Posts tagged ‘Kizumonogatari’

04/01/2013

Kizumonogatari – IND (END)

017

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Vampir yang legendaris.

Pemusnah kaii. Penguasa seluruh kaii.

Dirinya sesosok vampir.

Dengan rambut emas berkilau dan gaun musim panas yang cantik, vampir yang mempesona, sedemikian indahnya hingga darahmu sampai membeku—porsi eksposisi lebih dari ini kurasa tak diperlukan.

Cukup bila aku katakan—bahwa dirinya, yang padanya aku jadi bawahan, merupakan lawan terakhir yang harus kalahkan.

“Kiss-Shot…”

Aku singkirkan barikade yang telah kubuat dengan segenap tenagaku, dan kemudian aku membuka pintu baja dari gudang peralatan olahraga—di luar, mentari telah terbenam, dan di sanalah dirinya berada, di tengah lapangan olahraga.

Tanah di bawah kakinya telah retak.

Itu pasti dampak dari pendaratan yang ia lakukan.

Nyatanya, tubuhnya tenggelam sampai setumit ke dalam tanah lapangan.

Di punggung Kiss-Shot, sayap-sayap mirip sayap kelelawar itu tak ada—sebagai bawahannya, aku kemudian paham secara naluriah bahwa dirinya pastilah tiba dari reruntuhan gedung bimbel ke sini dengan satu lompatan jarak jauh tanpa lari pendahuluan.

Dirinya telah menanti sampai senja.

Dan kemudian dia… melompat ke tempat di mana aku berada.

Bagaimanapun, itu tetap saja menakjubkan. Walau untuk lompat jauh tanpa lari pendahuluan aku sempat bangga karena berhasil mencapai jarak 20 meter, Kiss-Shot dengan mudah mengungguliku dengan melompat sampai beberapa kilometer.

Tentu saja, pada waktu itu yang kupikirkan bukan soal mencetak rekor. Aku memang sepenuhnya hendak mendarat di tempat pasir, jadi aku tahu itu tak bisa digunakan sebagai perbandingan—tapi jika aku ditanya apa aku bisa melakukan sekali lompatan dari sini ke puing-puing bimbel, tak perlu dikata kalau aku sendiri bakalan ragu apa aku bisa.

Kututup pintu baja gudang alat olahraga dengan satu tangan ke belakang.

Aku tinggalkan Hanekawa di dalamnya.

Bagi Kiss-Shot, pintu tersebut bukan halangan yang sedikitpun akan menghambatnya—tapi bagaimanapun, dengan menutupnya, aku bisa merasa sedikit lebih tenang.

Jangan bersuara, demikian aku berbisik ke arah pintu.

Sesudahnya, aku mengambil satu langkah ke depan.

Menuju Kiss-Shot.

“… … … Yo.”

Sembari menyapanya dengan cara itu—aku semakin mendekat ke arahnya.

“Aku enggak menyangka kau yang bakal repot-repot mau datang kemari.”

Kupikir, itu tindakan awal paling tepat.

Sesuai dengan latar tempat dan waktu.

Tak seperti saat aku menghadapi Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter—tak ada Oshino di sini untuk melaksanakan perundingan.

Aku tak punya pilihan selain melakukan urusan negosiasi sendiri.

Tapi, kami berdua sama-sama vampir.

Penguasa dan pelayan—bawahannya.

Kenyataan bahwa dirinya muncul nyaris di waktu yang sama dengan senja bisa berarti bahwa semenjak Kiss-Shot memperoleh kembali wujudnya yang utuh, seluruh pergerakanku menjadi sesuatu yang terpantau dengan mudah olehnya.

Di mana aku berada.

Apa yang aku pikirkan.

Tak ada apapun lagi yang bisa kusembunyikan darinya.

Kiss-Shot menatap ke arahku dengan sorot mata yang lebih dingin dari biasanya—sebagai hal pertama yang dilakukannya, ia mengeluarkan kedua kakinya dari sepasang lubang yang dibuatnya di tanah lapangan. Kaki kanan terlebih dahulu, dan kemudian kaki kiri.

Sesudah itu…

“Sekali ini saja.”

Katanya.

“Pelayan. Saat mentari bersinar, beta pahami apa yang engkau rasakan—beta mengerti alasan kemarahan yang engkau tunjukkan. Beta menahan diri tidak tidur dan kemudian bercermin diri. Sepertinya beta telah bertingkah tanpa pertimbangan—beta sama sekali tak mempertimbangkan perasaan engkau sebagai bekas manusia. Dengan itu untuk sekali ini saja beta tundukkan kepala beta kepada engkau.”

“… … …”

“Kembalilah ke bawah beta.”

Kiss-Shot berkata.

Suaranya benar-benar teramat indah.

Suara yang mempesona—dia memikatku.

“Hiduplah bersama beta. Engkau selamatkan nyawa beta. Engkau orang yang tak biasa, tapi karena alasan ini beta rasa bisa hidup bersama engkau. Janganlah berubah kembali menjadi manusia—tidakkah engkau pernah berharap untuk menjalani keabadian bersama-sama?”

“… … Aku menolak.”

Kataku.

Aku balas menatap sorot mata Kiss-Shot yang dingin.

Aku perteguh tekadku—dan kemudian aku mengatakannya.

“Kau memakan manusia. Itu saja sudah cukup buatku.”

“Andai engkau sudah mengetahui hal itu—apakah engkau takkan selamatkan beta? Akankah engkau membiarkan beta tewas?”

“Kiss-Shot—aku sama sekali enggak tahu. Bukan…”

Aku menggeleng.

“Bukan itu. Aku tahu sejak awal—cuma aku menolak buat sadar. Aku ingin mati buatmu, kupikir—dengan kata lain, aku jadi seperti memberimu izin buat memakan seseorang. Tapi, aku tak menyangka sebagai akibatnya bakal ada orang-orang yang mati. Tindakanku mungkin mulia, tapi tindakanku bukan tindakan benar.”

Aku tak berkeberatan bila harus meninggal.

Tapi aku merasa buruk bila orang lain yang meninggal.

Kalau aku pikirkan lagi, cara pandang yang kupegang bisa jadi agak egois.

Kurasa tak mungkin ada orang normal yang bakal berpegang pada cara pandang macam begitu.

“… Sudah beta duga engkau akan berkata demikian.”

Kiss-Shot berkata dengan menampakkan senyuman.

“Beta justru berharap engkau akan berkata demikian.”

“Kiss-Shot…”

“Dengan begini, keraguan yang beta rasakan lenyaplah sudah—Pelayan. Walau beta sudah menduganya, sudah beta duga engkau manusia macam demikian.”

“Manusia macam apa?”

“Kebaikan yang engkau tunjukkan pada beta—hanya akan bertahan selama beta dalam kesulitan. Sudah beta duga.”

Beta sudah menduga engkau takkan tertarik lagi padaku begitu wujudku kembali seutuhnya.

Kata-kata Kiss-Shot itu bahkan lebih menyengat lagi.

“Engkau selamatkan beta bukan karena itu beta—engkau akan selamatkan siapapun asalkan siapapun itu berada dalam kesusahan.”

“… … …”

-Aku enggak berbuat sejauh ini buat semua orang kok.

-Aku berbuat semua ini karena ini kau, kau tahu?

Hanekawa dulu berkata begitu.

Tapi, aku sendiri, aku…

Seandainya yang harus kutolong bukan Kiss-Shot—maka pada waktu itu, aku…

“Maka, sudah beta rasa akhirnya akan begini. Di sisi lain, tahukah engkau, beta selamatkan engkau karena itu adalah engkau? Engkau telah mengorbankan nyawa yang engkau punya untuk beta, pasti akan beta sesalkan bila harus membunuh seseorang seberani engkau.”

“…Sesalkan ya.”

“Untuk segala kerja keras yang telah engkau lakukan untuk beta, sekali lagi, beta berterima kasih. Hei, mendekatlah, Pelayan. Dari raut wajahmu, nampaknya engkau sudah tahu, bukan? Persis sekali. Jika engkau membunuh beta—engkau akan akan bisa berubah kembali menjadi manusia, seperti yang engkau inginkan.”

“… … …”

Aku menelan ludahku.

Aku sekali lagi sadar kalau seluruh rencanaku telah terbaca—dan aku sadar seberapa besar beda kemampuan antara diriku dan dirinya.

Mencoba menghadapinya dengan cara seperti ini—rasanya berbeda.

Rasanya berbeda dibanding pola-pola situasi yang kutemui saat berhadapan dengan tiga orang itu—aku merasa seperti tertekan oleh rasa intimidasi yang kuat, dan sekaligus juga oleh perasaan yang memuncak.

Itu benar.

Perbedaan terbesarnya… adalah bagaimana pertarungan yang sebentar lagi akan kami lalui tak lain merupakan ‘pertarungan sampai mati.’

Pertarungan sampai mati kali ini bukan sesuatu yang terlarang.

Ditambah lagi—lawannya tak lain adalah sang Pemusnah Kaii.

“Jangan biarkan ini terlalu mengecewakan engkau, Pelayan.”

Kiss-Shot berkata.

Dirinya bahkan terlihat sedikit gembira.

“Beta berada pada kondisi terbaik beta semenjak 500 tahun terakhir—saat menghadapi tiga orang itu, bukan hanya kondisi buruk, beta juga lengah. Beta tak pernah menyangka jantung beta akan sampai tercuri, tapi… pada setingkat beta, memang jumlahnya tak pernah banyak…”

“…Banyak apa?”

“Kesempatan untuk bertarung serius.”

Berkata demikian—Kiss-Shot mengisyaratkan agar aku mendekat.

“Sebab terus terang, bahkan beta tak mempunyai bayangan akan seperti apa hasilnya nanti—namun berhubung engkau tanpa diragukan ialah yang terkuat di antara semua yang beta hadapi sejauh ini, tiada alasan bagi engkau untuk setengah-setengah. Pertarungan ini akan menjadi kenikmatan tersendiri bagi beta.”

“Mungkin sebaiknya kau tak terlalu banyak berharap.”

Aku mengumpulkan keberanianku dan langkah demi melangkah aku berjalan kepadanya.

Diriku dalam keadaan biasa pasti bakalan lebih memilih kabur—namun kali ini keadaannya berbeda. Di belakang punggungku, di dalam gudang peralatan olahraga, ada seorang sahabat yang teramat berarti bagiku. Di punggungku ada seseorang yang harus kulindungi—jadi aku tak bisa berbalik dan lari.

Aku harus menghadapinya.

Hanekawa, lihat saja aku.

Karena aku enggak boleh terlihat menyedihkan di hadapanmu.

“Gimanapun, aku memang bekas manusia—salah satu ‘bekas makanan’ buatmu.”

“…Santailah. Memang engkau akan beta bunuh dengan niat keji dan perasaan memusuhi, tapi walau demikian, akan beta beri syarat yang memperberat—apa lagi yang bocah itu bilang? Oh ya, pertarungan yang seimbang. Akan beta patuhi aturan itu.”

Jadi ini permainan.

Berkata demikian, Kiss-Shot melompat dengan ringan.

Saat berikutnya sesudah dirinya melompat, tiba-tiba saja ia telah berada di hadapanku—dalam posisi di mana kaki kami di depan satu sama lain saling bersilangan.

Dalam wujudnya yang utuh, tingginya melebihi badanku.

Dari sudut pandang itu, dirinya seakan tengah memandang rendah ke arahku.

“Takkan beta terbang ke udara. Takkan beta bersembunyi di balik bayangan. Takkan beta mewujud menjadi kabut. Takkan beta melebur menjadi kegelapan. Takkan beta melenyapkan diri. Takkan beta lakukan perubahan bentuk ke bentuk lain. Takkan beta gunakan kekuatan mata. Bahkan kekuatan penciptaan materi pun takkan beta pergunakan. Tak perlu dikata, beta juga takkan gunakan youtou Kokorowatari—pedang pemusnah kaii. Dengan kata lain, beta takkan mempergunakan kemampuan vampir aktif manapun—beta berjanji. Tentunya, engkau sendiri boleh menggunakannya—walau yang terbaik yang bisa engkau lakukan saat ini hanyalah mengubah bentuk ujung telapak tanganmu.”

“… … …”

Dan bahkan itu sesuatu yang bisa kulakukan cuma karena Hanekawa sedang disandera—sekarang sesudah aku merasa lebih dekat ke sisi manusiaku dibanding sebelumnya, tentunya akan lebih sulit bagiku untuk hanya sekedar merubah bentuk ujung jemariku.

Mungkin akan berbeda andaikata aku punya kekuatan spiritual Dramaturgie, atau mungkin sekedar lebih banyak pengalaman—tapi aku memang masih baru dalam hal ini, dan keduanya memang tak kupunya.

“Secara semestinya, sebagai tuanmu, beta sampai derajat tertentu mampu mengendalikan tindakan-tindakanmu, tapi… beta takkan lakukan hal itu. Beta berjanji untuk tak melakukan tindakan rendah seperti itu. Ini akan menjadi pertarungan yang sepenuhnya didasarkan pada keabadian—jadi pengalaman bertarung takkan dibutuhkan. Pertarungan sampai mati sambil berdiri pada jarak ini—dengan begini, maka ini akan jadi pertarungan seimbang antara engkau dan beta, bukan?”

“… … Kau membosankan.”

Aku berkata.

Dekat dengannya, aku melotot ke arah wajahnya.

“Jadi ini yang kau lakukan saat kau hendak serius. Atau mungkin itu berarti kau memang lengah? Iya, ‘kan?”

“Lengah? Sayangnya beta tak cukup bodoh untuk sampai lengah saat menghadapi bawahan beta sendiri—Tapi jika beta tak memberi kesempatan menang maka permainan ini takkan menarik, bukan? Beta akan serius. Akan tidak mengasyikkan bila pertarungan sampai ditinggalkan di tengah jalan.

Kemudian ia meratakan kedua telapak tangannya membentuk sikap memotong.

Dengan kedua belah tangannya yang kini bagaikan pedang—pada jarak teramat dekat ini, ia bersiap memulai pertarungan.

Aku meniru sikapnya.

Pada kasus ini, telapak tangan terbuka diratakan dalam bentuk potongan lebih baik dibandingkan kepalan.

Sebab dengan tenaga yang dimiliki vampir, baik kepalan maupun potongan memiliki rentang kekuatan yang sama. Dengan demikian, lebih baik menggunakan potongan ketimbang pukulan karena sifatnya yang lebih fleksibel.

“… … …”

Aku periksa sekelilingku.

Walau aku bilang matahari telah terbenam, malam masih belum terlampau larut. Walau mungkin tak ada orang lain di sekolah, tapi sejauh apapun sekolah ini dari bangunan-bangunan rumah yang lain, bisa jadi masih ada saksi mata di sekitar sini.

Kalau kami tak menuntaskan pertarungan ini secara cepat…

Namun, persis tatkala aku berpikir demikian…

“Engkau berani sekali untuk mengalihkan mata saat aku berada di depanmu, Pelayan.”

Kiss-Shot berkata.

“Tak usah engkau cemas. Tiga orang tersebut sudah tidak lagi ada di sini—sedangkan orang biasa tak sanggup mendekat padaku bila aku berada dalam kekuatan penuh. Andaikata ada seseorang yang melihat pun, baginya di akhir beta hanya akan terlihat sebatas rumor.”

“…Rumor ya.”

Gosip jalanan. Legenda urban. Informasi dari mulut ke mulut.

Menyebut rumor sebagai rumor—bicaralah tentang iblis maka iblis itu sendiri akan muncul.

“Walau—makanan jalan yang engkau tempatkan di pondok di belakang sana berbeda, bukan?”

“…Kiss-Shot, aku punya satu hal terakhir yang mau kutanyakan padamu.”

“Ooh. Boleh, kenang-kenangan untuk dunia berikutnya—akan beta jawab semuanya. Tanyakan saja.”

“Manusia bagimu itu apa?”

“Makanan.”

“Begitu.”

Itu jawaban yang teramat cepat.

Aku berhasil menyingkirkan sisa keraguanku yang terakhir.

“Aku ingin dengar kamu mengatakannya—aku ingin dengar itu dari mulut kamu sendiri!”

Kemudian aku bergerak—lalu Kiss-Shot juga bergerak.

“Akan kucabut nyawamu, Tuan!”

“Waktunya mati, Pelayan!”

Bahkan mungkin itu pun sebenarnya telah disengaja untuk menciptakan pertarungan seimbang—membuat seakan kami bergerak di waktu bersamaan, Kiss-Shot sebenarnya membiarkanku mengambil gerakan pertama.

Serangan memotongku mengenai wajah Kiss-Shot dalam sebuah ayunan horizontal—bagian atas kepalanya langsung terlepas, dan langsung terhempas ke belakang bersama gulungan rambutnya yang keemasan.

Lalu seakan dirinya sendiri menantinya, serangan memotong Kiss-Shot menghantam kepalaku. Walau itu gerakan memotong yang sama, tingkat kekuatannya berbeda—bila dibandingkan dengan tinju Dramaturgie yang sebelumnya kuterima, titik benturannya lebih kecil, tapi tenaganya jauh lebih terpusat.

Kepala kami berdua sama-sama terlempar ke udara.

Dalam situasi normal, ini saja pasti sudah menandai akhir.

Namun… aku maupun Kiss-Shot sama-sama bukanlah manusia.

Kami monster.

Sekalipun kepala kami terhempas, sekalipun otak kami sampai dilumatkan, tak peduli dengan batas waktu lima menit itu, gangguan terhadap kesadaran dan cakupan pandang kami hanya akan berlangsung selama sesaat—dan selanjutnya semuanya akan kembali seperti semula.

Tak ada satupun dari kami berdua yang telah terluka.

“Hyaha!”

Kiss-Shot… tertawa.

“Ha! Haha! Ahaha! Hahaha! Ahahahahaha!”

Seakan bergetar dirinya menghasilkan suatu irama tersendiri—dirinya tertawa dengan penuh kegembiraan.

“Hebat sekali—ini pastilah pertarungan maut terhebat antar sesama vampir manapun yang pernah ada! Lagi, lagi, lagi—Pelayan!”

“Diaaaam!”

Serangan-serangan tebasan kami berajutan dengan satu sama lain.

Tak terbatas pada kepala. Serangan-serangan kami juga menyasar ke badan serta tungkai.

Setiap tusukan dan potonganku menembus Kiss-Shot.

Setiap tusukan dan potongan Kiss-Shot menembusku.

Kami terus dengan brutal saling menembus dan melubangi satu sama lain.

“… …!”

Tentu saja, ini tak berarti sensasi kami terhadap rasa sakit sampai dimatikan.

Rasa sakit itu masih ada di sana.

Jika otak yang dihancurkan maka pikiran yang terhenti, jika paru-paru yang dihancurkan maka nafas yang terhenti, dan jika jantung dihancurkan maka aliran darah yang terhenti.

Walau aku berubah menjadi vampir…

…itu bukan berarti tubuhku secara fisik telah berubah.

Kemampuan pemulihan, kekuatan penyembuhan, keabadian.

Cuma itu saja yang pada akhirnya menonjol.

Tapi… itu semata sudah cukup.

“Woooooooooooh!”

“Haha! Berteriaklah lagi! Beta suka raungan-raungan jantan!”

Dengan dadanya, seperti yang sudah diduga, bergoyang dengan keras—walau serangan-serangan yang dilepasnya semakin ganas seiring dengan waktu—Kiss-Shot terbahak dalam tawa yang keras.

Bahkan Kiss-Shot pastinya juga merasakan sakit.

Sama sekali tak mungkin sensasinya terhadap rasa sakit hilang.

Namun tak ada satupun hal itu yang terpancar darinya, dirinya bahkan tak menggertakkan gigi atau menjerit seperti yang kulakukan.

Tak peduli di manapun ia dihancurkan…

Tak peduli itu otaknya, paru-parunya, atau jantungnya yang hancur, dirinya tetap tertawa keras seakan-akan tak peduli.

Dengan sorotan mata dingin, tapi dengan ekspresi senang.

Sebuah tawa yang bagaikan hantu.

“S… Siaaaal!”

“Hei hei, masih terlampau awal buat kata itu, Pelayan—seakan engkau getir akan sesuatu dalam kondisi-kondisi seimbang ini!”

Jadi dirinya memang telah terbiasa dengan rasa sakit… rupanya.

Rasa sakit yang dialaminya saat tubuhnya dicabik-cabik pastinya sebuah sensasi yang telah terbiasa dirasakannya semenjak zaman dahulu kala.

Jika begitu…

Selama 500 tahun ini…

Pertumpahan darah macam apa sebenarnya yang telah ia lalui?

Garis-garis batas antara kehidupan dan kematian macam apa saja yang telah ia lintasi?

Sebuah perbedaan antar pengalaman—ini perbedaan dalam pengalaman bertarung!

“OOOOOOH!”

Tapi!

Aku sedang menutupi perbedaan dalam hal pengalaman dengan tekad—dalam adegan satu ini!

“Ayo, ayo, berteriaklah! Perdengarkan aku teriakan perang!”

“Jangan sombong dulu, Kiss-Shot!”

“Jika beta pikir engkau yang terakhir memanggil beta demikian, beta akan menyesal untuk berpisah!”

Ini pertarungan yang tanpa arti.

Tak peduli berapa banyak darah tertumpah atau berapa banyak urat tertebar, segalanya langsung menghablur sebelum sempat menyentuh tanah, dan menghablur saat beregenerasi kembali.

Pada akhirnya, tak ada luka apapun yang ditimbulkan.

Aku bisa saja mati karena syok akibat rasa sakit—atau mungkin saja aku memang sudah mati akibat syok itu namun keabadian vampir menghidupkanku kembali.

Tapi… rasanya ganjil.

Kami berdua sama-sama abadi.

Tapi Kiss-Shot mempunyai daya serang yang lebih besar.

Sekedar ini saja masih belum aneh.

Namun, aku keheranan dengannya—jujur saja, aku tak merasa serangan-seranganku punya cukup kekuatan penghancur untuk menyakiti Kiss-Shot sampai sedemikian. Dalam hal itu saja, aku pikir aku pasti kalah jauh dibandingkan Kiss-Shot—tapi kenyataannya, setiap seranganku menghancurkan tubuhnya tanpa banyak reaksi kejutan.

Rasanya tak jauh berbeda dari melumat tahu.

“Hahahahaha! Haha! Ahahahahaha!”

Dengan pipi yang telah berlubang, dengan wajah tersenyum bagaikan kuchisake-onna… Kiss-Shot menjawab pertanyaanku.

Tuan dan bawahan.

Dirinya bisa melihat apa yang aku pikirkan…

“Terus terang saja, pelayan—daya pertahanan vampir sama sekali tidak tinggi! Tentu saja, tak bisa dibandingkan dengan kaum manusia yang para vampir makan, tapi… bagaikan berbanding terbalik dengan kekuatan serangnya yang luar biasa, daya pertahanannya rendah! Jika daya serangnya adalah 100, maka nilai maksimum daya pertahanannya akan antara 10 sampai 20 secara rata-rata! Pelayan, apa engkau paham mengapa bisa demikian?”

“… … …!”

Kiss-Shot memulihkan bahkan gaunnya—sebab gaun itupun tercipta melalui kehendaknya. Namun aku tak bisa melakukan hal yang sama—pakaianku hanya pakaian biasa.

Dari pinggang ke atas aku sudah nyaris tak mengenakan apa-apa.

“Karena keabadiannya itu setara dengan nilai daya pertahanan!”

“Tepat sekali!”

Kiss-Shot berkata.

“Jadi dalam pertarungan ini tak usah kau bertahan dari serangan-serangan beta—konsentrasi saja pada serangan-serangan milik engkau sendiri, dan hancurkan tubuh beta!”

“Apa kau masokis?!”

“Beta takkan menyangkal!”

Terkadang tebasan kami akan bertumbukan.

Saat itu terjadi, tangankulah yang kemudian hancur.

Dalam pertarungan ini tak ada kesempatan untuk tipuan remeh—dan pada sisi lain, tak ada kesempatan bahkan untuk serangan terencana juga.

Ini akan berlangsung sampai ada yang keabadiannya habis saja.

Atau pikiran salah satu dari kami runtuh.

Kupikir ini pertarungan semacam itu—tapi bukan juga.

Bukan, kebenarannya sama sekali berbeda.

Pertarungan tak berarti ini kemudian kusadari tak lain hanyalah perkelahian pendahuluan—bagi Kiss-Shot, ini tak berbeda dari sebuah permainan. Bagiku, ini bukan permainan, tapi sesuatu semacam babak persiapan dari sesuatu yang lebih besar.

Aku mengetahuinya.

Aku berhasil memikirkannya.

Dan… aku merasakannya.

Sebuah cara untuk membunuh Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Teknik yang bisa kugunakan untuk membasminya.

Kini sesudah aku saling bertatap muka dengannya…

…aku bisa memahaminya secara naluriah.

Aku tak tahu apakah itu naluriku sebagai manusia atau vampir, yang pasti aku merasakannya.

Kalau aku memikirkannya, hal ini kudengar dari Kiss-Shot sendiri—maka ide ini pasti sesuatu yang benar bisa kugunakan.

Apa yang harus kulakukan sudah jelas.

Namun… kesempatan buatku melakukannya tak ada.

Karena teknik yang akan kugunakan untuk membasmi Kiss-Shot adalah teknik yang sama dengan yang akan Kiss-Shot gunakan untuk membasmiku.

Untuk alasan tersebut, pertarungan ini hanyalah sebuah kegiatan pengisi waktu luang bagi dirinya.

Semacam permainan.

Tentunya… Kiss-Shot sanggup membunuhku kapan saja. Tentu saja, sikapnya yang sekarang bukan karena dirinya lengah—melainkan karena dirinya ingin menikmati kesempatan menggunakan kekuatan penuhnya sedikit lebih lama.

Karena itu… jika Kiss-Shot menunjukkan celah…

Sembari menunggu celah itu… aku akan harus terus melanjutkan pertukaran serangan antara kami.

Aku masih harus terus melanjutkan pertandingan kematian dan penghidupan kembali yang tak berarti ini.

“Haha, aku suka ini, Pelayan! Kekuatan tekad yang engkau punyai boleh juga! Walau engkau memiliki kekuatan sebagai bawahanku, biasanya vampir baru takkan mempertaruhkan hidupnya sampai sejauh ini!”

“Ini semua karena pengaturan ini! Baguslah kalau kamu suka!”

“Justru karenanya maka ini sayang! Engkau bisa saja menjadi sebuah legenda seperti halnya beta!”

“Legenda? Yang benar saja—ngebayangin ada orang asing tahu namaku saja sudah bikin aku merinding!”

“Beta merasa persis seperti itu!”

Percakapan di tengah pertarungan maut.

Percakapan sembari kami mencacah satu sama lain.

Kemarin… perbincangan yang kami lalui di atas puing-puing gedung bimbel sama sekali berbeda. Perbincangan yang kali ini kasar, tak tentu, dan murni spontan.

Aku tak punya kendali diri untuk tertawa.

Kiss-Shot tertawa, tapi wajahnya sama sekali berbeda dari wajah tersenyumnya semalam; aku tak bisa merasakan adanya keakraban sama sekali.

Bahkan saat kami saling terhantam ke belakang…

Kedua kaki kami tetap berpijak dengan diam.

Ini adalah neraka regenerasi.

Walau tubuh ini diremukkan hingga serpihan-serpihan kecil, dengan tiupan angin segala kerusakan akan terpulihkan dan semuanya akan kembali lagi seperti semula, untuk kemudian diremukkan lagi, dipulihkan lagi, lagi dan lagi sampai tubuh ini diremukkan ke serpihan yang lebih kecil lagi, dan akan terus diremukkan sampai selamanya—neraka yang macam itu.

Ini salah satu dari Delapan Neraka Besar.

Maka tanpa diragukan ini, di sini dan sekarang—adalah neraka.

“Omong-omong, biar beta beritahukan satu hal—Pelayan! Walau mungkin ini tiada artinya berhubung kita akan berpisah di sini…!”

“Ya?!”

“Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter pastinya, dan semua spesialis pembasmian vampir yang hingga sekarang mencoba membunuh beta—bahkan bocah dengan kemeja menyolok itu juga tak tahu, tapi sebenarnya beta dulunya manusia!”

Kiss-Shot… berkata sembari tertawa.

Dia mengatakannya saat lehernya melakukan pemulihan dari torehan tebasan.

“Seorang bekas manusia—dengan kata lain beta sama dengan Dramaturgie dan engkau!”

“A-Ah? Jadi kau bukan vampir asli?!”

Aku sempat diyakinkan dengan hal ini.

Tapi setelah memikirkannya lagi—tak sekalipun Kiss-Shot pernah menyatakan hal tersebut.

“Beta telah melupakan masa tatkala beta masih manusia—beta rasa telah dilahirkan dalam keluarga baik! Bangsawankah? Gaun ini nampaknya adalah peninggalan dari zaman itu… ha! Yah, untuk vampir di atas usia 300 tahun, sudah tak ada lagi bedanya antara vampir asli maupun bawahan!”

“Hei—maksudmu apa?”

“Tidak, beta hanya melupakannya setelah sekian lama—beta mengingatnya kembali setelah obrolan dengan engkau! Bahkan beta pun di awal sempat ragu memakan manusia!”

“Jadi!”

“Engkau pun!”

Kiss-Shot untuk sesaat menghentikan rangkaian serangannya.

Lalu berkata.

“Jika engkau memakan manusia satu saja—maka engkau takkan lagi merasakannya sebagai sebuah dosa!”

“… … …”

Aku menghentikan seranganku, menyamainya.

Seluruh luka yang kami derita langsung terpulihkan seutuhnya dalam sekejap mata.

“Bahkan Dramaturgie, meskipun dahulunya manusia… terlebih selaku pembasmi vampir—memangsa manusia pula. Tahukah engkau akan hal ini? Walau yang dimakannya hanya pelanggar kelas berat yang disediakan oleh aliran kepercayaan Guillotine Cutter.”

“Tetap salah jika mereka dimakan hanya karena mereka kriminal… apalagi kalau mereka diadili berdasarkan aliran kepercayaan Guillotine Cutter.”

“Benar. Namun kriteria soal apa yang boleh atau tidak dimakan tidak terbatas pada manusia. Seseorang tiada boleh memakan daging sapi, tiada boleh memakan daging babi, tiada boleh memakan daging paus, tiada boleh memakan daging anjing—ini bukan sekedar mengenai Guillotine Cutter semata, bahkan di antara sesama manusia terdapat perbedaan dari segi budaya. Apalagi beta sebagai vampir Pemusnah Kaii. Dalam sebulan beta diharuskan untuk memangsa satu manusia—dalam setahun paling banyak 12 manusia. Bahkan bila menghitung dalam rentang 500 tahun, maka jumlahnya hanya 6000 insan. Mengacu pada sejarah, seberapa besarkah angka tersebut? Seberapa banyak manusia yang telah manusia sendiri bunuh sampai sekarang ini?”

“… … Itu cuma sofisme.”

“Beta sama sekali bukanlah ancaman terhadap keberadaan dunia. Pengaruh yang beta punyai terhadap dunia justru teramat kecil. Dan engkau berkata bahwa beta harus mati semata karena manusia yang beta makan?”

Kiss-Shot berkata.

“Adalah nafsu manusia yang justru merupakan keserakahan yang terbesar.”

Jika aku tak makan, maka aku akan mati.

Bukan hanya vampir, bahkan manusia pun seperti itu.

Bukan hanya manusia, bahkan hewan pun seperti itu.

Bahkan tumbuh-tumbuhan yang kerap kukhayalkan bisa menjadi—juga seperti itu.

Selama kesemuanya bukan zat anorganik…

Selama kesemuanya bukan bebatuan atau logam…

…Maka pada suatu titik, akan ada kehidupan yang harus dikorbankan.

“Bukan itu masalahnya, Kiss-Shot.”

Aku berkata.

“Seperti yang kau bilang. Yang kukatakan adalah—matilah karena kau memakan manusia.”

“… … …”

Kiss-Shot menanggapinya dengan ooh.

Dan—dirinya perlahan menyipitkan sorot matanya yang dingin.

“Kiss-Shot, aku manusia.”

“Begitu rupanya. Beta sendiri adalah vampir.”

Dan pertarungan pun dimulai kembali—atau seharusnya begitu.

Pertarungan maut dan penghidupan kembali yang seharusnya kembali berlangsung—namun pada saat tersebut…

Dari punggungku…

Dari belakang…

“Tolong tunggu sebentar!”

Ada suara bergema.

Bergema di lapangan olahraga SMA Naoetsu.

Itu jelas suara Hanekawa—sesudah aku mengatakannya, kurasa sebelumnya sempat ada bunyi pintu besi gudang peralatan olahraga saat dibuka.

“A-Araragi, ada sesuatu yang aneh!”

Mendengar itu dari Hanekawa di belakangku, kupikir justru kau yang aneh di sini.

Kenapa kau keluar dari gudang di saat seperti ini? Apa kamu enggak kenal takut? Bahkan aku yang punya tubuh abadi bisa paham alasannya, dengan berdiri di depan Kiss-Shot seperti ini saja takkan aneh jika jantungmu sampai meletus—bukannya aku bilang Kiss-Shot punya kekuatan mata yang bisa menghancurkan beton hanya dengan dipandang saja?

Kalau begitu—kenapa kamu menampakkan diri?!

“Hanekawa! Sembunyi!”

Mengetahui resikonya, aku menoleh ke belakang.

“Jangan—Lari! Lariii! Jangan diam saja! Pergi sejauh mungkin!”

“I-Ini bukan seperti yang kau pikir, Araragi…”

Hanekawa… terlihat terganggu.

Bahkan saat aku menyakitinya, bahkan saat Episode melukai punggungnya, bahkan saat Guillotine Cutter menyanderanya, Hanekawa yang tetap menampakkan ketenangan dalam segala situasi—kali ini tampak terguncang.

“Araragi, ada sesuatu yang aneh dari tadi. M-Mungkin ada satu hal penting yang luput kita sadari…”

Luput kita sadari?

Masih… ada sesuatu yang belum kita pahami?

Tak mungkin, tak mungkin ada.

Tak ada satupun hal yang belum…

“Engkau… berisik!”

Kiss-Shot berteriak.

Bahkan Kiss-Shot pun terguncang.

Itu jelas sebuah reaksi yang tak kusangka.

Walau aku baru sekali melihat Kiss-Shot dalam keadaan emosi—saat aku masih manusia, dan untuk sesaat aku hendak menelantarkannya.

Aku membuat keputusan yang tepat.

Dirinya… terguncang.

Dirinya menangis, memohon, meminta maaf…

“Jangan bersikap seolah engkau tahu semuanya, dasar makanan jalan!”

Kiss-Shot melotot.

Lalu dengan hanya itu saja…

Pintu besi dari gudang alat olahraga di belakang Hanekawa diterbangkan ke udara.

Kekuatan mata.

Tak seperti waktu aku menendangnya hingga terbuka, kini sudah tak lagi mungkin untuk memperbaikinya. Pintu besi gudang peralatan olahraga mengkerut seperti saat kau meremas aluminium foil, dan kemudian ditembakkan hingga ke dalam gudang.

Bahkan tanah di sekeliling Hanekawa langsung seketika retak.

Apa yang ada di sekitar dan di belakang Hanekawa… baru saja terhapuskan.

Hanya dengan dilihat.

Yang dilakukannya hanya melihat.

Sang vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin—sang Pemusnah Fenomena Ganjil!

“…Ah.”

Tentu saja bahkan Hanekawa untuk sesaat menelan kembali kata-katanya.

Tapi aku melihatnya.

Aku… terlanjur melihatnya.

Aku tahu bahayanya.

Hanekawa Tsubasa.

Aku tahu dirinya takkan berhenti kalau hanya dari itu.

Dirinya dengan teguh, kuat; balas melotot ke arah Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

“Heart-Under-Blade, mungkinkah kau…”

“Dasar manusia! Jangan ikut campur!”

Sekali lagi Kiss-Shot memandang Hanekawa.

Memandang saja.

Kekuatan mata—kekuatan mata seorang vampir. Namun!

–Ada celah!

Berhubung hanya pertarungan maut yang tanpa arti, pada mulanya Kiss-Shot tak menghadirkannya—tapi sekarang di titik ini dia memunculkan celah!

Tentu saja, tak seperti aku, bahkan saat berhadapan denganku Kiss-Shot juga memiliki peluang untuk melihat ke arah lain—namun sekarang berbeda.

Sekarang berbeda.

Dirinya terguncang—dan tengah menatap ke Hanekawa.

Dia penuh celah.

“…Kiss-Shot!”

Aku meneriakkan namanya…

Aku melentingkan diriku di antara dirinya dan Hanekawa.

Aku menerima serangan kekuatan matanya secara penuh.

Lalu saat sekujur tubuhku terhempas ke belakang…

Aku…

…menggigit…

…pangkal lehernya.

Aku menggigit… dengan sepasang gigi yang dipanjangkan—dengan taring.

“… … …!”

Inilah teknik untuk membasmi Kiss-Shot.

Inilah teknik untuk membasmi vampir.

Inilah teknik yang digunakan seorang vampir untuk membasmi vampir lainnya—

Kalau kau memikirkannya, ini memang teramat sederhana dan jelas.

Naluri mengajarkannya padaku.

Tak jelas apakah itu naluriku sebagai manusia atau vampir—namun…

Kiss-Shot mengatainya di awal.

Sebelum menghadapi Dramaturgie, aku menerima dari Kiss-Shot sebuah masukan yang tak bisa dikatakan sebuah masukan…

–Setidaknya…

–Pastikan agar orang itu tak sampai menghisap darahmu.

Jika ada vampir yang darahnya sampai dihisap vampir lain…

…maka keberadaannya akan lenyap.

Pada waktu itu aku sama sekali tak memiliki dorongan untuk menghisap darah—tapi sekarang berbeda.

Kini aku… lapar.

Ciprat.

Aku menghisap darahnya.

Aku menusukkan sepasang taringku ke kulit putihnya yang lembut.

Cara untuk menghisap darah—aku memahaminya tanpa ada seorangpun yang mengajarkannya padaku.

Tak diragukan, ini tak jauh berbeda dibanding saat orang-orang memakan hidangan.

“Guh…”

Kiss-Shot mengerang.

Bahkan jika darah yang tertumpah beregenerasi—darah yang dihhisap takkan bisa kembali.

Karena penyerapan energi ini.

Hanya bekerja untuk kaii melawan kaii lain.

Karena mereka tak dihitung bahkan sebagai hidangan.

Walau mereka tak lebih dari hidangan, mereka bahkan juga bukan hidangan.

Ini tak lain hanyalah… pemusnahan kaii/fenomena ganjil.

Aku membuat perisai menggunakan tubuhku untuk melawan kekuatan matanya—seharusnya dampaknya tak sampai mengenai Hanekawa. Jika aku terus menghisap Kiss-Shot seperti ini—jika aku sampai berhasil mengeringkan setiap tetes darahnya keluar, seperti yang Kiss-Shot lakukan padaku pada hari itu…

“Ha.”

Kiss-Shot…

…sementara terjengkang ke belakang—bertumpu padaku dari atas—namun…

Dirinya masih tetap tertawa.

“Haha! Hahaha! Hahahaha! Ahahaha! Hahahahahaha! Haha! Hahahaha! Ha! Hahahahaha! Hahah! Ahahaha! Ahahahahahahahahahaha-!”

Jadi dirinya akan meninggal dengan cara tertawa ya.

Itu pun boleh juga.

Darahnya…

Darah Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade… memiliki kelezatan yang tiada bandingannya.

Tak peduli berapa jumlahnya… aku merasa bisa meminumnya untuk selamanya.

Aku berharap untuk bisa meminumnya untuk selamanya.

Senikmat itu rasanya.

Kiss-Shot.

Dengan begini, tanpa sedikitpun rasa kepuasan, atau perasaan pencapaian apapun, aku akan membasmimu di sini sekarang juga—

Kau akan kubunuh.

Nyawa yang telah kuselamatkan—akan aku bunuh.

Karena itu tanggung jawabku—sekalipun aku berubah kembali menjadi manusia berkat kematianmu, aku takkan merasakan sedikitpun rasa kepuasan atau pencapaian apapun juga—maka itu lebih dari sekedar sebuah konsekuensi belaka!

“…Eh?”

Lalu tiba-tiba.

Tiba-tiba saja, mendadak, aku berpikir ulang.

Sesuatu yang luput kusadari?

Apa sebenarnya yang tengah gagal kusadari?

Aku tengah gagal menyadari hal sedemikian penting yang membuat Hanekawa sampai belari keluar gudang peralatan olahraga—kira-kira apa hal tersebut?

Dan kenapa pula Kiss-Shot sampai terguncang? Kenapa pula dirinya begitu marah oleh omong kosong dari dia yang disebutnya ‘makanan jalan’?

Dirinya memiliki kendali diri begitu besar sebelumnya.

Di samping itu, aku mendengarnya.

–“Jangan bersikap seolah engkau tahu semuanya…”

–“Dasar bocah.”

Benar juga.

Kalimat itu pernah dikatakannya ke Oshino—tapi soal apa lagi?

Aku ingat.

—“Aku punya minat terhadapmu, Heart-Under-Blade… “

–“Araragi, yang menjadi bawahanmu… “

–“rela kau bantu demi bisa berubah kembali jadi manusia.”

“…!”

Aku…

…langsung mendorong jatuh Kiss-Shot, dan berakhir di atasnya—dan tanpa berpikir, secara refleks aku langsung berdiri. Secara alami, aku menarik keluar taringku dari lehernya… dan kemudian…

Aku menatap ekspresi wajahnya.

Aku melihatnya.

Sorot mata Kiss-Shot yang dingin, sementara tetap dingin berubah menjadi hampa, pupil matanya seakan berkabut… dan bahkan bibirnya berkerut.

“Ada apa… Pelayan?” Kiss-Shot berkata. “Beta masih punya… separuh darah beta yang masih tersisa.”

“… … … …”

“Kini sesudah engkau menghisap begitu banyak darah dari beta, beta tidak lagi sanggup bergerak. Namun jika engkau tak bergegas, beta akan segera pulih, engkau tahu?”

Keadaannya persis seperti yang dikatakannya.

Kini dirinya tak mampu bergerak, tapi kelak bisa segera pulih, persis seperti yang dikatakannya.

Tapi… lebih penting lagi.

Aku ada sesuatu yang perlu kutanyakan padanya.

Walau pertanyaan terakhir yang ingin kutanyakan sesuatu yang harusnya sudah kutanyakan—masih ada sesuatu yang tetap harus kutanyakan.

Itu…

Kemungkinannya, itu juga bukan sesuatu yang semestinya kutanyakan sih.

“H-Hei… Kiss-Shot…”

“Ada apa?”

“Dengan cara apa…

…kau sebelumnya berencana…

…mengubahku kembali menjadi manusia?”

Kiss-Shot dengan kasar menanggapi pertanyaanku dengan decakan di mulut.

“Peduli apa engkau akan hal tersebut sekarang?”

“Aku peduli. Buatku ini penting.”

“Makanan jalan itu. Seharusnya sejak awal dia diam saja.”

Kiss-Shot mengutuk Hanekawa.

Dan kemudian ia menutup mulut.

Lalu Hanekawa yang dikutuknya itu… dengan langkah lamban, berjalan ke arahku dan Kiss-Shot. Walaupun dirinya telah mengenakan sweater seragam dan syalnya kembali, menilai dari guncangan dada yang seakan memiliki efek suara boingboing di latar belakang, tampaknya ia tak memiliki cukup waktu untuk mengenakan bra-nya kembali.

Tanpa terganggu, Hanekawa mendekat.

Kemudian ia berbicara.

“Heart-Under-Blade.” Dirinya berucap dengan nada penghormatan. “Apa semenjak awal kau telah berencana untuk wafat di tangan Araragi?”

“… … …”

“Agar dirinya bisa diubah kembali menjadi manusia?”

Aku gagal menyadarinya.

Andai ini tak terjadi—misalnya, andai aku tak menjadi saksi saat Kiss-Shot menyantap Guilloltine Cutter…

Dengan cara apa dirinya berencana mengubahku kembali menjadi manusia? Di samping metode yang telah Hanekawa teliti tersebut, metode apa lagi yang bisa dipakai?

Aku bahkan sama sekali tak memikirkannya.

Aku sepenuhnya… gagal menyadarinya.

Dan…

“Jangan omong kosong, makanan jalan—seakan buktinya ada saja.”

“Kalau begitu, tolong beritahu bagaimana kau berencana untuk mengubah Araragi kembali menjadi manusia. Aku telah menelitinya, dan untuk cara untuk mengubah seorang vampir kembali menjadi manusia, aku tak menemukan adanya cara lain.”

Tak ada lagi.

Tak ada lagi pilihan selain membunuh sang tuan.

Tak ada lagi pilihan selain memutus hubungan tuan dan bawahan.

“Hah! Itu memang fakta yang telah diketahui—hanya saja semenjak awal beta tak pernah berniat mengubah pelayan ini kembali menjadi manusia. Beta membohonginya agar ia kumpulkan kembali tungkai-tungkaiku yang hilang. Akan beta beri kebohongan macam apapun demi memperoleh kembali wujud beta yang utuh—untuk alasan itu beta mengubahnya menjadi bawahanku. Jujur saja, semuanya sepenuhnya dilakukan karena keadaan.”

“Bukan. Kau membuatnya mengumpulkan bagian-bagian tubuhmu yang hilang karena jika ia membunuhmu dalam wujudmu yang tak sempurna, dirinya juga tak akan kembali menjadi manusia, bukan? Jika kau tak dibunuh dalam wujudmu yang utuh, maka tak akan ada artinya…”

Waktu itu…

Kiss-Shot begitu bergembira bukan karena telah memperoleh wujud utuhnya kembali—namun karena dirinya telah memenuhi prasyarat untuk mengubahku menjadi manusia kembali—jadi?

“Sampah. Itu sama sekali tak benar.”

“Lalu… kalau begitu kenapa kau kemari?”

Hanekawa berbicara dengan Kiss-Shot dengan ketenangan mutlak.

Sang pemangsa dan mangsa.

Terlepas dari keberadaan satunya yang lebih tinggi dan satunya yang lebih rendah, mereka berbicara secara normal.

“Araragi mempunyai alasan untuk melawanmu. Tapi sebaliknya, kau tak punya. Kau menutup-nutupinya dengan alasan-alasan seperti untuk memamerkan kekuatan penuhmu dan hal-hal lain sepertinya—tapi kenyataannya kau datang kemari hanya agar bisa terbunuh oleh Araragi, bukan? Hanya itu alasannya, bukan? Dengan membuat pertarungannya menjadi pertarungan yang adil… dengan sengaja Araragi kau panas-panasi.”

“Ha, Hanekawa…”

“Araragi, diamlah.”

Hanekawa dengan tegas memerintahku.

Kemudian ia meneruskan perkataannya.

“Tentunya, tak ada landasan atau bukti apapun soal ini. Aku cuma tak bisa tak merasa ada sesuatu yang aneh dari beberapa waktu lalu…

…karena kau tak membunuhku yang menganggu pertarunganmu…

…aku mengerti. Kau…”

Walau Kiss-Shot meledakkan sekeliling Hanekawa dengan kekuatan mata vampirnya, Hanekawa sendiri dibiarkan tak terluka.

Walau Episode dengan tanpa ampun melontarkan salibnya ke Hanekawa yang dengan cara serupa ikut campur dalam pertarungannya—Kiss-Shot, yang memandang Hanekawa sebatas sebagai semacam makanan bekal, sama sekali tak menyerangnya.

Dia hanya mengancamnya.

“Kau sudah berencana untuk mati.”

“…Semestinya engkau tak berkata apa-apa.”

Kiss-Shot…

…mengulang kata-kata yang sama seperti sebelumnya.

“Lalu sesudah mengatakannya, apa yang engkau rencanakan? Sesudah mengatakannya, engkau pikir bawahanku akan jadi sanggup membunuhku?”

“Eh?”

“Sebagai penguasa, beta memahami sepenuhnya pelayanku—dia seorang tolol yang akan menolong vampir sekarat. Andai ia tahu apa yang si bocah sebut sebagai ‘keinginanku’, apa menurutmu dia masih akan sanggup menghisap darahku?”

“I-Iya… tapi…”

Hanekawa kehilangan kata-kata.

Kiss-Shot dengan dingin memandang ke arahnya.

Dengan sorot mata kosong—dia memandang Hanekawa dengan dingin.

“Beta pikir yang tersulit… ialah bagaimana membuatnya mau membunuhku. Itulah yang beta rasa paling mengganggu. Karenanya, beta tak menyinggung soal bagaimana caranya sampai saat terakhir. Beta pikir tiada pilihan lain yang beta punya selain membohonginya… Namun walau tak disangka, berkat Guillotine Cutter, apa yang beta perlukan secara kebetulan terpenuhi. Jika ia bisa sedemikian marahnya hanya akibat beta makan satu orang, maka tiada alasan bagi beta untuk merasa khawatir tentangnya.”

Itu, katanya.

Kiss-Shot, dengan matanya itu memandang ke arahku.

“…Beta bisa terbunuh oleh engkau asalkan berperan sebagai musuh, sang tokoh jahat. Tiada alasan bagimu untuk mengetahui maksud beta.”

“Kenapa…”

Aku bergumam.

Aku kebingungan… yah, tapi…

Itu sebuah fakta yang dengan penjelasan itu semuanya akhirnya cocok.

“Kenapa… kau sampai berbuat seperti itu…”

“Pelayan.” Kiss-Shot berkata. “Beta tengah mencari tempat untuk wafat.”

“Tempat untuk wafat…”

Alasan kematian 90% vampir pada setiap waktu.

Bunuh diri.

Kebosanan… membunuh sang vampir.

Kebosanan… yang teramat luar biasa.

“Itulah alasan mengapa beta datang ke negara ini. Semenjak bawahan pertama beta meninggal, tak pernah beta kembali ke tempat ini lagi. Alasannya juga bukan buat berjalan-jalan.”

“T-Tapi kau…”

Tak mau mati.

Itu yang dikatakannya… sembari menangis.

Jantungnya telah dicuri. Tungkai-tungkainya telah direnggut.

Dirinya meski nyaris berhasil lolos hidup-hidup.

“Beta pikir sudah waktunya beta mati. Itulah rencana beta.”

Namun, Kiss-Shot juga berkata.

“Namun di akhir, beta merasa takut untuk mati.”

“… … …”

“Beta takut untuk lenyap sesudah hidup sepanjang 500 tahun. Beta takut, takut untuk menghilang. Beta tak tahu harus bagaimana. Lalu engkau melintas di waktu itu. Beta memohon engkau untuk menolong beta.”

“Aku… menolongmu.”

Hal gilanya adalah kenyataan bahwa aku sama sekali tak berpikir apa-apa.

Aku tak memikirkan apa-apa tentang konsekuensinya ataupun masa depan.

Alasannya cuma…

…Aku tak ingin melihat… wajahnya yang berurai air mata…

Aku tak tahan melihatnya.

“Untuk kali pertama dalam hidup beta, beta ditolong oleh orang lain.”

“… … …”

“Baik mereka manusia ataupun vampir, tiada ada yang pernah menolong beta. Saat menghisap darahmu, beta bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya yang tengah beta lakukan. Karenanya—walau beta meminum darahmu, beta tak sanggup memakan lebih jauh lagi. Kemudian engkau kujadikan bawahanku. Bawahan kedua yang pernah beta punyai seumur hidupku.”

Karena engkau tak kunjung juga membuka mata, beta pikir engkau akan kehilangan kendali atas diri sendiri—Kiss-Shot berkata.

Dengan pengawasan berlanjut di sepanjang waktu.

Dia merawatku.

“Namun, entah bagaimana, akhirnya engkau membuka mata. Beta pikir, andai engkau memang berkeinginan menjadi vampir, maka itupun tak apa—tapi engkau, seperti yang telah beta kira, berkeinginan untuk kembali menjadi manusia. Sementara engkau tak sadarkan diri, beta dengan muram terus memikirkannya. Pada saat itulah, beta memutuskan.”

Kiss-Shot berkata, dengan nada pasrah, namun suara kuat…

“Beta akan mati untukmu.”

“…Untukku…”

“Engkau akan membunuhku, engkau akan kembali menjadi manusia, dan kali ini, beta akan wafat. Beta rasa telah akhirnya menemukan tempat untuk wafat. Tempat yang telah beta cari semenjak 400 tahun sebelumnya.”

“400 tahun sebelumnya…”

Itu… bawahannya yang pertama.

Kiss-Shot berkata.

Soal mengubahnya kembali menjadi manusia.

–di masa itu, masih tak mungkin bagiku untuk mengubah seseorang kembali menjadi manusia—

tapi kali ini, jika bisa, beta hendak belajar dari pengalaman tersebut.

“Beta tak sanggup meninggal dunia untuknya. Beta tak sanggup menawarkan padanya kematianku sendiri. Beta tak dapat mengembalikannya menjadi manusia. Karenanya…”

“Untukku.”

Demi mengubahku kembali menjadi manusia.

Demi menolongku.

Dirinya hendak mengorbankan nyawanya.

“Jadi, jangan congkak, Pelayan. Semenjak awal ini memang adalah tanggung jawabku. Andai beta tak bersikap sedemikian tak patutnya maka seluruh kejadian ini mungkin takkan terjadi, dan jika engkau tak menyelamatkan beta, waktu itu pastilah beta telah mati.”

“… … …!”

Eh?

Itu… tunggu sebentar.

Apa-apaan situasi ini—tak mungkin.

Pada titik ini—soal mentalku…

Aku bisa atasi soal mentalku—

Walau aku baru mengatakannya beberapa saat lalu!

“…Kenapa? Apa engkau menangis?”

“Ah….”

Sekarang sesudah aku menyadarinya—kedua pipiku basah.

Kenapa?

Karena walau memang itu kenyataannya—itu tak berarti apa yang harus kulakukan jadi berubah ‘kan?

Walau dirinya berkeinginan untuk mati untukku…

…Bukankah ada orang yang pernah dimakan olehnya?

“Engkau sungguh cengeng, pelayanku. Menyedihkan sekali.”

“Bu-Bukaan. Ini bukan tangisan. Ini.”

Ini, menurutku.

“Ini… darah.”

“Ooh.”

“Darah yang mengalir…”

Bagaimana keadaan bisa menjadi begini?

Kiss-Shot adalah vampir.

Dirinya memakan Guillotine Cutter.

Dirinya telah memakan 6000 orang sejauh ini.

Tapi…

“…Bahkan darahmu juga mengalir…!”

Kita sama-sama hidup.

Karenanya jadi sama saja.

Apa yang aku lakukan.

Apa yang telah coba dilakukannya.

Apa yang aku mencoba lakukan.

Bukankah semuanya sebenarnya persis sama…?!

“Sungguh, ikut campurmu tak diperlukan, makanan jalan.” Kiss-Shot berkata. “Dan beta telah berencana untuk terbunuh begitu menunjukkan celah di saat tepat—tapi sudahlah. Pelayan, kini yang harus engkau lakukan hanyalah membunuhku.”

“I-Itu…”

Soal mental…

Soal mentalku…

“Jika engkau urung membunuh beta, maka mulai esok beta akan memakan 1000 orang per hari. …Jika beta berkata begitu, maka engkau tak mempunyai pilihan lain selain membunuh beta, bukan? Sebagai bukti bahwa ini bukan hanya gertakan, akan beta mulai dengan memangsa makanan jalan itu, akankah engkau setuju?”

“.. … … …”

“Lebih baik bila engkau sendiri yang memetik nyawa yang telah engkau selamatkan. Ini yang namanya.. tanggung jawab, bukan?”

“Kiss-Shot…”

“Engkau adalah orang kedua yang memanggil beta dengan nama itu. Dan engkau juga akan menjadi yang terakhir.”

Aku memandang Hanekawa untuk memohon pertolongan.

Hanekawa… hanya menggigit bagian bawah bibirnya, sayangnya, dan terlebih lagi juga tak mengatakan apa-apa. Seakan mengisyaratkan besarnya keputusasaan dari situasi saat ini.

Bahkan Hanekawa pun tak tahu harus melakukan apa.

Ya.

Kenyataannya persis seperti yang Kiss-Shot bilang.

jika keadaan begini, Hanekawa tak perlu sampai berlari ke luar gudang untuk mengungkapkan apa yang Kiss-Shot sembunyikan dalam pikirannya—pada akhirnya, apa yang harus kulakukan sama sekali tak berubah, dengan cara ini situasinya hanya akan bertambah buruk.

Namun.

Andai aku tak mengetahuinya… dan terus menyimpan salah paham terhadap Kiss-Shot… tanpa mampu merasakan penyesalan sama sekali…

Seakan aku tak lebih baik dari monyet, aku akan kembali menjadi manusia.

Apa kau akan percaya?

Di akhir… hanya keinginanku saja yang akan terpenuhi.

Takkan ada yang bahagia.

Aku akan memaksa Kiss-Shot menanggung segalanya.

“Ayo.”

Kiss-Shot tertawa.

“Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo—bunuh aku, Pelayan.”

“…Siaaaaaal!”

Jadi dia sedang mencari tempat buat mati?

