Lanjut ke konten
Iklan

Posts tagged ‘romance’

Darling in the Franxx

Kehilangan tujuan hidup itu menakutkan. Mungkin itu enggak kebayang kalau kalian masih remaja. Tapi, jujur, itu suatu hal yang mengerikan. Kehilangan tujuan hidup berujung pada retaknya identitas. Retaknya identitas berujung pada hilangnya makna/arti keberadaan.  Bila tak berarti, kau tak lagi diperlukan. Kalau kau tak diperlukan, kau ada atau enggak, enggak ada bedanya. Kau hidup atau mati, enggak ada bedanya. Kau tiba-tiba mati pun tak apa-apa.

Pikiran yang berlangsung itu kira-kira kayak gitu. Itulah alasan kenapa kasus-kasus PHK dan tuna wisma (terutama di luar negeri) bisa menjadi musibah besar. (Dan disusul kasus-kasus bunuh diri.)

Darling in the Franxx adalah anime yang dengan apik berhasil memaparkan soal kehilangan tujuan hidup.

Darling in the Franxx merupakan proyek anime mecha drama romansa orisinil yang diproduksi lewat kolaborasi Studio Trigger dan CloverWorks (Sebelumnya, A-1 Pictures; studio cabang A-1 Pictures yang menangani seri ini berubah status menjadi independen di pertengahan masa produksi.). Berjumlah total 24 episode dan ditayangkan dalam dua cour, seri ini lumayan menarik perhatian (kontroversial) pada paruh awal 2018. Sutradaranya adalah Nishigori Atsushi (sebelumnya dikenal lewat IDOLM@STER). Naskahnya dikerjakan Nishigori-san barengan bersama Hayashi Naotaka, Ohtsuka Masahiko, Yamazaki Rino, dan Seko Hiroshi (secara bersama menggunakan nama Code:000). Musiknya ditangani Tachibana Asami. Ada adaptasi manga juga, dengan kualitas lebih bagus dari dugaan, yang dibuat Yabuki Kentaro (mangaka To-Love-Ru!). Ada juga manga lepasan 4-kotak bergenre komedi yang dibuat oleh Mato.

Karena keberhasilannya memaparkan soal kehilangan tujuan hidup di awal cerita, aku langsung merasa bahwa kayak gimanapun hasilnya ntar, Darifura pasti punya ‘sesuatu’ yang bagus. Aku enggak salah sih, tapi bagus enggaknya seri ini di akhir ternyata lumayan patut diperdebatkan.

Selain soal pemaparan temanya, lagu pembukanya, “Kiss of Death”, dinyanyikan Nakashima Mika juga ngemunculin nuansa yang jarang kamu temuin di anime-anime lain. Secara mencolok, lagu itu diproduksi Hyde, musisi Jepang ternama yang menjadi pentolan band L’Arc-en-Ciel. Perlu kuakui, sebagian daya tarik seri ini juga berasal dari lagu tersebut.

Jadiiiii, meski mengangkat tema demikian, berhubung Studio Trigger yang memproduksi, pasti ada elemen komedi yang seri ini punyai ‘kan? Elemen komedinya itu ada, tapi itu dibarengi dengan porsi drama yang ternyata sangaaaat banyak.

Kalau boleh jujur, sewaktu pertama mengumumkan proyek ini di panel mereka di ajang AX 2017, kebanyakan pemerhati tak yakin harus bereaksi bagaimana terhadap seri ini. Di satu sisi, isu yang diangkat itu kayaknya serius. Sedangkan, di sisi lain, mengenal kecendrungan Trigger, kita sebagai fans juga pengen teriak, “Kalian tuh serius enggak sih?!” Dan kesan tersebut berlanjut sesudah seri ini mulai ditayangkan.

Sangkar Burung

Darifura dibuka dengan perkenalan terhadap Hiro, atau yang secara resmi dikenal dengan nama Code:016. Hiro adalah anak remaja yang merupakan satu dari sekian banyak anak Parasite yang hidup dan dibesarkan bersama. Anak-anak Parasite diindikasikan tercipta melalui proses rekayasa genetik (jadi, bukan dilahirkan secara alami). Bersama, mereka dibesarkan di suatu instansi rumah taman bernama Mistilteinn. Di awal cerita, Hiro sedang memikirkan nasibnya karena telah gagal dalam suatu ujian yang instansi berikan, sementara semua temannya yang lain lulus.

…Agak, susah menceritakan detilnya.

Pokoknya, adegan pembuka ini, yang secara puitis memaparkan perasaan Hiro, kayak bisa mengingatkan kamu sama sejumlah hal berbeda, tergantung kamu orang yang kayak gimana (dan makanya, anime ini berakhir jadi sesuatu yang kontroversial). Tren ini berlanjut di sepanjang seri (baik dalam arti baik maupun buruk). Maka dari itu, terlepas dari apa kau bisa menyukainya atau enggak, Darifura tetap bisa berakhir jadi sesuatu yang berkesan.

Meski galau dan bimbang, di permukaan, Hiro terbilang tenang. Dia sangat tenang dan tetap sopan. Dia tak marah. Dia tak meledak-ledak. Dia hanya… sangat kecewa, mungkin? Jadinya, dia secara halus menolak simpati teman-temannya, dan kemudian memutuskan untuk menyendiri. Sehingga, walau kita belum terlalu kenal Hiro, ada nuansa manusiawi (yang di awal) lumayan berhasil dipaparkan. Pemaparan psikologis dan suasananya itu keren. Mirip seperti gaya arahan di Neon Genesis Evangelion.

Hiro ingin menyendiri. Kemudian di tengah hutan, dia kebetulan berjumpa dengan sosok gadis lebih tua berambut pink bernama Zero Two. Lalu dari sanalah, cerita ini berjalan.

Singkat cerita, latar Darifura adalah dunia pasca bencana di mana tanah di seluruh dunia kering kerontang. Umat manusia hanya bisa hidup dalam kota-kota besar berkubah yang terus berpindah bernama Plantation. Plantation bergerak dengan mengandalkan sesuatu yang disebut magma energy. Namun, untuk bisa menggunakan magma energy, umat manusia harus berhadapan dengan makhluk-makhluk buas yang disebut Klaxosaur (Kyoryuu).

Di sinilah anak-anak Parasite itu berperan. Untuk bisa menghadapi Klaxosaur, yang dapat diandalkan hanyalah mecha-mecha raksasa Franxx (yang nyata-nyata digambarkan lebih mirip perempuan raksasa ketimbang mesin). Franxx ini hanya bisa dikemudikan berpasangan oleh anak-anak Parasite, seperti Hiro dan kawan-kawannya.

Karena gagal dalam ujian kelulusan penentuan untuk bisa memiloti Franxx inilah, Hiro—yang sebelumnya dipandang sebagai murid paling berpotensi di antara teman-temannya—menjadi merana. Hiro tak bisa mencapai tingkat sinkronisasi yang dibutuhkan dengan partnernya, Naomi (Code:703) untuk bisa mengendalikan Franxx. Karena dinilai gagal, keduanya akhirnya mau dikesampingkan dan “dipindahkan” ke luar Plantation.

Namun, sesudah bertemu Zero Two, dan ada Klaxosaur tiba-tiba menyerang, Hiro ternyata terbukti masih bisa memiloti Franxx, asalkan partnernya adalah Zero Two. Situasipun berubah. Keputusan Hiro untuk dipindahkan dari Mistilteinn pun tertunda.

Penyebabnya, yang sekaligus jadi akar masalah utama seri ini, adalah bagaimana kemudian terungkap juga bahwa dari pengalaman lalu-lalu, siapapun yang berpartner dengan Zero Two sebagai pilot Franxx pada akhirnya akan tewas lebih awal dari waktunya.

Itu nasib agaknya akan kelak dialami Hiro juga bila bersikeras berpartner dengan Zero Two.

Mati Dengan Arti Lebih Baik Ketimbang Hidup Tanpa Arti

Membahas soal teknis dulu (karena itu yang paling gampang diangkat), presentasi Darifura benar-benar keren. Kalau menilai dari key visual-nya saja memang enggak terlalu kelihatan. Apalagi, dengan gaya desain karakter yang dipakai. Tapi, kalau melihatnya dalam bentuk animasi, Darifura memiliki visual apik dengan pemilihan warna yang selalu pas. Desain karakternya simpel, tapi dengan kuat menunjukkan identitas masing-masing karakter sekaligus beragam ekspresi mereka.

Kerasa bagaimana ada banyak simbolisme ditampilkan dalam adegan-adegannya, yang sekali lagi, mengingatkan pada anime-anime psikologis lawas dari Gainax (yang menjadi awal mula Trigger), macam Neon Genesis Evangelion atau Kareshi Kanojo no Jijou. Baik dalam nuansa warnanya, penataan audionya, dan sebagainya. (Tapi, tidak sampai kayak di Shoujo Kakumei Utena.) Saking udah lamanya enggak ada lagi anime (mecha) psikologis kayak begini, aku seriusan susah mengatakan Darifura sebagai anime yang jelek.

Mengecewakan? Mungkin iya. Aneh? Agak mesum? Jelas! Tapi jelek? Kayaknya enggak.

Salah satu hal berkesan dari presentasi Darifura adalah pada bagaimana pada adegan-adegan dramatis tertentu, visualnya akan mendadak berubah jadi layar lebar gitu. Bagian atas dan bawahnya dipotong, sehingga cakupan pandangan kita dipersempit secara vertikal dan diperlebar secara horizontal. Efeknya secara emosional benar-benar keren. Terutama dengan beragamnya tema yang seri ini berusaha angkat.

Tema-tema Darifura setahuku meliputi:

  • Soal menjalani hidup panjang tanpa makna atau menjalani hidup pendek dengan makna.
  • Soal menerima kenyataan dan keikhlasan melepas hubungan masa lalu.
  • Soal makna peradaban manusia.
  • Soal membesarkan anak dan makna punya keturunan.
  • Soal seksualitas dan mengenal lawan jenis.
  • Soal pelampiasan amarah bila masa lalu kamu enggak enak, dsb.

Sayangnya, meski sangat apik menghadirkan hal-hal tersebut per episode, dalam gambaran besarnya, Darifura kurang berhasil menyatukan itu semua. Jadinya, Darifura di akhir berkesan kayak proyek yang enggak benar-benar jelas mau tentang apa, meski berhasil memaparkan semua temanya secara baik (dan bahkan sampai berulangkali menuai kontroversi dan meme segala).

Namun, kalau membayangkan apa yang seri ini berhasil capai, menurutku ini tetap seri yang berhasil kok. Maksudku, sangat jarang ada anime kolaborasi dua studio yang berakhir sebagus ini. (Terlepas dari sejumlah penundaan yang episode-episodenya alami.)

Di samping itu, dengan luasnya cakupan tema yang ada, seakan sudah terjamin sejak awal bahwa akhir ceritanya takkan memuaskan.

Dalam perkembangannya, ceritanya tak lagi seputar hubungan antar karakter dan rahasia-rahasia yang tersembunyi dari permukaan. Melainkan jadi soal serangan alien. Semua drama dan kegalauan soal cinta dan persahabatan di paruh awal tergantikan dengan kegentingan soal serbuan alien! (Dalam hal ini, ras luar angkasa spiritual VIRM yang dikisahkan pernah menyerang bumi di masa lalu.)

Maksudku, memang ada misteri-misteri yang jadinya terjawab. Tapi, tetap saja, itu jadinya luar biasa aneh ‘kan?

Hanya saja, berhubung cerita Darifura memang sudah aneh sejak awal, aku tak benar-benar kaget. Malah, aku lebih kaget dengan kenyataan bagaimana ceritanya berakhir dengan semacam penghormatan terhadap Gunbuster—anime mecha klasik Gainax yang lain, terkenal karena memaparkan satu robot raksasa di luar angkasa yang melawan sepasukan alien di tempat yang sangat jauh dari Bumi—ketimbang memberikan tamat membingungkan khas Gainax (Gainax Ending) ala seri TV Neon Genesis Evangelion.

Argh. Aku udah ngomong kepanjangan.

Intinya, susah diskusi soal Darifura secara adil. Mungkin kalian suka. Mungkin kalian benci. Potensinya luar biasa besar di awal, tapi semua berakhir dengan… yah, aneh.

Burung-burung Bersayap Satu

Berlanjut ke soal mecha.

Kita tak bisa membahas soal mecha-mecha Darifura tanpa membahas soal para karakternya. Alasannya karena… uh, yang juga jadi salah satu poin konrtoversial seri ini, untuk memilotinya, para cewek seakan harus ‘menyatu’ dengan mecha Franxx dan kemudian baju pilot mereka menjadi antarmuka kendali(!) bagi para cowok dalam kokpit sempit yang sama. Pokoknya, jadinya ada kesan benar-benar mesum (karena buat mengendalikan Franxx, para pilot cowok jadi harus memegang pegangan di pantat partner cewek mereka), sekalipun para karakternya dikisahkan sangat awam seputar seks.

Kukatakan saja. Seluruh perkembangan karakter yang Hiro alami, dengan mechanya sebagai metafora, bahkan bisa dilihat sebagai alegori seorang cowok yang mengalami disfungsi ereksi dan mendapati diri jadi hanya bisa berhubungan bersama seorang cewek yang kelakuannya kurang baik.

Ya, jelas saja seri ini jadi memicu kontroversi!

Sayangnya, kalau kita mau mengesampingkan semua itu pun, aspek mecha Darifura sebenarnya tak bisa dibilang memuaskan juga. Menarik sih, dan animasinya enak dilihat. Hanya saja, karena kesannya yang organik, kalian yang menyukai visual-visual berbau permesinan akan kecewa berat terhadap seri ini.

Ditambah lagi, pertempuran-pertempuran dengan Klaxosaur, meski terkadang keren, kerap terkesan generik. Klaxosaur digambarkan sebagai makhluk-makhluk abstrak dengan warna hitam atau biru, yang memiliki ‘inti’ yang harus bisa dihancurkan kalau mau dikalahkan. Frekuensi pertempurannya cukup jarang. Kalaupun ada, sekali lagi, yang disorot lebih seputar dramanya, jadi seri ini kurang disarankan bila kalian meminati aksi. Terutama dengan bagaimana potensi untuk adegan-adegan aksi besar itu sebenarnya ada, tapi berakhir kurang tergali. (Meski kalau dibandingkan seri mecha ‘berat’ macam Gasaraki atau Patlabor, kurasa porsi aksinya tetap lebih banyak ini.)

Terlepas dari itu, mecha-mecha Franxx utama beserta para karakter yang mengendalikannya antara lain:

  • Strelizia, yang bermotif merah, bersenjatakan tombak raksasa berkawat Queen Pike. Dapat berubah menjadi wujud binatang berkaki empat saat pilot cowoknya tewas/pingsan. Dikemudikan oleh:
    • Hiro, Code:016, tokoh utama yang terkesan kosong karena merasa ada sesuatu yang hilang darinya jauh di masa lalu.
    • Zero Two alias Nine Iota, Code:002. Gadis bertanduk dan berambut pink yang liar dan di awal cerita, membenci sekelilingnya. Tengah mencari seseorang yang dia sebut sebagai darling-nya. (‘darling‘: salah satu panggilan sayang terhadap seseorang dalam Bahasa Inggris)
  • Delphinium, bermotif biru, menggunakan sepasang pedang pendek bernama Envy Shop. Berperan sebagai pemimpin pasukan. Dikemudikan oleh:
    • Ichigo, Code:015, gadis berambut pendek yang sebelumnya sangat dekat dengan Hiro, dan menjadi yang paling terpukul dengan kondisi Hiro sekaligus hubungan barunya dengan Zero Two.
    • Goro, Code:056, pemuda jangkung berkacamata yang baik hati dan merupakan teman terdekat Hiro. Diam-diam menyukai Ichigo, tapi menghormati perasaan yang Ichigo pendam terhadap Hiro.
  • Argantea, bermotif pink, mengutamakan kecepatan, bersenjatakan sepasang cakar pelindung tangan Night Claw. Dikemudikan oleh:
    • Zorome, Code:666, anak lelaki pendek dan berisik yang juga gegabah. Sangat kagum terhadap para orang dewasa di Plantation, terutama sosok bertopeng Papa yang membina mereka, dan berharap suatu hari bisa bergabung dengan mereka kelak.
    • Miku, Code:390, gadis berkuncir dua yang sedikit centil. Menganggap Zorome menyebalkan, tapi menerima partnernya apa adanya.
  • Genista, bermotif hijau gelap, dilengkapi lapisan pelindung berat, bersenjatakan bayonet artileri Rook Sparrow yang dapat menimbulkan kerusakan besar. Di awal cerita, dikemudikan oleh:
    • Futoshi, Code:214, anak gemuk yang sangat suka makan. Baik hati dan ceria. Sangat suka pada partnernya.
    • Kokoro, Code:556, lemah lembut dan feminin, cenderung perhatian terhadap orang lain. Menjadi orang pertama yang menyadari kejanggalan-kejanggalan tentang masa depan mereka.
  • Chlorophytum, bermotif ungu, ramping dan dikhususkan untuk pertempuran jarak jauh, bersenjatakan deretan peluncur Wing Span. Di awal cerita, dikemudikan oleh:
    • Mitsuru, Code:326, anak penyendiri yang berkesan tinggi hati. Pernah akrab dengan Hiro di masa lalu.
    • Ikuno, Code:196, perempuan berkacamata yang rapi dan tertutup. Memendam perasaan istimewa terhadap Ichigo.

Hiro dan kawan-kawannya diawasi keseharian dan pendidikannya oleh dua orang dewasa yang hanya dikenal dengan sebutan Nana (perempuan, ramah dan perhatian) serta Hachi (lelaki, pendiam, bersifat logis). Nana dan Hachi melapor langsung kepada Dr Franxx, alias Werner Frank, ilmuwan legendaris pencipta Franxx sekaligus ahli di bidang magma energy. Lalu seiring perkembangan cerita, terungkap berbagai hal tak biasa tentang Hiro dan kawan-kawannya bahkan dalam ranah dunianya sendiri. Apalagi sesudah diperkenalkan juga anak-anak dari kesatuan-kesatuan lain. Khususnya, dari kesatuan elit Nines pimpinan Nine Alpha, pasukan lama di mana Zero Two pernah tergabung, yang sama sekali berbeda dari Hiro dan kawan-kawannya.

Seiring banyaknya pertanyaan tentang siapa Hiro dan kawan-kawannya, apa yang telah terjadi pada dunia, siapa sebenarnya Zero Two, apa sebenarnya organisasi misterius APE, apa iya Hiro akhirnya bakal mati, apa sebenarnya yang sedang terjadi; kita lalu dibawa ke perjalanan aneh seputar hubungan masa lalu yang manusia punyai dengan Klaxosaur.

…Iya, ujung-ujungnya tetap aneh.

Bulan Madu Panjang

Kalau ada satu hal tentang Darifura yang jelas unggul, maka itu adalah bagaimana dinamika karakternya berhasil dipaparkan. Hubungan yang terjalin kompleks. Ada porsi-porsi masa lalu yang terlupakan. Ada dendam-dendam yang belum terbayar. Pemaparan dinamika karakternya beneran luar biasa. (Hubungan Futoshi dan Kokoro, hubungan Ichigo dan Hiro, sampai hubungan Dr Franxx dengan Code:001 mendiang istrinya?) Sedemikian bisa kena ke orang, dan karenanya terkadang bisa tak nyaman untuk ditonton. Karena itu, yah, Darifura lumayan susah direkomendasikan. Apalagi dengan bagaimana paruh akhir ceritanya tak sekuat paruh awalnya.

