Posts tagged ‘light novel’

20/03/2014

Accel World – FBiS + BSoD

Sesudah melihat adaptasi anime Accel World sampai tamat, aku membaca kelanjutan cerita di versi novelnya belum lama ini.

Terjemahan bahasa Inggrisnya, seperti yang sebelumnya pernah kubilang, bisa ditemukan di situs Baka-Tsuki. Namun berhubung seri LN ini (beserta seri ranobe Sword Art Online yang sama-sama juga dikarang Kawahara Reki) telah dilisensi oleh Yen Press, aku enggak tahu sampai kapan terjemahan tersebut akan bertahan di sana. Karena itu, sesudah menunda-nunda untuk sekian lama, aku akhirnya memotivasi diriku untuk baca selagi sempat.

…Mungkin sebelumnya aku pernah bilang. Saat-saat aku lama enggak ngepost itu biasanya dikarenakan aku disibukkan karena satu dan lain hal. Lalu saat-saat aku sibuk itu, aku biasanya baca-baca apa yang ada di situs Baka-Tsuki lewat hape. Dan, yah, lanjutan cerita Accel World menjadi salah satu dari sejumlah hal yang aku baca belakangan ini.

Adaptasi animenya yang dulu pernah kuulas mencakup cerita dari buku 1 sampai buku 4 (ditambah sejumlah cerita pendek yang dimuat di buku 10 yang secara kronologis berlangsung di waktu yang sama). Jadi kubaca saja apa-apa yang sudah diterjemahkan mulai dari buku 5 sampai buku 8. Terjemahan untuk buku 6 dan buku 7 pada akhirnya enggak tuntas. Jadi yang kubaca sampai ‘tuntas’ cuma buku 5 dan buku 8.

Buku 5 bersubjudul Floating Bridge in Starlight (‘jembatan terapung di bawah cahaya bintang’) ini berlatar waktu tak lama sesudah klimaks konfrontasi Legion Nega Nebulas melawan Dusk Taker. Sedangkan buku 8 yang bersubjudul Binary Star of Destiny (‘bintang biner takdir’; ‘biner’ bisa diartikan ‘berpasangan’) ternyata berlangsung benar-benar tak lama sesudahnya.

Berhubung sudah ada beberapa bab yang telah diterjemahkan pada buku 6 dan 7, menghubungkan ‘titik-titik yang hilang’ lumayan mudah. Lalu pada setiap bab, Kawahara-sensei (karena tuntutan format majalah?) secara singkat mengungkapkan apa-apa yang telah terjadi di bab-bab terdahulu, sehingga pikiran pembaca enggak keputus begitu saja tanpa tahu ceritanya telah nyampe mana. Jadi proses membaca secara sporadis ini ternyata enggak sesusah bayanganku.

New Stages

Floating Bridge in Starlight mengetengahkan soal sebuah event khusus yang terjadi di dunia yang dipercepat, sehubungan dengan  diiekspornya teknologi social camera yang sebelumnya digunakan di Jepang untuk aplikasi di orbital elevator Hermes Cord yang untuk beberapa waktu telah dibangun.

Di akhir cerita pada buku sebelumnya, Sky Raker alias Kurasaki Fuuko, salah satu anggota inti dari Legion hitam yang terdahulu, atas dorongan sang tokoh utama, Arita Haruyuki, berhasil dibujuk Kuroyukihime untuk kembali bergabung dalam Nega Nebulas. Tapi bergabung kembalinya Raker masih belum berarti telah pulihnya trauma dan rasa bersalah yang membebaninya sebelumnya, yang tercermin pada masih cacatnya kaki Duel Avatarnya.

Haruyuki secara tak disangka menyimpulkan secara tepat kalau ekspor teknologi social camera di atas ternyata dapat berdampak pada Brain Burst. Lalu, begitu mengetahui bahwa dengan ini, dunia yang dipercepat dapat merambah sampai ke luar angkasa, ia mendapat gagasan tentang bagaimana cara memperbaiki hubungan Fuuko dan Kuroyukihime kembali…

Tapi dalam prosesnya, sesuatu terjadi.

Kemudian, sesuatu tersebut membawa Haruyuki dan teman-temannya berhadapan kembali dengan Acceleration Research Society, orang-orang misterius yang turut memiliki andil dalam terlahirnya monster bernama Dusk Taker.

Incarnation

Buku 5 sebenarnya bisa dibilang merupakan awal sebuah arc besar baru di Accel World, berhubung cerita buku 6 sampai buku 8 secara mulus sambung-menyambung. Dunia para Burst Linker—yang mampu mempercepat kinerja pikiran berkat game misterius Brain Burst yang tertanam dalam Neuro Link mereka—secara bertahap terus digambarkan semakin membesar. Hubungan-hubungan lama yang pernah ada antar para karakter kemudian terungkap. Lalu aku benar-benar salut terhadap Kawahara-sensei dengan semua penggambaran ini.

Aku agak enggak enak bila mengungkapkan ceritanya di sini. Soalnya menurutku pribadi, ceritanya benar-benar keren.

Pemaparan tentang teknologinya benar-benar menarik. Padahal itu dipaparkan dengan cara yang menurutku termasuk sederhana.

Aku akhirnya ngeh terhadap sejumlah tema aneh yang beliau sampaikan dalam buku-buku sebelumnya. Ada para karakter yang kepribadiannya terkesan tak wajar karena mereka berada pada keadaan psikologis abu-abu antara anak-anak dan dewasa sebagai dampak dari Brain Burst. Lalu ada tema tentang anak-anak yang terlantar dan kehilangan kasih sayang karena terlalu dipercayakan pada perkembangan teknologi. Lalu tentu saja, resiko sebenarnya dari kehilangan semua ingatan terkait Brain Burst apabila poinnya habis, yang meliputi regresi kepribadian mereka yang telah dipercepat pendewasaannya, serta kemungkinan hilangnya hubungan-hubungan persahabatan yang telah mereka bentuk di dunia yang dipercepat ini.

Satu misteri besar yang diperkenalkan adalah mulai disinggungnya ketiadaan social camera di kompleks Istana Kekaisaran, yang memunculkan teka-teki soal apakah lokasi counterpart-nya di Unlimited Neutral Field di dunia yang dipercepat sebenarnya dapat dimasuki atau tidak.

Pada buku-buku 6 ke atas disinggung pula soal bagaimana keempat pintu masuk ke lokasi Istana dijaga oleh empat sosok Enemy yang hanya bisa digambarkan sebagai semacam superboss pada game-game biasa (mereka terdiri atas Genbu, Seiryu, Suzaku, dan Byakko—diambil dari nama hewan-hewan legendaris penjaga empat mata angin). Lalu ternyata pernah ada rumor-rumor mencuat kalau kemungkinan lain untuk menuntaskan Brain Burst tak lain adalah keberhasil memasuki lokasi ini. Nega Nebulas generasi pertama ternyata hancur dalam upaya penyerbuan mereka ke Istana ini, yang terjadi sebagai reaksi para anggotanya atas tindak pemberontakan yang Kuroyukihime lakukan sebagai Black Lotus. Lalu para Elements, empat sosok Burst Linker yang dikenal ‘legendaris’ karena seakan mewakili empat unsur dasar di alam, rupanya juga adalah wakil-wakil pemimpin yang pernah tergabung di bawah Black Lotus. Sky Raker rupanya pernah dikenal sebagai salah satu dari mereka. Lalu meski ingatan Haruyuki tentangnya disamarkan, Aqua Current, yang dikisahkan sempat menjadi bodyguard Haruyuki, juga merupakan salah satu dari mereka.

Perkembangan yang sudah agak tertebak di klimaks buku 5 tentunya adalah pengungkapan kalau enhanced armament Disaster Armor—yang  dulu menuai kekacauan di Legion merah, Prominence—ternyata kini tertanam dalam diri Silver Crow, alias Haruyuki. Tapi apa yang benar-benar mengejutkanku adalah dampak perkembangan tersebut, yang melandasi keseluruhan arc ini.

Sebagai satu-satunya orang yang pernah berhasil melawan pengaruh negatif yang dibawa Disaster Armor, Haruyuki diberi kesempatan hidup oleh para Raja Warna Murni (Seven Kings of Pure Colour), yang memberi tenggat waktu bagi Silver Crow untuk menyingkirkan Disaster Armor yang mengutukinya. Kuroyukihime telah memiliki gagasan untuk membantunya dalam hal ini, dan itulah yang melandasi pertemuan Haruyuki dengan Shinomiya Utai alias Ardor Maiden, seorang anak kelas 3 SD tuna wicara berpembawaan mandiri, yang merupakan satu lagi anggota lama Nega Nebulas yang pernah tergabung di dalam Elements.

Namun, pada akhir penyerbuan ke Istana Kekaisaran tiga tahun lampau, Ardor Maiden—seperti Aqua Current dan anggota Element terakhir—ternyata terperangkap dalam fenomena kematian berulang akibat takluk di Unlimited Neutral Field persis di hadapan gerbang Suzaku. Sehingga, untuk bisa menggunakan kekuatan purifikasi khususnya demi menyingkirkan Disaster Armor, Silver Crow, Black Lotus, Sky Raker, Cyan Pile (alias Mayuzumi Takumu) dan Lime Bell (alias Kurashima Chiyuri) harus melakukan misi penyelamatan hidup mati dengan menyerang gerbang yang dijaga Suzaku dan, memanfaatkan kemampuan terbang yang dimiliki Silver Crow, entah bagaimana meloloskan Ardor Maiden dari sana.

Pada saat yang sama, keberadaan Incarnate System—yang memungkinkan peningkatan kemampuan sebuah Duel Avatar dengan menggunakan tekad, imajinasi, serta emosi sekaligus trauma sebagai bahan bakar; yang secara diam-diam dikuasai dan dirahasiakan oleh para Raja—akhirnya terbeberkan secara luas sesudah insiden di Hermes Cord. Lalu ada suatu pihak misterius yang secara diam-diam mulai membagi-bagikan jalan pintas untuk menggunakan sistem ini, dan sekali lagi mendatangkan kekacauan pada dunia yang dipercepat…

Di masa saat mereka masih dikenal sebagai ‘pemain’…

Begitu aku tiba di akhir menggantung di buku kedelapan, aku tiba pada kesimpulan yang mengejutkan: aku enggak pernah menyangka kalau aku akan menyukai Accel World sedalam ini.

Aku pernah bilang kalau aku lebih suka Accel World dibandingkan Sword Art Online karena implikasi ke dunia nyatanya lebih banyak. Tapi alasannya enggak cuma itu.

Accel World bagiku itu seriusan, teramat sangat keren.

Mungkin ini agak susah kebayang. Tapi aku beneran dapat sejumlah pelajaran hidup yang enggak kusangka dari membaca seri ini. Soal move on dalam menyerima kenyataan. Soal bekerja keras. Soal menerima masa lalu. Soal menanggapi apa yang telah terjadi dengan kebencian atau enggak. Lalu, yang paling berkesan (mungkin karena dibawakan oleh anak manis seperti Utai), soal rasa hormat terhadap makhluk-makhluk lain yang kemudian berujung pada rasa syukur terhadap kehidupan.

Ceritanya, sejujurnya, berkembang jauh lebih dalam dari yang kusangka. Ada pembeberan soal seperti apa interior Istana, yang di dalamnya menyembunyikan sejumlah petunjuk tentang awal mula Brain Burst. Lalu ada kilas balik berkesan tentang awal mula Disaster Armor tujuh tahun sebelumnya, yang terjadi pada masa-masa saat dunia yang dipercepat masih muda.

Narasinya menurutku terbilang enak dibaca. Pembangunan suasananya sesudah kau terbiasa cukup memikat. Lalu adegan pertempuran terakhir melawan Suzaku di batas langit itu kereeeeeeeen!

Man. Memang patut disesalkan bila proyek penerjemahannya diulang lagi dari awal. Tapi aku enggak menyesal membaca apa yang ada sampai sejauh ini.

Mungkin bila bukunya jadi diterbitkan oleh Yen Press, aku akan mencoba memesannya lewat Amazon.

…Kau tahu, aku bersyukur bukan cuma aku saja yang ternyata suka seri ini.

Iklan
22/01/2014

Kikou Shoujo wa Kizutsukanai

Terkadang, kau ngikutin sesuatu bukan karena kamu suka, tapi karena apa yang kamu ikutin tersebut kamu anggap menarik. Kamu mengikutinya karena sisi menariknya itu membuat kamu merasa pengen tahu.

Cuman, sekali lagi, kamu enggak suka.

Seri Kikou Shoujo wa Kizutsukanai, atau yang juga dikenal sebagai Unbreakable Machine Doll (‘boneka mesin yang tak dapat dirusak’), buatku kurang lebih juga kayak gitu.

Seenggaknya, versi animenya.

Kayak cukup banyak seri anime zaman sekarang, anime ini diangkat dari seri light novel karya Kaitou Reiji dengan ilustrasi buatan Ruroo. Seri ini sudah memiliki 12 buku yang terbit di bawah label MF Bunko J semenjak November 2009. Adaptasi animenya berjumlah 12 episode dan dibuat oleh studio Lerche, yang kelihatannya lumayan spesialis dalam memainkan teknik-teknik animasi CG. Adaptasi anime ini nampaknya akan dilanjutkan melalui seri OVA. Tapi soal itu aku belum tahu lebih lanjut.

Biasanya, untuk seri-seri adaptasi macam begini, aku akan memastikan diri untuk memeriksa media novel aslinya juga. Cuma untuk suatu alasan, bahkan sesudah membaca beberapa bab novelnya, aku tetap kurang bisa menyukainya. Padahal tema, plot dan latarnya menurutku cukup menarik. Apa masalahnya ada di karakterisasi? Apa karena para karakter dipaksakan punya quirk dan kalimat-kalimat khas mereka masing-masing?

Terlepas dari semuanya, Unbreakable Machine Doll buatku menarik karena ini seri berbasis aksi yang lumayan banyak dibumbui elemen-elemen misteri. Aku memaksakan diri mengikuti animenya karena benar-benar ingin tahu ceritanya akan dibawa ke mana.

Rahasia-rahasia yang Tak Boleh Diungkap

Berlatar di suatu versi alternatif dari awal abad kedua puluh, Unbreakable Machine Doll mengisahkan pengalaman-pengalaman sang tokoh utama, Akabane Raishin, selama ia mendalami ilmu Machinart di Walpurgis Royal Academy of Machine Arts di Liverpool(?), Inggris.

Machinart ceritanya merupakan suatu bidang ilmu baru yang belum lama ditemukan, yang mengkombinasikan ilmu sihir dan teknologi untuk aplikasi-aplikasi militer. Produk dari bidang ilmu ini adalah automata, boneka-boneka mesin ‘hidup’ yang ditenagai oleh rangkaian sihir dan dispesialisasi untuk kepentingan pertempuran.

Selama bersekolah di sana, Raishin juga menjadi salah satu peserta Night Party, suatu turnamen pertempuran eksklusif berformat battle royale yang diikuti oleh 100 murid terbaik di akademi tersebut, yang mana pemenangnya akan diberikan gelar Wiseman, ‘dalang boneka’ terbaik yang dimiliki Akademi.

Raishin sebenarnya terlibat dalam acara ini karena tergerak oleh suatu alasan pribadi. Di masa lalu, seluruh keluarganya yang mendalami Machinart terbunuh oleh suatu pihak misterius. Lalu ia menjadi murid pindahan di Akademi Walpurgis dan berambisi meraih gelar Wiseman karena meyakini pelakunya adalah seseorang di sana.

Raishin sebenarnya telah dipandang tak berbakat oleh keluarganya, dan kemampuannya sebagai dalang masih patut dipertanyakan. Namun dirinya ditemani oleh Yaya, automaton berbentuk seorang gadis remaja yang merupakan salah satu dari trilogi Setsugetsuka (perlambang salju, rembulan, dan bunga), tiga automaton mahakarya Karyuusai Shoko, pembuat boneka Jepang yang paling termahsyur.

Sesudah pembantaian yang menimpa keluarganya, Shoko-lah yang menolong Raishin dan kemudian, dengan dukungan pemerintahan, menjadi sponsor kehadirannya di Akademi Walpurgis, dengan syarat Raishin juga bertindak sebagai bagian dari militer Jepang.

Selama di sana, Raishin terlibat berbagai kasus yang menimpa orang-orang di sekitarnya, yang membawanya sedikit demi sedikit pada kebenaran di balik insiden yang telah menimpa keluarganya.

“Yaya wa kawaii.”

Aku enggak bisa menyangkal kalau aku beneran suka ide dan tema cerita seri ini. Balas dendam, permesinan sihir, latar di Inggris, intrik antar aristokrat, misteri pembunuhan, konflik antar kelas sosial; hal-hal kayak gitu ada di seri ini. Lalu terus terang aja, aku enggak mungkin enggak tertarik. Hal-hal kayak gitu belum pernah kutemui di LN manapun sebelumnya. (Oke, mungkin apa yang ada di Madan no Ou to Vanadis lumayan mendekati. Tapi adaptasi animenya masih belum akan muncul dalam waktu dekat.)

Ke sananya aku mungkin memang jadi enggak menyukai seri ini sedalam yang aku harap. Tapi tetap ada sejumlah adegan tertentu yang membuatku terkesan. Adegan saat Raishin pertama terbangun dari tidurnya di kereta, yang disusul adegan saat Yaya dengan tenaganya semata menghentikan kereta tersebut saat terlempar ke luar jalur. Membandingkan dengan apa yang ada di novelnya, keduanya tereksekusi lebih bagus dari yang kukira.

Untuk sisanya, aku enggak bisa bicara banyak sih. Eksekusi kebanyakan adegan-adegan aksinya bahkan agak mengingatkanku pada animasi-animasi CG yang berkesan ‘percobaan’ seperti yang pernah kulihat di Zegapain.

Aku sadar ini bukan salah para animatornya. Tapi cerita asli di novelnya memang punya kesan mencampuradukkan hal-hal yang main-main dengan hal-hal yang serius. Seperti soal bagaimana Yaya—dengan cara-cara yang agak menakutkan—selalu terobsesi untuk menjadikan Raishin suaminya. Atau bagaimana Frey, yang menjadi salah satu lawan yang harus Raishin hadapi dalam Night Party, berusaha (secara konyol) untuk menyiapkan jebakan-jebakan yang bisa membunuh Raishin agar ia tersingkir.

Mungkin juga karena masalah pada versi terjemahan yang aku baca. Tapi hal-hal di atas enggak tersampaikan secara sepenuhnya dengan baik bahkan di novelnya. Konteks situasinya serius. Tapi apa yang terjadi atau diucapkan itu begitu aneh sehingga kau jadi enggak jadi menanggapi apa yang terjadi secara serius (“Tingkat kemesumanmu sebesar Big Ben!”).  Jadi kau bisa bayangkan kayak gimana berantakannya saat itu ditranslasikan ke bentuk anime.