Bunuh diri?

Itu… Itu cuma pelarian!

Itu bukti kau sedang lari dari isi hatimu sendiri!

Tak peduli semulia apa kau coba bersikap, perasaanmu yang sesungguhnya… tak lain adalah apa yang aku dengar hari itu, di bawah lampu jalan!

Tidak, tidak, tidaaak…

beta tak mau tewas, beta tak mau tewas, beta tak mau tewas!

Tolong beta, tolong beta, tolong beta!

beta tak sudi hilang, tak sudi lenyap! Tidaaak!

Seorangpun, siapapun, siapapun jua…

Maaf…

“Oshinooooooooo!”

Aku…

Memandang ke arah langit, aku kemudian berteriak sekuat tenaga.

Dengan kapasitas paru-paru vampir, aku meneriakkannya sekuat tenaga.

“Oshino Meme!”

Dan… kupanggil nama orang itu.

Nama orang dengan kemeja aloha, yang berkesan sembrono dan kurang ajar.

Itu nama orang yang memahami segalanya semenjak awal tapi memilih untuk tak berkata apa-apa—dirinya dengan tak tahu malunya hanya tutup mulut dengan sebatang rokoknya yang tak menyala.

“Aku tahu kau sedang mengawasi dari suatu tempat—jangan berlagak dan cepat kemari! Brengsek, aku ada pekerjaan buatmu!”

Hanekawa memandangku dengan terkejut.

Kiss-Shot memandangku dengan terkejut.

Tapi aku tak memperhatikan pandangan mereka—aku terus berteriak.

“Oshino! Aku tahu kau di sini—dengan sudut pandang netralmu, enggak mungkin kamu enggak mengawasi tempat ini sekarang! Aku sudah paham semua ucapanmu! Aku enggak sedang mencari penjelasan lagi! Jadi ke sini! Aku sudah ngerti apa yang telah kulakukan. Aku sudah ngerti sepenuhnya soal apa yang kau bilang kalau aku di sini bukan korban, tapi pelaku! Jadi ayo ke sini… Oshino Meme!”

“…Aku bisa dengar kamu walau kau tak teriak-teriak begitu.”

Selalu dengan sikap yang ringan—Oshino kudapati tengah duduk di atap gudang peralatan olahraga.

Dia sedang duduk bersila, menyandarkan dagu di salah satu tangannya.

Terlihat teramat gusar.

Sudah berapa lama… atau mungkin memang dirinya tiba-tiba saja muncul di sana.

“…Oshino.”

“Hahhaa, semangat sekali kau Araragi—apa sesuatu yang baik terjadi?”

“Aku punya kerjaan buatmu.”

Aku mengulang.

Aku melotot ke arah Oshino—dan aku mengulanginya.

“Lakukan sesuatu.”

“Yakni?”

Dengan senyum masam, Oshino melompat turun dari atap gudang peralatan olahraga—dirinya memiliki postur tubuh yang membuatmu tak mengira kalau refleksnya sebenarnya bagus, tapi dirinya mendarat mulus, bahkan tanpa perlu membengkokkan lutut.

Dan kemudian dirinya dengan ceria mendekat ke arah kami.

“Permintaanmu terlalu tersamar.”

“Akan kubayar pakai uang.”

“Ini bukan masalah uang.”

“Jadi masalahnya apa?”

“Masalahnya masalahmu sendiri.”

Jangan seenaknya.

Oshino berkata seakan-akan dirinya menolak.

Kenyataannya, dirinya memang menolak.

“Yo, Nona KM.”

Dan kemudian Oshino mengangkat sebelah tangannya kepada Hanekawa.

“Senang bisa mengenalmu, kurasa.”

“…Iya.”

Hanekawa menjawab dengan anggukan kepala.

“Salam kenal. Saya Hanekawa.”

“Aku senang aku mampir ke kota ini buat jaga-jaga, walau urusan dengan Heart-Under-Blade sudah usai. Dengan begitu aku jadi berkesempatan buat bisa mengenalmu.”

“…Saya dari awal dapat kesan kalau Anda kurang suka padaku sih.”

“Tak mungkin. Tak mungkin aku bisa tak suka pada seorang gadis. Aku peringatkan ya, kalau kau dengar sesuatu yang aneh dari si Araragi, maka itu pasti kabar palsu.”

Dasar tak tahu malu.

Oshino memberikan sebuah kebohongan yang terang-terangan.

“Kenyataannya kau memang luar biasa. Walau kau tak punya kaitan apa-apa dengan kaii, kau sampai kena dampak sebegitu besarnya. Siswi SMA zaman sekarang memang bersemangat ya, memang ada hal baik terjadi ya?”

“Bukan berarti saya tak punya kaitan apa-apa dengan semua ini.” Hanekawa berkata dengan ketegasan. “Masalah Araragi berarti masalahku juga.”

“Wuaa, itu namanya persahabatan.”

Oshino melepas tawa terbahak-bahak.

Itu sikap menyebalkan disengaja yang jelas-jelas seakan mengejek orang.

“Ataukah itu karena semangat muda?”

“Bocah.” Kiss-Shot berkata pada Oshino. “Jangan turut campur. Kita sudah memiliki perjanjian.”

“Aku tak ingat pernah membuat perjanjian denganmu, Heart-Under-Blade—aku cuma ingin semuanya bisa berakhir dengan yang terbaik buat setiap orang. Hanya saja lebih baik untukku jika kau memilih mati agar Araragi bisa kembali jadi manusia. Untukku—dengan kata lain, untuk manusia.”

Oshino berkata.

Itu benar.

Tentunya itu juga benar untuk Guillotine Cutter juga.

Aku pikir aneh dirinya dengan mudah mau mengembalikan kedua lengan Kiss-Shot. Namun, bila aku tak salah ingat, Oshino berkata kalau dia sudah menjelaskan garis besar masalahnya pada Guillotine Cutter—Oshino memberitahunya bahwa aku berkeinginan untuk berubah kembali menjadi manusia, dan Kiss-Shot menerima keinginan itu.

Karena itu Guillotine Cutter mengembalikannya.

Oshino dengan begitu mewujudkan sebuah kompromi.

Dengan begitu Oshino membujuknya—dengan alasan tersebut, Guillotine Cutter sepakat.

Jika begitu kasusnya, sekalipun kedua lengan itu dikembalikan olehnya, dirinya tetap tak melanggar doktrin yang dianutnya sendiri.

Dia akan tetap bisa memiliki nama baik sebagai pendeta tinggi.

Dan lagi, karena aku telah berbicara panjang lebar dengan Kiss-Shot, lalu pergi ke minimarket, dengan penyesalan karena akan berpisah dengan Kiss-Shot—aku malah mengulur-ulur waktu. Tapi peduli berapa banyak waktu berlalu, aku belum berusaha membunuh Kiss-Shot.

Maka Guillotine Cutter mengira bahwa dirinya telah ditipu oleh Oshino. Kemudian dirinya memasuki puing-puing bangunan bimbel kami seorang diri.

Bahkan pelindung yang Oshino pasang tak lagi mampu menyembunyikan keberadaan Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh.

“Jadi, walau segala sesuatunya berjalan kurang lebih seperti yang kukira… Nona KM benar-benar melakukan sesuatu yang tak perlu. Akan lebih baik andai Araragi tetap sama sekali tak tahu apa-apa.”

“Saya…” Hanekawa berkata tanpa gentar sama sekali. “Saya rasa Anda salah.”

“Ya ampun. Dasar dadanya. Kalau cuma karena dada saja aku harus salut.”

“A-Apa?”

Hanekawa cepat-cepat menutupi dadanya

Goyang, goyang.

Oshino menatap Hanekawa.

“Ah, aku salah. Dasar nyalinya. Kalau cuma karena nyali saja aku harus salut.”

Dan tertawa.

Seakan itu mungkin saja.

Yang barusan tadi jelas-jelas pelecehan seksual.

“Bagaimanapun, pidato murid teladan memang mengagumkan ya? Yah, Nona KM, jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan terkait situasi ini?”

“…Itu sesuatu yang ditentukan oleh Araragi sendiri.” Demikian Hanekawa menjawab teguran Oshino. “Sebab jika tidak, mengakhiri semuanya tanpa mengetahui apa-apa itu terlalu kejam.”

“Kau dengar dia, Araragi. Aku lagi digalakin saat ini—kebaikan berlebih Nona KM memang beneran keji. Dia benar-benar abnormal. Bisa-bisanya dia menaruh kepercayaan sebegitu gedenya ke kamu.”

“… … …”

“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Oshino menghadap ke arahku.

Seperti biasa, di mulutnya tergigit sebatang rokok yang tak menyala.

“Aku cuma ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri kesudahan dari festival—kau telah berusaha sedemikian jauh, menggapai sedemikian dekat, tapi buat berjaga-jaga aku bakalan coba mendengar. Apa kerjaan yang kau punya buat spesialis sepertiku. Soal biaya, oya, itu bakal menggantikan pembebasan lima juta yen yang kukasih buatmu.”

Oshino berkata, dengan seringai lebar.

“Lalu, keinginamu?”

“…Aku ingin kau memberitahuku cara agar semua orang bahagia.”

Aku mengungkapkannya ke dalam kata-kata.

Sebuah harapan dari lubuk hatiku yang terdalam.

“Sebuah cara agar semua bisa berakhir tanpa ada seorangpun yang tak bahagia.”

“Memangnya bisa?”

Kamu tolol, apa? Oshino terang-terangan mengangkat bahu.

“Yang namanya kemudahan itu ada batasnya. Itu tema yang ditulis oleh anak-anak SD sekarang di mata pelajaran budi pekerti. Itu tak realistis.”

“Oshino, aku…”

“Tapi.”

Dia mengeluarkan rokok itu dari mulitnya, dan mengembalikannya ke dalam saku.

Oshino Meme kemudian menatap Hanekawa, Kiss-Shot, lalu aku secara bergantian… dan berkata:

“Ada satu cara untuk membuat semua orang menjadi tidak bahagia.”

Dengan cepat dia menjelaskannya pada kami yang kebingungan dengan kata-katanya.

“Dengan kata lain, aku bicara soal menyebarkan ke semua orang beban ketidakbahagiaan yang diakibatkan oleh situasi ini—tak ada seorangpun yang harapannya akan terkabul. Tapi kalau kau tak masalah dengan itu, cara seperti itu memang ada dan berlaku juga.”

“…. … …”

Semua orang akan menjadi tidak bahagia—semua akan dibebani dengan ketidakbahagiaan.

Menyebarkan.

Membagi—beban yang ada.

Ini jelas bukan sesuatu yang bisa dibebankan kepada hanya satu orang.

“Konkritnya… yah, Araragi, kau harus sampai benar-benar nyaris membunuh Heart-Under-Blade. Sampai semua karakteristik dan kemampuan istimewanya sebagai vampir nyaris hilang—tapi pastikan agar dia tak sampai mati. Buatlah Heart-Under-Blade lebih sekarat dari sebelumnya. Sedemikian sampai dirinya tak lagi punya bayangan dari sosoknya dahulu, atau bahkan hingga namanya pun tak bersisa. Jadikan dia keberadaan yang lebih rendah, pseudo-vampir serupa manusia—entitas yang takkan memakan manusia selapar apapun dirinya.”

Dan kemudian, Oshino melanjutkan.

“Araragi, kau takkan lagi bisa kembali jadi manusia—tapi kau tetap akan menjadi sesuatu yang sangat mendekatinya. Kau akan menjadi pseudo-manusia serupa vampir. Sejumlah karakteristik dan kemampuan vampir akan bersisa—tapi aku takkan bisa secara tegas menyebutmu sebagai manusia. Tapi kau akan teramat jauh dari sifat seorang vampir dan teramat dekat dengan sifat seorang manusia. Secara alami kau juga akan sangat berbeda dari para separuh vampir. Jadilah makhluk tak jelas macam ini. Ini akan cocok buatmu.”

“C-Cocok buatku, kau bilang?”

“Tentunya, kau juga takkan sanggup memakan manusia tak peduli selapar apapun kau. Tapi… dengan menyelesaikan segala sesuatunya begini, mengesampingkan Araragi, Heart-Under-Blade bisa kelaparan sampai mati bila tak secara teratur diberi gizi. Kau akan harus secara terus menerus memberi Heart-Under-Blade darahmu. Gizi satu-satunya yang dapat diberikan untuk mempertahankan hidup Heart-Under-Blade, begitu dirinya diubah menjadi keberadaan macam itu, hanyalah darah dagingmu sendiri. Kau akan harus mencurahkan sepanjang hidupmu untuk Heart-Under-Blade, dan Heart-Under-Blade akan harus melewatkan sisa hidupnya berada dekat denganmu.”

“Jadi…” Hanekawa memotong. “Dengan kata lain, kita, para manusia…”

“Ya. Lupakan soal pembasmian vampir yang berbahaya. Lupakan soal penghapusan menyeluruh dari sang Pemusnah Fenomena Ganjil, vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin, dan juga bawahannya. Jika ia kehilangan kekuatan sebanyak itu, orang-orang seperti Dramaturgie dan Episode pun takkan sanggup menemukan tempat keberadaan Heart-Under-Blade. Walau begitu, resikonya tetap ada. Ancaman berubahnya Heart-Under Blade dan Araragi kembali menjadi vampir dan memakan orang akan bertahan pada tingkatan yang tetap takkan bisa diabaikan…”

Jika aku melakukan itu…

Maka semua orang akan menjadi tidak bahagia…

Tak ada harapan siapapun yang menjadi kenyataan…

Kiss-Shot takkan sampai mati.

Aku takkan berubah kembali menjadi manusia.

Kedua orang vampir bisa sama-sama bertahan hidup.

“…Jangan bercanda, bocah!” Kiss-Shot berteriak di bawahku.

Dia meninggikan suaranya.

Aku sudah menghisap separuh darahnya—tak mampu bergerak, yang sanggup dilakukannya hanyalah berteriak dengan cara seperti itu.

“Memang apa yang dimengerti bocah yang belum hidup sepersepuluh usiaku?! Jangan bicara seolah itu hal gampang—beta tak sudi hidup dalam keadaan seperti itu! Mempermalukan ada batasnya—beta menolak hidup dengan menanggung malu seperti itu! Tempatku adalah untuk tewas di sini! Akhirnya beta menemukannya—akhirnya beta bisa wafat! Beta… akan mati untuk pelayan beta! Biarkan beta mati untuknya! Bunuh, ayo bunuhlah aku! Cepat bunuhlah aku! Aku tak mau lagi hiduup!”

“Itu alasan kenapa kau akan tak bahagia. Harapan dan keinginanmu takkan terkabul. Walau yang menentukan pada akhirnya tetap adalah Araragi. Ya, persis seperti yang Nona KM bilang.”

“Pelayan!”

Seakan Oshino tak layak bicara dengannya, Kiss-Shot mengalihkan pandangan matanya ke arahku.

“Seperti yang kubilang, jangan termakan omongan bocah itu! Beta sudah tak sudi lagi untuk hidup.”

“…Tapi, aku…”

Lalu tanpa keraguan, aku memutuskannya.

Ini jelas merupakan tanggung jawabku.

Aku berpikir keras tentang segala konsekuensinya… dan kemudian mengatakannya.

“Aku mau kau tetap hidup.”

“… …”

Aku…

…perlahan mengusap lembut rambutnya.

Rambutnya yang keemasan.

Rambutnya yang begitu lembut dan halus.

Itu… ya.

Itu jelas tanda kepatuhan.

“Aku enggak akan cuma mengatakan ini sekali. Aku akan bungkukkan kepala enggak peduli berapa kali pun. Jadi jangan coba mencari kematian yang keren—hiduplah walau repot buatku. Jangan cari lagi tempat buat mati. Carilah tempat buat hidup.”

Kiss-Shot… menampakkan ekspresi wajah yang penuh keputusasaan.

Namun dirinya tak mampu bergerak.

Dirinya bahkan tak mampu memberontak.

Dirinya berurai air mata…

Dengan air mata yang begitu mirip dengan darah, dirinya hanya bisa terus memohon.

“Beta… Beta mohon…. beta mohon, pelayanku. Dengan cara apapun… dengan cara bagaimanapun, bunuhlah beta. Bunuhlah beta, kembalilah jadi manusia. Tolonglah…”

“Maaf, Kiss-Shot.”

Aku menyebut namanya.

Nama yang mungkin takkan kugunakan untuk memanggilnya lagi.

“Aku takkan membantu.”

Maka demikianlah libur musim semiku berakhir.

Libur musim semi yang persis seperti neraka.

Dan juga libur musim semi terakhirku sebagai murid SMA—dengan akhir buruk tragis yang padanya tak ada kebahagiaan ataupun keselamatan, tirainya akhirnya tertutup.

Catatan:

kuchisake-onna: hantu perempuan Jepang yang punya ujung-ujung mulut tersayat.

Delapan Neraka Besar: maaf, aku kurang tahu istilah tepatnya; tapi ini sesuatu dari ajaran Buddha.

[kanji kedua dari ‘nyali’ adalah ‘(buah) dada’, jadi ini lagi-lagi lelucon soal salah tulis/baca]

018

Penutupnya…

Atau lebih tepatnya, kelanjutan cerita sesudah itu…

Keesokan harinya, sesudah waktu teramat lama aku dibangunkan dari atas kasur oleh kedua adik perempuanku, Karen dan Tsukihi, dan kemudian berangkat ke sekolah. Sang kakak lelaki akhirnya pulang ke rumah setelah sebuah perjalanan pencarian jati diri yang berlangsung selama dua minggu dan kedua orangtuanya sama sekali tak mengatakan apapun yang istimewa, sementara kedua adik hanya menanggapi dengan tertawa terbahak-bahak. Berhubung kenyataannya aku memang melakukan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan hanya bisa ditertawai, aku rasa aku hanya bisa setuju dengan mereka.

Bagaimanapun, mulai hari ini dimulailah tahun ajaran yang baru.

Aku menuju ke sekolah dengan naik sepeda. Sudah dua minggu berlalu semenjak terakhir kalinya aku naik sepeda. Aku rasa kau takkan mungkin bisa sampai lupa caranya naik sepeda hanya akibat merasakan sedikit neraka.

Kemudian begitu tibanya aku di sana…

…di gedung olahraga, pengelompokan kelas yang baru diumumkan.

“Ooh.”

Sebuah keajaiban terjadi. Namaku dan nama Hanekawa tercantum pada papan yang sama. Yah, keajaiban mungkin kata yang berlebihan untuk mengungkapkan itu, tapi aku memang sedikit senang. Itu sebuah emosi yang tak kurasakan pada pergantian kelas di tahun kedua. Aku tak tahu apa sifat asli dari emosi tersebut, tapi aku senang mulai kini kami duduk di kelas yang sama.

Di antara kerumunan siswa yang berlari untuk memeriksa kelas baru mereka, aku menemukan Hanekawa dan kemudian aku memanggilnya. Berhubung gambaran sosok murid teladan seperti dirinya terbilang langka, bahkan di sekolah seperti SMA Naoetsu, aku bisa menemukannya dengan mudah.

Dia telah mengubah gaya rambutnya.

Tepatnya, dia hanya memisahkan satu kepangnya menjadi dua bagian ke dua sisi, tapi dengan itu saja kesan yang dimilikinya berubah cukup banyak.

“Oh, Araragi… heei.”

Hanekawa memiliki tampilan lelah di wajahnya.

Bahunya turun, dan tampaknya dia lesu dan kecewa.

Tak pernah ada orang yang begitu murung akibat dimulainya tahun ajarab baru.

“A-Ada masalah, Hanekawa?”

Kenapa?

Apa mungkin dia tak senang karena kini kami di kelas yang sama?

Aku langsung diserang perasaan seakan aku hendak diadili, tapi kelihatannya masalahnya ternyata bukan itu.

“Ah.”

Hanekawa menarik lengan baju kemeja seragamku dan membawaku keluar gedung olahraga. Lalu seperti yang kukira, ia membawaku ke sebuah tempat di mana kami berdua bisa berbicara secara pribadi.

“Aku lupa mengambil bra-ku di gudang alat OR!”

Dia mengeluh.

“Ooh.”

“Kalau sekarang, pasti sudah ada orang yang menemukannya…”

Kami berusaha menyelesaikan pemberesan lapangan olahraga sebaik yang kami bisa, sebatas yang bisa dilakukan, tapi tak ada lagi yang bisa kami lakukan soal pintu besi gudang peralatan yang sudah diremas dan digumpakan seperti aluminuim foil oleh kekuatan mata vampir, jadi kami membiarkannya saja seperti itu dan pulang ke rumah. Aku lihat masih belum ada orang yang bergerak menuju arah lapangan olahraga, tapi pintunya sama sekali menghilang, jadi dilihat dari sudut manapun, pasti nanti akan ada keributan soalnya. Tentunya, wilayah di sekitar gudang juga akan diperiksa.

Nampaknya itu yang membuat Hanekawa tertekan.

“Walau keadaannya memang enggak memungkinkanku buat ngasih perhatian, buatku, ini bakal jadi kesalahan terbesar seumur hidup… sekaligus juga aib terbesar seumur hidup.”

“Tenang saja, Hanekawa.”

“…? Kenapa?”

“Aku sudah mengambilnya.”

“Apa kau bilang?!”

“Aku takkan biarkan dirimu menanggung rasa malu.”

“Dalam keadaan kayak semalam kamu masih sempat-sempatnya mengambil?!”

“Hei, jangan bicara semenyedihkan itu dong. Sejak libur musim dimulai, aku enggak pernah berpikir, sekalipun enggak, buat memberi prioritas terhadap apapun selain pakaian dalammu lho.”

“Jangan kasih aku alasan macam itu!”

“Dan karenanya, di kamarku, sekarang ada satu set, atas dan bawah.”

“Tolong kembalikan!”

Kami mengobrol.

Berhubung masih ada waktu sampai bel berbunyi, aku dan Hanekawa berbincang-bincang sedikit untuk mengisi waktu. Tentunya topiknya berhubungan dengan vampir. Hanekawa mengajarkanku sesuatu dari pengetahuan luas tentang vampir yang kini dimilikinya.

“Yah, ini hanya teori.” Hanekawa berpendapat. “Vampir menghisap darah manusia—namun implikasinya berbeda dari apakah mereka menghisapnya untuk makanan atau karena untuk menciptakan bawahan.”

“Iya. Aku agak lupa apa aku dengar langsung darinya atau dari Oshino, tapi kalau tak salah aku pernah dengar soal itu.”

“Makanan ya, makanan, tapi menciptakan bawahan sepertinya dipandang sebagai sesuatu yang mirip kegiatan seksual.”

“Ke-Kegiatan seksual?”

“Aku serius.” kata Hanekawa. “Ada yang bilang kalau nafsu makan dan nafsu seksual mirip satu sama lain. Di sisi lain, kalau kita mengikuti alur berpikir itu, bukannya jadi jelas mengapa seorang vampir tak mau membuat bawahan banyak-banyak? Dalam 500 tahun—dia hanya punya dua. Aku tak tahu soal bagaimana pandangan vampir terhadap kesucian, tapi dalam hal ini kupikir dia seorang perempuan yang punya kehormatan.”

“Kehormatan?”

“Aku merasa bawahannya yang pertama sebenarnya adalah kekasihnya.”

Aturan untuk tak menciptakan bawahan.

Itu penjelasan yang sebelumnya aku terima.

Vampir… yang memiliki kehormatan.

Sekalipun mereka di ambang maut, mereka tak terdorong untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dengan menciptakan bawahan baru… begitu bukan?

Jadi…

…dalam rangka apa seorang bawahan baru biasanya diciptakan?

Itulah pertanyaannya.

“…Tapi bukankah yang satu manusia dan satunya lagi vampir?”

“Makanya dia mengubahnya menjadi bawahannya, ‘kan? Keberadaan separuh vampir bisa jadi bukti adanya ‘hubungan-hubungan’ macam itu… walau kurasa situasinya agak berbeda dalam hal ini. Bagaimanapun, itu semua cuma sebatas dugaan. Tapi mungkin karena alasan ini dia mencoba memperbaiki apa yang diputuskannya pada waktu itu. Mungkin… sebagai semacam bentuk penebusan dosa.”

“Penebusan dosa…”

Dia tak sanggup mengubah bawahan pertamanya menjadi manusia kembali.

Karenanya, dia menambahkan bawahan kedua, aku, sesudah yang pertama.

Kemungkinan begitu.

“Dia tak sudi terbunuh oleh ketiga pembasmi vampir itu—jadi apa yang dimaksudkannya soal gimana dia akhirnya telah menemukan tempat untuk meninggal, mungkin, adalah kenyataan dia telah bertemu denganmu. Waktu dia bertemu… dengan bawahannya yang kedua.”

“Tempat untuk… meninggal, ya.”

“Kalau kita pikirkan, pada waktu dia kehilangan kekuatan vampirnya sesudah mengubahmu jadi bawahannya—pada waktu itu dia juga kehilangan kemampuannya untuk menghisap darah. Mungkin di waktu itu dirinya sudah bersiap untuk jadi kelaparan hingga mati. Berhubung bila vampir tak bisa menghisap darah, maka dirinya akan mati.”

“Ya… itu benar.”

“Tapi untuk mengubahmu kembali menjadi manusia, dia tak bisa membiarkan dirinya kelaparan sampai mati.”

“…. … Malam kemarin, di awal dia mengajakku untuk hidup bersamanya untuk selama-lamanya… aku tak punya bayangan soal apa kira-kira yang akan dilakukannya seandainya aku mengiyakan ajakannya itu.”

“Yah, bukannya persis itu yang bakal terjadi?”

“Persis ya.”

“Walau tak ada seorangpun yang bisa hidup sendiri, ada dua orang yang bisa.”

“… … …”

“Dua orang lebih baik daripada satu, hanya kalian berdua lebih baik daripada bertiga… mungkin begitu. Sesuatu semacam itu.”

Apa ya kira-kira, kata Hanekawa.

Entah ya, jawabku.

“Bekas luka.”

“Hm?”

“Ada bekas luka yang tertinggal.”

Hanekawa berkata sembari mengamati leherku.

Di belakang leher, tertera bekas sepasang taring.

“Apa? Jadi kerahnya masih belum menutupinya ya?”

“Hmm. Mungkin aku menyadarinya karena sebelumnya memang sudah tahu tentangnya.”

Melipat lengannya, Hanekawa memeriksa bekas luka itu dari berbagai sudut.

“Tapi lagipula, ada juga jam-jam pelajaran olahraga ‘kan? Araragi, mungkin lebih baik jika rambutmu kau panjangkan sedikit lagi.”

“Begitu ya… aah, perawatannya bakal repot.”

“Jadi di akhir, ada berapa bagian vampir yang tertinggal di tubuhmu?”

“Mungkin masih harus diuji, tapi… kelihatannya, kemampuan tubuhku buat sembuh dari luka lebih meningkat. Lalu rasanya kalau aku gosok gigi, aku semakin susah mengalami gusi berdarah.”

“Waah, contohnya rendah hati sekali…”

“Yah, pokoknya semacam itu. Memandangnya secara positif, pada akhirnya aku memang berhasil kembali berubah jadi manusia, tapi dengan satu-dua efek samping… Mungkin begitu, kalau aku boleh ngomong.”

“Hmmm… efek samping ya?”

“Yah, apakah aku sekarang ini benar-benar manusia atau bukan—cuma dengan bisa berada di bawah matahari seperti ini, aku merasa seperti dunia telah berubah jauh.”

“Kau optimis.”

Hanekawa bersikap malu-malu.

Bahkan wajah tersenyum Hanekawa… seperti yang kuduga, bila dilihat di bawah cahaya matahari, terlihat menyilaukan sepanjang waktu.

“Yah, kalau ada sesuatu lagi yang membuat kau risau, katakan saja ya. Nanti kau kuizinkan memijat bahuku sebanyak yang kau mau.”

“Baiklah. Nanti begitu aku ingin memijatnya, aku akan bilang. Demi bisa membuat Hanekawa merasa nyaman, aku sudah meneliti bermacam hal sebelumnya, dan akan kusiapkan hatiku juga, dan jadi pada kesempatan berikutnya, aku pasti akan berhasil memijatnya.”

“… Ka-Kau lagi bicara soal bahuku, ‘kan?”

“Hm? Eh, ah… ya.”

“Itu jawaban yang ambigu.”

Hanekawa tersenyum pahit.

Bagaimanapun…

Hanekawa menawarkan tangan kanannya padaku dan berkata.

“Akhirnya aku bisa sekelas denganmu, Araragi. Aku mesti ambil kesempatan ini untuk merahibilitasimu dengan benar.”

“Merahibilitasi? Maksudnya?”

“Merahibilitasi? Cara menulisnya sama seperti ‘membangkitkan’.”

Bukannya kata itu jadi cocok buat Araragi yang abadi?

Demikian Hanekawa berucap.

“Tolong bantuannya untuk setahun ke depan ya, Araragi.”

“Ya. Termasuk buat setahun, tolong urus aku buat seterusnya juga.”

Walau pastinya seterusnya itu akan lebih pendek dari selamanya.

Tapi, tetap saja, tolong urus aku buat seterusnya juga.

Aku menjabat tangan Hanekawa.

Itu pastinya sebuah jabatan antar sesama sahabat.

Dan kemudian kami masuk ruang kelas, dan menerima dari wali kelas kami gambaran umum tentang materi pelajaran di sepanjang tahun ajaran baru, dan sepanjang caturwulan baru… yah, itu hal biasa yang diadakan setiap tahun. Lalu besok kami akan memilih pasangan ketua kelas, jadi aku disuruh untuk mempertimbangkan siapa calon yang kira-kira sesuai. Tentu saja aku memilih Hanekawa—sedangkan untuk laki-lakinya, aku tak peduli.

Dan kemudian, pulang sekolah…

Aku pergi ke reruntuhan gedung bimbingan belajar itu sendiri.

Aku berangkat setelah memberitahu Hanekawa. Aku bahkan terpikir untuk pergi berdua bersamanya. Tapi ini tanggung jawabku, dan tanggung jawabku seorang.

Dua puluh menit dengan menggunakan sepeda—dan akhirnya aku tiba di tempat tersebut.

Aku sudah menganggap tempat ini tidak seperti milik orang lain tapi nyaris seperti rumahku sendiri. Aku lewati lubang di pagar kawatnya dan memasuki halaman dalamnya. Tapi, kalau aku memikirkannya sekarang, aku bisa bilang ini kali pertama aku mengamati bangunan ini baik-baik pada waktu siang.

Kalau aku memandangnya di bawah cahaya matahari—keadaannya lebih bobrok dari yang kusangka.

Keadaannya sudah busuk dan rusak.

Keadaannya seolah bangunannya sendiri tengah sekarat.

Bila dilihat dengan mata manusia, kesan itulah yang tampak.

Aku menurunkan pandanganku dan memasuki bangunan terbengkalai itu—kemudian kutapaki anak-anak tangga menuju ke atas.

Lantai kedua—aku melewatinya.

Tempat yang kutuju adalah lantai keempat.

Dia tak lemah lagi terhadap sinar matahari.

Karena dia bukan lagi seorang vampir.

Aku memeriksa ruangan yang langit-langitnya berlubang, tapi tak ada siapa-siapa di dalamnya. Aku membuka pintu ke ruang kelas berikutnya—kelihatannya bahkan pintu itu pun kini rusak—dan kudapati Oshino ada di dalam.

“Yo. Kau lambat, Araragi—aku sudah menunggu dari tadi.”

Oshino menyapaku dengan nada ceria.

Seperti biasa, dirinya mengenakan kemeja aloha.

Dengan berbaring di dipan yang dibuatnya menggunakan meja, dilihat seperti apapun, dia jelas tak sedang menungguku. Tapi kalau aku balas menanggapi setiap hal kecil yang dikatakannya pun kurasa takkan ada gunanya.

“Hahhaa. Baju seragam itu cocok buatmu, Araragi. Kau jadi terlihat sangat berbeda.”

“Begini-begini juga, aku tetap anak sekolahan tahu.”

“Ah, bener juga. Aku dengan cerobohnya lupa. Kau memang sempat jadi tokoh utama Gakuen Inou Batoru.”

“Aku tak tahu lagi apa hal seperti ini benar-benar terjadi. Itu benar-benar sesuatu dari masa lampau.”

Dan lagian, bukan karakterku buat jadi karakter utama.

Aku juga tak cocok menjadi penjahat, apalagi monster.

Saat ini aku cuma anak sekolahan biasa.

Sebagaimana aku tampak… sebagaimana aku terlihat, seorang anak sekolahan.

Walau meski sedikit aku bisa punya kekuatan super.

“Begitu ya. Nona KM hari ini tak bersamamu ‘kan?”

“Ya. Aku sendirian. Atau emang lebih baik kalau aku datang berdua?”

“Faktanya, kalau dalam kasus ini sih, itu takkan ada bedanya.”

Walau, Oshino melanjutkan.

“Kalau aku boleh bicara karena aku peduli, sebaiknya kau sangat berhati-hati soal si Nona KM. Araragi… jangan sekalipun lepasin pengawasanmu darinya. Gadis itu agak terlalu… berbahaya. Kali ini, kita semua… termasuk kamu dan aku, sama-sama dijadiin mainan olehnya. Seandainya gadis itu kelak menjadi pusat sebuah masalah, jujur saja, bahkan aku pun enggak punya bayangan soal apa yang bakalan terjadi.”

“Yah, kau enggak usah katain lagi.” Aku menjawab. “…Sebab dia temanku.”

“Begitu ya. Yah, ini tak begitu berarti sebagai layanan purnajual, tapi aku jadi kuatir soal apa yang bakalan terjadi padamu, jadi buat sementara aku putuskan buat tinggal di gedung ini buat beberapa lama—aku sudah mencari sekeliling, tapi pada akhirnya bekas gedung bimbel ini jadi tempat paling enak buat ngelewatin waktu. Kalau ada apa-apa yang terjadi, konsultasikan saja padaku.”

“Konsultasi padamu biayanya mahal.”

“Bukan biayanya mahal. Tapi kompensasinya sewajarnya.”

Ia berkata.

Oshino kemudian menunjuk ke sudut ruang kelas dengan rokoknya yang tak menyala.

“Baiklah, ayo kita lakukan buat yang pertama kali.”

Di salah satu sudut ruang kelas…

…Ada seorang gadis pirang.

Dia duduk sembari memeluk lututnya.

Dirinya terlihat berusia delapan tahun—seorang gadis yang benar-benar kecil.

Bukan berusia 27 tahun.

Bukan berusia 17 tahun, bukan berusia 12 tahun, bukan berusia 10 tahun—melainkan gadis kecil pirang berusia delapan tahun.

Dengan raut wajah resah—dirinya memandang ke arahku.

“…Aku…”

Sebaiknya aku menyebut dia bagaimana?

Dia bahkan bukan bayangan dari jati dirinya yang sebelumnya, dirinya bahkan tak memiliki nama.

Semacam puing-puing dari segala yang dulu membentuk wujudnya.

Apa yang masih tersisa dari sesosok iblis cantik.

Dan…

Bagiku, sebuah keberadaan yang takkan sanggup kulupakan.

“Aku… benar-benar minta maaf.”

Aku mendekat padanya.

Kemudian aku rendahkan pergelanganku untuk menyamai tinggi badan si gadis yang sedang duduk, dan aku mendekapnya.

“Kalau kau mau membunuhku, silakan bunuh aku kapan saja.”

Dirinya tak mengatakan apa-apa.

Dirinya tak sudi berbicara denganku lagi.

Lalu seakan kesal, dirinya juga menunjukkan sedikit keengganan—tapi segera ia menjadi penurut, dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia mengigit leherku.

Ada sedikit rasa sakit.

Dan kemudian kurasakan semacam euforia yang menyebar ke sekujur tubuhku.

“Aku masih tak merasa kalau itu hal yang benar lho.” Oshino berkata dari belakangku dengan nada suara biasa. “Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai sifat egois manusia. Rasa jijik yang kau rasakan terhadap si vampir yang memakan manusia bisa dibilang sama dengan keterasingan yang kau rasa sehabis lihat kucing kesayanganmu memangsa tikus. Dan kau lalu memilih untuk mempertahankan si vampir seakan-akan dia binatang peliharaanmu. Untuk menyingkirkan taringnya, menumpulkan kuku-kukunya, merusak pita suaranya, sekalian mengebirinya, ‘kan? Kau, yang sebelumnya diperlakukan sebagai peliharaan, kini balik memperlakukan tuanmu sebagai peliharaan. Itu persis yang sedang terjadi sekarang. Kalau kau memikirkannya… ini sama sekali bukan cerita bagus.”

“… … … …”

“Si manusia yang hendak membuang nyawanya buat si vampir, dan si vampir yang mau membuang nyawanya buat si manusia. Itu ibarat kau cuci darah pakai darah—tapi yang namanya darah pasti membekas. Berhubung ini kerjaan, aku tak bermaksud buat ikut campur atau bagaimana, tapi… berhubung aku punya peran di dalamnya, kalau kau suatu saat merasa lelah atau jijik atau gimana dengan urusan ini, kasih tahu saja Araragi.”

“Aku tak akan pernah merasa jijik.”

Aku menjawab, sembari si gadis menghisap darahku.

“Karena aku melakukan sesuatu yang memang kusukai.”

“Kalau suatu saat kau suka, kalau begitu?”

Demikian balasan tak nyambung yang Oshino berikan.

Sementara aku memunggunginya, aku… mendekap ringan tubuh kecil dan tak berdaya gadis yang dengan segala tenaganya masih tetap bisa remuk dengan kekuatan fisik seorang manusia.

Kami, yang telah melukai satu sama lain, kini saling menjilat luka satu sama lain.

Kami, yang telah sama-sama menjadi barang rusak, kini saling memerlukan satu sama lain.

“Kalau besok kau mati, maka hidupku juga bakal hanya sampai besok—jika hari ini kau hidup, maka aku juga, akan hidup buat hari ini.”

Maka aku bersumpah dengan suara keras.

Dan dimulailah cerita tentang barang-barang rusak ini.

Merah saat basah dan hitam begitu kering, ini sebuah kisah tentang darah.

Kisah tentang bekas luka berharga yang untuk selamanya takkan pernah pulih…

Aku tak akan pernah menceritakannya kepada siapa-siapa.

Catatan:

‘Merehabilitasi’ tertulis mirip dengan ‘membangkitkan’; lalu dalam bahasa Jepang, ‘abadi’ memiliki makna yang agak sama dengan undead (mati tapi hidup), jadi permainan katanya adalah bagaimana Hanekawa mulai saat itu akan ‘membangkitkan/merehabilitasi’ Araragi yang sempat ‘mati’.

Adegan percakapan terakhir antara Araragi dan Hanekawa, ada beberapa hal yang jadi agak lost-in-translation bagi beberapa orang. Mudah-mudahan semuanya berhasil kumasukin.

Sekedar catatan, kata ‘kizumono’ yang ada judulnya katanya tidak hanya berarti ‘barang rusak’ atau ‘bekas luka’, melainkan juga mengacu pada seorang perempuan yang telah kehilangan… err, kesuciannya. Secara kompleks sepertinya ini mengacu kepada bagaimana Kiss-Shot berperilaku. Tapi aku juga enggak sepenuhnya paham soal ini.

Fin

Iklan
15/12/2012

Kizumonogatari – IND (016)

Waktu aku beres nerjemahin bagian ini, aku ngerasa kayak telah ngelewatin sebuah garis finis.

016

Pada waktu seperti sekarang, aku benar-benar tak punya tempat lain untuk bisa pergi—pulang ke rumah, jelas saja, merupakan pilihan yang tak mungkin. Di sisi lain, kalau aku berasumsi ada bangunan terbengkalai lain seperti puing-puing bimbel itu, aku tak lagi punya cukup semangat untuk pergi mencarinya.

Aku dikejar waktu.

Fajar semakin dekat bersama setiap jam—dengan segera aku dapati diriku tersudut.

Lalu pada akhirnya…

Aku menusukkan tak satu tangan, melainkan keduanya ke dalam otakku, mengutak-atik isinya hanya karena aku merasa perlu, berpikir demi bisa berpikir—lalu kemudian kupilih tempat berteduh sementara di gudang peralatan olahraga di SMA Naoetsu.

Tempat berteduh sementara—maksudnya benar-benar untuk berteduh sementara.

Namun, gudang peralatan olahraga yang tak berjendela ini ditutup dengan pintu baja yang tampaknya cocok untuk melindungi aku, seorang vampir, di waktu siang hari. Aku memilih tempat tersebut dalam keputusasaan, dan aku takkan bilang kalau tempat ini pilihan yang buruk. Pada hari aku bertarung dengan Dramaturgie, aku pantang menyerah dan berhasil memperbaiki pintu baja ini dengan menggunakan tenaga semata. Sekarang, kupikir aku benar-benar bersyukur karena telah memperbaikinya—tunggu, aku malah tidak berpikir.

Keadaanku sekarang terlampau susah kusyukuri.

Semua pemahamanku salah sama sekali.

“W… wwwwwwWwwwWwWwwwww…”

Gigiku tak bisa berhenti bergemertak.

Badanku tak bisa berhenti menggigil.

Kenapa…

Kenapa…

Kenapa aku tak menyadarinya?

…Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade adalah vampir.

Vampir.

Lemah terhadap sinar matahari.

Tidak menyukai salib.

Tidak menyukai peluru perak. Tidak menyukai air suci. Tidak menyukai bawang putih.

Tidak menyukai racun.

Akan mati bila ada pasak dipaksa menembus jantungnya.

Tak memiliki bayangan, tidak memiliki pantulan di cermin.

Taring.

Tubuh yang abadi. Kekuatan pemulihan diri yang nyaris tanpa batas.

Mata yang dapat melihat dengan baik di malam hari.

Kemampuan perubahan wujud.

Kekuatan penyembuhan di dalam darah.

Dan… dirinya memakan manusia.

“wwWWWW… Waaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Aku berteriak, berteriak, dan berteriak.

Tapi yang kurasakan hanya buncahan penyesalan yang terus membesar.

Aku tusukkan tanganku kembali ke kepala, aku kembali mengutak-atik otakku—di mana aku salah, dengan cara apa aku salah, bagaimana bisa semuanya malah menjadi begini—secara berulang aku tak dapat berhenti memikirkannya.

Tapi…

Pastinya di satu titik aku telah salah…

“Wwww… wwwwwwwwww.”

Bagi vampir, manusia adalah makanan.

Untuk makhluk-makhluk yang derajatnya lebih tinggi seperti mereka, makhluk-makhluk derajat rendah seperti manusia, dalam piramida makanan, berada pada tingkatan lebih bawah.

Itu kan…

Itu sesuatu yang semestinya telah kupahami sejak awal ‘kan?

Tapi kenyataannya… dia sempat mencoba membunuhku ‘kan?

Dia mencoba memakanku ‘kan?

Dia mencoba meminum darahku ‘kan?

Seperti aku manusia yang tak berharga.

Sejak awal, bahkan aku pun…

…aslinya, tak lebih dari makanan baginya.

Sekalipun dia mengajakku untuk mengobrol.

Sekalipun aku dengan seenaknya berpikir bahwa kini kami telah memiliki hubungan.

Pada akhirnya, tetap sama—aku tetap saja makanan.

“.. … …”

Bagi Kiss-Shot, manusia manapun…

Manusia manapun sama saja.

Oke, dirinya memiliki pandangan tinggi terhadap kemampuan Oshino.

Tapi kemampuannya juga hanya sebatas ini.

Atau mungkin sekarang ini aku sedang membahas sesuatu yang tak terlalu kupahami juga—begitu aku bahkan berpikir, tapi tetap saja, manusia adalah manusia.

Makanan adalah makanan.

Bahkan Oshino memahami hal itu.

Buktinya—begitu Kiss-Shot kembali utuh dan memperoleh kembali kekuatan vampirnya—dirinya meninggalkan tempat itu.

Lalu…

Kalau aku coba mengingat secara baik—Kiss-Shot hampir tak berbicara dengan Hanekawa. Kiss-Shot bahkan seakan tak menyadari kalau dia ada—jauh malah.

Itu dia.

Bagi Kiss-Shot, Hanekawa tak lebih dari sekedar makanan.

Hanekawa tak diperlakukannya sebagai temanku.

Hanekawa sedang diperlakukannya sebagai ‘makanan jalan’ punyaku.

Makanan jalan buatku, seorang vampir.

Atau mungkin, seandainya Kiss-Shot bertemu dengan Hanekawa sesudah Kiss-Shot memperoleh kemampuan menghisap darahnya kembali, Hanekawa malah akan menjadi korban pertama dari kemampuannya… kurasa.

Seperti Guillotine Cutter.

Hanekawa bakal bisa dicacah sampai potongan-potongan kecil dan kemudian dimakan.

“Mereka bilang kalau rasa tubuh pendeta tidak enak… tapi kenyataannya dia boleh juga. Beta tak pernah merasa punya kesukaan atau ketidaksukaan khusus, tapi ‘penyedap rasa terbaik adalah lapar’ adalah pepatah yang teramat benar.”

“Jangan…”

Kepada wanita yang secara menggairahkan menggunakan lidahnya untuk membersihkan mulut dari darah dan daging yang menempel padanya—berusaha memanggil keduanya—aku mencoba berkata.

Keberanianku…

…sekaligus rasa takutku.

Berusaha memanggil keduanya, aku berkata:

“…J-Jangan… makan manusia.”

“Hm?”

Kelihatannya dia benar-benar tak mengerti.

Kiss-Shot memiringkan kepalanya jauh-jauh ke sisi.

“Tapi Pelayan, jika beta tak memakan manusia, beta akan tewas.”

Benar.

Dia benar.

Itu alasan yang luar biasa sederhana untuk dimengerti.

Bahkan untuk kesederhanaan pun ada batasnya.

Dan untuk alasan satu itu, Kiss-Shot sama sekali tak mempunyai masalah—dirinya bahkan takkan mencoba memperdebatkan rinciannya denganku, bekas manusia yang ingin kembali menjadi manusia sesudah ini.

Kiss-Shot memandangnya seperti pengetahuan umum.

Bahkan bagi dirinya ini memang pengetahuan umum.

Untuk waktu yang teramat lama—Kiss-Shot telah memakan mereka.

Dirinya telah memakan manusia.

Secara berkelanjutan, dirinya telah terus memakan mereka.

Vampir.

Bawahan yang pertama—lalu bawahannya yang kedua.

Hidup sepanjang 500 tahun, semestinya orang yang pernah darahnya pernah dihisap olehnya bukan hanya kami berdua—tapi dengan pengecualian kami berdua, sisa orang yang pernah menjadi korbannya pastinya telah dicincang sampai kecil dan kemudian dimakan tanpa menyisakan tulang dan daging, persis seperti itu.

Itulah cara pemenuhan gizinya pada saat dirinya tak menciptakan bawahan.

Dalam cerita-cerita yang banyak tersebar…

Tatkala seorang vampir mengisap darah, orang-orang yang diisap darahnya akan berubah menjadi vampir tanpa kecuali—kelihatannya, cerita-cerita itu tak sepenuhnya salah. Sesudah pengisapan darah, jika tak diatasi, maka semua korbannya akan menjadi vampir.

Bahkan jika darah yang diisapnya hanya setitik saja.

Seseorang yang menjadi korban akan selalu—berubah menjadi vampir.

Dan cara  mengatasi hal tersebut—adalah dengan menghabiskan tubuh sang manusia korban tanpa menyisakan sedikitpun daging. Dengan itu, vampir bersangkutan akan memperoleh nutrisi lebih besar—dan mayat orang yang telah diisap darahnya akan dicegah dari berubah menjadi vampir.

Prosesnya berlangsung terus seperti itu.

Karena aku hanya sampai dihisap darah saja—aku berubah menjadi vampir.

Lalu Guillotine Cutter…

Mengingat dia makanan… dagingnya dihabiskan sampai tak bersisa.

Tapi tak hanya Guillotine Cutter seorang, dalam 500 tahun terakhir, Kiss-Shot secara berkelanjutan telah melakukan ini.

Ini suatu hal yang alami.

Karena memikirkannya saja dirasa tak perlu—tanpa menyadarinya, tanpa pernah mau menyadarinya, aku secara terang-terangan telah menutup mataku dari kenyataan ini.

Tak salah lagi.

Sejak awal aku memang tak mengerti apa-apa.

Bahkan tatkala aku pertama bertemu dengannya di awal, bahkan pada saat dirinya berada di ambang kematian, kenapa bisa aku sampai mau menolong Kiss-Shot yang sekarang—aku tak memahami apapun semenjak awal.

Mengapa dirinya tak sanggup memperoleh pertolongan.

Rasanya aku benar-benar tak paham.

Kenapa manusia yang bisa dimakan—bisa sampai menolong sang vampir.

Sang pemangsa dan yang dimangsa.

Padahal hubungan sebenarnya yang kami punya sama sekali tak lebih dari itu.

“W-wwwww… waaaa.”

Guillotine Cutter.

Dia memang pria yang keji.

Dia pria yang penuh yang perhitungan dan licik, seseorang yang menjadi aib umat manusia.

Tapi…

Dia bukan orang yang sampai pantas dibunuh.

Walau Hanekawa sampai diberi pengalaman buruk olehnya—di akhir, semuanya memang salahku.

Karena aku seorang vampir.

Guillotine Cutter…

Untuk alasan apapun, untuk cara apapun yang dipakainya, apa yang ingin dilakukannya hanyalah membasmi sang monster.

“Enggak… aku enggak mau mikirin ini lagi… enggak! Aku enggak mau berpikir! Aku enggak mau berpikir lagi!”

Dengan cepat kucabut tanganku dari dalam otakku—kemudian serta merta kepalaku kupegang.

“Aaaaa.”

Tapi, tetap saja otakku tak berhenti berpikir.

Bukan hanya Guillotine Cutter.

Dramaturgie. Episode.

Bahkan mereka, yang telah kembali ke tempat asal mereka masing-masing, bermaksud membasmi vampir—lalu yang mencegah mereka dari melakukan itu tak lain adalah aku.

Bagaimanapun juga.

Aku mengambilnya dari mereka—tungkai-tungkai yang telah dengan susah payah mereka peroleh dari Kiss-Shot. Lalu, sesudah semua ini, aku bahkan membiarkan vampir legendaris itu kembali ke wujudnya yang asli.

Aku bahkan belum memperhitungkan soal nasib Guillotine Cutter di sini.

Jika semenjak sekarang ada manusia lain yang dimakan Kiss-Shot—pada saat dirinya makan lagi, maka tak lain itu akan menjadi tanggung jawabku.

Jika Hanekawa dimakan.

Jika kedua adikku dimakan.

Jika kedua orangtuaku dimakan.

Itu semuanya… tak lain akan menjadi salahku.

Semua semata-mata karena aku menyelamatkannya.

Bukan hanya dengan tungkai-tungkai atau jantungnya saja.

Sejak awal, pada hari paling pertama, pada waktu itu…

Di bawah lampu jalan itu, seandainya aku tak menolong Kiss-Shot… andai aku biarkan saja dia, maka ceritanya pasti sudah akan berakhir pada saat itu juga.

Tapi pada waktu itu, aku tidak mengabaikan Kiss-Shot—dan aku kurang lebih bisa mengerti mengapa itu bisa terjadi, itu semata-mata kelemahan dari hatiku sendiri.

Ini berbeda dari ‘kekuatan’ yang dimiliki Hanekawa.

Kelemahan macam ini tak ada kemiripannya sama sekali dengan kebaikan hati Hanekawa yang bahkan bisa membuat Oshino resah, dan bahkan membuatku berpikir kalau dirinya pun menakutkan.

Itu semua semata demi kepuasan diri, bukan pengorbanan diri.

Karena seseorang bisa menjalani hidup tanpa berpikir panjang—itu tak berarti dirinya pun bisa mati tanpa berpikir panjang.

Aku dimakan oleh seekor vampir dan kemudian tewas dengan cara itu.

Apa aku sempat berpikir tentang bagaimana perasaan adik-adikku seandainya mendengar ini?

Apa aku sempat berpikir apakah mereka akan menangis?

“…Uooorgh.”

Entah bagaimana aku berhasil menahan rasa mual yang tiba-tiba bangkit.

Aku bahkan berhasil menghalau keluarnya air mata.

Aku bertahan, karena jika bendungan air mataku itu sampai bocor aku pun tak tahu apa yang bisa sampai terjadi—aku takut aku bisa kehilangan kendali atas diriku sendiri.

Untuk sekarang…

Aku perlu mempertahankan sedikit kendali diri yang masih kumiliki sekarang.

Dengan Kiss-Shot, situasinya berubah menjadi pertengkaran, suatu adu kata yang di dalamnya aku tak paham lagi apa yang sedang kukatakan—pada akhirnya aku dengan tergesa keluar bangunan bimbel tanpa tahu harus pergi ke mana lagi.

Dan akhirnya aku sampai di gudang peralatan olahraga ini.

Satu-satunya tempat gelap yang aku punya dalam ingatanku.

Di luar, matahari pasti telah terbit—walau liburan, orang-orang dengan kegiatan klub mungkin masih akan tetap datang ke sekolah, tapi untungnya hari ini adalah hari liburan terakhir. Segala kegiatan klub ekskul pasti dihentikan untuk hari ini.

Aku tak perlu khawatir adanya anggota salah satu klub olahraga yang tiba-tiba membuka pintu gudang ini.

Tapi tentu saja, buat berjaga-jaga, aku membangun benteng penghalang dari dalam.

“Ini salahku.”

Pikiranku…

…Terucap dari dari sudut mulutku, bahkan tanpa aku sadari.

“Ini salahku jika sesudah semua ini, ada orang-orang… yang terus dimakan.”

Oleh vampir satu itu… yang tak bisa dihentikan oleh siapapun.

Oleh vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Oleh Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade!”

“Ini semua salahku… salahku! Salahku!”

Kalau aku memikirkannya…

Oshino pasti sudah menduga perkembangan ini akan terjadi.

Semenjak awal, dia bilang bahwa semuanya adalah tentang keseimbangan, tapi pada saat dia mencuri jantung Kiss-Shot di awal, dia pasti tak menerima permintaan dari siapapun—karena tiga orang pembasmi vampir itu baru ditemuinya kemudian.

Kalau begitu, yang dilakukannya waktu itu murni atas keputusannya sendiri.

Sebuah tindakan yang berlainan dari pekerjaannya yang biasa.

Sebuah perantaraan antara kita dan mereka.

Itu kalau kubilang… keputusannya untuk mencuri jantung Kiss-Shot adalah tindakan yang dilakukannya dari sisi manusia.

Oshino tak sampai melakukan pembasmian terhadapnya.

Karena doktrin yang Oshino pegang semata adalah untuk mendatangkan ‘keseimbangan’.

Seorang oportunis—aku ingat Kiss-Shot mengatai Oshino demikian.

Lalu keseimbangan yang telah dengan susah payah Oshino datangkan—malah aku hancurkan.

Jika Kiss-Shot menciptakan seorang bawahan adalah kenyataan tak terduga, adalah kenyataan tak terduga pula adanya manusia yang bersedia menolong Kiss-Shot yang tengah sekarang.

Itu gagasan konyol dariku, tindakan konyol yang kulakukan.

Tak ada seorangpun yang sampai menyangka.

Aku menggagalkan usaha keras tiga pembasmi itu.

Aku bahkan mengembalikan jantung yang telah Oshino curi.

Aku yang pada akhirnya membuat semua ini jadi rumit ‘kan?

Seakan-akan ada seseorang yang memang telah merencanakan semua ini ‘kan?

Hal-hal konyol apa yang kukatakan? Orang yang merencanakan, yang menyebabkan semua ini terjadi, pada akhirnya adalah aku sendiri. Keadaan semua ini, dalam segala aspek, secara utuh dan menyeluruh—sepenuhnya adalah salahku.

Tindakanku yang gegabah.

Ini bayaran yang mesti kutanggung akibat kelemahan hatiku untuk tak mau mengabaikan seorang vampir yang tengah sekarat.

Guillotine Cutter tewas.

Dia tewas, dimakan.

Kepalanya dikunyah, otaknya dimakan bersama tengkoraknya—kini, tak mungkin dirinya bisa pulih kembali. Bahkan dengan menggunakan darah vampir—tak mungkin dia akan bisa pulih lagi.

Dia sudah mati.

Kematian.

Tak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya.

“Kenapa semua ini…”

Dan Guillotine Cutter bukanlah akhir, melainkan awal. Bagi sang vampir, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, ini tak lain hanyalah sebuah awal yang baru.

Mulai sekarang, dirinya, secara rutin akan memerlukan waktu-waktu makan ini.

Rutinitas itu merusak.

Rasanya, aku pernah mendengar seseorang mengatakan sesuatu seperti itu.

Kini, aku takkan bisa menghentikannya lagi—titik penting dari segitiga itu, Guillotine Cutter, telah dimakan, apalagi sejak awal ketiganya bersama bukanlah tandingan baginya.

Dramaturgie juga.

Episode juga.

Tak peduli apakah itu untuk tugas atau dorongan pribadi, mereka takkan bertarung dengan Kiss-Shot sesudah dirinya memperoleh kembali wujudnya yang asli—berpikir demikian, aku mulai terkesan oleh besarnya kekuatan keyakinan Guillotine Cutter yang pergi menghadapinya sendirian.

