Lanjut ke konten
Iklan

Posts tagged ‘mecha’

Gundam: UC NexT 0100 Project

April 2018 lalu, studio animasi Sunrise menyelenggarakan konferensi pers untuk memperingati ulang tahun waralaba anime dan mainan Gundam yang ke-40.

Dalam presentasi acara, diumumkan sejumlah proyek baru yang tercakup dalam “UC NexT 0100 Project”. Proyek ini yang dikabarkan akan menangani masa depan dari linimasa Universal Century (UC) yang digagas sutradara Tomino Yoshiyuki dari seri-seri Gundam yang orisinil. Tagline keseluruhan proyek ini adalah “The next destination of the Newtype legend.” yang kurang lebih mengindikasikan kelanjutan bahasan mitologi Newtype yang linimasa ini usung.

Sebagai penyegar, linimasa UC sebelumnya mencakup seri-seri animasi Gundam (seri-seri manga tidak dicantumkan agar tidak tambah ribet) berikut:

  • Mobile Suit Gundam The Origin (UC 0068-0077)
  • Mobile Suit Gundam MS IGLOO (Januari, UC 0079)
  • Mobile Suit Gundam (September, UC 0079)
  • Mobile Suit Gundam: The 08th MS Team (Oktober, UC 0079)
  • Mobile Suit Gundam 0080: War in the Pocket (Desember, UC 0079)
  • Mobile Suit Gundam Thunderbolt (Desember, UC 0079)
  • Gundam the Ride: A Baoa Qu (Desember, UC 0079)
  • Mobile Suit Gundam 0083: Stardust Memory (UC 0083)
  • Mobile Suit Zeta Gundam (UC 0087)
  • Gundam Neo Experience 0087: Green Divers (UC 0087)
  • Mobile Suit Gundam ZZ (UC 0088)
  • Mobile Suit Gundam: Char’s Counterattack (UC 0093)
  • Mobile Suit Gundam Unicorn (UC 0096)
  • Mobile Suit Gundam Twilight Axis (UC 0096)
  • Mobile Suit Gundam F91 (UC 0123)
  • Mobile Suit Victory Gundam (UC 0153)
  • G-Saviour (UC 0223)

Sebagaimana yang bisa kalian lihat, mengingat cerita Gundam Unicorn sebenarnya dimulai dari Insiden Laplace pada tahun UC 0000, abad pertama linimasa Universal Century kurang lebih telah terpapar.

Rangkaian proyek NexT 100 ini, agaknya, menjadi tahap baru untuk menyentuh abad berikutnya linimasa ini, yang hampir tak ‘disentuh’ dalam proyek-proyek animasi Gundam yang modern.

Dari sudut pandang lain, mungkin ini upaya untuk melangkah dari konflik antara Federasi Bumi dan Zeon, yang diperkenalkan lewat seri Gundam orisinil. Khususnya, konflik ideologi tentang hakikat manusia, antara dua tokoh utama Amuro Ray dan Char Aznable. Konflik ini sebelumnya sudah tertuntaskan lewat CCA, tapi sempat kembali jadi bahasan dalam Gundam Unicorn.

(Peringatan spoiler bagi anime-anime Gundam lawas!)

Narrative

Anime baru pertama yang diumumkan adalah seri Mobile Suit Gundam Narrative. Ceritanya berlatar di UC 0097. Formatnya sama dengan Gundam Unicorn, yakni seri OVA yang episode-episodenya juga akan ditayangkan di bioskop (belum jelas totalnya berapa) film layar lebar. Episode pertamanya dirilis pada penghujung tahun 2018 ini. (Pada saat ini aku tulis, cuplikan 23 menit dari episode pertama tersebut dapat ditonton di saluran Gundam.Info di YouTube.)

Dengan cerita yang digagas oleh Fukui Harutoshi (novelis militer yang mencetus cerita Gundam Unicorn), Gundam Narrative bisa dibilang semacam semi-sekuel dari Gundam Unicorn. Ceritanya memaparkan kesudahan dari kejadian-kejadian di seri tersebut.

Cerita Gundam Narrative sendiri sebenarnya ekspansi (yang lumayan drastis) dari novel Gundam Unicorn yang kesebelas, “Phoenix Hunting”, yang terbit lumayan lama sesudah cerita utamanya berakhir. (Porsi cerita anime Gundam Unicorn mengadaptasi 10 buku yang terbit antara 2007-2009. Buku 11 ini terbit di tahun 2016.)

Berlatar di tahun UC 0097, satu tahun sesudah rangkaian kejadian di Gundam Unicorn, pembukaan Kotak Laplace membeberkan isi Piagam Universal Century yang asli. Pembeberan ini memberikan basis hukum bagi kemerdekaan simpatisan Zeon sekaligus pengakuan publik terhadap keberadaan manusia-manusia Newtype. Pembeberan ini diiringi dengan demonstrasi nyata terhadap betapa mencengangkannya teknologi psychoframe yang Unicorn Gundam punyai.

Dalam Gundam Narrative, dikisahkan bahwa unit ketiga dari MS tipe RX-0, yakni Unicorn Gundam 03 Phenex, tiba-tiba saja muncul setelah dua tahun lenyap. Semua pihak jadi memburunya karena ingin memperoleh teknologi pscyhoframe yang unit tersebut punyai.

Sekilas, tema Gundam Narrative mirip dengan yang diangkat dalam Twilight Axis, yakni seputar rebutan teknologi psychoframe (yang pada seri tersebut, dilakukan lewat ekspedisi militer ke puing-puing markas asteroid Axis, di mana teknologi itu diteliti pihak Neo Zeon). Nyatanya, Gundam Narrative berpusar pada tema yang agak lebih dalam daripada itu.

Cerita Gundam Narrative berfokus pada tiga yatim piatu sekaligus sahabat masa kecil, yakni Jona Bashta, Michelle Luio, dan Rita Bernal.

Ketika masih anak-anak, pada masa Perang Satu Tahun, ketiganya melihat visi akan jatuhnya koloni luar angkasa ke Australia. Dengan bersikeras memperingatkan orang-orang sekitar, mereka berhasil menyelamatkan sejumlah penduduk dari bencana tersebut. Oleh media massa, mereka lalu disebut-sebut sebagai Miracle Children (‘anak-anak ajaib’, memperlihatkan tanda-tanda kekuatan Newtype sekalipun berada di Bumi).

Sesudah dewasa, dan sama-sama sempat berkarir dalam kemiliteran Federasi, Jona suatu hari direkrut Michelle, yang kini berstatus anak angkat Luio Woomin, kepala perusahaan dagang Luio & Co.

Michelle rupanya telah punya nama di dunia bisnis sebagai ‘peramal’ yang memprediksi berbagai kejadian besar. Dengan kemampuan Michelle memprediksi kejadian-kejadian di masa datang, Luio & Co (salah satu sponsor AEUG dan Karaba semasa Konflik Gryps) tumbuh menjadi perusahaan sangat besar.

Alasan Michelle merekrut Jona rupanya untuk melibatkannya dalam perburuan terhadap Phenex. Pilot Phenex, yang lepas kendali dua tahun silam, ternyata adalah Rita, sahabat mereka yang telah lama menghilang. Oleh Michelle, Jona dijadikan pilot dari Narrative Gundam, suatu MS prototipe yang dilengkapi berbagai perlengkapan khusus untuk ‘menangkap’ si burung emas.

Cuplikan 23 menit yang diperlihatkan Gundam.Info benar-benar keren. Terutama, buat kalian yang menggemari Gundam Unicorn. Animasi berbagai adegan aksinya terbilang luar biasa. Ada banyak tokoh baru diperkenalkan. Lagi-lagi, diberi kesan kalau dunianya sangat besar.

Masih ada banyak hal dalam ceritanya yang belum jelas sih. Seperti, soal bagaimana Rita awalnya bisa berada di kokpit Phenex, misalnya. (Ada indikasi kalau dia diculik?) Tapi, sejauh yang kutangkap:

  • Dua unit Unicorn Gundam dan Banshee sama-sama telah disegel dan tak lagi dapat diakses teknologinya?
  • Michelle mengejar Phenex bukan untuk Rita, melainkan karena terobsesi kemampuan manipulasi waktu(!) yang nampaknya Phenex punyai. (Gagasan soal manipulasi waktu secara fisik ini juga menjadi sesuatu yang sempat kontroversial di kalangan penggemar.)
  • Ada… empat kepentingan yang bermain?
    • Pihak Federasi Bumi yang tak mau ada psychoframe lepas lagi.
    • Pihak Republik Zeon yang ingin mendapat ‘jaminan’ atas kedaulatan mereka. (Di cerita ini, agaknya diwakili oleh perwira Zoltan Akkanen, seorang Cyber Newtype psikotik—dan bahkan mungkin klon dari Char—yang di cuplikan baru tampil sebentar, tapi nantinya akan jadi rival Jona.)
    • Pihak Luio & Co yang digawangi Michelle, yang ingin memperoleh teknologi manipulasi waktu. (Sesuatu yang berkaitan dengan ayah angkatnya yang menjalani tidur es? Pihaknya bahkan sampai membebaskan Martha Vist Carbine untuk rencana mereka ini.)
    • Pihak Mineva Zabi, yang ingin sekali lagi mencegah pecahnya perang. (Meski belum tampil, tapi aku dengar kalau tokoh Gundam Unicorn, Banagher Links, direncanakan muncul di kemudian hari.)

Narrative Gundam, MS utama di seri ini, dikisahkan adalah prototipe uji untuk perlengkapan MS Nu Gundam yang digunakan Amuro Ray di CCA. Narrative Gundam tak terintegrasi dengan teknologi psychoframe. Secara spek, usianya dibandingkan Phenex pun tertinggal beberapa tahun. Namun, dengan penambahan perlengkapan-perlengkapan khusus, sekaligus baju kokpit istimewa yang berbasis material psychoframe, Jona bisa agak mengimbangi performa Phenex.

Phenex ditampilkan sebagai MS yang sangat OP. MS ini seakan tak terkejar, bahkan bila dibandingkan dengan Unicorn dan Banshee. Warnanya emas secara menyeluruh, dan menggunakan dua funnel mirip ekor/sayap yang berfungsi sebagai remote weapon. Desain MS ini sebenarnya cukup lama telah diperkenalkan dalam berbagai material sampingan. MS ini bahkan sempat muncul sebagai lawan antagonis dalam animasi CG pendek untuk Reconguista in G.

Sinanju Stein yang akan digunakan Zoltan kudengar adalah prototipe MS Sinanju yang digunakan Full Frontal di Gundam Unicorn. Lebih banyak soal itu mending aku ulas sesudah melihat episodenya secara lengkap.

Selebihnya, masih agak susah menebak arah ceritanya.

Cerita anime ini kudengar berbeda drastis dibandingkan di novelnya. Anime Gundam Narrative berlatar setahun penuh sesudah Gundam Unicorn, misalnya. Sedangkan novel “Phoenix Hunting” berlatar menjelang akhir penyelesaian cerita. Jona bahkan hanya menggunakan MS produksi massal Stark Jegan dalam novel, dan karakter Michelle bahkan sama sekali tak ada.

(Edit: ternyata novelisasi untuk Gundam Narrative sudah dibuat! Jadi ada versi novel lain lagi!)

Senkou

Pengumuman berikutnya yang mengejutkan, yang sempat di-tease dalam acara presentasi, dan juga sempat diindikasikan lewat kemunculan MS Gustav Karl (penerus MS produksi massal Jegan) di episode-episode terakhir Gundam Unicorn, adalah produksi Mobile Suit Gundam: Hathaway’s Flash. Ini merupakan seri baru lagi yang akan dibuat dalam format tiga film layar lebar.

Yang membuat ini mengejutkan adalah karena proyek ini diadaptasi dari novel Senkou no Hathaway yang dikarang sendiri oleh Tomino-san. Novel itu, pada dasarnya, merupakan sekuel novel CCA yang beliau buat. Meski begitu, latar belakangnya agak rumit…

Jadi, sempat ada dua (beberapa?) versi novel dari film layar lebar Char’s Counterattack. Yang pertama adalah novelisasi animenya (yang dipenai oleh Tomino juga). Lalu, yang kedua adalah Beltorchika’s Children (pertama diterbitkan dari 1989-1990). Novel kedua ini yang konon merupakan versi cerita orisinil yang punya banyak perbedaan dibandingkan animenya.

Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya:

  • Amuro di versi ini menggunakan MS Hi-Nu Gundam, pengembangan Nu Gundam. MS ini yang digunakan dalam klimaks cerita untuk menghentikan jatuhnya Axis.
  • Char di versi ini menggunakan MS Nightingale yang merupakan pengembangan dari Sazabi. Seperti kasus Amuro, MS ini yang digunakan dalam klimaks saat Axis jatuh.
  • Pacar Amuro yang diperkenalkan di Zeta Gundam, Beltorchika Irma, menggantikan peran Chen Agi dalam versi ini. Beltorchika (yang juga sempat tampil di Gundam Unicorn) bahkan dikisahkan tengah mengandung anak Amuro.
  • Di versi ini, karakter antagonis Quess Paraya tewas tak sengaja saat melindungi Char, berbeda dengan nasibnya di CCA.

Nah, versi novel Hathaway’s Flash ini semacam sekuel dari Beltorchika’s Children. Jadi, bukan sekuel anime Char’s Counterattack yang lebih banyak dikenal.

Berlatar di UC 105, novelnya sendiri mengetengahkan putra kapten kapal induk legendaris Bright Noa dan Mirai Yashima, Hathaway Noa. Hathaway pertama diperkenalkan di Zeta Gundam kemudian menjadi salah satu karakter utama di CCA.

Hathaway, yang kini dewasa, dikisahkan telah menjadi ahli botani. Pekerjaannya menuntut ia bolak-balik antara koloni-koloni luar angkasa dan Bumi. Diam-diam, ia masih saja dihantui kematian Quess Paraya. Kematian Quess yang tak sengaja disebabkannya itu secara ironis telah membuat Hathaway dipandang sebagai pahlawan. Karena tuntutan pekerjaan, Hathaway lalu bisa melihat sendiri ketimpangan kualitas hidup antara penduduk Bumi dan luar angkasa.

Pemerintahan Federasi dalam cerita ini digambarkan sudah benar-benar korup. Bahkan sering ada esktradisi orang-orang yang menentang kebijakan Federasi agar dipekerjakan sebagai penambang di luar angkasa.

Cerita dibuka dengan perkenalan Hathaway dengan dua sesama penumpang, dalam pesawat yang tengah dibajak teroris. Pertama adalah perwira militer Kenneth Sleg. Kedua adalah seorang perempuan Newtype (sekaligus simpanan seorang pengusaha) bernama Gigi Andalusia. Teroris tersebut berasal dari organisasi Mufti (atau Mafty) yang menentang pemerintahan Federasi Bumi. Organisasi baru tersebut dipimpin oleh sosok misterius Mufti Nabiyu Erin.

Yang tak orang-orang tahu: Mufti tersebut tak lain adalah Hathaway sendiri.

Pertemuan ini menandai awal mula persaingan Hathaway dengan Kenneth. Sesudah insiden pembajakan itu, Kenneth diangkat menjadi komandan kesatuan khusus Circe yang ditugaskan menumpas Mufti.

Gigi menjadi semacam karakter yang terjebak di tengah mereka. Gigi terlibat dalam Circe karena visi-visi masa depan yang diperolehnya berguna dalam membaca manuver Mufti. Di sisi lain, Gigi juga merasakan simpati dan ketertarikan kuat terhadap pemimpin organisasi misterius ini.

Seri ini memiliki nuansa suram dan dewasa dengan pemaparan Hathaway sebagai penjahat. Seri ini terutama dikenal karena akhir cerita yang sangat tragis. Hathaway akhirnya tertangkap Federasi dan dijatuhi hukuman mati tanpa pengadilan oleh ayahnya sendiri, sebelum Bright sadar yang tertangkap itu siapa. Cerita berakhir dengan bagaimana Kenneth, muak dengan segala kebusukan Federasi, akhirnya menyatakan niatnya pada Gigi untuk memulai organisasi Mufti buatannya sendiri.

Menilai tema-tema yang diangkatnya, menurutku wajar bila novel ini menjadi salah satu favorit Fukui-sensei.

Dalam novel, Hathaway menggunakan Xi Gundam, prototipe MS keluaran terakhir dari Project Zeta. Sementara saingannya, perwira federasi berangasan Lane Aime, menggunakan Penelope Gundam yang merupakan MS pendahulunya. Kedua MS ini menarik karena menggunakan teknologi mengapung Minovsky Craft (yang terakhir kita lihat telah digunakan pada kapal-kapal induk di seri Reconguista in G), lengkap dengan berbagai persenjataan remote dan beam.

Hal lain yang membuat menarik adalah desain mekanik keduanya yang dirancang Moriki Yasuhiro, mangaka dari seri super robot dewasa Hades Project Zeorymer. Beliau dikenal dengan motif badan mecha lancip khas beliau. Terus terang, aku penasaran bakal kayak gimana bentuk MS-nya dalam wujud animasi nanti.

