Posts tagged ‘Manglobe’

05/04/2014

Samurai Flamenco

Pada suatu malam, polisi patroli muda Hidenori Gotou menemukan seorang pemuda telanjang terdampar di pinggir jalan, seseorang yang mengaku/sedang berusaha/mencoba untuk menjadi superhero. Hazama Masayoshi adalah nama pemuda tersebut.

Masayoshi merupakan seorang model pria yang tengah naik daun di bawah asuhan manajernya yang ketat, Ishihara Sumi. Namun dirinya memiliki cita-cita lain, yaitu menjadi superhero, berkat inspirasi dari seri-seri tokusatsu yang teramat digandrunginya semenjak kecil, serta pengaruh dari almarhum kakeknya, yang telah menciptakan untuknya konsep pahlawan yang kelak akan bisa ia ambil: Samurai Flamenco.

Semenjak saat itu, keduanya menjadi semacam sahabat. Masayoshi menyukai dan merasa bisa terbuka terhadap Gotou yang dipandangnya bisa mengerti (padahal tidak juga) cita-citanya. Sementara Gotou merasa orang aneh ini cuma biang masalah dan sebisa mungkin ingin bisa dijauhkannya dari masalah-masalah baru yang tak perlu.

Kare dan Kepahlawanan

Jadi, garis besar ceritanya kurang lebih seperti itu.

Samurai Flamenco, atau Samumenco, katanya adalah anime untuk orang-orang dewasa yang belum ingin tumbuh dewasa. Mungkin kata-katanya tak persis begitu. Tapi apa yang aku ingat kurang lebih demikian.

Waktu pertama diumumkan, beneran tak banyak yang dibeberkan tentang ceritanya. Ini seri anime orisini (original, dalam artian tidak berdasarkan atas suatu karya lain yang sebelumnya sudah ada) keluaran studio animasi Manglobe, yang ditayangkan di slot waktu Noitamina, dan berdurasi 22 episode dari musim gugur sampai musim dingin tahun 2013 lalu. Apa yang dibeberkan hanya sejumlah desain karakter beserta beberapa deskripsi sederhana. Lalu walau disinggung beberapa tema kayak superhero dan dunia showbiz, beneran enggak banyak yang bisa kita tahu tentang ceritanya. Seakan-akan itu suatu hal yang secara sengaja banget disembunyikan.

Tapi, yea, justru ceritanya itu yang kemudian jadi daya tarik utama. Sebab walau ceritanya enggak bagus, ceritanya memang menarik dan lumayan bikin penasaran.

…Uh, sekali lagi, ceritanya enggak bagus. Aku termasuk salah seorang yang enggan mengakui kalau ceritanya bagus.

Habisnya, ini jenis cerita seru yang mana si pengarangnya agak nge-troll kamu, tapi kamu akhirnya memaafkan dia sesudahnya. Troll yang dilakukannya secara efektif membuat kita mengalami reality trip. Membuat kita meragukan batas-batas antara fiksi dan kenyataan. Soalnya perkembangan ceritanya sendiri benar-benar nekad. Tapi lebih jelas soal itu mungkin mending kubahas di bawah.

Soal teknisnya sendiri, desain karakter yang dibuat oleh… sial, aku lupa siapa, kayak dengan sengaja dibuat keren atau modis gitu. Tapi kualitas animasinya sendiri terbilang teramat sangat sederhana. Pergerakan-pergerakannya enggak banyak dan sederhana, dan ada lumayan banyak episodenya yang lebih banyak diisi oleh percakapan. (Oke, sedikit klarifikasi, enggak sesederhana kayak di dalam anime-anime flash pendek, tapi masih lebih sederhana dibandingkan kebanyakan yang ada sekarang. Latar-latar belakangnya seenggaknya, enggak dibikin dengan begitu detil.)

Tapi daya tarik sesungguhnya yang seri ini punyai sejak awal memang dari segi naskah, berkat keterlibatan penulis naskah veteran Kurata Hideyuki, yang sebelumnya pernah terlibat dalam Read or Die, Excel Saga , dan cukup banyak judul lain.

Sutradara veteran Omori Takahiro yang dulu menangani… man, banyak. Meliputi Durarara!!, Natsume Yuujinchou, serta Koi Kaze dan Gakuen Alice; juga berperan besar. Soalnya eksekusi adegan-adegannya bisa aku bilang benar-benar bagus.

Dengan kemampuan Kurata-sensei dalam mendalami sifat para karakternya, ditambah keahlian Omori-sensei dalam menata struktur cerita, enggak heran Samumenco sebenarnya berakhir menjadi seri yang keren.

Cuma, yeah, it’s kinda weird.

Seperti yang kubilang, bagian awalnya itu bakal bikin kamu mempertanyakan, ‘ngapain aku nonton ini?’ gitu. Kalian yang jeli mungkin bakal memperhatikan kalau ada benang-benang plot tersembunyi yang kelihatannya bakal bikin ceritanya jadi lebih dalem. Bagi sebagian orang, bagian awalnya ini mungkin enggak menarik dan bisa jadi sangat ngebosenin. Atau mungkin juga kalian kayak saya yang mengikuti cuma karena temanya mengingatkanmu akan Kick Ass. Tapi kalian-kalian yang bersabar… wow, kalian bakal dapet kejutan.