Dia bukanlah pria yang pantasi dikagumi.

Tapi tetap saja, yang diperlihatkannya adalah kekuatan seorang manusia.

Sekalipun ditentang—dirinya tak gentar.

Orang yang gentar—tak lain adalah aku.

Oshino Meme—Oshino yang berhasil mencuri jantung dari Kiss-Shot tanpa disadari, mungkin bisa menghentikan Kiss-Shot, tapi mungkin juga tidak.

Keseimbangan telah dikacaukan.

Permainan telah berakhir.

Timbangan, juga, telah miring ke satu arah.

Umat manusia telah kalah.

Mereka telah kalah… oleh Kiss-Shot.

Dan juga, pada titik ini, muka macam apa yang bisa kutunjukkan? Tolong hentikan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Tak mungkin aku bisa mengatakan itu.

Sekalipun mulutku dibelah, tak mungkin aku akan bisa mengucapkan itu.

“…Aku tak tahan lagi.”

Liburan musim semi kali ini…

Aku tak pernah berpikir kalau semua yang terjadi selama liburan musim semi ini salah. Aku mengalami banyak kendala, tapi memandang lagi ke belakang, aku tak benar-benar merasa kalau ini liburan yang buruk—mestinya ini tak menjadi liburan musim semi yang buruk, namun nyatanya…

…Ini liburan musim semi terburuk di sepanjang hidupku.

Ini neraka.

Ini lelucon yang bagaikan neraka.

Aku tak lebih dari orang tolol yang tak menyadari apa-apa.

“Aku benci ini.”

Namun…

Di dalam diriku… masih tersisa satu hal yang masih membara.

Lewat penyesalan dan introspeksi diri, entah bagaimana aku telah memalingkan mata—dan kini aku menyadari suatu kenyataan mengerikan.

Walau, pada titik ini aku takkan bisa memalingkan mata lagi.

Benar juga.

Ini, pun, sudah terlalu jelas.

“Aku benci ini, tapi, aku, juga..”

Ini terlampau jelas sampai membuatku pusing.

“Bahkan aku, juga… seorang vampir.”

Sekeras apapun aku takut, benci, dan menjauhi vampir—kenyataannya tetap adalah kalau aku juga salah seorang dari mereka.

Tepat sekali.

Kata-kata Oshino kini terasa membebaniku.

Membebani dalam hatiku.

Membebani… dalam perutku.

–Ooh ya.

— Araragi, aku tanyakan ini karena sekedar ingin tahu,

— tapi belakangan, apa kau tak pernah merasa lapar?

“… … …!”

Aku memang… mulai lapar.

Sekarang aku mulai lapar.

–Yah.

–Aku cuma merasa sudah waktunya kau mulai merasa lapar seputaran ini.

–Bagaimanapun, waktu dua minggu telah berlalu lagi.

“Sial, sial, sial , sial, siaaaaaaal!”

Pada saat ini, aku masih bisa menahannya.

Ini cuma sedikit rasa lapar.

Tapi—jika memang perkataan Oshino saat itu untuk memperingatkanku soal keadaan sekarang—cepat atau lambat, aku juga bakal ingin mengisap darah seseorang.

Aku bakal merasakan dorongan untuk mengisap darah.

Dan aku bakal berkeinginan untuk memakan manusia.

Karena… aku juga sebenarnya pun telah berubah menjadi monster.

Karena aku telah jadi makhluk yang derajatnya lebih tinggi.

“Sial!”

Bawahan yang pertama…

Aku tak mungkin bisa tahu dulunya dia orang macam apa—tapi kurasa alasannya bunuh diri sesudah hanya beberapa tahun ada kaitannya dengan ini. Walau mungkin aku dan dia jenis orang yang berbeda, situasi yang kami hadapi sama. Dia tak tahan dengan kenyataan bagaimana diirinya telah direndahkan menjadi monster—salah, dirinya tak tahan dengan kenyataan bagaimana dirinya telah diangkat menjadi monster. Pastinya, Kiss-Shot nampaknya tidak memahami perasaan tersebut, tapi—semestinya, ini bukan sesuatu yang tak dapat diketahui olehnya.

Itu perasaan manusia.

Dan kemudian, 400 tahun sesudah itu.

Bahkan aku, bawahannya yang kedua—harus menjalani pengalaman yang sama.

“Ha… hahahahaha”

Akhirnya, ada tawaku yang keluar.

Yang bisa kulakukan hanya tertawa.

Kalau kau memikirkannya baik-baii, ini cerita yang lumayan lucu.

Dan sejauh cerita-cerita lucu yang aku tahu, ini termasuk salah satu yang paling bagus.

Sesudah semua putar-memutar yang memusingkan ini, pada akhirnya, aku sampai menyadari bahwa sejak awal pemahamnku salah—kalau aku bayangkan cerita ini punya pemirsa, aku pastilah jadi tokoh utama yang sangat kocak.

Bahkan ketololan pun ada batasnya.

Aku pasti terlihat sebegitu tololnya sampai-sampai terasa lucu.

“Apa yang sekarang bisa kulakukan tentang ini—aku enggak punya pilihan selain mati.”

Itu…

Tak mengherankan, merupakan jawaban yang paling mudah terpikirkan olehku.

Sudah tak ada artinya lagi.

Pada titik ini…

Pada titik ini aku tak yakin apa aku mau berubah kembali menjadi manusia.

Dengan kesalahan yang telah kuperbuat, aku tak seegois itu sampai bisa menerima kepentinganku saja yang dikabulkan—itu salah.

Mungkin itu kedengarannya memang keren, tapi…

…Sejujurnya, niatanku sama sekali tak sebaik itu.

Aku cuma… takut.

Aku takut bahwa saat aku berubah menjadi manusia, Kiss-Shot akan memakanku.

Itu sudah jelas.

Aku tak posisiku jatuh dalam rantai makanan.

Tapi di saat yang sama, aku tak tahan untuk terus menjadi vampir.

Aku tak sudi mengisap darah dan memakan orang.

Bahkan tubuh abadi yang kupunya ini sekarang terasa memuakkan.

Maka dari itu…

“Aku tak punya pilihan lain selain mati.”

Bukan untuk mati tanpa pikir panjang—tapi untuk mati dengan selayaknya dan semestinya.

Bagaimanapun ini memang penyebab kematian 90% vampir sepanjang waktu.

Memang berbeda dari kematian akibat rasa bosan sih.

Tapi rasa bersalah memang bisa membunuh—maka dari itu…

Seperti bawahan yang pertama, aku hanya bisa memilih mati—hanya itu jalan yang masih tersisa bagiku pada titik ini.

Tapi, soal itu—kalau memang begitu kenapa pula aku bersembunyi di gudang dengan cara begini? Kenapa aku mencoba bertahan hidup di siang hari dengan melakukan ini?

Ya, misalnya…

Misalnya, aku lepaskan bentengan yang kubuat, membuka pintu besi ini, dan menghempaskan badanku ke lapangan olahraga—dengan itu, bukannya aku akan bisa mati?

Keinginan untuk mati—itu yang dikatakan Kiss-Shot.

Tentu saja ada kekuatan penyembuh yang dimiliki bawahan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, jadi jika aku hempaskan tubuhku ke bawah sinar matahari, kemungkinannya aku takkan mati semudah itu—hanya akan terjadi siklus penghabluran dan pemulihan, akan tetapi…

Aku semestinya bisa mati sebelum matahari terbenam.

Jika aku melepas pakaianku, berdiri telanjang, berjemur di tengah matahari, maka tentunya—di sepanjang hidupku, ini akan menjadi upaya pertama dan terakhirku untuk tampil nudis.

Bukan Kaii-king, tapi streaking.

Sudahlah, itu lelucon buruk.

Tapi justru karena itu pula aku paling pantas menjadi tsukkomi.

“… …Ya ampun.”

Kegagalan macam apa ini.

Serius, kegagalan macam apa ini.

Kukira bakal lebih baik—aku kira keadaan benar-benar sedang membaik.

Tapi, kenyataannya memang seperti ini.

Konyol ‘kali.

Tak ada pilihan lain yang kupunya selain mati.

“…Ah, iya.”

Aku baru sekarang memutuskannya.

Tapi seakan aku tiba-tiba kerasukan sesuatu, suatu ketenangan aneh kemudian melandaku.

Aku merasa perlu menelpon ke rumah.

Aku sama sekali tak terpikir soal ini sebelumnya, tapi aku bilang pada keluargaku kalau aku pergi dari rumah untuk melakukan perjalanan pencarian jati diri—tentu saja, kenyataannya tak seperti itu, aku cuma tersesat dan berputar-putar saja.

Tapi kenyataannya—bukannya memang lebih baik aku menghubungi mereka?

Dengan cara bagaimana aku kemudian memberitahu kalau aku akan mati? Aku jelas-jelas takkan bisa mengungkapkan alasannya. Tapi kalau itu kasusnya, aku bahkan jadi berpikir kalau mungkin lebih baik membiarkan segala sesuatunya tetap seperti ini; sang kakak lelaki hilang pada saat sedang melakukan perjalanan pencarian jati diri.

Aku tak tahu akan seperti apa tanggapannya, tapi mengesampingkan kedua orangtuaku, bagi kedua adikku, mungkin ini bakal menjadi semacam lelucon—anak yang kabur dari rumah.

Bukan kabur semata, tapi benar-benar kabur.

Yah, kalau seperti itupun kurasa boleh juga.

“Tapi aku ingin bisa bicara dengan… Hanekawa.”

Dan ada sesuatu yang harus kukatakan padanya.

Hanekawa juga sudah terpengaruh dan terseret ke dalam semua ini, jadi tak mungkin aku tak memberitahukannya soal sesuatu seperti ini—sayangnya, karena cahaya matahari, pada saat ini aku tak mungkin menghubunginya dari gudang peralatan olahraga yang telah kupakai untuk bersembunyi dari Kiss-Shot ini.

Aku bahkan sudah terlanjur menghapus nomor ponsel dan alamat e-mailnya.

Persis di hadapan matanya.

Aku waktu itu benar-benar melakukannya untuk menyakitinya.

Semenjak itu, walau aku kemudian bisa berbicara dengannya lagi—aku tak meminta alamat kontaknya kembali karena sulit. Walau itu kesulitan canggung yang hanya dirasakan olehku—pada titik ini aku benar-benar menyesal telah melakukan itu.

Pengecut sekaligus penakut macam apa sebenarnya aku ini.

Walau aku lumayan dalam matematika, itu tak berarti aku jago dalam hitung-menghitung; aku tak sanggup mengingat barisan 11 digit angka, dan tak perlu kusebut bagaimana aku payah dalam mengingat alamat-alamat e-mail alfabetis. Seandainya aku sempat menghubunginya sekali saja, maka pasti nomornya akan tercantum dalam catatan panggilan, tapi—sekalipun aku tak menghubunginya, dan diapun tak menghubungiku. Kalau dipikir sekarang, aku pun tak memberitahunya nomor telepon dan alamat e-mail punyaku.

Dia masih belum punya alamat kontakku.

Andai saja aku memberitahukannya waktu itu.

…Andai saja aku memberitahukannya waktu itu… apa?

Apa Hanekawa kemudian akan meneleponku sekarang juga?

Tolol sekali.

Bahkan Hanekawa pun takkan bisa melakukan hal seperti ESP macam itu—tak mungkin perkembangan segampang itu bisa benar-benar terjadi.

Jika Tuhan memang segampang itu, aku takkan harus bersusah-susah mengalami kesulitan macam ini—aku takkan sampai bersalah akibat kegagalan macam ini.

Sementara aku berpikir tak ada gunanya aku berusaha, untuk saat ini, meski sekedar untuk melihat sekarang jam berapapun, aku keluarkan ponselku dari dalam saku.

Jam menunjukkan pukul 5 sore.

Tampaknya aku telah mengasingkan diriku di sini selama lebih dari 12 jam—rasanya benar-benar tak nyata. Namun, sekalipun waktu yang tak berhubungan ini memasuki jarak pandangku, memasuki cakupan pemahamanku, dampaknya hanya sebatas itu.

Mengesampingkan hal tersebut, aku membuka catatan alamat kontakku untuk sebuah upaya yang aku tahu akan sia-sia—namun kenyataannya ternyata tak sia-sia, apa yang kulihat memberi jantungku kejutan yang sama kerasnya seperti hantaman benda tumpul.

Di sana…

Tercantum nama Hanekawa Tsubasa.

“… Itu berarti…”

Kukeluarkan sebuah suara.

Terlepas apakah itu akibat kerendahan diriku pribadi atau akibat situasiku saat ini, aku sungguh-sungguh merasa tergerak—aku tak pernah membayangkan diriku bisa sedemikian merasa tergeraknya hanya dari melihat layar dingin sebuah ponsel.

Walau aku kira tak ada alasan bagiku untuk bisa bersyukur…

Walau aku kira ini liburan musim semi yang sebegitu buruknya…

“Jangan seenaknya pegang-pegang ponsel orang tanpa izin…!”

Kesempatan untuk itu memang selalu dia punyai.

Bisa saja terjadinya adalah waktu pertarunganku dengan Episode, saat dia mengantarkan ponsel untukku di lapangan olahraga, kejadiannya bisa kapan saja. Aku pada dasarnya teramat santai dengan pengelolaan ponselku, aku bahkan tak memasang kata sandi untuk menguncinya.

Itu karena aku hampir tak menyimpan informasi pribadi apapun di dalamnya—namun…

…Di dalam catatan alamat yang sebelumnya kosong…

…Kini terekam, sekali lagi, nama Hanekawa Tsubasa.

Beserta nomornya—dan alamat e-mailnya.

“… … …”

Aku kemudian berpikir, ini saja sudah cukup.

Aku merasa ingin berbicara pada Hanekawa, ada hal-hal yang ingin kukatakan padanya, tapi sebagian diriku yang lain juga merasa bahwa jika aku tak dapat berbicara dengannya, maka mengetahui alamat kontaknya ada lagi di ponselku saja sudah cukup.

Walau tak mungkin aku bisa membiarkannya tak tahu apa-apa…

Aku juga merasa tak ingin mengatakan apa-apa pada dirinya juga.

Karenanya—berbicara soal perkembangan yang gampang, bagiku mungkin malah lebih mudah sepert itu.

Tapi tak mungkin.

Kalau keadaannya ternyata begini, apa yang mesti kulakukan sudah terputuskan.

Malah—kali ini aku memutuskannya sendiri.

Aku mengirim e-mail pada Hanekawa.

Karena jika menelepon, aku merasa bisa menangis.

Kira-kira apa ya yang dilakukan Hanekawa pada hari terakhir liburan musim semi—belajar di perpustakaan? aku tak tahu di mana letak perpustakaan, tapi jika memang begitu, ada kemungkinan ponselnya sedang dimatikan.

Yah, apapun deh.

Mari kita sabar menunggu saja balasannya.

Aku berpikir demikian, tapi jawaban darinya ternyata datang segera.

Aku memeriksanya, dan jam aku menerima balasannya sama persis dengan jam aku mengirimnya. Bahkan tak ada perbedaan semenit.

Sulit dipercaya…

Itu jawaban yang dikirim dalam maksimum 60 detik.

Aku kira itu pasti jawaban yang pasti sangat sederhana, tapi saat aku memeriksa isinya dan, dengan diawali dengan ‘Kepada Yth’ dan diakhiri dengan ‘Hormat saya.’, ternyata itu sebuah surat pribadi yang utuh.

Luar biasa.

Aku tahu anak-anak cewek cenderung mengetik e-mail secara cepat, tapi…

Setelah kupikir lagi, pada hari upacara penutupan tahun ajaran, bahkan pada saat ia mendaftarkan alamat kontaknya ke dalam ponselku, pergerakan jemari Hanekawa luar biasa cepat… sekali lagi, luar biasa.

Itu aku mesti bilang, aku tak tahu karena aku lebih sering mengirim pesan kepada keluargaku sendiri, tapi surat tadi ditulis dengan ungkapan sangat merendah… kupikir e-mail memang dimaksudkan untuk dipakai secara lebih praktis.

Bagaimanapun, meringkas isi surat yang aku terima dari Hanekawa, intinya adalah, “Aku akan segera datang, jadi tunggulah aku.” Pada akhirnya aku tak bisa mengungkapnya secara baik, dan aku hanya memberitahukan garis besar masalahnya padanya saja, dan sebagaimana yang kukira dari Hanekawa, dia bisa menebak keseluruhan situasinya hanya dari itu.

Sungguh.

Walau mungkin aku akan lebih senang jika Hanekawa, dan bukan aku, yang bertemu Kiss-Shot. Berbicara tentang sesuatu justru bisa membuat sesuatu itu terjadi ‘kan? Walau aku dan Hanekawa memiliki perhatian yang sama terkait vampir—vampir yang akhirnya ditemui Hanekawa itu aku, dan vampir yang akhirnya aku temui adalah Kiss-Shot.

Sebuah pikiran mendadak terlintas di kepala.

Kiss-Shot menjadi bahan pembicaraan di antara anak-anak perempuan—kalau begitu, dengan Hanekawa sebagai pengecualian, apa mungkin ada gadis-gadis lain, termasuk murid-murid dari sekolah-sekolah lain, orang selain aku, yang juga telah berjumpa dengan Kiss-Shot?

Dan jika ada, apa yang terjadi pada mereka?

Apa Kiss-Shot hanya berlalu melintasi mereka begitu saja?

Ataukah Kiss-Shot mengisap darah—dan kemudian memakan mereka juga?

Kalau hal seperti itu terjadi semata-mata karena sebuah pembicaraan, maka ini pastinya akan menjadi masalah serius, kurasa; tapi di sisi lain, jika badan si korban dimakan secara utuh, tanpa meninggalkan jejak atau bukti, sekalipun itu kemudian dibahas oleh keluarganya, atau seisi kelasnya, tetap saja itu akan jadi sebuah cerita yang sulit tersebar di kalangan umum.

Perjalanan pencarian jati diri atau kabur dari rumah—

Mungkin di akhir, alasan menghilangnya si korban akan disimpulkan sebagai sesuatu macam itu.

Walau kalau jumlah orang yang menghilang banyak, cakupan kasusnya takkan terbatas sebesar itu—mungkin ini berkaitan dengan tingkat kekuatan sang vampir, tapi nampaknya Kiss-Shot tak memerlukan ‘makanan’ dalam jumlah besar… bagaimanapun, segalanya tetap saja hanya kemungkinan.

“Dua minggu, kata Oshino. Kalau begitu, bagi Kiss-Shot, satu orang per bulan mungkin takkan cukup… jadi, kalau menghitung Guillotine Cutter, jumlah korban Kiss-Shot sampai sejauh ini sekitar dua-tiga orang…?”

Walau yang menjadi inti masalah di sini bukan jumlah korbannya…

Jika memang begitu kasusnya—tetap saja keberadaan Kiss-Shot belum akan ketahuan.

“…Perasaan apa ini, aku masih merasa ada sesuatu yang luput kuperhatikan…”

Gagal untuk memperhatikan….

Atau membiarkan ada yang tak tuntas.

Kini sesudah aku menghubungi Hanekawa, mestinya tak ada lagi yang tak tertuntaskan, kupikir demikian—kemudian…

Pada detik itu, Hanekawa tba.

Bunyi ketukan seseorang pada pintu besi dari luar gudang peralatan olah raga.

Tok tok.

“Ada kiriman siswi.”

“… … …”

Tidak, aku tak bisa tertawa.

Bukan itu cara kau menunjukkan perhatian.

Bagaimanapun, kusingkirkan barikade bentengan yang kubuat (dengan kekuatan fisik vampir, menyusun maupun membongkarnya merupakan hal mudah), dan sesudah aku bilang pada Hanekawa untuk masuk dengan memiringkan badan, membiarkan pintu setertutup mungkin, aku menempel di dinding agar tak sampai terkena sinar mentari yang akan ikut masuk bersama terbukanya pintu. Senja telah berlangsung, tapi tetap saja cahaya matahari masih tersisa.

Nanti aku akan berjemur di bawah sinar mentari.

Nanti aku akan mandi matahari seluruh tubuh.

Tapi itu baru akan kulakukan sesudah aku berbicara dengan Hanekawa.

Hanekawa, bahkan hari inipun, tetap mengenakan baju seragam sekolahnya.

Gadis ini benar-benar tak ingin memperlihatkanku pakaiannya pada hari-hari biasa… atau mungkin dia tak suka aku melihat pakaian-pakaiannya… tapi aku sama sekali tak punya masalah tentang hal ini sih.

Hanekawa tersenyum riang.

Itu wajah tersenyumnya yang biasa.

Itu juga, mungkin, adalah caranya menunjukkan perhatian.

“Apa-apaan ini?”

Sebagai tambahan, sementara aku berusaha membarikade pintu besi itu lagi, Hanekawa mengatakan itu ke punggungku dengan suara yang teramat ceria.

“Kelihatannya dengan lihai aku telah dikurung di gudang alat olahraga. Kalau begini apa yang mesti kuperbuat kalau Araragi berbuat mesum?”

“…Mesum?”

Gadis ini…

Apa dia memandangku sebagai seorang penyakitan? Yah, mungkin aku memang banyak memperlihatkan sisi itu, tapi aku jelas bukan jenis orang yang menyukai obrolan-obrolan macam ini.

Aku lebih seperti gentleman.

“Senter, on.”

Dia menyalakannya, kemudian menaruhnya di atas kuda-kuda lompatan. Berhubung itu senter dengan bentuk kotak, senter itu tak terguling. Sesudah itu, Hanekawa duduk di atas matras. Akupun kemudian duduk di hadapannya.

“Ah, kau langsung di depanku, kau sedang berusaha mengintip celana dalamku.”

“Kau benar-benar salah paham tentang aku orang macam apa.”

Aku berkata demikian pada Hanekawa yang sudah bersiap-siap untuk menarik ujung roknya, tak sanggup menahannya lagi.

“Jika, misalkan, di depan mataku, ada gadis telanjang, dan gadis itu menyuruh agar jangan melihat, maka aku adalah lelaki yang sanggup untuk tak melihat!”

“Itu sih biasa.”

“Guh….!”

Serius?!

Semenjak kapan standar akal sehat dunia berubah?

“Er, Hanekawa, kau cuma belum tahu aku sebenarnya se-gentlemen apa.”

Gentlemen itu bentuk yang dipakai kalau makna katanya majemuk.”

Hanekawa meralat.

“Yah, tapi kalau benar begitu, aku jadi ingin segera lihat.”

“Kau ingin segera lihat apa?”

“Nanti begitu tahun ajaran baru dimulai, aku jadi akan bisa melihat sisi gentle Araragi sebanyak yang aku mau, ‘kan?”

“… … …”

Itu… kalau bisa…

Intuisimu benar-benar terlalu bagus.

Walau dalam surat aku tak menyebut apa-apa soal itu—dan walau niatku adalah menutupinya hingga akhir.

Karena aku tahu Hanekawa akan menghentikanku apapun yang terjadi.

“Karenanya, kau tak boleh mati.”

“…Hanekawa.”

“Kau tak boleh mati.”

Katanya.

Menembus kegelapan, dirinya jelas tengah melihat ke arahku.

“Berpikir seperti itu adalah bukti kalau kau sedang lari dari hatimu sendiri.”

“…Kamu luar biasa.”

Aku bercermin pada kata-kata Hanekawa, dan sesudahnya aku mengatakan apa yang kupikirkan, sebagaimana yang kupikirkan.

“Kamu luar biasa. Saat kamu di depanku… aku selalu terasa seperti orang yang benar-benar enggak berarti. Mungkin seandainya aku tak bertemu denganmu, aku sudah mati lebih awal, mungkin. Ada banyak kejadian di mana itu mungkin saja terjadi.”

“Itu kenapa aku bilang kamu tak boleh mati—dengarkan kata-kataku, Araragi.”

“Semuanya salahku.”

Kataku.

Itu saja sudah terdengar seperti sebuah pengakuan dosa.

“Ini semua terjadi karena sikap sembronoku—waktu itu, waktu Kiss-Shot meminum darahku, itu bukannya aku enggak mikir keadaan bakal kayak gini—ini sesuatu yang pastinya bakal aku pahami andai saja waktu itu aku sedikit mikir. Sengaja memberi darah kita ke vampir, itu apa-apaan—tapi padahal aku…”

Kenyataan bahwa dirinya—memakan orang.

Kenyataan bahwa kelak bakalan ada korban.

Itu semua sama sekali tak kupikirkan—sekalipun aku sempat terpikir tentangnya pun, pikiran itu pasti telah lolos dari kepalaku begitu saja. Bahkan sesudahnya, tak peduli saat aku diubah menjadi vampir dan harus menghadapi serangkaian persoalan—aku punya banyak waktu untuk merenungkannya.

Tapi tidak.

Sejak awal, aku sudah mengatakannya.

Pada hari upacara penutupan semester, aku berkata pada Hanekawa.

Akulah yang mengatakannya.

Kalau darahmu sampai dihisap—kau pasti akan dibunuh.

Persis seperti itu.

Guillotine Cutter juga darahnya sampai dihisap.

Lalu dia kemudian terbunuh.

Dia mati.

Aku tak memahami apa yang semestinya kupahami.

“Gara-gara aku, ada orang sampai mati.”

“Itu bukan salahmu. Dan lagi… bagi vampir… bagi seseorang seperti Nona Heart-Under-Blade, ini sesuatu yang teramat sangat alami, ini tak jauh berbeda dari bagaimana kita memakain sapi dan babi.”

“… … …”

Kalau aku tak makan, aku akan mati.

Itu hal yang sama dengan yang dia katakan.

“Tapi… dia bahkan mengira kau makanan jalan-ku. Dia tak memandang kamu sebagai bagian kelompoknya.”

“Tapi kasusmu merupakan pengecualian.”

Penyelamat nyawa.

Kami telah menyelamatkan nyawa satu sama lain.

Aku menyelamatkan Kiss-Shot—

Lalu Kiss-Shot menyelamatkan aku.

Kalau memang begitu kasusnya, mungkin saja kami mempunyai hubungan saling percaya.

Tapi, itu…

“Itu jadinya seperti menyayangi sapi yang jinak… atau gini, kalaupun bukan sapi, bukannya ada juga… anjing pintar atau monyet yang jenius?”

“Apa kau sedang membicarakan hewan peliharaan?”

Hanekawa menyelaku.

Itu dia.

Secara pasti, bahkan Oshino—mengatakan hal yang sama.

Rasa sayang terhadap hewan peliharaan.

“Tapi baginya, itu alami—termasuk bagian yang tentang aku.”

“Ya. Karenanya, Kiss-Shot tak jahat. Akulah yang jahat di sini. Aku jahat—dan bukan orang lain.”

“Kau benar.”

Oshino bahkan mengatakan itu.

Setiap orang memiliki definisi kebenaran mereka sendiri-sendiri—itu katanya.

Maka dari itu, Oshino…

Dengan keras kepala dia memilih untuk mengambil kedudukan netral.

“Aku tak pernah memikirkannya—Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter. Mereka bertiga—mereka mewakili ‘kebenaran’ umat manusia.”

“Waktu itu, posisimu sebagai vampir—jadi itu bukan sesuatu yang bisa dihindari. …Dan lagi, kau terlalu menyederhanakannya.”

“Aku merasa makin susah kalau kau mengatainya begitu. Ujung-ujungnya aku jadi musuh seluruh manusia.”

“Kalau begitu, apa kau jadi menyerah buat kembali jadi manusia?”

Hanekawa berkata.

Itu bukan suara yang mengandung nada menuduh—tapi bagi aku yang saat ini, itu sebuah pertanyaan tegas yang perlu dijawab.

“Apa itu berarti kau telah melepas kemanusiaanmu? Bukannya kau bilang ingin berubah lagi jadi manusia? Kau ingin kembali ke kenyataan ‘kan?”

“Ada korban sekarang. Terlalu egois kalau cuma keinginanku seorang yang dikabulkan.”

“Kalau kau bilang egois, bukannya kau yang sekarang juga egois?”

“Eh?”

“Karena…”

Seakan ia hendak memastikan posisi kacamatanya sendiri, sesudah mengambil nafas pendek—Hanekawa berkata:

“Kau ingin melarikan diri, mengabaikan semua masalah yang terlanjur kau buat.”

“…Bukan.”

Bukan itu, aku coba bilang, tapi aku tergagap dengan kata-kataku.

Hanekawa menambahkan.

“Baik hati maupun tubuhmu sekarang sedang mencoba melarikan diri.”

“… … ..”

“Sesudah ini, kau akan mencoba melarikan diri. Akibat semua kesalahanmu, kau akan mencoba me-reset kembali semuanya seperti semula. Dan berhubung enggak ada tombol reset dalam kehidupan nyata—kau memutuskan untuk melepas saja colokan listriknya. Apa aku salah?”

“…Kau salah.”

Kau salah.

Aku berpikir begitu.

“Bukannya aku ingin lari, malah aku ingin bertanggung jawab! Seenggaknya yang bisa kulakukan buat menebus kesalahanku adalah dengan mengakhiri nyawa yang abadi ini.”

“Itu cuma bakal menambah dosa-dosamu yang sudah ada.”

Hanekawa berkata.

“Bunuh diri itu sebuah dosa.”

“Apa? Apa… Hanekawa, apa kau penentang keputusan orang untuk bunuh diri?”

“Aku tak bermaksud untuk demikian, tapi dalam hal ini, aku yakin pastinya sama.”

“Sama?”

“Sama-sama merasa buruk jika ada orang yang mati.”

Menjelaskan implikasinya, Hanekawa melanjutkan.

“Walau kau sendiri tak keberatan bila harus mati—kamu merasa buruk bila orang lain mati.”

“… …. ….”

“Tak peduli orang seperti apa dia.”

“…Apa kau membicarakan Guillotine Cutter?”

Aku mencoba mengenang dirinya.

Walau, aku berinteraksi dengannya hanya beberapa kali.

“Walau ada orang-orang yang sepantasnya mati—tapi tak ada orang yang kematiannya tak berdampak ke orang lain. Itu menurutku. Itu definisi yang kubuat. Dan mengacu ke itu, aku memang sudah jadi manusia yang pantas mati.”

“Saat ini kau bukan sedang jadi manusia.”

“Itu cuma alasan.”

“Aku bakal mencari alasan seperti bagaimanapun kalau itu demi teman.”

“Hanekawa.”

Aku berkata.

Tak perlu dibahas lagi, kalau aku sebut soal ini ke Hanekawa, aku pasti akan memperoleh semacam protes dan dibujuk sebaliknya, kurasa…

Tapi pada akhirnya aku tetap mengatakannya.

“Memang saat ini aku bukan seorang manusia. Aku vampir. Karena itu, seperti Kiss-Shot, bahkan aku juga akan memakan manusia.”

“… … …”

“Aku sudah coba membayangkannya… memikirkannya saja sudah membuatku mual. Aku tak sudi hidup kalau bayarannya aku harus sampai makan orang.”

Karenanya, aku tak lagi punya pilihan selain mati, kataku.

Andai aku tak bisa berubah lagi jadi manusia—maka tak ada pilihan buatku selain mati.

“Beda denganmu, aku ini lemah, jadi kalau aku tak mati sekarang, aku pasti bakal menunda-nundanya terus—cepat atau lambat aku bakal tak sanggup menahan rasa laparku lagi.”

Makanan jalan.

Kata-kata Kiss-Shot.

“Hanekawa—cepat atau lambat kau pun cuma bakal kulihat sebagai makanan.”

Itu menakutkan.

Walau jenazah Guillotine Cutter juga menakutkan—Kiss-Shot menyebut Hanekawa seperti itu lebih menakutkan lagi.

Kesadaran seperti itu…

Akal sehat seperti itu, cepat atau lambat akan menjadi akal sehatku juga.

Jika akal sehat yang kupunya selama jadi manusia menghilang—yang tersisa dan kuperoleh adalah akal sehat vampir.

Tanpa ragu aku hanya akan memandang Hanekawa sebagai makanan.

Aku akan berkeinginan untuk memakannya.

“Kalau begitu, jangan makan.”

Hanekawa.

Namun, tanpa protes apapun yang aku bayangkan—tanpa menjatuhkanku, dia berkata demikian dengan nada tenang.

“Araragi, kau boleh memakanku.”

“…Kau ngomong apa?”

Aku benar-benar tak mengerti.

Bukan apa yang sedang dikatakannya, melainkan perasaannya.

“Kalau aku tak bisa mati untuk kepentingan orang lain, maka orang lain itu masih tak bisa kusebut teman.”

“…Eeeh?”

Seperti yang kuduga, definisi yang Hanekawa pegang benar-benar terlalu serampangan.

Siapa yang bisa tahan dengan definisi seperti itu untuk dirinya sendiri?

“Persis begitu. Bukannya sudah pernah kukatakan. Andai kau tahu aku yang sesungguhnya, kau pasti akan kecewa.”

Hanekawa berkata dengan senyuman di wajah.

“…Makhluk apa kau sebenarnya?”

“Hmm? Aku temanmu. Itu yang aku bayangkan, setidaknya.”

“Dengan hanya segitu, apa normal kau melibatkan diri sejauh ini? Bagaimana bisa kau melakukan begitu banyak hal buat orang sepertiku? Atau kau reinkarnasi kucing yang pernah kutolong waktu SD, teman masa kecilku yang tiba-tiba pindah, rekan seperjuangan dalam kehidupan yang telah lampau, orang semacam itu?”

“Sama sekali bukan.”

“Kuharap demikian.”

Ngomong-ngomong, belum pernah ada kucing yang kutolong.

Tak ada teman masa kecilku yang tiba-tiba pindah.

Lalu aku tak tahu apapun soal kehidupan-kehidupan yang pernah lampau.

“Aku pernah menyinggung soal ini sebelumnya, tapi—gimana bisa kau melakukan semua ini buatku yang baru kau temui? Jika kau lakukan ini buat semua orang, badanmu pasti enggak akan cukup.”

“Aku enggak berbuah sejauh ini buat semua orang kok.”

Hanekawa berkata.

“Aku berbuat semua ini karena ini kau, kau tahu?”

“Walau kau berbuat semua ini, aku masih di bawah umur, jadi aku enggak akan bisa jadi penjamin hutangmu lho.”

“Eeh, aku tak pernah berencana begitu kok.”

“Bahkan kalaupun aku sudah dewasa, pasti aku jadi pengangguran, jadi aku tetap takkan bisa jadi penjaminmu.”

“Itu masalah berbeda, tapi kuharap kau akan bisa dapat kerja.”

“Berkata begitu tetap enggak membuatnya lebih mudah!”

“Yah, memang jelas keadaannya bagimu enggak mudah, tapi…”

Pada dasarnya, Hanekawa melanjutkan.

“Jika aku hanya perlu menolongmu, maka satu badan saja sudah lebih dari cukup.”

“…Apa maksudmu kau sendiri enggak keberatan kalau harus mati?”

“Aku tak mau mati, tapi kau sudah menyelamatkan hidupku dua kali—jadi seandainya aku memang berakhir dimakan olehku, kurasa mungkin aku takkan mengeluh.”

Mungkin aku bakal bilang rasanya sakit sih.

Hanekawa berkata begitu dengan teramat riang.

Lalu walau aku tak diprotes atau dimarahi…

…Kudapati aku tak lagi bisa berkata-kata.

Dia benar-benar… menakjubkan.

Jujur, kata-kata semata tak bisa menggambarkan kehebatan Hanekawa.

“Karena itu, kau tak boleh mati.”

Hanekawa berkata sekali lagi.

“Jangan mati.”

“…Lalu gimana soal tanggung jawab?”

Aku… tanpa bermaksud, bertanya.

“Aku orang yang menyembuhkan Kiss-Shot yang sekarat—aku yang mengumpulkan semua potongan tubuhnya lagi, lalu aku juga kembalikan lagi jantungnya tanpa diminta. Gimana dengan tanggung jawab ini? Kalau kita sebut mati adalah tindakan melarikan diri, maka jika aku tak mati aku tak bisa bertanggung jawab ‘kan?”

“Jadi apa itu berarti kau bakal bisa bertanggung jawab bila kau mati?”

“Entahlah.”

Segalanya bagiku sudah berakhir.

Pada titik ini, sudah tak ada lagi yang bisa kulakukan—aku takkan sanggup menggeser timbangannya lagi.

Tak ada seorangpun yang bisa menghentikan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade yang telah pulih sepenuhnya. Adalah tanggung jawabku dia sampai pulih—dan tanpa terhentikan dia akan kembali memakan orang.

Dengan cara yang sama dengan yang telah dilakukannya sampai saat ini.

Mulai sekarang ini telah menjadi tanggung jawabku.

“Guillotine Cutter tak punya banyak pilihan—dalam rentang waktu aku pergi beli sesuatu di minimarket, seperti cemilan antara waktu makan, dia dicincang dan kemudian dimakan. Bahkan Dramaturgie dan Episode, yang sudah kembali ke tempat asal mereka masing-masing, takkan sanggup melawannya. Jika aku coba pikirkan lagi kemungkinannya, mungkin masih ada Oshino—tapi dia tak mau terlibat kalau tak ada hubungannya dengan mendatangkan keseimbangan. Dia punya prinsip tegas—urusan Kiss-Shot buatnya sudah berakhir. Di samping itu, bahkan Kiss-Shot mulai sekarang takkan membiarkan jantungnya dicuri lagi dengan mudah. Sudah enggak ada lagi yang akan bisa menghentikan dia sekarang.”

“Termasuk juga kamu?”

Hanekawa berkata, menyela.

“Tak bisakah kau… menghentikannya? Atau lebih tepatnya… bukannya hanya kau sekarang yang bisa menghentikannya?”

Itu…

…benar-benar kata-kata yang tak kuduga.

Dan itu benar-benar sesuatu yang luput kusadari.

“Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade… vampir berdarah besi, berdarah panas, dan berdarah dingin, ‘kan? Dan kau bawahannya satu-satunya. Kalau kita berpikir sebaliknya, bukannya itu juga berarti hanya kau seorang yang bisa menghentikannya?”

“…Ah.”

Apa yang gagal kusadari…

…dan apa yang kuabaikan…

…ternyata itu.

Kenapa aku tak menyadari hal sesederhana itu? Jika Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter, maupun Oshino tak bisa melakukannya…

Maka aku, Araragi Koyomi, yang telah mengumpulkan dari mereka berempat kaki kanan, kaki kiri, kedua lengan, dan jantung, tak punya pilihan selain melakukannya.

Itulah yang harusnya kulakukan.

Itulah… tanggung jawabku.

Mengesampingkan apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan.

Benar, aku telah membuat kekacauan besar.

Tapi aku masih malah… tak berbuat apa-apa!

Aku… akan membasmi Kiss-Shot.

Kuutarakan dengan kata-kata.

Kata-kata itu berhubungan erat dengan perasaanku yang sesungguhnya.

Benar.

Itu sesuatu… yang hanya aku yang bisa lakukan.

Aku akan hentikan… Pemusnah Kaii itu!

Kalau itu yang harus kulakukan… maka aku tak punya pilihan selain melakukannya!

Di dalam kepalaku, aku merasakan sesuatu berbunyi—aku merasakan roda-roda gigi di dalamnya bergerak.

“Ekspresi wajahmu sudah berubah.”

Dan.

“Mumpung kita membahasnya, aku mau beritahu sesuatu yang baik, Araragi.”

Hanekawa berkata, meneruskan kata-katanya dengan penuh ketegasan.

“Mungkin bisa jadi hal buruk sih.”

“Hm? Baik atau buruk? Bicaranya jangan penuh teka-teki begitu.”

“Untuk kau yang sekarang, mungkin akan menyusahkan, tapi untukmu sesudah beberapa lama, akan jadi menguntungkan.”

“Jadinya malah tambah tak jelas, tapi…”

“Kemarin, aku pergi ke perpustakaan—aku meneliti sedikit. Pada malam kemarin lusa kau mengalahkan Pak Guillotine Cutter dan mengumpulkan bagian-bagian tubuhnya… yah, kau tak benar-benar memperoleh jantungnya, tapi dengan itu kau dibilang bisa kembali jadi manusia. Tapi… aku kemudian cemas.”

“Cemas?”

“Aku cemas soal apakah Heart-Under-Blade benar-benar akan mengubahmu kembali jadi manusia.”

Walau aku tak meragukannya, kata Hanekawa.

“Jadi, aku memperhitungkan kemungkinan seandainya dia tak mengubahmu kembali jadi manusia—dan aku meneliti apakah ada metode lain yang bisa mengubahmu kembali jadi manusia.”

Dengan kata lain…

Hanekawa meneliti… sebuah metode untuk mengembalikan vampir ‘mantan manusia’ yang telah digigit seorang manusia dan dijadikan bawahannya untuk kembali jadi manusia…

“…Apa metode semacam itu benar-benar ada?”

“Ada. Tapi cuma satu.”

Hanekawa mengangguk.

“Saat seorang pelayan, yang biasanya mematuhi tuannya, melukai sang tuan, maka pada saat itu, hubungan tuan dan bawahan antara mereka akan runtuh, dan kondisi penghambaan sang pelayan akan berakhir.”

“…? Aku tak paham maksudnya, tapi…”

“Dengan kata lain, selama kau mengalahkan Heart-Under-Blade—tak peduli apapun keinginannya, maka kau akan kembali menjadi manusia.”

“Itu…”

Aku…

Semula aku… begitu terkejut dengan aturan sederhana itu.

“Itu… benar?”

Runtuhnya hubungan tuan dan bawahan antara mereka.

Bahkan sekarang, aku bisa bilang hubungan itu sudah mulai runtuh—dan dengan memberikannya dorongan terakhir…

…Aku akan bisa kembali jadi manusia.

Jadi begitu rupanya.

“Aku menemukan penjelasan yang sama dalam beberapa buku, jadi kurasa infonya dapat dipertanggungjawabkan—buatmu yang tak ingin kembali jadi manusia, dan ingin mati, ini mungkin menyusahkan, tapi ini tak bisa dihindari. Karena hanya kau seorang yang bisa mengalahkan Heart-Under-Blade.”

“…Itu memang menyusahkan.”

Ya.

Sebab bagaimanapun juga, jika kau sudah bersiap dengan baik maka kau tak perlu lagi kuatir, ya?

Itu sesuatu yang tak yakin bisa kuungkap sebagai sesuatu yang sepele macam membunuh dua burung dengan seekor batu. Itu benar-benar…

“Itu benar-benar… menyusahkan. Semuanya benar-benar berjalan seperti yang kau pikirkan.”

“Ini yang kusebut akal bulus. Kalau aku boleh mengatakannya sendiri—kupikir rasanya seperti bermain kotor.”

“Kau… benar-benar tahu segalanya.”

“Aku tak tahu segalanya. Aku cuma tahu apa yang kutahu.”

Araragi, kata Hanekawa.

“Dengan begini kau tak punya pilihan selain kembali lagi jadi manusia, bukan? Karena tak mungkin lagi, pada titik ini, bisa kau biarkan Heart-Under-Blade begitu saja.”

“Tak mungkin aku…”

“Atau kau mau melarikan diri?”

Hanekawa mengatakan itu sebagai penuntas.

“Kalau kau masih bilang ingin lari, aku… akan menghentikanmu dengan segenap tenagaku.”

Aku agak berharap kau beri aku sedikit kesempatan beristirahat.

Tentu saja tanggung jawab akan bersisa—tanggung jawabku karena telah menyebabkan semua masalah ini tetap tersisa, dan itu bukan sesuatu yang akan pernah menghilang.

Tapi…

Masalah ini… bisa dibereskan.

Kalau aku bisa melakukannya, maka aku tak memiliki pilihan selain melakukannya.

Lebih baik dari kematian sederhana.

Lebih baik dari kematian mudah, ini sungguh menjadi suatu penebusan.

Sekali lagi kutatap Hanekawa.

Dan sekali lagi aku berpikir betapa dirinya luar biasa.

Sampai beberapa waktu lalu, yang kupikirkan hanyalah soal mati—apapun yang kukatakan, yang kupikirkan hanyalah soal bagaimana aku bisa menghukum diriku sendiri, akan tetapi aku berbicara dengan Hanekawa sebentar, dan sebelum kusadari, pikiran itu bahkan sudah kusingkirkan.

Aku berpikir bahwa aku belum boleh mati sebelum aku bicara dengan Hanekawa—tapi sebaliknya, justru karena aku bicara dengan Hanekawa, aku tak lagi boleh mati.

Hanekawa pastinya takkan membiarkanku mati sekalipun sesudah aku membasmi Kiss-Shot dan kembali lagi menjadi manusia. Hanekawa akan melakukan seribu satu siasat, dan dia takkan membiarkanku melakukan hal itu, kurasa.

Aku benar-benar baru mendapatkan teman yang menyusahkan.

Sekaligus… aku baru mendapatkan teman yang sangat baik.

“Kalau begitu, maka masalahnya adalah… apakah aku akan bisa mengalahkan Kiss-Shot atau tidak.”

Vampir yang kedudukannya paling dekat dengan Kiss-Shot.

Itu pastinya aku… tapi, walau begitu, perbedaan kedudukan kami sebagai pelayan dan tuan bisa berakibat fatal. Memulai revolusi bagaimanapun juga sama sekali bukanlah hal mudah.

“Aku setuju. Walau aku menyusun rencana—itu tak berarti tak ada celah di dalamnya. Kemungkinan kau kalah akan menjadi hasil terburuk, setidaknya bagiku. Kau mati seperti yang kau inginkan—lalu sang Kaii, Heart-Under-Blade, tetap hidup… dengan aku dimakan olehnya. Dia memandangku sebagai makanan jalan, jadi mungkin dia mengingat wajahku.”

“Kau punya persiapan buat mengatasi itu?”

“Hm? Tidak. Aku belum memikirkannya sejauh itu.”

Hanekawa menggelengkan kepala dengan wajah resah.

“Dirinya mempunyai garis keturunan yang khusus, bukan? Entah mengapa, Heart-Under-Blade rasanya kurang sesuai dengan kesan vampir-vampir yang sudah ada. Seperti yang kau dan Oshino bilang, keabadiannya begitu tinggi, sampai segala kelemahannya tak llagi tampak sebagai kelemahan lagi.”

“Kalau kita berasumsi kalau pada dasarnya aku sama dan dia—maka masalahnya hanya sebatas panjang karir saja…”

“Lalu ada juga soal mental.”

“Soal mental?”

“Soal apakah kau bisa mengalahkan Heart-Under-Blade yang telah hidup bersamamu sepanjang liburan ini, Araragi.”

“…”

Dirinya telah merawatku.

Mengawasiku dengan penjagaan konstan.

Untuk menyelamatkanku agar tak sampai terbakar matahari, dirinya telah mengorbankan tubuhnya sendiri.

Dan… dia telah menjadi penyelamat hidupku.

Nyawa yang dengan mudah kucoba buang…

Dirinya tak sampai menghisapnya untuk dirinya sendiri.

Mungkin apa yang dirasakannya lebih mirip dengan rasa sayang yang manusia miliki terhadap binatang…

Tapi tetap saja.

Misalnya adalah waktu kami berada di atap itu.

Kami tertawa bersama, saat itu.

“…Aku bisa atasi soal mental itu.”

Dengan segenap tekad, aku mengatakannya.

“Aku pasti akan bisa membasminya.”

“Ya.”

Hanekawa mengangguk.

Walau nampaknya masih ada hal-hal yang ingin dikatakannya, Hanekawa memutuskan untuk membiarkannya tak terkatakan.

Sebagai gantinya—dia berkata, “Yah, kalau begitu. Tentu saja, aku akan menolong. Aku juga punya tanggung jawab sebagai penyusun siasatmu ‘kan? Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan, jangan segan-segan untuk bilang ya.”

“Jangan segan-segan… ya.”

“Ahahaha, walau aku bilang begitu, bantuan yang kubayangkan bukan hal-hal yang nakal sih.”

Walau yang ditambahkannya hanya sebuah alinea, Hanekawa benar-benar sedang berusaha merubah suasana, tertawa riang dengan cara seperti itu—tak mungkin.

Karenanya ini pasti kesalahpahaman… ya ampun, bukannya cara bicara tadi semacam petunjuk untuk dengan lihai mengarahkan percakapan kan?

Kenapa dia malah mencoba membantuku dengan mengangkat topik ini?

Bantu aku dengan menyiapkan hal-hal seperti rencana perang dong!

Serius, hal-hal konyol apa yang sedang kau katakan pada Araragi Koyomi yang gentleman ini? Jangan segan-segan, apanya!

“Hanekawa.”

“Ya?”

Tatkala Hanekawa sedikit memiringkan kepalanya ke sisi, aku berkata dengan cara sesopan mungkin, “Bolehkah aku menyentuh dadamu?”

“… … …”

Ekspresi wajah Hanekawa membeku dengan kepala masih dimiringkan.

Bagaimanapun, dirinya mempertahankan wajah tersenyumnya.

Udara berat seketika memenuhi gudang olahraga.

Apa yang bisa kulakukan bila ada atmosfer seberat ini….

“Dadamu.”

“Aku mendengarmu.”

Uhhmmm, Hanekawa kemudian menatap ke atas, kemudian ke bawah.

Selanjutnya dia melihat ke arahku lagi.

“Kenapa kau membutuhkannya?”

“Aku membutuhkannya dengan segala cara.”

Aku berkata.

Aku pasang ekspresi wajahku yang paling serius.

“Kau tak melihatnya sih. Seperti apa Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade dalam wujudnya yang sesungguhnya.”

“Hm? Yah… berhubung aku sudah melihat wujud usia 12 dan 17 tahunnya, bukan berarti aku tak bisa membayangkan wujud 27 tahunnya.”

“Sepertinya wujud aslinya melebihi bayanganmu.”

Aku berkata, sembari mengangkat jadi telunjukku.

“Dia punya buah dada yang jauh melebihi bayanganmu.”

“…Buah dada.”

“Aku khawatir aku kalah jika perhatianku sampai teralihkan oleh besarnya dadanya itu. Dadanya itu pasti akan bergoyang berulangkali di tengah-tengah pertarungan. Karena itu aku ingin jalani latihan terkait hal itu untuk berjaga-jaga.”

“Ooooh.”

Hanekawa mengerang.

“Itu alasan yang lebih tolol dari bayangan…”

“A-Apa itu enggak masuk akal?”

“…Hmmmmm.”

Hanekawa tanpa suara memejamkan mata dan menyatukan kedua belah alisnya seakan sakit kepala.

“…Boleh kalau begitu.”

“Hah?! Serius?!”

Kenapa?

Apa dirinya mengakui kalau beberapa bagian argumenku memang masuk di akal?

“Tunggu sebentar.”

Katanya.

Pertama Hanekawa melepas ikatan syal yang dikenalannya dan melepas sweater seragamnya—kemudian ia mengeluarkan tepi blus yang dimasukkannya ke dalam rok. Sementara aku kebingungan dengan apa yang sedang dilakukannya, Hanekawa juga memutar kedua lengan ke belakang badannya dan memasukkan kedua belah tangannya ke dalam blus.

Beberapa detik berlalu.

Dari dalam blusnya, Hanekawa melepaskan bra yang sudah tak terkait. Dengan tangan terlatih, Hanekawa kemudian melipatnya, dan kemudian ia menyembunyikannya di bawah matras yang sedang ia duduki.

Selanjutnya, dia memandangku.

“Oke, sentuhlah.”

“… …. … …!”

Aku tak meminta sebanyak ini!

Apa-apaan situasi ini?!

Aku belum mempersiapkan hatiku!

Dia-Dia tak perlu sampai harus melepasnya!

Dia tak perlu sampai melepas apapun!

“E-Eeeeeeh?”

Lagipula, apa-apaan ini?

Entah bagaimana, pada detik ia melepas sweater sekolahnya dan melepaskan baju dalamnya, rasanya, kedua buah dadanya seakan mengembang… apa ini ilusi optis?

Tak mungkin, kekuatan mata vampir kebal terhadap ilusi.

Hanekawa sekarang, setidaknya, sejauh yang bisa kulihat dari blus, takkan kalah dari Kiss-Shot, tidak, dirinya mungkin memiliki dada yang tak mungkin bisa dibandingkan.

Apalagi, bentuknya juga luar biasa.

Walau Hanekawa telah melepas pakaian dalamnya dan semestinya keduanya telah kehilangan tumpuannya, keduanya seakan-akan menentang hukum alam—kenyataannya seolah Hanekawa bisa melawan tarikan gravitasi sembari mempertahankan wujudnya sebagai manusia!

Ini benar-benar jauh melebihi bayangan.

Tentu saja, aku merasa Hanekawa memenuhi kelayakannya, dan karena itu aku membuat permintaan itu, tapi tetap saja, sudah tak sopan bagiku untuk mengatakan bahwa semuanya adalah untuk latihan.

Hanekawa Tsubasa.

Dirinya bisa bertanding seimbang melawan Kiss-Shot seorang diri.

Sama sekali tak terbayangkan Hanekawa punya dada seperti ini!

T-tapi…?

Berdiri, Hanekawa berjalan ke arahku (dan setiap langkahnya memperlihatkan gerakan yang jauh melampaui bayanganku, jadi kupejamkan mataku, dan aku tak bisa bergerak, seakan-akan lumpuh), dan segera dirinya duduk di hadapanku—meluruskan lengannya di kedua sisi, dengan keras ia menarik otot-otot punggungnya, dan lewat satu tarikan ia membusungkan dadanya ke arahku.

Dalam postur begini, dadanya kelihatan bertambah besar saja.

Tak diragukan ini bisa dibilang membusungkan dada.

Terlebih, karena kain blusnya cukup tipis, gambaran menyeluruh dari dada Hanekawa boleh dibilang hanya segaris tipis dari keeksplisitan.

“Araragi.”

“Eh? Ah, apa?”

“Berhubung kau akan memijatnya, pastikan kau memijatnya secara benar, ya.”

“Y-Ya?”

“Kupikir kau memijatnya sekurang-kurangnya enam puluh detik.”

“E-enam puluh detik…”

Tak mungkin.

Tantangannya terlampau tinggi!

Apa maksudnya dengan memijat secara benar?

Sebelum aku sadar, urusannya sudah berubah dari menyentuh menjadi memihat.

Sial, sekarang aku enggak bisa lagi bilang kalau ini cuma lelucon…

Apa yang sedang kulakukan pada temanku yang berharga?

“Melakukannya jangan setengah-setengah!”

“S-siap Bu!”

Sebagaimana diperintah, aku mempersiapkan kedua belah tangan secara refleks.

Aku mempersiapkannya, tapi lebih dari itu, aku tak sanggup bergerak.

Bagaimanapun, akibat kekuatan genggaman tangan yang dipunyai vampir, aku sebenarnya tak bisa tak setengah-setengah, tapi aku tak tahu kekuatan sebesar apa yang bisa kuberikan. Maksudnya, aku bahkan tak tahu apa aku harus memulainya dari atas atau bawah… dan aku sama sekali tak punya bayangan soal apa yang harus kulakukan sesudah gerakan yang pertama.

Jelasnya, keduanya takkan muat dengan tanganku saja…

Karena itu aku ragu untuk bergerak dari depan.

Mungkin bisa coba dari samping—tidak, tidak.

Uh, ada hal lain yang lebih penting di sini.

“H-Hei, Hanekawa.”

“Hm? Ada apa?”

“Bisa kau berbalik?”

Aku berkata dengan suara yang tahu-tahu saja memelan.

“Sulit melakukannya kalau harus sambil melihat wajahmu.”

Dengan hanya cahaya senter, mungkin Hanekawa tak bisa melihatku secara jelas, tapi sebagai vampir aku bisa melihat ekspresi wajahnya secara sempurna.

Wajahnya benar-benar sudah merah.

Dirinya sedang menggigit bibirnya.

Ini sulit.

“… … …”

Tetap tak bersuara, Hanekawa tiba-tiba mengangguk dengan patuh, kemudian menghadap ke arah berlawanan.

Aku bisa melihat akar kepang rambutnya.

Aku tak pernah memperhatikannya sebelumnya, tapi rambutnya benar-benar indah… sama sekali tak ada tanda-tanda kerusakan. Kurasa dia secara teratur merawatnya.

“Ugh… …”

Ah, tapi sekarang malah lebih sulit.

Berhubung Hanekawa telah membalikkan badan, sekarang aku harus melingkarkan tanganku ke depan badannya, tapi dalam kasus ini kedua lengannya yang terapit lurus ke badannya sedikit merintangi jalan…

“A-Angkat tanganmu ke atas kepala.”

“Memang ini senam radio?”

Meski berkata begitu, Hanekawa tetap mengangkat kedua lengannya.

Dengan begini, celah sudah terbuka.

Kemudian aku menyelipkan kedua lengan ke bawah kedua ketiaknya itu—jelasnya, sesudah sejauh ini, kedua tubuh kami sudah nyaris bersentuhan. Sebenarnya, karena Hanekawa menghadap arah satunya, jika aku menyentuh dadanya, tentunya aku akan terkesan seperti sedang memeluknya dari belakang…

Bahkan mengukur jarak pun sulit—haruskah aku menyilangkan lengan? Jangan, bukannya lebih mudah untuk menggenggam jika aku melanjutkannya secara normal.

