Posts tagged ‘Madhouse’

08/12/2017

No Game No Life Zero

Pada suatu akhir pekan, sepupuku mengajak nonton film layar lebar No Game No Life: Zero (juga ditulis No Game No Life: 0 )di bioskop CGV.

Sebenarnya, kami sama-sama lagi kesulitan uang. (Sori, itu juga salah satu alasan aku jarang nulis belakangan.) Tapi, kami tetap memilih menonton karena, yah, ini NGNL. Mungkin tayangnya akan lebih sebentar dibandingkan Thor: Ragnarok. Makanya, perlu diprioritaskan. Terlebih, aku masih trauma dengan gimana aku enggak kesampaian menonton film layar lebar Mahouka beberapa bulan lalu. Di samping itu, sejumlah review yang aku baca sudah menyebut kalau kualitas movie ini bagus.

No Game No Life: Zero mengangkat cerita dari buku keenam dari seri novelnya yang dikarang Kamiya Yuu. Ceritanya memaparkan masa lalu dunia Disboard (sebagaimana dikisahkan oleh sang dewa permainan, Tet) dan karenanya diberi embel-embel ‘zero’ di judulnya. Dengan kata lain, sifatnya prekuel dan enggak sepenuhnya melanjutkan cerita di seri TV. Ceritanya enggak berfokus pada kakak beradik Sora dan Shiro. Meski demikian, pengetahuan tentang seri aslinya tetap akan membuatmu lebih bisa menikmatinya.

No Game No Life: Zero masih diproduksi studio animasi Madhouse. Para staf seri TV-nya kembali hadir untuk menangani. Ishizuka Atsuko kembali memberikan kerja bagus sebagai sutradara. Fujisawa Yoshiaki menangani musik. Naskahnya sendiri kembali ditangani oleh Hanada Jukki. Suzuki Konomi juga kembali buat membawakan lagu penutupnya.

Mestinya, aku enggak rugi kalo aku sempetin nonton ini ‘kan?

“Saat aku masih muda, aku percaya kalau enggak ada permainan yang enggak mungkin dimenangkan.”

Berlatar 6000 tahun sebelumnya, para dewa (yang kini dikenal dengan sebutan Old Deus) masing-masing mewakili satu ras di Disboard. Lalu, mereka mengadakan perang dengan satu sama lain, yang lambat laun semakin menghancurkan dunia. Tanah runtuh, langit terbelah, hujan beracun, bintang-bintang sirna, makhluk-makhluk buas menyebar, dan dunia seakan mengalami malam yang tiada akhir.

Umat manusia di dunia ini diyakini telah punah. Mereka tak punya keistimewaan khusus. Karenanya, mereka selalu terjebak di tengah adu kekuatan antara ras-ras lain yang lebih kuat. Tapi, kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Di bawah tanah, menyembunyikan diri dari bahaya hujan, dipimpin seorang pemuda bernama Riku, komunitas mereka terus bergulat untuk bertahan hidup.

Singkat cerita, Riku selama ini bekerja mengumpulkan informasi. Sekalipun telah sampai mengorbankan nyawa sejumlah orang, Riku ingin memahami jalannya perang. Tujuannya? Agar dia bisa menemukan cara untuk menghentikannya.

Riku berusaha melengkapi peta dari apa yang masih tersisa dari dunia, lalu memastikan posisi masing-masing pihak ada di mana. Bersama komunitasnya, mereka secara berkelanjutan telah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mengungsi dari satu bahaya ke bahaya lain.

Dalam salah satu kesempatan, saat menjelajahi peninggalan salah satu kota Elf, Riku berjumpa dengan suatu manusia buatan Ex-Machina berbentuk seorang gadis muda, yang kemudian Riku namai Shuvi.

Para Ex-Machina ini bekerja dengan prinsip hive mind. Tapi Shuvi, Ex-Machina satu ini, telah diasingkan dari kesadaran bersama tersebut karena telah dianggap cacat. Alasannya? Karena Shuvi telah berusaha memahami emosi manusia. Shuvi agaknya ingin mengerti rahasia di balik ketangguhan manusia untuk bertahan hidup.

Shuvi kemudian ditampung Riku. Kemudian, dengan keistimewaan-keistimewaan yang Shuvi punyai, keputusan Riku tersebut menjadi awal bagaimana ia memahami latar belakang sesungguhnya di balik perang, dan langkah-langkah yang bisa diambil untuk selamanya menghentikannya.

Asal Aku Bersama Kamu…

Bicara soal teknis, film layar lebar ini seriusan bagus. Visualisasi dunianya benar-benar keren. Pemandangan latar dunia fantasi yang suram beneran keren. Lalu, meski enggak banyak, adegan-adegan aksinya juga wah. Ini diimbangi juga dengan penataan audio yang beneran pas. Kualitas keluaran Madhouse kadang mengalami naik turun aneh, tapi kamu enggak perlu ragu soal yang satu ini.

Satu yang patut disinggung adalah performa Matsuoka Yoshitsugu sebagai pengisi suara Riku. Mempertimbangkan gimana beliau juga berperan sebagai semacam narator, akting beliau di sini seriusan bagus. Ada kayak kombinasi kepercayaan diri, keputusasaan, serta kesedihan dan pengharapan yang berhasil dia gabungin gitu. Mungkin buat selamanya dia bakal dikenal sebagai Kirito dari SAO, tapi kemampuan akting beliau jauh lebih luas dari itu.

Kalian juga mungkin ingat gimana visual seri TV NGNL punya saturasi warna yang khas. Satu hal mencolok yang aku perhatikan adalah gimana saturasi warna itu enggak gitu kelihatan di film ini, sejalan dengan nuansa dunianya yang lebih suram.

Di akhir, aku nyimpulin dua hal sesudah nonton film ini.

  • Meski enggak nampilin ketegangan adu siasat yang aku harapkan dari seri TV-nya, film layar lebar ini tetap bagus.
  • Meski enggak sedalam yang aku harapkan (dan terus terang, nuansanya beda jauh dari seri TV-nya), aspek emosi dari film ini, kalo kamu bisa menikmatinya, terbilang menyentuh.

Jadi, singkat kata, yup, ini direkomendasikan. Apalagi kalau kalian sudah jadi penggemar NGNL sebelumnya.

Kelemahannya ada sih. Mungkin kalian ingat gimana NGNL, bahkan dengan semua kebagusannya, punya fanservice yang sangat berbahaya. Baik itu dari soal adegan maupun desain karakter. Aspek tersebut enggak sepenuhnya sirna di prekuel ini. Aku bahkan di satu titik sempat heran dengan gimana hal ini lolos sensor.

Daripada ‘bagus atau enggak,’ menurutku ini lebih ke kasus ke ‘cocok atau enggak’ sih. Emang mesti diakui, bahkan dengan kebagusan pemaparan dramanya, kita kadang jadi susah menanggapi serius pas kekonyolan-kekonyolan ini muncul. Kalo ngambil istilah pergamean, jadinya lumayan immersion breaking.

Di samping itu, pembangunan dunianya minimum banget. Rasanya kita diperlihatkan hanya segelintir dari keadaan menakjubkan dunia di ambang kehancuran. Ras-ras lain hanya ditampilkan sekilas. Mereka juga berperan hanya secara terbatas pula. Porsinya hanya sebatas ‘cukup’ untuk membawakan plot. Ini mungkin akan terasa gimanaa gitu buat kalian yang suka melihat dunia-dunia fantasi.

Tapi, serius, kalau kalian terlanjur benar-benar suka seri TV NGNL, aku lumayan menyarankan kalian buat melihat NGNL 0. Selama kalian enggak keberatan dengan semua keanehan NGNL (yang emang udah ada dari sananya), film layar lebar ini ngasih insight lumayan mendalam tentang dunia maupun kepribadian para karakternya.

Aku enggak sepenuhnya suka konsepnya, dan aku juga enggak sepenuhnya puas dengan penyelesaian ceritanya. Tapi, sekali lagi, bahkan dengan semua keterbatasan materi aslinya, eksekusi animenya beneran brilian. Aku perlu ngasih pujian semata karena itu.

Lain Kali, Aku Pasti Menang

Terlepas dari sisi-sisi konyolnya, dengan semua drama dan tragedi yang terjadi, NGNL 0 lebih berhasil menekankan pentingnya kegigihan dan perjuangan dibandingkan seri TV-nya. Berbeda dari Sora dan Shiro, Riku dan Shuvi bukanlah sosok-sosok jenius. Mereka hanya sekedar nekad (seriusan nekad) dan pantang menyerah. Ini konsisten bahkan saat mereka dihadapkan pada tantangan-tantangan yang kayaknya enggak mungkin bisa dilewatin.

Di samping itu, semua batasan soal penyelesain konflik lewat permainan (dan tanpa kekerasan) yang Tet atur masih belum ada. Jadi, ada kekejaman sekaligus kematian sekaligus sihir sekaligus senjata-senjata pemusnah massal di sana-sini.

Yea, film ini jadi punya sisi yang agak sadis.

Meski demikian, sekali lagi, itu jadinya memperkuat pesan(?) yang seri ini mungkin punya.

…Aku masih kurang sepenuhnya puas dengan penyelesaiannya sih. (Gimanapun, aku penggemar Liar Game!) Tapi, hasilnya tetap bisa aku terima sekaligus aku hargai.

Ini rada enggak nyambung, tapi mungkin kalian ingat kasus pembajakan menyangkut film ini tempo hari? Aku seriusan marah saat mendengar berita itu. Bila aku sampai ketemu orangnya, aku (dan banyak teman lain) bahkan sampai bersumpah buat nonjok mukanya.

Tapi, agaknya, kasus itu lebih konyol dari yang aku kira. Aku semula ngira itu kasus pembajakan di mana ada yang bawa kamera, terus diam-diam ngerekam buat disebarin di web. Tapi, yang sebenarnya terjadi, yang bersangkutan ternyata sekedar melakukan livestream.

Well, yeah. Prinsipnya secara teknis tetap sama sih, tapi tetap saja, aku lumayan terdiam saat mengetahui ini.

Riku dan Shuvi—dan sekaligus juga Shiro dan Sora—sanggup bertahan karena mereka sadar dengan batasan mereka masing-masing. Tapi, apa kebanyakan orang bahkan tahu soal batasan-batasan mereka sendiri?

Yah, artikel ini (silakan diklik) lumayan mengulas kasus itu secara baik sih. Jadi mending enggak usah kita singgung lagi.

Akhir kata, maaf udah lama ga nulis! Nanti aku nyoba nulis lagi. Mwahahaha.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A-

Iklan
23/06/2016

Paprika

Mari kita sesekali bahas sosok-sosok yang telah wafat.

Paprika adalah film animasi layar lebar terakhir arahan sutradara Kon Satoshi, sebelum yang bersangkutan meninggal dunia karena kanker pankreas pada tahun 2010. Beliau masih relatif muda saat meninggal, yaitu di usia 46 tahun. Beliau menuntaskan Paprika pada tahun 2006 setelah perencanaan yang berlangsung beberapa tahun. Lalu karena saking kerennya, Paprika sukses dan menuai lebih dari satu penghargaan. Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Tsutsui Yasutaka (yang juga menulis Tokikake atau The Girl Who Leapt Through Time) yang aslinya pertama terbit tahun 1993. Lalu agak seperti Tokikake, hampir semua kecuali cerita dasarnya yang diubah pada versi animenya.

Tak terasa, sudah hampir enam tahun semenjak kabar kematian beliau.

Aku jadi takut sendiri. Apa iya sudah selama itu? Rasanya baru kemarin. Hal-hal seperti itu jadi terulang dalam kepala saat aku mengingat Paprika. Ini persis seperti perkataan Saito Hajime pada Himura Kenshin dalam reuni mereka kembali. “Sudah sepuluh tahun.” Hanya tiga kata yang sama-sama membahas soal waktu, tapi menyiratkan telah berubahnya begitu banyak hal.

Berhubung aku sudah om-om, aku kini paham maksud ucapan Saito. Dulu, sepuluh tahun bagiku juga terasa seperti waktu yang lama. Tapi dengan kenangan-kenangan di zaman SMA yang masih jernih di kepala, buatku yang sekarang itu seriusan terasa kayak baru kemarin. Jadi jangankan enam tahun, sepuluh tahun saja di usiaku sekarang sudah terasa pendek.

Paprika adalah karya pertama Kon-sensei sekaligus yang kulihat sesudah beliau wafat. Berdurasi 90 menit dan diproduksi oleh Madhouse. Ceritanya sebenarnya bergenre sains fiksi, tapi mulai meranah ke domain psikologi fantastis gitu.

Aku Mengikuti Perempuan yang Menunjukkan Jalan

Di dunia masa depan tak jauh tempat Paprika berlatar, perawatan psikoterapi melalui mimpi dikisahkan telah bisa dilakukan. Ini terwujud berkat penemuan suatu perangkat canggih bernama DC Mini yang dapat digunakan untuk menyaksikan dan memasuki mimpi-mimpi orang lain.

Kepala tim yang bertanggung jawab atas penelitian ini, seorang wanita mandiri tapi sedikit galak bernama Doktor Chiba Atsuko, mulai menggunakan DC Mini secara ilegal untuk bisa menolong pasien-pasien di luar lembaga penelitian. Dia melakukannya dengan menggunakan alter ego bernama Paprika, seorang perempuan muda berambut coklat pendek yang memikat, lincah, dan sangat hidup.

