Posts tagged ‘P.A. Works’

28/12/2016

Uchouten Kazoku

Ossu.

Berhubung season keduanya sudah akan diproduksi, bahasan kali ini soal Uchouten Kazoku.

Uchouten Kazoku, atau yang juga dikenal dengan judul The Eccentric Family (‘keluarga yang nyentrik’) berawal dari novel buatan Morimi Tomohiko. Seri ini sekilas terkesan seperti cerita komedi ringan. Tapi sebenarnya ini termasuk seri drama bertema keluarga yang menggugah dengan cara yang tak biasa.

Pertama diterbitkan pada September 2007 oleh penerbit Gentosha, Uchouten Kazoku mulai lebih dikenal semenjak adaptasi anime TV-nya dibuat studio P.A.Works pada pertengahan 2013. Penyutradaraannya dilakukan oleh Yoshihara Masayuki. Naskah ceritanya ditangani oleh Suga Shoutarou. Musiknya dikomposisi oleh Fujisawa Yoshiaki. Lalu jumlah episodenya sebanyak 13.

Ada dua alasan kenapa aku tertarik pada Uchouten Kazoku. Pertama, karena statusnya sebagai karya Morimi-sensei. Beliau penulis asli cerita Yojou-han Shinwa Taikei, yang pada tahun 2011 diadaptasi ke bentuk anime oleh studio Madhouse. Seri drama aneh yang juga berbagi latar dengan Uchouten Kazoku ini berakhir menjadi salah satu seri favoritku.

Alasan kedua, karena desain karakter orisinil untuk anime ini dibuat oleh Kumeta Kouji. Kumeta-sensei adalah pengarang manga komedi satir Sayonara, Zetsubou-sensei. Meski karya-karya beliau tak pernah bisa sepenuhnya aku sukai, gaya gambar beliau yang terkesan sederhana selalu punya kesan atraktif. Sayonara, Zetsubou-sensei dulu cukup populer untuk diadaptasi sampai tiga season oleh studio SHAFT. Makanya, begitu proyek anime Uchouten Kazoku diumumkan, aku berpikir, kapan lagi gaya gambar Kumeta-sensei akan dianimasikan lagi? (Maksudku, yang tanpa diiringi keluhan-keluhan khas beliau soal zaman sekarang.)

Singkat kata, aku jadi merasa Uchouten Kazoku satu anime yang benar-benar perlu aku ikuti.

Noryo-Yuka no Megami

Walau mengangkat tema keluarga, Uchouten Kazoku agak susah dijelaskan tentang apa.

Latarnya di Kyoto, di zaman modern. Lalu ceritanya berfokus pada suka duka keluarga tanuki (semacam musang) marga Shimogamo yang berasal dari wilayah sekitar kuil Shinto bernama sama. Seperti dalam cerita-cerita rakyat, makhluk-makhluk tanuki tersebut memiliki kemampuan berubah wujud. Mereka dapat berubah baik menjadi benda hidup maupun benda mati. Lalu berbekal kemampuan berubah wujud inilah, mereka menjalani hidup di tengah keselarasan tak biasa antara komunitas tanuki mereka sendiri, peradaban manusia, dan kalangan tengu.

…Sekali lagi, buat kalian yang masih belum sepenuhnya terbayang, ada tiga jenis ras yang saling berinteraksi, yakni:

  • Tanuki
  • Manusia
  • Tengu (Siluman… gagak berhidung panjang? Dengan kemampuan mereka untuk terbang dan berubah ke wujud manusia juga, mereka dipandang keramat dan dalam mitologi sering dianggap sebagai utusan dewata.)

Ketiga ras tersebut sama-sama tinggal di Kyoto.

Semua tanuki dan tengu tahu tentang keberadaan ras-ras lain. Namun dari kalangan manusia, hanya individu-individu tertentu saja yang tahu tentang adanya tanuki dan tengu di tengah-tengah mereka.

Salah satu individu tertentu tersebut adalah seorang wanita sangat cantik yang dikenal dengan sebutan Benten.

Benten, yang bernama asli Suzuki Satomi, adalah perempuan muda yang bukan hanya disegani, tapi juga bahkan agak ditakuti oleh orang-orang yang mengenalnya dari ketiga pihak. Selain cantik bagaikan dewi, ada kekuatan supernatural juga yang Benten punyai, yang membuatnya bisa terbang seperti halnya para tengu. Di samping itu, Benten juga teramat cerdas, dan hampir tak ada orang yang benar-benar tahu tentang maksud di balik berbagai tindakan dan ucapannya.

