Posts tagged ‘romance’

31/10/2017

Isekai wa Smartphone to Tomo ni

Isekai wa Smartphone to Tomo ni, atau yang juga berjudul In Another World With My Smartphone (‘di dunia lain bersama ponsel pintarku’), adalah seri yang agak anomali.

Isekai Smartphone berawal dari seri web novel yang dikarang Fuyuhara Patora dari tahun 2013. Mulai tahun 2015, seri ini diterbitkan resmi oleh Hobby Japan dengan ilustrasi buatan Usatsuka Eiji. Pada awal tahun ini, tahu-tahu saja seri ini diadaptasi ke bentuk anime oleh Production Reed. Sutradaranya Yanase Takeyuki. Naskah ditangani oleh Takahashi Natsuko. Musik dikomposisi oleh Exit Tunes. Jumlah episodenya sebanyak 12 dan animenya pertama tayang pada musim panas tahun 2017.

Masih di sekitar awal 2017, seri ini juga mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan format e-book oleh J-Novel Club. Terjemahan mereka beneran bagus. Dari forum JNC-lah, aku mulai benar-benar tahu tentang Isekai Smartphone.

Jadi, Isekai Smartphone termasuk salah satu dari sekian banyak seri bertema isekai yang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Tak hanya itu. Seri ini konon dipandang sebagai salah satu contoh seri isekai yang paling generik. ‘Generik’ dalam artian enggak terlalu jelek tapi juga enggak terlalu bagus.

Sangat biasa.

Semua yang lazim ada dalam suatu seri isekai ada di seri ini. Ada tokoh utama cowok yang imba. Ada dunia lain. Ada harem yang terdiri atas cewek-cewek cantik. Yah, kalian tahu.

Makanya, saat animenya diumumkan, ini sempat mengherankan banyak pihak. “Wut? Di antara begitu banyak seri isekai di luar sana, kok malah seri ini yang dipilih buat jadi anime sih?” Soalnya, ada banyak pilihan seri isekai lain yang jauh lebih mencolok. Seperti Kumo desu ga, nani ka?, misalnya. Atau Desumachi. (Produksi anime Desumachi sudah diumumkan btw, tapi kabar-kabar kemajuan proses produksinya sejauh ini agak bikin fansnya harap-harap cemas. …Di samping itu, Tate Yuusha no Nariagari, seri isekai lain yang sudah menarik simpati banyak fans, juga sudah dikerjakan proyek adaptasinya.)

Bahkan di forum JNC yang aku sebut di atas, saat perusahaan mereka masih belum lama berdiri dan mereka masih sedang mencari judul-judul baru untuk dilisensi, pendiri JNC menyatakan bahwa Isekai Smartphone menjadi seri yang ‘disodorkan’ padanya. Seolah pihak penerbit aslinya kelihatan yakin sekali dengan seri ini. Dengan kata lain, di negara asalnya, seri ini lumayan populer dan punya basis fans kuat.

Semula, aku juga bukan penggemar Isekai Smartphone. Bahkan dari semenjak terjemahan bahasa Inggris WNnya tersedia dikerjakan fans, aku tidak menaruh perhatian terhadapnya. Namun, semenjak animenya diumumkan, aku mulai penasaran.

Alasan pertama: aku memperhatikan kalau yang memproduksi animenya adalah Production Reed. Aku langsung mengerti kalau hasilnya ternyata tidak wah. Dalam benakku, mereka studio ‘tidak besar’ yang sebelumnya mengerjakan seri-seri sederhana macam Onsen Yousei Hakone-chan dan Niji-iro Days. Meski begitu, aku simpati. Isekai Smartphone seolah menjadi langkah terobosan mereka dalam menangani proyek-proyek lebih besar.

Belakangan aku tahu, Production Reed ternyata tidak sepenuhnya baru. Mereka ‘reinkarnasi’ Ashi Productions, studio sangat veteran yang dulu menangani sejumlah anime terkenal macam seri mahou shoujo legendaris Magical Princess Minky Momo, seri Macross 7 yang masih menjadi seri Macross terpanjang sejauh ini, dan anime super robot lawas dan serius Dancouga. Sebelum tampil kembali sebagai Production Reed di tahun 2015, Ashi Productions rupanya ‘mati suri’ lumayan lama semenjak proyek Dancouga Nova mereka di tahun 2007.

Alasan kedua: meski tanggapan sebagian besar orang terhadapnya animenya lumayan negatif, ternyata ada sejumlah kenalanku yang benar-benar menyukainya. Bahkan sepupuku, yang mendalami seluk-beluk ilmu perfilman, menjadi salah satunya. Aku terus mikir, pasti ada sesuatu tentang anime ini yang menarik perhatian dia ‘kan? Tapi apa?

God’s in His Heaven, all’s right with the world!

Isekai Smartphone berkisah tentang remaja lelaki bernama Mochizuki Touya yang tersambar petir pada suatu hari saat pulang sekolah, lalu mendapati diri dihidupkan kembali oleh Dewa di suatu dunia lain. Alasan dia dihidupkan di dunia lain itu karena sudah jadi ketentuan kalau dirinya tak bisa dihidupkan lagi di dunianya yang semula.

Dewa menawarkan untuk memberi kompensasi pada Touya karena telah mematikannya tanpa sengaja. Karena tak merasa perlu apa-apa yang khusus, Touya kemudian sekedar meminta agar smartphone-nya masih bisa ia gunakan di dunia lain tersebut. Entah terkesan dengan kesederhanaan Touya atau bagaimana, selain memungkinkan smartphone-nya ditenagai kekuatan sihir agar tetap bekerja (dan bisa tersambung ke Internet(!) meski Touya tidak diperbolehkan memposting apa-apa), Dewa kemudian sekalian memberi Touya berbagai keistimewaan lain yang tidak langsung tampak. (Belakangan diketahui itu termasuk afinitas ke semua elemen sihir, peningkatan kemampuan fisik, serta kekuatan sihir laten yang sangat besar.)

Sekalian, Dewa memasukkan info kontaknya ke dalam ponsel Touya agar Touya bisa langsung menghubunginya seandainya ia perlu apa-apa.

Touya lalu mendapati diri berada di wilayah pinggiran Kerajaan Belfast, di mana dia kemudian bertemu bermacam orang dan tanpa sengaja terlibat dengan bermacam urusan konyol sekaligus serius. Berkenalan dengan teman-teman baru, dia mulai bekerja sebagai petualang. Dia mulai belajar tentang sihir. Dia mulai membantu-bantu orang. Berbekal fitur-fitur smartphone-nya yang sudah canggih dan diperkuat, dia juga mencoba menciptakan berbagai barang dan masakan dari dunianya lama agar bisa dipakai di dunianya yang baru.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Brunhilde (Yang Penuh Tawa dan Air Mata)

Cerita Isekai Smartphone lebih digerakkan oleh karakter. Ceritanya ringan dan lumayan bernuansa komedi. Meski ada elemen aksi dan petualangannya, Isekai Smartphone sebenarnya lebih dekat ke cerita keseharian. Di dalamnya, Touya mengetahui beragam hal baru tentang dunianya yang baru.

Isekai Smartphone tidak memiliki struktur plot yang perlahan-lahan membangun konflik. Ceritanya lebih seperti rangkaian cuplikan adegan keseharian yang saling terhubung dan berkesinambungan. Agaknya, hal ini juga yang sempat mematikan minat sebagian orang.

Kalau aku ceritain begini, kedengarannya emang kurang menarik. Dalam bentuk anime, bahkan dengan genrenya yang komedi, jadinya tetap aneh. Tapi, kalau kau coba menepis semua pengharapanmu, dan bersabar dengan bagaimana ceritanya dituturkan, ada hal-hal tertentu tentang Isekai Smartphone yang bisa membuatmu terkesan.

Ada dunia baru yang diperkenalkan. Ada hal-hal baru yang dipelajari. Ada teman-teman baru yang dikenal. Seperti yang bisa diharapkan dari suatu seri isekai, Touya serba bisa. Tapi, Isekai Smartphone juga punya sisi konyol konsisten yang jarang dipunyai seri-seri sejenisnya. Kesan akhirnya lumayan unik.

Terlepas dari itu, mereka yang sudah dikonfirmasi(?) termasuk dalam harem Touya (meski dia sendiri sama sekali semula tidak merencanakan hal ini) meliputi:

  • Elze Silhoueska; onee-chan dari pasangan gadis kembar Silhoueska yang sama-sama berambut perak. Dia salah satu orang pertama yang Touya kenal ketika baru tiba di dunia baru. Berambut panjang, memiliki bawaan bersemangat yang mendahulukan bertindak sebelum berpikir. Meski begitu, terkadang dia bisa tiba-tiba saja merasa rendah diri. Elze memiliki kemampuan Null Magic bernama Boost yang meningkatkan untuk sementara parameter-parameter fisiknya. Elze beraksi dengan sepasang gauntlet raksasa yang digunakannya bersama ilmu bela diri. Dirinya tidak memiliki afinitas dengan elemen-elemen sihir lain. Dalam perkembangan cerita, Elze berstatus sebagai tunangan ketiga
  • Linze Silhoueska; yang lebih muda dari pasangan gadis kembar Silhoueska, sekaligus yang lebih pendiam. Berbeda dari kakaknya, Linze memiliki afinitas elemen yang konvensional, dan karenanya beraksi dengan mengandalkan serangan-serangan sihir. Linze-lah yang mengajari Touya tentang sihir di dunia ini (ada enam elemen, dengan sihir non-elemen Null Magic yang bersifat pribadi dan menjadi kemampuan khusus penggunanya, yang ternyata bisa digunakan sepenuhnya oleh Touya). Linze juga yang mengajari Touya soal cara menulis dan membaca. Elemen-elemen yang Linze kuasai meliputi cahaya, api, dan air. Dalam perkembangan cerita, Linze berstatus tunangan kedua
  • Kokonoe Yae; gadis samurai yang datang dari negeri Eashen yang jauh di timur (yang nuansanya sangat mirip Jepang, dan karenanya, Touya juga kerap disangka berasal dari sana.). Bersenjatakan sepasang katana. Yae sedang dalam perjalanan untuk mengasah kemampuan berpedangnya. Yae sempat ditolong kelompok Touya saat kelaparan sesudah bekal perjalanannya hilang. Yae berbicara dengan cara sedikit aneh. Makannya juga banyak. Meski Yae tidak berbakat sihir, Touya belajar banyak soal ilmu bela diri darinya. Dalam perkembangan cerita, Yae berstatus sebagai tunangan keempat
  • Yumina Urnea Belfast; putri mahkota Kerajaan Belfast yang menjadi teman Touya sesudah Touya secara kebetulan menolong ayahnya. Memiliki sepasang mata berbeda warna yang salah satunya memiliki kemampuan untuk membaca ‘sifat’ masing-masing orang (kemampuan ini, bagian Null Magic-nya, ternyata tidak ada hubungannya dengan warna matanya yang berbeda). Dari ‘penglihatannya,’ Yumina kemudian memilih Touya untuk menjadi calon suaminya. Berbeda dari teman-teman Touya yang lain, Yumina lebih muda beberapa tahun, tapi sifatnya justru yang paling dewasa. Mulai ikut tinggal bersama Touya sebagai petualang, dengan mengandalkan sihir sekaligus kemampuan memanah. Elemen-elemen sihir yang dapat digunakannya mencakup tanah, angin, dan kegelapan. Dalam perkembangan cerita, Yumina berstatus sebagai tunangan pertama (Semenjak pertama berhubungan, Touya kerap dibujuk secara tidak langsung oleh ayah Yumina untuk bersedia mengambil alih mahkota kerajaan.) Yumina juga tidak berkeberatan dengan poligami karena memang itu kebiasaan para raja di dunia ini. (Keluarga Yumina saja yang tidak lazim.)
  • Sushie Urnea Ortlinde; adik sepupu Yumina yang kebetulan sempat ditolong Touya dalam suatu kesempatan terpisah. Anak perempuan dari saudara laki-laki sang raja. Masih anak-anak. Belum banyak berperan di anime ini, tapi aku sebutkan saja karena dia termasuk yang ditonjolkan dalam animasi penutupnya. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Sushie menjadi tunangan keenam Touya karena sedikit isu politik yang melibatkan suatu negara lain.)
  • Leen; gadis mungil yang ternyata berusia ratusan tahun dan merupakan kepala suku peri di negara tetangga Kerajaan Mismede. Memiliki penampilan gothic loli, senantiasa ditemani seekor boneka beruang ‘hidup’ yang dinamainya Paula. Dari Leen, Touya belajar Null Magic Program yang memungkinkannya mengendalikan benda-benda. Leen juga adalah guru penyihir kerajaan di Belfast, Charlotte, dan menjadi tertarik dengan Touya semenjak mengetahui tentangnya. Dari Leen, Touya mengetahui lebih banyak tentang keberadaan puing-puing kuno. Belakangan, Leen menjadi duta besar baru bagi Mismede untuk Belfast. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Leen menjadi tunangan kedelapan)

Selain mereka, Touya juga jadi berteman dengan para pembesar Belfast, dengan keluarga pemilik penginapan tempat mereka dulu menumpang (sebelum mereka punya rumah mereka sendiri di ibukota), dengan pengusaha pakaian yang maniak dengan desan pakaian baru, dengan seorang pemilik toko senjata, dengan pemimpin Kerajaan Mismede yang dihuni beastmen, lalu belakangan… dengan manusia buatan bernama Cesca yang mengakui Touya sebagai pewaris sejumlah artefak kuno yang melayang-layang di angkasa.

Jumlah tokoh yang diperkenalkan seri ini lumayan banyak. Di luar dugaan, kesemuanya juga banyak berperan dalam keseharian Touya.

Pulau-pulau Babylon

Membahas soal teknis, anime Isekai Smartphone mengangkat cerita dari sekitar buku pertama sampai ketiga dari seri novelnya. Dari segi alur, adaptasi ceritanya, secara mengesankan, lumayan setia dengan novel. Yang enggak aku sangka, cerita-cerita sampingan yang ada di novel-novelnya (meski tidak semua) ternyata juga ikut diadaptasi. Penempatannya lumayan mulus. Terasa bagaimana cerita-cerita sampingan itu menyatu dengan cerita utamanya.

Sisi buruknya, cerita utamanya enggak berkembang sejauh yang aku harap. Beberapa karakter yang tampil di animasi pembuka luput terjelaskan peranannya. Ada beberapa benang alur yang berakhir tak terselesaikan. (Seperti soal monster-monster Fraze/Phrase, yang sempat disinggung mungkin akan mendatangkan hancurnya dunia.) Kalau dipikir, keputusan ini masih wajar sih. Cerita-cerita sampingan itu memang lumayan memaparkan kekhasan seri ini. Meski begitu, adaptasi anime ini tetap berhasil mengemas ceritanya agar berakhir di titik yang enak. Dalam artian, tanpa menutup kemungkinan ceritanya masih berlanjut.

Soal visual, kualitasnya tidak istimewa, tapi tetap bisa menarik. Pemilihan warnanya yang beragam lumayan selaras dengan nuansa cerah yang seri ini bawakan. Meski tidak sampai detil, penggambaran berbagai latar tempatnya juga terbilang indah dan beragam. Ada puing-puing ibukota lama (yang di bawahnya mereka pertama menemukan monster berbahaya penyerap sihir Fraze/Phrase secara tanpa sengaja), ada kota petualang Reflet tempat Touya pertama kali tiba, ada ibukota Belfast yang lokasinya benar-benar enak. Meski tidak berat di soal perjalanan, nuansa perjalanan yang seri ini punya lumayan terasa.

Animasinya juga biasa saja sih. Mungkin malah ada yang akan menganggapnya sangat kurang. (Ada sedikit proporsi badan aneh, ada adegan menebas yang dibikin tak mencolok, ada gerakan pertarungan yang bisa dibikin jauh lebih baik.) Tapi, sepupuku sempat menyinggung bagaimana dia terkesan dengan cara adegan-adegannya dibawakan. Dengan kata lain, kalau soal menyampaikan narasi, seri ini sebenarnya enggak punya kekurangan. (Meski, narasi yang dibawakannya memang enggak istimewa sih.)

Mungkin perlu kusinggung, seri ini juga punya beberapa karakter… uh, maskot. Jadi, meski ada fanservice-nya (serta beberapa dialog yang agak menjurus), ada juga semacam aspek imut dan lucu yang seri ini punya. Selain beruang Paula yang sudah aku sebut di atas, juga ada Kohaku, harimau putih kecil yang sesungguhnya adalah White Monarch, salah satu dari empat makhluk sihir terkuat yang berkuasa di alam. Dalam perkembangan cerita di novel, agaknya, jumlah karakter-karakter maskot ini juga terus bertambah.

Bicara soal audio, kesan Isekai Smartphone lebih campur aduk. Musik pembuka dan penutupnya tak buruk. (Lagu penutup “Junjou Emotion” bahkan dinyanyikan bergantian oleh para heroine.) Para seiyuu juga secara umum juga berperan dengan baik. (Kecuali Touya, tapi nanti aku bahas lebih lanjut soal itu.) Tapi, musik latarnya… sebagian ada yang pas dan sebagian lagi enggak. Secara umum, semuanya enak didengar sih. Aku suka dengan penekanannya terhadap alat-alat musik tiup. Namun di beberapa bagian, tetap terasa ada yang agak aneh.

