Posts tagged ‘manga’

15/11/2010

Gundam Sousei

Gundam Sousei karya Owada Hideki (dia pernah bikin manga apaa gitu, tentang judi–dia lumayan terkenal) pada dasarnya merupakan ‘fiksionalisiasi’ dari proses pembuatan seri anime mecha Kidou Senshi Gundam dan pertumbuhan franchise-nya yang sangat terkenal.

Oke, deskripsinya mungkin membuatnya terdengar seperti semacam biografi. Tapi bukan. Gundam Sousei sama sekali BUKAN biografi. Gundam Sousei adalah DRAMATISASI habis-habisan dari salah satu bagian terpenting dari sejarah anime. Para tokoh utamanya (dengan pengecualian satu-dua orang) adalah tokoh-tokoh yang benar-benar ada.

Tak main-main, sutradara sekaligus penggagas Gundam, Yoshiyuki Tomino, dikasih peran sentral. Di sini, ia digambarkan sebagai seorang pria botak agak pervert yang tak segan-segan ‘membengkokkan’ peraturan dan teramat sangat bad-ass dengan kacamata hitamnya dan otot-otot perutnya yang six-pack. Aku memang pernah dengar bahwa beliau bukan tipe orang yang senang diajak kompromi tentang idealismenya sih. Tapi man, penggambarannya di seri ini bukan hanya ‘nyambung’ ama sejarah, melainkan sungguh-sungguh bikin kagum sekaligus ketawa.

Aku langsung… “OMG…” karena secara tampang Tomino yang digambar di manga ini memang agak-agak mirip dengan Tomino-sensei yang asli…

Eniwei, Tomino, dengan ditemani seorang gadis manis bernama Kasukari Momoi, program director studio animasi Sunrise yang masih hijau (tokoh ini fiksi)–yang ia seret ke mana-mana dalam rencana-rencana gilanya dan menjadi sumber aspek moe dalam seri ini–bersama kawan-kawan mereka yang lain berupaya melakukan hal-hal besar untuk mengubah nasib dunia per-anime-an untuk selama-lamanya. Inilah manga yang mengisahkan perjuangan mereka!

Para penggemar Gundam, terutama seri Kidou Senshi Gundam asli yang berlatar di tahun 0079 UC, akan menemukan banyak sekali referensi seiring perkembangan cerita. Bisa jadi pula manga ini dibuat khusus untuk para penggemar Gundam.

Studi Kasus

Berawal di paruh akhir dekade 70an, seorang sutradara idealis bernama Yoshiyuki Tomino dari studio animasi Sunrise (yang saat itu belum setenar sekarang) berusaha mengubah standar anime robot raksasa dengan menghadirkan sesuatu yang lain dari yang lain. Dia memulai proyek anime baru yang menentang segala norma yang lazim saat itu. Anime tersebut adalah seri Gundam paling pertama dengan tokoh utamanya, si remaja 14 tahun, Amuro Ray (yang suaranya diisi Furuya Tohru). Setelah adegan pembuka di mana Tohru diberi inspirasi oleh Tomino soal seperti apa karakter Amuro yang sesungguhnya, kita dibawa lebih jauh ke masa lalu yang menjadi awal mula dari segalanya…

Alih-alih acara ‘gulat mingguan’ antar robot-robot raksasa untuk anak-anak, Gundam menghadirkan drama dan perkembangan karakter mendalam. Yah, intinya, hal-hal  yang juga akan menarik perhatian orang-orang dewasa. Bukan cuma anak-anak. Tapi paradigma sosial terhadap anime membuat seri ini pada masanya sulit untuk diterima. Bukan hanya menghadapi banyak kendala–terutama dari pihak sponsor yang sampai beberapa kali harus dikibuli’– Tomino dkk juga harus menghadapi kenyataan bahwa pada awalnya, rating seri Gundam ini sama sekali tak sesukses bayangannya.

Manga ini pada dasarnya menggambarkan seberapa jauh Tomino dan orang-orang di sekitarnya rela ‘berperang’ agar Gundam bukan hanya tetap tayang, melainkan juga menjadi populer.

“Itu bukan desain mainan! Itu adalah peninggalan dari Peradaban Keenam!”

