Posts tagged ‘Satelight’

02/05/2016

M3: Sono Kuroki Hagane

Tadinya aku mau bahas ini sebelum Gundam: Iron Blooded Orphans tayang, tapi beberapa hal terjadi, dan aku baru sempat menulis tentangnya sekarang. Berhubung ini satu-satunya anime mecha riil (bukan super robot) yang disusun Okada Mari sebelum IBO, aku sempat ingin membandingkan keduanya.

M3 – Sono Kuroki Hagane (subjudul kira-kira berarti ‘logam hitam itu’), atau yang juga dikenal sebagai M3 – The Dark Metal (‘logam yang kelam’, acuan terhadap konsep penyakit ‘logam kematian’ di ceritanya), merupakan anime drama sains fiksi horor keluaran Satelight dan C2C. Dirilis pada pertengahan tahun 2014 (ini kurang lebih sezaman dengan No Game No Life dan Akame ga Kill!), jumlah episodenya 24. Sutradaranya adalah Sato Junichi, staf veteran yang sekarang dikenal sebagai sutradara anime ‘penyembuhan’ Tamayura dan anime teka-teki Phi Brain; meski beliau juga dikenal lewat arahan beliau di sejumlah anime lawas, yang mencakup Aria, Sailor Moon klasik, serta Mahou Tsukai Tai.

M3 sempat mencolok karena lagu pembuka pertamanya, yang berjudul ‘Re: Remember.’ Lagu yang dibawakan May’n ini secara pas menggambarkan nuansa sendu dan keputusasaan di awal seri ini. Di samping itu, naskah cerita yang disusun oleh Okada-san kental dengan drama karakter melankolis khas beliau. Ditambah lagi, ada desain mekanik yang dibuat oleh desainer Macross, Kawamori Shoji.

Karenanya, meski tak meledak, M3 termasuk seri yang menarik perhatian di kalangannya sendiri.

Awalnya, aku ingin menulis tentang M3 untuk memperkirakan IBO jadinya seperti apa. Seperti yang pernah kusinggung di tulisan lain, selain drama remaja Anohana dan Toradora!, seri-seri yang naskahnya ditangani Okada-san yang temanya agak ‘fantastis’ paling hanya Aquarion Evol, Wixoss, dan seri satu ini. Aku tadinya mau pakai M3 sebagai ‘perbandingan’ mengingat statusnya sebagai sesama seri mecha. (Meski memandang lagi ke belakang, aku tak merasa itu banyak gunanya.)

Untukku pribadi, M3 adalah seri yang semula-enggak-begitu-diperhatikan-tapi-lama-lama jadi-berkesan. Nuansanya benar-benar suram. Anime ini menampilkan banyak kesedihan tanpa langsung menjabarkan akar kepedihan dan rasa sakitnya itu karena apa. Kesannya lumayan abstrak. Tapi karena itu juga, seri ini sempat menjadi semacam penghiburan buatku selepas kerja.

Seburuk-buruknya kondisi kerjaanku waktu itu, setidaknya aku belum sedepresi para karakter di anime ini.

Langit Berbintang dan Dewa Kematian

M3 bercerita tentang delapan anak remaja yang terpilih dalam suatu proyek yang dapat menentukan kelangsungan hidup umat manusia. Kedelapan anak ini didekati secara terpisah oleh perwakilan suatu organisasi bernama IX di Jepang, dan mendapati diri mereka mungkin sebenarnya pernah mengenal satu sama lain di masa lalu.

Kedelapan orang remaja tersebut disatukan dalam suatu kelompok yang disebut Team Gargouille. Mereka terdiri atas:

  • Saginuma Akashi: pemuda tampan yang meski menarik perhatian, memiliki masa lalu pahit yang melibatkan mendiang kakak lelakinya. Karenanya, ia memendam suatu kebencian pribadi yang sangat sulit ia ungkap dan mengubahnya menjadi penyendiri.
  • Hazaki Emiru: seorang perempuan cantik dan pekerja keras yang terpaksa hidup mandiri karena suatu isu keluarga. Di awal cerita, ia berharap bisa dekat dengan Akashi sebagai suatu bentuk pengakuan terhadap dirinya.
  • Izuriha Sasame: seorang gadis lembah lembut yang telah lupa sebagian ingatan masa lalunya. Meski kerap membatasi diri dan ragu akan kemampuannya, ada sesuatu tentang dirinya yang mengingatkan Akashi akan suatu hal penting yang telah lama hilang.
  • Namito Iwato: teman sekolah Akashi yang berpembawaan terbuka dan pengertian, yang ikut terpilih bersamanya dan anak-anak lain sebagai bagian Program Pelatihan Tim Investigasi Khusus.
  • Kasumi Raika: gadis atletis yang menjadi salah satu pilot uji mecha Vess buatan IX. Ia diharuskan menjalani pelatihan lagi semenjak terpilih sebagai salah satu calon anggota Tim Investigasi, yang mana ia kemudian dipasangkan dengan Iwato.
  • Maki Minashi: pemuda ramah yang menjadi anggota Team Gargouille yang paling ceria dan mudah didekati. Nampaknya telah mengenal Sasame lebih dahulu dibandingkan yang lain.
  • Yuzuki Maamu: gadis rendah diri yang sangat pemalu, negatif, sekaligus penyendiri. Ia menyimpan suatu buku catatan yang di dalamnya ia secara tersamar menumpahkan segala isi hati dan pengamatannya terhadap orang lain.
  • Isaku Heito: seorang pemuda yang telah hilang kewarasannya dan terobsesi membuat orang lain takut terhadapnya (karena rasa takut adalah satu-satunya emosi yang masih ia punyai). Konon bertanggung jawab atas pembantaian seluruh anggota keluarganya sendiri.

Dicanangkan IX, Team Gargouille dibentuk sebagai tim investigasi yang akan menjelajah Mumyou Ryouiki/Lightless Realm/Avidea Zone.

Beberapa tahun sebelumnya, fenomena Mumyou Ryouiki melingkupi kota Tokyo. Efek fenomena ini secara perlahan tapi pasti mulai mengancam dunia. Di dalam zona ini, cahaya akan pudar. Lalu dari dalamnya, muncul partikel logam yang disebut Necrometal yang dapat mengikis semua material lain dan menggerogoti anggota-anggota tubuh manusia yang terekspos padanya.

Turut muncul dari dalam Mumyou Ryouiki adalah makhluk-makhluk yang disebut Admonition/Imashime, yang bisa jadi adalah perwujudan derita dan sisa ingatan para korban Necrometal yang telah kehilangan nyawa.

Untuk menghadapi Imashime, IX telah mengembangkan mecha-mecha berkaki tiga yang disebut Vess. Tapi untuk menjelajahi Mumyou Ryouiki, diperlukan versi Vess lebih mutakhir yang disebut MA-Vess yang bisa melawan pengaruh ‘korosi mental’ yang Mumyou Ryouiki berikan.

Terungkap bahwa pengikisan yang Necrometal bawa tak hanya terjadi secara ‘fisik’ karena siapapun (apapun?) yang terjangkit Necrometal bisa sampai lupa jati diri mereka. Lalu para pengguna MA-Vess mampu bertahan karena MA-Vass dilengkapi suatu penemuan relatif baru yang disebut LIM (Linker Interface Module), meski bagaimana persisnya sistem ini bekerja baru terungkap dalam perkembangan cerita ke depan.

Singkat cerita, Akashi dan kawan-kawannya dikumpulkan karena punya potensi ‘kecocokan’ yang diperlukan untuk menggunakan MA-Vess.

Mengawasi Team Gargouille adalah kelompok ilmuwan dari IX yang dipimpin dua figur: seorang lelaki eksentrik bernama Natsuiri, yang seakan hanya punya kepedulian terhadap kemajuan hasil penelitian; dan seorang perempuan muda bernama Agura Kasane, yang Akashi kenali sebagai kekasih mendiang kakak lelaki Akashi, Saginuma Aoshi. Mewakili pemerintah, juga hadir Susan Suzaki, kawan lama Kasane yang lambat laun ikut menjadikan keberhasilan mereka sebagai misi pribadinya.

Lewat penjelajahan Mumyou Ryouiki, IX berharap bisa mengungkap rahasia di balik fenomena Necrometal. Rahasia itu mereka yakini ada pada badan Mukuro/Corpse (‘jasad’), raksasa logam hitam bermata satu yang beberapa kali terlihat di dalam zona dan diyakini sejumlah pihak sebagai sumber segala kejadian ini. Lambat laun, para anggota Team Gargouille pun mulai meyakini bahwa hanya dengan mengalahkan Mukuro, semua penderitaan mereka akan bisa berakhir.

Konflik pertama seri ini timbul dari bagaimana Akashi marah terhadap Kasane yang seakan menganggap dirinya sebagai pengganti kakaknya. Kakak Akashi, Aoshi, sebelumnya juga terlibat dalam penjelajahan ke Mumyou Ryouiki dan berakhir tewas karenanya. Namun seiring dengan waktu, semakin banyak hubungan dan rahasia masa lalu terkuak, terutama mengingat bagaimana Imashime seakan mengingatkan setiap manusia akan dosa-dosa mereka yang telah lalu.

Suara-suara Penyesalan

Sedikit bicara soal robot-robotnya dulu…

Mecha utama di M3 adalah Argent, MA-Vess pertama yang sukses dikembangkan dari pendahulunya, Shirogane, yang dulu dikemudikan Aoshi. Meski secara teoritis dapat bekerja, semua orang yang mencoba mengendalikan Argent karena berbagai alasan berakhir tewas. Ini berujung pada bagaimana MA-Vess ini kemudian disegel rapat-rapat dalam suatu fasilitas terbengkalai dan dijuluki Shinigami (‘dewa kematian’).

Baru sesudah para remaja di atas ditemukan dan Team Gargouille kemudian dibentuk, Argent mulai kembali dioperasikan IX. Lalu sesuai dugaan, meski sempat didahului serangkaian insiden, Akashi menjadi orang pertama (dan mungkin satu-satunya) yang mampu mengendalikan Argent.

Dengan enggan, (meski belakangan ia melakukannya demi Sasame) Akashi akhirnya menuruti pengharapan orang-orang untuk menggunakannya dalam menjelajah Mumyou Ryouiki, yang membawanya berhadapan langsung dengan sosok Mukuro yang misterius.

Penjelajahan Akashi dan kawan-kawannya terhadap Tokyo yang telah kelam dan ditinggalkan menjadi inti cerita M3. Dari sana, kemudian banyak hal terungkap. Digambarkan ada beban mental luar biasa besar dalam menggunakan MA-Vess, dan beban ini tak kalah besarnya dari korosi mental yang didatangkan Imashime dan Mumyou Ryouiki, yang hadir dalam bentuk imaji-imaji persepsi yang menyerbu masuk ke dalam pikiran.

Vess produksi massal yang tidak memiliki LIM diwakili Tower type T1 yang dalam perkembangannya, banyak dipakai oleh Iwato dan Raika. Ini tipe mecha berkaki tiga yang meluncur dengan ‘sepatu roda’ seperti yang di Code Geass, yang bila kaki-kakinya dilipat akan membuatnya tampak seperti mobil. Persenjataan utama T1 adalah sejenis senapan. Namun untuk jarak dekat, mecha-mecha ini dilengkapi persenjataan sejenis palu berpompa, yang diperlukan untuk memecahkan cangkang-cangkang luar Imashime yang keras dan menghancurkan ‘inti’-nya.

Dari segi bentuk, Vess sangat mirip MA-Vess. Kemiripannya lengkap sampai ke jenis persenjataan yang digunakannya, hanya saja berukuran lebih kecil dan mempunyai performa lebih terbatas, di samping ‘tergantung’ pada jalanan.

MA-Vess dalam perkembangannya memiliki tenaga jauh lebih besar, mampu melakukan gerakan-gerakan yang lebih lincah, mampu melewati medan lebih berat, dan menjadi satu-satunya tandingan yang Team Gargouille punyai untuk melawan Mukuro.

Seperti yang kusebut di atas, aspek mecha M3 kurang menonjol. Tapi kehadirannya sedemikian rupa sampai aku beberapa kali membayangkan kira-kira seperti apa M3 andai porsi karakternya dikurangi dan konflik Mumyou Ryouiki tak ditampilkan begitu abstrak.

Desain mechanya bukan yang bisa kukatakan ‘keren’ sih (struktur proporsi Argent mirip Mukuro dan sempat agak sulit kubedakan. Desainnya bahkan sedikit mengingatkanku pada desain Aquarion). Di samping itu, adegan-adegan aksinya bukan jenis yang dibuat agar terkesan ‘seru’ (meski kekurangan ini diimbangi konflik emosional yang kuat).

Mungkin, maksudnya malah agar adegan-adegan mechanya lebih berkesan horor?

Tapi tak bisa dipungkiri kalau keberadaan Vess dan MA-Vess menjadi hal yang integral dengan cerita.  Kehadirannya itu memberi kesan sedemikian kuatnya, sehingga kamu enggak benar-benar bisa bilang kalau aspek mechanya jelek. Terlebih dengan bagaimana dengan bayaran teramat besar, mulai hadir dua MA-Vess jenis lain, yakni Sable dan Guhles, yang membawa para anggota lain selain Akashi ke dalam kegelapan Mumyou Ryouiki.

Baru sesudah perjalanan berulangkali ke dalam sana—sekalipun ditelantarkan IX, dan hanya dengan dukungan terbatas yang dapat diberikan Kasane dan Susan—Akashi dan kawan-kawannya menemukan titik terang tentang asal usul Mumyou Ryouiki. Mereka menemukan kembali ikatan lama di antara mereka; kebenaran tentang Tsugumi, gadis misterius mirip Sasame yang hampir selalu terlihat bersama Mukuro; serta penelitian terlupakan di sebuah pulau terpencil bernama Yomijima

Cahaya, dan Kemudian Cahaya

Jadi, selain suram, M3 terbilang punya cerita yang rumit.

Daripada ‘kompleks,’ yang kumaksud lebih kayak rumit dalam ungkapan ‘It’s complicated.’ Semua karakter punya bebannya sendiri-sendiri. Lalu di separuh cerita, sama sekali tak kelihatan bagaimana semua bisa terselesaikan secara baik.

Akashi dengan masa lalu kompleksnya, sementara semua orang di sekelilingnya berharap ia membuka diri. Kasane yang terbebani oleh rasa bersalahnya. Emiru yang frustrasi dengan orang-orang di sekelilingnya dan tak punya orang lain yang padanya ia bisa bercerita. Sasame dengan perasaan adanya sebagian dirinya yang hilang. Rasa takut terhadap dunia yang dipunyai Maamu. Rasa takut kehilangan yang perlahan mencengkram Raika dan Iwato. Sampai Minashi yang mengemban semua keputusasaannya seorang diri di balik senyumannya. Kesannya kayak mereka ada di dunia di mana tak ada yang bisa dimintai bantuan selain satu sama lain.

Karena itu, jujur saja, ada sebagian yang berpendapat kalau M3 sedikit kehilangan daya tariknya saat kepingan-kepingan jawaban mulai ditemukan di paruh kedua cerita. Nuansanya menjadi lebih optimis tapi perkembangannya, sayangnya, kurang berhasil ‘menyentuh’ kita seperti beberapa anime mecha emosional lain macam Eureka Seven atau RahXephon. Salah satu alasannya mungkin karena penggambarannya yang agak abstrak dan tak mudah langsung dipahami tadi, di samping jumlah karakter utamanya yang terbilang banyak.

Soal teknis, anime ini memiliki motif warna ‘kelabu’ yang bisa aku mengerti adalah caranya menyampaikan dunia Mumyou Ryouiki yang ‘minim warna.’ (Di samping menjadi cara efektif untuk menekan anggaran.) Tapi ini juga menjadikan anime ini kurang mencolok secara visual, yang untungnya berhasil diimbangi dengan kualitas audio yang lumayan baik.

Walau begitu, (mungkin aneh juga aku ngomong gini) visual desain latarnya tetap menjadi daya tarik buatku. Mulai dari fasilitas rumah sakit terbengkalai dengan ruang-ruang basementnya yang seakan menyembunyikan sesuatu, laboratorium penelitian IX yang ditempati Kasane dan Natsuiri dengan dinding-dindingnya yang berkaca, balkon terbuka tempat Akashi dan Sasame sempat bernaung, bangunan teater besar yang ditempati Tsugumi, bandara kosong di tepi lautan, reruntuhan desa Yomijima tempat asal pohon berpendar misterius Arbornine/Kokonoki dengan gua-gua bawah tanahnya, sampai kamar asrama berinterior nyaman yang Mahmu dan Emiru tempati.

Aku tak menyadarinya di awal, tapi semua tempatnya bagiku benar-benar meninggalkan kesan kuat. Aku sampai ingin mengumpulkan gambar-gambar konsep ilustrasi awalnya. Mungkin aku merasa demikian karena saking kuatnya nuansa sentimentilnya.

Soal audio, para seiyuu-nya terbilang berperan baik. Gampangnya, mereka berhasil menghidupkan karakter-karakter yang enggak kita sukai dengan membuat kita merasakan emosi enggak suka nyata terhadap mereka. (Iya, perlu waktu lumayan sampai karakter-karakternya bisa disukai.) Terus pilihan lagu-lagunya itu. Lagu-lagunya benar-benar sesuai konteks. Kebanyakan temanya tentang kebimbangan sekaligus nostalgia terhadap masa lalu.

Aku bisa saja membeberkan detil ceritanya lebih banyak, tapi itu bisa agak terlalu spoiler. Soalnya, keenggakjelasan soal apa yang terjadi sekali lagi menjadi salah satu daya tarik M3.