Dan kejutannya itu jauh lebih gede bahkan bagi kalian-kalian yang udah ngira bakal terjadi kejutan.

Sekali lagi, perkembangan ceritanya itu rada gila, dan seriusan nekad.

Kamu bisa suka, kamu bisa benci, tapi besar kemungkinannya kau bakal penasaran hingga akhir. Dan, yah, suka apa enggaknya kau terhadap apa yang terjadi bakal balik lagi ke kau sebenarnya jenis orang macam apa.

Tapi seenggaknya kau bisa ketawa di sepanjang perjalanannya.

Seorang Pahlawan Tak Boleh Menyerah…

Singkat cerita, segala urusan Samumenco yang dipicu oleh Hazama makin lama makin besar dan menyeret semakin banyak orang.

Apa yang dimulai dengan ditemukannya seorang pria telanjang akan diakhiri kembali dengan telanjangnya seorang pria.

Ehem.

Maksudku, akan mulai meliputi pertempuran besar-besaran melawan kejahatan, masalah-masalah internasional yang menyangkut perdana menteri, hingga keselamatan seisi dunia.

Tokoh-tokoh dominan lain yang terlibat meliputi:

  • Harazuka Jun; pria paruh baya yang tiba-tiba saja muncul dan membeberkan diri sebagai penemu yang menyediakan senjata-senjata baru bagi Samurai Flamenco.
  • Konno Akira; pengelola situs berita yang menaruh perhatian terhadap Ishihara, tapi tak ragu memanfaatkan segala keributan tentang Samurai Flamenco untuk kepentingannya.
  • Kaname Jouji; aktor tokusatsu veteran pemeran Red Axe yang… uh, kemudian menjadi mentor(?) Masayoshi.
  • Maya Mari; pemimpin grup idola perempuan populer Mineral Miracle Muse. Dirinya pencipta lagu berbakat, tapi agak eksentrik, sebagaimana yang kemudian diperlihatkannya lewat obsesinya terhadap pembasmian kejahatan semenjak insiden Samurai Flamenco serta fetish -nya terhadap pria-pria berseragam.
  • Misawa Mizuki; anggota Mineral Miracle Muse yang sekaligus merupakan anggota paling manis dan paling waras di antara ketiganya.
  • Morita Moe; anggota Mineral Miracle Muse yang sangat setia terhadap Mari.

Cerita Samurai Flamenco itu bisa terasa sangat riil, kompleks, tapi bikin kamu dafuq di saat yang sama. …Mending jangan tonton ini bila kau… uh, bukan orang dewasa yang masih belum ingin menjadi dewasa.

Akhir kata, mungkin ini bukan seri Noitamina yang bisa dibilang menonjol di antara yang lainnya. Tapi ini jelas menjadi salah satu serinya yang akan lumayan dikenang.

… …

Oh, aku belum menyinggung soal audionya ya? Percayalah. Terlepas dari apa aku menyukai lagu-lagu penutupnya yang dibawakan oleh Mineral Miracle Muse juga, aku tak bisa menyangkal audionya bagus.

Penilaian

Konsep: B; Visual: C; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi; A-; Kepuasan Akhir: A-

Iklan
26/05/2012

Mashiro-iro Symphony: The Color of Lovers

Akhirnya. Akhirnyaaaaaaa.

Butuh waktu hampir setengah tahun, dan entah gimana aku berhasil melakukannya, tapi akhirnya aku berhasil menonton Mashiro-iro Symphony: The Color of Lovers sampai tamaaaaaat!

GYAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!

Bukan berarti itu suatu hal yang patut dibanggakan sih.

Cuma, terus terang, aku beneran mesti berjuang agar tahan menonton ini. Dan aku tahu ini enggak jelas banget, but it was worth it. …For me, at least.

Eniwei, aku sempat menyebutnya dalam daftar preview yang kubuat, tapi anime yang keluar pada musim gugur tahun 2011 lalu diangkat dari game visual novel dewasa Mashiro-iro Symphony: Love is pure white (judulnya berarti ‘simfoni berwarna putih murni’). Aku enggak tahu apa-apa soal game-nya, cuma gimana itu sebatas dibuat oleh pengembang Pallette (aku beneran udah lama enggak merhatiin perkembangan di dunia ini). Tapi aku tertarik dengan desain karakternya, dan tiba-tiba aku nyadar gimana aku lumayan kangen dengan nuansa yang dihadirkan game-game seperti ini.

Dan saat aku menonton anime ini, sesuai pengharapanku, nuansa itu pulalah yang aku dapatkan.

My Wavering Heart

Sebaiknya aku enggak terlalu masuk ke detil. Karena… yah, ini jenis cerita yang diangkat dari sebuah galge, dan galge biasanya lebih menitikberatkan pada karakter dan suasana daripada ke plotnya sendiri.

