Posts tagged ‘sci-fi’

27/09/2017

Hundred

Label light novel GA Bunko dimiliki penerbit SB Creative.

Ketika label tersebut berulang tahun yang kesepuluh, mereka memprakarsai adaptasi anime dari sepuluh seri LN-nya.  Sepuluh anime tersebut diproduksi studio-studio berbeda dalam kurun waktu berbeda pula. Kualitasnya beragam, tapi tetap lumayan berhasil mempromosikan judul-judul keluaran mereka.

Tanpa diurut secara khusus, dan kalau aku enggak salah, kesepuluh seri yang diadaptasi tersebut antara lain adalah:

  • Rakudai Kishi no Chivalry (Seri pertama yang diadaptasi. Lebih bagus dari dugaan.)
  • Dungeon ni Deai o Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka? (Dikenal juga sebagai Danmachi. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)
  • Haiyore! Nyaruko-san (Menarik.)
  • Hundred (Akan dibahas sebagai berikut.)
  • Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de (Lumayan, punya beberapa adegan yang benar-benar bagus.)
  • No-Rin (Relatif bagus.)
  • Oda Nobuna no Yabou (Lebih bagus dari dugaan.)
  • Saijaku Muhai no Bahamut (Lumayan.)
  • Seiken Tsukai no World Break (Menarik.)
  • Danmachi Gaiden: Sword Oratoria (Seri terbaru yang diadaptasi saat aku menulis ini. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)

Di antara semua judul di atas, yang paling menarik perhatianku saat adaptasinya pertama diumumkan adalah Hundred.

Seri ranobe Hundred ditulis oleh Misaki Jun dan diilustrasikan oleh Oukuma Nekosuke (Oukuma-sensei yang juga membuat desain karakter asli untuk Shinmai Maou no Testament). Hundred pertama terbit pada tahun 2012 dan sejauh ini, telah punya buku sebanyak belasan.

Alasan aku tertarik pada Hundred adalah karena sejumlah kemiripan yang Hundred miliki dengan Infinite Stratos, suatu seri populer lain yang diterbitkan penerbit Overlap. Ada persenjataan eksoskeleton yang dipasang di badan (aku akui, sesudah melihatnya sendiri, istilah ‘eksoskeleton’ ini kurang tepat sih). Ada latar dunia yang futuristis. Ada sekolah khusus yang perlu diikuti oleh para karakter utamanya. Ada pihak-pihak yang bermain di belakang layar.

Intinya, ada banyak hal keren di dalamnya yang membuatku tertarik. (Jadi, bukan. Bukan karena fanservice-nya. Walau, berhubung Oukuma-sensei yang merancang, aku memang sedikit tertarik sih.)

Salah satu perbedaan yang Hundred miliki dibandingkan sejumlah seri lain yang ‘mirip’ adalah bagaimana sekolah khusus yang menjadi latar cerita—yakni kapal induk sekaligus kota terapung di tengah laut bernama Little Garden—adalah sekolah campuran untuk cewek dan cowok. Jadi, tidak ada situasi ‘harem ekstrim’ seperti halnya di Infinite Stratos atau di Saijaku Muhai no Bahamut.

Di samping itu, juga adanya ancaman makhluk-makhluk buas misterius bernama Savage terhadap dunia. Monster-monster ini yang konon hanya bisa dilawan menggunakan senjata-senjata istimewa Hundred yang ditonjolkan seri ini.

Anime Hundred pertama keluar pada musim semi tahun 2016. Jumlah episodenya sebanyak 12. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Production IMS. Sutradaranya adalah Kobayashi Tomoki. Naskahnya ditangani Shirane Hideki. Lalu musiknya ditangani oleh Naruse Shuhei.

Sebelum dibahas lebih jauh, Hundred sebenarnya bukan anime yang bagus.

Iya, ini sayangnya bukan judul yang akan aku rekomendasikan. Tapi, ada beberapa hal tentangnya yang sempat lama membuatku penasaran.

“Hundred On!”

Yah, singkat cerita…

Kisaragi Hayato, sang tokoh utama (bentuk Hundred: pedang katana dan pelindung lengan), terpilih masuk ke Little Garden karena memperoleh nilai kecocokan tertinggi sepanjang sejarah dalam tes kecocokan dengan Hundred. Tes kecocokan ini dilakukan untuk mencari bibit-bibit Slayer baru yang akan dididik menggunakan perangkat-perangkat Hundred.

Slayer ceritanya adalah istilah untuk orang-orang yang terlatih menghadapi serangan Savage. Mereka dilengkapi perlengkapan Hundred yang khusus digunakan oleh mereka sendiri.

Savage sendiri… bentuk mereka seperti makhluk-makhluk melata buas berukuran raksasa dengan kulit berwarna gelap dan garis-garis neon. Sejauh yang dipaparkan dalam cerita, belum terungkap dari mana asal mereka.

Hayato, ceritanya, adalah seorang remaja dari negara kepulauan Yamato (yang mirip Jepang). Dia dari sejak awal lumayan terlatih dalam ilmu bela diri. Dirinya juga bersedia menerima tawaran beasiswa di Little Garden karena sekalian bisa mendapatkan fasilitas perawatan mutakhir untuk adik perempuannya yang sakit-sakitan, Kisaragi Karen.

Tapi baru masuk, Hayato langsung mendapat masalah dengan para anggota Dewan Siswa. (Karena Hayato membela sejumlah siswi baru yang hendak langsung dikeluarkan karena terlambat mengikuti upacara.)

Dibeking oleh negara adidaya Liberia (mirip Amerika) yang memprakarsai penelitian terhadap Hundred, para anggota Dewan Siswa ini memiliki otoritas tertinggi di Little Garden. Selain mengatur sekolahan, mereka juga mengatur seluruh aspek komando pertahanan di pulau. Mereka dipimpin seorang perempuan berambut pirang bernama Claire Harvey (bentuk Hundred: drone-drone melayang pemancar sinar, yang bila disatukan bisa membentuk meriam raksasa), yang tidak segan memberi Hayato ‘ujian praktek’ langsung saat ia membangkang.

Untungnya, Hayato sebelumnya berkenalan dengan Emile Crossfode (bentuk Hundred: fleksibel, bisa berubah hampir menjadi bentuk apapun), seorang pemuda rupawan yang menawarkan diri menjadi partner sekaligus teman sekamarnya. Meski seangkatan dengan Hayato, dan berkesan lemah lembut, Emile ternyata seseorang yang sangat ahli dalam menggunakan Hundred.

Emile, bersama Hayato dan bakat alaminya, ternyata bisa menjadi lawan yang sepadan bagi Claire dan rekan-rekannya. Mereka sama-sama berhasil menunjukkan kalau Hayato memang seseorang yang layak dipertahankan.

Sampai ketika… Savage tiba-tiba menyerang. Keadaan darurat terjadi. Lalu, para Slayer harus bersatu karena kurangnya orang.

Lalu dalam aksi yang terjadi, Hayato menyadari kekuatannya yang sesungguhnya sebagai Variant. Lalu, ia memahami pula siapa Emile sesungguhnya…

Teman Lama, Teman Baru

Iya, pembuka ceritanya kurang meyakinkan. Iya, ada kesan “Intinya cuma gini doang?!” Lalu, iya, semua bahan yang diperlukan untuk membuat sesuatu yang rame itu ada, tapi entah gimana, semua jadinya… hanya sebatas demikian.

Ada banyak hal menarik yang terus diperkenalkan dan ditambahkan. Ada karakter-karakter menarik (seperti teman-teman Hayato dan Emile, si penembak jitu Fritz Granz dan teman masa kecilnya yang mungil, Latia Saint-Emillion). Ada teori-teori soal asal-usul Hundred dan manusia-manusia Variant. Ada masa lalu yang dibagi bersama dengan para karakternya (semisal, penyanyi idola Kirishima Sakura, yang ternyata pernah mengenal Hayato dan Karen di masa lalu, sekaligus juga pengguna Hundred). Ada misi-misi ke luar sekolah yang dikerjakan bersama pasukan multilateral. Ada campur tangan orang-orang misterius (seperti Judal Harvey, kakak lelaki Claire, kepala Warsiran Research Facility). Ada rahasia-rahasia yang tersembunyi di bawah Little Garden (seperti soal LiZA, yang konon adalah perwujudan adik perempuan Claire).

Tapi janggalnya, semua itu enggak benar-benar berujung ke mana-mana.

Dengan kata lain, di antara sepuluh anime yang diadaptasi dari seri LN GA Bunko di atas, Hundred adalah yang paling tidak menonjol.

Aku sempat susah menerima ini. Kok bisa sih hal ini terjadi?

Tapi, sesudah melihat perkembangan cerita di episode-episode berikutnya, lalu mengerti kalau ini pasti mengangkat cerita dari seri novelnya, aku kurang lebih jadi mengerti bagaimana staf produksi animenya jadi kurang termotivasi.

Sempat ada fans menerjemahkannya. Jadi aku sempat pula memeriksa versi novelnya seperti apa.

Untuk ukuran LN, narasi Misaki-sensei terbilang lumayan. Ceritanya juga cukup ringan untuk dinikmati. Tapi, sesudah diangkat jadi anime, Hundred memang bermasalah. Soalnya, meski punya banyak elemen menarik, struktur ceritanya kayak emang enggak cocok buat dijadikan anime.

Di samping itu…

Disangka… Demikian

Hundred kurasa semula hendak menonjolkan harem love comedy yang serupa dengan Infinite Stratos. But, it just doesn’t work. Berbagai kekonyolan cinta segi banyak itu enggak bisa ditonjolkan karena para heroine sendiri yang memang enggak(!) dalam posisi untuk terang-terangan memperlihatkan rasa suka mereka.

Oke, Hayato memang bukan karakter yang mencolok. Lalu dia juga bukan karakter yang dibenci juga. Dia archtype biasa untuk tokoh-tokoh LN seperti ini. Tapi, kalau bicara soal para heroine-nya…

Emile, sebagai contoh, memiliki identitas asli sebagai Emilia Hermit, teman masa kecil perempuan Hayato dari masa lampau. Dialah karakter perempuan utama di seri ini. Emile ceritanya pernah bertemu Hayato di masa lalu dan diselamatkan olehnya dalam suatu insiden serangan Savage di Kekaisaran Britannia (yang berujung pada berubahnya biologis tubuh mereka akibat virus Savage menjadi apa yang disebut Variant).

Kenapa Emilia menyamar sebagai lelaki? Aku juga… kurang paham.

Tapi, bukan cuma itu. Emilia juga aslinya adalah Emilia Gudenburg, putri ketiga dari Kekaisaran Gudenburg, suatu negara adidaya di dunia, yang telah disusupkan(?) ke dalam Little Garden. Jadi identitasnya dia itu berlapis tiga!

Di mata kita, sebagai penonton, Emile jelas-jelas perempuan (adegan-adegan fanservice yang menonjolkan Emile bahkan sudah ditampilkan sejak awal!). Tapi di depan umum, di dalam cerita, Emile harus menjaga jaraknya dengan Hayato. (Yang berujung pada bagaimana kedekatan antara mereka berdua membuat mereka terkesan homo.)

Hasilnya jadi… sangat… aneh.

Dia bukan karakter yang bisa kita sukai. Dari kepribadian enggak. Dari fisik, uh, entah, mengingat kebanyakan waktu, dia menyamar sebagai cowok. Tapi, dia juga bukan karakter yang akan kita benci juga. Dia sekedar… membingungkan. Lalu karena itu, jadinya kayak enggak punya daya tarik.

Intinya, kesannya jauh berbeda dari situasi Charlotte Dunois di Infinite Stratos yang untuk beberapa lama juga sempat menyamar sebagai cowok. Kasus Charl lebih berhasil. Aku sempat tak berkeberatan saat mengira dia benar-benar cowok (meski curiga). Tapi, aku juga enggak keberatan saat terungkap kalau dia cewek.

Oke. Aku juga bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Selain Emilia, heroine berikutnya adalah Claire. Claire di mataku jelas lebih berkesan dibandingkan Emilia. Tapi, karena alasan jabatan dsb., dia pun enggak bisa terang-terangan mendekati Hayato. Dia itu kepala pasukan di sana. Dia enggak bisa berat sebelah kepada salah satu orang di dekatnya. Apalagi, dengan bagaimana dia selalu diikuti oleh kedua bawahannya, Liddy Steinberg, sang wakil seitokaicho pertama (bentuk Hundred: tombak dan perisai) yang tak kalah galak; dan Erica Candle, sang wakil seitokaicho kedua (bentuk Hundred: mirip yoyo dan kawat? Kurang efektif untuk melawan Savage berukuran besar) yang spesialis strategi dan sangat menghormati Claire.

Jadi, yah, kalian tahu maksudku.

Kemarahan yang Sulit Dimengerti

Production IMS pertama dikenal karena memproduksi season dua dan juga movie dari anime Date A Live. Mereka juga memproduksi Inari, Konkon, Koi Iroha yang terbilang mengesankan. Jadi, kalau soal kualitas, mereka sebenarnya bisa mengusahakannya.

Mempertimbangkan yang di atas, aku sempat terpaku melihat bagaimana Hundred memiliki kualitas teknis pas-pasan. Sesudah memikirkannya, aku curiga alasannya karena di kurun waktu yang sama, Production IMS juga mengerjakan proyek orisinil mereka, Active Raid, yang sayangnya, juga berakhir kurang begitu meledak.

Bicara soal kualitas teknis, animasi Hundred itu luar biasa standar. Sangat biasa. Tidak sampai jadi aneh atau jelek sih, tapi jelas enggak sekeren yang sempat aku bayang. Bahkan kalau mau bahas soal fanservice juga, tidak ada apapun tentangnya yang terbilang berkesan.

Tapi, di antara semua hal ‘biasa’ tersebut, ada dua aspek menonjol yang Hundred punya. Satu, aspek audio yang lumayan. Dua, adegan-adegan aksi.

Soal audio, efeknya bisa gede. Aku enggak bilang seri ini punya musik bagus. Mungkin levelnya hanya sekedar lumayan. Tapi, terasa ada perhatian yang diberikan terhadapnya gitu. Seri ini secara total memiliki empat lagu penutup, suatu hal menonjol untuk anime 12 episode dengan tema kayak gini. Ada tema idol yang tiba-tiba diangkat di tengah cerita. Rasanya aneh, tapi lumayan memperkaya nuansa yang seri ini bisa punya. Akting para seiyuu terbilang lumayan.

Lalu, soal aksi…

Jujur, inilah yang akhirnya paling membuatku penasaran soal Hundred.

Adegan-adegan aksinya enggak bisa dibilang bagus. Koreografinya biasa saja. Kebanyakan adegan juga berakhir dengan bagaimana Hayato intinya sekedar berhasil menyalurkan kekuatan terpendamnya. Tapi, pas lagi ada—dan mungkin juga ini cuma aku—selalu kayak ada beberapa detik—hanya beberapa detik—ketika intensitasnya benar-benar terasa.

Aku enggak mengerti bagaimana ini terjadi. Mungkin hanya akting para seiyuu-nya yang sekedar bagus. Intensitas tiba-tiba ini secara konsisten ada sampai menjelang akhir seri. Karenanya, aku sampai terdorong mengikuti perkembangan Hundred sampai tuntas.

Di samping itu, dengan berbagai misteri yang diangkatnya, pembangunan dunianya sebenarnya termasuk lumayan.

Merah Darah Kita

Akhir kata, Hundred kurasa bukan seri yang perlu kau pikirkan terlalu jauh. Di dunia ini ada lebih banyak hal yang lebih berarti untuk kita pikirkan. Tapi, buatku pribadi, ini lagi-lagi contoh soal gimana suatu kegagalan bisa lebih ‘mengajari’ kamu ketimbang suatu keberhasilan.

Karakter-karakter antagonis HundredVitaly Tnanov dan anak-anak buahnya: Krovanh Olfred, Nesat Olfred, Nakri Olfred; anak-anak yatim piatu Variant yang sempat menjadi budak—sebenarnya termasuk menarik secara konseptual. Lalu, kalau membaca versi novelnya, aku percaya ada banyak detil menarik soal dunianya yang bisa kita gali juga. (Semisal: nama masing-masing Hundred, kemampuan-kemampuan istimewa mereka, dan sebagainya.)

Hundred membuatku tertarik karena mengkhayalkan hal-hal ginian dalam lingkup yang konsisten dan logis ternyata sulit.

Oke. Melakukan apapun secara konsisten emang sulit. Jadi, pelajarannya mungkin juga ada di sana.

Man, aku lumayan kecewa saat sadar bahwa Claire bukan heroine utama.

Yah, sudahlah.

Penilaian

Konsep: E; Visual: C; Audio: B; Perkembangan:C-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C-

Iklan
09/06/2017

Blame! (2017)

Menyambung pembahasan sebelumnya, belakangan aku berkesempatan melihat film layar lebar Blame! buatan Polygon Pictures. Untuk di luar Jepang, film ini menonjol karena didistribusikan lewat saluran berbayar Netflix, seperti halnya seri TV Knights of Sidonia dan Kuromukuro dulu.

Berdurasi sekitar 100 menit, hasil akhirnya terbilang bagus.

Disutradarai Seshita Hiroyuki, dengan naskah buatan Murai Sadayuki, dengan masukan dari pengarang aslinya, Nihei Tsutomu sendiri, kesan film CG ini berbeda dibandingkan manga aslinya. Anime ini merupakan versi cerita yang berdiri sendiri, jadi bukan adaptasi langsung dari manganya. Meski begitu, cerita versi ini menurutku lebih gampang dimasuki oleh penggemar awam.

Buat yang belum tahu, anime ini diadaptasi dari manga berjudul sama (dibacanya sebenarnya ‘buramu’) yang dibuat Nihei-sensei di akhir 1990an sampai awal 2000an. Diserialisasikan di majalah Afternoon punya Kodansha, ulasan lebih jauh soal manganya bisa ditemukan di sini.

Modul Pengamanan

Sebenarnya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal ceritanya. Ada lumayan banyak hal tersirat dalam dialog-dialognya yang rasanya sayang kalau aku ungkap.

Ceritanya masih berlatar di Kota, dunia penuh bangunan yang maha-kolosal. Kota masih terus saja membesar akibat pertumbuhan robot-robot Builder yang tak terkendali, dari satu lantai ke lantai baru. Para Builder bukan hanya terus membangun Kota, tapi juga terus menciptakan robot-robot Builder baru. Apa yang tersisa dari umat manusia hanya bisa ditemukan di tempat-tempat berjauhan. Genetik mereka terkontaminasi/terinfeksi akibat sesuatu yang telah lama mereka lupakan.

Singkat cerita, anime ini pada dasarnya mengadaptasi bab pertemuan si tokoh utama yang pendiam dan misterius tapi sangat tangguh, Killy, dengan komunitas Electro-Fisher (‘nelayan elektrik’) dari manganya. Hanya saja, perkembangan ceritanya berbeda dan lumayan berdiri sendiri.

Karakter gadis remaja muda Zuru dan pria paruh baya Pops (‘Oyaji’) masih ada. Sebagian besar cerita bahkan diambil dari sudut pandang Zuru (dirinya terihat lebih manis di versi ini). Tapi selain Zuru, hadir juga Tae, seorang gadis lain yang memaksakan ikut dengan penjelajahan Zuru untuk bisa membantu adik perempuannya yang sakit; Fusata, seorang remaja cowok yang menaruh hati terhadap Tae; dan Sutezo, salah seorang pejuang andal yang menjadi semacam wakil dari Pops.

Pertemuan Zuru dengan Killy, yang kemudian dibawa ke desa mereka—yang karena suatu alasan, tak bisa dimasuki oleh mesin-mesin Safeguard yang memburu manusia—lalu berlanjut dengan penemuan jasad Cibo, seorang ilmuwan.

Cibo mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kepentingan yang sama dengan Killy, yaitu menemukan Net Terminal Gene yang bisa menghentikan pertumbuhan liar kota, yang mungkin telah berlangsung lebih dari ribuan tahun. (Aku luput menyebut ini sebelumnya, tapi kalau mengacu ke sumber resmi di manganya, ketinggian Kota telah mencapai orbit Jupiter.)

Bagaimana bisa dunia jadi seperti ini? Apa perkataan Cibo benar soal cara untuk menghentikan pertumbuhannya? Bisakah komunitas Zuru bertahan dan menemukan sumber makanan baru?

Seorang Manusia

Bicara soal teknis…

Yah, ini animasi CG ya? CG sepenuhnya.

Jadi, kalau kau pernah mengikuti anime Ajin atau Knights of Sidonia, kalian bisa bayangkan kelemahan-kelemahannya seperti apa. Hanya saja, terlepas dari isu soal frame rate (yang membuat beberapa adegan pergerakan terkesan terpatah-patah), menurutku, mungkin ini anime CG paling bagus yang pernah kulihat sejauh ini.

