima karena untuk semakin mempertegas adegan-adegan pergerakan. Ada… adegan perubahan wujud di film ini yang lumayan mencolok. Jadi kalian bakal ngerti sendiri begitu lihat adegan ini.

Tapi di samping visualnya yang keren, yang paling memikatku itu audionya sih. Penataan BGM-nya benar-benar luar biasa. Itu kayak… benar-benar menghanyutkan dan menarikmu masuk ke dalam dunia para mahou shoujo yang kayak mimpi ini. Ada denting-denting aneh dan penataan yang…

Man, aku ga bisa gambarin.

Intinya gitu. Soal akting para seiyuu-nya, mereka masih tetap keren seperti sebelumnya.

Oya, dan sebuah lagu baru dari Kalafina kembali jadi penutup yang bagus.

Megami to Akuma

Aku sedang agak suntuk saat berkesampaian menonton ini. Aku mengantuk, ingin tidur, dan sedang pengen melupakan semua. Tapi begitu ini kuputar, apa ya, hampir kayak terhipnotis, semua lelahku kayak hilang. Fokusku terarah. Lalu, rasa penasaran dan terkesima membuatku berhasil sepenuhnya masuk ke dalam cerita.

Aku tetap menonton ini secara mencicil sih, berhubung akunya emang kecapekan. Tapi aku jadi bisa bayangin sememukau apa film ini (bagi para penggemarnya) seandainya ditontonnya di bioskop saat pertama kali rilis.

Suka apa enggaknya kau pada film ini kurasa akan kembali tergantung pada sesuka apa kau terhadap seri ini. Tapi kalau sudah jadi penggemar, ini film yang beneran bagus. Sangat direkomendasikan untuk tak dilewatin.

Karakter baru yang muncul adalah makhluk misterius baru bernama Bebe, yang sepanjang film ini, dengan setia menemani Mami. Tapi dalam perkembangannya, penggemar manapun takkan ada yang gagal mengenali siapa dirinya sebenarnya…

Akhir ceritanya agak membingungkan saat pertama kulihat. Tapi sesudah kupikirkan, dan mempertimbangkan adegannya yang paling terakhir, aku bisa menerima dan memahami maksudnya apa. Akhir ceritanya memang enggak sememukau akhir cerita sebelumnya sih. Lalu bagi beberapa penggemar, mungkin bakal kerasa maksa. Tapi menurutku ini penutup yang pas karena bisa bikin kau terenyuh.

Aku enggak tahu apa masih bakal ada sekuel buat seri ini atau enggak. Kayaknya engga sih. Bila masih diteruskan sesudah akhir kayak gini, kurasa jadinya bakal benar-benar maksa. Kesimpulannya mungkin enggak benar-benar jelas buat semua orang, tapi tetap ada banyak bagian dalam ceritanya yang masih bisa jadi bahan renungan yang bagus.

Makanya, aku ingin mengobrolkan soal ini dengan seseorang. Tapi orang yang menggemari seri ini di sekelilingku hampir enggak ada.

Jadi, yah, kau tahu maksudku.

SHAFT berhasil melampaui perkiraan lewat film ini. Sekali lagi, aku berhasil dibuat salut oleh mereka.

Pastinya, mereka yang mengharapkan ‘lebih banyak’ dari seri TV dan kedua film Madoka bisa cukup terpuaskan dengan film ini.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

13/02/2014

Monogatari Series Second Season

Monogatari Series Second Season pada dasarnya menceritakan ‘musim’ kedua dari rangkaian novel horor(?) remaja Monogatari buatan NisioIsin. Adaptasi animenya yang khas masih dibuat oleh studio SHAFT. Jumlah episodenya secara total 23 (26, kalau kau menghitung tiga episode ringkasan cerita dari musim sebelumnya yang dinarasikan oleh Araragi Koyomi). Lalu pertama ditayangkannya adalah pada musim panas tahun 2013 lalu.

Mungkin ada sebagian orang yang agak bingung dengan pemberian judulnya.

Buat mereka yang masih belum yakin, ya, ini merupakan lanjutan cerita dari seri Bakemonogatari. Tapi ‘musim’ pertama seri Monogatari enggak cuma terdiri atas Bakemonogatari. Secara menyeluruh, ‘musim’ pertamanya meliputi:

  • Bakemonogatari, yang mencakup cerita Hitagi Crab sampai Tsubasa Cat.
  • Kizumonogatari, yang mencakup cerita Koyomi Vamp.
  • Nisemonogatari, yang mencakup cerita Karen Bee dan Tsukihi Phoenix.
  • Nekomonogatari (Black), yang mencakup cerita Tsubasa Family.

Dengan Kizumonogatari sebagai pengecualian, keseluruhan ‘musim’ pertama di atas pada waktu ini kutulis telah dianimasikan.

Kizumonogatari bertahun-tahun lalu sempat diberitakan akan dimunculkan sebagai film layar lebar. Cuma hingga sekarang kabarnya masih belum ada kejelasannya lagi sekarang baru dikabarkan akan dibagi menjadi tiga film. Tapi kilasan keseluruhan ceritanya (secara komplit, dari awal hingga akhir) telah ditampilkan pada menit-menit pertama Bakemonogatari, yang padanya masih sempat-sempatnya dicantumkan hal-hal enggak penting(?)nya juga.

Terlepas dari semuanya, ‘musim’ kedua ini menuntaskan sejumlah hal tersamar yang masih belum terselesaikan pada ‘musim’ yang pertama. Di saat yang sama, ceritanya juga mengangkat sejumlah pertanyaan baru. Terutama yang menyangkut kemunculan Oshino Ougi, seorang adik kelas di SMA Naoetsu, yang memperkenalkan diri secara terpisah pada Araragi dan kawan-kawannya sebagai keponakan(!?) Oshino Meme.