Sesi konseling yang Atsuko lakukan sebagai Paprika sebenarnya sama sekali tidak resmi. Sehingga Atsuko dan kawan-kawan dekatnya, Doktor Shima Toratarou yang merupakan kepala departemen di mana penelitian mereka bernaung; serta Doktor Tokita Kousaku, seorang pria sangat gemuk dan kekanakan tapi juga jenius, yang merupakan penemu asli DC Mini dan kawan lama Atsuko, harus bisa menjaga agar keberadaan DC Mini dan Paprika tak boleh sampai bocor ke dunia luar. Ini terutama karena perangkat-perangkat DC Mini yang mereka kembangkan, meski bisa berfungsi, masih belum benar-benar ‘jadi.’ Lalu karena statusnya yang belum final ini, pembatasan akses masih belum diterapkan. Sehingga siapapun yang menggunakannya bisa bebas untuk memasuki dan mempermainkan mimpi siapa saja.

Masalah timbul saat salah satu perangkat DC Mini ternyata benar-benar hilang. Konsekuensi dari hal ini ditandai dengan bagaimana Shima tiba-tiba saja, entah karena apa, mulai melontarkan serangkaian omong kosong yang tak jelas maksudnya, yang diikuti dengan bagaimana ia melemparkan dirinya sendiri ke luar jendela, nyaris membuatnya terbunuh.

Akibat insiden ini, penggunaan DC Mini dilarang sama sekali oleh Doktor Inui Seijirou, kepala institut penelitian mereka. Tapi menghadapi ancaman sosok yang bisa memanipulasi orang untuk bunuh diri lewat perantara mimpi, Atsuko dan kawan-kawannya tahu bahwa apabila kasus ini tak diselesaikan, bisa ada lebih banyak korban-korban lain yang berjatuhan.

Penyelidikan ke dalam dunia mimpi Shima menampilkan suatu parade benda-benda mati seperti mainan dan perabotan yang semakin bertambah ramai sedikit demi sedikit, yang seakan ‘menelan’ mimpi-mimpi asli semua orang. Di dalamnya, Tokita sempat melihat keberadaan Himuro Kei, asistennya, yang memastikan kecurigaan bahwa pencurian itu sebenarnya dilakukan orang dalam.

Namun penyelidikan terhadap Himuro semakin membuahkan hasil tak terduga. Apalagi saat terkuak soal betapa yang bisa dilakukan dengan DC Mini jauh melebihi yang siapapun sangka.

Mengejar Angin yang Kerap Bertiup Dalam Mimpi-mimpiku

Sebenarnya, ada beberapa karakter lain yang terlibat. Tapi satu-satunya yang benar-benar patut disebut adalah Detektif Konakawa Toshimi, perwira polisi paruh baya dan lajang yang telah berulangkali dihantui sebuah mimpi yang berakhir menggantung. Akhir mimpi yang terus-terusan menggantung ini membuatnya tersiksa, yang akhirnya membuatnya mencari pertolongan Paprika. Ini berujung pada bagaimana Konakawa jadi mengenal Atsuko secara pribadi, dan mengenalinya sebagai orang yang sesungguhnya selama ini selalu menolongnya.  (Dirinya memang lambat laun menjadi terpikat pada Paprika, meski sikap Atsuko sendiri soal hal ini selama durasi besar film menjadi tanda tanya.)

Saat mengetahui tentang kasus sensitif hilangnya DC Mini, Konakawa turut membantu Atsuko dan timnya dalam menguak kebenaran kasus ini. Motif mimpi berulang yang dialaminya, serta kontribusi besarnya dalam penyelidikan, membuat Konakawa bisa dibilang sebagai tokoh utama film ini yang kedua. (Padahal kalau tak salah, beliau adalah karakter orisinil anime yang tak ada di novel aslinya.)

Bicara soal teknis, agak susah mendeskripsikan Paprika bagusnya bagaimana.

Daripada soal kualitas animasinya (yang memang bagus), Paprika sukses memvisualisasikan hal-hal yang efektifinya hanya divisualisasikan lewat animasi. Adegan-adegan di dalam mimpinya, yang kerap abstrak dan tersamar, dan juga bisa membuat resah meski kita tak benar-benar mengerti kenapa, benar-benar keren. Tapi yang membuatnya benar-benar berkesan adalah soal makna-makna terselubung yang ada di dalamnya. Jadi, selain soal mimpi aneh yang menghantui Konakawa, Atsuko sebenarnya memiliki masalah pribadinya sendiri. Dalam hal ini, dirinya berada dalam suatu penyangkalan berkelanjutan tentang perasaan yang sudah lama dipendamnya. Lalu penyangkalan ini yang seakan tertuang lewat perannya sebagai Paprika.

Sekali lagi, adegan-adegan mimpinya menjadi apa yang film ini paling tonjolkan. Tapi ada banyak hal terkait dunia nyatanya yang juga menjadi daya tarik, seperti soal betapa besarnya ukuran badan Tokita atau betapa menonjolnya kacamata Shima. Penyampaiannya benar-benar mengikuti ciri khas Kon-san, yang mana hal-hal yang sebenarnya nyata dan hal-hal yang sebenarnya tidak nyata kerap tersamar. Lalu ini terutama terasa menjelang klimaks saat serangkaian hal gila benar-benar terjadi. Efeknya lumayan menakutkan (meski tak sampai ke levelnya film-film David Cronenberg sih). Lalu ini diiringi dengan musik yang benar-benar melarutkan juga.

Soundtrack utama film ini, “Byakkoya no Musume” dikomposisi oleh Hirasawa Susumu dan seriusan perlu kalian dengar sendiri untuk mendapat gambaran tentang keajaibannya.

Sebenarnya, ada hal penting yang semula ingin aku ungkap dengan membahas soal judul ini. Tapi setelah menulis sampai sejauh ini, aku jadi tak jadi. Yah, ada banyak hal pribadi yang rasanya dimasukkan ke dalamnya juga. Jadi membahasnya agak-agak susah.

Pastinya, ini satu lagi karya relatif lebih ke sini yang di dalamnya bakat Hayashibara Megumi dan seiyuuseiyuu lain seangkatan beliau masih tampak.

Yah, bagiku, karya-karya Kon-san (seperti Paranoia Agent atau Perfect Blue) adalah jenis yang lebih membuatku terpukau ketimbang puas sih. Aku sering mikir apa mungkin ada makna-makna tertentu di dalamnya yang luput aku tangkap.

Lumayan disayangkan bagaimana beliau sekarang tiada, berhubung di masa sekarang, masih belum ada sutradara anime lain yang nampak mengikuti jejaknya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A+; Audio: S; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

15/01/2016

One Punch Man

Kalau kalian belum lihat adaptasi anime One Punch Man yang menjadi sensasi pada musim gugur 2015 lalu, aku serius menyarankan kalian melihatnya. Termasuk bila kalian sudah menjadi penggemar seri manganya.

Buat yang belum tahu, One Punch Man (kadang juga ditulis One-Punch Man, dan sering dibaca ‘wanpanman’, menjadikannya semacam plesetan Anpanman) paling awalnya sekali keluar dalam bentuk webcomic yang dibuat oleh pengarang aslinya, ONE. Sekalipun kualitas gambar yang ONE-sensei buat sendiri itu pas-pasan (begitu-begitu juga, untuk ukuran gambar pas-pasan, menurutku gaya gambar beliau termasuk yang punya ciri khas), seri ini dengan cepat tenar. Lalu konsepnya yang unik lambat laun menarik perhatian Murata Yuusuke, mangaka yang sebelumnya mengerjakan gambar untuk seri olahraga Eyeshield 21. Beliau kemudian menawarkan untuk menggambar ulang komik web yang ONE buat (yang juga masih berlanjut saat ini kutulis) dengan gaya gambarnya sendiri, untuk akhirnya diterbitkan resmi ke penerbit Shueisha.

Hasilnya beneran luar biasa.

Gampangnya, One Punch Man berkisah tentang seorang pria muda yang botak bernama Saitama, yang pada suatu ketika memutuskan untuk menjadi pahlawan pembela kebenaran sebagai hobi. Dirinya telah berlatih keras untuk hobinya ini, sampai ke tingkat di mana dirinya bisa mengalahkan semua musuhnya hanya dengan satu pukulan (one punch). Meski cita-citanya di satu sisi bisa dibilang tercapai, di sisi lain, Saitama frustrasi karena pekerjaan membasmi kejahatan yang dulu diimpikannya kini lebih terasa seperti rutinitas hampa. Semua keasyikan yang dulu dirasakannya sudah tak ada berhubung dirinya yang sekarang sudah terlampau kuat.

Terlepas dari bobot ceritanya sendiri (yang kumaksud, berhubung ini beratnya ke aksi, kalian enggak akan menemukan banyak drama di cerita ini), Murata-sensei kemudian menjadikan versi baru One Punch Man buatannya sebagai semacam media eksperimentasi untuk membuat adegan-adegan aksi. Diserialisasikan digital (secara tak teratur) di Young Jump Web Comics, adegan-adegan aksi di seri manga barunya ini dibuat jadi benar-benar mencolok, dengan pembangunan suasana yang gila-gilaan, sekalipun di hadapan Saitama, musuh-musuhnya takluk cuma dengan satu pukulan. Ini semua diperkuat dengan gaya desain karakter Murata-sensei yang khas, serta perhatian beliau terhadap koreografi aksi yang benar-benar bagus.

Agak susah jelasinnya. Lalu buat kalian yang lebih berminat pada kejutan-kejutan dalam lika-liku cerita, daya tariknya di awal mungkin memang enggak begitu terasa.

Tapi lalu studio MADHOUSE tampil dengan Natsume Shingo sebagai sutradara, Suzuki Tomohiro sebagai pembuat naskah, dan Miyazaki Makoto sebagai penanggungjawab musik. Mereka lalu membuat adaptasi animasi dari seri ini, dengan jumlah episode sebanyak 12 dengan 7 buah OVA pendek dan 1 episode OVA berdurasi biasa.

Hasilnya, sekali lagi, benar-benar luar biasa.

NOBODY KNOWS WHO HE IS!

Anime One Punch Man mengadaptasi cerita dari manganya kira-kira sampai buku kelima. Saat ini kutulis, versi remake Murata-sensei kalau enggak salah sudah sampai buku kesepuluh. Jadi, menurutku kalian enggak perlu terlalu kecewa dengan bagaimana cerita animenya sudah berakhir.

…Maksudku, cerita animenya berakhir di titik yang pas. Sudah ada separuh dari semua cerita di manganya yang sudah ditampilkan. (Kurang dari separuh kalau membandingkannya dengan versi komik webnya.) Di samping itu, proses serialisasi manganya memang terbilang enggak cepat (komik webnya pertama muncul tahun 2009, sementara remake versi Murata-sensei dari tahun 2012). Lalu hei, dengan ketenaran animenya, kemungkinan besar season dua bakal ada di masa yang akan datang.

Soal ceritanya sendiri, sesudah perkenalan tentang siapa Saitama dan kondisinya yang sekarang sering bosan (sebagian karena keuangan yang pas-pasan), cerita berkembang dengan pertemuannya dengan Genos, seorang cyborg muda dengan suatu misi pribadi. Genos langsung syok dengan besarnya kekuatan Saitama. Lalu sesudah nyawanya sempat Saitama selamatkan, Genos jadi menaruh hormat pada Saitama dan langsung memandangnya sebagai seorang guru.

Singkat cerita, sesudah Saitama dengan sedikit enggan akhirnya menerima Genos sebagai murid, Genos mulai menyelidiki asal mula kekuatan Saitama. Genos curiga kalau Saitama sendiri kelihatannya tak benar-benar sadar dari mana kekuatannya berasal. (Genos tak percaya kalau Saitama menjadi kuat karena melakukan push up 100 kali, squat 100 kali, sit up 100 kali, serta lari 10 km setiap hari, dengan ditambah makan yang benar serta sama sekali tak memakai AC baik di musim panas maupun musim dingin… selama tiga tahun sampai botak.)

Lalu seiring dengan itu, Saitama juga jadi mengetahui bahwa dirinya selama ini tak terkenal mungkin karena tak pernah mendaftar ke Asosiasi Pahlawan, yang menaungi para pahlawan di seluruh dunia. Sesudah Saitama dan Genos sepakat untuk mendaftar ke Asosiasi Pahlawan bersama-sama (salah satunya bagi Saitama karena alasan ekonomi), barulah sedikit demi sedikit orang-orang mulai menaruh perhatian terhadap siapa Saitama. Sekalipun, kebanyakan orang masih sulit mempercayai besarnya kekuatan yang dimilikinya.

Tinju yang Membara

Di dunia One Punch Man, ceritanya sering sekali terjadi bencana-bencana berskala besar yang disebabkan oleh monster, bencana alam, organisasi-organisasi kejahatan dsb. Saking seringnya kehancuran terjadi (monster-monster seakan bisa muncul dari mana saja, mulai dari makhluk-makhluk bawah tanah sampai orang yang kebanyakan makan kepiting), kota-kota dibuat sedemikian rupa agar dapat dibangun kembali secara cepat, dan tiap-tiap kota (yang ukurannya memang besar) akhirnya dinamai hanya dengan huruf. (Seperti Z City di mana Saitama tinggal, dengan A City sebagai pusat pemerintahan.)

