Posts tagged ‘Production I.G.’

28/12/2015

Junketsu no Maria

Ada beberapa judul yang ingin kubahas sebelum 2015 berakhir.

Salah satunya adalah Junketsu no Maria (‘Maria, sang perawan’). Seri ini juga dikenal dengan judul Maria the Virgin Witch (‘Maria, sang penyihir perawan’). (Subjudulnya, Sorcière de gré, pucelle de force, kira-kira berarti ‘penyihir karena pilihan, gadis karena kuasa’.) Ini seri historical berbau fantasi yang diproduksi studio Production I.G. yang keluar pada musim semi tahun ini.

Anime ini termasuk yang kuperhatikan karena disutradarai oleh Taniguchi Goro. Beliau sebelumnya sangat dikenal karena arahan beliau di anime Planetes dan Code Geass: Lelouch of the Rebellion. Penonton awam mungkin takkan langsung menyadarinya, tapi selalu ada sesuatu yang benar-benar apik pada pengarahannya (walau hal ini juga baru aku sadari sesudah menonton Bamboo Blade sih).

Terlepas dari itu, anime ini diangkat dari seri manga seinen berjudul sama karangan Ishikawa Masayuki, pengarang manga tentang mikroba Moyashimon. Seri manganya sebelumnya diterbitkan oleh Kodansha, dan aslinya diserialisasikan dari tahun 2008-2013. Lalu mengiringi pembuatan animenya, seri ini dilanjutkan dengan semacam pelengkapnya, Junketsu no Maria Exhibition, yang diserialisasikan dari pertengahan 2014 sampai awal 2015. Jadi bisa dibilang adaptasi anime ini seperti ‘merayakan’ berakhirnya manganya.

Naskahnya sendiri diadaptasi untuk versi anime oleh Kurata Hideyuki (mungkin ada yang ingat manga TRAIN+TRAIN yang naskahnya beliau buat), dengan jumlah episode sebanyak 12.

Karena Aku Telah Mengetahui Arti Cinta

Junketsu no Maria berlatar di suatu wilayah di Perancis, pada masa Perang Seratus Tahun yang berlangsung antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan Perancis dari tahun 1337 sampai 1453.

Perang Seratus Tahun merupakan rangkaian perang berdurasi panjang yang berlangsung di wilayah pesisir barat Eropa dengan ‘jeda-jeda damai’ di antaranya (mungkin agak mirip konflik antara Zeon dan Federasi Bumi di waralaba Gundam). Gampangnya, ada dua pihak di masing-masing negara yang awalnya saling berseteru. Lalu seiring dengan waktu, kedua pihak tersebut lalu membawa-bawa pihak-pihak lain untuk masuk, hingga akhirnya jadi perang yang terus berkepanjangan.

Maria ceritanya adalah penyihir muda namun sangat kuat (dengan asal usul misterius yang tak benar-benar diketahuinya sendiri) yang tinggal di hutan dekat sebuah desa, yang lambat laun ikut terseret dalam perang.

Singkat cerita, Maria tidak suka pertumpahan darah. Sehingga setiap kali pertempuran pecah di sekitar wilayahnya, Maria akan menggunakan kekuatan sihirnya yang dahsyat untuk ‘mendamaikan’ kedua belah pihak, dengan memanggil makhluk-makhluk mistis berukuran besar atau menimbulkan fenomena-fenomena alam yang dahsyat.

Tindakan Maria tersebut kerap berbuntut pada kekacauan. Pertempuran memang terhenti untuk sementara, dan ada penduduk yang bersyukur karena kerabat mereka yang diperintahkan pergi perang bisa kembali dengan selamat. Namun ada dampak-dampak tak terduga dari tindakan-tindakannya.

Akhirnya, itu semua memuncak dengan bagaimana Michael, salah satu archangel di langit, tiba-tiba muncul di muka bumi dan memberi Maria larangan untuk menggunakan kekuatan sihirnya di depan publik. Akibat perbuatannya mengintervensi ‘urusan manusia’ itu, Maria juga diultimatum bahwa hari ia kehilangan keperawanannya juga akan menjadi hari ia kehilangan kekuatan sihirnya.

Kini diawasi pengawas Michael, seorang gadis muda jelmaan merpati bernama Ezekiel, yang terus memperingatkan Maria untuk tak menggunakan sihirnya secara seenaknya, Maria jadi kesal sendiri karena tak habis pikir bagaimana bisa orang-orang terus mengeluh tentang perang tapi tak mau mengambil tindakan nyata untuk menghentikan pertumpahan darah.

Walau demikian, itu tak berarti Maria mau menghentikan usahanya.

Memento Mori

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu kusinggung bahwa cerita anime ini termasuk ‘aneh.’ Dalam artian, apa yang disampaikan di dalamnya benar-benar enggak biasa gitu. Terlepas dari premisnya yang bisa ‘membuat enggak nyaman’ teman-teman kita yang lebih religius, cerita Junketsu no Maria sebenarnya termasuk ‘dalam’ karena berusaha menggambarkan sejumlah isu sosial dan politik yang enggak langsung kelihatan, namun masih relevan dengan kondisi di masa sekarang.

Aku juga kurang nyaman dengan banyak hal di dalamnya. Tapi daripada mempermasalahkannya, aku malah lebih penasaran dengan apa-apa saja yang sebenarnya mau pembuatnya sampaikan.

Episode-episode awal Junketsu no Maria memperkenalkan kita pada Maria dan orang-orang di sekelilingnya.

Selain Maria, di rumahnya di hutan juga ada dua familiar ciptaannya yang senantiasa menemaninya (sama-sama jelmaan burung hantu), yaitu Artemis (perempuan) dan Priapos (laki-laki, meski… berhubung dia dibuat belakangan, dan Maria belum berpengalaman, makanya dia, uh…). Lalu ada pemuda bertutur kata sopan bernama Joseph yang kerap mengunjunginya, sebagai utusan dari Guilaume, bangsawan setempat pemilik tanah di sana.

Selain mereka ada Anne, anak perempuan ceria yang kerap datang untuk mengambil obat untuk neneknya, Martha, yang merupakan seorang kawan lama Maria (mungkin sempat menjadi teman satu-satunya; Martha juga yang menjadi narator seri ini).

Lalu ada orang-orang yang baru mengenal Maria karena tindak-tanduknya dalam menghentikan perang.

Mulai dari para anggota tentara bayaran pimpinan Yvain sewaan Guilaume, yang jadi terancam mata pencahariannya gara-gara Maria. Ini mencakup Lolotte, satu-satunya perempuan di kelompok mereka. Namun khususnya berdampak pada Garfa, prajurit bayaran handal yang menjadi tahu tentang Maria karena sering berbicara dengan Joseph.

Lalu para rohaniawan di gereja setempat, yang gusar dengan bagaimana ada orang-orang yang jadi memandang Maria sebagai sumber keselamatan mereka. Mereka mencakup Bernard yang senantiasa berusaha mendalami hakikat keimanannya, serta muridnya yang bernama Gilbert.

Tak melibatkan diri langsung dalam urusan perang, tapi sampai datang menyeberangi lautan karenanya, ada sekelompok penyihir dari Inggris pimpinan Viv, yang mulai tertarik pada Maria setelah tahu alasan yang melandasi tindakan-tindakannya (serta mengetahui bagaimana dirinya masih perawan). Di antara mereka juga ada Edwina, seorang penyihir yang mengasingkan diri dengan keahliannya di bidang pengobatan.

Kemudian bersemayam di hutan tempat tinggal Maria, hadir suatu roh kuno bernama Cernunnos yang senantiasa memperingatkan Maria tentang nasib akhir yang pasti dihadapinya sebagai penyihir.

Nama yang Sama

Seperti yang judulnya indikasikan, status keperawanan Maria memang berperan penting dalam cerita. Lalu terlepas dari lelucon-lelucon seks yang banyak ditampilkan di awal, serta bahasan soal intrik politik dan keagamaan, ada aspek-aspek sensitif lainnya yang mencakup rincian soal ‘mata pencaharian’ para penyihir, desain pakaian mereka, serta berbagai isu-isu abad pertengahan. Makanya, Junketsu no Maria benar-benar lebih cocok untuk pemirsa dewasa.

Awal ceritanya bernuansa ringan. Namun seperti beberapa seri arahan Taniguchi-san lain, kerap ada sejumlah adegan yang kita enggak benar-benar ngerti maksud dibuatnya demikian itu karena apa. Baru pas menjelang pertengahan, ceritanya menjadi makin genting dan berat. Lalu satu hal yang akhirnya benar-benar bikin aku salut adalah penggambaran bagaimana orang bisa sejahat apa kalau sudah saking ignorant-nya mereka.

(Sejujurnya, seri ini memperkuat pendapat pribadiku sendiri soal bagaimana kebodohan bisa jadi adalah sebuah dosa.)

Membahas soal teknisnya, Production I.G. menampilkan kualitas presentasi yang terbilang memukau di anime ini. Terlepas dari beberapa motif visualnya yang sedikit bikin mengernyit (perhatikan panji-panji tiap pasukan saat mereka berhadapan), kualitasnya benar-benar memuaskan. Didukung cerita yang matang dan arahan yang enggak tertebak, Junketsu no Maria menurutku termasuk berhasil menyampaikan pesan yang kuat.

Lagu pembuka yang dibawakan ZAQ sebenarnya terasa biasa bagiku. Tapi itu pembuka yang pas untuk sisanya benar-benar melarutkan. Lagu penutupnya yang dibawakan TRUE kurasa benar-benar pas dengan temanya.

Penggambaran peperangan dan kondisi sosial di abad pertengahannya benar-benar menarik. Penggambaran sihirnya ‘ramai’ terutama dengan dampaknya terhadap sekelilingnya, terutama menonjol adalah motif cahaya bagai kaca yang para penyihir lepaskan saat terbang.

Ada banyak bagian ketika aku mikir apakah para pembuatnya benar-benar serius atau enggak. Tapi sekali lagi, pesan yang seri ini sampaikan terasa beneran berarti. Semua karakternya benar-benar berkembang, terutama di soal hubungan antar karakter seperti antara Maria dan Ezekiel. Lalu apa-apa yang mungkin hendak disampaikan dalam ceritanya juga membuat mikir dengan cara penyampaiannya yang benar-benar tersirat.

…Aku pengen menyinggung lebih banyak. Hanya saja, lebih dari ini bisa agak spoiler.

Tapi satu hal yang benar-benar ingin kusebut itu soal sebahagia apa Maria saat Joseph, yang memang telah lama memendam perasaan terhadapnya, dengan segenap tekad akhirnya melamarnya. Reaksi Maria serta merta langsung berterima kasih pada semuanya.

Dirinya bersyukur.

Aku jadi berpikir, sesudah semuanya, mungkin rasa syukur yang selama ini sebenarnya menjaga kemanusiaan kita. Tapi itu pembahasan soal sesuatu yang juga enggak benar-benar bisa kujabarkan.

Akhir kata, ini satu lagi anime bagus dari jenis yang enggak mainstream. Kurasa cocok buat mereka-mereka yang suka drama, asal tak terlalu mempersoalkan isu-isu terkait cara penggambaran agama.

Ah, soal manganya. Seperti kasus anime Planetes, cerita animenya lumayan berbeda dari manganya. Jadi jangan terlalu dipermasalahkan pembandingannya.

Penilaian

Konsep: X (kalau bukan A-); Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A+; Eksekusi: A(?); Kepuasan Akhir: A

 

 

Iklan
19/01/2015

Rinne no Lagrange Season 2

Perlu waktu lumayan lama. Tapi aku ingin menyempatkan membahas soal Rinne no Lagrange Season 2.

Ini musim kedua dari seri yang juga dikenal dengan judul Lagrange: The Flower of Rin-ne ini. Masih diproduksi lewat kerjasama antara Xebec dan Production I.G., seri ini kembali disutradarai oleh Sato Tatsuo dan Suzuki Toshimasa, dengan naskah yang ditangani oleh Suga Shotaro. Buat yang belum tahu, seri ini aslinya mengudara dalam dua musim pada tahun 2012.

Jadi, yeah, aku sudah agak lama menunda-nunda untuk menuntaskan pembahasannya.

Alasannya bukan karena ini jenis anime mecha yang karakter utamanya cewek semua. Salah satu alasan aku semula tertarik memang itu sih. Tapi bukan dalam arti yang mungkin kalian kira. Khusus untuk anime-anime mecha, aku malah agak lebih anti pada fanservice daripada biasa.

Alasannya sebenarnya karena Gunbuster.

Gunbuster adalah… anime super robot jadul yang tokoh utamanya cewek, yang sama-sama mengemudikan sebuah robot raksasa untuk menyelamatkan Bumi. Terlepas dari kenyataan bahwa para tokoh utamanya cewek (dan ada fanservice-nya buat cowok), tetap ada sesuatu yang lumayan ‘gahar’ dan heroik pada Gunbuster.

Itu juga yang kukira mungkin ada di LagRin saat aku pertama kali tahu tentangnya. Aku agak lupa. Mungkin aku berpikir demikian karena desain mechanya. Mungkin juga aku berpikir begitu karena desain karakternya.

Intinya, buat mereka yang sudah tahu tentang seri ini, atau seenggaknya pernah membaca ulasan tentangnya, kenyataannya adalah sudah jelas bahwa LagRin bukanlah jenis anime yang seperti demikian.

Aku… enggak benar-benar bisa dibilang kecewa sih. Sejak awal aku memang enggak berharap banyak. Ujung-ujungnya aku cuma sadar kalau aku bukan jenis orang yang bisa menggemari LagRin. Aku enggak akan sampai mengatakan kalau ini seri yang jelek sih. Meski aku juga enggak bisa sepenuhnya menikmatinya… aku  enggak akan menyangkal kalau ini termasuk seri mecha yang beneran aneh dan enggak biasa.

Kembali ke Kamogawa

Sedikit rekap, LagRin berlatar di suatu kota tepi laut bernama Kamogawa. Di sana, hidup seorang gadis remaja bernama Kyono Madoka yang kesehariannya ia isi dengan membantu-bantu orang lewat kegiatan klub(?) sekolahnya, Klub Jersey.

Alasan klub(?) tersebut dinamai demikian adalah karena baju olahraga jersey itulah yang sehari-hari dipakai saat para anggotanya melakukan beragam pekerjaan menolong orang. Mulai dari sesama teman sekolah di SMA Putri Kamogawa sampai para bapak-bapak dan ibu-ibu di distrik pasar.

Lalu suatu hari, seorang gadis bernama Lan kemudian hadir dan meminta tolong Madoka untuk memiloti sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi.

Yeah.

Singkat cerita, Madoka, Lan, dan seorang gadis lain bernama Muginami, mengemudikan tiga robot pusaka yang disebut Vox yang berasal dari suatu peradaban kuno. Bumi ternyata merupakan tempat asal dari peradaban luar angkasa di galaksi Polyhedron, yang ditinggalkan oleh para nenek moyang saat suatu bencana global melingkupi Bumi yang kemungkinan timbul oleh ketiga Vox tersebut. Tapi kini, dua negara di Polyhedron, yakni Le Garite dan De Metrio, berada di ambang peperangan, karena fenomena yang dapat menyebabkan kedua planet bertabrakan, dan Bumi jadi terseret-seret ke dalam peperangan tersebut karena di sanalah ketiga Vox terpendam.