Emang enggak biasa aku menyebut soal tamatnya begini. Tapi, aku merasa perlu menyinggung bagaimana Darifura berakhir dengan keberhasilan kawan-kawan Hiro menghidupkan lagi dunia, serta reuni kembali Hiro dan Zero Two jauh di masa depan. Itu tamat yang… enggak jelek, tapi terasa kurang pas? Apalagi dibandingkan segala yang telah terjadi di sepanjang seri ini. Soalnya… apa ya?

Darifura jadi terasa kayak… hasil eksperimen yang agak lepas kendali. Awal ceritanya benar-benar berkesan. Aku sangat menghormatinya dengan kemiripan nuansanya dengan Neon Genesis Evangelion. Tapi, memasuki paruh kedua cerita, meski aku mengerti kenapa mereka jadi membuatnya demikian (mereka kehabisan ide?), kesan kuat yang seri ini sebelumnya punya jadi memudar. Aku tak lagi terkesima olehnya, tapi aku tak sampai bisa membencinya juga. Hanya sebatas… senang bahwa seri ini akhirnya tamat saja.

Aku paham kehilangan tujuan hidup itu berat. Tapi, sebagai cowok, punya tujuan hidup di samping punya pasangan itu penting. Malah, sebagai cowok yang mau nikah, aku dengan ini menyatakan bahwa pasanganku mungkin bahkan enggak akan ngelirik aku andai aku enggak punya tujuan hidup. Bukannya tersanjung, dia bahkan mungkin bakal muntah kalau aku bilang tujuan hidupku adalah untuk nikah sama dia.

Makanya, melihat arti hidup Hiro adalah bersanding dengan Zero Two, oke, mungkin itu agak romantis. Tapi, itu aneh. Apalagi dalam konteks realistis yang seri ini angkat. Hiro memang berjuang melawan VIRM demi masa depan umat manusia. Tapi, dalam ceritanya, dia seperti melakukannya lebih agar bisa bersama Zero Two ketimbang alasan lain. (Zero Two seperti punya alasan lebih kuat untuk bisa bersama Hiro, tapi sudahlah.)

Bahkan penayangan SSSS. Gridman di musim ini kini memberikan nuansa Evangelion yang lebih kental dibandingkan Darifura dulu. Sangat disayangkan, karena Darifura menurutku hanya lemah di soal naskah pada bagian-bagian akhir. Sayang, karakter Hiro tak berkembang lebih jauh. Aku kecewa dengan bagaimana Hiro tak menamai Zero Two lagi. Di samping itu, bagaimana Tomatsu Haruka menyuarakan Zero Two juga terasa… tak lazim?

Eniwei, kalau kalian penyuka segala isu soal relationship, mungkin kalian bakal suka Darifura. Kalau tidak, ini bakal jadi seri yang berat untuk dimasuki.

Kayak biasa, apa aku menyesal telah mengikutinya? Ahahaha. Kayak biasa, jawabannya enggak.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A;  Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Durarara!! x2 Ketsu

Sekitar awal tahun 2018, aku beresin Durarara!! x2 Ketsu (‘ketsu’ di sini kira-kira berarti ‘penyelesaian’).

Aku telat menyadari ini, tapi penayangan Durarara!! x2 membuat seri ini termasuk LN yang hampir seluruh cerita novelnya tuntas diangkat ke bentuk anime. Enggak banyak (sangat sedikit?) LN yang kayak gitu. Ceritanya memang langsung lanjut ke seri sekuel, Durarara!! SH sih. Tapi, itu cerita lain. Di samping itu, trilogi x2 ini kayaknya memang dibuat buat mempromosikan sekuel tersebut.

Sekali lagi, Durarara!! (atau DRRR!!) diangkat dari seri light novel karangan Narita Ryohgo (Baccano!, Fate/strange fake). Ilustrasinya dikerjakan Yasuda Suzuhito (Yozakura Quartet). Penerbitannya dilakukan dari tahun 2004 oleh ASCII Media Works (di bawah Square Enix) dan tamat semenjak Januari 2014. Jumlah totalnya 13 buku.

Ketsu adalah bagian ketiga sekaligus terakhir dari trilogi x2. Trilogi ini adalah kelanjutan anime Durarara!! pertama yang diproduksi Brain’s Base di tahun 2010. Meski studio produksinya beda, hampir seluruh stafnya sama. Karena sudah ngikutin Shou (yang pertama), kemudian Ten (yang kedua), rasanya sayang kalau aku enggak beresin Ketsu. Tanggung. Apalagi jumlah episodenya enggak banyak, cuma 12.

Total keseluruhan episode Durarara!!x2 bersama Shou dan Ten adalah 36, ditambah 3 episode OVA yang berdiri sendiri. Ditambah lagi lagi, intrik ceritanya benar-benar saling berhubungan. Sehingga sayang banget solusi semua keruwetan ini enggak aku tuntasin.

Sedikit catatan soal situasi pribadi aku, Ketsu mengudara pada Januari 2016, persis setahun sesudah Shou. Aku sibuk pada masa-masa itu. Tanpa terasa, beberapa tahun sudah berlalu semenjak terakhir aku menonton. Karena lagi senggang (waktu itu), aku sekalian berusaha beresin hal-hal yang belum tuntas sebelum aku nikah. Salah satunya ya, termasuk nonton ini.

Sekali lagi, komposisi stafnya sendiri masih sama dengan yang sebelumnya. Diproduksi studio animasi Shuka, sutradaranya Omori Takahiro, komposisi serinya dibuat Takagi Noboru, musik ditangani Yoshimori Makoto. Enggak banyak yang bisa selain itu.

Meski demikian… iya sih, secara menyeluruh, memang terasa ada yang beda pada feel-nya.

Dunia Fiksi Jadi Taman Bermain…

Isi cerita yang diangkat dari novel karya Narita-sensei, kayak biasa, agak susah dirangkum. Ada banyak sekali jalinan cerita yang saling berhubungan. Tapi, dalam Ketsu, poin-poin terpenting yang terjadi menurutku adalah:

  • Bagaimana kepala dullahan Celty Sturluson (yang sempat ketemu, tapi kemudian hilang lagi) mau dikembalikan ke badannya oleh suatu pihak misterius.
  • Bagaimana Saika, pedang katana mistis yang bisa membuat korban-korbannya “jatuh cinta,” tahu-tahu “berkembang biak” dan bertambah jumlah penggunanya.
  • Bagaimana geng Dollars, yang menimbulkan kehebohan beberapa waktu sebelumnya karena konflik dengan geng motor, hendak dihancurkan oleh pendirinya sendiri.

Cerita Ketsu benar-benar jadi puncak seluruh cerita Durarara!! sejauh ini. Karena saking banyaknya yang terjadi, memang kadang susah mengikuti semuanya.

Celty datang jauh-jauh ke Jepang untuk mencari kepalanya yang hilang. Celty menelusuri jejak kepalanya sampai ke Ikebukuro. Tapi, dengan pencarian yang semula berakhir buntu, Celty akhirnya malah jadi membangun kehidupannya sendiri sebagai pengantar barang berkekuatan supernatural untuk orang-orang dunia hitam. Celty bahkan menemukan cinta bersama dokter bawah tanah muda bernama Kishitani Shinra.

Shinra semenjak kecil lalu jatuh cinta pada Celty. (Sekalipun kenyataannya Celty tak punya kepala dan jelas bukan manusia.) Bagaimana ini bisa terjadi? Karena Shinra merupakan anak orang yang bertanggung jawab atas hilangnya kepala tersebut.

Shinra adalah anak dari Kishitani Shingen, ilmuwan agak gila yang tertarik atas kepala Celty dan fenomena-fenomena supernatural lain. Bertahun-tahun silam, Shingen memutus ikatan supernatural antara Celty dan kepalanya dengan sebilah pedang kuno bernama Saika.

Saika, yang kita tahu dimiliki siswa SMA Sonohara Anri, adalah pedang katana berkekuatan ajaib yang bersemayam dalam tubuh pemiliknya. Siapapun yang tertebas Saika akan “jatuh cinta” kepada siapa yang menebas. Siapa yang ditebas akan jadi punya Saika lain di dalam tubuh mereka juga.

Dibeberkan bahwa Saika yang dipakai memotong kepala Celty ini lalu dijual Shingen seorang kenalannya, yang merupakan pedagang barang antik. Anri ternyata adalah putri mendiang pedagang ini, yang kemudian jadi punya pedang tersebut sesudah kedua ortunya wafat.

Sebagai akibat berbagai kekacauan yang terjadi di Ikebukuro (yang dipicu, tapi tidak diperkeruh, oleh informan/orang-di-balik-layar Orihara Izaya). Celty akhirnya mengetahui bagaimana Shinra selama ini ternyata merahasiakan lokasi kepalanya yang hilang. Shinra menyembunyikan ini karena khawatir Celty akan pergi bila memperoleh kepalanya lagi. Jadi, di tengah maraknya peredaran obat terlarang, perseturuan geng-geng jalanan, insiden tabrak lari, serangan terhadap markas yakuza, merebaknya zombie Saika, kemunculan pembunuh-pembunuh dari Russia, dsb., akhirnya terjadilah perpecahan antara pasangan kekasih Celty dan Shinra.

Puncak semuanya adalah… yah, saat Celty dan kepalanya akhirnya bersatu lagi.

Itu juga jadi saat ketika pihak-pihak yang selama ini berseteru akhirnya saling berhadapan untuk menuntaskan konflik mereka.

Rasa Bersalah yang Menjadi Tuhan Kamu

Bicara soal teknis, kualitas Ketsu enggak beda jauh dengan dua pendahulunya. Baik visual maupun audionya sama-sama solid. Entah kenapa, enggak sampai sempat bikin wow kayak di season pertamanya, tapi itu dimaklumi karena struktur ceritanya yang emang enggak biasa.

Ceritanya sangat terkesan episodik gitu. Awalnya, kurang kerasa adanya kesinambungan antara satu episode dengan episode lain. Makanya, trilogi ini terus terang mungkin agak susah diikuti oleh kebanyakan penggemar awam.

Mungkin karena itu pula, secara teknis, seri ini jadi punya kesan benar-benar “rapi.” Staf pembuatnya seperti berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan konyol gitu. Ada sejumlah adegan yang kerasa kayak bisa mereka bikin lebih keren asalkan mereka mau, tapi mereka berakhir enggak melakukannya. Enggak sampai ‘jelek.’ Sekedar ‘menarik’, tapi enggak sampai ‘wah’. (Ini paling kerasa dari penataan musiknya sih; yang di anime pertama terasa sangat cocok, tapi di trilogi ini hanya sekedar masuk saja.)

Fokusnya pada karakter juga membuat latar lokal Ikebukuro jadi kurang tertonjolkan. Ini masih terasa kayak latar yang sama, tapi kita jadi banyak dibawa ke sudut-sudut gelapnya yang kita enggak yakin persisnya di mana. Tapi, itu juga masih sejalan dengan ceritanya yang lebih berat sih.

Meski begitu, kesan tanggung itu sepenuhnya berakhir di episode terakhirnya. Episode terakhir Ketsu itu seriusan keren dan memuaskan. Aku beneran terkesan dengan bagaimana semua jalinan plot utama berhasil dibereskan. Si bartender berkekuatan super Heiwajima Shizuo akhirnya melakukan duel mautnya dengan Izaya, dan aksinya beneran keren. Lalu Ryuugamine Mikado juga menyelesaikan konflik pribadinya dengan dukungan teman-teman dekatnya, dan resolusinya pun muasin.

Dunia Fiksi yang Sama Pentingnya Dengan Kenyataan

Salah satu hal paling berkesan di x2 adalah bagaimana tokoh antagonis yang paling ditonjolkan di sepanjang trilogi, Kujiragi Kasane, sekretaris yang bekerja untuk sosok Yodogiri Jinnai yang sangat misterius, ternyata bukanlah tokoh antagonis utama dari seri ini. Tokoh antagonis utamanya itu seseorang yang lain. Seorang tokoh lama, malah.

Bagaimana semua perkiraan itu dibelokkan menjelang akhir cerita itu beneran keren. Apalagi, saat dibeberkan indikasi tentang asal usul Kasane yang ternyata masihberhubungan dengan seorang karakter lain.

Akhir kata, aku lumayan tak menyesal mengikuti trilogi x2. Tapi, ada kesan sangat kuat kalau mengikuti seri novelnya akan jauh lebih memuaskan. Memang agak disayangkan karena x2 tak semulus anime Durarara!! pertama; atau bahkan Baccano!. Tapi, akhir ceritanya—episode terakhirnya banget—yang memuaskan  seakan menutupi hal ini.

Daripada pelajaran atau pesan moral, cerita Durarara!! secara menyeluruh buatku lebih terasa seperti semacam cerita peringatan. Kayak, apapun yang kau lakukan, sesombong apapun kau tentangnya, ujung-ujungnya nanti pasti ada konsekuensi yang kau terima. Lalu, konsekuensi itu bakal muncul dengan cara-cara rumit dan enggak disangka. Di samping itu, konsekuensi itu mungkin hanya disadari orang-orang bersangkutan dan tak diketahui orang lain.

Lumayan cocok dengan zaman sekarang?

Yah, jaga diri, guys.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: B+ ; Kepuasan Akhir: A-

Fireworks

Beberapa bulan lalu, aku lupa gimana persisnya, secara kebetulan aku melihat posternya Fireworks saat lagi jalan di mall.

Aku terdiam beberapa lama. Setengah alasannya karena enggak mengira itu akan tayang di Indonesia. Separuh alasannya lagi, karena poster tersebut menurutku memang keren. Berlatar pantai, di waktu menjelang senja. Si tokoh utama cewek menoleh ke belakang sementara si tokoh utama cowok memanggilnya dari kejauhan. Sementara, di langit di atas mereka, kembang api meletus secara meriah dalam beraneka warna.

Meski aku lagi banyak pikiran (atau, justru karena lagi banyak pikiran?) dan kurang begitu punya duit, aku langsung ngerasain suatu dorongan aneh buat menontonnya.

Anime Fireworks punya judul lengkap Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom?, dan judul asli Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka (judulnya secara umum kira-kira berarti, ‘soal kembang api, mending kita lihatnya dari bawah atau samping?’). Sebagai anime, film layar lebar ini termasuk unik karena merupakan pembuatan ulang (sekaligus modernisasi) dari film drama televisi live action berjudul sama yang dibuat Iwai Shunji pada tahun 1993.

Sewaktu pertama membaca berita tentangnya di ANN dulu, aku sempat mencari sedikit info soal film live-action ini. Karena tak ingin di-spoiler, aku hanya sebatas tahu bahwa film aslinya dibintangi oleh Yamazaki Yuta dan Okina Megumi, terbilang bagus, dan mengetengahkan cerita agak aneh yang berhubungan dengan cinta segitiga dan lari dari rumah.

Anime berformat layar lebar ini diproduksi studio Shaft, dengan disutradarai Shinbo Akiyuki (sebagai kepala sutradara) bersama Takeuchi Nobuyuki. Produsernya adalah Kawamura Genki. Naskahnya ditangani oleh Ohne Hitoshi. Musiknya ditangani oleh Kosaki Satoru. Durasinya 90 menit dan pertama dirilis di Jepang pada bulan Agustus 2017.

Moshimo

Fireworks berlatar di awal liburan musim panas, tatkala sekelompok siswa sekolah menengah di sebuah kota di tepi pantai masih harus datang ke sekolah untuk mengikuti pelajaran tambahan. Pada hari yang sama, ada festival musim panas yang ceritanya mau diadakan di kuil. Terus, sebagai puncak festival itu, akan diadakan acara peluncuran kembang api.

Ada dua plot utama yang terjalin. Satu, soal bagaimana sebuah pembicaraan konyol antara sekelompok anak lelaki, yang mencakup Shimada Norimichi dan teman-temannya, berujung pada bagaimana mereka mau mengadakan perjalanan ke mercu suar dekat pantai demi membuktikan apakah letusan kembang api itu ‘bundar’ atau ‘pipih.’ Dua, soal Oikawa Nazuna, seorang siswi populer yang sedikit banyak diidolakan di kelas mereka.

Pada titik ini, ceritanya berkembang jadi agak aneh.

Jadi, sebelum Norimichi dan sahabat dekatnya, Azumi Yuusuke, tiba di ruang kelas dan terlibat pembicaraan konyol seputar kembang api di atas, mereka kebagian tugas untuk membersihkan kolam renang. Tugas ini dengan senang hati mereka emban karena mereka sekalian dibolehkan menggunakan kolam. Lalu di kolam renang itu, secara mengejutkan, mereka kemudian menjumpai Nazuna dalam pakaian renang.

Singkat cerita, Yuusuke sudah lama naksir pada Nazuna. Norimichi juga diam-diam menyukai Nazuna, meski belum sampai mengakuinya. Makanya, saat Nazuna, yang baru selesai berenang, meminta keduanya untuk berlomba renang dengan mempertaruhkan suatu hal, keduanya menurut saja.

Belakangan terungkap, keputusan Nazuna mengajak siapa yang menang lomba tersebut untuk menemaninya pergi ke festival ternyata juga dilandasi pertimbangan lain. Nazuna mengadakan lomba renang itu juga untuk memilih siapa di antara Norimichi dan Yuusuke yang akan diajaknya kawin lari.

“Dunia dengan kembang api pipih itu enggak mungkin ada!”

Film televisi asli Fireworks kabarnya adalah bagian dari seri if moshimo. Tak banyak yang diketahui tentang seri televisi ini di luar Jepang. Tapi, agaknya, premisnya mengeksplorasi jalur-jalur kejadian berbeda yang dialami para karakternya dalam hidup. Andai A yang terjadi, dan bukan B; misalnya.

Mungkin ini mirip film Hollywood lawas Sliding Doors.

Fireworks versi anime juga seperti itu. Titik kejadian ‘berbeda’ yang jadi penentu dalam hal ini (seenggaknya, titik yang ‘utama’ dalam versi animenya) adalah siapa yang memenangkan lomba renang, apakah itu Yuusuke (dalam kejadian asli) atau Norimichi.

Animenya memperkaya premis ini dengan kehadiran batu kristal misterius yang ditemukan Nazuna di tepi laut (yang mungkin berhubungan dengan mendiang ayahnya). Batu kristal ini agaknya memiliki kekuatan aneh untuk memutar balik waktu setiap kali dilempar.

Segala kejadian yang terjadi kemudian dilihat dari sudut pandang Norimichi.

Keinginan Norimichi untuk bisa menolong cewek yang disukainya dieksplorasi. Kemarahan Yuusuke, dengan bagaimana Norimichi tiba-tiba menyembunyikan hal-hal tertentu darinya, juga digali. (Meski, nyatanya, dia ciut sendiri saat kesempatan untuk bersama Nazuna muncul.) Kekecewaan Nazuna terhadap ibunya—yang untuk kesekian kalinya, hendak menikah lagi—juga dipaparkan, membuat kita mengerti landasan berpikirnya, meski sulit untuk bisa menyetujui tindakannya. Penggalian karakter di anime ini benar-benar bagus.