Detil-detil cerita di filmnya nanti dijamin bakal beda dari novelnya. Kayaknya filmnya akan dibuat agar nyambung dengan apa yang terjadi di anime CCA. Satu perbedaan yang jelas adalah gimana anime Hathaway’s Flash diumumkan akan berlatar di UC 0103, dua tahun sebelum latar cerita di versi novel.

Selain itu, kurasa elemen-elemen ceritanya juga akan dibikin nyambung juga dengan apa yang nanti terjadi di Gundam Narrative.

Abad yang Baru

Melengkapi Gundam F91 dan V Gundam, kira-kira bakal ada apa saja di abad baru linimasa UC?

Agak susah bilangnya.

Sejauh ini, kita cuma tahu bahwa Twilight Axis nyambung dengan latar cerita F91 (dengan mengenalkan nama-nama yang kelak mendirikan faksi Crossbone Vanguard). Lalu, masa-masa ini banyak menyorot masa-masa keruntuhan Federasi Bumi. (Selain itu, gagasan manipulasi waktu yang Fukui-san usulkan masih menuai tanda tanya besar bagi penggemar.)

Selain yang di atas, juga sempat ada teaser untuk Gundam Unicorn 2 (!) yang akan berlatar di UC 0104. Lebih jauh soal infonya jelas belum ada, tapi itu indikasi bahwa sebuah gagasan cerita telah ada di kepala Fukui-san.

Selebihnya, rentang waktu ini baru disorot lewat rangkaian seri komik Mobile Suit Crossbone Gundam karya Hasegawa Yuichi. Seri sekuel Gundam F91 ini punya basis penggemar lumayan kuat (dan sudah lama diharapkan bakal diangkat jadi anime). Elemen-elemen cerita Mobile Suit Crossbone Gundam: Steel 7 nyambung dengan elemen-elemen cerita V Gundam lewat perkenalan awal mula teknologi sayap cahaya. Kelanjutannya, Mobile Suit Crossbone Gundam: Ghost, bahkan berlatar di rentang waktu yang sama dengan V Gundam, dengan tampilnya Kekaisaran Zanscare sebagai antagonis. Rilisan terbaru saat ini aku tulis, yakni Mobile Suit Crossbone Gundam: Dust, bahkan berlatar lebih jauh lagi, yaitu sekitar 15 tahun sesudah V Gundam, menjadikannya cerita paling jauh dalam linimasa UC saat ini.

Kayak biasa, kalau aku udah kesampaian nonton, aku janji bakal menulis sesuatu tentang Gundam Narrative.

Iklan

Darling in the Franxx

Kehilangan tujuan hidup itu menakutkan.

Mungkin itu enggak kebayang kalau kalian masih remaja. Tapi, jujur, itu suatu hal yang mengerikan.

Kehilangan tujuan hidup berujung pada retaknya identitas.

Retaknya identitas berujung pada hilangnya makna/arti keberadaan.

Bila tak berarti, kau tak lagi diperlukan.

Kalau kau tak diperlukan, kau ada atau enggak, enggak ada bedanya.

Kau hidup atau mati, enggak ada bedanya.

Kau tiba-tiba mati pun tak apa-apa.

Pikiran yang berlangsung itu kira-kira kayak gitu. Itulah alasan kenapa kasus-kasus PHK dan tuna wisma (terutama di luar negeri) bisa menjadi musibah besar. (Dan disusul kasus-kasus bunuh diri.)

Darling in the Franxx adalah anime yang dengan apik sempat berhasil memaparkan soal kehilangan tujuan hidup.

Darling in the Franxx merupakan proyek anime mecha drama romansa orisinil, diproduksi lewat kolaborasi Studio Trigger dan CloverWorks. (Sebelumnya, A-1 Pictures; studio cabang A-1 Pictures yang menangani seri ini berubah status menjadi independen di pertengahan masa produksi.) Berjumlah total 24 episode dan ditayangkan dalam dua cour, seri ini lumayan menarik perhatian (kontroversial) pada paruh awal 2018.

Sutradara Darling in the Franxx adalah Nishigori Atsushi (sebelumnya dikenal lewat IDOLM@STER). Naskahnya dikerjakan Nishigori-san barengan bersama Hayashi Naotaka, Ohtsuka Masahiko, Yamazaki Rino, dan Seko Hiroshi (secara bersama menggunakan nama Code:000). Musiknya ditangani Tachibana Asami.

Ada adaptasi manga juga, dengan kualitas lebih bagus dari dugaan, yang dibuat Yabuki Kentaro (mangaka To-Love-Ru!). Ada juga manga lepasan 4-kotak bergenre komedi yang dibuat oleh Mato.

Karena keberhasilannya memaparkan soal kehilangan tujuan hidup di awal cerita, aku langsung merasa bahwa kayak gimanapun hasilnya ntar, Darifura pasti punya ‘sesuatu’ yang bagus.

Aku enggak salah sih.

Tapi, bagus enggaknya seri ini ternyata lumayan patut diperdebatkan.

Selain soal pemaparan temanya, lagu pembukanya, “Kiss of Death”, yang dinyanyikan Nakashima Mika, ngemunculin nuansa yang jarang kamu temuin di anime-anime lain. Secara mencolok, lagu itu diproduksi Hyde. Hyde adalah musisi Jepang ternama yang menjadi pentolan band L’Arc-en-Ciel. Perlu kuakui, sebagian daya tarik seri ini juga berasal dari lagu tersebut.

Jadiiiii, meski mengangkat tema demikian, berhubung Studio Trigger yang memproduksi, pasti ada elemen komedi mirip kartun khas mereka ‘kan? Elemen komedinya itu ada, tapi itu dibarengi dengan porsi drama yang sangaaaat banyak.

Kalau boleh jujur, sewaktu Darifura pertama diumumkan di panel AX 2017, kebanyakan pemerhati tak yakin bagaimana harus bereaksi. Di satu sisi, isu yang diangkat itu kayaknya serius. Di sisi lain, mengenal kecendrungan Trigger, kita sebagai fans juga pengen teriak, “Kalian tuh serius enggak sih?!”

Kesan meragukan tersebut ternyata tetap bertahan bahkan sesudah seri ini tayang.

Sangkar Burung

Darifura dibuka dengan perkenalan terhadap Hiro.

Hiro, yang secara resmi dikenal dengan nama Code:016, adalah anak remaja yang merupakan satu dari sekian banyak anak Parasite yang hidup dan dibesarkan bersama. Anak-anak Parasite diindikasikan tercipta melalui proses rekayasa genetik (jadi, bukan dilahirkan secara alami). Bersama, mereka dibesarkan di suatu instansi rumah taman bernama Mistilteinn.

Di awal cerita, Hiro sedang memikirkan nasibnya karena gagal dalam suatu ujian yang instansi berikan. Sementara, semua temannya yang lain lulus.

…Agak, susah menceritakan detilnya.

Pokoknya, adegan pembuka ini, yang secara puitis memaparkan perasaan Hiro, kayak bisa mengingatkan kamu sama sejumlah hal berbeda, tergantung kamu orang yang kayak gimana (makanya, anime ini berakhir jadi sesuatu yang kontroversial). Tren ini berlanjut di sepanjang seri (baik dalam arti baik maupun buruk). Maka dari itu, terlepas dari apa kau bisa menyukainya atau enggak, Darifura tetap bisa berakhir jadi sesuatu yang berkesan.

Meski galau dan bimbang, di permukaan, Hiro terbilang tenang. Dia sangat tenang dan tetap sopan. Dia tak marah. Dia tak meledak-ledak. Dia hanya… sangat kecewa, mungkin? Jadinya, dia secara halus menolak simpati teman-temannya, dan kemudian memutuskan untuk menyendiri. Sehingga, walau kita belum terlalu kenal Hiro, ada nuansa manusiawi (yang di awal) lumayan berhasil dipaparkan.

Pemaparan psikologis dan suasananya itu keren.

Mirip gaya arahan di Neon Genesis Evangelion.

Hiro ingin menyendiri. Kemudian, di tengah hutan, dia kebetulan berjumpa sesosok gadis lebih tua berambut pink bernama Zero Two. Lalu, dari sanalah, cerita ini berjalan.

Singkat cerita, latar Darifura adalah dunia pasca bencana di mana tanah di seluruh dunia kering kerontang. Umat manusia hanya bisa hidup dalam kota-kota besar berkubah yang terus berpindah bernama Plantation.

Plantation bergerak dengan mengandalkan sesuatu yang disebut magma energy. Namun, untuk bisa menggunakan magma energy, umat manusia harus berhadapan dengan makhluk-makhluk buas yang disebut Klaxosaur (Kyoryuu).

Di sinilah anak-anak Parasite itu berperan.

Untuk menghadapi Klaxosaur, yang dapat diandalkan hanyalah mecha-mecha raksasa Franxx (yang nyata-nyata digambarkan lebih mirip perempuan raksasa ketimbang mesin). Franxx ini hanya bisa dikemudikan berpasangan oleh anak-anak Parasite, seperti Hiro dan kawan-kawannya.

Karena gagal dalam ujian kelulusan penentuan untuk bisa memiloti Franxx ini, Hiro—yang sebelumnya dipandang sebagai murid paling berpotensi di antara teman-temannya—menjadi merana. Hiro tak bisa mencapai tingkat sinkronisasi yang dibutuhkan dengan partnernya, Naomi (Code:703) untuk bisa mengendalikan Franxx. Karena dinilai gagal, keduanya akhirnya mau dikesampingkan dan “dipindahkan” ke luar Plantation.

Namun, sesudah bertemu Zero Two, dan ada Klaxosaur tiba-tiba menyerang, Hiro ternyata terbukti masih bisa memiloti Franxx, asalkan partnernya adalah Zero Two.

Situasipun berubah.

Keputusan Hiro untuk dipindahkan dari Mistilteinn pun tertunda.

Penyebabnya, yang sekaligus jadi akar masalah utama seri ini, adalah bagaimana kemudian terungkap juga bahwa dari pengalaman lalu-lalu, siapapun yang berpartner dengan Zero Two sebagai pilot Franxx pada akhirnya akan tewas lebih awal dari waktunya.

Itu nasib agaknya akan kelak dialami Hiro juga bila bersikeras berpartner dengan Zero Two.

Mati Dengan Arti Lebih Baik Ketimbang Hidup Tanpa Arti

Membahas soal teknis dulu (karena itu yang paling gampang diangkat), presentasi Darifura benar-benar keren. Kalau menilai dari key visual-nya saja memang enggak terlalu kelihatan. Apalagi, dengan gaya desain karakter yang dipakai. Tapi, kalau melihatnya dalam bentuk animasi, Darifura memiliki visual apik dengan pemilihan warna yang selalu pas. Desain karakternya simpel, tapi dengan kuat menunjukkan identitas masing-masing karakter sekaligus beragam ekspresi mereka.

Kerasa bagaimana ada banyak simbolisme ditampilkan dalam adegan-adegannya, yang sekali lagi, mengingatkan pada anime-anime psikologis lawas dari Gainax (yang menjadi awal mula Trigger), macam Neon Genesis Evangelion atau Kareshi Kanojo no Jijou. Baik dalam nuansa warnanya, penataan audionya, dan sebagainya. (Tapi, tidak sampai kayak di Shoujo Kakumei Utena.)

Saking udah lamanya enggak ada lagi anime (mecha) psikologis kayak begini, aku seriusan susah mengatakan Darifura sebagai anime yang jelek.

Mengecewakan? Mungkin iya.

Aneh? Agak mesum? Jelas!

Tapi jelek? Kayaknya enggak.

Salah satu hal berkesan dari presentasi Darifura adalah pada bagaimana pada adegan-adegan dramatis tertentu, visualnya akan mendadak berubah jadi layar lebar gitu. Bagian atas dan bawahnya dipotong, sehingga cakupan pandangan kita dipersempit secara vertikal dan diperlebar secara horizontal. Efeknya secara emosional benar-benar keren. Terutama dengan beragamnya tema yang seri ini berusaha angkat.

Tema-tema Darifura setahuku meliputi:

  • Soal menjalani hidup panjang tanpa makna atau menjalani hidup pendek dengan makna.
  • Soal menerima kenyataan dan keikhlasan melepas hubungan masa lalu.
  • Soal makna peradaban manusia.
  • Soal membesarkan anak dan makna punya keturunan.
  • Soal seksualitas dan mengenal lawan jenis.
  • Soal pelampiasan amarah bila masa lalu kamu enggak enak, dsb.

Sayangnya, meski sangat apik menghadirkan hal-hal tersebut per episode, dalam gambaran besarnya, Darifura kurang berhasil menyatukan itu semua. Jadinya, Darifura di akhir berkesan kayak proyek yang enggak benar-benar jelas mau tentang apa. Ini terjadi meski berhasil memaparkan semua temanya secara baik (dan bahkan sampai berulangkali menuai kontroversi dan meme segala).

Namun, kalau membayangkan apa yang seri ini berhasil capai, menurutku ini tetap seri yang berhasil kok. Maksudku, sangat jarang ada anime kolaborasi dua studio yang berakhir sebagus ini. (Terlepas dari sejumlah penundaan yang episode-episodenya alami.)

Di samping itu, dengan luasnya cakupan tema yang ada, seakan sudah terjamin sejak awal bahwa akhir ceritanya memang takkan memuaskan.

Dalam perkembangannya, cerita Darifura tak lagi seputar hubungan antar karakter dan rahasia-rahasia yang tersembunyi dari permukaan. Temanya pada suatu titik berubah jadi soal serangan alien! Semua drama dan kegalauan soal cinta dan persahabatan di paruh awal tergantikan dengan kegentingan soal serbuan alien! (Dalam hal ini, ras luar angkasa spiritual VIRM yang dikisahkan pernah menyerang bumi di masa lalu.)

Maksudku, memang ada misteri-misteri yang jadinya terjawab. Tapi, tetap saja, itu jadinya luar biasa aneh ‘kan? Hanya saja, berhubung cerita Darifura memang sudah aneh sejak awal, kita tak jadi benar-benar kaget.

Malah, aku lebih kaget dengan kenyataan bagaimana ceritanya berakhir dengan semacam penghormatan terhadap Gunbuster—anime mecha klasik Gainax yang lain, terkenal karena memaparkan satu robot raksasa di luar angkasa yang melawan sepasukan alien di tempat yang sangat jauh dari Bumi—ketimbang memberikan tamat membingungkan khas Gainax (Gainax Ending) ala seri TV Neon Genesis Evangelion.

Argh. Aku udah ngomong kepanjangan.

Intinya, susah untuk diskusi soal Darifura secara adil. Mungkin kalian suka. Mungkin kalian benci. Potensinya luar biasa besar di awal, tapi semua berakhir dengan… yah, aneh.

Burung-burung Bersayap Satu

Berlanjut ke soal mecha.

Kita tak bisa membahas soal mecha-mecha Darifura tanpa membahas soal para karakternya.

Alasannya karena… uh, ini juga jadi salah satu poin konrtoversial seri ini.

Untuk memiloti, para cewek seakan harus ‘menyatu’ dengan mecha Franxx dan kemudian baju pilot mereka menjadi antarmuka kendali(!) bagi para cowok dalam kokpit sempit yang sama. Pokoknya, jadinya ada kesan benar-benar mesum (karena buat mengendalikan Franxx, para pilot cowok jadi harus memegang pegangan di pantat partner cewek mereka), sekalipun para karakternya dikisahkan sangat awam seputar seks.

Kukatakan saja.

Seluruh perkembangan karakter yang Hiro alami, dengan mechanya sebagai metafora, bahkan bisa dilihat sebagai alegori seorang cowok yang mengalami disfungsi ereksi dan mendapati diri jadi hanya bisa berhubungan bersama seorang cewek yang kelakuannya kurang baik.

Ya, JELAS SAJA jadi kontroversi!

Sayangnya, kalau kita mau mengesampingkan semua itu pun, aspek mecha Darifura sebenarnya tak bisa dibilang memuaskan. Menarik sih. Animasinya lumayan enak dilihat. Hanya saja, karena kesannya yang organik, yang suka visual-visual berbau permesinan akan kecewa berat terhadap seri ini.

Ditambah lagi, pertempuran-pertempuran dengan Klaxosaur, meski terkadang keren, kerap terkesan generik.

Klaxosaur digambarkan sebagai makhluk-makhluk abstrak dengan warna hitam atau biru. Mereka memiliki ‘inti’ yang harus bisa dihancurkan kalau mau dikalahkan.

Frekuensi pertempurannya cukup jarang. Kalaupun ada, sekali lagi, yang disorot lebih seputar dramanya, jadi seri ini kurang disarankan bila kalian meminati aksi. Terutama dengan bagaimana potensi untuk adegan-adegan aksi besar itu sebenarnya ada, tapi berakhir kurang tergali. (Meski kalau dibandingkan seri mecha ‘berat’ macam Gasaraki atau Patlabor, kurasa porsi aksinya tetap lebih banyak ini.)