Cerita Mashiro-iro Symphony dibuka dengan bagaimana si tokoh utama cowok, seorang cowok baik hati yang memiliki pengalaman sebagai penderita asma di masa kecil, Uryuu Shingo, menjadi salah satu siswa yang terpilih di sekolahnya, Perguruan Swasta Kagamidai, untuk menjadi bagian dari ‘kelas percobaan’  di Sekolah Putri Swasta Yuihime (atau yang lebih sering dikenal sebagai Yuijo). Jadi ceritanya, karena suatu alasan, kedua sekolah tersebut rencananya akan digabung. Lalu untuk menguji prospek keberhasilan rencana tersebut, sebuah kelas percobaan diputuskan untuk diadakan di Yuijo, sehubungan dengan kenyataan bahwa rencana penggabungan tersebut masih ditentang oleh sebagian besar murid perempuan.

Singkat kata, Shingo, bersama adik tiri perempuannya, Sakuno, serta sahabat baiknya, Mukunashi Hayata, berkenalan dengan sejumlah teman baru. Kemudian dari sanalah ceritanya kemudian beranjak.

Sebenarnya agak aneh sih. Karena daripada seri anime pada umumnya, seri ini secara apik seakan memutuskan untuk lebih menghadirkan pengalaman memainkan game-nya melalui media gambar yang bergerak. Mungkin berkat perhatian Suganuma Eiji, sang sutradara, terhadap detil, perasaan ‘masuk ke dunia’ seperti yang biasa ditemukan di sebuah VN benar-benar terasa di seri ini. Jadi, walau ini anime, ini lebih terasa seperti VN daripada anime. Dan mempertimbangkan alasan aku menonton ini, kurasa bisa dibilang aku menemukan apa yang aku cari.

Cuma…

Yah, itu dia. Ceritanya agak… yah, begitulah.

Sama kayak di kebanyakan galge, di mana fokus ceritanya akan berubah drastis bergantung pada rute cewek mana yang kau pilih, cerita The Color of Lovers juga seakan berubah fokusnya menjelang pertengahan cerita. Enggak dalam artian buruk sih. Tetap tipikal adaptasi galge, di mana cerita yang diangkat merupakan cerita salah satu rute dengan tambahan adegan-adegan dari rute-rute lain. Cuma, yang agak enggak kusangka dari anime ini, rute yang dipilih bukanlah rute Sena Airi yang dikenal sebagai heroine utama seri ini. Sekalipun cerita dimulai dari dirinya–dari bagaimana ia tanpa sengaja berkenalan dengan Shingo dan Sakuno, bersahabat, tapi secara tak terduga, menentang kehadiran keduanya di sekolahnya–dalam perkembangannya, cerita lebih berpusat pada hubungan Shingo dengan Amaha Miu, kakak kelas lemah lembut yang mengurusi Nukobu. Jadi, Nukobu merupakan sebuah klub yang menangani hewan-hewan liar yang terdampar di lingkungan sekolah Yuijo–mengingat lokasinya yang berada di tepi pegunungan. Dan kurasa rute Miu dipilih karena klub tersebut menjadi apa yang menyatukan kesemua tokohnya pula–suatu hal yang diperlukan untuk memberikan semua heroine porsi tayang yang proporsional.

…Sebenarnya, aku agak kesal karena ini. Soalnya, aku suka Airi. Dan cuma dia doang alasan aku tahan mengikuti seri ini. Karena jujur saja, meski elemen romansa(dewasa)nya ada, ceritanya jelas-jelas bukan jenis cerita yang akan bisa kau tanggapi serius. Hahahaha. (Bayangin, ada salah satu heroine yang secara terang-terangan bekerja sebagai maid di seri ini.) Tapi kurasa perkembangan ini menarik juga. Terutama hubungannya dengan Pannya-chan, makhluk lucu aneh yang tak jelas apa yang dipungut Miu dan menjadi maskot seri ini. Apalagi rute Airi masih bisa kuikuti di salah satu adaptasi manga-nya (seandainya suatu saat kelak aku bisa menemukan scanlation-nya).

Ding Ding Love

Bicara soal presentasi, anime ini boleh juga. Studio Manglobe sejak dulu dikenal karena konsistensi kualitasnya (walau tema-tema yang mereka pilih untuk diangkat sebagai anime kadang membuat kening mengernyit). Meski dinamika karakternya terbatas, pewarnaan dan rincian gambarnya bersih dan tajam. Pengisian suaranya benar-benar baik meski ceritanya kayak gini. Lalu lagu pembuka dan penutup serta musik latar cukup memberi kontribusi terhadap suasana.

Terus terang, kurasa salah satu alasan aku menyukai seri ini adalah lagu ‘Suisai Candy’ yang dibawakan grup band Marble, yang juga membawakan lagu pembuka Kimikiss Pure Rouge. Dan dari sana aku kepikiran untuk suatu hari membuat daftar anime yang sejauh ini kutonton karena lagu-lagunya semata.