Madoka, bersama Lan yang merupakan perwakilan dari Le Garite, serta Muginami yang merupakan perwakilan dari De Metrio, kemudian berupaya menemukan solusi damai untuk menuntaskan konflik ini. Apalagi mengingat pemimpin kedua belah negara, yaitu kakak lelaki Lan dan kakak lelaki angkat Muginami, Dizelmine dan Villagullio, dahulunya bersahabat.

Season kedua LagRin, ringkasnya, memaparkan pertemuan kembali ketiga sahabat di atas sesudah perpisahan yang mengakhiri season pertamanya. Madoka bersikeras menemukan solusi damai, dan akan memulainya dengan mencari tahu kesalahpahaman apa yang dulu menyebabkan dua sahabat lama di atas saling berperang.

Ada lebih banyak aksi luar angkasa terjadi, serta sedikit aksi di planet asal masing-masing. Lebih banyak tentang masa lalu ketiga Vox dan apa yang dulu terjadi pada adik kandung Villagulio, Yurikano, juga diungkap. Dan semua berujung pada pengulangan dari bencana yang pernah menimpa Bumi 20.000 tahun silam, yang dituturkan oleh pemimpin organisasi Novusmundus, Asteria, yang akhirnya mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.

Tapi di antara semua itu, yang terutama ditonjolkan dalam seri ini terutama adalah drama keseharian antara Madoka, Lan, dan Muginami di Kamogawa. Terutama soal apa-apa yang ingin mereka lakukan untuk masa depan.

Akhir Konflik 20.000 Tahun

Kalau kau termasuk jenis yang suka cerita macam ini, meski plot LagRin sebagai seri mecha sama sekali tak istimewa, ada lumayan banyak hal menarik yang terjadi dalam episode-episode tentang kesehariannya. Persahabatan antara ketiga cewek di atas; persahabatan antara ketiga cowok dari De Metrio: Kirius, Izo, dan Array, yang kocaknya, kini bekerja sambilan di restoran pantai milik paman Madoka, Hiroshi, dan menarik perhatian banyak sekali pelanggan perempuan; serta beberapa isu tentang kehidupan yang Madoka punya.

Tapi sekali lagi. Itu cuma kalau kau jenis yang lebih suka seri-seri tentang keseharian ketimbang soal mechanya sendiri.

Oh, tapi selain persahabatan, masih enggak ada cinta dan romansa yang disinggung di seri ini.

Mungkin.

Kalau adapun, kayaknya aku berusaha agar enggak menyadari.

Selebihnya, mungkin LagRin bakal dianggap sebagai seri yang agak tanggung ya? Genrenya yang campur aduk mungkin agak membingungkan target seri ini buat penonton kayak gimana. Aku sempat mengantisipasi bakal adanya perubahan tema secara drastis di musim kedua ini. Tapi kenyataannya, perbedaan nuansanya enggak kentara-kentara amat. Walau ada beberapa detil yang luput terjelaskan, mesti diakui bahwa seenggaknya sebagian besar benang cerita akhirnya terselesaikan.

Seperti yang dulu pernah kusinggung, salah satu daya tarik sebuah anime mecha bagiku agak sama dengan daya tarik sebuah RPG, yaitu keingintahuan soal seperti apa tokoh antagonis terakhir yang bakal para tokoh utamanya mesti dihadapi. Tanpa banyak cingcong, kusebutkan saja bahwa tokoh antagonis utama seri ini ternyata benar adalah Moid, pria bermata sipit yang sebelumnya hadir sebagai perwakilan dari Le Garite. Seperti halnya Asteria, dirinya ternyata berasal dari masa 20.000 tahun lampau, dan dirinya pula yang menjadi salah satu pemicu bencana global yang pernah terjadi di masa tersebut. Cuma, yah, motivasi yang melandasinya, serta bagaimana dirinya kemudian tunduk, yang mungkin bakal agak mengangkat alis kalau enggak bikin ketawa.

Oh, dan ada mecha lain bernama Magultol yang ternyata adalah Vox keempat! Dari sisi mecha sih, inilah sosok yang ketiga Vox, Midori, Orca, dan Hupo kemudian mesti hadapi bersama.

Ringannya tema LagRin, terlepas dari apa-apa yang sebenarnya terjadi di dalam ceritanya, mungkin yang bakal agak memudarkan ketertarikan beberapa orang penggemar. Tapi itu enggak berarti enggak ada kalangan penggemar lain yang bakal suka…

Jersey Tamashii!

Bicara soal teknis, kualitas presentasi di musim kali ini enggak kalah dibandingkan yang pertama. Suara merdu Nakajima Megumi masih melantunkan lagu pembukanya. Lalu gaya visualnya kayaknya mengalami peningkatan juga. Masih ada nuansa biru langit/laut aneh yang dulu ada di season 1, tapi enggak lagi terasa semengganggu dulu. Ketiga Vox memperoleh upgrade yang cukup keren serta ada peningkatan kualitas juga di adegan-adegan aksinya, tapi itu juga enggak banyak dan enggak dominan.

Kamogawa masih banyak ditampilkan detil-detil kotanya. Bahkan ini nyaris terasa seperti sebuah anime promo wisata. Tapi pada akhirnya mesti kuakui bahwa ini juga yang menjadikan latarnya beneran terasa hidup. Ada kepuasan enggak disangka saat kita mencapai happy ending di episode terakhir. Bahkan ada beberapa klise dalam anime-anime mecha yang terasa dipelesetkan di saat-saat akhir!

Rasmus Faber, sebagaimana diungkap temanku, tak terlalu nge-jazz aransemen musiknya di seri ini. Tapi desain mechanya, sekali lagi, menarik. Walau kau enggak bisa berharap untuk adegan aksi.

Lalu seperti yang sebelumnya mungkin pernah kusinggung, ini jenis seri yang terhadapnya aku punya perasaan campur aduk. Ini jelas seri yang enggak akan kurekomendasikan untuk penggemar anime mecha normal. Tapi ini mungkin bakal menarik bagi mereka yang suka pemandangan, jalan-jalan, serta slice of life.

Dan memang sering suka ada frame-frame animasi yang agak memukau di seri ini. Seperti pemandangan alam Rinne yang sepi, tempat Yurikano terdampar, yang disebut merupakan dimensi di mana pengharapan dapat diwujudkan, dan hanya dapat diakses melalui ketiga Vox. Kebanyakan bagiannya agak bikin aku diam. Tapi memang ada saat-saat tertentu yang bikin aku “Heh?” karena lumayan thought provoking.

Tapi sekali lagi, itu cuma buatku. Cuma buatku.

Akhir kata, aku lega telah membereskan seri ini. Belum lama ini aku dinasehati seseorang untuk menuntaskan segala pekerjaan yang telah kita mulai. Lalu seri ini, kalau boleh kubilang, termasuk salah satunya.

Sial, kok aku tiba-tiba jadi merasa depresi ya? Siaaaaaaal!

Gyaaaaaa! Terlepas dari keanehannya, mungkin memang ada hal-hal tertentu yang bisa kupelajari dari para anggota Jersey-bu di seri ini!

Penilaian

Konsep: X; Visual: B+; Audio: B; Perkembangan: B-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: X

15/06/2014

Shining Hearts: Shiawase no Pan

…Setiap manusia, pada suatu titik dalam hidup mereka, besar kemungkinan pasti pernah melakukan suatu hal aneh yang mereka sendiri pun tak pahami atau mengerti.

Dalam kasusku, menonton Shining Hearts: Shiawase no Pan, misalnya. (Atau juga dikenal sebagai Shining Hearts: Bread of Happiness. Subjudulnya berarti: ‘roti kebahagiaan.’)

Sebenarnya aku agak malas membahas tentang yang satu ini. Cuma sudah kelamaan aku enggak nulis sesuatu di blog, dan kebetulan saja judul ini sedang menjadi judul yang pertama muncul di kepala.

Seperti yang sudah kusinggung, aku benar-benar enggak paham kenapa aku bertahan mengikuti seri satu ini. Mungkin rasa penasaran menjadi salah satu motivasi yang kupunya. Tapi kukira rasa penasaran semata takkan cukup membuatku berhasil melakukan salah satu hal yang sebelumnya kukira enggak mungkin ini. Soalnya, jujur saja, seri ini menurutku cuma bakal dipandang menarik oleh suatu kalangan yang benar-benar tertentu saja. Aku enggak begitu bisa menjelaskannya. Tapi lebih lanjut soal ini akan aku coba singgung lagi di bawah.

Diproduksi oleh Production I.G. dan pertama ditayangkan pada musim semi tahun 2012 dengan jumlah episode total sebanyak 12, ini… benar-benar merupakan salah satu anime paling enggak menonjol yang karena satu dan lain hal baru beres kuikuti belum lama ini.

Seperti yang mungkin sebagian orang tahu, anime ini diangkat dari game Sony PSP Shining Hearts keluaran Sega, yang termasuk bagian dari waralaba RPG Shining milik mereka. Gamenya sendiri keluar di penghujung tahun 2010, dan termasuk mencolok berkat desain karakter atraktif buah pena Tony Taka.

Sebagai catatan, aku mengikuti seri ini tanpa ada pengetahuan sama sekali tentang gamenya, dan baru mulai buka-buka web dan cari-cari informasi tentangnya belakangan.

Mind Over Emotion

Shining Hearts berlatar di sebuah pulau bernama Wyndaria.

Di pulau ini, seorang pemuda bernama Rick Elwood, yang nampaknya dahulunya seorang ahli pedang, ditemukan terdampar di pantai tanpa ingatan pada suatu hari, dan kini bekerja di toko roti La Couer bersama tiga orang gadis: Airy Ardit, Amil Manaflare, dan Neris Filiam. Keseharian mereka damai dan tenteram, dan roti yang mereka buat teramat disukai oleh para penduduk pulau.

Namun pada malam-malam tertentu, saat bulan purnama berwarna merah, hal-hal aneh kerap terjadi. Lalu saat keesokan paginya seorang gadis lain yang juga kehilangan ingatannya bernama Kaguya didapati terdampar di pantai, penemuan tersebut menjadi awal dari rangkaian kejadian yang berlangsung di pulau ini.

…Aku pengen cerita lebih banyak. Tapi lebih dari itu, aku enggak yakin mesti berkata apa. Sebab dalam durasi 12 episode yang Shiawase no Pan miliki, ada sedikit sekali ‘cerita’ yang dimiliki seri ini. Sebagian besar cerita yang ditampilkan adalah seputar kehidupan damai yang ada di pulau ini, di mana Rick dan kawan-kawan bertemu dengan berbagai penghuni pulau—yang urusannya kerap berhubungan seputar roti.

Ada subplot tentang karakter dwarf pandai besi bernama Hank yang menemukan semacam automata berbentuk manusia perempuan yang berusaha dibangunkannya. Lalu ada juga suatu subplot lain terkait pertemuan Rick dengan pemilik toko barang antik, seorang gadis kucing bernama Xiaomei, yang sesungguhnya adalah pencuri kawakan Black Tail. Tapi lebih dari itu benar-benar tak banyak yang bisa diceritakan sampai ke klimaks yang berhubungan dengan Kaguya dan kalung permata miliknya.

Singkat ceritanya sekali, Wyndaria ternyata merupakan semacam persimpangan di batas-batas antar dunia. Lalu dari waktu ke waktu, sebagaimana diceritakan oleh Madera, nenek-nenek pembuat roti yang menjadi mentor bagi Rick dan lainnya, akan ada orang-orang terdampar yang sebenarnya berasal dari dunia lain, macam Rick dan Kaguya, serta sebelum mereka, Airy, Anil, dan Neris sendiri.

Kaguya adalah semacam sosok istimewa yang bersama kalungnya, ternyata memiliki semacam kekuatan besar. Automata yang Hank temukan, Queen, rupanya akan bereaksi terhadap kembalinya kesadaran Kaguya yang sebelumnya berada di ambang batas koma. Lalu Rick, yang merasa terbagi, antara identitas sesungguhnya sebagai seorang pejuang yang bergelut dalam perang dan identitas masa kininya sebagai pembuat roti, harus mengambil keputusan saat armada kapal canggih yang mencari-cari Kaguya akhirnya menjadi ancaman terhadap keselamatan seluruh Wyndaria.

Hah? Di gamenya ada pulau-pulau lain?!

…Terus terang, enggak banyak rincian tentang ceritanya yang bisa ditemukan di animenya. Siapa dan apa Kaguya sebenarnya tak pernah benar-benar dijelaskan. Hanya intinya, dirinya dikejar oleh sepasukan manusia kadal yang menggunakan armada kapal canggih yang memiliki semacam kekuatan untuk mengendalikan bayangan. Karenanya, aku bisa bilang, apa yang menjadi sorotan utama di Shiawase no Pan mungkin—sekali lagi, mungkin—benar-benar adalah para karakternya dan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani.

Soal aksi?

Kalau… memang itu yang kalian cari, aku benar-benar sarankan agar kalian mencari judul lain.

Pulau Wyndaria yang menjadi latarnya tak diragukan merupakan pulau yang indah. Pantai dan lautan menjadi pemandangan utamanya. Lalu ada hutan dan pegunungan subur serta pedesaan yang para penduduknya ramah. Ada banyak karakter yang sebenarnya mungkin bisa dibilang menarik di sana-sini. Tapi biasanya, tak ada hal benar-benar ‘berarti’ terkait dengan mereka.

Beberapa karakter lain yang bisa dibilang sedikit berperan meliputi: Lagnus, sang pangeran Wyndaria, yang ‘mengatur’ agar Rick dapat tampil sebagai pelindung pulau tersebut; Rufina, adik perempuan Lagnus, yang sedikit banyak membantu Rick dan kawan-kawannya; serta Dylan, pemimpin kelompok pelaut (bajak laut?) yang pertama mengetahui tentang ancaman armada kapal yang memburu Kaguya.

Proses perkembangan karakternya sendiri juga… tak benar-benar bisa dibilang mulus.

Pertanyaan yang kerap diangkat memang seputar soal apa sebenarnya yang Rick mau lakukan untuk masa depannya. Tapi soal ini, ada sedikit perkembangan karakter yang Rick peroleh saja mungkin sudah lebih dari cukup untuk disyukuri.

Soalnya, ketiga gadis di sisinya yang menjadi sorotan utamanya di sini…

Ugh, jadi, aku kemudian memutuskan untuk mencari info tentang gamenya. Lalu aku agak terkejut dengan beberapa perbedaan yang ada.

Aku enggak terkejut karena adanya perbedaan-perbedaan sendiri. Macam perbedaan yang ada itu yang membuatku agak terkejut.

