Posts tagged ‘Megaten’

15/06/2017

Daftar Seri Shin Megami Tensei

Keresahan dunia zaman sekarang katanya mirip keresahan era Perang Dingin. Dari tahun 1970an sampai 1990an, rebutan pengaruh antara Amerika Serikat (Blok Barat) dan Uni Soviet (Blok Timur) benar-benar intens. Masa depan tak pasti. Semua pihak takut konflik memuncak dengan perang nuklir. Lalu kalau perang nuklir? Musnahlah dunia.

Kurasa, itu alasan banyak muncul cerita bergenre post-apocalyptic di zaman itu.

Sehubungan dengan itu, bahasan kali ini soal waralaba Shin Megami Tensei.

Dalam berbagai waralaba game lain, kita kerap dapat misi menyelamatkan dunia. Tapi di game-game Megaten, ancaman hancurnya dunia itu biasanya pasti. Kehancuran dunia sudah pasti terjadi tanpa bisa kita apa-apain. Yang jadi masalah lebih pada cara menyikapinya.

Waralaba multimedia Shin Megami Tensei dikembangkan perusahan Atlus. Utamanya memang adalah game, tapi dari tahun ke tahun, keluar produk novel dan manga juga. Waralaba ini dicetuskan oleh Okada Kouji (yang juga dikenal sebagai Cozy Okada), Suzuki Ginichiro, dan Suzuki Kazunari pada tahun 1987.

Saat tulisan ini kubuat, Atlus berada di bawah naungan Sega, yang membuat game-game Sonic the Hedgehog dan Valkyria Chronicles, setelah rangkaian kasus finansial beberapa tahun silam yang menimpa Index Corporation, perusahaan induk Atlus yang terdahulu. Jadi, Sega-lah yang kini menerbitkan game-game mereka. Walau begitu, sebagian game Shin Megami Tensei juga sempat diterbitkan Namco (yang sekarang sudah menyatu jadi perusahaan raksasa Bandai Namco), Nippon Ichi Software, dan beragam perusahaan lain, khususnya untuk wilayah Eropa.

Berawal Dari Tulisan

Mungkin sekarang susah kebayang, tapi Megaten awalnya didasarkan dari novel. Novel tersebut adalah seri novel horor sains fiksi Digital Devil Story  karangan Nishitani Aya.

Megami Tensei, buku Digital Devil Story paling pertama (kira-kira berarti ‘reinkarnasi sang dewi’), menjadi inspirasi sekaligus nama dari gamenya yang paling pertama pula. (Berbeda dengan cetakan huruf katakana di bukunya, kata ‘Story’ dalam game ditulis dengan huruf kanji ‘Monogatari’ walau kalau dari furigana, dibacanya tetap ‘Story’)

Meski Nishitani-sensei konon terlibat dalam pembuatan naskah game pertama tersebut, game-game berikutnya sesudah Megami Tensei sudah lepas sepenuhnya dari versi cerita di novelnya. Meski demikian, tetap terlihat bagaimana novel tersebut menjadi inspirasi berkelanjutan bagi waralaba ini.

Pada novel-novel Digital Devil Story, muncul gagasan tentang bagaimana manusia biasa jadi bisa memakai kekuatan makhluk-makhluk supernatural (Demon) melalui suatu perangkat lunak (Demon Summoning Program) yang terpasang pada suatu piranti elektronik portabel (yang gampangnya, sering disebut COMP). Kemampuan memanggil Demon dan membuat mereka mematuhi kemauan kita inilah yang menjadi ciri khas seri Megaten.

Berkat itu, untuk waktu cukup lama, Megaten sempat menjadi waralaba JRPG terbesar di Jepang sesudah Dragon Quest dan Final Fantasy.

Elemen-elemen khas waralaba Megami Tensei mencakup:

  • Permainan yang mengutamakan perkembangan cerita, tapi dengan pendekatan lebih pragmatis.
  • Sistem permainan berbasis giliran (turn-based), dilihat dari sudut pandang orang pertama (first person, ala Wizardry). Adanya elemen-elemen dungeon crawler.
  • Tingkat kesulitan permainan yang tidak mudah.
  • Fitur negosiasi dengan para Demon. Demon yang semula menjadi musuh bisa direkrut untuk dijadikan kawan seperjalanan.
  • Adanya fitur fusion untuk menggabungkan secara permanen satu Demon dengan Demon lain, menghasilkan Demon baru yang (berpotensi) lebih kuat.
  • Adanya ancaman kiamat atau perubahan besar dalam waktu dekat.
  • Adanya perseteruan berbagai tokoh mitologi kuno yang kembali hadir.
  • Adanya dua pihak alignment (mirip ideologi, atau bawaan) yang saling bertentangan, yakni Law (yang menginginkan keteraturan) dan Chaos (yang menginginkan kebebasan). Dalam perkembangannya, ini dilengkapi dengan satu alignment lagi, yaitu Neutral yang tidak berpihak.
  • Berlatar di dunia kontemporer. Biasanya di kota Tokyo masa kini.
  • Diperkaya elemen-elemen cyberpunk, lengkap dengan pemaparan soal dunia virtual.

Kalau kalian penasaran, fans di Internet sudah menerjemahkan novel-novel Digital Devil Story ke Bahasa Inggris, meski cuma dua dari tiga buku yang tuntas diterjemahkan. Buku ketiga cuma dibikin sebatas ringkasannya saja.

Menurutku pribadi, walau idenya benar-benar berkesan, cerita novelnya sebenarnya… kurang begitu bagus. Karakter-karakternya tidak simpatik. Motivasi semua orang janggal. Banyak elemen dewasa yang terkesan dipaksakan. Cara pemaparannya juga membuat tak nyaman. Tapi tetap ada sesuatu di dalamnya yang bisa beresonansi secara tematis gitu. Entah ya. Mungkin karena ceritanya dimaksudkan sebagai alegori atau gimana.

Tetap keren sih.

Dalam adaptasinya game, bisa terlihat bagaimana aspek-aspek keren waralaba ini kemudian tertuang. Ada sensasi bertahan hidup di tengah dunia yang semakin gila. Ada keberhasilan memperoleh kekuatan yang membuat kita di ‘atas’ makhluk-makhluk lain. Lalu, ada soal bagaimana kita seolah ditakdirkan berperan besar untuk menentukan masa depan dunia…

Mengiringi kesuksesan gamenya, waralaba Megaten kemudian ‘bercabang.’ Ada beberapa waralaba ‘turunan’ yang muncul. Lewat daftar ini, aku akan coba membahas seluruh ‘cabang’ tersebut sejauh pengalamanku pribadi.

…Sedikit catatan.

Meski tidak sampai menyerang kelompok tertentu secara khusus, game-game Megaten sempat menuai kontroversi di luar Jepang. Alasannya karena caranya memaparkan elemen-elemen keagamaan. Ada kesan campur aduk gitu antara mitologi dan dunia modern. Meski tak perlu ditanggapi serius, mungkin ini tetap perlu sedikit disinggung, terutama dengan bagaimana ada tuhan yang ditampilkan sebagai semacam tiran pada beberapa judul.

Sedikit catatan lagi.

Pada masa-masa awal ekspansi mereka ke luar negeri, di pertengahan dekade 90an, Atlus sempat mengemas waralaba Megaten di luar Jepang dengan nama Revelations (kira-kira berarti: ‘pembeberan’, bisa juga diartikan sebagai ‘wahyu’). Baru sesudah kesuksesan mereka di generasi konsol 128-bit di pertengahan dekade 2000an (era PS2, GC, dan XBOX), mereka kembali lebih mengusung nama Shin Megami Tensei untuk waralaba ini.

Kalau diamati, tema yang diusungnya bisa lumayan berbobot. Karenanya, kurasa penting untuk mempertimbangkan konteks dan pesan yang ada dalam masing-masing judul.

Seperti biasa, daftar ini panjang dan enggak bisa diandalkan. Daftar ini rencananya akan aku update dari waktu ke waktu.

Waralaba Megami Tensei

Aku belum pernah memainkan kedua game Megami Tensei yang pertama. Karena itu, aku enggak benar-benar bisa mengulasnya.

Ini keluaran paling awal. Hanya terdiri atas dua game di konsol Famicom (generasi NES 8-bit), yakni:

  • Digital Devil Story: Megami Tensei (Famicom, 1987)
  • Digital Devil Story: Megami Tensei II (Famicom, 1990)

>> Megami Tensei

Megami Tensei pertama masih berhubungan dengan seri novel Nishitani-sensei, meski secara agak tersamar. Kita berperan sebagai tokoh utama di novelnya, yakni pelajar SMA bernama Nakajima Akemi.

