Posts tagged ‘Nitroplus’

25/09/2017

Phenomeno

Maaf lama enggak nulis.

Aku ngalamin sedikit kecelakaan kerja beberapa minggu lalu. Aku sampai perlu beberapa kali ke rumah sakit segala. Lalu sejak itu, kondisi kesehatanku gampang naik turun. (Selama beberapa hari terakhir, aku bahkan terkapar karena diare.)

Sehubungan dengan itu, aku jadi ingin bahas soal Phenomeno.

Phenomeno sebenarnya judul yang sudah lama ingin aku bahas. Keluarnya pertama kali di sekitar tahun 2012. Tapi aku mengalami kesulitan, berhubung minimnya informasi yang bisa kutemukan tentangnya.

Alasan aku ingin membahas seri ini adalah entah karena kebetulan atau bukan, semenjak aku… uh, kena kecelakaan di atas, aku berkenalan dengan semakin banyak orang aneh. Salah satunya, (yang bukan yang pertama, dan juga kuragukan apakah bakal jadi yang terakhir) adalah seorang mahasiswa depresi(?) di kota lain yang berkeinginan untuk bisa melihat hantu.

Aku bukan penggila hal-hal supernatural. Tapi aku mengakui kalau sisi dunia lain itu ada. (Heh, aku bahkan melihat sendiri bagaimana salah satu pembantu di rumahku sempat kesurupan.)

Aku bertanya soal alasan keinginan aneh(?)nya itu ke dia. Lalu mahasiswa itu memberi jawaban ngawang soal gimana dia ingin tahu bentuk ‘mereka’ kayak gimana. Jujur, dari sejumlah pengalaman orang yang pernah aku denger, keinginan kayak gini biasanya enggak berujung ke hal baik. Tapi, aku putuskan buat coba telaah lebih jauh soal keinginannya itu. Akhirnya dia mengakui kalau sekalipun dia punya alasan, alasan tersebut sudah lama ia lupakan pada titik ini.

Phenomeno, atau yang juga dikenal dengan judul Phenomeno: Mitsurugi Yoishi wa Kowagaranai (subjudulnya mungkin kira-kira berarti: ‘Mitsurugi Yoishi tidak mengenal takut’) bermula dari seri light novel yang dikarang oleh Ninomae Hajime. Ilustrasinya dibuat oleh ABe Yoshitoshi (ilustrator orisinil untuk Serial Experiments Lain dan NHK no Youkoso!) yang sangat dikenal dengan nuansa karakternya yang khas. Ini seri horor supernatural yang sudah tamat dalam enam buku. Walau begitu, daripada takut-takutan ala jump scare, ceritanya lebih berat ke suspens.

Kayak, perasaan berat menggantung yang mengindikasikan adanya sesuatu yang ‘salah,’ tapi kita enggak bisa mengungkapkan apa.

Phenomeno mulai dikenal di luar Jepang berkat versi visual novel-nya yang sempat dibuat Nitroplus. Versi ini mengadaptasi cerita dari babnya yang paling pertama. VN pendek ini memang dimaksudkan untuk mempromosikan seri novelnya; sifatnya freeware. Karenanya, meski sama sekali enggak jelek, juga enggak sepenuhnya bisa dibilang menonjol.

Tapi karena VN ini pula, aku jadi pertama tahu tentang seri ini. Kebetulan, sejumlah fans telah membuatkan patch untuk terjemahan Bahasa Inggrisnya. Lalu semenjak menuntaskannya, aku beberapa kali mencari terjemahan lanjutan ceritanya.

Soalnya, aku penasaran dengan hal-hal menggantung yang ada di dalamnya.

Bukan Untuk Manusia

Ringkasnya, Phenomeno dibuka dengan rangkaian pengalaman supernatural yang disaksikan oleh seorang mahasiswa baru bernama Yamada Nagito.

Seperti mahasiswa kenalanku yang aku sebutkan di atas, Yamada adalah orang yang penasaran tentang keberadaan dunia lain. Dirinya penasaran apakah ‘dunia lain’ itu benar-benar ada atau tidak. Dia kerap mempertanyakan apa mungkin berbagai fenomena aneh tersebut sebenarnya diakibatkan kondisi kejiwaan manusia belaka.

Karena memang punya minat terhadap occult, Yamada sejak dulu adalah pengunjung berkala suatu situs web bernama Ikaigabuchi. Di Ikaigabuchi, para ahli soal bidang supernatural konon berkumpul dan Yamada seperti menjadi semacam penggemar mereka. Mereka kerap membedah berita-berita kasus supernatural, membedakan apakah sesuatu benar-benar terjadi atau tidak.

Di awal, si Yamada ceritanya baru pindah ke perkotaan untuk urusan kuliah. Dia berusaha mencari tempat menginap yang kira-kira murah. Lalu sesudah dia berulangkali ‘diganggu’ lewat bunyi-bunyi aneh dan mimpi-mimpi aneh di rumah kontrakannya yang baru, akhirnya dia terdorong untuk mencari bantuan.

Yamada berusaha mengangkat kasusnya di Ikaigabuchi. Bahkan sempat memberanikan diri datang ke acara kopi darat segala. Sayangnya, dirinya secara menyedihkan kurang mendapat tanggapan. Tapi berkat itu, Yamada kemudian berkenalan dengan seorang gadis remaja sangat aneh bernama Mitusurugi Yoishi.

Singkat cerita, Yoishi adalah seorang gadis asosial yang—menurut pendapatku pribadi—kadang tidak jelas apakah dirinya benar-benar manusia atau bukan. Kulitnya pucat. Postur tubuhnya aneh. Dirinya adalah pengunjung berkala Ikaigabuchi seperti Yamada, tapi tidak ada seorangpun anggota lain yang tahu tentang latar belakangnyanya. Ada kabar-kabar aneh tentang dirinya, seperti soal bagaimana dirinya hanya muncul pada saat-saat yang paling ganjil. Hanya saja, Yoishi pulalah satu-satunya orang yang mempertimbangkan masalah si Yamada secara serius.

Episode pertama Phenomeno membahas tentang rumah kontrakan si Yamada yang konon berhantu. Membahas tentang awal mula berdirinya, kasus-kasus yang pernah terjadi di dalamnya, lalu, pengamatan Yoishi saat mendatanginya secara langsung, dan apa yang disaksikannya di sana lewat kemampuannya untuk melihat hal-hal gaib.

Orang-orang Hilang

Karena hubungannya dengan Yoishi, dan juga karena rasa penasarannya sendiri, si Yamada ujung-ujungnya terbawa dalam berbagai kasus lain. Mereka mengunjungi berbagai tempat seram ‘bersejarah’ lain, seperti rumah sakit angker, dsb. Semua kelihatannya agak berujung pada pembeberan soal siapa Yoishi sebenarnya. (Aku juga penasaran dengan jawaban ini.)

Tapi, perkembangannya enggak cuma sampai sana. Berbagai karakter lain yang tergabung dalam Ikaigabuchi juga sesekali diperkenalkan. Lalu menariknya, sebagian dari mereka juga terungkap memiliki situasi dan kondisi pribadi yang tidak kalah janggal.

Seperti yang bisa kau harapkan dengan tema-tema kayak gini, cerita Phenomeno dan cara pemaparannya tidak benar-benar bisa dibilang nyaman. Tidak ada perkembangan karakter mencolok di dalamnya. Juga tidak ada konflik yang benar-benar jelas. Ceritanya buat kebanyakan orang juga kurasa agak membosankan. Tapi, buat yang suka cerita-cerita begini, tetap ada daya tarik aneh soal kasus-kasus yang diangkatnya.

Seperti pada bagaimana pengarangnya mengangkat pola berpikir ‘berbeda’ yang berujung ke hal-hal yang suram dan seram gitu.

Pastinya, cerita ini yang menyadarkanku bahwa kamu enggak perlu bisa melihat sesuatu hanya untuk sekedar tahu bahwa sesuatu itu ada atau enggak. (Seperti halnya dengan listrik, udara, dsb.) Memperhatikan jejak dan dampaknya saja cukup. Tapi masalahnya, kebanyakan orang susah nerima karena merasa susah berpindah sesudah mengakuinya.

Balik ke soal mahasiswa kenalanku tersebut, aku sempat mempertimbangkan buat mengenalkan Phenomeno kepadanya. Bagaimanapun, kelihatannya dia juga pemerhati kebudayan visual Jepang. Jadi harusnya bukan masalah kalau aku membicarakan soal ini dengannya.

Tapi… pada akhirnya, aku berubah pikiran.

Entah ya. Sukar menjelaskannya.

Intinya, aku tiba-tiba tersadar bahwa kalau dia emang jadi bisa melihat ‘mereka’ pun, masalah-masalah yang sedang dia hadapi tetap saja enggak akan selesai.

Lebih baik menunggu sampai dia bosan sendiri dengan topik ini daripada memanas-manasinya.

Iklan
01/11/2016

Thunderbolt Fantasy

Belum lama ini, aku mengikuti Thunderbolt Fantasy.

Susah buatku untuk tak tertarik pada Thunderbolt Fantasy. Selain mengusung Urobuchi Gen selaku penulis cerita dan Sawano Hiroyuki untuk musik, aku tak pernah bisa benci acara-acara berbasis pertunjukan boneka begini. Meski aku bukan generasi yang besar dengan menonton Si Unyil, aku dulu suka menonton seri-seri ‘marionation’ yang diproduksi Gerry Anderson di Inggris, macam Thunderbirds dan Captain Scarlet. Lalu aku suka Muppets. Di samping itu, aku lumayan menggemari cerita-cerita wuxia.

Diproduksi lewat kerjasama perusahaan-perusahaan Nitroplus dan Good Smile Company dari Jepang dengan perusahaan Pili International Multimedia dari Taiwan, Thunderbolt Fantasy: Touriken Yuuki (subjudulnya kira-kira berarti: ‘pengelanaan pedang dari timur’) merupakan semacam seri pertunjukan boneka tangan yang lagi-lagi sempat memicu perdebatan soal batasan-batasan definisi ‘anime.’ Pertama disiarkan langsung dalam tiga bahasa, Min-Nan Taiwan, Mandarin, dan Jepang, penyutradaraannya dilakukan oleh Chris Huang dan Jia-Shiang Wang. Jumlah episodenya sebanyak 13, dan sudah dikonfirmasi ada sekuelnya yang sedang dibuat.

(Untuk kemudahan pengetikanku, nama-nama yang digunakan dalam ulasan ini adalah nama-nama Jepang.)

Kode Etik Payung

Cerita Thunderbolt Fantasy benar-benar sederhana, dan sekilas terkesan sangat generik.

Kisah dibuka dengan dikejar-kejarnya sepasang kakak beradik dari kelompok penjaga segel Goinshi, Tan Kou dan Tan Hi, dari kejaran orang-orang jahat kelompok Genkishu (‘para iblis onyks’). Meski keduanya sanggup bertahan beberapa lama, terutama berkat kepiawaian Tan Kou dalam bermain pedang, keduanya terdesak saat pemimpin Genkishu, seorang pria bertopeng bernama Betsu Tengai, ikut serta dalam pengejaran.

Betsu Tengai, yang berjulukan Shinra Kokotsu (‘tulang-tulang penciptaan’) berkat penguasaannya atas ilmu bela diri sekaligus ilmu sihir, dengan mudah menaklukkan Tan Kou. Sehingga di ambang kematiannya, Tan Kou kemudian mendorong adik perempuannya, Tan Hi, untuk terjun ke lembah sungai agar melarikan diri.