Di gamenya, Airy, Amil, dan Neris diceritakan bersaudara (Um, struktur wajah mereka memang mirip sih). Sedangkan di animenya hanya diperlihatkan kalau mereka hidup dan tinggal bersama. (Nama-nama belakang mereka berbeda.) Cuma, di samping perbedaan pada penampilan mereka, sifat ketiganya itu hampir sama gitu. Kayak, benar-benar nyaris sulit untuk dibedakan.

Sekali lagi, bukan tampang. Melainkan sifat.

Ketiganya bersikap dengan cara yang nyaris sama di sekitar Rick. Ada perbedaan-perbedaan minornya dikit sih. Tapi sifat ketiganya sedemikian tidak memiliki ciri khas sehingga kadang kita bahkan sulit membedakan masing-masing dari mereka.

Yeah, ini termasuk kasus yang agak enggak biasa.

Lalu ketiadaan elemen romansa(!) di sini pun sama sekali tak membantu.

Dalam gamenya, hanya ada satu di antara Airy, Amil, dan Neris yang bisa kita pilih untuk mendampingi kita di toko roti. Jadi sama sekali tak seperti di animenya, di mana ketiganya ada untuk mendampingi Rick sekaligus. Lalu kekhasan roti yang mereka buat berbeda. Demikian pula dengan cara mereka mendukung kita saat mereka menjadi party member.

Airy yang berpakaian sebagai biarawati lebih banyak men-support kita dengan mantera-mantera penyembuh mengingat statusnya sebagai priestess. Amil yang berambut coklat terang memiliki kelas sebagai magician dan mendukung kita dengan kekuatan sihirnya. Sedangkan Neris yang berambut gelap adalah archer yang akan menolong kita dengan busur dan panahnya. Soal latar belakang ketiganya dalam animenya, hanya Airy saja yang disinggung memiliki kaitan dengan gereja yang kerap dikunjunginya, tempat anak-anak yatim piatu diasuh dan dirawat. Selebihnya, tak banyak yang kita kenali dari diri mereka.

Bahkan dalam gamenya, ketiganya sama-sama diisi suaranya oleh Itou Kanae. Baru pada animenya, Itou-san dibantu oleh Aizawa Mai sebagai Neris dan Mikami Shiori sebagai Airy.

Masih berkaitan dengan mekanisme gamenya, Kaguya dalam game dikisahkan selain kehilangan ingatan, juga telah kehilangan emosinya. Lalu seperti yang dikisahkan dalam animenya, roti buatan Rick entah mengapa berdampak besar terhadap pemulihannya.

Ringkasnya, ada sistem terkait ‘hati’ yang Rick harus bisa penuhi yang kaitannya kembali ke hubungan antar orang. Kita mesti bisa berhubungan baik dengan para NPC (Salah satu kuncinya, di samping dengan berhati-hati memilih jawaban, adalah dengan membuat roti.). Lalu dari sana kita memperoleh ‘hati’ yang diperlukan untuk membuat roti khusus yang Kaguya sukai. Seberapa banyak emosi Kaguya yang berhasil kita pulihkan berdampak pada kalung batu roh miliknya, yang kemudian menjadi ‘kunci’ untuk membuka pintu ke dunia-dunia lain yang selanjutnya bisa Rick jelajahi.

Yah, kurang lebih seperti itu. (Makanya, game ini dinamai Shining Hearts.)

Tapi, yah, cakupan animenya sama sekali tak sampai ke sana. Animenya berpusar sepenuhnya di Wyndaria, dan sampai akhir cerita aku bahkan enggak tahu kalau ada pulau-pulau lain. Bahkan karakter-karakter antagonis(?) di gamenya, macam Maxima Enfield yang memiliki kaitan misterius dengan Kaguya, serta Mistral Nerace yang memimpin bajak laut Serace dalam mencari kalungnya; tak dimunculkan sama sekali dalam anime ini. (Padahal dari segi desain mereka sama-sama sosok perempuan menarik.)

Where is my self?

Singkat cerita, Shiawase no Pan bisa diumpamakan separuh healing anime dan separuh lagi… fanservice? Tapi entahlah. Aku juga tak yakin.

Dari segi presentasi, seri ini sama sekali tak buruk. Visualnya indah. Audionya mengalun secara baik. Tapi penggarapannya secara umum mungkin bakal dinilai ‘malas’ oleh sebagian orang. Jadi secara umum, seri ini benar-benar bakal dipandang tak menarik. Ada cukup banyak hal yang mungkin bisa membuatmu mengernyit di seri ini.

Ini merupakan adaptasi anime kedua dari game yang termasuk seri Shining. Yang pertama adalah Shining Tears X Wind, yang mengadaptasi cerita dari game Shining Tears dan Shining Wind yang saling berhubungan. Salah satu alasan aku mengikuti Shiawase no Pan adalah karena sebelumnya aku tak sempat mengikuti seri pendahulunya ini. Jadi aku cukup penasaran dengan seperti apa hasilnya. Terutama mengingat desain karakter orisinil di Tears x Wind juga dibuat oleh Tony Taka.

Kalau boleh kusimpulkan, mereka yang benar-benar tertarik pada Shiawase no Pan adalah mereka yang tertarik oleh latar cerita di Wyndaria, serta mereka yang ingin lihat hasil animasi dari desain karakter Tony Taka.

Sebagai materi pembelajaran sendiri, Shiawase no Pan menurutku kasus yang menarik. Kayak, sebenarnya ada banyak materi dari gamenya yang bisa digarap. Tapi kenapa jadinya cuma sesuatu kayak gini ya? Kelihatannya ini jauh berbeda dibandingkan Shining Tears X Wind yang keluar tahun 2007 dulu. Apalagi jumlah episodenya sama. Apa iya karena budget dan biaya?

Yah, akhirnya aku membereskannya sih. Tapi secara pribadi, sekarang aku berpikir, apa mungkin alasan aku berhasil sebenarnya karena dampak desain chara Tony Taka saja?

Ya sudahlah.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: B+; Audio: B; Perkembangan: D+; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C-

20/03/2014

Genshiken Nidaime

Sekeras apapun kau berusaha lari, lambat laun kau bakal harus berhadapan dengan kenyataan. Pelajaran itu dulu aku peroleh dari seri-seri macam Genshiken (walau yang paling keras ngegaplok soal itu sejauh ini masih Me-Teru no Kimochi).

Genshiken berawal dari seri manga buatan Kio Shimoku yang diserialisasikan di majalah bulanan Afternoon keluaran penerbit Kodansha.

‘Genshiken’ merupakan kepanjangan dari Gendai Shikaku Bunka Kenkyuukai, atau ‘komunitas peneliti budaya visual modern,’ yang dalam hal ini merupakan salah satu dari sekian banyak circle, atau klub, di Universitas Shiiou yang menjadi latar cerita ini (universitas ini sendiri merupakan referensi terhadap Universitas Chuuo yang beneran ada).

Ceritanya, Genshiken merupakan klub di mana para tokoh utama seri ini tergabung. Klub ini menempati posisi agak aneh karena menampungi para anggotanya yang otaku, namun statusnya ‘terpisah’ dari klub manga dan klub anime yang juga ada di universitas yang sama. Karenanya, timbul sejumlah keenggakjelasan soal kegiatan dan maksud sesungguhnya dari klub ini sebenarnya apa, dan itu jadi tema utama seri ini pada awalnya.

Manga Genshiken sendiri pertama keluar pada tahun 2002 dan ‘berakhir’ serialisasinya pada bulan Desember tahun 2006. Tapi seri ini kemudian berlanjut dengan ‘musim keduanya,’ Genshiken Nidaime, pada bulan Desember tahun 2009, dan masih berlanjut hingga sekarang. (Walau demikian, penomoran manganya melanjutkan penomoran dari seri yang lalu.)

…Kalau kupikir, serialisasi seri ini sebenarnya lumayan sejalan dengan kehidupan kuliahku. Tapi mending kita enggak bahas soal itu.

Adaptasi anime dari Genshiken Nidaime dibuat oleh studio Production I.G. dan keluar pada tahun 2013 lalu sebanyak 12an epsiode.

Meski ceritanya masih nyambung, Genshiken Nidaime merupakan seri yang lumayan berbeda dibandingkan ‘musim’ pendahulunya, dengan mengangkat tema-tema cerita yang beda serta tokoh-tokoh yang berbeda pula. Ada beberapa tokoh lama yang masih hadir kembali sih. Ditambah latar ceritanya juga masih sama. Gaya ceritanya juga masih mengikuti sebuah ensemble cast. Tapi bila seri Genshiken yang pertama benar-benar khusus mengeksplorasi soal kecenderungan dan cara berpikir para otaku, Nidaime lebih terasa seperti seri drama (komedi?) yang lebih umum.

Oke, yang ditambah dengan referensi terhadap seri-seri anime di mana-mana. Jadi mungkin enggak seumum itu juga sih.

Akhir Segala Tesis

Daftar anggota yang telah keluar (wisuda) pada musim ini meliputi:

  • Sasahara Kanji, tokoh utama pertama pada musim sebelumnya (yang character arc-nya berakhir pada saat dia jadian dengan ketua Genshiken saat ini, Ogiue Chika), kini bekerja sebagai editor di sebuah penerbit.
  • Kousaka Makoto, cowok tampan yang dulu dikenal saking otakunya sampai-sampai terlihat seperti orang normal, kini bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan software (galge).
  • Kasukabe Saki, pacar Kousaka, satu-satunya anggota non-otaku, yang dahulu karena satu dan lain hal (Kousaka) terseret dalam kegiatan-kegiatan Genshiken.
  • Kageyama Mitsunori, anggota berbadan besar dan agak gagap, yang kelihatannya telah move on dari dilema menggambarnya dan bekerja secara normal.
  • Tanaka Soichirou, pacar ketua Genshiken sebelum Ogiue, Ohno Kanako, yang ahli merancang dan menjahit kostum-kostum karakter untuk cosplay, dan kini sesudah lulus hendak memulai usahanya sendiri.

Sedangkan daftar anggota baru yang kini masuk antara lain:

  • Susanna Hopkins, salah satu karakter lama dari musim sebelumnya, teman lama Ohno dari Amerika yang pindah untuk kuliah ke Jepang. …Dia orang bule berbadan mungil yang hobi secara random mengutip dialog dari berbagai anime terkenal sebagai bentuk ekspresi perasaannya.
  • Yoshitake Rika, seorang fujoshi yang merupakan maniak era Sengoku, yang sebenarnya agak lebih tua dari tampangnya. Dirinya tipe yang bisa seketika bertindak begitu mendapat ide gila.
  • Yajima Mirei, sesama fujoshi berbadan besar yang memiliki sedikit kompleks akan ukuran dan bentuk badannya, tapi dirinya termasuk yang paling level-headed di antara para anggota baru.
  • Hato Kenjiro, yang bisa dibilang merupakan karakter sentral untuk anime ini, seorang fujoshi yang sebenarnya adalah cowok yang telah melakukan crossdress dan perawatan diri secara ekstrim menjadi cewek yang benar-benar cantik. Ketertarikannya terhadap yaoi, sekalipun dirinya cowok, beserta pertanyaan tentang seksualitasnya, menjadi tema yang terus berulang di sepanjang seri ini.

Karakter favorit(?) fans Madarame Harunobu juga tampil sebagai karakter sentral dengan kemunculannya kembali di ruang klub Genshiken secara berkala (sekalipun dirinya telah wisuda).

Penyelesaian cinta terpendam yang Madarame miliki terhadap Saki, serta berkembangnya hubungan antara dirinya dan Hato saat ia mengizinkan yang bersangkutan mulai menggunakan kamar tempat tinggalnya yang tak jauh dari kampus sebagai tempat ganti baju dan dandan, bisa dibilang menjadi… uh, fokus plot baru dari seri ini.

Jadi… yah, mungkin kalian bisa ngerti gimana seri Nidaime ini bisa agak mengalienasi bahkan sejumlah penggemar musim pertamanya.

Enggak semua orang nyaman bicara tentang karakter-karakter trap, tahu.

Dua karakter utama lain, Ogiue dan Ohno, selaku sesama anggota aktif, masih mendapat porsi cerita bagian mereka juga (walau enggak sebanyak Madarame dan Hato sih). Ohno menghadapi dilema dengan tertahannya kuliahnya. Ditambah lagi dengan bagaimana dirinya masih belum juga menemukan tempat kerja sekalipun kuliahnya memasuki masa-masa akhir. Sedangkan Ogiue (yang tampil jauh, jauh, jauh lebih dewasa dan moe dibanding di musim sebelumnya) berhadapan dengan keharusannya memasukkan karya untuk comiket serta resiko yang harus dihadapinya sebagai mangaka profesional.

‘Hige to Boin’ Bukanlah Istilah Bahasa Jerman

Kalau kalian nanya pendapatku … terus terang aku juga enggak yakin apa alasan aku memaksakan diri mengikuti perkembangan seri ini. Mungkin aku punya alasan-alasanku pribadi. Tapi alasan-alasan itu bahkan sulit kuungkapkan pada diriku sendiri.

Bukan karena komedinya, yang pasti. Juga jelas bukan karena dramanya (sekalipun bagus, dramanya adalah jenis drama yang bisa bikin kau enggak nyaman atau bahkan bingung pada beberapa titik). Aku juga enggak bisa bilang kalau aku menyukai para karakternya.

Aku kayak… entahlah, merasa kayak berkewajiban mengikutinya begitu aja.

Pastinya, Nidaime mengangkat dua sisi lain kehidupan para otaku yang sebelumnya belum tersajikan di musim pertama: 1. Sisi para fujoshi penyuka yaoi. 2. Sisi saat kamu akhirnya mesti balik ngadepin dunia nyata dan kehidupanmu pun berlanjut.

Itu dua hal yang kalo kupikirin lagi sekarang, sebenernya enggak akan pernah bisa kau hindarin.

(Percayalah, kau enggak akan pernah bisa lari dari para fujoshi penyuka yaoi. Pengalamanku sebagai kakak kurang lebih telah membuktikannya.)

Dari dulu cerita Genshiken—bagi yang bisa nikmatin—bisa bikin kau terenyuh dengan cara-cara yang enggak sepenuhnya enak. Lalu meski bernuansa lebih komedi, meski eksperimen Shimoku-sensei dengan ekspresi-ekspresi wajah para karakternya juga terbawa ke versi animenya, titik-titik pengenyuhannya itu masih tetap ada.

Tapi sekali lagi, itu cuma bagi kalian-kalian yang bisa sepenuhnya nikmatin.

Terlepas dari semuanya, seperti adaptasi-adaptasinya yang telah lalu, kualitas teknis anime ini masih benar-benar bagus. Suka apa enggak kau terhadap musiknya, enggak bisa disangkal detil visual yang seri ini bawa benar-benar keren. Nuansa kampusnya beneran kuat. Lalu detil interior ruang klubnya masih memukau seperti sebelumnya.

Lalu enggak seperti sebelum-sebelumnya, aku kali ini bahkan bisa menikmati lagu pembuka dan penutupnya. (Dulu, soundtrack Genshiken yang bisa kusukai cuma lagu opening ‘Kujibiki Unbalance’ yang dibawakan oleh Ever17 yang vokalisnya Momoi Haruko.)