Ceritanya berlatar di penghujung dekade 1980an. Nakajima adalah pemuda rupawan yang dikisahkan jenius di bidang komputer. Selain komputer, Nakajima juga mendalami ilmu sihir, meski masih secara amatir. Kepribadiannya di awal cerita digambarkan agak sosiapatik.

Untuk membalas perlakuan para berandalan yang menindasnya di sekolah, Nakajima kemudian menyusun program komputer yang mengaplikasikan formasi-formasi sihir kuno dalam bentuk digital. Program ciptaannya ini bisa memanggil para Demon dari Makai. (Makai adalah alam para Demon. Belakangan juga dikenal dengan istilah Expanse).

Program komputer Nakajima ternyata bekerja. Tanpa ampun, Nakajima berhasil pula membalas dendam. Namun Demon yang Nakajima panggil, dewa jahat Loki dari mitologi Norse, ternyata tidak bisa sepenuhnya dikendalikannya. Karena tipu daya Loki, Shirasagi Yumiko, murid pindahan yang tanpa sengaja mengetahui rahasia pemanggilan Demon Nakajima, kemudian diincar sebagai persembahan Loki yang berikutnya.

Alasan Loki mengincar Yumiko ternyata karena Yumiko adalah reinkarnasi dewi kuno mitologi Jepang yang telah melahirkan dunia, Izanami. Tubuh Yumiko mengandung zat Magnetite dalam jumlah besar yang diperlukan Loki untuk bisa mewujud ke dunia.

Mengesampingkan gamenya dulu sedikit.

Novel pertama membahas pengorbanan Yumiko dan upaya Nakajima menghidupkannya kembali. (Makanya, novelnya berjudul Megami Tensei.) Cerita berkembang dengan terungkapnya Nakajima sebagai reinkarnasi dewa Izanagi, pasangan Izanami, dan bagaimana Nakajima mengusung pedang perwujudan dewa api Hi-no-Kagustuchi bersama Demon setianya, Cerberus, untuk mengalahkan Loki.

Petualangan Nakajima dan Yumiko berlanjut dalam novel kedua  Digital Devil Story (subjudulnya: Mazu no Senshi, atau Warrior of the Demon City; kira-kira berarti ‘para ksatria kota iblis’). Cerita novel kedua adalah soal upaya mencegah bersatunya alam manusia dengan Makai.

Program ciptaan Nakajima dimanfaatkan ilmuwan komputer sekaligus penyihir jahat Isma Feed untuk memanggil dewa jahat lain, Set, yang berasal dari mitologi Mesir. Cerita berkembang dengan tokoh-tokoh baru yang terpengaruh oleh program ciptaan Nakajima. Di klimaks cerita, Nakajima dan Yumiko berhasil membunuh Set berkat bantuan jubah mistis pemberian Izanami. Tapi novel berakhir dengan tetap terhubungnya alam manusia dan alam Makai akibat keengganan Nakajima mengorbankan Yumiko.

Di novel ketiga (subjudulnya: Tensei no Shuuen, atau Demise of the Reincarnation, ‘akhir reinkarnasi’), Demon telah berkeliaran bebas di dunia manusia. Yumiko telah cacat akibat apa yang dialaminya di novel sebelumnya. Terguncang, Nakajima ingin menghadapi dosa-dosanya karena telah menyebabkan berbagai kematian secara tidak langsung akibat tindakannya mendatangkan Loki. Termasuk di antara mereka, kematian ibunya sendiri sekaligus seluruh anggota keluarga Yumiko.

Namun demikian, Raja Demon Lucifer memulai campur tangan untuk menguasai dunia manusia. Lucifer mencuci otak pejabat-pejabat berkuasa, dan berupaya menampilkan diri sebagai dewa.

Nakajima seolah harus bangkit dari keterpurukannya dan mengambil peran sebagai penyelamat umat manusia. Namun di penghujung cerita, karena kalap sesudah melihat ayahnya tewas dalam amukan massa, Nakajima terpaksa dibunuh Izanami sebelum yang bersangkutan juga membunuh Yumiko.

Yumiko, histeris dengan kematian Nakajima, kemudian menggunakan Hi-no-Kagutsuchi untuk mencabut nyawanya sendiri. Cerita secara tragis berakhir dengan bagaimana Izanami, yang kini mengendalikan tubuh Yumiko, membawa pergi jasad Nakajima ke Asuka, di mana ia akan dimakamkan.

Dalam seri novelnya, kelanjutan perjuangan melawan Lucifer kudengar diceritakan dalam seri sekuelnya, New Digital Devil Story, yang terdiri atas enam buku. Tapi rincian lebih lanjutnya agak susah didapat. Seri novel ini konon kurang dikenal dibandingkan prekuelnya.  Tamatnya juga kudengar sama-sama berakhir tragis.

Balik ke soal game, game Megami Tensei seakan mengesampingkan cerita di novel ketiga.

Dikisahkan, Izanami ditawan Lucifer. Jiwa Izanami diperangkap dalam labirin istana raksasa Daimakyuu yang tahu-tahu telah muncul dari Shirasagi Mound di Asuka. Nakajima, dengan ditemani Yumiko, melakukan perjalanan panjang di dalam Daimakyuu untuk membebaskan Izanami. Mulai dari Tower of Daedalus, kota melayang Bien, Valhalla Corridor, Mazurka Corridor, Rotting Sea of Flames di mana Izanami ditawan, hingga Infini Palace tempat Lucifer bersemayam. Untuk itu, mereka harus berhadapan dengan Demon musuh lama mereka, yakni Loki dan Set, yang telah dibangkitkan Lucifer dari kematian. Cerita berakhir dengan takluknya Lucifer di tangan Nakajima, serta sumpahnya kalau ia akan kembali suatu saat di masa depan.

Membahas soal gameplay, game Megami Tensei kudengar termasuk modern untuk zamannya. Permainannya susah dan menantang. Meski dengan random encounter, setiap pertempuran berlangsung cepat. Sudut pandang orang pertama, yang mensimulasikan gerakan tiga dimensi, merupakan hal revolusioner di Jepang pada masanya. Inti permainannya adalah menjelajahi labirin raksasa di mana kita menjumpai monster, benda-benda yang harus dikumpulkan, NPC, serta jebakan.

Meski bisa merekrut Demon, hanya Nakajima dan Yumiko yang bisa kita tingkatkan Level-nya. Keduanya sama-sama bisa dilengkapi senjata dan pelindung, tapi hanya Nakajima yang bisa membuat kontrak dengan para Demon dan memanggil mereka. Di sisi lain, Yumiko punya akses ke sejumlah sihir. Salah satu sihir Yumiko adalah kemampuan Minimap yang vital untuk navigasi.

Para Demon punya Level konstan yang tak bisa berubah. Tapi mereka bisa kita gabungkan dengan Fusion untuk memperoleh Demon baru yang lebih kuat.

Game aslinya berbasis password. Fitur save belum ada. Meski demikian, fitur automap yang memetakan peta otomatis ternyata tersedia.

Game ini pertama memunculkan sejumlah kekhasan bagi waralaba Megami Tensei, di antaranya:

  • Pasangan tokoh utama cowok dan tokoh utama cewek, yang mana si cowok bisa menggunakan Demon sedangkan si cewek bisa memakai sihir.
  • Adanya parameter Magnetite yang diperlukan untuk memanggil Demon. Ada Magnetite dalam jumlah besar yang dikonsumsi untuk memanggil mereka. Ada Magnetite dalam jumlah kecil yang dikonsumsi untuk mempertahankan wujud para Demon setiap kita melangkah. (Bila Magnetite habis, HP para Demon yang justru akan berkurang.)
  • Implementasi pertama sistem navigasi dari sudut pandang orang pertama.
  • Implementasi pertama dari sistem fusion.
  • Implementasi pertama dari sistem negosasi.
  • Implementasi pertama dari sistem fase bulan yang mempengaruhi perilaku para Demon. Fase bulan berbeda akan membuat mereka berperilaku dengan cara berbeda pula.

Sebagai tambahan, kudengar novel pertamanya sempat diadaptasi ke bentuk anime dalam format OVA oleh ANIMATE pada tahun 1987. Ceritanya lumayan setia dengan novelnya, tapi anime ini tidak termasuk menonjol. Mungkin baiknya kau lihat hanya kalau kau benar-benar penasaran (dan sudah dewasa).

>> Megami Tensei II

Cerita game kedua, Megami Tensei II, masih berhubungan dengan game pertama.

Dikisahkan pada tahun 199X, tak lama sesudah game pertama Megami Tensei berakhir, perang nuklir pecah. Bombardir rudal membuka kembali portal dimensi ke alam Makai secara permanen. Di puing-puing Tokyo, 35 tahun sesudahnya, para Demon bebas berkeliaran di permukaan bumi dan memangsa manusia.

