Posts tagged ‘MAPPA’

21/11/2015

Shingeki no Bahamut: Genesis

Mistarcia adalah dunia ajaib di mana manusia, dewata, dan demon berada.

Di masa lalu, Bahamut yang bersayap hitam dan perak mengancam akan menghancurkan dunia. Tapi tiga kaum di atas, yang sebelumnya saling bersitegang, kemudian bersatu untuk menghadapinya.

Lewat pengorbanan besar, Bahamut akhirnya berhasil disegel, kemudian kunci segel tersebut dibagi dua. Satu bagian disimpan kaum dewata, dan satu lagi disimpan kaum demon, dengan maksud agar kedua potongan kunci tersebut takkan pernah tersatukan.

Namun dua ribu tahun kemudian, seorang wanita entah bagaimana telah berhasil mencuri paruh kunci yang dimiliki kaum dewata. Tindakannya mendatangkan ancaman akan terlepas kembalinya Bahamut sekaligus kehancuran dunia.

Semua Jalan Menuju ke Abos

Anime Rage of Bahamut: Genesis, atau Shingeki no Bahamut: Genesis (‘rage’ artinya amukan, murka; ‘genesis’ artinya kira-kira awal mula penciptaan), diangkat dari game card battle populer Rage of Bahamut yang dikembangkan oleh Cygames. Seri ini berjumlah 12 episode, keluar pada musim gugur tahun 2014 lalu, dan diproduksi oleh studio animasi MAPPA. Sutradara animasi veteran Sato Keiichi, yang sebelumnya pernah menangani Karas dan Tiger & Bunny, yang menjadi sutradaranya. Hasegawa Keiichi menangani naskah. Sedangkan musik ditangani Ike Yoshihiro.

Rage of Bahamut: Genesis ringkasnya menceritakan perjalanan dua orang bekas(?) sahabat, si bandit/pemburu bayaran Favaro Leone dan si mantan ksatria/pemburu bayaran Kaisar Lidfald, yang sama-sama terlibat dalam kasus hilangnya kunci di atas sesudah Favaro dengan ceroboh bertemu Amira, perempuan misterius berkekuatan ajaib yang telah mencuri paruh kunci tersebut.

Favaro, yang cenderung bermulut besar, dengan gegabah berjanji pada Amira untuk mengantarkannya ke tempat tujuannya, yaitu tanah salju abadi Helheim, sesudah kompas ajaib yang Amira miliki untuk penunjuk jalan rusak.

Amira adalah perempuan polos (ada alasan tertentu kenapa dirinya polos) yang sebenarnya dimanipulasi sesosok bayangan misterius untuk mencuri paruh kunci itu. Keinginannya yang sebenarnya adalah untuk bisa berjumpa kembali dengan ibunya, yang dikatakan bisa ditemuinya di Helheim. Dengan kompasnya yang rusak, dan kehilangan sebelah sayapnya dalam pelariannya, Amira tak punya pilihan selain mengambil rute darat untuk menuju tempat tersebut.

Favaro sebenarnya berjumpa dengan Amira dalam kondisi yang sangat kebetulan. Berhubung dirinya sedang dikejar-kejar Kaisar karena suatu urusan dengan masa lalu mereka, dan terpukau oleh kekuatan menakjubkan yang Amira miliki pada saat ia melepaskan wujud aslinya, mulut ember Favaro terlanjur bertindak sebelum ia tuntas berpikir. Sebagai akibatnya, di luar dugaannya, bahkan dengan segala kepolosannya, Amira ternyata mengubah Favaro menjadi separuh demon sebagai jaminan agar Favaro mengantarnya ke Helheim.

Tak punya pilihan lain, agar bisa jadi manusia kembali (dan menghilangkan ekor hitam yang kini menjulur dari pantatnya), Favaro mau tak mau jadi terseret ke dalam semua urusan menyangkut kiamat ini, yang melibatkan pihak-pihak dengan kekuatan jauh lebih dahsyat dari yang mereka bayangkan. Lalu secara tak langsung, Kaisar jadinya ikut-ikutan terseret pula.

Semua memuncak dengan konfrontasi terakhir antara semua pihak di hadapan Bahamut demi terselamatkannya dunia.

“Tatap saja mataku!”