Pernah ada masa ketika aku menggali setiap halaman di MAHQ untuk mencari tahu sebanyak mungkin yang aku bisa tentang anime-anime mecha klasik. Karenanya, aku terkagum-kagum sendiri selama membaca manga ini.

Bukan hanya Tomino seorang yang dipelesetin dan dibuat berlebihan. bahkan sang desainer karakter awal sekaligus animator, Yoshihiko Yoshikazu, turut muncul sebagai seorang bishounen jenius yang menjadi rekan pertama Tomino. Lalu Hajime Yatate, pseudonim untuk menyebut keseluruhan staf studio Sunrise pada umumnya, dengan kocaknya ditampilkan sebagai satu karakter bertopi koboi ga jelas yang menjadi atasan Tomino. Lalu bukan hanya Gundam. Anime-anime lain yang sempat memberi pengaruh atau terpengaruh turut disebutkan di anime ini. Mulai dari Space Battleship Yamato yang landasan perbandingan kesuksesan anime saat itu (di bab-bab lanjutan tiba-tiba saja dipelesetan sebagai ‘Kamato,’ entah mengapa) sampai ke (sejauh yang aku udah baca) Space Runaway Ideon, karya lain Tomino dalam upayanya membuat anime mecha yang tak ‘tolol.’ Ichiro Itano, yang pengaruh ‘Itano Circus’-nya melambungkan Macross, baru kuketahui ternyata berperan juga dalam sejarah Gundam. Ia tampil di sini sebagai animator muda berdarah panas(?!) yang terpukau oleh idealisme Tomino dan sampai pindah kerja untuk menjadi pengikutnya.

Artwork manga ini sendiri kurasa hanya bisa kukatakan bergaya ‘klasik.’ Cocok dengan latar era 80a, dan cukup komikal buat bikin kita ketawa sambil memahami apa-apa yang terjadi.  Beberapa detil ceritanya agak berlebihan sih. Tapi secara mengejutkan, adegan-adegan ‘besar’-nya sepertinya sesuai sejarah. Bahkan ada… sejumlah kejadian minor(?) yang diceritakan di manga ini, yang sejauh yang kutahu tampaknya tak diungkap dalam sejarah formal. Hal-hal seperti itu yang benar-benar membuat manga ini menarik.

Pokoknya, yang ingin kukatakan adalah, manga ini KEREN! Tapi aku mengatakan ini bukan hanya sebagai penggemar Gundam. Ini… keren dalam artian sesungguhnya!

Yah, oke. Keren enggaknya sesuatu memang relatif sih. Jadi aku enggak akan bicara lebih banyak soal itu.

Manga ini kelihatannya masih berlanjut, dan terus terang, aku enggak punya bayangan ini bakal sepanjang apa. Saat ini, ceritanya baru membahas soal adaptasi seri TV aslinya ke layar lebar. Tapi bila kalian mengaku menggemari seri-seri Gundam klasik (sampai semaniak aku, seenggaknya), kurasa kalian juga bakal menganggap seri ini sebagai sesuatu yang betulan menarik.

Iklan
02/09/2010

September 2010, Film Gundam 00, OG2, Star Driver, Awal Musim Gugur (news)

Aku agak sibuk belakangan. Tapi aku masih mengikuti kabar-kabar berita terkini kok.

Tanggal perilisan movie Gundam 00: A wakening of the Trailblazer di Jepang akhirnya keluar. Bulan September tanggal 18. Premiernya di Amerika dilakukan pada Festival Anime New York pada bulan Oktober, jadi kurasa takkan butuh waktu lama lagi sampai film ini beredar secara internasional.

Bandai/Sunrise kelihatannya telah bekerja beneran keras untuk seri ini, jadi aku benar-benar merasa enggak enak bila cuma menontonnya lewat Internet. Kurasa pada akhirnya seperti biasa aku hanya bisa mendukung mereka lewat pembelian model-model kitnya saja sih. Tapi dedikasi dan kualitas yang mereka perlihatkan beneran membuatku terharu.

