Lanjut ke konten
Iklan

Posts tagged ‘Sato Tatsuo’

Madan no Ou to Vanadis

Waktu aku kecil, aku suka cerita Robin Hood. Selain karena kepahlawanannya, aku suka karena kagum dengan kehebatannya memanah.

Waktu itu, Mahabarata masih terlalu ribet buatku. Aku belum cukup umur buat nonton First Blood. Seri TV Arrow jelas belum ada. Avengers juga sama sekali belum menonjolkan Hawkeye. Makanya, referensi yang kutahu soal orang yang jago panah itu cuma Robin Hood.

(Belakangan aku tahu kalau pemanah hebat di masa abad pertengahan, yang mengawali legenda ‘memanah apel di atas kepala orang,’ sebenarnya adalah William Tell.)

(…Melihat ke belakang, dunia perkomikan Amerika di dekade 90an itu aneh, man.)

(Sebenernya, lagu Bryan Adams yang jadi soundtrack film Robin Hood: Prince of Thieves-nya Kevin Costner juga membantu.)

Makanya, mungkin karena itu aku merasakan nostalgia aneh saat pertama sadar Madan no Ou to Vanadis itu tentang apa.

Madan no Ou to Vanadis (judulnya kira-kira berarti ‘raja tembakan/peluru sihir dan Vanadis’, dengan ‘Vanadis’ atau senki di sini adalah istilah yang berarti war maiden, atau ‘gadis perang/srikandi’), atau yang juga dikenal dengan judul Lord Marksman and Vanadis (‘bangsawan ahli tembak/panah dan Vanadis’), keluar sebagai anime pada tahun 2014 dengan produksi animasi yang dilakukan Satelight. Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Kawaguchi Tsukasa dengan jumlah episode sebanyak 13. (Salah satu novel one shot karya Kawaguchi-sensei, Leena’s World Map, telah diterbitkan di sini oleh Shining Rose Media lhoo.) Arahannya dilakukan oleh Sato Tatsuo (sutradara veteran Moeretsu Pirates, Stellvia, Rinne no Lagrange, serta Kidou Senkan Nadesico) yang selain sebagai sutradara, juga menangani sendiri naskahnya.

Novel aslinya diterbitkan oleh Media Factory di bawah label MF Bunko J. Ilustrasi dan desain karakternya yang menawan aslinya dibuat oleh Yoshi☆o (sebelum kemudian diteruskan oleh Katagiri Hinata mulai buku kesembilan). Saat ini kutulis, novelnya telah terbit sebanyak 13 buku.

Aku sendiri pertama tahu tentang seri ini dari adaptasi manganya yang dibuat Yanai Nobuhiko. Aku terkesan oleh artwork dan gaya desain karakternya. (Oke, alasan sebenarnya, berhubung aku punya a thing for maids, adalah karena karakter Titta.) Tapi yang kemudian membuatku jadi benar-benar menyukainya adalah besarnya kadar world building di dalamnya dibandingkan seri-seri lain yang sejenis.

Sebenarnya, aku juga ingin mengulas tentang ini lebih awal. Cuma aku sibuk oleh urusan kantor. Lalu pas Natal kemarin, kesehatanku juga sempat drop, dan makanya sejumlah postingan yang mau kusiapkan jadi terbengkalai.

Jadi, uh, sori soal itu.

Menengadah Melihat Bintang-bintang di Langit

Madan no Ou to Vanadis berlatar di suatu versi alternatif dari benua Eropa.

Ceritanya dibuka dengan kekacauan yang menimpa Kerajaan Brune, semenjak penguasanya, Raja Faron, dilanda suatu penyakit misterius. Sakitnya sang raja memicu perebutan kekuasaan antara dua bangsawan (bergelar ‘duke’) yang paling berpengaruh: Felix Aaron Thenardier dan Maximilian Bennusa Ganelon, yang sama-sama memperebutkan posisi sebagai penguasa de facto Brune. Lalu ini memuncak lewat timbulnya konflik dengan negara tetangga Brune, Kerajaan Zchted (sebenarnya, aku masih belum yakin apa mereka statusnya kerajaan atau kekaisaran), yang telah mengirim pasukan mereka untuk bertemu pasukan Brune di Padang Rumput Dinant.