Keluarga Shimogamo sendiri adalah salah satu keluarga tanuki paling dikenal di Kyoto. Alasannya karena mendiang pemimpin keluarga tersebut, Shimogamo Souichirou, sewaktu memegang jabatan sebagai Nise-emon, berhasil menyelesaikan konflik antar para klan tanuki sekaligus mempersatukan mereka. Beliau orang yang dikenal dengan karisma dan wibawanya. Namun demikian, pada suatu titik, Souichirou meninggalkan keluarganya dan menghilang tanpa kabar. Lalu sesudah bertahun-tahun, dirinya kini diyakini sudah meninggal.

Anggota-anggota keluarga yang Souichirou tinggalkan antara lain:

  • Ibu Shimogamo, istri mendiang Souichirou yang kini mendedikasikan hidupnya untuk kesejahteraan anak-anaknya. Hobinya (yang sebenarnya juga caranya mengatasi duka) adalah mewujudkan kecintaannya terhadap pentas teater Takarazuka dengan crossdress sebagai lelaki. Nama aslinya sampai akhir tak pernah terungkap.
  • Shimogamo Yaichirou, putra pertama yang kini menjabat sebagai pemimpin keluarga. Ingin bisa mengikuti jejak ayahnya sebagai Nise Emon, namun ia belum cukup matang dari segi kepribadian, kemampuan, maupun pikiran.
  • Shimogamo Yajirou; putra kedua, yang karena suatu alasan, telah kehilangan kemampuannya untuk berubah wujud. Kini berwujud katak dan menjalani hidupnya di dasar sebuah sumur, sembari sesekali memberikan nasihat-nasihat kehidupan pada orang-orang yang datang berkunjung.
  • Shimogamo Yosaburou, putra ketiga sekaligus tokoh utama cerita. Simpatik, cerdas, namun memiliki kepribadian bebas yang tak mau terikat tanggung jawab. Meski demikian, pada saat yang sama, Yosaburou juga yang secara umum dipandang punya paling banyak kemiripan dengan mendiang ayahnya.
  • Shimogamo Yashirou, putra keempat yang masih anak-anak. Masih sangat kecil saat ayahnya menghilang dan kurang begitu ingat tentangnya. Masih belum ahli dalam mempertahankan perubahan wujudnya, dan bila sedang gugup, wujud ekor dan telinga aslinya dapat tiba-tiba muncul.

Dari sudut pandang Yosaburou, kita secara bertahap diperlihatkan berbagai isu menyangkut keluarga Shimogamo. Isu-isu ini mencakup:

  • Keterpikatan terpendam Yosaburou terhadap Benten dan semacam hubungan persahabatan yang terjalin antara keduanya.
  • Hubungan lama Benten dengan guru anak-anak Shimogamo, yakni seorang tengu tua yang disebut Akadama-sensei (alias Nyoigatake Yakushibou) yang masih belum sudi melepasnya.
  • Permusuhan anak-anak Shimogamo dengan keluarga tanuki lain bernama Ebisugawa.
  • Soal Kaisei, satu-satunya anak perempuan Ebisugawa Soun, yang menjadi satu-satunya anggota yang berhubungan baik dengan keluarga Shimogamo.
  • Bagaimana Yosaburou pernah dijodohkan dengan Kaisei, namun Kaisei tak pernah sekalipun mau memperlihatkan sosoknya kepada Yosaburou.
  • Adanya sekelompok manusia bernama Friday Fellows (Kinyou Kurabu) yang hobi menyantap daging tanuki setiap akhir tahun.
  • Pemilihan Nise Emon baru dan bagaimana Yaichirou terlibat di dalamnya.
  • Pusaka-pusaka berkekuatan ajaib yang dahulu dimiliki Akadama-sensei namun kini dipegang Benten.
  • Penyebab Yajirou terjebak di wujudnya yang sekarang.
  • Penyebab Benten, bahkan dengan segala yang telah dimilikinya, dalam kesendiriannya terkadang menampakkan kesedihan.
  • Kemungkinan adanya pihak tertentu yang dengan sengaja hendak mencelakakan anggota-anggota keluarga Shimogamo…

Mencoba Lagi Lebih Keras

Aku mengikuti Uchouten Kazoku terutama karena berusaha memahami apa-apa yang dipaparkan di dalamnya. Bukan dalam artian narasinya jelek. Tapi, lebih dalam artian, bahwa apa-apa yang disampaikan di dalamnya adalah hal-hal yang terasa ‘dekat’ denganku, namun asing dan tak sepenuhnya aku pahami pada saat yang sama.

Ini bukan jenis seri yang dengan mudah bisa aku rekomendasikan. Tapi kalau misalnya aku ditanya apakah ini seri yang bagus atau tidak, maka jawaban singkatnya, tanpa keraguan sedikitpun, ini bagus.