Visualnya benar-benar keren. Sapuan warna-warnanya tajam. Ada banyak efek cahaya yang muncul dari persenjataan (terutama dari berkas merah Gravitational Beam Emitter), atau pakaian khusus yang dikenakan para Electric Fisher. Aku kagum dengan bagaimana mata Killy memindai genetik orang-orang di hadapannya. Atau soal berbagai fitur virtual ala Iron Man dalam pakaian Zuru dan kawan-kawannya. Cara dunia hasil visualisasi Nihei-sensei diperlihatkan dalam animasi juga benar-benar keren. Warna-warnanya sebelumnya enggak kebayang.

Memang, latarnya mungkin enggak terasa sekolosal dengan di manga. Lingkup ceritanya memang terbilang kecil. Tapi visual film ini tetap lebih keren dari yang aku sangka.

Musiknya ditangani komposer handal Kanno Yugo. Komposisi beliau di film ini menurutku benar-benar keren. Duo Angela menyumbang lagu bernuansa elektronik khas mereka berjudul “Calling You” yang pas untuk film ini. Akting para seiyuu juga memikat dengan sejumlah nama besar bahkan untuk para karakter sampingan. (Akting cool Hanazawa Kana sebagai Cibo terutama, memberi kesan yang benar-benar keren sebagai satu-satunya orang yang bisa membaca maksud Killy.)

Kalau soal eksekusi, maka kesan pertama yang film Blame! berikan adalah western. Atau tepatnya, film-film koboi zaman dulu. Itu loh, yang biasanya mengetengahkan ada masyarakat yang tengah resah. Lalu tahu-tahu hadir pendatang misterius tak dikenal yang kemudian membantu dan membawa perubahan.

Struktur cerita film ini benar-benar terasa seperti itu.

Ajaibnya, dengan sudut pandang penceritaan dipaparkan dari Zuru dan para Electro-Fisher lain, pendekatan ini benar-benar cocok. Ada penggambaran yang cukup buat penjelasan latar belakang. Lalu tanpa banyak cingcong, kita dengan cepat dibawa masuk ke aksi.

Aksinya? Aksinya keren. Mungkin… ini produksi Polygon Pictures dengan aksi terkeren sejauh ini. Aku sedikit kecewa Killy tak beraksi lebih banyak. Tapi sekali lagi, menurutku aksinya keren.

Aku sedikit kecewa dengan bagaimana film berakhir tanpa reuni kembali antara Killy dan Cibo. Akhir ceritanya sendiri cukup keren sih, dengan bagaimana Killy seolah mengorbankan diri, tapi diyakini Zuru masih terus berkelana melanjutkan perjalanannya. Tapi tetap terasa bagaimana film ini hanya mencuil sedikit cerita dari manganya, mengekspansinya sesuai kebutuhan, dan membiarkannya berakhir terbuka. Jadi bisa dilanjutkan dengan sekuel dan bisa juga tidak.

Aksi adu tembak GBE tidak… sedahsyat yang aku harap, meski duel terakhirnya berkesan. Ada robot-robot Exterminator milik para Safeguard. Tapi kaum makhluk silikon dari manganya yang diyakini sebagai biang kerok semua masalah ini tidak ditampilkan. Secara wajar, juga tidak ada tanda-tanda kehadiran Toha Heavy Industries, walau mungkin itu disimpan untuk sekuel nanti.

Di sisi lain, film ini secara tak terduga malah memaparkan beberapa hal yang tidak tersampaikan jelas di manganya. Seperti soal Authority (‘pihak berwenang’) yang berhasil Cibo temui dalam akses terbatasnya ke NetSphere; atau soal jati diri Killy yang Sana-kan blak-blakan ungkapkan berasal dari pihak Safeguard (yang membuat pernyataan Killy kalau dirinya manusia, serta bagaimana ucapannya selalu terpatah-patah, tiba-tiba jadi terasa pahit).

It’s good.

Ini film anime aksi yang benar-benar direkomendasikan.

Kalau ada kekurangan lain… mungkin ada yang akan merasa drama antar manusianya tak ke mana-mana? Perkembangan karakter dan hubungan antar mereka minim sih. Tapi kurasa, bumbu-bumbu drama tersebut memperkaya aspek kemanusiaan di ceritanya.

Yah, mungkin juga akan ada yang mengeluh soal betapa minimnya porsi Sana-kan. Soal itu, aku juga bisa mengerti.

Sebagai penutup, mungkin perlu kusinggung kalau manga Blame! belum lama ini dirilis ulang oleh Kodansha. Dalam beberapa gambar promonya, terlihat jelas bagaimana gaya gambar Nihei-sensei telah lebih berubah dengan penggunaan garis-garis yang lebih luwes.

Berawal dari mengerjakan karya yang bakal diterima enggaknya jelas-jelas enggak jelas, kau kini seolah bisa ngerasain kemajuan kemampuan beliau sebagai pribadi.

Kita beneran ga tau masa depan bakal ngebawa kita ke mana, ya?

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: A; Perkembangan B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

28/04/2017

Chaos;Child

Pada tahun 2009, gempa bumi dahsyat meluluhlantakkan Shibuya, Tokyo.

Dalam insiden tersebut, beredar kesaksian terlihatnya cahaya putih terang. Gempa tersebut juga menonjol karena terjadi di penghujung rangkaian pembunuhan ganjil Kegilaan New Generation di Shibuya, dan sejumlah teori mencurigai kalau keduanya sebenarnya berhubungan.

Beberapa tahun sesudahnya, kota Shibuya dibangun ulang.

Pada tahun 2015, Miyashiro Takuru, siswa SMA berkacamata sekaligus ketua Klub Surat Kabar di sekolahnya, memperoleh informasi tentang kembali terjadinya pembunuhan-pembunuhan ganjil New Generation di Shibuya. Bersama teman-teman dekatnya, Takuru memulai penyeldikan. Ini berujung pada bagaimana ia menyadari kalau kasus-kasus pembunuhan New Generation  yang baru selalu terjadi pada tanggal yang sama dengan kasus-kasus pembunuhan yang lama.

Mata itu adalah mata Dewa

Anime Chaos;Child mengudara pada Januari 2017. Anime ini menjadi cukup diantisipasi karena diadaptasi dari salah satu game science adventure produksi 5pb., yang sebelumnya mencakup seri Chaos;Head (prekuel langsung Chaos;Child), Steins;Gate, dan Robotics;Notes.

Game Chaos;Child pertama keluar di konsol Xbox One di Jepang pada penghujung tahun 2014. Perilisan ini disusul port untuk konsol PS3, PS4, dan PS Vita pada pertengahan 2015. Versi Windows keluar pada musim semi 2016. Versi iOS juga dilepas pada awal tahun ini.

Gamenya disutradarai Wakabayashi Kanji dengan diproduseri Matsubara Tatsuya. Naskahnya ditangani bersama oleh Hayashi Naotaka, penulis awal Chaos;Head, yang kini dibantu Umehara Eiji, Takimoto Masashi, dan Yasumoto Tooru. Musiknya diaransemen komposer veteran waralaba ini, Abo Takeshi. Visualnya ditangani oleh Sasaki Mutsumi, Matsuo Yukihiro, dan dibantu Choco untuk desain, uh, persenjataannya.

Sayangnya, berbeda dari Steins;Gate (dan midkuelnya yang baru-baru ini rilis, Steins;Gate 0) yang menjadi ‘saudara’-nya, versi VN dari Chaos;Child masih belum dirilis dalam Bahasa Inggris pada saat ini aku tulis.

Animenya sendiri diproduksi Silver Link. Jumlah episode totalnya sebanyak 13, dengan tambahan satu episode spesial yang masih akan menyusul. Penyutradaraannya dilakukan Jinbo Masato, yang sekarang dikenal berkat arahan beliau dalam setiap season anime Fate/kaleid liner Prisma Illya. Selain gubahan Abo-san dari game yang dipakai kembali, Onoken juga turut membantu menangani musik.

Karena aku sempat mengikuti prekuelnya, Chaos;Head, aku penasaran cerita Chaos;Child berkembang ke arah mana. Aku pribadi antusias dengan anime ini. Apalagi penayangannya langsung menyusul adaptasi anime Occultic;Nine pada musim gugur lalu.

Sayangnya, ada banyak hal tentang anime Chaos;Child yang ternyata baiknya dibahas…

Digital Native

Untuk yang belum tahu, seluruh game science adventure 5pb. saling berhubungan. Meski mengangkat tema-tema sains fiksi berbeda, semuanya bercerita tentang orang-orang biasa yang tahu-tahu terjebak dalam intrik besar yang mengancam dunia.

Berlatar di tahun 2015, Chaos;Child adalah sekuel langsung Chaos;Head, game science adventure yang pertama. Meski mengetengahkan tokoh-tokoh berbeda, cerita Chaos;Child mengangkat tema-tema hampir sama—yakni soal delusi mental dan persepsi kenyataan—di samping cerita yang berhubungan langsung dengan pendahulunya.

Perlu kukatakan, versi game Chaos;Child konon benar-benar bagus. Kata seorang kenalanku yang memainkannya (dalam Bahasa Jepang), ceritanya punya karakterisasi dan misteri yang bisa sangat melarutkanmu gitu. Karenanya, kita bisa sedemikian terpengaruh oleh perkembangan-perkembangan gelap yang menimpa para karakternya.

Kebagusan Chaos;Child juga konon karena dianggap memperbaiki kekurangan-kekurangan Chaos;Head. Dengan elemen-elemen cerita yang tak seimbang dan sejumlah aspek presentasi bermasalah, sebagai game science adventure 5pb. pertama, Chaos;Head memang tak sebagus seri-seri yang menyusulnya. Mungkin karena itu pula, pengharapan terhadap anime Chaos;Child terbilang besar.

Lalu karena itu juga… sempat ada spekulasi-spekulasi negatif saat anime Chaos;Child dikonfirmasi hanya satu cour. Meski durasi gamenya lebih panjang, ini membuat animenya hanya punya durasi yang sama dengan durasi anime Chaos;Head.

Lalu sesudah mengudara, yah, sesuai perkiraan, para penggemar gamenya ternyata benar-benar mengamuk.

Pengkhianatan

Sebelum membahas ceritanya lebih lanjut, perlu disebut kalau anime Chaos;Child secara teknis sebenarnya lumayan. Visual dan audionya termasuk bagus. Akting para seiyuu-nya meyakinkan. Beberapa BGM-nya keren. Lalu ada episode-episode tertentu yang sempat membuatku terkesima dengan cara adegannya dibawakan.

Masalahnya ada di… naskah.

Naskah animenya terlalu maksa. Gampangnya, versi anime Chaos;Child, kalau mengacu ke perkataan kenalanku tersebut, hanya sekedar menyambungkan titik-titik alur penting pada gamenya tanpa memaparkan apa-apa yang membuatnya jadi bagus.

Karakterisasinya, secara relatif, hancur. Pribadi Takuru di versi game yang menyebalkan misalnya, dengan bawaannya yang cenderung sombong karena selalu ingin bisa menjadi yang paling tahu (karena mengusung moto bahwa ‘pengetahuan adalah kekuatan’), kurang tersampaikan. Padahal Chaos;Child justru dipandang bagus karena memaparkan perkembangan kepribadian Takuru menjadi orang lebih baik.

Di samping itu, ada beberapa pembeberan mengejutkan yang jadi berantakan urutannya. Karenanya lagi, kenalanku sampai bilang, kalau dalam waktu dekat kalian berpikiran untuk memainkan game Chaos;Child, kalian sangat tidak direkomendasikan untuk mengikuti anime ini. (Edit: Perilisan gamenya ke Bahasa Inggris sudah dikonfirmasi.)

Kalau kupikir, anime Chaos;Head yang dibuat oleh Madhouse dulu juga mengadaptasi cerita dengan cara begini. Tapi selain lebih berhasil karena game Chaos;Head punya durasi lebih pendek, anime Chaos;Child juga jadi begini karena punya struktur cerita yang agak-agak… beda.

Apa kalian melihat cahaya?

Masuk ke soal cerita, agak sulit merunutkannya karena banyaknya hal yang terjadi secara bersamaan.

Miyashiro Takuru dikisahkan satu dari sejumlah yatim piatu korban gempa bumi besar yang menimpa Shibuya enam tahun silam. Takuru kehilangan kedua orangtuanya dalam insiden itu. Tapi orangtuanya wafat bukan dalam gempa itu sendiri, melainkan sesuatu yang secara tragis berlangsung sesudahnya.

Sesudah insiden itu, Takuru sempat dibesarkan oleh Sakuma Wataru, dokter umum ceria yang membesarkan sejumlah anak yatim piatu lain di kliniknya. Keluarga angkat ini mencakup Kurusu Nono, gadis seusia Takuru yang menjadi semacam kakak perempuan angkatnya; lalu dua adik angkat di usia SD, Tachibana Yui dan Tachibana Yuuto. Hanya saja, menjelang remaja, Takuru tak lagi kerasan dengan mereka, dan memutuskan keluar dari rumah dokter Sakuma dan hidup sendiri.

Di sekolah, meski sesekali bertemu Nono yang aktif sebagai pengurus Dewan Siswa, Takuru lebih dekat dengan sesama anggota Klub Surat Kabar. Mereka mencakup Onoe Serika, seorang gadis manis berambut pendek yang merupakan teman sejak kecil Takuru; Itou Shinji yang supel, orang ramah dan pedulian yang menjadi teman sesama cowok paling dekat dengan Takuru saat ini; serta Kazuki Hana, gadis mungil berkacamata sangat pendiam yang handal dalam pekerjaannya, tapi sehari-harinya lebih banyak memainkan MMORPG di komputer klub bila sedang tak ada kerjaan.

Dalam penyelidikan mereka, Takuru dan Serika memperkirakan TKP pembunuhan yang berikutnya adalah sebuah love hotel. Keduanya gagal mencegah pembunuhan yang terjadi. Tapi di sana, mereka menjumpai gadis berkuncir dua bernama Arimura Hinae, adik kelas mereka yang didapati pingsan, yang agaknya menjadi saksi pembunuhan tersebut. Hinae yang bermulut pedas semula sangsi terhadap Takuru. Tapi ia lalu, secara membingungkan, memperingatkan Takuru kalau dirinya berpotensi menjadi salah satu korban.

Pada titik ini, Takuru menyadari keberadaan banyaknya gambar-gambar tempel Sumo Sticker (rikishi seal) di setiap TKP. Gambar-gambar tempel ini berwujud seperti muka-muka pesumo yang dikali tiga dan ditempelkan secara ganjil dengan satu sama lain, menyerupai wujud guci. Meski diketahui ada beberapa variasi, kesemuanya bermunculan secara misterius di sejumlah tempat di Shibuya semenjak beberapa tahun silam.

Secara ganjil merasa diawasi oleh gambar-gambar tempel ini, Takuru mulai menduga ada kaitan antara semua Sumo Sticker ini dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.

Tanpa Takuru dan Serika ketahui di awal, Shinjou Takeshi, polisi muda yang menginterogasi Hinae, menggunakan cara-caranya sendiri untuk menyelidiki. Shinjou ternyata menjalin kontak dengan seorang ilmuwan sangat muda bernama Kunosato Mio, yang ternyata juga menjadi kakak kelas di sekolah Takuru.

Kunosato—yang membenci manusia secara umum—mendalami penelitian saraf. Ia rupanya mengetahui ada sesuatu yang lebih besar di balik pembunuhan-pembunuhan New Generation. Karena suatu alasan tertentu, Kunosato terobsesi mengungkapkan kebenarannya, yang agaknya berhubungan dengan keberadaan suatu Komite.

Dengan memanfaatkan topengnya sebagai narasumber Internet bernama Kei, Kunosato membajak teori Sumo Sticker yang berhasil Takuru rumuskan dan menyebarkannya ke khalayak luas. Perhatian massal terhadap Sumo Sticker kemudian terpicu. Ini berujung pada desas-desus bahwa penciptanya ternyata seorang pasien di RSU AH Tokyo yang secara rahasia dirawat di sana sesudah menderita koma.

Ada seorang wartawan terkemuka bernama Watabe yang juga menyelidiki kasus ini. Watabe diundang sebagai narasumber untuk kegiatan festival sekolah Takuru.

Takuru untuk sementara mematuhi permintaan Nono yang mengkhawatirkan keadaannya semenjak penyelidikan dimulai. Namun di hari festival, Watabe justru menjadi korban berikutnya yang tewas. Ia meninggal secara misterius di depan umum dengan memuntahkan Sumo Sticker dalam jumlah tak terhitung.

Tak lagi bisa diam sesudah kematian Watabe, pada malam harinya, Takuru, Serika dan Shinji akhirnya nekat menginfiltrasi RSU AH Tokyo untuk menemukan kebenaran di balik gambar-gambar tempel Sumo Sticker.

Di luar dugaan, mereka menemukan instalasi bawah tanah tersembunyi di rumah sakit itu. Di sana, ada sejumlah orang yang nampak sudah hilang akal dipenjara dalam ruangan-ruangan khusus. Di sana pula, Takuru dan kawan-kawannya bersimpangan jalan lagi dengan Kunosato Mio.

Kunosato, yang rupanya memiliki maksud sama dengan mereka, kemudian mengungkapkan tentang eksperimentasi kejam dan rahasia yang rupanya pernah berlangsung sampai enam tahun silam. Tujuan eksperimentasi manusia tersebut untuk menghasilkan manusia-manusia istimewa yang disebut Gigalomaniacs. Menurut Kunosato, para Gigalomaniacs sangat berbahaya karena memiliki kemampuan untuk mewujudkan apa-apa yang mereka khayalkan menjadi nyata.

Lalu di instalasi bawah tanah rahasia itulah, mereka konon diciptakan.

Re-Real Booting

Sesudah terungkapnya keberadaan para Gigalomaniacs—orang-orang yang sampai lingkup tertentu, mampu memproyeksikan delusi menjadi kenyataan melalui proses yang disebut Real Booting—apalagi sesudah Hinae, atas permintaan Kunosato, memperlihatkan pada Takuru demonstrasi kekuatannya secara langsung; cerita Chaos;Child berkembang dengan bagaimana Takuru dan kawan-kawannya berusaha lolos dari pembunuh New Generation baru yang kini mengincar mereka.

Alasannya? Karena korban-korban pembunuhan sebelumnya rupanya adalah Gigalomaniacs.

Takuru, dan orang-orang lain yang melihat ‘cahaya’ pada hari terjadinya gempa, ternyata juga adalah Gigalomaniacs. Takuru sendiri belakangan mengetahui bahwa dorongannya untuk mengungkapkan kebenaran menyebabkan kekuatan Gigalomaniacs-nya bermanifestasi sebagai kemampuan psikokinesis untuk membuka segala jenis kunci.

Dengan kata lain, ada suatu pihak yang bermaksud melenyapkan para Gigalomaniacs dari muka bumi. Tapi pihak itu tidak diketahui siapa.

Dugaan sejauh ini jatuh pada Minamisawa Senri, seorang gadis remaja seusia Takuru, yang merupakan satu-satunya korban percobaan yang hilang tanpa ditemukan jasadnya. Apalagi sesudah Takuru dan Hinae sempat diserang seorang pengguna kekuatan api yang berwajah mirip dengan Senri.

Chaos;Child gampangnya bercerita tentang fallout yang berlangsung sesudah apa-apa yang terjadi dalam Chaos;Head. Persisnya, dampak apa-apa yang terjadi sesudah para tokoh utama Chaos;HeadNishijou Takumi dan kawan-kawannya—menghentikan upaya perusahaan jahat Nozomi sekaligus mengungkap pelaku pembunuhan berantai New Generation yang pertama. Dalam anime Chaos;Child, apa yang terjadi di Chaos;Head sedikit banyak diungkapkan melalui episode nolnya yang menjadi prolog cerita.

Game Chaos;Child dianggap istimewa katanya karena caranya menutupi bagian-bagian ‘bolong’ dari cerita Chaos;Head sembari menuturkan ceritanya sendiri. Ceritanya tak kalah ganjil dan gelap. Tapi berbeda dari Chaos;Head yang secara umum mengikuti hanya satu rute (dengan dua potensi akhir cerita), game Chaos;Child mempunyai lima rute karakter ditambah satu rute final yang hanya bisa dibuka sesudah semua rute sebelumnya kita jalani.