Soal ceritanya sendiri, tampaknya dipastikan bahwa memang ada alien yang akan menjadi lawan Setsuna F. Seiei dan kawan-kawan. Mereka disebut ELS, yang pada dasarnya disebut sebagai sejenis makhluk hidup yang belum dikenal, yang datang bersama sebuah kapal penelitian misterius yang konon muncul kembali setelah sekian lama hilang di luar angkasa (kalo aku ga salah…). Kelihatannya, nyawa Setsuna secara khusus akan dipertaruhkan sebagai penentu kelangsungan umat manusia.  Belum jelas bagaimana kedudukan para tokoh antagonis (perwira Federasi Descartes Shaman) dalam konflik ini. Sejauh yang trailer-nya perlihatkan, tampaknya kaum Innovator memang telah semakin diakui keberadaannya di muka bumi, jadi kurasa memang akan ada banyak kejutan yang bisa dinanti.

Soal animasinya sendiri, bayangkan kualitas animasi mecha di OVA Gundam Unicorn. Cuma jauh, jauh, jauh lebih ‘rame’.

Sebagai penutup untuk berita ini, aku setuju bahwa ada kemungkinan kualitas cerita movie ini bakal  ‘jelek’ karena banyaknya karakter (kayak movie Fullmetal Alchemist: The Conquerer of Shambala beberapa tahun lalu). Tapi sebagaimana yang bisa diharapkan dari seri Gundam 00, setidaknya kita bakal terpuaskan oleh adegan-adegan mechanya. Lebih banyak detil tentang Gundam-Gundam yang baru ini bisa dilihat sendiri di trailer di atas.

Kabar lain soal seri mecha adalah munculnya OVA 2 Gundam Unicorn, bertajuk The Second Coming of Char pada bulan yang sama. Sebagaimana yang subjudulnya indikasikan, tokoh Full Frontal yang bertopeng akan diperkenalkan sebagai tokoh antagonis utama di episode ini. Akhirnya kita bisa melihat MS andalannya, Sinanjuu, yang super keren dalam bentuk animasi!

Aku tak yakin apa kali ini aku akan berkesempatan menontonnya atau tidak. Tapi setidaknya trailer-nya bisa dilihat di sini.

Kabar lain lagi soal anime-anime di musim gugur adalah dikeluarkannya seri TV baru SRW OG 2: The Inspector, yang merupakan sekuel dari seri TV SRW OG: The Divine Wars, hanya saja dikerjakan oleh staf yang sama sekali berbeda (!). Sutradaranya Obari Masami, yang sudah berpengalaman di bidang ini. Cuma karena beberapa ‘alasan khusus’, aku tak pernah bisa menjadi penggemar karya-karyanya. Sehingga aku masih enggak yakin apa aku bakal menyukai hasil akhir seri ini apa enggak.

Eniwei, adaptasi kedua dari seri game strategi populer Super Robot Wars Original Generation keluaran Banpresto (sekarang Bandai Namco) ini mungkin tak memiliki kualitas animasi sebagus yang kuharapkan. Tapi terlihat jelas betapa pergantian sutradara membuat seri ini terkesan jauh lebih berkualitas dibandingkan seri pertama.

Mungkin aku akan menulis lebih lanjut soal ini nanti. (Ya, ada trailernya, cuma untuk ini aku malas menyertakannya karena suatu alasan.)

Beberapa kabar lain tentang seri mecha baru buatan studio animasi BONES, Star Driver: Kagayaki no Tact, sebenarnya sudah keluar, menyangkut desain karakter, latar, dan sebagainya. Tapi sial, aku kesusahan menemukan terjemahan yang jelas tentangnya.

Pada dasarnya, cerita berlatar di sebuah pulau bernama Southern Cross Island (bukan luar angkasa?). Lalu sang tokoh utama, Takuto Tsunashi, ditemukan hanyut di pantainya sesudah bersusah payah berenang dari daratan. Ia sepertinya datang ke pulau ini untuk sebuah tujuan khusus. Sebab sesudah ia bergabung sebagai murid di SMA lokal, kemudian diungkapkan bahwa ada misteri yang disembunyikan oleh para penduduk pulau berkenaan keberadaan sekitar 20-an robot raksasa misterius yang disembunyikan di bawah sekolah. Mecha-mecha ini disebut Cybuddy, dan salah satunya, Taubaan, kelihatannya akan jatuh ke tangan Takuto (atau malah sudah berada di tangannya?). Akan ada organisasi rahasia misterius (‘Kirahoshi Juujidan‘, ‘Holy Order of Glittering Stars’, ‘Orde Suci Bintang Berkilau’) yang terlibat dalam pencarian para ‘biarawati kuil’ (miko), yang akan mampu mengangkat suatu segel yang menaungi seluruh pulau. Wako Agemaki, gadis anggota klub drama sekolah, Midnight Flight, yang menjadi lawan main Takuto, diduga sebagai salah satu miko ini.

