Posts tagged ‘Seiji Kishi’

13/03/2016

Aura: Maryuin Kouga Saigo no Tatakai

Sesekali, aku perlu menulis sesuatu secara cepat. Jadi untuk kali ini, aku akan menulis soal ini.

Aura: Maryuuin Kouga Saigo no Tatakai (judulnya kira-kira berarti ‘Aura: perjuangan terakhir Maryuin Kouga’), atau yang juga dikenal dengan judul Aura: Maryuin Koga’s Last War, merupakan film animasi layar lebar keluaran tahun 2013 yang diangkat dari light novel berjudul sama buatan Romeo Tanaka yang aslinya diterbitkan tahun 2008. Seperti yang sebelumnya pernah aku singgung, aku punya perasaan agak gimanaa gitu terhadap karya-karya Romeo Tanaka-sensei, dan itu menjadi sebab utamaku memeriksa film layar lebar ini.

Alasan lainnya karena penyutradaraannya dilakukan oleh Kishi Seiji, dengan komposisi seri yang dibuat Uezu Makoto serta naskah buatan Kumagai Jun. Produksinya dilakukan oleh AIC A.S.T.A. dan susunan staf produksinya waktu itu menurutku benar-benar solid. Durasinya sendiri sekitar satu setengah jam.

Langsung saja ke intinya. Film layar lebar ini punya dua tokoh utama: Satou Ichirou yang disuarai oleh Shimazaki Nobunaga, dan teman sekelasnya(?), Satou Ryoko, yang dihidupkan lewat suara lembut khas milik Hanazawa Kana. Pada dasarnya, film ini bercerita soal bagaimana mereka bertemu dan saling mengenal.

Inti ceritanya adalah… lagi-lagi, tentang chuunibyou.

Dragon Terminals

Sebelumnya mesti kuakui, mulanya, aku enggak tahu kalau tema cerita ini adalah tentang chuunibyou. Aku bukan penggemar seri Chuunibyo demo Koi ga Shitai! (aku mengerti kalau seri itu bagus, jadi tolong jangan pukul aku) yang di sekitaran waktu itu sedang populer season pertamanya. (Buat yang agak lupa, itu keluar di tahun 2012.) Karenanya, pas melihat sendiri filmnya, aku kaget karena ini lagi-lagi cerita tentang anak-anak remaja yang harus bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia khayalan mereka.

Aku semula malah mengira Aura adalah seri bertema sains fiksi yang mengisahkan tentang bagaimana Ichirou, si tokoh utama, mendapati sekolahnya ternyata tempat bersemayamnya gerbang-gerbang ke dunia lain saat ia tanpa sengaja pada suatu malam melihat Ryoko berkeliaran di dalamnya. Ceritanya kemudian berkembang lagi dan lagi, saat kita menyelami lebih banyak ke latar belakang pribadi Ichirou dan Ryoko. Tapi sebelum sampai ke sana, aku benar-benar sempat heran sendiri.

Aku sempat kecewa begitu menyadari ini. Tapi pas menjelang akhir, aku enggak bisa enggak sedikit menyukainya, karena suatu alasan yang enggak begitu kupahami pada saat itu.

Setelah kupikir beberapa waktu kemudian, alasannya karena berbeda dari Chuunikoi yang notabene merupakan komedi romantis, Aura adalah cerita drama yang meski punya beberapa adegan (komedi?) yang bikin “Hah?”-nya, penggarapannya terus terang lebih berbobot dan serius. Ceritanya… bernuansa sedikit lebih suram, gelap, dan lebih to the point.

Mungkin juga itu karena cara pembawaan di materi aslinya yang dibuat Romeo Tanaka. Itu yang kumaksud. Kayak, ada sesuatu yang selalu membuatku penasaran pada cara penceritaan beliau, meski di akhir, cerita jadinya enggak selalu bisa kusukai.

Ada seorang temanku yang kebetulan melihat ini di waktu kurang lebih sama denganku. Lalu di akhir, dia membenci film ini. Mengenal temanku yang sifatnya memang serius, aku enggak kaget dengan reaksinya ini sih. Tapi memikirkannya belakangan, aku jadi sadar: pesan yang disampaikan film ini kayaknya memang bisa disalahpahami/disalahartikan, dan karena itu juga film ini tak terlalu dikenal?

Baliknya, mungkin ke soal apa kita tunduk pada pengharapan orang lain atau enggak. Tapi entah ya.

Kalau bisa, aku tak ingin terlalu berdebat soal pesannya, dan lebih ingin menekankan kalau ada sesuatu yang ‘kudapat’ dari film ini ketimbang sebaliknya.

Menara Meja

Bicara soal teknis, sekali lagi, ada nuansa ‘suram’ yang film ini tampilkan. Mungkin karena kuatnya nuansa kelabu yang ada dalam visualnya, yang berupaya menonjolkan nuansa keseharian yang biasa. Di sisi lain, ada kesan kuat yang diperlihatkan pada adegan-adegan ‘menakjubkan’ ketika Ryoko muncul, serta pada desain karakternya sendiri. Tapi meski tak benar-benar ada yang bisa dibilang jelek, kalau dipikir ulang, secara umum animasi visualnya tak kuat juga. Meski demikian, sekalipun jumlah karakter yang bernama notabene agak banyak, fokus selalu kayak berhasil terarah pada Ichirou dan Ryoko. Jadi karenanya, aku cuma bisa bilang hasilnya beneran efektif.