Melalui mata Yosaburou, kita mulai menjelajah hal-hal tersembunyi dalam masa lalu keluarga Shimogamo, yang kesemuanya berakar dari hilangnya Souichirou, sang ayah. Maksudku, ini terasa seperti pengalaman yang bisa dilalui siapa saja yang pernah kehilangan anggota keluarga mereka sendiri. Yosaburou bertanya-tanya pada orang-orang yang dia kenal, berbagai kerabat dan saudara yang dia kenal, soal apa-apa yang mereka lihat dan tahu soal mendiang ayahnya. Intinya jadi ke soal menggali sisi lain orang-orang dekat yang kita sangka sudah kita kenal gitu. Lalu walau prosesnya terlihat menakutkan, hasil akhirnya akan kembali memperkuat kita sebagai keluarga.

Gampangnya, ini seri yang lumayan sukses membuatku berpikir soal anggota-anggota keluargaku sendiri. Soal apa-apa yang telah mereka lalui, soal sejauh mana mereka telah kita kenal. Lalu yang paling bagus adalah saat seri ini membawa kita ke momen ketika kita mikir, “Aku enggak bisa percaya kalo ternyata si A dulu pernah melakukan ini!”

Serius, itu pengalaman yang aku tak sangka akan dapatkan dari menonton anime.

Aku mengerti bahwa kemampuan kita menyelami ‘sampah’ dan sisi gelap orang lain ada batasnya. Makanya, salah satu alasan lain yang membuat Uchouten Kazoku bagus adalah keseimbangan aneh yang dimiliki aspek komedi dan dramanya, yang memuncak dengan keonaran yang lumayan mengguncang pada penghujung cerita.

Kau Cuma Perlu Membuatnya Menarik

Bicara soal teknis, visual seri ini jelas berbeda dari gaya visual Yojou-Han Shinwa Taikei. Iya, sekalipun yang ditampilkan tetap pemandangan kota Kyoto dengan subjek-subjek latar yang itu-itu juga. Gaya gambar Uchouten Kazoku lebih berkesan dua dimensi dengan lebih menonjolkan warna-warni gitu. Tapi itu tak berarti gambar-gambar pemandangan khas P.A. Works absen di seri ini. Pemandangan-pemandangan itu secara mengesankan tetap ada, hanya saja dengan gaya visual yang berbeda saja.

Secara audio, seri ini pun kuat. Grup musk Fhana membawakan lagu penutup yang pas dengan nuansa pengharapan seri ini. Aku perlu menyinggung khusus seiyuu veteran Noto Mamiko dalam perannya sebagai Benten, yang kembali meyakinkanku bahwa kemampuan mengisi suara seiyuu veteran bisa sedemikian jauhnya dari orang normal.

Kalau membahas soal eksekusi, ceritanya kelihatannya mengikuti dengan patuh alur cerita di novelnya. Kita tak pernah bisa-bisa menebak apa selanjutnya yang akan Yosaburou dan keluarganya temui pada episode berikut yang kita lihat.

Aku mengerti kalau temanya bukan jenis yang dengan mudah diikuti oleh kebanyakan orang. Aku juga mengerti kalau Uchouten Kazoku juga tak berakhir sebagai seri yang menonjol. Tapi untuk para penggemarnya, dan kebanyakan penggemar karya Morimi-sensei lain, ada sesuatu di dalamnya yang terasa sangat berarti secara pribadi.

Kalian tahu, jenis hal pribadi yang tak perlu kau ungkapkan pada orang lain.

Oh. Iya juga.

Meski penyelesaian ceritanya dibeberkan kepada kita, kelihatannya memang sengaja ada banyak pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab. Apalagi, setelah kita memikirkannya, bahasannya bisa mengarah ke wilayah yang cenderung gelap.

Maksudku, sesuatu yang benar-benar gelap untuk ukuran seri dengan banyak warna seperti ini.

Yah, mungkin musim tayang keduanya kelak akan memberi lebih banyak jawaban.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A- ; Kepuasan Akhir: B+

Iklan
31/10/2015

Charlotte

Aku lumayan sedih ketika Charlotte tamat.

Charlotte adalah anime 13 episode keluaran studio P.A. Works yang mengudara pada musim panas 2015. Anime ini sempat menjadi salah satu yang paling diperhatikan karena ceritanya dicetus oleh Maeda Jun dan desain karakternya dibuat oleh Na-Ga (keduanya dikenal karena keterlibatan mereka dalam perusahaan game Key). Makanya, seri ini jadi semacam ‘penerus’ dari karya anime orisinil mereka sebelumnya, Angel Beats!, yang dulu juga sempat menarik perhatian.

Karya-karya Maeda-san (serta game-game keluaran studio pengembang Key) memiliki kekhasan dalam nuansa komedi berbasis karakter dan drama hubungan antar tokoh yang kuat. Karya-karya mereka yang lalu (misal: AIR, Kanon, Clannad, Little Busters!) sama-sama punya kecendrungan untuk membuat kita menangis.