Di awal mungkin tak begitu terasa, tapi satu alasan yang membuat anime One Punch Man benar-benar bagus adalah pemaparan dunianya ini. Berbeda dari manganya, yang di dalamnya kadang terasa kalau Saitama menang karena ‘plotnya mengharuskan dia menang,’ versi animenya menurutku berhasil menggambarkan kekuatannya lebih baik dengan mengkontraskan lebih jelas dampak yang diberikannya terhadap alam sekitar. Jadi kadang ada pemandangan keseharian yang agak dipanjangkan, yang baru kemudian disorot kembali sesudah suatu adegan aksi terjadi. Atau pada bagaimana saat ada pertarungan dalam kecepatan tinggi, si musuh berlari dengan meraung-raung sementara Saitama dengan muka datar ditampilkan cukup hanya berjalan cepat. Lalu perhatian pada kesunyian lingkungan, pergerakan awan dan angin, dan sebagainya. Kemudian ada sense of scale yang benar-benar dijaga dengan ditampilkan jelas gitu, dengan kehadiran musuh-musuh berukuran kolosal, yang setiap momen pertarungannya ditampilkan secara padat.

Dengan kata lain, One Punch Man menghadirkan adegan-adegan aksi keren yang terus terang, sudah lama sekali enggak kelihatan dalam bentuk anime. Kau tahu, jenis-jenis adegan aksi yang bikin kau semangat untuk mengungkapkan detilnya ke orang lain.

Selebihnya, para karakternya memang menarik. Selain karena desain yang keren, ada  pesan tersirat yang benar-benar dalam yang sebenarnya seri ini punya. Ringkasnya, tentang melakukan suatu perbuatan baik tanpa pamrih serta untuk tidak menjadi congkak dengan apa-apa yang telah didapatkan.

Selain Saitama dan Genos, beberapa karakter menonjol lain seperti Onsoku no Sonic, seorang ninja modern dengan kecepatan tinggi yang memandang Saitama sebagai rival, Mumen Rider yang membuat simpati dengan sikap pantang menyerah dan sepedanya, serta Tatsumaki yang memang menarik seandainya benar ditempatkan dalam posisi heroine (karena faktor cute-nya).

Faktor lainnya lagi… mungkin lagu pembukanya yang dibawakan JAM Project kali ya? Mereka dari dulu memang dikenal sering membawakan lagu-lagu mereka dengan penuh semangat (biasanya untuk anime-anime mecha). Tapi lewat lagu pembuka “The Hero!! ~Ikareru Ken ni Honō o Tsukero~”, menurutku mereka benar-benar melampaui karya-karya mereka yang terdahulu. Sebelumnya aku sering mikir kalau saking kerennya lagu-lagu JAM Project, jarang ada studio yang bisa membuat animasi pembuka yang mengimbangi. Tapi Madhouse berhasil di sini dengan menciptakan suatu animasi pembuka yang benar-benar keren. (Lalu mereka mengkontraskannya di akhir episode dengan lagu penutup yang benar-benar tenang.)

(Kalau kalian penggemar baru JAM Project, beberapa lagu mereka yang jadi favoritku antara lain “HEATS” dari Getter Robo Armageddon, “Savior in the Dark” dari seri GARO, “Stormbringer” dari Koutetsuhin Jeeg, dan “Break Out” dari Super Robot Wars OG: The Divine Wars.)

Akhir kata, aspek teknis dan eksekusi seri ini benar-benar bagus.

Ceritanya diakhiri dengan bagaimana Saitama akhirnya menemukan lawan yang tahan menerima kekuatan satu pukulannya, dengan keselamatan seisi dunia sebagai taruhan pertarungan mereka. Yea, ceritanya belum bisa dibilang tuntas. Masih ada teka-teki yang menggantung. Tapi dengan visi eksekusi sebagus ini, kurasa orang bakal berminat untuk membuat kelanjutannya.

Yah, mari kita berdoa saja.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

26/10/2015

OverLord

Selamat malam, semua. (Walau pas ini kutulis, hari masih siang sih.)

Bahasan kita kali ini adalah OverLord.

Sebagaimana yang mungkin sudah diketahui, OverLord diangkat dari seri light novel berjudul sama karangan Maruyama Kugane, yang semula diserialisasikan online, sebelum kemudian diterbitkan Enterbrain dengan ilustrasi bernuansa gelap dan sangat apik buatan so-bin. Anime ini cukup sukses pada musim panas lalu karena secara nyata berhasil mendongkrak penjualan seri novelnya. Produksinya dilakukan studio Madhouse, dengan Itou Naoyuki yang berperan sebagai sutradara, naskah yang dipenai Sugawara Yukie, serta musik yang ditangani Katayama Shuuji dari Team-MAX.

Tayang satu cour pada Juli-September 2015 lalu, anime ini memiliki jumlah episode sebanyak 13.

Perpisahan Sesudah 12 Tahun

Pembahasan kali ini kita mulai dengan pemaparan sebuah urban legend.

Saudara-saudara sekalian, pernahkah (*diucapkan dengan nada suara rendah*) Anda mendengar tentang Yggdrasil?

Di tahun 2126, Yggdrasil menjadi DMMORPG yang sangat terkenal karena cakupan kustomisasi karakternya, yang sampai memungkinkan para pemainnya untuk merancang konten orisinil mereka sendiri. Meski sempat berjaya, sayangnya ketenarannya perlahan tergeser sesudah 12 tahun. Salah satu yang tersisa dari kejayaannya adalah satu guild legendaris bernama Ainz Ooal Gown yang dahulu pernah dikenal ke seantero dunia…

Uh. Oke.

Intinya, kisah yang sekilas berkesan horor ini dibuka di tengah malam ketika layanan Yggdrasil akan dihentikan.

Pemimpin Ainz Ooal Gown—sebuah guild yang mengkhususkan anggota-anggota yang tidak berwujud manusia dan sudah bekerja—adalah seorang pemain yang menggunakan avatar lich bernama Momonga. Di kehidupan nyata, Momonga adalah seorang pria dewasa muda yang hidup tanpa kerabat. Lalu dirinya merasa berat merelakan berakhirnya layanan Yggdrasil, karena di dunia Yggdrasil inilah, tepatnya di guild Ainz Ooal Gown, semua persahabatan dan hubungan sosial yang pernah dibangunnya itu ada.

Momonga ingin bisa bertahan untuk tetap login sampai detik-detik terakhir layanan permainan virtual tersebut. Sekalipun dirinya tak ditemani siapa-siapa. Sekalipun juga sebagian besar kawan se-guild-nya dulu tak memenuhi undangannya untuk berkumpul untuk yang terakhir kali.

Dan sampai akhir… Momonga ternyata tak pernah logout.

Sesudah tengah malam berlalu, Momonga terus tertahan dalam wujud tengkorak lich-nya, bahkan sampai sesudah layanan Yggdrasil berakhir. Kebingungan, Momonga kemudian menyadari kalau entah bagaimana, dirinya—bersama seisi benteng sekaligus markas Ainz Ooal Gown, Makam Besar Nazarick—ternyata telah ‘berpindah’ ke sebuah dunia lain, yang sekilas memiliki elemen-elemen dunia Yggdrasil, namun ternyata adalah dunia yang asing sama sekali.

Elemen-elemen permainan, seperti sistem untuk memanggil GM atau membuka menu, sudah tak lagi ada (walau anehnya, sebagian konsepnya seperti dipahami). Momonga benar-benar sudah berada di dunia lain, serta bukan lagi sebagai manusia, melainkan sosok tengkorak penyihir lich, dan memiliki semua kesaktian dan harta karun yang karakternya dulu punyai semasa Yggdrasil masih merupakan permainan.

Menyadari bahwa tak ada lagi yang benar-benar bisa dilakukannya tentang ini, Momonga memutuskan memberi makna atas kenangannya bersama kawan-kawan lamanya dengan memimpin Ainz Ooal Gown untuk menanamkan jejak mereka di dunia.

Para Pegawai Baru

Apa yang membedakan OverLord dari seri-seri sejenis tentang ‘dunia game’ lainnya terutama adalah fokusnya terhadap guild-nya.

Ceritanya, di samping mendesain Makam Besar Nazarick, Momonga dan kawan-kawannya juga merancang berbagai NPC (non-player character, karakter-karakter yang tidak dimainkan manusia) yang mereka kemudian jadikan ‘penghuni’ markas tersebut. Lalu entah bagaimana, para NPC—yang telah mereka rancang lengkap bersama cerita latar, sifat, serta kekuatan dan kemampuan masing-masing tersebut—tahu-tahu Momonga dapati telah ‘hidup’ sebagai makhluk-makhluk nyata sesudah dunia berpindah. Kesemuanya tidak lagi berperilaku mengikuti suatu set aturan yang telah ‘diprogramkan’ pada mereka. Kesemuanya kini hidup dengan kepribadian mereka masing-masing dan dengan sangat setia memandang Momonga sebagai pemimpin mereka, yang mereka pandang sebagai ‘sosok agung’ terakhir yang masih tersisa sesudah kawan-kawannya yang lain pergi.

Interaksi Momonga—yang kini menggunakan nama Ainz Ooal Gown untuk dirinya sendiri—dengan para pengikut barunya tersebut menjadi salah satu daya tarik seri ini. Sebab di awal cerita, Momonga dikisahkan hanya ‘berpura-pura’ berwibawa di depan mereka, karena curiga apakah mereka benar-benar ada di pihaknya atau bukan.

…Alasannya agak rumit. Singkatnya, karena sebagian besar penghuni Nazarick adalah makhluk-makhluk monster yang memiliki kebencian terhadap manusia. Sebab salah satu aturan yang Momonga dkk terapkan bagi guild mereka dulu adalah bahwa yang boleh bergabung hanya mereka yang menggunakan avatar non-manusia.

Terlepas dari itu, sebagian pengikut yang menonjol antara lain:

  • Albedo; pengawas seluruh Penjaga Lantai di Nazarick, sekaligus sosok terkuat kedua sesudah Momonga, yang berwujud seorang perempuan sangat cantik dengan sepasang sayap malaikat dan tanduk. Menjelang berakhirnya Yggdrasil, Momonga sedikit mengubah informasi latar belakang Albedo karena terkejut saat membaca… apa yang tertera di sana. Hal ini kemudian Ainz sesali karena berakibat pada sangat tergila-gilanya Albedo terhadapnya, sampai ke taraf dirinya bisa sangat mudah murka untuk segala yang dilihatnya sebagai hinaan terhadap Ainz, baik yang nyata atau tidak.
  • Shalltear Bloodfallen; Penjaga Lantai untuk tiga lantai pertama Nazarick, seorang vampir perempuan dalam riasan goth loli yang juga jatuh cinta pada Momonga/Ainz, memiliki kekuatan setara Albedo, dan menjadi saingan utama Albedo dalam meraih perhatiannya.
  • Cocytus; Penjaga Lantai untuk lantai kelima Nazarick, berwujud sesosok makhluk serangga besar dengan kekuatan es. Memiliki kepribadian sebagai petarung dan menghargai siapapun yang berusaha keras.
  • Demiurge; Penjaga untuk lantai ketujuh Nazarick, sesosok iblis necis yang mengenakan kacamata. Diberi kewenangan untuk mengatur strategi pertahanan Nazarick, dirinya sangat cerdas, dan sebenarnya yang paling kejam di antara semua pengikut yang ada. Demiurge selalu berusaha memahami maksud sesungguhnya dari tindakan-tindakan Ainz, dan karenanya Ainz sering bersikap waspada terhadapnya.
  • Sebas Tian; kepala pelayan yang sekaligus menjadi Penjaga lantai kesepuluh Nazarick. Berwujud seorang lelaki tua berpenampilan sangat rapi, yang sebenarnya adalah spesies dragonoid. Spesialisasinya adalah pertarungan tangan kosong. Dirinya punya rasa keadilan yang tinggi, dan tidak suka apabila para Penjaga lain dengan seenaknya membunuhi manusia. Sebas juga yang memimpin tim maid tempur Pleiades yang bekerja di bawahnya.
  • Aura Bella Fiora dan Mare Bello Fiore; sepasang anak kembar yang menjadi Penjaga lantai keenam Nazarick. Aura yang perempuan bersifat tomboi, dengan kekuatan untuk menjinakkan makhluk-makhluk liar. Sedangkan Mare yang lelaki lebih pemalu dan feminin (dirinya seorang karakter trap), dengan kemampuan sihir druid yang memungkinkannya mengubah bentang alam. Keduanya sama-sama adalah dark elf, dan dapat bertindak kejam apabila perlu.
  • Narberal Gamma; salah satu dari Pleiades, seorang doppelganger. Dalam perkembangan cerita, Ainz memilihnya sebagai partner dalam penyamaran mereka sebagai petualang karena tampilan luarnya yang menyerupai manusia. Tapi Ainz agak salah memperhitungkan besarnya antipati yang Nabe miliki terhadap manusia.
  • Yuri Alpha; salah satu dari Pleiades, sekaligus wakil Sebas yang dihormati para bawahannya. Sifatnya agak mirip Sebas dengan rasa keadilannya yang tinggi dan keenggannannya untuk membantai manusia.
  • Lupusregina Beta; salah satu dari Pleiades, yang wujud aslinya werewolf. Tampilan luarnya sangat ramah, meski aslinya dirinya kejam. Tampil menonjol pada episode terakhir sehubungan tugas khusus yang Ainz berikan kepadanya.
  • CZ2128 Delta; salah satu dari Pleiades, yang menonjol di antara yang lain karena sebenarnya merupakan automaton yang pendiam dan tak beremosi. Diceritakan kalau dirinya suka hal-hal yang imut.
  • Solution Epsilon; salah satu dari Pleiades, yang wujud aslinya adalah slime yang dapat menyerap apapun ke dalam dirinya.
  • Entoma Vasilissa Zeta; salah satu dari Pleiades, yang sebenarnya adalah arachnid yang suka memangsa manusia.
  • Pandora’s Actor; Penjaga ruang harta Nazarick sekaligus satu-satunya NPC yang didesain Momonga sendiri (dengan kemampuan gambarnya yang pas-pasan), yang memiliki kemampuan untuk menduplikasi semua penampilan dan keterampilan siapapun yang pernah dilihatnya. Tampilan dan sikapnya yang berlebihan membuat Ainz malu. Tapi di sisi lain, Ainz juga tahu bahwa dirinya merupakan pengikut yang paling akan bisa dipercayainya di Nazarick.