Lalu, mengiringi semua itu, yah… ada soal kembang api.

Soal kembang api—dan bagaimana teman-teman Norimichi pergi ke mercu suar untuk melihat apakah letusan kembang api itu sebenarnya gepeng atau bulat—sebenarnya tak berpengaruh besar dalam cerita. Tapi, secara menarik, awal perjalanan ini seolah menjadi penggerak sejumlah hal.

Perjalanan ke mercu suar berlangsung secara paralel dengan upaya pelarian Norimichi dan Nazuna, menghadirkan sejumlah adegan yang benar-benar menarik. Terutama saat semua karakter di cerita ini (Norimichi, Nazuna, Yuusuke, teman-teman mereka, ibu Nazuna, dan bahkan guru-guru mereka di sekolah) sama-sama bertanya-tanya soal apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Terima kasih Untuk Hari Ini

Bicara soal teknis, kalau kalian mengira studio Shaft telah berganti haluan (mengira arahan visual mereka berganti jadi mirip karya-karya Shinkai Makoto-sensei atau semacamnya), maka kalian salah. Ini tetap anime Shaft murni. Gaya visual khas mereka dengan warna-warna berkesan monoton, ditambah dengan banyaknya close up ke wajah, serta sedikit bumbu fanservice, masih tetap ada.

Jadi, iya.

Segala keanehan normal mereka, sekaligus bawaan mereka buat nge-troll, juga masih ada.

Awalnya, mungkin visualnya akan terkesan kurang menonjol. Tapi, seiring pemaparan cerita, dan melihat sendiri semakin anehnya dunia (mimpi?) yang dijelajahi Norimichi bersama Nazuna, mungkin kalian akan mengerti kenapa Shaft mengangkat cerita ini sebagai proyek film layar lebar mereka.

Secara teknis, film ini seriusan bagus. Bahkan dengan segala nuansa melankolisnya, ini komedi romantis yang benar-benar berkesan. Pertaruhan para produser kelihatannya berhasil. Fireworks tercatat sebagai keluaran Shaft dengan pemasukan paling besar sejauh ini.

Aku sedikit kecewa dengan bagaimana kembang api kurang memainkan peran dalam klimaks cerita. Tapi, ada banyak arahan visual ini film ini yang beneran aku hargai. Adegan pembuka, yang sama-sama menampilkan Norimichi dan Nazuna di dasar air, dengan perkataan “Andaikan…” dari Norimichi yang terus berulang, memberi kesan benar-benar kuat. Perasaan sesal terpendam, ataupun rasa suka, dari para karakternya berhasil dipaparkan.

Lalu, meski kurang memberikan resolusi sekaligus penjelasan yang jelas (yang agaknya, bisa membuat orang-orang penyuka sains fiksi macam mangaka Gantz Hiroya Oku agak ngamuk sesudah menontonnya; hei, bahkan aku sendiri juga agak kecewa sama tamatnya!), aspek terkuat dari film televisi Fireworks yang membuatnya sebegitu dikenal konon kabarnya berhasil didapat.

Aspek terkuat itu apa?

Jawabannya adalah rasa suka. Cinta terpendam di masa muda yang pahit dan manis, dan sekaligus berujung pada rasa penyesalan.

Hal inilah yang digali lewat tema pengulangan waktu serta pilihan-pilihan yang Norimichi ambil.

Jadinya… apa ya? Film ini berakhir mengesankan, tapi dengan cara yang enggak biasa bagi studio Shaft gitu. (Lalu, ambigu, jadi masih tetap nge-troll.)

Soal audio, film ini termasuk mumpuni. Musiknya benar-benar ‘masuk.’ Lalu akting para seiyuu-nya, akting mereka benar-benar bagus. Aktris dan aktor profesional Hirose Suzu dan Suda Masaki (ahem, yang paling aku kenal sebagai pemeran Phillip dalam Kamen Rider W) berperan benar-benar meyakinkan sebagai Nazuna dan Norimichi. Seiyuu andal Miyano Mamoru juga keren dalam menampilkan beragam sisi kepribadian Yuusuke. Yang paling membuatku terkejut, aktris dorama veteran Matsu Takako juga berperan di film ini sebagai ibu Nazuna. Meski peran beliau terbatas, akting beliau di sini benar-benar alami.

Jadi, kalau kalian merasa punya penyesalan dengan cinta masa lalu kalian yang enggak kesampaian, mungkin kalian akan merasakan sesuatu yang ‘dalam’ saat menonton anime ini. Ada sebagian orang berkomentar bahwa pesan terkuat anime ini adalah caranya menjelaskan bagaimana ada beberapa hal tertentu yang memang sudah ditakdirkan untuk tak terjadi.

Cara Agar Tak Menyesal

Jadi, balik ke soal pengalamanku saat menontonnya, ada isu relationship yang kebetulan sedang aku hadapi. Lalu menonton film ini seriusan tak membantuku sama sekali.

Tapi, apa itu berarti aku menyesal karena telah mengeluarkan uang untuk menontonnya?

Jawabannya, tidak! Aku tidak menyesal!

Meski kadang aku senang di-troll oleh Shaft, itu bukan berarti aku maso! Aku hanya jadi dibuat memikirkan sejumlah hal yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Lalu, itulah yang mendorong aku buat jadi lebih berusaha sungguh-sungguh!

Sebagai penutup, membandingkan dengan versi filmya, kudengar versi filmnya hanya mengangkat dua kemungkinan jalur, yang ditentukan oleh balapan renang itu. Selain memodernisasi latar, animenya juga menaikkan usia para karakternya (dari SD, kelihatannya ke SMP) dan sedikit mengubah isu yang Nazuna hadapi (dari yang aslinya perceraian jadi ke pernikahan kembali). Tapi, selebihnya, katanya, hati yang melandasi keduanya tetap sama.

Kalian belum tentu suka dengan film ini. Tapi, kalau kalian sudah jadi penggemar anime-anime keluaran Shaft (seri Monogatari, Sangatsu no Lion, Zaregoto), anime ini sayang untuk dilewati karena menampilkan Shaft pada performa terbaik mereka.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A-;  Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

Isekai wa Smartphone to Tomo ni

Isekai wa Smartphone to Tomo ni, atau yang juga berjudul In Another World With My Smartphone (‘di dunia lain bersama ponsel pintarku’), adalah seri yang agak anomali.

Isekai Smartphone berawal dari seri web novel yang dikarang Fuyuhara Patora dari tahun 2013. Mulai tahun 2015, seri ini diterbitkan resmi oleh Hobby Japan dengan ilustrasi buatan Usatsuka Eiji. Pada awal tahun ini, tahu-tahu saja seri ini diadaptasi ke bentuk anime oleh Production Reed. Sutradaranya Yanase Takeyuki. Naskah ditangani oleh Takahashi Natsuko. Musik dikomposisi oleh Exit Tunes. Jumlah episodenya sebanyak 12 dan animenya pertama tayang pada musim panas tahun 2017.

Masih di sekitar awal 2017, seri ini juga mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan format e-book oleh J-Novel Club. Terjemahan mereka beneran bagus. Dari forum JNC-lah, aku mulai benar-benar tahu tentang Isekai Smartphone.

Jadi, Isekai Smartphone termasuk salah satu dari sekian banyak seri bertema isekai yang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Tak hanya itu. Seri ini konon dipandang sebagai salah satu contoh seri isekai yang paling generik. ‘Generik’ dalam artian enggak terlalu jelek tapi juga enggak terlalu bagus.

Sangat biasa.

Semua yang lazim ada dalam suatu seri isekai ada di seri ini. Ada tokoh utama cowok yang imba. Ada dunia lain. Ada harem yang terdiri atas cewek-cewek cantik. Yah, kalian tahu.

Makanya, saat animenya diumumkan, ini sempat mengherankan banyak pihak. “Wut? Di antara begitu banyak seri isekai di luar sana, kok malah seri ini yang dipilih buat jadi anime sih?” Soalnya, ada banyak pilihan seri isekai lain yang jauh lebih mencolok. Seperti Kumo desu ga, nani ka?, misalnya. Atau Desumachi. (Produksi anime Desumachi sudah diumumkan btw, tapi kabar-kabar kemajuan proses produksinya sejauh ini agak bikin fansnya harap-harap cemas. …Di samping itu, Tate Yuusha no Nariagari, seri isekai lain yang sudah menarik simpati banyak fans, juga sudah dikerjakan proyek adaptasinya.)

Bahkan di forum JNC yang aku sebut di atas, saat perusahaan mereka masih belum lama berdiri dan mereka masih sedang mencari judul-judul baru untuk dilisensi, pendiri JNC menyatakan bahwa Isekai Smartphone menjadi seri yang ‘disodorkan’ padanya. Seolah pihak penerbit aslinya kelihatan yakin sekali dengan seri ini. Dengan kata lain, di negara asalnya, seri ini lumayan populer dan punya basis fans kuat.

Semula, aku juga bukan penggemar Isekai Smartphone. Bahkan dari semenjak terjemahan bahasa Inggris WNnya tersedia dikerjakan fans, aku tidak menaruh perhatian terhadapnya. Namun, semenjak animenya diumumkan, aku mulai penasaran.

Alasan pertama: aku memperhatikan kalau yang memproduksi animenya adalah Production Reed. Aku langsung mengerti kalau hasil produksinya ternyata tidak akan wah. Dalam benakku, mereka studio ‘tidak besar’ yang sebelumnya mengerjakan seri-seri sederhana macam Onsen Yousei Hakone-chan dan Niji-iro Days. Meski begitu, aku simpati. Isekai Smartphone seolah menjadi terobosan mereka dalam menangani proyek-proyek lebih besar.

Belakangan aku tahu, Production Reed ternyata tidak sepenuhnya baru. Mereka ‘reinkarnasi’ Ashi Productions, studio sangat veteran yang dulu menangani sejumlah anime terkenal macam seri mahou shoujo legendaris Magical Princess Minky Momo, seri Macross 7 yang masih menjadi seri Macross terpanjang sejauh ini, dan anime super robot lawas dan serius Dancouga. Sebelum tampil kembali sebagai Production Reed di tahun 2015, Ashi Productions rupanya ‘mati suri’ cukup lama semenjak proyek Dancouga Nova mereka di tahun 2007.

Alasan kedua: meski tanggapan sebagian besar orang terhadap animenya lumayan negatif, ternyata ada sejumlah kenalanku yang benar-benar menyukainya. Bahkan sepupuku, yang mendalami seluk-beluk ilmu perfilman, menjadi salah satunya. Aku terus mikir, pasti ada sesuatu tentang anime ini yang menarik perhatian dia ‘kan? Tapi apa?

God’s in His Heaven, all’s right with the world!

Isekai Smartphone berkisah tentang remaja lelaki bernama Mochizuki Touya yang tersambar petir pada suatu hari saat pulang sekolah, lalu mendapati diri dihidupkan kembali oleh Dewa di suatu dunia lain. Alasan dia dihidupkan di dunia lain itu karena sudah jadi ketentuan kalau dirinya tak bisa dihidupkan lagi di dunianya yang semula.

Dewa menawarkan untuk memberi kompensasi pada Touya karena telah mematikannya tanpa sengaja. Karena tak merasa perlu apa-apa yang khusus, Touya kemudian sekedar meminta agar smartphone-nya masih bisa ia gunakan di dunia lain tersebut. Entah terkesan dengan kesederhanaan Touya atau bagaimana, selain memungkinkan smartphone-nya ditenagai kekuatan sihir agar tetap bekerja (dan bisa tersambung ke Internet(!), meski Touya tidak diperbolehkan memposting apa-apa), Dewa kemudian sekalian memberi Touya berbagai keistimewaan lain yang tidak langsung tampak. (Belakangan diketahui itu termasuk afinitas ke semua elemen sihir, peningkatan kemampuan fisik, serta kekuatan sihir laten yang sangat besar.)

Sekalian, Dewa memasukkan info kontaknya ke dalam ponsel Touya agar Touya bisa langsung menghubunginya kalau ada apa-apa.

Touya lalu mendapati diri berada di wilayah pinggiran Kerajaan Belfast, di mana dia kemudian bertemu bermacam orang dan tanpa sengaja terlibat bermacam urusan konyol sekaligus serius. Berkenalan dengan teman-teman baru, Touya mulai bekerja sebagai petualang. Dia mulai belajar tentang sihir. Dia mulai bantu-bantu orang. Berbekal fitur-fitur smartphone-nya yang canggih dan diperkuat, dia juga mencoba menciptakan berbagai barang dan masakan dari dunianya yang lama agar bisa dipakai di dunianya yang baru.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Brunhilde (Yang Penuh Tawa dan Air Mata)

Cerita Isekai Smartphone lebih digerakkan oleh karakter. Ceritanya ringan dan lumayan bernuansa komedi. Meski ada elemen-elemen aksi dan petualangan, Isekai Smartphone sebenarnya lebih dekat ke cerita keseharian.

Isekai Smartphone tidak memiliki struktur plot yang perlahan membangun konflik (pada awalnya). Ceritanya lebih seperti rangkaian cuplikan adegan keseharian yang saling terhubung dan berkesinambungan. Agaknya, hal ini juga yang sempat mematikan minat sebagian orang.

Kalau aku ceritain begini, kedengarannya emang kurang menarik. Dalam bentuk anime, bahkan dengan genrenya yang komedi, jadinya tetap saja aneh. Tapi, kalau kau menepis semua pengharapanmu, dan bersabar dengan bagaimana ceritanya dituturkan, ada hal-hal tertentu tentang Isekai Smartphone yang bisa bikin terkesan.

Ada dunia baru yang diperkenalkan. Ada hal-hal baru yang dipelajari. Ada teman-teman baru yang dikenalkan. Seperti yang bisa diharapkan dari suatu seri isekai, Touya serba bisa. Tapi, yang menjadikannya istimewa dibandingkan seri-seri isekai lain kebanyakan, Isekai Smartphone punya sisi konyol konsisten yang ringan dan menghibur, yang membuatnya cocok sebagai bacaan untuk melepas penat. Kesan akhirnya lumayan unik.

Terlepas dari itu, mereka yang sudah dikonfirmasi(?) termasuk dalam harem Touya (meski dia sendiri sama sekali semula tidak merencanakan hal ini) meliputi:

  • Elze Silhoueska; onee-chan dari pasangan gadis kembar Silhoueska yang sama-sama berambut perak. Dia salah satu orang pertama yang Touya kenal ketika baru tiba di dunia baru. Berambut panjang, memiliki bawaan bersemangat yang mendahulukan bertindak sebelum berpikir. Meski begitu, terkadang dia bisa tiba-tiba saja merasa rendah diri. Elze memiliki kemampuan Null Magic bernama Boost yang meningkatkan untuk sementara parameter-parameter fisiknya. Elze beraksi dengan sepasang gauntlet yang digunakannya bersama ilmu bela diri. Dirinya tidak memiliki afinitas dengan elemen-elemen sihir lain. Dalam perkembangan cerita, Elze berstatus sebagai tunangan ketiga.
  • Linze Silhoueska; yang lebih muda dari pasangan gadis kembar Silhoueska, sekaligus yang lebih pendiam. Berbeda dari kakaknya, Linze memiliki afinitas elemen yang konvensional, dan karenanya beraksi dengan mengandalkan serangan sihir. Linze-lah yang mengajari Touya tentang sihir di dunia ini (ada enam elemen, dengan sihir non-elemen Null Magic yang bersifat pribadi dan menjadi kemampuan khusus penggunanya, yang ternyata bisa digunakan sepenuhnya oleh Touya). Linze juga yang mengajari Touya soal cara menulis dan membaca. Elemen-elemen yang Linze kuasai meliputi cahaya, api, dan air. Dalam perkembangan cerita, Linze berstatus sebagai tunangan kedua.
  • Kokonoe Yae; gadis samurai yang datang dari negeri Eashen yang jauh di timur (yang nuansanya sangat mirip Jepang, dan karenanya, Touya kerap disangka berasal dari sana.). Bersenjatakan sepasang katana. Yae sedang dalam perjalanan untuk mengasah kemampuan berpedangnya. Yae sempat ditolong kelompok Touya saat kelaparan sesudah bekal perjalanannya hilang. Yae berbicara dengan cara sedikit aneh. Makannya juga banyak. Meski Yae tidak berbakat sihir, Touya belajar banyak soal ilmu bela diri dari dia. Dalam perkembangan cerita, Yae berstatus sebagai tunangan keempat.
  • Yumina Urnea Belfast; putri mahkota Kerajaan Belfast yang menjadi teman Touya sesudah Touya secara kebetulan menolong ayahnya. Memiliki sepasang mata berbeda warna yang salah satunya memiliki kemampuan untuk membaca ‘sifat’ masing-masing orang (kemampuan ini adalah bagian Null Magic yang Yumina miliki). Dari ‘penglihatannya,’ Yumina kemudian memilih Touya untuk menjadi pasangannya. Berbeda dari teman-teman Touya yang lain, usia Yumina termasuk yang agak muda, tapi sifatnya justru yang paling dewasa. Mulai ikut tinggal bersama Touya sebagai petualang, dengan mengandalkan sihir sekaligus kemampuan memanah. Elemen-elemen sihir yang dapat digunakannya mencakup tanah, angin, dan kegelapan. Yumina yang pertama mengajari Touya sihir pemanggilan. Dalam perkembangan cerita, Yumina berstatus tunangan pertama. (Semenjak pertama berhubungan, Touya kerap dibujuk oleh ayah Yumina untuk bersedia mengambil alih mahkota kerajaan.) Yumina juga tidak berkeberatan dengan poligami karena memang itu kebiasaan para raja di dunia ini. (Keluarga Yumina saja yang tidak lazim.)
  • Sushie Urnea Ortlinde; adik sepupu Yumina yang kebetulan sempat ditolong Touya dalam kesempatan terpisah. Anak perempuan dari saudara laki-laki raja Belfast. Masih anak-anak. Belum banyak berperan di anime, tapi aku sebutkan saja karena dia termasuk yang ditonjolkan dalam animasi penutup. (Dalam perkembangan cerita di novel, Sushie menjadi tunangan keenam Touya karena sedikit isu politik yang melibatkan suatu negara lain. Dia diyakini akan tumbuh dengan penampilan mirip Yumina kelak.)
  • Leen; gadis mungil yang ternyata berusia ratusan tahun dan merupakan kepala suku peri di negara tetangga Kerajaan Mismede. Memiliki penampilan gothic loli, senantiasa ditemani seekor boneka beruang ‘hidup’ yang dinamainya Paula. Dari Leen, Touya belajar Null Magic Program yang memungkinkannya mengendalikan benda-benda. Leen juga adalah guru penyihir kerajaan di Belfast, Charlotte, dan menjadi tertarik dengan Touya semenjak mengetahui tentangnya. Dari Leen, Touya mengetahui lebih banyak tentang keberadaan puing-puing kuno. Belakangan, Leen menjadi duta besar baru bagi Mismede untuk Belfast. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Leen menjadi tunangan kedelapan.)