Snow Drop

Berlatar sesudah liburan musim panas, pada musim gugur dan musim dingin menjelang masa kelulusan Araragi; ‘musim’ kedua ini mencakup:

  • Nekomonogatari (White), yang mencakup cerita Tsubasa Tiger.
  • Kabukimonogatari, yang mencakup cerita Mayoi Jiangshi.
  • Otorimonogatari, yang mencakup cerita Nadeko Medusa.
  • Onimonogatari, yang mencakup cerita Shinobu Time.
  • Koimonogatari, yang mencakup cerita Hitagi End.

Sebenarnya, dalam seri novelnya, ada satu bab lagi, yakni Hanamonogatari yang mencakup cerita Suruga Devil. Namun, berhubung ceritanya berlatar agak jauh sesudah cerita-cerita lainnya di ‘musim’ ini, bab ini kelihatannya bisa dianggap semacam bab peralihan dengan ‘musim’ ketiga yang masih dibahas seri novelnya, dan karenanya diputuskan untuk dianimasikan secara terpisah. (Kali-kali ada yang lupa, cerita-cerita di seri ini tak selalu dipaparkan secara kronologis.)

Bahasan ceritanya sendiri mencakup penuntasan masalah kaii yang melanda Hanekawa Tsubasa dan Hachikuji Mayoi, yang sebenarnya masih berkaitan dengan masalah-masalah yang mereka alami sebelumnya.

Araragi, di akhir musim panas, secara misterius telah menghilang. Sehingga saat kebakaran misterius yang mungkin disebabkan oleh sesosok harimau gaib melanda rumahnya, Hanekawa, dengan dibantu Senjougahara Hitagi, harus mengambil keputusan-keputusannya sendiri demi terselesaikannya masalahnya ini.

Gaen Izuko, perempuan muda yang nampaknya adalah bibi dari Kanbaru Suruga, tampil sebagai karakter baru yang pertama muncul di hadapan Hanekawa, dan nantinya, Araragi. Berlawanan dengan Hanekawa, Gaen secara terang-terangan mengakui kalau dirinya mengetahui segalanya, sehingga ia jadi karakter yang kayak mewakili segala teka-teki ‘bersambung’ yang ada di seri ini. Gaen juga merupakan senior dari Oshino Meme dan dua kenalannya yang lain, Kaiki Deishuu dan Kagenui Yorozu, dalam klub yang mereka ikuti di universitas dulu. Hal ini semakin mengindikasikan kemisteriusan hubungan antara mereka, dan lumayan mengingatkanku akan kata-kata Araragi di pembukaan Kizumonogatari, saat ia menyatakan soal betapa ia tak yakin kapan sebenarnya ‘semua ini’ bermula.

Aku ingin memaparkan poin-poin ceritanya lebih lanjut. Tapi setelah kupikir, (di samping aku malas) kayaknya itu ide yang buruk.

Bukan hanya karena masalah spoiler sih. Selain karena perkembangan cerita di ‘musim’ kedua ini benar-benar enggak ketebak, tapi juga karena kayak ada banyak hal tersirat yang disampaikan selama durasi seri ini yang kerasa kebatas. Separuh waktu yang kupakai untuk mengikuti seri ini lebih banyak digunakan buat menebak-nebak maksud sesungguhnya dari satu cerita itu apa. Lalu kesimpulan yang aku peroleh di akhir cerita ternyata hampir selalu berbeda dari apa yang semula yang kubayangin.

Jadi, kalau kuceritain gitu aja, daya tariknya beneran bisa hilang.

Misalnya, waktu aku pertama tahu kalau buku terakhir yang waktu itu diumumkan buat seri ini adalah Koimonogatari dengan cerita berjudul Hitagi End, apa yang aku bayangin itu berbeda sama sekali, sama sekali, dari apa yang kudapat di anime ini. Aku nyangka ceritanya bakal maksa dengan berlanjutnya cerita ke ‘musim’ ketiga. Tapi ceritanya itu ternyata… bagus gitu. Bukan apa yang aku bayangin atau harapkan. Tapi seenggaknya enggak akan bisa kubilang jelek.

Sebenarnya, agak susah buat ngasih penilaian objektif juga. Soalnya ceritanya yang bersambung ke ‘musim’ ketiga ini sebenarnya masih belum punya ujung yang jelas.

Dramatic Irony

Masuk ke bahasan soal teknis, hal pertama yang kurasain dari anime ini adalah aspek audionya sayangnya enggak sekuat di musim-musim lalu. Haruna Luna yang membawakan OST keren di Fate/Zero dan Sword Art Online membawakan lagu-lagu penutupnya. Tapi entah kenapa, berbeda dari kasus Bakemonogatari dan Nisemonogatari, aku ngerasa lagunya terasa kayak enggak ‘masuk’ dalam cerita. Aku enggak yakin kenapa. (Aku tahu enggak lagi terlibatnya Ryo dari supercell memiliki arti, tapi…)

Mungkin itu hubungannya dengan struktur penceritaannya juga sih. Soalnya… damn. Cerita di seri ini itu kayaknya dipadetin. Dipadetin dalam arti sepadet-padetnya. Kayak dikompres secara luar biasa gitu. Walau enggak ampe kerasa kayak ngebut, tempo ceritanya tetap kerasa kayak terlalu cepat untuk bisa mencerna perkembangannya secara nyaman. Kerasa kayak kita bisa mengikuti apa yang terjadi, tapi enggak bisa sepenuhnya mengerti segala implikasi dan nuansanya.

Satu-satunya pengecualian yang enggak kena efek ini cuma Koimonogatari sih.

Intinya, seri ini kayak semestinya punya jumlah episode sekurangnya dua kali lebih banyak. Bakemonogatari dalam dua buku dituturkan dalam 15 episode. Nisemonogatari yang dua buku juga dipaparin dalam 12 episode. Lalu di sini kita ada lima buku yang mau dipaksain masuk ke dalam 23 episode?

