Posts tagged ‘mystery’

28/04/2017

Chaos;Child

Pada tahun 2009, gempa bumi dahsyat meluluhlantakkan Shibuya, Tokyo.

Dalam insiden tersebut, beredar kesaksian terlihatnya cahaya putih terang. Gempa tersebut juga menonjol karena terjadi di penghujung rangkaian pembunuhan ganjil Kegilaan New Generation di Shibuya, dan sejumlah teori mencurigai kalau keduanya sebenarnya berhubungan.

Beberapa tahun sesudahnya, kota Shibuya dibangun ulang.

Pada tahun 2015, Miyashiro Takuru, siswa SMA berkacamata sekaligus ketua Klub Surat Kabar di sekolahnya, memperoleh informasi tentang kembali terjadinya pembunuhan-pembunuhan ganjil New Generation di Shibuya. Bersama teman-teman dekatnya, Takuru memulai penyeldikan. Ini berujung pada bagaimana ia menyadari kalau kasus-kasus pembunuhan New Generation  yang baru selalu terjadi pada tanggal yang sama dengan kasus-kasus pembunuhan yang lama.

Mata itu adalah mata Dewa

Anime Chaos;Child mengudara pada Januari 2017. Anime ini menjadi cukup diantisipasi karena diadaptasi dari salah satu game science adventure produksi 5pb., yang sebelumnya mencakup seri Chaos;Head (prekuel langsung Chaos;Child), Steins;Gate, dan Robotics;Notes.

Game Chaos;Child pertama keluar di konsol Xbox One di Jepang pada penghujung tahun 2014. Perilisan ini disusul port untuk konsol PS3, PS4, dan PS Vita pada pertengahan 2015. Versi Windows keluar pada musim semi 2016. Versi iOS juga dilepas pada awal tahun ini.

Gamenya disutradarai Wakabayashi Kanji dengan diproduseri Matsubara Tatsuya. Naskahnya ditangani bersama oleh Hayashi Naotaka, penulis awal Chaos;Head, yang kini dibantu Umehara Eiji, Takimoto Masashi, dan Yasumoto Tooru. Musiknya diaransemen komposer veteran waralaba ini, Abo Takeshi. Visualnya ditangani oleh Sasaki Mutsumi, Matsuo Yukihiro, dan dibantu Choco untuk desain, uh, persenjataannya.

Sayangnya, berbeda dari Steins;Gate (dan midkuelnya yang baru-baru ini rilis, Steins;Gate 0) yang menjadi ‘saudara’-nya, versi VN dari Chaos;Child masih belum dirilis dalam Bahasa Inggris pada saat ini aku tulis.

Animenya sendiri diproduksi Silver Link. Jumlah episode totalnya sebanyak 13, dengan tambahan satu episode spesial yang masih akan menyusul. Penyutradaraannya dilakukan Jinbo Masato, yang sekarang dikenal berkat arahan beliau dalam setiap season anime Fate/kaleid liner Prisma Illya. Selain gubahan Abo-san dari game yang dipakai kembali, Onoken juga turut membantu menangani musik.

Karena aku sempat mengikuti prekuelnya, Chaos;Head, aku penasaran cerita Chaos;Child berkembang ke arah mana. Aku pribadi antusias dengan anime ini. Apalagi penayangannya langsung menyusul adaptasi anime Occultic;Nine pada musim gugur lalu.

Sayangnya, ada banyak hal tentang anime Chaos;Child yang ternyata baiknya dibahas…

Digital Native

Untuk yang belum tahu, seluruh game science adventure 5pb. saling berhubungan. Meski mengangkat tema-tema sains fiksi berbeda, semuanya bercerita tentang orang-orang biasa yang tahu-tahu terjebak dalam intrik besar yang mengancam dunia.

Berlatar di tahun 2015, Chaos;Child adalah sekuel langsung Chaos;Head, game science adventure yang pertama. Meski mengetengahkan tokoh-tokoh berbeda, cerita Chaos;Child mengangkat tema-tema hampir sama—yakni soal delusi mental dan persepsi kenyataan—di samping cerita yang berhubungan langsung dengan pendahulunya.

Perlu kukatakan, versi game Chaos;Child konon benar-benar bagus. Kata seorang kenalanku yang memainkannya (dalam Bahasa Jepang), ceritanya punya karakterisasi dan misteri yang bisa sangat melarutkanmu gitu. Karenanya, kita bisa sedemikian terpengaruh oleh perkembangan-perkembangan gelap yang menimpa para karakternya.

Kebagusan Chaos;Child juga konon karena dianggap memperbaiki kekurangan-kekurangan Chaos;Head. Dengan elemen-elemen cerita yang tak seimbang dan sejumlah aspek presentasi bermasalah, sebagai game science adventure 5pb. pertama, Chaos;Head memang tak sebagus seri-seri yang menyusulnya. Mungkin karena itu pula, pengharapan terhadap anime Chaos;Child terbilang besar.

Lalu karena itu juga… sempat ada spekulasi-spekulasi negatif saat anime Chaos;Child dikonfirmasi hanya satu cour. Meski durasi gamenya lebih panjang, ini membuat animenya hanya punya durasi yang sama dengan durasi anime Chaos;Head.

Lalu sesudah mengudara, yah, sesuai perkiraan, para penggemar gamenya ternyata benar-benar mengamuk.

Pengkhianatan

Sebelum membahas ceritanya lebih lanjut, perlu disebut kalau anime Chaos;Child secara teknis sebenarnya lumayan. Visual dan audionya termasuk bagus. Akting para seiyuu-nya meyakinkan. Beberapa BGM-nya keren. Lalu ada episode-episode tertentu yang sempat membuatku terkesima dengan cara adegannya dibawakan.

Masalahnya ada di… naskah.

Naskah animenya terlalu maksa. Gampangnya, versi anime Chaos;Child, kalau mengacu ke perkataan kenalanku tersebut, hanya sekedar menyambungkan titik-titik alur penting pada gamenya tanpa memaparkan apa-apa yang membuatnya jadi bagus.

Karakterisasinya, secara relatif, hancur. Pribadi Takuru di versi game yang menyebalkan misalnya, dengan bawaannya yang cenderung sombong karena selalu ingin bisa menjadi yang paling tahu (karena mengusung moto bahwa ‘pengetahuan adalah kekuatan’), kurang tersampaikan. Padahal Chaos;Child justru dipandang bagus karena memaparkan perkembangan kepribadian Takuru menjadi orang lebih baik.

Di samping itu, ada beberapa pembeberan mengejutkan yang jadi berantakan urutannya. Karenanya lagi, kenalanku sampai bilang, kalau dalam waktu dekat kalian berpikiran untuk memainkan game Chaos;Child, kalian sangat tidak direkomendasikan untuk mengikuti anime ini. (Edit: Perilisan gamenya ke Bahasa Inggris sudah dikonfirmasi.)

Kalau kupikir, anime Chaos;Head yang dibuat oleh Madhouse dulu juga mengadaptasi cerita dengan cara begini. Tapi selain lebih berhasil karena game Chaos;Head punya durasi lebih pendek, anime Chaos;Child juga jadi begini karena punya struktur cerita yang agak-agak… beda.

Apa kalian melihat cahaya?

Masuk ke soal cerita, agak sulit merunutkannya karena banyaknya hal yang terjadi secara bersamaan.

Miyashiro Takuru dikisahkan satu dari sejumlah yatim piatu korban gempa bumi besar yang menimpa Shibuya enam tahun silam. Takuru kehilangan kedua orangtuanya dalam insiden itu. Tapi orangtuanya wafat bukan dalam gempa itu sendiri, melainkan sesuatu yang secara tragis berlangsung sesudahnya.

Sesudah insiden itu, Takuru sempat dibesarkan oleh Sakuma Wataru, dokter umum ceria yang membesarkan sejumlah anak yatim piatu lain di kliniknya. Keluarga angkat ini mencakup Kurusu Nono, gadis seusia Takuru yang menjadi semacam kakak perempuan angkatnya; lalu dua adik angkat di usia SD, Tachibana Yui dan Tachibana Yuuto. Hanya saja, menjelang remaja, Takuru tak lagi kerasan dengan mereka, dan memutuskan keluar dari rumah dokter Sakuma dan hidup sendiri.

Di sekolah, meski sesekali bertemu Nono yang aktif sebagai pengurus Dewan Siswa, Takuru lebih dekat dengan sesama anggota Klub Surat Kabar. Mereka mencakup Onoe Serika, seorang gadis manis berambut pendek yang merupakan teman sejak kecil Takuru; Itou Shinji yang supel, orang ramah dan pedulian yang menjadi teman sesama cowok paling dekat dengan Takuru saat ini; serta Kazuki Hana, gadis mungil berkacamata sangat pendiam yang handal dalam pekerjaannya, tapi sehari-harinya lebih banyak memainkan MMORPG di komputer klub bila sedang tak ada kerjaan.

Dalam penyelidikan mereka, Takuru dan Serika memperkirakan TKP pembunuhan yang berikutnya adalah sebuah love hotel. Keduanya gagal mencegah pembunuhan yang terjadi. Tapi di sana, mereka menjumpai gadis berkuncir dua bernama Arimura Hinae, adik kelas mereka yang didapati pingsan, yang agaknya menjadi saksi pembunuhan tersebut. Hinae yang bermulut pedas semula sangsi terhadap Takuru. Tapi ia lalu, secara membingungkan, memperingatkan Takuru kalau dirinya berpotensi menjadi salah satu korban.

Pada titik ini, Takuru menyadari keberadaan banyaknya gambar-gambar tempel Sumo Sticker (rikishi seal) di setiap TKP. Gambar-gambar tempel ini berwujud seperti muka-muka pesumo yang dikali tiga dan ditempelkan secara ganjil dengan satu sama lain, menyerupai wujud guci. Meski diketahui ada beberapa variasi, kesemuanya bermunculan secara misterius di sejumlah tempat di Shibuya semenjak beberapa tahun silam.

Secara ganjil merasa diawasi oleh gambar-gambar tempel ini, Takuru mulai menduga ada kaitan antara semua Sumo Sticker ini dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.

Tanpa Takuru dan Serika ketahui di awal, Shinjou Takeshi, polisi muda yang menginterogasi Hinae, menggunakan cara-caranya sendiri untuk menyelidiki. Shinjou ternyata menjalin kontak dengan seorang ilmuwan sangat muda bernama Kunosato Mio, yang ternyata juga menjadi kakak kelas di sekolah Takuru.

Kunosato—yang membenci manusia secara umum—mendalami penelitian saraf. Ia rupanya mengetahui ada sesuatu yang lebih besar di balik pembunuhan-pembunuhan New Generation. Karena suatu alasan tertentu, Kunosato terobsesi mengungkapkan kebenarannya, yang agaknya berhubungan dengan keberadaan suatu Komite.

Dengan memanfaatkan topengnya sebagai narasumber Internet bernama Kei, Kunosato membajak teori Sumo Sticker yang berhasil Takuru rumuskan dan menyebarkannya ke khalayak luas. Perhatian massal terhadap Sumo Sticker kemudian terpicu. Ini berujung pada desas-desus bahwa penciptanya ternyata seorang pasien di RSU AH Tokyo yang secara rahasia dirawat di sana sesudah menderita koma.

Ada seorang wartawan terkemuka bernama Watabe yang juga menyelidiki kasus ini. Watabe diundang sebagai narasumber untuk kegiatan festival sekolah Takuru.

Takuru untuk sementara mematuhi permintaan Nono yang mengkhawatirkan keadaannya semenjak penyelidikan dimulai. Namun di hari festival, Watabe justru menjadi korban berikutnya yang tewas. Ia meninggal secara misterius di depan umum dengan memuntahkan Sumo Sticker dalam jumlah tak terhitung.

Tak lagi bisa diam sesudah kematian Watabe, pada malam harinya, Takuru, Serika dan Shinji akhirnya nekat menginfiltrasi RSU AH Tokyo untuk menemukan kebenaran di balik gambar-gambar tempel Sumo Sticker.

Di luar dugaan, mereka menemukan instalasi bawah tanah tersembunyi di rumah sakit itu. Di sana, ada sejumlah orang yang nampak sudah hilang akal dipenjara dalam ruangan-ruangan khusus. Di sana pula, Takuru dan kawan-kawannya bersimpangan jalan lagi dengan Kunosato Mio.

Kunosato, yang rupanya memiliki maksud sama dengan mereka, kemudian mengungkapkan tentang eksperimentasi kejam dan rahasia yang rupanya pernah berlangsung sampai enam tahun silam. Tujuan eksperimentasi manusia tersebut untuk menghasilkan manusia-manusia istimewa yang disebut Gigalomaniacs. Menurut Kunosato, para Gigalomaniacs sangat berbahaya karena memiliki kemampuan untuk mewujudkan apa-apa yang mereka khayalkan menjadi nyata.

Lalu di instalasi bawah tanah rahasia itulah, mereka konon diciptakan.

Re-Real Booting

Sesudah terungkapnya keberadaan para Gigalomaniacs—orang-orang yang sampai lingkup tertentu, mampu memproyeksikan delusi menjadi kenyataan melalui proses yang disebut Real Booting—apalagi sesudah Hinae, atas permintaan Kunosato, memperlihatkan pada Takuru demonstrasi kekuatannya secara langsung; cerita Chaos;Child berkembang dengan bagaimana Takuru dan kawan-kawannya berusaha lolos dari pembunuh New Generation baru yang kini mengincar mereka.

Alasannya? Karena korban-korban pembunuhan sebelumnya rupanya adalah Gigalomaniacs.

Takuru, dan orang-orang lain yang melihat ‘cahaya’ pada hari terjadinya gempa, ternyata juga adalah Gigalomaniacs. Takuru sendiri belakangan mengetahui bahwa dorongannya untuk mengungkapkan kebenaran menyebabkan kekuatan Gigalomaniacs-nya bermanifestasi sebagai kemampuan psikokinesis untuk membuka segala jenis kunci.

Dengan kata lain, ada suatu pihak yang bermaksud melenyapkan para Gigalomaniacs dari muka bumi. Tapi pihak itu tidak diketahui siapa.

Dugaan sejauh ini jatuh pada Minamisawa Senri, seorang gadis remaja seusia Takuru, yang merupakan satu-satunya korban percobaan yang hilang tanpa ditemukan jasadnya. Apalagi sesudah Takuru dan Hinae sempat diserang seorang pengguna kekuatan api yang berwajah mirip dengan Senri.

Chaos;Child gampangnya bercerita tentang fallout yang berlangsung sesudah apa-apa yang terjadi dalam Chaos;Head. Persisnya, dampak apa-apa yang terjadi sesudah para tokoh utama Chaos;HeadNishijou Takumi dan kawan-kawannya—menghentikan upaya perusahaan jahat Nozomi sekaligus mengungkap pelaku pembunuhan berantai New Generation yang pertama. Dalam anime Chaos;Child, apa yang terjadi di Chaos;Head sedikit banyak diungkapkan melalui episode nolnya yang menjadi prolog cerita.

Game Chaos;Child dianggap istimewa katanya karena caranya menutupi bagian-bagian ‘bolong’ dari cerita Chaos;Head sembari menuturkan ceritanya sendiri. Ceritanya tak kalah ganjil dan gelap. Tapi berbeda dari Chaos;Head yang secara umum mengikuti hanya satu rute (dengan dua potensi akhir cerita), game Chaos;Child mempunyai lima rute karakter ditambah satu rute final yang hanya bisa dibuka sesudah semua rute sebelumnya kita jalani.