Akhir kata, ini sama sekali bukan jenis anime yang akan kurekomendasikan. Ini benar-benar sesuatu yang kutonton karena minat pribadiku doang. Sesuatu buat membuktikan bahwa yang seperti sering diperlihatkan dalam VN, untuk menulis sebuah cerita, kamu cukup perlu dua hal, yakni konsep latar dan konsep tokoh saja. Apa yang anime ini tonjolkan benar-benar suasana saja. Suasana kehidupan damai dan agak WAFF, meski kadang dalam dosis terlalu berlebih. Kota fiktif Kagamidai yang menjadi latar cerita ini terus terang juga menjadi daya tariknya. (Aku sebenarnya juga agak heran, karakter tokoh cowok baik-baik seperti Shingo sering sekali menjadi arketipe dalam game, namun kayaknya jarang sekali menemukan jenis karakter seperti ini dalam kehidupan nyata. Cuma aku saja?)

Serius. Penggambaran suasananya benar-benar keren. Menilai dari sana saja, aku bisa ngebayangin gimana versi game-nya menjadi salah satu yang laris terjual.

Jadi jangan tonton ini kecuali kau mencari hal ini, tanpa terlalu peduli akan substansi. Atau malah sedang benar-benar haus akan desain karakter bishoujo.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: B+; Audio: B+; Pengembangan: C; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C+

Wind of Silk, Twinkle Moon

Ada hal menarik yang lupa kukatakan. Sebenarnya dalam versi game aslinya untuk Windows PC, cuma ada empat rute utama yang bisa kita pilih; yakni rute keempat tokoh cewek yang sudah kusebut di atas. Baru pada remake-nya di PSP, ada tambahan dua rute, masing-masing untuk Inui Sana dan Onomiya Yotsuki.

Sana, yang menjadi teman sekelas Shingo dan merupakan salah satu pengagum berat Miu, pada game aslinya hanya sebatas menjadi tokoh pendukung. Tapi pada remake PSP dan ini, dirinya menjadi salah satu love interest Shingo dan sekaligus salah satu paling tokoh menonjol. Sedangkan si gadis kuil sekaligus anggota klub drama, Yotsuki, merupakan karakter yang benar-benar baru. Tapi dirinya sempat tampil sebentar sebagai tokoh cameo dalam episode paling terakhir anime ini. Menariknya juga, hanya rute mereka berdua pula yang diadaptasi ke bentuk manga di samping rute Airi.

26/04/2010

April 2010

Musim tayang yang baru sudah berlangsung selama beberapa minggu. Mungkin ada baiknya aku menulis sesuatu tentangnya.

Singkat kata, yang paling bisa kusukai di musim tayang baru ini adalah Arakawa Under the Bridge. Gag comedy ini berkisah tentang keseharian seorang cowok elit parlente bernama Ichinomiya Kou semenjak ia menjalin hubungan dengan seorang gadis manis berambut pirang yang dipanggil Nino-san, yang telah menyelamatkannya pada saat ia hampir tenggalam di sungai. Karena prinsip hidup keluarganya yang tidak memperbolehkannya berutang budi pada siapapun, Kou memenuhi permintaan Nino-san untuk menjadi pacarnya dan mulai hidup bersamanya di bawah jembatan bersama sederetan orang-orang aneh lainnya. Nino-san percaya bahwa dirinya orang Venus, dan Kou, mengikuti adat istiadat para penghuni kolong jembatan, dinamai ulang oleh sang kepala desa(?) sebagai Recruit. Siapapun yang menikmati Sakigake! Cromartie High School kurasa juga akan bisa menikmati anime ini (Ya, di dalamnya ada tokoh-tokoh ceweknya kok). Sutradara yang bertanggung jawab atas seri ini sendiri, sebagaimana yang mungkin sudah bisa kalian tebak, adalah Akiyuki Shinbo dari SHAFT. Sementara desain karakternya banyak mengingatkanku akan goresan Ninomiya Tomoko pada Nodame Cantabile, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Judul-judul lain yang lebih ‘wajar’ di musim tayang ini meliputi Angel Beats!, Giant Killing, Heroman, Rainbow, serta adaptasi anime yang tak kusangka dari Kaichou wa Maid-sama!.(terbitan lokalnya yang berjudul My Lovely Kaichou sudah terbit di sini sampai jilid kedelapan loh, dan enggak, aku enggak dibayar oleh Elex buat ngasi tau ini).

Angel Beats! adalah seri yang pada musim tayang ini paling menyedot perhatian. Ceritanya tentang seorang cowok yang mendapati dirinya mati dan tahu-tahu sudah berada di alam yang semacam akhirat, di mana di dalam sekolah di alam tersebut, cowok tersebut kemudian terlibat dalam pemberontakan lokal menentang tuhan. Sejujurnya, meski kudengar presentasinya memikat, aku sama sekali tak tertarik untuk menonton ini. Tapi mungkin ada sebagian di antara kalian yang cukup suka dengan temanya, kalau bukan karena di dalamnya ada remaja-remaja cewek sekolahan yang memegang senapan.

Giant Killing adalah drama tentang perjuangan sebuah klub sepakbola profesional yang berada di papan bawah. Karena ini klub profesional, ada nuansa realisme dewasa yang jarang sekali ditemui dalam kisah-kisah olahraga lainnya. Di dalamnya kudengar juga ada fokus yang cukup dalam pada aspek-aspek manajerial.