Suara Hanazawa-san sebagai Ryoko di sini seriusan juga menjadi daya tarik bagi sebagian orang. Soalnya, ini salah satu perannya di mana ia memperlihatkan suara lembut khasnya yang telah membuat banyak penggemar jatuh hati.

Satu hal lain yang patut kusinggung, lagu penutup “Bokura no Sekai” ternyata dinyanyikan CooRie, yang sebelumnya lumayan banyak terdengar pada pertengahan dekade 2000an lewat lagu-lagunya di Midori no Hibi dan School Days. Rasanya agak mengejutkan mendengar suaranya lagi.

Akhir kata, ini film anime yang termasuk solid kalau kalian suka tema-tema drama remaja begini. Tak terlalu ringan dan tak terlalu berat juga, dengan cerita yang langsung tuntas dengan sekali jadi. Untuk kalian yang tertarik dengan tema-tema begini (atau kalau kalian sepertiku, tertarik dengan karya-karya Romeo Tanaka), kusarankan untuk kalian memeriksanya.

Eh? Terus Maryuin Kouga yang ada di judulnya itu siapa?

Ah, itu sosok di masa lalu Ichirou yang harus dipanggilnya kembali untuk satu pertempuran terakhir di masa sekarang.

(Eh? Soal aura? Kalo ga salah itu sesuatu yang disinggung tokoh utamanya sebagai sesuatu yang dapat membedakan mana orang normal dan mana yang bukan.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

 

 

 

Iklan
19/10/2013

Danganronpa: The Animation

Yang suka Danganronpa: Kibou no Gakuen to Zetsubou ni Kokousei (atau yang belakangan juga dikenal sebagai Danganronpa: Trigger Happy Havoc) sebenarnya bukan aku, melainkan adikku. Buat beberapa lama aku sempat tertarik dengan ceritanya. Tapi berhubung gamenya pertama dirilis untuk konsol portabel Sony PSP, dan akunya terlanjur sibuk sehingga enggak sempat menyentuh game-game macam begini, aku belum kesampaian memainkannya. Baru sesudah adaptasi animenya, Danganronpa: The Animation, keluar aku akhirnya berkesempatan melihat seperti apa ceritanya.

Bagi kalian yang penasaran soal kenapa ada motif pistol dan peluru di sepanjang durasi animenya, itu karena game aslinya bukan sekedar game teks di mana kita tinggal ‘pilih-memilih.’ Dalam gameplaynya, ada kursor yang dengan cepat harus kita ‘bidikkan’ ke temuan-temuan petunjuk di layar maupun ke kata-kata yang mungkin mengandung kecurigaan dari karakter-karakter lain. Jadi selain sebagai visual novel, Danganronpa juga ada semacam elemen ‘tembak-menembak’, dan kesempatan yang kita punya untuk melakukan bidikan yang tepat selain durasi waktu juga bergantung pada banyaknya ‘peluru’ kesempatan yang kita punya.

Gamenya sendiri (yang memang termasuk kreatif) dikembangkan oleh Spike Chunsoft dan pertama dirilis pada tahun 2010. Adaptasi animenya yang berjumlah 13 episode dibuat oleh studio (relatif baru) Lerche dan pertama mengudara di musim panas tahun 2013. Kishi Seiji berperan sebagai sutradara, dan Uezo Makoto menangani naskah.

Buat yang penasaran, Danganronpa merupakan gabungan kata ‘dangan’ (‘peluru’) dan ‘ronpa’ (bantahan). Judulnya mengindikasikan bagaimana para karakter di ceritanya harus saling berdebat soal pembunuhan dengan kecepatan tinggi karena dikejar batas waktu.

Beat the twisted evil things

Gampangnya, cerita Danganronpa kira-kira begini.

Sejumlah siswa SMA baru di Perguruan Kibougamine dikurung di sekolah mereka oleh sesosok misterius dan sadis bernama Monokuma, yang berwujud seekor beruang yang putih setengah dan hitam setengah. Monokuma, yang menyebut dirinya sebagai ‘kepala sekolah’ mereka, memaksa para murid baru ini untuk memainkan suatu permainan keji di mana mereka harus membunuh salah seorang teman mereka, dan bisa lolos tanpa ketahuan dalam sesi-sesi penyelidikan yang kemudian berlangsung.

Pada awalnya, hanya sebagian kompleks sekolah yang bisa mereka jelajahi. Tapi bersama setiap pembunuhan yang terjadi, ada lebih banyak bagian sekolah yang bisa mereka akses.

Bersama setiap pembunuhan, sesudah suatu sesi penyelidikan yang lama waktunya telah ditetapkan, suatu sesi pengadilan yang disebut Gakyuu Saiban (‘pengadilan kelas’) kemudian dilakukan. Selama sesi ini, para murid harus membahas temuan-temuan mereka, menemukan siapa di antara mereka yang bersalah, dan akhirnya melakukan voting soal apa yang bersangkutan benar-benar bersalah atau tidak.

