Posts tagged ‘Production IMS’

27/09/2017

Hundred

Label light novel GA Bunko dimiliki penerbit SB Creative.

Ketika label tersebut berulang tahun yang kesepuluh, mereka memprakarsai adaptasi anime dari sepuluh seri LN-nya.  Sepuluh anime tersebut diproduksi studio-studio berbeda dalam kurun waktu berbeda pula. Kualitasnya beragam, tapi tetap lumayan berhasil mempromosikan judul-judul keluaran mereka.

Tanpa diurut secara khusus, dan kalau aku enggak salah, kesepuluh seri yang diadaptasi tersebut antara lain adalah:

  • Rakudai Kishi no Chivalry (Seri pertama yang diadaptasi. Lebih bagus dari dugaan.)
  • Dungeon ni Deai o Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka? (Dikenal juga sebagai Danmachi. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)
  • Haiyore! Nyaruko-san (Menarik.)
  • Hundred (Akan dibahas sebagai berikut.)
  • Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de (Lumayan, punya beberapa adegan yang benar-benar bagus.)
  • No-Rin (Relatif bagus.)
  • Oda Nobuna no Yabou (Lebih bagus dari dugaan.)
  • Saijaku Muhai no Bahamut (Lumayan.)
  • Seiken Tsukai no World Break (Menarik.)
  • Danmachi Gaiden: Sword Oratoria (Seri terbaru yang diadaptasi saat aku menulis ini. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)

Di antara semua judul di atas, yang paling menarik perhatianku saat adaptasinya pertama diumumkan adalah Hundred.

Seri ranobe Hundred ditulis oleh Misaki Jun dan diilustrasikan oleh Oukuma Nekosuke (Oukuma-sensei yang juga membuat desain karakter asli untuk Shinmai Maou no Testament). Hundred pertama terbit pada tahun 2012 dan sejauh ini, telah punya buku sebanyak belasan.

Alasan aku tertarik pada Hundred adalah karena sejumlah kemiripan yang Hundred miliki dengan Infinite Stratos, suatu seri populer lain yang diterbitkan penerbit Overlap. Ada persenjataan eksoskeleton yang dipasang di badan (aku akui, sesudah melihatnya sendiri, istilah ‘eksoskeleton’ ini kurang tepat sih). Ada latar dunia yang futuristis. Ada sekolah khusus yang perlu diikuti oleh para karakter utamanya. Ada pihak-pihak yang bermain di belakang layar.

Intinya, ada banyak hal keren di dalamnya yang membuatku tertarik. (Jadi, bukan. Bukan karena fanservice-nya. Walau, berhubung Oukuma-sensei yang merancang, aku memang sedikit tertarik sih.)

Salah satu perbedaan yang Hundred miliki dibandingkan sejumlah seri lain yang ‘mirip’ adalah bagaimana sekolah khusus yang menjadi latar cerita—yakni kapal induk sekaligus kota terapung di tengah laut bernama Little Garden—adalah sekolah campuran untuk cewek dan cowok. Jadi, tidak ada situasi ‘harem ekstrim’ seperti halnya di Infinite Stratos atau di Saijaku Muhai no Bahamut.

Di samping itu, juga adanya ancaman makhluk-makhluk buas misterius bernama Savage terhadap dunia. Monster-monster ini yang konon hanya bisa dilawan menggunakan senjata-senjata istimewa Hundred yang ditonjolkan seri ini.

Anime Hundred pertama keluar pada musim semi tahun 2016. Jumlah episodenya sebanyak 12. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Production IMS. Sutradaranya adalah Kobayashi Tomoki. Naskahnya ditangani Shirane Hideki. Lalu musiknya ditangani oleh Naruse Shuhei.

Sebelum dibahas lebih jauh, Hundred sebenarnya bukan anime yang bagus.

Iya, ini sayangnya bukan judul yang akan aku rekomendasikan. Tapi, ada beberapa hal tentangnya yang sempat lama membuatku penasaran.

“Hundred On!”

Yah, singkat cerita…

Kisaragi Hayato, sang tokoh utama (bentuk Hundred: pedang katana dan pelindung lengan), terpilih masuk ke Little Garden karena memperoleh nilai kecocokan tertinggi sepanjang sejarah dalam tes kecocokan dengan Hundred. Tes kecocokan ini dilakukan untuk mencari bibit-bibit Slayer baru yang akan dididik menggunakan perangkat-perangkat Hundred.

Slayer ceritanya adalah istilah untuk orang-orang yang terlatih menghadapi serangan Savage. Mereka dilengkapi perlengkapan Hundred yang khusus digunakan oleh mereka sendiri.

Savage sendiri… bentuk mereka seperti makhluk-makhluk melata buas berukuran raksasa dengan kulit berwarna gelap dan garis-garis neon. Sejauh yang dipaparkan dalam cerita, belum terungkap dari mana asal mereka.

Hayato, ceritanya, adalah seorang remaja dari negara kepulauan Yamato (yang mirip Jepang). Dia dari sejak awal lumayan terlatih dalam ilmu bela diri. Dirinya juga bersedia menerima tawaran beasiswa di Little Garden karena sekalian bisa mendapatkan fasilitas perawatan mutakhir untuk adik perempuannya yang sakit-sakitan, Kisaragi Karen.

Tapi baru masuk, Hayato langsung mendapat masalah dengan para anggota Dewan Siswa. (Karena Hayato membela sejumlah siswi baru yang hendak langsung dikeluarkan karena terlambat mengikuti upacara.)

Dibeking oleh negara adidaya Liberia (mirip Amerika) yang memprakarsai penelitian terhadap Hundred, para anggota Dewan Siswa ini memiliki otoritas tertinggi di Little Garden. Selain mengatur sekolahan, mereka juga mengatur seluruh aspek komando pertahanan di pulau. Mereka dipimpin seorang perempuan berambut pirang bernama Claire Harvey (bentuk Hundred: drone-drone melayang pemancar sinar, yang bila disatukan bisa membentuk meriam raksasa), yang tidak segan memberi Hayato ‘ujian praktek’ langsung saat ia membangkang.

Untungnya, Hayato sebelumnya berkenalan dengan Emile Crossfode (bentuk Hundred: fleksibel, bisa berubah hampir menjadi bentuk apapun), seorang pemuda rupawan yang menawarkan diri menjadi partner sekaligus teman sekamarnya. Meski seangkatan dengan Hayato, dan berkesan lemah lembut, Emile ternyata seseorang yang sangat ahli dalam menggunakan Hundred.

Emile, bersama Hayato dan bakat alaminya, ternyata bisa menjadi lawan yang sepadan bagi Claire dan rekan-rekannya. Mereka sama-sama berhasil menunjukkan kalau Hayato memang seseorang yang layak dipertahankan.

Sampai ketika… Savage tiba-tiba menyerang. Keadaan darurat terjadi. Lalu, para Slayer harus bersatu karena kurangnya orang.

Lalu dalam aksi yang terjadi, Hayato menyadari kekuatannya yang sesungguhnya sebagai Variant. Lalu, ia memahami pula siapa Emile sesungguhnya…

Teman Lama, Teman Baru

Iya, pembuka ceritanya kurang meyakinkan. Iya, ada kesan “Intinya cuma gini doang?!” Lalu, iya, semua bahan yang diperlukan untuk membuat sesuatu yang rame itu ada, tapi entah gimana, semua jadinya… hanya sebatas demikian.

Ada banyak hal menarik yang terus diperkenalkan dan ditambahkan. Ada karakter-karakter menarik (seperti teman-teman Hayato dan Emile, si penembak jitu Fritz Granz dan teman masa kecilnya yang mungil, Latia Saint-Emillion). Ada teori-teori soal asal-usul Hundred dan manusia-manusia Variant. Ada masa lalu yang dibagi bersama dengan para karakternya (semisal, penyanyi idola Kirishima Sakura, yang ternyata pernah mengenal Hayato dan Karen di masa lalu, sekaligus juga pengguna Hundred). Ada misi-misi ke luar sekolah yang dikerjakan bersama pasukan multilateral. Ada campur tangan orang-orang misterius (seperti Judal Harvey, kakak lelaki Claire, kepala Warsiran Research Facility). Ada rahasia-rahasia yang tersembunyi di bawah Little Garden (seperti soal LiZA, yang konon adalah perwujudan adik perempuan Claire).

Tapi janggalnya, semua itu enggak benar-benar berujung ke mana-mana.

Dengan kata lain, di antara sepuluh anime yang diadaptasi dari seri LN GA Bunko di atas, Hundred adalah yang paling tidak menonjol.

Aku sempat susah menerima ini. Kok bisa sih hal ini terjadi?

Tapi, sesudah melihat perkembangan cerita di episode-episode berikutnya, lalu mengerti kalau ini pasti mengangkat cerita dari seri novelnya, aku kurang lebih jadi mengerti bagaimana staf produksi animenya jadi kurang termotivasi.

Sempat ada fans menerjemahkannya. Jadi aku sempat pula memeriksa versi novelnya seperti apa.

Untuk ukuran LN, narasi Misaki-sensei terbilang lumayan. Ceritanya juga cukup ringan untuk dinikmati. Tapi, sesudah diangkat jadi anime, Hundred memang bermasalah. Soalnya, meski punya banyak elemen menarik, struktur ceritanya kayak emang enggak cocok buat dijadikan anime.