Intinya, dari segi teknis, menurutku lumayan terasa bagaimana Production Reed masih meraba-raba cara terbaik dalam menjalankan usaha mereka. Tapi, serius, hasil akhir Isekai Smartphone menurutku enggak buruk.

Aku masih aneh dengan segmen-segmen komedi di peralihan adegan-adegannya sih. Tapi, kalau menyangkut soal ceritanya sendiri, meski mengikuti detil-detil yang terasa enggak penting agak susah, aku lambat laun berhasil dibuat penasaran soal kelanjutan ceritanya.

Yea, aku jadi penasaran dengan seri-seri novelnya!

Mengingat suatu anime belakangan diproduksi sebagai ‘iklan’ untuk seri aslinya, bisa dibilang misi para produsernya sebenarnya sukses.

Slime Tidak Populer Dengan Wanita

Sesudah mengikuti Isekai Smartphone, aku jadi sedikit mikir: apakah kunci sukses tidaknya kita di dunia sebenarnya ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan ‘dia yang berkuasa’? Tapi, dari sini, kita ada dua pertanyaan. Satu: siapakah yang berkuasa? Dua: bagaimana cara kita bisa dekat dengannya?

Kalau mikir ini lebih jauh, aku jadinya kepikiran soal agama.

Yah, Terlepas dari itu, kayak biasa untuk kasus-kasus begini, meski versi anime tetap punya sisi-sisi baiknya, versi novel Isekai Smartphone masih lebih bagus ketimbang animenya.

Perbedaan paling kentara terdapat pada pribadi Touya sendiri. Meski Touya nyata-nyata emang orang baik—dan alur animenya hampir sama persis dengan yang di novelnya—versi novelnya secara umum diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Lalu, monolog internal Touya inilah yang membuat versi novelnya jadi beneran menarik.

Ceritanya enggak pernah jadi sangat bagus. Tapi, apalagi untuk ukuran novel isekai, versi novel Isekai Smartphone seriusan termasuk gampang dimasuki dan dinikmati. Meski kesan permukaannya datar, reaksi internal Touya terhadap segala sesuatu benar-benar kocak. Iya, aspek romansanya agak maksa. (Dan menarik gimana aspek ini jadi ditonjolkan di animenya.) Tapi, dengan segala kesederhanaannya, ini bacaan fun yang di dalamnya ada saja hal unik yang terjadi. Perlu disinggung elemen per-game-an yang biasa ada di suatu seri isekai juga sama sekali absen di seri ini.

Ngomong-ngomong, Fuyuhara-sensei konon mengetik novel ini menggunakan smartphone-nya juga. Aku seriusan heran gimana orang bisa sampai kayak gini.

Eh? Soal smartphone-nya?

Oh. Iya. Smartphone itu beneran berperan dalam cerita. Dengan menggabungkan dengan Null Magic, Touya jadi menemukan berbagai cara pemakaian kreatif untuk fitur-fitur dan aplikasi ponselnya.  Awal-awalnya memang enggak menonjol. Tapi makin ke sana, jadi makin bagus.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Iklan
28/08/2017

Seiren

Seiren itu aneh.

Aku punya alasan pribadi untuk mengikuti Seiren (judulnya kira-kira berarti: ‘jujur’, ‘kejujuran’, ‘sungguh-sungguh’), tapi cerita Seiren enggak kusangka bakal seaneh ini. Anehnya itu… mengangkat alis gitu. Bikin kamu sedikit enggak nyaman, tapi sekaligus kepikiran di waktu yang sama.

Sedikit info dulu.

Seiren diproduksi bersama Studio Gokumi dan studio pendatang baru AXsiZ. Pertama tayangnya di musim dingin awal tahun 2017. Aku antusias saat Seiren diumumkan. Alasannya, karena produksinya mengusung nama Takayama Kisai.

Jadi, Takayama-san adalah ilustrator sekaligus salah satu pencetus game romantis Amagami. Adaptasi anime Amagami, Amagami SS dan Amagami SS+, sempat menarik perhatian beberapa tahun sebelumnya. Agaknya, kesuksesan itu hendak diulang dengan bagaimana Takayama-san mendesain karakter-karakter di Seiren dan sekalian menangani naskah.

Selain beliau, musik seri ini ditangani Nobusawa Nobuaki. Penyutradaraannya ditangani Kobayashi Tomoki, sutradara Amagami SS+ yang belakangan lebih dikenal sebagai sutradara anime aksi Akame ga Kill!.

Berbeda dengan Amagami, Seiren murni diproduksi sebagai anime. Sifatnya orisinil. Tidak ada game pendahulu yang padanya ini didasarkan.

Sama halnya Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, Seiren pun mengadopsi format omnibus. Meski karakter-karakter utama yang diketengahkannya sama, seri ini terbagi ke dalam bab-bab berbeda yang berpusar pada karakter perempuan utama yang berbeda pula. Cerita dalam satu bab tidak benar-benar berhubungan dengan bab lain (meski ada banyak hal sama di dalamnya). Jadi begitu memasuki bab baru, cerita seolah berulang dari awal dan mengambil arah berbeda.

Musim pertama Seiren sepanjang 12 episode. Dengan tiga heroine utama, mengikuti formula Amagami SS, masing-masing bab di anime ini mendapat durasi empat episode. Tiap bab juga punya lagu penutup berbeda yang dinyanyikan pengisi suara heroine terkait.

Aku menyebutnya ‘musim pertama’ karena direncanakan akan ada musim kedua kalau anime ini sukses. Tapi itu belum pasti. Lebih banyak soal itu mending aku singgung nanti.

Mungkin perlu disinggung juga. Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+ bisa dibilang romantis dengan sisi-sisi lucu dan aneh. Tapi komedi romantis Seiren itu lebih ke arah… aneh.

Sial. Tetep enggak kepikiran kata lain yang bisa menjabarkannya.

Venison

Seiren berlatar di SMA Kibito, sekolah yang juga menjadi latar Amagami. Bedanya, Seiren berlatar pada masa sembilan tahun sesudahnya. Ada beberapa tempat di Amagami yang bahkan juga dikunjungi lagi di Seiren. Mungkin kau takkan langsung sadar, tapi desain seragam para tokohnya itu beneran sama.

Dengan cerita yang berawal di musim panas (berkebalikan dari Amagami, yang lebih banyak berlatar di musim gugur dan musim dingin), Seiren bercerita tentang pengalaman-pengalaman romantis(?) Kamita Shouichi, siswa kelas dua di SMA Kibito yang dihadapkan pada sejumlah perempuan berbeda saat mulai memikirkan tentang masa depannya.

Shouichi ceritanya adalah adik lelaki Kamita Tomoe, siswi kelas tiga populer yang juga bersekolah di SMA Kibito. Pada tahun sebelumnya, Moe-nee memenangkan juara pertama kontes kecantikan Miss Santa yang diadakan pada Festival Pendiri Sekolah di sekolah mereka. Sifat Moe-nee selalu ramah pada semua orang. Karenanya, berkat hubungannya dengan kakaknya, Shouichi sedikit banyak jadi mulai ikut dikenal di sekolahnya juga.

Di sekolah, Shouichi bersahabat dekat dengan Nanasaki Ikuo, kawannya sejak kecil yang kalem dan pintar (meski dulu sempat dikenal agak liar). Berperan secara konsisten sebagai teman bicara Shouichi, Ikuo juga adalah adik lelaki Nanasaki Ai, salah satu heroine di Amagami yang bisa didekati si tokoh utama. (Untuk kalian yang lupa, Ai itu karakter yang anggota klub renang, gadis cool yang juga salah satu teman dekat Miya, adik perempuan Tachibana Junichi, si tokoh utama. FYI, Junichi juga sempat tampil sebagai cameo di seri ini!)

Karena kegemaran mereka ngegame di game center, Shouichi dan Ikuo juga akrab dengan seorang kakak kelas bernama Araki Tetsuya. Araki-senpai yang tampan banyak dikagumi siswi-siswi di sekolah mereka. Tapi tanpa banyak orang tahu, Araki sebenarnya penyayang binatang. Entah bagaimana, hal itu jadi membuatnya punya sisi kepribadian yang sedikit aneh.

Ada tiga tokoh utama perempuan yang Seiren sajikan (di paruh ini). Masing-masing seolah mewakili angkatan yang berbeda. Sesuai urutan bab mereka, ketiganya adalah:

  • Tsuneki Hikari, teman sekelas sekaligus siswi paling dikenal di angkatan Shouichi. Hikari yang lincah dan memikat menjadi runner up kontes Miss Santa tahun lalu (kalah dari Tomoe, kakak perempuan Shouichi). Sifatnya ceria, senang makan tapi gemar olahraga, dan terkadang keras kepala. Hikari juga diam-diam bekerja paruh waktu sebagai koki dan pelayan di suatu restoran, meski sekolah sebenarnya tidak memperbolehkan. Cerita babnya mengetengahkan bagaimana Hikari dengan enggan mengikuti sekolah musim panas yang juga diikuti Shouichi dan Ikuo. Bagaimana Shouichi tak bisa membiarkan Hikari sendirian lambat laun memunculkan desas-desus tentang mereka. Desas-desus tersebut malah dikompori Hikari sendiri, dan Shouichi akhirnya terdorong untuk bersikap serius tentangnya.
  • Miyamae Toru, kakak kelas dan teman akrab Moe-nee yang diam-diam luar biasa jago ngegame. Meski sering ngegame, nilai-nilai pelajarannya juga terbilang bagus dan ia pun pandai berolahraga. Meski begitu, Toru kerap kesulitan bicara dengan orang kalau tak punya kesamaan. Hal itu ternyata berhubungan dengan suatu pengalamannya di masa lalu. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Toru jadi sering bertukar item dengan Shouichi, Ikuo, dan Araki. Saat Shouichi menjadi partnernya dalam suatu game robot-robotan, Shouichi jadi tertarik lebih jauh dengan kepribadiannya. Toru ternyata pernah akrab dengan Hikari di waktu SMP.
  • Touno Kyouko, adik kelas sekaligus teman sejak kecil Shouichi selain Ikuo. Penampilannya cantik dan manis. Dia murid teladan. Tapi dia juga sangat gemar membaca komik cewek, dan mungkin punya jalan pikiran sedikit kekanakan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Kyouko meminta Shouichi menemaninya makan pancake, yang kemudian mengawali serangkaian kejadian yang membuat keduanya sama-sama mulai mengkaji hubungan mereka.

“Rasanya luar biasa saat kamu menendangku dari belakang.”

Secara konseptual, Seiren menurutku lebih bagus dari Amagami. Dalam perkembangannya, memang ini terkadang dikesampingkan sih. Tapi tema yang diangkat Seiren sebenarnya tentang menghadapi masa depan. Hal inilah yang kemudian membuatnya jadi bagus.

Daripada langsung fokus ke hubungan dengan para karakter heroine-nya, Seiren sempat terasa kayak seri drama kehidupan yang lebih umum. Jadi bukan cuma pertanyaan soal hubungan cinta saja yang diangkat. Diangkat juga berbagai hal lain seperti sekolah, hobi, minat, dsb. dalam kehidupan para tokohnya. Secara mengesankan, ini tertuang dalam berbagai pikiran Shouichi. Jadi kayak, sesuatu yang selalu membayang-bayanginya secara bawah sadar gitu.

Masalahnya… mungkin ada di visi konsepnya yang belum mateng kali ya?

Awal cerita Seiren menurutku lebih menarik dari dugaan. Secara tersirat, berbagai hal tentang kehidupan para karakternya tercermin dari sikap, kebiasaan, dan cara bicara mereka. Seiren sama sekali enggak kelihatan kayak anime dating sim yang biasa. Nuansanya beneran kerasa begitu berbeda dari Amagami.

Sayangnya, di sepanjang dua bab yang pertama (bab Hikari dan Toru), fokus ceritanya kayak gagal kebangun gitu. Aspek hubungan antar karaternya kurang berhasil terjalin.  Akibatnya, daya tarik di awal tersebut jadi menurun dalam pelaksanaannya. Kualitasnya juga tak pernah benar-benar sampai berhasil menyamai kesan kuat Amagami SS.

Menyakitkannya, ini tuh benar-benar murni masalah naskah.

Masalah ini mungkin bahkan bakal terhindari seandainya Seiren hasil produksi dari satu studio, dan bukan kolaborasi dari dua. Ceritanya enggak jelek, dan bahkan sangat menarik dari banyak segi. Tapi juga belum bisa dibilang bagus.

Di sisi lain, kalau membahas soal teknis sih, animasi Seiren sebenarnya juga punya banyak saat yang terkesan ‘kaku.’ Kualitasnya termasuk biasa. Pengarahannya—soal gimana visualnya dipadu dengan dialog dan musik dalam satu adegan—terkadang kayak masih kurang pas.

Padahal dari segi audio, seri ini termasuk lumayan. Voice acting-nya enggak buruk. Di samping itu, musiknya lumayan dan sejumlah lagu-lagunya juga terbilang enak didengar.

Soal desain karakter Takayama-san, ada yang berpendapat desain karakter Seiren terlalu mirip dengan satu sama lain. (Ketiga heroine sama-sama kurus dan berambut panjang, misalnya.) Aku memang agak merasa beliau terlalu memasukkan selera pribadi beliau di dalam seri ini sih. Tapi aku juga merasa konsep multidimensi yang Seiren usung soal ‘masa depan’ dan ‘kehidupan’ juga agak berperan.

Susah jelasinnya.

Intinya, aku menduga pembagian kerja antara kedua studio menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi hasil akhir Seiren. Visi para pembuatnya masih belum menyatu. Jadinya, visi tersebut juga kurang berhasil diterjemahkan saat seri ini sudah harus tayang.

Tapi yang mengejutkan dari Seiren, kualitas teknis dan naskahnya tiba-tiba mengalami kenaikan sekitar pertengahan seri. Para staf seakan menemukan momentum mereka lagi. Seiren jadi punya episode-episode terakhir yang lebih berkesan dari episode-episode awal. Babnya Kyouko ternyata jauh lebih berkesan dibandingkan babnya Hikari dan Toru.

Iya, tetap aja ini terasa aneh karena format ceritanya yang omnibus sih.

Nah, bicara soal itu…

“Aku jadi benar-benar gugup saat membayangkan bisa punya keturunan sama kamu.”

Balik lagi soal cerita, Seiren itu… ceritanya aneh.

Seriusan aneh.

Di atas kertas, memadukan elemen-elemen drama komedi dengan soal cita-cita, impian, sekaligus romansa bukan ide buruk. Tapi untuk Seiren, keanehan ini yang justru jadi kekuatan sekaligus kelemahannya yang terbesar.

Kekuatannya karena… enggak ada anime lain yang mirip Seiren. Bahkan Amagami SS juga enggak!

Kelemahannya karena… yah, Seiren jadi cenderung terlalu datar buat sebagian orang. Agak membosankan. Dan itu sesuatu yang enggak semestinya terjadi buat konsep kayak gini.

Sekali lagi, andai Seiren diproduksi sama satu studio, keanehan yang jadi kelemahannya ini kayaknya bakal langsung disadari dan kemudian diperbaiki. Tapi karena diproduksinya oleh dua, keanehan dalam naskahnya itu kayak baru ketahuan belakangan.

Ringkasnya, selain plotnya kerap mengawang, selalu ada sesuatu yang ‘ajaib’ di dialognya. Pas kamu dengerin pertama kali, awalnya kamu akan biasa-biasa saja. Tapi sedetik berikutnya, pas kamu memikirkannya lagi, reaksi kamu bisa jadi, “Wut? Barusan dia ngomong apa?” karena saking anehnya apa yang diucapkan. Nah, dialog-dialog kayak gini yang jadi kekhasan Seiren. Dan ini konsisten ada di ketiga bab.

Nah, Amagami SS juga punya fanservice yang ‘aneh’ gitu kan? Kamu nanya apa di dalamnya Seiren juga ada apa enggak? Jawabannya: iya, tapi enggak sebanyak Amagami. Cuman, pas ada, keanehan di Seiren itu bisa sekian kali lipat melebihi Amagami. Seiren seriusan patut dipuji karena bisa kepikiran segala macem inuendo kayak gini.

Lalu, soal plotnya…

Satu hal aneh lain tentang Seiren: kalau dalam Amagami misalnya, seorang heroine tidak akan terlalu berperan dalam bab heroine lain. Kalau dalam Seiren, mereka kayak punya peran lebih aktif. Malah kayak bisa ada konflik antar mereka. Jadi, struktur bab yang katanya omnibus tersebut sebenarnya lebih kayak struktur perkembangan cerita di Fate/stay night ketimbang Amagami.

Hal-hal yang dipaparkan di satu bab terus terbangun sampai ke bab berikutnya begitu. (Seperti soal subplot soal cinta terpendam Ikuo.) Tingkat interaksi antar karakter heroine di Seiren emang jadi lebih banyak. (Terutama dengan adanya Hikari.) Lalu kurun waktunya secara kronologis memang Hikari –> Toru –> Kyouko. (Memberi semacam kesan What if? pada masing-masing skenario.) Tapi iya, buat anime yang harusnya romansa kayak Seiren, ini jadi terasa luar biasa aneh.