…Sekarang emang udah terbukti bisa sih. Tapi kau bisa bayangin kalo keajaiaban yang dimiliki anime-anime musim sebelumnya itu kayak enggak ada.

Hampir lenyap enggak berbekas.

Sepanjang seri, kita kayak diseret-seret ke dalam monolog yang enggak jelas ujungnya dan padanya kita hampir enggak ngerasain apa-apa sama sekali. Ada kesan lebih berat ke style daripada substance. Bahkan fanservice-nya buatku pun mengecewakan!

Kita mungkin masih ngerasa ingin tahu soal perkembangannya sih. Para seiyuu masih berperan secara baik sih. Demikian pula BGM-nya. Tapi kita tetap jadi kayak enggak ngerasain apa-apa yang harusnya bisa kita rasain. Nekomonogatari (White) yang novelnya kerasa begitu epik aja di sini terasa kayak… ukh.

…Mungkin juga aku ngerasa begini karena udah ngebaca sebagian novelnya sih. Jadinya sadar atau enggak sadar jadi ngasih perbandingan.

Sisi baiknya, ceritanya sendiri menurutku, sekali lagi, emang beneran bagus. Berhubung sebagian besar POV di seri ini diambil dari sudut pandang selain Araragi, kita benar-benar mendapat sudut pandang berbeda akan segala urusan soal kaii ini. Kita dapat insight lebih banyak, kita tersadar lebih banyak hal soal hubungan antar karakter, dsb.

Koimonogatari, seperti yang sudah kusebutkan, menjadi satu-satunya pengecualian dari kecendrungan ini. Itu satu-satunya bagian cerita yang menurutku diceritain secara bener dan jadinya bagus. Aku sempat ternganga karena animasi pembukanya dibikin dengan gaya anime retro dekade 80an dan 90an. Lalu dari segi cerita, Hitagi End menjadi klimaks aneh dengan begitu banyaknya kejutan yang terjadi.

Aku enggak akan merekomendasikan seri ini kecuali kau benar-benar penggemar seri-seri sebelumnya. Tapi kalau kau penggemar baru, mulai dari seri ini bisa saja sih. Masih bisa ada kemungkinan kau jadi tertarik. Sebab masih ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, ditambah hubungan keterikatan yang benar-benar kuat tapi agak terpisah dengan bagian-bagian cerita yang telah lalu.

Mungkin para staf di SHAFT sudah mulai lelah dengan seri ini dan ingin cepat berlanjut ke proyek mereka berikutnya. Tapi kurasa, selama fanbase-nya masih ada, suatu kelanjutan dari anime ini masih bisa diharapkan. Mwahahaha.

Hanamonogatari kabarnya akan ditayangkan pada akhir pertengahan(?) tahun ini btw.

Penilaian

Konsep: A;  Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: X; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

15/09/2013

Puella Magi Madoka Magica Movie 1+2

Ngebahas soal main stage AFA ID 2013 lalu, pada dua hari pertama sempat diputar kedua film dari proyek Mahou Shoujo Madoka Magica Gekijouban. Film pertama bertajuk Hajimari no Monogatari atau Beginnings (‘awal mula’). Sedangkan film kedua bersubjudul Eien no Monogatari, atau Eternal (‘abadi’ atau ‘keabadian’). Kedua film berdurasi rata-rata dua jam dan cakupan ceritanya bila digabung sepenuhnya meliputi ketiga belas episode seri TV yang ditayangkan pada awal tahun 2011 lalu.

Bagi yang belum tahu (walau aku agak susah percaya kalau ada yang belum tahu), seri Mahou Shoujo Madoka Magica adalah anime bergenre mahou shoujo yang dengan sukses mendobrak segala pakem mahou shoujo yang sebelumnya ada. Proyek besar studio SHAFT ini dibuat lewat kerjasama antara sutradara Shinbo Akiyuki (yang telah dikenal karena sentuhan narasinya yang nyentrik), penulis skenario Urobuchi Gen (yang menuai ketenaran sebagai penulis cerita Fate/Zero), serta desainer karakter Ume Aoki (yang membuat seri manga Hidamari Sketch).

Seri ini mempunyai segala elemen yang lazimnya ada dalam cerita mahou shoujo, tapi berakhir begitu berbeda dari seri mahou shoujo manapun yang pernah ada. Para karakternya imut, adegan-adegan aksinya keren, visualisasinya menyeramkan serta ceritanya gelap dan bahkan tragis. Lalu akhir ceritanya benar-benar memuaskan sekaligus menyentuh.

Aku sudah mengulas tentang seri ini sebelumnya. Jadi aku agak malas membahas soal ceritanya lagi. Tapi keseluruhan ceritanya enggak berubah, dan pastinya, semua karakter lama: Kaname Madoka, Akemi Homura, Tomoe Mami, Miki Sayaka, serta Sakura Kyoko; sama-sama tampil kembali.

Tapi walau ceritanya masih sama, aku tetap akan merekomendasikan untuk menonton kedua film layar lebar ini, soalnya kedua film ini bukanlah film kompilasi.

Sekali lagi, kedua film ini bukan film kompilasi!

Ini kali pertama aku merasa begini. Ceritanya sama. Alur adegan-adegannya sama. Tapi aku merasa seperti sedang melihat sebuah tontonan yang sama sekali baru dan belum pernah kulihat sebelumnya. Hampir seluruh animasinya terasa seperti dibuat dari awal.  Lalu walau aku sudah tahu soal apa-apa selanjutnya yang akan terjadi, kedua film ini tetap benar-benar bisa kunikmati. Ini persis seperti penceritaan ulang sebuah cerita yang sama tapi dengan cara yang berbeda.

Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan telah lamanya sejak aku menonton seri TV-nya juga sih…

Kalau boleh dikatakan, kedua film ini bisa semacam versi extended dari seri TV-nya. Adegan-adegannya agak diperpanjang dan diperbaiki agar lebih jelas penyampaiannya. Lalu sejumlah adegannya diperkeren dan dijabarkan agar lebih gamblang (walau aku sempat bingung soal kenapa adegan mimpi Madoka yang teramat keren di awal seri TV jadi ditiadakan dan hanya disebut selintas untuk versi ini).