Selain itu, sekali lagi, seri ini benar-benar suram. Jadi meski mungkin ini kedengaran aneh, kesuraman itu justru menjadi satu alasan sebagian orang mengikuti seri ini.

Apa yang Menghubungkan Dua Orang

M3 bisa dibilang sejenis anime mecha sains fiksi suram yang banyak dicetus sejak zaman Neon Genesis Evangelion. Ada mecha-mecha besar di dalamnya, tapi ini seri yang benar-benar lebih berat pada drama antar karakternya. Adegan-adegan aksi mechanya jarang. Saat sedang ada, koreografinya juga kayak sengaja dibatasi agar tak terlalu menonjol (mungkin juga buat menghemat biaya).

(…Sori, alasan aku menyinggung soal biaya dari tadi karena sesudah M3, Satelight dan C2C kembali berkolaborasi dalam produksi Aquarion Logos yang benar-benar kelihatan ketat anggarannya.)

M3 bukan seri yang mudah diikuti. Ini bukan seri yang akan begitu saja kurekomendasikan. Tapi iya, ada sesuatu tentang M3 yang terbilang memikat saat kau bisa menerima semua kekurangannya.

Seri ini serius kayak memberi penghiburan aneh bagiku. Sestres apapun aku sebelumnya, kalau melihat anime ini, aku bisa ngerasa kalau para karakternya berada dalam kondisi yang lebih enggak enak lagi.

Yah, mungkin hal seperti ini lebih baik tak ungkap.

Akhir kata, selalu ada harapan di ujung kesulitan. Habislah gelap, terbitlah terang yo.

Lalu balik ke bahasan soal Gundam di atas, kita semua akhirnya tahu kalau IBO berakhir sebagai seri yang keren, sekalipun punya porsi karakter yang benar-benar banyak juga.

Produktivitas Okada-san benar-benar luar biasa.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B-; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+

Iklan
08/04/2016

Macross Delta preview & Daftar Seri Macross

Pada awal tahun 2016 lalu, ada episode spesial bersifat preview untuk anime baru Macross Delta. Macross Delta resminya mulai tayang April ini, dan episode pertamanya yang ‘lengkap’ telah keluar saat ini kutulis. Tapi episode spesial tersebut sempat memberi gambaran nuansanya akan kayak apa.

Buat yang belum tahu, Macross Delta merupakan keluaran terbaru dari waralaba anime mecha Macross cetusan Kawamori Shouji. Produksinya dilakukan oleh studio Satelight, dan direncanakan akan tayang sepanjang dua cour.

Alasan kenapa aku menulis ini karena: satu, tiba-tiba aku menyadari banyaknya detil visual bermakna pada setiap frame, yang mestinya kusadari dari zaman Macross Frontier dulu; lalu dua, karena penayangan Macross Delta agak membuat orang-orang penasaran soal waralaba Macross belakangan.

Kayak beberapa penggemar lain, aku membandingkan perbedaan antara versi preview waktu itu dengan versi lengkap yang keluar kali ini. Beberapa hal yang terlintas di kepalaku saat membandingkan keduanya adalah:

  • Tokoh utama cowoknya ternyata benar adalah Hayate Immelman.
  • Freyja Wion benar-benar karakter yang ekspresif. Pemilihan Suzuki Minori sebagai seiyuu untuknya pasti lagi-lagi ketat.
  • Keterampilan pengendalian mecha Hayate yang peka terhadap irama, yang membuatnya pandai menari, sebelumnya luput dari perhatianku karena aku terlalu terfokus pada Walküre.
  • Para personil Walküre dikisahkan memiliki suara yang trans dimensional. Jangan-jangan itu syarat untuk bisa terpilih sebagai personil?
  • Aksesoris-aksesoris yang Hayate kenakan! Terutama kalung di lehernya! Gara-gara film layar lebar Macross Frontier, aku jadi terus-terusan berpikir kalau kayaknya itu bakal punya peran dalam cerita.
  • Bentuk hati yang terpasang di rambut Freyja sekilas terlihat seperti jepit rambut. Tapi ternyata bukan, itu sesuatu yang memang ‘mencuat’ dari dalam percabangan rambutnya. Mungkin itu apa yang disebut sebagai Rune olehnya, dan merupakan ciri khas orang-orang dari planet Winderemere? Berarti Winderemere benar termasuk jenis spesies manusia baru yang ditemukan manusia Bumi?
  • Aku perhatikan bahwa setiap anggota Aerial Knights dari Kingdom of Wind ternyata juga memiliki sesuatu serupa Rune di rambut mereka. Apa mungkin ada kaitan antara Winderemere dengan Kingdom of Wind?
  • Ada cinta segitiga. Pasti. Romansa kelihatannya akan terjalin antara para personil Walküre dengan pilot-pilot Delta Squadron yang melindungi mereka. Pengecualiannya mungkin pada Mirage Fallyna Jenius, satu-satunya perempuan di Delta Squadron, yang sepertinya bertugas mengawal Mikumo Guynemer.
  • Dengan demikian, kalau menilai materi-materi promo seri ini, maka cinta segitiga utamanya akan antara Hayate, Freyja, dan Mirage?
  • …Tunggu, ini aneh. Berarti nanti Mikumo dengan siapa?
  • Oiya. Masih ada para bishounen di Aerial Knights. Iya juga. Pasti ada salah satu dari mereka yang bisa jadi pasangan Mikumo. Berarti di masa mendatang kayaknya bakal ada adegan penawanan.
  • Kelihatannya, kalau sudah terbawa untuk menyanyi, Freyja benar-benar menjadi sulit mengendalikan diri.
  • Delta Suadron masih belum jelas dibekingnya sama siapa…

Selain adegan klimaks di akhir yang tak ada di preview—yang mana Hayate menjalankan aksi klasik mengambil alih sebuah pesawat Valkyrie demi menyelamatkan Freyja—ternyata ada sejumlah adegan dialog tambahan juga di tengah episode. Episode komplitnya juga memaparkan sedikit lebih banyak soal para personil Walküre lain selain Mikumo, serta interaksi antara mereka dengan Delta Squadron.

Seperti yang bisa diharapkan, untuk ukuran sebuah episode pertama, episode ini dipenuhi berbagai adegan mencolok. Terlepas dari semuanya, kurasa ini satu seri yang perkembangannya ingin kuikuti di musim ini. Kesan awalnya buatku lumayan positif.

Kalian juga tak harus mengikuti seri-seri Macross sebelumnya untuk menikmati seri ini kok. Ceritanya lumayan berdiri sendiri. Sedikit pengetahuan tentang seri-seri sebelumnya memang bisa membuatmu lebih menikmatinya sih.

Trilogi Super Dimension dan Robotech

Meski dicetuskan di zaman yang sama dengan waralaba Gundam, waralaba Macross memiliki sejarah agak rumit, sekalipun dengan jumlah keluarannya yang lebih sedikit.

(Aku bukan penggemar besar Macross, jadi yang kutulis ini baiknya nanti aku lengkapi lagi.)

Seri Macross ini, pada awalnya, menjadi yang pertama dari trilogi Super Dimension (Chou Jikuu). Trilogi ini terdiri atas tiga seri anime sains fiksi yang tidak saling berhubungan, tapi sama-sama mengusung motif soal drama kehidupan di tengah konflik melawan alien serta mecha-mecha yang bisa bertransformasi. Menariknya, hanya Macross saja di antara ketiga seri ini yang kemudian berkembang menjadi waralaba besar.

Ketiga seri TV yang menjadi bagian dari trilogi di atas antara lain:

  • The Super Dimension Fortress Macross (1982) tentang pesawat luar angkasa raksasa berteknologi asing yang jatuh ke Bumi. Tak dinyana, pengaktifan kembali kapal ini sesudah diperbaiki manusia Bumi mengundang datangnya ras alien Zentradi (dan nantinya, ras alien Meltlandi) untuk menyerang. Produksi animasinya dibuat oleh Tatsunoko Production, dan ciri khas seri ini terdapat pada bagaimana musik ternyata berperan vital dalam penyelesaian peperangan.
  • Super Dimension Century Orguss (1983) yang dibuka dengan konflik perebutan space elevator antara dua pihak superpower, yang berujung pada diledakkannya suatu senjata dahsyat jenis baru yang mempengaruhi ruang dan waktu. Ledakan tersebut di luar dugaan membawa si tokoh utama, Katsuragi Kei, ke masa depan yang hancur dua puluh tahun mendatang. Kei kini dikejar banyak pihak karena suatu alasan yang tak dipahaminya, dan Orguss adalah nama mecha yang kemudian dikemudikannya. Produksi animasinya dibuat oleh Tokyo Movie Shinsha (yang sekarang kita kenal sebagai TMS Entertainment) dan sempat disusul dengan sekuel berupa OVA. Konfliknya terdapat pada berbagai hubungan cinta yang dijalin si tokoh utama, serta tragedi bagaimana ia jadi meninggalkan kekasihnya yang sedang mengandung di masa lalu.
  • Super Dimension Cavalry Southern Cross (1984) tentang konflik di sebuah planet baru bernama Glorie yang kini ditempati manusia sesudah ekosistem Bumi hancur, tapi kemudian diperebutkan sesudah terkuak planet itu tempat asal ras alien Zor yang datang kembali setelah meninggalkannya di masa silam. Southern Cross adalah nama kesatuan tentara yang melindungi manusia di planet ini. Tokoh utamanya adalah tiga wanita muda Jeanne Fránçaix, Mary Angel, dan Lana Isavia yang masing-masing memiliki misi pribadi dalam perang tersebut. Produksi animasinya kembali dibuat oleh Tatsunoko Production. Konfliknya terutama terdapat pada bagaimana pihak Zor menggunakan tawanan manusia yang telah dicuci otak sebagai ‘inti’ pasukan mecha mereka.

Produksi ketiga seri tersebut disponsori oleh perusahaan media Big West Advertising, yang juga mensponsori seri-seri Macross modern di masa sekarang.

Pada tahun 1985, ada upaya untuk memasukkan seri Macross yang pertama ke dunia barat. Pemrakarsanya adalah perusahaan Harmony Gold USA yang bekerjasama dengan Tatsunoko Production. Namun sehubungan dengan ketentuan sindikasi seri televisi yang dihadapi di masa itu—yang hanya memungkinkan penayangan di hari-hari kerja, dan bukan mingguan, selama kurun waktu yang ditentukan (dibutuhkan total 65 episode, 13 minggu dengan lima episode per minggu)—pihak Harmony Gold memutuskan untuk ‘menggabungkan’ tiga seri TV yang tak saling berkaitan menjadi satu seri baru yang dinamai Robotech.

Karena kerjasama Harmony Gold adalah dengan Tatsunoko, maka dari trilogi Super Dimension, yang akhirnya bisa ‘diambil’ hanyalah Macross dan Southern Cross (mengambil Orguss konon perlu proses lagi lewat TMS). Maka untuk melengkapi Robotech, kemudian diambil satu seri Tatsunoko yang lain, yaitu Genesis Climber MOSPEADA, yang diproduksi tahun 1984 dan menampilkan mecha yang bisa bertransformasi (dalam hal ini, ke bentuk sepeda motor).

Cerita MOSPEADA sendiri adalah tentang perjuangan umat manusia melawan ras alien misterius Inbit dengan tema-tema tentang polusi lingkungan dan sumber daya alam. Tokoh utamanya adalah pejuang bernama Stikk Bernard yang ingin membalas dendam pada Inbit atas kematian kekasihnya.

(…Setelah kupikir, banyak juga seri buatan Tatsunoko yang di masa itu disindikasi di barat. Dua di antaranya termasuk Gatchaman dan Time Bokan. Kurasa ini berarti mereka semacam pionir?)

Dalam perkembangannya, Robotech berkembang menjadi waralaba besar tersendiri yang terkenal di Amerika. Mulanya memang hanya terbentuk dari pengeditan cerita, video, dan sulih suara besar-besaran. Intinya soal bagaimana video dari ketiga seri di atas bisa jadi cerita yang saling nyambung. Tapi yang menarik adalah bagaimana penulisan ulang yang dilakukan untuk membuat Robotech ternyata benar-benar bagus.

Sebagai efek samping dari itu, hak atas merk dagang ‘Macross’ di Amerika hingga sekarang masih dipegang oleh Harmony Gold. Karenanya, hingga saat ini kutulis, semua seri Macross baru sesudahnya (yang diproduksi oleh pihak selain Tatsunoko?) jadi tak bisa dilisensi secara resmi di Amerika.

Apa kau masih ingat cinta?

Terlepas dari perkembangannya di barat, kesan kuat yang diberikan seri Macross pertama berlanjut dengan dibuatnya film layar lebar The Super Dimension Fortress Macross: Do You Remember Love? pada tahun 1984 dan seri OVA The Super Dimension Fortress Macross: Flash Back 2012 pada tahun 1987. Produksinya sama-sama masih dilakukan lewat kerjasama Big West dan Tatsunoko Production.

Kedua proyek ini sama-sama mewujudkan sebagian visi yang belum terwujud dari Studio Nue yang sudah direncanakan, tapi pada akhirnya tak sempat dianimasikan untuk versi seri TV-nya. Ini terutama menyangkut kesudahan nasib akhir ketiga tokoh utamanya, sang pilot Ichijyou Hikaru, sang penyanyi idola Lin Minmei, serta sang wakil laksamana Hayase Misa. Proyek ini memvisualisasikan adegan konser terakhir Minmei di Bumi sebelum ia berangkat bersama Hikaru dan Misa sebagai bagian awak kapal induk baru penerus SDF-1 Macross, SDF-2 Megaroad-01, yang akan menjelajahi alam semesta.

Do You Remember Love? merupakan penceritaan ulang dari seri TV-nya, dengan cerita yang lebih dipadatkan serta penambahan animasi baru. Ada beberapa perbedaan poin cerita yang mencolok. Salah satunya ada pada lagu baru yang dibawakan Minmei, “Ai, Oboete imasuka?”, yang liriknya konon berasal dari peradaban kuno Protoculture. Karena ceritanya agak ‘berbeda’ dari versi seri TV, yang menarik adalah bagaimana film layar lebar ini juga direferensikan sebagai suatu film layar lebar bersejarah ternama di dalam dunia Macross sendiri dalam beberapa seri ke belakang.

Sedangkan Flash Back 2012 merupakan seri pendek yang menampikan rangkaian video klip lagu-lagu hit Minmei,  yang diambil dari konsernya yang terakhir di Bumi, yang di antaranya diselingi klip-klip cerita menjelang keberangkatan armada Megaroad-01 pimpinan Misa (kini bernama Ichijyou Misa) sebelum mereka dikisahkan menghilang di dekat pusat alam semesta.

Generasi Baru

Pada tahun 1991, pihak Big West ingin mengeluarkan suatu seri Macross baru untuk memperingati ulang tahun kesepuluh seri ini. Namun pihak Studio Nue tidak terlibat dalam proyek ini, karena konon sedang tidak tertarik untuk memproduksi sebuah sekuel.

Hasilnya adalah seri OVA enam episode Macross II – Lovers Again yang diproduksi lewat kerjasama studio animasi AIC dan Oniro. Ceritanya berlatar 80 tahun sesudah akhir seri pertama, dan menampilkan konflik antara pihak Bumi dengan ras alien humanoid Marduk. Kaum Marduk dikisahkan tiba di tata surya Bumi dengan pejuang-pejuang Zentradi dan Meltlandi yang diperbudak. Tokoh utama seri ini adalah seorang wartawan bernama Kanzaki Hibiki, yang menolong seorang perempuan Marduk bernama Ishtar yang ternyata merupakan salah satu Emulator, penyanyi istimewa yang membuat pasukan Marduk kebal terhadap efek nyanyian dari pasukan Bumi. Dengan bantuan seorang pilot bernama Silvie Gena, Hibiki berupaya memperkenalkan budaya Bumi pada Ishtar dengan harapan nyanyian baru Ishtar dapat membawa perdamaian antara manusia dan Marduk.

Macross II diikuti beberapa media pelengkap seperti game, manga dan novel. Namun keterlibatan kembali Studio Nue dalam produksi seri-seri Macross berikutnya membuat cerita Macross II dinyatakan non-canon.

Ini bukan seri yang pernah kuikuti. Jadi maaf karena tak bisa berkomentar.

Pada tahun 1994, seri OVA empat episode Macross Plus kemudian dirilis. Versi OVA ini lalu disusul versi layar lebarnya pada tahun 1995. Produksi animasinya dilakukan oleh Triangle Staff (studio yang tersusun atas staf dari Madhouse, tapi sekarang sudah tak aktif) dengan perilisan yang dilakukan oleh Bandai Visual. Ceritanya berlatar pada tahun 2040 di planet Eden, salah satu planet baru yang telah dikolonisasi manusia, tiga puluh tahun sesudah akhir perang di seri yang pertama. Tiga tokoh utamanya adalah dua pilot rival Isamu Alva Dyson dan Guld Goa Bowman—yang saling bersaing dalam Project Super Nova, suatu pekerjaan tender untuk menentukan teknologi pesawat tempur yang akan dipilih sebagai pesawat baru pemerintahan UN—serta kawan masa kecil mereka, Myung Fang Lone. Hubungan persahabatan ketiganya tercabik akibat suatu insiden di masa lalu. Lalu pertemuan mereka kembali menimbulkan konflik batin bagi Myung. Ini berdampak terutama pada pekerjaan Myung sebagai produser musik bagi idola virtual yang sedang hit saat itu, Sharon Apple, AI yang terwujud lewat hologram, yang lagu-lagunya merupakan ekspresi dari perasaan Myung.