Singkat cerita, Tan Hi yang masih terguncang oleh kematian kakak laki-lakinya, kemudian bersimpangan jalan dengan dua orang pengelana yang kebetulan juga baru saling bertemu. Yang pertama adalah seorang musafir bernama Shoufukan yang kebetulan sedang lewat. Yang kedua adalah seorang pria tampan berambut perak yang mengaku bernama Kichou, yang kebetulan sedang berteduh di tengah hujan. Karena suatu alasan, Kichou kemudian membujuk Shoufukan yang awalnya ingin menghindar masalah untuk menolong Tan Hi. Tindakan ini tak dinyana malah memaksa Shoufukan terlibat rencana bulus Kichou untuk melawan Genkishu, yang ternyata berkaitan dengan perebutan senjata-senjata pusaka Tankenshi yang telah mengakhiri Kobo no Sen (‘perang senja pudar’) yang berlangsung melawan kaum Iblis beratus tahun lalu.

Dipelopori Kichou, Shoufukan akhirnya terseret dalam upaya membantu Tan Hi, yang berujung pada bagaimana kelompok mereka yang sebanyak tujuh orang menempuh perjalanan melintasi Pegunungan Masekizan (‘tulang punggung iblis’) yang berat, demi mencapai Menara Tujuh Dosa yang menjadi markas kelompok Genkishu.

“Kau ingin berbasa-basi, di saat seperti ini?”

Jadi, sekali lagi, ada tujuh orang yang akhirnya terlibat dalam perseteruan melawan Genkishu. Masing-masing anggotanya semula dipilih karena ada suatu peran tertentu yang Kichou siapkan untuk mereka. Mereka adalah:

  • Kichou, sang pelopor, yang dengan pengaruhnya yang luas, mengundang para anggota kelompoknya yang lain untuk bergabung. Ia menggunakan sebilah pipa yang dengannya, ia bisa menciptakan ilusi.
  • Shoufukan, seorang pengelana dari jauh dengan aksen aneh yang bertemu Kichou secara kebetulan dan karena satu dan lain hal, ikut terseret-seret dalam masalah. Ia bersenjatakan sebilah pedang.
  • Tan Hi, yang akan ditolong. Juga seorang ahli pedang dan kekuatan sihir perlindungan.
  • Shu Unshou, seorang pemanah ternama berjulukan Eigan Senyou (‘ahli tembak bermata tajam’) yang memiliki cakupan penglihatan sangat jauh meski telah kehilangan sebelah matanya.
  • Ken San Un, seorang ahli tombak muda, yang turut bergabung sebagai adik didik Shu Unshou untuk belajar tentang sikap seorang ksatria padanya. Julukannya adalah Kan Kaku (‘ketakjuban beku’).
  • Kei Gai, seorang Iblis wanita yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan jasad orang-orang mati dengan tarian dan nyanyiannya. Julukannya adalah Kyuu Shou (‘malam tangisan’).
  • Setsu Mushou, seorang pembunuh bayaran sekaligus ahli pedang sangat berbahaya, yang ikut bergabung karena mengharapkan kepala Kichou sebagai imbalan. Julukannya adalah Meihou Keisatsu (‘pembantai burung api mengaum’).

Tankenshi yang tengah dicari oleh Betsu Tengai rupanya adalah sebilah pedang bernama Tengyouken. Pedang ini yang rupanya telah disegel oleh kelompok Goinshi. Dua ‘kunci’ untuk melepas segelnya rupanya dibawa oleh kakak beradik Tan Hi dan Tan Kou. Lalu bersama tewasnya Tan Kou, salah satunya telah jatuh ke tangan Betsu Tengai.

Tujuh sekawan pimpinan Kichou ini berhadapan dengan pihak Genkishu, yang sesudah kehilangan salah satu komandannya, Zankyo, di tangan Shoufukan, masih memiliki Betsu Tengai yang dibantu dua bawahannya yang setia, Ryou Mi dan Chou Mei, serta anak-anak buah bertopeng yang tak terhitung jumlahnya.

Ceritanya sekilas terkesan sangat generik, dengan lumayan banyak adegan yang terkesan ‘keju.’ Tapi kalau kalian bisa menikmati yang begini, kalian akan dapati kalau Thunderbolt Fantasy itu bagus.

Seriusan, bagus.

Pada menit-menit awal aku pertama menontonnya, ada rasa takjub aneh karena aku merasa seperti sedang mengikuti sebuah anime, dan bukan acara pertunjukan boneka. Pergerakan kameranya senantiasa dinamis gitu, dengan fokus-fokus yang berpindah. Bahkan ada saat-saat ketika pergerakan kaki digambarkan. Lalu pas ada pertarungan, adegan-adegan aksinya diilustrasikan lewat banyak penggunaan CG gitu.

Terkadang masih terasa batasan-batasan medianya (seperti dalam hal bagaimana hampir semua karakternya kidal karena struktur mekanis untuk pergerakan bonekanya). Tapi dalam berbagai sisi lain, Thunderbolt Fantasy seolah mendobrak batasan-batasan yang semula aku bayangin. Ada karakter-karakter sampingan, seperti banyak penduduk desa, yang muncul. Meski terbatas, pembangunan dunianya beneran terasa jadi. Lalu bahkan ada adegan-adegan minum-minum dengan cairan beneran yang mengalir. Meski lebih condong ke dialog, adegan-adegan aksinya, pas ada, itu seriusan keren. Kadang jurus-jurusnya memang terasa seperti adegan-adegan sihir summon dalam game-game, tapi semua ada penjelasan teknisnya yang bisa kalian gali. Lalu, meski mungkin seri ini dibuat agar bisa cocok untuk anak-anak, sebenarnya ada porsi gore yang lumayan banyak dengan berbagai tangan dan kaki terpotong serta tubuh-tubuh yang meletus (sekali lagi, meletus, bukan meledak).

Soal ceritanya sendiri, meski sentuhan Urobuchi-sensei yang khas sebenarnya terasa sejak awal, kebagusan Thunderbolt Fantasy memang baru terasa sekitar episode delapan. Di sekitar itu, ada momen penentuan ketika terungkap bahwa segala sesuatunya tak persis seperti yang dikira. Sebagian besar karakter utama, yang kita ikuti kisahnya dari awal, ternyata adalah orang-orang brengsek.

Daya tarik itu terutama tertuang lewat konflik yang timbul saat Kichou terungkap sebenarnya adalah Lin Setsuha, berjulukan Ryoufuu Setsujin (kira-kira berarti: ‘pencuri angin’), seorang pencuri legendaris yang padanya, ada banyak orang menaruh dendam. Tapi segala permusuhan terhadapnya tertahan karena tak ada yang tahu siapa Shoufukan sebenarnya, yang secara mengejutkan menyatakan diri berasal dari Seiyuu, negeri yang harusnya telah lama hilang semenjak terpisah dari Tourii selama ratusan tahun semenjak Perang Senja Pudar.

Meski klise, hasil akhirnya beneran keren, dan aku susah buat enggak terkesan karenanya.

Bukan hanya elemen-elemen fantasi generik, elemen-elemen khas wuxia, seperti konflik kepentingan dan harga diri, juga dimiliki Thunderbolt Fantasy, sehingga saat konflik final dengan Betsu Tengai akhirnya terjadi, semuanya berhasil memuncak dengan akhir yang memuaskan.

“Bahkan kau pun tak bisa selamanya menghindari akhirat!”

Kalian tahu, dunia sekarang makin rumit. Ada begitu banyak hal yang tak bisa kita apa-apain tentangnya. Lalu mungkin karena itu, pesan positif yang Thunderbolt Fantasy usung benar-benar ‘kena’ buatku.

Aku suka saat ada karakter-karakter imba yang dengan tegas memperbaiki masalah dan membenarkan yang salah. Lalu aku semakin suka lagi bila karakter-karakter seperti itu bisa muncul dari mana saja, termasuk dari tempat-tempat paling tak disangka.

…Uh, iya. Perkembangan karakternya, agak aneh untuk suatu karya buatan Urobuchi-sensei, tak sebanyak itu sih. Lalu iya, ini bukan seri di mana ada banyak karakter bernama yang mati. (Untuk yang bisa menimbulkan feels yang datang karena death flag gitu, kayaknya kita semua sepakat kalau itu tersedia lewat Gundam: Iron-Blooded Orphans yang sedang tayang season keduanya pas aku ngetik ini. Random shoutout: desain Gundam Vidar itu keren!)

Tapi ini bagus. Seriusan bagus.

Kurasa, siapapun yang tertarik untuk mengikuti Thunderbolt Fantasy pada akhirnya akan menganggapnya bagus sih. Sedangkan mereka yang tidak, akan berpendapat sebaliknya.

Yah, paling baik jika kalian menilainya sendiri.

(Btw, untuk yang mau tahu, cerita wuxia favoritku sepanjang masa adalah The Smiling Proud Wanderer karya Jin Yong, yang di sini dikenal dengan judul Pendekar Hina Kelana.)

Penilaian

(Tidak jadi. Aku bingung bagaimana menilainya.)

17/02/2014

Steins;Gate: Fuka Ryouiki no Déjà vu

Steins;Gate: Fuka Ryouiki no Déjà vu (subjudul kira-kira berarti ‘wilayah penopang beban déjà vu’) merupakan film layar lebar yang menjadi semacam epilog bagi adaptasi animasi Steins;Gate yang keluar pada pertengahan tahun 2011 lalu. Dirilis pada bulan April tahun 2013, sama halnya dengan seri TV-nya, movie ini berdurasi sekitar 90 menit dan animasinya masih dibuat oleh studio White Fox. Sutradaranya kali ini Wakabayashi Kanji. Tapi naskahnya masih ditangani oleh Hanada Jukki, jadi ceritanya masih nyambung dengan cerita di seri TV-nya.

Sebenernya, enggak banyak yang bisa kukatakan tentang film ini, selain kenyataan kalau ini menjadi penutup yang benar-benar manis. Ceritanya sangat terhubung dengan cerita di seri TV-nya. Jadi sebaiknya film ini dijauhi oleh mereka-mereka yang bukan (belum?) merupakan penggemar anime Steins;Gate.

Berhubung ceritanya berfokus pada efek samping yang masih tersisa dari perjalanan waktu (dan dunia paralel) yang dilakukan Okabe Rintarou (alias ilmuwan gila Hyouin Kyouma), misteri dan suspens yang sempat hadir dalam seri TV-nya agak hilang pada film ini. Sehingga pada satu sisi, film ini mungkin agak mengecewakan bagi sebagian orang. Film layar lebar ini lebih banyak diisi percakapan dan jelas tak seseru atau semenegangkan seri TV-nya.

Tapi film ini bagus.

Emang enggak bisa dibilang rame. Tapi, ini film yang jadi penutup cerita yang memuaskan jika kalian penyuka karakter-karakter seri ini.

Agustus 2011

Berlatar setahun sesudah kejadian-kejadian di seri TV-nya, Makise Kurisu kembali berkunjung ke Jepang untuk suatu acara konferensi pers. Seiring dengan banyaknya déjà vu yang ia alami berkenaan pengalaman-pengalamannya di Garis Dunia lain, Makise reuni kembali dengan teman-temannya dari Mirai Gadget Lab.

Namun tanpa sepengetahuannya, Okabe secara diam-diam telah mulai mengalami gejala-gejala aneh yang mungkin diakibatkan oleh kemampuan Reading Steiner yang dimilikinya: ia secara tiba-tiba akan mulai melihat kilasan-kilasan peristiwa dari Garis-garis Dunia lain. Sebagai puncaknya, Kurisu menjadi saksi langsung atas lenyapnya Okabe begitu saja dari depan matanya, sekaligus mendapati bagaimana para anggota lab yang lain seakan tak bisa mengingat kalau Okabe pernah ada.