Terlepas dari itu, mecha-mecha Franxx utama beserta para karakter yang mengendalikannya antara lain:

  • Strelizia, bermotif merah, bersenjatakan tombak raksasa berkawat Queen Pike. Dapat berubah menjadi wujud binatang berkaki empat saat pilot cowoknya tewas/pingsan. Dikemudikan oleh:
    • Hiro, Code:016, tokoh utama yang terkesan kosong karena merasa ada sesuatu yang hilang darinya jauh di masa lalu.
    • Zero Two alias Nine Iota, Code:002. Gadis bertanduk dan berambut pink yang liar dan di awal cerita, membenci sekelilingnya. Tengah mencari seseorang yang dia sebut sebagai darling-nya. (‘darling‘: salah satu panggilan sayang terhadap seseorang dalam Bahasa Inggris)
  • Delphinium, bermotif biru, menggunakan sepasang pedang pendek bernama Envy Shop. Berperan sebagai pemimpin pasukan. Dikemudikan oleh:
    • Ichigo, Code:015, gadis berambut pendek yang sebelumnya sangat dekat dengan Hiro, dan menjadi yang paling terpukul dengan kondisi Hiro sekaligus hubungan barunya dengan Zero Two.
    • Goro, Code:056, pemuda jangkung berkacamata yang baik hati dan merupakan teman terdekat Hiro. Diam-diam menyukai Ichigo, tapi menghormati perasaan yang Ichigo pendam terhadap Hiro.
  • Argantea, bermotif pink, mengutamakan kecepatan, bersenjatakan sepasang cakar pelindung tangan Night Claw. Dikemudikan oleh:
    • Zorome, Code:666, anak lelaki pendek dan berisik yang juga gegabah. Sangat kagum terhadap para orang dewasa di Plantation, terutama sosok bertopeng Papa yang membina mereka, dan berharap suatu hari bisa bergabung dengan mereka kelak.
    • Miku, Code:390, gadis berkuncir dua yang sedikit centil. Menganggap Zorome menyebalkan, tapi menerima partnernya apa adanya.
  • Genista, bermotif hijau gelap, dilengkapi lapisan pelindung berat, bersenjatakan bayonet artileri Rook Sparrow yang dapat menimbulkan kerusakan besar. Di awal cerita, dikemudikan oleh:
    • Futoshi, Code:214, anak gemuk yang sangat suka makan. Baik hati dan ceria. Sangat suka pada partnernya.
    • Kokoro, Code:556, lemah lembut dan feminin, cenderung perhatian terhadap orang lain. Menjadi orang pertama yang menyadari kejanggalan-kejanggalan tentang masa depan mereka.
  • Chlorophytum, bermotif ungu, ramping dan dikhususkan untuk pertempuran jarak jauh, bersenjatakan deretan peluncur Wing Span. Di awal cerita, dikemudikan oleh:
    • Mitsuru, Code:326, anak penyendiri yang berkesan tinggi hati. Pernah akrab dengan Hiro di masa lalu.
    • Ikuno, Code:196, perempuan berkacamata yang rapi dan tertutup. Memendam perasaan istimewa terhadap Ichigo.

Hiro dan kawan-kawannya diawasi keseharian dan pendidikannya oleh dua orang dewasa yang hanya dikenal dengan sebutan Nana (perempuan, ramah dan perhatian) serta Hachi (lelaki, pendiam, bersifat logis).

Nana dan Hachi melapor langsung kepada Dr Franxx, alias Werner Frank, ilmuwan legendaris pencipta Franxx sekaligus ahli di bidang magma energy.

Lalu, seiring perkembangan cerita, terungkap berbagai hal tak biasa tentang Hiro dan kawan-kawannya, bahkan dalam ranah dunianya sendiri.

Keunikan mereka semakin kentara sesudah diperkenalkan anak-anak dari kesatuan-kesatuan lain. Khususnya, dari kesatuan elit Nines pimpinan Nine Alpha, pasukan lama di mana Zero Two pernah tergabung, yang sama sekali berbeda dari Hiro dan kawan-kawannya.

Seiring banyaknya pertanyaan tentang siapa Hiro dan kawan-kawannya, apa yang telah terjadi pada dunia, siapa sebenarnya Zero Two, apa sebenarnya organisasi misterius APE, apa iya Hiro akhirnya bakal mati, apa sebenarnya yang sedang terjadi; kita lalu dibawa ke perjalanan aneh seputar hubungan masa lalu yang manusia punyai dengan Klaxosaur.

Pembeberan ini, ujung-ujungnya… tetap aneh.

Bulan Madu Panjang

Kalau ada satu hal tentang Darifura yang jelas unggul, maka itu adalah bagaimana dinamika karakternya berhasil dipaparkan.

Hubungan yang terjalin kompleks. Ada porsi-porsi masa lalu yang terlupakan. Ada dendam-dendam yang belum terbayar. Pemaparan dinamika karakternya beneran luar biasa. (Hubungan Futoshi dan Kokoro, hubungan Ichigo dan Hiro, sampai hubungan Dr Franxx dengan Code:001 mendiang istrinya?) Pemaparan ini sedemikian bisa kena ke orang, dan karenanya terkadang bisa tak nyaman untuk ditonton.

Karena itu, yah, Darifura lumayan susah direkomendasikan. Apalagi dengan bagaimana paruh akhir ceritanya tak sekuat paruh awalnya.

Emang enggak biasa aku menyebut soal tamatnya begini. Tapi, aku merasa perlu menyinggung bagaimana Darifura berakhir dengan keberhasilan kawan-kawan Hiro menghidupkan lagi dunia, serta reuni kembali Hiro dan Zero Two jauh di masa depan.

Itu tamat yang… enggak jelek, tapi terasa kurang pas? Apalagi, dibandingkan segala yang telah terjadi di sepanjang seri ini.

Soalnya… apa ya?

Darifura jadi terasa kayak… hasil eksperimen yang agak lepas kendali.

Awal ceritanya benar-benar berkesan. Aku sangat menghormatinya dengan kemiripan nuansanya dengan Neon Genesis Evangelion. Tapi, memasuki paruh kedua cerita, meski aku mengerti kenapa mereka jadi membuatnya demikian (mereka kehabisan ide?), kesan kuat yang seri ini sebelumnya punya jadi memudar.

Aku tak lagi terkesima olehnya, tapi aku tak sampai bisa membencinya juga. Hanya sebatas… senang bahwa seri ini akhirnya tamat?

Aku paham kehilangan tujuan hidup itu berat. Tapi, sebagai cowok, punya tujuan hidup di samping punya pasangan itu penting.

Malah, sebagai cowok yang mau nikah, aku dengan ini menyatakan bahwa pasanganku mungkin bahkan enggak akan ngelirik aku andai aku enggak punya tujuan hidup. Bukannya tersanjung, dia bahkan mungkin bakal muntah kalau aku bilang tujuan hidupku adalah untuk nikah sama dia.

Makanya, melihat arti hidup Hiro adalah bersanding dengan Zero Two, oke, mungkin itu agak romantis.

Tapi, itu aneh.

Apalagi dalam konteks realistis yang seri ini angkat.

Hiro memang berjuang melawan VIRM demi masa depan umat manusia. Tapi, dalam ceritanya, dia seperti melakukannya lebih agar bisa bersama Zero Two ketimbang alasan lain. (Zero Two seperti punya alasan lebih kuat untuk bisa bersama Hiro, tapi sudahlah.)

Bahkan penayangan SSSS. Gridman di musim ini kini memberikan nuansa Evangelion yang lebih kental dibandingkan Darifura dulu. Sangat disayangkan, karena Darifura menurutku hanya lemah di soal naskah pada bagian-bagian akhir.

Sayang, karakter Hiro tak berkembang lebih jauh.

Aku kecewa dengan bagaimana Hiro tak menamai Zero Two lagi.

Di samping itu, bagaimana Tomatsu Haruka menyuarakan Zero Two juga terasa… tak lazim?

Eniwei, kalau kalian penyuka segala isu soal relationship, mungkin kalian bakal suka Darifura. Kalau tidak, ini bakal jadi seri yang berat untuk dimasuki.

Kayak biasa, apa aku menyesal telah mengikutinya?

Ahahaha.

Kayak biasa, jawabannya enggak.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A;  Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: B

Code Geass: Akito the Exiled (OVA 4-5)

Belum lama ini, aku kesampaian mengikuti dua episode terakhir Code Geass: Boukoku no Akito.

Singkat kata, dua episode ini menguatkan kesan kalau seri gaiden Code Geass: Akito the Exiled kurang memberikan apa yang biasanya disajikan dari sebuah seri Code Geass. (Yang aku pakai buat perbandingan bukan cuma seri asli Lelouch of the Rebellion ya, tapi juga beragam seri  lepasan Code Geass lain.) Menurutku enggak jelek. Enggak mengecewakan juga. Cuma… mengejutkan dan di luar dugaan?

Aku dengar sejumlah fans agak kehilangan minat terhadap Akito the Exiled begitu cerita memasuki dua episode ini. Sesudah melihat sendiri, aku langsung mengerti. Ada banyak porsi cerita yang jadinya terkesan ‘ditumpahin’ ke dua episode ini. Penceritaannya bisa lebih baik. Di samping itu, ada banyak… ‘elemen misterius baru’ yang jadi diperkenalkan? Tapi, kalau ditanya apa aku suka tamatnya apa enggak, maka jawabannya aku lumayan suka.

Demokrasi Orang-orang Bodoh

Episode 4, From the Memories of Hatred (‘dari dalam kenangan kebencian’) dan episode 5, To Beloved Ones (‘bagi orang-orang terkasih’) sebaiknya diikuti tanpa jeda. Dua episode ini secara berkelanjutan memaparkan penyerangan terhadap Kastel Weisswolf, markas kesatuan W-0 sekaligus tempat tinggal Leila Malcal dan rekan-rekannya, dan sekaligus menjadi klimaks cerita.

Rinciannya agak membingungkan. Tapi, singkatnya, atasan Leila di kemiliteran Euro Union, Jendral Gene Smilas (yang diselamatkan Leila dan Hyuga Akito di episode 1), mengkhianati Leila dengan ambisinya untuk menjadi kaisar. Smilas membeberkan lokasi markas Leila ke pihak Euro Britannia, dan menjadikan kabar kematian Leila sebagai wacana untuk memanipulasi opini publik. (Terutama, sesudah kekacauan terorisme palsu yang Julius Kingsley timbulkan di episode 3.)

Pertempuran sengit di pedalaman Eropa untuk mempertahankan Weisswolf pun terjadi. Kastel telah dikepung, dan tak ada bala bantuan yang bisa diharapkan akan datang.

Di balik itu semua, tanpa sepengetahuan siapapun, Shin Hyuga Shaing, kakak lelaki Akito yang kini memimpin pasukan Euro Britannia, ternyata punya alasan pribadi untuk merebut kastel ini. Dia bermaksud mengambil alih teknologi peluncuran roket Weissworlf, yang kesatuan W-0 sebelumnya gunakan untuk transpor cepat, dan menggunakannya untuk meluncurkan senjata pemusnah massal ke Pendragon, ibukota Britannia. Serangan ini diyakininya akan memicu perang dunia baru antara tiga negara adikuasa, dan mewujudkan cita-citanya untuk mendatangkan kekacauaan atas dunia.

Pergi Berlibur

Buat ukuran anime mecha, Akito the Exiled enggak biasa karena klimaksnya adalah pertempuran untuk bertahan. Kastel Weisswolf menjadi latar menarik bukan cuma karena tempatnya keren, tapi juga karena ikatan emosional yang tempat itu punyai dengan para karakternya, terutama saat tempat itu terancam menjadi medan perang. Bagaimana sistem pertahanan dan permesinan canggih mendadak muncul dari dalamnya lumayan kontras dengan arsitekturnya yang megah dan klasik. Hasilnya seriusan unik.

Juga, konsisten dengan episode-episode terdahulu, presentasi teknisnya masih keren. Animasi mekanik di dalamnya termasuk salah satu yang paling mulus yang pernah aku lihat. Sudut pandang kamera dinamis yang secara intens mengejar para karakter, diikuti musik latar yang heboh, masih menjadi ciri khas. Bagaimana masing-masing Knightmare Frame melewati pepohonan dan dinding, menghadapi berbagai jenis persenjataan berat ataupun arsenal pertahanan, betulan menarik secara visual. Kalau kau penggemar mecha, mungkin ini saja bisa bikin kamu lumayan puas.

Masalahnya, ada banyak individu yang jadi dilibatkan dalam cerita. Mengikuti semua yang persisnya terjadi mungkin agak susah. Banyak tokoh yang sebelumnya minor yang kemudian mendapat sorotan. Jean Rowe, ksatria wanita di pihak Euro Britannia yang memendam perasaan terhadap Shin, berperan signifikan seiring dengan kelakuan Shin yang semakin menggila. Claus Warwick, wakil Leila yang sejak awal memang mencurigakan, akhirnya juga memperlihatkan kesetiaannya yang sesungguhnya. Bahkan Anna Clément, sahabat jenius Leila yang telah mengembangkan KF Alexander Type-02, serta Oscar Hamel, yang berwenang atas penjagaan Weisswolf, juga kebagian sorotan.

Setelah kupikir, banyak benang plot yang sebenarnya terselesaikan dalam cerita. Tapi, mungkin kalian takkan langsung menyadarinya karena saking banyaknya yang terjadi. Salah satunya, soal teknologi BRS yang tertanam dalam unit-unit Alexander, yang Sophie Randall aslinya kembangkan bersama Joe Wise untuk memulihkan kondisi suaminya. Apa persisnya yang terjadi juga akhirnya diungkap.

Puncak cerita, tentu saja, ada pada konfrontasi antara Akito dan Shin. Duel antara Alexander milik Akito melawan Vercingetorix yang Shin kemudikan akhirnya terjadi di sekitaran Weisswolf. Tapi, seiring dengan terkuaknya masa lalu sebenarnya antara mereka berdua, itupun tak berjalan sepenuhnya sesuai perkiraan.

Adegan aksinya memukau (walau, oke, mungkin masih belum ngalahin intensnya duel terakhir Kallen dan Suzaku di R2). Tapi, dramanya juga dapet. Dan, begitu kau paham apa yang terjadi, aspek dramanya itulah yang sebenarnya lebih muasin ketimbang aksinya.

Itu hal yang lumayan enggak biasa.

Mungkin Kaulah yang Kelak Membantah Pandanganku

Akito the Exiled juga memunculkan banyak tanda tanya terkait semesta Code Geass sehubungan hal-hal baru yang jadi diperkenalkannya. Berbagai pertanyaan baru ini berakhir tak sepenuhnya terjelaskan, dan aku duga bakal jadi bahasan dalam film layar lebar Code Geass: Lelouch of the Resurrection yang akan tayang 2019 nanti. (Cerita Akito the Exiled juga sempat disinggung berada dalam semesta film layar lebar Code Geass, dan bukan seri TV-nya, dan makanya, mungkin ada beberapa detil yang jadinya enggak masuk.)

Kekuatan Geass yang Shin punyai, misalnya. Meski mirip dengan yang dipunyai Lelouch, sifat dan cara kerjanya sebenarnya sangat berbeda. Ada indikasi kalau bahkan Shin sendiri(!) kurang mengerti cara kerjanya. Geass yang Shin punyai diindikasikan bekerja hanya untuk orang-orang yang Shin sayangi—yang kemudian Shin gunakan untuk “membebaskan” orang-orang tersebut dari dunia yang Shin pandang hanya membawa derita. (Jadi, semua orang yang Shin bunuh itu sebenarnya adalah orang-orang yang dia sayang, indikasi terhadap sudah gilanya dia) Kekuatan itu juga Shin peroleh bukan melalui kontrak dengan sosok seperti C.C. dan V.V., melainkan melalui suatu entitas macam roh yang baru sama sekali, yang tahu-tahu muncul di hadapannya begitu sesudah Shin pertama membantai keluarganya.

Sedangkan kekuatan Geass punya Leila… itu juga dijelaskan kalau itu hanya pecahan kekuatan Geass, dan makanya punya warna berbeda. Mirip kasus di atas, Leila mendapat “benih” Geass itu sebagai pemberian, bukan sebagai bagian kontrak. Leila bebas mau menggunakannya atau tidak, tapi disebutkan kalau “benih” itu akan hilang sendiri bila sampai dewasa Leila tak menggunakannya. Saat Leila akhirnya menggunakannya, apa yang termanifestasi (kayaknya) cuma sebagian. Tapi, tetap berperan penting dalam mengakhiri pertempuran. (Buat yang bingung, Geass punya Leila adalah kekuatan untuk menghubungkan ‘hati’ orang.)

Kenapa Geass dari Shin tidak bekerja pada Akito? Itu diindikasikan karena sewaktu menerimanya sewaktu kecil, Akito masih belum sepenuhnya paham tentang konsep kehidupan dan kematian. Jadi, Geass dari Shin itu agaknya sempat bekerja, tapi tidak dengan cara yang Shin harap. (Makanya Akito bilang kalau dirinya sudah pernah mati.) Lalu, sepanjang hidupnya, Akito mungkin menekan efek Geass itu dengan cara yang serupa seperti yang dilakukan Euphemia di seri TV-nya.