Umat manusia di zaman ini terbagi dalam dua golongan, yaitu Church of Messiah, yang meyakini akan datangnya juru selamat untuk umat manusia yang diutus Tuhan; dan Cult of Deva, yang memuja para Demon dan tunduk pada mereka.

Tokoh utama dan sahabatnya adalah dua anak muda yang hidup di tempat perlindungan bawah tanah pasca perang. Mereka menamatkan sebuah game bernama Devil Busters (yang secara mencurigakan, sangat mirip game Megami Tensei pertama). Lalu sesudah berhasil mengalahkan musuh terakhir, tiba-tiba muncullah Demon Pazuzu yang ternyata disegel di dalam game tersebut.

Pazuzu menyatakan keduanya sebagai Messiah yang akan menyelamatkan umat manusia. Tokoh utama diberi Pazuzu kemampuan untuk bicara dengan Demon dan memanggil mereka. Sedangkan sahabatnya diberi kemampuan sihir. Keduanya diberi misi untuk menghancurkan para raja Demon yang telah menguasai Tokyo.

Pazuzu juga memperingatkan akan datangnya bencana dan tempat berlindung mereka tidak lagi aman. Kehilangan tempat tinggal, keduanya lalu berkelana untuk mengalahkan para Demon.

Di Tokyo Tower, keduanya berjumpa dengan tokoh utama perempuan, seorang gadis penyihir. Gadis tersebut ternyata juga pernah dinyatakan sebagai Messiah oleh Pazuzu. Ia juga menentang para Demon. Namun, si gadis belakangan membangkangi Pazuzu dan menyatakan kalau Pazuzu sebenarnya memanipulasi mereka.

Sahabat si tokoh utama tak bisa menerima kenyataan ini, dan akhirnya berpisah jalan.

Sesudah mengalahkan satu per satu raja Demon, termasuk Pazuzu, dan menjatuhkan Cult of Deva, perjalanan tokoh utama dan si gadis berlanjut ke Makai. Di sana kita harus menolong dewa-dewa lama yang sebelumnya tersingkir.

Sahabat kita sebelumnya telah berhasil membebaskan Lucifer, yang Nakajima dan Yumiko telah segel bertahun-tahun silam. Namun sahabat kita itu kemudian tewas di tangan Bael, musuh lama Pazuzu, yang rupanya bertindak menentang kehendak sang tuhan. Bael-lah yang ternyata sebelumnya menyegel Pazuzu dalam Devil Busters.

Terkuak bahwa Satan, salah satu raja Demon, yang ternyata bertanggung jawab memicu perang nuklir puluhan tahun silam. Kita lalu diberi pilihan tentang bagaimana cara mengalahkannya. Bila kita mengalahkan Satan begitu saja, yang berarti membuat kita membangkangi Lucifer dan harus mengalahkannya juga, kita dijadikan dewa dan Millenial Kingdom terbangun.

Sebaliknya, bila kita merekrut Lucifer dengan menolong Bael, sesudah mengalahkan Satan, kita berkesempatan melawan YHVH, tuhan yang telah mengusir para dewa lain. Bila menang, Lucifer akan menutup portal ke alam Makai, umat manusia keluar dari bawah tanah, dan terungkap bahwa Devil Busters ternyata diciptakan oleh mendiang Nakajima.

Dari segi teknis, Megami Tensei II katanya merupakan kemajuan besar dibanding game sebelumnya. Grafisnya lebih bagus dengan pilihan warna lebih baik. Ada peta dunia yang kini bisa kita jelajahi yang bernuansa post apocalyptic, di mana perjalanan ke tempat-tempat lain perlu kita lakukan melalui jalur-jalur kereta bawah tanah.

Kini kita bisa men-save. Di samping itu, aspek ceritanya juga lebih berbobot.

Beberapa kekhasan Megami Tensei II antara lain:

  • Implementasi pertama sistem peta dunia.
  • Implementasi pertama dari Cathedral of Shadows, kuil misterius di mana Demon bisa kita gabungkan untuk menghasilkan Demon baru. (Di versi awal Megami Tensei pertama, Demon bisa kita gabungkan, tapi bukan melalui tempat ini.)
  • Implementasi sudut pandang dari atas di beberapa bagian permainan.
  • Implementasi pertama dari sistem alignment, meski dalam bentuk sederhana, dengan dua pilihan yang bisa diambil, yakni Law atau Chaos.
  • Implementasi pertama sistem untuk meneruskan permainan bila kita mati, dengan memberi uang ke Charon di sungai arwah.
  • Implementasi pertama toko Rag(?) yang menyediakan barang-barang berkualitas namun hanya menerima bayaran dalam bentuk batu-batu permata berharga.

Catatan tambahan untuk Megami Tensei dan Megami Tensei II.

Megami Tensei pertama juga pernah dirilis dalam versi yang dikembangkan Telenet. Versi ini berbeda sama sekali dari versi aslinya (dengan pergerakan dilihat dari atas). Karenanya, dipandang sebagai versi yang inferior.

Sesudah kesuksesan game-game Shin Megami Tensei yang menjadi penerusnya, Megami Tensei dan Megami Tensei II dirilis ulang dalam satu bundel bernama Kyuuyaku Megami Tensei (‘Kyuuyaku’ dalam hal ini berarti ‘Old Testament’ atau ‘Perjanjian Lama’). Versi dirilis untuk Super Famicom pada tahun 1995.

Versi Kyuuyaku merombak habis grafis untuk kedua game. Memberinya nuansa estetis lebih baru. Karena tergabung jadi satu, kita bahkan jadi bisa menyambungkan data dari game pertama ke game kedua. Megami Tensei pertama juga jadi bisa di-save di versi ini.

Kalau kalian kesampaian main, kurasa versi Kyuuyaki ini yang paling direkomendasikan.

Waralaba Utama Shin Megami Tensei

Shin Megami Tensei adalah pengembangan dari waralaba Megami Tensei. Settingnya lebih luas dan juga lebih kekinian. Kontribusinya yang paling mencolok adalah implementasi sistem alignment yang bukan hanya menentukan akhir permainan yang kita dapat, tapi juga perkembangan cerita sekaligus Demon-demon yang bisa kita rekrut.

Soal judulnya, game-game era Super Famicom/SNES di masa itu banyak menggunakan kata ‘Super’ di depan judulnya. Waralaba Castlevania misalnya, merilis game keempatnya dengan judul Super Castlevania IV. Dengan cara serupa, nama waralaba ini ditambah dengan kata ‘Shin’ menjadi Shin Megami Tensei (artinya kira-kira jadi ‘kelahiran kembali sang dewi yang sesungguhnya’).

Judul-judulnya terdiri atas:

  • Shin Megami Tensei (Super Famicom, 1992)
  • Shin Megami Tensei II (Super Famicom, 1994)
  • Shin Megami Tensei If… (Super Famicom, 1994)
  • Shin Megami Tensei: Nine (Xbox, 2002)
  • Shin Megami Tensei: Nocturne atau juga dikenal sebagai Shin Megami Tensei: Lucifer’s Call (PlayStation 2, 2003)
  • Shin Megami Tensei: Imagine (PC Windows, 2007)
  • Shin Megami Tensei: Strange Journey (NDS, 2009)
  • Shin Megami Tensei IV (3DS, 2013)
  • Shin Megami Tensei IV: Final atau juga dikenal sebagai Shin Megami Tensei IV: Apocalypse (3DS, 2016)
  • Shin Megami Tensei V (tentatif, dalam pengembangan untuk Nintendo Switch)

>> Shin Megami Tensei

Cerita dibuka dengan adegan mimpi ganjil yang dialami si tokoh utama (Hero, dia dapat kita namai sendiri). Mimpi itu mengisyaratkan pertemuan sang karakter utama dengan para karakter lain (yang juga dapat kita namai, mereka mencakup Law Hero, Chaos Hero, dan sang tokoh utama wanita, Heroine; ini ditambah karakter wanita lain, seorang perempuan misterius bernama Rie yang ingin mengabdikan diri pada kita seumur hidup). Gampangnya, SMT berkisah tentang seorang cowok SMA yang bangun pada suatu hari dan mendapati dunia di ambang kiamat. Segalanya menjadi tak terkendali. Lalu tak ada yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri.

Suatu percobaan teleportasi dikisahkan telah membuka portal ke alam Makai, membuat Demon-demon bermunculan. Saat kekacauan di Jepang merajalela, dua faksi lalu terbentuk: pihak yang ingin memusnahkan para Demon yang dipimpin Thorman, dubes Amerika untuk Jepang; dan pihak yang memandang para Demon sebagai kembalinya dewa-dewa kuno Jepang, yang dipimpin seorang jendral bernama Gotou.