Kembalikan Masa Mudaku

Sebelum animenya keluar, aku sempat membaca beberapa bab dari terjemahan versi novelnya. Daya tariknya tak langsung kelihatan di awal. Lalu butuh waktu untuk benar-benar bisa menikmatinya. Tapi seperti kebanyakan seri-seri sejenis ini, sesudah kau berhasil ‘masuk’, kau bakal lumayan dibikin penasaran dengan kelanjutannya.

Sama seperti novelnya, melihat kesuksesan animenya, kurasa seri ini termasuk salah satu yang paling menghibur pada musim lalu. Takkan cocok dengan sebagian orang sih. Kembali, semua tergantung pada apa kau bisa ‘masuk’ apa enggak. Tapi tingkat kepopuleran yang seri ini raih membuatnya bisa dibilang termasuk yang berhasil.

Seri ini seriusan termasuk yang menghibur. Selama tayang, aku pribadi cukup dibuat penasaran dengan kelanjutannya. Perkembangan karakternya tak banyak, tapi mesti diakui karakter-karakternya penuh warna. Lalu meski ada komedinya, ceritanya punya suatu nuansa gelap yang selalu membayang, dengan perkembangan yang kadang bisa sadis dan kejam.

Padahal kalau bicara soal teknis, OverLord tak benar-benar menonjol. Kualitas animasinya termasuk standar, apalagi untuk ukuran keluaran Madhouse. Penggarapan ceritanya juga terasa aneh di beberapa bagian. Tapi para pembuatnya berhasil memaksimalkan daya tariknya, terutama dengan kualitas audio yang benar-benar pas.

Aku sebenarnya sempat mendengar rumor menarik tentang ini sih.

Kabarnya, pengajuan proposal produksi anime untuk OverLord berlangsung benar-benar dadakan menjelang penghujung 2014 lalu. Kelihatannya ini seri yang pembuatan animenya agak dikebut. Indikasinya adalah adaptasi manganya yang dibuat Oushio Satoshi dan Miyama Hugin baru mulai berjalan pada November 2014. Ini hal yang enggak biasa untuk seri yang mulai dipromosiikan ke banyak media.

Terlepas dari kemungkinan adanya isu internal, ada dugaan kalau pengadaptasian anime OverLord sebenarnya menunggu waktu yang ‘pas’ agar tak sampai saingan dengan seri-seri sejenisnya. Hasilnya, OverLord tayang tak lama sesudah season kedua Log Horizon berakhir. Lalu pas penayangannya usai, langsung keluar berita tentang produksi film layar lebar Sword Art Online dan anime TV baru untuk Accel World, yang bisa menjadi ancaman hype baru di kancah pangsa pasarnya yang ditargetkannya. Jadi kurasa di akhir para produsernya mengejar waktu yang pas dan berhasil menuai hasilnya.

Raja Bijak di Tengah Hutan

Anime OverLord mengadaptasi kurang lebih cerita dari tiga buku pertamanya.

Babak awal menceritakan berpindahnya Nazarick dan bagaimana Momonga harus mengambil alih keadaan dan mengkonsolidasikan kekuasaannya, dan bagaimana ia pertama mengetahui soal ‘standar’ kekuatan di dunia dan bagaimana jejak-jejak Yggdrasil masih tersisa. Bagian kedua menceritakan awal penyamarannya bersama Nabe (dengan menggunakan nama samaran Momon), demi menemukan cara efektif untuk mengabadikan nama Ainz Ooal Gown. Lalu bagian ketiga yang menjadi klimaks anime ini mengetengahkan bagaimana ia harus berhadapan dengan Shalltear, yang entah bagaimana dan karena apa mengkhianati mereka.

Pengadaptasiannya lumayan bagus, dengan struktur cerita padat dan tak terlampau terasa tergesa. Cuma kadang seperti ada beberapa adegan penjelasan yang terasa dilompat.

Daripada tema ‘penjelajahan dunia’ seperti yang biasa diangkat seri-seri sejenisnya, anime ini lebih berfokus pada hubungan dan interaksi antara karakter-karakter utamanya. Porsi pemaparan dunianya dalam skala kecil masih lumayan sih. Lalu pas sampai di akhir cerita, rasanya seperti kita hanya baru diberitahu segelintir tentang kekuatan-kekuatan besar yang sedang bermain di dunia.

Ditampilkan ada dua sisi Momonga/Ainz di cerita ini, yaitu sisi eskternal berwibawa yang ia perlihatkan kepada orang-orang di sekelilingnya, lalu sisi monolog internalnya yang terkesan culun dan kadang penuh keraguan. Dua sisi ini menjadi daya tarik lain karena wujud lich yang Momonga miliki telah membuatnya punya hidup abadi, tak lagi memerlukan tidur, serta telah mensirnakan hatinya sedemikian rupa sehingga ia tak lagi punya keengganan untuk beraksi secara ‘kejam’ apabila perlu. Ditambah dengan level tinggi serta kekuatan sihir dahsyat yang ia punya, Momonga telah menjadi eksistensi yang terbilang imba. Tapi dirinya pun tetap sering disusahkan soal urusan hubungan antar orang.

Kayak kebanyakan orang, yang sempat membuatku terpikat pada OverLord adalah nuansa gelap yang dimilikinya (di samping kecantikan, perhatian, dan ke-yandere-an Albedo). Hasil akhirnya, meski ‘mencapai target’, sebenarnya agak kurang memuaskan di beberapa bagian sih. Tapi ini benar-benar termasuk seri yang berkesan karena enggak banyak seri lain yang menyerupainya.

Belum lama ini ada yang menanyakan seri-seri yang mirip Mahouka Koukou no Rettousei itu misalnya apa. Lalu setelah kupikirkan sekarang, yang mengangkat tema soal kesensitifan hubungan antar orang yang aku tahu kayak di Mahouka paling cuma OverLord. Tapi itupun dengan cara yang lumayan beda.

Akhir kata, kurasa ini bukan jenis seri yang biasanya kalian cari. Tapi ini lebih kayak seri yang tahu-tahu muncul di depanmu, menyeruak masuk, dan meraih perhatianmu entah gimana. Didukung kualitas presentasi yang lumayan, terutama soundtrack yang keren, mungkin akan ada sesuatu yang kalian temukan dengan memperhatikan ini.

Bagaimanapun, Clementine merupakan salah satu karakter antagonis paling berkesan di anime manapun yang pernah kulihat.

Ehem.

Demikian Saudara-saudara. Pelajaran yang bisa kita ambil kali ini adalah jangan main game sampai terlalu malam. Bisa-bisa besok harinya kau tak masuk kerja.

Sampai kita berjumpa pada kesempatan berikutnya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B; Audio: A-; Perkembangan B; Eksekusi B; Kepuasan Akhir: B+

30/04/2015

Yojou-Han Shinwa Taikei

Aku agak lupa gimana persisnya. Tapi aku sempat pernah mikir, kalau suatu hari nanti aku jatuh cinta lagi, aku ingin jatuh cinta kayak di Yojou-Han Shinwa Taikei (judulnya kurang lebih berarti: ‘catatan kronologi mitologi empat setengah tatami’; tatami—buat kalian yang enggak tahu—adalah tikar anyaman bambu Jepang berbentuk persegi panjang yang sering digunakan sebagai satuan ukur luas kamar).

Juga dikenal dengan judul The Tatami Galaxy (‘galaksi tatami’), ini seri anime keluaran tahun 2010 yang sempat aku lewatkan pada masa itu. Jumlahnya episodenya 11. Produksinya dilakukan oleh studio Madhouse. Penyutradaraannya secara mencolok dilakukan oleh Yuasa Masaaki, yang punya ciri khas gaya animasi tangan 2D yang mulus. (Belum lama ini beliau juga yang menyutradarai seri anime Ping Pong: The Animation.)

Anime ini diangkat dari seri novel buatan Morimi Tomohiko yang semula diterbitkan oleh Ota Shuppan pada tahun 2004, dan kemudian diterbitkan ulang oleh Kadokawa Shoten dalam bentuk bunko pada tahun 2008.

Kalau kalian merasa pernah dengar nama Morimi-sensei, itu karena beliau adalah pengarang asli novel Uchouten Kazoku yang dianimasikan P.A. Works beberapa waktu lalu. Seperti Uchouten Kazoku, seri ini juga sepenuhnya berlatar di Kyoto, dan menampilkan berbagai tempat wisata bersejarah yang ada di sana.

“Karena kamu dan aku sama-sama terhubung oleh benang hitam takdir!”

Sebenarnya, The Tatami Galaxy termasuk seri anime aneh yang mengangkat tema yang agak-agak enggak jelas. Aku memang menyinggung soal cinta. Tapi sebagian besar ceritanya sebenarnya lebih tentang drama komedi kehidupan yang mengangkat tema-tema soal keberadaan (uh, eksistensialisme) dengan ditambah bumbu-bumbu supernatural.

Garis besarnya kira-kira begini.

Si tokoh utama (yang hanya disebut ‘aku’) adalah seorang mahasiswa tingkat tiga(?) di Universitas Kyoto(?) yang berkacamata dan berpembawaan agak-agak lembek. Lalu seri Yojou-Han Shinwa Taikei adalah tentang bagaimana si tokoh utama ini—di tengah kamar apartemennya yang berukuran empat setengah tatami—seakan mengenang kembali tahun-tahun awal masa kuliahnya dan mulai memandangnya sebagai waktu terbuang.

Cerita dibuka pada suatu malam, di suatu warung ramen misterius bernama Neko Ramen (yang sempat dicurigai memakai daging kucing dalam masakan mereka) yang kadang kali buka pada hari-hari tertentu di belakang Kuil Shimogamo. Lalu di situ, kita langsung sadar kalau ada sesuatu yang aneh dengan situasi si tokoh utama. Karena di sana si tokoh utama berpapasan dengan orang yang mengaku sebagai ‘dewa perjodohan’ bernama Kamotaketsununokami atau Kamotaketsunominokamo (agak enggak jelas yang mana karena dia menyebutnya cepat, dan ditambah sebenernya langsung kelihatan meragukan apa orang ini beneran serius apa enggak—mohon diinget bahwa Jepang adalah negeri dengan banyak dewa.).

Tapi orang yang ngaku dewa ini, yang jadi sesama pelanggan di warung ramen tersebut, kemudian menyebut satu nama yang langsung dikenal si tokoh utama: Akashi.

Akashi adalah seorang gadis pendiam dengan mulut blak-blakan yang jadi adik angkatan tokoh utama dari jurusan berbeda, yang ia tahu dikenalnya karena kegiatan-kegiatan klub yang diikutinya di kampus. Si dewa ini seperti sedang mempertimbangkan soal hubungan si tokoh utama, Akashi, dengan seorang kenalan tokoh utama lain yang hanya disebut sebagai Ozu.

Gampangnya, si Ozu ini yang si tokoh utama anggap sebagai biang kerok semua masalahnya dalam dua tahun terakhir. Ozu adalah orang yang si tokoh utama sebut ‘saking banyaknya makan makanan instan sampai-sampai tampangnya jadi kayak siluman.’ Lalu untuk suatu alasan, si Ozu ini selalu sok akrab dan sok dekat dengan si tokoh utama, dan selalu di semua skenario kayak membawa-bawa masalah bagi si tokoh utama dalam dua tahun pertama kehidupan kuliahnya tanpa bisa si tokoh utama hindari.

Mochiguman dan Castella

Mulai dari sini, ceritanya semakin aneh.

Karena tak ingin mengenang kehidupan sekolah menengahnya yang terbatas pergaulannya, pas masuk dunia kuliah ‘yang penuh warna,’ si tokoh utama bertekad untuk bergabung dengan suatu kegiatan ekskul (circle), bertemu banyak orang, dan (mudah-mudahan) bertemu seorang gadis anggun berambut hitam pekat yang bisa menjadi pujaan hatinya.

Tapi gara-gara si Ozu ini (walau sebenarnya juga karena kepayahan si tokoh utama sendiri sih), kita kemudian tahu kalau si tokoh utama ini terlibat berbagai masalah. Lalu pada setiap titik di mana dia mulai menyesal dan putus asa, waktu entah gimana akan berputar dan mengulang kembali buat si tokoh utama. Sehingga segalanya kayak ke-reset dan dia kembali ke masa awal saat dia baru pertama masuk kuliah, dan berkesempatan mengambil pilihan ekskul yang beda.

Yojou-han Shinwa Taikei memaparkan gimana si tokoh utama secara berulangkali, baik secara sadar atau enggak (karena ingatannya jadi tersamar setiap kali ini terjadi), terus-terusan mengulang-ulang waktu karena keenggakpuasan pribadinya. Iterasinya berlangsung kira-kira seperti ini:

  • Circle Tenis “Cupid”
  • Circle Perfilman “Misogi”
  • Circle Bersepeda “Soleil”
  • ???
  • Circle Softball “Honwaka”
  • Circle Percakapan Bahasa Inggris “Joingurisshu”
  • Circle Asosiasi Hero Show
  • Circle Membaca “SEA” (tiga yang terakhir ini dia ikuti sekaligus)
  • ???