Jadi, dengan kata lain, kenyataan kalau aku menitikkan air mata di tamatnya Charlotte lumayan menjadi pertanda kalau ini seri yang berakhir memuaskan.

Tapi yang mengejutkan adalah… meski seharusnya aku enggak kaget kalau ini seri yang bikin aku tersentuh, aku tetap kaget karena selama penayangannya, Charlotte sebenarnya didesas-desuskan sebagai salah satu seri Maeda-san yang agak ‘kurang.’ Bukan karena jelek. Tapi lebih karena… enggak begitu berhasil bikin nangis?

…Yah, kurang atau enggak mungkin emang merupakan isu yang subjektif.

Terlepas dari itu, aku memang tak langsung mengikuti perkembangannya sih. Salah satu alasannya ya, karena itu: aku sebenarnya tak terlalu menggemari Angel Beats!. Di samping itu, seri-seri sejenis yang sempat kuikuti hanya Clannad serta AIR, dan aku tak begitu menyukai adaptasi anime Little Busters! dan Kanon. (Walau ada beberapa kenalanku yang suka sih.)

Tapi sebagian besar staf lainnya dari Angel Beats! juga berperan kembali. Lalu sutradaranya adalah Asai Yoshiyuki. Makanya, begitu aku dengar kalau mereka akan belajar dari pengalaman mereka dengan Angel Beats!, aku akhirnya punya perasaan positif kalau Charlotte akan menjadi satu seri yang layak dinantikan.

Saat Aku Memikirkan Orang Lain

Charlotte berfokus pada seorang remaja bernama Otosaka Yuu.

Ceritanya, di dunia Charlotte, ada remaja-remaja tertentu yang akan mendapati diri memiliki kekuatan-kekuatan istimewa. Kekuatan-kekuatan istimewa ini telah disebutkan sejak awal sebenarnya lebih bersifat seperti ‘penyakit’, dalam artian hanya akan muncul dan dapat digunakan pada saat pemiliknya mengalami pubertas. Jadi, sesudah mereka beranjak dewasa, sekitar usia 18 tahun, kekuatan tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Lalu kekuatan yang Yuu punya adalah kekuatan untuk mengambil alih tubuh orang lain selama lima detik. Selama Yuu mengambil alih tubuh orang lain itu, tubuhnya sendiri akan tersungkur dalam keadaan tanpa sadar. Kemudian setelah lima detik habis, Yuu akan terlempar kembali ke tubuhnya sendiri lagi.

Kekuatan tersebut selama ini dimanfaatkan Yuu untuk mencurangi ujian-ujian sekolahnya. Dia akan mengikuti ujian, menunggu sampai durasi ujian berlangsung sampai setengah jalan, kemudian dia akan mengambil alih tubuh orang-orang lain di ruang kelasnya untuk menconteki jawaban-jawaban mereka. (Tentunya, setelah sebelumnya memastikan masing-masing orang jagonya di mata pelajaran apa.)

Perbuatannya ini dilakukan sampai ia lulus SMP dan akan memasuki SMA. Lalu berhubung dirinya tampan dan punya pembawaan karismatik, tak ada yang pernah benar-benar sampai mencurigainya.

Sampai kemudian, di sekolahnya yang baru, Yuu tiba-tiba didatangi oleh dua orang sebayanya yang tak ia kenal, Tomori Nao dan Takajou Joujirou, yang dengan siasat cerdik membongkar semua perbuatan dan kebohongannya.

Mimpi-mimpi Tentang Masa Depan yang Jauh

Kepada Yuu, Nao menjelaskan tentang sifat sebenarnya dari kekuatan-kekuatan ini. Soal bagaimana ada remaja-remaja lain dengan kekuatan seperti dirinya, bagaimana kekuatan-kekuatan tersebut tak boleh diandalkan karena suatu saat nanti pasti akan hilang, serta soal bagaimana ada pihak-pihak tertentu yang berusaha mengumpulkan anak-anak berkekuatan ini untuk tujuan tidak baik, yang hanya disebutnya sebagai para peneliti.

Nao adalah gadis mungil manis, namun bermulut sinis, yang hobi membawa camcorder yang digunakannya untuk mengumpulkan bukti-bukti telah digunakannya kekuatan. Kekuatan yang dimilikinya adalah kemampuan untuk menghilangkan diri sepenuhnya dari persepsi hanya satu orang, yang sempat digunakannya untuk menghajar Yuu lewat kemampuan bela dirinya.

Takajou adalah remaja berkacamata sopan yang kekuatannya memungkinkannya bergerak dengan kecepatan teramat sangat tinggi. Kekuatan ini hampir tak dapat dikendalikannya, dan dirinya sering mengalami kecelakaan yang telah berulangkali membuatnya berdarah-darah. (“Kekuatan yang cacat!” kata Yuu.)