Di samping itu…

Disangka… Demikian

Hundred kurasa semula hendak menonjolkan harem love comedy yang serupa dengan Infinite Stratos. But, it just doesn’t work. Berbagai kekonyolan cinta segi banyak itu enggak bisa ditonjolkan karena para heroine sendiri yang memang enggak(!) dalam posisi untuk terang-terangan memperlihatkan rasa suka mereka.

Oke, Hayato memang bukan karakter yang mencolok. Lalu dia juga bukan karakter yang dibenci juga. Dia archtype biasa untuk tokoh-tokoh LN seperti ini. Tapi, kalau bicara soal para heroine-nya…

Emile, sebagai contoh, memiliki identitas asli sebagai Emilia Hermit, teman masa kecil perempuan Hayato dari masa lampau. Dialah karakter perempuan utama di seri ini. Emile ceritanya pernah bertemu Hayato di masa lalu dan diselamatkan olehnya dalam suatu insiden serangan Savage di Kekaisaran Britannia (yang berujung pada berubahnya biologis tubuh mereka akibat virus Savage menjadi apa yang disebut Variant).

Kenapa Emilia menyamar sebagai lelaki? Aku juga… kurang paham.

Tapi, bukan cuma itu. Emilia juga aslinya adalah Emilia Gudenburg, putri ketiga dari Kekaisaran Gudenburg, suatu negara adidaya di dunia, yang telah disusupkan(?) ke dalam Little Garden. Jadi identitasnya dia itu berlapis tiga!

Di mata kita, sebagai penonton, Emile jelas-jelas perempuan (adegan-adegan fanservice yang menonjolkan Emile bahkan sudah ditampilkan sejak awal!). Tapi di depan umum, di dalam cerita, Emile harus menjaga jaraknya dengan Hayato. (Yang berujung pada bagaimana kedekatan antara mereka berdua membuat mereka terkesan homo.)

Hasilnya jadi… sangat… aneh.

Dia bukan karakter yang bisa kita sukai. Dari kepribadian enggak. Dari fisik, uh, entah, mengingat kebanyakan waktu, dia menyamar sebagai cowok. Tapi, dia juga bukan karakter yang akan kita benci juga. Dia sekedar… membingungkan. Lalu karena itu, jadinya kayak enggak punya daya tarik.

Intinya, kesannya jauh berbeda dari situasi Charlotte Dunois di Infinite Stratos yang untuk beberapa lama juga sempat menyamar sebagai cowok. Kasus Charl lebih berhasil. Aku sempat tak berkeberatan saat mengira dia benar-benar cowok (meski curiga). Tapi, aku juga enggak keberatan saat terungkap kalau dia cewek.

Oke. Aku juga bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Selain Emilia, heroine berikutnya adalah Claire. Claire di mataku jelas lebih berkesan dibandingkan Emilia. Tapi, karena alasan jabatan dsb., dia pun enggak bisa terang-terangan mendekati Hayato. Dia itu kepala pasukan di sana. Dia enggak bisa berat sebelah kepada salah satu orang di dekatnya. Apalagi, dengan bagaimana dia selalu diikuti oleh kedua bawahannya, Liddy Steinberg, sang wakil seitokaicho pertama (bentuk Hundred: tombak dan perisai) yang tak kalah galak; dan Erica Candle, sang wakil seitokaicho kedua (bentuk Hundred: mirip yoyo dan kawat? Kurang efektif untuk melawan Savage berukuran besar) yang spesialis strategi dan sangat menghormati Claire.

Jadi, yah, kalian tahu maksudku.

Kemarahan yang Sulit Dimengerti

Production IMS pertama dikenal karena memproduksi season dua dan juga movie dari anime Date A Live. Mereka juga memproduksi Inari, Konkon, Koi Iroha yang terbilang mengesankan. Jadi, kalau soal kualitas, mereka sebenarnya bisa mengusahakannya.

Mempertimbangkan yang di atas, aku sempat terpaku melihat bagaimana Hundred memiliki kualitas teknis pas-pasan. Sesudah memikirkannya, aku curiga alasannya karena di kurun waktu yang sama, Production IMS juga mengerjakan proyek orisinil mereka, Active Raid, yang sayangnya, juga berakhir kurang begitu meledak.

Bicara soal kualitas teknis, animasi Hundred itu luar biasa standar. Sangat biasa. Tidak sampai jadi aneh atau jelek sih, tapi jelas enggak sekeren yang sempat aku bayang. Bahkan kalau mau bahas soal fanservice juga, tidak ada apapun tentangnya yang terbilang berkesan.

Tapi, di antara semua hal ‘biasa’ tersebut, ada dua aspek menonjol yang Hundred punya. Satu, aspek audio yang lumayan. Dua, adegan-adegan aksi.

Soal audio, efeknya bisa gede. Aku enggak bilang seri ini punya musik bagus. Mungkin levelnya hanya sekedar lumayan. Tapi, terasa ada perhatian yang diberikan terhadapnya gitu. Seri ini secara total memiliki empat lagu penutup, suatu hal menonjol untuk anime 12 episode dengan tema kayak gini. Ada tema idol yang tiba-tiba diangkat di tengah cerita. Rasanya aneh, tapi lumayan memperkaya nuansa yang seri ini bisa punya. Akting para seiyuu terbilang lumayan.

Lalu, soal aksi…

Jujur, inilah yang akhirnya paling membuatku penasaran soal Hundred.

Adegan-adegan aksinya enggak bisa dibilang bagus. Koreografinya biasa saja. Kebanyakan adegan juga berakhir dengan bagaimana Hayato intinya sekedar berhasil menyalurkan kekuatan terpendamnya. Tapi, pas lagi ada—dan mungkin juga ini cuma aku—selalu kayak ada beberapa detik—hanya beberapa detik—ketika intensitasnya benar-benar terasa.

Aku enggak mengerti bagaimana ini terjadi. Mungkin hanya akting para seiyuu-nya yang sekedar bagus. Intensitas tiba-tiba ini secara konsisten ada sampai menjelang akhir seri. Karenanya, aku sampai terdorong mengikuti perkembangan Hundred sampai tuntas.

Di samping itu, dengan berbagai misteri yang diangkatnya, pembangunan dunianya sebenarnya termasuk lumayan.

Merah Darah Kita

Akhir kata, Hundred kurasa bukan seri yang perlu kau pikirkan terlalu jauh. Di dunia ini ada lebih banyak hal yang lebih berarti untuk kita pikirkan. Tapi, buatku pribadi, ini lagi-lagi contoh soal gimana suatu kegagalan bisa lebih ‘mengajari’ kamu ketimbang suatu keberhasilan.

Karakter-karakter antagonis HundredVitaly Tnanov dan anak-anak buahnya: Krovanh Olfred, Nesat Olfred, Nakri Olfred; anak-anak yatim piatu Variant yang sempat menjadi budak—sebenarnya termasuk menarik secara konseptual. Lalu, kalau membaca versi novelnya, aku percaya ada banyak detil menarik soal dunianya yang bisa kita gali juga. (Semisal: nama masing-masing Hundred, kemampuan-kemampuan istimewa mereka, dan sebagainya.)

Hundred membuatku tertarik karena mengkhayalkan hal-hal ginian dalam lingkup yang konsisten dan logis ternyata sulit.

Oke. Melakukan apapun secara konsisten emang sulit. Jadi, pelajarannya mungkin juga ada di sana.

Man, aku lumayan kecewa saat sadar bahwa Claire bukan heroine utama.

Yah, sudahlah.

Penilaian

Konsep: E; Visual: C; Audio: B; Perkembangan:C-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C-

Iklan
13/07/2016

Date A Live Movie: Mayuri Judgement

Aku belum pernah cerita kalau salah satu hal berkesan buatku di anime Date A Live II adalah peran Zougou Saeko sebagai Itsuka Shiori.

Shiori adalah alter ego si tokoh utama (yang diperkenalkan sebagai kerabat jauhnya), Itsuka Shidou, saat ia harus menyamar sebagai perempuan dalam misinya mendekati penyanyi populer Izayoi Miku. Miku ceritanya waktu itu masih baru diduga sebagai Spirit, dan waktu itu pula dipandang sebagai pembenci laki-laki. Ada misi penyusupan yang harus Shidou lakukan, yang sampai membuatnya terisolir dari teman-temannya. Lalu, baik dalam situasi agak tenang maupun genting, Zougou-san benar-benar berhasil menghidupkan perannya. Suaranya kayak punya nada yang pas gitu, sekilas masih terdengar seperti suara laki-laki, tapi di saat yang sama, juga cocok sebagai suara perempuan.

Aku malah sampai sempat mengira kalau yang menyuarakan Shiori masih adalah Shimazaki Nobunaga saking alaminya nuansa cowok dalam suaranya.

Yah, mungkin itu cuma aku aja.

Terlepas dari itu, aku berkesempatan melihat Gekijouban Date A Live: Mayuri Judgment belum lama ini. Buat yang belum tahu, ini adalah film layar lebar dari seri Date A Live yang merupakan sedikit kelanjutan dari cerita di season kedua animenya.