Tapi ternyata pilihan ekskul manapun yang dia ambil begitu masuk kuliah, selalu, selalu, selalu, dia berjumpa dengan Ozu yang kemudian membawanya ke dalam berbagai masalah.

Seiring perkembangan cerita, kita kemudian menyadari betapa anehnya keadaan di sekitar si tokoh utama. Ada sesuatu yang besar tengah terjadi. Lalu ada suatu hal gila yang si Ozu tengah rencanakan. Lalu petunjuk-petunjuk tentang semuanya secara tersamar bisa kita temukan lewat pilihan jalan hidup berbeda yang diambil si tokoh utama setiap kali dia mengulang waktu.

Keanehan-keanehan ini mencakup tapi tidak terbatas pada: sindikat pencuri sepeda, dinding yang dihiasi replika dari semua payudara yang pernah dipegang pemiliknya, sebuah love doll, korespondensi rahasia dengan seorang gadis anggun misterius yang (mungkin) berambut hitam, upaya sabotase antar individu dan ekskul, seorang peramal yang terus-terusan naikin harga di Jalan Kiyamachi, putri cantik dari sebuah produsen makanan, sampai ke sebuah organisasi rahasia yang berkembang jadi suatu aliran kepercayaan.

Lalu setiap kali pula, di tengah itu semua, si tokoh utama selalu bersimpangan jalan dengan Akashi, yang secara tersamar pula selalu mengingatkannya akan sebuah janji yang belum dipenuhinya.

Books, Moths, and Idealogue

Alasan aku dulu tertarik pada seri ini kenapa ya?

…Aku enggak begitu inget.

Seri ini lumayan cocok buatku pastinya sih. Lalu dengan penceritaannya yang aneh, lumayan berhasil membuatku mikir tentang beragam hal yang sebelumnya enggak pernah kupikir, dari berbagai sudut pandang yang enggak pernah kusangka juga. Kalau kalian pernah mengikuti drama di Uchouten Kazoku, mungkin kalian sudah ada bayangan soal tema yang diangkat seri ini kayak gimana. Cuma, yah, itu dia, seri ini beberapa kali lipat lebih aneh lagi.

Bicara secara teknis, terlepas dari warna-warnanya yang agak gelap dan suram, ada lumayan banyak hal konyol yang ada secara visual kalau kau mau memperhatikan. Anehnya, entah gimana caranya, semua desain karakter yang agak aneh ini enggak kontras dengan desain-desain karakternya yang relatif lebih normal. Ozu tampangnya beneran kayak siluman. Tapi dia enggak terlihat aneh kalau bersebelahan dengan Hanuki Ryouko yang seksi, misalnya. Lalu Higuchi Seitarou yang agak ‘besar’ wajahnya juga kelihatan bisa pas secara aneh kalau disandingkan dengan Hanuki. Walau soal keserasian ini yang paling aneh tetap adalah Johnny sih…

…Agak susah jelasinnya.

Yang pasti, sama kayak dengan kasus Ping Pong: The Animation (karena itu contoh yang paling gampang kuambil), bahkan dengan visualisasinya yang 2D, adegan-adegan dengan sedikit aksinya saat terjadi tetap mendebarkan untuk dilihat.

Soal audio, grup band Asian Kung Fu Generation membawakan lagu pembukanya yang berjudul “Maigo Ino to Ame no Beat.”

…Apa aku perlu komen lebih dari itu?

Tapi seriusan. Audionya terbilang bagus. Setiap episodenya yang dipenuhi kekonyolan selalu diakhiri perasaan mistis aneh setiap kali waktu berulang. Lalu walau mungkin ada yang ngerasa kalau penutupnya rada antiklimatik—dan emang kayak bikin kita berharap durasinya masih ada lebih—segala keanehan seri ini dan kerapian penyajiannya tetap menutupi segala kelemahannya.

Soal rekomendasi, sejujurnya, ini bukan seri yang akan aku rekomendasikan. Kurasa cuma jenis-jenis orang tertentu saja yang bakal suka seri macam ini. Enggak semua orang bakal bisa nangkep intinya gitu. Ceritanya secara umum memang konyol, walau ada suatu pesan berarti yang disampaikan tersamar di dalamnya. Tapi, yah, seri-seri yang disutradarai Yuasa-sensei memang kerap kayak gitu.

Buatku seenggaknya, ini salah satu seri paling berarti yang pernah kuikuti. Entahlah. Mungkin akunya juga yang suka tema-tema kayak gini. Atau mungkin juga karena aku penggemar AKFG.

Lalu alasan aku menulis tentangnya sekarang… ukh, mungkin karena aku sedang jatuh cinta lagi. Hahaha.

…Gimanapun, kita enggak boleh menunda-nunda keinginan kita untuk hidup di kehidupan kita sendiri.

Penilaian

Konsep: B+, Visual: A-; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A

11/11/2014

Mahouka Koukou no Rettousei

Sewaktu aku pertama masuk dunia kerja, aku tersadar kalau di dunia ini ada dua macam orang:

  1. Orang yang mengusahakan hasil kerja bagus;
  2. Orang yang mengusahakan pekerjaan enggak gagal.

(Lalu orang yang enggak mau kerja sama sekali. Tapi kita enggak usah bahas sampai sejauh itu.)

Dua macam orang di atas itu sekilas kedengarannya sama, tapi ada perbedaan lumayan mendasar antara keduanya. Yang satu berusaha menemukan batasan-batasan baru, mendobrak batasan-batasan lama, menginovasi, dan mencoba menggapai apa-apa yang sebelumnya tak terbayangkan. Sedangkan yang satunya, dia mencari cara untuk mastiin soal gimana caranya agar mereka enggak mungkin gagal.

Jadi yang satu pemberani, yang satu lebih cari aman—untuk kepentingan semua orang.

Tentu saja, perbedaan jenis pekerjaan akan berarti cocoknya buat orang yang berbeda juga.

Lalu pas aku menonton adaptasi anime dari Mahouka Koukou no Rettousei, atau juga dikenal dengan judul The Irregular at Magic High School, yang diproduksi studio Madhouse dan pertama ditayangkan pada musim semi tahun 2014, aku kembali teringat akan hal di atas.

Seri ini didasarkan pada seri light novel lumayan populer buah pena Satou Tsutomu yang diterbitkan oleh ASCII Media Works di bawah label Dengeki Bunko mereka. Seri ranobenya memiliki prestasi tersendiri karena menjadi seri web novel kedua sesudah Sword Art Online yang dikomersilkan dan diterbitkan secara resmi oleh Dengeki. Pada saat ini kutulis, seri novelnya telah mencapai buku ketiga belas.

Jumlah episode animenya sendiri secara keseluruhan adalah 26.

Irregular

Aku pernah membahas soal seri novelnya sebelumnya. Jadi bahasan kali ini takkan masuk terlalu mendalam ke soal cerita.

Mahouka pada dasarnya berlangsung di suatu masa depan alternatif sesudah ‘sihir’ ditemukan kembali dan dipelajari secara ilmiah pada abad kedua puluh satu. Ceritanya berlatar di Jepang, di dunia yang telah mengalami perubahan geopolitik besar-besaran sesudah Perang Dunia III yang berlangsung sampai beberapa dasawarsa, yang salah satu pemicunya adalah penemuan kembali sihir ini.

Fokus ceritanya ada pada kehidupan kakak beradik Shiba Tatsuya dan Shiba Miyuki, yang sama-sama baru mau memulai kehidupan SMA mereka.

Sedikit demi sedikit dipaparkan bahwa bahkan untuk ukuran sekolah sihir, Tatsuya dan Miyuki sama-sama bukan remaja SMA biasa. Keduanya sama-sama memiliki keterikatan dengan salah satu klan yang memiliki pengaruh terkuat di dunia sihir, yang membuat mereka tak lepas dari intrik dan perpolitikan yang ada di dalamnya. Tatsuya terutama, dengan kecerdasannya yang menonjol, sebenarnya telah menjadi salah satu figur terpenting di perusahaan produsen perlengkapan sihir terkemuka FLT yang dikelola ayah mereka. Lalu tanpa sepengetahuan umum, Tatsuya juga merupakan salah satu aset kemiliteran terpenting JSDF (pasukan bela diri Jepang), yang menempatkannya di tengah pusaran konflik kepentingan antara berbagai pihak.

Adaptasi anime ini merangkum buku 1 sampai 7, dari tiga story arc pertama seri ini. Mulai dari Enrollment yang mengetengahkan masa awal pendaftaran Tatsuya dan Miyuki ke SMA, hingga Yokohama Disturbance yang mengetengahkan insiden terorisme ke Kompetisi Thesis Sembilan Sekolah.

Sebelumnya, aku pernah menyebutkan kalau Mahouka mungkin salah satu LN yang paling susah diadaptasi ke bentuk anime. Di samping karena beberapa… elemen cerita dan tema yang diangkatnya, ada pemaparan dunia yang terinci di sini. Maksudnya, aspek world building, yang perlu dipaparkan secara optimal agar daya tariknya kena.

Hal inilah terutama yang membuatnya susah.

Sistem sihir yang diangkat di Mahouka merupakan salah satu sistem yang paling menarik dari yang pernah kutahu. Jadi itu kayak, dengan ide bahwa ‘sihir’ merupakan kemampuan untuk memecah suatu ‘fenomena’ di alam ke bentuk ‘data/informasi’ dan memanipulasinya, ada banyak aplikasi menarik darinya yang kemudian diangkat. Digabungkan dengan latar sekolahan, bumbu-bumbu ilmu bela diri, teknologi futuristis, serta intrik politik dan kemiliteran, ceritanya jadinya benar-benar menarik. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa disampaikan secara gampang.

Ditambah lagi ada… uh, beberapa alasan lain.

Dua di antaranya meliputi pertama, kedekatan agak ‘berlebih’ antara Tatsuya dan Miyuki, yang sama-sama berstatus kakak-beradik (walau sebenarnya ada alasan bagus untuk ini sih, yang terkait dengan misi pribadi mereka untuk bisa lepas dari jeratan keluarga mereka sendiri, tapi cara penyampaiannya terus terang aja memang enggak selalu baik). Keduanya adalah kondisi Tatsuya sendiri, yang karena suatu alasan, telah kehilangan sebagian besar emosinya, dan semata lebih banyak bertindak mengikuti logika. Ini menjadikan Tatsuya bisa terkesan seperti psikopat bagi sebagian orang, yang kalau dipikir, sebenarnya secara dingin memanipulasi perilaku orang-orang di sekelilingnya dalam kesehariannya. Ini yang bagi beberapa orang kayaknya bisa jadi suatu hal yang mengganggu.

Makanya, sewaktu aku pertama mendengar Mahouka bakal dianimasikan, aku terus terang saja lumayan skeptis. Madhouse adalah studio yang sudah cukup dikenal sih. Jadi, aku tak meragukan kalau kualitas produksinya tak akan buruk. Tapi apa hasilnya bakal bagus?

Makanya, aku lumayan kecewa saat mendapati kualitas presentasi seri ini enggak sebagus yang kuharapkan.

Harapanku sempat kembali naik begitu melihat lagu penutupnya, “Milleniaro” yang dibawakan Elisa. Itu lagu cinta yang mengalun secara lembut gitu, yang dibawakan dengan menampilkan Miyuki duduk di puncak reruntuhan perkotaan, sementara ada beberapa formasi Magic Sequence terbentuk di langit di atasnya. Penggambaran itu beneran keren. Itu jadi salah hal ‘kena’ yang anime Mahouka bawakan. Makanya, walau seri ini pada akhirnya enggak berakhir sebaik harapanku, aku enggak bisa benar-benar menyalahkan tim produksinya. Ada sebagian di antara mereka yang memang punya gambaran konsep cerita Mahouka itu sebenarnya tentang apa.

Cuma, yah, materi awalnya yang memang sesulit itu.

Magic Sequence

Bicara soal teknis, seperti yang sudah kubilang, visualnya agak mengecewakan. Bukan dalam artian buruk sih. Cuma seperti yang sudah kusinggung di atas, tim produksinya kelihatannya lebih banyak ke ‘cari aman’ ketimbang mencoba mengambil improvisasi atau intepretasi mereka sendiri. Beberapa kekurangannya meliputi: adaptasi desain karakter yang kurang baik (sehingga ada beberapa karakter yang bisa kelihatan ‘aneh’ bila muncul bersamaan dalam satu adegan), kecendrungan pemilihan warna yang terkesan agak monoton (apa ini kata yang tepat?), serta… apa ya satu lagi? Damn, aku enggak inget.

Tapi sisi baiknya, koreografi adegan-adegan aksinya masih termasuk keren. Cuma sayangnya, berhubung ceritanya kayak gitu, aksinya memang enggak benar-benar bisa dibilang banyak. Lalu bila dikaitkan dengan aspek sistem sihirnya, penonton awam yang belum akrab dengan novelnya mungkin akan agak kesulitan memahami apa persisnya yang sebenarnya terjadi.

Sedangkan dari segi audio, sebenarnya lumayan, dan bahkan termasuk di atas rata-rata. Namun dengan banyaknya karakter yang terlibat tapi tak dipaparkan lebih lanjut (seperti… kedua kakak lelaki Chiba Erika yang sebenarnya keren), serta cara eksekusinya yang mungkin perlu dikompromikan dengan jumlah episode, potensinya benar-benar kayak kurang tergali gitu. Kalau kau memperhatikan video untuk lagu penutup kedua, “Mirror”, mungkin kau bakal paham. Kau kayak masih bisa menikmati lagunya, tapi itu enggak lagi sepenuhnya kena ke kamu gitu. Padahal bisa, tapi jadinya enggak. Di paruh kedua seri ini banyak yang kerasa kayak gitu.