Lalu keduanya sama-sama adalah anggota Dewan Siswa di SMA Perguruan Hoshi-no-Umi, dengan Nao yang menduduki jabatan ketua. Oleh orang yang menampung mereka, mereka melacak keberadaan remaja-remaja yang memiliki kekuatan dengan maksud mengawasi dan menampung mereka. Perguruan Hoshi-no-Umi secara khusus didirikan untuk melindungi anak-anak ini agar mereka tak sampai jatuh ke tangan para peneliti. Lalu singkat cerita, mereka ingin Yuu menjadi bagian dari mereka juga.

Nao sendiri bisa dibilang termotivasi melakukan pekerjaan ini, karena kakak lelaki Nao yang sangat disayanginya menjadi korban para peneliti, dan kini dirawat karena kondisi kejiwaaan yang cacat.

Maka karena sudah separuh diancam, Yuu terpaksa meninggalkan SMA favorit yang dengan susah-payah(?) telah dimasukinya, dan menerima tawaran beasiswa dari Yayasan Hoshi-no-Umi. Bersama adik perempuannya yang teramat sehat dan ceria, yang sangat disayanginya, tapi tak tahu banyak tentang kekuatan maupun kebrengsekannya, Otosaka Ayumi (keduanya sama-sama sudah tak punya kerabat dekat lain), Yuu pindah sekolah dan mulai tinggal di asrama perguruan tersebut.

Kesedihan Mengiringi Ke Mana Kita Pergi

Garis besar cerita Charlotte adalah soal pengalaman-pengalaman Yuu di Dewan Siswa Hoshi-no-Umi bersama Nao dan Takajou.

Pada waktu-waktu tertentu, akan muncul sesosok remaja kurus berambut panjang yang disebut ‘kolaborator’ di dalam ruang Dewan Siswa (yang belakangan diketahui bernama Kumagami). Kolaborator ini memiliki kekuatan untuk melacak keberadaan orang-orang berkekuatan, asalkan sekujur tubuhnya berada dalam keadaan basah. (“Lagi-lagi kekuatan yang cacat!” kata Yuu.) Atas petunjuk si kolaborator ini, Nao dengan ditemani Yuu dan Takajou, akan berkunjung ke berbagai pelosok daerah dengan seizin sekolah untuk mengamankan si pemilik kekuatan baru yang mereka temukan. Biasanya dengan memastikan agar kekuatan yang mereka punya tak digunakan lagi.

Sebenarnya ceritanya enggak cuma sebatas itu sih, walau memang hal tersebut kerasa seperti harusnya menjadi bagian besar cerita, terutama berhubung Maeda-san selama ini cenderung mengangkat aspek-aspek multidimensi dalam cerita-cerita beliau. Soalnya dalam eksekusinya, lumayan terasa seperti ada banyak hal yang seakan dipotong agar ceritanya bisa ‘masuk’ dalam durasi 13 episode.

Mungkin ini kali ya, kelemahan terbesar Charlotte?

Hal ini juga sempat diakui oleh produsernya dalam suatu wawancara sesudah penayangannya berakhir. Konon katanya, naskah pertama yang disiapkan Maeda-san untuk Charlotte benar-benar panjang, dan tantangan terbesar ada pada bagaimana merampingkannya. Aku menduga kalau mau dibuat menyeluruh, Charlotte bisa saja dibuat kayak adaptasi anime Little Busters!, dengan durasi yang bisa mencapai 20an episode. Tapi kurasa hasilnya tetap takkan sebagus yang sekarang.

Mungkin ini terdengar kayak kasus Angel Beats! terulang kembali. Tapi sebenarnya enggak juga kok. Walau ada beberapa hal yang terasa kurang terpaparkan, hasil akhir Charlotte menurutku masih jauh lebih bagus.

Bertanya Pada Tuhan Soal Apa Jawabnya

Bicara soal hal-hal teknis, animasinya keren. Aku kurang menggemari gaya desain karakter Na-Ga. Tapi harus aku akui desain beliau kelihatan bagus-bagusnya di seri ini, karena berhasil mewujudkan kepribadian para karakternya. Ini terutama diwujudkan dengan desain latar yang benar-benar baik dari para staf animator, terutama dalam berbagai adegan aksi yang melibatkan kekuatan-kekuatan super terjadi. Animasi lagu pembuka seri ini, yang menyerupai suatu rangkaian mimpi (yang makna di dalamnya baru lebih kita pahami seiring perkembangan cerita), benar-benar keren.

Musik dan audionya memiliki kualitas solid (dalam artian: tidak jelek) seperti yang bisa diharapkan dari karya-karya Maeda-san. Khususnya dengan bagaimana tema-tema khas dalam cerita-cerita beliau banyak muncul kembali, seperti soal permainan musik (melalui band yang sering Nao dengar, Zhiend), olahraga, atau beraksi menegakkan keadilan bersama teman-teman dekat.

