alfare

Posts Tagged ‘mecha’

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

In anime, manga on 11/09/2017 at 11:07

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Endmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi Tekkadan tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk mendukung dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, salah seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Bokurano

In anime, manga, seinen on 30/05/2017 at 14:15

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

Mobile Suit Gundam Twilight Axis

In novel on 25/03/2017 at 11:40

Pagi hari dua hari lalu, aku mendengar kabar bahwa setelah tuntasnya proyek animasi Gundam Thunderbolt, seri animasi berikutnya yang berlatar di semesta Universal Century sudah dikonfirmasi adalah Kidou Senshi Gundam Twilight Axis.

Twilight Axis (kira-kira berarti ‘senja/akhir Axis’) merupakan seri photonovel yang dicetus Ark Performance (tim yang membuat seri kapal selam futuristik Aoki Hagane no Arpeggio). Mereka dibantu Nakamura Kojiro. Diterbitkannya melalui penerbit Yatate Bunko yang dimiliki khusus oleh studio Sunrise.

Kabar ini mengejutkan karena Twilight Axis merupakan seri yang terbilang masih sangat baru. Walau begitu, kalau mempertimbangkan bagaimana Twilight Axis berlatar tak sampai setahun di kesudahan Insiden Laplace yang dikisahkan di Gundam Unicorn, ditambah lagi mulai membangun latar ke era Gundam F91, keputusan ini masuk akal.

Penasaran, aku langsung mencari informasi lebih banyak.

Untungnya, para spesialis Gundam di situs Zeonic Republic sudah menerjemahkan beberapa babnya ke Bahasa Inggris. Aku langsung meluangkan waktu luang di kantor untuk membaca.

Mengejar Bayangan Merah

Twilight Axis mengetengahkan dua karakter Danton Hyleg dan Arlette Hyleg.

Danton dan Arlette adalah pasangan ayah dan putrinya yang sekilas pandang, kalau menilai dari kehidupan mereka yang bersahaja di Libot Colony—yang terletak di Riah atau koloni luar angkasa Side 5 (sebelumnya, Side 6)—merupakan keluarga kecil biasa. Mereka membuka usaha binatu dan menjalankan hidup dengan damai. Keseharian Danton paling hanya bermain ke kafe yang dibuka tetangganya. Meski demikian, sebenarnya, keduanya sama sekali tak berhubungan darah. Ditambah lagi, Arlette yang tampak masih remaja sebenarnya jauh lebih tua dari usianya.

Keduanya sebenarnya adalah mantan pilot uji Danton Highleg dan teknisi Arlette Almage, dua orang simpatisan pihak Zeon yang telah bekerja sama sejak akhir Perang Satu Tahun. Mereka berada di bawah pengawasan langsung dari komandan mereka, sosok Char Aznable yang legendaris, yang menghilang secara misterius di penghujung Perang Neo Zeon Kedua. Ditambah lagi, Arlette sebenarnya adalah salah seorang Cyber Newtype yang pernah dihasilkan Institut Flanagan. Entah bagaimana, salah satu efek samping dari percobaan-percobaan yang dilakukan terhadapnya adalah tubuh yang menua dengan sangat lambat. Sebagai akibat dari ini, Danton dan Arlette telah berulangkali berpindah domisili sejak Perang Neo Zeon Kedua berakhir karena tak ingin masyarakat sampai mengetahui asal usul mereka.

Kehidupan damai mereka terusik saat pada suatu hari, datang seorang pria necis tapi ramah bernama Mehmet Merca ke toko mereka. Mehmet datang sebagai wakil suatu lembaga yang disebut Departemen Enam dari Kementrian, yang pada dasarnya merupakan badan intelijen Federasi Bumi. Mereka telah mengetahui identitas Danton dan Arlette yang sesungguhnya dan bahkan telah melacak mereka sampai ke Riah. Mehmet rupanya adalah komandan pasukan khusus Mastema yang khusus mendatangi Libot demi meminta bantuan pada Danton dan Arlette.

Singkat cerita, keterlibatan masa lalu Danton dan Arlette dalam pengembangan teknologi Neo Zeon membuat Mehmet ingin merekrut mereka sebagai pemandu untuk menjelajahi apa yang tersisa dari Axis, asteroid raksasa bekas markas faksi Neo Zeon. Tempat lebih spesifik yang ingin dicapai adalah Institut Penelitian Memorial Maharaja Khan, yang merupakan laboratorium peneltian terakhir pula dari Institut Flanagan di mana Danton dan Arlette sama-sama pernah bernaung.

Dalam Perang Neo Zeon Kedua (yang dikisahkan dalam Char’s Counterattack), Axis sempat hendak diluncurkan Neo Zeon ke arah Bumi untuk menimbulkan bencana musim dingin global, yang selanjutnya akan memicu migrasi manusia ke luar angkasa, dan akhirnya melahirkan lebih banyak manusia Newtype yang diyakini dapat menghapuskan peperangan. Berkat upaya kesatuan gerak cepat Londo Bell, bencana tersebut berhasil dicegah dengan dibelahnya Axis, meski salah satu potongannya tetap akan menabrak Bumi kalau bukan karena pengorbanan berbagai pihak yang terlibat.

Sasaran lebih tepat yang ingin Federasi peroleh adalah sampel dari psycho frame, teknologi MS mutakhir yang sempat dibocorkan Char ke kedua belah pihak di Perang Neo Zeon Kedua melalui perusahaan pemroduksi MS Anaheim Electronics. Teknologi ini yang konon menghasilkan keajaiban terselamatkannya Bumi di akhir perang tersebut.

Potensi sesungguhnya teknologi psycho frame akhirnya diketahui Federasi di kesudahan Insiden Laplace. Meyakini keberadaan sisa-sisa rahasia produksinya di Axis, Federasi Bumi menginginkan sampelnya sebelum teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Danton dan Arlette akhirnya menerima tawaran Mehmet. Di samping imbalan berupa uang yang banyak serta dihapuskannya catatan pelanggaran hukum mereka, Danton dan Arlette juga berharap kunjungan kembali mereka ke Axis dapat memberi petunjuk tentang apa sebenarnya yang telah menimpa Sazabi, MS berteknologi psycho frame yang digunakan Char pada saat ia menghilang.

Dikawal Mehmet dan pasukan Mastema, Danton dan Arlette kembali ke Axis setelah bertahun-tahun.

Namun di luar dugaan, ternyata bukan hanya mereka yang di sana. Mereka juga bersimpangan jalan dengan suatu pasukan bersenjata misterius yang bahkan dikawal sejumlah MS Federasi. Salah satu MS tersebut adalah Gundam AN-01 ‘Tristan’, MS tipe-Gundam baru yang tak dikenali Mehmet.

Kalah jumlah dan kalah senjata, Danton, Arlette, dan Mehmet meyakini bahwa pihak misterius tersebut punya tujuan yang sama dengan mereka. Mengandalkan pengetahuan yang mereka punya tentang Axis, mereka berusaha menemukan cara untuk bertahan hidup.

Recollection

Bahkan dari awal, terlihat betapa Twilight Axis merupakan cerita Gundam yang tidak biasa. Di samping mengambil latar utama di Axis, MS tipe Gundam digunakan bukan oleh para tokoh utama, melainkan oleh pihak antagonis yang memburu mereka.

Meski mewakili pihak Federasi, Denton dan kawan-kawannya sebaliknya jadi menggunakan berbagai tipe MS lama peninggalan Neo Zeon untuk melawan mereka. Pertama, dengan Zaku III Custom berwarna merah yang semula dibuat untuk digunakan oleh Char, dan pernah diuji oleh Danton sendiri. Tipe MS yang pernah digunakan Rakan Dahrakan dalam Gundam ZZ ini dirancang untuk produksi massal dalam Perang Neo Zeon Pertama. Sayangnya, rancangan yang punya ciri khas berupa beam gun di mulut ini kalah pamor oleh Doven Wolf dan jadinya diproduksi hanya dalam jumlah terbatas. MS ini sudah sangat fleksibel dan punya performa sangat baik bahkan dibandingkan tipe-tipe MS milik Federasi dan AEUG. Tapi Zaku III Custom yang dikustomisasi oleh Arlette ini konon memiki performa lebih baik lagi dibandingkan Zaku III lain, dan menjadi lawan yang sepadan bagi Gundam Tristan.

Danton juga sempat menggunakan salah satu R-Jarja, MS pengembangan dari Gyan dari era Neo Zeon, tipe yang sama dengan yang pernah digunakan mendiang Chara Soon. Senjata khasnya adalah beam rifle dengan heat bayonet, di samping beam saber dan flexible shield pada bahu.

Di sisi lawan mereka—yang kemudian terungkap merupakan kesatuan (bayaran?) Birnam Wood—Gundam Tristan, yang dikemudikan pilot Cyber Newtype Quentin Fermo, memiliki bentuk luar yang sangat mengingatkan pada Gundam Alex yang sempat diuji untuk Newtype dalam Gundam 0080: War in the Pocket. Namun lebih banyak tentang asal usulnya masih misteri. Hal yang mencolok lain tentangnya adalah ukurannya yang terbilang kecil untuk produksi MS sejenisnya, yang sebenarnya merupakan foreshadowing terhadap tren pengembangan MS berukuran kecil yang ditampilkan dalam Gundam F91. Di samping itu, Birnam Wood juga dikawal oleh sejumlah MS lain yang tipenya dikenal sebagai milik Federasi, yakni beberapa Jegan Custom serta satu MS kustomisasi Byarlant Isolde yang telah disesuaikan secara khusus untuk digunakan di luar angkasa.

Terlepas dari soal mekanis, terlihat bagaimana Twilight Axis membangun konflik yang menarik. Karakter-karakternya unik. Mulai dari bagaimana Arlette selalu bisa membujuk Danton dengan hubungan aneh yang mereka punyai. Atau bagaimana Mehmet orang sangat santun dan simpatik meski jabatannya menyeramkan. Ditambah lagi, dengan pihak misterius di belakang Birnam Wood.

Keputusan Sunrise untuk mengadaptasi seri ini mulai bisa dimaklumi saat kita memperhatikan betapa banyaknya referensi yang Twilight Axis miliki terhadap seri-seri lain. Bukan hanya seri-seri lama ‘di belakang’ melalui sejarah latar, (Seperti soal bagaimana Axis disinggung pernah dikuasai Haman Karn, putri Maharaja Karn, sebelum yang bersangkutan tewas dalam konflik di Gundam ZZ. Terdesak oleh kepungan pasukan Federasi serta keruntuhan faksi Neo Zeon dari dalam, Haman memilih bunuh diri sesudah duel penentuannya dengan Judau, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Axis sebelum Char akhirnya tampil.) tapi juga dengan seri-seri ‘ke depan’ di era kekuasaan Crossbone Vanguard.

Dikisahkan bahwa pihak yang membeking Birnam Wood sebenarnya adalah keluarga Ronah, yang kelak mendirikan faksi Crossbone Vanguard dan negeri Cosmo Babylonia, yang pada titik ini memiliki kedekatan dengan perdana menteri Federasi Bumi yang tengah menjabat. Birnam Wood digerakkan oleh Meitzer Ronah, yang kita ketahui belakangan akan menjadi kepala keluarga Ronah dalam Gundam F91. Diperkenalkan pula Engeist Ronah, saudara lelaki Meitzer yang menjaga hubungan dengan Federasi; serta Scharnhorst Ronah, ayah Meitzer dan Engeist, kepala keluarga yang mengadopsi kebangsawanan Eropa dan telah mendirikan perusahaan berkuasa Buch Concern hanya dalam satu generasi.

Kelihatannya, Twilight Axis akan melakukan beberapa retcon sejarah lagi. Kasusnya mungkin serupa dengan yang Gundam: The Origin lakukan terhadap seri TV-nya yang asli. Hanya saja, daripada terhadap Zeon, penyesuaiannya akan diberikan terhadap asal usul Crossbone Vanguard yang menjadi tokoh antagonis di Gundam F91.

Kalau mempertimbangkan ini, mulai terbayang alasan mengapa seri manga populer Crossbone Gundam, yang menjadi sekuel Gundam F91, masih belum dianimasikan juga. Mungkin Sunrise ingin membangun kembali latar dunianya dari awal. Sesudah dengan Gundam Unicorn dan Gundam: The Origin, baru mereka kini mulai menjajaki sejarah era Crossbone Vanguard.

Jadi untuk kalian fans Crossbone Gundam, jangan putus harapan.

Akhir kata, aku menyukai Twilight Axis lebih dari yang kukira saat membaca bab-bab awal novelnya. Meski gaya narasinya ringkas, ceritanya langsung dipenuhi aksi dengan banyak intrik yang terjadi. Ada keselarasan dalam berbagai elemennya gitu. Aku terutama suka dengan bagaimana motivasi Char, yang telah lama menjadi perdebatan di kalangan fans Gundam era UC, sempat disinggung juga menjadi teka-teki bahkan di dalam ceritanya sendiri. Aku benar-benar tertarik dengan perkembangannya ke depan. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Kalau ada perkembangan tambahan, mungkin tulisan ini akan aku sesuaikan lagi.

Mobile Suit Gundam I (Movie)

In anime on 19/08/2016 at 14:15

Aku menyempatkan diri menonton bagian pertama dari trilogi film layar lebar Mobile Suit Gundam atau Kidou Senshi Gundam yang orisinil beberapa waktu lalu. Seperti banyak hal lain dari seri Gundam, aku sudah lama tahu tentang trilogi film layar lebar ini, cuma baru sekarang berkesempatan melihatnya.

Trilogi ini pada dasarnya merupakan kompilasi dari versi seri TV-nya yang berjumlah 43 episode. Ada beberapa penyesuaian di sisi cerita. Tapi lebih lanjut soal itu akan aku bahas nanti.

Untuk yang belum tahu, kalian bisa menonton ini gratis lewat saluran Gundam.info dengan teks bahasa Inggris sampai tanggal 21 September nanti. Kualitas videonya termasuk lumayan, walau tentu saja kalian perlu ingat ini dibuatnya di tahun 1981, dengan footage asli yang dibuat bahkan sebelum 1979. Tapi kualitas audionya di luar dugaan termasuk benar-benar masih bagus.

Sutradaranya, tentu saja, adalah Tomino Yoshiyuki. Desain karakternya dibuat oleh Yasuhiko Yoshikzazu. Desain mekanik dibuat oleh Okawara Kunio. Lalu musik ditangani oleh Watanabe Takeo dan Matsuyama Yuji.

Di Mana Mereka Hidup… dan Mati

Aku tak akan terlalu membahas soal cerita, berhubung rasanya, aku sudah berulangkali melakukannya.

Adaptasi layar lebar dari seri Gundam yang paling pertama ini intinya mengetengahkan perjalanan Amuro Ray dan teman-teman barunya dalam melarikan diri dari pasukan Zeon menggunakan kapal induk baru buatan Federasi Bumi, White Base. Ceritanya berlatar di masa depan tahun 0079 Universal Century, ketika sebagian besar umat manusia telah berpindah dari Bumi ke struktur-struktur raksasa koloni luar angkasa buatan manusia. Demi melindungi teman-temannya dalam perjalanan dari koloni luar angkasa Side 7 ke Bumi, Amuro menggunakan senjata baru Federasi, sebuah mobile suit bernama Gundam, yang dibuat oleh ayahnya dan ternyata memiliki kemampuan luar biasa.

Cerita bagian pertama dari trilogi ini memaparkan awal penyerangan komandan handal Char Aznable beserta anak-anak buahnya ke Side 7. Ini berlanjut ke upaya pelarian White Base yang telah kehilangan sebagian besar awak aslinya dan kini lebih banyak dikemudikan penduduk sipil ke markas luar angkasa Luna II. Ini kemudian diikuti melencengnya rute re-entry atmosfer yang dilakukan White Base, dari yang tadinya mau ke Jaburo, markas besar Federasi di Amerika Selatan, malah jadi ke sekitar Amerika Utara. Lalu konflik White Base dengan Garma Zabi, putra bungsu pemimpin Zeon, Degwin Sodo Zabi, yang sebenarnya diatur oleh Char. Lalu reuni Amuro dengan ibunya. Kemudian baru diakhiri lewat pertemuan Amuro yang telah kelelahan fisik dan mental dengan lawan mereka yang baru, perwira Zeon handal bernama Ranba Ral, di tengah amukan badai petir yang baru kali pertama mereka lihat.

Sebagai orang yang pernah melihat film-film kompilasi yang dibuat Tomino-san (dan telah terbiasa dengan tempo ceritanya yang luar biasa cepat), aku terkesima dengan kenormalan tempo cerita di film ini. Masih terbilang cepat sih. Tapi anehnya, tidak terasa cepat gila-gilaan seperti dalam film-film kompilasi beliau yang lebih belakangan. Mungkin juga karena durasinya yang mendekati hampir dua setengah jam, film ini tak terasa terlalu cepat ataupun terburu-buru.

Agak susah sih menjelaskannya. Tapi intinya, pengaturan temponya bagus.

Aku pernah melihat beberapa episode dari seri TV aslinya. Garis besar perkembangan ceritanya tetap sama. Tapi memang ada feel berbeda yang berusaha dibidik dari trilogi ini, yang belakangan kemudian kita kenal sebagai nuansa real robot.

Intinya, adegan-adegan aksinya masih terbilang seru. Tapi hal-hal yang membuatku terkesima sampai mengangkat alis seperti di seri TV-nya sudah tak ada. Di trilogi ini, hal-hal seperti bola berantai Gundam Hammer, perlengkapan G-Armor, dan beam saber yang bisa diubah menjadi beam javelin sudah dihilangkan. Di atas kertas, aku mengerti hal-hal tersebut dihilangkan karena masih terlalu berbau super robot. Lalu aku juga mengerti bahwa teknologi MS yang tampil dalam trilogi ini adalah apa yang dijadikan acuan dalam seri-seri Gundam berikutnya. Tapi di sisi lain, aku juga akhirnya jadi mengerti bagaimana ada orang-orang yang sempat kecewa dengan trilogi ini, dan lebih memilih seri TV aslinya.

Soalnya… gimana ya?

Aku ingat jelas bagaimana aku merasa ada begitu banyak hal gila yang Amuro lakukan dengan Gundam di seri TV-nya. Ibarat Rambo, meski hanya seorang diri, dia melakukan banyak hal yang belum pernah orang lain lakukan menggunakan MS gitu. Dia lincah lari ke mana-mana, menembak-nembak banyak musuh kayak karakter utama di game FPS, hampir enggak mempan oleh tembakan-tembakan, melakukan adegan-adegan laga yang susah dipercaya, dan berakhir jadi satu-satunya yang tersisa. Tapi di film layar lebar ini, hal tersebut dikurangi. Sisi kemanusiaan Amuro dalam menghadapi lawan-lawannya lebih ditonjolkan. Diperlihatkan bagaimana stres dan kelelahan karena membunuh orang terus menggerogotinya. Walau memang berkat performa Gundam yang sedemikian berbedanya dari MS Zaku dan pesawat-pesawat milik Zeon, Amuro tetap berakhir imba.

Bicara soal mecha, karena aspek aksinya yang agak dikurangi dibandingkan karakterisasinya, robot-robot di seri ini masih tampil menonjol, tapi tak semenonjol di seri TV-nya.

Zaku II merah milik Char, yang memiliki kecepatan tiga kali di atas kecepatan Zaku normal, mendapat porsi sorotan lumayan banyak. Ada beberapa kali ia beradu dengan Gundam, dan dengan kehandalan Char, ia menjadi lawan yang benar-benar setara. Aku suka dengan bagaimana saat Char menyadari sebagian besar senjatanya (senapan mesin dan heat hawk) tak mempan terhadap Gundam, ia jadi lebih banyak memakai serangan fisik. (Untuk kalian yang pernah menonton Gundam Unicorn, kalian bisa melihat ada banyak kemiripan adegan antara pertempuran Amuro melawan Char dengan pertempuran Banagher melawan Full Frontal.)

Guncannon yang dikemudikan Kai Shiden dan Guntank yang dikemudikan bersama oleh Ryu Jose dan Hayato Kobayashi juga masih berperan. Kedua MS tersebut mendapat peran penting dalam melindungi White Base seiring berpindahnya latar cerita ke Bumi. Tapi karakter-karakter yang mengemudikan mereka belum begitu banyak disorot, karena fokus cerita yang masih lebih banyak dilihat dari sudut pandang Amuro.

MS biru Gouf, yang digunakan oleh Ranba Ral, masih menjadi lawan yang lebih dari sepadan bagi Gundam dengan senjata cambuk listriknya. Ral beserta istrinya, Crowley Hamon, memang baru tampil sebentar di film ini. Mereka baru lebih banyak disorot dalam film yang berikutnya.

Bicara soal Gundam sendiri, di sini MS ini lebih diperlihatkan betapa kebalnya ia terhadap persenjataan lawan. Gundam diperlihatkan punya fitur-fitur lain yang tak dimiliki MS lain sebelumnya. Tapi dibandingkan di seri TV-nya, armamennya memang lebih terbatas, mencakup hanya beam rifle, beam saber, serta Hyper Bazooka.

Ketiga MS buatan Federasi Bumi juga menonjolkan desain baru di mana kokpitnya terbentuk dari pesawat tempur Core Fighter. Lalu di samping desain White Base sendiri, itu jadi aspek keren menonjol yang dimiliki seri ini pada masanya.

Musnahnya Separuh Populasi Umat Manusia

Bicara soal teknisnya, terlepas dari animasinya yang sudah berusia, kalau kalian melihatnya sendiri, mungkin kalian bakal sadar. Ada sesuatu yang istimewa tentang Kidou Senshi Gundam. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa kelihatan kalau cuma mengikuti seri-seri sekuelnya. Ada… sesuatu tentang seri ini—khusus tentang seri yang ini—yang benar-benar bisa menarikmu gitu.

Susah menjelaskannya.

Mungkin juga berkat art direction Nakamura Mitsuki, ada banyak visual berkesan di dalamnya. Lalu ini yang kubayangkan pasti telah sedemikian memicu imajinasi orang-orang yang menontonnya di masa lalu. Mulai dari narasi pembuka yang menggambarkan jatuhnya koloni luar angkasa raksasa ke Bumi, adegan jebolnya dinding Side 7 oleh ledakan reaktor MS, rombongan orang mengungsi di dalam bunker, atau pemandangan White Base di latar senja saat meninggalkan ibu Amuro yang berlutut dalam kesedihan. Seriusan, ada banyak adegan di dalamnya yang kalau diperhatikan, benar-benar berkesan.