Jadi, meski sistem permainannya kurang lebih sama, kalian bisa bayangkan besarnya ekspansi yang diberikan Chaos;Child. Buat yang mau tahu, masing-masing rute Chaos;Child meliputi:

  • Rute utama, atau rute Onoe Serika, teman masa kecil Takuru. Bersama Serika, Takuru pernah menyaksikan bagaimana Minamisawa Senri dieksperimentasi sewaktu kecil, dan terpaksa melarikan diri tanpa sempat menolongnya. Serika semula menyembunyikannya, tapi kemampuan khusus miliknya adalah semacam telepati. Anime Chaos;Child secara umum mengikuti cerita rute ini, meski ada elemen-elemen rute Nono yang masuk juga.
  • Rute Kurusu Nono, saudara perempuan angkat Takuru yang sedikit lebih tua, yang belakangan mengakui kalau Senri adalah teman masa kecilnya. Karenanya, Nono tak bisa percaya kalau Senrilah pelaku semua pembunuhan itu. Nono semula juga enggan mengakuinya, tapi kemampuan khusus miliknya adalah kekuatan menyamarkan diri.
  • Rute Kazuki Hana, yang disebut merupakan rute yang paling ‘beda sendiri’ karena tak memaparkan misteri pembunuhan (karenanya, peran Hana di anime lumayan terbatas). Kemampuan khusus Hana, yang masih sulit dikendalikannya, berkaitan dengan alasan kenapa ia jarang berbicara. Cerita rutenya membeberkan informasi lebih jauh tentang keberadaan Komite, yang ternyata sangat dekat kehadirannya dengan keseharian para tokoh utama.
  • Rute Arimura Hinae, yang membawa Takuru lebih jauh ke latar belakang keluarga Arimura sehubungan kematian kakak lelaki Hinae enam tahun silam. Keinginan Hinae untuk mengungkap kebenaran kata-kata terakhir kakaknya membuatnya punya kemampuan untuk secara absolut membedakan kebenaran dan kebohongan. Cerita rutenya berkutat soal misteri pembunuhan yang terus berlanjut meski pelakunya harusnya sudah tertangkap. Secara pribadi, Hinae adalah karakter favoritku di seri ini.
  • Rute Yamazoe Uki, gadis kecil yang ditemukan Kunosato dan Takuru di instalasi bawah tanah RSU AH Tokyo, dan diduga telah hidup di sana sembari merawat pasien-pasien lainnya selama bertahun-tahun. Cerita rutenya memaparkan hidup yang berlanjut di dunia bahagia sesudah ia diadopsi keluarga angkat Takuru, yang sayangnya, tak seperti yang terlihat.
  • Rute Chaos Child, rute penutup, yang merupakan akhir cerita sesungguhnya yang memaparkan apa yang terjadi sesudah akhir rute utama. Mengisahkan tentang sindrom misterius yang menimpa para remaja Gigalomaniac yang memperoleh kekuatan mereka sesudah gempa enam tahun silam. Pihak sesungguhnya yang bermaksud menghapus keberadaan mereka sekali lagi terungkap di rute ini.

Sebagai catatan, meski aku pribadi kurang menyukainya, aku juga sempat heran bagaimana Kunosato tak punya rutenya sendiri.

Mungkin menarik kalau kusinggung kalau cerita Chaos;Child tak berakhir dengan sepenuhnya bahagia.

Langit yang Sunyi

Chaos;Child bukan anime yang akan aku rekomendasikan. Kalau kalian penggemar cerita-cerita science adventure 5pb., cukup wajar kalau kalian tertarik mengikutinya. Tapi anime ini bisa sedemikian merusak kesan gamenya, apalagi dengan potensinya yang sedemikian besar, dan karena itu sulit dibilang bagus.

Di animenya, ceritanya jadi kayak… sekedar saling menyambungkan kejutan demi kejutan untuk menghadirkan shock value. Ceritanya jadi berkesan kurang berbobot dan mudah disalahartikan.

Soalnya, hal-hal ‘gelap’ yang terjadi di dalam Chaos;Child itu benar-benar menakutkan dan sakit. Ada temanku yang sampai dibuat berhenti mengikuti pada satu titik karena saking muaknya. Kenalanku, yang pertama sampai di titik bersangkutan lewat gamenya, bahkan sampai dibuat meraung dan menjerit malam-malam saat sampai di bagian itu.

Hasil akhir animenya itu menyakitkan karena sebaliknya, dengan karakterisasinya yang sedemikian kuat, cerita dalam gamenya justru sangat berbobot. Aku pribadi terutama kecewa karena banyaknya motivasi karakter yang jadinya tersamar, gaje, atau tak diungkap.

Mungkin ini mirip kasus anime Shingetsutan Tsukihime yang konon banyak dibenci para penggemar game Tsukihime karena alasan-alasan serupa.

Yah, memang ada banyak hal mengecewakan tentang anime Chaos;Child. Tapi di pembeberan di episode terakhir, bahkan akupun dibuat tercenung dengan apa-apa yang terjadi. Jadi kayak, apa yang terjadi memang enggak segede harapan. Tapi cara semuanya bercampur berakhir lebih rumit dari dugaan. Dengan kata lain, hasil akhirnya enggak sepenuhnya jelek. Tapi sangat mengecewakan karena sedemikian kelihatan bagaimana sebenarnya ini bisa jadi bagus.

Di samping itu, ada banyak referensi terhadap judul-judul science adventure lain. RSU AH Tokyo misalnya, adalah rumah sakit tempat Nishijou Takumi beberapa kali memeriksakan kesehatan kejiwaannya. Partner lain Shinjou, Momose Katsuko yang mengepalai biro detektif swasta Freesia, adalah karakter yang sama dari Chaos;Head, yang sebelumnya membantu penyelidikan Ban Yasuji. Teman Hana di game online, Neithardt, bisa jadi adalah Nishijou Takumi sendiri. Kunosato nampaknya bahkan menjalin kontak dengan para protagonis Steins;Gate dengan upayanya melarikan para tokoh utama ke luar Shibuya. Lalu, Komite yang menjadi dalang ini semua, tak lain adalah Committee of 300 yang merupakan pihak antagonis utama di Robotics;Notes.

Aku sempat sedikit heran. Aku sudah dengar tentang bagaimana Komite berada di balik Nozomi dan SERN. Tapi sekarang, ceritanya, kita jadi melawan mereka lagi? Baru belakangan aku sadar itu karena cerita Chaos;Child berlangsung sebelum cerita Robotics;Notes. Tepatnya, lima tahun sebelum seri tersebut, yang memang berlatar di tahun 2020.

Aku terus terang makin penasaran dengan game Chaos;Child sekarang. Tapi dengan kesibukanku belakangan, sayangnya ada hal-hal lain yang perlu lebih aku dalami dulu.

Soal jalan-jalan keliling Shibuya?

Yah, ada beberapa pemandangan khas wilayah itu yang diperlihatkan dalam anime ini sih. Tapi kesempatan wisata lewat anime kali ini sayangnya enggak segede itu.

Sebagai penutup, aku setuju dengan pandangan Takuru soal bagaimana pengetahuan adalah kekuatan. Banyak-banyaklah baca koran dan mengumpulkan informasi bermanfaat. Tapi jangan sampai besar kepala dan sombong. Gunakan apa yang kau peroleh untuk membangun dirimu sendiri, dan mungkin saja kau juga akan bisa selamat sampai akhir.

(Sedikit trivia: kemunculan Sumo Sticker yang misterius di wilayah Shibuya itu benar-benar pernah terjadi. Tentu saja tak ada kaitannya dengan organisasi rahasia atau konspirasi apapun. Mungkin.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: D-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: C

(Sumber dari Wikipedia dan beberapa situs lain.)

Iklan
25/02/2017

Ankoku Joshi

Pada tahun baru kemarin, aku akhirnya membeli novel Girls in the Dark, atau Ankoku Joshi (kira-kira berarti ‘gadis-gadis di tengah kegelapan’), karya Akiyoshi Rikako.

Novel horor misteri ini sebenarnya sudah lama diterbitkan di sini oleh Penerbit Haru (beserta sejumlah novel misteri karangan Akiyoshi-sensei yang lain). Kualitas terjemahan, pengeditan, dan pengemasan Penerbit Haru juga termasuk bagus. Hanya saja, aku sempat tak kunjung juga membelinya untuk waktu lama berhubung sedang dalam kondisi tak ingin membeli novel apa-apa sebelum menelurkan karya baru.

Jadi aku tak kunjung beli bukan karena merasa novel itu jelek, tapi lebih karena sedang merasa belum butuh.

…Yea, aku masih juga mengalami masa-masa itu.

Tapi aku sempatkan beli kali itu karena tiba-tiba teringat kabar kalau novel tersebut mau diangkat ke bentuk film layar lebar yang naskahnya dipenai Okada Mari. Okada Mari, buat kalian yang belum tahu, adalah spesialis drama karakter yang ternama, yang sebelumnya mempenai naskah-naskah seri anime Anohana dan belakangan, Gundam: Iron-Blooded Orphans. Ditambah lagi, stok buku Girls in the Dark belakangan menipis. Ditambah lagi lagi, di edisi kali ini, ada cerita pendek tambahan baru sebagai bonus. Akhirnya, aku jadi berpikir kalau lebih baik aku beli saat itu daripada tidak.

Novel ini awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam majalah novel bulanan Shosetsu Suiri milik penerbit Futabasha dari Desember 2012 sampai Maret 2013. Aku masih belum terlalu mengenal nama Akiyoshi-sensei di masa-masa itu, walau secara pribadi aku telah merasa kalau cerita cetusan beliau sepertinya menarik. Tapi, waktu aku mendengar kalau novel ini akan diangkat jadi film layar lebar, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah “Sial. Aku masih belum sempat baca.”

Suzuran

Girls in the Dark pada dasarnya berkisah tentang siswi-siswi SMA yang tergabung dalam Klub Sastra di Sekolah Putri Santa Maria. (Seibo Maria)

Klub Sastra ini sebelumnya diketuai oleh Shiraishi Itsumi, putri adminstrator sekolah, yang sangat cantik, cerdas, dan dikagumi. Klub Sastra ini, yang memiliki bangunannya tersendiri di sekolah swasta elit tersebut, dan bahkan dilengkapi tempat duduk megah dengan dapur khusus sekaligus interior berkelas, telah dinilai sebagian besar murid sebagai klub pribadi milik Itsumi yang statusnya tertutup, yang mana keanggotaannya konon hanya bisa diperoleh melalui undangan langsung darinya. Klub ini sebenarnya adalah klub tua yang sempat lama dorman karena ketiadaan anggota, sampai Itsumi mengetahui tentang berkas-berkas peninggalannya sesudah SMA, dan memutuskan untuk membangkitkannya kembali.

Namun demikian, di awal cerita, Itsumi dikisahkan belum lama meninggal dunia.

Kematian Itsumi, yang sukar dipercaya, diyakini sebagian orang terjadi dalam kondisi tak wajar. Salah satu alasannya karena dalam kematiannya, Itsumi menggenggam setangkai bunga suzuran (sejenis bunga lily yang juga dikenal dengan sebutan lily of the valley) yang menyiratkan adanya suatu makna yang tak mereka ketahui.

Sekitar seminggu setelahnya, Klub Sastra rupanya telah menjadwalkan acara Yami-Nabe yang telah menjadi tradisi tahunan klub mereka. Acara Yami-Nabe ini diputuskan untuk tetap dilakukan meski jadinya tanpa kehadiran Itsumi. Penyelenggaraannya akan dilaksanakan di bawah kepemimpinan Sumikawa Sayuri, wakil Itsumi yang kini menjabat sebagai ketua klub, salah seorang siswi di sekolah tersebut yang tak kalah andalnya, sekaligus sahabat terdekatnya.

Acara Yami-Nabe ini pada dasarnya adalah acara kumpul-kumpul tahunan para anggota, yang mana masing-masing dari mereka membawa bahan masakan sendiri-sendiri (yang tidak selalu makanan) untuk ditambahkan ke dalam kuah nabe (hotpot) yang mereka masak sama-sama. Hanya saja, acara masak bersama ini dilakukan sepenuhnya dalam gelap, pada malam hari, sehingga satu sama lain tak bisa mengetahui apa saja bahan yang ditambahkan oleh masing-masing orang. Mengingat status mereka sebagai Klub Sastra, acara Yami-Nabe juga akan diselingi sesi-sesi pembacaan cerita pendek buatan masing-masing anggota.

Hanya saja, mengejutkan semua anggota, tema cerita pendek yang Sayuri wajibkan untuk acara Yami-Nabe tahun ini ternyata adalah “Kematian Shiraishi Itsumi.”

…Alasannya mungkin sekedar untuk mengenang mendiang ketua mereka yang baru saja meninggal.

Kecantikan Ditentukan Oleh Mata yang Melihat

Girls in the Dark dituturkan melalui sesi-sesi ‘pembacaan’ dalam ajang Yami-Nabe ini. Ceritanya dibuka dengan kata-kata sambutan yang dibawakan oleh Sayuri, sebelum dilanjutkan paragraf-paragraf cerpen yang dibacakan masing-masing anggota. Acara diakhiri dengan cerita yang dibacakan Sayuri, dan baru setelahnya ditutup dengan kata-kata dari Sayuri lagi.

Antara tiap cerita, hadir bagian-bagian intermengso pendek yang juga dituturkan Sayuri. Di bagian-bagian ini, Sayuri menyampaikan kesan-kesannya atas tiap cerita dan juga melakukan penunjukkan atas siapa yang membaca cerita berikutnya. Di tengah-tengah itu semua, kegiatan masak dan memakan nabe terus berlangsung. Walau, ya itu, semua orang hampir tak bisa melihat satu sama lain, memperkuat kesan harap-harap cemas yang acara Yami-Nabe punya.

Bersama setiap cerita, kita, sebagai pembaca, jadi mengetahui lebih banyak tentang kehidupan mendiang Itsumi yang kepadanya, acara ini didedikasikan. Seakan menutup rasa duka, Sayuri membuka acara Yami-Nabe dengan suasana riang. Tapi mungkin karena tersembunyi dalam gelap, reaksi-reaksi dari para anggota lain seperti dengan sengaja tak diungkap dalam narasi.

Hanya saja, seiring berjalannya acara, kita bakal tersadar adanya sejumlah hal aneh yang tersirat. Ada fakta-fakta saling bertentangan. Ada perasaan-perasaan yang sebelumnya terpendam. Semua karena para gadis, melalui cerita pendek mereka masing-masing, jadi menuturkan kembali awal pertemuan dan hubungan mereka dengan Itsumi, bagaimana awal mula mereka bergabung dengan Klub Sastra, seperti apa sosok Itsumi yang mereka kenal, dsb. Lalu setiap cerita, lucunya, ditutup dengan pandangan mereka masing-masing tentang apa yang menjadi penyebab kematian Itsumi.

Pembunuhankah? Bunuh dirikah? Akankah kebenarannya terkuak di akhir acara?

Terlepas dari itu, para anggota Klub Sastra, sesuai urutan pembacaan naskah mereka, adalah:

  • Nitani Mirei (Kelas 1-A), anggota klub termuda dan yang paling baru. Berbeda dari kebanyakan murid Santa Maria, Mirei berasal dari keluarga kurang mampu dan bersekolah dengan bantuan beasiswa dari yayasan sekolah. Cerpen karangannya berjudul “Tempat Berada” dan mengungkapkan hubungan Mirei dengan ibunya yang orangtua tunggal, serta bantuan pekerjaan les privat yang Itsumi berikan untuknya.
  • Kominami Akane (Kelas 2-B), seorang siswi yang mendalami pembuatan kue-kue barat meski berasal dari keluarga pengelola restoran masakan Jepang. Cerpen karangannya berjudul “Macaronage” dan memaparkan awal mula bagaimana Itsumi menawari Akane untuk menggunakan dapur ruang klub.
  • Diana Detcheva (Murid Internasional), seorang murid pertukaran dari Rumania yang memiliki kecantikan bagaikan boneka. Cerpen buatannya berjudul “Balkan di Musim Semi” dan menceritakan pertemuan awalnya dengan Itsumi saat Itsumi datang sebagai murid pertukaran pelajar ke desa tempat tinggalnya, yang berujung pada ketertarikan kuat Diana terhadapnya.
  • Koga Sonoko (Kelas 3-B), seorang siswi serius yang memiliki cita-cita ingin menjadi dokter, dan sedikit banyak juga mengenal keluarga Itsumi. Cerpen buatannya berjudul “Perjamuan Lamia” dan mengisahkan bagaimana Sonoko ikut bersama Itsumi dalam kunjungan Itsumi berikutnya ke Rumania.
  • Takaoka Shiyo (Kelas 2-C), seorang penulis light novel dari usia muda yang karyanya telah sukses besar. Karena profesi orangtuanya, pernah menetap cukup lama di luar negeri. Cerpen buatannya berjudul “Pengebirian Raja Langit” yang menceritakan awal mula bergabungnya Shiyo dalam Klub Sastra meski semula ia tak menyukai Itsumi. Cerpen ini mencolok karena menjadi satu-satunya yang diceritakan dengan gaya bahasa light novel.
  • Sumikawa Sayuri (Ketua Klub), yang merupakan sahabat lama Itsumi dan paling terpercaya, sekalipun sifat mereka pada dasarnya bertentangan. Cerpen yang dituturkannya berjudul “Bisikan dari Kubur.”