Yah, aku tahu semua itu kedengarannya enggak jelas. Tapi percayalah, waktu kabar tentang Eureka Seven keluar, kisi-kisi tentang ceritanya juga sangat enggak jelas, dan ternyata kita disuguhi sebuah mahakarya.  Setidaknya, konsep cerita seri ini terdengar segar dan menarik (Klub drama ya? Hmmmm…). Aku tak sabar menantikan ini di bulan Oktober nanti.

Ada juga kabar soal film kompilasi Macross Frontier (bertajuk ‘sang diva palsu’) yang menghadirkan cerita yang berbeda dari seri TV-nya. Kabar ini disusul dengan akan dibuatnya satu film layar lebar lain yang disebut-sebut akan menuntaskan cerita di seri TV-nya. Mungkinkah ini pertanda bahwa cinta segitiga antara Alto, Sheryl, dan Ranka akhirnya akan terselesaikan?

Tayangan lain yang secara pribadi kuperhatikan di musim gugur nanti adalah adaptasi animasi manga Bakuman karya Ohba Tsugumi dan Obata Takeshi. Aku sebenarnya telah menjadi penggemar berat manga-nya, dan aku tak sabar menantikan penerbit lokal untuk melisensikannya di sini.

Buat yang belum tahu, manga ini berkisah tentang perjuangan sepasang anak muda (Mashiro Moritaka alias Saiko sebagai penggambar, yang mewarisi cita-cita pamannya; serta si murid teladan Takagi Akito alias Shuujin sebagai penulis cerita, dalam duo yang belakangan dikenal sebagai Ashirogi Muto) dalam membuat manga untuk majalah komik terkenal Shonen Jump (di mana Naruto dan Bleach terbit). Tapi yang bikin seri ini bagus adalah aspek realismenya, drama roman antar tokohnya, komedinya yang sederhana, serta intrik-intrik persaingan antar pengarang komik dalam menciptakan karya-karya mereka untuk memenangkan adu kepopuleran komik-komik Jump yang ditentukan oleh voting dari para fans. Sekali lagi, sebaiknya kisah cinta yang dihadirkan di seri ini jangan dilewatkan!

Oya, sejujurnya belum lama ini aku juga melihat adaptasi animasi seri mecha Break Blade, tapi aku tak ingin berkomentar banyak tentang itu saat ini.

(dari ANN dan berbagai sumber)

15/03/2010

Break Blade (preview)

Salah satu manga yang menarik perhatianku belakangan adalah judul ini. Di tengah kegersangan genre mecha belakangan, di tengah rasa malas Mamoru Nagano untuk melanjutkan Five Star Stories, manga ini tiba-tiba muncul begitu saja dan memuaskan dahagaku dalam sekejap.

Memang judul ini masih belum terlalu dikenal sih. Adaptasi anime-nya saja baru kedengaran belakangan ini saja. Tapi jumlah penggemarnya terus bertambah setiap hari dengan kecepatan yang gila-gilaan.

Break Blade, atau juga dikenal dengan judul alternatif Broken Blade, berlatar di sebuah dunia semi-fantasi di mana mecha-mecha besar yang disebut golem digunakan sebagai media perang. Ada semacam teknologi berbasiskan sesuatu yang disebut quartz yang memungkinkan peralatan-peralatan canggih seperti kendaraan dan mesin digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari melalui energi kehidupan seperti sihir.