Mungkin juga itu berkat karakterisasinya. Aku mengerti sekarang soal kenapa ada yang menganggap awak-awak kapal di White Base jauh lebih berkesan ketimbang yang di sekuel-sekuelnya. Ada fokus ke karakterisasi yang kebagusannya bahkan tak kutemui dalam karya-karya Tomino-san yang lebih ke sini.

Bright Noa adalah letnan muda yang menjadi kapten sementara dari White Base. Ia disinggung masih berusia sangat muda (seperti remaja usia akhir), berhubung betapa banyaknya orang dewasa yang sudah tewas dalam Perang Satu Tahun yang di masa itu tengah berlangsung. Bright, yang sudah terbentuk oleh pendidikan militer yang diterimanya, menunjukkan sikap pragmatis di hadapan Amuro berkenaan kepemilikannya atas Gundam. Lalu di awal cerita, hal inilah memicu konflik antara keduanya.

Selain Bright, orang militer yang masih tersisa paling adalah Ryu Jose, seorang pilot dalam pelatihan. Menggunakan Core Fighter, ia banyak membantu Amuro.

Lalu selain Amuro, warga sipil lain yang kemudian direkrut jadi bagian dari militer meliputi:

  • Mirai Yashima, seorang pilot muda yang merupakan putri dari suatu keluarga penerbang. Mirai yang kemudian memegang kemudi atas nahkoda White Base dan menjadi salah satu harapan lain para awaknya untuk selamat.
  • Sayla Mass, murid sekolah medis dengan pribadi proaktif. Dirinya menyimpan rahasia besar sesudah menyadari bahwa Char Aznable ternyata adalah kakak kandungnya yang telah lama hilang. (Seudah melihat sendiri seri ini, aku jadi bisa memaklumi pengharapan sebagian penggemar yang mengharapkan Sayla yang tetap jadi love interest-nya Amuro.)
  • Kai Shiden, seorang remaja sok yang awalnya membuat sebal semua orang dengan sikapnya.
  • Hayato Kobayashi, salah satu teman lama Amuro yang berbadan pendek tapi juga tak terlalu dekat dengannya juga.
  • Frau Bow, teman masa kecil Amuro yang memperhatikannya dari awal sampai akhir. Berkat kata-kata Amuro, Frau menjelma menjadi sosok gadis yang kuat sesudah ia tiba-tiba kehilangan seluruh anggota keluarganya. Lalu karena itu pula ia sedemikian berusaha mendukung Amuro dalam pergulatan batinnya selama memiloti Gundam.

Selebihnya, Char benar-benar ditampilkan sebagai lawan mengerikan dengan kemampuannya untuk berpikir sekian langkah lebih jauh dari orang lain. Urusan logistik menjadi sesuatu yang secara menarik disorot di seri ini, yang di pihak Federasi ditampilkan lewat karakter Matilda Ajan, yang mendukung White Base dengan barang-barang kebutuhan hidup dan menjadi sumber kekaguman Amuro. Matilda juga yang di versi cerita ini membawa kabar tentang desas-desus tentang teori Newtype yang di seri TV aslinya dimunculkan dengan agak tiba-tiba. Lalu para karakter antagonis sukses ditampilkan secara simpatik, khususnya lewat pemaparan hubungan Garma Zabi dengan Icelina Eschonbach yang mencintainya.

Rasanya aneh aku bicara begini. Tapi terus terang aku juga jadi sedikit merasa kalau yang sebenarnya paling mempengaruhi seri-seri Gundam modern sebenarnya bukanlah Kidou Senshi Gundam yang orisinil, melainkan sekuel-sekuel awalnya. Khususnya, Zeta Gundam dan Gundam ZZ. Walau memang berstatus sebagai cerita awalnya, Kidou Senshi Gundam memiliki nuansa yang benar-benar berbeda sendiri. Segala sesuatunya, baik itu MS, kapal induk, atau dunianya, terasa sedemikian besar. Lalu para karakternya juga kayak bisa lebih berdiri sendiri.

Mungkin tema cerita Kidou Senshi Gundam memang takkan pernah basi.

Sekali lagi, audionya benar-benar bagus. Tak ada lagu yang mencolok sih. Tapi penataan segala sesuatu terkait suaranya benar-benar berkesan.

Teks terjemahan bahasa Inggrisnya juga bagus, cuma sayang masih ada banyak istilahnya yang kurang terasa up to date (Jaburo ditulis sebagai Jabrow, misalnya. Lalu daripada Principality of Zeon, mereka disebutnya Duchy of Zeon).

Akhir pekan nanti mau kusempatkan melihat kelanjutannya.

Undefeated Bahamut Chronicle

In anime on 28/05/2016 at 23:58

Undefeated Bahamut Chronicle berkisah tentang Lux Arcadia, pangeran terakhir Kekaisaran Arcadia yang tumbang beberapa tahun sebelumnya untuk kemudian digantikan pemerintahan baru Kerajaan Atismata. Cerita dibuka dengan awal pertemuan Lux dengan putri kerajaan baru tersebut, Lisesharte Atismata, yang sesudah serangkaian hal, berujung pada bagaimana Lux harus turut bersekolah di Akademi Perwira Kerajaan tempat para pengguna Drag-Ride kerajaan dilatih, yang seluruh muridnya sebelum Lux adalah perempuan.

Drag-Ride, atau Kiryuu (‘naga mesin’), merupakan peralatan tempur yang terpasang di tubuh penggunanya yang diaktifkan melalui sebilah alat berbentuk pedang yang disebut Sword Device. Ada parameter kecocokan tertentu antara sebuah Drag-Ride dengan penggunanya. Lalu ada beberapa jenis Drag-Ride tertentu yang dipandang sakral, dan karenanya diperlakukan sebagai pusaka, yang disebut Divine Drag-Ride atau Shinshou Kiryuu. Keistimewaaan yang Divine Drag-Ride punyai dibandingkan Drag-Ride biasa adalah kemampuan khusus tertentu yang disebut Divine Raiment atau Shinshou (yang pengaktifannya ditandai dengan kemunculan lingkaran-lingkaran sihir) yang hanya dimiliki oleh Drag-Ride tersebut.

Yang paling terkenal dari semuanya, adalah Divine Drag-Ride berwarna kelam yang digunakan oleh sang Pahlawan Hitam, sosok misterius yang menjatuhkan 1.600 pengawal kekaisaran dengan Drag-Ride mereka masing-masing seorang diri pada malam pertempuran terakhir melawan Kekaisaran, yang berkat dirinyalah, revolusi akhirnya bisa terjadi.

Seperti Naga Terbang

Undefeated Bahamut Chronicle atau Saijaku Muhai no Bahamut (‘Bahamut yang terlemah dan tak terkalahkan’) diangkat dari seri light novel buatan Akatsuki Senri yang diterbitkan SB Creative di bawah label GA Bunko sejak tahun 2013. Ilustrasinya dibuat Kasuga Ayumu, yang mungkin sebelumnya telah kalian kenali lewat suatu seri tertentu tentang sebuah kota kerajaan, atau sebuah seri lain tentang gaya rambut kuncir dua.

Terlepas dari itu… adaptasi animenya dibuat oleh Lerche dan disutradarai Ando Masaomi (yang saat anime ini diumumkan, sedang naik daun berkat arahannya di seri zombie Gakkou Gurashi!). Komposisi serinya dibuat oleh Kakihara Yuuko dengan musik dibuat oleh Matsuda Akito. Jumlah episodenya 12, dan pertama tayang pada awal tahun 2016.

Undefeated Bahamut Chronicle sejak awal punya nuansa mirip Infinite Stratos. Bedanya, daripada dunia masa depan, latarnya dunia fantasi abad pertengahan. Pengecualiannya paling di adanya zirah mekanik Drag Ride yang para karakternya gunakan, yang dikisahkan berasal dari suatu peradaban ajaib kuno yang telah lama hilang. Selebihnya, seri ini juga seperti berusaha membidik semua elemen yang sama, tercermin pada premis sekolah yang semua muridnya selain Lux adalah perempuan.

Makanya, aku kurang menaruh harapan terhadap seri ini pada awalnya.

Bukannya aku tak suka ide ceritanya. Hanya saja, ceritanya memang dibuka dengan cara yang agak bikin hilang selera. (Karena suatu kesalahpahaman, Lux terjatuh ke dalam kamar mandi para siswi di Akademi, dan karena itu ditantang duel.)

Tapi lambat laun kusadari, cara cerita dibuka dengan ‘remeh’ ini mungkin hanya cara Akatsuki-sensei ‘menstarter’ idenya dulu. Soalnya, ke sananya, ternyata ada lumayan banyak ide menarik dalam Undefeated Bahamut Chronicle. Seperti, kayak baru agak belakangan ceritanya berhasil dikembangkan lewat pembangunan latarnya.

Pemerintahan Kerajaan Atismata yang baru beberapa tahun berdiri dikisahkan masih goyah. Guncangan datang dari dalam maupun luar. Salah satunya dari ancaman sisa-sisa pendukung Kekaisaran, meski Lux beserta adik perempuannya, Airi Arcadia, sama-sama lebih memilih menjadi bagian dari negara baru ini.

Lalu ada persaingan antar bangsawan dalam merebut akses masuk ke berbagai Reruntuhan, situs-situs peninggalan peradaban lampau dengan beraneka bentuk, yang dari dalamnya bermacam sumber daya berharga bisa didapatkan, yang salah satunya adalah teknologi Drag-Ride.

Di awal, pertemuan Lisha dan Lux membuka tabir bahwa Lux sesungguhnya adalah Pahlawan Hitam misterius yang menjatuhkan 1.600 pengawal Kekaisaran pada malam terakhir berlangsungnya revolusi. Lux sebelumnya hanya dikenal sebagai petarung terlemah, meski tak terkalahkan, karena kebiasaannya untuk menang dengan mengulur waktu pada setiap pertandingan Drag-Ride.

Namun identitas Lux sebagai pengguna Divine Drag-Ride hitam, Bahamut, akhirnya terkuak saat makhluk-makhluk penjaga Reruntuhan, Ragnarok, secara misterius dikendalikan untuk keluar dari Reruntuhan dan menyerang masyarakat sipil. Kejadian ini menandai awal rangkaian konflik yang mengguncang Kerajaan Atismata lagi.

Jadilah Legenda

Satu hal berkesan dari Undefeated Bahamut Chronicle, yang agak tak seperti seri-seri adaptasi ranobe lainnya, adalah bagaimana setiap karakter baru benar-benar membawa cerita dan sejarahnya sendiri-sendiri. Lalu… entah ya, aku paham kapasitas penceritaannya agak terbatas. Tapi lumayan terasa besarnya dampak kehadiran mereka di masing-masing bab.

Jadi sedikit merangkum, para karakter utama seri ini jadinya meliputi:

  • Lux Arcadia, pewaris ketujuh Kekaisaran Lama yang kerap dipandang sebelah mata, menjadi tawanan kerajaan dan diharuskan menerima berbagai pekerjaan kasar, meski sesungguhnya ia adalah Pahlawan Hitam yang berkekuatan dahsyat. Lux biasa menggunakan Drag-Ride normal Wyvern (yang dimodifikasi untuk lebih menekankan pertahanan) dan baru menggunakan Divine Drag-Ride Bahamut bila benar-benar perlu. Dia memiliki sejarah yang lebih rumit dibandingkan karakter-karakter utama sejenis.
  • Airi Arcadia, adik perempuan Lux yang juga menjadi salah satu murid di Akademi, yang selalu mengkhawatirkan situasi kakaknya. Warna rambut mereka sama. Dirinya yang paling memahami Lux dan paling mengerti cara penyelesaian masalah yang akan diambilnya.
  • Lisesharte Atismata, putri mahkota Kerajaan Baru yang menjadi akrab dengan Lux sesudah Lux berjanji menjaga rahasia Lisha sendiri. Divine Drag-Ride miliknya adalah Tiamat yang berwarna merah. Memiliki hobi mengutak-atik aspek mekanik Drag-Ride. Meski tangguh, ia beberapa kali terancam karena statusnya. Sekalipun demikian, nyatanya, ia bisa dibilang tak punya aura ‘tuan putri’ sama sekali. Dalam perkembangan cerita, ia memilih Lux sebagai ksatria pribadinya.
  • Krulcifer Einfolk, seorang gadis anggun dan disegani yang merupakan putri suatu keluarga bangsawan dari negara tetangga Ymir. Divine Drag-Ride miliknya adalah Fafnir berwarna perak. Awalnya mendekati Lux untuk menghindar dari perjodohan. Dalam perkembangannya, terungkap kalau dirinya sebenarnya diadopsi sesudah ditemukan di salah satu Reruntuhan. Lalu ia diperebutkan karena kemampuan istimewanya untuk mengakses Reruntuhan secara bebas. Rahasia miliknya juga jadi sesuatu yang dijaga oleh Lux.
  • Philuffy Aingram, teman masa kecil Lux yang perhatian tapi selalu terkesan mengantuk. Divine Drag-Ride miliknya adalah Typhon berwarna ungu. Phi adalah adik perempuan dari kepala Akademi yang tengah menjabat, Relie Aingram. Lux mempunyai keterikatan dengan Phi karena ketika Kekaisaran masih berkuasa, hanya keluarga Philuffy sajalah yang bersedia menampung Lux dan Airi sesudah ibu mereka wafat. Lalu keinginan Lux untuk bisa menolong Phi dari suatu hal di masa lalu yang ternyata menjadi motivasi pribadinya untuk membantu menggulingkan Kekaisaran.
  • Celistia Ralgris, gadis bangsawan yang diakui sebagai ksatria terkuat di Akademi, yang karena suatu alasan memiliki reputasi sebagai pembenci laki-laki. Divine Drag-Ride miliknya adalah Lindworm berwarna keemasan. Terungkap kalau dirinya dididik oleh mendiang kakek Lux, dan maksud baiknya telah disalahpahami. Di perkembangan cerita, ia harus menuntaskan konflik dengan Saniya, salah satu mantan murid Akademi yang kemudian mengkhianatinya.

Konflik di seri ini terlahir dari bagaimana ada suatu terompet berbentuk tanduk yang ternyata dapat mengendalikan para Ragnarok, yang ternyata diperjualbelikan oleh suatu pihak misterius di pasar gelap. Jadi selain pertempuran antar pengguna Drag-Ride, ada monster-monster Ragnarok dan hal-hal misterius lain yang bisa ditemukan dari dalam Reruntuhan.

Untuk waktu lama, karena warna rambutnya yang sama, Lux mengira bahwa sosok misterius yang menjadi dalang kekacauan ini adalah Fugil Arcadia, putra mahkota pertama Kekaisaran Lama sekaligus kakak lelaki (tiri?) Lux yang telah lama menghilang dengan menyisakan banyak tanda tanya. Namun sosok ini rupanya adalah Hayes, perempuan tak dikenal yang nampak punya dendam kesumat bukan hanya pada Atismata, namun juga pada anak-anak lain keturunan mendiang Kaisar. (Divine Drag-Ride yang digunakannya adalah Nidhogg, yang sedemikian kuatnya sampai bisa membelah bumi.)

Perkembangan cerita asli di novelnya sebenarnya menarik.

Dipaparkan bahwa pemilik asli Sword Device Bahamut sebenarnya adalah Fugil. Lalu Fugil mempercayakan Bahamut pada Lux untuk digunakannya dalam malam terakhir revolusi. Namun membantah perkiraan Lux, ternyata Fugil memanfaatkan kesempatan yang Lux ciptakan untuk membantai para anggota keluarga Kekaisaran lain dari dalam. Lalu salah satu adegan penutup seri ini adalah bagaimana Lux dan Fugil secara mengesankan sempat saling pandang tanpa kata-kata dari kejauhan, dengan sebuah Sword Device lain serupa Bahamut yang kini disandang Fugil, sebelum ia kembali menghilang.

Tapi semua pembeberan ini kurang begitu tersampaikan di versi anime. Besar kemungkinan, karena faktor durasi. Ini juga lumayan terasa pada pembeberan identitas Hayes, yang sebenarnya bukan hanya seorang ahli siasat tangguh, namun juga pewaris mahkota kedua Kekaisaran Lama sesudah Fugil.

Undefeated Bahamut Chronicle paling mudah aku bandingkan dengan Unbreakable Machine Doll, anime lain keluaran Lerche yang juga hasil adaptasi ranobe. Keduanya sama-sama menampilkan cerita yang benar-benar terasa dipotong dan dipadatkan (yang juga punya kelemahan karena kadang dipenuhi hal tak penting). Tapi keduanya juga punya saat-saat ketika menampilkan adegan-adegan yang menurutku benar-benar berkesan.

Berdua, Terus Terlelap

Sedikit bicara soal mecha, seri ini punya aspek mecha lumayan berkesan. Cuma, ya itu. Entah karena materi aslinya memang demikian, atau lagi-lagi karena keterbatasan durasi, bahasannya terasa agak kurang tergali.

Maksudku: adegan-adegan aksinya sendiri terasa lumayan biasa, tapi kalau kita perhatikan, sebenarnya hampir selalu ada penjabaran menarik di baliknya. Ada berbagai teknik dan strategi yang harus Lux ambil untuk mengatasi lawan-lawannya. Setiap Drag-Ride punya keistimewaan dan keunggulannya masing-masing meski semuanya sama-sama bermotif naga. Tapi itu kayak kurang bagus penjabarannya dalam bentuk anime ini.

Sedikit merangkum:

  • Bahamut milik Lux memiliki Divine Raiment yang bernama Reload on Fire. Secara visual, ini tampak dengan bagaimana Bahamut yang berbasis udara bisa tiba-tiba berkelebat ke segala arah dan menjatuhkan lawan-lawan seketika. Tapi sebenarnya, ini semacam kemampuan untuk menyegel dan mengkompres suatu atribut, yang sesudah dilepas, akan menyebabkan atribut tersebut diperkuat sampai berkali-kali lipat.
  • Tiamat milik Lisha yang juga berbasis udara memiliki meriam dahsyat bernama Seven Heads sekaligus Divine Raiment berupa kemampuan memanipulasi gravitasi bernama Thresher. Ini juga memiliki persenjataan serupa bit. (Selain itu, karena kesukaannya, Lisha juga sempat memodifikasi Tiamat-nya agar punya bor.)
  • Fafnir milik Krulcifer dirancang khusus untuk serangan jarak jauh. Memiliki senapan es laras panjang Frost Cannon yang dapat membekukan sasaran-sasarannya. Lalu Divine Raiment-nya adalah Wise Blood yang memberinya sedikit kemampuan melihat masa depan.
  • Typhon milik Phi berbasis darat dan melancarkan serangan-serangan jarak dekat dengan tinju, walau mampu menjerat musuh dengan kawat-kawat. Divine Raiment Missing Fate miliknya mampu menetralkan Divine Raiment milik Divine Drag-Ride di sekelilingnya.
  • Lindworm milik Celistia bersenjatakan tombak yang mempunyai kekuatan petir serta senapan Starlight Zero. Divine Raiment miliknya adalah Divine Gate yang memungkinkannya berteleportasi dalam sekejap.

Adegan-adegan aksinya adalah tipe yang ‘bakal lebih berkesan andai saja pemaparan karakter dan pembangunan situasinya lebih bagus.’ Ada pemakaian CG yang tak bisa dikatakan jelek, tapi juga tak bisa dikatakan bagus juga. Ini terutama terasa pada penggambaran Ragnarok, yang agak mirip cara penggambaran Metaphysical di Seiken Tsukai no World Break. Sekalipun begitu, perlu diakui kalau menjelang penutup cerita, kualitas beberapa adegan aksinya sempat mengalami lonjakan drastis.

Undefeated Bahamut Chronicle juga sebenarnya termasuk enak dilihat secara visual. Dengan jalinan plotnya, nuansa harem sekolahnya tak pernah benar-benar menyamai nuansa komedi romantis Infinite Stratos. Sekedar dilihat sekilas pun, seri ini termasuk cantik. Aku awalnya kurang terkesan dengan gaya desain karakter asli Kasuga-sensei yang berkesan ramping. Tapi di animenya, penggambaran latar belakang ‘bangsawan’ dari para karakternya benar-benar kena. Lalu ini diperkuat dengan pemakaian berbagai motif visual yang memberi penekanan hal ini, yang mencakup gaun dan penataan rambut ataupun garis-garis berpola yang membingkai.

Ada satu adegan ketika Lux harus berhadapan dengan gadis pengawal khusus keluarganya, Kirihime Yoruka (Divine Drag-Ride miliknya adalah Yato no Kami yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan Drag-Ride lain). Lalu pertemuan mereka tersebut dibuka dengan semburat kelopak-kelopak bunga berterbangan secara dramatis. Adegan ini terbilang sebentar, tapi keberadaannya membuatku merasa kalau Ando-san sebenarnya benar-benar memberi perhatian khusus terhadap penggambaran adegan-adegannya.

Dari segi audio, seri ini juga sebenarnya tak terlalu mencolok. Tapi pemilihan seiyuu-nya yang sebagian besar nama-nama baru lumayan pas. Lalu di samping itu, lagu penutup yang dibawakan nano.RIPE berhasil menutup tiap episodenya dengan nuansa unik yang benar-benar cocok untuk seri ini.

Akhir kata, kemungkinan besar berkat arahan Ando-san, adaptasi anime Undefeated Bahamut Chronicle berhasil menjadi sesuatu yang tak benar-benar bisa dibilang jelek. Ini kayaknya jenis seri yang lebih cocok dinikmati oleh mereka yang sudah tak asing dengan ranobenya. Tapi sebagai perkenalan untuk materi aslinya… yah, kurasa hasilnya tak jelek.

Aku sempat mengikuti perkembangannya karena… yah, aku lumayan penasaran dengan konsepnya.

Konsep awalnya tak sebagus itu. Tapi yah, perkembangannya lumayan. Aku juga lumayan suka para karakternya.

Ngomong-ngomong, mungkin ada yang penasaran soal kenapa aku sebegitu sukanya mengulas seri-seri semacam ini. Sebenarnya, daripada hasil jadinya sendiri, aku kerap penasaran dengan hasil dari proses produksinya sih. Jadi, membandingkan dengan nama-nama staf yang terlibat, aku bakal mikirin hal-hal kayak: “Oh, kalo si staf ini terlibat, kecendrungannya jadi kayak gini.” atau “Oh. Kalo studio yang menanganinya ini, hasilnya cenderung begini.” atau “Ooh, bagian cerita yang ini di novelnya terus mereka sajiin kayak gini.” Mungkin salah satu alasannya karena usiaku yang tergolong dewasa dan statusku yang bekerja di perusahaan.