Buat para penggemarnya, Date A Live II termasuk adaptasi yang agak mengecewakan karena durasinya yang cuma 10 episode. Tapi di sisi lain, season ini juga masih memuaskan karena perkembangannya yang semakin rame. Melihat ke belakang sekarang, waktu itu ceritanya memang berakhir di posisi yang tanggung. Seri novelnya pas baru lagi memasuki perkembangan cerita besar-besaran pada titik itu (ceritanya baru akan memasuki bab tentang Angel baru bernama Natsumi, yang di waktu yang sama menggambarkan konsekuensi dari menumpuknya kekuatan para Spirit dalam tubuh Shidou; lalu baru sesudahnya masuk ke bagian cerita yang sudah lama ditunggu tentang masa lalu Tobiichi Origami). Lalu untuk seri sejenis ini, budget untuk menganimasikan cerita di novelnya sampai sejauh itu pasti dipandang terlalu besar.

Apa Date A Live masih bakal ada season ketiganya? Kemungkinannya kayaknya kecil sih. Tapi kita lihat saja perkembangan ke depan.

Sesuatu di Langit

Mayuri Judgement mempunyai cerita yang lebih sederhana dari perkiraanku.

Berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua, pada suatu hari saat bangun tidur, Shidou dengan terkejut mendapati adanya semacam cakram raksasa yang melayang-layang di langit kota Tengu. Anehnya, cakram tersebut ternyata hanya bisa dilihat oleh Shidou seorang.

Menaruh kecurigaan, adik perempuan Shidou, Itsuka Kotori, menugaskan para stafnya di organisasi Ratatoskr untuk melakukan penyelidikan. Meski nyatanya mereka memang tak bisa melihat apa-apa, mereka menemukan bahwa memang ada sesuatu di sana, yang tersusun oleh gabungan pola gelombang kekuatan roh dari para Spirit yang telah tersegel kekuatannya: Yatogami Tohka, Yoshino, Itsuka Kotori, si kembar Yamai Kaguya dan Yamai Yuzuru, serta Izayoi Miku.

Untuk menstabilkan apapun hal tersebut, dan sekaligus untuk mencegah kemungkinan terjadinya gempa angkasa berkekuatan dahsyat, maka diputuskan bahwa operasi kencan bersama para Spirit harus kembali Shidou lakukan untuk menstabilkan campuran kekuatan ini. Sesudah masing-masing Spirit mengambil undian untuk menentukan urutan, jadwal kemudian disusun dan rencana kembali dijalankan.

Namun anehnya, sesosok gadis tak dikenal, yang kembali seolah hanya bisa dilihat oleh Shidou pada waktu-waktu tertentu, mulai membayang-bayangi kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan.

Invisible Date

Bicara soal teknis, Motonaga Keitaro kembali sebagai sutradara. Naskahnya ditangani Shirane Hideki. Musiknya ditangani oleh Sakabe Go. Mungkin karena itu, baik dari segi audio maupun visual, kualitas film layar lebar ini menurutku sangat mendekati kualitas seri TV season keduanya. Ini sempat membuatku sedikit aneh karena kualitas OVA Date A Live perasaan agak melebihinya dalam beberapa segi. Tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Dari segi ceritanya sendiri, movie ini benar-benar terasa lebih seperti fanservice. Kayak, semacam cerita sampingan yang dibuat sedemikian rupa agar tak merusak alur cerita dan momentum di seri novelnya (yang sekali lagi, memang terputus pas lagi rame-ramenya). Karakter gadis misterius Mayuri (beserta semacam ancaman atas kehancuran dunia yang ditentukan lewat hasil penilaian Mayuri atas Shidou) sempat kupikir akan menjadi sorotan di film ini. Namun nyatanya, dengan konsep ceritanya, setiap karakter terdahulu mendapat porsi sorotannya masing-masing. Lalu walau tak menambahkan apa-apa yang signifikan dari segi substansi, buat para penggemarnya, movie ini masih termasuk menarik untuk dilihat.

Jadi, yeah, ini jenis anime yang memang khusus diperuntukkan bagi para penggemarnya.

Ada kapal induk Fraxinus yang baru. Para Spirit mendapat Astral Dress versi baru yang mereka kenakan dalam klimaks. Adik perempuan kandung Shidou, Takamiya Mana, yang kini berpihak pada Ratatoskr, turut beraksi. Tobiichi Origami, yang masih dirawat di rumah sakit sesudah konflik melawan DEM, tak mau kalah dari para gadis lain. Tokisaki Kurumi—satu-satunya Spirit yang telah muncul tapi belum tersegel—muncul kembali dan menjadi petunjuk kunci(?) bagi Shidou untuk menjalin kontak dengan Mayuri. Teman-teman sekolah Shidou tampil kembali. Shidou terpaksa harus jadi Shiori kembali. Lalu dalam pertempuran terakhir melawan Kerubiel yang lepas kendali (yang terjadi karena emosi bawah sadar yang tak sepenuhnya berada di bawah kendali Mayuri), Tohka melakukan dual wield yang secara dramatis menjadi adegan penentuan.

Dengan kata lain, kalau kau bukan penggemar seri Date A Live, kemungkinannya kecil kau bisa menikmati film ini.

Jadi, uh, yah, begitu.

…Sebenarnya, enggak banyak yang bisa kukomentari juga. Tapi intinya, aku masih termasuk yang lumayan bisa menyukainya.

“Karena menjumpaimu, aku tak lagi terlahir hanya untuk menghilang.”

Sedikit tambahan untuk mereka yang ingin tahu perkembangan seri novelnya: kebencian Origami atas para Spirit terungkap lewat bagaimana ia kemudian menjadi Spirit juga dalam suatu perjalanan ke masa lalu. Lalu dalam bagian cerita terbaru, terungkap pula bahwa sosok yang selama ini Kurumi lacak ternyata adalah Spirit kedua, Honjou Nia, yang selama ini rupanya disegel oleh pihak DEM.

Nia pula yang ternyata satu-satunya orang yang memiliki informasi tentang Spirit pertama yang telah melahirkan para Spirit lainnya, yang pemanggilannya berakibat pada gempa angkasa paling pertama yang mengguncang Asia Tengah di awal cerita. Spirit pertama ini yang rupanya dilacak semua pihak untuk mengungkap tentang asal usul mereka.

Yah, meski Date A Live dari dulu terutama menonjolkan aspek komedi dan haremnya, yang sebenarnya membuatku bertahan mengikutinya adalah kehadiran aksi dan intriknya yang kadang melampaui perkiraan.  Enggak sepenuhnya bisa dibilang bagus. Tapi entah ya, buatku jadinya selalu menarik.

Sebenarnya, ada satu hal lain yang kusadari dari mengikuti anime ini.

Ini enggak penting sih. Tapi meski aku mengerti bagaimana tujuan dari ‘kencan’ adalah meluangkan waktu secara menyenangkan bagi kedua belah pihak, aku tiba-tiba tersadar bahwa prioritas yang lebih utama sebenarnya adalah untuk lebih saling mengenal.

Yah, mengikuti anime ini menjadi semacam pengingat bagiku soal ini.

Jadi, yang terpenting bukan bagaimana menyenangkan lawan bicara kita. Yang terpenting adalah untuk mengenalnya lebih jauh, dan baru kalau bisa kita membuatnya senang. Maksudku, dalam berhubungan sosial, melakukan kesalahan seperti yang sesekali Shidou lakukan juga tak apa-apa. Asal yang terpenting, maksudmu tulus.

Karena aku tak kesampaian mengenal Mayuri lebih jauh, mungkin karena itu juga aku merasa agak terganggu.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B-

23/02/2016

Shinmai Maou no Testament BURST

Melanjutkan postingan sebelumnya, Shinmai Maou no Testament BURST, atau The Testament of Sister New Devil BURST (‘burst’ artinya kira-kira adalah ‘letusan’), muncul dengan jeda hanya satu cour dari season pertamanya. Tayang pertama kali pada Oktober 2015, berhubung aku terkesan dengan cerita sebelumnya, aku sempat antusias begitu sadar kelanjutannya sudah ada secepat ini.

Seperti yang sempat kusinggung, staf yang memproduksinya di Production IMS (setahuku) masih sama, dengan pengecualian komposisi seri yang kini ditangani Uetake Sumio. Serupa kasus Date A Live II, season kedua ini juga berjumlah hanya 10 episode.

…Enggak, aku juga enggak yakin alasannya apa. Kurasa alasannya ada berbagai macam.

Langsung saja, season kedua ini memaparkan lebih lanjut tentang usaha Toujou Basara melindungi dua (orang yang di permukaan adalah) adik perempuannya yang baru, Naruse Mio dan Naruse Maria. Meski untuk kali ini, Basara tak sendiri. Karena ikut tinggal bersama mereka untuk membantu adalah Nonaka Yuki, teman masa kecilnya dari Klan Pahlawan, yang juga telah memasukkan dirinya dalam kontrak Maria untuk bisa membantu(?) Basara menjaga Mio.

Di Antara Angin yang Bertiup Melalui Medan Perang

Soal cerita, season kali ini terdiri atas dua bagian.

Berlatar sekitar waktu festival olahraga Perguruan Hijirigasaka, bagian pertama menyinggung tentang siapa sebenarnya Hasegawa Chisato, dokter misterius di UKS yang telah diam-diam membantu Basara dan Mio selama mereka di sekolah. Seperti yang pernah disebut, ada tiga pihak yang dalam seri ini mengalami konflik. Lalu di samping menyinggung soal pihak terakhir yang di season terdahulu belum muncul, ceritanya juga membeberkan sifat sebenarnya Brynhildr, pedang pusaka Basara, yang mungkin punya lebih dari sekedar ‘masa lalu’ dengan pemiliknya.