Aku sudah agak lama tahu tentang Rage of Bahamut. Di samping pernah diliput di situs berita beberapa kali, salah seorang temanku juga kebetulan memainkannya. Tapi terus terang aku belum tahu banyak tentangnya sampai aku memeriksa anime ini. Namun daya tariknya, yang ada pada ilustrasi kartu-kartu yang kita kumpulkan, yang dibuat oleh berbagai ilustrator, kurang lebih bisa kupahami.

Terkait itu, aspek visual dari anime ini benar-benar keren. Genre ceritanya lebih kayak swashbuckling adventure gitu, yang mana para karakternya melakukan banyak aksi lompat-lompatan, adu pedang, serta gantung-menggantung. Lalu kesemua ini berlangsung dalam latar yang terus berganti bersama setiap episodenya.

Mulai dari kota bernuansa ala koboi dan western Wytearp, desa Nebelville yang berlembah, pelabuhan Ysmenport yang menuju perairan dingin, hutan Wailing Woods yang misterius, sampai tebing-tebing berbatu Sword Valley di mana konflik antara banyak pihak untuk pertama kalinya terjadi; aku tak tahu apa tempat-tempat ini juga menjadi latar setting di gamenya, tapi pemandangan-pemandangan menakjubkan yang ada memang menjadi daya tarik. Ini juga dengan banyaknya pihak luar yang terlibat dalam konflik, mulai dari kaum demon yang satu faksinya diwakili Azazel, kaum manusia yang dipelopori oleh pahlawan mereka yang diberkati langit, Jeanne d’Arc; serta Gabriel yang mewakili para malaikat di langit, serta berbagai makhluk dan monster lain.

Favaro, Kaisar, dan Amira berulangkali harus berhadapan dengan pihak-pihak yang memiliki kekuatan jauh melampaui mereka. Dalam artian, mampu mendatangkan kerusakan massal berupa musnahnya pasukan dan hancurnya gunung-gunung. Lalu di atas merekapun, ternyata masih ada Bahamut yang kekuatannya masih jauh melampaui yang mereka punya.

Hasilnya, seri ini punya nuansa petualangan yang terbilang seru.

…Enggak cocok buat semua orang sih. Tapi kalau sekedar petualangan yang kau cari, maka petualangan juga yang akan kalian dapat.

To the Promised Land

Seperti biasa, aku memeriksa seri ini karena anime bergenre fantasi murni sudah semakin jarang belakangan. Aku masih berpendapat kalau anime yang paling baik menampilkan nuansa dunia fantasi tetap adalah seri OVA Record of Lodoss War yang keluar tahun 1990. Sudah 25 tahun berlalu semenjak anime legendaris tersebut keluar, dan bahkan hingga sekarang masih belum ada yang benar-benar berhasil menyamainya.

Aku tak langsung mengikuti seri ini saat pertama keluar karena…

Terus terang, memang ada sesuatu yang terasa ‘berat’ dengan ceritanya, yang agak kontras dengan nuansa petualangannya yang seharusnya riang. Soal pengkhianatan, soal kerinduan terhadap orangtua, soal hilangnya kewarasan karena tekanan beban. Makanya, tentang seri ini, aku sempat merasa agak aneh juga dalam memandangnya. Terutama dengan berbagai inspirasi dan motifnya yang nampaknya ‘diambil’ dari mana-mana, tapi masih bisa nyambung dalam satu kesatuan.

Tapi walau aku bilang begitu, Shingeki no Bahamut: Genesis tak benar-benar bisa kukatakan jelek atau mengecewakan. Hanya saja, seri ini seolah hanya bisa dipandang ‘menarik’ untuk suatu kalangan tertentu saja.

Mungkin juga ada kaitan dengan bagaimana para pembuatnya berusaha memasukkan sebanyak mungkin elemen dari gamenya. Sekali lagi, perkembangan cerita di seri ini agak aneh. Lalu meski konsep para karakternya menarik, dan dalam eksekusinya memang memikat, apa yang mereka alami tak benar-benar sampai menggigit.

Buatku pribadi, lagu pembukanya terutama yang membuatku terkesan dengan seri ini. Habis itu baru pemaparan terhadap dunia dan ceritanya. Terhadap para karakternya sendiri… apa ya? Bagaimanapun, perkembangan ceritanya memang ke sana-sananya bisa dibilang aneh, dengan karakter-karakter baik yang diubah menjadi jahat, serta tokoh antagonis utama yang setelah sekian lama membayang-bayang, takluk di luar dugaan setelah muncul sesudah beberapa saat.

