Posts tagged ‘Kyoto Animation’

04/04/2016

Musaigen no Phantom World

Aku mengikuti perkembangan Musaigen no Phantom World pertama karena musiknya. Tepatnya, karena lagu pembukanya. Band duo SCREEN mode berhasil membawakan lagu yang selain irama, juga memiliki lirik yang kuanggap menarik.

Alasan kedua, karena di animasi pembuka dan penutupnya ditampilkan seekor anjing bersayap bersama seekor cumi-cumi/gurita/makhluk-bertentakel-entah-apa. Aku penasaran soal peran yang dimiliki dua makhluk ini. Lalu selama menunggu, tahu-tahu saja aku mulai bisa menikmati cerita Phantom World.

Musaigen no Phantom World, atau Myriad Colors Phantom World (‘dunia Phantom yang berjuta warna’), sebenarnya termasuk anime yang menuai kontroversi di musim dingin lalu. Alasannya  karena sebagai anime keluaran studio Kyoto Animation, ceritanya (katanya) tak sebagus anime-anime keluaran mereka sebelumnya. Ini terutama terasa sesudah Hibike! Euphonium yang mendahuluinya beberapa waktu lalu.

Singkatnya, ada banyak penggemar studio ini yang kelihatannya jadi menuai harapan terlalu tinggi, sementara KyoAni sendiri sedang memilih mengerjakan sesuatu yang relatif ringan. Setidaknya, menurut penilaianku sebagai orang awam, terlepas dari ceritanya sendiri, ini masih termasuk seri yang penganimasiannya tereksekusi dengan amat sangat baik.

Jadi kalau misalnya aku yang ditanya, hasil jadi Phantom World memang di luar ekspektasiku. Tapi di sisi lain, aku enggak akan secara blak-blakan sampai ngatain kalau ini jelek juga.

Jadi, yea. Mungkin berkat anjing bersayap dan cumi-cumi/gurita itu, aku berakhir jadi orang yang lumayan bisa menikmatinya.

(Diamlah. Beberapa bulan kemarin aku stres karena kerjaan! Aku emang butuh sesuatu yang ringan!)

Berjumlah total 13 episode dan pertama tayang pada perempat awal tahun 2016 (ketika genre misteri sedang ngetren dan ada banyak pilihan anime menarik), Musaigen no Phantom World diangkat dari konsep novel buatan Hatano Soichirou yang diterbitkan KA Esma Bunko (jadi sejak awal pencetusannya memang telah menarik perhatian pihak KyoAni sendiri) dengan ilustrasi orisinil buatan Shirabi. Penyutradaraannya dilakukan sutradara ternama Ishihara Tatsuya, komposisi serinya dibuat oleh Shimo Fumihiko, dan musiknya ditangani oleh EFFY.

What is reality

Cerita Phantom World berlatar di dunia di mana khayalan dan kenyataan seakan telah membaur, akibat suatu insiden misterius di lembaga penelitian Arayashiki belasan tahun sebelumnya. Phantom adalah istilah untuk menyebut berbagai macam hantu/monster/UMA dan makhluk-makhluk lain sejenis, yang pada awalnya dianggap manusia hanya sebatas ilusi, yang mulai bermunculan dan bisa dilihat dengan mata telanjang semenjak terjadinya insiden itu. Teorinya (kalau tak salah), Phantom-Phantom ini bermunculan dari dalam collective unconciousness manusia, dan bisa tampak dengan mata telanjang sebagai dampak insiden tersebut atas cara kerja sistem saraf kita.

Meski biasanya memiliki hubungan live and let live dengan manusia, terkadang ada Phantom yang keberadaannya memang mengganggu atau bahkan membahayakan. Karenanya, anak-anak dan remaja-remaja yang tahu-tahu didapati berkemampuan khusus semenjak insiden itu dapat berkontribusi membantu Arayashiki dengan bergabung dalam Klub Perbaikan Kesalahan Neural yang ada di tiap sekolah, yang secara khusus menangani masalah-masalah seputar Phantom.