Suatu kunjungan tak disangka dari Amane Suzuha membuat Makise mengetahui kalau hilangnya Okabe mungkin berkaitan dengan bagaimana kemampuan Reading Steiner-nya lepas kendali. Okabe telah kehilangan persepsi akan di Garis Dunia mana ia sebenarnya berada akibat terlalu seringnya ia mengubah masa lalu.

Sebagian besar film ini berisi pada upaya Makise menemukan cara untuk mendatangkan Okabe kembali. Makise, yang skeptis pada awalnya, dengan petunjuk Suzuha dan akumulasi pengetahuan bawah sadarnya, kemudian berhasil membangun ulang perangkat Time Leap Machine dan mulai menjalani secara langsung pengalaman-pengalaman serupa dengan yang Okabe pernah jalani.

Upayanya menemukan Okabe membawanya pada sebuah kejadian bertahun-tahun lalu, yang mungkin saja mengimplikasikan pertemuan paling awal yang pernah terjadi antara keduanya, sekaligus lahirnya nama Hyouin Kyouma…

Sora no Kanshokusha

Membahas soal hal teknis… kayaknya sebenernya enggak banyak yang perlu dibahas. Sial. Soal visual ga banyak yang bisa dikatakan selain kalau hasilnya bagus. Lalu kalau soal audio, para pengisi suaranya menurutku menampilkan performa terbaik mereka.

Sebenarnya yang bisa agak banyak didiskusikan adalah soal ceritanya sendiri sih. Tapi sesudah melihat sendiri film ini, entah kenapa, aku enggak merasa perlu berkomentar apa-apa. Ceritanya terstruktur dengan baik. Walau mungkin agak tertebak, adegan-adegannya bagus. Lalu susah untuk tak menganggap bagaimana perjuangan Makise menarik. Mungkin bakal ada sejumlah pertanyaan tentang fenomena apa sebenarnya yang Okabe alami, dan seperti apa penjelasan sainsnya. Tapi entah ya. Mereka yang menonton film ini dan menikmatinya kurasa pada akhirnya juga enggak akan terlalu mempermasalahkannya. Sekalipun plotnya sendiri kalau dipikir agak keju, dan para karakter lain enggak seberperan yang mungkin kita harapkan.

Kita bisa ketemu geng yang sama dari Mirai Gadget Lab dan suatu penutup memuaskan dari kisah cinta antara Okarin dan Kurisu saja sudah cukup.

Dari segi eksekusi dan naskah, peralihan tokoh utama dari Okabe ke Makise menurutku benar-benar ide bagus. Pelaksanaannya pun efektif. Lalu awal pembukaan film yang menampilkan mimpi Makise yang kemudian dilanjutkan dengan pemandangan pesawatnya yang mulai terbang rendah, dengan BGM lagu pembuka, untuk suatu alasan menampilkan kesan yang beneran keren.

Seri TV Steins;Gate menurutku sudah berakhir cukup memuaskan untuk ukuran anime. Jadi sebenarnya enggak ada lanjutannya lagi pun kurasa takkan masalah. Maka dari itu, kurasa enggak ada motivasi apa-apa yang bisa secara khusus membuatmu ingin melihat ini. Tapi kalau kau lihat, mungkin kau bakal seneng.

Eh? Aku sendiri?

Aku cuma merasa udah lama enggak ngelihat karakter tsundere yang bagus belakangan aja.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

23/04/2013

Robotics;Notes

Robotics;Notes adalah game ketiga dari rangkaian game visual novel seri science adventure yang dirilis melalui kerjasama antara Nitroplus dan 5pb.

Selaku penerus Chaos;Head dan juga Steins;Gate, ada lumayan banyak pengharapan dan perhatian yang diraih game ini bahkan saat masih digodok. Lalu, seiring dengan kesuksesan besar Steins;Gate, Robotic;Notes telah dipastikan akan dibuat adaptasi animenya bahkan sebelum gamenya sendiri pertama diluncurkan.

Animenya berdurasi 22 episode dan pertama tayang di blok Noitamina pada musim gugur tahun 2012. Produksi animenya dilakukan oleh Production I.G. (Anime Chaos;Head kalau tak salah dibuat oleh Madhouse, sedangkan anime Steins;Gate dibuat oleh White Fox), sehingga meski aku tak meragukan kualitas visualnya, sejak awal aku memang sudah dapat firasat aneh kalau adaptasinya mungkin takkan sebagus Steins;Gate.

Sebelumnya, aku bahkan enggak tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku cuma tahu kalo temanya berhubungan dengan upaya buat sungguh-sungguh ngebikin sebuah robot raksasa demi menyelamatkan dunia(?!).

Berhubung aku memang penggemar anime-anime yang menghadirkan robot-robot raksasa, aku memutuskan untuk tetap memeriksanya, sekalipun hasil jadinya benar-benar melenceng dari segala pengharapanku semula.

Apa yang akan terjadi jika kau sungguh-sungguh berusaha membangun sebuah robot raksasa?

Berlatar tak terlampau jauh di masa depan, Robotics;Notes dibuka dengan bagaimana klub robotika di SMA Chuo Tanegashima terancam untuk dibubarkan. Ekskul ini di awal cerita hanya terdiri dari dua anggota, yakni ketuanya, seorang gadis penuh semangat bernama Senomiya Akiho; dan teman masa kecilnya yang cuek dan lebih tertarik melewatkan waktunya dengan bermain game daripada membantu proyek robot Akiho, Yashio Kaito.

Robotics;Notes berlatar di masa ketika ketinggian permukaan laut nampaknya telah meninggi, sepeda-sepeda motor listrik lebih banyak digunakan untuk menggantikan sepeda, serta sebagian besar orang hidup dengan memiliki perangkat tablet Poke-com yang menggantikan fungsi telepon genggam. Perangkat yang kelihatannya juga disebut Phone-droid ini bisa digunakan untuk browsing, melakukan video call, mengakses jejaring sosial,  bermain game, dan yang paling berkesan mengakses IRUO, semacam aplikasi pengenalan citra berbasis augmented reality, yang mana orang dapat membidik Poke-com mereka ke berbagai arah bagaikan kamera dan memperoleh berbagai informasi secara terinci. Di samping itu, perangkat bantu bionik yang ‘dipasangkan’ pada tubuh juga telah banyak digunakan di masyarakat, untuk membantu para manula yang telah melemah tubuhnya ataupun mereka yang sempat mengalami kelumpuhan anggota tubuh pasca terjadinya kecelakaan.

Kita kemudian dibeberkan tentang bagaimana klub robotika yang dikepalai Akiho ini mewarisi cita-cita sekaligus proyek jangka panjang para sempai mereka untuk membangun sebuah robot raksasa seperti di anime-anime. Robot raksasa yang hendak mereka bangun diberi nama kode Gantsuku-1, yang desainnya didasarkan atas Gunvarrel, sebuah anime super robot yang sempat sangat populer di masa silam. Proyek ini pertama dicanangkan oleh kakak perempuan Akiho, Senomiya Misaki, yang dulu bahkan pernah memimpin klubnya memenangkan kejuaraan robotika nasional Robo-One. Namun sesuatu di masa lalu nampaknya telah terjadi, sehingga Misaki kemudian mengabaikan proyek jangka panjang ini, dan hubungannya yang dulu dekat dengan Akiho dan Kaito kemudian menjadi renggang.

Dari sudut pandang Kaito, Robotics;Notes memaparkan berbagai suka duka yang para anggota klub robotika alami selama terlibat dalam proyek Gantsuku-1. Cerita pada awalnya membeberkan cara-cara yang harus Kaito dan Akiho temukan agar klub mereka dapat terus berjalan, dimulai dari pencarian anggota-anggota baru, pencarian sponsor, sampai memenangkan kejuaraan Robo-One untuk tahun tersebut.

Anggota-anggota baru mereka kemudian meliputi:

  • Hidaka Subaru, alias Mister Pleiades, adik kelas Akiho dan Kaito yang lebih ahli tentang robotika dari sangkaan orang karena alasan pribadi.
  • Frau Koujiro, alias Furugouri Kona, murid pindahan hikkikomori yang ternyata adalah programmer game Kill-Ballad (sejenis Virtual On) yang selalu dimainkan Kaito di Poke-comnya. Menyimpan rahasia besar di masa lalunya yang terkait proyek jangka panjang klub robotika.
  • Junna Daitoku, gadis pemalu anggota klub karate yang kemudian Akiho mintai jadi model pergerakan robot-robotnya, yang ternyata adalah cucu Doc, kakek-kakek penggemar rock yang merupakan pemilik toko langganan tempat klub robotika membeli komponen-komponen robot mereka.

Tapi, sesudah itu semua, ceritanya benar-benar berkembang ke arah yang enggak disangka-sangka.

Tunggu, arah perkembangannya mungkin tertebak sih. Tapi cara ke sananya itu…

Bullet Time

Pada suatu titik, kita kemudian mengetahui bagaimana pada waktu kecil, baik Kaito maupun Akiho dulu pernah terlibat dalam suatu insiden misterius di kapal pesiar Anemone. Pada insiden ini, seluruh penumpang kapal tersebut tiba-tiba saja kehilangan kesadaran dan bahkan jatuh ke dalam koma. Insiden ini kalau tak salah diduga terpicu oleh fenomena solar flare di matahari yang menimbulkan terjadinya suatu anomali elektromagnetik. Sebagai dampak kejadian ini, Akiho dan Kaito kemudian menderita sesuatu yang disebut Elephant-Mouse Syndrome, yang pada saat sedang kambuh, mengakibatkan persepsi waktu terasa melamban bagi Kaito dan sebaliknya terasa dipercepat bagi Akiho.

Dalam upaya mereka menemukan cara untuk menyelamatkan klub mereka, Kaito secara tak sengaja berpapasan dengan Airi—sesosok gadis hantu kecil yang seakan-akan hidup dalam sistem IRUO. Airi jadi semacam sosok yang hanya bisa dilihat dan didengar melalui perangkat Poke-com masing-masing orang gitu, dan sehari-harinya ia menginformasikan pada orang-orang yang ditemuinya tentang perkiraan cuaca sehari-hari.

Melalui pertemuannya dengan Airi, Kaito turut menyadari adanya sejumlah rahasia masa lalu yang mungkin saja tersembunyi di kotanya sendiri, yang berkaitan dengan fenomena-fenomena misterius yang terjadi di dunia maya, dengan insiden kapal Anemone, dan mungkin saja dengan proyek jangka panjang klubnya sendiri.

Seiring dengan kemajuan proyek robot raksasa mereka, semakin banyak pula rahasia aneh yang terungkap oleh Kaito yang tampaknya berhubungan pula dengan sesuatu yang dirahasiakan Misaki.

Semuanya ternyata terhubung dengan sebuah konspirasi jangka panjang yang direncanakan oleh sesuatu yang disebut Committee of 300 untuk sungguh-sungguh menghancurkan dunia. Lalu satu-satunya orang yang berhasil mengungkap hal ini, seseorang bernama Kimijima Kou, ternyata telah lama meninggal karena terbunuh, dan hanya jejak pesan-pesan rahasianya semata yang tertinggal untuk ditelusuri Kaito dan dibuktikan kebenarannya.

Tapi apa yang kemudian Kaito temukan ternyata tetap lebih mengejutkan dari yang ia kira…

Lebih ke Drama Daripada Misteri

Robotics;Notes dipaparkan dengan alur yang sangat luar biasa lamban. Ini sesuatu yang membuatku skeptis pada awalnya, apalagi dengan jumlah episode yang lebih sedikit dibandingkan adaptasi seri-seri pendahulunya. Tapi seiring perkembangannya, aku mulai nyadar bahwa ‘kelambatan’ ini memang diperlukan, sebab segala sesuatunya memang perlu diceritakan secara runut.