Jadi, meski sistem permainannya kurang lebih sama, kalian bisa bayangkan besarnya ekspansi yang diberikan Chaos;Child. Buat yang mau tahu, masing-masing rute Chaos;Child meliputi:

  • Rute utama, atau rute Onoe Serika, teman masa kecil Takuru. Bersama Serika, Takuru pernah menyaksikan bagaimana Minamisawa Senri dieksperimentasi sewaktu kecil, dan terpaksa melarikan diri tanpa sempat menolongnya. Serika semula menyembunyikannya, tapi kemampuan khusus miliknya adalah semacam telepati. Anime Chaos;Child secara umum mengikuti cerita rute ini, meski ada elemen-elemen rute Nono yang masuk juga.
  • Rute Kurusu Nono, saudara perempuan angkat Takuru yang sedikit lebih tua, yang belakangan mengakui kalau Senri adalah teman masa kecilnya. Karenanya, Nono tak bisa percaya kalau Senrilah pelaku semua pembunuhan itu. Nono semula juga enggan mengakuinya, tapi kemampuan khusus miliknya adalah kekuatan menyamarkan diri.
  • Rute Kazuki Hana, yang disebut merupakan rute yang paling ‘beda sendiri’ karena tak memaparkan misteri pembunuhan (karenanya, peran Hana di anime lumayan terbatas). Kemampuan khusus Hana, yang masih sulit dikendalikannya, berkaitan dengan alasan kenapa ia jarang berbicara. Cerita rutenya membeberkan informasi lebih jauh tentang keberadaan Komite, yang ternyata sangat dekat kehadirannya dengan keseharian para tokoh utama.
  • Rute Arimura Hinae, yang membawa Takuru lebih jauh ke latar belakang keluarga Arimura sehubungan kematian kakak lelaki Hinae enam tahun silam. Keinginan Hinae untuk mengungkap kebenaran kata-kata terakhir kakaknya membuatnya punya kemampuan untuk secara absolut membedakan kebenaran dan kebohongan. Cerita rutenya berkutat soal misteri pembunuhan yang terus berlanjut meski pelakunya harusnya sudah tertangkap. Secara pribadi, Hinae adalah karakter favoritku di seri ini.
  • Rute Yamazoe Uki, gadis kecil yang ditemukan Kunosato dan Takuru di instalasi bawah tanah RSU AH Tokyo, dan diduga telah hidup di sana sembari merawat pasien-pasien lainnya selama bertahun-tahun. Cerita rutenya memaparkan hidup yang berlanjut di dunia bahagia sesudah ia diadopsi keluarga angkat Takuru, yang sayangnya, tak seperti yang terlihat.
  • Rute Chaos Child, rute penutup, yang merupakan akhir cerita sesungguhnya yang memaparkan apa yang terjadi sesudah akhir rute utama. Mengisahkan tentang sindrom misterius yang menimpa para remaja Gigalomaniac yang memperoleh kekuatan mereka sesudah gempa enam tahun silam. Pihak sesungguhnya yang bermaksud menghapus keberadaan mereka sekali lagi terungkap di rute ini.

Sebagai catatan, meski aku pribadi kurang menyukainya, aku juga sempat heran bagaimana Kunosato tak punya rutenya sendiri.

Mungkin menarik kalau kusinggung kalau cerita Chaos;Child tak berakhir dengan sepenuhnya bahagia.

Langit yang Sunyi

Chaos;Child bukan anime yang akan aku rekomendasikan. Kalau kalian penggemar cerita-cerita science adventure 5pb., cukup wajar kalau kalian tertarik mengikutinya. Tapi anime ini bisa sedemikian merusak kesan gamenya, apalagi dengan potensinya yang sedemikian besar, dan karena itu sulit dibilang bagus.

Di animenya, ceritanya jadi kayak… sekedar saling menyambungkan kejutan demi kejutan untuk menghadirkan shock value. Ceritanya jadi berkesan kurang berbobot dan mudah disalahartikan.

Soalnya, hal-hal ‘gelap’ yang terjadi di dalam Chaos;Child itu benar-benar menakutkan dan sakit. Ada temanku yang sampai dibuat berhenti mengikuti pada satu titik karena saking muaknya. Kenalanku, yang pertama sampai di titik bersangkutan lewat gamenya, bahkan sampai dibuat meraung dan menjerit malam-malam saat sampai di bagian itu.

Hasil akhir animenya itu menyakitkan karena sebaliknya, dengan karakterisasinya yang sedemikian kuat, cerita dalam gamenya justru sangat berbobot. Aku pribadi terutama kecewa karena banyaknya motivasi karakter yang jadinya tersamar, gaje, atau tak diungkap.

Mungkin ini mirip kasus anime Shingetsutan Tsukihime yang konon banyak dibenci para penggemar game Tsukihime karena alasan-alasan serupa.

Yah, memang ada banyak hal mengecewakan tentang anime Chaos;Child. Tapi di pembeberan di episode terakhir, bahkan akupun dibuat tercenung dengan apa-apa yang terjadi. Jadi kayak, apa yang terjadi memang enggak segede harapan. Tapi cara semuanya bercampur berakhir lebih rumit dari dugaan. Dengan kata lain, hasil akhirnya enggak sepenuhnya jelek. Tapi sangat mengecewakan karena sedemikian kelihatan bagaimana sebenarnya ini bisa jadi bagus.

Di samping itu, ada banyak referensi terhadap judul-judul science adventure lain. RSU AH Tokyo misalnya, adalah rumah sakit tempat Nishijou Takumi beberapa kali memeriksakan kesehatan kejiwaannya. Partner lain Shinjou, Momose Katsuko yang mengepalai biro detektif swasta Freesia, adalah karakter yang sama dari Chaos;Head, yang sebelumnya membantu penyelidikan Ban Yasuji. Teman Hana di game online, Neithardt, bisa jadi adalah Nishijou Takumi sendiri. Kunosato nampaknya bahkan menjalin kontak dengan para protagonis Steins;Gate dengan upayanya melarikan para tokoh utama ke luar Shibuya. Lalu, Komite yang menjadi dalang ini semua, tak lain adalah Committee of 300 yang merupakan pihak antagonis utama di Robotics;Notes.

Aku sempat sedikit heran. Aku sudah dengar tentang bagaimana Komite berada di balik Nozomi dan SERN. Tapi sekarang, ceritanya, kita jadi melawan mereka lagi? Baru belakangan aku sadar itu karena cerita Chaos;Child berlangsung sebelum cerita Robotics;Notes. Tepatnya, lima tahun sebelum seri tersebut, yang memang berlatar di tahun 2020.

Aku terus terang makin penasaran dengan game Chaos;Child sekarang. Tapi dengan kesibukanku belakangan, sayangnya ada hal-hal lain yang perlu lebih aku dalami dulu.

Soal jalan-jalan keliling Shibuya?

Yah, ada beberapa pemandangan khas wilayah itu yang diperlihatkan dalam anime ini sih. Tapi kesempatan wisata lewat anime kali ini sayangnya enggak segede itu.

Sebagai penutup, aku setuju dengan pandangan Takuru soal bagaimana pengetahuan adalah kekuatan. Banyak-banyaklah baca koran dan mengumpulkan informasi bermanfaat. Tapi jangan sampai besar kepala dan sombong. Gunakan apa yang kau peroleh untuk membangun dirimu sendiri, dan mungkin saja kau juga akan bisa selamat sampai akhir.

(Sedikit trivia: kemunculan Sumo Sticker yang misterius di wilayah Shibuya itu benar-benar pernah terjadi. Tentu saja tak ada kaitannya dengan organisasi rahasia atau konspirasi apapun. Mungkin.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: D-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: C

(Sumber dari Wikipedia dan beberapa situs lain.)

13/04/2017

Blame!

Adaptasi anime layar lebarnya sudah mau keluar. Baiknya, aku bahas sedikit tentang Blame!.

Blame! (judul Jepangnya adalah efek suara bu-ra-mu!; jadi cara baca yang sebenarnya mungkin blam dan bukan bleim) adalah seri manga yang sekilas, kayaknya gampang dibahas. Ceritanya minim. Aksinya banyak. Tokoh-tokoh dan latar ceritanya terbilang keren. Tapi kalau mau bahas lebih dari itu, agak susah. Soalnya…

…Yah, soalnya dialognya benar-benar minim.

Kebanyakan dialognya berupa eksposisi, dengan karakter-karakter yang keren tapi tak begitu digali kepribadiannya. Tapi ini bukan dalam arti buruk ya.

Dari dulu itu memang salah satu ciri khas pengarangnya sih.

Datang ke Kotamu

Blame! berawal dari seri manga aksi sains fiksi karangan Nihei Tsutomu (yang belakangan lebih dikenal berkat seri mecha beliau, Knights of Sidonia). Pertama diterbitkan Kodansha di majalah Afternoon, serialisasi Blame! berlangsung dari tahun 1998 sampai 2003. Cerita utamanya sepanjang sepuluh buku. Seri ini sudah tuntas diterbitkan di Indonesia oleh Level Comics, bersama dengan satu buku prekuelnya, NOiSE.

Blame! pertama aku kenal di awal dekade 2000an.  Seperti halnya Berserk, Blame!  salah satu manga seinen pertama yang aku baca. Semua manga seinen yang kubaca di masa itu seakan memperluas wawasan. Tapi Blame! istimewa karena tidak ada apapun yang pernah kulihat yang mirip dengannya.

Sekali lagi, berhubung aku pertama membacanya di masa sebelum Level Comics ada, Blame! meninggalkan kesan kuat. Yang menonjol tentang Blame!, selain soal aksinya, adalah latar ceritanya.

Blame! berlatar di dunia yang sedemikian penuh bangunan dan gedung. Yang bisa terlihat hanya lorong-lorong panjang, tangga-tangga tak berkesudahan, pemandangan gedung-gedung lain, seakan tak ada akhir. Tak ada langit atau matahari. Tak ada awan atau cakrawala. Tak ada(?) kehijauan. Tak ada(?) binatang-binatang yang kita kenal. Kalaupun ada tempat terbuka, kau masih bisa melihat atap logam raksasa di atasmu. Yang kau bisa temukan paling hanya lampu, jaringan-jaringan kabel, dinding, gedung, lorong, tangga-tangga besi, elevator… intinya, labirin logam indoor yang seakan tak ada habisnya.

Di dunia seperti ini, Killy berkelana.

Killy, sang tokoh utama cerita, adalah pria muda dewasa dengan kulit agak pucat. Ekspresi mukanya selalu serius. Sifatnya pendiam. Benar-benar sangat pendiam. Tinggi badannya sedang. Proporsi badannya biasa. Pakaian yang dikenakannya biasanya hitam. Dari luar, penampilan Killy seperti manusia biasa. Di samping itu, tak terlihat ada perbekalan apapun yang dia bawa selain apa-apa yang bisa masuk ke kantong-kantong saku bajunya.

Kalau ditanya, Killy akan menyatakan kalau dirinya sedang dalam perjalanan untuk mencari sesuatu yang disebut Net Terminal Gene.

Siapa sebenarnya Killy tak benar-benar dijelaskan. Ada kemungkinan dirinya sendiri juga tidak tahu. Intinya, Killy adalah agen dari suatu pihak berwenang yang berkepentingan menghentikan pertumbuhan Kota yang tidak terkendali.

Kota yang menjadi latar cerita Blame! adalah kota harfiah yang berukuran maharaksasa. Kota ini terus tumbuh, tanpa terkendali, karena adanya robot-robot Builder yang secara berkelanjutan memperluasnya. Builder-builder baru terus diciptakan. Bangunan-bangunan baru terus dibangun. Lantai-lantai baru terus ditambah. Bahkan sampai ke luar angkasa.

Tak ada yang tahu persis sudah berapa lama Kota ada. Tapi kalau ditelusur, semua konon bermula dari crash yang dialami sistem dunia maya NetSphere yang sebelumnya mengendalikan dunia. Insiden tersebut menyebabkan NetSphere tidak lagi bisa diakses kalau bukan oleh orang yang punya genetik terminal murni—Net Terminal Gene yang Killy cari—padahal, hanya akses resmi ke NetSphere yang bisa menghentikan pertumbuhan Kota yang tak terkendali tersebut.

Sementara, jumlah populasi manusia semakin menipis. Manusia semakin sedikit, dan manusia murni mungkin bahkan sudah punah. Karenanya, ada keraguan besar soal apakah yang Killy cari benar-benar ada atau tidak.

Kehidupan Silikon

Dalam sebagian besar durasi cerita, Killy hanya berbekal satu senjata.

Senjata tersebut adalah pistol berukuran relatif kecil bernama Gravitational Beam Emitter (‘pemancar sinar gravitasi’). Pistol ini menjadi semacam senjata andalannya karena berkekuatan sangat dahsyat.

Salah satu ciri khas Blame! adalah bagaimana dalam adegan-adegan aksinya, Killy bisa sampai terlempar ke sana kemari karena saking dahsyatnya daya dorong pistol ini. Satu tembakan saja dari GBE mampu menghasilkan lubang-lubang besar yang ukurannya berskala kilometer. Persendian bahu Killy bahkan bisa sampai terlepas. Tapi dengan cueknya (memunculkan tanda tanya apakah dirinya benar-benar manusia), Killy selalu seolah bisa bangkit dan memperbaikinya ke posisi semula.

Sedemikian dahsyatnya GBE, senjata tersebut nampaknya adalah satu-satunya yang dapat melubangi lapisan Megastructure yang teramat tebal. Terletak pada titik-titik ketinggian tertentu di Kota, Megastructure adalah lempengan-lempengan raksasa antara tingkatan-tingkatan kota yang agaknya dibangun para Builder(?) dari bahan-bahan yang tidak diketahui. Megastructure menjadi semacam sistem isolasi antar lantai yang membatasi ruang gerak para penghuni Kota.

Bila ada makhluk hidup mendekati Megastructure, kedekatan mereka konon memicu kemunculan penjaga-penjaga kejam yang disebut Safeguard.

Para Safeguard yang mampu berteleportasi ini adalah para penjaga yang semula diciptakan untuk mencegah akses ilegal ke NetSphere. Hanya saja, sesudah sistem tersebut crash, Safeguard cenderung memusuhi siapapun yang tak memiliki NTG, yang dalam hal ini, meliputi hampir(?) semua manusia dan makhluk hidup lain yang masih tersisa. Karenanya, pembantaian kerap terjadi setiap kali Safeguard muncul. Para Safeguard sangat kuat dengan beragam persenjataan canggih yang sulit ditandingi.

Crash yang dialami NetSphere konon terjadi karena ada pihak-pihak tak bertanggungjawab yang berusaha masuk ke dalamnya secara ilegal untuk mencuri teknologi. Hasil akhir dari pencurian tersebut adalah terlahirnya makhluk-makhluk silikon yang meniru fisik Safeguard tapi tidak secara sempurna. Mereka adalah makhluk-makhluk separuh mesin dengan agenda dan komunitas mereka sendiri, yang agaknya punya bawaan memusuhi manusia.

Karena keberadaan mereka yang ilegal, para makhluk silikon ini adalah musuh alami para Safeguard. Tak jelas bagaimana awalnya, tapi makhluk-makhluk ini juga dimusuhi Killy dan terus seakan menjadi duri dalam daging selama perjalanannya.

Seiring perkembangan cerita, pada suatu titik, Killy mulai ditemani Cibo, seorang perempuan jangkung berambut pirang lurus yang bekerja sebagai peneliti.

Berasal dari Ibukota dan sebelumnya bekerja untuk Perusahaan Bio-Elektrik, Cibo punya minat khusus terhadap NTG yang Killy cari karena sebelumnya pernah berupaya mengakses NetSphere menggunakan NTG artifisial ciptaannya sendiri. Upaya Cibo tersebut berujung pada tragedi karena memicu kemunculan Safeguard, yang berujung pada jatuhnya banyak korban jiwa, yang kemudian membuat kesadaran Cibo dipenjarakan untuk waktu sangat lama. Sesudah pertemuannya dengan Killy (dan memperoleh tubuh baru), Cibo memohon pada Killy agar dirinya boleh ikut serta.

Berbeda dari Killy (yang masih saja pendiam), Cibo lebih banyak berbicara. Lalu melalui Cibo-lah sejumlah besar informasi tentang dunia Blame! dipaparkan. Cibo juga tak memiliki petunjuk lebih lanjut tentang NTG karena dirinya, beserta seluruh penduduk lain di masyarakat tempat dia berasal, sudah tak lagi sepenuhnya manusia.

Titik balik terbesar dalam cerita Blame! terjadi saat Killy dan Cibo mengetahui tentang Toha Heavy Industries (nama sebuah perusahaan yang sudah berulangkali muncul dalam karya-karya Nihei-sensei). Wilayah kerja Toha Heavy Industries konon tak berada dalam lingkup pengelolaan NetSphere, dan karenanya pula terbilang aman dari Safeguard, sehingga informasi tentang NTG mungkin saja bisa mereka peroleh andai saja bisa masuk ke dalamnya.

Hanya saja, yang berkepentingan terhadap Toha ternyata bukan hanya mereka.

Di samping berhadapan dengan satu-satunya administrator Toha yang dapat mereka hubungi—suatu kecerdasan buatan bernama Mensab dan manusia pelindungnya yang ahli pedang dan sudah terkikis ingatannya, Seu—para makhluk silikon turut membayangi Killy dan Cibo karena juga mengejar kesempatan untuk bisa mengakses NetSphere. Di sisi lain, meski tak termasuk jurisdiksi mereka, para Safeguard juga mulai menjalankan rencana mereka untuk menginfiltrasi Toha dan menghabisi semua yang di sana.

Pancaran Sinar dan Kecepatan Suara

Sekilas, gaya gambar Blame! terkesan kasar. Ada banyak garis yang terkesan liar. Pewarnaannya terkesan seadanya. Kesan akhirnya benar-benar seperti sketsa. Intinya, visualnya sangat berbeda dibandingkan karya-karya manga lain yang keluar di zamannya. Tapi mungkin berkat latar belakang beliau sebagai arsitek, desain dunia buatan Nihei-sensei tersebut membuat Blame! jadi benar-benar mencolok.

Jadi, di dalam setiap bab Blame! selalu serasa ada sesuatu yang monumental gitu. Terasa demikian dengan bagaimana manusia-manusia yang berukuran kecil seperti dibandingkan dengan dunia teramat besar. Ini berlangsung secara berkelanjutan, selama periode sepuluh buku, dengan diselingi adegan-adegan aksi yang semula agak susah diikuti, tapi sebenarnya berlangsung lumayan keren sesudah kau amati.

Ada banyak latar keren. Ada banyak peralatan yang canggih.  Kudengar, meski agak biasa saja di Jepang, Blame! sangat menarik perhatian para fans manga saat diterbitkan di luar negeri. Apalagi dengan dunianya yang seperti itu ditambah ceritanya yang misterius.

Ceritanya… yah, untuk waktu cukup lama, aku juga sempat kesulitan mencerna ceritanya. Karakter-karakternya kurang tergali. (Bahkan ada banyak karakter yang nama-nama mereka mungkin takkan kita ingat.) Tapi meski banyak detailnya yang hanya sebatas tersirat, Blame! punya alur sains fiksi yang benar-benar menarik.

Killy itu seperti jagoan film aksi yang tak kunjung juga mati terlepas dari betapa seringnya ia mau dibunuh. Adegan-adegan aksinya itu seperti kombinasi tembak-tembakan dan serangan-serangan jarak dekat yang berlangsung dengan kecepatan benar-benar tinggi. Ada aspek-aspek medan pelindung, regenerasi, pergantian tubuh, senjata-senjata suara dan elektromagnetik. Geh, bahkan ada isu dunia paralel yang sempat disinggung juga!

Kalau bicara soal tokoh antagonis, terlepas dari bagaimana setiap tokoh baru hadir dengan afiliasi yang diragukan (seperti Mensab dan Seu di atas, atau seperti Domochovsky dan Iko, yang meski resminya berstatus Safeguard, sama-sama tidak menjadi ancaman terhadap Killy), musuh signifikan pertama yang Killy dan Cibo hadapi adalah Sanakan.

Sanakan, sesosok perempuan berambut hitam pendek, bermula sebagai Safeguard Level 6 yang disusupkan ke Toha untuk memicu pelanggaran yang bisa menyebabkan hilangnya validitas perjanjian antara Toha dan NetSphere. Tapi dalam perkembangannya, suatu hubungan kompleks terjalin antara dirinya dengan pihak Killy dan Cibo. Intinya, Sanakan belakangan jadi sesuatu yang lebih dari sekedar musuh, dan akhirnya berperan besar dalam resolusi cerita.

Singkat cerita, Killy dan Cibo gagal memperoleh apa yang mereka cari di Toha. Tapi di akhir perseteruan di Toha, mereka memperoleh ‘sesuatu’ yang mungkin bisa membantu. Killy dan Cibo kini hanya tinggal mencari cara untuk memanfaatkan ‘sesuatu’ itu. Tapi ‘sesuatu’ tersebut juga membuat mereka dikejar musuh yang baru, yaitu kelompok makhluk silikon pimpinan Davinelulinvega (yang menurutku digambarkan seperti semacam pemimpin sekte). Di sini pula, konflik Killy dan Cibo dengan Sanakan kembali memuncak. Lalu berkat kemampuan meretas Cibo, apa yang belakangan terjadi membuat situasi menjadi benar-benar kompleks…

Ringkasnya, buat yang penasaran, akhir cerita Blame! datang dengan agak tiba-tiba dengan bagaimana Killy dipercaya untuk menjaga peninggalan Cibo dan Sanakan, yakni benih NTG sintetis yang mereka berhasil ciptakan sama-sama. Kini hanya dengan ditemani Mori, semacam kecerdasan peninggalan masyarakat Toha, perjalanan Killy terus berlanjut agar benih tersebut dapat berkembang secara bebas dari kontaminasi Kota.