Phantom World berkisah tentang pengalaman-pengalaman siswa kelas satu SMA Ichijou Haruhiko beserta teman-teman sekelompoknya di Perguruan Hosea, dalam menangani berbagai isu seputar Phantom.

Tapi Kalau Kau Ingin Lebih…

Phantom World memang ceritanya tak pernah terlalu serius. Adegan-adegan aksinya juga lebih ke ‘rame’ dan ‘menghebohkan’ ketimbang ‘fantastis’ dan ‘keren.’ Kalau dirangkum, ceritanya memang tak sekeren dan seberbobot bayanganku di awal. Namun entah ya. Ada bagian-bagian tertentu yang buatku sedikit thought provoking, walau sekali lagi, bahasannya tak pernah sampai terlalu serius.

Haruhiko adalah anak remaja yang sangat hobi membaca. Karenanya, ia tahu banyak tentang berbagai hal walau manfaat pengetahuannya secara praktis agak dipertanyakan. Ia tinggal sendiri, dan karenanya, membaca jadi semacam caranya untuk melewatkan keadaan. Di samping itu, ia juga jago menggambar. Kemampuan menggambarnya itu yang jadi kekuatan untuk menghadapi Phantom, sebab lewat buku gambar yang selalu ia bawa:

  • Haruhiko bisa menyegel Phantom manapun yang telah berhasil ia gambar.
  • Sebaliknya, Haruhiko juga nantinya mampu memanggil Phantom-Phantom yang digambarnya ulang untuk membantunya.

Karena benar-benar menikmati membaca, harus diakui, Ichijou juga agak kurang olahraga.

Ada satu Phantom kecil bertipe peri dengan motif tampilan Timur Tengah bernama Ruru, yang karena suatu alasan telah lama mengikuti Haruhiko ke mana-mana. Sifatnya sedikit cerewet, meski karena itu pula ia bisa jadi akrab dengan orang-orang lain di sekeliling Haruhiko.

Ada kakak kelas bernama Kawakami Mai yang menjadi rekan satu tim Haruhiko di klub. Mai-senpai gadis remaja cantik dengan rambut pirang karena ia berdarah blasteran. Sifatnya ramah dan bisa diandalkan. Namun karena kecendrungannya untuk bertindak sebelum berpikir, Mai kesulitan menemukan orang-orang yang cocok bekerja sama dengannya dalam menghadapi Phantom. Selain itu, kemampuannya adalah semacam ilmu bela diri kempo yang dipadukan dengan kekuatan-kekuatan elemen air, tanah, api, dan logam yang ‘ditarik’ dari berbagai titik di dalam tubuhnya. Karena kemampuannya rentan menimbulkan kerusakan pada lingkungan sekitarnya juga, kebanyakan orang enggan bekerja dengannya, dan jadilah di awal cerita, kelompok Mai hanya terdiri atas dirinya dan Haruhiko saja.

Karena suatu alasan, seperti halnya Haruhiko, Mai-senpai pun hidup seorang diri. Lalu balas jasa yang dimintanya dari menangani Phantom di klub selalu adalah kupon-kupon yang bisa ditukar dengan barang kebutuhan pokok.

Lewat perkembangan berbasis karakter, Phantom World mengeksplorasi bertambahnya anggota tim Haruhiko dan Mai-senpai beserta masalah yang dihadapi masing-masing. Mulai dari Izumi Reina, murid pindahan yang manis dan sopan (tapi jago aikido) yang tak bergabung dengan klub karena isu orangtua yang mengekang, sekalipun Reina mempunyai kemampuan untuk ‘melahap’ Phantom. Dikisahkan juga bahwa kakak perempuan Reina pergi meninggalkan rumah dan menghilang. Lalu ke upaya Haruhiko untuk mengajak bergabung Minase Koito, seorang siswi penyendiri dan cool yang menangani Phantom lewat kekuatan suaranya yang dahsyat, tapi tak pernah mau terlibat dengan orang lain. Serta dengan seorang murid SD bernama Kumamakura Kurumi yang boneka beruang miliknya, Albrecht, dapat bergerak sendiri dan memiliki tenaga besar, yang Mai dan Haruhiko ingin ajak bergabung; meski Kurumi memiliki sedikit masalah kepercayaan diri.