(Mereka yang diputuskan bersalah akhirnya akan dieksekusi/dihukum mati, btw.)

Satu hal yang membuat situasinya unik adalah kenyataan bahwa Kibougamine merupakan sekolah ‘super elit’ yang hanya menerima siswa-siswa ‘super berbakat’ dalam bidang-bidang tertentu. Jadi (walau penggambarannya agak komikal dan absurd), seluruh karakter yang terlibat di seri ini sama-sama memiliki kelebihan ‘super’ dalam suatu bidang.

Mereka yang mendapati diri terkurung meliputi:

  • Enoshima Junko; gadis remaja gyaru modis yang dikenal sebagai model fashion ‘super’ level SMA. Perilakunya khas seorang gyaru yang agak berharga diri tinggi dan seenaknya.
  • Oogami Sakura; siswi pendiam, berbadan besar, dan berotot kekar yang merupakan ahli bela diri ‘super’ level SMA. Keluarganya memang memiliki sebuah dojo bela diri.
  • Yamada Hifumi; siswa otaku gemuk yang agak penakut yang dikenal sebagai ahli pembuat doujinshi ‘super’ level SMA. Kelihatannya juga hobi mengumpulkan poster dan aksesoris idola-idola tertentu.
  • Celestia Ludenburg; gadis kalem berpakaian gothic lolita yang dikenal sebagai penjudi ‘super’ level SMA. (Perangainya terkadang berubah bila ada sesuatu yang tak berjalan sesuai perhitungannya.)
  • Fujisaki Chihiro; seorang anak pemalu berbadan kecil yang merupakan programmer ‘super’ level SMA. Sering terlihat dengan membawa laptop.
  • Kuwata Leon; seorang pemuda berangasan yang dikenal sebagai bintang bisbol ‘super’ level SMA (walau diindikasikan sebenarnya ia inginnya menjadi rocker).
  • Ishimaru Kiyotaka; siswa teramat disiplin dan rapi yang berpegang teguh pada peraturan, dikenal sebagai disipliner ‘super’ level SMA. Tampangnya agak mirip seorang perwira.
  • Maizono Sayaka; gadis cantik yang menjadi anggota suatu grup idola terkemuka, sehingga dikenal sebagai bintang idola ‘super’ level SMA. Ramah terhadap semua orang dan memiliki intuisi lumayan tinggi.
  • Fukawa Touko; gadis muram berambut kepang yang sangat memperhatikan citra diri, namun sesungguhnya adalah novelis best seller dan dikenal sebagai sastrawan ‘super’ level SMA. Memiliki bakat sebagai stalker.
  • Asahina Aoi; gadis periang berkulit coklat yang dikenal sebagai perenang ‘super’ level SMA. Gemar terhadap donat.
  • Oowada Mondo; remaja berdarah sangat panas yang menjadi anggota geng motor ‘super’ level SMA. Gaya rambut dan cara hidupnya sangat menonjolkan maskulinitas.
  • Hagakure Yasuhiro; remaja pemalas yang belakangan dikenal di kalangan cenayang, sehingga dikenal sebagai cenayang ‘super’ level SMA. Karena pernah tak naik kelas beberapa kali, dirinya yang paling tua usianya di antara mereka.
  • Kirigiri Kyouko; gadis pendiam, tenang, dan bersarung tangan yang karena suatu sebab dikenal sebagai ??? ‘super’ level SMA. Belakangan terkuak dirinya kehilangan sebagian ingatan masa lalunya.
  • Togami Byakuya; lelaki dingin yang merupakan pewaris perusahaan konglomerat ternama keluarganya, yang karenanya dikenal sebagai pewaris ‘super’ level SMA. Perhitungan dan waswas dalam memandang segala sesuatu.
  • Naegi Makoto; seorang siswa SMA kebanyakan yang kelihatannya diterima di Kibougamine semata karena keberuntungannya, sehingga dikenal punya kemujuran ‘super’ level SMA. Dirinya yang menjadi tokoh utama.

Monokuma dengan segala cara berusaha memaksa murid-murid ini melakukan pembunuhan. Ia terutama melakukannya lewat manipulasi informasi dan permainan pikiran soal apa-apa yang boleh diketahui oleh Naegi dan kawan-kawannya. Dunia luar terisolir dari mereka. Lalu Monokuma tampil sebagai sosok yang nampak seakan tak bisa hancur ataupun ditentang.

Tapi seiring perkembangan cerita, Naegi tumbuh menjadi orang yang memiliki andil terbesar dalam memecahkan misteri-misteri yang ada. Lalu seiring terjalinnya persahabatan antara dirinya dan teman-temannya yang tersisa, terkuak semakin banyak pula keganjilan tentang status Perguruan Kibougamine, berapa jumlah orang yang terkurung, serta tentang kenyataan soal diri mereka sendiri.

Never Say Never

Aku tertarik dengan anime Danganronpa selain karena adikku, tapi juga karena Mikage Eiji-sensei, pengarang seri Utsuro no Hako to Zero no Maria, pada suatu wawancara yang diterjemahkan beberapa bulan sebelumnya di buku-sebelum-buku-terakhir Hakomari, menyatakan bahwa dirinya juga tertarik untuk mengikutinya. Walau aku enggak lagi mengikuti Meitantei Conan, pada dasarnya aku memang suka cerita-cerita misteri. Tapi seri ini terbukti menjadi tak terlalu berat di misteri sejauh yang aku harapkan sih.