Game pertama merombak konsep di game-game sebelumnya. Latarnya dibuat lebih modern, yaitu di penghujung dekade 90an. Sejumlah perbaikan juga diberikan pada sistem permainannya. Secara garis besar, ciri khas terbesar SMT adalah soal pentingnya aspek ‘pilihan’ dalam ceritanya.

Hal baru yang ditonjolkan dalam game ini antara lain:

  • Implementas pertama pilihan ketiga dalam sistem alignment, yakni Neutral.
  • Implementasi sistem alignment yang lebih kompleks, dengan kombinasi dua sumbu yang jadi acuan, yaitu sumbu ‘moral’ Light-Neutral-Dark dan sumbu ‘kecendrungan’ Law-Neutral-Chaos. Sistem ini mempengaruhi perilaku para Demon dalam pertempuran sekaligus kecocokan mereka dengan karakter kita.
  • Implementasi sistem negosiasi yang lebih kompleks. Para Demon akan bereaksi sesuai alignment (Demon yang Light Law beda reaksinya dengan yang Neutral Chaos. Demon yang Dark selalu memusuhi, tidak bisa didapat dari Negosiasi. Apabila karakter utama kita berkecendrungan Law, maka para Demon yang Chaos menolak bergabung dengan kita, dan sebaliknya.)
  • Implementasi pertama dua karakter pendamping Law Hero dan Chaos Hero dalam cerita.
  • Implementasi Terminal untuk penyimpanan permainan dan perjalanan.
  • Implementasi sistem fusion yang lebih kompleks, dengan opsi untuk menggabungkan tiga Demon sekaligus, bukan hanya dua.

Shin Megami Tensei juga menjadi titik awal tenarnya ilustrator Megaten Kaneko Kazuma, yang dikenal dengan gaya visual porselennya yang khas. Beliau turut mengerjakan desain karakter, dunia, monster, dan visualnya secara umum.

Pada tahun 1995, ada anime berformat OVA 2 episode yang diproduksi J.C. Staff berjudul Shin Megami Tensei: Tokyo Mokushiroku (atau, Tokyo Revelations) yang juga pernah dibuat. Ceritanya adalah cerita orisinil yang tak berhubungan sama sekali dengan gamenya. Seperti banyak anime horor sains fiksi untuk dewasa di zaman itu, kualitasnya… tak bisa dibilang bagus. Untuk yang satu ini, aku tak merekomendasikannya.

(Bersambung)

Percabangan Majin Tensei

Singkat cerita, waralaba ini adalah Megaten digabung dengan permainan strategi Fire Emblem. Lebih dominan di Jepang. Ceritanya termasuk yang paling berat nuansa sains fiksinya.

Game-game yang termasuk dalam waralaba ini meliputi:

  • Majin Tensei
  • Majin Tensei II: Spiral Nemesis
  • Ronde
  • Majin Tensei: Blind Thinker
  • Majin Tensei: Blind Thinker II

(Bersambung)

Percabangan Last Bible

Singkat cerita, waralaba ini adalah Megaten digabung dengan JRPG konvensional macam Dragon Quest. Ceritanya lebih banyak berlatar di dunia fantasi, meski motif-motif mitologi dan agamanya tetap ada.

Game-game yang termasuk dalam waralaba ini:

  • Megami Tensei Gaiden: Last Bible atau Revelations: The Demon Slayer
  • Megami Tensei Gaiden: Last Bible II
  • Last Bible III
  • Another Bible
  • Megami Tensei Gaiden: Last Bible Special

(Bersambung)

Percabangan Devil Summoner

Singkat cerita, Megaten berformat RPG yang ceritanya lebih bernuansa detektif. Biasanya ada misteri yang perlu diungkap dan persekongkolan yang harus dihentikan.

Game-game yang termasuk dalam waralaba ini:

  • Devil Summoner
  • Devil Summoner: Soul Hackers
  • Devil Summoner: Kuzunoha Raidou vs The Soulless Army
  • Devil Summoner 2: Kuzunoha Raidou vs King Abaddon

(Bersambung)

Percabangan Persona

Singkat cerita, versi Megaten yang lebih berfokus ke dunia remaja. Temanya banyak membahas soal kepribadian dan masa depan. Tidak dapat dipungkiri, ini adalah waralaba Atlus yang paling sukses saat ini. Bentuk permainannya juga berkembang ke berbagai genre lain.

Game-game yang termasuk dalam waralaba ini:

  • Megami Ibunroku Persona
  • Persona 2: Innocent Sin atau Persona 2: Tsumi
  • Persona 2: Eternal Punishment atau Persona 2: Batsu
  • Persona 3, yang juga dirilis ulang sebagai Persona 3: FES dan Persona 3: Portable
  • Persona 4, yang juga dirilis ulang sebagai Persona 4: The Golden
  • Persona 4: Arena
  • Persona 4: Arena Ultimax
  • Persona 4: Dancing All Night
  • Persona Q: Shadow of the Labyrinth
  • Persona 5

(Bersambung)

Percabangan Digitial Devil Saga

Waralaba yang ini sedikit sulit dideskripsikan. (Ceritanya tak berhubungan sama sekali dengan Digital Devil Story.)

Hanya dua game yang termasuk dalam percabangan ini, yaitu:

  • Digital Devil Saga atau Digital Devil Saga: Avatar Tuner
  • Digital Devil Saga II

(Bersambung)

Percabangan Devil Children/Demi Kids

Singkat cerita, Megaten yang lebih diperuntukkan untuk anak-anak, yang dirilis untuk mengimbangi waralaba pengumpulan monster ala Pokemon dan Digimon. Meski lebih imut dan disederhanakan, ceritanya masih mengusung soal tema kiamat.

Game yang termasuk dalam percabangan ini antara lain:

  • Shin Megami Tensei: Devil Children – Black Book dan Shin Megami Tensei: Devil Children – Red Book
  • Shin Megami Tensei: Devil Children – White Book
  • Shin Megami Tensei: Devil Children – Light Book dan Shin Megami Tensei: Devil Children – Dark Book, atau DemiKids: Light Version dan DemiKids: Dark Version
  • Shin Megami Tensei: Devil Children – Book of Fire dan Shin Megami Tensei: Devil Children – Book of Ice.

Selain yang di atas, terdapat sejumlah game lain di bawah waralaba ini yang genrenya bukan RPG.

(Bersambung)

Percabangan Devil Survivor

Singkat cerita, Megaten versi baru yang digabungkan dengan genre strategi. Berbeda dari Majin Tensei, nuansanya lebih ke dunia kontemporer dengan fokus lebih ke upaya bertahan hidup.

Game yang termasuk dalam waralaba ini mencakup:

  • Devil Survivor, yang sempat dirilis ulang sebagai Devil Survivor: Overclocked
  • Devil Survivor 2, yang sempat dirilis ulang sebagai Devil Survivor 2: Record Breaker

(Bersambung)

Penutup

Sebagai penutup sementara, meski kau bukan reinkarnasi dewa, kau bisa mempengaruhi dunia di masa depan lebih dari dugaanmu.

Nanti tulisan ini dilanjut lagi.

(Bahan dari situs Wikipedia, HG 101, dan Megaten Wikia.)

Iklan
Tag: , ,
30/10/2011

Megami Ibunroku: Persona

Aaargh. Aku menyerah.

Kurasa sudah waktunya aku mulai menulis tentang game-game Persona keluaran Atlus.

Kurasa kebanyakan orang sudah tahu, tapi seri Persona merupakan spin-off dari seri RPG Atlus yang utama, Shin Megami Tensei, yang lazimnya mengetengahkan soal kiamat, elemen cyberpunk, munculnya demon dan ikon-ikon dari berbagai agama dan mitologi ke muka bumi, serta pilihan-pilihan moral.

Persona dibuat dengan sedikit terinspirasi oleh game Super Famicom lain berjudul Shin Megami Tensei IF, semacam gaiden bagi cerita seri Shin Megami Tensei, yang memberi penekanan sedikit lebih banyak pada interaksi antara  tokoh-tokohnya dengan setting lingkungan sekolah (lebih banyak tentang ini akan kujelaskan nanti).

Game aslinya sendiri berjudul lengkap Megami Ibunroku: Persona (‘megami ibunroku‘ kurang lebih berarti ‘kisah lain tentang sang dewi’, yang menyatakan statusnya sebagai ‘percabangan’ dari Shin Megami Tensei, yang terjemahannya sendiri kurang lebih berarti ‘kelahiran kembali sang dewi’) dan dirilis pada tahun 1996 di konsol Sony Playstation.