Jadi sayangnya, meski klimaks cerita cenderung naik mengingat Yokohama Disturbance merupakan salah satu bagian cerita Mahouka yang paling penuh aksi, kualitas seri ini secara umum sayangnya malah agak cenderung menurun.

Penceritaannya menurutku masih bisa jauh lebih baik lagi. Ini sesuatu yang argumentatif, berhubung penceritaan dalam novelnya juga enggak benar-benar bisa dibilang optimal. Tapi, yah, itu novel.

Akhir kata, ini seri yang direkomendasikan bagi mereka yang ingin menemukan sesuatu yang berbeda dan memang punya ketertarikan khusus terhadap ceritanya. Tapi buat peminat awam, hmmmm, entah ya?

Yah, ya sudahlah. Kita tetap mesti menghargai apa yang sudah ada. Good job, Madhouse! Seenggaknya kalian berhasil menganimasikan apa yang semula enggak mungkin dianimasiin ini ampe tuntas!

(Eh? Komentarku soal tokoh antagonisnya? Euh… yah, itu memang sesuatu yang agak kurang bahkan di versi novel aslinya.)

(Eh? Soal lanjutan ceritanya ke depan? Mmh, episode terakhir secara pas sudah ditutup di awal bagian cerita yang akan mengetengahkan masa lalu Tatsuya dan Miyuki dengan keluarga Yotsuba. Lalu selanjutnya akan ada perkembangan baru di dunia internasional tentang konsep demon yang muncul dari suatu eksperimen tertentu… Tapi nyahahaha, cerita di novelnya masih berlanjut kok! Jadi kayaknya masih bakal lama sampai ada konklusi jelas!)

(…Karakter favoritku tetap adalah Saegusa Mayumi. Argh, sudahlah!)

Penilaian

Konsep: B-; Visual: B-; Audio: B; Perkembangan: B+; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B-

03/07/2014

No Game No Life

Juni sudah berlalu. Sekarang sudah mau musim tayang baru lagi. Tapi kayak biasa, aku masih saja sibuk dan malas mengetik soal hal-hal baru.

Melihat lagi ke belakang, musim semi 2014 merupakan season yang menarik juga.

Serius, ada banyak judul anime bagus di musim kali ini.

Kalau aku mesti menunjuk salah satu di antara semua yang ada, menurutku No Game No Life (harfiahnya kira-kira berarti, ‘enggak ada permainan, enggak ada kehidupan’) menjadi seri yang paling menonjol.

Aku sebenarnya sudah cukup lama tahu soal NGNL. Pengarang seri novelnya yang asli, Kamiya Yuu, sebelumnya lebih dikenal sebagai ilustrator (terutama untuk Itsuka Tenma no Kuro Usagi karangan Kagami Takaya). Lalu kabarnya beliau mengalami cedera yang membuatnya ‘kurang sehat’ sehingga untuk sementara perlu libur dari menggambar. Lalu dari sana beliau mencoba menulis ide ceritanya sendiri yang sebelumnya dipersiapkan untuk manga. Tapi intinya, itu semua ternyata cuma alasan dan akhirnya beliau membuat ilustrasinya sendiri untuk versi novel seri ini, dan pada akhirnya juga, berhubung dia malas membuat adegan pertarungan, dibuatnya dunia yang di dalamnya tak ada adegan pertarungan sama sekali dsb dsb.

Tapi terlepas dari itu semua, ini seri yang kembali aslinya diterbitkan di bawah label MF Bunko J, yang saat ini kutulis sedang rajin mengeluarkan adaptasi anime dari buku-buku mereka. Jumlah total episodenya sebanyak 12 dan produksi animasinya dibuat oleh studio Madhouse.

(…Omong-omong, sori, enggak, aku enggak ngikutin Mekaku City Actors yang cukup di-hype sebelumnya. Aku ngerti kalau cerita dan deretan musik aslinya teramat bagus. Tapi sejak awal aku belum tertarik untuk tahu lebih jauh tentangnya saja.)

We are Mavericks

Singkat ceritanya sekali, berhubung ada lebih banyak dari ceritanya yang terlihat, NGNL dibuka dengan perkenalan terhadap kakak beradik Sora dan Shiro. Mereka kakak beradik yang cukup berbeda usianya dari satu sama lain. Sora sebagai si kakak cowok sulung berusia remaja, sementara Shiro sebagai adik perempuan yang berbadan mungil untuk usianya yang masih SD.

Mereka adalah pasangan gamer legendaris dalam segala macam bentuk permainan. Mereka dikenal dengan rekor mereka yang tak pernah kalah, sampai-sampai nama mereka telah menjadi urban legend. Tak banyak yang benar-benar diceritakan tentang latar belakang mereka pada awalnya sih. Keduanya disebut hanya dikenal secara luas sebagai “   “, dibaca Blank atau Kuuhaku (‘kosong, polos’), yang merupakan salah satu alternatif cara membaca nama mereka saat penulisannya digabungkan.

Walau demikian, pada kenyataannya… baik Sora maupun Shiro sama-sama adalah pasangan NEET dan hikkikomori yang kerjaannya hanya mengurung diri di rumah dan bermain game. Mereka telah sama-sama menyerah terhadap kehidupan nyata. Diimplikasikan bahwa keduanya sebenarnya adalah anak-anak teramat cerdas. Terutama Shiro, yang jelas-jelas mempunyai kemampuan kalkulasi dan analitis yang terbilang jauh melampaui kemampuan manusia normal. Tapi hal-hal buruk mereka alami dalam interaksi mereka dengan masyarakat dan akhirnya menjadikan mereka… uh, seperti demikian.

Intinya, mereka jadi saling bergantung terhadap satu sama lain. Seandainya mereka terpisahkan, mereka sama-sama akan mengalami nervous breakdown.

…Lalu suatu hari, mereka dikirimi email misterius yang menantangi mereka ke sebuah permainan catur lewat internet. Lalu mereka menang. Lalu tahu-tahu saja dari dalam kamar mereka, mereka tengah jatuh dari langit sesudah dipindahkan ke suatu dunia lain, oleh seorang anak misterius yang belakangan mereka ketahui bernama Tet.

Di dunia baru yang mereka datangi ini, yang namanya permainan akan menentukan dan bisa mempertaruhkan segala-galanya. Lalu Tet, yang menyebut dirinya sebagai dewa, mengatakan pada Sora dan Shiro kalau mungkin dunia inilah yang sebenarnya lebih pantas untuk mereka berdua.

“Padahal kamu cuma seorang Steph!”

Alkisah, pada zaman dahulu kala di dunia lain ini, ada banyak ras yang (kalau aku tak salah) masing-masing mewakili satu dewa, saling berseteru dan berperang dengan satu sama lain. Pembantaian dan pertumpahan darah besar-besaran secara berkelanjutan terus terjadi. Sampai Tet, sang dewa permainan, yang sebelumnya bersikap netral dalam konflik ini, menjadi satu-satunya yang masih tersisa sesudah para dewa lainnya saling mengalahkan satu sama lain. Tet pun akhirnya berkuasa dan mengambil tahta sebagai sang dewa tunggal.

Tet selanjutnya menerapkan 10 Aturan yang singkatnya menghapuskan segala bentuk kekerasan dari dunia ini—dalam artian, setiap makhluk takkan bisa berbuat kekerasan sekalipun mereka menginginkannya. Segala konflik harus diselesaikan lewat permainan, di mana kedua belah pihak sama-sama mempertaruhkan hal berharga mereka masing-masing yang keduanya nilai setara.

Apa yang dipertaruhkan?

Bisa apa saja asal kedua pihak sepakat.

Apa permainan yang dimainkan?

Bisa apa saja—secara harfiah benar-benar apa saja—asal kedua belah pihak sepakat, walau ada ketentuan bahwa pihak yang ditantang berhak untuk menentukan permainan apa yang akan dimainkan.

Lalu oh, segala bentuk kecurangan diperbolehkan asalkan tidak ketahuan.

Ajaibnya, hal-hal tak konkrit seperti ‘tindakan’ dan ‘janji’ dan bahkan ‘perasaan’ dan ‘ingatan’ pun bisa dipertaruhkan. Semuanya menjadi mungkin berkat kuasa ajaib yang ’10 Perintah’ miliki, yang dianggap berlaku begitu kedua belah peserta permainan menyetujui syarat dan ketentuan permainan melalui pernyataan “Aschente!” Karena itu, bila kau sudah janji ngasih celana dalam yang lagi kau pakai ke lawanmu bila kalah permainan misalnya, saat kau kalah, ada suatu kuasa misterius yang bakal menyebabkanmu melakukannya seenggan apapun kamu.

Di dunia ajaib yang dihuni oleh ras-ras ‘cerdas’ selain manusia ini, seperti para Old Deus yang menjadi sosok-sosok dewa lama, kaum elf yang menguasai sihir, ras manusia bersayap Fyugel yang teramat haus ilmu pengetahuan, sampai ke kaum separuh binatang yang membentuk negeri dengan luas terbesar di dunia ini; masing-masing negara berseteru melawan satu sama lain memperebutkan pengaruh dalam permainan. Namun umat manusia, yang di dunia ini dikenal sebagai Imanity, karena memiliki fisik lebih lemah, dan tak memiliki suatu keistimewaan khas seperti yang dimiliki ras-ras lainnya, kini terdesak sebagai ras yang paling tertindas dengan peringkat paling bawah. Mereka menjadi bulan-bulanan ras-ras lain. Mereka memiliki wilayah kekuasaan yang paling kecil (walaupun sebelumnya luas), serta kini terpusat hanya di satu negara, yaitu Elkia.

Singkat cerita, raja Elkia baru saja wafat. Dan beliau meninggalkan wasiat agar siapa penerusnya ditentukan lewat permainan.

Dan tentu saja, Kuuhaku tak pernah mundur dari tantangan, serta tak kalah dalam permainan apapun.

Smart Phone-nya Berguna

Terlepas dari kesan awalnya yang mungkin bagi sebagian orang agak muluk-muluk, kesan pertamaku terhadap NGNL sendiri adalah perasaan terkhianati.

Aku merasa terkhianati!

Anime yang paling kuantisipasi di musim ini sebenarnya adalah Mahouka Koukou no Rettousei, yang adaptasi animasinya kebetulan dibuat oleh studio yang sama. Aku mengharapkan anime Mahouka dibuat dengan benar-benar bagus, agar seenggaknya enggak kalah dari anime Sword Art Online yang keluar tahun lalu. Tapi saat pertama aku melihat episode satu NGNL, jelas terlihat betapa sebagian besar sumber daya studio ini malah lebih dicurahkan ke anime ini ketimbang Mahouka!

Wajar saja, aku kecewa. Aku hampir-hampir merasa marah, mengingat statusku sebagai penggemar novel-novel Mahouka, sementara seri NGNL buatku saat itu cuma satu judul yang premisnya lumayan tapi enggak aku minati-minati amat. Tapi makin ke sini, makin aku pahami landasan keputusan Madhouse. Selain karena jumlah episodenya yang lebih sedikit, NGNL memang punya potensi daya tarik visual yang jauh lebih besar sih.

Agak susah menjelaskannya. Tapi aku ngerti gimana NGNL dipandang sebagai judul yang seru untuk digarap.

Mulai dari penggambaran dunia fantasi Disboard yang unik dengan pemandangan bidak-bidak catur raksasanya di kejauhan, pilihan filter warna-warnanya yang terang yang teramat sesuai dengan desain khas para karakternya, dan bahkan sampai ke lagu pembuka ‘this game’ yang sangat mengesankan yang dibawakan Suzuki Konomi. Kualitas presentasi dan eksekusinya bahkan di episode satu saja sudah saking kerennya sampai aku lupa untuk marah.

Aku sebutkan saja di awal: NGNL merupakan salah satu anime yang kualitasnya begitu memukau dari awal hingga akhir. Terlepas dari apakah kau bisa nyaman dengan premis ceritanya atau enggak, ini tetap salah satu anime paling luar biasa dengan kualitas akhir enggak keduga yang aku tahu.

Dan yeah, karena itu bagi sejumlah orang, NGNL mutlak memenangkan persaingan sebagai anime favorit mereka untuk musim ini.

Visualnya keren (ada beberapa orang yang awalnya mungkin ngerasa kurang cocok dengan gaya desain karakter Kamiya-sensei, tapi seriusan di animenya ini cocok dan hasilnya keren). Karakter-karakternya berkesan. Ada banyak parodi dan referensi enggak disangka yang bikin ngakak terhadap seri-seri lain yang sudah ternama. Memang agak teramat berat di sisi fanservice dan aspek keotakuannya sih, tapi ini diimbangi dengan kualitas cerita dan presentasi yang cukup jauh di atas rata-rata.

Eh? Kesanku soal ceritanya sendiri?

Ugh, apa iya ceritanya penting? Walau memang seru untuk diikuti sih. Memandang lagi ke belakang, aku memang puas terhadap banyak hal. Pandangan Sora dan Shiro terhadap dunia nyata sebagai kusoge lumayan thought provoking. Lalu untuk beberapa lama aku sempat merenung apakah seri ini hanya sebuah cerita tentang eskapisme belaka atau sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

Lalu… memang mesti diakui, ada banyak sekali kejutan yang berlangsung dalam ceritanya.

Banyak sekali.

Yah, pada akhirnya terserah pada masing-masing orang untuk memandangnya bagaimana sih. Tapi buatku sendiri aku coba ambil sisi terbaiknya.