Pada film kedua, karakter Madoka dan Mami sama-sama tampil lebih banyak. Jadi ada kepuasan tersendiri menyaksikan aksi lebih banyak dari Madoka dengan busur dan panahnya. (Fufu, kalian yang sudah mengikuti seri TV-nya pasti tahu maksudku.)

Beginnings memaparkan cerita sampai ke pertengahan konflik seputar Miki Sayaka, dan berakhir menggantung dengan cara keren dengan diiringi lagu ‘Magia’-nya Kalafina. Seperti yang terkesan di lagu pembuka baru untuk kedua film ini yang dibawakan duo ClariS, kedua film ini juga seakan mengangkat lebih dalam seputar hubungan Madoka dengan sang murid pindahan misterius yang menjadi tokoh antagonis, Akemi Homura.

Tapi ada suatu kesan tertentu yang bikin aku merasa kalau tetap lebih baik jika kalian mengikuti seri TV-nya dulu sebelum menonton kedua film layar lebar ini. Walau enggak harus juga sih. Soalnya sepanjang seri TV, kita kayak dibikin bertanya-tanya soal cerita ini sebenarnya tentang apa dan bakal dibawa ke mana. Sedangkan pada kedua film ini, jawaban pertanyaan-pertanyaan itu sudah disiratkan sejak awal, dan makanya bagi penonton baru jadinya mungkin enggak sekeren itu lagi.

(Sekali lagi, seluruh adegannya terasa berbeda. Tapi sekali lagi juga, mungkin itu cuma aku.)

Alasan sesungguhnya kenapa proyek film ini dibuat terletak pada dibuatnya film ketiga, Hangyaku no Monogatari, atau Rebellion (‘pemberontakan’), yang akan membeberkan kelanjutan kisah sekaligus kepastian nasib para Mahou Shoujo di atas. Film ketiga ini baru muncul di bioskop-bioskop Jepang pada bulan-bulan ini dan cerita pada film ketiga itu jelas sama sekali baru.

Ada sedikit cuplikan tentangnya pada akhir film kedua, dan telah dipastikan akan adanya kontrak Mahou Shoujo baru yang dibuat Kyubey dengan salah seorang tokoh di sana…

Oya. Aku belum ngebahas soal hal-hal teknisnya.

Keren.

Itu aja.

Efek itungan mundur dan tirai diangkat di awal dan akhir kedua film bener-bener keren. Lalu itu… aktingnya Chiwa Saito di sana… damn. Cara dia ngucapin sejumlah baris dialognya dia di sana aja udah bisa ngaduk emosi buatku dan ngebikin air mataku ngeleleh. (Dirinya menikah belum lama ini btw. Selamat menempuh hidup baru!)

Dramatisasi adegan-adegannya benar-benar dipertahankan. Walau beberapa adegan di film kedua, yakni pembeberan terakhir yang diungkap Madoka soal apa sesungguhnya yang terjadi, serta dilema yang Madoka hadapi berkenaan ibunya, malah jadi muncuat agak tiba-tiba bila dibandingkan dengan di seri TV-nya. Tapi kalau dicermati sampai akhir, maksudnya tetap bisa tersampaikan.

Ngomong-ngomong soal itu juga, bu guru wali kelas Madoka mendapat porsi tayang lebih banyak

Eniwei, ini sekali lagi sebuah tayangan keren yang bikin aku nyesel enggak beli merchandise Madoka apapun selama AFA kemarin. Kalau kau suka Madoka Magica, ini tetap direkomendasikan sekalipun kau pernah mengikuti seri TV-nya.

(Aku agak kaget bila ada yang enggak suka seri ini sih. Tapi ya sudahlah.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: A+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

04/02/2013

Nekomonogatari (Black)

Pada pertengahan awan bulan Desember 2012 lalu, adaptasi anime dari novel Nekomonogatari (Kuro) karya Nisio Isin secara agak tiba-tiba diumumkan dan kemudian ditayangkan sebagai film animasi berdurasi dua jam pada malam pergantian tahun. Bersama itu, dikonfirmasi pula bahwa seluruh ‘season 2’ dari seri novel Monogatari karya beliau ‘jadi’ dibuat animasinya pada pertengahan tahun 2013 ini.

Nekomonogatari (Kuro) (‘cerita kucing, sisi hitam’) merupakan cerita penutup dari ‘season 1’ seri ini, yang sebelumnya dibuka dengan Bakemonogatari yang animenya cukup fenomenal menjelang akhir tahun 2009.

Kamu percaya sama yang gaib?

Sebelum aku mengulas lebih lanjut, aku mau cerita dulu soal kenapa aku begitu suka pada seri yang sekilas terlihat begitu enggak jelas ini.

…Ini agak susah ngejelasinnya, tapi seri Monogatari, terlepas dari segala keenggakseriusan yang kadang ditampilkannya, pada dasarnya adalah serangkaian kisah serius tentang gimana orang menyikapi dan menemukan makna dari cinta dan kehidupan (ceileh).

Tema utama yang diusung jelas-jelas adalah seputar supernatural. Tapi, itu cuma kayak cuma jadi alat buat menekankan apa-apa yang pengen ditekankan; yakni soal para karakternya sendiri, lalu soal gimana cara pandang mereka dalam ngadepin apa-apa yang mereka alami.

Sori, sebelumnya aku ngerasa pede bisa ngejelasin ini. Tapi sesudah nyoba nulis langsung, aku agak bingung sendiri dalam nemuin kata-kata yang tepat.

Gimana ya?

Intinya, aku suka seri ini karena ini nunjukin secara jelas soal kesubjektifan.

Kamu enggak bisa menilai orang lain karena kamu belum tentu ngerti segalanya tentang mereka.