Seperti kata pepatah, success is a lousy teacher. Jadi ibaratnya, aku kayak bisa mendapatkan lebih banyak pelajaran dari karya-karya yang gagal atau kurang sempurna ketimbang karya-karya yang notabene bagus. Lalu meski punya banyak kelemahan, biasanya selalu ada yang bisa kunikmati dari seri-seri adaptasi ranobe kayak gini.

Jadi bukan. Bukannya aku maso atau tak suka karya-karya yang memang bagus ya. Kalau ada karya yang diakui bagus dan memang kunikmati, aku juga bakal mengikutinya kok.

Satu lagi.

Phi adalah favoritku di seri ini. Tapi yah, sudahlah. Itu tak penting.

Penilaian

Konsep: D; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

M3: Sono Kuroki Hagane

In anime on 02/05/2016 at 09:35

Tadinya aku mau bahas ini sebelum Gundam: Iron Blooded Orphans tayang, tapi beberapa hal terjadi, dan aku baru sempat menulis tentangnya sekarang. Berhubung ini satu-satunya anime mecha riil (bukan super robot) yang disusun Okada Mari sebelum IBO, aku sempat ingin membandingkan keduanya.

M3 – Sono Kuroki Hagane (subjudul kira-kira berarti ‘logam hitam itu’), atau yang juga dikenal sebagai M3 – The Dark Metal (‘logam yang kelam’, acuan terhadap konsep penyakit ‘logam kematian’ di ceritanya), merupakan anime drama sains fiksi horor keluaran Satelight dan C2C. Dirilis pada pertengahan tahun 2014 (ini kurang lebih sezaman dengan No Game No Life dan Akame ga Kill!), jumlah episodenya 24. Sutradaranya adalah Sato Junichi, staf veteran yang sekarang dikenal sebagai sutradara anime ‘penyembuhan’ Tamayura dan anime teka-teki Phi Brain; meski beliau juga dikenal lewat arahan beliau di sejumlah anime lawas, yang mencakup Aria, Sailor Moon klasik, serta Mahou Tsukai Tai.

M3 sempat mencolok karena lagu pembuka pertamanya, yang berjudul ‘Re: Remember.’ Lagu yang dibawakan May’n ini secara pas menggambarkan nuansa sendu dan keputusasaan di awal seri ini. Di samping itu, naskah cerita yang disusun oleh Okada-san kental dengan drama karakter melankolis khas beliau. Ditambah lagi, ada desain mekanik yang dibuat oleh desainer Macross, Kawamori Shoji.

Karenanya, meski tak meledak, M3 termasuk seri yang menarik perhatian di kalangannya sendiri.

Awalnya, aku ingin menulis tentang M3 untuk memperkirakan IBO jadinya seperti apa. Seperti yang pernah kusinggung di tulisan lain, selain drama remaja Anohana dan Toradora!, seri-seri yang naskahnya ditangani Okada-san yang temanya agak ‘fantastis’ paling hanya Aquarion Evol, Wixoss, dan seri satu ini. Aku tadinya mau pakai M3 sebagai ‘perbandingan’ mengingat statusnya sebagai sesama seri mecha. (Meski memandang lagi ke belakang, aku tak merasa itu banyak gunanya.)

Untukku pribadi, M3 adalah seri yang semula-enggak-begitu-diperhatikan-tapi-lama-lama jadi-berkesan. Nuansanya benar-benar suram. Anime ini menampilkan banyak kesedihan tanpa langsung menjabarkan akar kepedihan dan rasa sakitnya itu karena apa. Kesannya lumayan abstrak. Tapi karena itu juga, seri ini sempat menjadi semacam penghiburan buatku selepas kerja.

Seburuk-buruknya kondisi kerjaanku waktu itu, setidaknya aku belum sedepresi para karakter di anime ini.

Langit Berbintang dan Dewa Kematian

M3 bercerita tentang delapan anak remaja yang terpilih dalam suatu proyek yang dapat menentukan kelangsungan hidup umat manusia. Kedelapan anak ini didekati secara terpisah oleh perwakilan suatu organisasi bernama IX di Jepang, dan mendapati diri mereka mungkin sebenarnya pernah mengenal satu sama lain di masa lalu.

Kedelapan orang remaja tersebut disatukan dalam suatu kelompok yang disebut Team Gargouille. Mereka terdiri atas:

  • Saginuma Akashi: pemuda tampan yang meski menarik perhatian, memiliki masa lalu pahit yang melibatkan mendiang kakak lelakinya. Karenanya, ia memendam suatu kebencian pribadi yang sangat sulit ia ungkap dan mengubahnya menjadi penyendiri.
  • Hazaki Emiru: seorang perempuan cantik dan pekerja keras yang terpaksa hidup mandiri karena suatu isu keluarga. Di awal cerita, ia berharap bisa dekat dengan Akashi sebagai suatu bentuk pengakuan terhadap dirinya.
  • Izuriha Sasame: seorang gadis lembah lembut yang telah lupa sebagian ingatan masa lalunya. Meski kerap membatasi diri dan ragu akan kemampuannya, ada sesuatu tentang dirinya yang mengingatkan Akashi akan suatu hal penting yang telah lama hilang.
  • Namito Iwato: teman sekolah Akashi yang berpembawaan terbuka dan pengertian, yang ikut terpilih bersamanya dan anak-anak lain sebagai bagian Program Pelatihan Tim Investigasi Khusus.
  • Kasumi Raika: gadis atletis yang menjadi salah satu pilot uji mecha Vess buatan IX. Ia diharuskan menjalani pelatihan lagi semenjak terpilih sebagai salah satu calon anggota Tim Investigasi, yang mana ia kemudian dipasangkan dengan Iwato.
  • Maki Minashi: pemuda ramah yang menjadi anggota Team Gargouille yang paling ceria dan mudah didekati. Nampaknya telah mengenal Sasame lebih dahulu dibandingkan yang lain.
  • Yuzuki Maamu: gadis rendah diri yang sangat pemalu, negatif, sekaligus penyendiri. Ia menyimpan suatu buku catatan yang di dalamnya ia secara tersamar menumpahkan segala isi hati dan pengamatannya terhadap orang lain.
  • Isaku Heito: seorang pemuda yang telah hilang kewarasannya dan terobsesi membuat orang lain takut terhadapnya (karena rasa takut adalah satu-satunya emosi yang masih ia punyai). Konon bertanggung jawab atas pembantaian seluruh anggota keluarganya sendiri.

Dicanangkan IX, Team Gargouille dibentuk sebagai tim investigasi yang akan menjelajah Mumyou Ryouiki/Lightless Realm/Avidea Zone.

Beberapa tahun sebelumnya, fenomena Mumyou Ryouiki melingkupi kota Tokyo. Efek fenomena ini secara perlahan tapi pasti mulai mengancam dunia. Di dalam zona ini, cahaya akan pudar. Lalu dari dalamnya, muncul partikel logam yang disebut Necrometal yang dapat mengikis semua material lain dan menggerogoti anggota-anggota tubuh manusia yang terekspos padanya.

Turut muncul dari dalam Mumyou Ryouiki adalah makhluk-makhluk yang disebut Admonition/Imashime, yang bisa jadi adalah perwujudan derita dan sisa ingatan para korban Necrometal yang telah kehilangan nyawa.

Untuk menghadapi Imashime, IX telah mengembangkan mecha-mecha berkaki tiga yang disebut Vess. Tapi untuk menjelajahi Mumyou Ryouiki, diperlukan versi Vess lebih mutakhir yang disebut MA-Vess yang bisa melawan pengaruh ‘korosi mental’ yang Mumyou Ryouiki berikan.

Terungkap bahwa pengikisan yang Necrometal bawa tak hanya terjadi secara ‘fisik’ karena siapapun (apapun?) yang terjangkit Necrometal bisa sampai lupa jati diri mereka. Lalu para pengguna MA-Vess mampu bertahan karena MA-Vass dilengkapi suatu penemuan relatif baru yang disebut LIM (Linker Interface Module), meski bagaimana persisnya sistem ini bekerja baru terungkap dalam perkembangan cerita ke depan.

Singkat cerita, Akashi dan kawan-kawannya dikumpulkan karena punya potensi ‘kecocokan’ yang diperlukan untuk menggunakan MA-Vess.

Mengawasi Team Gargouille adalah kelompok ilmuwan dari IX yang dipimpin dua figur: seorang lelaki eksentrik bernama Natsuiri, yang seakan hanya punya kepedulian terhadap kemajuan hasil penelitian; dan seorang perempuan muda bernama Agura Kasane, yang Akashi kenali sebagai kekasih mendiang kakak lelaki Akashi, Saginuma Aoshi. Mewakili pemerintah, juga hadir Susan Suzaki, kawan lama Kasane yang lambat laun ikut menjadikan keberhasilan mereka sebagai misi pribadinya.

Lewat penjelajahan Mumyou Ryouiki, IX berharap bisa mengungkap rahasia di balik fenomena Necrometal. Rahasia itu mereka yakini ada pada badan Mukuro/Corpse (‘jasad’), raksasa logam hitam bermata satu yang beberapa kali terlihat di dalam zona dan diyakini sejumlah pihak sebagai sumber segala kejadian ini. Lambat laun, para anggota Team Gargouille pun mulai meyakini bahwa hanya dengan mengalahkan Mukuro, semua penderitaan mereka akan bisa berakhir.

Konflik pertama seri ini timbul dari bagaimana Akashi marah terhadap Kasane yang seakan menganggap dirinya sebagai pengganti kakaknya. Kakak Akashi, Aoshi, sebelumnya juga terlibat dalam penjelajahan ke Mumyou Ryouiki dan berakhir tewas karenanya. Namun seiring dengan waktu, semakin banyak hubungan dan rahasia masa lalu terkuak, terutama mengingat bagaimana Imashime seakan mengingatkan setiap manusia akan dosa-dosa mereka yang telah lalu.

Suara-suara Penyesalan

Sedikit bicara soal robot-robotnya dulu…

Mecha utama di M3 adalah Argent, MA-Vess pertama yang sukses dikembangkan dari pendahulunya, Shirogane, yang dulu dikemudikan Aoshi. Meski secara teoritis dapat bekerja, semua orang yang mencoba mengendalikan Argent karena berbagai alasan berakhir tewas. Ini berujung pada bagaimana MA-Vess ini kemudian disegel rapat-rapat dalam suatu fasilitas terbengkalai dan dijuluki Shinigami (‘dewa kematian’).

Baru sesudah para remaja di atas ditemukan dan Team Gargouille kemudian dibentuk, Argent mulai kembali dioperasikan IX. Lalu sesuai dugaan, meski sempat didahului serangkaian insiden, Akashi menjadi orang pertama (dan mungkin satu-satunya) yang mampu mengendalikan Argent.

Dengan enggan, (meski belakangan ia melakukannya demi Sasame) Akashi akhirnya menuruti pengharapan orang-orang untuk menggunakannya dalam menjelajah Mumyou Ryouiki, yang membawanya berhadapan langsung dengan sosok Mukuro yang misterius.

Penjelajahan Akashi dan kawan-kawannya terhadap Tokyo yang telah kelam dan ditinggalkan menjadi inti cerita M3. Dari sana, kemudian banyak hal terungkap. Digambarkan ada beban mental luar biasa besar dalam menggunakan MA-Vess, dan beban ini tak kalah besarnya dari korosi mental yang didatangkan Imashime dan Mumyou Ryouiki, yang hadir dalam bentuk imaji-imaji persepsi yang menyerbu masuk ke dalam pikiran.

Vess produksi massal yang tidak memiliki LIM diwakili Tower type T1 yang dalam perkembangannya, banyak dipakai oleh Iwato dan Raika. Ini tipe mecha berkaki tiga yang meluncur dengan ‘sepatu roda’ seperti yang di Code Geass, yang bila kaki-kakinya dilipat akan membuatnya tampak seperti mobil. Persenjataan utama T1 adalah sejenis senapan. Namun untuk jarak dekat, mecha-mecha ini dilengkapi persenjataan sejenis palu berpompa, yang diperlukan untuk memecahkan cangkang-cangkang luar Imashime yang keras dan menghancurkan ‘inti’-nya.

Dari segi bentuk, Vess sangat mirip MA-Vess. Kemiripannya lengkap sampai ke jenis persenjataan yang digunakannya, hanya saja berukuran lebih kecil dan mempunyai performa lebih terbatas, di samping ‘tergantung’ pada jalanan.

MA-Vess dalam perkembangannya memiliki tenaga jauh lebih besar, mampu melakukan gerakan-gerakan yang lebih lincah, mampu melewati medan lebih berat, dan menjadi satu-satunya tandingan yang Team Gargouille punyai untuk melawan Mukuro.

Seperti yang kusebut di atas, aspek mecha M3 kurang menonjol. Tapi kehadirannya sedemikian rupa sampai aku beberapa kali membayangkan kira-kira seperti apa M3 andai porsi karakternya dikurangi dan konflik Mumyou Ryouiki tak ditampilkan begitu abstrak.

Desain mechanya bukan yang bisa kukatakan ‘keren’ sih (struktur proporsi Argent mirip Mukuro dan sempat agak sulit kubedakan. Desainnya bahkan sedikit mengingatkanku pada desain Aquarion). Di samping itu, adegan-adegan aksinya bukan jenis yang dibuat agar terkesan ‘seru’ (meski kekurangan ini diimbangi konflik emosional yang kuat).

Mungkin, maksudnya malah agar adegan-adegan mechanya lebih berkesan horor?

Tapi tak bisa dipungkiri kalau keberadaan Vess dan MA-Vess menjadi hal yang integral dengan cerita.  Kehadirannya itu memberi kesan sedemikian kuatnya, sehingga kamu enggak benar-benar bisa bilang kalau aspek mechanya jelek. Terlebih dengan bagaimana dengan bayaran teramat besar, mulai hadir dua MA-Vess jenis lain, yakni Sable dan Guhles, yang membawa para anggota lain selain Akashi ke dalam kegelapan Mumyou Ryouiki.

Baru sesudah perjalanan berulangkali ke dalam sana—sekalipun ditelantarkan IX, dan hanya dengan dukungan terbatas yang dapat diberikan Kasane dan Susan—Akashi dan kawan-kawannya menemukan titik terang tentang asal usul Mumyou Ryouiki. Mereka menemukan kembali ikatan lama di antara mereka; kebenaran tentang Tsugumi, gadis misterius mirip Sasame yang hampir selalu terlihat bersama Mukuro; serta penelitian terlupakan di sebuah pulau terpencil bernama Yomijima

Cahaya, dan Kemudian Cahaya

Jadi, selain suram, M3 terbilang punya cerita yang rumit.

Daripada ‘kompleks,’ yang kumaksud lebih kayak rumit dalam ungkapan ‘It’s complicated.’ Semua karakter punya bebannya sendiri-sendiri. Lalu di separuh cerita, sama sekali tak kelihatan bagaimana semua bisa terselesaikan secara baik.

Akashi dengan masa lalu kompleksnya, sementara semua orang di sekelilingnya berharap ia membuka diri. Kasane yang terbebani oleh rasa bersalahnya. Emiru yang frustrasi dengan orang-orang di sekelilingnya dan tak punya orang lain yang padanya ia bisa bercerita. Sasame dengan perasaan adanya sebagian dirinya yang hilang. Rasa takut terhadap dunia yang dipunyai Maamu. Rasa takut kehilangan yang perlahan mencengkram Raika dan Iwato. Sampai Minashi yang mengemban semua keputusasaannya seorang diri di balik senyumannya. Kesannya kayak mereka ada di dunia di mana tak ada yang bisa dimintai bantuan selain satu sama lain.

Karena itu, jujur saja, ada sebagian yang berpendapat kalau M3 sedikit kehilangan daya tariknya saat kepingan-kepingan jawaban mulai ditemukan di paruh kedua cerita. Nuansanya menjadi lebih optimis tapi perkembangannya, sayangnya, kurang berhasil ‘menyentuh’ kita seperti beberapa anime mecha emosional lain macam Eureka Seven atau RahXephon. Salah satu alasannya mungkin karena penggambarannya yang agak abstrak dan tak mudah langsung dipahami tadi, di samping jumlah karakter utamanya yang terbilang banyak.

Soal teknis, anime ini memiliki motif warna ‘kelabu’ yang bisa aku mengerti adalah caranya menyampaikan dunia Mumyou Ryouiki yang ‘minim warna.’ (Di samping menjadi cara efektif untuk menekan anggaran.) Tapi ini juga menjadikan anime ini kurang mencolok secara visual, yang untungnya berhasil diimbangi dengan kualitas audio yang lumayan baik.

Walau begitu, (mungkin aneh juga aku ngomong gini) visual desain latarnya tetap menjadi daya tarik buatku. Mulai dari fasilitas rumah sakit terbengkalai dengan ruang-ruang basementnya yang seakan menyembunyikan sesuatu, laboratorium penelitian IX yang ditempati Kasane dan Natsuiri dengan dinding-dindingnya yang berkaca, balkon terbuka tempat Akashi dan Sasame sempat bernaung, bangunan teater besar yang ditempati Tsugumi, bandara kosong di tepi lautan, reruntuhan desa Yomijima tempat asal pohon berpendar misterius Arbornine/Kokonoki dengan gua-gua bawah tanahnya, sampai kamar asrama berinterior nyaman yang Mahmu dan Emiru tempati.

Aku tak menyadarinya di awal, tapi semua tempatnya bagiku benar-benar meninggalkan kesan kuat. Aku sampai ingin mengumpulkan gambar-gambar konsep ilustrasi awalnya. Mungkin aku merasa demikian karena saking kuatnya nuansa sentimentilnya.

Soal audio, para seiyuu-nya terbilang berperan baik. Gampangnya, mereka berhasil menghidupkan karakter-karakter yang enggak kita sukai dengan membuat kita merasakan emosi enggak suka nyata terhadap mereka. (Iya, perlu waktu lumayan sampai karakter-karakternya bisa disukai.) Terus pilihan lagu-lagunya itu. Lagu-lagunya benar-benar sesuai konteks. Kebanyakan temanya tentang kebimbangan sekaligus nostalgia terhadap masa lalu.

Aku bisa saja membeberkan detil ceritanya lebih banyak, tapi itu bisa agak terlalu spoiler. Soalnya, keenggakjelasan soal apa yang terjadi sekali lagi menjadi salah satu daya tarik M3.

Selain itu, sekali lagi, seri ini benar-benar suram. Jadi meski mungkin ini kedengaran aneh, kesuraman itu justru menjadi satu alasan sebagian orang mengikuti seri ini.

Apa yang Menghubungkan Dua Orang

M3 bisa dibilang sejenis anime mecha sains fiksi suram yang banyak dicetus sejak zaman Neon Genesis Evangelion. Ada mecha-mecha besar di dalamnya, tapi ini seri yang benar-benar lebih berat pada drama antar karakternya. Adegan-adegan aksi mechanya jarang. Saat sedang ada, koreografinya juga kayak sengaja dibatasi agar tak terlalu menonjol (mungkin juga buat menghemat biaya).

(…Sori, alasan aku menyinggung soal biaya dari tadi karena sesudah M3, Satelight dan C2C kembali berkolaborasi dalam produksi Aquarion Logos yang benar-benar kelihatan ketat anggarannya.)

M3 bukan seri yang mudah diikuti. Ini bukan seri yang akan begitu saja kurekomendasikan. Tapi iya, ada sesuatu tentang M3 yang terbilang memikat saat kau bisa menerima semua kekurangannya.

Seri ini serius kayak memberi penghiburan aneh bagiku. Sestres apapun aku sebelumnya, kalau melihat anime ini, aku bisa ngerasa kalau para karakternya berada dalam kondisi yang lebih enggak enak lagi.

Yah, mungkin hal seperti ini lebih baik tak ungkap.

Akhir kata, selalu ada harapan di ujung kesulitan. Habislah gelap, terbitlah terang yo.

Lalu balik ke bahasan soal Gundam di atas, kita semua akhirnya tahu kalau IBO berakhir sebagai seri yang keren, sekalipun punya porsi karakter yang benar-benar banyak juga.

Produktivitas Okada-san benar-benar luar biasa.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B-; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+

Macross Delta preview & Daftar Seri Macross

In anime, lists & seasonal previews on 08/04/2016 at 19:38

Pada awal tahun 2016 lalu, ada episode spesial bersifat preview untuk anime baru Macross Delta. Macross Delta resminya mulai tayang April ini, dan episode pertamanya yang ‘lengkap’ telah keluar saat ini kutulis. Tapi episode spesial tersebut sempat memberi gambaran nuansanya akan kayak apa.

Buat yang belum tahu, Macross Delta merupakan keluaran terbaru dari waralaba anime mecha Macross cetusan Kawamori Shouji. Produksinya dilakukan oleh studio Satelight, dan direncanakan akan tayang sepanjang dua cour.

Alasan kenapa aku menulis ini karena: satu, tiba-tiba aku menyadari banyaknya detil visual bermakna pada setiap frame, yang mestinya kusadari dari zaman Macross Frontier dulu; lalu dua, karena penayangan Macross Delta agak membuat orang-orang penasaran soal waralaba Macross belakangan.