Tokoh utama seri ini sendiri adalah Tigrevurmud Vorn, seorang bangsawan berkedudukan relatif rendah (bergelar ‘count’) yang berkuasa di suatu wilayah Brune yang bernama Alsace. Posisi Alsace bersebelahan dengan Leitmeritz, wilayah Zchted dari mana pasukan musuh datang. Sehingga dengan ditemani penasihatnya yang sudah berusia lanjut, Bertrand, Tigre mau tak mau harus memimpin rakyatnya maju ke medan pertempuran.

Namun setiba di Dinant, sekalipun menang dari segi jumlah, lini belakang Brune diserang mendadak oleh pasukan Zchted pimpinan Eleonora Viltaria, satu dari tujuh Vanadis (Senki)—tujuh perempuan jelita yang telah terpilih oleh tujuh pusaka Viralt (ryuuguu/dragon tool) berkekuatan naga, untuk menjadi panglima perang Zchted—yang sekaligus adalah penguasa wilayah Leitmeritz. Pasukan Brune dengan segera kocar-kacir. Lalu kabar mulai tersiar bahwa pangeran putra mahkota Brune yang turut serta di sana ikut tewas.

Namun, tak banyak diketahui di luar Alsace, Tigre adalah orang yang sangat jago memanah.

Brune adalah negara yang sangat menaruh kehormatan dalam keksatriaannya, dan para bangsawannya bahkan memandang remeh para pemanah karena disamakan dengan kaum pemburu dari rakyat jelata. Karenanya, menjadi kejutan sangat besar saat Tigre, yang menjadi satu-satunya orang yang masih bertahan hidup di kelompoknya, nyaris berhasil membunuh Elen dengan sisa anak-anak panahnya.

Terkesan dengan kehebatan Tigre, Elen memutuskan untuk tidak membunuh Tigre yang telah kehabisan anak panah, dan justru membawanya kembali sebagai tawanan ke Leitmeritz. Sekalipun keputusannya tersebut tidak langsung disetujui oleh Limalisha, ajudan Elen, serta anak-anak buahnya yang lain.

Garis besar Madan no Ou to Vanadis mengisahkan tentang tumbuh kembangnya hubungan antara Tigre dan Elen, yang dari penguasa dan tawanan, mulai berkembang menjadi rekan seperjuangan di medan perang, dan akhirnya (agak belakangan) sepasang kekasih.

Elen di awal cerita berupaya untuk mendorong Tigre untuk berganti pihak. Elen, yang berjiwa bebas dan kadang bisa berangasan, ingin menjadikan Tigre sebagai ‘miliknya’ dalam artian sebagai salah satu jendralnya di Leitmeritz. Terutama sesudah Tigre membuktikan sendiri kemampuan memanahnya yang benar-benar fenomenal. Ditambah kesungguhan yang dimilikinya yang kemudian juga meraih simpati dan kekaguman anak-anak buah Elen sendiri.

Namun berbeda dari kebanyakan bangsawan Brune, Tigre adalah sosok yang memang peduli terhadap rakyatnya. Sehingga meski tawaran Elen benar-benar menarik, Tigre mendapati diri tak bisa menerimanya. Terutama sesudah Bertrand, yang dengan susah payah akhirnya berhasil melacak jejaknya, datang dengan membawa kabar bahwa hilangnya Tigre dipandang ibukota sebagai kekosongan kekuasaan di Alsace. Thenardier kemudian mengutus putranya yang keji, Zion, untuk membawa pasukan demi mengambil alih kepemilikan atas Alsace.