Selain mereka, Touya juga jadi berteman dengan para pembesar Belfast, keluarga pemilik penginapan tempat mereka dulu menumpang (sebelum mereka punya rumah mereka sendiri di ibukota), pengusaha pakaian yang maniak dengan desan pakaian baru, seorang pemilik toko senjata, pemimpin Kerajaan Mismede yang dihuni beastmen, lalu belakangan… juga dengan manusia buatan bernama Cesca yang mengakui Touya sebagai pewaris sejumlah artefak kuno yang melayang-layang di angkasa milik mendiang Regina Babylon. (Yang kemudian harus dipersatukan Touya sebagai semacam bentuk ujian baginya sebagai pewaris.)

Jumlah tokoh yang diperkenalkan seri ini lumayan banyak. Di luar dugaan, kesemuanya berperan banyak dalam keseharian Touya. Terutama sesudah Touya diberi wilayah kosong yang kemudian menjadi negeri Brunhilde yang dikelolanya sendiri.

Bagi yang penasaran (sesudah mereka ditampilkan di teaser di akhir anime), dua tunangan Touya lainnya adalah Hilde, ksatria putri dari Kerajaan Ksatria Lestia, yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat Touya kebetulan menolong negerinya dari serangan musuh; dan Sakura, gadis hilang ingatan bersuara jernih, yang sebenarnya adalah putri tersembunyi dari negeri iblis Xenoah. Keduanya diperkenalkan seiring pencarian Touya terhadap artefak-artefak yang melayang di udara di atas, sebelum kemudian ikut tinggal bersama Touya dan keluarganya yang baru di Brunhilde.

Pulau-pulau Babylon

Membahas soal teknis, anime Isekai Smartphone mengangkat cerita dari sekitar buku pertama sampai ketiga dari seri novelnya. Dari segi alur, adaptasi ceritanya, secara mengesankan, lumayan setia dengan novel. Yang enggak aku sangka, cerita-cerita sampingan yang ada di novel-novelnya (meski tidak semua) ternyata juga ikut diadaptasi. Penempatannya lumayan mulus. Terasa bagaimana cerita-cerita sampingan itu menyatu dengan cerita utama.

Sisi buruknya, cerita utama tersebut enggak berkembang sejauh yang aku harap. Beberapa karakter yang tampil di animasi pembuka luput terjelaskan peranannya. Ada beberapa benang alur yang berakhir tak terselesaikan. (Seperti soal monster-monster Fraze/Phrase, yang sempat disinggung mungkin akan mendatangkan hancurnya dunia.)

Kalau dipikir, keputusan ini wajar. Cerita-cerita sampingan itu memang lumayan memaparkan kekhasan seri ini.

Meski begitu, adaptasi anime ini tetap berhasil mengemas ceritanya agar berakhir di titik yang enak, tanpa menutup kemungkinan ceritanya masih berlanjut.

Soal visual, kualitasnya tidak istimewa, tapi tetap menarik. Pemilihan warnanya yang beragam lumayan selaras dengan nuansa cerah yang seri ini bawakan. Meski tidak sampai detil, penggambaran berbagai latar tempatnya juga terbilang indah dan beragam. Ada puing-puing ibukota lama (yang di bawahnya mereka pertama menemukan monster berbahaya penyerap sihir Fraze/Phrase secara tanpa sengaja), ada kota petualang Reflet tempat Touya pertama kali tiba, ada ibukota Belfast yang lokasinya benar-benar enak. Meski tidak berat di soal perjalanan, nuansa perjalanan yang seri ini lumayan terasa.

Animasinya juga biasa sih. Mungkin malah ada yang akan menganggapnya sangat kurang. (Ada proporsi badan aneh, ada adegan menebas yang aneh, ada gerakan pertarungan yang bisa dibikin jauh lebih baik.) Tapi, sepupuku sempat menyinggung bagaimana dia terkesan dengan cara adegan-adegannya dibawakan. Dengan kata lain, kalau soal menyampaikan narasi, seri ini sebenarnya enggak punya kekurangan. (Meski, narasi yang dibawakannya memang enggak istimewa sih.)

Mungkin perlu kusinggung, seri ini juga punya beberapa karakter… uh, maskot. Jadi, meski ada fanservice-nya (serta beberapa dialog yang agak menjurus), ada juga semacam aspek imut dan lucu yang seri ini punya. Selain beruang Paula yang sudah aku sebut di atas, juga ada Kohaku, harimau putih kecil yang sesungguhnya adalah White Monarch, salah satu dari empat makhluk sihir terkuat yang berkuasa di alam. Dalam perkembangan cerita di novel, jumlah karakter-karakter maskot ini nanti terus bertambah.

Soal audio, kesan Isekai Smartphone lebih campur aduk. Musik pembuka dan penutupnya tak buruk. (Lagu penutup “Junjou Emotion” dinyanyikan bergantian oleh para heroine.) Para seiyuu juga secara umum juga berperan baik. (Kecuali Touya, tapi nanti aku bahas lebih lanjut soal itu.) Tapi, musik latarnya… sebagian ada yang pas dan sebagian lagi enggak. Secara umum, semuanya enak didengar sih. Aku suka dengan penekanannya terhadap alat-alat musik tiup. Namun di beberapa bagian, tetap terasa ada yang sesuatu yang kurang.

Intinya, dari segi teknis, menurutku lumayan terasa bagaimana Production Reed masih meraba-raba cara terbaik dalam proses mereka. Tapi, serius, hasil akhir Isekai Smartphone menurutku enggak buruk.

Aku masih aneh dengan segmen-segmen komedi di peralihan adegan-adegannya sih. Tapi, kalau menyangkut soal ceritanya sendiri, meski mengikuti detil-detil yang terasa enggak penting agak susah, aku lambat laun berhasil dibuat penasaran soal kelanjutan ceritanya.

Yea, aku jadi penasaran dengan seri-seri novelnya!

Mengingat suatu anime belakangan diproduksi sebagai ‘iklan’ untuk seri aslinya, bisa dibilang misi para produsernya sebenarnya sukses.

Lalu, kalau boleh jujur, meski ada bagian-bagian cerita yang kualitasnya meragukan, seri novelnya secara umum asyik. Kayak ringan dan gampang diikuti gitu. Benar-benar hiburan yang pas buat melepas stres. Ceritanya juga lambat laun berkembang dan menjadi lebih serius.

Sesudah menyatukan seluruh bagian Babylon, Touya harus memikirkan cara untuk menghalau serbuan Phrase. Langkah yang dia lakukan adalah membangun robot-robot raksasa Frame Gear. Namun, langkahnya diperumit saat ada dewa liar membagi kekuatan dewatanya bersama musuhnya, dan sebagainya. Ceritanya semakin menarik saat dewa-dewa lain tertarik pada Touya dan mulai tampil sebagai “anggota-anggota keluarganya.”

Slime Tidak Populer Dengan Wanita

Sesudah mengikuti Isekai Smartphone, aku jadi sedikit mikir: apakah kunci sukses kita di dunia sebenarnya ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan ‘dia yang berkuasa’? Tapi, dari sini, kita ada dua pertanyaan. Satu: siapakah yang berkuasa? Dua: bagaimana cara kita bisa dekat dengannya?

Kalau mikir ini lebih jauh, aku jadinya kepikiran soal agama.

…Yah, Terlepas dari itu, kayak biasa untuk kasus-kasus begini, meski versi anime punya sisi-sisi baiknya, versi novel Isekai Smartphone masih lebih bagus ketimbang animenya.

Perbedaan paling kentara terdapat pada cara pemaparan pribadi Touya sendiri. Meski Touya nyata-nyata memang orang baik—dan alur animenya hampir sama persis dengan yang di novelnya—versi novelnya secara umum diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Monolog internal Touya inilah yang membuat versi novelnya jadi beneran menarik, karena Touya ternyata punya sedikit sisi nyinyir dan sinis yang kurang berhasil ditampilkan di anime.

Ceritanya enggak pernah jadi sangat bagus. Tapi, untuk ukuran novel isekai, versi novel Isekai Smartphone seriusan termasuk yang gampang dinikmati. Meski kesan permukaannya datar, reaksi internal Touya terhadap segala sesuatu benar-benar kocak. Iya, aspek romansanya agak maksa. (Menarik gimana malah aspek ini yang justru jadi ditonjolkan di animenya.) Namun, dengan segala kesederhanaannya, ini bacaan fun yang di dalamnya ada saja hal unik yang terjadi.

Perlu disinggung elemen per-game-an yang biasa ada di suatu seri isekai juga sama sekali absen di seri ini.

Ngomong-ngomong, Fuyuhara-sensei konon mengetik novel ini menggunakan smartphone-nya juga. Aku seriusan heran gimana orang bisa sampai kayak gini.

Eh? Soal smartphone Touya?

Oh. Iya.

Smartphone nanti beneran berperan dalam cerita. Dengan menggabungkan fungsi-fungsinya dengan Null Magic, Touya jadi menemukan berbagai cara kreatif untuk fitur-fitur dan aplikasi ponselnya.  Awal-awalnya memang enggak menonjol. Tapi, makin ke sana, jadi makin menarik.

Eh? Cowok misterius yang muncul di akhir itu jadinya siapa?

Namanya Ende, pengelana dari dunia lain yang kehadirannya terkait dengan ancaman serangan Phrase akibat sesuatu-sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan cintanya. Ende lebih banyak berperan sebagai sekutu bagi Touya ketimbang musuh sih. (Salah satu mecha raksasa Frame Gear yang Touya dapatkan nantinya dikasih ke dia.) Kalau anime ini dapat season baru, mungkin dia bakal dapat porsi lebih banyak.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Seiren

Seiren itu aneh.

Aku punya alasan pribadi untuk mengikuti Seiren (judulnya kira-kira berarti: ‘kejujuran’, ‘sungguh-sungguh’), tapi cerita Seiren enggak kusangka bakal seaneh ini.

Sedikit info dulu.

Seiren diproduksi bersama oleh Studio Gokumi dan AXsiZ. Pertama tayangnya di musim dingin awal tahun 2017.

Aku antusias saat Seiren diumumkan. Alasannya, karena produksinya mengusung nama Takayama Kisai.

Takayama-san adalah ilustrator sekaligus pencetus game Amagami. Adaptasi anime Amagami, Amagami SS dan Amagami SS+, sempat menarik perhatian beberapa tahun lalu. Aku sempat suka. Lalu begitu tahu kesuksesan itu hendak diulang dengan bagaimana Takayama-san mendesain karakter sekaligus menangani naskah Seiren, aku tentu saja jadi tertarik.

Selain beliau, musik ditangani Nobusawa Nobuaki. Penyutradaraannya ditangani Kobayashi Tomoki yang belakangan dikenal berkat anime aksi Akame ga Kill!.

Berbeda dengan Amagami, Seiren murni diproduksi sebagai anime. Tidak ada game pendahulu yang padanya ini didasarkan.

Meski begitu, sama halnya Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, Seiren mengadopsi format omnibus. Seri ini terbagi ke dalam bab-bab berbeda yang berpusar pada karakter perempuan utama yang berbeda pula. Cerita dalam satu bab tidak berhubungan dengan bab lain (meski ada banyak hal yang sama di dalamnya). Jadi begitu memasuki bab baru, cerita seolah berulang dari awal dengan arah perkembangan yang berbeda.

Musim pertama Seiren sepanjang 12 episode. Dengan tiga heroine utama, mengikuti formula Amagami SS, masing-masing bab mendapat durasi empat episode. Tiap bab juga punya lagu penutup berbeda yang dinyanyikan pengisi suara heroine terkait.

Aku menyebutnya ‘musim pertama’ karena direncanakan ada musim kedua kalau anime ini sukses. Tapi lebih banyak soal itu mending aku singgung nanti.

Sekali lagi, Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, adalah komedi romantis dengan sisi-sisi lucu dan unik. Tapi komedi romantis di Seiren itu lebih ke arah… aneh.

Aneh… gimana ya?

Enggak kepikiran kata lain yang bisa menjabarkannya.

Venison

Seiren berlatar di SMA Kibito, sekolah yang juga menjadi latar Amagami. Bedanya, Seiren berlatar pada masa sembilan tahun sesudahnya. Ada beberapa tempat di Amagami yang bahkan dikunjungi lagi di Seiren. Mungkin kau takkan langsung sadar, tapi desain seragam para tokohnya juga sama.

Seiren bercerita tentang pengalaman-pengalaman romantis(?) Kamita Shouichi, siswa kelas dua di SMA Kibito yang dihadapkan pada sejumlah perempuan berbeda saat mulai memikirkan tentang masa depan.

Shouichi ceritanya adalah adik lelaki Kamita Tomoe, siswi kelas tiga populer yang juga bersekolah di Kibito.

Moe-nee adalah pemenang kontes kecantikan Miss Santa pada Festival Pendiri Sekolah tahun sebelumnya. Karenanya, berkat hubungannya dengan kakaknya, Shouichi sedikit banyak mulai ikut dikenal juga.

Di sekolah, Shouichi bersahabat dekat dengan Nanasaki Ikuo, kawan sejak kecilnya yang kalem dan pintar.

Meski enggak blak-blakan diungkapkan, Ikuo ceritanya adalah adik lelaki Nanasaki Ai, salah satu heroine di Amagami. Jadi lagi-lagi ada sedikit keterhubungan di sini. (Untuk kalian yang lupa, Ai itu yang anggota klub renang, gadis cool salah satu teman dekat Miya, adik perempuan Tachibana Junichi, si tokoh utama. FYI, Junichi juga sempat tampil sebagai cameo.)

Karena kegemaran mereka ke game center, Shouichi dan Ikuo juga akrab dengan seorang kakak kelas bernama Araki Tetsuya. Araki-senpai yang tampan banyak dikagumi siswi-siswi di sekolah mereka. Tapi tanpa banyak orang tahu, Araki sebenarnya penyayang binatang. Entah bagaimana, hal itu jadi membuatnya punya sisi kepribadian yang sedikit aneh.

Ada tiga tokoh utama perempuan yang Seiren sajikan (di paruh ini). Masing-masing seolah mewakili angkatan yang berbeda. Sesuai urutan bab mereka, ketiganya adalah:

  • Tsuneki Hikari, teman sekelas sekaligus siswi paling dikenal di angkatan Shouichi. Hikari yang lincah dan memikat menjadi runner up kontes Miss Santa tahun lalu (kalah dari Tomoe, kakak perempuan Shouichi). Sifatnya ceria, senang makan tapi gemar olahraga, dan terkadang keras kepala. Hikari juga diam-diam bekerja paruh waktu sebagai koki dan pelayan di suatu restoran, meski sekolah sebenarnya tidak memperbolehkan. Cerita babnya mengetengahkan bagaimana Hikari dengan enggan mengikuti sekolah musim panas yang juga diikuti Shouichi dan Ikuo. Bagaimana Shouichi tak bisa membiarkan Hikari sendirian lambat laun memunculkan desas-desus tentang mereka. Desas-desus tersebut malah dikompori Hikari sendiri, mendorong Shouichi untuk bersikap serius tentang hubungan mereka.
  • Miyamae Toru, kakak kelas dan teman akrab Moe-nee yang diam-diam jago ngegame. Meski sering ngegame, nilai-nilai pelajarannya juga terbilang bagus dan ia pun pandai berolahraga. Meski begitu, Toru kerap kesulitan bicara dengan orang kalau tak punya kesamaan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Toru jadi sering bertukar item dengan Shouichi, Ikuo, dan Araki. Saat Shouichi menjadi partnernya dalam suatu game robot-robotan, Shouichi jadi tertarik lebih jauh dengan kepribadiannya. Toru ternyata pernah akrab dengan Hikari di waktu SMP.
  • Touno Kyouko, adik kelas sekaligus teman sejak kecil Shouichi selain Ikuo. Penampilannya cantik dan manis. Dia murid teladan. Tapi dia juga gemar membaca komik cewek dan punya jalan pikiran sedikit kekanakan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Kyouko meminta Shouichi menemaninya makan pancake. Ini mengawali serangkaian kejadian yang membuat keduanya sama-sama mulai mengkaji hubungan mereka.

“Rasanya luar biasa saat kamu menendangku dari belakang.”

Secara konseptual, Seiren menurutku lebih bagus dari Amagami.

Dalam perkembangannya, memang ini terkadang dikesampingkan sih. Tapi tema yang diangkat Seiren sebenarnya tentang menghadapi masa depan. Inilah yang kemudian membuatnya jadi bagus.

Daripada soal hubungan dengan para heroine-nya, Seiren sempat terasa kayak seri drama kehidupan yang lebih umum. Jadi bukan cuma soal hubungan cinta saja yang diangkat. Diangkat juga berbagai hal lain seperti sekolah, hobi, minat, dsb. dalam kehidupan para tokohnya.

Secara mengesankan, ini tertuang dalam berbagai pikiran Shouichi. Jadi kayak, sesuatu yang selalu membayang-bayanginya secara bawah sadar gitu.

Masalahnya… mungkin ada di visi konsepnya yang belum mateng kali ya?

Awal cerita Seiren menurutku lebih menarik dari dugaan. Secara tersirat, berbagai hal tentang kehidupan para karakternya tercermin dari sikap, kebiasaan, dan cara bicara mereka.

Seiren sama sekali enggak kelihatan kayak anime dating sim yang biasa. Nuansanya beneran kerasa begitu berbeda dari Amagami.

Sayangnya, di sepanjang dua bab pertama (bab Hikari dan Toru), fokus ceritanya kayak gagal kebangun gitu. Aspek hubungan antar karaternya kurang berhasil terjalin. Akibatnya, daya tarik di awal tersebut jadi menurun dalam pelaksanaannya. Kualitasnya tak pernah benar-benar sampai berhasil menyamai kesan kuat Amagami SS.

Menyakitkannya, ini tuh benar-benar murni masalah naskah. Masalah ini juga mungkin terhindari seandainya Seiren hasil produksi dari satu studio, dan bukan kolaborasi dari dua.

Kalau membahas soal teknis sih, animasi Seiren sebenarnya punya banyak saat yang terkesan ‘kaku.’ Kualitasnya termasuk biasa. Pengarahannya—soal gimana visualnya dipadu dengan dialog dan musik dalam satu adegan—terkadang kayak masih kurang pas.

Padahal dari segi audio, seri ini termasuk lumayan. Voice acting-nya enggak buruk. Di samping itu, musiknya lumayan dan sejumlah lagu-lagunya juga terbilang enak didengar.

Soal desain karakter Takayama-san, ada yang berpendapat desain karakter Seiren terlalu mirip dengan satu sama lain. (Ketiga heroine sama-sama kurus dan berambut panjang, misalnya.)

Aku memang agak merasa beliau terlalu memasukkan selera pribadi beliau di dalam seri ini sih. Tapi aku juga merasa konsep multidimensi yang Seiren usung soal ‘masa depan’ dan ‘kehidupan’ juga agak berperan.

Susah jelasinnya.

Intinya, aku menduga pembagian kerja antara kedua studio menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi hasil akhir Seiren. Visi para pembuatnya masih belum menyatu. Jadinya, visi tersebut juga kurang berhasil diterjemahkan saat seri ini sudah harus tayang.

Tapi yang mengejutkan dari Seiren, kualitas teknis dan naskahnya tiba-tiba mengalami kenaikan sekitar pertengahan seri. Para staf seakan menemukan momentum mereka lagi.