Sisi baiknya, sekali lagi, adalah gimana bab Kyouko jadi memuaskan sebagai penuntas seri. Ceritanya Kyouko emang berbeda sendiri. Memang terasa seperti ada elemen-elemen cerita yang dicomot dari babnya Rihoko di Amagami SS dan Amagami SS+. Bahkan sampai ada karakter expy dari dua karakter senpai di Klub PKK segala! Tapi kalo aku ditanya akhirnya bagus apa engga, menurutku pribadi, akhirnya termasuk bagus.

Seandainya Seiren dikasih kesempatan lanjut, mungkin saja season keduanya bakal beneran ngejutin.

Legenda Gudang Pompa

Sebagai penutup, ada lumayan banyak karakter yang berperan dalam Seiren. Tapi tiga karakter berikut yang sebenarnya telah direncanakan sebagai heroine untuk season keduanya.

  • Hiyama Miu, siswi pingitan anggota klub renang SMA Putri Sakuragawa Nishi. Masih awam soal berbagai seluk beluk dunia. Dirinya pertama kali diperkenalkan sebagai sesama peserta sekolah musim panas di bab Hikari.
  • Kamizaki Makoto, siswi kelas satu anggota komite disiplin di Kibito. Teman dekat Kyouko. Dirinya tidak terbiasa berkonfrontasi dengan orang. Dia ditampilkan secara menonjol di bab Toru saat hendak mengambil foto di game center. (Ada indikasi kalau dirinya adalah adik perempuan Kamizaki Risa, karakter rahasia di Amagami.)
  • Sanjou Ruise, ketua komite disiplin yang agak galak, sekaligus atasannya Makoto. Dirinya berperan mencolok di bab Kyouko sebagai sosok yang mendorong Klub PKK untuk membuatkan rancangan hiasan.

Selain mereka, juga ada teman-teman dekat Hikari (yang punya hubungan kompleks dengannya). Ada Nagasawa Shiori, teman Moe-nee dan Toru, yang baik hati membantu dalam hal Comima. Lalu ada… dua orang karakter cowok yang seakan menjadi penggemar para cewek cantik di SMA Kibito. (Sayang mereka enggak lebih banyak berperan.)

Selebihnya, para karakter expy: ada Yoshida Mako di sekolah musim panas yang desainnya hampir sama persis dengan Tanaka Keiko, teman dekat Kaoru di Amagami. Lalu dua kakak kelas Uno Koharu dan Tokioka Nao punya sifat dan tampang yang sama persis dengan Yuzuki Ruriko dan Hiba Manaka di Amagami. Mereka bahkan sama-sama jadi anggota Klub PKK?

…Sejujurnya, aku jadi curiga apakah terjadi perubahan naskah secara mendadak menjelang akhir seri.

Akhir kata, Seiren mungkin terkesan membosankan. Tapi kalau kau bertahan, yah, ada hal-hal di dalamnya yang enggak akan kamu temukan di tempat lain.

Kalau kau fans Amagami, kamu enggak bener-bener perlu mengikuti Seiren. Tapi kalau kau sudah jadi fans Amagami saat mengikuti Seiren, ada sejumlah hal menarik yang bisa tiba-tiba kau sadari selama mengikutinya.

Sekali lagi, anehnya Seiren bukan aneh gila kayak di seri-seri komedi kocak kayak Excel Saga atau Nichijou gitu. Melainkan ‘aneh’ yang sekilas kelihatan normal, tapi saat kamu nyadar, lambat laun bikin kamu “Hah? Haah? HAAAAAAH?!”

Itu yang membuatnya jadi menarik.

(Di samping itu, aku lebih dari bersyukur bisa mendengar nyanyian Oku Hanako lagi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+

17/07/2017

Busou Shoujo Machiavellianism

Belakangan, waktuku tersita oleh naskah yang aku lagi kerjain.

Tapi belum lama ini, aku masih sempat mengikuti perkembangan anime Busou Shoujo Machiavellianism.

Juga dikenal dengan judul Armed Girls Machiavellianism (‘Machiavellianisme gadis-gadis bersenjata’; buat yang belum tahu, ‘Machiavellianisme’ adalah suatu paham yang digagas filsuf sekaligus ahli sejarah Niccolò di Bernardo dei Machiavelli pada awal abad ke-16, yang intinya membolehkan—dan mungkin bahkan menekankan—kepalsuan, pemaksaan, manipulasi, dan amoralitas untuk tercapainya suatu tujuan). Ini seri komedi romantis aksi bernuansa ilmu bela diri yang didasarkan seri manga karya Karuna Kanzaki. Ceritanya sendiri dipenai Kurokami Yuuya. Diserialisasikannya di majalah bulanan Monthly Shonen Ace milik penerbit Kadokawa Shoten, dan saat ini aku tulis, serialisasinya masih berlanjut.

Adaptasi animenya sendiri dikerjakan studio animasi Silver Link. Tachibana Hideki yang menyutradarai. Hasil akhirnya, mengingat beliau sebelumnya menangani Chaos Dragon, H2O: Footprints in the Sand, dan BlazBlue Alter Memory, menurutku terbilang bagus. Naskahnya dikerjakan oleh Shimoyama Kento. Musiknya ditangani Mizutani Hiromi dari Team MAX.

Ditayangkan pada musim semi tahun 2017, jumlah episodenya sebanyak 12.

(Sebenarnya, ada cerita panjang soal lisensi anime ini dan beberapa judul lain pada musim bersangkutan, tapi mungkin soal itu enggak usah aku ceritain.)

Bertingkah Seperti Burung-burung Kecil

Sekilas, Busou Shoujo Machiavellianism terkesan punya cerita yang enggak penting. …Tapi kalau dilihat secara menyeluruh pun, cerita seri ini memang sebenarnya enggak terlalu penting.

Seorang remaja SMA santai bernama Nomura Fudou dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena meng-KO 40 orang dalam suatu tawuran hebat. Tapi kemudian, dia pindah ke Akademi Simbiosis Swasta Aichi (apa ini bener terjemahannya?) yang prestisius dan berasrama, yang ternyata secara harfiah dikuasai oleh para siswi.

Alasan anak-anak perempuan menguasai sekolah ini adalah karena mereka semua diizinkan membawa senjata. Senjata beneran. Perguruan Aichi sebelumnya adalah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga terhormat yang baru pada tahun-tahun belakangan menerima siswa laki-laki. Sebagai langkah untuk melindungi kehormatan para siswi, para siswi diizinkan membawa senjata agar bisa menjaga diri dari para laki-laki.

Lalu entah siapa yang memulai, meski resminya murid-murid laki-laki diterima di sekolah ini, selama bersekolah di perguruan ini, mereka diwajibkan berhenti hidup sebagai laki-laki. Dengan kata lain, mereka semua harus hidup sebagai banci.

Nomura (aksen saat menyebut namanya diberikan pada suku kata pertama) jelas tak bisa menerima aturan ini. Meski mengusung moral yang lurus, Nomura juga menjunjung kebebasan lebih dari apapun. Tapi bahkan sebelum penolakannya, karena prestasinya dalam menghajar 40 orang dalam satu tawuran hanya dengan tangan kosong, Nomura telah menarik perhatian kelompok Tenka Goken (Supreme Five Swords, ‘Lima Pedang Terkuat’).

Tenka Goken adalah kelompok penjaga keamanan yang terdiri atas lima siswi paling kuat di Aichi. Selama bertahun-tahun, mereka menjaga harmoni di perguruan Aichi karena dibolehkan menegakkan aturan dengan membawa pedang sungguhan.

Singkat cerita, meyakini Nomura akan berbuat onar, diprakarsai seorang gadis bertopeng bernama Onigawara Rin yang ternyata menjadi teman sekelas Nomura, masing-masing anggota Tenka Goken memulai langkah-langkah mereka untuk mendisiplinkannya. Sementara di sisi lain, Nomura belakangan mengetahui bahwa untuk memperoleh izin pergi ke luar sekolah, ia perlu melengkapi kartu izin dengan stempel dari kelima anggota Tenka Goken. Karena Nomura ingin memperoleh izin untuk bisa bebas keluar, tanpa dapat dihindari, jalan hidup Nomura dan kelompok ini akhirnya berseberangan.

Namun, meski tak bersenjata apa-apa selain sarung tangan berpelindung yang menjadi andalannya, Nomura ternyata seorang ahli bela diri. Dia telah dididik oleh kakeknya sejak kecil dan digembleng oleh kakeknya untuk menguasai suatu ilmu bela diri tertentu. Hasilnya adalah jurus rahasia yang disebut Madan (‘peluru ajaib’), suatu serangan hentakan telapak dahsyat yang dapat dilepasnya dari kedua belah tangan dari posisi apapun.

Seiring dengan bentrokan demi bentrokan yang terjadi, satu demi satu gadis yang berhadapan dengan Nomura juga lambat laun menyadari kalau dirinya ternyata tidak seburuk yang mereka kira…

Catatan-catatan Skandal

Terlepas dari semuanya, para heroine utama seri ini, yang tergabung dalam Tenka Goken, terdiri atas:

  • Onigawara Rin, gadis berambut hitam pendek yang punya ciri khas berupa separuh topeng oni yang hampir selalu menutupi separuh wajahnya. Rin adalah pemimpin tidak resmi dari Tenka Goken, meski ia berada di kedudukan tersebut lebih karena dirinya yang paling punya inisiatif. Pembawaannya galak. Ia juga selalu lurus dan taat peraturan. Tapi dirinya juga punya sisi rendah diri yang membuatnya terkadang ragu terhadap diri sendiri. Dalam bertarung, Rin menggunakan ilmu pedang aliran Kashima Shinden Jikishinkage-ryuu yang mengutamakan ketepatan bentuk yang dipadukan dengan teknik-teknik pernafasan. Pedangnya berupa katana yang dinamai Onimaru. Adik kelas yang paling dekat dengannya adalah Mozunono Nono, yang kagum terhadap Rin dan menggunakan aliran pedang yang sama, tapi untuk pedang pendek jenis kodachi, meski ia sendiri bersenjatakan baton.
  • Kikakujou Mary, seorang gadis pirang rupawan berdarah campuran Jepang-Perancis. Ke mana-mana, ia senantiasa membawa kamus bahasa Jepang. Ia ahli anggar yang agaknya menggabungkan ilmu pedang konvensional dari Barat dengan ilmu pedang Jepang (aliran Jigen-ryuu?). Dalam bertarung, Mary melancarkan serangan-serangan beruntun yang mengincar titik-titik saraf lawan yang juga dipadukan pengendalian jarak yang lihai. Pedang yang digunakannya sejenis rapier, yang mengutamakan gerakan-gerakan tusukan. Sangat cantik dan anggun meski terkadang pemalu. Dirinya juga bisa bersikap licik saat sedang mau. Adik kelas yang dengan setia mengikutinya adalah si burikko, Chouka U. Baragasaki (bukan nama asli), yang menggunakan senjata cambuk.
  • Hanasaka Warabi, anggota paling senior dalam generasi Tenka Goken saat ini, seorang gadis pendek berambut pirang yang memiliki pembawaan seperti bangsawan. Memiliki seekor beruang peliharaan bernama Kyobo. Sebagai anggota senior, Warabi juga memiliki banyak pengikut serta pengaruh luas. Meski semula berkesan kaku dan tanpa ampun, Warabi bisa menjadi pengertian dan sangat bisa diandalkan kalau sudah kenal. Dalam bertarung, Warabi menggunakan aliran pedang Taisha-ryuu yang menonjolkan serangan kejutan dan gerak tipuan. Pedang yang digunakannya kurasa adalah sejenis nodachi.
  • Tamaba Satori, gadis penyendiri berambut gelap panjang dengan tingkah laku sulit ditebak. Dikenal memiliki perangai sangat aneh dan cenderung berbahaya. Matanya yang membelalak membuatnya pikirannya sulit dibaca. Menaruh rasa permusuhan terhadap Nomura bahkan sebelum mereka pertama berhadapan. (Alasannya ternyata karena ia tak terima bila disamakan dengan Morgan Freeman. Ceritanya panjang.) Dalam bertarung, Satori menggunakan gerakan-gerakan bercabang yang sangat sukar ditebak. Ilmu pedang yang digunakannya sedikit spoiler, tapi pada dasarnya ia merangkai bentuk dan gerakan dari berbagai ilmu pedang lain. Pedang yang digunakannya adalah nihontou polos bergagang dan bersarung kayu, tanpa pelindung tangan. Satori punya masa lalu aneh yang menjadi penyebab ia menjadi seperti demikian.
  • Inaba Tsukuyo, seorang gadis mungil serupa kelinci dengan mata buta yang hampir selalu terpejam. Meski demikian, pendengaran Tsukuyo luar biasa tajam. Hanya dengan mendengar sekelilingnya, Tsukuyo bisa mengintepretasi berbagai kejadian yang terjadi di Aichi. Tsukuyo anggota termuda dari Tenka Goken yang masih duduk di bangku SMP, tapi dirinya sekaligus juga yang paling kuat dengan ilmu pedang paling mengerikan. Gerakan-gerakan kilatnya membuat lawan-lawannya tak mampu berkutik. Ilmu pedang yang digunakannya juga sedikit spoiler. Kalau tak salah, pedang yang digunakannya adalah sejenis tachi. Mungkin karena selalu disegani, diam-diam Tsukuyo terkadang kesepian.

Sebenarnya ada satu heroine lagi, yaitu Amou Kirukiru, seorang gadis jangkung berambut panjang dan sangat cantik yang merupakan murid pindahan seperti halnya Nomura.

Amou di masa lalu dikisahkan berhasil menundukkan Tenka Goken saat mereka berupaya mendisiplinkannya. Dirinya satu-satunya murid di Aichi sebelum Nomura yang tidak bisa Tenka Goken kendalikan. Karenanya, Amou kemudian dikenal dengan julukan Joutei (Empress). Motivasi Amou di sepanjang cerita menjadi tanda tanya besar. Pengetahuannya tentang jurus Madan milik Nomura (dan soal bagaimana aksen diberikan pada suku kata pertama di namanya) mengimplikasikan adanya semacam hubungan masa lalu di antara mereka.

Amou adalah praktisi karate aliran Uechi-Ryu yang menekankan pengerasan tubuh. Setiap gerakan tangannya serupa tebasan pedang. Dalam dirinya telah tertanam teknik Auto Counter yang membuatnya mampu membalas setiap serangan yang ditujukan padanya bahkan secara separuh sadar. Dirinya berperan jadi semacam final boss yang harus Nomura hadapi di penghujung cerita. (Belakangan diimplikasikan Amou terobsesi dengan Nomura karena serangan Nomura bisa memberinya rasa sakit, sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya karena sudah lama mati rasa.)

“Buriburi! Buriburi!”

Sekali lagi, Busou Shoujo Machiavellianism itu… aneh.

Garis besar ceritanya enggak penting. Meski ada aksinya, genrenya yang utama sebenarnya adalah komedi romantis. Tapi romansa yang ada di dalamnya enggak bisa dibilang berat juga. Latar ceritanya terkadang sureal. Perkembangan karakternya terkadang mengangkat alis, dan cenderung konyol. Tapi… ada sesuatu tentangnya yang sulit dijelaskan, yang membuatnya berakhir lebih bagus dari dugaan.

Intinya: siapa sih yang nyangka seri tentang cowok yang berantem dengan cewek-cewek semata-mata agar dapet izin buat bisa keluar sekolah akan meninggalkan kesan sedemikian kuatnya tentang persahabatan dan pemahaman jati diri?

It’s weird.

Komedinya, meski benar-benar aneh, sebenarnya lumayan lucu. Jenisnya lebih ke komedi situasi yang lebih berbasis percakapan ketimbang slapstick. Jenis yang lebih mengandalkan interaksi karakter. …Meski memang perkembangan situasinya terkadang absurd.

Walau enggak sampai mengangkat hal-hal pseudo-filosofis seperti berbagai seri bela diri sekolahan lain, di luar dugaan, tetap ada nilai-nilai berbobot yang tersampaikan di ceritanya juga. Ada soal prasangka, ada soal kesetiakawanan. Ada juga soal kerja keras dan pemahaman diri sendiri/penerimaan orang lain.

Iya sih. Ini seri fanservice. Tapi implementasi berbagai elemennya benar-benar efektif. Perkembangan ceritanya juga selalu menarik dan tak selalu gampang ditebak.

Kalau kekurangan, adegan-adegan aksinya lumayan low key sih. Koreografinya sangat sederhana. Sama sekali tidak wah.  Bagaimanapun, ceritanya memang lebih menonjolkan aspek komedi romantisnya. Tapi di sisi lain, seperti ada semacam ‘keaslian’ dalam teknik-teknik bela diri yang digunakan di dalamnya juga.

Makanya, ini aneh.