Tapi sekali lagi, seri ini buatku menarik karena bahkan dalam menghadapi hal-hal ini, pada beberapa bagian para animatornya memang ‘berhasil.’ Shimono Hiro yang mengisi suara Raishin memperlihatkan sikap serius dalam berbagai situasi konyol dengan begitu keren. Kayak, dia menghadapi apa-apa yang normalnya membuat karakter utama di seri-seri lain bilang “Apaaa?!” secara datar dan masih bisa membuat adegannya terlihat wajar.

Entahlah. Buatku itu cukup luar biasa.

Akhir yang Menggantung

Adaptasi anime ini hanya mengadaptasi cerita dari tiga buku pertamanya saja, yakni Facing “Cannibal Candy”, Facing “Sword Angel”, dan Facing “Elf Speeder”. Jadi tentu saja kau juga sebaiknya jangan berharap bakal tahu siapa pembantai keluarga Akabane begitu kedua belas episode ini berakhir. Adaptasinya lumayan setia. Jadi kau juga bisa bayangkan gimana plotnya dipadatkan dengan pengaturan tempo agak berantakan, yang tentu saja jadi ditutup dengan akhir yang menggantung.

Aku terus terang jadi mikir, apa tujuan dibuatnya adaptasi-adaptasi anime ini sebenarnya semata-mata adalah untuk mempromosikan novel-novelnya?

Tapi walau enggak bagus, hasil akhirnya enggak seburuk yang kusangka. Aku terkesan dengan gimana semua cerita dari ketiga buku di atas bisa masuk dalam cerita, dan cerita pada masing-masing buku sama-sama dibuat empat episode. Aku suka lagu pembukanya. Itu jenis lagu yang semula kuanggap biasa tapi bisa kuhargai belakangan. Animasi pada lagu penutupnya juga mengesankan, walau lagunya memang agak-agak aneh. Kalau kau perhatikan dengan baik, ada tiga variasi dari penutup itu yang dibawakan di sepanjang seri.

Lalu asal kau enggak terlalu mempermasalahkan fanservice-nya, konsepnya menurutku memang keren. Enggak mengherankan bagaimana seri novelnya memiliki penggemarnya tersendiri, dengan bagaimana pada setiap buku Raishin dan Yaya harus berhadapan dengan lawan-lawan baru.

Karakter bu guru Kimberley yang mengawasi Raishin adalah karakter yang aneh dengan proporsi tubuh seksi dan segala kemisteriusannya. Tapi intriknya memang jadi menarik saat terungkap bagaimana dirinya terlibat dalam jaringan informasi Nectar, yang seakan menggambarkan betapa banyaknya kepentingan yang bermain di Walpurgis.

Lalu tentu saja ada tokoh bertopeng Magnus, murid terbaik di Akademi yang diindikasikan merupakan kakak kandung Raishin, Akabane Tenzen, sekaligus pelaku pembantaian keluarga Akabane. Magnus yang teramat kuat memiliki kemampuan untuk menggerakkan banyak boneka sekaligus—yang salah satu di antaranya menyerupai Nadeshiko, mendiang adik perempuan Raishin yang meninggal dalam pembantaian tersebut.

Ada isu-isu soal bagaimana sebagian boneka yang disebut ‘banned doll’ dibuat dengan menggabungkan mekanisme Machinart dengan bagian-bagian tubuh manusia. Ada isu-isu soal percobaan terhadap manusia dan pengambilan organ.

Intinya, ada begitu banyak hal yang terjadi. Karenanya aku penasaran. Soalnya di atas kertas, semuanya kelihatannya begitu seru.

Maware Maware

Aku masih belum menjadi penggemar seri ini. Tapi ini salah satu kasus ketika ada sesuatu yang menarik dan kita jadi ingin tahu berkembangnya bakal sejauh mana.

Kurasa aku memang punya semacam hero complex yang membuatku sedang ingin melihat gimana—kayak yang lirik lagu penutupnya ungkapkan—tokoh-tokoh baik mengalahkan tokoh-tokoh jahat. Mungkin juga cuma akunya saja yang butuh pengalihan dari segala urusan ‘abu-abu’ yang kutemuin di dunia nyata. Makanya aku terkesima dengan deretan judul LN aksi MF Bunko J yang konon bakal dianimasikan tahun ini, dan Unbreakable Machine Doll menjadi yang pertama dari deretan tersebut.

Aku enggak merasakan apa-apa sesudah mengikutinya. Jadi jelas ini bukan judul yang akan aku rekomendasikan. Aku bahkan enggak merasakan ketertarikan apa-apa terhadap semua tokoh ceweknya. Padahal Charlotte Belew adalah seorang tsundere yang memiliki naga.

Tapi kurasa aku bakal ngerasa enggak nyaman kalau misalnya aku sampai enggak nonton.

Jadi, yah, kau tahu maksudku.

…Bisa jadi aku seorang penggemar misteri yang lebih besar dari yang kukira.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B-; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: C; Kepuasan Akhir: C+

29/05/2013

Mahouka Koukou no Rettousei

(Tulisan ini adalah bahasan tentang versi LN-nya. Bahasan animenya di sini.)

Sebenarnya, aku jarang bisa langsung tertarik dengan sesuatu bergenre ‘fantasi.’ Ciri khas sesuatu bergenre fantasi adalah adanya aspek yang disebut ‘sihir’ di dalamnya. Makanya, aku selalu jadi waswas bila ada seri yang mengandung kata ‘mahou’ dalam judulnya.

Itu juga kurang lebih alasan kenapa aku agak telat mengetahui tentang seri ini.

Mahouka Koukou no Rettousei, atau yang juga dikenal sebagai The Irregular At Magic High School (‘murid kurang pandai di SMA sihir’, atau ‘murid tak-lazim/yang-menjadi-pengecualian di SMA sihir’) merupakan ranobe karya Satou Tsutomu dengan ilustrasi yang dibuat oleh Ishida Kana.

Mirip dengan kasus Sword Art Online, dan bahkan bisa dibilang agak mengikuti jejaknya, ini sebuah seri yang berawal dari webnovel yang kemudian diterbitkan secara langsung oleh label Dengeki Bunko milik penerbit ASCII Media Works.

Meski belum sampai menyaingi ketenaran SAO, ini seri yang termasuk fenomenal juga loh. Pada Juli 2011, web novelnya telah memperoleh lebih dari 30 juta kunjungan. Lalu pada Desember 2011, jumlah pengunjungnya telah mencapai 50 juta, sebelum web novel tersebut ditarik dari situsnya saat penerbitannya dilakukan oleh Dengeki.

Terjemahan bahasa Inggrisnya telah ada di situs Baka-Tsuki untuk beberapa lama. Tapi baru belakangan ini dengan rajin aku mulai mengikutinya.

Terus terang ya, ini salah satu ranobe paling ‘enggak biasa’ yang pernah kubaca. Aku terutama ngerasa kalau tema ceritanya sebenarnya enggak cocok dengan seleraku. Di antaranya karena alasan-alasan berikut:

  • Adegan siscon-brocon yang belum apa-apa dipakai untuk membuka cerita.
  • Narasi agak bertele yang menghadirkan info dump lumayan parah.
  • Latar cerita di dalam sebuah sekolah sihir (tipikal?).
  • Gaya narasi dari sudut pandang orang ketiga yang secara ekstensif memaparkan pikiran dan reaksi masing-masing tokoh.
  • Cerita yang bertema ‘ilmiah.’
  • Cerita bernuansa kemiliteran…

Maksudku… seri ini secara teknis punya begitu banyak alasan yang biasanya bisa bikin aku enggak suka terhadap suatu seri. Dan makanya aku enggak yakin apa aku akan merekemondasikannya ke orang lain. Dan aku bahkan enggak punya bayangan sama sekali tentang gimana animenya mau dibuat (soal ini akan kubahas lagi di bawah). Tapi ini sesuatu yang masih tetap kuikuti sampai sekarang, dan bahkan mesti kuakui, aku semakin menikmatinya semakin kubaca.

Singkatnya, aku enggak bisa enggak terkesan dengan dunia yang Satou-sensei telah bawakan karena saking luas dan ekstensif cakupannya. Hasil akhirnya bisa dibilang benar-benar keren meski mungkin enggak akan disukai semua orang.

Activation Sequence

Berlatar hampir seabad di masa depan, dalam sebuah linimasa alternatif ketika ‘sihir’ ditemukan kembali dan dipahami secara ‘ilmiah’ menjelang awal abad 21, seri ini (konon akan) mengetengahkan berbagai intrik dan persoalan yang dihadapi kakak beradik Shiba Tatsuya dan Shiba Miyuki selama tiga tahun masa SMA mereka.

Tatsuya yang datar dan jarang menampilkan ekspresi dilahirkan di awal tahun ajaran. Sedangkan Miyuki yang digambarkan teramat anggun dan cantik lahir di akhir tahun ajaran. Sehingga, walau usia mereka terpaut setahun, keduanya secara akademis berada di angkatan yang sama. Keduanya bersekolah di satu dari sembilan SMA di seluruh Jepang yang berafiliasi dengan universitas sihir nasional (sekolah mereka anggap saja adalah SMA 1 yang terletak di wilayah Kanto).

Di masa ini, ceritanya, bakat sihir dalam jumlah terbatas mulai bangkit di antara populasi manusia. Lalu karena keterbatasan jumlah ‘penyihir’ yang ada, jumlah institusi pendidikan yang tersedia untuk melatih mereka juga terbatas—makanya, di seluruh Jepang, jumlah SMA yang secara khusus menerima murid berbakat sihir hanya sembilan, tersebar di seluruh negeri di daerah berbeda-beda pula, sebelum jenjangnya berlanjut ke universitas.

Sebagai pengganti buku-buku ajaib, mantera, dan tongkat sihir, sihir di zaman modern banyak diaplikasikan dengan menggunakan perangkat-perangkat elektronik yang disebut CAD (Casting Asisstant Device). Sihir didefinisikan sebagai tindak ‘perubahan fenomena’ melalui aplikasi dua partikel nonfisis yang biasanya tak kasatmata: psion (yang bereaksi terhadap pengguna) dan pushion (yang tidak bereaksi terhadap pengguna, tapi tetap kerap mengiringi suatu fenomena sihir). Lalu di dalam CAD ada semacam program yang disebut Activation Sequence (proses aktivasi) yang menarik psion dari dalam diri si pemakai, lalu mengaplikasikannya ke fenomena sihir di alam, yang prosesnya secara umum disebut Magic Sequence (proses sihir). (Sihir tanpa CAD juga dapat dilakukan, tapi karena terkait emosi,  mental, dan konsentrasi pengguna, proses dan hasilnya cenderung tak stabil.)

Bentuk CAD bisa berbagai macam, mulai dari berupa ponsel, gelang, hingga pistol dan senapan. Secara umum, CAD terbagi atas dua jenis, yakni general (umum), yang dapat digunakan untuk berbagai aplikasi sihir, namun dengan kecepatan proses aktivasi dan kualitas yang relatif lebih rendah, dan specialized (khusus) yang khusus dibuat untuk suatu aplikasi sihir tertentu saja, tapi dengan kecepatan pemrosesan dan kualitas yang relatif lebih tinggi.

Cerita dibuka dengan kemarahan Miyuki terhadap pihak sekolah yang dipandangnya tidak menghargai kemampuan kakaknya. Jadi, meski Tatsuya menjadi satu-satunya orang yang meraih nilai sempurna(!) dalam ujian tertulis saringan masuk sekolah, Miyuki-lah yang ternyata dipilih sebagai wakil para siswa baru yang akan menyampaikan pidato dalam upacara pembukaan tahun ajaran.

Kelemahan Tatsuya ternyata terdapat pada kemampuan praktek sihirnya, yang dapat dikatakan ‘kurang’ dibandingkan kebanyakan orang.

Kemudian terungkap bahwa akibat keterbatasan staf pengajar di atas, terjadi semacam ‘pembagian kasta’ dalam setiap sekolah sihir, di mana para siswa terbagi ke dalam para siswa Jalur 1 dan para siswa Jalur 2. Para siswa Jalur 1 seperti Miyuki (ditandai dengan adanya semacam emblem mahkota bunga pada baju seragam mereka) adalah para siswa yang dipandang memiliki kemampuan praktek/teknik baik, sehingga dipandang perlu mendapat bimbingan langsung dari para instruktur sihir (mereka yang jalur karirnya membidik untuk berprofesi sebagai ‘penyihir’). Sedangkan para siswa Jalur 2 seperti Tatsuya, yang secara tak adil dipandang lebih rendah (tak punya emblem mahkota, dan seringkali diejek sebagai ‘rumput liar’), adalah mereka yang kemampuan prakteknya tak terlalu baik. Pengajaran yang mereka dapatkan lebih banyak lewat modul dan buku pelatihan (di masa ini, buat suatu alasan, di kebanyakan sekolah para guru sudah jarang berhadapan dengan para murid secara langsung, dan lebih banyak lewat video). Mereka juga lebih banyak membidik sebagai peneliti dan pengembang alat CAD daripada penyihir secara langsung.

Namun bersama masuknya Tatsuya dan Miyuki, suatu perubahan paradigma besar-besaran kemudian terjadi. Tatsuya dan Miyuki ternyata sama-sama bukanlah remaja penyihir biasa seperti yang dikira kebanyakan orang. Stigma lama perlahan dihancurkan seiring terungkapnya situasi keluarga dan identitas mereka yang sesungguhnya.

Masalah-masalah Keluarga

Di samping Tatsuya dan Miyuki, semenjak awal ada lumayan banyak tokoh yang berperan dalam Mahouka. Mungkin tak sebanyak seperti dalam seri Horizon sih, tapi tetap lumayan banyak untuk ukuran LN.

Semenjak awal tahun ajaran, nilai sempurna Tatsuya dalam ujian langsung menarik perhatian Saegusa Mayumi, gadis cantik berwibawa yang merupakan siswi kelas tiga sekaligus ketua Dewan Siswa yang tengah menjabat. Di samping itu, Mayumi juga merupakan salah seorang anggota keluarga Saegusa, satu dari Sepuluh Keluarga Besar (belum diungkap semuanya) yang mengatur dunia sihir di seluruh Jepang, sekaligus gabungan para penyihir terkuat (secara militer) yang negara tersebut miliki.

Mayumi, yang merupakan salah satu dari sekian sedikit murid yang tak membeda-bedakan antara siswa Jalur 1 dan Jalur 2, merekrut Miyuki yang terpilih sebagai murid teladan sebagai anggota Dewan Siswa (yang sangat mengatur berbagai aspek kegiatan di sekolah). Tapi di samping itu, Mayumi juga berharap bisa memperoleh kontribusi Tatsuya dalam pengelolaan sekolah.

Di samping kecerdasannya, kemudian terungkap kalau Tatsuya ternyata merupakan salah satu murid Yakumo Kokonoe, tokoh besar ‘ninjutsu’ yang secara misterius memiliki andil dalam perolehan informasi di dalam pemerintah. Karenanya, Tatsuya kemudian setengah dipaksa untuk bergabung dalam Komite Disiplin, yang dipimpin siswi kelas tiga tomboi berperangai agak licik, Watanabe Mari. (Dikisahkan bahwa ada aturan yang menetapkan bahwa yang bisa menjadi anggota Dewan Siswa hanya para siswa Jalur 1. Tapi aturan ini tak berlaku untuk perekrutan anggota Komite Disiplin.)

Keputusan perekrutan Tatsuya, seorang siswa Jalur 2, dengan segera menuai kontroversi di dalam sekolah. Tapi semua pihak langsung dibuat bungkam saat menyaksikan secara langsung kemampuan Tatsuya yang sesungguhnya.

Berbeda dari Miyuki yang memang menyimpan kekuatan sihir dahsyat, meski kemampuan aktivasi sihir praktisnya lemah, Tatsuya seorang ahli bela diri, ahli dalam memodifikasi CAD, serta jenius dalam mengaplikasikan proses-proses sihir tertentu yang tak terbayangkan oleh orang lain. Dengan segera Tatsuya mulai dikenal sebagai salah satu yang diakui sebagai yang ‘terkuat’ di SMA 1, walau predikat tersebut dipandang menyulitkannya, karena ada sejumlah rahasia tertentu yang berusaha dirinya dan Miyuki sembunyikan…

Terlepas dari itu, tokoh-tokoh lain yang banyak berperan dalam cerita ini meliputi:

  • Chiba Erika; gadis cantik tomboi yang menjadi teman sekelas Tatsuya di kelas 1E. Perangainya agak berangasan, meski sikapnya ramah dan maksudnya selalu baik. Dirinya adalah anak ketiga dari keluarga Chiba yang dikenal sebagai pemasok senjata-senjata sihir untuk pemerintah. Konon, meski berusia lebih muda, dirinya yang telah mengajari Watanabe Mari dalam hal berpedang, dan tak bisa menerima bila Mari disebut lebih kuat darinya.
  • Saijou Leonhart; teman sekelas Tatsuya yang berbadan tegap yang merupakan keturunan orang Eropa. Dia salah satu anak blasteran dari masa saat keluarga-keluarga penyihir antar negara mencoba menyilangkan bakat sihir mereka secara genetik. Entah kenapa dirinya dan Erika selalu punya bawaan untuk saling bertengkar. Hobi panjat tebing. Spesialisasinya adalah sihir penguatan.
  • Shibata Mizuki; gadis pemalu berkacamata, yang sebenarnya menggunakan kacamatanya untuk membatasi sensitivitas matanya yang dapat melihat partikel-partikel psion dan pushion secara langsung. Bersama Erika, dia menjadi salah satu teman pertama Tatsuya di kelas 1E. (Dia jadi mudah dibedakan dari Miyuki bila kita ingat kalau tak ada kata ‘salju’ di namanya; FYI sihir ‘es’ juga menjadi salah satu spesialisasi Miyuki.)
  • Yoshida Mikihiko; keturunan keluarga Yoshida yang merupakan salah satu keluarga yang memiliki spesialisasi dalam suatu jenis sihir kuno (aplikasi sihir yang telah ada dan dipraktekkan sebelum CAD mulai banyak digunakan) yang menyangkut aplikasi ‘roh.’ Sebelumnya dikenal sebagai keturunan paling jenius di keluarga Yoshida, sebelum sebuah kejadian tertentu di masa lalu mengubah pembawaannya menjadi agak rendah diri. Meski sekelas sejak awal, baru agak belakangan ia dekat dengan teman-teman Tatsuya yang lain. Dirinya ternyata teman Erika sejak kecil.
  • Kitayama Shizuku; anak tunggal keluarga Kitayama yang dikenal sebagai pengembang CAD terkemuka. Sangat pendiam dengan ekspresi wajah datar, tapi sangat perhatian terhadap teman-temannya. Teman sekelas Miyuki di 1A dan salah satu murid dengan kemampuan sihir tertinggi di angkatannya.
  • Mitsui Honoka; teman dekat Shizuku dan Miyuki dan juga salah satu murid dengan kemampuan sihir tertinggi di kelas 1A. Memiliki bakat dalam sihir manipulasi cahaya. Sebelumnya menyimpan semacam prasangka terhadap murid-murid Jalur 2, tapi cara pandangnya berubah sesudahnya. Seperti halnya Shizuku, belakangan mulai dekat dengan teman-teman Tatsuya berhubung keinginan keras Miyuki untuk sebanyak mungkin melewatkan waktu bersama kakaknya.