Kau Tak Bisa Melihat Dalam Gelap

Di samping fakta-fakta yang saling bertentangan, masing-masing cerpen juga menyinggung bagaimana kesehatan Itsumi terus menurun menjelang kematiannya. Sebagian anggota klub jadi menduga bahwa kematian Itsumi sebenarnya disebabkan oleh sesuatu yang supernatural. Lalu acara Yami-Nabe yang semula berkesan cerah perlahan diselimuti kengerian berhubung tak ada di antara mereka yang boleh keluar sebelum Yami-Nabe berakhir, pintu ruangan klub dikunci, semuanya dalam kondisi gelap, dan ada hujan badai yang tahu-tahu tengah berlangsung di luar.

Meski ada sejumlah aspek cerita yang terasa ‘maksa’ (aku sempat ketawa saat Sayuri tanpa sebab jelas mulai mendeskripsikan seperti apa bangunan Sekolah Santa Maria, padahal semua yang hadir jelas-jelas adalah murid di sana), Girls in the Dark lumayan berhasil membawakan nuansa teka-teki kebenaran menyerupai Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke yang terkenal, tapi tanpa lupa memaparkan solusinya. Hasilnya lumayan keren.

Teka-tekinya memang enggak susah-susah amat. Tapi pemaparan dan perkembangan ceritanya terus terang menarik dan enak disimak.

Bicara soal filmnya sendiri, penyutradaraannya akan dilakukan oleh Yakumo Saiji dan direncanakan akan tayang pada April 2017 nanti. Produksinya dilakukan melalui kerjasama Toei dan Showgate, dengan Shimizu Fumika berperan sebagai Sayuri dan Iitoyo Marie berperan sebagai mendiang Itsumi. Aku terus terang belum bisa memperkirakan kualitas akhirnya, terlebih dengan bagaimana produksinya kelihatan dibuat cepat. Tapi dengan Okada-san menangani naskah, kurasa ceritanya tak akan sampai jelek.

Girls in the Dark menurutku adalah jenis cerita misteri yang kalau kau kaji dengan pendekatan logis cerita-cerita detektif, jadinya malah tak menarik. Aku mungkin merasa begini karena kerap tsukkomi terhadap hal-hal yang berlebihan. Tapi serius, novel ini menarik. Membacanya juga terbilang enak. Aku terkesan dengan bagaimana kualitas ceritanya dipertahankan secara konsisten dari awal sampai akhir.

Yups. Aku tak menyesal membeli. (Walau mungkin perlu kusebut kalau memang sejumlah aspek ceritanya agak dewasa. Novel ini memang lebih ditujukan bagi remaja.)

Mungkin aku akan membacanya lagi suatu hari nanti.

27/12/2016

Occultic;Nine

Occultic;Nine adalah seri misteri sains fiksi yang di permukaan, mengetengahkan sembilan orang berikut:

  • Gamon Yuuta, seorang siswa SMA kelas dua yang dengan maksud untuk memperoleh pemasukan dari iklan, membuka situs blog afiliasi Kiri Kiri Basara yang mengumpulkan berita-berita supernatural. Salah satu kekhasan web Kiribas adalah sudut pandang bahasannya yang kritis dan skeptis terhadap kasus-kasus supernatural. Meski ceria dan terkadang banyak omong, sifat Gamon bisa lembek dan tak mau terlibat masalah. Dirinya juga sadar dengan kecendrungannya untuk menjadi NEET. Nama panggilannya adalah Gamo-tan (seperti kodok) atau Gamonosuke (seperti samurai) atau sekedar Gamo-senpai.
  • Narusawa Ryoka, teman perempuan Yuuta yang satu sekolah dengannya (dan berdada besar) yang menyatakan diri sebagai bawahannya, yang dengan setia(?) dan sangat ceria(?) akan mengikutinya ke mana-mana. Ryoka, yang nama panggilannya Ryo-tas, mendukung kesuksesan situs web Kiribas agar suatu hari Gamon mentraktirnya makan frozen yogurt dengan uang pemasukan yang mereka peroleh. Untuk suatu alasan, Narusawa punya semacam stun gun berbentuk senjata laser berdesain jadul yang disebut Poya Gun yang terkadang digunakannya untuk menyetrum Gamon.
  • Hashigami Sarai, seorang mahasiswa tingkat awal yang mengambil sudut pandang ultra-realis dan sangat kritis terhadap segala berita berbau supernatural. Dirinya pengunjung tetap di situs web Kiribas. Ayahnya adalah Hashigami Kansei, seorang ilmuwan fisika yang belum lama ini menjadi figur narasumber ternama untuk segala hal berbau supernatural.
  • Aikawa Miyuu, adik kelas Gamon dan Narusawa yang belakangan populer sebagai peramal online berwajah imut. Menggunakan kartu-kartu tarot, ia memiliki tingkat akurasi yang tinggi untuk prediksi-prediksinya. Sifatnya riang dan baik hati. Nama panggilan untuknya adalah Myu-pom.
  • Sumikaze Touko, seorang perempuan muda berkacamata yang bekerja sebagai reporter majalah Mumuu yang khusus membahas berita-berita supernatural. Memiliki pribadi yang aktif serta kemampuan pengamatan tajam. Ia sering mengucapkan kata Ascension!” saat ada suatu hal baru yang dipahaminya.
  • Kurenaino Aria, seorang gadis remaja dengan wajah seperti boneka yang membuka jasa layanan kutukan berbasis ilmu hitam. Untuk melakukan jasanya, ia memerlukan bagian tubuh dari target bersangkutan, seperti kuku dan rambut. Sifatnya pendiam dan antisosial. Menyembunyikan masa lalu yang agak kompleks.
  • Kusakabe Kiryuu, seorang pria misterius bernuansa gelap yang kerap menampakkan diri di tempat Aria baik dalam wujud nyata maupun gaib. Mungkin bisa dibilang semacam rekan kerjanya.
  • Nishizono Ririka, seorang mahasiswi(?) di universitas yang sama dengan Sarai, yang juga memiliki profesi sebagai pembuat doujinshi. Sangat cantik, namun juga memiliki sisi misterius dengan bagaimana ia membatasi diri dari orang lain. Pada suatu titik, terindikasi bahwa adegan-adegan dalam komik-komik doujin buatannya sedikit banyak menggambarkan kejadian-kejadian yang akan berlangsung di masa depan.
  • Moritsuka Shun, seorang detektif kepolisian dengan badan seperti anak-anak. Karenanya, dia jadi sering terlihat seperti anak remaja yang sedang cosplay, meski nyatanya dia polisi betulan. Nyata-nyata seorang otaku. Karenanya, metode-metode penyelidikannya tak konvensional. Cenderung banyak omong. Tapi seperti Colombo, mungkin itu yang membuat orang-orang gampang lengah bila berada di dekatnya.

Berlatar di Kichijoji, Tokyo, pada  suatu masa ketika booming segala sesuatu berbau occult tengah melanda masyarakat, Occultic;Nine berlangsung pada beberapa minggu menjelang akhir musim dingin, dari akhir Februari sampai awal Maret. Tepatnya, ketika serangkaian kasus ganjil terjadi yang memunculkan tanda tanya bagi setiap orang. Diawali kematian misterius sesosok ilmuwan ternama, kejadian bunuh diri massal ratusan orang hanya dalam semalam, serta hadirnya sosok-sosok misterius di jalanan yang mungkin hanya bisa dilihat sebagian orang.

Dasar Air yang Gelap

Anime Occultic;Nine diangkat dari seri novel berjudul sama karangan Chiyomaru Shikura, dengan ilustrasi yang dibuat pako. Penerbitnya adalah Overlap. Buku pertama diterbitkan pada Agustus 2014 dan buku kedua diterbitkan pada April 2015.

…Iya. Baru dua buku yang terbit waktu ini kutulis. Cerita seri novelnya sendiri konon masih belum tamat. (Atau dipaksa tamat?)

Aku samar-samar ingat sempat ada kehebohan ketika beredar kabar kalau penerbitan buku ketiganya akan ditunda. Kejadiannya, kurasa sekitar akhir tahun 2015? Penundaan itu mungkin terjadi menyangkut keputusan untuk mengangkat seri ini ke bentuk game. Lalu keputusan untuk mengadaptasi ceritanya ke bentuk anime mungkin juga dalam rangka untuk menyambut game tersebut.

Buat yang belum tahu, Chiyomaru-sensei, yang juga bekerja sebagai ‘penulis’ di perusahaan pengembang 5pb. Games, dikenal sebagai salah satu pencetus seri game science adventure  yang 5pb. awalnya kembangkan bersama Nitroplus. Dalam hal ini, khususnya, seri perjalanan waktu fenomenal Steins;Gate dari tahun 2010 yang masih disayang para penggemarnya bahkan hingga kini. (Aku sebut ‘penulis’ karena jabatan beliau yang sebenarnya adalah sebagai direktur eksekutif perusahaan Mages. Inc., yang menjadi perusahaan induk 5pb. serta beberapa perusahaan lain.)

Versi game Occultic;Nine sendiri juga dikembangkannya oleh 5pb.. Perilisannya dijadwalkan pada tahun 2017 yang akan datang.

Salah satu alasan Occultic;Nine menuai sensasi dulu adalah karena ketiadaan kaitan Occultic;Nine dari segi cerita dengan tiga seri science adventure Chaos;Head, Steins;Gate, dan Robotic;Notes. (Ditambah kini, yang akan tayang pada musim dingin nanti, Chaos;Child, yang menjadi sekuel langsung dari Chaos;Head.) Karena ketiga game tersebut punya cerita latar yang saling berhubungan (tepatnya, di soal tema konspirasi yang diangkat), terbitnya Occultic;Nine seperti menjadi awal suatu seri sejenis, namun terbebas dari yang lalu-lalu gitu. Sekalipun, Occultic;Nine rupanya tetap mempertahankan cara penulisan judulnya yang khas.

Animenya sendiri diproduksi oleh studio ternama A-1 Pictures. Penyutradaraannya ditangani bersama oleh Ishiguro Kyouhei dan Kuroki Miyuki. Komposisi serinya ditangani oleh Morita To-Jumpei. (Aku tak kenal nama ini. Mungkinkah ini pseudonym?) Musiknya ditangani oleh Yokoyama Masaru yang belakangan tengah naik daun. Pertama tayang pada musim gugur tahun 2016, jumlah episodenya sebanyak 12.

Kalau memikirkan baik-baik segala situasi dan kondisi terkait produksinya, lumayan wajar bila berbagai kontroversi menyangkut anime Occultic;Nine agak tak bisa dihindari.

Matamu Akan Menjadi Mimpi Tiada Akhir

Jadi, sebelum menyinggung kualitasnya secara teknis, perlu kusinggung bahwa di samping temanya yang aneh, adaptasi anime Occultic;Nine terus terang punya aspek cerita yang agak, uh, cacat.

Selain karena cerita di novelnya belum tuntas, durasi animenya dibatasi hanya 12 episode (dan bukan 20-an seperti adaptasi anime seri-seri science adventure pendahulunya). Hal ini memaksa narasinya dipadatkan sedemikian rupa dan disampaikan dengan tempo gila-gilaan. Belum lagi dengan jumlah tokoh sentralnya yang banyak, yang masih ditambah dengan tokoh-tokoh baru dan tokoh-tokoh sampingan yang lain. Sehingga tak hanya menampilkan misteri yang belum tuntas pembahasannya, penyampaiannya juga dilakukan dengan sedemikian rupa yang membuat ceritanya sulit dipahami oleh kalangan penonton awam.

Sewaktu episode pertama ditayangkan, konon, semua pemerhatinya kebingungan. Para penonton awam bingung karena sulit mencerna apa-apa yang baru terjadi. Para penggemar lama yang telah membaca novelnya juga konon bingung karena episode satunya saja sudah mencakup hampir seluruh cerita di buku pertamanya.

Secara pribadi, aku jadi benar-benar merasa kalau mungkin anime ini diproduksi dengan tujuan semata-mata untuk mempromosikan gamenya? Soal novelnya bahkan tak perlu disinggung. Lanjutannya masih belum jelas kapan akan keluar. Jadi semua jawaban yang kita cari kelihatannya hanya akan ada di versi gamenya.

Jadinya, ada lumayan banyak teka-teki dalam animenya yang dibiarkan menggantung dan tak terjawab sampai akhir. Maksudku, lebih banyak dari biasa untuk ukuran seri anime sejenis ini. Siapa sebenarnya anak albino yang melakukan rangkaian pembunuhan sadis itu? Pada pihak mana Moritsuka melapor? Apa sebenarnya agenda yang dimiliki Nishizono?

Untungnya, kelemahan-kelemahan ini lumayan berhasil diimbangi dengan sejumlah keunggulan dari sisi teknis.

Pertama, visual anime ini keren. Ada suatu kekhasan kuat pada desain karakter pako-sensei (meskipun iya, gaya beliau adalah gaya yang bisa membuat ilfil sebagian orang). Lalu arahan visual anime ini secara sukses mendukung hal tersebut.

Ada banyak pemandangan latar urban yang berkesan dari Kichijoji—kerap kali dari sudut-sudut pengambilan gambar yang tak biasa—dengan perhatian terhadap detail yang seriusan memukau. Mulai dari kafe Blue Moon (benar ini cara mengeja namanya?) milik seorang lelaki feminin bernama Izumi Kouhei (yang wi-fi gratisnya kerap  Gamon dan Narusawa gunakan), taman bermain anak tempat Gamon dan Narusawa pertama bertemu, rumah dan ruang kerja Hashigami di mana ia menjalankan penelitiannya yang penuh rahasia, kampus Sarai yang menjadi TKP, kuil-kuil Shinto di Kichijoji, gedung sekolah Gamon dan Narusawa, hingga ruang pertemuan misterius dan gelap tempat Takasu menyampaikan presentasinya kepada para petinggi yang mensponsori konspirasi.

Aspek audionya sendiri benar-benar kuat. Ada banyak nama veteran yang berperan sebagai seiyuu. Itou Kanako, seperti dalam adaptasi anime seri science adventure lain, kembali sebagai penyanyi yang membawakan lagu pembuka seri. Pendatang baru Asaka membawakan lagu “Open Your Eyes” yang menutup tiap episode secara pas dengan nuansanya yang menggambarkan betapa rapuhnya kita sebenarnya sebagai manusia. Lalu, ada aransemen musik khas dari Yokoyama-san yang memberi kombinasi nuansa suram sekaligus kocak terhadap cerita.

Lalu soal eksekusinya… meski menyakitkan bagaimana semua ide menarik Occultic;Nine dipaksa masuk tanpa benar-benar terjelaskan ke dalam cerita, perlu kuakui pengeditannya brilian. Ada pemotongan adegan berulang. Sorotan ceritanya melompat ke mana-mana. Lalu ada dialog-dialog yang dilangsungkan dalam tempo yang benar-benar cepat. Walau begitu, benang merah cerita yang utama secara umum tersampaikan. Lalu, kalau mengkaji struktur ceritanya, aku agak bisa memaklumi kenapa narasinya jadi berantakan begini. Plotnya terstruktur bukan dengan bentuk saling sambung menyambung gitu, tapi lebih ke gimana satu tertumpuk di atas yang lain. Jadi, cocok bila dibawakan dalam media tertulis, tapi perlu waktu dan kehati-hatian dalam bentuk tontonan.

