Posts tagged ‘Nisioisin’

07/01/2015

Tsukimonogatari

Tanggal 13 Februari. Sehari sebelum Valentine.

Sekitar sebulan sebelum hari ujian seleksi masuk ke perguruan tinggi.

Pada tanggal tersebutlah, Araragi Koyomi—lewat serangkaian kejadian konyol sekaligus mengkhawatirkan yang lagi-lagi melibatkan kedua adik perempuannya—menyadari bahwa pantulan dirinya tahu-tahu sudah tidak lagi tampak di cermin.

Itu pertanda awal bahwa karena suatu alasan, dirinya telah semakin berkurang ‘kemanusiaannya’ dan telah semakin bertambah ‘kevampirannya.’

Setidaknya, itulah gagasan awal dalam Tsukimonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bulan?’). Ini episode khusus yang ditayangkan secara khusus pada pergantian tahun 2014 ke 2015 kemarin, dan masih dianimasikan oleh studio SHAFT dan masih juga diangkat dari rangkaian seri novel Monogatari karangan Nisio Isin.

Yeah, tentu saja aku mengikutinya. Aku sudah jadi penggemar.

Tsukimonogatari kembali menghadirkan Koyomi sebagai narator cerita, dan tokoh utama, setelah musim kedua yang tokoh sentralnya berganti-ganti. Karakter yang menjadi fokusnya kali ini adalah Ononoki Yotsugi, shikigami sekaligus tsukumogami milik Kagenui Yozuru, satu dari tiga spesialis kenalan lama Oshino Meme yang pernah tergabung dalam klub yang sama di universitas.

Cerita ini menjadi pembuka dari ‘musim’ ketiga sekaligus terakhir dari seri Monogatari, yang sesudah ini kayaknya akan dilanjutkan dengan Koyomimonogatari, sebelum baru memasuki babak akhirnya yang mencakup Owarimonogatari (yang lumayan panjang) serta Zoku Owarimonogatari.

Ngomong-ngomong soal settingnya, Tsukimonogatari berlatar sesudah Koimonogatari, tapi sebelum Hanamonogatari, yang sempat tayang pada pertengahan tahun kemarin. Lebih tepatnya: ceritanya terjadi sesudah semua urusan yang menyangkut berubahnya Sengoku Nadeko menjadi dewata pada akhir anime Monogatari Series Second Season beres. Tapi juga sebelum kasus iblis yang berujung pada pertemuan kembali Kanbaru Suruga dengan Numachi Rouka terjadi.

Koyo Koyo ❤

Karena aku sedang malas, kayak biasa, ayo kita bahas soal hal teknisnya dulu.

Ini cuma pendapatku pribadi, tapi kayaknya kualitas teknisnya mengalami peningkatan drastis dibandingkan sebelumnya.

Man, apa yang terjadi ya?

Cara pengungkapan adegan-adegannya secara visual jadi lebih bagus. Mereka kali ini kayak nyoba ngelakuin hal-hal baru. Dan jadinya kayak kerasa lebih segar. Paling jelas terlihat dengan gimana layar hitam yang biasa digunakan sebagai sekat antar bab kini digantikan dengan semacam kolase kata dan corak yang cerah sih. (Walau layar hitam itu sendiri masih ada.)

Sudahlah. Mungkin kaiian juga enggak ngerti apa yang aku omongin.

Dari segi audio, kualitasnya solid.

Beneran solid.

Ini salah satu bab cerita yang relatif lebih berat di percakapan. Tapi dari awal cerita-cerita Monogatari emang lebih berat di percakapan. Dan kali ini segala distraksi visual dan referensi yang bikin kita lupa soal panjangnya percakapan-percakapan ini kembali ada dan jadi sebagus di awal-awal. Pemilihan warnanya yang memainkan kontras kali ini benar-benar bagus. Lalu tampil bersamanya para karakter, bahkan yang hanya cameo, terbilang berkesan.

…Seenggaknya menurutku gitu sih.

Selebihnya, kalau ada kekurangan, mungkin soal nuansa ceritanya sendiri? Seri Monogatari paling bagus saat kita mulai larut dalam perasaan karakternya. Lalu Tsukimonogatari, mungkin karena durasinya, menurutku termasuk yang agak kurang dalam hal ini. Tapi enggak sampe jadi jelek sih. Hasilnya masih beneran bagus, dan seriusan lebih thoughtful dari yang kusangka. Cuma pada saat yang sama, ini kembali menghadirkan segala keenggakjelasan soal apa yang disampaikan itu serius apa enggak.

….Sekali lagi, senggaknya menurutku gitu sih.

UFO Catcher

Lalu, kita kali ini bahas soal cerita.

Intinya, Oshino Shinobu menyarankan kalau mereka perlu saran seorang ahli untuk kasus ini. Seorang ahli seperti Oshino Meme-san. yang keberadaannya saat ini tak diketahui.

Yang paling terbayang bagi mereka adalah Ononoki dan Kagenui. Tapi alternatif itu langsung dicoret mengingat Koyomi tak punya cara untuk menghubungi mereka. Hanya saja, tahu-tahu Gaen Izuko yang menyatakan dirinya ‘mengetahui segalanya’ kembali berperan dan memberi celah. Lalu timbul komplikasi, karena terlepas dari Ononoki sendiri, terakhir bertemu Kagenui, Koyomi dibuat hampir mati sehubungan status Araragi Tsukihi, adik perempuan Koyomi yang…

Yah, intinya, semuanya lalu berujung dengan konfrontasi melawan seseorang bernama Teori Tadatsuru, kenalan lama Oshino-san yang lain, yang seperti halnya Kagenui, seorang spesialis dalam memburu kaii yang tak bisa mati.

Seperti yang bisa kau harapkan, situasi akhirnya berkembang sedikit lebih rumit dari yang terlihat di awal.

Kualitas ceritanya sendiri kembali agak sulit dinilai. Apalagi bila membandingkan dengan versi novelnya. Tapi eksekusinya menurutku terbilang benar-benar bagus. Semuanya semakin mengerucut pada keberadaan adik kelas Araragi, Oshino Ougi, yang kelihatannya telah banyak berperan di balik layar semenjak perginya Oshino-san. (Ononoki sendiri menyinggung soal hal ini.) Namun sama sekali tak ada bayangan kelanjutannya bakal kayak gimana.

Akhir kata, aku enggak kepengen terlalu banyak spoiler, apalagi sesudah ceritanya sampai sejauh ini. Ada banyak sekali benang yang sudah terulur, dan masih ada kesan bersambung di mana-mana. Tapi buat mereka yang bisa menyukainya, perasaan “Hah?” di ujung yang jadi kekhasan seri ini masih tetap ada. Lalu buat kalian yang sudah terlanjur jadi fans, yah, kalian enggak punya alasan buat enggak melihat ini.

Sori, mungkin ada hal-hal penting lain yang terlewat.

Kayak soal gimana kemanusiaan Araragi diangkat, ke soal gimana dia ngerasa apa yang dia alami sebenarnya salahnya dia sendiri juga, lalu ke soal Ononoki dan Shinobu yang bermain di salju bersama, terus ke soal coklat Valentine dari Senjougahara Hitagi, serta teka-teki terbesar tentang kemanusiaan Ononoki sendiri.

Semuanya saat ini menurutku masih terasa kayak cerita sampingan, tapi ini cerita sampingan yang masih terbilang menarik. Klimaksnya sendiri kayaknya masih akan datang nanti.

Akan aku tambahkan, mungkin, sesudah semua aku periksa lagi.

(Apa ada di antara kalian yang sudah ingat Unlimited Rulebook itu apa?)

Penilaian

Konsep: B; Visual A+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

Iklan
06/10/2014

Hanamonogatari

Hanamonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bunga’) merupakan bagian terakhir dari musim kedua rangkaian seri novel horor(?) remaja Monogatari buatan Nisio Isin.

Episode spesial berdurasi sekitar dua jam ini kudengar sempat beberapa kali ditunda penayangannya.

Karena satu dan lain hal, ceritanya juga dibuat terpisah dari adaptasi animasi Monogatari Series Second Season keluaran SHAFT, yang kalau aku tak salah ingat, berakhir di awal tahun ini. Sesudah melihat sendiri ceritanya, kurasa aku bisa sedikit membayangkan alasannya. …Oke, alasannya sendiri sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Tapi, yah, aku bisa memahami alasan kenapa produsernya mengambil keputusan demikian.

Ceritanya berlatar beberapa waktu sesudah klimaks di Koimonogatari, dengan cerita yang berfokus sepenuhnya pada karakter Kanbaru Suruga, dengan judul bab Suruga Devil.

Kewajiban Seorang Kakak Kelas

Araragi Koyomi dan Senjougahara Hitagi sudah tak ada lagi. Demikian pula dengan Hanekawa Tsubasa. Karenanya, Kanbaru merasa agak kesepian sebagai satu-satunya di antara mereka yang masih berada di SMA Naoetsu.

Pada suatu hari, adik kelasnya yang bernama Oshino Ougi, anak lelaki yang dikenalnya sebagai keponakan Oshino Meme, om-om yang dulu pernah menolong mereka semua, pada suatu hari secara kebetulan memberitahunya sebuah rumor tentang Akuma-sama (‘sang Iblis’). Akuma-sama konon akan dapat mengabulkan permintaan siapa saja yang memberitahukan kesulitan mereka padanya.

Lalu mendengar kabar ini, terkait dengan pengalaman masa lalunya dengan artefak jahat Monkey’s Paw yang dulu disebut-sebut juga punya kekuatan untuk mengabulkan permohonan, dan hingga kini pun masih saja tertanam di tangan kirinya, Kanbaru dicengkram kekhawatiran akan kemungkinan dirinya lagi-lagi dikendalikan oleh pusaka itu.

Mungkinkah Akuma-sama yang misterius, yang teman-temannya sekelasnya banyak bicarakan, sebenarnya tak lain adalah dirinya sendiri setiap kali ia terlelap? Mungkinkah sebenarnya tanpa sepengetahuannya selama ini ada korban-korban yang berjatuhan lagi?

Penyelidikan Kanbaru kemudian membawanya berhadapan dengan seorang kenalan lama yang pernah menjadi rivalnya di lapangan basket, Numachi Rouka.

Namun apa yang Kanbaru dapatkan tak benar-benar persis sama dengan apa yang dikiranya tampak…

Duel di Lapangan Basket

Kalau kau sebelumnya pernah melihat adaptasi anime dari Nekomonogatari (Kuro), maka kau sudah akan punya bayangan Hanamonogatari kira-kira akan seperti apa. Enggak, keajaiban yang Bakemonogatari punya masih belum juga terulang kembali. Tapi ini hasil adaptasi yang tetap terbilang lumayan rapi kalau menurutku.

Sekali lagi, itu menurutku.

Buatku, tayangan khusus ini punya hasil lebih bagus dari yang aku harapkan. Tapi, yeah, kita lagi membicarakan anime dari seri Monogatari di sini. Lalu di dalamnya sebagian besar karakter utama yang sudah kita kenal dan sayang sudah tak lagi ada, jadi, yah… Kayak biasa, ini bukan sesuatu yang bakal disukai oleh kebanyakan orang. Teman dekatku yang sedari dulu mengikuti perkembangan seri ini bersamaku sendiri menilai kualitasnya lebih jelek dari yang ia harap.

…Padahal karakter favorit temanku itu Kaiki Deishuu btw.

Tapi terlepas dari semuanya, aku seriusan enggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Rasanya kayak, apa yang dulu bisa membuatku terpukau terhadap seri ini sudah hampir enggak ada gitu. Dan aku mengikuti perkembangannya serius, semata-mata hanya karena ingin tahu kelanjutan ceritanya. Bukan karena visualnya. Bukan karena audionya. Bukan karena leluconnya. Bahkan gaya narasinya yang khas itu pada titik ini, sejujurnya, ahahaha, sudah agak membuatku muak… Dulu, setiap detik pada Bakemonogatari terasa kayak bisa mengungkapkan begitu banyak hal. Tapi sekarang, semuanya kayak kosong dan datar gitu.

Namun sekali lagi, ini adaptasi yang benar-benar rapi. Enggak bisa dibilang bagus. Tapi enggak benar-benar bisa kubilang jelek juga. Cuma, yah, datar aja. Tapi itu enggak selamanya jadi hal yang buruk.

Gunting Kuku di Antara Buku dan Bunga

Yah, oke. Kita bahas saja dikit soal ceritanya.

Selain soal hubungan lama yang Kanbaru punyai dengan Numachi, Hanamonogatari sebenarnya mengangkat juga soal hubungan(?) yang Kanbaru punyai dengan mendiang ibunya, Kanbaru Tooe, atau yang sebelum menikah bernama Gaen Tooe.

Dikisahkan bahwa Kanbaru belakangan sering bermimpi tentang ibunya. Lalu dituturkan pula bahwa berdasarkan cerita-cerita dari mendiang ayahnya, dan sebagaimana kita ketahui dari apa-apa yang kita tahu dari Kaiki sendiri, ibunya Kanbaru ini sama sekali bukanlah orang yang normal. Ada sesuatu tentang dirinya, yang menurut ayah Kanbaru, membuatnya sebagai ‘seseorang yang berdiri mewakili Tuhan di dunia ini.’

Lalu Kanbaru sendiri punya perasaan rumit soal ini, karena alih-alih serupa dewa, perilaku ibunya malah lebih mengingatkannya akan iblis.

Ada tema menarik soal konsep iblis yang diangkat, yang senantiasa menggoda manusia dengan bermacam kemudahan semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Yang bercampur dengan tema soal kedewasaan dan merelakan masa lalu. Masalahnya, agak serupa dengan kasus adaptasi animasi Nekomonogatari (Kuro), berhubung teka-teki terkait bagian cerita ini masih bersambung, tema dan emosi yang dicoba disampaikan dalam anime ini terasa kayak bersambung juga.

Yah, bersambungnya sendiri enggak masalah. Tapi kayak, penyampaiannya sendiri yang terasa setengah hati itu loh.

Agak susah menjabarkannya. Mungkin lagi-lagi masalahnya memang ada pada durasi.

Versi novel dari cerita-cerita Monogatari, bahkan yang sudah tak lagi disampaikan dari sudut pandang Koyomi, masih bisa agak ‘menghantam’ kita dengan berbagai perdebatan menarik soal konsep-konsep kayak gini. Tapi versi animasinya yang merangkum dan memadatkan ini semua, jujur saja, terasa kayak enggak menggarapnya secara adil. Gaya visual unik, yang sebelumnya kayak mengkompensasi keterbatasan waktu buat menyampaikan semua keabstrakan dalam ceritanya, pada titik ini jadi terasa kayak cuma sekedar tempelan yang agak kosong dari makna.

Tapi entah juga. Bisa saja masalahnya pada aku sendiri yang sudah enggak lagi bisa menangkapnya.

Balik ke pembahasan utama, Hanamonogatari bukanlah hasil adaptasi yang solid. Mungkin juga itu alasan kenapa aku agak menunda pembahasannya. Tapi mereka yang sudah terlanjur jadi penggemar seri Monogatari kurasa akan tetap mengikutinya. Kalau kau memikirkannya sedikit, alasan kenapa judulnya demikian akan terungkap di akhir cerita, walau enggak secara benar-benar eksplisit…

Sesudah titik ini, cerita Monogatari akan memasuki musim ketiga, pertama dengan Tsukimonogatari yang kalau tak salah mengetengahkan identitas Ononoki Yotsugi yang pertama diperkenalkan di Nisemonogatari. Masih banyak teka-teki yang menumpuk. Tapi mari kita berharap maknanya tak tertinggal di belakang.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: C+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B: Kepuasan Akhir: B-

(Hm? Nilai yang kukasih sesudah kubandingkan ternyata kalah jauh dibandingkan Nekomonogatari (Black)? Euuh, apa ini enggak apa-apa nih?)

07/02/2013

Nekomonogatari (White)

…Aku enggak tahu membahas soal ini baiknya dari mana.

Latar waktunya seusai liburan musim panas, pada hari pertama dimulainya caturwulan baru. Tokoh utama kali ini adalah Hanekawa Tsubasa, dan bukan Araragi Koyomi. Sesudah suatu pertemuan kebetulan di tengah jalan dengan si roh anak perempuan yang dulu tersesat, Hachikuji Mayoi, Hanekawa, karena suatu alasan, kemudian berpapasan dengan seekor harimau raksasa yang bisa berbicara di tengah jalan…

Eniwei, demikianlah garis besar pembuka cerita Nekomonogatari (Shiro) (‘cerita kucing, sisi putih’) yang konon menjadi pembuka dari ‘season’ kedua seri novel Monogatari karya Nisio Isin. Adaptasi anime untuk ‘season’ kedua ini sudah dikonfirmasi dan akan ditayangkan pada pertengahan tahun 2013 ini.

Sedikit penasaran sesudah menonton (dan kemudian membaca) Nekomonogatari (Kuro) di akhir tahun lalu, aku coba membaca terjemahan bahasa Inggris dari novel ini (dibikin oleh CanonRap dari Quality Mistranslations, ada tautannya di Baka-Tsuki, meski dia merendah soal kualitas terjemahannya, dia serius layak dipuji). Lalu terus terang saja, sesudah menamatkannya, aku beneran mesti bilang kalau ini mungkin cerita Monogatari paling keren yang pernah kubaca sejauh ini.

Hitam-Putih

Meski rentang waktu latar cerita antara keduanya agak jauh, Nekomonogatari (Shiro) diterbitkan langsung sesudah Nekomonogatari (Kuro), menegaskan hubungan yang ada antara keduanya serta menggambarkan klimaks dari cerita yang mengisahkan tentang Hanekawa.

Setelah segala foreshadowing yang diberikan dalam bab-bab yang telah lalu, segala teka-teki yang ada tentang masa lalu, maksud, dan kepribadian Hanekawa yang sedikit demi sedikit semakin membingungkan akhirnya terjawab lewat cerita yang dituturkan oleh dirinya sendiri.

Hasilnya benar-benar keren kok.

(…Seenggaknya, cara bertuturnya dia enggak bertele-tele dan enggak sering keluar jalur kayak Araragi. Meski bahasan-bahasan konyol masih tetap ada sih.)

Seiring perkembangan cerita, Hanekawa, beserta sahabatnya(!) sekaligus pacar Araragi, Senjougahara Hitagi, kemudian menerima kenyataan bahwa harimau tersebut merupakan jenis keanehan baru yang kemungkinan berasal dari diri Hanekawa, seperti halnya siluman kucing Black Hanekawa yang masih terpendam di dalam dirinya sampai titik ini.

Namun di samping harimau itu, ada hal-hal aneh lainnya juga.

Araragi tak masuk ke sekolah dan dirinya juga tak bisa dihubungi. Ada sesuatu yang nampaknya telah terjadi saat akhir liburan musim panas, yang tak seorangpun dari mereka ketahui. Hachikuji juga tengah mencarinya (sesuatu yang terkait dengan tas punggungnya yang tertinggal). Lalu pada suatu titik, Araragi rupanya sempat memanggil bantuan adik kelas mereka yang menyimpan tangan monyet, Kanbaru Suruga, untuk sesuatu yang masih belum terjelaskan.

Tanpa Araragi, ataupun mentor mereka, Oshino Meme, di sisinya, akhirnya tiba waktunya bagi Hanekawa, persis seperti apa yang sering dikatakan Oshino, untuk menghadapi sekaligus menuntaskan masalah-masalahnya sendiri… karena ‘setiap orang pada akhirnya hanya akan bisa diselamatkan oleh diri mereka masing-masing.’

Satu hal yang benar-benar menarik dari novel ini adalah premis ‘keanehan’ yang melanda Hanekawa selama ini. Bukan hanya karakterisasinya yang benar-benar dalam. Yang membuatku beneran takjub adalah sekalipun narasinya kerap terkesan enggak serius dan benar-benar kayak sering breaking the fourth wall (“Kalau bekerja sama, Sengoku pun akan bisa kita kalahkan! | “Bukannya sudah disebut kalau pada titik ini kau masih belum tahu dia siapa?”), ceritanya itu… beneran membuat terenyuh.

Masalahnya Hanekawa itu… benar-benar gila.

Aku ngerasa pemaparannya bakalan agak susah dipahami dalam adaptasi anime-nya nanti. Jadi aku beneran terkesan sama gimana Nisio-sensei bisa sampai terpikir mengolahnya.

Di waktu yang sama, aku kurang lebih juga jadi ngerti kenapa di seri ini Senjougahara jadi tokoh cewek pertama yang diperkenalkan. Aku jadi paham soal kenapa alur penceritaan seri Monogatari dibikin maju-mundur. Soalnya bersama Hanekawa, di cerita ini kita sebagai pembaca turut menyatukan petunjuk-petunjuk tersamar yang sebelumnya sudah tersebar dalam seluruh rangkaian cerita Monogatari sampai sejauh ini.

Tentu saja ini jadi klimaks yang benar-benar kena.

(Oya, episode kali ini bertajuk Tsubasa Tiger, btw.)

Araragi tentu saja muncul menjelang akhir buku ini. Tapi apa-apa sebenarnya yang telah dia alami, atau tepatnya, apa-apa sebenarnya yang telah terjadi padanya, menjadi porsi cerita dua buku berikutnya.

Belum ada karakter baru yang menonjol lagi yang muncul pada titik ini (Gaen Izuko, sesosok perempuan yang berlawanan dengan Hanekawa, sungguh-sungguh ‘mengetahui segalanya’, muncul. Tapi kelihatannya dia belum berperan besar di titik ini). Tapi kedua adik Araragi, Araragi Karen dan Araragi Tsukihi, serta seorang ‘tokoh lama lain’ muncul dan berperan kembali. Lalu di samping itu, karena diambil dari sudut pandang Hanekawa sendiri, kita mendapatkan penjelasan menyeluruh tentang fenomena apa sesungguhnya Black Hanekawa yang menjadi duri dalam daging selama ini, beserta apa peranannya terkait orang-orang lain di sekeliling mereka.

“…Tapi itu enggak berarti ini sesuatu yang enggak bermakna.”

Setiap cerita yang dipaparkan dalam Monogatari selalu berakhir dengan membuatku agak berpikir. Tapi sejauh ini belum ada yang membuatku berpikir sedalam seperti sesudah aku membaca Nekomonogatari (Shiro).

Ceritanya itu… beneran membuat terenyuh, dan bagi beberapa orang yang gampang simpati, beneran bisa ngebuat sedih. Soalnya situasi yang dipaparkan di dalamnya kayaknya bisa dihubungkan dengan sesuatu yang pernah dialami kebanyakan orang.

Kamu tau, kayak: kamu enggak ngerasa salah, dan di mata orang lain, di mata kebanyakan orang, kamu emang kayaknya enggak salah. Tapi pada saat ditarik dalam jangka panjang, kamu lalu tiba-tiba disadarkan akan adanya sesuatu yang beneran enggak beres yang ternyata disadari oleh cuma segelintir orang gitu.

Orang kebanyakan enggak bisa ngeliat. Tapi kamu dan cuma kamu seorang ngerasain.

Kamu kayak… jadi diingatkan buat introspeksi dan mempertanyakan kembali segala sudut pandang dan asumsi yang sebelumnya kau punya.

Lalu pada saat kamu sadar, bisa-bisa semuanya udah telat.

Baca ini beneran kayak bikin kamu akhirnya ngeh soal berbagai makna yang terselubung dalam animasinya. Soal pilihan gaya visualnya, soal pilihan lagu-lagunya, hal-hal kayak gitu.

Ini beneran salah satu light novel paling memuaskan yang pernah kubaca.  Sayang aja kayak butuh… sekitar enam buku lain, untuk bisa bikin kamu ngerasain dampaknya.

04/02/2013

Nekomonogatari (Black)

Pada pertengahan awan bulan Desember 2012 lalu, adaptasi anime dari novel Nekomonogatari (Kuro) karya Nisio Isin secara agak tiba-tiba diumumkan dan kemudian ditayangkan sebagai film animasi berdurasi dua jam pada malam pergantian tahun. Bersama itu, dikonfirmasi pula bahwa seluruh ‘season 2’ dari seri novel Monogatari karya beliau ‘jadi’ dibuat animasinya pada pertengahan tahun 2013 ini.

Nekomonogatari (Kuro) (‘cerita kucing, sisi hitam’) merupakan cerita penutup dari ‘season 1’ seri ini, yang sebelumnya dibuka dengan Bakemonogatari yang animenya cukup fenomenal menjelang akhir tahun 2009.

Kamu percaya sama yang gaib?

Sebelum aku mengulas lebih lanjut, aku mau cerita dulu soal kenapa aku begitu suka pada seri yang sekilas terlihat begitu enggak jelas ini.

…Ini agak susah ngejelasinnya, tapi seri Monogatari, terlepas dari segala keenggakseriusan yang kadang ditampilkannya, pada dasarnya adalah serangkaian kisah serius tentang gimana orang menyikapi dan menemukan makna dari cinta dan kehidupan (ceileh).

Tema utama yang diusung jelas-jelas adalah seputar supernatural. Tapi, itu cuma kayak cuma jadi alat buat menekankan apa-apa yang pengen ditekankan; yakni soal para karakternya sendiri, lalu soal gimana cara pandang mereka dalam ngadepin apa-apa yang mereka alami.

Sori, sebelumnya aku ngerasa pede bisa ngejelasin ini. Tapi sesudah nyoba nulis langsung, aku agak bingung sendiri dalam nemuin kata-kata yang tepat.

Gimana ya?

Intinya, aku suka seri ini karena ini nunjukin secara jelas soal kesubjektifan.

Kamu enggak bisa menilai orang lain karena kamu belum tentu ngerti segalanya tentang mereka.

Kamu ngerti segalanya tentang orang lain sekalipun, tetep enggak berarti kamu paham diri kamu sendiri, karenanya kamu tetep enggak bisa mandang mereka rendah.

Ada banyak hal yang enggak akan pernah kau pahami di dunia ini. Jadi jangan sombong, wahai manusia. Tahu adatlah dikit, soal di mana posisi kamu berada.

…Mungkin sesuatu kayak gitu.

Bahasannya emang bisa muter-muter dan ngejelimet. Cuma, setiap kali aku memikirkan ulang dan memperhatikannya baik-baik, selalu ada suatu hal ‘dalem’ yang sungguh-sungguh disampaikan di dalamnya. Lalu meski hal ini tersamar di tiap episode dan hampir sama sekali enggak kelihatan di Nisemonogatari, hal berarti tersebut bisa benar-benar terasa dalam jangka panjangnya.

Aku baru sepenuhnya nyadarin soal ini sesudah aku baca sampai habis terjemahan bahasa Inggris dari Nekomonogatari (Shiro). Tapi itu soal lain.

Buat sekarang, kita bahas cerita pendahulunya dulu.

Alur Maju Mundur

Orang-orang yang masih mengikuti seri ini sampai sekarang mungkin sudah menyadarinya. Tapi seri Monogatari memang dituturkan dengan alur maju mundur. Bakemonogatari adalah pembuka, yang memperkenalkan seluruh cast tokoh utamanya. Disusul dengan Kizumonogatari, yang (sejauh ini) secara kronologis merupakan cerita paling awal di seri ini (aku masih enggak tahu apakah adaptasi animenya udah ada apa enggak). Lalu Nisemonogatari, yang ngegambarin semacam masa transisi sesudah Bakemonogatari. Lalu sekarang, Nekomonogatari (Kuro), yang berlatar di rentang waktu sesudah Kizumonogatari, tapi sebelum Bakemonogatari; persisnya, di masa liburan Golden Week, yang di salah satu adegan Bakemonogatari, dikenang sebagai sesuatu yang ‘enggak begitu ingin dibahas’ oleh sang tokoh utama, Araragi Koyomi.

Nekomonogatari, sesuai inti ceritanya, dibagi menjadi dua bagian, yakni sisi ‘hitam’ dan sisi ‘putih’. Tapi keduanya berfokus pada karakter sahabat Araragi, Hanekawa Tsubasa, yang sungguh-sungguh dikagumi dan dihormatinya.

Pada titik ini, Senjougahara Hitagi masih belum masuk ke dalam cerita.

Sesudah rangkaian pengalaman mengerikan yang dialaminya di masa liburan musim semi, Araragi mulai sedikit mempertanyakan soal bagaimana perasaan dan hubungannya dengan Hanekawa. Araragi pun kemudian berkonsultasi pada kedua adik perempuannya, Araragi Karen dan Araragi Tsukihi.

Lalu sesudah sebuah ‘adegan dialog bertele yang jelas-jelas disengaja dan nyata-nyata berbahaya sehingga dipotong sebagian di dalam versi animenya’, Araragi mulai mendapat hipotesa aneh kalau apa yang dirasakannya terhadap Hanekawa mungkin bukan sesuatu yang ‘sedalam’ bayangannya semula.

Tapi sebuah pertemuan kebetulan dengan Hanekawa di jalan membeberkan sedikit lebih banyak soal latar belakang keluarga Hanekawa terhadap Araragi. Araragi masih bisa berpikiran mesum dan bersikap seenaknya, namun jelas ia tak bisa tak memperlihatkan kepedulian terhadap situasi Hanekawa.

Kemudian di sinilah, ‘keganjilan’ selanjutnya yang terjadi, yang menimpa Hanekawa, harus ia hadapi. Semua Araragi rasa bermula dari sesosok bangkai kucing yang dirinya dan Hanekawa kemudian temukan terlantar di pinggir jalan, dan kemudian mereka kuburkan.

Singkat cerita, Nekomonogatari (Kuro) yang mengangkat bab Tsubasa Family mengetengahkan dari sudut pandang Araragi apa-apa sesungguhnya yang terjadi dalam liburan-Golden-Week-yang-begitu-tak-ingin-diungkitnya dalam Bakemonogatari. Persisnya, awal mula hubungan Hanekawa dengan siluman kucing yang kemudian menjadi bagian dari dirinya pada bab Tsubasa Cat.

Nya nya nya

Ceritanya benar-benar… gimana ya? Sesuai bayangan sih. Tapi tetap agak mengejutkan dalam beberapa bagian.

Oshino Meme, mentor Araragi, masih tampil kembali di gedung bimbel terbengkalai yang jadi markas mereka (mungkin ini cuma aku, tapi desain karakternya kayaknya dibuat makin keren dibanding waktu di Bakemonogatari), bersama apa yang tersisa dari vampir Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, yang bertanggung jawab atas ‘keabadian’ yang Araragi sampai dapatkan dalam episode Koyomi Vamp di Kizumonogatari. Lalu di sini, buat yang masih belum paham, digambarkan lebih jauh soal cara pandang dan motivasinya dalam bertahan di kota itu dan berjaga-jaga untuk Araragi.

Pokoknya, dipaparkan bagaimana sebuah situasi yang harusnya simpel ternyata benar-benar berkembang sampai lepas kendali sesuai ketakutan semula Oshino (akhir Kizumonogatari memberikan foreshadowing yang kental terhadap apa yang terjadi di sini). Hingga Araragi tak punya pilihan selain meminta bantuan pada nona vampir yang… di akhir Kizumonogatari, serta-merta telah Araragi dengan penuh sesal khianati segala harapannya.

Klimaksnya, jujur saja, ternyata lebih keren dari bayanganku (Kokorowatari muncul!). Tapi buat memahami sepenuhnya apa-apa yang terjadi, terus terang, aku perlu membaca versi novelnya dan membandingkannya dengan versi animenya (bab-bab awal novelnya luar biasa bertele, tapi bab-bab selanjutnya lebih padat dan ringkas).

Terlepas dari itu, adaptasi animenya ini benar-benar dibuat dengan bagus. Gaya khasnya masih sama. Lalu ada peningkatan sedikit pula dari segi kualitas visual. Meski nuansa visualnya kadang agak samar-samar, aku suka gimana efek-efek suara dimainkan dan ngasih penekanan terhadap apa-apa yang terjadi.

Akhir ceritanya memang agak ngegantung, agak nyisain tanda tanya, dan terhubung langsung dengan awal cerita Bakemonogatari. Tapi semua kepingan yang diperlukan buat memahami perkembangan cerita lanjutannya kemudian tersusun, dan kemudian kau kurang lebih ngeh soal kenapa bab cerita ini dikasih judul demikian.

Oh, dan bagi yang belum tahu, angka-angka tiga digit yang muncul di sepanjang animenya adalah angka-angka penanda bab di novelnya. Jadi tak perlu terlalu dipikirkan penampakannya di masa sekarang.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

04/01/2013

Kizumonogatari – IND (END)

017

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Vampir yang legendaris.

Pemusnah kaii. Penguasa seluruh kaii.

Dirinya sesosok vampir.

Dengan rambut emas berkilau dan gaun musim panas yang cantik, vampir yang mempesona, sedemikian indahnya hingga darahmu sampai membeku—porsi eksposisi lebih dari ini kurasa tak diperlukan.

Cukup bila aku katakan—bahwa dirinya, yang padanya aku jadi bawahan, merupakan lawan terakhir yang harus kalahkan.

“Kiss-Shot…”

Aku singkirkan barikade yang telah kubuat dengan segenap tenagaku, dan kemudian aku membuka pintu baja dari gudang peralatan olahraga—di luar, mentari telah terbenam, dan di sanalah dirinya berada, di tengah lapangan olahraga.

Tanah di bawah kakinya telah retak.

Itu pasti dampak dari pendaratan yang ia lakukan.

Nyatanya, tubuhnya tenggelam sampai setumit ke dalam tanah lapangan.

Di punggung Kiss-Shot, sayap-sayap mirip sayap kelelawar itu tak ada—sebagai bawahannya, aku kemudian paham secara naluriah bahwa dirinya pastilah tiba dari reruntuhan gedung bimbel ke sini dengan satu lompatan jarak jauh tanpa lari pendahuluan.

Dirinya telah menanti sampai senja.

Dan kemudian dia… melompat ke tempat di mana aku berada.

Bagaimanapun, itu tetap saja menakjubkan. Walau untuk lompat jauh tanpa lari pendahuluan aku sempat bangga karena berhasil mencapai jarak 20 meter, Kiss-Shot dengan mudah mengungguliku dengan melompat sampai beberapa kilometer.

Tentu saja, pada waktu itu yang kupikirkan bukan soal mencetak rekor. Aku memang sepenuhnya hendak mendarat di tempat pasir, jadi aku tahu itu tak bisa digunakan sebagai perbandingan—tapi jika aku ditanya apa aku bisa melakukan sekali lompatan dari sini ke puing-puing bimbel, tak perlu dikata kalau aku sendiri bakalan ragu apa aku bisa.

Kututup pintu baja gudang alat olahraga dengan satu tangan ke belakang.

Aku tinggalkan Hanekawa di dalamnya.

Bagi Kiss-Shot, pintu tersebut bukan halangan yang sedikitpun akan menghambatnya—tapi bagaimanapun, dengan menutupnya, aku bisa merasa sedikit lebih tenang.

Jangan bersuara, demikian aku berbisik ke arah pintu.

Sesudahnya, aku mengambil satu langkah ke depan.

Menuju Kiss-Shot.

“… … … Yo.”

Sembari menyapanya dengan cara itu—aku semakin mendekat ke arahnya.

“Aku enggak menyangka kau yang bakal repot-repot mau datang kemari.”

Kupikir, itu tindakan awal paling tepat.

Sesuai dengan latar tempat dan waktu.

Tak seperti saat aku menghadapi Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter—tak ada Oshino di sini untuk melaksanakan perundingan.

Aku tak punya pilihan selain melakukan urusan negosiasi sendiri.

Tapi, kami berdua sama-sama vampir.

Penguasa dan pelayan—bawahannya.

Kenyataan bahwa dirinya muncul nyaris di waktu yang sama dengan senja bisa berarti bahwa semenjak Kiss-Shot memperoleh kembali wujudnya yang utuh, seluruh pergerakanku menjadi sesuatu yang terpantau dengan mudah olehnya.

Di mana aku berada.

Apa yang aku pikirkan.

Tak ada apapun lagi yang bisa kusembunyikan darinya.

Kiss-Shot menatap ke arahku dengan sorot mata yang lebih dingin dari biasanya—sebagai hal pertama yang dilakukannya, ia mengeluarkan kedua kakinya dari sepasang lubang yang dibuatnya di tanah lapangan. Kaki kanan terlebih dahulu, dan kemudian kaki kiri.

Sesudah itu…

“Sekali ini saja.”

Katanya.

“Pelayan. Saat mentari bersinar, beta pahami apa yang engkau rasakan—beta mengerti alasan kemarahan yang engkau tunjukkan. Beta menahan diri tidak tidur dan kemudian bercermin diri. Sepertinya beta telah bertingkah tanpa pertimbangan—beta sama sekali tak mempertimbangkan perasaan engkau sebagai bekas manusia. Dengan itu untuk sekali ini saja beta tundukkan kepala beta kepada engkau.”

“… … …”

“Kembalilah ke bawah beta.”

Kiss-Shot berkata.

Suaranya benar-benar teramat indah.

Suara yang mempesona—dia memikatku.

“Hiduplah bersama beta. Engkau selamatkan nyawa beta. Engkau orang yang tak biasa, tapi karena alasan ini beta rasa bisa hidup bersama engkau. Janganlah berubah kembali menjadi manusia—tidakkah engkau pernah berharap untuk menjalani keabadian bersama-sama?”

“… … Aku menolak.”

Kataku.

Aku balas menatap sorot mata Kiss-Shot yang dingin.

Aku perteguh tekadku—dan kemudian aku mengatakannya.

“Kau memakan manusia. Itu saja sudah cukup buatku.”

“Andai engkau sudah mengetahui hal itu—apakah engkau takkan selamatkan beta? Akankah engkau membiarkan beta tewas?”

“Kiss-Shot—aku sama sekali enggak tahu. Bukan…”

Aku menggeleng.

“Bukan itu. Aku tahu sejak awal—cuma aku menolak buat sadar. Aku ingin mati buatmu, kupikir—dengan kata lain, aku jadi seperti memberimu izin buat memakan seseorang. Tapi, aku tak menyangka sebagai akibatnya bakal ada orang-orang yang mati. Tindakanku mungkin mulia, tapi tindakanku bukan tindakan benar.”

Aku tak berkeberatan bila harus meninggal.

Tapi aku merasa buruk bila orang lain yang meninggal.

Kalau aku pikirkan lagi, cara pandang yang kupegang bisa jadi agak egois.

Kurasa tak mungkin ada orang normal yang bakal berpegang pada cara pandang macam begitu.

“… Sudah beta duga engkau akan berkata demikian.”

Kiss-Shot berkata dengan menampakkan senyuman.

“Beta justru berharap engkau akan berkata demikian.”

“Kiss-Shot…”

“Dengan begini, keraguan yang beta rasakan lenyaplah sudah—Pelayan. Walau beta sudah menduganya, sudah beta duga engkau manusia macam demikian.”

“Manusia macam apa?”

“Kebaikan yang engkau tunjukkan pada beta—hanya akan bertahan selama beta dalam kesulitan. Sudah beta duga.”

Beta sudah menduga engkau takkan tertarik lagi padaku begitu wujudku kembali seutuhnya.

Kata-kata Kiss-Shot itu bahkan lebih menyengat lagi.

“Engkau selamatkan beta bukan karena itu beta—engkau akan selamatkan siapapun asalkan siapapun itu berada dalam kesusahan.”

“… … …”

-Aku enggak berbuat sejauh ini buat semua orang kok.

-Aku berbuat semua ini karena ini kau, kau tahu?

Hanekawa dulu berkata begitu.

Tapi, aku sendiri, aku…

Seandainya yang harus kutolong bukan Kiss-Shot—maka pada waktu itu, aku…

“Maka, sudah beta rasa akhirnya akan begini. Di sisi lain, tahukah engkau, beta selamatkan engkau karena itu adalah engkau? Engkau telah mengorbankan nyawa yang engkau punya untuk beta, pasti akan beta sesalkan bila harus membunuh seseorang seberani engkau.”

“…Sesalkan ya.”

“Untuk segala kerja keras yang telah engkau lakukan untuk beta, sekali lagi, beta berterima kasih. Hei, mendekatlah, Pelayan. Dari raut wajahmu, nampaknya engkau sudah tahu, bukan? Persis sekali. Jika engkau membunuh beta—engkau akan akan bisa berubah kembali menjadi manusia, seperti yang engkau inginkan.”

“… … …”

Aku menelan ludahku.

Aku sekali lagi sadar kalau seluruh rencanaku telah terbaca—dan aku sadar seberapa besar beda kemampuan antara diriku dan dirinya.

Mencoba menghadapinya dengan cara seperti ini—rasanya berbeda.

Rasanya berbeda dibanding pola-pola situasi yang kutemui saat berhadapan dengan tiga orang itu—aku merasa seperti tertekan oleh rasa intimidasi yang kuat, dan sekaligus juga oleh perasaan yang memuncak.

Itu benar.

Perbedaan terbesarnya… adalah bagaimana pertarungan yang sebentar lagi akan kami lalui tak lain merupakan ‘pertarungan sampai mati.’

Pertarungan sampai mati kali ini bukan sesuatu yang terlarang.

Ditambah lagi—lawannya tak lain adalah sang Pemusnah Kaii.

“Jangan biarkan ini terlalu mengecewakan engkau, Pelayan.”

Kiss-Shot berkata.

Dirinya bahkan terlihat sedikit gembira.

“Beta berada pada kondisi terbaik beta semenjak 500 tahun terakhir—saat menghadapi tiga orang itu, bukan hanya kondisi buruk, beta juga lengah. Beta tak pernah menyangka jantung beta akan sampai tercuri, tapi… pada setingkat beta, memang jumlahnya tak pernah banyak…”

“…Banyak apa?”

“Kesempatan untuk bertarung serius.”

Berkata demikian—Kiss-Shot mengisyaratkan agar aku mendekat.

“Sebab terus terang, bahkan beta tak mempunyai bayangan akan seperti apa hasilnya nanti—namun berhubung engkau tanpa diragukan ialah yang terkuat di antara semua yang beta hadapi sejauh ini, tiada alasan bagi engkau untuk setengah-setengah. Pertarungan ini akan menjadi kenikmatan tersendiri bagi beta.”

“Mungkin sebaiknya kau tak terlalu banyak berharap.”

Aku mengumpulkan keberanianku dan langkah demi melangkah aku berjalan kepadanya.