Teka-teki terbesar adalah kehadiran tokoh baru Caretaker of Spacetime yang pertama tampil di episode ketiga. Seakan berkuasa melewati ruang dan waktu, sosok ini (kayaknya) adalah manifestasi dari kesadaran kolektif umat manusia yang hanya bisa dilihat orang-orang tertentu. (Sejauh ini, baru Smilas dan Leila.) Aku menduga kalau interaksi dengan sosok ini adalah awal mula bagaimana manusia bisa bersinggungan dengan kekuatan Geass. Tapi, kayak yang aku bilang, mungkin lebih jauh soal dia bakal dibahas dalam film layar lebar Lelouch yang keempat nanti.

Akhir kata, meski berakhir jauh dari pengharapan, aku enggak bisa benci Akito the Exiled. Selain karena standar yang dibidiknya tinggi, hasil akhirnya memang memuaskan… sekalipun mungkin agak susah dicerna.

Jadi, seri ini kurasa tentang cinta di tengah medan pertempuran? Soal, betapa pentingnya berpegang teguh pada harapan meski seisi dunia terlihat suram? Sebagai orang yang normalnya negatif, aneh rasanya bisa sedemikian bersimpati terhadap Shin meski aku jelas sadar kalau dia sudah enggak waras.

Di samping itu, kalau boleh jujur, hal paling mengejutkan dari Akito the Exiled adalah betapa ceritanya berakhir bahagia. Tamatnya beneran happy ending. Itu enggak begitu kerasa kayak Code Geass.

Sebagai tambahan, aku lupa menyinggung kalau Akito the Exiled juga dibarengi perilisan seri lepasan baru Code Geass: Oz the Reflection. Berlatar dalam kurun waktu hampir sama (sesudah season pertama Lelouch), aku dengar Oz punya “nuansa Code Geass” lebih kuat dibandingkan Akito. Ceritanya tentang pasangan saudara kembar Orpheus Zevon (cowok) dan Oldrin Zevon (cewek) yang terpisah dari kecil, dan kini berada di pihak berseberangan dalam konflik antara Britannia dan berbagai organisasi teroris.

Mirip Gundam SEED Astray, Oz dirilis dalam bentuk manga sekaligus photonovel, yang masing-masing media berfokus pada sudut pandang berbeda. Sebagian besar cerita berlatar di seputaran Mediterania, dan berlanjut ke seri sekuel Code Geass: Oz the Reflection O2 yang di dalamnya, Orpheus dan Oldrin saling bertukar posisi, sebelum berakhir agak tragis pada waktu berbarengan dengan klimaks di seri TV R2.

Mungkin Oz juga nanti akan direferensikan dalam film layar lebar baru nanti.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: X; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

Gundam Build Divers

Gundam Build Divers, yang tamat belum lama ini, lumayan mengingatkan aku sama Gundam X. Pola ceritanya mirip. Kesan awalnya datar. Masuk pertengahan, kesannya naik. Lalu menjelang akhir, ceritanya dipenuhi aksi lumayan seru. Selain itu, sama kayak Gundam X, meski jumlah penggemarnya enggak banyak, basis penggemarnya sama-sama benar-benar kuat.

Gundam Build Divers tayang semenjak musim semi tahun 2018 dan berjumlah total 25 episode. Meski premisnya mirip, ceritanya tak berkaitan sama sekali dengan Gundam Build Fighters maupun Gundam Build Fighters Try. Statusnya hanya sebatas spiritual successor. Sutradaranya adalah Watada Shinya (yang sebelumnya menangani GBF Try). Naskahnya ditangani pendatang baru Kimura Noboru. Musiknya ditangani Kimura Hideakira. Penyutradaraannya juga dibantu oleh sutradara mecha veteran Obari Masami, yang dihormati karena gaya koreografi super robot (dan fanservice) beliau. Produksinya, kayak biasa, dilakukan oleh Sunrise.

Sebelumnya perlu aku bilang, cerita Gundam Build Divers sebenarnya kurang begitu bagus. Kebanyakan fans Gundam normal mungkin takkan tertarik (atau bahkan tahan) menontonnya. (Sempat ada ulasan soal bagaimana rating TV seri ini kurang bagus.) Tapi, bagi orang-orang tertentu, ada sejumlah hal di GBD yang bisa membuatnya sangat gampang disukai.

Sebuah Dunia Baru

Gundam Build Divers adalah seputar suatu permainan virtual berskala besar bernama Gunpla Battle Nexus (GBN). Para pemainnya menggunakan suatu perangkat canggih untuk memasuki suatu dunia virtual yang mereplika sensasi kelima panca indera (ala Sword Art Online). Mirip GBF, dengan men-scan Gunpla yang mereka buat dan mengkaitkannya ke data ID yang mereka pakai, para pemain juga bisa memiloti Gunpla yang mereka buat di dalamnya. (Berbeda dengan kasus GBF dan GBF Try yang sebatas punya “arena” adu Gunpla, ada semesta luas yang benar-benar bisa dijelajahi dalam GBN.)

Karakter utamanya adalah siswa SMP bernama Mikami Riku. Bersama sahabat dekatnya, Hidaka Yukio, Riku kemudian memasuki GBN sesudah terinspirasi juara dunia Kujo Kyoya yang belum lama itu menang. Sesudah mendaftar dan masuk, Riku dan Yukki berkenalan dengan berbagai kawan dan rival baru, berjuang membangun Force mereka sendiri, lalu mengikuti berbagai event dalam upaya mengejar jejak Kyoya menjadi juara.

Atau, setidaknya, seperti itu awalnya.

Paruh pertama Gundam Build Divers mengetengahkan bagaimana Riku dan kawan-kawannya di tim Build Divers kemudian berhadapan dengan kasus pemakaian perangkat lunak ilegal Break Decal oleh kalangan Mass Diver yang misterius. Buff Decal itu ibarat “narkoba” virtual yang dapat meningkatkan kemampuan Gunpla pemakainya. Pemakaian Break Decal mengacaukan kestabilan sistem GBN dan berpotensi menghancurkannya. Riku dkk berperan dalam upaya menelusuri jejaknya sekaligus menghentikan dampaknya.

Peruh kedua bercerita tentang terungkapnya kenyataan kalau Sarah, gadis manis yang Riku dkk kenali dalam GBN (yang anehnya, tak pernah punya Gunpla sendiri tapi seakan selalu tahu tentang kondisi Gunpla orang lain), ternyata adalah makhluk hidup elektronik yang “terlahir” di dalam GBN. Seperti halnya Break Decal, kehadiran Sarah mengacaukan kestabilan sistem. Pandangan seluruh warga GBN kemudian terbagi soal bagaimana cara menyikapinya, apalagi saat ancaman hancurnya GBN lagi-lagi terjadi.

Jangan Berpikir Terlalu Keras Tentangnya

Bicara teknis, presentasi Gundam Build Divers terbilang bagus. Kira-kira sebanding dengan GBF dan GBF Try. Bahkan, mungkin melebihi dalam beberapa bagian? Enggak sampai sangat bagus, tapi rapi dan konsisten. Desain dan konsep karakternya mungkin kurang menarik bagi sebagian. Tapi, ini dipadu desain dan konsep mekanikal berkesan yang juga membuat adegan-adegan aksinya menarik.

Musik latarnya juga jadi kejutan. Aku suka musik latar di Gundam Build Divers. Terdengar variatif dan enak didengar gitu. Ini sayangnya agak kontras dengan lagu-lagu pembuka dan penutupnya, yang menurutku lumayan standar. (Yang lagi-lagi, jadi hal yang kontras dengan kasus GBF dan GBF Try.)  Selebihnya, audionya diperkuat dengan kualitas seiyuu yang solid. Akting mereka semua kuat, terlepas dari ceritanya yang…

…Hmmm.

Intinya, aku punya banyak keluhan tentang jalan cerita Gundam Build Divers.

Cerita Gundam Build Divers sama sekali enggak sebagus cerita GBF dan GBF Try. Ada terlalu banyak yang enggak masuk akal. Ada banyak plot hole. Ada banyak hal enggak nyaman yang jadi tersirat/diimplikasikan. Para karakter enggak berkembang. Pemaparan terlalu serius. Dramanya terlalu dipaksakan. Tidak ada elemen komedi romantis yang sebelumnya membuat GBF dan GBF Try begitu disukai. Elemen-elemen Gundam-nya juga maksa dan bahkan hampir enggak kerasa dalam cerita. Pokoknya, enggak bagus. Terus terang, aku sangat kecewa terhadap cerita seri ini.

Tapi, di sisi lain, ada banyak hal menarik juga yang Gundam Build Divers punya. Kalau kau mau mengesampingkan kelemahan-kelemahan di segi cerita—apalagi, kalau kamu pada dasarnya penggemar mecha—ini masih bisa jadi seri yang asyik dan menghibur.

Asyiknya di mana?

Yah, pertama… aspek mechanya kuat. Kalau soal animasi aksi mechanya, Gundam Build Divers menurutku melebihi GBF Try. Koreografinya sedemikian rupa sehingga tetap terlihat berkesan meski dalam adegan-adegan tarung paling singkatpun. Ini diperkaya dengan desain mecha variatif, yang mengkombinasikan elemen-elemen real robot dan super robot.

Kedua, pada saat lagi enggak terlalu serius, ceritanya memang bisa seru. Ini terutama terasa sesudah gadis kucing Momo—yang dalam dunia nyata adalah Yashiro Momoka, teman sekolah Riku dan Yukki yang sebelumnya bersikeras merekrut keduanya dalam tim sepakbola—ikut masuk ke dalam cerita.

Ketiga, selalu hadirnya cameo Patrick Colasour dalam setiap episode. Patrick adalah karakter dari Gundam 00 yang menjadi semacam butt monkey yang tak mati-mati di seri tersebut. Menemukan kapan Patrick bakal muncul menjadi semacam hiburan tersendiri bagi fans di tiap episode.

Keempat, yang mungkin agak kontroversial, adalah kehadiran gadis ninja Ayame. Ayame awalnya bergabung dalam Build Divers sebagai anggota tim sementara. Tapi, sebenarnya dia salah satu Mass Diver yang mengacaukan keseimbangan GBN di awal cerita. Desain karakter Ayame—yang di kehidupan nyata adalah siswi SMA Fujisawa Aya yang cantik—telah membuat banyak fans jatuh cinta.

Apa katamu? Kamu tanya apa empat hal ini aja bisa bikin Gundam Build Divers punya fans segitu kuatnya?

Jawabannya adalah YA.

Ayame Squad

Membahas soal mecha… kebanyakan Gunpla diperoleh para karakter utama dari toko Gunpla Gundam Base di Odaiba (suatu toko yang benar-benar ada di kehidupan nyata), di mana pegawainya, Nanase Nami, telah kenal akrab dengan Riku dan Yukki.

Riku mengawali cerita dengan Gundam 00 Diver yang dikustomisasi dari mecha utama di paruh kedua seri Gundam 00. Aku suka bentuknya yang rapi. Dengan bantuan Nanase Koichi—kakak lelaki Nanami yang kemudian bergabung dalam tim Build Divers dengan nama KO-1—Gunpla ini kemudian Riku kembangkan lagi menjadi Gundam 00 Diver Ace yang lebih lincah dan memiliki energi lebih efisien.

Pada paruh kedua cerita, Riku mengganti Gunpla utamanya dengan Gundam 00 Sky, yang mengkombinasikan elemen-elemen 00 Gundam dengan Destiny Gundam dari Gundam SEED Destiny.  Gunpla ini mencolok karena punya serangan khusus yang mana pedang anti-ship raksasanya dibungkus cahaya dari wings of light di punggungnya, dan dipadu dengan twin drive system, menghasilkan serangan dahsyat.

Yukki menggunakan GM III Beam Master yang dikembangkan dari MS produksi massal GM III dari seri Gundam ZZ dan film layar lebar Char’s Counterattack. Seperti yang namanya indikasikan, seri ini mengandalkan persenjataan beam dan didesain untuk memberi support dari jauh, di samping dilengkapi beragam misil. Kekhasannya adalah Changeling Rifle yang mampu berfungsi sebagai Beam Rifle sekaligus Beam Vulcan. Senapan ini bahkan bisa disambung dengan Buster Binder di pinggang untuk menghasilkan serangan Fusion Beam.

Menjelang akhir cerita, barulah Yukki mengembangkan Gunpla baru Jegan Blast Master yang dikembangkan dari MS produksi massal Jegan dari semesta Universal Century. Gunpla ini mengkombinasikan persenjataan beam dari beragam seri, yang meliputi dari High Mega Cannon milik ZZ Gundam dari Gundam ZZ, Calidus Multi-phase Beam Cannon milik Strike Freedom dari Gundam SEED Destiny, Twin Satellite Cannon dari Gundam X, GN Cannon dari Gundam 00, serta SigMaxiss Cannon milik Gundam AGE-3 dari Gundam AGE. Sebagai akibatnya, konsumsi energinya harus lebih hati-hati.

Momo menggunakan Momokapool yang dikembangkan dari MS bawah air Kapool yang muncul di Turn A Gundam. Desainnya bermotif penguin dan dibidik untuk menghasilkan keimutan maksimal. Dengan tambahan masukan dari Koichi, Gunpla ini menghilangkan beberapa fitur dasar Kapool (cakar dan peluncur misil) yang dianggap tidak imut. Tapi, dengan kelincahan dan pertahanannya yang sangat meningkat, ditambah kekuatan tamparannya, hasilnya tetap lebih kuat dari yang diduga. Apalagi dengan persenjataan beam yang ditambahkan di tangan dan perut. Di dalamnya, ada Gunpla mini Petitkapool yang dapat berfungsi sebagai escape pod. Dalam wujud bolanya, Momo juga merancang suatu serangan gabungan yang dilancarkannya bersama Riku.

Koichi sendiri, selaku anggota dengan pengalaman Gunpla paling banyak, menggunakan Galbaldy Rebake, hasil percobaan berulangnya, yang mengubah Galbaldy β yang lincah dari Zeta Gundam menjadi mecha kokoh dengan keluaran tinggi. Desain dan persenjataannya dipengaruhi desain Gundam Gusion Rebake dari Iron Blooded Orphans dan hasilnya menurutku beneran keren. Mengandalkan persenjataan fisik, ini Gunpla serba bisa yang kokoh buat segala medan.

Perwakilan dari dunia SD Gundam di Build Divers hadir dalam wujud RX-Zeromaru, wujud super-deformed bertema ninja dari Unicorn Gundam yang dibuat Ayame. Ini salah satu mecha paling berkesan di seri ini karena banyak fiturnya yang misterius, termasuk wujud Kakure untuk keperluan stealth. Peralatan yang digunakannya pun banyak bertema ninja. Fitur yang paling mencolok adalah bagaimana ia bergabung dengan robot burung Armed Armor Hattori untuk kemudian menjadi real mode.

Beberapa mecha lain yang mencolok di antaranya adalah:

  • Gundam AGEII Magnum andalan Kujo Kyoya dari Team Avalon, yang mengkombinasikan fitur transformasi pesawat yang Gundam AGE-2 punya dengan berbagai C-bit yang dimiliki Gundam AGE FX. Punya serangan khusus berupa pedang sinar raksasa yang dibentuk dari C-bit.
  • Grimoire Red Beret yang digunakan Rommel dari 7th Panzer Division. Ini salah satu desain favoritku, karena mengubah MS minor dari Reconguista in G menjadi MS militer keren sekaligus referensi terhadap Armored Trooper Votoms. Apalagi dengan bagaimana Rommel yang menjadi saingan Kyoya berwujud binatang ermine yang lucu. (Namanya pun diambil dari jendral terkenal di masa PD II.)
  • Gundam Love Phantom yang bersenjatakan sabit besar dari Gundam Deathscythe dari Gundam Wing, tapi sebenarnya didasarkan pada desain Strike Freedom dari Gundam SEED Destiny. Gunpla aneh tapi kuat ini milik Magee dari Adam’s Apple, yang sejak awal telah menjadi sekutu sekaligus mentor bagi tim Riku.
  • Gundam GP-Rase-Two (dibaca GP-rasetsu) milik Ogre, saingan abadi Riku dari tim Hyakki, menggantikan Ogre GN-X yang sebelumnya ia gunakan. Gunpla ini mengombinasikan badan Gundam Physalis dari Gundam 0083 dengan GN Drive dari Gundam 00, menghasilkan Gunpla kokoh dengan keluaran tenaga besar.
  • Seravee Gundam Scheherazade milik Sharyar dari Simurgh, salah satu perancang Gunpla paling veteran. Sosoknya paling mewakili aspek builder dari GBN. Gunpla dengan keluaran energi besar ini menggabungkan bentuk Seravee Gundam dengan bentuk modular dari kapal induk Ptlomaios, yang sama-sama berasal dari Gundam 00. Bentuknya agak ajaib, tapi masuk akal.
  • Gundam Jiyan Altron milik Tigerwolf dari Toraburyu, sosok yang sangat mewakili aspek fighter dari GBN. Ini Gunpla ganas bermotif melee tangan kosong selayaknya mecha-mecha petarung G Gundam, meski desainnya sendiri didasari Altron Gundam dari Gundam Wing. Memiliki bentuk pelindung bahu menonjol. Punya banyak serangan khusus. Apakah motifnya macan? Apakah motifnya serigala? Haruskah diperdebatkan?
  • Gundam Astray No-Name milik Shiba Tsukasa, kawan lama Koichi sekaligus antagonis utama di paruh pertama cerita. Ini salah satu desain Gunpla yang paling ditonjolkan karena memang konsepnya keren. Dikembangkan dari unit-unit Gundam Astray dari seri Gundam SEED Astray, apa yang terlihat sebagai jubah di sisinya adalah armamen komposit No-Name yang bisa berperan sekaligus sebagai perisai, meriam, dan bahkan unit-unit Blade DRAGOON. Gunpla ini juga memiliki nitro system dari Gundam Delta Kai dari UC-MSV, yang semakin meningkatkan kemampuannya.