Awalnya lucu melihat gadis-gadis manis ini melancarkan gerakan-gerakan bela diri yang mungkin saja benar-benar ada di kehidupan nyata. Tapi kalau kau bisa melihat melewati kesan awalnya, kau mungkin bakal ngerasa kalau karakter-karakter di dalamnya itu menarik.

Nomura terutama berhasil mencuri perhatian sebagai karakter utama. Meski lagaknya santai dan semaunya, dia setiakawan dan kuat. Tipe yang tak keberatan bersusah-susah selama itu masih sejalan dengan prinsipnya. Prinsipnya itu yang menggerakkan dia (meski, sekilas, prinsipnya itu kayaknya bener-bener enggak penting) dari awal sampai akhir. Lalu aku terkesan pada gimana dia mengkomunikasikan prinsip itu ke orang lain, menunjukkan posisinya di mana, membuat orang lain ngehargain dia sebagaimana halnya dia juga ngehargain orang lain.

Intinya, dia karakter yang lebih dalam dari yang sekilas terlihat.

Bukti Aku Ada di Sini

Bicara soal teknis, seri ini punya nilai-nilai produksi yang solid.

Visualnya menonjolkan permainan warna-warna cerah dan efek-efek pudar dengan animasi cukup solid. Mungkin kau tak cocok dengan gaya desain karakternya. Tapi secara umum, visual seri ini beneran bagus. Pada setiap adegan aksi, perubahan ekspresi para karakter di luar dugaan menjadi hal yang sangat diperhatikan dan hampir selalu menyiratkan banyak hal.

Dari segi audio, Mizutani-san memberikan good job. BGM-nya keren. Kebanyakan seiyuu-nya juga adalah seiyuu yang belum aku kenal. Tapi kesemuanya menurutku memberikan performa brilian. Mereka berhasil membuat setiap karakter terasa hidup seaneh apapun mereka. Mulai dari tawa khas Warabi sampai nada bicara Satori yang psikopatik, itu juga termasuk teman-teman seasrama Nomura seperti Masuko. Itu lengkap pula dengan nuansa terselubung untuk hal-hal yang semula tak tampak di permukaan.

Aku benar-benar kaget karena sampai dibuat ingin tahu perkembangan seri ini. Soalnya, meski mengetengahkan aksi bela diri, manganya termasuk jenis yang punya dialog banyak. Gimana ya? Jenis yang kesan awalnya sama sekali berbeda dari kesan akhirnya.

Cerita di animenya sendiri berakhir tuntas sih. Kesan akhirnya juga cukup kuat. Tapi yea, manganya masih berlanjut. Ada sejumlah tokoh baru menjelang akhir yang juga sempat ditampilkan sebagai teaser.

Aku tak tahu apa aku akan berkesempatan buat tahu lanjutannya atau tidak sih. Meski animenya terbilang baik, aku tidak melihat gelagat akan dibuatnya season dua soalnya.

Akhir kata, kamu mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari seri ini. Mungkin kamu awalnya enggak akan ngerti karena terselubung. Mungkin itu sesuatu yang sederhana dan enggak penting. Tapi itu tetap sesuatu yang bisa kamu ambil.

Ah, pastinya lagu penutup dan pembukanya keren. Terutama lagu penutup “DECIDE” yang dinyanyikan para seiyuu Tenka Goken. Itu lagu yang sederhana, tapi pas banget dengan nuansa seri ini. Aku jadi berharap Tenka Goken sebagai grup musik bakal bisa terus berkarya.

(Uh, buat kalian yang masih bingung dengan arti judulnya, ringkasnya itu tentang bagaimana Nomura menyikapi pendekatan paksa menghalalkan segala cara ala Machiavelli dari para gadis yang mencoba mendisiplinkannya. Perlu kuakui, judulnya sangat menarik perhatian.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

28/06/2017

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

03/04/2017

Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale

Akhir pekan lalu, aku menonton Sword Art Online: Ordinal Scale di salah satu cabang CGV Blitz.

Ordinal Scale (kira-kira berarti ‘skala ordinal’, ‘ordinal’ mengacu kepada ‘angka ordinal’ yang menyatakan peringkat/kedudukan seperti ‘pertama’ dan ‘kedua puluh’ dsb., berbeda dari ‘angka cardinal’ yang menyatakan nilai/kuantitas; sebenernya ada lagi jenis angka nominal yang menyatakan nama/identitas seperti barcode) adalah film layar lebar pertama dari seri Sword Art Online yang terkenal. Masih diangkat dari seri novel fenomenal karangan Kawahara Reki, film layar lebar ini berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua animenya. Jadi, Ordinal Scale berlangsung sesudah bab Mother’s Rosario, tapi sebelum bab Alicization yang sudah didesas-desuskan akan menjadi inti season ketiga anime SAO yang akan datang.

Salah satu daya tarik movie ini bagi para penggemar SAO adalah sifatnya yang orisinil. Cerita yang dipaparkan movie ini tak berasal dari novel. Seperti halnya film layar lebar Mahouka Koukou no Rettousei yang akan tayang pertengahan tahun ini nanti, ada rentang waktu kosong dalam linimasa cerita asli di seri novelnya yang jadinya dilengkapi.

Berdurasi lumayan lama, sekitar pas dua jam, produksi Ordinal Scale masih dilakukan oleh A-1 Pictures . Penyutradaraannya kembali dilakukan Ito Tomohiko. Naskahnya disusun bersama oleh Ito-san berdasarkan konsep cerita yang disusun Kawahara-sensei sendiri. Penayangan film layar lebar ini di Indonesia pun terbilang cepat, hanya sekitar sebulan sesudah movie ini pertama tayang di Jepang.

Sedikit curhat dulu: aku semula tak berencana menonton film ini.

Sekali lagi, aku menggemari versi novel SAO. Tapi aku sebenarnya tak sebegitu antusias terhadap animenya.

Sempat terlintas di benakku kalau aku mungkin akan nonton Ordinal Scale. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar secara khusus meniatkannya karena mengira film ini penayangannya akan terbatas, baik secara waktu dan tempat. Belum lagi sempat ada berita pula kalau distribusinya di Indonesia bakal ditunda. Kusangka ini paling cepat adanya April. Lalu, yah, kesibukanku belakangan rada susah diprediksi (aku sering sekali menyinggung soal gimana aku sibuk, sampai-sampai aku sendiri merasa aku belakangan terdengar kayak bohong).

Tapi akhir pekan lalu, tiba-tiba ada sahabat lamaku, yang sekarang domisilinya di kota lain, tahu-tahu ngontak soal bagaimana hari itu dia mau menonton ini (dan kalau bisa, langsung dilanjutkan dengan Kong: Skull Island). Lalu, saat aku dengar Ordinal Scale sudah tayang, reaksiku adalah: “FUUUUUUGGGGHHHG!!!!!”

Semula, aku merasa temanku itu yang selama ini stres. Sama sepertiku, dia juga masih lajang. Lalu dia lagi sendirian di rumah setelah ditinggal keluarganya touring. Dia menghubungiku juga sambil sesekali mengirim foto kemajuan gambar yang sedang dia buat untuk mengasah kembali skill gambarnya yang sudah tumpul. (Dia punya bakat menggambar bishoujo.)

Tapi menilai reaksiku, aku tersadar bahwa aku juga butuh menonton film ini. Rupanya aku juga lagi stres.

Akhirnya, aku tak peduli apakah hasilnya akan jelek atau bagus. Aku perlu menonton Ordinal Scale.

Sesudah bertekad demikian, aku memutuskan ke luar rumah. Aku bahkan sampai membujuk-bujuk temanku untuk tetap cabut sekalipun cuacanya kelihatannya memburuk. Singkat cerita, aku dan sahabatku yang beda kota ini akhirnya masuk bioskop pada waktu kurang lebih sama, demi menonton film yang sama.

Kami lalu saling bertukar komentar sesudah menonton.

Was it worth it?

Yah. Pada akhirnya, Ordinal Scale tetap SAO. Kalau kalian mengerti maksudku.

“…Switch.”

Ordinal Scale dibuka dengan pemaparan tentang berkembangnya perangkat teknologi baru berbasis augmented reality bernama Augma. Memiliki bentuk berupa kombinasi visor, headphone lalu kamera sekaligus aksesoris tangan, Augma digandrungi karena menjadi alternatif untuk perangkat virtual reality Amusphere (penerus perangkat VR NervGear yang menjadi salah satu penyebab tragedi VMMORPG Sword Art Online beberapa tahun silam).

Untuk kalian yang awam, berbeda dengan virtual reality yang merupakan realitas buatan yang membawa penggunanya ke ‘dunia’ lain, teknologi augmented reality adalah teknologi yang ‘memperkaya’ realitas kita saat ini. Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling saja, ada berbagai informasi tambahan yang bisa kita peroleh terkait apa yang kita lihat. Kita masih bergerak dengan badan sendiri. Tapi apa yang kita lihat, dengar, dan bahkan sentuh telah diperkaya karena ‘informasi’ yang Augma berikan turut menimpa persepsi dunia nyata kita. Dunia bisa terlihat semakin berwarna dan menarik. Ada berbagai aplikasi Augma yang bisa dimanfaatkan, mulai untuk olahraga, bertukar pesan, peluang mendapatkan kupon diskon, membantu diet, info lalu lintas real time, menampilkan peta, membantu menunjukkan arah kalau tersesat, dsb. Bahkan, ada suatu permainan massal berbasis Augma bernama Ordinal Scale yang belakangan menyedot perhatian para penggemar VMMORPG ALfheim Online dan Gun Gale Online.

Melalui Augma, kita juga bisa menyaksikan pesona figur idola virtual Yuna yang konon adalah kecerdasan buatan. Dengan kepribadiannya yang cerah, acara-acara konser Yuna—yang dapat berlangsung nyaris di mana saja—menjadi hal yang banyak diminati dan menjadi satu lagi faktor kesuksesan Augma.

Fitur-fitur baru Augma juga tengah digandrungi teman-teman Kirigaya Kazuto.

Sebagai salah satu yang selamat dari peristiwa SAO, dan bahkan menjadi yang telah menuntaskannya, Kazuto, yang juga dikenal sebagai Kirito, sudah beberapa kali terlibat dalam sejumlah insiden berbahaya di dunia virtual. Mungkin karena itu perasaannya terhadap Augma masih ambivalen.

Di sisi lain, teman-teman lama Kirito—bahkan termasuk mereka yang juga selamat dari peristiwa SAO, seperti Shinozaki Rika (Lizbeth) dan Ayano Keiko (Silica), serta kekasih Kirito sendiri, Yuuki Asuna; terutama karena pembagian perangkat Augma gratis untuk para anggota kepanitiaan di sekolah rehabilitasi mereka—juga menggandrungi Augma sekaligus Ordinal Scale. Teman Kirito yang sudah dewasa, Klein, juga sering ikut serta dalam berbagai event Ordinal Scale bersama teman-teman guild-nya yang bertema samurai, Fuurinkazan. Lalu manfaat lain Augma bagi Kirito dan Asuna, yang mau tak mau harus mereka akui, adalah bagaimana kecerdasan buatan yang menjadi ‘putri’ mereka sesudah insiden SAO, Yui, jadi bisa secara lebih bebas berada di dunia nyata.

Meski masih kurang nyaman dengan Augma, sebagai seorang gamer, Kirito tentu saja juga tertarik dengan Ordinal Scale. Dari sekedar mencoba mengikuti acara Ordinal Scale bersama Asuna, Kirito mulai mendengar sebuah rumor yang mulai mengusiknya: bahwa sejumlah lawan yang dikenali sebagai floor boss dari Sword Art Online telah muncul dalam eventevent Ordinal Scale.

Lalu yang menyadari hal ini hanya para veteran SAO yang pernah terlibat di garis depan.

Trauma Therapy

Sebelum masuk soal bagaimana Kirito, Asuna, dan kawan-kawan mereka jadi diingatkan soal pengalaman di garis depan SAO, baiknya aku menyinggung sedikit dulu tentang Ordinal Scale.

Jelas terinspirasi dari berbagai permainan augmented reality yang belakangan berkembang (salah satunya mungkin demam Pokemon Go), Ordinal Scale sederhananya adalah semacam permainan aksi memburu monster yang mengharuskan para pemainnya keluar rumah (dengan memakai Augma) dan mendatangi berbagai tempat di kota.

Setiap pemain bebas memilih ingin jadi pemain macam apa. Mereka bebas memilih peralatan yang mereka bawa (yang sebagian agaknya bisa ditemukan dari menjelajah tempat-tempat tertentu di sekitar mereka), mulai dari senjata jarak dekat macam pedang atau yang jarak jauh macam pistol dan senapan (Kirito dan Asuna jelas-jelas lebih memilih menggunakan pedang). Di samping senjata, mereka juga bebas mengenakan pelindung. Dengan berkeliaran sambil mengenakan Augma saja, konon para pemain OS bisa menemukan berbagai barang (item), perlengkapan, serta musuh-musuh yang bisa mereka kalahkan.

Satu hal menarik di OS adalah bagaimana tak ada sistem leveling. Semua pemain bermain menggunakan badan mereka sendiri (jadi bukan badan virtual seperti di Amusphere yang parameternya telah disesuaikan). Parameter kekuatan mereka—meski ada beberapa yang mengalami modifikasi oleh perlengkapan yang mereka kenakan—adalah kemampuan fisik nyata mereka sendiri.

Lalu, untuk memantau siapa-siapa yang unggul dalam permainan ini, digunakan semacam sistem peringkat. Masing-masing pemain bersaing untuk meningkatkan peringkat, dan ada berbagai manfaat yang mereka peroleh seiring dengan bertambahnya peringkat mereka. (Sistem ‘peringkat’ ini belakangan terungkap punya signifikasi di dalam cerita.)

(…Bentar. Setelah kupikir, sistem pengembangan diri berbasis peralatan ini, yang tak ada kaitannya dengan sistem level, lumayan mirip dengan yang ada di waralaba Monster Hunter.)

Salah satu aspek terkeren Ordinal Scale adalah bagaimana saat dijalankan, program tersebut dapat sepenuhnya mengubah persepsi pemainnya akan realita. Dalam sekejap, langsung ada dunia lain yang mereka lihat, tapi dunia tersebut tetap tercipta berdasarkan bentuk dunia nyata. Puncak-puncak gedung tinggi bisa berubah menjadi menara kastil. Tempat-tempat terbuka menjadi teras puri. Warna langit bisa berubah dari siang menjadi malam, lengkap dengan terangnya bulan berwarna. Lalu pakaian yang para pemainnya kenakan akan berubah. Handset yang mereka pegang juga berubah jadi senjata yang mereka pilih. Semua konon terwujud berkat keberadaan sepasukan UAV yang seakan membantu proses pemantauan.

Perubahan dunia pada Ordinal Scale lumayan mengingatkan pada perwujudan Unlimited Neutral Field di Accel World yang juga karangan Kawahara-sensei. Tapi meski sama-sama didasarkan pada bentuk dunia nyata, sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi di latarnya, Ordinal Scale di seri SAO dihasilkan lewat teknologi yang lebih low key. Ditambah dengan bagaimana kenyataannya, Ordinal Scale berlangsungnya masih di dunia nyata.

Terlepas dari itu, dalam salah satu event Ordinal Scale, ketika sejumlah musuh besar yang tak dapat ditangani sendirian muncul, idola virtual Augma, Yuna, tiba-tiba muncul. Melalui nyanyiannya, Yuna memberi buff bagi parameter para pemain, membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan misi. Lalu sesudah itu, Yuna juga mengumumkan lokasi di mana konser live-nya yang banyak ditunggu akan diadakan.

Dari pengalaman tersebut, kembali muncul tanda tanya soal apakah Yuna adalah makhluk sejenis Yui, dalam artian sama-sama kecerdasan buatan. Di samping itu, turut diperkenalkan pula Eiji, pemain dengan peringkat dua di Ordinal Scale, yang Kirito dan Asuna sadari agaknya mungkin pernah mereka jumpai di masa lalu.

Apakah Melupakan Lebih Baik?

Masalah timbul saat rumor-rumor soal kehadiran floor boss SAO di Ordinal Scale ternyata benar. Asuna, bersama Klein, menjadi saksi langsung hal ini. Asuna, berkat pengalamannya, bahkan berhasil menggalang pemain lainnya untuk menaklukkan boss tersebut. Namun rupanya itu hanya awal dari segala masalah.

Singkat cerita, Kirito, yang tak aktif sebagai pemain Ordinal Scale, secara terlambat mengetahui bahwa para veteran SAO yang memainkan Ordinal Scale bisa kehilangan sebagian ingatan mereka. Persisnya, ingatan mereka tentang SAO. Asuna juga adalah salah satu korbannya. Lalu berbeda dari kebanyakan veteran yang memiliki banyak kenangan tak enak tentang SAO, Asuna juga memiliki kenangan-kenangan bahagia karena pertemuannya dengan Kirito. Lalu hilangnya kenangan-kenangan tersebut sedemikian membebani Asuna, walau ia masih bisa ingat siapa Kirito dan berbagai kenangan mereka di kastil Aincrad baru yang kini ada di ALO.