Sekali lagi, mungkin karena masalah durasi, dan ditambah dengan jumlah karakter yang banyak, aspek penyelidikan dan pemecahan misteri di anime Danganronpa tak terlalu disorot. Maksudku, hal-hal kayak penemuan petunjuk, munculnya misteri, serta pemaparan motif pelaku, jadinya tak banyak dipaparkan ketimbang seri-seri misteri lain. Yang lebih banyak dilihat adalah interaksi di antara para karakter—yang menurutku terpapar dengan lumayan baik. Mungkin karena banyaknya seiyuu veteran yang berperan di dalamnya. (Mereka  juga menyuarakan karakter-karakter yang sama di game.)

Eksekusi ceritanya juga lebih ngefokusin pada pemaparan plot. Temponya jelas jadi enggak sebagus di gamenya sih. Tapi inti ceritanya lumayan berhasil tersampaikan. Lalu, agak mirip kasus di Devil Survivor 2: The Animation, yang menjadi tonjolan sesungguhnya di seri ini jelas adalah aspek presentasinya.

Di atas, aku sempat menyinggung soal bagaimana pembunuh yang ketahuan bersalah kemudian dihukum mati oleh Monokuma. Cara-cara hukuman matinya itu…

Uh.

Aku enggak nyaman ngomong begini, tapi adegan-adegan itulah yang menjadi daya tarik utama seri anime ini yang sesungguhnya. Lebih baik enggak kusinggung lebih banyak agar lebih penasaran.

Sebelum aku lupa, musiknya menurutku termasuk keren. Aku suka lagu penutup maupun pembukanya. Lalu bahkan ada lagu yang dinyanyikan Monokuma juga di dalamnya. (Yang mengisi suara Monokuma dulunya mengisi suara Doraemon btw.) Jenis musiknya mengingatkanku pada soundtrack pada Persona 4: The Animation. Ada warna hiphop dan techno. Tapi mungkin itu cuma aku saja.

Seperti yang telah menjadi kekhasan Kishi-sensei, ada banyak permainan CG yang menarik di seri ini. Motif peluru di dalam gamenya dihadirkan dengan lumayan akurat. Bagi yang belum paham, kesannya memang jadi keju sih. Tapi di sisi lain itu salah satu daya tariknya yang lain.

Akhir kata, ini satu lagi seri di mana Kishi-sensei lagi-lagi gets the job done dalam mengadaptasi sebuah game menjadi anime dengan hanya 13 episode. Aspek ceritanya jadi terkompromikan. Tapi sebagian besar konten utama gamenya berhasil tersampaikan dengan pacing yang lumayan.

Danganronpa: The Animation lumayan bisa membuat aneh pada beberapa titik. Para karakternya dengan sengaja dibuat stereotipikal dan dengan sengaja pula dibuat aneh. Lalu karena ceritanya memang dipampatkan, ditambah plotnya yang aslinya memang simpel, ini bukan sesuatu yang dengan mudah akan kurekomendasikan ke orang. Tapi hasil akhirnya keren. Beneran keren.

Kalau kita beruntung, mungkin game sekuelnya juga akan dianimasikan suatu saat nanti.

Seri ini tak memberiku apa yang semula kuharapkan. Otakku tak memperoleh latihan pengamatan dan deduksi. (Aku tahu aku bisa saja mulai membaca Meitantei Conan lagi. Tapi…) Tapi kerjaanku lagi banyak belakangan, dan di akhir, seri ini tetap menjadi pengalihan perhatian yang bagus saat aku berusaha mencerna sejumlah hal. Aku tetap terkesan pada adegan akhir saat Naegi dan kawan-kawannya melangkahkan kaki ke dunia luar yang masih tersisa. Jadi kurasa seri ini boleh juga.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: B+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+ (dalangnya Junko)

Junko, dunia hancur, semua sempat dihapus ingatannya

10/09/2013

Devil Survivor 2: The Animation

Devil Survivor 2: The Animation adalah anime yang diangkat dari game SRPG Shin Megami Tensei: Devil Survivor 2 buatan Atlus yang keluar di konsol NDS (dan belakangan di 3DS). Game-nya pertama keluar di tahun 2011, dengan versi terjemahan untuk Amerika dan Eropa menyusul di tahun-tahun sesudahnya. Animenya sendiri keluar pada pertengahan awal tahun 2013, dengan durasi sebanyak 13 episode, dan dengan produksi dilakukan oleh studio Bridge.

Serupa dengan kasus Persona 4: The Animation yang keluar pada tahun 2012, seri ini disutradarai Kishi Seiji yang secara keren telah menangani animasi untuk game-game Megaten selama ini.

Seminggu Lagi Untuk Hidup

Serupa dengan game pendahulunya, cerita Devil Survivor 2 memaparkan ancaman terjadinya kiamat yang akan menimpa dunia. Sisa waktu yang dimiliki umat manusia adalah satu minggu. Lalu ceritanya mengetengahkan sekelompok anak SMA yang kemudian terjebak dalam berbagai situasi di dalamnya.