Kelanjutan Mimpi Ini… Ada di Masa Depan yang Terlampau Jauh

Satu kabar baik yang mengiringi penayangan anime ini adalah telah dimulainya penerjemahan novelnya ke Bahasa Inggris. Lisensornya adalah pihak relatif baru J-Novel Club yang menampilkan terjemahan Bahasa Inggris per bab berbagai light novel menarik untuk para anggota berbayar (sebagian besar adalah judul-judul relatif baru, dengan harga yang perlu kuakui bener-bener murah).

(Untuk para pengunjung yang belum berbayar, bab-bab awal sebuah seri akan bisa dibaca gratis sampai buku pertamanya beres diterjemahkan.)

Novel Occultic;Nine merupakan salah satu novel pertama yang mereka sediakan. Lalu berdasarkan ulasan yang aku baca dan pengalaman pribadiku membaca bab-bab awalnya, cerita novelnya seriusan bagus. Enak dan menarik untuk dibaca. Lalu, buat kalian yang kurang tahan dengan sikap Gamon dan Narusawa yang banyak tingkah, karena suatu alasan kalian akan bisa jauh mentolerir mereka dalam versi novelnya ini.

Buat kalian yang masih bingung bahkan setelah mengikuti animenya hingga akhir, sederhananya , Gamon dan kedelapan orang lainnya adalah korban eksperimen massal yang dicanangkan konglomerat medis MMG. Narusawa, dengan bimbingan roh Aveline dari masa lalu, mengkhianati keluarganya sendiri untuk menggagalkan proyek jangka panjang mereka yang telah berlangsung puluhan tahun. Tema yang diangkatnya seputar bagaimana konsep roh telah bisa didefinisikan dari sudut pandang sains. Gampangnya, sebagai semacam badan energi yang dapat dipengaruhi dengan gelombang-gelombang elektromagnetik. Lalu konfliknya berakar dari bagaimana ada suatu pihak dengan pengaruh sangat besar hendak menawarkan teknologi baru ini kepada orang-orang terpilih dengan mengorbankan orang-orang lainnya. Mendiang ayah Gamon, ceritanya, terlibat dalam pembangunan organisasi ini sebelum terjadi perpecahan dan ia menjadi korban. Lalu oleh ayahnya, Gamon sebenarnya telah diwariskan salah satu kunci yang diperlukan untuk menggagalkan rencana mereka.

Berbagai fenomena supernatural dikisahkan sebenarnya disebabkan oleh badan-badan energi ‘roh’ ini. Badan-badan energi roh biasanya tak kasat mata karena berada dalam dimensi waktu yang berbeda dari zat-zat hidup (kalau enggak salah, karena jadi punya… frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda sesudah kehilangan ‘wadah’ fisiknya). Tapi lewat injeksi suatu zat bernama Scandium, ditambah rangsangan dari suatu gelombang elektromagnetik tertentu, perbedaan panjang gelombang ini ceritanya bisa disiasati melalui suatu teknologi yang disebut World System. Hasilnya, badan-badan energi jadi bisa ‘dijangkarkan’ ke dimensi waktu yang sama dengan benda hidup. Teorinya, ini memungkinkan orang-orang yang meninggal dunia jadi bisa tetap bertahan di dunia, dan secara efektif memperoleh kehidupan abadi.

Rinciannya tentu saja lebih rumit dari itu sih. Soalnya, intrik dalam Occultic;Nine sebenarnya sangat banyak.

Terasa bagaimana ada banyak subplot yang semula hendak dimasukkan dalam cerita, tapi berakhir tak tertuntaskan. Beberapa contohnya seperti: penelepon misterius yang menghubungi Aikawa dalam salah satu acara meramalnya, yang berakhir tak terungkap identitasnya meski diindikasikan kuat bahwa ia terlibat dalam cerita; siapa sang Kaisar yang dilayani oleh Takasu dan apa sesungguhnya yang telah menimpanya; signifikasi peran Minase Ria dengan mendiang kakaknya, Takaharu; hadirnya seorang agen FBI remaja dengan kekuatan psychometry bernama Kisaki Asuna yang ikut dalam penyelidikan karena mengejar jejak Moritsuka (belakangan ia ikut bergabung sebagai salah satu Basara Girls dengan nama panggilan Asu-nyan);lalu twist terbesar sebelum kejutan penutup di penghujung cerita, bagaimana Nishizono bisa tiba-tiba kembali lenyap bahkan sesudah para karakter kembali ke dimensi waktu yang asal.

Mau tak mau, aku jadi berpikir kalau Occultic;Nine mungkin masih berkaitan dengan Anonymous;Code, proyek lain dari 5pb. yang pengembangannya sudah diumumkan sejak perempat awal tahun 2016, tapi masih belum rilis sampai saat ini aku tulis.

…Mungkin karena temanya yang mirip.

Mutual Recognition

Mungkin karena ketertarikanku terhadap genre misteri dan sains fiksi, aku selalu senang bila ada seri science adventure yang diangkat menjadi anime. Kesukaanku sedemikian besarnya sampai-sampai aku bisa tahan dengan sifat para karakternya, seaneh apapun kelakuan mereka.

Occultic;Nine secara umum memang mengecewakan. Tapi daripada karena jelek, mengecewakannya lebih karena sifatnya yang lebih mirip teaser ketimbang karya jadi.

Setelah kupikir, kasusnya mungkin mirip anime Punch Line beberapa waktu lalu, yang juga berakhir dengan dibuat gamenya. Sebagai anime, Punch Line masih lebih menghibur ketimbang Occultic;Nine, sekalipun dari segi konsep, Occultic;Nine sebenarnya lebih keren. Mungkin juga karena cakupan cerita Occultic;Nine yang benar-benar terlalu besar. Seperti halnya Punch Line, versi game Occultic;Nine juga akan menawarkan rute-rute cerita baru dengan potensi akhir cerita yang berbeda pula (yang kudengar akan dipicu lewat postingan-postingan baru di situs Kiribas). Yah, mungkin soal ini aku akan ulas lagi setelah memperoleh informasi lebih banyak.

Sedikit info soal judul-judul science adventure yang lain sebagai penutup.

Anonymous;Code adalah salah satu judul akan datang yang sejak awal diinfokan tak berhubungan dengan tiga game science adventure yang pertama. Ceritanya dimulai pada tanggal 6 Februari  2036 pada jam 06:28:15, ketika algoritma perhitungan waktu pada seluruh komputer di dunia mengalami overflow, menyebabkan kelumpuhan sistem berakibat bencana fatal pada sejumlah kota besar. Sehubungan bencana serupa yang lebih besar diprediksi akan terjadi pada tahun 2038, suatu ‘simulator Bumi’ dijalankan melalui komputer super Gaia untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Namun demikian, ditemukan serangkaian hal aneh menyangkut keberadaan manusia di simulasi itu. Lalu saat para manusia di Bumi simulasi mulai membangun simulator Bumi mereka sendiri, para peneliti, yang semula senang, menjadi curiga kalau jangan-jangan keberadaan mereka sendiri juga sebenarnya hanyalah hasil suatu simulasi. Tokoh utamanya seorang pemuda hacker bernama Takaoka Poron, yang lewat kontaknya dengan seorang gadis misterius bernama Aizaki Momo, dihadapkan pada kenyataan dunia yang sebenarnya. (Mungkin kalian sekarang mengerti kenapa aku merasa game ini berkaitan dengan Occultic;Nine.)

Steins;Gate 0 yang belum lama ini dirilis juga konon sudah dikonfirmasi akan diangkat ke bentuk anime. Buat kalian yang sempat mengikuti cerita Steins;Gate yang orisinil, mungkin kalian ingat bagaimana menjelang akhir cerita, Okarin mendapat petunjuk terakhir dari sosok dirinya sendiri di masa depan. Cerita Steins;Gate 0 pada dasarnya adalah tentang sosok Okarin yang telah gagal di masa depan tersebut. Sejauh yang aku dengar, ceritanya benar-benar bagus dan tak kalah dari Steins;Gate yang pertama. Ibaratnya, itu cerita ekspansi yang tak kau kira akan perlu.

Chaos;Child sendiri, yang gamenya sudah dirilis agak lama dan animenya akan tayang musim depan, berlatar enam tahun sesudah Chaos;Head. Tokoh utamanya adalah Miyashiro Takuru, kepala Klub Surat Kabar di sekolahnya. Bersama Onoe Serika, sahabat masa kecilnya, dan Kurusu Nono, adik perempuan angkatnya, Takuru melakukan penyelidikan atas serangkaian pembunuhan sadis yang meniru rangkaian pembunuhan New Generation yang terjadi dalam Chaos;Head. Kesemua tokohnya adalah mereka yang bertahan hidup dalam bencana gempa enam tahun silam, dan ceritanya mengangkat soal kekuatan-kekuatan super pengubah realita yang jadi mereka miliki. Meski berdurasi panjang, aku dengar gamenya benar-benar bagus, dengan sistem delusional trigger dari Chaos;Head yang juga kembali hadir di dalamnya. Karena itu pula, sejumlah penggemar konon mengamuk dan langsung pesimis begitu beredar kabar kalau animenya hanya akan berdurasi satu cour.

Aih, nampaknya tren buruk yang dialami Grisaia dan Rewrite masih akan berlanjut.

Yah, kembali soal Occultic;Nine, aku kagum dengan bagaimana para karakternya bersuara dan bergerak. Tapi aku tetap penasaran dengan ceritanya. Karenanya, aku mau mengusahakan bisa membeli dan membaca terjemahan Bahasa Inggris novel-novelnya di masa depan.

Untuk kalian penyuka misteri, mungkin anime ini takkan benar-benar aku rekomendasikan. Tapi untuk kalian penyuka beragam hal aneh yang hanya bisa ditemukan dalam anime… (kalau kalian tahu maksudku) kurasa ini seri yang patut dilihat. Aku takkan menilainya jelek sih, tapi aku takkan menilainya bagus juga. Inspiratif… mungkin lebih tepat.

Aku punya perasaan bahwa seandainya ini berlanjut sebagai novel, ceritanya sebenarnya hendak mengeksplorasi berbagai hal aneh menyangkut dunia occult. Seperti soal hantu, monster, masyarakat rahasia, dan alien. Kalian tahu, seperti dalam Sekimatsu Occult Gakuin atau The X Files. Hanya, mungkin, dalam cerita yang lebih terintegrasi.

Tapi sudahlah soal itu.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: A; Audio: B; Perkembangan B-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

23/06/2016

Paprika

Mari kita sesekali bahas sosok-sosok yang telah wafat.

Paprika adalah film animasi layar lebar terakhir arahan sutradara Kon Satoshi, sebelum yang bersangkutan meninggal dunia karena kanker pankreas pada tahun 2010. Beliau masih relatif muda saat meninggal, yaitu di usia 46 tahun. Beliau menuntaskan Paprika pada tahun 2006 setelah perencanaan yang berlangsung beberapa tahun. Lalu karena saking kerennya, Paprika sukses dan menuai lebih dari satu penghargaan. Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Tsutsui Yasutaka (yang juga menulis Tokikake atau The Girl Who Leapt Through Time) yang aslinya pertama terbit tahun 1993. Lalu agak seperti Tokikake, hampir semua kecuali cerita dasarnya yang diubah pada versi animenya.

Tak terasa, sudah hampir enam tahun semenjak kabar kematian beliau.

Aku jadi takut sendiri. Apa iya sudah selama itu? Rasanya baru kemarin. Hal-hal seperti itu jadi terulang dalam kepala saat aku mengingat Paprika. Ini persis seperti perkataan Saito Hajime pada Himura Kenshin dalam reuni mereka kembali. “Sudah sepuluh tahun.” Hanya tiga kata yang sama-sama membahas soal waktu, tapi menyiratkan telah berubahnya begitu banyak hal.

Berhubung aku sudah om-om, aku kini paham maksud ucapan Saito. Dulu, sepuluh tahun bagiku juga terasa seperti waktu yang lama. Tapi dengan kenangan-kenangan di zaman SMA yang masih jernih di kepala, buatku yang sekarang itu seriusan terasa kayak baru kemarin. Jadi jangankan enam tahun, sepuluh tahun saja di usiaku sekarang sudah terasa pendek.

Paprika adalah karya pertama Kon-sensei sekaligus yang kulihat sesudah beliau wafat. Berdurasi 90 menit dan diproduksi oleh Madhouse. Ceritanya sebenarnya bergenre sains fiksi, tapi mulai meranah ke domain psikologi fantastis gitu.

Aku Mengikuti Perempuan yang Menunjukkan Jalan

Di dunia masa depan tak jauh tempat Paprika berlatar, perawatan psikoterapi melalui mimpi dikisahkan telah bisa dilakukan. Ini terwujud berkat penemuan suatu perangkat canggih bernama DC Mini yang dapat digunakan untuk menyaksikan dan memasuki mimpi-mimpi orang lain.

Kepala tim yang bertanggung jawab atas penelitian ini, seorang wanita mandiri tapi sedikit galak bernama Doktor Chiba Atsuko, mulai menggunakan DC Mini secara ilegal untuk bisa menolong pasien-pasien di luar lembaga penelitian. Dia melakukannya dengan menggunakan alter ego bernama Paprika, seorang perempuan muda berambut coklat pendek yang memikat, lincah, dan sangat hidup.

Sesi konseling yang Atsuko lakukan sebagai Paprika sebenarnya sama sekali tidak resmi. Sehingga Atsuko dan kawan-kawan dekatnya, Doktor Shima Toratarou yang merupakan kepala departemen di mana penelitian mereka bernaung; serta Doktor Tokita Kousaku, seorang pria sangat gemuk dan kekanakan tapi juga jenius, yang merupakan penemu asli DC Mini dan kawan lama Atsuko, harus bisa menjaga agar keberadaan DC Mini dan Paprika tak boleh sampai bocor ke dunia luar. Ini terutama karena perangkat-perangkat DC Mini yang mereka kembangkan, meski bisa berfungsi, masih belum benar-benar ‘jadi.’ Lalu karena statusnya yang belum final ini, pembatasan akses masih belum diterapkan. Sehingga siapapun yang menggunakannya bisa bebas untuk memasuki dan mempermainkan mimpi siapa saja.

Masalah timbul saat salah satu perangkat DC Mini ternyata benar-benar hilang. Konsekuensi dari hal ini ditandai dengan bagaimana Shima tiba-tiba saja, entah karena apa, mulai melontarkan serangkaian omong kosong yang tak jelas maksudnya, yang diikuti dengan bagaimana ia melemparkan dirinya sendiri ke luar jendela, nyaris membuatnya terbunuh.

Akibat insiden ini, penggunaan DC Mini dilarang sama sekali oleh Doktor Inui Seijirou, kepala institut penelitian mereka. Tapi menghadapi ancaman sosok yang bisa memanipulasi orang untuk bunuh diri lewat perantara mimpi, Atsuko dan kawan-kawannya tahu bahwa apabila kasus ini tak diselesaikan, bisa ada lebih banyak korban-korban lain yang berjatuhan.

Penyelidikan ke dalam dunia mimpi Shima menampilkan suatu parade benda-benda mati seperti mainan dan perabotan yang semakin bertambah ramai sedikit demi sedikit, yang seakan ‘menelan’ mimpi-mimpi asli semua orang. Di dalamnya, Tokita sempat melihat keberadaan Himuro Kei, asistennya, yang memastikan kecurigaan bahwa pencurian itu sebenarnya dilakukan orang dalam.

Namun penyelidikan terhadap Himuro semakin membuahkan hasil tak terduga. Apalagi saat terkuak soal betapa yang bisa dilakukan dengan DC Mini jauh melebihi yang siapapun sangka.