Marah dengan apa yang menimpa Asuna, Kirito bertekad untuk mengungkap apa yang terjadi. Berkat petunjuk sosok berkerudung misterius yang sesekali terlihat hanya melalui Augma, Kirito menjumpai Shigemura Tetsuhiro, pria paruh baya yang merupakan ilmuwan pengembang piranti Augma. Dari sana, Kirito menyimpulkan bahwa ia harus memanjat ke puncak peringkat Ordinal Scale demi mencegah bencana besar yang akan terjadi.

Maka dengan taruhan ingatannya sendiri pula, Kirito juga perlu berhadapan dengan Eiji, yang ternyata menyembunyikan lebih banyak dari apa yang bersedia ia ungkap.

Janji Bonceng Motor

Masuk ke soal teknis, kalau soal presentasi, Ordinal Scale menghadirkan kualitas visual dan suara seperti yang bisa diharapkan dari sebuah seri SAO. Dari sudut itu, ini film yang terlihat dan terdengar bagus.

Aku tak begitu terkesan dengan key visual-nya. Tapi sesudah melihat sendiri, aku kagum dengan betapa banyaknya detil yang telah diberikan untuk menggambarkan dunia Tokyo masa depan. Kesan futuristis yang dipaparkan terasa sangat dekat sekaligus jauh. Masih serasa membumi. Lalu banyaknya detil ini begitu kentara dibandingkan bab-bab cerita SAO yang lain. Walau cerita Ordinal Scale pada akhirnya berkesan ‘SAO’ sekali (lebih banyak soal itu nanti kusinggung di bawah), sebagai orang yang beberapa kali berkecimpung di dunia arsitek dan iptek, aku merasa sudah balik modal menonton film ini hanya demi melihat dunianya saja. Mulai dari soal fitur-fitur AR Augma, pemandangan keseharian kota Tokyo modern, jalan-jalan layang, halaman-halaman dengan ruang terbuka hijau, dan bahkan vending machine, aku puas dengan bagaimana semua itu ditampilkan. Aku kagum dengan pemandangan overhead kota dari atas berulangkali diperlihatkan untuk mengindikasikan bagaimana Kirito berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Soal suara, aku sempat heran dengan bagaimana karakter Yuna ditampilkan. Aku seperti… “Heh? Lagi-lagi karakter idol?” Aku lebih terbiasa melihat penampilan idola futuristis dalam anime Macross. Lalu sesudah movie Toaru Majutsu no Index beberapa tahun lalu, sekarang SAO mau mengangkat soal itu juga? Perasaanku campur aduk soal ini. Tapi aku bersyukur setidaknya tema konser dan nyanyian ini tak sekedar tempelan. Maksudku, ada signifikasinya dalam cerita. Di samping itu, nuansa musik gubahan Kajiura Yuki kembali ada di movie ini. It’s still good.

Jadi, satu hal unik yang Ordinal Scale miliki, kalau dibandingkan bab-bab cerita lain dalam seri SAO, dan yang mungkin menjadi daya tariknya yang terbesar, adalah bagaimana ceritanya berlatar hampir sepenuhnya di dunia nyata. Bagian pendahuluannya, bagian pengenalan masalah, bagian klimaksnya, lalu juga penyelesaiannya. Maksudku, itu hal yang sangat baru bagi SAO.

Sekali lagi, di dunia nyata. Bukan dunia virtual.

Karenanya, di luar dugaan—lagi, terlepas dari kualitas akhirnya sendiri—Ordinal Scale punya cerita yang terasa segar.

Naskah yang Kawahara-sensei dan Ito-san sudah susun itu beneran kuat. Ya, masih ada kelemahan-kelemahan khasnya. Termasuk soal wish fulfillment dan sebagainya. Ya, perlu kuakui juga kalau klimaksnya sedikit mengecewakan. Itu jelas tak semenegangkan standar SAO yang biasa. Tapi kalau menempatkan diri di sudut pandang produser, naskah Ordinal Scale kurasa berhasil memenuhi segala ekspektasi. Ada banyak callback ke hal-hal lalu. (Seperti soal perintah Switch untuk penggantian posisi depan yang normalnya hanya dipahami oleh para veteran SAO.) Secara mengesankan, ada sejumlah foreshadowing juga ke bab Alicization yang akan datang untuk para penggemar novelnya. Semua karakter signifikan dalam waralaba ini—termasuk si gaijin pemilik toko Andrew Gilbert Mills (Agil), jago kendo Kirigaya Suguha (Leafa) yang merupakan sepupu Kirito, ahli tembak Asada Shino (Sinon), dan pegawai pemerintah yang jadi kontak Kirito, Kikuoka Seijurou—tampil dan berperan. Hal-hal imut tentang SAO, kalau kalian suka dengan itu, juga ada. Aku sendiri memperkirakan bobot fanservice dalam film ini mungkin mencapai 35%.

Aku terutama terkesan dengan bagaimana Kirito ditampilkan seakan kesetanan saat mengejar peringkat ini. Atau saat Asuna menggalang orang-orang yang belum ia kenal dalam melawan boss. Lalu juga pada bagaimana Suguha melatih ulang fisik Kirito dari jauh berhubung sedang mengikuti kamp pelatihan di luar kota.

Jadi kayak, semua yang sejak dulu ada di SAO berhasil dimasukkan secara seimbang ke film ini. Termasuk elemen-elemennya yang mungkin kurang kau sukai. Aku jadi maklum kenapa movie ini terbilang berhasil di Jepang. Bahkan, kalau dibandingkan Endymion no Kiseki dari seri Index beberapa tahun lalu, kurasa Ordinal Scale jauh lebih bisa aku sukai.

Janji Melihat Bintang

Untuk menyimpulkan, untuk kalian yang sudah cukup menyukai SAO apa adanya, maka kalian juga akan menyukai Ordinal Scale. Untuk kalian yang kurang menyukai SAO, film ini takkan membuat kalian berubah pikiran. Sedangkan untuk kalian yang belum pernah tahu tentang SAO sebelumnya, lalu kebetulan melihat film ini, mungkin kalian akan sedikit bingung dengan banyaknya referensi terhadap kejadian yang lalu. Walau begitu, inti ceritanya masih bisa diikuti, lalu mungkin kalian malah jadi tertarik dengan waralaba utamanya.

Akhir kata, aku enggak bisa menilai Ordinal Scale jelek. Memang ada kekurangan-kekurangannya, tapi itu jenis kekurangan yang benar-benar khas SAO.

SAO dari waktu ke waktu kerap menampilkan hal-hal yang menurutku agak berlebihan dan konyol (sejumlah orang menyebutnya ‘lebay’). Tapi sesuatu yang agaknya hanya bisa SAO lakukan bagiku adalah bagaimana hal-hal berlebihan dan konyol tersebut ditampilkannya selalu dengan cara yang tak pernah bisa sepenuhnya aku tertawakan. Kenapa? Karena meski aku merasa hal-hal tersebut berlebihan dan konyol, pada saat yang sama, hal-hal itu jadi mengingatkanku pada hal-hal lain yang lebih serius dan dalam.

Dalam konteks ini, pada bagaimana hilangnya ingatan Asuna jadi mengingatkan pada penderita Alzheimer gitu. Frustrasi yang dirasakannya bukan hal yang mudah diekspresikan. Menariknya, tak semua korban hilangnya ingatan tersebut memperlihatkan reaksi yang sama. Karena hal-hal seperti di atas, kadang aku merasa SAO lumayan penuh dengan alegori.

Apa lagi ya?

Cerita Ordinal Scale berakhir dengan resmi bertunangannya Kirito dan Asuna. Jadi walau ceritanya lepas, Ordinal Scale agak memperbesar pertaruhan dalam bab Alicization nanti. Ada kemungkinan season ketiga animenya bakal memperbaiki beberapa kelemahan di novelnya. Tapi yeah, itu bukan analisa, cuma pengharapanku pribadi.

Klasik untuk kasus SAO, identitas tokoh antagonisnya bukan teka-teki. Mereka sama-sama punya kaitan dengan insiden SAO. Shigemura-sensei adalah guru mendiang Kayaba Akihiko dan Sugou Nobuyuki. Seperti halnya Sugou, Shigemura sekedar memanfaatkan teknologi cetusan Kayaba melalui piranti Augma hasil kembangannya. Lalu Eiji, atau Nochizawa Eiji, yang sebelumnya memakai nama Nautilus, adalah mantan bawahan Asuna. Dia seorang anggota Knights of the Blood yang dulu kurang dikenal karena tak pernah maju ke garis depan.

Keduanya bukanlah karakter yang kompleks atau berbobot. Tapi cara mereka menjutsifikasi tindakan mereka sebagai penanganan trauma, padahal yang ingin mereka pulihkan adalah luka masa lalu mereka sendiri, lumayan menarik. Dalam hal ini, untuk mendatangkan kembali seseorang bernama Shigemura Yuuna, terlepas dari apa konsekuensi yang harus dihadapi.

Selebihnya, hal-hal paling menarik di Ordinal Scale terjadi dengan tersirat.

Pertama, tentang Kayaba Akihiko. Meski secara fisik telah wafat, sekali lagi dikonfirmasi bahwa dirinya masih ‘hidup’ dengan suatu cara. Janggalnya, Shigemura nampaknya tahu juga tentang ini. Lalu anehnya, ia kelihatan tak menaruh dendam atas peranannya dalam insiden SAO.

Kedua, tentang Kikuoka. Kikuoka, yang mewakili pemerintah Jepang, sekali lagi dimintai bantuan oleh Kirito saat terungkap maksud sesungguhnya dikembangkannya Augma itu apa. Tapi di akhir film, terungkap bahwa Kikuoka membebaskan Shigemura dari segala tuntutan. Kikuoka bahkan memperlihatkan pada Shigemura penemuan baru yang telah dikembangkannya, yang lagi-lagi merupakan foreshadowing terhadap bab Alicization.

Terakhir, tentang Yui. Yui yang mungkin berperan paling vital dalam penyelesaian masalah. Sedemikian besar peranannya, aku sampai berpikir bahwa sebagai rogue AI, Yui bisa sangat berbahaya kalau bukan berkat asuhan dan didikan Asuna dan Kirito. Jadi, begitu terungkap bahwa sebenarnya Augma adalah hasil modifikasi dari NervGear, segala solusinya, begitu saja, langsung terlihat di mata Yui. (Ini juga jadi salah satu alasan kenapa klimaks film ini kurang memuaskan.)

Terkait ini, beberapa kali pernah diimplikasikan bahwa Kirito tak sepenuhnya mempercayai Kikuoka. Keduanya sama-sama belum membuka seluruh kartu masing-masing. Lalu lewat film ini, lagi-lagi kita diingatkan bahwa Kikuoka mungkin masih belum juga diberitahu Kirito tentang asal-usul Yui yang sesungguhnya… yang mungkin tanpa disadarinya telah berdampak pada apa-apa yang nanti akan terjadi.

Yah, demikian deh. Kita pantau saja terus perkembangan waralaba ini ke depan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

11/12/2016

Kimi no Na wa

Aku baru menonton Kimi no Na wa.

Mungkin bisa dibilang, ini anime paling dibicarakan di tahun 2016.

Hanya beberapa bulan sesudah penayangannya di Jepang, film ini mulai diputar di negara-negara lain. Di Indonesia, kau bisa melihatnya di jaringan bioskop CGV Blitz. Film ini harusnya masih tersedia saat tulisan ini aku terbitkan. Cuma, mungkin kau perlu pandai-pandai merencanakan acara nontonnya berhubung pengaturan jadwalnya agak aneh. Mungkin karena tergantung wilayah.

Juga dikenal dengan judul Your Name (‘namamu’), walau mungkin aku berlebihan dengan berpikir begini, Kimi no Na wa susah untuk enggak kuanggap sebagai magnum opus Shinkai Makoto. Disutradarai sekaligus dipenai secara langsung oleh beliau, beliau seolah mengukuhkan namanya sebagai salah satu sutradara animasi paling ternama lewat film ini. Kalau kau baca-baca berita tentang besarnya pemasukan dan berbagai penghargaan yang film ini raih, mungkin kau juga akan berasumsi sama. Tapi kalau kau menontonnya sendiri, maka kau seolah lebih mempercayainya.

Mempercayainya dengan mata kepalamu sendiri.

Susah menjelaskannya. Tapi, Kimi no Na wa itu kualitasnya gila. Terutama kalau kau menontonnya dengan mindset yang tepat. Film ini… apa ya? Bagus sih bagus. Tapi ‘bagus’ bukan kata yang tepat. ‘Keren’ juga bukan. Ini kayak… bisa kena menghantammu secara telak gitu, tapi dalam artian positif. Kena ke titik sasaran, tapi bukan secara berlebihan juga.

Maka dari itu, kurasa wajar bila film ini sukses karena temanya tak seberat ataupun semisterius film-film Shinkai-sensei yang biasa, namun dengan kualitas visual, arahan, serta bobot cerita yang tetap sama.

Begitu beres menonton, yang terus terbayang di kepalaku adalah betapa film ini seolah menandai ‘puncak’ kemampuan Shinkai-sensei sebagai animator. Mungkin kelak beliau akan membuat film lain dengan mengangkat tema lain yang juga mengandung makna kuat yang mendalam. Namun aku sangat sulit membayangkan keluaran beliau dan studio CoMix Wave Fims sesudahnya akan bisa menandingi kekuatan film ini.

Mimpi yang Nyata dan Tak Jelas Kapan Akan Berakhir

Kimi no Na wa pada dasarnya adalah cerita boy meets girl. Cerita soal cewek ketemu cowok. Premisnya melibatkan pertukaran tubuh.

Agak susah buat menjelaskan kebagusan anime ini secara sederhana. Soalnya, aspek yang membuat ceritanya benar-benar kuat adalah beragam motif dan tema di dalamnya.

Cerita dibuka dengan pemandangan tengah jatuhnya ‘sesuatu’ dari langit. Lalu dengan beberapa kilasan maju mundur, kita secara bergantian diperkenalkan pada kedua tokoh utama: seorang gadis pedesaan yang sebal dengan kehidupannya bernama Miyamizu Mitsuha; dan seorang siswa SMA di Tokyo bernama Tachibana Taki.

Muak dengan betapa terkekangnya kehidupannya di desa—terutama sehubungan ayahnya yang hendak kembali menjabat sebagai walikota, hubungan kurang harmonis Mitsuha dengannya, serta statusnya sendiri sebagai miko kuil Shinto di wilayah tempat tinggalnya, Itomori—Mitsuha secara ceplas-ceplos berujar kalau dirinya ingin jadi seorang cowok tampan di Tokyo dalam kehidupannya yang berikutnya. Lalu tak lama sesudah itu, Mitsuha dan Taki, yang semula tak saling mengenal, secara ajaib mulai sering bertukar tubuh.

Prosesnya bagi mereka terasa seperti mimpi. Ingatan mereka menjadi agak tersamar setiap kali hal itu terjadi. Tapi dari kesaksian orang-orang di sekeliling mereka, fenomena itu tak bisa mereka bantah. Jadilah Mitsuha dan Taki saling berkoordinasi lewat penerapan bermacam aturan dan kesepakatan melalui pesan-pesan yang mereka tinggalkan. Baik lewat catatan-catatn harian ataupun coret-coretan di tubuh mereka masing-masing.

Fenomena ini berlangsung untuk beberapa lama. Dimulai setiap kali mereka bangun dan diakhiri setiap kali mereka tidur. Namun tak ada pola jelas pada kemunculannya.

Sebagai satu sama lain, mimpi Mitsuha untuk bisa menjalani hidup di Tokyo akhirnya terwujud, terutama lewat pengalamannya untuk berkunjung ke sebuah kafe. Mitsuha menjadi berkenalan dengan dua sahabat dekat Taki, yakni Fujii Tsukasa yang berkacamata dan telah lama dekatnya, serta Takagi Shinta yang berbadan besar dan selalu siap membantu. Tak dinyana, Mitsuha, dengan sisi femininnya, juga berhasil mendekatkan Taki dengan senior yang lama ditaksirnya di tempat kerja sambilan, seorang mahasiswi mandiri bernama Okudera Miki yang dikagumi banyak orang. Mitsuha bahkan berhasil mengatur janji kencan dengannya.

Taki sendiri, di dalam tubuh Mitsuha, mulai berkenalan dengan dua sahabat Mitsuha sejak kecil, yakni Natori Sayaka, gadis pemalu yang menjadi anggota Klub Siaran; serta Teshigawara Katsuhiko, remaja berbadan kekar yang menjadi putra pengusaha kontraktor di desanya, rekan kerja ayah Mitsuha, dan karenanya sedikit banyak mengerti beban yang Mitsuha rasakan. Taki, dengan bawaan agresif dan kepandaian motoriknya, sedikit banyak mengubah citra Mitsuha di sekolah yang sebelumnya kurang populer karena status ayahnya.

Taki juga mulai mengenal dua anggota keluarga yang tinggal bersama Mitsuha, yakni: Miyamizu Hitoha, nenek Mitsuha yang bijak, yang karena suatu persoalan di masa lalu telah memutus hubungan dengan ayah Mitsuha, Miyamizu Toshiki; serta adik perempuan Mitsuha berusia SD yang selalu membangunkannya setiap pagi, Miyamizu Yotsuha, yang juga mulai melihat pola bahwa bila kakaknya bangun dengan meraba-raba dadanya sendiri, itu tandanya untuk seharian ia akan berkelakuan aneh.