Kamu ngerti segalanya tentang orang lain sekalipun, tetep enggak berarti kamu paham diri kamu sendiri, karenanya kamu tetep enggak bisa mandang mereka rendah.

Ada banyak hal yang enggak akan pernah kau pahami di dunia ini. Jadi jangan sombong, wahai manusia. Tahu adatlah dikit, soal di mana posisi kamu berada.

…Mungkin sesuatu kayak gitu.

Bahasannya emang bisa muter-muter dan ngejelimet. Cuma, setiap kali aku memikirkan ulang dan memperhatikannya baik-baik, selalu ada suatu hal ‘dalem’ yang sungguh-sungguh disampaikan di dalamnya. Lalu meski hal ini tersamar di tiap episode dan hampir sama sekali enggak kelihatan di Nisemonogatari, hal berarti tersebut bisa benar-benar terasa dalam jangka panjangnya.

Aku baru sepenuhnya nyadarin soal ini sesudah aku baca sampai habis terjemahan bahasa Inggris dari Nekomonogatari (Shiro). Tapi itu soal lain.

Buat sekarang, kita bahas cerita pendahulunya dulu.

Alur Maju Mundur

Orang-orang yang masih mengikuti seri ini sampai sekarang mungkin sudah menyadarinya. Tapi seri Monogatari memang dituturkan dengan alur maju mundur. Bakemonogatari adalah pembuka, yang memperkenalkan seluruh cast tokoh utamanya. Disusul dengan Kizumonogatari, yang (sejauh ini) secara kronologis merupakan cerita paling awal di seri ini (aku masih enggak tahu apakah adaptasi animenya udah ada apa enggak). Lalu Nisemonogatari, yang ngegambarin semacam masa transisi sesudah Bakemonogatari. Lalu sekarang, Nekomonogatari (Kuro), yang berlatar di rentang waktu sesudah Kizumonogatari, tapi sebelum Bakemonogatari; persisnya, di masa liburan Golden Week, yang di salah satu adegan Bakemonogatari, dikenang sebagai sesuatu yang ‘enggak begitu ingin dibahas’ oleh sang tokoh utama, Araragi Koyomi.

Nekomonogatari, sesuai inti ceritanya, dibagi menjadi dua bagian, yakni sisi ‘hitam’ dan sisi ‘putih’. Tapi keduanya berfokus pada karakter sahabat Araragi, Hanekawa Tsubasa, yang sungguh-sungguh dikagumi dan dihormatinya.

Pada titik ini, Senjougahara Hitagi masih belum masuk ke dalam cerita.

Sesudah rangkaian pengalaman mengerikan yang dialaminya di masa liburan musim semi, Araragi mulai sedikit mempertanyakan soal bagaimana perasaan dan hubungannya dengan Hanekawa. Araragi pun kemudian berkonsultasi pada kedua adik perempuannya, Araragi Karen dan Araragi Tsukihi.

Lalu sesudah sebuah ‘adegan dialog bertele yang jelas-jelas disengaja dan nyata-nyata berbahaya sehingga dipotong sebagian di dalam versi animenya’, Araragi mulai mendapat hipotesa aneh kalau apa yang dirasakannya terhadap Hanekawa mungkin bukan sesuatu yang ‘sedalam’ bayangannya semula.

Tapi sebuah pertemuan kebetulan dengan Hanekawa di jalan membeberkan sedikit lebih banyak soal latar belakang keluarga Hanekawa terhadap Araragi. Araragi masih bisa berpikiran mesum dan bersikap seenaknya, namun jelas ia tak bisa tak memperlihatkan kepedulian terhadap situasi Hanekawa.

Kemudian di sinilah, ‘keganjilan’ selanjutnya yang terjadi, yang menimpa Hanekawa, harus ia hadapi. Semua Araragi rasa bermula dari sesosok bangkai kucing yang dirinya dan Hanekawa kemudian temukan terlantar di pinggir jalan, dan kemudian mereka kuburkan.

Singkat cerita, Nekomonogatari (Kuro) yang mengangkat bab Tsubasa Family mengetengahkan dari sudut pandang Araragi apa-apa sesungguhnya yang terjadi dalam liburan-Golden-Week-yang-begitu-tak-ingin-diungkitnya dalam Bakemonogatari. Persisnya, awal mula hubungan Hanekawa dengan siluman kucing yang kemudian menjadi bagian dari dirinya pada bab Tsubasa Cat.

Nya nya nya

Ceritanya benar-benar… gimana ya? Sesuai bayangan sih. Tapi tetap agak mengejutkan dalam beberapa bagian.

Oshino Meme, mentor Araragi, masih tampil kembali di gedung bimbel terbengkalai yang jadi markas mereka (mungkin ini cuma aku, tapi desain karakternya kayaknya dibuat makin keren dibanding waktu di Bakemonogatari), bersama apa yang tersisa dari vampir Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, yang bertanggung jawab atas ‘keabadian’ yang Araragi sampai dapatkan dalam episode Koyomi Vamp di Kizumonogatari. Lalu di sini, buat yang masih belum paham, digambarkan lebih jauh soal cara pandang dan motivasinya dalam bertahan di kota itu dan berjaga-jaga untuk Araragi.

Pokoknya, dipaparkan bagaimana sebuah situasi yang harusnya simpel ternyata benar-benar berkembang sampai lepas kendali sesuai ketakutan semula Oshino (akhir Kizumonogatari memberikan foreshadowing yang kental terhadap apa yang terjadi di sini). Hingga Araragi tak punya pilihan selain meminta bantuan pada nona vampir yang… di akhir Kizumonogatari, serta-merta telah Araragi dengan penuh sesal khianati segala harapannya.