Mengejar Angin yang Kerap Bertiup Dalam Mimpi-mimpiku

Sebenarnya, ada beberapa karakter lain yang terlibat. Tapi satu-satunya yang benar-benar patut disebut adalah Detektif Konakawa Toshimi, perwira polisi paruh baya dan lajang yang telah berulangkali dihantui sebuah mimpi yang berakhir menggantung. Akhir mimpi yang terus-terusan menggantung ini membuatnya tersiksa, yang akhirnya membuatnya mencari pertolongan Paprika. Ini berujung pada bagaimana Konakawa jadi mengenal Atsuko secara pribadi, dan mengenalinya sebagai orang yang sesungguhnya selama ini selalu menolongnya.  (Dirinya memang lambat laun menjadi terpikat pada Paprika, meski sikap Atsuko sendiri soal hal ini selama durasi besar film menjadi tanda tanya.)

Saat mengetahui tentang kasus sensitif hilangnya DC Mini, Konakawa turut membantu Atsuko dan timnya dalam menguak kebenaran kasus ini. Motif mimpi berulang yang dialaminya, serta kontribusi besarnya dalam penyelidikan, membuat Konakawa bisa dibilang sebagai tokoh utama film ini yang kedua. (Padahal kalau tak salah, beliau adalah karakter orisinil anime yang tak ada di novel aslinya.)

Bicara soal teknis, agak susah mendeskripsikan Paprika bagusnya bagaimana.

Daripada soal kualitas animasinya (yang memang bagus), Paprika sukses memvisualisasikan hal-hal yang efektifinya hanya divisualisasikan lewat animasi. Adegan-adegan di dalam mimpinya, yang kerap abstrak dan tersamar, dan juga bisa membuat resah meski kita tak benar-benar mengerti kenapa, benar-benar keren. Tapi yang membuatnya benar-benar berkesan adalah soal makna-makna terselubung yang ada di dalamnya. Jadi, selain soal mimpi aneh yang menghantui Konakawa, Atsuko sebenarnya memiliki masalah pribadinya sendiri. Dalam hal ini, dirinya berada dalam suatu penyangkalan berkelanjutan tentang perasaan yang sudah lama dipendamnya. Lalu penyangkalan ini yang seakan tertuang lewat perannya sebagai Paprika.

Sekali lagi, adegan-adegan mimpinya menjadi apa yang film ini paling tonjolkan. Tapi ada banyak hal terkait dunia nyatanya yang juga menjadi daya tarik, seperti soal betapa besarnya ukuran badan Tokita atau betapa menonjolnya kacamata Shima. Penyampaiannya benar-benar mengikuti ciri khas Kon-san, yang mana hal-hal yang sebenarnya nyata dan hal-hal yang sebenarnya tidak nyata kerap tersamar. Lalu ini terutama terasa menjelang klimaks saat serangkaian hal gila benar-benar terjadi. Efeknya lumayan menakutkan (meski tak sampai ke levelnya film-film David Cronenberg sih). Lalu ini diiringi dengan musik yang benar-benar melarutkan juga.

Soundtrack utama film ini, “Byakkoya no Musume” dikomposisi oleh Hirasawa Susumu dan seriusan perlu kalian dengar sendiri untuk mendapat gambaran tentang keajaibannya.

Sebenarnya, ada hal penting yang semula ingin aku ungkap dengan membahas soal judul ini. Tapi setelah menulis sampai sejauh ini, aku jadi tak jadi. Yah, ada banyak hal pribadi yang rasanya dimasukkan ke dalamnya juga. Jadi membahasnya agak-agak susah.

Pastinya, ini satu lagi karya relatif lebih ke sini yang di dalamnya bakat Hayashibara Megumi dan seiyuuseiyuu lain seangkatan beliau masih tampak.

Yah, bagiku, karya-karya Kon-san (seperti Paranoia Agent atau Perfect Blue) adalah jenis yang lebih membuatku terpukau ketimbang puas sih. Aku sering mikir apa mungkin ada makna-makna tertentu di dalamnya yang luput aku tangkap.

Lumayan disayangkan bagaimana beliau sekarang tiada, berhubung di masa sekarang, masih belum ada sutradara anime lain yang nampak mengikuti jejaknya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A+; Audio: S; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

21/02/2016

Subete ga F ni Naru

Dulu, aku lumayan menggemari genre misteri. Pernah ada masa ketika aku rutin membeli terbitan ulang novel-novel Agatha Christe (untuk suatu alasan, meski sangat terkesan oleh karakternya, aku tak segitunya terkesan oleh cerita-cerita Sherlock Holmes). Tapi seiring aku dewasa, aku sampai ke kesimpulan kalau ada sejumlah misteri yang sampai akhir memang lebih baik dibiarkan tak terjawab.

Aku sebenarnya sampai ke kesimpulan ini bahkan sebelum aku memainkan Umineko no Naku Koro ni keluaran 07thExpansion. Jadi, wahai para pembacaku yang (mungkin) setia, sebenarnya aku sampai ke kesimpulan ini bukan karena seri itu.

Malah, bisa dibilang aku tertarik pada Umineko justru karena kesimpulan ini. Aku tak menyadarinya di awal, tapi perkembangan cerita Umineko yang ternyata paling baik menggambarkan perasaanku saat itu.

Yah, intinya, aku bosan dengan format yang dipunyai cerita-cerita misteri.

Meski aku tak sampai benar-benar jadi pandai dalam memecahkan kasus-kasus, suatu bagian bawah sadarku membuatku berpikir, “Apa iya ini cuma segini?” Lambat laun, aku merasa adanya sesuatu yang ganjil. Lalu, seperti yang Battler sendiri bilang pada Beatrice, rasanya seperti hatinya tidak ada.

Hati apa yang dimaksud Battler?

Yah, aku enggak akan menjelaskannya. Berhubung itu jadi spoiler buat Umineko.

Tapi terlepas dari itu, hal tersebut yang jadi alasan pertama aku tertarik pada Subete ga F ni Naru (‘segalanya menjadi F’), atau juga dikenal dengan judul The Perfect Insider (‘orang dalam yang sempurna’). Pertama itu. Lalu berikutnya, karena ceritanya yang bersetting di paruh akhir dekade 1990an.

Waktu adaptasi animenya diumumkan akan tayang pada musim gugur tahun 2015 lalu (ketika genre anime misteri sedang mulai ngetren), aku serta merta langsung tertarik pada seri ini. Jumlah episodenya sebanyak 11, dan ini salah satu seri yang sempat tayang untuk slot waktu Noitamina. A-1 Pictures yang memproduksinya. Sutradaranya adalah Kanbe Mamoru (sutradara veteran yang telah menangani hal-hal menakutkan macam Denpa Teki na Kanojo dan Elfen Lied sampai hal-hal ‘manis’ seperti Cardcaptor Sakura dan So Ra No Wo To), dan naskahnya dikomposisi oleh Ono Toshiya.

Ceritanya didasarkan pada novel berjudul sama karangan Mori Hiroshi, yang diterbitkan Kodansha pada tahun 1996. Novel tersebut menjadi novel pertama yang mengawali seri detektif S&M buatannya, yang mengetengahkan dua karakter Saikawa Souhei dan Nishinosono Moe. Ceritanya kelihatannya sedemikian uniknya, sampai meraih penghargaan Mephisto Prize.

Adaptasi animenya ini terjadi nyaris setahun menyusul adaptasinya ke bentuk dorama live action, yang sempat menarik perhatian pada perempat akhir tahun 2014. Seri televisi ini sebenarnya lebih mirip kumpulan cerita yang mengetengahkan Souhei dan Moe ketimbang adaptasi novelnya semata, dengan Ayano Gou berperan sebagai Souhei dan Takei Emi berperan sebagai Moe.

Sebelumnya lagi, pada tahun 2002, novel ini sempat diadaptasi ke bentuk visual novel oleh pengembang KID.

Sebelumnya lagi lagi, pada tahun 2001, novel ini juga sempat diadaptasi ke bentuk manga oleh Asada Torao. Lalu lebih belakangan, pada tahun 2015, sempat diadaptasi ulang ke bentuk manga, kali ini oleh mangaka Brave10 S, Shimotsuki Kairi. (Aku samar-samar ingat kalau ada sesuatu yang benar-benar menarik pada desain karakter versi Shimotsuki-sensei.)

Mungkin patut kusinggung juga bahwa desain karakter yang digunakan di animenya adalah buatan Inio Asano, pengarang manga Solanin dan Oyasumi Punpun, yang dikenal karena penggambaran drama psikologisnya yang kuat.

Siapa Kau

Inti cerita Subete ga F ni Naru berfokus pada tiga individu, yaitu dua tokoh utama kita, Saikawa Souhei dan Nishinosono Moe; serta Magata Shiki, seorang programmer jenius yang dituduh telah membunuh kedua orangtuanya pada usia 14 tahun, tapi kemudian dinyatakan tak bersalah karena ‘kondisi psikologis’-nya.

Shiki semenjak itu kemudian mengurung diri di lab riset swasta miliknya di suatu pulau terpencil (Institut Penelitian Magata) selama belasan tahun. Lalu cerita terjadi saat mahasiswa-mahasiswa yang berhubungan dengan kelas seminar Souhei mengadakan kunjungan wisata ke Pulau Himaka, di mana lab tersebut berada.

Saikawa Souhei adalah dosen muda di Universitas Nasional N, yang mendalami komputer, sangat cerdas, namun merasa tersisihkan dari dunia. Dirinya adalah murid terakhir Profesor Nishinosono, mendiang ayah Moe, sebelum beliau kemudian wafat bersama istrinya.

Nishinosono Moe, anak perempuan mentor Souhei, adalah mahasiswi arsitek cerdas yang memiliki kemampuan pengamatan dan kalkulasi luar biasa, meski terkadang ia suka melompat dari satu kesimpulan ekstrim ke kesimpulan ekstrim lain. Semenjak kedua orangtuanya yang kaya raya wafat, Moe sedikit banyak telah ‘dijaga’ oleh Souhei. Lalu meski Souhei seakan kerap bersikap cuek terhadapnya, Moe merasakan rasa sayang dan ketertarikan yang besar terhadapnya.

Souhei sejak awal telah mengagumi hasil-hasil penelitian Dr Magata. Tapi mendengar tentang sejarah pribadinya—yang tak pernah meninggalkan lab dan hanya menampakkan diri pada dunia sekelilingnya secara tidak langsung—Souhei sadar bahwa mungkin ia takkan pernah berkesempatan bertemu dengannya. Namun kemudian terungkap bahwa Moe pernah bertemu dan bahkan berbincang-bincang dengan Dr Magata, dalam suatu kesempatan saat ia berkunjung ke labnya. Lalu hal ini kemudian berujung pada rencana wisata ke pulau dekat lab penelitian milik Dr Magata itu.

Singkat cerita, tak dinyana, pembunuhan ruang tertutup kemudian terjadi. Souhei dan Moe, yang semula berkunjung ke lab tersebut dengan harapan bisa bertemu Dr Magata, kemudian menjadi saksi atas dua kematian yang proses terjadinya seakan tak bisa dijelaskan oleh siapapun.

Aku Ingin Berbicara Denganmu

Hal pertama yang berkesan buatku dari anime Subete ga F ni Naru adalah animasi pembuka dan penutupnya. Pembukanya diiringi lagu ‘talking’ bernada ceria dari band KANA-BOON, sedangkan penutupnya diiringi lagu ‘Nana Hitsuji’ dari band Scenarioart. Dua lagu tersebut, sekaligus animasi yang menghiasinya, menurutku membawakan nuansa yang pas buat seri ini, dengan kurang lebih sama-sama membuat kita mikir, ini semua maksudnya gimana sih?

Animasinya juga sekaligus membuktikan kehandalan A-1 Pictures. Motif komputer dalam cerita, kebingungan dan rasa penasaran para tokoh utama, penggambaran hubungan mereka lewat imaji tiga tokoh utamanya yang seakan melakukan drama tarian—yang mana sosok Souhei dan Moe dengan frustrasi senantiasa mengejar sosok Shiki yang terus menghilang—merupakan cara penggambaran yang benar-benar keren dan memang hanya bisa ditampilkan dalam bentuk animasi.

Sekilas ini tak terdengar istimewa sih. Tapi kekerenan ini juga terasa pada bagaimana mereka memadatkan kedua lagu pembuka dan penutup dalam durasi standar satu setengah menit.

Untuk selebihnya… memang mesti diakui kalau ini salah satu anime yang agak susah dimasuki. Apalagi kalau dibandingkan seri drama prosedural Sakurako-san no Ashimoto ni wa Shitai ga Umatteiru yang tayang pada musim yang sama. Meski Subete ga F ni Naru hanya 11 episode, itu saja sudah terasa ‘panjang’ untuk durasi ceritanya. Ini terutama terasa di bagian tengah yang serasa mengalami perkembangan cerita yang bukan hanya benar-benar lamban, tapi juga agak sukar dipahami.

Penyebabnya karena bagi Souhei dan Moe, memahami pribadi Dr Magata Shiki yang misterius, serta apa yang sampai menyebabkan insiden pembunuhan kedua orangtuanya, sama pentingnya dengan memecahkan teka-teki pembunuhan yang terjadi di masa sekarang. Bukan hanya karena mereka meyakini bahwa sebagian petunjuk untuk pembunuhan itu adanya di masa silam, tapi juga karena mereka butuh pengetahuan soal seperti apa kepribadian Dr Magata demi menemukan jawaban atas persoalan pribadi mereka masing-masing.

Persoalan pribadi yang kaitannya soal cara ideal dalam memandang dunia beserta isinya. …Mungkin ini jenis masalah yang khusus hanya dialami orang-orang pintar.

Sedikit demi sedikit, mulai terkuak satu demi satu kenyataan tentang pribadi Dr Magata Shiki. Mulai dari OS orisinil Red Magic ciptaannya, yang sekaligus mengendalikan seluruh sistem yang ada di lab; kepribadian majemuk yang ia punyai; kesaksian orang-orang lain atas pembunuhan orangtuanya; kondisi kejiwaannya yang jauh lebih dewasa dari usianya; kesamaan antara dirinya dan Moe sebagai sesama perempuan cerdas yang kehilangan orangtua mereka di usia muda; robot ciptaannya sendiri yang bisa membuka kunci pintu kamar; bagaimana ia sedemikian cerdasnya, sampai dikatakan satu roh mungkin tak cukup untuk mengisi otaknya; serta kata-kata misterius yang bisa jadi adalah pesan terakhirnya…

Yang Berbeda Adalah Jam Dalam Diri Kita

Mungkin karena latar belakangku di bidang teknik, aku berhasil menebak makna ‘segalanya akan menjadi F’ agak awal. Tapi begitupun, menurutku misteri yang terjadi sebenarnya tetap memikat. Pemaparannya memang agak berlarut di tengah, tapi apa yang terjadi memang sedemikian aneh dan ganjilnya, sampai aku bisa paham kenapa novelnya bisa memukau saat pertama terbit.

Berhubung novelnya berlatar menjelang paruh akhir 90an, saat telepon seluler masih belum umum dan komputerisasi masih belum setersebar sekarang, segala yang Dr Magata ciptakan di labnya benar-benar canggih. Membayangkan apa-apa yang telah dihasilkannya dari segi keilmuan saja sebenarnya menarik.

Di samping itu, interaksi antar karakternya—meski mungkin agak susah dipahami—sebenarnya memang bagus. Souhei, yang biasanya tak begitu tertarik pada segala sesuatu, terpikat pada ‘kemurnian’ pikiran Magata Shiki. Lalu ini menimbulkan konflik antara dirinya dan Moe, yang sejak awal telah jatuh cinta pada Souhei dan telah lama berusaha memahami jalan pikirannya. Bagaimana sesuatu mirip cinta segitiga ini bisa terjadi benar-benar menarik.

Ada banyak detil yang berusaha disampaikan (seperti bagaimana Moe memaksakan diri makan jamur shiitake demi melawan anemia). Ditambah lagi, karakternya lumayan banyak. Karenanya, ini seri yang termasuk susah diikuti. Tapi saat kau berhasil menemukan kaitan satu hal dan hal lainnya, hasil akhirnya bisa lumayan membuatmu berpikir.

Mungkin bukan soal misterinya. Tapi lebih pada pesan apa yang berusaha disampaikan di dalamnya. Buatku pribadi, meski aku tak setuju dengan kesimpulan apa yang Dr Magata dapatkan, setidaknya aku memahami penjelasan soal bagaimana ia bisa sampai ke sana.