Karakter-karakter lainnya yang berperan penting itu seperti Rita, seorang anak perempuan misterius yang selanjutnya menemani Kaisar dalam perjalanannya; serta ‘bos’ Favaro dan Kaisar, dewa (minuman keras?) Bacchus, yang beberapa kali membantu mereka dengan kereta kudanya yang ajaib, dengan ditemani bebeknya yang bisa bicara, Hamsa. Lalu ada juga sosok ksatria rekan Jeanne yang secara misterius dipandang sebagai ‘ayah’ oleh Amira, Lavalley.

Tak seperti Favaro dan Kaisar, ceritanya tak benar-benar sampai ‘menggali’ soal mereka. Tapi mereka sama-sama berperan besar dalam perkembangan cerita, kalau kalian mengerti maksudku.

Gampangnya, seri ini aneh di beberapa bagian, tapi seri ini tetap bisa dikatakan menghibur.

Akhir kata, ada sesuatu tentang seri ini yang membuatku berpikir. Pokoknya, sesuatu yang bisa memberikan inspirasi gitu. Apa persisnya itu tak bisa benar-benar aku jelaskan. Sesuatu yang ada hubungannya dengan motivasi asli Favaro, atau gaya mereka bertarung, atau desain crossbow andalannya.

Terlepas dari itu, ini satu lagi seri anime buatan MAPPA yang menunjukkan bisa sekeren dan sehalus apa kualitas animasi yang mereka buat, terutama dengan gaya lukisan 2D seperti ini. Musiknya keren. Aksinya seru, mulai dari aksi-aksi penuh tipu muslihat Favaro sampai serangan-serangan berskala besar dari Jeanne. Lalu anime pertama yang Cygames pelopori ini kabarnya cukup sukses sampai telah disetujui kelanjutannya.

Tapi sebelum season dua itu, seri baru Shingeki no Bahamut: Manaria Friends kabarnya akan tayang. Ceritanya akan diangkat dari event bertema akademi sihir yang pernah dicanangkan dalam gamenya. Kabarnya ini akan keluar pada pertengahan tahun 2016. Jadi mungkin ada lebih banyak yang bisa diharapkan dari seri ini untuk ke depannya?

Soal Amira? Sebenarnya dia bisa jadi karakter yang lebih kawaii dari yang semula diduga.

(Aku yakin kalian juga pasti terkesima dengan betapa lentiknya bulu mata Kaisar.)

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

Iklan
24/08/2015

Punch Line

Mungkin karena Saenai Heroine no Sodatekata, belum lama ini aku bolak-balik mempelajari halaman Wikipedia dari seri Memories Off.

Memories Off merupakan seri VN lama yang pertama dikeluarkan KID di pertengahan dekade 2000an dulu (meski sekarang sudah bubar, KID dulu juga terkenal sebagai pengembang seri VN Infinity Series). Samar-samar di masa lalu, rasanya aku pernah melihat beberapa visual dari seri OVA adaptasinya. Tapi aku tak benar-benar tahu apa-apa tentangnya sampai sekarang.

Alasan ini aku singgung adalah karena buatku, ada sesuatu yang benar-benar memikat dari konsep ‘percabangan cerita’ di seri-seri galge semacam Memories Off. Kita akan ke satu arah kalau memilih A, kita akan ke arah yang lain kalau memilih B. Hal-hal seperti itu agak membuatku mikir tentang beberapa hal, karena pilihan-pilihan yang kita ambil ditentukan oleh—dan sekaligus menentukan ke depan—‘identitas’ diri kita siapa.

Tapi terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah Punch Line.

Menutup rangkaian bahasan soal anime musim semi 2015 lalu, ini satu judul lain yang perkembangannya sempat kuikuti. Malah, ini hampir menjadi judul favorit yang paling akan aku rekomendasikan dari musim itu.

Sekali lagi, hampir.