Komedi Romantis

Blame! sempat beberapa kali diadaptasi menjadi anime, walau bukan dalam format seri TV. Pasar penggemarnya memang lumayan niche, jadi wajar kalau ini tak meledak.

Adaptasi pertama dalam format ONA oleh studio animasi Group TAC. Mereka memproduksi seri enam episode dengan durasi enam menit pada Oktober 2003 dengan disutradarai Inokawa Shintaro. Hasilnya tak menonjol, tapi cukup lumayan dengan nuansa dunianya yang benar-benar sureal. Ada lumayan banyak dialog di dalamnya, tapi garis besar ceritanya masih lumayan menuai tanda tanya.

Kedua, sempat hadir anime CGI Blame! Prologue sebanyak dua episode, masing-masing berdurasi empat menit, pada September 2007. Kali ini, produksinya dilakukan  studio animasi ternama Prodution I.G. Meski ekspresi para karakternya masih kaku dan tak banyak yang dihadirkan selain adegan-adegan aksi, ini berakhir sebagai presentasi lumayan keren.

Ketiga, ehem, Blame! hadir sebagai ‘anime di dalam anime’ yang tayang pada adegan-adegan tertentu di anime Knights of Sidonia beberapa tahun lalu. Hasil akhirnya cukup mencolok. Kudengar episode khususnya disertakan dalam versi DVD Knights of Sidonia.

Selama kurun waktu sesudah tamatnya tersebut, sejumlah materi pelengkap Blame! juga sempat dirilis.

Yang pertama mencolok adalah NOiSE, yang sudah kusinggung di atas. Berlatar di dunia ketika NetSphere masih terkendali, prekuel ini bercerita tentang seorang polwan bernama Musubi Susono yang mengusut suatu kasus pembunuhan, tapi tahu-tahu terjebak dalam konflik kepentingan antara sejumlah pihak. Semuanya terjadi menjelang perilisan NetSphere ke khalayak luas. Karena rupa mereka yang mirip, Musubi diyakini (tapi bisa juga tidak) adalah template kepribadian yang digunakan dalam membentuk Sanakan.

Yang paling menarik selanjutnya adalah Blame! Gakuen, suatu seri spin off yang mengisahkan bagaimana seandainya Killy dan kawan-kawannya para karakter lain adalah remaja-remaja SMA. Di sini, Killy masih pendiam. Cibo jadi semacam sahabat lamanya yang lebih banyak bicara. Sanakan menjadi guru. Lalu para makhluk silikon menjadi semacam teman-teman sekelas. Konyolnya, meski berlatar komedi romantis sekolahan, punya elemen-elemen moe, ditambah dengan baju seragam yang dikenakan para karakternya (meski wujud mereka masih makhluk silikon) dan kelopak-kelopak bunga sakura, hal-hal seperti GBE dan bangunan-bangunan raksasa masih juga ada. Killy juga jadi semacam karakter sial/beruntung yang bisa tiba-tiba kedapatan adegan fanservice dan jadi dihajar para cewek.

Selain dua di atas, ada cerita pendek Net Sphere Engineer yang sempat hadir di majalah Morning Extra dan Blame!2 pada tahun 2008 pada majalah Mandala. Keduanya sama-sama pendek dan menurutku tak terlalu berkontribusi terhadap cerita. Tapi tak dapat dipungkiri, keduanya merangsang imajinasi.

Kalau aku tak salah, bersama beberapa cerita lepasan lain, dua cerita pendek di atas dan dua bab pendek Blame! Gakuen kemudian disatukan dalam satu bundel berjudul Blame! Gakuen and so on. Tankoubon tersebut kurasa menjadi eksperimen Nihei-sensei dalam membuat cerita yang lebih berbasis karakter. Maksudku, sebelum beliau kemudian mengerjakan Knights of Sidonia.

Nelayan Elektrik

Kalau membandingkan Blame! dengan Knights of Sidonia, perkembangan kemampuan Nihei-sensei akan lumayan terlihat. Di samping memiliki artwork lebih bersih, Knights of Sidonia yang lebih baru punya jalinan cerita yang lebih memberi perhatian terhadap karakter.

Iya, itu aja.

Soal karakter itu yang agaknya jadi perbedaan mencolok.

Hasilnya belum sebegitu bagusnya sih, tapi kalau dibandingkan dengan karya-karya lain beliau, seperti Biomega misalnya, Knights of Sidonia adalah yang kayaknya punya kesan paling jauh.

Soal produksi anime Blame! yang akan datang, sebagian besar staf Polygon Pictures yang sebelumnya menangani Knights of Sidonia kudengar akan kembali. Formatnya layar lebar. Seshita Hiroyuki yang akan menangani. Naskahnya dibuat oleh Nihei-sensei sendiri dengan dibantu Murai Sadayuki. Direncanakan tayang pada pertiga akhir Mei 2017 nanti, kudengar ini nanti juga akan tayang di Netflix. Kudengar juga ceritanya akan dirombak habis.

Yah, kita lihat saja nanti.

Akhir kata… ternyata aku bisa menulis lumayan banyak tentang Blame!. Hmm, aneh juga. Aku dari dulu kagum dengan betapa pendiamnya Killy. Maksudku, dia tipe orang yang lebih banyak bertindak daripada ngomong. Berbeda dari kebanyakan orang zaman sekarang.

Man, aku perlu bisa lebih mencontohnya.

Tag: ,
03/04/2017

Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale

Akhir pekan lalu, aku menonton Sword Art Online: Ordinal Scale di salah satu cabang CGV Blitz.

Ordinal Scale (kira-kira berarti ‘skala ordinal’, ‘ordinal’ mengacu kepada ‘angka ordinal’ yang menyatakan peringkat/kedudukan seperti ‘pertama’ dan ‘kedua puluh’ dsb., berbeda dari ‘angka cardinal’ yang menyatakan nilai/kuantitas; sebenernya ada lagi jenis angka nominal yang menyatakan nama/identitas seperti barcode) adalah film layar lebar pertama dari seri Sword Art Online yang terkenal. Masih diangkat dari seri novel fenomenal karangan Kawahara Reki, film layar lebar ini berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua animenya. Jadi, Ordinal Scale berlangsung sesudah bab Mother’s Rosario, tapi sebelum bab Alicization yang sudah didesas-desuskan akan menjadi inti season ketiga anime SAO yang akan datang.

Salah satu daya tarik movie ini bagi para penggemar SAO adalah sifatnya yang orisinil. Cerita yang dipaparkan movie ini tak berasal dari novel. Seperti halnya film layar lebar Mahouka Koukou no Rettousei yang akan tayang pertengahan tahun ini nanti, ada rentang waktu kosong dalam linimasa cerita asli di seri novelnya yang jadinya dilengkapi.

Berdurasi lumayan lama, sekitar pas dua jam, produksi Ordinal Scale masih dilakukan oleh A-1 Pictures . Penyutradaraannya kembali dilakukan Ito Tomohiko. Naskahnya disusun bersama oleh Ito-san berdasarkan konsep cerita yang disusun Kawahara-sensei sendiri. Penayangan film layar lebar ini di Indonesia pun terbilang cepat, hanya sekitar sebulan sesudah movie ini pertama tayang di Jepang.

Sedikit curhat dulu: aku semula tak berencana menonton film ini.

Sekali lagi, aku menggemari versi novel SAO. Tapi aku sebenarnya tak sebegitu antusias terhadap animenya.

Sempat terlintas di benakku kalau aku mungkin akan nonton Ordinal Scale. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar secara khusus meniatkannya karena mengira film ini penayangannya akan terbatas, baik secara waktu dan tempat. Belum lagi sempat ada berita pula kalau distribusinya di Indonesia bakal ditunda. Kusangka ini paling cepat adanya April. Lalu, yah, kesibukanku belakangan rada susah diprediksi (aku sering sekali menyinggung soal gimana aku sibuk, sampai-sampai aku sendiri merasa aku belakangan terdengar kayak bohong).

Tapi akhir pekan lalu, tiba-tiba ada sahabat lamaku, yang sekarang domisilinya di kota lain, tahu-tahu ngontak soal bagaimana hari itu dia mau menonton ini (dan kalau bisa, langsung dilanjutkan dengan Kong: Skull Island). Lalu, saat aku dengar Ordinal Scale sudah tayang, reaksiku adalah: “FUUUUUUGGGGHHHG!!!!!”

Semula, aku merasa temanku itu yang selama ini stres. Sama sepertiku, dia juga masih lajang. Lalu dia lagi sendirian di rumah setelah ditinggal keluarganya touring. Dia menghubungiku juga sambil sesekali mengirim foto kemajuan gambar yang sedang dia buat untuk mengasah kembali skill gambarnya yang sudah tumpul. (Dia punya bakat menggambar bishoujo.)

Tapi menilai reaksiku, aku tersadar bahwa aku juga butuh menonton film ini. Rupanya aku juga lagi stres.

Akhirnya, aku tak peduli apakah hasilnya akan jelek atau bagus. Aku perlu menonton Ordinal Scale.

Sesudah bertekad demikian, aku memutuskan ke luar rumah. Aku bahkan sampai membujuk-bujuk temanku untuk tetap cabut sekalipun cuacanya kelihatannya memburuk. Singkat cerita, aku dan sahabatku yang beda kota ini akhirnya masuk bioskop pada waktu kurang lebih sama, demi menonton film yang sama.

Kami lalu saling bertukar komentar sesudah menonton.

Was it worth it?

Yah. Pada akhirnya, Ordinal Scale tetap SAO. Kalau kalian mengerti maksudku.

“…Switch.”

Ordinal Scale dibuka dengan pemaparan tentang berkembangnya perangkat teknologi baru berbasis augmented reality bernama Augma. Memiliki bentuk berupa kombinasi visor, headphone lalu kamera sekaligus aksesoris tangan, Augma digandrungi karena menjadi alternatif untuk perangkat virtual reality Amusphere (penerus perangkat VR NervGear yang menjadi salah satu penyebab tragedi VMMORPG Sword Art Online beberapa tahun silam).

Untuk kalian yang awam, berbeda dengan virtual reality yang merupakan realitas buatan yang membawa penggunanya ke ‘dunia’ lain, teknologi augmented reality adalah teknologi yang ‘memperkaya’ realitas kita saat ini. Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling saja, ada berbagai informasi tambahan yang bisa kita peroleh terkait apa yang kita lihat. Kita masih bergerak dengan badan sendiri. Tapi apa yang kita lihat, dengar, dan bahkan sentuh telah diperkaya karena ‘informasi’ yang Augma berikan turut menimpa persepsi dunia nyata kita. Dunia bisa terlihat semakin berwarna dan menarik. Ada berbagai aplikasi Augma yang bisa dimanfaatkan, mulai untuk olahraga, bertukar pesan, peluang mendapatkan kupon diskon, membantu diet, info lalu lintas real time, menampilkan peta, membantu menunjukkan arah kalau tersesat, dsb. Bahkan, ada suatu permainan massal berbasis Augma bernama Ordinal Scale yang belakangan menyedot perhatian para penggemar VMMORPG ALfheim Online dan Gun Gale Online.

Melalui Augma, kita juga bisa menyaksikan pesona figur idola virtual Yuna yang konon adalah kecerdasan buatan. Dengan kepribadiannya yang cerah, acara-acara konser Yuna—yang dapat berlangsung nyaris di mana saja—menjadi hal yang banyak diminati dan menjadi satu lagi faktor kesuksesan Augma.

Fitur-fitur baru Augma juga tengah digandrungi teman-teman Kirigaya Kazuto.

Sebagai salah satu yang selamat dari peristiwa SAO, dan bahkan menjadi yang telah menuntaskannya, Kazuto, yang juga dikenal sebagai Kirito, sudah beberapa kali terlibat dalam sejumlah insiden berbahaya di dunia virtual. Mungkin karena itu perasaannya terhadap Augma masih ambivalen.

Di sisi lain, teman-teman lama Kirito—bahkan termasuk mereka yang juga selamat dari peristiwa SAO, seperti Shinozaki Rika (Lizbeth) dan Ayano Keiko (Silica), serta kekasih Kirito sendiri, Yuuki Asuna; terutama karena pembagian perangkat Augma gratis untuk para anggota kepanitiaan di sekolah rehabilitasi mereka—juga menggandrungi Augma sekaligus Ordinal Scale. Teman Kirito yang sudah dewasa, Klein, juga sering ikut serta dalam berbagai event Ordinal Scale bersama teman-teman guild-nya yang bertema samurai, Fuurinkazan. Lalu manfaat lain Augma bagi Kirito dan Asuna, yang mau tak mau harus mereka akui, adalah bagaimana kecerdasan buatan yang menjadi ‘putri’ mereka sesudah insiden SAO, Yui, jadi bisa secara lebih bebas berada di dunia nyata.

Meski masih kurang nyaman dengan Augma, sebagai seorang gamer, Kirito tentu saja juga tertarik dengan Ordinal Scale. Dari sekedar mencoba mengikuti acara Ordinal Scale bersama Asuna, Kirito mulai mendengar sebuah rumor yang mulai mengusiknya: bahwa sejumlah lawan yang dikenali sebagai floor boss dari Sword Art Online telah muncul dalam eventevent Ordinal Scale.

Lalu yang menyadari hal ini hanya para veteran SAO yang pernah terlibat di garis depan.

Trauma Therapy

Sebelum masuk soal bagaimana Kirito, Asuna, dan kawan-kawan mereka jadi diingatkan soal pengalaman di garis depan SAO, baiknya aku menyinggung sedikit dulu tentang Ordinal Scale.

Jelas terinspirasi dari berbagai permainan augmented reality yang belakangan berkembang (salah satunya mungkin demam Pokemon Go), Ordinal Scale sederhananya adalah semacam permainan aksi memburu monster yang mengharuskan para pemainnya keluar rumah (dengan memakai Augma) dan mendatangi berbagai tempat di kota.

Setiap pemain bebas memilih ingin jadi pemain macam apa. Mereka bebas memilih peralatan yang mereka bawa (yang sebagian agaknya bisa ditemukan dari menjelajah tempat-tempat tertentu di sekitar mereka), mulai dari senjata jarak dekat macam pedang atau yang jarak jauh macam pistol dan senapan (Kirito dan Asuna jelas-jelas lebih memilih menggunakan pedang). Di samping senjata, mereka juga bebas mengenakan pelindung. Dengan berkeliaran sambil mengenakan Augma saja, konon para pemain OS bisa menemukan berbagai barang (item), perlengkapan, serta musuh-musuh yang bisa mereka kalahkan.

Satu hal menarik di OS adalah bagaimana tak ada sistem leveling. Semua pemain bermain menggunakan badan mereka sendiri (jadi bukan badan virtual seperti di Amusphere yang parameternya telah disesuaikan). Parameter kekuatan mereka—meski ada beberapa yang mengalami modifikasi oleh perlengkapan yang mereka kenakan—adalah kemampuan fisik nyata mereka sendiri.

Lalu, untuk memantau siapa-siapa yang unggul dalam permainan ini, digunakan semacam sistem peringkat. Masing-masing pemain bersaing untuk meningkatkan peringkat, dan ada berbagai manfaat yang mereka peroleh seiring dengan bertambahnya peringkat mereka. (Sistem ‘peringkat’ ini belakangan terungkap punya signifikasi di dalam cerita.)

(…Bentar. Setelah kupikir, sistem pengembangan diri berbasis peralatan ini, yang tak ada kaitannya dengan sistem level, lumayan mirip dengan yang ada di waralaba Monster Hunter.)

Salah satu aspek terkeren Ordinal Scale adalah bagaimana saat dijalankan, program tersebut dapat sepenuhnya mengubah persepsi pemainnya akan realita. Dalam sekejap, langsung ada dunia lain yang mereka lihat, tapi dunia tersebut tetap tercipta berdasarkan bentuk dunia nyata. Puncak-puncak gedung tinggi bisa berubah menjadi menara kastil. Tempat-tempat terbuka menjadi teras puri. Warna langit bisa berubah dari siang menjadi malam, lengkap dengan terangnya bulan berwarna. Lalu pakaian yang para pemainnya kenakan akan berubah. Handset yang mereka pegang juga berubah jadi senjata yang mereka pilih. Semua konon terwujud berkat keberadaan sepasukan UAV yang seakan membantu proses pemantauan.

Perubahan dunia pada Ordinal Scale lumayan mengingatkan pada perwujudan Unlimited Neutral Field di Accel World yang juga karangan Kawahara-sensei. Tapi meski sama-sama didasarkan pada bentuk dunia nyata, sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi di latarnya, Ordinal Scale di seri SAO dihasilkan lewat teknologi yang lebih low key. Ditambah dengan bagaimana kenyataannya, Ordinal Scale berlangsungnya masih di dunia nyata.

Terlepas dari itu, dalam salah satu event Ordinal Scale, ketika sejumlah musuh besar yang tak dapat ditangani sendirian muncul, idola virtual Augma, Yuna, tiba-tiba muncul. Melalui nyanyiannya, Yuna memberi buff bagi parameter para pemain, membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan misi. Lalu sesudah itu, Yuna juga mengumumkan lokasi di mana konser live-nya yang banyak ditunggu akan diadakan.

Dari pengalaman tersebut, kembali muncul tanda tanya soal apakah Yuna adalah makhluk sejenis Yui, dalam artian sama-sama kecerdasan buatan. Di samping itu, turut diperkenalkan pula Eiji, pemain dengan peringkat dua di Ordinal Scale, yang Kirito dan Asuna sadari agaknya mungkin pernah mereka jumpai di masa lalu.

Apakah Melupakan Lebih Baik?

Masalah timbul saat rumor-rumor soal kehadiran floor boss SAO di Ordinal Scale ternyata benar. Asuna, bersama Klein, menjadi saksi langsung hal ini. Asuna, berkat pengalamannya, bahkan berhasil menggalang pemain lainnya untuk menaklukkan boss tersebut. Namun rupanya itu hanya awal dari segala masalah.

Singkat cerita, Kirito, yang tak aktif sebagai pemain Ordinal Scale, secara terlambat mengetahui bahwa para veteran SAO yang memainkan Ordinal Scale bisa kehilangan sebagian ingatan mereka. Persisnya, ingatan mereka tentang SAO. Asuna juga adalah salah satu korbannya. Lalu berbeda dari kebanyakan veteran yang memiliki banyak kenangan tak enak tentang SAO, Asuna juga memiliki kenangan-kenangan bahagia karena pertemuannya dengan Kirito. Lalu hilangnya kenangan-kenangan tersebut sedemikian membebani Asuna, walau ia masih bisa ingat siapa Kirito dan berbagai kenangan mereka di kastil Aincrad baru yang kini ada di ALO.

Marah dengan apa yang menimpa Asuna, Kirito bertekad untuk mengungkap apa yang terjadi. Berkat petunjuk sosok berkerudung misterius yang sesekali terlihat hanya melalui Augma, Kirito menjumpai Shigemura Tetsuhiro, pria paruh baya yang merupakan ilmuwan pengembang piranti Augma. Dari sana, Kirito menyimpulkan bahwa ia harus memanjat ke puncak peringkat Ordinal Scale demi mencegah bencana besar yang akan terjadi.

Maka dengan taruhan ingatannya sendiri pula, Kirito juga perlu berhadapan dengan Eiji, yang ternyata menyembunyikan lebih banyak dari apa yang bersedia ia ungkap.

Janji Bonceng Motor

Masuk ke soal teknis, kalau soal presentasi, Ordinal Scale menghadirkan kualitas visual dan suara seperti yang bisa diharapkan dari sebuah seri SAO. Dari sudut itu, ini film yang terlihat dan terdengar bagus.