Diriku dalam keadaan biasa pasti bakalan lebih memilih kabur—namun kali ini keadaannya berbeda. Di belakang punggungku, di dalam gudang peralatan olahraga, ada seorang sahabat yang teramat berarti bagiku. Di punggungku ada seseorang yang harus kulindungi—jadi aku tak bisa berbalik dan lari.

Aku harus menghadapinya.

Hanekawa, lihat saja aku.

Karena aku enggak boleh terlihat menyedihkan di hadapanmu.

“Gimanapun, aku memang bekas manusia—salah satu ‘bekas makanan’ buatmu.”

“…Santailah. Memang engkau akan beta bunuh dengan niat keji dan perasaan memusuhi, tapi walau demikian, akan beta beri syarat yang memperberat—apa lagi yang bocah itu bilang? Oh ya, pertarungan yang seimbang. Akan beta patuhi aturan itu.”

Jadi ini permainan.

Berkata demikian, Kiss-Shot melompat dengan ringan.

Saat berikutnya sesudah dirinya melompat, tiba-tiba saja ia telah berada di hadapanku—dalam posisi di mana kaki kami di depan satu sama lain saling bersilangan.

Dalam wujudnya yang utuh, tingginya melebihi badanku.

Dari sudut pandang itu, dirinya seakan tengah memandang rendah ke arahku.

“Takkan beta terbang ke udara. Takkan beta bersembunyi di balik bayangan. Takkan beta mewujud menjadi kabut. Takkan beta melebur menjadi kegelapan. Takkan beta melenyapkan diri. Takkan beta lakukan perubahan bentuk ke bentuk lain. Takkan beta gunakan kekuatan mata. Bahkan kekuatan penciptaan materi pun takkan beta pergunakan. Tak perlu dikata, beta juga takkan gunakan youtou Kokorowatari—pedang pemusnah kaii. Dengan kata lain, beta takkan mempergunakan kemampuan vampir aktif manapun—beta berjanji. Tentunya, engkau sendiri boleh menggunakannya—walau yang terbaik yang bisa engkau lakukan saat ini hanyalah mengubah bentuk ujung telapak tanganmu.”

“… … …”

Dan bahkan itu sesuatu yang bisa kulakukan cuma karena Hanekawa sedang disandera—sekarang sesudah aku merasa lebih dekat ke sisi manusiaku dibanding sebelumnya, tentunya akan lebih sulit bagiku untuk hanya sekedar merubah bentuk ujung jemariku.

Mungkin akan berbeda andaikata aku punya kekuatan spiritual Dramaturgie, atau mungkin sekedar lebih banyak pengalaman—tapi aku memang masih baru dalam hal ini, dan keduanya memang tak kupunya.

“Secara semestinya, sebagai tuanmu, beta sampai derajat tertentu mampu mengendalikan tindakan-tindakanmu, tapi… beta takkan lakukan hal itu. Beta berjanji untuk tak melakukan tindakan rendah seperti itu. Ini akan menjadi pertarungan yang sepenuhnya didasarkan pada keabadian—jadi pengalaman bertarung takkan dibutuhkan. Pertarungan sampai mati sambil berdiri pada jarak ini—dengan begini, maka ini akan jadi pertarungan seimbang antara engkau dan beta, bukan?”

“… … Kau membosankan.”

Aku berkata.

Dekat dengannya, aku melotot ke arah wajahnya.

“Jadi ini yang kau lakukan saat kau hendak serius. Atau mungkin itu berarti kau memang lengah? Iya, ‘kan?”

“Lengah? Sayangnya beta tak cukup bodoh untuk sampai lengah saat menghadapi bawahan beta sendiri—Tapi jika beta tak memberi kesempatan menang maka permainan ini takkan menarik, bukan? Beta akan serius. Akan tidak mengasyikkan bila pertarungan sampai ditinggalkan di tengah jalan.

Kemudian ia meratakan kedua telapak tangannya membentuk sikap memotong.

Dengan kedua belah tangannya yang kini bagaikan pedang—pada jarak teramat dekat ini, ia bersiap memulai pertarungan.

Aku meniru sikapnya.

Pada kasus ini, telapak tangan terbuka diratakan dalam bentuk potongan lebih baik dibandingkan kepalan.

Sebab dengan tenaga yang dimiliki vampir, baik kepalan maupun potongan memiliki rentang kekuatan yang sama. Dengan demikian, lebih baik menggunakan potongan ketimbang pukulan karena sifatnya yang lebih fleksibel.

“… … …”

Aku periksa sekelilingku.

Walau aku bilang matahari telah terbenam, malam masih belum terlampau larut. Walau mungkin tak ada orang lain di sekolah, tapi sejauh apapun sekolah ini dari bangunan-bangunan rumah yang lain, bisa jadi masih ada saksi mata di sekitar sini.

Kalau kami tak menuntaskan pertarungan ini secara cepat…

Namun, persis tatkala aku berpikir demikian…

“Engkau berani sekali untuk mengalihkan mata saat aku berada di depanmu, Pelayan.”

Kiss-Shot berkata.

“Tak usah engkau cemas. Tiga orang tersebut sudah tidak lagi ada di sini—sedangkan orang biasa tak sanggup mendekat padaku bila aku berada dalam kekuatan penuh. Andaikata ada seseorang yang melihat pun, baginya di akhir beta hanya akan terlihat sebatas rumor.”

“…Rumor ya.”

Gosip jalanan. Legenda urban. Informasi dari mulut ke mulut.

Menyebut rumor sebagai rumor—bicaralah tentang iblis maka iblis itu sendiri akan muncul.

“Walau—makanan jalan yang engkau tempatkan di pondok di belakang sana berbeda, bukan?”

“…Kiss-Shot, aku punya satu hal terakhir yang mau kutanyakan padamu.”

“Ooh. Boleh, kenang-kenangan untuk dunia berikutnya—akan beta jawab semuanya. Tanyakan saja.”

“Manusia bagimu itu apa?”

“Makanan.”

“Begitu.”

Itu jawaban yang teramat cepat.

Aku berhasil menyingkirkan sisa keraguanku yang terakhir.

“Aku ingin dengar kamu mengatakannya—aku ingin dengar itu dari mulut kamu sendiri!”

Kemudian aku bergerak—lalu Kiss-Shot juga bergerak.

“Akan kucabut nyawamu, Tuan!”

“Waktunya mati, Pelayan!”

Bahkan mungkin itu pun sebenarnya telah disengaja untuk menciptakan pertarungan seimbang—membuat seakan kami bergerak di waktu bersamaan, Kiss-Shot sebenarnya membiarkanku mengambil gerakan pertama.

Serangan memotongku mengenai wajah Kiss-Shot dalam sebuah ayunan horizontal—bagian atas kepalanya langsung terlepas, dan langsung terhempas ke belakang bersama gulungan rambutnya yang keemasan.

Lalu seakan dirinya sendiri menantinya, serangan memotong Kiss-Shot menghantam kepalaku. Walau itu gerakan memotong yang sama, tingkat kekuatannya berbeda—bila dibandingkan dengan tinju Dramaturgie yang sebelumnya kuterima, titik benturannya lebih kecil, tapi tenaganya jauh lebih terpusat.

Kepala kami berdua sama-sama terlempar ke udara.

Dalam situasi normal, ini saja pasti sudah menandai akhir.

Namun… aku maupun Kiss-Shot sama-sama bukanlah manusia.

Kami monster.

Sekalipun kepala kami terhempas, sekalipun otak kami sampai dilumatkan, tak peduli dengan batas waktu lima menit itu, gangguan terhadap kesadaran dan cakupan pandang kami hanya akan berlangsung selama sesaat—dan selanjutnya semuanya akan kembali seperti semula.

Tak ada satupun dari kami berdua yang telah terluka.

“Hyaha!”

Kiss-Shot… tertawa.

“Ha! Haha! Ahaha! Hahaha! Ahahahahaha!”

Seakan bergetar dirinya menghasilkan suatu irama tersendiri—dirinya tertawa dengan penuh kegembiraan.

“Hebat sekali—ini pastilah pertarungan maut terhebat antar sesama vampir manapun yang pernah ada! Lagi, lagi, lagi—Pelayan!”

“Diaaaam!”

Serangan-serangan tebasan kami berajutan dengan satu sama lain.

Tak terbatas pada kepala. Serangan-serangan kami juga menyasar ke badan serta tungkai.

Setiap tusukan dan potonganku menembus Kiss-Shot.

Setiap tusukan dan potongan Kiss-Shot menembusku.

Kami terus dengan brutal saling menembus dan melubangi satu sama lain.

“… …!”

Tentu saja, ini tak berarti sensasi kami terhadap rasa sakit sampai dimatikan.

Rasa sakit itu masih ada di sana.

Jika otak yang dihancurkan maka pikiran yang terhenti, jika paru-paru yang dihancurkan maka nafas yang terhenti, dan jika jantung dihancurkan maka aliran darah yang terhenti.

Walau aku berubah menjadi vampir…

…itu bukan berarti tubuhku secara fisik telah berubah.

Kemampuan pemulihan, kekuatan penyembuhan, keabadian.

Cuma itu saja yang pada akhirnya menonjol.

Tapi… itu semata sudah cukup.

“Woooooooooooh!”

“Haha! Berteriaklah lagi! Beta suka raungan-raungan jantan!”

Dengan dadanya, seperti yang sudah diduga, bergoyang dengan keras—walau serangan-serangan yang dilepasnya semakin ganas seiring dengan waktu—Kiss-Shot terbahak dalam tawa yang keras.

Bahkan Kiss-Shot pastinya juga merasakan sakit.

Sama sekali tak mungkin sensasinya terhadap rasa sakit hilang.

Namun tak ada satupun hal itu yang terpancar darinya, dirinya bahkan tak menggertakkan gigi atau menjerit seperti yang kulakukan.

Tak peduli di manapun ia dihancurkan…

Tak peduli itu otaknya, paru-parunya, atau jantungnya yang hancur, dirinya tetap tertawa keras seakan-akan tak peduli.

Dengan sorotan mata dingin, tapi dengan ekspresi senang.

Sebuah tawa yang bagaikan hantu.

“S… Siaaaal!”

“Hei hei, masih terlampau awal buat kata itu, Pelayan—seakan engkau getir akan sesuatu dalam kondisi-kondisi seimbang ini!”

Jadi dirinya memang telah terbiasa dengan rasa sakit… rupanya.

Rasa sakit yang dialaminya saat tubuhnya dicabik-cabik pastinya sebuah sensasi yang telah terbiasa dirasakannya semenjak zaman dahulu kala.

Jika begitu…

Selama 500 tahun ini…

Pertumpahan darah macam apa sebenarnya yang telah ia lalui?

Garis-garis batas antara kehidupan dan kematian macam apa saja yang telah ia lintasi?

Sebuah perbedaan antar pengalaman—ini perbedaan dalam pengalaman bertarung!

“OOOOOOH!”

Tapi!

Aku sedang menutupi perbedaan dalam hal pengalaman dengan tekad—dalam adegan satu ini!

“Ayo, ayo, berteriaklah! Perdengarkan aku teriakan perang!”

“Jangan sombong dulu, Kiss-Shot!”

“Jika beta pikir engkau yang terakhir memanggil beta demikian, beta akan menyesal untuk berpisah!”

Ini pertarungan yang tanpa arti.

Tak peduli berapa banyak darah tertumpah atau berapa banyak urat tertebar, segalanya langsung menghablur sebelum sempat menyentuh tanah, dan menghablur saat beregenerasi kembali.

Pada akhirnya, tak ada luka apapun yang ditimbulkan.

Aku bisa saja mati karena syok akibat rasa sakit—atau mungkin saja aku memang sudah mati akibat syok itu namun keabadian vampir menghidupkanku kembali.

Tapi… rasanya ganjil.

Kami berdua sama-sama abadi.

Tapi Kiss-Shot mempunyai daya serang yang lebih besar.

Sekedar ini saja masih belum aneh.

Namun, aku keheranan dengannya—jujur saja, aku tak merasa serangan-seranganku punya cukup kekuatan penghancur untuk menyakiti Kiss-Shot sampai sedemikian. Dalam hal itu saja, aku pikir aku pasti kalah jauh dibandingkan Kiss-Shot—tapi kenyataannya, setiap seranganku menghancurkan tubuhnya tanpa banyak reaksi kejutan.

Rasanya tak jauh berbeda dari melumat tahu.

“Hahahahaha! Haha! Ahahahahaha!”

Dengan pipi yang telah berlubang, dengan wajah tersenyum bagaikan kuchisake-onna… Kiss-Shot menjawab pertanyaanku.

Tuan dan bawahan.

Dirinya bisa melihat apa yang aku pikirkan…

“Terus terang saja, pelayan—daya pertahanan vampir sama sekali tidak tinggi! Tentu saja, tak bisa dibandingkan dengan kaum manusia yang para vampir makan, tapi… bagaikan berbanding terbalik dengan kekuatan serangnya yang luar biasa, daya pertahanannya rendah! Jika daya serangnya adalah 100, maka nilai maksimum daya pertahanannya akan antara 10 sampai 20 secara rata-rata! Pelayan, apa engkau paham mengapa bisa demikian?”

“… … …!”

Kiss-Shot memulihkan bahkan gaunnya—sebab gaun itupun tercipta melalui kehendaknya. Namun aku tak bisa melakukan hal yang sama—pakaianku hanya pakaian biasa.

Dari pinggang ke atas aku sudah nyaris tak mengenakan apa-apa.

“Karena keabadiannya itu setara dengan nilai daya pertahanan!”

“Tepat sekali!”

Kiss-Shot berkata.

“Jadi dalam pertarungan ini tak usah kau bertahan dari serangan-serangan beta—konsentrasi saja pada serangan-serangan milik engkau sendiri, dan hancurkan tubuh beta!”

“Apa kau masokis?!”

“Beta takkan menyangkal!”

Terkadang tebasan kami akan bertumbukan.

Saat itu terjadi, tangankulah yang kemudian hancur.

Dalam pertarungan ini tak ada kesempatan untuk tipuan remeh—dan pada sisi lain, tak ada kesempatan bahkan untuk serangan terencana juga.

Ini akan berlangsung sampai ada yang keabadiannya habis saja.

Atau pikiran salah satu dari kami runtuh.

Kupikir ini pertarungan semacam itu—tapi bukan juga.

Bukan, kebenarannya sama sekali berbeda.

Pertarungan tak berarti ini kemudian kusadari tak lain hanyalah perkelahian pendahuluan—bagi Kiss-Shot, ini tak berbeda dari sebuah permainan. Bagiku, ini bukan permainan, tapi sesuatu semacam babak persiapan dari sesuatu yang lebih besar.

Aku mengetahuinya.

Aku berhasil memikirkannya.

Dan… aku merasakannya.

Sebuah cara untuk membunuh Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Teknik yang bisa kugunakan untuk membasminya.

Kini sesudah aku saling bertatap muka dengannya…

…aku bisa memahaminya secara naluriah.

Aku tak tahu apakah itu naluriku sebagai manusia atau vampir, yang pasti aku merasakannya.

Kalau aku memikirkannya, hal ini kudengar dari Kiss-Shot sendiri—maka ide ini pasti sesuatu yang benar bisa kugunakan.

Apa yang harus kulakukan sudah jelas.

Namun… kesempatan buatku melakukannya tak ada.

Karena teknik yang akan kugunakan untuk membasmi Kiss-Shot adalah teknik yang sama dengan yang akan Kiss-Shot gunakan untuk membasmiku.

Untuk alasan tersebut, pertarungan ini hanyalah sebuah kegiatan pengisi waktu luang bagi dirinya.

Semacam permainan.

Tentunya… Kiss-Shot sanggup membunuhku kapan saja. Tentu saja, sikapnya yang sekarang bukan karena dirinya lengah—melainkan karena dirinya ingin menikmati kesempatan menggunakan kekuatan penuhnya sedikit lebih lama.

Karena itu… jika Kiss-Shot menunjukkan celah…

Sembari menunggu celah itu… aku akan harus terus melanjutkan pertukaran serangan antara kami.

Aku masih harus terus melanjutkan pertandingan kematian dan penghidupan kembali yang tak berarti ini.

“Haha, aku suka ini, Pelayan! Kekuatan tekad yang engkau punyai boleh juga! Walau engkau memiliki kekuatan sebagai bawahanku, biasanya vampir baru takkan mempertaruhkan hidupnya sampai sejauh ini!”

“Ini semua karena pengaturan ini! Baguslah kalau kamu suka!”

“Justru karenanya maka ini sayang! Engkau bisa saja menjadi sebuah legenda seperti halnya beta!”

“Legenda? Yang benar saja—ngebayangin ada orang asing tahu namaku saja sudah bikin aku merinding!”

“Beta merasa persis seperti itu!”

Percakapan di tengah pertarungan maut.

Percakapan sembari kami mencacah satu sama lain.

Kemarin… perbincangan yang kami lalui di atas puing-puing gedung bimbel sama sekali berbeda. Perbincangan yang kali ini kasar, tak tentu, dan murni spontan.

Aku tak punya kendali diri untuk tertawa.

Kiss-Shot tertawa, tapi wajahnya sama sekali berbeda dari wajah tersenyumnya semalam; aku tak bisa merasakan adanya keakraban sama sekali.

Bahkan saat kami saling terhantam ke belakang…

Kedua kaki kami tetap berpijak dengan diam.

Ini adalah neraka regenerasi.

Walau tubuh ini diremukkan hingga serpihan-serpihan kecil, dengan tiupan angin segala kerusakan akan terpulihkan dan semuanya akan kembali lagi seperti semula, untuk kemudian diremukkan lagi, dipulihkan lagi, lagi dan lagi sampai tubuh ini diremukkan ke serpihan yang lebih kecil lagi, dan akan terus diremukkan sampai selamanya—neraka yang macam itu.

Ini salah satu dari Delapan Neraka Besar.

Maka tanpa diragukan ini, di sini dan sekarang—adalah neraka.

“Omong-omong, biar beta beritahukan satu hal—Pelayan! Walau mungkin ini tiada artinya berhubung kita akan berpisah di sini…!”

“Ya?!”

“Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter pastinya, dan semua spesialis pembasmian vampir yang hingga sekarang mencoba membunuh beta—bahkan bocah dengan kemeja menyolok itu juga tak tahu, tapi sebenarnya beta dulunya manusia!”

Kiss-Shot… berkata sembari tertawa.

Dia mengatakannya saat lehernya melakukan pemulihan dari torehan tebasan.

“Seorang bekas manusia—dengan kata lain beta sama dengan Dramaturgie dan engkau!”

“A-Ah? Jadi kau bukan vampir asli?!”

Aku sempat diyakinkan dengan hal ini.

Tapi setelah memikirkannya lagi—tak sekalipun Kiss-Shot pernah menyatakan hal tersebut.

“Beta telah melupakan masa tatkala beta masih manusia—beta rasa telah dilahirkan dalam keluarga baik! Bangsawankah? Gaun ini nampaknya adalah peninggalan dari zaman itu… ha! Yah, untuk vampir di atas usia 300 tahun, sudah tak ada lagi bedanya antara vampir asli maupun bawahan!”

“Hei—maksudmu apa?”

“Tidak, beta hanya melupakannya setelah sekian lama—beta mengingatnya kembali setelah obrolan dengan engkau! Bahkan beta pun di awal sempat ragu memakan manusia!”

“Jadi!”

“Engkau pun!”

Kiss-Shot untuk sesaat menghentikan rangkaian serangannya.

Lalu berkata.

“Jika engkau memakan manusia satu saja—maka engkau takkan lagi merasakannya sebagai sebuah dosa!”

“… … …”

Aku menghentikan seranganku, menyamainya.

Seluruh luka yang kami derita langsung terpulihkan seutuhnya dalam sekejap mata.

“Bahkan Dramaturgie, meskipun dahulunya manusia… terlebih selaku pembasmi vampir—memangsa manusia pula. Tahukah engkau akan hal ini? Walau yang dimakannya hanya pelanggar kelas berat yang disediakan oleh aliran kepercayaan Guillotine Cutter.”

“Tetap salah jika mereka dimakan hanya karena mereka kriminal… apalagi kalau mereka diadili berdasarkan aliran kepercayaan Guillotine Cutter.”

“Benar. Namun kriteria soal apa yang boleh atau tidak dimakan tidak terbatas pada manusia. Seseorang tiada boleh memakan daging sapi, tiada boleh memakan daging babi, tiada boleh memakan daging paus, tiada boleh memakan daging anjing—ini bukan sekedar mengenai Guillotine Cutter semata, bahkan di antara sesama manusia terdapat perbedaan dari segi budaya. Apalagi beta sebagai vampir Pemusnah Kaii. Dalam sebulan beta diharuskan untuk memangsa satu manusia—dalam setahun paling banyak 12 manusia. Bahkan bila menghitung dalam rentang 500 tahun, maka jumlahnya hanya 6000 insan. Mengacu pada sejarah, seberapa besarkah angka tersebut? Seberapa banyak manusia yang telah manusia sendiri bunuh sampai sekarang ini?”

“… … Itu cuma sofisme.”

“Beta sama sekali bukanlah ancaman terhadap keberadaan dunia. Pengaruh yang beta punyai terhadap dunia justru teramat kecil. Dan engkau berkata bahwa beta harus mati semata karena manusia yang beta makan?”

Kiss-Shot berkata.

“Adalah nafsu manusia yang justru merupakan keserakahan yang terbesar.”

Jika aku tak makan, maka aku akan mati.

Bukan hanya vampir, bahkan manusia pun seperti itu.

Bukan hanya manusia, bahkan hewan pun seperti itu.

Bahkan tumbuh-tumbuhan yang kerap kukhayalkan bisa menjadi—juga seperti itu.

Selama kesemuanya bukan zat anorganik…

Selama kesemuanya bukan bebatuan atau logam…

…Maka pada suatu titik, akan ada kehidupan yang harus dikorbankan.

“Bukan itu masalahnya, Kiss-Shot.”

Aku berkata.

“Seperti yang kau bilang. Yang kukatakan adalah—matilah karena kau memakan manusia.”

“… … …”

Kiss-Shot menanggapinya dengan ooh.

Dan—dirinya perlahan menyipitkan sorot matanya yang dingin.

“Kiss-Shot, aku manusia.”

“Begitu rupanya. Beta sendiri adalah vampir.”

Dan pertarungan pun dimulai kembali—atau seharusnya begitu.

Pertarungan maut dan penghidupan kembali yang seharusnya kembali berlangsung—namun pada saat tersebut…

Dari punggungku…

Dari belakang…

“Tolong tunggu sebentar!”

Ada suara bergema.

Bergema di lapangan olahraga SMA Naoetsu.

Itu jelas suara Hanekawa—sesudah aku mengatakannya, kurasa sebelumnya sempat ada bunyi pintu besi gudang peralatan olahraga saat dibuka.

“A-Araragi, ada sesuatu yang aneh!”

Mendengar itu dari Hanekawa di belakangku, kupikir justru kau yang aneh di sini.

Kenapa kau keluar dari gudang di saat seperti ini? Apa kamu enggak kenal takut? Bahkan aku yang punya tubuh abadi bisa paham alasannya, dengan berdiri di depan Kiss-Shot seperti ini saja takkan aneh jika jantungmu sampai meletus—bukannya aku bilang Kiss-Shot punya kekuatan mata yang bisa menghancurkan beton hanya dengan dipandang saja?

Kalau begitu—kenapa kamu menampakkan diri?!

“Hanekawa! Sembunyi!”

Mengetahui resikonya, aku menoleh ke belakang.

“Jangan—Lari! Lariii! Jangan diam saja! Pergi sejauh mungkin!”

“I-Ini bukan seperti yang kau pikir, Araragi…”

Hanekawa… terlihat terganggu.

Bahkan saat aku menyakitinya, bahkan saat Episode melukai punggungnya, bahkan saat Guillotine Cutter menyanderanya, Hanekawa yang tetap menampakkan ketenangan dalam segala situasi—kali ini tampak terguncang.

“Araragi, ada sesuatu yang aneh dari tadi. M-Mungkin ada satu hal penting yang luput kita sadari…”

Luput kita sadari?

Masih… ada sesuatu yang belum kita pahami?

Tak mungkin, tak mungkin ada.

Tak ada satupun hal yang belum…

“Engkau… berisik!”

Kiss-Shot berteriak.

Bahkan Kiss-Shot pun terguncang.

Itu jelas sebuah reaksi yang tak kusangka.

Walau aku baru sekali melihat Kiss-Shot dalam keadaan emosi—saat aku masih manusia, dan untuk sesaat aku hendak menelantarkannya.

Aku membuat keputusan yang tepat.

Dirinya… terguncang.

Dirinya menangis, memohon, meminta maaf…

“Jangan bersikap seolah engkau tahu semuanya, dasar makanan jalan!”

Kiss-Shot melotot.

Lalu dengan hanya itu saja…

Pintu besi dari gudang alat olahraga di belakang Hanekawa diterbangkan ke udara.

Kekuatan mata.

Tak seperti waktu aku menendangnya hingga terbuka, kini sudah tak lagi mungkin untuk memperbaikinya. Pintu besi gudang peralatan olahraga mengkerut seperti saat kau meremas aluminium foil, dan kemudian ditembakkan hingga ke dalam gudang.

Bahkan tanah di sekeliling Hanekawa langsung seketika retak.

Apa yang ada di sekitar dan di belakang Hanekawa… baru saja terhapuskan.

Hanya dengan dilihat.

Yang dilakukannya hanya melihat.

Sang vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin—sang Pemusnah Fenomena Ganjil!

“…Ah.”

Tentu saja bahkan Hanekawa untuk sesaat menelan kembali kata-katanya.

Tapi aku melihatnya.

Aku… terlanjur melihatnya.

Aku tahu bahayanya.

Hanekawa Tsubasa.

Aku tahu dirinya takkan berhenti kalau hanya dari itu.

Dirinya dengan teguh, kuat; balas melotot ke arah Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

“Heart-Under-Blade, mungkinkah kau…”

“Dasar manusia! Jangan ikut campur!”

Sekali lagi Kiss-Shot memandang Hanekawa.

Memandang saja.

Kekuatan mata—kekuatan mata seorang vampir. Namun!

–Ada celah!

Berhubung hanya pertarungan maut yang tanpa arti, pada mulanya Kiss-Shot tak menghadirkannya—tapi sekarang di titik ini dia memunculkan celah!

Tentu saja, tak seperti aku, bahkan saat berhadapan denganku Kiss-Shot juga memiliki peluang untuk melihat ke arah lain—namun sekarang berbeda.

Sekarang berbeda.

Dirinya terguncang—dan tengah menatap ke Hanekawa.

Dia penuh celah.

“…Kiss-Shot!”

Aku meneriakkan namanya…

Aku melentingkan diriku di antara dirinya dan Hanekawa.

Aku menerima serangan kekuatan matanya secara penuh.

Lalu saat sekujur tubuhku terhempas ke belakang…

Aku…

…menggigit…

…pangkal lehernya.

Aku menggigit… dengan sepasang gigi yang dipanjangkan—dengan taring.

“… … …!”

Inilah teknik untuk membasmi Kiss-Shot.

Inilah teknik untuk membasmi vampir.

Inilah teknik yang digunakan seorang vampir untuk membasmi vampir lainnya—

Kalau kau memikirkannya, ini memang teramat sederhana dan jelas.

Naluri mengajarkannya padaku.

Tak jelas apakah itu naluriku sebagai manusia atau vampir—namun…

Kiss-Shot mengatainya di awal.

Sebelum menghadapi Dramaturgie, aku menerima dari Kiss-Shot sebuah masukan yang tak bisa dikatakan sebuah masukan…

–Setidaknya…

–Pastikan agar orang itu tak sampai menghisap darahmu.

Jika ada vampir yang darahnya sampai dihisap vampir lain…

…maka keberadaannya akan lenyap.

Pada waktu itu aku sama sekali tak memiliki dorongan untuk menghisap darah—tapi sekarang berbeda.

Kini aku… lapar.

Ciprat.

Aku menghisap darahnya.

Aku menusukkan sepasang taringku ke kulit putihnya yang lembut.

Cara untuk menghisap darah—aku memahaminya tanpa ada seorangpun yang mengajarkannya padaku.

Tak diragukan, ini tak jauh berbeda dibanding saat orang-orang memakan hidangan.

“Guh…”

Kiss-Shot mengerang.

Bahkan jika darah yang tertumpah beregenerasi—darah yang dihhisap takkan bisa kembali.

Karena penyerapan energi ini.

Hanya bekerja untuk kaii melawan kaii lain.

Karena mereka tak dihitung bahkan sebagai hidangan.

Walau mereka tak lebih dari hidangan, mereka bahkan juga bukan hidangan.

Ini tak lain hanyalah… pemusnahan kaii/fenomena ganjil.

Aku membuat perisai menggunakan tubuhku untuk melawan kekuatan matanya—seharusnya dampaknya tak sampai mengenai Hanekawa. Jika aku terus menghisap Kiss-Shot seperti ini—jika aku sampai berhasil mengeringkan setiap tetes darahnya keluar, seperti yang Kiss-Shot lakukan padaku pada hari itu…

“Ha.”

Kiss-Shot…

…sementara terjengkang ke belakang—bertumpu padaku dari atas—namun…

Dirinya masih tetap tertawa.

“Haha! Hahaha! Hahahaha! Ahahaha! Hahahahahaha! Haha! Hahahaha! Ha! Hahahahaha! Hahah! Ahahaha! Ahahahahahahahahahaha-!”

Jadi dirinya akan meninggal dengan cara tertawa ya.

Itu pun boleh juga.

Darahnya…

Darah Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade… memiliki kelezatan yang tiada bandingannya.

Tak peduli berapa jumlahnya… aku merasa bisa meminumnya untuk selamanya.

Aku berharap untuk bisa meminumnya untuk selamanya.

Senikmat itu rasanya.

Kiss-Shot.

Dengan begini, tanpa sedikitpun rasa kepuasan, atau perasaan pencapaian apapun, aku akan membasmimu di sini sekarang juga—

Kau akan kubunuh.

Nyawa yang telah kuselamatkan—akan aku bunuh.

Karena itu tanggung jawabku—sekalipun aku berubah kembali menjadi manusia berkat kematianmu, aku takkan merasakan sedikitpun rasa kepuasan atau pencapaian apapun juga—maka itu lebih dari sekedar sebuah konsekuensi belaka!

“…Eh?”

Lalu tiba-tiba.

Tiba-tiba saja, mendadak, aku berpikir ulang.

Sesuatu yang luput kusadari?

Apa sebenarnya yang tengah gagal kusadari?

Aku tengah gagal menyadari hal sedemikian penting yang membuat Hanekawa sampai belari keluar gudang peralatan olahraga—kira-kira apa hal tersebut?

Dan kenapa pula Kiss-Shot sampai terguncang? Kenapa pula dirinya begitu marah oleh omong kosong dari dia yang disebutnya ‘makanan jalan’?

Dirinya memiliki kendali diri begitu besar sebelumnya.

Di samping itu, aku mendengarnya.

–“Jangan bersikap seolah engkau tahu semuanya…”

–“Dasar bocah.”

Benar juga.

Kalimat itu pernah dikatakannya ke Oshino—tapi soal apa lagi?

Aku ingat.

—“Aku punya minat terhadapmu, Heart-Under-Blade… “

–“Araragi, yang menjadi bawahanmu… “

–“rela kau bantu demi bisa berubah kembali jadi manusia.”

“…!”

Aku…

…langsung mendorong jatuh Kiss-Shot, dan berakhir di atasnya—dan tanpa berpikir, secara refleks aku langsung berdiri. Secara alami, aku menarik keluar taringku dari lehernya… dan kemudian…

Aku menatap ekspresi wajahnya.

Aku melihatnya.

Sorot mata Kiss-Shot yang dingin, sementara tetap dingin berubah menjadi hampa, pupil matanya seakan berkabut… dan bahkan bibirnya berkerut.

“Ada apa… Pelayan?” Kiss-Shot berkata. “Beta masih punya… separuh darah beta yang masih tersisa.”

“… … … …”

“Kini sesudah engkau menghisap begitu banyak darah dari beta, beta tidak lagi sanggup bergerak. Namun jika engkau tak bergegas, beta akan segera pulih, engkau tahu?”

Keadaannya persis seperti yang dikatakannya.

Kini dirinya tak mampu bergerak, tapi kelak bisa segera pulih, persis seperti yang dikatakannya.

Tapi… lebih penting lagi.

Aku ada sesuatu yang perlu kutanyakan padanya.

Walau pertanyaan terakhir yang ingin kutanyakan sesuatu yang harusnya sudah kutanyakan—masih ada sesuatu yang tetap harus kutanyakan.

Itu…

Kemungkinannya, itu juga bukan sesuatu yang semestinya kutanyakan sih.

“H-Hei… Kiss-Shot…”

“Ada apa?”

“Dengan cara apa…

…kau sebelumnya berencana…

…mengubahku kembali menjadi manusia?”

Kiss-Shot dengan kasar menanggapi pertanyaanku dengan decakan di mulut.

“Peduli apa engkau akan hal tersebut sekarang?”

“Aku peduli. Buatku ini penting.”

“Makanan jalan itu. Seharusnya sejak awal dia diam saja.”

Kiss-Shot mengutuk Hanekawa.

Dan kemudian ia menutup mulut.

Lalu Hanekawa yang dikutuknya itu… dengan langkah lamban, berjalan ke arahku dan Kiss-Shot. Walaupun dirinya telah mengenakan sweater seragam dan syalnya kembali, menilai dari guncangan dada yang seakan memiliki efek suara boingboing di latar belakang, tampaknya ia tak memiliki cukup waktu untuk mengenakan bra-nya kembali.

Tanpa terganggu, Hanekawa mendekat.

Kemudian ia berbicara.

“Heart-Under-Blade.” Dirinya berucap dengan nada penghormatan. “Apa semenjak awal kau telah berencana untuk wafat di tangan Araragi?”

“… … …”

“Agar dirinya bisa diubah kembali menjadi manusia?”

Aku gagal menyadarinya.

Andai ini tak terjadi—misalnya, andai aku tak menjadi saksi saat Kiss-Shot menyantap Guilloltine Cutter…

Dengan cara apa dirinya berencana mengubahku kembali menjadi manusia? Di samping metode yang telah Hanekawa teliti tersebut, metode apa lagi yang bisa dipakai?

Aku bahkan sama sekali tak memikirkannya.

Aku sepenuhnya… gagal menyadarinya.

Dan…

“Jangan omong kosong, makanan jalan—seakan buktinya ada saja.”

“Kalau begitu, tolong beritahu bagaimana kau berencana untuk mengubah Araragi kembali menjadi manusia. Aku telah menelitinya, dan untuk cara untuk mengubah seorang vampir kembali menjadi manusia, aku tak menemukan adanya cara lain.”

Tak ada lagi.

Tak ada lagi pilihan selain membunuh sang tuan.

Tak ada lagi pilihan selain memutus hubungan tuan dan bawahan.

“Hah! Itu memang fakta yang telah diketahui—hanya saja semenjak awal beta tak pernah berniat mengubah pelayan ini kembali menjadi manusia. Beta membohonginya agar ia kumpulkan kembali tungkai-tungkaiku yang hilang. Akan beta beri kebohongan macam apapun demi memperoleh kembali wujud beta yang utuh—untuk alasan itu beta mengubahnya menjadi bawahanku. Jujur saja, semuanya sepenuhnya dilakukan karena keadaan.”

“Bukan. Kau membuatnya mengumpulkan bagian-bagian tubuhmu yang hilang karena jika ia membunuhmu dalam wujudmu yang tak sempurna, dirinya juga tak akan kembali menjadi manusia, bukan? Jika kau tak dibunuh dalam wujudmu yang utuh, maka tak akan ada artinya…”

Waktu itu…

Kiss-Shot begitu bergembira bukan karena telah memperoleh wujud utuhnya kembali—namun karena dirinya telah memenuhi prasyarat untuk mengubahku menjadi manusia kembali—jadi?

“Sampah. Itu sama sekali tak benar.”

“Lalu… kalau begitu kenapa kau kemari?”

Hanekawa berbicara dengan Kiss-Shot dengan ketenangan mutlak.

Sang pemangsa dan mangsa.

Terlepas dari keberadaan satunya yang lebih tinggi dan satunya yang lebih rendah, mereka berbicara secara normal.

“Araragi mempunyai alasan untuk melawanmu. Tapi sebaliknya, kau tak punya. Kau menutup-nutupinya dengan alasan-alasan seperti untuk memamerkan kekuatan penuhmu dan hal-hal lain sepertinya—tapi kenyataannya kau datang kemari hanya agar bisa terbunuh oleh Araragi, bukan? Hanya itu alasannya, bukan? Dengan membuat pertarungannya menjadi pertarungan yang adil… dengan sengaja Araragi kau panas-panasi.”

“Ha, Hanekawa…”

“Araragi, diamlah.”

Hanekawa dengan tegas memerintahku.

Kemudian ia meneruskan perkataannya.

“Tentunya, tak ada landasan atau bukti apapun soal ini. Aku cuma tak bisa tak merasa ada sesuatu yang aneh dari beberapa waktu lalu…

…karena kau tak membunuhku yang menganggu pertarunganmu…

…aku mengerti. Kau…”

Walau Kiss-Shot meledakkan sekeliling Hanekawa dengan kekuatan mata vampirnya, Hanekawa sendiri dibiarkan tak terluka.

Walau Episode dengan tanpa ampun melontarkan salibnya ke Hanekawa yang dengan cara serupa ikut campur dalam pertarungannya—Kiss-Shot, yang memandang Hanekawa sebatas sebagai semacam makanan bekal, sama sekali tak menyerangnya.

Dia hanya mengancamnya.

“Kau sudah berencana untuk mati.”

“…Semestinya engkau tak berkata apa-apa.”

Kiss-Shot…

…mengulang kata-kata yang sama seperti sebelumnya.

“Lalu sesudah mengatakannya, apa yang engkau rencanakan? Sesudah mengatakannya, engkau pikir bawahanku akan jadi sanggup membunuhku?”

“Eh?”

“Sebagai penguasa, beta memahami sepenuhnya pelayanku—dia seorang tolol yang akan menolong vampir sekarat. Andai ia tahu apa yang si bocah sebut sebagai ‘keinginanku’, apa menurutmu dia masih akan sanggup menghisap darahku?”

“I-Iya… tapi…”

Hanekawa kehilangan kata-kata.

Kiss-Shot dengan dingin memandang ke arahnya.

Dengan sorot mata kosong—dia memandang Hanekawa dengan dingin.

“Beta pikir yang tersulit… ialah bagaimana membuatnya mau membunuhku. Itulah yang beta rasa paling mengganggu. Karenanya, beta tak menyinggung soal bagaimana caranya sampai saat terakhir. Beta pikir tiada pilihan lain yang beta punya selain membohonginya… Namun walau tak disangka, berkat Guillotine Cutter, apa yang beta perlukan secara kebetulan terpenuhi. Jika ia bisa sedemikian marahnya hanya akibat beta makan satu orang, maka tiada alasan bagi beta untuk merasa khawatir tentangnya.”

Itu, katanya.

Kiss-Shot, dengan matanya itu memandang ke arahku.

“…Beta bisa terbunuh oleh engkau asalkan berperan sebagai musuh, sang tokoh jahat. Tiada alasan bagimu untuk mengetahui maksud beta.”

“Kenapa…”

Aku bergumam.

Aku kebingungan… yah, tapi…

Itu sebuah fakta yang dengan penjelasan itu semuanya akhirnya cocok.

“Kenapa… kau sampai berbuat seperti itu…”

“Pelayan.” Kiss-Shot berkata. “Beta tengah mencari tempat untuk wafat.”

“Tempat untuk wafat…”

Alasan kematian 90% vampir pada setiap waktu.

Bunuh diri.

Kebosanan… membunuh sang vampir.

Kebosanan… yang teramat luar biasa.

“Itulah alasan mengapa beta datang ke negara ini. Semenjak bawahan pertama beta meninggal, tak pernah beta kembali ke tempat ini lagi. Alasannya juga bukan buat berjalan-jalan.”

“T-Tapi kau…”

Tak mau mati.

Itu yang dikatakannya… sembari menangis.

Jantungnya telah dicuri. Tungkai-tungkainya telah direnggut.

Dirinya meski nyaris berhasil lolos hidup-hidup.

“Beta pikir sudah waktunya beta mati. Itulah rencana beta.”

Namun, Kiss-Shot juga berkata.

“Namun di akhir, beta merasa takut untuk mati.”

“… … …”

“Beta takut untuk lenyap sesudah hidup sepanjang 500 tahun. Beta takut, takut untuk menghilang. Beta tak tahu harus bagaimana. Lalu engkau melintas di waktu itu. Beta memohon engkau untuk menolong beta.”

“Aku… menolongmu.”

Hal gilanya adalah kenyataan bahwa aku sama sekali tak berpikir apa-apa.

Aku tak memikirkan apa-apa tentang konsekuensinya ataupun masa depan.

Alasannya cuma…

…Aku tak ingin melihat… wajahnya yang berurai air mata…

Aku tak tahan melihatnya.

“Untuk kali pertama dalam hidup beta, beta ditolong oleh orang lain.”

“… … …”

“Baik mereka manusia ataupun vampir, tiada ada yang pernah menolong beta. Saat menghisap darahmu, beta bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya yang tengah beta lakukan. Karenanya—walau beta meminum darahmu, beta tak sanggup memakan lebih jauh lagi. Kemudian engkau kujadikan bawahanku. Bawahan kedua yang pernah beta punyai seumur hidupku.”

Karena engkau tak kunjung juga membuka mata, beta pikir engkau akan kehilangan kendali atas diri sendiri—Kiss-Shot berkata.

Dengan pengawasan berlanjut di sepanjang waktu.

Dia merawatku.

“Namun, entah bagaimana, akhirnya engkau membuka mata. Beta pikir, andai engkau memang berkeinginan menjadi vampir, maka itupun tak apa—tapi engkau, seperti yang telah beta kira, berkeinginan untuk kembali menjadi manusia. Sementara engkau tak sadarkan diri, beta dengan muram terus memikirkannya. Pada saat itulah, beta memutuskan.”

Kiss-Shot berkata, dengan nada pasrah, namun suara kuat…

“Beta akan mati untukmu.”