Klimaksnya, jujur saja, ternyata lebih keren dari bayanganku (Kokorowatari muncul!). Tapi buat memahami sepenuhnya apa-apa yang terjadi, terus terang, aku perlu membaca versi novelnya dan membandingkannya dengan versi animenya (bab-bab awal novelnya luar biasa bertele, tapi bab-bab selanjutnya lebih padat dan ringkas).

Terlepas dari itu, adaptasi animenya ini benar-benar dibuat dengan bagus. Gaya khasnya masih sama. Lalu ada peningkatan sedikit pula dari segi kualitas visual. Meski nuansa visualnya kadang agak samar-samar, aku suka gimana efek-efek suara dimainkan dan ngasih penekanan terhadap apa-apa yang terjadi.

Akhir ceritanya memang agak ngegantung, agak nyisain tanda tanya, dan terhubung langsung dengan awal cerita Bakemonogatari. Tapi semua kepingan yang diperlukan buat memahami perkembangan cerita lanjutannya kemudian tersusun, dan kemudian kau kurang lebih ngeh soal kenapa bab cerita ini dikasih judul demikian.

Oh, dan bagi yang belum tahu, angka-angka tiga digit yang muncul di sepanjang animenya adalah angka-angka penanda bab di novelnya. Jadi tak perlu terlalu dipikirkan penampakannya di masa sekarang.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

27/09/2012

Nekomonogatari (Black) (news)

Berita yang kudengar kemarin: kelanjutan adaptasi anime dari seri novel Monogatari karya Nisio Isin yang baru sudah dikonfirmasikan. Nekomonogatari (Black) (‘cerita kucing, sisi hitam’) yang akan mengakhiri ‘season 1’ dari seri ini bakalan jadi dianimasikan, dan sepertinya tetap oleh studio animasi SHAFT dan sutradara Akiyuki Shinbo.

Hal-hal yang baru aku tahu:

  • Cerita berfokus lebih pada Hanekawa Tsubasa daripada Araragi Koyomi.
  • Berlatar waktu di antara Kizumonogatari dan Bakemonogatari.
  • Format adaptasi masih belum jelas.
  • Konon, keseluruhan season kedua seri Monogatari, mulai dari Nekomonogatari (White) sampai Koimonogatari, akan diangkat jadi seri anime berdurasi 26 episode. (Man. Apa itu bahkan mungkin?)

Ada suatu alasan tertentu mengapa bab cerita yang satu ini dikisahkan lebih akhir dibandingkan pendahulu-pendahulunya. Dan yea, ini episode yang mengetengahkan awal pertemuan Hanekawa dengan siluman kucing yang kemudian merasukinya. Lalu kudengar ini episode yang mempertemukan secara langsung Hanekawa dengan Oshino Meme untuk pertama kalinya.

Belum ada kepastian keluarnya anime ini kapan.

Di saat yang sama, season 3 dari seri novel ini sendiri baru mulai terbit.

(sumber: ANN, kayak biasa)

19/03/2012

Nisemonogatari

Berlatar di liburan musim panas sekolah, beberapa minggu sesudah akhir Bakemonogatari, Araragi Koyomi telah dipaksa(?) oleh dua gadis paling berarti dalam hidupnya, Senjougahara Hitagi dan Hanekawa Tsubasa, untuk melewatkan waktunya dengan belajar di rumah. Satu hari dilaluinya di bawah bimbingan Senjougahara. Lalu hari berikutnya akan ia lalui bersama Hanekawa.

Tapi kedamaian yang ia dapatkan berlangsung hanya sementara. Seorang pria asing bernama Kaiki Deishuu kembali hadir di kota. Dan kedatangan pria tersebut hanyalah awal dari serangkaian kesulitan baru yang harus Araragi hadapi terkait urusan-urusan supernatural; dimulai dengan masalah yang dihadapi oleh kedua adik perempuannya: Araragi Karen dan Araragi Tsukihi.

Aku agak malas menjelaskan sisanya. Tapi inti cerita Nisemonogatari (kurang lebih berarti ‘cerita tentang kepalsuan’), yang masih diangkat dari seri light novel karya Nisioisin, memang hanya sebatas itu. Ceritanya benar-benar hanya terkesan sebagai selingan, dan karenanya seri ini jelas tak semenonjol seri pendahulunya.

“Aku pacaran dengan Senjougahara…”

Ada dua bab utama dari seri ini, dengan masing-masing bab memberi fokus pada salah satu adik Araragi (Koyomi), yakni Karen Bee dan Tsukihi Phoenix.

Aku agak heran, karena inti cerita per babnya sebenarnya tak jauh berbeda dari durasi bab-bab di Bakemonogatari. Kalau begitu, apa yang membuat dua bab seri ini bisa sampai sepanjang 11 episode?

Apa iya semua waktu menonton kesebelas episode ini terbuang hanya lewat fanservice semata?

Damn.

Tapi tidak, tidak juga sih. Walau seri ini memang bisa dikatakan fanservice bagi penggemar seri Monogatari Nisioisin (dan pihak studio SHAFT selaku animator tampaknya memahami betul hal ini), dengan hampir semua tokoh lama tampil kembali dan bertingkah, asal kau cermati baik-baik, ada alasan tertentu kenapa semua ditatanya demikian. (Mungkin.)

Sengoku Nadeko yang manis tampil kembali di awal-awal cerita untuk mengingatkan kembali akan kesulitan ular yang dulu ia alami akibat rumor-rumor kutukan yang beredar. Diindikasikan juga bagaimana obsesinya terhadap Araragi memang sedemikian kuatnya, dan kelak menjadi pendorongnya untuk menjadi tokoh antagonis di seri-seri lanjutannya.