Itu baru teman-teman satu geng Tatsuya. Para karakter lainnya lagi meliputi:

  • Morisaki Shun; teman sekelas Miyuki berharga diri tinggi dan agak memandang rendah para murid Jalur 2. Memiliki spesialisasi sihir ‘tembak,’ walau belum sepenuhnya menyamai keahlian keluarga Saegusa.
  • Hattori Gyoubushoujyo Hanzou; siswa kelas dua yang menjadi wakil Mayumi di Dewan Siswa. Sebelumnya meragukan kemampuan Tatsuya. Salah satu dari tiga siswa yang dipandang terkuat di sekolah dengan keahliannya merangkaikan satu jenis sihirnya dengan yang lain. Dirinya kurang menyukai nama lengkapnya sendiri.
  • Ichihara Suzune; alias Rin-chan, bendahara Dewan Siswa yang merupakan siswi kelas tiga sekaligus sahabat dekat Mayumi. Sifatnya tenang dan pendiam.
  • Nakajou Azusa; alias A-chan, siswi kelas dua yang juga sekretaris Dewan Siswa, seorang maniak gadget, terutama CAD, yang kemudian membuatnya bisa akrab dengan Tatsuya. Terobsesi dengan benda-benda ciptaan artificer favoritnya, Taurus Silver. Dia murid berbadan mungil yang bersifat sedikit kekanakan.
  • Juumonji Katsuto; siswa kelas tiga berbadan sangat besar dan berkepribadian tegas yang merupakan calon kepala keluarga berikutnya dari Juumonji, yang seperti Saegusa, merupakan salah satu dari Sepuluh Keluarga Besar. Menjabat sebagai Pemimpin Grup Manajemen Ekskul. Bersama Mayumi dan Hattori, dipandang sebagai satu dari tiga orang terkuat di sekolah. Spesialisasinya adalah sihir penciptaan medan pelindung yang merupakan spesialisasi keluarganya.
  • Mibu Sayaka; siswi kelas dua anggota Klub Kendo yang sempat meraih juara dua di kejuaraan nasional. Seorang gadis cantik yang sempat memiliki konflik dengan Klub Kenjutsu yang kemudian ditengahi Tatsuya. Ayahnya seorang pewira militer terkemuka. (berbeda dari kendo, kenjutsu di cerita ini mengaplikasikan sihir dalam permainan pedang mereka)
  • Kirihara Takeaki; siswa kelas dua anggota Klub Kenjutsu yang menjadi juara di wilayah Kanto. Berperangai keras dan sebenarnya kurang pandai membawakan diri, serta sebelumnya memiliki konflik dengan Klub Kendo.
  • Chiyoda Kanon; siswi kelas dua tomboi yang merupakan ‘tipe yang bertindak sebelum berpikir.’ Cabang dari salah satu keluarga sihir besar yang spesialisasinya adalah sihir osilasi jarak jauh untuk penciptaan ranjau. Orang yang diam-diam telah disiapkan Mari sebagai penerusnya (walau dirinya baru bergabung dalam Komite Disiplin sesudah Tatsuya).
  • Isori Kei; siswa kelas dua bersifat ramah dan sopan yang merupakan pacar sekaligus tunangan Kanon. Murid cerdas dan baik hati yang juga seorang spesialis dalam hal mengutak-atik CAD.

Perlu kusebut kalau hampir semua karakter di atas memainkan peran penting mereka masing-masing di sepanjang keenam buku pertama.

Seri Mahouka kabarnya akan memaparkan keseluruhan tiga tahun kehidupan SMA Tatsuya dan Miyuki (ya, para karakter dewasanya masih belum kusebutkan). Jadi kurasa takkan mengherankan kalau jumlah karakter yang ditampilkan di dalamnya akan terus bertambah seiring dengan waktu.

Buku terbaru seri ini pada waktu ini kutulis, buku kesembilan, bahkan baru mulai mencakup akhir tahun pertama mereka saja. Jadi kurang lebih bisa terbayangkan total jumlah bukunya dan karakternya bakal segimana.

Masalah-masalah Negara

Mahouka mengangkat tema-tema soal diskriminasi, pembedaan strata sosial, serta makna sesungguhnya dari kerja keras dan harga diri. Di dalamnya, kadang aku juga ngerasa ada pertanyaan-pertanyaan seputar gambaran pola pikir masyarakat dan pendidik pada umumnya.

Latar ceritanya yang kompleks serta pendekatannya yang sangat berbasis karakter (aku belum pernah baca ranobe yang sedemikian memaparkan isi pikiran para karakternya—bukan cuma si tokoh utama—sedalam Mahouka) memang awalnya bikin keder sih. Belum lagi dengan gimana kedekatan berlebih antara dua bersaudara Tatsuya dan Miyuki lumayan bisa bikin kita ngerasa aneh. Tapi lama-lama aku bisa nerima juga (terutama saat ditampilin sebagai lelucon gimana kedekatan berlebih antara Tatsuya dan Miyuki juga bikin ‘aneh’ para karakter lain dalam ceritanya sendiri).

Plotnya terbilang sederhana sih. Belum lagi dengan jumlah karakternya yang banyak, perkembangan kepribadian masing-masing karakternya juga enggak banyak juga. Ditambah, sejauh ini, Mahouka belum benar-benar menampilkan karakter antagonis yang menonjol. Tapi perkembangan plot dan intrik ceritanya itu gila, dan di samping nuansa ‘sihir futuristisnya,’ kayaknya itu yang jadi daya tarik utama.

Dikisahkan Tatsuya dan Miyuki sebenarnya adalah keturunan langsung dari keluarga Yotsuba, salah satu dari Sepuluh Keluarga Besar dan bisa jadi merupakan yang terkuat di antara seluruh keluarga yang lain. Lalu mereka juga adalah keponakan langsung dari sang kepala keluarga, Yotsuba Maya (mendiang ibu kandung mereka, Yotsuba Miya, adalah saudari kembar Maya). Namun ada sesuatu yang benar-benar abnormal dalam hubungan kekeluargaan mereka.

Pertama, identitas mereka dirahasiakan dari publik karena sejumlah alasan tertentu. Kemungkinan terkait dengan bagaimana Miyuki dipandang sebagai salah satu calon kepala keluarga penerus Maya. Kedua, Miyuki dan Tatsuya juga karena suatu alasan sebenarnya berusaha menjauhkan diri mereka dari pengaruh keluarga Yotsuba. Lalu ketiga, hubungan Miyuki dan Tatsuya tak sepenuhnya seperti kakak beradik sebab sekalipun memiliki darah Miya, Tatsuya tidak diakui sebagai seorang Yotsuba. Tatsuya sebenarnya ditolerir keluarga Yotsuba berada di dekat Miyuki, bukan karena ia adalah kakak kandungnya, namun tak lain karena dirinya telah ditunjuk sebagai ‘pelindung’ Miyuki yang akan melindunginya seumur hidup.

Sebagai keturunan keluarga penyihir besar, Tatsuya rupanya terlahir dengan suatu kemampuan sangat hebat untuk mengakses dan membaca ‘dimensi informasi’ (dimensi realita yang dipengaruhi lewat sihir lewat partikel psion dan pushion) secara langsung serta sekaligus juga merekonstruksinya. Di sisi lain, kemampuannya ini membuat dia tak mampu melakukan sihir yang normal. Di usia enam tahun, ibu dan bibi Tatsuya kemudian melakukan sesuatu terhadapnya yang memungkinkannya untuk melakukan sihir, mengubahnya menjadi seorang penyihir artifisial, tapi dengan hilangnya sebagian besar hasrat dan emosinya (amarah, kesedihan, ketertarikan badaniah terhadap lawan jenis) sebagai bayaran.  Inilah yang melandasi posisi dan hubungan aneh Miyuki dan Tatsuya dalam perpolitikan keluarganya.

Kemampuan khusus Tatsuya rupanya menarik perhatian pihak militer Jepang. Lalu meski berusia muda, Tatsuya sesungguhnya telah mengemban pangkat sebagai perwira khusus dari Batalion Sihir Independen 101 pimpinan Mayor Kazama Harunobu.

Tatsuya adalah karakter yang sejak awal sudah saking kuatnya, sampai-sampai kesulitan yang dia hadapi dalam pertempuran lebih karena keharusannya untuk merahasiakan kekuatannya yang sesungguhnya alih-alih karena desakan dari lawan-lawan yang ia hadapi.

Cerita semakin berkembang dengan hadirnya intrik persaingan antara berbagai pihak, spionase, sabotase, isu-isu terorisme, bahkan perang terbuka secara langsung—semua itu hadir di sela-sela kehidupan sekolah biasa yang dijalani Tatsuya dan kawan-kawannya.

Terungkap pula bahwa Perang Dunia Ketiga yang berakhir beberapa dasawarsa sebelumnya ternyata berlangsung teramat lama dan telah mengubah peta politik dunia secara besar-besaran.  Lalu pada akhir buku ketujuh, Tatsuya diperintahkan melakukan sesuatu yang teramat besar oleh pihak militer yang sekali lagi mempengaruhi peta perpolitikan itu… dan membuat kelanjutan cerita sejauh saat ini kutulis agak menggantung dengan cara yang enggak enak.

Masalah-masalah Pribadi

Alasan aku sulit nyebayangin seri ini diangkat menjadi anime adalah karena struktur ceritanya. Satou-sensei memasukkan lumayan banyak hal tentang dunia dan para karakternya dalam setiap babak cerita (kadang dengan agak tiba-tiba), sehingga perkembangan konfliknya jadi benar-benar lambat (satu arc saja biasanya mencapai dua buku, dan masing-masing buku itu lumayan tebel). Ditambah detil-detil teknisnya tentang teori aplikasi sihir dan cara kerja alat-alatnya benar-benar lengkap dan meyakinkan (sesuatu yang unik karena latar belakang beliau sebagai pegawai kantoran). Karena itu, aku enggak tahu apa jadinya masih bakal menarik kalau disajikan dalam format anime televisi atau enggak.

Harapanku agak naik saat adaptasi manga Mahouka mulai diserialisasikan sih. Walaupun deskripsi mereka di narasi agak enggak imbang, desain seluruh karakternya benar-benar keren. Terus adegan-adegan sihirnya emang paling keren kalau divisualisasikan.

Di samping novel, Mahouka mulai juga dihadirkan beberapa seri spin-off seperti seri novel Mahouka Koukou no Shounen Shoujo yang nampaknya mengisahkan lebih banyak tentang keseharian teman-teman Tatsuya; serta seri manga Mahouka Koukou no Yuutosei, yang mengambil fokus lebih banyak dari sudut pandang Miyuki, serta kelihatannya akan mencakup latar waktu yang tidak ditutup dalam novelnya. Keduanya bersifat gaiden, dan kelihatannya tak kalah menariknya dibandingkan seri utama.

Masih belum terlalu jelas kapan seri ini akan ‘meledak.’ Terutama di luar Jepang. Lalu seri ini juga masih belum masuk daftar sepuluh besar Kono Light Novel wa Sugoi! yang diadakan tiap tahun. Tapi ada lumayan banyak pujian yang sejauh ini diterimanya. Kawahara Reki-sensei, penulis Sword Art Online, kelihatannya termasuk salah seorang penggemanya, dan beliau bahkan menulis sambutan beliau di akhir buku pertama Mahouka.

Asal kau terbiasa dengan gaya narasi Satou-sensei yang agak enggak biasa, apalagi dengan sejumlah konsep karakternya yang agak aneh, dan bisa cukup bersabar sekaligus tertarik dengan eksposisi-eksposisi teknisnya yang panjang, ini satu seri yang perkembangannya benar-benar menarik buat diikuti.

Aku tahu mungkin tetap enggak cocok buat semua orang sih. Tapi tetap menarik. Aku jarang nemu light novel yang pemaparannya secerdas ini.

(Karakter favoritku adalah Mayumi. Tapi sudahlah. Itu enggak penting.)

19/05/2013

Mondaiji-tachi ga Isekai kara Kuru Sou Desu yo

Mondaiji-tachi ga Isekai kara Kuru Sou Desu yo atau Problem Children Are Coming From Another World, Aren’t They? (arti judulnya kurang lebih ‘anak-anak biang masalah datang dari dunia lain ya?’) berawal dari ranobe karangan Tatsunoko Tarou dan ilustrasi buatan Amano Yuu. Adaptasi animenya diproduksi oleh studio Diomedea dan ditayangkan pertama kali pada perempat awal tahun 2013. Durasi ceritanya secara agak mengejutkan cuma berjumlah 10 episode, dan hanya mencakup dua novel pertamanya.

Amplop Dari Dunia Lain

Garis besar ceritanya kurang lebih sebagai berikut.

Sakamaki Izayoi (seorang cowok usia sekolahan dengan rambut pirang dan headphone yang selalu ia kenakan), Kudou Asuka (seorang nona besar dari sebuah keluarga kaya raya), serta Kasukabe You (seorang gadis sangat pendiam yang lebih banyak menghabiskan waktunya di tengah alam bersama binatang-binatang), sama-sama memiliki kekuatan besar sekaligus ajaib yang sama-sama tak jelas berasal dari mana.

Lalu saat ketiganya tengah bosan dengan dunia sekitar mereka yang biasa, mereka sama-sama menerima sepucuk amplop misterius yang saat dibuka, membawa mereka ke dunia lain bernama Little Garden (Hakoniwa), di mana kelompok-kelompok yang disebut Community berseteru dan bertaruh nyawa dengan satu sama lain, untuk perebutan kekuasaan dan pengaruh dalam kompetisi-kompetisi yang disebut Gift Game. Kekuatan-kekuatan ajaib yang dimiliki Izayoi dan kawan-kawannya merupakan berkah dari dewa, bintang, dll. dan disebut sebagai Gift. Lalu Little Garden merupakan semacam dunia yang diciptakan untuk mempertandingkan Gift-Gift ini.

Ketiganya rupanya telah dipanggil oleh seorang gadis bertelinga kelinci sekaligus keturunan bangsawan dari Little Garden, Kuro Usagi (kelinci hitam, walau yang hitam cuma pakaiannya), untuk membantu sebuah Community yang belum lama ini telah kehilangan namanya menyusul kekalahan mereka dalam sebuah Gift Game, yakni kelompok No Name pimpinan seorang anak 11 tahun bernama Jin Russel, yang karena suatu alasan hanya beranggotakan anak-anak lain yang lebih muda darinya.

Meski berkekuatan besar, Kuro Usagi berstatus sebagai Judge Master, semacam wasit yang tubuhnya terhubung langsung dengan ‘sistem’ yang mengelola Little Garden sendiri (seperti semacam admin dalam MMORPG?). Karenanya, sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan, Kuro Usagi memiliki banyak keterbatasan untuk membantu Jin dan kawan-kawannya. Untuk itulah, Izayoi, Asuka, dan You kemudian dipanggil.

Help me! Help me!

Agak… susah menjelaskan semuanya secara gamblang.

Little Garden pada dasarnya adalah dunia ajaib yang dipenuhi penduduknya atas berbagai ras, baik itu manusia, naga, maupun makhluk-makhluk ajaib lainnya. Lalu keberadaan mereka semua didasarkan pada berbagai mitologi dan dongeng dari seluruh penjuru dunia manusia. Jadi, sejumlah detil menyangkut dongeng-dongeng ini lumayan memegang peran dalam cerita.

Kemudian konflik timbul saat disebutkan bahwa ada individu-individu tertentu yang disebut Maou (Demon Lord), yang memiliki kemampuan untuk ‘memaksa’ sebuah Community untuk bertanding dalam Gift Game dengan mereka.

Jadi, semacam kode aturan yang menyebut larangan mencuri, dsb ada di Little Garden. Tapi begitu semuanya masuk ke konteks Gift Game, di mana ada Host dari salah satu Community yang menetapkan aturan, persyaratan menang, dsb. semuanya bisa dibilang diperbolehkan. Termasuk mencabut nyawa. Soalnya pertandingan-pertandingan ini bisa dibilang juga seperti berurusan dengan makhluk-makhluk dari dimensi terlalu tinggi. (Gift Game ini bisa bermacam formatnya. Ada yang berbentuk pertarungan, adu teka-teki, balapan, dsb.)

Sori. Sebenernya, aku juga enggak yakin apa aku sudah sepenuhnya mengerti.

Yah, intinya begitu.

Bicara soal teknis, ini termasuk salah satu seri dengan presentasi lumayan baik. Ini bukan kali pertama Diomedea mengangkat sebuah seri aksi tempur dari ranobe sebelumnya. Jadi aku lumayan terkesan dengan peningkatan kualitas presentasinya pada beberapa aspek. Desain karakternya cukup setia dan bahkan agak lebih menarik dari desain karakter di ranobe-nya. Lalu gaya arahan visualnya juga setia terhadap gaya komikal yang ilustrasi di ranobe-nya adakan (terjemahannya belum lama ini mulai dikerjakan di Baka-Tsuki, btw). Walau ini seri yang lebih berbasiskan karakter seperti kebanyakan ranobe lain, penggambaran sejumlah latar dalam ceritanya menurutku cukup menarik perhatian. Memang tak sepenuhnya membuat ‘wow’ atau gimana, tapi aku terkesan dengan betapa apiknya semua seperti dibuat. Hal yang sama juga bisa dikatakan dengan audionya. Para seiyuu menjalankan peran mereka dengan baik (walau karakter-karakter dalam cerita ini juga tak bisa dibilang kompleks-kompleks amat), dan musiknya lumayan walau tak bisa dibilang menonjol juga.

Kekurangan seri ini… mungkin cuma terletak pada konsepnya yang agak gaje, serta eksekusinya yang meski lumayan, mungkin enggak sepenuhnya gampang diikutin. Misal ada satu adegan aksi yang tiba-tiba saja tersambung dengan adegan lainnya. Orang-orang yang masih belum ngeh soal apa yang sedang terjadi (karena konsep Gift-nya yang agak abstrak itu) bakal agak menyipitkan mata karena tak bisa mengikuti perkembangan adegannya (ditambah lagi nanti ada karakter minor yang bisa berubah-ubah wujud di seri ini). Aku juga perlu bilang bahwa batasan kemampuan para karakternya seperti agak disengaja dibiarkan ambigu dan tak jelas. Kuro Usagi, yang dijadikan semacam maskot seri ini, disebutkan batasan-batasan kekuatannya semenjak awal. Tapi Izayoi, Asuka, serta You, sama-sama dibiarkan mengambang batasan kekuatan Gift yang mereka punyai. Terutama Izayoi, yang menjadi karakter paling kuat sendiri dari awal sampai akhir.