Game ini kemudian dirilis dalam bahasa Inggris dengan judul Revelations: Persona, dengan banyak sekali elemen yang sayangnya terpotong dan di-Amerika-nisasi (globalisasi masih belum terjadi dan budaya visual Jepang secara umum belum sepopuler sekarang). Tetapi belakangan, game ini juga dirilis kembali untuk Sony PSP baik di Jepang maupun Barat dengan bentuk yang lebih dekat ke versi aslinya, ditambah dengan beberapa bonus dan polesan. Kali ini dengan judul sederhana Shin Megami Tensei: Persona.

Apakah kupu-kupu menjadi Zhuang Zi ataukah Zhuang Zi menjadi kupu-kupu?

Sebenernya, Persona bisa dibilang merupakan sebuah game yang filosofis. Meski mungkin penceritaannya belum sebaik game-game zaman sekarang, ceritanya termasuk salah satu yang mengandung makna dan nilai moral yang cocok untuk setiap zaman. (Meski itu juga akan bergantung pada seberapa TAHAN kalian memainkannya sih. Lebih banyak soal itu juga akan kubahas di bawah.)

Sayangnya, buat ukuran sekarang, game ini memang udah terbilang retro. Game ini tak memiliki nuansa cyberpunk seperti Shin Megami Tensei, karena itu latar dunianya menjadi terasa sangat 90an (zaman ketika telepon umum kartu masih banyak digunakan). Di samping itu, mengingat ini salah satu game pertama yang mencoba mengimplementasi grafis tiga dimensi, tampilan artistiknya juga masih belum dapat dikatakan bagus. Tapi, gimana ya? Terlepas dari segala kekurangannya yang mencolok, tetap ada sesuatu pada game ini yang meninggalkan kesan sangat mendalam kalau kau sanggup menikmatinya.

Ceritanya, kita sebagai tokoh utama (laki-laki), bersama teman-teman sekolah kita dari SMA St. Hermelin di kota Mikage, pada suatu ketika sepulang sekolah secara iseng memainkan sebuah ritual ramalan bernama ‘Persona-sama.’ Ritual ramalan ini konon dapat mengungkapkan masa depan pelakunya, dan bahasan tentang ‘impian dan masa depan’ ini secara berulang boleh dibilang akan menjadi tema khas seri ini.

Ritual yang semula dilakukan secara iseng itu ternyata menjadi titik balik takdir mereka. Suatu fenomena supernatural ternyata benar-benar terjadi, yang kemudian berakhir dengan apa yang mereka sangka merupakan semacam ‘gempa.’

Si tokoh utama dan teman-temannya secara terpisah kemudian mendapati diri mereka berada di sebuah dunia lain, ‘di batas antara kesadaran dan ketidaksadaran,’ dan bertemu dengan sesosok bertopeng misteris yang menyebut dirinya Philemon.

Philemon sesungguhnya merupakan sosok yang menjadi personfikasi alam bawah sadar setiap orang (tokoh ini dicomot langsung dari tulisan-tulisan Carl Jung). Kemudian sebagai penghargaan atas kesanggupan mereka mengenali diri masing-masing di alam lain ini, Philemon menghadiahi masing-masing dari mereka kekuatan untuk memanggil ‘Persona,’ ‘sisi lain’ diri mereka yang terselubung di dasar hati, yang dapat menjadi seagung dewata atau sekeji iblis, tapi pastinya memiliki kekuatan melebihi bayangan mereka. Philemon kemudian menutup perjumpaan tersebut dengan memperingatkan bahwa dunia terancam bahaya, dan kekuatan baru mereka tak lama lagi akan dibutuhkan untuk menyelamatkannya.

Tersadar dari ‘pingsan bersama’ mereka, dan sama-sama kebingungan karena kesemuanya mengalami ‘mimpi’ yang sama, sang tokoh utama (aku baru ingat, dia tak memiliki nama default jadi kita bisa memilihkan nama untuknya; di manganya ia dinamai Toudou Naoya, di drama CD ia dinamai Narumi Yuuya, dan di novel ia dinamai Suzakuin Jihei; yang pasti dia orangnya keren kok) dan teman-temannya kemudian disuruh oleh Takami Saeko-sensei, wali kelas mereka, untuk memeriksakan diri ke rumah sakit dan sekalian menjenguk teman mereka yang sudah lama dirawat inap: Sonomura Maki.

Teman-teman si tokoh utama yang ikut bersamanya waktu itu meliputi: Inaba ‘Maku’ Masao, teman sekelas yang ceria dan berbakat seni serta diam-diam menaruh perasaan terhadap Maki;  Nanjou Kei, pewaris perusahaan konglomerasi besar yang perfeksionis tetapi merasakan kesendirian; serta Mayuzumi Yukino, remaja perempuan ramah yang sebenarnya pernah menjadi berandalan.

Maki ini dikisahkan adalah gadis bertubuh lemah yang telah sakit-sakitan semenjak kecil. Meski beberapa kali sempat membaik, keadaannya sebenarnya tak mengalami banyak peningkatan, dan selama setahun terakhir dirinya harus dirawat di rumah sakit. Ditambah lagi, meski sekilas ia tampak ceria, teman-temannya menyadari betapa ia sebenarnya menderita dan kesepian karena terisolirnya ia dari dunia luar.

Di tengah perbincangan, keadaan Maki tiba-tiba saja memburuk, dan ia sampai harus dibawa ke UGD. Lalu saat itu pula, sebuah ‘gempa’ kembali tiba-tiba terjadi. Begitu gempa usai, sang tokoh utama dan teman-temannya dikejutkan oleh kenyataan bahwa susunan ruangan di rumah sakit telah berubah. Ruangan UGD di mana Maki berada tiba-tiba saja lenyap. Lalu seisi rumah sakit dilanda kepanikan akibat  monster dan mayat hidup.

“Aku adalah diri lain yang bersemayam dalam dirimu. Aku adalah kau, dan kau adalah aku…”

Dalam situasi genting itu, si tokoh utama dan teman-temannya berhasil menyelamatkan diri berkat kebangkitan kekuatan yang sebelumnya telah Philemon berikan: Persona, yang merupakan manifestasi  ‘diri lain’ mereka masing-masing. Yukino mendapatkan Vesta, Masao mendapatkan Ogun, Kei mendapatkan Aizen Myouou, sedangkan si tokoh utama mendapatkan Seimen Kongou.

Tetapi dalam insiden di rumah sakit itu, terlanjur banyak korban jiwa yang jatuh. Salah satunya adalah Yamaoka, pelayan terpercaya keluarga Nanjou yang telah mengasuh Kei semenjak kecil, yang kebetulan saja tengah berada di sana untuk menjemputnya. Sesudah mengatasi rasa sedih dan terkejut mereka, si tokoh utama dan kawan-kawannya menelusuri jalan keluar mereka dari rumah sakit. Mereka berhasil menemukan para dokter dan perawat yang menangani Maki, tetapi Maki sendiri didapati hilang tanpa jejak.

Sesudah bimbang sejenak, keempatnya memutuskan untuk kembali ke sekolah, meskipun itu juga berarti harus menjelajahi kota yang kini dipenuhi monster dan iblis (demon, atau majin, pada dasarnya secara harfiah berarti ‘makhluk-makhluk sihir/ajaib’). Dari sana, mereka kemudian mendapati bahwa di luar bayangan siapapun, sekeliling kota Mikage telah dilapisi semacam tembok tak terlihat yang secara harfiah telah memisahkan mereka dari dunia luar.

Pada titik ini pula, cerita akan bercabang sesuai dengan urutan tempat yang kita kunjungi dan keputusan-keputusan yang kita pilih. Melalui berbagai desas-desus yang beredar serta pertemuan mereka dengan ibu Maki, tokoh utama dan teman-temannya mengetahui bahwa semua pada akhirnya terkait dengan perusahaan energi, listrik, dan bioteknologi besar milik grup konglomerat Saeki, SEBEC, yang dipimpin oleh Kandori Takehisa yang ambisius.

Be Your True Mind

Sistem permainan di Persona termasuk salah satu yang maju untuk zamannya, karena mengetengahkan lebih dari sekedar sistem yang turn-based. (Walau masih belum matang. Jadi game ini tetap takkan kurekomendasikan, kecuali jika kau hardcore.) Antarmukanya masih sama seperti game-game Shin Megami Tensei klasik, jadi sebagian besar navigasinya benar-benar masih dilakukan dari sudut pandang orang pertama. Pengecualian dari hal ini hanya pada penjelajahan ruangan-ruangan tertentu di mana kita bisa berbicara dengan anggota-anggota kelompok kita serta pas battle.