Kubuka jari-jemariku.

Hanekawa masih belum bergerak sama sekali dari beberapa saat lalu—tapi dari belakang bisa kupahami bahwa dirinya gugup. Namun, aku sendiri jelas gugup juga.

Jantungku berdebar.

“K-Kau takkan marah sesudahnya?”

“Tenang saja. Aku takkan marah.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

“…Oke kalau begitu, kalau-kalau saja kau mengajukan persidangan nanti, tolong sekarang bilang, ‘Araragi, kumohon mainkanlah buah dadaku yang tak ber-bra.”

Krak!

Aku mendapat kesan kalau aku mendengar bunyi itu.

Itu pastilah bunyi urat nadi Hanekawa menyembul keluar. Atau itu otot wajahnya yang menyembul.

“A… A-Araragi, k-kumohon, m-mainkan b-buah d-d-dadaku yang tak ber-bra.”

“Enggak. Enggak bisa kalau dikatakan dengan suara pelan. Itu membuatmu terkesan seolah kau membencinya dan aku sedang memaksamu melakukannya melawan kemauanmu. Kamu mesti mengatakannya dengan suara lebih lantang apa yang kau ingin aku lakukan, atas keinginanmu sendiri.”

“Araragi! K-Kumohon mainkanlah buah dadaku yang tak ber-bra!”

“…Sungguh suatu kehormatan buah dadaku bisa dipijat oleh Araragi.”

“S-Sungguh suatu kehormatan… buah dadaku bisa dipijat oleh Araragi…”

“Um… Aku menumbuhkan buah dada yang lezat ini semata agar bisa dipijat Araragi.”

“Aku menumbuhkan b-buah dada yang lezat ini semata agar bisa dipijat Araragi.”

“Serius. Meski tak terlihat begitu, tapi kau memang benar-benar orang mesum, Hanekawa.”

“…Ya, saya sangat mesum, maafkan saya.”

“Kau enggak perlu sampai meminta maaf. Tak peduli semesum apapun kau, itu tak berarti bakal ada orang yang sampai terganggu dengannya.”

“I-Iya juga, ehehe.”

“Kalau begitu, konkritnya, dengan cara apa buah dada dari sang ketua kelas yang mesum dan serius bisa dibilang lezat?”

“Aku bisa bangga d-dengan ukurannya, dan kelembutannya… dan ketiadabandingannya saat dipegang!”

Aaah.

Aku paham, sekarang aku mengerti.

Selama pubertas, bahkan akupun mengalami kebingungan umum tentang untuk tujuan apa aku dilahirkan ke muka bumi… tapi kini, di usia tujuh belas tahun, akhirnya telah kutemukan jawaban dari pertanyaan itu.

Aku telah menemukan pencerahan.

Aku hidup selama ini semata-mata untuk hari ini.

Manusia bernama Araragi Koyomi dilahirkan ke dunia ini semata-mata untuk melalui pengalaman yang terjadi hari ini… tunggu, itu salah. Ini sudah bukan lagi dalam cakupan pribadiku semata.

Tentunya dunia ini sendiri ada semata-mata agar aku bisa sampai mengalami apa yang kualami hari ini.

Mulai titik ini, apapun yang akan tercatat dalam sejarah dunia sudah sama sekali tak penting lagi!

“Walau begitu, normalnya enggak mungkin seseorang boleh memijat buah dada temannya!”

Aku kabur.

Akulah orang yang akhirnya angkat tangan, aku mengambil tiga langkah mundur dan mulai menangis.

Itu sebuah postur yang teramat mirip dengan sebuah sujud.

“Enggak mungkin! Hal seperti itu enggak terjadi! Enggak terjadii!”

“…Pengecut.”

Hanekawa mengatakan itu dengan nada suara teramat rendah.

Bahkan tanpa menoleh ke arahku.

Bahkan tanpa melihat posturku yang sedemikian dekatnya dengan sebuah sujud.

“Pengecut. Pengecut. Pengecut pengecut pengecut pengecut.”

“Aku memang pengecut. Aku memang ciut. Aku minta maaf. Apapun yang kau katakan, aku tak punya kata-kata untuk membalasnya. Tolong maafkan aku. Ini salahku. Aku terbawa suasana. Aku malah memanfaatkan kebaikanmu Hanekawa, tapi berkat keterlibatanmu juga, aku akhirnya sadar.”

“Kamu kira akan kubiarkan semuanya berakhir begini? Kamu pikir sebesar apa tekad yang harus kukumpul untuk bisa duduk di sini seperti ini?”

“Eng-engga, orang sepertiku sama sekali enggak mungkin punya bayangan, tapi mumpung kita membahasnya, aku mau saja dengar sebesar apa tekad yang kau perlukan.”

“Jujur, kupikir ini takkan berakhir dengan hanya pijatan semata… Ah, jadi begitu rupanya, pengalaman pertamaku akan kudapatkan di atas matras di dalam gudang olahraga.”

“Bukannya agak terlalu cepat buat punya tekad semacam ituuu?!”

“Yah, tapi hal-hal seperti itu terjadi.”

“Terjadi apanyaaa!”

Perempuan zaman sekarang memang percaya diri, tapi… dalam keadaan gimanapun juga!

“Dan lagi, sesudah kau dengan jahatnya menggoda dan mempermalukanku, kau bahkan tak menyentuhku seujung jari pun….!”

“Itu alasan kenapa aku sekarang meminta maaf, tahu.”

“Jadi kalau kau minta maaf, masalahnya selesai. Huh. Jadi aku ada dalam posisi di mana kalau kau meminta maaf, aku wajib memaafkanmu. Huh.”

“Aku tahu ini tak bisa dimaafkan, tapi tolong maafkan aku, wahai ketua kelasku yang cantik dan berkacamata!”

“…Ini kali pertama ada seseorang yang begitu membodohiku.”

“Gyaaaaa!”

Apa ini soal dadanya?

Atau soal kacamatanya?

Atau soal ketua kelasnya?

“Araragi… apa aku sebegitu tak menariknya?”

“…. …. …. ….!”

Hentikan hentikan hentikan hentikaaaaan!

Berhentilah menindasku dengan kata-kata seindah itu!

“I-I-Itu karena bila aku pijat dadamu dalam situasi begini, mungkin aku akan menyesalinya seumur hidup!”

Aku juga mungkin akan menyesal karena tak memijat dadamu.

Tapi aku lebih memilih menyesal tak memijat dadamu daripada menyesal karena telah memijat dadamu!

“K-Kalau begitu, buat gantinya, boleh aku memijat bahumu?”

“Bahuku?”

“Ya. Bahumu. Aku ingin memijat bahumu.”

“… …Baik, sepakat.”

Akhirnya kita sampai ke persetujuan.

Aku lalu memijat bahu Hanekawa.

Pijat pijat pijat pijat.

Whoa, bahunya tak kaku sama sekali.

Aku dengar bahwa mereka yang bermata rabun lebih gampang mengalami pegal bahu… dia memang gadis yang sehat. Dengan cara begini, bahkan aku, yang bukan ahli pijat, bila memijatnya, rasanya sama sekali takkan enak.

Tentu saja dirinya tak memiliki urat sama sekali di bagian ini.

Aku bisa jelas merasakannya dari bentuk tulang-tulangnya—apa ini tulang dada?

Uh… sudah.

Tunggu tunggu, masih belum.

Pijat pijat pijat pijat.

Enam puluh detik berlalu dengan cara seperti itu.

“S-Sudah. Terima kasih.”

Ditambah memijat bahunya, aku juga berakhir dengan berterima kasih padanya.

Aku benar-benar karakter yang begitu pelayan.

“Apa itu cukup.”

“Y-Ya. Lanjutannya nanti saja di internet.”

“Seperti bisa saja kau memijat di internet.”

“Ka-Kalau gitu, lanjutannya nanti di tahun ajaran baru.”

“Ya. Itu lebih baik.”

Hanekawa mengangguk.

Kedua kepang rambutnya bergoyang pada saat yang sama.

“Kau sudah sampai sejauh ini dengan seorang gadis.”

Sementara aku melepas kedua tanganku dari bahunya, Hanekawa bangkit dan berjalan ke mana ia sebelumnya berada di matras, tapi ia tak duduk, melainkan berbalik ke arahku sembari berdiri.

“Jadi jangan bilang kau akan kalah ya.”

“Aku takkan.”

Kurasa sekarang sudah waktunya aku kembali ke cara bicaraku yang semula, kelihatannya aku selalu memakai ekspresi sopan dengan Hanekawa selama ini.

Tapi, bukan cuma saat ini.

Aku bisa mengucapkannya secara jelas.

“Aku enggak akan kalah.”

Aku berhasil mengucapkannya.

“Sekalipun harus merelakan dadamu sebagai bayarannya!”

“Sebenarnya, bagian itu lebih baik dibiarkan tak dibahas.”

Sepertinya jenis semangat yang kami berdua rasakan sedikit berbeda.

Hanekawa berkata, “mengesampingkan itu.” dan berdehem sekali.

Dan sesudahnya ia berkata.

“Yang kali ini adalah pertarungan terakhir.”

“Ya. Ini bakal jadi tirai penutup dari Gakuen Inou Batoru.”

Persis sesudah aku mengatakan itu.

Di luar gudang peralatan olahraga… terdengar bunyi menggelegar.

Catatan:

kuda-kuda lompatan: … ini terjemahannya apa ya? Itu loh, kotak persegi yang suka yang dilompatin dalam cabang olahraga senam.

bukan jadi manusia: soal perkataan Hanekawa pada Araragi, dalam bahasa Jepang, kata ‘ningen’ dapat diterjemahkan sebagai ‘orang’ maupun ‘manusia’

senam radio: kuasumsikan semua orang sudah tahu ini apa.

06/12/2012

Kizumonogatari – IND (015)

Buat yang sudah nunggu, aku benar-benar minta maaf karena ngerjain ini butuh waktu lama.

Jadi, beberapa bulan terakhir aku terlibat dalam semacam ‘proyek’ gede, dan proyek itu menyita perhatian dan waktuku lebih banyak yang kusangka.  Keterlibatanku di proyek ini karena suatu alasan jadi ‘diputus’ begitu saja. Jadi, yea, lanjutan ceritanya agak enggak enak.

Tapi eniwei, aku jadi bisa melanjutkan proyek-proyek pribadiku. Jadi berikut ini lanjutannya.

Berhubung sudah Desember, sisa babnya akan kukebut.

015

“Yyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy-yahoo!”

Itulah… hal pertama yang diucapkan Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh.

Malam tersebut, sesudah Kiss-Shot bangun, kuserahkan ketiga potongan tubuh yang Oshino berikan padaku kepadanya—tentang jantungnya, Kiss-Shot sempat kebingungan, tapi lalu kujelaskan kebenaran dari masalah ini sejauh yang kupaham. Kiss-Shot, menanggapi semuanya dengan “Begitukah.” yang riang, dan kemudian menggigiti jantung berwarna merah tua itu seakan-akan itu sebuah apel.

Tata krama menyebutkan bahwa tak semestinya kita memperhatikan bila ada seorang perempuan sedang makan.

Maka dari itu, akupun melangkah keluar ke lorong.

Kemudian, sesudah beberapa lama—kudengar pekikan tawa penuh geli.

Itu merupakan… sebuah luapan kegembiraan dari lubuk hati yang terdalam.

Kubuka pintu dan kembali ke ruang kelas.

Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh tengah berdiri di sana.

Ini adalah sosok yang sama dengan perempuan yang kutemui hari itu di bawah lampu jalan.

Rambutnya yang keemasan.

Kuperhatikan kini lebih panjang, dan kini ditata dalam bentuk satu buntalan di tenguknya.

Bajunya yang manis—kuperhatikan badan Kiss-Shot lebih tinggi dariku.

Jujur saja, kupikir dirinya luar biasa cantik.

Bukan sekedar menarik, atau keren—kurasa seumur hidupku, mungkin saja, aku belum pernah menyaksikan seseorang secantik dirinya.

Tidak.

Bahkan hari itu pun, aku sebenarnya berpikir demikian.

Tak diragukan lagi—inilah wujud Kiss-Shot yang sesungguhnya.

Seperti inilah tampilannya dalam sosoknya yang utuh.

“Yahoooo! Beta telah pulih! Beta telah pulih!”

“… … … …”

Yah, andai saja dalam wujudnya yang utuh ini dirinya tak melakukan hal-hal seperti berlari dan melompat-lompat dalam ruang kelas sempit ini, kenangan yang kudapat dari kejadian ini pastinya bakal lebih berkesan. Bahkan, aku mungkin bakal merasa tergerak.

Ya, Kiss-Shot bersemangat.

Sama sekali tanpa perasaan perlu menjaga citra diri atau semacamnya.

“Kiss-Shot, ngomong-ngomong, kelihatannya tadi Oshino pergi lagi waktu hari masih siang.”

“Ya? Adakah yang salah soal itu?”

“Itu, soal jantungmu, kau tak marah soalnya?”

“Tidak apa. Kepadanya, beta berikan pengampunan—atau lebih tepatnya, peduli pun beta sebenarnya tak terlalu.”

Kyahahahaha. Kiss-Shot melepas tawa dengan suara indahnya yang sama sekali tak cocok dengan sikapnya sekarang, dan kembali berlarian sambil melompat-lompat.

Hmmm.

Bagaimanapun, aku tak menyadarinya sebelumnya di bawah cahaya lampu jalan itu, tapi… dada Kiss-Shot benar-benar besar.

Setiap kali ia melompat, keduanya bergoyang, bergoyang, bergoyang, bergoyang…

Aku sampai mendapat kesan kalau bagian depan gaunnya secara tiba-tiba bakalan robek.

Begitu rupanya. Jadi dari wujud kayak gitu (10 tahun) dia mengalami proses macam itu (17 tahun), dan akhirnya menjadi begini (27 tahun) ya?

Benar-benar sebuah misteri.

“… … … ..”

Kalau aku memohon padanya pada saat ia sedang menari-nari dengan gembira begini, bisa saja Kiss-Shot memberiku izin untuk menyentuh dadanya. Bukan berarti pikiran kotor macam begitu tak mengapung dalam kepalaku, aku hanya tak punya cukup keberanian untuk mengutarakannya.

Pada akhirnya, sikap enggak tahu malu seorang manusia tetap saja ada batasnya.

“Hm.”

Lalu tiba-tiba saja…

…gerakan Kiss-Shot terhenti. Ia terpaku.

Apa? Yang benar saja! Tadi pikiranku sempat terbaca olehnya?!

Seketika aku gelisah, lalu berkata, “A-ada apa? Ada yang salah?”

Aku bahkan merasa bagian dalam tenggorokanku sampai keluar saat aku mengatakan itu.

“… … … … …”

Kiss-Shot berdiri mematung untuk beberapa lama, dan itu memperkuat rasa gelisahku, hanya saja, sesudah beberapa saat…

“Hm? Ada apa?” tanyanya. “Apa engkau tadi sedang berbicara dengan bayanganku?”

“Ba-bayangan?”

“Asal engkau tahu, beta baru saja melakukan perjalanan mengitari Bumi sebanyak tujuh setengah kali.”

Memangnya kau cahaya?!

Yang benar saja. Itu satu tanggapan lelucon yang sulit kupercaya telah benar-benar kukeluarkan.”

“Beta hanya berkelakar. Bila beta sungguh telah mengelilingi Bumi sebanyak tujuh setengah kali, maka beta saat ini pasti berada di Brazil.”

Kiss-Shot tertawa kembali.

Wow, dirinya benar-benar sedang gembira.

“Ha ha. Rasanya benar-benar menakjubkan. Merasakan keutuhan dengan diri sendiri—wahai, pelayan.”

Sesudahnya, Kiss-Shot terus menari-nari selama sekitar dua jam. Tapi pada titik itu, luapan kegembiraannya akhirnya telah sedikit mereda, dan kata-kata itulah yang kemudian dilontarkannya.

“Sekali lagi, beta sampaikan rasa terima kasih pada engkau. Tentu sejak awal beta percaya engkau dengan lihai akan satukan kembali tungkai-tungkai yang beta punya. Tapi sampai bisa menemukan pula jantung yang bahkan beta tak sadari telah diambil, itu satu hal yang sepenuhnya tak beta sangka. Pada engkau, beta limpahkan segenap penghargaan yang bisa beta berikan.”

“Entah ya.”

Walau Kiss-Shot memberiku terima kasih dan pujian, aku tak bisa tak merasa resah karena suatu alasan.

Aku tetap tak bisa menyingkirkan perasaan kalau aku telah menjadi korban dalam suatu rencana besar.

Seperti telah dipermainkan—itulah yang kurasakan.

“Aku tak merasa telah melakukan apapun selain disuruh pergi ke sana terus ke sini—daripada mengumpulkan, aku lebih merasa seperti semuanya kemudian terkumpul dengan sendiri.”

Kalau kau tanya siapa yang layak mendapat ucapan terima kasih di sini, aku merasa yang pantas itu Oshino.

Tapi berhubung Oshino bisa marah kalau kuucapkan itu, maka terima kasih itu lebih pantas diberikan pada Hanekawa.

Hanekawa Tsubasa.

Kebetulan pula, malam ini ia tak datang.

Kami telah sepakat kalau pertemuan kami berikutnya adalah pada saat tahun ajaran baru dimulai.

Itulah yang telah kami putuskan bersama.

Yah, tentunya sesudah ketiga spesialis pembasmian vampir itu kukalahkan, aku tak merasa nyawa Hanekawa akan terancam lagi—tapi tetap saja kupikir bukan ide bagus bila ia kembali ke puing-puing bimbingan belajar ini.

Pada waktu itu, kupikir masih belum pasti juga apakah Guillotine Cutter akan mengembalikan lengan-lengan Kiss-Shot atau tidak.

Jadi walau kubilang saat pertemuan kami lagi adalah di awal tahun ajaran baru—tanpa kusadari, hari yang dimaksud ternyata tak lain adalah lusa.

Waktunya sudah sedekat ini lagi.

Dan pada saat kami bertemu lagi, aku… telah kembali menjadi manusia lagi.

Setidaknya pengharapanku begitu.

… … Sampai akhir Oshino secara terang-terangan menghindari Hanekawa dan kemudian pergi. Tapi di sisi lain, kurasa aku dapat kesan kalau Hanekawa sebenarnya ingin bisa bertemu dengannya. Setelah kuingat lagi sekarang—sepertinya aku lupa bertanya padanya soal ini.

Yah—sudah terlambat untuk mempermasalahkannya sekarang.

Lebih penting lagi…

“Kiss-Shot, aku minta maaf karena ngatain ini pas kamu lagi senang-senangnya. Tapi, kalau bisa, aku ingin bisa kembali jadi manusia secepatnya.”

“Ah, tentu saja. Tenang, beta takkan mengabaikan permintaan engkau untuk kembali jadi manusia. Tapi pelayanku, sebelumnya, tidakkah lebih baik kita berbincang sebentar?”

“Berbincang?”

“Hanya sedikit lepas kangen—hah, bukan macam itu. Hanya saja ada yang beta perlu sampaikan terlebih dahulu sebelum berubahnya engkau kembali menjadi manusia.

Nada bicara Kiss-Shot sepenuhnya tenang.

Sorotan dari sepasang matanya sekali lagi terasa dingin.

Nampaknya, dirinya telah memasuki mode serius kembali.

“Oke, boleh.”

“Baiklah. Kalau begitu, mari kita berganti tempat?”

“Bukan di sini?”

“Di manapun boleh, tapi mari kita cari yang lebih bersuasana.”

Mari kita ke atas, adalah apa yang Kiss-Shot katakan.

Sebagaimana yang telah disuruh, aku keluar ruangan kelas, dan menapaki tangga—sepertinya hujan telah mereda, tapi malam telah tiba, jadi setinggi apapun kami pergi, tak ada resiko bagi kami untuk menghablur.

Kiss-Shot mendahuluiku dalam perjalanan menuju tangga, dan pada akhirnya kami naik sampai ke lantai empat.

Kiss-Shot memilih ruangan tempat aku dan Oshino berada pada siang hari sebelumnya.

Aku sempat yakin kalau Kiss-Shot akan mengajakku berbicara di sini, tapi dirinya terlihat tidak puas, dan akhirnya…

“Tidakkah lebih baik kita ke yang lebih tinggi dari ini?”

…menjadi apa yang dikatakannya selanjutnya.

“Bangunan ini enggak punya jalan buat ke atap kan? Tanda-tanda petunjuk tangga darurat juga enggak ada.”

Aku berkata, dan hanya…

“Hmm.”

…dikeluarkan oleh Kiss-Shot saat ia mengarahkan kedua matanya ke arah langit-langit.

Krak.

Begitu saja, sebagian langit-langit ruangan tersebut terhempas ke luar.

Sisa-sisa serbuk beton berhamburan, tapi dirinya, tanpa mempermasalahkan semua itu, berkata…

“Ikuti beta, pelayan.”

…dan  (seakan ini alami) dari bagian gaunnya yang terbuka seperti di dadanya, tumbuhlah sepasang sayap mirip sayap kelelawar(!), yang ia kibaskan, dan Kiss-Shot pun terbang menuju lubang yang telah dibukanya di langit-langit dengan hanya tatapannya saja.

“… … …”

Tidak, sudah ada terlalu banyak hal gila untuk bisa aku tanggapi.

Ekologimu benar-benar penuh lubang.

Maksudku, tatapan mata Kiss-Shot saja punya kekuatan destruktif! Ini sama sekali terlalu beda dari tatapan keji yang Episode punya!

Ini bahkan melampuai kemampuan perubahan wujud Dramaturgie.

Dirinya bahkan bisa menumbuhkan sayap.

Aku mencoba melakukan hal yang sama juga, tapi terlepas dari segala khayalan gila soal tumbuhan yang kuperoleh sampai selama ini, aku tak pernah membayangkan bisa mempunyai sayap, jadi tentu saja itu bukan sesuatu yang berhasil kulakukan.

Aku melakukan satu lompatan biasa, kemudian melewati rongga beton yang telah Kiss-Shot ciptakan.

Maksudku, bahkan satu lompatan seperti ini saja sudah hebat, ‘kan?

Puing-puing, atap dari bangunan bimbel itu—tak ada penjabaran yang lebih tepat selain kami sungguh-sungguh berada di bubungan atap.

Di atap itu…

…Kiss-Shot sedang menantiku dalam posisi jongkok.

Di bawah cahaya bintang di malam hari—gambaran melankolis seorang gadis yang sedang duduk mengandung semacam daya tarik ajaib. Walau aku tak paham alasannya, secara aneh aku tiba-tiba merasa tegang.

Aku tak tahu kenapa.

Aku gemetar dan tanpa sadar mengkerut.

Wujud sempurna—dada sempurna.

Keberadaan yang lengkap.

Serta—sebuah keberadaan yang superior.

Aku… merasa dirinya sedang membuatku menyadari bahwa aku bukanlah apa-apa selain bawahan dan pelayannya.

“Hm?”

Tiba-tiba, Kiss-Shot memandang ke arahku.

“Apa yang dikau lakukan? Kemarilah.”

“…Iya.”

Sebagaimana yang diperintahkan—aku duduk di sebelah Kiss-Shot.

Aku melakukannya, dan secara tak terduga aku menerima sundulan kepala.

Kiss-Shot yang melakukannya.

“Ap-apa yang kau lakukan?

“Apa yang engkau takutkan? Engkau pelayanku yang berharga. Beta takkan memakanmu.”

“B-Benar juga…”

Kata-katanya seakan menusuk hatiku.

Memang benar, sesudah aku melihat Kiss-Shot tertawa dengan cara seperti itu, aku merasa tolol karena sampai mengkerut.

Berpikir begitu, sikapku segera berbah santai.

“Nah, sekarang, apa sebaiknya yang perlu kita bahas?”

“Bukannya tadi kau bilang ada sesuatu yang kau bicarakan?”

Sesuatu soal mengubahku kembali menjadi manusia.

Itu yang kau katakan tadi.

“Pilihan kata-kata beta kuranglah tepat. Bukannya ada sesuatu yang ingin beta bicarakan, yang beta inginkan hanyalah berbicara dan berbicara tentang apapun boleh.”

“Kau mengatakan sesuatu yang aneh.”

Kalau begitu, mari kita mengobrol.

Aku tak yakin kapan, tapi aku ingat pernah diberitahu soal ini oleh Hanekawa.

Walau dirinya seorang vampir, Kiss-Shot tetap seorang perempuan, kurasa?

Mungkin tak heran bila dirinya suka mengobrol.

Jadi ini seperti semacam perayaan untuk memperingati pemulihannya.

“Apa ini sesuatu yang aku perlukan agar kau bisa mengembalikanku jadi manusia?”

“Ini memang sesuatu yang diperlukan. Oleh beta.”

“Hmmm. Tapi kau sudah hidup selama 500 tahun kan? Mestinya kau ada banyak kisah yang bisa diceritakan.”

“Kesempatan macam ini tak sering terjadi.” Kiss-Shot menanggapi kata-kataku. “Karena sepanjang waktu beta lebih banyak bertarung sampai mati dengan orang-orang seperti mereka bertiga itu—lalu sebelum beta sadari, beta telah diakui sebagai legenda. Yah, orang seperti bocah itu memang langka…”

“Bocah? …Oshino?”

“Bisa mengambil jantungku tanpa beta sendiri menyadarinya merupakan prestasi langka. Tak hanya tak dilumpuhkan… beta bahkan tak ingat kapan kami dulu bersimpangan jalan.”

“Aku juga penasaran dia sebenarnya siapa.”

“Siapa tahu? Sebab bagaimanapun, andaikata bocah itu mengabdikan dirinya untuk urusan pembasmian vampir, bahkan betapun akan dibuat gemetar olehnya. Untung saja dia oportunis yang lebih memilih bersikap netral.”

“Oportunis…”

Aku bahkan sempat berpikir kalau itu cara yang terlalu kasar untuk menggambarkan dirinya, tapi secara tak terduga, sebutan itu terasa cukup pas untuk Oshino. Seandainya aku katakan soal ini padanya, aku yakin dia malah akan membangga-banggakannya dengan tawa riang.

“Jadi apa yang terjadi kali ini boleh dikata cukup menggairahkan—namun, pada dasarnya, 500 tahun itu merupakan 500 tahun yang membosankan. …Benar juga, berbicara soal hal-hal yang sebaiknya kubicarakan, beta rasa beta perlu bercerita soal orang itu.”

“Orang itu?”

“Beta pernah jelaskan kalau engkau merupakan pelayan kedua yang beta pernah ciptakan, bukan? Maka dari itu, yang beta maksud tak lain ialah pelayan pertama beta tersebut.”

“Yang pertama…”

Sebentar.

Kalau tak salah… ini cerita tentang kejadian 400 tahun lalu, ‘kan?

“Ah, ya. Kalau enggak salah kau pernah mengatakannya. Aku pelayan yang kedua sesudah masa 400 tahun—aku ingat aku mendengar sesuatu yang seperti peluang ke Koshien.”

“Koshien?”

“Err, lupain. Tadi cuma perumpamaan. Yang lebih penting, jadi orang macam apa yang menjadi bawahanmu yang pertama? Aku ingin dengar.”

“Ya. Akan beta ceritakan.”

“Jadi dia orang yang mirip denganku?”

“Mengapa engkau berpikir demikian?”

“Er, itu karena…”

Aku belum menceritakannya.

Uh, Oshino tak sedang ada di sini sih, jadi kurasa tak apa-apa.

“…Sebenarnya, aku dengar soal ini dari Oshino. Ada dua makna dari dihisapnya darah oleh seorang vampir, jadi bila darahmu dihisap, itu tak berarti kau akan langsung berubah menjadi vampir.”

“Hm.” Kiss-Shot mengernyit. “…Jangan salah sangka. Bukan berarti beta berusaha menyelamatkan nyawamu—engkau beta ubah menjadi bawahanku semata-mata untuk mengumpulkan kembali tungkai-tungkai beta yang hilang. Sekarang, hal ini bisa beta beberkan. Tapi andai beta katakan itu dari awal, engkau belum tentu akan mau membantu, maka dari itu beta berbohong.”

“Oshino bilang kau pasti akan mengatakannya dari awal kalau begitu.”

“… … …”

Kiss-Shot terdiam. Dan pada akhirnya tak mengatakan apa-apa lagi.

Apakah itu karena perkataanku tepat atau malah sama sekali meleset… aku tak bisa memastikan.

“Gi-gimanapun, aku penasaran apakah aku mirip dengannya atau enggak… soalnya gimanapun juga, jumlah orang yang pernah kau pilih buat jadi pelayanmu sejauh ini baru dua.”

“Dirinya tak punya kemiripan apapun denganmu selain dari suku bangsa.”

Aku berusaha mengembalikan topik pembicaraan seperti sebelumnya sembari mengira kalau mestinya aku diam saja, tapi Kiss-Shot dengan datar mementahkan perkiraanku.

“Pria yang menjadi bawahanku yang pertama itu seorang kesatria… seseorang yang padanya pantas kupercayakan punggungku. Sungguh seorang kesatria yang sejati.”

“Uuuh… aku tak yakin apa aku sanggup jaga punggungmu.”

Paling-paling yang aku bisa cuma menjaga rumahmu.

Tapi sebenarnya, menjaga itupun mungkin aku tak sanggup.

“Yah, gimanapun, kejadiannya 400 tahun lalu ‘kan? Tak seperti sekarang, semua pria di masa itu sedikit banyak pastilah seorang kesatria.”

“Pandangan engkau terhadap sejarah nampaknya penuh bias dan distorsi.”

“Err…”

Sejujurnya aku tak mahir dalam sejarah dunia.

“Tidak, tunggu, gini, entah gimana aku ini orang yang punya sifat begini, jadi, kau tahu, aku bukan orang yang jago dengan cara berpikir hysteric.”

“Beta baru tahu ada makna kedua dari kata hysteric dalam arti yang bersejarah.”

Kini terungkap pula kalau aku tidak terlalu pandai berbahasa Inggris.

“Walau begitu, sudah cukup lama semenjak kali terakhir beta ke negeri ini. Jelas tampak negeri ini kini telah menjadi damai—hanya negeri ini semata yang tampak terpisah dari sisa dunia yang lain.”

“Maaf kalau aku ketagihan terhadap perdamaian.”

Aku tak yakin apa aku perlu minta maaf soal ini sih.

Namun begitu, jelas kalau aku bukanlah seorang kesatria.

Sebanyak apapun aku bersikap seperti dalam Gakuen Inou Batoru, aku tetap orang biasa luar dan dalam—tak peduli aku seterampil apapun sebagai vampir, aku tak lebih kuat dari anak SMP yang mengayun-ayun pisau roti.

Kiss-Shot pastinya kecewa.

Terlebih lagi bila pelayan pertamanya memang orang keren yang hebat.

“Tapi, kenyataan aku diubah jadi bawahan, baik itu karena kau khawatirkan aku, atau agar aku bisa kumpulkan tungkai-tungkai itu, pada akhirnya itu tetap tindakan yang dilakukan karena keadaan darurat… Jadi pada akhirnya aku enggak benar-benar merasa perlu ada kemiripan antara aku dan pendahuluku. Tapi tadi kau bilang aku dan dirinya berasal dari suku bangsa yang sama?”

“Benar.”

“Jadi dia ras mongoloid? Atau benar orang Jepang? Ah, itu pasti enggak mungkin. Berarti dari Asia daratan?”

“Bukan. Dirinya orang Jepang.”

Kiss-Shot mengucapkan sesuatu yang tak kuduga.

“Dirinya seorang pria yang kutemui saat kusia-siakan masa mudaku dengan berkeliaran di sepenjuru dunia. Kebetulan beta pelajari bahasa Jepang di masa itu pula—walau pemakaian kosa katanya telah berubah jauh semenjak saat itu.”

“Jepang 400 tahun lalu…”

Berarti itu periode Edo? Atau bukan ya?

Sial. Aku juga tak jago dalam pelajaran Sejarah.

Tepatnya, aku tak jago dalam apapun selain matematika.

“Jadi, dia bukan kesatria. Tapi lebih tepatnya, seorang samurai…”

“Hm? Ah, beta rasa kata-katamu benar.”

Kiss-Shot mengangguk.

“Bagaimanapun, dirinya lelaki yang kuat.”

“Hmmm. Kalau begitu, bukannya lebih baik kalau kau panggil dia saja? Kalau dia bilang dia bawahanmu, itu berarti juga semacam pelayan ‘kan? Kalau memang begitu, kau juga tak perlu sampai mengambil resiko dengan mempertaruhkan segalanya padaku…”

“Tidak mungkin. Sebab dirinya sudah mati.”

Kiss-Shot menyela perkataanku.

Secara harfiah, kata-katanya tersebut praktis menyela perkataanku.

“Soal itu, pun, sebenarnya sebuah cerita lama… Ingatkah engkau? Pernah beta berkata kalau dalam pertarungan, beta terkadang menggunakan katana.”

“Hm?”

Apa iya dia pernah memberitahuku hal ini?

Ah, iya, kapan ya, kalau tak salah ini sesuatu yang sempat disinggungnya saat kami membahas bilah-bilah panjangnya Dramaturgie. Kalau tak salah Kiss-Shot sempat mengatakan sesuatu soal menghasilkan sebilah pedang dengan kekuatan penciptaan materi.

Aku sama sekali lupa tentang hal itu.

…Tapi aku lega aku bisa ingat hal itu tanpa harus mengutak-atik isi otakku lagi.

“Katana yang kusebutkan waktu itu, adalah peninggalan darinya.”

Katanya.

Kiss-Shot kemudian menusukkan tangan kanannya ke dalam perutnya sendiri. Tangannya menembus kain bajunya, jemarinya melubangi organ-organ dalamnya dengan mudah.

Dan kupikir semuanya bisa berakhir tanpa aku harus mengutak-atik isi otakku…

Tanpa mempedulikanku yang tecengang, Kiss-Shot menarik keluar tangan kanannya dari dalam perut—yang kini memegangi sesuatu yang terlihat seperti pegangan sebilah pedang.

Terlebih lagi, bentuk pegangan itu… itu pegangan pedang Jepang?

Tebakanku ternyata sama sekali tak salah.

Pedang yang Kiss-Shot cabut dari dalam perutnya sendiri, dengan panjang total sekitar dua meter, rupanya adalah sebilah oodachi.

Youtou, ‘Kokorowatari’, bilah pedang kelas pertama dari seorang ahil pedang yang tak bernama, meski nampaknya pada masanya dirinya cukup dikenal. Yah, beta tak terlalu memahaminya secara baik, asal pedang ini bisa dipakai memotong saja sudah cukup.”

“Eeh…”

Sesudah luka besar di perut Kiss-Shot mulai pulih—aku mulai bisa memperhatikan katana yang dicabutnya secara seksama. Ukurannya panjang… tapi walau panjang, ukurannya tak lebih panjang dari pedang-pedang melengkung Dramaturgie. Meski begitu, walau pasangan flamberge yang Dramaturgie gunakan memiliki bentuk dengan kualitas artistik, pedang-pedang Jepang memiliki daya tarik unik mereka tersendiri.

Kalau aku hrus mengatakannya, untuk Kiss-Shot, dengan rambut pirang dan gaun yang dikenakannya, sebilah katanya berkesan tidak cocok dengannya—salah, sejak awal, tak peduli setajam apa sebilah pedang, apa mungkin ada senjata yang dapat menandingi tenaga super yang seorang vampir punyai?

“Jangan bergerak.”

Tiba-tiba saja, Kiss-Shot mengayunkan pedang itu, Kokorowatari.

Sekilas ayunan tersebut terlihat seperti gerakan mengibaskan debu dari permukaan pedang—namun kenyataannya bukanlah seperti itu.

“Hei…”

“Jangan bergerak. Saat ini, engkau baru saja terpotong oleh beta.”

“E-Eeeh?”

“Apa engkau merasakan sakit?”

“Eh? Enggak…”

“Hmmm. Itu berarti kemahiranku sama sekali belum berkurang. Kini engkau boleh bergerak lagi. Lukamu telah mulai pulih kembali.”

“A… Apa ini… kebohongan lain macam yang keliling dunia dalam tujuh setengah kali putaran tadi? Tadi kau bilang pulih, tapi pakaianku kan tak bisa pulih.. memang kau tadi memotong di mana?”

“Perut, secara melintang, beta juga memotong pula sesuatu yang beta tak tahan.”

“Tak tahan?”

“Jangan cemaskan soal pakaian. Ketajaman yang Kokorowatari miliki sangatlah asli—sampai ke taraf apabila bagian-bagian terpotongnya dibiarkan beberapa lama, maka setiap potongannya akan tersambung kembali. Tapi agar hal tersebut terjadi, semua kembali pada kemahiran beta semata tentunya.”

“… … …”

Kelihatannya benar.

Tapi serius…?

“Tapi, bagaimana bisa pedang itu bisa kuat digunakan olehmu—maksudku, tak sampai hancur oleh tenagamu? Bukannya itu aslinya memang hanya pedang biasa?”

“Alasannya adalah walau asal-usulnya seperti yang kau bilang, ini bukanlah ciptaan yang asli. Dengan menggunakan yang asli sebagai material mentah, bawahanku yang pertama menciptakan wujudnya yang ini dengan menggunakan darah dagingnya sendiri. Terlebih, aku betalah yang mewarisinya. Namun, berhubung pedangnya sendiri terlampau tajam, tak peduli berapa kali digunakan untuk memotong, ketajamannya akan tetap sama. Dengan demikian, boleh dikata ini katana yang lebih pantas dipakai untuk memotong Kaii—fenomena ganjil.”

“Pemotong… Kaii ya?”

“Tepat sekali. Berhubung Kokorowatari cukup sulit untuk diucap, lawan-lawan beta menyebutnya sebagai Pemusnah Kaii. Jadi Pemusnah Fenomena Ganjil aslinya bukanlah julukan beta, melainkan sebutan untuk pedang ini.”

Sembari berbicara—Kiss-Shot mengembalikan pedang tersebut ke dalam tubuhnya lagi.

Kesannya seolah dirinya sedang melakukan seppuku.

Sekali lagi, dirinya abadi.

Namun katana itu… menurut Kiss-Shot merupakan peninggalan bawahan pertamanya yang harusnya memiliki keabadian yang sama.

Bawahannya yang pertama… sudah terlanjur wafat.

“Seorang vampir yang abadi wafat… itu berarti dia tewas karena dibasmi ‘kan?”

Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter—orang-orang seperti mereka pastinya pernah ada sekitar 400 tahun sebelumnya juga.

Namun…

“Salah.”

Kiss-Shot berkata.

“Dirinya adalah orang yang takkan bisa dibunuh oleh siapapun.”

“Lalu kenapa?”

Sekalipun dirinya abadi…

…dengan cara apa dirinya akhirnya meninggal?

“Bunuh diri.”

Kiss-Shot menjawab dengan datar.

Dengan sorot mata dingin—memandangi kota di bawah sana.

“Itulah penyebab dari 90% kematian vampir setiap waktu: alasan yang lazim.”

“… … …”

“Di sisi lain, 10% sisanya terjadi akibat tindakan pembasmian vampir yang secara berkelanjutan terus terjadi—penyebab kematian sisanya adalah hal-hal seperti salah perhitungan.”

“Bunuh diri? Kenapa?”

“Kebosanan mematikan manusia, bukankah ada pepatah yang menyebut begitu?”

Kebosanan—mematikan manusia.

Walau ada orang-orang di dunia ini yang bisa sampai mati karena perasaan bersalah… aku tak bisa menyangkal kalau kebosanan juga bisa mematikan.

“Memang bergantung pada keadaan dan zaman, tapi, baik apakah seseorang merupakan vampir asli atau sebelumnya adalah manusia, dalam sebagian besar kasus, kelihatannya sebagian besar vampir, sesudah hidup selama 200 tahun, akan mulai menginginkan kematian.”

“Tapi… dengan cara apa mereka bisa bunuh diri? Bukannya mereka abadi?”

“Seperti yang engkau lakukan di hari pertama, melempar diri ke bawah sorot cahaya mentari adalah langkah yang tercepat—yah, kurang lebih bisa diumpamakan seperti melompat dari bibir tebing.”

“Jangan mengumpamakannya semudah itu dong…”

Tapi kurasa—kenyataannya mungkin memang benar seperti itu.

Dirinya pasti memiliki keinginan untuk mati, Kiss-Shot mengatainya padaku waktu itu.

“Kalau beta asumsikan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, maka itu adalah kenyataan bahwa yang dipilihnya ialah kematiannya sendiri, hanya beberapa tahun sesudah perubahannya menjadi vampir—walau dalam rentang waktu sempit itu, sisanya tak banyak yang berubah.”

Karena dia melakukannya di depan mataku.

Dia melempar dirinya ke bawah terik matahari.

Dengan sengaja, seraya pamer.

Kiss-Shot menggumam.

“Semenjak itu—tak pernah beta menciptakan seorang bawahan lain, sampai engkau.”

“…Apa tak sekalipun kau bosan?”

Aku bertanya.

Walau mungkin itu sesuatu yang tak semestinya kutanyakan.

“Kau tak cuma pernah hidup 200 tahun. Kau bahkan—sudah hidup 500 tahun.”

“Tiada mungkin beta tidak bosan.” Kiss-Shot menjawab, tanpa mengumpat. “Selama ini yang beta lakukan hanya bermalas-malasan.”

“… …”

“Malas, malas—tiada satupun kegiatan yang bisa diperbuat. Andai beta melakukan sesuatu, sebagai tanggapan atas kegiatanku, para pembasmi vampir pasti akan bergerak dan mulai menguntiti beta ke manapun beta pergi—seperti tiga orang itu yang mengikutiku kemari pada saat beta berwisata.”

“Berwisata.”

Semula, aku sempat berpikir kalau itu mungkin bohong.

Tapi aku berubah pikiran dan sesudah kupikirkan lagi, sangat mungkin yang benar adalah sebaliknya.

Jika sebelumnya, di negeri ini, bawahan pertamanya ia ciptakan…

“…Namun, engkau sama sekali tak membosankanku, pelayan. Engkau—setiap hal yang engkau laksanakan dapat dikata adalah gila.”

Mungkin engkau satu-satunya orang di sepanjang sejarah yang menawarkan lehernya sendiri pada seorang vampir—Kiss-Shot tertawa seakan terhibur.

Untuk penampilannya yang sudah dewasa, caranya tertawa sangatlah kekanak-kanakan.

“Bahkan sampai memanggiliku Kiss-Shot tiba-tiba.”

“Ah, soal itu, aku sebenarnya tak sempat tanya, tapi ternyata semua orang kelihatan kaget saat aku melakukannya. Bahkan Oshino. Apa itu sesuatu yang mestinya enggak boleh kulakukan?”

“Tiada satupun orang bodoh di dunia ini yang akan berani memanggil seorang vampir menggunakan nama aslinya.”

“Nama asli? Itu seperti nama pertama?”

“…Menjelaskannya saja tolol. Yah, dunia.. bukan, zamannya sekarang mungkin berbeda—bukan hanya beta. Bahkan tiga orang itu. Beta pastinya kolot dan memiliki selera pakaian yang ketinggalan zaman. Andai beta ingin bisa pas dengan zaman ini, mungkin beta harus mulai berpakaian seperti si bocah itu.”

“Mau berpakaian seperti gaya Oshino? …Jangan. Gaya baju mentereng begitu tak sepatutnya menjadi cita-cita.”

“Ini lebih dari sekedar cita-cita, melainkan fakta.”

Yah, terserahlah, kata Kiss-Shot.

“Hanya sebatas ini yang bisa beta obrolkan. Selebihnya, beta ingin mendengar kisahmu sendiri. Dikau telah hidup selama 17 tahun, bukan? Tidak mungkin engkau hidup sepenuhnya dengan bermalas-malasan. Cobalah ceritakan pada beta sesuatu yang menarik.”

“Whoa.”

Itu cara bercerita yang terlalu merendah!

Menyampaikan cerita menarik dengan cara seperti itu sepertinya bakal sulit.

“E-Errr… kalau begitu, gimana kalau kita coba satu cerita konyol pendek biasa. Dulu ada orang, yah, dia pemuda baik-baik, tapi dia punya masalah ketergantungan terhadap alkohol. Kalau cuma sebatas itu saja, itu cuma masalah pribadi, dan dia merasa dia tetap bebas melakukan apapun yang dia mau, tapi sayangnya pada suatu hari pas dia mengemudi dalam keadaan mabuk, dia menabrak seorang gadis kecil yang sudah mengangkat tangan saat lampu berubah hijau. Karena sedang mabuk, dia tak sadar kalau dia menubruk seseorang, dan keesokan harinya, di tempat parkir apartemennya, baru dia sadar ada darah menempel di bemper mobilnya, kemudian barulah dia sadar soal kejadian itu. Di koran, orang itu kemudian tahu kalau nama gadis yang ditabraknya adalah ‘Rika-chan’. Seyogianya, pria tersebut harusnya menyerahkan diri, tapi dirinya merasa tersiksa. Seharusnya tak ada saksi mata, karenanya ia merasa tak apa jika ia diam saja… Sembari memikirkan itu, tahu-tahu hari menjadi malam. Persis saat itu, tiba-tiba saja telepon kabel apartemen itu menerima panggilan. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku ada di depan apartemenmu.’ Sesudah bilang begitu, telepon lalu ditutup begitu saja. ‘Rika-chan?! Tak mungkin!’ Si pemuda seketika terguncang. Namun, itu jelas suara seorang anak-anak. Itu suara yang berdesis seakan keteloran. Jangan bilang itu gadis yang kutabrak, yang seharusnya mati…? Lalu pada saat itu dia menerima telepon kedua. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku sudah sampai lantai pertama.’ Kamar yang ditempati pemuda itu berada di lantai kelima! ‘Rika-chan’ pasti tengah menuju ke sana. Berasumsi demikian, pria yang sebelumnya terguncang sekarang menjadi ketakutan. Apalagi sesudah ada telepon ketiga. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku sudah ada di lift.’ hei, jangan curang!”

“… … …”

Sambutannya tak begitu baik.

Apalagi bila dibandingkan dengan seberapa lama aku berbicara.

Cara penyampaian yang banyak mengingatkanku akan pendongeng, tapi mungkin di akhir aku malah jadi lebih menyebalkan dari yang kusangka.

“Hm. Tak harus yang seperti itu. Cerita-cerita lucu yang biasa saja boleh.”

“Guh…!”

Harga diriku terluka!

Walau pada dasarnya aku lebih banyak berperan sebagai tsukkomi

“Oke, kalau gitu, bagian kedua!”

“Oooh.”

“Professor Clark dulu berkata—‘Boys be anchovy!’”

“… … …”

Kiss-Shot bahkan tidak tersenyum.

Bahkan lelucon satu kalimat pun tak berguna.

“Kalau begitu bagian ketiga! Aku ingat yang satu ini karena omongan soal sejarah dunia tadi keluar, akan kuceritakan cerita kegagalanku sendiri!”

“Aku mau dengar!”

“Pada ‘ABCD’ di ‘blokade ABDC’ yang mengepung Jepang sebelum Perang Dunia II, pertanyaan soal nama masing-masing negara yang menyusun blokade tersebut ditanyakan dalam ujian. Untuk pertanyaan itu, aku menjawab ini! ‘A itu Amerika, B itu Britania Raya, C itu China, lalu… D itu Jerman!”

“… … …”

Kiss-Shot sedikit memiringkan kepalanya ke sisi.

Dirinya bahkan tak tertawa mendengar kisah kegagalanku.

“Um, kalau aku mesti jelaskan lucunya di mana, itu karena aku menebak B itu Britania Raya, tapi karena suatu alasan, aku membaca D dalam huruf romaji… apalagi Jerman ada di pihak Axis kan?”

Aku menjelaskan leluconku sendiri.

Kemudian sebagai tanggapannya, Kiss-Shot berkata.

“…Blokade ABCD itu apa?”

“Kau bahkan tak punya pengetahuan umum yang dipunyai manusia biasa!”

Ini cara menyedihkan untuk salah menangkap sebuah maksud.

Sesudahnya, pada akhirnya…

Jarum jam melewati angka tengah malam, dan tanggal berganti ke 8 April—yang merupakan hari terakhir liburan musim semi di SMA Swasta Naoetsu. Aku dan Kiss-Shot masih tetap mengobrol di atas atap puing-puing bimbel.

Aku sempat merasa sorot mata dingin Kiss-Shot dipenuhi niat untuk menembaki semua cerita pendek yang aku bawa, tapi separuh jalan kami sama-sama gembiranya sampai-sampai segala sesuatu hal terasa lucu, dan apapun yang kami katakan sama-sama membuat kami tertawa.

Aku merasa ini obrolan yang sama sekali tak berarti.

Aku merasa ini obrolan yang penuh kepura-puraan.

Tapi… mungkin saja…

Kalau aku mengenang kembali liburan musim semi ini, kenangan terbaik yang tersisa, yang pastinya takkan bisa kulupa, adalah hari ini, saat ini, di tempat ini, ketika aku melewatkan waktuku dengan mengobrol bersama Kiss-Shot.

Semua semata karena hanya di kesempatan ini aku tertawa.

“Kalau begitu.”

Walau dirinya tertawa begitu banyaknya sampai menangis, sembari mengusap matanya yang tak pernah kehilangan sorot dinginnya—Kiss-Shot berdiri.

“Waktunya telah tiba—akan kuubah engkau kembali menjadi manusia.”

“Ah, iya.”

Benar juga.

Sial, aku bahkan sampai lupa.

Apa mungkin aku sampai lupa pada hal sepenting itu… aku sampai terkejut oleh diriku sendiri.

Aku melewatkan terlalu banyak waktu bersenang-senang.

Bagaimanapun—kesenangan kami sedang di puncak-puncaknya.

“Ngomong-ngomong… apa pelayan pertamamu tak pernah berkeinginan buat kembali jadi manusia?”

“…Hm, alasannya rumit.”

“Rumit, katamu?”

Kau memakai bahasa Jepang yang rumit.

“Bagaimanapun, di masa itu, masih tak mungkin bagiku untuk mengubah seseorang kembali menjadi manusia—tapi kali ini, jika bisa, beta hendak belajar dari pengalaman tersebut. Jadi, apa engkau siap?”

“Err… mungkin karena tadi aku tertawa kebanyakan, tapi sekarang aku sedikit lapar. Bisa aku keluar makan dulu? Karena makanan yang terakhir kalau enggak salah sudah kadaluwarsa, apa aku bakal terlambat kalau aku beli sesuatu dulu?”

“Hm? Benar, tentunya betapun yang baru saja kembali ke wujudku yang utuh pun merasakan lapar—tapi apa engkau tak dapat lagi menahannya?”

“Ah, sedikit.”

“Apa engkau ingin membawa makanan jalan?”

“Makanan jalan?”

Maksudnya apa?

Mungkin itu semacam ungkapan yang sudah ketinggalan zaman.

“Yah, ini malam terakhirku sebagai vampir. Ini titik di mana aku punya sedikit keraguan tentang itu. Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?”

“Beta tak punya kesukaan atau ketidaksukaan khusus.”

“Uhhhhmmm…”

Yah, gimanapun, pada jam segini, minimarket 24 jam pastinya buka, jadi sejak awal pun pilihanku sebenarnya tak banyak.

“Kalau begitu, baik. Lakukan apa yang kau mau, pelayanku. Akan beta terima harapanmu untuk bisa menjadi pelayanku sedikit lebih lama—beta akan bersiap-siap sekarang di lantai kedua.”

“Oke.”

Dan sesudah itu dikata…

Perbincangan kami di atas atap kemudian berakhir.

Walau hanya minimarket 24 jam yang masih buka, tetap saja jarak yang kutempuh untuk membeli sesuatu tetaplah jauh—perjalanan bolak-balik dari puing-puing bimbel ini bisa mencapai satu jam.

Kalau aku menempuhnya tanpa memakai kecepatan berlari vampir sih.

Tapi, di sisi lain, aku juga tak merasa ingin cepat-cepat.

Sebaliknya, dengan sengaja aku berjalan pelan-pelan.

Hmph.

Menyusahkan.

Akan kuubah engkau kembali menjadi manusia—katanya.

Sejujurnya, aku tak bisa menyangkal kalau dikatakan seperti dengan begitu ringannya tak membuatku tak sedikit resah.

Aku ini memang pengecut sekaligus penakut.

Tapi… bagian soal ‘punya sedikit keraguan tentang itu’ yang kukatakan pada Kiss-Shot, itu kebohongan yang kubuat di tempat. Tentu saja, aku tak mau menjadi pelayan Kiss-Shot untuk waktu yang lebih lama lagi. Itu sih sudah tak perlu lagi dibahas.

Aku cuma….

…benci perpisahan.

“…Uhmmmmm…”

Mungkin… kasusnya sama juga untuk Kiss-Shot, mungkin.

Mungkin sebenarnya dia ingin membahas sesuatu soal kembalinya aku menjadi manusia.

Tapi pada akhirnya pembahasan soal itupun tak ada.

Kenyataannya.. dia sungguh-sungguh hanya ingin berbicara denganku.

Untuk bersenang-senang.

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Vampir legendaris.

Pemusnah Kaii.

“Pastinya nanti… dirinya akan pergi ke suatu tempat.”

Aku telah kumpulkan kembali setiap bagian tubuhnya yang hilang.

Dirinya takkan punya alasan untuk tinggal lagi di kota ini—bukan, negara ini, untuk waktu lebih lama lagi.

Berwisata—itu katanya.

Kalau aku pikirkan kembali tentang pelayannya yang pertama, pastinya ini semacam napak tilasnya menyusuri tempat-tempat kenangan—hanya saja, sejauh kenangannya semata, yang terjadi adalah kenangan buruk yang dimilikinya malah diperkuat.

Jantungnya dicuri, tungkai-tungkai tubuhnya dicuri.

Lalu bawahan kedua yang diciptakannya dalam putus asa hanyalah orang biasa-biasa saja.

Bahkan bawahannya tersebut bilang kalau dia ingin berubah kembali menjadi manusia.

Walau dia juga bilang orang bersangkutan itu tidak sampai membuatnya bosan sih.

“Dia sempat ditawari jadi dewa, tapi dia menolak… berbeda sama sekali dari Guillotine Cutter.”

Begitu Kiss-Shot meninggalkan negara ini…

… dirinya akan keliling dunia lagi mungkin.

Bukan, mengingat dia berbicara seakan dirinya banyak berpergian di masa mudanya, kurasa hari-hari begini dirinya malah jarang pergi ke mana-mana.

Lagipula, apa Kiss-Shot bahkan bisa naik pesawat—yah, mungkin dirinya tinggal perlu menumbuhkan sayap dan selanjutnya terbang di udara. Tubuhnya benar-benar praktis.

Tapi, jelas tak ada kesedihan dari perpisahan yang mungkin terjadi.

Sederhananya, apa yang menjadi ikatanku dengan Kiss-Shot hanyalah kenyataan tentang bagaimana aku menjadi vampir, jadi aku agak sedikit takut berpisah dengan status itu.

Aku merasa bisa memahami tanpa keraguan alasan mengapa Oshino, yang berkesan sembrono itu, tak pernah mengucapkan sepatahpun kata perpisahan.

“Yah, habis mau gimana lagi.”

Kalau kau bertemu, suatu saat kelak kau pasti berpisah.

Itulah hidup.

Walau bagi Kiss-Shot dua minggu ini tidak lebih dari serangkaian kenangan buruk, memandang lagi ke belakang sekarang, mungkin ini bukan liburan musim semi yang seburuk itu.

Mungkin ini memang bukan liburan musim semi yang seburuk itu.

Wah, aku benar-benar bisa sampai berpikir demikian.

“Oke!”

Aku ingin melanjutkan kegembiraan di atap tadi, melanjutkannya dengan semacam acara perpisahan. Ingin membuatnya seberkesan yang aku bisa, aku habiskan seluruh uang yang kupegang di minimarket, menghabiskannya untuk kue dan berbagai manisan lainnya, lalu dengan langkah cepat kembali ke puing-puing bangunan bimbel.

Dalam perjalanan kembali…

…sementara aku memikirkan kata-kata perpisahan apa yang pada akhirnya akan aku ucapkan pada Kiss-Shot, aku turut mempersiapkan tekadku—dan akhirnya aku tiba di ruang kelas yang biasa di lantai kedua.

Tanggal hari itu adalah 7 April.

Jam saat itu adalah pukul 2 dini hari.

“Aku kembali.”

Dengan perasaan itu, aku membuka pintu kelas dengan sikap seriang mungkin.

Kiss-Shot sedang menghabiskan sebuah kudapan ringan.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Yang dimakannya adalah… sesosok manusia.

“…Eh?”

Kantong belanjaan minimarket yang kubawa seketika terlepas dari tanganku.

Mendengar bunyi jatuhnya kantong itu, Kiss-Shot memutar kepalanya ke arahku.

Sementara tangannya…

…tengah memegang kepala seorang manusia yang sudah separuh termakan.

“Ah, Pelayan—tak disangka, kau cepat. Tapi bukankah pernah beta bilang, tidaklah sopan memandang seorang perempuan yang sedang makan.”