Tapi walau begitu, para karakternya memang menarik sih. Izayoi adalah karakter yang dibuat agar ‘keren’ secara konsisten. Dan walau terkesan berlebihan, dia karakter utama yang lumayan seru juga buat diikuti. Aku suka melihat interaksi guru-murid yang agak dibangunnya bersama Jin (serta saat-saat di mana ia bersama Shiroyasha menggoda Kuro Usagi habis-habisan).

Namun terlepas dari semuanya, seri ini cuma 10 episode, dan sebenarnya ceritanya engga bisa dibilang sempat beranjak ke mana-mana. Cuma ada dua ‘bab’ yang ditampilkan dalam cerita ini.

Jadi, yah, begitulah.

YES!

Akhir kata, aku belum bisa bicara banyak soal ranobenya sih. Tapi ini seri yang pada dasarnya lumayan sebagai selingan. Enggak banyak yang bisa kau dapatkan dari mengikutinya. Tapi di sisi lain enggak banyak ruginya juga.

Aku enggak bisa bilang aku suka sih. Sebab bahkan untuk tontonan cepat sekalipun, kerumitan intrik Mondaiji mungkin membuatnya masih belum cukup untuk dipandang menarik oleh kebanyakan orang.

Masih ada banyak potensi. Jadi mungkin pendapatku bakal berubah lagi apabila sekuelnya suatu hari dibuat.

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C+

25/04/2013

Ore no Kanojo to Osananajimi ga Shuraba Sugiru

Kidou Eita adalah remaja SMA yang mulai memandang cinta dan romansa secara negatif semenjak kedua orangtuanya bercerai. Sesudah perceraian itu, ia kemudian lebih memilih untuk hidup bersama bibinya yang lajang, Kiryuu Saeko, dan berubah menjadi murid yang rajin belajar untuk mewujudkan cita-citanya masuk ke sekolah kedokteran.

Eita memiliki seorang teman semenjak SD yang ia perlakukan seperti adiknya sendiri, anak tunggal tetangga dekat rumahnya yang memiliki badan petite, Harusaki Chiwa, yang telah lama memendam rasa suka terhadap dirinya. Meski demikian, karena kedekatan lama mereka, Eita selalu menanggapi segala pernyataan cintanya sebagai candaan.

Kemudian, suatu ketika, sekolah mereka kedatangan murid pindahan berupa seorang gadis blasteran teramat cantik dengan rambut perak bernama Natsukawa Mazusu. Satu dan lain hal terjadi, tatkala Mazusu menempati tempat duduk di sebelah Eita, yang entah bagaimana kemudian berakhir dengan keduanya ‘jadian.’

Mendengar berita tersebut, Chiwa syok. Mencium adanya sesuatu yang tak beres, ia memutuskan bahwa dirinya tak bisa menerima berita tersebut begitu saja…

“Ei-kun, aishiteru!”

Ore no Kanojo to Osananajimi ga Shuraba Sugiru, disingkat sebagai OreShura,  atau yang juga dikenal sebagai My Girlfriend and Childhood Friend Fight Too Much (kurang lebih berarti ‘pacarku dan teman lamaku terlalu bermusuhan’), berawal sebagai seri light novel karangan Yuji Yuji dengan ilustrasi buatan Ruroo. Animenya hasil produksi studio A-1 Pictures, dan pertama ditayangkan pada musim dingin tahun 2013 sebanyak 13 episode.

Sekilas, premis di atas memang enggak terdengar istimewa. Pada awalnya, aku juga sempat bertanya-tanya soal apa sebenarnya yang membuat seri ini lumayan populer. Aku mikir, ini tipikal seri komedi romantis yang kemudian berkembang ke arah harem, ‘kan? Animasi pembukanya yang warna-warni itu aja udah mengindikasikannya!

Tapi, aku kemudian merasa ada sesuatu yang janggal. Aku coba memperhatikan baik-baik aspek perkembangan serta eksekusi ceritanya. Lalu serius, aku kemudian dapati kalau seri ini termasuk yang bagus.

Maksudku, terutama untuk seri-seri sejenisnya.

Beneran bagus.

Ada dua faktor istimewa yang pada awalnya ‘enggak kelihatan’ tentang seri ini. Pertama, adalah gimana seri ini tak ragu memelesetkan konvensi-konvensi genre romansa harem untuk ngehasilin komedi. Hasilnya seringkali lumayan berhasil bikin aku ngakak. Lalu kedua, konseptualisasi karakternya bagus. Baik Eita, Chiwa, Masuzu, maupun dua cewek lain yang kemudian menyusul, mereka sama-sama punya semacem ‘ketulusan’ dalam diri mereka, dan itu yang bisa bikin aku sedikit banyak ngerasa agak simpati.

Aku enggak gitu bisa ngejelasin.

Contohnya, gini deh. Di awal-awal masa promosi anime ini, saat para tokohnya baru mulai diperkenalkan lewat promo dan berita-berita, aku agak merasa Chiwa yang clingy dan kekanakan itu sebagai karakter yang agak menyebalkan. Sebagai heroine pertama yang muncul, aku spontan ngerasain semacam antipati, dan udah kelanjur berprasangka kalau seri ini akan berakhir enggak memuaskan karena aku jelas ngerasa bakal lebih mendukung Masuzu daripada dia (maksudku, biasanya yang akhirnya jadian dengan si tokoh utama adalah si heroine yang pertama muncul ‘kan?).

Tapi seiring perkembangan ceritanya, aku beneran jadi terkejut sendiri.

Masuzu, meski cantik dan memikat, ternyata adalah karakter yang manipulatif sekaligus nakutin (sekalipun dirinya adalah penggemar berat Jojo’s Bizarre Adventure–makanya terkadang dia suka melakukan pose-pose aneh). Lalu Chiwa, saat dibeberkan awal mula tumbuhnya rasa suka dia terhadap Eita, aku langsung ngerasain simpati terhadap keadaannya dia. Maksudku, walau mungkin keadaannya enggak ideal bagi dirinya, dia sebenernya tetap bahagia karena sehari-harinya masih bisa ia lewatin bersama Eita. Dia ngerasa asal dia tetap berjuang, dia tetap bakal punya harapan. Tapi kemudian tiba-tiba Masuzu muncul dan mengacaukan segalanya.

Tentu saja, fokus lain cerita ini adalah bagaimana hubungan Eita dan Masuzu yang semula palsu dan dipaksakan (dengan Eita diperbudak oleh Masuzu) secara perlahan kemudian berkembang jadi agak nyata. Tapi sebelum itu muncul dua karakter cewek lain yang—karena suatu dan lain hal—juga mengajukan ‘klaim’ mereka atas Eita.

Burning Fighting Fighter

Dari segi plot maupun realisme, seri ini tak benar-benar bisa dikatakan istimewa sih. Tapi ceritanya maju. Beneran maju. Hubungan dan kepribadian para karakternya berkembang—dan itu sesuatu yang termasuk lumayan buat anime-anime sejenis ini.

Daya tarik sesungguhnya yang seri ini punyai sebenarnya lebih terletak pada para karakternya. Mereka tak sepenuhnya bisa disukai di awal-awal. Maksudku—kesemuanya punya sisi yang bener-bener aneh. Tapi, mereka tulus gitu dalam tindakan maupun keinginan mereka.

They’re good people.

Dan lama-lama aku jadi penasaran dengan gimana akhir cerita mereka.

Ngomong-ngomong soal akhir, seri ini tak benar-benar bisa dikatakan berakhir memuaskan. Memang ada resolusi di akhir ceritanya, tapi ceritanya sendiri termasuk salah satu yang menggantung. Mungkin karena belum semua cerita di novelnya diadaptasi? Tapi ini menggantung dengan perkembangan jelas yang telah dialami oleh para karakternya, jadi hasil akhirnya enggak bisa dibilang buruk-buruk amat.

Beralih ke soal teknis, meski tampil warna-warni, visual OreShura mempunyai semacam nuansa pucat aneh yang aku tak yakin dimaksudkannya karena apa. Seperti ada semacam filter yang menahan ketajaman warnanya. Tapi terlepas dari itu, secara visual ini termasuk salah satu seri yang enak dilihat, dengan banyak permainan warna dan efek yang digunakan untuk mendukung perkembangan dalam cerita.

Soal audio, yang benar-benar agak mengejutkanku adalah bagaimana setiap seiyuu memainkan peranan masing-masing dengan luar biasa baik. Tamura Yukari yang biasanya memerankan karakter-karakter agak manja lumayan berhasil tampil stoic sebagai Masuzu (perlu diperhatikan bahwa yang sebelumnya mengisi suara Masuzu di drama CD OreShura adalah Chiwa Saitou, yang juga mengisi suara Senjougahara Hitagi di seri Monogatari), dan itu lumayan membuatku terkesan. Tapi peranan semua seiyuu di seri ini memang mengesankan. Soalnya setiap karakter yang tampil—meski agak-agak aneh—sama-sama punya semacam aspek multidimensi gitu. Maksudku, kayak, Eita yang biasanya serius secara tiba-tiba bisa bicara secara frantic seakan lepas kendali. Itu kayak salah satu aspek lain yang bagus dari seri ini.

Lagu pembukanya (yang bernuansa harem) mungkin memang enggak istimewa. Tapi lagu penutupnya, ‘W: Wondertale’ menurutku kasih kesan ‘serius’ sekaligus ‘berarti’ yang lumayan pas buat anime sejenis ini.

Ada saat-saat tertentu ketika seri ini terasa lamban, terutama pada episode-episode masuknya Akishino Himeka (pendiam, misterius, memiliki ‘janji’ dengan Eita) dan Fuyuumi Ai (ceroboh, tsundere, memiliki janji(?) dengan Eita) ke dalam cerita. Tapi semua itu terbangun untuk perkembangan-perkembangan situasi yang lumayan enggak ketebak.

Aku memang mengikuti OreShura semula buat lelucon-leluconnya. Tapi secara ngejutin ini berkembang jadi sesuatu yang secara konsisten ngingetin aku untuk mulai bersikap serius terhadap hal-hal yang sebelumnya aku take for granted.

Soalnya, entah dari mana, bila waktunya tiba, suatu ‘perubahan’ pasti bakal terjadi. Dan, saat itu terjadi, maka mau tak mau kita harus… yah, ngelakuin sesuatu buat ngebuktiin kalau hal-hal yang berharga bagi kita memang sepenuhnya kita syukuri.

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

22/03/2013

To Aru Majutsu no Index

Anime To Aru Majutsu no Index (atau A Certain Magical Index, ‘suatu indeks sihir tertentu’) produksi J.C. Staff keluar pertama kali di tahun 2008-2009, di masa saat aku sedang vakum sepenuhnya dari memperhatikan perkembangan budaya visual Jepang. Makanya, ini seri yang sempat luput dari perhatianku sepenuhnya, sampai ada teman kerjaku yang secara agak tiba-tiba kemudian merekomendasikannya. (Apalagi sepertinya seri manga Genshiken belum pernah mereferensikannya, tapi mungkin itu cuma aku.)

Seri ini diangkat dari seri light novel super-populer (terjual lebih dari 10 juta kopi di akhir tahun 2010) karya Kamachi Kazuma (yang juga menulis ranobe-ranobe unik lain macam A Simple Survey dan Heavy Object) terbitan ASCII Media Works. Meski gaya penulisan beliau kadang cenderung agak ‘keotakuan’, kemampuan beliau dalam mengembangkan plot dari suatu basis latar dan karakter sederhana benar-benar luar biasa.

Kalau kuperhatikan sekarang, mungkin seri ini juga bisa dibilang salah satu seri ranobe paling berpengaruh sepanjang masa. Sepertinya ada banyak sekali elemen yang pertama ditemukan dalam seri ini yang kemudian muncul dalam seri-seri ranobe lain. Tapi soal itu mungkin lebih baik kubahas lain kali.

Bicara soal animenya lagi, dari segi teknis, menurutku, ini bukan anime yang bisa dibilang bagus. Tapi ini anime yang bagus. Beneran bagus. ‘Bagusnya’ itu bukan sesuatu yang gampang dijelasin. Ini jenis ‘bagus’ yang akan kau maksud kalo ngomong, “Hei, ini bagus juga!” gitu. Mungkin nuansa yang dibawakan lagu pembuka dan lagu penutupnya berdampak. Tapi kurasa karakter-karakter sentral ini, yakni Kamijou Touma, dan kemudian Mikoto Misaka (yang lalu jadi tokoh utama seri gaiden-nya, To Aru Kagaku no Railgun), yang paling memberi kontribusi terhadap bagusnya anime ini. Selebihnya, nilai-nilai produksi untuk anime satu ini kurasa bahkan bisa dikatakan standar. Jadi mungkin memang dampak konsep aslinya sekuat itu.

Even if…

Seri ini berfokus pada rangkaian pengalaman dan petualangan yang dialami oleh seorang remaja SMA bernama Kamijou Touma, yang nampaknya telah ditakdirkan untuk mengalami kesulitan beruntun dalam hidup. Baik disengaja atau tidak, ada saja kejadian ‘sial’ yang akan Touma alami setiap hari. Tapi Touma lama-lama jadi terbiasa dengan rangkaian kesialan ini, meski pada akhirnya dia jadi orang yang hobi menghela nafas sembari meneriakkan kata-kata khasnya, “Fukou daaa!”

Touma ceritanya adalah seorang siswa SMA yang berstatus Level 0 di Academy City. Academy City adalah sebuah subkota di tepi laut Tokyo yang dipenuhi oleh sekolahan dan universitas. Kota ini dikelola secara khusus untuk pengembangan teknologi. Di samping dipenuhi berbagai fasilitias futuristik (seperti pembangkit listrik tenaga angin dan robot-robot pembersih), subjek penelitian khasnya adalah kemampuan supernatural psikis macam ESP dan telekinesis yang datang dari kekuatan pikiran manusia (ada teorinya, cuma penjabarannya secara keren agak susah kutiru di sini).

Touma, sebagai seorang Level 0, singkatnya, adalah seseorang yang punya bakat buat ngebangkitin salah satu jenis kekuatan psikis ini, tapi secara ‘terlihat’ dirinya tak memiliki kekuatan apa-apa. Walau begitu, tanpa disadari kebanyakan orang, tangan kanannya sebenarnya memiliki keistimewaan yang tak dipahaminya sendiri, yakni sesuatu yang dinamai Imagine Breaker, yang mampu menetralkan segala bentuk kekuatan supernatural apapun.

To Aru Majutsu no Index dibuka dengan perkenalan terhadap karakter Touma; gadis SMP yang menjadi rivalnya, pengguna kekuatan Level 5 (tingkat tertinggi), Mikoto Misaka, yang juga dikenal dengan julukan Railgun karena kemampuannya memanipulasi listrik dan elektromagnetik; dan pertemuan pertama Touma dengan gadis mungil berambut perak yang berpakaian seperti biarawati, Index.

Ceritanya agak… susah dijabarin daya tariknya kalau aku ceritain gitu aja.

Pada dasarnya, Index yang kekanakan dan agak naif ternyata berasal dari luar Academy City, dan dirinya diburu oleh suatu pihak misterius karena di dalam ingatannya tertanam Index Librorum Prohibitorum, yakni 103.000 buku sihir terlarang yang telah disingkirkan dari peredaran oleh Gereja, yang dapat memberi akses kepada kekuatan besar bagi siapapun yang memilikinya.

Sihir merupakan suatu kekuatan yang ‘asing’ bagi Touma. Ia pada awalnya tak bisa begitu saja percaya akan adanya jenis kekuatan supernatural lain yang didatangkan lewat ritual dan mantera.

Tapi saat melihat bagaimana Index ternyata benar-benar dikejar oleh orang—dalam hal ini, seorang penyihir api bernama Stiyl Magnus, rasa keadilan yang Touma miliki membuatnya tak bisa membiarkan Index begitu saja. Terlebih saat Touma mendapati bahwa selain kekuatan supernatural psikis seperti yang sudah dikenalnya, Imagine Breaker di tangan kanannya ternyata juga berkemampuan mementahkan kekuatan sihir…

Tahun-tahun Terlupakan

Genre To Aru Majutsu no Index pada dasarnya adalah aksi. Ada banyak adegan-adegan tempur dengan kekuatan-kekuatan dahsyat ala manga shounen di dalamnya. Tapi keistimewaan sesungguhnya dari cerita ini lebih terdapat pada perkembangan cerita dan karakternya.

Jadi—gimana bilangnya ya?—dari perjumpaan pertama Touma dan Index itu, ceritanya kayak… dipenuhi berbagai twist dan kejutan gitu. Mungkin memang kejutannya tak begitu efektif penyampaiannya. Tapi bagaimana segala sesuatunya tampak di awal kemudian bisa menjadi berbeda jauh dibandingkan apa yang tampak di akhir.

Jadi, awal persahabatan Touma dan Index ternyata mengawali serangkaian perubahan yang kemudian terjadi pada dunia. Dunia yang selama ini terbagi menjadi dua kubu yang saling bertolak belakang, yaitu kubu sains dan sihir, mulai bergolak dengan Academy City sebagai pusat konfliknya. Kubu sains dan sihir ini ceritanya saling berseteru dan menjalani semacam perang rahasia antar satu sama lain. Tapi Kamijou—tanpa ia sadari sendiri—kemudian membangun semacam sekutu dari orang-orang antara kedua kubu ini, dan jadinya ia menarik perhatian banyak sekali kepentingan.

Yah, intinya kurang lebih begitu.

Season satu dari anime To Aru Majutsu no Index yang terdiri atas 24 episode ini merangkum buku 1 sampai buku 6 dari novelnya. Perkembangan ceritanya boleh dibilang lamban, soalnya setiap bab cerita terkesan tak berhubungan dengan satu sama lain. Tapi ada dampak-dampak perkembangan cerita berjangka panjang yang baru terasa kemudian.

Mulai dari pembeberan sifat asli Index terhadap Touma dan nasib tragis yang kemudian menimpanya; dilanjutkan dengan bab Deep Blood yang mempertemukan Touma dengan gadis bernama Himegami Aisa, yang memiliki kekuatan yang ‘mungkin’ mematikan vampir; lalu konflik Sisters yang dimulai saat Touma berjumpa dengan saudari kembar Misaka, yang kemudian mempertemukannya dengan Accelarator, Level 5 terkuat di Academy City, yang berkemampuan mengubah arah segala vektor dan kemudian menjadi lawannya (ini menurutku salah satu bab cerita terbaik di sepanjang seri); disusul misteri fenomena Angel Fall yang melibatkan Touma dengan orangtuanya, serta sahabat sekolahnya sendiri, Tsuchimikado Motoharu. Ada beberapa episode khusus yang mengetengahkan Accelarator sebagai tokoh utama, yang menjabarkan lebih jauh tentang karakternya serta percobaan yang sebelumnya ia jalani. Lalu musim tayang ini ditutup dengan bab pertemuan Touma dan Index dengan Kazakiri Hyouka, gadis misterius dari dimensi lain, yang sekaligus menjabarkan konsep partikel AIM yang akan berperan dalam bab-bab cerita ke depan.