“…Untukku…”

“Engkau akan membunuhku, engkau akan kembali menjadi manusia, dan kali ini, beta akan wafat. Beta rasa telah akhirnya menemukan tempat untuk wafat. Tempat yang telah beta cari semenjak 400 tahun sebelumnya.”

“400 tahun sebelumnya…”

Itu… bawahannya yang pertama.

Kiss-Shot berkata.

Soal mengubahnya kembali menjadi manusia.

–di masa itu, masih tak mungkin bagiku untuk mengubah seseorang kembali menjadi manusia—

tapi kali ini, jika bisa, beta hendak belajar dari pengalaman tersebut.

“Beta tak sanggup meninggal dunia untuknya. Beta tak sanggup menawarkan padanya kematianku sendiri. Beta tak dapat mengembalikannya menjadi manusia. Karenanya…”

“Untukku.”

Demi mengubahku kembali menjadi manusia.

Demi menolongku.

Dirinya hendak mengorbankan nyawanya.

“Jadi, jangan congkak, Pelayan. Semenjak awal ini memang adalah tanggung jawabku. Andai beta tak bersikap sedemikian tak patutnya maka seluruh kejadian ini mungkin takkan terjadi, dan jika engkau tak menyelamatkan beta, waktu itu pastilah beta telah mati.”

“… … …!”

Eh?

Itu… tunggu sebentar.

Apa-apaan situasi ini—tak mungkin.

Pada titik ini—soal mentalku…

Aku bisa atasi soal mentalku—

Walau aku baru mengatakannya beberapa saat lalu!

“…Kenapa? Apa engkau menangis?”

“Ah….”

Sekarang sesudah aku menyadarinya—kedua pipiku basah.

Kenapa?

Karena walau memang itu kenyataannya—itu tak berarti apa yang harus kulakukan jadi berubah ‘kan?

Walau dirinya berkeinginan untuk mati untukku…

…Bukankah ada orang yang pernah dimakan olehnya?

“Engkau sungguh cengeng, pelayanku. Menyedihkan sekali.”

“Bu-Bukaan. Ini bukan tangisan. Ini.”

Ini, menurutku.

“Ini… darah.”

“Ooh.”

“Darah yang mengalir…”

Bagaimana keadaan bisa menjadi begini?

Kiss-Shot adalah vampir.

Dirinya memakan Guillotine Cutter.

Dirinya telah memakan 6000 orang sejauh ini.

Tapi…

“…Bahkan darahmu juga mengalir…!”

Kita sama-sama hidup.

Karenanya jadi sama saja.

Apa yang aku lakukan.

Apa yang telah coba dilakukannya.

Apa yang aku mencoba lakukan.

Bukankah semuanya sebenarnya persis sama…?!

“Sungguh, ikut campurmu tak diperlukan, makanan jalan.” Kiss-Shot berkata. “Dan beta telah berencana untuk terbunuh begitu menunjukkan celah di saat tepat—tapi sudahlah. Pelayan, kini yang harus engkau lakukan hanyalah membunuhku.”

“I-Itu…”

Soal mental…

Soal mentalku…

“Jika engkau urung membunuh beta, maka mulai esok beta akan memakan 1000 orang per hari. …Jika beta berkata begitu, maka engkau tak mempunyai pilihan lain selain membunuh beta, bukan? Sebagai bukti bahwa ini bukan hanya gertakan, akan beta mulai dengan memangsa makanan jalan itu, akankah engkau setuju?”

“.. … … …”

“Lebih baik bila engkau sendiri yang memetik nyawa yang telah engkau selamatkan. Ini yang namanya.. tanggung jawab, bukan?”

“Kiss-Shot…”

“Engkau adalah orang kedua yang memanggil beta dengan nama itu. Dan engkau juga akan menjadi yang terakhir.”

Aku memandang Hanekawa untuk memohon pertolongan.

Hanekawa… hanya menggigit bagian bawah bibirnya, sayangnya, dan terlebih lagi juga tak mengatakan apa-apa. Seakan mengisyaratkan besarnya keputusasaan dari situasi saat ini.

Bahkan Hanekawa pun tak tahu harus melakukan apa.

Ya.

Kenyataannya persis seperti yang Kiss-Shot bilang.

jika keadaan begini, Hanekawa tak perlu sampai berlari ke luar gudang untuk mengungkapkan apa yang Kiss-Shot sembunyikan dalam pikirannya—pada akhirnya, apa yang harus kulakukan sama sekali tak berubah, dengan cara ini situasinya hanya akan bertambah buruk.

Namun.

Andai aku tak mengetahuinya… dan terus menyimpan salah paham terhadap Kiss-Shot… tanpa mampu merasakan penyesalan sama sekali…

Seakan aku tak lebih baik dari monyet, aku akan kembali menjadi manusia.

Apa kau akan percaya?

Di akhir… hanya keinginanku saja yang akan terpenuhi.

Takkan ada yang bahagia.

Aku akan memaksa Kiss-Shot menanggung segalanya.

“Ayo.”

Kiss-Shot tertawa.

“Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo—bunuh aku, Pelayan.”

“…Siaaaaaal!”

Jadi dia sedang mencari tempat buat mati?

Bunuh diri?

Itu… Itu cuma pelarian!

Itu bukti kau sedang lari dari isi hatimu sendiri!

Tak peduli semulia apa kau coba bersikap, perasaanmu yang sesungguhnya… tak lain adalah apa yang aku dengar hari itu, di bawah lampu jalan!

Tidak, tidak, tidaaak…

beta tak mau tewas, beta tak mau tewas, beta tak mau tewas!

Tolong beta, tolong beta, tolong beta!

beta tak sudi hilang, tak sudi lenyap! Tidaaak!

Seorangpun, siapapun, siapapun jua…

Maaf…

“Oshinooooooooo!”

Aku…

Memandang ke arah langit, aku kemudian berteriak sekuat tenaga.

Dengan kapasitas paru-paru vampir, aku meneriakkannya sekuat tenaga.

“Oshino Meme!”

Dan… kupanggil nama orang itu.

Nama orang dengan kemeja aloha, yang berkesan sembrono dan kurang ajar.

Itu nama orang yang memahami segalanya semenjak awal tapi memilih untuk tak berkata apa-apa—dirinya dengan tak tahu malunya hanya tutup mulut dengan sebatang rokoknya yang tak menyala.

“Aku tahu kau sedang mengawasi dari suatu tempat—jangan berlagak dan cepat kemari! Brengsek, aku ada pekerjaan buatmu!”

Hanekawa memandangku dengan terkejut.

Kiss-Shot memandangku dengan terkejut.

Tapi aku tak memperhatikan pandangan mereka—aku terus berteriak.

“Oshino! Aku tahu kau di sini—dengan sudut pandang netralmu, enggak mungkin kamu enggak mengawasi tempat ini sekarang! Aku sudah paham semua ucapanmu! Aku enggak sedang mencari penjelasan lagi! Jadi ke sini! Aku sudah ngerti apa yang telah kulakukan. Aku sudah ngerti sepenuhnya soal apa yang kau bilang kalau aku di sini bukan korban, tapi pelaku! Jadi ayo ke sini… Oshino Meme!”

“…Aku bisa dengar kamu walau kau tak teriak-teriak begitu.”

Selalu dengan sikap yang ringan—Oshino kudapati tengah duduk di atap gudang peralatan olahraga.

Dia sedang duduk bersila, menyandarkan dagu di salah satu tangannya.

Terlihat teramat gusar.

Sudah berapa lama… atau mungkin memang dirinya tiba-tiba saja muncul di sana.

“…Oshino.”

“Hahhaa, semangat sekali kau Araragi—apa sesuatu yang baik terjadi?”

“Aku punya kerjaan buatmu.”

Aku mengulang.

Aku melotot ke arah Oshino—dan aku mengulanginya.

“Lakukan sesuatu.”

“Yakni?”

Dengan senyum masam, Oshino melompat turun dari atap gudang peralatan olahraga—dirinya memiliki postur tubuh yang membuatmu tak mengira kalau refleksnya sebenarnya bagus, tapi dirinya mendarat mulus, bahkan tanpa perlu membengkokkan lutut.

Dan kemudian dirinya dengan ceria mendekat ke arah kami.

“Permintaanmu terlalu tersamar.”

“Akan kubayar pakai uang.”

“Ini bukan masalah uang.”

“Jadi masalahnya apa?”

“Masalahnya masalahmu sendiri.”

Jangan seenaknya.

Oshino berkata seakan-akan dirinya menolak.

Kenyataannya, dirinya memang menolak.

“Yo, Nona KM.”

Dan kemudian Oshino mengangkat sebelah tangannya kepada Hanekawa.

“Senang bisa mengenalmu, kurasa.”

“…Iya.”

Hanekawa menjawab dengan anggukan kepala.

“Salam kenal. Saya Hanekawa.”

“Aku senang aku mampir ke kota ini buat jaga-jaga, walau urusan dengan Heart-Under-Blade sudah usai. Dengan begitu aku jadi berkesempatan buat bisa mengenalmu.”

“…Saya dari awal dapat kesan kalau Anda kurang suka padaku sih.”

“Tak mungkin. Tak mungkin aku bisa tak suka pada seorang gadis. Aku peringatkan ya, kalau kau dengar sesuatu yang aneh dari si Araragi, maka itu pasti kabar palsu.”

Dasar tak tahu malu.

Oshino memberikan sebuah kebohongan yang terang-terangan.

“Kenyataannya kau memang luar biasa. Walau kau tak punya kaitan apa-apa dengan kaii, kau sampai kena dampak sebegitu besarnya. Siswi SMA zaman sekarang memang bersemangat ya, memang ada hal baik terjadi ya?”

“Bukan berarti saya tak punya kaitan apa-apa dengan semua ini.” Hanekawa berkata dengan ketegasan. “Masalah Araragi berarti masalahku juga.”

“Wuaa, itu namanya persahabatan.”

Oshino melepas tawa terbahak-bahak.

Itu sikap menyebalkan disengaja yang jelas-jelas seakan mengejek orang.

“Ataukah itu karena semangat muda?”

“Bocah.” Kiss-Shot berkata pada Oshino. “Jangan turut campur. Kita sudah memiliki perjanjian.”

“Aku tak ingat pernah membuat perjanjian denganmu, Heart-Under-Blade—aku cuma ingin semuanya bisa berakhir dengan yang terbaik buat setiap orang. Hanya saja lebih baik untukku jika kau memilih mati agar Araragi bisa kembali jadi manusia. Untukku—dengan kata lain, untuk manusia.”

Oshino berkata.

Itu benar.

Tentunya itu juga benar untuk Guillotine Cutter juga.

Aku pikir aneh dirinya dengan mudah mau mengembalikan kedua lengan Kiss-Shot. Namun, bila aku tak salah ingat, Oshino berkata kalau dia sudah menjelaskan garis besar masalahnya pada Guillotine Cutter—Oshino memberitahunya bahwa aku berkeinginan untuk berubah kembali menjadi manusia, dan Kiss-Shot menerima keinginan itu.

Karena itu Guillotine Cutter mengembalikannya.

Oshino dengan begitu mewujudkan sebuah kompromi.

Dengan begitu Oshino membujuknya—dengan alasan tersebut, Guillotine Cutter sepakat.

Jika begitu kasusnya, sekalipun kedua lengan itu dikembalikan olehnya, dirinya tetap tak melanggar doktrin yang dianutnya sendiri.

Dia akan tetap bisa memiliki nama baik sebagai pendeta tinggi.

Dan lagi, karena aku telah berbicara panjang lebar dengan Kiss-Shot, lalu pergi ke minimarket, dengan penyesalan karena akan berpisah dengan Kiss-Shot—aku malah mengulur-ulur waktu. Tapi peduli berapa banyak waktu berlalu, aku belum berusaha membunuh Kiss-Shot.

Maka Guillotine Cutter mengira bahwa dirinya telah ditipu oleh Oshino. Kemudian dirinya memasuki puing-puing bangunan bimbel kami seorang diri.

Bahkan pelindung yang Oshino pasang tak lagi mampu menyembunyikan keberadaan Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh.

“Jadi, walau segala sesuatunya berjalan kurang lebih seperti yang kukira… Nona KM benar-benar melakukan sesuatu yang tak perlu. Akan lebih baik andai Araragi tetap sama sekali tak tahu apa-apa.”

“Saya…” Hanekawa berkata tanpa gentar sama sekali. “Saya rasa Anda salah.”

“Ya ampun. Dasar dadanya. Kalau cuma karena dada saja aku harus salut.”

“A-Apa?”

Hanekawa cepat-cepat menutupi dadanya

Goyang, goyang.

Oshino menatap Hanekawa.

“Ah, aku salah. Dasar nyalinya. Kalau cuma karena nyali saja aku harus salut.”

Dan tertawa.

Seakan itu mungkin saja.

Yang barusan tadi jelas-jelas pelecehan seksual.

“Bagaimanapun, pidato murid teladan memang mengagumkan ya? Yah, Nona KM, jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan terkait situasi ini?”

“…Itu sesuatu yang ditentukan oleh Araragi sendiri.” Demikian Hanekawa menjawab teguran Oshino. “Sebab jika tidak, mengakhiri semuanya tanpa mengetahui apa-apa itu terlalu kejam.”

“Kau dengar dia, Araragi. Aku lagi digalakin saat ini—kebaikan berlebih Nona KM memang beneran keji. Dia benar-benar abnormal. Bisa-bisanya dia menaruh kepercayaan sebegitu gedenya ke kamu.”

“… … …”

“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Oshino menghadap ke arahku.

Seperti biasa, di mulutnya tergigit sebatang rokok yang tak menyala.

“Aku cuma ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri kesudahan dari festival—kau telah berusaha sedemikian jauh, menggapai sedemikian dekat, tapi buat berjaga-jaga aku bakalan coba mendengar. Apa kerjaan yang kau punya buat spesialis sepertiku. Soal biaya, oya, itu bakal menggantikan pembebasan lima juta yen yang kukasih buatmu.”

Oshino berkata, dengan seringai lebar.

“Lalu, keinginamu?”

“…Aku ingin kau memberitahuku cara agar semua orang bahagia.”

Aku mengungkapkannya ke dalam kata-kata.

Sebuah harapan dari lubuk hatiku yang terdalam.

“Sebuah cara agar semua bisa berakhir tanpa ada seorangpun yang tak bahagia.”

“Memangnya bisa?”

Kamu tolol, apa? Oshino terang-terangan mengangkat bahu.

“Yang namanya kemudahan itu ada batasnya. Itu tema yang ditulis oleh anak-anak SD sekarang di mata pelajaran budi pekerti. Itu tak realistis.”

“Oshino, aku…”

“Tapi.”

Dia mengeluarkan rokok itu dari mulitnya, dan mengembalikannya ke dalam saku.

Oshino Meme kemudian menatap Hanekawa, Kiss-Shot, lalu aku secara bergantian… dan berkata:

“Ada satu cara untuk membuat semua orang menjadi tidak bahagia.”

Dengan cepat dia menjelaskannya pada kami yang kebingungan dengan kata-katanya.

“Dengan kata lain, aku bicara soal menyebarkan ke semua orang beban ketidakbahagiaan yang diakibatkan oleh situasi ini—tak ada seorangpun yang harapannya akan terkabul. Tapi kalau kau tak masalah dengan itu, cara seperti itu memang ada dan berlaku juga.”

“…. … …”

Semua orang akan menjadi tidak bahagia—semua akan dibebani dengan ketidakbahagiaan.

Menyebarkan.

Membagi—beban yang ada.

Ini jelas bukan sesuatu yang bisa dibebankan kepada hanya satu orang.

“Konkritnya… yah, Araragi, kau harus sampai benar-benar nyaris membunuh Heart-Under-Blade. Sampai semua karakteristik dan kemampuan istimewanya sebagai vampir nyaris hilang—tapi pastikan agar dia tak sampai mati. Buatlah Heart-Under-Blade lebih sekarat dari sebelumnya. Sedemikian sampai dirinya tak lagi punya bayangan dari sosoknya dahulu, atau bahkan hingga namanya pun tak bersisa. Jadikan dia keberadaan yang lebih rendah, pseudo-vampir serupa manusia—entitas yang takkan memakan manusia selapar apapun dirinya.”

Dan kemudian, Oshino melanjutkan.

“Araragi, kau takkan lagi bisa kembali jadi manusia—tapi kau tetap akan menjadi sesuatu yang sangat mendekatinya. Kau akan menjadi pseudo-manusia serupa vampir. Sejumlah karakteristik dan kemampuan vampir akan bersisa—tapi aku takkan bisa secara tegas menyebutmu sebagai manusia. Tapi kau akan teramat jauh dari sifat seorang vampir dan teramat dekat dengan sifat seorang manusia. Secara alami kau juga akan sangat berbeda dari para separuh vampir. Jadilah makhluk tak jelas macam ini. Ini akan cocok buatmu.”

“C-Cocok buatku, kau bilang?”

“Tentunya, kau juga takkan sanggup memakan manusia tak peduli selapar apapun kau. Tapi… dengan menyelesaikan segala sesuatunya begini, mengesampingkan Araragi, Heart-Under-Blade bisa kelaparan sampai mati bila tak secara teratur diberi gizi. Kau akan harus secara terus menerus memberi Heart-Under-Blade darahmu. Gizi satu-satunya yang dapat diberikan untuk mempertahankan hidup Heart-Under-Blade, begitu dirinya diubah menjadi keberadaan macam itu, hanyalah darah dagingmu sendiri. Kau akan harus mencurahkan sepanjang hidupmu untuk Heart-Under-Blade, dan Heart-Under-Blade akan harus melewatkan sisa hidupnya berada dekat denganmu.”

“Jadi…” Hanekawa memotong. “Dengan kata lain, kita, para manusia…”

“Ya. Lupakan soal pembasmian vampir yang berbahaya. Lupakan soal penghapusan menyeluruh dari sang Pemusnah Fenomena Ganjil, vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin, dan juga bawahannya. Jika ia kehilangan kekuatan sebanyak itu, orang-orang seperti Dramaturgie dan Episode pun takkan sanggup menemukan tempat keberadaan Heart-Under-Blade. Walau begitu, resikonya tetap ada. Ancaman berubahnya Heart-Under Blade dan Araragi kembali menjadi vampir dan memakan orang akan bertahan pada tingkatan yang tetap takkan bisa diabaikan…”

Jika aku melakukan itu…

Maka semua orang akan menjadi tidak bahagia…

Tak ada harapan siapapun yang menjadi kenyataan…

Kiss-Shot takkan sampai mati.

Aku takkan berubah kembali menjadi manusia.

Kedua orang vampir bisa sama-sama bertahan hidup.

“…Jangan bercanda, bocah!” Kiss-Shot berteriak di bawahku.

Dia meninggikan suaranya.

Aku sudah menghisap separuh darahnya—tak mampu bergerak, yang sanggup dilakukannya hanyalah berteriak dengan cara seperti itu.

“Memang apa yang dimengerti bocah yang belum hidup sepersepuluh usiaku?! Jangan bicara seolah itu hal gampang—beta tak sudi hidup dalam keadaan seperti itu! Mempermalukan ada batasnya—beta menolak hidup dengan menanggung malu seperti itu! Tempatku adalah untuk tewas di sini! Akhirnya beta menemukannya—akhirnya beta bisa wafat! Beta… akan mati untuk pelayan beta! Biarkan beta mati untuknya! Bunuh, ayo bunuhlah aku! Cepat bunuhlah aku! Aku tak mau lagi hiduup!”

“Itu alasan kenapa kau akan tak bahagia. Harapan dan keinginanmu takkan terkabul. Walau yang menentukan pada akhirnya tetap adalah Araragi. Ya, persis seperti yang Nona KM bilang.”

“Pelayan!”

Seakan Oshino tak layak bicara dengannya, Kiss-Shot mengalihkan pandangan matanya ke arahku.

“Seperti yang kubilang, jangan termakan omongan bocah itu! Beta sudah tak sudi lagi untuk hidup.”

“…Tapi, aku…”

Lalu tanpa keraguan, aku memutuskannya.

Ini jelas merupakan tanggung jawabku.

Aku berpikir keras tentang segala konsekuensinya… dan kemudian mengatakannya.

“Aku mau kau tetap hidup.”

“… …”

Aku…

…perlahan mengusap lembut rambutnya.

Rambutnya yang keemasan.

Rambutnya yang begitu lembut dan halus.

Itu… ya.

Itu jelas tanda kepatuhan.

“Aku enggak akan cuma mengatakan ini sekali. Aku akan bungkukkan kepala enggak peduli berapa kali pun. Jadi jangan coba mencari kematian yang keren—hiduplah walau repot buatku. Jangan cari lagi tempat buat mati. Carilah tempat buat hidup.”

Kiss-Shot… menampakkan ekspresi wajah yang penuh keputusasaan.

Namun dirinya tak mampu bergerak.

Dirinya bahkan tak mampu memberontak.

Dirinya berurai air mata…

Dengan air mata yang begitu mirip dengan darah, dirinya hanya bisa terus memohon.

“Beta… Beta mohon…. beta mohon, pelayanku. Dengan cara apapun… dengan cara bagaimanapun, bunuhlah beta. Bunuhlah beta, kembalilah jadi manusia. Tolonglah…”

“Maaf, Kiss-Shot.”

Aku menyebut namanya.

Nama yang mungkin takkan kugunakan untuk memanggilnya lagi.

“Aku takkan membantu.”

Maka demikianlah libur musim semiku berakhir.

Libur musim semi yang persis seperti neraka.

Dan juga libur musim semi terakhirku sebagai murid SMA—dengan akhir buruk tragis yang padanya tak ada kebahagiaan ataupun keselamatan, tirainya akhirnya tertutup.

Catatan:

kuchisake-onna: hantu perempuan Jepang yang punya ujung-ujung mulut tersayat.

Delapan Neraka Besar: maaf, aku kurang tahu istilah tepatnya; tapi ini sesuatu dari ajaran Buddha.

[kanji kedua dari ‘nyali’ adalah ‘(buah) dada’, jadi ini lagi-lagi lelucon soal salah tulis/baca]

018

Penutupnya…

Atau lebih tepatnya, kelanjutan cerita sesudah itu…

Keesokan harinya, sesudah waktu teramat lama aku dibangunkan dari atas kasur oleh kedua adik perempuanku, Karen dan Tsukihi, dan kemudian berangkat ke sekolah. Sang kakak lelaki akhirnya pulang ke rumah setelah sebuah perjalanan pencarian jati diri yang berlangsung selama dua minggu dan kedua orangtuanya sama sekali tak mengatakan apapun yang istimewa, sementara kedua adik hanya menanggapi dengan tertawa terbahak-bahak. Berhubung kenyataannya aku memang melakukan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan hanya bisa ditertawai, aku rasa aku hanya bisa setuju dengan mereka.

Bagaimanapun, mulai hari ini dimulailah tahun ajaran yang baru.

Aku menuju ke sekolah dengan naik sepeda. Sudah dua minggu berlalu semenjak terakhir kalinya aku naik sepeda. Aku rasa kau takkan mungkin bisa sampai lupa caranya naik sepeda hanya akibat merasakan sedikit neraka.

Kemudian begitu tibanya aku di sana…

…di gedung olahraga, pengelompokan kelas yang baru diumumkan.

“Ooh.”

Sebuah keajaiban terjadi. Namaku dan nama Hanekawa tercantum pada papan yang sama. Yah, keajaiban mungkin kata yang berlebihan untuk mengungkapkan itu, tapi aku memang sedikit senang. Itu sebuah emosi yang tak kurasakan pada pergantian kelas di tahun kedua. Aku tak tahu apa sifat asli dari emosi tersebut, tapi aku senang mulai kini kami duduk di kelas yang sama.

Di antara kerumunan siswa yang berlari untuk memeriksa kelas baru mereka, aku menemukan Hanekawa dan kemudian aku memanggilnya. Berhubung gambaran sosok murid teladan seperti dirinya terbilang langka, bahkan di sekolah seperti SMA Naoetsu, aku bisa menemukannya dengan mudah.

Dia telah mengubah gaya rambutnya.

Tepatnya, dia hanya memisahkan satu kepangnya menjadi dua bagian ke dua sisi, tapi dengan itu saja kesan yang dimilikinya berubah cukup banyak.

“Oh, Araragi… heei.”

Hanekawa memiliki tampilan lelah di wajahnya.

Bahunya turun, dan tampaknya dia lesu dan kecewa.

Tak pernah ada orang yang begitu murung akibat dimulainya tahun ajarab baru.

“A-Ada masalah, Hanekawa?”

Kenapa?

Apa mungkin dia tak senang karena kini kami di kelas yang sama?

Aku langsung diserang perasaan seakan aku hendak diadili, tapi kelihatannya masalahnya ternyata bukan itu.

“Ah.”

Hanekawa menarik lengan baju kemeja seragamku dan membawaku keluar gedung olahraga. Lalu seperti yang kukira, ia membawaku ke sebuah tempat di mana kami berdua bisa berbicara secara pribadi.

“Aku lupa mengambil bra-ku di gudang alat OR!”

Dia mengeluh.

“Ooh.”

“Kalau sekarang, pasti sudah ada orang yang menemukannya…”

Kami berusaha menyelesaikan pemberesan lapangan olahraga sebaik yang kami bisa, sebatas yang bisa dilakukan, tapi tak ada lagi yang bisa kami lakukan soal pintu besi gudang peralatan yang sudah diremas dan digumpakan seperti aluminuim foil oleh kekuatan mata vampir, jadi kami membiarkannya saja seperti itu dan pulang ke rumah. Aku lihat masih belum ada orang yang bergerak menuju arah lapangan olahraga, tapi pintunya sama sekali menghilang, jadi dilihat dari sudut manapun, pasti nanti akan ada keributan soalnya. Tentunya, wilayah di sekitar gudang juga akan diperiksa.

Nampaknya itu yang membuat Hanekawa tertekan.

“Walau keadaannya memang enggak memungkinkanku buat ngasih perhatian, buatku, ini bakal jadi kesalahan terbesar seumur hidup… sekaligus juga aib terbesar seumur hidup.”

“Tenang saja, Hanekawa.”

“…? Kenapa?”

“Aku sudah mengambilnya.”

“Apa kau bilang?!”

“Aku takkan biarkan dirimu menanggung rasa malu.”

“Dalam keadaan kayak semalam kamu masih sempat-sempatnya mengambil?!”

“Hei, jangan bicara semenyedihkan itu dong. Sejak libur musim dimulai, aku enggak pernah berpikir, sekalipun enggak, buat memberi prioritas terhadap apapun selain pakaian dalammu lho.”

“Jangan kasih aku alasan macam itu!”

“Dan karenanya, di kamarku, sekarang ada satu set, atas dan bawah.”

“Tolong kembalikan!”

Kami mengobrol.

Berhubung masih ada waktu sampai bel berbunyi, aku dan Hanekawa berbincang-bincang sedikit untuk mengisi waktu. Tentunya topiknya berhubungan dengan vampir. Hanekawa mengajarkanku sesuatu dari pengetahuan luas tentang vampir yang kini dimilikinya.

“Yah, ini hanya teori.” Hanekawa berpendapat. “Vampir menghisap darah manusia—namun implikasinya berbeda dari apakah mereka menghisapnya untuk makanan atau karena untuk menciptakan bawahan.”

“Iya. Aku agak lupa apa aku dengar langsung darinya atau dari Oshino, tapi kalau tak salah aku pernah dengar soal itu.”

“Makanan ya, makanan, tapi menciptakan bawahan sepertinya dipandang sebagai sesuatu yang mirip kegiatan seksual.”

“Ke-Kegiatan seksual?”

“Aku serius.” kata Hanekawa. “Ada yang bilang kalau nafsu makan dan nafsu seksual mirip satu sama lain. Di sisi lain, kalau kita mengikuti alur berpikir itu, bukannya jadi jelas mengapa seorang vampir tak mau membuat bawahan banyak-banyak? Dalam 500 tahun—dia hanya punya dua. Aku tak tahu soal bagaimana pandangan vampir terhadap kesucian, tapi dalam hal ini kupikir dia seorang perempuan yang punya kehormatan.”

“Kehormatan?”

“Aku merasa bawahannya yang pertama sebenarnya adalah kekasihnya.”

Aturan untuk tak menciptakan bawahan.

Itu penjelasan yang sebelumnya aku terima.

Vampir… yang memiliki kehormatan.

Sekalipun mereka di ambang maut, mereka tak terdorong untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dengan menciptakan bawahan baru… begitu bukan?

Jadi…

…dalam rangka apa seorang bawahan baru biasanya diciptakan?

Itulah pertanyaannya.

“…Tapi bukankah yang satu manusia dan satunya lagi vampir?”

“Makanya dia mengubahnya menjadi bawahannya, ‘kan? Keberadaan separuh vampir bisa jadi bukti adanya ‘hubungan-hubungan’ macam itu… walau kurasa situasinya agak berbeda dalam hal ini. Bagaimanapun, itu semua cuma sebatas dugaan. Tapi mungkin karena alasan ini dia mencoba memperbaiki apa yang diputuskannya pada waktu itu. Mungkin… sebagai semacam bentuk penebusan dosa.”

“Penebusan dosa…”

Dia tak sanggup mengubah bawahan pertamanya menjadi manusia kembali.

Karenanya, dia menambahkan bawahan kedua, aku, sesudah yang pertama.

Kemungkinan begitu.

“Dia tak sudi terbunuh oleh ketiga pembasmi vampir itu—jadi apa yang dimaksudkannya soal gimana dia akhirnya telah menemukan tempat untuk meninggal, mungkin, adalah kenyataan dia telah bertemu denganmu. Waktu dia bertemu… dengan bawahannya yang kedua.”

“Tempat untuk… meninggal, ya.”

“Kalau kita pikirkan, pada waktu dia kehilangan kekuatan vampirnya sesudah mengubahmu jadi bawahannya—pada waktu itu dia juga kehilangan kemampuannya untuk menghisap darah. Mungkin di waktu itu dirinya sudah bersiap untuk jadi kelaparan hingga mati. Berhubung bila vampir tak bisa menghisap darah, maka dirinya akan mati.”

“Ya… itu benar.”

“Tapi untuk mengubahmu kembali menjadi manusia, dia tak bisa membiarkan dirinya kelaparan sampai mati.”

“…. … Malam kemarin, di awal dia mengajakku untuk hidup bersamanya untuk selama-lamanya… aku tak punya bayangan soal apa kira-kira yang akan dilakukannya seandainya aku mengiyakan ajakannya itu.”

“Yah, bukannya persis itu yang bakal terjadi?”

“Persis ya.”

“Walau tak ada seorangpun yang bisa hidup sendiri, ada dua orang yang bisa.”

“… … …”

“Dua orang lebih baik daripada satu, hanya kalian berdua lebih baik daripada bertiga… mungkin begitu. Sesuatu semacam itu.”

Apa ya kira-kira, kata Hanekawa.

Entah ya, jawabku.

“Bekas luka.”

“Hm?”

“Ada bekas luka yang tertinggal.”

Hanekawa berkata sembari mengamati leherku.

Di belakang leher, tertera bekas sepasang taring.

“Apa? Jadi kerahnya masih belum menutupinya ya?”

“Hmm. Mungkin aku menyadarinya karena sebelumnya memang sudah tahu tentangnya.”

Melipat lengannya, Hanekawa memeriksa bekas luka itu dari berbagai sudut.

“Tapi lagipula, ada juga jam-jam pelajaran olahraga ‘kan? Araragi, mungkin lebih baik jika rambutmu kau panjangkan sedikit lagi.”

“Begitu ya… aah, perawatannya bakal repot.”

“Jadi di akhir, ada berapa bagian vampir yang tertinggal di tubuhmu?”

“Mungkin masih harus diuji, tapi… kelihatannya, kemampuan tubuhku buat sembuh dari luka lebih meningkat. Lalu rasanya kalau aku gosok gigi, aku semakin susah mengalami gusi berdarah.”

“Waah, contohnya rendah hati sekali…”

“Yah, pokoknya semacam itu. Memandangnya secara positif, pada akhirnya aku memang berhasil kembali berubah jadi manusia, tapi dengan satu-dua efek samping… Mungkin begitu, kalau aku boleh ngomong.”

“Hmmm… efek samping ya?”

“Yah, apakah aku sekarang ini benar-benar manusia atau bukan—cuma dengan bisa berada di bawah matahari seperti ini, aku merasa seperti dunia telah berubah jauh.”

“Kau optimis.”

Hanekawa bersikap malu-malu.

Bahkan wajah tersenyum Hanekawa… seperti yang kuduga, bila dilihat di bawah cahaya matahari, terlihat menyilaukan sepanjang waktu.

“Yah, kalau ada sesuatu lagi yang membuat kau risau, katakan saja ya. Nanti kau kuizinkan memijat bahuku sebanyak yang kau mau.”

“Baiklah. Nanti begitu aku ingin memijatnya, aku akan bilang. Demi bisa membuat Hanekawa merasa nyaman, aku sudah meneliti bermacam hal sebelumnya, dan akan kusiapkan hatiku juga, dan jadi pada kesempatan berikutnya, aku pasti akan berhasil memijatnya.”

“… Ka-Kau lagi bicara soal bahuku, ‘kan?”

“Hm? Eh, ah… ya.”

“Itu jawaban yang ambigu.”

Hanekawa tersenyum pahit.

Bagaimanapun…

Hanekawa menawarkan tangan kanannya padaku dan berkata.

“Akhirnya aku bisa sekelas denganmu, Araragi. Aku mesti ambil kesempatan ini untuk merahibilitasimu dengan benar.”

“Merahibilitasi? Maksudnya?”

“Merahibilitasi? Cara menulisnya sama seperti ‘membangkitkan’.”

Bukannya kata itu jadi cocok buat Araragi yang abadi?

Demikian Hanekawa berucap.

“Tolong bantuannya untuk setahun ke depan ya, Araragi.”

“Ya. Termasuk buat setahun, tolong urus aku buat seterusnya juga.”

Walau pastinya seterusnya itu akan lebih pendek dari selamanya.

Tapi, tetap saja, tolong urus aku buat seterusnya juga.

Aku menjabat tangan Hanekawa.

Itu pastinya sebuah jabatan antar sesama sahabat.

Dan kemudian kami masuk ruang kelas, dan menerima dari wali kelas kami gambaran umum tentang materi pelajaran di sepanjang tahun ajaran baru, dan sepanjang caturwulan baru… yah, itu hal biasa yang diadakan setiap tahun. Lalu besok kami akan memilih pasangan ketua kelas, jadi aku disuruh untuk mempertimbangkan siapa calon yang kira-kira sesuai. Tentu saja aku memilih Hanekawa—sedangkan untuk laki-lakinya, aku tak peduli.

Dan kemudian, pulang sekolah…

Aku pergi ke reruntuhan gedung bimbingan belajar itu sendiri.

Aku berangkat setelah memberitahu Hanekawa. Aku bahkan terpikir untuk pergi berdua bersamanya. Tapi ini tanggung jawabku, dan tanggung jawabku seorang.

Dua puluh menit dengan menggunakan sepeda—dan akhirnya aku tiba di tempat tersebut.

Aku sudah menganggap tempat ini tidak seperti milik orang lain tapi nyaris seperti rumahku sendiri. Aku lewati lubang di pagar kawatnya dan memasuki halaman dalamnya. Tapi, kalau aku memikirkannya sekarang, aku bisa bilang ini kali pertama aku mengamati bangunan ini baik-baik pada waktu siang.

Kalau aku memandangnya di bawah cahaya matahari—keadaannya lebih bobrok dari yang kusangka.

Keadaannya sudah busuk dan rusak.

Keadaannya seolah bangunannya sendiri tengah sekarat.

Bila dilihat dengan mata manusia, kesan itulah yang tampak.

Aku menurunkan pandanganku dan memasuki bangunan terbengkalai itu—kemudian kutapaki anak-anak tangga menuju ke atas.

Lantai kedua—aku melewatinya.

Tempat yang kutuju adalah lantai keempat.

Dia tak lemah lagi terhadap sinar matahari.

Karena dia bukan lagi seorang vampir.

Aku memeriksa ruangan yang langit-langitnya berlubang, tapi tak ada siapa-siapa di dalamnya. Aku membuka pintu ke ruang kelas berikutnya—kelihatannya bahkan pintu itu pun kini rusak—dan kudapati Oshino ada di dalam.

“Yo. Kau lambat, Araragi—aku sudah menunggu dari tadi.”

Oshino menyapaku dengan nada ceria.

Seperti biasa, dirinya mengenakan kemeja aloha.

Dengan berbaring di dipan yang dibuatnya menggunakan meja, dilihat seperti apapun, dia jelas tak sedang menungguku. Tapi kalau aku balas menanggapi setiap hal kecil yang dikatakannya pun kurasa takkan ada gunanya.

“Hahhaa. Baju seragam itu cocok buatmu, Araragi. Kau jadi terlihat sangat berbeda.”

“Begini-begini juga, aku tetap anak sekolahan tahu.”

“Ah, bener juga. Aku dengan cerobohnya lupa. Kau memang sempat jadi tokoh utama Gakuen Inou Batoru.”

“Aku tak tahu lagi apa hal seperti ini benar-benar terjadi. Itu benar-benar sesuatu dari masa lampau.”

Dan lagian, bukan karakterku buat jadi karakter utama.

Aku juga tak cocok menjadi penjahat, apalagi monster.

Saat ini aku cuma anak sekolahan biasa.

Sebagaimana aku tampak… sebagaimana aku terlihat, seorang anak sekolahan.

Walau meski sedikit aku bisa punya kekuatan super.

“Begitu ya. Nona KM hari ini tak bersamamu ‘kan?”

“Ya. Aku sendirian. Atau emang lebih baik kalau aku datang berdua?”

“Faktanya, kalau dalam kasus ini sih, itu takkan ada bedanya.”

Walau, Oshino melanjutkan.

“Kalau aku boleh bicara karena aku peduli, sebaiknya kau sangat berhati-hati soal si Nona KM. Araragi… jangan sekalipun lepasin pengawasanmu darinya. Gadis itu agak terlalu… berbahaya. Kali ini, kita semua… termasuk kamu dan aku, sama-sama dijadiin mainan olehnya. Seandainya gadis itu kelak menjadi pusat sebuah masalah, jujur saja, bahkan aku pun enggak punya bayangan soal apa yang bakalan terjadi.”

“Yah, kau enggak usah katain lagi.” Aku menjawab. “…Sebab dia temanku.”

“Begitu ya. Yah, ini tak begitu berarti sebagai layanan purnajual, tapi aku jadi kuatir soal apa yang bakalan terjadi padamu, jadi buat sementara aku putuskan buat tinggal di gedung ini buat beberapa lama—aku sudah mencari sekeliling, tapi pada akhirnya bekas gedung bimbel ini jadi tempat paling enak buat ngelewatin waktu. Kalau ada apa-apa yang terjadi, konsultasikan saja padaku.”

“Konsultasi padamu biayanya mahal.”

“Bukan biayanya mahal. Tapi kompensasinya sewajarnya.”

Ia berkata.

Oshino kemudian menunjuk ke sudut ruang kelas dengan rokoknya yang tak menyala.

“Baiklah, ayo kita lakukan buat yang pertama kali.”

Di salah satu sudut ruang kelas…

…Ada seorang gadis pirang.

Dia duduk sembari memeluk lututnya.

Dirinya terlihat berusia delapan tahun—seorang gadis yang benar-benar kecil.

Bukan berusia 27 tahun.

Bukan berusia 17 tahun, bukan berusia 12 tahun, bukan berusia 10 tahun—melainkan gadis kecil pirang berusia delapan tahun.

Dengan raut wajah resah—dirinya memandang ke arahku.

“…Aku…”

Sebaiknya aku menyebut dia bagaimana?

Dia bahkan bukan bayangan dari jati dirinya yang sebelumnya, dirinya bahkan tak memiliki nama.

Semacam puing-puing dari segala yang dulu membentuk wujudnya.

Apa yang masih tersisa dari sesosok iblis cantik.

Dan…

Bagiku, sebuah keberadaan yang takkan sanggup kulupakan.

“Aku… benar-benar minta maaf.”

Aku mendekat padanya.

Kemudian aku rendahkan pergelanganku untuk menyamai tinggi badan si gadis yang sedang duduk, dan aku mendekapnya.

“Kalau kau mau membunuhku, silakan bunuh aku kapan saja.”

Dirinya tak mengatakan apa-apa.

Dirinya tak sudi berbicara denganku lagi.

Lalu seakan kesal, dirinya juga menunjukkan sedikit keengganan—tapi segera ia menjadi penurut, dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia mengigit leherku.

Ada sedikit rasa sakit.

Dan kemudian kurasakan semacam euforia yang menyebar ke sekujur tubuhku.

“Aku masih tak merasa kalau itu hal yang benar lho.” Oshino berkata dari belakangku dengan nada suara biasa. “Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai sifat egois manusia. Rasa jijik yang kau rasakan terhadap si vampir yang memakan manusia bisa dibilang sama dengan keterasingan yang kau rasa sehabis lihat kucing kesayanganmu memangsa tikus. Dan kau lalu memilih untuk mempertahankan si vampir seakan-akan dia binatang peliharaanmu. Untuk menyingkirkan taringnya, menumpulkan kuku-kukunya, merusak pita suaranya, sekalian mengebirinya, ‘kan? Kau, yang sebelumnya diperlakukan sebagai peliharaan, kini balik memperlakukan tuanmu sebagai peliharaan. Itu persis yang sedang terjadi sekarang. Kalau kau memikirkannya… ini sama sekali bukan cerita bagus.”

“… … … …”

“Si manusia yang hendak membuang nyawanya buat si vampir, dan si vampir yang mau membuang nyawanya buat si manusia. Itu ibarat kau cuci darah pakai darah—tapi yang namanya darah pasti membekas. Berhubung ini kerjaan, aku tak bermaksud buat ikut campur atau bagaimana, tapi… berhubung aku punya peran di dalamnya, kalau kau suatu saat merasa lelah atau jijik atau gimana dengan urusan ini, kasih tahu saja Araragi.”

“Aku tak akan pernah merasa jijik.”

Aku menjawab, sembari si gadis menghisap darahku.

“Karena aku melakukan sesuatu yang memang kusukai.”

“Kalau suatu saat kau suka, kalau begitu?”

Demikian balasan tak nyambung yang Oshino berikan.