Lalu damn. Terus terang, aku baru nyadar. Ternyata ketiga seri TV animenya dibuat oleh studio beda-beda! Bahkan OVA-nya pun dibuat oleh studio yang beda lagi! Staf dan sutradaranya kelihatannya berbeda-beda juga! Enggak aneh jadinya kesanku terhadap animenya selama ini agak campur aduk!

Tapi yang benar-benar keren itu… kesan detil-detilnya itu konsisten gitu.

Mungkin memang ini karena udah lama. Tapi kayaknya aku bahkan enggak akan menyadari kalau para pengisi suaranya udah ganti kalau seandainya aku enggak lihat dan membandingkan daftar seiyuu-nya.

Dari waktu ke waktu aku masih suka memperhatikan perkembangan manganya, dan ceritanya masih saja berkembang ke arah yang enggak bener-bener bisa kutebak.

Tapi adaptasi anime ini sendiri berakhir tak lama sesudah bagian cerita tentang festival sekolah. Episode terakhirnya merupakan bagian cerita original yang dibuat untuk memberi semacam penuntasan buat animenya, yang mesti kuakui terselesaikan dengan lumayan baik. …Referensi-referensi yang muncul di dalamnya terhadap cerita-cerita lalu lebih banyak dari yang kukira.

Ini terus terang merupakan judul yang mungkin untuk selamanya takkan pernah kurekomendasikan. Tapi kalau ada yang bertanya, mungkin dia bisa jadi teman diskusi yang menarik tentangnya.

(Oh iya. Aku melupakan soal Kuchiki Manabu, anggota Genshiken sampingan yang kerap membuat suasana jadi awkward. Pengisi suaranya kali ini secara mengesankan ternyata adalah Fukuyama Jun.)

Penilaian

Konsep: X; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B;

06/05/2013

Psycho-Pass

Aku pertama tertarik pada Psycho-Pass karena sebuah berita yang aku dengar di masa produksinya. Konon, para produsernya mendoktrin kepada para staf bahwa kata ‘moe’ terlarang untuk diucapkan selama proses pembuatan anime ini berlangsung.

Aku enggak bisa enggak senyum saat ngebaca berita itu. Sebab di masa kayak sekarang, seri yang sama sekali bebas dari fan service dan aspek moe di atas merupakan sesuatu yang lumayan langka.

Alasan lain yang bikin aku tertarik adalah kenyataan kalau seri ini merupakan sebuah ‘drama polisi.’ Holy shi*, aku engga lagi inget kapan terakhir kalinya ada sebuah drama polisi yang pernah kutonton. Apa movie terakhir Patlabor masuk hitungan?

Hal-hal di Kepalamu yang Enggak Bisa Kau Ceritain Ke Orang Lain…

Premis dasar Psycho-Pass itu kurang lebih kayak begini: di masa depan ketika kondisi kejiwaan seseorang sudah bisa ‘dikuantifikasi’ lewat sensor dan monitor-monitor pelacak, segala macam bentuk kejahatan sudah dapat dicegah sebelum terjadi, melalui analisa bioritmik yang akan mengkaji kondisi psikologis calon pelaku. Standar ‘kesehatan mental’ seseorang, dalam artian kecendrungannya untuk berbuat kejahatan atau tidak, adalah apa yang dikenal dengan istilah ‘Psycho-Pass’, indeks koefisien kejahatan, yang indikasinya dilakukan melalui suatu kode warna (atau disebut dalam seri sebagai ‘hue’).

Psycho-Pass mengikuti sepak terjang sekelompok penegak hukum yang beraksi melalui penerapan Psycho-Pass ini. Mereka adalah Unit 1 dari Biro Keamanan Publik di Departemen Kepolisian Tokyo, yang beranggotakan si rekrutan baru, Tsunemori Akane dan kawan-kawannya.

Dilema pertama yang mengejutkan Akane, seorang gadis fresh-graduate yang positif sekaligus cerdas, di hari pertamanya ia bekerja, adalah kenyataan bagaimana Biro Keamanan Publik memperkerjakan dua macam ‘polisi’, yakni: Inspector (‘inspektur’) seperti dirinya dan atasan langsungnya, pria metodis berkacamata, Ginoza Nobuchika; serta para Enforcer (‘penegak’) yang lebih menangani urusan ‘otot’ dalam pekerjaan daripada ‘otak.’

Para Enforcer ini ternyata adalah orang-orang yang dipandang memiliki indeks koefisien kejahatan terlampau tinggi—baik karena stress atau trauma masa lalu—sekalipun belum ada tindak pelanggaran hukum apapun yang secara nyata pernah mereka lakukan. Mereka dipandang sebagai ‘penjahat laten,’ yang bahkan didiskriminasikan dalam masyarakat dan hanya boleh berkeliaran sebatas TKP dan markas kepolisian tempat mereka ditahan.

Baik Inspector maupun Enforcer sama-sama mengaplikasikan pistol-pistol khusus teramat canggih yang disebut Dominator, yang secara otomatis akan melakukan pembacaan Psycho-Pass pada sasaran bidikannya sebelum pelatuknya bisa ditarik, untuk memastikan apakah target bersangkutan cukup mengancam untuk hanya perlu ditembak peluru bius, atau sudah layak mati hingga perlu ditembak peluru dekomposisi. Pistol Dominator ini menjadi semacam ‘pengadilan di tempat’ terhadap para tersangka, dan kinerjanya secara langsung terhubung dengan Sibyl System, jaringan sekaligus basis data berskala nasional yang melandasi kinerja sistem Psycho-Pass ini.

Digambarkan pula bagaimana di latar masa ini, Jepang telah kembali menjadi negara yang mengisolirkan diri bersama tingkat kemajuan teknologi yang telah dimilikinya (kemungkinan, sesudah suatu bencana besar?). Bersama implementasi Sibyl System yang seakan menjamin kesejahteraan tiap orang, sistem pengadilan legal juga telah dihapuskan dan tidak digunakan lagi.

Seiring perkembangan cerita, seperti yang dilandasi dalam adegan pembukanya, fokus Psycho-Pass menyempit pada serangkaian kasus teror pembunuhan aneh yang harus ditangani Unit 1, yang kemudian berujung pada konfrontasi berkepanjangan antara dua orang individu: Kogami Shinya, bekas Inspector yang kemudian turun pangkat menjadi Enforcer, yang menjadi sempai sekaligus pembimbing dekat Akane serta ‘anjing pelacak’ paling tajam di Unit 1; serta Makishima Shougo, seorang pria karismatik yang keberadaannya seakan tak tersentuh oleh Sibyl System.

Old Age Nostalgia

Psycho-Pass diprakarsai oleh kepala sutradara Motohiro Katsuyuki, yang kemudian merekrut penulis naskah Urobuchi Gen yang mengesankan beliau seusai berakhirnya Puella Magi Madoka Magica. Penayangannya pertama kali adalah di blok tayang Noitamina, dari musim gugur 2012 sampai musim dingin 2013, dengan jumlah episode total sebanyak 22.

Seperti kebanyakan karya Urobuchi-sensei, Psycho-Pass berkesan suram, keras, tapi bukan dalam artian jadi sulit dimasuki orang juga. Sebagai ‘drama polisi’, aspek misterinya sebenarnya enggak terlalu kentara. Daya tarik utamanya—pada paruh awal cerita seenggaknya—adalah bagaimana kedua belah pihak, pihak polisi dan pihak penjahat, sama-sama saling mengejar dan menipu satu sama lain. Bagaimana mereka saling berinteraksi, bagaimana mereka saling mempelajari satu sama lain gitu. Aku pribadi merasa sudah lama sekali semenjak ada anime macam begini yang keluar, makanya dalam banyak arti aku benar-benar terkesan.

Di samping itu, dunia futuristisnya benar-benar memikat. Ada cyberspace yang dikunjungi orang secara rutin, ada aplikasi yang memungkinkan orang mengubah tampilan holografik pakaian mereka sesuai kebutuhan, ada dronedrone berteknologi hologram yang bertugas mulai dari menyapu sampai menjaga ketertiban. Rasanya kayak selalu ada hal baru yang bisa kita temui di episode-episode awal.

Format episode setengah jam juga agak kurang cocok dengan bobot ceritanya, yang mau tak mau harus banyak tersampaikan melalui banyaknya adegan dialog. Awalnya memang terkesan bertele sih (semua drama polisi menurutku memang seharusnya punya sedikit kesan ‘bertele’). Tapi begitu aku bisa ngikutin, setengah dari seluruh episode Psycho-Pass buatku kayak ninggalin perasaan ‘kurang, kuraaaang…’ gitu. Kayak, setiap episode dimulai dan kemudian berakhir dengan terlampau cepat.

Singkat kata, Psycho-Pass adalah sebuah anime yang benar-benar keren… yang sayangnya enggak berakhir dengan benar-benar kuat.

Episode-episode penutupnya, meski enggak sampai benar-benar jelek, sayangnya enggak sebaik episode-episode pendahulunya. Kita tetap suka para karakternya, kita tetap suka dengan dunianya, tapi pengharapan kita agaknya malah jadi terlampau tinggi, sehingga akhirnya menjadi agak kecewa dengan apa yang kemudian kita dapatkan.

Jadi, dari awal sampai pertengahan cerita, perkembangan cerita Psycho-Pass bergerak dengan grafik yang terus naik. Melewati titik pertengahan, ceritanya berkembang dengan semakin gila-gilaan. Tapi kemudian, sesudah itu, entah karena keterbatasan durasi dan jumlah episode atau eksekusinya yang memang enggak bagus, kita kemudian tersadarkan bahwa arah perkembangan ceritanya entah pada titik mana sudah jadi ‘aneh’ gitu. Seperti ada hal-hal yang pada akhirnya ‘diputus’ begitu saja tanpa pembahasan lanjut, kayak soal kenapa Makishima Shougo bisa tumbuh jadi karakter antagonis, atau kayak soal bagaimana sistem masyarakat di Psycho-Pass pada akhirnya tetap bisa dipertahanin.

Tapi mencoba memandangnya secara objektif, aku kurang lebih bisa memahami keengganan para pembuatnya untuk ngebuat ‘penghakiman’ terhadap materi cerita yang mungkin sensitif dan subjektif ini (padahal menurutku sih mungkin masih enggak apa-apa), dan sudah cukup bersyukur karena seenggaknya kita dikasih cerita yang tuntas.

Selain Kogami, para anggota lain di Unit 1, yang sama-sama memiliki penilaian Psycho-Pass di ambang batas, terdiri atas:

  • Masaoka Tomomi; veteran paling tua dan berpengalaman di Unit 1, yang sudah bekerja keras di kepolisian bahkan di masa sebelum Sibyl System diterapkan. Dahulu seorang detektif biasa sebelum metode berpikirnya untuk menyamai cara berpikir penjahat membuatnya dipandang Sibyl System sebagai penjahat laten juga.
  • Kagari Shuusei; anggota muda yang suka bercanda, yang sudah diterapkan sebagai penjahat laten semenjak usia lima tahun. Dirinya yang mempertanyakan sikap dan keputusan Akane untuk bekerja di Biro Keamanan Publik.
  • Kunizuka Yayoi; satu-satunya anggota Enforcer wanita di Unit 1, yang selalu berwajah tenang, dingin, dan datar.
  • Karanomori Shion; perempuan ‘dewasa’ yang berperan sebagai analis data dan informasi bagi rekan-rekannya di Unit 1. Lebih banyak beraksi di markas dan di balik layar.

Kesemua karakter di atas benar-benar menarik sehingga agak sayang perkembangan dan backstory mereka tak diceritakan lebih banyak. Mereka semua sama-sama mendapatkan porsi sorotan ‘minimal’ (meski kadang agak terkesan tak nyambung dengan cerita utama), tapi perkembangan karakter dan peranan cerita yang mereka mainkan memang agak terasa tanggung.

Kogami, terutama, menjadi pemicu perkembangan karakter Akane, di samping hubungan ‘saling memahami’ yang dimilikinya dengan Makishima. Sedangkan Akane pun mendapat porsi perkembangannya saat mempertanyakan bagaimana bisa Psycho-Pass miliknya tetap ‘sehat’ sesudah rangkaian kejadian traumatis yang kemudian ia alami.

Seakan semua dongeng telah mati…

Aspek visual Psycho-Pass mungkin sekilas tak terlalu menonjol, ada semacam nuansa suram yang dipertahankan dengan banyaknya pemakaian warna gelap dan abu-abu, tapi memang ada banyak aspek yang membuatnya mencolok. Desain dunia futuristisnya benar-benar menarik, baik itu pada desain bangunan-bangunan besar atau kamar-kamar sempit, dan itu jadi salah satu daya tarik utama seri ini sampai dua pertiga awal cerita. Di samping itu, desain karakter orisinil buatan Amano Akira (manga-ka Reborn!!) memang menghadirkan kesan ‘keren’ (walau desain karakter cowoknya agak berada di ambang batas ‘cantik’).

Kesan keren ini diperkuat dari aspek audionya. Grup band Egoist yang sebelumnya menangani sejumlah lagu Guilty Crown tampil kembali. Lagu tema ‘Namae no Nai Kaibutsu’ merupakan salah satu lagu penutup terkeren di musim yang lalu. Aku agak merasa penjiwaan para karakternya bisa lebih baik dengan naskah yang lebih matang juga. Tapi sekali lagi, dari aspek teknis seri ini sama sekali enggak bisa dibilang buruk.

Aku mau mengaku sedikit: alasan pribadiku tertarik pada Psycho-Pass adalah karena aku enggak bisa enggak sedikit memandang karakter Kogami sebagai karakter ‘pahlawan.’ Aku tahu aslinya dia agak abu-abu, dan gimana obsesinya untuk menghabisi Makishima kemudian menelannya. Tapi di mataku seenggaknya, dia pria keren yang bukan cuma jago bela diri, namun juga intelek dan enggak pernah segan ngabisin waktunya dengan membaca buku. Aku tahu kebanyakan karakter bishonen biasa ditampilkan kayak gini, tapi Psycho-Pass menampilkan sisi itu dengan lumayan wajar gitu, dan di masa sekarang ketika ada sedikit sekali hal yang kayaknya bisa dikagumi, karakter Kogami buatku itu bagaikan ‘angin segar.’

Yah, itu pandanganku aja sih.

Ini seri yang benar-benar menarik kalau kau mengharapkan sesuatu yang beda, atau hanya bila kau sekedar penyuka tema-tema sains-fiksi. Enggak, enggak ada romansa di dalamnya. Tapi ada nilai-nilai kepercayaan dan kesetiakawanan yang beberapa kali diangkat. Sekali lagi, mungkin karena batasan durasinya, ada sejumlah elemen yang terasa enggak tuntas. Tapi kalau kau bisa menerima hal itu, dan enggak keberatan dengan banyaknya adegan percakapan panjang dan datar, mungkin ini sebuah seri yang bisa kau sukai.