Pastinya, sekalipun aspek misterinya tetap ada, kelambatan ini menghadirkan nuansa yang sama sekali berbeda dibandingkan Chaos;Head maupun Steins;Gate. Bila tokoh utama pada kedua seri tersebut secara berkelanjutan dihadapkan pada suatu situasi genting, Kaito berusaha menangani sesuatu yang kalau ‘dibiarkan’ juga mungkin dirinya takkan mengalami masalah.

Seiring dengan berakhirnya episode-episode awal, kau benar-benar kehilangan bayangan soal ke mana sebenarnya seri ini mau dibawa. Ceritanya jadi lebih kayak drama slice-of-life daripada misteri sains fiksi. Kamu kayak, beneran bisa kehilangan motivasi buat nonton gitu. Lalu hingga akhir, karena kaitannya dengan tempo cerita dan pembangunan suasana, seri ini tak benar-benar bisa dibilang berakhir sebagai sesuatu yang ‘seru.’

Kita kayak susah merasakan emosi apa-apa dari menonton ini. Lebih banyak datarnya.

Mungkin kaitannya ada pada hal teknisnya juga sih. Pada banyak bagian, meski kadar dramatisasinya cukup pas, aku benar-benar merasa kalau sorotan kameranya benar-benar kurang dinamis. Mungkin ada kontras yang berusaha diciptakan antara antusiasme Akiho dan kedataran sikap Kaito, tapi tetap jadinya kita sulit ‘masuk.’ (Siapa sih, art director-nya?)

Tapi perkembangan ceritanya itu seriusan gila-gilaan.

Seriusan, ada banyak sekali hal yang terjadi dalam cerita. Sehingga terkadang kita terasa kesulitan mengikutinya, sekalipun para pembuat sudah berusaha sebaiknya agar semuanya gampang dicerna dan bisa tersampaikan secara mudah.

Untung perkembangan ceritanya berbobot dan memang para karakternya menarik dan terasa hidup. Di samping itu, aspek-aspek sains fiksinya memang benar-benar memikat.

Mungkin karena memang sudah terlanjur mengikuti keseharian mereka, kita berhasil dibuat merasakan semacam kepedulian dan simpati terhadap Kaito dan kawan-kawannya. Lalu murni kita jadi sedikit ingin tahu apa di akhir cerita mereka beneran berhasil membangun robot raksasa mereka atau tidak.

Misterinya itu juga untungnya adalah jenis yang bertambah ‘aneh’ saat semakin dalam ditelusur. Ada beberapa perkembangan cerita yang serius bikin aku membelalakkan mata.

Salju

Robotics;Notes adalah jenis seri yang kayaknya lebih mending dimainin game-nya daripada ditonton animenya, tapi bukan cuma karena alasan game-nya lebih bagus dari anime. Anime Robotics;Notes itu sama sekali enggak jelek. Cuma game-nya yang kayaknya terlampau bagus untuk diangkat sebagai anime. (Walau belakangan kudengar narasi di gamenya agak bertele-tele sih.)

Ada banyak sekali detil menarik yang kayaknya jadi dipotong atau dipersingkat, mengakibatkan beberapa hal hingga akhir kerasa kayak enggak terjelaskan. Itu juga yang kayaknya mengakibatkan masalah tempo. Tapi para pembuatnya, akibat keterbatasan waktu, kelihatannya memilih untuk memasukkan hal-hal yang pentingnya saja, dan hal-hal penting tersebut itu yang pada akhirnya berusaha mereka tampilkan sebaik-baiknya. (Walau sekali lagi, kudengar narasi di gamenya beneran bertele-tele.)

Dengan begitu, kesan terakhirku terhadap seri ini berakhir agak… uh, campur aduk.

Ini sebenarnya bukan judul yang akan kurekomendasikan jika kau bukan penggemar cerita-cerita macam begini. Tapi kalau kau sempat merasakan antusiasme terhadap Chaos;Head, lalu merasakan juga antusiasme terhadap Steins;Gate, aku tak bisa tak merasa ada baiknya kau memeriksa Robotics;Notes. Soalnya cerita( dan konspirasi)nya pada beberapa titik emang terkait. (Tennoji Nae, gadis kecil putri Mr Brown di Steins;Gate, tampil sebagai karakter dewasa yang berperan lumayan penting di seri ini, tepatnya saat proyek Akiho dkk mulai melibatkan JAXA(!).)

Satu hal lain yang sungguh-sungguh kupelajari dari seri ini adalah bagaimana kau benar-benar enggak akan bisa nebak kehidupan akan mempersiapkanmu buat apa. Di balik segala kebingungan, kemarahan, keputusharapan yang mungkin pernah kau rasain, pasti ada sesuatu di ujung jalan yang akan harus kau perjuangin.

Apalagi, saat pertaruhannya juga melebihi segala yang kau bayangin…

Adegan saat robot raksasa mereka beneran jadi dibuat itu beneran kerasa keren.

(Maksudku, itu robot raksasa, man! They literally made a giant frickin’ robot!)

Penilaian

Konsep: S; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi B; Kepuasan Akhir: B

25/03/2012

Guilty Crown

Aku ingin bicara soal Guilty Crown (harfiahnya berarti ‘mahkota yang bersalah’).

Anime keluaran musim gugur tahun 2011 ini menjadi salah satu judul yang menonjol pada masanya. Bukan hanya karena animasinya yang benar-benar cantik buatan studio Production I.G., tapi juga karena desain karakter yang ditangani oleh Redjuice; serta musik pembuka, penutup, serta insert yang ditangani oleh band pop ternama, Supercell.

Aku takkan mengulas soal Redjuice dan Supercell. Ada lebih banyak orang yang tahu tentang mereka melebihi aku. Yang pasti, mereka terkenal dan diakui memiliki kualitas. Karenanya, keterlibatan mereka dalam sebuah anime seperti ini benar-benar menarik perhatian.

Sutradaranya sendiri adalah Araki Tetsuro (dikenal sebagai sutradara anime Death Note dan High School of the Dead, yang keduanya mesti diakui dieksekusi dengan baik), dan bersama UN-GO (dan kemudian Black Rock Shooter), Guilty Crown mengisi slot tayang Noitamina. Tak seperti kebanyakan seri Noitamina sebelumnya, Guilty Crown terdiri atas 22 episode, yang berarti seri ini sepanjang dua musim tayang.

Alasan aku ingin membahas soal Guilty Crown adalah karena belum lama ini, ada seorang sutradara anime terkenal yang mengatakan bahwa kebanyakan anime zaman sekarang hanyalah tiruan dari tiruan dari tiruan lainnya. Yang seakan menjadikannya media yang telah kehilangan kemampuan ekspresinya. Dan… hal yang terlintas di pikiranku semakin aku mengikuti perkembangan Guilty Crown adalah perkataan sutradara tersebut.

So everything that makes me whole…

Guilty Crown berlatar di masa depan, sepuluh tahun sesudah sebuah bencana mengerikan yang disebut Lost Christmas memporak-porandakan Jepang. Akibat bencana yang sekilas nampak sebagai pandemik virus ini, pemerintah Jepang dibekukan karena dinilai gagal mengatasi situasi. Lalu pemerintahan diambil alih oleh pemerintahan buatan dari Persekutuan Bangsa-Bangsa, dalam bentuk sesuatu yang disebut GHQ (Great Headquarters—mirip dengan situasi pendudukan Jepang seusai berakhirnya Perang Dunia II).

Virus bersangkutan, Apocalypse Virus, tidak jelas media penularannya. Tapi saat seorang terinfeksi, pada tubuh mereka akan terbentuk lapisan permukaan kristal, dan secara perlahan mental mereka akan terkikis sampai mereka nyaris gila. Belum ada obat yang ditemukan untuk menyembuhkan virus ini, meski belakangan ditemukan ada vaksin yang dapat ‘menekan’ gejala-gejalanya.

Cuma, karena sifat penularan virus yang tak jelas itu, timbul semacam paranoia di kalangan masyarakat, yang berakhir pada terbentuknya pasukan khusus Anti Bodies yang tak akan segan membantai siapapun yang bahkan hanya dicurigai terinfeksi virus ini. Pasukan Anti Bodies ini yang kemudian digunakan oleh GHQ untuk menyingkirkan siapapun yang sedikit saja menentang kekuasaan mereka.

Dalam situasi pendudukan itu, timbul perlawanan dari masyarakat Jepang dalam bentuk kelompok perlawanan bawah tanah, Shougisha (diterjemahkan sebagai Undertakers atau Funeral Parlor). Kelompok ini dipimpin oleh pemuda tampan karismatik Tsutsugami Gai.

Seorang remaja sekolah yang kurang pandai bergaul bernama Ouma Shu terlibat dalam semua konflik ini saat berjumpa dengan Inori, gadis manis/pendiam/misterius yang selama ini hanya dikenalnya sebagai vokalis grup musik Egoist yang Shu gandrungi, yang ternyata juga merupakan salah seorang agen Shougisha. Inori ternyata ditugaskan oleh Gai untuk mencuri sesuatu yang bernama Void Genome dari perusahaan Sephirah Genomics, produsen vaksin untuk Apocalypse Virus.

Satu dan lain hal terjadi. Sampai akhirnya, Void Genome yang semestinya Inori serahkan pada Gai malah pecah wadahnya dan kemudian tertanam dalam tangan kanan Shu. Shu kemudian jadi memiliki kemampuan menakjubkan untuk mengekstrak (secara harfiah) Void dari dalam diri orang lain, yakni senjata-senjata dahsyat yang merupakan manifestasi dari kepribadian dan sifat orang tersebut.

Dari dalam diri Inori, Shu mencabut sebilah pedang besar yang memungkinkannya melayang dan menjadikannya tandingan bagi pasukan mecha Endlave yang GHQ miliki.

Departures

Dari sini, segala sesuatunya menjadi rumit.

Tak ada yang tahu bagaimana cara mengeluarkan Void Genome dari tangan Shu. Karenanya, Gai—yang untuk suatu alasan memiliki kemampuan untuk melihat apa bentuk Void yang dimiliki tiap orang—kemudian mendorong Shu untuk bergabung dengan Shougisha.

Sementara Shu sendiri, antara rasa sukanya terhadap Inori dan rasa rendah dirinya sendiri, sebenarnya berada dalam situasi lebih pelik dari bayangannya karena…. (1) masalah pergaulan dengan teman-temannya di sekolah, (2) ada teman sekolahnya yang manis yang naksir padanya, (3) ibu Shu, Ouma Haruka, bekerja sebagai peneliti di Sephirah Genomics, (4) Shu gimanapun juga akan menjadi buruan GHQ, (5) munculnya konflik masa lalu akibat kenyataan bahwa TERNYATA MENDIANG AYAH SHU SENDIRI YANG MENCIPTAKAN VOID GENOME!

Maksudku, perkembangan-situasi-yang-diakibatkan-oleh-kebetulan macam apa iniiiii?

Belum lagi saat seorang pria paruh baya misterius bernama Keido Shuichirou yang menjadi tokoh yang hanya sekedar ‘ada’ di awal seri, tiba-tiba saja melakukan kudeta untuk mengambil alih GHQ, dan untuk suatu alasan menciptakan insiden Lost Christmas kedua di Jepang.

Shuichirou diam-diam dibantu oleh sesosok remaja misterius bernama Yu, yang ternyata memiliki Void Genome juga, yang ternyata merupakan perwakilan dari suatu kelompok berkuasa bernama Da’ath, yang ternyata merupakan secret society paling pertama yang pernah ada di muka Bumi semenjak zaman purba dan menjadi pencipta dari berbagai secret society lainnya sepanjang masa.