Aku mengenali kepala itu.

Itu kepala salah seorang dari ketiga spesialis pembasmian vampir itu.

Satu-satunya manusia di antara mereka.

Itu kepala Guillotine Cutter.

Tubuhnya, dagingnya telah tercacah hingga kecil—dirinya telah dipotong-potong sampai ke ukuran cukup kecil agar cukup mudah untuk dimakan.

Bagaikan seekor ikan… yang disajikan secara utuh.

“Dia tiba-tiba saja muncul saat beta menunggu engkau—nampaknya medan pelindung yang terpasang tak sanggup menyembunyikan kekuatan penuh beta. Namun, berhubung beta lapar, dia datang di saat tepat. Dia cemilan bagus.”

Itu katanya.

Kiss-Shot menggerakkan kepalanya seakan sedang mencari-cari seseorang di belakang bahuku.

Kemudian dirinya memiringkan kepala, tampak heran.

“Apa? Makanan jalan yang berkacamata dan berkepang itu tak engkau bawa bersamamu?”

Catatan:

hysteric: histeris

Koshien: stadion bisbol ternama di Jepang di mana tim-tim bisbol SMA terbaik se-Jepang bertanding dua kali setahun (kalau enggak salah). Araragi memakai perumpamaan ini untuk mengingat betapa jarangnya Kiss-Shot mengubah seorang manusia untuk menjadi pelayannya, sama kayak betapa kecilnya peluang sebuah tim atau orang untuk berkesempatan bermain di Koshien.

Youtou: istilah yang digunakan untuk menyebut pedang yang memiliki semacam aura supernatural di sekelilingnya. Pedang yang Kiss-Shot cabut adalah pedang dari jenis ini.

Kokorowatari: penyilang hati; ini nama pedang yang Kiss-Shot cabut.

seppuku: variasi harakiri di mana seseorang dalam posisi bersimpuh memotong perutnya sendiri, kemudian ada ‘asisten’ yang kemudian memenggal kepala yang bersangkutan pada saat yang bersangkutan tertunduk

Lelucon soal cerita di lift itu… kayaknya ini referensi terhadap sesuatu, tapi saya enggak yakin apa.

tsukkomi: semacam orang wajar yang menanggapi lelucon dalam komedi manzai, yang dijalankan oleh dua orang.

Boys be anchovy: harusnya boys be ambitious. …Perasaan aku pernah membahas soal ini.

Blokade ABCD: kepanjangan ABCD, dalam bahasa Inggris, yakni: American, British, Chinese, Dutch. Dalam bahasa Jepang, masing-masing jadi ‘Amerika’, ‘Igirisu’, ‘Chuugoku’, ‘Oranda’. Araragi salah menjawab dengan mengira kalau D itu kependekan dari ‘Doitsu’ yang merupakan bahasa Jepang untuk Jerman. Kata ‘Igirisu’ dan ‘Oranda’ berasal dari lafal Portugis ‘Inglês’ dan ‘Holanda’, sementara ‘Doitsu’ berasal dari bahasa Belanda, ‘Duits’

22/09/2012

Kizumonogatari – IND (014)

Masih belum diedit.

—————-

014

Hari berikutnya, tanggal 6 April.

Siang hari.

Dengan kata lain, malam hari bagi vampir, aku dan Kiss-Shot sedang tidur seperti biasa di ruangan dengan jendela-jendela tertutup pada lantai kedua bangunan bimbel terbengkalai itu.

Aku terbangun tiba-tiba.

Tak lain oleh Oshino Meme, yang pada larut malam sebelumnya pada akhirnya tak pulang, dan bahkan tak tampak di sepanjang pertarungan itu—ke mana sikap seriusnya yang keren kemarin menghilang? Hari itu dia tertawa keras dengan kesan main-mainnya yang biasa.

“Selamat pagi, Araragi!”

“…Aku benar-benar masih mengantuk.”

“Sudah, kemari saja.”

Walau kedua mataku masih separuh terpejam, aku diseret keluar oleh Oshino ke lorong. Di tengah semua keributan ini, Kiss-Shot tetap melanjutkan tidur lelapnya, tanpa sedikitpun berbalik dalam tidur.

Benar-benar gadis yang penuh kedamaian.

Sepertinya dirinya hidup tanpa memiliki kecemasan sedikitpun.

“Oshino, ada apa?”

“Hm? Jangan di lorong. Yah, Heart-Under-Blade mungkin takkan bangun. Tapi sebagai penjagaan, aku kita ke lantai atas. Kita ke lantai empat.”

“Lantai empat…”

Sekantuk apapun aku, setidaknya aku bisa mengerti perkataannya sejauh itu.

“Tapi jendela-jendela di sana membuka. Kalau aku kena sinar matahari…”

“Tenang saja. Hari ini hujan.”

“Hujan?”

Sungguh?

Setelah kupikir lagi, memang pada hari-hari terakhir hujan tak turun.

Jika hujan tak turun selama aku hilang kesadaran persis sebelum aku berubah menjadi vampir, maka kurasa ini hujan pertama semenjak libur musim semi dimulai.

Yah, mungkin juga sempat hujan selama aku tidur 12 jam setiap hari pada waktu siang… tapi berhubung aku tak menonton prakiraan cuaca tak mungkin aku bisa tahu.

“Kau bisa santai. Dengan kekuatan pemulihan dirimu, terkena sedikit cahaya matahari juga, itu bukan berarti kau bakalan langsung mati, ‘kan?”

“Ngomong itu sesudah merasakan sendiri gimana tubuhmu melepuh.”

“Ayo pergi.”

Oshino menaiki tangga dengan ceria. Sementara aku mengawasi langkah-langkah kakiku sendiri, aku menyusul dari belakangnya. Nampaknya ruang kelas terdekat di lantai empat tak masalah, jadi Oshino kemudian memilih pintu terdekat.

Begitu membuka pintu yang pegangannya nampak sudah rusak itu, bahkan selintas pandang saja, ruangan yang Oshino pilih tampak rusak dan berantakan tanpa bisa lagi diperbaiki.

Kurasa Oshino bukan jenis orang yang punya banyak keberuntungan.

“Satu, dua!”

Namun, kurasa Oshino sendiri tak pernah merasa dipermasalahkan dengan hal ini, dengan sigapnya dia menarik salah satu kursi terdekat, kemudian duduk di atasnya, dengan kursi mengarah ke posisi yang berlawanan dengannya.

Aku melakukan hal yang sama.

Kurasa, pada intinya aku cuma meniru apa yang dia lakukan saja.

“… Itu.”

Aku menunjuk ke tas perjalanan yang Oshino bawa di tangannya.

Melihatnya, aku langsung sepenuhnya terjaga.

Tas itu, sejauh ini, telah membawa kaki kanan dan kiri Kiss-Shot.

Itu berarti…

“Ya.”

Oshino mengangguk.

“Tebakanmu benar. Di dalamnya ada kedua lengannya Heart-Under-Blade.”

“…Begitu ya.”

Aku… menghela nafas dalam-dalam dan langsung saja merasa lega.

Aku sempat berpikir alasan Oshino masih belum kembali sampai pagi hari adalah karena Guillotine Cutter pada akhirnya tidak sudi mengembalikan kedua lengan Kiss-Shot pada kami, dan itu membuatku khawatir.

Kiss-Shot sendiri, seperti biasa, bersikap seolah tak peduli tentangnya sih.

“Sudah pagi. Mau tidur?”

Kemudian begitu saja, Kiss-Shot waktu itu tertidur.

Dia benar-benar gadis yang penuh kedamaian—hidup tanpa memiliki kecemasan sedikitpun.

Atau mungkin juga dalam hal ini akunya yang terlampau lemah.

Namun, kita di sini sedang membicarakan Guillotine Cutter yang menyebut Dramaturgie dan Episode, yang mengembalikan kaki kanan dan kiri Kiss-Shot masing-masing, ‘terlampau jujur untuk kebaikan mereka sendiri’. Kemungkinan Guillotine Cutter tak memenuhi bagian perjanjiannya kurasa sesuatu yang bisa saja terjadi.

Aku gelisah seperti apapun, aku tak punya pilihan selain mempercayakan urusan ini pada Oshino. Tapi…

“Uhm? Ah, aku tahu kau mau tanya soal apa.” kata Oshino. “Kau ingin tahu apakah Guillotine Cutter benar-benar memenuhi janjinya ‘kan?”

“Yah, sejujurnya, aku memang memikirkannya.”

“Itu sebenarnya kesempatan untuk memperlihatkan keahlianku. Ini bagian dari jasa negosiasi, lho—walau bisa saja kubilang Guillotine Cutter memang enggak berniat mengembalikan kedua lengan ini.”

“Sudah kuduga.”

“Dia menyimpan rasa permusuhan yang lumayan besar—nampaknya. Soalnya enggak seperti dua yang lain, dia bergerak semata-mata atas keyakinannya sendiri.”

“Keyakinannya ya.”

Aku ingat.

Beberapa kali ia mengutarakan hal tersebut lewat kata-katanya sendiri.

“Yang seperti itu yang disebut mentalitas pembela kebenaran, kurasa.”

“Definisi kebenaran bagi tiap orang itu berbeda-beda, asal kau tahu. Kau tak bisa dengan gampangnya membantah kebenaran orang lain—sederhananya, bagimu, dia adalah musuh. Di samping itu, meski dia mengomel ke sana kemari, hasil akhirnya tetap adalah ini.”

Oshino melemparkan tas perjalanan itu ke arahku.

Perlakuan yang kasar.

“Dia mengembalikannya.”

“Itu karena memang itu yang harusnya dilakukannya.”

“Itu karena aku berhasil membujuknya.”

“Dengan cara apa kau membujuknya? Maksudku, dia semacam fanatik ‘kan? Kalau memandangnya secara sekuler, dari sudut pandangku, dia benar-benar seorang fanatik, ‘kan? Bukannya mengembalikan kedua lengan seorang vampir itu tak jauh beda dengan meninggalkan keimanannya sendiri?”

“Itu karena dia pastinya orang yang akan mengerti asalkan kau bicara padanya—karena begitu-begitu juga, dia tetap saja seorang pro.”

“Seorang pro.”

“Persis, seorang profesional.”

Mungkin upayaku untuk mencocokkan fakta-faktanya berkembang agak terlalu dalam, Oshino pada akhirnya mengakhiri diskusi tersebut.

“Gamblangnya, aku memberitahunya bahwa bila kau berhasil mengumpulkan seluruh bagian tubuh Heart-Under-Blade, kau berkeinginan buat bisa kembali lagi jadi manusia—dan bahkan Heart-Under-Blade pun menyepakati hal tersebut.”

“…Dengan kata lain, Guillotine Cutter akhirnya mundur untuk kepentinganku?”

“Sesuatu seperti itu, ya, kurasa.”

Pilihan kata Oshino terasa sedikit hati-hati.

Rasanya seperti dirinya sedang berusaha mengindikasikan sesuatu. Tapi, kalau dipikir lagi, orang ini selalu mengindikasikan sesuatu secara gila-gilaan dalam setiap perkataan yang ia ucapkan. Jadi kalaupun aku mempermasalahkan apa-apa yang dikatakannya ini, mungkin apa yang dikatakannya sebenarnya tak ada artinya juga.

Sikapnya menerawangi orang, mungkin bisa saja memang hanya sikap.

Mungkin memang ada waktu-waktu tertentu ketika kenyataannya memang tak lebih dari itu.

Yah, apapun tujuannya, terkumpulnya seluruh bagian tubuh Kiss-Shot merupakan hal baik. Berbicara secara baik-baik, dengan segini saja, tak ada lagi yang bisa kupermasalahkan tentang dirinya.

Aku bahkan tak mau membandingkannya dengan orang-orang seperti Guillotine Cutter.

Kubuka ritsleting tas perjalanan itu.

Lengan kanan, mulai dari bagian siku sampai ke ujung, kemudian lengan kiri, terpotong dari pangkal bahu—kini telah kupastikan berada di dalam tas itu.

“Yah, setidaknya di akhir dia memilih untuk mempertahankan kehormatan pihak sana—bagaimanapun, dia mendapat peringatan karena menculik Nona KM. Seandainya ini sepakbola, dia pasti diganjar kartu kuning.”

“Kartu merah, kalau menurutku sih.”

“Kartu merah itu kalau Nona KM sampai dibunuh olehnya. Karena itu, seandainya Nona KM pada waktu itu, Episode juga sudah mendapat kartu merah—tapi di sisi lain, pastinya kau juga akan mau membunuh Episode, jadi semuanya akan imbang kurasa, pada akhirnya.”

“Aku tak pernah punya maksud buat…”

Aku tak pernah punya maksud buat membunuhnya, adalah apa yang semula hendak kukatakan. Tapi kalimatku terhenti pada detik terakhir.

Sebab, itu pasti bohong.

Waktu itu aku mengamuk, dan aku tak sanggup menahan diri—salah, aku bahkan tak peduli soal apa-apa yang mungkin bakal terjadi.

Oshino bahkan tak menghentikanku.

Mungkin aku… bahkan telah membunuh Episode.

Keinginan untuk membunuh… benar-benar ada pada waktu itu.

“…Itu, anu…”

“Kenapa? Suaramu sesaat tinggi lalu tiba-tiba jadi rendah begitu. Kau benar-benar bersemangat sekali, Araragi. Apa ada suatu hal baik terjadi?”

Oshino, yang mengatakan ini seolah dirinya sedang berusaha tak menonjolkan diri, kemudian menunjuk ke kedua lengan yang menyembul keluar dari tas perjalanan dengan batang rokoknya yang tak menyala.

“Bagaimanapun, kau telah berhasil mengumpulkan keempat tungkainya. Selamat atas keberhasilanmu, Araragi! Misimu beres. Aku bahagia seakan ini masalah orang lain.”

“Masalah orang lain?”

“Karena ini memang bukan masalahku, ‘kan?”

“… … …”

Hmm.

Ini memang masalah orang lain dari sudut pandangnya sih.

“Kuberi sedikit pujian dariku. Secara praktis—tanpa pengalaman bertarung sedikitpun, seorang pelajar SMA rendahan berhadapan dengan tiga veteran spesialis pemusnahan vampir dan berhasil menang tiga kali berturut-turut—aku benar-benar angkat topi buatmu.”

“Kau tak sedang memakai topi.”

“Itu ungkapan, tahu.”

Oshino mengembalikan rokoknya ke mulut.

…Yang masih saja tak menyala.

“…Ini sebenarnya tak begitu penting sih, tapi Oshino, kenapa rokok itu tak pernah kau nyalakan?”

“Hm? Soalnya, jika rokoknya kunyalakan, bukannya kemungkinan dibuatnya adaptasi anime bakal jadi lebih susah?”

“… … …”

Kenapa juga kau begitu terobsesi dengan adaptasi anime.

Bagiku, itu benar-benar sebuah misteri.

“Ayolah, Araragi. Meski sudah kuucapkan selamat, kau masih memasang wajah murung. Kalau ada tujuan yang berhasil kau capai, semestinya kau senang apapun yang terjadi ‘kan? Entah mengapa kau memancarkan aura yang sama seperti saat pemakaman.”

“Oshino, rasanya, masih ada sesuatu yang kuragukan.”

Aku berkata.

Di samping itu, sebenarnya masih ada satu hal lagi yang sebenarnya masih membuatku resah.

Sampai detik terakhir, aku kebingungan apakah sebaiknya aku menanyakannya atau tidak. Tapi bila aku melihat sikap riang Oshino sekarang, entah bagaimana sekarang terkesan konyol bila sekarang aku memikirkannya.

Aku tinggal menanyakan apa yang ingin kutanya.

Karena pada akhirnya, segala yang tak dijawab pada akhirnya akan tetap tak terjawab.

“Ini tentang Guillotine Cutter.”

“Ya?”

“Oke, aku paham dari segi alur—dalam pertarungan semalam, karena dia ceroboh, sedikit banyak, aku berhasil menang tanpa sampai terluka. Aku paham itu. Tapi Oshino, seperti yang kau bilang. Dengan satu serangan dari seorang anak SMA biasa… aku berhasil mengalahkan orang berbahaya kayak dia. Bukannya, ada sesuatu yang aneh di sini? Bagaimanapun juga, dia orang yang berhasil mengambil kedua belah lengan dari seorang vampir legendaris, ‘kan?”

“Hrm.”

“Tunggu, malah bukan cuma Guillotine Cutter. Bahkan dengan Dramaturgie dan Episode juga kejadiannya seperti itu. Masing-masing, keduanya mengambil kaki kanan dan kaki kiri Kiss-Shot ‘kan? Memikirkan itu, aku, yang kau bilang tak punya pengalaman bertarung, atau sekurang-kurangnya separah-parahnya pernah bertengkar dengan adik-adikku, dilihat dari sudut pandang itu, aku mengalahkan mereka secara mudah—kenapa bisa-bisanya sampai begini?”

Mungkin aku hanya beruntung. Mungkin saja.

Mungkin juga karena faktor kejutan yang kupunya.

Tapi… apa tak ada jawaban lebih masuk akal lain yang ada?

Apa merekanya yang lemah? Atau akunya yang terlampau kuat?

Walau aku bertanya, sebenarnya aku tak terlalu mengharapkan sebuah jawaban.

Itu cuma sekedar sebuah misteri bagiku.

Namun—aku tak yakin persisnya kenapa, tapi aku mendapat kesan kalau Oshino mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.

Alasan mengapa dirinya bersikap lebih netral dari siapapun yang lain.

Itu karena dirinya adalah orang yang sebisanya berusaha mempertahankan keseimbangan.

“Keduanya.”

Sebagaimana yang kuduga, Oshino mengatakannya.

“Dilihat dari sudut pandang mereka, maka jelas kalau kau yang terlalu kuat—dilihat dari sudut pandangmu, maka orang-orang itu yang terlampau lemah. Karena kau… bukan orang yang bukan siapa-siapa. Kau adalah bawahan langsung dari Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.”

“Tapi, masa iya cuma karena itu.”

“Iya, memang cuma karena itu.”

Dibenarkan olehnya.

Jawaban itu benar-benar dibenarkan oleh Oshino.

“Kalau aku harus memilih alasan mengapa amatiran sepertimu berhasil mengalahkan orang-orang itu, maka pastinya jawabannya itu—yah, tapi tetap saja ada banyak kemungkinan yang membuatmu bisa kalah sih. Itu juga kalau mau dibilang, peluang yang mereka punya bisa jadi lebih besar. Kau memang benar-benar luar biasa, Araragi.”

“Banyak atau sedikit… kau benar-benar sudah membuat kemungkinannya jadi seimbang buatku.”

Keseimbangan itu.

Memberiku keunggulan atas medan, mencegah pertarungan sampai mati—saat Hanekawa kemudian dijadikan sandera, menyusun rencana yang setara dengan keunggulan itu.

Semenjak awal, kau telah mengusahakan sebuah pertarungan yang adil.

Namun…

“Tapi, kalau begitu kasusnya, buatku tetap saja jadinya aneh. Maksudku, kalau aku pikirkan lagi keadaan awalnya, semua ini jadinya aneh.”

“Aneh dengan cara bagaimana maksudmu?”

“Kalau cuma dengan bawahanku saja hasilnya seperti ini, dengan Kiss-Shot dalam keadaan terbaiknya—maka tiga orang itu secara bersama-sama semestinya bisa jadi lawan yang seimbang, ‘kan?”

Kalau soal itu, aku yakin.

Kekuatan Kiss-Shot sebagai vampir dalam wujudnya yang asli, jika aku perkirakan minimumnya, maka jelas tak mungkin berada di bawahku—dan di samping itu, Kiss-Shot memiliki pengalaman 500 tahun.

500 tahun pengalaman.

Pengalaman tempur.

Bahkan saat dihadapkan dengan pedang-pedangnya Dramaturgie, salib raksasa milik Episode, lalu kelihaian menakutkan yang Guillotine Cutter punya—apa benar mungkin bagi mereka untuk mengambil keempat tungkai badan dari Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade?

Aku hanya punya satu kesimpulan.

Sepertinya itu tak mungkin.

Tak mungkin hal seperti itu bisa terjadi.

“Intuisi yang bagus, Araragi—jika dilatih, kau mungkin bisa jadi seorang spesialis yang cukup handal juga.”

Oshino berkata dengan seringai lebar—semula kupikir dirinya tak berniat untuk memberi jawaban secara serius, tapi ternyata tak juga.

Dia melanjutkan pertakaannya dan… dan dia juga menjawab pertanyaanku.

“Kenyataannya persis seperti yang kau bilang Araragi. Masing-masing dari mereka tak mampu menghadapi Heart-Under-Blade sendirian. Jadi mereka mencoba menghadapinya secara bersamaan. Tapi bertiga pun mereka masih belum mampu menandinginya. Alasannya karena…”

“Karena?”

“Karena jika saja seandainya Heart-Under-Blade waktu itu berada pada kondisi prima—bukankah keadaannya bakalan berbeda?”

Saat itu Kiss-Shot sedang tidak sedang berada dalam keadaan prima.

Aku punya ingatan yang sedikit banyak mendukung kata-kata ini.

Aku bisa mengingatnya bahkan tanpa melakukan ini-itu terhadap otakku—Kiss-Shot sendiri yang waktu itu mengatakannya.

Sesuatu soal kesehatannya sedang buruk—atau semacamnya.

Kupikir, itu cuma alasan.

Tapi, seandainya saja itu sebenarnya bukan cuma alasan….

“Jadi—pertarungan antara Heart-Under-Blade dengan ketiga orang itu akhirnya menjadi pertarungan yang seimbang.”

“… … …”

“Yah, terlepas apakah pada akhirnya kau menanyakannya atau tidak, pada akhirnya aku tetap akan menceritakannya padamu—tapi berhubung kau bertanya, Araragi, jadinya lebih gampang buatku untuk menjelaskannya. Terkadang, bahkan kau pun menunjukkan sedikit kecerdasan, ya?”

Sembari mengatakan itu…

…Oshino, dengan santainya mengeluarkan ‘sesuatu’ dari dalam saku kemeja alohanya, dan kemudian ia melemparkannya padaku. Saku kemejanya itu seharusnya menyimpan rokok—makanya kupikir yang ia lemparkan padaku adalah sekotak rokok, tapi ternyata bukan. Sebab bagaimanapun juga, saku kemeja aloha yang dikenakannya seharusnya tak cukup besar untuk menampung ‘sesuatu’ sebesar itu.

Itu, ternyata adalah…

…terbentuk atas gumpalan daging berwarna merah—sebuah jantung.

“Huwaaaaaa!”

Tanpa sadar aku berteriak, dan benda yang sempat kutangkap dengan kedua tangan itu terjatuh ke lantai—aku terpaku sampai sebegitunya.

Aku terpaku, maksudku, aku benar-benar dibuat sampai tak sanggup bergerak.

Sebaliknya, berlawanan dengan keadaanku yang tak mampu bergerak… jantung itu berdetak. Terus berdetak. Mengikuti irama dub-dub dub-dub.

“Itu jantungnya Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.” Oshino berkata. “Tanpa jantung itu, dia bertarung dengan tiga orang spesialis pemusnahan vampir sekaligus—tak heran tungkai-tunkai badannya sampai terpotong.”

“… … …!”

Wajar saja.

Bahkan aku pun bisa paham kalau kekuatan yang dimiliki kaum vampir khususnya adalah darah mereka—tanpa jantung yang menjadi andalan untuk peredaran darah, pantas saja Kiss-Shot bisa sampai kehilangan kaki tangannya secara harfiah.

“… …Dan dia sendiri bahkan enggak sadar.”

“Yap. Dia sendiri berpikir kalau yang mereka ambil cuma kaki dan tangannya saja—bahkan dalam keadaan nyaris terbunuh, pastinya dia sempat memikirkan alasan mengapa keadaannya bisa sampai seburuk itu. Heart-Under-Blade terlalu banyak menaruh kepercayaan terhadap dirinya sendiri—tak pernah sekalipun terbayang olehnya ada orang yang suatu saat akan mampu menarik lepas karpet yang sedang dipijaknya sendiri.”

“Begitu. Jadi itu alasannya.”

Hmm, pikirku.

“Aku sudah menduga kalau dia licik, tapi Guillotine Cutter sampai berhasil secara diam-diam mencuri jantung Kiss-Shot—habis itu, baru ketiganya sama-sama menyerang? Tapi, bisa sampai mencuri jantung Kiss-Shot tanpa yang bersangkutan sendiri sadar saja sudah luar biasa. Kurasa tetap pada akhirnya aku harus memandang dia lebih tinggi.”

“Oh, salah, Araragi.”

Oshino membantah perkataanku.

“Yang mencuri jantungnya bukan Guillotine Cutter.”

“Heh? Maksudmu? Jadi Dramaturgie atau Episode yang mengambil jantungnya, tapi kemudian Guillotine Cutter yang akhirnya memegangnya?”

“Ah, bukan bukan bukan. Bukan Dramaturgie atau Episode juga.”

“Terus siapa?”

Jangan bilang ada spesialis pemusnahan vampir keempat yang nantinya muncul. Pikiran itu saja sudah membuatku bergidik.

Namun, perkataan Oshino berikutnya ternyata adalah:

“Aku.”

“… … … … …. ….”

Kata-kata tak keluar dari mulutku sampai saat itu.

Ada beberapa reaksi yang sempat terlintas dalam pikiranku, tapi tak ada satupun darinya yang kupikir pantas buat situasi ini, dan akhirnya semuanya kutelan dalam-dalam. Pada saat itu, Oshino, tanpa harus diminta, mulai menjelaskan—bahkan dia melakukan gerak-gerik teatrikal yang mirip dengan apa yang dilakukan tokoh-tokoh antagonis dalam pertunjukan-pertunjukan sandiwara sejarah.

“Pada awalnya, aku kebetulan saja sedang lewat—jalan-jalan menyusuri jalan pada malam hari, dan di sana kemudian kulihat sesosok vampir dengan kekuatan sebegitu hebatnya yang pastinya tak asyik lagi. Aku dengan gampang membayangkan kalau ini pasti sang Penakluk Fenomena Ganjil—dan makanya, demi mendatangkan keseimbangan, aku mengambil jantungnya saat itu juga.”

Karena aku sudah menduga semenjak awal kalau sejumlah spesialis pemusnahan vampir juga akan datang ke kota ini—katanya.

“Tanpa dia sendiri sadar—secara diam-diam, jantungnya kuambil.”

“Kau… benar-benar bahkan bisa melakukan hal semacam itu?”

Sesudah mengatakannya langsung, aku sadar akan betapa tololnya pertanyaan itu—betul sekali, sebab aku sudah melihat kemampuan Oshino dengan mata kepalaku sendiri.

Oshino menghentikan serangan dari Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter secara sekaligus, dengan pose ceria yang membuatnya mirip seperti orang-orangan sawah berkaki satu.

Sedahsyat itu kemampuan yang Oshino miliki.

Bahkan tindak negosiasi dengan ketiga orang itu—berhasil ia wujudkan.

“Bisa.” Oshino menjawab. “Walau aku takkan bilang itu gampang—sebaliknya, itu pekerjaan yang gila-gilaan susahnya. Khususnya, susah buat mengeluarkan jantungnya tanpa membuat dia sendiri sadar. Dengan membawa salib, bawang, dan air suci, aku kurang lebih berhasil menutupi jejakku. Tapi, tetap saja hasilnya bisa sebaliknya. Walau peluang yang kupunya tak sampai kurang dari 50-50, peluang yang kupunya juga tak lebih dari itu—kemudian, secara tak terduga, dadu yang kulempar memunculkan mereka bertiga.”

“… … Dan Kiss-Shot yang telah kehilangan kaki dan tangannya, berhasil meloloskan diri dengan sedikit sisa hidupnya yang tersisa—dan kemudian, dia bertemu denganku.”

“Dan kemudian, dengan darahmu, dia akhirnya terselamatkan.” Oshino melanjutkan. “Dan kemudian, dirimu pun berubah jadi vampir.”

“… … Begitu rupanya. Makanya… tak heran jika pada akhirnya aku berhasil mengalahkan ketiga orang itu.”

Kurasa…

…daripada mengejutkanku, jawaban Oshino lebih jadi memuaskanku.

Perbedaan potensi yang ada—pada akhirnya menjadi penentu dari segala-galanya.

“Kenyataan kau memberitahu Kiss-Shot tentang bekas bimbel ini sebagai tempat perlindungan, apa itu maksudmu untuk penebusan atau semacamnya? Kau bahkan sampai membuatkan medan pelindung begitu kita ada di dalam…”

“Penebusan? Aku enggak berbuat apa-apa yang sampai perlu ditebus, asal kau tahu. Sebab, keadaan inipun merupakan kesimbangan. Keterlibatanmu telah sekali lagi menggerakkan timbangannya.”

“Timbangan?”

“Bagaimana sang Penakluk Fenomena Ganjil mengangkat seorang bawahan merupakan suatu hal yang tak terduga. Terlalu tak terduga. Sejauh urusanku sih, ceritanya mestinya tamat begitu jantungnya berhasil kuperoleh. Tapi dengan begini, ceritanya jadi disetel ulang.”

“Disetel ulang…”

Setelah Oshino mengataknnya sekarang—tiga orang itu juga mengatakan hal yang sama. Kiss-Shot menciptakan seorang bawahan bagi dirinya merupakan sesuatu yang terlampau tak terduga, seakan-akan dia…

…semacam penganut.

Semacam penganut keyakinan untuk tak menciptakan bawahan…

“Meski begitu, meski segalanya kusetel ulang, Heart-Under-Blade untuk kali ini telah terlampau dilemahkan—dengan satu lawan tiga, ditambah kau, si bawahan, dua lawan tiga, tentu saja keadaannya tetap tak seimbang.”

“… …Lalu, soal yang kau secara kebetulan berpapasan dengan Kiss-Shot yang kebetulan sedang menyeretku, lalu soal gimana kau kebetulan berpapasan pas aku sedang diserang oleh mereka bertiga, itu semua sengaja? Aku enggak bisa enggak ngerasa kalau kemunculanmu waktu itu tak masuk akal—jadi itu alasannya.”

Termasuk fakta bahwa Kiss-Shot memberitahuku soal bangunan bekas bimbel ini.

Termasuk fakta bahwa Oshino telah menyelamatkanku dari mereka bertiga.

Semua itu dilakukannya untuk mempertahankan keseimbangan—jadi itu rupanya alasannya.

“Sebenarnya, semua terjadi berkat kebetulan belaka.” Oshino mengatakannya dengan nada seolah ia mempermainkanku. “Kamu saja yang selama ini beruntung.”

“… … …”

Walau menurutku pribadi alasannya tak mungkin sekedar itu, secara tak terduga, kalau dipikir ulang, mungkin bisa saja alasannya memang benar-benar cuma itu.

Karena kau cuma bisa meninjau sebuah fenomena sesudah fenomena bersangkutan berakhir.

“Itu berarti—cuma dengan memperoleh kembali tungkai-tungkainya semata, Kiss-Shot takkan bisa pulih kembali ke tubuh primanya yang sesungguhnya…”

Walaupun aku memperoleh kaki kanan, kaki kiri, dan kedua belah lengan.

Selama jantungnya tetap tak ada… keadaannya bisa fatal.

“Tentu saja.” Oshino mengangguk terhadap kata-kataku. “Karenanya kau, sesudah ini, harus mengambil jantung itu kembali dariku—karena sekalipun sang Penakluk Fenomena Ganjil memperoleh kembali kedua lengannya, tetap saja kau yang akan memiliki kekuatan vampir terbesar. Dalam ronde keempat, pertarungan antara kau dan aku—seharusnya aku akan bisa mendatangkan keseimbangan dengan itu.”

“…Bertarung… aku, melawanmu?”

Seharusnya.”

“Seharusnya, kau bilang?”

“Padahal aku sudah memberikan tanda-tanda di sana-sini kalau musuh terakhir yang harus kau lawan adalah aku, termasuk dengan mengatai kalau kau payah dalam mengerjakan pekerjaanmu, tetap saja semua sia-sia.”

“Err, tanda-tanda itu masih kurang jelas.”

Pada akhirnya upayanya sama sekali tak efektif.

Kata-katanya terlalu tersamar.

Dan lagipula, aku tak ingat kau pernah mengataiku payah dalam mengerjakan pekerjaan.

Pastinya kau sendiri yang terlalu berlebihan memikirkannya dan kau bahkan tak perlu orang untuk membuatmu sadar akan hal itu…

“Itu bukan lagi maksudku.”

Oshino, kali ini sembari menahan rokok itu dengan malas di mulutnya, hanya dengan pergerakan bibirnya saja, menunjuk dengan rokoknya jantung yang tengah kupegang pada tanganku.

“Begini, itu sekarang sudah kukembalikan padaku, ‘kan?”

“Ha… hah?”

“Kalau kau mau menyebutnya penebusan, maka ya, ini penebusan. Aku benar-benar minta maaf soal apa yang terjadi pada Nona KM. Ini benar-benar tak wajar ada orang biasa yang sampai terlibat semuanya sampai sedalam ini. Karena normalnya—orang-orang melarikan diri dari fenomena-fenomena ganjil. Gadis itu, kurasa sedikit abnormal. Aku tak bisa menjelaskannya dengan bahasa yang baik…”

“… … …”

Hanekawa Tsubasa.

Bukan pengorbana diri—melainkan pemuasan diri.

Bahkan tatkala dirinya nyaris terbunuh oleh Guillotine Cutter… yang dikhawatirkannya tetap adalah aku.

Lalu setelah segalanya berakhir, bahkan tanpa mengatai apapun untuk menyalahkanku, dirinya malah mengatakan hal-hal absurd seperti, “Maaf. Aku tertangkap terlalu gampang. Mestinya aku lebih hati-hati…”

“Kalau aku boleh ngomong secara terbuka di sini…” Oshino bergumam, seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Kebaikan hati sampai sejauh itu justru akan bikin aku merasa enggak nyaman.”

“… Enggak semestinya kau mengatakannya dengan cara itu.”

“Itu sesuatu yang pastinya sempat kau rasakan juga. Apa aku salah?”

Oshino mengatakan itu seakan dirinya bisa sepenuhnya membacaku.

Seperti biasa—sayangnya, kenyataannya memang persis seperti apa yang ia bilang.

Aku sempat mengucapkan hal serupa pada Hanekawa.

Tapi bahkan sesudah dibilang soal itupun… Hanekawa tetap tak berubah.

“…Gadis itu, dia seperti memaksakan kebaikan pada dirinya sendiri, ‘kan? Tentu saja, aku enggak akan serta-merta bilang kalau itu salahnya. Pada kenyataannya, meski aku berhasil menolongnya dengan siasat buatanku, yang menjalankan siasat itu tetap kamu juga—dan aku memang tak merasa aku bisa begitu saja memperbaikinya dengan apa yang terjadi kemarin malam.”

Oshino, hanya saat mengatakan kata-kata itu—dengan cara yang sama seperti kemarin, memasang ekspresi datar.

“Ya ampun, ini benar-benar kegagalan memalukan. Kau bahkan bisa bilang kesalahanku telah mencemar nama baik seluruh Oshino yang ada di Jepang.”

“Kau tak perlu sampai membawa-bawa semua orang bernama Oshino yang ada di Jepang dong.”

“Hahaa. Karena itu, anggap saja jantung itu sebagai pengganti kado hiburan, Araragi. Aku memberikannya dariku sepenuhnya dengan maksud baik.”

“Hadiah hiburan…”

“Pada kondisi sekarang, aku orang yang mempertahankan hubungan-hubungan saling percaya. Dengan ini, keseimbangan—meski mungkin dengan cara agak rumit, saat ini telah terjaga.”

Oshino…

…berkata demikian, lalu bangkit dari kursinya.

“Kaki kanan. Kaki kiri. Lengan kanan. Lengan kiri. Lalu jantung. Dengan ini, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade telah memperoleh kembali bagian-bagian tubuhnya yang hilang. Dengan kata lain, dengan ini kau juga akan bisa berubah kembali menjadi manusia. Izinkan aku mengucapkan selamat padamu lain waktu—bukannya mestinya kau senang?”

“… … Entahlah. Sejujurnya, perasaanku campur aduk.” jawabku. “Aku merasa kalau semuanya seperti telah direncanakan.”

“Kau terlalu berlebihan memikirkannya. Jika kita berasumsi kalau memang ada seseorang di luar sana yang merencanakan semua ini, maka aku, juga, adalah salah satu yang menjadi bagian rencananya.”

“Kelihatannya enggak demikian, lho.”

“Terlepas dari apakah itu kelihatan apa engga, memang begitu faktanya. Araragi, kau agak terlalu memandangku tinggi sekarang. Bahkan aku pun punya hal-hal yang bisa dan tak bisa kulakukan. Aku punya kecerdasan, tapi aku bukan orang cerdas, asal tahu saja.”

“… … …”

Dirinya rupanya benar-benar orang yang menyebalkan.

“Aku mungkin melerai, tapi aku tak pernah bersekongkol. Oh ya, Araragi, aku tanyakan ini karena sekedar ingin tahu, tapi belakangan, apa kau tak pernah merasa lapar?”

“Hm? Yah—kurasa aku pernah mengatakannya sebelumnya, tapi semenjak aku berubah jadi vampir, mungkin karena faktor keabadiannya, aku tak benar-benar merasakan nafsu makan belakangan.”

“Ah, begitu ya.”

“Ada yang salah dengan hal itu?”

“Adakah? Yah, mungkin semuanya.”

“Semuanya…?”

“Yah, aku cuma merasa sudah waktunya kau mulai merasa lapar seputaran ini. Bagaimanapun, waktu dua minggu telah berlalu lagi—hahaha. Pasti berat buatmu. …Sampai jumpa, Araragi. Sesudah kau berhasil balik jadi manusia dengan aman, pastikan buat enggak bertindak serampangan lagi. Orang-orang yang pernah menemui fenomena ganjil sekali akan cenderung gampang bertemu fenomena ganjil lagi. Jadi berhati-hatilah.

Sembari berbicara—bahkan tanpa mengembalikan kursi yang tadi didudukinya ke tempatnya semula, Oshino berjalan keluar ruangan, meninggalkanku dalam keadaan masih terduduk.

“Hei, memang kenapa—kau jangan bicara seolah sekarang kau mau pergi.”

“Aku memang mau pergi. Pekerjaanku sudah tuntas—hasilnya sepertinya gagal sih, tapi tetap saja, apa yang tuntas tetaplah tuntas, apa yang sudah berakhir tetap saja berakhir. Ah, benar juga, Araragi. Tentang bagian dua juta yenmu dan bagian tiga juta yen Nona KM, dengan total lima juta yen, anggap saja sekarang kita chara.” *chara=impas*

Cha… charai?” *charai=main-main

“Hei, yang seperti itu sih aku. Aku bilang, impas. Menyeimbangkan satu sama lain. Kegagalanku, dan jantung Heart-Under-Blade. Yah, mungkin nilainya sendiri tak benar-benar pas. Tapi anggap saja ini bagian pelayananku yang enggak dipungut biaya.”

“… … …”

“Kau tak perlu melotot seperti itu. Tak ada kerugian apa-apa di sini—mungkin tampangku enggak demikian, tapi sebenarnya aku jenius. Selama bisa mendatangkan keseimbangan, aku tak mau terlalu mempermasalahkan bagaimana caranya. Yah, sampaikan saja salamku pada Nona KM.”

“Kau tetap enggak mau menemuinya?”

“Ya. Bagaiamanapun semuanya juga berakhir tanpa pertemuan—yah, bisa kubilang, aku tak merasa perlu memaksa untuk bertemu dengannya.”

“Yah, kau mungkin benar sih. Walau urusan dengan tiga orang itu telah berakhir, sekalipun kalian bertemu, itu enggak berarti dia bakalan terlibat sesuatu yang aneh lagi, ‘kan?”

“Jangan buat aku memikirkannya. Itu bikin aku canggung, tahu. Di samping itu…”

Di samping itu, Oshino mengatainya sekali lagi.

Sesudah itu.

“Gimanapun, gadis itu membuatku merasa tak nyaman.” katanya. Secara jelas—dengan penuh nada pahit.

“Yah, walau tadi aku bilang mau pergi, untuk sementara waktu aku memutuskan buat berkeliaran lebih lama di kota ini. Jadi kalau suatu saat kau melihatku di jalan, jangan segan-segan menyahut, ya?”

Lalu seakan berubah sikap, Oshino tertawa riang.

“Ngomong-ngomong, kalau kau masih saja merasa berhutang padaku—begini saja, cari dan kumpulkan saja untukku semua kabar burung dan cerita aneh, mitos-mitos fenomena ganjil, yang beredar di kota ini. Bagaimanapun, bidang kekhususanku adalah soal itu. Kuharap kau bisa memaafkanku buat masalah seperti yang satu ini—bukan berarti sejak awal aku menyukainya sih.”

Apa?

Bahkan saat mengatakan ini, dengan kecepatan langkah tak berubah, Oshino membuka kembali pintu dengan gagang rusak, melangkah keluar ke lorong, dan begitu saja, menutup kembali pintunya.

Bahkan kata-kata perpisahan pun tak ada.

Ngomong-ngomong soal itu—rasanya aku memang belum pernah melihatnya mengucapkan kata-kata perpisahan pada siapapun.

Seremeh apapun adegan perpisahannya… Oshino tetap akan selalu menjalaninya dengan tawa riang.

“Yang benar saja.”

Masih merasa berhutang padanya? Yang benar saja.

Tak mungkin aku merasa seperti itu. Terlepas apakah semua ini direncanakan atau tidak, sebagian masalahku berakar darimu juga.

Tentu saja—berkatmu pula aku bisa terselamatkan sih.

Salah.

Seandainya aku mengatakan kalimat itu padanya, kira-kira dia menanggapinya seperti apa ya?

Yang menyelamatkanmu adalah dirimu sendiri—kurasa dia akan mengatakan sesuatu seperti itu.

“…Yah, dengan ini, lengan kanan, lengan kiri, dan jantung, GET!”

Dari Guillotine Cutter, lengan-lengannya.

Dari Oshino Meme, jantungnya.

Setiap bagian yang hilang kini telah terkumpul semuanya.

Setelah sekian lama, waktu pemulihan sepenuhnya dari sang berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin, sang Penakluk Fenomena Ganjil, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, akhirnya telah tiba.

—————–

Catatan:

Sebenarnya, ada permainan kata pada saat Oshino berbicara soal bagaimana dirinya adalah lawan terakhir. Dia ngatainnya ‘last boss’ = rasubora; ‘payah dalam mengerjakan pekerjaan’ = zubora.

22/09/2012

Kizumonogatari – IND (013)

Belum kuedit.

———————————-

013

Guilotine Cutter.

Pria dengan gaya rambut berbentuk landak yang berpenampilan seperti pendeta katolik.

Memiliki mata sipit yang membuatnya terlihat seperti orang yang tenang.

Seorang manusia.

Seorang manusia—penyangkal fenomena-fenomena ganjil.

Seorang manusia—penghapus fenomena-fenomena ganjil.

Dirinya tak membawa senjata.

Seorang spesialis pengusiran vampir yang mengandalkan kekuatan iman.

Kiss-Shot menyebutnya sebagai paus dari sebuah ‘agama baru’, sekaligus komandan bayangan tim rahasia yang melayani umbra divisi keempat dari kesatuan penjagaan khusus kegelapan.

Episode yang setengah vampir menyebutnya sebagai seorang biarawan yang licik. Bahkan Kiss-Shot nampak memiliki kewaspadaan sampai tingkat tertentu terhadapnya.

Inilah… Guillotine Cutter, yang telah mencuri kedua belah lengan Kiss-Shot.

“Oh, kau benar-benar berlari sampai kemari. Usahamu sangat layak dihargai! Namun, kenyataan kau tak berubah wujud menjadi kabut merupakan pertanda kalau kau masih belum mahir melakukan ini.”

Guillotine Cutter berkata… dengan nada bicara yang terlalu sopan—sembari menyipitkan mata saat melihat kedatanganku.

“… … …!”

Aku tak sanggup berkata-kata.

Tak ada kata apapun yang bisa kuucap.

Kami kini berada… di lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu.

Di tempat yang sama di mana, pada penghujung bulan lalu, aku bertarung dengan Dramaturgie, dan di mana aku bertempur dengan Episode persis pada malam sebelumnya—Guillotine Cutter telah menantikan diriku.

Dia merangkul di sebelah lengannya tubuh dari Hanekawa Tsubasa.

Tangannya yang tak membawa senjata apapun…

…kini tengah mencengkram leher Hanekawa secara erat.

“A… Araragi…”

Keadaan Hanekawa… untuk saat ini masihlah aman.

Dirinya tak terluka, dan dirinya tak sampai dibuat tak sadarkan diri.

Tentu saja.

Alasannya karena… Hanekawa tengah dijadikannya sandera terhadapku.

Jika keadaannya tak aman, maka keberadaannya di sini takkan berarti.

Untuk saat ini.

“Ma… maaf, aku…”

“Mohon agar kalian tidak seenaknya mengobrol di hadapanku.”

Tiba-tiba saja, Guillotine Cutter menambahkan sedikit tekanan pada jari-jemarinya yang mencengkram Hanekawa.

Guillotine Cutter dengan mudah memaksa Hanekawa untuk tetap diam.

Terbatuk, dari dalam tenggorokan Hanekawa, ada sedikit udara yang terdorong keluar.

“H-Hei! Hentikan!”

Kupikir, memprovokasinya saat ini bukanlah ide yang bagus. Tapi karena aku tentu saja tak tahan berdiam diri, secara alami, aku berteriak.

“Ya?”

Dengan nada bicara yang teramat sangat tenang, Gullotine Cutter bersuara.

“Adakah sesuatu yang mungkin kau perlukan, wahai Tuan Monster?”

“Hanekawa… dia… dia perempuan.”

“Aku bukanlah orang yang suka membedakan perlakuan antara jenis kelamin.”

“Tapi… dia… cuma orang biasa.”

“Tepat sekali. Sebab jika tidak demikian, maka tentu dirinya takkan kujadikan sandera.”

“Jang…”

Aku…

Aku tak tahu lagi bagaimana caranya aku bisa berbicara.

“Jangan… jangan lakukan sesuatu yang menyakitinya…”

“Menyakitinya? Maksudmu, sesuatu yang seperti ini?”

Dengan tangan masih menempel di pangkal lehernya, Guillotine Cutter secara perlahan mengangkat tubuh Hanekawa. Seolah-olah kini Hanekawa tergantung dari leher.

“U… Uuugh!”

Hanekawa—meringis dengan menahan sakit.

Sedangkan sebagai tanggapan, Guillotine Cutter…

“Dirimu mengesalkan.”

…menurunkan lengannya dan membiarkan kaki Hanekawa menjejak bumi.

Namun, Hanekawa masih tak diizinkannya untuk hanya sekedar batuk. Tak bisa kubayangkan tindakan macam apa yang akan Guillotine Cutter lakukan bahkan sebagai tanggapan atas sebuah reaksi psikologis.

Aku—begitu saja—tiba-tiba menjadi lemas.

“Kau… kau…”

Semenjak awal, aku sama sekali tak ada maksud untuk meremehkan.

Pastinya, aku sama sekali tak meremehkan kata-kata peringatan yang telah Episode dan Kiss-Shot berikan padaku—namun, seperti biasa, tetap tak ada apapun yang berhasil aku pahami.

Guillotine Cutter.

Mungkin pada saat aku mengetahui dirinya hanya ‘manusia’ sebagian diriku merasa lega. Karenanya, mungkin aku menjadi sedikit lengah. Sebab setidaknya, dirinya tidak memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan manusia, atau keabadian yang dimiliki vampir dan separuh vampir—kukira tingkat kesulitan yang akan kuhadapi telah berkurang.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Orang ini mengambil sandera tanpa pikir panjang sama sekali.

“Ini, kali ini, sepenuhnya salahku.”

Oshino.

Kembali ke puing-puing gedung bimbel, saat Kiss-Shot baru saja akan bangun—sesudah memberitahuku soal penculikan yang telah menimpa Hanekawa, dirinya mengatakan itu dengan ekspresi sungguh-sungguh menyesal.

Ini bukan lagi saat baginya untuk bersikap main-main.

“Segalanya masih baik-baik saja sampai kemarin; aku bahkan sudah sekalian melibatkan Nona KM dalam kontrak pada malam harinya. Tapi tetap saja di akhir, aku salah perhitungan. Masalah Episode melempar salibnya ke Nona KM, itu masih termasuk bagian dari pertarungan. Tapi, biasanya, manusia yang hidup di dunia ini, terutama mereka-mereka yang ada dalam situasiku, beneran takkan sampai sudi melibatkan orang normal…”

“Tunggu, jadi itu alasan kau selama ini menghindari Hanekawa?”

“Bukannya aku sengaja menghindarinya. Pastinya, aku memang berharap agar kami enggak perlu sampai bertemu. Dia bicara denganku saja kurasa lebih baik jangan. Soalnya, aku juga sebenarnya enggak menginginkan keterlibatan orang normal, enggak terbatas pada Nona KM saja. Aku enggak akan berusaha mencegahnya, tapi aku enggak akan mengusahakan agar itu sampai terjadi juga—prinsipku selama ini memang begitu. Namun, Guillotine Cutter…

Dia seakan tak ragu sama sekali, kata Oshino.

“Sedikitpun dia enggak gentar—semua upayaku berakhir sia-sia. Aku salah total dalam membaca bakat dan kemampuan dari pihak musuh kita.”

“…Tapi kenapa Hanekawa—maksudku, mestinya dia tak tahu apa-apa soal tempat ini, ‘kan?”

“Bisa jadi selama ini dia mengawasi. Mungkin—pas pertarunganmu dengan Episode. Atau bahkan semenjak pertarunganmu dengan Dramaturgie. Aku sudah mencoba menghindari itu dengan bernegosiasi dengan ketiga orang itu secara terpisah—tapi kayaknya aku tetap kalah cepat tanggap dalam hal ini.”

Seperti halnya saat bagaimana Hanekawa secara diam-diam sempat mengawasiku dari balik gedung sekolah.

Seperti halnya saat bagaiamana Oshino diam-diam mengawasi pertarunganku dari suatu tempat.

Guilotine Cutter juga—sebenarnya secara diam-diam turut mengawasi.

“Meski kau dikuntit, medan pelindungnya masih akan bekerja. Tapi Nona KM kan bukan tinggal di sini—lambat laun kalau kau bersabar kau pasti bakalan bisa menemukannya juga.”

“… … …”

Hanekawa meninggalkan medan pelindung ini sesudah berpisah denganku.

Sudah jelas Guilotine Cutter menemukannya dalam perjalanannya pulang.

Atau bahkan, mungkin orang itu menculik Hanekawa dengan menungguinya di rumahnya sendiri.

“…Apa yang harus kulakukan?”

Aku bertanya pada Oshino.

“Brengsek, sekarang apa yang mesti kulakukan?!”

Anehnya—aku tak bisa menemukan kata-kata untuk bisa menyalahkan Oshino.

Apa tindakanku sekaranglah yang merupakan hal terpenting untuk saat ini.

Tapi tak ada gagasan apapun yang muncul dalam kepalaku.

“Kesepakatannya masih belum berubah, Araragi. Kau dan Guillotine Cutter akan berhadapan satu lawan satu. Jika kau yang menang, Araragi, Guillotine Cutter akan mengembalikan kedua lengan Heart-Under-Blade. Sebaliknya, kalau dia yang menang, kau mesti memberitahunya tempat persembunyian Heart-Under-Blade.”

“…Lalu bagaimana soal Hanekawa?”

“Hanekawa tak dihitung dalam kesepakatan. Kurasa, Guillotine Cutter memandangnya sebagai alat yang mungkin bisa dia manfaatkan—salah, sebagai senjata.”

“Senjata…?”

Seperti halnya kedua pedang panjang Dramaturgie.

Seperti halnya salib raksasa milik Episode.

Sebagai senjata pilihannya, Guillotine Cutter akan menggunakan… Hanekawa.

Guillotine Cutter dalam hal ini telah dipersenjatai Hanekawa.

“La-lalu tempat dan waktunya?”

“Ditentukan olehnya. Tempatnya masih sama seperti biasa, lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu—kenyataan dia memilih tempat itu adalah bukti bagaimana dirinya telah mengawasimu sejauh ini. Lalu waktunya adalah malam tanggal 5 April.”

“Eh?”

“Dengan kata lain: malam ini.”

Itu penetapan waktu yang terkesan sangat tergesa. Tapi bila memikirkannya dari sudut pandang Guillotine Cutter, meski memuakkan, aku tak bisa tak mengerti.

Hanekawa tak lebih dari orang biasa.

Di samping itu, tak sepertiku yang bodoh, Hanekawa murid teladan—bahkan aku pun akan khawatir bila harus keluar rumah malam-malam. Seandainya untuk satu malam saja dirinya tak pulang ke rumah, aku yakin kedua orangtuanya pasti akan menghubungi polisi.

Guillotine Cutter hendak menuntaskan segalanya sebelum hal itu terjadi.

Cara kerjanya mungkin memang busuk. Tapi tak bisa kusangkal, Guillotine Cutter tetap seorang profesional.

Dia akan membereskan urusannya sebelum suatu kehebohan terjadi—tapi ini bukan berarti keselamatan Hanekawa dijamin olehnya sih.

Sebaliknya, aku sedikit berpikir kalau Guillotine Cutter takkan bebas membiarkan begitu saja Hanekawa yang terlanjur memiliki pengetahuan tentang seluruh situasi ini.

Bagaimanapun—soal keinginan menghindari kehebohan itu, bagiku, nampaknya itu sesuatu seharusnya bisa kumanfaatkan.

“Tepat sekali.”

Demikian Oshino berkata.

“Semangatnya seperti itu dong, Araragi.”

“Oshino…”

“…Aku mengatainya seperti apapun, yang terjadi memang salahku. Karenanya, kuberi kau satu petunjuk lagi buat kali ini. Sebuah rencana buat menyelamatkan Nona KM. Jika kau bisa melakukan itu, pastinya kau akan bisa menaklukkan Guillotine Cutter.”

“…Bahkan dengan Hanekawa sebagai sandera pun?”

“Ya.”

Oshino mengangguk.

“Pertama—lupakan semua soal tokoh-tokoh utama komik-komik Gakuen Inou Batoru.”

Oshino melanjutkan.

“Sehabis itu, tanggalkan kemanusiaanmu.”

Sudah tak banyak lagi waktu yang tersisa.

Sudah tak banyak lagi waktu yang kupunya untuk hanya khawatir.

Karenanya, sesudah Oshino mengucapkan kata-kata itu, aku tak punya banyak pilihan selain mengaikuti strategi yang diajarkannya padaku. Resiko menyiapkan sebuah strategi sebelum pertarungan—dalam hal ini, resiko jika aku menjadi gugup dan kebingungan seandainya strategi itu gagal—terlepas dari semuanya, untuk kali ini resiko itu akan kuambil.

Meski kini sudah pertarunganku yang ketiga lagi, tetap saja tak ada apapun yang bisa kumanfaatkan dari pengalaman yang kuperoleh.

“Berhubung Dramaturgie dan Episode sudah terlanjur pulang ke kota mereka masing-masing—sebenarnya sangat menyebalkan bagiku untuk menjadi lawanmu sendirian. Kalau tak ada sandera yang bisa kupergunakan, akan sangat susah bagiku untuk menandingimu, bukan?”

Guillotine Cutter mengatakan semua itu tanpa sedikitpun ekspresi getir maupun penyesalan.

Dengan pandangan matanya yang sipit itu, dirinya tersenyum, seakan tengah menghibur dirinya sendiri.

“Keduanya benar-benar terlalu jujur, bahkan buat kepentingan mereka sendiri. Dramaturgie telah mengembalikan kaki kanan Heart-Under-Blade, dan Episode telah mengembalikan kaki kirinya. Mungkinkah ini yang mereka sebut sebagai kode etik kehormatan? Murahan sekali.”

“… … …”

“Dengan kata lain, Heart-Under-Blade pastinya telah pulih sesuai keadaannya itu. Hei, bekas bocah manusia, bawahannya Heart-Under-Blade, jika aku melawanmu secara langsung, maka jelas tak mungkin bagiku untuk melukaimu.”

Mau bagaimanapun juga, aku tak punya tubuh yang abadi—itulah yang sedang dikatakannya padaku.

Itulah yang dikatakannya padaku tanpa kegetiran sama sekali.

“Apa… Apa yang akan kaulakukan terhadap Hanekawa?”

“Aku takkan melakukan apa-apa sama sekali. Asalkan, kau juga tak melakukan apa-apa sama sekali.”

Guillotine Cutter dengan cepat menjawab.

“Seandainya kau ingin aku melakukan sesuatu terhadap gadis manusia ini, aku akan melakukannya lho—selalu memudahkan karena taktik tawanan selalu bisa dipakai untuk mereka-mereka yang baru menjadi bekas manusia. Dengan vampir sejati sebagai lawan, siasat ini takkan berguna—atau mungkin bila sanderanya adalah bawahan sang vampir sendiri, mungkin ceritanya akan berbeda? Mau coba? Kau yang akan kujadikan sandera pertama buat Heart-Under-Blade?”