Sementara aku memunggunginya, aku… mendekap ringan tubuh kecil dan tak berdaya gadis yang dengan segala tenaganya masih tetap bisa remuk dengan kekuatan fisik seorang manusia.

Kami, yang telah melukai satu sama lain, kini saling menjilat luka satu sama lain.

Kami, yang telah sama-sama menjadi barang rusak, kini saling memerlukan satu sama lain.

“Kalau besok kau mati, maka hidupku juga bakal hanya sampai besok—jika hari ini kau hidup, maka aku juga, akan hidup buat hari ini.”

Maka aku bersumpah dengan suara keras.

Dan dimulailah cerita tentang barang-barang rusak ini.

Merah saat basah dan hitam begitu kering, ini sebuah kisah tentang darah.

Kisah tentang bekas luka berharga yang untuk selamanya takkan pernah pulih…

Aku tak akan pernah menceritakannya kepada siapa-siapa.

Catatan:

‘Merehabilitasi’ tertulis mirip dengan ‘membangkitkan’; lalu dalam bahasa Jepang, ‘abadi’ memiliki makna yang agak sama dengan undead (mati tapi hidup), jadi permainan katanya adalah bagaimana Hanekawa mulai saat itu akan ‘membangkitkan/merehabilitasi’ Araragi yang sempat ‘mati’.

Adegan percakapan terakhir antara Araragi dan Hanekawa, ada beberapa hal yang jadi agak lost-in-translation bagi beberapa orang. Mudah-mudahan semuanya berhasil kumasukin.

Sekedar catatan, kata ‘kizumono’ yang ada judulnya katanya tidak hanya berarti ‘barang rusak’ atau ‘bekas luka’, melainkan juga mengacu pada seorang perempuan yang telah kehilangan… err, kesuciannya. Secara kompleks sepertinya ini mengacu kepada bagaimana Kiss-Shot berperilaku. Tapi aku juga enggak sepenuhnya paham soal ini.

Fin

15/12/2012

Kizumonogatari – IND (016)

Waktu aku beres nerjemahin bagian ini, aku ngerasa kayak telah ngelewatin sebuah garis finis.

016

Pada waktu seperti sekarang, aku benar-benar tak punya tempat lain untuk bisa pergi—pulang ke rumah, jelas saja, merupakan pilihan yang tak mungkin. Di sisi lain, kalau aku berasumsi ada bangunan terbengkalai lain seperti puing-puing bimbel itu, aku tak lagi punya cukup semangat untuk pergi mencarinya.

Aku dikejar waktu.

Fajar semakin dekat bersama setiap jam—dengan segera aku dapati diriku tersudut.

Lalu pada akhirnya…

Aku menusukkan tak satu tangan, melainkan keduanya ke dalam otakku, mengutak-atik isinya hanya karena aku merasa perlu, berpikir demi bisa berpikir—lalu kemudian kupilih tempat berteduh sementara di gudang peralatan olahraga di SMA Naoetsu.

Tempat berteduh sementara—maksudnya benar-benar untuk berteduh sementara.

Namun, gudang peralatan olahraga yang tak berjendela ini ditutup dengan pintu baja yang tampaknya cocok untuk melindungi aku, seorang vampir, di waktu siang hari. Aku memilih tempat tersebut dalam keputusasaan, dan aku takkan bilang kalau tempat ini pilihan yang buruk. Pada hari aku bertarung dengan Dramaturgie, aku pantang menyerah dan berhasil memperbaiki pintu baja ini dengan menggunakan tenaga semata. Sekarang, kupikir aku benar-benar bersyukur karena telah memperbaikinya—tunggu, aku malah tidak berpikir.

Keadaanku sekarang terlampau susah kusyukuri.

Semua pemahamanku salah sama sekali.

“W… wwwwwwWwwwWwWwwwww…”

Gigiku tak bisa berhenti bergemertak.

Badanku tak bisa berhenti menggigil.

Kenapa…

Kenapa…

Kenapa aku tak menyadarinya?

…Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade adalah vampir.

Vampir.

Lemah terhadap sinar matahari.

Tidak menyukai salib.

Tidak menyukai peluru perak. Tidak menyukai air suci. Tidak menyukai bawang putih.

Tidak menyukai racun.

Akan mati bila ada pasak dipaksa menembus jantungnya.

Tak memiliki bayangan, tidak memiliki pantulan di cermin.

Taring.

Tubuh yang abadi. Kekuatan pemulihan diri yang nyaris tanpa batas.

Mata yang dapat melihat dengan baik di malam hari.

Kemampuan perubahan wujud.

Kekuatan penyembuhan di dalam darah.

Dan… dirinya memakan manusia.

“wwWWWW… Waaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Aku berteriak, berteriak, dan berteriak.

Tapi yang kurasakan hanya buncahan penyesalan yang terus membesar.

Aku tusukkan tanganku kembali ke kepala, aku kembali mengutak-atik otakku—di mana aku salah, dengan cara apa aku salah, bagaimana bisa semuanya malah menjadi begini—secara berulang aku tak dapat berhenti memikirkannya.

Tapi…

Pastinya di satu titik aku telah salah…

“Wwww… wwwwwwwwww.”

Bagi vampir, manusia adalah makanan.

Untuk makhluk-makhluk yang derajatnya lebih tinggi seperti mereka, makhluk-makhluk derajat rendah seperti manusia, dalam piramida makanan, berada pada tingkatan lebih bawah.

Itu kan…

Itu sesuatu yang semestinya telah kupahami sejak awal ‘kan?

Tapi kenyataannya… dia sempat mencoba membunuhku ‘kan?

Dia mencoba memakanku ‘kan?

Dia mencoba meminum darahku ‘kan?

Seperti aku manusia yang tak berharga.

Sejak awal, bahkan aku pun…

…aslinya, tak lebih dari makanan baginya.

Sekalipun dia mengajakku untuk mengobrol.

Sekalipun aku dengan seenaknya berpikir bahwa kini kami telah memiliki hubungan.

Pada akhirnya, tetap sama—aku tetap saja makanan.

“.. … …”

Bagi Kiss-Shot, manusia manapun…

Manusia manapun sama saja.

Oke, dirinya memiliki pandangan tinggi terhadap kemampuan Oshino.

Tapi kemampuannya juga hanya sebatas ini.

Atau mungkin sekarang ini aku sedang membahas sesuatu yang tak terlalu kupahami juga—begitu aku bahkan berpikir, tapi tetap saja, manusia adalah manusia.

Makanan adalah makanan.

Bahkan Oshino memahami hal itu.

Buktinya—begitu Kiss-Shot kembali utuh dan memperoleh kembali kekuatan vampirnya—dirinya meninggalkan tempat itu.

Lalu…

Kalau aku coba mengingat secara baik—Kiss-Shot hampir tak berbicara dengan Hanekawa. Kiss-Shot bahkan seakan tak menyadari kalau dia ada—jauh malah.

Itu dia.

Bagi Kiss-Shot, Hanekawa tak lebih dari sekedar makanan.

Hanekawa tak diperlakukannya sebagai temanku.

Hanekawa sedang diperlakukannya sebagai ‘makanan jalan’ punyaku.

Makanan jalan buatku, seorang vampir.

Atau mungkin, seandainya Kiss-Shot bertemu dengan Hanekawa sesudah Kiss-Shot memperoleh kemampuan menghisap darahnya kembali, Hanekawa malah akan menjadi korban pertama dari kemampuannya… kurasa.

Seperti Guillotine Cutter.

Hanekawa bakal bisa dicacah sampai potongan-potongan kecil dan kemudian dimakan.

“Mereka bilang kalau rasa tubuh pendeta tidak enak… tapi kenyataannya dia boleh juga. Beta tak pernah merasa punya kesukaan atau ketidaksukaan khusus, tapi ‘penyedap rasa terbaik adalah lapar’ adalah pepatah yang teramat benar.”

“Jangan…”

Kepada wanita yang secara menggairahkan menggunakan lidahnya untuk membersihkan mulut dari darah dan daging yang menempel padanya—berusaha memanggil keduanya—aku mencoba berkata.

Keberanianku…

…sekaligus rasa takutku.

Berusaha memanggil keduanya, aku berkata:

“…J-Jangan… makan manusia.”

“Hm?”

Kelihatannya dia benar-benar tak mengerti.

Kiss-Shot memiringkan kepalanya jauh-jauh ke sisi.

“Tapi Pelayan, jika beta tak memakan manusia, beta akan tewas.”

Benar.

Dia benar.

Itu alasan yang luar biasa sederhana untuk dimengerti.

Bahkan untuk kesederhanaan pun ada batasnya.

Dan untuk alasan satu itu, Kiss-Shot sama sekali tak mempunyai masalah—dirinya bahkan takkan mencoba memperdebatkan rinciannya denganku, bekas manusia yang ingin kembali menjadi manusia sesudah ini.

Kiss-Shot memandangnya seperti pengetahuan umum.

Bahkan bagi dirinya ini memang pengetahuan umum.

Untuk waktu yang teramat lama—Kiss-Shot telah memakan mereka.

Dirinya telah memakan manusia.

Secara berkelanjutan, dirinya telah terus memakan mereka.

Vampir.

Bawahan yang pertama—lalu bawahannya yang kedua.

Hidup sepanjang 500 tahun, semestinya orang yang pernah darahnya pernah dihisap olehnya bukan hanya kami berdua—tapi dengan pengecualian kami berdua, sisa orang yang pernah menjadi korbannya pastinya telah dicincang sampai kecil dan kemudian dimakan tanpa menyisakan tulang dan daging, persis seperti itu.

Itulah cara pemenuhan gizinya pada saat dirinya tak menciptakan bawahan.

Dalam cerita-cerita yang banyak tersebar…

Tatkala seorang vampir mengisap darah, orang-orang yang diisap darahnya akan berubah menjadi vampir tanpa kecuali—kelihatannya, cerita-cerita itu tak sepenuhnya salah. Sesudah pengisapan darah, jika tak diatasi, maka semua korbannya akan menjadi vampir.

Bahkan jika darah yang diisapnya hanya setitik saja.

Seseorang yang menjadi korban akan selalu—berubah menjadi vampir.

Dan cara  mengatasi hal tersebut—adalah dengan menghabiskan tubuh sang manusia korban tanpa menyisakan sedikitpun daging. Dengan itu, vampir bersangkutan akan memperoleh nutrisi lebih besar—dan mayat orang yang telah diisap darahnya akan dicegah dari berubah menjadi vampir.

Prosesnya berlangsung terus seperti itu.

Karena aku hanya sampai dihisap darah saja—aku berubah menjadi vampir.

Lalu Guillotine Cutter…

Mengingat dia makanan… dagingnya dihabiskan sampai tak bersisa.

Tapi tak hanya Guillotine Cutter seorang, dalam 500 tahun terakhir, Kiss-Shot secara berkelanjutan telah melakukan ini.

Ini suatu hal yang alami.

Karena memikirkannya saja dirasa tak perlu—tanpa menyadarinya, tanpa pernah mau menyadarinya, aku secara terang-terangan telah menutup mataku dari kenyataan ini.

Tak salah lagi.

Sejak awal aku memang tak mengerti apa-apa.

Bahkan tatkala aku pertama bertemu dengannya di awal, bahkan pada saat dirinya berada di ambang kematian, kenapa bisa aku sampai mau menolong Kiss-Shot yang sekarang—aku tak memahami apapun semenjak awal.

Mengapa dirinya tak sanggup memperoleh pertolongan.

Rasanya aku benar-benar tak paham.

Kenapa manusia yang bisa dimakan—bisa sampai menolong sang vampir.

Sang pemangsa dan yang dimangsa.

Padahal hubungan sebenarnya yang kami punya sama sekali tak lebih dari itu.

“W-wwwww… waaaa.”

Guillotine Cutter.

Dia memang pria yang keji.

Dia pria yang penuh yang perhitungan dan licik, seseorang yang menjadi aib umat manusia.

Tapi…

Dia bukan orang yang sampai pantas dibunuh.

Walau Hanekawa sampai diberi pengalaman buruk olehnya—di akhir, semuanya memang salahku.

Karena aku seorang vampir.

Guillotine Cutter…

Untuk alasan apapun, untuk cara apapun yang dipakainya, apa yang ingin dilakukannya hanyalah membasmi sang monster.

“Enggak… aku enggak mau mikirin ini lagi… enggak! Aku enggak mau berpikir! Aku enggak mau berpikir lagi!”

Dengan cepat kucabut tanganku dari dalam otakku—kemudian serta merta kepalaku kupegang.

“Aaaaa.”

Tapi, tetap saja otakku tak berhenti berpikir.

Bukan hanya Guillotine Cutter.

Dramaturgie. Episode.

Bahkan mereka, yang telah kembali ke tempat asal mereka masing-masing, bermaksud membasmi vampir—lalu yang mencegah mereka dari melakukan itu tak lain adalah aku.

Bagaimanapun juga.

Aku mengambilnya dari mereka—tungkai-tungkai yang telah dengan susah payah mereka peroleh dari Kiss-Shot. Lalu, sesudah semua ini, aku bahkan membiarkan vampir legendaris itu kembali ke wujudnya yang asli.

Aku bahkan belum memperhitungkan soal nasib Guillotine Cutter di sini.

Jika semenjak sekarang ada manusia lain yang dimakan Kiss-Shot—pada saat dirinya makan lagi, maka tak lain itu akan menjadi tanggung jawabku.

Jika Hanekawa dimakan.

Jika kedua adikku dimakan.

Jika kedua orangtuaku dimakan.

Itu semuanya… tak lain akan menjadi salahku.

Semua semata-mata karena aku menyelamatkannya.

Bukan hanya dengan tungkai-tungkai atau jantungnya saja.

Sejak awal, pada hari paling pertama, pada waktu itu…

Di bawah lampu jalan itu, seandainya aku tak menolong Kiss-Shot… andai aku biarkan saja dia, maka ceritanya pasti sudah akan berakhir pada saat itu juga.

Tapi pada waktu itu, aku tidak mengabaikan Kiss-Shot—dan aku kurang lebih bisa mengerti mengapa itu bisa terjadi, itu semata-mata kelemahan dari hatiku sendiri.

Ini berbeda dari ‘kekuatan’ yang dimiliki Hanekawa.

Kelemahan macam ini tak ada kemiripannya sama sekali dengan kebaikan hati Hanekawa yang bahkan bisa membuat Oshino resah, dan bahkan membuatku berpikir kalau dirinya pun menakutkan.

Itu semua semata demi kepuasan diri, bukan pengorbanan diri.

Karena seseorang bisa menjalani hidup tanpa berpikir panjang—itu tak berarti dirinya pun bisa mati tanpa berpikir panjang.

Aku dimakan oleh seekor vampir dan kemudian tewas dengan cara itu.

Apa aku sempat berpikir tentang bagaimana perasaan adik-adikku seandainya mendengar ini?

Apa aku sempat berpikir apakah mereka akan menangis?

“…Uooorgh.”

Entah bagaimana aku berhasil menahan rasa mual yang tiba-tiba bangkit.

Aku bahkan berhasil menghalau keluarnya air mata.

Aku bertahan, karena jika bendungan air mataku itu sampai bocor aku pun tak tahu apa yang bisa sampai terjadi—aku takut aku bisa kehilangan kendali atas diriku sendiri.

Untuk sekarang…

Aku perlu mempertahankan sedikit kendali diri yang masih kumiliki sekarang.

Dengan Kiss-Shot, situasinya berubah menjadi pertengkaran, suatu adu kata yang di dalamnya aku tak paham lagi apa yang sedang kukatakan—pada akhirnya aku dengan tergesa keluar bangunan bimbel tanpa tahu harus pergi ke mana lagi.

Dan akhirnya aku sampai di gudang peralatan olahraga ini.

Satu-satunya tempat gelap yang aku punya dalam ingatanku.

Di luar, matahari pasti telah terbit—walau liburan, orang-orang dengan kegiatan klub mungkin masih akan tetap datang ke sekolah, tapi untungnya hari ini adalah hari liburan terakhir. Segala kegiatan klub ekskul pasti dihentikan untuk hari ini.

Aku tak perlu khawatir adanya anggota salah satu klub olahraga yang tiba-tiba membuka pintu gudang ini.

Tapi tentu saja, buat berjaga-jaga, aku membangun benteng penghalang dari dalam.

“Ini salahku.”

Pikiranku…

…Terucap dari dari sudut mulutku, bahkan tanpa aku sadari.

“Ini salahku jika sesudah semua ini, ada orang-orang… yang terus dimakan.”

Oleh vampir satu itu… yang tak bisa dihentikan oleh siapapun.

Oleh vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Oleh Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade!”

“Ini semua salahku… salahku! Salahku!”

Kalau aku memikirkannya…

Oshino pasti sudah menduga perkembangan ini akan terjadi.

Semenjak awal, dia bilang bahwa semuanya adalah tentang keseimbangan, tapi pada saat dia mencuri jantung Kiss-Shot di awal, dia pasti tak menerima permintaan dari siapapun—karena tiga orang pembasmi vampir itu baru ditemuinya kemudian.

Kalau begitu, yang dilakukannya waktu itu murni atas keputusannya sendiri.

Sebuah tindakan yang berlainan dari pekerjaannya yang biasa.

Sebuah perantaraan antara kita dan mereka.

Itu kalau kubilang… keputusannya untuk mencuri jantung Kiss-Shot adalah tindakan yang dilakukannya dari sisi manusia.

Oshino tak sampai melakukan pembasmian terhadapnya.

Karena doktrin yang Oshino pegang semata adalah untuk mendatangkan ‘keseimbangan’.

Seorang oportunis—aku ingat Kiss-Shot mengatai Oshino demikian.

Lalu keseimbangan yang telah dengan susah payah Oshino datangkan—malah aku hancurkan.

Jika Kiss-Shot menciptakan seorang bawahan adalah kenyataan tak terduga, adalah kenyataan tak terduga pula adanya manusia yang bersedia menolong Kiss-Shot yang tengah sekarang.

Itu gagasan konyol dariku, tindakan konyol yang kulakukan.

Tak ada seorangpun yang sampai menyangka.

Aku menggagalkan usaha keras tiga pembasmi itu.

Aku bahkan mengembalikan jantung yang telah Oshino curi.

Aku yang pada akhirnya membuat semua ini jadi rumit ‘kan?

Seakan-akan ada seseorang yang memang telah merencanakan semua ini ‘kan?

Hal-hal konyol apa yang kukatakan? Orang yang merencanakan, yang menyebabkan semua ini terjadi, pada akhirnya adalah aku sendiri. Keadaan semua ini, dalam segala aspek, secara utuh dan menyeluruh—sepenuhnya adalah salahku.

Tindakanku yang gegabah.

Ini bayaran yang mesti kutanggung akibat kelemahan hatiku untuk tak mau mengabaikan seorang vampir yang tengah sekarat.

Guillotine Cutter tewas.

Dia tewas, dimakan.

Kepalanya dikunyah, otaknya dimakan bersama tengkoraknya—kini, tak mungkin dirinya bisa pulih kembali. Bahkan dengan menggunakan darah vampir—tak mungkin dia akan bisa pulih lagi.

Dia sudah mati.

Kematian.

Tak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya.

“Kenapa semua ini…”

Dan Guillotine Cutter bukanlah akhir, melainkan awal. Bagi sang vampir, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, ini tak lain hanyalah sebuah awal yang baru.

Mulai sekarang, dirinya, secara rutin akan memerlukan waktu-waktu makan ini.

Rutinitas itu merusak.

Rasanya, aku pernah mendengar seseorang mengatakan sesuatu seperti itu.

Kini, aku takkan bisa menghentikannya lagi—titik penting dari segitiga itu, Guillotine Cutter, telah dimakan, apalagi sejak awal ketiganya bersama bukanlah tandingan baginya.

Dramaturgie juga.

Episode juga.

Tak peduli apakah itu untuk tugas atau dorongan pribadi, mereka takkan bertarung dengan Kiss-Shot sesudah dirinya memperoleh kembali wujudnya yang asli—berpikir demikian, aku mulai terkesan oleh besarnya kekuatan keyakinan Guillotine Cutter yang pergi menghadapinya sendirian.

Dia bukanlah pria yang pantasi dikagumi.

Tapi tetap saja, yang diperlihatkannya adalah kekuatan seorang manusia.

Sekalipun ditentang—dirinya tak gentar.

Orang yang gentar—tak lain adalah aku.

Oshino Meme—Oshino yang berhasil mencuri jantung dari Kiss-Shot tanpa disadari, mungkin bisa menghentikan Kiss-Shot, tapi mungkin juga tidak.

Keseimbangan telah dikacaukan.

Permainan telah berakhir.

Timbangan, juga, telah miring ke satu arah.

Umat manusia telah kalah.

Mereka telah kalah… oleh Kiss-Shot.

Dan juga, pada titik ini, muka macam apa yang bisa kutunjukkan? Tolong hentikan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Tak mungkin aku bisa mengatakan itu.

Sekalipun mulutku dibelah, tak mungkin aku akan bisa mengucapkan itu.

“…Aku tak tahan lagi.”

Liburan musim semi kali ini…

Aku tak pernah berpikir kalau semua yang terjadi selama liburan musim semi ini salah. Aku mengalami banyak kendala, tapi memandang lagi ke belakang, aku tak benar-benar merasa kalau ini liburan yang buruk—mestinya ini tak menjadi liburan musim semi yang buruk, namun nyatanya…

…Ini liburan musim semi terburuk di sepanjang hidupku.

Ini neraka.

Ini lelucon yang bagaikan neraka.

Aku tak lebih dari orang tolol yang tak menyadari apa-apa.

“Aku benci ini.”

Namun…

Di dalam diriku… masih tersisa satu hal yang masih membara.

Lewat penyesalan dan introspeksi diri, entah bagaimana aku telah memalingkan mata—dan kini aku menyadari suatu kenyataan mengerikan.

Walau, pada titik ini aku takkan bisa memalingkan mata lagi.

Benar juga.

Ini, pun, sudah terlalu jelas.

“Aku benci ini, tapi, aku, juga..”

Ini terlampau jelas sampai membuatku pusing.

“Bahkan aku, juga… seorang vampir.”

Sekeras apapun aku takut, benci, dan menjauhi vampir—kenyataannya tetap adalah kalau aku juga salah seorang dari mereka.

Tepat sekali.

Kata-kata Oshino kini terasa membebaniku.

Membebani dalam hatiku.

Membebani… dalam perutku.

–Ooh ya.

— Araragi, aku tanyakan ini karena sekedar ingin tahu,

— tapi belakangan, apa kau tak pernah merasa lapar?

“… … …!”

Aku memang… mulai lapar.

Sekarang aku mulai lapar.

–Yah.

–Aku cuma merasa sudah waktunya kau mulai merasa lapar seputaran ini.

–Bagaimanapun, waktu dua minggu telah berlalu lagi.

“Sial, sial, sial , sial, siaaaaaaal!”

Pada saat ini, aku masih bisa menahannya.

Ini cuma sedikit rasa lapar.

Tapi—jika memang perkataan Oshino saat itu untuk memperingatkanku soal keadaan sekarang—cepat atau lambat, aku juga bakal ingin mengisap darah seseorang.

Aku bakal merasakan dorongan untuk mengisap darah.

Dan aku bakal berkeinginan untuk memakan manusia.

Karena… aku juga sebenarnya pun telah berubah menjadi monster.

Karena aku telah jadi makhluk yang derajatnya lebih tinggi.

“Sial!”

Bawahan yang pertama…

Aku tak mungkin bisa tahu dulunya dia orang macam apa—tapi kurasa alasannya bunuh diri sesudah hanya beberapa tahun ada kaitannya dengan ini. Walau mungkin aku dan dia jenis orang yang berbeda, situasi yang kami hadapi sama. Dia tak tahan dengan kenyataan bagaimana diirinya telah direndahkan menjadi monster—salah, dirinya tak tahan dengan kenyataan bagaimana dirinya telah diangkat menjadi monster. Pastinya, Kiss-Shot nampaknya tidak memahami perasaan tersebut, tapi—semestinya, ini bukan sesuatu yang tak dapat diketahui olehnya.

Itu perasaan manusia.

Dan kemudian, 400 tahun sesudah itu.

Bahkan aku, bawahannya yang kedua—harus menjalani pengalaman yang sama.

“Ha… hahahahaha”

Akhirnya, ada tawaku yang keluar.

Yang bisa kulakukan hanya tertawa.

Kalau kau memikirkannya baik-baii, ini cerita yang lumayan lucu.

Dan sejauh cerita-cerita lucu yang aku tahu, ini termasuk salah satu yang paling bagus.

Sesudah semua putar-memutar yang memusingkan ini, pada akhirnya, aku sampai menyadari bahwa sejak awal pemahamnku salah—kalau aku bayangkan cerita ini punya pemirsa, aku pastilah jadi tokoh utama yang sangat kocak.

Bahkan ketololan pun ada batasnya.

Aku pasti terlihat sebegitu tololnya sampai-sampai terasa lucu.

“Apa yang sekarang bisa kulakukan tentang ini—aku enggak punya pilihan selain mati.”

Itu…

Tak mengherankan, merupakan jawaban yang paling mudah terpikirkan olehku.

Sudah tak ada artinya lagi.

Pada titik ini…

Pada titik ini aku tak yakin apa aku mau berubah kembali menjadi manusia.

Dengan kesalahan yang telah kuperbuat, aku tak seegois itu sampai bisa menerima kepentinganku saja yang dikabulkan—itu salah.

Mungkin itu kedengarannya memang keren, tapi…

…Sejujurnya, niatanku sama sekali tak sebaik itu.

Aku cuma… takut.

Aku takut bahwa saat aku berubah menjadi manusia, Kiss-Shot akan memakanku.

Itu sudah jelas.

Aku tak posisiku jatuh dalam rantai makanan.

Tapi di saat yang sama, aku tak tahan untuk terus menjadi vampir.

Aku tak sudi mengisap darah dan memakan orang.

Bahkan tubuh abadi yang kupunya ini sekarang terasa memuakkan.

Maka dari itu…

“Aku tak punya pilihan lain selain mati.”

Bukan untuk mati tanpa pikir panjang—tapi untuk mati dengan selayaknya dan semestinya.

Bagaimanapun ini memang penyebab kematian 90% vampir sepanjang waktu.

Memang berbeda dari kematian akibat rasa bosan sih.

Tapi rasa bersalah memang bisa membunuh—maka dari itu…

Seperti bawahan yang pertama, aku hanya bisa memilih mati—hanya itu jalan yang masih tersisa bagiku pada titik ini.

Tapi, soal itu—kalau memang begitu kenapa pula aku bersembunyi di gudang dengan cara begini? Kenapa aku mencoba bertahan hidup di siang hari dengan melakukan ini?

Ya, misalnya…

Misalnya, aku lepaskan bentengan yang kubuat, membuka pintu besi ini, dan menghempaskan badanku ke lapangan olahraga—dengan itu, bukannya aku akan bisa mati?

Keinginan untuk mati—itu yang dikatakan Kiss-Shot.

Tentu saja ada kekuatan penyembuh yang dimiliki bawahan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, jadi jika aku hempaskan tubuhku ke bawah sinar matahari, kemungkinannya aku takkan mati semudah itu—hanya akan terjadi siklus penghabluran dan pemulihan, akan tetapi…

Aku semestinya bisa mati sebelum matahari terbenam.

Jika aku melepas pakaianku, berdiri telanjang, berjemur di tengah matahari, maka tentunya—di sepanjang hidupku, ini akan menjadi upaya pertama dan terakhirku untuk tampil nudis.

Bukan Kaii-king, tapi streaking.

Sudahlah, itu lelucon buruk.

Tapi justru karena itu pula aku paling pantas menjadi tsukkomi.

“… …Ya ampun.”

Kegagalan macam apa ini.

Serius, kegagalan macam apa ini.

Kukira bakal lebih baik—aku kira keadaan benar-benar sedang membaik.

Tapi, kenyataannya memang seperti ini.

Konyol ‘kali.

Tak ada pilihan lain yang kupunya selain mati.

“…Ah, iya.”

Aku baru sekarang memutuskannya.

Tapi seakan aku tiba-tiba kerasukan sesuatu, suatu ketenangan aneh kemudian melandaku.

Aku merasa perlu menelpon ke rumah.

Aku sama sekali tak terpikir soal ini sebelumnya, tapi aku bilang pada keluargaku kalau aku pergi dari rumah untuk melakukan perjalanan pencarian jati diri—tentu saja, kenyataannya tak seperti itu, aku cuma tersesat dan berputar-putar saja.

Tapi kenyataannya—bukannya memang lebih baik aku menghubungi mereka?

Dengan cara bagaimana aku kemudian memberitahu kalau aku akan mati? Aku jelas-jelas takkan bisa mengungkapkan alasannya. Tapi kalau itu kasusnya, aku bahkan jadi berpikir kalau mungkin lebih baik membiarkan segala sesuatunya tetap seperti ini; sang kakak lelaki hilang pada saat sedang melakukan perjalanan pencarian jati diri.

Aku tak tahu akan seperti apa tanggapannya, tapi mengesampingkan kedua orangtuaku, bagi kedua adikku, mungkin ini bakal menjadi semacam lelucon—anak yang kabur dari rumah.

Bukan kabur semata, tapi benar-benar kabur.

Yah, kalau seperti itupun kurasa boleh juga.

“Tapi aku ingin bisa bicara dengan… Hanekawa.”

Dan ada sesuatu yang harus kukatakan padanya.

Hanekawa juga sudah terpengaruh dan terseret ke dalam semua ini, jadi tak mungkin aku tak memberitahukannya soal sesuatu seperti ini—sayangnya, karena cahaya matahari, pada saat ini aku tak mungkin menghubunginya dari gudang peralatan olahraga yang telah kupakai untuk bersembunyi dari Kiss-Shot ini.

Aku bahkan sudah terlanjur menghapus nomor ponsel dan alamat e-mailnya.

Persis di hadapan matanya.

Aku waktu itu benar-benar melakukannya untuk menyakitinya.

Semenjak itu, walau aku kemudian bisa berbicara dengannya lagi—aku tak meminta alamat kontaknya kembali karena sulit. Walau itu kesulitan canggung yang hanya dirasakan olehku—pada titik ini aku benar-benar menyesal telah melakukan itu.

Pengecut sekaligus penakut macam apa sebenarnya aku ini.

Walau aku lumayan dalam matematika, itu tak berarti aku jago dalam hitung-menghitung; aku tak sanggup mengingat barisan 11 digit angka, dan tak perlu kusebut bagaimana aku payah dalam mengingat alamat-alamat e-mail alfabetis. Seandainya aku sempat menghubunginya sekali saja, maka pasti nomornya akan tercantum dalam catatan panggilan, tapi—sekalipun aku tak menghubunginya, dan diapun tak menghubungiku. Kalau dipikir sekarang, aku pun tak memberitahunya nomor telepon dan alamat e-mail punyaku.

Dia masih belum punya alamat kontakku.

Andai saja aku memberitahukannya waktu itu.

…Andai saja aku memberitahukannya waktu itu… apa?

Apa Hanekawa kemudian akan meneleponku sekarang juga?

Tolol sekali.

Bahkan Hanekawa pun takkan bisa melakukan hal seperti ESP macam itu—tak mungkin perkembangan segampang itu bisa benar-benar terjadi.

Jika Tuhan memang segampang itu, aku takkan harus bersusah-susah mengalami kesulitan macam ini—aku takkan sampai bersalah akibat kegagalan macam ini.

Sementara aku berpikir tak ada gunanya aku berusaha, untuk saat ini, meski sekedar untuk melihat sekarang jam berapapun, aku keluarkan ponselku dari dalam saku.

Jam menunjukkan pukul 5 sore.

Tampaknya aku telah mengasingkan diriku di sini selama lebih dari 12 jam—rasanya benar-benar tak nyata. Namun, sekalipun waktu yang tak berhubungan ini memasuki jarak pandangku, memasuki cakupan pemahamanku, dampaknya hanya sebatas itu.

Mengesampingkan hal tersebut, aku membuka catatan alamat kontakku untuk sebuah upaya yang aku tahu akan sia-sia—namun kenyataannya ternyata tak sia-sia, apa yang kulihat memberi jantungku kejutan yang sama kerasnya seperti hantaman benda tumpul.

Di sana…

Tercantum nama Hanekawa Tsubasa.

“… Itu berarti…”

Kukeluarkan sebuah suara.

Terlepas apakah itu akibat kerendahan diriku pribadi atau akibat situasiku saat ini, aku sungguh-sungguh merasa tergerak—aku tak pernah membayangkan diriku bisa sedemikian merasa tergeraknya hanya dari melihat layar dingin sebuah ponsel.

Walau aku kira tak ada alasan bagiku untuk bisa bersyukur…

Walau aku kira ini liburan musim semi yang sebegitu buruknya…

“Jangan seenaknya pegang-pegang ponsel orang tanpa izin…!”

Kesempatan untuk itu memang selalu dia punyai.

Bisa saja terjadinya adalah waktu pertarunganku dengan Episode, saat dia mengantarkan ponsel untukku di lapangan olahraga, kejadiannya bisa kapan saja. Aku pada dasarnya teramat santai dengan pengelolaan ponselku, aku bahkan tak memasang kata sandi untuk menguncinya.

Itu karena aku hampir tak menyimpan informasi pribadi apapun di dalamnya—namun…

…Di dalam catatan alamat yang sebelumnya kosong…

…Kini terekam, sekali lagi, nama Hanekawa Tsubasa.

Beserta nomornya—dan alamat e-mailnya.

“… … …”

Aku kemudian berpikir, ini saja sudah cukup.

Aku merasa ingin berbicara pada Hanekawa, ada hal-hal yang ingin kukatakan padanya, tapi sebagian diriku yang lain juga merasa bahwa jika aku tak dapat berbicara dengannya, maka mengetahui alamat kontaknya ada lagi di ponselku saja sudah cukup.

Walau tak mungkin aku bisa membiarkannya tak tahu apa-apa…

Aku juga merasa tak ingin mengatakan apa-apa pada dirinya juga.

Karenanya—berbicara soal perkembangan yang gampang, bagiku mungkin malah lebih mudah sepert itu.

Tapi tak mungkin.

Kalau keadaannya ternyata begini, apa yang mesti kulakukan sudah terputuskan.

Malah—kali ini aku memutuskannya sendiri.

Aku mengirim e-mail pada Hanekawa.

Karena jika menelepon, aku merasa bisa menangis.

Kira-kira apa ya yang dilakukan Hanekawa pada hari terakhir liburan musim semi—belajar di perpustakaan? aku tak tahu di mana letak perpustakaan, tapi jika memang begitu, ada kemungkinan ponselnya sedang dimatikan.

Yah, apapun deh.

Mari kita sabar menunggu saja balasannya.

Aku berpikir demikian, tapi jawaban darinya ternyata datang segera.

Aku memeriksanya, dan jam aku menerima balasannya sama persis dengan jam aku mengirimnya. Bahkan tak ada perbedaan semenit.

Sulit dipercaya…

Itu jawaban yang dikirim dalam maksimum 60 detik.

Aku kira itu pasti jawaban yang pasti sangat sederhana, tapi saat aku memeriksa isinya dan, dengan diawali dengan ‘Kepada Yth’ dan diakhiri dengan ‘Hormat saya.’, ternyata itu sebuah surat pribadi yang utuh.

Luar biasa.

Aku tahu anak-anak cewek cenderung mengetik e-mail secara cepat, tapi…

Setelah kupikir lagi, pada hari upacara penutupan tahun ajaran, bahkan pada saat ia mendaftarkan alamat kontaknya ke dalam ponselku, pergerakan jemari Hanekawa luar biasa cepat… sekali lagi, luar biasa.

Itu aku mesti bilang, aku tak tahu karena aku lebih sering mengirim pesan kepada keluargaku sendiri, tapi surat tadi ditulis dengan ungkapan sangat merendah… kupikir e-mail memang dimaksudkan untuk dipakai secara lebih praktis.

Bagaimanapun, meringkas isi surat yang aku terima dari Hanekawa, intinya adalah, “Aku akan segera datang, jadi tunggulah aku.” Pada akhirnya aku tak bisa mengungkapnya secara baik, dan aku hanya memberitahukan garis besar masalahnya padanya saja, dan sebagaimana yang kukira dari Hanekawa, dia bisa menebak keseluruhan situasinya hanya dari itu.

Sungguh.

Walau mungkin aku akan lebih senang jika Hanekawa, dan bukan aku, yang bertemu Kiss-Shot. Berbicara tentang sesuatu justru bisa membuat sesuatu itu terjadi ‘kan? Walau aku dan Hanekawa memiliki perhatian yang sama terkait vampir—vampir yang akhirnya ditemui Hanekawa itu aku, dan vampir yang akhirnya aku temui adalah Kiss-Shot.

Sebuah pikiran mendadak terlintas di kepala.

Kiss-Shot menjadi bahan pembicaraan di antara anak-anak perempuan—kalau begitu, dengan Hanekawa sebagai pengecualian, apa mungkin ada gadis-gadis lain, termasuk murid-murid dari sekolah-sekolah lain, orang selain aku, yang juga telah berjumpa dengan Kiss-Shot?

Dan jika ada, apa yang terjadi pada mereka?

Apa Kiss-Shot hanya berlalu melintasi mereka begitu saja?

Ataukah Kiss-Shot mengisap darah—dan kemudian memakan mereka juga?

Kalau hal seperti itu terjadi semata-mata karena sebuah pembicaraan, maka ini pastinya akan menjadi masalah serius, kurasa; tapi di sisi lain, jika badan si korban dimakan secara utuh, tanpa meninggalkan jejak atau bukti, sekalipun itu kemudian dibahas oleh keluarganya, atau seisi kelasnya, tetap saja itu akan jadi sebuah cerita yang sulit tersebar di kalangan umum.

Perjalanan pencarian jati diri atau kabur dari rumah—

Mungkin di akhir, alasan menghilangnya si korban akan disimpulkan sebagai sesuatu macam itu.

Walau kalau jumlah orang yang menghilang banyak, cakupan kasusnya takkan terbatas sebesar itu—mungkin ini berkaitan dengan tingkat kekuatan sang vampir, tapi nampaknya Kiss-Shot tak memerlukan ‘makanan’ dalam jumlah besar… bagaimanapun, segalanya tetap saja hanya kemungkinan.

“Dua minggu, kata Oshino. Kalau begitu, bagi Kiss-Shot, satu orang per bulan mungkin takkan cukup… jadi, kalau menghitung Guillotine Cutter, jumlah korban Kiss-Shot sampai sejauh ini sekitar dua-tiga orang…?”

Walau yang menjadi inti masalah di sini bukan jumlah korbannya…

Jika memang begitu kasusnya—tetap saja keberadaan Kiss-Shot belum akan ketahuan.

“…Perasaan apa ini, aku masih merasa ada sesuatu yang luput kuperhatikan…”

Gagal untuk memperhatikan….

Atau membiarkan ada yang tak tuntas.

Kini sesudah aku menghubungi Hanekawa, mestinya tak ada lagi yang tak tertuntaskan, kupikir demikian—kemudian…

Pada detik itu, Hanekawa tba.

Bunyi ketukan seseorang pada pintu besi dari luar gudang peralatan olah raga.

Tok tok.

“Ada kiriman siswi.”

“… … …”

Tidak, aku tak bisa tertawa.

Bukan itu cara kau menunjukkan perhatian.

Bagaimanapun, kusingkirkan barikade bentengan yang kubuat (dengan kekuatan fisik vampir, menyusun maupun membongkarnya merupakan hal mudah), dan sesudah aku bilang pada Hanekawa untuk masuk dengan memiringkan badan, membiarkan pintu setertutup mungkin, aku menempel di dinding agar tak sampai terkena sinar mentari yang akan ikut masuk bersama terbukanya pintu. Senja telah berlangsung, tapi tetap saja cahaya matahari masih tersisa.

Nanti aku akan berjemur di bawah sinar mentari.

Nanti aku akan mandi matahari seluruh tubuh.

Tapi itu baru akan kulakukan sesudah aku berbicara dengan Hanekawa.

Hanekawa, bahkan hari inipun, tetap mengenakan baju seragam sekolahnya.

Gadis ini benar-benar tak ingin memperlihatkanku pakaiannya pada hari-hari biasa… atau mungkin dia tak suka aku melihat pakaian-pakaiannya… tapi aku sama sekali tak punya masalah tentang hal ini sih.

Hanekawa tersenyum riang.

Itu wajah tersenyumnya yang biasa.

Itu juga, mungkin, adalah caranya menunjukkan perhatian.

“Apa-apaan ini?”

Sebagai tambahan, sementara aku berusaha membarikade pintu besi itu lagi, Hanekawa mengatakan itu ke punggungku dengan suara yang teramat ceria.

“Kelihatannya dengan lihai aku telah dikurung di gudang alat olahraga. Kalau begini apa yang mesti kuperbuat kalau Araragi berbuat mesum?”

“…Mesum?”

Gadis ini…

Apa dia memandangku sebagai seorang penyakitan? Yah, mungkin aku memang banyak memperlihatkan sisi itu, tapi aku jelas bukan jenis orang yang menyukai obrolan-obrolan macam ini.

Aku lebih seperti gentleman.

“Senter, on.”

Dia menyalakannya, kemudian menaruhnya di atas kuda-kuda lompatan. Berhubung itu senter dengan bentuk kotak, senter itu tak terguling. Sesudah itu, Hanekawa duduk di atas matras. Akupun kemudian duduk di hadapannya.

“Ah, kau langsung di depanku, kau sedang berusaha mengintip celana dalamku.”

“Kau benar-benar salah paham tentang aku orang macam apa.”

Aku berkata demikian pada Hanekawa yang sudah bersiap-siap untuk menarik ujung roknya, tak sanggup menahannya lagi.

“Jika, misalkan, di depan mataku, ada gadis telanjang, dan gadis itu menyuruh agar jangan melihat, maka aku adalah lelaki yang sanggup untuk tak melihat!”

“Itu sih biasa.”

“Guh….!”

Serius?!

Semenjak kapan standar akal sehat dunia berubah?

“Er, Hanekawa, kau cuma belum tahu aku sebenarnya se-gentlemen apa.”

Gentlemen itu bentuk yang dipakai kalau makna katanya majemuk.”

Hanekawa meralat.