Lalu terungkap bahwa Shuichirou ternyata tak lain adalah saingan lama dari Ouma Kurosu, mendiang ayah Shu, yang ternyata adalah penemu pertama dari meteorit yang membawa Apocalypse Virus, yang ternyata pertama menginfeksi Ouma Mana, yang tak lain adalah mendiang kakak perempuan Shu, yang ternyata sebelumnya menyelamatkan seorang anak misterius dari laut saat mereka masih kecil, yang ternyata kemudian tumbuh menjadi Gai, yang ternyata adalah teman masa kecil Shu, yang ternyata menjadi saksi awal hubungan incest antara Mana dan Shu, yang ternyata kenangannya Shu tekan hingga ia sampai lupa, yang ternyata diakibatkan oleh infeksi virus dalam diri Mana yang mengacaukan kepribadiannya dan membuatnya ingin memicu evolusi terkini umat manusia, yang pada akhirnya berhasil digagalkan di saat-saat terakhir berkat Shu dan Gai, sampai kesadaran Mana tercipta kembali dalam diri Inori yang ternyata semacam tiruannya!

Shuichirou ternyata bermaksud melanjutkan keinginan Mana, menjadikan dirinya Eve bagi generasi umat manusia baru, sekalipun Mana sendiri pada awalnya telah memilih Shu sebagai Adam-nya, sehingga Shuichirou membunuh Kurosu atas rasa dengki, karena keturunan Kurosu-lah yang telah dipilih(?) sebagai induk umat manusia baru ini, sekalipun Shuichirou telah bersusah payah untuk menciptakan calon Adam-nya sendiri, yang salah satunya adalah Gai, yang menjadi satu-satunya subjek percobaannya yang lolos darinya, yang kemudian menjadi prajurit anak-anak tangguh, dikenal sebagai pahlawan berkat keterlibatannya dalam perang di Afrika, dan sebagainya.

Oh ya. Shuichirou ternyata adalah kakak lelaki Haruka, dan Haruka ternyata adalah istri kedua Kurosu.

… …

Kurang lebih begitu.

Remember that your strength is no coincidence

Segalanya mungkin memang terdengar menarik. Tapi terus terang, semuanya entah gimana berakhir jadi sangat konyol. Entah karena penceritaannya yang memang hanya kurang bagus, atau memang karena konsep awalnya yang menyebalkan.

Soalnya, sebenarnya, ada banyak subplot bagus muncul di seri ini. Tapi beneran, bersama setiap hal bagus yang muncul di seri ini, selalu muncul juga perkembangan cerita enggak jelas yang merusak segala-galanya. Di adegan flashback ke kenangan masa kecil Shu misalnya, pas kita berhasil dibuat penasaran tentang apa sebenarnya peran Mana yang sesungguhnya, tiba-tiba aja dimunculkan adegan di mana Shu kecil tersipu-sipu saat melihat siluet bentuk badan Mana ketika sinar mentari senja menembus kain summer dress yang dikenakannya. Maksudku, WTF is with that scene?!? Aku bisa memahami kasusnya kalau itu remaja yang lagi puber. Tapi Shu di adegan itu masih anak-anak! Anak-anak! Masa iya di usia 5-6 tahun pikirannya udah terpengaruh ke arah sana?!

Ceritanya kayak digarap… dengan benar-benar seenaknya gitu, dengan ide-ide enggak masuk akal tiba-tiba aja dimasukkan gitu aja. Pas paruh akhir cerita, kayaknya mulai terlihat bahwa staf Production I.G. mulai enggak peduli lagi soal seri ini akan dibawa ke mana. Terlihat dari tata cara penggambaran ekspresi karakternya yang secara terselubung dibuat ‘aneh’ serta pilihan kata-kata dalam dialognya yang mengandung double entendre.

Menyikapi perkembangan ceritanya yang makin ngawur, sesama penulis blog anime, Minoru, pada suatu titik dengan separuh bercanda pernah bilang sesuatu kayak, “Oke. Terus habis ini apa? Episode festival sekolah?” dan ternyata episode yang keluar sesudah ia mengatakan itu betulan mengetengahkan festival sekolah.

Entahlah. Kurasa intinya, Guilty Crown itu udah kayak mimpi basah seorang otaku.

Oya, aku belum bilang ya? Ada mecha-mecha besar bersepatu roda ala Code Geass di dalamnya. Selain episode festival sekolah, ada juga episode pantai dan pemandian air panas. Ada masalah ingatan terpendam. Ada masalah kepribadian ganda. Ada galau remaja. Ada konflik dengan orangtua. Ada adegan seks yang tiba-tiba aja diimplikasikan terjadi. Ada benda besar yang mengancam akan jatuh dari langit. Yah, begitulah.

(Gagal untuk mirip Code Geass, lalu Eureka Seven, lalu Evangelion? Itu yang kumaksud tiruan dari tiruan dari tiruan. Tapi aku beneran malah jadi ga enak karena ampe mikir kayak gini.)

Saking gado-gadonya, segalanya kayak jadi… terlalu kacau untuk bisa kau anggap serius.

Kokuhaku

Dengan demikian, bahasan kita berlanjut ke alasan orang-orang menontonnya.

Terlepas dari orang-orang yang bertahan menonton Guilty Crown karena penasaran soal sampai seancur apa seri ini akan berkembang, aspek presentasi Guilty Crown memang terlalu bagus buat diabaikan.

Serius. Aspek presentasi seri ini memang sekeren itu.

Dari segi visual, aku sudah menyebut soal desain karakternya di atas yang benar-benar mudah disukai (walau desain pakaiannya mungkin agak enggak begitu masuk di akal). Tapi sisa eksekusi anime ini benar-benar bagus. Animasinya sangat halus dengan pergerakan kamera yang bagus. Efek-efeknya mencolok. Desain dunianya keren dan mendetil.  Teknologi mecha Endlave yang digerakkan dengan kesadaran orang dari jarak jauh sangat menarik. Desain latarnya memikat. Lalu, mengingat aku penggemar Shin Megami Tensei, aku benar-benar menghargai kemiripan nuansa yang Guilty Crown tawarkan, melalui segala keajaiban yang Void Genome bawa serta situasi kota Tokyo yang terkena lockdown dan diwarnai kehancuran.

Dari segi musik, kurasa justru di sanalah letak hati Guilty Crown tersimpan.

Sempat ada kontroversi soal bagaimana Ryo dari supercell tak memilih Yanagi Nagi sebagai vokalisnya untuk kali ini—seperti pada Bakemonogatari dan single-single lain mereka sebelum itu. Sebagai gantinya, diperkenalkan seorang vokalis muda baru bernama Chelly. Tapi memperhatikan warna suaranya, bisa dimengerti mengapa ia dipilih untuk menyanyikan lagu-lagu keren yang menjadi soundtrack seri ini.

‘My Dearest’, lagu pembuka pertamanya, mungkin merupakan salah satu lagu paling epik yang pernah kudengar sepanjang masa. Bahkan untuk ukuran lagu-lagu supercell! Mendengarnya semata benar-benar serasa mengaduk beragam emosi, yang seandainya saja berhasil dituangkan ke dalam cerita, pastinya akan berhasil mengubah Guilty Crown menjadi mahakarya.

Lagu pembuka keduanya, ‘The Everlasting Guilty Crown’, merupakan lagu favorit pribadiku karena benar-benar larut dan sesuai dengan sisi keren cerita.

Lalu terlepas dari lagu-lagu pembuka dan penutupnya, musik latarnya ditangani oleh Sawano Hiroyuki yang juga membuat musik latar keren dari Gundam Unicorn! Hasilnya secara garis besar benar-benar keren.

Makanya, kebagusan kemasannya ini benar-benar jadi… timpang dengan kualitas inti ceritanya, dan kualitasnya itu benar-benar turun-naik secara ekstrim di sepanjang seri. Menciptakan semacam hubungan cinta-benci bagi siapapun yang mencoba menontonnya. Pada akhirnya, ceritanya sendiri memang berakhir agak mengecewakan sih. Sekali lagi, karena ceritanya sempat menjadi ‘aneh’ hanya beberapa menit menjelang akhir. Mungkin juga karena luasnya cakupan cerita dibandingkan durasinya yang hanya sebatas 22 episode. Tapi kualitas eksekusinya memang terbilang enggak buruk…

Agak susah membayangkannya bila kau belum melihatnya sendiri.

Eniwei, pada akhirnya, kamu ngamuk sekalipun soal ceritanya, akan ada banyak alasan bagimu untuk mengenang proyek besar Production I.G. ini. Ada banyak hal tentangnya yang memang masih enggak jelas dan mesti diperbaiki. Tapi asal kau enggak berpikir mendalam tentangnya, mengganggapnya semacam b-movie sambil lalu aja, kau masih bisa menikmatinya kok.

Sesering apapun seri ini membuatku muntah, seenggaknya pada akhirnya aku enggak sampai muntah darah.

Lalu, kalau menonton ulang semua dan memperhatikan hal-hal kecil yang seri ini berikan, sering sekali ada bagian-bagian tertentu yang membuatmu agak ‘wow.’

Jadi kayak, kadang aku dibikin mikir, sebenarnya apa sih yang ada di pikiran para pembuatnya? Dan kalau aku menyingkirkan apa-apa yang membuatku kesal dan coba menebak-nebak, mungkin memang Guilty Crown sebenarnya mempunyai lebih banyak hal tersirat dari yang tampak di permukaan.

The Three Ghosts of Pre-Apocalypse

Aku belum paham gimana persisnya. Tapi tim produksi Guilty Crown sebenarnya  telah menyiapkan beragam detil latar dan karakter yang menarik sehubungan dunianya.

Sebagian besar detil ini sepertinya baru akan dipaparkan dan dieksplorasi lebih lanjut dalam game visual novel  Guilty Crown: Lost Christmas. Game ini merupakan semacam prekuel sekaligus spin-offnya gitu, berlatar sepuluh tahun sebelum cerita di seri TV-nya, dan secara mendebarkan tengah dikembangkan oleh Nitroplus. Belum terlalu jelas hasilnya akan seperti apa, tapi Nitroplus sudah lama dikenal sebagai produsen VN dengan cerita-cerita yang gelap tapi berbobot. Jadi kita bisa mengharapkan suatu perbaikan kualitas cerita menyeluruh darinya.

Tokoh utama ceritanya adalah seorang pria misterius yang dikenal sebagai Scrooge, yang melarikan diri dari suatu fasilitas penelitian tertentu, dan bertahan hidup bersama partnernya, seorang gadis cantik yang tak kalah misteriusnya, Carol. Scrooge konon memiliki kekuatan Void Genome yang serupa dengan yang akan dimiliki Shu. Lalu keduanya dikejar-kejar oleh tiga ‘hantu’ yang semakin mempertegas inspirasi dari A Christmas Carol-nya Charles Dickens: Past, Present, dan Yet to Come, yang sama-sama rupawan(?) dan juga sangat misterius.

Hanegaya Jin yang membuat cerita VN Demonbane menjadi penulis skenarionya, dan konon ceritanya akan berfokus pada insiden Lost Christmas. Akan ada film animasi pendek berisi sebuah cerita orisinil yang akan mengiringi peluncuran game ini juga.

Aku punya perasaan cerita VN-nya akan berakhir tragis. Tapi lebih lanjut tentangnya kukabari lagi sesudah semuanya jelas.  Soalnya ceritanya sendiri beneran gelap.