Kayak beberapa penggemar lain, aku membandingkan perbedaan antara versi preview waktu itu dengan versi lengkap yang keluar kali ini. Beberapa hal yang terlintas di kepalaku saat membandingkan keduanya adalah:

  • Tokoh utama cowoknya ternyata benar adalah Hayate Immelman.
  • Freyja Wion benar-benar karakter yang ekspresif. Pemilihan Suzuki Minori sebagai seiyuu untuknya pasti lagi-lagi ketat.
  • Keterampilan pengendalian mecha Hayate yang peka terhadap irama, yang membuatnya pandai menari, sebelumnya luput dari perhatianku karena aku terlalu terfokus pada Walküre.
  • Para personil Walküre dikisahkan memiliki suara yang trans dimensional. Jangan-jangan itu syarat untuk bisa terpilih sebagai personil?
  • Aksesoris-aksesoris yang Hayate kenakan! Terutama kalung di lehernya! Gara-gara film layar lebar Macross Frontier, aku jadi terus-terusan berpikir kalau kayaknya itu bakal punya peran dalam cerita.
  • Bentuk hati yang terpasang di rambut Freyja sekilas terlihat seperti jepit rambut. Tapi ternyata bukan, itu sesuatu yang memang ‘mencuat’ dari dalam percabangan rambutnya. Mungkin itu apa yang disebut sebagai Rune olehnya, dan merupakan ciri khas orang-orang dari planet Winderemere? Berarti Winderemere benar termasuk jenis spesies manusia baru yang ditemukan manusia Bumi?
  • Aku perhatikan bahwa setiap anggota Aerial Knights dari Kingdom of Wind ternyata juga memiliki sesuatu serupa Rune di rambut mereka. Apa mungkin ada kaitan antara Winderemere dengan Kingdom of Wind?
  • Ada cinta segitiga. Pasti. Romansa kelihatannya akan terjalin antara para personil Walküre dengan pilot-pilot Delta Squadron yang melindungi mereka. Pengecualiannya mungkin pada Mirage Fallyna Jenius, satu-satunya perempuan di Delta Squadron, yang sepertinya bertugas mengawal Mikumo Guynemer.
  • Dengan demikian, kalau menilai materi-materi promo seri ini, maka cinta segitiga utamanya akan antara Hayate, Freyja, dan Mirage?
  • …Tunggu, ini aneh. Berarti nanti Mikumo dengan siapa?
  • Oiya. Masih ada para bishounen di Aerial Knights. Iya juga. Pasti ada salah satu dari mereka yang bisa jadi pasangan Mikumo. Berarti di masa mendatang kayaknya bakal ada adegan penawanan.
  • Kelihatannya, kalau sudah terbawa untuk menyanyi, Freyja benar-benar menjadi sulit mengendalikan diri.
  • Delta Suadron masih belum jelas dibekingnya sama siapa…

Selain adegan klimaks di akhir yang tak ada di preview—yang mana Hayate menjalankan aksi klasik mengambil alih sebuah pesawat Valkyrie demi menyelamatkan Freyja—ternyata ada sejumlah adegan dialog tambahan juga di tengah episode. Episode komplitnya juga memaparkan sedikit lebih banyak soal para personil Walküre lain selain Mikumo, serta interaksi antara mereka dengan Delta Squadron.

Seperti yang bisa diharapkan, untuk ukuran sebuah episode pertama, episode ini dipenuhi berbagai adegan mencolok. Terlepas dari semuanya, kurasa ini satu seri yang perkembangannya ingin kuikuti di musim ini. Kesan awalnya buatku lumayan positif.

Kalian juga tak harus mengikuti seri-seri Macross sebelumnya untuk menikmati seri ini kok. Ceritanya lumayan berdiri sendiri. Sedikit pengetahuan tentang seri-seri sebelumnya memang bisa membuatmu lebih menikmatinya sih.

Trilogi Super Dimension dan Robotech

Meski dicetuskan di zaman yang sama dengan waralaba Gundam, waralaba Macross memiliki sejarah agak rumit, sekalipun dengan jumlah keluarannya yang lebih sedikit.

(Aku bukan penggemar besar Macross, jadi yang kutulis ini baiknya nanti aku lengkapi lagi.)

Seri Macross ini, pada awalnya, menjadi yang pertama dari trilogi Super Dimension (Chou Jikuu). Trilogi ini terdiri atas tiga seri anime sains fiksi yang tidak saling berhubungan, tapi sama-sama mengusung motif soal drama kehidupan di tengah konflik melawan alien serta mecha-mecha yang bisa bertransformasi. Menariknya, hanya Macross saja di antara ketiga seri ini yang kemudian berkembang menjadi waralaba besar.

Ketiga seri TV yang menjadi bagian dari trilogi di atas antara lain:

  • The Super Dimension Fortress Macross (1982) tentang pesawat luar angkasa raksasa berteknologi asing yang jatuh ke Bumi. Tak dinyana, pengaktifan kembali kapal ini sesudah diperbaiki manusia Bumi mengundang datangnya ras alien Zentradi (dan nantinya, ras alien Meltlandi) untuk menyerang. Produksi animasinya dibuat oleh Tatsunoko Production, dan ciri khas seri ini terdapat pada bagaimana musik ternyata berperan vital dalam penyelesaian peperangan.
  • Super Dimension Century Orguss (1983) yang dibuka dengan konflik perebutan space elevator antara dua pihak superpower, yang berujung pada diledakkannya suatu senjata dahsyat jenis baru yang mempengaruhi ruang dan waktu. Ledakan tersebut di luar dugaan membawa si tokoh utama, Katsuragi Kei, ke masa depan yang hancur dua puluh tahun mendatang. Kei kini dikejar banyak pihak karena suatu alasan yang tak dipahaminya, dan Orguss adalah nama mecha yang kemudian dikemudikannya. Produksi animasinya dibuat oleh Tokyo Movie Shinsha (yang sekarang kita kenal sebagai TMS Entertainment) dan sempat disusul dengan sekuel berupa OVA. Konfliknya terdapat pada berbagai hubungan cinta yang dijalin si tokoh utama, serta tragedi bagaimana ia jadi meninggalkan kekasihnya yang sedang mengandung di masa lalu.
  • Super Dimension Cavalry Southern Cross (1984) tentang konflik di sebuah planet baru bernama Glorie yang kini ditempati manusia sesudah ekosistem Bumi hancur, tapi kemudian diperebutkan sesudah terkuak planet itu tempat asal ras alien Zor yang datang kembali setelah meninggalkannya di masa silam. Southern Cross adalah nama kesatuan tentara yang melindungi manusia di planet ini. Tokoh utamanya adalah tiga wanita muda Jeanne Fránçaix, Mary Angel, dan Lana Isavia yang masing-masing memiliki misi pribadi dalam perang tersebut. Produksi animasinya kembali dibuat oleh Tatsunoko Production. Konfliknya terutama terdapat pada bagaimana pihak Zor menggunakan tawanan manusia yang telah dicuci otak sebagai ‘inti’ pasukan mecha mereka.

Produksi ketiga seri tersebut disponsori oleh perusahaan media Big West Advertising, yang juga mensponsori seri-seri Macross modern di masa sekarang.

Pada tahun 1985, ada upaya untuk memasukkan seri Macross yang pertama ke dunia barat. Pemrakarsanya adalah perusahaan Harmony Gold USA yang bekerjasama dengan Tatsunoko Production. Namun sehubungan dengan ketentuan sindikasi seri televisi yang dihadapi di masa itu—yang hanya memungkinkan penayangan di hari-hari kerja, dan bukan mingguan, selama kurun waktu yang ditentukan (dibutuhkan total 65 episode, 13 minggu dengan lima episode per minggu)—pihak Harmony Gold memutuskan untuk ‘menggabungkan’ tiga seri TV yang tak saling berkaitan menjadi satu seri baru yang dinamai Robotech.

Karena kerjasama Harmony Gold adalah dengan Tatsunoko, maka dari trilogi Super Dimension, yang akhirnya bisa ‘diambil’ hanyalah Macross dan Southern Cross (mengambil Orguss konon perlu proses lagi lewat TMS). Maka untuk melengkapi Robotech, kemudian diambil satu seri Tatsunoko yang lain, yaitu Genesis Climber MOSPEADA, yang diproduksi tahun 1984 dan menampilkan mecha yang bisa bertransformasi (dalam hal ini, ke bentuk sepeda motor).

Cerita MOSPEADA sendiri adalah tentang perjuangan umat manusia melawan ras alien misterius Inbit dengan tema-tema tentang polusi lingkungan dan sumber daya alam. Tokoh utamanya adalah pejuang bernama Stikk Bernard yang ingin membalas dendam pada Inbit atas kematian kekasihnya.

(…Setelah kupikir, banyak juga seri buatan Tatsunoko yang di masa itu disindikasi di barat. Dua di antaranya termasuk Gatchaman dan Time Bokan. Kurasa ini berarti mereka semacam pionir?)

Dalam perkembangannya, Robotech berkembang menjadi waralaba besar tersendiri yang terkenal di Amerika. Mulanya memang hanya terbentuk dari pengeditan cerita, video, dan sulih suara besar-besaran. Intinya soal bagaimana video dari ketiga seri di atas bisa jadi cerita yang saling nyambung. Tapi yang menarik adalah bagaimana penulisan ulang yang dilakukan untuk membuat Robotech ternyata benar-benar bagus.

Sebagai efek samping dari itu, hak atas merk dagang ‘Macross’ di Amerika hingga sekarang masih dipegang oleh Harmony Gold. Karenanya, hingga saat ini kutulis, semua seri Macross baru sesudahnya (yang diproduksi oleh pihak selain Tatsunoko?) jadi tak bisa dilisensi secara resmi di Amerika.

Apa kau masih ingat cinta?

Terlepas dari perkembangannya di barat, kesan kuat yang diberikan seri Macross pertama berlanjut dengan dibuatnya film layar lebar The Super Dimension Fortress Macross: Do You Remember Love? pada tahun 1984 dan seri OVA The Super Dimension Fortress Macross: Flash Back 2012 pada tahun 1987. Produksinya sama-sama masih dilakukan lewat kerjasama Big West dan Tatsunoko Production.

Kedua proyek ini sama-sama mewujudkan sebagian visi yang belum terwujud dari Studio Nue yang sudah direncanakan, tapi pada akhirnya tak sempat dianimasikan untuk versi seri TV-nya. Ini terutama menyangkut kesudahan nasib akhir ketiga tokoh utamanya, sang pilot Ichijyou Hikaru, sang penyanyi idola Lin Minmei, serta sang wakil laksamana Hayase Misa. Proyek ini memvisualisasikan adegan konser terakhir Minmei di Bumi sebelum ia berangkat bersama Hikaru dan Misa sebagai bagian awak kapal induk baru penerus SDF-1 Macross, SDF-2 Megaroad-01, yang akan menjelajahi alam semesta.

Do You Remember Love? merupakan penceritaan ulang dari seri TV-nya, dengan cerita yang lebih dipadatkan serta penambahan animasi baru. Ada beberapa perbedaan poin cerita yang mencolok. Salah satunya ada pada lagu baru yang dibawakan Minmei, “Ai, Oboete imasuka?”, yang liriknya konon berasal dari peradaban kuno Protoculture. Karena ceritanya agak ‘berbeda’ dari versi seri TV, yang menarik adalah bagaimana film layar lebar ini juga direferensikan sebagai suatu film layar lebar bersejarah ternama di dalam dunia Macross sendiri dalam beberapa seri ke belakang.

Sedangkan Flash Back 2012 merupakan seri pendek yang menampikan rangkaian video klip lagu-lagu hit Minmei,  yang diambil dari konsernya yang terakhir di Bumi, yang di antaranya diselingi klip-klip cerita menjelang keberangkatan armada Megaroad-01 pimpinan Misa (kini bernama Ichijyou Misa) sebelum mereka dikisahkan menghilang di dekat pusat alam semesta.

Generasi Baru

Pada tahun 1991, pihak Big West ingin mengeluarkan suatu seri Macross baru untuk memperingati ulang tahun kesepuluh seri ini. Namun pihak Studio Nue tidak terlibat dalam proyek ini, karena konon sedang tidak tertarik untuk memproduksi sebuah sekuel.

Hasilnya adalah seri OVA enam episode Macross II – Lovers Again yang diproduksi lewat kerjasama studio animasi AIC dan Oniro. Ceritanya berlatar 80 tahun sesudah akhir seri pertama, dan menampilkan konflik antara pihak Bumi dengan ras alien humanoid Marduk. Kaum Marduk dikisahkan tiba di tata surya Bumi dengan pejuang-pejuang Zentradi dan Meltlandi yang diperbudak. Tokoh utama seri ini adalah seorang wartawan bernama Kanzaki Hibiki, yang menolong seorang perempuan Marduk bernama Ishtar yang ternyata merupakan salah satu Emulator, penyanyi istimewa yang membuat pasukan Marduk kebal terhadap efek nyanyian dari pasukan Bumi. Dengan bantuan seorang pilot bernama Silvie Gena, Hibiki berupaya memperkenalkan budaya Bumi pada Ishtar dengan harapan nyanyian baru Ishtar dapat membawa perdamaian antara manusia dan Marduk.

Macross II diikuti beberapa media pelengkap seperti game, manga dan novel. Namun keterlibatan kembali Studio Nue dalam produksi seri-seri Macross berikutnya membuat cerita Macross II dinyatakan non-canon.

Ini bukan seri yang pernah kuikuti. Jadi maaf karena tak bisa berkomentar.

Pada tahun 1994, seri OVA empat episode Macross Plus kemudian dirilis. Versi OVA ini lalu disusul versi layar lebarnya pada tahun 1995. Produksi animasinya dilakukan oleh Triangle Staff (studio yang tersusun atas staf dari Madhouse, tapi sekarang sudah tak aktif) dengan perilisan yang dilakukan oleh Bandai Visual. Ceritanya berlatar pada tahun 2040 di planet Eden, salah satu planet baru yang telah dikolonisasi manusia, tiga puluh tahun sesudah akhir perang di seri yang pertama. Tiga tokoh utamanya adalah dua pilot rival Isamu Alva Dyson dan Guld Goa Bowman—yang saling bersaing dalam Project Super Nova, suatu pekerjaan tender untuk menentukan teknologi pesawat tempur yang akan dipilih sebagai pesawat baru pemerintahan UN—serta kawan masa kecil mereka, Myung Fang Lone. Hubungan persahabatan ketiganya tercabik akibat suatu insiden di masa lalu. Lalu pertemuan mereka kembali menimbulkan konflik batin bagi Myung. Ini berdampak terutama pada pekerjaan Myung sebagai produser musik bagi idola virtual yang sedang hit saat itu, Sharon Apple, AI yang terwujud lewat hologram, yang lagu-lagunya merupakan ekspresi dari perasaan Myung.

Macross Plus lumayan bersejarah di dunia anime, karena menjadi seri animasi pertama yang mengkombinasi teknik animasi sel tradisional dengan teknik animasi CG dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. (Versi layar lebarnya lebih direkomendasikan.)

Aku sempat melihat sebagian Macross Plus. Nuansanya lumayan berbeda dari seri Macross yang orisinil maupun seri-seri Macross yang lebih modern. Mungkin juga karena arahannya oleh Watanabe Shinichirou yang belakangan menyutradarai Cowboy Bebop. Aku ingat aku merasakan sedikit kekecewaan karena pemaparan dunianya tidak lebih banyak.

Seri TV Macross 7 kemudian menyusul pada tahun yang sama, dengan produksi animasi oleh Ashi Productions. Berlatar 35 tahun sesudah akhir seri pertama, ceritanya berkisah tentang kapal induk Macross 7 yang memimpin armada kolonial ke-37. Di dalam Macross 7, ada band Fire Bomber pimpinan Nekki Basara, yang musiknya menjadi andalan utama dalam menghadapi ancaman ras alien Protodeviln. Protodeviln dikisahkan hendak memanen energi Spiritia yang diperoleh dari manusia. Sesudah diambil Spiritia-nya, manusia bersangkutan akan jatuh ke dalam koma. Namun nyanyian Basara mampu membangkitkan kembali energi Spiritia ini dan membangunkan kembali para korban. Dengan demikian, Basara dan kawan-kawannya terlibat dalam suatu proyek militer kontroversial untuk menggunakan kembali nyanyian sebagai senjata pertahanan. Sementara di sisi lain, kaum Protodeviln lambat laun memandang Basara sebagai sumber Spiritia tak terbatas yang selama ini mereka cari.

Macross 7 cukup dikenal di masanya, dengan seri TV yang tayang selama setahun penuh dengan diiringi film layar lebar dan serangkaian OVA. Film layar lebar pendek Macross 7: The Galaxy’s Calling Me, dan rangkaian OVA tiga episode Macross 7 Encore berlatar di tengah berlangsungnya seri TV-nya. Baru sesudahnya, seri OVA empat episode Macross Dynamite 7 (kini diproduksi Hal Film Maker) melanjutkan cerita di seri TV-nya, yang menampilkan apa yang dialami dalam pengelanaan Basara sepeninggal ia dari Macross 7. Seri ini juga mencolok karena menampilkan karakter Mylene Flare Jenius, putri ketujuh dari pasangan manusia-Meltlandi pertama, Maximilian Jenius dan Milia Fallyna Jenius, yang merupakan pasangan pilot as dari seri Macross pertama.

Aku sama sekali tak mengikuti Macross 7. Tapi aku banyak mendengar bahwa lagu-lagunya bagus dan enak didengar, sekalipun alur ceritanya terasa lamban dan ke mana-mana.

Pada tahun 2002, Macross Zero menjadi seri OVA lima episode yang memperingati ulang tahun kedua puluh seri ini dengan produksi dilakukan studio Satelight. Ceritanya berlatar setahun sebelum seri Macross yang paling pertama, pada tahun 2008, saat perang dengan gentingnya berlangsung antara tentara UN Spacy melawan tentara anti-UN, sembilan tahun sesudah jatuhnya suatu pesawat ruang angkasa asing ke Bumi. Di lautan Pasifik selatan, seorang pilot UN bernama Kudou Shin ditembak jatuh oleh pesawat yang bisa berubah wujud. Ia kemudian mendarat darurat di suatu pulau Mayan terpencil, di mana para penduduknya hidup damai dengan menyembunyikan rahasia besar terkait peradaban makhluk asing. Shin terlibat hubungan dengan kakak beradik Sara Nome dan Mao Nome, dan mengalami konflik soal bagaimana ia mencegah pulau tersebut terseret dalam perang. Seri ini mencolok karena memberikan latar belakang lebih terhadap situasi politik di seri TV pertama, khususnya tentang masa lalu Roy Fokker, pilot as yang menjadi mentor Hikaru, yang dalam seri TV kemudian mewariskan posisi pimpinan Skull Squadron padanya.

Aku sama sekali tak mengikuti Macross Zero. Tapi sekali lagi, aku pernah mendengar komentar yang menyebut kalau ceritanya ditutup dengan agak aneh.

Lima tahun berikutnya di tahun 2007, Satelight kembali memproduksi seri Macross baru, yakni Macross Frontier untuk memperingati ulang tahun seri ini yang kedua puluh lima. Ceritanya memaparkan hubungan cinta segitiga antara remaja pilot Alto Saotome, dengan dua penyanyi: Sheryl Nome yang telah tenar dan populer, yang tengah berkunjung dari armada Macross Galaxy; dan Ranka Lee, gadis muda yang kepopulerannya sebagai penyanyi baru naik daun; di tengah ancaman makhluk asing buas Vajra yang dapat muncul sewaktu-waktu. Seri TV-nya dilanjutkan oleh dua film layar lebar yang menjadi cerita alternatif dari seri TV-nya, yaitu Macross Frontier the Movie: The False Songstress pada tahun 2009 dan Macross Frontier the Movie: The Wings of Goodbye pada tahun 2011.

Meski sempat membuatku aneh di beberapa bagian, perlu kuakui kalau Macross Frontier termasuk seri yang bisa kusukai. Kurasa seri Macross untuk pangsa pasar modern dimulai dari seri ini. Ceritanya tak seimbang di banyak bagian, tapi bisa dibilang diakhiri dengan memuaskan.

Mengiringi kepopuleran Macross Frontier, pada tahun 2012 hadir tayangan layar lebar Macross FB 7: Listen to My Song keluaran Satelight yang menampilkan ‘dokumentasi’ cerita Macross 7, yang disaksikan oleh para karakter Macross Frontier (serupa juga dengan bagaimana cerita Macross Zero sempat dijadikan film layar lebar lagi di dalam dunia Macross Frontier). Tayangan ini menitikberatkan faktor nostalgia yang dimiliki sebagian karakternya, serta diiringi beberapa lagu baru dari band Fire Bomber.

…Tayangan layar lebar ini lebih khusus diperuntukkan oleh para penyuka lagu-lagunya. Ehem. Kalau kalian ngerti maksudku.

Ada sejumlah media lain berupa komik dan game yang dapat bersifat sebagai cerita pelengkap maupun cerita yang berdiri sendiri. Tapi cakupannya terlalu banyak untuk bisa kubahas sekarang.

Yah, mungkin nanti kita lihat lagi perkembangannya sesudah Macross Delta tuntas.

Mobile Suit Gundam: Iron-Blooded Orphans

In anime on 02/04/2016 at 13:34

(Ini bahasan season pertama yo. Untuk yang kedua, bisa dilihat di sini.)

Aku ingat jelas waktu Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans diumumkan.

Beritanya keluar di awal tahun 2015, tak lama sesudah Gundam Build Fighters Try dan Gundam: Reconguista in G tamat.

GBF Try dan Gundam: Reconguista kunikmati, tapi kusadari keduanya tidak termasuk seri Gundam yang ‘meledak.’ Makanya, aku lumayan kaget ada seri Gundam baru secepat ini. Biasanya ada pertimbangan agak lama soal anggaran, sponsor, masa saturasi pasar, dan sebagainya. Tapi pihak produsen kelihatannya sudah yakin sekali untuk seri satu ini.

Sebutan untuk seri ini waktu itu hanya G-Tekketsu (‘tekketsu’ berarti darah besi/logam). Situs webnya hanya menampilkan jam hitungan mundur, sekaligus gambar desain mecha utamanya yang ditutupi siluet. Siluet ini yang lalu secara perlahan terangkat seiring makin dekatnya waktu pengumuman.

Spekulasi bermunculan.

Lalu di pertengahan 2015, judul seri baru ini secara resmi dibeberkan. Bentuk desain mechanya, sekaligus daftar staf yang bekerja di dalamnya, dengan seketika menarik perhatian.

G-Tekketsu atau Mobile Suit Gundam: Iron-Blooded Orphans (subjudulnya kira-kira berarti: ‘anak-anak yatim piatu berdarah besi’) tayang pada perempat akhir tahun 2015 sampai cour pertama 2016. Produksinya tentu saja masih dilakukan studio Sunrise. Jumlah episodenya sebanyak 25, walau ini langsung disusul pengumuman akan ada season baru yang menyusul pada Oktober 2016.

Hal ini membuat situasi penayangannya mirip Gundam 00, yang antara season pertama dan keduanya sempat diselingi penayangan Code Geass: Hangyaku no Lelouch R2 yang juga berlangsung selama dua cour.