Aku tak begitu terkesan dengan key visual-nya. Tapi sesudah melihat sendiri, aku kagum dengan betapa banyaknya detil yang telah diberikan untuk menggambarkan dunia Tokyo masa depan. Kesan futuristis yang dipaparkan terasa sangat dekat sekaligus jauh. Masih serasa membumi. Lalu banyaknya detil ini begitu kentara dibandingkan bab-bab cerita SAO yang lain. Walau cerita Ordinal Scale pada akhirnya berkesan ‘SAO’ sekali (lebih banyak soal itu nanti kusinggung di bawah), sebagai orang yang beberapa kali berkecimpung di dunia arsitek dan iptek, aku merasa sudah balik modal menonton film ini hanya demi melihat dunianya saja. Mulai dari soal fitur-fitur AR Augma, pemandangan keseharian kota Tokyo modern, jalan-jalan layang, halaman-halaman dengan ruang terbuka hijau, dan bahkan vending machine, aku puas dengan bagaimana semua itu ditampilkan. Aku kagum dengan pemandangan overhead kota dari atas berulangkali diperlihatkan untuk mengindikasikan bagaimana Kirito berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Soal suara, aku sempat heran dengan bagaimana karakter Yuna ditampilkan. Aku seperti… “Heh? Lagi-lagi karakter idol?” Aku lebih terbiasa melihat penampilan idola futuristis dalam anime Macross. Lalu sesudah movie Toaru Majutsu no Index beberapa tahun lalu, sekarang SAO mau mengangkat soal itu juga? Perasaanku campur aduk soal ini. Tapi aku bersyukur setidaknya tema konser dan nyanyian ini tak sekedar tempelan. Maksudku, ada signifikasinya dalam cerita. Di samping itu, nuansa musik gubahan Kajiura Yuki kembali ada di movie ini. It’s still good.

Jadi, satu hal unik yang Ordinal Scale miliki, kalau dibandingkan bab-bab cerita lain dalam seri SAO, dan yang mungkin menjadi daya tariknya yang terbesar, adalah bagaimana ceritanya berlatar hampir sepenuhnya di dunia nyata. Bagian pendahuluannya, bagian pengenalan masalah, bagian klimaksnya, lalu juga penyelesaiannya. Maksudku, itu hal yang sangat baru bagi SAO.

Sekali lagi, di dunia nyata. Bukan dunia virtual.

Karenanya, di luar dugaan—lagi, terlepas dari kualitas akhirnya sendiri—Ordinal Scale punya cerita yang terasa segar.

Naskah yang Kawahara-sensei dan Ito-san sudah susun itu beneran kuat. Ya, masih ada kelemahan-kelemahan khasnya. Termasuk soal wish fulfillment dan sebagainya. Ya, perlu kuakui juga kalau klimaksnya sedikit mengecewakan. Itu jelas tak semenegangkan standar SAO yang biasa. Tapi kalau menempatkan diri di sudut pandang produser, naskah Ordinal Scale kurasa berhasil memenuhi segala ekspektasi. Ada banyak callback ke hal-hal lalu. (Seperti soal perintah Switch untuk penggantian posisi depan yang normalnya hanya dipahami oleh para veteran SAO.) Secara mengesankan, ada sejumlah foreshadowing juga ke bab Alicization yang akan datang untuk para penggemar novelnya. Semua karakter signifikan dalam waralaba ini—termasuk si gaijin pemilik toko Andrew Gilbert Mills (Agil), jago kendo Kirigaya Suguha (Leafa) yang merupakan sepupu Kirito, ahli tembak Asada Shino (Sinon), dan pegawai pemerintah yang jadi kontak Kirito, Kikuoka Seijurou—tampil dan berperan. Hal-hal imut tentang SAO, kalau kalian suka dengan itu, juga ada. Aku sendiri memperkirakan bobot fanservice dalam film ini mungkin mencapai 35%.

Aku terutama terkesan dengan bagaimana Kirito ditampilkan seakan kesetanan saat mengejar peringkat ini. Atau saat Asuna menggalang orang-orang yang belum ia kenal dalam melawan boss. Lalu juga pada bagaimana Suguha melatih ulang fisik Kirito dari jauh berhubung sedang mengikuti kamp pelatihan di luar kota.

Jadi kayak, semua yang sejak dulu ada di SAO berhasil dimasukkan secara seimbang ke film ini. Termasuk elemen-elemennya yang mungkin kurang kau sukai. Aku jadi maklum kenapa movie ini terbilang berhasil di Jepang. Bahkan, kalau dibandingkan Endymion no Kiseki dari seri Index beberapa tahun lalu, kurasa Ordinal Scale jauh lebih bisa aku sukai.

Janji Melihat Bintang

Untuk menyimpulkan, untuk kalian yang sudah cukup menyukai SAO apa adanya, maka kalian juga akan menyukai Ordinal Scale. Untuk kalian yang kurang menyukai SAO, film ini takkan membuat kalian berubah pikiran. Sedangkan untuk kalian yang belum pernah tahu tentang SAO sebelumnya, lalu kebetulan melihat film ini, mungkin kalian akan sedikit bingung dengan banyaknya referensi terhadap kejadian yang lalu. Walau begitu, inti ceritanya masih bisa diikuti, lalu mungkin kalian malah jadi tertarik dengan waralaba utamanya.

Akhir kata, aku enggak bisa menilai Ordinal Scale jelek. Memang ada kekurangan-kekurangannya, tapi itu jenis kekurangan yang benar-benar khas SAO.

SAO dari waktu ke waktu kerap menampilkan hal-hal yang menurutku agak berlebihan dan konyol (sejumlah orang menyebutnya ‘lebay’). Tapi sesuatu yang agaknya hanya bisa SAO lakukan bagiku adalah bagaimana hal-hal berlebihan dan konyol tersebut ditampilkannya selalu dengan cara yang tak pernah bisa sepenuhnya aku tertawakan. Kenapa? Karena meski aku merasa hal-hal tersebut berlebihan dan konyol, pada saat yang sama, hal-hal itu jadi mengingatkanku pada hal-hal lain yang lebih serius dan dalam.

Dalam konteks ini, pada bagaimana hilangnya ingatan Asuna jadi mengingatkan pada penderita Alzheimer gitu. Frustrasi yang dirasakannya bukan hal yang mudah diekspresikan. Menariknya, tak semua korban hilangnya ingatan tersebut memperlihatkan reaksi yang sama. Karena hal-hal seperti di atas, kadang aku merasa SAO lumayan penuh dengan alegori.

Apa lagi ya?

Cerita Ordinal Scale berakhir dengan resmi bertunangannya Kirito dan Asuna. Jadi walau ceritanya lepas, Ordinal Scale agak memperbesar pertaruhan dalam bab Alicization nanti. Ada kemungkinan season ketiga animenya bakal memperbaiki beberapa kelemahan di novelnya. Tapi yeah, itu bukan analisa, cuma pengharapanku pribadi.

Klasik untuk kasus SAO, identitas tokoh antagonisnya bukan teka-teki. Mereka sama-sama punya kaitan dengan insiden SAO. Shigemura-sensei adalah guru mendiang Kayaba Akihiko dan Sugou Nobuyuki. Seperti halnya Sugou, Shigemura sekedar memanfaatkan teknologi cetusan Kayaba melalui piranti Augma hasil kembangannya. Lalu Eiji, atau Nochizawa Eiji, yang sebelumnya memakai nama Nautilus, adalah mantan bawahan Asuna. Dia seorang anggota Knights of the Blood yang dulu kurang dikenal karena tak pernah maju ke garis depan.

Keduanya bukanlah karakter yang kompleks atau berbobot. Tapi cara mereka menjutsifikasi tindakan mereka sebagai penanganan trauma, padahal yang ingin mereka pulihkan adalah luka masa lalu mereka sendiri, lumayan menarik. Dalam hal ini, untuk mendatangkan kembali seseorang bernama Shigemura Yuuna, terlepas dari apa konsekuensi yang harus dihadapi.

Selebihnya, hal-hal paling menarik di Ordinal Scale terjadi dengan tersirat.

Pertama, tentang Kayaba Akihiko. Meski secara fisik telah wafat, sekali lagi dikonfirmasi bahwa dirinya masih ‘hidup’ dengan suatu cara. Janggalnya, Shigemura nampaknya tahu juga tentang ini. Lalu anehnya, ia kelihatan tak menaruh dendam atas peranannya dalam insiden SAO.

Kedua, tentang Kikuoka. Kikuoka, yang mewakili pemerintah Jepang, sekali lagi dimintai bantuan oleh Kirito saat terungkap maksud sesungguhnya dikembangkannya Augma itu apa. Tapi di akhir film, terungkap bahwa Kikuoka membebaskan Shigemura dari segala tuntutan. Kikuoka bahkan memperlihatkan pada Shigemura penemuan baru yang telah dikembangkannya, yang lagi-lagi merupakan foreshadowing terhadap bab Alicization.

Terakhir, tentang Yui. Yui yang mungkin berperan paling vital dalam penyelesaian masalah. Sedemikian besar peranannya, aku sampai berpikir bahwa sebagai rogue AI, Yui bisa sangat berbahaya kalau bukan berkat asuhan dan didikan Asuna dan Kirito. Jadi, begitu terungkap bahwa sebenarnya Augma adalah hasil modifikasi dari NervGear, segala solusinya, begitu saja, langsung terlihat di mata Yui. (Ini juga jadi salah satu alasan kenapa klimaks film ini kurang memuaskan.)

Terkait ini, beberapa kali pernah diimplikasikan bahwa Kirito tak sepenuhnya mempercayai Kikuoka. Keduanya sama-sama belum membuka seluruh kartu masing-masing. Lalu lewat film ini, lagi-lagi kita diingatkan bahwa Kikuoka mungkin masih belum juga diberitahu Kirito tentang asal-usul Yui yang sesungguhnya… yang mungkin tanpa disadarinya telah berdampak pada apa-apa yang nanti akan terjadi.

Yah, demikian deh. Kita pantau saja terus perkembangan waralaba ini ke depan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

25/03/2017

Mobile Suit Gundam Twilight Axis

Pagi hari dua hari lalu, aku mendengar kabar bahwa setelah tuntasnya proyek animasi Gundam Thunderbolt, seri animasi berikutnya yang berlatar di semesta Universal Century sudah dikonfirmasi adalah Kidou Senshi Gundam Twilight Axis.

Twilight Axis (kira-kira berarti ‘senja/akhir Axis’) merupakan seri photonovel yang dicetus Ark Performance (tim yang membuat seri kapal selam futuristik Aoki Hagane no Arpeggio). Mereka dibantu Nakamura Kojiro. Diterbitkannya melalui penerbit Yatate Bunko yang dimiliki khusus oleh studio Sunrise.

Kabar ini mengejutkan karena Twilight Axis merupakan seri yang terbilang masih sangat baru. Walau begitu, kalau mempertimbangkan bagaimana Twilight Axis berlatar tak sampai setahun di kesudahan Insiden Laplace yang dikisahkan di Gundam Unicorn, ditambah lagi mulai membangun latar ke era Gundam F91, keputusan ini masuk akal.

Penasaran, aku langsung mencari informasi lebih banyak.

Untungnya, para spesialis Gundam di situs Zeonic Republic sudah menerjemahkan beberapa babnya ke Bahasa Inggris. Aku langsung meluangkan waktu luang di kantor untuk membaca.

Mengejar Bayangan Merah

Twilight Axis mengetengahkan dua karakter Danton Hyleg dan Arlette Hyleg.

Danton dan Arlette adalah pasangan ayah dan putrinya yang sekilas pandang, kalau menilai dari kehidupan mereka yang bersahaja di Libot Colony—yang terletak di Riah atau koloni luar angkasa Side 5 (sebelumnya, Side 6)—merupakan keluarga kecil biasa. Mereka membuka usaha binatu dan menjalankan hidup dengan damai. Keseharian Danton paling hanya bermain ke kafe yang dibuka tetangganya. Meski demikian, sebenarnya, keduanya sama sekali tak berhubungan darah. Ditambah lagi, Arlette yang tampak masih remaja sebenarnya jauh lebih tua dari usianya.

Keduanya sebenarnya adalah mantan pilot uji Danton Highleg dan teknisi Arlette Almage, dua orang simpatisan pihak Zeon yang telah bekerja sama sejak akhir Perang Satu Tahun. Mereka berada di bawah pengawasan langsung dari komandan mereka, sosok Char Aznable yang legendaris, yang menghilang secara misterius di penghujung Perang Neo Zeon Kedua. Ditambah lagi, Arlette sebenarnya adalah salah seorang Cyber Newtype yang pernah dihasilkan Institut Flanagan. Entah bagaimana, salah satu efek samping dari percobaan-percobaan yang dilakukan terhadapnya adalah tubuh yang menua dengan sangat lambat. Sebagai akibat dari ini, Danton dan Arlette telah berulangkali berpindah domisili sejak Perang Neo Zeon Kedua berakhir karena tak ingin masyarakat sampai mengetahui asal usul mereka.

Kehidupan damai mereka terusik saat pada suatu hari, datang seorang pria necis tapi ramah bernama Mehmet Merca ke toko mereka. Mehmet datang sebagai wakil suatu lembaga yang disebut Departemen Enam dari Kementrian, yang pada dasarnya merupakan badan intelijen Federasi Bumi. Mereka telah mengetahui identitas Danton dan Arlette yang sesungguhnya dan bahkan telah melacak mereka sampai ke Riah. Mehmet rupanya adalah komandan pasukan khusus Mastema yang khusus mendatangi Libot demi meminta bantuan pada Danton dan Arlette.

Singkat cerita, keterlibatan masa lalu Danton dan Arlette dalam pengembangan teknologi Neo Zeon membuat Mehmet ingin merekrut mereka sebagai pemandu untuk menjelajahi apa yang tersisa dari Axis, asteroid raksasa bekas markas faksi Neo Zeon. Tempat lebih spesifik yang ingin dicapai adalah Institut Penelitian Memorial Maharaja Khan, yang merupakan laboratorium peneltian terakhir pula dari Institut Flanagan di mana Danton dan Arlette sama-sama pernah bernaung.

Dalam Perang Neo Zeon Kedua (yang dikisahkan dalam Char’s Counterattack), Axis sempat hendak diluncurkan Neo Zeon ke arah Bumi untuk menimbulkan bencana musim dingin global, yang selanjutnya akan memicu migrasi manusia ke luar angkasa, dan akhirnya melahirkan lebih banyak manusia Newtype yang diyakini dapat menghapuskan peperangan. Berkat upaya kesatuan gerak cepat Londo Bell, bencana tersebut berhasil dicegah dengan dibelahnya Axis, meski salah satu potongannya tetap akan menabrak Bumi kalau bukan karena pengorbanan berbagai pihak yang terlibat.

Sasaran lebih tepat yang ingin Federasi peroleh adalah sampel dari psycho frame, teknologi MS mutakhir yang sempat dibocorkan Char ke kedua belah pihak di Perang Neo Zeon Kedua melalui perusahaan pemroduksi MS Anaheim Electronics. Teknologi ini yang konon menghasilkan keajaiban terselamatkannya Bumi di akhir perang tersebut.

Potensi sesungguhnya teknologi psycho frame akhirnya diketahui Federasi di kesudahan Insiden Laplace. Meyakini keberadaan sisa-sisa rahasia produksinya di Axis, Federasi Bumi menginginkan sampelnya sebelum teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Danton dan Arlette akhirnya menerima tawaran Mehmet. Di samping imbalan berupa uang yang banyak serta dihapuskannya catatan pelanggaran hukum mereka, Danton dan Arlette juga berharap kunjungan kembali mereka ke Axis dapat memberi petunjuk tentang apa sebenarnya yang telah menimpa Sazabi, MS berteknologi psycho frame yang digunakan Char pada saat ia menghilang.

Dikawal Mehmet dan pasukan Mastema, Danton dan Arlette kembali ke Axis setelah bertahun-tahun.

Namun di luar dugaan, ternyata bukan hanya mereka yang di sana. Mereka juga bersimpangan jalan dengan suatu pasukan bersenjata misterius yang bahkan dikawal sejumlah MS Federasi. Salah satu MS tersebut adalah Gundam AN-01 ‘Tristan’, MS tipe-Gundam baru yang tak dikenali Mehmet.

Kalah jumlah dan kalah senjata, Danton, Arlette, dan Mehmet meyakini bahwa pihak misterius tersebut punya tujuan yang sama dengan mereka. Mengandalkan pengetahuan yang mereka punya tentang Axis, mereka berusaha menemukan cara untuk bertahan hidup.

Recollection

Bahkan dari awal, terlihat betapa Twilight Axis merupakan cerita Gundam yang tidak biasa. Di samping mengambil latar utama di Axis, MS tipe Gundam digunakan bukan oleh para tokoh utama, melainkan oleh pihak antagonis yang memburu mereka.

Meski mewakili pihak Federasi, Denton dan kawan-kawannya sebaliknya jadi menggunakan berbagai tipe MS lama peninggalan Neo Zeon untuk melawan mereka. Pertama, dengan Zaku III Custom berwarna merah yang semula dibuat untuk digunakan oleh Char, dan pernah diuji oleh Danton sendiri. Tipe MS yang pernah digunakan Rakan Dahrakan dalam Gundam ZZ ini dirancang untuk produksi massal dalam Perang Neo Zeon Pertama. Sayangnya, rancangan yang punya ciri khas berupa beam gun di mulut ini kalah pamor oleh Doven Wolf dan jadinya diproduksi hanya dalam jumlah terbatas. MS ini sudah sangat fleksibel dan punya performa sangat baik bahkan dibandingkan tipe-tipe MS milik Federasi dan AEUG. Tapi Zaku III Custom yang dikustomisasi oleh Arlette ini konon memiki performa lebih baik lagi dibandingkan Zaku III lain, dan menjadi lawan yang sepadan bagi Gundam Tristan.

Danton juga sempat menggunakan salah satu R-Jarja, MS pengembangan dari Gyan dari era Neo Zeon, tipe yang sama dengan yang pernah digunakan mendiang Chara Soon. Senjata khasnya adalah beam rifle dengan heat bayonet, di samping beam saber dan flexible shield pada bahu.

Di sisi lawan mereka—yang kemudian terungkap merupakan kesatuan (bayaran?) Birnam Wood—Gundam Tristan, yang dikemudikan pilot Cyber Newtype Quentin Fermo, memiliki bentuk luar yang sangat mengingatkan pada Gundam Alex yang sempat diuji untuk Newtype dalam Gundam 0080: War in the Pocket. Namun lebih banyak tentang asal usulnya masih misteri. Hal yang mencolok lain tentangnya adalah ukurannya yang terbilang kecil untuk produksi MS sejenisnya, yang sebenarnya merupakan foreshadowing terhadap tren pengembangan MS berukuran kecil yang ditampilkan dalam Gundam F91. Di samping itu, Birnam Wood juga dikawal oleh sejumlah MS lain yang tipenya dikenal sebagai milik Federasi, yakni beberapa Jegan Custom serta satu MS kustomisasi Byarlant Isolde yang telah disesuaikan secara khusus untuk digunakan di luar angkasa.

Terlepas dari soal mekanis, terlihat bagaimana Twilight Axis membangun konflik yang menarik. Karakter-karakternya unik. Mulai dari bagaimana Arlette selalu bisa membujuk Danton dengan hubungan aneh yang mereka punyai. Atau bagaimana Mehmet orang sangat santun dan simpatik meski jabatannya menyeramkan. Ditambah lagi, dengan pihak misterius di belakang Birnam Wood.

Keputusan Sunrise untuk mengadaptasi seri ini mulai bisa dimaklumi saat kita memperhatikan betapa banyaknya referensi yang Twilight Axis miliki terhadap seri-seri lain. Bukan hanya seri-seri lama ‘di belakang’ melalui sejarah latar, (Seperti soal bagaimana Axis disinggung pernah dikuasai Haman Karn, putri Maharaja Karn, sebelum yang bersangkutan tewas dalam konflik di Gundam ZZ. Terdesak oleh kepungan pasukan Federasi serta keruntuhan faksi Neo Zeon dari dalam, Haman memilih bunuh diri sesudah duel penentuannya dengan Judau, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Axis sebelum Char akhirnya tampil.) tapi juga dengan seri-seri ‘ke depan’ di era kekuasaan Crossbone Vanguard.

Dikisahkan bahwa pihak yang membeking Birnam Wood sebenarnya adalah keluarga Ronah, yang kelak mendirikan faksi Crossbone Vanguard dan negeri Cosmo Babylonia, yang pada titik ini memiliki kedekatan dengan perdana menteri Federasi Bumi yang tengah menjabat. Birnam Wood digerakkan oleh Meitzer Ronah, yang kita ketahui belakangan akan menjadi kepala keluarga Ronah dalam Gundam F91. Diperkenalkan pula Engeist Ronah, saudara lelaki Meitzer yang menjaga hubungan dengan Federasi; serta Scharnhorst Ronah, ayah Meitzer dan Engeist, kepala keluarga yang mengadopsi kebangsawanan Eropa dan telah mendirikan perusahaan berkuasa Buch Concern hanya dalam satu generasi.

Kelihatannya, Twilight Axis akan melakukan beberapa retcon sejarah lagi. Kasusnya mungkin serupa dengan yang Gundam: The Origin lakukan terhadap seri TV-nya yang asli. Hanya saja, daripada terhadap Zeon, penyesuaiannya akan diberikan terhadap asal usul Crossbone Vanguard yang menjadi tokoh antagonis di Gundam F91.