Terutama dalam soal fokus dan berpikir sistematis dalam mengatasi masalah. Dalam soal kemauan untuk berusaha sendiri tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Dalam soal bagaimana mempertahankan agar sebuah cerita bisa tetap all ages dengan cara-cara sangat licik. Lalu soal percaya pada diri sendiri dan percaya bahwa tak ada pemecahan yang benar-benar tidak mungkin. Lalu juga soal betapa berharganya ilmu pengetahuan…

Terlepas dari itu, sutradaranya yang berhasil mengeluarkan segala yang terbaik dari seri novelnya adalah Ishizuka Atsuko yang namanya mungkin sebaiknya diingat. Sedangkan komposisi serinya disusun oleh Hanada Jukki (damn, ternyata dia sehebat ini!).

Ini benar-benar anime luar biasa, dan aku jarang-jarang memuji sebuah seri sampai segininya.

Agak jarang juga ada karakter sampingan seperti Stephanie Dola yang meski cuma sampingan, bisa begitu berulangkali mencuri spotlight.

Singkatnya, ini jenis yang buat lebih jelasnya, lebih baik dilihat sendiri. Serius, kalau kau seorang cowok, ini salah satu anime yang kusarankan untuk dilihat. Lalu kalau kau seorang cewek… yah, mungkin seenggaknya kau bisa menghargainya.

Ini bukan anime yang ceritanya sedalam itu. Tapi ini serius bisa jadi sesuatu yang sangat berkesan.

Tak perlu sampai ada sih. Tapi bila perkembangan cerita di buku-bukunya lebih jauh, kayaknya asal dengan staf yang sama, sebuah season 2 bisa diminati. Apalagi mengingat apa yang dianimasikannya baru cerita dari tiga buku pertama saja.

Eh? Soal novelnya sendiri? Euh, agak jarang untuk kasusku, entah kenapa untuk kali ini aku jauh lebih terkesan pada animenya.

Sudahlah. Jangan terlalu dipikirin.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

16/05/2014

Photo Kano

Dulu waktu aku masih sekolah, aku sebenernya masih belum terlalu ngerti definisi ‘stres’ itu kayak apa.

Dulu, di abad 20, ada salah satu stasiun televisi swasta lokal yang menayangkan dorama berjudul Beach Boys, yang bercerita tentang seorang pegawai kantoran yang karena tekanan pekerjaan kemudian memutuskan mengambil cuti panjang meninggalkan kota besar ke suatu pantai yang damai (yang kemudian dipelesetkan dalam salah satu episode Yuusha Yoshihiko). Tapi seriusan, aku beneran baru paham soal apa yang dirasakannya sesudah aku beres jadi mahasiswa dan mulai kerja sendiri.

Dan karena alasan itulah, aku kemudian menonton Photo Kano.

… …

Oke, mending kita engga usah terlalu membahas detilnya.

Alasan lain (sesungguhnya) aku mengikuti Photo Kano tak lain karena ini diangkat dari game dating sim yang dikembangkan oleh Dingo Inc (yang kini telah dikenal lewat model-model 3D mereka dalam seri Project Diva) dan Enterbrain. Keterlibatan Enterbrain membuat Photo Kano agak dipandang sebagai ‘penerus spiritual’ (istilahnya: spiritual successor) dari dua game dating sim kembangan Enterbrain sebelumnya, yakni KimiKiss dan Amagami, yang belakangan juga diangkat ke bentuk animasi; sekalipun pada kenyataannya hampir enggak ada keterlibatan dari staf pembuat game-game pendahulunya pada game ini.

Gamenya sendiri agak menonjol dengan elemen pengambilan foto di dalamnya yang menjadi ciri khas game ini, di mana kita sebagai pemain harus memotret karakter-karakter wanita yang ada (di samping hal-hal lain), sebagai bagian dari kegiatan ekskul(?) kita sebagai anggota Klub Fotografi. Gamenya pertama keluar di konsol PlayStation Portable sebelum dirilis secara elektronik pada jaringan PlayStation Network, dengan versi enhanced-nya berjudul Photo Kano Kiss untuk PlayStation Vita.

Versi animasinya terdiri atas 13 episode dan dibuat oleh studio animasi ternama Madhouse, dengan disutradarai dan dipenai oleh Yokoyama Akitoshi.

“Ketika satu kenyataan tertentu dipisahkan dari jutaan kebenaran yang mungkin terlibat…”

Singkat ceritanya sekali, Photo Kano berkisah tentang pengalaman-pengalaman seorang siswa kelas dua SMA bernama Maeda Kazuya sesudah diwarisi sebuah kamera oleh ayahnya.

…Maaf, kalau-kalau ada yang salah paham, ayahnya belum meninggal. Beliau hanya baru membeli kamera lebih baru saja.

Maeda, yang sebelumnya agak datar dan belum menemukan passion-nya dalam hidup, mulai berpikir untuk menekuni fotografi sesudah memperoleh kamera tersebut. Apalagi sesudah para anggota Klub Fotografi di sekolahnya (di Perguruan Kouga) mulai merongrongnya untuk ikut bergabung.

Biar aman, para anggota Klub Fotografi meliputi: sang ketua, Kudou Hiromichi (yang desahan-desahan nafasnya pada narasi preview-nya di episode-episode awal bisa membuatmu agak merinding; bakat seiyuu veteran Midorikawa Hikaru lumayan terpancar melalui karakter ini) yang senantiasa menjadi pendorong Maeda dan sekaligus menjadi semacam—semacam—mentor baginya; Nakagawa Itta yang berbadan kecil, yang spesialisasinya adalah foto-foto low angle; Azuma Takashi yang berbadan tinggi, yang spesialisasinya adalah foto-foto high angle; serta Uchida Yoko, satu-satunya anggota klub yang perempuan, yang ahli mengambil foto-foto dadakan dan karenanya berjulukan ‘Stealth’ (aku dengar kalau di gamenya dirinya salah satu karakter yang unlockable).

Sedangkan para karakter perempuan yang menjadi sorotan meliputi:

  • Niimi Haruka, teman sekelas Maeda, anggota klub tenis sekaligus gadis paling populer di sekolah, yang kedekatan masa kecilnya dengan Maeda menjadi alasan kenapa Klub Fotografi bersikeras membuat Maeda bergabung bersama mereka. Fokus ceritanya ada pada hubungan lama antara mereka tersebut yang belakangan tumbuh kembali semenjak Maeda memintanya menjadi model foto-fotonya.
  • Sanehara Hikari, anggota Klub Foto (klub berbeda dari Klub Fotografi, yang diketuai Kurebayashi Katsumi, yang terpisah karena alasan yang mungkin bisa kalian tebak sendiri) yang pendiam, penyendiri, dan lebih memilih mengambil foto-foto pemandangan ketimbang orang. Fokus ceritanya terdapat pada upaya Maeda untuk membuatnya lebih terbuka.
  • Muroto Aki, siswi kelas tiga yang merupakan ketua Dewan Siswa yang sangat ketat dengan nilai-nilai pelajaran teramat bagus. Dahulu ia menekuni olahraga lompat indah. Hubungannya dengan Maeda terjalin saat Maeda tanpa sengaja memergokinya melompati pagar saat seharusnya ia terlambat.
  • Masaki Nonoka, gadis ceria yang menjadi pitcher as di klub sofbol, yang telah lama menjadi teman akrab Maeda semenjak SMP. Suatu ciuman tak sengaja antara dirinya dan Maeda menjadi awal hubungan mereka.
  • Sakura Mai, adik kelas yang menjadi anggota klub senam ritmik, yang agak pemalu, dan bersahabat dengan adik perempuan Maeda. Maeda menjadi satu-satunya anggota Klub Fotografi yang kemudian dipercayainya untuk melakukan dokumentasi terhadap klubnya, dan menjadi sumber semangatnya saat ia gagal dalam penyisihan.
  • Yunoki Rina, satu-satunya anggota Klub Peneliti Masakan yang dikenal karena sifat lembutnya, sekalipun dirinya bisa agak ceroboh, yang Maeda kemudian bantu untuk mempromosikan klubnya.
  • Misumi Tomoe, teman sekelas Maeda yang tak menonjol dan senantiasa menyendiri, menyimpan kekaguman terhadap Haruka, dan album foto yang Maeda siapkan untuknya menjadi perwujudan semua kenangan yang akan disimpannya dalam penuntasan seri ini.

Seperti kasus kedua pendahulunya, apa yang menarik dari seri animasi Photo Kano adalah pilihan yang diambil untuk eksekusi ceritanya. Mengikuti jejak Amagami SS, anime Photo Kano sebenarnya juga mengambil pendekatan ‘per bab,’ yang mana masing-masing gadis mendapat porsi ceritanya masing-masing sebagai karakter utama.

Hanya saja, porsi yang mereka dapat itu… agak enggak sama.

Agak mirip dengan pengalaman memainkan gamenya, episode-episode awal Photo Kano itu mengetengahkan bagian ‘pendahuluan’ terhadap ceritanya, di mana kita diperkenalkan kepada para karakternya dan latar di mana semua ini terjadi. Lalu sekitar episode 4-6, ceritanya kemudian mengambil ‘rute’ cerita Haruka sampai akhir. Lalu baru pada episode 7-13, waktu seakan memutar balik dan tiap episodenya akan berfokus pada karakter wanita yang berbeda-beda. (Yang mengagumkan adalah bagaimana pada forum-forum ternyata ada cukup banyak orang yang telat nyadar soal pergantian ‘rute’ ini…)

Seperti ada proses reload save file sesudah ada rute baru yang ter-unlock. Perlu kusinggung sendiri bahwa sifat Maeda sendiri pada masing-masing rute (agak mencerminkan perbedaan-perbedaan pilihan yang bisa kita ambil sebagai pemain) juga bisa agak berbeda.

Ceritanya sendiri berlangsung mulai dari awal tahun ajaran dan mulai mencapai klimaksnya pada waktu sekitar pelaksanaan festival sekolah, dan selama itu ada berbagai ‘misi’ fotografi berbeda yang harus Maeda tuntaskan untuk ‘kemajuan’ ceritanya.

Episode terakhirnya secara khusus menuntaskan cerita dengan memaparkan rute cerita terakhir, yang mengetengahkan adik perempuan Maeda, Maeda Kanon, yang juga anggota Klub Tenis seperti Haruka, yang mengeksplorasi hubungan saudara tiri yang ternyata mereka miliki.

Terlepas dari semuanya agak susah mengungkapkan sisi lebih dan kurang seri ini sebelum kalian melihatnya sendiri.

Kalau kalian menanyakan soal hasil akhirnya, kualitas akhir seri ini memang jadi agak campur aduk. Penuntasan bab Haruka—sekalipun dengan beberapa sisinya yang aneh—menurutku bisa dibilang teramat memuaskan sebagai cerita romansa. Karena itu, episode-episode yang menyusulnya, walau dari segi cerita enggak bener-bener bisa dibilang jelek, jadi agak terasa kayak tambahan atau tempelan. Berbeda dari Amagami SS yang memberi porsi yang setara bagi para karakternya dengan jumlah episode yang lebih banyak, pendekatan seperti ini bagi Photo Kano memang membuatnya terasa kalah. Demikian pula kalau dibandingkan dengan KimiKiss Pure Rouge yang muncul lebih dulu lagi.

Kurasa kalian hanya akan memperhatikan Photo Kano bila kalian secara umum memang menyukai seri-seri anime kayak gini, atau memiliki alasan khusus tertentu untuk mengikutinya.

Photos Transcend Time

Bicara secara visual, Photo Kano termasuk kuat. Baik dari segi pemandangan ataupun karakter-karakter yang didesain Shimada Mae, Photo Kano termasuk seri yang cantik buat dilihat, walau ada beberapa adegan menjelang akhir yang kualitas visualnya secara wajar mendadak ngedrop. Secara umum, nuansanya mungkin memang belum sekuat nuansa yang dimiliki kedua adaptasi anime Amagami sih. Tapi cukup memuaskan bagi yang suka, terutama dengan adegan-adegan sisi fotografinya yang… uh, mungkin diminati sebagian orang.

Dari segi musik, lagu pembukanya yang dibawakan Hayato Kaori terbilang lumayan. Tapi lagu penutup berjudul ‘Smile F,’ yang dinyanyikan secara bersama (dan bergantian) oleh para pengisi suara perempuannya, yang untuk beberapa lama sempat menarik perhatianku.

Lagu itu mengingatkan aku akan… sesuatu. Sesuatu yang agak istimewa yang bagiku juga lumayan terasa pada soundtrack-nya, yang dikomposisi oleh Kubota Mina.

Aku agak susah menjelaskannya. Tapi pada dasarnya itu kayak nuansa yang dulu sering mewarnai seri-seri anime (dan game) romansa pada akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an. Sesuatu yang kerasa polos sekaligus tipikal, yang mungkin juga enggak akan gitu kerasa kalau kau cuma mendengar lagunya semata, tanpa melihat visual-visual yang terkait dengannya.

Itu sesuatu yang kukira enggak akan aku temukan kembali karena kayak hilang dalam anime-anime yang lebih ke sini. Tapi Photo Kano di luar dugaan ternyata memilikinya.

Bagiku, efeknya itu kayak ngingetin aku kembali soal apa arti jatuh cinta, dan apa sesungguhnya arti kau bekerja keras buat jadi lebih baik demi diri orang lain. Itu soal mengingatkan bahwa ada hal-hal tertentu yang pasti usai di dunia ini. Tapi justru karena itu hal-hal itu berarti.