Apa yang menarik dari segi staf adalah penyutradaraannya yang dilakukan oleh Nagai Tatsuyuki serta penulisan naskah/komposisi seri yang ditangani oleh Okada Mari. Dua personil ini sebelumnya lebih dikenal berkat kolaborasi mereka dalam anime-anime drama remaja terkenal Toradora!, AnoHana, serta yang terbaru, The Anthem of the Heart. Bukannya mereka tak pernah terlibat pembuatan anime mecha sebelumnya. Hanya saja, keputusan ini bagi banyak orang terbilang mengejutkan.

Aku juga dapat kesan kalau seri ini sebenarnya sudah direncanakan lama. Mungkin bertahun-tahun sebelumnya. Lalu karena sudah ‘matang’ pengembangannya, seri ini langsung diluncurkan pas lagi panas.

Soal pengumuman stafnya, aku mendapat kesan positif. Okada-san belakangan dikenal sebagai penulis skenario yang prolific. Jadi meski beliau beratnya di sisi penggalian konflik antar karakter (dan bukan di hal-hal lain kayak intrik, komedi, konspirasi, misteri, dsb.), selama ada banyak masukan dari pihak Sunrise, kurasa hasilnya takkan sampai jelek. Sedangkan Nagai-san dulu menyutradarai dua season anime To Aru Kagaku no Railgun, yang meski berat di interaksi karakter, menurutku juga menghasilkan adegan-adegan aksi yang benar-benar keren.

Dari segi desain mecha, kalangan penggemar Gunpla langsung memperhatikan desain mecha-mecha G-Tekketsu yang memiliki bentuk pinggang teramat ramping. Nyaris seolah rapuh. Ada perhatian lebih pada ‘rangka’ di dalam MSnya, yang buatku mengingatkan pada filosofi desain Nagano Mamoru dulu.

Karena kesan telanjangnya, ada yang berkomentar bahwa mecha utama yang ditampilkan dalam websitenya sebenarnya masih belum ‘jadi.’ Lalu ada beberapa aspek aneh lain pada desain, yang juga disadari para penggemar awam, tapi tidak langsung dipermasalahkan di awal karena masih sebatas spekulasi.

Aku sendiri lega bukan main. Menilai bentuk bahu yang bundar ketika situs webnya masih tertutup siluet, aku sempat mengira/khawatir ini akan jadi seri berformat turnamen macam G Gundam lagi. (Arah ke sana sangat tidak bijak mengingat perkembangan cerita GBF dan GBF Try.) Syukurlah karena ternyata bukan.

Lalu akhirnya, episode pertamanya tayang dan bisa disaksikan lewat streaming ke seluruh dunia.

Hasilnya… Hasilnya bagus. Kayak, beneran bagus.

Jelas ada orang yang takkan cocok dengannya, dan akan merasa sulit menikmati. Tapi bagi mereka yang cocok dengan G-Tekketsu–dan ini kemungkinannya lumayan besar kalau kau penggemar seri-seri Gundam lama–episode satunya bisa membuatmu kayak terkesima beberapa lama, karena apa yang membuat seri ini bagus lumayan di luar dugaan.

Orang-orang Seperti Mesin Itu

Berlatar di masa Post Disaster 323, sekitar tiga abad sesudah perang sangat besar yang disebut Calamity War (‘perang malapetaka’) terjadi antara Mars dan Bumi, koloni-koloni luar angkasa telah dibangun sebagai tempat hunian manusia, dan permukaan planet Mars telah melewati proses terraform sehingga kini dapat ditinggali secara bebas. Namun demikian, ketimpangan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk antara satu tempat dan tempat lainnya masih ada secara mencolok.

G-Tekketsu berkisah tentang sekelompok anak lelaki yatim piatu di kota Chryse, Mars, yang dipekerjakan sebagai tenaga bayaran oleh perusahaan pengamanan swasta CGS (Chryse Guard Security). Alasan anak-anak ini sampai dipekerjakan adalah karena selain dapat dibayar murah, dan tak ada yang menuntut jaminan sosial bila mereka wafat, ada suatu sistem antarmuka yang disebut Alaya-Vijnana (‘arayashiki’) yang hanya dapat ditanamkan pada tulang belakang anak-anak dan remaja yang masih di usia pertumbuhan. Sistem ini memungkinkan mereka yang memilikinya menggunakan peralatan Mobile Worker tanpa pelatihan.

Karenanya, anak-anak ini disodori tawaran: bila mereka mau menjalani operasi (yang benar-benar menyakitkan, dan oleh sejumlah kalangan dipandang tidak manusiawi) untuk dipasangkan Alaya-Vijnana, maka mereka bakal dikasih tempat berteduh dan makanan; selama mereka mau bekerja sebagai prajurit di bawah naungan CGS. Lalu tawaran ini banyak diambil karena kebanyakan anak terlantar di Chryse sudah tak punya apa-apa lagi.

Cerita dimulai saat putri tunggal keluarga Bernstein yang berkuasa atas Chryse, Kudelia Aina Bernstein, hendak pergi ke Bumi atas undangan Makanai Togonosuke, perdana menteri Arbrau.

Di masa ini, pemerintahan di Bumi terbagi atas empat blok ekonomi. Masing-masing blok ekonomi tersebut memiliki porsi kekuasaannya sendiri, termasuk atas koloni-koloni luar angkasa dan wilayah-wilayah tertentu di Mars. Arbrau misalnya, berkuasa atas Bumi bagian utara yang di masa kini mencakup wilayah-wilayah Russia, Canada, dan Alaska. Lalu di Mars, Chryse termasuk dalam lingkup kekuasaan Arbrau.

Lalu untuk keperluan perjalanan tersebut, CGS, yang dipimpin oleh seorang pria bernama Maruba Arkay, akan ditugaskan untuk mengawal Kudelia.

Terlepas dari keempat blok ekonomi tersebut, sebenarnya ada satu faksi berkuasa lain, yaitu entitas militer tunggal Gjallarhorn. Gjallarhorn secara netral diamanatkan untuk menjaga perdamaian di Bumi, Mars, serta koloni-koloni luar angkasa semenjak Calamity War berakhir. Organisasi militer elit ini mewarisi berbagai teknologi dan peralatan perang dari masa Calamity War, yang di dalamnya termasuk Mobile Worker serta Mobile Suit (MS) dalam jumlah sangat banyak.

Sesudah kedatangan Kudelia di markas CGS, Maruba memberi tanggung jawab pada Orga Itsuka dan kawan-kawannya untuk mengatur soal pengawalannya. Orga adalah salah satu yatim piatu di CGS yang menonjol karena jiwa kepemimpinannya. Karenanya, sebagian besar anak-anak tersebut patuh padanya.

Namun tanpa sepengetahuan banyak orang, maksud Kudelia menemui Makanai—yaitu untuk menegosiasikan perubahan kebijakan pengelolaan sumber daya half metal di Chryse, dengan harapan dapat mensejahterakan penduduk Mars—ternyata dipandang akan memicu gerakan yang dapat mengubah struktur sosial dunia secara besar-besaran. Karenanya, kedatangan Kudelia ke CGS ternyata memang diatur sebagai bagian dari rencana terselubung untuk membunuhnya.

Orang-orang yang terlibat dalam rencana ini mencakup Coral Conrad, kepala cabang Gjallarhorn di Mars, serta Norman Bernstein, ayah Kudelia sendiri.

Hanya saja, rencana ini tak berlangsung mulus karena para personil CGS terlanjur berhasil melacak keberadaan pasukan Gjallarhorn di sekitar markas. Gjallarhorn pun melakukan penyerbuan besar-besaran ke markas CGS lebih cepat dari jadwal untuk mencegah Kudelia lolos.

Maruba dan manajemen CGS lain melarikan diri saat sadar mereka sudah dijadikan tumbal oleh Gjallarhorn, dan sebaliknya mereka pun mengorbankan Orga dan kawan-kawannya yang tengah bertempur agar mereka sendiri bisa kabur.

Merasa terkhianati, anak-anak yatim piatu di CGS di luar dugaan berhasil membalikkan keadaan saat Orga memerintahkan diaktifkannya kembali sebuah MS di ruang bawah tanah markas, yang reaktor Ahab yang terpasang padanya selama ini digunakan sebagai sumber tenaga. Hanya MS pulalah yang dapat menandingi kekuatan MS; karena kedatangan pasukan MS Graze milik Gjallarhorn dengan mudah akan menyingkirkan pasukan Mobile Worker CGS. Untuk peran penting ini, Orga menugaskan partner andalan sekaligus sahabat lamanya sejak kecil, Mikazuki Augus, sebagai menjadi pilot MS tersebut.

MS ini ternyata adalah Gundam Barbatos, satu dari 72 mesin legendaris dengan kerangka Gundam Frame yang konon telah mengakhiri Calamity War tiga abad silam.

Lalu pengaktifan MS ini pula yang menandai berdirinya Tekkadan, badan usaha baru yang Orga dan kawan-kawannya dirikan untuk menggantikan peran CGS dengan mengambil alih aset-asetnya.

Seperti Diarahkan ke Jejak Seorang Teman yang Hilang

Musim tayang pertama Iron-Blooded Orphans bercerita tentang upaya Tekkadan menggantikan peran CGS dalam mengantarkan Kudelia ke Bumi.

Ceritanya lumayan diwarnai ‘nuansa abu-abu,’ dengan bagaimana orang-orang dipaksa melakukan sesuatu yang ‘keras’ atau ‘kejam’ karena tak diberi pilihan. Kecocokan penyampaiannya lumayan relatif untuk masing-masing orang sih. Jadi aku bisa mengerti kalau ada orang-orang yang kurang nyaman dengannya.

Hanya saja, kalau kau penggemar Gundam lama, aku merasa besar kemungkinannya kau bakal suka. Melihat episode pertamanya saja—dan ini diperkuat pada episode-episode ke sana—aku melihat banyak motif dari seri-seri Gundam sebelumnya tertanam dalam Iron-Blooded Orphans. Seperti drama kehidupan serta konflik pandangan dari seri-seri Gundam era Universal Century, nuansa kasar medan perang The 08th MS Team, nuansa aristokratik dari Gundam Wing, sampai nuansa kekeluargaan di Gundam X.

Di samping perbudakan korporat, G-Tekketsu seperti berusaha menyampaikan bagaimana anak-anak bisa sampai dimanfaatkan sedemikian rupa untuk kepentingan orang-orang dewasa. Menariknya, tema ini disampaikan bukan hanya lewat pemaparan para anggota Tekkadan. Ini juga tersampaikan lewat situasi Kudelia, anggota-anggota keluarga yang berkuasa di Gjallarhorn, serta pihak-pihak lain yang bersimpangan jalan dengan mereka.

Dalam perkembangan cerita, Kudelia kembali meminta jasa sponsornya, seorang pria sangat kaya di Mars bernama Nobliss Gordon, untuk membiayai perjalanannya sekaligus perlindungan Tekkadan. Tapi di awal cerita, Kudelia tak menyadari bahwa Noblisslah yang justru menjadi dalang dari rencana pembunuhan atas dirinya.

Di sisi Gjallarhorn cabang Mars sendiri, guncangan terjadi saat tiba-tiba  datang tim audit dari Bumi menjelang pelaksanaan rencana Coral untuk membunuh Kudelia.

Tim audit ini terdiri atas dua perwira elit khusus yang masih berada di usia relatif muda, McGillis Fareed dan Gaelio Bauduin, yang untuk beberapa lama mengambil alih operasional dari Coral yang kini terbukti korup. Keduanya sama-sama kompeten; McGillis dengan karisma dan kecerdasannya, sementara Gaelio dengan ketangguhan dan harga dirinya. Lalu dalam mengusut kasus Kudelia, mereka memantau perjalanan Tekkadan dan beberapa kali menjadi lawan yang menghalangi mereka.

Dikisahkan juga bahwa McGillis dan Gaelio sama-sama berasal dari dua keluarga ternama yang termasuk golongan Seven Stars, dan kelak mereka akan mewarisi posisi kepala keluarga masing-masing. McGillis khususnya, telah dijodohkan dengan adik perempuan Gaelio, Almiria Bauduin, sekalipun nyatanya Almiria jelas-jelas masih anak-anak. Almiria tak berkeberatan dengan McGillis yang merupakan sahabat kakaknya. Namun jelas bahwa perjodohan tersebut dilakukan atas dasar politik, dan McGillis sendiri diceritakan memiliki maksud tertentu lewat perjodohannya ini.

Perkembangan situasi dunia dan karakternya itu benar-benar menarik karena ada fokus besar diberikan terhadapnya. Hal ini memang menjadikan Iron-Blooded Orphans salah satu seri Gundam dengan frekuensi adegan pertempuran terjarang yang aku tahu. Kayak, ada jeda-jeda panjang antara satu adegan MS dengan lainnya. Pernah sampai ada sekitar tiga episode yang tak ada adegan mechanya sama sekali. Tapi pas adegan-adegan aksinya itu ada, aksi dan koreografinya itu benar-benar intens dan seru.

Fokus terbesar tentu saja ada pada Tekkadan pimpinan Orga, yang bergerak di bawah perlindungan Mikazuki yang menggunakan Gundam Barbatos. Mereka berhasil memperoleh media transportasi untuk Kudelia berupa kapal Isaribi yang sebelumnya dimiliki CGS (sebelumnya bernama Will-o-the-Wisp). Tapi tetap saja komposisi terbesar keanggotaan mereka adalah remaja dan anak-anak. Jadi kayak ada konflik yang digali dengan bagaimana keadaan menuntut mereka bersikap lebih matang dan dewasa dari usia mereka.

Hal tersebut merupakan tema klasik dalam seri-seri Gundam. Tapi di sini, itu terutama terpapar lewat hubungan antara Orga dan Mikazuki; yang mana Orga, dengan kepolosan masa kecil mereka, pernah membujuk Mika di masa lalu untuk membunuh seseorang dan membuatnya dengan setia mengikutinya sampai sekarang.

Maka Mikapun semenjak itu senantiasa mengikutinya, menuntutnya lewat tatapan matanya, untuk bisa membawa dirinya sekaligus teman-teman mereka ke suatu ‘tempat’ yang baru…

Bunga Besi yang Lebih Kuat Dari Darah

Berhubung jumlah tokohnya banyak, berikut rekapnya untuk memantau siapa itu siapa.

Setelah lolos dari Gjallarhorn di awal cerita, anggota Tekkadan yang ikut dalam pekerjaan pertama mereka ke Bumi mencakup:

  • Mikazuki Augus; pendiam, pragmatis, dan terkesan berdarah dingin; namun sebenarnya berhati baik dan sangat setia terhadap kawan-kawannya di Tekkadan. Terutama terhadap Orga, yang dengan sangat setia ia patuhi setiap perintahnya. Dikagumi di dalam Tekkadan karena kesungguhan dan ketangguhannya, yang menjadikannya satu-satunya anggota Tekkadan yang mampu menerima dahsyatnya arus umpan balik dari Gundam Barbatos. Seperti kebanyakan anak lain di Tekkadan, di awal cerita Mika masih belum bisa membaca.
  • Orga Itsuka; yang dipercaya dan diangkat sebagai pemimpin Tekkadan oleh teman-temannya. Karenanya, ia terus berjuang untuk bisa membuktikan diri pada orang-orang di sekitarnya dan sekaligus pada dirinya sendiri. Teman sejak kecil Mikazuki yang dipercayainya seperti saudara.
  • Biscuit Griffon; tangan kanan Orga dalam segala urusan terkait administrasi dan negosiasi klien. Meski sedikit gemuk, ia menjadi salah satu anggota Tekkadan paling dikenal karena hatinya yang baik dan tutur katanya yang sopan. Berbeda dari sejumlah anggota Tekkadan lainnya, Biscuit masih memiliki keluarga (seorang nenek yang bekerja sebagai petani, Sakura Pretzel, sekaligus dua adik perempuan kembar yang cerdas dan ceria yang ingin disekolahkannya, Cookie Griffon dan Cracker Griffon), dan sebelumnya ia sukarela bekerja pada CGS untuk menambah pemasukan keluarganya. Biscuit juga pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah.
  • Akihiro Altland; pemuda kekar yang menjadi pemimpin segolongan anak-anak CGS yang berasal dari human debris (‘puing manusia’), istilah yang mengacu pada orang-orang yang diperjualbelikan selayaknya budak di masa ini. Pendiam, tidak terlalu dekat dengan para anggota lain pada awalnya, ditambah punya kecendrungan untuk membahayakan diri. Tapi ia mulai terbuka semenjak Orga memberi Akhiro dan kawan-kawannya sesama human debris tempat bernaung, dan sekaligus mengembalikan harga diri mereka. Dirinya pilot MS paling ahli kedua di Tekkadan sesudah Mikazuki. Awalnya, ia menggunakan MS produksi massal Graze Custom yang Tekkadan berhasil peroleh dari Gjallarhorn. Tapi sesudah konflik melawan kelompok pembajak Brewers (yang dipimpin Brooke Kabayan dan tangan kanannya yang kejam, Kudal Cadel), Akihiro dipercayakan Gundam Gusion milik Brewers yang kemudian dimodifikasi lagi menjadi Gundam Gusion Rebake.
  • Eugene Sevenstark; salah satu sosok menonjol di CGS sebelum Orga menjadi pemimpin Tekkadan. Unggul dalam sejumlah aspek dibandingkan Orga, tapi sedikit lebih gegabah dari Orga yang senantiasa berpikir panjang. Karenanya, Eugene punya kecendrungan besar untuk bisa membuktikan diri. Dalam perkembangannya, Eugene menjadi andalan Orga dalam memanuver Isaribi, sekaligus orang yang ia pilih sebagai wakilnya bila dirinya sedang tak ada di tempat.
  • Norba Shino; pemuda kurus dan ceria yang menjadi personil Tekkadan yang paling ahli dalam pertempuran personil jarak dekat. Ia mengambil alih kemudi Graze Custom menggantikan Akihiro, dan kemudian seenaknya menamainya Ryusei-Go dalam modifikasinya yang lebih lanjut. Mudah akrab dengan orang lain.
  • Takaki Uno; anak-menjelang-remaja yang biasa mengasuh anak-anak yang lebih kecil di Tekkadan. Dari zaman CGS, ia membantu menjalankan berbagai peran, mulai dari utusan sampai pembantu umum. Juga ingin bisa lebih aktif dalam pertempuran.
  • Yamagi Gilmerton; anggota Tekkadan yang tertutup dan pendiam, tapi perhatian terhadap teman-temannya. Pandai membantu dalam urusan mekanis. (Desain karakternya agak gampang terbalik dengan Takaki. Bedanya, mata Yamagi tertutup sebelah oleh poni rambut yang lebih panjang dan ia selalu berkaus tangan.)
  • Ride Mass; bocah berambut merah yang merupakan salah satu anak termuda di Tekkadan. Bicaranya kurang halus, tapi perasaannya terhadap kawan-kawannya tulus. Ia juga selalu ingin bisa membuktikan diri.
  • Chad Chadan; anggota Tekkadan berkulit hitam yang kurang menonjol, yang memiliki masa lalu sebagai human debris seperti halnya Akihiro. Belakangan, ia membantu urusan komunikasi dan navigasi di Isaribi.
  • Dante Mogro; pemuda gempal berambut merah yang juga pernah menjadi human debris bersama Akihiro. Terungkap kalau ia punya keahlian dalam bidang electronic warfare.
  • Nadi Yukinojo Kassapa; pria besar berotot berkulit hitam yang bekerja di CGS sebagai mekanik sebelum dipekerjakan kembali oleh Tekkadan. Aslinya, Yukinojo mendalami Mobile Worker, tapi aktifnya Gundam Barbatos membuatnya harus mulai menangani MS juga. Salah satu orang yang paling memahami kepribadian Orga.
  • Atra Mixta; gadis kecil yang sebelumnya bekerja sebagai penjaga toko kelontong yang sering mengantar pasokan makanan ke CGS. Bisa akrab dengan Mikazuki dan kawan-kawannya karena ia juga yatim piatu. Menyukai Mikazuki. Saat mengetahui bahwa pekerjaan pertama Tekkadan adalah ke Bumi, Atra mengundurkan diri dari pekerjaannya di toko dan mengajukan lamaran pekerjaan ke Tekkadan sebagai koki.

Tugas Tekkadan adalah mengawal Kudelia Aina Bernstein—bersama pelayan wanita Kudelia yang pendiam namun serba bisa, Fumitan Admoss—ke pertemuan dengan Makanai Togonosuke di Arbrau, Bumi.

Dalam perjalanan, Tekkadan bersimpangan jalan dengan keluarga Turbines yang menggunakan kapal Hammerhead (yang secara tak langsung terjadi karena Maruba tak rela semua asetnya diambil). Pertemuan ini menandai awal persekutuan Tekkadan dengan Turbines, yang kemudian memberikan Tekkadan akses ke Teiwaz, perusahaan konglomerat besar yang menguasai jalur-jalur transportasi di wilayah sabuk asteroid di sekitar Mars dan Jupiter, yang sekaligus memiliki kaitan dengan mafia.

Keluarga Turbines meliputi:

  • Naze Turbine; kepala keluarga Turbines yang selalu berpakaian necis. Awalnya hanya tertarik, tapi lambat laun dirinya benar-benar peduli pada Orga dan kemudian menjadikannya saudara angkat. Ia seorang praktisi poligami.
  • Amida Archa; istri Naze sekaligus tangan kanannya di Turbines. Ia wanita cantik berkulit coklat yang memiliki guratan bekas luka besar pada badannya. Panggilannya ‘Ane-san.’ Ia juga seorang pilot MS yang handal.
  • Lafter Frankland; perempuan berambut pirang yang menjadi salah satu istri Naze(?). Di balik bawaan pesoleknya, Lafter salah salah satu pilot MS tertangguh di Turbines. Belakangan ikut turun ke Bumi bersama Tekkadan sebagai bala bantuan dari Turbines.
  • Azee Gurumin, perempuan pendiam berambut kelabu yang menjadi salah satu pilot andalan lain di Turbines. Dirinya ikut ke Bumi bersama Lafter sebagai bala bantuan Tekkadan.
  • Eco Turbine, perempuan berkuncir yang menjadi salah satu anggota lain Turbines yang ikut ke Bumi untuk membantu Tekkadan. Dirinya bala bantuan yang dikirim untuk penanganan MS.

Naze memperkenalkan Orga pada McMurdo Barriston, perwakilan Teiwaz yang tertarik untuk menjadikan Tekkadan salah satu perusahaan di bawahnya. Berkat McMurdo, Tekkadan berhasil menemukan jalur yang memungkinkan mereka menghindari Gjallarhorn, namun dengan syarat mereka juga menyelesaikan sejumlah pekerjaan darinya.