Sadar dengan kehancuran yang dapat terjadi, Tigre membuat kesepakatan dengan Elen demi menyelamatkan Alsace; tanpa sepenuhnya menyadari besarnya dampak dari persekutuan mereka di masa yang akan datang…

Menunduk Melihat Jasad-jasad Mimpi

Adaptasi anime Madan no Ou to Vanadis merangkum cerita buku 1-5 seri novelnya, yang memaparkan berlangsungnya perang sipil Brune.

Dalam perkembangan cerita, timbul komplikasi yang persekutuan Elen dan Tigre akibatkan terkait persekutuan bertahun-tahun keluarga Thenardier dengan seorang Vanadis lain, yakni Ludmila Lourie, penguasa wilayah bersalju Olmütz. Hal tersebut mendatangkan konflik antara Elen dan Mila, yang notabene berasal dari negara yang sama.

Kondisi semakin genting saat Tigre dicap pengkhianat karena aliansinya dengan Zchted, yang terjadi saat sang raja kehilangan akal sehatnya sepeninggal keturunannya. Ini berujung pada bagaimana persekutuan Alsace-Leitmeritz harus berhadapan dengan Orde Ksatria Navarre pimpinan Roland, pemilik pedang pusaka Durandal (yang memiliki kekuatan setara Viralt) yang dikenal sebagai ksatria terhebat Brune.

Baru akhirnya, seiring bertambahnya pengaruh dan popularitas Tigre di kalangan rakyat Brune yang tertindas, semua memuncak dengan konfrontasi terakhir melawan kubu Thenardier dan kubu Ganelon, yang sekaligus membawa kita kembali pada apa sesungguhnya yang terjadi dalam pertempuran di Dinant…

Sepanjang cerita, kita juga diperkenalkan pada satu per satu Vanadis dari Zchted, serta pengaruh yang mereka bawa terhadap konflik di Brune sehubungan keterlibatan Elen di sana. Masing-masing dari mereka meliputi:

  • Eleonora Viltaria, penguasa wilayah Leitmeritz; Viralt miliknya adalah pedang panjang Arifar yang memiliki kekuatan angin. Sebelum terpilih oleh Arifar, semasa kecilnya ia dibesarkan oleh sepasukan tentara bayaran, dan karenanya tak asing dengan medan peperangan. Preferensinya adalah turut maju ke garis depan bersama pasukannya dengan berkuda.
  • Ludmila Lourie, penguasa wilayah Olmütz, Viralt miliknya adalah tombak pendek Lavias yang memiliki kekuatan es. Berbeda dari Viralt lain yang memilih pemilik barunya hampir secara acak, Viralt miliknya telah diwariskan turun temurun dalam keluarganya, dan Mila menjadi Vanadis tak lama sesudah ibunya wafat. Ia ahli siasat yang menjadikannya Vanadis yang paling lihai dalam pertahanan. Ia juga penyuka teh.
  • Sofya Obertas, penguasa wilayah Polesia, ahli negosiasi dan pengumpulan informasi yang tidak menyukai pertumpahan darah. Karena itu juga, ia berperan sebagai penengah sekaligus duta bagi para Vanadis. Viralt miliknya adalah tongkat emas bernama Zaht yang berkekuatan cahaya, yang memiliki kemampuan pertahanan serta penyembuhan.
  • Alexandra Alshavin, penguasa wilayah Legnica, yang dikenal sebagai Vanadis paling senior sekaligus terkuat untuk generasinya. Namun demikian, Sasha menderita suatu penyakit darah yang telah turun-temurun melanda semua perempuan dalam keluarganya, yang membuatnya tahu kalau ia takkan berusia panjang. Kondisinya memburuk dalam kurun waktu terakhir, sehingga perannya sebagai penengah para Vanadis belakangan digantikan Sofy. Dirinya adalah Vanadis yang paling dekat dengan Elen. Viralt miliknya adalah belati kembar Bargan yang berkekuatan api, yang bersikeras enggan meninggalkan dirinya dan memilih pemilik baru sekalipun penyakitnya telah semakin parah.
  • Elizaveta Fomina, penguasa wilayah Lebus, Vanadis yang dikenal karena ambisinya yang kuat dan matanya yang berbeda warna. Karena masa lalu yang penuh derita sebagai anak haram seorang aristokrat korup, Liza memiliki suatu dorongan alami untuk terus mencari kekuatan. Viralt miliknya adalah cambuk panjang Valitsaif berkekuatan petir yang juga dapat berubah menjadi tongkat.
  • Valentina Glinka Estes, penguasa wilayah Osterode sekaligus Vanadis misterius yang asal usulnya tidak diketahui oleh para Vanadis lain. Viralt miliknya adalah sabit besar Ezendeis yang berkuasa atas kehampaan dan bayangan, yang juga memungkinkannya berpindah tempat dalam sekejap. Sebaya dengan Sofy, namun di balik tampilannya yang ramah dan riang, Valentina menyembunyikan kecerdasan dan ambisi yang teramat besar. Dalam perkembangan cerita di novelnya, terungkap bahwa dirinya keturunan bangsawan Zchted, sehingga walau kecil, dirinya tetap berpeluang untuk mewarisi tahta.
  • Olga Tamm, penguasa wilayah Brest, sekaligus Vanadis berusia paling muda, yang terpilih menjadi Vanadis di usia 12 tahun. Viralt miliknya adalah kapak bernama Muma yang memiliki kekuatan tanah dan dapat berubah ukuran. Berasal dari suatu suku di padang rumput, dirinya terampil bertarung meski belum pernah ke medan perang. Meski ditampilkan mencolok di pembuka dan penutup anime, Olga belum berperan dalam cerita karena dikisahkan tengah berkelana.