Kualitas cerita animenya tentu saja kalah telak dibandingkan novelnya. Pemaparan ekstensif dan terarah yang ada di novel-novelnya menjadi sesuatu yang agak hilang di anime (tunggu, mungkin juga aku memang agak bias dalam hal ini). Tapi bagi beberapa orang yang merasa kurang bisa cocok dengan cara narasi Kamachi-sensei (mulai dari tokoh-tokoh yang bicara dengan gaya aneh sampai ke tokoh-tokoh aneh yang kehadirannya enggak jelas untuk apa), animenya kurasa enggak bisa dibilang buruk. Mungkin juga masalah selera juga sih. Tapi begitulah.

Ada daya tarik tertentu pada karakter Touma dan Misaka yang benar-benar sulit dijabarkan. Entah itu ada pada sifat pantang menyerah Touma atau pandangan optimisnya akan hidup, sekalipun ekspresi wajahnya seperti selalu siap menangis karena segala kesialannya. Atau juga pada bagaimana Misaka yang tangguh jauh di lubuk hati sebenarnya tercabik oleh rasa bersalah dan ketakberdayaannya.

Pokoknya, bagaimana ya, ada yang bagus dari anime ini, yang mungkin semata-mata berasal karena ceritanya memang bagus dari awal.

Ceritanya tentu saja masih berlanjut ke season 2 dengan begitu banyak hal masih belum terjelaskan.

Aku tahu ceritanya bahkan tak bisa dibilang adalah jenis cerita yang kusuka. Tapi damn, ceritanya bagus. Jadi ini seri yang mungkin akan kurekomendasiin pada penggemar anime umum yang tak sedang ingin melihat sesuatu yang khusus.

Kau mungkin perlu sedikit minat lebih untuk bisa memasukinya sih. Tapi kalau kau bisa masuk, kau beneran bisa menikmatinya.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B; Audio: B+; Perkembangan: A+; Eksekusi B+; Kepuasan Akhir: B+

01/03/2013

Utsuro no Hako to Zero no Maria, buku 5-6

Jadi, setelah sekian lama tak mengikuti perkembangannya (juga berhubung Mikage Eiji yang menjadi pengarangnya sibuk mengerjakan sejumlah proyek lain), kemarin aku akhirnya mengikuti kelanjutan cerita Utsuro no Hako to Zero no Maria di situs Baka-Tsuki. (Sebenarnya, aku sedang ada dinas ke luar kota, dan aku bosan di jalan. Tapi sudahlah.)

Waktu sudah berlalu agak lama semenjak kali terakhir aku membaca buku-buku sebelumnya. Tapi Mikage-sensei seperti yang ditulis di catatan akhirnya turut menyadari hal ini, dan karenanya mencoba memastikan agar semua narasinya bisa terikuti dengan baik.

Eniwei, aku ingat jelas bagaimana ceritanya berkembang ke arah yang benar-benar gelap pada dua buku sebelumnya (buku keempat ditutup dengan sebuah adegan pembunuhan). Lalu tren ke arah gelap itu berlanjut di dua buku ini.

Aku agak sempat malas membaca berhubung adanya tren gelap ini. Tapi rasa keingintahuanku akhirnya tak bisa ditahan, dan akupun membaca terjemahan bahasa Inggrisnya hingga tamat.

Dua buku yang mengetengahkan penultimate arc dari seri ini mengisahkan bagaimana Oomine Daiya, yang telah memperoleh Kotak-nya sendiri dari 0, berupaya mewujudkan keinginannya untuk merevolusi dunia untuk suatu alasan yang benar-benar pribadi.

Tentu saja, upayanya ini ditentang oleh sahabatnya, Hoshino Kazuki, yang menentang segala bentuk penggunaan Kotak demi apa yang diyakininya adalah terbaik bagi kekasihnya, Otonashi Maria. Sehingga dimulailah babak baru sebuah mind game yang menjadi ciri khas seri ini, kali ini antara dua tokoh utama, Kazuki dan Daiya.

Daiya menemukan dirinya terjebak di sebuah Kotak lain berbentuk kompleks bioskop yang diciptakan secara khusus untuk menghancurkan Kotak miliknya. Dengan kekuatan Kotak yang Daiya punyai, Daiya mencoba memberontak dengan menggunakan bantuan para pengikutnya sebelum kekuatan Kotak berbentuk bioskop itu menghancurkan mental sekaligus tekadnya.

Singkat kata, buku 5-6 dari seri Hakomari mengingatkan kembali akan segala alasan yang menjadikan orang bisa menggemari seri ini. Ceritanya masih berbasiskan karakter, dalam sebuah dunia kontemporer yang digambarkan kelabu dan suram, yang menghadirkan suatu adu pikiran pelik penuh muslihat dan teka-teki antara para pemain utamanya.

Kehadiran Daiya di sini sebagai tokoh utama lain selain Kazuki menjadi daya tarik lebih dari dua buku ini. Konfrontasi di antara mereka digambarkan secara bolak-balik dengan cara yang benar-benar seru. Intinya, karakter Daiya akhirnya memperoleh spotlight yang sejak awal memang pantas didapatkannya. Bisa dibilang dirinyalah bintang sesungguhnya dari cerita di dua buku ini. Lalu cerita yang dihadirkannya memang benar-benar menjadi tulang punggung persahabatan dari buku-buku sebelumnya.

Hubungan masa lalunya dengan Kirino Kokone dan Usui Haruaki, serta bagaimana teman-teman barunya, Kazuki, Maria, dan Mogi Kasumi kemudian hadir dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Tokoh-tokoh lama seperti Shindou Iroha dan Yanagi Yuuri menemukan kembali ingatan mereka akan Kotak dan turut berperan kembali.

Maria, dan alter egonya, Otonashi Aya, di sisi lain memperoleh sedikit porsi back seat. Karakternya tidak ditampilkan semenonjol sebelumnya. Tapi ada alasan untuk hal ini. Sebab rahasia sesungguhnya terkait hubungan antara 0 dan dirinya akhirnya dibeberkan pada kedua buku ini.

Sedangkan Kazuki mengalami perubahan karakter drastis sehubungan dengan terungkapnya perannya sesungguhnya terkait Maria…

Lalu semuanya berakhir dengan begitu menggantung, untuk diselesaikan pada buku ketujuh yang direncanakan akan menjadi klimaks sekaligus akhir seri ini.

Menurut pendapatku, ceritanya cukup memuaskan. Walau seperti biasa ini masih menjadi seri yang takkan dengan gampang kurekomendasikan pada orang lain. Ini cerita yang beneran gelap, dan mungkin akan agak ‘kontaminatif’ bagi orang-orang lembut yang belum terbiasa dengan cerita-cerita beginian.

Tapi sesudah membaca dua buku ini, aku bisa bayangkan begitu buku ketujuhnya keluar, pengumuman untuk adaptasi animenya mungkin bakal keluar juga. Sebab konflik dan teka-teki yang dihadirkan di seri ini memang seseru itu sih. Adegan-adegan konflik fisiknya sedikit. Tapi ada perang urat saraf dan psikologis serta tebak-tebakan yang memikat dari awal sampai akhir.

Tanpa anime-pun, ini salah satu seri ranobe terjemahan Baka-Tsuki yang kurasa akan banyak dikenang.

Aku dan banyak orang harus kembali bersabar menanti keluarnya (terjemahan) buku terakhirnya.

21/02/2013

Kami-sama no Memo-chou

Aku belum lama ini membaca seri ranobe Kamisama no Memochou (atau Heaven’s Memopad, kurang lebih berarti ‘buku notes Tuhan’) karangan Sugii Hikaru yang telah diterjemahkan lumayan jauh di Baka-Tsuki.

Buat yang belum yang tahu, ini semacam seri misteri detektif yang mengetengahkan seorang siswa SMA bernama Fujishima Narumi dan pengalaman-pengalamannya bersama Biro Detektif NEET yang dipimpin seorang gadis kecil semi-hikkikomori yang dikenal dengan nama Alice. Sebagian besar ceritanya berlatar di kota Tokyo kontemporer, dan ceritanya banyak mengangkat soal berbagai fenomena masyarakat urban.

Sejak dulu aku memang agak lemah dengan cerita-cerita misteri. Lalu aku terkesan karena alur ceritanya bisa sedemikian berbeda dibandingkan anime-nya yang sebagian episodenya sempat kutonton.

Bagaimana mengatakannya ya? Pastinya, cerita KamiMemo sebenarnya bukan cuma soal misteri, tapi juga lebih banyak soal kehidupan. Terlepas dari segala lelucon tsukkomi-nya, ceritanya mengangkat sejumlah tema berat yang enggak sepenuhnya nyaman buat diangkat. Khususnya, tentang kaum NEET (‘not under education, employment, or training’; istilah buatan buat menyebut orang-orang muda usia kerja yang ‘pengangguran’); orang-orang muda yang berada di usia kerja tapi tak bekerja ataupun bersekolah. Narumi, yang menjadi tokoh utamanya, saking belum tahunya dia soal cita-cita dan masa depannya sendiri, dan juga karena kecendrungannya buat bersikap introvert, dengan separuh bercanda tapi juga serius sudah ‘divonis’ oleh Alice dan teman-temannya kalau dirinya sudah ‘ditakdirkan’ jadi NEET. Lalu Alice, seperti yang kubilang sendiri, adalah gadis hikkikomori jenius yang asal-usulnya bisa dibilang misterius.

Aku lumayan terkesan dengan bagaimana dunia urban dipaparkan di KamiMemo. Meski fenomena orang-orang yang mengidap sindrom antisosial sebenarnya sudah menarik perhatian di Jepang semenjak… kapan? Awal abad 21? Bahasan buku ini benar-benar berkembang lebih jauh dari itu. (Yang pasti aku ingat betapa aku mudah terpikat oleh seri-seri dengan tema macam NHK no Youkoso!) Ini beneran suatu tema cerita yang mudah menarik perhatianku.

Lalu (terjemahan) KamiMemo tahu-tahu saja hadir dan mengangkat dua tema favoritku sekaligus.

Jelas saja aku enggak bisa enggak mulai baca.

(Enggak. Jangan bandingin seri ini dengan Gosick. Premisnya mungkin mirip, tapi jenis ceritanya beda jauh.)

It’s the NEET thing to do.

Sebenarnya, selain dari yang sudah kusinggung di atas, agak susah menjabarkan daya tarik seri ini di mana. Satu hal yang sekilas tak penting bisa secara intrinsik terhubung dengan hal lain. Inti seri KamiMemo pada dasarnya adalah tentang hubungan keseharian yang terjalin antara Narumi dengan orang-orang dari Biro Detektif NEET, serta kasus-kasus yang mereka hadapi. Tapi ada bahasan-bahasan yang menyinggung seputar takdir dan arti hidup juga. Sehingga terkadang bahasannya bisa terasa benar-benar pribadi…

Cerita dibuka dengan perkenalan pertama antara Narumi dengan Shinozaki Ayaka, teman sekelasnya yang perempuan yang merupakan anggota satu-satunya dari Klub Berkebun.

Ayaka ternyata mengajak Narumi bicara karena Klub Komputer yang hanya beranggotakan Narumi, seperti halnya Klub Berkebun yang hanya beranggotakan Ayaka, terancam untuk dibubarkan. Dan hanya bila mereka kemudian bergabung dengan klub satu sama lain klub keduanya akan bisa terselamatkan.

Narumi, akibat seringnya ia berpindah sekolah, adalah seseorang yang mengalami kendala dalam bergaul dan merasakan kesulitan untuk bisa membaur dengan orang lain. Sehingga langkah awal Ayaka untuk mendekatinya, mengajaknya bicara, dan kemudian menjadi temannya, secara harfiah kemudian menjadi pemicu rangkaian peristiwa besar dalam hidupnya.

Ayaka ternyata bekerja sambilan di sebuah kedai ramen (yang rasanya enggak begitu bisa dibilang enak) milik seorang perempuan muda ‘perkasa’ yang dipanggil Min-san (yang hobi dan cita-citanya yang sebenarnya adalah membuat es krim; dengan es krim buatannya yang benar-benar enak). Lalu di bangunan milik Min ini, ternyata tinggal pula seorang gadis bernama Alice yang mengepalai Biro Detektif NEET. Bangunan Min ini ternyata adalah markas yang menjadi tempat mangkal dari para anggota biro detektif tersebut.

Alice sehari-hari mengurung diri di kamarnya dengan hanya ditemani layar-layar komputernya yang menyala sekaligus, belasan boneka yang disimpannya di sana, serta berkaleng-kaleng minuman ringan Dr. Pepper yang merupakan minuman favoritnya. Di sana, ia memandu ‘rekan-rekannya’ dalam menangani berbagai kasus yang mereka terima. Rekan-rekannya tersebut antara lain:

  • Tetsu, seorang bekas petinju muda yang dulu pernah bersekolah di SMA Narumi. Kini sedikit ketagihan dengan dengan judi dan berkelana. Tangguh, dan punya koneksi dengan kepolisian setempat. (Aslinya bernama Ichinomiya Tetsuo.)
  • Shosa (‘Mayor’), seorang mahasiswa dengan penampilan seperti anak SD yang sering bolos kuliah. Tapi dirinya seorang maniak hal-hal berbau kemiliteran dengan pengetahuan ekstensif soal senjata, spionase, dan pelacakan. (Nama asli: Mukai Hitoshi.)
  • Hiro, seorang host tampan dan perhatian yang hidup dengan mengandalkan pemberian pacar-pacarnya. Tapi terlepas dari bawaannya untuk jadi ‘penjahat kelamin’, memiliki jaringan komunikasi dan informasi yang sangat luas. (Nama aslinya Kuwabara Hiroaki.)
  • Yondaime, alias Hinamura Souichirou, yang merupakan pewaris dari geng yakuza Hirasaka-gumi, yang meski punya tampilan sangar, karismatik, serta puluhan pengikut, adalah orang yang sebenarnya sangat pandai menjahit (boneka).

Dari Ayaka, komplikasi situasi yang bahkan enggak dipahami oleh Narumi sendiri kemudian membawanya ke tengah-tengah biro detektif tersebut. Lalu entah bagaimana, dirinya kemudian memperoleh kepercayaan Alice dan merasa menemukan tempat untuk dirinya sendiri di tengah-tengah mereka.

Separuhnya Lagi Lumayan Perih

Garis besar ceritanya ya kurang lebih kayak begitu. Aku benar-benar enggak bisa jelasin lebih rinci dari ini. Satu, karena bakal spoiler. Dua, karena ceritanya emang enggak cocok buat semua orang.

Ini seri misteri, tapi bukan misteri kayak Kindaichi atau Conan. Miripnya mungkin lebih kayak ke novel-novel detektif populer zaman dulu? Eniwei, kalau kau tipe yang cocok dengan ceritanya, kau bakal ngerasa bahwa setiap cerita yang Narumi tuturkan adalah ‘cerita pribadi’-nya dia. Meski ceritanya bersifat episodik, setiap bab dalam ceritanya menuturkan satu demi satu babak pencarian jati diri Narumi dalam menjadi lebih dewasa—dan semua balik terkait dengan hal-hal yang dipandangnya penting. Makanya setiap ceritanya bisa terasa benar-benar ‘berarti.’

Judulnya mengacu kepada salah satu perkataan Alice—yang secara abnormal menyalahkan ketidakmampuannya sendiri atas berbagai kemalangan di dunia—soal bagaimana setiap hal tak tertuntaskan di dunia pada akhirnya hanya akan jadi catatan kaki kecil dalam buku notes Tuhan. Ada banyak cara pandang kehidupan yang menarik di seri ini. Soal bagaimana kita mesti menerima ketidakmampuan kita. Soal bagaimana kita tetap harus bertindak sekalipun tindakan kita mungkin takkan ada artinya.

Versi animenya yang dibuat studio J.C. Staff termasuk lumayan keren. Sebagian besar cerita diangkatnya dari empat buku pertama. Tapi berhubung ada porsi cerita orisinalnya, serta urutan penceritannya berubah, impact-nya terasa lumayan beda karena urutan pengenalan kita terhadap karakter-karakternya juga berbeda.

Yea, ini seri yang ceritanya lumayan character-driven.

Mungkin lumayan jelas, tapi meski kita sudah ‘kenal’ siapa-siapa saja tokoh utama di seri ini, kita tetap masih belum terlalu tahu tentang siapa sesungguhnya diri mereka. Terutama Alice, dan ini jadi salah satu daya tariknya juga. Terutama dengan bagaimana para karakter yang terlibat di dalamnya sendiri juga enggak terlalu ngemasalahin hal itu.

Eniwei, ini cerita yang keren dan berarti buatku. Nuansanya agak melankolis. Lalu perkembangan ceritanya mungkin agak perih. Tapi sekali lagi, ini sesuatu yang enggak bisa enggak kuhargai karena apa-apa yang diangkat di dalamnya kerasa ‘berarti.’

Dan yea, itu bukan cuma karena ilustrasi karakter manis bikinan Mel Kishida di dalamnya.

(Waktu kutulis seri ini sudah terbit sekitar delapan buku oleh ASCII Media Works di bawah bendera Dengeki Bunko. Mungkin ceritanya masih bakal berlanjut.)

07/02/2013

Nekomonogatari (White)

…Aku enggak tahu membahas soal ini baiknya dari mana.

Latar waktunya seusai liburan musim panas, pada hari pertama dimulainya caturwulan baru. Tokoh utama kali ini adalah Hanekawa Tsubasa, dan bukan Araragi Koyomi. Sesudah suatu pertemuan kebetulan di tengah jalan dengan si roh anak perempuan yang dulu tersesat, Hachikuji Mayoi, Hanekawa, karena suatu alasan, kemudian berpapasan dengan seekor harimau raksasa yang bisa berbicara di tengah jalan…

Eniwei, demikianlah garis besar pembuka cerita Nekomonogatari (Shiro) (‘cerita kucing, sisi putih’) yang konon menjadi pembuka dari ‘season’ kedua seri novel Monogatari karya Nisio Isin. Adaptasi anime untuk ‘season’ kedua ini sudah dikonfirmasi dan akan ditayangkan pada pertengahan tahun 2013 ini.

Sedikit penasaran sesudah menonton (dan kemudian membaca) Nekomonogatari (Kuro) di akhir tahun lalu, aku coba membaca terjemahan bahasa Inggris dari novel ini (dibikin oleh CanonRap dari Quality Mistranslations, ada tautannya di Baka-Tsuki, meski dia merendah soal kualitas terjemahannya, dia serius layak dipuji). Lalu terus terang saja, sesudah menamatkannya, aku beneran mesti bilang kalau ini mungkin cerita Monogatari paling keren yang pernah kubaca sejauh ini.

Hitam-Putih

Meski rentang waktu latar cerita antara keduanya agak jauh, Nekomonogatari (Shiro) diterbitkan langsung sesudah Nekomonogatari (Kuro), menegaskan hubungan yang ada antara keduanya serta menggambarkan klimaks dari cerita yang mengisahkan tentang Hanekawa.