…Mungkin kalian bisa lihat sendiri kalau konsep mecha seri ini sebenarnya sangat keren. Tapi, bahkan dengan koreografi bagus pun, kesannya tak maksimal karena kurang diimbangi cerita berbobot.

Ini sangat disayangkan karena ada banyak aksi yang berlangsung di latar unik, seperti di lautan es, pulau tropis, padang bunga, dsb. Bahkan perang besar terakhir seri ini berlangsung di kastil Team Avalon di mana ada pulau-pulau melayang. Apalagi dengan banyaknya cameo MS dari seri-seri Gundam lama.

Selamat Datang di Dunia Kami

Aku tertarik pada Gundam Build Divers karena memang menggemari GBF dan GBF Try. Tapi, yang benar-benar membuatku terpikat di awal adalah episode prolog yang menampilkan final antara Team Avalon dan 7th Panzer Division. Episode itu keren. Potensi yang ditampilkannya banyak. Makanya, aku (dan lumayan banyak fans lain) kecewa saat kelemahan dalam ceritanya benar-benar tampak.

Yang terutama tak aku suka adalah bagaimana pemaparan teknologi di Gundam Build Divers bukan hanya tak masuk akal, tapi juga cenderung menyesatkan. Sikap karakter Game Master sebagai administrator GBN bakal mengherankan siapapun yang pernah berurusan dengan MMORPG. Pemaparannya sangat mengganggu. Merusak suspension of disebelief. Pokoknya, bisa seketika bikin turn off orang.

Di sisi lain, aku suka pemaparannya terhadap dunia perakitan Gunpla. Seri ini menampilkannya sebagai dunia ramah yang bahkan bisa dimasuki amatiran yang belum tahu apa-apa tentang Gundam seperti Momo. Aku memang kecewa karena aspek Gundam-nya kurang menonjol. Tapi, mungkin itu upaya membuat dunia Gunpla lebih menarik bagi pemirsa mainstream. (Aku tak yakin upaya ini berhasil sih, tapi sudahlah.)

Akhir kata, seri ini tak punya nuansa persahabatan yang GBF usung. Seri ini juga tak punya nuansa pantang menyerah dan berbesar hati yang GBF Try punya. Bagi kebanyakan orang, seri ini susah disukai. Tapi, seri ini masih bisa kurekomendasikan kalau kalian benar-benar suka melihat penggambaran animasi mecha dan takkan mempermasalahkan ceritanya.

Sekali lagi, it’s not that bad.

Kalau dibandingkan Gundam AGE yang juga punya reputasi kurang bagus? Hmm. Entah ya. Hal-hal bagus yang Gundam Build Divers punya itu sangat unik sih. Tapi karena kesan datar dan tak masuk akalnya, mungkin sebagian orang akan memposisikannya di bawah Gundam AGE (yang ‘sekedar’ dipadatkan dan mengecewakan).

Aiiih, padahal aku sudah berkhayal orang-orang akhirnya akan bisa merekonstruksi gentingnya pertempuran terakhir di Gate of Zedan lagi!

Yah, mungkin lain kali.

Penilaian

Konsep: D+; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: C+

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Edmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi, Tekkadan juga tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan untuk berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menghalangi dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu tersebut juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season pertama. Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Bokurano

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

Mobile Suit Gundam Twilight Axis

Pagi hari dua hari lalu, aku mendengar kabar bahwa setelah tuntasnya proyek animasi Gundam Thunderbolt, seri animasi berikutnya yang berlatar di semesta Universal Century sudah dikonfirmasi adalah Kidou Senshi Gundam Twilight Axis.

Twilight Axis (kira-kira berarti ‘senja/akhir Axis’) merupakan seri photonovel yang dicetus Ark Performance (tim yang membuat seri kapal selam futuristik Aoki Hagane no Arpeggio). Mereka dibantu Nakamura Kojiro. Diterbitkannya melalui penerbit Yatate Bunko yang dimiliki khusus oleh studio Sunrise.

Kabar ini mengejutkan karena Twilight Axis merupakan seri yang terbilang masih sangat baru. Walau begitu, kalau mempertimbangkan bagaimana Twilight Axis berlatar tak sampai setahun di kesudahan Insiden Laplace yang dikisahkan di Gundam Unicorn, ditambah lagi mulai membangun latar ke era Gundam F91, keputusan ini masuk akal.

Penasaran, aku langsung mencari informasi lebih banyak.

Untungnya, para spesialis Gundam di situs Zeonic Republic sudah menerjemahkan beberapa babnya ke Bahasa Inggris. Aku langsung meluangkan waktu luang di kantor untuk membaca.

Mengejar Bayangan Merah

Twilight Axis mengetengahkan dua karakter Danton Hyleg dan Arlette Hyleg.

Danton dan Arlette adalah pasangan ayah dan putrinya yang sekilas pandang, kalau menilai dari kehidupan mereka yang bersahaja di Libot Colony—yang terletak di Riah atau koloni luar angkasa Side 5 (sebelumnya, Side 6)—merupakan keluarga kecil biasa. Mereka membuka usaha binatu dan menjalankan hidup dengan damai. Keseharian Danton paling hanya bermain ke kafe yang dibuka tetangganya. Meski demikian, sebenarnya, keduanya sama sekali tak berhubungan darah. Ditambah lagi, Arlette yang tampak masih remaja sebenarnya jauh lebih tua dari usianya.

Keduanya sebenarnya adalah mantan pilot uji Danton Highleg dan teknisi Arlette Almage, dua orang simpatisan pihak Zeon yang telah bekerja sama sejak akhir Perang Satu Tahun. Mereka berada di bawah pengawasan langsung dari komandan mereka, sosok Char Aznable yang legendaris, yang menghilang secara misterius di penghujung Perang Neo Zeon Kedua. Ditambah lagi, Arlette sebenarnya adalah salah seorang Cyber Newtype yang pernah dihasilkan Institut Flanagan. Entah bagaimana, salah satu efek samping dari percobaan-percobaan yang dilakukan terhadapnya adalah tubuh yang menua dengan sangat lambat. Sebagai akibat dari ini, Danton dan Arlette telah berulangkali berpindah domisili sejak Perang Neo Zeon Kedua berakhir karena tak ingin masyarakat sampai mengetahui asal usul mereka.

Kehidupan damai mereka terusik saat pada suatu hari, datang seorang pria necis tapi ramah bernama Mehmet Merca ke toko mereka. Mehmet datang sebagai wakil suatu lembaga yang disebut Departemen Enam dari Kementrian, yang pada dasarnya merupakan badan intelijen Federasi Bumi. Mereka telah mengetahui identitas Danton dan Arlette yang sesungguhnya dan bahkan telah melacak mereka sampai ke Riah. Mehmet rupanya adalah komandan pasukan khusus Mastema yang khusus mendatangi Libot demi meminta bantuan pada Danton dan Arlette.

Singkat cerita, keterlibatan masa lalu Danton dan Arlette dalam pengembangan teknologi Neo Zeon membuat Mehmet ingin merekrut mereka sebagai pemandu untuk menjelajahi apa yang tersisa dari Axis, asteroid raksasa bekas markas faksi Neo Zeon. Tempat lebih spesifik yang ingin dicapai adalah Institut Penelitian Memorial Maharaja Khan, yang merupakan laboratorium peneltian terakhir pula dari Institut Flanagan di mana Danton dan Arlette sama-sama pernah bernaung.

Dalam Perang Neo Zeon Kedua (yang dikisahkan dalam Char’s Counterattack), Axis sempat hendak diluncurkan Neo Zeon ke arah Bumi untuk menimbulkan bencana musim dingin global, yang selanjutnya akan memicu migrasi manusia ke luar angkasa, dan akhirnya melahirkan lebih banyak manusia Newtype yang diyakini dapat menghapuskan peperangan. Berkat upaya kesatuan gerak cepat Londo Bell, bencana tersebut berhasil dicegah dengan dibelahnya Axis, meski salah satu potongannya tetap akan menabrak Bumi kalau bukan karena pengorbanan berbagai pihak yang terlibat.

Sasaran lebih tepat yang ingin Federasi peroleh adalah sampel dari psycho frame, teknologi MS mutakhir yang sempat dibocorkan Char ke kedua belah pihak di Perang Neo Zeon Kedua melalui perusahaan pemroduksi MS Anaheim Electronics. Teknologi ini yang konon menghasilkan keajaiban terselamatkannya Bumi di akhir perang tersebut.

Potensi sesungguhnya teknologi psycho frame akhirnya diketahui Federasi di kesudahan Insiden Laplace. Meyakini keberadaan sisa-sisa rahasia produksinya di Axis, Federasi Bumi menginginkan sampelnya sebelum teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Danton dan Arlette akhirnya menerima tawaran Mehmet. Di samping imbalan berupa uang yang banyak serta dihapuskannya catatan pelanggaran hukum mereka, Danton dan Arlette juga berharap kunjungan kembali mereka ke Axis dapat memberi petunjuk tentang apa sebenarnya yang telah menimpa Sazabi, MS berteknologi psycho frame yang digunakan Char pada saat ia menghilang.

Dikawal Mehmet dan pasukan Mastema, Danton dan Arlette kembali ke Axis setelah bertahun-tahun.

Namun di luar dugaan, ternyata bukan hanya mereka yang di sana. Mereka juga bersimpangan jalan dengan suatu pasukan bersenjata misterius yang bahkan dikawal sejumlah MS Federasi. Salah satu MS tersebut adalah Gundam AN-01 ‘Tristan’, MS tipe-Gundam baru yang tak dikenali Mehmet.

Kalah jumlah dan kalah senjata, Danton, Arlette, dan Mehmet meyakini bahwa pihak misterius tersebut punya tujuan yang sama dengan mereka. Mengandalkan pengetahuan yang mereka punya tentang Axis, mereka berusaha menemukan cara untuk bertahan hidup.

Recollection

Bahkan dari awal, terlihat betapa Twilight Axis merupakan cerita Gundam yang tidak biasa. Di samping mengambil latar utama di Axis, MS tipe Gundam digunakan bukan oleh para tokoh utama, melainkan oleh pihak antagonis yang memburu mereka.

Meski mewakili pihak Federasi, Denton dan kawan-kawannya sebaliknya jadi menggunakan berbagai tipe MS lama peninggalan Neo Zeon untuk melawan mereka. Pertama, dengan Zaku III Custom berwarna merah yang semula dibuat untuk digunakan oleh Char, dan pernah diuji oleh Danton sendiri. Tipe MS yang pernah digunakan Rakan Dahrakan dalam Gundam ZZ ini dirancang untuk produksi massal dalam Perang Neo Zeon Pertama. Sayangnya, rancangan yang punya ciri khas berupa beam gun di mulut ini kalah pamor oleh Doven Wolf dan jadinya diproduksi hanya dalam jumlah terbatas. MS ini sudah sangat fleksibel dan punya performa sangat baik bahkan dibandingkan tipe-tipe MS milik Federasi dan AEUG. Tapi Zaku III Custom yang dikustomisasi oleh Arlette ini konon memiki performa lebih baik lagi dibandingkan Zaku III lain, dan menjadi lawan yang sepadan bagi Gundam Tristan.

Danton juga sempat menggunakan salah satu R-Jarja, MS pengembangan dari Gyan dari era Neo Zeon, tipe yang sama dengan yang pernah digunakan mendiang Chara Soon. Senjata khasnya adalah beam rifle dengan heat bayonet, di samping beam saber dan flexible shield pada bahu.

Di sisi lawan mereka—yang kemudian terungkap merupakan kesatuan (bayaran?) Birnam Wood—Gundam Tristan, yang dikemudikan pilot Cyber Newtype Quentin Fermo, memiliki bentuk luar yang sangat mengingatkan pada Gundam Alex yang sempat diuji untuk Newtype dalam Gundam 0080: War in the Pocket. Namun lebih banyak tentang asal usulnya masih misteri. Hal yang mencolok lain tentangnya adalah ukurannya yang terbilang kecil untuk produksi MS sejenisnya, yang sebenarnya merupakan foreshadowing terhadap tren pengembangan MS berukuran kecil yang ditampilkan dalam Gundam F91. Di samping itu, Birnam Wood juga dikawal oleh sejumlah MS lain yang tipenya dikenal sebagai milik Federasi, yakni beberapa Jegan Custom serta satu MS kustomisasi Byarlant Isolde yang telah disesuaikan secara khusus untuk digunakan di luar angkasa.

Terlepas dari soal mekanis, terlihat bagaimana Twilight Axis membangun konflik yang menarik. Karakter-karakternya unik. Mulai dari bagaimana Arlette selalu bisa membujuk Danton dengan hubungan aneh yang mereka punyai. Atau bagaimana Mehmet orang sangat santun dan simpatik meski jabatannya menyeramkan. Ditambah lagi, dengan pihak misterius di belakang Birnam Wood.

Keputusan Sunrise untuk mengadaptasi seri ini mulai bisa dimaklumi saat kita memperhatikan betapa banyaknya referensi yang Twilight Axis miliki terhadap seri-seri lain. Bukan hanya seri-seri lama ‘di belakang’ melalui sejarah latar, (Seperti soal bagaimana Axis disinggung pernah dikuasai Haman Karn, putri Maharaja Karn, sebelum yang bersangkutan tewas dalam konflik di Gundam ZZ. Terdesak oleh kepungan pasukan Federasi serta keruntuhan faksi Neo Zeon dari dalam, Haman memilih bunuh diri sesudah duel penentuannya dengan Judau, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Axis sebelum Char akhirnya tampil.) tapi juga dengan seri-seri ‘ke depan’ di era kekuasaan Crossbone Vanguard.

Dikisahkan bahwa pihak yang membeking Birnam Wood sebenarnya adalah keluarga Ronah, yang kelak mendirikan faksi Crossbone Vanguard dan negeri Cosmo Babylonia, yang pada titik ini memiliki kedekatan dengan perdana menteri Federasi Bumi yang tengah menjabat. Birnam Wood digerakkan oleh Meitzer Ronah, yang kita ketahui belakangan akan menjadi kepala keluarga Ronah dalam Gundam F91. Diperkenalkan pula Engeist Ronah, saudara lelaki Meitzer yang menjaga hubungan dengan Federasi; serta Scharnhorst Ronah, ayah Meitzer dan Engeist, kepala keluarga yang mengadopsi kebangsawanan Eropa dan telah mendirikan perusahaan berkuasa Buch Concern hanya dalam satu generasi.

Kelihatannya, Twilight Axis akan melakukan beberapa retcon sejarah lagi. Kasusnya mungkin serupa dengan yang Gundam: The Origin lakukan terhadap seri TV-nya yang asli. Hanya saja, daripada terhadap Zeon, penyesuaiannya akan diberikan terhadap asal usul Crossbone Vanguard yang menjadi tokoh antagonis di Gundam F91.

Kalau mempertimbangkan ini, mulai terbayang alasan mengapa seri manga populer Crossbone Gundam, yang menjadi sekuel Gundam F91, masih belum dianimasikan juga. Mungkin Sunrise ingin membangun kembali latar dunianya dari awal. Sesudah dengan Gundam Unicorn dan Gundam: The Origin, baru mereka kini mulai menjajaki sejarah era Crossbone Vanguard.

Jadi untuk kalian fans Crossbone Gundam, jangan putus harapan.

Akhir kata, aku menyukai Twilight Axis lebih dari yang kukira saat membaca bab-bab awal novelnya. Meski gaya narasinya ringkas, ceritanya langsung dipenuhi aksi dengan banyak intrik yang terjadi. Ada keselarasan dalam berbagai elemennya gitu. Aku terutama suka dengan bagaimana motivasi Char, yang telah lama menjadi perdebatan di kalangan fans Gundam era UC, sempat disinggung juga menjadi teka-teki bahkan di dalam ceritanya sendiri. Aku benar-benar tertarik dengan perkembangannya ke depan. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Kalau ada perkembangan tambahan, mungkin tulisan ini akan aku sesuaikan lagi.

Mobile Suit Gundam I (Movie)

Aku menyempatkan diri menonton bagian pertama dari trilogi film layar lebar Mobile Suit Gundam atau Kidou Senshi Gundam yang orisinil beberapa waktu lalu. Seperti banyak hal lain dari seri Gundam, aku sudah lama tahu tentang trilogi film layar lebar ini, cuma baru sekarang berkesempatan melihatnya.

Trilogi ini pada dasarnya merupakan kompilasi dari versi seri TV-nya yang berjumlah 43 episode. Ada beberapa penyesuaian di sisi cerita. Tapi lebih lanjut soal itu akan aku bahas nanti.