The Knight of Moonlight

Para Vanadis dikisahkan berkaitan erat dengan awal mula negara Zchted. Penguasa pertama Zchted konon adalah sesosok naga yang membentuk Zchted sesudah akhir suatu perang besar, dan ketujuh Vanadis generasi pertama adalah permaisurinya. Namun di masa kini, raja penguasa Zchted, Viktor Artur Volk Estes Tsar Zhcted, memiliki hubungan kurang baik dengan para Vanadis karena ketakutan terpendamnya terhadap besarnya kekuatan mereka.

Masing-masing Viralt juga diindikasikan bernyawa dan punya kemauan masing-masing. Lalu selain ketujuh Viralt, ada juga pusaka-pusaka lain dengan kekuatan serupa namun asal-usul sudah terlupakan, seperti pedang Durandal milik Roland serta Busur Hitam misterius yang diwariskan turun-temurun sebagai pusaka keluarga Tigre.

Ada world building menarik yang lumayan di luar dugaan untuk seri sejenisnya. Ceritanya lebih ‘dalam’ dari yang sekilas terlihat, lewat penjabarannya terhadap berbagai perkembangan medan perang serta sejumlah misteri lain yang belum terjelaskan. Beberapa yang menonjol meliputi kuil misterius dewi kematian Tir na Va yang tiba-tiba ditemukan Tigre bersama Titta, dan kaitannya dengan Busur Hitam; serta bagaimana pria misterius yang memberikan naga-naga pada Thenardier; sekaligus Duke Ganelon sendiri, mungkin sebenarnya bukan manusia…

Kalau hanya menilai dari gaya ilustrasi dan desain karakternya, mungkin kau takkan menyangka cerita Madan no Ou to Vanadis bisa sedalam ini.

Soal desain karakternya sendiri? Ahaha, ada beberapa temanku yang terganggu. Tapi aku pribadi tak terlalu mempermasalahkannya.