Karakter Nao buatku menjadi daya tarik Charlotte yang terbesar, dengan kesendirian yang dirasakannya sesudah orangtuanya mengkhianati dirinya, sekaligus cara pandang pragmatisnya. Sehingga rasanya sangat sayang bagaimana hubungan Yuu dengan dirinya (serta sekaligus juga hubungan Yuu dengan karakter-karakter lainnya) tak digali lebih banyak.

Maksudku, jadinya memang tergali sih.

Yuu yang semula brengsek mulai berubah karena tindakan-tindakan Nao. Lalu Yuu juga menemukan sesosok sahabat dalam diri Takajou yang mengulurkan tangan padanya, terlepas dari masa lalunya. Lalu Ayumi adalah sosok yang benar-benar bisa disayang. Tapi rasanya kita ingin bisa meluangkan waktu lebih banyak bersama mereka. Terutama dengan apa-apa yang terjadi dalam cerita.

Charlotte seperti punya premis sebuah seri TV Amerika yang harusnya punya format cerita yang episodik dan berdiri sendiri-sendiri, dan bukan berkesinambungan. Intinya sih, ada lebih banyak hal yang rasanya bisa lebih dieksplorasi. Apalagi dengan kualitas presentasi dan eksekusinya yang lumayan tinggi. Rasanya seperti 13 episode itu adalah makanan yang benar-benar enak. Tapi kita dikasih porsi kurang banyak, sehingga merasa sedikit kurang puas.

…Tapi makanannya beneran enak! Dan kita benar-benar jadi kepikiran mau menambah lagi kalau misalnya ada.

Makanya, kalau misalnya ada adaptasi manga yang lebih menggali para karakternya lebih jauh, atau bahkan ada game dengan penggalian cerita lebih banyak (lagi, seperti kasus ide semula Angel Beats!), itu akan jadi hal yang benar-benar menarik.

Langit Akan Berubah, dan Bintang-bintang Akan Berganti

Di awal, Charlotte seakan berlanjut secara formulaik dengan diperkenalkannya Nishimori Yusa (nama aslinya adalah Kurobane Yusa), bintang idola terkemuka dan personil band How-Low-Hello (yang sangat digandrungi oleh Ayumi dan Takajou). Yusa ternyata memiliki dua kekuatan sekaligus (salah satunya terkait mendiang kakak perempuannya, Kurobane Misa), dan karenanya kemudian turut pindah ke Hoshi-no-Umi dan menjadi anggota Dewan Siswa juga. Tapi formula ini lewat segera dipatahkan dengan pemaparan soal dari mana kekuatan-kekuatan ini berasal, hingga akhirnya memuncak dengan penentuan nasib semua pemilik kekuatan di seluruh dunia.

Meski banyak canda tawanya, seperti yang mungkin sebagian penggemar sudah bayangkan, ceritanya juga punya bagian-bagian agak gelap dengan beberapa adegan kekerasan yang sadis. Ada pemaparan tentang sosok yang sepertinya terlupakan dalam masa lalu Yuu dan Ayumi. Ada juga pembeberan tentang siapa sebenarnya benefactor yang menaungi Nao, Yuu, dan anak-anak lain seperti mereka.

Di antara semua ini, tentu saja, juga ada tentang tumbuhnya hubungan antara Nao dan Yuu…

Ada lumayan banyak tema yang diangkat. Makanya, karena durasinya yang terbatas tersebut, kerasa seperti ada beberapa detil yang terpaksa dipotong. Terutama menyangkut soal apa yang Yuu tempuh di episode terakhir. Atau lebih jauh soal Nao dan Yuu, soal Ayumi, atau bahkan hubungan sobat antara Yuu dan Takajou (uh, aku juga enggak yakin kenapa aku ngerasa perlu nyinggung ini).

Akhir kata, ada sedikit rasa kurang puas di akhir. Tapi bukan dalam arti ceritanya berakhir ‘mengecewakan’ juga.

Terus terang, daripada soal bagaimana semua bisa lebih ‘kena’ andai ada build up lebih baik, atau soal adanya foreshadowing yang enggak masuk, aku malah lebih memikirkan soal pesan apa yang Maeda-san berusaha sampaikan. Kalau menurutku, mungkin pesannya adalah soal bagaimana siapapun kita, kita pasti akan mendapat tantangan dalam hidup masing-masing. Karenanya, kita harus selalu mengusahakan yang terbaik.

Bagaimanapun, ini seri yang tetap terbilang memikat. Setiap episodenya selalu menghadirkan sesuatu yang baru dan berbeda. Lalu akhir ceritanya lumayan enggak terduga bagi sebagian orang.

Rasanya bittersweet, sekaligus penuh ketidakpastian. Tapi hei, mungkin memang semestinya demikian.