Kanbaru Suruga juga tampil kembali di awal-awal dengan memperlihatkan perkembangan keadaannya sesudah roh monyet itu mendiami tangannya. Gadis enerjik ini masih tetap mesum seperti biasa. Tapi diindikasikan bahwa kerabatnya, atau keluarganya, atau bahkan ibunya sendiri, mungkin berkaitan dengan Kaiki di masa lalu…

Hachikuji Mayoi, yang kini tak lagi merupakan roh tersesat, menjadi salah satu sosok yang paling Araragi bisa percayai tentang masalah-masalah supernatural ini, di samping bekas vampir Oshino Shinobu yang kini berdiam di dalam bayangannya. Kita diingatkan kembali akan detil hubungan mereka berdua. Hachikuji juga ditampilkan lebih sering di seri ini dibandingkan sebelumnya.

Berbicara soal Shinobu, digambarkan pula bagaimana hubungannya dengan Araragi mengalami perkembangan berarti di seri kali ini.

Oh ya. Berbicara soal judulnya sendiri, tema ‘kepalsuan’ memang memainkan peranan cukup besar dalam kedua bab seri ini. Aku tak tahu apakah itu hanya kebetulan atau memang menjadi sesuatu yang disengaja oleh Nisioisin. (:P) Tapi begaimana plot dan temanya secara apik menyatu pada kedua bab tersebut menurutku merupakan hal yang benar-benar menarik.

“…dan aku sangat suka Hanekawa…”

Kaiki Deishuu yang merupakan seorang penipu ulung menipu teman-teman sekolah Karen dan Tsukihi. Karenanya, Karen dan Tsukihi yang membentuk duo Fire Sisters menghadapinya untuk membuat perhitungan. Tapi hal yang tak mereka sangka terjadi, sehingga Araragi (Koyomi) jadi mesti turun tangan. Lalu dari sana terungkap pula bagaimana Kaiki juga pernah berkaitan dengan kesengsaraan yang dialami oleh keluarga Senjougahara, serta kutukan ular yang pernah menimpa Nadeko.

Bab Karen Bee diakhiri dengan konfrontasi atas Kaiki yang dilakukan bersama oleh Araragi dan Senjougahara. Dialog yang berlangsung pada adegan ini, seperti biasa, menjadi klimaks yang benar-benar menarik. (Walau mungkin tak seberkesan seharusnya sih.)

Bab Tsukihi Phoenix sendiri berkisah seputar identitas sesungguhnya dari Araragi Tsukihi, yang terungkap bersama kedatangan seorang wanita misterius bernama Kagenui Yozoru dan adik perempuannya(?), Ononoki Yotsugi. Pada bab ini juga dibeberkan kaitan yang Kagenui dan Kaiki pernah miliki dengan Oshino.

Tapi walau aku mengatakannya begitu, sebagian besar durasi Nisemonogatari benar-benar hanya diisi dengan fanservice. Fanservice-nya juga bukan tipe yang main-main, melainkan yang benar-benar mengeksploitasi sisi tak tahu malu Koyomi dan membuat para penonton berpikir, “Sial. Aku ingin membunuh orang ini. Aku ingin membunuh Araragi Koyomi. Aku ingin membunuh Nisioisin.”

Begitu.

Terutama sehubungan dengan kelakuan Koyomi terhadap kedua adiknya.

Mungkin Koyomi memang main-main. Mungkin itu semua hanya pembalasan Koyomi atas segala perlakuan buruk yang kedua adiknya pernah lakukan padanya di masa lalu. Tapi, yah, kau tahu maksudku.

Bagusnya, segala hal berarti dalam ceritanya nampaknya memang mereka sampaikan kok. Aku tak sepenuhnya yakin, karena porsi Tsukihi Phoenix jauh lebih sedikit dibandingkan Karen Bee. Tapi cerita utamanya sepertinya tertuntaskan (meski berakhir dengan tulisan ‘bersambung’), dan belum jelas apa akan ada ONA sebagai kelanjutan.

Apa ada alasan tertentu mengapa SHAFT membuatnya begini? Apa iya sebagian besar isi kedua jilid novel Nisemonogatari memang hanya basa-basi belaka?

Aku sampai merasa mereka yang masih mengingat Unlimited Rulebook itu apa di akhir seri layak untuk mendapatkan pujian.

“…tapi yang kelak ingin kunikahi cuma kamu, Hachikujiiiiii!” | “Gyaaaaaaa!”

Berbicara soal hal teknis, bila kalian sudah pernah melihat Bakemonogatari, maka kalian bisa membayangkan sendiri visualisasinya macam apa. Kebanyakan orang mungkin takkan terlalu mempedulikannya karena sisi nakalnya sih. Tapi kalau kuperhatikan baik-baik, kurasa cara SHAFT menangani visualisasi di Nisemonogatari benar-benar keren.

Timing setiap gerakannya itu bagus gitu. Benar-benar pas sesuai dengan suaranya. Efeknya tak terlalu kena ke kita karena ceritanya kayak gitu,tapi mungkin juga karena dunianya terkesan makin aneh, seri ini benar-benar enak dilihat kok. Begitu kau terbiasa dengan gayanya, tampilan Nisemonogatari bisa lumayan mengesankan secara bawah sadar.

Dari segi suara… Aku tak bisa bicara banyak sih. Lagu tema utama seri ini yang berjudul ‘Naisho no Hanashi’ dan memberikan warna ceria(?) dibawakan oleh pasangan duet ClariS. Meski bukan lagu supercell, Ryo yang bertanggung jawab atas aransemennya. Dan jadinya lagu ini memang menarik.

Argh, sudahlah.

Singkatnya, kalau kau penasaran dengan kelanjutan Bakemonogatari, kau takkan punya pilihan selain menonton ini. Memang terkesan agak enggak guna sih. Tapi kalau melihat seri novelnya, seri ini memang akan menjembatani apa-apa yang akan terjadi selanjutnya, dan mungkin saja ada detil cerita (sangat) tersamar di dalamnya yang aku lewatkan.

Di sisi lain, kalau kau tak sebegitu maniaknya terhadap Bakemonogatari, maka seri ini takkan terlalu kurekomendasikan. Detil-detil soal apa yang berlangsung di dalamnya bisa kau cari di media lain, kalau-kalau suatu saat kelak ada lanjutannya yang akan menarik minatmu.