Macross Plus lumayan bersejarah di dunia anime, karena menjadi seri animasi pertama yang mengkombinasi teknik animasi sel tradisional dengan teknik animasi CG dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. (Versi layar lebarnya lebih direkomendasikan.)

Aku sempat melihat sebagian Macross Plus. Nuansanya lumayan berbeda dari seri Macross yang orisinil maupun seri-seri Macross yang lebih modern. Mungkin juga karena arahannya oleh Watanabe Shinichirou yang belakangan menyutradarai Cowboy Bebop. Aku ingat aku merasakan sedikit kekecewaan karena pemaparan dunianya tidak lebih banyak.

Seri TV Macross 7 kemudian menyusul pada tahun yang sama, dengan produksi animasi oleh Ashi Productions. Berlatar 35 tahun sesudah akhir seri pertama, ceritanya berkisah tentang kapal induk Macross 7 yang memimpin armada kolonial ke-37. Di dalam Macross 7, ada band Fire Bomber pimpinan Nekki Basara, yang musiknya menjadi andalan utama dalam menghadapi ancaman ras alien Protodeviln. Protodeviln dikisahkan hendak memanen energi Spiritia yang diperoleh dari manusia. Sesudah diambil Spiritia-nya, manusia bersangkutan akan jatuh ke dalam koma. Namun nyanyian Basara mampu membangkitkan kembali energi Spiritia ini dan membangunkan kembali para korban. Dengan demikian, Basara dan kawan-kawannya terlibat dalam suatu proyek militer kontroversial untuk menggunakan kembali nyanyian sebagai senjata pertahanan. Sementara di sisi lain, kaum Protodeviln lambat laun memandang Basara sebagai sumber Spiritia tak terbatas yang selama ini mereka cari.

Macross 7 cukup dikenal di masanya, dengan seri TV yang tayang selama setahun penuh dengan diiringi film layar lebar dan serangkaian OVA. Film layar lebar pendek Macross 7: The Galaxy’s Calling Me, dan rangkaian OVA tiga episode Macross 7 Encore berlatar di tengah berlangsungnya seri TV-nya. Baru sesudahnya, seri OVA empat episode Macross Dynamite 7 (kini diproduksi Hal Film Maker) melanjutkan cerita di seri TV-nya, yang menampilkan apa yang dialami dalam pengelanaan Basara sepeninggal ia dari Macross 7. Seri ini juga mencolok karena menampilkan karakter Mylene Flare Jenius, putri ketujuh dari pasangan manusia-Meltlandi pertama, Maximilian Jenius dan Milia Fallyna Jenius, yang merupakan pasangan pilot as dari seri Macross pertama.

Aku sama sekali tak mengikuti Macross 7. Tapi aku banyak mendengar bahwa lagu-lagunya bagus dan enak didengar, sekalipun alur ceritanya terasa lamban dan ke mana-mana.

Pada tahun 2002, Macross Zero menjadi seri OVA lima episode yang memperingati ulang tahun kedua puluh seri ini dengan produksi dilakukan studio Satelight. Ceritanya berlatar setahun sebelum seri Macross yang paling pertama, pada tahun 2008, saat perang dengan gentingnya berlangsung antara tentara UN Spacy melawan tentara anti-UN, sembilan tahun sesudah jatuhnya suatu pesawat ruang angkasa asing ke Bumi. Di lautan Pasifik selatan, seorang pilot UN bernama Kudou Shin ditembak jatuh oleh pesawat yang bisa berubah wujud. Ia kemudian mendarat darurat di suatu pulau Mayan terpencil, di mana para penduduknya hidup damai dengan menyembunyikan rahasia besar terkait peradaban makhluk asing. Shin terlibat hubungan dengan kakak beradik Sara Nome dan Mao Nome, dan mengalami konflik soal bagaimana ia mencegah pulau tersebut terseret dalam perang. Seri ini mencolok karena memberikan latar belakang lebih terhadap situasi politik di seri TV pertama, khususnya tentang masa lalu Roy Fokker, pilot as yang menjadi mentor Hikaru, yang dalam seri TV kemudian mewariskan posisi pimpinan Skull Squadron padanya.

Aku sama sekali tak mengikuti Macross Zero. Tapi sekali lagi, aku pernah mendengar komentar yang menyebut kalau ceritanya ditutup dengan agak aneh.

Lima tahun berikutnya di tahun 2007, Satelight kembali memproduksi seri Macross baru, yakni Macross Frontier untuk memperingati ulang tahun seri ini yang kedua puluh lima. Ceritanya memaparkan hubungan cinta segitiga antara remaja pilot Alto Saotome, dengan dua penyanyi: Sheryl Nome yang telah tenar dan populer, yang tengah berkunjung dari armada Macross Galaxy; dan Ranka Lee, gadis muda yang kepopulerannya sebagai penyanyi baru naik daun; di tengah ancaman makhluk asing buas Vajra yang dapat muncul sewaktu-waktu. Seri TV-nya dilanjutkan oleh dua film layar lebar yang menjadi cerita alternatif dari seri TV-nya, yaitu Macross Frontier the Movie: The False Songstress pada tahun 2009 dan Macross Frontier the Movie: The Wings of Goodbye pada tahun 2011.

Meski sempat membuatku aneh di beberapa bagian, perlu kuakui kalau Macross Frontier termasuk seri yang bisa kusukai. Kurasa seri Macross untuk pangsa pasar modern dimulai dari seri ini. Ceritanya tak seimbang di banyak bagian, tapi bisa dibilang diakhiri dengan memuaskan.

Mengiringi kepopuleran Macross Frontier, pada tahun 2012 hadir tayangan layar lebar Macross FB 7: Listen to My Song keluaran Satelight yang menampilkan ‘dokumentasi’ cerita Macross 7, yang disaksikan oleh para karakter Macross Frontier (serupa juga dengan bagaimana cerita Macross Zero sempat dijadikan film layar lebar lagi di dalam dunia Macross Frontier). Tayangan ini menitikberatkan faktor nostalgia yang dimiliki sebagian karakternya, serta diiringi beberapa lagu baru dari band Fire Bomber.

…Tayangan layar lebar ini lebih khusus diperuntukkan oleh para penyuka lagu-lagunya. Ehem. Kalau kalian ngerti maksudku.

Ada sejumlah media lain berupa komik dan game yang dapat bersifat sebagai cerita pelengkap maupun cerita yang berdiri sendiri. Tapi cakupannya terlalu banyak untuk bisa kubahas sekarang.

Yah, mungkin nanti kita lihat lagi perkembangannya sesudah Macross Delta tuntas.

06/02/2016

Aquarion Logos

Aquarion Logos keluar pada paruh akhir tahun 2015. Jumlah episodenya sebanyak 26. Seri ini adalah seri TV ketiga dari seri robot raksasa Aquarion, yang didahului oleh Genesis of Aquarion dan Aquarion Evol. Tapi agak berbeda dari dua pendahulunya, seri kali ini diproduksi Satelight bersama C2C, mungkin untuk mengefektifkan proses produksi sekaligus menekan biaya. Penyutradaraannya dilakukan oleh Sato Hidekazu, dengan naskah yang dibuat oleh Kumagai Jun.

Agak berbeda lagi dari pendahulunya, ceritanya tak langsung ‘nyambung’ seperti halnya Genesis of Aquarion dengan Aquarion Evol. Kesan pertama saja, dari sisi visual, seri ini tak ‘semencolok’ dua pendahulunya (robot Aquarion, yang sebelumnya dibentuk dari tiga pesawat, kali ini normalnya dibentuk dari dua misalnya, walau dalam perkembangan cerita, bisa lebih). Selain itu, ceritanya juga berlatar di dunia kontemporer (bukan di masa depan atau dunia lain), khususnya di seputaran Asagaya, yang terletak di area Suginami, Tokyo. Elemen-elemen fantastis seperti yang ada di pendahulunya juga agak di-tone down. Jadi meski sejumlah elemen khasnya tetap ada, mungkin Aquarion Logos bisa dibilang semacam spin off ketimbang sekuel?

Entah ya. Aku selalu agak terdiam setiap mengingat soal Aquarion.

Aku selalu agak… merasa ada butir keringat menetes dulu.

Soalnya, seri Aquarion dari dulu memang punya nuansa agak-agak aneh. Aku sering ragu seserius apa kita perlu menyikapinya. Tapi Aquarion Logos berhasil melampaui semua batasan aneh itu, baik dalam arti baik ataupun buruk. Sehingga terlepas dari semua keterbatasannya, ceritanya buatku terasa segar dan unik.

Oke, aku juga enggak gitu ngerti ngejelasinnya gimana.

…Intinya, mungkin karena saking anehnya, kayaknya cuma segelintir orang yang mengikuti perkembangan seri ini di tahun 2015.

Destiny on the Asagaya

Aquarion Logos berfokus pada sekelompok remaja yang memiliki kekuatan Verbalism (sousei-ryoku, semacam kekuatan suara atas penciptaan, dengan ‘sousei’ ditulisnya berbeda dari ‘sousei’ yang ada di Sousei no Aquarion). Mereka tergabung dalam suatu organisasi bernama DEAVA (Division of Earth Verbalism Ability; buat yang penasaran, kepanjangannya juga berbeda dari DEAVA di seri-seri sebelumnya), yang menampung mereka untuk menggunakan mesin-mesin Vector yang serupa pesawat, untuk melindungi peradaban dari ancaman makhluk-makhluk MJBK.

MJBK (baca: mojibake, bahasa Jepang untuk ‘monster huruf/aksara’, walau singkatannya yang kreatif itu punya kepanjangan bahasa Inggris: Menace of Japanese with Biological Kinetic energy, ‘ancaman bahasa Jepang dengan energi kinetik biologis’, oke, jangan ketawa dulu!) merupakan makhluk-makhluk yang tercipta dari pengkorupsian konsep aksara di suatu dimensi lain bernama Logos World. (Kalau kalian enggak langsung ngerti ini maksudnya apa, tenang aja.)

Jadi, kalau misalnya ada yang mengkorupsi konsep ‘amarah’, maka perwujudan konsep ini, yakni huruf kanjinya di Logos World, akan berubah menjadi monster MJBK dan mengancam konsep-konsep lain yang ada di sana. Sementara di dunia nyata, suatu kekacauan bisa akan terjadi akibat korupnya konsep ‘amarah’ ini. Mungkin terjadi kerusuhan atau apa. Pokoknya, ini akhirnya berujung pada hilangnya konsep ‘amarah’, orang bakal lupa amarah itu apa, dan, yah, hal-hal gila akan terjadi.

(Sekali lagi, kalau kalian masih enggak ngerti dengan penjelasan ini, telen aja dulu. Di awal, aku juga kayaknya cuma samar-samar paham soal ini.)

Aquarion Logos berfokus pada Kaibuki Akira dan kawan-kawan barunya yang tergabung dalam Klub Sousei. Klub Sousei adalah suatu perkumpulan orang-orang muda yang sebenarnya dibeking DEAVA. Mereka bermarkas di suatu kafe bernama Shirobaco, yang sebenarnya juga menjadi markas DEAVA. Seorang wanita muda yang cantik (namun entah kenapa juga lajang) bernama Souda Sakurako (yang enggan mengakui berapa usianya yang sebenarnya) berperan ganda sebagai manajer kafe Shirobaco sekaligus komandan operasi-operasi DEAVA. (Dirinya akan bersikap dan berdandan cute dan kekanakan sebagai manajer, dan berperan serius dan profesional sebagai komandan.)

Yang khas dari Shirobaco (selain menu makanannya) ada pada bagaimana kafe ini juga menjadi wadah pengembangan kekuatan Verbalism para anggota Klub Sousei. Karenanya, kafe ini memiliki atraksi khas reading theatre, di mana para anggota Klub Sousei akan tampil di atas panggung dan menampilkan suatu ‘pentas membaca.’ Pentas membaca inilah yang menjadi ajang untuk melatih ‘kekuatan suara’ mereka.

Jadi, buat kalian yang belum kebayang, intinya reading theatre itu semacam pentas drama yang hanya mengandalkan bacaan dan suara gitu. Ibarat drama radio, drama CD, atau pentas teater tanpa gerakan. Para pemainnya akan naik ke atas panggung dengan membawa naskah masing-masing. Ada lampu sorot, musik latar, dan efek-efek suara. Tapi yang para pemain lakukan itu pada dasarnya cuma membaca, dengan penuh penghayatan dan emosi. Belakangan jarang kelihatan sih, tapi ini sebenarnya menarik. Yaps, daya tariknya sangat dipengaruhi oleh kualitas dan intonasi vokal para pemainnya, dan ini yang dimaksud sebagai ajang latihan ‘kekuatan suara.’

Lalu soal ‘kekuatan suara’ ini, yaitu kemampuan menyampaikan apa yang perlu/ingin kita sampaikan kepada orang lain, menjadi semacam tema berulang di seri ini.

Aquarion Logos dibuka dengan awal bergabungnya Akira—seorang remaja aneh dengan kepercayaan diri teramat besar, serta bakat Verbalism yang tak diragukan—ke dalam Klub Sousei. Akira berhasil mengetahui latar belakang oranisasi DEAVA yang Shirobaco sembunyikan. Lalu di sana ia juga mengetahui perang rahasia melawan MJBK yang DEAVA lakukan di Logos World dengan menggunakan mesin-mesin Vector untuk membentuk robot Aquarion.

Ini kemudian berujung pada pertemuan mereka dengan Tsukigane Maia, heroine seri ini, serta perusahaan NESTA yang menjadi lawan utama mereka.

Teater Membaca

Sekali lagi: Aquarion Logos itu seri yang aneh. Bukan cuma karena cerita yang dibawakan, tapi juga pada bagaimana ceritanya dipaparkan.

Pada beberapa episode pertama, kita hanya ditampilkan itu begini, ini begitu. Ada karakter-karakter ini. Tapi kita enggak benar-benar dibeberkan mereka itu siapa. Lalu pas episode 6, seakan para pembuatnya merasakan kebingungan kita, baru kita diberi pemaparan blak-blakan soal seri ini tentang apa.

Ringkasnya, NESTA Communications adalah perusahaan raksasa di bidang teknologi telekomunikasi. Perusahaan tersebut disebut membawa revolusi pada penggunaan Internet dan media sosial di Jepang. Sebagian faktor yang mendukung kesuksesan ini adalah berkat pemimpinnya, pria paruh baya dingin bernama Kenzaki Sougon.

Namun tak diketahui banyak orang, di masa lalu, Sougon juga melakukan sejumlah penelitian arkeologi terhadap situs-situs bersejarah di dunia. Dari sana, ia berhasil mengungkap sejarah terpendam tentang awal mula peradaban ‘tulisan,’ yang tertuang dalam suatu kitab ajaib yang disebut sebagai Book of Verbalism.

Terungkap bahwa pada zaman dahulu kala, di masa prasejarah, umat manusia memiliki akses langsung ke alam lain yang disebut ‘Dunia Kebenaran’ melalui kekuatan Verbalism. Disebutkan bahwa suara manusialah yang ‘mendefinisikan’ segala sesuatu. Hanya dengan kata-kata, pada masa ini, suatu konsep akan bisa langsung terwujud, dan dengan ini pula segala bentuk kebutuhan mereka bisa terpenuhi (dengan ucapan ‘hujan’ saja maka hujan akan turun, misalnya).

Namun pada suatu titik, peradaban ini ingin agar tak dilupakan oleh penerus mereka. Terlahirlah tulisan.

Namun tulisan berdampak pada hubungan antara manusia dengan ‘Dunia Kebenaran.’ Kekuatan Verbalism memudar. Akibatnya, timbul perang antara ‘Suku Tulisan’ yang mendukung penggunaan tulisan, melawan ‘Suku Kebenaran’ yang berusaha menjaga kemurnian hubungan manusia dengan ‘Dunia Kebenaran.’ Perang ini berakhir dengan kemenangan Suku Tulisan dan berkembangnya peradaban seperti yang kita kenal sekarang.

(Uh, aku juga awalnya enggak ngerti. Tapi kalau mengikuti perkembangan ceritanya sendiri, it kinda makes sense.)

Karena suatu alasan tertentu, Sougon kini memandang bahwa ‘tulisan’ lambat laun akan mendatangkan kehancuran umat manusia. Lalu dengan teknologi yang digali dari masa perang tersebut—yang di dalamnya termasuk mesin-mesin Vector yang membentuk Aquarion—Sougon menciptakan berbagai MJBK dengan maksud untuk memusnahkan kebudayaan ‘tulisan.’

Pada masa ini, Sakurako bekerja di NESTA sebagai asisten langsung Sougon. Namun sesudah mengetahui niat Sougon yang sesungguhnya, Sakurako membangkang dari NESTA dan melarikan sebagian mesin-mesin Vector tersebut.

Dengan dukungan pemerintah, Sakurako berhasil memprakarsai pembentukan DEAVA yang mengumpulkan orang-orang dengan bakat Verbalism kuat. Namun, dengan Book of Verbalism, Sougon telah memiliki kekuatan dahsyat yang membuatnya tak dapat disentuh.

Untungnya, ada artefak prasasti batu besar berkekuatan serupa yang melindungi DEAVA dari pengaruh langsung Book of Verbalism yang dimiliki Sougon. Namun tanpa dapat mengkonfrontasi langsung, pada waktu Akira dan Maia bergabung, ada semacam perang dingin yang berlangsung antara dua pihak ini.

Namun ada lebih banyak dari sejarah ini dari yang tampak di permukaan.