…Uh, terlepas dari itu…

Bicara soal teknis, aku seriusan kagum dengan bagaimana Sato Tatsuo-san berhasil merangkum cerita lima buku ini dalam 13 episode. Pacing-nya terbilang bagus lagi. Walau demikian, berhubung detil perkembangannya yang perlu banyak dipaparkan, cara penyampaiannya mungkin takkan cocok dengan sebagian orang. Kau perlu sedikit imajinasi untuk benar-benar menikmatinya. Beliau banyak menggunakan potongan-potongan CG untuk menggambarkan situasi di medan perang, dengan memakai model bidak-bidak catur untuk mewakili setiap pasukan, lengkap dengan narasi dan sebagainya. Jadi kuakui, memang perlu sedikit waktu untuk terbiasa.

Daripada tampilan perang besarnya sendiri, rasanya seperti kita kerap diberi hanya ringkasannya saja. Meski begitu, untuk memajukan plot, cara ini efektif. Ditambah lagi, tampilan aksi yang sesungguhnya lebih ada pada permainan senjata para Vanadis serta kemampuan memanah Tigre.

Kemampuan memanah Tigre di sini maksudku bukan hanya ‘mengenai sasaran dari tempat yang benar-benar jauh.’ Dengan panahnya, dia lebih kayak, melakukan hal-hal gila yang membuat orang-orang di sekelilingnya bereaksi, “Enggak mungkin!” gitu.

Bicara soal visual, berhubung CG banyak dipakai untuk penggambaran pasukannya yang banyak, hasil akhirnya agak campur aduk. Ada bagian-bagian yang enak dilihat sih. Lalu terlepas dari beberapa aksinya yang keren, ada juga bagian-bagian yang kurang. Untuk benar-benar bisa menghargai, kurasa kau perlu bisa memvisualisasikan ulang  perkembangannya di dalam kepalamu sendiri. Buat aku sendiri, aku sebenarnya lumayan suka apa yang disampaikan.

Aku tak bisa bicara banyak soal audionya. Tapi lambat laun lumayan terasa bagaimana musiknya memang bagus. Lagu pembuka yang dibawakan Suzuki Konomi, serta penutup yang dibawakan Harada Hitomi sama-sama punya iringan orkestra yang memberikan warna kolosal. Rasanya kayak aku enggak langsung suka, tapi ke sananya terasa bagus.

Lalu satu hal yang kusadari; animenya untuk suatu alasan terasa benar-benar lebih serius ketimbang manganya, tapi tanpa melepas selingan komedi serta fanservice-nya. Sejujurnya, ini kali pertama aku menemukan adaptasi anime yang terasa kayak gini.

Kalau Kau Memperlihatkan Kebanggaan, Maka Aku Akan Menunjukkan Kegigihan

Akhir kata, aku telah jadi penggemar seri ini.

Aku suka tema perjuangan yang disampaikannya. Aku suka intrik-intriknya. Aku terkesan dengan penggambaran seperti apa kau harus bangkit kalau melihat orang-orang yang nyata jahatnya sedang mengurus negaramu.

Aku juga suka dengan bagaimana ceritanya secara berkala menampilkan semakin bertambahnya jumlah simpatisan Tigre. Dari yang hanya segilintir, tapi lama-lama jadi banyak, dari tempat-tempat tak disangka, dan semua berjuang untuk tujuan yang sama. Lalu tentu saja, soal bagaimana memiliki keteguhan di hadapan kondisi-kondisi tersulit sekalipun.

Aku tak bisa sepenuhnya bilang ini bagus. Tapi di sisi lain, aku terlanjur sulit buat enggak suka.

Ada satu adegan tertentu yang sempat bikin aku mikir pas ada Tigre ditanya “Apa kau berjuang untuk tujuan yang benar?” Tigre bereaksi dengan tak langsung memberi jawaban. Lalu di adegan itu aku terpikir bagaimana di masa sekarang kita benar-benar kerap susah membedakan mana yang benar dari mana yang salah. Semula kupikir, untuk bisa tahu, yang kau perlukan itu hanya sekedar ilmu. Tapi setelah melihat adegan satu itu, kusadari mungkin ada sesuatu yang lebih dari itu…

Kalau kau berminat mengikuti terjemahan bahasa Inggris novelnya yang dibuat fans, kusarankan untuk segera mencari dan menyimpannya. Terutama sesudah Kadokawa meluncurkan tuntutan DMCA belum lama ini yang ternyata mencakup semua bahasa, dan bukan bahasa Inggris saja.