Seiren jadi punya episode-episode terakhir yang lebih berkesan dari episode-episode awal. Babnya Kyouko ternyata jauh lebih berkesan dibandingkan babnya Hikari dan Toru.

Iya, tetap aja ini terasa aneh karena format ceritanya yang omnibus sih.

Nah, bicara soal itu…

“Aku jadi benar-benar gugup saat membayangkan bisa punya keturunan sama kamu.”

Balik lagi soal cerita, Seiren itu… ceritanya aneh.

Seriusan aneh.

Di atas kertas, memadukan elemen-elemen drama komedi dengan soal cita-cita, impian, sekaligus romansa bukan ide buruk. Tapi untuk Seiren, keanehan ini yang justru jadi kekuatan sekaligus kelemahannya yang terbesar.

Kekuatannya karena… enggak ada anime lain yang mirip Seiren. Bahkan Amagami SS juga enggak!

Kelemahannya karena… Seiren jadi cenderung datar buat sebagian orang. Agak membosankan. Inti ceritanya jadi agak sukar dipahami. Itu sesuatu yang enggak semestinya terjadi buat konsep kayak gini.

Sekali lagi, andai Seiren diproduksi sama satu studio, keanehan yang jadi kelemahannya ini kayaknya bakal langsung disadari dan kemudian diperbaiki. Tapi karena diproduksinya oleh dua, keanehan dalam naskahnya itu kayak baru ketahuan belakangan.

Ringkasnya, selain plotnya kerap mengawang, selalu ada sesuatu yang ‘ajaib’ di dialognya.

Pas kamu dengerin pertama kali, awalnya kamu akan biasa-biasa saja. Tapi sedetik berikutnya, pas kamu memikirkannya lagi, reaksi kamu bisa jadi, “Wut? Barusan dia ngomong apa?” karena saking anehnya apa yang diucapkan.

Nah, dialog-dialog kayak gini yang jadi kekhasan Seiren. Dan ini konsisten ada di ketiga bab.

Amagami SS juga punya fanservice yang ‘aneh’ gitu kan? Kamu nanya apa di dalamnya Seiren juga ada apa enggak? Jawabannya: iya, tapi enggak sebanyak Amagami. Cuman, pas ada, keanehan di Seiren itu bisa sekian kali lipat melebihi Amagami.

Seiren seriusan patut dipuji karena bisa kepikiran segala macem inuendo kayak gini.

Lalu, soal plotnya…

Satu hal aneh lain tentang Seiren: kalau dalam Amagami misalnya, seorang heroine tidak akan terlalu berperan dalam bab heroine lain. Kalau dalam Seiren, mereka kayak punya peran lebih aktif. Malah kayak bisa ada konflik antar mereka.

Jadi, struktur bab yang katanya omnibus tersebut sebenarnya lebih kayak struktur perkembangan cerita di Fate/stay night ketimbang Amagami. Hal-hal yang dipaparkan di satu bab terus terbangun sampai ke bab berikutnya begitu. (Seperti soal subplot soal cinta terpendam Ikuo.)

Tingkatinteraksi antar karakter heroine di Seiren emang jadi lebih banyak. (Terutama dengan adanya Hikari.) Lalu kurun waktunya secara kronologis memang Hikari –> Toru –> Kyouko. (Memberi semacam kesan What if? pada masing-masing skenario.) Tapi iya, buat anime yang harusnya romansa kayak Seiren, ini jadi terasa luar biasa aneh.

Sisi baiknya, sekali lagi, adalah gimana bab Kyouko jadi memuaskan sebagai penuntas seri.

Ceritanya Kyouko emang berbeda sendiri. Memang terasa seperti ada elemen-elemen cerita yang dicomot dari babnya Rihoko di Amagami SS dan Amagami SS+. Bahkan sampai ada karakter expy dari dua karakter senpai di Klub PKK segala! Tapi kalo aku ditanya akhirnya bagus apa engga, menurutku pribadi, akhirnya termasuk bagus.

Seandainya Seiren dikasih kesempatan lanjut, mungkin saja season keduanya bakal beneran ngejutin.

Legenda Gudang Pompa

Sebagai penutup, ada lumayan banyak karakter yang berperan dalam Seiren. Tapi tiga karakter berikut yang sebenarnya telah direncanakan sebagai heroine untuk season keduanya.

  • Hiyama Miu, siswi pingitan anggota klub renang SMA Putri Sakuragawa Nishi. Masih awam soal berbagai seluk beluk dunia. Dirinya pertama kali diperkenalkan sebagai sesama peserta sekolah musim panas di bab Hikari.
  • Kamizaki Makoto, siswi kelas satu anggota komite disiplin di Kibito. Teman dekat Kyouko. Dirinya tidak terbiasa berkonfrontasi dengan orang. Dia ditampilkan secara menonjol di bab Toru saat hendak mengambil foto di game center. (Ada indikasi kalau dirinya adalah adik perempuan Kamizaki Risa, karakter rahasia di Amagami.)
  • Sanjou Ruise, ketua komite disiplin yang agak galak, sekaligus atasannya Makoto. Dirinya berperan mencolok di bab Kyouko sebagai sosok yang mendorong Klub PKK untuk membuatkan rancangan hiasan.

Selain mereka, juga ada teman-teman dekat Hikari (yang punya hubungan kompleks dengannya). Ada Nagasawa Shiori, teman Moe-nee dan Toru, yang baik hati membantu dalam hal Comima. Lalu ada… dua orang karakter cowok yang seakan menjadi penggemar para cewek cantik di SMA Kibito. (Sayang mereka enggak lebih banyak berperan.)

Selebihnya, para karakter expy: ada Yoshida Mako di sekolah musim panas yang desainnya hampir sama persis dengan Tanaka Keiko, teman dekat Tanamichi Kaoru di Amagami. Lalu dua kakak kelas Uno Koharu dan Tokioka Nao punya sifat dan tampang yang sama persis dengan Yuzuki Ruriko dan Hiba Manaka di Amagami. Mereka bahkan sama-sama jadi anggota Klub PKK?

…Sejujurnya, aku jadi curiga apakah terjadi perubahan naskah secara mendadak menjelang akhir seri.

Akhir kata, Seiren mungkin terkesan membosankan. Tapi kalau kau bertahan, yah, ada hal-hal di dalamnya yang enggak akan kamu temukan di tempat lain.

Kalau kau fans Amagami, kamu enggak bener-bener perlu mengikuti Seiren. Tapi kalau kau sudah jadi fans Amagami saat mengikuti Seiren, ada sejumlah hal menarik yang bisa tiba-tiba kau sadari selama mengikutinya.

Sekali lagi, anehnya Seiren bukan aneh gila kayak di seri-seri komedi kocak kayak Excel Saga atau Nichijou gitu. Melainkan ‘aneh’ yang sekilas kelihatan normal, tapi saat kamu nyadar, lambat laun bikin kamu “Hah? Haah? HAAAAAAH?!”

Itu yang membuatnya jadi menarik.

(Di samping itu, aku lebih dari bersyukur bisa mendengar nyanyian Oku Hanako lagi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+

Busou Shoujo Machiavellianism

Belakangan, waktuku tersita oleh naskah yang aku lagi kerjain.

Tapi belum lama ini, aku masih sempat mengikuti perkembangan anime Busou Shoujo Machiavellianism.

Juga dikenal dengan judul Armed Girls Machiavellianism (‘Machiavellianisme gadis-gadis bersenjata’; buat yang belum tahu, ‘Machiavellianisme’ adalah suatu paham yang digagas filsuf sekaligus ahli sejarah Niccolò di Bernardo dei Machiavelli pada awal abad ke-16, yang intinya membolehkan—dan mungkin bahkan menekankan—kepalsuan, pemaksaan, manipulasi, dan amoralitas untuk tercapainya suatu tujuan). Ini seri komedi romantis aksi bernuansa ilmu bela diri yang didasarkan seri manga karya Karuna Kanzaki. Ceritanya sendiri dipenai Kurokami Yuuya. Diserialisasikannya di majalah bulanan Monthly Shonen Ace milik penerbit Kadokawa Shoten, dan saat ini aku tulis, serialisasinya masih berlanjut.

Adaptasi animenya sendiri dikerjakan studio animasi Silver Link. Tachibana Hideki yang menyutradarai. Hasil akhirnya, mengingat beliau sebelumnya menangani Chaos Dragon, H2O: Footprints in the Sand, dan BlazBlue Alter Memory, menurutku terbilang bagus. Naskahnya dikerjakan oleh Shimoyama Kento. Musiknya ditangani Mizutani Hiromi dari Team MAX.

Ditayangkan pada musim semi tahun 2017, jumlah episodenya sebanyak 12.

(Sebenarnya, ada cerita panjang soal lisensi anime ini dan beberapa judul lain pada musim bersangkutan, tapi mungkin soal itu enggak usah aku ceritain.)

Bertingkah Seperti Burung-burung Kecil

Sekilas, Busou Shoujo Machiavellianism terkesan punya cerita yang enggak penting. …Tapi kalau dilihat secara menyeluruh pun, cerita seri ini memang sebenarnya enggak terlalu penting.

Seorang remaja SMA santai bernama Nomura Fudou dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena meng-KO 40 orang dalam suatu tawuran hebat. Tapi kemudian, dia pindah ke Akademi Simbiosis Swasta Aichi (apa ini bener terjemahannya?) yang prestisius dan berasrama, yang ternyata secara harfiah dikuasai oleh para siswi.

Alasan anak-anak perempuan menguasai sekolah ini adalah karena mereka semua diizinkan membawa senjata. Senjata beneran. Perguruan Aichi sebelumnya adalah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga terhormat yang baru pada tahun-tahun belakangan menerima siswa laki-laki. Sebagai langkah untuk melindungi kehormatan para siswi, para siswi diizinkan membawa senjata agar bisa menjaga diri dari para laki-laki.

Lalu entah siapa yang memulai, meski resminya murid-murid laki-laki diterima di sekolah ini, selama bersekolah di perguruan ini, mereka diwajibkan berhenti hidup sebagai laki-laki. Dengan kata lain, mereka semua harus hidup sebagai banci.

Nomura (aksen saat menyebut namanya diberikan pada suku kata pertama) jelas tak bisa menerima aturan ini. Meski mengusung moral yang lurus, Nomura juga menjunjung kebebasan lebih dari apapun. Tapi bahkan sebelum penolakannya, karena prestasinya dalam menghajar 40 orang dalam satu tawuran hanya dengan tangan kosong, Nomura telah menarik perhatian kelompok Tenka Goken (Supreme Five Swords, ‘Lima Pedang Terkuat’).

Tenka Goken adalah kelompok penjaga keamanan yang terdiri atas lima siswi paling kuat di Aichi. Selama bertahun-tahun, mereka menjaga harmoni di perguruan Aichi karena dibolehkan menegakkan aturan dengan membawa pedang sungguhan.

Singkat cerita, meyakini Nomura akan berbuat onar, diprakarsai seorang gadis bertopeng bernama Onigawara Rin yang ternyata menjadi teman sekelas Nomura, masing-masing anggota Tenka Goken memulai langkah-langkah mereka untuk mendisiplinkannya. Sementara di sisi lain, Nomura belakangan mengetahui bahwa untuk memperoleh izin pergi ke luar sekolah, ia perlu melengkapi kartu izin dengan stempel dari kelima anggota Tenka Goken. Karena Nomura ingin memperoleh izin untuk bisa bebas keluar, tanpa dapat dihindari, jalan hidup Nomura dan kelompok ini akhirnya berseberangan.

Namun, meski tak bersenjata apa-apa selain sarung tangan berpelindung yang menjadi andalannya, Nomura ternyata seorang ahli bela diri. Dia telah dididik oleh kakeknya sejak kecil dan digembleng oleh kakeknya untuk menguasai suatu ilmu bela diri tertentu. Hasilnya adalah jurus rahasia yang disebut Madan (‘peluru ajaib’), suatu serangan hentakan telapak dahsyat yang dapat dilepasnya dari kedua belah tangan dari posisi apapun.

Seiring dengan bentrokan demi bentrokan yang terjadi, satu demi satu gadis yang berhadapan dengan Nomura juga lambat laun menyadari kalau dirinya ternyata tidak seburuk yang mereka kira…

Catatan-catatan Skandal

Terlepas dari semuanya, para heroine utama seri ini, yang tergabung dalam Tenka Goken, terdiri atas:

  • Onigawara Rin, gadis berambut hitam pendek yang punya ciri khas berupa separuh topeng oni yang hampir selalu menutupi separuh wajahnya. Rin adalah pemimpin tidak resmi dari Tenka Goken, meski ia berada di kedudukan tersebut lebih karena dirinya yang paling punya inisiatif. Pembawaannya galak. Ia juga selalu lurus dan taat peraturan. Tapi dirinya juga punya sisi rendah diri yang membuatnya terkadang ragu terhadap diri sendiri. Dalam bertarung, Rin menggunakan ilmu pedang aliran Kashima Shinden Jikishinkage-ryuu yang mengutamakan ketepatan bentuk yang dipadukan dengan teknik-teknik pernafasan. Pedangnya berupa katana yang dinamai Onimaru. Adik kelas yang paling dekat dengannya adalah Mozunono Nono, yang kagum terhadap Rin dan menggunakan aliran pedang yang sama, tapi untuk pedang pendek jenis kodachi, meski ia sendiri bersenjatakan baton.
  • Kikakujou Mary, seorang gadis pirang rupawan berdarah campuran Jepang-Perancis. Ke mana-mana, ia senantiasa membawa kamus bahasa Jepang. Ia ahli anggar yang agaknya menggabungkan ilmu pedang konvensional dari Barat dengan ilmu pedang Jepang (aliran Jigen-ryuu?). Dalam bertarung, Mary melancarkan serangan-serangan beruntun yang mengincar titik-titik saraf lawan yang juga dipadukan pengendalian jarak yang lihai. Pedang yang digunakannya sejenis rapier, yang mengutamakan gerakan-gerakan tusukan. Sangat cantik dan anggun meski terkadang pemalu. Dirinya juga bisa bersikap licik saat sedang mau. Adik kelas yang dengan setia mengikutinya adalah si burikko, Chouka U. Baragasaki (bukan nama asli), yang menggunakan senjata cambuk.
  • Hanasaka Warabi, anggota paling senior dalam generasi Tenka Goken saat ini, seorang gadis pendek berambut pirang yang memiliki pembawaan seperti bangsawan. Memiliki seekor beruang peliharaan bernama Kyobo. Sebagai anggota senior, Warabi juga memiliki banyak pengikut serta pengaruh luas. Meski semula berkesan kaku dan tanpa ampun, Warabi bisa menjadi pengertian dan sangat bisa diandalkan kalau sudah kenal. Dalam bertarung, Warabi menggunakan aliran pedang Taisha-ryuu yang menonjolkan serangan kejutan dan gerak tipuan. Pedang yang digunakannya kurasa adalah sejenis nodachi.
  • Tamaba Satori, gadis penyendiri berambut gelap panjang dengan tingkah laku sulit ditebak. Dikenal memiliki perangai sangat aneh dan cenderung berbahaya. Matanya yang membelalak membuatnya pikirannya sulit dibaca. Menaruh rasa permusuhan terhadap Nomura bahkan sebelum mereka pertama berhadapan. (Alasannya ternyata karena ia tak terima bila disamakan dengan Morgan Freeman. Ceritanya panjang.) Dalam bertarung, Satori menggunakan gerakan-gerakan bercabang yang sangat sukar ditebak. Ilmu pedang yang digunakannya sedikit spoiler, tapi pada dasarnya ia merangkai bentuk dan gerakan dari berbagai ilmu pedang lain. Pedang yang digunakannya adalah nihontou polos bergagang dan bersarung kayu, tanpa pelindung tangan. Satori punya masa lalu aneh yang menjadi penyebab ia menjadi seperti demikian.
  • Inaba Tsukuyo, seorang gadis mungil serupa kelinci dengan mata buta yang hampir selalu terpejam. Meski demikian, pendengaran Tsukuyo luar biasa tajam. Hanya dengan mendengar sekelilingnya, Tsukuyo bisa mengintepretasi berbagai kejadian yang terjadi di Aichi. Tsukuyo anggota termuda dari Tenka Goken yang masih duduk di bangku SMP, tapi dirinya sekaligus juga yang paling kuat dengan ilmu pedang paling mengerikan. Gerakan-gerakan kilatnya membuat lawan-lawannya tak mampu berkutik. Ilmu pedang yang digunakannya juga sedikit spoiler. Kalau tak salah, pedang yang digunakannya adalah sejenis tachi. Mungkin karena selalu disegani, diam-diam Tsukuyo terkadang kesepian.

Sebenarnya ada satu heroine lagi, yaitu Amou Kirukiru, seorang gadis jangkung berambut panjang dan sangat cantik yang merupakan murid pindahan seperti halnya Nomura.

Amou di masa lalu dikisahkan berhasil menundukkan Tenka Goken saat mereka berupaya mendisiplinkannya. Dirinya satu-satunya murid di Aichi sebelum Nomura yang tidak bisa Tenka Goken kendalikan. Karenanya, Amou kemudian dikenal dengan julukan Joutei (Empress). Motivasi Amou di sepanjang cerita menjadi tanda tanya besar. Pengetahuannya tentang jurus Madan milik Nomura (dan soal bagaimana aksen diberikan pada suku kata pertama di namanya) mengimplikasikan adanya semacam hubungan masa lalu di antara mereka.

Amou adalah praktisi karate aliran Uechi-Ryu yang menekankan pengerasan tubuh. Setiap gerakan tangannya serupa tebasan pedang. Dalam dirinya telah tertanam teknik Auto Counter yang membuatnya mampu membalas setiap serangan yang ditujukan padanya bahkan secara separuh sadar. Dirinya berperan jadi semacam final boss yang harus Nomura hadapi di penghujung cerita. (Belakangan diimplikasikan Amou terobsesi dengan Nomura karena serangan Nomura bisa memberinya rasa sakit, sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya karena sudah lama mati rasa.)

“Buriburi! Buriburi!”

Sekali lagi, Busou Shoujo Machiavellianism itu… aneh.

Garis besar ceritanya enggak penting. Meski ada aksinya, genrenya yang utama sebenarnya adalah komedi romantis. Tapi romansa yang ada di dalamnya enggak bisa dibilang berat juga. Latar ceritanya terkadang sureal. Perkembangan karakternya terkadang mengangkat alis, dan cenderung konyol. Tapi… ada sesuatu tentangnya yang sulit dijelaskan, yang membuatnya berakhir lebih bagus dari dugaan.

Intinya: siapa sih yang nyangka seri tentang cowok yang berantem dengan cewek-cewek semata-mata agar dapet izin buat bisa keluar sekolah akan meninggalkan kesan sedemikian kuatnya tentang persahabatan dan pemahaman jati diri?

It’s weird.

Komedinya, meski benar-benar aneh, sebenarnya lumayan lucu. Jenisnya lebih ke komedi situasi yang lebih berbasis percakapan ketimbang slapstick. Jenis yang lebih mengandalkan interaksi karakter. …Meski memang perkembangan situasinya terkadang absurd.