“Pelan-pelan, pelan-pelan…”

Seperti seri-seri pendahulunya, Aquarion Logos lebih menitikberatkan pada karakter-karakternya daripada mechanya.

Kaibuki Akira, yang menjadi tokoh utama, adalah seorang remaja aneh yang tiba-tiba muncul di Shirobaco karena meyakini dirinya seorang ‘penyelamat.’ Akira memandang kalau sudah menjadi takdirnya untuk menolong dan menyelamatkan orang-orang yang kesusahan. Daripada sok atau sombong, keyakinan bahwa dirinya seorang ‘penyelamat’ adalah fakta mutlak bagi Akira yang kadang membuatnya jadi orang yang benar-benar aneh, meski sama sekali tak jelas dari mana pemikiran ini bisa berasal.

Tsukigane Maia, di sisi lain, adalah gadis misterius yang ditemukan dalam aksi pertama Klub Sousei dalam memakai Aquarion. Awalnya, Maia berasal NESTA dan sangat setia pada Sougon. Namun ia kemudian ditugaskan untuk menyusup masuk ke DEAVA dan mulai berubah cara pandangnya. Belakangan mulai terlihat bahwa ada sesuatu yang janggal juga tentang Maia, dengan bagaimana norma-norma sosial yang umum kerap tak diketahuinya…

Sedangkan para anggota DEAVA lain yang menjadi pilot Vector meliputi:

  • Kikogami Kokone, seorang gadis sangat pemalu, namun lembut dan baik hati, yang punya rasa gugup sangat akut karena suatu kejadian di masa lalu.
  • Kujyo Hayato, mahasiswa tampan yang juga terlibat di dunia partai politik seperti ayahnya. Ia piawai dalam menangani pekerjaan, namun kaku dan kurang luwes dalam menghadapi orang.
  • Domon Tsutomu, seorang remaja yang ingin bisa lepas dari tradisi keluarganya yang menjadi seniman rakugo, yang bermaksud untuk mengeksplorasi media-media komedi yang lain, dan karena kekonyolannya, sering dipandang sebelah mata.
  • Uminagi Karan, seorang anak perempuan yang menggeluti karir sebagai bintang idola anak-anak dengan ibunya sebagai manajer, meski cita-citanya yang sebenarnya adalah sesuatu yang lain.

Selain mereka, membantu Sakurako, juga ada Iwagami Shouko yang ceria sebagai operator utama di markas, dan Yoshida Kento, yang terlepas dari tampilan ramahnya sebagai koki, juga memiliki peran dari pemerintah untuk mengawasi Sakurako.

Aquarion Logos menampilkan motif-motif huruf kanji yang membuat ceritanya terasa sangat ‘Jepang.’ Tapi yang mengejutkan, meski ada banyak juga episodenya yang konyol, ceritanya juga menyinggung hal-hal dalam seperti hubungan seorang anak dengan ibunya, keinginan untuk menjadi pribadi lebih baik, apa yang membangun identitas seseorang, sampai isu-isu politik dan sosial dalam masyarakat.

Dengan kata lain, meski tak punya karakter mentor seperti Gen Fudou di dalamnya (atau Fudou Zen, variasi anehnya di Aquarion Evol), Aquarion Logos benar-benar menampilkan ciri khas seri Aquarion dengan mengangkat tema-tema macam begini.

Hei, aku juga aneh dengan gimana sebagian temanya bersinggungan dengan yang diangkat dalam Gatchaman Crowds!

Hal mengesankan lainnya adalah bagaimana di awal, sebagian karakterisasinya terasa menyebalkan. Kenapa Kokone enggak bisa langsung to the point? Kenapa Domon selalu bertingkah? Kenapa Akira dan Maia enggak punya common sense? Tapi belakangan aku sadar kalau dimaksudkannya memang demikian, dan semuanya terjelaskan dan mulai terlihat maksudnya saat ceritanya menjelang akhir. Jadi kayak, lambat laun kita mulai bisa menerima kekurangan mereka gitu. Aku bahkan mulai sampai menyukai mereka.

Lalu aku tersadar. Terlepas dari berbagai kekurangan teknisnya, karakterisasi beragam Aquarion Logos merupakan sisi bagus seri ini. Kayak, selalu ada perkembangan baru di tiap episode gitu. Sekali lagi, sebagian besar pertanyaan yang kita punya beneran mulai terjawab menjelang akhir seri.

Selain monster-monster huruf, konflik utama Aquarion Logos juga meliputi bagaimana Kenzaki Subete, putra Sougon sekaligus mantan partner Maia, terobsesi dengan Maia dan tak bisa menerima bagaimana Maia seakan menolak dirinya. Mulai dari mempermasalahkan soal gattai (yeah, ini seri Aquarion…) sampai soal masa kecil yang mereka lalui berdua, Subete ditampilkan sebagai pemuda tampan dan cerdas, namun belum matang secara emosional. Meski memiliki kekuatan Verbalism yang kuat, Subete merana karena merasa tak diakui oleh ayahnya. Lalu penderitaannya juga bertambah saat Maia seolah meninggalkan NESTA dan lebih memilih Akira ketimbang dirinya.

Karakter Subete berkembang lumayan drastis di pertengahan seri saat ia menggantikan peran Sougon sebagai antagonis. Terutama dengan pembeberan Nesta, sosok perempuan yang ternyata telah menghantui Sougon dan kemudian Subete semenjak penemuan Logos World.

Sakebe!

Bicara soal teknis, Aquarion Logos terkesan dibuat dengan budget ketat. Aku sempat ragu soal ini, tapi visualnya benar tak semengesankan seri-seri sebelumnya. Desain mekaniknya—yang mencakup desain tiap robot Aquarion dan pesawat-pesawar Vector—juga tak semendetil pengharapanku (kalau soal anehnya sih, sudah tidak perlu disinggung). Lalu tiap MJBK, mungkin karena didasarkan pada bentuk huruf-huruf kanji, memiliki kesan abstrak yang… uh, intinya, aneh. Terutama dengan bagaimana ini kontras dengan penggambaran dimensi Logos World sebagai latar.

Jadi kalau melibatkan Logos World, kayak ada… penekanan berlebih terhadap penggunaan CG. Baik terhadap penggambaran dunianya maupun mecha-mecha yang memasukinya. Hasilnya menurutku tak jelek sih. Malah bisa kubilang rapi. Tapi tetap jadinya aneh dan agak tak sesuai yang semula kubayang.

Lalu soal pemaparan adegan-adegan aksinya. Mungkin ini karena porsi yang lebih diberikan ke dramanya, tapi aksinya kadang terasa seolah berakhir tiba-tiba. Sesudah ada penyesuaian kanji yang tepat(?) oleh Akira dan kawan-kawannya, tiba-tiba saja MJBK akan meledak dan kalah tanpa build up lebih banyak. Kesannya kadang random.

Tapi the thing is, lambat laun kau terbiasa dengan ini. Agak … susah jelasinnya. Maksudku, kalau kau bertahan, kau bakal menyadari kalau Aquarion Logos sebenarnya seri yang lumayan.

Aspek-aspek audionya juga beneran mendukung. Akino dan grupnya mungkin tak terlibat(?) dalam lagu-lagunya kali ini. Tapi musik yang ditangani oleh R.O.N masih menjadi salah satu aspek terkuat Aquarion Logos. Masing-masing seiyuu memberikan suara mereka secara pas. Lalu baru pada dua lagu pembuka yang dibawakan May’n, aku tiba-tiba tersadar sudah sebanyak apa anisong yang beliau bawakan. Jadi kayak, ‘Wow, dia udah jadi penyanyi dengan pengaruh segede ini!’

Sedikit bicara soal mecha, berhubung Aquarion dapat terbentuk oleh kombinasi hanya dua pesawat Vector, variasi robot Aquarion semakin banyak. Kayaknya mending enggak kusebutkan satu-satu agar tak terlalu spoiler. Tapi biar kusebut bahwa kombinasi utama yang banyak dipakai (yang punya kemampuan Mugen Ken) dinamai Aquarion San. (Dengan ‘san’ di sini bisa dianggap pelesatan ‘sun’ yang merupakan makna lain dari ‘matahari’, sesuai nama mecha utama Solar Aquarion di seri aslinya.)

Sumpah di Bawah Cahaya Bulan

Seri ini paling terasa seperti seri Aquarion terutama menjelang episode terakhirnya, dengan klimaks yang memuncak dengan duel penentuan antara Aquarion Logos yang digunakan Subete melawan Aquarion Deava—gabungan dari semua Vector yang dimiliki DEAVA—yang digunakan Akira. Kebenaran tentang asal mula Logos World terungkap. Bahaya pengkorupsian aksara kini semakin nyata, dengan pertarungan melawan musuh yang terbawa sampai ke dunia nyata.

Hasil akhirnya benar-benar lebih menarik dari yang duga.

…Oke, walau, uh, bentuk akhir kedua mechanya lumayan aneh sih.

Uniknya, Aquarion Logos yang darinya judul seri ini diambil ternyata adalah mecha yang digunakan oleh si tokoh antagonis. Aquarion Logos terungkap sebagai senjata final yang Nesta hadirkan bersama kekasihnya, Kiryu, demi menghentikan perang antara Suku Kebenaran dan Suku Tulisan yang terjadi 12.000 tahun silam.

Seperti Apollo dan Celiane dari Genesis of Aquarion, Nesta dan Kiryu juga menjadi sepasang kekasih yang masing-masing berasal dari pihak berseberangan. Namun jalinan cinta mereka juga berakhir dengan tragedi, yang kemudian berdampak pada apa yang terjadi di masa depan.

Akira pun berhasil mengimbangi Subete dan Aquarion Logos semata berkat keberadaan Vector-Ga, peninggalan Suku Tulisan yang memiliki kemampuan untuk menghapuskan segala konsep, dengan ancaman akan terhapusnya keberadaannya sendiri. Lalu duel di akhirnya itu… uh, intinya aku terkejut saat sadar seri ini ada 26 episode.

Akhir kata, terlepas dari semua kekurangannya, Aquarion Logos kurasa bisa dibilang semacam eksperimentasi yang akhirnya berhasil. Musiknya keren. Komedinya kadang benar-benar membuatku tertawa. Perkembangannya mengangkat alis, tapi mengesankan. Lalu seri ini berhasil membuatku mikir dengan cara-cara yang enggak aku duga; terutama dengan perkembangan karakter Subete, hubungan segitiganya dengan Maia dan Akira, serta hubungannya dengan ilmuwan Hayashi Shintaro yang adalah semacam pamannya.

…Masuk akal bila ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai anime favorit mereka di tahun lalu. Terutama saat menjelang akhir.

Yeah, kedengarannya aneh. Tapi kayaknya itu nyata.

… …

Man, aku masih juga lajang.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: C+; Audio: A; Perkembangan: A-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

Episode Spesial Aquarion Love

Oya, aku hampir lupa soal ini. Penayangan Aquarion Logos didahului dengan penayangan episode spesial Aquarion Love, yang pada dasarnya mempertemukan karakter-karakter dari Genesis of Aquarion dengan karakter-karakter dari Aquarion Evol.

Ceritanya berlatar di masa lalu, di sekitar tahun 1960an(?) dan memberikan semacam closure terhadap hubungan cinta antara Yunoha dan Jin di Aquarion Evol. Ceritanya mengindikasikan kalau mereka masih akan mungkin bertemu kembali… mungkin setelah 12.000 tahun kembali berlalu.

Aku agak ugh dengan episode ini, berhubung aku bukan fans Aquarion Evol. Tapi cerita ini memiliki premis yang menarik sekaligus penutup yang pas.

Yah, mungkin ada sebagian di antara kalian yang suka.

26/03/2014

Log Horizon

Musim tayang pertama Log Horizon, yang diadaptasi dari seri novel karya Touno Mamare, dengan ilustrasi oleh Hara Kazuhiro, belum lama ini berakhir dengan total episode sebanyak 25. Ditayangkan pertama kali mulai Oktober 2013 sampai Maret 2014, mesti kuakui kalau secara enggak terduga seri ini menjadi salah satu anime yang paling kuikuti perkembangannya pada musim yang bersangkutan.

Pengarang Touno-sensei sebelumnya dikenal melalui seri kajian-ekonomi-dan-kritik-sosial-yang-entah-gimana-jadi-romantis, Maoyuu Maou Yuusha, yang sebelumnya juga telah dianimasikan. Lalu serupa dengan kasus pendahulunya, seri ini pertama muncul melalui situs online Shousetsuka ni Narou di tahun 2010, sebelum mulai diterbitkan secara cetak oleh Enterbrain pada tahun 2011.

Adaptasi animasinya sendiri dibuat oleh studio Satelight dengan Ishihara Shinji sebagai sutradara, Nemoto Toshizo sebagai penulis naskah, serta musik oleh Takanashi Yasuharu, dan pertama mengudara melalui saluran edukasi NHK-E.

Kenyataan Saat Ini

Log Horizon berlatar di sebuah dunia yang ‘serupa’ dengan dunia MMORPG Elder Tale.

Elder Tale ceritanya adalah game online yang telah sukses secara internasional dengan pemain yang jumlahnya mencapai jutaan. Namun pada perilisan ekspansinya yang kedua belas, Novasphere no Kaikon (‘para pionir Novasphere’), para pemainnya yang sedang login pada saat update itu berlangsung tahu-tahu mendapati diri mereka terbangun di sebuah dunia lain yang teramat mirip dengan Elder Tale yang mereka kenal.

Agak berbeda dengan kasus Sword Art Online, yang secara jelas mengangkat tema-tema teknologi dan virtual reality, fenomena ‘pindah dunia’ di Log Horizon—seengaknya, sejauh animenya berjalan—murni merupakan sesuatu yang ‘ajaib.’ Dalam artian, tak terpahami atau terjelaskan menggunakan logika normal.

Fenomena pindah dunia tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Apocalypse. Lalu cerita Log Horizon sendiri mengikuti petualangan dan perkembangan karakter sang Enchanter, Shiroe, seorang lelaki berkacamata kurus di awal usia dua puluhan yang agak canggung berada di antara orang lain, beserta kawan-kawannya, dalam menjelajahi dunia tak asing namun sepenuhnya berbeda ini.

The Half Gaia Project

Elder Tale dikisahkan sebagai MMORPG yang telah ada cukup lama, dengan cukup banyak pemain yang telah mencapai level cap di Lvl 90. Ini berarti sebagian besar pemain telah memahami mekanisme permainannya, serta telah menjelajahi sebagian besar cakupan dunianya.

Apa yang membedakan Elder Tale dari permainan sejenisnya adalah bagaimana pemetaan game tersebut dibuat berdasarkan pemetaan dunia nyata, melalui sebuah proyek yang disebut Half Gaia. Ini berarti tempat-tempat yang ditampilkan di Elder Tale pada dasarnya merupakan tempat-tempat yang didasarkan pada dunia nyata, dengan skala yang dibuat setengah dari skala aslinya. Sebagai contoh, di Elder Tale, ada kota Akibahara yang menjadi titik awal dari perjalanan Shiroe dan teman-temannya, dan jaraknya ke Susukino di Elder Tale adalah setengah jarak Akibahara ke Susukino dalam dunia nyata. Di saat yang sama, ini juga berarti para pemain Elder Tale di negara yang berbeda juga akan menjelajahi ‘dunia’ yang berbeda (beda server?), tapi dengan sistem permainan yang kurang lebih sama.

Serupa dengan Lineage II, Elder Tale diceritakan menganut sistem class dan subclass. Class Shiroe, misalnya, adalah seorang Enchanter—semacam penyihir yang skillset-nya kebanyakan berisi mantera-mantera buff/debuff dan status effect, di mana kerusakan yang ia berikan kepada lawan terjadi secara tak langsung. Sedangkan subclass-nya, yang lebih banyak berhubungan dengan ‘keprofesian’ dan item creation, adalah Scribe, yang berkemampuan dalam pembuatan kontrak dan dokumen.

Kedalaman sistem permainan di Elder Tale ini juga akan dijabarkan seiring perkembangan cerita. Sebab Shiroe pun mendapati betapa cara melakukan ‘segala sesuatunya’ telah ‘berubah’ semenjak Apocalypse terjadi. Para NPC yang dikenal sebagai People of the Land (daichi-jin, ‘orang-orang daratan’) kini benar-benar adalah manusia hidup yang memiliki rutinitas, kehidupan, tak memiliki pengetahuan apa-apa tentang dunia nyata, dan tak sekedar hanya mengulang-ulang kalimat bila diajak berbicara. Para pemain yang dikenal sebagai Adventurers (bouken-sha, petualang) memiliki kemampuan dan kekuatan yang jauh melebihi People of the Land, dikenal ‘berumur panjang,’ masih bisa membuka layar menu, dan setiap kali mati di field, akan mendapati diri mereka dihidupkan kembali di Cathedral dengan sedikit penalti Exp. Tapi sedikit demi sedikit mereka mulai kehilangan tujuan hidup, dan mulai semakin ragu pula apakah dunia tempat mereka berada sungguh-sungguh masih adalah sebuah permainan.

Dunianya sendiri adalah dunia yang peradaban modernnya telah menjadi puing-puing dan mulai dicakupi berbagai pedesaan dan negara kerajaan yang dijalankan oleh People of the Land. Ada monster-monster, ada event-event. Tapi walaupun telah mengenali semua ini sebelumnya, sudut pandang ‘nyata’ yang kali ini mereka hadapi membuat semuanya terasa berbeda. Ada rasa sakit yang melanda setiap kali mereka terluka. Ada ketakutan nyata yang mereka hadapi kalau melawan musuh. Lalu mereka mesti memikirkan kembali cara bertarung karena tak melulu bisa bebas membuka-buka menu cuma buat melepaskan skill.