“Yah, tapi kalau benar begitu, aku jadi ingin segera lihat.”

“Kau ingin segera lihat apa?”

“Nanti begitu tahun ajaran baru dimulai, aku jadi akan bisa melihat sisi gentle Araragi sebanyak yang aku mau, ‘kan?”

“… … …”

Itu… kalau bisa…

Intuisimu benar-benar terlalu bagus.

Walau dalam surat aku tak menyebut apa-apa soal itu—dan walau niatku adalah menutupinya hingga akhir.

Karena aku tahu Hanekawa akan menghentikanku apapun yang terjadi.

“Karenanya, kau tak boleh mati.”

“…Hanekawa.”

“Kau tak boleh mati.”

Katanya.

Menembus kegelapan, dirinya jelas tengah melihat ke arahku.

“Berpikir seperti itu adalah bukti kalau kau sedang lari dari hatimu sendiri.”

“…Kamu luar biasa.”

Aku bercermin pada kata-kata Hanekawa, dan sesudahnya aku mengatakan apa yang kupikirkan, sebagaimana yang kupikirkan.

“Kamu luar biasa. Saat kamu di depanku… aku selalu terasa seperti orang yang benar-benar enggak berarti. Mungkin seandainya aku tak bertemu denganmu, aku sudah mati lebih awal, mungkin. Ada banyak kejadian di mana itu mungkin saja terjadi.”

“Itu kenapa aku bilang kamu tak boleh mati—dengarkan kata-kataku, Araragi.”

“Semuanya salahku.”

Kataku.

Itu saja sudah terdengar seperti sebuah pengakuan dosa.

“Ini semua terjadi karena sikap sembronoku—waktu itu, waktu Kiss-Shot meminum darahku, itu bukannya aku enggak mikir keadaan bakal kayak gini—ini sesuatu yang pastinya bakal aku pahami andai saja waktu itu aku sedikit mikir. Sengaja memberi darah kita ke vampir, itu apa-apaan—tapi padahal aku…”

Kenyataan bahwa dirinya—memakan orang.

Kenyataan bahwa kelak bakalan ada korban.

Itu semua sama sekali tak kupikirkan—sekalipun aku sempat terpikir tentangnya pun, pikiran itu pasti telah lolos dari kepalaku begitu saja. Bahkan sesudahnya, tak peduli saat aku diubah menjadi vampir dan harus menghadapi serangkaian persoalan—aku punya banyak waktu untuk merenungkannya.

Tapi tidak.

Sejak awal, aku sudah mengatakannya.

Pada hari upacara penutupan semester, aku berkata pada Hanekawa.

Akulah yang mengatakannya.

Kalau darahmu sampai dihisap—kau pasti akan dibunuh.

Persis seperti itu.

Guillotine Cutter juga darahnya sampai dihisap.

Lalu dia kemudian terbunuh.

Dia mati.

Aku tak memahami apa yang semestinya kupahami.

“Gara-gara aku, ada orang sampai mati.”

“Itu bukan salahmu. Dan lagi… bagi vampir… bagi seseorang seperti Nona Heart-Under-Blade, ini sesuatu yang teramat sangat alami, ini tak jauh berbeda dari bagaimana kita memakain sapi dan babi.”

“… … …”

Kalau aku tak makan, aku akan mati.

Itu hal yang sama dengan yang dia katakan.

“Tapi… dia bahkan mengira kau makanan jalan-ku. Dia tak memandang kamu sebagai bagian kelompoknya.”

“Tapi kasusmu merupakan pengecualian.”

Penyelamat nyawa.

Kami telah menyelamatkan nyawa satu sama lain.

Aku menyelamatkan Kiss-Shot—

Lalu Kiss-Shot menyelamatkan aku.

Kalau memang begitu kasusnya, mungkin saja kami mempunyai hubungan saling percaya.

Tapi, itu…

“Itu jadinya seperti menyayangi sapi yang jinak… atau gini, kalaupun bukan sapi, bukannya ada juga… anjing pintar atau monyet yang jenius?”

“Apa kau sedang membicarakan hewan peliharaan?”

Hanekawa menyelaku.

Itu dia.

Secara pasti, bahkan Oshino—mengatakan hal yang sama.

Rasa sayang terhadap hewan peliharaan.

“Tapi baginya, itu alami—termasuk bagian yang tentang aku.”

“Ya. Karenanya, Kiss-Shot tak jahat. Akulah yang jahat di sini. Aku jahat—dan bukan orang lain.”

“Kau benar.”

Oshino bahkan mengatakan itu.

Setiap orang memiliki definisi kebenaran mereka sendiri-sendiri—itu katanya.

Maka dari itu, Oshino…

Dengan keras kepala dia memilih untuk mengambil kedudukan netral.

“Aku tak pernah memikirkannya—Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter. Mereka bertiga—mereka mewakili ‘kebenaran’ umat manusia.”

“Waktu itu, posisimu sebagai vampir—jadi itu bukan sesuatu yang bisa dihindari. …Dan lagi, kau terlalu menyederhanakannya.”

“Aku merasa makin susah kalau kau mengatainya begitu. Ujung-ujungnya aku jadi musuh seluruh manusia.”

“Kalau begitu, apa kau jadi menyerah buat kembali jadi manusia?”

Hanekawa berkata.

Itu bukan suara yang mengandung nada menuduh—tapi bagi aku yang saat ini, itu sebuah pertanyaan tegas yang perlu dijawab.

“Apa itu berarti kau telah melepas kemanusiaanmu? Bukannya kau bilang ingin berubah lagi jadi manusia? Kau ingin kembali ke kenyataan ‘kan?”

“Ada korban sekarang. Terlalu egois kalau cuma keinginanku seorang yang dikabulkan.”

“Kalau kau bilang egois, bukannya kau yang sekarang juga egois?”

“Eh?”

“Karena…”

Seakan ia hendak memastikan posisi kacamatanya sendiri, sesudah mengambil nafas pendek—Hanekawa berkata:

“Kau ingin melarikan diri, mengabaikan semua masalah yang terlanjur kau buat.”

“…Bukan.”

Bukan itu, aku coba bilang, tapi aku tergagap dengan kata-kataku.

Hanekawa menambahkan.

“Baik hati maupun tubuhmu sekarang sedang mencoba melarikan diri.”

“… … ..”

“Sesudah ini, kau akan mencoba melarikan diri. Akibat semua kesalahanmu, kau akan mencoba me-reset kembali semuanya seperti semula. Dan berhubung enggak ada tombol reset dalam kehidupan nyata—kau memutuskan untuk melepas saja colokan listriknya. Apa aku salah?”

“…Kau salah.”

Kau salah.

Aku berpikir begitu.

“Bukannya aku ingin lari, malah aku ingin bertanggung jawab! Seenggaknya yang bisa kulakukan buat menebus kesalahanku adalah dengan mengakhiri nyawa yang abadi ini.”

“Itu cuma bakal menambah dosa-dosamu yang sudah ada.”

Hanekawa berkata.

“Bunuh diri itu sebuah dosa.”

“Apa? Apa… Hanekawa, apa kau penentang keputusan orang untuk bunuh diri?”

“Aku tak bermaksud untuk demikian, tapi dalam hal ini, aku yakin pastinya sama.”

“Sama?”

“Sama-sama merasa buruk jika ada orang yang mati.”

Menjelaskan implikasinya, Hanekawa melanjutkan.

“Walau kau sendiri tak keberatan bila harus mati—kamu merasa buruk bila orang lain mati.”

“… …. ….”

“Tak peduli orang seperti apa dia.”

“…Apa kau membicarakan Guillotine Cutter?”

Aku mencoba mengenang dirinya.

Walau, aku berinteraksi dengannya hanya beberapa kali.

“Walau ada orang-orang yang sepantasnya mati—tapi tak ada orang yang kematiannya tak berdampak ke orang lain. Itu menurutku. Itu definisi yang kubuat. Dan mengacu ke itu, aku memang sudah jadi manusia yang pantas mati.”

“Saat ini kau bukan sedang jadi manusia.”

“Itu cuma alasan.”

“Aku bakal mencari alasan seperti bagaimanapun kalau itu demi teman.”

“Hanekawa.”

Aku berkata.

Tak perlu dibahas lagi, kalau aku sebut soal ini ke Hanekawa, aku pasti akan memperoleh semacam protes dan dibujuk sebaliknya, kurasa…

Tapi pada akhirnya aku tetap mengatakannya.

“Memang saat ini aku bukan seorang manusia. Aku vampir. Karena itu, seperti Kiss-Shot, bahkan aku juga akan memakan manusia.”

“… … …”

“Aku sudah coba membayangkannya… memikirkannya saja sudah membuatku mual. Aku tak sudi hidup kalau bayarannya aku harus sampai makan orang.”

Karenanya, aku tak lagi punya pilihan selain mati, kataku.

Andai aku tak bisa berubah lagi jadi manusia—maka tak ada pilihan buatku selain mati.

“Beda denganmu, aku ini lemah, jadi kalau aku tak mati sekarang, aku pasti bakal menunda-nundanya terus—cepat atau lambat aku bakal tak sanggup menahan rasa laparku lagi.”

Makanan jalan.

Kata-kata Kiss-Shot.

“Hanekawa—cepat atau lambat kau pun cuma bakal kulihat sebagai makanan.”

Itu menakutkan.

Walau jenazah Guillotine Cutter juga menakutkan—Kiss-Shot menyebut Hanekawa seperti itu lebih menakutkan lagi.

Kesadaran seperti itu…

Akal sehat seperti itu, cepat atau lambat akan menjadi akal sehatku juga.

Jika akal sehat yang kupunya selama jadi manusia menghilang—yang tersisa dan kuperoleh adalah akal sehat vampir.

Tanpa ragu aku hanya akan memandang Hanekawa sebagai makanan.

Aku akan berkeinginan untuk memakannya.

“Kalau begitu, jangan makan.”

Hanekawa.

Namun, tanpa protes apapun yang aku bayangkan—tanpa menjatuhkanku, dia berkata demikian dengan nada tenang.

“Araragi, kau boleh memakanku.”

“…Kau ngomong apa?”

Aku benar-benar tak mengerti.

Bukan apa yang sedang dikatakannya, melainkan perasaannya.

“Kalau aku tak bisa mati untuk kepentingan orang lain, maka orang lain itu masih tak bisa kusebut teman.”

“…Eeeh?”

Seperti yang kuduga, definisi yang Hanekawa pegang benar-benar terlalu serampangan.

Siapa yang bisa tahan dengan definisi seperti itu untuk dirinya sendiri?

“Persis begitu. Bukannya sudah pernah kukatakan. Andai kau tahu aku yang sesungguhnya, kau pasti akan kecewa.”

Hanekawa berkata dengan senyuman di wajah.

“…Makhluk apa kau sebenarnya?”

“Hmm? Aku temanmu. Itu yang aku bayangkan, setidaknya.”

“Dengan hanya segitu, apa normal kau melibatkan diri sejauh ini? Bagaimana bisa kau melakukan begitu banyak hal buat orang sepertiku? Atau kau reinkarnasi kucing yang pernah kutolong waktu SD, teman masa kecilku yang tiba-tiba pindah, rekan seperjuangan dalam kehidupan yang telah lampau, orang semacam itu?”

“Sama sekali bukan.”

“Kuharap demikian.”

Ngomong-ngomong, belum pernah ada kucing yang kutolong.

Tak ada teman masa kecilku yang tiba-tiba pindah.

Lalu aku tak tahu apapun soal kehidupan-kehidupan yang pernah lampau.

“Aku pernah menyinggung soal ini sebelumnya, tapi—gimana bisa kau melakukan semua ini buatku yang baru kau temui? Jika kau lakukan ini buat semua orang, badanmu pasti enggak akan cukup.”

“Aku enggak berbuah sejauh ini buat semua orang kok.”

Hanekawa berkata.

“Aku berbuat semua ini karena ini kau, kau tahu?”

“Walau kau berbuat semua ini, aku masih di bawah umur, jadi aku enggak akan bisa jadi penjamin hutangmu lho.”

“Eeh, aku tak pernah berencana begitu kok.”

“Bahkan kalaupun aku sudah dewasa, pasti aku jadi pengangguran, jadi aku tetap takkan bisa jadi penjaminmu.”

“Itu masalah berbeda, tapi kuharap kau akan bisa dapat kerja.”

“Berkata begitu tetap enggak membuatnya lebih mudah!”

“Yah, memang jelas keadaannya bagimu enggak mudah, tapi…”

Pada dasarnya, Hanekawa melanjutkan.

“Jika aku hanya perlu menolongmu, maka satu badan saja sudah lebih dari cukup.”

“…Apa maksudmu kau sendiri enggak keberatan kalau harus mati?”

“Aku tak mau mati, tapi kau sudah menyelamatkan hidupku dua kali—jadi seandainya aku memang berakhir dimakan olehku, kurasa mungkin aku takkan mengeluh.”

Mungkin aku bakal bilang rasanya sakit sih.

Hanekawa berkata begitu dengan teramat riang.

Lalu walau aku tak diprotes atau dimarahi…

…Kudapati aku tak lagi bisa berkata-kata.

Dia benar-benar… menakjubkan.

Jujur, kata-kata semata tak bisa menggambarkan kehebatan Hanekawa.

“Karena itu, kau tak boleh mati.”

Hanekawa berkata sekali lagi.

“Jangan mati.”

“…Lalu gimana soal tanggung jawab?”

Aku… tanpa bermaksud, bertanya.

“Aku orang yang menyembuhkan Kiss-Shot yang sekarat—aku yang mengumpulkan semua potongan tubuhnya lagi, lalu aku juga kembalikan lagi jantungnya tanpa diminta. Gimana dengan tanggung jawab ini? Kalau kita sebut mati adalah tindakan melarikan diri, maka jika aku tak mati aku tak bisa bertanggung jawab ‘kan?”

“Jadi apa itu berarti kau bakal bisa bertanggung jawab bila kau mati?”

“Entahlah.”

Segalanya bagiku sudah berakhir.

Pada titik ini, sudah tak ada lagi yang bisa kulakukan—aku takkan sanggup menggeser timbangannya lagi.

Tak ada seorangpun yang bisa menghentikan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade yang telah pulih sepenuhnya. Adalah tanggung jawabku dia sampai pulih—dan tanpa terhentikan dia akan kembali memakan orang.

Dengan cara yang sama dengan yang telah dilakukannya sampai saat ini.

Mulai sekarang ini telah menjadi tanggung jawabku.

“Guillotine Cutter tak punya banyak pilihan—dalam rentang waktu aku pergi beli sesuatu di minimarket, seperti cemilan antara waktu makan, dia dicincang dan kemudian dimakan. Bahkan Dramaturgie dan Episode, yang sudah kembali ke tempat asal mereka masing-masing, takkan sanggup melawannya. Jika aku coba pikirkan lagi kemungkinannya, mungkin masih ada Oshino—tapi dia tak mau terlibat kalau tak ada hubungannya dengan mendatangkan keseimbangan. Dia punya prinsip tegas—urusan Kiss-Shot buatnya sudah berakhir. Di samping itu, bahkan Kiss-Shot mulai sekarang takkan membiarkan jantungnya dicuri lagi dengan mudah. Sudah enggak ada lagi yang akan bisa menghentikan dia sekarang.”

“Termasuk juga kamu?”

Hanekawa berkata, menyela.

“Tak bisakah kau… menghentikannya? Atau lebih tepatnya… bukannya hanya kau sekarang yang bisa menghentikannya?”

Itu…

…benar-benar kata-kata yang tak kuduga.

Dan itu benar-benar sesuatu yang luput kusadari.

“Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade… vampir berdarah besi, berdarah panas, dan berdarah dingin, ‘kan? Dan kau bawahannya satu-satunya. Kalau kita berpikir sebaliknya, bukannya itu juga berarti hanya kau seorang yang bisa menghentikannya?”

“…Ah.”

Apa yang gagal kusadari…

…dan apa yang kuabaikan…

…ternyata itu.

Kenapa aku tak menyadari hal sesederhana itu? Jika Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter, maupun Oshino tak bisa melakukannya…

Maka aku, Araragi Koyomi, yang telah mengumpulkan dari mereka berempat kaki kanan, kaki kiri, kedua lengan, dan jantung, tak punya pilihan selain melakukannya.

Itulah yang harusnya kulakukan.

Itulah… tanggung jawabku.

Mengesampingkan apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan.

Benar, aku telah membuat kekacauan besar.

Tapi aku masih malah… tak berbuat apa-apa!

Aku… akan membasmi Kiss-Shot.

Kuutarakan dengan kata-kata.

Kata-kata itu berhubungan erat dengan perasaanku yang sesungguhnya.

Benar.

Itu sesuatu… yang hanya aku yang bisa lakukan.

Aku akan hentikan… Pemusnah Kaii itu!

Kalau itu yang harus kulakukan… maka aku tak punya pilihan selain melakukannya!

Di dalam kepalaku, aku merasakan sesuatu berbunyi—aku merasakan roda-roda gigi di dalamnya bergerak.

“Ekspresi wajahmu sudah berubah.”

Dan.

“Mumpung kita membahasnya, aku mau beritahu sesuatu yang baik, Araragi.”

Hanekawa berkata, meneruskan kata-katanya dengan penuh ketegasan.

“Mungkin bisa jadi hal buruk sih.”

“Hm? Baik atau buruk? Bicaranya jangan penuh teka-teki begitu.”

“Untuk kau yang sekarang, mungkin akan menyusahkan, tapi untukmu sesudah beberapa lama, akan jadi menguntungkan.”

“Jadinya malah tambah tak jelas, tapi…”

“Kemarin, aku pergi ke perpustakaan—aku meneliti sedikit. Pada malam kemarin lusa kau mengalahkan Pak Guillotine Cutter dan mengumpulkan bagian-bagian tubuhnya… yah, kau tak benar-benar memperoleh jantungnya, tapi dengan itu kau dibilang bisa kembali jadi manusia. Tapi… aku kemudian cemas.”

“Cemas?”

“Aku cemas soal apakah Heart-Under-Blade benar-benar akan mengubahmu kembali jadi manusia.”

Walau aku tak meragukannya, kata Hanekawa.

“Jadi, aku memperhitungkan kemungkinan seandainya dia tak mengubahmu kembali jadi manusia—dan aku meneliti apakah ada metode lain yang bisa mengubahmu kembali jadi manusia.”

Dengan kata lain…

Hanekawa meneliti… sebuah metode untuk mengembalikan vampir ‘mantan manusia’ yang telah digigit seorang manusia dan dijadikan bawahannya untuk kembali jadi manusia…

“…Apa metode semacam itu benar-benar ada?”

“Ada. Tapi cuma satu.”

Hanekawa mengangguk.

“Saat seorang pelayan, yang biasanya mematuhi tuannya, melukai sang tuan, maka pada saat itu, hubungan tuan dan bawahan antara mereka akan runtuh, dan kondisi penghambaan sang pelayan akan berakhir.”

“…? Aku tak paham maksudnya, tapi…”

“Dengan kata lain, selama kau mengalahkan Heart-Under-Blade—tak peduli apapun keinginannya, maka kau akan kembali menjadi manusia.”

“Itu…”

Aku…

Semula aku… begitu terkejut dengan aturan sederhana itu.

“Itu… benar?”

Runtuhnya hubungan tuan dan bawahan antara mereka.

Bahkan sekarang, aku bisa bilang hubungan itu sudah mulai runtuh—dan dengan memberikannya dorongan terakhir…

…Aku akan bisa kembali jadi manusia.

Jadi begitu rupanya.

“Aku menemukan penjelasan yang sama dalam beberapa buku, jadi kurasa infonya dapat dipertanggungjawabkan—buatmu yang tak ingin kembali jadi manusia, dan ingin mati, ini mungkin menyusahkan, tapi ini tak bisa dihindari. Karena hanya kau seorang yang bisa mengalahkan Heart-Under-Blade.”

“…Itu memang menyusahkan.”

Ya.

Sebab bagaimanapun juga, jika kau sudah bersiap dengan baik maka kau tak perlu lagi kuatir, ya?

Itu sesuatu yang tak yakin bisa kuungkap sebagai sesuatu yang sepele macam membunuh dua burung dengan seekor batu. Itu benar-benar…

“Itu benar-benar… menyusahkan. Semuanya benar-benar berjalan seperti yang kau pikirkan.”

“Ini yang kusebut akal bulus. Kalau aku boleh mengatakannya sendiri—kupikir rasanya seperti bermain kotor.”

“Kau… benar-benar tahu segalanya.”

“Aku tak tahu segalanya. Aku cuma tahu apa yang kutahu.”

Araragi, kata Hanekawa.

“Dengan begini kau tak punya pilihan selain kembali lagi jadi manusia, bukan? Karena tak mungkin lagi, pada titik ini, bisa kau biarkan Heart-Under-Blade begitu saja.”

“Tak mungkin aku…”

“Atau kau mau melarikan diri?”

Hanekawa mengatakan itu sebagai penuntas.

“Kalau kau masih bilang ingin lari, aku… akan menghentikanmu dengan segenap tenagaku.”

Aku agak berharap kau beri aku sedikit kesempatan beristirahat.

Tentu saja tanggung jawab akan bersisa—tanggung jawabku karena telah menyebabkan semua masalah ini tetap tersisa, dan itu bukan sesuatu yang akan pernah menghilang.

Tapi…

Masalah ini… bisa dibereskan.

Kalau aku bisa melakukannya, maka aku tak memiliki pilihan selain melakukannya.

Lebih baik dari kematian sederhana.

Lebih baik dari kematian mudah, ini sungguh menjadi suatu penebusan.

Sekali lagi kutatap Hanekawa.

Dan sekali lagi aku berpikir betapa dirinya luar biasa.

Sampai beberapa waktu lalu, yang kupikirkan hanyalah soal mati—apapun yang kukatakan, yang kupikirkan hanyalah soal bagaimana aku bisa menghukum diriku sendiri, akan tetapi aku berbicara dengan Hanekawa sebentar, dan sebelum kusadari, pikiran itu bahkan sudah kusingkirkan.

Aku berpikir bahwa aku belum boleh mati sebelum aku bicara dengan Hanekawa—tapi sebaliknya, justru karena aku bicara dengan Hanekawa, aku tak lagi boleh mati.

Hanekawa pastinya takkan membiarkanku mati sekalipun sesudah aku membasmi Kiss-Shot dan kembali lagi menjadi manusia. Hanekawa akan melakukan seribu satu siasat, dan dia takkan membiarkanku melakukan hal itu, kurasa.

Aku benar-benar baru mendapatkan teman yang menyusahkan.

Sekaligus… aku baru mendapatkan teman yang sangat baik.

“Kalau begitu, maka masalahnya adalah… apakah aku akan bisa mengalahkan Kiss-Shot atau tidak.”

Vampir yang kedudukannya paling dekat dengan Kiss-Shot.

Itu pastinya aku… tapi, walau begitu, perbedaan kedudukan kami sebagai pelayan dan tuan bisa berakibat fatal. Memulai revolusi bagaimanapun juga sama sekali bukanlah hal mudah.

“Aku setuju. Walau aku menyusun rencana—itu tak berarti tak ada celah di dalamnya. Kemungkinan kau kalah akan menjadi hasil terburuk, setidaknya bagiku. Kau mati seperti yang kau inginkan—lalu sang Kaii, Heart-Under-Blade, tetap hidup… dengan aku dimakan olehnya. Dia memandangku sebagai makanan jalan, jadi mungkin dia mengingat wajahku.”

“Kau punya persiapan buat mengatasi itu?”

“Hm? Tidak. Aku belum memikirkannya sejauh itu.”

Hanekawa menggelengkan kepala dengan wajah resah.

“Dirinya mempunyai garis keturunan yang khusus, bukan? Entah mengapa, Heart-Under-Blade rasanya kurang sesuai dengan kesan vampir-vampir yang sudah ada. Seperti yang kau dan Oshino bilang, keabadiannya begitu tinggi, sampai segala kelemahannya tak llagi tampak sebagai kelemahan lagi.”

“Kalau kita berasumsi kalau pada dasarnya aku sama dan dia—maka masalahnya hanya sebatas panjang karir saja…”

“Lalu ada juga soal mental.”

“Soal mental?”

“Soal apakah kau bisa mengalahkan Heart-Under-Blade yang telah hidup bersamamu sepanjang liburan ini, Araragi.”

“…”

Dirinya telah merawatku.

Mengawasiku dengan penjagaan konstan.

Untuk menyelamatkanku agar tak sampai terbakar matahari, dirinya telah mengorbankan tubuhnya sendiri.

Dan… dia telah menjadi penyelamat hidupku.

Nyawa yang dengan mudah kucoba buang…

Dirinya tak sampai menghisapnya untuk dirinya sendiri.

Mungkin apa yang dirasakannya lebih mirip dengan rasa sayang yang manusia miliki terhadap binatang…

Tapi tetap saja.

Misalnya adalah waktu kami berada di atap itu.

Kami tertawa bersama, saat itu.

“…Aku bisa atasi soal mental itu.”

Dengan segenap tekad, aku mengatakannya.

“Aku pasti akan bisa membasminya.”

“Ya.”

Hanekawa mengangguk.

Walau nampaknya masih ada hal-hal yang ingin dikatakannya, Hanekawa memutuskan untuk membiarkannya tak terkatakan.

Sebagai gantinya—dia berkata, “Yah, kalau begitu. Tentu saja, aku akan menolong. Aku juga punya tanggung jawab sebagai penyusun siasatmu ‘kan? Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan, jangan segan-segan untuk bilang ya.”

“Jangan segan-segan… ya.”

“Ahahaha, walau aku bilang begitu, bantuan yang kubayangkan bukan hal-hal yang nakal sih.”

Walau yang ditambahkannya hanya sebuah alinea, Hanekawa benar-benar sedang berusaha merubah suasana, tertawa riang dengan cara seperti itu—tak mungkin.

Karenanya ini pasti kesalahpahaman… ya ampun, bukannya cara bicara tadi semacam petunjuk untuk dengan lihai mengarahkan percakapan kan?

Kenapa dia malah mencoba membantuku dengan mengangkat topik ini?

Bantu aku dengan menyiapkan hal-hal seperti rencana perang dong!

Serius, hal-hal konyol apa yang sedang kau katakan pada Araragi Koyomi yang gentleman ini? Jangan segan-segan, apanya!

“Hanekawa.”

“Ya?”

Tatkala Hanekawa sedikit memiringkan kepalanya ke sisi, aku berkata dengan cara sesopan mungkin, “Bolehkah aku menyentuh dadamu?”

“… … …”

Ekspresi wajah Hanekawa membeku dengan kepala masih dimiringkan.

Bagaimanapun, dirinya mempertahankan wajah tersenyumnya.

Udara berat seketika memenuhi gudang olahraga.

Apa yang bisa kulakukan bila ada atmosfer seberat ini….

“Dadamu.”

“Aku mendengarmu.”

Uhhmmm, Hanekawa kemudian menatap ke atas, kemudian ke bawah.

Selanjutnya dia melihat ke arahku lagi.

“Kenapa kau membutuhkannya?”

“Aku membutuhkannya dengan segala cara.”

Aku berkata.

Aku pasang ekspresi wajahku yang paling serius.

“Kau tak melihatnya sih. Seperti apa Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade dalam wujudnya yang sesungguhnya.”

“Hm? Yah… berhubung aku sudah melihat wujud usia 12 dan 17 tahunnya, bukan berarti aku tak bisa membayangkan wujud 27 tahunnya.”

“Sepertinya wujud aslinya melebihi bayanganmu.”

Aku berkata, sembari mengangkat jadi telunjukku.

“Dia punya buah dada yang jauh melebihi bayanganmu.”

“…Buah dada.”

“Aku khawatir aku kalah jika perhatianku sampai teralihkan oleh besarnya dadanya itu. Dadanya itu pasti akan bergoyang berulangkali di tengah-tengah pertarungan. Karena itu aku ingin jalani latihan terkait hal itu untuk berjaga-jaga.”

“Ooooh.”

Hanekawa mengerang.

“Itu alasan yang lebih tolol dari bayangan…”

“A-Apa itu enggak masuk akal?”

“…Hmmmmm.”

Hanekawa tanpa suara memejamkan mata dan menyatukan kedua belah alisnya seakan sakit kepala.

“…Boleh kalau begitu.”

“Hah?! Serius?!”

Kenapa?

Apa dirinya mengakui kalau beberapa bagian argumenku memang masuk di akal?

“Tunggu sebentar.”

Katanya.

Pertama Hanekawa melepas ikatan syal yang dikenalannya dan melepas sweater seragamnya—kemudian ia mengeluarkan tepi blus yang dimasukkannya ke dalam rok. Sementara aku kebingungan dengan apa yang sedang dilakukannya, Hanekawa juga memutar kedua lengan ke belakang badannya dan memasukkan kedua belah tangannya ke dalam blus.

Beberapa detik berlalu.

Dari dalam blusnya, Hanekawa melepaskan bra yang sudah tak terkait. Dengan tangan terlatih, Hanekawa kemudian melipatnya, dan kemudian ia menyembunyikannya di bawah matras yang sedang ia duduki.

Selanjutnya, dia memandangku.

“Oke, sentuhlah.”

“… …. … …!”

Aku tak meminta sebanyak ini!

Apa-apaan situasi ini?!

Aku belum mempersiapkan hatiku!

Dia-Dia tak perlu sampai harus melepasnya!

Dia tak perlu sampai melepas apapun!

“E-Eeeeeeh?”

Lagipula, apa-apaan ini?

Entah bagaimana, pada detik ia melepas sweater sekolahnya dan melepaskan baju dalamnya, rasanya, kedua buah dadanya seakan mengembang… apa ini ilusi optis?

Tak mungkin, kekuatan mata vampir kebal terhadap ilusi.

Hanekawa sekarang, setidaknya, sejauh yang bisa kulihat dari blus, takkan kalah dari Kiss-Shot, tidak, dirinya mungkin memiliki dada yang tak mungkin bisa dibandingkan.

Apalagi, bentuknya juga luar biasa.

Walau Hanekawa telah melepas pakaian dalamnya dan semestinya keduanya telah kehilangan tumpuannya, keduanya seakan-akan menentang hukum alam—kenyataannya seolah Hanekawa bisa melawan tarikan gravitasi sembari mempertahankan wujudnya sebagai manusia!

Ini benar-benar jauh melebihi bayangan.

Tentu saja, aku merasa Hanekawa memenuhi kelayakannya, dan karena itu aku membuat permintaan itu, tapi tetap saja, sudah tak sopan bagiku untuk mengatakan bahwa semuanya adalah untuk latihan.

Hanekawa Tsubasa.

Dirinya bisa bertanding seimbang melawan Kiss-Shot seorang diri.

Sama sekali tak terbayangkan Hanekawa punya dada seperti ini!

T-tapi…?

Berdiri, Hanekawa berjalan ke arahku (dan setiap langkahnya memperlihatkan gerakan yang jauh melampaui bayanganku, jadi kupejamkan mataku, dan aku tak bisa bergerak, seakan-akan lumpuh), dan segera dirinya duduk di hadapanku—meluruskan lengannya di kedua sisi, dengan keras ia menarik otot-otot punggungnya, dan lewat satu tarikan ia membusungkan dadanya ke arahku.

Dalam postur begini, dadanya kelihatan bertambah besar saja.

Tak diragukan ini bisa dibilang membusungkan dada.

Terlebih, karena kain blusnya cukup tipis, gambaran menyeluruh dari dada Hanekawa boleh dibilang hanya segaris tipis dari keeksplisitan.

“Araragi.”

“Eh? Ah, apa?”

“Berhubung kau akan memijatnya, pastikan kau memijatnya secara benar, ya.”

“Y-Ya?”

“Kupikir kau memijatnya sekurang-kurangnya enam puluh detik.”

“E-enam puluh detik…”

Tak mungkin.

Tantangannya terlampau tinggi!

Apa maksudnya dengan memijat secara benar?

Sebelum aku sadar, urusannya sudah berubah dari menyentuh menjadi memihat.

Sial, sekarang aku enggak bisa lagi bilang kalau ini cuma lelucon…

Apa yang sedang kulakukan pada temanku yang berharga?

“Melakukannya jangan setengah-setengah!”

“S-siap Bu!”

Sebagaimana diperintah, aku mempersiapkan kedua belah tangan secara refleks.

Aku mempersiapkannya, tapi lebih dari itu, aku tak sanggup bergerak.

Bagaimanapun, akibat kekuatan genggaman tangan yang dipunyai vampir, aku sebenarnya tak bisa tak setengah-setengah, tapi aku tak tahu kekuatan sebesar apa yang bisa kuberikan. Maksudnya, aku bahkan tak tahu apa aku harus memulainya dari atas atau bawah… dan aku sama sekali tak punya bayangan soal apa yang harus kulakukan sesudah gerakan yang pertama.

Jelasnya, keduanya takkan muat dengan tanganku saja…

Karena itu aku ragu untuk bergerak dari depan.

Mungkin bisa coba dari samping—tidak, tidak.

Uh, ada hal lain yang lebih penting di sini.

“H-Hei, Hanekawa.”

“Hm? Ada apa?”

“Bisa kau berbalik?”

Aku berkata dengan suara yang tahu-tahu saja memelan.

“Sulit melakukannya kalau harus sambil melihat wajahmu.”

Dengan hanya cahaya senter, mungkin Hanekawa tak bisa melihatku secara jelas, tapi sebagai vampir aku bisa melihat ekspresi wajahnya secara sempurna.

Wajahnya benar-benar sudah merah.

Dirinya sedang menggigit bibirnya.

Ini sulit.

“… … …”

Tetap tak bersuara, Hanekawa tiba-tiba mengangguk dengan patuh, kemudian menghadap ke arah berlawanan.

Aku bisa melihat akar kepang rambutnya.

Aku tak pernah memperhatikannya sebelumnya, tapi rambutnya benar-benar indah… sama sekali tak ada tanda-tanda kerusakan. Kurasa dia secara teratur merawatnya.

“Ugh… …”

Ah, tapi sekarang malah lebih sulit.

Berhubung Hanekawa telah membalikkan badan, sekarang aku harus melingkarkan tanganku ke depan badannya, tapi dalam kasus ini kedua lengannya yang terapit lurus ke badannya sedikit merintangi jalan…

“A-Angkat tanganmu ke atas kepala.”

“Memang ini senam radio?”

Meski berkata begitu, Hanekawa tetap mengangkat kedua lengannya.

Dengan begini, celah sudah terbuka.

Kemudian aku menyelipkan kedua lengan ke bawah kedua ketiaknya itu—jelasnya, sesudah sejauh ini, kedua tubuh kami sudah nyaris bersentuhan. Sebenarnya, karena Hanekawa menghadap arah satunya, jika aku menyentuh dadanya, tentunya aku akan terkesan seperti sedang memeluknya dari belakang…

Bahkan mengukur jarak pun sulit—haruskah aku menyilangkan lengan? Jangan, bukannya lebih mudah untuk menggenggam jika aku melanjutkannya secara normal.

Kubuka jari-jemariku.

Hanekawa masih belum bergerak sama sekali dari beberapa saat lalu—tapi dari belakang bisa kupahami bahwa dirinya gugup. Namun, aku sendiri jelas gugup juga.

Jantungku berdebar.

“K-Kau takkan marah sesudahnya?”

“Tenang saja. Aku takkan marah.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

“…Oke kalau begitu, kalau-kalau saja kau mengajukan persidangan nanti, tolong sekarang bilang, ‘Araragi, kumohon mainkanlah buah dadaku yang tak ber-bra.”

Krak!

Aku mendapat kesan kalau aku mendengar bunyi itu.

Itu pastilah bunyi urat nadi Hanekawa menyembul keluar. Atau itu otot wajahnya yang menyembul.

“A… A-Araragi, k-kumohon, m-mainkan b-buah d-d-dadaku yang tak ber-bra.”

“Enggak. Enggak bisa kalau dikatakan dengan suara pelan. Itu membuatmu terkesan seolah kau membencinya dan aku sedang memaksamu melakukannya melawan kemauanmu. Kamu mesti mengatakannya dengan suara lebih lantang apa yang kau ingin aku lakukan, atas keinginanmu sendiri.”

“Araragi! K-Kumohon mainkanlah buah dadaku yang tak ber-bra!”

“…Sungguh suatu kehormatan buah dadaku bisa dipijat oleh Araragi.”

“S-Sungguh suatu kehormatan… buah dadaku bisa dipijat oleh Araragi…”

“Um… Aku menumbuhkan buah dada yang lezat ini semata agar bisa dipijat Araragi.”

“Aku menumbuhkan b-buah dada yang lezat ini semata agar bisa dipijat Araragi.”

“Serius. Meski tak terlihat begitu, tapi kau memang benar-benar orang mesum, Hanekawa.”

“…Ya, saya sangat mesum, maafkan saya.”

“Kau enggak perlu sampai meminta maaf. Tak peduli semesum apapun kau, itu tak berarti bakal ada orang yang sampai terganggu dengannya.”

“I-Iya juga, ehehe.”

“Kalau begitu, konkritnya, dengan cara apa buah dada dari sang ketua kelas yang mesum dan serius bisa dibilang lezat?”

“Aku bisa bangga d-dengan ukurannya, dan kelembutannya… dan ketiadabandingannya saat dipegang!”

Aaah.

Aku paham, sekarang aku mengerti.

Selama pubertas, bahkan akupun mengalami kebingungan umum tentang untuk tujuan apa aku dilahirkan ke muka bumi… tapi kini, di usia tujuh belas tahun, akhirnya telah kutemukan jawaban dari pertanyaan itu.

Aku telah menemukan pencerahan.

Aku hidup selama ini semata-mata untuk hari ini.

Manusia bernama Araragi Koyomi dilahirkan ke dunia ini semata-mata untuk melalui pengalaman yang terjadi hari ini… tunggu, itu salah. Ini sudah bukan lagi dalam cakupan pribadiku semata.

Tentunya dunia ini sendiri ada semata-mata agar aku bisa sampai mengalami apa yang kualami hari ini.

Mulai titik ini, apapun yang akan tercatat dalam sejarah dunia sudah sama sekali tak penting lagi!

“Walau begitu, normalnya enggak mungkin seseorang boleh memijat buah dada temannya!”

Aku kabur.

Akulah orang yang akhirnya angkat tangan, aku mengambil tiga langkah mundur dan mulai menangis.

Itu sebuah postur yang teramat mirip dengan sebuah sujud.

“Enggak mungkin! Hal seperti itu enggak terjadi! Enggak terjadii!”

“…Pengecut.”

Hanekawa mengatakan itu dengan nada suara teramat rendah.

Bahkan tanpa menoleh ke arahku.

Bahkan tanpa melihat posturku yang sedemikian dekatnya dengan sebuah sujud.

“Pengecut. Pengecut. Pengecut pengecut pengecut pengecut.”

“Aku memang pengecut. Aku memang ciut. Aku minta maaf. Apapun yang kau katakan, aku tak punya kata-kata untuk membalasnya. Tolong maafkan aku. Ini salahku. Aku terbawa suasana. Aku malah memanfaatkan kebaikanmu Hanekawa, tapi berkat keterlibatanmu juga, aku akhirnya sadar.”

“Kamu kira akan kubiarkan semuanya berakhir begini? Kamu pikir sebesar apa tekad yang harus kukumpul untuk bisa duduk di sini seperti ini?”

“Eng-engga, orang sepertiku sama sekali enggak mungkin punya bayangan, tapi mumpung kita membahasnya, aku mau saja dengar sebesar apa tekad yang kau perlukan.”

“Jujur, kupikir ini takkan berakhir dengan hanya pijatan semata… Ah, jadi begitu rupanya, pengalaman pertamaku akan kudapatkan di atas matras di dalam gudang olahraga.”

“Bukannya agak terlalu cepat buat punya tekad semacam ituuu?!”

“Yah, tapi hal-hal seperti itu terjadi.”

“Terjadi apanyaaa!”

Perempuan zaman sekarang memang percaya diri, tapi… dalam keadaan gimanapun juga!

“Dan lagi, sesudah kau dengan jahatnya menggoda dan mempermalukanku, kau bahkan tak menyentuhku seujung jari pun….!”

“Itu alasan kenapa aku sekarang meminta maaf, tahu.”

“Jadi kalau kau minta maaf, masalahnya selesai. Huh. Jadi aku ada dalam posisi di mana kalau kau meminta maaf, aku wajib memaafkanmu. Huh.”

“Aku tahu ini tak bisa dimaafkan, tapi tolong maafkan aku, wahai ketua kelasku yang cantik dan berkacamata!”

“…Ini kali pertama ada seseorang yang begitu membodohiku.”

“Gyaaaaa!”

Apa ini soal dadanya?

Atau soal kacamatanya?

Atau soal ketua kelasnya?

“Araragi… apa aku sebegitu tak menariknya?”

“…. …. …. ….!”

Hentikan hentikan hentikan hentikaaaaan!

Berhentilah menindasku dengan kata-kata seindah itu!

“I-I-Itu karena bila aku pijat dadamu dalam situasi begini, mungkin aku akan menyesalinya seumur hidup!”

Aku juga mungkin akan menyesal karena tak memijat dadamu.

Tapi aku lebih memilih menyesal tak memijat dadamu daripada menyesal karena telah memijat dadamu!

“K-Kalau begitu, buat gantinya, boleh aku memijat bahumu?”

“Bahuku?”

“Ya. Bahumu. Aku ingin memijat bahumu.”

“… …Baik, sepakat.”

Akhirnya kita sampai ke persetujuan.

Aku lalu memijat bahu Hanekawa.

Pijat pijat pijat pijat.

Whoa, bahunya tak kaku sama sekali.

Aku dengar bahwa mereka yang bermata rabun lebih gampang mengalami pegal bahu… dia memang gadis yang sehat. Dengan cara begini, bahkan aku, yang bukan ahli pijat, bila memijatnya, rasanya sama sekali takkan enak.

Tentu saja dirinya tak memiliki urat sama sekali di bagian ini.

Aku bisa jelas merasakannya dari bentuk tulang-tulangnya—apa ini tulang dada?

Uh… sudah.

Tunggu tunggu, masih belum.

Pijat pijat pijat pijat.

Enam puluh detik berlalu dengan cara seperti itu.

“S-Sudah. Terima kasih.”

Ditambah memijat bahunya, aku juga berakhir dengan berterima kasih padanya.