Walau enggak sampai mengangkat hal-hal pseudo-filosofis seperti berbagai seri bela diri sekolahan lain, di luar dugaan, tetap ada nilai-nilai berbobot yang tersampaikan di ceritanya juga. Ada soal prasangka, ada soal kesetiakawanan. Ada juga soal kerja keras dan pemahaman diri sendiri/penerimaan orang lain.

Iya sih. Ini seri fanservice. Tapi implementasi berbagai elemennya benar-benar efektif. Perkembangan ceritanya juga selalu menarik dan tak selalu gampang ditebak.

Kalau kekurangan, adegan-adegan aksinya lumayan low key sih. Koreografinya sangat sederhana. Sama sekali tidak wah.  Bagaimanapun, ceritanya memang lebih menonjolkan aspek komedi romantisnya. Tapi di sisi lain, seperti ada semacam ‘keaslian’ dalam teknik-teknik bela diri yang digunakan di dalamnya juga.

Makanya, ini aneh.

Awalnya lucu melihat gadis-gadis manis ini melancarkan gerakan-gerakan bela diri yang mungkin saja benar-benar ada di kehidupan nyata. Tapi kalau kau bisa melihat melewati kesan awalnya, kau mungkin bakal ngerasa kalau karakter-karakter di dalamnya itu menarik.

Nomura terutama berhasil mencuri perhatian sebagai karakter utama. Meski lagaknya santai dan semaunya, dia setiakawan dan kuat. Tipe yang tak keberatan bersusah-susah selama itu masih sejalan dengan prinsipnya. Prinsipnya itu yang menggerakkan dia (meski, sekilas, prinsipnya itu kayaknya bener-bener enggak penting) dari awal sampai akhir. Lalu aku terkesan pada gimana dia mengkomunikasikan prinsip itu ke orang lain, menunjukkan posisinya di mana, membuat orang lain ngehargain dia sebagaimana halnya dia juga ngehargain orang lain.

Intinya, dia karakter yang lebih dalam dari yang sekilas terlihat.

Bukti Aku Ada di Sini

Bicara soal teknis, seri ini punya nilai-nilai produksi yang solid.

Visualnya menonjolkan permainan warna-warna cerah dan efek-efek pudar dengan animasi cukup solid. Mungkin kau tak cocok dengan gaya desain karakternya. Tapi secara umum, visual seri ini beneran bagus. Pada setiap adegan aksi, perubahan ekspresi para karakter di luar dugaan menjadi hal yang sangat diperhatikan dan hampir selalu menyiratkan banyak hal.

Dari segi audio, Mizutani-san memberikan good job. BGM-nya keren. Kebanyakan seiyuu-nya juga adalah seiyuu yang belum aku kenal. Tapi kesemuanya menurutku memberikan performa brilian. Mereka berhasil membuat setiap karakter terasa hidup seaneh apapun mereka. Mulai dari tawa khas Warabi sampai nada bicara Satori yang psikopatik, itu juga termasuk teman-teman seasrama Nomura seperti Masuko. Itu lengkap pula dengan nuansa terselubung untuk hal-hal yang semula tak tampak di permukaan.

Aku benar-benar kaget karena sampai dibuat ingin tahu perkembangan seri ini. Soalnya, meski mengetengahkan aksi bela diri, manganya termasuk jenis yang punya dialog banyak. Gimana ya? Jenis yang kesan awalnya sama sekali berbeda dari kesan akhirnya.

Cerita di animenya sendiri berakhir tuntas sih. Kesan akhirnya juga cukup kuat. Tapi yea, manganya masih berlanjut. Ada sejumlah tokoh baru menjelang akhir yang juga sempat ditampilkan sebagai teaser.

Aku tak tahu apa aku akan berkesempatan buat tahu lanjutannya atau tidak sih. Meski animenya terbilang baik, aku tidak melihat gelagat akan dibuatnya season dua soalnya.

Akhir kata, kamu mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari seri ini. Mungkin kamu awalnya enggak akan ngerti karena terselubung. Mungkin itu sesuatu yang sederhana dan enggak penting. Tapi itu tetap sesuatu yang bisa kamu ambil.

Ah, pastinya lagu penutup dan pembukanya keren. Terutama lagu penutup “DECIDE” yang dinyanyikan para seiyuu Tenka Goken. Itu lagu yang sederhana, tapi pas banget dengan nuansa seri ini. Aku jadi berharap Tenka Goken sebagai grup musik bakal bisa terus berkarya.

(Uh, buat kalian yang masih bingung dengan arti judulnya, ringkasnya itu tentang bagaimana Nomura menyikapi pendekatan paksa menghalalkan segala cara ala Machiavelli dari para gadis yang mencoba mendisiplinkannya. Perlu kuakui, judulnya sangat menarik perhatian.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale

Akhir pekan lalu, aku menonton Sword Art Online: Ordinal Scale di salah satu cabang CGV Blitz.

Ordinal Scale (kira-kira berarti ‘skala ordinal’, ‘ordinal’ mengacu kepada ‘angka ordinal’ yang menyatakan peringkat/kedudukan seperti ‘pertama’ dan ‘kedua puluh’ dsb., berbeda dari ‘angka cardinal’ yang menyatakan nilai/kuantitas; sebenernya ada lagi jenis angka nominal yang menyatakan nama/identitas seperti barcode) adalah film layar lebar pertama dari seri Sword Art Online yang terkenal.

Masih diangkat dari seri novel fenomenal karangan Kawahara Reki, film layar lebar ini berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua animenya. Jadi, Ordinal Scale berlangsung sesudah bab Mother’s Rosario, tapi sebelum bab Alicization yang sudah didesas-desuskan akan menjadi inti season ketiga anime SAO yang akan datang.

Salah satu daya tarik movie ini, terutama bagi penggemar SAO, adalah sifatnya yang orisinil. Cerita movie ini tak berasal dari novel. Seperti halnya film layar lebar Mahouka Koukou no Rettousei yang akan tayangnanti, ada rentang waktu kosong dalam linimasa cerita asli di novelnya yang jadinya dilengkapi.

Berdurasi lumayan lama, sekitar pas dua jam, produksi Ordinal Scale masih dilakukan A-1 Pictures . Penyutradaraannya kembali dilakukan Ito Tomohiko. Naskahnya disusun Ito-san berdasarkan konsep cerita yang disusun Kawahara-sensei sendiri. Penayangannya di Indonesia pun terbilang cepat, hanya sekitar sebulan sesudah movie ini tayang di Jepang.

Sedikit curhat dulu: aku semula tak berencana menonton film ini.

Sekali lagi, aku menggemari versi novel SAO. Tapi, aku sebenarnya tak sebegitu antusias terhadap animenya.

Sempat terlintas di benakku kalau aku mungkin akan nonton Ordinal Scale. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar secara khusus meniatkannya. Aku mengira film ini penayangannya akan terbatas, baik secara waktu dan tempat. Belum lagi sempat ada kabar kalau distribusinya di Indonesia bakal ditunda. Kusangka ini paling cepat adanya April. Lalu, yah, kesibukanku belakangan rada susah diprediksi (aku sering sekali menyinggung soal gimana aku sibuk, sampai-sampai aku sendiri merasa aku belakangan terdengar kayak bohong).

Tapi, akhir pekan lalu, tiba-tiba ada sahabat lamaku, yang sekarang domisilinya di kota lain, tahu-tahu ngontak soal bagaimana hari itu dia mau menonton ini (dan kalau bisa, langsung dilanjutkan dengan Kong: Skull Island). Lalu, saat aku dengar Ordinal Scale sudah tayang, reaksiku adalah: “FUUUUUUGGGGHHHG!!!!!”

Semula, aku merasa temanku itu yang selama ini stres.

Sama sepertiku, dia juga masih lajang. Lalu dia lagi sendirian di rumah setelah ditinggal keluarganya touring. Dia menghubungiku juga sambil sesekali mengirim foto kemajuan gambar yang sedang dia buat untuk mengasah kembali skill gambarnya yang sudah tumpul. (Dia punya bakat menggambar bishoujo.)

Tapi, menilai reaksiku, aku tersadar bahwa aku juga butuh menonton film ini. Rupanya, aku juga lagi stres. Akhirnya, aku tak peduli apakah hasilnya akan jelek atau bagus. Aku perlu menonton Ordinal Scale.

Sesudah bertekad demikian, aku memutuskan ke luar rumah. Aku bahkan sampai membujuk-bujuk temanku untuk tetap cabut sekalipun cuacanya kelihatannya memburuk.

Singkat cerita, aku dan sahabatku yang beda kota ini akhirnya masuk bioskop pada waktu kurang lebih sama, demi menonton film yang sama.

Kami lalu saling bertukar komentar sesudah menonton.

Was it worth it?

Yah. Pada akhirnya, Ordinal Scale tetap SAO. Kalau kalian mengerti maksudku.

“…Switch.”

Ordinal Scale dibuka dengan pemaparan tentang berkembangnya perangkat teknologi baru berbasis augmented reality bernama Augma.

Memiliki bentuk berupa kombinasi visor, headphone lalu kamera sekaligus aksesoris tangan, Augma digandrungi karena menjadi alternatif untuk perangkat virtual reality Amusphere (penerus perangkat VR NervGear yang menjadi salah satu penyebab tragedi VMMORPG Sword Art Online beberapa tahun silam).

Untuk kalian yang awam, berbeda dengan virtual reality yang membawa penggunanya ke ‘dunia’ lain, augmented reality adalah teknologi yang ‘memperkaya’ realitas kita saat ini.

Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling, ada berbagai informasi tambahan yang bisa kita peroleh. Kita masih bergerak dengan badan sendiri. Tapi, apa yang kita lihat, dengar, dan sentuh telah diperkaya ‘informasi’ dari Augma yang turut menimpa persepsi dunia nyata kita. Dunia bisa terlihat semakin berwarna dan menarik.

Ada berbagai aplikasi Augma yang bisa dimanfaatkan. Mulai untuk olahraga, bertukar pesan, peluang mendapatkan kupon diskon, membantu diet, info lalu lintas real time, menampilkan peta, membantu menunjukkan arah kalau tersesat, dsb.

Bahkan, ada suatu permainan massal berbasis Augma bernama Ordinal Scale yang belakangan menyedot perhatian pemain VMMORPG ALfheim Online dan Gun Gale Online.

Melalui Augma, pesona figur idola virtual Yuna yang konon adalah kecerdasan buatan bisa ditonton. Dengan kepribadiannya yang cerah, acara-acara konser Yuna—yang dapat berlangsung nyaris di mana saja—menjadi hal yang banyak diminati dan menjadi satu lagi faktor kesuksesan Augma.

Fitur-fitur baru Augma juga tengah digandrungi teman-teman Kirigaya Kazuto.

Sebagai salah satu yang selamat dari peristiwa SAO, Kazuto, yang juga dikenal sebagai Kirito, sudah beberapa kali terlibat insiden berbahaya di dunia maya. Mungkin karena itu, perasaannya terhadap Augma masih ambivalen.

Di sisi lain, teman-teman lama Kirito—bahkan termasuk mereka yang juga selamat dari SAO, seperti Shinozaki Rika (Lizbeth) dan Ayano Keiko (Silica), serta kekasih Kirito sendiri, Yuuki Asuna; terutama karena pembagian perangkat Augma gratis di sekolah rehabilitasi mereka—juga menggandrungi Augma sekaligus Ordinal Scale.

Teman Kirito yang sudah dewasa, Klein, juga sering ikut serta dalam berbagai event Ordinal Scale bersama teman-teman guild-nya yang bertema samurai, Fuurinkazan.

Manfaat lain Augma bagi Kirito dan Asuna, yang mau tak mau harus mereka akui, adalah bagaimana kecerdasan buatan yang menjadi ‘putri’ mereka sesudah insiden SAO, Yui, juga jadi bisa berinteraksi dengan mereka di dunia nyata.

Meski kurang nyaman dengan Augma, sebagai  gamer, Kirito tentu saja juga tertarik pada Ordinal Scale. Dari sekedar mencoba bersama Asuna, Kirito mulai mendengar rumor yang mulai mengusiknya: bahwa sejumlah lawan yang dikenali sebagai floor boss dari Sword Art Online telah muncul dalam eventevent Ordinal Scale.

Lalu, yang menyadari hal ini hanya para veteran SAO yang pernah terlibat di garis depan.

Trauma Therapy

Sebelum masuk lebih jauh soal cerita, baiknya aku menyinggung sedikit dulu tentang Ordinal Scale.

Jelas terinspirasi dari berbagai permainan augmented reality yang belakangan berkembang (salah satunya, demam Pokemon Go), Ordinal Scale sederhananya adalah semacam permainan aksi memburu monster yang mengharuskan para pemainnya keluar rumah (dengan memakai Augma), dan mendatangi berbagai tempat di kota.

Setiap pemain bebas memilih ingin jadi pemain macam apa. Mereka bebas memilih peralatan yang mereka bawa (yang bisa ditemukan dari menjelajah tempat-tempat tertentu di sekitar mereka), mulai dari senjata jarak dekat macam pedang, atau yang jarak jauh macam pistol dan senapan (Kirito dan Asuna jelas-jelas lebih memilih menggunakan pedang).

Di samping senjata, mereka juga bebas mengenakan pelindung.

Dengan berkeliaran sambil mengenakan Augma saja, konon para pemain OS bisa menemukan berbagai barang (item), perlengkapan, serta musuh-musuh yang bisa mereka kalahkan.

Satu hal menarik di OS adalah bagaimana tak ada sistem leveling. Semua pemain bermain menggunakan badan mereka sendiri (jadi bukan badan virtual seperti di Amusphere yang parameternya disesuaikan). Parameter kekuatan mereka—meski ada yang mengalami modifikasi oleh perlengkapan—adalah kemampuan fisik nyata mereka sendiri.

Lalu, untuk memantau siapa-siapa yang unggul dalam permainan ini, digunakan semacam sistem peringkat. Masing-masing pemain bersaing untuk meningkatkan peringkat. Ditambah lagi, ada berbagai manfaat yang mereka peroleh seiring dengan bertambahnya peringkat mereka. (Sistem ‘peringkat’ ini belakangan terungkap punya signifikasi di dalam cerita.)

(…Bentar. Setelah kupikir, sistem pengembangan diri berbasis peralatan ini, yang tak ada kaitannya dengan level, lumayan mirip dengan yang ada di waralaba Monster Hunter.)

Salah satu aspek terkeren Ordinal Scale adalah bagaimana program tersebut dapat sepenuhnya mengubah persepsi pemainnya akan realita. Dalam sekejap, langsung ada dunia lain yang mereka lihat, tapi dunia tersebut tetap tercipta berdasarkan bentuk dunia nyata. Puncak-puncak gedung tinggi bisa berubah menjadi menara kastil. Tempat-tempat terbuka menjadi teras puri. Warna langit bisa berubah dari siang menjadi malam, lengkap dengan terangnya bulan berwarna.

Lalu, pakaian yang para pemainnya kenakan akan berubah. Handset yang mereka pegang juga berubah jadi senjata yang mereka pilih. Semua konon terwujud berkat keberadaan sepasukan UAV yang seakan membantu proses pemantauan.

Perubahan dunia di Ordinal Scale lumayan mengingatkan pada perwujudan Unlimited Neutral Field di Accel World yang juga karangan Kawahara-sensei. Tapi, meski sama-sama didasarkan pada bentuk dunia nyata, sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi di latarnya, Ordinal Scale di seri SAO dihasilkan lewat teknologi yang lebih low end.

Terlepas dari itu, dalam salah satu event Ordinal Scale, ketika sejumlah musuh besar yang tak dapat ditangani sendirian muncul, idola virtual Augma, Yuna, tiba-tiba muncul.

Melalui nyanyiannya, Yuna memberi buff bagi parameter para pemain, membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan misi. Sesudah itu, Yuna juga mengumumkan lokasi di mana konser live-nya yang banyak ditunggu akan diadakan. Dari pengalaman tersebut, kembali muncul tanda tanya soal apakah Yuna adalah makhluk sejenis Yui.

Di samping itu, turut diperkenalkan pula Eiji, pemain dengan peringkat dua di Ordinal Scale, yang Kirito dan Asuna sadari agaknya mungkin pernah mereka jumpai di masa lalu.

Apakah Melupakan Lebih Baik?

Masalah timbul saat rumor-rumor soal kehadiran floor boss SAO di Ordinal Scale ternyata benar.

Asuna, bersama Klein, menjadi saksi langsung hal ini. Asuna, berkat pengalamannya, bahkan berhasil menggalang pemain lainnya untuk menaklukkan boss tersebut. Namun rupanya itu hanya awal dari segala masalah.

Singkat cerita, Kirito, yang tak aktif sebagai pemain Ordinal Scale, secara terlambat mengetahui bahwa para veteran SAO yang memainkan Ordinal Scale bisa kehilangan sebagian ingatan mereka. Persisnya, ingatan mereka tentang SAO.

Asuna juga adalah salah satu korbannya.

Berbeda dari kebanyakan veteran yang memiliki banyak kenangan tak enak tentang SAO, Asuna juga memiliki kenangan-kenangan bahagia karena pertemuannya dengan Kirito. Karena itu, hilangnya kenangan-kenangan tersebut sedemikian membebani Asuna, meski ia masih bisa mengenal Kirito dan masih menyimpan berbagai kenangan mereka di Aincrad ‘baru’ di ALO.

Marah dengan apa yang menimpa Asuna, Kirito bertekad untuk mengungkap apa yang terjadi.

Berkat petunjuk sosok berkerudung misterius yang sesekali terlihat hanya melalui Augma, Kirito menjumpai Shigemura Tetsuhiro, pria paruh baya yang merupakan ilmuwan pengembang piranti Augma. Dari sana, Kirito menyimpulkan bahwa ia harus memanjat ke puncak peringkat Ordinal Scale demi mencegah bencana besar yang akan terjadi.

Maka dengan taruhan ingatannya sendiri pula, Kirito berhadapan dengan Eiji, yang ternyata menyembunyikan lebih banyak dari apa yang bersedia ia ungkap.

Janji Bonceng Motor

Masuk ke soal teknis, kalau soal presentasi, Ordinal Scale menghadirkan kualitas visual dan suara yang diharapkan dari sebuah seri SAO. Film ini terlihat dan terdengar bagus. Aku tak begitu terkesan dengan key visual-nya. Tapi, sesudah melihat sendiri, aku kagum dengan betapa banyaknya detil yang telah diberikan untuk menggambarkan dunia Tokyo masa depan.

Kesan futuristis yang dipaparkan terasa sangat dekat sekaligus jauh. Masih serasa membumi. Lalu, banyaknya detil ini begitu kentara dibandingkan bab-bab cerita SAO yang lain.

Walau cerita Ordinal Scale pada akhirnya berkesan ‘SAO’ sekali (lebih banyak soal itu nanti kusinggung di bawah), sebagai orang yang beberapa kali berkecimpung di dunia arsitek dan iptek, aku merasa sudah balik modal menonton film ini hanya demi melihat dunianya saja. Mulai dari soal fitur-fitur AR Augma, pemandangan keseharian kota Tokyo modern, jalan-jalan layang, halaman-halaman dengan ruang terbuka hijau, dan bahkan vending machine, aku puas dengan bagaimana semua itu ditampilkan.