Kalian yang memperhatikan mungkin dengan cepat bakal nyadar, kalau apa yang menjadi fokus cerita di Log Horizon (sekali lagi, beda dari di SAO), bukanlah soal menuntaskan permainan. Melainkan soal bagaimana mengatasi keadaan dan permasalahan serta mencoba ‘hidup.’ Shiroe dan kawan-kawannya secara teknis tak perlu lagi takut pada monster berhubung mereka sudah Lv 90. Tapi itu tak berarti semua masalah dengan begitu saja akan bisa mereka atasi.

Tempat Buat Semua Orang

Enggak kayak biasanya, aku masih belum membaca terjemahan novel aslinya (seperti biasa, terjemahan bahasa Inggris sudah bisa ditemukan di Baka-Tsuki). Tapi sesudah kuperiksa, adaptasi anime Log Horizon ini merangkum cerita dari buku pertama novelnya sampai buku kelima.

Shiroe, di awal cerita ditemani dua kawan lamanya, sang Guardian, Naotsugu (seorang pria berbadan besar yang suka makan, ceria, dan punya kecendrungan buat mengatakan hal-hal yang agak nakal), dan sang Assassin, Akatsuki (seorang gadis manis berbadan kecil yang sangat mendalami roleplay-nya sebagai ninja; Shiroe yang ia anggap sebagai tuannya, btw). Lalu mereka bertiga membentuk party bersama untuk mencari petunjuk tentang apa sebenarnya yang menyebabkan Apocalypse terjadi.

Seiring perkembangan cerita, Shiroe dengan kecerdasannya tampil sebagai orang yang memiliki peran semakin vital dalam menentukan nasib para Adventurer di Akibahara. Dirinya ternyata adalah ahli siasat yang dulu tergabung dalam kelompok legendaris Debauchery Tea Party yang pernah menyelesaikan banyak pencapaian sulit di Elder Tale, dan karenanya dikenal oleh berbagai pemain elit. Lalu, menyadari sudah waktunya ia melakukan apa yang ia bisa untuk orang lain saat mendapati adanya pemain-pemain lemah yang ditindas oleh pemain-pemain kuat, ia membulatkan tekad untuk membentuk guild-nya sendiri, Log Horizon, yang beranggotakan awal teman-teman dekatnya, sesudah sekian lama menolak undangan untuk bergabung dalam guild lain.

Sebenarnya, perkembangan ceritanya agak lebih rumit dari itu sih. Aku sendiri enggak begitu yakin soal bagaimana cara terbaik buat mengungkapkannya. Berhubung sisi menarik ceritanya lebih pada world-building-nya, aku enggak pengen menyinggung hal-hal yang bisa menjadi spoiler.

Shiroe di awal cerita, dimintai tolong oleh Marie, kawan lamanya yang mengepalai guild Mikazuki no Doumei (Crescent Moon Aliiance, aliansi bulan sabit) untuk menolong salah satu anggota mereka, Serara, yang terperangkap di Susukino saat Apocalpyse terjadi (berhubung gerbang teleportasi antar kota besar kini padam). Apa yang menjadi misi penyelamatan sederhana ini menjadi awal perkenalan kita atas dunia Elder Tale yang telah berubah ini. Lalu mulai dari sana, ada banyak hal lain tentang dunianya yang kemudian diungkap.

Begitu balik ke Akibahara, ada masalah-masalah sosial yang mereka coba selesaikan. Sesudah itu, datang utusan dari negeri lain yang mengakui kedaulatan pemerintahan(?) para Adventurer. Lalu klimaks anime ini memuncak dengan terjadinya event Kembalinya Sang Raja Goblin yang normalnya takkan terjadi karena alasan-alasan teknis permainan dalam kondisi normal. Masalah-masalah politik, persahabatan, dan sedikit tentang cinta juga mewarnai seri ini.

Apa yang pasti, bagi mereka yang bisa merhatiin, Log Horizon adalah sebuah seri yang bisa bikin kau bener-bener mikir.

Oke, hampir semua anime yang tayang di NHK-E akan bikin kau mikir. Tapi Log Horizon bikin kita mikir lebih dari biasa berhubung subyek materinya adalah sesuatu yang mungkin kau kira sudah kenal.

Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kau ambil dari seri ini. Memang terkadang seri ini kayak mengambil arah yang enggak bisa kau tebak, atau mungkin membuatmu agak tak nyaman. Atau malah agak bikin bosan karena bahasan sistem permainannya yang pasti sudah tak asing bagi para penggemar MMORPG.

Tapi kalau kau jeli, kau akan sadar dengan betapa banyaknya hal yang bisa kau ambil.

Kenapa ini terjadi? Apa maksud orang ini? Apa yang bisa dilakukan untuk memutar keadaan? Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu berulang dalam kepala selama aku menonton episode-episodenya.

Lalu karakter Shiroe pada saat ia menyelesaikan masalah itu keren. Benar-benar keren.

Dia-lah alasan utama banyak orang yang semula malas-malasan akhirnya menempel dan mengikuti perkembangan seri ini. Sebab, ada benar-benar banyak hal tentang dunianya yang dia eksplorasi dan kembangkan untuk menolong orang.

Shiroe adalah karakter ahli siasat dalam arti sesungguhnya, dan hal itu yang membuat Log Horizon jadi teramat berkesan.

“Kita akan mengubah dunia.”

Membahas soal teknis, studio Satelight, yang telah cukup dikenal dengan tingginya kualitas animasi dan desain dunia latar mereka, memberikan presentasi yang konsisten untuk seri ini. Desain karakternya mungkin agak kurang cocok untuk semua orang. Tapi desain asli dalam novelnya memang seperti itu, dan sebenarnya hasilnya tak buruk-buruk amat. (Walau mungkin itu menyebabkan sebagian orang berdebat tentang daya tarik Akatsuki. Tapi sudahlah, itu enggak penting.) Sedangkan desain dunianya harus aku akui keren dan sedikit bikin aku ingin bisa menjelajahi sendiri.

Audionya juga cukup konsisten. Performa para pengisi suaranya tak buruk. Lagu “Database” yang dibawakan band Man With A Mission (yang dikenal karena topeng wolfman yang selalu mereka pakai, dan mereka tampil sebagai cameo pada adegan pidato Putri Lenessia) awalnya terdengar sebagai lagu yang aneh buatku. Tapi sepupuku dan sahabatku di luar dugaan menjadi orang yang suka. Sedangkan lagu penutupnya, “Your Song” yang dibawakan Yun*chi menjadi lagu yang benar-benar pas dengan nuansa menggantung sebagian episodenya. Aku benar-benar suka lagu itu. (Sekalipun kadang ia mengenakan kostum aneh mengingat dirinya bernaung di label yang sama dengan Kyary Pamyu Pamyu, Yun*chi buatku termasuk figur yang benar-benar menarik.)

Jadi dari kualitas presentasi, kurasa seri ini tak terlampau menonjol, tapi juga agak di atas rata-rata.

Mengingat ini diadaptasi dari seri novel yang agak beda dari normal, sejak awal dramatisasi seri ini mungkin takkan cocok dengan sebagian orang sih. Tapi nampaknya itu hal yang enggak bisa dihindari. Di samping itu, masih ada sejumlah misteri yang belum terselesaikan sampai akhir cerita. Ditambah dengan adanya perkembangan cerita penting yang beneran tiba-tiba pada episode terakhir.

Tapi secara umum, ini satu seri yang benar-benar tetap akan aku rekomendasikan, terutama bagi mereka yang mencari anime yang bisa memberikan ‘sesuatu.’

Setelah sekian lama, ini sempat menjadi salah satu seri yang secara murni bikin aku menunggu tiap minggu. Aku sudah lama sekali enggak menemukan seri yang membuatku merasa begitu.

Season keduanya sudah diumumkan akan tayang pada musim gugur tahun ini.

Ada bagian yang mungkin kau suka, ada bagian yang mungkin kau enggak suka. Tapi kalau kau bisa mengikutinya hingga akhir, ada kemungkinan kau bakal memahami apa-apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh pengarangnya.

Penilaian
Konsep: B-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

18/02/2014

Omna Magni

Dari waktu ke waktu, di daftar kata kunci yang dicari yang muncul di stat blog ini, aku mendapati ada orang-orang yang mencari info tentang lagu ini.

Buat yang belum tahu, lagu ini dikenal sebagai lagu penutup dari seri Sousei no Aquarion (alias Genesis of Aquarion) yang pertama. Lalu walau animenya sendiri sudah lama sekali keluarnya, rasa ingin tahu tentang lagu ini nampaknya masih juga ada. (Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, musik buat satu seri ini memang sekeren itu.)

Terlepas dari semuanya, lagu ini diciptakan oleh komposer super keren Kanno Yoko dan dinyanyikan oleh Makino Yui. Apa yang menarik dari lagu ini adalah segala kemisteriusan yang dibawakannya. Semula, kukira lagunya dalam bahasa Latin. Lalu kemudian ada yang bilang bahasa Rusia. Lalu ada yang bilang lagi kalau liriknya malah sama sekali bukan bahasa.

Tapi terlepas dari itu, berikut lirik-liriknya, beserta apa yang konon adalah terjemahannya dari bahasa Jepang sesuai yang ditemukan dalam buklet albumnya.

(Tenang, bahkan sesudah menonton animenya beberapa kalipun, aku juga tak yakin soal apa artinya.)

Lirik Asli

Halta de manna, cinca de manna, horahoraho

Horto prier, blos’d’ita

Omna magni

 

Crietros, strientropo, horahoraho

Altinique, ortono, florq d’ ermenita

 

(Hiho detarmeno hiha)

Miha trava lafladitu

(Hiho detarmeno hiha)

Plient, Plient, plientu hora

 

(Halta de manna, cinca de manna)

Horahoraho

 

Horto prier, blos’d’ita

Omna magni

 

(Halta de manna, cinca de manna)

Cripar intari

 

Aquarion, Aquarion

 

Terjemahan Lirik dari Bahasa Jepang

Ekor kadal

Embun di malam

Malam sunyi

Cahaya mentari

Tetesan air mata putri duyung

Bayangan manusia mati

Derita manusia hidup

Kebahagiaan kegelapan

Kegilaan cahaya

Mari menyatu

Mari menelan diri dalam ikatan yang indah

(Halta de manna, cinca de manna)

Di tepi bayang-bayang

Aku terseret dalam kelam

Jeritan aku keluarkan

(Halta de manna, cinca de manna)

Aku gila karena Keheningan

Aquarion, Aquarion

Tag:
13/01/2013

Muv-Luv Alternative: Total Eclipse

Aku enggak yakin ini kata siapa. Tapi pernah ada yang bilang kalo anime robot besar yang bagus mesti menampilkan aspek-aspek: karakter berdarah panas, tema perjuangan, dan semangat pantang menyerah. Genre anime mecha memang telah banyak berevolusi semenjak era anime-anime super robot di dekade 70-an sih. Tapi aspek-aspek di atas dari waktu ke waktu sering tetap ada, walau enggak dalam kadar yang banyak juga.

Memandang lagi ke belakang, 2012 sebenarnya termasuk ‘lumayan’ buat para penggemar anime mecha. Tapi kalau memperhatikan ulang judul-judul yang menonjol di tahun itu, dibandingkan Kidou Senshi Gundam AGE yang tersimplifikasi, Aquarion Evol yang membahas cinta pertama, Rinne no Lagrange yang agak ‘berbunga’, serta Eureka Seven AO yang fokusnya mengambang, rasanya agak aneh kalau bilang anime mecha paling basic yang tersedia, yang punya ketiga aspek di atas, justru adalah Muv-Luv Alternative: Total Eclipse.

Total Eclipse merupakan spin-off (cerita lepas) dari seri game visual novel lumayan ternama, Muv-Luv Alternative. Karena diangkat dari sebuah visual novel, ada semacam ‘bias’ soal penggambaran karakter dan inti ceritanya. Jadi, uh, kubilang saja, ini sebenarnya bukan seri anime yang akan dinilai ‘bagus’. Tapi lebih lanjut soal itu akan kubahas nanti.

Membahas Muv-Luv bakal memerlukan satu artikel tersendiri. Tapi bagian ketiganya, yakni Muv-Luv Alternative (Enggak, aku serius. Ada bagian pertama yang berjudul Muv-Luv Extra dan bagian kedua yang berjudul Muv-Luv Unlimited, yang untungnya disatukan dalam satu game.), pada dasarnya memaparkan perjuangan umat manusia tanpa kenal menyerah dalam suatu alam paralel di mana Bumi diserbu oleh alien-alien ganas yang disebut BETA (singkatan kode yang kalau ga salah dari ‘beings of extraterrestrial origin which is adversary of human race’, atau singkatnya, ‘makhluk asing luar angkasa yang jadi musuh manusia’) dan harus dipertahankan menggunakan robot-robot raksasa yang disebut Tactical Surface Fighter atau TSF (atau kalau aku ga salah eja: Senjutusuhokousentouki alias Senjutsuki).

Berjumlah total 24 episode dan pertama mengudara pertengahan tahun, Total Eclipse berfokus pada suatu tim gabungan PBB yang bertujuan untuk mengembangkan teknologi persenjataan TSF baru untuk melawan BETA di Pangkalan Militer Internasional Yukon, Alaska.

Dalam hal ini, atas hasil prakarsa Kekaisaran Jepang, teknologi yang dimaksud adalah TSF tipe 94 Second, atau yang juga dikenal dengan sebutan: Shiranui.

Dua karakter utamanya yang paling menonjol adalah perwira Yuuya Bridges, yang menjadi pilot uji bagi Shiranui, serta atasannya yang mengawasi keseluruhan Proyek XFJ, Letnan Yui Takamura.

Sejarah Lain

Segala yang perlu diketahui tentang dunia Muv-Luv Alternative dijelaskan dalam dua episode pertama seri ini. Dua episode ini juga memaparkan masa lalu tragis Yui, sebelum dirinya ditugaskan memimpin proyek XFJ di atas (dan sayangnya, justru mungkin merupakan episode-episode terbagus di sepanjang seri).

Berlatar di awal dekade 2000an, tapi dalam ‘dunia lain’, kita diperkenalkan pada awal kontak manusia dengan BETA di awal tahun 1960an, dan bagaimana perang berkepanjangan melawan mereka telah berlangsung semenjak saat itu hingga sekarang. Perang itu mengakibatkan berkurangnya populasi manusia, musnahnya hasil-hasil peradaban, sampai-sampai ada bagian-bagian Bumi yang tak lagi bisa manusia huni karena telah termasuk ‘wilayah’ BETA.

Hal itu berakibat pada perbedaan fokus pengembangan teknologi, yang mana peralatan kemiliteran untuk mengangkal BETA lebih diupayakan dibandingkan hasil teknologi untuk keperluan-keperluan lain. Ini mengakibatkan robot-robot raksasa dan teknologi holografik telah ada, tapi hal-hal lebih lumrah seperti mobil listrik dan permainan komputer tak secanggih seperti yang telah ada di ‘dunia kita’.

BETA ceritanya adalah makhluk-makhluk grotesque menjijikkan seperti monster/binatang yang telah ‘dijatuhkan’ dari angkasa luar dan menghancurkan segalanya dan memangsa manusia. Mereka seakan tak memiliki kesadaran, tak bisa diajak komunikasi, tak jelas dari mana asalnya, dan berjumlah teramat sangat banyak. Mereka juga terdiri atas berbagai jenis dan ukuran. Dengan yang lebih kecil biasanya yang paling mematikan. Pergerakan mereka berbasis di darat. Mereka tak bisa melintasi lautan atau mengudara. Tapi patut diperhatikan ada tipe BETA yang disebut laser class yang dapat menembakkan sinar-sinar laser berkekuatan tinggi yang secara khusus dan naluriah meluluhlantakkan apapun yang mereka lihat ‘terbang’.

Sesudah pemaparan tentang siapa Yui dan bagaimana ia sempat terhubung dengan jajaran elit pengawal khusus kekaisaran (Jepang masih berbentuk aristokratik di timeline ini), barulah cerita mengalihkan fokusnya pada Yuuya, seorang keturunan Amerika-Jepang yang karena persoalan keluarga, memiliki semacam kesan negatif atas darah Jepang yang dipunyainya. Hal ini menimbulkan konflik antara dirinya dan Yui, serta persoalan terhadap penangannya akan Shiranui, yang memiliki perbedaan filosofi desain dibandingkan TSF-TSF buatan Amerika yang sebelumnya ditanganinya.

Tentu saja, memperhitungkan awal mula Muv-Luv sebagai visual novel love sim, seri ini turut memaparkan tumbuhnya perasaan romantis antara Yuuya dan Yui, serta hubungan mereka dengan orang-orang lain di sekitar mereka.

…with our work unfinished.

Terlepas dari premisnya yang agak geekish, siapapun yang menonton episode-episode awal Total Eclipse kurasa bisa agak menyadari kalau seri ini tak ‘sesampah’ kelihatannya kok.

Satu, kualitas animasinya benar-benar terbatas. Terlepas dari mecha-mechanya, yang di-render dengan detil-detil persegi yang lumayan baik, kualitas animasinya terbilang rendah buat ukuran animasi TV zaman sekarang.

Lalu, ya, kita disuguhi fanservice berupa desain karakter-karakter perempuan berdada besar. Apalagi dengan dibalut baju khusus pilot yang teramat ketat. Lalu ditambah dengan karakter-karakter pria yang semuanya seakan mempunyai six pack. Ini saja sudah membuat semuanya agak susah ditanggapi serius.