Kalau mempertimbangkan ini, mulai terbayang alasan mengapa seri manga populer Crossbone Gundam, yang menjadi sekuel Gundam F91, masih belum dianimasikan juga. Mungkin Sunrise ingin membangun kembali latar dunianya dari awal. Sesudah dengan Gundam Unicorn dan Gundam: The Origin, baru mereka kini mulai menjajaki sejarah era Crossbone Vanguard.

Jadi untuk kalian fans Crossbone Gundam, jangan putus harapan.

Akhir kata, aku menyukai Twilight Axis lebih dari yang kukira saat membaca bab-bab awal novelnya. Meski gaya narasinya ringkas, ceritanya langsung dipenuhi aksi dengan banyak intrik yang terjadi. Ada keselarasan dalam berbagai elemennya gitu. Aku terutama suka dengan bagaimana motivasi Char, yang telah lama menjadi perdebatan di kalangan fans Gundam era UC, sempat disinggung juga menjadi teka-teki bahkan di dalam ceritanya sendiri. Aku benar-benar tertarik dengan perkembangannya ke depan. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Kalau ada perkembangan tambahan, mungkin tulisan ini akan aku sesuaikan lagi.

27/12/2016

Occultic;Nine

Occultic;Nine adalah seri misteri sains fiksi yang di permukaan, mengetengahkan sembilan orang berikut:

  • Gamon Yuuta, seorang siswa SMA kelas dua yang dengan maksud untuk memperoleh pemasukan dari iklan, membuka situs blog afiliasi Kiri Kiri Basara yang mengumpulkan berita-berita supernatural. Salah satu kekhasan web Kiribas adalah sudut pandang bahasannya yang kritis dan skeptis terhadap kasus-kasus supernatural. Meski ceria dan terkadang banyak omong, sifat Gamon bisa lembek dan tak mau terlibat masalah. Dirinya juga sadar dengan kecendrungannya untuk menjadi NEET. Nama panggilannya adalah Gamo-tan (seperti kodok) atau Gamonosuke (seperti samurai) atau sekedar Gamo-senpai.
  • Narusawa Ryoka, teman perempuan Yuuta yang satu sekolah dengannya (dan berdada besar) yang menyatakan diri sebagai bawahannya, yang dengan setia(?) dan sangat ceria(?) akan mengikutinya ke mana-mana. Ryoka, yang nama panggilannya Ryo-tas, mendukung kesuksesan situs web Kiribas agar suatu hari Gamon mentraktirnya makan frozen yogurt dengan uang pemasukan yang mereka peroleh. Untuk suatu alasan, Narusawa punya semacam stun gun berbentuk senjata laser berdesain jadul yang disebut Poya Gun yang terkadang digunakannya untuk menyetrum Gamon.
  • Hashigami Sarai, seorang mahasiswa tingkat awal yang mengambil sudut pandang ultra-realis dan sangat kritis terhadap segala berita berbau supernatural. Dirinya pengunjung tetap di situs web Kiribas. Ayahnya adalah Hashigami Kansei, seorang ilmuwan fisika yang belum lama ini menjadi figur narasumber ternama untuk segala hal berbau supernatural.
  • Aikawa Miyuu, adik kelas Gamon dan Narusawa yang belakangan populer sebagai peramal online berwajah imut. Menggunakan kartu-kartu tarot, ia memiliki tingkat akurasi yang tinggi untuk prediksi-prediksinya. Sifatnya riang dan baik hati. Nama panggilan untuknya adalah Myu-pom.
  • Sumikaze Touko, seorang perempuan muda berkacamata yang bekerja sebagai reporter majalah Mumuu yang khusus membahas berita-berita supernatural. Memiliki pribadi yang aktif serta kemampuan pengamatan tajam. Ia sering mengucapkan kata Ascension!” saat ada suatu hal baru yang dipahaminya.
  • Kurenaino Aria, seorang gadis remaja dengan wajah seperti boneka yang membuka jasa layanan kutukan berbasis ilmu hitam. Untuk melakukan jasanya, ia memerlukan bagian tubuh dari target bersangkutan, seperti kuku dan rambut. Sifatnya pendiam dan antisosial. Menyembunyikan masa lalu yang agak kompleks.
  • Kusakabe Kiryuu, seorang pria misterius bernuansa gelap yang kerap menampakkan diri di tempat Aria baik dalam wujud nyata maupun gaib. Mungkin bisa dibilang semacam rekan kerjanya.
  • Nishizono Ririka, seorang mahasiswi(?) di universitas yang sama dengan Sarai, yang juga memiliki profesi sebagai pembuat doujinshi. Sangat cantik, namun juga memiliki sisi misterius dengan bagaimana ia membatasi diri dari orang lain. Pada suatu titik, terindikasi bahwa adegan-adegan dalam komik-komik doujin buatannya sedikit banyak menggambarkan kejadian-kejadian yang akan berlangsung di masa depan.
  • Moritsuka Shun, seorang detektif kepolisian dengan badan seperti anak-anak. Karenanya, dia jadi sering terlihat seperti anak remaja yang sedang cosplay, meski nyatanya dia polisi betulan. Nyata-nyata seorang otaku. Karenanya, metode-metode penyelidikannya tak konvensional. Cenderung banyak omong. Tapi seperti Colombo, mungkin itu yang membuat orang-orang gampang lengah bila berada di dekatnya.

Berlatar di Kichijoji, Tokyo, pada  suatu masa ketika booming segala sesuatu berbau occult tengah melanda masyarakat, Occultic;Nine berlangsung pada beberapa minggu menjelang akhir musim dingin, dari akhir Februari sampai awal Maret. Tepatnya, ketika serangkaian kasus ganjil terjadi yang memunculkan tanda tanya bagi setiap orang. Diawali kematian misterius sesosok ilmuwan ternama, kejadian bunuh diri massal ratusan orang hanya dalam semalam, serta hadirnya sosok-sosok misterius di jalanan yang mungkin hanya bisa dilihat sebagian orang.

Dasar Air yang Gelap

Anime Occultic;Nine diangkat dari seri novel berjudul sama karangan Chiyomaru Shikura, dengan ilustrasi yang dibuat pako. Penerbitnya adalah Overlap. Buku pertama diterbitkan pada Agustus 2014 dan buku kedua diterbitkan pada April 2015.

…Iya. Baru dua buku yang terbit waktu ini kutulis. Cerita seri novelnya sendiri konon masih belum tamat. (Atau dipaksa tamat?)

Aku samar-samar ingat sempat ada kehebohan ketika beredar kabar kalau penerbitan buku ketiganya akan ditunda. Kejadiannya, kurasa sekitar akhir tahun 2015? Penundaan itu mungkin terjadi menyangkut keputusan untuk mengangkat seri ini ke bentuk game. Lalu keputusan untuk mengadaptasi ceritanya ke bentuk anime mungkin juga dalam rangka untuk menyambut game tersebut.

Buat yang belum tahu, Chiyomaru-sensei, yang juga bekerja sebagai ‘penulis’ di perusahaan pengembang 5pb. Games, dikenal sebagai salah satu pencetus seri game science adventure  yang 5pb. awalnya kembangkan bersama Nitroplus. Dalam hal ini, khususnya, seri perjalanan waktu fenomenal Steins;Gate dari tahun 2010 yang masih disayang para penggemarnya bahkan hingga kini. (Aku sebut ‘penulis’ karena jabatan beliau yang sebenarnya adalah sebagai direktur eksekutif perusahaan Mages. Inc., yang menjadi perusahaan induk 5pb. serta beberapa perusahaan lain.)

Versi game Occultic;Nine sendiri juga dikembangkannya oleh 5pb.. Perilisannya dijadwalkan pada tahun 2017 yang akan datang.

Salah satu alasan Occultic;Nine menuai sensasi dulu adalah karena ketiadaan kaitan Occultic;Nine dari segi cerita dengan tiga seri science adventure Chaos;Head, Steins;Gate, dan Robotic;Notes. (Ditambah kini, yang akan tayang pada musim dingin nanti, Chaos;Child, yang menjadi sekuel langsung dari Chaos;Head.) Karena ketiga game tersebut punya cerita latar yang saling berhubungan (tepatnya, di soal tema konspirasi yang diangkat), terbitnya Occultic;Nine seperti menjadi awal suatu seri sejenis, namun terbebas dari yang lalu-lalu gitu. Sekalipun, Occultic;Nine rupanya tetap mempertahankan cara penulisan judulnya yang khas.

Animenya sendiri diproduksi oleh studio ternama A-1 Pictures. Penyutradaraannya ditangani bersama oleh Ishiguro Kyouhei dan Kuroki Miyuki. Komposisi serinya ditangani oleh Morita To-Jumpei. (Aku tak kenal nama ini. Mungkinkah ini pseudonym?) Musiknya ditangani oleh Yokoyama Masaru yang belakangan tengah naik daun. Pertama tayang pada musim gugur tahun 2016, jumlah episodenya sebanyak 12.

Kalau memikirkan baik-baik segala situasi dan kondisi terkait produksinya, lumayan wajar bila berbagai kontroversi menyangkut anime Occultic;Nine agak tak bisa dihindari.

Matamu Akan Menjadi Mimpi Tiada Akhir

Jadi, sebelum menyinggung kualitasnya secara teknis, perlu kusinggung bahwa di samping temanya yang aneh, adaptasi anime Occultic;Nine terus terang punya aspek cerita yang agak, uh, cacat.

Selain karena cerita di novelnya belum tuntas, durasi animenya dibatasi hanya 12 episode (dan bukan 20-an seperti adaptasi anime seri-seri science adventure pendahulunya). Hal ini memaksa narasinya dipadatkan sedemikian rupa dan disampaikan dengan tempo gila-gilaan. Belum lagi dengan jumlah tokoh sentralnya yang banyak, yang masih ditambah dengan tokoh-tokoh baru dan tokoh-tokoh sampingan yang lain. Sehingga tak hanya menampilkan misteri yang belum tuntas pembahasannya, penyampaiannya juga dilakukan dengan sedemikian rupa yang membuat ceritanya sulit dipahami oleh kalangan penonton awam.

Sewaktu episode pertama ditayangkan, konon, semua pemerhatinya kebingungan. Para penonton awam bingung karena sulit mencerna apa-apa yang baru terjadi. Para penggemar lama yang telah membaca novelnya juga konon bingung karena episode satunya saja sudah mencakup hampir seluruh cerita di buku pertamanya.

Secara pribadi, aku jadi benar-benar merasa kalau mungkin anime ini diproduksi dengan tujuan semata-mata untuk mempromosikan gamenya? Soal novelnya bahkan tak perlu disinggung. Lanjutannya masih belum jelas kapan akan keluar. Jadi semua jawaban yang kita cari kelihatannya hanya akan ada di versi gamenya.

Jadinya, ada lumayan banyak teka-teki dalam animenya yang dibiarkan menggantung dan tak terjawab sampai akhir. Maksudku, lebih banyak dari biasa untuk ukuran seri anime sejenis ini. Siapa sebenarnya anak albino yang melakukan rangkaian pembunuhan sadis itu? Pada pihak mana Moritsuka melapor? Apa sebenarnya agenda yang dimiliki Nishizono?

Untungnya, kelemahan-kelemahan ini lumayan berhasil diimbangi dengan sejumlah keunggulan dari sisi teknis.

Pertama, visual anime ini keren. Ada suatu kekhasan kuat pada desain karakter pako-sensei (meskipun iya, gaya beliau adalah gaya yang bisa membuat ilfil sebagian orang). Lalu arahan visual anime ini secara sukses mendukung hal tersebut.

Ada banyak pemandangan latar urban yang berkesan dari Kichijoji—kerap kali dari sudut-sudut pengambilan gambar yang tak biasa—dengan perhatian terhadap detail yang seriusan memukau. Mulai dari kafe Blue Moon (benar ini cara mengeja namanya?) milik seorang lelaki feminin bernama Izumi Kouhei (yang wi-fi gratisnya kerap  Gamon dan Narusawa gunakan), taman bermain anak tempat Gamon dan Narusawa pertama bertemu, rumah dan ruang kerja Hashigami di mana ia menjalankan penelitiannya yang penuh rahasia, kampus Sarai yang menjadi TKP, kuil-kuil Shinto di Kichijoji, gedung sekolah Gamon dan Narusawa, hingga ruang pertemuan misterius dan gelap tempat Takasu menyampaikan presentasinya kepada para petinggi yang mensponsori konspirasi.

Aspek audionya sendiri benar-benar kuat. Ada banyak nama veteran yang berperan sebagai seiyuu. Itou Kanako, seperti dalam adaptasi anime seri science adventure lain, kembali sebagai penyanyi yang membawakan lagu pembuka seri. Pendatang baru Asaka membawakan lagu “Open Your Eyes” yang menutup tiap episode secara pas dengan nuansanya yang menggambarkan betapa rapuhnya kita sebenarnya sebagai manusia. Lalu, ada aransemen musik khas dari Yokoyama-san yang memberi kombinasi nuansa suram sekaligus kocak terhadap cerita.

Lalu soal eksekusinya… meski menyakitkan bagaimana semua ide menarik Occultic;Nine dipaksa masuk tanpa benar-benar terjelaskan ke dalam cerita, perlu kuakui pengeditannya brilian. Ada pemotongan adegan berulang. Sorotan ceritanya melompat ke mana-mana. Lalu ada dialog-dialog yang dilangsungkan dalam tempo yang benar-benar cepat. Walau begitu, benang merah cerita yang utama secara umum tersampaikan. Lalu, kalau mengkaji struktur ceritanya, aku agak bisa memaklumi kenapa narasinya jadi berantakan begini. Plotnya terstruktur bukan dengan bentuk saling sambung menyambung gitu, tapi lebih ke gimana satu tertumpuk di atas yang lain. Jadi, cocok bila dibawakan dalam media tertulis, tapi perlu waktu dan kehati-hatian dalam bentuk tontonan.

Kelanjutan Mimpi Ini… Ada di Masa Depan yang Terlampau Jauh

Satu kabar baik yang mengiringi penayangan anime ini adalah telah dimulainya penerjemahan novelnya ke Bahasa Inggris. Lisensornya adalah pihak relatif baru J-Novel Club yang menampilkan terjemahan Bahasa Inggris per bab berbagai light novel menarik untuk para anggota berbayar (sebagian besar adalah judul-judul relatif baru, dengan harga yang perlu kuakui bener-bener murah).

(Untuk para pengunjung yang belum berbayar, bab-bab awal sebuah seri akan bisa dibaca gratis sampai buku pertamanya beres diterjemahkan.)

Novel Occultic;Nine merupakan salah satu novel pertama yang mereka sediakan. Lalu berdasarkan ulasan yang aku baca dan pengalaman pribadiku membaca bab-bab awalnya, cerita novelnya seriusan bagus. Enak dan menarik untuk dibaca. Lalu, buat kalian yang kurang tahan dengan sikap Gamon dan Narusawa yang banyak tingkah, karena suatu alasan kalian akan bisa jauh mentolerir mereka dalam versi novelnya ini.

Buat kalian yang masih bingung bahkan setelah mengikuti animenya hingga akhir, sederhananya , Gamon dan kedelapan orang lainnya adalah korban eksperimen massal yang dicanangkan konglomerat medis MMG. Narusawa, dengan bimbingan roh Aveline dari masa lalu, mengkhianati keluarganya sendiri untuk menggagalkan proyek jangka panjang mereka yang telah berlangsung puluhan tahun. Tema yang diangkatnya seputar bagaimana konsep roh telah bisa didefinisikan dari sudut pandang sains. Gampangnya, sebagai semacam badan energi yang dapat dipengaruhi dengan gelombang-gelombang elektromagnetik. Lalu konfliknya berakar dari bagaimana ada suatu pihak dengan pengaruh sangat besar hendak menawarkan teknologi baru ini kepada orang-orang terpilih dengan mengorbankan orang-orang lainnya. Mendiang ayah Gamon, ceritanya, terlibat dalam pembangunan organisasi ini sebelum terjadi perpecahan dan ia menjadi korban. Lalu oleh ayahnya, Gamon sebenarnya telah diwariskan salah satu kunci yang diperlukan untuk menggagalkan rencana mereka.

Berbagai fenomena supernatural dikisahkan sebenarnya disebabkan oleh badan-badan energi ‘roh’ ini. Badan-badan energi roh biasanya tak kasat mata karena berada dalam dimensi waktu yang berbeda dari zat-zat hidup (kalau enggak salah, karena jadi punya… frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda sesudah kehilangan ‘wadah’ fisiknya). Tapi lewat injeksi suatu zat bernama Scandium, ditambah rangsangan dari suatu gelombang elektromagnetik tertentu, perbedaan panjang gelombang ini ceritanya bisa disiasati melalui suatu teknologi yang disebut World System. Hasilnya, badan-badan energi jadi bisa ‘dijangkarkan’ ke dimensi waktu yang sama dengan benda hidup. Teorinya, ini memungkinkan orang-orang yang meninggal dunia jadi bisa tetap bertahan di dunia, dan secara efektif memperoleh kehidupan abadi.

Rinciannya tentu saja lebih rumit dari itu sih. Soalnya, intrik dalam Occultic;Nine sebenarnya sangat banyak.

Terasa bagaimana ada banyak subplot yang semula hendak dimasukkan dalam cerita, tapi berakhir tak tertuntaskan. Beberapa contohnya seperti: penelepon misterius yang menghubungi Aikawa dalam salah satu acara meramalnya, yang berakhir tak terungkap identitasnya meski diindikasikan kuat bahwa ia terlibat dalam cerita; siapa sang Kaisar yang dilayani oleh Takasu dan apa sesungguhnya yang telah menimpanya; signifikasi peran Minase Ria dengan mendiang kakaknya, Takaharu; hadirnya seorang agen FBI remaja dengan kekuatan psychometry bernama Kisaki Asuna yang ikut dalam penyelidikan karena mengejar jejak Moritsuka (belakangan ia ikut bergabung sebagai salah satu Basara Girls dengan nama panggilan Asu-nyan);lalu twist terbesar sebelum kejutan penutup di penghujung cerita, bagaimana Nishizono bisa tiba-tiba kembali lenyap bahkan sesudah para karakter kembali ke dimensi waktu yang asal.

Mau tak mau, aku jadi berpikir kalau Occultic;Nine mungkin masih berkaitan dengan Anonymous;Code, proyek lain dari 5pb. yang pengembangannya sudah diumumkan sejak perempat awal tahun 2016, tapi masih belum rilis sampai saat ini aku tulis.

…Mungkin karena temanya yang mirip.

Mutual Recognition

Mungkin karena ketertarikanku terhadap genre misteri dan sains fiksi, aku selalu senang bila ada seri science adventure yang diangkat menjadi anime. Kesukaanku sedemikian besarnya sampai-sampai aku bisa tahan dengan sifat para karakternya, seaneh apapun kelakuan mereka.

Occultic;Nine secara umum memang mengecewakan. Tapi daripada karena jelek, mengecewakannya lebih karena sifatnya yang lebih mirip teaser ketimbang karya jadi.

Setelah kupikir, kasusnya mungkin mirip anime Punch Line beberapa waktu lalu, yang juga berakhir dengan dibuat gamenya. Sebagai anime, Punch Line masih lebih menghibur ketimbang Occultic;Nine, sekalipun dari segi konsep, Occultic;Nine sebenarnya lebih keren. Mungkin juga karena cakupan cerita Occultic;Nine yang benar-benar terlalu besar. Seperti halnya Punch Line, versi game Occultic;Nine juga akan menawarkan rute-rute cerita baru dengan potensi akhir cerita yang berbeda pula (yang kudengar akan dipicu lewat postingan-postingan baru di situs Kiribas). Yah, mungkin soal ini aku akan ulas lagi setelah memperoleh informasi lebih banyak.

Sedikit info soal judul-judul science adventure yang lain sebagai penutup.

Anonymous;Code adalah salah satu judul akan datang yang sejak awal diinfokan tak berhubungan dengan tiga game science adventure yang pertama. Ceritanya dimulai pada tanggal 6 Februari  2036 pada jam 06:28:15, ketika algoritma perhitungan waktu pada seluruh komputer di dunia mengalami overflow, menyebabkan kelumpuhan sistem berakibat bencana fatal pada sejumlah kota besar. Sehubungan bencana serupa yang lebih besar diprediksi akan terjadi pada tahun 2038, suatu ‘simulator Bumi’ dijalankan melalui komputer super Gaia untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Namun demikian, ditemukan serangkaian hal aneh menyangkut keberadaan manusia di simulasi itu. Lalu saat para manusia di Bumi simulasi mulai membangun simulator Bumi mereka sendiri, para peneliti, yang semula senang, menjadi curiga kalau jangan-jangan keberadaan mereka sendiri juga sebenarnya hanyalah hasil suatu simulasi. Tokoh utamanya seorang pemuda hacker bernama Takaoka Poron, yang lewat kontaknya dengan seorang gadis misterius bernama Aizaki Momo, dihadapkan pada kenyataan dunia yang sebenarnya. (Mungkin kalian sekarang mengerti kenapa aku merasa game ini berkaitan dengan Occultic;Nine.)