“…Jangan bercanda.”

“Aku sangat serius.”

Dengan cepat…

Seakan dirinya menggunakan tubuh Hanekawa sebagai tameng, Guillotine Cutter mengarahkan tubuh Hanekawa kepadaku.

Seakan—tubuhnya tak lebih dari alat.

Seakan—tubuhnya benar-benar adalah alat.

“Aku tak mempunyai tenaga super seperti yang dimiliki oleh kalian, tapi aku masih punya tubuh yang terlatih. Kalau hanya seorang gadis saja—aku masih bisa membunuhnya dengan mudah.”

“Guh…”

Kurasa bisa jelas kulihat kalau Guillotine Cutter memiliki tubuh yang terlatih.

Kenyataan itu terlihat jelas dari bagaimana ia menangani Hanekawa dengan hanya satu tangan sejauh ini—namun yang telah Guillotine Cutter tempa sejauh ini sebenarnya bukanlah badannya, melainkan kekuatan tekadnya.

Secara mental, dirinya terlampau kuat.

Dalam situasi seperti ini—tak ada satupun celah yang ia perlihatkan.

“Secara kebetulan juga, aku takkan membunuhnya dengan cara yang akan memberinya waktu untuk bisa pulih kembali, seperti halnya yang terjadi dengan Episode—akan kuremukkan otaknya dengan sekali serang. Jika kuhancurkan organ kompleks seperti otak seorang manusia, bahkan dengan darah bawahannya Heart-Under-Blade sekalipun, pemulihan sempurna sudah takkan lagi mungkin, bukan begitu?”

“…Kau masih menyebut dirimu manusia?”

“Oh tidak. Aku ini Tuhan.”

Guillotine Cutter…

…dengan satu tangan di hadapan dadanya, dengan lantangnya menyatakan diri.

“Sudah menjadi ketetapan bahwa orang-orang sepertimu yang menentangku sudah selayaknya tak ada. Atas nama Tuhan, atas namaku sendiri, aku bersumpah—aku takkan membiarkan makhluk sepertimu ada.”

“… … …”

“Walau seandainya kau bersedia menjadi rekanku, seperti halnya Dramaturgie dan Episode, mungkin layak bagiku untuk membiarkanmu hidup?”

“… …Aku menolak.”

Bahkan sebelum sadar dengan apa yang ingin kukatakan, aku sudah menjawab.

Mendengar undangan itu keluar dari mulutnya saja sudah membuatku merinding.

Tuhan apanya.

Di mataku juga, kau tak lebih dari seekor monster.

Oshino Meme saat ini mungkin sedang mengawasi apa-apa yang tengah terjadi seperti yang telah dilakukannya selama ini—namun bagaimanapun juga, dirinya tak bisa melibatkan diri. Ini pertarungan satu lawan satu—itulah hasil negosiasi yang telah diusahakannya.

Dia tak punya pilihan selain menutup mata terhadap keadaan si sandera.

Ada juga kemungkinan keluarnya Kiss-Shot untuk menolongku. Tapi aku tak mau mengambil resiko terbunuhnya Kiss-Shot oleh Guillotine Cutter sesudah keadaan sampai ke titik ini—keadaan Kiss-Shot masih jauh dari sepenuhnya pulih.

Lalu, seandainya saja Kiss-Shot memang bisa menang, jika begitu tetap saja kedua lengannya takkan bisa ia peroleh kembali. Jadi keadaannya akan serba salah bahkan bagi dirinya juga.

Maka dari itu…

Aku… sekarang, tak mempunyai pilihan selain memberikan prioritas tertinggi pada nyawa Hanekawa.

“Begitu ya.”

Tanpa menunjukkan rasa kecewa sedikitpun, Guillotine Cutter mengangguk.

“Jujur saja, kupikir tak mungkin makhluk baru sepertimu akan bisa mengalahkan Dramaturgie dan Episode. Asal tahu saja, keduanya secara tak terduga benar-benar menyedihkan.”

“Kau enggak pantas bicara begitu… kau tak keluar semenjak awal itu karena kau hendak memakai dua orang itu buat mengujiku ‘kan? Jadi begitu giliranmu tiba, kau tinggal memilih siasat yang cocok untuk dipakai melawanku!”

Oshino memang menjalankan negosiasinya dengan tiga orang itu secara terpisah. Tapi yang pada akhirnya menentukan giliran pertarungan masing-masing tidak lain adalah mereka bertiga.

Dramaturgie menjadi orang pembuka, Episode bilang giliran berapapun tak menjadi masalah baginya. Namun Guillotine Cutter—semenjak awal memang berkeinginan menjadi pemukul terakhir.

“Bukannya aku sengaja berpikir terlalu dalam tentang ini. Hanya saja, Episode memang menyerahkan soal urutan pertarungan itu padaku, yang menjadi atasannya, dan soal Dramaturgie… dia ingin menjadi pemain pertama karena berkeinginan untuk mendapat bayarannya. Ah, tidak… kalau kupikir sekarang, Dramaturgie sempat mencoba membuatmu menjadi temannya, bukan? Maka dari itu pastinya ia berpikir bahwa kau mungkin bisa saja terlanjur dikalahkan oleh Episode atau aku sebelumnya. Yah, tentunya, bukannya aku tak berpikir seperti yang kau bilang, tapi pada akhirnya, seandainya salah satu dari mereka yang berhasil memusnahkan Heart-Under-Blade, tetap saja di akhir yang diakui jasanya adalah nama gerejaku.”

“… … Jadi pada dasarnya kau cuma ingin jalan mudah.”

Pastinya yang menawarkan bayaran buat nyawa Kiss-Shot itu sebenarnya kamu juga.

Tapi kalau begitu, apa tujuannya?

Jika tujuan Dramaturgie adalah untuk mendapatkan semacam bayaran atau undangan, maka bagi Episode, bayarannya baginya pasti menempati posisi nomor dua sesudah perasaannya sendiri—itulah alasan kenapa dia tak mempermasalahkan urutan gilirannya—dan karena itu, kira-kira tujuan Guillotine Cutter sendiri apa?

Dalam hal ini, kurasa sudah jelas.

Motivasinya pasti keyakinan dan keimanannya sendiri.

“Yah, buatku, memang tak masalah. Aku bukanlah orang yang enggan bekerja keras—demi memperbaiki dunia ini, aku tak akan melewatkan kemudahan satupun.”

Obrolan santai ini sudah terlampau panjang, kata Guillotine Cutter.

Memang, dirinya termasuk orang yang banyak bicara.

Mungkin banyak bicara memang sudah menjadi sifatnya—lidah yang lepas kurasa hal baik, aku bisa mengatakan kalau itu pertanda bahwa dirinya tengah ceroboh.

Ada dua cara mengalahkan seorang musuh yang posisinya di atas angin.

Yang pertama adalah menang dengan membiarkannya menjadi ceroboh, atau menang dengan membuatnya menjadi tegang.

Aku berpikir seperti apapun, buat kasus ini aku cuma bisa membuat Guillotine Cutter menjadi ceroboh.

Aku berhasil mengalahkan Dramaturgie dan Episode dengan cara ini.

Dan lalu…

Guillotine Cutter, sekarang, kini tengah ceroboh.

Sekalipun tak ada celah yang diperlihatkannya, kini dirinya tengah ceroboh.

Ada peluang bagiku untuk menang.

Namun, agar aku bisa melakukan itu…

Agar aku bisa melakukan itu, aku tak punya pilihan selain menanggalkan kemanusiaanku.

“Hanekawa.”

Kuabaikan kata-kata Guillotine Cutter, kemudian kupanggil Hanekawa, yang masih dengan erat digenggam olehnya.

“Semua akan baik-baik saja.”

Hanekawa tak bisa menjawab.

Alasannya karena dirinya tengah dicekik.

Hanekawa hanya bisa… menontonku.

Aku melanjutkan perkataanku.

“Aku pasti akan menyelamatkanmu.”

“…Menyusahkan sekali.”

Guillotine Cutter berkata dengan nada suara teramat tenang.

“Aku tak akan cukup melenakanmu dengan semua sandiwara teman masa sekolah ini. Tuhan, dalam artian aku, bersabda… kini sudah waktunya kita mulai.”

“Mulai, ya?”

Aku berkata, menghadap Guillotine Cutter.

“Memang aku bisa apa? Selama kau pakai Hanekawa buat sandera, aku tak bisa apa-apa. Dan lagipula, aku tak punya niat sedikitpun buat melakukan apa-apa. Aku sepenuhnya bakal menyerah terhadap kemauanmu—dalam situasi seperti ini, sama sekali tak punya arti.”

“Tuhan, dalam artian aku, mensabdakan ini—begitu pertarungan dimulai, kau harus mengangkat kedua belah tanganmu dan berkata, ‘Aku menyerah’. Dengan kata lain, pertarungan kita akan tertuntaskan persis pada saat akan dimulai.”

“Aku mengerti.”

Aku mengangguk tanpa keraguan.

Aku bahkan tak punya alasan untuk ragu.

“Kalau begitu, lepaskan Hanekawa sekarang.”

“Itu akan terlalu enak bagimu—tak mungkin aku akan melakukannya. Pelepasan sandera hanya akan dilakukan seusai pertarungan berakhir. Apa aku tampak seperti orang bodoh yang melepaskan senjatannya di tengah pertarungan?”

Apa itu juga… merupakan sabda Tuhan?

Jangan bercanda.

Hanekawa adalah senjata?

Dia… berbeda.

Dia berbeda dari kau… ataupun aku.

Kau bukan orang yang akan kubiarkan menyentuhnya!

“Araragi!”

Pada titik itu, Hanekawa… menjerit meski tengah dicekik.

Pada saat lehernya sewaktu-waktu seperti akan bisa dipatahkan.

Pada saat dirinya tengah diancam akan dilumatkan otaknya.

Bagaimanapun juga, dirinya menjerit.

“Jangan pedulikan aku!”

“Enggak mungkin aku berbuat begitu!” Aku balas berteriak.

Dan itulah… yang kemudian menjadi sinyal tanda dimulainya pertarungan.

Tentu saja, Guillotine Cutter tak bergerak—dirinya tak perlu melakukan apa-apa. Dirinya hanya membuka sedikit kedua matanya yang tipis—dan tinggal tertawa yang banyak terhadapku.

Dirinya menyuarakan tawa yang keras.

Tanpa berkeinginan mendengar tawanya—aku terus berteriak.

“Sudah kubilang, aku tak sudi kembali lagi jadi manusia bila aku sampai harus memanfaatkanmu!”

Karena itu, aku…

“Sebab jika aku tak bisa bertemu lagi denganmu, maka takkan ada artinya buatku berubah lagi jadi manusia!”

Aku tak perlu sampai mengangkat tanganku.

Pada saat pertarungannya dimulai, pada saat itu pula pertarungannya berakhir.

Keadaannya berkembang persis seperti yang Guillotine Cutter bilang.

“… …Eh?”

Hanya saja, yang menang, itu aku.

Kusingkirkan tubuh Guillotine Cutter dengan sekuat tenaga—lalu pada waktu bersamaan, aku merengkuh tubuh Hanekawa darinya.

Segalanya sederhana.

Segalanya begitu sederhana… dan mudah.

“Ka-kau—apa-apaan…” Guillotine Cutter merintih. “Jangan bilang… inilah kekuatan kaum vampir…”

“Salah. Ini kekuatan persahabatan!”

Namun, jarak antara aku dan orang itu tetap sedikit lebih dari sepuluh meter.

Guillotine Cutter tak mengizinkanku untuk mendekatinya lebih dari itu—bagaimanapun, sekalipun aku melemparinya dengan alat roller atau bola peluru, aku tak punya cukup keyakinan akan bisa mengenainya tanpa melukai Hanekawa yang digunakannya sebagai tameng.

Karenanya—tanpa sedikitpun bergerak…

…tanpa bergerak, jarak itu kudekatkan.

Aku mengubah wujud tubuhku.

“Enggak ada satupun jagoan di Gakuen Inou Batoru yang punya pemampuan kayak begini.”

Tak mungkin hal seperti ini ada.

Itulah yang si penjahat yakini.

Sebagaimana Dramaturgie mengubah tangannya menjadi sepasang pedang melengkungkuubah kedua lenganku menjadi tumbuhan, dan aku menjulurkannya ke depan sejauh mungkin. Mempertimbangkan banyak hal, pada akhirnya aku tak bisa menemukan bayangan pas untuk ‘memanjangkan tubuh’ dalam waktu singkat, maka dari itu aku mengubah bayangannya dengan menggantikan tubuhku dengan tumbuhan.

Bagaimanapun, gagasan soal tumbuhan sudah jadi keistimewaanku.

Karena setiap hari aku berpikir betapa enaknya jika aku bisa hidup sebagai tumbuhan.

Pastinya, aku tak pernah membayangkan diriku menjadi seekor monster—walau pada akhirnya gambarannya kurang lebih menjadi seperti itu.

Aku berpikir bahwa sekalipun kami berdua sama-sama vampir, tetap tak mungkin bagiku untuk melakukan apa-apa yang Dramaturgie lakukan—namun Oshino membantah hal tersebut.

“Kau bisa lari menysuri dinding, kau bisa lompat sejauh 20 meter.” Kemudian akhirnya dia bilang. “Kau juga pastinya akan bisa mengubah wujud badanmu—teorinya sama saja. Kepiting menggali lubang untuk meniru cangkang, kau tak harus terlalu terpaku pada bentuk tubuh manusia. Ini jurus yang pasti tak disangka oleh Guillotine Cutter yang mengira kau masih baru—karena itu, bayangkanlah suatu bentuk yang bukan manusia, dan kau tinggal ubah wujud badanmu.”

Aku tak mungkin bisa melakukan itu, jawabku.

Tapi Oshino kemudian mengatakan ini.

“Lalu, apa kau bisa mengabaikan Nona KM?”

… … … …

Dia benar-benar orang yang menyebalkan.

Kedua lenganku yang tumbuh tidak seperti pedang, tetap lebih seperti pohon-pohon besar, tak jauh berbeda dari pepohonan berusia tua yang ditemukan di pulau-pulau terpencil. Batang-batangnya bercabang selagi tumbuh, terlebih lagi, masing-masing cabang itu mengikuti kemauanku dan aku berhasil membuat masing-masing darinya meliuk sesuai yang kumau.

Untuk menghantam dada Guillotine Cutter.

Untuk melumpuhkan lengan Guillotine Cutter.

Aku bahkan berhasil memperoleh Hanekawa kembali.

Di satu sisi, mungkin aku bisa bilang kalau bayanganku mewujud dengan agak terlalu berlebihan.

Pastinya ini… sudah sama sekali tak serupa bentuk seorang manusia.

Aku telah menanggalkan kemanusiaanku.

Pada akhirnya, sepertinya aku pikir aku takkan mampu meniru Dramaturgie lebih karena aku masih belum menanggalkan kemanusiaanku—daripada karena aku masih belum kehilangan akal sehatku sebagai manusia.

Bagi diriku yang berkeinginan untuk bisa berubah kembali menjadi manusia, itu memang sesuatu yang pastinya takkan kulakukan, pikirku.

Aku tak bisa membayangkan diriku sebagai sesuatu selain seorang manusia.

Tapi prasangka itu… pada akhirnya, tetap tak lebih dari sebuah prasangka.

Karena pada kenyataannya, aku memang telah terlanjur menjadi seekor monster.

Begitu saja, kuhempaskan Guillotine Cutter ke tanah lapangan olahraga, membelitnya—akhirnya aku berhasil membuatnya tutup mulut. Aku tak tahu apakah yang dikatakannya memang benar kata-kata Tuhan atau bukan, tapi aku tak mau mendengar satupun kata-katanya lagi, jadi kusumpal mulutnya dengan akar belukar—dan akhirnya kubuat ia pingsan.

Tentu saja, aku tak membunuh.

Aku masih harus memperoleh kedua lengan Kiss-Shot kembali—di samping itu, jika aku melakukan hal semengerikan itu, itu semua karena salahmu.

Salahmu…

Aku sampai berpikir mungkin tak apa-apa jika aku tak bisa lagi kembali menjadi manusia.

“…Huff.”

Kupulihkan wujud kedua lenganku.

Seketika keduanya kembali ke bentuk lengan manusia kembali.

Apapun yang sampai kubayangkan, tetap saja keduanya lengan yang telah kulihat dan pakai selama 17 tahun… yang perlu kulakukan hanyalah mengingatnya saja. Karena aku sampai dibayangi ketakutan bahwa jika ini gagal, aku akan sampai harus memotong kedua lenganku sendiri, aku merasakan kelegaan luar biasa saat wujud kedua tanganku kembali.

Pada saat bersamaan, segera kutarik Hanekawa ke arahku.

“Hanekawa, kau baik-baik saja?”

Memeluk Hanekawa, aku memeriksa lehernya—bekas jemari Guillotine Cutter masih tampak, tapi tak ada pendarahan dalam. Jika begitu, maka semestinya bekas-bekas cekikan itu akan hilang sendiri. Lebih dari itu, sepertinya Hanekawa tak terluka.

Aku lega…

Benar-benar lega.

Ini membuatku bahagia lebih dari apapun.

“Ah… Ah, err, Araragi.”

Hanekawa, dengan keras, mendorongku menjauh dengan kedua belah tangannya. Aku tak tahu apa yang hendak dilakukannya, tapi nampaknya dia menginginkan agar aku menjauh.

“To-tolong lepaskan aku.”

“Ah… oke.”

Kulepaskan kedua tanganku dari bahunya, dan Hanekawa mengambil jarak dariku.

Sesudah kami sedikit menjauh…

“Um… Ha-Hanekawa…”

“Araragi… um, te-terima kasih.” Hanekawa mengucapkan itu dengan suara pelan, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Tapi… t-tolong jangan lebih dekat dari ini. J-jangan kemari. Jangan sentuh aku, maksudku.”

“…Eh?”

Sesudah… apa yang baru dilihatnya, mungkinkah Hanekawa menjadi takut?

Karena aku telah menyeretnya ke dalam semua ini?

Karena aku telah nyaris membuatnya terbunuh?

Atau karena bagaimana enganku berubah wujud—membuatnya terguncang?

Diriku yang telah menanggalkan kemanusiaanku… semengerikan itulah?

Mungkin… tapi, aku, pikir…

“Oh, b-bukan. Bukan itu.”

Hanekawa salah tingkah.

Sembari membetulkan bawahan roknya yang berantakan, ia kemudian berkata:

“Sekarang ini aku tak pakai dalaman.”

17/08/2012

Kizumonogatari – IND (012)

…Aku benar-benar enggak ada maksud apa-apa saat menerjemahkan bab ini.

Mohon jangan berprasangka yang aneh-aneh.

(Sori lama. Beneran sedang banyak ngebenahin diri belakangan.)

—————–

012

Mungkin penyebabnya karena perbedaan ukuran potongan kaki kiri yang dimulai dari pangkal paha dengan ukuran potongan kaki kanan yang hanya dari lutut. Perubahan Kiss-Shot sesudah memakan kaki kirinya sendiri itu dramatis. Aku memang dikejutkan oleh pertumbuhannya dari wujud 10 tahun ke wujud 12 tahun—tapi kali ini, sekalipun semenjak awal aku tahu tubuhnya akan berubah, aku tetap saja terkejut.

Begitu ia memperoleh kaki kirinya kembali, Kiss-Shot dalam sesaat saja sudah menyamai tampilan usiaku.

Tujuh belas tahun.

Bahkan dirinya mungkin telah menjadi lebih tinggi dariku.

Jelas, dalam interval antara usia 10 tahun dan 17 tahun, manusia biasa pun mengalami perubahan teramat besar pada penampilan mereka, dari masa ‘periode karakteristik seksual sekunder’ sampai ke ‘periode pertumbuhan’—untuk memberi contoh konkrit dalam hal ini, ukuran dada Kiss-Shot benar-benar jadi luar biasa.

Jika dirinya terus membusungkan dada sembari mengayunkan apa yang menempel padanya seperti sebelum ini, maka efeknya pasti luar biasa.

Bahkan dandanannya pun menjadi sedikit lebih dewasa, pada waktu yang sama, rancangan bajunya berubah menjadi sesuatu yang lebih chic. Rambutnya memanjang lebih jauh, dan ia satukan dalam sebuah kuncir.

Hasil akhirnya benar-benar mengesankan.

Sebab bagaimanapun tampilan awalnya, Kiss-Shot bagaimanapun juga telah berusia 500 tahun semenjak awal.

“Hmph.”

Kiss-Shot nampak puas.

Dirinya memang sudah terlihat begitu semenjak kaki kanannya kuperoleh kembali, tapi Kiss-Shot memang menampakkan kesan puas ini setiap waktu, dan karena ia tak pernah menyembunyikan rasa senangnya, bahkan aku, yang secara praktis bertindak sebagai ‘kaki tangannya’, menjadi ikut senang melihatnya.

Karena aku jadi merasa hasil kerjaku benar-benar berarti.

“Beta merasa keadaan badaniah beta telah jauh lebih baik—dapat engkau katakan, keabadian beta telah hampir kembali lagi.”

“Begitu ya. …Kalau begitu, buat pertarungan berikutnya, bisa kalau yang maju kau saja?”

“Sayangnya tidak, sebab nampaknya kekuatan-kekuatan vampir yang beta punya masih belum dapat beta gunakan. Yang beta maksud, lebih sulit bagi beta untuk mati dibandingkan sebelumnya. Mungkin beta sanggup menandingi Dramaturgie, tapi dalam keadaan beta sekarang, mengatasi Episode pun beta takkan sanggup.

Kiss-Shot, bagaimanapun juga, mengutarakan itu dengan nada sungguh-sungguh.

“Apalagi jika yang beta hadapi sebagai lawan adalah Guillotine Cutter.”

“… … … …”

Perkataanmu masih tetap sama—begitu pikirku saat itu.

Semenjak itu…

Pertama-tama, aku mengantar Hanekawa, yang luka-lukanya telah pulih, kembali ke rumahnya. Kupikir paling baik jika dirinya pulang sembari Oshino masih mengawasi Episode.

Bahkan, kenyataannya, untuk suatu alasan Oshino seakan enggan untuk bertemu Hanekawa (semenjak hari pertama, berkat serangkaian kebetulan luar biasa, Oshino maupun Hanekawa belum sekalipun pernah bertemu—mengingat rasanya tak mungkin bagi Hanekawa untuk lari darinya, pastilah Oshino yang menghindari Hanekawa dalam kasus ini) atau setidaknya, itulah yang kurasa—Hanekawa sendiri tampaknya menyadari hal ini, dan menerima doronganku untuk akhirnya pulang.

Sampai jumpa besok, katanya.

Dan ia pun pulang.

Sesudahnya, kesadaran Episode pulih kembali, kemudian dia, Oshino, dan aku bersama-sama memperbaiki lapangan olahraga yang jelas-jelas rusak berat. Kami mengubur kembali lubang-lubang di lapangan yang telah tercipta akibat tusukan salib raksasa Episode dengan kerja berat, selanjutnya kami pulihkan isi bak pasir kembali seperti semula, ditambah lagi sisa-sisa serpihan tubuh Hanekawa yang tersebar (jelas saja, tak peduli berapa lama kami menunggu, tak kunjung lenyap juga) selanjutnya kami buang (kami sempat berdebat a lot soal ini, tapi akhirnya kami putuskan buat menyatukan semuanya dan menguburkannya di taman bunga, ‘Makam Pii-chan’ adalah tulisan yang kami bubuhkan pada papan kayu penanda yang kami pasangkan di sana. Idenya sebenarnya berasal dari Oshino Memem. Aku sendiri merasa membuat penanda makam berbentuk salib yang dibuat dari ranting kayu agak berlebihan, sekalipun dimaksudkan untuk lelucon), yah, aku tak bisa bilang kalau segala sesuatu secara persisnya kembali seperti semula, tapi pembersihan yang cukup baik agar orang-orang biasa tak menyadarinya telah tuntas dilakukan.

Oshino dan Episode—keduanya kemudian meninggalkanku sesudah itu. Mereka pergi bersama, ke suatu tempat.

“Aku kalah.”

Episode berkata, seraya pergi.

“Sial, apa-apaan tuh—aku pasti malas-malasan kelamaan. Bisa-bisanya aku kalah sama amatiran macam kamu…”

“… … …”

“Jangan melotot begitu. Aku minta maaf buat Nona itu. Aku lebih panasan dari seharusnya. Lagian—kuakui saja, melawan bawahan si Penakluk Fenomena Ganjil itu kerjaan brutal, tahu. Aku enggak boleh lengah bahkan terhadap orang biasa pun—walau ujungnya aku kalah juga, jadi jelas itu enggak bikin aku tambah baik. Tapi inget aja, kau enggak mungkin ngelawan Guillotine Cutter dengan tipuan murahan kayak gitu. Aku mungkin gila, tapi gilanya dia di tingkat yang sama sekali beda.”

Episode pada akhirnya, sesuai yang telah dijanjikan—meski, pertarungan kami kehilangan artinya semenjak Hanekawa menyelonong ke tengah-tengahnya, Episode menyerang Hanekawa yang muncul, dan aku sempat mencoba membunuh Episode, jadi apa yang terjadi tak benar-benar bisa dikatakan sesuai yang dijanjikan—mengembalikan kaki kiri Kiss-Shot.

Pada fajar tanggal 5 April, seperti beberapa hari sebelumnya, Oshino kembali dengan membawa tas perjalanan berisi kaki kiri Kiss-Shot.

Kiss-Shot memakannya dengan segera.

Seakan dia sudah kelaparan dan bernafsu untuk makan.

Kemudian dia berubah menjadi wujud 17 tahun.

“Guillotine Cutter…”

Pria dengan tatanan rambut ala landak yang berpakaian seperti pendeta katolik.

Hanya dia satu-satunya dari mereka… yang tidak menggunakan senjata.

“…Sebenarnya dia orang macam apa sih? Sepertinya kau dan Episode sama-sama waspada terhadapnya.”

“Maka begitu, beta akan menjelaskan.”

“Penjelasanmu biasanya agak tersamar. Maksudnya biasanya baru aku ngerti belakangan. Kasih saja aku penjelasan singkat. Aku siap dengarkan.”

Matahari tanggal 5 April sudah mulai terbit.

Selama kami tetap berada di ruangan lantai dua puing-puing bimbingan belajar ini, kami tak perlu khawatir soal cahaya matahari, tapi aku tetap ingin dengar penjelasannya dari Kiss-Shot sebelum ia tertidur.

Sebenarnya, aku juga mengantuk sih.

Ngomong-ngomong, Oshino meninggalkan tas perjalanannya dan pergi keluar lagi. Dia pergi untuk negosiasinya yang terakhir—meski dia agak licik, kurasa dia bisa dibilang pekerja keras juga.

Yah, bagaimanapun, toh aku membayar tarifnya.

Jadi tentu saja dia mesti mengerjakan bagian pekerjaannya juga.

Tapi, aku benar-benar jadi bertanya-tanya soal kapan sebenarnya dia tidur…

“Engkau bertanya tentang hal ini, namun jika beta jelaskan secara menyeluruh, dari minus sampai ke plus, tetap tiada makna praktis yang akan engkau dapatkan.”

“Tapi itu enggak berarti informasinya jadi enggak berarti ‘kan? …Dan lagian, bukan dari ‘minus’ tapi dari ‘1’, dan bukan dari ‘plus’ tapi dari ‘10’.”

Lalu aku bilang:

“Guilotine Cutter… berarti buat saat ini, aku bisa menganggap kalau dia benar-benar manusia?”

“Benar. Dirinya bukanlah vampir seperti halnya Dramaturgie, dan bukan pula separuh vampir seperti halnya Episode. Dirinya sepenuhnya, secara pasti, adalah seorang manusia biasa.”

“Aku tak yakin apa dia benar-benar manusia biasa sih.”

Dia juga tak terkesan seperti seorang yang ‘sepenuhnya.’

Dia seperti orang yang tidak patut digambarkan dengan kata-kata tersebut.

“Hmm. Mungkin itu benar.”

Kiss-Shot kemudian bilang:

“Dirinya adalah… seorang pendeta.”

“Hah? Tunggu, jangan bilang kalau dia sekarang ada hubungannya dengan semacam kesatuan khusus agama Nasrani.”

“Nyaris, tapi jauh dari situ.”

Kiss-Shot menggelengkan kepala seakan mengejek.

…. Saat aku dihadapkan dengan sosoknya yang berwujud 10 atau 12 tahun, sewajarnya, aku tak merasakan apa-apa. Tapi, bila dihadapkan pada wujudnya sekarang yang terlihat memiliki usia sama denganku, untuk suatu alasan, kehadirannya membuatku gugup.

Kiss-Shot cantik bagaikan boneka.

… … Dia seperti seorang peragawati dari negara asing.

Atau mungkin malah aristokrat abad pertengahan yang sosokya cuma bisa dilihat di film-film.

“Bagaimana cara beta ungkapkan dalam bahasa negara ini… hmm, terjemahan harfiah mungkin akan mencukupi.”

“Terjemahan harfiah?”

“Guilotine Cutter adalah seorang paus dari suatu agama baru tak bersejarah tertentu.”

“P-Paus?”

Jadi dia orang penting!

Seorang paus di usia semuda itu—karena dirinya manusia, maka pastinya usianya sesuai dengan penampilannya, ‘kan?

“Agama tersebut tiada memiliki nama—kelompoknya merupakan organisasi yang bahkan beta pun tak tahu secara baik. Namun, ada satu hal yang beta perlu sampaikan secara jelas. Berdasarkan doktrin agam tersebut, keberadaan fenomena-fenomena ganjil merupakan suatu hal yang tak boleh diakui.

“Oh…”

Sebuah agama baru yang ‘tak bersejarah’ ya?

Namun Kiss-Shot telah hidup semenjak 500 tahun lalu. Jadi bicara secara kasar, kita tak bisa begitu saja menerima acuannya terhadap waktu. Dia mungkin masih akan menyebutnya sebagai suatu agama baru sekalipun agama itu sudah berdiri semenjak zaman Perang Dunia II.

Aku jadi penasaran soal berapa nomor odinal yang Guillotine Cutter miliki sebagai paus.

Tak mungkin dia paus generasi pertama ‘kan?

“Guillotine Cutter secara pribadi menjalankan kewajiban agama tersebut untuk menghapuskan fenomena-fenomena ganjil yang tidak semestinya ada. Atau, dengan kata lain, Guillotine Cutter, di samping menjadi paus, sekaligus juga menjadi komandan dari apa yang engkau akan sebut sebagai ‘kesatuan khusus’.”

“Begitu.”

“Dirinya adalah komandan bayangan tim rahasia yang melayani umbra divisi keempat dari kesatuan penjagaan khusus kegelapan.”

“Terjemahannya terlalu harfiah.”

Tolong terjemahkan dengan cara lebih halus lagi.

Duh, ini benar-benar klise.

“Bagaimanapun… di akhir, dirinya tetap seorang manusia. ‘kan? Terlepas dari tipuan-tipuan macam apa yang dia gunakan, dia bukan tandingan bagi seorang vampir, ‘kan?”

“Dirinya adalah seorang ‘manusia’ yang bukanlah vampir maupun separuh vampir, sekaligus seseorang yang dipekerjakan untuk menjalankan keahliannya, yakni pembasmian vampir. Ini adalah kenyataan yang perlu engkau perhatikan secara baik—kedua belah tanganku sampai dirampas oleh orang itu, bukan begitu?”

“Aku tahu.”

Dramaturgie; kaki kanan.

Episode; kaki kiri.

Guillotine Cutter; lengan kanan dan kiri.

Secara sederhana, perolehannya adalah dua kali perolehan yang lain.

“Walau pada waktu itu beta memang lengah, pada saat yang sama, keadaan tubuh beta juga sebenarnya sedang tak begitu baik.”

Kiss-Shot beralasan dengan cara yang sedikit tersamar.

Yah, aku tak akan menanggapinya untuk sekarang ini.

“Jika kita sebut Dramaturgie beraksi karena tuntutan pekerjaan, dan Episode bergerak karena dorongan perasaan pribadi, maka Guillotine Cutter berburu vampir lebih karena keyakinan yang dianutnya. Mungkin beta berkata begini untuk diri beta sendiri, namun iman adalah sesuatu yang menyusahkan.”

Pekerjaan. Perasaan pribadi. Lalu keyakinan.

Hmm—mesti kuakui kalau keyakinan memang sesuatu yang lebih menyusahkan daripada perasaan pribadi.

“Hei, jadi apa yang mesti aku lakukan?”

“Menanglah. Segalanya kuserahkan padamu.”

“… … … … …”

Mungkin Kiss-Shot memang vampir legendaris atau semacamnya, tapi mendobrak segala sesuatu yang menghalangi jalanmu bagaimanapun juga adalah seseorang yang berlebihan. Demikian pikirku saat itu.

Namun Kiss-Shot, begitu mengatakan semua itu, langsung telentang di atas dipan meja dan langsung terlelap di sana begitu saja.

Uhmmmm.

Karena wujudnya menyerupai seorang gadis yang sebaya denganku, dan penampilannya bisa dibilang cukup cantik, jika aku dihadapkan begitu saja pada sosoknya yang sedang tidur, maka akan jadi susah bagiku untuk berbuat apa-apa.

Aku bahkan merasa kalau dirinya sedang merayuku.

Aku bahkan merasa kalau tidak melakukan apa-apa sekarang justru merupakan tindakan yang tidak sopan.

Aku bahkan merasa kalau aku benar-benar berpikir terlalu berlebihan tentang ini.

Apa yang kualami adalah suatu spiral delusi yang seakan tiada akhir.

“… … … Terserahlah.”

Sudah fajar; mungkin sebaiknya aku mencoba tidur juga.

Bagaimanapun, memikirkan siasat tempur yang nantinya akan kugunakan sudah terbukti tidak banyak gunanya. Aku memahami hal tersebut dari kasusku yang terakhir dengan Episode. Siasat tampur yang kupikirkan secara setengah-setengah malah hanya akan semakin membingungkanku seandainya gagal.

Aku harus bisa fleksibel dalam pertarungan-pertarunganku.

Sekalipun menuntut hal ini dari diriku mungkin memang terasa terlalu berlebihan.

Bahkan hari ini pun, sesudah matahari terbenam, Hanekawa akan datang kemari—ada sesuatu yang perlu kukatakan padanya. Sampai waktu itu tiba, aku akan istirahat dan memastikan diriku siap. Yah, tubuh vampir konon memang dengan sendirinya ‘memastikan agar kondisi tubuh tetap sehat’, jadi sekalipun tanpa tidur pun, mungkin keadaanku tetap bakal siap. Tapi kalau harus kukatakan, kurasa ini hubungannya lebih pada bagaimana aku menjaga kondisi mental daripada fisikku.

Hari ini sudah tanggal 5 April lagi.

Liburan Musim semi, seperti yang mungkin bisa kau lihat, sudah hampir berakhir.

Aku benar-benar jadi berpikir apakah aku benar-benar akan bisa berubah kembali jadi manusia sebelum tahun ajaran baru sekolah dimulai. Seandainya tahun ajaran baru nanti terlanjur dimulai dan aku masih belum berhasil membereskan semua persoalan ini juga, kurasa alasan seenaknya seperti ‘melakukan perjalanan pencarian jati diri’ takkan mungkin bisa diterima sebagai alasan absenku. Saat memikirkan itu semua akhirnya aku tertidur.

Walau legenda menyebutkan kalau vampir biasa tidur di dalam peti mati—seperti halnya Kiss-Shot dan Oshino, aku justru tertidur di atas dipan yang tersusun atas meja.

Dan kemudian, saat aku terbangun, hari sudah kembali malam.

Aku tak bermimpi.

Untuk suatu alasan, nampaknya kaum vampir tak pernah bermimpi.

Memikirkannya baik-baik, aku memperhitungkan bahwa sesudah aku menjadi vampir, aku telah tidur selama 12 jam setiap hari. Karena sebagai vampir rasanya begitu sulit melakukan apa-apa saat matahari masih keluar, maka apa boleh buat.

Yang namanya tidur juga membesarkan anak.

Kiss-Shot juga masih tertidur. Maksudku, bukan berarti Kiss-Shot dibesarkan lewat tidur juga. Namun keadaan saat aku terbangun dengan seorang gadis pirang cantik tertidur di sisiku, dengan suatu cara tertentu, rasanya lebih mencengangkan dibandingkan saat Kiss-Shot masih terlihat seperti anak kecil.

Nampaknya Hanekawa… masih belum tiba.

Bahkan Oshino pun masih belum kembali.

Karena Oshino mengerti kalau Hanekawa akan datang, jika dirinya memang benar sengaja berusaha menghindari Hanekawa karena suatu alasan tertentu, untuk sementara waktu kurasa dirinya memang takkan kembali.

Ini bukan untuk tujuan gladibersih sih, tapi aku menunggu Hanekawa dengan membaca ulang komik Gakuen Inou Batoru yang baru Oshino kembalikan sesudah ia membacanya secara singkat.

Aku telah menghabiskan lima buku saat Hanekawa akhirnya muncul.

Aku tersesat, itu katanya.

Menyingkirkan lampu senter yang dibawanya, Hanekawa duduk di salah satu kursi.

Hari inipun, dirinya mengenakan seragam sekolah.

Karena blus dan sweater sekolahnya robek dalam serangan Episode semalam, aku secara diam-diam agak berharap bisa melihat Hanekawa dalam pakaian biasanya kali ini. Tapi entah bagaimana, harapanku sepertinya terkhianati.

“Dasar pengkhianat.”

“Hm? Eh? Kenapa?”

“Enggak, aku cuma bicara pada diriku sendiri.”

Atau mungkin lebih tepatnya, aku sedang berbicara secara egois.

Jadi Hanekawa masih punya stel baju seragam cadangan, ya?

Bagaiamanapun, aku memang pernah dengar kalau baju-baju seragam pada siswi perempuan memang lebih gampang rusak.

“Hanekawa, luka di perutmu sudah baikan?”

“Walau dibilang luka juga, bekasnya bisa dibilang sudah hampir tak ada.”

“Sungguh? Masa, coba kulihat.”

“Apa maksudnya dengan ‘coba kulihat’?”

Ah, dia marah.

Aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, sih.

Tapi, aku memang sudah memastikan keadaannya kemarin malam. Jadi kalau Hanekawa sendiri bilang keadaannya sudah baik, maka mungkin memang sudah tak ada masalah.

Lukanya dirawat dengan memakai darah vampir.

Aku sesudahnya khawatir kalau aku melakukan itu, maka akan ada resiko Hanekawa nantinya berubah menjadi vampir. Tapi saat aku menanyakannya pada sang spesialis, Oshino, kelihatannya tak ada yang perlu kutakutkan.

Perubahan menjadi vampir dan keabadian nampaknya digerakkan oleh suatu sistem berbeda. Atau malah, mungkin sejak awal memang tak ada kaitannya sama sekali. Yang satu bukanlah hasil sampingan dari yang satunya. Keduanya sama sekali terpisah.

“Jika bisa dipakai untuk menyembuhkan luka orang, kalau begitu kurasa kekuatan vampir tidak sepenuhnya jahat. Yah, tapi memang sih, kalau aku tak sampai berubah menjadi vampir, mungkin luka sebesar itu takkan kau dapat sejak awal sih.”

“Benar juga sih.”

Ahaha, tawa Hanekawa.

Sesudah itu, ia melirik Kiss-Shot yang masih terbaring di atas meja-meja yang terbaris.

“Ah, ternyata benar. Heart-Under-Blade benar-benar jadi tumbuh.” kata Hanekawa. “Wow, dia bahkan jadi secantik ini. Ciri-ciri khasnya masih tampak… tapi kalau begini, dia jadi terlihat seperti orang yang sama sekali beda.”

“Bahkan cewek juga mikir begitu?”

“Kurasa semua orang bakalan berpikir begitu… walau tatanan rambutnya jadi dikuncir, bahkan saat tidur, ia tak melepasnya.”

Hmmm. Hanekawa bersenandung pelan.

Kelihatannya sesuatu baru saja terpikirkan olehnya.

Yah, jika dipikir baik-baik, mungkin perempuan memang akan lebih sensitif terhadap keadaan tubuh perempuan lainnya.

Sesudah ini, Hanekawa melewatkan beberapa waktu dengan berpikir. Namun di akhir, dirinya tetap tak mengatakan apa-apa. Dia mengalihkan pandangannya dari Kiss-Shot kembali ke arahku, dan mengulurkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya.

“Nih, Araragi. Aku membawakan Coca-Cola.”

Dia mengeluarkan minuman yang dibelinya dari mesin penjual otomatis yang berada di sekitar sini dan mengulurkannya dengan tangan terentang.

Aku menerimanya.

“Ah, terima kasih.”

“Kebetulan, kalau buatku sih Diet Coke.”

“Hah?”

“Karena otot-ototmu sekarang bisa membesar secara spontan, enggak peduli berapa banyak kalori yang kau konsumsi, sepertinya kau enggak perlu akan jadi gendut, Araragi. Sebagai perempuan, terus terang aku jadi agak iri.”

“Entah ya. Kalau harus kubilang, rasanya bahkan lebih seperti aku yang enggak punya nafsu makan. Seperti aku sendiri yang enggak lagi peduli soal apa aku perlu makan atau enggak.”

Sekalipun Kiss-Shot tak makan banyak.

Kurasa perumpamaannya lebih seperti daripada kau makan karena merasa lapar, kau makan lebih karena hidangan yang ada di hadapanmu terlihat mewah dan lezat.

“Makanan kaum vampir itu darah, bukan?”

“Iya, darah.”

“Ngomong-ngomong, apa kau punya semacam dorongan untuk menghisap darah?”

“Hm? Enggak, kalau soal itu, kurasa enggak.”

Sekalipun aku seorang vampir.

Sepertinya Kiss-Shot yang sekarang juga tak memiliki kemampuan untuk menghisap darah. Kalau tak salah, Oshino sempat bilang begitu. Aku jadi bertanya-tanya, apa mungkin itu berarti aku juga tak punya?

Sejauh ini aku belum pernah memikirkannya.

“… … … Apa kau tahu di mana perbedaan rasa antara Diet Coke dan Coca Cola, Hanekawa?”

“Aku tahu.”

“Aku kurang begitu tahu.”

“Uhm… sejujurnya, aku pernah memikirkan tentang hal ini.”

“Hm?”

“Soal pengembangan produk baru. Ada satu perusahaan minuman yang berhasil memproduksi Diet Cola yang rasanya sama persis dengan Coca-Cola.”

“Hoo.”

“Masalahnya cuma warna kemasannya hawaii biru.”

“Kalau gitu, itu bukan Coca-Cola!”

Ujung-ujungnya aku malah tertawa.

Itu memang agak lucu sih.

Kemudian… sesudah tertawa selama beberapa lama, aku menghela nafas.

Ketua kelas dari segala ketua kelas.

Murid teladan.

Nilai-nilai unggulan.

Hanya kesan-kesan itulah yang kupikirkan bila aku mau bicara tentang Hanekawa Tsubasa sebelumnya. Dulu, kupikir dirinya orang berpikiran sempit dan kaku. Si ketua kelas egois yang maunya menang sendiri. Tapi sesudah berbicara langsung dengannya, ternyata dirinya orang yang tidak seperti itu sama sekali.

Bercakap-cakap dengannya menyenangkan, dan dirinya selalu memikirkan kepentingan teman-temannya terlebih dahulu.

Dan bahkan, kemarin, dia sampai harus melewati semua itu.

Namun belum sekalipun dia menyalahkanku.

Semenjak bulan April dimulai, setiap hari, dirinya selalu menyempatkan diri bertemu denganku. Jika tak begitu, mungkin, sudah sejak dulu aku memilih untuk menyerah.

Kekhawatiran apakah aku akan bisa menjadi manusia kembali. Kekhawatiran apakah aku akan bisa menandingi para spesialis pembasmi vampir. Begitu aku lengah sedikit, rasanya semua kecemasan itu dapat menyerangku sewaktu-waktu.

Bagi Kiss-Shot, vampir yang dari sananya secara terbuka sudah membanggakan diri sebagai sosok terkuat, mungkin ini sesuatu yang agak susah dipahami, dan Oshino bahkan sepertinya tak peduli sama sekali tentang hal itu—tapi Hanekawa melenyapkan segala kecemasanku begitu saja.

Ini tidak cuma terkait dengan apa yang terjadi kemarin malam semata.

Seberapa besar aku telah ditolong Hanekawa.

Diselamatkan olehnya.

Kukira aku sudah sadar semenjak awalnya, sampai peristiwa konyol kemarin malam itu terjadi. Rasanya seperti aku bahkan tak bisa merasakan seberapa besar kebaikan yang telah diberikannya bagiku.

Karena itulah…

Aku harus bicara pada Hanekawa.

Ada sesuatu yang harus kukatakan padanya.

“Hanekawa.”

“Hm?”

“Mungkin sebaiknya kamu tak datang ke sini lagi.”

“…Hmm.”

Hanekawa, dengan wajah tersenyum—bangkit berdiri dari kursinya dan beranjak mendekatiku.

“Yah, sudah kupikir kau akan mengatakan itu.”

“Tolong, jangan sampai terluka—yang kali ini bakalan berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Tapi di yang waktu sebelum-sebelumnya juga aku sebenarnya tak mau kau sampai terlibat… serius, waktu itu aku kelewatan saat perasaanku enggak bisa kutahan. Bahkan sekarangpun aku masih menyesal karena bisa sampai semarah itu waktu itu. Tapi kali ini berbeda.”

“…Berbeda bagaimana?”

“Kemarin, waktu salib Episode sampai melubangi punggungmu… aku lepas kendali. Kupikir, seluruh darah di kepala sampai berhenti… seakan mati.”

“Kepalaku?”

Kepalaku.”

Walau tubuhku saat ini abadi—kupikir, aku sudah mati.

Rasa sakitnya seakan lukanya sampai kurasakan sendiri.

“Apa sebelumnya aku pernah bicara soal ketahanan seorang manusia?”

“… … …”

“Luka yang kau alami waktu itu terasa seperti dialami olehku sendiri. Bukan—rasanya mungkin malah lebih sakit dibanding kalau aku yang mengalaminya sendiri. Hanekawa, aku…”

Aku berkata.

Semenjak kemarin malam, aku sudah memikirkan tentang berbagai cara untuk bisa mengatakannya. Namun pada akhirnya, aku cuma bisa mengatakannya secara terang-terangan dan langsung.

“Aku tak mau kembali jadi manusia kalau bayarannya aku sampai harus memanfaatkanmu.”

“…Memanfaatkanku?”

Hanekawa berkata dengan sedikit nada keheranan.

“Tapi Araragi, aku takkan membiarkanmu sampai memanfaatkanku.”

“Tapi apa kau bahkan mikir soal apa yang sedang kau lakukan sekarang? Ini Libur Musim Semi yang berarti, dan kamu sekarang menghabiskannya untuk kepentingan orang kayak aku—kamu bahkan sempat sekarat! Apa kamu bahkan mikir soal kamu lagi ngapain? Se… sedikitpun?”

Seakan baru diberitahu soal suatu hal tak terduga, Hanekawa menggelengkan kepalanya dengan keras.

“Aku kehilangan ingatan dan tak bisa mengingatnya dengan jelas, tapi alasan aku sampai hampir mati itu salahku sendiri, ‘kan? Karena itu, sebenarnya, kau tak perlu sampai harus menyelamatkanku, Araragi.”

“Kamu sama sekali enggak introspeksi kalau begitu.”

Aku mengerti kalau Hanekawa bersungguh-sungguh saat mengatakan ini.

Aku mengerti kalau dirinya tak ingin membuatku sampai khawatir.

Ini bukan sikap munafik.

Dirinya sungguh-sungguh adalah orang baik.

Namun—karena itu pula dirinya menjadi seseorang yang begitu kuat.

Serta karena alasan ini pula, dirinya berada dalam bahaya.

“Entahlah.”

“… … …”

“Kalau misalnya aku berada dalam situasi yang sama, aku enggak yakin apa aku bakalan sanggup menyelamatkanmu. Maksudku, seandainya kita bertukar posisi, aku tak cukup percaya diri kalau aku bakal melakukan apa yang kamu lakukan. Di depan orang seberbahaya itu, aku takkan punya cukup keberanian buat merelakan tubuhku yang bahkan tak abadi. Tapi kamu bisa melakukannya seolah itu hal mudah.”

Aku mencoba untuk memilah kata-kata yang bisa kugunakan secara hati-hati, tapi… sia-sia saja.

Aku tak bisa memilahnya.

Cuma ada satu kata yang pada akhirnya sanggup kugunakan untuk menggambarkan Hanekawa.

“Kamu menakutkan.”

“… … Menakutkan, kamu bilang.”

“Jujur saja, kamu membuatku ingin menjaga jarak” Kubilang saja, dengan pandangan tertunduk ke bawah. “Tolong jangan sakit hati. Maksudku bukan begitu, tapi aku tak bisa mengerti mengapa kau berbuat segitu banyak untukku. Aku cuma teman sekelas yang baru belakangan ini saja kau ajak bicara. Aku enggak ngerti kenapa kau bisa berbuat sejauh ini buatku. Kau jadi tampak seperti orang suci.”

Orang suci.

Atau setidaknya, ibu dari salah seorang dari mereka.

“Tapi sikap pengorbanan dirimu itu terlalu sulit buatku. Aku bahkan enggak punya cukup kesanggupan buat menanggungnya. Ini bukan masalah apa kau bisa disembuhkan atau enggak—kalau aku berpikir soal bagaimana kau bisa sampai terluka untukku saja… tubuhku takkan sanggup bergerak. Itu yang kutakutkan. Aku takkan bisa melawan Guillotine Cutter seperti ini.”

“Apa yang kulakukan bukan pengorbanan diri.”

Pada titik ini, Hanekawa…

…berbicara dengan nada yang mengandung sedikit amarah.

“Ini bukan pengorbanan diri.”

“Kalau bukan, lalu apa?”

“Kepuasanku semata.” Hanekawa menjawab dengan nada pelan. “Araragi, kau salah paham. Aku bukan orang sebaik itu, dan aku juga tidak kuat. Aku cuma melakukan apa-apa saja yang ingin kulakukan saja. … … Malah, kupikir tak ada orang lain yang berpikir lebih egois tentang dirinya melebihi aku.”

“… … …”

“Seandainya saja kau tahu diriku yang sesungguhnya, Araragi, kupikir kau akan sangat, sangat kecewa.”

Aku merasa susah kalau kau punya kesan yang sebegitu salah terhadapku.

Hanekawa tertawa.

“Aku sebenarnya licik, tak mau kalah. Cukup buat sampai membuatmu jaga jarak, pastinya.”

“… … …Kau enggak mungkin serius.”

“Aku serius. Itu semua benar. Bahkan saat bersamamu seperti sekarang, aku cuma melakukan apa-apa yang ingin kulakukan saja. Karenanya, ini bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan.”

“Hanekawa…”

“Tapi.” Hanekawa menepukkan kedua telapak tangan ke depan dadanya. Dan seperti itu, dengan kedua telapak tangan masih terhubung, “Jika kehadiranku sampai menyulitkanmu bergerak, maka ini bisa jadi kasus aku di mana aku salah menempatkan prioritas.”

Itu katanya.

‘Kau sudah punya cukup banyak komik Gakuen Inou Batoru, Araragi. Kini, telah tiba waktunya bagiku untuk pensiun dari tugas harian membeli. Sekalipun kau membaca lebih banyak lagi pun, saya yakin dampaknya hanya akan membuatmu terlalu percaya diri. Jadi benar, mungkin memang sudah tak ada lagi yang bisa kulakukan buatmu lagi.”

“Salah, ada sesuatu yang bisa kau lakukan.”

Aku berkata, menatap tegas ke wajah Hanekawa.

Aku berkata, menatapnya dengan pandangan mata yang tak goyah.

“Tunggu.”

“…”

“Pas tahun ajaran baru nanti, di sekolah kita. Tunggulah aku.”

Itu susah, kurasa.

Aku tak paham seberapa banyak kecemasan dan derita yang dilibatkan dalam menunggu seseorang yang mungkin takkan pernah kembali.

Sesudah ini, aku akan melawan spesialis pengusiran vampir yang paling berbahaya di antara ketiga orang itu, sosok yang diwaspadai oleh semuanya, dan seandainya aku bisa menaklukkan rintangan satu inipun, aku masih belum yakin apa aku sungguh bisa kembali berubah menjadi manusia lagi—tapi walau begitupun, aku masih berharap kau mau menungguku, Hanekawa.

“Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku harap kelak aku masih berkesempatan buat bicara denganmu.”

“… … Oh.”

Aku tak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja Hanekawa melangkah mundur satu langkah.

Sorot matanya terlihat bahagia.

“Pipipi, pipipi, pipipi.”

“Ngh? Bunyi apa itu.”

“Itu bunyi detak jantung.”

“Hah? Detak jantung cewek juga ada efek suaranya?”

Bunyinya mirip alarm jam weker!

“Wuaa, itu nyaris, hampir saja aku jatuh cinta.”

“Haha. Kau bisa saja jatuh ke yang lain—seperti sumber air panas atau ladang minyak.”     *lagi-lagi ini lelucon homofon yang enggak dapat diterjemahkan*

Wuah, itu megah.

Hanekawa pasti kaya.

“Kau pasti selalu pakai teknik itu buat merayu cewek.”

“Hah? Eh, enggak. Kok kamu ngomong gitu? Dan lagi, sejak awal aku hampir enggak pernah bicara sama cewek.”

“Bicaramu seperti perayu ulung. Ditambah lagi waktu itu kamu beli buku nakal itu.”

“Ugh…!”

Bukan, kalau itu sih karena aku laki-laki.

Habisnya, aku tak tahan lagi.

“Ya ampun.”

Berkata demikian.

Hanekawa kemudian melakukan peregangan sebisanya. Sesudahnya, ekspresi wajahnya tampak yakin, dan lalu dalam keadaan itu dia memasukkan kedua belah tangannya ke tepi berlipat dari rok seragamnya.

Aku sempat mengira kalau sekali lagi dirinya akan membuka roknya untukku, tapi, bagaimanapun juga, Hanekawa takkan mungkin melakukan sesuatu yang begitu tidak memiliki keterkaitan logis.

Tapi ternyata, ia kemudian melepaskan celana dalamnya.

Dia menurunkan celana dalam merah muda dengan tali-tali hiasan yang mengitari tepiannya, dan sementara ia berhati-hati agar bagian karet elastisnya tak berhubungan dengan bagian bawah sepatunya, Hanekawa melepas celana dalamnya dari kedua belah kaki.

Kurasa tak perlu dikata kalau aku langsung membeku.

Ternyata apa yang diperbuatnya adalah sesuatu yang sangat-sangat tidak memiliki keterkaitan logis.

“Mm… nih.”

Sementara wajahnya jelas-jelas merah padam karena rasa malu, Hanekawa kemudian mempersembahkan celana dalam yang telah dibentuknya hingga menjadi bulatan kecil itu kepadaku.

“Untuk berbicara seperti halnya dalam adegan-adegan klimaks Gakuen Inou Batoru.” Masih dalam keadaannya yang malu-malu, Hanekawa berkata lagi. “Biar sekarang ini kupinjamkan padamu. Berjanjilah di tahun ajaran baru nanti kau akan mengembalikannya padaku.”

“…Tunggu bentar. Di komik pertama yang kamu belikan untukku, aku yakin memang ada adegan kayak gitu. Tapi kalau aku tak salah ingat, kalau enggak salah benda yang digunakannya itu kalung yang dipakai oleh si tokoh utama wanita.”

“Tapi aku enggak memakai kalung.” Hanekawa berkata, bergerak-gerak dengan gelisah dan memastikan roknya tetap menutup ke bawah.

“Araragi, kau suka celana dalam perempuan, bukan?”

“… … … …!”

Kalau itu sih, takkan mungkin kusangkal!

Takkan mungkin ku…sangkal?!

Sebab menyangkalnya akan merubah landasan dari identitas Araragi Koyomi sendiri, makanya hal tersebut tak dapat kubantah?!

Dengan demikian, Araragi Koyomi takkan berkata tidak!

Hei, tunggu duluuu!

“E-Err…”

“Ah, tapi kalau misalnya kau tak mau…”

“Bukan, aku enggak bilang kalau aku enggak mau. Ini bukan masalah apakah aku menginginkannya apa enggak. Uh. Coba kita lihat, tadi kamu bilang kalau aku boleh mengembalikannya nanti sesudah tahun ajaran baru dimulai?”

Sementara aku masih sedikit terkejut karena celana dalam perempuan bisa menjadi begitu kecil saat dilepaskan, dengan rasa tegang luar biasa, aku mengambil kain itu.

Suatu kehangatan lembut dengan segera mengisi telapak tanganku.

“…Maaf. Tapi ini aku enggak yakin apa aku akan bisa mengembalikannya.”

“E-Eh?”

“Malah, kayaknya buat selamanya ini enggak akan kukembalikan. Ini akan kuwariskan ke keturunanku sebagai harta karun pusaka keluarga Araragi.”

“Hentikan itu!”

“Celana dalam ini untuk selamanya akan berpisah dari badanmu.”