Sang tokoh utama, Lygatto Arrow (sp?), ceritanya adalah seorang unsorcerer, tipe manusia langka yang entah karena kelainan genetik atau apa, tidak bisa menggunakan teknologi quartz. Suatu ketika ia dipanggil oleh sahabat lamanya, sang raja muda, Hozul (sp?) yang mengungkapkan padanya bahwa negeri mereka, Kerajaan Krisna (sp?), tengah diserang oleh negeri tetangga Aliansi Artems (sp?) karena suatu alasan perpolitikan yang pelik. Tapi alasan utama Lygatto dipanggil adalah karena teman lama mereka semasa kuliah, Zess (sp?), ternyata merupakan pemimpin kesatuan mecha yang secara mengejutkan berhasil menerobos pertahanan negeri dan kini mengancam ibukota kerajaan.

Dalam perkembangan yang terjadi, karena suatu kecelakaan, Lygatto, mungkin karena keberadaannya sebagai seorang unsorcerer, menjadi pilot dari sebuah mecha kuno yang selama ini tak dapat dijalankan oleh orang lain. Mecha yang asal-usul dan cara kerjanya masih belum sepenuhnya dipahami ini terbukti menjadi satu-satunya tandingan sementara untuk mecha-mecha yang dikemudikan Zess dan pasukannya.

Garis besar ceritanya sendiri secara sekilas emang terdengar biasa atau bahkan klise. Tapi sang pengarang, Yunosuke Yoshinaga, mengeksekusinya dengan cara yang luar biasa menarik. Artworknya sangat rapi dan detil, dan ini salah satu manga mecha langka di mana kita secara jelas bisa memahami apa yang terjadi pada setiap adegan mecha. Daya tariknya yang lain terletak pada cara penceritaannya yang lebih mengandalkan pada perkembangan adegan daripada dialog, di samping desain-desain karakternya yang teramat sangat ‘menawan hati.’ Apalagi para karakter bukanlah remaja-remaja berusia tanggung. Melainkan orang-orang dewasa muda berusia di pertengahan dua puluhan, sehingga menimbulkan semacam kesan perwatakan matang yang jarang sekali ditemukan dalam genre seperti ini.

Di tengah medan pertempuran darat yang seru, manga ini secara efektif mengangkat tema-tema kemanusiaan, persahabatan, martabat, kehormatan dan tugas, tanpa membuatnya terkesan corny atau dibuat-buat, terlepas dari latarnya yang semi-medieval. Salah satu contohnya dapat dilihat pada hubungan yang terjalin antara Lygatto yang jelas-jelas rendah diri dan menyimpan sebagian besar perasaannya terhadap dirinya sendiri dengan orang-orang di sekelilingnya; terutama dengan Shigwen (sp?), istri Hozul, ratu Krisna, sekaligus ilmuwan mekanik utama kerajaan yang di balik tampilan luarnya yang dingin menyimpan harapan mendalam padanya.

Aku tahu ini masih relatif baru, tapi aku enggak sabar menantikan ini dilisensi secara lokal. Ini manga yang beneran bagus.

25/01/2010

The Fugitive Lawyer: Makoto Narita

Untuk suatu alasan, Level Comics belakangan meneribitkan banyak judul yang menarik. Salah satunya, yang udah kubayangin bakal memikat tapi berakhir lebih memikat dari dugaan, adalah manga ini.

Gampangnya, si tokoh utama Makoto Narita adalah seorang lelaki di akhir dua puluhan yang dijebak untuk menjadi tersangka utama suatu kasus pembunuhan dan pembakaran. Akibat kurangnya bukti yang bisa meringankan dakwaan, pengacara muda yang sangat idealis ini kemudian melarikan diri dari sidang, menjadi buronan polisi, dan mati-matian bertahan hidup di jalanan sambil berusaha mengumpulkan keping-keping petunjuk yang bisa membuktikan sebaliknya.