Untuk yang belum tahu, kalian bisa menonton ini gratis lewat saluran Gundam.info dengan teks bahasa Inggris sampai tanggal 21 September nanti. Kualitas videonya termasuk lumayan, walau tentu saja kalian perlu ingat ini dibuatnya di tahun 1981, dengan footage asli yang dibuat bahkan sebelum 1979. Tapi kualitas audionya di luar dugaan termasuk benar-benar masih bagus.

Sutradaranya, tentu saja, adalah Tomino Yoshiyuki. Desain karakternya dibuat oleh Yasuhiko Yoshikzazu. Desain mekanik dibuat oleh Okawara Kunio. Lalu musik ditangani oleh Watanabe Takeo dan Matsuyama Yuji.

Di Mana Mereka Hidup… dan Mati

Aku tak akan terlalu membahas soal cerita, berhubung rasanya, aku sudah berulangkali melakukannya.

Adaptasi layar lebar dari seri Gundam yang paling pertama ini intinya mengetengahkan perjalanan Amuro Ray dan teman-teman barunya dalam melarikan diri dari pasukan Zeon menggunakan kapal induk baru buatan Federasi Bumi, White Base. Ceritanya berlatar di masa depan tahun 0079 Universal Century, ketika sebagian besar umat manusia telah berpindah dari Bumi ke struktur-struktur raksasa koloni luar angkasa buatan manusia. Demi melindungi teman-temannya dalam perjalanan dari koloni luar angkasa Side 7 ke Bumi, Amuro menggunakan senjata baru Federasi, sebuah mobile suit bernama Gundam, yang dibuat oleh ayahnya dan ternyata memiliki kemampuan luar biasa.

Cerita bagian pertama dari trilogi ini memaparkan awal penyerangan komandan handal Char Aznable beserta anak-anak buahnya ke Side 7. Ini berlanjut ke upaya pelarian White Base yang telah kehilangan sebagian besar awak aslinya dan kini lebih banyak dikemudikan penduduk sipil ke markas luar angkasa Luna II. Ini kemudian diikuti melencengnya rute re-entry atmosfer yang dilakukan White Base, dari yang tadinya mau ke Jaburo, markas besar Federasi di Amerika Selatan, malah jadi ke sekitar Amerika Utara. Lalu konflik White Base dengan Garma Zabi, putra bungsu pemimpin Zeon, Degwin Sodo Zabi, yang sebenarnya diatur oleh Char. Lalu reuni Amuro dengan ibunya. Kemudian baru diakhiri lewat pertemuan Amuro yang telah kelelahan fisik dan mental dengan lawan mereka yang baru, perwira Zeon handal bernama Ranba Ral, di tengah amukan badai petir yang baru kali pertama mereka lihat.

Sebagai orang yang pernah melihat film-film kompilasi yang dibuat Tomino-san (dan telah terbiasa dengan tempo ceritanya yang luar biasa cepat), aku terkesima dengan kenormalan tempo cerita di film ini. Masih terbilang cepat sih. Tapi anehnya, tidak terasa cepat gila-gilaan seperti dalam film-film kompilasi beliau yang lebih belakangan. Mungkin juga karena durasinya yang mendekati hampir dua setengah jam, film ini tak terasa terlalu cepat ataupun terburu-buru.

Agak susah sih menjelaskannya. Tapi intinya, pengaturan temponya bagus.

Aku pernah melihat beberapa episode dari seri TV aslinya. Garis besar perkembangan ceritanya tetap sama. Tapi memang ada feel berbeda yang berusaha dibidik dari trilogi ini, yang belakangan kemudian kita kenal sebagai nuansa real robot.

Intinya, adegan-adegan aksinya masih terbilang seru. Tapi hal-hal yang membuatku terkesima sampai mengangkat alis seperti di seri TV-nya sudah tak ada. Di trilogi ini, hal-hal seperti bola berantai Gundam Hammer, perlengkapan G-Armor, dan beam saber yang bisa diubah menjadi beam javelin sudah dihilangkan. Di atas kertas, aku mengerti hal-hal tersebut dihilangkan karena masih terlalu berbau super robot. Lalu aku juga mengerti bahwa teknologi MS yang tampil dalam trilogi ini adalah apa yang dijadikan acuan dalam seri-seri Gundam berikutnya. Tapi di sisi lain, aku juga akhirnya jadi mengerti bagaimana ada orang-orang yang sempat kecewa dengan trilogi ini, dan lebih memilih seri TV aslinya.

Soalnya… gimana ya?

Aku ingat jelas bagaimana aku merasa ada begitu banyak hal gila yang Amuro lakukan dengan Gundam di seri TV-nya. Ibarat Rambo, meski hanya seorang diri, dia melakukan banyak hal yang belum pernah orang lain lakukan menggunakan MS gitu. Dia lincah lari ke mana-mana, menembak-nembak banyak musuh kayak karakter utama di game FPS, hampir enggak mempan oleh tembakan-tembakan, melakukan adegan-adegan laga yang susah dipercaya, dan berakhir jadi satu-satunya yang tersisa. Tapi di film layar lebar ini, hal tersebut dikurangi. Sisi kemanusiaan Amuro dalam menghadapi lawan-lawannya lebih ditonjolkan. Diperlihatkan bagaimana stres dan kelelahan karena membunuh orang terus menggerogotinya. Walau memang berkat performa Gundam yang sedemikian berbedanya dari MS Zaku dan pesawat-pesawat milik Zeon, Amuro tetap berakhir imba.

Bicara soal mecha, karena aspek aksinya yang agak dikurangi dibandingkan karakterisasinya, robot-robot di seri ini masih tampil menonjol, tapi tak semenonjol di seri TV-nya.

Zaku II merah milik Char, yang memiliki kecepatan tiga kali di atas kecepatan Zaku normal, mendapat porsi sorotan lumayan banyak. Ada beberapa kali ia beradu dengan Gundam, dan dengan kehandalan Char, ia menjadi lawan yang benar-benar setara. Aku suka dengan bagaimana saat Char menyadari sebagian besar senjatanya (senapan mesin dan heat hawk) tak mempan terhadap Gundam, ia jadi lebih banyak memakai serangan fisik. (Untuk kalian yang pernah menonton Gundam Unicorn, kalian bisa melihat ada banyak kemiripan adegan antara pertempuran Amuro melawan Char dengan pertempuran Banagher melawan Full Frontal.)

Guncannon yang dikemudikan Kai Shiden dan Guntank yang dikemudikan bersama oleh Ryu Jose dan Hayato Kobayashi juga masih berperan. Kedua MS tersebut mendapat peran penting dalam melindungi White Base seiring berpindahnya latar cerita ke Bumi. Tapi karakter-karakter yang mengemudikan mereka belum begitu banyak disorot, karena fokus cerita yang masih lebih banyak dilihat dari sudut pandang Amuro.

MS biru Gouf, yang digunakan oleh Ranba Ral, masih menjadi lawan yang lebih dari sepadan bagi Gundam dengan senjata cambuk listriknya. Ral beserta istrinya, Crowley Hamon, memang baru tampil sebentar di film ini. Mereka baru lebih banyak disorot dalam film yang berikutnya.

Bicara soal Gundam sendiri, di sini MS ini lebih diperlihatkan betapa kebalnya ia terhadap persenjataan lawan. Gundam diperlihatkan punya fitur-fitur lain yang tak dimiliki MS lain sebelumnya. Tapi dibandingkan di seri TV-nya, armamennya memang lebih terbatas, mencakup hanya beam rifle, beam saber, serta Hyper Bazooka.

Ketiga MS buatan Federasi Bumi juga menonjolkan desain baru di mana kokpitnya terbentuk dari pesawat tempur Core Fighter. Lalu di samping desain White Base sendiri, itu jadi aspek keren menonjol yang dimiliki seri ini pada masanya.

Musnahnya Separuh Populasi Umat Manusia

Bicara soal teknisnya, terlepas dari animasinya yang sudah berusia, kalau kalian melihatnya sendiri, mungkin kalian bakal sadar. Ada sesuatu yang istimewa tentang Kidou Senshi Gundam. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa kelihatan kalau cuma mengikuti seri-seri sekuelnya. Ada… sesuatu tentang seri ini—khusus tentang seri yang ini—yang benar-benar bisa menarikmu gitu.

Susah menjelaskannya.

Mungkin juga berkat art direction Nakamura Mitsuki, ada banyak visual berkesan di dalamnya. Lalu ini yang kubayangkan pasti telah sedemikian memicu imajinasi orang-orang yang menontonnya di masa lalu. Mulai dari narasi pembuka yang menggambarkan jatuhnya koloni luar angkasa raksasa ke Bumi, adegan jebolnya dinding Side 7 oleh ledakan reaktor MS, rombongan orang mengungsi di dalam bunker, atau pemandangan White Base di latar senja saat meninggalkan ibu Amuro yang berlutut dalam kesedihan. Seriusan, ada banyak adegan di dalamnya yang kalau diperhatikan, benar-benar berkesan.

Mungkin juga itu berkat karakterisasinya. Aku mengerti sekarang soal kenapa ada yang menganggap awak-awak kapal di White Base jauh lebih berkesan ketimbang yang di sekuel-sekuelnya. Ada fokus ke karakterisasi yang kebagusannya bahkan tak kutemui dalam karya-karya Tomino-san yang lebih ke sini.

Bright Noa adalah letnan muda yang menjadi kapten sementara dari White Base. Ia disinggung masih berusia sangat muda (seperti remaja usia akhir), berhubung betapa banyaknya orang dewasa yang sudah tewas dalam Perang Satu Tahun yang di masa itu tengah berlangsung. Bright, yang sudah terbentuk oleh pendidikan militer yang diterimanya, menunjukkan sikap pragmatis di hadapan Amuro berkenaan kepemilikannya atas Gundam. Lalu di awal cerita, hal inilah memicu konflik antara keduanya.

Selain Bright, orang militer yang masih tersisa paling adalah Ryu Jose, seorang pilot dalam pelatihan. Menggunakan Core Fighter, ia banyak membantu Amuro.

Lalu selain Amuro, warga sipil lain yang kemudian direkrut jadi bagian dari militer meliputi:

  • Mirai Yashima, seorang pilot muda yang merupakan putri dari suatu keluarga penerbang. Mirai yang kemudian memegang kemudi atas nahkoda White Base dan menjadi salah satu harapan lain para awaknya untuk selamat.
  • Sayla Mass, murid sekolah medis dengan pribadi proaktif. Dirinya menyimpan rahasia besar sesudah menyadari bahwa Char Aznable ternyata adalah kakak kandungnya yang telah lama hilang. (Seudah melihat sendiri seri ini, aku jadi bisa memaklumi pengharapan sebagian penggemar yang mengharapkan Sayla yang tetap jadi love interest-nya Amuro.)
  • Kai Shiden, seorang remaja sok yang awalnya membuat sebal semua orang dengan sikapnya.
  • Hayato Kobayashi, salah satu teman lama Amuro yang berbadan pendek tapi juga tak terlalu dekat dengannya juga.
  • Frau Bow, teman masa kecil Amuro yang memperhatikannya dari awal sampai akhir. Berkat kata-kata Amuro, Frau menjelma menjadi sosok gadis yang kuat sesudah ia tiba-tiba kehilangan seluruh anggota keluarganya. Lalu karena itu pula ia sedemikian berusaha mendukung Amuro dalam pergulatan batinnya selama memiloti Gundam.

Selebihnya, Char benar-benar ditampilkan sebagai lawan mengerikan dengan kemampuannya untuk berpikir sekian langkah lebih jauh dari orang lain. Urusan logistik menjadi sesuatu yang secara menarik disorot di seri ini, yang di pihak Federasi ditampilkan lewat karakter Matilda Ajan, yang mendukung White Base dengan barang-barang kebutuhan hidup dan menjadi sumber kekaguman Amuro. Matilda juga yang di versi cerita ini membawa kabar tentang desas-desus tentang teori Newtype yang di seri TV aslinya dimunculkan dengan agak tiba-tiba. Lalu para karakter antagonis sukses ditampilkan secara simpatik, khususnya lewat pemaparan hubungan Garma Zabi dengan Icelina Eschonbach yang mencintainya.

Rasanya aneh aku bicara begini. Tapi terus terang aku juga jadi sedikit merasa kalau yang sebenarnya paling mempengaruhi seri-seri Gundam modern sebenarnya bukanlah Kidou Senshi Gundam yang orisinil, melainkan sekuel-sekuel awalnya. Khususnya, Zeta Gundam dan Gundam ZZ. Walau memang berstatus sebagai cerita awalnya, Kidou Senshi Gundam memiliki nuansa yang benar-benar berbeda sendiri. Segala sesuatunya, baik itu MS, kapal induk, atau dunianya, terasa sedemikian besar. Lalu para karakternya juga kayak bisa lebih berdiri sendiri.

Mungkin tema cerita Kidou Senshi Gundam memang takkan pernah basi.

Sekali lagi, audionya benar-benar bagus. Tak ada lagu yang mencolok sih. Tapi penataan segala sesuatu terkait suaranya benar-benar berkesan.

Teks terjemahan bahasa Inggrisnya juga bagus, cuma sayang masih ada banyak istilahnya yang kurang terasa up to date (Jaburo ditulis sebagai Jabrow, misalnya. Lalu daripada Principality of Zeon, mereka disebutnya Duchy of Zeon).

Akhir pekan nanti mau kusempatkan melihat kelanjutannya.

Undefeated Bahamut Chronicle

Undefeated Bahamut Chronicle berkisah tentang Lux Arcadia, pangeran terakhir Kekaisaran Arcadia yang tumbang beberapa tahun sebelumnya untuk kemudian digantikan pemerintahan baru Kerajaan Atismata. Cerita dibuka dengan awal pertemuan Lux dengan putri kerajaan baru tersebut, Lisesharte Atismata, yang sesudah serangkaian hal, berujung pada bagaimana Lux harus turut bersekolah di Akademi Perwira Kerajaan tempat para pengguna Drag-Ride kerajaan dilatih, yang seluruh muridnya sebelum Lux adalah perempuan.

Drag-Ride, atau Kiryuu (‘naga mesin’), merupakan peralatan tempur yang terpasang di tubuh penggunanya yang diaktifkan melalui sebilah alat berbentuk pedang yang disebut Sword Device. Ada parameter kecocokan tertentu antara sebuah Drag-Ride dengan penggunanya. Lalu ada beberapa jenis Drag-Ride tertentu yang dipandang sakral, dan karenanya diperlakukan sebagai pusaka, yang disebut Divine Drag-Ride atau Shinshou Kiryuu. Keistimewaaan yang Divine Drag-Ride punyai dibandingkan Drag-Ride biasa adalah kemampuan khusus tertentu yang disebut Divine Raiment atau Shinshou (yang pengaktifannya ditandai dengan kemunculan lingkaran-lingkaran sihir) yang hanya dimiliki oleh Drag-Ride tersebut.

Yang paling terkenal dari semuanya, adalah Divine Drag-Ride berwarna kelam yang digunakan oleh sang Pahlawan Hitam, sosok misterius yang menjatuhkan 1.600 pengawal kekaisaran dengan Drag-Ride mereka masing-masing seorang diri pada malam pertempuran terakhir melawan Kekaisaran, yang berkat dirinyalah, revolusi akhirnya bisa terjadi.

Seperti Naga Terbang

Undefeated Bahamut Chronicle atau Saijaku Muhai no Bahamut (‘Bahamut yang terlemah dan tak terkalahkan’) diangkat dari seri light novel buatan Akatsuki Senri yang diterbitkan SB Creative di bawah label GA Bunko sejak tahun 2013. Ilustrasinya dibuat Kasuga Ayumu, yang mungkin sebelumnya telah kalian kenali lewat suatu seri tertentu tentang sebuah kota kerajaan, atau sebuah seri lain tentang gaya rambut kuncir dua.

Terlepas dari itu… adaptasi animenya dibuat oleh Lerche dan disutradarai Ando Masaomi (yang saat anime ini diumumkan, sedang naik daun berkat arahannya di seri zombie Gakkou Gurashi!). Komposisi serinya dibuat oleh Kakihara Yuuko dengan musik dibuat oleh Matsuda Akito. Jumlah episodenya 12, dan pertama tayang pada awal tahun 2016.

Undefeated Bahamut Chronicle sejak awal punya nuansa mirip Infinite Stratos. Bedanya, daripada dunia masa depan, latarnya dunia fantasi abad pertengahan. Pengecualiannya paling di adanya zirah mekanik Drag Ride yang para karakternya gunakan, yang dikisahkan berasal dari suatu peradaban ajaib kuno yang telah lama hilang. Selebihnya, seri ini juga seperti berusaha membidik semua elemen yang sama, tercermin pada premis sekolah yang semua muridnya selain Lux adalah perempuan.

Makanya, aku kurang menaruh harapan terhadap seri ini pada awalnya.

Bukannya aku tak suka ide ceritanya. Hanya saja, ceritanya memang dibuka dengan cara yang agak bikin hilang selera. (Karena suatu kesalahpahaman, Lux terjatuh ke dalam kamar mandi para siswi di Akademi, dan karena itu ditantang duel.)