Sang tokoh utama, Kuze Hibiki, beserta sahabatnya, Shijima Daichi, dan seorang siswi perempuan dari sekolah mereka bernama Nitta Io, terlibat dalam suatu kecelakaan kereta misterius yang menjadi awal dari semua bencana ini. Tapi mereka bertahan hidup berkat kontrak yang kemudian mereka ikat lewat ponsel dengan suatu situs web misterius bernama Nicaea, yang juga menghadirkan suatu aplikasi ajaib yang memungkinkan mereka untuk memanggil Demon (Majin). Anehnya, Nicaea juga memiliki semacam fitur yang akan menginformasikan kapan orang-orang di dekat para penggunanya akan mati.

Ketiganya kemudian dihubungi seorang wanita bernama Sako Makoto, yang membawa mereka ke sebuah organisasi rahasia bernama JP’s (baca: ‘jips’). JP’s rupanya sejak lama telah berada di balik bayang-bayang pemerintahan Jepang. Lalu Kuze dan rekan-rekannya dipertemukan dengan pemimpin JP’s, seorang pemuda jenius sekaligus angkuh bernama Hotsuin Yamato, yang membeberkan bentuk sesungguhnya dari ancaman yang akan menimpa dunia: makhluk-makhluk raksasa yang disebut Septentrione.

Para Septentrione akan muncul secara bergantian dalam kurun waktu satu minggu di berbagai tempat di seluruh Jepang. Mereka ceritanya berperan sebagai semacam ‘ujian’ terhadap umat manusia, yang harus dikalahkan apabila umat manusia hendak selamat.

Kunci untuk mengalahkan mereka terletak pada aplikasi pemanggil Demon yang dapat digunakan oleh orang-orang tertentu. JP’s kemudian mempekerjakan Kuze dan kawan-kawannya ke berbagai tempat dalam upaya mereka untuk menyelamatkan dunia.

Kurang Dari Seminggu Untuk Mati

Berhubung aku menggemari seri-seri Megaten sejak lama, aku cukup antusias saat mendengar adaptasi anime seri ini akan dibuat. Persona 4: The Animation termasuk kasus adaptasi game ke anime yang ‘berhasil.’ Jadi pengharapanku bisa dikatakan lumayan tinggi. Cuma sayangnya, kayak yang mungkin udah bisa ditebak, seri ini enggak berakhir sebagus yang kuharapkan.

…Kalau ada satu hal menonjol yang mesti diakui, itu adalah kualitas visual yang dipunyai seri ini.

Animasinya beneran keren. Berhubung sistem permainannya menampilkan animasi pertempuran yang terbatas, melihat bagaimana masing-masing demon beraksi di seri ini benar-benar memukau. Setelah sekian lama, visualisasi Demon-Demon khas Shin Megami Tensei di seri ini dilakukan dengan cara yang benar-benar belum pernah terlihat sebelumnya. Jadi ini saja sudah jadi cukup alasan bagi para penggemar Megaten untuk mencoba mengikutinya.

Adegan-adegan aksinya ramai oleh efek gitu. Warna-warnanya yang gelap bercampur secara pas menghadirkan efek-efek sihir keren yang tampak kontras. Kuze dan kawan-kawannya bisa dibawa atau menunggangi sejumlah Demon melintasi berbagai permukaan tanah dan puing bangunan. Lalu kemunculan para Septentrione agak mengingatkan akan kemunculan para Angel di Neon Genesis Evangelion. Ada hal-hal ‘kolosal’ yang lumayan bikin terhenyak. Lalu efek-efek saat aplikasi ponsel pemanggilan Demon digunakan akan menghadirkan pola-pola cahaya yang benar-benar keren.

Para karakter secara khusus diasosiasikan dengan Demon-Demon tertentu, yang disesuaikan dengan sifat dan kecocokan mereka. Para Demon Megaten yang telah lama dikenal fans dihidupkan secara pas lewat seri ini. Pyro Jack terlihat membara, misalnya. Obariyon terlihat lemah. Lalu Satan dan Lucifer sama-sama tampil sebagai Demon ultimate yang hanya muncul di saat-saat terakhir.

Semuanya juga turut didukung oleh audio yang lumayan gitu.

Tapi…

Yah, mungkin ada kaitannya dengan durasi seri ini juga sih.

Berhubung seri ini diberi durasi hanya separuh dari Persona 4: The Animation; kualitas naskah ceritanya kayaknya jadi agak berdampak.

Meski tempo ceritanya tak sampai terburu-buru, plotnya memang terkesan agak dipadatkan dalam 13 episode ini. Episode-episodenya dinamai sesuai nama-nama hari, dengan beberapa hari tertentu mencakup dua-tiga episode. Ada banyak hal yang terasa bisa dieksplorasi lebih jauh gitu, namun pada akhirnya hanya dibahas secara terbatas. Ini terutama menyangkut penggalian para karakter, dan bagaimana dalam game-nya ada suatu dilema berkelanjutan tentang bagaimana cara menyelamatkan orang-orang yang telah ‘diramalkan’ oleh Nicaea akan mati. Akibat dari hal ini adalah banyaknya karakter di anime ini yang terkesan sebatas ‘ada hanya karena mereka ada.’ Sayangnya, jumlah karakter di seri ini enggak bisa dibilang dikit.