Aku benar-benar karakter yang begitu pelayan.

“Apa itu cukup.”

“Y-Ya. Lanjutannya nanti saja di internet.”

“Seperti bisa saja kau memijat di internet.”

“Ka-Kalau gitu, lanjutannya nanti di tahun ajaran baru.”

“Ya. Itu lebih baik.”

Hanekawa mengangguk.

Kedua kepang rambutnya bergoyang pada saat yang sama.

“Kau sudah sampai sejauh ini dengan seorang gadis.”

Sementara aku melepas kedua tanganku dari bahunya, Hanekawa bangkit dan berjalan ke mana ia sebelumnya berada di matras, tapi ia tak duduk, melainkan berbalik ke arahku sembari berdiri.

“Jadi jangan bilang kau akan kalah ya.”

“Aku takkan.”

Kurasa sekarang sudah waktunya aku kembali ke cara bicaraku yang semula, kelihatannya aku selalu memakai ekspresi sopan dengan Hanekawa selama ini.

Tapi, bukan cuma saat ini.

Aku bisa mengucapkannya secara jelas.

“Aku enggak akan kalah.”

Aku berhasil mengucapkannya.

“Sekalipun harus merelakan dadamu sebagai bayarannya!”

“Sebenarnya, bagian itu lebih baik dibiarkan tak dibahas.”

Sepertinya jenis semangat yang kami berdua rasakan sedikit berbeda.

Hanekawa berkata, “mengesampingkan itu.” dan berdehem sekali.

Dan sesudahnya ia berkata.

“Yang kali ini adalah pertarungan terakhir.”

“Ya. Ini bakal jadi tirai penutup dari Gakuen Inou Batoru.”

Persis sesudah aku mengatakan itu.

Di luar gudang peralatan olahraga… terdengar bunyi menggelegar.

Catatan:

kuda-kuda lompatan: … ini terjemahannya apa ya? Itu loh, kotak persegi yang suka yang dilompatin dalam cabang olahraga senam.

bukan jadi manusia: soal perkataan Hanekawa pada Araragi, dalam bahasa Jepang, kata ‘ningen’ dapat diterjemahkan sebagai ‘orang’ maupun ‘manusia’

senam radio: kuasumsikan semua orang sudah tahu ini apa.

06/12/2012

Kizumonogatari – IND (015)

Buat yang sudah nunggu, aku benar-benar minta maaf karena ngerjain ini butuh waktu lama.

Jadi, beberapa bulan terakhir aku terlibat dalam semacam ‘proyek’ gede, dan proyek itu menyita perhatian dan waktuku lebih banyak yang kusangka.  Keterlibatanku di proyek ini karena suatu alasan jadi ‘diputus’ begitu saja. Jadi, yea, lanjutan ceritanya agak enggak enak.

Tapi eniwei, aku jadi bisa melanjutkan proyek-proyek pribadiku. Jadi berikut ini lanjutannya.

Berhubung sudah Desember, sisa babnya akan kukebut.

015

“Yyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy-yahoo!”

Itulah… hal pertama yang diucapkan Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh.

Malam tersebut, sesudah Kiss-Shot bangun, kuserahkan ketiga potongan tubuh yang Oshino berikan padaku kepadanya—tentang jantungnya, Kiss-Shot sempat kebingungan, tapi lalu kujelaskan kebenaran dari masalah ini sejauh yang kupaham. Kiss-Shot, menanggapi semuanya dengan “Begitukah.” yang riang, dan kemudian menggigiti jantung berwarna merah tua itu seakan-akan itu sebuah apel.

Tata krama menyebutkan bahwa tak semestinya kita memperhatikan bila ada seorang perempuan sedang makan.

Maka dari itu, akupun melangkah keluar ke lorong.

Kemudian, sesudah beberapa lama—kudengar pekikan tawa penuh geli.

Itu merupakan… sebuah luapan kegembiraan dari lubuk hati yang terdalam.

Kubuka pintu dan kembali ke ruang kelas.

Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh tengah berdiri di sana.

Ini adalah sosok yang sama dengan perempuan yang kutemui hari itu di bawah lampu jalan.

Rambutnya yang keemasan.

Kuperhatikan kini lebih panjang, dan kini ditata dalam bentuk satu buntalan di tenguknya.

Bajunya yang manis—kuperhatikan badan Kiss-Shot lebih tinggi dariku.

Jujur saja, kupikir dirinya luar biasa cantik.

Bukan sekedar menarik, atau keren—kurasa seumur hidupku, mungkin saja, aku belum pernah menyaksikan seseorang secantik dirinya.

Tidak.

Bahkan hari itu pun, aku sebenarnya berpikir demikian.

Tak diragukan lagi—inilah wujud Kiss-Shot yang sesungguhnya.

Seperti inilah tampilannya dalam sosoknya yang utuh.

“Yahoooo! Beta telah pulih! Beta telah pulih!”

“… … … …”

Yah, andai saja dalam wujudnya yang utuh ini dirinya tak melakukan hal-hal seperti berlari dan melompat-lompat dalam ruang kelas sempit ini, kenangan yang kudapat dari kejadian ini pastinya bakal lebih berkesan. Bahkan, aku mungkin bakal merasa tergerak.

Ya, Kiss-Shot bersemangat.

Sama sekali tanpa perasaan perlu menjaga citra diri atau semacamnya.

“Kiss-Shot, ngomong-ngomong, kelihatannya tadi Oshino pergi lagi waktu hari masih siang.”

“Ya? Adakah yang salah soal itu?”

“Itu, soal jantungmu, kau tak marah soalnya?”

“Tidak apa. Kepadanya, beta berikan pengampunan—atau lebih tepatnya, peduli pun beta sebenarnya tak terlalu.”

Kyahahahaha. Kiss-Shot melepas tawa dengan suara indahnya yang sama sekali tak cocok dengan sikapnya sekarang, dan kembali berlarian sambil melompat-lompat.

Hmmm.

Bagaimanapun, aku tak menyadarinya sebelumnya di bawah cahaya lampu jalan itu, tapi… dada Kiss-Shot benar-benar besar.

Setiap kali ia melompat, keduanya bergoyang, bergoyang, bergoyang, bergoyang…

Aku sampai mendapat kesan kalau bagian depan gaunnya secara tiba-tiba bakalan robek.

Begitu rupanya. Jadi dari wujud kayak gitu (10 tahun) dia mengalami proses macam itu (17 tahun), dan akhirnya menjadi begini (27 tahun) ya?

Benar-benar sebuah misteri.

“… … … ..”

Kalau aku memohon padanya pada saat ia sedang menari-nari dengan gembira begini, bisa saja Kiss-Shot memberiku izin untuk menyentuh dadanya. Bukan berarti pikiran kotor macam begitu tak mengapung dalam kepalaku, aku hanya tak punya cukup keberanian untuk mengutarakannya.

Pada akhirnya, sikap enggak tahu malu seorang manusia tetap saja ada batasnya.

“Hm.”

Lalu tiba-tiba saja…

…gerakan Kiss-Shot terhenti. Ia terpaku.

Apa? Yang benar saja! Tadi pikiranku sempat terbaca olehnya?!

Seketika aku gelisah, lalu berkata, “A-ada apa? Ada yang salah?”

Aku bahkan merasa bagian dalam tenggorokanku sampai keluar saat aku mengatakan itu.

“… … … … …”

Kiss-Shot berdiri mematung untuk beberapa lama, dan itu memperkuat rasa gelisahku, hanya saja, sesudah beberapa saat…

“Hm? Ada apa?” tanyanya. “Apa engkau tadi sedang berbicara dengan bayanganku?”

“Ba-bayangan?”

“Asal engkau tahu, beta baru saja melakukan perjalanan mengitari Bumi sebanyak tujuh setengah kali.”

Memangnya kau cahaya?!

Yang benar saja. Itu satu tanggapan lelucon yang sulit kupercaya telah benar-benar kukeluarkan.”

“Beta hanya berkelakar. Bila beta sungguh telah mengelilingi Bumi sebanyak tujuh setengah kali, maka beta saat ini pasti berada di Brazil.”

Kiss-Shot tertawa kembali.

Wow, dirinya benar-benar sedang gembira.

“Ha ha. Rasanya benar-benar menakjubkan. Merasakan keutuhan dengan diri sendiri—wahai, pelayan.”

Sesudahnya, Kiss-Shot terus menari-nari selama sekitar dua jam. Tapi pada titik itu, luapan kegembiraannya akhirnya telah sedikit mereda, dan kata-kata itulah yang kemudian dilontarkannya.

“Sekali lagi, beta sampaikan rasa terima kasih pada engkau. Tentu sejak awal beta percaya engkau dengan lihai akan satukan kembali tungkai-tungkai yang beta punya. Tapi sampai bisa menemukan pula jantung yang bahkan beta tak sadari telah diambil, itu satu hal yang sepenuhnya tak beta sangka. Pada engkau, beta limpahkan segenap penghargaan yang bisa beta berikan.”

“Entah ya.”

Walau Kiss-Shot memberiku terima kasih dan pujian, aku tak bisa tak merasa resah karena suatu alasan.

Aku tetap tak bisa menyingkirkan perasaan kalau aku telah menjadi korban dalam suatu rencana besar.

Seperti telah dipermainkan—itulah yang kurasakan.

“Aku tak merasa telah melakukan apapun selain disuruh pergi ke sana terus ke sini—daripada mengumpulkan, aku lebih merasa seperti semuanya kemudian terkumpul dengan sendiri.”

Kalau kau tanya siapa yang layak mendapat ucapan terima kasih di sini, aku merasa yang pantas itu Oshino.

Tapi berhubung Oshino bisa marah kalau kuucapkan itu, maka terima kasih itu lebih pantas diberikan pada Hanekawa.

Hanekawa Tsubasa.

Kebetulan pula, malam ini ia tak datang.

Kami telah sepakat kalau pertemuan kami berikutnya adalah pada saat tahun ajaran baru dimulai.

Itulah yang telah kami putuskan bersama.

Yah, tentunya sesudah ketiga spesialis pembasmian vampir itu kukalahkan, aku tak merasa nyawa Hanekawa akan terancam lagi—tapi tetap saja kupikir bukan ide bagus bila ia kembali ke puing-puing bimbingan belajar ini.

Pada waktu itu, kupikir masih belum pasti juga apakah Guillotine Cutter akan mengembalikan lengan-lengan Kiss-Shot atau tidak.

Jadi walau kubilang saat pertemuan kami lagi adalah di awal tahun ajaran baru—tanpa kusadari, hari yang dimaksud ternyata tak lain adalah lusa.

Waktunya sudah sedekat ini lagi.

Dan pada saat kami bertemu lagi, aku… telah kembali menjadi manusia lagi.

Setidaknya pengharapanku begitu.

… … Sampai akhir Oshino secara terang-terangan menghindari Hanekawa dan kemudian pergi. Tapi di sisi lain, kurasa aku dapat kesan kalau Hanekawa sebenarnya ingin bisa bertemu dengannya. Setelah kuingat lagi sekarang—sepertinya aku lupa bertanya padanya soal ini.

Yah—sudah terlambat untuk mempermasalahkannya sekarang.

Lebih penting lagi…

“Kiss-Shot, aku minta maaf karena ngatain ini pas kamu lagi senang-senangnya. Tapi, kalau bisa, aku ingin bisa kembali jadi manusia secepatnya.”

“Ah, tentu saja. Tenang, beta takkan mengabaikan permintaan engkau untuk kembali jadi manusia. Tapi pelayanku, sebelumnya, tidakkah lebih baik kita berbincang sebentar?”

“Berbincang?”

“Hanya sedikit lepas kangen—hah, bukan macam itu. Hanya saja ada yang beta perlu sampaikan terlebih dahulu sebelum berubahnya engkau kembali menjadi manusia.

Nada bicara Kiss-Shot sepenuhnya tenang.

Sorotan dari sepasang matanya sekali lagi terasa dingin.

Nampaknya, dirinya telah memasuki mode serius kembali.

“Oke, boleh.”

“Baiklah. Kalau begitu, mari kita berganti tempat?”

“Bukan di sini?”

“Di manapun boleh, tapi mari kita cari yang lebih bersuasana.”

Mari kita ke atas, adalah apa yang Kiss-Shot katakan.

Sebagaimana yang telah disuruh, aku keluar ruangan kelas, dan menapaki tangga—sepertinya hujan telah mereda, tapi malam telah tiba, jadi setinggi apapun kami pergi, tak ada resiko bagi kami untuk menghablur.

Kiss-Shot mendahuluiku dalam perjalanan menuju tangga, dan pada akhirnya kami naik sampai ke lantai empat.

Kiss-Shot memilih ruangan tempat aku dan Oshino berada pada siang hari sebelumnya.

Aku sempat yakin kalau Kiss-Shot akan mengajakku berbicara di sini, tapi dirinya terlihat tidak puas, dan akhirnya…

“Tidakkah lebih baik kita ke yang lebih tinggi dari ini?”

…menjadi apa yang dikatakannya selanjutnya.

“Bangunan ini enggak punya jalan buat ke atap kan? Tanda-tanda petunjuk tangga darurat juga enggak ada.”

Aku berkata, dan hanya…

“Hmm.”

…dikeluarkan oleh Kiss-Shot saat ia mengarahkan kedua matanya ke arah langit-langit.

Krak.

Begitu saja, sebagian langit-langit ruangan tersebut terhempas ke luar.

Sisa-sisa serbuk beton berhamburan, tapi dirinya, tanpa mempermasalahkan semua itu, berkata…

“Ikuti beta, pelayan.”

…dan  (seakan ini alami) dari bagian gaunnya yang terbuka seperti di dadanya, tumbuhlah sepasang sayap mirip sayap kelelawar(!), yang ia kibaskan, dan Kiss-Shot pun terbang menuju lubang yang telah dibukanya di langit-langit dengan hanya tatapannya saja.

“… … …”

Tidak, sudah ada terlalu banyak hal gila untuk bisa aku tanggapi.

Ekologimu benar-benar penuh lubang.

Maksudku, tatapan mata Kiss-Shot saja punya kekuatan destruktif! Ini sama sekali terlalu beda dari tatapan keji yang Episode punya!

Ini bahkan melampuai kemampuan perubahan wujud Dramaturgie.

Dirinya bahkan bisa menumbuhkan sayap.

Aku mencoba melakukan hal yang sama juga, tapi terlepas dari segala khayalan gila soal tumbuhan yang kuperoleh sampai selama ini, aku tak pernah membayangkan bisa mempunyai sayap, jadi tentu saja itu bukan sesuatu yang berhasil kulakukan.

Aku melakukan satu lompatan biasa, kemudian melewati rongga beton yang telah Kiss-Shot ciptakan.

Maksudku, bahkan satu lompatan seperti ini saja sudah hebat, ‘kan?

Puing-puing, atap dari bangunan bimbel itu—tak ada penjabaran yang lebih tepat selain kami sungguh-sungguh berada di bubungan atap.

Di atap itu…

…Kiss-Shot sedang menantiku dalam posisi jongkok.

Di bawah cahaya bintang di malam hari—gambaran melankolis seorang gadis yang sedang duduk mengandung semacam daya tarik ajaib. Walau aku tak paham alasannya, secara aneh aku tiba-tiba merasa tegang.

Aku tak tahu kenapa.

Aku gemetar dan tanpa sadar mengkerut.

Wujud sempurna—dada sempurna.

Keberadaan yang lengkap.

Serta—sebuah keberadaan yang superior.

Aku… merasa dirinya sedang membuatku menyadari bahwa aku bukanlah apa-apa selain bawahan dan pelayannya.

“Hm?”

Tiba-tiba, Kiss-Shot memandang ke arahku.

“Apa yang dikau lakukan? Kemarilah.”

“…Iya.”

Sebagaimana yang diperintahkan—aku duduk di sebelah Kiss-Shot.

Aku melakukannya, dan secara tak terduga aku menerima sundulan kepala.

Kiss-Shot yang melakukannya.

“Ap-apa yang kau lakukan?

“Apa yang engkau takutkan? Engkau pelayanku yang berharga. Beta takkan memakanmu.”

“B-Benar juga…”

Kata-katanya seakan menusuk hatiku.

Memang benar, sesudah aku melihat Kiss-Shot tertawa dengan cara seperti itu, aku merasa tolol karena sampai mengkerut.

Berpikir begitu, sikapku segera berbah santai.

“Nah, sekarang, apa sebaiknya yang perlu kita bahas?”

“Bukannya tadi kau bilang ada sesuatu yang kau bicarakan?”

Sesuatu soal mengubahku kembali menjadi manusia.

Itu yang kau katakan tadi.

“Pilihan kata-kata beta kuranglah tepat. Bukannya ada sesuatu yang ingin beta bicarakan, yang beta inginkan hanyalah berbicara dan berbicara tentang apapun boleh.”

“Kau mengatakan sesuatu yang aneh.”

Kalau begitu, mari kita mengobrol.

Aku tak yakin kapan, tapi aku ingat pernah diberitahu soal ini oleh Hanekawa.

Walau dirinya seorang vampir, Kiss-Shot tetap seorang perempuan, kurasa?

Mungkin tak heran bila dirinya suka mengobrol.

Jadi ini seperti semacam perayaan untuk memperingati pemulihannya.

“Apa ini sesuatu yang aku perlukan agar kau bisa mengembalikanku jadi manusia?”

“Ini memang sesuatu yang diperlukan. Oleh beta.”

“Hmmm. Tapi kau sudah hidup selama 500 tahun kan? Mestinya kau ada banyak kisah yang bisa diceritakan.”

“Kesempatan macam ini tak sering terjadi.” Kiss-Shot menanggapi kata-kataku. “Karena sepanjang waktu beta lebih banyak bertarung sampai mati dengan orang-orang seperti mereka bertiga itu—lalu sebelum beta sadari, beta telah diakui sebagai legenda. Yah, orang seperti bocah itu memang langka…”

“Bocah? …Oshino?”

“Bisa mengambil jantungku tanpa beta sendiri menyadarinya merupakan prestasi langka. Tak hanya tak dilumpuhkan… beta bahkan tak ingat kapan kami dulu bersimpangan jalan.”

“Aku juga penasaran dia sebenarnya siapa.”

“Siapa tahu? Sebab bagaimanapun, andaikata bocah itu mengabdikan dirinya untuk urusan pembasmian vampir, bahkan betapun akan dibuat gemetar olehnya. Untung saja dia oportunis yang lebih memilih bersikap netral.”

“Oportunis…”

Aku bahkan sempat berpikir kalau itu cara yang terlalu kasar untuk menggambarkan dirinya, tapi secara tak terduga, sebutan itu terasa cukup pas untuk Oshino. Seandainya aku katakan soal ini padanya, aku yakin dia malah akan membangga-banggakannya dengan tawa riang.

“Jadi apa yang terjadi kali ini boleh dikata cukup menggairahkan—namun, pada dasarnya, 500 tahun itu merupakan 500 tahun yang membosankan. …Benar juga, berbicara soal hal-hal yang sebaiknya kubicarakan, beta rasa beta perlu bercerita soal orang itu.”

“Orang itu?”

“Beta pernah jelaskan kalau engkau merupakan pelayan kedua yang beta pernah ciptakan, bukan? Maka dari itu, yang beta maksud tak lain ialah pelayan pertama beta tersebut.”

“Yang pertama…”

Sebentar.

Kalau tak salah… ini cerita tentang kejadian 400 tahun lalu, ‘kan?

“Ah, ya. Kalau enggak salah kau pernah mengatakannya. Aku pelayan yang kedua sesudah masa 400 tahun—aku ingat aku mendengar sesuatu yang seperti peluang ke Koshien.”

“Koshien?”

“Err, lupain. Tadi cuma perumpamaan. Yang lebih penting, jadi orang macam apa yang menjadi bawahanmu yang pertama? Aku ingin dengar.”

“Ya. Akan beta ceritakan.”

“Jadi dia orang yang mirip denganku?”

“Mengapa engkau berpikir demikian?”

“Er, itu karena…”

Aku belum menceritakannya.

Uh, Oshino tak sedang ada di sini sih, jadi kurasa tak apa-apa.

“…Sebenarnya, aku dengar soal ini dari Oshino. Ada dua makna dari dihisapnya darah oleh seorang vampir, jadi bila darahmu dihisap, itu tak berarti kau akan langsung berubah menjadi vampir.”

“Hm.” Kiss-Shot mengernyit. “…Jangan salah sangka. Bukan berarti beta berusaha menyelamatkan nyawamu—engkau beta ubah menjadi bawahanku semata-mata untuk mengumpulkan kembali tungkai-tungkai beta yang hilang. Sekarang, hal ini bisa beta beberkan. Tapi andai beta katakan itu dari awal, engkau belum tentu akan mau membantu, maka dari itu beta berbohong.”

“Oshino bilang kau pasti akan mengatakannya dari awal kalau begitu.”

“… … …”

Kiss-Shot terdiam. Dan pada akhirnya tak mengatakan apa-apa lagi.

Apakah itu karena perkataanku tepat atau malah sama sekali meleset… aku tak bisa memastikan.

“Gi-gimanapun, aku penasaran apakah aku mirip dengannya atau enggak… soalnya gimanapun juga, jumlah orang yang pernah kau pilih buat jadi pelayanmu sejauh ini baru dua.”

“Dirinya tak punya kemiripan apapun denganmu selain dari suku bangsa.”

Aku berusaha mengembalikan topik pembicaraan seperti sebelumnya sembari mengira kalau mestinya aku diam saja, tapi Kiss-Shot dengan datar mementahkan perkiraanku.

“Pria yang menjadi bawahanku yang pertama itu seorang kesatria… seseorang yang padanya pantas kupercayakan punggungku. Sungguh seorang kesatria yang sejati.”

“Uuuh… aku tak yakin apa aku sanggup jaga punggungmu.”

Paling-paling yang aku bisa cuma menjaga rumahmu.

Tapi sebenarnya, menjaga itupun mungkin aku tak sanggup.

“Yah, gimanapun, kejadiannya 400 tahun lalu ‘kan? Tak seperti sekarang, semua pria di masa itu sedikit banyak pastilah seorang kesatria.”

“Pandangan engkau terhadap sejarah nampaknya penuh bias dan distorsi.”

“Err…”

Sejujurnya aku tak mahir dalam sejarah dunia.

“Tidak, tunggu, gini, entah gimana aku ini orang yang punya sifat begini, jadi, kau tahu, aku bukan orang yang jago dengan cara berpikir hysteric.”

“Beta baru tahu ada makna kedua dari kata hysteric dalam arti yang bersejarah.”

Kini terungkap pula kalau aku tidak terlalu pandai berbahasa Inggris.

“Walau begitu, sudah cukup lama semenjak kali terakhir beta ke negeri ini. Jelas tampak negeri ini kini telah menjadi damai—hanya negeri ini semata yang tampak terpisah dari sisa dunia yang lain.”

“Maaf kalau aku ketagihan terhadap perdamaian.”

Aku tak yakin apa aku perlu minta maaf soal ini sih.

Namun begitu, jelas kalau aku bukanlah seorang kesatria.

Sebanyak apapun aku bersikap seperti dalam Gakuen Inou Batoru, aku tetap orang biasa luar dan dalam—tak peduli aku seterampil apapun sebagai vampir, aku tak lebih kuat dari anak SMP yang mengayun-ayun pisau roti.

Kiss-Shot pastinya kecewa.

Terlebih lagi bila pelayan pertamanya memang orang keren yang hebat.

“Tapi, kenyataan aku diubah jadi bawahan, baik itu karena kau khawatirkan aku, atau agar aku bisa kumpulkan tungkai-tungkai itu, pada akhirnya itu tetap tindakan yang dilakukan karena keadaan darurat… Jadi pada akhirnya aku enggak benar-benar merasa perlu ada kemiripan antara aku dan pendahuluku. Tapi tadi kau bilang aku dan dirinya berasal dari suku bangsa yang sama?”

“Benar.”

“Jadi dia ras mongoloid? Atau benar orang Jepang? Ah, itu pasti enggak mungkin. Berarti dari Asia daratan?”

“Bukan. Dirinya orang Jepang.”

Kiss-Shot mengucapkan sesuatu yang tak kuduga.

“Dirinya seorang pria yang kutemui saat kusia-siakan masa mudaku dengan berkeliaran di sepenjuru dunia. Kebetulan beta pelajari bahasa Jepang di masa itu pula—walau pemakaian kosa katanya telah berubah jauh semenjak saat itu.”

“Jepang 400 tahun lalu…”

Berarti itu periode Edo? Atau bukan ya?

Sial. Aku juga tak jago dalam pelajaran Sejarah.

Tepatnya, aku tak jago dalam apapun selain matematika.

“Jadi, dia bukan kesatria. Tapi lebih tepatnya, seorang samurai…”

“Hm? Ah, beta rasa kata-katamu benar.”

Kiss-Shot mengangguk.

“Bagaimanapun, dirinya lelaki yang kuat.”

“Hmmm. Kalau begitu, bukannya lebih baik kalau kau panggil dia saja? Kalau dia bilang dia bawahanmu, itu berarti juga semacam pelayan ‘kan? Kalau memang begitu, kau juga tak perlu sampai mengambil resiko dengan mempertaruhkan segalanya padaku…”

“Tidak mungkin. Sebab dirinya sudah mati.”

Kiss-Shot menyela perkataanku.

Secara harfiah, kata-katanya tersebut praktis menyela perkataanku.

“Soal itu, pun, sebenarnya sebuah cerita lama… Ingatkah engkau? Pernah beta berkata kalau dalam pertarungan, beta terkadang menggunakan katana.”

“Hm?”

Apa iya dia pernah memberitahuku hal ini?

Ah, iya, kapan ya, kalau tak salah ini sesuatu yang sempat disinggungnya saat kami membahas bilah-bilah panjangnya Dramaturgie. Kalau tak salah Kiss-Shot sempat mengatakan sesuatu soal menghasilkan sebilah pedang dengan kekuatan penciptaan materi.

Aku sama sekali lupa tentang hal itu.

…Tapi aku lega aku bisa ingat hal itu tanpa harus mengutak-atik isi otakku lagi.

“Katana yang kusebutkan waktu itu, adalah peninggalan darinya.”

Katanya.

Kiss-Shot kemudian menusukkan tangan kanannya ke dalam perutnya sendiri. Tangannya menembus kain bajunya, jemarinya melubangi organ-organ dalamnya dengan mudah.

Dan kupikir semuanya bisa berakhir tanpa aku harus mengutak-atik isi otakku…

Tanpa mempedulikanku yang tecengang, Kiss-Shot menarik keluar tangan kanannya dari dalam perut—yang kini memegangi sesuatu yang terlihat seperti pegangan sebilah pedang.

Terlebih lagi, bentuk pegangan itu… itu pegangan pedang Jepang?

Tebakanku ternyata sama sekali tak salah.

Pedang yang Kiss-Shot cabut dari dalam perutnya sendiri, dengan panjang total sekitar dua meter, rupanya adalah sebilah oodachi.

Youtou, ‘Kokorowatari’, bilah pedang kelas pertama dari seorang ahil pedang yang tak bernama, meski nampaknya pada masanya dirinya cukup dikenal. Yah, beta tak terlalu memahaminya secara baik, asal pedang ini bisa dipakai memotong saja sudah cukup.”

“Eeh…”

Sesudah luka besar di perut Kiss-Shot mulai pulih—aku mulai bisa memperhatikan katana yang dicabutnya secara seksama. Ukurannya panjang… tapi walau panjang, ukurannya tak lebih panjang dari pedang-pedang melengkung Dramaturgie. Meski begitu, walau pasangan flamberge yang Dramaturgie gunakan memiliki bentuk dengan kualitas artistik, pedang-pedang Jepang memiliki daya tarik unik mereka tersendiri.

Kalau aku hrus mengatakannya, untuk Kiss-Shot, dengan rambut pirang dan gaun yang dikenakannya, sebilah katanya berkesan tidak cocok dengannya—salah, sejak awal, tak peduli setajam apa sebilah pedang, apa mungkin ada senjata yang dapat menandingi tenaga super yang seorang vampir punyai?

“Jangan bergerak.”

Tiba-tiba saja, Kiss-Shot mengayunkan pedang itu, Kokorowatari.

Sekilas ayunan tersebut terlihat seperti gerakan mengibaskan debu dari permukaan pedang—namun kenyataannya bukanlah seperti itu.

“Hei…”

“Jangan bergerak. Saat ini, engkau baru saja terpotong oleh beta.”

“E-Eeeh?”

“Apa engkau merasakan sakit?”

“Eh? Enggak…”

“Hmmm. Itu berarti kemahiranku sama sekali belum berkurang. Kini engkau boleh bergerak lagi. Lukamu telah mulai pulih kembali.”

“A… Apa ini… kebohongan lain macam yang keliling dunia dalam tujuh setengah kali putaran tadi? Tadi kau bilang pulih, tapi pakaianku kan tak bisa pulih.. memang kau tadi memotong di mana?”

“Perut, secara melintang, beta juga memotong pula sesuatu yang beta tak tahan.”

“Tak tahan?”

“Jangan cemaskan soal pakaian. Ketajaman yang Kokorowatari miliki sangatlah asli—sampai ke taraf apabila bagian-bagian terpotongnya dibiarkan beberapa lama, maka setiap potongannya akan tersambung kembali. Tapi agar hal tersebut terjadi, semua kembali pada kemahiran beta semata tentunya.”

“… … …”

Kelihatannya benar.

Tapi serius…?

“Tapi, bagaimana bisa pedang itu bisa kuat digunakan olehmu—maksudku, tak sampai hancur oleh tenagamu? Bukannya itu aslinya memang hanya pedang biasa?”

“Alasannya adalah walau asal-usulnya seperti yang kau bilang, ini bukanlah ciptaan yang asli. Dengan menggunakan yang asli sebagai material mentah, bawahanku yang pertama menciptakan wujudnya yang ini dengan menggunakan darah dagingnya sendiri. Terlebih, aku betalah yang mewarisinya. Namun, berhubung pedangnya sendiri terlampau tajam, tak peduli berapa kali digunakan untuk memotong, ketajamannya akan tetap sama. Dengan demikian, boleh dikata ini katana yang lebih pantas dipakai untuk memotong Kaii—fenomena ganjil.”

“Pemotong… Kaii ya?”

“Tepat sekali. Berhubung Kokorowatari cukup sulit untuk diucap, lawan-lawan beta menyebutnya sebagai Pemusnah Kaii. Jadi Pemusnah Fenomena Ganjil aslinya bukanlah julukan beta, melainkan sebutan untuk pedang ini.”

Sembari berbicara—Kiss-Shot mengembalikan pedang tersebut ke dalam tubuhnya lagi.

Kesannya seolah dirinya sedang melakukan seppuku.

Sekali lagi, dirinya abadi.

Namun katana itu… menurut Kiss-Shot merupakan peninggalan bawahan pertamanya yang harusnya memiliki keabadian yang sama.

Bawahannya yang pertama… sudah terlanjur wafat.

“Seorang vampir yang abadi wafat… itu berarti dia tewas karena dibasmi ‘kan?”

Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter—orang-orang seperti mereka pastinya pernah ada sekitar 400 tahun sebelumnya juga.

Namun…

“Salah.”

Kiss-Shot berkata.

“Dirinya adalah orang yang takkan bisa dibunuh oleh siapapun.”

“Lalu kenapa?”

Sekalipun dirinya abadi…

…dengan cara apa dirinya akhirnya meninggal?

“Bunuh diri.”

Kiss-Shot menjawab dengan datar.

Dengan sorot mata dingin—memandangi kota di bawah sana.

“Itulah penyebab dari 90% kematian vampir setiap waktu: alasan yang lazim.”

“… … …”

“Di sisi lain, 10% sisanya terjadi akibat tindakan pembasmian vampir yang secara berkelanjutan terus terjadi—penyebab kematian sisanya adalah hal-hal seperti salah perhitungan.”

“Bunuh diri? Kenapa?”

“Kebosanan mematikan manusia, bukankah ada pepatah yang menyebut begitu?”

Kebosanan—mematikan manusia.

Walau ada orang-orang di dunia ini yang bisa sampai mati karena perasaan bersalah… aku tak bisa menyangkal kalau kebosanan juga bisa mematikan.

“Memang bergantung pada keadaan dan zaman, tapi, baik apakah seseorang merupakan vampir asli atau sebelumnya adalah manusia, dalam sebagian besar kasus, kelihatannya sebagian besar vampir, sesudah hidup selama 200 tahun, akan mulai menginginkan kematian.”

“Tapi… dengan cara apa mereka bisa bunuh diri? Bukannya mereka abadi?”

“Seperti yang engkau lakukan di hari pertama, melempar diri ke bawah sorot cahaya mentari adalah langkah yang tercepat—yah, kurang lebih bisa diumpamakan seperti melompat dari bibir tebing.”

“Jangan mengumpamakannya semudah itu dong…”

Tapi kurasa—kenyataannya mungkin memang benar seperti itu.

Dirinya pasti memiliki keinginan untuk mati, Kiss-Shot mengatainya padaku waktu itu.

“Kalau beta asumsikan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, maka itu adalah kenyataan bahwa yang dipilihnya ialah kematiannya sendiri, hanya beberapa tahun sesudah perubahannya menjadi vampir—walau dalam rentang waktu sempit itu, sisanya tak banyak yang berubah.”

Karena dia melakukannya di depan mataku.

Dia melempar dirinya ke bawah terik matahari.

Dengan sengaja, seraya pamer.

Kiss-Shot menggumam.

“Semenjak itu—tak pernah beta menciptakan seorang bawahan lain, sampai engkau.”

“…Apa tak sekalipun kau bosan?”

Aku bertanya.

Walau mungkin itu sesuatu yang tak semestinya kutanyakan.

“Kau tak cuma pernah hidup 200 tahun. Kau bahkan—sudah hidup 500 tahun.”

“Tiada mungkin beta tidak bosan.” Kiss-Shot menjawab, tanpa mengumpat. “Selama ini yang beta lakukan hanya bermalas-malasan.”

“… …”

“Malas, malas—tiada satupun kegiatan yang bisa diperbuat. Andai beta melakukan sesuatu, sebagai tanggapan atas kegiatanku, para pembasmi vampir pasti akan bergerak dan mulai menguntiti beta ke manapun beta pergi—seperti tiga orang itu yang mengikutiku kemari pada saat beta berwisata.”

“Berwisata.”

Semula, aku sempat berpikir kalau itu mungkin bohong.

Tapi aku berubah pikiran dan sesudah kupikirkan lagi, sangat mungkin yang benar adalah sebaliknya.

Jika sebelumnya, di negeri ini, bawahan pertamanya ia ciptakan…

“…Namun, engkau sama sekali tak membosankanku, pelayan. Engkau—setiap hal yang engkau laksanakan dapat dikata adalah gila.”

Mungkin engkau satu-satunya orang di sepanjang sejarah yang menawarkan lehernya sendiri pada seorang vampir—Kiss-Shot tertawa seakan terhibur.

Untuk penampilannya yang sudah dewasa, caranya tertawa sangatlah kekanak-kanakan.

“Bahkan sampai memanggiliku Kiss-Shot tiba-tiba.”

“Ah, soal itu, aku sebenarnya tak sempat tanya, tapi ternyata semua orang kelihatan kaget saat aku melakukannya. Bahkan Oshino. Apa itu sesuatu yang mestinya enggak boleh kulakukan?”

“Tiada satupun orang bodoh di dunia ini yang akan berani memanggil seorang vampir menggunakan nama aslinya.”

“Nama asli? Itu seperti nama pertama?”

“…Menjelaskannya saja tolol. Yah, dunia.. bukan, zamannya sekarang mungkin berbeda—bukan hanya beta. Bahkan tiga orang itu. Beta pastinya kolot dan memiliki selera pakaian yang ketinggalan zaman. Andai beta ingin bisa pas dengan zaman ini, mungkin beta harus mulai berpakaian seperti si bocah itu.”

“Mau berpakaian seperti gaya Oshino? …Jangan. Gaya baju mentereng begitu tak sepatutnya menjadi cita-cita.”

“Ini lebih dari sekedar cita-cita, melainkan fakta.”

Yah, terserahlah, kata Kiss-Shot.

“Hanya sebatas ini yang bisa beta obrolkan. Selebihnya, beta ingin mendengar kisahmu sendiri. Dikau telah hidup selama 17 tahun, bukan? Tidak mungkin engkau hidup sepenuhnya dengan bermalas-malasan. Cobalah ceritakan pada beta sesuatu yang menarik.”

“Whoa.”

Itu cara bercerita yang terlalu merendah!

Menyampaikan cerita menarik dengan cara seperti itu sepertinya bakal sulit.

“E-Errr… kalau begitu, gimana kalau kita coba satu cerita konyol pendek biasa. Dulu ada orang, yah, dia pemuda baik-baik, tapi dia punya masalah ketergantungan terhadap alkohol. Kalau cuma sebatas itu saja, itu cuma masalah pribadi, dan dia merasa dia tetap bebas melakukan apapun yang dia mau, tapi sayangnya pada suatu hari pas dia mengemudi dalam keadaan mabuk, dia menabrak seorang gadis kecil yang sudah mengangkat tangan saat lampu berubah hijau. Karena sedang mabuk, dia tak sadar kalau dia menubruk seseorang, dan keesokan harinya, di tempat parkir apartemennya, baru dia sadar ada darah menempel di bemper mobilnya, kemudian barulah dia sadar soal kejadian itu. Di koran, orang itu kemudian tahu kalau nama gadis yang ditabraknya adalah ‘Rika-chan’. Seyogianya, pria tersebut harusnya menyerahkan diri, tapi dirinya merasa tersiksa. Seharusnya tak ada saksi mata, karenanya ia merasa tak apa jika ia diam saja… Sembari memikirkan itu, tahu-tahu hari menjadi malam. Persis saat itu, tiba-tiba saja telepon kabel apartemen itu menerima panggilan. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku ada di depan apartemenmu.’ Sesudah bilang begitu, telepon lalu ditutup begitu saja. ‘Rika-chan?! Tak mungkin!’ Si pemuda seketika terguncang. Namun, itu jelas suara seorang anak-anak. Itu suara yang berdesis seakan keteloran. Jangan bilang itu gadis yang kutabrak, yang seharusnya mati…? Lalu pada saat itu dia menerima telepon kedua. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku sudah sampai lantai pertama.’ Kamar yang ditempati pemuda itu berada di lantai kelima! ‘Rika-chan’ pasti tengah menuju ke sana. Berasumsi demikian, pria yang sebelumnya terguncang sekarang menjadi ketakutan. Apalagi sesudah ada telepon ketiga. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku sudah ada di lift.’ hei, jangan curang!”

“… … …”

Sambutannya tak begitu baik.

Apalagi bila dibandingkan dengan seberapa lama aku berbicara.

Cara penyampaian yang banyak mengingatkanku akan pendongeng, tapi mungkin di akhir aku malah jadi lebih menyebalkan dari yang kusangka.

“Hm. Tak harus yang seperti itu. Cerita-cerita lucu yang biasa saja boleh.”

“Guh…!”

Harga diriku terluka!

Walau pada dasarnya aku lebih banyak berperan sebagai tsukkomi

“Oke, kalau gitu, bagian kedua!”

“Oooh.”

“Professor Clark dulu berkata—‘Boys be anchovy!’”

“… … …”

Kiss-Shot bahkan tidak tersenyum.

Bahkan lelucon satu kalimat pun tak berguna.

“Kalau begitu bagian ketiga! Aku ingat yang satu ini karena omongan soal sejarah dunia tadi keluar, akan kuceritakan cerita kegagalanku sendiri!”

“Aku mau dengar!”

“Pada ‘ABCD’ di ‘blokade ABDC’ yang mengepung Jepang sebelum Perang Dunia II, pertanyaan soal nama masing-masing negara yang menyusun blokade tersebut ditanyakan dalam ujian. Untuk pertanyaan itu, aku menjawab ini! ‘A itu Amerika, B itu Britania Raya, C itu China, lalu… D itu Jerman!”

“… … …”

Kiss-Shot sedikit memiringkan kepalanya ke sisi.

Dirinya bahkan tak tertawa mendengar kisah kegagalanku.

“Um, kalau aku mesti jelaskan lucunya di mana, itu karena aku menebak B itu Britania Raya, tapi karena suatu alasan, aku membaca D dalam huruf romaji… apalagi Jerman ada di pihak Axis kan?”

Aku menjelaskan leluconku sendiri.

Kemudian sebagai tanggapannya, Kiss-Shot berkata.

“…Blokade ABCD itu apa?”

“Kau bahkan tak punya pengetahuan umum yang dipunyai manusia biasa!”

Ini cara menyedihkan untuk salah menangkap sebuah maksud.

Sesudahnya, pada akhirnya…

Jarum jam melewati angka tengah malam, dan tanggal berganti ke 8 April—yang merupakan hari terakhir liburan musim semi di SMA Swasta Naoetsu. Aku dan Kiss-Shot masih tetap mengobrol di atas atap puing-puing bimbel.

Aku sempat merasa sorot mata dingin Kiss-Shot dipenuhi niat untuk menembaki semua cerita pendek yang aku bawa, tapi separuh jalan kami sama-sama gembiranya sampai-sampai segala sesuatu hal terasa lucu, dan apapun yang kami katakan sama-sama membuat kami tertawa.

Aku merasa ini obrolan yang sama sekali tak berarti.

Aku merasa ini obrolan yang penuh kepura-puraan.

Tapi… mungkin saja…

Kalau aku mengenang kembali liburan musim semi ini, kenangan terbaik yang tersisa, yang pastinya takkan bisa kulupa, adalah hari ini, saat ini, di tempat ini, ketika aku melewatkan waktuku dengan mengobrol bersama Kiss-Shot.

Semua semata karena hanya di kesempatan ini aku tertawa.

“Kalau begitu.”

Walau dirinya tertawa begitu banyaknya sampai menangis, sembari mengusap matanya yang tak pernah kehilangan sorot dinginnya—Kiss-Shot berdiri.

“Waktunya telah tiba—akan kuubah engkau kembali menjadi manusia.”

“Ah, iya.”

Benar juga.

Sial, aku bahkan sampai lupa.

Apa mungkin aku sampai lupa pada hal sepenting itu… aku sampai terkejut oleh diriku sendiri.

Aku melewatkan terlalu banyak waktu bersenang-senang.