Aku Tak Bisa Merokok di Dasar Laut

Bicara soal teknis, seri ini sebenarnya termasuk sedikit di atas rata-rata. Sempat ada kekurangan di beberapa bagian. Tapi secara umum seri ini termasuk enak dilihat dan didengar.

Dialognya banyak. Benar-benar banyak. Bahkan diselingi isapan rokok Sohei pun (dia kecanduan), kalian yang tak suka seri yang banyak bicaranya lebih baik menjauh. Lalu yang kumaksud di sini bukan dialog yang kadang melantur dan diisi candaan seperti di Monogatari. Tapi lebih pada dialog datar dan serius antar orang dewasa yang sebenarnya bisa menyiratkan banyak hal.

Satu hal menarik: menit-menit menjelang akhir setiap episode hampir selalu diisi monolog seorang pria, yang menguak sebagian demi sebagian isi buku catatannya tentang Magata Shiki. Siapa identitas pria ini sebenarnya jelas. Apa yang dialaminya juga jelas. Tapi apa yang disorot tentu saja adalah proses terjadinya. Lalu mungkin ini terdengar aneh, tapi apa yang disampaikan itu sejenis kengerian yang kayaknya ‘asing’ bagi kebanyakan orang gitu. Terus yang mengerikan sebenarnya adalah gimana kengerian itu akhirnya bisa ia ‘terima.’

Akhir kata, ini seri yang pasti cocoknya cuma buat kalangan tertentu. Daripada memberimu ‘perasaan’ seri ini lebih pada memberimu ‘pikiran.’ Ada bagian lemahnya di sana-sini, tapi kurasa akan ada orang-orang yang tetap menyukainya.

Agak aneh melihat gaya gambar Asano-sensei dianimasikan. Apalagi mengingat belum ada manga karya beliau yang diadaptasi ke bentuk anime sejauh ini. Jadi, kurasa itu daya tarik juga.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

24/08/2015

Punch Line

Mungkin karena Saenai Heroine no Sodatekata, belum lama ini aku bolak-balik mempelajari halaman Wikipedia dari seri Memories Off.

Memories Off merupakan seri VN lama yang pertama dikeluarkan KID di pertengahan dekade 2000an dulu (meski sekarang sudah bubar, KID dulu juga terkenal sebagai pengembang seri VN Infinity Series). Samar-samar di masa lalu, rasanya aku pernah melihat beberapa visual dari seri OVA adaptasinya. Tapi aku tak benar-benar tahu apa-apa tentangnya sampai sekarang.

Alasan ini aku singgung adalah karena buatku, ada sesuatu yang benar-benar memikat dari konsep ‘percabangan cerita’ di seri-seri galge semacam Memories Off. Kita akan ke satu arah kalau memilih A, kita akan ke arah yang lain kalau memilih B. Hal-hal seperti itu agak membuatku mikir tentang beberapa hal, karena pilihan-pilihan yang kita ambil ditentukan oleh—dan sekaligus menentukan ke depan—‘identitas’ diri kita siapa.

Tapi terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah Punch Line.

Menutup rangkaian bahasan soal anime musim semi 2015 lalu, ini satu judul lain yang perkembangannya sempat kuikuti. Malah, ini hampir menjadi judul favorit yang paling akan aku rekomendasikan dari musim itu.

Sekali lagi, hampir.

Disutradarai Uemura Yutaka dari studio MAPPA yang memproduksinya, dengan naskah dibuat Uchikoshi Kotaro (penyusun skenario game Ever 17 keluaran KID serta seri game thriller populer Zero Escape di NDS) dengan musik yang ditangani Komuro Tetsuya (buat kalian yang belum tahu, beliau salah satu produser musik veteran tersukses di Jepang, yang berperan memperkenalkan dance music di sana secara mainstream. Aku sendiri pertama mengenal beliau sebagai salah satu personil grup musik globe), dilihat dari sudut pandang manapun, Punch Line termasuk salah satu seri yang high profile.

Berjumlah total 12 episode, dengan melibatkan idola populer Nakagawa Shoko serta grup idola Dempagumi Inc, ada versi gamenya juga yang dikembangkan dan dikeluarkan oleh 5pb (yang kini telah bergabung dalam perusahaan induk Mages) untuk PS4 dan PS Vita, yang konon akan memaparkan perkembangan dan akhir cerita alternatif yang bisa berbeda dari di animenya.

Alasan aku menyinggung soal Memories Off (selain karena dikembangkan oleh KID, dan juga karena nuansa sentimentalisme di dalamnya yang benar-benar kuat), adalah karena daripada anime, Punch Line lebih terasa dibuat untuk dijadikan game.

Jenis game yang mengutamakan soal ‘percabangan cerita’ di dalamnya.

Panties and Cinnamon

Punch Line (ini istilah bahasa Inggris, secara harfiah kira-kira berarti ‘bagian lelucon yang membuat tertawa’; walau dalam konteks ini, merupakan plesetan dari kata ‘panchira’ yang artinya ‘pantyshot’) berkisah tentang Iridatsu Yuuta, seorang remaja yang pada suatu hari terlibat dalam suatu insiden pembajakan bis. Di akhir insiden, Yuuta kemudian terpisahkan roh dan badannya, bertemu seekor roh kucing misterius bernama Chiranosuke, yang kemudian menjelaskan pada Yuuta bahwa dirinya telah menjadi harapan terakhir umat manusia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Hanya saja, Chiranosuke juga menyebutkan kalau hal ‘sebaliknya’ juga bisa terjadi: apabila Yuuta sampai dua kali melihat celana dalam perempuan secara berturut-turut, maka suatu reaksi berantai akan terjadi, yang justru kemudian akan menyebabkan bumi hancur akibat hantaman meteor.

Uh, oke. Mungkin kurang lebih gitu?

Terlepas dari tema-tema konspirasi, pembunuhan, aliran kepercayaan, dan misteri di dalamnya, Punch Line jelas-jelas bukan anime yang perlu ditanggapi serius. Tapi entah karena pemaparannya yang bagus atau gimana—terlepas dari segala pantyshot di dalamnya—lumayan susah buat enggak jadi penasaran dan kemudian berharap lebih. Ada meteor raksasa di luar angkasa yang sedang mengancam dunia. Ada suatu superhero bertopeng yang menjadi pembasmi kejahatan. Ada aliran kepercayaan Q-May yang menyatakan akan melakukan sesuatu tentang meteor ini bila kemauan mereka tak dituruti.

Lalu para pembuatnya ternyata enggak bercanda. Jumlah pantyshot di seri ini benar-benar ada banyak.

Hanya saja, entah karena gaya desain karakternya yang imut atau bagaimana, terlepas dari betapa parah dan mendetilnya desain berbagai celana dalam di dalamnya, aku hampir-hampir enggak merasakan apa-apa setiap kali adegan-adegan fanservice ini terjadi (yang ditandai dengan bagaimana Yuuta secara klasik mimisan). Alasannya? Karena aku sudah terlanjur terpikat dengan semua teka-teki yang terjadi di balik semuanya.

Apa sebenarnya yang terjadi? Dunia tengah terancam karena apa?

Episode-episode awal Punch Line membawa kita pada keseharian(?) Yuuta dan para penghuni lain di Wisma Korai yang ditempatinya. Yuuta, dengan bimbingan tak jelas dari Chiranosuke, kini melayang-layang sebagai roh di sana. Sementara, Chiranosuke menjelaskan, ada orang lain yang telah mengambil badan Yuuta. Lalu sosok tersebut telah menempeli dinding kamar Yuuta dengan berbagai kertas mantra sehingga Yuuta tak bisa masuk.

Chiranosuke kemudian berkata bahwa Yuuta harus menemukan kitab misterius Nandala-Gandala untuk bisa menyelesaikan semuanya. Lalu mungkin saja kitab ini ada di Wisma Korai. Tapi di kamar siapa?

Di samping Yuuta, para penghuni Wisma Korai yang lain antara lain (ya, semuanya cewek, karenanya, Yuuta jadi perlu berhati-hati):

  • Narugino Mikatan; seorang gadis cantik yang ramah dan ceria, yang merupakan personil sebuah grup idola terkemuka, sekaligus pahlawan bertopeng misterius Strange Juice yang sebenarnya bermarkas di Wisma Korai. …Mungkin Yuuta memiliki perasaan terhadapnya.
  • Daihatsu Meika; teman lama Mikatan sekaligus pemilik dari Wisma Korai; sebenarnya adalah penemu jenius Pumpkin Chair, yang dari jauh membantu Strange Juice dalam setiap aksinya.
  • Hikiotani Ito; seorang siswi SMA yang karena suatu alasan, sudah agak lama mengurung diri di kamarnya dan tidak ke sekolah. Sebenarnya seorang gamer sangat handal yang ternyata merupakan salah satu lawan online yang sering dihadapi Yuuta.
  • Chichibu Rabura; seorang perempuan dewasa yang terbilang cantik, tapi karena suatu hal masih single. Nampaknya dulu memiliki bakat supernatural untuk meramal dan sebagainya yang ia warisi dari keluarganya, tapi karena suatu sebab, kekuatannya sirna dan itu membuatnya frustrasi. Meski begitu, pengetahuan yang dimilikinya sedikit banyak tetap berguna bagi Yuuta. Dirinya juga sudah mulai putus asa untuk mendapatkan pasangan.

Semuanya dituturkan dengan benar-benar bagus dan mudah dipahami, sekalipun ada begitu banyak hal yang terjadi di antara adegan-adegan konyol yang muncul. Padahal cerita Punch Line latarnya hanya berkisar di hari-hari terakhir Desember di awal musim dingin, tak jauh-jauh dari Wisma Korai. Tapi apa-apa yang terjadi di sana memiliki kaitan dengan nasib seisi dunia.

Lalu semuanya terikat dengan suatu proyek rahasia di masa lalu, seekor kura-kura dan seekor anak beruang, serta peran yang ditakdirkan harus dimainkan oleh masing-masing penghuni Wisma Korai ini.

U-Turn

Bicara soal teknis, kalau kalian tanya apa ini anime yang bagus atau enggak, maka seenggaknya ini anime yang benar-benar bagus secara teknis. Presentasinya mengesankan. Walau kalian mungkin tak langsung sreg dengan gaya desainnya, para karakternya ekspresif dan visualnya ramai oleh motif. Ada banyak detil yang diperhatikan pada interior kamar masing-masing penghuninya. Mulai dari patung cowok di kamar Rabura, peralatan penuh warna di kamar Meika-emon, sampai kesuraman dan keberantakan di kamar Ito.

Adegan-adegan aksinya, yang di luar dugaan lumayan banyak (dan juga lumayan melibatkan banyak hal gila), terkoreografi dengan bagus, terutama pada episode-episode terakhirnya.

Lalu musiknya, meski di awal mungkin tak langsung kau suka, memang lama kelamaan meraih perhatian.

Cuma, ya, itu. Ini anime yang benar-benar aneh dari awal sampai akhir. Kalau kau tak suka misteri atau komedi yang jenis seperti ini, atau bahkan tak tahan dengan begitu banyaknya kilasan celana dalam yang berulangkali terjadi, mungkin ini sesuatu yang takkan cocok buat kalian.

Dan lagi, kenapa mesti celana dalam?! Maksudku, apa segitunya mereka mesti memaksakan lelucon yang berbasis permainan kata ini?

… …

Oke. Kembali membahas soal musiknya…

Man, kayaknya aku jadi mesti menuturkan pengalaman pribadi lagi.

Bukan. Bukannya musiknya jelek sih. Aku bahkan enggak bisa mengatakan musik dan audionya jelek.

Tapi terlepas dari Nakagawa-san yang akrab dipanggil Shoko-tan—yang sudah agak lama aku kenal, dan lumayan bisa kuhormati; man, aku harap dia orang baik, karena aku takkan bisa melupakan nyanyian ‘Sorairo Days’ beliau di anime Gurren Lagann—aku pertama mengenal grup Dempagumi Inc dari pengalaman mengikuti AFA Indonesia 2013 dulu. Mereka yang menjadi bintang tamu kejutan di acara pentas musiknya. Tapi aku terus terang agak dendam pada mereka, karena gara-gara mereka tampil, tampilnya Kalafina jadi tertunda.

…Oke, kita jangan singgung soal masa lalu.

Intinya, sesudah pengalaman AFA itu, aku mencari info sedikit soal mereka, dan menurutku mereka grup idola yang benar-benar aneh. Buatku, mereka memiliki kemampuan dalam semua performa mereka gitu. Cuma, mereka aneh. Kayak, aura dan wibawa idol mereka buatku sama sekali enggak kepancar gitu.

They’re just weird.

Jadi aku enggak pernah benar-benar tertarik dengan mereka.

…Yah, Shoko-tan juga sosok yang agak aneh sih. Jadi kurasa ini kolaborasi yang pas.

Namun sesudah mengikuti Punch Line, baru mesti kuakui kalau Dempagumi memang grup yang lumayan. Aku lambat laun bisa suka dengan lagu penutup terakhir yang mereka bawakan. Meski aku masih tak bisa merasakan wibawa mereka sebagai idol, Dempagumi kini telah menjadi kelompok yang juga bisa aku hormati terlepas dari… uh, sisi-sisi aneh mereka.

Jadi, yang ingin kukatakan adalah: hasilnya enggak jelek kok! Sama sekali enggak! Malah hampir bagus!

Hahahahaha!

… …

Iya.

Hampir.

Soalnya tamatnya agak…

Meski klimaksnya bagus, mereka kayak memilih tamat yang bukan tamat terbaik yang bisa terjadi. Para pembuatnya kayak menyimpan tamat terbaik itu untuk digunakan di versi gamenya saja.

Sekali lagi, karena soal ‘percabangan cerita’ di atas.

Menyebalkan? Ya, agak menyebalkan.

Tamat animenya itu kayak neutral ending. Sementara nanti gamenya yang akan menyajikan tamat-tamat yang lebih jauh tergantung rute (cewek?) mana yang nanti akan kita pilih.

Entahlah. Kesannya buatku seenggaknya kayak gitu.

Dan lagi, meski perkembangan ceritanya sudah gila-gilaan dengan berbagai kekocakan di dalamnya, memang masih ada beberapa teka-teki yang belum terungkap. Seperti soal saudara lelaki Rabura (yang disinggung sangat minim). Seperti soal Muhi. Seperti soal awal fobia Mikatan terhadap kura-kura.

Seperti soal nasib akhir yang lain-lainnya lagi…

Akhir kata, ini anime yang berhasil menuntaskan semua jalinan ceritanya, tapi dengan—anehnya—kurang memuaskan. Tapi ini seri yang bisa sangat berkesan bila kalian memilih mengikutinya.

Soal celana dalam… maaf, aku enggak bisa berkomentar banyak soal desain celana dalam.

Soal Memories Off, yah, setelah memikirkannya lagi, aku jadi agak rindu dengan seri-seri macam Memories Off. Mungkin mestinya aku lebih banyak mendalaminya di saat seri-seri seperti itu sedang menjamur.

Yah, mungkin di lain waktu.

Penilaian

Konsep: X; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+

17/06/2015

Gin no Cross to Draculea

Belum lama ini di situs Baka-Tsuki, aku membaca Silver Cross and Draculea (Gin no Cross to Draculea) sampai habis sebagai selingan.

Ini seri light novel karangan Totsuki Yuu dengan ilustrasi buatan Minato Yasaka yang diterbitkan di bawah label Fujimi Fantasia Bunko, dengan durasi yang hanya terdiri atas lima buku, dan pertama terbit tahun 2012.

Inti ceritanya tentang… bagaimana ada seorang anak remaja kurus berkulit pucat bernama Kujou Hisui yang karena suatu alasan, mempunyai tubuh yang kebal terhadap gigitan vampir. Sehingga saat ia bertemu sesosok vampir perempuan (yang sangat cantik tapi kekanakan) bernama Rushella Dahm Draculea, Hisui sama sekali tak masalah bila dihisap darahnya. Karena sesudah dihisap, dirinya tak akan berubah menjadi vampir.