Disutradarai Uemura Yutaka dari studio MAPPA yang memproduksinya, dengan naskah dibuat Uchikoshi Kotaro (penyusun skenario game Ever 17 keluaran KID serta seri game thriller populer Zero Escape di NDS) dengan musik yang ditangani Komuro Tetsuya (buat kalian yang belum tahu, beliau salah satu produser musik veteran tersukses di Jepang, yang berperan memperkenalkan dance music di sana secara mainstream. Aku sendiri pertama mengenal beliau sebagai salah satu personil grup musik globe), dilihat dari sudut pandang manapun, Punch Line termasuk salah satu seri yang high profile.

Berjumlah total 12 episode, dengan melibatkan idola populer Nakagawa Shoko serta grup idola Dempagumi Inc, ada versi gamenya juga yang dikembangkan dan dikeluarkan oleh 5pb (yang kini telah bergabung dalam perusahaan induk Mages) untuk PS4 dan PS Vita, yang konon akan memaparkan perkembangan dan akhir cerita alternatif yang bisa berbeda dari di animenya.

Alasan aku menyinggung soal Memories Off (selain karena dikembangkan oleh KID, dan juga karena nuansa sentimentalisme di dalamnya yang benar-benar kuat), adalah karena daripada anime, Punch Line lebih terasa dibuat untuk dijadikan game.

Jenis game yang mengutamakan soal ‘percabangan cerita’ di dalamnya.

Panties and Cinnamon

Punch Line (ini istilah bahasa Inggris, secara harfiah kira-kira berarti ‘bagian lelucon yang membuat tertawa’; walau dalam konteks ini, merupakan plesetan dari kata ‘panchira’ yang artinya ‘pantyshot’) berkisah tentang Iridatsu Yuuta, seorang remaja yang pada suatu hari terlibat dalam suatu insiden pembajakan bis. Di akhir insiden, Yuuta kemudian terpisahkan roh dan badannya, bertemu seekor roh kucing misterius bernama Chiranosuke, yang kemudian menjelaskan pada Yuuta bahwa dirinya telah menjadi harapan terakhir umat manusia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Hanya saja, Chiranosuke juga menyebutkan kalau hal ‘sebaliknya’ juga bisa terjadi: apabila Yuuta sampai dua kali melihat celana dalam perempuan secara berturut-turut, maka suatu reaksi berantai akan terjadi, yang justru kemudian akan menyebabkan bumi hancur akibat hantaman meteor.

Uh, oke. Mungkin kurang lebih gitu?

Terlepas dari tema-tema konspirasi, pembunuhan, aliran kepercayaan, dan misteri di dalamnya, Punch Line jelas-jelas bukan anime yang perlu ditanggapi serius. Tapi entah karena pemaparannya yang bagus atau gimana—terlepas dari segala pantyshot di dalamnya—lumayan susah buat enggak jadi penasaran dan kemudian berharap lebih. Ada meteor raksasa di luar angkasa yang sedang mengancam dunia. Ada suatu superhero bertopeng yang menjadi pembasmi kejahatan. Ada aliran kepercayaan Q-May yang menyatakan akan melakukan sesuatu tentang meteor ini bila kemauan mereka tak dituruti.

Lalu para pembuatnya ternyata enggak bercanda. Jumlah pantyshot di seri ini benar-benar ada banyak.

Hanya saja, entah karena gaya desain karakternya yang imut atau bagaimana, terlepas dari betapa parah dan mendetilnya desain berbagai celana dalam di dalamnya, aku hampir-hampir enggak merasakan apa-apa setiap kali adegan-adegan fanservice ini terjadi (yang ditandai dengan bagaimana Yuuta secara klasik mimisan). Alasannya? Karena aku sudah terlanjur terpikat dengan semua teka-teki yang terjadi di balik semuanya.

Apa sebenarnya yang terjadi? Dunia tengah terancam karena apa?

Episode-episode awal Punch Line membawa kita pada keseharian(?) Yuuta dan para penghuni lain di Wisma Korai yang ditempatinya. Yuuta, dengan bimbingan tak jelas dari Chiranosuke, kini melayang-layang sebagai roh di sana. Sementara, Chiranosuke menjelaskan, ada orang lain yang telah mengambil badan Yuuta. Lalu sosok tersebut telah menempeli dinding kamar Yuuta dengan berbagai kertas mantra sehingga Yuuta tak bisa masuk.

Chiranosuke kemudian berkata bahwa Yuuta harus menemukan kitab misterius Nandala-Gandala untuk bisa menyelesaikan semuanya. Lalu mungkin saja kitab ini ada di Wisma Korai. Tapi di kamar siapa?