Untuk membantu Orga yang masih awam dalam urusan pengelolaan perusahaan, McMurdo menugaskan seorang wanita handal yang sebelumnya bekerja di sektor perbankan Teiwaz bernama Merribit Stapleton ke Tekkadan. Meski kadangkala bentrok dengan Orga karena perbedaan pendapat, Merribit lambat laun menjadi sosok yang menyadarkan Orga akan segala keterbatasannya dan demikian pula sebaliknya.

Dari sisi antagonis, selain McGillis, Gaelio, dan kelompok Brewers, mereka yang merintangi jalan Tekkadan baik secara langsung maupun tidak langsung meliputi:

  • Crank Zent; perwira Gjallarhorn veteran yang gusar dengan keberadaan tentara anak-anak di Mars.
  • Ein Dalton; bawahan Crank yang sangat setia terhadapnya. Seorang pemuda yang juga mendapat diskiriminasi di Gjallarhorn karena tidak terlahir di Bumi. Dalam perkembangan cerita, ia turut serta di bawah bimbingan Gaelio.
  • Carta Issue, pemimpin armada pengawas orbit Bumi, juga berasal dari salah satu keluarga Seven Stars. Ia perempuan eksentrik yang merupakan kawan masa kecil Gaelio dan McGillis yang sedikit lebih tua. Memiliki cinta lama yang tak berbalas terhadap McGillis sekaligus harga diri tinggi.
  • Iznario Fareed; ayah angkat(?) McGillis yang merupakan salah satu Seven Stars dan kepala keluarga Fareed. Memiliki suatu agenda pribadi dengan Gjallarhorn.
  • Henri Fleurs; seorang wanita yang menjadi lawan politik Makanai, sekaligus kandidat terkuat untuk memperoleh kursi perdana menteri Arbrau. Didukung oleh Iznario.

Sumber Penghidupan Akan Kita Temukan di Medan Perang

Bicara soal mecha, ciri khas desain mecha di Iron-Blooded Orphans ada pada bentuk pinggangnya yang sangat ramping, seolah hanya ditunjang oleh satu batang. Kerangka MS yang sebelumnya bisa terlihat itu kemudian seperti ditutupi oleh berlapis-lapis zirah. Jadi secara visual, bentuknya berbeda jauh dari konsep desain robot ‘tradisional’ yang dibikin berbalok-balok dulu di awal dan baru dirampingkan bila perlu. Jadi dengan melihat sekilas saja, kau akan bisa langsung mengenali apakah sebuah Gunpla berasal dari seri ini atau bukan.

Soal ini, wow, ada banyak yang ingin aku bahas.

Iron-Blooded Orphans memperkenalkan konsep Mobile Worker, kendaraan beroda tiga yang fleksibel dalam menempuh berbagai medan dan dilengkapi sepasang senapan mesin, yang dipakai baik oleh Tekkadan maupun Gjallarhorn. Kalah jauh dibandingkan MS tapi dapat unggul dari segi jumlah, bagian kakinya yang beroda dapat digantikan dengan pendorong untuk kebutuhan di luar angkasa. (Berkat implementasi Alaya-Vijnana, bahkan anak kecil seperti Ride pun dapat mengoperasikannya melalui kabel panjang yang terhubung ke punggung.)

Iron-Blooded Orphans mengadopsi versi tersendiri dari fisika Minovsky dari seri-seri era UC lewat keberadaan reaktor Ahab yang menghambat komunikasi radio. Tapi di dunia IBO, persenjataan sinar seperti Beam Saber dan Beam Rifle, apalagi Beam Shield dan Beam Rotor; seolah sama sekali tak ada. Persenjataan mecha di IBO sepenuhnya berbasis proyektil padat (seperti peluru dan misil) kalau bukan senjata-senjata melee jarak dekat (dalam hal ini, kampak yang dimiliki MS produksi massal Graze atau tombak gada yang dimiliki Gundam Barbatos).

Selain reaktor Ahab, kapal-kapal induk dan MS juga mengandalkan pelapis yang disebut Nano Laminated Armor yang melindungi mereka dari kerusakan serangan secara langsung.

Dikisahkan bahwa setiap Gundam Frame adalah kerangka MS langka yang dilengkapi sepasang reaktor Ahab (mirip dengan twin drive system di Gundam 00), yang membuatnya memiliki keluaran benar-benar besar. Berhubung sulitnya memproduksi sepasang reaktor Ahab yang dapat bekerja secara paralel (dan caranya kelihatannya telah dilupakan sejarah), hanya 72 kerangka ini yang pernah diproduksi di masa Calamity War. Namun demikian, semuanya dirancang sedemikian rupa agar implementasinya fleksibel dan bisa digunakan dalam lingkungan apapun.

Seperti yang disampaikan dalam materi-materi promosinya, Gundam Barbatos melewati beberapa bentuk berbeda di sepanjang seri. Seiring perkembangan cerita, pihak Tekkadan dan Turbines terus melakukan modifikasi terhadapnya sesuai dengan ketersediaan komponen dan senjata saat itu.

Tahapan pengembangannya di season ini kalau tak salah:

  • Bentuk pertama: Bentuk awal Barbatos saat pertama ditemukan oleh Maruba di Mars, ketika reaktor Ahabnya hanya digunakan sebagai generator listrik. Zirahnya sudah mulai rapuh dan hancur sebagian, dan berada dalam kondisi tidak memiliki kokpit. (Kokpitnya terlontar saat pilot lamanya meloloskan diri?) Yukinojo dan Yamagi menyiasati ketiadaan kokpit dengan memasangkan kokpit Mobile Worker padanya. Tombak gada yang menjadi andalan Mika juga ditemukan di markas CGS dan nampaknya merupakan salah satu perlengkapan asli MS ini sejak awal.
  • Bentuk kedua: Bentuk Barbatos yang bagian-bagian bolongnya sudah separuh ditambal dengan suku cadang yang diperoleh dari Graze yang Mika kalahkan. Ditandai dengan bentuk bahunya yang persegi dan berwarna biru. Mulai dilengkapi dengan Smoothbore Gun yang dapat dilipat, yang mampu menembakkan peluru berkecepatan tinggi berdiameter 300mm dan dikhususkan untuk dipakai dalam lingkungan bergravitasi nol.
  • Bentuk ketiga: Bentuk Barbatos yang bagian pelindung tangan kirinya yang rusak telah digantikan dengan Wire Claw (‘cakar kawat’) yang diperoleh dari MS Schwalbe Graze milik Gaelio. Perlengkapan baru ini ternyata berperan vital dalam performa selama bentuk ini digunakan.
  • Bentuk keempat: Bentuk asli Barbatos (atau setidaknya, bentuk yang mendekati bentuk aslinya) yang berhasil dikembalikan para teknisi Teiwaz berkat informasi lama dalam basis data yang mereka simpan. Wujud ini diperoleh Mika dan kawan-kawannya di koloni luar angkasa Saisei. Performanya jauh meningkat dibandingkan sebelumnya, dengan keseimbangan mesin yang lebih stabil dan keluaran serta rentang operasi yang lebih baik. Ditandai oleh bentuk pelindung bahunya yang putih bundar. Mulai bentuk ini, Barbatos dilengkapi pedang katana panjang yang baru Mika kuasai cara pakainya menjelang akhir cerita.
  • Bentuk kelima: Bentuk Barbatos sesudah dilengkapi sejumlah perlengkapan tambahan, yang sebagian disediakan oleh Perusahaan Montag yang misterius. Memiliki pendorong tambahan di pinggang yang diperoleh dari Schwalbe Graze milik Ein, serta pelindung reactive armor yang dipasangkan pada badan untuk menghadapi pola serang berkecepatan tinggi dari Gundam Kimaris milik Gaelio. Setiba di Bumi, bentuk ini disesuaikan lagi, terutama dengan kaki baru yang memudahkan pergerakan di bawah gravitasi.
  • Bentuk keenam: Bentuk final Gundam Barbatos untuk pertempuran terakhir di Edmonton, yang disesuaikan dari variasi tanah bentuk kelima rancangan Eco Turbine. Ciri khasnya ada pada zirah tambahan baru di sekujur tubuhnya serta sepasang pendorong baru di pinggang. Dalam wujud ini, kelincahan Gundam Barbatos berkurang, tapi perlindungan baru yang dimilikinya memungkinkannya beroperasi lebih lama di medan pertempuran. Menggantikan tombak gadanya yang terlepas di luar angkasa, Mika juga jadi mengandalkan gada baru yang diperkuat di bentuk ini.

Sesudah konflik dengan Brewers, Tekkadan memperoleh Gundam Gusion yang sebelumnya digunakan Kudal Cadel. Memiliki keluaran besar serta zirah teramat tebal, Gundam Gusion seperti raksasa hijau gempal yang hanya bisa beroperasi di luar angkasa, dan dilengkapi persenjataan senapan mesin, granat, serta palu raksasa.

Baru sesudah Gundam Gusion jatuh ke tangan Akihiro, keluarga Turbines memodifikasinya ke bentuk Gundam Gusion Rebake yang lebih efisien dengan memanfaatkan suku cadang yang awalnya disediakan untuk Gundam Barbatos. Sistem Alaya-Vijnana ditambahkan. Zirah tebal pada badannya dikurangi, dan aspek pertahanannya dialihkan ke perisai sangat besar yang dapat disimpan di pinggangnya. Pada kepalanya, dilengkapi sensor sangat sensitif yang membuatnya cocok dengan beragam persenjataan jarak jauh. Juga dilengkapi beberapa variasi kampak untuk pertempuran jarak dekat, serta tambahan sub-arms tersembunyi yang diperoleh dari Graze (mirip Seravee Gundam dari Gundam 00?). Ini terus terang menjadikan Gusion Rebake sebuah mecha dengan konsep unik yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Sedangkan untuk MS produksi massal, Graze menjadi MS standar yang digunakan pasukan Gjallarhorn. Ciri khasnya ada pada bentuk kepala mereka yang dapat membuka seperti rahang. Diproduksi dengan teknologi tercanggih Gjallarhorn, MS ini memiliki pilihan senjata banyak sekaligus perlengkapan yang dapat disesuaikan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Variasi Graze mencakup Graze Commander Type (pernah digunakan Coral Conrad) yang ditandai dengan antena tambahan untuk komandan; Graze Ground Type untuk pertempuran dengan gravitasi, yang dilengkapi pedang baja ringan di punggung sera bentuk kaki berbeda dari versi standar; Schwalbe Graze yang dikustomisasi untuk mobilitas tinggi (pernah dipakai McGillis dan Gaelio, dengan variasi yang dipakai Gaelio dilengkapi tombak di tangan kanan); serta Graze Ritter, milik pasukan pengamanan orbit Bumi pimpinan Carta, yang keseimbangan dan mobilitasnya disesuaikan untuk pertempuran di orbit serta dilengkapi pedang tipis di pinggang.

Pihak Turbines menggunakan MS produksi massal Hyakuren (yang sempat dipakai Amida dan Azee). Selain mempunyai senapan dan bilah pedang sebagai senjata utama, Hyakuren juga dapat menggunakan pelindung kepalanya sebagai senjata.

Ada variasinya yang berkecepatan tinggi bernama Hyakuri milik Lafter, yang perlengkapan sistem pendorongnya dapat berubah bentuk dan menjadi kombinasi pelindung dan perisai. Tak terlihat kalau hanya sekilas, tapi dari segi fungsional, Hyakuri punya desain yang benar-benar keren.

Dalam perkembangan cerita, dua unit Hyakuren yang digunakan Lafter dan Azee disertakan ke Bumi bersama Tekkadan. Tapi asal-usul keduanya perlu ditutupi agar aliansi Tekkadan dan Turbines tak diketahui umum. Karenanya, selain dimodifikasi untuk performa di bawah gravitasi, bentuk luarnya dimodifikasi secara drastis, menjadikannya MS baru dengan kerangka sama bernama Rouei.

Selebihnya, ada MS produksi massal Man Rodi yang digunakan Brewers, yang serupa dengan konsep zirah tebal dan keluaran besar berbentuk bulat Gundam Gusion. Man Rodi dilengkapi senapan mesin, palu dan granat. MS ini nampaknya berasal dari hasil modifikasi MS serba guna Spinner Rodi yang aslinya digunakan untuk kebutuhan industri.

Pada pertengahan cerita, Gaelio menggunakan MS pusaka keluarga Bauduin, Gundam Kimaris, yang dilengkapi pendorong punggung tambahan, untuk menandingi Gundam Barbatos. Dilengkapi tombak khusus Gungnir, MS ini mampu melancarkan serangan-serangan jarak dekat berkecepatan tinggi dari berbagai arah yang sempat membuat Mika kewalahan.

Gundam Kimaris selanjutnya disesuaikan lebih lanjut untuk bisa memberikan performa serupa di Bumi, menjadi Gundam Kimaris Trooper. Masih dengan tombak, tapi MS ini kini juga dengan perisai dan pedang, dengan bentuk menyerupai centaur yang telah dilengkapi subarm dan badan yang mampu mengambang. Selain masih berkecepatan tinggi di bawah gravitasi, MS ini juga mampu melancarkan serangan jarak dekat beruntun lewat berbagai senjata yang terpasang padanya.

Melengkapi tim MS di Tekkadan, Shino mengambil alih Graze Custom yang sebelumnya digunakan Akihiro. Berkat kustomisasi dengan bantuan pihak Turbines, Graze Custom dilengkapi perlengkapan tambahan dari Hyakuren, mengubahnya menjadi Graze Custom II yang dinamai Shino sebagai Ryusei-Go. Meski perlengkapannya standar, performa MS ini lebih tinggi dari Graze pada umumnya, dan warnanya sengaja dipilih merah muda oleh Shino dengan alasan untuk menambah semangat tempurnya.

Seperti halnya Gundam Barbatos dan Gundam Gusion Rebake, Ryusei-Go pun dapat terhubung dengan pesawat transportasi berkecepatan tinggi Kutan Sangata (Kutan Type 3) yang diperoleh dari Teiwaz, yang beberapa kali sempat dikemudikan oleh Yukinojo.

Lawan terakhir yang harus dihadapi di season ini adalah MS raksasa Graze Ein, hasil implementasi teknologi terlarang Alaya-Vijnana di sisi Gjallarhorn. Berbentuk seperti Graze, hanya saja berukuran jauh lebih besar dan memiliki kelincahan yang juga jauh di luar dugaan. Kemunculan pertama MS ini mengingatkanku akan kemunculan Psycho Gundam di Zeta Gundam yang langsung menimbulkan kengerian dengan ukurannya yang teramat besar.

Sebagai tambahan, ada satu MS misterius berwarna merah bernama Grimgerde, yang digunakan secara pribadi oleh pria bertopeng logam yang mewakili Perusahaan Montag. MS ini konon menggunakan kerangka Valkyria Frame yang ringan (dan konon digunakan sebagai basis pengembangan Graze?), dan kabarnya baru dikembangkan menjelang penghujung Calamity War sehingga keberadaannya tak diketahui banyak orang. Selain senapan khusus yang ringan, senjatanya hanya sepasang bilah pedang yang tersembunyi di balik perisai yang menutupi kedua lengannya. Kedua bilah berwarna emas ini terbuat dari logam komposit yang sudah tak lagi diketahui cara pembuatannya, yang membuat MS ini jauh lebih mematikan dari kesan pertama.

“Aku tak akan takut pada matamu lagi.”

Bicara soal teknis, kualitas visual maupun audio Iron-Blooded Orphans benar-benar solid.

Pilihan gaya desain karakternya kuakui sempat membuat aneh di awal. Tapi sesudah mengetahui inti ceritanya, gaya desain karakternya bisa dibilang pas dari sisi kepraktisan sekaligus tema. Bukan jenis yang mungkin mau kau buat jadi figur, tapi lebih kayak jenis desain yang terasa bisa diterima oleh semua kalangan yang mungkin berminat terhadap seri ini.

Musik latarnya yang diaransemen Yokoyama Masaru memiliki ciri khas kuat. Track-track awalnya, yang semula mengingatkanku akan nuansa koboi, secara pas memberi bayangan akan padang-padang Mars yang kering dan berbatu.

Lagu pembuka “Raise Your Flag” dari band MAN WITH A MISSION, selain menunjukkan betapa stabilnya kualitas band tersebut selama bertahun-tahun (mereka terutama dikenal karena membawakan lagu “Database” yang menjadi lagu pembuka seri Log Horizon), secara keren juga seakan jadi arc words baru bagi para fans Gundam (sebelumnya yang berasal dari lagu paling hanya “Stand Up to the Victory” dari Victory Gundam).

Soal visual, kualitas animasinya termasuk stabil di sepanjang penayangannya. Ada beberapa teknik pengambilan gambar menarik yang sempat dipakai, seperti bagaimana mereka membuat animasi lagu pembuka pertamanya dengan gambar agak berbulir, memberi kesan bahwa visualnya benar-benar hasil dokumentasi perang yang dibuat langsung.

Lalu yang membuatku terkesan, bagian-bagian animasi mekanisnya, meski tak menonjol, benar-benar berhasil dipresentasikan secara baik. Mulai dari markas luar angkasa Gjallarhorn, gudang penurunan barang di koloni-koloni, sampai rel-rel kereta berpasangan yang melintasi Amerika, penggambaran dunia di seri ini beneran terbilang bagus.

Soal eksekusinya, Nagai-san menunjukkan kemampuannya untuk mengeluarkan yang terbaik dari naskahnya. Untuk yang bisa menikmati, karakterisasinya benar-benar kuat. Tapi aspek karakterisasinya ini berhasil tersampaikan tanpa terlalu mengurangi aspek aksi maupun perkembangan dunianya.

Memang ada sedikit masalah terkait pacing menjelang akhir. Kalau dibandingkan dengan beberapa seri Gundam lain, rasanya seperti ada bagian cerita yang disingkat begitu latarnya masuk ke Bumi. Tapi sebagai salah satu seri Gundam langka yang klimaksnya di Bumi (dan bukan di luar angkasa), kesan kuat yang dibutuhkan di akhir berhasil didapat. …Yah, seperti kebanyakan orang, aku juga sempat berharap aksinya bisa sedikit lebih banyak sih. Tapi aku tak menyesal dengan apa yang kudapat.

…Sebenarnya, ada lebih banyak yang ingin bisa kukomen soal ini. Tapi agak susah menjabarkannya.

Jadi kayak, pada beberapa titik, memang ditampilkan betapa Tekkadan jadi pihak yang disorot dan didukung. Tapi itu dilakukan tanpa melepas ‘kesan abu-abu’ dari tindakan dan perbuatan mereka. Seperti halnya Orga yang dilanda keraguan, kita diperlihatkan betapa ada sisi simpatik juga pada pihak Gjallarhorn. Selalu ada kesan kalau mungkin saja Tekkadan sebenarnya dimanfaatkan dengan naifnya oleh pihak-pihak yang lebih berkepentingan, dan bisa saja merekalah sebenarnya pihak yang salah.

Mikazuki, sebagai tokoh utama, seolah mewakili hal ini. Dirinya terang-terangan, karena alasan pragmatis, bisa bertindak benar-benar kejam. Dari waktu ke waktu, kita bisa melihat bagaimana Orga kadang terganggu melihat Mika telah menjadi orang seperti apa.

Mikazuki menjadi seperti itu karena kata-kata yang membuatnya menjadi tanggung jawab Orga. Tapi Orga sudah terlanjur berjanji padanya dan menyayanginya, serta sepenuhnya sadar bahwa Tekkadan bisa beranjak sejauh ini juga berkat keberadaan Mika. Karenanya, hubungan antara Mika dan Orga, yang disorot pada waktu-waktu tertentu, menghasilkan kesan yang benar-benar enggak biasa.

Sebaliknya, perkembangan karakter Mika lebih banyak digali lewat hubungannya dengan Kudelia dan Atra. Bagi beberapa orang, hubungan mereka benar-benar manis dan terasa kontras dengan aspek-aspek lain seri ini.

Lalu soal Kudelia, yang jadi inti pusaran konflik di seri ini… Berbeda dari Lacus Clyne dari Gundam SEED misalnya, atau Releena Darlian dari Gundam Wing, Kudelia di awal cerita benar-benar ditampilkan sebagai gadis remaja biasa. Ya, dirinya berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ya, dirinya juga punya maksud baik untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat di sekelilingnya. Tapi di awal cerita, Kudelia sebenarnya sama sekali bukan pencetus idelogi revolusioner seperti yang digaungkan Gjallarhorn. Mungkin lebih kayak pelajar sekolah biasa yang suatu hari berkesempatan mempresentasikan karya tulisnya di suatu forum besar?

Seiring perkembangan cerita, ketika Kudelia melihat sendiri dampak keberadaannya bagi masyarakat di koloni-koloni, barulah ia menjadi figur politisi tangguh yang diharapkan Makanai dan ditakutkan Gjallarhorn. Jadi semua tindakan kejam Gjallarhorn justru menghasilkan apa yang mereka takutkan dalam suatu ironi aneh.

(Kontras dengan kondisi sekarang yang komunikasinya dimudahkan dengan Internet, isu reaktor Ahab dan kebutuhan Ariadne membuat jalinan komunikasi antara Bumi dan luar angkasa kurang lancar. Dengan penyebaran berita yang terbatas, meski nama Kudelia mulai tersebar di banyak kalangan, dikisahkan hanya sedikit orang yang tahu tentang profil lengkap dan wajahnya.)

Karenanya, pertemuan Kudelia dengan Mika menjadi awal perubahan banyak hal bagi keduanya. Kudelia disadarkan dari kenaifan dan pikirannya yang pendek. Sedangkan Mika disadarkan bahwa ada ‘cara-cara lain’ di luar bayangannya semula, yang juga membuatnya tersadar pula bahwa Orga dan Kudelia, seperti halnya dirinya, juga sama-sama hanya manusia.

Perkembangan karakternya menurutku salah satu hal terbaik di seri ini. Gagasan untuk menggambarkan para karakternya dengan cara demikian itu benar-benar bagus.

“Ke mana kita pergi sekarang?”

Akhir kata, mungkin Iron-Blooded Orphans enggak termasuk seri Gundam yang ‘rame.’ Tapi aku tetap mesti mengatakan kalau ini termasuk seri Gundam yang bagus. Malah, bagi sebagian orang, mungkin ini seri Gundam terbagus dalam dua dasawarsa terakhir.