Sama seperti Shin Megami Tensei pula, setiap karakter yang kita mainkan memiliki dua jenis senjata, yakni satu jenis senjata fisik (pedang, tombak, panah, dan sebagainya) dan satu jenis senjata api. Kesamaan lainnya adalah bagaimana proses ‘negosiasi’ dengan musuh juga memegang peranan penting dalam game ini, yang melaluinya menjadi satu-satunya cara kita untuk memperoleh Spell Card yang menjadi materi utama kita untuk menghasilkan Persona-Persona baru.

Persona yang kita miliki (seharusnya, setidaknya) memegang peranan penting dalam permainan, karena hanya melaluinya, kita bisa menggunakan sihir yang diperlukan untuk melawan para demon. Buat yang belum tahu, game-game Shin Megami Tensei cukup dikenal dengan kerumitan sistem elemen yang dipergunakannya—jadi selain kelemahan, terdapat musuh-musuh yang sepenuhnya kebal (atau bahkan dapat mementalkan kerusakan) yang ditimbulkan jenis-jenis elemen tertentu. Apalagi jika mengingat bagaimana untuk game Persona paling pertama ini terdapat tak kurang dari 16(!) jenis serangan yang dapat dilakukan dalam battle (yang termasuk kategori jenis serangan fisik saja ada enam!).

Perbedaan terbesar dari segi sistem yang Persona miliki dibandingkan game-game utama Shin Megami Tensei lain adalah bagaimana Persona yang kita pasangkan pada satu karakter secara nyata akan memodifikasi statistik dan atribut karakter tersebut. Jadi bukan hanya akan meningkatkan atau mengurangi(?) kekuatan serangan atau pertahanan yang seorang karakter punya, Persona yang seorang karakter gunakan juga akan menentukan terhadap jenis-jenis serangan apa ia akan kuat dan terhadap jenis-jenis serangan apa ia akan lemah! Ini… lumayan berbeda dibandingkan game-game Shin Megami Tensei klasik yang mengandalkan pemanggilan demon yang telah kita tundukkan untuk aplikasi sihir. Ditambah lagi, set sihir dan serangan yang dapat seorang karakter gunakan sepenuhnya ditentukan oleh Persona apa yang tengah ia pakai.

Masing-masing karakter dalam satu waktu dapat memegang sampai tiga Persona. Kalian yang mengenal seri ini dari Persona 3 dan game-game sesudahnya mungkin akan kaget saat mendapati bahwa semua karakter yang kita mainkan dapat mempergunakan lebih dari satu Persona.

Sistem bertambah rumit oleh kenyataan bahwa Persona juga dapat level up semakin sering kita gunakan, dan bergantung pada golongan arcana-nya (setiap Persona digolongkan sesuai arcana Tarot major), ada beberapa jenis Persona yang hanya dapat dipergunakan oleh karakter-karakter tertentu.

Jadi pada dasarnya, prosesnya (seharusnya) seperti ini: kita didorong untuk mempergunakan Persona yang kita miliki sesering mungkin dalam battle, sehingga Persona tersebut akan bertambah kuat dan menguasi jurus-jurus dan serangan baru yang dapat dimilikinya. Lalu selanjutnya, Persona yang sudah mentok pertumbuhannya ini kita ‘bebastugaskan’ di toko misterius Velvet Room, yang akan menukarnya untuk item-item yang terkadang langka (kita bisa saja menyerahkan Persona kita yang belum mentok, tapi kita takkan memperoleh apa-apa sebagai imbalan). Menggantikan Persona tersebut, masih di Velvet Room (yang, omong-omong, ditangani seorang pria tua misterius berhidung panjang bernama Igor), kita bisa menciptakan Persona baru dari kombinasi Spell Card yang kita dapatkan dari para demon (prosesnya serupa seperti demon fusion di Shin Megami Tensei), yang meskipun pada titik itu mungkin lebih lemah dari Persona yang sebelumnya kita punya, memiliki potensi untuk berkembang menjadi jauh lebih kuat.

Begitu terus-menerus, dan kita didorong bereksperimentasi untuk melihat Persona yang bisa kita dapatkan dari kombinasi-kombinasi Spell Card yang kita punya. Ada skala perkiraannya, jadi sistemnya tak sesulit itu. Hanya saja kita sering akan dilanda keraguan soal apakah Persona baru yang kita ciptakan akan sesuai dengan kebutuhan kita atau tidak. Apalagi bila mengingat masing-masing dari kelima karakter hanya dapat membawa tiga macam Persona, dan tak ada dua karakter yang bisa sama-sama memegang satu Persona yang sama!

Tapi sayangnya, sistem permainan dengan learning curve lumayan tinggi ini sebenarnya bukan hal yang mutlak dikuasai untuk menyelesaikan permainan.

Di Shin Megami Tensei, para tokoh utama dibedakan dari para bawahan demon dengan kemampuan mereka menggunakan dua jenis serangan (fisik dan senjata api), kenetralan pertahanan elemen, serta sihir dalam jenis terbatas bagi tokoh-tokoh manusia tertentu. Tapi di Persona, kelima tokoh yang kita punya dapat melakukan serangan fisik, serangan senjata api, serta sihir sekaligus, ditambah adanya pertahanan elemen—sehingga tentu saja para tokoh kita pada kebanyakan kasus memiliki keunggulan teramat besar dibandingkan para demon!

Jujur saja, tantangan terbesar Persona dari segi battle lebih terdapat pada proses negosiasi untuk memperoleh Spell Card, serta tingginya kemungkinan random encounter dapat terjadi. Mengikuti kekhasan Shin Megami Tensei, proses negosiasi ini turut dipengaruhi oleh fase-fase bulan, dan negosiasi ini dilakukan mengikuti keahlian bicara masing-masing tokoh, jadi prosesnya benar-benar semakin terkesan untung-untungan. Ditambah kenyataan bahwa keragaman jenis serangan ini benar-benar sulit untuk dimanfaatkan, dengan banyaknya peluang kombinasi yang dapat terjadi antara kelemahan musuh dan jenis sihir yang kita bawa. Ujung-ujungnya, pada kebanyakan kasus, kita kembali cukup hanya mengandalkan berondongan peluru dari pistol dan senapan mesin untuk bisa bertahan hidup.

Meski sistem permainannya, kayak yang aku sebelumnya bilang, masih cacat, game ini masih memberi keasyikan dengan denah-denah dungeon yang sadis serta plot cerita yang… benar-benar enggak biasa.

Sesudah kita sampai kembali ke St. Hermelin, Yukino akan meninggalkan tim dengan alasan ingin memastikan ada orang-orang yang dapat diandalkan untuk melindungi siswa-siswa yang mencari perlindungan di sekolah. Tiga cowok tersisa, termasuk sang tokoh utama, kemudian akan turut diiringi oleh sosok Sonomura Maki yang secara mengejutkan tiba-tiba saja muncul kembali di sekolah. Ia bahkan secara misterius memiliki tubuh sehat dan sifat riang yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya, serta ketiadaan ingatan dari masa-masa ketika ia sakit.

Yea, sebagaimana yang mungkin kalian duga, Maki-chan sebenarnya merupakan tokoh yang memegang peran sentral dalam cerita, karena  keterkaitannya dengan D-VA System yang tengah dikembangkan SEBEC tanpa sepengetahuannya sendiri.

Anggota tim kita yang kelima bersifat opsional, satu di antara teman-teman sekolah kita yang turut memainkan ritual Persona-sama pada hari itu. Pilihan-pilihan yang dapat kita ambil sebagai berikut:

  • Uesugi ‘Broun’ Hidehiko, si pencari perhatian berisik yang menjadi biang kerok dilakukannya ritual Persona-sama. Dia bisa direkrut sesudah kita membebaskannya bersama Masao dari kantor polisi. (Persona awal: Nemain)
  • Kirishima ‘Elly’ Eriko, gadis cantik cerdas dari kalangan atas yang belum lama ini baru kembali dari studi di luar negeri. Dia bisa direkrut bila kita menjumpainya di pintu masuk subway Mikage. (Persona awal: Nike)
  • Yuka Ayase, seorang kogal yang memiliki pembawaan agak egois dan kekanakan. Kita secara otomatis akan mendapatkannya bila tak mendapatkan tokoh lain dalam perjalanan ke pabrik yang menjadi pintu masuk rahasia ke SEBEC. (Persona awal: Huris)
  • Kido Reiji, murid pindahan sangar dan penyendiri yang memiliki minat mendalam terhadap SEBEC. Ia semacam tokoh rahasia yang sulit direkrut dengan syarat perekrutan yang panjang dan rumit, tapi ia merupakan karakter yang benar-benar kuat seandainya kita berhasil mendapatkannya. Apabila seluruh syarat perekrutannya terpenuhi, Ayase takkan memaksa bergabung di pabrik dan kita akan bisa membujuk Reiji bergabung sekembalinya kita ke St. Hermelin(?) dari SEBEC. Belakangan terungkap bahwa ia sebenarnya adalah saudara Kandori Takehisa dari ibu yang berbeda, dan bersama Kandori, kekuatan Persona miliknya ia peroleh. (Persona awal: Bres)

Cermin, Cermin

Meski pada awalnya mungkin agak susah dinikmati (asal tahu saja,  aku menghabiskan waktu dua jam hanya untuk menemukan jalan ke rumah sakit di awal game…), apabila  kau bisa menikmatinya, maka Persona bisa menjadi lumayan berkesan kok. Konsepnya benar-benar orisinil, dan apa yang para pembuatnya inginkan darinya benar-benar ‘masuk.’ Lalu, ya itu, plot ceritanya benar-benar enggak biasa.