Bagian kedua adalah soal perjalanan Basara dan kawan-kawannya ke dunia sihir/iblis, untuk menemani Mio berhadapan dengan warisan ayahnya, sekaligus mencegah pecahnya konflik lebih besar di sana. Di sini, mereka berhadapan dengan Ramsas, paman Mio yang merupakan pemimpin saat ini dari faksi moderat; serta Leohart, mazoku muda yang kini menjabat sebagai Maou yang menggantikan mendiang Wilbert, yang semula diyakini berada di pihak berseberangan dengan Mio.

Ceritanya dibuka dengan lumayan keren lewat konfrontasi antara ayah Basara, Toujou Jin, dengan Leohart sendiri (yang mana Jin menyimpulkan bahwa yang bengkok sebenarnya bukan Leohart, melainkan orang-orang di sekelilingnya di Majelis). Toujou Jin di season sebelumnya terungkap sebenarnya adalah ‘dewa perang’ dari Klan Pahlawan, yang di ketiga alam telah disegani sebagai pejuang yang luar biasa. Karenanya, adegan pembuka ini berkesan karena akhirnya kita diperlihatkan sebesar apa cakupan kekuatannya.

Namun sayangnya, penceritaan ke sananya sama sekali tak sebagus sebelumnya. Ceritanya juga enggak lagi ‘menyatu’ sebagus dulu. Dua bagian cerita ini kayak… dua potongan yang saling enggak nyambung. Mungkin karena subplot di keduanya belum benar-benar tuntas, dan masih ada banyak hal di masing-masing ‘sisi’ cerita yang belum terjelaskan (terutama, misteri soal identitas dua ibu Basara).

Perumpamaannya, rohnya tiba-tiba berbeda gitu.

Aku tak tahu apa ini karena keterbatasan materi di bukunya. Soalnya, mencari informasi tentang kelanjutan ceritanya di Internet juga agak susah. Tapi mungkin karena akunya juga yang belum sempat menelusurinya.

Perbedaan kualitas yang mencolok ini lumayan mengecewakanku. Kalau mengambil contoh dari fanservice-nya, adegan-adegan ‘berbahaya’ di season sebelumnya masih agak menggambarkan tumbuhnya ikatan antara para tokoh utamanya. Tapi di season ini, adegan-adegan serupa lebih terasa seperti membuang-buang waktu dan sekedar ada karena ‘harus ada.’ Padahal, jumlah tokoh yang terlibat sekarang bertambah, mencakup Zest, yang diselamatkan Basara dari season lalu, serta Nonaka Kurumi, adik perempuan Yuki yang kini sudah mengakhiri konfliknya dengan Basara.

(…Tenang. Sebenarnya aku juga punya keluhan sangat panjang tentang ini. Tapi lebih baik enggak aku ungkapin dulu.)

Namun kalau aku memandang ke belakang, meski aku mungkin agak bias, Shinmai Maou no Testament dari awal sampai akhir seakan selalu punya plot yang lebih dalam dari yang kuharap. Misalnya, dengan pindahnya latar cerita dari dunia normal ke dunia iblis/sihir, aku sempat merasa aliansi Basara dan Lars—yang di season sebelumnya merupakan aspek favoritku dari seri ini—menjadi tak tersorot lagi, tapi ternyata enggak juga. Meski ceritanya jadinya dipadatkan, kedalaman itu tetap ada. Seperti misi Basara untuk seorang diri menyingkirkan Belphegor, pengganti mendiang Zolgear yang tak kalah kejamnya dan menjadi orang terkuat di Majelis; rencana rahasia orang-orang Majelis untuk membantai semua yang menghalangi mereka lewat artefak Eirei yang mereka gali; serta duel pribadi Basara melawan Leohart demi menegaskan posisinya.

Jadi sesudah mengikuti sampai akhir, aku agak bersyukur hasilnya ternyata tak sejelek yang aku kira.

Sesudah Mimpi Tiada Akhir

Jadi, merangkum, beberapa misteri terbesar seri ini:

  • Identitas kedua ibu Basara yang telah diungkapkan Jin padanya.
  • Siapa perempuan yang diselamatkan Jin dan apa perannya.
  • Siapa Basara sesungguhnya, bagaimana ia bisa memiliki kekuatan dari kedua sisi sekaligus.
  • Apa sebenarnya Brynhildr.
  • Siapa sebenarnya Riala (Liara?), kakak perempuan Leohart yang sangat protektif, yang ternyata memiliki kekuatan jauh lebih dahsyat dari yang semua orang kira.

Beberapa hal bagusnya:

  • Banishing Shift yang telah Basara lebih kuasai, kini bisa digunakannya tak hanya sebagai counter.
  • Wujud power up Basara.
  • Lebih banyak tentang masa lalu Lars.
  • Intrik yang lebih bagus dari yang terlihat. (Meski disampaikan dengan cara yang agak bikin kita hanya “Ooh gitu toh.”)

Bicara soal teknis… kira-kira sama.

Sori. Enggak.

Kualitasnya sebenarnya agak kurang dikit dari sisi pengarahan visual. Di samping itu, soundtrack-nya juga kalah mengesankan.

Aku benar-benar heran kenapa lagu pembuka ‘Over the Testament’ yang dibawakan Metamorphose mesti dimainkan dengan versi berbeda di setiap episodenya. Soalnya aku merasa tak semua versinya setara versi orisinilnya.

Soal keluhanku… menjelang akhir, aku merasa Uesu Tetsuto-sensei benar-benar punya fetish aneh. (Oke, bukan fetish aneh untuk dimiliki, tapi fetish aneh untuk dituangkan ke dalam tulisan.) Ini juga sedikit terlihat di karya beliau sebelumnya, Hagure Yuusha no Aesthetica. Aku sedikit paham pas di awal, tapi intinya aku lumayan heran soal kenapa Mio terkadang masih memanggil Basara ‘Onii-chan’ bahkan sesudah rahasianya terungkap. Aku awalnya berusaha tak mempermasalahkan soal ini. Tapi kemudian ketahuan bahwa Hasegawa-sensei bisa jadi mengawasi Basara karena sebenarnya ia adalah saudari dari (salah satu?) ibu Basara. Lalu dalam perkembangannya, dirinya seolah jadi salah satu bagian… uh, haremnya. Terus dugaanku juga diperkuat dalam bentuk hubungan Leohart dengan Riala. Sehingga segalanya pada titik ini jadinya benar-benar aneh!

Lalu semuanya juga sekarang begitu blak-blakan! Rawr! Aku jadi pengen jungkirin mejaaaa!

Argh, dulu waktu hanya ada Mio, Yuki, dan Maria, aku sebatas merasa ini semua amusing. Tapi sesudah Zest dan Kurumi bergabung, aku mulai merasa semuanya sudah agak ‘kebanyakan.’

Aku bicara pada seorang sahabatku yang kadang juga memperhatikan seri-seri macam ini. Lalu pendapatnya tentang BURST ternyata kurang lebih sama (meski dia harus agak dipancing untuk mengakuinya). Apa yang terjadi ya? Ternyata benar yang merasa begini bukan cuma aku. Aku penasaran, karena ketimpangannya terasa lumayan jauh. Kurasa bukan hanya karena faktor naskah saja sih. Aku berpendapat kalau ada alasan yang lainnya juga.

Terlepas dari semuanya, pada akhirnya aku kagum dengan bagaimana Production IMS memutuskan untuk menangani proyek ini. Mereka seriusan mengerjakan dua season di tahun yang sama, dengan juga diselingi Joukamachi no Dandelion di antara keduanya. Mereka berkembang pesat semenjak pertama muncul dan mengesankan orang-orang lewat adaptasi anime Inari, Konkon, Koi Iroha di tahun 2014 dulu. Semenjak mengikuti Shirobako, aku tertarik untuk tahu cerita-cerita di balik proses produksi anime begini. Lalu melihat track record mereka, Production IMS merupakan salah satu studio yang paling membuatku penasaran.

Akhir kata, bahkan di usia segini, masih ada sesuatu yang bisa aku ‘dapatkan’ dari seri ini. Aku sedikit belajar tentang bagaimana selayaknya cowok bersikap. Yeah, aku tahu ini seri macam apa. Aku juga ngerti orang lain mungkin enggak akan menilai dengan cara yang sama. Perasaanku juga campur aduk kenapa fanservice-nya perlu separah ini. Tapi nyatanya, aku sekarang jadi lebih serius buat menambah massa otot.

Kuharap proyek-proyek Production IMS ke depan juga berlangsung lancar.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B; Audio: C+; Perkembangan C+; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C+

Edit, Agustus 2016

Beberapa waktu lalu, aku menemukan sumber yang menjelaskan tentang misteri dua ibu Basara. Tapi aku benar-benar lupa menuliskannya di sini.

Ibu Basara yang pertama, yang menjadi kekasih Toujou Jin, adalah adik perempuan ayah Mio. Karena berbagai komplikasi yang bisa terjadi, Basara dipindahkan saat masih janin ke ibu Basara yang kedua, yang merupakan kerabat (kakak?) Hasegawa-sensei, yang kemudian melahirkannya.

Jadi, melengkapi yang di atas (kalau tak salah, ini dijelaskan di buku kedelapan):

  • Basara benar-benar memiliki kekuatan dari ketiga pihak yang berseberangan.
  • Basara dan Mio sebenarnya adalah sepupu.
  • Mio dan Maria ternyata benar-benar adalah kakak beradik, hanya saja dari ayah yang sama dan ibu yang berbeda.