Dalam cerita Photo Kano, hal di atas tercermin pada perubahan apa yang hobi fotografi itu bawa pada sifat dan cara pandang si Maeda. Ini sesuatu yang bagiku paling kerasa pada rute Haruka di atas, dan maka dari itu aku jadi semakin ngerasa kualitas rute-rute lainnya timpang dengan satu rute tersebut.

Tapi itu semua cuma sentimen pribadiku, jadi mending enggak usah terlalu dipikirin.

Terlepas dari semuanya, walau kayak biasa aku perlu waktu lama untuk jenis-jenis anime kayak gini, Photo Kano bukan sesuatu yang menyesal kuikuti.

Aku… mendapatkan sesuatu darinya. Walau sesuatu tersebut bisa dibilang baik sekaligus buruk.

Lalu, walau mungkin ini kedengeran sulit dipercaya, walau temanya kadang kayak gitu, nuansa animenya sebenarnya masih jauh lebih bersih ketimbang beberapa versi adaptasi manganya. Jadi soal versi apa yang terbaik untuk mengikuti pengalaman-pengalaman Maeda, mungkin lebih baik kuserahkan pada penilaian kalian pribadi.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B+; Audio: B; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

02/04/2012

The Girl Who Leapt Through Time

Aku baru nyadar. Aku sama sekali belum pernah membahas Toki wo Kakeru Shoujo.  Padahal ini salah satu film anime favoritku sepanjang masa, dan… yah, aku lagi ngalamin hal-hal yang banyak mengingatkanku terhadapnya.

Diangkat dari novel asli sangat populer karangan aktor sekaligus penulis Yasutaka Tsutsui (aku bilang sangat populer karena novel aslinya keluar di tahun 1965). Anime yang juga dikenal sebagai The Girl Who Leapt Through Time (‘gadis yang melompat/berlari menembus waktu’) ini  merupakan adaptasi sekaligus semi-sekuel terhadap cerita dalam novelnya yang asli. Adaptasi anime yang kumaksud keluar di bioskop pada tahun 2006 dan diproduksi oleh studio Madhouse. Anime ini menurutku merupakan karya terbaik dari sutradara Mamoru Hosoda, yang sebelumnya menyutradarai beberapa film layar lebar Digimon, dan sesudahnya juga dikenal sebagai sutradara anime Summer Wars serta belakangan, Okami Kodomo no Ame to Yuki.

Persimpangan Kereta Api

Aku tak mau terlalu banyak spoiler. Tapi inti cerita TokiKake adalah seputar seorang siswi SMA tomboi bernama Makoto Konno (ya, ya, kali ini nama kecil di depan) yang pada suatu ketika, di masa musim panas, menemukan benda aneh di ruangan lab sekolahnya yang kemudian memberinya kemampuan untuk ‘melompat’ ke masa lalu. Dalam artian, dia benar-benar jadi bisa kembali ke masa lalu dan mengulang kembali hal-hal yang sebelumnya pernah dialaminya begitu. Cerita secara sederhana berkembang dari bagaimana Makoto yang awalnya menggunakan kemampuan barunya secara seenaknya, kemudian menyadari betapa kemampuan tersebut turut mempengaruhi kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya. Pada khususnya, hubungannya dengan dua orang sahabat dekatnya yang cowok dan sangat berarti bagi dirinya, Chiaki Mamiya dan Kosuke Tsuda.

Alur ceritanya hingga akhir benar-benar mirip dengan cerita dalam novelnya yang asli. Tapi kaitannya dalam hal ini ada pada bagaimana tokoh utama dalam novel aslinya, Kazuko Yoshihara, tak lain adalah bibi Makoto, yang meski telah kehilangan ingatan akan segala perjalanan waktu yang ia alami, secara tersamar masih memberikan nasihat dan petunjuk berkenaan apa-apa yang Makoto lalui.

Plotnya berpusar di antara cukup banyak hal, meliputi bagaimana Makoto berupaya mencegah terjadinya kejadian-kejadian yang tak diinginkan, bagaimana ia berusaha mewujudkan suatu hasil yang diharapkan, lalu soal konsekuensi yang harus ditanggungnya berkenaan setiap tindakannya. Ceritanya enggak pernah sampai menjadi melodrama, tapi perkembangannya benar-benar mengharukan. Ada lumayan banyak adegan komedi yang diselingi di dalamnya. Dan aku agak kagum pada bagaimana hal-hal kecil yang diperkenalkan di awal nantinya bisa berperan begitu besar dalam cerita.

Hal-hal yang Takkan Berubah

Bicara soal teknis, TokiKake itu bagus. Bagus banget. Aku sama sekali tak ada keluhan apapun pada kualitas penggarapan ataupun presentasinya. Pada awalnya, aku tak tahu harus mengharapkan apa. Tapi visualnya yang sekilas terkesan sederhana, dengan detil latar yang sangat banyak, langsung memikat. Mirip seperti nuansa yang diberikan film-film studio Ghibli.  Sesuai latar musim panasnya, film ini lebih banyak menampilkan nuansa biru dan kekuningan, yang turut sejalan dengan fokusnya pada masa depan.

Soal musik, ada dua lagu utama yang benar-benar menarik perhatian di sepanjang film ini, yakni ‘Garnet’ dan ‘Kawaranai Mono’ yang sama-sama dinyanyikan dan ditulis oleh Hanako Oku. Iramanya hanya mengandalkan vokal dan piano, tapi keduanya benar-benar pas dengan tema film ini dan ‘kena’ ke kita secara mengharukan. Benar-benar membuat kita tercenung dengan segala pelajaran yang Makoto alami selama durasi dua jam saat film ini berlangsung.

Sejujurnya, belakangan, aku lagi ngalamin serangkaian hal yang membuatku sering berpikir ulang tentang apa-apa yang sedang aku kerjakan, dan bertanya-tanya apakah yang sedang kukerjakan itu benar-benar ada artinya atau enggak. Tentang apa-apa yang penting, dan apa-apa yang enggak. Apa yang berarti dan perlu kita utamakan, dibandingkan apa yang sia-sia dan sebenarnya hanya berarti sesaat saja. TokiKake yang dulu  kutonton benar-benar secara kebetulan menjadi hal pertama yang kuingat saat memikirkan tentang itu.

Kuharap kalian bisa mendapatkan pengalaman pencerahan serupa saat menonton film ini. Gimanapun, bagaimana film ini sampai meraih sejumlah penghargaan karena kualitasnya sudah menjadi semacam jaminan.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: S; Perkembangan A+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: S

29/11/2010

Red Line

Aku menonton movie anime Red Line (kadang ditulis juga Redline) di acara INAFFF 2010 yang diselenggarakan di jajaran bioskop Blitz Megaplex tempo hari (sekalinya dalam setahun kamu bisa menonton sebuah film berkualitas di bioskop nyaman pada akhir pekan dengan harga tiket hanya 20.000). Anime ini diproduksi oleh studio Madhouse dan ditangani oleh sutradara Takeshi Koike.

Sebenarnya, aku hampir tak tahu apa-apa tentang anime ini sampai kemarin. Aku kebetulan hanya pernah tahu namanya disebut-sebut di beberapa artikel di Net saja (seri anime Iron Man di musim gugur ini disebut-sebut berakhir kurang begitu bagus karena sebagian besar sumber daya Madhouse terlanjur tersita di Red Line). Aku semula berniat nonton sesuatu sekelas B-movie yang enggak butuh banyak mikir seperti Alien vs Ninja, tapi tiket yang kudapat malah untuk tontonan anime lagi. Aku sama sekali tak membayangkan anime ini bakal ‘jelek.’ Tapi aku memang sempat ragu dengan kualitas ceritanya. Makanya, sejujurnya aku terkesan karena anime ini ternyata lebih menghibur dari yang aku kira.

LOVE

Berlatar jauh di masa depan, Red Line merupakan ajang balap-balapan mobil antar planet yang diadakan 5 tahun sekali. Ajang ini memiliki kepopuleran gila-gilaan dan tayangannya sangat dinantikan oleh seluruh penduduk galaksi. Satu-satunya tujuan yang harus dicapai oleh para pembalap ialah mencapai garis finis terlebih dahulu. Untuk selebihnya, tak ada peraturan sama sekali. Masing-masing peserta bisa melengkapi mobil mereka dengan nitro, kemampuan berubah bentuk, kekuatan sihir, peluncur roket, dsb. demi menghalangi lawan mendahului mereka.

Ya, jadi kau bisa bayangkan setting ala Star Wars, beragam mobil berbentuk/berkemampuan aneh, beserta pengemudi-pengemudi mereka yang terdiri atas alien.

Tokoh utama ceritanya adalah cowok bernama ‘Sweet’ J.P. (aku lupa nama belakangnya) dengan mobilnya, Transam. Ceritanya, dia jatuh cinta pada pembalap lain (cewek) bernama Sonoshee ‘Cherry Boy Hunter’ McLaren yang menjadi salah satu pembalap unggulan dengan mobilnya, Crab Sonoshee.

J.P. ini sebenarnya memiliki masa lalu agak suram karena pernah dipaksa bekerjasama oleh mafia pasar taruhan untuk ‘mengatur’ hasil pertandingan. Situasi ini dialaminya sebagai konsekuensi dari keterlibatan mekaniknya, Frisbee, yang terancam nyawanya seandainya J.P. tidak menggantikannya masuk penjara. Karena keduanya berasal dari masyarakat kelas bawah, Frisbee awalnya melakukan ini agar bisa mendapatkan cukup uang untuk membangun mobil. Karena itu, neski J.P. beberapa kali nyaris menjangkau garis finis, kerusakan mesin (yang dipicu Frisbee) biasanya menggagalkannya di saat-saat terakhir.

Tapi sesudah kegagalannya di babak pendahuluan Yellow Line, J.P. secara tak terduga lolos ke babak berikutnya karena Red Line tahun ini rupanya diadakan di Roboworld, sebuah planet yang pemerintahan militeralistiknya menolak tegas diadakannya ajang ini karena khawatir rahasia-rahasia persenjataan mereka lolos ke pihak luar dalam liputan pertandingan yang berlangsung. Mereka mengancam akan mengambil tindakan ‘tegas’ (bersenjata) bagi pembalap manapun yang ikut serta. Karena itu, dua pembalap yang sebelumnya sudah lolos memilih untuk mengundurkan diri, membuka tempat untuk ikut sertanya J.P. dan seorang pembalap lain.

Tanpa sepengetahuan yang lainnya, J.P. sebenarnya menyimpan suatu kenangan masa lalu tentang Sonoshee yang terkait cita-cita gadis itu untuk memenangkan Red Line. Karena itu untuk sekali ini, J.P. berpikiran untuk tak mengambil ‘tawaran pekerjaan’ yang biasa dari mafia dan menyelesaikan balapan sampai akhir, tanpa menyadari bahwa Frisbee sebenarnya masih ‘terikat.’

Red Line tahun ini dengan segera menjadi ajang paling kontroversial dibandingkan yang pernah terjadi sebelumnya. Pihak media menyerbu Roboworld dari wilayah-wilayah netral. Kerusuhan massal berlangsung di kalangan pekerja yang kesemuanya ingin menonton dan bertaruh di Red Line. Pihak panitia mengkonfrontasi pemerintahan secara langsung. Sabotase-sabotase berlangsung terhadap sistem persenjataan planet. Dan puncaknya adalah kebangkitan bioweapon raksasa yang masih tak stabil bernama Funky Boy (aku enggak bercanda, memang itu namanya!), yang keberadaannya dengan keras telah berusaha disembunyikan pemerintah Roboworld dari perhatian dunia internasional…

The End

Red Line semula memberi kesan aneh karena kecondongannya ke arah gaya barat. Tapi film ini keren kok. Terutama bila mempertimbangkan pendekatan gaya anime-nya menjelang paruh akhir yang teramat sangat berlebihan.

Sepanjang cerita, kita disuguhi beragam karakter dan elemen menarik yang sayangnya tak mendapat porsi perkembangan lebih banyak dari yang diperlihatkan di cerita. Tapi kesemuanya dipresentasikan dengan benar-benar keren, sehingga meski peran masing-masing enggak sepenuhnya jelas apa—selayaknya film-film The Canonnball Run di tahun 80an, mereka tetap hadir secara berkesan. Visualnya yang ‘ramai’ sangat memikat sehingga kita benar-benar harus ‘membuka mata’ supaya sempat menikmati semuanya (terutama bila menyangkut desain-desain alien). Audionya, terutama musik latar yang kebanyakan bernuansa tehcno, benar-benar menjadi faktor yang menghidupkan banyak hal. Tempo dan fokus ceritanya cepat dan tak bertele-tele, sehingga mereka-mereka yang belum siap menyimak bisa jadi akan kesulitan mengikutinya di beberapa bagian. Tapi hal tersebut merupakan kekurangan minor dibandingkan semua kelebihannya kok.

Pada akhirnya, ini memang sebuah anime dengan inti cerita garing dengan perkembangan cerita konyol yang enggak akan cocok dengan semua orang. Tapi ini anime dengan inti cerita garing yang sangat menghibur. Menjelang garis finis, aku ingat jelas bagaimana seisi bioskop senyap dan semua pasang mata sepenuhnya tertuju pada layar. Aku cukup puas karena telah bisa menontonnya hingga akhir.

(andai aku juga sempat menonton versi live action Tokikake yang ditayangkan pada festival yang sama)

(oya, buat peringatan, ada beberapa adegan nudity minor tapi agak mencolok)

(lupa lagi, kau bener-bener mesti perhatiin siapa-siapa saja seiyuu-nya, mungkin kau akan terkejut)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A++; Audio: S; Perkembangan: B-; Eksekusi: A+: Kepuasan Akhir: A+