Tapi ada cerita agak berat yang kelihatan berusaha dipaparkan di sini—seenggaknya pada saat aspek-aspek love comedy dirasa tak perlu terlalu ditonjolkan—sampai-sampai kita bisa dibikin enggak lagi peduli ama semua fanservice itu! (Tapi aku enggak tahu apa itu cuma saya aja, ato semua orang mengalaminya.)

Plot yang berusaha disampaikannya itu beneran… convoluted. Rumit gitu. Padahal skala ceritanya terbilang kecil dan tidak mendunia. Sayangnya, seri ini, mungkin karena masalah durasi (total episodenya dipotong?), juga enggak bisa dibilang menyampaikan plot ini secara baik. Di duaperlima akhir seri, ada banyak banget hal penting yang terjadi begitu saja, tanpa penjelasan latar pendahuluan sama sekali (jelas berlawanan dengan episode-episode awal cerita). Padahal, kalau dipaparkan secara baik, dalam konteks yang lebih pas, apa yang disajikan di sepanjang Total Eclipse kurasa bakal benar-benar keren lho.

Adegan-adegan mecha yang seharusnya menjadi highlight-nya sayangnya tak terlalu banyak ditonjolkan. Maksudku, aku ngerasa para pembuatnya sebenarnya berusaha. Tapi entah akibat keterbatasan biaya atau waktu produksi, mereka belum berhasil mewujudkan semua itu lebih baik daripada ini.

Sisi seru seri ini kayaknya enggak begitu terpengaruh. Berhubung game orisinil Muv-Luv dulu juga dikenal tak segan melanjutkan bagian-bagian ceritanya yang komedi dengan bagian-bagian yang nampilin gore. Masalahnya, ya itu, landasan dan fondasi buat bikin semua itu jadi ‘keren’ sudah terlanjur gagal dibuat.

Tapi enggak buruk kok. Di mataku, seenggaknya enggak buruk.

Ada musuh bersama berupa BETA. Tapi negara-negara besar di dunia sebenarnya saling mencurigai dan bermusuhan, menciptakan banyak intrik dan adu kepentingan di pangkalan PBB. Lalu ada tema ‘mencari tempat untuk berpulang’ yang Yuuya alami yang sebenarnya di atas kertas lumayan bagus buat diangkat. Di media lain, dalam bentuk novel atau VN misalnya, aku pikir cerita ini masih bisa jadi sesuatu yang benar-benar keren. Hanya saja, buat adaptasi ke bentuk anime yang satu ini… yah, seenggaknya kerasa para pembuatnya sudah berusaha.

Red Shift

Total Eclipse berawal dari novel yang dipenai oleh… lho, siapa ya? Yang diserialisasikan dari bulan Februari 2007 sampai September 2011 di majalah Tech Gian yang diterbitkan oleh Enterbrain. Sehabis itu, barulah diadaptasi ke bentuk anime lewat kerjasama dua studio, ixtl dan Satelight. Aku sempat dengar kalau Total Eclipse berlatar di waktu sesudah cerita Alternative, tapi mungkin aku salah.

Aku lupa bilang. Seri game Muv-Luv sendiri yang mengawalinya (yang mengandung bab Extra dan Unlimited) dibuat oleh pengembang âge dan pertama keluar tahun 2003. Sekuel sekaligus penuntas ceritanya, Muv-Luv Alternative, baru keluar tahun 2006. Game ini memaparkan cerita komedi cinta harem yang secara sangat dramatis berubah menjadi cerita mecha sains fiksi, dan karenanya menjadi hit di masanya. Kudengar durasi ceritanya panjang dan JAM Project bahkan membawakan theme song-nya. Dan ya, jadinya ini emang sesuatu yang agak otaku-ish dengan perhatiannya terhadap aspek-aspek kemiliteran dan teknikal. (Oya, mungkin udah jelas kalau ini pertama dibuat sebagai game khusus dewasa. Tapi belakangan keluar juga versi all ages-nya.)

Berbicara soal mecha-mechanya, aku dengar kalau TSF di Muv-Luv menonjol lebih karena aspek-aspek keterangan teknisnya ketimbang aksi-aksinya sendiri. Yea, bentuk-bentuknya teramat keren. Tapi dalam bentuk animasi, performa mereka agak susah dibedakan dari satu sama lain. Lalu narasi yang membuat satu per satu tipe TSF itu unik jadi agak terlewat ditonjolkan.

Bicara soal perkembangan ceritanya, Total Eclipse dibuka dengan konflik awal Yuuya dengan teman-teman barunya sesama pilot uji di kesatuan Argos Flight. Ada bahasan soal masa lalu mereka, bagaimana mereka menemukan posisi mereka sehabis tragedi-tragedi semasa perang. Lalu dipaparkan bagaimana Yuuya entah bagaimana bisa berhubungan dengan kakak-beradik(?) Scarlet Twins (nama kode? Berhubung mereka bukan kembar), Cryska dan Inia, yang mengawaki bersama TSF Terminator mewakili Uni Soviet. Cerita berkembang dengan uji performa nyata keluaran Proyek XFJ dan proyek-proyek lainnya dalam suatu uji lapangan gabungan di Kamchotka, Rusia, yang segera berubah menjadi kekacauan saat ajang tersebut dimanfaatkan masing-masing pihak untuk mencuri rahasia pengembangan pihak-pihak lainnya. Kemunculan BETA di sana menandai pengalaman bertempur nyata pertama Yuuya dengan mereka.

Paruh kedua cerita memaparkan perkembangan lebih jauh hubungan antara Yuuya dengan teman-temannya, uji performa lanjutan di Yukon, perkenalan mereka dengan Cui Yuifen, yang memimpin Bao Feng Flight yang mewakili China, serta kedatangan kesatuan Infinities yang terdiri atas teman-teman lama Yuuya dari Amerika yang menggunakan TSF F-22 Raptor. Klimaks cerita di paruh kedua memaparkan kegentingan saat pangkalan Yukon diserang oleh pasukan pemberontak RLF (Refugee Liberation Front) yang melakukan pembantaian untuk menuntut kesetaraan bagi kaum pengungsi, yang telah kehilangan negara-negara asal mereka dan dijadikan warga dunia kelas dua. Diperlihatkan telah dilakukannya penutupan besar-besaran terhadap suatu persiapan kontroversial untuk mengantisipasi BETA, dan bagaimana semua berakhir dengan negara-negara di dunia kini berada di ambang perang.

Semuanya di atas kertas beneran keren dan kayaknya bisa jadi bagus. Cuma, yah, mungkin emang masih belum waktunya aja…

Satu hal yang kuperhatikan, episode 1-2 yang keren itu ditangani oleh Inagaki Takayuki yang sekaligus menjadi penulis skenarionya. Tapi Ando Masaomi menjadi sutradara untuk episode-episode sisanya. Apa ini ada artinya ya?

Satu hal lain yang pasti, audio buat Total Eclipse terbilang keren dan ngebangun mood yang lumayan pas di sepanjang seri. Lagu pembuka Go to the Top nyanyian Koda Kumi disepakati sebagai salah satu soundtrack anime terbaik di sepanjang tahun 2012. Kuribayashi Minami turut menyumbangkan suaranya untuk lagu penutup. Di samping itu, performa seluruh seiyuu-nya, baik dalam adegan-adegan yang serius atau tidak, terbilang lumayan. Hanya sayang semuanya terhambat oleh kapasitas pengarahan dan pacing cerita yang terbatas.

Ini bukan seri yang akan kurekomendasikan kalau kau bukan sedikit otaku. Enggak bisa dibilang bagus. Tapi dengan satu dan lain cara, kurasa tetap patut dikenang.

(Soal tamatnya, aku belum konfirmasi ini bener apa enggak, tapi kudengar tamat di versi novelnya juga emang kayak gitu. ternyata selama penayangan animenya, serialisasi versi novelnya memang masih berlanjut dan lambat penerbitannya. Tapi sekarang per tahun 2015 aku dengar komentar dari fansnya kalau di akhir, ceritanya memang luar biasa.)

Penilaian

Konsep: B; Visual C; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: C; Kepuasan Akhir: C+

26/06/2012

Aquarion Evol

Aku sudah melihat gelagatnya dari pertengahan seri. Tapi akhir cerita Aquarion Evol jujur saja membuatku mual.

Uuurgh. Aku enggak enak ngomong gini. Tapi terlepas dari segala keanehannya, aku dulu beneran suka seri pendahulunya. Seri sepanjang 26 episode keluaran Satelight ini pada dasarnya merupakan sekuel dari seri super robot Sousei no Aquarion yang sempat menarik perhatian nyaris separuh dekade sebelumnya. Lalu itu alasan utama kenapa aku ngikutin Aquarion Evol.

Sousei no Aquarion waktu itu merupakan seri mecha yang lumayan memukau bahkan sampai sekarang. Desain mechanya  cukup gila. Karakterisasinya enggak lazim. Ceritanya juga pada beberapa titik agak bernuansa filosofis. Oh ya, dan  musiknya. Sayang, akhir cerita Sousei no Aquarion agak menggantung. Makanya pas pertama tayang, Aquarion Evol menuai pengharapan lumayan besar.

Tapi… gimana ya?

Intinya gini deh. Sousei no Aquarion dulu dibuat sebagai homage terhadap anime-anime super robot jadul. Namun dalam sebuah polling yang belum lama ini diadakan di sebuah situs anime mecha terkenal, Aquarion Evol yang menjadi sekuelnya menjadi seri mecha yang paling kurang digemari di antara tiga seri mecha yang tengah tayang di musimnya (kalah dari Gundam AGE dan Eureka Seven AO).

Jadi, kayak, kerasa gitu gimana penekanan terhadap aspek mechanya agak ngilang. Makanya, bagiku agak aneh Aquarion Evol melenceng dari konsep pendahulunya dengan terlalu menekankan pada aspek karakternya daripada mechanya. Cerita di sekuelnya ini jadi jauh dari elemen-elemen yang biasanya ada dalam cerita-cerita super robot.

Kalau aku boleh mengeluh:

  • Dunia dalam bahaya, tapi para tokoh utamanya nampak lebih dirisaukan soal cinta daripada kematian.
  • Ancaman perang di depan mata, tapi anehnya, enggak ada sedikitpun upaya negosiasi yang digambarkan pernah dilakukan antara kedua belah pihak.
  • Enggak ada tokoh berdarah panas (kecuali, mungkin satu, tapi dia aneh).
  • Seorang tokoh ‘mentor’ yang hadir kembali dari Sousei no Aquarion—yang meski dengan cara agak aneh, di seri sebelumnya memberi pencerahan dan kontribusi nyata dan berarti bagi para tokoh—kini tampil semata-mata sebagai ORANG ANEH doang.

Bagiku, hasilnya jadi… aaargh.

Jadi, kalau Sousei no Aquarion agak terlalu gampang ditanggapi serius sementara kenyataannya, seharusnya enggak. Aquarion Evol itu kebalikannya. Sekeras apapun kau berusaha, ceritanya emang susah ditanggapi secara serius.

Bukan berarti kau perlu menanggapi ceritanya secara serius juga sih.

Tapi ada satu keunggulan utama Aquarion Evol dibandingkan seri sebelumnya. Meski premisnya sama-sama aneh, cerita dan karakter Aquarion Evol lebih gampang dimengerti. Jauh lebih gampang dimengerti. Selebihnya, ceritanya menurutku lumayan kalah berbobot. Terutama kalau kita menilainya sebagai sebuah anime super robot.

Cinta Kini Dilarang!

Aquarion Evol berlatar 12.000 tahun sesudah masa Sousei no Aquarion. (Buat kalian yang mungkin lupa, 12.000 tahun itu lama siklus buat ‘kelahiran kembali’ yang dikisahkan di seri pendahulunya.)

Umat manusia yang hidup di planet Vega secara teratur terancam oleh kedatangan mecha-mecha raksasa Abductor yang konon berasal dari planet Altair, yang menculik populasi wanita dari planet Vega. Satu-satunya yang memiliki kapasitas mencegah terjadinya hal ini adalah organisasi Neo-DEAVA yang menaungi manusia-manusia berkemampuan khusus yang disebut Element, untuk menggerakkan robot raksasa Aquaria yang merupakan hasil kombinasi dari tiga pesawat Vector yang mereka miliki.

Ada dua jenis Aquaria: Aquaria tipe M yang dihasilkan dari kombinasi tiga pesawat Vector yang dipiloti laki-laki, dan Aquaria tipe F yang dihasilkan dari kombinasi tiga pesawat Vector yang dipiloti perempuan. Namun rupanya, apabila Vector yang dipiloti lelaki dan perempuan bergabung, wujud sesungguhnya yang terlarang dari robot raksasa ini akan terkuak, yakni Aquarion, mechanical angel legendaris yang disebut-sebut dalam Buku Bintang Kembar yang konon menerakan sejarah alam semesta.

Hal ini terkuak saat seorang remaja baik hati/rendah diri/pemalu bernama Amata Sora terlibat dalam kekacauan yang berlangsung akibat para Abductor. Amata berusaha melindungi seorang gadis bernama Mikono Suzushiro yang kebetulan baru ditemuinya.

Amata kemudian menggunakan kekuatan Element yang selama ini disembunyikannya, yakni kemampuan untuk menciptakan sepasang sayap cahaya dari kedua kaki, demi menyelamatkan Mikono. Upayanya ini kemudian membawanya ke kokpit salah satu Vector, dan… yah, hal-hal kemudian terjadi.

Mikono, yang manis namun sangat rendah diri, rupanya anak bungsu dari keluarga Suzushiro yang senantiasa menghasilkan keturunan Element berkualitas. Namun tak ada kekuatan Element yang tampak dalam diri Mikono. Karenanya, ia sering bimbang soal dengan kelompok mana ia semestinya berada.

Sesudah semua yang terjadi, Amata dan Mikono tetap saja kemudian direkrut masuk ke dalam Neo-DEAVA, di mana mereka dididik bersama remaja-remaja Element lainnya untuk belajar mengendalikan kekuatan mereka, dan menggunakannya bersama Aquarion untuk menyelamatkan dunia.

Dunia yang Berjalan Terbalik

Sebagian besar durasi Aquarion Evol menyoroti perkembangan hubungan Amata dan Mikono, beserta teman-teman mereka dalam lingkungan baru ini. Secara garis besar, seluruh karakternya menarik. Cuma… ada terlalu banyak hal yang buatku membuatnya jadi… agak gimanaa gitu, terutama dari segi penggarapan ceritanya.

Ada Zessica Wong, gadis tomboi seksi yang seiring dengan waktu, mendapati dirinya jatuh hati terhadap ketulusan Amata. Kekuatan Element yang dimilikinya adalah kemampuan untuk mendistorsi/memelintir.

Ada Cayenne Suzushiro, lelaki maskulin yang merupakan kakak Mikono. Sangat protektif terhadap adiknya. Kekuatan Element miliknya adalah semacam kemampuan penglihatan untuk meramal kejadian-kejadian buruk.

Ada Shrade Elan, lelaki rupawan pecinta musik yang merupakan sahabat Cayenne, namun tengah digerogoti penyakit misterius. Nyawanya akan berkurang setiap kali kekuatan Element dahsyatnya yang berkaitan dengan musik digunakan.

Ada Andy W. Hol, pemuda riang yang langsung akrab dengan Amata, dan memiliki kemampuan untuk menciptakan lubang-lubang.

Ada MIX, gadis galak yang taat pada tata tertib, yang memiliki kemampuan untuk menutupi rongga-rongga.

Lalu ada Yunoha Thrull, gadis pemalu yang memiliki kemampuan untuk membuat dirinya transparan.

Awalnya, cerita berfokus pada bagaimana murid-murid Element ini mengatasi kecanggungan hubungan cewek-cowok yang kini diperbolehkan di Neo-DEAVA. Sebelumnya, interaksi antara kedua jenis kelamin ini dilarang karena berpotensi membuat Aquarion hilang kendali. Makanya, hubungan cinta itu dilarang. (Ahaha, ya ya.)

Lalu konflik terjadi dengan berbagai macam karakternya. Terutama dengan munculnya sesosok musuh liar bernama Kagura, yang untuk suatu alasan secara ganas terus memburu Mikono.

Dalam perkembangan cerita, muncul juga Jin, anak lelaki terakhir dari Altair, yang sesudah kekalahannya dalam pertempuran, mencoba menyusup ke Neo-DEAVA sebagai murid pindahan, dan ia mengalami kepanikan karena tak pernah menjumpai perempuan sebelumnya. Melalui Jin, Amata dan kawan-kawannya kemudian mengetahui kenyataan tentang wujud musuh mereka yang sebenarnya.

Menjelang akhir cerita, diperkenalkan Izumo, pemimpin kaum Altair yang menanggung beban untuk menjaga kelangsungan planetnya. Lalu di sisi Izumo, hadir Mikage, sosok misterius di Altair yang seakan memiliki kekuatan tanpa batas, dan terus memanipulasi tokoh-tokoh lain untuk berperan sesuai keinginannya.

Di pihak Neo-DEAVA, pria misterius bernama Fudo ZEN tampil untuk memimpin anak-anak muda ini menuju kemenangan.

Semakin dekatnya Amata dan kawan-kawannya akan makna sesungguhnya perjuangan mereka, semakin dekat pula Amata akan jawaban atas misteri hilangnya orangtuanya.