Meski bukan seorang tokoh yang bad-ass atau bagaimana, si Makoto ini tetap meninggalkan kesan mendalam karena sifat ‘keras kepala’ (baca: ketegaran) yang ia tunjukkan, sekalipun situasi rumit yang ia hadapi jelas-jelas memojokkan dirinya. Ada juga cerita tentang seorang perwira polisi yang begitu terobsesi dengan Makoto yang  bahkan tak mau mempertimbangkan kemungkinan bahwa Makoto tak bersalah. Lalu ada tokoh putri dari sang korban yang terguncang dan lebih merasa bila si Makoto ini lebih baik mati saja. Di tengah semua tekanan itu, si Makoto ini masih bisa dengan tenang dan kepala dingin hidup di jalanan selama berbulan-bulan, menolong orang-orang yang kebetulan ditemuinya dengan pengetahuan hukum mendalam yang dimilikinya. Hal  mencengangkan yang berulangkali digambarkan dalam manga ini adalah betapa orang-orang yang ditemui oleh Makoto kerap kali sudah begitu tertekan oleh beban kehidupan, sehingga secara bisa dimengerti mulai bersikap seenaknya dan menyebalkan tatkala harus menghadapi masalah. Tapi si Makoto ini, dengan kemampuan bicaranya yang gila-gilaan, selalu saja bisa menenangkan keadaan sekaligus meyakinkan mereka untuk bertindak menyelesaikan masalah-masalah mereka sendiri.

Meski tidak ada desain karakter yang menonjol, tarikan-tarikan garis dan pemberian warnanya sangat kuat dan rapi. Menurutku, meski mengusung cerita yang sejenis, artwork manga ini satu-dua tingkat lebih bagus daripada Kurosagi. Penceritaannya juga sangat jelas dan runut. Kita jadi bisa memahami alur kronologis tiap kejadian dengan mudah, yang merupakan suatu hal penting bila ingin bisa menikmati cerita-cerita jenis ini. Hal lain yang menarik adalah bagaimana setiap permasalahan yang diusung kerap kali teramat tak lazim, meski tidak berarti tidak mungkin terjadi. Hal inilah yang membuat manga ini jadi menarik buat dibaca.

Singkat kata, kupikir manga ini sangat cocok bagi para pembaca. Sekalipun implementasi hukum di sini sama sekali ga sebaik di sana, tekad dan keteguhan Makoto lumayan banyak memberi inspirasi. Really recommended read.

Tag: ,
10/04/2009

Watashi-tachi no Tamura-kun

Aku mulai membaca manga ini karena alasan-alasan yang sepenuhnya sentimentil. Dari sampul dan judulnya, jelas terlihat bahwa ini suatu roman cinta remaja biasa. Tapi, aku enggak yakin apa, ada sesuatu di desain karakternya yang kemudian menarikku untuk membaca.

Manga Watashi-tachi no Tamura-kun atau Our Dear Tamura (‘Tamura kita’) dibuat berdasarkan seri light novel yang menjadi debutan Yuyuko Takemiya, yang belakangan lebih dikenal sebagai pengarang seri komedi Toradora!. Sedangkan versi manga yang dipenuhi sapuan-sapuan halus ini dibuat oleh Sachi Kurofuji, yang terus terang, selain namanya, sama sekali tak kutahui apa-apa lagi tentangnya.

Ceritanya sendiri tentang drama cinta segitiga remaja yang sederhana. Antara cowok baik hati yang sekilas-keliatan-tak-menonjol bernama Tamura Yukisada dengan dua orang gadis, Matsuzawa Komaki yang imut namun misterius serta Soma Hiroka yang sangat cantik namun dingin. Berbeda dari kebanyakan cerita sejenis lainnya, hubungan Tamura dengan dua gadis ini tidak berlangsung sekaligus. Cerita bisa dibilang terbagi ke dalam dua bagian: pertama, keadaan masa kini Tamura saat baru masuk SMA ketika ia mengenal Soma; kedua: ingatan masa lalu Tamura akan musim panas terakhirnya di SMP, ketika ia baru pertama menjalin hubungan dengan Matsuzawa.

Seiring perkembangan cerita, kita dihadapkan pada bagaimana Tamura mengetahui dan kemudian menyikapi masalah-masalah pribadi yang melanda kedua gadis ini. Tamura kemudian secara terpisah menjadi tempat di mana kedua gadis ini bisa sama-sama membuka diri.Tentu saja, dilema muncul saat Tamura kebingungan saat harus menetapkan sikapnya terhadap keduanya.