“Aku tak bisa percaya ini!”

“Aku takkan pernah mengembalikan celana dalam ini, tapi sebagai gantinya.”

Aku berkata.

Aku lalu memasang pose keren.

“Aku pasti akan melunasi hutangku. Kapanpun kau memerlukannya, sekalipun mungkin aku pada waktu itu enggak bisa apa-apa, aku pasti akan berada di sana untukmu—membayar hutang budi yang kupunya padamu mulai hari ini akan jadi tujuan hidupku.”

“Sudahlah. Kembalikan saja celana dalamku.”

Tak peduli sekeren apapun kata-kataku, efeknya ternyata tak ada.

Hmmmm.

Kata-kata semata ternyata memang benar-benar tak berguna.

Hanekawa berkata.

“Sesudah ini aku harus pulang dalam keadaan commando, apalagi dengan rok berpengamanan rendah ini… Araragi, dibandingkan apa yang mesti kulalui sekarang, pastinya mengalahkan orang bernama Guillotine Cutter itu bakal lebih mudah, bukan?”

“Kau benar.”

Tak peduli seberapa sulit pertarungannya nanti—

Kalau berpikirnya seperti itu, aku benar-benar tak bisa membantah lagi.

Pastinya ini takkan terlalu berbeda dari sebuah kemenangan yang mudah.

“Kalau begitu, selamat berjuang.”

“Selamat berjuang.”

Ayo kita bertemu lagi di tahun ajaran baru.

Tersenyum, kami saling mengadu kepalan tangan masing-masing.

Tahun ajaran baru seusai liburan musim semi.

Aku benar-benar berharap di waktu itu aku bisa bertemu dengan Hanekawa.

Aku benar-benar berharap di waktu itu kami berdua akan sekelas lagi.

Aku…

Aku rasanya berhasil memperbarui tekadku untuk menjadi manusia kembali.

Lalu dengan kenangan perpisahanku dan Hanekawa masih segar di kepala, sekitar tiga jam sesudah ia pulang ke rumah, pada saat Kiss-Shot akhirnya membuka mata, Oshino kemudian pulang ke reruntuhan bangunan bimbingan belajar—tak seperti biasanya, ekspresi mukanya terlihat genting.

“Maaf, aku mengacau.”

Kemudian dengan nada suara yang sesuai dengan ekspresi wajahnya yang genting tersebut, Oshino juga berkata:

“Nona KM telah diculik.”

Catatan:

Dijelaskan ‘dari 1 sampai 10’; semacam ungkapan bahasa Jepang untuk penjelasans secara menyeluruh. Susah nemu padanannya dalam bahasa Indonesia. Leluconnya di sini adalah karena dalam bahasa Jepang, penulisan buat ‘1’ menyerupai tanda minus dan penulisan buat ‘10’ menyerupai tanda plus.

Tidur 12 jam setiap hari. Ceritanya sedang berlangsung di musim semi, jadi siang hari berlangsung sedikit lebih lama.

Diet Coke, kalo-kalo ada yang enggak paham karena di Indonesia enggak lazim, adalah varietas Coca-Cola yang memakai semacam pemanis buatan lain sebagai pengganti gula. Zaman sekarang peranannya kayaknya lebih banyak tergantikan oleh Coca Cola Zero yang enggak memakai pemanis sama sekali.

Commando – aku enggak yakin ini istilahnya berasal dari mana. Tapi maksudnya, berpakaian tanpa dalaman.

20/07/2012

Kizumonogatari – IND (011)

Maaf makan waktu lumayan lama.

Aku nyadar aku udah ngabisin waktu banyak banget buat nerjemahin ini. Padahal bulan Desember tahun 2011 lalu, aku dengan pedenya ngerasa ini bisa kuberesin dalam sebulan!

Gimanapun, maaf lagi buat terjemahannya yang jelek.

—————————–

011

Episode.

Lelaki yang mengenakan baju seragam berwarna putih dan bermata sipit; di bahunya ia memanggul sebentuk salib raksasa yang berukuran tiga kali tinggi badannya dan memiliki pangkat tiga bobot dari tubuhnya sendiri.

Dirinya… seorang pemburu vampir. Atau setidaknya, itu yang kudengar.

Dirinya memburu vampir dengan tujuan untuk mendapatkan uang. Kau bisa bilang kalau dirinya semacam pembunuh bayaran.

Kemudian, ditambah lagi, pada waktu yang sama… dirinya juga seorang separuh vampir.

Seorang pemburu dan sekaligus separuh.

Dari sudut pandang tertentu, dirinya terlihat tak lebih dari seorang anak muda biasa. Tapi sebaliknya, dirinya adalah seorang spesialis pengusiran vampir yang mencuri dari Kiss-Shot kaki kirinya. Inilah… Episode.

“…Kau terlambat.”

Tiga hari telah berlalu semenjak saat itu. Sekarang adalah bulan April tanggal 4.

Angka-angka sial yang berderet di tanggal itu secara tersamar memang membuatku merasa tak nyaman. Tapi aku mengeluh seperti apapun soal hal-hal di luar kuasaku, tetap saja tak ada yang bisa aku lakukan tentangnya.

Aku coba memeriksa jam tangan di pergelanganku, tapi kemudian kuingat bahwa aku tak memakainya. Kemudian aku berpikir untuk memeriksa jam di ponselku, tapi kemudian aku sadar kalau ponselku juga lupa aku bawa.

Menggelisahkan.

Sebagaimana yang sudah kukira, diriku sama sekali tidaklah tenang.

Yah, sudahlah—karena mau bagaimanapun juga, orang yang paling ingin kuhubungi sekarang, Oshino Meme, yang berlagak gelandangan itu, sejak awal memang tak mempunyai ponsel atau bahkan PHS.

Tapi juga, sebagaimana yang telah dikatakan oleh orangnya sendiri, kurasa Oshino memang payah bila urusannya berhubungan dengan benda-benda elektronik.

Bagaimanapun ponsel memang tak begitu berkaitan dengan urusan roh-roh dan fenomena ganjil.

Secara alami, untuk pertarungan kedua…  aku berhadapan dengan spesialis pengusiran vampir yang kedua, Episode.

Dalam tiga hari ini, aku mempertimbangkan berbagai hal—namun pada akhirnya kuputuskan untuk pergi dengan tangan kosong, serupa dengan keadaanku saat melawan Dramaturgie.

“Lebih baik bila kau tak membawa senjata.”

Aku mengikuti pendapatnya Hanekawa.

“Lagipula, senjata biasa takkan cukup kuat untuk tahan digunakan bersama kekuatan dahsyat yang kau punya, dan kalaupun ada senjata yang seperti itu, kalau kau berkeliaran sambil membawa-bawanya, lalu ada polisi tiba-tiba muncul dan menanyaimu, apa selanjutnya yang akan kauperbuat?”

“… … …”

Nah, kurasa pendapatnya yang satu itu ada benarnya juga.

“Yah, kalau kau mengatakannya begitu, kurasa para spesialis vampir itu pasti layak ditanyai oleh aparat juga.”

“Tapi mereka profesional, ‘kan? Bukannya mereka pastinya sudah terlatih buat menghadapi situasi-situasi macam begitu?”

“Uuuh…”

Memikirkannya lagi, Dramaturgie punya kemampuan untuk mengubah tubuhnya menjadi kabut.

Kurasa dia memang jago berpikir di luar kerangka berpikir kebanyakan orang.

Jadi sudah jelas karena aku tak datang bersenjata—aku merasa aku tak memanfaatkan pelajaran yang kudapat sesudah menantang kedua pedang melengkung yang dimiliki Dramaturgie dengan tangan kosong seperti sebelumnya. Tapi Hanekawa, aku benar-benar berhutang padanya, kemudian mengajari beberapa hal yang telah diperhatikannya dari pertarungan tersebut—hasil pengamatannya sendiri dari balik bangunan itu.

Intinya, Hanekawa berhasil menemukan kelemahan-kelemahan yang ternyata kupunya.

Lalu dengan memanfaatkan hasil temuannya tersebut, aku akan bertarung.

Seperti biasa, nasihat dari Kiss-Shot bisa dibilang hampir tak berguna. Berikut adalah ingatanku akan adegan saat Kiss-Shot memberikan nasihat tersebut.

“Jadi, dia seorang pemburu vampir dan sekaligus seorang separuh vampir? Aku bisa mengerti apa itu artinya sih. Tapi Kiss-Shot, apa tak ada informasi lain yang kira-kira lebih mendetail?”

Namun Kiss-Shot, dalam wujud sosoknya yang berusia dua belas tahun, menjawab begini terhadap pertanyaanku.

“Aku lupa.” katanya.

Dia bilang dia lupa…

Seperti biasa, Kiss-Shot membusungkan dada dengan sikap bangga—semata karena dirinya telah berubah dari gadis berusia sepuluh tahun ke gadis berusia dua belas tahun, dirinya benar-benar tengah menjalani masa ketika karakteristik-karakteristik seksual sekunder mulai tumbuh, jadi ‘pembusungan dada’ ini benar-benar terjadi, dan bukan cuma karena rasa bangganya belaka.

“Hm… Ingatan beta nampaknya… melemah. Pernahkah beta menyebut ini sebelumnya?”

“Itu kata-kata menarik…”

“Uhm. Tunggulah sebentar.”

Mengatakan itu, Kiss-Shot dengan kasar tiba-tiba saja mengaduk kraniumnya… maksudnya, bagian dalam kepalanya yang agak-agak lunak. Lalu dari dalam luka yang tercipta bukan hanya darah, melainkan juga cairan yang mungkin saja pelumas saraf tertumpah keluar dengan bunyi desingan.

“…!”

Enggakenggakenggakenggakenggakenggak!

Ini terlalu tak layak untuk dimasukkan ke versi anime.

Jari-jemarinya kemudian tampak tersangkut di urat-urat okulernya atau apa, karena mata kanan Kiss-Shot mulai menampakkan gerakan-gerakan liar yang pastinya membuatmu berpikir kalau mata itu telah dirasuki semacam iblis.

Kiss-Shot… secara harfiah sedang mengutak-atik isi otaknya.

Itu teknik yang… uh, sangat membantu ingatan.

“Uhm.”

Akhirnya, Kiss-Shot mengeluarkan tangannya yang berlumuran darah.

Dirinya tersenyum, wajahnya segar.

“Beta ingat.”

“Apa?”

Aku menyela, melihat betapa darah yang menempel di rambutnya bahkan telah mulai menguap juga.

“Apa yang kau ingat?”

“Terlihat jelas pula dari bagaimana Dramaturgie hendak menjadikan engkau rekannya, engkau bisa melihat bahwa dirinya bukan sedang memburu vampir karena membenci mereka. Tapi Episode berbeda. Dirinya memendam permusuhan terhadap kaum vampir.”

“Permusuhan? Kenapa? Bukannya setengah bagian dirinya itu vampir? Yah, karena kerjanya memburu vampir, aku yakin dia bukan teman, tapi…”

“Berkenaan kaum separuh vampir—karena jumlah mereka semenjak awal memang tak banyak—tiada kesimpulan yang dapat beta tarik. Namun pada sebagian besar kasus yang terjadi, kesemuanya membenci vampir.”

“Kenapa?”

“Sederhananya, alasannya tiada lain karena separuh manusia adalah keberadaan yang takkan pernah diterima di dunia vampir. Di sisi lain pula, itu juga bukan berarti di dunia manusia orang seperti dirinya bisa diterima juga, bukan? Dengan demikian—dirinya membenci darah vampir yang ia miliki.”

“Bukannya itu berarti dia membenci manusia juga?”

“Dirinya mungkin memang tidak menyukai mereka, namun apa ada artinya membenci orang-orang yang lebih lemah darimu sendiri?”

Kiss-Shot mengatakan itu dengan mudahnya.

“Walau dirinya berdarah separuh, kekuatannya jauh melampaui kekuatan manusia biasa. Terlebih dari itu, Episode nampaknya memiliki kebencian yang teramat besar terhadap kaum vampir. Beta tak mengetahui bagaimana dirinya dibesarkan—yah, mungkin cara dirinya dibesarkan memang lebih baik kita tiada tahu. Namun pastinya, beta pikir dirinya tidak akan begitu saja menyerah. Berlainan dari Dramaturgie, Episode melakukan tugasnya lebih karena dorongan pribadi daripada tanggung jawab pekerjaan.”

“Haaaah…”

Jadi dia tak punya keterikatan terhadap profesionalisme seperti Dramaturgie ya?

“Separuh vampir, sebagai ganti karena memiliki keabadian yang lebih lemah dari kaum vampir—memiliki keunggulan karena tidak mempunyai kelemahan-kelemahan yang dipunyai vampir. Mereka dapat berjalan di bawah matahari; mereka juga bahkan mempunyai bayangan.”

“Eeh…. mereka punya bayangan?”

“Dengan kata lain, bila yang kita bicarakan adalah soal kesataraan, sebagai ganti kerena hanya setengah kekuatan vampir yang mereka punya, mereka dihilangkan dari segala kelemahan mereka.”

“Aaah…”

Begitu ya.

Memang masih tergantung sih… tapi tidak memiliki kelemahan memang membuatnya menjadi ancaman yang patut diperhitungkan.

“Oke. Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan agar menang?”

“Umm… lakukan saja yang engkau biasa?”

“… … …”

Terima kasih atas kepercayaanmu yang berlebihan terhadap saya.

Dengan begitu—akhirnya malam dari hari yang dijanjikan telah tiba.

Selama waktu tiga hai ini, yang kulakukan cuma membaca komik. Memandangnya dari sudut pandang eksternal, mungkin aku terlihatnya memang seperti bermalas-malasan, atau sekurangnya aku merasa kalau aku tak melakukan apa-apa, tapi apa boleh buat—boleh dibilang aku membaca semua seri komik dari geenre Gakuen Inou Batoru di semua majalah komik terkemuka.

Benar-benar misterius. Tapi bila kau didorong karena kebutuhan, tak peduli semenarik apapun komiknya, tanganmu akan menggerakkan halaman-halamannya secara lamban… Bahkan hari ini pun, setiap hari semenjak itu Hanekawa akan terus datang ke reruntuhan gedung bimbel tak lama sesudah terbenamnya matahari untuk mengantarkan buku-buku komik padaku, jadi aku benar-benar tak pernah merasa apa yang kubaca sudah cukup.

Aku bahkan sudah mendapatkan kartu buku lagi, tapi pada akhirnya mungkin lebih baik jika aku tak keluar tempat ini sesering itu.

Atau setidaknya, itulah yang Oshino katakan padaku.

Pada malam tanggal 1 April, persis sesudah Hanekawa pulang ke rumah, Oshino muncul kembali. Persis pada saat itu ia pulang. Aku bahkan sempat berpikir untuk memperkenalkan Hanekawa kepadanya. Tapi berhubung Oshino secara jelas memilih untuk muncul persis pada saat Hanekawa baru pulang, aku putuskan bahwa mungkin sebaiknya aku tak bertanya lebih lanjut soal hal ini.

“Aku bicara dari sudut pandang netral, tapi itu ide bagus. Nona Ketua Murid benar-benar cerdas.”

Sesudah aku berbicara soal ide membaca komik itu, Oshino kemudian berkata.

“Tapi, aku rasa lebih baik kau tak pergi ke mana-mana selain untuk keperluan duel.” lanjutnya kemudian. “Karena ada kemungkinan mereka akan membidikmu pada saat-saat itu.”

“Eh, tapi… bukannya semestinya ini sudah tercakupi dalan negosiasi-negosiasimu?”

“Kunci kesuksesan sebuah negosiasi justru adalah dengan tidak memberi lawan kesempatan apapun, tahu. Aku tak merasa mereka akan mengganggumu. Tapi aku yakin kau tak akan suka bila mereka terus menguntit.”

“Tapi walaupun mereka menguntit, tempat ini tetap takkan ketahuan, kan?”

Medan pelindung temapt ini memastikan bahwa hanya penghuninya, aku, Kiss-Shot, kemudian orang yang membuatnya sendiri, Oshino, bisa masuk. Kalau aku tak salah, dirinya sendiri yang bilang bahwa inilah keefektifan dari medan pelindung ini.

“Yah, aku cukup percara diri dengan kemampuan medan pelindung ini. Tapi aku hanya ingin meminimalkan jumlah kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Jumlah kemungkinan…”

“Nona KM akan datang lagi besok, ‘kan? Kalau kau ingin menambah jumlah variasi komik yang kau baca, coba sekalian kau tanyakan itu padanya. Ah, aku rasa sehubungan ada medan pelindung ini, sekalipun dirinya pernah kemari dua-tiga kali, tetap ada kemungkinan dirinya bisa tersesat. Jadi tak ada pilihan selain membuat medan pelindungnya bekerja buat dia juga.”

“Ta-Tapi…”

“Tentu saja, mengingat aku tak bisa menolongmu, kau bisa bilang seandainya Nona KM tamat, maka kau akan harus mengandalkan teman-temanmu yang lain.”

Aku tak punya teman-teman yang lain.

Aku tak punya pilihan selain mengandalkan Hanekawa.

“Ah, kalau kau sudah beres baca itu, pinjamkan ke aku juga dong.”

Kemudian sesudah mengutarakan permintaan menyebalkan itu, Oshino kemudian pergi.

Dia baru saja pulang, dan sekarang sudah pergi lagi…

Tapi sebenarnya, orang ini tidurnya kapan?

Aku sering melihatnya rebahan dan bermalas-malasan, tapi setelah memikirkannya lagi, aku tak sekalipun pernah melihatnya tidur—mungkinkah dirinya memang bekerja sebegitu kerasnya untuk urusan negosiasi-negosiasi ini?

Kalau memang benar begitu, maka sekurangnya yang bisa kulakukan adalah meminjamkannya komik.

Dan Hanekawa sendiri adalah orang yang benar-benar baik. Keesokan harinya, tanggal 2 April, saat dia datang kembali ke ruruntuhan tempat bimbel, aku mengajukan permintaan itu, dan dengan jawaban segera dia mengambil perannya sebagai ‘orang yang berurusan dengan belanja’, dan semenjak hari itu, hingga kini, yakni tanggal 4 April, untuk tiga hari berturut-turut Hanekawa membelikan komik-komik hasil rekomendasinya dan komik-komik hasil permintaanku juga.

Dia benar-benar terlalu baik.

Hari ini pun aku akhirnya keluar lagi sesudah tiga hari dan…

“Semoga berhasil.”

…dia menyemangatiku dengan kata-kata penyemangat itu.

Kata-kata yang sederhana, tapi benar-benar terasa menghangatkan hati.

“Serius… sesudah aku kembali ke bentuk manusiaku lagi, apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya ya.”

Tapi…

Kali itu, perkiraanku agak meleset.

Tentang kekuatan yang dimiliki oleh gadis bernama Hanekawa Tsubasa itu.

Dan saat itu aku masih belum paham… akan betapa besarnya bahaya yang telah dilibatkan pada titik ini.

“Mungkin dia sekarang sudah pulang?”

Saat aku menggumamkan sesuatu yang terdengar malas seperti itu, jika aku memandang semuanya kembali berdasarkan perkembangan-perkembangan yang kemudian terjadi sesudahnya, akhirnya, Episode muncul.

Dia muncul di tanah lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu.

Dengan samaran kabut, akhirnya dia muncul.

“… … …”

Seorang pemburu vampir.

Seorang separuh vampir.

Dia yang tak mempunyai kelemahan-kelemahan yang dimiliki vampir.

Namun…meski dilemahkan sampai separuhnya, segala kemampuan yang dimiliki seorang vampir masih tetap dia miliki.

Seorang lelaki yang mempunyai imaji garis tipis—dan pandangan mata tajam dan sipit.

Seragam berwarna putih.

Dia terlihat benar-benar muda—tapi salib raksasa yang dia panggul di bahunya dengan satu tangan seakan membantah kesan ini.

Dengan senyuman tipis seperti yang dimilikinya pada hari itu, dirinya kemudian memberiku sorot mata tajam.

Episode.

Orang yang telah mengambil kaki kiri Kiss-Shot.

“Apa-apaan tuh?” Dia tiba-tiba berkata.

Bahkan tanpa meminta maaf karena telah datang terlambat.

“Sumpah. Itu bikin aku ketawa. Bos Dramaturgie malah balik diusir oleh bocah kayak kamu. Dari semua musuh yang dia punya. Dasar, sudah benar-benar lengah—makanya aku benci vampir. Terserah kalau mereka pemburu vampir juga. Padahal begitupun aku masih ngasih hormat ke Bos Dramaturgie. Cuma ke dia seorang…”

“… … …”

Dirinya dipenuhi amarah dan rasa permusuhan.

Di atas itu semua, dirinya memandangku secara rendah.

Yah, jika dirinya memang membenci vampir dan manusia, maka bekas manusia sepertiku yang baru saja diubah menjadi vampir pastilah tipe orang yang paling dia benci.

“Jadi? Sebaiknya kamu kuapain nih, bocah?”

“… … Kamu bilang… mau kamu apain?”

“Ini pertarungan—tapi aku harus bertarung melawanmu dalam hal apa? Aku enggak masalah dengan hal-hal yang enggak keras. Aku merasa kalau kalau gimanapun juga aku enggak mungkin kalah melawan orang-orang macam kamu.”

“Maafkan aku.” Itu yang kubilang. “Terlepas dari menjadi bawahannya Kiss-Shot, aku benar-benar cuma orang biasa. Malah, mungkin sebenarnya aku agak bodoh. Aku cuma terserah bagaimana maunya para vampir dan pemburu vampir. Di samping itu, aku tak yakin aku bisa mengalahkanmu dalam sesuatu selain adu batu-gunting-kertas.”

“Ya ampun. Itu… apa-apan tuh?”

Aku serius ketawa sekarang, itulah yang dikatakan Episode.

“Secara enggak keduga, kau ciut juga ya? Aku pernah berburu vampir-vampir bekas manusia, tapi… semuanya lebih terbawa keadaan dibanding kamu. Mereka semua kira kalau mereka semua jadi sakti. Jadi hebat. Cuma karena mereka jadi bisa ngisap darah kayak nyamuk, mereka sok bangga kayak sudah jadi presiden. Sumpah, apa-apaan tuh?”

“… … … …”

Aku tak tahu sekeras apa dia berusaha agar logatnya terdengar lokal, tapi orang dengan salib berbahaya seperti dia terus-menerus mengulang frasa ‘apa-apaan tuh?’ tak bisa tak terdengar agak aneh.

Aku jelas tak tahu apa yang dia sendiri pikir tentangnya sih.

“Yah, mereka semua sih langsung kukasih pelajaran. Tapi kamu… kayaknya kamu enggak butuh digituin ya? Kerjaanku jadi lebih ringan. Karena itu, buat hari ini, biar kau kukasih ‘layanan khusus.’”

Episode bilang seraya menutup sebelah matanya.

Tindakan yang mungkin baginya adalah semacam kedipan.

“Kubunuh kamu sedemikian rupa agar efek sampingmu tak sampai berlangsung.”

“…Rasanya aku pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.”

“Itu perkataan khasku. Bikin kamu ketawa ‘kan? Ntar kalau kamu coba-coba meniruku, pastikan kamu menirunya dengan benar.”

Mengucapkan ini… Episode menawarkan sebelah tangannya dari sisi yang tak memanggul salib.

Ajakan untuk berjabat tangan?

Ajakan untuk berjabat tangan sebelum bertarung?

Di luar dugaan, orang ini sopan.. sembari berpikir demikian, aku beranjak untuk meraih tangannya, tapi dalam sekejap itu, Episode tiba-tiba menggerakkannya…

…dan mengubahnya ke bentuk gunting.

“Sip, aku yang menang.”

“… … …”

“Sekarang udah kebukti kalau kamu juga enggak bisa ngalahin aku dalam batu-gunting-kertas. Jadi kutaklukkan baik dengan vampir dan pemburu vampir.”

“Oshino memang bukan jenis orang yang gampang kuhadapi.” Aku berkata. “Tapi sekarang jelas kalau kau jenis orang yang aku benci.”

“Ya ampun. Kalau kamu sudah ngomong gitu buat orang-orang kayak aku, kamu enggak akan tahan ngelawan Guillotine Cutter. Bahkan akupun enggak sebanding dengan kelicikannya dia. Yah, karena malam ini sudah jelas kamu kalah melawanku, kamu untung karena jadi enggak usah ngelawan dia.”

“Kau benar-benar pede ya?”

“Kamu boleh ngomong gitu.”

Tapi, kemudian dia juga berkata.

“Aku setuju soal tuh orang, Oshino Meme, dia beneran orang brengsek dan licik. Sumpah, apa-apaan tuh? Gara-gara dia ngebuat siasat macam-macam—baik itu dengan vampir bekas manusia atau vampir asli, aku belum pernah melakukan pertarungan yang adil dan seimbang kayak sekarang.”

“Apa saja persyaratannya?”

“Okeh. Jika aku menang, kamu akan katakan di mana Heart-Under-Blade berada. Jika dalam kemungkinan kecil kamu kalahkan aku, akan aku balikin kaki kiri gadis itu. Maksudmu persyaratan macam begini?”

“Iya. Persis.”

“Tapi ngomong-ngomong, memang kamu paham arti persyaratan-persyaratan ini?”

Episode melanjutkan ucapannya dengan muka menyeringai tatkala aku mengangguk.

Kamu enggak boleh membunuh… dalam pertarungan ini. Agar aku memperoleh tempat Heart-Under-Blade berada darimu, kamu enggak bisa aku bunuh. Kalau kamu mau mendapatkan kaki kiri gadis itu, maka kamu juga enggak bisa bunuh aku. Memang kayaknya kasar, tapi tindakannya ini bikin garis jelas kalau pertarungan ini enggak akan sampai mati. Beneran tindakan yang layak buat saat-saat damai.”

“… … …”

Permainan.

Oshino menyebut semua ini dengan cara demikian.

Ini bukan pertarungan maut, melainkan permainan.

“Dan… kayak yang sudah kamu bilang. Dramaturgie, Guillotine Cutter, terus aku juga, kami semua profesional. Kamu enggak punya kesempatan menang sama sekali melawan kita kecuali melakukannya dengan cara ini. Si brengsek Oshino itu benar-benar memilihkan metode yang memberimu kesempatan.”

…Itu sungguhan?

Soal keseimbangan itu?

Orang yang tampangnya selalu main-main itu… dia benar-benar sudah memikirkannya sejauh ini, dan menyiapkan pertarungan macam ini?

Layanan negosiasinya yang… netral.

Dua juta yen. Itu yang dimintanya.

“Yah, jelas saja, kalau saja aku tahu di mana Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade berada, kamu dan perempuan itu, bersama, coba tebak… aku bunuh kalian berdua sedemikian rupa agar efek samping kalian enggak sampai berlangsung, tahu.”

Episode tertawa.

“Asal tahu saja, aku enggak akan main-main ngelawan kamu. Aku enggak suka menindas yang lemah. Tapi aku suka menindas si tokoh jahat.”

“Yang jahat di sini itu aku?”

“Ya, iya dong. Kamu yang monster.”

“… Bukannya kamu…”

Bukannya kamu juga sama?

Tapi aku tak bisa mengatakan itu.

Bagaimanapun juga… dirinya cuma seorang separuh.

“Eh? Bukannya kamu… apa? Kalau ada yang mau kamu omongin, cepat bilang.”

“Enggak. Lupakan. Tak ada apa-apa lagi yang perlu aku katakan. Ayo mulai.”

“Sip. Kita beresin ini.”

Dengan demikian, perkenalan pun berakhir.

Berlainan dengan saat aku berhadapan dengan Dramaturgie, kali ini justru akulah yang menyerang duluan—bahkan, yang bisa kupikirkan cuma bagaimana cara melakukan langkah pertama.

Kenyataannya, memang aku tak punya pengalaman bertarung apa-apa.

Kalau aku mau berada dalam posisi bertahan, aku belum apa-apa pasti sudah gemetaran, dan aku takkan mungkin mengerti lagi apa-apa yang berlangsung di depan mataku. Maka setidaknya, sebaiknya aku langsung meluncurkan diriku ke posisi menyerang.

Dengan gerakan yang pernah kulihat daam komik yang kubaca, aku melesat ke depan dan melepaskan tinju yang padanya kupertaruhkan seluruh berat badanku. Namun seranganku itu hanya memotong udara.

Atau lebih tepatnya—memotong kabut.

Pada detik itu, Episode mengubah badannya menjadi kabut—sudah jelas tak mungkin bagiku untuk memukul kabut. Aku terbawa oleh lengan yang padanya kuberikan seluruh bobot tubuhku dengan pose yang aneh, dan aku terjungkal ke depan.

Ini gawat, serangan balasan darinya pasti akan terjadi. Aku cepat berjaga, namun, karena dirinya telah berubah menjadi kabut, maka sebaliknya, Episode pun tak bisa menyerang.

Episode, yang telah berubah menjadi kabut bersama salib besar yang ia bawa…

“Maaf ya, tapi dalam hal tenaga fisik, aku jelas kalah darimu, wahai bawahan Pemusnah Fenomena Ganjil—aku enggak punya niat melawanmu dalam pertarungan jarak dekat.”

Begitu katanya, saat masih dalam wujud kabut—dia pun memulihkan kembali tubuhnya di suatu tempat yang berjarak agak jauh dariku.

Bahkan salibnya pun terbentuk kembali.

Karena salib itu turut berubah menjadi kabut… apa salib itu juga merupakan bagian dari tubuhnya, seperti pada kasus Dramaturgie?

Tidak, aku salah… kalau aku memang harus mengatakannya, dia menangani salib itu dengan cara yang sama dia menangani pakaiannya.

Persis seperti pakaian Dramaturgie dan Kiss-Shot pula.

Pasti itu.

“… … Terus apa yang akan kau lakukan dari jarak sejauh itu?”

“Aku lakukan ini!” kata Episode…

…dan ia pun melontarkan salib raksasa itu ke arahku.

Begitu saja.

Berbeda dari saat aku melawan Dramaturgie, Episode tak mempunyai pose melempar atau apa. Dengan tenaga kasarnya, Episode melontarkan salib itu begitu saja.

“W… whoa!”

Itu benar-benar tak kusangka.

Jangan bilang kalau dia sering melempar-lempar salib, yang tingginya tiga kali tinggi tubuhnya—yah, sebelumnya aku memang nyaris melempar roller, tapi ini kan–seorang pemburu vampir yang melempar-lempar salib?!

Orang ini tak punya ketaatan beragama sama sekali!

Aku memang sudah menduga kalau salib itu senjata—tapi aku yakin semenjak awal kalau dia akan menggunakannya seperti kampak…!

“…Agh!”

Pada saat terakhir… aku berhasil menghindarinya.

Aku menghindar, kemudian aku memaki dalam hati.

Aku bodoh. Kapan sih aku akan belajar? Sebenarnya aku bahkan tak perlu menghindari serangannya! Bagaimanapun, dengan kekuatan pemulihan diri yang kumiliki semenjak aku dijadikan bawahan Kiss-Shot, aku pasti akan bakalan pulih dalam sekejap mata—sejak awal aku sudah berpikir untuk memanfaatkan kekuatan itu secara sepenuhnya! Mungkin ini hanya pola berpikir dengan akal sehat yang masih kupunya dari waktu aku menjadi manusia, tapi aku menghindari serangan itu secara refleks. Alasannya, lebih karena aku bisa melihat serangannya secara jelas lewat mata vampirku sih…

Namun kali ini, rupanya tindakan yang tak kuniatkan itu berakhir sebagai berkah.

Salib yang kupikir berhasil kuhindari itu ternyata menggores bahu kananku… kemudian bahu kananku itu, sekejap kemudian, seketika menyala oleh letupan api.

Bahuku terbakar.

Dalam sekejap… bahuku sudah lenyap dan tak ada lagi.

Kasusnya persis sama tatkala aku terkena sinar matahari.

“S-Salib itu…!”

Maksudku… bukankah benda itu juga salah satu kelemahan yang dimiliki vampir?

Bahkan akupun sudah tahu kalau cuma sebatas itu!

Episode memanggulnya seakan itu hal yang biasa. Terlalu biasa. Terlebih dari itu, kejanggalan hal itu justru menjadi titik buta yang telah disiapkannya. Dalam hal ini, dirinya begitu tak terganggu oleh kenyataan bahwa aku menyadarinya, sehingga aku bahkan tak berpikir bahwa kenyataan salib itu ada merupakan suatu fakta penting.

Begitu rupanya.

Sebagai separuh vampir, Episode tak mempunyai kelemahan-kelemahan yang dimiliki kaum vampir—dengan kata lain, dia tak merasakan dampak dari salib-salib terhadap vampir.

Salib itu.

Salib raksasa itu.

Lalu senjata itu, terlihat seakan tak ada yang istimewa darinya. Namun jika aku menyentuhnya secara langsung, nampaknya akan ada semacam efek yang akan terlepas.

Efek menakjubkan seperti itu.

Kulit yang melepuh itu—sebagai tambahan, tidak pulih secara otomatis.

Yah, mungkin bukannya tak pulih sih—tapi pemulihannya berlangsung dengan luar biasa lamban. Bahkan dengan kekuatan pemulihan diri yang dimiliki oleh seorang bawahan Kiss-Shot, efeknya benar-benar tak bisa mengimbangi.

Ini bahaya—dampaknya lebih berbahaya dibandingkan waktu terkena sorot matahari.

Aku tersentuh olehnya saja, dan aku akan langsung terkena dampaknya secara seketika.

Lalu hanya karena tergores saja… keadaanku sudah langsung seperti ini.

Bagaimana kalau aku menerima serangan tadi secara langsung?!

“Eh…?”

Pada saat aku mengkhawatirkan tentang lukaku, sekali lagi Episode telah berubah wujud menjadi kabut—dan dalam wujud kabut ini, dirinya telah berpindah tempat.

Aku yakin dia akan langsung mendekatiku untuk menyerang. Namun, seperti yang sebelumnya dikatakannya, Episode sama sekali tak mendekat. Berbicara soal ke mana dirinya lenyap, rupanya ia kini berada di tempat sasaran lemparan salib raksasanya itu sesaat lalu.

Sesudah menggores tepi bahuku, salib itu menusuk permukaan lapangan olahraga dengan ujung sepanjang sepuluh meter sampai ke separuh panjangnya. Episode memulihkan tubuhnya di dekat sana—dan kemudian ia mencabut kembali salib raksasa itu.

“Setelah kupikir sekarang, waktu kamu melawan Bos Dramaturgie, kamu juga melemparin segala macem benda dari jauh. Ide bagus, aku juga, waktu melawan orang-orang kayak dia, memakai siasat yang sama… kayak gini!”

Mengatakan itu—dia melemparkan salibnya untuk kedua kali.

Diarahkan padaku.

Kali ini, aku menghindarinya secara sempurna. …Namun, meski benar aku berhasil menghindarinya, aku tak bisa santai. Butuh waktu beberapa lama bagiku untuk memahami rencana perang macam apa yang Episode persiapkan untukku, namun kini aku mengerti segala detilnya.

Dalam pertarunganku yang sebelumnya melawan Dramaturgie, Hanekawa memperhatikan adanya dua kekurangan.

Yang pertama…

“Jika lawanmu melakukan hal yang sama denganmu, apa yang akan kau lakukan?”

…adalah ini.

“Dengan kekuatan fisik besar yang dimiliki seorang pria besar, jika dia balas melemparimu dengan peluru atau roller, apa yang akan kau lakukan?”

Dan kemudian… itulah yang kedua.

“Hal paling menakutkan dari mengandalkan serangan-serangan jarak jauh, lebih dari apapun juga, adalah kehabisan amunisi. Karena kau melemparkan senjatamu… sekalipun keranjangnya penuh dengan bola, kupikir keputusanmu buruk jika kau melemparinya tanpa berpikir.”

Apa yang Episode lakukan sekarang melawan seorang vampir sepertiku pada dasarnya terbebas dari dua kelemahan itu.

Pertama, caranya melepaskan salib itu.

Sekeras apapun aku berusaha, aku takkan mungkin balas melemparinya dengan salib yang sama—bagaimana bisa aku balas melempari sesuatu yang kusentuh saja tak bisa?

Saat aku menyentuhnya akan menjadi saat bagian tubuh yang menyentuhnya melepuh.

Ditambah lagi, dirinya tak perlu khawatir soal kehabisan amunisi.

Dengan berubah menjadi kabut… dia akan bisa mengambil lagi salib yang baru dilemparkannya itu.

“…Separuh vampir.”

Dia tak terancam dengan sentuhan salib.

Dia dapat merubah tubuhnya sendiri menjadi kabut.

Dia memanfaatkan segala keunggulan yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya—heh, dia bahkan memanfaatkan semua kelemahan yang aku punya!

“Apa-apaan tuh!”

Seakan mendukung proses berpikirku, sekali lagi dirinya memulihkan tubuhnya di dekat salib yang tertancap di tanah.

Kemudian dengan sekuat tenaga, ia kembali mencabutnya.

“Akan kucukur kamu sampai habis kayak gini! Aku mohon ya, tolong jangan sampe jantungmu sendiri yang langsung kena. Soalnya aku kan enggak bisa membunuhmu, tau-uuu!”

Sembari berbicara, ia melepaskan serangan kejutan.

Aku bisa menghindarinya—mungkin ini karena, seperti yang dikatakannya, aku melebihinya dalam hal kekuatan. Bahkan kekuatan lengan seorang separuh vampir dapat menghasilkan kecepatan yang besar, dan ini bukan sesuatu yang dapat kulampaui dengan ketajaman mata dan kekuatan fisik mentah yang kumiliki sebagai vampir murni semata.

Walau memang… kalau terus begini keadaannya, dia benar-benar akan ‘mencukurku’ sampai mati.

Tak ada kartu lain yang bisa kumainkan. Bahkan dalam buku-buku Gakuen Inou Batoru yang kubaca selama tiga hari ini, tak ada perkembangan cerita macam begini!

Aku berbalik.

Seperti yang kuperkirakan, salib itu kini tertancap di dalam tanah.

Bentuknya persis… seperti penanda kuburan.

Ada salib yang kini tertancap di lapangan olahraga!

Dan kemudian di dekat sana, wujudnya kemudian membentuk.

“Sebaiknya kau menyerah saja… walau dalam kasusku, besok pun kamu tetap akan kubunuh. Kamu boleh mikir kalau pikiranku cuma sejalan, kamu boleh mikir kalau aku enggak punya cara bertarung lain, tapi aku enggak peduli, kubunuh kamu dengan teknik yang sama dengan yang kupakai sekarang… karena yang namanya vampir enggak berdaya dalam ngelawan salib!”

“… … …”

Dirinya sungguh-sungguh… seorang profesional.

Walau tindakan-tindakannya lebih didasari oleh motif-motif pribadi, dirinya juga, seorang profesional.

Kuperhatikan luka bahu yang kuterima di awal pertarungan. Lukanya masih belum sepenuhnya pulih—aku terus merasakan rasa sakit tajam darinya.

Aku tak punya rencana.

Bagaimanapun juga, kecuali jika ini pertarungan yang dituntaskan secara cepat, rasanya tak akan ada cara buatku yang tak berpengalaman untuk menang melawan musuh yang berpengalaman seperti dirinya—walaupun, dalam pengaturan seperti ini pun—kenyataannya memang aku tak bisa berbuat apa-apa.

Dengan begitu, keadaanku benar-benar terpojok.

Sekalipun aku lari ke bangunan gudang yang nyata-nyata padat, dengan lawan yang berwujud kabut, tak ada gunanya aku melemparinya dengan peluru ataupun roller. Serangan balasan macam apa yang bisa kulancarkan terhadap lawan yang tak bisa dikenai dengan serangan fisik?

Akibat panik yang menyerang, sekujur badanku menjadi kaku. Jika aku seperti ini, aku takkan sanggup menghindari serangan berikutnya yang akan Episode lancarkan. Aku mendapatkan kesimpulan yang anehnya terasa tenang ini. Lalu pada saat itulah, itu kemudian terjadi.

“A-Araragi!”

Teriakan itu… mencapai telingaku.

Halusinasi pendengaran sekeras ini jelas tak mungkin—memandang ke arah dari mana suara itu terdengar, melihat sosok siapa yang hadir di sana… oh, seandainya masih belum cukup jelas dari mendengar suaranya, sosok itu adalah Hanekawa Tsubasa.

Dia muncul dari belakang bangunan itu.

Persis hari itu, apa dirinya memang… bersembunyi di sana?

Ini konyol—Hanekawa mestinya berada di rumahnya, tapi…

“Kau jangan menyerah dulu! Lawanmu itu kabut, karena itu…!”

Seakan mengabaikan kebingunganku, Hanekawa membentuk tangannya seperti megafon di depan mulutnya, dan terus berteriak ke arahku.

“Karena dirinya kabut, makanya… dengan kata lain…”

“…Apa-apaan tuh.”

Lelaki itu berkata.

Episode, tanpa keraguan, melempar kembali salib raksasa yang telah dipersiapkannya untukku… ke arah Hanekawa.

Eh?

Apa?

Kenapa… dia melakukan itu?

“Ha… HANEKAWAAAA!”

Refleks yang Hanekawa miliki sama sekali tak lemah, setidaknya begitulah yang kudengar.

Dirinya seorang murid teladan.

Bahkan nilai-nilai olahraganya saja dapat dikatakan luar biasa—walau semua ini masih dalam lingkup batasan normal manusia.

Dirinya tak bisa dibandingkan dengan vampir, tentunya.

Ataupun juga dengan separuh vampir.

Dengan ketajaman pandangannya dan kekuatan mentah yang ia miliki, sekalipun dirinya saat tersentuh salib itu takkan tersulut atau melepuh, tetap tak ada keraguan kalau salib raksasa itu sebuah bongkahan perak tebal.

Punggung Hanekawa yang lunak…

…jelas takkan memberinya pertahanan sama sekali.

“… … … …!”

Aku mengumpulkan segenap kecepatan berlariku dan melesat ke tempat Hanekawa berada. Bagi indera-inderaku, hanya perlu sesaat—bahkan kenyataannya, sebelum Hanekawa jatuh terlentang di atas tanah, aku telah berhasil menangkapnya.

Namun…

Pada akhirnya… aku tetap saja terlambat.

Baju seragam Hanekawa tetap saja terkoyak, kulitnya juga terkoyak, otot-ototnya terkoyak, tulang-tulang selangkanya terkoyak, organ-organ dalamnya terkoyak—aliran darah berwarna merah terang memancar keluar tanpa akhir—tanpa berhenti.

Lukanya terlalu besar, menghentikan pendarahannya jelas tak mungkin.

Tentu saja—serpihan-serpihan uratnya yang tersebar, ataupun darah yang terus mengalir, tidak menguap dan kembali ke dirinya begitu saja.

Kesemuanya membanjiri lapangan olahraga sebagaimana mestinya.

Tanpa terburu.

Warna merah itu… warna merah itu seakan tenggelam.

“Ha… Hanekawa, Hanekawa, Hanekawa, Hanekawaa!”

“…Ehehehe.”

Hanekawa.

Dirinya… tetap tertawa seakan sedang tersipu seperti itu.

Dalam keadaan seperti ini.

Seakan-akan dia malu karena organ-organ dalamnya tanpa sengaja telah terlihat olehku.

Dia bersikap seakan tersipu.

“Araragi… suaramu terlalu keras…”

“… … …!”

“Pon-ponselmu…”

Rona wajah Hanekawa secara berangsur semakin memburuk.

Tapi bahkan itupun tak ia biarkan merusak wajahnya yang sedang tersenyum.

Dia tak melepaskan senyumannya dan melanjutkan perkataannya.

“Kau lupakan ponselmu. Aku… menyusul buat mengantarnya…”

“Per-persetan soal ponselku!”

Aku menangis.

Walau Hanekawa  memahami hal itu—ponsel dan sebagainya, untuk Hanekawa itu semua tak lebih dari alasan.

Aku yakin Hanekawa pada dasarnya hanya khawatir.

Tanpa pulang ke rumah, dirinya menyusulku kemari.

Kemudian, saat dirinya tak lagi tahan untuk hanya menonton, dirinya pun keluar.

Tak mungkin dia tak menyadari betapa besar bahaya dari tindakannya itu!

“Tenangkan… dirimu… lawanmu itu kabut.”

Walau tanah di bawah kami secara berangsur terus diwarnai merah—bagaimanapun, nada suara Hanekawa tetap terdengar tegas.

“Kabut adalah, dengan kata lain, hanya air.”

“…? …Ha-Hanekawa?”

“Araragi.”

Dengan nada tegas seperti itu—secara perlahan dirinya menutup mata.

“Berapa rekormu dalam ujian lompat jauh?”

Aku bisa merasakan berat badannya.

Seakan mengikuti kata-katanya barusan, mendadak saja badan Hanekawa terasa berat. Sekalipun darahnya mengalir begitu banyak—hanya dengan kehilangan kesadaran semata, tubuh manusia kemudian berubah menjadi begitu berat.

Kalau kehilangan kesadaran saja terasa begini…

…bagaimana jadinya saat seorang manusia kehilangan nyawa?

“Ha… apa-apaan tuh? Kamu mau bikin aku nunggu berapa lama?”

Aku menatap.

Episode telah mengambil kembali salib raksasanya yang menembus Hanekawa. Dirinya menghadap ke arahku, dan dirinya telah bersiap.

“Kalau kau terus berdiri di sana, badan cewek itu bakal semakin terluka loh.”

“Kau… kau…”

“Asal tahu saja, kamu orang yang melanggar perjanjian terlebih dahulu—wahai bawahan Pemusnah Fenomena Ganjil. Seharusnya pertarungan ini satu lawan satu. Tapi, berhubung aku juga ikut campur dengan pihak luar, boleh dikata kita impas.”

“Hanekawa… dia cuma orang biasa.”

Dia di luar hitungan!

Memang apa salah yang telah Hanekawa lakukan?

“Terhadap orang biasa, kau–!”

Dan di samping itu…

Apa bahkan manusia pun… merupakan musumu?

Bukankah yang kau benci—adalah musuhmu?

Bukan hanya vampir, tapi bahkan manusia…!

Walau begitu, tetap tak seharusnya kau turut memperhitungkan Hanekawa—detik saat dia kehilangan kesadaran, dengan nada yang tetap tegas hingga akhir, dia memberiku saran yang artinya sayangnya masih tak aku pahami juga sampai seka…

“… … …!”

Ah. Bukan.

Salah! Sekarang aku mengerti.

Jadi begitu… ini satu lagi chi no ri yang telah Oshino sebutkan. Keunggulan medan.

Aku tarik kembali apa yang kukatakan barusan. Hanekawa benar-benar patut Episode perhitungkan.

Dengan ini, aku bisa menang!

“Oooooooooooo!”

Berteriak dengan seluruh tenaga—aku mulai berlari.

Aku telah meletakkan tubuh lunglai Hanekawa dengan lembut di atas lapangan olahraga, lalu aku langsung mempraktekkan, tanpa keraguan, siasat yang kuperoleh berkat petunjuknya.

Posisi Episode saat ini dan ‘tempat itu’ membentuk satu garis lurus. Di atas garis itu, aku menghentikan kakiku. Kemudian, persis pada waktu yang sama, Episode melontarkan salib raksasa itu ke arahku. Sempurna—tidak, belum.

Kalau salib itu gagal kuhindari, maka semua persyaratan agar siasatku berhasil akan gagal kupenuhi!

Aku tak melompat, aku langsung berjongkok di tempat itu juga—kemudian saat salib raksasa itu melintas di atas kepalaku, menyeret bersamanya beberapa utas rambutku.

Dan akhirnya salib itu pun tersangkut di ‘tempat itu.’

“Apa? Apa? Mestinya kamu marah sekarang tapi pada akhirnya kamu cuma bisa lari? Hah! Kamu payah dan payah! Apa-apaan tuh!”

Episode segera merubah tubuhnya menjadi kabut dan mengejar salibnya.

Namun, aku juga tak bermaksud untuk berdiam di titik itu terlalu lama—dari kedudukan berjongkok itu, aku jadikan kedua lututku pegas, dan aku melompat secara seketika!

Dengan kejutan itu, lapangan olahraga—tidak hanya melesak, namun juga sampai retak.

Aku benar-benar harus meratakannya lagi sesudah ini semua nanti.

Namun, aku tak bisa mempermasalahkan soal itu sekarang. Ini pertama kalinya aku berusaha mempertahankan posturku di tengah udara. Ternyata memang agak susah.

Kekuatan lompatan vampir.

Secara vertikal, mungkin aku melompat setinggi 20 meter.

Lalu ke depan—sekitar 20 meter.

Persis ke tempat yang kusasar.

Aku mendarat di ‘tempat itu.’

‘Tempat itu’—seperti halnya gudang peralatan olahraga, mengingat aku telah bersekolah di tempat ini selama dua tahun dan menerima pelajaran olahraga secara teratur, tak mungkin aku tak tahu tentang ‘tempat itu.’

Yakni—terpasang di salah satu ujung lapangan, kotak pasir untuk lompat jauh.

Di sanalah aku mendarat.

Olahraga atlektik lompat jauh.

Walau tanpa lari pendahuluan.

Aku bahkan tak membutuhkannya.

Padahal jelas ini gerakan untuk lompat jauh.

Aku mendarat persis di sebalh salib yang kini tertancap jauh di dasar kotak pasir—kemunculan Episode di kotak pasir itu sesudah berubah menjadi kabut, sekali lagi, nyaris seketika.

“Ha! Apa-apaan tuh! Itu tenaganya hebat, tapi enggak mungkin tendangan kayak gitu bisa melukai kabut!”

Masih berwujud kabut, Episode tertawa.

Tapi itu bukan keadaan yang patut baginya untuk tertawa, sebenarnya.

“Kabut itu tak lebih dari air.”

Kubilang.

“Kalau pasir di sini kusebarkan, menurutmu apa yang bakalan terjadi?”

Lari lompat jauh—saat kau mendarat, pasirnya akan tersebar ke mana-mana.

Walau itu akan terjadi dengan lari lompat jauh biasa—ini lari lompat jauh yang dilakukan seorang vampir. Pasir yang tersimpan dalam kotak pasir akan tersebar sepenuhnya—ini sungguh pendaratan yang seintens itu.

Sebagaimana yang kuduga.

Episode… menampilkan sosoknya…

…dengan cara yang sama seperti bagaimana darah Hanekawa kemudian diserap oleh permukaan tanah lapangan olahraga. Episode tak memaksudkannya demikian, yang terjadi sebenarnya persis hanyalah fenomena fisika biasa.

Wujudnya kini nampak.

“Ap… Ap…!”

“….Ooooo!”

Pada kesempatan yang muncul saat Episode kebingungan, aku langsung menabrak tubuh langsingnya—selagi pasir masih berceceran dari langit, segera ketekan tubuh Episode ke bawah dengan seluruh berat tubuh yang aku punya.

Meski telah ditindih seperti ini, Episode masih bertahan dan memberontak—tapi aku terus menekannya ke bawa dengan tenaga semata.

Kemudian dengan tenaga semata pula, lehernya kucekik.

Episode takkan bisa mengubah badannya menjadi kabut untuk beberapa lama.

Jika demikian—dengan tenagaku, akulah yang menang.

Aku.

Aku. Aku. Aku. Aku.

“… … … … …!”

Aku akan bunuh dia!

Ada aku yang lain dari suatu tempat, dari suatu tempat lain yang bukan tempat ini, yang tengah mengamati diriku yang isi kepalanya tengah kosong.

Sepenuhnya kosong.

Kenyataan bahwa aku telah berubah menjadi seorang vampir, dengan lawanku seorang separuh vampir, kaki kiri Kiss-Shot, segalanya—semuanya lenyap begitu saja dari dalam kepalaku.

Yang tersisa hanya…

Yang tersisa hanya organ-organ dalam Hanekawa.

Di dalam kepala yang sepenuhnya kosong itu, aku terus mencengkramnya—karena itu.

Karena aku, dia…

Cuma dia—yang harus—kubunuh…

“Cukup.”

Terasa sebuah tepukan.

Pada detik itu—ada tepukan ringan yang mendarat di bahku.

“Kalau kau melakukan lebih dari ini—maka kemanusiaanmu benar-benar akan hilang lho.”

“… … … …!”

Tanpa meleas tanganku dari leher Episode, aku memandang ke balik bahu—sosok yang berada di sana adalah pria dengan kemeja aloha, Oshino Meme.

Sementara pasirnya terus menghujan ke bawah… dirinya hanya berdiri di sana, seakan itu memang hal yang sudah seharusnya.

“A-Ah…”

Bahkan pada waktu itupun dengan Dramaturgie—dia pasti mengawasiku dari suatu tempat, itu katanya. Karenanya, dia pun pasti sebelumnya melakukan hal yang sama sekarangpun juga. Aku sama sekali melupakan tentang ini—tapi, bukan itu masalahnya!

“Ka-Kau! Semestinya kau bisa hentikan Hanekawa!”

“Tak usah teriak, Araragi. Kau ini bersemangat sekali. Apa ada hal baik terjadi?”

Bahkan dalam situasi seperti itu—Oshino melepas tawa yang renyah.

Dirinya menampakkan wajah tersenyum yang terus terang saja menyebalkan.

“Tapi, walau kau bersemangat sekalipun, sori, kau sedang berada di tengah pertandingan. Lihat, dia pingsan.”

“Eh?”

Sesudah Oshino mengatakannya, aku kemudian sadar.

Episode telah menampilkan bagian putih matanya. Dengan cepat aku melepas tanganku dengan kebingungan. Cengkramanku rupanya sampai menimbulkan bekas-bekas jemari di dasar lehernya.

“E… Eh?”

Apa yang barusan sedang kulakukan?

Apa tadi aku… sungguh sedang berusaha membunuhnya?

Dirinya, seorang separuh vampir… seorang separuh manusia?

Tapi—tapi, Hanekawa…

Hanekawa.

“Hanekawa!”

“Ah, iya, aku melihatnya.”

“Bisa-bisanya kamu cuma melihatnya—mestinya kamu hentikan dia!”

“Itu tak tercakup oleh ongkosmu. Aku dikontrak untuk negosiasi dengan tiga spesialis dalam pengusiran vampir—lebih dari itu, biayanya akan bertambah. Aku sama sekali tak punya perhatian dengan orang-orang biasa.”

Dua juga…

Biaya kompensasi.

Keseimbangan.

“Kalau begitu, bilang sejak awal! Kalau kau bilang begitu…”

“Kau bisa saja membayarkan bagian biayanya, seharga dua juta yen lagi, misalnya?”

“Dua juga? Tiga juta pun aku mau!”

“Woah, itu jumlah yang besar.”

“Oshino, ini bukan waktunya main-main!”

“Ini bukan main-main, ini tawar-menawar, Araragi. Dan dengan tiga juta ten, negosiasi ini tuntas.” Oshino menjawab tanpa kebimbingan.

“Kuberi kau petunjuk, kalau begitu. Pakai kepalamu sedikit, Araragi. Tubuhmu yang abadi itu memangnya kau pakai buat apa?”

“Hah?”

“Yah, seperti yang kau bilang, hanya karena ada seorang manusia yang ambil bagian dalam perkelahian antara seorang vampir dan seorang separuh vampir, itu masih tak layak jadi alasan untuk membunuh orang. Itu namanya berlebihan—karenanya, dengan tambahan biaya itu, maka aku akan memberitahu satu hal baik. Ini bukan kasus di mana kau tak harus mencekik siapapun—coba ingat semuanya lagi.”

“Ingat, kau bilang…”

Apa?

Bahkan aku tak punya waktu untuk memikirkan jawaban pertanyaan ini.

Seperti yang Kiss-Shot perlihatkan padaku sebelumnya, aku meratakan permukaan tanganku, aku tusukkan ke dalam dahiku…

Peduli setan jika adegan ini tak layak ditunjukkan dalam anime!

Kemudian seketika aku ingat.

Karakteristik khusus yang dimiliki para vampir—aku segera mengetahui apa yang harus kulakukan. Langsung di tempat, dengan tangan masih tertanam ke dalam otak—kutinggalkan Oshino dan Episode, dengan sekuat tenaga aku berlari ke tempat Hanekawa terbaring.

Lima menit.

Jika oksigen tak mengaliri otak selama lima menit, maka otak akan berhenti bekerja—berbicara sebaliknya jika aku sampai di sana tepat waktu, sekalipun jantungnya telah berhenti, maka Hanekawa mungkin masih bisa diselamatkan.

Diselamatkan.

Bahkan tiga menit pun belum berlalu semenjak saat itu.

Aku keluarkan tanganku dari dahi—lalu kuteteskan darah yang menempel di tanganku ke lubang yang menganga di punggung Hanekawa itu, ke dalam luka yang teramat besar itu.

Aku sebelumnya sempat mendengarnya dari Kiss-Shot.

Di dalam darah para vampir, terkandung suatu efek penyembuh—dan dalam kasus ini, darahnya adalah darah milikku sendiri, bawahan dari Kiss-Shot, sang Vampir Berdarah-Logam, Berdarah-Panas, Berdarah-Dingin.

Jelas saja, karena darah vampirku menguap langsung di tempat luka itu berdarah, aku harus terus menciptakan luka-luka baru di tubuhku, satu sesudah yang lainnya, agar darahku dapat terus mengalir—dan aku berhasil.