Aku bersyukur ceritanya ada lanjutannya. Sebab dengan pembangunan dunianya yang sebagus ini, akan sangat disayangkan kalau ceritanya diputus hanya sampai di sini. (Mungkin terlalu cepat kalau aku berpendapat begini, tapi aku punya firasat aneh kalau seri ini bisa saja mencapai tiga season.)

Sedikit soal adegan pertarungan terakhir, dua episode terakhir IBO menghadirkan adegan-adegan pertarungan jarak dekat yang intens. Lalu ini semua diiringi pembangunan situasi yang semakin genting. Hasil akhirnya menurutku serupa dengan pembangunan konflik terakhir di The Vision of Escaflowne. Sayang, karena banyaknya hal yang terjadi, pembangunan momennya masih kurang sempurna. Di tengah kerennya duel penghabisan antara Mika dan Gaelio misalnya, tiba-tiba ada hal terjadi yang membuat konfrontasi mereka terganggu di tengah.

Ah, lalu terkait para karakter dan hubungan antar mereka. Karakter Carta Issue dengan keeksentrikannya mirip dengan Chara Soon dari Gundam ZZ. Lalu ia dengan pas seolah menggambarkan bagaimana suatu tindakan dengan akibat serius bisa terjadi melalui tangan siapa saja. Hubungan yang terjalin antara McGillis dan Gaelio juga mirip dengan hubungan antara Char Aznable dan Garma Zabi pada seri Gundam orisinil. Jadi itu beberapa elemen karakter lain yang sempat disadari sejumlah penggemar.

Sebagai penutup, ada orang yang, uh, memintaku sekalian membuat terjemahan lirik lagu “Raise Your Flag” Jadi sesuai permintaannya, ini kubuat di bawah.

Kukatakan lagi, IBO termasuk bagus. Ceritanya bagi beberapa orang mungkin susah diikuti. Tapi kalau kalian mengikutinya, kurasa kalian mungkin bisa dapat sesuatu dari ini.

Tak sempurna sih. Tapi masih bagus.

Buatku pribadi, ini seri yang membuatku mempertanyakan ulang tujuanku setiap kali aku ragu. Lalu saat aku ingat, aku kembali akan menguatkan diriku untuk beranjak, sejauh dan sesulit apapun.

Bila untuk orang lain, tak pernah ada perjuangan kita yang benar-benar sia-sia.

 “Raise Your Flag” (by MAN WITH A MISSION)

Under pressure you are waiting for direction

Going on the road without your mind

 

All misleads they give ignoring our decisions

Killing yourself your soul we have inside

 

No one else but you are I’m waiting for

We can start it on just right here right now

 

Fear and circulation

But I am ready now

We can struggle and muzzle the world before it fades away

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

 

kitto itsuka

itsuka dokoka

tadoritsuku to shinjite

 

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

 

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

All mistakes I made are blurring my reflection

And it is more than I achieved so far

 

Taking this ship or not depends on your intention

To be the soldier or one bystandar

 

agakitsuduke taorekujike

haiagatte hashiritsudzukete

 

owari naki

yume no ma to ma

We can struggle and muzzle the world before it fades away

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

 

kitto itsuka

itsuka doko ka

tadoritsuku to shinjite

 

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

 

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

(ins)

 

When is the time?

It’s up to your own decision

 

The time to find

To struggle and prove our vision

 

When is the time?

To end all the false collision

 

The time to find

And we’ll move to the new division

 

When is the time?

It’s up to your own decision

 

The time to find

To struggle and prove our vision

 

So raise your flag

 

So raise your flag

 

So raise your flag

And we’ll move to the new division

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

kitto itsuka

itsuka dokoka

tadoritsuku to shinjite

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

 

Di bawah tekanan kau menantikan arah

Berangkat menempuh jalan dengan pikiran kosong

 

Semua petunjuk salah yang mereka beri mengabaikan keputusan kita

Membunuh dirimu, jiwamu yang kita pendam

 

Tak ada lagi selain kau yang aku tunggu

Kita bisa langsung mulai ini di sini sekarang juga

 

Rasa takut dan perputaran

Tapi aku siap sekarang

Kita bisa berontak dan bungkam dunia sebelum pudar

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

 

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Meyakini kita akan tiba di tujuan itu

 

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

 

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Teruslah bermimpi selama kita berkelana

 

Semua kesalahanku memburamkan refleksiku

Dan itu melampaui yang telah kuraih sekarang

 

Ikut kapal ini atau tidak bergantung pada niatmu

Untuk menjadi sang prajurit atau hanya saksi mata

 

Teruskan perjuangan, dan telanlah saat-saat kau kecewa

Lalu bangkitlah untuk berlari hingga akhir

 

Di sela-sela mimpi yang tiada akhir

Kita bisa berontak dan bungkam dunia sebelum semua sirna

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

 

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Yakinlah kita akan tiba di tujuan itu

 

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

 

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Teruslah bermimpi selama kita berkelana

 

(ins)

 

Kapan waktunya?

Itu terserah keputusanmu

 

Waktu untuk menemukan;

Untuk berjuang dan membuktikan visi kita

 

Kapan waktunya?

Untuk mengakhiri segala bentrokan palsu

 

Waktu untuk menemukan,

Untuk pindah ke pecahan yang baru

 

Kapan waktunya?

Itu terserah keputusanmu

 

Waktu untuk menemukan,

Untuk berjuang dan membuktikan visi kita

 

Jadi kibarkan benderamu

 

Jadi kibarkan benderamu

 

Jadi kibarkan benderamu

Dan kita pindah ke pecahan yang baru

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Yakinlah kita akan tiba di tujuan itu

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Mimpimu berlanjut selama kita berkelana

Penilaian

Konsep: S; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A

(Sumber beberapa info dari situs web resmi G-Tekketsu serta situs web Gundam Wikia. Lirik dan terjemahannya dikutip dari Lyrical Nonsense.)

Aquarion Logos

In anime on 06/02/2016 at 23:56

Aquarion Logos keluar pada paruh akhir tahun 2015. Jumlah episodenya sebanyak 26. Seri ini adalah seri TV ketiga dari seri robot raksasa Aquarion, yang didahului oleh Genesis of Aquarion dan Aquarion Evol. Tapi agak berbeda dari dua pendahulunya, seri kali ini diproduksi Satelight bersama C2C, mungkin untuk mengefektifkan proses produksi sekaligus menekan biaya. Penyutradaraannya dilakukan oleh Sato Hidekazu, dengan naskah yang dibuat oleh Kumagai Jun.

Agak berbeda lagi dari pendahulunya, ceritanya tak langsung ‘nyambung’ seperti halnya Genesis of Aquarion dengan Aquarion Evol. Kesan pertama saja, dari sisi visual, seri ini tak ‘semencolok’ dua pendahulunya (robot Aquarion, yang sebelumnya dibentuk dari tiga pesawat, kali ini normalnya dibentuk dari dua misalnya, walau dalam perkembangan cerita, bisa lebih). Selain itu, ceritanya juga berlatar di dunia kontemporer (bukan di masa depan atau dunia lain), khususnya di seputaran Asagaya, yang terletak di area Suginami, Tokyo. Elemen-elemen fantastis seperti yang ada di pendahulunya juga agak di-tone down. Jadi meski sejumlah elemen khasnya tetap ada, mungkin Aquarion Logos bisa dibilang semacam spin off ketimbang sekuel?

Entah ya. Aku selalu agak terdiam setiap mengingat soal Aquarion.

Aku selalu agak… merasa ada butir keringat menetes dulu.

Soalnya, seri Aquarion dari dulu memang punya nuansa agak-agak aneh. Aku sering ragu seserius apa kita perlu menyikapinya. Tapi Aquarion Logos berhasil melampaui semua batasan aneh itu, baik dalam arti baik ataupun buruk. Sehingga terlepas dari semua keterbatasannya, ceritanya buatku terasa segar dan unik.

Oke, aku juga enggak gitu ngerti ngejelasinnya gimana.

…Intinya, mungkin karena saking anehnya, kayaknya cuma segelintir orang yang mengikuti perkembangan seri ini di tahun 2015.

Destiny on the Asagaya

Aquarion Logos berfokus pada sekelompok remaja yang memiliki kekuatan Verbalism (sousei-ryoku, semacam kekuatan suara atas penciptaan, dengan ‘sousei’ ditulisnya berbeda dari ‘sousei’ yang ada di Sousei no Aquarion). Mereka tergabung dalam suatu organisasi bernama DEAVA (Division of Earth Verbalism Ability; buat yang penasaran, kepanjangannya juga berbeda dari DEAVA di seri-seri sebelumnya), yang menampung mereka untuk menggunakan mesin-mesin Vector yang serupa pesawat, untuk melindungi peradaban dari ancaman makhluk-makhluk MJBK.

MJBK (baca: mojibake, bahasa Jepang untuk ‘monster huruf/aksara’, walau singkatannya yang kreatif itu punya kepanjangan bahasa Inggris: Menace of Japanese with Biological Kinetic energy, ‘ancaman bahasa Jepang dengan energi kinetik biologis’, oke, jangan ketawa dulu!) merupakan makhluk-makhluk yang tercipta dari pengkorupsian konsep aksara di suatu dimensi lain bernama Logos World. (Kalau kalian enggak langsung ngerti ini maksudnya apa, tenang aja.)

Jadi, kalau misalnya ada yang mengkorupsi konsep ‘amarah’, maka perwujudan konsep ini, yakni huruf kanjinya di Logos World, akan berubah menjadi monster MJBK dan mengancam konsep-konsep lain yang ada di sana. Sementara di dunia nyata, suatu kekacauan bisa akan terjadi akibat korupnya konsep ‘amarah’ ini. Mungkin terjadi kerusuhan atau apa. Pokoknya, ini akhirnya berujung pada hilangnya konsep ‘amarah’, orang bakal lupa amarah itu apa, dan, yah, hal-hal gila akan terjadi.

(Sekali lagi, kalau kalian masih enggak ngerti dengan penjelasan ini, telen aja dulu. Di awal, aku juga kayaknya cuma samar-samar paham soal ini.)

Aquarion Logos berfokus pada Kaibuki Akira dan kawan-kawan barunya yang tergabung dalam Klub Sousei. Klub Sousei adalah suatu perkumpulan orang-orang muda yang sebenarnya dibeking DEAVA. Mereka bermarkas di suatu kafe bernama Shirobaco, yang sebenarnya juga menjadi markas DEAVA. Seorang wanita muda yang cantik (namun entah kenapa juga lajang) bernama Souda Sakurako (yang enggan mengakui berapa usianya yang sebenarnya) berperan ganda sebagai manajer kafe Shirobaco sekaligus komandan operasi-operasi DEAVA. (Dirinya akan bersikap dan berdandan cute dan kekanakan sebagai manajer, dan berperan serius dan profesional sebagai komandan.)

Yang khas dari Shirobaco (selain menu makanannya) ada pada bagaimana kafe ini juga menjadi wadah pengembangan kekuatan Verbalism para anggota Klub Sousei. Karenanya, kafe ini memiliki atraksi khas reading theatre, di mana para anggota Klub Sousei akan tampil di atas panggung dan menampilkan suatu ‘pentas membaca.’ Pentas membaca inilah yang menjadi ajang untuk melatih ‘kekuatan suara’ mereka.

Jadi, buat kalian yang belum kebayang, intinya reading theatre itu semacam pentas drama yang hanya mengandalkan bacaan dan suara gitu. Ibarat drama radio, drama CD, atau pentas teater tanpa gerakan. Para pemainnya akan naik ke atas panggung dengan membawa naskah masing-masing. Ada lampu sorot, musik latar, dan efek-efek suara. Tapi yang para pemain lakukan itu pada dasarnya cuma membaca, dengan penuh penghayatan dan emosi. Belakangan jarang kelihatan sih, tapi ini sebenarnya menarik. Yaps, daya tariknya sangat dipengaruhi oleh kualitas dan intonasi vokal para pemainnya, dan ini yang dimaksud sebagai ajang latihan ‘kekuatan suara.’

Lalu soal ‘kekuatan suara’ ini, yaitu kemampuan menyampaikan apa yang perlu/ingin kita sampaikan kepada orang lain, menjadi semacam tema berulang di seri ini.

Aquarion Logos dibuka dengan awal bergabungnya Akira—seorang remaja aneh dengan kepercayaan diri teramat besar, serta bakat Verbalism yang tak diragukan—ke dalam Klub Sousei. Akira berhasil mengetahui latar belakang oranisasi DEAVA yang Shirobaco sembunyikan. Lalu di sana ia juga mengetahui perang rahasia melawan MJBK yang DEAVA lakukan di Logos World dengan menggunakan mesin-mesin Vector untuk membentuk robot Aquarion.

Ini kemudian berujung pada pertemuan mereka dengan Tsukigane Maia, heroine seri ini, serta perusahaan NESTA yang menjadi lawan utama mereka.

Teater Membaca

Sekali lagi: Aquarion Logos itu seri yang aneh. Bukan cuma karena cerita yang dibawakan, tapi juga pada bagaimana ceritanya dipaparkan.

Pada beberapa episode pertama, kita hanya ditampilkan itu begini, ini begitu. Ada karakter-karakter ini. Tapi kita enggak benar-benar dibeberkan mereka itu siapa. Lalu pas episode 6, seakan para pembuatnya merasakan kebingungan kita, baru kita diberi pemaparan blak-blakan soal seri ini tentang apa.

Ringkasnya, NESTA Communications adalah perusahaan raksasa di bidang teknologi telekomunikasi. Perusahaan tersebut disebut membawa revolusi pada penggunaan Internet dan media sosial di Jepang. Sebagian faktor yang mendukung kesuksesan ini adalah berkat pemimpinnya, pria paruh baya dingin bernama Kenzaki Sougon.

Namun tak diketahui banyak orang, di masa lalu, Sougon juga melakukan sejumlah penelitian arkeologi terhadap situs-situs bersejarah di dunia. Dari sana, ia berhasil mengungkap sejarah terpendam tentang awal mula peradaban ‘tulisan,’ yang tertuang dalam suatu kitab ajaib yang disebut sebagai Book of Verbalism.

Terungkap bahwa pada zaman dahulu kala, di masa prasejarah, umat manusia memiliki akses langsung ke alam lain yang disebut ‘Dunia Kebenaran’ melalui kekuatan Verbalism. Disebutkan bahwa suara manusialah yang ‘mendefinisikan’ segala sesuatu. Hanya dengan kata-kata, pada masa ini, suatu konsep akan bisa langsung terwujud, dan dengan ini pula segala bentuk kebutuhan mereka bisa terpenuhi (dengan ucapan ‘hujan’ saja maka hujan akan turun, misalnya).

Namun pada suatu titik, peradaban ini ingin agar tak dilupakan oleh penerus mereka. Terlahirlah tulisan.

Namun tulisan berdampak pada hubungan antara manusia dengan ‘Dunia Kebenaran.’ Kekuatan Verbalism memudar. Akibatnya, timbul perang antara ‘Suku Tulisan’ yang mendukung penggunaan tulisan, melawan ‘Suku Kebenaran’ yang berusaha menjaga kemurnian hubungan manusia dengan ‘Dunia Kebenaran.’ Perang ini berakhir dengan kemenangan Suku Tulisan dan berkembangnya peradaban seperti yang kita kenal sekarang.

(Uh, aku juga awalnya enggak ngerti. Tapi kalau mengikuti perkembangan ceritanya sendiri, it kinda makes sense.)

Karena suatu alasan tertentu, Sougon kini memandang bahwa ‘tulisan’ lambat laun akan mendatangkan kehancuran umat manusia. Lalu dengan teknologi yang digali dari masa perang tersebut—yang di dalamnya termasuk mesin-mesin Vector yang membentuk Aquarion—Sougon menciptakan berbagai MJBK dengan maksud untuk memusnahkan kebudayaan ‘tulisan.’

Pada masa ini, Sakurako bekerja di NESTA sebagai asisten langsung Sougon. Namun sesudah mengetahui niat Sougon yang sesungguhnya, Sakurako membangkang dari NESTA dan melarikan sebagian mesin-mesin Vector tersebut.

Dengan dukungan pemerintah, Sakurako berhasil memprakarsai pembentukan DEAVA yang mengumpulkan orang-orang dengan bakat Verbalism kuat. Namun, dengan Book of Verbalism, Sougon telah memiliki kekuatan dahsyat yang membuatnya tak dapat disentuh.

Untungnya, ada artefak prasasti batu besar berkekuatan serupa yang melindungi DEAVA dari pengaruh langsung Book of Verbalism yang dimiliki Sougon. Namun tanpa dapat mengkonfrontasi langsung, pada waktu Akira dan Maia bergabung, ada semacam perang dingin yang berlangsung antara dua pihak ini.

Namun ada lebih banyak dari sejarah ini dari yang tampak di permukaan.

“Pelan-pelan, pelan-pelan…”

Seperti seri-seri pendahulunya, Aquarion Logos lebih menitikberatkan pada karakter-karakternya daripada mechanya.

Kaibuki Akira, yang menjadi tokoh utama, adalah seorang remaja aneh yang tiba-tiba muncul di Shirobaco karena meyakini dirinya seorang ‘penyelamat.’ Akira memandang kalau sudah menjadi takdirnya untuk menolong dan menyelamatkan orang-orang yang kesusahan. Daripada sok atau sombong, keyakinan bahwa dirinya seorang ‘penyelamat’ adalah fakta mutlak bagi Akira yang kadang membuatnya jadi orang yang benar-benar aneh, meski sama sekali tak jelas dari mana pemikiran ini bisa berasal.

Tsukigane Maia, di sisi lain, adalah gadis misterius yang ditemukan dalam aksi pertama Klub Sousei dalam memakai Aquarion. Awalnya, Maia berasal NESTA dan sangat setia pada Sougon. Namun ia kemudian ditugaskan untuk menyusup masuk ke DEAVA dan mulai berubah cara pandangnya. Belakangan mulai terlihat bahwa ada sesuatu yang janggal juga tentang Maia, dengan bagaimana norma-norma sosial yang umum kerap tak diketahuinya…

Sedangkan para anggota DEAVA lain yang menjadi pilot Vector meliputi:

  • Kikogami Kokone, seorang gadis sangat pemalu, namun lembut dan baik hati, yang punya rasa gugup sangat akut karena suatu kejadian di masa lalu.
  • Kujyo Hayato, mahasiswa tampan yang juga terlibat di dunia partai politik seperti ayahnya. Ia piawai dalam menangani pekerjaan, namun kaku dan kurang luwes dalam menghadapi orang.
  • Domon Tsutomu, seorang remaja yang ingin bisa lepas dari tradisi keluarganya yang menjadi seniman rakugo, yang bermaksud untuk mengeksplorasi media-media komedi yang lain, dan karena kekonyolannya, sering dipandang sebelah mata.
  • Uminagi Karan, seorang anak perempuan yang menggeluti karir sebagai bintang idola anak-anak dengan ibunya sebagai manajer, meski cita-citanya yang sebenarnya adalah sesuatu yang lain.

Selain mereka, membantu Sakurako, juga ada Iwagami Shouko yang ceria sebagai operator utama di markas, dan Yoshida Kento, yang terlepas dari tampilan ramahnya sebagai koki, juga memiliki peran dari pemerintah untuk mengawasi Sakurako.

Aquarion Logos menampilkan motif-motif huruf kanji yang membuat ceritanya terasa sangat ‘Jepang.’ Tapi yang mengejutkan, meski ada banyak juga episodenya yang konyol, ceritanya juga menyinggung hal-hal dalam seperti hubungan seorang anak dengan ibunya, keinginan untuk menjadi pribadi lebih baik, apa yang membangun identitas seseorang, sampai isu-isu politik dan sosial dalam masyarakat.

Dengan kata lain, meski tak punya karakter mentor seperti Gen Fudou di dalamnya (atau Fudou Zen, variasi anehnya di Aquarion Evol), Aquarion Logos benar-benar menampilkan ciri khas seri Aquarion dengan mengangkat tema-tema macam begini.

Hei, aku juga aneh dengan gimana sebagian temanya bersinggungan dengan yang diangkat dalam Gatchaman Crowds!

Hal mengesankan lainnya adalah bagaimana di awal, sebagian karakterisasinya terasa menyebalkan. Kenapa Kokone enggak bisa langsung to the point? Kenapa Domon selalu bertingkah? Kenapa Akira dan Maia enggak punya common sense? Tapi belakangan aku sadar kalau dimaksudkannya memang demikian, dan semuanya terjelaskan dan mulai terlihat maksudnya saat ceritanya menjelang akhir. Jadi kayak, lambat laun kita mulai bisa menerima kekurangan mereka gitu. Aku bahkan mulai sampai menyukai mereka.

Lalu aku tersadar. Terlepas dari berbagai kekurangan teknisnya, karakterisasi beragam Aquarion Logos merupakan sisi bagus seri ini. Kayak, selalu ada perkembangan baru di tiap episode gitu. Sekali lagi, sebagian besar pertanyaan yang kita punya beneran mulai terjawab menjelang akhir seri.

Selain monster-monster huruf, konflik utama Aquarion Logos juga meliputi bagaimana Kenzaki Subete, putra Sougon sekaligus mantan partner Maia, terobsesi dengan Maia dan tak bisa menerima bagaimana Maia seakan menolak dirinya. Mulai dari mempermasalahkan soal gattai (yeah, ini seri Aquarion…) sampai soal masa kecil yang mereka lalui berdua, Subete ditampilkan sebagai pemuda tampan dan cerdas, namun belum matang secara emosional. Meski memiliki kekuatan Verbalism yang kuat, Subete merana karena merasa tak diakui oleh ayahnya. Lalu penderitaannya juga bertambah saat Maia seolah meninggalkan NESTA dan lebih memilih Akira ketimbang dirinya.

Karakter Subete berkembang lumayan drastis di pertengahan seri saat ia menggantikan peran Sougon sebagai antagonis. Terutama dengan pembeberan Nesta, sosok perempuan yang ternyata telah menghantui Sougon dan kemudian Subete semenjak penemuan Logos World.

Sakebe!