Di samping Yuuta, para penghuni Wisma Korai yang lain antara lain (ya, semuanya cewek, karenanya, Yuuta jadi perlu berhati-hati):

  • Narugino Mikatan; seorang gadis cantik yang ramah dan ceria, yang merupakan personil sebuah grup idola terkemuka, sekaligus pahlawan bertopeng misterius Strange Juice yang sebenarnya bermarkas di Wisma Korai. …Mungkin Yuuta memiliki perasaan terhadapnya.
  • Daihatsu Meika; teman lama Mikatan sekaligus pemilik dari Wisma Korai; sebenarnya adalah penemu jenius Pumpkin Chair, yang dari jauh membantu Strange Juice dalam setiap aksinya.
  • Hikiotani Ito; seorang siswi SMA yang karena suatu alasan, sudah agak lama mengurung diri di kamarnya dan tidak ke sekolah. Sebenarnya seorang gamer sangat handal yang ternyata merupakan salah satu lawan online yang sering dihadapi Yuuta.
  • Chichibu Rabura; seorang perempuan dewasa yang terbilang cantik, tapi karena suatu hal masih single. Nampaknya dulu memiliki bakat supernatural untuk meramal dan sebagainya yang ia warisi dari keluarganya, tapi karena suatu sebab, kekuatannya sirna dan itu membuatnya frustrasi. Meski begitu, pengetahuan yang dimilikinya sedikit banyak tetap berguna bagi Yuuta. Dirinya juga sudah mulai putus asa untuk mendapatkan pasangan.

Semuanya dituturkan dengan benar-benar bagus dan mudah dipahami, sekalipun ada begitu banyak hal yang terjadi di antara adegan-adegan konyol yang muncul. Padahal cerita Punch Line latarnya hanya berkisar di hari-hari terakhir Desember di awal musim dingin, tak jauh-jauh dari Wisma Korai. Tapi apa-apa yang terjadi di sana memiliki kaitan dengan nasib seisi dunia.

Lalu semuanya terikat dengan suatu proyek rahasia di masa lalu, seekor kura-kura dan seekor anak beruang, serta peran yang ditakdirkan harus dimainkan oleh masing-masing penghuni Wisma Korai ini.

U-Turn

Bicara soal teknis, kalau kalian tanya apa ini anime yang bagus atau enggak, maka seenggaknya ini anime yang benar-benar bagus secara teknis. Presentasinya mengesankan. Walau kalian mungkin tak langsung sreg dengan gaya desainnya, para karakternya ekspresif dan visualnya ramai oleh motif. Ada banyak detil yang diperhatikan pada interior kamar masing-masing penghuninya. Mulai dari patung cowok di kamar Rabura, peralatan penuh warna di kamar Meika-emon, sampai kesuraman dan keberantakan di kamar Ito.

Adegan-adegan aksinya, yang di luar dugaan lumayan banyak (dan juga lumayan melibatkan banyak hal gila), terkoreografi dengan bagus, terutama pada episode-episode terakhirnya.

Lalu musiknya, meski di awal mungkin tak langsung kau suka, memang lama kelamaan meraih perhatian.

Cuma, ya, itu. Ini anime yang benar-benar aneh dari awal sampai akhir. Kalau kau tak suka misteri atau komedi yang jenis seperti ini, atau bahkan tak tahan dengan begitu banyaknya kilasan celana dalam yang berulangkali terjadi, mungkin ini sesuatu yang takkan cocok buat kalian.

Dan lagi, kenapa mesti celana dalam?! Maksudku, apa segitunya mereka mesti memaksakan lelucon yang berbasis permainan kata ini?

… …

Oke. Kembali membahas soal musiknya…

Man, kayaknya aku jadi mesti menuturkan pengalaman pribadi lagi.

Bukan. Bukannya musiknya jelek sih. Aku bahkan enggak bisa mengatakan musik dan audionya jelek.

Tapi terlepas dari Nakagawa-san yang akrab dipanggil Shoko-tan—yang sudah agak lama aku kenal, dan lumayan bisa kuhormati; man, aku harap dia orang baik, karena aku takkan bisa melupakan nyanyian ‘Sorairo Days’ beliau di anime Gurren Lagann—aku pertama mengenal grup Dempagumi Inc dari pengalaman mengikuti AFA Indonesia 2013 dulu. Mereka yang menjadi bintang tamu kejutan di acara pentas musiknya. Tapi aku terus terang agak dendam pada mereka, karena gara-gara mereka tampil, tampilnya Kalafina jadi tertunda.