Bagaimanapun—kesenangan kami sedang di puncak-puncaknya.

“Ngomong-ngomong… apa pelayan pertamamu tak pernah berkeinginan buat kembali jadi manusia?”

“…Hm, alasannya rumit.”

“Rumit, katamu?”

Kau memakai bahasa Jepang yang rumit.

“Bagaimanapun, di masa itu, masih tak mungkin bagiku untuk mengubah seseorang kembali menjadi manusia—tapi kali ini, jika bisa, beta hendak belajar dari pengalaman tersebut. Jadi, apa engkau siap?”

“Err… mungkin karena tadi aku tertawa kebanyakan, tapi sekarang aku sedikit lapar. Bisa aku keluar makan dulu? Karena makanan yang terakhir kalau enggak salah sudah kadaluwarsa, apa aku bakal terlambat kalau aku beli sesuatu dulu?”

“Hm? Benar, tentunya betapun yang baru saja kembali ke wujudku yang utuh pun merasakan lapar—tapi apa engkau tak dapat lagi menahannya?”

“Ah, sedikit.”

“Apa engkau ingin membawa makanan jalan?”

“Makanan jalan?”

Maksudnya apa?

Mungkin itu semacam ungkapan yang sudah ketinggalan zaman.

“Yah, ini malam terakhirku sebagai vampir. Ini titik di mana aku punya sedikit keraguan tentang itu. Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?”

“Beta tak punya kesukaan atau ketidaksukaan khusus.”

“Uhhhhmmm…”

Yah, gimanapun, pada jam segini, minimarket 24 jam pastinya buka, jadi sejak awal pun pilihanku sebenarnya tak banyak.

“Kalau begitu, baik. Lakukan apa yang kau mau, pelayanku. Akan beta terima harapanmu untuk bisa menjadi pelayanku sedikit lebih lama—beta akan bersiap-siap sekarang di lantai kedua.”

“Oke.”

Dan sesudah itu dikata…

Perbincangan kami di atas atap kemudian berakhir.

Walau hanya minimarket 24 jam yang masih buka, tetap saja jarak yang kutempuh untuk membeli sesuatu tetaplah jauh—perjalanan bolak-balik dari puing-puing bimbel ini bisa mencapai satu jam.

Kalau aku menempuhnya tanpa memakai kecepatan berlari vampir sih.

Tapi, di sisi lain, aku juga tak merasa ingin cepat-cepat.

Sebaliknya, dengan sengaja aku berjalan pelan-pelan.

Hmph.

Menyusahkan.

Akan kuubah engkau kembali menjadi manusia—katanya.

Sejujurnya, aku tak bisa menyangkal kalau dikatakan seperti dengan begitu ringannya tak membuatku tak sedikit resah.

Aku ini memang pengecut sekaligus penakut.

Tapi… bagian soal ‘punya sedikit keraguan tentang itu’ yang kukatakan pada Kiss-Shot, itu kebohongan yang kubuat di tempat. Tentu saja, aku tak mau menjadi pelayan Kiss-Shot untuk waktu yang lebih lama lagi. Itu sih sudah tak perlu lagi dibahas.

Aku cuma….

…benci perpisahan.

“…Uhmmmmm…”

Mungkin… kasusnya sama juga untuk Kiss-Shot, mungkin.

Mungkin sebenarnya dia ingin membahas sesuatu soal kembalinya aku menjadi manusia.

Tapi pada akhirnya pembahasan soal itupun tak ada.

Kenyataannya.. dia sungguh-sungguh hanya ingin berbicara denganku.

Untuk bersenang-senang.

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Vampir legendaris.

Pemusnah Kaii.

“Pastinya nanti… dirinya akan pergi ke suatu tempat.”

Aku telah kumpulkan kembali setiap bagian tubuhnya yang hilang.

Dirinya takkan punya alasan untuk tinggal lagi di kota ini—bukan, negara ini, untuk waktu lebih lama lagi.

Berwisata—itu katanya.

Kalau aku pikirkan kembali tentang pelayannya yang pertama, pastinya ini semacam napak tilasnya menyusuri tempat-tempat kenangan—hanya saja, sejauh kenangannya semata, yang terjadi adalah kenangan buruk yang dimilikinya malah diperkuat.

Jantungnya dicuri, tungkai-tungkai tubuhnya dicuri.

Lalu bawahan kedua yang diciptakannya dalam putus asa hanyalah orang biasa-biasa saja.

Bahkan bawahannya tersebut bilang kalau dia ingin berubah kembali menjadi manusia.

Walau dia juga bilang orang bersangkutan itu tidak sampai membuatnya bosan sih.

“Dia sempat ditawari jadi dewa, tapi dia menolak… berbeda sama sekali dari Guillotine Cutter.”

Begitu Kiss-Shot meninggalkan negara ini…

… dirinya akan keliling dunia lagi mungkin.

Bukan, mengingat dia berbicara seakan dirinya banyak berpergian di masa mudanya, kurasa hari-hari begini dirinya malah jarang pergi ke mana-mana.

Lagipula, apa Kiss-Shot bahkan bisa naik pesawat—yah, mungkin dirinya tinggal perlu menumbuhkan sayap dan selanjutnya terbang di udara. Tubuhnya benar-benar praktis.

Tapi, jelas tak ada kesedihan dari perpisahan yang mungkin terjadi.

Sederhananya, apa yang menjadi ikatanku dengan Kiss-Shot hanyalah kenyataan tentang bagaimana aku menjadi vampir, jadi aku agak sedikit takut berpisah dengan status itu.

Aku merasa bisa memahami tanpa keraguan alasan mengapa Oshino, yang berkesan sembrono itu, tak pernah mengucapkan sepatahpun kata perpisahan.

“Yah, habis mau gimana lagi.”

Kalau kau bertemu, suatu saat kelak kau pasti berpisah.

Itulah hidup.

Walau bagi Kiss-Shot dua minggu ini tidak lebih dari serangkaian kenangan buruk, memandang lagi ke belakang sekarang, mungkin ini bukan liburan musim semi yang seburuk itu.

Mungkin ini memang bukan liburan musim semi yang seburuk itu.

Wah, aku benar-benar bisa sampai berpikir demikian.

“Oke!”

Aku ingin melanjutkan kegembiraan di atap tadi, melanjutkannya dengan semacam acara perpisahan. Ingin membuatnya seberkesan yang aku bisa, aku habiskan seluruh uang yang kupegang di minimarket, menghabiskannya untuk kue dan berbagai manisan lainnya, lalu dengan langkah cepat kembali ke puing-puing bangunan bimbel.

Dalam perjalanan kembali…

…sementara aku memikirkan kata-kata perpisahan apa yang pada akhirnya akan aku ucapkan pada Kiss-Shot, aku turut mempersiapkan tekadku—dan akhirnya aku tiba di ruang kelas yang biasa di lantai kedua.

Tanggal hari itu adalah 7 April.

Jam saat itu adalah pukul 2 dini hari.

“Aku kembali.”

Dengan perasaan itu, aku membuka pintu kelas dengan sikap seriang mungkin.

Kiss-Shot sedang menghabiskan sebuah kudapan ringan.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Yang dimakannya adalah… sesosok manusia.

“…Eh?”

Kantong belanjaan minimarket yang kubawa seketika terlepas dari tanganku.

Mendengar bunyi jatuhnya kantong itu, Kiss-Shot memutar kepalanya ke arahku.

Sementara tangannya…

…tengah memegang kepala seorang manusia yang sudah separuh termakan.

“Ah, Pelayan—tak disangka, kau cepat. Tapi bukankah pernah beta bilang, tidaklah sopan memandang seorang perempuan yang sedang makan.”

Aku mengenali kepala itu.

Itu kepala salah seorang dari ketiga spesialis pembasmian vampir itu.

Satu-satunya manusia di antara mereka.

Itu kepala Guillotine Cutter.

Tubuhnya, dagingnya telah tercacah hingga kecil—dirinya telah dipotong-potong sampai ke ukuran cukup kecil agar cukup mudah untuk dimakan.

Bagaikan seekor ikan… yang disajikan secara utuh.

“Dia tiba-tiba saja muncul saat beta menunggu engkau—nampaknya medan pelindung yang terpasang tak sanggup menyembunyikan kekuatan penuh beta. Namun, berhubung beta lapar, dia datang di saat tepat. Dia cemilan bagus.”

Itu katanya.

Kiss-Shot menggerakkan kepalanya seakan sedang mencari-cari seseorang di belakang bahuku.

Kemudian dirinya memiringkan kepala, tampak heran.

“Apa? Makanan jalan yang berkacamata dan berkepang itu tak engkau bawa bersamamu?”

Catatan:

hysteric: histeris

Koshien: stadion bisbol ternama di Jepang di mana tim-tim bisbol SMA terbaik se-Jepang bertanding dua kali setahun (kalau enggak salah). Araragi memakai perumpamaan ini untuk mengingat betapa jarangnya Kiss-Shot mengubah seorang manusia untuk menjadi pelayannya, sama kayak betapa kecilnya peluang sebuah tim atau orang untuk berkesempatan bermain di Koshien.

Youtou: istilah yang digunakan untuk menyebut pedang yang memiliki semacam aura supernatural di sekelilingnya. Pedang yang Kiss-Shot cabut adalah pedang dari jenis ini.

Kokorowatari: penyilang hati; ini nama pedang yang Kiss-Shot cabut.

seppuku: variasi harakiri di mana seseorang dalam posisi bersimpuh memotong perutnya sendiri, kemudian ada ‘asisten’ yang kemudian memenggal kepala yang bersangkutan pada saat yang bersangkutan tertunduk

Lelucon soal cerita di lift itu… kayaknya ini referensi terhadap sesuatu, tapi saya enggak yakin apa.

tsukkomi: semacam orang wajar yang menanggapi lelucon dalam komedi manzai, yang dijalankan oleh dua orang.

Boys be anchovy: harusnya boys be ambitious. …Perasaan aku pernah membahas soal ini.

Blokade ABCD: kepanjangan ABCD, dalam bahasa Inggris, yakni: American, British, Chinese, Dutch. Dalam bahasa Jepang, masing-masing jadi ‘Amerika’, ‘Igirisu’, ‘Chuugoku’, ‘Oranda’. Araragi salah menjawab dengan mengira kalau D itu kependekan dari ‘Doitsu’ yang merupakan bahasa Jepang untuk Jerman. Kata ‘Igirisu’ dan ‘Oranda’ berasal dari lafal Portugis ‘Inglês’ dan ‘Holanda’, sementara ‘Doitsu’ berasal dari bahasa Belanda, ‘Duits’

27/09/2012

Nekomonogatari (Black) (news)

Berita yang kudengar kemarin: kelanjutan adaptasi anime dari seri novel Monogatari karya Nisio Isin yang baru sudah dikonfirmasikan. Nekomonogatari (Black) (‘cerita kucing, sisi hitam’) yang akan mengakhiri ‘season 1’ dari seri ini bakalan jadi dianimasikan, dan sepertinya tetap oleh studio animasi SHAFT dan sutradara Akiyuki Shinbo.

Hal-hal yang baru aku tahu:

  • Cerita berfokus lebih pada Hanekawa Tsubasa daripada Araragi Koyomi.
  • Berlatar waktu di antara Kizumonogatari dan Bakemonogatari.
  • Format adaptasi masih belum jelas.
  • Konon, keseluruhan season kedua seri Monogatari, mulai dari Nekomonogatari (White) sampai Koimonogatari, akan diangkat jadi seri anime berdurasi 26 episode. (Man. Apa itu bahkan mungkin?)

Ada suatu alasan tertentu mengapa bab cerita yang satu ini dikisahkan lebih akhir dibandingkan pendahulu-pendahulunya. Dan yea, ini episode yang mengetengahkan awal pertemuan Hanekawa dengan siluman kucing yang kemudian merasukinya. Lalu kudengar ini episode yang mempertemukan secara langsung Hanekawa dengan Oshino Meme untuk pertama kalinya.

Belum ada kepastian keluarnya anime ini kapan.

Di saat yang sama, season 3 dari seri novel ini sendiri baru mulai terbit.

(sumber: ANN, kayak biasa)

22/09/2012

Kizumonogatari – IND (014)

Masih belum diedit.

—————-

014

Hari berikutnya, tanggal 6 April.

Siang hari.

Dengan kata lain, malam hari bagi vampir, aku dan Kiss-Shot sedang tidur seperti biasa di ruangan dengan jendela-jendela tertutup pada lantai kedua bangunan bimbel terbengkalai itu.

Aku terbangun tiba-tiba.

Tak lain oleh Oshino Meme, yang pada larut malam sebelumnya pada akhirnya tak pulang, dan bahkan tak tampak di sepanjang pertarungan itu—ke mana sikap seriusnya yang keren kemarin menghilang? Hari itu dia tertawa keras dengan kesan main-mainnya yang biasa.

“Selamat pagi, Araragi!”

“…Aku benar-benar masih mengantuk.”

“Sudah, kemari saja.”

Walau kedua mataku masih separuh terpejam, aku diseret keluar oleh Oshino ke lorong. Di tengah semua keributan ini, Kiss-Shot tetap melanjutkan tidur lelapnya, tanpa sedikitpun berbalik dalam tidur.

Benar-benar gadis yang penuh kedamaian.

Sepertinya dirinya hidup tanpa memiliki kecemasan sedikitpun.

“Oshino, ada apa?”

“Hm? Jangan di lorong. Yah, Heart-Under-Blade mungkin takkan bangun. Tapi sebagai penjagaan, aku kita ke lantai atas. Kita ke lantai empat.”

“Lantai empat…”

Sekantuk apapun aku, setidaknya aku bisa mengerti perkataannya sejauh itu.

“Tapi jendela-jendela di sana membuka. Kalau aku kena sinar matahari…”

“Tenang saja. Hari ini hujan.”

“Hujan?”

Sungguh?

Setelah kupikir lagi, memang pada hari-hari terakhir hujan tak turun.

Jika hujan tak turun selama aku hilang kesadaran persis sebelum aku berubah menjadi vampir, maka kurasa ini hujan pertama semenjak libur musim semi dimulai.

Yah, mungkin juga sempat hujan selama aku tidur 12 jam setiap hari pada waktu siang… tapi berhubung aku tak menonton prakiraan cuaca tak mungkin aku bisa tahu.

“Kau bisa santai. Dengan kekuatan pemulihan dirimu, terkena sedikit cahaya matahari juga, itu bukan berarti kau bakalan langsung mati, ‘kan?”

“Ngomong itu sesudah merasakan sendiri gimana tubuhmu melepuh.”

“Ayo pergi.”

Oshino menaiki tangga dengan ceria. Sementara aku mengawasi langkah-langkah kakiku sendiri, aku menyusul dari belakangnya. Nampaknya ruang kelas terdekat di lantai empat tak masalah, jadi Oshino kemudian memilih pintu terdekat.

Begitu membuka pintu yang pegangannya nampak sudah rusak itu, bahkan selintas pandang saja, ruangan yang Oshino pilih tampak rusak dan berantakan tanpa bisa lagi diperbaiki.

Kurasa Oshino bukan jenis orang yang punya banyak keberuntungan.

“Satu, dua!”

Namun, kurasa Oshino sendiri tak pernah merasa dipermasalahkan dengan hal ini, dengan sigapnya dia menarik salah satu kursi terdekat, kemudian duduk di atasnya, dengan kursi mengarah ke posisi yang berlawanan dengannya.

Aku melakukan hal yang sama.

Kurasa, pada intinya aku cuma meniru apa yang dia lakukan saja.

“… Itu.”

Aku menunjuk ke tas perjalanan yang Oshino bawa di tangannya.

Melihatnya, aku langsung sepenuhnya terjaga.

Tas itu, sejauh ini, telah membawa kaki kanan dan kiri Kiss-Shot.

Itu berarti…

“Ya.”

Oshino mengangguk.

“Tebakanmu benar. Di dalamnya ada kedua lengannya Heart-Under-Blade.”

“…Begitu ya.”

Aku… menghela nafas dalam-dalam dan langsung saja merasa lega.

Aku sempat berpikir alasan Oshino masih belum kembali sampai pagi hari adalah karena Guillotine Cutter pada akhirnya tidak sudi mengembalikan kedua lengan Kiss-Shot pada kami, dan itu membuatku khawatir.

Kiss-Shot sendiri, seperti biasa, bersikap seolah tak peduli tentangnya sih.

“Sudah pagi. Mau tidur?”

Kemudian begitu saja, Kiss-Shot waktu itu tertidur.

Dia benar-benar gadis yang penuh kedamaian—hidup tanpa memiliki kecemasan sedikitpun.

Atau mungkin juga dalam hal ini akunya yang terlampau lemah.

Namun, kita di sini sedang membicarakan Guillotine Cutter yang menyebut Dramaturgie dan Episode, yang mengembalikan kaki kanan dan kiri Kiss-Shot masing-masing, ‘terlampau jujur untuk kebaikan mereka sendiri’. Kemungkinan Guillotine Cutter tak memenuhi bagian perjanjiannya kurasa sesuatu yang bisa saja terjadi.

Aku gelisah seperti apapun, aku tak punya pilihan selain mempercayakan urusan ini pada Oshino. Tapi…

“Uhm? Ah, aku tahu kau mau tanya soal apa.” kata Oshino. “Kau ingin tahu apakah Guillotine Cutter benar-benar memenuhi janjinya ‘kan?”

“Yah, sejujurnya, aku memang memikirkannya.”

“Itu sebenarnya kesempatan untuk memperlihatkan keahlianku. Ini bagian dari jasa negosiasi, lho—walau bisa saja kubilang Guillotine Cutter memang enggak berniat mengembalikan kedua lengan ini.”

“Sudah kuduga.”

“Dia menyimpan rasa permusuhan yang lumayan besar—nampaknya. Soalnya enggak seperti dua yang lain, dia bergerak semata-mata atas keyakinannya sendiri.”

“Keyakinannya ya.”

Aku ingat.

Beberapa kali ia mengutarakan hal tersebut lewat kata-katanya sendiri.

“Yang seperti itu yang disebut mentalitas pembela kebenaran, kurasa.”

“Definisi kebenaran bagi tiap orang itu berbeda-beda, asal kau tahu. Kau tak bisa dengan gampangnya membantah kebenaran orang lain—sederhananya, bagimu, dia adalah musuh. Di samping itu, meski dia mengomel ke sana kemari, hasil akhirnya tetap adalah ini.”

Oshino melemparkan tas perjalanan itu ke arahku.

Perlakuan yang kasar.

“Dia mengembalikannya.”

“Itu karena memang itu yang harusnya dilakukannya.”

“Itu karena aku berhasil membujuknya.”

“Dengan cara apa kau membujuknya? Maksudku, dia semacam fanatik ‘kan? Kalau memandangnya secara sekuler, dari sudut pandangku, dia benar-benar seorang fanatik, ‘kan? Bukannya mengembalikan kedua lengan seorang vampir itu tak jauh beda dengan meninggalkan keimanannya sendiri?”

“Itu karena dia pastinya orang yang akan mengerti asalkan kau bicara padanya—karena begitu-begitu juga, dia tetap saja seorang pro.”

“Seorang pro.”

“Persis, seorang profesional.”

Mungkin upayaku untuk mencocokkan fakta-faktanya berkembang agak terlalu dalam, Oshino pada akhirnya mengakhiri diskusi tersebut.

“Gamblangnya, aku memberitahunya bahwa bila kau berhasil mengumpulkan seluruh bagian tubuh Heart-Under-Blade, kau berkeinginan buat bisa kembali lagi jadi manusia—dan bahkan Heart-Under-Blade pun menyepakati hal tersebut.”

“…Dengan kata lain, Guillotine Cutter akhirnya mundur untuk kepentinganku?”

“Sesuatu seperti itu, ya, kurasa.”

Pilihan kata Oshino terasa sedikit hati-hati.

Rasanya seperti dirinya sedang berusaha mengindikasikan sesuatu. Tapi, kalau dipikir lagi, orang ini selalu mengindikasikan sesuatu secara gila-gilaan dalam setiap perkataan yang ia ucapkan. Jadi kalaupun aku mempermasalahkan apa-apa yang dikatakannya ini, mungkin apa yang dikatakannya sebenarnya tak ada artinya juga.

Sikapnya menerawangi orang, mungkin bisa saja memang hanya sikap.

Mungkin memang ada waktu-waktu tertentu ketika kenyataannya memang tak lebih dari itu.

Yah, apapun tujuannya, terkumpulnya seluruh bagian tubuh Kiss-Shot merupakan hal baik. Berbicara secara baik-baik, dengan segini saja, tak ada lagi yang bisa kupermasalahkan tentang dirinya.

Aku bahkan tak mau membandingkannya dengan orang-orang seperti Guillotine Cutter.

Kubuka ritsleting tas perjalanan itu.

Lengan kanan, mulai dari bagian siku sampai ke ujung, kemudian lengan kiri, terpotong dari pangkal bahu—kini telah kupastikan berada di dalam tas itu.

“Yah, setidaknya di akhir dia memilih untuk mempertahankan kehormatan pihak sana—bagaimanapun, dia mendapat peringatan karena menculik Nona KM. Seandainya ini sepakbola, dia pasti diganjar kartu kuning.”

“Kartu merah, kalau menurutku sih.”

“Kartu merah itu kalau Nona KM sampai dibunuh olehnya. Karena itu, seandainya Nona KM pada waktu itu, Episode juga sudah mendapat kartu merah—tapi di sisi lain, pastinya kau juga akan mau membunuh Episode, jadi semuanya akan imbang kurasa, pada akhirnya.”

“Aku tak pernah punya maksud buat…”

Aku tak pernah punya maksud buat membunuhnya, adalah apa yang semula hendak kukatakan. Tapi kalimatku terhenti pada detik terakhir.

Sebab, itu pasti bohong.

Waktu itu aku mengamuk, dan aku tak sanggup menahan diri—salah, aku bahkan tak peduli soal apa-apa yang mungkin bakal terjadi.

Oshino bahkan tak menghentikanku.

Mungkin aku… bahkan telah membunuh Episode.

Keinginan untuk membunuh… benar-benar ada pada waktu itu.

“…Itu, anu…”

“Kenapa? Suaramu sesaat tinggi lalu tiba-tiba jadi rendah begitu. Kau benar-benar bersemangat sekali, Araragi. Apa ada suatu hal baik terjadi?”

Oshino, yang mengatakan ini seolah dirinya sedang berusaha tak menonjolkan diri, kemudian menunjuk ke kedua lengan yang menyembul keluar dari tas perjalanan dengan batang rokoknya yang tak menyala.

“Bagaimanapun, kau telah berhasil mengumpulkan keempat tungkainya. Selamat atas keberhasilanmu, Araragi! Misimu beres. Aku bahagia seakan ini masalah orang lain.”

“Masalah orang lain?”

“Karena ini memang bukan masalahku, ‘kan?”

“… … …”

Hmm.

Ini memang masalah orang lain dari sudut pandangnya sih.

“Kuberi sedikit pujian dariku. Secara praktis—tanpa pengalaman bertarung sedikitpun, seorang pelajar SMA rendahan berhadapan dengan tiga veteran spesialis pemusnahan vampir dan berhasil menang tiga kali berturut-turut—aku benar-benar angkat topi buatmu.”

“Kau tak sedang memakai topi.”

“Itu ungkapan, tahu.”

Oshino mengembalikan rokoknya ke mulut.

…Yang masih saja tak menyala.

“…Ini sebenarnya tak begitu penting sih, tapi Oshino, kenapa rokok itu tak pernah kau nyalakan?”

“Hm? Soalnya, jika rokoknya kunyalakan, bukannya kemungkinan dibuatnya adaptasi anime bakal jadi lebih susah?”

“… … …”

Kenapa juga kau begitu terobsesi dengan adaptasi anime.

Bagiku, itu benar-benar sebuah misteri.

“Ayolah, Araragi. Meski sudah kuucapkan selamat, kau masih memasang wajah murung. Kalau ada tujuan yang berhasil kau capai, semestinya kau senang apapun yang terjadi ‘kan? Entah mengapa kau memancarkan aura yang sama seperti saat pemakaman.”

“Oshino, rasanya, masih ada sesuatu yang kuragukan.”

Aku berkata.

Di samping itu, sebenarnya masih ada satu hal lagi yang sebenarnya masih membuatku resah.

Sampai detik terakhir, aku kebingungan apakah sebaiknya aku menanyakannya atau tidak. Tapi bila aku melihat sikap riang Oshino sekarang, entah bagaimana sekarang terkesan konyol bila sekarang aku memikirkannya.

Aku tinggal menanyakan apa yang ingin kutanya.

Karena pada akhirnya, segala yang tak dijawab pada akhirnya akan tetap tak terjawab.

“Ini tentang Guillotine Cutter.”

“Ya?”

“Oke, aku paham dari segi alur—dalam pertarungan semalam, karena dia ceroboh, sedikit banyak, aku berhasil menang tanpa sampai terluka. Aku paham itu. Tapi Oshino, seperti yang kau bilang. Dengan satu serangan dari seorang anak SMA biasa… aku berhasil mengalahkan orang berbahaya kayak dia. Bukannya, ada sesuatu yang aneh di sini? Bagaimanapun juga, dia orang yang berhasil mengambil kedua belah lengan dari seorang vampir legendaris, ‘kan?”

“Hrm.”

“Tunggu, malah bukan cuma Guillotine Cutter. Bahkan dengan Dramaturgie dan Episode juga kejadiannya seperti itu. Masing-masing, keduanya mengambil kaki kanan dan kaki kiri Kiss-Shot ‘kan? Memikirkan itu, aku, yang kau bilang tak punya pengalaman bertarung, atau sekurang-kurangnya separah-parahnya pernah bertengkar dengan adik-adikku, dilihat dari sudut pandang itu, aku mengalahkan mereka secara mudah—kenapa bisa-bisanya sampai begini?”

Mungkin aku hanya beruntung. Mungkin saja.

Mungkin juga karena faktor kejutan yang kupunya.

Tapi… apa tak ada jawaban lebih masuk akal lain yang ada?

Apa merekanya yang lemah? Atau akunya yang terlampau kuat?

Walau aku bertanya, sebenarnya aku tak terlalu mengharapkan sebuah jawaban.

Itu cuma sekedar sebuah misteri bagiku.

Namun—aku tak yakin persisnya kenapa, tapi aku mendapat kesan kalau Oshino mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.

Alasan mengapa dirinya bersikap lebih netral dari siapapun yang lain.

Itu karena dirinya adalah orang yang sebisanya berusaha mempertahankan keseimbangan.

“Keduanya.”

Sebagaimana yang kuduga, Oshino mengatakannya.

“Dilihat dari sudut pandang mereka, maka jelas kalau kau yang terlalu kuat—dilihat dari sudut pandangmu, maka orang-orang itu yang terlampau lemah. Karena kau… bukan orang yang bukan siapa-siapa. Kau adalah bawahan langsung dari Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.”

“Tapi, masa iya cuma karena itu.”

“Iya, memang cuma karena itu.”

Dibenarkan olehnya.

Jawaban itu benar-benar dibenarkan oleh Oshino.

“Kalau aku harus memilih alasan mengapa amatiran sepertimu berhasil mengalahkan orang-orang itu, maka pastinya jawabannya itu—yah, tapi tetap saja ada banyak kemungkinan yang membuatmu bisa kalah sih. Itu juga kalau mau dibilang, peluang yang mereka punya bisa jadi lebih besar. Kau memang benar-benar luar biasa, Araragi.”

“Banyak atau sedikit… kau benar-benar sudah membuat kemungkinannya jadi seimbang buatku.”

Keseimbangan itu.

Memberiku keunggulan atas medan, mencegah pertarungan sampai mati—saat Hanekawa kemudian dijadikan sandera, menyusun rencana yang setara dengan keunggulan itu.

Semenjak awal, kau telah mengusahakan sebuah pertarungan yang adil.

Namun…

“Tapi, kalau begitu kasusnya, buatku tetap saja jadinya aneh. Maksudku, kalau aku pikirkan lagi keadaan awalnya, semua ini jadinya aneh.”

“Aneh dengan cara bagaimana maksudmu?”

“Kalau cuma dengan bawahanku saja hasilnya seperti ini, dengan Kiss-Shot dalam keadaan terbaiknya—maka tiga orang itu secara bersama-sama semestinya bisa jadi lawan yang seimbang, ‘kan?”

Kalau soal itu, aku yakin.

Kekuatan Kiss-Shot sebagai vampir dalam wujudnya yang asli, jika aku perkirakan minimumnya, maka jelas tak mungkin berada di bawahku—dan di samping itu, Kiss-Shot memiliki pengalaman 500 tahun.

500 tahun pengalaman.

Pengalaman tempur.

Bahkan saat dihadapkan dengan pedang-pedangnya Dramaturgie, salib raksasa milik Episode, lalu kelihaian menakutkan yang Guillotine Cutter punya—apa benar mungkin bagi mereka untuk mengambil keempat tungkai badan dari Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade?

Aku hanya punya satu kesimpulan.

Sepertinya itu tak mungkin.

Tak mungkin hal seperti itu bisa terjadi.

“Intuisi yang bagus, Araragi—jika dilatih, kau mungkin bisa jadi seorang spesialis yang cukup handal juga.”

Oshino berkata dengan seringai lebar—semula kupikir dirinya tak berniat untuk memberi jawaban secara serius, tapi ternyata tak juga.

Dia melanjutkan pertakaannya dan… dan dia juga menjawab pertanyaanku.

“Kenyataannya persis seperti yang kau bilang Araragi. Masing-masing dari mereka tak mampu menghadapi Heart-Under-Blade sendirian. Jadi mereka mencoba menghadapinya secara bersamaan. Tapi bertiga pun mereka masih belum mampu menandinginya. Alasannya karena…”

“Karena?”

“Karena jika saja seandainya Heart-Under-Blade waktu itu berada pada kondisi prima—bukankah keadaannya bakalan berbeda?”

Saat itu Kiss-Shot sedang tidak sedang berada dalam keadaan prima.

Aku punya ingatan yang sedikit banyak mendukung kata-kata ini.

Aku bisa mengingatnya bahkan tanpa melakukan ini-itu terhadap otakku—Kiss-Shot sendiri yang waktu itu mengatakannya.

Sesuatu soal kesehatannya sedang buruk—atau semacamnya.

Kupikir, itu cuma alasan.

Tapi, seandainya saja itu sebenarnya bukan cuma alasan….

“Jadi—pertarungan antara Heart-Under-Blade dengan ketiga orang itu akhirnya menjadi pertarungan yang seimbang.”

“… … …”

“Yah, terlepas apakah pada akhirnya kau menanyakannya atau tidak, pada akhirnya aku tetap akan menceritakannya padamu—tapi berhubung kau bertanya, Araragi, jadinya lebih gampang buatku untuk menjelaskannya. Terkadang, bahkan kau pun menunjukkan sedikit kecerdasan, ya?”

Sembari mengatakan itu…

…Oshino, dengan santainya mengeluarkan ‘sesuatu’ dari dalam saku kemeja alohanya, dan kemudian ia melemparkannya padaku. Saku kemejanya itu seharusnya menyimpan rokok—makanya kupikir yang ia lemparkan padaku adalah sekotak rokok, tapi ternyata bukan. Sebab bagaimanapun juga, saku kemeja aloha yang dikenakannya seharusnya tak cukup besar untuk menampung ‘sesuatu’ sebesar itu.

Itu, ternyata adalah…

…terbentuk atas gumpalan daging berwarna merah—sebuah jantung.

“Huwaaaaaa!”

Tanpa sadar aku berteriak, dan benda yang sempat kutangkap dengan kedua tangan itu terjatuh ke lantai—aku terpaku sampai sebegitunya.

Aku terpaku, maksudku, aku benar-benar dibuat sampai tak sanggup bergerak.

Sebaliknya, berlawanan dengan keadaanku yang tak mampu bergerak… jantung itu berdetak. Terus berdetak. Mengikuti irama dub-dub dub-dub.

“Itu jantungnya Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.” Oshino berkata. “Tanpa jantung itu, dia bertarung dengan tiga orang spesialis pemusnahan vampir sekaligus—tak heran tungkai-tunkai badannya sampai terpotong.”

“… … …!”

Wajar saja.

Bahkan aku pun bisa paham kalau kekuatan yang dimiliki kaum vampir khususnya adalah darah mereka—tanpa jantung yang menjadi andalan untuk peredaran darah, pantas saja Kiss-Shot bisa sampai kehilangan kaki tangannya secara harfiah.

“… …Dan dia sendiri bahkan enggak sadar.”

“Yap. Dia sendiri berpikir kalau yang mereka ambil cuma kaki dan tangannya saja—bahkan dalam keadaan nyaris terbunuh, pastinya dia sempat memikirkan alasan mengapa keadaannya bisa sampai seburuk itu. Heart-Under-Blade terlalu banyak menaruh kepercayaan terhadap dirinya sendiri—tak pernah sekalipun terbayang olehnya ada orang yang suatu saat akan mampu menarik lepas karpet yang sedang dipijaknya sendiri.”

“Begitu. Jadi itu alasannya.”

Hmm, pikirku.

“Aku sudah menduga kalau dia licik, tapi Guillotine Cutter sampai berhasil secara diam-diam mencuri jantung Kiss-Shot—habis itu, baru ketiganya sama-sama menyerang? Tapi, bisa sampai mencuri jantung Kiss-Shot tanpa yang bersangkutan sendiri sadar saja sudah luar biasa. Kurasa tetap pada akhirnya aku harus memandang dia lebih tinggi.”

“Oh, salah, Araragi.”

Oshino membantah perkataanku.

“Yang mencuri jantungnya bukan Guillotine Cutter.”

“Heh? Maksudmu? Jadi Dramaturgie atau Episode yang mengambil jantungnya, tapi kemudian Guillotine Cutter yang akhirnya memegangnya?”

“Ah, bukan bukan bukan. Bukan Dramaturgie atau Episode juga.”

“Terus siapa?”

Jangan bilang ada spesialis pemusnahan vampir keempat yang nantinya muncul. Pikiran itu saja sudah membuatku bergidik.

Namun, perkataan Oshino berikutnya ternyata adalah:

“Aku.”

“… … … … …. ….”

Kata-kata tak keluar dari mulutku sampai saat itu.

Ada beberapa reaksi yang sempat terlintas dalam pikiranku, tapi tak ada satupun darinya yang kupikir pantas buat situasi ini, dan akhirnya semuanya kutelan dalam-dalam. Pada saat itu, Oshino, tanpa harus diminta, mulai menjelaskan—bahkan dia melakukan gerak-gerik teatrikal yang mirip dengan apa yang dilakukan tokoh-tokoh antagonis dalam pertunjukan-pertunjukan sandiwara sejarah.

“Pada awalnya, aku kebetulan saja sedang lewat—jalan-jalan menyusuri jalan pada malam hari, dan di sana kemudian kulihat sesosok vampir dengan kekuatan sebegitu hebatnya yang pastinya tak asyik lagi. Aku dengan gampang membayangkan kalau ini pasti sang Penakluk Fenomena Ganjil—dan makanya, demi mendatangkan keseimbangan, aku mengambil jantungnya saat itu juga.”

Karena aku sudah menduga semenjak awal kalau sejumlah spesialis pemusnahan vampir juga akan datang ke kota ini—katanya.

“Tanpa dia sendiri sadar—secara diam-diam, jantungnya kuambil.”

“Kau… benar-benar bahkan bisa melakukan hal semacam itu?”

Sesudah mengatakannya langsung, aku sadar akan betapa tololnya pertanyaan itu—betul sekali, sebab aku sudah melihat kemampuan Oshino dengan mata kepalaku sendiri.

Oshino menghentikan serangan dari Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter secara sekaligus, dengan pose ceria yang membuatnya mirip seperti orang-orangan sawah berkaki satu.

Sedahsyat itu kemampuan yang Oshino miliki.

Bahkan tindak negosiasi dengan ketiga orang itu—berhasil ia wujudkan.

“Bisa.” Oshino menjawab. “Walau aku takkan bilang itu gampang—sebaliknya, itu pekerjaan yang gila-gilaan susahnya. Khususnya, susah buat mengeluarkan jantungnya tanpa membuat dia sendiri sadar. Dengan membawa salib, bawang, dan air suci, aku kurang lebih berhasil menutupi jejakku. Tapi, tetap saja hasilnya bisa sebaliknya. Walau peluang yang kupunya tak sampai kurang dari 50-50, peluang yang kupunya juga tak lebih dari itu—kemudian, secara tak terduga, dadu yang kulempar memunculkan mereka bertiga.”

“… … Dan Kiss-Shot yang telah kehilangan kaki dan tangannya, berhasil meloloskan diri dengan sedikit sisa hidupnya yang tersisa—dan kemudian, dia bertemu denganku.”

“Dan kemudian, dengan darahmu, dia akhirnya terselamatkan.” Oshino melanjutkan. “Dan kemudian, dirimu pun berubah jadi vampir.”

“… … Begitu rupanya. Makanya… tak heran jika pada akhirnya aku berhasil mengalahkan ketiga orang itu.”

Kurasa…

…daripada mengejutkanku, jawaban Oshino lebih jadi memuaskanku.

Perbedaan potensi yang ada—pada akhirnya menjadi penentu dari segala-galanya.

“Kenyataan kau memberitahu Kiss-Shot tentang bekas bimbel ini sebagai tempat perlindungan, apa itu maksudmu untuk penebusan atau semacamnya? Kau bahkan sampai membuatkan medan pelindung begitu kita ada di dalam…”

“Penebusan? Aku enggak berbuat apa-apa yang sampai perlu ditebus, asal kau tahu. Sebab, keadaan inipun merupakan kesimbangan. Keterlibatanmu telah sekali lagi menggerakkan timbangannya.”

“Timbangan?”

“Bagaimana sang Penakluk Fenomena Ganjil mengangkat seorang bawahan merupakan suatu hal yang tak terduga. Terlalu tak terduga. Sejauh urusanku sih, ceritanya mestinya tamat begitu jantungnya berhasil kuperoleh. Tapi dengan begini, ceritanya jadi disetel ulang.”

“Disetel ulang…”

Setelah Oshino mengataknnya sekarang—tiga orang itu juga mengatakan hal yang sama. Kiss-Shot menciptakan seorang bawahan bagi dirinya merupakan sesuatu yang terlampau tak terduga, seakan-akan dia…

…semacam penganut.

Semacam penganut keyakinan untuk tak menciptakan bawahan…

“Meski begitu, meski segalanya kusetel ulang, Heart-Under-Blade untuk kali ini telah terlampau dilemahkan—dengan satu lawan tiga, ditambah kau, si bawahan, dua lawan tiga, tentu saja keadaannya tetap tak seimbang.”

“… …Lalu, soal yang kau secara kebetulan berpapasan dengan Kiss-Shot yang kebetulan sedang menyeretku, lalu soal gimana kau kebetulan berpapasan pas aku sedang diserang oleh mereka bertiga, itu semua sengaja? Aku enggak bisa enggak ngerasa kalau kemunculanmu waktu itu tak masuk akal—jadi itu alasannya.”

Termasuk fakta bahwa Kiss-Shot memberitahuku soal bangunan bekas bimbel ini.

Termasuk fakta bahwa Oshino telah menyelamatkanku dari mereka bertiga.

Semua itu dilakukannya untuk mempertahankan keseimbangan—jadi itu rupanya alasannya.

“Sebenarnya, semua terjadi berkat kebetulan belaka.” Oshino mengatakannya dengan nada seolah ia mempermainkanku. “Kamu saja yang selama ini beruntung.”

“… … …”

Walau menurutku pribadi alasannya tak mungkin sekedar itu, secara tak terduga, kalau dipikir ulang, mungkin bisa saja alasannya memang benar-benar cuma itu.

Karena kau cuma bisa meninjau sebuah fenomena sesudah fenomena bersangkutan berakhir.

“Itu berarti—cuma dengan memperoleh kembali tungkai-tungkainya semata, Kiss-Shot takkan bisa pulih kembali ke tubuh primanya yang sesungguhnya…”

Walaupun aku memperoleh kaki kanan, kaki kiri, dan kedua belah lengan.

Selama jantungnya tetap tak ada… keadaannya bisa fatal.

“Tentu saja.” Oshino mengangguk terhadap kata-kataku. “Karenanya kau, sesudah ini, harus mengambil jantung itu kembali dariku—karena sekalipun sang Penakluk Fenomena Ganjil memperoleh kembali kedua lengannya, tetap saja kau yang akan memiliki kekuatan vampir terbesar. Dalam ronde keempat, pertarungan antara kau dan aku—seharusnya aku akan bisa mendatangkan keseimbangan dengan itu.”

“…Bertarung… aku, melawanmu?”

Seharusnya.”

“Seharusnya, kau bilang?”

“Padahal aku sudah memberikan tanda-tanda di sana-sini kalau musuh terakhir yang harus kau lawan adalah aku, termasuk dengan mengatai kalau kau payah dalam mengerjakan pekerjaanmu, tetap saja semua sia-sia.”

“Err, tanda-tanda itu masih kurang jelas.”

Pada akhirnya upayanya sama sekali tak efektif.

Kata-katanya terlalu tersamar.

Dan lagipula, aku tak ingat kau pernah mengataiku payah dalam mengerjakan pekerjaan.

Pastinya kau sendiri yang terlalu berlebihan memikirkannya dan kau bahkan tak perlu orang untuk membuatmu sadar akan hal itu…

“Itu bukan lagi maksudku.”

Oshino, kali ini sembari menahan rokok itu dengan malas di mulutnya, hanya dengan pergerakan bibirnya saja, menunjuk dengan rokoknya jantung yang tengah kupegang pada tanganku.

“Begini, itu sekarang sudah kukembalikan padaku, ‘kan?”

“Ha… hah?”

“Kalau kau mau menyebutnya penebusan, maka ya, ini penebusan. Aku benar-benar minta maaf soal apa yang terjadi pada Nona KM. Ini benar-benar tak wajar ada orang biasa yang sampai terlibat semuanya sampai sedalam ini. Karena normalnya—orang-orang melarikan diri dari fenomena-fenomena ganjil. Gadis itu, kurasa sedikit abnormal. Aku tak bisa menjelaskannya dengan bahasa yang baik…”

“… … …”

Hanekawa Tsubasa.

Bukan pengorbana diri—melainkan pemuasan diri.