IMO, tamat seri (manga) ini bernada ambigu dan agak kurang memuaskan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, tamatnya sebenarnya enggak jelek-jelek amat. Kesan terakhir yang didapat benar-benar relatif kau orang seperti apa dan kau berharap hasil akhir yang Tamura dapat itu seperti apa. Kedua gadis di atas benar-benar bukan cewek yang ‘biasa.’ Jadi posisi mereka sebagai tokoh terasa agak kontras dibandingkan Tamura yang sangat terkesan biasa-basa saja. Tetapi Tamura dengan segala perhatian dan kebaikan hatinya, pada akhirnya jadi tokoh yang lumayan berkesan kok. Agak mengesalkan pada beberapa aspek sih, tetapi bisa dimaklumi mengingat usianya. Toh setidaknya dalam cerita tidak pernah sekalipun ia diperlihatkan benar-benar bermaksud buruk.

Buat yang merasa ada yang aneh dengan editan versi lokalnya, jangan terlalu permasalahkan. Sejujurnya, meski artwork-nya bagus, pacing ceritanya memang agak aneh kok. Aku belum pernah membaca versi novelnya, jadi aku tak bisa menilai alur cerita aslinya secara objektif. Tapi kecepatan perkembangan cerita di manga ini memang agak-agak gimanaa gitu. Jadi walaupun suasana yang terbangun digambarkan secara pas, kita kurang bisa menghayati emosinya.

Eniwei, ini manga menarik yang dengan efektif menggambarkan nuansa cinta pertama dengan segala kepolosannya. Tak ada fanservice di dalamnya. Kupikir dua alasan tersebut sudah cukup buat bikin orang-orang mau membaca.

09/05/2008

Yokohama Shopping Blog

Dulu, sejak awal, aku merasa skeptis kalau aku bakal bisa terus mengikuti Shonen Magz, salah satu majalah komik bulanan cowok terbitan Elex, dengan menjadi pengoleksinya. Kenyataannya, sekitar setahun kemudian, beberapa bulan sesudah Wild Baseballers tamat, aku terpaksa berhenti membelinya. Ruang di laciku sudah enggak cukup buat muat majalah lagi.

Tapi jika ada satu hal yang enggak kusesali dari mengoleksi edisi-edisi awal majalah itu, adalah bahwa darinya aku tahu tentang Yokohama Kaidashi Kikou (‘catatan belanja Yokohama’). Kini diterbitkan buku satuannya secara berkala oleh MnC, aku hampir enggak bisa mempercayai mataku saat melihat judul ini di etalase toko buku. Karena aku lemah sama jenis-jenis cerita drama kayak begini (mirip Yume Mahou atau Kino no Tabi), aku langsung membelinya tanpa ragu-ragu.

Kesanku? Bagaimana ngomongnya ya?

Kira-kira begini: kalau ada orang yang bilang bahwa sepuluh tahun itu lama, bagiku dan banyak orang dewasa lainnya, sepuluh tahun lalu terasa baru terjadi kemarin. Lebih dari sepuluh tahun lalu, Final Fantasy VII yang menghebohkan itu pertama kali keluar. Itu merupakan sebuah sensasi yang takkan pernah kulupakan seumur hidup dan aku masih ingat jelas kehebohan yang kurasakan saat itu sampai sekarang..

Nah, tema yang sama juga kurang lebih diungkap dalam komik ini (terlihat juga pada urusan terbitan lokalnya sih, mengingat komik ini pertama terbit di Jepang sepuluh tahun lalu, tapi itu cerita lain). Intinya, komik ini bercerita tentang kehidupan dari hari ke hari. Namun cara bertuturnya itu yang membuatnya terasa istimewa dan bermakna.

Hanya saja, tolong ingat bahwa ini bukan jenis komik yang bakal diminati semua orang.

Di sebuah kafe di pinggir desa…

Latarnya adalah masa depan, pada suatu masa ketika kota-kota besar sudah tenggelam di bawah permukaan air laut. Sedikit manusia yang masih tersisa hidup dengan damai di sejumlah dataran tinggi yang masih ada. Inilah waktu yang dianggap oleh sebagian besar orang—mengikuti kata-kata Alpha Hatsuseno—sebagai ‘keremangan senja’ bagi zaman. Sebuah masa ketika bumi sudah banyak berubah akibat berbagai perubahan ekologis. Tapi juga sebuah masa ketika orang-orang yang hidup di dalamnya mulai bisa menghargai lebih banyak hal.