Misteri Lubang Pada Donat

Daya tarik pertama yang Aquarion Evol miliki adalah kekuatan interaksi antara tokoh-tokohnya. Episode-episode awalnya dipenuhi komedi tentang cowok dan cewek yang baru saling mengenal (yang sedikit banyak mengingatkanku pada seri anime mecha lawas Vandread), dengan berbagai karakter yang penuh warna dan menarik (dan fanservice).

Hal ini didukung oleh kualitas desain dan visualnya. Desain karakternya menurutku kalah ‘berkarakter’ dibandingkan seri sebelumnya. Tapi desain dunia dan lainnya benar-benar wah. Markas Neo-DEAVA yang menyerupai bangunan tua besar beneran keren desain interiornya. Lalu kota Neo Kowloon dan Neo Venezia juga tampil sebagai latar yang cantik di seri ini. Visualnya yang terang dan tajam menunjang sejumlah adegan keren yang berlangsung dalam seri. Ada adegan-adegan yang berhubungan dengan gedung-gedung pencakar langit, kompleks permesinan yang rumit, sampai kota-kota tua yang telah hancur akibat bencana.

Cuma, menilik dari ceritanya secara menyeluruh, seindah apapun tampilan dunianya dan semegah apapun musiknya, hasilnya tetap kurang berkesan kalau ceritanya… apa ya?

Ada banyak orang yang suka sih. Tapi aku sendiri merasa ceritanya agak pointless buat diikutin. Beberapa episode awalnya lebih dari lumayan kalau cuma sekedar buat hiburan. Tapi episode-episode ke depannya agak berat dinikmati karena perkembangan dan eksekusi ceritanya yang… konyol dan keju. Intinya, yah, itu, terlalu susah aku tanggapi serius. Jadinya buatku mungkin itu mengacaukan suspension of disbelief.

Adegan-adegan aksi mechanya juga buatku kurang cukup seru.

Tetap ada beberapa perkembangan yang menarik, seperti seputar penjelasan soal apa sesungguhnya yang terjadi di klimaks Sousei no Aquarion, bagaimana misteri yang ada terhubung dengan hasil pertempuran 12.000 tahun sebelumnya, serta hubungan terselubung antara Kagura dan Amata. Tapi sekali lagi, sekeras apapun aku berusaha… aku… enggak… bisa menanggapi seri ini secara serius!

Intinya: aku kecewa.

Mungkin ini karena statusku sebagai penggemar anime mecha juga.

Jadi bagi kalian penggemar berat anime mecha yang memutuskan untuk mengikuti seri ini, pastikan kau tak membawa pengharapan terlalu besar. Mungkin kalian akan bisa menikmati setiap episodenya. Tapi aku enggak yakin kalian akan mendapat kesan mendalam yang bagus darinya.

Tunggu, jangan salah. Tetap ada kemungkinan kalian bisa menyukai seri ini kok. Jadi, seenggaknya, dicoba lihat dulu saja.

Penilaian

Konsep: D+; Visual: A; Audio: A; Eksekusi: C-; Pengembangan: C-; Kepuasan Akhir C-

09/02/2012

Macross Frontier: Wings of Goodbye

Aku baru nyadar bahwa aku belum menulis apa-apa tentang ini. Padahal sudah ada beberapa bulan berlalu semenjak aku memeriksanya.

Macross Frontier: Sayonara no Tsubasa, adalah film layar lebar kedua yang mengadaptasi seri televisi Macross Frontier. Keluar di tahun 2011 dan masih diproduksi oleh studio Satelight, film ini melanjutkan cerita dari film sebelumnya (Itsuwari no Utahime) setelah penantian selama dua tahun.

Lamanya masa produksi film ini langsung bisa dimaklumi begitu kita melihat adegan pembukanya (yang lagi-lagi merupakan adegan konser dari sang heroineSheryl Nome). Animasinya, sekali lagi, benar-benar memukau. Adegan-adegan konsernya, seperti di film sebelumnya, secara aneh benar-benar menjadi highlight animasi dari film ini, dengan efek-efek holografik dan tiga dimensi yang gila. Baik Ranka Lee maupun Sheryl secara seimbang sama-sama mendapat porsi tampil mereka sendiri. Lalu mengikuti tradisi Macross pula, adegan-adegan nyanyi ini diselingi dengan intensnya pertempuran mecha-mecha Valkyrie. Tapi level ‘gila’-nya ini sudah lebih meningkat dibandingkan sebelumnya. Ini semua tentu masih didukung oleh musik yang secara apik telah dibangun oleh Yoko Kanno.

Soal ceritanya sendiri, agak berbeda dibandingkan film pertama, ada lebih banyak elemen dari seri televisinya yang masuk. Meski plot yang diusung memang sama sekali berbeda, aku tetap agak terkejut dengan semua kemiripan ceritanya, karena kusangka film ini akan mengambil arah perkembangan cerita yang lebih berbeda. Ditambah lagi, dengan gaya penyampaian ceritanya yang lebih dipadatkan, aku merasa ceritanya jadi agak lebih susah dicerna oleh mereka-mereka yang sebelumnya tak mengikuti seri televisinya. Ada banyak banget hal yang berusaha diliput oleh ceritanya dalam durasi yang sama dengan film sebelumnya. Karena itu, penyelesaian cerita di film ini mungkin bakal bikin sebagian di antara kalian merasa agak aneh…

Tiga Bulan Kemudian…

Pergelutan awak-awak armada kapal penjelajah Macross Frontier melawan serangan berkala dari makhluk asing misterius Vajra terus berlanjut. Kerusakan yang mereka alami dalam serangan sebelumnya telah bisa diperbaiki. Alto Saotome masih bertahan sebagai pilot di organisasi paramiliter S.M.S.. Tapi sebagian misteri tentang keberadaan Vajra mulai terungkap saat sampel organik dari mereka telah berhasil didapatkan lab-lab yang berhubungan dengan Leon Mishima. Pembeberan susunan tubuh Vajra serta kaitan mereka dengan kristal-kristal fold quartz turut diiringi dampak terhadap sejumlah hal: potensi yang dapat didapat dari penelitian tubuh mereka, suatu konspirasi besar lintas ruang dan waktu untuk memperoleh kekuasaan, masa lalu Ranka, serta penyakit misterius yang secara perlahan menggerogoti tubuh Sheryl.

Agak… susah menceritakan isi film kedua ini secara runut. Soalnya ada begitu banyak hal yang dibahas. Misteri Vajra; konspirasi manajer Sheryl, Grace O’Connor, serta sejumlah orang tertentu yang berasal dari Macross Galaxy; rencana Leon untuk mengkudeta presiden dan merebut kekuasaan N.U.N.s; serta tentunya, penuntasan jalinan cinta antara Alto, Sheryl, dan Ranka.

Satu pujian besar yang patut diberikan terhadap film ini adalah arah perkembangan ceritanya yang memang menarik. Memang sisi anehnya tetap ada di beberapa bagian. Tapi hei, seri Macross memang seperti itu. Pujian besar lainnya adalah bagaimana semua bahasan di atas benar-benar berhasil digarap dan dituntaskan, terutama soal hubungan cinta segitiga itu. Ada banyak adegan yang jelas-jelas memiliki dampak besar, tapi hanya diceritakan, dan selanjutnya diselesaikan, dalam durasi beberapa menit. Kesannya luar biasa terburu-buru, tapi ini didukung oleh visualisasi dan audio yang wah. Karenanya, meski perkembangan yang para karakternya alami hanya berlangsung sesaat, dampaknya sudah bisa lumayan kena asalkan kau menyimaknya baik-baik.

Hmm, aku enggak yakin harus mengatakan apa lagi. Intrik dan misteri yang ditampilkan di film ini masih sama dengan yang ada di seri TV. Jadi kau takkan menemukan jawaban yang berbeda untuk semua itu. Tapi kalau bicara soal romansanya sih, film ini memang memaparkan sejumlah baru yang menarik.

Intinya, kalau kau menyukai seri TV Macross Frontier dan ingin lebih, film ini dan film pendahulunya memang menjadi sesuatu yang layak tonton. Apalagi bila ada detil cerita tersamar di seri TV-nya yang belum terlalu kau pahami.

Eh? Soal adegan-adegan mechanya sendiri? Hmm. Seru sih. Luar biasa halus animasinya. Tapi… uh, gimana ya? Ahahahaha, aku agak dibuat aneh oleh penyelesaian pertempuran terakhirnya.

(Akhirnya, Sheryl yang dipilih Alto. Tapi…! *dilempar sendal*)

Penilaian

Konsep: A-; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: A-

13/01/2012

Sousei no Aquarion

Ada baiknya aku bicara soal Sousei no Aquarion. Anime yang juga dikenal sebagai Genesis of Aquarion ini merupakan seri anime mecha yang dibuat oleh studio Satelight dan pertama mengudara pada tahun 2005. Aspek yang membuat seri ini menonjol adalah keterlibatan Kawamori Shoji, pencetus seri Macross, sebagai penulis cerita sekaligus sutradara, serta bagaimana seri ini memberi ‘penghormatan’ terhadap anime-anime super robot jadul dari era 70an dan 80an (seperti Mazinger Z, Getter Robo, Combattler V, serta berbagai macam tiruan lainnya yang amat sangat menjamur pada dua dekade itu).

Teknik animasi yang canggih serta elemen-elemen modern(?) di dalamnya juga menjadikan seri ini memiliki nilai plus besar(?) pada masanya. Hingga masa kini, seri ini merupakan salah satu anime mecha yang secara estetik paling enak dilihat. Tapi, uh, lebih banyak soal itu dan elemen-elemen yang terkandung di dalamnya akan kuceritakan nanti.

Hari Ketika Dunia Bermula

Inti cerita Sousei no Aquarion sederhana. Dikisahkan pada masa lampau, umat manusia sebenarnya dikuasai oleh ras kuno bersayap yang dikenal sebagai Shadow Angels (‘Datenshi’). Mereka ceritanya adalah penguasa-penguasa bumi pada masa lampau gitu, yang berusia panjang dan mempunyai teknologi teramat canggih. Dan mereka  ‘memanen’ prana (semacam energi kehidupan) dari manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya, untuk dijadikan sumber nutrisi bagi diri mereka sendiri dan untuk sesuatu yang mereka sebut sebagai Pohon Kehidupan (Tree of Life, Seimei no Ki).

Era kekuasaan mereka berakhir sesudah salah seorang dari mereka, yang dikenal sebagai Apollonius (si ‘sayap matahari’), jatuh cinta kepada seorang perempuan manusia yang bernama Celiane, menjadi kehilangan dua belah sayapnya sendiri, dan memulai pemberontakan besar-besaran untuk membebaskan kaum kekasihnya dengan menggunakan mechanical angel legendaris, Aquarion.

Sekitar 12.000 tahun sesudah perjuangan itu, diimplikasikan bahwa sebagai akibat pencemaran lingkungan (sebenernya, aku juga enggak yakin soal ini…), para Shadow Angels bangkit kembali dari tidur panjang mereka di bawah permukaan bumi dan memulai masa penaklukkan baru terhadap umat manusia. Kota-kota besar dihancurleburkan dan manusia-manusia yang tersebar secara massal ditangkap oleh mesin-mesin shuukajuu (harvesting beasts, makhluk panen), untuk dijadikan material pembangun Pohon Kehidupan sekaligus sumber makanan. Kekuatan tempur yang dimiliki manusia tak berdaya menghadapi tentara mecha Cherudim yang mampu melintasi dimensi dan menjadi penjaga mesin-mesin shuukajuu ini.

Sampai suatu ketika, sebuah lembaga rahasia bernama DEAVA (Division of Earth Vitalization Advancement) menelusuri jejak dari legenda tentang Shadow Angels dan berhasil mengekskavasi tiga mesin kuno yang dikenal sebagai Vector Machines. Harapan untuk menang melawan Shadow Angels serta-merta kembali saat diketahui ketiga mesin berbentuk pesawat tersebut sebenarnya merupakan bagian-bagian pembentuk Aquarion.

Namun ketiga Vector Machine tersebut ternyata hanya dapat digerakkan oleh orang-orang terpilih yang memiliki kekuatan istimewa, yang disebut Elements. DEAVA mulai mengumpulkan para Element dari seluruh dunia dan secara khusus mendidik mereka untuk dijadikan pilot-pilot Aquarion, sekaligus harapan terakhir umat manusia untuk bisa selamat dari para Shadow Angels.

Surat Cinta Dari 12.000 Tahun Lampau

Inti ceritanya memang sederhana. Tapi terus terang, eksekusinya agak aneh.

Awalnya, aku juga enggak menyadarinya. Karena presentasinya yang keren sama sekali enggak mencitrakannya demikian. Tapi sebenarnya, Sousei no Aquaion itu, gamblangnya, di samping aksi-aksi mecha, (*drum roll*)juga diisi elemen-elemen filosofi pembelajaran hidup yang dipadukan aspek-aspek yuri dan yaoi.

Enggak, aku enggak bercanda.

Waktu aku pertama menonton ini, aku masih teramat innocent sehingga enggak terlalu memahami innuendo yang sebenarnya terjadi. Tapi elemen-elemen itu ada, benar-benar memainkan semacam peranan dalam cerita, dan mungkin sebenarnya lebih dimaksudkan sebagai bahan lelucon.

Heh. Setelah kupikir lagi. Bahkan keseluruhan isi anime ini mungkin sebenarnya memang dimaksudkan sebagai bahan lelucon. Hanya saja animasinya yang benar-benar wah dan musiknya yang benar-benar keren (Yoko Kanno at her best, lho!), serta tingkah para karakternya yang amaaaat sungguh-sungguh, sangat membuat kita berpikir sebaliknya.  (Aku cuma bisa ngebayangin para pengisi suaranya di balik layar saling berpandangan dengan heran saat membaca naskah-naskah skenario yang mereka terima untuk pertama kalinya.)

Kisah Sousei no Aquarion bermula sebelas tahun sesudah ‘kehancuran besar’ yang ditandai dengan muncul kembalinya Atlandia, ibukota para Shadow Angels. Para Element diyakini sebagai keturunan umat manusia yang mewarisi gen Apollonius dan Celiane. Lalu hal tersebut bagi sebagian orang berujung pada teori bahwa ada sepasang Element yang merupakan reinkarnasi Appolonius dan Celiane, yang akan membawa pembebasan sekali lagi dari para Shadow Angels.

Di awal cerita, reinkarnasi Apollonius dan Celiane diyakini (tapi belum dipastikan) adalah pasangan pemuda aristokrat Sirius de Alisia serta adik perempuannya(!) Silvia de Alisia. Sirius adalah bishonen dingin berambut pirang panjang dengan harga diri tinggi yang sangat mengagumi segala sesuatu yang indah serta piawai dalam menggunakan pedang. Sedangkan Silvia, adalah gadis periang yang sesudah mengetahui tentang dugaan ini, segera mengidap brother complex yang nyaris menjadi incest terhadap kakak laki-lakinya ini.

Tapi saat Apollo, seorang remaja yatim piatu liar yang terlibat dalam upaya pertama DEAVA dalam menyatukan Aquarion di medan perang, masuk ke dalam cerita, situasi berubah teramat drastis. Ia semula dicari oleh agen-agen DEAVA karena diduga memiliki bakat sebagai seorang Element. Tapi ketika upaya penyatuan Aquarion untuk pertama kali itu gagal, ia secara tak terduga sampai mengambil alih kendali Vector Sol, lalu ‘memaksa’ dua Vector Machine lainnya (Vector Luna dan Vector Mars) untuk secara sukses membentuk Solar Aquarion untuk pertama kalinya dan membawa kemenangan pertama umat manusia atas prajurit Cherudim.

Rupanya pada saat itu, karena desakan situasi, kesadaran Apollo telah diambil alih oleh kesadaran Apollonius yang bersemayam dalam dirinya, dan menggerakkannya untuk mengambil alih Aquarion. Kenyataan bahwa Apollo-lah reinkarnasi sesungguhnya dari sang sayap mentari segera menuai dilema. Sebab Apollo adalah anak jalanan yang tak tahu sopan santun dan sulit sekali diajak bekerjasama dengan para Element yang lain. Motivasinya bergabung bersama DEAVA di awal cerita hanyalah karena tersedianya tempat untuk tidur dan makan, serta harapan ia kelak akan bisa membebaskan Baron, sahabat dekatnya, bersama anak-anak jalanan lain di kelompok mereka dari cengkraman Shadow Angels yang telah ‘memanen’ mereka. Ia juga disalahkan oleh sebagian orang atas kondisi Glen, pilot semula dari Vector Sol, yang menderita koma karena kegagalan dalam penggabungan Vector Machine.

Kemunculan Apollo segera menarik perhatian Toma, salah satu petinggi Shadow Angels (juga seorang bishonen) yang sekaligus merupakan orang terdekat dengan Apollonius di masa lalu. Ia merasa Celiane telah ‘merenggut’ Apollonius dari dirinya, dan karenanya, Toma secara khusus menciptakan situasi-situasi yang sulit bagi Apollo agar kepribadian dan kenangannya sebagai Apollonius secepatnya kembali ke permukaan. (Salah satu adegan paling terkenal sekaligus kocak di awal seri memperlihatkan bagaimana Toma berhasil memperangkap dan menyiksa Apollo bersama Solar Aquarion dalam suatu medan energi, kemudian menutup perkataannya dengan berkata, “… Apollonius, satu-satunya LELAKI yang pernah kucintai!” yang segera ditanggapi Apollo dengan teriakan ngeri, “HUUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”)

Tak hanya sekali pula, kesadaran Apollo justru bentrok dengan kesadaran Apollonius yang Apollo tuduh telah menyeret-nyeret dirinya ke dalam masalah. Tapi sedikit demi sedikit, masalah kepribadian Apollo dan teman-teman Element lainnya mulai teratasi berkat bimbingan Gen Fudou, pria misterius yang merupakan penemu asli Vector Machine, yang seakan kembali ke DEAVA setelah lama menghilang karena mendengar kemunculan kembali sang sayap matahari.