Setelah segala foreshadowing yang diberikan dalam bab-bab yang telah lalu, segala teka-teki yang ada tentang masa lalu, maksud, dan kepribadian Hanekawa yang sedikit demi sedikit semakin membingungkan akhirnya terjawab lewat cerita yang dituturkan oleh dirinya sendiri.

Hasilnya benar-benar keren kok.

(…Seenggaknya, cara bertuturnya dia enggak bertele-tele dan enggak sering keluar jalur kayak Araragi. Meski bahasan-bahasan konyol masih tetap ada sih.)

Seiring perkembangan cerita, Hanekawa, beserta sahabatnya(!) sekaligus pacar Araragi, Senjougahara Hitagi, kemudian menerima kenyataan bahwa harimau tersebut merupakan jenis keanehan baru yang kemungkinan berasal dari diri Hanekawa, seperti halnya siluman kucing Black Hanekawa yang masih terpendam di dalam dirinya sampai titik ini.

Namun di samping harimau itu, ada hal-hal aneh lainnya juga.

Araragi tak masuk ke sekolah dan dirinya juga tak bisa dihubungi. Ada sesuatu yang nampaknya telah terjadi saat akhir liburan musim panas, yang tak seorangpun dari mereka ketahui. Hachikuji juga tengah mencarinya (sesuatu yang terkait dengan tas punggungnya yang tertinggal). Lalu pada suatu titik, Araragi rupanya sempat memanggil bantuan adik kelas mereka yang menyimpan tangan monyet, Kanbaru Suruga, untuk sesuatu yang masih belum terjelaskan.

Tanpa Araragi, ataupun mentor mereka, Oshino Meme, di sisinya, akhirnya tiba waktunya bagi Hanekawa, persis seperti apa yang sering dikatakan Oshino, untuk menghadapi sekaligus menuntaskan masalah-masalahnya sendiri… karena ‘setiap orang pada akhirnya hanya akan bisa diselamatkan oleh diri mereka masing-masing.’

Satu hal yang benar-benar menarik dari novel ini adalah premis ‘keanehan’ yang melanda Hanekawa selama ini. Bukan hanya karakterisasinya yang benar-benar dalam. Yang membuatku beneran takjub adalah sekalipun narasinya kerap terkesan enggak serius dan benar-benar kayak sering breaking the fourth wall (“Kalau bekerja sama, Sengoku pun akan bisa kita kalahkan! | “Bukannya sudah disebut kalau pada titik ini kau masih belum tahu dia siapa?”), ceritanya itu… beneran membuat terenyuh.

Masalahnya Hanekawa itu… benar-benar gila.

Aku ngerasa pemaparannya bakalan agak susah dipahami dalam adaptasi anime-nya nanti. Jadi aku beneran terkesan sama gimana Nisio-sensei bisa sampai terpikir mengolahnya.

Di waktu yang sama, aku kurang lebih juga jadi ngerti kenapa di seri ini Senjougahara jadi tokoh cewek pertama yang diperkenalkan. Aku jadi paham soal kenapa alur penceritaan seri Monogatari dibikin maju-mundur. Soalnya bersama Hanekawa, di cerita ini kita sebagai pembaca turut menyatukan petunjuk-petunjuk tersamar yang sebelumnya sudah tersebar dalam seluruh rangkaian cerita Monogatari sampai sejauh ini.

Tentu saja ini jadi klimaks yang benar-benar kena.

(Oya, episode kali ini bertajuk Tsubasa Tiger, btw.)

Araragi tentu saja muncul menjelang akhir buku ini. Tapi apa-apa sebenarnya yang telah dia alami, atau tepatnya, apa-apa sebenarnya yang telah terjadi padanya, menjadi porsi cerita dua buku berikutnya.

Belum ada karakter baru yang menonjol lagi yang muncul pada titik ini (Gaen Izuko, sesosok perempuan yang berlawanan dengan Hanekawa, sungguh-sungguh ‘mengetahui segalanya’, muncul. Tapi kelihatannya dia belum berperan besar di titik ini). Tapi kedua adik Araragi, Araragi Karen dan Araragi Tsukihi, serta seorang ‘tokoh lama lain’ muncul dan berperan kembali. Lalu di samping itu, karena diambil dari sudut pandang Hanekawa sendiri, kita mendapatkan penjelasan menyeluruh tentang fenomena apa sesungguhnya Black Hanekawa yang menjadi duri dalam daging selama ini, beserta apa peranannya terkait orang-orang lain di sekeliling mereka.

“…Tapi itu enggak berarti ini sesuatu yang enggak bermakna.”

Setiap cerita yang dipaparkan dalam Monogatari selalu berakhir dengan membuatku agak berpikir. Tapi sejauh ini belum ada yang membuatku berpikir sedalam seperti sesudah aku membaca Nekomonogatari (Shiro).

Ceritanya itu… beneran membuat terenyuh, dan bagi beberapa orang yang gampang simpati, beneran bisa ngebuat sedih. Soalnya situasi yang dipaparkan di dalamnya kayaknya bisa dihubungkan dengan sesuatu yang pernah dialami kebanyakan orang.

Kamu tau, kayak: kamu enggak ngerasa salah, dan di mata orang lain, di mata kebanyakan orang, kamu emang kayaknya enggak salah. Tapi pada saat ditarik dalam jangka panjang, kamu lalu tiba-tiba disadarkan akan adanya sesuatu yang beneran enggak beres yang ternyata disadari oleh cuma segelintir orang gitu.

Orang kebanyakan enggak bisa ngeliat. Tapi kamu dan cuma kamu seorang ngerasain.

Kamu kayak… jadi diingatkan buat introspeksi dan mempertanyakan kembali segala sudut pandang dan asumsi yang sebelumnya kau punya.

Lalu pada saat kamu sadar, bisa-bisa semuanya udah telat.

Baca ini beneran kayak bikin kamu akhirnya ngeh soal berbagai makna yang terselubung dalam animasinya. Soal pilihan gaya visualnya, soal pilihan lagu-lagunya, hal-hal kayak gitu.

Ini beneran salah satu light novel paling memuaskan yang pernah kubaca.  Sayang aja kayak butuh… sekitar enam buku lain, untuk bisa bikin kamu ngerasain dampaknya.

06/12/2012

Kizumonogatari – IND (015)

Buat yang sudah nunggu, aku benar-benar minta maaf karena ngerjain ini butuh waktu lama.

Jadi, beberapa bulan terakhir aku terlibat dalam semacam ‘proyek’ gede, dan proyek itu menyita perhatian dan waktuku lebih banyak yang kusangka.  Keterlibatanku di proyek ini karena suatu alasan jadi ‘diputus’ begitu saja. Jadi, yea, lanjutan ceritanya agak enggak enak.

Tapi eniwei, aku jadi bisa melanjutkan proyek-proyek pribadiku. Jadi berikut ini lanjutannya.

Berhubung sudah Desember, sisa babnya akan kukebut.

015

“Yyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy-yahoo!”

Itulah… hal pertama yang diucapkan Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh.

Malam tersebut, sesudah Kiss-Shot bangun, kuserahkan ketiga potongan tubuh yang Oshino berikan padaku kepadanya—tentang jantungnya, Kiss-Shot sempat kebingungan, tapi lalu kujelaskan kebenaran dari masalah ini sejauh yang kupaham. Kiss-Shot, menanggapi semuanya dengan “Begitukah.” yang riang, dan kemudian menggigiti jantung berwarna merah tua itu seakan-akan itu sebuah apel.

Tata krama menyebutkan bahwa tak semestinya kita memperhatikan bila ada seorang perempuan sedang makan.

Maka dari itu, akupun melangkah keluar ke lorong.

Kemudian, sesudah beberapa lama—kudengar pekikan tawa penuh geli.

Itu merupakan… sebuah luapan kegembiraan dari lubuk hati yang terdalam.

Kubuka pintu dan kembali ke ruang kelas.

Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh tengah berdiri di sana.

Ini adalah sosok yang sama dengan perempuan yang kutemui hari itu di bawah lampu jalan.

Rambutnya yang keemasan.

Kuperhatikan kini lebih panjang, dan kini ditata dalam bentuk satu buntalan di tenguknya.

Bajunya yang manis—kuperhatikan badan Kiss-Shot lebih tinggi dariku.

Jujur saja, kupikir dirinya luar biasa cantik.

Bukan sekedar menarik, atau keren—kurasa seumur hidupku, mungkin saja, aku belum pernah menyaksikan seseorang secantik dirinya.

Tidak.

Bahkan hari itu pun, aku sebenarnya berpikir demikian.

Tak diragukan lagi—inilah wujud Kiss-Shot yang sesungguhnya.

Seperti inilah tampilannya dalam sosoknya yang utuh.

“Yahoooo! Beta telah pulih! Beta telah pulih!”

“… … … …”

Yah, andai saja dalam wujudnya yang utuh ini dirinya tak melakukan hal-hal seperti berlari dan melompat-lompat dalam ruang kelas sempit ini, kenangan yang kudapat dari kejadian ini pastinya bakal lebih berkesan. Bahkan, aku mungkin bakal merasa tergerak.

Ya, Kiss-Shot bersemangat.

Sama sekali tanpa perasaan perlu menjaga citra diri atau semacamnya.

“Kiss-Shot, ngomong-ngomong, kelihatannya tadi Oshino pergi lagi waktu hari masih siang.”

“Ya? Adakah yang salah soal itu?”

“Itu, soal jantungmu, kau tak marah soalnya?”

“Tidak apa. Kepadanya, beta berikan pengampunan—atau lebih tepatnya, peduli pun beta sebenarnya tak terlalu.”

Kyahahahaha. Kiss-Shot melepas tawa dengan suara indahnya yang sama sekali tak cocok dengan sikapnya sekarang, dan kembali berlarian sambil melompat-lompat.

Hmmm.

Bagaimanapun, aku tak menyadarinya sebelumnya di bawah cahaya lampu jalan itu, tapi… dada Kiss-Shot benar-benar besar.

Setiap kali ia melompat, keduanya bergoyang, bergoyang, bergoyang, bergoyang…

Aku sampai mendapat kesan kalau bagian depan gaunnya secara tiba-tiba bakalan robek.

Begitu rupanya. Jadi dari wujud kayak gitu (10 tahun) dia mengalami proses macam itu (17 tahun), dan akhirnya menjadi begini (27 tahun) ya?

Benar-benar sebuah misteri.

“… … … ..”

Kalau aku memohon padanya pada saat ia sedang menari-nari dengan gembira begini, bisa saja Kiss-Shot memberiku izin untuk menyentuh dadanya. Bukan berarti pikiran kotor macam begitu tak mengapung dalam kepalaku, aku hanya tak punya cukup keberanian untuk mengutarakannya.

Pada akhirnya, sikap enggak tahu malu seorang manusia tetap saja ada batasnya.

“Hm.”

Lalu tiba-tiba saja…

…gerakan Kiss-Shot terhenti. Ia terpaku.

Apa? Yang benar saja! Tadi pikiranku sempat terbaca olehnya?!

Seketika aku gelisah, lalu berkata, “A-ada apa? Ada yang salah?”

Aku bahkan merasa bagian dalam tenggorokanku sampai keluar saat aku mengatakan itu.

“… … … … …”

Kiss-Shot berdiri mematung untuk beberapa lama, dan itu memperkuat rasa gelisahku, hanya saja, sesudah beberapa saat…

“Hm? Ada apa?” tanyanya. “Apa engkau tadi sedang berbicara dengan bayanganku?”

“Ba-bayangan?”

“Asal engkau tahu, beta baru saja melakukan perjalanan mengitari Bumi sebanyak tujuh setengah kali.”

Memangnya kau cahaya?!

Yang benar saja. Itu satu tanggapan lelucon yang sulit kupercaya telah benar-benar kukeluarkan.”

“Beta hanya berkelakar. Bila beta sungguh telah mengelilingi Bumi sebanyak tujuh setengah kali, maka beta saat ini pasti berada di Brazil.”

Kiss-Shot tertawa kembali.

Wow, dirinya benar-benar sedang gembira.

“Ha ha. Rasanya benar-benar menakjubkan. Merasakan keutuhan dengan diri sendiri—wahai, pelayan.”

Sesudahnya, Kiss-Shot terus menari-nari selama sekitar dua jam. Tapi pada titik itu, luapan kegembiraannya akhirnya telah sedikit mereda, dan kata-kata itulah yang kemudian dilontarkannya.

“Sekali lagi, beta sampaikan rasa terima kasih pada engkau. Tentu sejak awal beta percaya engkau dengan lihai akan satukan kembali tungkai-tungkai yang beta punya. Tapi sampai bisa menemukan pula jantung yang bahkan beta tak sadari telah diambil, itu satu hal yang sepenuhnya tak beta sangka. Pada engkau, beta limpahkan segenap penghargaan yang bisa beta berikan.”

“Entah ya.”

Walau Kiss-Shot memberiku terima kasih dan pujian, aku tak bisa tak merasa resah karena suatu alasan.

Aku tetap tak bisa menyingkirkan perasaan kalau aku telah menjadi korban dalam suatu rencana besar.

Seperti telah dipermainkan—itulah yang kurasakan.

“Aku tak merasa telah melakukan apapun selain disuruh pergi ke sana terus ke sini—daripada mengumpulkan, aku lebih merasa seperti semuanya kemudian terkumpul dengan sendiri.”

Kalau kau tanya siapa yang layak mendapat ucapan terima kasih di sini, aku merasa yang pantas itu Oshino.

Tapi berhubung Oshino bisa marah kalau kuucapkan itu, maka terima kasih itu lebih pantas diberikan pada Hanekawa.

Hanekawa Tsubasa.

Kebetulan pula, malam ini ia tak datang.

Kami telah sepakat kalau pertemuan kami berikutnya adalah pada saat tahun ajaran baru dimulai.

Itulah yang telah kami putuskan bersama.

Yah, tentunya sesudah ketiga spesialis pembasmian vampir itu kukalahkan, aku tak merasa nyawa Hanekawa akan terancam lagi—tapi tetap saja kupikir bukan ide bagus bila ia kembali ke puing-puing bimbingan belajar ini.

Pada waktu itu, kupikir masih belum pasti juga apakah Guillotine Cutter akan mengembalikan lengan-lengan Kiss-Shot atau tidak.

Jadi walau kubilang saat pertemuan kami lagi adalah di awal tahun ajaran baru—tanpa kusadari, hari yang dimaksud ternyata tak lain adalah lusa.

Waktunya sudah sedekat ini lagi.

Dan pada saat kami bertemu lagi, aku… telah kembali menjadi manusia lagi.

Setidaknya pengharapanku begitu.

… … Sampai akhir Oshino secara terang-terangan menghindari Hanekawa dan kemudian pergi. Tapi di sisi lain, kurasa aku dapat kesan kalau Hanekawa sebenarnya ingin bisa bertemu dengannya. Setelah kuingat lagi sekarang—sepertinya aku lupa bertanya padanya soal ini.

Yah—sudah terlambat untuk mempermasalahkannya sekarang.

Lebih penting lagi…

“Kiss-Shot, aku minta maaf karena ngatain ini pas kamu lagi senang-senangnya. Tapi, kalau bisa, aku ingin bisa kembali jadi manusia secepatnya.”

“Ah, tentu saja. Tenang, beta takkan mengabaikan permintaan engkau untuk kembali jadi manusia. Tapi pelayanku, sebelumnya, tidakkah lebih baik kita berbincang sebentar?”

“Berbincang?”

“Hanya sedikit lepas kangen—hah, bukan macam itu. Hanya saja ada yang beta perlu sampaikan terlebih dahulu sebelum berubahnya engkau kembali menjadi manusia.

Nada bicara Kiss-Shot sepenuhnya tenang.

Sorotan dari sepasang matanya sekali lagi terasa dingin.

Nampaknya, dirinya telah memasuki mode serius kembali.

“Oke, boleh.”

“Baiklah. Kalau begitu, mari kita berganti tempat?”

“Bukan di sini?”

“Di manapun boleh, tapi mari kita cari yang lebih bersuasana.”

Mari kita ke atas, adalah apa yang Kiss-Shot katakan.

Sebagaimana yang telah disuruh, aku keluar ruangan kelas, dan menapaki tangga—sepertinya hujan telah mereda, tapi malam telah tiba, jadi setinggi apapun kami pergi, tak ada resiko bagi kami untuk menghablur.

Kiss-Shot mendahuluiku dalam perjalanan menuju tangga, dan pada akhirnya kami naik sampai ke lantai empat.

Kiss-Shot memilih ruangan tempat aku dan Oshino berada pada siang hari sebelumnya.

Aku sempat yakin kalau Kiss-Shot akan mengajakku berbicara di sini, tapi dirinya terlihat tidak puas, dan akhirnya…

“Tidakkah lebih baik kita ke yang lebih tinggi dari ini?”

…menjadi apa yang dikatakannya selanjutnya.

“Bangunan ini enggak punya jalan buat ke atap kan? Tanda-tanda petunjuk tangga darurat juga enggak ada.”

Aku berkata, dan hanya…

“Hmm.”

…dikeluarkan oleh Kiss-Shot saat ia mengarahkan kedua matanya ke arah langit-langit.

Krak.

Begitu saja, sebagian langit-langit ruangan tersebut terhempas ke luar.

Sisa-sisa serbuk beton berhamburan, tapi dirinya, tanpa mempermasalahkan semua itu, berkata…

“Ikuti beta, pelayan.”

…dan  (seakan ini alami) dari bagian gaunnya yang terbuka seperti di dadanya, tumbuhlah sepasang sayap mirip sayap kelelawar(!), yang ia kibaskan, dan Kiss-Shot pun terbang menuju lubang yang telah dibukanya di langit-langit dengan hanya tatapannya saja.

“… … …”

Tidak, sudah ada terlalu banyak hal gila untuk bisa aku tanggapi.

Ekologimu benar-benar penuh lubang.

Maksudku, tatapan mata Kiss-Shot saja punya kekuatan destruktif! Ini sama sekali terlalu beda dari tatapan keji yang Episode punya!

Ini bahkan melampuai kemampuan perubahan wujud Dramaturgie.

Dirinya bahkan bisa menumbuhkan sayap.

Aku mencoba melakukan hal yang sama juga, tapi terlepas dari segala khayalan gila soal tumbuhan yang kuperoleh sampai selama ini, aku tak pernah membayangkan bisa mempunyai sayap, jadi tentu saja itu bukan sesuatu yang berhasil kulakukan.

Aku melakukan satu lompatan biasa, kemudian melewati rongga beton yang telah Kiss-Shot ciptakan.

Maksudku, bahkan satu lompatan seperti ini saja sudah hebat, ‘kan?

Puing-puing, atap dari bangunan bimbel itu—tak ada penjabaran yang lebih tepat selain kami sungguh-sungguh berada di bubungan atap.

Di atap itu…

…Kiss-Shot sedang menantiku dalam posisi jongkok.

Di bawah cahaya bintang di malam hari—gambaran melankolis seorang gadis yang sedang duduk mengandung semacam daya tarik ajaib. Walau aku tak paham alasannya, secara aneh aku tiba-tiba merasa tegang.