Mungkin kalian sekarang maklum kenapa aku sempat lupa menulis tentangnya.

22/02/2016

Shinmai Maou no Testament

Shinmai Maou no Testament (‘testament’ juga ditulis ‘keiyakusha’, artinya kira-kira ‘perjanjian’ atau ‘kontrak’; ‘shinmai maou’ kira-kira ‘adik-adik perempuan yang menjadi raja iblis/sihir’), atau yang juga dikenal dengan judul The Testament of Sister New Devil, berawal dari seri light novel karangan Uesu Tetsuto (yang sebelumnya mengarang Hagure Yuusha no Aesthetica) dengan ilustrasi buatan Oukuma Nekosuke (yang untuk musim depan juga membuat desain karakter Hundred). Penerbitannya dilakukan di bawah label Kadokawa Sneaker Bunko milik penerbit Kadokawa Shoten, diterbitkan mulai tahun 2012, dan masih belum tamat saat ini kutulis.

Kayak yang mungkin kalian udah tahu, Shinmai Maou no Testament adalah seri aksi fantasi harem dengan porsi fanservice lumayan banyak. Seri ini kurang lebih sejenis dengan High School DxD. Dalam artian, juga menonjolkan aksi-aksi pertarungan mirip yang ada di komik-komik cowok selain aspek ‘itu’-nya. Malah, Shinmai Maou no Testament dianggap ‘lebih serius’ dalam hal ini, sampai ada bahkan menyebutnya ‘borderline hentai.’

Jadi, buat kalian yang sangat anti atau belum cukup umur, aku serius menyarankan untuk menjauhi seri ini.

…Seriusan serius.

Adaptasi animenya dibuat pada awal tahun 2015 sebanyak 12 episode (+1 episode OVA) oleh Production IMS. Lalu ini segera disusul oleh season keduanya pada Oktober 2015, berjudul Shinmai Maou no Testament BURST, yang berjumlah sebanyak 10 episode (+1 episode OVA lagi). Penyutradaraannya dilakukan Saito Hisashi. Naskahnya ditangani Yoshioka Takaou untuk musim pertama, dan Uetake Sumio untuk musim kedua.

Keluarga Baru

Shinmai Maou no Testament dibuka dengan perkataan Toujou Jin, seorang fotografer profesional yang single parent, kepada anak lelakinya yang remaja, Toujou Basara, kalau dirinya akan menikah lagi. Jin menyebutkan calon istrinya yang baru sudah punya dua anak perempuan yang lebih muda dari Basara dari perkawinannya sebelumnya. Lalu Jin berkata bahwa berhubung selama ini Basara ingin punya adik perempuan, maka harusnya dia senang ‘kan? Mengingat selama ini mereka hidup hanya berdua, pengumuman ini lumayan mengejutkan Basara. Meski sedikit kebingungan, ia menghormati keputusan ayahnya.

Sampai tiba hari ketika ia dipertemukan dengan dua calon adik perempuannya yang baru: Naruse Mio yang sebaya Basara, dan Naruse Maria, yang terlihat berusia anak-anak namun bersikap lebih ramah dan terbuka.

Ibu Mio dan Maria dikabarkan sedang dinas di luar negeri, jadi untuk sementara mereka belum bisa bertemu. Tapi untuk sementara, Mio dan Maria akan mulai tinggal serumah dengan Jin dan Basara. Bahkan sampai Jin mengatur agar ia dan Basara pindah ke kota mereka, dan Basara bisa pindah sekolah ke sekolah Mio.

Semua berlangsung lancar-lancar saja. Sampai hari ketika Jin tiba-tiba perlu pergi karena tugas dinas ke tempat jauh.

Pada Basara, Mio dan Maria tiba-tiba mengungkapkan kalau mereka sebenarnya bukan manusia, melainkan mazoku (iblis, kaum sihir). Semua rencana soal pernikahan itu hanya tipuan. Ibu Mio dan Maria sejak awal tak ada. Jin selama ini sebenarnya berada di bawah pengaruh hipnotis. Memperlihatkan kekuatan sihir mereka pada Basara, keduanya lalu mencoba mengusir Basara dan mengambil alih rumahnya.

Tapi… Basara dan ayahnya ternyata juga bukan manusia biasa.

Basara mampu bertahan dari kekuatan sihir mereka. Lalu semula ia marah. Tapi ia berubah pikiran begitu mengetahui situasi yang Mio dan Maria hadapi dari mulut ayahnya sendiri.

Melindungi Apa yang Berharga Bagimu

Singkat cerita, sesudah Mio dan Maria terungkap bukan manusia, Basara dan ayahnya juga terungkap kalau sebenarnya mereka dulu pernah menjadi bagian dari Suku/Klan Pahlawan, suatu kaum manusia yang telah dipercaya langit untuk menjaga kedamaian bumi dari kaum mazoku. Tapi karena suatu alasan, Basara dan Jin sudah tidak menjadi bagian dari klan tersebut lagi.

Mio ternyata keturunan langsung dari Demon Lord/Maou Wilbert yang belum lama itu meninggal dunia. Kenyataan bahwa dirinya putri dan anak satu-satunya dari Wilbert adalah hal yang belum lama itu juga baru Mio ketahui sendiri. Kedua orangtua Mio, yang semula ia kira hanya orang-orang biasa, ternyata bukan orangtuanya yang asli, melainkan dua orang kepercayaan Wilbert yang telah dipercaya untuk membesarkan Mio.

Semasa hidupnya, meski berkekuatan dahsyat, Wilbert ternyata pemimpin kaum mazoku yang toleran. Dirinya turut memprakarsai perdamaian antara kaum manusia langit dan kaum pahlawan. Karena itu, sepeninggal Wilbert, timbul kekosongan kekuatan di dunia iblis/sihir yang dapat mengacaukan perdamaian antara ketiga pihak.

Masalah terbesar: kekuatan sihir mendiang Wilbert telah ditransfer sepeninggalnya ke Mio. Lalu kekuatan dahsyat yang masih belum termanifestasi sepenuhnya tersebut dapat diambil alih, andai Mio sampai tertangkap pihak-pihak yang menginginkan kekuatannya (yang diduga diutus oleh Maou yang menjabat saat ini).

Padahal, Mio tak menginginkan semua warisan ini. Ia tak ingin tahta Wilbert. Apa yang diinginkannya semula hanya hidup damai bersama keluarganya. Namun kedua orangtua angkatnya pun kini telah meninggal, dan satu-satunya orang yang Mio punya hanyalah Maria, utusan pihak Wilbert yang kemudian membeberkan semuanya padanya.

Menyadari maksud Jin yang berpura-pura untuk jatuh ke perangkap Maria dan Mio, Basara akhirnya bersedia mengambil alih peran sebagai pelindung mereka berdua. Terutama, selaku posisinya sebagai kakak baru mereka.

Sementara itu, Jin ternyata melakukan perjalanan untuk membereskan akar konflik ini, seorang diri ke dalam dunia iblis/sihir.

Hingga Suaramu Hilang

Mungkin ini kedengeran aneh, tapi yang pertama kulihat dari suatu seri fanservice bukan ceweknya, melainkan cowoknya. Kalau karakter utama cowoknya bisa kutolerir, itu biasanya pertanda kalau keseluruhan seri tersebut juga akan bisa kutolerir. (Yang kubicarakan di sini seri fanservice untuk cowok ya. Jadi, uh, tolong jangan salah paham dengan mengira kalau aku suka bishonen.)

Intinya, Shinmai Maou no Testament termasuk seri seperti itu. Basara bukan hanya bisa kutolerir. Dari sudut pandang tertentu, dia bahkan terlihat keren. ‘Keren’ dalam artian maskulin. Enggak lembek. Karena merasa ini hal enggak lazim, hal tersebut menjadi daya tarik pertama seri ini buatku.

Ditambah lagi, berhubung aku punya bawaan buat suka tema-tema kepahlawanan ala Dragon Quest, pembeberan konflik yang terjadi juga menjadi kejutan. Terlepas dari fanservice-nya (yang sedemikian segitunya, sampai-sampai ada pengumuman bahwa versi siarannya bukan hanya mendapat sensor, tapi juga dipotong durasinya), konflik cerita dalam Shinmai Maou no Testament memang tergarap relatif serius.

Sedikit bicara soal teknis dulu, untuk season yang pertama maupun kedua, Shinmai Maou no Testament punya kualitas antara menengah dan di atas rata-rata. Visual karakter dan latarnya kadang sederhana, tapi masih termasuk enak dilihat. Ada beberapa bagian di mana kualitasnya terasa menonjol secara mencolok. Lalu ada juga yang terasa menurun. Tapi selebihnya, seri ini cukup enak dilihat. Lebih banyak soal itu kubahas nanti.

Pada season pertama, audionya termasuk solid. Musik latarnya terbilang tak jelek. Seperti di kasus Date A Live, aku terkesan dengan lagu pembuka yang dibawakan grup Sweet Arms. Animasi pembukanya sempat membuatku terpukau lewat caranya memakai tone kelam untuk memberi penekanan kontras pada bentuk, yang dilanjutkan penggambaran elemen aksi. Ini paling terasa pada penggambaran pertarungan sengit Basara melawan Lars, mazoku bertopeng yang menjadi salah satu lawan paling mencolok di seri ini.