Scrooge adalah seseorang yang kehilangan ingatannya. Lalu Carol ternyata agak mempermainkannya karena diam-diam mengetahui segala sesuatu soal jati dirinya sejak awal. Ada semacam dendam yang Carol miliki terhadap Scrooge. Lalu hilangnya ingatan Scrooge tersebut terkait dengan bagaimana ingatan itu mungkin memang lebih baik tak dia ingat kembali. Pokoknya, semua memang terkait dengan Void Genome tak sempurna yang tertanam di tangan Scrooge, yang membuat jenis Void Genome yang ditariknya dari Carol agak berbeda dari yang ditampilkan Shu.

(Beberapa hal menarik meliputi bagaimana Void Genome Scrooge ‘beracun’ bagi orang lain, karenanya ia hanya bisa menariknya dari Carol. Namun bentuk Void yang bisa Scrooge tarik ternyata bisa berbeda-beda(!) pada setiap waktu, lalu desain karakter Scrooge dan Carol sangat mirip desain Shu dan Inori. Tapi sudahlah dulu soal itu…)

Di samping yang di atas, diterbitkan pula light novel berjudul Guilty Crown: Princess of Deadpool karya Gan Saaku, yang juga penulis dari Nitroplus, yang memaparkan sebuah cerita sampingan yang berlangsung di pertengahan cerita seri TV-nya. Masih terbatas info tentang apa cerita ini, tapi kelihatannya berfokus pada seorang siswi bernama Hinata Hiyori dan teman-temannya dari SMA Meisei. Dipaparkan hadirnya pemilik Void Genome selain yang dikembangkan oleh Sephirah Genomics, dan ada konflik yang kemudian melibatkan mereka dengan kelompok Shougisha…

Info lain soal ini kalau ada akan kutambahkan nanti.

Kebenarannya Ada di Hatimu

Kalau kupikir sekarang, terlepas dari alur ceritanya yang terkadang enggak masuk akal dan tamatnya yang enggak begitu bisa dibilang jelas, Guilty Crown termasuk salah satu anime yang punya porsi perkembangan cerita yang epik lho. Masing-masing episodenya memiliki porsi cerita yang padat dan berarti, dengan eksekusi yang sekali lagi, kalau bukan karena sisi nakalnya (Tsugumi? Ayase?), bisa kukatakan bagus.

…Rasanya aneh, tapi kalau kupikir lagi, seandainya ada upaya untuk meremake-nya ke dalam bentuk movie atau mengadaptasinya ke bentuk novel, ada peluang besar aku akan tertarik. Mungkin masih ada suatu pelajaran tersamar yang akan kau dapatkan bila kau menonton ini kok. Jadi walaupun sampah, seenggaknya masih belum menutup kemungkinan buat didaur ulang.

(Enggak, aku juga enggak tahu buat maksud apa mereka mendesain baju Inori kayak gitu.)

(Asal tahu aja, ceritanya berakhir bahagia. Tapi pada suatu titik tertentu, ada kemungkinan kau enggak akan lagi terlalu peduli.)

Penilaian

Konsep: X; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: X; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: D-

(Nilai X berarti bisa sangat bagus dan sangat kurang tergantung bagiannya, nilai eksekusi mendapat pengurangan karena banyak bagian yang dibuat dengan sangat baik tapi dengan cara yang kurang semestinya.)

31/08/2011

Fate/Zero

Anime-nya sudah mau keluar, jadi baiknya aku menulis sesuatu tentang ini.

Aku yakin semua orang sudah tahu; seri Fate/Zero adalah seri prekuel dari seri visual novel terkenal Fate/stay night yang diciptakan pengembang game TYPE-MOON. Pertama dikeluarkan dalam bentuk rangkaian novel yang terdiri atas empat buku , seri Fate/Zero menghadirkan cerita yang lebih ‘dewasa’ dan ‘keras’ dibandingkan  Fate/stay night.

Novel Fate/Zero sepenuhnya ditulis oleh Urobuchi Gen mengikuti plot cerita yang telah disetujui penulis skenario utama TYPE-MOON, Nasu Kinoko. Bagi yang belum tahu, Urobuchi-sensei sebelumnya dikenal sebagai salah satu penulis skenario untuk perusahaan game Nitroplus. Desain karakter yang menghiasi halaman-halaman ilustrasi novel ini masih ditangani oleh partner lama Nasu-sensei, yakni ilustrator Takeuchi Takashi.

Berbicara soal adaptasi anime-nya, studio yang bertanggung jawab dalam pembuatannya adalah ufotable. Studio ini sebelumnya menarik perhatian berkat penanganannya atas rangkaian film layar lebar Kara no Kyoukai—adaptasi anime dari suatu seri novel lain keluaran Nasu-sensei yang berjudul sama.

Studio ini berbeda dari studio yang sebelumnya menangani adaptasi anime Fate/stay night  (studio DEEN), jadi perbedaan nuansa dan gaya eksekusi cerita sudah menjadi suatu hal yang diharapkan.

Bagi Mereka yang Tak Mengikuti Fate/stay night…

Serupa dengan seri induknya yang sama-sama mengangkat insiden Perang Cawan Suci (‘holy grail war,’ ‘seihai no sensou’), Fate/Zero mengisahkan Perang Cawan Suci keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelumnya, masih di kota Fuyuki, Jepang. Bagi mereka yang tak mengikuti Fate/stay night, ‘perang’ ini pada dasarnya semacam kompetisi rahasia untuk memperebutkan artefak sihir Cawan Suci yang berkekuatan dahsyat dan diyakini mampu mengabulkan permohonan apapun dari pemiliknya.

Memperebutkan hak kepemilikan atas Cawan Suci, adalah tujuh orang penyihir (magus) yang disebut para Master. Ketujuhnya ditemani suatu roh pahlawan legendaris (‘heroic spirit’, ‘eirei’) yang disebut Servant. Antara keduanya terjalin kontrak kerjasama yang terwujud dalam bentuk tiga rajah Command Seal (‘reiju’?) pada salah satu tangan setiap Master.

Setiap Command Seal ini memungkinkan Master memberikan tiga perintah absolut kepada Servant-nya, termasuk perintah-perintah yang lazimnya berada di luar kapasitas kemampuan ataupun kemauan mereka. Habisnya ketiga Command Seal ini akan menandai gugurnya seorang Master dari Perang Cawan Suci.

Setiap pasangan Master-Servant memiliki tujuan menjatuhkan keenam pasangan Master-Servant lain. Baik itu dengan membunuh atau dengan memaksa Master pasangan lain menghabiskan Command Seal yang ia punya. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapat kehormatan untuk mewujudkan satu permohonan mereka dengan kekuatan Cawan Suci.

Para Servant ini ceritanya makhluk-makhluk astral yang memiliki kemampuan jauh melebihi manusia-manusia kebanyakan. Sekalipun demikian, kekuatan mereka turut dipengaruhi pula oleh kapasitas kekuatan sihir yang Master-nya miliki.

Setiap Servant juga memiliki senjata/pusaka/kemampuan khas mereka masing-masing yang secara umum disebut Noble Phantasm, yang sekaligus juga menjadi semacam perlambang identitas mereka.

Ada tujuh kelas Servant yang mungkin dapat dipanggil—setiap kelas hanya bisa ada pada satu waktu.

Sesudah salah satu roh pahlawan menjadi Servant, roh pahlawan tersebut akan mulai disebut dengan nama kelasnya agar identitasnya terahasiakan. Alasannya agar kerahasiaan identitas seorang Servant tak sampai bocor. Karena identitas asli mereka akan membeberkan segala hal tentang kekuatan dan kelemahan mereka (para Servant merupakan figur-figur ternama yang ada dalam mitolgi-mitologi terkenal dunia).

Countdown

Inti cerita Fate/Zero sama saja dengan Fate/stay night, yaitu soal bagaimana ketujuh pasangan ini saling memburu dan bunuh. Tapi yang membuatnya menarik adalah ‘para pemerannya’ yang berbeda serta bagaimana ceritanya dituturkan dari sudut pandang ketujuh pasangan Master-Servant yang ada.

Kelas-kelas Servant yang ada beserta pasangan Master mereka dalam Perang Cawan Suci kali ini antara lain:

  • Saber, pengguna pedang yang memiliki statistik paling seimbang di antara kelas-kelas Servant lain. Dipandang sebagai kelas Servant yang paling difavoritkan menjadi juara. Identitas asli Servant Saber adalah Arturia, perempuan muda yang merupakan identitas sebenarnya dari raja ksatria yang dulu pernah memimpin Britania Raya. Master-nya adalah Emiya Kritsugu,  ‘pemburu magus’ profesional yang mewakili pihak Einzbern, salah satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini. (Ya, tokoh Saber ini sama dengan yang muncul di Fate/stay night.)
  • Archer, spesialis serangan-serangan jarak jauh. Memiliki keunggulan untuk bersikap independen tanpa tergantung pada keberadaan Master-nya. Master Servant Archer adalah Tohsaka Tokiomi yang mewakili pihak Tohsaka, satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini. Sebagaimana yang dibeberkan dalam perkembangan cerita Fate/stay night, identitas asli Servant Archer ini adalah raja para raja dari Babylon, Gilgamesh.
  • Lancer, spesialis pengguna tombak yang memiliki fokus lebih ke kelincahan. Master dari Servant Lancer yang gentleman ini adalah Kayneth El-Melloi Archibald, figur bangsawan ambisius dari pihak Mage’s Association yang mengawasi ritual.
  • Rider, spesialis pengguna ‘tungganggan’ yang memungkinkannya  memiliki daya hancur besar. Identitas asli dari Servant Rider adalah Alexander, raja pemberani yang pernah nyaris menguasai seluruh dunia. Master-nya adalah Waver Velvet, murid muda Kayneth yang menyimpan rasa antipati terhadap gurunya. Waver turut serta dalam kompetisi ini dengan mencuri artefak yang sebelumnya hendak Kayneth gunakan sebagai katalis pemanggilan Servant. Dengan demikian, Waver menjadi Master dari Rider, dan menjalin hubungan tak biasa dengan Servant-nya itu.
  • Caster, spesialis pengguna sihir. Identitas aslinya adalah Giles de Rais alias Bluebeard, penyihir keji yang konon pernah menjadi orang kepercayaan Joan of Arc sebelum kewarasannya hilang. Master-nya adalah Uryu Ryunosuke, pemuda tampan yang sebenarnya adalah pembunuh berantai anak-anak yang belakangan menghantui Fuyuki.
  • Berserker, Servant yang menukar kewarasannya dengan amarah dan kekuatan besar, karenanya sulit dikendalikan. Wujud berupa ksatria hitam yang dimilikinya mampu menggunakan apapun yang diraihnya sebagai senjata setingkat Noble Phantasm. Master Servant misterius ini adalah Matou Kariya, teman masa kecil dari istri Tokiomi,  Tohsaka Aoi, yang mengambil resiko teramat besar untuk menjadi Master untuk suatu alasan yang teramat pribadi. Kariya merupakan wakil pihak Makiri, salah satu dari tiga keluarga besar yang memprakarsai ritual ini.
  • Assassin, spesialis kerahasiaan dan pergerakan sembunyi-sembunyi. Master Servant Assassin adalah Kotomine Kirei, pendeta executioner muda yang meski berasal dari pihak Gereja yang semestinya berperan sebagai ‘juri’ yang netral, tetap telah diutus secara khusus oleh ayahnya, Kotomine Risei, untuk membantu Tohsaka Tokiomi. (Ya, ini Servant yang  serupa/sama dengan True Assassin yang muncul dalam rute Heaven’s Feel di Fate/stay night. Demikian pula dengan Kotomine Kirei.)