Heroman merupakan percobaan(?) aneh yang dilakukan komikus Amerika ternama Stan Lee (sang pencipta Spiderman) di dunia anime. Kisahnya tentang seorang bocah bernama Joey yang mendapati mainan robot-robotannya bisa berubah menjadi besar sesudah tersambar petir misterius dan kemudian mendapatinya menjadi andalan Bumi dalam melawan serbuan makhluk-makhluk luar angkasa. Seperti anime-anime buatan BONES lainnya, terlepas dari faktor anak-anak yang menjadi target pangsa pasarnya, seri ini bukanlah sesuatu yang bisa langsung dipandang dengan sebelah mata.

Rainbow adalah adaptasi anime dari manga berjudul sama yang sudah diterbitkan Level, tentang tujuh cowok yang dipenjara pada masa pasca Perang Dunia. Mengangkat tema kehidupan yang sangat keras dan kelam. Kalian para penggemar manga-nya lebih tahu tentangnya daripada saya.

Sementara Kaichou wa Maid-sama! diperuntukkan bagi siapapun yang mengharapkan tayangan bernuansa shoujo yang ringan.

Di samping yang di atas, hal menarik lainnya adalah season baru dari anime bisbol Major yang baru belakangan kuketahui ternyata memiliki cukup banyak penggemar; sesi kedua dari Durarara!! yang makin ke sini entah mengapa terkesan semakin keren; seri TV baru Senkou no Night Raid yang berlatar historis (tentang kelompok rahasia beranggotakan empat orang berkekuatan istimewa yang menjalani misi-misi khusus bagi pemerintahan Jepang pada tahun 1930an); serta House of Five Leaves, keluaran terbaru Manglobe sesudah Michiko E Hatchin yang sejauh ini hanya bisa kukatakan merupakan anime samurai yang teramat, sangat aneh… (ya, bahkan melebihi Samurai Champloo atau Katanagatari, aku sampe kini masi mikir gimana baiknya aku mengulas ini.

Bagi penggemar anime yang rada ‘ga jelas’, masih ada sesuatu yang berjudul Daimao apaa gitu, serta B Gata H Kei. Tapi aku tak akan komentar lebih jauh soal itu.

Dari segi manga (sori, aku bukan pembaca manga cewek yang teratur ^^), yang cukup menarik perhatianku selama bulan ini adalah Naruto, yang nuansa penceritaannya seakan sudah menemukan jati dirinya kembali (Naruto dan Killerbee akhirnya bertemu dan bertatap muka, tapi aku yakin kalian yang baca ini pasti sudah tahu), serta Break Blade yang ceritanya tampaknya kembali telah mencapai level yang baru.

Meski tidak diimbangi perkembangan karakter secara penuh, Break Blade secara konstan menghadirkan karakter-karakter baru yang menarik serta adegan-adegan pertempuran darat keren antar mecha yang sudah lama sekali tak kita lihat dalam bentuk media apapun. Alur adegan-adegannya memang jadi agak sedikit lebih sulit diikuti, tapi itu dikarenakan lingkup ceritanya yang sudah mencapai tingkatan kolosal.

Ada juga manga Shonen Jump relatif baru yang belakangan menarik perhatianku juga. Judulnya Lock On!, yang di balik gaya gambar dan tema ceritanya yang sangat sederhana, memiliki fondasi kuat untuk entah bagaimana menjadi populer.

Ah, hampir lupa. Bagi mereka yang merasa minatnya terhadap Katanagatari hilang sesudah menonton tiga episode, sangat kusarankan untuk menunda pendapat akhir mereka tentang seri ini sampai menonton episode keempat. Sekali lagi, episode KEEMPAT!

(dari berbagai sumber… dan enggak, aku enggak ngikutin semuanya kok)

(masi ada banyak judul lain yang belum kuperiksa juga kok, jadi ini lebih buat catatan pribadiku aja.)

26/11/2009

Ergo Proxy – Centzon Hitchers and Undertaker

Agak di luar dugaan, belum lama ini Level Comics menerbitkan edisi Indonesia dari versi manga Ergo Proxy yang seri televisinya kuulas tempo hari. Sebagai suatu bentuk cerita sampingan (gaiden), manga Ergo Proxy mengisahkan tentang sebuah ‘cerita dalam cerita’ yang berlatar waktu selama Vincent terbaring pingsan sesudah ia dan Pino melarikan diri dari Romdeau (‘romdo’).

Ceritanya, selama Vincent tak sadarkan diri itu, Pino menemukan sebuah buku cerita menarik di rak rumah kepala desa tempat si Vincent dirawat. Manga ini menuturkan rangkaian cerita yang dikisahkan dalam buku yang ditemukannya ini (karena itu subjudulnya: ‘Centzon Hitchers and Undertaker’ yang merupakan judul dari buku cerita yang Pino baca).

Anehnya, untuk sebuah buku cerita, cerita dalam buku cerita ini memiliki latar yang lumayan up-to-date dengan kenyataan di mana seri anime Ergo Proxy berlangsung. Dunia-nya masih dunia masa depan yang keras dan kasar, autoreiv masih banyak berkeliaran, dan anehnya… virus Cogito yang memberikan jiwa bagi android-android ini juga sudah menyebar. Meski secara argumentatif, untuk suatu alasan, dunia yang dikisahkan dalam buku cerita ini tampaknya dihuni oleh lebih banyak orang dibandingkan di seri TV-nya.