(Musim tayang keduanya telah diumumkan, btw. Nanti kalau sudah jelas akan kukabar-kabari lagi.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

23/04/2013

Robotics;Notes

Robotics;Notes adalah game ketiga dari rangkaian game visual novel seri science adventure yang dirilis melalui kerjasama antara Nitroplus dan 5pb.

Selaku penerus Chaos;Head dan juga Steins;Gate, ada lumayan banyak pengharapan dan perhatian yang diraih game ini bahkan saat masih digodok. Lalu, seiring dengan kesuksesan besar Steins;Gate, Robotic;Notes telah dipastikan akan dibuat adaptasi animenya bahkan sebelum gamenya sendiri pertama diluncurkan.

Animenya berdurasi 22 episode dan pertama tayang di blok Noitamina pada musim gugur tahun 2012. Produksi animenya dilakukan oleh Production I.G. (Anime Chaos;Head kalau tak salah dibuat oleh Madhouse, sedangkan anime Steins;Gate dibuat oleh White Fox), sehingga meski aku tak meragukan kualitas visualnya, sejak awal aku memang sudah dapat firasat aneh kalau adaptasinya mungkin takkan sebagus Steins;Gate.

Sebelumnya, aku bahkan enggak tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku cuma tahu kalo temanya berhubungan dengan upaya buat sungguh-sungguh ngebikin sebuah robot raksasa demi menyelamatkan dunia(?!).

Berhubung aku memang penggemar anime-anime yang menghadirkan robot-robot raksasa, aku memutuskan untuk tetap memeriksanya, sekalipun hasil jadinya benar-benar melenceng dari segala pengharapanku semula.

Apa yang akan terjadi jika kau sungguh-sungguh berusaha membangun sebuah robot raksasa?

Berlatar tak terlampau jauh di masa depan, Robotics;Notes dibuka dengan bagaimana klub robotika di SMA Chuo Tanegashima terancam untuk dibubarkan. Ekskul ini di awal cerita hanya terdiri dari dua anggota, yakni ketuanya, seorang gadis penuh semangat bernama Senomiya Akiho; dan teman masa kecilnya yang cuek dan lebih tertarik melewatkan waktunya dengan bermain game daripada membantu proyek robot Akiho, Yashio Kaito.

Robotics;Notes berlatar di masa ketika ketinggian permukaan laut nampaknya telah meninggi, sepeda-sepeda motor listrik lebih banyak digunakan untuk menggantikan sepeda, serta sebagian besar orang hidup dengan memiliki perangkat tablet Poke-com yang menggantikan fungsi telepon genggam. Perangkat yang kelihatannya juga disebut Phone-droid ini bisa digunakan untuk browsing, melakukan video call, mengakses jejaring sosial,  bermain game, dan yang paling berkesan mengakses IRUO, semacam aplikasi pengenalan citra berbasis augmented reality, yang mana orang dapat membidik Poke-com mereka ke berbagai arah bagaikan kamera dan memperoleh berbagai informasi secara terinci. Di samping itu, perangkat bantu bionik yang ‘dipasangkan’ pada tubuh juga telah banyak digunakan di masyarakat, untuk membantu para manula yang telah melemah tubuhnya ataupun mereka yang sempat mengalami kelumpuhan anggota tubuh pasca terjadinya kecelakaan.

Kita kemudian dibeberkan tentang bagaimana klub robotika yang dikepalai Akiho ini mewarisi cita-cita sekaligus proyek jangka panjang para sempai mereka untuk membangun sebuah robot raksasa seperti di anime-anime. Robot raksasa yang hendak mereka bangun diberi nama kode Gantsuku-1, yang desainnya didasarkan atas Gunvarrel, sebuah anime super robot yang sempat sangat populer di masa silam. Proyek ini pertama dicanangkan oleh kakak perempuan Akiho, Senomiya Misaki, yang dulu bahkan pernah memimpin klubnya memenangkan kejuaraan robotika nasional Robo-One. Namun sesuatu di masa lalu nampaknya telah terjadi, sehingga Misaki kemudian mengabaikan proyek jangka panjang ini, dan hubungannya yang dulu dekat dengan Akiho dan Kaito kemudian menjadi renggang.

Dari sudut pandang Kaito, Robotics;Notes memaparkan berbagai suka duka yang para anggota klub robotika alami selama terlibat dalam proyek Gantsuku-1. Cerita pada awalnya membeberkan cara-cara yang harus Kaito dan Akiho temukan agar klub mereka dapat terus berjalan, dimulai dari pencarian anggota-anggota baru, pencarian sponsor, sampai memenangkan kejuaraan Robo-One untuk tahun tersebut.

Anggota-anggota baru mereka kemudian meliputi:

  • Hidaka Subaru, alias Mister Pleiades, adik kelas Akiho dan Kaito yang lebih ahli tentang robotika dari sangkaan orang karena alasan pribadi.
  • Frau Koujiro, alias Furugouri Kona, murid pindahan hikkikomori yang ternyata adalah programmer game Kill-Ballad (sejenis Virtual On) yang selalu dimainkan Kaito di Poke-comnya. Menyimpan rahasia besar di masa lalunya yang terkait proyek jangka panjang klub robotika.
  • Junna Daitoku, gadis pemalu anggota klub karate yang kemudian Akiho mintai jadi model pergerakan robot-robotnya, yang ternyata adalah cucu Doc, kakek-kakek penggemar rock yang merupakan pemilik toko langganan tempat klub robotika membeli komponen-komponen robot mereka.

Tapi, sesudah itu semua, ceritanya benar-benar berkembang ke arah yang enggak disangka-sangka.

Tunggu, arah perkembangannya mungkin tertebak sih. Tapi cara ke sananya itu…

Bullet Time

Pada suatu titik, kita kemudian mengetahui bagaimana pada waktu kecil, baik Kaito maupun Akiho dulu pernah terlibat dalam suatu insiden misterius di kapal pesiar Anemone. Pada insiden ini, seluruh penumpang kapal tersebut tiba-tiba saja kehilangan kesadaran dan bahkan jatuh ke dalam koma. Insiden ini kalau tak salah diduga terpicu oleh fenomena solar flare di matahari yang menimbulkan terjadinya suatu anomali elektromagnetik. Sebagai dampak kejadian ini, Akiho dan Kaito kemudian menderita sesuatu yang disebut Elephant-Mouse Syndrome, yang pada saat sedang kambuh, mengakibatkan persepsi waktu terasa melamban bagi Kaito dan sebaliknya terasa dipercepat bagi Akiho.

Dalam upaya mereka menemukan cara untuk menyelamatkan klub mereka, Kaito secara tak sengaja berpapasan dengan Airi—sesosok gadis hantu kecil yang seakan-akan hidup dalam sistem IRUO. Airi jadi semacam sosok yang hanya bisa dilihat dan didengar melalui perangkat Poke-com masing-masing orang gitu, dan sehari-harinya ia menginformasikan pada orang-orang yang ditemuinya tentang perkiraan cuaca sehari-hari.

Melalui pertemuannya dengan Airi, Kaito turut menyadari adanya sejumlah rahasia masa lalu yang mungkin saja tersembunyi di kotanya sendiri, yang berkaitan dengan fenomena-fenomena misterius yang terjadi di dunia maya, dengan insiden kapal Anemone, dan mungkin saja dengan proyek jangka panjang klubnya sendiri.

Seiring dengan kemajuan proyek robot raksasa mereka, semakin banyak pula rahasia aneh yang terungkap oleh Kaito yang tampaknya berhubungan pula dengan sesuatu yang dirahasiakan Misaki.

Semuanya ternyata terhubung dengan sebuah konspirasi jangka panjang yang direncanakan oleh sesuatu yang disebut Committee of 300 untuk sungguh-sungguh menghancurkan dunia. Lalu satu-satunya orang yang berhasil mengungkap hal ini, seseorang bernama Kimijima Kou, ternyata telah lama meninggal karena terbunuh, dan hanya jejak pesan-pesan rahasianya semata yang tertinggal untuk ditelusuri Kaito dan dibuktikan kebenarannya.

Tapi apa yang kemudian Kaito temukan ternyata tetap lebih mengejutkan dari yang ia kira…

Lebih ke Drama Daripada Misteri

Robotics;Notes dipaparkan dengan alur yang sangat luar biasa lamban. Ini sesuatu yang membuatku skeptis pada awalnya, apalagi dengan jumlah episode yang lebih sedikit dibandingkan adaptasi seri-seri pendahulunya. Tapi seiring perkembangannya, aku mulai nyadar bahwa ‘kelambatan’ ini memang diperlukan, sebab segala sesuatunya memang perlu diceritakan secara runut.

Pastinya, sekalipun aspek misterinya tetap ada, kelambatan ini menghadirkan nuansa yang sama sekali berbeda dibandingkan Chaos;Head maupun Steins;Gate. Bila tokoh utama pada kedua seri tersebut secara berkelanjutan dihadapkan pada suatu situasi genting, Kaito berusaha menangani sesuatu yang kalau ‘dibiarkan’ juga mungkin dirinya takkan mengalami masalah.

Seiring dengan berakhirnya episode-episode awal, kau benar-benar kehilangan bayangan soal ke mana sebenarnya seri ini mau dibawa. Ceritanya jadi lebih kayak drama slice-of-life daripada misteri sains fiksi. Kamu kayak, beneran bisa kehilangan motivasi buat nonton gitu. Lalu hingga akhir, karena kaitannya dengan tempo cerita dan pembangunan suasana, seri ini tak benar-benar bisa dibilang berakhir sebagai sesuatu yang ‘seru.’

Kita kayak susah merasakan emosi apa-apa dari menonton ini. Lebih banyak datarnya.

Mungkin kaitannya ada pada hal teknisnya juga sih. Pada banyak bagian, meski kadar dramatisasinya cukup pas, aku benar-benar merasa kalau sorotan kameranya benar-benar kurang dinamis. Mungkin ada kontras yang berusaha diciptakan antara antusiasme Akiho dan kedataran sikap Kaito, tapi tetap jadinya kita sulit ‘masuk.’ (Siapa sih, art director-nya?)

Tapi perkembangan ceritanya itu seriusan gila-gilaan.

Seriusan, ada banyak sekali hal yang terjadi dalam cerita. Sehingga terkadang kita terasa kesulitan mengikutinya, sekalipun para pembuat sudah berusaha sebaiknya agar semuanya gampang dicerna dan bisa tersampaikan secara mudah.

Untung perkembangan ceritanya berbobot dan memang para karakternya menarik dan terasa hidup. Di samping itu, aspek-aspek sains fiksinya memang benar-benar memikat.

Mungkin karena memang sudah terlanjur mengikuti keseharian mereka, kita berhasil dibuat merasakan semacam kepedulian dan simpati terhadap Kaito dan kawan-kawannya. Lalu murni kita jadi sedikit ingin tahu apa di akhir cerita mereka beneran berhasil membangun robot raksasa mereka atau tidak.

Misterinya itu juga untungnya adalah jenis yang bertambah ‘aneh’ saat semakin dalam ditelusur. Ada beberapa perkembangan cerita yang serius bikin aku membelalakkan mata.

Salju

Robotics;Notes adalah jenis seri yang kayaknya lebih mending dimainin game-nya daripada ditonton animenya, tapi bukan cuma karena alasan game-nya lebih bagus dari anime. Anime Robotics;Notes itu sama sekali enggak jelek. Cuma game-nya yang kayaknya terlampau bagus untuk diangkat sebagai anime. (Walau belakangan kudengar narasi di gamenya agak bertele-tele sih.)

Ada banyak sekali detil menarik yang kayaknya jadi dipotong atau dipersingkat, mengakibatkan beberapa hal hingga akhir kerasa kayak enggak terjelaskan. Itu juga yang kayaknya mengakibatkan masalah tempo. Tapi para pembuatnya, akibat keterbatasan waktu, kelihatannya memilih untuk memasukkan hal-hal yang pentingnya saja, dan hal-hal penting tersebut itu yang pada akhirnya berusaha mereka tampilkan sebaik-baiknya. (Walau sekali lagi, kudengar narasi di gamenya beneran bertele-tele.)

Dengan begitu, kesan terakhirku terhadap seri ini berakhir agak… uh, campur aduk.

Ini sebenarnya bukan judul yang akan kurekomendasikan jika kau bukan penggemar cerita-cerita macam begini. Tapi kalau kau sempat merasakan antusiasme terhadap Chaos;Head, lalu merasakan juga antusiasme terhadap Steins;Gate, aku tak bisa tak merasa ada baiknya kau memeriksa Robotics;Notes. Soalnya cerita( dan konspirasi)nya pada beberapa titik emang terkait. (Tennoji Nae, gadis kecil putri Mr Brown di Steins;Gate, tampil sebagai karakter dewasa yang berperan lumayan penting di seri ini, tepatnya saat proyek Akiho dkk mulai melibatkan JAXA(!).)

Satu hal lain yang sungguh-sungguh kupelajari dari seri ini adalah bagaimana kau benar-benar enggak akan bisa nebak kehidupan akan mempersiapkanmu buat apa. Di balik segala kebingungan, kemarahan, keputusharapan yang mungkin pernah kau rasain, pasti ada sesuatu di ujung jalan yang akan harus kau perjuangin.

Apalagi, saat pertaruhannya juga melebihi segala yang kau bayangin…

Adegan saat robot raksasa mereka beneran jadi dibuat itu beneran kerasa keren.

(Maksudku, itu robot raksasa, man! They literally made a giant frickin’ robot!)

Penilaian

Konsep: S; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi B; Kepuasan Akhir: B

12/02/2013

Rinne no Lagrange

Ada tiga hal yang mencolok saat aku pertama mendengar tentang LagRin:

  1. Latarnya di sebuah kota pantai tenang bernama Kamogawa
  2. Ini anime robot raksasa yang mengetengahkan tiga orang cewek sebagai tokoh utama
  3. Dibuat lewat kolaborasi antara dua studio animasi Xebec dan Production I.G., dengan para insinyur dari produsen mobil Nissan

Soal tiga orang cewek yang menjadi tokoh utama itu, aku seketika teringat akan anime mecha legendaris yang kental dengan semangat feminismenya, Gunbuster. Lalu dalam perkembangan lebih lanjutnya, aku mengetahui soal bagaimana lagu pembuka pertama seri ini diaransemen oleh musisi jazz Rasmus Faber, yang waktu itu belum kukenal tapi ternyata sangat terkenal dalam kalangan-kalangan tertentu (yang begitu didengar oleh temanku langsung dihebohkan dengan penuh antusias). Lalu lagu-lagunya dinyanyikan pula oleh Nakajima Megumi yang menyuarakan Ranka dari Macross Frontier!

Jujur saja, ada banyak hal menarik yang kemudian kuketahui tentang Rinne no Lagrange – Flower declaration to your heart, atau yang juga dikenal dengan judul alternatifnya:  Lagrange – The Flower of Rin-ne.