Pengalaman yang berusaha dibawakan game ini bener-bener berkesan kok. Gimana kita menjadi remaja SMA dan teman-temannya yang menjelajahi kota yang telah begitu dikenal baik tapi dalam versi twisted.  Latar urban Mikage yang Persona hadirkan memberikan kekhasan yang tak banyak dimiliki RPG lain pada masanya.

Si tokoh utama dan teman-temannya dapat menjelajahi mall-mall dan kompleks pertokoan yang ada dan berbelanja, yang di dalamnya ada restoran, toko-toko serba ada, arcade, dan hal-hal normal lain yang sekilas kau kira tak akan ada gunanya ada di RPG. Tapi sesudah berjuang susah payah dengan equipment seadanya (seperti tongkat pel dan pedang anggar untuk ekskul) menembus kepungan demon, lambat laun kau akan sadar bahwa toko barang antik yang kau temui di jalan akan menjual pedang-pedang sungguhan. Lalu toko baju di tikungan mulai menjual rompi anti peluru. Kemudian hadiah yang kau menangkan dari permainan video di arcade bisa digunakan untuk memperkuat Persona-mu. Ditambah semua barang aneh yang dijual di apoteker kodok itu (yang untuk suatu alasan tak dijelaskan kegunaannya di game aslinya; BGM di toko ini tak terlupakan btw) ternyata bermanfaat dalam memulihkan luka dan kelelahan akibat pemakaian Persona! Paling parah adalah sesudah kita mencapai separuh permainan. Senjata-senjata api seperti pistol dan senapan mesin, yang sebelumnya dengan susah payah kita kumpulkan dari polisi atau dungeon, akan mulai dijual bebas di minimarket!

Ada perasaan “Hah? Oh gitu?” akibat semua perkembangan aneh ini yang aku rasain waktu mainin game ini pertama kali. Perasaan ini terus bertambah seiring perkembangan game karena dungeon-dungeon yang kita lalui dan orang-orang yang kita temui semakin lama juga semakin aneh dan aneh.

Velvet Room pada awalnya terkesan sebagai toko terbengkalai di sudut mall yang entah kapan akan buka. Tapi begitu terbuka, toko(?) tersebut berubah menjadi lounge dengan penyanyi dan pianis yang hanya dapat dinikmati orang-orang tertentu (kita), yang dilengkapi tirai yang menyembunyikan peralatan-peralatan aneh yang Igor gunakan untuk memfusikan Persona.

Gilanya, Velvet Room secara misterius juga akan hadir pula di dungeondungeon. Serupa dengan kolam penyembuhan ajaib Fountain of Youth yang dikelola seorang peri bernama Trish, yang akan meminta bayaran benar-benar berlebihan untuk sepenuhnya menyembuhkan seluruh anggota kelompok (harganya yang pasti jauh lebih mahal dibandingkan jika kita memulihkan diri di klinik atau rumah sakit). Oh ya, tempat save game ini berupa sebuah pohon yang bisa bicara bernama Agastya Tree. Yang membuat semuanya aneh adalah bagaimana gaya berbicara pohon ini akan berubah seiring berlangsungnya permainan…

Mikage yang kita jelajahi awalnya juga masih biasa saja. Tapi distorsi dimensi yang D-VA System ciptakan kemudian menghadirkan tempat-tempat baru yang… gimana ya?

Intinya, semakin jauh kita menyelami dunia manifestasi kejiwaan Maki—yang karya seninya sebelum ia sakit dijadikan basis penciptaan dunia baru oleh Kandori—situasi yang kita hadapi akan makin ‘luar biasa.’ Kita juga makin akan mengetahui kebenaran dari setiap desas-desus yang beredar dan kejadian aneh yang terjadi. Mulai dari munculnya hutan sampai kastil sampai tiran tak jelas yang menguasai salah satu pusat perbelanjaan, plot cerita Persona, sekali lagi, bisa benar-benar mengangkat alis.

Bergantung dari pilihan-pilihan yang kita ambil di sepanjang permainan, perjalanan kita dapat berakhir di benteng Deva Yuga di mana kita akan mengkonfrontasi Kandori untuk terakhir kali. Terungkap bahwa Kandori selama ini ternyata dikendalikan oleh Nyarlathothep, Persona miliknya sendiri, yang selanjutnya mengambil alih tubuhnya dan menjadikannya boss terakhir. Tapi tokoh utama dan teman-temannya sesudahnya akan gagal memulihkan jiwa Maki dan sepenuhnya mengembalikan dunia ke kondisi semula.

Hanya bila pilihan-pilihan yang kita ambil benar (tak terlalu susah, tapi tetap bisa salah), tokoh utama dan kawan-kawannya akan menjelajahi dunia paralel Maki sekali lagi dan menuntaskan pertentangan yang dimilikinya dengan dua bagian dirinya yang lain, gadis kecil berbaju hitam Aki—wujud kedengkiannya yang sebelumnya dimanfaatkan Guido Kandori; serta gadis kecil berbaju putih Mae—perlambang harapan dan semangatnya yang hilang. Tokoh utama dan Maki kemudian akan dibimbing Philemon dalam memperoleh Persona terkuat mereka masing-masing, sebelum kembali ke St. Hermelin untuk pertempuran terakhir yang harus mereka lakukan dengan bagian diri Maki yang terakhir, Pandora, perwujudan dari keinginannya melenyapkan dunia, yang bersemayam di Avideya World (dungeon terakhir yang menjadi satu-satunya alasan mengapa aku enggan memainkan game ini lagi).

Adegan penutup yang kita dapatkan kemudian akan sedikit ditentukan oleh siapa karakter opsional yang kita pilih sebagai anggota kelompok kita yang terakhir. Tapi akhir cerita yang dikisahkan bagi Kei, Masao, Maki, dan si tokoh utama akan tetap sama kok.

Lalu entah karena paruh terakhir game ini berasa sadis atau apa, meski secara sederhana hanya memperlihatkan bagaimana tokoh utama dan teman-temannya mewujudkan kesepakatan mereka untuk merayakan keberhasilan mereka menyelamatkan dunia, aku benar-benar mendapati tamat Persona berkesan.

The Snow Queen Quest

Buat yang sudah membaca sejauh ini, makasih sekaligus sori karena tulisan kali ini panjang dan bertele-tele.

Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, game pertama Persona ini berusaha mengangkat latar sekolahan seperti halnya Shin Megami Tensei IF. Latar sekolahan itu memang terasa di sepanjang game-nya sih, dengan banyaknya tokoh teman sekolah kita yang memegang andil dalam cerita. Tapi latar sekolahan dari Persona yang sesungguhnya sebenarnya dibawakan dalam ‘sisi lain’ game ini. Sebuah ‘mode’ lain yang bisa dibilang sebagai sebuah percabangan cerita bersifat ‘gaiden’, yang dikenal dengan nama Snow Queen Quest. (bayangin ini kayak mode permainan ‘The Answer’ di Persona 3 FES, tapi dengan cerita berbeda dan enggak berperan sebagai epilog)

Intinya, ini semacam percabangan cerita yang dapat kita ambil di seperempat pertama permainan. Alih-alih ke SEBEC, si tokoh utama dan kawan-kawannya bisa memilih untuk bertahan di sekolah (apabila sejumlah persyaratan terpenuhi), dan di sana mereka akan menghadapi situasi berbahaya lain di mana Saeko-sensei diambil alih kesadarannya oleh topeng Ratu Salju, yang ditemukan dari situs reruntuhan kuno yang terdapat di Mikage. Di bawah pengaruh topeng tersebut, Saeko-sensei membekukan sekaligus menghempaskan seluruh kompleks bangunan St. Hermelin ke dimensi lain. Lalu untuk membebaskan diri mereka, si tokoh utama dan kawan-kawannya harus berjuang menghadapi siswa-siswa ‘bermasalah’ yang telah diberi Persona dan dijadikan kaki tangan si Ratu Salju di menara-menara misterius yang telah didirikan di sepenjuru sekolah.