Kayaknya enggak akan ada season duanya sih. Tapi kurasa itu enggak masalah.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

Iklan

Rinne no Lagrange

Ada tiga hal yang mencolok saat aku pertama mendengar tentang LagRin:

  1. Latarnya di sebuah kota pantai tenang bernama Kamogawa
  2. Ini anime robot raksasa yang mengetengahkan tiga orang cewek sebagai tokoh utama
  3. Dibuat lewat kolaborasi antara dua studio animasi Xebec dan Production I.G., dengan para insinyur dari produsen mobil Nissan

Soal tiga orang cewek yang menjadi tokoh utama itu, aku seketika teringat akan anime mecha legendaris yang kental dengan semangat feminismenya, Gunbuster. Lalu dalam perkembangan lebih lanjutnya, aku mengetahui soal bagaimana lagu pembuka pertama seri ini diaransemen oleh musisi jazz Rasmus Faber, yang waktu itu belum kukenal tapi ternyata sangat terkenal dalam kalangan-kalangan tertentu (yang begitu didengar oleh temanku langsung dihebohkan dengan penuh antusias). Lalu lagu-lagunya dinyanyikan pula oleh Nakajima Megumi yang menyuarakan Ranka dari Macross Frontier!

Jujur saja, ada banyak hal menarik yang kemudian kuketahui tentang Rinne no Lagrange – Flower declaration to your heart, atau yang juga dikenal dengan judul alternatifnya:  Lagrange – The Flower of Rin-ne.

Anime ini pertama keluar pada musim dingin di awal tahun 2012, dan secara agak mengejutkan berakhir agak menggantung untuk dilanjutkan pada season keduanya, yang mengudara di musim panas pada tahun yang sama. Sutradaranya adalah Sato Tatsuo, yang buat yang belum tahu, pernah terlibat dalam seri-seri kombinasi sci-fi dan drama keseharian sejenisnya, seperti Stellvia, Moeretsu Pirates, dan Kidou Senkan Nadesico.

Keseharian Kamogawa

Lebih gampang kalau aku langsung ke inti ceritanya.

Seorang gadis remaja enerjik bernama Kyouno Madoka terlibat dalam suatu konflik antar galaksi tatkala ia ‘dimintai tolong’ oleh seorang gadis aneh bernama Lan untuk melindungi Bumi dari serbuan alien dengan menjadi pilot sebuah robot raksasa.

Robot raksasa ini ternyata adalah sebuah senjata kuno misterius yang belum lama ini digali dari masa lalu, Vox Aura, yang belakangan dinamai Madoka sebagai Midori. Desainnya benar-benar keren, dengan bentuk ramping dan aerodinamis berwarna hijau dengan kemampuan untuk berubah bentuk menjadi kapal.

Pihak yang bertanggung jawab terhadap penggalian ini adalah sebuah organisasi bernama Novusmundus, yang rupanya untuk beberapa lama telah menjalin kontak dengan orang-orang planet lain.

The catch is… Madoka adalah siswi di sebuah SMA putri di Kamogawa yang merupakan anggota tunggal Klub Jersey, yang pada dasarnya merupakan organisasi ekskul satu orang yang tugasnya menolong orang lain—termasuk klub-klub ekskul lain—dengan pakaian jersey, celana training dan jaket olahraga. Jadi, memang sudah menjadi ‘tugas kesehariannya’ untuk membantu orang. Cuma permintaan untuk memiloti sebuah robot raksasa jelas bukan permintaan yang ia sangka akan pernah ia dapatkan.