Walau kalau dipikir ada sejumlah hal absurd (gimanapun, ini tetap seri fanservice), tetap ada semacam keseriusan yang menggugah gitu dalam nuansa ceritanya. Jadi kayak, mereka sungguh-sungguh dalam membuat ini gitu.

Ditambah lagi, cerita dan konflik pada musim pertama terstruktur lumayan baik. Season 1 memaparkan cerita hingga akhir konflik Basara dan teman-temannya melawan Zolgear (Zolgia?), mazoku kejam yang juga bertanggung jawab langsung atas kematian kedua orangtua (angkat) Mio. Ada sejumlah intrik juga dalam ceritanya. Mulai dari bagaimana Basara, seorang diri tanpa dukungan ayahnya, perlu menjaga kerahasiaan status kekuatan Mio (salah satunya dari pengawasan Nonaka Yuki, teman masa kecil Basara yang ternyata selama ini telah menjadi teman sekelas Mio—tentu saja selama ini Yuki juga memendam perasaan pada Basara). Kemudian dari sisi kaum mazoku, konfliknya terwujud lewat hubungan gampang goyah antara Basara dan Lars, yang berkembang jadi hal yang paling kusukai dari seri ini.

Adegan-adegan aksinya juga ternyata bukan sekedar tentang saling adu kekuatan. Aku sempat membaca terjemahan buku-buku awal dari novelnya, dan aku terkesan karena ada perhatian terhadap aspek-aspek strategis di dalamnya. Maria misalnya, mengandalkan serangan-serangan fisik lewat tenaganya yang besar (yang tak terlihat dari badannya yang kecil). Karena itu, Maria menjadi semacam kartu kuat yang efektif kalau dimainkan di saat yang tepat. Mio hanya memiliki kekuatan serangan sihir, karenanya harus dijaga ketat agar tak sampai masuk dalam jangkauan serangan lawan. Basara yang punya parameter seimbang yang diandalkan untuk melindungi mereka sekaligus, dan ia juga punya jurus dahsyat yang telah lama disegelnya, Banishing Shift, yang disangkanya takkan pernah mampu digunakannya lagi.

Selain itu, para anggota Klan Pahlawan punya senjata-senjata pusaka yang bisa mereka ‘cabut’ dari udara kosong yang seakan hidup dan memiliki sifat masing-masing. Basara dengan pedang suci melengkung Brynhildr (yang ternyata menjadi penyebab tak langsung ia dan ayahnya meninggalkan desa mereka). Lalu Yuki dengan pedang katana Sakuya. (Perbedaan Basara dari kenalan-kenalan lamanya di Klan Pahlawan ada pada bagaimana ia tak menggunakan zirah mereka lagi. Tapi bahkan tanpa itupun, Basara dan ayahnya sudah terbilang benar-benar kuat.)

Semua elemen ini juga memberi dampak pada bagaimana Uesu-sensei tak segan-segan membiarkan terjadinya one-hit kill dalam aksi-aksinya. Jadi aksinya juga tak pernah sampai bertele-tele.

Intinya, ini seri yang kayak, “Wow. Ini lebih rame dari dugaanku.”

Hanya di Malam Purnama

Makanya, kalau bicara soal adegan-adegan fanservice-nya, aku juga merasa agak berat. Bagaimana ya? Aku normalnya bukan penggemar hal-hal begini. Tapi satu hal yang sempat membedakan Shinmai Maou no Testament dari seri-seri fanservice sejenis ada pada bagaimana adegan-adegan tersebut, senggaknya di awal, terasa punya maksud. Jadi bukan sesuatu yang sekedar ‘ada karena harus ada’ gitu.

Adegan-adegan fanservice di Shinmai Maou no Testament sebagian besar bersumber dari kontrak ‘tuan dan bawahan’ yang Basara dan Mio jalin.

Yeah, buat yang mau tahu, adegan-adegannya sangat… serius. Terlalu serius malah. Malah keterlaluan seriusnya. Hanya bisa sampai disiarkan karena tak sampai ‘itu’ dan penyampaiannya dipenuhi sensor.

Balik lagi, kontrak ini terjalin lewat bantuan kekuatan Maria sebagai succubus, dan hanya dapat mereka lakukan di malam bulan purnama. Jadi, karena, sifat alami Maria sebagai succubus, yah, kau tahu, ada nuansa yang sedikit ero di dalamnya.

Gampangnya sih, ini kontrak yang semula dengan enggan Basara dan Mio jalin. (Kontrak ini yang dimaksud dalam judulnya?!) Semula, maksudnya agar keberadaan satu sama lain dengan mudah dapat mereka lacak sekalipun ada bahaya (ini salah satu efek samping dari terjalinnya kontrak ini). Namun, karena suatu hal (Maria), Mio yang semula harusnya jadi ‘tuan’ di kontrak ini malah jadi ‘pelayan,’ dan karenanya, semenjak kontrak terjalin dan sekurangnya sampai malam purnama berikutnya, dirinya harus bersedia tunduk sepenuhnya pada Basara. (Walau dalam perkembangan cerita, ada manfaat-manfaat lain yang kontrak ini berikan.)

Jadi bila sedikit saja Mio merasakan niat untuk membangkang, maka akan ada ‘hukuman’ yang secara seketika akan Mio rasakan. Lalu hukuman ini, lagi, karena sifat succubus Maria…

Yah, begitulah.

Sudahlah. Aku capek mengetik soal ini.

Intinya, ada saat-saat ketika Basara harus ‘menundukkan’ Mio agar efek-efek kutukan yang menimpanya, yang timbul akibat kontrak ini, bisa mereda. Tapi sekali lagi, sumber fanservice-nya bukan sekedar hanya dari adegan-adegan ini.

Fiuh.

Oke. Sebenarnya, yang ingin kukatakan, yang membuatku terkejut sekali lagi adalah bagaimana di season pertama Shinmai Maou no Testament, adegan-adegan fanservice-nya (yang segitunya pun) bahkan terasa memiliki ‘maksud’ dalam cerita. Bukan hanya menampilkan kecanggungan Basara, tapi juga tekad yang kemudian dikumpulkannya, untuk berbuat sesuatu yang kayaknya perlu untuk adiknya. Namun di sisi lain, ini juga kayak…

Argh.

Tadinya aku menulis ini karena merasa telah belajar sesuatu darinya.

Tapi sudahlah. Kita cukupkan dulu pembahasannya sampai sini. Nanti kulanjutkan di postingan berikut.

Sampai lain waktu.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

29/06/2014

Date A Live II

Date A Live II belum lama ini berakhir dengan jumlah episode sebanyak 10.

…Yea, aku juga dengar ada lumayan banyak penggemar yang mengeluh soal kenapa jumlah episodenya cuma segini. Kurasa ini keluhan pertama yang bakalan muncul. Tapi apa boleh buat.

Pertama ditayangkan pada musim semi tahun 2014, dan kali ini diproduksi oleh studio Production IMS , seri ini menjadi musim tayang kedua dari adaptasi anime seri light novel komedi romantis karya Tachibana Koushi dengan ilustrasi orisinil buatan Tsunako. Seri ini kudengar lumayan sukses semenjak musim tayang pertamanya keluar pada tahun sebelumnya, jadi memang sudah jadi hal yang diharapkan kalau season keduanya bakalan muncul. Penyutradaraannya masih dilakukan oleh Motonaga Keitarou, dengan alur yang cukup setia pada seri novelnya, ceritanya berlangsung segera sesudah musim tayang pertamanya berakhir.

Mungkin patut kucatat kalau season kali ini makin banyak unsur aksinya juga…

Sore wa, sore wa, hatenai tabi…

Season kedua anime ini mengadaptasi cerita dari buku lima sampai tujuh dari seri novelnya, dengan karakter-karakter Seirei (Spirit) yang kali ini diketengahkan adalah Yamai Bersaudara, Kaguya dan Yuzuru (benama kode: Berserk), yang sebelumnya merupakan satu kesatuan; serta sang bintang idola yang bagi Shido dkk tak disangka identitasnya, Izayoi Miku (bernama kode: Diva).

Aku enggak merasa terlalu perlu masuk ke detil. Sebab, walau masih dibuka dengan misi-misi kencan yang sang tokoh utama, Itsuka Shido, harus jalani untuk menyegel kekuatan mereka, cerita pada season ini berkembang menjadi sesuatu yang jauh melebihi itu.

Seperti yang aku bilang, adegan-adegan aksinya bertambah banyak. Lalu itu terutama karena sebagian besar konflik berawal dari keterlibatan dua karakter baru: Isaac Rey Pelham Westcott dan Ellen Mira Mathers. Keduanya merupakan eksekutif dari DEM Industries, perusahaan penyedia peralatan tempur anti-Seirei Realizer kepada pasukan AST yang di dalamnya, teman sekelas Shido, Tobiichi Origami tergabung.

Keduanya memiliki minat dan kepentingan terhadap kemampuan penyegelan yang Shido miliki, yang berawal pada keingintahuan akan identitas sesungguhnya Yatogami Tohka; Seirei pertama yang Shido segel, yang mereka sadari tiba-tiba saja muncul dalam kehidupan Shido pada suatu titik.