Aku terutama kagum dengan pemandangan overhead kota dari atas yang berulangkali diperlihatkan untuk mengindikasikan bagaimana Kirito berpindah dari satu wilayah Tokyo ke wilayah lain.

Soal suara, aku sempat heran dengan bagaimana karakter Yuna ditampilkan. Aku seperti… “Heh? Lagi-lagi karakter idol?” Aku lebih terbiasa melihat penampilan idola futuristis dalam anime Macross. Lalu, sesudah movie Toaru Majutsu no Index beberapa tahun lalu, sekarang SAO mau mengangkat soal itu juga? Perasaanku campur aduk soal ini.

Tapi, aku bersyukur setidaknya tema konser dan nyanyian ini tak sekedar tempelan. Maksudku, ada signifikasinya dalam cerita. Di samping itu, nuansa musik gubahan Kajiura Yuki kembali ada di movie ini. It’s still good.

Jadi, satu hal unik yang Ordinal Scale miliki, kalau dibandingkan bab-bab cerita SAO lainnya, adalah bagaimana ceritanya berlatar hampir sepenuhnya di dunia nyata. Justru inilah yang menjadi daya tariknya yang terbesar. Maksudku, itu hal yang sangat baru bagi SAO.

Sekali lagi, di dunia nyata. Bukan dunia virtual. Karenanya, di luar dugaan—lagi, terlepas dari kualitas akhirnya sendiri—Ordinal Scale terasa segar.

Naskah yang Kawahara-sensei dan Ito-san susun itu beneran kuat. Ya, masih ada kelemahan-kelemahan khasnya. Termasuk soal wish fulfillment dan sebagainya. Ya, perlu kuakui juga kalau klimaksnya sedikit mengecewakan. Itu jelas tak semenegangkan standar SAO yang biasa. Tapi, kalau menempatkan diri di sudut pandang produser, naskah Ordinal Scale kurasa berhasil memenuhi segala ekspektasi.

Ada banyak callback ke hal-hal lalu. (Seperti soal perintah Switch untuk penggantian posisi depan yang normalnya hanya dipahami oleh para veteran SAO.) Secara mengesankan, ada sejumlah foreshadowing juga ke bab Alicization yang akan datang untuk para penggemar novelnya.

Semua karakter signifikan dalam waralaba ini—termasuk si gaijin pemilik toko Andrew Gilbert Mills (Agil), jago kendo Kirigaya Suguha (Leafa) yang merupakan sepupu Kirito, ahli tembak Asada Shino (Sinon), dan pegawai pemerintah yang jadi kontak Kirito, Kikuoka Seijurou—tampil dan berperan. Hal-hal imut tentang SAO, kalau kalian suka dengan itu, juga ada. Aku sendiri memperkirakan bobot fanservice dalam film ini mungkin mencapai 35%.

Aku terutama terkesan dengan bagaimana Kirito ditampilkan seakan kesetanan saat mengejar peringkat ini. Atau, saat Asuna menggalang orang-orang yang belum ia kenal dalam melawan boss. Lalu, juga pada bagaimana Suguha melatih ulang fisik Kirito dari jauh berhubung sedang mengikuti kamp pelatihan di luar kota.

Jadi, kayak, semua yang sejak dulu ada di SAO berhasil dimasukkan secara seimbang ke film ini. Termasuk elemen-elemennya yang mungkin kurang kau sukai.

Aku jadi maklum kenapa movie ini terbilang berhasil di Jepang. Bahkan, kalau dibandingkan Endymion no Kiseki dari seri Index beberapa tahun lalu, kurasa Ordinal Scale jauh lebih bisa aku sukai.

Janji Melihat Bintang

Untuk menyimpulkan, untuk kalian yang menyukai SAO apa adanya, maka kalian juga akan menyukai Ordinal Scale. Untuk kalian yang kurang menyukai SAO, film ini takkan membuat kalian berubah pikiran. Sedangkan untuk kalian yang belum pernah tahu SAO, banyaknya referensi terhadap kejadian yang lalu mungkin bakal membingungkan.

Meski begitu, film ini secara umum tetap menarik.

Akhir kata, aku enggak bisa menilai Ordinal Scale jelek. Memang ada kekurangan-kekurangannya, tapi itu jenis kekurangan yang benar-benar khas SAO.

SAO dari waktu ke waktu kerap menampilkan hal-hal yang menurutku agak berlebihan dan konyol (sejumlah orang menyebutnya ‘lebay’). Tapi, sesuatu yang agaknya hanya bisa SAO lakukan bagiku adalah bagaimana hal-hal berlebihan dan konyol tersebut ditampilkan dengan cara yang tak pernah bisa sepenuhnya aku tertawakan.

Kenapa?

Karena meski aku merasa hal-hal tersebut berlebihan dan konyol, pada saat yang sama, hal-hal itu jadi mengingatkanku pada hal-hal lain yang lebih serius dan dalam.

Dalam konteks ini, hilangnya ingatan Asuna jadi mengingatkan pada penderita Alzheimer gitu. Frustrasi yang dirasakannya bukan hal yang mudah diekspresikan. Menariknya, tak semua korban hilang ingatan tersebut memperlihatkan reaksi yang sama.

Karena hal-hal seperti di atas, kadang aku merasa SAO lumayan penuh dengan alegori.

Apa lagi ya?

Cerita Ordinal Scale berakhir dengan resmi bertunangannya Kirito dan Asuna. Jadi, walau ceritanya lepas, Ordinal Scale agak memperbesar pertaruhan dalam bab Alicization nanti.

Ada kemungkinan season ketiga animenya bakal memperbaiki beberapa kelemahan di novelnya. Tapi, yeah, itu bukan analisa, cuma pengharapanku pribadi.

Klasik untuk kasus SAO, identitas tokoh antagonisnya bukan teka-teki. Mereka sama-sama punya kaitan dengan insiden SAO.

Shigemura-sensei adalah guru mendiang Kayaba Akihiko dan Sugou Nobuyuki. Seperti halnya Sugou, Shigemura sekedar memanfaatkan teknologi cetusan Kayaba melalui piranti Augma hasil kembangannya.

Lalu Eiji, atau Nochizawa Eiji, yang sebelumnya memakai nama Nautilus, adalah mantan bawahan Asuna. Dia seorang anggota Knights of the Blood yang dulu kurang dikenal karena tak pernah maju ke garis depan.

Baik Eiji maupun Shigemura-sensei bukanlah karakter yang kompleks atau berbobot. Tapi, cara mereka menjutsifikasi tindakan mereka sebagai penanganan trauma, padahal yang ingin mereka pulihkan adalah luka masa lalu mereka sendiri, lumayan menarik. Dalam hal ini, semua adalah untuk ‘mendatangkan kembali’ seseorang bernama Shigemura Yuuna, terlepas dari apa konsekuensi yang nanti dihadapi.

Selebihnya, hal-hal paling menarik di Ordinal Scale terjadi secara tersirat.

Pertama, tentang Kayaba Akihiko. Meski secara fisik telah wafat, sekali lagi dikonfirmasi bahwa dirinya masih ‘hidup’ dengan suatu cara. Janggalnya, Shigemura nampaknya tahu juga tentang ini. Lalu, anehnya, ia kelihatan tak menaruh dendam atas peranan Kayaba dalam insiden SAO.

Kedua, tentang Kikuoka.

Kikuoka, yang mewakili pemerintah Jepang, sekali lagi dimintai bantuan oleh Kirito saat terungkap maksud sesungguhnya dikembangkannya Augma itu apa. Tapi, di akhir film, terungkap bahwa Kikuoka membebaskan Shigemura dari segala tuntutan. Kikuoka bahkan memperlihatkan pada Shigemura penemuan baru yang telah dikembangkannya, yang lagi-lagi merupakan foreshadowing terhadap bab Alicization.

Terakhir, tentang Yui.

Yui yang mungkin berperan paling vital dalam penyelesaian masalah. Sedemikian besar peranannya, aku sampai berpikir bahwa sebagai rogue AI, Yui bisa sangat berbahaya kalau bukan berkat asuhan dan didikan Asuna dan Kirito.

Jadi, begitu terungkap bahwa sebenarnya Augma adalah hasil modifikasi dari NervGear, segala solusinya, begitu saja, langsung terlihat di mata Yui. (Ini juga jadi salah satu alasan kenapa klimaks film ini kurang memuaskan.)

Terkait ini, beberapa kali pernah diimplikasikan bahwa Kirito tak sepenuhnya mempercayai Kikuoka. Keduanya sama-sama belum membuka seluruh kartu masing-masing. Lalu lewat film ini, lagi-lagi kita diingatkan bahwa Kikuoka mungkin masih belum juga diberitahu Kirito tentang asal-usul Yui yang sesungguhnya… yang mungkin tanpa disadarinya telah berdampak pada apa-apa yang nanti akan terjadi.

Yah, demikian deh.

Kita pantau saja terus perkembangan waralaba ini ke depan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Kimi no Na wa

Aku baru menonton Kimi no Na wa.

Mungkin bisa dibilang, ini anime paling dibicarakan di tahun 2016.

Hanya beberapa bulan sesudah penayangannya di Jepang, film ini mulai diputar di negara-negara lain. Di Indonesia, kau bisa melihatnya di jaringan bioskop CGV Blitz. Film ini harusnya masih tersedia saat tulisan ini aku terbitkan. Cuma, mungkin kau perlu pandai-pandai merencanakan acara nontonnya berhubung pengaturan jadwalnya agak aneh. Mungkin karena tergantung wilayah.

Juga dikenal dengan judul Your Name (‘namamu’), walau mungkin aku berlebihan dengan berpikir begini, Kimi no Na wa susah untuk enggak kuanggap sebagai magnum opus Shinkai Makoto. Disutradarai sekaligus dipenai secara langsung oleh beliau, beliau seolah mengukuhkan namanya sebagai salah satu sutradara animasi paling ternama lewat film ini. Kalau kau baca-baca berita tentang besarnya pemasukan dan berbagai penghargaan yang film ini raih, mungkin kau juga akan berasumsi sama. Tapi kalau kau menontonnya sendiri, maka kau seolah lebih mempercayainya.

Mempercayainya dengan mata kepalamu sendiri.

Susah menjelaskannya. Tapi, Kimi no Na wa itu kualitasnya gila. Terutama kalau kau menontonnya dengan mindset yang tepat. Film ini… apa ya? Bagus sih bagus. Tapi ‘bagus’ bukan kata yang tepat. ‘Keren’ juga bukan. Ini kayak… bisa kena menghantammu secara telak gitu, tapi dalam artian positif. Kena ke titik sasaran, tapi bukan secara berlebihan juga.

Maka dari itu, kurasa wajar bila film ini sukses karena temanya tak seberat ataupun semisterius film-film Shinkai-sensei yang biasa, namun dengan kualitas visual, arahan, serta bobot cerita yang tetap sama.

Begitu beres menonton, yang terus terbayang di kepalaku adalah betapa film ini seolah menandai ‘puncak’ kemampuan Shinkai-sensei sebagai animator. Mungkin kelak beliau akan membuat film lain dengan mengangkat tema lain yang juga mengandung makna kuat yang mendalam. Namun aku sangat sulit membayangkan keluaran beliau dan studio CoMix Wave Fims sesudahnya akan bisa menandingi kekuatan film ini.

Mimpi yang Nyata dan Tak Jelas Kapan Akan Berakhir

Kimi no Na wa pada dasarnya adalah cerita boy meets girl. Cerita soal cewek ketemu cowok. Premisnya melibatkan pertukaran tubuh.

Agak susah buat menjelaskan kebagusan anime ini secara sederhana. Soalnya, aspek yang membuat ceritanya benar-benar kuat adalah beragam motif dan tema di dalamnya.

Cerita dibuka dengan pemandangan tengah jatuhnya ‘sesuatu’ dari langit. Lalu dengan beberapa kilasan maju mundur, kita secara bergantian diperkenalkan pada kedua tokoh utama: seorang gadis pedesaan yang sebal dengan kehidupannya bernama Miyamizu Mitsuha; dan seorang siswa SMA di Tokyo bernama Tachibana Taki.

Muak dengan betapa terkekangnya kehidupannya di desa—terutama sehubungan ayahnya yang hendak kembali menjabat sebagai walikota, hubungan kurang harmonis Mitsuha dengannya, serta statusnya sendiri sebagai miko kuil Shinto di wilayah tempat tinggalnya, Itomori—Mitsuha secara ceplas-ceplos berujar kalau dirinya ingin jadi seorang cowok tampan di Tokyo dalam kehidupannya yang berikutnya. Lalu tak lama sesudah itu, Mitsuha dan Taki, yang semula tak saling mengenal, secara ajaib mulai sering bertukar tubuh.

Prosesnya bagi mereka terasa seperti mimpi. Ingatan mereka menjadi agak tersamar setiap kali hal itu terjadi. Tapi dari kesaksian orang-orang di sekeliling mereka, fenomena itu tak bisa mereka bantah. Jadilah Mitsuha dan Taki saling berkoordinasi lewat penerapan bermacam aturan dan kesepakatan melalui pesan-pesan yang mereka tinggalkan. Baik lewat catatan-catatn harian ataupun coret-coretan di tubuh mereka masing-masing.

Fenomena ini berlangsung untuk beberapa lama. Dimulai setiap kali mereka bangun dan diakhiri setiap kali mereka tidur. Namun tak ada pola jelas pada kemunculannya.

Sebagai satu sama lain, mimpi Mitsuha untuk bisa menjalani hidup di Tokyo akhirnya terwujud, terutama lewat pengalamannya untuk berkunjung ke sebuah kafe. Mitsuha menjadi berkenalan dengan dua sahabat dekat Taki, yakni Fujii Tsukasa yang berkacamata dan telah lama dekatnya, serta Takagi Shinta yang berbadan besar dan selalu siap membantu. Tak dinyana, Mitsuha, dengan sisi femininnya, juga berhasil mendekatkan Taki dengan senior yang lama ditaksirnya di tempat kerja sambilan, seorang mahasiswi mandiri bernama Okudera Miki yang dikagumi banyak orang. Mitsuha bahkan berhasil mengatur janji kencan dengannya.

Taki sendiri, di dalam tubuh Mitsuha, mulai berkenalan dengan dua sahabat Mitsuha sejak kecil, yakni Natori Sayaka, gadis pemalu yang menjadi anggota Klub Siaran; serta Teshigawara Katsuhiko, remaja berbadan kekar yang menjadi putra pengusaha kontraktor di desanya, rekan kerja ayah Mitsuha, dan karenanya sedikit banyak mengerti beban yang Mitsuha rasakan. Taki, dengan bawaan agresif dan kepandaian motoriknya, sedikit banyak mengubah citra Mitsuha di sekolah yang sebelumnya kurang populer karena status ayahnya.

Taki juga mulai mengenal dua anggota keluarga yang tinggal bersama Mitsuha, yakni: Miyamizu Hitoha, nenek Mitsuha yang bijak, yang karena suatu persoalan di masa lalu telah memutus hubungan dengan ayah Mitsuha, Miyamizu Toshiki; serta adik perempuan Mitsuha berusia SD yang selalu membangunkannya setiap pagi, Miyamizu Yotsuha, yang juga mulai melihat pola bahwa bila kakaknya bangun dengan meraba-raba dadanya sendiri, itu tandanya untuk seharian ia akan berkelakuan aneh.

Memandang ke kehidupan satu sama lain, di tempat dan lingkungan yang jauh berbeda, mata Mitsuha dan Taki seperti dibuka akan hal-hal menyangkut diri mereka masing-masing. Taki, khususnya, mulai mengenal tradisi upacara-upacara Shinto yang dijaga keluarga Mitsuha secara turun-temurun, yang meski telah terlupakan maknanya akibat suatu bencana kebakaran pada satu titik, masih dijaga bentuknya hingga sekarang.

Namun pada suatu ketika, singkat cerita, fenomena pertukaran tubuh ini terhenti. Terhenti tanpa pernah terjadi lagi. Sehingga dimulailah perjalanan panjang Taki dan Mitsuha untuk bisa saling menemukan kembali satu sama lain.

Lalu dalam upaya tersebut, sejumlah hal mengejutkan terungkap. Hal-hal yang menjelaskan mengapa upaya mereka dalam menghubungi satu sama lain secara langsung sejauh ini telah gagal.

Musubi

Minat kuat Shinkai-sensei terhadap benda-benda langit kembali tertuang di Kimi no Na wa, kali ini lewat kehadiran komet terang Tiamat, yang bisa jadi merupakan penyebab fenomena aneh yang Mitsuha dan Taki alami. Ceritanya, diberitakan secara luas bahwa komet tersebut akan melintas dengan jarak dekat ke bumi. Lalu pemandangan lintasannya akan terlihat jelas pada acara festival musim panas yang akan dilangsungkan di tempat tinggal Mitsuha.

Seperti yang bisa diharapkan dari sebuah film keluaran CoMix Wave, kualitas presentasi film ini benar-benar kuat. Faktor pemandangan kembali berperan, dan kita kembali disuguhi berbagai pemandangan indah baik dari dalam maupun luar ruangan. Permainan cahaya, yang awalnya begitu menjadi ciri arahan Shinkai-sensei, tentu saja ada, tapi kini turut diiringi oleh penggambaran latar yang kuat serta eksekusi adegan-adegan yang benar-benar mulus.

Musik di film ini ditangani oleh grup rock RADWIMPS, yang menghadirkan alunan musik ringan yang mudah didengar. Mungkin karena tema film ini yang begitu menyangkut masa muda, pembawaannya pas dan cocok dengan cara yang agak berbeda dibandingkan film-film Shinkai-sensei yang sebelumnya. Jadi… bukan cuma nyambung, tapi sekalian juga melengkapi? Aku terus terang awam soal musik, jadi aku tak pernah bisa bahas banyak soal aspek ini.

Tapi yang membuat aku benar-benar terpikat pada Kimi no Na wa, yang kurasa sulit dipahami kalau tak kalian lihat secara langsung, pertama terdapat pada tema cerita, dan kedua pada cara eksekusinya.

Cerita soal pertukaran tubuh beberapa kali pernah diangkat. Dalam bentuk anime, seri Kokoro Connect menjadikan itu tema utamanya. Lalu untuk manga, Boku wa Mari no Naka karya Oshimi Shuzou yang sekarang masih lanjut setahuku bahkan menjadi salah satu inspirasinya. (Bahkan ada kenalanku yang membandingkannya dengan visual novel misteri klasik Remember 11. Dia menyangkal soal bagaimana kehadiran karakter pembunuh sadis menjadi penentu rasa sukanya.)  Tapi di Kimi no Na wa, Shinkai-sensei mengungkapkan tema di atas lewat bagaimana jiwa-jiwa manusia dan alam seakan terus bertemu dan berpadu seiring berjalannya aliran waktu. Menyadarkan posisi kita di alam semesta, apa peranan kita, serta apa-apa yang mungkin akan kita temui di masa-masa mendatang.

Ada sesuatu tentang pengungkapan itu yang enggak bisa aku jabarkan secara mudah.