Seperti halnya Silvia yang mulai memperoleh potongan-potongan kenangan akan kehidupannya sebagai Celiane, Apollo perlahan memperoleh kenangannya akan kehidupan lampaunya sebagai Apollonius pula. Rasa sebal yang sebelumnya ada di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lain, seiring dengan mulai terlibatnya pihak New United Nations (PBB Baru) ke dalam cerita, yang kemudian memuncak pada perang terbuka besar-besaran melawan pihak Atlandia.

A Sad Journey

Remaja-remaja yang dikumpulkan oleh DEAVA sebagai Element sebenarnya sangat banyak. Tapi mereka yang berperan dalam cerita dan berkesempatan menggunakan Aquarion hanyalah lingkar dalam kawan-kawan Apollo dan Silvia. Selain mereka berdua dan Sirius, terdapat juga Hong Lihua (Reika), seorang gadis mandiri yang pemuram karena kehadirannya semata seakan selalu membawa kesialan bagi orang lain; Pierre Vieira, mantan pesepakbola Amerika Latin yang memakai sifat easy going-nya untuk menutupi kesedihannya; Tsugumi Rosenmeier, gadis berkacamata yang pemalu; serta Jun Lee, remaja berkacamata yang ramah dan ahli komputer.

Masing-masing dari mereka memiliki suatu kekuatan istimewa tersendiri, yang akan turut termanifestasikan saat mereka mengendalikan Aquarion. Dan salah satu aspek bagus seri ini (meski masih dengan cara agak aneh) adalah bagaimana Gen Fudou melatih mereka agar memiliki keadaan mental yang memungkinkan manifestasi kekuatan ini di dalam pertempuran. Apollo dengan keyakinannya yang kuat mampu menghasilkan tinju memanjang (khas super robot) Infinity Punch, Silvia memiliki tenaga besar, Sirius memiliki ilmu pedang sekaligus kekuatan es, Pierre memiliki tendangan bola api Fire Kick, dan lainnya.

Soal mecha, desain dan animasi mecha ini menurutku salah satu yang paling keren di sepanjang masa. Terlepas dari aspek pertempurannya yang terkadang enggak jelas, animasi perubahan wujud dan penggabungan ketiga Vector Machine menjadi Solar Aquarion, Aquarion Luna, dan Aquarion Mars benar-benar keren, halus, sekaligus memukau. Idenya memang sama dengan ide penggabungan tiga pesawat pada Getter Robo, hanya saja untuk kasus Aquarion, masing-masing pilotnya dapat dipertukarkan, dan sekalipun wujudnya sama, kekuatan serta kemampuan yang Aquarion miliki akan berubah tergantung pada siapa yang memilotinya itu.

Berbicara soal masing-masing wujud, Solar Aquarion (warna dasar: merah) merupakan bentuk paling seimbang sekaligus bentuk asli sesungguhnya dari Aquarion. Hanya pada wujud ini, sayap matahari(?) di punggungnya dapat dimanifestasikan. Spesialisasinya adalah pertarungan melee dan menggunakan Vector Sol sebagai penyusun bagian kepala. Wujud ini nyaris selalu dikendalikan oleh Apollo.

Aquarion Luna (warna dasar: hijau) yang menggunakan Vector Luna sebagai bagian kepala, berbentuk ramping dan unggul dalam gerak refleks dan serangan jarak jauh. Wujud ini bersenjatakan semacam busur dan panah, meski dapat juga melakukan serangan-serangan melee. Aquarion pada wujud ni biasanya dikendalikan oleh Silvia dan Reika.

Aquarion Mars (warna dasar: biru) menggunakan Vector Mars sebagai pembentuk kepala dan konon merupakan wujud paling cepat dari Aquarion, dengan badan kekar dan kaki panjang. Sirius karena pedangnya sering menggunakan wujud ini, dan demikian juga Pierre dengan keterampilan sepakbolanya.

Tsugumi dan Jun sama-sama sempat mengemudikan Vector Machine, tapi dalam cerita mereka lebih banyak berpartisipasi melalui ruang kendali. Apabila detak jantungnya meninggi, Tsugumi dapat memicu distorsi ruang yang akan menghasilkan letusan secara spontan. Sedangkan Jun memiliki kemampuan untuk menganalisa dan membaca struktur dari benda-benda di hadapannya.

Ada juga beberapa tokoh pendukung lain, seperti ibu guru Sophia yang perhatian dan komandan Jerome yang kurang kompeten. Tapi peran mereka terbilang kecil dibandingkan tokoh-tokoh lain. Oh ya, ada seorang tokoh Element lain bernama Rena, seorang gadis cantik buta berkursi roda yang kerap melontarkan kalimat-kalimat yang tak jelas maknanya dan diimplikasikan adalah seorang vampir. Uh, dia juga merupakan tokoh favoritku di seri ini.

Omna Magni

Fanservice di seri ini sebenarnya tak banyak. Hanya saja seri ini punya banyak … kecendrungan aneh.  Di samping soal Apollo dan Toma yang sudah disebutkan di atas, ada juga ketertarikan kuat yang Tsugumi rasakan terhadap Reika. Lalu yang paling jelas terlihat, kenyataan merisihkan saat ketiga Vector Machine bergabung. Jadi, masing-masing Element yang memegang kemudi perlu mensinkronkan gelombang prana mereka dan menyatukannya agar Aquarion terbentik. Lalu pada saat prana mereka menyatu itu, ada sensasi luar biasa yang reaksinya agak-agak menyerupai …  uh, yah, kau tahu.

Bicara soal presentasi, musik yang digunakan dalam seri ini sangat, sangat bervariasi. Mulai dari jazz sampai nada-nada balada yang sendu. Tapi yang jelas, lagu pembukanya semata yang dinyanyikan oleh Akino sudah lebih dari cukup untuk mendorong orang sampai tertarik pada seri ini.

Serius. Lagu pembuka yang pertama dan arti lirik-liriknya memang sekeren itu.

Mechanya memang keren. Tapi gaya visual dan dunianya sendiri mungkin takkan cocok dengan sebagian orang. Latar dunianya di mataku kayak … latar dunia yang ditampilkan dalam lukisan-lukisan zaman Renaissance? Ajaib, Latin, bernuansa coklat dengan bentuk-bentuk latar yang mengingatkan dunia mimpi, kurang lebih kayak gitu. Desain karakternya juga tak terlalu menonjol. Tapi semua elemennya tetap bisa nyatu dengan baik. Sampai menjelang akhir seri, seenggaknya.

Seperti seri-seri super robot zaman dulu, ceritanya lumayan mengikuti format ‘monster mingguan.’ Meski hal itu agak berubah menjelang akhir-akhir seri. Ada fokus ke kejadian-kejadian yang dialami oleh para karakternya. Tapi pemaparan kejadian-kejadiannya agak enggak jelas terkait ceritanya secara garis besar. Mungkin bakal ada yang agak terganggu juga dengan koherensinya (beberapa episode kadang tak jelas benar-benar ada maknanya atau tidak). Apalagi bila menilai akhir ceritanya, di mana semacam kesepakatan tercapai antara kaum manusia dan Shadow Angels demi terselamatkannya dunia, serta terpisahnya Apollo dan Silvia sampai reinkarnasi mereka berikutnya 12.000 tahun lagi mendatang. Tapi terlepas dari itu, ini benar-benar sebuah seri yang lumayan menonjol pada masanya (apapun alasan sebenarnya yang membuatnya menonjol).

Yah, aku cuma merasa perlu sedikit mengulas lagi seri ini bersama kemunculan seri Aquarion Evol yang baru.

Oh ya. Di samping seri TV Sousei no Aquarion yang terdiri atas 26 episode, sempat keluar juga versi OVA yang mengangkat inti konflik yang sama, tapi memberikan pendekatan cerita berbeda. Di samping porsi hubungan antara karakter-karakter Apollo, Toma, Sirius, serta Silvia seperti yang ada di seri TV-nya; karakter Reika mendapat porsi perkembangan lebih banyak. Serta ada juga penambahan karakter legendaris Scorpius, yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Apollonius di masa lalu, yang identitas reinkarnasinya di masa kini banyak dipertanyakan.

Versi OVA ini memiliki nuansa yang agak berbeda dibandingkan seri TV-nya, dan lumayan untuk dilihat bila kau suka tema mitologinya secara umum, tapi ingin melihat penggaliannya secara lebih mendalam.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: S; Perkembangan: C+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B-

29/11/2010

Macross Frontier: The False Songstress

Belum lama ini aku kesampaian menonton Macross Frontier: Itsuwari no Utahime (subjudul kurang lebih berarti: ‘sang diva palsu’), film layar lebar pertama dari seri animasi Macross Frontier yang pertama disiarkan pada tahun 2007 lalu.  Film layar lebar ini pada dasarnya merupakan reintepretasi ulang dari cerita yang disampaikan dalam seri televisinya. Aku semula mengira bahwa ini merupakan film kompilasi, seperti halnya kebanyakan movie adaptasi seri TV mecha lainnya.

Tapi ternyata, aku salah besar.

Don’t be late to my concert night!

Berlatar 30 tahun sesudah akhir seri televisi yang paling pertama, Super Dimensional Fortress: Macross, dengan bantuan teknologi Protoculture yang diketemukan kembali dari reruntuhan kapal induk Macross yang dulu pernah jatuh ke Bumi, umat manusia telah mulai melakukan eksplorasi ke angkasa raya untuk menemukan planet-planet baru yang bisa dihuni. Upaya ini dilakukan demi mencegah kemungkinan musnahnya umat manusia seperti yang hampir terjadi dalam perang besar melawan bangsa alien Zentraedi, yang akhirnya berakhir sesudah bangsa Zentraedi berhasil diperkenalkan kembali akan adanya ‘cinta kasih’ dan ‘budaya.’

Di salah satu kapal induk penjelajah ini, Macross Frontier, cerita dibuka dengan renungan remaja Saotome Alto tentang betapa inginnya ia bisa terbang di sebuah langit sungguhan secara bebas—tak terkungkung oleh kubah kaca pencipta langit sintetik seperti yang menaungi kota di Frontier.

Alto adalah remaja di SMA Mihoshi yang tengah menuntut ilmu untuk menjadi seorang pilot. Ia sebenarnya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mendalami seni peran kabuki. Ayahnya pun adalah seorang pemain kabuki ternama. Tapi Alto memberontak atas keinginan ayahnya yang berharap Alto mengikuti jejaknya, dan akhirnya lari dari rumah dan memilih untuk menjadi pilot. Sepanjang waktu, ia terus didera pertanyaan tentang benar tidaknya keputusan yang telah ia ambil ini, yang tercermin dari keinginannya untuk ‘terbang bebas’ tanpa terkekang oleh apapun yang mungkin menahannya.

Pada suatu ketika, ia dan teman-temannya diminta untuk menjadi ‘penerbang latar’ bagi penyanyi idola terkenal dari kapal induk Macross Galaxy, Sheryl Nome, yang akan mengadakan konster di Frontier. Mereka, dengan mengadakan perangkat terbang portabel Ex-Gear, akan terbang mengitari panggung konser dan bertanggung jawab dalam pemberian efek-efek khusus.

Rencana konster ini disambut dengan antusias oleh para penduduk Frontier. Terutama oleh gadis sahabat Alto dari sekolah lain yang bekerja paruh waktu di restoran Nyan-nyan, Ranka Lee. Ranka merupakan penggemar berat Sheryl, dan ia diam-diam bermimpi suatu saat bisa menjadi penyanyi tenar seperti dirinya juga.

Tapi konser meriah tersebut berakhir mendadak saat Macross Frontier tiba-tiba diserang oleh makhluk-makhluk luar angkasa misterius serupa serangga yang belakangan dikenal dengan sebutan ‘Vajra.’ Dalam kekacauan yang berlangsung, Alto mendapati dirinya terdampar bersama Ranka dan Sheryl. Lalu dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan bagaimana keberadaan organisasi paramiliter swasta SMS (Strategic Military Services) terkuak.

SMS rupanya adalah civilian miltary provider yang telah dipekerjakan oleh pemerintahan NUNs (New United Nations) untuk menyediakan sekaligus menguji persenjataan baru yang akan digunakan untuk pasukan militer mereka. Dalam pertempuran yang berlangsung, terlihat bagaimana hanya persenjataan canggih yang dibawa SMS sajalah yang mampu menjadi tandingan bagi ketangguhan fisik Vajra. Tapi kejutan terbesar yang Alto dapatkan adalah kenyataan bahwa dua teman sekolahnya, Michel Blanc dan Luca Anggeloni (dalam seri TV dikisahkan karena latar belakang keluarga mereka) juga adalah pegawai SMS. Untuk menjaga kerahasiaan keberadaan SMS, Alto mendapat tawaran untuk secara formal bergabung menjadi pilot pesawat tempur Valkyrie VF-25 Messiah.

Dengan demikian, kehidupan baru Alto bersama SMS pun dimulai.

@ Formo

Pendapat bahwa inti cerita movie ini sama persis dengan seri TV-nya sebenarnya tak salah. Tapi eksekusinya yang berbeda benar-benar menjadikannya lebih bagus secara mencengangkan.

Cerita berkembang dengan dihubunginya kembali Alto oleh Sheryl yang ingin meminta bantuan dalam mencari sebelah antingnya yang hilang. Anting tersebut hilang dalam kekacauan yang berlangsung sebelumnya, dan Sheryl tak tahu lagi siapa yang bisa ia mintai tolong karena anting tersebut memiliki arti yang teramat mendalam baginya.

Melalui rangkaian adegan yang terbentuk sesudah itu, kita disuguhi fokus lebih terhadap perkembangan hubungan mereka berdua yang anehnya tak ada dalam seri TV. Hal tersebut menjadikan baik Alto maupun Sheryl tokoh-tokoh yang lebih simpatik, dan ini diperkuat dengan performa kedua pengisi suara mereka yang di sini memainkan peranan mereka dengan benar-benar optimal.

Ranka, bintang baru yang memulai debutnya dan akan menjadi saingan Sheryl, tentu saja juga mendapatkan porsi perkembangan karakter yang pas. Trauma yang menyegel ingatan masa lalunya yang terkait dengan Vajra masih memegang peranan besar. Tapi segala sesuatu soal debutnya tak dieksposisi berlebihan seperti yang dilakukan dalam versi seri TV.

Karakter-karakter sampingan seperti Michel dan Grace O’Connor juga secara efektif mendukung perkembangan karakter yang dialami Alto dan Sheryl. Di versi ini terlihat betapa masing-masing dari mereka seseungguhnya memiliki ikatan persahabatan yang mendalam dengan satu sama lain, yang sekali lagi, tak begitu tersampaikan dalam seri TV-nya.

Sisa persoalan relationship lain hanya sebatas diimplikasikan saja. Segala sesuatu menyangkut Ozma Lee—kakak angkat Ranka yang secara diam-diam juga bekerja sebagai pemimpin Skull Squadron SMS—juga hanya dihadirkan bersama segala sangkut pautnya dengan Ranka dan Vajra. Tokoh-tokoh seperti Leon Mishima dan Brera Sterne (yang kini ditampilkan sebagai bodyguard Sheryl dan Grace) juga masih belum terlalu berperan dalam versi cerita ini. Jadi perhatian film ini tak pernah melenceng dari hubungan segitiga antara Alto, Sheryl, dan Ranka; dan pendekatan itulah yang membuatnya menjadi bagus!

Cerita mencapai klimaksnya saat Alto mencurigai Sheryl sebagai mata-mata pihak Galaxy, yang sengaja mendekatinya agar bisa mendapatkan informasi rahasia dari SMS. Tapi dugaan bahwa orang-orang Galaxy sengaja memancing Vajra ke Frontier terbantahkan saat tanda SOS telah diterima dari Galaxy yang kini di ambang kehancuran akibat serangan Vajra. Saat Ozma bersama Catherine Glass, putri presiden pemerintahan Frontier, mengetahui kenyataan sebenarnya yang pemerintahan Frontier sembunyikan ini, Sheryl secara mengejutkan menyewa jasa SMS untuk mengirim skuadron pasukan tempur ke Galaxy dan menyelamatkan para pengungsi. Hasilnya adalah salah satu adegan animasi pertempuran mecha paling memukau yang pernah kulihat.

Memang masih ada sejumlah subplot yang dibiarkan menggantung. Tapi movie ini memang baru melingkupi setengah cerita. Kisah ini masih akan dilanjutkan dan dituntaskan dalam film layar lebar kedua yang akan keluar awal tahun 2011 nanti, Macross Frontier: Sayonara no Tsubasa (subjudul kurang lebih berarti: ‘sayap-sayap perpisahan’).

Apa seri ini masih akan bisa diakhiri sebagaimana semestinya? Yah, kita lihat saja nanti. Tapi dengan melihat gelagatnya—terutama dari perkembangan plot yang dimulai dari Sheryl menginspirasi Alto, lalu dilanjutkan dengan Alto balik menginspirasi Ranka—sepertinya para pembuat telah melakukan pengkajian teramat mendalam tentang apa sesungguhnya yang bisa mereka lakukan dengan cerita ini. Kurasa kita bisa menghasilkan hasil yang baik.

(Oya. Untuk peringatan, ada beberapa adegan nudity yang agak mengganggu di dalamnya. Tapi kayaknya soal ini enggak ada artinya aku permasalahkan.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A-; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A