Memandang ke kehidupan satu sama lain, di tempat dan lingkungan yang jauh berbeda, mata Mitsuha dan Taki seperti dibuka akan hal-hal menyangkut diri mereka masing-masing. Taki, khususnya, mulai mengenal tradisi upacara-upacara Shinto yang dijaga keluarga Mitsuha secara turun-temurun, yang meski telah terlupakan maknanya akibat suatu bencana kebakaran pada satu titik, masih dijaga bentuknya hingga sekarang.

Namun pada suatu ketika, singkat cerita, fenomena pertukaran tubuh ini terhenti. Terhenti tanpa pernah terjadi lagi. Sehingga dimulailah perjalanan panjang Taki dan Mitsuha untuk bisa saling menemukan kembali satu sama lain.

Lalu dalam upaya tersebut, sejumlah hal mengejutkan terungkap. Hal-hal yang menjelaskan mengapa upaya mereka dalam menghubungi satu sama lain secara langsung sejauh ini telah gagal.

Musubi

Minat kuat Shinkai-sensei terhadap benda-benda langit kembali tertuang di Kimi no Na wa, kali ini lewat kehadiran komet terang Tiamat, yang bisa jadi merupakan penyebab fenomena aneh yang Mitsuha dan Taki alami. Ceritanya, diberitakan secara luas bahwa komet tersebut akan melintas dengan jarak dekat ke bumi. Lalu pemandangan lintasannya akan terlihat jelas pada acara festival musim panas yang akan dilangsungkan di tempat tinggal Mitsuha.

Seperti yang bisa diharapkan dari sebuah film keluaran CoMix Wave, kualitas presentasi film ini benar-benar kuat. Faktor pemandangan kembali berperan, dan kita kembali disuguhi berbagai pemandangan indah baik dari dalam maupun luar ruangan. Permainan cahaya, yang awalnya begitu menjadi ciri arahan Shinkai-sensei, tentu saja ada, tapi kini turut diiringi oleh penggambaran latar yang kuat serta eksekusi adegan-adegan yang benar-benar mulus.

Musik di film ini ditangani oleh grup rock RADWIMPS, yang menghadirkan alunan musik ringan yang mudah didengar. Mungkin karena tema film ini yang begitu menyangkut masa muda, pembawaannya pas dan cocok dengan cara yang agak berbeda dibandingkan film-film Shinkai-sensei yang sebelumnya. Jadi… bukan cuma nyambung, tapi sekalian juga melengkapi? Aku terus terang awam soal musik, jadi aku tak pernah bisa bahas banyak soal aspek ini.

Tapi yang membuat aku benar-benar terpikat pada Kimi no Na wa, yang kurasa sulit dipahami kalau tak kalian lihat secara langsung, pertama terdapat pada tema cerita, dan kedua pada cara eksekusinya.

Cerita soal pertukaran tubuh beberapa kali pernah diangkat. Dalam bentuk anime, seri Kokoro Connect menjadikan itu tema utamanya. Lalu untuk manga, Boku wa Mari no Naka karya Oshimi Shuzou yang sekarang masih lanjut setahuku bahkan menjadi salah satu inspirasinya. (Bahkan ada kenalanku yang membandingkannya dengan visual novel misteri klasik Remember 11. Dia menyangkal soal bagaimana kehadiran karakter pembunuh sadis menjadi penentu rasa sukanya.)  Tapi di Kimi no Na wa, Shinkai-sensei mengungkapkan tema di atas lewat bagaimana jiwa-jiwa manusia dan alam seakan terus bertemu dan berpadu seiring berjalannya aliran waktu. Menyadarkan posisi kita di alam semesta, apa peranan kita, serta apa-apa yang mungkin akan kita temui di masa-masa mendatang.

Ada sesuatu tentang pengungkapan itu yang enggak bisa aku jabarkan secara mudah.

Eksekusinya bagus dalam artian penceritaannya jenis yang berhasil membuatmu terus bertanya-tanya. Apa yang akan mereka perbuat? Apa selanjutnya yang akan terjadi? Bahkan saat membahas konsep agak ‘ajaib’ pun, tak ada saat-saat lambat yang membuat ceritanya susah dimasuki. Ditambah lagi, para karakternya benar-benar simpatik. Dunianya juga benar-benar terasa ‘jadi.’ Kimi no Na wa berhasil mempertahankan minat yang timbul karena saat-saat takjub dari awal sampai akhir, meskipun di awal kita belum sepenuhnya yakin cerita ini akan tentang apa.

Dari segi teknis pun, film ini benar-benar solid.

Kataware-doki

Terus terang, aku menonton Kimi no Na wa hampir tanpa tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku hanya tahu kalau ini karya paling sukses Shinkai-sensei sejauh ini. Lalu ceritanya ada kaitannya dengan pertukaran tubuh.

Ungkapan ‘paling sukses’ di sinilah yang buatku menarik perhatian.

Aku sudah lama jadi pengagum karya-karya beliau, tapi aku bukan penikmat beratnya. Aku pertama kenal Shinkai-sensei lewat film Kumo no Mukou, Yakusoku no Bashou (atau Beyond the Cloud) yang temanya teramat menarik perhatianku. Aku sempat juga melihat 5 cm per Second. Lalu aku tahu juga ada novel-novel yang kerap melengkapi karya-karya beliau buat. (Novel 5 cm per Second kalau tak salah sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Maaf aku belum baca. Sesudah melihat versi animenya, aku ternyata tak kuat dengan temanya.) Tapi pada satu titik, meski senantiasa dibuat kagum dengan keindahannya, aku merasa tema-tema yang beliau angkat dalam film-film beliau hanya sedikit yang ada relevansinya denganku.

Namun ya itu. Membaca berita-berita tentang berbagai pujian dan penghargaan yang diterima Kimi no Na wa, aku penasaran. Lalu benar juga. Ini film beliau yang mungkin paling nyambung denganku sejauh ini. (Di samping, ehem, 5 cm per Second. Tapi mari kita tak bahas luka-luka mental masa laluku.)

Begitu aku beres menonton Kimi no Na wa, aku tersadar dengan kenapa Jepang bisa menjadi negara dengan banyak dewa. Diumpamakan lewat kesenian anyaman tali yang dilakukan keluarga Mitsuha, aku seperti jadi memahami keyakinan mereka akan banyak dewa tersebut mungkin berasal dari budaya mereka dalam bekerja.

Jadi tak seperti di kebanyakan negara, orang-orang Jepang dikenal memiliki kebanggaan terhadap hasil kerja mereka. Sekecil apapun. Kebanggaan terhadap karya dan hasil kerja tersebut bukan cuma berasal dari ketekunan, tapi juga dari semacam kekhusyuan. Yang kumaksud itu kayak semacam kombinasi dari keikhlasan dan rasa syukur gitu. Karena dalam bidang kerja apapun yang mereka geluti, selalu ada suatu filosofi yang seperti berusaha mereka gali. Suatu filosofi yang membuat mereka terkesan agak berbau spiritual. Suatu ilmu. Suatu cara. Suatu ‘jalan.’ Istilahnya do.

Kalau di Air Gear, ini umpamanya adalah road yang terbentuk dari hasil latihan Air Trek berulang yang dilakukan para karakternya.

Filosofi dalam berkarya itu mereka gali karena dengan terus menggalinya, mereka bisa semakin mengenal diri sendiri. Lalu mungkin kalian pernah dengar ungkapan soal bagaimana untuk mengenal Tuhan, maka yang harus kalian kenali itu diri kalian sendiri? Sehingga kupikir wajar jadinya bila Jepang ujung-ujungnya menjadi masyarakat yang seperti mengenal banyak dewa.

Alasannya mungkin karena mereka telah sedemikian berusahanya dalam mengenal diri mereka sendiri lewat karya-karya mereka.

Meski mungkin penggambarannya abstrak, budaya mereka akhirnya jadi menanamkan keyakinan yang besar akan keberadaan hal-hal gaib. Kalian tahu, baik itu dalam bentuk dewa ataupun youkai? Lalu karena merasakan adanya hal-hal di luar lingkup kuasa mereka, mereka secara tradisional jadi bangsa yang terdorong untuk mementingkan keselarasan . Apalagi karena secara geografis, negara mereka adalah negara yang rentan bencana alam.

Yah. Susah menjelaskannya.

Contoh yang lebih gamblangnya, aku jadi ingat pengalaman-pengalamanku sendiri dalam berlatih kendo semasa kuliah. Ada sensei yang datang dari Jepang dalam rangka mengawasi ujian kenaikan tingkat. Lalu saat aku dan para seniorku minta diberi wejangan, kami diberi semacam kata-kata mutiara yang pada waktu itu, memang terasa agak-agak lebay. Kami semua tak benar-benar yakin itu artinya apa. Aku lupa apa persisnya kata-kata itu. Hanya saja kalau dibaca, rasanya agak-agak menggelikan. Tapi memikirkannya lagi sekarang, aku mulai mengerti kenapa dituturkannya dengan cara demikian. Alasannya karena… ya, karena memang itu bener. Memang seperti demikian ilmunya.

Kau hanya bisa memahaminya sesudah kau cukup menggalinya demi mengenal dirimu sendiri.

Kita Semua Pengarung Waktu

Karena aku menonton ini lebih dengan mindset sebagai penikmat magic realism, aku tak terlalu memperhatikan aspek-aspek sains fiksinya. Tapi walau begitu, sisi sains fiksi Kimi no Na wa kalau mau dibahas itu ada. Lalu kalau mau digali, semua yang terjadi itu kayaknya ada penjelasannya.

Melihat itu, aku jadi mengerti kenapa versi novelnya bisa menjadi salah satu buku paling laku di pasar Jepang di sepanjang tahun ini.

Jadi, tak seperti kebanyakan cerita pertukaran tubuh begini, apa yang Mitsuha dan Taki alami bukan kejadian ‘acak’ yang terjadi begitu saja. Dituturkan dari bagaimana Taki mengetahui bahwa fenomena ini telah terjadi secara berulang dalam keluarga Mitsuha, diindikasikan bahwa ada suatu maksud tertentu dari semua ini. Sesuatu yang sudah digariskan sekaligus besar, yang kemudian tertuang pada bagian akhir film.

Kimi no Na wa memang sangat terasa seperti cerita novel. Kalau ada kelemahan di versi animenya, itu ada pada beberapa elemen cerita latar yang kurang tergali memuaskan, seperti soal ayah Taki yang hanya muncul sebentar, atau teman-teman sekolah Mitsuha yang awalnya diperlihatkan menaruh antipati secara gamblang terhadapnya. Karena itu, versi novelnya mungkin bisa benar-benar melengkapinya.

Moga-moga saja suatu saat nanti novelnya akan ada yang menerbitkan di sini.

Akhir kata, kalau kalian berkesempatan, aku sangat sarankan untuk sempatkan menonton Kimi no Na wa di bioskop. Mungkin akan ada yang berpendapat sebaliknya, tapi aku merasa ini adalah mahakarya Shinkai-sensei. Lalu kapan lagi kita bisa melihat sesuatu sebagus ini di layar besar?

Ditambah lagi, teks terjemahannya bagus! Kayak diterjemahkan dari bahasa Jepangnya yang asli! Semua lagu temanya pun diberikan liriknya karena lirik-liriknya memang seakan melengkapi cerita. Terima kasih untuk siapapun kalian yang telah mengusahakan agar film ini bisa tayang di bioskop sini!

Aku jadi merasa nonton ini mungkin enggak cukup sekali.

Apa?

Iya, ini masih jadi film beliau yang sangat menonjolkan nuansa cinta dalam artian kerinduan dan pengharapan. Kalau soal itu, itu tak berubah kok. Lalu juga, soal bagaimana kita semua sedemikian bergantung pada ingatan.

Itulah hal berharga yang kita ‘bagi’ dengan sedemikian banyak orang.

Kalau dipikir, manusia benar-benar makhluk yang rapuh.

(Iya, itu bu guru yang sama dari yang di Kotonoha no Niwa.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

(Edit: Terima kasih khusus untuk FA yang sudah memperbaiki kualitas teks terjemahan Indonesianya!)

24/11/2016

Kaguya-sama wa Kokurasetai

Kaguya-sama wa Kokurasetai – Tensai-tachi no Renai Zunousen (‘Nona Kaguya ingin dinyatakan cinta – perang para jenius dalam cinta dan kecerdasan’) adalah seri manga komedi romantis relatif baru buatan Akasaka Aka. Untuk yang belum tahu, Akasaka-sensei adalah pengarang seri manga ib – Instant Bullet yang termasuk bagus, namun mungkin kurang populer karena temanya yang agak abstrak.

Seri Kaguya-sama wa Kokurasetai awalnya diserialisasikan di majalah bulanan Miracle Jump milik penerbit Shueisha. Namun sekitar setahun sesudah serialisasi (bab 11?), seri ini dipindahkan ke majalah mingguan Shuukan Young Jump. Karena itu, walau settingnya sekolahan, seri ini kurasa masuknya kategori seinen.

Terlepas dari itu, seri ini mungkin belum terlalu dikenal oleh khalayak mainstream. Tapi sejauh yang aku dengar, basis penggemarnya benar-benar kuat.

“Cinta adalah perang… dan dia yang jatuh cinta duluan adalah yang kalah!”

Sebagian besar cerita Kaguya-sama wa Kokurasetai berlatar di Perguruan Shuchi’in.

Perguruan Shuchi’in merupakan sekolah elit dengan standar benar-benar tinggi. Sekolah ini seakan selalu menghasilkan lulusan yang benar-benar terpilih. Karena itu pula, kebanyakan siswa Shuchi’in berasal dari kalangan keluarga-keluarga kaya.

Fokus cerita seri ini terdapat pada dua siswa paling dikenal, yakni sang ketua Dewan Siswa, dan wakilnya yang sedang menjabat, Shirogane Miyuki dan Shinomiya Kaguya.

Shirogane Miyuki adalah murid teladan di angkatannya. Meskipun berasal dari kalangan rakyat biasa (dalam artian, berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah), dirinya diakui sebagai salah satu jenius yang terpilih. Sebagai seorang pekerja keras alami, Miyuki bukan hanya memperoleh nilai paling sempurna dalam setiap ujian sekolah (yang membuatnya mampu meraih beasiswa). Miyuki juga bahkan memiliki sertifikasi yang mengakuinya sebagai insinyur yang mampu menangani bahan-bahan kimia berbahaya. Sertifikasi lain yang dimilikinya kebetulan adalah sebagai seorang pengamat kesehatan ayam ternak. Jadi cakupan keilmuannya benar-benar luas.

Sedangkan Shinomiya Kaguya, yang sangat cantik dan anggun, telah terlatih dalam beragam bentuk kesenian dan keilmuan. Di samping nilai-nilai ujian yang berada di peringkat kedua hanya sesudah Miyuki, Kaguya ahli dalam berbagai jenis tarian serta kesenian tangan.

Singkat cerita, Miyuki dan Kaguya sebenarnya telah lama saling menyukai satu sama lain. Keduanya bahkan adalah cinta pertama masing-masing. Namun meskipun sama-sama bisa ‘merasakan’ bahwa target mereka sebenarnya juga merasakan suka terhadap mereka, keduanya enggan untuk menjadi yang menyatakan cinta terlebih dulu.

Kenapa? Mereka bilang alasannya karena harga diri!

Keduanya sama-sama hanya mau saling menunggu. Lalu tahu-tahu saja, setengah tahun sudah kembali berlalu dan hubungan mereka hanya jalan di tempat!

Keduanya sadar mereka tak bisa terus membiarkan keadaan begini. Maka dimulailah bermacam adu siasat dan permainan pikiran antara Kaguya dan Miyuki demi memaksa orang yang mereka sukai untuk menyatakan cinta.

Hasil Setiap Putaran

Kaguya-sama wa Kokurasetai ibarat seri macam Code Geass, Liar Game, dan Death Note. Ceritanya senantiasa dipenuhi dengan spekulasi, akal-akalan bulus, muslihat, perencanaan, persiapan, dan tipu-menipu… hanya saja untuk alasan-alasan yang jauh lebih konyol dan egois.

Hasil-hasilnya juga tentu saja kerap konyol dan egois. Kegagalan berulang. Kesalahpahaman. Luka-luka tak disengaja. Pekerjaan-pekerjaan yang bertambah. Dan sebagainya.

Gaya gambar yang Akasaka-sensei gunakan terutama mendukung hal ini. Gaya gambar beliau sekilas agak mirip gaya gambar pengarang manga shoujo, dengan garis-garis relatif tipis dan gaya gambar karakter cowok yang terkesan kaku. (Sudah jadi pengetahuan umum kalau seri manga shoujo kerap kali punya dialog dan tema bahasan yang lebih banyak dibandingkan komik cowok.) Lalu beliau kerap menggunakan warna-warna gelap dan suram dalam tiap panelnya. Warna-warna ini bahkan dikombinasikan dengan berbagai ekspresi muka ‘kosong’ yang biasa digunakan untuk menyiratkan rasa murka atau keputusasaan, sekalipun para karakter yang digambarnya notabene cantik atau imut. Tapi, kalau kau coba membaca dialog atau monolog atau narasi yang beliau gunakan, kau sebagai pembaca sulit buat enggak ngakak.