…Oke, kita jangan singgung soal masa lalu.

Intinya, sesudah pengalaman AFA itu, aku mencari info sedikit soal mereka, dan menurutku mereka grup idola yang benar-benar aneh. Buatku, mereka memiliki kemampuan dalam semua performa mereka gitu. Cuma, mereka aneh. Kayak, aura dan wibawa idol mereka buatku sama sekali enggak kepancar gitu.

They’re just weird.

Jadi aku enggak pernah benar-benar tertarik dengan mereka.

…Yah, Shoko-tan juga sosok yang agak aneh sih. Jadi kurasa ini kolaborasi yang pas.

Namun sesudah mengikuti Punch Line, baru mesti kuakui kalau Dempagumi memang grup yang lumayan. Aku lambat laun bisa suka dengan lagu penutup terakhir yang mereka bawakan. Meski aku masih tak bisa merasakan wibawa mereka sebagai idol, Dempagumi kini telah menjadi kelompok yang juga bisa aku hormati terlepas dari… uh, sisi-sisi aneh mereka.

Jadi, yang ingin kukatakan adalah: hasilnya enggak jelek kok! Sama sekali enggak! Malah hampir bagus!

Hahahahaha!

… …

Iya.

Hampir.

Soalnya tamatnya agak…

Meski klimaksnya bagus, mereka kayak memilih tamat yang bukan tamat terbaik yang bisa terjadi. Para pembuatnya kayak menyimpan tamat terbaik itu untuk digunakan di versi gamenya saja.

Sekali lagi, karena soal ‘percabangan cerita’ di atas.

Menyebalkan? Ya, agak menyebalkan.

Tamat animenya itu kayak neutral ending. Sementara nanti gamenya yang akan menyajikan tamat-tamat yang lebih jauh tergantung rute (cewek?) mana yang nanti akan kita pilih.

Entahlah. Kesannya buatku seenggaknya kayak gitu.

Dan lagi, meski perkembangan ceritanya sudah gila-gilaan dengan berbagai kekocakan di dalamnya, memang masih ada beberapa teka-teki yang belum terungkap. Seperti soal saudara lelaki Rabura (yang disinggung sangat minim). Seperti soal Muhi. Seperti soal awal fobia Mikatan terhadap kura-kura.

Seperti soal nasib akhir yang lain-lainnya lagi…

Akhir kata, ini anime yang berhasil menuntaskan semua jalinan ceritanya, tapi dengan—anehnya—kurang memuaskan. Tapi ini seri yang bisa sangat berkesan bila kalian memilih mengikutinya.

Soal celana dalam… maaf, aku enggak bisa berkomentar banyak soal desain celana dalam.

Soal Memories Off, yah, setelah memikirkannya lagi, aku jadi agak rindu dengan seri-seri macam Memories Off. Mungkin mestinya aku lebih banyak mendalaminya di saat seri-seri seperti itu sedang menjamur.

Yah, mungkin di lain waktu.

Penilaian

Konsep: X; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+

12/08/2012

Sakamichi no Apollon

Ada semacam stagnasi yang melanda dunia kebudayaan visual modern Jepang pada tahun-tahun belakangan. Banyak yang kayaknya setuju tentang hal itu. Ditandai dengan kerinduan orang akan hal-hal lama; buktinya ada di banyaknya seri remake yang bermunculan belakangan (mulai dari Sailor Moon sampai Jojo’s Bizzare Adventure. Terus Space Battleship Yamato dan Lupin the 3rd. Maksudku, bahkan seri anime balapan liar Initial D yang telah dibuat sampai bermusim-musim itu konon akan dibuat ulang?).