Sejumlah poin penting ceritanya jadi terasa aneh gitu: seperti soal konspirasi politik yang berusaha diungkap Kuriki Ronaldo yang kemudian membuatnya menentang JP’s, teka-teki soal dari mana para Septentrione berasal, siapa lelaki misterius yang menyebut dirinya Alcor, lalu tumbuhnya faksi-faksi berbeda pendapat yang dalam gamenya (sesuai tradisi Megaten) bisa para tokoh utamanya dukung. Ceritanya memang berujung pada pertemuan dengan sosok dewa misterius bernama Polaris yang disebut menjadi pemrakarsa ‘ujian’ ini. Tapi di hasil akhirnya, tetap terasa ada sesuatu yang aneh.

Kayak… kenapa semua para karakter ini perlu ada? Soalnya, hubungan antara mereka dan peran mereka dalam cerita benar-benar jadi tersamar. (Hubungan antara Ronaldo dan ayah salah satu karakter lainnya misalnya, tak begitu tergali di seri ini.)

Meski eksekusi animasinya memukau, sebagian besar karakternya terasa datar dan kurang menarik. Ini kontras dengan nuansa khas Megaten yang bisa bikin pemain terus bertanya-tanya soal apa yang terjadi, dan soal bagaimana hubungan antara masing-masing orang. Hal ini terasa lebih menyakitkan bila mengingat versi game dari Devil Survivor 2 lumayan menggali faktor hubungan antar karakter ini. Ada fitur Fate System di gamenya yang serupa dengan fitur Social Link yang ada pada game-game Persona 3 dan Persona 4.

Jadi, karena kebetulan aku dulu pernah memainkan game Devil Survivor yang pertama, aku jadi penasaran. Lalu aku mencari-cari informasi tentang game keduanya karena nuansa cerita di animenya begitu berbeda. Ternyata, memang ada lumayan banyak detil elemen ceritanya yang diubah.

Tapi cukup terasa betapa para animatornya telah berusaha sebaik mungkin. Para pembuat seenggaknya berusaha menampilkan tambahan informasi melalui biodata-biodata ringkas yang dimunculkan antar segmen.

Last Day

Dari segi teknis, seri ini benar-benar termasuk memuaskan, dan studio Bridge berhasil menunjukkan kepiawaian mereka. Penggambaran adegan-adegan kerusakan besar-besaran di sini merupakan salah satu penggambaran bencana paling memuaskan di anime. Cuma dari segi cerita tadi, yah, mungkin para penggemar masih perlu menunggu sampai hadirnya anime Megaten dengan cerita yang benar-benar bagus. (Enggak. Enggak usah kalian cari tahu soal OAV Megami Tensei yang jadul itu.)

Eniwei, aku pribadi merasa aku bakalan lebih menikmati anime ini andai usiaku lebih muda. Soalnya, ini memiliki elemen khas seri Jepang di mana ‘para tokohnya bisa tiba-tiba menjadi kuat semata-mata karena kekuatan hati.’ Ini agak mengecewakanku di beberapa bagian, terutama di adegan-adegan konfrontasi melawan para Septentrione. Tapi mungkin juga itu terjadi karena pergeseran selera yang telah kualami.

Semua lagu tema seri ini cukup keren. Lagu ‘Take Your Way’ yang dibawakan Livetune (feat. Rin Oikawa) belakangan lumayan terkenal (mereka bakal tampil di AFA Singapore 2013 btw). Lalu lagu ‘Be’ yang dibawakan grup Song Raiders membuatku nyengir lebar karena nuansanya benar-benar pas dengan keadaan hidup-mati yang seri ini coba usung.

Desain karakter yang diadaptasi dari desain orisinil buatan Yasuda Suzuhito benar-benar keren dalam banyak arti. Sementara desain abstrak masing-masing Septentrione ternyata dibikin oleh mangaka Kitoh Mohiroh yang telah punya nama dalam menggambar hal-hal nakutin dan aneh kayak gini.

Ini seri yang sebenarnya benar-benar menarik dan patut dikaji. Orang kurasa bakal menyukainya lebih karena aspek-aspek tertentunya daripada karena hasilnya secara menyeluruh. Kalian yang lebih mudah tergerak oleh visualisasi adegan bisa menyukai seri ini. Tapi kalian yang mengharapkan drama dan perkembangan karakter kurasa akan lebih memilih mengikuti sesuatu yang lain.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: B+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: C+

24/09/2012

Jinrui wa Suitai Shimashita

Mungkin enggak ada gunanya aku mengatakan ini, tapi sebagai penulis, aku sempat tertarik dengan apa yang namanya visual novel. Bukan apa-apa ya. Cuma, dengan kesederhanaan fitur, media visual novel itu bisa mendatangkan pengalaman memasuki dunia lain yang sedikit beda dengan apa yang dihadirkan lewat film atau buku. Argh, gimana mengatakannya ya?