Seperti yang kubilang, ceritanya tak pernah terlalu berat atau serius. Suasana visualnya dijaga agar selalu cerah, dan ini terlihat dari desain berbagai Phantom-nya yang beragam; mulai dari konyol dan unik sampai keren, tapi tak pernah sampai benar-benar menakutkan. Penanganan Phantom-nya juga tak melulu diakhiri dengan baku hantam.

Walau demikian, kuperhatikan selalu kayak ada bagian-bagian tertentu dari ceritanya yang kalau mau dibahas, sebenarnya enggak bisa dibahas dengan main-main. Mengangkat tema-tema soal perasaan terlantar yang Haruhiko rasakan karena ditinggal ibunya sewaktu kecil, atau perasaan kompleks Reina yang bisa sampai berpikir kalau keluarganya sebenarnya bukan keluarganya yang asli.

Hal menarik lain adalah bagaimana fenomena-fenomena Phantom—tak seperti bayanganku—tak melulu dimulai dengan bagaimana mereka sekedar muncul lalu berbuat kekacauan. Tapi juga dapat terjadi lewat beragam fenomena ganjil yang ujung-ujungnya mempengaruhi panca indera dan pikiran manusia. Jadi walau perkembangannya tak sedalam ataupun seberbobot yang aku sangka, bagiku hasilnya tetap menarik.

Kenapa Tak Terus Mencari?

Membahas soal teknis… kita membahas KyoAni di sini, jadi sebenarnya tak banyak yang perlu dibahas. Apapun kata orang, ini tetap keluaran mereka yang solid. Kelihatan banget sehebat apa mereka sebagai studio bila karya mereka yang ‘terjelek’ saja bisa sebagus ini.

Dari segi konten, seri ini memang agak berat di fanservice, walau bukan fanservice yang biasanya, lewat banyaknya karakter perempuan di sekeliling Haruhiko yang cantik dan manis. …Entah ya. Sebagai cowok lajang yang telah menginjak usia om-om, aku enggak bisa mengeluh banyak soal ini.

Satu hal menarik lain adalah bagaimana hampir setiap episode dibuka dengan pemaparan Haruhiko dan Ruru soal tema yang akan sedikit diangkat di episode itu. Jadi dari segi isi, karena tema-tema bahasan yang berbeda di tiap episode tersebut, struktur cerita Phantom World benar-benar seperti seri TV. Ada tema demikian di episode ini untuk premis kayak begini; orang-orang yang menghadapinya adalah para karakter utama yang terdiri atas ini, ini, dan ini; lalu terkadang ada ‘karakter tamu’ ini; satu episode sedikit mereferensikan apa yang terjadi di episode berikutnya; terus menjelang akhir season, ada perkembangan situasi genting yang penyelesaiannya menjadi penutup cerita.

Seperti yang kusadari dari Chuunikoi dan Kyoukai no Kanata, karena materi aslinya ada di bawah naungan mereka sendiri, KyoAni kayaknya punya kebebasan lebih juga soal bagaimana adaptasinya akan mereka lakukan. Jadi tidak seperti studio-studio lain yang kalau mengadaptasi cerita dari light novel, mereka melakukannya dengan tujuan utama untuk mempromosikan versi novelnya; KyoAni berbeda. KyoAni mengadaptasinya murni untuk menghasilkan suatu karya anime yang menurut mereka bisa berdiri sendiri. Lalu kalau seri novel yang jadi materi asalnya tetap laku, ya itu jadi pemasukan tambahan buat mereka.

Makanya, dalam hal ini aku merasa kalau kayaknya materi cerita asli di novel karya Hatano-sensei punya bobot lebih besar dalam perkembangan cerita ke depan. Dengan sejumlah subplot seperti kakak perempuan Reina yang hilang atau bagaimana Mai-senpai juga hidup sendiri, serta bagaimana lembaga Arayashiki di animenya hanya disinggung secara selintas, KyoAni mungkin memangkas porsi cerita agak banyak untuk adaptasi anime seri ini. Satu, mungkin karena cerita di novelnya belum membuka jawaban sampai sejauh sana. Dua, mungkin juga karena isu durasi dari sponsornya.