Apa kau jatuh cinta padaku?

Ceritanya sendiri berpusar pada Dorothy of Girl Land (nama… macem apa ini?), seorang autoreiv berwujud juru rawat yang telah terkena virus Cogito (sehingga kini memiliki ‘jiwa’), dan kawan-kawannya yang mengembara mencari bintang di atas kapal Centzon yang dimilikinya.

Dorothy, yang telah banyak menyaksikan kematian selama ‘masa tugasnya,’ pernah diberitahu oleh pemiliknya bahwa jiwa manusia yang mati akan kemudian berubah menjadi bintang di angkasa raya. Karena itu, saat bertemu Leon, seorang astronom muda yang terobsesi memburu bintang via pemantauan sinyal-sinyal elektromagnetik (langit dunia ini telah telalu dipenuhi kabut dan asap sehingga bintang-bintang secara normal sudah enggak bisa terlihat lagi), Dorothy terkesima dengan ceritanya dan memutuskan untuk ikut serta dengannya dalam perjalanan memburu bintang.

Um, masalahnya, si Leon ini seorang lelaki egois yang rada-rada antisosial. Dan satu-satunya alasan ia bersedia menumpang di kapal Dorothy adalah karena kendaraannya sendiri yang sebelumnya ia bawa kini hancur lebur (…). Jadi di bagian-bagian awal cerita, Leon sempat beberapa kali berpikiran untuk mencuri kapal Centzon. Tapi menyaksikan kebaikan hati Dorothy yang hobi menguburkan segala hal mati yang ditemuinya (baik itu mesin ataupun makhluk hidup, sehingga Dorothy kerapkali disangka malaikat maut gara-gara pembawaannya), sifat dingin Leon mulai luluh juga dan akhirnya mereka mulai bisa berteman. (dan dengan demikian pula, alasan kenapa cerita ini dikasi judul ‘Centzon Hitchers and Undertaker’)

Di samping menawarkan nuansa dan tema yang tak jauh beda dari anime-nya (karena ditulis oleh tim penulis skenario yang sama), hal lain yang patut dicatat dari manga ini adalah kapal Centzon yang Dorothy dan kawan-kawan gunakan tampaknya sejenis atau bahkan sama persis dengan kapal Rabbit yang nantinya Vincent dan kawan-kawannya sendiri nanti pakai. Sebuah kebetulan belaka? Atau mungkinkah ada suatu alasan lain di baliknya?

Bacakan lagi terusannya, ya

Ilustrasi yang membentuk manga ini sendiri sangatlah datar dan sederhana (saat ini cuma bisa kubandingin dengan gaya gambar di manga Gundam X: Under the Moonlight) yang sangat jauh bila dibandingkan animasi ‘wah’ yang diperlihatkan seri TV-nya. Tapi sudah cukup untuk menuturkan ceritanya kok.

Jadi, yah, kurasa manga ini emang lebih diperuntukkan bagi para penggemar anime-nya, meski para pembaca yang belum tahu apa-apa juga bisa lumayan menikmatinya.

Pendapatku sendiri? Yah, meski ceritanya sama sekali enggak sedalem cerita di anime-nya, kurasa aku lumayan suka. It’s pretty interesting, I guess…

04/11/2009

Samurai Champloo

Anime terakhir yang kutonton sampai tamat belum lama ini adalah Samurai Champloo.

Yea, aku tau ini anime lama. Aku pernah menonton beberapa episodenya beberapa tahun lalu. Tapi baru beberapa bulan lalu aku tertarik lagi dan akhirnya mau menonton ulang sampai tamat.

Bagi yang belum tahu, Samurai Champloo merupakan buah karya kedua Shinichiro Watanabe sesudah seri Cowboy Bebop yang legendaris. Serupa dengan Bebop yang meramu musik jazz dengan adegan-adegan aksi koboi luar angkasa, Champloo menyelaraskan musik hiphop dengan ganasnya pertarungan pedang ala samurai di penghujung zaman feodal Jepang. Tapi beda dengan Bebop yang rada serius dan berkesinambungan, Champloo bersifat episodik, hampir ga serius, dan bahkan kadang rasa ngasal dalam netapin alur ceritanya. Tapi unsur hiphop yang Champloo usung tetap saja turut mengangkat sisi gelap kehidupan—yang seringkali dikunjungi orang setiap habis khilaf atau membuat keputusan yang salah—jadi jangan harapkan sebuah tontonan yang cocok buat anak-anak.

The sons of a battle cry, a battle cry

Gampangnya, Champloo berkisah tentang perjalanan tiga sekawan, Mugen, Jin, dan Fuu; dalam mencari seorang samurai yang menebarkan aroma bunga matahari. Mugen adalah pria kasar yang gaya berpedangnya kalau di zaman sekarang mengingatkan orang akan break dance. Jin adalah seorang cowok cool pendiam yang gayanya seperti stereotipe samurai kebanyakan. Sedangkan Fuu adalah cewek remaja enerjik yang berhasil mencegah kedua lelaki berbahaya di atas untuk saling membunuh dan memaksa mereka berdua ikut bersamanya dalam menempuh perjalanan panjang nan enggak jelas ini.