Alpha Hatsuseno sendiri adalah ‘seorang’ robot. Ia salah satu dari sedikit robot tipe ‘alpha’ yang masih tersisa, yang berwujud dan bersikap sebagaimana layaknya seorang gadis muda berusia dua puluhan tahun. Ia mengambil nama majikannya sebagai nama marga (Hatsuseno), dan sendirian mengurusi kedai kopi peninggalan majikannya itu, yang terletak di ujung sebuah jalan rusak, di pinggiran sisi barat sebuah pedesaan kecil, yang sebenarnya terletak lumayan jauh dari kota Yokohama tempat ia biasa membeli biji kopi—sementara sang majikan sedang berpergian entah ke mana. Meski hanya ada sedikit orang yang mengunjungi kafenya dari hari ke hari, untuk suatu alasan, Café Alpha selalu menjadi tempat yang berkesan bagi tiap pengunjungnya.

Inilah kisah mengenai keseharian Alpha dalam memandang apa yang masih tersisa dari dunia tempat ia hidup, beserta orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Dunia

Meski tiap bab pada dasarnya merupakan penggalan berbagai adegan kehidupan yang terjadi di sekeliling Alpha, ada semacam benang merah yang sedikit demi sedikit menghubungkan itu semua. Benang merah yang secara perlahan juga menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada dunia di masa itu.

Maksudnya, walaupun komik ini berkisah tentang adegan sehari-hari, serinkali pada adegan-adegan sehari-hari yang biasa ini, ada banyak hal ajaib yang jelas saja enggak akan dianggap biasa oleh kita. Nah, hal-hal ajaib ini yang jadi benang merah yang kumaksud!

Oke, kita mulai misalnya dengan Alpha-san sendiri. Alpha-san adalah seorang robot (aku tadi udah bilang), tapi sikapnya (bahkan menurut penilaian sesama robot sekalipun) sama sekali tak seperti robot. Dia bisa dibilang unik untuk jenisnya, dan bahkan sampai sejauh yang aku baca pun, masih ada banyak hal tentang Alpha-san yang masih belum diketahui oleh kita. Dari mana dia berasal? Siapa majikannya (yang kumaksud di sini bukan namanya!)? Lalu, apa hubungan antara majikannya ini dengan orang-orang yang hidup di sekelilingnya?

Orang-orang di sekeliling Alpha sendiri meliputi seorang kakek tua penjaga pom bensin yang biasa dipanggil Oji-san, cucu lelaki Oji-san yakni Takahiro, ‘adik’ perempuan Alpha yang Alpha kenal secara kebetulan yakni Kokone Takatsu, dokter(?) wanita tua yang pernah jadi kakak kelas Oji-san, berbagai tetangga, seorang pria bernama Ayase, dan lain sebagainya. Orang-orang ini sepenuhnya adalah orang-orang biasa. Jadi enggak, sepertinya mereka bukan agen rahasia suatu organisasi mahabesar yang ditugaskan untuk mengawasi Alpha. Bukan.

Cuma, lewat kacamata Alpha dan orang-orang ini, kita dibawa untuk melihat apa-apa saja yang telah terjadi pada bumi dan kira-kira ke arah mana masyarakat yang ada saat itu akan bergerak. Terus terang, bila kamu bisa melarutkan diri pada tuap bab, kamu bukan hanya akan mendapati tiap bab menghibur, namun juga akan membawa semacam perenungan.

Ya, terlepas dari tipisnya tiap buku satuan yang MnC terbitkan.

The Art

Aku sudah bilang. Meski tiap buku satuanny tipis, aku selalu merasa puas setiap kali habis membacanya. Terjemahan Saudari Lidwina Leung dan kerja keras para editor amat tampak pada cerita ini!

Namun alasan lain yang membuat serial ini bisa begitu menarik dan memuaskan adalah artwork-nya yang luar biasa indah. Mungkin, ini salah satu dari sedikit komik yang masih menampilkan panorama yang digambar tangan. Yang benar-benar bagus, maksudku dan pas pacingnya.

Sangat direkomendasikan bagi kaum penikmat manga yang enggak pandang bulu dalam memilih judul.

Tag: , ,