Aku tak tahu kenapa.

Aku gemetar dan tanpa sadar mengkerut.

Wujud sempurna—dada sempurna.

Keberadaan yang lengkap.

Serta—sebuah keberadaan yang superior.

Aku… merasa dirinya sedang membuatku menyadari bahwa aku bukanlah apa-apa selain bawahan dan pelayannya.

“Hm?”

Tiba-tiba, Kiss-Shot memandang ke arahku.

“Apa yang dikau lakukan? Kemarilah.”

“…Iya.”

Sebagaimana yang diperintahkan—aku duduk di sebelah Kiss-Shot.

Aku melakukannya, dan secara tak terduga aku menerima sundulan kepala.

Kiss-Shot yang melakukannya.

“Ap-apa yang kau lakukan?

“Apa yang engkau takutkan? Engkau pelayanku yang berharga. Beta takkan memakanmu.”

“B-Benar juga…”

Kata-katanya seakan menusuk hatiku.

Memang benar, sesudah aku melihat Kiss-Shot tertawa dengan cara seperti itu, aku merasa tolol karena sampai mengkerut.

Berpikir begitu, sikapku segera berbah santai.

“Nah, sekarang, apa sebaiknya yang perlu kita bahas?”

“Bukannya tadi kau bilang ada sesuatu yang kau bicarakan?”

Sesuatu soal mengubahku kembali menjadi manusia.

Itu yang kau katakan tadi.

“Pilihan kata-kata beta kuranglah tepat. Bukannya ada sesuatu yang ingin beta bicarakan, yang beta inginkan hanyalah berbicara dan berbicara tentang apapun boleh.”

“Kau mengatakan sesuatu yang aneh.”

Kalau begitu, mari kita mengobrol.

Aku tak yakin kapan, tapi aku ingat pernah diberitahu soal ini oleh Hanekawa.

Walau dirinya seorang vampir, Kiss-Shot tetap seorang perempuan, kurasa?

Mungkin tak heran bila dirinya suka mengobrol.

Jadi ini seperti semacam perayaan untuk memperingati pemulihannya.

“Apa ini sesuatu yang aku perlukan agar kau bisa mengembalikanku jadi manusia?”

“Ini memang sesuatu yang diperlukan. Oleh beta.”

“Hmmm. Tapi kau sudah hidup selama 500 tahun kan? Mestinya kau ada banyak kisah yang bisa diceritakan.”

“Kesempatan macam ini tak sering terjadi.” Kiss-Shot menanggapi kata-kataku. “Karena sepanjang waktu beta lebih banyak bertarung sampai mati dengan orang-orang seperti mereka bertiga itu—lalu sebelum beta sadari, beta telah diakui sebagai legenda. Yah, orang seperti bocah itu memang langka…”

“Bocah? …Oshino?”

“Bisa mengambil jantungku tanpa beta sendiri menyadarinya merupakan prestasi langka. Tak hanya tak dilumpuhkan… beta bahkan tak ingat kapan kami dulu bersimpangan jalan.”

“Aku juga penasaran dia sebenarnya siapa.”

“Siapa tahu? Sebab bagaimanapun, andaikata bocah itu mengabdikan dirinya untuk urusan pembasmian vampir, bahkan betapun akan dibuat gemetar olehnya. Untung saja dia oportunis yang lebih memilih bersikap netral.”

“Oportunis…”

Aku bahkan sempat berpikir kalau itu cara yang terlalu kasar untuk menggambarkan dirinya, tapi secara tak terduga, sebutan itu terasa cukup pas untuk Oshino. Seandainya aku katakan soal ini padanya, aku yakin dia malah akan membangga-banggakannya dengan tawa riang.

“Jadi apa yang terjadi kali ini boleh dikata cukup menggairahkan—namun, pada dasarnya, 500 tahun itu merupakan 500 tahun yang membosankan. …Benar juga, berbicara soal hal-hal yang sebaiknya kubicarakan, beta rasa beta perlu bercerita soal orang itu.”

“Orang itu?”

“Beta pernah jelaskan kalau engkau merupakan pelayan kedua yang beta pernah ciptakan, bukan? Maka dari itu, yang beta maksud tak lain ialah pelayan pertama beta tersebut.”

“Yang pertama…”

Sebentar.

Kalau tak salah… ini cerita tentang kejadian 400 tahun lalu, ‘kan?

“Ah, ya. Kalau enggak salah kau pernah mengatakannya. Aku pelayan yang kedua sesudah masa 400 tahun—aku ingat aku mendengar sesuatu yang seperti peluang ke Koshien.”

“Koshien?”

“Err, lupain. Tadi cuma perumpamaan. Yang lebih penting, jadi orang macam apa yang menjadi bawahanmu yang pertama? Aku ingin dengar.”

“Ya. Akan beta ceritakan.”

“Jadi dia orang yang mirip denganku?”

“Mengapa engkau berpikir demikian?”

“Er, itu karena…”

Aku belum menceritakannya.

Uh, Oshino tak sedang ada di sini sih, jadi kurasa tak apa-apa.

“…Sebenarnya, aku dengar soal ini dari Oshino. Ada dua makna dari dihisapnya darah oleh seorang vampir, jadi bila darahmu dihisap, itu tak berarti kau akan langsung berubah menjadi vampir.”

“Hm.” Kiss-Shot mengernyit. “…Jangan salah sangka. Bukan berarti beta berusaha menyelamatkan nyawamu—engkau beta ubah menjadi bawahanku semata-mata untuk mengumpulkan kembali tungkai-tungkai beta yang hilang. Sekarang, hal ini bisa beta beberkan. Tapi andai beta katakan itu dari awal, engkau belum tentu akan mau membantu, maka dari itu beta berbohong.”

“Oshino bilang kau pasti akan mengatakannya dari awal kalau begitu.”

“… … …”

Kiss-Shot terdiam. Dan pada akhirnya tak mengatakan apa-apa lagi.

Apakah itu karena perkataanku tepat atau malah sama sekali meleset… aku tak bisa memastikan.

“Gi-gimanapun, aku penasaran apakah aku mirip dengannya atau enggak… soalnya gimanapun juga, jumlah orang yang pernah kau pilih buat jadi pelayanmu sejauh ini baru dua.”

“Dirinya tak punya kemiripan apapun denganmu selain dari suku bangsa.”

Aku berusaha mengembalikan topik pembicaraan seperti sebelumnya sembari mengira kalau mestinya aku diam saja, tapi Kiss-Shot dengan datar mementahkan perkiraanku.

“Pria yang menjadi bawahanku yang pertama itu seorang kesatria… seseorang yang padanya pantas kupercayakan punggungku. Sungguh seorang kesatria yang sejati.”

“Uuuh… aku tak yakin apa aku sanggup jaga punggungmu.”

Paling-paling yang aku bisa cuma menjaga rumahmu.

Tapi sebenarnya, menjaga itupun mungkin aku tak sanggup.

“Yah, gimanapun, kejadiannya 400 tahun lalu ‘kan? Tak seperti sekarang, semua pria di masa itu sedikit banyak pastilah seorang kesatria.”

“Pandangan engkau terhadap sejarah nampaknya penuh bias dan distorsi.”

“Err…”

Sejujurnya aku tak mahir dalam sejarah dunia.

“Tidak, tunggu, gini, entah gimana aku ini orang yang punya sifat begini, jadi, kau tahu, aku bukan orang yang jago dengan cara berpikir hysteric.”

“Beta baru tahu ada makna kedua dari kata hysteric dalam arti yang bersejarah.”

Kini terungkap pula kalau aku tidak terlalu pandai berbahasa Inggris.

“Walau begitu, sudah cukup lama semenjak kali terakhir beta ke negeri ini. Jelas tampak negeri ini kini telah menjadi damai—hanya negeri ini semata yang tampak terpisah dari sisa dunia yang lain.”

“Maaf kalau aku ketagihan terhadap perdamaian.”

Aku tak yakin apa aku perlu minta maaf soal ini sih.

Namun begitu, jelas kalau aku bukanlah seorang kesatria.

Sebanyak apapun aku bersikap seperti dalam Gakuen Inou Batoru, aku tetap orang biasa luar dan dalam—tak peduli aku seterampil apapun sebagai vampir, aku tak lebih kuat dari anak SMP yang mengayun-ayun pisau roti.

Kiss-Shot pastinya kecewa.

Terlebih lagi bila pelayan pertamanya memang orang keren yang hebat.

“Tapi, kenyataan aku diubah jadi bawahan, baik itu karena kau khawatirkan aku, atau agar aku bisa kumpulkan tungkai-tungkai itu, pada akhirnya itu tetap tindakan yang dilakukan karena keadaan darurat… Jadi pada akhirnya aku enggak benar-benar merasa perlu ada kemiripan antara aku dan pendahuluku. Tapi tadi kau bilang aku dan dirinya berasal dari suku bangsa yang sama?”

“Benar.”

“Jadi dia ras mongoloid? Atau benar orang Jepang? Ah, itu pasti enggak mungkin. Berarti dari Asia daratan?”

“Bukan. Dirinya orang Jepang.”

Kiss-Shot mengucapkan sesuatu yang tak kuduga.

“Dirinya seorang pria yang kutemui saat kusia-siakan masa mudaku dengan berkeliaran di sepenjuru dunia. Kebetulan beta pelajari bahasa Jepang di masa itu pula—walau pemakaian kosa katanya telah berubah jauh semenjak saat itu.”

“Jepang 400 tahun lalu…”

Berarti itu periode Edo? Atau bukan ya?

Sial. Aku juga tak jago dalam pelajaran Sejarah.

Tepatnya, aku tak jago dalam apapun selain matematika.

“Jadi, dia bukan kesatria. Tapi lebih tepatnya, seorang samurai…”

“Hm? Ah, beta rasa kata-katamu benar.”

Kiss-Shot mengangguk.

“Bagaimanapun, dirinya lelaki yang kuat.”

“Hmmm. Kalau begitu, bukannya lebih baik kalau kau panggil dia saja? Kalau dia bilang dia bawahanmu, itu berarti juga semacam pelayan ‘kan? Kalau memang begitu, kau juga tak perlu sampai mengambil resiko dengan mempertaruhkan segalanya padaku…”

“Tidak mungkin. Sebab dirinya sudah mati.”

Kiss-Shot menyela perkataanku.

Secara harfiah, kata-katanya tersebut praktis menyela perkataanku.

“Soal itu, pun, sebenarnya sebuah cerita lama… Ingatkah engkau? Pernah beta berkata kalau dalam pertarungan, beta terkadang menggunakan katana.”

“Hm?”

Apa iya dia pernah memberitahuku hal ini?

Ah, iya, kapan ya, kalau tak salah ini sesuatu yang sempat disinggungnya saat kami membahas bilah-bilah panjangnya Dramaturgie. Kalau tak salah Kiss-Shot sempat mengatakan sesuatu soal menghasilkan sebilah pedang dengan kekuatan penciptaan materi.

Aku sama sekali lupa tentang hal itu.

…Tapi aku lega aku bisa ingat hal itu tanpa harus mengutak-atik isi otakku lagi.

“Katana yang kusebutkan waktu itu, adalah peninggalan darinya.”

Katanya.

Kiss-Shot kemudian menusukkan tangan kanannya ke dalam perutnya sendiri. Tangannya menembus kain bajunya, jemarinya melubangi organ-organ dalamnya dengan mudah.

Dan kupikir semuanya bisa berakhir tanpa aku harus mengutak-atik isi otakku…

Tanpa mempedulikanku yang tecengang, Kiss-Shot menarik keluar tangan kanannya dari dalam perut—yang kini memegangi sesuatu yang terlihat seperti pegangan sebilah pedang.

Terlebih lagi, bentuk pegangan itu… itu pegangan pedang Jepang?

Tebakanku ternyata sama sekali tak salah.

Pedang yang Kiss-Shot cabut dari dalam perutnya sendiri, dengan panjang total sekitar dua meter, rupanya adalah sebilah oodachi.

Youtou, ‘Kokorowatari’, bilah pedang kelas pertama dari seorang ahil pedang yang tak bernama, meski nampaknya pada masanya dirinya cukup dikenal. Yah, beta tak terlalu memahaminya secara baik, asal pedang ini bisa dipakai memotong saja sudah cukup.”

“Eeh…”

Sesudah luka besar di perut Kiss-Shot mulai pulih—aku mulai bisa memperhatikan katana yang dicabutnya secara seksama. Ukurannya panjang… tapi walau panjang, ukurannya tak lebih panjang dari pedang-pedang melengkung Dramaturgie. Meski begitu, walau pasangan flamberge yang Dramaturgie gunakan memiliki bentuk dengan kualitas artistik, pedang-pedang Jepang memiliki daya tarik unik mereka tersendiri.

Kalau aku hrus mengatakannya, untuk Kiss-Shot, dengan rambut pirang dan gaun yang dikenakannya, sebilah katanya berkesan tidak cocok dengannya—salah, sejak awal, tak peduli setajam apa sebilah pedang, apa mungkin ada senjata yang dapat menandingi tenaga super yang seorang vampir punyai?

“Jangan bergerak.”

Tiba-tiba saja, Kiss-Shot mengayunkan pedang itu, Kokorowatari.

Sekilas ayunan tersebut terlihat seperti gerakan mengibaskan debu dari permukaan pedang—namun kenyataannya bukanlah seperti itu.

“Hei…”

“Jangan bergerak. Saat ini, engkau baru saja terpotong oleh beta.”

“E-Eeeh?”

“Apa engkau merasakan sakit?”

“Eh? Enggak…”

“Hmmm. Itu berarti kemahiranku sama sekali belum berkurang. Kini engkau boleh bergerak lagi. Lukamu telah mulai pulih kembali.”

“A… Apa ini… kebohongan lain macam yang keliling dunia dalam tujuh setengah kali putaran tadi? Tadi kau bilang pulih, tapi pakaianku kan tak bisa pulih.. memang kau tadi memotong di mana?”

“Perut, secara melintang, beta juga memotong pula sesuatu yang beta tak tahan.”

“Tak tahan?”

“Jangan cemaskan soal pakaian. Ketajaman yang Kokorowatari miliki sangatlah asli—sampai ke taraf apabila bagian-bagian terpotongnya dibiarkan beberapa lama, maka setiap potongannya akan tersambung kembali. Tapi agar hal tersebut terjadi, semua kembali pada kemahiran beta semata tentunya.”

“… … …”

Kelihatannya benar.

Tapi serius…?

“Tapi, bagaimana bisa pedang itu bisa kuat digunakan olehmu—maksudku, tak sampai hancur oleh tenagamu? Bukannya itu aslinya memang hanya pedang biasa?”

“Alasannya adalah walau asal-usulnya seperti yang kau bilang, ini bukanlah ciptaan yang asli. Dengan menggunakan yang asli sebagai material mentah, bawahanku yang pertama menciptakan wujudnya yang ini dengan menggunakan darah dagingnya sendiri. Terlebih, aku betalah yang mewarisinya. Namun, berhubung pedangnya sendiri terlampau tajam, tak peduli berapa kali digunakan untuk memotong, ketajamannya akan tetap sama. Dengan demikian, boleh dikata ini katana yang lebih pantas dipakai untuk memotong Kaii—fenomena ganjil.”

“Pemotong… Kaii ya?”

“Tepat sekali. Berhubung Kokorowatari cukup sulit untuk diucap, lawan-lawan beta menyebutnya sebagai Pemusnah Kaii. Jadi Pemusnah Fenomena Ganjil aslinya bukanlah julukan beta, melainkan sebutan untuk pedang ini.”

Sembari berbicara—Kiss-Shot mengembalikan pedang tersebut ke dalam tubuhnya lagi.

Kesannya seolah dirinya sedang melakukan seppuku.

Sekali lagi, dirinya abadi.

Namun katana itu… menurut Kiss-Shot merupakan peninggalan bawahan pertamanya yang harusnya memiliki keabadian yang sama.

Bawahannya yang pertama… sudah terlanjur wafat.

“Seorang vampir yang abadi wafat… itu berarti dia tewas karena dibasmi ‘kan?”

Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter—orang-orang seperti mereka pastinya pernah ada sekitar 400 tahun sebelumnya juga.

Namun…

“Salah.”

Kiss-Shot berkata.

“Dirinya adalah orang yang takkan bisa dibunuh oleh siapapun.”

“Lalu kenapa?”

Sekalipun dirinya abadi…

…dengan cara apa dirinya akhirnya meninggal?

“Bunuh diri.”

Kiss-Shot menjawab dengan datar.

Dengan sorot mata dingin—memandangi kota di bawah sana.

“Itulah penyebab dari 90% kematian vampir setiap waktu: alasan yang lazim.”

“… … …”

“Di sisi lain, 10% sisanya terjadi akibat tindakan pembasmian vampir yang secara berkelanjutan terus terjadi—penyebab kematian sisanya adalah hal-hal seperti salah perhitungan.”

“Bunuh diri? Kenapa?”

“Kebosanan mematikan manusia, bukankah ada pepatah yang menyebut begitu?”

Kebosanan—mematikan manusia.

Walau ada orang-orang di dunia ini yang bisa sampai mati karena perasaan bersalah… aku tak bisa menyangkal kalau kebosanan juga bisa mematikan.

“Memang bergantung pada keadaan dan zaman, tapi, baik apakah seseorang merupakan vampir asli atau sebelumnya adalah manusia, dalam sebagian besar kasus, kelihatannya sebagian besar vampir, sesudah hidup selama 200 tahun, akan mulai menginginkan kematian.”

“Tapi… dengan cara apa mereka bisa bunuh diri? Bukannya mereka abadi?”

“Seperti yang engkau lakukan di hari pertama, melempar diri ke bawah sorot cahaya mentari adalah langkah yang tercepat—yah, kurang lebih bisa diumpamakan seperti melompat dari bibir tebing.”

“Jangan mengumpamakannya semudah itu dong…”

Tapi kurasa—kenyataannya mungkin memang benar seperti itu.

Dirinya pasti memiliki keinginan untuk mati, Kiss-Shot mengatainya padaku waktu itu.

“Kalau beta asumsikan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, maka itu adalah kenyataan bahwa yang dipilihnya ialah kematiannya sendiri, hanya beberapa tahun sesudah perubahannya menjadi vampir—walau dalam rentang waktu sempit itu, sisanya tak banyak yang berubah.”

Karena dia melakukannya di depan mataku.

Dia melempar dirinya ke bawah terik matahari.

Dengan sengaja, seraya pamer.

Kiss-Shot menggumam.

“Semenjak itu—tak pernah beta menciptakan seorang bawahan lain, sampai engkau.”

“…Apa tak sekalipun kau bosan?”

Aku bertanya.

Walau mungkin itu sesuatu yang tak semestinya kutanyakan.

“Kau tak cuma pernah hidup 200 tahun. Kau bahkan—sudah hidup 500 tahun.”

“Tiada mungkin beta tidak bosan.” Kiss-Shot menjawab, tanpa mengumpat. “Selama ini yang beta lakukan hanya bermalas-malasan.”