Anime ini pertama keluar pada musim dingin di awal tahun 2012, dan secara agak mengejutkan berakhir agak menggantung untuk dilanjutkan pada season keduanya, yang mengudara di musim panas pada tahun yang sama. Sutradaranya adalah Sato Tatsuo, yang buat yang belum tahu, pernah terlibat dalam seri-seri kombinasi sci-fi dan drama keseharian sejenisnya, seperti Stellvia, Moeretsu Pirates, dan Kidou Senkan Nadesico.

Keseharian Kamogawa

Lebih gampang kalau aku langsung ke inti ceritanya.

Seorang gadis remaja enerjik bernama Kyouno Madoka terlibat dalam suatu konflik antar galaksi tatkala ia ‘dimintai tolong’ oleh seorang gadis aneh bernama Lan untuk melindungi Bumi dari serbuan alien dengan menjadi pilot sebuah robot raksasa.

Robot raksasa ini ternyata adalah sebuah senjata kuno misterius yang belum lama ini digali dari masa lalu, Vox Aura, yang belakangan dinamai Madoka sebagai Midori. Desainnya benar-benar keren, dengan bentuk ramping dan aerodinamis berwarna hijau dengan kemampuan untuk berubah bentuk menjadi kapal.

Pihak yang bertanggung jawab terhadap penggalian ini adalah sebuah organisasi bernama Novusmundus, yang rupanya untuk beberapa lama telah menjalin kontak dengan orang-orang planet lain.

The catch is… Madoka adalah siswi di sebuah SMA putri di Kamogawa yang merupakan anggota tunggal Klub Jersey, yang pada dasarnya merupakan organisasi ekskul satu orang yang tugasnya menolong orang lain—termasuk klub-klub ekskul lain—dengan pakaian jersey, celana training dan jaket olahraga. Jadi, memang sudah menjadi ‘tugas kesehariannya’ untuk membantu orang. Cuma permintaan untuk memiloti sebuah robot raksasa jelas bukan permintaan yang ia sangka akan pernah ia dapatkan.

Klub Jersey ini Madoka warisi karena alasan-alasan pribadi dari Nakaizumi Youko, kakak sepupunya yang kini bekerja sebagai arkeolog. Youko mengetahui rahasia tentang Vox Aura, dan semula menentang keras keputusan Madoka untuk memilotinya. Tapi akhirnya ia setuju dengan syarat agar Madoka juga melanjutkan hidup sehari-harinya dan tak terikat di Novusmundus.

Sesuai yang diperkirakan, Lan yang ramping dan pemalu dan tak terlalu paham tentang adat istiadat Bumi ternyata merupakan seorang ‘putri’ dari planet lain. Ia dan wakil-wakil lain dari planetnya datang ke Bumi dan ditampung oleh organisasi Novusmundus—yang punya markas terapung bernama Pharos di laut—untuk menemukan kebenaran tentang peninggalan pusaka-pusaka Vox di Bumi. Lan sendiri ternyata merupakan pilot sebuah Vox lain, yakni Vox Lympha yang berwarna biru, yang belakangan ia beri nama Orca.

Lan kemudian menjadi teman dekat Madoka dan bahkan ikut bersekolah dengannya. Terutama setelah munculnya seorang murid pindahan bernama Muginami. Muginami sekilas tampil dalam keseharian Madoka sebagai gadis cantik yang agak-agak ‘lamban.’ Tapi sebenarnya ia memiliki niat tersembunyi untuk menyusup ke Pharos dan mencuri unit Vox terakhir, yakni Vox Ignis yang berwarna jingga (yang belakangan Muginami namai Hupo).

Muginami ternyata sama-sama alien seperti Lan, namun dirinya berasal dari pihak yang bertentangan dengan pihak Lan. Itu pula alasan mengapa meski ia mengakrabkan diri dengan Madoka, Muginami menyimpan sedikit antipati terhadap Lan.

Ternyata dulu suatu bencana besar pernah terjadi di masa kuno Bumi, yang membuat sebagian besar penduduknya, yang memiliki peradaban lebih canggih dari sekarang, untuk hijrah ke luar angkasa. Para penduduk yang hijrah ke luar angkasa ini rupanya adalah cikal bakal dua negara Le Garrite tempat Lan berasal, dan De Metrio tempat Muginami berasal. Sedangkan manusia Bumi di masa kini adalah keturunan dari mereka yang bertahan untuk tak hijrah.

Para pihak yang bertentangan ini rupanya sama-sama mengincar pusaka-pusaka Vox untuk mengakhiri peperangan, lewat pasukan-pasukan mecha Ovid mereka masing-masing. Hanya saja, ada suatu legenda tentang kehancuran besar-besaran tentang ketiga Vox di masa lalu, yang dibawa kedua belah pihak ke luar angkasa. Ketakutan bahwa setiap Vox tersebut yang awal mulanya menciptakan kehancuran besar di Bumi itulah yang kemudian menciptakan semacam status quo genting, dengan Kamogawa sebagai latarnya.

Tiga Kursi

Mungkin ini agak susah dibayangkan. Tapi meski premisnya agak ngebingungin, LagRin nyaris tak menonjolkan sisi fantastisnya. Meski ada adegan-adegan pertempuran dan konflik, ceritanya lebih berpusar pada hubungan persahabatan antara tiga sekawan Madoka, Lan, dan Muginami saja.

Nuansanya agak-agak ke arah yuri, jadi… terus terang, aku sempat agak kesulitan mengikuti seri ini. Di samping itu, daya tarik seri ini dari segi cerita lebih ke situasional daripada karakter. Sehingga saat situasinya mulai ‘tenang,’ daya tariknya buatku jadi agak hilang.

Sejalan dengan itu semua, tetap ada sejumlah ‘tanda-tanda’ yang kemudian tersebar di sepanjang cerita sih. Dan kurasa ‘tanda-tanda’ itulah yang akhirnya membuatku penasaran tentang seperti apa seri ini akan berakhir. (Di samping aku ingin tahu bagaimana seri ini kira-kira bisa diimplementasikan dalam sebuah game Super Robot Wars.) Ada adegan-adegan kilas balik singkat yang menggambarkan bahwa De Metrio bukan kesatuan yang utuh. Muncul pertanyaan-pertanyaan tentang apa motif pemicu peperangan ini sesungguhnya. Lalu menjelang akhir, ada teka-teki tentang hadirnya sosok seorang gadis misterius bernama Yurikano di dalam benak Madoka. Hadir pula ketua Novusmundus, seorang gadis mungil bangsawan bernama Astaria, yang terlepas dari semua ke-loli-annya, mengindikasikan bahwa dirinya bukan manusia biasa. Tentu saja semuanya berbalik ke bagaimana hubungan semua ini dengan ketiga Vox dan kekuatan terpendam yang mereka punya.

Berhubung Bumi dan Le Garrite beraliansi, sebagai orang yang berasal dari pihak berseberangan, ada cukup banyak konflik yang melanda Muginami sih. Terutama setelah ia terpaksa mengkhianati(?) kakak laki-lakinya, Villagulio, yang menjadi tokoh antagonis paling menonjol di seri ini (tapi dia pun tak bisa dikategorikan sebagai tokoh jahat). Tapi inti ceritanya benar-benar lebih ke keseharian Madoka dkk dalam Klub Jersey dan bagaimana persahabatan mereka bisa terbangun.

Sekali lagi, porsi keseharian dan kehidupan sekolahnya JAUH lebih banyak dari yang mungkin kau perkirakan. Meski kau tertarik, mungkin kau bakal sulit buat ‘tahan’ menonton ini. Soalnya kayak, rasanya kayak ada sedikit sekali ‘kemajuan’ yang terjadi. Tapi kalau kau bisa menangkap betapa banyaknya ‘tanda-tanda’ bakal terjadinya sesuatu di sana-sini, mungkin kau bakalan ingin tahu juga soal season 2-nya bakal kayak apa.

Maru!

Membahas teknisnya, LagRin sama sekali bukan seri yang buruk. Baik visual maupun audionya lumayan. Hanya saja mungkin yang bisa membuat aneh adalah cara penggambaran latar di beberapa adegan. Paling mencolok, penggambaran langitnya terlihat agak aneh. Rasanya jadi kontras dengan bawaan ceria yang seri ini coba usung.

Kalau kau suka seri-seri lain yang pernah disutradarai Sato-sensei, ada peluang kau juga bisa menikmati ceritanya sih. Masalahnya adalah baik adegan aksi, drama, ataupun intriknya sama-sama tak terlalu menonjol. Plotnya tak benar-benar bisa dibilang menarik. Di samping itu, cerita LagRin terpotong menjadi dua segmen. Berakhir pada bagaimana Madoka dan kawan-kawannya terpaksa berpisah, seiring dengan datangnya armada kapal utama pimpinan Dizelmine, kakak lelaki Lan. Sehingga ada rasa kurang memuaskan yang dihadirkan pada season pertama.

Makanya, itu alasan utama kenapa seri ini bukan sesuatu yang akan kurekomendasikan ke kebanyakan orang sih. LagRin tak begitu terasa seperti anime mecha. Perasaan kita masih belum begitu tergerak. Kita masih dibiarkan bertanya-tanya tentang apa-apa sesungguhnya yang telah terjadi. Kita juga mungkin masih belum sepenuhnya ngeh soal situasi perpolitikan yang dipaparkan dalam seri ini. Semua karena aspek kesehariannya itu yang begitu ditonjolkan dan menyita sebagian besar perhatian kita.

Tapi setelah kulihat sendiri, season 2-nya lebih menjanjikan. Serius.

Itu alasan kenapa aku menulis ini sekarang.

Tapi kuceritakan lebih banyak soal itu di lain waktu.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: B; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B-

26/03/2012

Blood-C

Ada teman yang membicarakannya, jadi secara iseng aku memeriksanya juga.

Blood-C adalah seri anime yang dibuat oleh Production I.G. sebagai bagian dari waralaba aksi supernatural Blood yang diciptakan pada awal dekade 2000 oleh studio yang sama. Pertama tayang pada paruh akhir tahun 2011, alasan Blood-C cukup istimewa adalah keterlibatan grup mangaka Clamp di dalamnya, yang dikenal dengan gaya desain karakter mereka yang khas serta nuansa cerita tak lazim yang sering mereka angkat (Tsubasa Reservoir Chronicle, Cardcaptor Sakura, dsb).

Sedikit info bagi yang belum tahu tentang waralaba Blood, semuanya dimulai dengan film layar lebar Blood: The Last Vampire yang mengetengahkan tokoh utamanya, seorang gadis misterius berseragam SMA bernama Saya. Saya yang bersenjatakan sebilah pedang katana, dan jelas-jelas bukan manusia biasa, dipekerjakan oleh suatu lembaga pemerintahan misterius untuk membasmi ancaman monster yang menyerupai vampir di sebuah pangkalan Amerika yang ada di Jepang.

Detil latar dan karakternya tak banyak, dan cerita hanya sedikit diperjelas melalui beragam media lain (sejumlah manga dan novel kalau enggak salah), sampai Production I.G. kemudian memproduksi seri televisi Blood+ pada tahun 2005. Premisnya serupa, dengan Saya sebagai seorang siswi SMA ‘tak biasa’, yang dengan bersenjatakan katana, didesak oleh keadaan untuk membasmi monster. Tapi segala sesuatunya diperluas dengan hadirnya beragam tokoh baru (terutama ‘keluarga’ Saya) serta kenyataan bahwa Saya seolah kehilangan ingatannya. (Sori, aku sendiri enggak ngikutin, jadi kurang begitu tahu.)

Blood-C juga menampilkan premis serupa, tapi dengan sentuhan ala Clamp yang benar-benar kental. Tokoh-tokoh yang sekilas ceria, lucu, dan perhatian, yang didesain dengan bentuk badan langsing dan tungkai-tungkai panjang. Bentuk pakaian yang mencolok. Lalu drama keseharian yang membahas hal-hal yang tak jelas penting atau enggaknya. Tapi bagusnya, kau tak perlu tahu banyak tentang seri-seri Blood sebelumnya untuk menikmati Blood-C kok. Kau hanya perlu… sedikit kesabaran untuk bisa menikmati gaya nuansa Clamp saja.

(Sebenarnya ada juga adaptasi live-action dari Blood: The Last Vampire yang meski dibuat dengan tulus, mungkin sebaiknya enggak perlu kita bahas.)

Cette vie qu’est-ce qu’il y a a voir?

Blood-C mengetengahkan tokoh utama yang bernama Kisaragi Saya, yang sekilas adalah seorang siswi SMA biasa yang agak ‘terlalu’ ceroboh dan baik hati, dan kurang peka terhadap isyarat rasa suka orang lain terhadapnya.

Separuh episode-episode awal Blood-C biasanya memaparkan kehidupan sehari-harinya bersama orang-orang di sekelilingnya. Menjalani tugas sehari-harinya sebagai miko dari kuil shinto yang ditempatinya bersama ayahnya, Kisaragi Tadayoshi. Sarapan dan menerima bekal makan siang di kafe Guimauve yang dikelola seorang pria yang merupakan sahabat Tadayoshi, Nanahara Fumihito. Lalu melewatkan waktu di sekolah dengan membahas soal beragam hal tak penting bersama teman-teman dekatnya di kelas: Amino Yuka yang dewasa dan berperan sebagai semacam ‘kakak perempuan’, pasangan gadis kembar Motoe Nene dan Motoe Nono yang sangat kompak, ketua kelas Tomofusa Itsuki yang menyukai Saya, serta Tokizane Shinichiro yang penyendiri namun belakangan memperlihatkan ketertarikan pada Saya. Ada juga wali kelas mereka, bu guru Tsutsutori Kanako, yang hanya bisa menghela nafas setiap kali Saya nyaris datang terlambat ke kelas (yang sering terjadi dan biasanya karena alasan-alasan konyol).

Namun saat malam tiba, segalanya berubah. Saya rupanya kemudian akan ditugaskan oleh ayahnya untuk pergi ke berbagai penjuru dari kota kecil yang mereka tempati untuk membasmi makhluk-makhluk mengerikan bernama Furukimono. Kepada Saya akan dipercayakan sebilah pedang katana yang merupakan pusaka suci kuil mereka. Lalu saat memegang pedang tersebut, kepribadian Saya akan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang jago pedang dengan tatapan mata dingin yang sangat piawai dan tangguh.

Ceritanya benar-benar beranjak dari sana. Kita bersama Saya akan mulai memperhatikan hal-hal aneh yang sebenarnya tersamar dari keseharian Saya ini, sampai terungkapnya secara perlahan kenyataan sebenarnya tentang kaum Furukimono yang memangsa manusia. Kadangkala pemaparan cerita dalam sebuah episode, dengan gaya khas Clamp, akan diselingi monolog seorang narator misterius yang muncul entah dari mana, yang dengan kuat mengindikasikan hal-hal tak beres yang ada di kota tersebut.  Lalu segalanya memuncak dengan kenangan akan sebuah janji yang belakangan menghantui Saya, tapi tanpa bisa Saya ingat.