Eksekusinya bagus dalam artian penceritaannya jenis yang berhasil membuatmu terus bertanya-tanya. Apa yang akan mereka perbuat? Apa selanjutnya yang akan terjadi? Bahkan saat membahas konsep agak ‘ajaib’ pun, tak ada saat-saat lambat yang membuat ceritanya susah dimasuki. Ditambah lagi, para karakternya benar-benar simpatik. Dunianya juga benar-benar terasa ‘jadi.’ Kimi no Na wa berhasil mempertahankan minat yang timbul karena saat-saat takjub dari awal sampai akhir, meskipun di awal kita belum sepenuhnya yakin cerita ini akan tentang apa.

Dari segi teknis pun, film ini benar-benar solid.

Kataware-doki

Terus terang, aku menonton Kimi no Na wa hampir tanpa tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku hanya tahu kalau ini karya paling sukses Shinkai-sensei sejauh ini. Lalu ceritanya ada kaitannya dengan pertukaran tubuh.

Ungkapan ‘paling sukses’ di sinilah yang buatku menarik perhatian.

Aku sudah lama jadi pengagum karya-karya beliau, tapi aku bukan penikmat beratnya. Aku pertama kenal Shinkai-sensei lewat film Kumo no Mukou, Yakusoku no Bashou (atau Beyond the Cloud) yang temanya teramat menarik perhatianku. Aku sempat juga melihat 5 cm per Second. Lalu aku tahu juga ada novel-novel yang kerap melengkapi karya-karya beliau buat. (Novel 5 cm per Second kalau tak salah sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Maaf aku belum baca. Sesudah melihat versi animenya, aku ternyata tak kuat dengan temanya.) Tapi pada satu titik, meski senantiasa dibuat kagum dengan keindahannya, aku merasa tema-tema yang beliau angkat dalam film-film beliau hanya sedikit yang ada relevansinya denganku.

Namun ya itu. Membaca berita-berita tentang berbagai pujian dan penghargaan yang diterima Kimi no Na wa, aku penasaran. Lalu benar juga. Ini film beliau yang mungkin paling nyambung denganku sejauh ini. (Di samping, ehem, 5 cm per Second. Tapi mari kita tak bahas luka-luka mental masa laluku.)

Begitu aku beres menonton Kimi no Na wa, aku tersadar dengan kenapa Jepang bisa menjadi negara dengan banyak dewa. Diumpamakan lewat kesenian anyaman tali yang dilakukan keluarga Mitsuha, aku seperti jadi memahami keyakinan mereka akan banyak dewa tersebut mungkin berasal dari budaya mereka dalam bekerja.

Jadi tak seperti di kebanyakan negara, orang-orang Jepang dikenal memiliki kebanggaan terhadap hasil kerja mereka. Sekecil apapun. Kebanggaan terhadap karya dan hasil kerja tersebut bukan cuma berasal dari ketekunan, tapi juga dari semacam kekhusyuan. Yang kumaksud itu kayak semacam kombinasi dari keikhlasan dan rasa syukur gitu. Karena dalam bidang kerja apapun yang mereka geluti, selalu ada suatu filosofi yang seperti berusaha mereka gali. Suatu filosofi yang membuat mereka terkesan agak berbau spiritual. Suatu ilmu. Suatu cara. Suatu ‘jalan.’ Istilahnya do.

Kalau di Air Gear, ini umpamanya adalah road yang terbentuk dari hasil latihan Air Trek berulang yang dilakukan para karakternya.

Filosofi dalam berkarya itu mereka gali karena dengan terus menggalinya, mereka bisa semakin mengenal diri sendiri. Lalu mungkin kalian pernah dengar ungkapan soal bagaimana untuk mengenal Tuhan, maka yang harus kalian kenali itu diri kalian sendiri? Sehingga kupikir wajar jadinya bila Jepang ujung-ujungnya menjadi masyarakat yang seperti mengenal banyak dewa.

Alasannya mungkin karena mereka telah sedemikian berusahanya dalam mengenal diri mereka sendiri lewat karya-karya mereka.

Meski mungkin penggambarannya abstrak, budaya mereka akhirnya jadi menanamkan keyakinan yang besar akan keberadaan hal-hal gaib. Kalian tahu, baik itu dalam bentuk dewa ataupun youkai? Lalu karena merasakan adanya hal-hal di luar lingkup kuasa mereka, mereka secara tradisional jadi bangsa yang terdorong untuk mementingkan keselarasan . Apalagi karena secara geografis, negara mereka adalah negara yang rentan bencana alam.

Yah. Susah menjelaskannya.

Contoh yang lebih gamblangnya, aku jadi ingat pengalaman-pengalamanku sendiri dalam berlatih kendo semasa kuliah. Ada sensei yang datang dari Jepang dalam rangka mengawasi ujian kenaikan tingkat. Lalu saat aku dan para seniorku minta diberi wejangan, kami diberi semacam kata-kata mutiara yang pada waktu itu, memang terasa agak-agak lebay. Kami semua tak benar-benar yakin itu artinya apa. Aku lupa apa persisnya kata-kata itu. Hanya saja kalau dibaca, rasanya agak-agak menggelikan. Tapi memikirkannya lagi sekarang, aku mulai mengerti kenapa dituturkannya dengan cara demikian. Alasannya karena… ya, karena memang itu bener. Memang seperti demikian ilmunya.

Kau hanya bisa memahaminya sesudah kau cukup menggalinya demi mengenal dirimu sendiri.

Kita Semua Pengarung Waktu

Karena aku menonton ini lebih dengan mindset sebagai penikmat magic realism, aku tak terlalu memperhatikan aspek-aspek sains fiksinya. Tapi walau begitu, sisi sains fiksi Kimi no Na wa kalau mau dibahas itu ada. Lalu kalau mau digali, semua yang terjadi itu kayaknya ada penjelasannya.

Melihat itu, aku jadi mengerti kenapa versi novelnya bisa menjadi salah satu buku paling laku di pasar Jepang di sepanjang tahun ini.

Jadi, tak seperti kebanyakan cerita pertukaran tubuh begini, apa yang Mitsuha dan Taki alami bukan kejadian ‘acak’ yang terjadi begitu saja. Dituturkan dari bagaimana Taki mengetahui bahwa fenomena ini telah terjadi secara berulang dalam keluarga Mitsuha, diindikasikan bahwa ada suatu maksud tertentu dari semua ini. Sesuatu yang sudah digariskan sekaligus besar, yang kemudian tertuang pada bagian akhir film.

Kimi no Na wa memang sangat terasa seperti cerita novel. Kalau ada kelemahan di versi animenya, itu ada pada beberapa elemen cerita latar yang kurang tergali memuaskan, seperti soal ayah Taki yang hanya muncul sebentar, atau teman-teman sekolah Mitsuha yang awalnya diperlihatkan menaruh antipati secara gamblang terhadapnya. Karena itu, versi novelnya mungkin bisa benar-benar melengkapinya.

Moga-moga saja suatu saat nanti novelnya akan ada yang menerbitkan di sini.

Akhir kata, kalau kalian berkesempatan, aku sangat sarankan untuk sempatkan menonton Kimi no Na wa di bioskop. Mungkin akan ada yang berpendapat sebaliknya, tapi aku merasa ini adalah mahakarya Shinkai-sensei. Lalu kapan lagi kita bisa melihat sesuatu sebagus ini di layar besar?

Ditambah lagi, teks terjemahannya bagus! Kayak diterjemahkan dari bahasa Jepangnya yang asli! Semua lagu temanya pun diberikan liriknya karena lirik-liriknya memang seakan melengkapi cerita. Terima kasih untuk siapapun kalian yang telah mengusahakan agar film ini bisa tayang di bioskop sini!

Aku jadi merasa nonton ini mungkin enggak cukup sekali.

Apa?

Iya, ini masih jadi film beliau yang sangat menonjolkan nuansa cinta dalam artian kerinduan dan pengharapan. Kalau soal itu, itu tak berubah kok. Lalu juga, soal bagaimana kita semua sedemikian bergantung pada ingatan.

Itulah hal berharga yang kita ‘bagi’ dengan sedemikian banyak orang.

Kalau dipikir, manusia benar-benar makhluk yang rapuh.

(Iya, itu bu guru yang sama dari yang di Kotonoha no Niwa.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

(Edit: Terima kasih khusus untuk FA yang sudah memperbaiki kualitas teks terjemahan Indonesianya!)

Kaguya-sama wa Kokurasetai

Kaguya-sama wa Kokurasetai – Tensai-tachi no Renai Zunousen (‘Nona Kaguya ingin dinyatakan cinta – perang para jenius dalam cinta dan kecerdasan’) adalah seri manga komedi romantis relatif baru buatan Akasaka Aka. Untuk yang belum tahu, Akasaka-sensei adalah pengarang seri manga ib – Instant Bullet yang termasuk bagus, namun mungkin kurang populer karena temanya yang agak abstrak.

Seri Kaguya-sama wa Kokurasetai awalnya diserialisasikan di majalah bulanan Miracle Jump milik penerbit Shueisha. Namun sekitar setahun sesudah serialisasi (bab 11?), seri ini dipindahkan ke majalah mingguan Shuukan Young Jump. Karena itu, walau settingnya sekolahan, seri ini kurasa masuknya kategori seinen.

Terlepas dari itu, seri ini mungkin belum terlalu dikenal oleh khalayak mainstream. Tapi sejauh yang aku dengar, basis penggemarnya benar-benar kuat.

“Cinta adalah perang… dan dia yang jatuh cinta duluan adalah yang kalah!”

Sebagian besar cerita Kaguya-sama wa Kokurasetai berlatar di Perguruan Shuchi’in.

Perguruan Shuchi’in merupakan sekolah elit dengan standar benar-benar tinggi. Sekolah ini seakan selalu menghasilkan lulusan yang benar-benar terpilih. Karena itu pula, kebanyakan siswa Shuchi’in berasal dari kalangan keluarga-keluarga kaya.

Fokus cerita seri ini terdapat pada dua siswa paling dikenal, yakni sang ketua Dewan Siswa, dan wakilnya yang sedang menjabat, Shirogane Miyuki dan Shinomiya Kaguya.

Shirogane Miyuki adalah murid teladan di angkatannya. Meskipun berasal dari kalangan rakyat biasa (dalam artian, berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah), dirinya diakui sebagai salah satu jenius yang terpilih. Sebagai seorang pekerja keras alami, Miyuki bukan hanya memperoleh nilai paling sempurna dalam setiap ujian sekolah (yang membuatnya mampu meraih beasiswa). Miyuki juga bahkan memiliki sertifikasi yang mengakuinya sebagai insinyur yang mampu menangani bahan-bahan kimia berbahaya. Sertifikasi lain yang dimilikinya kebetulan adalah sebagai seorang pengamat kesehatan ayam ternak. Jadi cakupan keilmuannya benar-benar luas.

Sedangkan Shinomiya Kaguya, yang sangat cantik dan anggun, telah terlatih dalam beragam bentuk kesenian dan keilmuan. Di samping nilai-nilai ujian yang berada di peringkat kedua hanya sesudah Miyuki, Kaguya ahli dalam berbagai jenis tarian serta kesenian tangan.

Singkat cerita, Miyuki dan Kaguya sebenarnya telah lama saling menyukai satu sama lain. Keduanya bahkan adalah cinta pertama masing-masing. Namun meskipun sama-sama bisa ‘merasakan’ bahwa target mereka sebenarnya juga merasakan suka terhadap mereka, keduanya enggan untuk menjadi yang menyatakan cinta terlebih dulu.

Kenapa? Mereka bilang alasannya karena harga diri!

Keduanya sama-sama hanya mau saling menunggu. Lalu tahu-tahu saja, setengah tahun sudah kembali berlalu dan hubungan mereka hanya jalan di tempat!

Keduanya sadar mereka tak bisa terus membiarkan keadaan begini. Maka dimulailah bermacam adu siasat dan permainan pikiran antara Kaguya dan Miyuki demi memaksa orang yang mereka sukai untuk menyatakan cinta.

Hasil Setiap Putaran

Kaguya-sama wa Kokurasetai ibarat seri macam Code Geass, Liar Game, dan Death Note. Ceritanya senantiasa dipenuhi dengan spekulasi, akal-akalan bulus, muslihat, perencanaan, persiapan, dan tipu-menipu… hanya saja untuk alasan-alasan yang jauh lebih konyol dan egois.

Hasil-hasilnya juga tentu saja kerap konyol dan egois. Kegagalan berulang. Kesalahpahaman. Luka-luka tak disengaja. Pekerjaan-pekerjaan yang bertambah. Dan sebagainya.

Gaya gambar yang Akasaka-sensei gunakan terutama mendukung hal ini. Gaya gambar beliau sekilas agak mirip gaya gambar pengarang manga shoujo, dengan garis-garis relatif tipis dan gaya gambar karakter cowok yang terkesan kaku. (Sudah jadi pengetahuan umum kalau seri manga shoujo kerap kali punya dialog dan tema bahasan yang lebih banyak dibandingkan komik cowok.) Lalu beliau kerap menggunakan warna-warna gelap dan suram dalam tiap panelnya. Warna-warna ini bahkan dikombinasikan dengan berbagai ekspresi muka ‘kosong’ yang biasa digunakan untuk menyiratkan rasa murka atau keputusasaan, sekalipun para karakter yang digambarnya notabene cantik atau imut. Tapi, kalau kau coba membaca dialog atau monolog atau narasi yang beliau gunakan, kau sebagai pembaca sulit buat enggak ngakak.

Nyatanya, meski gagasannya terkesan konyol, temanya yang ajaib itu benar-benar tidak menjadikan seri ini kalah rame.

Kalau hanya sekedar membaca deskripsinya saja, wajar kalau kalian mengira Miyuki dan Kaguya sama-sama sombong dan sulit disukai. Awalnya memang seperti sengaja dikesankan demikian. Tapi lama-kelamaan, mulai terlihat tanda-tanda yang mengindikasikan sebaliknya.

Apa yang memotivasi mereka (diindikasikan) sebenarnya bukan harga diri, melainkan rasa canggung/malu/bingung/rendah diri biasa. Hal-hal biasa yang biasa orang lazimnya rasakan saat jatuh cinta. Apalagi bila keduanya berasal dari lingkungan yang benar-benar berbeda.

Karena ini cinta pertama masing-masing, baik Miyuki maupun Kaguya (kayaknya) sama-sama masih awam dalam pengetahuan soal lawan jenis. Walau mereka diminta nasihat soal hubungan pun, nasihat mereka tak sepenuhnya bisa dibilang valid! Lalu gara-gara kecerdasan dan beragam kepandaian mereka—ditambah lagi dengan bagaimana sikap keseharian mereka dengan sendirinya membuat ‘orang biasa’ terlihat payah—keduanya malah terdorong untuk berasumsi yang aneh-aneh daripada menyatakan perasaan mereka secara langsung.

Miyuki pribadi memiliki semacam kompleks tentang latar belakangnya. Berhubung ia berasal dari kalangan rakyat jelata (di samping belajar, dirinya sibuk dengan berbagai macam kerja sambilan), ia kerap memiliki delusi mengerikan tentang bagaimana Kaguya dengan dingin nantinya akan menertawakannya bila seandainya jati dirinya yang asli ketahuan.

Sedangkan Kayuga sendiri, sebagai semacam ‘nona besar,’ telah sedemikian hidup terpingit. Sehingga Kaguya benar-benar tak tahu banyak tentang cara hidup orang awam karena telah terlalu sering diurusi para pelayannya. Akibatnya, dirinya lemah sekali dalam menghadapi berbagai produk teknologi modern (termasuk smart phone dan Twitter). Lalu dirinya juga awam dalam berbagai proses masyarakat yang ‘normal.’

Tapi terlepas dari berbagai kekonyolan antara Kaguya dan Miyuki, bintang seri ini yang sesungguhnya mungkin adalah Fujiwara Chika.

Fujiwara ceritanya adalah sekretaris Dewan Siswa. Dirinya orang yang senantiasa ceria dan berbadan bagus. Di samping itu, dirinya semacam sahabat sejak kecil Kaguya, telah lama berteman dengannya, tapi anehnya, seperti tak pernah sadar juga dengan seperti apa Kaguya yang sesungguhnya. Sifat Chika yang riang, disertai ketidakpekaannya akan berbagai macam hal, kerap membuatnya jadi ‘faktor x yang tak terduga’ dalam berbagai permainan siasat Miyuki dan Kaguya.

Segala tingkah Fujiwara itu jadi seperti… seakan langsung merebut sorotan perhatian gitu. Mungkin konsep karakter dia yang paling jenius dari seri ini.

Lalu untuk melengkapi, anggota Dewan Siswa yang terakhir adalah seorang pemuda bernuansa emo bernama Ishigami Yuu. Jabatannya sebagai bendahara Dewan Siswa, karena keahliannya dalam mengelola keuangan.

Ishigami diperkenalkan agak lama sesudah cerita berjalan. Dirinya jarang berlama-lama di ruang Dewan Siswa sesudah tugasnya berakhir.

Namun di balik semua alasannya, alasan Ishigami sering langsung pulang yang sesungguhnya karena dirinya satu-satunya orang yang sadar dengan segala ‘perang rahasia’ yang tengah berlangsung antara Miyuki dan Kaguya. (Semua orang di luar Dewan Siswa malah mengira kalau Kaguya dan Miyuki sudah berpacaran). Sebagai satu-satunya adik kelas di ruang Dewan Siswa, secara konyol Ishigami malah jadi yang sering kena batunya saat ia dimintai untuk mendukung salah seorang dari mereka.

Interaksi antara empat orang ini, dengan orang-orang di sekeliling mereka, benar-benar tergarap secara keren. Tapi meski kerap kali ada konflik kepentingan, keempatnya berteman baik kok.

Atau setidaknya, di permukaannya terlihat demikian.

“Berhubung sepertinya aku mulai merasakan gejala-gejala Stockholm Syndrome, aku minta izin pulang duluan!”

Beberapa karakter lain yang berperan meliputi adik perempuan Miyuki (yang juga agak lama ditahan kemunculannya), saudara-saudara perempuan Fujiwara (yang sama cantiknya dengannya), serta mungkin Hayasaka Ai, seorang siswi modis yang nyatanya diam-diam adalah pelayan pribadi Kaguya yang setia tanpa sepengetahuan orang lain.

Bicara soal artwork, semula, seri ini seriusan bernuansa gelap dan suram. Tapi semua itu sebenarnya tipuan (sampai Fujiwara tampil, setidaknya). Karena ceritanya, nyatanya, konyol, meski kerap sering membuatmu berpikir pada saat yang sama. Rasanya mengesankan karena meski dengan latar cerita yang itu-itu saja, Akasaka-sensei bisa mengembangkan ceritanya dengan sedemikian jauh, dengan permainan-permainan pikiran yang senantiasa seru.

Kalau kau bisa mengikutinya, humor dalam seri ini benar-benar kocak. Sehingga tak heran penggemarnya makin ke sini semakin terus bertambah.

Buatku pribadi, ini contoh seri yang mengingatkanmu kalau sepandai dan sepintar apapun kamu, pasti tetap akan ada hal-hal tertentu yang tak kamu tahu. Apalagi bila urusannya soal cinta. Bila ada hal yang kita enggak tahu, kalau mengikuti contoh Kaguya dan Miyuki, maka mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah tetap memberikan yang terbaik.

Aaah, aku pengen muda lagiii.