Tapi sekali lagi, itu cuma perasaanku pribadi. Jadi mending jangan terlalu dipermasalahkan.

Terbukalah Dunia Baru!

Ada pelajaran sederhana yang kuperoleh dari mengikuti seri ini: kalau mengembangkan sebuah produk, yang paling perlu kau lakukan bukanlah membuat produk kamu itu bagus, melainkan memastikan bahwa produk kamu memang adalah yang dibutuhkan orang. Kenyataan bahwa aku suka Musaigen no Phantom World, dan tak terlalu mendalami Hibike! Euphonium misalnya, adalah bukti bahwa KyoAni bisa merasakan adanya konsumen yang belum tersentuh oleh produk mereka yang sebelumnya, dan karenanya mereka mencoba sesuatu yang lain.

Oke. Komentar satu itu juga agak terlalu seenaknya. Jadi mending jangan terlalu dimasalahin.

(Gyagh! Kalian para fans Hibike! Euphonium jangan ngamuk! Jangan ngamuk!)

Kesimpulannya, ini jenis seri yang ringan yang kurasa hanya sekedar ‘hidup’ di masanya. Kurasa bukan jenis yang akan dikenang orang, dan karenanya bukan jenis yang akan aku rekomendasikan kecuali kau benar-benar tertarik pada keanehannya.

Tapi yeah, aku menikmatinya. Selama musim kemarin, ini menjadi salah satu hiburanku di hari Kamis bersama satu seri lain yang sempat menonjol di musim itu. Jadi aku tak bisa membencinya.

Oh, soal dua makhluk itu? Yeah, akhirnya terungkap kalau keduanya semacam penggambaran imut dari Marchosias dan Cthulhu. Tapi walau imut, menjelang akhir, wujud mereka yang sesungguhnya terungkap kok.

Penilaian

Konsep: C; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+

Edit

Sedikit tambahan, cerita di versi novelnya ternyata benar berkembang ke arah yang jauh lebih gelap dibandingkan animenya. Diindikasikan di dalamnya ada lebih banyak kematian dan kehancuran.

Cerita di novelnya memang belum jauh saat animenya mulai diproduksi. Sampai setahunan, kalau enggak salah, malah baru terbit satu buku? Jadi pas buku keduanya akhirnya keluar, produksi animenya sudah terlanjur berjalan dan konsepnya terlalu tanggung untuk diubah.

Ruru dan Kurumi merupakan karakter orisinil untuk versi anime btw, jadi mereka takkan kau temukan di versi novel.

Iklan
02/01/2014

Kyoukai no Kanata

Kyoukai no Kanata, atau yang juga dikenal dengan judul Beyond the Boundary (‘di balik cakrawala/perbatasan’),  diangkat dari seri novel karangan Torii Nagumo dengan ilustrasi buatan Kamoi Tomoyo, yang diterbitkan dan kemudian diadaptasi ke bentuk animasi oleh studio Kyoto Animation pada musim gugur tahun 2013. Buku pertama dari seri novelnya terbit pada pertengahan tahun 2012, sedangkan buku ketiganya baru keluar pada bulan Oktober 2013 lalu. Animenya sendiri terdiri atas 12 episode dan disutradarai oleh Ishidate Taichi, dengan skenario ditulis oleh Hanada Jukki, dan musik ditangani oleh Nanase Hikaru. (Studio KyoAni kelihatannya memang menerbitkan sendiri seri-seri novel yang memenangkan penghargaan mereka, seperti pada kasus Free!/High Speed! yang lalu.)

Kalian yang hobi ngikutin blog ini mungkin tahu kalau musim gugur tahun 2013 merupakan musim tayang dengan banyak sekali anime baru yang menarik. (Ya, aku tahu aku luar biasa banyak kerjaan belakangan.) Tapi Kyoukai no Kanata bagiku sejak awal menjadi salah satu yang paling menonjol. Sekali lagi, aku bilang ‘menonjol’ ya, bukan ‘bagus.’ Kayak ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Makanya, selama durasi masa tayangnya, betapapun sibuknya aku, aku selalu mencoba mengikuti perkembangannya.