Tapi pada musim semi tahun 2012 lalu… aku sempat lupa tentang hal ini. Pengharapanku terhadap anime-anime baru yang muncul di waktu itu rasanya enggak seburuk itu. Aku sibuk belakangan, jadi detilnya mungkin aku sudah tak lagi ingat. Tapi rasanya, ada lumayan banyak seri yang bikin saya ‘Hooo!’ pada musim itu dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Salah satunya, seri drama kehidupan dan persahabatan Sakamichi no Apollon (‘Apollo tanjakan’, yang mengacu pada tanjakan yang para karakter utamanya harus lalui setiap kali ke sekolah, serta Apollo di sini mengacu pada sesuatu yang pernah dialami oleh salah satu karakter utamanya), atau yang juga dikenal dengan judul Kids on the Slope (‘anak-anak di tanjakan’).

A girl’s husky voice goes well with jazz

Berjumlah hanya 12 episode dan berlatar di paruh akhir dekade 1960-an, diangkat dari manga berjudul sama karya Kodama Yuki , seri yang diwarnai nuansa musik jazz kental ini menandai kerjasama kembali antara dua nama besar: sutradara Watanabe Shinichiro (yang memang hobi memainkan musik dalam seri-seri besutannya; semisal Samurai Champloo dan Michiko e Hatchin) dan komposer Kanno Yoko (yang benar-benar dikenal karena aransemennnya). Kerjasama  mereka sebelumnya adalah dalam seri anime lain yang kental dengan nuansa musik jazz dan sekaligus’ meledak’ juga: Cowboy Bebop.

Aku juga kurang tahu, mengingat aku sendiri belum lahir pada masa ini. Tapi konon, dekade 1960an merupakan zaman yang ditandai dengan perubahan-perubahan besar. Perubahan-perubahan ini terutama pada budaya dan tatanan sosial masyarakat. Orang-orang sepenuhnya mulai pulih dari trauma-trauma semasa Perang Dunia, ekonomi mulai tumbuh, musik rock mem-booming, idealisme-idealisme baru mulai bermunculan. Kalian yang dulu suka membaca 20th Century Boys mungkin bakal punya bayangan.

Ini berlaku bukan cuma di satu-dua tempat saja lho. Tapi di seluruh dunia. (Di Indonesia juga. Tapi yea, ada insiden PKI.)

Makanya, kebagusan anime ini mungkin belum bisa dihargai oleh mereka-mereka yang belum agak berusia. Maksudnya, mereka-mereka yang belum merasakan pahit manisnya garam kehidupan (aku jadi ngerasa agak tua bila mengatakan ini, tapi…). Makanya lagi, aku enggak akan merekomendasikan anime ini kalau kau masih remaja. Atau seenggaknya, bukan penggemar drama-drama kehidupan.

Tapi biar kukatakan di awal. Seri ini bagus.

Luar biasa beneran bagus.

Kanno Yoko yang menangani musiknya. Jadi enggak ada keraguan apapun soal bagaimana musik ditangani di seri ini. Ini penting, terlebih mengingat bagaimana musik jazz berperan penting dalam kehidupan kedua tokoh utamanya.

Tapi yang membuatnya luar biasa itu eksekusinya.

Pada setiap adegan ketika ada musik dimainkan, animasinya benar-benar mengikuti gerakan tangan para pemainnya. Maksudnya, tangan para pemain dalam menekan tuts piano, menabuh drum, itu disesuaikan dengan ritma dan irama yang keluar. Dan aku yang sudah terlalu terbiasa dengan penggunaan frame-frame diam untuk adegan-adegan musik (seperti pada kebanyakan adegan di adaptasi anime Nodame Cantabile), enggak pernah ngebayangin kalau gerakan-gerakan sederhana ini bisa jadi sesuatu yang begitu luar biasa keren dalam bentuk anime.

Di samping itu, seri ini turut menampilkan visualisasi wilayah Sasebo di paruh akhir tahun 1960an dengan teramat luar biasa detil. Jalanan-jalanan yang terkesan lebar, orang-orang berjalan kaki, alam yang masih kaya dan burung-burung liar yang berterbangan di langit yang masih bebas polusi. Rasanya seperti foto-foto hitam putih lama dihidupkan dan diwarnai kembali. Bahkan hingga kau merasa sungguh-sungguh bisa hidup di sana.

Maka dari itu, segala elemen jazz yang mewarnai kehidupan para tokohnya (dengan lagu-lagu yang sungguhan ada), yang serasa bisa melarutkan segalanya and in the end make things feel all right, benar-benar bisa terasa.

Animasi lagu pembukanya itu juga luar biasa. Kalau kalian ada waktu, sekaligus berminat dengan anime ini, kusarankan untuk mencarinya di YouTube.