Yah, sebut saja, di samping fitur keinteraktifannya, plus ditambah adanya gambar dan suara, kita enggak pernah benar-benar bisa yakin kapan cerita yang kita baca dalam sebuah visual novel bakalan berakhr. Soalnya enggak ada indikasi berapa jumlah halaman tersisa, berapa sisa durasi waktunya, dan sebagainya.

Yah, lalu, pada masa-masa aku sedang meneliti perkembangan visual novel yang bagus dari Jepang tersebut (situs VNDB lumayan banyak membantu buat hal ini; asal tahu saja, ada banyak judul yang ditampilkan di dalamnya yang bersifat NSFW), tentu saja aku sampai pada berbagai rekomendasi judul visual novel yang dianggap yang terbaik sepanjang masa.  Salah satunya, yang dipandang temanku sebagai VN terbaik favoritnya, adalah Cross Channel, dan itulah kali pertama aku mengenal nama Romeo Tanaka.

Aku enggak bisa ngebayangin isi kepala Tanaka-sensei saat beliau menulis naskah Cross Channel itu gimana. Cerita dan gaya narasinya itu… beneran aneh. Inti ceritanya tentang sekelompok remaja yang diasingkan dari masyarakat di dalam sebuah kota terpencil akibat ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial. Lalu karena suatu alasan misterius, ingatan mereka sesudah waktu seminggu akan selalu d-reset ulang. Lalu ceritanya, sebagian dari mereka yang tergabung dalam klub penyiaran berupaya memperbaiki menara pemancar yang rusak untuk sekedar bisa mengetahui masih adakah orang-orang lain yang tersisa di dunia selain mereka. Tokoh utamanya itu seorang karakter cowok yang meski maksudnya mungkin baik, tingkat kemesuman otaknya sudah benar-benar di luar nalar. Dan mungkin karena aku belum cukup bisa sabar atau gimana, aku tak tahan membaca VN itu sampai selesai.

Lalu pada musim panas 2012 ini, anime Jinrui wa Suitai Shimashita (‘umat manusia telah mengalami kemunduran’) yang diangkat dari seri novel karya Tanaka-sensei mengudara. Lalu untuk beberapa lama aku tak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Di akhir, aku tetap bersyukur karena bertahan mengikutinya sih.

Maksudku di sini, aku beneran bersyukur.

Itu Terlalu Negatif

Di masa depan, peradaban manusia telah kehilangan kejayaannya. Apa yang tersisa di dunia hanyalah puing-puing dari segala prestasi yang dulu umat manusia capai. Teknologi dan ilmu pengetahuan secara berangsur menghilang. Namun demikian, walau populasi mereka sudah tidak lagi sebanyak dulu, walau hidup harus mereka jalani dengan serba keterbatasan, manusia di zaman ini telah hidup dalam kedamaian.

Mungkin premis yang mengingatkanku akan Yokohama Kaidashi Kikou menjadi daya tarik utama seri ini bagiku. Tapi fokus cerita ini sebenarnya bukan berbagai persoalan zaman. Melainkan kaum peri, yang pada suatu ketika tiba-tiba saja muncul, dan diyakini hadir di Bumi untuk menggantikan manusia sebagai ‘umat manusia yang baru’ …

Kaum peri ini… kecil. Sebesar, mungkin, ibu jari. Pakaian mereka cerah. Wujud mereka imut. Mereka tak menampakkan diri kepada semua orang. Tapi saat mereka menampakkan diri… yah, intinya, fenomena-fenomena yang mereka timbulkan menjadi hal paling awal yang tampak sih. Dan fenomena-fenomena yang kumaksud di sini adalah berbagai tingkah dan ulah yang mereka lakukan. Karena mereka sangat suka bergembira (di samping kue-kue dan makanan manis), jadi ide baru apapun yang terlihat menggembirakan bagi mereka dengan cepat akan menyebar sebagai semacam tren yang muncul secara seketika. Lalu mereka didukung oleh kemampuan dan teknologi membangun yang sudah di luar daya pemahaman manusia—seperti sihir! Dan, yea, fenomena-fenomena yang mereka ciptakan acapkali menimbulkan kehebohan.

Karena itu, organisasi PBB mewadahi secara khusus orang-orang yang dipandang bisa berhubungan baik dengan mereka, yang pada dasarnya menjadi duta antara kaum manusia dan peri.

Tokoh utama cerita ini adalah seorang gadis yang menjadi salah satu duta itu. Bersama kakeknya yang menjadi atasannya, beserta seorang anak lelaki handal namun sangat pendiam yang menjadi asistennya, berbagai pengalaman bersama kaum peri mereka alami—yang sedikit banyak memberikan banyak renungan tentang sifat dan arti keberadaan manusia di muka bumi.

OMG, Rotinya! Rotinyaaaaa!

Sial. Susah menggambarkan seri ini secara baik.

Meski bernuansa dongeng fantasi, ada terlalu banyak hal yang—sekilas—keji dan agak terlalu berlebihan yang ditampilkan di dalamnya (walau ditampilkannya juga secara main-main).  Maksudku, meski maksudnya komedi ada elemen-elemen absurditas dan satir di dalamnya! Makanya (kayak Cross Channel juga) ini jelas bukan sesuatu yang bakalan bisa disukai semua orang. Tapi berbeda dari Cross Channel, aku bisa suka seri ini. Karena… gimana ya? Mungkin karena aspek-aspek khusus dewasanya berkurang? Mungkin karena seri ini memang lucu dan menyentuh hati dengan cara yang sama?