Suram dan Pelik

Semua yang sempat mengikuti Fate/stay night pasti tahu bagaimana Perang Cawan Suci keempat ini akan berakhir. Tapi sebagaimana harapan para penggemar, inti cerita Fate/Zero lebih kepada detil bagaimana persisnya semua terjadi daripada soal akhir ceritanya sendiri. Jadi mungkin cerita Fate/Zero bakal lebih bisa dinikmati oleh mereka yang tak asing dengan Fate/stay night.

Dalam narasinya, sudut pandang masing-masing tokoh diangkat secara bergantian. Intrik dan rencana setiap pihak dipaparkan, beserta keterangan orang-orang yang terkait dengan mereka. Ujung-ujungnya, kita akan memahami motivasi dan latar belakang masing-masing tokoh, dan ceritanya ditulis sedemikian rupa sehingga kita sulit untuk tak simpati terhadap setiap tokohnya, termasuk yang ‘sakit’ sekalipun.

Cerita tragis Fate/Zero dalam kurun waktu hanya empat buku benar-benar berkembang ke arah yang gelap. Kita melihat bahwa sekalipun segalanya telah diupayakan, suatu hal yang tak terduga ujung-ujungnya pasti terjadi. Terus rasa simpati apapun yang sebelumnya kita miliki terhadap para tokohnya bisa jadi malah hanya membuat kita semakin depresi.

Hal ini paling terlihat dari sifat para tokohnya sih.

Emiya Kiritsugu—tokoh sentral yang kelak dikisahkan menjadi ayah angkat dari tokoh utama Fate/stay night, Emiya Shirou—digambarkan sebagai pribadi yang ‘menyedihkan.’ Dalam artian, dia mau usaha kayak gimanapun juga, dirinya pasti bakal ‘kalah’ dari satu segi, dan Kiritsugu sepenuhnya sadar tentang hal ini tapi merasa tak bisa berbuat apa-apa tentangnya.

Kesan Kiritsugu di Fate/Zero sangat berlawanan dari imejnya yang ramah dan hangat di adegan-adegan kilas balik Fate/stay night. Ideologi kepahlawanannya yang sebelumnya sekilas terkesan kekanak-kanakan digambarkan sebagai semacam fanatisme yang menakutkan di Fate/Zero. Di satu sisi dirinya adalah seorang pria sederhana yang ingin meraih kebahagiaan bersama keluarganya: istrinya, Irisviel von Einzbern, dan putrinya, Illyasviel. Tapi di sisi lain, Kiritsugu seorang pembunuh berdarah dingin yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya—termasuk mencabut nyawa banyak orang bila hal tersebut diyakininya dapat menyelamatkan nyawa lebih banyak orang lagi.

Mengimbangi Kiritsugu adalah versi muda Kotomine Kirei. Kotomine ceritanya seorang pria ‘kosong’ yang kemudian merasa bisa menemukan makna keberadaannya dalam jati diri Kiritsugu. Semenjak awal, Kotomine dan Kiritsugu menetapkan satu sama lain sebagai ‘target yang perlu diawasi’ dan dinamisnya hubungan keduanya menurutku menjadi salah satu daya tarik utama seri ini.

Sifat dan kedudukan keduanya juga digambarkan berpengaruh terhadap orang-orang di sekitar mereka: Kiritsugu terhadap Saber (terutama karena perbedaan prinsip mereka dalam menggapai tujuan) dan asistennya, wanita muda veteran perang bernama Maiya Hisau. Sedangkan Kirei terhadap ayahnya dan Servant Archer, yang ternyata diam-diam menaruh minat mendalam terhadapnya.

Konflik-konflik kepentingan serupa juga dialami oleh para Master yang lain. Waver yang lemah tapi arogan ingin menjatuhkan Kayneth. Tapi dirinya sulit bekerjasama dengan Rider yang barbar. Kayneth yang perhitungan memiliki masalah dengan tunangannya sekaligus penyuplai kekuatan sihir untuk Lancer, Sola-Ui Nuada-Re Sophia-Ri, yang memandang Kayneth tidak terhormat. Caster terkesima sekaligus frustrasi oleh Saber, yang diyakininya sebagai reinkarnasi dari Joan of Arc yang ia puja. Lalu Kariya, yang sebenarnya tidak memiliki bakat sihir, setiap hari terus digerogoti nyawanya akibat kontrak yang ia jalani dengan Servant Berserker, ditambah lagi dengan dendam pribadi yang ia miliki terhadap figur misterius Matou Zouken yang berada di balik keluarga Matou. Tohsaka Tokiomi pun, yang tidak lain merupakan ayah dari Tohsaka Rin, salah satu heroine di Fate/stay night, ternyata adalah seorang oportunis brengsek yang sangat berlawanan dengan kesan terakhir yang Rin miliki terhadapnya.

Aku masih belum menyebut semua tokoh. Tapi percayalah bahwa alur cerita Fate/Zero, sesudah kau terbiasa dengan temponya, bisa sangat seru sekaligus menyayat hati.

Dengan adegan-adegan aksi keren yang turut diwarnai intrik dan strategi, kurasa kalian yang merindukan jenis drama dan ketegangan yang dibawakan Code Geass: Hangyaku no Lelouch akan tertarik dengan adaptasi anime cerita ini.

“…What lies there is just cold despair and a sin called victory, built on the pain of the defeated.”

Sekali lagi, Fate/Zero itu paling baik diikuti sesudah tahu sedikit banyak tentang cerita Fate/stay night. Atau setidaknya pernah mengikuti versi anime-nya hingga akhir. Ada beberapa spoiler bagi mereka yang belum menamatkan Fate/stay night di seri ini. Jadi saranku, bagi yang belum tahu cerita sekuelnya, ikutinya dengan hati-hati.

Di mataku, cerita ini kayak lukisan perjuangan hidup orang-orang yang berusaha memperbaiki nasib. Kalau kau sanggup merenungkan dan mencernanya, mungkin kau akan terkesima karena ceritanya bisa membuat pikiranmu semakin terbuka. Tapi kalau kau benci cerita-cerita kayak gini, atau menganggapnya enggak guna, menjauhinya juga bukan masalah kok.

Keempat novel Fate/Zero telah usai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh para fans dan dapat ditemukan di Internet. Gaya tulisan novel Urobuchi Gen memang berbeda dari gaya cerita game Nasu Kinoko. Aku sendiri perlu waktu lama agar terbiasa dan tak menganggapnya bertele-tele. Tapi garis besar nuansa yang dibawakannya kurang lebih sama kok.

Satu hal menarik di postface buku pertama; Urobuchi Gen mengakui betapa dirinya sebenarnya ingin menjadi penulis yang menghasilkan karya-karya yang menghangatkan hati. Bagi yang tahu tentang dirinya, upayanya ini jelas-jelas gagal total bila meninjau cerita-cerita di game-game Nitroplus. Karena itu dia merasa bahwa tawaran untuk menulis Fate/Zero merupakan kesempatan bagi dirinya untuk berubah menjadi ‘pahlawan cinta’ seperti Nasu. Jadi meski gelap, kayak kebanyakan cerita TYPE-MOON yang lain, ceritanya masih sebuah cerita yang menyisakan sedikit cahaya harapan di ujung sana.

Yah, gampangnya, kalau kau masih belum menemukan kepuasan dari Fate/stay night, cobalah Fate/Zero. Seenggaknya dijamin kau akan menemukan suatu sensasi yang lumayan berbeda.

(Aku jadi ngerasa kayak lagi ngiklanin minuman bersoda…)

17/01/2009

Chaos;Head

(Ini adalah versi edit ulang dari ulasan sebelumnya dalam rangka menyambut penayangan anime Chaos;Child yang menjadi sekuel seri ini.)

Chaos;Head mungkin anime paling aneh yang pernah kutonton dalam sepuluh tahun terakhir.

Aku semula tertarik karena mengira ini drama suspens misteri macam Higurashi no Naku Koro Ni. Seperti halnya Higurashi, ada rangkaian pembunuhan misterius bernuansa horor di dalam Chaos;Head, ada karakter-karakter cewek manis, lalu tokoh utama cowoknya juga memiliki sifat yang lumayan menonjol. Tapi dalam perkembangan cerita… yah, sebut saja Chaos:Head berakhir menjadi makhluk yang lumayan berbeda.

Dari desain karakternya yang termasuk bishoujo, aku langsung sadar bahwa anime ini pasti diangkat dari sebuah game. Aku belakangan mengetahui pengembangannya dilakukan melalui kerjasama Nitroplus dan 5pb.. Chaos;Head adalah game yang menjadi judul pertama dari rangkaian VN science adventure mereka yang kemudian disusul Steins;Gate dan Robotics;Notes.

Versi anime dari Chaos;Head ini berjumlah 12 episode, disutradarai oleh Ishiyama Takaaki, dipenai Inoue Toshiki, dengan musik ditangani oleh Abo Takeshi. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Madhouse dan seri ini pertama tayang pada cour terakhir tahun 2008.

Aku Ingin Berjumpa Denganmu

Chaos;Head berkisah tentang seorang remaja SMA bernama Nishijou Takumi.

Takumi tinggal di Shibuya. Dia… memiliki kecendrungan buat jadi hikkikomori. Dia tinggal sendirian. Dia sangat rendah diri. Dia sama sekali tak merasa nyaman berada bersama orang lain. Bicaranya juga gagap.

Takumi sepanjang hari menghabiskan hampir seluruh waktunya secara online di depan komputer. Dia datang ke sekolahnya hanya untuk memenuhi kuota kehadiran minimal untuk bisa naik kelas yang pembagian harinya bahkan sudah dia jadwal. Takumi biasa online baik dari rumahnya maupun dari warnet yang sering dikunjunginya. Sekali lagi, dia cuma datang ke sekolah seperlunya saja.

Lalu dalam kesendiriannya, Takumi sering berhalusinasi tentang Orgel Seira-tan, tokoh dari seri mahou shojo Blood Tune yang figurinnya sejak dulu ia koleksi dengan setia. Pada awal cerita, berbagai halusinasi /delusinya tersebut sudah mencapai tingkatan sedemikian ekstrimnya, sampai-sampai Seira-tan seolah menjadi nyata. Takumi sampai bisa mendengarnya berbicara dan bahkan kerap terlibat percakapan dengannya. Status Seira-tan di kamar Takumi (di semacam boks trailer yang dimodifikasi menjadi sebuah kamar di atap salah satu gedung milik keluarganya) sudah hampir jadi seperti istrinya, dengan bagaimana halusinasi akan Seira-tan kerap berakhir dengan bagaimana ia memeluk Takumi dan memuji-muji tentang betapa ia begitu hebat.

Tapi kehidupan monoton Takumi seakan berakhir saat pada suatu waktu, ketika sedang chatting bersama sobat online-nya, Grim, di chatroom yang biasa mereka gunakan (cerita ini berlangsung di masa ketika Internet sudah merambah, tapi penggunaan smart phone belum), Takumi yang hampir tak pernah ke mana-mana kemudian diberitahu Grim untuk waspada terhadap rangkaian kejadian aneh yang belakangan berlangsung di sekitar tempat tinggalnya. Rangkaian kejadian ini pada dasarnya adalah kematian-kematian (pembunuhan?) aneh yang metode pelaksanaannya tak terjelaskan oleh akal sehat. Entah dimulai siapa, rangkaian insiden ini tahu-tahu mulai dikenal secara luas dengan sebutan rangkaian kegilaan New Generation.