Klub Jersey ini Madoka warisi karena alasan-alasan pribadi dari Nakaizumi Youko, kakak sepupunya yang kini bekerja sebagai arkeolog. Youko mengetahui rahasia tentang Vox Aura, dan semula menentang keras keputusan Madoka untuk memilotinya. Tapi akhirnya ia setuju dengan syarat agar Madoka juga melanjutkan hidup sehari-harinya dan tak terikat di Novusmundus.

Sesuai yang diperkirakan, Lan yang ramping dan pemalu dan tak terlalu paham tentang adat istiadat Bumi ternyata merupakan seorang ‘putri’ dari planet lain. Ia dan wakil-wakil lain dari planetnya datang ke Bumi dan ditampung oleh organisasi Novusmundus—yang punya markas terapung bernama Pharos di laut—untuk menemukan kebenaran tentang peninggalan pusaka-pusaka Vox di Bumi. Lan sendiri ternyata merupakan pilot sebuah Vox lain, yakni Vox Lympha yang berwarna biru, yang belakangan ia beri nama Orca.

Lan kemudian menjadi teman dekat Madoka dan bahkan ikut bersekolah dengannya. Terutama setelah munculnya seorang murid pindahan bernama Muginami. Muginami sekilas tampil dalam keseharian Madoka sebagai gadis cantik yang agak-agak ‘lamban.’ Tapi sebenarnya ia memiliki niat tersembunyi untuk menyusup ke Pharos dan mencuri unit Vox terakhir, yakni Vox Ignis yang berwarna jingga (yang belakangan Muginami namai Hupo).

Muginami ternyata sama-sama alien seperti Lan, namun dirinya berasal dari pihak yang bertentangan dengan pihak Lan. Itu pula alasan mengapa meski ia mengakrabkan diri dengan Madoka, Muginami menyimpan sedikit antipati terhadap Lan.

Ternyata dulu suatu bencana besar pernah terjadi di masa kuno Bumi, yang membuat sebagian besar penduduknya, yang memiliki peradaban lebih canggih dari sekarang, untuk hijrah ke luar angkasa. Para penduduk yang hijrah ke luar angkasa ini rupanya adalah cikal bakal dua negara Le Garrite tempat Lan berasal, dan De Metrio tempat Muginami berasal. Sedangkan manusia Bumi di masa kini adalah keturunan dari mereka yang bertahan untuk tak hijrah.

Para pihak yang bertentangan ini rupanya sama-sama mengincar pusaka-pusaka Vox untuk mengakhiri peperangan, lewat pasukan-pasukan mecha Ovid mereka masing-masing. Hanya saja, ada suatu legenda tentang kehancuran besar-besaran tentang ketiga Vox di masa lalu, yang dibawa kedua belah pihak ke luar angkasa. Ketakutan bahwa setiap Vox tersebut yang awal mulanya menciptakan kehancuran besar di Bumi itulah yang kemudian menciptakan semacam status quo genting, dengan Kamogawa sebagai latarnya.

Tiga Kursi

Mungkin ini agak susah dibayangkan. Tapi meski premisnya agak ngebingungin, LagRin nyaris tak menonjolkan sisi fantastisnya. Meski ada adegan-adegan pertempuran dan konflik, ceritanya lebih berpusar pada hubungan persahabatan antara tiga sekawan Madoka, Lan, dan Muginami saja.

Nuansanya agak-agak ke arah yuri, jadi… terus terang, aku sempat agak kesulitan mengikuti seri ini. Di samping itu, daya tarik seri ini dari segi cerita lebih ke situasional daripada karakter. Sehingga saat situasinya mulai ‘tenang,’ daya tariknya buatku jadi agak hilang.