Tracing the Moon With Your Fingertips

Terlepas dari nuansa Clamp-nya yang khas, seperti halnya seri-seri Blood lain, daya tarik yang Blood-C miliki sebenarnya terletak pada aspek-aspek horor dan aksinya. Adegan-adegan pertarungan yang harus Saya lalui hampir di setiap episode itu benar-benar keren. Benar-benar menegangkan dengan koreografi enak dilihat. Gaya desain karakter Clamp yang cenderung ‘cantik’ secara agak mengejutkan menegaskan daya tarik adegan-adegan ini, dan benar-benar membuatnya enak dilihat.

Monster-monster Furukimono-nya sendiri cukup grotesque dan lumayan cukup bikin merinding. Semuanya memiliki gaya bertarung masing-masing, sehingga selalu menarik melihat bagaimana Saya akan menaklukkan setiap lawannya yang baru.

Membahas segi teknis, animasi Blood-C sangat solid di sebagian besar durasi, walau sebagian besar usaha untuk mengerjakan detilnya lebih banyak diberikan untuk adegan-adegan pertarungannya.  Visualnya, yang menampilkan adegan-adegan gore yang sangat eksplisit (dengan darah muncrat ke mana-mana), disensor sangat banyak pada versi siaran televisinya. Agak mengganggu, tapi aku merasa mungkin ada sebagian orang yang memang takkan kuat melihatnya.

Dari segi suara, soundtrack yang Blood-C punya termasuk keren. Musik latarnya mungkin terasa datar pada banyak bagian. Terutama bila kau gampang bosan dengan adegan-adegan kehidupan sehari-harinya. Tapi apabila perhatianmu sanggup bertahan sampai ke adegan-adegan horornya, mungkin kau akan dibuat tercengang dengan bagaimana musiknya berhasil membuatmu terjaga karena tegang atau resah. Mizuki Nana yang berperan sebagai Saya dengan sukses menampilkan kedua sisi Saya yang kontras. Lalu meski aku tak begitu mengenal nama-nama para pengisi suara lainnya, kesemuanya berhasil memainkan peran mereka secara baik. Lagu rock berjudul spiral yang dibawakan grup Dustz mewarnai animasi lagu pembuka dengan benar-benar keren, terutama pada bagian saat dengan tempo lambat, kulit Saya digambarkan terbungkus lapisan merah yang menandai perubahan sisinya.

Secara garis besar, ini benar-benar salah satu anime seru yang takkan sulit ditonton secara maraton, asalkan kau bisa terbiasa dengan segala sesuatunya.

Ceritanya sayangnya berakhir menggantung, walau dengan cara yang lumayan memukau, dan akan dituntaskan dalam film layar lebar Blood-C: The Last Dark yang akan tayang di Jepang pada bulan Juni tahun 2012 ini.

Bagi penggemar xxxHolic, ada kaitan tak disangka yang Blood-C ternyata miliki dengannya.

Seri ini benar-benar menawarkan daya tarik seimbang baik bagi penggemar lama seri Blood maupun penggemar karya-karya Clamp. Bila kau termasuk salah satunya, maka seri ini patut kau lihat.

Penilaian

Konsep: B; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

25/03/2012

Guilty Crown

Aku ingin bicara soal Guilty Crown (harfiahnya berarti ‘mahkota yang bersalah’).

Anime keluaran musim gugur tahun 2011 ini menjadi salah satu judul yang menonjol pada masanya. Bukan hanya karena animasinya yang benar-benar cantik buatan studio Production I.G., tapi juga karena desain karakter yang ditangani oleh Redjuice; serta musik pembuka, penutup, serta insert yang ditangani oleh band pop ternama, Supercell.

Aku takkan mengulas soal Redjuice dan Supercell. Ada lebih banyak orang yang tahu tentang mereka melebihi aku. Yang pasti, mereka terkenal dan diakui memiliki kualitas. Karenanya, keterlibatan mereka dalam sebuah anime seperti ini benar-benar menarik perhatian.

Sutradaranya sendiri adalah Araki Tetsuro (dikenal sebagai sutradara anime Death Note dan High School of the Dead, yang keduanya mesti diakui dieksekusi dengan baik), dan bersama UN-GO (dan kemudian Black Rock Shooter), Guilty Crown mengisi slot tayang Noitamina. Tak seperti kebanyakan seri Noitamina sebelumnya, Guilty Crown terdiri atas 22 episode, yang berarti seri ini sepanjang dua musim tayang.

Alasan aku ingin membahas soal Guilty Crown adalah karena belum lama ini, ada seorang sutradara anime terkenal yang mengatakan bahwa kebanyakan anime zaman sekarang hanyalah tiruan dari tiruan dari tiruan lainnya. Yang seakan menjadikannya media yang telah kehilangan kemampuan ekspresinya. Dan… hal yang terlintas di pikiranku semakin aku mengikuti perkembangan Guilty Crown adalah perkataan sutradara tersebut.

So everything that makes me whole…

Guilty Crown berlatar di masa depan, sepuluh tahun sesudah sebuah bencana mengerikan yang disebut Lost Christmas memporak-porandakan Jepang. Akibat bencana yang sekilas nampak sebagai pandemik virus ini, pemerintah Jepang dibekukan karena dinilai gagal mengatasi situasi. Lalu pemerintahan diambil alih oleh pemerintahan buatan dari Persekutuan Bangsa-Bangsa, dalam bentuk sesuatu yang disebut GHQ (Great Headquarters—mirip dengan situasi pendudukan Jepang seusai berakhirnya Perang Dunia II).

Virus bersangkutan, Apocalypse Virus, tidak jelas media penularannya. Tapi saat seorang terinfeksi, pada tubuh mereka akan terbentuk lapisan permukaan kristal, dan secara perlahan mental mereka akan terkikis sampai mereka nyaris gila. Belum ada obat yang ditemukan untuk menyembuhkan virus ini, meski belakangan ditemukan ada vaksin yang dapat ‘menekan’ gejala-gejalanya.

Cuma, karena sifat penularan virus yang tak jelas itu, timbul semacam paranoia di kalangan masyarakat, yang berakhir pada terbentuknya pasukan khusus Anti Bodies yang tak akan segan membantai siapapun yang bahkan hanya dicurigai terinfeksi virus ini. Pasukan Anti Bodies ini yang kemudian digunakan oleh GHQ untuk menyingkirkan siapapun yang sedikit saja menentang kekuasaan mereka.

Dalam situasi pendudukan itu, timbul perlawanan dari masyarakat Jepang dalam bentuk kelompok perlawanan bawah tanah, Shougisha (diterjemahkan sebagai Undertakers atau Funeral Parlor). Kelompok ini dipimpin oleh pemuda tampan karismatik Tsutsugami Gai.

Seorang remaja sekolah yang kurang pandai bergaul bernama Ouma Shu terlibat dalam semua konflik ini saat berjumpa dengan Inori, gadis manis/pendiam/misterius yang selama ini hanya dikenalnya sebagai vokalis grup musik Egoist yang Shu gandrungi, yang ternyata juga merupakan salah seorang agen Shougisha. Inori ternyata ditugaskan oleh Gai untuk mencuri sesuatu yang bernama Void Genome dari perusahaan Sephirah Genomics, produsen vaksin untuk Apocalypse Virus.

Satu dan lain hal terjadi. Sampai akhirnya, Void Genome yang semestinya Inori serahkan pada Gai malah pecah wadahnya dan kemudian tertanam dalam tangan kanan Shu. Shu kemudian jadi memiliki kemampuan menakjubkan untuk mengekstrak (secara harfiah) Void dari dalam diri orang lain, yakni senjata-senjata dahsyat yang merupakan manifestasi dari kepribadian dan sifat orang tersebut.

Dari dalam diri Inori, Shu mencabut sebilah pedang besar yang memungkinkannya melayang dan menjadikannya tandingan bagi pasukan mecha Endlave yang GHQ miliki.

Departures

Dari sini, segala sesuatunya menjadi rumit.

Tak ada yang tahu bagaimana cara mengeluarkan Void Genome dari tangan Shu. Karenanya, Gai—yang untuk suatu alasan memiliki kemampuan untuk melihat apa bentuk Void yang dimiliki tiap orang—kemudian mendorong Shu untuk bergabung dengan Shougisha.

Sementara Shu sendiri, antara rasa sukanya terhadap Inori dan rasa rendah dirinya sendiri, sebenarnya berada dalam situasi lebih pelik dari bayangannya karena…. (1) masalah pergaulan dengan teman-temannya di sekolah, (2) ada teman sekolahnya yang manis yang naksir padanya, (3) ibu Shu, Ouma Haruka, bekerja sebagai peneliti di Sephirah Genomics, (4) Shu gimanapun juga akan menjadi buruan GHQ, (5) munculnya konflik masa lalu akibat kenyataan bahwa TERNYATA MENDIANG AYAH SHU SENDIRI YANG MENCIPTAKAN VOID GENOME!

Maksudku, perkembangan-situasi-yang-diakibatkan-oleh-kebetulan macam apa iniiiii?

Belum lagi saat seorang pria paruh baya misterius bernama Keido Shuichirou yang menjadi tokoh yang hanya sekedar ‘ada’ di awal seri, tiba-tiba saja melakukan kudeta untuk mengambil alih GHQ, dan untuk suatu alasan menciptakan insiden Lost Christmas kedua di Jepang.

Shuichirou diam-diam dibantu oleh sesosok remaja misterius bernama Yu, yang ternyata memiliki Void Genome juga, yang ternyata merupakan perwakilan dari suatu kelompok berkuasa bernama Da’ath, yang ternyata merupakan secret society paling pertama yang pernah ada di muka Bumi semenjak zaman purba dan menjadi pencipta dari berbagai secret society lainnya sepanjang masa.

Lalu terungkap bahwa Shuichirou ternyata tak lain adalah saingan lama dari Ouma Kurosu, mendiang ayah Shu, yang ternyata adalah penemu pertama dari meteorit yang membawa Apocalypse Virus, yang ternyata pertama menginfeksi Ouma Mana, yang tak lain adalah mendiang kakak perempuan Shu, yang ternyata sebelumnya menyelamatkan seorang anak misterius dari laut saat mereka masih kecil, yang ternyata kemudian tumbuh menjadi Gai, yang ternyata adalah teman masa kecil Shu, yang ternyata menjadi saksi awal hubungan incest antara Mana dan Shu, yang ternyata kenangannya Shu tekan hingga ia sampai lupa, yang ternyata diakibatkan oleh infeksi virus dalam diri Mana yang mengacaukan kepribadiannya dan membuatnya ingin memicu evolusi terkini umat manusia, yang pada akhirnya berhasil digagalkan di saat-saat terakhir berkat Shu dan Gai, sampai kesadaran Mana tercipta kembali dalam diri Inori yang ternyata semacam tiruannya!

Shuichirou ternyata bermaksud melanjutkan keinginan Mana, menjadikan dirinya Eve bagi generasi umat manusia baru, sekalipun Mana sendiri pada awalnya telah memilih Shu sebagai Adam-nya, sehingga Shuichirou membunuh Kurosu atas rasa dengki, karena keturunan Kurosu-lah yang telah dipilih(?) sebagai induk umat manusia baru ini, sekalipun Shuichirou telah bersusah payah untuk menciptakan calon Adam-nya sendiri, yang salah satunya adalah Gai, yang menjadi satu-satunya subjek percobaannya yang lolos darinya, yang kemudian menjadi prajurit anak-anak tangguh, dikenal sebagai pahlawan berkat keterlibatannya dalam perang di Afrika, dan sebagainya.

Oh ya. Shuichirou ternyata adalah kakak lelaki Haruka, dan Haruka ternyata adalah istri kedua Kurosu.

… …

Kurang lebih begitu.

Remember that your strength is no coincidence

Segalanya mungkin memang terdengar menarik. Tapi terus terang, semuanya entah gimana berakhir jadi sangat konyol. Entah karena penceritaannya yang memang hanya kurang bagus, atau memang karena konsep awalnya yang menyebalkan.

Soalnya, sebenarnya, ada banyak subplot bagus muncul di seri ini. Tapi beneran, bersama setiap hal bagus yang muncul di seri ini, selalu muncul juga perkembangan cerita enggak jelas yang merusak segala-galanya. Di adegan flashback ke kenangan masa kecil Shu misalnya, pas kita berhasil dibuat penasaran tentang apa sebenarnya peran Mana yang sesungguhnya, tiba-tiba aja dimunculkan adegan di mana Shu kecil tersipu-sipu saat melihat siluet bentuk badan Mana ketika sinar mentari senja menembus kain summer dress yang dikenakannya. Maksudku, WTF is with that scene?!? Aku bisa memahami kasusnya kalau itu remaja yang lagi puber. Tapi Shu di adegan itu masih anak-anak! Anak-anak! Masa iya di usia 5-6 tahun pikirannya udah terpengaruh ke arah sana?!

Ceritanya kayak digarap… dengan benar-benar seenaknya gitu, dengan ide-ide enggak masuk akal tiba-tiba aja dimasukkan gitu aja. Pas paruh akhir cerita, kayaknya mulai terlihat bahwa staf Production I.G. mulai enggak peduli lagi soal seri ini akan dibawa ke mana. Terlihat dari tata cara penggambaran ekspresi karakternya yang secara terselubung dibuat ‘aneh’ serta pilihan kata-kata dalam dialognya yang mengandung double entendre.

Menyikapi perkembangan ceritanya yang makin ngawur, sesama penulis blog anime, Minoru, pada suatu titik dengan separuh bercanda pernah bilang sesuatu kayak, “Oke. Terus habis ini apa? Episode festival sekolah?” dan ternyata episode yang keluar sesudah ia mengatakan itu betulan mengetengahkan festival sekolah.

Entahlah. Kurasa intinya, Guilty Crown itu udah kayak mimpi basah seorang otaku.

Oya, aku belum bilang ya? Ada mecha-mecha besar bersepatu roda ala Code Geass di dalamnya. Selain episode festival sekolah, ada juga episode pantai dan pemandian air panas. Ada masalah ingatan terpendam. Ada masalah kepribadian ganda. Ada galau remaja. Ada konflik dengan orangtua. Ada adegan seks yang tiba-tiba aja diimplikasikan terjadi. Ada benda besar yang mengancam akan jatuh dari langit. Yah, begitulah.

(Gagal untuk mirip Code Geass, lalu Eureka Seven, lalu Evangelion? Itu yang kumaksud tiruan dari tiruan dari tiruan. Tapi aku beneran malah jadi ga enak karena ampe mikir kayak gini.)

Saking gado-gadonya, segalanya kayak jadi… terlalu kacau untuk bisa kau anggap serius.

Kokuhaku

Dengan demikian, bahasan kita berlanjut ke alasan orang-orang menontonnya.

Terlepas dari orang-orang yang bertahan menonton Guilty Crown karena penasaran soal sampai seancur apa seri ini akan berkembang, aspek presentasi Guilty Crown memang terlalu bagus buat diabaikan.

Serius. Aspek presentasi seri ini memang sekeren itu.