Tapi lambat laun kusadari, cara cerita dibuka dengan ‘remeh’ ini mungkin hanya cara Akatsuki-sensei ‘menstarter’ idenya dulu. Soalnya, ke sananya, ternyata ada lumayan banyak ide menarik dalam Undefeated Bahamut Chronicle. Seperti, kayak baru agak belakangan ceritanya berhasil dikembangkan lewat pembangunan latarnya.

Pemerintahan Kerajaan Atismata yang baru beberapa tahun berdiri dikisahkan masih goyah. Guncangan datang dari dalam maupun luar. Salah satunya dari ancaman sisa-sisa pendukung Kekaisaran, meski Lux beserta adik perempuannya, Airi Arcadia, sama-sama lebih memilih menjadi bagian dari negara baru ini.

Lalu ada persaingan antar bangsawan dalam merebut akses masuk ke berbagai Reruntuhan, situs-situs peninggalan peradaban lampau dengan beraneka bentuk, yang dari dalamnya bermacam sumber daya berharga bisa didapatkan, yang salah satunya adalah teknologi Drag-Ride.

Di awal, pertemuan Lisha dan Lux membuka tabir bahwa Lux sesungguhnya adalah Pahlawan Hitam misterius yang menjatuhkan 1.600 pengawal Kekaisaran pada malam terakhir berlangsungnya revolusi. Lux sebelumnya hanya dikenal sebagai petarung terlemah, meski tak terkalahkan, karena kebiasaannya untuk menang dengan mengulur waktu pada setiap pertandingan Drag-Ride.

Namun identitas Lux sebagai pengguna Divine Drag-Ride hitam, Bahamut, akhirnya terkuak saat makhluk-makhluk penjaga Reruntuhan, Ragnarok, secara misterius dikendalikan untuk keluar dari Reruntuhan dan menyerang masyarakat sipil. Kejadian ini menandai awal rangkaian konflik yang mengguncang Kerajaan Atismata lagi.

Jadilah Legenda

Satu hal berkesan dari Undefeated Bahamut Chronicle, yang agak tak seperti seri-seri adaptasi ranobe lainnya, adalah bagaimana setiap karakter baru benar-benar membawa cerita dan sejarahnya sendiri-sendiri. Lalu… entah ya, aku paham kapasitas penceritaannya agak terbatas. Tapi lumayan terasa besarnya dampak kehadiran mereka di masing-masing bab.

Jadi sedikit merangkum, para karakter utama seri ini jadinya meliputi:

  • Lux Arcadia, pewaris ketujuh Kekaisaran Lama yang kerap dipandang sebelah mata, menjadi tawanan kerajaan dan diharuskan menerima berbagai pekerjaan kasar, meski sesungguhnya ia adalah Pahlawan Hitam yang berkekuatan dahsyat. Lux biasa menggunakan Drag-Ride normal Wyvern (yang dimodifikasi untuk lebih menekankan pertahanan) dan baru menggunakan Divine Drag-Ride Bahamut bila benar-benar perlu. Dia memiliki sejarah yang lebih rumit dibandingkan karakter-karakter utama sejenis.
  • Airi Arcadia, adik perempuan Lux yang juga menjadi salah satu murid di Akademi, yang selalu mengkhawatirkan situasi kakaknya. Warna rambut mereka sama. Dirinya yang paling memahami Lux dan paling mengerti cara penyelesaian masalah yang akan diambilnya.
  • Lisesharte Atismata, putri mahkota Kerajaan Baru yang menjadi akrab dengan Lux sesudah Lux berjanji menjaga rahasia Lisha sendiri. Divine Drag-Ride miliknya adalah Tiamat yang berwarna merah. Memiliki hobi mengutak-atik aspek mekanik Drag-Ride. Meski tangguh, ia beberapa kali terancam karena statusnya. Sekalipun demikian, nyatanya, ia bisa dibilang tak punya aura ‘tuan putri’ sama sekali. Dalam perkembangan cerita, ia memilih Lux sebagai ksatria pribadinya.
  • Krulcifer Einfolk, seorang gadis anggun dan disegani yang merupakan putri suatu keluarga bangsawan dari negara tetangga Ymir. Divine Drag-Ride miliknya adalah Fafnir berwarna perak. Awalnya mendekati Lux untuk menghindar dari perjodohan. Dalam perkembangannya, terungkap kalau dirinya sebenarnya diadopsi sesudah ditemukan di salah satu Reruntuhan. Lalu ia diperebutkan karena kemampuan istimewanya untuk mengakses Reruntuhan secara bebas. Rahasia miliknya juga jadi sesuatu yang dijaga oleh Lux.
  • Philuffy Aingram, teman masa kecil Lux yang perhatian tapi selalu terkesan mengantuk. Divine Drag-Ride miliknya adalah Typhon berwarna ungu. Phi adalah adik perempuan dari kepala Akademi yang tengah menjabat, Relie Aingram. Lux mempunyai keterikatan dengan Phi karena ketika Kekaisaran masih berkuasa, hanya keluarga Philuffy sajalah yang bersedia menampung Lux dan Airi sesudah ibu mereka wafat. Lalu keinginan Lux untuk bisa menolong Phi dari suatu hal di masa lalu yang ternyata menjadi motivasi pribadinya untuk membantu menggulingkan Kekaisaran.
  • Celistia Ralgris, gadis bangsawan yang diakui sebagai ksatria terkuat di Akademi, yang karena suatu alasan memiliki reputasi sebagai pembenci laki-laki. Divine Drag-Ride miliknya adalah Lindworm berwarna keemasan. Terungkap kalau dirinya dididik oleh mendiang kakek Lux, dan maksud baiknya telah disalahpahami. Di perkembangan cerita, ia harus menuntaskan konflik dengan Saniya, salah satu mantan murid Akademi yang kemudian mengkhianatinya.

Konflik di seri ini terlahir dari bagaimana ada suatu terompet berbentuk tanduk yang ternyata dapat mengendalikan para Ragnarok, yang ternyata diperjualbelikan oleh suatu pihak misterius di pasar gelap. Jadi selain pertempuran antar pengguna Drag-Ride, ada monster-monster Ragnarok dan hal-hal misterius lain yang bisa ditemukan dari dalam Reruntuhan.

Untuk waktu lama, karena warna rambutnya yang sama, Lux mengira bahwa sosok misterius yang menjadi dalang kekacauan ini adalah Fugil Arcadia, putra mahkota pertama Kekaisaran Lama sekaligus kakak lelaki (tiri?) Lux yang telah lama menghilang dengan menyisakan banyak tanda tanya. Namun sosok ini rupanya adalah Hayes, perempuan tak dikenal yang nampak punya dendam kesumat bukan hanya pada Atismata, namun juga pada anak-anak lain keturunan mendiang Kaisar. (Divine Drag-Ride yang digunakannya adalah Nidhogg, yang sedemikian kuatnya sampai bisa membelah bumi.)

Perkembangan cerita asli di novelnya sebenarnya menarik.

Dipaparkan bahwa pemilik asli Sword Device Bahamut sebenarnya adalah Fugil. Lalu Fugil mempercayakan Bahamut pada Lux untuk digunakannya dalam malam terakhir revolusi. Namun membantah perkiraan Lux, ternyata Fugil memanfaatkan kesempatan yang Lux ciptakan untuk membantai para anggota keluarga Kekaisaran lain dari dalam. Lalu salah satu adegan penutup seri ini adalah bagaimana Lux dan Fugil secara mengesankan sempat saling pandang tanpa kata-kata dari kejauhan, dengan sebuah Sword Device lain serupa Bahamut yang kini disandang Fugil, sebelum ia kembali menghilang.

Tapi semua pembeberan ini kurang begitu tersampaikan di versi anime. Besar kemungkinan, karena faktor durasi. Ini juga lumayan terasa pada pembeberan identitas Hayes, yang sebenarnya bukan hanya seorang ahli siasat tangguh, namun juga pewaris mahkota kedua Kekaisaran Lama sesudah Fugil.

Undefeated Bahamut Chronicle paling mudah aku bandingkan dengan Unbreakable Machine Doll, anime lain keluaran Lerche yang juga hasil adaptasi ranobe. Keduanya sama-sama menampilkan cerita yang benar-benar terasa dipotong dan dipadatkan (yang juga punya kelemahan karena kadang dipenuhi hal tak penting). Tapi keduanya juga punya saat-saat ketika menampilkan adegan-adegan yang menurutku benar-benar berkesan.

Berdua, Terus Terlelap

Sedikit bicara soal mecha, seri ini punya aspek mecha lumayan berkesan. Cuma, ya itu. Entah karena materi aslinya memang demikian, atau lagi-lagi karena keterbatasan durasi, bahasannya terasa agak kurang tergali.

Maksudku: adegan-adegan aksinya sendiri terasa lumayan biasa, tapi kalau kita perhatikan, sebenarnya hampir selalu ada penjabaran menarik di baliknya. Ada berbagai teknik dan strategi yang harus Lux ambil untuk mengatasi lawan-lawannya. Setiap Drag-Ride punya keistimewaan dan keunggulannya masing-masing meski semuanya sama-sama bermotif naga. Tapi itu kayak kurang bagus penjabarannya dalam bentuk anime ini.

Sedikit merangkum:

  • Bahamut milik Lux memiliki Divine Raiment yang bernama Reload on Fire. Secara visual, ini tampak dengan bagaimana Bahamut yang berbasis udara bisa tiba-tiba berkelebat ke segala arah dan menjatuhkan lawan-lawan seketika. Tapi sebenarnya, ini semacam kemampuan untuk menyegel dan mengkompres suatu atribut, yang sesudah dilepas, akan menyebabkan atribut tersebut diperkuat sampai berkali-kali lipat.
  • Tiamat milik Lisha yang juga berbasis udara memiliki meriam dahsyat bernama Seven Heads sekaligus Divine Raiment berupa kemampuan memanipulasi gravitasi bernama Thresher. Ini juga memiliki persenjataan serupa bit. (Selain itu, karena kesukaannya, Lisha juga sempat memodifikasi Tiamat-nya agar punya bor.)
  • Fafnir milik Krulcifer dirancang khusus untuk serangan jarak jauh. Memiliki senapan es laras panjang Frost Cannon yang dapat membekukan sasaran-sasarannya. Lalu Divine Raiment-nya adalah Wise Blood yang memberinya sedikit kemampuan melihat masa depan.
  • Typhon milik Phi berbasis darat dan melancarkan serangan-serangan jarak dekat dengan tinju, walau mampu menjerat musuh dengan kawat-kawat. Divine Raiment Missing Fate miliknya mampu menetralkan Divine Raiment milik Divine Drag-Ride di sekelilingnya.
  • Lindworm milik Celistia bersenjatakan tombak yang mempunyai kekuatan petir serta senapan Starlight Zero. Divine Raiment miliknya adalah Divine Gate yang memungkinkannya berteleportasi dalam sekejap.

Adegan-adegan aksinya adalah tipe yang ‘bakal lebih berkesan andai saja pemaparan karakter dan pembangunan situasinya lebih bagus.’ Ada pemakaian CG yang tak bisa dikatakan jelek, tapi juga tak bisa dikatakan bagus juga. Ini terutama terasa pada penggambaran Ragnarok, yang agak mirip cara penggambaran Metaphysical di Seiken Tsukai no World Break. Sekalipun begitu, perlu diakui kalau menjelang penutup cerita, kualitas beberapa adegan aksinya sempat mengalami lonjakan drastis.

Undefeated Bahamut Chronicle juga sebenarnya termasuk enak dilihat secara visual. Dengan jalinan plotnya, nuansa harem sekolahnya tak pernah benar-benar menyamai nuansa komedi romantis Infinite Stratos. Sekedar dilihat sekilas pun, seri ini termasuk cantik. Aku awalnya kurang terkesan dengan gaya desain karakter asli Kasuga-sensei yang berkesan ramping. Tapi di animenya, penggambaran latar belakang ‘bangsawan’ dari para karakternya benar-benar kena. Lalu ini diperkuat dengan pemakaian berbagai motif visual yang memberi penekanan hal ini, yang mencakup gaun dan penataan rambut ataupun garis-garis berpola yang membingkai.

Ada satu adegan ketika Lux harus berhadapan dengan gadis pengawal khusus keluarganya, Kirihime Yoruka (Divine Drag-Ride miliknya adalah Yato no Kami yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan Drag-Ride lain). Lalu pertemuan mereka tersebut dibuka dengan semburat kelopak-kelopak bunga berterbangan secara dramatis. Adegan ini terbilang sebentar, tapi keberadaannya membuatku merasa kalau Ando-san sebenarnya benar-benar memberi perhatian khusus terhadap penggambaran adegan-adegannya.

Dari segi audio, seri ini juga sebenarnya tak terlalu mencolok. Tapi pemilihan seiyuu-nya yang sebagian besar nama-nama baru lumayan pas. Lalu di samping itu, lagu penutup yang dibawakan nano.RIPE berhasil menutup tiap episodenya dengan nuansa unik yang benar-benar cocok untuk seri ini.

Akhir kata, kemungkinan besar berkat arahan Ando-san, adaptasi anime Undefeated Bahamut Chronicle berhasil menjadi sesuatu yang tak benar-benar bisa dibilang jelek. Ini kayaknya jenis seri yang lebih cocok dinikmati oleh mereka yang sudah tak asing dengan ranobenya. Tapi sebagai perkenalan untuk materi aslinya… yah, kurasa hasilnya tak jelek.

Aku sempat mengikuti perkembangannya karena… yah, aku lumayan penasaran dengan konsepnya.

Konsep awalnya tak sebagus itu. Tapi yah, perkembangannya lumayan. Aku juga lumayan suka para karakternya.

Ngomong-ngomong, mungkin ada yang penasaran soal kenapa aku sebegitu sukanya mengulas seri-seri semacam ini. Sebenarnya, daripada hasil jadinya sendiri, aku kerap penasaran dengan hasil dari proses produksinya sih. Jadi, membandingkan dengan nama-nama staf yang terlibat, aku bakal mikirin hal-hal kayak: “Oh, kalo si staf ini terlibat, kecendrungannya jadi kayak gini.” atau “Oh. Kalo studio yang menanganinya ini, hasilnya cenderung begini.” atau “Ooh, bagian cerita yang ini di novelnya terus mereka sajiin kayak gini.” Mungkin salah satu alasannya karena usiaku yang tergolong dewasa dan statusku yang bekerja di perusahaan.

Seperti kata pepatah, success is a lousy teacher. Jadi ibaratnya, aku kayak bisa mendapatkan lebih banyak pelajaran dari karya-karya yang gagal atau kurang sempurna ketimbang karya-karya yang notabene bagus. Lalu meski punya banyak kelemahan, biasanya selalu ada yang bisa kunikmati dari seri-seri adaptasi ranobe kayak gini.

Jadi bukan. Bukannya aku maso atau tak suka karya-karya yang memang bagus ya. Kalau ada karya yang diakui bagus dan memang kunikmati, aku juga bakal mengikutinya kok.

Satu lagi.

Phi adalah favoritku di seri ini. Tapi yah, sudahlah. Itu tak penting.

Penilaian

Konsep: D; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

M3: Sono Kuroki Hagane

Tadinya aku mau bahas ini sebelum Gundam: Iron Blooded Orphans tayang, tapi beberapa hal terjadi, dan aku baru sempat menulis tentangnya sekarang. Berhubung ini satu-satunya anime mecha riil (bukan super robot) yang disusun Okada Mari sebelum IBO, aku sempat ingin membandingkan keduanya.

M3 – Sono Kuroki Hagane (subjudul kira-kira berarti ‘logam hitam itu’), atau yang juga dikenal sebagai M3 – The Dark Metal (‘logam yang kelam’, acuan terhadap konsep penyakit ‘logam kematian’ di ceritanya), merupakan anime drama sains fiksi horor keluaran Satelight dan C2C. Dirilis pada pertengahan tahun 2014 (ini kurang lebih sezaman dengan No Game No Life dan Akame ga Kill!), jumlah episodenya 24. Sutradaranya adalah Sato Junichi, staf veteran yang sekarang dikenal sebagai sutradara anime ‘penyembuhan’ Tamayura dan anime teka-teki Phi Brain; meski beliau juga dikenal lewat arahan beliau di sejumlah anime lawas, yang mencakup Aria, Sailor Moon klasik, serta Mahou Tsukai Tai.

M3 sempat mencolok karena lagu pembuka pertamanya, yang berjudul ‘Re: Remember.’ Lagu yang dibawakan May’n ini secara pas menggambarkan nuansa sendu dan keputusasaan di awal seri ini. Di samping itu, naskah cerita yang disusun oleh Okada-san kental dengan drama karakter melankolis khas beliau. Ditambah lagi, ada desain mekanik yang dibuat oleh desainer Macross, Kawamori Shoji.

Karenanya, meski tak meledak, M3 termasuk seri yang menarik perhatian di kalangannya sendiri.

Awalnya, aku ingin menulis tentang M3 untuk memperkirakan IBO jadinya seperti apa. Seperti yang pernah kusinggung di tulisan lain, selain drama remaja Anohana dan Toradora!, seri-seri yang naskahnya ditangani Okada-san yang temanya agak ‘fantastis’ paling hanya Aquarion Evol, Wixoss, dan seri satu ini. Aku tadinya mau pakai M3 sebagai ‘perbandingan’ mengingat statusnya sebagai sesama seri mecha. (Meski memandang lagi ke belakang, aku tak merasa itu banyak gunanya.)