Sejalan dengan itu semua, tetap ada sejumlah ‘tanda-tanda’ yang kemudian tersebar di sepanjang cerita sih. Dan kurasa ‘tanda-tanda’ itulah yang akhirnya membuatku penasaran tentang seperti apa seri ini akan berakhir. (Di samping aku ingin tahu bagaimana seri ini kira-kira bisa diimplementasikan dalam sebuah game Super Robot Wars.) Ada adegan-adegan kilas balik singkat yang menggambarkan bahwa De Metrio bukan kesatuan yang utuh. Muncul pertanyaan-pertanyaan tentang apa motif pemicu peperangan ini sesungguhnya. Lalu menjelang akhir, ada teka-teki tentang hadirnya sosok seorang gadis misterius bernama Yurikano di dalam benak Madoka. Hadir pula ketua Novusmundus, seorang gadis mungil bangsawan bernama Astaria, yang terlepas dari semua ke-loli-annya, mengindikasikan bahwa dirinya bukan manusia biasa. Tentu saja semuanya berbalik ke bagaimana hubungan semua ini dengan ketiga Vox dan kekuatan terpendam yang mereka punya.

Berhubung Bumi dan Le Garrite beraliansi, sebagai orang yang berasal dari pihak berseberangan, ada cukup banyak konflik yang melanda Muginami sih. Terutama setelah ia terpaksa mengkhianati(?) kakak laki-lakinya, Villagulio, yang menjadi tokoh antagonis paling menonjol di seri ini (tapi dia pun tak bisa dikategorikan sebagai tokoh jahat). Tapi inti ceritanya benar-benar lebih ke keseharian Madoka dkk dalam Klub Jersey dan bagaimana persahabatan mereka bisa terbangun.

Sekali lagi, porsi keseharian dan kehidupan sekolahnya JAUH lebih banyak dari yang mungkin kau perkirakan. Meski kau tertarik, mungkin kau bakal sulit buat ‘tahan’ menonton ini. Soalnya kayak, rasanya kayak ada sedikit sekali ‘kemajuan’ yang terjadi. Tapi kalau kau bisa menangkap betapa banyaknya ‘tanda-tanda’ bakal terjadinya sesuatu di sana-sini, mungkin kau bakalan ingin tahu juga soal season 2-nya bakal kayak apa.

Maru!

Membahas teknisnya, LagRin sama sekali bukan seri yang buruk. Baik visual maupun audionya lumayan. Hanya saja mungkin yang bisa membuat aneh adalah cara penggambaran latar di beberapa adegan. Paling mencolok, penggambaran langitnya terlihat agak aneh. Rasanya jadi kontras dengan bawaan ceria yang seri ini coba usung.

Kalau kau suka seri-seri lain yang pernah disutradarai Sato-sensei, ada peluang kau juga bisa menikmati ceritanya sih. Masalahnya adalah baik adegan aksi, drama, ataupun intriknya sama-sama tak terlalu menonjol. Plotnya tak benar-benar bisa dibilang menarik. Di samping itu, cerita LagRin terpotong menjadi dua segmen. Berakhir pada bagaimana Madoka dan kawan-kawannya terpaksa berpisah, seiring dengan datangnya armada kapal utama pimpinan Dizelmine, kakak lelaki Lan. Sehingga ada rasa kurang memuaskan yang dihadirkan pada season pertama.

Makanya, itu alasan utama kenapa seri ini bukan sesuatu yang akan kurekomendasikan ke kebanyakan orang sih. LagRin tak begitu terasa seperti anime mecha. Perasaan kita masih belum begitu tergerak. Kita masih dibiarkan bertanya-tanya tentang apa-apa sesungguhnya yang telah terjadi. Kita juga mungkin masih belum sepenuhnya ngeh soal situasi perpolitikan yang dipaparkan dalam seri ini. Semua karena aspek kesehariannya itu yang begitu ditonjolkan dan menyita sebagian besar perhatian kita.

Tapi setelah kulihat sendiri, season 2-nya lebih menjanjikan. Serius.

Itu alasan kenapa aku menulis ini sekarang.

Tapi kuceritakan lebih banyak soal itu di lain waktu.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: B; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B-