Aku bilang ‘kayak’ soalnya belum tentu kalian juga bakalan merasakan ‘sesuatu yang istimewa’ itu. Kalaupun aku disuruh menjelaskannya juga, aku enggak yakin kalau aku bakalan bisa.

Pastinya, kualitas presentasinya benar-benar kuat. Visualnya tajam. Efek-efek istimewa yang ditampilkan saat adegan-adegan aksinya itu keren. Musiknya enak didengar. Ini terus terang merupakan salah satu anime dengan pengarahan visual paling baik yang aku tahu.

Lalu animasi lagu pembuka maupun penutupnya benar-benar berkesan, walaupun seperti yang kemudian kulihat, nuansanya memang enggak selalu ‘masuk’ ke dalam cerita yang episode bersangkutan tengah tampilkan. Frame pertama yang menampilkan kaca jendela kereta yang berlapis embun, yang kemudian menggeser fokus dengan menampilkan pantulan wajah karakter utama wanita, Kuriyama Mirai, sebelum kemudian menampilkan saat-saat kereta yang ditumpanginya keluar dari terowongan, benar-benar keren.

Memang ini subjektif. Tapi kalau aku mesti menyebutkan apa yang menyebabkan Kyoukai no Kanata terasa begitu berkesan episode-episode pertamanya, maka itu pasti adalah pemaparan hubungan yang terjalin antara dua individu yang sebenarnya sama-sama terasing dan kesepian, yakni Mirai, yang sudah kusebutkan di atas, bersama sang karakter utama cowok, Kanbara Akihito.

“Fuyukai desu.”

Kyoukai no Kanata mengetengahkan kehidupan orang-orang berkekuatan istimewa yang berprofesi sebagai Ikaishi (kira-kira berarti ‘pemburu alam roh’), yang mengemban tanggung jawab untuk memburu makhluk-makhluk supernatural yang disebut Youmu (‘dreamshade,’ atau ‘bayangan mimpi’), yang konon merupakan perwujudan dari emosi-emosi negatif manusia.

Berlatar di sebuah kota tertentu yang tak terlalu besar, Kanbara Akihito ceritanya adalah seorang manusia separuh Youmu (Han-Yo), yang merupakan keturunan campuran antara Youmu dan manusia. Terlepas dari status keturunannya yang memberkahinya dengan semacam keabadian dan kekebalan terhadap luka, Akihito menjalani hidup sebagai seorang remaja kelas 2 SMA normal (yang nampaknya memiliki kesukaan teramat berlebih terhadap cewek-cewek berkacamata).

Di sekolahnya, Akihito berkawan baik dengan kakak beradik dari keluarga Nase yang mengepalai seluruh Ikaishi di wilayah mereka: yakni Nase Mitsuki yang seangkatan dengan Akihito; serta Nase Hiroomi, kakak lelaki Mitsuki yang setahun lebih tua. Ketiganya tergabung dalam Klub Sastra yang diketuai Mitsuki, dan keseharian mereka sepintas dipenuhi oleh candaan.

Pada suatu hari sepulang sekolah, Akihito melihat seorang gadis manis berkacamata berdiri di tepi pagar pembatas atap sekolahnya, seolah-olah hendak bunuh diri. Dengan panik cepat-cepat Akihito mengejarnya ke lantai atas. Tapi secara mengejutkan, gadis tersebut, yang belakangan Akihito ketahui bernama Kuriyama Mirai, kemudian bersalto melompati pagar pembatas tersebut dan menggunakan kekuatannya dalam mengendalikan darah untuk membunuh Akihito—yang berakhir dengan kegagalan berkat keabadian yang Akihito miliki.

Karena memandang Akihito sebagai Youmu (para Ikaishi punya kemampuan untuk mendeteksi aura mereka), Mirai, yang ternyata seorang Ikaishi yang baru pindah ke kota tersebut, berulangkali mencoba membunuh Akihito. Tapi upayanya tersebut tentu saja selalu gagal. Sehingga Akihito, beserta Mitsuki, lambat laun mulai memandang segala tindak-tanduk Mirai lebih seperti gangguan daripada ancaman.