Hei, setidaknya kedua bab seri ini tetap berakhir manis.

Meski mereka tak banyak berperan di dalamnya, tampilan baru Senjougahara dan Hanekawa sesudah musim panas menjadi daya tarik lebih.

Lalu di akhir cerita, Senjougahara pun telah memotong rambutnya, menampakkan senyumannya, pertanda bahwa kepribadian dan perasaannya telah pulih seperti sedia kala.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C-; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

21/02/2012

Futakotome – Chiwa Saito

Aku benar-benar suka lagu ini.

—–

今だって 君の隣で

いつだって 不安になるよ

窓の外 見ているふりで

ガラスに映る君を見ていた

君は私のどんなとこを 好きになってくれたのとか

今日もそんな私でちゃんと いられてるかいられてないか

行ったり来たり もうグルグルグルグル

その一言でね ほら全部全部忘れちゃって

その二言目で またもっともっと欲張りになる

君の前だと全部 解かれてくの どこまでも

——-

ima datte kimi no tonari de

itsudatte fuan ni naru yo

mado no soto miteiru furi de

GARASU ni utsuru kimi o miteita

 

kimi wa watashi no donna toko o suki ni natte kureta no toka

kyou mo sonna watashi de chanto irareteru ka iraretenai ka

ittari kitari mou GURUGURUGURUGURU

 

sono hitokoto de ne hora zenbu zenbu wasurechatte

sono futakotome de mata motto motto yokubari ni naru

kimi no mae da to zenbu hodokareteku no doko made mo

 

—–

Bahkan saat ini, saat sedang berada di sebelahmu,

kecemasanku akan kembali melanda

Pada saat aku berpura-pura memandang ke luar jendela

sebenarnya aku memperhatikan pantulan wajahmu di kaca

Apa sebenarnya dari diriku yang membuatmu jatuh cinta?

Sebab untuk hari ini juga, apa boleh orang sepertiku tetap berada di sisimu? Ataukah tidak?

Kita datang, kita pergi, semua terlanjur berputar-putar-putar-putar…

Dengan satu hal yang kau ucap saja, lihat, segalanya–segalanya–kemudian menjadi sirna

Dengan setiap tanggapan yang kau ucapkan, aku semakin–semakin–menginginkanmu

Setiap kali aku berada di hadapanmu, segalanya terus terurai sampai akhir masa

—-

Ini adalah lagu tema utama(?) dari anime Nisemonogatari yang tengah tayang pada musim ini dan sekaligus menjadi lagu tema dari karakter perempuan utamanya, Senjougahara Hitagi (yang disuarakan juga oleh Chiwa Saito).

Yang sejak dulu kukagumi dari hasil adaptasi animenya oleh SHAFT  adalah bagaimana sekalipun ada banyak adegan dari novel aslinya yang terpaksa dipotong karena durasi per episode, nuansa yang dihadirkannya berhasil dipertahankan. Salah satunya adalah melalui pilihan lagu-lagu tema yang dihadirkan pada pembuka dan penutup seri ini.

Lagu ini menurutku secara persis menggambarkan perasaan yang Senjougahara miliki terhadap kekasihnya, Araragi Koyomi, pada titik saat cerita ini terjadi. Mungkin perlu sedikit waktu untuk memahaminya, karena cara intepretasi aneh para animatornya benar-benar membuat sejumlah hal penting dalam cerita menjadi hanya sebatas tersirat. Tapi kurasa memang demikian halnya, terutama setelah apa-apa yang dibeberkan melalui bab Tsubasa Cat, terkait perasaan yang tokoh perempuan lain, Hanekawa Tsubasa, miliki terhadap Araragi.

Yang membuatku agak heran adalah semenjak mendengar lagu ini, aku entah bagaimana tak bisa lagi menikmati Staple Stable dengan cara sama seperti sebelumnya.

16/09/2011

Nisemonogatari (news)

Pengumuman resmi yang dimuat di situs ANN menyebutkan bahwa Nisemonogatari, sekuel seri horor remaja Bakemonogatari karya Nisio Isin, akan mulai mengudara adaptasi anime-nya pada bulan Januari mendatang, atau tepatnya, pada masa tayang musim dingin 2012. Seri TV baru ini meneruskan pengalaman-pengalaman supernatural siswa SMA sepersepuluh vampir Araragi Koyomi, dengan fokus lebih kepada dua adik perempuannya, Araragi Karen dan Araragi Tsukihi.

Karen dan Tsukihi (yang dijuluki ‘Fire Sisters’ di SMP mereka) pada seri sebelumnya lebih berperan sebagai tokoh minor. Tapi di sini keduanya akan mendapat sorotan dengan episode mereka masing-masing. ‘Karen Bee‘ untuk si tomboi Karen, yang mengisahkan ketika ia disengat sebuah lebah misterius yang membuatnya demam sampai tiga hari. Lalu ‘Tsukihi Phoenix‘ untuk si pemarah Tsukihi, yang mengisahkan bagaimana Tsukihi mendapati hadirnya sebuah entitas supernatural hebat di dalam tubuhnya.

Detil lanjut soal ceritanya, aku masih belum tahu. Tapi yang pasti di seri ini akan diperkenalkan dua dari tiga kolega lama Oshino Meme, yang menggantikan perannya sebagai sang ahli supernatural sepeninggal dirinya di akhir Bakemonogatari, sekaligus memainkan peranan sebagai tokoh-tokoh antagonis: Kaiku Deishuu, sang penjual informasi; serta Kagenui Yozuru, onmyouji wanita yang ditemani shikigami-nya, Ononoki Yotsugi.

Beralih ke soal teknis, studio SHAFT masih akan menangani pengerjaan animasinya, dan Shinbo Akiyuki masih akan menjabat peranan sebagai sutradara.

Hm. Apa lagi yang bisa kukata?

Yay.