Steins;Gate 0 yang belum lama ini dirilis juga konon sudah dikonfirmasi akan diangkat ke bentuk anime. Buat kalian yang sempat mengikuti cerita Steins;Gate yang orisinil, mungkin kalian ingat bagaimana menjelang akhir cerita, Okarin mendapat petunjuk terakhir dari sosok dirinya sendiri di masa depan. Cerita Steins;Gate 0 pada dasarnya adalah tentang sosok Okarin yang telah gagal di masa depan tersebut. Sejauh yang aku dengar, ceritanya benar-benar bagus dan tak kalah dari Steins;Gate yang pertama. Ibaratnya, itu cerita ekspansi yang tak kau kira akan perlu.

Chaos;Child sendiri, yang gamenya sudah dirilis agak lama dan animenya akan tayang musim depan, berlatar enam tahun sesudah Chaos;Head. Tokoh utamanya adalah Miyashiro Takuru, kepala Klub Surat Kabar di sekolahnya. Bersama Onoe Serika, sahabat masa kecilnya, dan Kurusu Nono, adik perempuan angkatnya, Takuru melakukan penyelidikan atas serangkaian pembunuhan sadis yang meniru rangkaian pembunuhan New Generation yang terjadi dalam Chaos;Head. Kesemua tokohnya adalah mereka yang bertahan hidup dalam bencana gempa enam tahun silam, dan ceritanya mengangkat soal kekuatan-kekuatan super pengubah realita yang jadi mereka miliki. Meski berdurasi panjang, aku dengar gamenya benar-benar bagus, dengan sistem delusional trigger dari Chaos;Head yang juga kembali hadir di dalamnya. Karena itu pula, sejumlah penggemar konon mengamuk dan langsung pesimis begitu beredar kabar kalau animenya hanya akan berdurasi satu cour.

Aih, nampaknya tren buruk yang dialami Grisaia dan Rewrite masih akan berlanjut.

Yah, kembali soal Occultic;Nine, aku kagum dengan bagaimana para karakternya bersuara dan bergerak. Tapi aku tetap penasaran dengan ceritanya. Karenanya, aku mau mengusahakan bisa membeli dan membaca terjemahan Bahasa Inggris novel-novelnya di masa depan.

Untuk kalian penyuka misteri, mungkin anime ini takkan benar-benar aku rekomendasikan. Tapi untuk kalian penyuka beragam hal aneh yang hanya bisa ditemukan dalam anime… (kalau kalian tahu maksudku) kurasa ini seri yang patut dilihat. Aku takkan menilainya jelek sih, tapi aku takkan menilainya bagus juga. Inspiratif… mungkin lebih tepat.

Aku punya perasaan bahwa seandainya ini berlanjut sebagai novel, ceritanya sebenarnya hendak mengeksplorasi berbagai hal aneh menyangkut dunia occult. Seperti soal hantu, monster, masyarakat rahasia, dan alien. Kalian tahu, seperti dalam Sekimatsu Occult Gakuin atau The X Files. Hanya, mungkin, dalam cerita yang lebih terintegrasi.

Tapi sudahlah soal itu.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: A; Audio: B; Perkembangan B-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

29/11/2016

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare, atau juga dikenal dengan judul Thou Shalt Not Die (kira-kira berarti ‘engkau janganlah mati,’ atau ‘kematianmu janganlah sampai menaklukkanmu;’ kemungkinan judulnya diambil dari puisi klasik Asano Yokiko), sekilas tak terkesan istimewa. Ini seri manga relatif baru dengan cerita yang dibuat Yoko Taro dan digambar oleh Moriyama Daisuke. Ilustrator lepas Kurahana Chinatsu turut berperan sebagai perancang pakaian para karakternya.

Cerita Kimishini, gampangnya, adalah tentang anak-anak remaja yang dilimpahi kekuatan-kekuatan supernatural. Anak-anak remaja ini disuruh berperang menggunakan kekuatan-kekuatan tersebut, di zaman ketika minyak bumi sudah mengering dan sumber daya alam menjadi objek perebutan antar negara.

Seri ini diserialisasikan dari awal tahun 2015 di majalah bulanan Monthly Big Gangan milik Square Enix. Meski relatif baru, dengan perlahan namun pasti seri ini sudah menarik perhatian kalangan-kalangan penggemar tertentu.

Kalangan-kalangan penggemar apa yang aku maksud?

Tentu saja, kalangan-kalangan penggemar Yoko Taro-sensei.

Buat yang belum tahu, Yoko-sensei sebelum ini dikenal sebagai pencetus game-game Drakengard/Drag-On Dragoon yang dikembangkan perusahaan Cavia, biasanya dengan dukungan dari perusahaan Square Enix. Waralaba ini keluarnya di zaman Sony PlayStation 2, jadi kurasa wajar bila kalian tak kenal nama beliau. Drakengard sekilas terlihat seperti  permainan-aksi-satu-orang-melawan-keroyokan-banyak-musuh macam Dynasty Warriors yang dikombinasi dengan aksi-aksi pertempuran udara macam Ace Combat. Banyak yang bilang idenya menarik sih, tapi eksekusinya kelihatan kurang begitu bagus. Namun mereka yang tak mencobanya sendiri, atau tak diberitahu tentangnya, biasanya juga takkan sadar kalau cerita Drakengard itu sebenarnya gelap.

Maksudku, gelap dalam artian lebih dekat ke ‘sakit.’

Cerita game-game Drakengard  biasanya berlatar di dunia dark fantasy muram di mana sedang berlangsung perang yang dapat mengakhiri nasib dunia. Namun segala yang terjadi biasanya berujung jauh lebih aneh dari yang kau bayangkan. Maka dari itu, cerita-cerita beliau amannya kau ikuti kalau kau dewasa dan berpikiran agak terbuka.

Dalam game-game beliau, Yoko-sensei kadang terasa nge-troll. Tapi di balik itu, selalu terkesan kalau dirinya punya maksud yang lebih dalam dari yang terlihat.

Makanya, terlepas dari adaptasi manga bersifat prekuel dari Drakenguard 3 yang belum lama ini juga dibuat, Kimishini bisa dibilang adalah karya manga beliau yang pertama. Atau setidaknya, seri manga pertama di mana beliau terlibat langsung sebagai pencetus cerita. Lalu seperti yang semua penggemar beliau harapkan, hampir semua ciri khas beliau bisa ditemukan di seri ini.

Ciri-ciri khas tersebut biasanya berupa:

  • Perkembangan yang senantiasa segar dan mengejutkan. Pola cerita yang pernah beliau pakai sekali biasanya tak akan beliau pergunakan untuk kedua kalinya.
  • Perkembangan yang lebih ‘dalam’ dari yang terlihat. Terlepas dari apakah itu bagus atau enggak, terlepas dari apakah kau sebagai pemirsa menyukainya atau enggak, selalu ada sesuatu yang tak tampak di permukaan.
  • Karakter-karakter yang kejiwaannya agak sakit.

…Apa lagi ya? Terus terang, belum banyak karya beliau yang telah aku tahu selain itu.

Moriyama Daisuke-sensei sendiri adalah pengarang seri manga aksi eksorsisme Chrno Crusade dan seri sains fiksi World Embryo. Aku belum pernah baca World Embryo, jadi aku tak bisa berkomentar tentang itu. Tapi kalau menilai dari Chrno Crusade, Moriyama-sensei tipe mangaka yang meski karya-karyanya kurang memiliki cerita menonjol, karakter-karakter yang beliau buat selalu seperti punya aura karismatik kuat. Desain-desainnya sekilas tak istimewa, tapi kesemuanya memiliki presence yang kuat dalam konteksnya masing-masing gitu. Hal itu tetap terasa bahkan dengan gaya gambar beliau yang sudah agak berbeda di Kimishini.

Soal Kurahana-san, beliau perancang karakter untuk seri Uta no Prince-sama. Jadi tentu saja rancangan-rancnagan pakaian beliau modis dan bagus.

Tersentuh oleh Perintah Itu

Kimishini bercerita seputar siswa-siswi yang tergabung dalam SMA Swasta Kemampuan Istimewa Nasional. (Iya, disebutnya demikian. Namanya blak-blakan sekali.)

Agak rumit penjelasannya. Tapi intinya, semenjak keringnya pasokan minyak bumi delapan belas tahun sebelumnya, konflik-konflik bersenjata global kemudian melanda dunia. PBB memutuskan untuk mengadakan intervensi-intervensi militer demi memulihkan keadaan di wilayah-wilayah konflik. Lalu Jepang, sebagai salah satu negara paling makmur, terpilih sebagai salah satu negara pelaksananya.

Masalahnya, konstitusi Jepang (semacam undang-undang dasarnya) secara jelas melarang tindakan-tindakan yang menjurus ke arah peperangan dengan negara lain (ini sebagai dampak akhir Perang Dunia II?). Solusi yang kemudian diambil? Gampangnya, kirim saja prajurit-prajurit yang tidak menggunakan senjata api.

Dalam hal ini, prajurit-prajurit yang ditenagai kekuatan-kekuatan supernatural.

Kekuatan-kekuatan seperti telekinesis dan penguatan tubuh ceritanya sudah bisa tercipta lewat penggunaan berbagai obat-obatan. Lalu anak-anak yang dikumpulkan di sekolah tersebut adalah bagian semacam proyek pemerintah untuk pengembangan kekuatan-kekuatan ini.

Resminya, mereka anak-anak remaja yang terpilih sebagai bagian badan amal suatu NGO (organisasi non-pemerintah). Mereka dikirim ke wilayah-wilayah yang dilanda konflik sebagai bentuk ujian atas kekuatan yang telah mereka kembangkan.

Anak-anak ini sendiri pun tahu kenyataannya seperti demikian.

Kenapa remaja-remaja ini yang dikirim, dan bukan orang-orang dewasa yang sudah matang dan lebih terlatih? Alasannya karena kekuatan-kekuatan tersebut konon akan lenyap begitu mereka menginjak usia dua puluh tahun.

Ada lumayan banyak hal yang sebenarnya tersamar pada rinciannya. Terutama dengan bagaimana ceritanya langsung masuk ke porsi adegan-adegan aksi. Tapi sedikit demi sedikit, beragam aspek ceritanya secara perlahan diungkap, memperlihatkan sisi-sisi kenyataan yang lumayan gelap.

Dan Kau Masih Ulurkan Tangan

Cerita Kimishini dibuka di suatu medan perang urban di Amerika Selatan.

Kematian secara brutal terjadi.

Anak-anak sekolahan yang sebelumnya hanya mengenal kedamaian, meski telah dilatih berperang dan membunuh, tiba-tiba harus berhadapan langsung dengan rentetan peluru dan ledakan. Berhubung mereka tak boleh membawa senjata api maupun peledak, selain baju seragam yang mereka gunakan, siswa-siswi tersebut hanya dilengkapi pedang-pedang katana, perbekalan makanan dan minuman, serta peralatan-peralatan komunikasi. Parahnya, kekuatan-kekuatan supernatural yang harusnya bisa mereka andalkan ternyata belum cukup aplikatif untuk dipakai secara nyata. Waktu pengaktifan kekuatan sebagian besar orang masih lamban. Karena itu, meski terlatih sekalipun, mereka masih rentan terhadap kematian.

Remaja-remaja ini menjadi kontingen pertama dari sekolah tersebut yang dicoba di lapangan. Kontingen pertama itu dipimpin para pengurus Dewan Siswa di sekolah itu sendiri.

Para anggota Dewan Siswa itu terdiri atas: Usuki, sang ketua berjiwa pemimpin yang dapat diandalkan (kelas 3, dididik untuk sebagai Gunner, atau pengguna kekuatan jarak jauh, seperti telekinesis); Botan (kelas 3, Attacker, atau pengguna kekuatan jarak dekat, seperti penguatan tubuh), wakil ketua sekaligus kekasih Usuki yang telah bersumpah untuk melindunginya; serta kawan dekat Usuki, seorang cowok berharga diri tinggi bernama Sumi (kelas 3, Scanner, yang memiliki kemampuan jenis pelacakan, seperti penglihatan jarak jauh), yang menjabat sebagai sekretaris.

Selain mereka, cerita perlahan turut mengetengahkan Mashiro, siswi Attacker kelas 1 berambut pendek yang menyimpan perasaan suka terhadap Usuki, yang setidaknya berharap ia bisa menjadi tameng bagi teman-teman sekolahnya yang lain.

Kerap mengitari Mashiro, dan juga sesama Attacker, hadir seorang siswa seangkatannya bernama Kuroi. Kuroi ceritanya pribadi yang agak mistrius. Kuroi, karena suatu alasan, seakan seperti selalu bisa memahami hal-hal yang tak ia ungkap ke orang lain. Karenanya, Mashiro sering mendapati Kuroi tersenyum pada saat-saat yang tak semestinya.

Satu karakter lain yang menonjol adalah seorang siswa kelas dua Scanner berkacamata bernama Asagi. Asagi memiliki kepribadian aneh, karena seringkali seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi, karena ia lupa.

Seluruh karakter yang berperan di Kimishini sejauh ini hanya dikenali dengan satu buah nama. Seakan-akan, sebagaimana yang para karakternya sendiri alami, segalanya hanya diceritakan ‘versi sederhananya’ gitu. Dengan hal-hal yang tak perlu kita ketahui dengan sengaja ditahan.

Karena seri ini pada dasarnya bergenre aksi, tapi diterbitkan bulanan, porsi ceritanya banyak disampaikan melalui dialog-dialog dengan makna terselubung. Kita seperti dibuat mengerti kalau memang ada hal-hal tertentu yang dirahasiakan. Lalu pada bab-bab tertentu, memang ada bagian-bagian eksposisi yang menguak rahasia atau pengetahuan yang dimiliki masing-masing karakter. Tapi tetap saja, dalam jangka panjang, seperti ada benang merah yang benar-benar tak bisa kita tebak gitu.

Benang-benar merah seperti soal tangan prostetik yang Botan miliki setelah ia kehilangan sebelah tangannya, politikus-politikus yang tiba-tiba ditahan, pengetahuan penting yang mungkin Asagi lupakan dari masa lalunya, atau kegilaan terselubung yang Kuroi rasakan terhadap Mashiro karena gadis tersebut seakan telah mengembalikan kemanusiaannya.

Dengan kata lain, benar-benar persis seperti pengharapan kita atas sebuah karya dari Yoko-sensei.

“Tak perlu ingat namaku. Toh, kau takkan melihatku lagi.”

Meski selera dan minat beliau agak aneh, kudengar Yoko-sensei sebenarnya orang yang berwawasan. Beliau mendalami bidang sejarah dan cukup up-to-date dengan perkembangan-perkembangan di bidang kemiliteran. Beliau juga kurang menyukai banyak hal yang umumnya dipandang konvensional. Lalu itu semua benar-benar tercermin dalam topik-topik dan tema yang diangkat dalam Kimishini.

Memang sudah jelas ini genrenya seinen sih. Tapi sekali lagi aku katakan, Kimishini benar-benar lebih cocok untuk dewasa. Pertama, karena berbagai kekerasan sadis yang terjadi di dalamnya. Kedua, adegan-adegan percakapannya juga mungkin membosankan, terutama bagi pembaca awam yang kurang tertarik dialog-dialog penuh ‘ketersiratan’ seperti ini. (Ada satu adegan ketika seorang ilmuwan mengutarakan secara panjang pendapatnya tentang kehebatannya sendiri, sebelum akhirnya tiba-tiba terkuak bagaimana dirinya seorang psikopat.) Lalu, ya, seperti yang mungkin bisa kau bayang, terkadang ada nudity dan bahasan-bahasan yang menyinggung soal seks juga.

Tapi kesemuanya menurutku benar-benar berhasil dipaparkan secara proporsional. Moriyama-sensei seperti berhasil mewujudkan gaya cerita, uh, khasnya Yoko-sensei. Kalau hanya melihatnya sekilas, mungkin aku takkan menyadari kalau manga ini digambar oleh pembuat World Embryo dan Chrno Crusade.

Di samping itu, adegan-adegan dalam ceritanya menurutku kerap benar-benar intens. Disusun sedemikian padatnya, sehingga pada setiap bab terasa ada sesuatu yang tertuntaskan atau terjelaskan.

Mungkin aneh kalau aku bicara begini. Tapi aku baru tersadar sudah betapa lamanya tak ada manga yang membuatku tanpa sadar menahan nafas sampai aku membaca Kimishini.

Kemampuan-kemampuan yang ditampilkan sejauh ini memang terbilang sederhana. Kemampuan ‘umum’ seperti kekuatan mengendalikan api saja tak ada. Mungkin karena terlalu membosankan untuk ukuran Yoko-sensei? Bagaimanapun, dasar kekuatan para karakternya tetap dari sains. Tapi aku tak bisa berkomentar untuk perkembangan-perkembangan cerita ke depan.

Berhubung masih baru, seri ini tentu saja statusnya masih berlanjut saat ini kutulis. Tapi meski jumlah babnya baru belasan, mungkin karena cara ceritanya dipadatkan, rasanya ada begitu banyak hal yang para tokohnya sudah alami.

Aku pribadi tertarik dengan cerita ini karena dari dulu selalu terngiang-ngiang akan jawaban dari Yoko-sensei saat beliau ditanya tentang metode beliau dalam membuat cerita dalam sebuah wawancara. Pada dasarnya, saat sedang bosan—seperti saat sedang berada dalam sebuah rapat, misalnya—beliau sering mengalihkan pikiran dengan mulai memikirkan hal-hal menarik apa saja yang lebih senang ia lakukan.

Dengan kata lain, yang beliau lakukan hanya berusaha membuat apa-apa yang sedang dikerjakannya menjadi menarik.

Sebagai orang yang gampang terseret dalam kemonotonan, aku sebenarnya dibuat cukup terganggu dengan perkataan ini.

Sial. Bahkan hingga kini pun ilmu tersebut masih belum aku kuasai!

Terlepas dari itu lagi, ceritanya mungkin memang terlalu keras untuk ukuran mainstream. Jadi kalau kalian tak suka (karena kalian jadi berasumsi macam-macam, misalnya), jangan paksakan diri.

23/06/2016

Paprika

Mari kita sesekali bahas sosok-sosok yang telah wafat.

Paprika adalah film animasi layar lebar terakhir arahan sutradara Kon Satoshi, sebelum yang bersangkutan meninggal dunia karena kanker pankreas pada tahun 2010. Beliau masih relatif muda saat meninggal, yaitu di usia 46 tahun. Beliau menuntaskan Paprika pada tahun 2006 setelah perencanaan yang berlangsung beberapa tahun. Lalu karena saking kerennya, Paprika sukses dan menuai lebih dari satu penghargaan. Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Tsutsui Yasutaka (yang juga menulis Tokikake atau The Girl Who Leapt Through Time) yang aslinya pertama terbit tahun 1993. Lalu agak seperti Tokikake, hampir semua kecuali cerita dasarnya yang diubah pada versi animenya.

Tak terasa, sudah hampir enam tahun semenjak kabar kematian beliau.

Aku jadi takut sendiri. Apa iya sudah selama itu? Rasanya baru kemarin. Hal-hal seperti itu jadi terulang dalam kepala saat aku mengingat Paprika. Ini persis seperti perkataan Saito Hajime pada Himura Kenshin dalam reuni mereka kembali. “Sudah sepuluh tahun.” Hanya tiga kata yang sama-sama membahas soal waktu, tapi menyiratkan telah berubahnya begitu banyak hal.

Berhubung aku sudah om-om, aku kini paham maksud ucapan Saito. Dulu, sepuluh tahun bagiku juga terasa seperti waktu yang lama. Tapi dengan kenangan-kenangan di zaman SMA yang masih jernih di kepala, buatku yang sekarang itu seriusan terasa kayak baru kemarin. Jadi jangankan enam tahun, sepuluh tahun saja di usiaku sekarang sudah terasa pendek.

Paprika adalah karya pertama Kon-sensei sekaligus yang kulihat sesudah beliau wafat. Berdurasi 90 menit dan diproduksi oleh Madhouse. Ceritanya sebenarnya bergenre sains fiksi, tapi mulai meranah ke domain psikologi fantastis gitu.

Aku Mengikuti Perempuan yang Menunjukkan Jalan

Di dunia masa depan tak jauh tempat Paprika berlatar, perawatan psikoterapi melalui mimpi dikisahkan telah bisa dilakukan. Ini terwujud berkat penemuan suatu perangkat canggih bernama DC Mini yang dapat digunakan untuk menyaksikan dan memasuki mimpi-mimpi orang lain.

Kepala tim yang bertanggung jawab atas penelitian ini, seorang wanita mandiri tapi sedikit galak bernama Doktor Chiba Atsuko, mulai menggunakan DC Mini secara ilegal untuk bisa menolong pasien-pasien di luar lembaga penelitian. Dia melakukannya dengan menggunakan alter ego bernama Paprika, seorang perempuan muda berambut coklat pendek yang memikat, lincah, dan sangat hidup.