Mirai rupanya berasal dari garis keturunan yang terasing karena kekuatan yang diwarisinya dalam menggunakan darah—yang memberinya kemampuan bertarung teramat besar tapi menggunakan kekuatan hidupnya sendiri sebagai bayaran (mungkin dalam RPG seperti job class Dark Knight?)—terbilang terlarang di kalangan Ikaishi, dan bahkan membuatnya untuk waktu lama dipandang sebagai ‘monster.’ Mirai hidup sebatang kara di kamar kontrakannya, dengan pemasukan sebagai Ikaishi yang teramat pas-pasan. Blog maupun Twitter-nya selalu terkena flame karena kerjanya di Internet cuma mengeluh soal kemalangan-kemalangan hidupnya. Namun, berhubung Mirai merupakan seorang megane bishoujo alias ‘gadis berkacamata yang cantik,’ Akihito kemudian mencoba membuka diri terhadap Mirai dan berulangkali mengajaknya bergabung ke dalam Klub Sastra.

Sekitar empat episode awal Kyoukai no Kanata secara benar-benar apik memaparkan soal kehidupan Akihito, Mirai, dan orang-orang di sekeliling mereka.

Para Ikaishi digambarkan mampu melihat dan merasakan apa-apa yang tak dapat diinderai manusia lain. Lalu secara berkala mereka ‘berburu’ untuk memberantas Youmu-Youmu yang mengancam kehidupan manusia (para Youmu yang punya kecerdasan seperti manusia ada beberapa, namun termasuk langka). Youmu yang berhasil dikalahkan akan menjatuhkan Batu Youmu, lalu Batu Youmu ini yang akan diserahkan Ikaishi untuk dinilai oleh seorang ahli dan kemudian ditukarkan dengan uang.

Sifat keras kepala Akihito akhirnya membuat Mirai mengizinkannya membantunya menemukan Youmu yang kira-kira cukup berharga untuk membantu melunasi biaya sewa kamarnya. Lalu segala sesuatunya kemudian dimulai dari sana.

Ada dua bagian cerita besar yang diketengahkan dalam anime Kyoukai no Kanata. Pertama adalah soal ancaman Youmu yang disebut sebagai Utsuro no Kage (Hollow Shadow, ‘bayangan kosong’), yang mampu merasuki tubuh para korbannya dan memiliki andil teramat besar dalam sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu Mirai. Lalu kedua adalah datangnya masa tenang bagi para Youmu yang disebut ‘Nagi’, yang kemudian menjadi pembuka jalan bagi munculnya Youmu yang rupanya selama ini bersemayam di dalam diri Akihito, Kyoukai no Kanata, yang disebut-sebut merupakan Youmu berkekuatan teramat besar yang pernah membawa kehancuran atas dunia.

Lalu seiring perkembangan cerita, perlahan terungkap kalau sebenarnya ada sisi lain di balik segala sesuatu yang tampak. Terutama menyangkut soal sikap orang-orang dalam kehidupan Akihito serta alasan sesungguhnya di balik kedatangan Mirai ke kota mereka.

Yume no Akashi

Kalian tahu kaidah show not tell?

Masuk ke soal teknis, aspek yang menurutku benar-benar bagus dari Kyoukai no Kanata adalah bagaimana seri ini berusaha untuk nge-show berbagai hal penting dari ceritanya ketimbang nge-tell. Haah, ngejelasinnya agak susah. Intinya, adalah soal gimana sejumlah implikasi cerita dipaparkan lebih secara visual dan perkembangan adegan ketimbang lewat dialog atau kata-kata narator. Pada beberapa titik, cara penyampaian ini ‘kena’ melalui visual-visual yang keren serta eksekusi yang benar-benar bagus. Tapi pada kebanyakan titik lain—lagi-lagi mungkin karena faktor durasi—jadinya enggak.