Buat kalian yang mikirin ‘samurai yang menebarkan aroma bunga matahari’ ini maksudnya apaan, tenang aja. Soalnya Mugen dan Jin juga berulangkali mempertanyakan hal yang sama sepanjang cerita. Jadi jangan terlalu dipikirin kalo kalian emang blum nonton.

Intinya, Champloo adalah tentang semua petualangan yang tiga sekawan ini alami dalam perjalanan mereka. Ada yang keren. Ada yang kocak enggak jelas. Tapi ada juga yang bisa bikin tercenung karena ceritanya lebih mirip drama kehidupan di ghetto orang negro daripada sebuah anime Jepang. Cakupan ceritanya teramat luas, mulai dari keinginan untuk membebaskan seorang cewek dari jebakan prostitusi, sampai kepada upaya menghadang kedatangan armada kapal laut Amerika Serikat lewat pertandingan bisbol. Perlahan-lahan, masa lalu pribadi ketiganya pun terkuak, dan bagaimana mereka memandang arti perjalanan mereka dan menghadapi masa lalu masing-masing menjadi tema utama terselubung dalam serial ini.

Lagu Empat Musim

Hm, gimana ngejabarinnya ya? Untuk sebuah anime engga jelas yang ceritanya bisa tentang apapun (maksudku di sini adalah beneran APAPUN), Samurai Champloo termasuk bagus. Beneran bagus. Ga mungkin bisa sedahsyat Bebop sih, tapi tetap bagus. Bahkan lima tahun sesudah pertama dibuatpun, kualitas animasinya menurutku termasuk tinggi, dengan gerakan-gerakan rumit nan halus serta warna-warna tajam yang kontras. Karakter-karakter yang mereka paparkan pun menarik meski jumlahnya cuma ‘segitu aja’. Musik yang ditampilin di dalamnya juga enggak usah diraguin.

Jadi apa kekurangannya? Hm, mungkin kenyataan bahwa ini sebuah anime enggak jelas yang kurang memiliki benang merah penyambung. Tapi dengan resep gado-gadonya, sebagai hiburan aja, Samurai Champloo termasuk berkualitas tinggi kok. Sangat direkomendasikan bagi mereka-mereka yang enggak lagi pengen nonton apa-apa secara khusus.

Penilaian

Konsep: A;Visual: S; Audio: A; Perkembangan: D; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

25/10/2009

Ergo Proxy

Ini merupakan salah satu seri paling ‘menyegarkan’ yang muncul pada awal tahun 2000an, tak lain tak bukan karena animasinya yang halus dan latar futuristisnya yang benar-benar dibuat secara total. Genre-nya post-apocalyptic cyberpunk. Udah lama banget ga ada studio yang mengangkat tema ini sejak zaman tahun 90an. Manglobe bener-bener mengambil tindak langkah yang berani.

Terus terang, pada mulanya, aku sama sekali tak begitu tertarik menonton seri ini. Aku cuma setuju kalau seri ini bagus secara teknis saja. Ceritanya sendiri tampak terlalu gelap dan rumit, apalagi dengan mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan berbau filosofis yang tak benar-benar jelas maksud dan tujuannya apa. Tapi, semakin aku dewasa, semakin aku bisa memandang seri ini pikiran yang lebih jernih dan objektif.

Ceritanya emang rumit. Tapi penyajiannya enggak selalu segelap yang kusangka. Apalagi dengan soundtracknya yang dinyanyiin monoraul dan Radiohead. Dua band ternama bro! Daya pikat musiknya sulit buat ditolak!

Jadi, yah, aku emang setuju kalo seri ini emang bukan sesuatu yang bisa dinikmatin sama semua orang. Buat ngerti cerita ini juga enggak cukup dari cuma nonton sekali. Tapi aku juga ngerti bahwa itu bukan berarti sama sekali enggak ada hal berarti yang bisa aku ‘dapetin’ dari seri ini.

Makanya, aku coba nonton. ^^

Futuristik

Ergo Proxy bisa dibilang bergenre post-apocalyptic cyberpunk. Berlatar jauuuh di masa depan saat sebagian besar permukaan bumi sudah rusak dan tandus karena suatu sebab. Kehidupan manusia hanya ada dalam kubah-kubah khusus yang diatur sedemikian rupa oleh aturan-aturan totaliter yang ketat. Manusia hidup dengan didampingi android-android pembantu yang disebut ‘autorave’, yang diam-diam sebenarnya turut berperan sebagai pengawas masing-masing individu.

Di kota Romdeau, tersebutlah seorang pemuda bernama Vincent Law. Vincent adalah seorang warga kota kelas bawah yang menjadi imigran dari kubah lain bernama Moskow. Pekerjaannya sehari-hari adalah memburu dan menangkap autorave-autorave liar yang lepas kendali akibat berjangkitnya sebuah virus misterius bernama Cogito, yang entah bagaimana tampaknya membuat para autorave tak lagi berperilaku sebagaimana mestinya.