…Berhubung ceritanya yang kusangka bergenre aksi ternyata lebih banyak ke komedi romantis, yang ditambah dengan bumbu-bumbu misteri (walau aksinya ada sih), aku takkan masuk terlalu detil soal pembahasan ceritanya.

Aku agak bingung gimana menjelaskannya.

Soalnya… apa ya?

Saat kesan pertama yang masuk ke kepala kamu adalah sesuatu yang penuh aksi pembasmian vampir dan adegan-adegan berdarah gitu, tapi yang kau dapat malah cerita misteri yang melibatkan situasi harem dan bumbu-bumbu fanservice, mungkin kau juga bakal agak kedistorientasi mesti bereaksi bagaimana.

Singkat cerita, walau ini bukan seri ranobe yang jelek, ini bukan seri ranobe yang bisa kubilang bagus juga.

Aku enggak begitu bisa menjelaskannya.

Intinya, pada suatu malam, Hisui yang sedang pulang ke rumah berjumpa (diserang) Rushella yang kebetulan berada di sana. Rushella serta merta syok karena dirinya yang True Ancestor (Shinsou, ‘leluhur asli’) sekalipun tak bisa mengubah Hisui menjadi pelayannya. Karena penasaran, Rushella tidak terima. Hingga akhirnya Rushella (dengan membawa peti mati segala, serta berkeping-keping uang emas) memutuskan untuk ikut tinggal di rumah Hisui karena tak bisa terima jika Hisui tak menjadi pelayannya (di samping karena darah Hisui baginya luar biasa enak).

Seiring dengan waktu, mulai dipaparkan tentang siapa Hisui sebenarnya, serta kenapa ada salib raksasa berwarna perak tersimpan di ruang bawah tanah rumahnya. Terutama sesudah terungkap bahwa Rushella telah kehilangan ingatannya, sama sekali tak tahu dari mana asal-usulnya; dan Hisui jelas-jelas secara diam-diam sadar bahwa kaum Shinsou harusnya tak ada lagi sesudah wafatnya Miraluka, vampir Shinsou yang sebelumnya telah membesarkan Hisui bagaikan seorang ibu, kakak perempuan, dan kekasih sekaligus.

Urban Legends and Kisses

Oke. Ada dua poin utama yang sebenarnya mau kubahas terkait judul ini.

Pertama, adalah bagaimana selain vampir, seri ini juga mengangkat tema bagaimana seandainya monster-monster lain dari film-film horor Hollywood zaman dulu tampil kembali di zaman sekarang. Selain Rushella yang notabene merupakan vampir, juga ditampilkan karakter-karakter lain yang merupakan penyihir, hantu, monster Frankenstein, dan dhampir. Aku pengen cerita lebih banyak, cuma kalau sudah menyinggung soal siapa-siapanya, nanti bisa jadi lumayan spoiler.

Kedua, aku aneh saja karena tak biasanya ada judul seperti ini yang diterjemahkan sampai beres di Baka-Tsuki. Ini bukan seri yang bagus, tapi juga bukan seri yang jelek. Lalu walau ini bukan seri yang terbilang panjang, aku tetap saja heran. Memang ada apa dengan seri ini? Kenapa si penerjemahnya bisa begitu segitu berminat menerjemahkan seri ini sampai beres?

Aku mesti akui kalau desain karakternya buatan Minato-sensei termasuk memikat sih (aku terus terang suka desain karakter Uno Kirika–sempai… dan, uh, Miraluka). Tapi karakterisasi dan perkembangan ceritanya sendiri lumayan mengangkat alis.

Mungkin ini cuma aku, tapi aku sempat mikir kalau perkembangan ceritanya yang aneh mungkin juga karena konflik-konflik yang diangkat dalam cerita ini sebagian besar merupakan konflik pribadi; khususnya, soal identitas Rushella dan hubungan Hisui dengan mendiang Miraluka. Tapi masa iya cuma itu? Aku yakin Totsuki-sensei juga punya alur pemikiran yang aneh. Tapi kayaknya aneh kalau misalnya aku membahas sampai ke sana…

Pastinya, ini seri komedi romantis yang berakhir dengan situasi harem. (Yay, HAREM ENDING!) Jadi kalian yang suka situasi-situasi seperti itu mungkin akan suka. Meski luar biasa aneh perkembangannya, tetap ada kepuasan aneh yang kurasakan sesudah mengikutinya. Semua jalinan plot tertuntaskan (kecuali, mungkin, soal asal usul Sudou Mei), dan ceritanya berakhir dengan relatif bittersweet kalau bukan bahagia.

Beberapa orang mungkin menganggap sifat Rushella mengesalkan. Lalu, temanya juga memang agak… disturbing pada beberapa bagian. Lalu ada juga banyak adegan di mana para karakternya yang—dengan alasan terbawa emosi?—memilih ‘pergi’ begitu saja di tengah suasana klimaks konfrontasi, dan bukannya menyelesaikan masalah mereka di situ juga. …Jadi serius, ini tetap bukan seri yang akan aku rekomendasikan.

Akhir kata, aku merasa settingannya sebenarnya lebih cocok dijadikan game ketimbang light novel. Jadi ya sudahlah.

Aku cukup berhasil dibuat penasaran selama mengikutinya sih.

…Aku benar-benar lega saat pada akhirnya berhasil menyelesaikannya.

07/01/2015

Tsukimonogatari

Tanggal 13 Februari. Sehari sebelum Valentine.

Sekitar sebulan sebelum hari ujian seleksi masuk ke perguruan tinggi.

Pada tanggal tersebutlah, Araragi Koyomi—lewat serangkaian kejadian konyol sekaligus mengkhawatirkan yang lagi-lagi melibatkan kedua adik perempuannya—menyadari bahwa pantulan dirinya tahu-tahu sudah tidak lagi tampak di cermin.

Itu pertanda awal bahwa karena suatu alasan, dirinya telah semakin berkurang ‘kemanusiaannya’ dan telah semakin bertambah ‘kevampirannya.’

Setidaknya, itulah gagasan awal dalam Tsukimonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bulan?’). Ini episode khusus yang ditayangkan secara khusus pada pergantian tahun 2014 ke 2015 kemarin, dan masih dianimasikan oleh studio SHAFT dan masih juga diangkat dari rangkaian seri novel Monogatari karangan Nisio Isin.

Yeah, tentu saja aku mengikutinya. Aku sudah jadi penggemar.

Tsukimonogatari kembali menghadirkan Koyomi sebagai narator cerita, dan tokoh utama, setelah musim kedua yang tokoh sentralnya berganti-ganti. Karakter yang menjadi fokusnya kali ini adalah Ononoki Yotsugi, shikigami sekaligus tsukumogami milik Kagenui Yozuru, satu dari tiga spesialis kenalan lama Oshino Meme yang pernah tergabung dalam klub yang sama di universitas.

Cerita ini menjadi pembuka dari ‘musim’ ketiga sekaligus terakhir dari seri Monogatari, yang sesudah ini kayaknya akan dilanjutkan dengan Koyomimonogatari, sebelum baru memasuki babak akhirnya yang mencakup Owarimonogatari (yang lumayan panjang) serta Zoku Owarimonogatari.

Ngomong-ngomong soal settingnya, Tsukimonogatari berlatar sesudah Koimonogatari, tapi sebelum Hanamonogatari, yang sempat tayang pada pertengahan tahun kemarin. Lebih tepatnya: ceritanya terjadi sesudah semua urusan yang menyangkut berubahnya Sengoku Nadeko menjadi dewata pada akhir anime Monogatari Series Second Season beres. Tapi juga sebelum kasus iblis yang berujung pada pertemuan kembali Kanbaru Suruga dengan Numachi Rouka terjadi.

Koyo Koyo ❤

Karena aku sedang malas, kayak biasa, ayo kita bahas soal hal teknisnya dulu.

Ini cuma pendapatku pribadi, tapi kayaknya kualitas teknisnya mengalami peningkatan drastis dibandingkan sebelumnya.

Man, apa yang terjadi ya?

Cara pengungkapan adegan-adegannya secara visual jadi lebih bagus. Mereka kali ini kayak nyoba ngelakuin hal-hal baru. Dan jadinya kayak kerasa lebih segar. Paling jelas terlihat dengan gimana layar hitam yang biasa digunakan sebagai sekat antar bab kini digantikan dengan semacam kolase kata dan corak yang cerah sih. (Walau layar hitam itu sendiri masih ada.)

Sudahlah. Mungkin kaiian juga enggak ngerti apa yang aku omongin.

Dari segi audio, kualitasnya solid.

Beneran solid.

Ini salah satu bab cerita yang relatif lebih berat di percakapan. Tapi dari awal cerita-cerita Monogatari emang lebih berat di percakapan. Dan kali ini segala distraksi visual dan referensi yang bikin kita lupa soal panjangnya percakapan-percakapan ini kembali ada dan jadi sebagus di awal-awal. Pemilihan warnanya yang memainkan kontras kali ini benar-benar bagus. Lalu tampil bersamanya para karakter, bahkan yang hanya cameo, terbilang berkesan.

…Seenggaknya menurutku gitu sih.

Selebihnya, kalau ada kekurangan, mungkin soal nuansa ceritanya sendiri? Seri Monogatari paling bagus saat kita mulai larut dalam perasaan karakternya. Lalu Tsukimonogatari, mungkin karena durasinya, menurutku termasuk yang agak kurang dalam hal ini. Tapi enggak sampe jadi jelek sih. Hasilnya masih beneran bagus, dan seriusan lebih thoughtful dari yang kusangka. Cuma pada saat yang sama, ini kembali menghadirkan segala keenggakjelasan soal apa yang disampaikan itu serius apa enggak.

….Sekali lagi, senggaknya menurutku gitu sih.

UFO Catcher

Lalu, kita kali ini bahas soal cerita.

Intinya, Oshino Shinobu menyarankan kalau mereka perlu saran seorang ahli untuk kasus ini. Seorang ahli seperti Oshino Meme-san. yang keberadaannya saat ini tak diketahui.

Yang paling terbayang bagi mereka adalah Ononoki dan Kagenui. Tapi alternatif itu langsung dicoret mengingat Koyomi tak punya cara untuk menghubungi mereka. Hanya saja, tahu-tahu Gaen Izuko yang menyatakan dirinya ‘mengetahui segalanya’ kembali berperan dan memberi celah. Lalu timbul komplikasi, karena terlepas dari Ononoki sendiri, terakhir bertemu Kagenui, Koyomi dibuat hampir mati sehubungan status Araragi Tsukihi, adik perempuan Koyomi yang…

Yah, intinya, semuanya lalu berujung dengan konfrontasi melawan seseorang bernama Teori Tadatsuru, kenalan lama Oshino-san yang lain, yang seperti halnya Kagenui, seorang spesialis dalam memburu kaii yang tak bisa mati.

Seperti yang bisa kau harapkan, situasi akhirnya berkembang sedikit lebih rumit dari yang terlihat di awal.

Kualitas ceritanya sendiri kembali agak sulit dinilai. Apalagi bila membandingkan dengan versi novelnya. Tapi eksekusinya menurutku terbilang benar-benar bagus. Semuanya semakin mengerucut pada keberadaan adik kelas Araragi, Oshino Ougi, yang kelihatannya telah banyak berperan di balik layar semenjak perginya Oshino-san. (Ononoki sendiri menyinggung soal hal ini.) Namun sama sekali tak ada bayangan kelanjutannya bakal kayak gimana.

Akhir kata, aku enggak kepengen terlalu banyak spoiler, apalagi sesudah ceritanya sampai sejauh ini. Ada banyak sekali benang yang sudah terulur, dan masih ada kesan bersambung di mana-mana. Tapi buat mereka yang bisa menyukainya, perasaan “Hah?” di ujung yang jadi kekhasan seri ini masih tetap ada. Lalu buat kalian yang sudah terlanjur jadi fans, yah, kalian enggak punya alasan buat enggak melihat ini.

Sori, mungkin ada hal-hal penting lain yang terlewat.

Kayak soal gimana kemanusiaan Araragi diangkat, ke soal gimana dia ngerasa apa yang dia alami sebenarnya salahnya dia sendiri juga, lalu ke soal Ononoki dan Shinobu yang bermain di salju bersama, terus ke soal coklat Valentine dari Senjougahara Hitagi, serta teka-teki terbesar tentang kemanusiaan Ononoki sendiri.

Semuanya saat ini menurutku masih terasa kayak cerita sampingan, tapi ini cerita sampingan yang masih terbilang menarik. Klimaksnya sendiri kayaknya masih akan datang nanti.

Akan aku tambahkan, mungkin, sesudah semua aku periksa lagi.

(Apa ada di antara kalian yang sudah ingat Unlimited Rulebook itu apa?)

Penilaian

Konsep: B; Visual A+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

02/01/2015

Kara no Kyoukai – Mirai Fukuin + Extra Chorus

Kara no Kyoukai: Mirai Fukuin (juga dikenal dengan subjudul Future Gospel, atau ‘Blessings for the Future,’ atau juga Recalled Out Summer), merupakan (semacam) epilog dari seri utama Kara no Kyoukai, yang dibuat oleh Nasu Kinoko dan Takeuchi Takashi dari grup pengembang Type-Moon. Adaptasi anime Mirai Fukuin berdurasi sekitar satu setengah jam dan baru dirilis tahun 2013 dalam format layar lebar, dengan produksi masih dilakukan oleh studio Ufotable, yang sebelumnya mengadaptasi cerita utamanya ke dalam bentuk tujuh film layar lebar juga.

Epilog ini berisi serangkaian cerita pendek, yang berlangsung pada latar waktu yang berbeda-beda, yang sedikit banyak memberi gambaran tentang kesudahan nasib para karakter di seri utamanya. Apa yang terjadi pada Ryohgi Shiki, Kokutou Mikiya, dan beberapa karakter lainnya, sesudah dan di sela-sela rangkaian pembunuhan berantai yang pada beberapa titik mewarnai hidup mereka. Subjudulnya kira-kira berarti ‘berkah/doa untuk masa depan,’ yang sesuai dengan tema utama yang cerita-cerita pendek ini angkat.

Episode Extra Chorus, yang menyusul keluarnya Mirai Fukuin, merupakan adaptasi anime berdurasi sekitar setengah jam yang melengkapi apa yang dikisahkan dalam film tersebut. Adaptasinya kayaknya dibuat terpisah karena memang enggak langsung nyambung dengan tema ‘masa depan’ yang film sebelumnya angkat, walau perannya sebagai epilog tetap sama.

1998

Ada tiga episode yang diangkat dalam Mirai Fukuin. Ketiganya sama-sama berpusar pada persepsi orang terhadap masa depan, terutama ke soal pertanyaan apakah masa depan merupakan sesuatu yang sebelumnya telah ditetapkan atau tidak.

Episode pertama berlatar di pertengahan tahun 1998, ketika Shiki mulai dibayang-bayangi seseorang bernama Kuramitsu Meruka, sesosok misterius yang melakukan pekerjaan-pekerjaan pemboman bayaran.

Meruka memiliki kemampuan aneh di mana mata kirinya melihat masa kini, sementara mata kanannya bisa melihat masa depan. Namun masa depan yang bisa dilihatnya merupakan masa depan yang baginya bersifat ‘pasti’ dan tak dapat diubah. Meruka akhirnya seakan menjadi budak bagi masa depan yang dilihat matanya sendiri tersebut, yang seakan hal ‘jelas’ dan tak dapat diubah itu—sampai dirinya menemui Shiki yang entah bagaimana tak muncul dalam ‘masa depan’ yang dilihatnya, mempengaruhi besar-besaran hasil yang dapat ia peroleh, dan membuatnya menjadi sedikit terobsesi dengannya.

Pada waktu yang kurang lebih sama, Kokutou berkenalan dengan seorang gadis remaja bernama Seo Shizune. Shizune, yang sedang dalam liburan musim panas dari sekolahnya di SMA Putri Raizen, sempat sedikit ditolong Kokutou saat suatu insiden terjadi, yang sedikit banyak berhubungan dengan kemampuan Shizune untuk sedikit melihat masa depan juga.