(Lagu yang paling direkomendasikan tentu saja adalah pembuka ‘Bravely You’ dari Lia dan lagu penutup ‘Yake Ochinai Tsubasa’ yang dibawakan Tada Aoi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A-

28/03/2012

Another

Sebenarnya, aku bukan penggemar horor sih. Tapi aku mengikuti Another (bahasa Inggris: ‘yang lain’) pada musim dingin 2011-2012 lalu. Seri anime ini diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Ayatsuji Yukito oleh studio animasi P.A. Works yang pada beberapa waktu sebelumnya, lumayan menarik perhatian dengan seri drama Hana-saku Iroha.

Novelnya sendiri pertama terbit sebagai cerita bersambung pada majalah Yasai Jidai milik penerbit Kadokawa Shoten, antara jilid Agustus 2006 sampai Mei 2009. Versi kompilasinya diterbitkan dalam dua versi, tankoubon pada Oktober 2009, dan bunkobon pada September 2011 dengan disertai gambar-gambar ilustrasi yang dibuat oleh Noizi Ito (desainer karakter untuk seri Suzumiya Haruhi serta Shakugan no Shana). Desain karakter untuk versi animenya dibuat berdasarkan desain yang dibuat olehnya.

“Siapakah yang mati?”

Alur cerita Another dimulai pada tahun 1972 di sebuah kota dusun kecil bernama Yomiyama. Seorang murid sangat populer bernama Misaki dari kelas 3-3, SMP Yomiyama Utara, tiba-tiba saja meninggal dunia. Entah atas ide siapa, teman-teman sekelasnya dengan didorong rasa kehilangan mulai menjalani sisa tahun ajaran mereka dengan berlaku seolah-olah Misaki masih hidup. Itulah awal mula dari fenomena kematian misterius yang selanjutnya melanda kelas 3-3 setiap tahun.

Maju ke tahun 1998, seorang murid baru bernama Sakakibara Koichi pindah sekolah dari Tokyo ke Yomiyama untuk tinggal bersama keluarga kakek-neneknya, sementara ayahnya tugas kerja di India. Koichi ceritanya memiliki kelainan paru-paru (pneumothorax) yang membuatnya harus di rumah sakit pada minggu-minggu awal tahun ajarannya, dan hal ini menimbulkan komplikasi sehubungan dengan fenomena yang melanda kelas 3-3 yang ternyata dimasukinya.

Memasuki sekolah, Koichi dilanda keheranan saat menjumpai atmosfer aneh yang melanda ruang kelasnya. Kelas 3-3 seakan dipisahkan secara khusus dari kelas-kelas yang lain. Menjalani pelajaran olahraga mereka tak bersama murid-murid kelas lain. Lalu siapapun yang Koichi mintai keterangan tampak enggan menjawab. Terutama seputar bagaimana mereka mengabaikan salah seorang teman sekelas mereka, seorang gadis misterius bernama Misaki Mei yang memiliki eye patch di mata kirinya, yang pertama Koichi secara kebetulan jumpai saat dirawat di rumah sakit dulu…

“Aku bisa melihat warna kematian.”

Lebih baik aku enggak cerita lebih banyak. Soalnya salah satu daya tarik anime ini adalah pada bagaimana kita, bersama Koichi, sedikit demi sedikit memahami situasi yang terjadi.

Inti cerita Another adalah seputar bagaimana Koichi dan teman-teman sekelasnya berupaya menemukan cara untuk lolos dari fenomena kutukan kematian aneh yang melanda kelas 3-3. Ceritanya, akibat perbuatan para murid kelas 3-3 angkatan tahun 1972 dalam menganggap Misaki yang sudah wafat masih ada, kelas 3-3 SMP Yomiyama menjadi lebih dekat ke ‘kematian’ daripada semestinya. Hal ini mengakibatkan fenomena aneh yang menghadirkan salah seorang ‘warga kelas yang telah mati’ kembali ke antara mereka, menjadikan jumlah warga yang ada menjadi ‘lebih banyak’ daripada semestinya. Jumlah yang lebih banyak dari semestinya ini mendorong alam(?) untuk mengurangi jumlah itu kembali, mengakibat terjadinya kecelakaan dan kematian beruntun sepanjang tahun dengan cara yang aneh gitu. Mirip seperti yang ada di film Final Destination. Dengan korban-korbannya meliputi para warga kelas dengan salah seorang kerabat mereka.

Menariknya, ingatan seluruh warga Yomiyama (dalam satu kota!) akan ‘termodifikasi’ begitu fenomena ini dimulai, membuat semua orang tak lagi bisa membedakan siapa di antara mereka yang sesungguhnya telah ‘mati’. Bahkan orang yang ‘mati’ pun mungkin tak sadar bahwa dirinya sebenarnya sudah mati. Hanya petunjuk-petunjuk tersamar dari detil-detil ingatan yang tidak sinkron yang mereka punya saja yang menjadi petunjuk akan adanya sesuatu yang tak beres. Barulah sesudah tahun ajaran berakhir, ingatan mereka akan kembali seperti semula, dan segala kenangan yang berhubungan dengan teman mereka yang sebenarnya mati itu akan terhapus.