Dari segi visual, aku sudah menyebut soal desain karakternya di atas yang benar-benar mudah disukai (walau desain pakaiannya mungkin agak enggak begitu masuk di akal). Tapi sisa eksekusi anime ini benar-benar bagus. Animasinya sangat halus dengan pergerakan kamera yang bagus. Efek-efeknya mencolok. Desain dunianya keren dan mendetil.  Teknologi mecha Endlave yang digerakkan dengan kesadaran orang dari jarak jauh sangat menarik. Desain latarnya memikat. Lalu, mengingat aku penggemar Shin Megami Tensei, aku benar-benar menghargai kemiripan nuansa yang Guilty Crown tawarkan, melalui segala keajaiban yang Void Genome bawa serta situasi kota Tokyo yang terkena lockdown dan diwarnai kehancuran.

Dari segi musik, kurasa justru di sanalah letak hati Guilty Crown tersimpan.

Sempat ada kontroversi soal bagaimana Ryo dari supercell tak memilih Yanagi Nagi sebagai vokalisnya untuk kali ini—seperti pada Bakemonogatari dan single-single lain mereka sebelum itu. Sebagai gantinya, diperkenalkan seorang vokalis muda baru bernama Chelly. Tapi memperhatikan warna suaranya, bisa dimengerti mengapa ia dipilih untuk menyanyikan lagu-lagu keren yang menjadi soundtrack seri ini.

‘My Dearest’, lagu pembuka pertamanya, mungkin merupakan salah satu lagu paling epik yang pernah kudengar sepanjang masa. Bahkan untuk ukuran lagu-lagu supercell! Mendengarnya semata benar-benar serasa mengaduk beragam emosi, yang seandainya saja berhasil dituangkan ke dalam cerita, pastinya akan berhasil mengubah Guilty Crown menjadi mahakarya.

Lagu pembuka keduanya, ‘The Everlasting Guilty Crown’, merupakan lagu favorit pribadiku karena benar-benar larut dan sesuai dengan sisi keren cerita.

Lalu terlepas dari lagu-lagu pembuka dan penutupnya, musik latarnya ditangani oleh Sawano Hiroyuki yang juga membuat musik latar keren dari Gundam Unicorn! Hasilnya secara garis besar benar-benar keren.

Makanya, kebagusan kemasannya ini benar-benar jadi… timpang dengan kualitas inti ceritanya, dan kualitasnya itu benar-benar turun-naik secara ekstrim di sepanjang seri. Menciptakan semacam hubungan cinta-benci bagi siapapun yang mencoba menontonnya. Pada akhirnya, ceritanya sendiri memang berakhir agak mengecewakan sih. Sekali lagi, karena ceritanya sempat menjadi ‘aneh’ hanya beberapa menit menjelang akhir. Mungkin juga karena luasnya cakupan cerita dibandingkan durasinya yang hanya sebatas 22 episode. Tapi kualitas eksekusinya memang terbilang enggak buruk…

Agak susah membayangkannya bila kau belum melihatnya sendiri.

Eniwei, pada akhirnya, kamu ngamuk sekalipun soal ceritanya, akan ada banyak alasan bagimu untuk mengenang proyek besar Production I.G. ini. Ada banyak hal tentangnya yang memang masih enggak jelas dan mesti diperbaiki. Tapi asal kau enggak berpikir mendalam tentangnya, mengganggapnya semacam b-movie sambil lalu aja, kau masih bisa menikmatinya kok.

Sesering apapun seri ini membuatku muntah, seenggaknya pada akhirnya aku enggak sampai muntah darah.

Lalu, kalau menonton ulang semua dan memperhatikan hal-hal kecil yang seri ini berikan, sering sekali ada bagian-bagian tertentu yang membuatmu agak ‘wow.’

Jadi kayak, kadang aku dibikin mikir, sebenarnya apa sih yang ada di pikiran para pembuatnya? Dan kalau aku menyingkirkan apa-apa yang membuatku kesal dan coba menebak-nebak, mungkin memang Guilty Crown sebenarnya mempunyai lebih banyak hal tersirat dari yang tampak di permukaan.

The Three Ghosts of Pre-Apocalypse

Aku belum paham gimana persisnya. Tapi tim produksi Guilty Crown sebenarnya  telah menyiapkan beragam detil latar dan karakter yang menarik sehubungan dunianya.

Sebagian besar detil ini sepertinya baru akan dipaparkan dan dieksplorasi lebih lanjut dalam game visual novel  Guilty Crown: Lost Christmas. Game ini merupakan semacam prekuel sekaligus spin-offnya gitu, berlatar sepuluh tahun sebelum cerita di seri TV-nya, dan secara mendebarkan tengah dikembangkan oleh Nitroplus. Belum terlalu jelas hasilnya akan seperti apa, tapi Nitroplus sudah lama dikenal sebagai produsen VN dengan cerita-cerita yang gelap tapi berbobot. Jadi kita bisa mengharapkan suatu perbaikan kualitas cerita menyeluruh darinya.

Tokoh utama ceritanya adalah seorang pria misterius yang dikenal sebagai Scrooge, yang melarikan diri dari suatu fasilitas penelitian tertentu, dan bertahan hidup bersama partnernya, seorang gadis cantik yang tak kalah misteriusnya, Carol. Scrooge konon memiliki kekuatan Void Genome yang serupa dengan yang akan dimiliki Shu. Lalu keduanya dikejar-kejar oleh tiga ‘hantu’ yang semakin mempertegas inspirasi dari A Christmas Carol-nya Charles Dickens: Past, Present, dan Yet to Come, yang sama-sama rupawan(?) dan juga sangat misterius.

Hanegaya Jin yang membuat cerita VN Demonbane menjadi penulis skenarionya, dan konon ceritanya akan berfokus pada insiden Lost Christmas. Akan ada film animasi pendek berisi sebuah cerita orisinil yang akan mengiringi peluncuran game ini juga.

Aku punya perasaan cerita VN-nya akan berakhir tragis. Tapi lebih lanjut tentangnya kukabari lagi sesudah semuanya jelas.  Soalnya ceritanya sendiri beneran gelap.

Scrooge adalah seseorang yang kehilangan ingatannya. Lalu Carol ternyata agak mempermainkannya karena diam-diam mengetahui segala sesuatu soal jati dirinya sejak awal. Ada semacam dendam yang Carol miliki terhadap Scrooge. Lalu hilangnya ingatan Scrooge tersebut terkait dengan bagaimana ingatan itu mungkin memang lebih baik tak dia ingat kembali. Pokoknya, semua memang terkait dengan Void Genome tak sempurna yang tertanam di tangan Scrooge, yang membuat jenis Void Genome yang ditariknya dari Carol agak berbeda dari yang ditampilkan Shu.

(Beberapa hal menarik meliputi bagaimana Void Genome Scrooge ‘beracun’ bagi orang lain, karenanya ia hanya bisa menariknya dari Carol. Namun bentuk Void yang bisa Scrooge tarik ternyata bisa berbeda-beda(!) pada setiap waktu, lalu desain karakter Scrooge dan Carol sangat mirip desain Shu dan Inori. Tapi sudahlah dulu soal itu…)

Di samping yang di atas, diterbitkan pula light novel berjudul Guilty Crown: Princess of Deadpool karya Gan Saaku, yang juga penulis dari Nitroplus, yang memaparkan sebuah cerita sampingan yang berlangsung di pertengahan cerita seri TV-nya. Masih terbatas info tentang apa cerita ini, tapi kelihatannya berfokus pada seorang siswi bernama Hinata Hiyori dan teman-temannya dari SMA Meisei. Dipaparkan hadirnya pemilik Void Genome selain yang dikembangkan oleh Sephirah Genomics, dan ada konflik yang kemudian melibatkan mereka dengan kelompok Shougisha…

Info lain soal ini kalau ada akan kutambahkan nanti.

Kebenarannya Ada di Hatimu

Kalau kupikir sekarang, terlepas dari alur ceritanya yang terkadang enggak masuk akal dan tamatnya yang enggak begitu bisa dibilang jelas, Guilty Crown termasuk salah satu anime yang punya porsi perkembangan cerita yang epik lho. Masing-masing episodenya memiliki porsi cerita yang padat dan berarti, dengan eksekusi yang sekali lagi, kalau bukan karena sisi nakalnya (Tsugumi? Ayase?), bisa kukatakan bagus.

…Rasanya aneh, tapi kalau kupikir lagi, seandainya ada upaya untuk meremake-nya ke dalam bentuk movie atau mengadaptasinya ke bentuk novel, ada peluang besar aku akan tertarik. Mungkin masih ada suatu pelajaran tersamar yang akan kau dapatkan bila kau menonton ini kok. Jadi walaupun sampah, seenggaknya masih belum menutup kemungkinan buat didaur ulang.

(Enggak, aku juga enggak tahu buat maksud apa mereka mendesain baju Inori kayak gitu.)

(Asal tahu aja, ceritanya berakhir bahagia. Tapi pada suatu titik tertentu, ada kemungkinan kau enggak akan lagi terlalu peduli.)

Penilaian

Konsep: X; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: X; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: D-

(Nilai X berarti bisa sangat bagus dan sangat kurang tergantung bagiannya, nilai eksekusi mendapat pengurangan karena banyak bagian yang dibuat dengan sangat baik tapi dengan cara yang kurang semestinya.)

23/07/2011

Moshidora

Sewaktu aku pertama mendengar tentangnya, seketika saja aku langsung tertarik pada premisnya.

Moshidora, atau yang berjudul lengkap Moshi Koko Yakyu no Joshi Manager ga Drucker no “Management” o Yondara (kurang lebih berarti ‘gimana seandainya manajer cewek tim bisbol SMA ngebaca “Management” karangan Drucker), pada awalnya keluar sebagai novel berjudul sama karangan Natsumi Iwasaki, dengan ilustrasi buatan Yukiusagi dan Bamboo, yang diterbitkan penerbit Diamondosha menjelang akhir tahun 2009. Novel ini kudengar cukup digemari, dan menjadi salah satu novel terlaris yang dijual di Jepang pada masanya.

Versi animenya diproduksi oleh Production I.G. dan berdurasi total 10 episode. Masa penayangannya di saluran NHK adalah pada musim semi 2011, meski penayangannya tersebut sempat tertunda oleh bencana gempa besar yang menerpa Jepang pada waktu itu.

Eniwei, Moshidora berkisah tentang sepak terjang sang tokoh utama, gadis periang bernama Kawashima Minami, sebagai manajer pengganti dari klub bisbol sekolahnya, SMA Hodokubo. Minami ceritanya menjadi manajer untuk sementara menggantikan sahabat karibnya, seorang gadis lemah lembut pecinta bisbol bernama Miyata Yuki, yang pada waktu itu, karena kondisi tubuh lemah yang dideritanya, harus memulai rawat inap di rumah sakit.

Minami ceritanya pergi ke toko buku untuk mencari petunjuk tentang apa persisnya peran yang harus dijalaninya sebagai manajer klub, dan karena suatu kesalahpahaman, ia akhirnya membeli buku Management karangan Peter Drucker (FYI, orang ini beneran ada lho) yang sebenarnya merupakan buku panduan bisnis bagi orang-orang yang mau berwirausaha. Meski disadarkan akan kekeliruannya oleh Yuki, karena sudah terlanjur beli, Minami memutuskan untuk tetap membaca buku itu juga. Dan di luar dugaan keduanya, di dalam buku tersebut ternyata terkandung kunci-kunci petunjuk yang mungkin saja mengubah tim bisbol SMA mereka yang lemah menjadi tim yang mampu berlaga di Koshien, di mana kejuaraan bisbol nasional SMA di Jepang dilangsungkan.

Keju Inovasi

Seperti seri-seri anime lain yang ditayangkan di NHK, Moshidora mengandung muatan pendidikan dan terbebas dari fanservice yang tak berguna. Materi yang diusung jelas-jelas soal penerapan prinsip-prinsip manajemen untuk meningkatkan kinerja sebuah tim bisbol (istilah ‘manajer’ untuk sebuah klub olahraga SMA di Jepang memiliki makna yang agak berbeda dari ‘manajer’ dalam dunia bisnis).

Minami, dengan didukung Yuki di rumah sakit, menghadapi satu per satu tantangan yang membuat tim bisbol sekolah mereka sulit berkembang: pelatih yang kesulitan berkomunikasi, pitcher yang kehilangan kemampuannya untuk melempar strike, shortstop yang mentalnya sering jatuh di bawah tekanan, hingga kapten yang merasa tak lagi mampu memfokuskan perhatiannya untuk memimpin. Tentu saja dengan petunjuk dari ajaran-ajaran Drucker.

Materi manajemen yang disampaikan dalam anime ini mungkin agak disederhanakan. Tapi itu bukan berarti materi yang disampaikannya tidak aplikatif. Belum lagi penyampaiannya bukan dalam bentuk ceramah, melainkan nyata-nyata dalam bentuk pemaparan contoh-contoh. Sehingga filosofi ajarannya, bagi mereka yang cukup bersabar untuk menyimak baik-baik, jadi lumayan mudah diserap.

Sayangnya, dari sudut pandang umum, Moshidora (kayak kebanyakan anime NHK lain pula) bukanlah salah satu seri anime yang menonjol. Visual dan desain karakternya untuk ukuran sekarang bisa dibilang teramat sederhana. Serupa dengan beberapa seri anime drama keluaran Production I.G. lain belakangan, seperti Kimi no Todoke dan Bungaku Shoujo, sebagian besar animasi di Moshidora dibuat menggunakan tangan. Penggunaan CG-nya sangat terbatas. Tak ada nuansa ‘wah’ yang bakalan kau lihat di dalamnya. Sebagai gantinya, warna-warna sederhana yang memberikan nuansa lembut (kayak pastel?) banyak dipakai sebagai penghiasnya–secara tak langsung membuat penonton memberi perhatian lebih pada apa yang berusaha disampaikan dalam cerita alih-alih pada gambarnya.

Musiknya, di sisi lain, menurutku bisa dibilang bagus. Pembuka dan penutupnya yang dibawakan Azusa (yang juga nyanyiin intro Amagami SS) cukup kusuka. Tapi adalah BGM seri ini yang beberapa kali bikin aku terkesima. BGM-nya itu kayak yang sering dipakai di seminar-seminar motivasional gitu, yang secara perlahan membangun kerasaingintahuan peserta akan apa selanjutnya yang bisa dilakukan.

Ada sedikit drama di Moshidora, terutama menjelang akhir. Lalu meski tak ada romansa, sayangnya, eksekusi sejumlah adegannya berakhir agak cheesy. Tapi pesan yang disampaikan seri ini benar-benar positif.

Kalau ada temanku yang memintaku untuk diajari soal manajemen, kurasa aku akan menyarankannya nonton Moshidora terlebih dahulu.

(Ah, dan yang mengisi suara Yuki adalah Kana Hanazawa. Kali-kali ada salah satu dari kalian yang menggemarinya juga.)

Penilaian

Konsep: A+; Visual: C; Audio: A-; Eksekusi: B-; Perkembangan: C+; Kepuasan Akhir: B+