Ini terutama paling kerasa pada beberapa adegan dialognya sih. Sebagian adegan dialognya itu terasa aneh gitu, yang baru kita ngeh maksudnya sesudah kita memahami konteks dari apa-apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sialnya, kita kerap kali ngeh soal konteksnya itu cuma belakangan pada episode berikutnya, dan jadinya itu kayak numbuhin jarak antara kita yang nonton dengan apa-apa yang sebelumnya terjadi.

Tapi terlepas dari semuanya, sebagaimana yang bisa diharapkan dari studio animasi KyoAni, Kyoukai no Kanata merupakan salah satu seri paling stabil dari musim lalu. Sulit buatku, dan juga buat teman-temanku, buat enggak memperhatikannya.

Ada percepatan tempo yang terjadi pada pertengahan seri yang benar-benar membuat sisi aspek dramatis yang begitu pas di awal-awal seri menjadi hilang. Tapi buat cerita yang yang sepertinya ‘dipadatkan’ pada episode-episode terakhir, Kyoukai no Kanata tetap berakhir menjadi sesuatu yang masih termasuk bagus dibanding yang kebanyakan.

Adegan-adegan aksinya seru dan benar-benar enak dilihat. Mirai dengan pedang darahnya yang dapat memadat dan bisa beracun memang mendapat paling banyak sorotan. Tapi karakter-karakter lainnya punya porsi keren mereka sendiri-sendiri, walau sayangnya penjabaran soal teknis kemampuan masing-masing memang enggak terlalu banyak dijelaskan. Nase bersaudara memiliki kemampuan ngebentuk semacam kurungan energi dengan berbagai macam bentuk aplikasi. Hiroomi tampil khas dengan syalnya karena kepekaan berlebihnya terhadap udara dingin. Lalu Mitsuki memiliki semacam makhluk peliharaan bernama Yakiimo yang menjadi andalannya dalam melawan Youmu.

Campuran antara humor dan keseriusan dalam ceritanya memang enggak selalu menyatu. Tapi para karakter dan hubungan antara mereka benar-benar berkesan. Akihito dan Hiroomi menjalin hubungan persahabatan aneh berlandaskan fetish mereka masing-masing. Masa lalu Mirai mengejar lewat kedatangan Inami Sakura, adik perempuan mendiang sahabat karibnya. Lalu hadir seorang lelaki misterius bernama Fujima Miroku dari Asosiasi Ikaishi yang mendatangi kakak perempuan Hiroomi dan Mitsuki, kepala keluarga Nase, Nase Izumi, untuk suatu kepentingan tertentu.

KENN, pengisi suara Akihito, pada beberapa titik kayak berhasil seorang diri mempengaruhi keseluruhan mood cerita. Aku terkesan dengan perkembangan kemampuannya semenjak perannya sebagai Jil di animasi Tower of Druaga serta sebagai Judai Yuuki di Yu-Gi-Oh GX. Ditambah lagu lagu tema pembuka maupun penutupnya sama-sama benar-benar keren.

Mungkin memang ada lumayan banyak pertanyaan yang sampai akhir tersisa dan tak terjawab. Tapi kalau kalian suka cerita-cerita yang memiliki karakter-karakter simpatik, apalagi yang dipadu dengan adegan-adegan aksi penuh efek khusus yang enak dilihat mata, maka seri ini jadi salah satu yang kurekomendasikan.

Aku sebenarnya enggak bisa mengatakan kalau ini seri yang memuaskan. Mungkin malah sebaliknya, dalam beberapa arti lumayan mengecewakan. Tapi aku enggak akan menyangkal kalau seri ini mengesankan.

Perlu dikaji beberapa kali agar bisa nangkep semuanya. Mungkin enggak akan sampai dibuat season keduanya. Tapi semua yang disampaikan pada akhirnya kurasa berhasil disampaikan.

(Buat yang mau tahu, ya, Minori Chihara yang jadi seiyuu Mitsuki adalah yang menyanyikan lagu pembukanya.)

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B-

10/04/2009

Clannad

Pada suatu hari, aku membuka profil seiyuu favoritku, Midorikawa Hikaru, di Wikipedia dan mendapati bahwa sekalipun dirinya jelas-jelas otaku mecha seperti aku (sedemikian suka ia terhadap game-game Super Robot Wars, ia tak berkeberatan bila harus mengerjakan dialog-dialog ekstra tanpa dibayar), anime favoritnya ternyata adalah Clannad.