Aku juga sebenarnya enggak yakin.

Soalnya daripada isi ceritanya sendiri, bagaimana ceritanya disampaikan adalah apa yang membikin cerita ini jadi bagus. Para tokohnya enggak benar-benar dibeberkan namanya. Dan kita lebih mengenal mereka karena tampang dan sifatnya daripada karena nama mereka sendiri (seperti si Aku yang menjadi tokoh utama, si Kakek, lalu si Asisten, dsb.). Tapi kita bisa menyukai mereka semua. Tokoh Aku yang membawakan cerita ini beneran gampang kusukai. Komentar-komentar pesimis cerdasnya yang ia selipkan dalam narasi dia kerap bikin aku ngakak. Lalu kaum peri (yang dilahirkan tanpa nama, namun masih punya kemampuan ajaib buat saling membedakan satu sama lain) semuanya benar-benar imut dan menggemaskan (walau mereka sebenarnya enggak kalah pesimisnya dibanding si tokoh utama, mereka selalu digambar dengan senyuman lebar). Salah satu kekonyolan cerita ini adalah bagaimana suatu fenomena aneh bisa terjadi semata-mata karena dorongan keinginan mereka untuk bisa makan yang manis-manis. Di samping itu, alur cerita ini juga kerap maju-mundur, dan memberikan pemahaman lebih dalam terhadap dunianya dengan cara yang sebelumnya tak terbayangkan.

Seri novelnya masih terus berlanjut, tapi animenya diakhiri dengan kesan lumayan kuat. Ada beberapa episode yang tingkat aneh-nya terlampau sukar diikuti orang-orang awam sih. Tapi begitu kau bisa melewati episode-episode itu, sisa episode terakhirnya (bagiku, seenggaknya) beneran luar biasa.

Dengan Ini Secara Resmi Aku Menjadi Penggemar Nakahara Mai

Bicara soal hal-hal teknis, visualisasi latar seri ini dikhususkan berbentuk 2D dengan gaya menyerupai lukisan-lukisan cat air. Pewarnaannya karena itu jadi terkesan terbatas, dan anime ini dari awal sampai akhir (kecuali di episode-episode tentang manga) benar-benar terkesan seperti buku gambar bergerak. Mungkin perlu sedikit waktu buat membiasakan gaya gambar ini sih. Tapi alasan mengapa gaya gambar ini dipilih bisa kupahami. Dan aku enggak bisa habis pikir gimana visual di episode-episode terakhirnya bisa memukauku sekalipun dengan hanya gaya gambar kayak begini.

Para karakternya enggak terlalu digambarkan seperti itu sih. Kesemuanya, baik yang utama maupun sampingan, digambar dengan cara lumayan normal. Semua desain karakternya cukup bisa berkesan tanpa terlalu menonjol, terlebih bila melihat gimana mereka semua pada dasarnya adalah orang-orang biasa.

Soal audionya, damn, aku enggak menyadarinya di awal, tapi aku beneran harus mengakui kalau itu bagian terbaik seri ini. Soalnya, tanpa pengisi suara dan BGM-nya yang bagus ini, seri ini enggak akan ada apa-apanya. Susah menjabarkannya. Mungkin karena seri ini secara menyeluruh bukan jenis yang akan langsung kau suka, but the kind that kinda grows on you. Lagu pembuka dan penutupnya juga bukan jenis yang menonjol pada awalnya.

Singkat kata, sang sutradara, Seiji Kishi, beneran berhasil dalam segala aspek di seri ini. Aku sebelumnya merasa tempo penceritaannya cenderung bermasalah bagiku, menilai dari Angel Beats! dan Persona 4 The Animation yang juga disutradarainya dulu. Tapi dengan ini, aku harus mengakui kalau dia beneran salah satu sutradara anime paling menonjol saat ini. Nama-nama lain yang kurasa layak diingat adalah Uezu Makoto sebagai penulis skenario dan Sakai Kyuuta sebagau sutradara animasi utama.

Bicara sedikit soal publikasinya, seri novel Jinrui pertama terbit tahun 2007 di bawah bendera Gagaga Bunko-nya Shogakukan dan hingga kini masih berlanjut. Ilustratornya sempat berganti dari Yamasaki Tooru ke Tobe Sunaho pada tahun 2011, dan gambar Tobe-sensei yang kemudian dijadikan acuan untuk desain anime ini. Lalu sekurangnya sudah ada tiga adaptasi manga oleh sejumlah pengarang berbeda. Tapi soal ini, kurasa aku tak akan bahas lebih banyak.

Seri ini… kusuka karena mengingatkanku akan besarnya arti rasa syukur dan kerja keras. Serius, dalam satu dan lain hal, semua tokoh di seri ini pekerja keras, dan sebagai seorang pemalas sejati yang punya pandangan hidup tak kalah pesimisnya dari mereka, sifat mereka benar-benar membuatku tergugah.

Jadi mungkin di akhir, pada akhirnya seri ini kusuka karena memang cocok dengan kepribadianku saja.

Penilaian

Konsep: B+; Visual B+; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A