Bicara soal teknis, Aquarion Logos terkesan dibuat dengan budget ketat. Aku sempat ragu soal ini, tapi visualnya benar tak semengesankan seri-seri sebelumnya. Desain mekaniknya—yang mencakup desain tiap robot Aquarion dan pesawat-pesawar Vector—juga tak semendetil pengharapanku (kalau soal anehnya sih, sudah tidak perlu disinggung). Lalu tiap MJBK, mungkin karena didasarkan pada bentuk huruf-huruf kanji, memiliki kesan abstrak yang… uh, intinya, aneh. Terutama dengan bagaimana ini kontras dengan penggambaran dimensi Logos World sebagai latar.

Jadi kalau melibatkan Logos World, kayak ada… penekanan berlebih terhadap penggunaan CG. Baik terhadap penggambaran dunianya maupun mecha-mecha yang memasukinya. Hasilnya menurutku tak jelek sih. Malah bisa kubilang rapi. Tapi tetap jadinya aneh dan agak tak sesuai yang semula kubayang.

Lalu soal pemaparan adegan-adegan aksinya. Mungkin ini karena porsi yang lebih diberikan ke dramanya, tapi aksinya kadang terasa seolah berakhir tiba-tiba. Sesudah ada penyesuaian kanji yang tepat(?) oleh Akira dan kawan-kawannya, tiba-tiba saja MJBK akan meledak dan kalah tanpa build up lebih banyak. Kesannya kadang random.

Tapi the thing is, lambat laun kau terbiasa dengan ini. Agak … susah jelasinnya. Maksudku, kalau kau bertahan, kau bakal menyadari kalau Aquarion Logos sebenarnya seri yang lumayan.

Aspek-aspek audionya juga beneran mendukung. Akino dan grupnya mungkin tak terlibat(?) dalam lagu-lagunya kali ini. Tapi musik yang ditangani oleh R.O.N masih menjadi salah satu aspek terkuat Aquarion Logos. Masing-masing seiyuu memberikan suara mereka secara pas. Lalu baru pada dua lagu pembuka yang dibawakan May’n, aku tiba-tiba tersadar sudah sebanyak apa anisong yang beliau bawakan. Jadi kayak, ‘Wow, dia udah jadi penyanyi dengan pengaruh segede ini!’

Sedikit bicara soal mecha, berhubung Aquarion dapat terbentuk oleh kombinasi hanya dua pesawat Vector, variasi robot Aquarion semakin banyak. Kayaknya mending enggak kusebutkan satu-satu agar tak terlalu spoiler. Tapi biar kusebut bahwa kombinasi utama yang banyak dipakai (yang punya kemampuan Mugen Ken) dinamai Aquarion San. (Dengan ‘san’ di sini bisa dianggap pelesatan ‘sun’ yang merupakan makna lain dari ‘matahari’, sesuai nama mecha utama Solar Aquarion di seri aslinya.)

Sumpah di Bawah Cahaya Bulan

Seri ini paling terasa seperti seri Aquarion terutama menjelang episode terakhirnya, dengan klimaks yang memuncak dengan duel penentuan antara Aquarion Logos yang digunakan Subete melawan Aquarion Deava—gabungan dari semua Vector yang dimiliki DEAVA—yang digunakan Akira. Kebenaran tentang asal mula Logos World terungkap. Bahaya pengkorupsian aksara kini semakin nyata, dengan pertarungan melawan musuh yang terbawa sampai ke dunia nyata.

Hasil akhirnya benar-benar lebih menarik dari yang duga.

…Oke, walau, uh, bentuk akhir kedua mechanya lumayan aneh sih.

Uniknya, Aquarion Logos yang darinya judul seri ini diambil ternyata adalah mecha yang digunakan oleh si tokoh antagonis. Aquarion Logos terungkap sebagai senjata final yang Nesta hadirkan bersama kekasihnya, Kiryu, demi menghentikan perang antara Suku Kebenaran dan Suku Tulisan yang terjadi 12.000 tahun silam.

Seperti Apollo dan Celiane dari Genesis of Aquarion, Nesta dan Kiryu juga menjadi sepasang kekasih yang masing-masing berasal dari pihak berseberangan. Namun jalinan cinta mereka juga berakhir dengan tragedi, yang kemudian berdampak pada apa yang terjadi di masa depan.

Akira pun berhasil mengimbangi Subete dan Aquarion Logos semata berkat keberadaan Vector-Ga, peninggalan Suku Tulisan yang memiliki kemampuan untuk menghapuskan segala konsep, dengan ancaman akan terhapusnya keberadaannya sendiri. Lalu duel di akhirnya itu… uh, intinya aku terkejut saat sadar seri ini ada 26 episode.

Akhir kata, terlepas dari semua kekurangannya, Aquarion Logos kurasa bisa dibilang semacam eksperimentasi yang akhirnya berhasil. Musiknya keren. Komedinya kadang benar-benar membuatku tertawa. Perkembangannya mengangkat alis, tapi mengesankan. Lalu seri ini berhasil membuatku mikir dengan cara-cara yang enggak aku duga; terutama dengan perkembangan karakter Subete, hubungan segitiganya dengan Maia dan Akira, serta hubungannya dengan ilmuwan Hayashi Shintaro yang adalah semacam pamannya.

…Masuk akal bila ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai anime favorit mereka di tahun lalu. Terutama saat menjelang akhir.

Yeah, kedengarannya aneh. Tapi kayaknya itu nyata.

… …

Man, aku masih juga lajang.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: C+; Audio: A; Perkembangan: A-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

Episode Spesial Aquarion Love

Oya, aku hampir lupa soal ini. Penayangan Aquarion Logos didahului dengan penayangan episode spesial Aquarion Love, yang pada dasarnya mempertemukan karakter-karakter dari Genesis of Aquarion dengan karakter-karakter dari Aquarion Evol.

Ceritanya berlatar di masa lalu, di sekitar tahun 1960an(?) dan memberikan semacam closure terhadap hubungan cinta antara Yunoha dan Jin di Aquarion Evol. Ceritanya mengindikasikan kalau mereka masih akan mungkin bertemu kembali… mungkin setelah 12.000 tahun kembali berlalu.

Aku agak ugh dengan episode ini, berhubung aku bukan fans Aquarion Evol. Tapi cerita ini memiliki premis yang menarik sekaligus penutup yang pas.

Yah, mungkin ada sebagian di antara kalian yang suka.

Infinite Stratos 2

In anime on 03/12/2015 at 11:07

Infinite Stratos 2 keluar pada musim gugur tahun 2013 dengan jumlah episode sebanyak 12. Kembali diangkat dari seri light novel populer karangan Yumizuru Izuru, produksi animasinya masih dilakukan oleh studio animasi 8-bit. Perbedaan mencolok dari season pertamanya terutama ada di desain karakternya saja, yang kali ini dibuat oleh Horii Kumi. Tapi sutradaranya kembali adalah Kikuchi Yasuhito di bawah pengawasan Tosaka Susumu. Sedangkan komposisi serinya ditangani oleh Shimo Fumihiko, dan kudengar dengan keterlibatan Yumizuru-sensei sendiri.

Aku beberapa kali pernah ditanya anime apa yang mirip Infinite Stratos. Tapi terus terang, aku enggak benar-benar bisa ngasih jawaban. Sebelumnya, aku lumayan menggemari season pertamanya. Tapi agak tak biasa untuk kasus seri-seri seperti ini, aku tak pernah sampai tertarik untuk mendalami ranobenya. Makanya aku enggak tahu ‘rincian-rincian lebih’ soal ceritanya, dan itu juga jadi satu alasan kenapa seri ini baru aku bahas sekarang.

Anime yang mirip Infinite Stratos? Apa ya?

Kalau mirip dari soal konsep mechanya sih, selain Busou Shinki yang dulu kurang menonjol, dalam waktu dekat bakal ada adaptasi anime Saijaku Muhai no Bahamut dan Hundred yang mengangkat konsep mecha armor lumayan mirip.

Tapi kalau mirip dari soal konsep cerita dan haremnya… apa ya? Kayaknya, Infinite Stratos bisa jadi seri yang lebih unik dari yang aku kira. Soalnya, bahkan seri-seri yang mengangkat tema ‘aku satu-satunya cowok di sini’ enggak banyak yang punya nuansa yang mirip Infinite Stratos. …Itu satu kenyataan yang enggak benar-benar bisa aku jelasin.

Terlepas dari semuanya, season kedua ini kurang lebih mengadaptasi cerita dari buku 5-7 novelnya, yang mana dua karakter utama baru diperkenalkan: sang Ketua Dewan Siswa sekaligus siswi terkuat di IS Academy, Sarashiki Tatenashi yang menggunakan IS Mysterious Lady; beserta adik perempuan yang memiliki hubungan agak renggang dengannya, Sarashiki Kanzashi, yang bersikeras untuk bisa membuktikan diri dengan IS Uchigane Nishiki yang dibangunnya sendiri.

Seperti sebelumnya juga, sejumlah episode OVA spesial yang menyelingi juga menyusul penayangannya. Dalam hal ini: Infinite Stratos 2: Long Vacation Edition dan Infinite Stratos 2: World Purge-hen. (Juga disusul dengan perilisan game Infinite Stratos 2: Ignition Hearts dan Infinite Stratos 2: Love and Purge untuk PlayStation 3 dan PlayStation Vita, masing-masing pada Februari 2014 serta September 2015 lalu.)

Dia Perempuan yang Seperti Kucing

Infinite Stratos 2 berlatar tak lama sesudah season pertamanya berakhir, dan kembali mengetengahkan Orimura Ichika, satu-satunya anak lelaki di dunia yang didapati bisa menggunakan perlengkapan eksoskeleton tempur Inifinite Stratos, yang normalnya hanya bisa digunakan perempuan.

Karena alasan keamanan dan politis, ini membuat Ichika jadi harus digembleng di sekolah multinasional IS Academy, di mana ia menjadi satu-satunya murid lelaki. Lalu di sana, ia juga berhadapan dengan sejumlah siswi yang kemudian menjadi teman-teman dekatnya.

Buat mereka yang lupa, mereka meliputi:

  • Shinonono Houki, gadis jago kendo yang merupakan teman masa kecil Ichika yang untuk waktu lama sempat terpisah darinya. Dirinya juga merupakan adik perempuan Shinonono Tabane, ilmuwan legendaris pencipta teknologi IS, yang keberadaannya saat ini tak diketahui. IS pribadi miliknya adalah Akatsubaki (generasi 4, jarak dekat) yang diberikan Tabane secara khusus untuknya, yang bersenjatakan sepasang katana, dan memiliki kemampuan istimewa dan langka untuk memulihkan energi miliknya sendiri dan IS lain di dekatnya.
  • Cecilia Alcott, gadis kerturunan aristokrat yang merupakan kadet perwakilan IS dari Inggris, yang semula ditugaskan negara asalnya untuk mencari informasi terkait model generasi 3 terbaru Jepang. IS pribadi miliknya adalah Blue Tears (generasi 3, spesialisasi jarak jauh), bersenjatakan utama senapan laser untuk sniper, yang memiliki keistimewaan pada dronedrone yang dapat dikemudikannya secara terpisah dari badannya.
  • Huang Lingyin (‘Rin’), teman masa kecil Ichika yang lain, yang kini hadir di IS Academy sebagai kadet perwakilan dari China. Sempat terpisah lama dari Ichika juga karena sebab pribadi. IS pribadi miliknya adalah Shenlong (generasi 3, jarak dekat-menengah), yang dilengkapi Impact Cannon bernama Ryuhou serta sepasang golok liuyedao yang dapat disatukan menjadi naginata.
  • Charlotte Dunois, kadet perwakilan dari Perancis, yang sebelumnya sempat menyamar sebagai lelaki untuk memata-matai Ichika. IS pribadi miliknya adalah Rafale Revive Custom II (generasi 2, meski yang dimodifikasi berat, membuatnya mampu menangani seluruh jarak), yang memiliki persenjataan dalam jumlah dan jenis sangat banyak yang dapat digantinya secara cepat, sekaligus ‘dipinjamkannya’ pada IS lain dengan seizinnya.
  • Laura Bodewig, kadet perwakilan dari Jerman, seorang manusia ‘buatan’ sekaligus komandan pasukan khusus Schwarzer Hase di negara asalnya. Sangat mengidolakan kakak perempuan Ichika, Orimura Chifuyu, yang menjadi instruktur di IS Academy, dan semula datang ke sana untuk meninjau Ichika secara langsung. IS pribadi miliknya adalah Schwarzer Regen (generasi 3, jarak menengah-jauh) yang memiliki fitur unik Active Inertial Canceller yang dapat menghentikan segala pergerakan.

Konflik utama seri ini datang dari tampilnya grup misterius Phantom Task. Grup ini yang menyatakan bertanggung jawab atas insiden terorisme di turnamen Mondo Grosso yang di dalamnya Ichika sempat diculik pada awal cerita.

Dimotori oleh perempuan misterius yang menyebut dirinya Autumn, mereka berupaya mencuri IS pribadi milik Ichika, Byakushiki. Pada penghujung season sebelumnya, dalam insiden Silver Gospel, Byakushiki yang semula dipandang sebagai generasi ketiga mengalami Second Shift hingga mewujud menjadi IS generasi keempat, Byakushiki Setsura, satu dari dua IS tercanggih di dunia selain Akatsubaki milik Houki. Lalu perkembangan ini yang membuat Ichika kembali menjadi sasaran Phantom Task.

Atas dasar itu, Tatenashi, yang merupakan pilot IS terkuat di Akademi saat ini (yang sekaligus merupakan kadet perwakilan dari Russia), kemudian ditugaskan Chifuyu-nee menjadi pengawal pribadi Ichika. Berawal dari bagaimana mereka menjadi… kau tahu, teman sekamar. (Menggantikan Charlotte yang sekarang menjadi teman sekamar Laura.)

…Yah, seperti yang para penggemarnya tahu, separuh (atau malah lebih dari separuh) fokus cerita IS juga ada pada keseharian Ichika dan gadis-gadis yang mengelilinginya, di samping segala konflik multinasional ini sendiri. Jadi seperti yang bisa dibayangkan, ceritanya tak benar-benar seberat itu.

Ya, masih soal bagaimana para gadis di sekelilingnya telah jatuh cinta pada Ichika dan saling memperebutkan perhatiannya.

Ya, masih soal bagaimana Ichika dengan kepala tebalnya seakan tak pernah menyadari semua hal ini. (Walau semakin kuikuti, kadang aku dapat perasaan kalau Ichika sebenarnya dengan sengaja melakukannya…)

Melodi Jernih pada Mata Kaki Cinderella

Infinite Stratos 2 bukan seri yang langsung aku ikuti. Soalnya, aku sempat kecewa duluan dengan ceritanya. Aspek harem dan fanservice jujur saja memang jadi satu alasan kenapa season sebelumnya buatku terasa fun. Tapi keseimbangan antara aksi dan komedi(?) yang sebelumnya ada itu lumayan goyah di musim ini. Ya, aku lumayan kecewa. Apalagi dengan bagaimana jumlah heroine-nya jadi bertambah, dan karakter mereka pun bukan yang benar-benar langsung aku sukai.

Tapi kalau melihat di balik itu, terlepas dari aspek naskahnya sendiri, kurasa ada peningkatan tak disangka pada sisi teknis. Di satu sisi, koreografi adegan-adegan aksinya serasa jauh lebih baik. Bukan di soal ‘apa yang terjadi’-nya, tapi lebih di soal ‘bagaimana menggambarkan’-nya gitu. Meski jumlah aksinya enggak banyak, pas lagi ada, hasilnya sempat lumayan bikin aku terkesima.

Sekalian bahas sedikit soal mecha, sekalipun telah memperoleh Byakushiki Setsura yang sebenarnya bisa dibilang imba, Ichika digambarkan masih belum berhasil menggali segenap potensinya. Jadi dirinya masih punya banyak kelemahan gitu. Sehingga di kalangan teman-teman dekatnya, Ichika masih jelas bukan karakter yang paling kuat, walau kerja kerasnya tak dapat dipungkiri.

Dalam adegan latih tandingnya melawan Rin, aku masih belum memahami apa maksud para pembuatnya. Tapi dalam konfrontasi dadakannya melawan Autumn yang menggunakan IS curian Arachne (generasi 2, menengah) yang menyerupai laba-laba, bagaimana kondisi tekad Ichika yang diuji malah membuatnya semakin harus diperhitungkan berhasil membuatku lebih terkesan dari yang aku kira.

Aku sebenarnya berharap Infinite Stratos 2 ada lebih banyak sisi seriusnya (tanpa melepas sisi harem-nya, tentu saja), karena perkembangan cerita seriusnya sebenarnya memang menarik.

Autumn terungkap mengabdi pada pemimpin sesungguhnya(?) Phantom Task, seorang wanita elegan bernama Squall Meusel (IS miliknya adalah Golden Dawn, generasinya sulit diperkirakan), yang padanya Autumn menaruh kesetiaan penuh.

Namun selain mereka, hadir pula sesosok figur yang menyebut dirinya M, yang bukan hanya memiliki penampilan sangat mirip dengan Chifuyu-nee sewaktu muda, namun juga menaruh suatu dendam pribadi pada Ichika untuk alasan yang tak diketahui. M menggunakan IS bernama Silent Zephyrs, yang langsung dikenali Cecilia sebagai ‘saudari’ IS Blue Tears miliknya yang rupanya hilang dicuri Phantom Task. Lalu dalam perkembangannya, M mengungkapkan nama aslinya adalah Orimura Madoka. Hanya saja, sampai akhir, tetap tak terkuak bagaimana hubungan Madoka dengan dua bersaudara Ichika dan Chifuyu.

Sama seperti bagaimana alasan Shinonono Tabane mendadak muncul dan mempercayakan IS Black Knight (kembaran sosok IS generasi 1 White Knight yang pernah dilihat Ichika?) kepada Madoka sampai akhir juga tak terkuak.

Sama juga dengan bagaimana apa sebenarnya White Knight, dan alasan Ichika bisa menggunakan IS, hingga sekarang juga masih tak terkuak.

Yeah, itu sebenarnya… sedikit menyebalkan. Tapi aku bisa memaafkannya karena berbagai fanservice-nya.

Jadi, meski aku tak sepenuhnya memahami apa yang terjadi dalam adegan-adegan aksinya, aspek mechanya sendiri di luar dugaan mengalami peningkatan dibanding musim sebelumnya.

Di samping kemampuan bela dirinya, Sarashiki-sempai terlihat kehebatannya dengan kemampuannya menggunakan Mysterious Lady yang memiliki fitur unik untuk mengendalikan air. Terutama dalam duel habis-habisannya melawan Golden Dawn.

Konflik Tatenashi dengan adik perempuannya, Kanzashi, juga sebenarnya tak buruk. Berakar dari bagaimana sang kakak yang jenius seakan tak tergapai oleh adiknya. Lalu memuncak ketika Kanzashi, yang ternyata sebenarnya merupakan kadet perwakilan Jepang yang resmi, ternyata tertunda untuk punya IS pribadinya sendiri, karena produsennya malah mendahulukan produksi Byakushiki sesudah kemampuan Ichika untuk menggunakan IS terungkap.

Porsinya tak banyak. Tapi bagaimana Ichika, atas permintaan Tatenashi, berusaha memperbaiki hubungan dengan Kanzashi, termasuk bagian cerita yang menurutku menarik. Khususnya dengan bagaimana Ichika berakhir membantunya menyelesaikan Uchigane Nishiki.

Mereka yang Sunyi

Infinite Stratos 2 menurutku berakhir campur aduk. Ada bagian komedinya, ada bagian aksinya, ada sedikit bagian dramanya. Tapi berbeda dibandingkan musim sebelumnya, ini tak tersatukan secara mulus gitu. Secara keseluruhan, jadinya lebih terasa seperti sesuatu yang kurang serius, meski nyatanya enggak juga.

Aku tak tahu apa ini benar atau tidak, tapi ada yang menilai kalau pada season pertamanya, panitia produksinya melakukan beberapa penyesuaian pada cerita dengan maksud agar ini menjadi seri yang one off gitu. Langsung bisa terasa tuntas pada satu season. Sehingga pas mereka ternyata dapat kesempatan untuk membuat season berikutnya, mereka malah jadi tak benar-benar yakin ceritanya mau mereka apakan.

Still, they got the job done. Produksi animenya tuntas dengan hasil lumayan. Para fans juga kayaknya tak benar-benar bisa dibilang kecewa.

Dari sisi musik, musim ini serupa dengan musim sebelumnya. Lagu pembukanya sekali lagi dibawakan suara merdu Kuribayashi Minami, dengan lagu penutup yang juga dibawakan bersama oleh para pengisi suara para heroine-nya. Tapi memang kuakui daya tariknya entah kenapa agak berkurang dibandingkan season pertamanya.

Tapi di akhir seri, aku pribadi tetap sempat berharap kelanjutannya bakal ada lagi. Sesudah aku teringat dengan sejumlah hal menarik terkait karakternya yang aku lupakan (seperti bagaimana Ichika dan Chifuyu secara misterius ditelantarkan kedua orangtua mereka, Cecilia yang sebatang kara dan sampai membuat perjanjian dengan pemerintahannya untuk mempertahankan aset-aset keluarganya, atau bagaimana Houki menyalahkan kakaknya karena secara tak langsung menyebabkan terpisahnya dia dari Ichika dulu), perasaan berharap ini malah jadi tambah kuat.

Ini sempat luput dari perhatianku. Tapi serialisasi novel Infinite Stratos ternyata sempat mengalami masalah, sehingga publikasinya memang sempat tertahan untuk beberapa lama. Mulai buku ke-8 pada sekitar pertengahan 2013, penerbitnya bukan lagi Media Factory (dengan label MF Bunko J), melainkan Overlap (dengan label Overlap Bunko; kalau enggak salah, penerbit ini ada di bawah Kodansha). Karenanya, ilustratornya juga kini berganti, dari semula okiura menjadi CHOCO. Semua buku sebelumnya juga jadi diterbitkan ulang dengan ilustrasi yang berbeda. Kudengar kasusnya karena pelisensian ke penerbit luar negeri yang dilakukan tanpa sepengetahuan Yumizuru-sensei.

Jadi yah, untuk sekarang kita cuma bisa terus berharap.

Kalau kalian sudah jadi fans seri ini, season dua ini memberikan lebih banyak dari apa yang mungkin kalian harap. Tapi kalau kalian pendatang baru (dan penasaran kegilaan para fans terhadap Charl itu karena apa)…

Hmm. Entah ya.

Sekali lagi, nuansa animenya agak beda ketimbang novelnya soalnya. Tapi entah, mungkin itu cuma aku.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B