‘Apa?! Apa itu Clannad?’ Demikian pikirku waktu itu.

Apapun itu, yang jelas itu bukan anime mecha.

Seistimewa apa sih Clannad sampai-sampai bisa menarik perhatiannya dari anime mecha sebagai pilihan anime favoritnya? Karena penasaran, aku juga mulai mencoba menontonnya. Ada sekitar 20an episode, produksi tahun 2000an. Setelah aku menontonnya sendiri, baru aku memahami mengapa Midorikawa-san bisa sedemikian suka.

Dango, dango, dango, dango, dango daikazoku…

Gampangnya, Clannad adalah anime bishojo yang diangkat dari visual novel berjudul sama. Agak berbeda dari kebanyakan seri pada genre ini, alih-alih percintaan, Clannad lebih berfokus pada hubungan kekeluargaan dan persahabatan, sehingga serial ini memiliki nuansa khas tersendiri yang ramah dan menghangatkan hati..

(Ya, ini sebuah ‘moe anime’, tapi dalam konteks yang agak baik. Kata ‘clannad’ sendiri konon artinya pertalian keluarga gitu dari bahasa Celtic Irlandia, tapi aku ga yakin.)

Yah, inti ceritanya sendiri adalah tentang kehidupan seorang murid SMA berandalan yang sangat setiakawan bernama Okazaki Tomoya yang pada suatu ketika mendapati jalan hidupnya mulai berubah semenjak berkawan dengan seorang gadis bernama Furukawa Nagisa.

Nagisa adalah seorang gadis bertubuh lemah yang sempat tinggal kelas selama setahun karena sakit. Di masa ketika ia akhirnya bisa masuk sekolah kembali dan mendapati sebagian besar temannya telah tak lagi seangkatan dengannya, terjalin hubungan antara dirinya dan Tomoya, dan juga dengan beragam tokoh lain dalam kehidupan mereka.

Seiring dengan perkembangan yang terjadi, Tomoya kemudian bersumpah untuk membantu Nagisa mewujudkan cita-citanya membangkitkan kembali klub teater sekolah mereka yang kini sudah bubar, sebelum berlangsungnya festival musim panas.

Seperti yang bisa ditebak, sebagian besar tokoh dalam seri ini adalah cewek. Tapi cukup meski menonjolkan keimutan sebagai daya tarik, Clannad tak pernah sampai menampilan fanservice dalam kadar yang rada vulgar. Di balik nuansa ceritanya yang ringan, acapkali komedik, dan sering terkesan seperti dongeng, Clannad menampilkan drama kehidupan berbobot antara tokoh-tokoh yang lumayan nyata. Kayak bagaimana Tomoya memperbaiki hubungan dengan bapaknya, atau bagaimana Nagisa yang begitu terbebani oleh besarnya kasih sayang kedua orang tuanya.

Sebenarnya, arti terpenting yang seri ini miliki adalah bagaimana ia mengingatkan kembali akan betapa besarnya arti sebuah keluarga bagi pertumbuhan setiap orang sebagai insan. Aku tak begitu tertarik dengan seri kelanjutannya, Clannad After Story karena sepertinya sedih. Tapi aku sangat tertarik dengan spin-off-nya, Tomoyo After: It’s a Wonderful Life yang menjadikan seorang tokoh lain (Sakagami Tomoyo) sebagai heroine-nya.

Dengan adegan sedih dan komedi yang bergulir dengan teramat mulus, seri ini kudapati benar-benar menghibur.

….Sedikit tambahan, ternyata ada temanku yang merasa enggak puas sama pendapatku ini! Pada akhirnya, dia malah memberiku segepok episode Shuffle! agar aku punya bahan perbandingan. Tapi, meski seri Shuffle! yang diberikannya itu masih belum kutonton, kupikir, pendapatku tentang Clannad sudah dipastikan takkan berubah.

Penilaian

Konsep: A. Eksekusi: B+. Visual: S. Audio: A. Perkembangan B.  Kepuasan Akhir: A