Di awal cerita, dikisahkan bahwa telah ditemukan suatu cara untuk mengatasi fenomena kematian ini, yang meski tak selalu efektif, merupakan satu-satunya cara yang saat itu mereka punya. Pokoknya, segalanya jadi seputar kerahasiaan, hubungan antar orang, dan misteri masa lalu. Tentang siapa di antara teman-teman sekelasnya yang bisa Koichi percaya. Tentang siapa Misaki Mei sesungguhnya, dan kenapa seolah hanya dirinya seorang yang bisa melihatnya. Lalu tentang petunjuk-petunjuk yang bersemayam di rumah keluarga kakek-nenek Koichi sendiri. Dari sanalah, cerita Another kemudian bergerak.

Anamnesis

Berbicara soal teknis, Another sebenarnya tak terlalu menonjol. Visual latarnya sangat keren, dengan warna-warna gelap dan tajam. Nuansa retro tahun 1998 yang dihadirkan di Yomiyama benar-benar sangat terasa. Hanya saja, desain karakter Noizi Ito menurutku agak kurang cocok untuk latar horor. Kesannya agak terlalu manis, dan kurang memiliki sisi gelap seperti konsep yang diusung adaptasi anime Higurashi no Naku Koro ni, misalnya. Dalam adegan-adegan dinamis, pergerakan karakternya juga jadi sedikit terkesan kurang alami. Seakan mereka hanya bisa melakukan pergerakan tiba-tiba, tanpa bisa mengalir.

Sebenarnya, ada sedikit perdebatan soal desain ini juga. Sebagian penggemar sebenarnya lebih menyukai desain karakter yang dibuat Kiyohara Hiro dalam versi adaptasi manganya, yang diserialisasikan antara Mei 2010 sampai Januari 2012 di majalah Young Ace Kadokawa Shoten. Tapi kurasa pihak studio animasi akhirnya merasa bahwa di samping gaya gambar Ito sejak awal lebih dikenal, desain karakter beliau memang merupakan desain karakter yang orisinil untuk seri ini.

Pergerakan karakter yang agak kayak boneka itu entah secara kebetulan atau gimana, memang sinkron dengan tema ‘boneka’ yang dimiliki seri ini. Dikisahkan, ibu Misaki Mei yang sangat misterius merupakan seorang pengrajin boneka, dan itu ada hubungannya dengan mata kiri Mei yang tertutup eye patch. Di episode-episode awal, bahkan ada frameframe animasi yang secara acak tiba-tiba menampilkan gambar boneka bersama setiap pergantian adegan. Tapi mungkin karena dirasa mendistraksi perhatian pemirsa, meski menyeramkan, frame-frame boneka tersebut nampaknya diputuskan untuk disingkirkan.

Dari segi suara, anime ini benar-benar tak ada masalah. Lagu pembukanya dibawakan oleh Ali Project. Jadi bisa kau bayangkan nuansa seramnya. Lagu penutupnya sendiri buatku serasa menghanyutkan.

Dari segi eksekusi, ada beberapa bagian yang terkesan lemah akibat plot ceritanya yang memang dimulai dengan lambat. Ada banyak karakter yang terlibat, dan kerap kali kita akan kesulitan mengingat detail mengenai tiap karakter. Tapi ceritanya benar-benar masih bisa diikuti. Lalu meski pembangunan suasananya masih bisa lebih baik, adegan-adegan horornya memang menakutkan.

Soal plotnya sendiri, sebenarnya Another memiliki pola perkembangan cerita yang klasik. Ada cara pemaparan karakter yang agak aneh dan terasa kurang wajar. Cuma mungkin karena dibawakan secara baik, dan sudah lama tak ada cerita macam begini juga, nuansa klisenya jadi tak terlalu kentara. Ceritanya benar-benar lambat sih. Tapi soal itu kurasa tak bisa diapa-apakan lagi.

Mengikuti 12 episode Another membuatku benar-benar bisa menghargai upaya pembuatnya untuk menyajikan horor. Aku juga jadi harus mengakui kalau seri Higurashi no Naku Koro ni yang kutonton dulu benar-benar merupakan salah satu anime horor misteri terbaik yang pernah ada dan sulit tersaingi hingga hari ini. Agak disayangkan juga karena meski Another memiliki desain karakter tak kalah menarik, kita kurang kesampaian untuk bisa mengenal para tokoh yang ada serta hubungan di antara mereka secara lebih mendalam.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: B; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+ Jawab: bibinya.