Isaac, atau Ike, digambarkan sebagai direktur misterius yang nampaknya mengetahui kebenaran sesungguhnya tentang kaum Seirei; makhluk-makhluk dari dimensi lain yang kerap membawa bencana berskala besar bersama kemunculan mereka. Sedangkan Ellen adalah asisten Ike yang teramat setia padanya. Seperti Origami, Ellen juga merupakan seorang Wizard yang menggunakan Realizer, namun kekuatannya jauh, jauh, jauh lebih kuat. Mungkin setara dengan para Seirei sendiri? Karenanya, membawa pertanyaan tersendiri tentang siapa identitas mereka sesungguhnya…

DEM menjadi entitas terpisah dari organisasi rahasia Ratatoskr yang memayungi upaya-upaya Shido, namun memiliki sumber daya dan kemampuan yang lebih dari setara dengan mereka. Dan ceritanya memuncak saat Shido akhirnya terpojok, harus menyelamatkan Tohka seorang diri, bahkan tanpa dukungan Ratatoskr maupun para Seirei lain, menyusul kegagalan terakhirnya dalam menyegel kekuatan Miku.

Ganbaru tte nandarou?

Untuk sebuah seri yang premis awalnya sejak enggak terlalu serius, aku seriusan terkesan dengan perkembangan seri ini. Selain karena ada plot menarik di dalamnya, walau masih ada sejumlah kelemahan pada plot dan sejumlah pertanyaan enggak terjelaskan, untuk sebuah seri dengan protagonis datar dan semula lebih menonjolkan fanservice, Date A Live II itu kayak punya banyak perkembangan enggak disangka yang terjadi.

Adegan-adegan aksinya kali ini lebih banyak. Kita akhirnya diperlihatkan kenapa orang enggak jelas seperti Kannazuki Kyouhei dipercaya menjadi orang kedua sesudah Itsuka Kotori di kapal induk Fraxinus. Ada lebih banyak konflik yang terjadi. Tim pendukung di kapal induk yang selama ini membantu Shido dari balik layar kali ini lebih berperan. Ada adegan pemandian air panas! Ada adegan konser!

Dan apa aku udah ngomong kalau adegan-adegan aksinya lebih banyak?

Man, biasanya aku enggak suka anime-anime fanservice tapi Date A Live benar-benar jadi satu pengecualian. Mungkin karena mereka enggak mengabaikan aspek-aspek lainnya juga?

Dari suatu acara wisata sekolah yang berujung pada suatu pertaruhan nyawa di tengah badai, sampai ke acara festival multisekolah yang berujung pada kerusuhan massal dan pertempuran di atas langit kota yang secara ajaib tak menelan korban jiwa, aku bisa sedikit menerima jumlah episode Date A Live II yang sedikit karena ceritanya memang lebih seru dibandingkan yang pertama.

…Tapi tetap seru dalam arti relatif ya.

Ini tetap bukan anime yang bakal diminati semua orang. Apalagi bahkan buat ukuran seri sejenisnya, budgetnya kelihatan enggak gede-gede amat. Tapi kalau kau termasuk salah satu yang bisa menyukai season pertamanya, kau bisa terkesan pada seri ini.

Intinya, berhubung konsepnya dari awal emang enggak nyasar tinggi-tinggi amat, kau enggak perlu terlalu mengeluhkan soal kelemahan-kelemahan yang seri ini punya.

Shido memperoleh sejumlah perkembangan berarti di seri ini. Demikian juga Tohka, yang sebelumnya hanya terkesan sedikit airhead dan mudah salah paham. Origami, bagi beberapa orang, mungkin disepakati (secara kurang adil?) tak memperoleh cukup banyak screen time. Kisah yang menjadi latar belakang Izayoi Miku mungkin tak mengesankan, tapi aku suka bagaimana kehadirannya dibawa masuk ke dalam cerita. Lalu lebih lanjut tentang hubungan masa lalu antara Shido dan Takamiya Mana masih belum juga terungkap. Yamai bersaudara semula kukira hanya bakal menjadi karakter pelengkap, tapi keduanya, dengan kekuatan angin mereka, ternyata menjadi karakter menarik juga dengan sifat mereka yang berlainan (Yuzuru adalah yang lebih datar di antara keduanya, bisa dilihat dari bentuk mata mereka, dengan Astral Dress Yuzuru memiliki jubahnya di ‘atas’ sementara yang Kaguya di ‘bawah’).

Hal lain yang paling aku suka dari seri ini adalah bagaimana hal-hal seperti janji, bahkan yang terkesan sepele juga, diingatkan (dengan agak didramatisir?) agar tak dipandang remeh. Sekalipun yang kau ucapkan gegabah, saat kau sudah segitu berusaha untuk memenuhinya…

KAU MEMANG SUDAH SEHARUSNYA SETENGAH MATI BERUSAHA MEMENUHI SETIAP JANJI YANG KAU BUAT!

Cih, menyamai protagonis anime harem aja kebanyakan orang masih enggak becus.

Eniwei, aku benar-benar tak menyangka bakal menemukan adegan ala Macross beserta Itano Circus-nya di seri ini.

Kelihatannya ceritanya mentok sampai ke titik ini karena sudah lumayan menyusul seri-seri novelnya.

Pada saat ini kutulis, buku terbaru adalah buku kesepuluh, Sedangkan buku delapan dan sembilan yang mendahuluinya nyambung ceritanya dalam satu arc. Buku sepuluh ini juga akan mengetengahkan Origami sebagai heroine utama, dan karenanya aku menduga bakal ada perkembangan cerita penting di sini.

Melihat perkembangan seri anime ini, aku tak terkejut dengan bagaimana film layar lebar menjadi langkah berikutnya yang para produsennya ambil.

Hmm. Aku penasaran dengan siapa Seirei tertawan yang dicari Tokisaki Kurumi.

Kelihatannya ini waktunya aku balik ke Baka Tsuki.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: C+; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

30/03/2014

Inari, Konkon, Koi Iroha

Tentang anime-anime di musim dingin 2013-2014, aku terus terang enggak bisa cerita banyak. Seperti yang mungkin sebagian udah tahu, musim tayang itu di awal-awal terkesan lesu. Ada sejumlah judul menonjol (seperti Houzuki no Reitetsu dan Nisekoi), tapi enggak ada ‘bom’ yang bisa kena ke semua orang gitu (Sword Art Online sejauh ini mungkin adalah ‘bom’ dengan luas cakupan paling gede, tapi yang berkekuatan terbesar kelihatannya adalah Attack on Titan).

Singkat kata, ini salah satu musim langka ketika aku dan hampir semua temanku memperhatikan judul yang beda-beda.

Lalu untuk kasusku, secara beneran enggak keduga, yang dengan rajin kuperhatikan adalah Inari, Konkon, Koi Iroha.

Kami-sama ni Sasayaite…

Inari, Konkon, Koi Iroha (‘Inari, Konkon, dan Dasar-dasar Cinta’) atau InaKon dibuat berdasarkan manga karya Yoshide Morohe yang diserialisasikan di majalah Young Ace terbitan Kadokawa Shoten.

Mungkin di antara kalian ada yang nyadar kalo ya, Young Ace adalah majalah seinen. Jadi kenyataan kalau aku menyukai cerita tentang percintaan remaja SMP yang diserialisasikan di sebuah majalah seinen sedikit banyak telah menegaskan aku telah menjadi orang seperti apa.

Oke, sebenarnya… yang bikin kenyataan ini lebih menyakitkan lagi adalah karena belum lama ini aku dapat pemikiran kalau pembagian genre ini ada supaya orang-orang dapat berpikir sesuai strata lingkungannya. Anak-anak lelaki cowok mesti bersikap selayaknya anak-anak lelaki cowok dan karenanya yang mereka baca adalah manga shonen! Kalau seorang lelaki dewasa kebanyakan baca komik-komik shonen, maka dia bakal dapat kecendrungan buat jadi terlalu berdarah panas atau bahkan kurang ajar pada saat semestinya dia hormat ke bos atau dosen walinya! Tapi kenyataannya, memang aku telah lupa kalau ada manga-manga seinen yang di dalamnya enggak ada karakter utama pria dewasa-nya sama sekali. Kayak, seri ini misalnya.

Heck, aku bahkan lupa. Seri-seri karya Kitoh Mohiro juga banyak yang nampilin karakter-karakter anak-anak yang bahkan belum sepenuhnya remaja. Tapi materi ceritanya enggak ada cocoknya sama sekali buat anak-anak.

Tapi, kembali ke apa yang sudah kusinggung di atas, InaKon mengangkat tema perasaan suka yang tumbuh di antara anak-anak usia SMP. Memang bukan tema satu-satunya sih. Tapi ceritanya lumayan beranjak dari sana.