Sesi konseling yang Atsuko lakukan sebagai Paprika sebenarnya sama sekali tidak resmi. Sehingga Atsuko dan kawan-kawan dekatnya, Doktor Shima Toratarou yang merupakan kepala departemen di mana penelitian mereka bernaung; serta Doktor Tokita Kousaku, seorang pria sangat gemuk dan kekanakan tapi juga jenius, yang merupakan penemu asli DC Mini dan kawan lama Atsuko, harus bisa menjaga agar keberadaan DC Mini dan Paprika tak boleh sampai bocor ke dunia luar. Ini terutama karena perangkat-perangkat DC Mini yang mereka kembangkan, meski bisa berfungsi, masih belum benar-benar ‘jadi.’ Lalu karena statusnya yang belum final ini, pembatasan akses masih belum diterapkan. Sehingga siapapun yang menggunakannya bisa bebas untuk memasuki dan mempermainkan mimpi siapa saja.

Masalah timbul saat salah satu perangkat DC Mini ternyata benar-benar hilang. Konsekuensi dari hal ini ditandai dengan bagaimana Shima tiba-tiba saja, entah karena apa, mulai melontarkan serangkaian omong kosong yang tak jelas maksudnya, yang diikuti dengan bagaimana ia melemparkan dirinya sendiri ke luar jendela, nyaris membuatnya terbunuh.

Akibat insiden ini, penggunaan DC Mini dilarang sama sekali oleh Doktor Inui Seijirou, kepala institut penelitian mereka. Tapi menghadapi ancaman sosok yang bisa memanipulasi orang untuk bunuh diri lewat perantara mimpi, Atsuko dan kawan-kawannya tahu bahwa apabila kasus ini tak diselesaikan, bisa ada lebih banyak korban-korban lain yang berjatuhan.

Penyelidikan ke dalam dunia mimpi Shima menampilkan suatu parade benda-benda mati seperti mainan dan perabotan yang semakin bertambah ramai sedikit demi sedikit, yang seakan ‘menelan’ mimpi-mimpi asli semua orang. Di dalamnya, Tokita sempat melihat keberadaan Himuro Kei, asistennya, yang memastikan kecurigaan bahwa pencurian itu sebenarnya dilakukan orang dalam.

Namun penyelidikan terhadap Himuro semakin membuahkan hasil tak terduga. Apalagi saat terkuak soal betapa yang bisa dilakukan dengan DC Mini jauh melebihi yang siapapun sangka.

Mengejar Angin yang Kerap Bertiup Dalam Mimpi-mimpiku

Sebenarnya, ada beberapa karakter lain yang terlibat. Tapi satu-satunya yang benar-benar patut disebut adalah Detektif Konakawa Toshimi, perwira polisi paruh baya dan lajang yang telah berulangkali dihantui sebuah mimpi yang berakhir menggantung. Akhir mimpi yang terus-terusan menggantung ini membuatnya tersiksa, yang akhirnya membuatnya mencari pertolongan Paprika. Ini berujung pada bagaimana Konakawa jadi mengenal Atsuko secara pribadi, dan mengenalinya sebagai orang yang sesungguhnya selama ini selalu menolongnya.  (Dirinya memang lambat laun menjadi terpikat pada Paprika, meski sikap Atsuko sendiri soal hal ini selama durasi besar film menjadi tanda tanya.)

Saat mengetahui tentang kasus sensitif hilangnya DC Mini, Konakawa turut membantu Atsuko dan timnya dalam menguak kebenaran kasus ini. Motif mimpi berulang yang dialaminya, serta kontribusi besarnya dalam penyelidikan, membuat Konakawa bisa dibilang sebagai tokoh utama film ini yang kedua. (Padahal kalau tak salah, beliau adalah karakter orisinil anime yang tak ada di novel aslinya.)

Bicara soal teknis, agak susah mendeskripsikan Paprika bagusnya bagaimana.

Daripada soal kualitas animasinya (yang memang bagus), Paprika sukses memvisualisasikan hal-hal yang efektifinya hanya divisualisasikan lewat animasi. Adegan-adegan di dalam mimpinya, yang kerap abstrak dan tersamar, dan juga bisa membuat resah meski kita tak benar-benar mengerti kenapa, benar-benar keren. Tapi yang membuatnya benar-benar berkesan adalah soal makna-makna terselubung yang ada di dalamnya. Jadi, selain soal mimpi aneh yang menghantui Konakawa, Atsuko sebenarnya memiliki masalah pribadinya sendiri. Dalam hal ini, dirinya berada dalam suatu penyangkalan berkelanjutan tentang perasaan yang sudah lama dipendamnya. Lalu penyangkalan ini yang seakan tertuang lewat perannya sebagai Paprika.

Sekali lagi, adegan-adegan mimpinya menjadi apa yang film ini paling tonjolkan. Tapi ada banyak hal terkait dunia nyatanya yang juga menjadi daya tarik, seperti soal betapa besarnya ukuran badan Tokita atau betapa menonjolnya kacamata Shima. Penyampaiannya benar-benar mengikuti ciri khas Kon-san, yang mana hal-hal yang sebenarnya nyata dan hal-hal yang sebenarnya tidak nyata kerap tersamar. Lalu ini terutama terasa menjelang klimaks saat serangkaian hal gila benar-benar terjadi. Efeknya lumayan menakutkan (meski tak sampai ke levelnya film-film David Cronenberg sih). Lalu ini diiringi dengan musik yang benar-benar melarutkan juga.

Soundtrack utama film ini, “Byakkoya no Musume” dikomposisi oleh Hirasawa Susumu dan seriusan perlu kalian dengar sendiri untuk mendapat gambaran tentang keajaibannya.

Sebenarnya, ada hal penting yang semula ingin aku ungkap dengan membahas soal judul ini. Tapi setelah menulis sampai sejauh ini, aku jadi tak jadi. Yah, ada banyak hal pribadi yang rasanya dimasukkan ke dalamnya juga. Jadi membahasnya agak-agak susah.

Pastinya, ini satu lagi karya relatif lebih ke sini yang di dalamnya bakat Hayashibara Megumi dan seiyuuseiyuu lain seangkatan beliau masih tampak.

Yah, bagiku, karya-karya Kon-san (seperti Paranoia Agent atau Perfect Blue) adalah jenis yang lebih membuatku terpukau ketimbang puas sih. Aku sering mikir apa mungkin ada makna-makna tertentu di dalamnya yang luput aku tangkap.

Lumayan disayangkan bagaimana beliau sekarang tiada, berhubung di masa sekarang, masih belum ada sutradara anime lain yang nampak mengikuti jejaknya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A+; Audio: S; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

21/02/2016

Subete ga F ni Naru

Dulu, aku lumayan menggemari genre misteri. Pernah ada masa ketika aku rutin membeli terbitan ulang novel-novel Agatha Christe (untuk suatu alasan, meski sangat terkesan oleh karakternya, aku tak segitunya terkesan oleh cerita-cerita Sherlock Holmes). Tapi seiring aku dewasa, aku sampai ke kesimpulan kalau ada sejumlah misteri yang sampai akhir memang lebih baik dibiarkan tak terjawab.

Aku sebenarnya sampai ke kesimpulan ini bahkan sebelum aku memainkan Umineko no Naku Koro ni keluaran 07thExpansion. Jadi, wahai para pembacaku yang (mungkin) setia, sebenarnya aku sampai ke kesimpulan ini bukan karena seri itu.

Malah, bisa dibilang aku tertarik pada Umineko justru karena kesimpulan ini. Aku tak menyadarinya di awal, tapi perkembangan cerita Umineko yang ternyata paling baik menggambarkan perasaanku saat itu.

Yah, intinya, aku bosan dengan format yang dipunyai cerita-cerita misteri.

Meski aku tak sampai benar-benar jadi pandai dalam memecahkan kasus-kasus, suatu bagian bawah sadarku membuatku berpikir, “Apa iya ini cuma segini?” Lambat laun, aku merasa adanya sesuatu yang ganjil. Lalu, seperti yang Battler sendiri bilang pada Beatrice, rasanya seperti hatinya tidak ada.

Hati apa yang dimaksud Battler?

Yah, aku enggak akan menjelaskannya. Berhubung itu jadi spoiler buat Umineko.

Tapi terlepas dari itu, hal tersebut yang jadi alasan pertama aku tertarik pada Subete ga F ni Naru (‘segalanya menjadi F’), atau juga dikenal dengan judul The Perfect Insider (‘orang dalam yang sempurna’). Pertama itu. Lalu berikutnya, karena ceritanya yang bersetting di paruh akhir dekade 1990an.

Waktu adaptasi animenya diumumkan akan tayang pada musim gugur tahun 2015 lalu (ketika genre anime misteri sedang mulai ngetren), aku serta merta langsung tertarik pada seri ini. Jumlah episodenya sebanyak 11, dan ini salah satu seri yang sempat tayang untuk slot waktu Noitamina. A-1 Pictures yang memproduksinya. Sutradaranya adalah Kanbe Mamoru (sutradara veteran yang telah menangani hal-hal menakutkan macam Denpa Teki na Kanojo dan Elfen Lied sampai hal-hal ‘manis’ seperti Cardcaptor Sakura dan So Ra No Wo To), dan naskahnya dikomposisi oleh Ono Toshiya.

Ceritanya didasarkan pada novel berjudul sama karangan Mori Hiroshi, yang diterbitkan Kodansha pada tahun 1996. Novel tersebut menjadi novel pertama yang mengawali seri detektif S&M buatannya, yang mengetengahkan dua karakter Saikawa Souhei dan Nishinosono Moe. Ceritanya kelihatannya sedemikian uniknya, sampai meraih penghargaan Mephisto Prize.

Adaptasi animenya ini terjadi nyaris setahun menyusul adaptasinya ke bentuk dorama live action, yang sempat menarik perhatian pada perempat akhir tahun 2014. Seri televisi ini sebenarnya lebih mirip kumpulan cerita yang mengetengahkan Souhei dan Moe ketimbang adaptasi novelnya semata, dengan Ayano Gou berperan sebagai Souhei dan Takei Emi berperan sebagai Moe.

Sebelumnya lagi, pada tahun 2002, novel ini sempat diadaptasi ke bentuk visual novel oleh pengembang KID.

Sebelumnya lagi lagi, pada tahun 2001, novel ini juga sempat diadaptasi ke bentuk manga oleh Asada Torao. Lalu lebih belakangan, pada tahun 2015, sempat diadaptasi ulang ke bentuk manga, kali ini oleh mangaka Brave10 S, Shimotsuki Kairi. (Aku samar-samar ingat kalau ada sesuatu yang benar-benar menarik pada desain karakter versi Shimotsuki-sensei.)

Mungkin patut kusinggung juga bahwa desain karakter yang digunakan di animenya adalah buatan Inio Asano, pengarang manga Solanin dan Oyasumi Punpun, yang dikenal karena penggambaran drama psikologisnya yang kuat.

Siapa Kau

Inti cerita Subete ga F ni Naru berfokus pada tiga individu, yaitu dua tokoh utama kita, Saikawa Souhei dan Nishinosono Moe; serta Magata Shiki, seorang programmer jenius yang dituduh telah membunuh kedua orangtuanya pada usia 14 tahun, tapi kemudian dinyatakan tak bersalah karena ‘kondisi psikologis’-nya.

Shiki semenjak itu kemudian mengurung diri di lab riset swasta miliknya di suatu pulau terpencil (Institut Penelitian Magata) selama belasan tahun. Lalu cerita terjadi saat mahasiswa-mahasiswa yang berhubungan dengan kelas seminar Souhei mengadakan kunjungan wisata ke Pulau Himaka, di mana lab tersebut berada.

Saikawa Souhei adalah dosen muda di Universitas Nasional N, yang mendalami komputer, sangat cerdas, namun merasa tersisihkan dari dunia. Dirinya adalah murid terakhir Profesor Nishinosono, mendiang ayah Moe, sebelum beliau kemudian wafat bersama istrinya.

Nishinosono Moe, anak perempuan mentor Souhei, adalah mahasiswi arsitek cerdas yang memiliki kemampuan pengamatan dan kalkulasi luar biasa, meski terkadang ia suka melompat dari satu kesimpulan ekstrim ke kesimpulan ekstrim lain. Semenjak kedua orangtuanya yang kaya raya wafat, Moe sedikit banyak telah ‘dijaga’ oleh Souhei. Lalu meski Souhei seakan kerap bersikap cuek terhadapnya, Moe merasakan rasa sayang dan ketertarikan yang besar terhadapnya.

Souhei sejak awal telah mengagumi hasil-hasil penelitian Dr Magata. Tapi mendengar tentang sejarah pribadinya—yang tak pernah meninggalkan lab dan hanya menampakkan diri pada dunia sekelilingnya secara tidak langsung—Souhei sadar bahwa mungkin ia takkan pernah berkesempatan bertemu dengannya. Namun kemudian terungkap bahwa Moe pernah bertemu dan bahkan berbincang-bincang dengan Dr Magata, dalam suatu kesempatan saat ia berkunjung ke labnya. Lalu hal ini kemudian berujung pada rencana wisata ke pulau dekat lab penelitian milik Dr Magata itu.

Singkat cerita, tak dinyana, pembunuhan ruang tertutup kemudian terjadi. Souhei dan Moe, yang semula berkunjung ke lab tersebut dengan harapan bisa bertemu Dr Magata, kemudian menjadi saksi atas dua kematian yang proses terjadinya seakan tak bisa dijelaskan oleh siapapun.

Aku Ingin Berbicara Denganmu

Hal pertama yang berkesan buatku dari anime Subete ga F ni Naru adalah animasi pembuka dan penutupnya. Pembukanya diiringi lagu ‘talking’ bernada ceria dari band KANA-BOON, sedangkan penutupnya diiringi lagu ‘Nana Hitsuji’ dari band Scenarioart. Dua lagu tersebut, sekaligus animasi yang menghiasinya, menurutku membawakan nuansa yang pas buat seri ini, dengan kurang lebih sama-sama membuat kita mikir, ini semua maksudnya gimana sih?

Animasinya juga sekaligus membuktikan kehandalan A-1 Pictures. Motif komputer dalam cerita, kebingungan dan rasa penasaran para tokoh utama, penggambaran hubungan mereka lewat imaji tiga tokoh utamanya yang seakan melakukan drama tarian—yang mana sosok Souhei dan Moe dengan frustrasi senantiasa mengejar sosok Shiki yang terus menghilang—merupakan cara penggambaran yang benar-benar keren dan memang hanya bisa ditampilkan dalam bentuk animasi.

Sekilas ini tak terdengar istimewa sih. Tapi kekerenan ini juga terasa pada bagaimana mereka memadatkan kedua lagu pembuka dan penutup dalam durasi standar satu setengah menit.

Untuk selebihnya… memang mesti diakui kalau ini salah satu anime yang agak susah dimasuki. Apalagi kalau dibandingkan seri drama prosedural Sakurako-san no Ashimoto ni wa Shitai ga Umatteiru yang tayang pada musim yang sama. Meski Subete ga F ni Naru hanya 11 episode, itu saja sudah terasa ‘panjang’ untuk durasi ceritanya. Ini terutama terasa di bagian tengah yang serasa mengalami perkembangan cerita yang bukan hanya benar-benar lamban, tapi juga agak sukar dipahami.

Penyebabnya karena bagi Souhei dan Moe, memahami pribadi Dr Magata Shiki yang misterius, serta apa yang sampai menyebabkan insiden pembunuhan kedua orangtuanya, sama pentingnya dengan memecahkan teka-teki pembunuhan yang terjadi di masa sekarang. Bukan hanya karena mereka meyakini bahwa sebagian petunjuk untuk pembunuhan itu adanya di masa silam, tapi juga karena mereka butuh pengetahuan soal seperti apa kepribadian Dr Magata demi menemukan jawaban atas persoalan pribadi mereka masing-masing.

Persoalan pribadi yang kaitannya soal cara ideal dalam memandang dunia beserta isinya. …Mungkin ini jenis masalah yang khusus hanya dialami orang-orang pintar.

Sedikit demi sedikit, mulai terkuak satu demi satu kenyataan tentang pribadi Dr Magata Shiki. Mulai dari OS orisinil Red Magic ciptaannya, yang sekaligus mengendalikan seluruh sistem yang ada di lab; kepribadian majemuk yang ia punyai; kesaksian orang-orang lain atas pembunuhan orangtuanya; kondisi kejiwaannya yang jauh lebih dewasa dari usianya; kesamaan antara dirinya dan Moe sebagai sesama perempuan cerdas yang kehilangan orangtua mereka di usia muda; robot ciptaannya sendiri yang bisa membuka kunci pintu kamar; bagaimana ia sedemikian cerdasnya, sampai dikatakan satu roh mungkin tak cukup untuk mengisi otaknya; serta kata-kata misterius yang bisa jadi adalah pesan terakhirnya…

Yang Berbeda Adalah Jam Dalam Diri Kita

Mungkin karena latar belakangku di bidang teknik, aku berhasil menebak makna ‘segalanya akan menjadi F’ agak awal. Tapi begitupun, menurutku misteri yang terjadi sebenarnya tetap memikat. Pemaparannya memang agak berlarut di tengah, tapi apa yang terjadi memang sedemikian aneh dan ganjilnya, sampai aku bisa paham kenapa novelnya bisa memukau saat pertama terbit.

Berhubung novelnya berlatar menjelang paruh akhir 90an, saat telepon seluler masih belum umum dan komputerisasi masih belum setersebar sekarang, segala yang Dr Magata ciptakan di labnya benar-benar canggih. Membayangkan apa-apa yang telah dihasilkannya dari segi keilmuan saja sebenarnya menarik.

Di samping itu, interaksi antar karakternya—meski mungkin agak susah dipahami—sebenarnya memang bagus. Souhei, yang biasanya tak begitu tertarik pada segala sesuatu, terpikat pada ‘kemurnian’ pikiran Magata Shiki. Lalu ini menimbulkan konflik antara dirinya dan Moe, yang sejak awal telah jatuh cinta pada Souhei dan telah lama berusaha memahami jalan pikirannya. Bagaimana sesuatu mirip cinta segitiga ini bisa terjadi benar-benar menarik.

Ada banyak detil yang berusaha disampaikan (seperti bagaimana Moe memaksakan diri makan jamur shiitake demi melawan anemia). Ditambah lagi, karakternya lumayan banyak. Karenanya, ini seri yang termasuk susah diikuti. Tapi saat kau berhasil menemukan kaitan satu hal dan hal lainnya, hasil akhirnya bisa lumayan membuatmu berpikir.

Mungkin bukan soal misterinya. Tapi lebih pada pesan apa yang berusaha disampaikan di dalamnya. Buatku pribadi, meski aku tak setuju dengan kesimpulan apa yang Dr Magata dapatkan, setidaknya aku memahami penjelasan soal bagaimana ia bisa sampai ke sana.

Aku Tak Bisa Merokok di Dasar Laut

Bicara soal teknis, seri ini sebenarnya termasuk sedikit di atas rata-rata. Sempat ada kekurangan di beberapa bagian. Tapi secara umum seri ini termasuk enak dilihat dan didengar.

Dialognya banyak. Benar-benar banyak. Bahkan diselingi isapan rokok Sohei pun (dia kecanduan), kalian yang tak suka seri yang banyak bicaranya lebih baik menjauh. Lalu yang kumaksud di sini bukan dialog yang kadang melantur dan diisi candaan seperti di Monogatari. Tapi lebih pada dialog datar dan serius antar orang dewasa yang sebenarnya bisa menyiratkan banyak hal.

Satu hal menarik: menit-menit menjelang akhir setiap episode hampir selalu diisi monolog seorang pria, yang menguak sebagian demi sebagian isi buku catatannya tentang Magata Shiki. Siapa identitas pria ini sebenarnya jelas. Apa yang dialaminya juga jelas. Tapi apa yang disorot tentu saja adalah proses terjadinya. Lalu mungkin ini terdengar aneh, tapi apa yang disampaikan itu sejenis kengerian yang kayaknya ‘asing’ bagi kebanyakan orang gitu. Terus yang mengerikan sebenarnya adalah gimana kengerian itu akhirnya bisa ia ‘terima.’

Akhir kata, ini seri yang pasti cocoknya cuma buat kalangan tertentu. Daripada memberimu ‘perasaan’ seri ini lebih pada memberimu ‘pikiran.’ Ada bagian lemahnya di sana-sini, tapi kurasa akan ada orang-orang yang tetap menyukainya.

Agak aneh melihat gaya gambar Asano-sensei dianimasikan. Apalagi mengingat belum ada manga karya beliau yang diadaptasi ke bentuk anime sejauh ini. Jadi, kurasa itu daya tarik juga.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+