Bahkan tatkala dirinya nyaris terbunuh oleh Guillotine Cutter… yang dikhawatirkannya tetap adalah aku.

Lalu setelah segalanya berakhir, bahkan tanpa mengatai apapun untuk menyalahkanku, dirinya malah mengatakan hal-hal absurd seperti, “Maaf. Aku tertangkap terlalu gampang. Mestinya aku lebih hati-hati…”

“Kalau aku boleh ngomong secara terbuka di sini…” Oshino bergumam, seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Kebaikan hati sampai sejauh itu justru akan bikin aku merasa enggak nyaman.”

“… Enggak semestinya kau mengatakannya dengan cara itu.”

“Itu sesuatu yang pastinya sempat kau rasakan juga. Apa aku salah?”

Oshino mengatakan itu seakan dirinya bisa sepenuhnya membacaku.

Seperti biasa—sayangnya, kenyataannya memang persis seperti apa yang ia bilang.

Aku sempat mengucapkan hal serupa pada Hanekawa.

Tapi bahkan sesudah dibilang soal itupun… Hanekawa tetap tak berubah.

“…Gadis itu, dia seperti memaksakan kebaikan pada dirinya sendiri, ‘kan? Tentu saja, aku enggak akan serta-merta bilang kalau itu salahnya. Pada kenyataannya, meski aku berhasil menolongnya dengan siasat buatanku, yang menjalankan siasat itu tetap kamu juga—dan aku memang tak merasa aku bisa begitu saja memperbaikinya dengan apa yang terjadi kemarin malam.”

Oshino, hanya saat mengatakan kata-kata itu—dengan cara yang sama seperti kemarin, memasang ekspresi datar.

“Ya ampun, ini benar-benar kegagalan memalukan. Kau bahkan bisa bilang kesalahanku telah mencemar nama baik seluruh Oshino yang ada di Jepang.”

“Kau tak perlu sampai membawa-bawa semua orang bernama Oshino yang ada di Jepang dong.”

“Hahaa. Karena itu, anggap saja jantung itu sebagai pengganti kado hiburan, Araragi. Aku memberikannya dariku sepenuhnya dengan maksud baik.”

“Hadiah hiburan…”

“Pada kondisi sekarang, aku orang yang mempertahankan hubungan-hubungan saling percaya. Dengan ini, keseimbangan—meski mungkin dengan cara agak rumit, saat ini telah terjaga.”

Oshino…

…berkata demikian, lalu bangkit dari kursinya.

“Kaki kanan. Kaki kiri. Lengan kanan. Lengan kiri. Lalu jantung. Dengan ini, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade telah memperoleh kembali bagian-bagian tubuhnya yang hilang. Dengan kata lain, dengan ini kau juga akan bisa berubah kembali menjadi manusia. Izinkan aku mengucapkan selamat padamu lain waktu—bukannya mestinya kau senang?”

“… … Entahlah. Sejujurnya, perasaanku campur aduk.” jawabku. “Aku merasa kalau semuanya seperti telah direncanakan.”

“Kau terlalu berlebihan memikirkannya. Jika kita berasumsi kalau memang ada seseorang di luar sana yang merencanakan semua ini, maka aku, juga, adalah salah satu yang menjadi bagian rencananya.”

“Kelihatannya enggak demikian, lho.”

“Terlepas dari apakah itu kelihatan apa engga, memang begitu faktanya. Araragi, kau agak terlalu memandangku tinggi sekarang. Bahkan aku pun punya hal-hal yang bisa dan tak bisa kulakukan. Aku punya kecerdasan, tapi aku bukan orang cerdas, asal tahu saja.”

“… … …”

Dirinya rupanya benar-benar orang yang menyebalkan.

“Aku mungkin melerai, tapi aku tak pernah bersekongkol. Oh ya, Araragi, aku tanyakan ini karena sekedar ingin tahu, tapi belakangan, apa kau tak pernah merasa lapar?”

“Hm? Yah—kurasa aku pernah mengatakannya sebelumnya, tapi semenjak aku berubah jadi vampir, mungkin karena faktor keabadiannya, aku tak benar-benar merasakan nafsu makan belakangan.”

“Ah, begitu ya.”

“Ada yang salah dengan hal itu?”

“Adakah? Yah, mungkin semuanya.”

“Semuanya…?”

“Yah, aku cuma merasa sudah waktunya kau mulai merasa lapar seputaran ini. Bagaimanapun, waktu dua minggu telah berlalu lagi—hahaha. Pasti berat buatmu. …Sampai jumpa, Araragi. Sesudah kau berhasil balik jadi manusia dengan aman, pastikan buat enggak bertindak serampangan lagi. Orang-orang yang pernah menemui fenomena ganjil sekali akan cenderung gampang bertemu fenomena ganjil lagi. Jadi berhati-hatilah.

Sembari berbicara—bahkan tanpa mengembalikan kursi yang tadi didudukinya ke tempatnya semula, Oshino berjalan keluar ruangan, meninggalkanku dalam keadaan masih terduduk.

“Hei, memang kenapa—kau jangan bicara seolah sekarang kau mau pergi.”

“Aku memang mau pergi. Pekerjaanku sudah tuntas—hasilnya sepertinya gagal sih, tapi tetap saja, apa yang tuntas tetaplah tuntas, apa yang sudah berakhir tetap saja berakhir. Ah, benar juga, Araragi. Tentang bagian dua juta yenmu dan bagian tiga juta yen Nona KM, dengan total lima juta yen, anggap saja sekarang kita chara.” *chara=impas*

Cha… charai?” *charai=main-main

“Hei, yang seperti itu sih aku. Aku bilang, impas. Menyeimbangkan satu sama lain. Kegagalanku, dan jantung Heart-Under-Blade. Yah, mungkin nilainya sendiri tak benar-benar pas. Tapi anggap saja ini bagian pelayananku yang enggak dipungut biaya.”

“… … …”

“Kau tak perlu melotot seperti itu. Tak ada kerugian apa-apa di sini—mungkin tampangku enggak demikian, tapi sebenarnya aku jenius. Selama bisa mendatangkan keseimbangan, aku tak mau terlalu mempermasalahkan bagaimana caranya. Yah, sampaikan saja salamku pada Nona KM.”

“Kau tetap enggak mau menemuinya?”

“Ya. Bagaiamanapun semuanya juga berakhir tanpa pertemuan—yah, bisa kubilang, aku tak merasa perlu memaksa untuk bertemu dengannya.”

“Yah, kau mungkin benar sih. Walau urusan dengan tiga orang itu telah berakhir, sekalipun kalian bertemu, itu enggak berarti dia bakalan terlibat sesuatu yang aneh lagi, ‘kan?”

“Jangan buat aku memikirkannya. Itu bikin aku canggung, tahu. Di samping itu…”

Di samping itu, Oshino mengatainya sekali lagi.

Sesudah itu.

“Gimanapun, gadis itu membuatku merasa tak nyaman.” katanya. Secara jelas—dengan penuh nada pahit.

“Yah, walau tadi aku bilang mau pergi, untuk sementara waktu aku memutuskan buat berkeliaran lebih lama di kota ini. Jadi kalau suatu saat kau melihatku di jalan, jangan segan-segan menyahut, ya?”

Lalu seakan berubah sikap, Oshino tertawa riang.

“Ngomong-ngomong, kalau kau masih saja merasa berhutang padaku—begini saja, cari dan kumpulkan saja untukku semua kabar burung dan cerita aneh, mitos-mitos fenomena ganjil, yang beredar di kota ini. Bagaimanapun, bidang kekhususanku adalah soal itu. Kuharap kau bisa memaafkanku buat masalah seperti yang satu ini—bukan berarti sejak awal aku menyukainya sih.”

Apa?

Bahkan saat mengatakan ini, dengan kecepatan langkah tak berubah, Oshino membuka kembali pintu dengan gagang rusak, melangkah keluar ke lorong, dan begitu saja, menutup kembali pintunya.

Bahkan kata-kata perpisahan pun tak ada.

Ngomong-ngomong soal itu—rasanya aku memang belum pernah melihatnya mengucapkan kata-kata perpisahan pada siapapun.

Seremeh apapun adegan perpisahannya… Oshino tetap akan selalu menjalaninya dengan tawa riang.

“Yang benar saja.”

Masih merasa berhutang padanya? Yang benar saja.

Tak mungkin aku merasa seperti itu. Terlepas apakah semua ini direncanakan atau tidak, sebagian masalahku berakar darimu juga.

Tentu saja—berkatmu pula aku bisa terselamatkan sih.

Salah.

Seandainya aku mengatakan kalimat itu padanya, kira-kira dia menanggapinya seperti apa ya?

Yang menyelamatkanmu adalah dirimu sendiri—kurasa dia akan mengatakan sesuatu seperti itu.

“…Yah, dengan ini, lengan kanan, lengan kiri, dan jantung, GET!”

Dari Guillotine Cutter, lengan-lengannya.

Dari Oshino Meme, jantungnya.

Setiap bagian yang hilang kini telah terkumpul semuanya.

Setelah sekian lama, waktu pemulihan sepenuhnya dari sang berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin, sang Penakluk Fenomena Ganjil, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, akhirnya telah tiba.

—————–

Catatan:

Sebenarnya, ada permainan kata pada saat Oshino berbicara soal bagaimana dirinya adalah lawan terakhir. Dia ngatainnya ‘last boss’ = rasubora; ‘payah dalam mengerjakan pekerjaan’ = zubora.

22/09/2012

Kizumonogatari – IND (013)

Belum kuedit.

———————————-

013

Guilotine Cutter.

Pria dengan gaya rambut berbentuk landak yang berpenampilan seperti pendeta katolik.

Memiliki mata sipit yang membuatnya terlihat seperti orang yang tenang.

Seorang manusia.

Seorang manusia—penyangkal fenomena-fenomena ganjil.

Seorang manusia—penghapus fenomena-fenomena ganjil.

Dirinya tak membawa senjata.

Seorang spesialis pengusiran vampir yang mengandalkan kekuatan iman.

Kiss-Shot menyebutnya sebagai paus dari sebuah ‘agama baru’, sekaligus komandan bayangan tim rahasia yang melayani umbra divisi keempat dari kesatuan penjagaan khusus kegelapan.

Episode yang setengah vampir menyebutnya sebagai seorang biarawan yang licik. Bahkan Kiss-Shot nampak memiliki kewaspadaan sampai tingkat tertentu terhadapnya.

Inilah… Guillotine Cutter, yang telah mencuri kedua belah lengan Kiss-Shot.

“Oh, kau benar-benar berlari sampai kemari. Usahamu sangat layak dihargai! Namun, kenyataan kau tak berubah wujud menjadi kabut merupakan pertanda kalau kau masih belum mahir melakukan ini.”

Guillotine Cutter berkata… dengan nada bicara yang terlalu sopan—sembari menyipitkan mata saat melihat kedatanganku.

“… … …!”

Aku tak sanggup berkata-kata.

Tak ada kata apapun yang bisa kuucap.

Kami kini berada… di lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu.

Di tempat yang sama di mana, pada penghujung bulan lalu, aku bertarung dengan Dramaturgie, dan di mana aku bertempur dengan Episode persis pada malam sebelumnya—Guillotine Cutter telah menantikan diriku.

Dia merangkul di sebelah lengannya tubuh dari Hanekawa Tsubasa.

Tangannya yang tak membawa senjata apapun…

…kini tengah mencengkram leher Hanekawa secara erat.

“A… Araragi…”

Keadaan Hanekawa… untuk saat ini masihlah aman.

Dirinya tak terluka, dan dirinya tak sampai dibuat tak sadarkan diri.

Tentu saja.

Alasannya karena… Hanekawa tengah dijadikannya sandera terhadapku.

Jika keadaannya tak aman, maka keberadaannya di sini takkan berarti.

Untuk saat ini.

“Ma… maaf, aku…”

“Mohon agar kalian tidak seenaknya mengobrol di hadapanku.”

Tiba-tiba saja, Guillotine Cutter menambahkan sedikit tekanan pada jari-jemarinya yang mencengkram Hanekawa.

Guillotine Cutter dengan mudah memaksa Hanekawa untuk tetap diam.

Terbatuk, dari dalam tenggorokan Hanekawa, ada sedikit udara yang terdorong keluar.

“H-Hei! Hentikan!”

Kupikir, memprovokasinya saat ini bukanlah ide yang bagus. Tapi karena aku tentu saja tak tahan berdiam diri, secara alami, aku berteriak.

“Ya?”

Dengan nada bicara yang teramat sangat tenang, Gullotine Cutter bersuara.

“Adakah sesuatu yang mungkin kau perlukan, wahai Tuan Monster?”

“Hanekawa… dia… dia perempuan.”

“Aku bukanlah orang yang suka membedakan perlakuan antara jenis kelamin.”

“Tapi… dia… cuma orang biasa.”

“Tepat sekali. Sebab jika tidak demikian, maka tentu dirinya takkan kujadikan sandera.”

“Jang…”

Aku…

Aku tak tahu lagi bagaimana caranya aku bisa berbicara.

“Jangan… jangan lakukan sesuatu yang menyakitinya…”

“Menyakitinya? Maksudmu, sesuatu yang seperti ini?”

Dengan tangan masih menempel di pangkal lehernya, Guillotine Cutter secara perlahan mengangkat tubuh Hanekawa. Seolah-olah kini Hanekawa tergantung dari leher.

“U… Uuugh!”

Hanekawa—meringis dengan menahan sakit.

Sedangkan sebagai tanggapan, Guillotine Cutter…

“Dirimu mengesalkan.”

…menurunkan lengannya dan membiarkan kaki Hanekawa menjejak bumi.

Namun, Hanekawa masih tak diizinkannya untuk hanya sekedar batuk. Tak bisa kubayangkan tindakan macam apa yang akan Guillotine Cutter lakukan bahkan sebagai tanggapan atas sebuah reaksi psikologis.

Aku—begitu saja—tiba-tiba menjadi lemas.

“Kau… kau…”

Semenjak awal, aku sama sekali tak ada maksud untuk meremehkan.

Pastinya, aku sama sekali tak meremehkan kata-kata peringatan yang telah Episode dan Kiss-Shot berikan padaku—namun, seperti biasa, tetap tak ada apapun yang berhasil aku pahami.

Guillotine Cutter.

Mungkin pada saat aku mengetahui dirinya hanya ‘manusia’ sebagian diriku merasa lega. Karenanya, mungkin aku menjadi sedikit lengah. Sebab setidaknya, dirinya tidak memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan manusia, atau keabadian yang dimiliki vampir dan separuh vampir—kukira tingkat kesulitan yang akan kuhadapi telah berkurang.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Orang ini mengambil sandera tanpa pikir panjang sama sekali.

“Ini, kali ini, sepenuhnya salahku.”

Oshino.

Kembali ke puing-puing gedung bimbel, saat Kiss-Shot baru saja akan bangun—sesudah memberitahuku soal penculikan yang telah menimpa Hanekawa, dirinya mengatakan itu dengan ekspresi sungguh-sungguh menyesal.

Ini bukan lagi saat baginya untuk bersikap main-main.

“Segalanya masih baik-baik saja sampai kemarin; aku bahkan sudah sekalian melibatkan Nona KM dalam kontrak pada malam harinya. Tapi tetap saja di akhir, aku salah perhitungan. Masalah Episode melempar salibnya ke Nona KM, itu masih termasuk bagian dari pertarungan. Tapi, biasanya, manusia yang hidup di dunia ini, terutama mereka-mereka yang ada dalam situasiku, beneran takkan sampai sudi melibatkan orang normal…”

“Tunggu, jadi itu alasan kau selama ini menghindari Hanekawa?”

“Bukannya aku sengaja menghindarinya. Pastinya, aku memang berharap agar kami enggak perlu sampai bertemu. Dia bicara denganku saja kurasa lebih baik jangan. Soalnya, aku juga sebenarnya enggak menginginkan keterlibatan orang normal, enggak terbatas pada Nona KM saja. Aku enggak akan berusaha mencegahnya, tapi aku enggak akan mengusahakan agar itu sampai terjadi juga—prinsipku selama ini memang begitu. Namun, Guillotine Cutter…

Dia seakan tak ragu sama sekali, kata Oshino.

“Sedikitpun dia enggak gentar—semua upayaku berakhir sia-sia. Aku salah total dalam membaca bakat dan kemampuan dari pihak musuh kita.”

“…Tapi kenapa Hanekawa—maksudku, mestinya dia tak tahu apa-apa soal tempat ini, ‘kan?”

“Bisa jadi selama ini dia mengawasi. Mungkin—pas pertarunganmu dengan Episode. Atau bahkan semenjak pertarunganmu dengan Dramaturgie. Aku sudah mencoba menghindari itu dengan bernegosiasi dengan ketiga orang itu secara terpisah—tapi kayaknya aku tetap kalah cepat tanggap dalam hal ini.”

Seperti halnya saat bagaimana Hanekawa secara diam-diam sempat mengawasiku dari balik gedung sekolah.

Seperti halnya saat bagaiamana Oshino diam-diam mengawasi pertarunganku dari suatu tempat.

Guilotine Cutter juga—sebenarnya secara diam-diam turut mengawasi.

“Meski kau dikuntit, medan pelindungnya masih akan bekerja. Tapi Nona KM kan bukan tinggal di sini—lambat laun kalau kau bersabar kau pasti bakalan bisa menemukannya juga.”

“… … …”

Hanekawa meninggalkan medan pelindung ini sesudah berpisah denganku.

Sudah jelas Guilotine Cutter menemukannya dalam perjalanannya pulang.

Atau bahkan, mungkin orang itu menculik Hanekawa dengan menungguinya di rumahnya sendiri.

“…Apa yang harus kulakukan?”

Aku bertanya pada Oshino.

“Brengsek, sekarang apa yang mesti kulakukan?!”

Anehnya—aku tak bisa menemukan kata-kata untuk bisa menyalahkan Oshino.

Apa tindakanku sekaranglah yang merupakan hal terpenting untuk saat ini.

Tapi tak ada gagasan apapun yang muncul dalam kepalaku.

“Kesepakatannya masih belum berubah, Araragi. Kau dan Guillotine Cutter akan berhadapan satu lawan satu. Jika kau yang menang, Araragi, Guillotine Cutter akan mengembalikan kedua lengan Heart-Under-Blade. Sebaliknya, kalau dia yang menang, kau mesti memberitahunya tempat persembunyian Heart-Under-Blade.”

“…Lalu bagaimana soal Hanekawa?”

“Hanekawa tak dihitung dalam kesepakatan. Kurasa, Guillotine Cutter memandangnya sebagai alat yang mungkin bisa dia manfaatkan—salah, sebagai senjata.”

“Senjata…?”

Seperti halnya kedua pedang panjang Dramaturgie.

Seperti halnya salib raksasa milik Episode.

Sebagai senjata pilihannya, Guillotine Cutter akan menggunakan… Hanekawa.

Guillotine Cutter dalam hal ini telah dipersenjatai Hanekawa.

“La-lalu tempat dan waktunya?”

“Ditentukan olehnya. Tempatnya masih sama seperti biasa, lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu—kenyataan dia memilih tempat itu adalah bukti bagaimana dirinya telah mengawasimu sejauh ini. Lalu waktunya adalah malam tanggal 5 April.”

“Eh?”

“Dengan kata lain: malam ini.”

Itu penetapan waktu yang terkesan sangat tergesa. Tapi bila memikirkannya dari sudut pandang Guillotine Cutter, meski memuakkan, aku tak bisa tak mengerti.

Hanekawa tak lebih dari orang biasa.

Di samping itu, tak sepertiku yang bodoh, Hanekawa murid teladan—bahkan aku pun akan khawatir bila harus keluar rumah malam-malam. Seandainya untuk satu malam saja dirinya tak pulang ke rumah, aku yakin kedua orangtuanya pasti akan menghubungi polisi.

Guillotine Cutter hendak menuntaskan segalanya sebelum hal itu terjadi.

Cara kerjanya mungkin memang busuk. Tapi tak bisa kusangkal, Guillotine Cutter tetap seorang profesional.

Dia akan membereskan urusannya sebelum suatu kehebohan terjadi—tapi ini bukan berarti keselamatan Hanekawa dijamin olehnya sih.

Sebaliknya, aku sedikit berpikir kalau Guillotine Cutter takkan bebas membiarkan begitu saja Hanekawa yang terlanjur memiliki pengetahuan tentang seluruh situasi ini.

Bagaimanapun—soal keinginan menghindari kehebohan itu, bagiku, nampaknya itu sesuatu seharusnya bisa kumanfaatkan.

“Tepat sekali.”

Demikian Oshino berkata.

“Semangatnya seperti itu dong, Araragi.”

“Oshino…”

“…Aku mengatainya seperti apapun, yang terjadi memang salahku. Karenanya, kuberi kau satu petunjuk lagi buat kali ini. Sebuah rencana buat menyelamatkan Nona KM. Jika kau bisa melakukan itu, pastinya kau akan bisa menaklukkan Guillotine Cutter.”

“…Bahkan dengan Hanekawa sebagai sandera pun?”

“Ya.”

Oshino mengangguk.

“Pertama—lupakan semua soal tokoh-tokoh utama komik-komik Gakuen Inou Batoru.”

Oshino melanjutkan.

“Sehabis itu, tanggalkan kemanusiaanmu.”

Sudah tak banyak lagi waktu yang tersisa.

Sudah tak banyak lagi waktu yang kupunya untuk hanya khawatir.

Karenanya, sesudah Oshino mengucapkan kata-kata itu, aku tak punya banyak pilihan selain mengaikuti strategi yang diajarkannya padaku. Resiko menyiapkan sebuah strategi sebelum pertarungan—dalam hal ini, resiko jika aku menjadi gugup dan kebingungan seandainya strategi itu gagal—terlepas dari semuanya, untuk kali ini resiko itu akan kuambil.

Meski kini sudah pertarunganku yang ketiga lagi, tetap saja tak ada apapun yang bisa kumanfaatkan dari pengalaman yang kuperoleh.

“Berhubung Dramaturgie dan Episode sudah terlanjur pulang ke kota mereka masing-masing—sebenarnya sangat menyebalkan bagiku untuk menjadi lawanmu sendirian. Kalau tak ada sandera yang bisa kupergunakan, akan sangat susah bagiku untuk menandingimu, bukan?”

Guillotine Cutter mengatakan semua itu tanpa sedikitpun ekspresi getir maupun penyesalan.

Dengan pandangan matanya yang sipit itu, dirinya tersenyum, seakan tengah menghibur dirinya sendiri.

“Keduanya benar-benar terlalu jujur, bahkan buat kepentingan mereka sendiri. Dramaturgie telah mengembalikan kaki kanan Heart-Under-Blade, dan Episode telah mengembalikan kaki kirinya. Mungkinkah ini yang mereka sebut sebagai kode etik kehormatan? Murahan sekali.”

“… … …”

“Dengan kata lain, Heart-Under-Blade pastinya telah pulih sesuai keadaannya itu. Hei, bekas bocah manusia, bawahannya Heart-Under-Blade, jika aku melawanmu secara langsung, maka jelas tak mungkin bagiku untuk melukaimu.”

Mau bagaimanapun juga, aku tak punya tubuh yang abadi—itulah yang sedang dikatakannya padaku.

Itulah yang dikatakannya padaku tanpa kegetiran sama sekali.

“Apa… Apa yang akan kaulakukan terhadap Hanekawa?”

“Aku takkan melakukan apa-apa sama sekali. Asalkan, kau juga tak melakukan apa-apa sama sekali.”

Guillotine Cutter dengan cepat menjawab.

“Seandainya kau ingin aku melakukan sesuatu terhadap gadis manusia ini, aku akan melakukannya lho—selalu memudahkan karena taktik tawanan selalu bisa dipakai untuk mereka-mereka yang baru menjadi bekas manusia. Dengan vampir sejati sebagai lawan, siasat ini takkan berguna—atau mungkin bila sanderanya adalah bawahan sang vampir sendiri, mungkin ceritanya akan berbeda? Mau coba? Kau yang akan kujadikan sandera pertama buat Heart-Under-Blade?”

“…Jangan bercanda.”

“Aku sangat serius.”

Dengan cepat…

Seakan dirinya menggunakan tubuh Hanekawa sebagai tameng, Guillotine Cutter mengarahkan tubuh Hanekawa kepadaku.

Seakan—tubuhnya tak lebih dari alat.

Seakan—tubuhnya benar-benar adalah alat.

“Aku tak mempunyai tenaga super seperti yang dimiliki oleh kalian, tapi aku masih punya tubuh yang terlatih. Kalau hanya seorang gadis saja—aku masih bisa membunuhnya dengan mudah.”

“Guh…”

Kurasa bisa jelas kulihat kalau Guillotine Cutter memiliki tubuh yang terlatih.

Kenyataan itu terlihat jelas dari bagaimana ia menangani Hanekawa dengan hanya satu tangan sejauh ini—namun yang telah Guillotine Cutter tempa sejauh ini sebenarnya bukanlah badannya, melainkan kekuatan tekadnya.

Secara mental, dirinya terlampau kuat.

Dalam situasi seperti ini—tak ada satupun celah yang ia perlihatkan.

“Secara kebetulan juga, aku takkan membunuhnya dengan cara yang akan memberinya waktu untuk bisa pulih kembali, seperti halnya yang terjadi dengan Episode—akan kuremukkan otaknya dengan sekali serang. Jika kuhancurkan organ kompleks seperti otak seorang manusia, bahkan dengan darah bawahannya Heart-Under-Blade sekalipun, pemulihan sempurna sudah takkan lagi mungkin, bukan begitu?”

“…Kau masih menyebut dirimu manusia?”

“Oh tidak. Aku ini Tuhan.”

Guillotine Cutter…

…dengan satu tangan di hadapan dadanya, dengan lantangnya menyatakan diri.

“Sudah menjadi ketetapan bahwa orang-orang sepertimu yang menentangku sudah selayaknya tak ada. Atas nama Tuhan, atas namaku sendiri, aku bersumpah—aku takkan membiarkan makhluk sepertimu ada.”

“… … …”

“Walau seandainya kau bersedia menjadi rekanku, seperti halnya Dramaturgie dan Episode, mungkin layak bagiku untuk membiarkanmu hidup?”

“… …Aku menolak.”

Bahkan sebelum sadar dengan apa yang ingin kukatakan, aku sudah menjawab.

Mendengar undangan itu keluar dari mulutnya saja sudah membuatku merinding.

Tuhan apanya.

Di mataku juga, kau tak lebih dari seekor monster.

Oshino Meme saat ini mungkin sedang mengawasi apa-apa yang tengah terjadi seperti yang telah dilakukannya selama ini—namun bagaimanapun juga, dirinya tak bisa melibatkan diri. Ini pertarungan satu lawan satu—itulah hasil negosiasi yang telah diusahakannya.

Dia tak punya pilihan selain menutup mata terhadap keadaan si sandera.

Ada juga kemungkinan keluarnya Kiss-Shot untuk menolongku. Tapi aku tak mau mengambil resiko terbunuhnya Kiss-Shot oleh Guillotine Cutter sesudah keadaan sampai ke titik ini—keadaan Kiss-Shot masih jauh dari sepenuhnya pulih.

Lalu, seandainya saja Kiss-Shot memang bisa menang, jika begitu tetap saja kedua lengannya takkan bisa ia peroleh kembali. Jadi keadaannya akan serba salah bahkan bagi dirinya juga.

Maka dari itu…

Aku… sekarang, tak mempunyai pilihan selain memberikan prioritas tertinggi pada nyawa Hanekawa.

“Begitu ya.”

Tanpa menunjukkan rasa kecewa sedikitpun, Guillotine Cutter mengangguk.

“Jujur saja, kupikir tak mungkin makhluk baru sepertimu akan bisa mengalahkan Dramaturgie dan Episode. Asal tahu saja, keduanya secara tak terduga benar-benar menyedihkan.”

“Kau enggak pantas bicara begitu… kau tak keluar semenjak awal itu karena kau hendak memakai dua orang itu buat mengujiku ‘kan? Jadi begitu giliranmu tiba, kau tinggal memilih siasat yang cocok untuk dipakai melawanku!”

Oshino memang menjalankan negosiasinya dengan tiga orang itu secara terpisah. Tapi yang pada akhirnya menentukan giliran pertarungan masing-masing tidak lain adalah mereka bertiga.

Dramaturgie menjadi orang pembuka, Episode bilang giliran berapapun tak menjadi masalah baginya. Namun Guillotine Cutter—semenjak awal memang berkeinginan menjadi pemukul terakhir.

“Bukannya aku sengaja berpikir terlalu dalam tentang ini. Hanya saja, Episode memang menyerahkan soal urutan pertarungan itu padaku, yang menjadi atasannya, dan soal Dramaturgie… dia ingin menjadi pemain pertama karena berkeinginan untuk mendapat bayarannya. Ah, tidak… kalau kupikir sekarang, Dramaturgie sempat mencoba membuatmu menjadi temannya, bukan? Maka dari itu pastinya ia berpikir bahwa kau mungkin bisa saja terlanjur dikalahkan oleh Episode atau aku sebelumnya. Yah, tentunya, bukannya aku tak berpikir seperti yang kau bilang, tapi pada akhirnya, seandainya salah satu dari mereka yang berhasil memusnahkan Heart-Under-Blade, tetap saja di akhir yang diakui jasanya adalah nama gerejaku.”

“… … Jadi pada dasarnya kau cuma ingin jalan mudah.”

Pastinya yang menawarkan bayaran buat nyawa Kiss-Shot itu sebenarnya kamu juga.

Tapi kalau begitu, apa tujuannya?

Jika tujuan Dramaturgie adalah untuk mendapatkan semacam bayaran atau undangan, maka bagi Episode, bayarannya baginya pasti menempati posisi nomor dua sesudah perasaannya sendiri—itulah alasan kenapa dia tak mempermasalahkan urutan gilirannya—dan karena itu, kira-kira tujuan Guillotine Cutter sendiri apa?

Dalam hal ini, kurasa sudah jelas.

Motivasinya pasti keyakinan dan keimanannya sendiri.

“Yah, buatku, memang tak masalah. Aku bukanlah orang yang enggan bekerja keras—demi memperbaiki dunia ini, aku tak akan melewatkan kemudahan satupun.”

Obrolan santai ini sudah terlampau panjang, kata Guillotine Cutter.

Memang, dirinya termasuk orang yang banyak bicara.

Mungkin banyak bicara memang sudah menjadi sifatnya—lidah yang lepas kurasa hal baik, aku bisa mengatakan kalau itu pertanda bahwa dirinya tengah ceroboh.

Ada dua cara mengalahkan seorang musuh yang posisinya di atas angin.

Yang pertama adalah menang dengan membiarkannya menjadi ceroboh, atau menang dengan membuatnya menjadi tegang.

Aku berpikir seperti apapun, buat kasus ini aku cuma bisa membuat Guillotine Cutter menjadi ceroboh.

Aku berhasil mengalahkan Dramaturgie dan Episode dengan cara ini.

Dan lalu…

Guillotine Cutter, sekarang, kini tengah ceroboh.

Sekalipun tak ada celah yang diperlihatkannya, kini dirinya tengah ceroboh.

Ada peluang bagiku untuk menang.

Namun, agar aku bisa melakukan itu…

Agar aku bisa melakukan itu, aku tak punya pilihan selain menanggalkan kemanusiaanku.

“Hanekawa.”

Kuabaikan kata-kata Guillotine Cutter, kemudian kupanggil Hanekawa, yang masih dengan erat digenggam olehnya.

“Semua akan baik-baik saja.”

Hanekawa tak bisa menjawab.

Alasannya karena dirinya tengah dicekik.

Hanekawa hanya bisa… menontonku.

Aku melanjutkan perkataanku.

“Aku pasti akan menyelamatkanmu.”

“…Menyusahkan sekali.”

Guillotine Cutter berkata dengan nada suara teramat tenang.

“Aku tak akan cukup melenakanmu dengan semua sandiwara teman masa sekolah ini. Tuhan, dalam artian aku, bersabda… kini sudah waktunya kita mulai.”

“Mulai, ya?”

Aku berkata, menghadap Guillotine Cutter.

“Memang aku bisa apa? Selama kau pakai Hanekawa buat sandera, aku tak bisa apa-apa. Dan lagipula, aku tak punya niat sedikitpun buat melakukan apa-apa. Aku sepenuhnya bakal menyerah terhadap kemauanmu—dalam situasi seperti ini, sama sekali tak punya arti.”

“Tuhan, dalam artian aku, mensabdakan ini—begitu pertarungan dimulai, kau harus mengangkat kedua belah tanganmu dan berkata, ‘Aku menyerah’. Dengan kata lain, pertarungan kita akan tertuntaskan persis pada saat akan dimulai.”

“Aku mengerti.”

Aku mengangguk tanpa keraguan.

Aku bahkan tak punya alasan untuk ragu.

“Kalau begitu, lepaskan Hanekawa sekarang.”

“Itu akan terlalu enak bagimu—tak mungkin aku akan melakukannya. Pelepasan sandera hanya akan dilakukan seusai pertarungan berakhir. Apa aku tampak seperti orang bodoh yang melepaskan senjatannya di tengah pertarungan?”

Apa itu juga… merupakan sabda Tuhan?

Jangan bercanda.

Hanekawa adalah senjata?

Dia… berbeda.

Dia berbeda dari kau… ataupun aku.

Kau bukan orang yang akan kubiarkan menyentuhnya!

“Araragi!”

Pada titik itu, Hanekawa… menjerit meski tengah dicekik.

Pada saat lehernya sewaktu-waktu seperti akan bisa dipatahkan.

Pada saat dirinya tengah diancam akan dilumatkan otaknya.

Bagaimanapun juga, dirinya menjerit.

“Jangan pedulikan aku!”

“Enggak mungkin aku berbuat begitu!” Aku balas berteriak.

Dan itulah… yang kemudian menjadi sinyal tanda dimulainya pertarungan.

Tentu saja, Guillotine Cutter tak bergerak—dirinya tak perlu melakukan apa-apa. Dirinya hanya membuka sedikit kedua matanya yang tipis—dan tinggal tertawa yang banyak terhadapku.

Dirinya menyuarakan tawa yang keras.

Tanpa berkeinginan mendengar tawanya—aku terus berteriak.

“Sudah kubilang, aku tak sudi kembali lagi jadi manusia bila aku sampai harus memanfaatkanmu!”

Karena itu, aku…

“Sebab jika aku tak bisa bertemu lagi denganmu, maka takkan ada artinya buatku berubah lagi jadi manusia!”

Aku tak perlu sampai mengangkat tanganku.

Pada saat pertarungannya dimulai, pada saat itu pula pertarungannya berakhir.

Keadaannya berkembang persis seperti yang Guillotine Cutter bilang.

“… …Eh?”

Hanya saja, yang menang, itu aku.

Kusingkirkan tubuh Guillotine Cutter dengan sekuat tenaga—lalu pada waktu bersamaan, aku merengkuh tubuh Hanekawa darinya.

Segalanya sederhana.

Segalanya begitu sederhana… dan mudah.

“Ka-kau—apa-apaan…” Guillotine Cutter merintih. “Jangan bilang… inilah kekuatan kaum vampir…”

“Salah. Ini kekuatan persahabatan!”

Namun, jarak antara aku dan orang itu tetap sedikit lebih dari sepuluh meter.

Guillotine Cutter tak mengizinkanku untuk mendekatinya lebih dari itu—bagaimanapun, sekalipun aku melemparinya dengan alat roller atau bola peluru, aku tak punya cukup keyakinan akan bisa mengenainya tanpa melukai Hanekawa yang digunakannya sebagai tameng.

Karenanya—tanpa sedikitpun bergerak…

…tanpa bergerak, jarak itu kudekatkan.

Aku mengubah wujud tubuhku.

“Enggak ada satupun jagoan di Gakuen Inou Batoru yang punya pemampuan kayak begini.”

Tak mungkin hal seperti ini ada.

Itulah yang si penjahat yakini.

Sebagaimana Dramaturgie mengubah tangannya menjadi sepasang pedang melengkungkuubah kedua lenganku menjadi tumbuhan, dan aku menjulurkannya ke depan sejauh mungkin. Mempertimbangkan banyak hal, pada akhirnya aku tak bisa menemukan bayangan pas untuk ‘memanjangkan tubuh’ dalam waktu singkat, maka dari itu aku mengubah bayangannya dengan menggantikan tubuhku dengan tumbuhan.

Bagaimanapun, gagasan soal tumbuhan sudah jadi keistimewaanku.

Karena setiap hari aku berpikir betapa enaknya jika aku bisa hidup sebagai tumbuhan.

Pastinya, aku tak pernah membayangkan diriku menjadi seekor monster—walau pada akhirnya gambarannya kurang lebih menjadi seperti itu.

Aku berpikir bahwa sekalipun kami berdua sama-sama vampir, tetap tak mungkin bagiku untuk melakukan apa-apa yang Dramaturgie lakukan—namun Oshino membantah hal tersebut.

“Kau bisa lari menysuri dinding, kau bisa lompat sejauh 20 meter.” Kemudian akhirnya dia bilang. “Kau juga pastinya akan bisa mengubah wujud badanmu—teorinya sama saja. Kepiting menggali lubang untuk meniru cangkang, kau tak harus terlalu terpaku pada bentuk tubuh manusia. Ini jurus yang pasti tak disangka oleh Guillotine Cutter yang mengira kau masih baru—karena itu, bayangkanlah suatu bentuk yang bukan manusia, dan kau tinggal ubah wujud badanmu.”

Aku tak mungkin bisa melakukan itu, jawabku.

Tapi Oshino kemudian mengatakan ini.

“Lalu, apa kau bisa mengabaikan Nona KM?”

… … … …

Dia benar-benar orang yang menyebalkan.

Kedua lenganku yang tumbuh tidak seperti pedang, tetap lebih seperti pohon-pohon besar, tak jauh berbeda dari pepohonan berusia tua yang ditemukan di pulau-pulau terpencil. Batang-batangnya bercabang selagi tumbuh, terlebih lagi, masing-masing cabang itu mengikuti kemauanku dan aku berhasil membuat masing-masing darinya meliuk sesuai yang kumau.

Untuk menghantam dada Guillotine Cutter.

Untuk melumpuhkan lengan Guillotine Cutter.

Aku bahkan berhasil memperoleh Hanekawa kembali.

Di satu sisi, mungkin aku bisa bilang kalau bayanganku mewujud dengan agak terlalu berlebihan.

Pastinya ini… sudah sama sekali tak serupa bentuk seorang manusia.

Aku telah menanggalkan kemanusiaanku.

Pada akhirnya, sepertinya aku pikir aku takkan mampu meniru Dramaturgie lebih karena aku masih belum menanggalkan kemanusiaanku—daripada karena aku masih belum kehilangan akal sehatku sebagai manusia.

Bagi diriku yang berkeinginan untuk bisa berubah kembali menjadi manusia, itu memang sesuatu yang pastinya takkan kulakukan, pikirku.

Aku tak bisa membayangkan diriku sebagai sesuatu selain seorang manusia.

Tapi prasangka itu… pada akhirnya, tetap tak lebih dari sebuah prasangka.

Karena pada kenyataannya, aku memang telah terlanjur menjadi seekor monster.

Begitu saja, kuhempaskan Guillotine Cutter ke tanah lapangan olahraga, membelitnya—akhirnya aku berhasil membuatnya tutup mulut. Aku tak tahu apakah yang dikatakannya memang benar kata-kata Tuhan atau bukan, tapi aku tak mau mendengar satupun kata-katanya lagi, jadi kusumpal mulutnya dengan akar belukar—dan akhirnya kubuat ia pingsan.

Tentu saja, aku tak membunuh.

Aku masih harus memperoleh kedua lengan Kiss-Shot kembali—di samping itu, jika aku melakukan hal semengerikan itu, itu semua karena salahmu.

Salahmu…

Aku sampai berpikir mungkin tak apa-apa jika aku tak bisa lagi kembali menjadi manusia.

“…Huff.”

Kupulihkan wujud kedua lenganku.

Seketika keduanya kembali ke bentuk lengan manusia kembali.

Apapun yang sampai kubayangkan, tetap saja keduanya lengan yang telah kulihat dan pakai selama 17 tahun… yang perlu kulakukan hanyalah mengingatnya saja. Karena aku sampai dibayangi ketakutan bahwa jika ini gagal, aku akan sampai harus memotong kedua lenganku sendiri, aku merasakan kelegaan luar biasa saat wujud kedua tanganku kembali.

Pada saat bersamaan, segera kutarik Hanekawa ke arahku.

“Hanekawa, kau baik-baik saja?”

Memeluk Hanekawa, aku memeriksa lehernya—bekas jemari Guillotine Cutter masih tampak, tapi tak ada pendarahan dalam. Jika begitu, maka semestinya bekas-bekas cekikan itu akan hilang sendiri. Lebih dari itu, sepertinya Hanekawa tak terluka.

Aku lega…

Benar-benar lega.

Ini membuatku bahagia lebih dari apapun.

“Ah… Ah, err, Araragi.”

Hanekawa, dengan keras, mendorongku menjauh dengan kedua belah tangannya. Aku tak tahu apa yang hendak dilakukannya, tapi nampaknya dia menginginkan agar aku menjauh.

“To-tolong lepaskan aku.”

“Ah… oke.”

Kulepaskan kedua tanganku dari bahunya, dan Hanekawa mengambil jarak dariku.

Sesudah kami sedikit menjauh…

“Um… Ha-Hanekawa…”

“Araragi… um, te-terima kasih.” Hanekawa mengucapkan itu dengan suara pelan, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Tapi… t-tolong jangan lebih dekat dari ini. J-jangan kemari. Jangan sentuh aku, maksudku.”

“…Eh?”

Sesudah… apa yang baru dilihatnya, mungkinkah Hanekawa menjadi takut?

Karena aku telah menyeretnya ke dalam semua ini?

Karena aku telah nyaris membuatnya terbunuh?

Atau karena bagaimana enganku berubah wujud—membuatnya terguncang?

Diriku yang telah menanggalkan kemanusiaanku… semengerikan itulah?

Mungkin… tapi, aku, pikir…

“Oh, b-bukan. Bukan itu.”

Hanekawa salah tingkah.

Sembari membetulkan bawahan roknya yang berantakan, ia kemudian berkata:

“Sekarang ini aku tak pakai dalaman.”