Tokoh utama seri ini adalah Fushimi Inari, seorang gadis baik hati namun agak ceroboh dan enggak sepenuhnya bisa dibilang cantik. Inari diam-diam memendam rasa suka terhadap teman sekelasnya, Tanbabashi Kouji, seorang anak lelaki ramah yang pandai bermain basket dan diam-diam pekerja keras. Tapi Inari tak memiliki keberanian untuk mendekatinya. Di samping itu, kecerobohannya, sebagaimana kemudian terbukti, kerap kali membuahkan hasil-hasil ‘tak terduga’…

Sampai Inari suatu ketika bertemu secara langsung dengan Uka-no-Mitama-no-Kami, tokoh utama seri ini yang satu lagi. Uka-sama adalah dewi berwujud perempuan muda berusia dua puluh tahunan yang cantik, yang bersemayam di Kuil Inari di dekat rumahnya, yang ingin membalas budi atas pertolongan yang Inari berikan terhadap seekor anak rubah yang hampir tenggelam pada saat Inari terlambat ke sekolah. Anak rubah tersebut ternyata salah satu di antara sejumlah pelayan Uka-sama yang juga berwujud rubah (kitsune). Lalu Uka-sama selama ini memang telah lama mengawasi Inari semenjak dirinya kecil, sesuatu yang kelihatannya memang telah menjadi bagian dari takdir Inari. Lalu ia ingin bisa membantu Inari yang saat itu tengah tertekan sesudah melihat kedekatan yang kelihatannya tumbuh antara Tanbabashi dengan seorang teman sekolahnya yang lain, Sumizome Akemi, yang populer dan teramat cantik.

Singkat cerita, karena suatu komplikasi keadaan, Uka-sama kemudian menganugrahi Inari sebagian kekuatan dewinya, yang kemudian memungkinkan Inari untuk berubah wujud menjadi siapapun yang ia mau (melalui kata-kata ajaib ‘Inari, Konkon…! ‘ yang Uka-sama dan Inari sepakati bersama).

Pendeknya, Inakon kemudian berkisah tentang keseharian Inari sesudah ia dianugrahi kekuatan berubah wujud tersebut. Kon, anak rubah gaib yang ditolongnya, kemudian ditugaskan oleh Uka-sama untuk menemani dan mengawasi Inari. Lalu kehidupan Inari yang kini diwarnai urusan para dewata dan kemampuannya berubah wujud kemudian bermula.

Meski kekuatan dewata tersebut pertama diberikan Uka-sama karena situasi yang memaksa, lambat laun Uka-sama pun menikmati persahabatan yang tumbuh antara dirinya dan Inari, sebab berkat kekuatan tersebutlah Inari kini bisa melihat dan berbicara dengan Uka-sama secara ‘normal.’ Inari yang ceria dan selalu berniat baik sedikit banyak menjadi teman mengobrol yang mengisi hari-hari Uka-sama, yang sebenarnya agak kesepian karena komplikasi situasinya sendiri (sesudah sempat terpikat dengan dunia manusia, Uka-sama kini telah kecanduan bermain otome game) dan pada saat cerita ini terjadi, sedang menolak untuk pulang ke alam para dewata di Takamagahara.

Namun dalam upaya-upayanya untuk menolong dirinya sendiri sekaligus orang-orang di sekitarnya, Inari kerap menggunakan kekuatan perubahan wujud tersebut lebih sering dari yang Uka-sama duga, tanpa mengetahui bahwa perbuatan tersebut mengandung konsekuensi semakin pudarnya eksistensi Uka-sama…

Alasan Aku Berada di Sini

Normalnya, aku kurang begitu bisa menikmati cerita-cerita yang mengangkat tema soal kedewataan (habis, semuanya punya kecendrungan untuk menuntaskan masalahnya lewat deus ex machina sih). Tapi InaKon membuatku bisa terpikat karena banyak alasan lain.

Pertama, kualitas teknis seri ini luar biasa bagus. Production value-nya jelas-jelas terlihat tinggi. Gambar-gambar latarnya memiliki detil yang segitu terincinya sampai-sampai mengingatkanmu pada foto. Memang tak disebutkan secara eksplisit, tapi InaKon kelihatannya berlatar di Kyoto, di mana Kuil Inari pusat, Fushimi Inari-taisha, berada (ya, nama kuilnya sama dengan nama karakter utama seri ini, dan dikisahkan itu kenapa ia sering diejek tentangnya waktu masih anak-anak; dan ya, lagi, Kuil Inari yang ditandai oleh patung-patung rubah di dalamnya memang ada beberapa macam dan tersebar di seluruh Jepang). Karenanya, pemandangan-pemandangan yang dihadirkan lewat seri ini benar-benar berkesan eksotis.

Audionya beneran keren. Hampir semua karakternya berbicara dengan logat Kansai, dan aku belum pernah nemu anime lain yang begitu kental logat Kansai-nya sebelum anime ini. Aku agak malu ngakuin ini, tapi aku juga cukup jatuh cinta pada musiknya. Di samping BGM-nya, lagu pembukanya dibawakan oleh penyanyi pop May’n dan berjudul ‘Kyou ni Koiiro.’ Aku biasanya bukan penggemar May’n, tapi itu satu lagu yang waktu pertama kudengar langsung membuatku membuka mata karena aransemennya begitu pas dengan frame-frame yang ditampilkan di animasi pembukanya. Sedangkan lagu penutupnya yang dibawakan Sakamoto Maaya berjudul ‘Saved’ juga dengan bagus menggambarkan kesenduan yang Uka-sama rasakan.

Alasan berikutnya InaKon memikat adalah karena, yah, ini… termasuk seri yang beneran kerasa positif. Apa ya? Penuh warna? Penuh perasaan? Sederhana sekaligus gampang dicerna? Kira-kira gitu.

Bahasan utamanya yang tentang relationship mungkin enggak akan cocok buat buat sebagian orang. Demikian pula dengan pola gimana Inari kerap tak langsung menyadari akibat dari setiap tindakan yang diperbuatnya. Tapi hal-hal tersebut termasuk alasan yang membuat kita bisa menyukai seri ini.

Intinya kayak tentang berbuat salah dan mau meminta maaf sesudahnya.

Akui aja, aku tahu ada sebagian di antara kalian yang begitu kesusahan buat menyesal dan minta maaf.

Intinya lagi, ini seri yang benaran manis.

Dari animasi pembukanya sendiri kalian bisa menilai, Inari dan dua kawan dekatnya, Sanjou Keiko yang tomboi dan perkasa serta Marutamachi Chika yang gemuk dan agak otaku, kelak akan bisa bersahabat dekat dengan Sumizome. Kakak lelaki Inari yang SMA, Fushimi Touka, yang sedikit chuunibyou, sinis, tapi menjadi satu-satunya yang tahu tentang segala urusan kedewataan adiknya, perlahan akan dekat dengan Uka-sama (adegan saat ia berusaha mengungkapkan hal ini ke kedua orangtua mereka membuatku ngakak). Kakak lelaki Uka-sama, Outoshi-no-Kami, yang bishounen tapi terobsesi dengan adiknya, akan diikat Uka-sama pada malam festival di sudut kuil. Lalu tentu saja, Inari akhirnya akan bisa makin dekat dengan Tanbabashi…

Berjumlah total 10 episode, studio Production IMS kerasa banget telah berjuang dalam membuat seri ini. Sutradaranya, Takahashi Toru, termasuk salah satu nama baru yang mesti kuingat mulai sekarang. Demikian pula Oozura Naomi, seiyuu (yang kelihatannya) pendatang baru yang mengisi suara Inari.

Negai goto

InaKon bisa dibilang merupakan semacam throwback terhadap seri-seri mahou shoujo zaman dulu, dekade 80-90an, tentang anak-anak gadis yang membantu orang-orang di sekeliling mereka dengan kemampuan mereka berubah wujud (kayak Minky Momo atau Himitsu no Aka-chan?). InaKon memang seperti itu sih. Hanya saja, seperti yang kubilang, bukan cuma itu tema yang diangkat.

Seperti biasa, untuk seri-seri yang kusukai, aku memeriksa materi asalnya, yakni manganya. Lalu aku lumayan terkejut melihat perbedaannya. Cerita garis besarnya memang masih sama sih, walau ada banyak subplotnya yang disesuaikan. Tapi nuansanya itu… beneran berbeda.

Manganya, singkat kata, adalah manga seinen. (Bentar, apa kalian bisa ngerti kalo aku cuma pake ungkapan ini?) Sedangkan adaptasi animasinya dibuat dengan nuansa lebih lembut, terutama dengan ditandai gambar-gambar bunga yang menghiasi gambar potret Inari dan Uka-sama, membuatnya agak berkesan lebih shoujo. Hasilnya, dalam suatu polling yang dilakukan berdasarkan gender pada musim lalu, InaKon sama-sama menempati posisi sebagai salah satu anime yang cukup banyak ditonton baik dalam daftar penonton cowok maupun penonton cewek.

Manganya sendiri belum terlalu panjang, baru ada sekitar 6 atau 7 volume, dan sampai sekarang masih berlanjut. Cerita di animenya memang tamat. Tapi kalian yang jeli pasti juga menyadari kalau Kon masih belum menampakkan wujud manusianya seperti yang ditampilkan di pembukanya.

Karakter-karakter lain meliputi sang dewi kepala (tentu saja), Amaterasu Oumikami; sahabat dekat Uka-sama yang lebih muda, salah satu dewi pilar, Omiya-no-Me-no-Kami alias Miya-chan; ibu Uka-sama, Kamu-Ouichi-Hime yang bermasalah dengan kelakuannya yang tak mau pulang; serta ayahnya, Susanoo-no-Mikoto yang, hmm, karismatik.

Sekali lagi, eksekusi anime ini terbilang sangat baik. Ada perhatian luar biasa yang diberikan terhadap detil, lalu di samping adegan yang berlangsung, ditampilkan pula hal-hal lain berlangsung di latar belakang.

Kalaupun berakhir di sini, aku tak bermasalah sih. Tapi aku enggak bisa engga sedikit berharap adaptasi anime ini kelak akan ada kelanjutannya.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-