Oh ya. Mode permainan ini sebelumnya gagal disertakan dalam versi Amerika game PSX-nya. Tapi disertakan dalam remake versi PSP yang keluar belakangan ini.

Soal cerita, plot cerita utama Persona memang agak enggak jelas. Tapi plot cerita kisah sampingan ini jauh lebih enggak jelas lagi.  Yang pasti, tokoh-tokoh seperti Yukino (yang memiliki ikatan emosional dengan Saeko-sensei) dan Ayase memainkan peranan lebih banyak di dalamnya. Lalu tokoh-tokoh ‘warga sekolah’ yang di cerita utama hanya berada di ‘latar belakang’ ditampilkan lebih menonjol di sini (terutama Wakil Kepsek Hannya yang sangat menyebalkan). Tokoh utama dan kawan-kawannya menjelajahi menara-menara Hypnos, Nemesis, dan Thanatos (hm, ada lagi enggak ya?) dan berhadapan dengan masing-masing ‘penjaga’ di sana: Hirose Kumi yang pemurung dan selalu dijadikan bahan olok-olokan, Matsudaira Michiko yang keji dan negatif, serta Yamamoto Yuriko yang populer tapi merasa tak terpuaskan dan dibayang-bayangi keinginan untuk bunuh diri. Di penghujung cerita baru terungkap bahwa roh mendiang Fujimori Tomomi, yang merupakan sahabat sekolah Saeko-sensei yang meninggal secara tragis, menjadi dalang sesungguhnya dari insiden ini, dan Persona miliknya, Night Queen, menjadi lawan terakhir yang tokoh utama dan kawan-kawannya harus hadapi.

Yah, oke. Plot ceritanya emang luar biasa aneh. Tapi premisnya benar-benar bisa dibilang menarik. Lalu gilanya, tema ‘pencarian jati diri’ yang merupakan tema utama game ini masih juga berhasil diangkat dalam mode permainan ini. Kalau kau perhatikan baik-baik event-event yang berlangsung di dalamnya, maka kau akan sadar bahwa cerita mode ini sebenarnya masih nyambung dengan cerita utama game. Tapi serius, aku… aku enggak bisa menjelaskannya karena terlalu aneh.

Satu hal yang jelas dari SQQ adalah meski ceritanya lebih pendek, permainannya lebih susah!

Ada 12 pecahan cermin yang ceritanya mesti bisa kita kumpulkan untuk melepaskan topeng itu dari Saeko-sensei. Lalu saat kita menghadapi ketiga menara, 1) kita tak bisa nge-save permainan, 2) kita tak bisa keluar sesudah memasuki salah satu menara sampai urusan kita di menara itu tuntas, dan 3) kita dikasih tenggat waktu, dalam artian ada batas waktu yang benar-benar dihitung mundur semenjak kita memasuki menara itu! Game utama secara alami memaksa kita menjadi kuat dengan denah dungeon yang gila. Tapi di sini, apabila persiapanmu terbatas, bisa dikatakan bahwa kau sudah pasti bakal mati (belum, aku belum nyebutin semua tantangan yang ada dalam mode ini).  Lalu urutan kita menghadapi ketiga menara itu dan secepat apa kita menanganinya akan berpengaruh terhadap sekuat apa bos-bos yang kita lawan! Makanya, walaupun gaje, ada suatu kepuasan tersendiri bila kau berhasil menamatkan mode permainan yang susah ini.

Sayangnya, game pertama Persona ini masih belum memiliki fitur ‘New Game +’. Tapi keberhasilanmu menamatkannya akan membuka dua buah dungeon opsional untuk masing-masing mode (Mikage Ruins dan Devil’s Peak). Dua tempat yang akan lumayan memudahkanmu untuk level grinding.

Adaptasi-adaptasi Lain

Mengingat sebagian tokoh yang muncul di game ini muncul kembali di Persona 2, cerita game ini mungkin akan menarik rasa ingin tahu sebagian orang. Sekali lagi, ini bukan game yang akan aku rekomendasikan ke orang lain. Jadi kalau hanya sekedar ingin tahu tentang cerita dan mengenal para tokohnya lebih jauh, lebih baik memeriksa versi-versi adaptasi lainnya saja.

Aku jelas enggak tahu apa-apa soal novel ataupun drama CD-nya. Tapi adaptasi manga-nya yang dibuat oleh Ueda Shinshuu secara enggak terduga beneran keren. Maksudku, keren dalam artian, dia secara menakjubkan berhasil mengadaptasi cerita yang berkesan ‘hambar’ dalam game menjadi sesuatu yang lumayan seru, dan dia berhasil menghidupkan kepribadian-kepribadian dalam para karakternya dan sekaligus menggambarkan mereka berkembang (narasi cerita dalam game-nya lumayan gagal melakukan ini). Kau bisa menemukan terjemahan bahasa Inggris beberapa babnya di Internet. Cuma ya itu, hanya beberapa bab.

Makanya, andai ada penerbit lokal yang berhasil melokalisir manga ini, aku pasti akan bahagia! Kuharap ga akan susah mengingat ini manga lama.

Hmm, apa lagi yang perlu dikata ya? Kayaknya udah semua.

Ini game pertama yang mengajariku soal betapa pentingnya kita mengenali diri kita dan menemukan jati diri, dan tentu saja bukan yang terakhir. Karena masih ada Persona 2

Tag: , ,
25/04/2011

Persona 4 The Animation (news)

Belum lama ini ada berita bahwa RPG hit keluaran Atlus Persona 4 bakal diadaptasi ke bentuk anime! Aku sudah lama jadi penggemar seri Persona, dan meski sudah beberapa kali dikecewakan karena belum ada lagi yang ceritanya sebagus Persona 2, premis cerita Persona 4 menurutku lumayan mendekati. Jadi tetap saja aku lumayan senang dengan hadirnya berita ini.

Inti cerita Persona 4 adalah tentang upaya sekelompok anak SMA di kota dusun Inaba yang menyelidiki fenomena misterius Mayonaka TV (Midnight Channel). Pada setiap malam berhujan, bila kau memandangi layar televisi di rumahmu persis saat jam berdentang tengah malam, konon  TVmu akan menyala sendiri dan kau akan bisa melihat wajah orang yang ditakdirkan bersamamu. Fenomena misterius ini belakangan diketahui hanyalah efek samping dari rangkaian kejadian meresahkan yang akan menghantui Inaba selama berbulan-bulan ke depan.

Tokoh utama kali ini bernama Narukami Yu (di manga bernama ‘Seta Souji’). Ia seorang murid pindahan yang dititipkan untuk sementara waktu di rumah adik ibunya, seorang detektif polisi bernama Dojima, yang hidup menduda bersama anak perempuan tunggalnya yang masih duduk di bangku SD, Nanako. Kebangkitan kekuatan misteriusnya yang dilandasi kekuatan hati, Persona, memungkinkannya menghadapi bahaya yang mengancam dari dunia di balik layar televisi. Bersama teman-temannya yang baru, mereka menjalani penyelidikan di sela-sela kesibukan sekolah untuk mencegah terjadinya kematian yang mereka yakini akan terjadi pada setiap malam berkabut.

Produksi animasi akan dilakukan oleh studio AIC-ASTA (sebelumnya menangani Bamboo Blade), dengan mempertahankan desain karakter buatan Shigenori Soejima dan desain Persona buatan Kazuma Kaneko. Shoji Meguro kabarnya juga akan bertanggung jawab atas musik di versi adaptasi ini, meski masih belum jelas apakah musiknya versi daur ulang yang di game atau sama sekali baru. Masih belum ada kabar tentang siapa yang menjadi sutradara.

Masih belum jelas apakah hasil adaptasi akan bagus atau tidak. Tapi semenjak menamatkannya pertama kali, aku selalu berharap akan ada versi yang sedikit memperbaiki jalan ceritanya. Sebelumnya, Persona 3 juga sempat menginspirasi dibuatnya anime drama misteri Persona – Trinity Soul. Tapi meski konsepnya keren, seri tersebut untuk suatu alasan kurang nyaman kulihat.

Eniwei, trailer promosinya sudah dapat dilihat sebagai berikut.

EDIT

Sudah diumumkan bahwa Seiji Kishi (juga menyutradarai Angel Beats!) akan menjadi sutradara. Para pengisi suara di game versi Jepang sudah ditetapkan akan kembali mengisi suara karakter yang mereka perankan di sini.

Tag: ,