Untukku pribadi, M3 adalah seri yang semula-enggak-begitu-diperhatikan-tapi-lama-lama jadi-berkesan. Nuansanya benar-benar suram. Anime ini menampilkan banyak kesedihan tanpa langsung menjabarkan akar kepedihan dan rasa sakitnya itu karena apa. Kesannya lumayan abstrak. Tapi karena itu juga, seri ini sempat menjadi semacam penghiburan buatku selepas kerja.

Seburuk-buruknya kondisi kerjaanku waktu itu, setidaknya aku belum sedepresi para karakter di anime ini.

Langit Berbintang dan Dewa Kematian

M3 bercerita tentang delapan anak remaja yang terpilih dalam suatu proyek yang dapat menentukan kelangsungan hidup umat manusia. Kedelapan anak ini didekati secara terpisah oleh perwakilan suatu organisasi bernama IX di Jepang, dan mendapati diri mereka mungkin sebenarnya pernah mengenal satu sama lain di masa lalu.

Kedelapan orang remaja tersebut disatukan dalam suatu kelompok yang disebut Team Gargouille. Mereka terdiri atas:

  • Saginuma Akashi: pemuda tampan yang meski menarik perhatian, memiliki masa lalu pahit yang melibatkan mendiang kakak lelakinya. Karenanya, ia memendam suatu kebencian pribadi yang sangat sulit ia ungkap dan mengubahnya menjadi penyendiri.
  • Hazaki Emiru: seorang perempuan cantik dan pekerja keras yang terpaksa hidup mandiri karena suatu isu keluarga. Di awal cerita, ia berharap bisa dekat dengan Akashi sebagai suatu bentuk pengakuan terhadap dirinya.
  • Izuriha Sasame: seorang gadis lembah lembut yang telah lupa sebagian ingatan masa lalunya. Meski kerap membatasi diri dan ragu akan kemampuannya, ada sesuatu tentang dirinya yang mengingatkan Akashi akan suatu hal penting yang telah lama hilang.
  • Namito Iwato: teman sekolah Akashi yang berpembawaan terbuka dan pengertian, yang ikut terpilih bersamanya dan anak-anak lain sebagai bagian Program Pelatihan Tim Investigasi Khusus.
  • Kasumi Raika: gadis atletis yang menjadi salah satu pilot uji mecha Vess buatan IX. Ia diharuskan menjalani pelatihan lagi semenjak terpilih sebagai salah satu calon anggota Tim Investigasi, yang mana ia kemudian dipasangkan dengan Iwato.
  • Maki Minashi: pemuda ramah yang menjadi anggota Team Gargouille yang paling ceria dan mudah didekati. Nampaknya telah mengenal Sasame lebih dahulu dibandingkan yang lain.
  • Yuzuki Maamu: gadis rendah diri yang sangat pemalu, negatif, sekaligus penyendiri. Ia menyimpan suatu buku catatan yang di dalamnya ia secara tersamar menumpahkan segala isi hati dan pengamatannya terhadap orang lain.
  • Isaku Heito: seorang pemuda yang telah hilang kewarasannya dan terobsesi membuat orang lain takut terhadapnya (karena rasa takut adalah satu-satunya emosi yang masih ia punyai). Konon bertanggung jawab atas pembantaian seluruh anggota keluarganya sendiri.

Dicanangkan IX, Team Gargouille dibentuk sebagai tim investigasi yang akan menjelajah Mumyou Ryouiki/Lightless Realm/Avidea Zone.

Beberapa tahun sebelumnya, fenomena Mumyou Ryouiki melingkupi kota Tokyo. Efek fenomena ini secara perlahan tapi pasti mulai mengancam dunia. Di dalam zona ini, cahaya akan pudar. Lalu dari dalamnya, muncul partikel logam yang disebut Necrometal yang dapat mengikis semua material lain dan menggerogoti anggota-anggota tubuh manusia yang terekspos padanya.

Turut muncul dari dalam Mumyou Ryouiki adalah makhluk-makhluk yang disebut Admonition/Imashime, yang bisa jadi adalah perwujudan derita dan sisa ingatan para korban Necrometal yang telah kehilangan nyawa.

Untuk menghadapi Imashime, IX telah mengembangkan mecha-mecha berkaki tiga yang disebut Vess. Tapi untuk menjelajahi Mumyou Ryouiki, diperlukan versi Vess lebih mutakhir yang disebut MA-Vess yang bisa melawan pengaruh ‘korosi mental’ yang Mumyou Ryouiki berikan.

Terungkap bahwa pengikisan yang Necrometal bawa tak hanya terjadi secara ‘fisik’ karena siapapun (apapun?) yang terjangkit Necrometal bisa sampai lupa jati diri mereka. Lalu para pengguna MA-Vess mampu bertahan karena MA-Vass dilengkapi suatu penemuan relatif baru yang disebut LIM (Linker Interface Module), meski bagaimana persisnya sistem ini bekerja baru terungkap dalam perkembangan cerita ke depan.

Singkat cerita, Akashi dan kawan-kawannya dikumpulkan karena punya potensi ‘kecocokan’ yang diperlukan untuk menggunakan MA-Vess.

Mengawasi Team Gargouille adalah kelompok ilmuwan dari IX yang dipimpin dua figur: seorang lelaki eksentrik bernama Natsuiri, yang seakan hanya punya kepedulian terhadap kemajuan hasil penelitian; dan seorang perempuan muda bernama Agura Kasane, yang Akashi kenali sebagai kekasih mendiang kakak lelaki Akashi, Saginuma Aoshi. Mewakili pemerintah, juga hadir Susan Suzaki, kawan lama Kasane yang lambat laun ikut menjadikan keberhasilan mereka sebagai misi pribadinya.

Lewat penjelajahan Mumyou Ryouiki, IX berharap bisa mengungkap rahasia di balik fenomena Necrometal. Rahasia itu mereka yakini ada pada badan Mukuro/Corpse (‘jasad’), raksasa logam hitam bermata satu yang beberapa kali terlihat di dalam zona dan diyakini sejumlah pihak sebagai sumber segala kejadian ini. Lambat laun, para anggota Team Gargouille pun mulai meyakini bahwa hanya dengan mengalahkan Mukuro, semua penderitaan mereka akan bisa berakhir.

Konflik pertama seri ini timbul dari bagaimana Akashi marah terhadap Kasane yang seakan menganggap dirinya sebagai pengganti kakaknya. Kakak Akashi, Aoshi, sebelumnya juga terlibat dalam penjelajahan ke Mumyou Ryouiki dan berakhir tewas karenanya. Namun seiring dengan waktu, semakin banyak hubungan dan rahasia masa lalu terkuak, terutama mengingat bagaimana Imashime seakan mengingatkan setiap manusia akan dosa-dosa mereka yang telah lalu.

Suara-suara Penyesalan

Sedikit bicara soal robot-robotnya dulu…

Mecha utama di M3 adalah Argent, MA-Vess pertama yang sukses dikembangkan dari pendahulunya, Shirogane, yang dulu dikemudikan Aoshi. Meski secara teoritis dapat bekerja, semua orang yang mencoba mengendalikan Argent karena berbagai alasan berakhir tewas. Ini berujung pada bagaimana MA-Vess ini kemudian disegel rapat-rapat dalam suatu fasilitas terbengkalai dan dijuluki Shinigami (‘dewa kematian’).

Baru sesudah para remaja di atas ditemukan dan Team Gargouille kemudian dibentuk, Argent mulai kembali dioperasikan IX. Lalu sesuai dugaan, meski sempat didahului serangkaian insiden, Akashi menjadi orang pertama (dan mungkin satu-satunya) yang mampu mengendalikan Argent.

Dengan enggan, (meski belakangan ia melakukannya demi Sasame) Akashi akhirnya menuruti pengharapan orang-orang untuk menggunakannya dalam menjelajah Mumyou Ryouiki, yang membawanya berhadapan langsung dengan sosok Mukuro yang misterius.

Penjelajahan Akashi dan kawan-kawannya terhadap Tokyo yang telah kelam dan ditinggalkan menjadi inti cerita M3. Dari sana, kemudian banyak hal terungkap. Digambarkan ada beban mental luar biasa besar dalam menggunakan MA-Vess, dan beban ini tak kalah besarnya dari korosi mental yang didatangkan Imashime dan Mumyou Ryouiki, yang hadir dalam bentuk imaji-imaji persepsi yang menyerbu masuk ke dalam pikiran.

Vess produksi massal yang tidak memiliki LIM diwakili Tower type T1 yang dalam perkembangannya, banyak dipakai oleh Iwato dan Raika. Ini tipe mecha berkaki tiga yang meluncur dengan ‘sepatu roda’ seperti yang di Code Geass, yang bila kaki-kakinya dilipat akan membuatnya tampak seperti mobil. Persenjataan utama T1 adalah sejenis senapan. Namun untuk jarak dekat, mecha-mecha ini dilengkapi persenjataan sejenis palu berpompa, yang diperlukan untuk memecahkan cangkang-cangkang luar Imashime yang keras dan menghancurkan ‘inti’-nya.

Dari segi bentuk, Vess sangat mirip MA-Vess. Kemiripannya lengkap sampai ke jenis persenjataan yang digunakannya, hanya saja berukuran lebih kecil dan mempunyai performa lebih terbatas, di samping ‘tergantung’ pada jalanan.

MA-Vess dalam perkembangannya memiliki tenaga jauh lebih besar, mampu melakukan gerakan-gerakan yang lebih lincah, mampu melewati medan lebih berat, dan menjadi satu-satunya tandingan yang Team Gargouille punyai untuk melawan Mukuro.

Seperti yang kusebut di atas, aspek mecha M3 kurang menonjol. Tapi kehadirannya sedemikian rupa sampai aku beberapa kali membayangkan kira-kira seperti apa M3 andai porsi karakternya dikurangi dan konflik Mumyou Ryouiki tak ditampilkan begitu abstrak.

Desain mechanya bukan yang bisa kukatakan ‘keren’ sih (struktur proporsi Argent mirip Mukuro dan sempat agak sulit kubedakan. Desainnya bahkan sedikit mengingatkanku pada desain Aquarion). Di samping itu, adegan-adegan aksinya bukan jenis yang dibuat agar terkesan ‘seru’ (meski kekurangan ini diimbangi konflik emosional yang kuat).

Mungkin, maksudnya malah agar adegan-adegan mechanya lebih berkesan horor?

Tapi tak bisa dipungkiri kalau keberadaan Vess dan MA-Vess menjadi hal yang integral dengan cerita.  Kehadirannya itu memberi kesan sedemikian kuatnya, sehingga kamu enggak benar-benar bisa bilang kalau aspek mechanya jelek. Terlebih dengan bagaimana dengan bayaran teramat besar, mulai hadir dua MA-Vess jenis lain, yakni Sable dan Guhles, yang membawa para anggota lain selain Akashi ke dalam kegelapan Mumyou Ryouiki.

Baru sesudah perjalanan berulangkali ke dalam sana—sekalipun ditelantarkan IX, dan hanya dengan dukungan terbatas yang dapat diberikan Kasane dan Susan—Akashi dan kawan-kawannya menemukan titik terang tentang asal usul Mumyou Ryouiki. Mereka menemukan kembali ikatan lama di antara mereka; kebenaran tentang Tsugumi, gadis misterius mirip Sasame yang hampir selalu terlihat bersama Mukuro; serta penelitian terlupakan di sebuah pulau terpencil bernama Yomijima

Cahaya, dan Kemudian Cahaya

Jadi, selain suram, M3 terbilang punya cerita yang rumit.

Daripada ‘kompleks,’ yang kumaksud lebih kayak rumit dalam ungkapan ‘It’s complicated.’ Semua karakter punya bebannya sendiri-sendiri. Lalu di separuh cerita, sama sekali tak kelihatan bagaimana semua bisa terselesaikan secara baik.

Akashi dengan masa lalu kompleksnya, sementara semua orang di sekelilingnya berharap ia membuka diri. Kasane yang terbebani oleh rasa bersalahnya. Emiru yang frustrasi dengan orang-orang di sekelilingnya dan tak punya orang lain yang padanya ia bisa bercerita. Sasame dengan perasaan adanya sebagian dirinya yang hilang. Rasa takut terhadap dunia yang dipunyai Maamu. Rasa takut kehilangan yang perlahan mencengkram Raika dan Iwato. Sampai Minashi yang mengemban semua keputusasaannya seorang diri di balik senyumannya. Kesannya kayak mereka ada di dunia di mana tak ada yang bisa dimintai bantuan selain satu sama lain.

Karena itu, jujur saja, ada sebagian yang berpendapat kalau M3 sedikit kehilangan daya tariknya saat kepingan-kepingan jawaban mulai ditemukan di paruh kedua cerita. Nuansanya menjadi lebih optimis tapi perkembangannya, sayangnya, kurang berhasil ‘menyentuh’ kita seperti beberapa anime mecha emosional lain macam Eureka Seven atau RahXephon. Salah satu alasannya mungkin karena penggambarannya yang agak abstrak dan tak mudah langsung dipahami tadi, di samping jumlah karakter utamanya yang terbilang banyak.

Soal teknis, anime ini memiliki motif warna ‘kelabu’ yang bisa aku mengerti adalah caranya menyampaikan dunia Mumyou Ryouiki yang ‘minim warna.’ (Di samping menjadi cara efektif untuk menekan anggaran.) Tapi ini juga menjadikan anime ini kurang mencolok secara visual, yang untungnya berhasil diimbangi dengan kualitas audio yang lumayan baik.

Walau begitu, (mungkin aneh juga aku ngomong gini) visual desain latarnya tetap menjadi daya tarik buatku. Mulai dari fasilitas rumah sakit terbengkalai dengan ruang-ruang basementnya yang seakan menyembunyikan sesuatu, laboratorium penelitian IX yang ditempati Kasane dan Natsuiri dengan dinding-dindingnya yang berkaca, balkon terbuka tempat Akashi dan Sasame sempat bernaung, bangunan teater besar yang ditempati Tsugumi, bandara kosong di tepi lautan, reruntuhan desa Yomijima tempat asal pohon berpendar misterius Arbornine/Kokonoki dengan gua-gua bawah tanahnya, sampai kamar asrama berinterior nyaman yang Mahmu dan Emiru tempati.

Aku tak menyadarinya di awal, tapi semua tempatnya bagiku benar-benar meninggalkan kesan kuat. Aku sampai ingin mengumpulkan gambar-gambar konsep ilustrasi awalnya. Mungkin aku merasa demikian karena saking kuatnya nuansa sentimentilnya.

Soal audio, para seiyuu-nya terbilang berperan baik. Gampangnya, mereka berhasil menghidupkan karakter-karakter yang enggak kita sukai dengan membuat kita merasakan emosi enggak suka nyata terhadap mereka. (Iya, perlu waktu lumayan sampai karakter-karakternya bisa disukai.) Terus pilihan lagu-lagunya itu. Lagu-lagunya benar-benar sesuai konteks. Kebanyakan temanya tentang kebimbangan sekaligus nostalgia terhadap masa lalu.

Aku bisa saja membeberkan detil ceritanya lebih banyak, tapi itu bisa agak terlalu spoiler. Soalnya, keenggakjelasan soal apa yang terjadi sekali lagi menjadi salah satu daya tarik M3.

Selain itu, sekali lagi, seri ini benar-benar suram. Jadi meski mungkin ini kedengaran aneh, kesuraman itu justru menjadi satu alasan sebagian orang mengikuti seri ini.

Apa yang Menghubungkan Dua Orang

M3 bisa dibilang sejenis anime mecha sains fiksi suram yang banyak dicetus sejak zaman Neon Genesis Evangelion. Ada mecha-mecha besar di dalamnya, tapi ini seri yang benar-benar lebih berat pada drama antar karakternya. Adegan-adegan aksi mechanya jarang. Saat sedang ada, koreografinya juga kayak sengaja dibatasi agar tak terlalu menonjol (mungkin juga buat menghemat biaya).

(…Sori, alasan aku menyinggung soal biaya dari tadi karena sesudah M3, Satelight dan C2C kembali berkolaborasi dalam produksi Aquarion Logos yang benar-benar kelihatan ketat anggarannya.)

M3 bukan seri yang mudah diikuti. Ini bukan seri yang akan begitu saja kurekomendasikan. Tapi iya, ada sesuatu tentang M3 yang terbilang memikat saat kau bisa menerima semua kekurangannya.

Seri ini serius kayak memberi penghiburan aneh bagiku. Sestres apapun aku sebelumnya, kalau melihat anime ini, aku bisa ngerasa kalau para karakternya berada dalam kondisi yang lebih enggak enak lagi.

Yah, mungkin hal seperti ini lebih baik tak ungkap.

Akhir kata, selalu ada harapan di ujung kesulitan. Habislah gelap, terbitlah terang yo.

Lalu balik ke bahasan soal Gundam di atas, kita semua akhirnya tahu kalau IBO berakhir sebagai seri yang keren, sekalipun punya porsi karakter yang benar-benar banyak juga.

Produktivitas Okada-san benar-benar luar biasa.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B-; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+