Nyatanya, meski gagasannya terkesan konyol, temanya yang ajaib itu benar-benar tidak menjadikan seri ini kalah rame.

Kalau hanya sekedar membaca deskripsinya saja, wajar kalau kalian mengira Miyuki dan Kaguya sama-sama sombong dan sulit disukai. Awalnya memang seperti sengaja dikesankan demikian. Tapi lama-kelamaan, mulai terlihat tanda-tanda yang mengindikasikan sebaliknya.

Apa yang memotivasi mereka (diindikasikan) sebenarnya bukan harga diri, melainkan rasa canggung/malu/bingung/rendah diri biasa. Hal-hal biasa yang biasa orang lazimnya rasakan saat jatuh cinta. Apalagi bila keduanya berasal dari lingkungan yang benar-benar berbeda.

Karena ini cinta pertama masing-masing, baik Miyuki maupun Kaguya (kayaknya) sama-sama masih awam dalam pengetahuan soal lawan jenis. Walau mereka diminta nasihat soal hubungan pun, nasihat mereka tak sepenuhnya bisa dibilang valid! Lalu gara-gara kecerdasan dan beragam kepandaian mereka—ditambah lagi dengan bagaimana sikap keseharian mereka dengan sendirinya membuat ‘orang biasa’ terlihat payah—keduanya malah terdorong untuk berasumsi yang aneh-aneh daripada menyatakan perasaan mereka secara langsung.

Miyuki pribadi memiliki semacam kompleks tentang latar belakangnya. Berhubung ia berasal dari kalangan rakyat jelata (di samping belajar, dirinya sibuk dengan berbagai macam kerja sambilan), ia kerap memiliki delusi mengerikan tentang bagaimana Kaguya dengan dingin nantinya akan menertawakannya bila seandainya jati dirinya yang asli ketahuan.

Sedangkan Kayuga sendiri, sebagai semacam ‘nona besar,’ telah sedemikian hidup terpingit. Sehingga Kaguya benar-benar tak tahu banyak tentang cara hidup orang awam karena telah terlalu sering diurusi para pelayannya. Akibatnya, dirinya lemah sekali dalam menghadapi berbagai produk teknologi modern (termasuk smart phone dan Twitter). Lalu dirinya juga awam dalam berbagai proses masyarakat yang ‘normal.’

Tapi terlepas dari berbagai kekonyolan antara Kaguya dan Miyuki, bintang seri ini yang sesungguhnya mungkin adalah Fujiwara Chika.

Fujiwara ceritanya adalah sekretaris Dewan Siswa. Dirinya orang yang senantiasa ceria dan berbadan bagus. Di samping itu, dirinya semacam sahabat sejak kecil Kaguya, telah lama berteman dengannya, tapi anehnya, seperti tak pernah sadar juga dengan seperti apa Kaguya yang sesungguhnya. Sifat Chika yang riang, disertai ketidakpekaannya akan berbagai macam hal, kerap membuatnya jadi ‘faktor x yang tak terduga’ dalam berbagai permainan siasat Miyuki dan Kaguya.

Segala tingkah Fujiwara itu jadi seperti… seakan langsung merebut sorotan perhatian gitu. Mungkin konsep karakter dia yang paling jenius dari seri ini.

Lalu untuk melengkapi, anggota Dewan Siswa yang terakhir adalah seorang pemuda bernuansa emo bernama Ishigami Yuu. Jabatannya sebagai bendahara Dewan Siswa, karena keahliannya dalam mengelola keuangan.

Ishigami diperkenalkan agak lama sesudah cerita berjalan. Dirinya jarang berlama-lama di ruang Dewan Siswa sesudah tugasnya berakhir.

Namun di balik semua alasannya, alasan Ishigami sering langsung pulang yang sesungguhnya karena dirinya satu-satunya orang yang sadar dengan segala ‘perang rahasia’ yang tengah berlangsung antara Miyuki dan Kaguya. (Semua orang di luar Dewan Siswa malah mengira kalau Kaguya dan Miyuki sudah berpacaran). Sebagai satu-satunya adik kelas di ruang Dewan Siswa, secara konyol Ishigami malah jadi yang sering kena batunya saat ia dimintai untuk mendukung salah seorang dari mereka.

Interaksi antara empat orang ini, dengan orang-orang di sekeliling mereka, benar-benar tergarap secara keren. Tapi meski kerap kali ada konflik kepentingan, keempatnya berteman baik kok.

Atau setidaknya, di permukaannya terlihat demikian.

“Berhubung sepertinya aku mulai merasakan gejala-gejala Stockholm Syndrome, aku minta izin pulang duluan!”

Beberapa karakter lain yang berperan meliputi adik perempuan Miyuki (yang juga agak lama ditahan kemunculannya), saudara-saudara perempuan Fujiwara (yang sama cantiknya dengannya), serta mungkin Hayasaka Ai, seorang siswi modis yang nyatanya diam-diam adalah pelayan pribadi Kaguya yang setia tanpa sepengetahuan orang lain.

Bicara soal artwork, semula, seri ini seriusan bernuansa gelap dan suram. Tapi semua itu sebenarnya tipuan (sampai Fujiwara tampil, setidaknya). Karena ceritanya, nyatanya, konyol, meski kerap sering membuatmu berpikir pada saat yang sama. Rasanya mengesankan karena meski dengan latar cerita yang itu-itu saja, Akasaka-sensei bisa mengembangkan ceritanya dengan sedemikian jauh, dengan permainan-permainan pikiran yang senantiasa seru.

Kalau kau bisa mengikutinya, humor dalam seri ini benar-benar kocak. Sehingga tak heran penggemarnya makin ke sini semakin terus bertambah.

Buatku pribadi, ini contoh seri yang mengingatkanmu kalau sepandai dan sepintar apapun kamu, pasti tetap akan ada hal-hal tertentu yang tak kamu tahu. Apalagi bila urusannya soal cinta. Bila ada hal yang kita enggak tahu, kalau mengikuti contoh Kaguya dan Miyuki, maka mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah tetap memberikan yang terbaik.

Aaah, aku pengen muda lagiii.

Tag: ,
29/09/2016

Karakai Jouzu no Takagi-san

Aku orang yang lumayan sensitif perasaannya semenjak kecil. Lalu mungkin karena itu, serta pengalaman-pengalaman yang aku alami di masa sekolah, aku tumbuh jadi orang yang lumayan gampang mengatur perasaan sesudah dewasa.

Dengan kata lain, aku bukan orang yang gampang baper.

Aku masih cenderung moody, tapi kelihatannya emosiku tak lagi mempengaruhi penilaianku sesering dulu. Aku masih gampang tersentuh oleh cerita-cerita mengharukan di manga dan anime, tapi aku tak lagi segampang itu merasa depresi atau terngiang-ngiang karenanya.

Sampai suatu hari, aku mengetahui tentang Karakai Jouzu no Takagi-san karya Yamamoto Souichirou yang diserialisasikan sejak pertengahan 2012 di majalah bulanan Gessan milik penerbit Shogakukan.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan sesuatu yang membuatku baper lagi.

Kalau Kau Tersipu, Kau Kalah

Karakai Jouzu no Takagi-san (kira-kira berarti: ‘Takagi-san yang lihai menggoda/menjahili’) berkisah tentang Nishikata dan Takagi, dua orang yang duduk bersebelahan di sebuah ruang kelas sekolah menengah. Nishikata adalah seorang anak lelaki relatif biasa yang… uh, suka sepak bola, tak mau kalah, dan sering dibuat salah tingkah. Sedangkan Takagi adalah siswi perempuan cerdas dan berkesan dewasa yang duduk di sebelah Nishikata dan gemar sekali mengusilinya.

Entah sejak kapan persisnya, Takagi sering sekali mengisengi Nishikata hanya untuk sekedar melihat reaksi-reaksinya. Nishikata berulangkali akan dibuat tersipu dan salah tingkah dengan semua ulah Takagi, yang seketika akan disambut dengan tawa Takagi. Lalu berulang kali Nishikata akan mengatur rencana untuk ‘membalas’-nya, meski kerap kali upayanya tersebut berakhir dengan kegagalan.

Keusilan-keusilan Takagi ini biasanya berupa kata-kata yang memancing-mancing Nishikata. Kadang juga Takagi menjahilinya hal-hal seperti bersembunyi di suatu sudut dan mengagetkannya.

Sebagian besar cerita dituturkan dari sudut pandang Nishikata, yang setiap waktu terus memikirkan siasat untuk membalas Takagi. Meski demikian, buat kita para pembaca, sejak awal sudah terlihat bahwa Takagi memendam rasa suka mendalam terhadap Nishikata, hanya saja Nishikata yang masih belum cukup cermat (dewasa?) untuk menyadari hal tersebut, dan menyadari bahwa dirinya pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Apa yang diceritakan per babnya benar-benar terkesan sederhana. Biasanya hanya menampilkan berbagai interaksi antara Nishikata dan Takagi dalam keseharian mereka di sekolah. Terkadang, meski jarang, muncul karakter-karakter lain, yang memberi kita sedikit acuan soal bagaimana sikon mereka dan hubungan mereka sudah sampai mana.

Aku mengatakannya demikian karena lambat laun, kita akan menyadari bahwa bab-bab ceritanya ternyata tidak selalu dituturkan secara kronologis.  Ada alur maju-mundur yang digunakan. Lalu sedikit demi sedikit, kita akan mulai dibuat penasaran soal apa Nishikata dan Takagi ini pada akhirnya benar-benar akan berakhir bersama atau tidak.

“Karena aku mau pulang sama kamu.”

Jujur saja, alasan aku semula memperhatikan seri ini adalah karena aku iri dengan hubungan yang terjalin antara Nishikata dan Takagi.

Sekali lagi, aku iri.

Mungkin aku perlu menegaskannya kembali. Aku iri dengan hubungan Nishikata dan Takagi.

Yea, sekilas terdengarnya mungkin mirip Tonari no Seki-kun. Tapi hasil akhirnya benar-benar jauh berbeda.

Segala yang dituturkannya terasa begitu… ‘sederhana’ sekaligus ‘berarti’ pada saat yang sama. Gaya gambar yang digunakan Yamamoto-sensei itu bernuansa bersih, ringan dan cerah, memaparkan kehidupan yang seakan tak penting, tapi damai. Lalu kita terus diperlihatkan bagaimana kehidupan Nishikata dan Takagi berlanjut pada berbagai titik yang berbeda. Lalu kita dibuat penasaran setengah mati… soal bagaimana ini semua bakal terjalin dan terbentuk.

Uh, karena aku jarang merasa begini, aku kesusahan mendeskripsikan perasaanku.

Tapi terlepas dari itu, aku mengetahui tentang seri ini saat secara iseng menggugel ‘oniichan’ (yang salah satunya membawaku ke grup translasi oniichanyamete) yang membawaku pada Fudatsuki no Kyoko-chan, salah satu karya Yamamoto-sensei yang lain (tentang seorang anak SMA sangar yang disangka siscon karena berusaha menutupi kenyataan kalau adik perempuannya semacam vampir), yang menampilkan tema keseharian serupa namun dengan nuansa lumayan berbeda. Heh, bahkan gaya gambar beliau di seri ini juga berbeda, padahal keduanya kalau tak salah diserialisasikan sekaligus! Dari sana, aku kemudian mengetahui tentang Yamamoto-sensei, dan akhirnya jadi lumayan penasaran beliau orang seperti apa sampai bisa menghasilkan cerita-cerita macam begini.

Aku terus terngiang lumayan lama dengan seri ini sesudah memeriksanya sendiri.

Lalu karena aku iri, aku memutuskan untuk terus berusaha! Alasannya karena aku tahu seberapa besar rasa penyesalan yang bisa timbul kalau kau menyerah!

Maka dari itu, kalian juga jangan segampang itu menyerah!

Tag: ,
24/03/2016

Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de

Setengah tahun sebelum cerita dimulai, para anggota Klub Literatur di SMA Senkou tahu-tahu saja memiliki kekuatan super.

Takanashi Sayumi, ketua klub yang gemar membaca dan berkesan sangat anggun dan refined, memiliki kekuatan untuk mengembalikan segala sesuatu ke wujud/kondisinya semula, baik benda hidup maupun benda mati. Kemampuan ini kemudian dinamai Root of Origin (awal mula).

Kushikawa Hatoko, yang berkesan lambat tapi selalu sangat sopan, memperoleh kekuatan untuk mengendalikan unsur-unsur alam api, air, udara, tanah, dan cahaya. Kekuatan ini pun kemudian dinamai Over Element (lima kaisar).

Kanzaki Tomoyo, yang periang dan sedikit cerewet, jadi mampu mempercepat, memperlambat, serta menghentikan waktu, lewat kekuatan yang kemudian dinamai Closed Clock (keabadian).

Himeki Chifuyu, murid kelas empat SD yang merupakan keponakan guru penasihat klub yang sering dititipkan pada mereka, jadi mampu mengendalikan materi dan ruang, membuatnya mampu menggali ingatan dunia dan menemukan zat-zat yang belum pernah dilihatnya sebelumnya (intinya, menciptakan apapun yang diinginkannya sesuai bayangannya). Kekuatan ini lalu dinamai World Create (penciptaan).

Lalu Andou Jurai, satu-satunya anggota lelaki di Klub Literatur, si tokoh utama yang punya pembawaan chuunibyou yang kadang memilih untuk dikenal sebagai Guiltia Sin Jurai, memperoleh kekuatan untuk memunculkan api hitam dari tangannya yang suhunya hanya sedikit hangat dan bahkan tak cukup untuk mendidihkan air.  Karenanya, meski terlihat keren, kemampuan satu ini sebenarnya tidak terlalu berguna. Tapi kekuatan ini tetap ia berikan nama keren Dark and Dark (api hitam). (Kadang namanya ditulis sebagai July Ando.)

Tak jelas dari mana kekuatan-kekuatan ini berasal. Tak jelas pula untuk apa kekuatan-kekuatan ini mereka punyai. Sehingga pada akhirnya, meski mereka punya kekuatan-kekuatan yang kemudian mereka rahasiakan ini, keseharian mereka sebagai suatu klub ekskul tetap saja berlangsung seperti biasa.

episode Alpha

Setidaknya, demikianlah premis dasar dari seri Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de, yang diangkat dari seri light novel berjudul sama karangan Nozomi Kouta, dengan ilustrasi yang dibuat oleh 029. Juga dikenal dengan judul Inou Battle Within Everyday Life, atau Inou-Battle in the Usually Daze, atau When Supernatural Battles Became Commonplace (sama kayak kecendrungan chuunibyou untuk seenaknya mengubah arti/cara baca kanji, seri ini punya judul banyak tapi intinya sama; kira-kira adalah ‘saat pertarungan dengan kekuatan supernatural menjadi hal yang biasa’ atau ‘pertarungan supernatural dalam kehidupan sehari-hari’), seri ranobe tersebut diterbitkan SB Creative di bawah label GA Bunko sejak pertengahan 2012 sampai sekarang (jumlah bukunya sekitar 10 saat ini aku tulis).

Adaptasi animenya dibuat oleh studio Trigger (yang  waktu itu baru mulai dikenal lewat anime Kill la Kill mereka yang cukup menghebohkan), dengan penyutradaraan oleh Otsuka Masahiko dan Takahashi Masanori, naskah oleh Inagaki Ryousuke, serta musik oleh Elements Garden. Jumlah episode animenya sebanyak 12, dan disiarkan pertama kali pada perempat akhir tahun 2014.

Aku biasanya tak tertarik pada seri-seri semacam ini.

Sori. ‘Semacam ini’ yang kumaksud kayaknya agak enggak jelas.

Maksudku, ini jenis seri yang buatku kayak, “Ah, kayaknya, aku enggak akan suka.” tapi di sisi lain juga membuatku kayak, “Hm? Kayaknya ada sesuatu yang enggak biasa di dalamnya.” Lalu iya, memang ada sesuatu yang enggak biasa.

Agak susah kalau dijabarkan.

Pastinya, ini seri yang lumayan unik dan belum ada duanya.

Contoh sederhananya: sekilas, ini terlihat seperti seri yang kalau bukan oleh KyoAni, biasanya akan ditangani studio macam Silver Link gitu. Seperti semacam komedi romantis sekolahan yang normal. Tapi enggak. Soalnya kalau melihat di akhir, ini seri yang benar-benar cocok dengan kecendrungan ‘nyentrik’ Trigger, lewat perkembangan cerita yang ajaib serta karakter-karakter yang saling… saling apa ya? Intinya ini seri yang di dalamnya kelihatan nuansa Gainax yang Trigger warisi.

…Ugh. Menjelaskannya memang susah.

Terlepas dari itu, buatku pribadi, daya tarik terbesar seri ini ada di desain karakternya. Aku sangat suka desain karakter 029-sensei di Hataraku Maou-sama!, dan karenanya aku tertarik saat tahu ada anime lain yang mengadaptasi desain karakter orisinil beliau. Ada beberapa hal yang membuatnya aneh sih, tapi kurasa aku lumayan puas kalau dari segi ini.