“… …”

“Malas, malas—tiada satupun kegiatan yang bisa diperbuat. Andai beta melakukan sesuatu, sebagai tanggapan atas kegiatanku, para pembasmi vampir pasti akan bergerak dan mulai menguntiti beta ke manapun beta pergi—seperti tiga orang itu yang mengikutiku kemari pada saat beta berwisata.”

“Berwisata.”

Semula, aku sempat berpikir kalau itu mungkin bohong.

Tapi aku berubah pikiran dan sesudah kupikirkan lagi, sangat mungkin yang benar adalah sebaliknya.

Jika sebelumnya, di negeri ini, bawahan pertamanya ia ciptakan…

“…Namun, engkau sama sekali tak membosankanku, pelayan. Engkau—setiap hal yang engkau laksanakan dapat dikata adalah gila.”

Mungkin engkau satu-satunya orang di sepanjang sejarah yang menawarkan lehernya sendiri pada seorang vampir—Kiss-Shot tertawa seakan terhibur.

Untuk penampilannya yang sudah dewasa, caranya tertawa sangatlah kekanak-kanakan.

“Bahkan sampai memanggiliku Kiss-Shot tiba-tiba.”

“Ah, soal itu, aku sebenarnya tak sempat tanya, tapi ternyata semua orang kelihatan kaget saat aku melakukannya. Bahkan Oshino. Apa itu sesuatu yang mestinya enggak boleh kulakukan?”

“Tiada satupun orang bodoh di dunia ini yang akan berani memanggil seorang vampir menggunakan nama aslinya.”

“Nama asli? Itu seperti nama pertama?”

“…Menjelaskannya saja tolol. Yah, dunia.. bukan, zamannya sekarang mungkin berbeda—bukan hanya beta. Bahkan tiga orang itu. Beta pastinya kolot dan memiliki selera pakaian yang ketinggalan zaman. Andai beta ingin bisa pas dengan zaman ini, mungkin beta harus mulai berpakaian seperti si bocah itu.”

“Mau berpakaian seperti gaya Oshino? …Jangan. Gaya baju mentereng begitu tak sepatutnya menjadi cita-cita.”

“Ini lebih dari sekedar cita-cita, melainkan fakta.”

Yah, terserahlah, kata Kiss-Shot.

“Hanya sebatas ini yang bisa beta obrolkan. Selebihnya, beta ingin mendengar kisahmu sendiri. Dikau telah hidup selama 17 tahun, bukan? Tidak mungkin engkau hidup sepenuhnya dengan bermalas-malasan. Cobalah ceritakan pada beta sesuatu yang menarik.”

“Whoa.”

Itu cara bercerita yang terlalu merendah!

Menyampaikan cerita menarik dengan cara seperti itu sepertinya bakal sulit.

“E-Errr… kalau begitu, gimana kalau kita coba satu cerita konyol pendek biasa. Dulu ada orang, yah, dia pemuda baik-baik, tapi dia punya masalah ketergantungan terhadap alkohol. Kalau cuma sebatas itu saja, itu cuma masalah pribadi, dan dia merasa dia tetap bebas melakukan apapun yang dia mau, tapi sayangnya pada suatu hari pas dia mengemudi dalam keadaan mabuk, dia menabrak seorang gadis kecil yang sudah mengangkat tangan saat lampu berubah hijau. Karena sedang mabuk, dia tak sadar kalau dia menubruk seseorang, dan keesokan harinya, di tempat parkir apartemennya, baru dia sadar ada darah menempel di bemper mobilnya, kemudian barulah dia sadar soal kejadian itu. Di koran, orang itu kemudian tahu kalau nama gadis yang ditabraknya adalah ‘Rika-chan’. Seyogianya, pria tersebut harusnya menyerahkan diri, tapi dirinya merasa tersiksa. Seharusnya tak ada saksi mata, karenanya ia merasa tak apa jika ia diam saja… Sembari memikirkan itu, tahu-tahu hari menjadi malam. Persis saat itu, tiba-tiba saja telepon kabel apartemen itu menerima panggilan. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku ada di depan apartemenmu.’ Sesudah bilang begitu, telepon lalu ditutup begitu saja. ‘Rika-chan?! Tak mungkin!’ Si pemuda seketika terguncang. Namun, itu jelas suara seorang anak-anak. Itu suara yang berdesis seakan keteloran. Jangan bilang itu gadis yang kutabrak, yang seharusnya mati…? Lalu pada saat itu dia menerima telepon kedua. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku sudah sampai lantai pertama.’ Kamar yang ditempati pemuda itu berada di lantai kelima! ‘Rika-chan’ pasti tengah menuju ke sana. Berasumsi demikian, pria yang sebelumnya terguncang sekarang menjadi ketakutan. Apalagi sesudah ada telepon ketiga. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku sudah ada di lift.’ hei, jangan curang!”

“… … …”

Sambutannya tak begitu baik.

Apalagi bila dibandingkan dengan seberapa lama aku berbicara.

Cara penyampaian yang banyak mengingatkanku akan pendongeng, tapi mungkin di akhir aku malah jadi lebih menyebalkan dari yang kusangka.

“Hm. Tak harus yang seperti itu. Cerita-cerita lucu yang biasa saja boleh.”

“Guh…!”

Harga diriku terluka!

Walau pada dasarnya aku lebih banyak berperan sebagai tsukkomi

“Oke, kalau gitu, bagian kedua!”

“Oooh.”

“Professor Clark dulu berkata—‘Boys be anchovy!’”

“… … …”

Kiss-Shot bahkan tidak tersenyum.

Bahkan lelucon satu kalimat pun tak berguna.

“Kalau begitu bagian ketiga! Aku ingat yang satu ini karena omongan soal sejarah dunia tadi keluar, akan kuceritakan cerita kegagalanku sendiri!”

“Aku mau dengar!”

“Pada ‘ABCD’ di ‘blokade ABDC’ yang mengepung Jepang sebelum Perang Dunia II, pertanyaan soal nama masing-masing negara yang menyusun blokade tersebut ditanyakan dalam ujian. Untuk pertanyaan itu, aku menjawab ini! ‘A itu Amerika, B itu Britania Raya, C itu China, lalu… D itu Jerman!”

“… … …”

Kiss-Shot sedikit memiringkan kepalanya ke sisi.

Dirinya bahkan tak tertawa mendengar kisah kegagalanku.

“Um, kalau aku mesti jelaskan lucunya di mana, itu karena aku menebak B itu Britania Raya, tapi karena suatu alasan, aku membaca D dalam huruf romaji… apalagi Jerman ada di pihak Axis kan?”

Aku menjelaskan leluconku sendiri.

Kemudian sebagai tanggapannya, Kiss-Shot berkata.

“…Blokade ABCD itu apa?”

“Kau bahkan tak punya pengetahuan umum yang dipunyai manusia biasa!”

Ini cara menyedihkan untuk salah menangkap sebuah maksud.

Sesudahnya, pada akhirnya…

Jarum jam melewati angka tengah malam, dan tanggal berganti ke 8 April—yang merupakan hari terakhir liburan musim semi di SMA Swasta Naoetsu. Aku dan Kiss-Shot masih tetap mengobrol di atas atap puing-puing bimbel.

Aku sempat merasa sorot mata dingin Kiss-Shot dipenuhi niat untuk menembaki semua cerita pendek yang aku bawa, tapi separuh jalan kami sama-sama gembiranya sampai-sampai segala sesuatu hal terasa lucu, dan apapun yang kami katakan sama-sama membuat kami tertawa.

Aku merasa ini obrolan yang sama sekali tak berarti.

Aku merasa ini obrolan yang penuh kepura-puraan.

Tapi… mungkin saja…

Kalau aku mengenang kembali liburan musim semi ini, kenangan terbaik yang tersisa, yang pastinya takkan bisa kulupa, adalah hari ini, saat ini, di tempat ini, ketika aku melewatkan waktuku dengan mengobrol bersama Kiss-Shot.

Semua semata karena hanya di kesempatan ini aku tertawa.

“Kalau begitu.”

Walau dirinya tertawa begitu banyaknya sampai menangis, sembari mengusap matanya yang tak pernah kehilangan sorot dinginnya—Kiss-Shot berdiri.

“Waktunya telah tiba—akan kuubah engkau kembali menjadi manusia.”

“Ah, iya.”

Benar juga.

Sial, aku bahkan sampai lupa.

Apa mungkin aku sampai lupa pada hal sepenting itu… aku sampai terkejut oleh diriku sendiri.

Aku melewatkan terlalu banyak waktu bersenang-senang.

Bagaimanapun—kesenangan kami sedang di puncak-puncaknya.

“Ngomong-ngomong… apa pelayan pertamamu tak pernah berkeinginan buat kembali jadi manusia?”

“…Hm, alasannya rumit.”

“Rumit, katamu?”

Kau memakai bahasa Jepang yang rumit.

“Bagaimanapun, di masa itu, masih tak mungkin bagiku untuk mengubah seseorang kembali menjadi manusia—tapi kali ini, jika bisa, beta hendak belajar dari pengalaman tersebut. Jadi, apa engkau siap?”

“Err… mungkin karena tadi aku tertawa kebanyakan, tapi sekarang aku sedikit lapar. Bisa aku keluar makan dulu? Karena makanan yang terakhir kalau enggak salah sudah kadaluwarsa, apa aku bakal terlambat kalau aku beli sesuatu dulu?”

“Hm? Benar, tentunya betapun yang baru saja kembali ke wujudku yang utuh pun merasakan lapar—tapi apa engkau tak dapat lagi menahannya?”

“Ah, sedikit.”

“Apa engkau ingin membawa makanan jalan?”

“Makanan jalan?”

Maksudnya apa?

Mungkin itu semacam ungkapan yang sudah ketinggalan zaman.

“Yah, ini malam terakhirku sebagai vampir. Ini titik di mana aku punya sedikit keraguan tentang itu. Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?”

“Beta tak punya kesukaan atau ketidaksukaan khusus.”

“Uhhhhmmm…”

Yah, gimanapun, pada jam segini, minimarket 24 jam pastinya buka, jadi sejak awal pun pilihanku sebenarnya tak banyak.

“Kalau begitu, baik. Lakukan apa yang kau mau, pelayanku. Akan beta terima harapanmu untuk bisa menjadi pelayanku sedikit lebih lama—beta akan bersiap-siap sekarang di lantai kedua.”

“Oke.”

Dan sesudah itu dikata…

Perbincangan kami di atas atap kemudian berakhir.

Walau hanya minimarket 24 jam yang masih buka, tetap saja jarak yang kutempuh untuk membeli sesuatu tetaplah jauh—perjalanan bolak-balik dari puing-puing bimbel ini bisa mencapai satu jam.

Kalau aku menempuhnya tanpa memakai kecepatan berlari vampir sih.

Tapi, di sisi lain, aku juga tak merasa ingin cepat-cepat.

Sebaliknya, dengan sengaja aku berjalan pelan-pelan.

Hmph.

Menyusahkan.

Akan kuubah engkau kembali menjadi manusia—katanya.

Sejujurnya, aku tak bisa menyangkal kalau dikatakan seperti dengan begitu ringannya tak membuatku tak sedikit resah.

Aku ini memang pengecut sekaligus penakut.

Tapi… bagian soal ‘punya sedikit keraguan tentang itu’ yang kukatakan pada Kiss-Shot, itu kebohongan yang kubuat di tempat. Tentu saja, aku tak mau menjadi pelayan Kiss-Shot untuk waktu yang lebih lama lagi. Itu sih sudah tak perlu lagi dibahas.

Aku cuma….

…benci perpisahan.

“…Uhmmmmm…”

Mungkin… kasusnya sama juga untuk Kiss-Shot, mungkin.

Mungkin sebenarnya dia ingin membahas sesuatu soal kembalinya aku menjadi manusia.

Tapi pada akhirnya pembahasan soal itupun tak ada.

Kenyataannya.. dia sungguh-sungguh hanya ingin berbicara denganku.

Untuk bersenang-senang.

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Vampir legendaris.

Pemusnah Kaii.

“Pastinya nanti… dirinya akan pergi ke suatu tempat.”

Aku telah kumpulkan kembali setiap bagian tubuhnya yang hilang.

Dirinya takkan punya alasan untuk tinggal lagi di kota ini—bukan, negara ini, untuk waktu lebih lama lagi.

Berwisata—itu katanya.

Kalau aku pikirkan kembali tentang pelayannya yang pertama, pastinya ini semacam napak tilasnya menyusuri tempat-tempat kenangan—hanya saja, sejauh kenangannya semata, yang terjadi adalah kenangan buruk yang dimilikinya malah diperkuat.

Jantungnya dicuri, tungkai-tungkai tubuhnya dicuri.

Lalu bawahan kedua yang diciptakannya dalam putus asa hanyalah orang biasa-biasa saja.

Bahkan bawahannya tersebut bilang kalau dia ingin berubah kembali menjadi manusia.

Walau dia juga bilang orang bersangkutan itu tidak sampai membuatnya bosan sih.

“Dia sempat ditawari jadi dewa, tapi dia menolak… berbeda sama sekali dari Guillotine Cutter.”

Begitu Kiss-Shot meninggalkan negara ini…

… dirinya akan keliling dunia lagi mungkin.

Bukan, mengingat dia berbicara seakan dirinya banyak berpergian di masa mudanya, kurasa hari-hari begini dirinya malah jarang pergi ke mana-mana.

Lagipula, apa Kiss-Shot bahkan bisa naik pesawat—yah, mungkin dirinya tinggal perlu menumbuhkan sayap dan selanjutnya terbang di udara. Tubuhnya benar-benar praktis.

Tapi, jelas tak ada kesedihan dari perpisahan yang mungkin terjadi.

Sederhananya, apa yang menjadi ikatanku dengan Kiss-Shot hanyalah kenyataan tentang bagaimana aku menjadi vampir, jadi aku agak sedikit takut berpisah dengan status itu.

Aku merasa bisa memahami tanpa keraguan alasan mengapa Oshino, yang berkesan sembrono itu, tak pernah mengucapkan sepatahpun kata perpisahan.

“Yah, habis mau gimana lagi.”

Kalau kau bertemu, suatu saat kelak kau pasti berpisah.

Itulah hidup.

Walau bagi Kiss-Shot dua minggu ini tidak lebih dari serangkaian kenangan buruk, memandang lagi ke belakang sekarang, mungkin ini bukan liburan musim semi yang seburuk itu.

Mungkin ini memang bukan liburan musim semi yang seburuk itu.

Wah, aku benar-benar bisa sampai berpikir demikian.

“Oke!”

Aku ingin melanjutkan kegembiraan di atap tadi, melanjutkannya dengan semacam acara perpisahan. Ingin membuatnya seberkesan yang aku bisa, aku habiskan seluruh uang yang kupegang di minimarket, menghabiskannya untuk kue dan berbagai manisan lainnya, lalu dengan langkah cepat kembali ke puing-puing bangunan bimbel.

Dalam perjalanan kembali…

…sementara aku memikirkan kata-kata perpisahan apa yang pada akhirnya akan aku ucapkan pada Kiss-Shot, aku turut mempersiapkan tekadku—dan akhirnya aku tiba di ruang kelas yang biasa di lantai kedua.

Tanggal hari itu adalah 7 April.

Jam saat itu adalah pukul 2 dini hari.

“Aku kembali.”

Dengan perasaan itu, aku membuka pintu kelas dengan sikap seriang mungkin.

Kiss-Shot sedang menghabiskan sebuah kudapan ringan.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Yang dimakannya adalah… sesosok manusia.

“…Eh?”

Kantong belanjaan minimarket yang kubawa seketika terlepas dari tanganku.

Mendengar bunyi jatuhnya kantong itu, Kiss-Shot memutar kepalanya ke arahku.

Sementara tangannya…

…tengah memegang kepala seorang manusia yang sudah separuh termakan.

“Ah, Pelayan—tak disangka, kau cepat. Tapi bukankah pernah beta bilang, tidaklah sopan memandang seorang perempuan yang sedang makan.”

Aku mengenali kepala itu.

Itu kepala salah seorang dari ketiga spesialis pembasmian vampir itu.

Satu-satunya manusia di antara mereka.

Itu kepala Guillotine Cutter.

Tubuhnya, dagingnya telah tercacah hingga kecil—dirinya telah dipotong-potong sampai ke ukuran cukup kecil agar cukup mudah untuk dimakan.

Bagaikan seekor ikan… yang disajikan secara utuh.

“Dia tiba-tiba saja muncul saat beta menunggu engkau—nampaknya medan pelindung yang terpasang tak sanggup menyembunyikan kekuatan penuh beta. Namun, berhubung beta lapar, dia datang di saat tepat. Dia cemilan bagus.”

Itu katanya.

Kiss-Shot menggerakkan kepalanya seakan sedang mencari-cari seseorang di belakang bahuku.

Kemudian dirinya memiringkan kepala, tampak heran.

“Apa? Makanan jalan yang berkacamata dan berkepang itu tak engkau bawa bersamamu?”

Catatan:

hysteric: histeris

Koshien: stadion bisbol ternama di Jepang di mana tim-tim bisbol SMA terbaik se-Jepang bertanding dua kali setahun (kalau enggak salah). Araragi memakai perumpamaan ini untuk mengingat betapa jarangnya Kiss-Shot mengubah seorang manusia untuk menjadi pelayannya, sama kayak betapa kecilnya peluang sebuah tim atau orang untuk berkesempatan bermain di Koshien.

Youtou: istilah yang digunakan untuk menyebut pedang yang memiliki semacam aura supernatural di sekelilingnya. Pedang yang Kiss-Shot cabut adalah pedang dari jenis ini.

Kokorowatari: penyilang hati; ini nama pedang yang Kiss-Shot cabut.

seppuku: variasi harakiri di mana seseorang dalam posisi bersimpuh memotong perutnya sendiri, kemudian ada ‘asisten’ yang kemudian memenggal kepala yang bersangkutan pada saat yang bersangkutan tertunduk

Lelucon soal cerita di lift itu… kayaknya ini referensi terhadap sesuatu, tapi saya enggak yakin apa.

tsukkomi: semacam orang wajar yang menanggapi lelucon dalam komedi manzai, yang dijalankan oleh dua orang.

Boys be anchovy: harusnya boys be ambitious. …Perasaan aku pernah membahas soal ini.

Blokade ABCD: kepanjangan ABCD, dalam bahasa Inggris, yakni: American, British, Chinese, Dutch. Dalam bahasa Jepang, masing-masing jadi ‘Amerika’, ‘Igirisu’, ‘Chuugoku’, ‘Oranda’. Araragi salah menjawab dengan mengira kalau D itu kependekan dari ‘Doitsu’ yang merupakan bahasa Jepang untuk Jerman. Kata ‘Igirisu’ dan ‘Oranda’ berasal dari lafal Portugis ‘Inglês’ dan ‘Holanda’, sementara ‘Doitsu’ berasal dari bahasa Belanda, ‘Duits’