Selepas perginya Grim, tiba-tiba muncul seorang pengunjung asing yang tak Takumi kenal di chatroom. Pengunjung tersebut menggunakan nama Shogun. Lalu tanpa banyak basa-basi, Grim mulai memposting tautan-tautan berisi gambar-gambar foto yang konon berhubungan dengan rangkaian insiden tersebut. Terdorong rasa penasaran, Takumi membuka salah satu tautan. Lalu di sana Takumi melihat foto seorang pria yang tewas di sebuah gang dengan sekujur tubuh tertancap pasak-pasak logam.

Tak kuat dengan hal-hal yang guro, Takumi berusaha melupakan kejadian ini dan menegaskan bahwa urusan ini sama sekali tak berhubungan dengan dirinya.

Namun esoknya, sepulang sekolah, sesudah ia mangkal di warnet—dalam upaya menyingkirkan gangguan Nishijou Nanami, adik perempuannya yang setahun lebih muda—Takumi mencoba mengambil jalan pintas menuju rumah. Namun tanpa sadar, ia melewati gang yang ternyata sama persis dengan yang dilihatnya di dalam foto.

Bukan hanya itu.

Anehnya, Takumi juga melihat sendiri jasad pria yang dilihatnya, dalam kondisi baru tewas oleh pasak-pasak logam di sekujur tubuh.

Bukan hanya karena menjadi yang pertama menemukan TKP, Takumi langsung panik karena menyadari betapa tak masuk akalnya semua ini. Bagaimana mungkin foto yang dibukanya kemarin bisa menampilkan sesuatu yang baru terjadi hari ini? Apa yang sedang terjadi? Apa mungkin foto yang dilihatnya hasil rekayasa?

Di tengah kepanikannya, Takumi kemudian menyadari bahwa ternyata ia tak sendirian di gang itu. Tak disadarinya di awal, ternyata hadir seorang gadis berambut pink, yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengan Takumi, yang dengan wajah sedikit terciprat darah, kemudian memandang Takumi dan dengan suara halus berkata kalau ia sudah lama ingin berjumpa dengannya.

Mengira nyawanya terancam karena mengira gadis itulah pelaku yang sesungguhnya, Takumi langsung lari tunggang-langgang. Ia lari secepatnya menuju rumah trailernya dan sebisa mungkin ingin percaya ini semua lagi-lagi hanyalah bagian dari halusinasinya.

Namun esok hari, di sekolah, betapa herannya Takumi saat mendapati bahwa gadis berambut pink kemarin ternyata duduk sekelas dengannya!

Namanya adalah Sakihata Rimi. Sikapnya riang dan akrab, dan ia benar-benar nampak kebingungan dengan segala reaksi Takumi yang seolah takut terhadapnya. Berdasarkan kesaksian Misumi Daisuke, teman sekelas Takumi yang agak playboy sekaligus satu-satunya teman sekolahnya yang masih mau berbicara dengannya, mereka bertiga rupanya telah lama bersahabat. Daisuke heran soal bisa-bisanya Takumi lupa terhadap Rimi. Daisuke bahkan menyimpan foto mereka bertiga di dalam ponselnya.

Tersadar dengan penyakit delusinya yang mungkin sudah mencapai batas yang keterlaluan, ini adalah awal mula ragunya Takumi terhadap segala ingatan dan persepsinya atas dunia.

Mata Itu, Mata Milik Siapakah Itu?

Tema yang diangkat Chaos;Head tak lain tentang delusi dan persepsi terhadap realita. Temanya sendiri dipaparkan lewat pribadi Takumi yang sedikit demi sedikit merasa seolah akan kehilangan kewarasannya. Takumi terutama diresahkan dengan bagaimana pada waktu-waktu tertentu, ia kerap merasakan tatapan seseorang atas dirinya, sekalipun dirinya sedang mengurung diri di dalam kamarnya yang notabene tertutup dan tak berjendela.

Dalam gamenya, daripada pilihan-pilhan dialog tradisional yang akan menentukan percabangan cerita mana yang akan kita lalui, ada suatu sistem yang disebut Delusional Trigger yang secara bertahap akan membentuk pribadi Takumi. Ada tiga kemungkinan yang dapat kita pilih dalam bagian-bagian cerita ketika suatu delusi/halusinasi berpotensi untuk Takumi alami, yakni:

  • Khayalan yang condong ke arah kekerasan.
  • Khayalan yang condong ke arah sesuatu yang, uh, nakal.
  • Tidak berkhayal dan tetap berpijak pada realita.

Kemungkinan mana yang kita ambil dipicu dengan memilih (atau tidak memilih) salah satu dari dua ‘gelombang’ yang akan muncul di layar seiring terdengarnya suatu bunyi khusus.

Mana yang terbaik? Yah, itu tergantung pada apa yang sedang terjadi pada waktu itu. Pastinya, alasan adanya sistem ini terungkap belakangan dalam cerita kok.

Gamblangnya, sehubungan tema supernatural yang diangkatnya, Chaos;Head sebenarnya punya cerita yang lebih bersifat sains fiksi ketimbang misteri. Makanya, perkembangan ceritanya sempat pada satu titik benar-benar membuatku kecewa sebagai penggemar misteri. Namun begitu, meski tak seberkesan yang kau harap, cerita Chaos;Head menurutku masih termasuk bagus. Ada tema-tema persahabatan dan penerimaan diri yang tak kusangka. Lalu ada twist yang menurutku keren menjelang penghujung cerita.

Meski kurang seimbang elemen-elemennya, versi anime Chaos;Head lumayan berhasil memaparkan rute utama gamenya. Eksekusinya mungkin memang bisa lebih baik. Tapi ceritanya setidaknya berakhir lumayan tertuntaskan.

Ceritanya sendiri berkembang dengan semakin bermunculannya kejadian-kejadian aneh yang Takumi sukar bedakan nyata atau tidaknya.

Terkait kehadirannya di TKP, sosok Takumi terekam CCTV. Karena itu, Takumi sempat didatangi pasangan detektif Ban Yasuji dan juniornya, Suwa Mamoru. Keduanya terlibat penyelidikan resmi kejadian-kejadian New Generation yang dilakukan polisi. Lalu saat menanyai Takumi sebagai saksi, keduanya samar-samar merasakan ada hal tertentu yang Takumi sembunyikan.

Di jalanan Shibuya, Takumi berpapasan dengan Aoi Sena, seorang siswi berandalan di sekolahnya, yang dengan cepat menyadari kalau Takumi bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Meski semula takut terhadap Sena, Takumi kebingungan saat Sena–yang belakangan terungkap adalah putri seorang ilmuwan–tiba-tiba menjelaskan perihal teknologi rekonstruksi visual kepadanya.

Tak lama sesudah itu, Takumi didekati teman sekolahnya yang elegan bernama Kusunoki Yua, yang Takumi sulit percaya akan mau berteman dengan orang seperti dirinya. Yua tak dinyana mendekati Takumi sebenarnya karena juga mencurigai keterlibatannya dalam insiden New Generation. Lalu meski kekurangan bukti, ia mengajukan teori yang sulit Takumi bantah soal bagaimana Shogun sebenarnya adalah Takumi sendiri.

Rumor tersebar bahwa lagu-lagu yang dibawakan vokalis FES dari band indie Phantasm sebenarnya mengandung ‘ramalan’ untuk setiap insiden New Generation di dalam lirik-liriknya. Identitas asli FES ternyata adalah seorang adik kelas bernama Kishimoto Ayase. Namun lagi-lagi terjadi hal-hal ganjil saat Takumi mendatangi konsernya.

Kegilaan New Generation terus terjadi. Ada kabar tentang orang-orang hilang. Lalu di jalanan, muncul kesaksian tentang kumpulan massa yang tak diketahui asal muasal maupun tujuannya.

Ketika keanehan-keanehan semakin memuncak, seorang siswi pindahan bernama Orihara Kozue memaparkan ramalan aneh tentang sebuah bencana besar yang akan menimpa Shibuya, dan bagaimana dirinya—serta orang-orang lain seperti dirinya—sebenarnya telah didatangkan ke sana untuk mencegahnya.

Semakin kesulitan melihat kenyataan, Takumi didorong untuk mempercayai Rimi, yang menjadi faktor konstan yang terus bersikeras kalau ia akan selalu berada di pihaknya.

Cepat Temukan Pedangmu

Bicara soal teknis, Chaos;Head lumayan… menengah?

Visualnya punya ciri khas, tapi tak benar-benar bisa dibilang bagus.

Meski ceritanya cenderung suram, tetap ada nuansa keju yang kentara. Fokus ceritanya kerap melompat. Ditambah lagi, dengan desain karakternya yang warna-warni, jadinya ada semacam… ketimpangan antara warna-warni ini dengan kesuraman yang dicoba dihadirkan.

Baru belakangan aku sadar kalau pihak pengembangnya juga mungkin masih mencari-cari nuansa yang pas untuk gamenya. Makanya juga game ini bisa sedemikian berbedanya dibandingkan game-game science adventure yang menyusulnya. Lalu kesan percobaan itu pun jadinya ikut terbawa ke animenya dengan cara yang kurang optimal.

Dengan kata lain, tak ada yang benar-benar menonjol dari segi visual maupun audio pada seri ini. Desain karakternya adalah desain karakter yang sangat bergaya VN, dengan proporsi anatomi yang kurang pas kalau kau tipe yang memperhatikan baik-baik. Jadi mungkin itu akan terkesan kurang menarik bagi sebagian orang. Tapi audionya lumayan. Serius. Audionya lumayan. Dalam arti kayak tak bagus, tapi bisa gampang melekat dalam kepala.

Susah menjelaskannya. Tapi intinya, hasil akhir Chaos;Head menurutku termasuk lumayan bisa dinikmati.

Cerita utamanya yang terkesan rumit sekali lagi sebenarnya sederhana. Chaos;Head pada dasarnya tentang bagaimana berbagai pihak yang semula terpencar akhirnya bersatu untuk menentang rencana jahat Norose Genichi, direktur perusahaan iptek Nozomi.

Nozomi-lah yang rupanya menjadi dalang di balik semua yang terjadi. Melalui kerjasama rahasia dengan suatu partai politik sekaligus suatu aliran kepercayaan tertentu, Nozomi rupanya telah menjadikan seluruh Shibuya sebagai lahan percobaan untuk suatu senjata misterius baru bernama Noah II yang dapat mendatangkan korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya.

Ada banyak hal di dalamnya yang sempat membuatku aneh. Tapi aku tetap aku terkesan dengan bagaimana semuanya menyatu di akhir. Memang terasa ada beberapa hal yang luput terjelaskan, tapi mungkin lebih baik aku bahas soal itu sesudah menuntaskan gamenya. Terlepas dari berbagai kelemahannya, ceritanya terus berkembang secara seru dengan momentum yang terus terjaga. Jadi sekali lagi, hasilnya enggak bisa kubilang jelek.

Ada sesuatu tentang bagaimana Takumi yang semula begitu rendah diri jadi bisa bangkit berkat dukungan dari para perempuan di sekelilingnya. Ada sesuatu tentang ini yang… tak benar-benar bisa aku sukai, tapi tak bisa aku benci juga.

It’s weird.

Dirinya memang menyedihkan. Tapi aku merasa kalau aku bisa jadi kayak dia seandainya berada dalam posisinya.

…Mungkin juga aku merasa kayak gini karena aku pun pernah mengalami masa-masa sulit membedakan kenyataan dan khayalan. Tapi sudahlah soal itu.

Anggap saja itu bagian dari sejarah gelap pribadiku. (Di sini juga ada Gero-tan.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B-; Audio: B+; Perkembangan: A-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+

(Pelakunya adalah si suster dan polisi junior. Shogun adalah Nishijou Takumi yang asli, dan Takumi yang kita kenal adalah manusia yang diciptakan dengan kekuatan Gigalomaniac yang kemudian mewarisi ingatan yang asli.)