Di sisi lain, ternyata benar aku kurang cocok dengan seri ini. Aku pribadi kurang bisa menikmatinya. Aku perlu sedikit memaksakan diri untuk mengikuti perkembangannya. Tapi di akhir, aku terkesima karena ada sejumlah hal di dalamnya yang memang membuatnya teramat berkesan.

Eccentricity

Garis besar cerita Inou-Battle memang di seputar drama kehidupan. Adegan-adegan aksinya tak banyak. Ada bagian-bagian komedinya juga sih, mengingat seri ini punya nuansa harem lumayan kuat. Lalu motif visualnya seperti dipertahankan agar selalu bernuansa riang. Meski begitu, lambat laun, terasa betapa ceritanya kadang bisa lebih serius dari yang dikira…

Selain para anggota Klub Literatur, awal cerita memperkenalkan kita pada Kudou Mirei, ketua Dewan Siswa yang ramah, yang ternyata memiliki kekuatan untuk ‘mencuri’ kekuatan super manapun yang dilihatnya (yang kemudian dinamai Andou, Grateful Robber). Ada sejumlah… kesalahpahaman yang terjadi karenanya. Lalu cerita berlanjut dengan hal-hal seperti bagaimana Chifuyu berusaha memperbaiki hubungannya dengan sahabatnya, Kuki Madoka, yang merasa ditelantarkan karena seringnya Chifuyu menghabiskan waktu bersama Andou dan kawan-kawan. Lalu sempat diselipkan pula perkenalan Andou dengan kakak tiri Tomoyo, Kiryuu Hajime (yang meski diperlihatkan betapa ia punya chuunibyou seperti Andou, sedikit memberi indikasi tentang kondisi keluarga Tomoyo). Tapi yang menjadi sorotan utama, tentu saja, situasi cinta segitiga antara Andou, Tomoyo, dan Hatoko. Di dalamnya, Hatoko merana karena sebagai teman sejak kecil Andou, ia jadi menyaksikan bagaimana kesukaan Andou untuk chuunibyou justru membuat dirinya dan Tomoyo makin akrab (tanpa menyadari kedekatannya terutama dikarenakan Andou mengetahui cita-cita rahasia Tomoyo untuk menjadi penulis light novel).

(Drama tentang hubungan Hatoko dan Andou ini ditangani dengan bagus, btw.)

Di tengah ini semua, Andou dan kawan-kawannya juga suka menggunakan kekuatan-kekuatan mereka secara rahasia untuk ‘bermain.’ Lalu meski kerap ditunjukkan, memang ada kesan kalau keberadaan kekuatan-kekuatan ini kayak seringkali ‘dikesampingkan’, kayak gimana gelas kopi bakal dikesampingkan pas lagi enggak ada adegan minum kopi. Intinya, kekuatan-kekuatan ini jadi kayak mainan baru yang sebenarnya enggak penting dalam cerita gitu.

Tapi yang mengesankan, dari arah perkembangannya yang semula terkesan tak jelas ini, kita sebagai penonton dibuat menyadari hal-hal tertentu yang mengindikasikan adanya hal-hal lebih besar dan tak terlihat yang sedang terjadi. Awalnya, dari bagaimana kekuatan-kekuatan Andou dan kawan-kawannya seakan power up dan mencapai tingkatan baru (termasuk Dark and Dark milik Andou yang sejak awal terkesan tak berguna). Lalu pas pertengahan seri, kita tiba-tiba diberi penjelasan blak-blakan soal dari mana kekuatan-kekuatan ini berasal.

Semua ternyata berkaitan dengan berlangsungnya sesuatu yang dinamai Yousei Sensou (Fairy War, ‘perang peri’). Manusia-manusia yang memperoleh kekuatan supernatural dari para peri ternyata dilibatkan di dalam ajang ini (mereka yang ditaklukkan akan kehilangan ingatannya). Salah satu faksi terkuat dalam perang tersebut ternyata adalah kelompok Fallen Black pimpinan Hajime (yang memiliki nama chuuni yang berusaha aku lupakan Kiryuu Hellkaiser Luci-First, serta kekuatan penciptaan lubang hitam yang dinamainya Pinpoint Abyss).

Jadi, seperti ada cerita lain yang enggak dipaparkan, yang ‘terpisah tapi masih nyambung’ dengan apa yang dialami Andou dan kawan-kawannya. Lalu Andou dan kawan-kawannya ternyata memiliki posisi strategis dengan kekuatan-kekuatan mereka yang termasuk imba, dan karenanya mereka ‘dijaga’ oleh Hajime agar mereka jangan sampai tahu apapun tentang kebenaran kekuatan-kekuatan ini.

Garis besarnya: tiba-tiba dipaparkan secara in medias res soal bagaimana ada suatu kelompok lain bernama F yang dibeking suatu peri pembangkang bernama Zeion yang menentang berlangsungnya Yousei Sensou ini. Lalu kelompok Fallen Black pimpinan Hajime—yang dibeking seorang peri bernama Reatier—kemudian diutus untuk menumpas F. Ini terutama dengan bagaimana F seakan telah berhasil menciptakan pengguna kekuatan terkuat yang disebut System. (Meski belakangan, sosok ini diasuh Hajime dan kawan-kawannya dan menggunakan nama Umeko Tanaka.)

Iya, banyaknya karakter baru yang tiba-tiba nongol memang agak memusingkan.

Singkatnya, jadi kayak ada saling implikasi antara hal-hal besar ini dengan kehidupan sehari-hari yang Andou dan kawan-kawannya jalani. Lalu meski aneh, ini memang kayak sesuatu yang belum pernah kutemukan dalam suatu karya lain.

Usual Days

Alur penceritaan Inou-Battle kerap maju mundur. Sehingga ada kenikmatan tersendiri dalam merangkai hubungan antara kejadian yang satu dengan yang lainnya.

Animenya sendiri berakhir lumayan kuat. Konfliknya tuntas. Ada semacam klimaks memuaskan di akhir. Tapi anehnya, mungkin karena banyaknya saling implkasi itu—yang tersamar lewat adegan-adegan drama keseharian yang terkesan enggak penting—tetap terasa ada sesuatu yang enggak tuntas. Yah, cerita dalam seri novelnya masih lanjut sih, jadi aku tak bisa mengeluh soal itu.

Bicara soal teknis, seri ini termasuk agak sedikit di atas rata-rata. Visualnya sekilas menarik. Tapi saat kau perhatikan, mungkin bukan jenis yang akan kau ekspektasi. Soal audionya… entah ya. Pastinya, kualitas eksekusinya bisa kayak tiba-tiba membuatmu terkejut pada saat-saat tertentu.

Andou dengan berbagai tingkah chuunibyou-nya, uniknya, terkesan seperti karakter menyebalkan di awal cerita. Terutama dengan bagaimana sikapnya pada Hatoko. Tapi dalam perkembangannya, secara aneh dipaparkan bagaimana dia memiliki arti besar bagi bukan hanya Hatoko dan Tomoyo, tapi Sayumi, Chifuyu, dan Mirai juga. Kalau kamu bertahan mengikutinya, meski mengernyit, kamu bakal kayak, “Oo gitu.” Lalu di balik semuanya, kamu bakal agak ngerasa kalau memang ada beberapa hal tertentu yang Andou jaga agar tak sampai tampak ke permukaan.

Soal karakter-karakter lain: ada Saito Hitomi yang dengan setia menjadi wakil Hajime dalam perang rahasia yang ia kobarkan; Umeko Tanaka/System yang meski hanya tampil sekilas, sebenarnya berperan menjadi semacam pengasuh bagi Hitomi dan Hajime (usia mentalnya jadi yang paling tua), dan karena kondisinya, ia menjadi pendukung cara pandang ‘kehidupan sehari-hari biasa tetap adalah yang terbaik’ (desain karakternya berubah dari waktu pertama bertemu Hajime dan sesudahnya, jadi mungkin ada di antara kalian yang tak menyadarinya). Kuki, teman Chifuyu, juga sempat mendapat sorotan lewat hubungannya dengan Chifuyu. Satomi Shiharu, bibi Chifuyu, sekaligus guru penasihat klub juga sempat tampil meski tak banyak karena kesibukannya. Lalu ada juga karakter-karakter kerabat para tokoh utama, seperti saudara perempuan Jurai dan adik perempuan Sayumi.

Ada satu karakter bernama Sagami Shizumu yang punya peran agak aneh. Dikisahkan dia siswa tampan yang berulangkali diputuskan pacar-pacarnya karena bawaannya yang otaku (dia tipe orang yang kalau ditanya siapa kekasihnya, dia bakal nunjukin suatu game love sim di konsol game portabelnya). Tapi tiba-tiba ditampilkan bagaimana dirinya beberapa kali berperan di belakang layar untuk mempengaruhi posisi Andou dan kawan-kawannya (dirinya sebenarnya tak bisa akrab dengan Andou, meski mereka sama-sama otaku). Lalu baru belakangan terungkap kalau Sagami adalah kenalan lama Hajime yang tahu tentang Yousei Sensou, meski kelihatannya ia tak mempunyai kekuatannya sendiri.

Akhir kata, anime ini benar-benar contoh kasus yang aneh. Jenis seri yang kau tahu akhirnya tak menonjol, tapi akhirnya jadi punya penggemar-penggemarnya tersendiri. Aku pernah menemukan beberapa orang yang benar-benar suka terhadap seri ini. Buatku, ini jelas bukan apa yang semula aku bayangkan. Tapi di akhir, kurasa aku tak bisa membencinya.

…Aku tak tahu apa aku bisa merekomendasikannya atau tidak sih. Tapi kalau kalian mencari seri bernuansa harem yang punya potensi drama kuat, mungkin ini bisa jadi pilihan. Atau anime tentang chuunibyou yang konfliknya beda dari yang biasa.

Oya.

Buat mereka yang penasaran soal sosok misterius yang mendorong Mirei untuk mengkonfrontasi Klub Literatur di awal cerita, jawabannya adalah Hinoemata Tamaki, satu sosok dari masa lalu Andou dan Sagami (mantan pacar Sagami, tepatnya), yang meski jarang tampil, terlibat dengan Fallen Black. Yah, itu terungkapnya dalam cerita di novel yang lebih ke sana sih. Jadi mending enggak usah terlalu dipikirin.

(Lagu pembukanya yang berjudul “Overlappers” menurutku termasuk keren penataannya.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B; Audio: B; Perkembangan: B; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B+

13/03/2016

Aura: Maryuin Kouga Saigo no Tatakai

Sesekali, aku perlu menulis sesuatu secara cepat. Jadi untuk kali ini, aku akan menulis soal ini.

Aura: Maryuuin Kouga Saigo no Tatakai (judulnya kira-kira berarti ‘Aura: perjuangan terakhir Maryuin Kouga’), atau yang juga dikenal dengan judul Aura: Maryuin Koga’s Last War, merupakan film animasi layar lebar keluaran tahun 2013 yang diangkat dari light novel berjudul sama buatan Romeo Tanaka yang aslinya diterbitkan tahun 2008. Seperti yang sebelumnya pernah aku singgung, aku punya perasaan agak gimanaa gitu terhadap karya-karya Romeo Tanaka-sensei, dan itu menjadi sebab utamaku memeriksa film layar lebar ini.

Alasan lainnya karena penyutradaraannya dilakukan oleh Kishi Seiji, dengan komposisi seri yang dibuat Uezu Makoto serta naskah buatan Kumagai Jun. Produksinya dilakukan oleh AIC A.S.T.A. dan susunan staf produksinya waktu itu menurutku benar-benar solid. Durasinya sendiri sekitar satu setengah jam.

Langsung saja ke intinya. Film layar lebar ini punya dua tokoh utama: Satou Ichirou yang disuarai oleh Shimazaki Nobunaga, dan teman sekelasnya(?), Satou Ryoko, yang dihidupkan lewat suara lembut khas milik Hanazawa Kana. Pada dasarnya, film ini bercerita soal bagaimana mereka bertemu dan saling mengenal.

Inti ceritanya adalah… lagi-lagi, tentang chuunibyou.

Dragon Terminals

Sebelumnya mesti kuakui, mulanya, aku enggak tahu kalau tema cerita ini adalah tentang chuunibyou. Aku bukan penggemar seri Chuunibyo demo Koi ga Shitai! (aku mengerti kalau seri itu bagus, jadi tolong jangan pukul aku) yang di sekitaran waktu itu sedang populer season pertamanya. (Buat yang agak lupa, itu keluar di tahun 2012.) Karenanya, pas melihat sendiri filmnya, aku kaget karena ini lagi-lagi cerita tentang anak-anak remaja yang harus bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia khayalan mereka.

Aku semula malah mengira Aura adalah seri bertema sains fiksi yang mengisahkan tentang bagaimana Ichirou, si tokoh utama, mendapati sekolahnya ternyata tempat bersemayamnya gerbang-gerbang ke dunia lain saat ia tanpa sengaja pada suatu malam melihat Ryoko berkeliaran di dalamnya. Ceritanya kemudian berkembang lagi dan lagi, saat kita menyelami lebih banyak ke latar belakang pribadi Ichirou dan Ryoko. Tapi sebelum sampai ke sana, aku benar-benar sempat heran sendiri.

Aku sempat kecewa begitu menyadari ini. Tapi pas menjelang akhir, aku enggak bisa enggak sedikit menyukainya, karena suatu alasan yang enggak begitu kupahami pada saat itu.

Setelah kupikir beberapa waktu kemudian, alasannya karena berbeda dari Chuunikoi yang notabene merupakan komedi romantis, Aura adalah cerita drama yang meski punya beberapa adegan (komedi?) yang bikin “Hah?”-nya, penggarapannya terus terang lebih berbobot dan serius. Ceritanya… bernuansa sedikit lebih suram, gelap, dan lebih to the point.

Mungkin juga itu karena cara pembawaan di materi aslinya yang dibuat Romeo Tanaka. Itu yang kumaksud. Kayak, ada sesuatu yang selalu membuatku penasaran pada cara penceritaan beliau, meski di akhir, cerita jadinya enggak selalu bisa kusukai.

Ada seorang temanku yang kebetulan melihat ini di waktu kurang lebih sama denganku. Lalu di akhir, dia membenci film ini. Mengenal temanku yang sifatnya memang serius, aku enggak kaget dengan reaksinya ini sih. Tapi memikirkannya belakangan, aku jadi sadar: pesan yang disampaikan film ini kayaknya memang bisa disalahpahami/disalahartikan, dan karena itu juga film ini tak terlalu dikenal?

Baliknya, mungkin ke soal apa kita tunduk pada pengharapan orang lain atau enggak. Tapi entah ya.

Kalau bisa, aku tak ingin terlalu berdebat soal pesannya, dan lebih ingin menekankan kalau ada sesuatu yang ‘kudapat’ dari film ini ketimbang sebaliknya.

Menara Meja

Bicara soal teknis, sekali lagi, ada nuansa ‘suram’ yang film ini tampilkan. Mungkin karena kuatnya nuansa kelabu yang ada dalam visualnya, yang berupaya menonjolkan nuansa keseharian yang biasa. Di sisi lain, ada kesan kuat yang diperlihatkan pada adegan-adegan ‘menakjubkan’ ketika Ryoko muncul, serta pada desain karakternya sendiri. Tapi meski tak benar-benar ada yang bisa dibilang jelek, kalau dipikir ulang, secara umum animasi visualnya tak kuat juga. Meski demikian, sekalipun jumlah karakter yang bernama notabene agak banyak, fokus selalu kayak berhasil terarah pada Ichirou dan Ryoko. Jadi karenanya, aku cuma bisa bilang hasilnya beneran efektif.

Suara Hanazawa-san sebagai Ryoko di sini seriusan juga menjadi daya tarik bagi sebagian orang. Soalnya, ini salah satu perannya di mana ia memperlihatkan suara lembut khasnya yang telah membuat banyak penggemar jatuh hati.

Satu hal lain yang patut kusinggung, lagu penutup “Bokura no Sekai” ternyata dinyanyikan CooRie, yang sebelumnya lumayan banyak terdengar pada pertengahan dekade 2000an lewat lagu-lagunya di Midori no Hibi dan School Days. Rasanya agak mengejutkan mendengar suaranya lagi.

Akhir kata, ini film anime yang termasuk solid kalau kalian suka tema-tema drama remaja begini. Tak terlalu ringan dan tak terlalu berat juga, dengan cerita yang langsung tuntas dengan sekali jadi. Untuk kalian yang tertarik dengan tema-tema begini (atau kalau kalian sepertiku, tertarik dengan karya-karya Romeo Tanaka), kusarankan untuk kalian memeriksanya.

Eh? Terus Maryuin Kouga yang ada di judulnya itu siapa?

Ah, itu sosok di masa lalu Ichirou yang harus dipanggilnya kembali untuk satu pertempuran terakhir di masa sekarang.

(Eh? Soal aura? Kalo ga salah itu sesuatu yang disinggung tokoh utamanya sebagai sesuatu yang dapat membedakan mana orang normal dan mana yang bukan.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-