Vincent ini memiliki nasib yang benar-benar buruk. Dia sering sekali terlibat serangkaian kejadian aneh yang sama sekali tak dapat ia pahami. Terlebih dari itu, ia jatuh cinta pada perwira polisi wanita yang dahulu pernah menangkapnya, Riil Meyer, yang sebenarnya juga merupakan cucu salah seorang tokoh paling berpengaruh di kota tersebut. Intinya, berbeda dari dirinya, Riil merupakan seorang warga kota kelas atas yang seakan-akan berada di luar jangkauan.

Di tengah tekanan hidup yang semakin memuncak, kejadian paling aneh dan memusingkan akhirnya Vincent alami. Suatu hari, sepulang kerja, Vincent mendapati dirinya dikejar-kejar seekor (seorang?) monster.

Dalam pelariannya, monster tersebut membantai segala sesuatu yang menghalangi jalan antara dirinya dan Vincent. Korban dalam jumlah sangat banyak berjatuhan. Kehidupan teratur di Romdeau setelah sekian lama akhirnya ‘rusak’ untuk pertama kalinya akibat kejadian tersebut.

Berhasil meloloskan diri dari monster tersebut, sesampainya di rumah, Vincent kemudian mendapati bahwa autorave pribadinya, Dorothy, yang selama ini bertanggung jawab mengatur hidupnya, rupanya telah hancur mengenaskan secara misterius. Vincent kini turut dikejar-kejar polisi bukan hanya akibat insiden monster itu, tapi juga atas tuduhan utama telah ‘membunuh’ autorave pribadinya sendiri.

Dalam pelarian, Vincent dengan sia-sia berusaha meyakinkan Riil yang mengejarnya bahwa ia sama sekali tak bersalah.

Tapi tuduhan tersebut tak akan dilepaskan begitu saja karena rupanya monster yang mengejar-ngejar Vincent tersebut bukan hanya sekedar ‘monster’ belaka. Monster tersebut adalah Proxy, suatu makhluk hidup misterius yang selama ini diteliti di bawah pengawasan rahasia pemerintah. Pemerintah mengetahui apa sesungguhnya makhluk ini, dan berupaya menangkap kembali Proxy yang telah berhasil meloloskan diri, yang ternyata tak lain dari penyebab berjangkitnya wabah virus Cogito yang menimpa para autorave.

Dengan demikian, muncullah pertanyaan: apa hubungan Proxy dengan Vincent? Apa sebenarnya makhluk yang disebut Proxy itu, dan siapakah Vincent sebenarnya?

Vincent yang menyadari bahwa kehidupannya di Romdeau telah berakhir dengan berat hati memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut. Namun Raul Creed, pemimpin Romdeau saat ini, tak mau melepas penyebab aib dalam karirnya begitu saja. Demikian pula dengan Riil, yang akibat keterlibatannya menyadari bahwa ada suatu hal besar yang disembunyikan pemerintahan Romdeau dari para warganya.

Maka dimulailah perjalanan panjang Vincent dalam menemukan jati dirinya sekaligus jawaban atas kejadian-kejadian misterius yang melingkupi dirinya. Ditemani oleh Pino, seorang autorave berwujud anak perempuan yang telah terjangkit virus Cogito, dan nantinya Riil Meyer sendiri, yang dengan enggan harus mengakui ada ketertarikan yang dirasakan olehnya terhadap Vincent.

Aneh, Tapi Bagus Juga

Virus Cogito merupakan virus aneh yang menyebakan para autorave menyadari jati diri mereka sendiri. Dengan kata lain, virus tersebut membuat para autorave ‘berkepribadian’ dan ‘memiliki emosi’ selayaknya manusia, dan tidak lagi hanya menjadi bongkahan logam yang bertindak mengikuti setelan peraturan yang telah ditetapkan. Dengan mengambil gagasan itu sebagai acuan, perbandingan harga kemanusiaan dan harga keteraturan merupakan tema yang berulangkali terungkap dalam seri ini.

Tapi kalau harus bicara soal tema, agak susah untuk mengatakan keseluruhan tema ‘Ergo Proxy’ adalah tentang apa. Seri ini agak terlalu… aneh untuk bisa dijelaskan. Seringkali satu episode memiliki nuansa yang begitu berbeda dari episode sebelumnya, sehingga kau dibuat bertanya-tanya apakah kau masih menonton anime yang sama. Dan ini terjadi berulangkali, bahkan hingga akhir cerita. Meski plot cerita ini ada dan semua teka-teki akhirnya terungkap dan dijelaskan, penjabaran yang dipakai sama sekali enggak lazim dan sulit dimengerti.

Masih bagus sih. Cuma aneh.

Kalau kamu merasa kamu cukup dewasa sebagai manusia dan berkeinginan menonton suatu anime yang ‘beda’ dan bisa membuat kamu sedikit mikir, tontonlah ‘Ergo Proxy’. Emang dibutuhkan banyak kesabaran sih. Tapi hasil akhirnya lumayan seru kok.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Eksekusi: X; Perkembangan: A-; Kepuasan Akhir: B+