Lalu soal ceritanya sendiri…

Hmm. Apa kalian tahu bagaimana rasanya punya sahabat sejati?

Someday My Prince Will Come

Fokus cerita Sakamichi no Apollon terdapat pada persahabatan antara tiga orang remaja, dua cowok dan satu cewek—khususnya pada dua cowok itu: Nishimi Kaoru, Kawabuchi Sentaro, dan Mukae Ristuko. Aku agak enggak yakin gimana cara aku bisa ngejelasin ceritanya secara menarik. Soalnya alur plotnya sendiri lumayan tipikal. Tapi eksekusinya itu yang beneran bagus.

Kaoru adalah remaja lelaki bertubuh lemah, yang berasal dari keluarga kaya raya, namun sedikit bermasalah. Ia dititipkan di rumah keluarga paman dan bibinya, karena suatu alasan. Lalu meski ia pandai mengikuti pelajaran dan sangat berbakat dalam musik—dalam hal ini, piano—Kaoru merasa kesulitan menjalin ‘koneksi’ dengan sekelilingnya. Dan ini membuatnya menjadi orang sinis sekaligus penyendiri dan agak-agak pemarah.

Namun segala sesuatunya berubah tatkala ia berkenalan dengan Sentaro. Berandalan separuh bule berbadan sangat besar yang ditakuti oleh anak-anak lain itu ternyata tak sesangar reputasinya. Dan mereka menemukan banyak kecocokan dalam diri satu sama lain. Lalu hubungan yang terjalin antara mereka berdua itu akhirnya jadi mengubah banyak hal.

Satu-satunya orang selain Kaoru yang sepenuhnya menyadari hal ini adalah Ritsuko, gadis ketua kelas alim dan manis yang telah menjadi tetangga sekaligus teman sepermainan Sentaro semenjak kecil. Ritsuko pada awalnya terkesan sebagai karakter sampingan dalam persahabatan mereka. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, besarnya arti kehadiran mereka dalam cerita semakin lama semakin terasa.

Koneksi antara Ritsuko, Sentaro, dan Kaoru mulai terjalin saat Kaoru mulai terbawa dalam dunia jazz yang ditekuni Sentaro—yang ternyata mendalami drum. Lalu secara berkala, mereka mulai sering berlatih bersama di studio musik di ruang bawah tanah rumah Ritsuko yang kebetulan merangkap sebagai toko rekaman piringan hitam. Bapak Ritsuko sebagai pemilik toko kadang ikut nimbrung sebagai pemain bas.

Lalu, yeah, cerita kemudian bergerak dari sana sekaligus juga dari banyak tokoh lain di sekeliling mereka.

Melodi Tanjakan

Yaps, di awal-awal, ceritanya memang cenderung sendu. Dan malah agak suram arahnya. Tapi secara mengejutkan, secara berangsur nuansanya semakin optimis seiring dengan semakin dalamnya persahabatan yang terjalin antara Kaoru dan Sentaro. Sekalipun, peristiwa-peristiwa hidup yang mereka hadapi semakin ke sini terkesan semakin berat.

Aku katakan lagi. Cerita ini, terus terang saja, agak susah ‘dimasuki.’ Kau butuh sedikit energi dan kemauan untuk bisa menikmatinya. Tapi begitu kau kenal dengan para karakternya dan terbiasa melihat pemandangan kehidupan di tahun 1960-an, kau bakal agak susah menyingkirkan pikiranmu soal bagaimana kelanjutan nasib para tokohnya. Mulai dari pertama mereka saling mengenal, berhadapan dengan berbagai kejadian dalam kehidupan, jatuh cinta dengan orang pilihan mereka masing-masing, dan bagaimana musik jazz yang pertama mereka dengar lewat album-album piringan hitam bisa membalut segalanya.

Di akhir seri, tempo ceritanya yang luar biasa bagus, beserta pengemasannya yang padat, beneran memberi akhir yang memuaskan untuk sebuah anime dengan hanya 12 episode. Aku bersyukur karena telah mengikutinya. Dan yea, aku pada akhirnya enggak terlalu mempermasalahkan gimana seri ini segitu berbedanya dari Cowboy Bebop kok.

(Manganya sudah diterbitkan di sini oleh Elex btw)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+