Percakapan yang berlangsung antara Kokutou dan Shizune diseling-selingi lewat alur maju-mundur dengan apa-apa yang terjadi antara Shiki dan Meruka, yang juga diwarnai sesi-sesi konsultasi mereka dengan Aozaki Tohko, atasan Kokutou yang merupakan penyihir. Kokutou melakukan tugasnya untuk menyampaikan kata-kata yang pernah Tohko katakan padanya, bila seandainya Kokutou suatu saat bertemu dengan seseorang yang bisa melihat masa depan. Sementara Shiki disarankan untuk menemui seorang figur yang dikenal sebagai Bunda Mifune, sosok peramal ‘sungguhan’ yang pernah terkenal di jalan-jalan kota Mifune pada masa silam.

Episode kedua berlatar lebih jauh di masa depan, yakni pada tahun 2010, dan memaparkan lebih jauh tentang karakter Bunda Mifune ini. Karakter sentral kali ini adalah Kuramitsu Meruka sendiri, yang pada masa ini lebih banyak menggunakan nama aslinya, Kamekura Mitsuru. Pada episode ini juga diperkenalkan sosok gadis kecil bernama Ryohgi Mana, anak perempuan Shiki dan Kokutou yang pada masa ini telah menikah.

Dikisahkan bahwa Mitsuru, karena satu dan lain hal, kini bekerja di bawah Shiki. Lalu lambat laun, karena alasan yang enggak bisa kukatakan karena bisa agak men-spoiler mereka yang belum nonton, dirinya telah menjadi salah satu orang yang paling Mana sukai. Lalu Mana memaksa menemani Mitsuru dalam satu pekerjaan ini, dan…

Yah, intinya, episode ini secara khusus memperkenalkan karakter Mana. Dan pada dirinya seakan terkumpul segala harapan masa depan yang Shiki dan Kokutou dulu punyai dalam porsi-porsi cerita sebelumnya.

Episode ketiga membawa kita kembali ke masa lalu, pada masa ketika kepribadian maskulin Shiki masih ada. Pribadi Shiki yang ini ternyata pernah berjumpa dengan Bunda Mifune sebelumnya—yang sebaliknya bisa ‘melihat’ sosok Shiki yang sesungguhnya. Lalu percakapan yang berlangsung di antara mereka—sedikit seperti akhir pertemuan antara Kokutou dan Shizune—menandai betapa Shiki yang ini ternyata telah mengetahui apa-apa yang nantinya akan ia alami.

Extra Chorus kembali menampilkan tiga cerita singkat yang agak berhubungan dengan satu sama lain. Latarnya sekali lagi di tahun 1998. Intinya tentang kepergian sementara Kokutou karena suatu hal dan bagaimana ia menitipkan seekor anak kucing pada Shiki. Tapi episode tengahnya menampilkan aftermath dari rangkaian insiden bunuh diri yang dikisahkan dalam Fuukan Fukei, episode Kara no Kyoukai paling pertama, dan sekaligus membeberkan nasib Asagami Fujino, yang mungkin agak mengejutkan bagi beberapa orang. Barulah episode terakhirnya ditutup dengan kunjungan bersama ke kuil yang dilakukan Kokutou dan Shiki—pada malam terakhir Desember di tahun 1998.

Kau Akan Mati, Tapi Impianmu Akan Terus Hidup

Daya tarik teraneh yang Mirai Fukuin punyai bagiku adalah… karena latar waktunya yang maju mundur itu, ceritanya kedengerannya lebih cocok disebut gaiden atau side story. Tapi tema cerita yang dibawakannya memang beneran pas buat dijadiin epilog. Apalagi dengan gimana apa-apa yang dipaparkan di dalamnya mereferensikan sejumlah kejadian yang terjadi belakangan.

Ini seriusan epilog yang sangat keren. Jadi walau enggak membeberkan banyak hal, kalau kau suka ketujuh film layar lebar Kara no Kyoukai yang utama—dengan kesunyiannya, kemisteriusannya, kefilsafatannya, atau ke gimana apa-apa yang disampaikan di dalamnya bikin kamu mikir ulang tentang hidupmu—kau bisa sangat suka dengan apa yang ditampilkan dalam Mirai Fukuin.

(Eh, tapi kalau kau penggemar Type-Moon baru yang masih awam… uh, enggak tahu ya? Mungkin akan kusaranin buat ngelihat yang lain dulu? Seri Kara no Kyoukai memang cuma cocok buat sebagian orang sih.)

Mirai Fukuin sendiri berakhir dengan kuat. Extra Chorus sendiri memang bersifat kayak tambahan. Enggak ada hal baru apapun di dalamnya. Tapi ini tambahan yang beneran manis dan pas kalau kau melihatnya sesudah episode utama Mirai Fukuin. (Kesannya jadi kayak… epilog dari epilog? Hahaha.)

Sama seperti film-film layar lebar pendahulunya, Mirai Fukuin masih memukau dengan kualitas presentasinya yang beneran keren. Tak banyak aksi yang berlangsung—walau ada, dan misteri yang disampaikan kali ini juga tak terlalu rumit, tapi permainan sudut kamera dan pemilahan warna masih kuat di sini. Musiknya keren. Desain dunianya masih begitu mendetil. Lalu dari segi cerita, Mirai Fukuin masih mengangkat tema diskusi menarik, walau mungkin dalam versi yang lebih ringkas ketimbang episode-episode sebelumnya. Dan, yeah, bagian-bagian awalnya agak lebih lambat dari yang mungkin kau sangka.

Terlepas dari itu, satu aspek favoritku yang enggak kusangka ada pada penggambaran kamar apartemen Shiki, yang saat kulihat, langsung mengingatkanku akan saat pertama aku baca terjemahan dari versi novelnya.

Apa ya? Selain hal-hal di atas, aku juga suka kuatnya rasa nostalgia yang seri ini berikan terkait dekade 90an. Khususnya tahun 1998 dalam hal ini sih. Itu masa-masa yang… apa ya? Itu bagiku kayak zaman modern ketika dunia sedang mengalami semacam masa tenang, dan masa depan saat itu masih tersamar dan sama sekali belum terbayang. Pastinya keadaan di masa itu masih belum se-messed up sekarang. Dan karena itu pula, mungkin, pesan yang kurasa berusaha disampaikan di film ini terasa makin kuat…

Buat yang mau tahu, karakter Seo Shizune, yang belakangan terungkap menjadi teman asrama adik perempuan Mikiya, Kokutou Azaka, juga punya kemiripan desain dengan karakter Seo Akira dari semesta Tsukihime (pertama kali dia muncul di fan disc Kagetsu Tohya sih). Kemiripan mereka ada sampai ke kemampuan melihat masa depan terbatas yang Akira juga punyai, serta status mereka sebagai teman sekamar, dengan Akira pun menjadi teman asrama Tohno Akiha di seri tersebut.

Kokutou telah kutambahkan dalam daftar figur yang menjadi role model-ku (Yea, aku punya daftar kayak gitu. Kebanyakan isinya karakter anime. Seorang entrepreuner mesti punya sumber motivasi, tau). Aku beneran terkesan dengan gimana Kokutou memandang apa-apa yang dialaminya sebagai sesuatu yang positif. Aku pengen ngubah itu, tapi kudapati itu bukan sesuatu yang gampang. Dan yea, adegan percakapan dia dengan Shizune di Ahne Nerbe itu kayak memantapkan hal ini.

Kesimpulannya: kau enggak harus mengikuti ini walau pernah melihat seri film utamanya. Tapi kau akan puas kalau misalnya melihatnya.

Jangan lari dari kenyataan ataupun mengekang diri. Masa depan yang kau cari mungkin enggak akan terjadi sekalipun kau meyakininya. Tapi itu enggak berarti apa yang kau lakukan enggak akan memiliki arti.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

06/10/2014

Hanamonogatari

Hanamonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bunga’) merupakan bagian terakhir dari musim kedua rangkaian seri novel horor(?) remaja Monogatari buatan Nisio Isin.

Episode spesial berdurasi sekitar dua jam ini kudengar sempat beberapa kali ditunda penayangannya.

Karena satu dan lain hal, ceritanya juga dibuat terpisah dari adaptasi animasi Monogatari Series Second Season keluaran SHAFT, yang kalau aku tak salah ingat, berakhir di awal tahun ini. Sesudah melihat sendiri ceritanya, kurasa aku bisa sedikit membayangkan alasannya. …Oke, alasannya sendiri sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Tapi, yah, aku bisa memahami alasan kenapa produsernya mengambil keputusan demikian.

Ceritanya berlatar beberapa waktu sesudah klimaks di Koimonogatari, dengan cerita yang berfokus sepenuhnya pada karakter Kanbaru Suruga, dengan judul bab Suruga Devil.

Kewajiban Seorang Kakak Kelas

Araragi Koyomi dan Senjougahara Hitagi sudah tak ada lagi. Demikian pula dengan Hanekawa Tsubasa. Karenanya, Kanbaru merasa agak kesepian sebagai satu-satunya di antara mereka yang masih berada di SMA Naoetsu.

Pada suatu hari, adik kelasnya yang bernama Oshino Ougi, anak lelaki yang dikenalnya sebagai keponakan Oshino Meme, om-om yang dulu pernah menolong mereka semua, pada suatu hari secara kebetulan memberitahunya sebuah rumor tentang Akuma-sama (‘sang Iblis’). Akuma-sama konon akan dapat mengabulkan permintaan siapa saja yang memberitahukan kesulitan mereka padanya.

Lalu mendengar kabar ini, terkait dengan pengalaman masa lalunya dengan artefak jahat Monkey’s Paw yang dulu disebut-sebut juga punya kekuatan untuk mengabulkan permohonan, dan hingga kini pun masih saja tertanam di tangan kirinya, Kanbaru dicengkram kekhawatiran akan kemungkinan dirinya lagi-lagi dikendalikan oleh pusaka itu.

Mungkinkah Akuma-sama yang misterius, yang teman-temannya sekelasnya banyak bicarakan, sebenarnya tak lain adalah dirinya sendiri setiap kali ia terlelap? Mungkinkah sebenarnya tanpa sepengetahuannya selama ini ada korban-korban yang berjatuhan lagi?

Penyelidikan Kanbaru kemudian membawanya berhadapan dengan seorang kenalan lama yang pernah menjadi rivalnya di lapangan basket, Numachi Rouka.

Namun apa yang Kanbaru dapatkan tak benar-benar persis sama dengan apa yang dikiranya tampak…

Duel di Lapangan Basket

Kalau kau sebelumnya pernah melihat adaptasi anime dari Nekomonogatari (Kuro), maka kau sudah akan punya bayangan Hanamonogatari kira-kira akan seperti apa. Enggak, keajaiban yang Bakemonogatari punya masih belum juga terulang kembali. Tapi ini hasil adaptasi yang tetap terbilang lumayan rapi kalau menurutku.

Sekali lagi, itu menurutku.

Buatku, tayangan khusus ini punya hasil lebih bagus dari yang aku harapkan. Tapi, yeah, kita lagi membicarakan anime dari seri Monogatari di sini. Lalu di dalamnya sebagian besar karakter utama yang sudah kita kenal dan sayang sudah tak lagi ada, jadi, yah… Kayak biasa, ini bukan sesuatu yang bakal disukai oleh kebanyakan orang. Teman dekatku yang sedari dulu mengikuti perkembangan seri ini bersamaku sendiri menilai kualitasnya lebih jelek dari yang ia harap.

…Padahal karakter favorit temanku itu Kaiki Deishuu btw.

Tapi terlepas dari semuanya, aku seriusan enggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Rasanya kayak, apa yang dulu bisa membuatku terpukau terhadap seri ini sudah hampir enggak ada gitu. Dan aku mengikuti perkembangannya serius, semata-mata hanya karena ingin tahu kelanjutan ceritanya. Bukan karena visualnya. Bukan karena audionya. Bukan karena leluconnya. Bahkan gaya narasinya yang khas itu pada titik ini, sejujurnya, ahahaha, sudah agak membuatku muak… Dulu, setiap detik pada Bakemonogatari terasa kayak bisa mengungkapkan begitu banyak hal. Tapi sekarang, semuanya kayak kosong dan datar gitu.

Namun sekali lagi, ini adaptasi yang benar-benar rapi. Enggak bisa dibilang bagus. Tapi enggak benar-benar bisa kubilang jelek juga. Cuma, yah, datar aja. Tapi itu enggak selamanya jadi hal yang buruk.

Gunting Kuku di Antara Buku dan Bunga

Yah, oke. Kita bahas saja dikit soal ceritanya.

Selain soal hubungan lama yang Kanbaru punyai dengan Numachi, Hanamonogatari sebenarnya mengangkat juga soal hubungan(?) yang Kanbaru punyai dengan mendiang ibunya, Kanbaru Tooe, atau yang sebelum menikah bernama Gaen Tooe.

Dikisahkan bahwa Kanbaru belakangan sering bermimpi tentang ibunya. Lalu dituturkan pula bahwa berdasarkan cerita-cerita dari mendiang ayahnya, dan sebagaimana kita ketahui dari apa-apa yang kita tahu dari Kaiki sendiri, ibunya Kanbaru ini sama sekali bukanlah orang yang normal. Ada sesuatu tentang dirinya, yang menurut ayah Kanbaru, membuatnya sebagai ‘seseorang yang berdiri mewakili Tuhan di dunia ini.’

Lalu Kanbaru sendiri punya perasaan rumit soal ini, karena alih-alih serupa dewa, perilaku ibunya malah lebih mengingatkannya akan iblis.

Ada tema menarik soal konsep iblis yang diangkat, yang senantiasa menggoda manusia dengan bermacam kemudahan semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Yang bercampur dengan tema soal kedewasaan dan merelakan masa lalu. Masalahnya, agak serupa dengan kasus adaptasi animasi Nekomonogatari (Kuro), berhubung teka-teki terkait bagian cerita ini masih bersambung, tema dan emosi yang dicoba disampaikan dalam anime ini terasa kayak bersambung juga.

Yah, bersambungnya sendiri enggak masalah. Tapi kayak, penyampaiannya sendiri yang terasa setengah hati itu loh.

Agak susah menjabarkannya. Mungkin lagi-lagi masalahnya memang ada pada durasi.

Versi novel dari cerita-cerita Monogatari, bahkan yang sudah tak lagi disampaikan dari sudut pandang Koyomi, masih bisa agak ‘menghantam’ kita dengan berbagai perdebatan menarik soal konsep-konsep kayak gini. Tapi versi animasinya yang merangkum dan memadatkan ini semua, jujur saja, terasa kayak enggak menggarapnya secara adil. Gaya visual unik, yang sebelumnya kayak mengkompensasi keterbatasan waktu buat menyampaikan semua keabstrakan dalam ceritanya, pada titik ini jadi terasa kayak cuma sekedar tempelan yang agak kosong dari makna.

Tapi entah juga. Bisa saja masalahnya pada aku sendiri yang sudah enggak lagi bisa menangkapnya.

Balik ke pembahasan utama, Hanamonogatari bukanlah hasil adaptasi yang solid. Mungkin juga itu alasan kenapa aku agak menunda pembahasannya. Tapi mereka yang sudah terlanjur jadi penggemar seri Monogatari kurasa akan tetap mengikutinya. Kalau kau memikirkannya sedikit, alasan kenapa judulnya demikian akan terungkap di akhir cerita, walau enggak secara benar-benar eksplisit…

Sesudah titik ini, cerita Monogatari akan memasuki musim ketiga, pertama dengan Tsukimonogatari yang kalau tak salah mengetengahkan identitas Ononoki Yotsugi yang pertama diperkenalkan di Nisemonogatari. Masih banyak teka-teki yang menumpuk. Tapi mari kita berharap maknanya tak tertinggal di belakang.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: C+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B: Kepuasan Akhir: B-

(Hm? Nilai yang kukasih sesudah kubandingkan ternyata kalah jauh dibandingkan Nekomonogatari (Black)? Euuh, apa ini enggak apa-apa nih?)