Di depan mataku sendiri—hasilnya sudah terlihat.

Luka di tubuh Hanekawa sudah mulai pulih lagi.

Organ-organ dalam Hanekawa mulai terpulihkan, tulang-tulangnya terpulihkan, urat-uratnya terpulihkan, kulitnya terpulihkan—pada akhirnya, tanpa meninggalkan satupun bekas luka—dirinya sepenuhnya telah terpulihkan.

Daripada pemulihan—kesannya lebih seperti pembalikan waktu.

Aku coba sentuh dia dengan lembut.

Aku coba menyentuh penggung Hanekawa yang baru pulih.

Pucat dan melekuk dengan perlahan, bagian tubuh yang nampaknya telah kurus selama bertahun-tahun—sama lembut, bahkan terlihat mengkilat, seandainya kau tekan sepertinya bisa rapuh, namun jelas bahwa semua itu nyata.

“…A-aaaa.”

Dalam satu tarikan nafas.

Emosi yang sebelumnya kutahan setengah mati akhirnya terlepas.

Dalam sekejap mata, nafasku terpenuhi kembali.

“Ha-Hanekawa!”

Aku memeluk perutnya dengan penuh semangat.

Walau seandainya aku dekap dia dengan sepenuh kekuatan vampirku dan mematahkan tubuh kurusnya, maka aku akan harus mengulangi semua upayaku lagi.

“…Araragi.”

Demikian ujar Hanekawa yang baru pulih kesadarannya.

Tunggu—mungkin kesadarannya sendiri sudah pulih beberapa lama sebelum itu.

“Kenapa kau sedang mengusap-usap pipimu ke perutku seakan perutku suatu hal yang teramat berarti buatmu?”

“Eh…”

“Ditambah lagi, apa baju seragamku yang robek ini juga karena ulahmu?”

Ada kasus-kasus ketika orang-orang yang baru tersadar kembali mengalami kesulitan untuk mengingat apa yang terjadi persis sebelum mereka kehilangan kesadaran.

Sepertinya hal serupa juga baru terjadi pada Hanekawa.

Bukan cuma seragammu, bahkan organ-organ tubuhmu juga ikut tercabik lho.

“Hanekawa, tolong.”

Aku bilang padanya, tanpa mengubah posisi, dengan kepala masih terkubur ke perutnya.

Aku ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar masih hidup.

“Biarkan aku tetap begini sedikit lebih lama lagi.”

———————-

Catatan:

Soal angka sial yang berderet pada tanggal, di Jepang (dan juga China), angka 4 dipandang sebagai angka sial dan perlambang kematian. Hubungannya terdapat pada salah satu cara pelafalannya yang serupa dengan cara melafalkan kata untuk ‘mati’.

PHS… aku lupa kepanjangannya. Tapi mereka yang suka Final Fantasy VII pasti tahu.

Aku beneran enggak ngerti soal kalimat-kalimat khas Episode ini. Referensi yang satu ini lolos dari pengetahuanku.

Sebenernya ‘apa-apaan tuh’nya si Episode di versi Jepangnya adalah ungkapan ‘itu konyol banget!’-nya gadis-gadis muda di Jepang sono, yang agak merendahkan orang lain. Tapi aku engga nemu padanan bagus yang bisa kupake di sini.

30/06/2012

Kizumonogatari – IND (010)

Ini bab yang secara enggak terduga ternyata panjang. Bagian cerita yang ini lumayan menarik.

Sori perlu waktu lama buat melanjutkan.

—————-

010

“…Dengan kata lain, setiap kali dia memakan salah satu bagian tungkainya yang tercuri nanti badan anak ini akan tumbuh?”

Hanekawa… dengan cara seperti itu, memperlihatkan pemahamannya.

Tanggalnya adalah 1 April. Persis sesudah matahari terbenam. Kiss-Shot masih tertidur lelap. Kaum vampir memiliki siang dan malam terbalik. Walau keadaannya untukku tak jauh berbeda, rasanya aneh kalau aku mengajak Hanekawa yang murid teladan keluar pada jam-jam larut malam. Jadi aku mencoba bertahan dan bangun tidur lebih awal.

Sebuah medan pelindung rupanya telah didirikan di puing-puing gedung bimbel ini.

Setidaknya, itu yang Oshino katakan.

Aku diberitahu bahwa medan itu bukan cuma menyembunyikan keberadaan aku dan Kiss-Shot. Medan tersebut juga akan menyulitkan siapapun oang biasa menemukan jalan mereka kemari tanpa bantuan seorang pemandu. Untuk alasan ini, aku membuat janji temu dengan Hanekawa agar ia datang ke wilayah sekitar sini dulu. Kemudian barulah sesudah matahari tenggelam aku pergi menemuinya.

Hanekawa tiba tepat di tempat dan waktu yang telah dijanjikan.

Dengan mengenakan seragam sekolahnya yang biasa.

“Yo.”

Hanekawa menyalamiku dengan tangan terangkat.

Sikapnya yang terbuka membuatku tak lagi merasa canggung.

Jarak antar individu yang lumayan enggak resmi ini dengan cepat membuatku santai.

“Jadi, kau udah bawa apa yang aku minta?

“Nih. Kayak yang kau lihat.”

“Sip. Makasih. Kalo gitu, jalannya lewat sini.”

Kemudian—aku menuntun Hanekawa ke puing-puing bangunan bimbel itu.

Tanah pribadi, dilarang melintas.

Kami menembus pagar kawat di mana papan bertuliskan itu tertera (bahkan pagar yang mengitari puing-puing bangunan bimbel tersebut, sesuai dengan gambarannya sebagai bangunan terbengkalai, dipenuhi lubang di sana-sini), kemudian kami memasui bangunan.

Oshino sedang keluar untuk urusan negosiasi, dan Kiss-Shot sedang tidur. Aku sudah membicarakan soal keinginanku membawa Hanekawa kepada Kiss-Shot, dan kelihatannya Kiss-Shot tak terlalu mempedulikannya. Karena bahan pembicaraan kami yang pastinya bakal rumit, aku semula ingin mengajak Hanekawa berbicara di ruang kelas lain. Tapi Hanekawa bersikeras ingin melihat rupa Kiss-Shot seperti apa.

Karenanya, untuk urusan berbicara dengan Hanekawa tersebut, aku akhirnya memilih ruangan yang sama di lantai dua tempat aku biasa menghabiskan waktu. Di sudut ruangan, Kiss-Shot sedang asyik bermalas-malasan. Tempat inilah yang akhirnya menjadi latarnya. Tak perlu kusebut bahwa papan-papan kayu telah dipaku ke jendela-jendela ruangan ini, sehingga bahkan cahaya bintang pun tak dapat masuk. Dengan mata vampirku, kegelapan ini tak memberiku masalah. Tapi mata Hanekawa normal, jadi aku mengeluarkan senter—yah, walau benda itu sendiri dan termasuk yang lain sebenarnya dipersiapkan oleh Hanekawa juga sih.

Kemudian, sesudah sedikit basa-basi (bagaimanapun, semenjak libur musim semi dimulai, belum sekalipun aku berhubungan dengan koran atau televisi), aku berbicara dengan Hanekawa sampai pagi menjelang. Selama itu, Hanekawa menyimak perkataanku dengan seksama, terlihat sangat tertarik dengan apa yang kubahas.

Murid teladan.

Rasa ingin tahunya akan hal-hal yang tak diketahuinya mungkin jauh di atas rata-rata.

Aku ceritakan padanya segala yang bisa kuceritakan.

Aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya.

Sekalipun sekarang tanggal 1 April, aku tak ingin berbohong sedikitpun padanya.

Kemudian, saat aku usai berbicara tentang ‘pertumbuhan’ badan Kiss-Shot, Hanekawa…

“…Jadi dengan kata lain, setiap kali anak itu memakan salah satu lengan atau kakinya yang dicuri, maka badannya akan tumbuh?”

…mengatakan itu.

“Walau mungkin agak aneh menyebut vampir berusia 500 tahun sebagai ‘anak itu,’ kenyataannya memang itu yang terjadi, kan?

Humph.

Cara pemahaman yang boleh juga.

Persis, demikian aku mengangguk.

“Kaki kanan… dari lutut, dia tumbuh maju sekitar dua tahun… oke, jadi begitu sisa tungkai-tungkainya bisa diperoleh kembali, kurasa dia akan bisa kembali berubah ke wujudnya yang semula… yang terlihat sekitar 27 tahun, kurasa.”

“Hmm…”

“Kalau membandingkannya seperti Freeza, dengan kaki kiri dan kedua lengannya, dia seperti masih menyimpan dua perubahan wujudnya buat diperlihatkan nanti.”

“Ah, itu ungkapan yang gampang dipahami.”

Sembari berbicara, Hanekawa terus mengamati Kiss-Shot, yang kini mendengkur di atas tempat tidur darurat yang telah Oshino buat.

Meski dirinya vampir, sekilas Kiss-Shot benar-benar terlihat tak lebih dari seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang manis. Gambaran diriku dan dirinya bersama-sama berada dalam sebuah bangunan terbengkalai seperti ini bisa memberi kesan yang agak berbau kriminalitas.

Aku cuma bisa berdoa agar Hanekawa tak sampai memandangku dengan cara begini.

“Kalau begitu, semuanya memang salahku ya… mungkin.”

“Eh? Apa?”

“Soal bagaimana kau jadi bertemu vampir, Araragi.”

“…”

Kenapa kau berpikir begitu?

Walau aku bilang aku sudah mengatakan semua yang dapat kubilang, tanpa maksud untuk menyembunyikan apa-apa, bahkan akupun tak setolol itu. Aku yakin aku tak mengatakan apa-apa soal celana dalam Hanekawa dan buku-buku nakal yang sempat kubeli.

Namun sumber kekhawatiranku ini ternyata melenceng dari perkiraan.

“Bukannya ada yang bilang kalau siapa saja yang menyebut nama sang iblis, maka dia akan muncul? Pepatah ini kalau enggak salah secara umum berlaku buat cerita-cerita hantu. Berucaplah tentangnya, maka suatu keganjilan akan terjadi. Datang dari sisi dunia yang lain.”

“Hmmm? Tapi, aku ‘kan enggak pernah…”

Ah.

Tunggu dulu.

Hari itu—saat aku pertama mendengarnya dari Hanekawa.

Kami membahas tentang vampir.

Lalu malamnya, aku keluar malam-malam sendirian, dan…

“Enggak. Ini konyol. Kalau memang begitu kejadiannya, vampirnya mestinya muncul di depan kamu, bukan aku. Soalnya yang pertama menyebut tentangnya ‘kan kamu.”

“Enggak selalu mesti begitu. Cuma, peluang kejadiannya saja yang meningkat. …Di samping itu, bahkan di depan mataku sendiri… kalau cuma soal ‘muncul’ saja, sekarang juga sudah muncul, ‘kan?”

“Hm?”

“Diri Araragi sendiri.”

Ah.

Benar juga.

Saat ini, aku seorang vampir.

Begitu ya—di separuh perjalanan menuju tempat pertemuanku dengan Dramaturgie, alasan mengapa di tempat dan waktu tersebut aku secara tak terduga berpapasan dengan Hanekawa, mungkin, sebenarnya berhubungan dengan kenyataan soal telah ‘meningkatnya peluang’ itu.

Selalu ada alasan mengapa suatu fenomena ganjil bisa terjadi.

Lalu alasan mengapa aku menjumpai vampi…

“Kita bisa juga memandangnya seperti ini. Suatu kabar atau rumor akan selalu mendahului munculnya sebuah keganjilan. Maka justru karena adanya kabar maka suatu keganjilan akan bisa bangkit. Kurasa, itu juga sejenis dengan bagaimana cara cerita-cerita rakyat bisa tercipta.”

“Mereka ada karena dikabarkan ada dan kabar-kabar tentang mereka ada karena mereka ada. Itu enggak jauh beda dengan kamu lebih suka mana yang muncul duluan, telur atau ayam.”

“Hmm? Aku pribadi suka telur.”

Leluconnya enggak tersampaikan.

Tawanya enggak meledak.

“…Kau benar-benar tahu segalanya.”

“Bukannya aku tahu segalanya. Aku cuma tahu apa yang aku tahu.”

“Begitu ya.”

Aku menggangguk.

Dengan cepat kukembalikan percakapan ke jalurnya yang semestinya.

“Mengesampingkan semua kabar dan sebagainya, Hanekawa, kemarin kau bilang kau sengaja berkeliaran karena memang berharap bertemu vampir.”

Dan maka dari itu… aku marah.

Hari ini, tentunya, dia tak melakukan hal-hal seperti itu sih.

“Tapi buat apa kau melakukan itu? Kamu ngomong sesuatu soal keberadaan yang derajatnya lebih tinggi… iya kan? Apa kamu sengaja pakai bahasan itu cuma buat basa-basi, atau…”

“Begini, bukannya aku sengaja mencarinya sih. Itu sama saja dengan aku meminta sesuatu kepada bulan. Dengan suatu cara, gimana ya mengatakannya. Aku tak yakin harus bagaimana ngomongnya. Tapi apa kau enggak pernah merasa berharap suatu perubahan terjadi dalam hidupmu, Araragi?”

“Perubahan?”

Dalam kasusku, daripada terjadinya sebuah perubahan dalam hidup, rasanya lebih seperti ekologiku yang berubah.

Sebagaimana yang kusangka, rasanya tak tertahankan.

Walau dirinya seorang murid teladan, bahkan ada saat ketika Hanekawa pun tak tahu cara menjelaskan suatu hal. Aku jujur saja merasa agak terkejut.

Tunggu, karena dia juga manusia, mestinya ini suatu hal yang wajar.

Karena bahkan buat aku yang telah menjadi vampir, masalah-masalah yang kupunya tak kunjung teratasi juga.

Bahkan, mungkin malah bertambah.

“Kurasa itu cuma dorongan buat lari dari kenyataan, pada akhirnya.”

“Kalau aku, aku malah ingin bisa kembali ke kenyataan.”

“Kau pasti bisa. Aku yakin.”

Demikian Hanekawa berkata.

Kata-kata yang sebenarnya tak memiliki jaminan apapun di baliknya. Tapi itu kata-kata yang tetap membuatku senang bagaimanapun juga.

“Meskipun, walau aku sendiri bilang aku mau membantu—kalau masalahnya masalah monster begini, enggak banyak yang pada akhirnya bisa kubantu, ya?”

“Itu sama sekali enggak benar.” kataku.

Aku menunjuk dengan jemari, ke bawaan yang telah Hanekawa bawakan, yang dikumpulkannya ke dalam satu tas ransel besar.

“Walau itu isinya cuma baju ganti dan lainnya, aku serius berterima kasih karena kau sudah membawakannya.”

“Eng-enggak apa-apa kok. Cuma segini saja.”

Hanekawa tersipu.

“Mengesampingkan itu, bagaimana kalau kau ganti baju saja sekarang? Kelihatannya bajumu yang sekarang sudah tak layak pakai lagi.”

“Uhm…”

“Waktu aku melihatmu dalam keadaan begitu, tentu saja aku terkejut. Eh, aku baru sadar. Kenapa kau tak pinjam saja baju ke orang bernama Oshino itu?”

“Dia cuma punya kemeja aloha…”

“Kemeja aloha juga enggak apa-apa ‘kan?”

“Kalo cuma LOHAS doang, maka iya, memang enggak masalah sih.”

Aku cuma dengan seenaknya mencoba melontarkan kata yang mirip.

Sejujurnya, aku sendiri enggak tahu apa kepanjangan LOHAS.

Tapi, mengesampingkan juga hal itu, maka jelas pergerakanku terbatas selama aku mengenakan pakaian ini. Kayaknya bakal berguna juga seandainya aku bisa memakai kekuatan penciptaan seperti yang dimiliki Kiss-Shot, tapi jelas tak mungkin aku tahu cara memakai hal sepert itu.

“Oh, begitu ya? Hmmm.”

Walau…

…jelas-jelas, aku tak bisa begitu saja berganti pakaian di depan seorang gadis. Soalnya, kalau mau berganti pakaian, maka aku bakal perlu melepas bawahanku juga….

“T-tapi kita enggak buru-buru kok. Menurutku.”

Ah.

Baru sekarang aku sadar.

Tanpa berpikir, kemarin malam aku meminta Hanekawa untuk ‘membawakanku satu stel pakaian ganti’ …Tapi bukannya itu berarti, bukan cuma baju atasan dan celana, tapi pakaian dalam juga akan termasuk?

“… … …”

Umm…

Ummm…?

“Y-yah, gi-gimanapun, kalau cuma mengganti baju atasan aja.”

Mencoba berpura-pura tenang, aku mengulurkan tangan ke apa isi tas ransel yang telah Hanekawa bawakan. Hm, pengemasannya sempurna… dirinya bukan cuma mempersiapkan pakaian… jadi kubuka ritsleting, dan langsung kulihat apa yang kucari telah disiapkan di atas pakaian ganti tersebut.

Maksudku, celana dalam ganti yang telah dipersiapkannya untukku berada dalam posisi paling atas.

“Kalau ukuran M masih masuk untukmu ‘kan, Araragi?”

“Uh, i-iya…”

“Karena aku enggak tahu kau lebih suka yang berbentuk ‘v’ atau boxer, aku siapkan saja kedunya.”

“… … …”

Kau tak seharusnya mempermasalahkan hal seperti itu.

Tunggu… salah, aku minta maaf. Bagaimanapun, ini semuanya terjadi karena salahku. Pasti kepalaku sedang tak bekerja dengan baik. Jika Hanekawa demi aku sampai harus pergi membelikan celana dalam v atau boxer ganti, tentunya dia pasti sempat mereka malu…

“Hm? Ada apa? Bukannya tadi kau mau ganti baju, Araragi?”

“Iya. Baru mau.”

Aku berkata begitu, kemudian mengeluarkan sehelai kaos polos dari bawah celana dalam itu. Kulihat dari sisi manapun, kaos itu sepenuhnya masih baru. Tidak hanya itu, tanpa memasukkannya ke dalam kantong terpisah, Hanekawa dengan sengaja telah memotong label harganya, dan bahkan sesudah membelinya, Hanekawa mencucinya sekali, dan kemudian mengeringkannya dan menyetrikakannya sebelum membawanya untukku.

Kau… benar-benar tak harus sampai segitunya.

Aku jadi bertanya-tanya apa dia bersikap begni karena mengasihaniku.

Untuk sementara, aku melepas atasanku yang sudah usang, kemudian memasukkan lenganku ke lubang lengan dari kaus yang baru.

Aku melakukannya, dan…

“Tunggu sebentar.”

Hanekawa tiba-tiba menyela.

Mendengar suaranya, gerakanku terhenti, namun, oh tidak, kini aku setengah telanjang…

“Benar juga. Aku sempat memikirkannya kemarin juga. Tapi Araragi, sepertinya tubuhmu secara fisik juga mengalami perubahan.”

“Hm?”

Sesudah Hanekawa mengatakannya, baru aku sadar.

Bukankah tubuhku sekarang terlihat sedikit lebih… berotot?

Tunggu, bukan cuma sedikit. Aku kini bahkan memiliki otot-otot perut yang terbentuk dan menonjol.

“Firasatku benar.” Hanekawa mengulang. “Kemarin, saat melihatmu dari belakang, aku tak sepenuhnya yakin apa itu kau Araragi. Karena postur tubuh dan bentuk ototmu berubah. Aku dapat kesan kalau kau tambah langsing, atau tepatnya, padat.”

“… …”

Kau sebenarnya sehebat apa sampai bisa mengenali murid cowok yang baru beberapa kali kau ajak ngomong hanya dengan melihat sosoknya dari belakang?

Jujur saja, itu agak mengusikku.

“Mmh. Munya munya.”

Tiba-tiba saja, nampaknya Kiss-Shot terbangun.

Omong-omong, sesudah dirinya ‘tumbuh,’ bahkan pakaian dan gaya rambut yang dimillikinya ikut berubah. Jika dengan penampilan sepuluh tahun dirinya mengenakan gaun penuh pita dan renda dengan gaya rambut di-bob, kini dengan penampilan 12 tahun, gaun yang dikenakannya memiliki desain yang lebih dewasa dengan rambut yang sedikit lebih panjang.

“Menjadi vampir telah mengubah penampilan dikau, berkat kekuatan regenerasi yang terus mengusaha agar engkau tetap berada dalam kondisi engkau yang paling sehat.”

“Eh?”

“Zzz.”

Tidur.

Segera sesudah mengucapkan itu, dirinya segera tertidur lagi.

Aku tak tahu apa dirinya tengah terjaga atau terlelap…

Tapi walau begitu, bukankah apa yang baru dikatakannya merupakan hal baik?

Bisa jadi. kini, sesudah aku berubah menjadi vampir, aku tak perlu khawatir soal kuku yang bertambah panjang. Aku tak perlu mempermasalahkan kapan aku perlu mandi.

Aku tak yakin apa aku bisa mengetahui semuanya hanya dalam kurun waktu seminggu, tapi kurasa rambutku juga semestinya tak ikut tumbuh.

Lalu, ada juga itu.

Maksudku, bentukan otot-otot yang kupunyai saat ini.

Ini berarti, seandainya aku mau berusaha lebih lanjut, aku bisa saja membentuk tubuhku hingga seperti Dramaturgie, berotot kekar, dan aku juga bisa mengubah bagian-bagian tubuhku menjadi senjata.

“…Dia tertidur.”

“Hm, saat bangun dia memang tak terlihat sehat.”

“Itu… karena usianya 500 tahun.”

“Itu menurut pengakuannya sih.”

“…Tapi, meski sudah melihatnya sendiri, aku masih sulit buat percaya.”

Lalu sesudah berkata demikian, Hanekawa menambahkan “Permisi.” dan mulai menyentuh-nyentuh tubuh bagian atasku. Perlahan tangannya mengusap perutku, kemudian naik ke permukaan dadaku.

Usap.

Usap.

…Sial, aku jadi sedikit terangsang!

Aku merasa seperti sedang dijadikan sasaran sebuah lelucon buruk.

“…Kalau menilai dari sentuhan saja, saat ini kau hampir tak ada bedanya dari manusia. Tapi, entah bagaimana, sepertinya kau yang sekarang terlihat lebih lentur.”

“… … …”

Oh, jadi perbuatannya sepenuhnya karena rasa ingin tahu saja.

Yah, mungkin kenyataannya memang begitu.

“…Tadi kau bilang hampir tak ada bedanya dari manusia. Hanekawa, apa jangan-jangan, kamu pernah memegang-megang tubuh orang lain sebelumnya?”

“Eh? Oh, enggak, aku, tak pernah…”

Gugup, Hanekawa dengan cepat melepaskan sentuhan tangannya dari badanku. Walau agak terlambat, dirinya nyata-nyata tampak agak malu.

“Benar juga. Aku malah mempermasalahkan sesuatu yang tak semestinya. Enggak baik. …Bisa kau tolong cepat pakai baju?”

“O-Oke.”

Kupakai bajuku.

Meski ukurannya M, rasanya agak longgar. Tapi, yah, bukan berarti aku punya masalah dengan kaos yang agak kedodoran.

Di samping itu, aku suka kepolosan yang kaos ini punya.

“Hm. Kelihatannya cocok.”

“Ah. Makasih. Nanti, sesudah semua masalah ini beres, uangnya pasti akan kuganti.”

“Enggak masalah kok. Aku masih punya uang simpanan hadiah tahun baruku yang telah kutabung semenjak kecil.”

“Jangan pakai simpanan-simpanan kayak gitu!”

Aku bisa saja melunasi uangnya, tapi aku takkan bisa mengganti kenangannya!”

Kebaikan hati gadis ini benar-benar tak berdasar.

Kalau aku dengan seenaknya meminta bantuan padanya, bisa saja suatu hal tak disangka nantinya malah terjadi.

“Ada dua baju atasan, aku mengemasnya di bagian agak bawah. Kalau buat celana, jins saja tak apa-apa?”

“Ya. Buatku yang terpenting asal mudah bergerak saja.”

“Aku coba mengukur ukuran pinggang dan panjang cuma dari melihat saja. Jadi kalau celananya ketat atau kependekan, kasih tahu saja. Nanti aku belikan yang baru.”

“… …”

Sekalipun celananya ternyata ketat atau kependekan, aku kemudian bersumpah untuk terus bertahan.

Demikian aku berpikir.

Sekalipun aku tak bisa mencoba celananya di sini, kupikir ada baiknya aku memeriksa sisa bawaannya yang lain, jadi aku mengaduk-aduk tas ransel itu hingga ke dasar…

…dan…

…di sana, aku menemukan sebuah kantong kertas.

Kantong kertas berukuran agak besar… yang berasal dari toko buku.

Di dalamnya, tampak ada sepuluh buku yang berada di dalamnya.

“…?”

Aku mencoba mengeluarkannya, dan…

“Ah, itu hadiah.” Hanekawa bilang. “Kemarin, kau membeli buku tentang Aikido, ingat? Kau meninggalkannya di depan gerbang sekolah. Kalau aku menduga berdasarkan pembicaraan kita kemarin, itu persiapan untuk melawan orang besar itu ‘kan?”

“Yah, semacam itu.”

Hanekawa menyebut Dramaturgie sebagai ‘orang besar itu.’

Wow, gadis ini bernyali juga.

“Pada akhirnya, aku merasa buku teks bisbol yang sekalian kubeli waktu itu pada akhirnya malah lebih berguna sih.”

“Ah, soal buku yang lagi kau baca waktu itu.”

“Memang ada yang penting?”

Ya, Hanekawa menganggukkan kepala.

“Hmm. Melakukan persiapan untuk menghadapi pertarungan sengit memang benar sih. Aku cuma merasa ada suatu kesalahan pemahaman yang kau punya di sini, Araragi.”

“Yah, aku tahu maksudmu. Maksudmu, kemarin aku agak serampangan, begitu?”

Itu karena malam sebelumnya, Hanekawa juga menonton.

Gaya bertarungku yang sama sekali tak keren itu.

Gaya bertarung yang menyerahkan segalanya pada untung-untungan itu. Gaya bertarung yang intinya adalah ‘semuanya akan kupikirkan gimana nanti.’

“Benar sih. Kalau cuma dengan membaca buku petunjuk saja kita bisa langsung menguasai sesuatu, maka enggak akan ada masalah apapun yang akan orang punya di dunia.”

“Ah, bukan, bukan. Maksudku bukan soal itu, Araragi.” Hanekawa berkata. “Soalnya, baik aikido maupun bisbol merupakan sesuatu yang memang dilakukan oleh manusia ‘kan?”

“…? Um, dalam kasus Dramaturgie, melakukan jurus kuncian dan pitingan ke dia jelas terbukti enggak berguna sih. Eh, tunggu, berhubung kemampuan pemulihan yang dia punya tak besar, jika waktu itu aku mencoba mematahkan tangannya, mungkin bakal tetap ada dampaknya ya.”

“Hm. Bicaramu mulai sadis. Tapi, maksudku juga bukan itu. Maksudku, bukan soal pada apa yang bisa atau tidak bisa dilakukan terhadap sasaran. Tapi, apa yang kau sendiri bisa lakukan. Seperti… kemampuan-kemampuan tertentu yang cuma kau sendiri yang punya.”

“Eh?”

“Aikido itu ilmu bela diri yang dilakukan oleh manusia. Bisbol juga cabang olahraga yang dilakukan oleh manusia. Tapi sekarang ini, kau memiliki kekuatan yang jauh melebihi batas kekuatan manusia, Araragi. Jadi seandainya kau menggunakan aikido atau bisbol, sebaliknya, itu bukannya malah jadi membatasi kekuatan yang kau punya?”

“Ah. Aaaaah!”

Benar juga.

Buatku yang sekarang, sebuah bola bisbol terasa terlalu ringan.

Bola besi buat tolak peluru sedikit lebih baik. Tapi aku baru merasa pas sesudah memegang alat roller.

Karena seluruh parameterku naik secara bersamaan, jadinya aku malah kesulitan untuk menyadarinya sendiri. Tapi buatku yang sekarang, segala teknik dan jurus yang dapat dilakukan oleh manusia, pada akhirnya mungkin memang cuma akan berakhir sebagai batasan saja.

“Karena itu, menurutku, apa yang seharusnya kau baca sekarang, seharusnya adalah ini.”

Berkata demikian, Hanekawa membuka kantong kertas yang kukeluarkan dari ransel, dan memperlihatkan isinya kepadaku.

Isinya buku-buku komik.

Terlebih lagi, semuanya bergenre gakuen inoue batoru.

Tokoh-tokoh utama lelaki yang semuanya mengenakan seragam sekolah.

“… … …!”

“Aku sudah mencoba mencari, tapi aku tak bisa menemukan komik yang tokoh utamanya seorang vampir. Jadi aku coba memilih cerita-cerita yang para tokoh utamanya adalah anak-anak cowok yang bisa menggunakan ESP.”

“Ka-Kau memilih…?”

“Mungkin dengan begini…” Hanekawa membuka salah satu halaman, memperlihatkan seorang lelaki yang terlihat seperti tokoh utama berlari menapaki dinding. “…Kau yang saat ini mestinya juga bisa melakukan gerakan-gerakan yang meniadakan hukum-hukum fisika.”

“Haa….”

Aku tentu saja terkejut.

Tapi tunggu, bukannya ide ini secara tak terduga sebenarnya bukan ide yang buruk?

Sebaliknya, ini mungkin malah brilian.

Dramaturgie bilang kalau aku tak kehilangan akal sehatku dari semasa aku masih menjadi manusia. Kata-katanya seakan menyiratkan bahwa sepertiku, dirinya dulunya pun adalah seorang manusia. Dan sepanjang pertarungan itu, seperti yang telah kuceritakan, karena aku masih bergerak berdasarkan kerangka berpikirku sebagai seorang manusia, aku mengalami kesulitan-kesulitan yang semestinya tak kualami.

Mengingat tanpa bantuan apa-apa aku sudah bisa melakukan salto ke belakang, mungkin tak aneh pula jika kini aku bisa berlari menyusuri dinding.

“Itu… pemikiran yang benar-benar bagus.”

“Aku sudah mencoba membacanya sendiri. Ceritanya lumayan menarik kok.”

“Hmmmm.”

Ini komik yang judulnya belum pernah kudengar. Tapi Hanekawa benar soal bagaimana ceritanya terlihat menarik.

“Buku-buku yang secara pribadi akan kuusulkan sih bergenre romansa. Tapi memikirkan lagi tentang tujuannya, aku merasa buku yang bakal memberi dampak secara cepat ya komik. Karena mengingat dengan gambar akan lebih mudah bagi ingatan.”

“Aku setuju.”

“Bagaimanapun, silakan coba lihat-lihat apa yang ada dulu sebagai referensi. Dan juga, aku pikir tetap paling baik kau memilih sendiri mana yang kira-kira cocok dengan seleramu.”

“…Terima kasih.”

Namun… saat kami membicarakannya semalam, aku tak sempat memberitahu Hanekawa kalau aku nantinya masih harus berhadapan dengan Episode dan Guilltone Cutter. Tapi semua persiapan yang telah dilakukannya ini…

Seperti yang kuduga, Hanekawa sama sekali bukanlah orang biasa.

“Nih. Kartu buku yang bisa kau pakai bila saat kau membutuhkannya tiba.”

“Semua persiapan yang telah kau lakukan ini benar-benar terlalu hebat.”

“Hmm? Kau lebih suka kalau kukasih dalam bentuk uang?”

“Jangan uang!”

Tunggu, aku ini lagi ngomong apa!

Bagaimanapun… aku benar-benar bersyukur dan berterima kasih atas semua perhatian yang telah diberikan Hanekawa. Kartu buku itu juga termasuk.

Yah, soalnya, aku tak benar-benar bisa dibilang punya uang.

Uang yang sebelumnya kupunya kuhabiskan terlalu banyak untuk membeli buku.

“Kau benar-benar sudah sangat membantuku, Hanekawa. Suatu saat nanti aku benar-benar mesti membalasmu.”

“Jangan begitu. Aku cuma bisa melakukan sebatas ini saja.”

“Ini saja… sudah lebih dari cukup.”

Jujur saja, semua bantuannya ini meringankan hati.

Seandainya Hanekawa memilih untuk berpaling dan mengabaikanku… entah bagaimana keadaanku sekarang.

Aku tak bisa menyebut Oshino seorang teman. Lalu Kiss-Shot malah adalah alasan kenapa aku mengalami semua ini. Terlebih, seorang vampir.

Aku tak pernah menyangka mempunyai orang yang bisa diajak bicara bisa meringankan bebanku sampai sejauh ini.

Tunggu. Hanekawa bukan cuma sekedar orang. Hanekawa adalah teman.

“Serius. …Terima kasih.”

“Tak masalah. Dalam setiap saat sulit, kita semua mempunyai kedudukan yang setara. Jadi kalau ada hal lain yang kau ingin aku lakukan Araragi, katakan saja. Tapi memang ini yang terbaik yang bisa kulakukan untuk sekarang ini sih.”

“Ya. Mulai sekarang, aku akan mengandalkanmu.”

“Bagus. Nah, sekarang, ayo kita bereskan ruangan ini.”

Ruangan itu benar-benar berantakan, seperti yang Hanekawa bilang.

Bagaimanapun, gedung ini memang sebuah bangunan terbengkalai, ‘kan?

Tapi begitu mengatakannya, Hanekawa sendiri telah mulai beranjak. Hei, tunggu dulu, aku tak mau memaksamu membantuku sampai segini!

“Jangan repot-repot. Tempat ini sudah kayak begini semenjak awal.”

“Justru karena itu kau harusnya tak membiarkannya berantakan. Segala tempat yang bisa dibereskan hendaknya dibereskan. Hmm? Apa ini?”

Hanekawa memungut sesuatu dari sudut ruangan.

Untuk sesaat aku tak sama sekali tak punya bayangan mengapa benda seperti itu bisa berada di sana. Tapi segera semuanya kemudian menjadi jelas. Itu jelas-jelas merupakan kantong besar dari toko buku. Tapi itu bukan kantong yang Hanekawa bawa, dan itu bukan pula kantong hasil belanjaku kemarin, yang berisi buku aikido, bisbol, dan musik klasik.

Tapi, itu sebuah kantong yang dengan serta-merta kukenali.

Iya.

Itu kantong berisi dua buku mesum, yang semestinya sudah kubuang pada hari pertama liburan musim semi.

“Munya munya.”

Di belakang kami, Kiss-Shot kembali mengigau dalam tidurnya.

“Beta lupa katakan. Kantong kertas yang engkau bawa malam itu terlihat penting. Makanya saat beta menemukannya tergeletak di pinggir jalan, beta sekalian saja bawakan pada saat kita kemari.”

“Ka-kamu…!”

“Zzz.”

Dia tertidur lagi.

O-oh… Hanekawa mengamati isi dari kantong itu.

Seorang siswi SMU sedang mengamati buku mesum yang menampilkan siswi SMU.

“Coba kita lihat. Kalau tak salah kau bilang kau bertemu vampir saat baru kembali dari toko buku, ‘kan? Pada tanggal… 25 Maret? Pada malam hari sesudah kau berpapasan denganku?”

“…!”

Gila!

Kekuatan intuisi yang dimilikinya sungguh luar biasa!

E-eh, tunggu, apa saat ini kau sedang melakukan kesalahpahaman besar yang paling tak kuharapkan sekarang ini!?

“Ehehehe.”

Hanekawa mengangkat wajahnya, kemudian menatapku dengan seringai yang seakan menutupi seluruh wajahnya.

Cahaya lampu senter yang menyorot dari bawah wajahnya benar-benar membuatnya terlihat seperti sebuah makhluk ganjil.

Kemudian, Hanekawa mengambil salah satu buku dari dalam kantong. Lalu ia membukanya di salah satu halaman. Lalu di halaman tersebut, secara mengerikan, sebuah skenario yang teramat luar biasa konyol bertuliskan ‘Sajian Istimwa: Ketua Kelas Berkacamata!’ disodorkan ke depan mukaku.

Hanekawa, dengan getaran suara yang teramat lembut, berkata.

“Hei. Ini apa?”

Catatan:

Freeza: tokoh antagonis di Dragon Ball yang menjadi musuh pertama yang mendorong Goku untuk mengakses wujud Super Saiya.

LOHAS: …Lifestyles of Health And Sustainability. Sudahlah. Ini apa sama sekali enggak penting. Kaitannya dengan pangsa pasar yang ditujukan bagi konsumen yang peduli terhadap lingkungan hidup.

Kartu buku: Hmm, ini agak susah menjelaskannya. Yah, bayangin lembaran stempel yang kau dapat dari supermarket-supermarket setiap melakukan belanja dengan nilai tertentu, dan nantinya bisa ditukar dengan hadiah.

20/05/2012

Kizumonogatari – IND (009)

009

Sebelum menjelaskan situasinya ke Hanekawa, sebenarnya, ada hal lain yang harusnya kulakukan—di samping, mengingat, saat itu sudah larut malam. Hanekawa membantuku dengan memutuskan untuk pulang ke rumahnya dulu untuk sementara waktu.

Aku berjanji akan menceritakan segalanya padanya esok malam.

Dan kemudian aku kembali ke puing-puing gedung bimbel itu—Oshino tak terlihat, tapi aku melapor pada Kiss-Shot, yang sudah menungguku di ruang kelas lantai kedua, soal keberhasilanku memperoleh kembali kaki kanannya.

“Kerja bagus.”

Itu yang Kiss-Shot katakan.

“Walau, mengingat betapa engkau telah menjadi bawahanku, itu suatu hasil yang semenjak awal dipastikan—kenyataan dikau telah memperoleh kekuatanku, cecunguk seperti Dramaturgie sudah jelas takkan menjadi tandingan.”

“Dia lawan sepadan. …Dia juga sadar kapan harus menyerah.”

“Hmph. Itu tak lain karena di antara ketiganya, Dramaturgie paling unggul dalam menilai keadaan—bukan maksud beta menakut-nakuti, tapi dengan dua yang tersisa, hasilnya takkan seperti yang terjadi kali ini.”

“Sepertinya memang bakalan begitu.”

Episode.

Orang yang membawa-membawa salib raksasa di punggung, jelas-jelas terlihat berbahaya—lalu, ada orang yang berpakaian seperti pendeta itu… Guillotine Cutter.

Orang satu itu jelas terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang menakutkan.

Kesan seperti itulah yang kudapat darinya.

“Walau begitu, kinilah saat engkau boleh bergembira, sebab dengan ini engkau telah selangkah lebih dekat tuk menjadi manusia kembali.”

“Sungguh…?”

Makasih.

Aku punya sedikit kesan kalau aku baru saja menjadi selangkah lebih jauh dari kembali menjadi manusia sih.

“Walau Dramaturgie punya tenaga yang melampaui manusia normal, kayaknya aku unggul dalam hal pemulihan. Makanya, buat jaga-jaga, ada sesuatu yang ingin kutanya juga. Berapa kali aku akan bisa mati?”

“Siapa tahu?” Kiss-Shot menjawab. “Tanpa mencoba sendiri, bahkan beta pun takkan tahu jawabnya.”

“Tapi kalo soal yang kayak gitu mana mungkin kucoba!”

Dan pembicaraan soal itu pun kami sudahi dengan itu.

Selagi kami melakukan pembicaraan yang sekilas terlihat seperti pertemuan untuk perayaan keberhasilan sekaligus evaluasi, fajar mulai menjelang, dan karenanya aku terlanjur mengantuk saat Oshino akhirnya kembali.

Dirinya mengenakan kemeja aloha miliknya yang biasa.

Sebagaimana yang sudah kukira, terlepas dari berapa banyak kemeja yang ia punya, desain dari semuanya, seakan-akan dengannya ia berusaha menyatakan keberpihakan politis, agak meracuni pikiran dengan warna-warnanya yang tajam.

Oshino tak membawa apa-apa saat aku menjumpainya di simpang tiga itu, tapi entah sejak kapan atau dari mana, kebutuhan-kebutuhan pokok harian Oshino nampaknya telah tercukupi—entah mengapa, dia jadi terkesan seperti orang yang sengaja sedang latihan berkemah.

“…Setelah kupikirkan sekarang, gaunmu sama sekali tak terlihat kotor ya?”

“Hm? Itu dikarenakan pakaian seorang vampir adalah bagian tubuhnya pula.”

Pertanyaan barusan ditanyakan oleh seseorang yang baru saja kehilangan lengan kiri kemejanya akibat Dramaturgie, dan tak bisa tak terkesan agak seperti penyanyi rock. Lalu demikian jawab Kiss-Shot yang mengenakan gaunnya yang biasa.

“Dramaturgie mengubah pakaiannya menjadi kabut juga, bukan?”

“Jadi seperti pedang-pedang melengkungnya itu, pakaiannya juga merupakan bagian dari badan?”

“Kalau harus beta nyatakan, pakaian Dramaturgie tampak berasal dari kekuatan penciptaan materi. Beta pula, seandainya dalam pertarungan, biasanya akan menggunakan pedang, namun berbeda dari Dramaturgie, pada saat-saat demikian, beta takkan gunakan kekuatan perubahan wujud, melainkan kekuatan penciptaan materi.”

“Itu luar biasa…”

Terus Hukum Kekekalan Energi dan Massa tahu-tahu saja hilang entah ke mana?

Yah, terserahlah.

Kalau memang hilang, ya memang hilang.

Dan pembicaraan tentangnya berakhir hanya sampai di sini.

“Met datang, Oshino.”

“Aku pulaa~ng.”

Oshino, melambaikan tngannya dengan santai, tengah membawa sebuah tas perjalanan—di dalam tas itu pastinya terdapat kaki kanan Kiss-Shot.

“Araragi, kerjamu bagus.”

“Ah, aku enggak perlu dipuji sampai segitunya.”

“Kamu bicara apa? Kamu sudah bertahan dan pantang menyerah. Aku mengawasimu dari jauh, makanya aku tahu.”

“…Benar?”

“Ya.” Oshino menganggukkan kepala. “Dan aku juga tahu bagaimana kau memaksa seorang gadis menunjukkan isi roknya kepadamu.”

“… …. …. …”

Aku jadi ingat soal bagaimana saat aku mengira Hanekawa sebagai Oshino tadi, aku sempat merasa sedikit senang, tapi sekarang kenyataan itu rasanya cuma membuatku malu.

Ternyata benar, dia benar-benar menyaksikan segalanya.

Seenggaknya, jangan membicarakannya di depan Kiss-Shot dong!

Dan jangan miringin kepalamu ke sisi seolah kamu enggak ngerti apapun yang aku maksud!

“Err, soal itu, Oshino…”

“Aah, tenang saja. Aku mengawasimu dari arah depan, jadi celana dalam gadis itu sama sekali enggak terlihat dari sisiku.”

“Bukan soal ituuu!”

“Kamu punya kenalan yang cantik. Teman sekelas?”

“Kelas kami berbeda. Tapi ya… dia seorang teman. Namanya Hanekawa Tsubasa. Ketua kelas dari semua ketua kelas.”

Itu yang kubilang.

Entah kenapa aku merasa agak malu saat mengatakannya sih.

Hmph, gumam Oshino, nampaknya tak untuk suatu alasan tertentu.

“Sebaiknya kau memberikan penjelasan yang bagus ke saksi matamu itu—gadis tadi benar-benar terlihat cerdas.”

“Aku sudah berniat begitu. Aku cuma enggak tahu cara mengatakannya harus gimana.”

“Kamu selalu bisa mengusir dan mengabaikannya.”

“Aku sudah mencoba. Itu gagal.”

“Yah, kalau yang kau hadapi perempuan, kamu hati-hati kayak gimanapun, itu kayak enggak akan pernah cukup.”

“Kalau soal itu, aku merasa itu enggak ada hubungannya soal apakah yang kita hadapin itu laki-laki atau perempuan.”

“Wah, wah. Enggak kusangka, selama ini kau enggak sadar diri rupanya. Tak seperti perempuan, laki-laki bahkan tak punya kemampuan buat bikin satu jenis dansa, bukan?”

“…Yah, kalau kamu ngatainnya begitu, kesannya cuma perempuan saja yang punya naluri buat jadi kreatif. Tapi memang bener kalo di pelajaran olahraga, cuma perempuan yang dapet creative dance sih.”

Rasanya menyebalkan bila kemampuan kreatif seseorang cuma diukur berdasarkan itu.

“Tapi Araragi, seandainya kehidupan sehari-hari kita ini diangkat menjadi anime, nanti yang memegang peran tokoh yang kewalahan karena enggak bisa ngikutin gerakan-gerakan dansanya itu pasti kamu, ‘kan?”

“Kenapa pula kehidupan sehari-hari kita mesti diangkat jadi anime!”

“Tapi Araragi, muka bagusmu saat menunjukkan reaksi kayak gitu enggak mungkin bisa ditunjukin kalo cuma diangkat sebagai Drama CD, tahu!”

“Jadi kehidupan sehari-hari kita ini sudah punya Drama CD?!”

“Bagaimanapun, yang terpenting adalah kita menikmati prosesnya. Seperti di tamatnya Mashin Hero Wataru.”

“Aku enggak ngerti! Itu sesuatu dari zaman berbeda!”

“Alasan! Pembuat ponselmu itu Kyocera, apa kamu bahkan sadar akan itu?”

“Jangan seenaknya bikin iklan enggak langsung!”

Mengesampingkan hal itu…

Sepertinya, bagaimanapun, bagi para murid lelaki, apa yang anak-anak perempuan lakukan dalam pelajaran creative dance akan selalu menjadi tanda tanya.

Jujur saja, aku bahkan tak bisa membayangkannya.

“Yah bagaimanapun, karena aku laki-laki juga, jujur saja, persisnya aku juga enggak tahu. Itu pasti semacam tarian enggak anggun yang enggak bisa diperlihatkan ke anak-anak laki-laki.”

“Uoooh! Tiba-tiba saja aku jadi semakin ingin tahu!”

“Kalau bukan itu, pasti enggak mungkin cuma dilakukan oleh cewek.”

“Hmm.”

Firasat ini agak salah.

Tapi bagaimanapun, kapanpun murid perempuan mendapat giliran olahraga dalam ruang dan melakukan creative dance, sudah bisa dipastikan para murid lelaki mendapat pelajaran di lapangan.

Mungkin karena alasan itu kita sengaja dipisahkan.

“Ah, hei Oshino, ngomong-ngomong soal sesuatu yang khusus perempuan, ada hal lain yang aku enggak pahamin yang ada kaitannya juga soal pelajaran olahraga. Ceritanya dulu waktu aku masih SMP, pas jam pelajaran kesehatan. Kadang-kadang, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan dapat materi pelajaran yang beda. Padahal itu sama-sama pelajaran dalam kelas ‘kan? Apa mungkin itu ada hubungannya dengan perbedaan kemampuan fisik kita secara alami? Di waktu itu, sebenarnya para cewek belajar apa?”

“Araragi, itu…”

Oshino tampak hendak mengatakan sesuatu.

Tapi seakan berubah pikiran, ia berdehem sekali, kemudian…

“…Itu aku juga tak tahu. Itu sesuatu yang bahkan akupun juga enggak tahu.”

“Hmm. Begitu ya.”

“Ya. Nanti pas kamu menjelaskan situasimu ke gadis bernama Hanekawa Tsubasa itu, bagaimana kalau kau sekalian juga bertanya soal hal itu? Dia pastinya akan menjawab ‘kan?”

“Oh, iya ya. Benar juga. Itu ide bagus.”

Sudah jelas.

Ini mungkin cuma imajinasiku, tapi pada saat yang sama, aku merasa ada sedikit aura jahat di waktu yang sama…

“Hei.” Pada titik ini, akhirnya, Kiss-Shot menyela. “Apa basa-basi kalian akhirnya usai?”

“Hm? Ah, haha, Heart-Under-Blade, senang melihatmu bersemangat sekali. Memangnya ada hal baik terjadi, ya? Eh, memang ada sih, satu…”

Oshino, sembari tertawa, kemudian membuka ritsleting dari tas perjalanan yang dibawanya.

Lalu ia merogoh ke dalamnya—

Kemudian, begitu saja, ia mengeluarkan kaki kanan Kiss-Shot.

“… … … …”

Kaki itu dimasukkan secara utuh ke dalam sana begitu saja.

Sama sekali tanpa wadah tambahan atau bahkan balutan kain; dengan kondisi begitu saja, kaki itu sebelumnya ada di sana.

Ini jadi terasa seperti adegan dari semacam kasus pembunuhan sadis.

Sebelah kaki dari seorang wanita dewasa.

Bentuknya luar biasa mulus—benar-benar kaki yang hebat.

Seperti yang sudah disangka dari kaki seorang vampir, tak ada pendarahan atau pembusukan yang terjadi—

“Seperti yang dijanjikan—dia benar-benar mengembalikannya.”

Dramaturgie.

Vampir yang juga menjadi seorang pembunuh vampir.

“Untuk urusan-urusan seperti inilah negosiator perlu ada. Akan jadi masalah bila tak ada sedikitpun rasa percaya sama sekali—sebuah hubungan yang dilandasi rasa saling percaya merupakan hal yang sangat penting, bukan? Sebab tanpa rasa percaya, negosiasi yang telah dilakukan takkan dapat terwujud. Pihak satunya mungkin terdiri atas para spesialis dalam hal pemusnahan vampir, tapi yang satu ini sepertinya memang profesional, jadi bila ada hutang, dia pasti akan melunasinya—Ini dia, Heart-Under-Blade.

Oshino dengan santainya menyerahkan kaki kanan itu ke Kiss-Shot.

Kiss-Shot mengambilnya.

Ini pemandangan yang agak aneh.

“…Tapi, memang kaki itu bakal kau pakai bagaimana? Kakimu yang sekarang ukurannya berbeda… Kau enggak akan bisa menggantinya begitu saja, ‘kan?”

“Akan beta pakai begini.” Katanya.

Kiss-Shot memegang kaki kanannya sendiri itu dengan kedua tangan. “Aam.” Lalu ia membuka lebar-lebar mulutnya dan kemudian mengigitnya.

Dan kemudian memakannya.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Daging dan tulangnya secara bersamaan.

“… … … … …”

Kau tak mungkin mengadaptasi adegan satu ini ke bentuk anime.

Sosok seorang gadis berusia sepuluh tahun yang melahap kaki kanan seorang perempuan dewasa.

Apalagi, terlihat seakan menikmati rasanya…

“Um?” Kiss-Shot tiba-tiba menghadap ke arah kami. “Tak selayaknya, kalian menonton, dasar cecunguk rendah. Tinggalkan beta di saat beta sedang menghidang. Tahu dirilah sedikit.”

“Ah, ya.”

Sekalipun tak disuruh, ini sama sekali bukanlah sesuatu yang mau aku lihat.

Tanpa menunggu diusir, aku dan Oshino keluar ruang kelas ke koridor, kemudian menutup pintunya di belakang kami.

Mungkin karena memang lucu, Oshino mengeluarkan tawa terkekeh.

Sedangkan aku hanya menghela nafas.

“…Ngomong-ngomong, Oshino, selagi Kiss-Shot makan, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

“Hm? Apa?”

“Kalau kau menonton pertarunganku, semestinya kau sudah tahu. Lengan kiriku tadi sempat hancur diserang Dramaturgie—tapi enggak lama kemudian, lengan itu sudah pulih lagi. Kecepatan pemulihannya benar-benar sulit dipercaya. Tapi kalau begitu, kenapa kaki dan tangan Kiss-Shot juga tak ikut pulih sendiri?”

“Karena Heart-Under-Blade, pada waktu kau bertemu dengannya, telah terlanjur kehilangan sebagian besar keabadian yang dimilikinya sebagai vampir. Apa kau tak berpikir kalau alasannya itu?”

“Bukan, aku sudah memikirkannya kalau soal itu. Maksudnya, waktu tanganku sendiri terpotong sampai akhirnya pulih lagi, bagian tangan yang terpotong itu lenyap. Karenanya, aku mikir kalau tungkai-tungkai Kiss-Shot semestinya lenyap juga—tapi ini juga tak terjadi. Kenapa bisa begitu? Baik pemulihannya ataupun pelenyapannya sama-sama tak terjadi…”

“Gadis itu punya garis keturunan yang istimewa, Araragi.” Oshino berkata, tanpa berbasa-basi. “Kedua pasang tangan dan kaki gadis itu dengan tenang… dicuri oleh orang-orang itu, seakan mereka ingin memilikinya sendiri.”

“… … … …”

“Orang-orang itu membagi keseluruhan tubuh dan tungkai-tungkainya itu. Dengan kata lain, orang-orang itu, lebih dari sekedar tangan dan kakinya, juga mencuri inti dirinya sebagai vampir. Untuk alasan ini, keempat tungkainya itu takkan pulih sendiri ataupun lenyap. Faktanya, keempatnya bisa dibilang telah dibekukan. Dengan menekan pelenyapannya, kau bisa mencegah pemulihannya—bila memikirkannya seperti itu, sebagai langkah untuk memerangkap sang Penakluk Fenomena Ganjil, ini benar-benar siasat yang teramat efisien. … …Ada baiknya kau jaga diri juga kalau begitu.”

Oshino mengatakan itu dengan nada yang terdengar agak jahat.

“Dramaturgie nampaknya lebih suka kau menjadi rekannya, tapi Araragi, kau tetaplah bawahan Kiss-Shot. Tungkai-tungkaimu mungkin bisa dicuri juga, jadi kemungkinan kau sendiri yang mereka jadikan sasaran juga tetap ada.”

“Se-serius?”

“Haha! Apa kau tadi menanggapinya serius? Yah, mengingat yang barusan itu serangan khusus, aku tak bisa memakainya terlalu sering. Tenang saja, metode itu yang mereka pakai jarang-jarang dapat digunakan, dan lagipula, sepertinya mereka akan memerlukan tiga orang untuk bisa melaksanakannya. Tinggal dua dari mereka yang tersisa, jadi resikonya kurasa sudah tak ada lagi.”

“… … Lawanku berikutnya siapa?” Aku bertanya. “Episode atau Guillotine Cutter?”

“Merekalah yang menentukan urutannya, jadi aku belum bisa memberitahumu sekarang, tapi kurasa akan Episode. Dengan cara apapun aku ingin membereskan segala sesuatunya cepat, supaya kamu bisa kembali menjadi manusia sehari lebih awal.”

“Oshino.”

Sedikit terkesima, aku akhirnya menanyakan hal tersebut—sebelum aku membicarakannya dengan Hanekawa, sekedar untuk memastikan semuanya akan jelas.

“Apa… aku benar-benar akan bisa berubah jadi manusia kembali?”

“Kalau kau berhasil mengembalikan seluruh tungkai Heart-Under-Blade, maka pasti kau akan bisa. Bukannya dia sendiri bilang begitu?”

“Maksudku… apa enggak ada kemungkinan kalau Kiss-Shot sebenarnya berbohong? Demi mendapatkan kembali tungkai-tungkainya, maka dia berbohong?”

“Hei.”

Oshino mendorong kepalaku dengan ringan.

“Tak semestinya kau meragukannya sekarang ini. Bukannya sikap seperti itu menyedihkan?”

“…Tapi…”

“Bicara seperti itu soal orang yang telah menyelamatkan nyawamu, kau benar-benar tak tahu diri.”

Oshino…

Dia mengataiku itu tadi? Tak tahu diri?

Orang yang menyelamatkan nyawaku?

Aku adalah… bukan, Kiss-Shot adalah penyelamat nyawaku? Apa itu yang baru saja Oshino katakan?

“Whoa, muka macam apa itu, Araragi? Memangnya ada hal baik terjadi, ya?”

“… … Jangan bicara seolah kau memang ngerti apa yang kupikirin.”

“Tapi kau memang lagi mudah dibaca. Sudah jelas, kau mempertaruhkan nyawamu untuk kepentingan Kiss-Shot. Kau tawarkan lehermu untuk taringnya. Kupikir itu hal luar biasa. Tindakanmu benar-benar gagah berani. Tapi Araragi, membahas soal kenyataan yang memang terjadi, pada titik itu, semestinya kamu mati.”

Darahku dihisapnya.

Aku dihisapnya sampai cairan tubuhku tak lagi bersisa.

Pada titik itu, rupanya pastilah aku telah dibuatnya sekarat.

Salah. Pada titik itu malahan, aku bahkan sudah mati.

“Tapi, kamu kembali bangkit. Sebagai vampir. Kelangsungan hidupmu dibiarkan untuk terjaga.”

“Itu karena memang ada ketentuan kalau ada vampir mengisap darahmu, kau akan ikut jadi vampir tanpa kecuali, ‘kan? Memang pada akhirnya aku enggak dibuat sampai meninggal, tapi mengatai kalau nyawaku telah diselamatkannya…”

“Tanpa kecuali, kau bilang? Memang siapa yang bilang gitu?”

Oshino memperlihatkan seringai lebar.

Dirinya masih bersikap seolah tahu isi pikiranku.

Sikap seolah dirinya tahu segala kecemasan dan rasa curiga yang terkumpul di lubuk hatiku yang terdalam.

“Kiss-Shot yang bilang.” kataku.

“Cuma orang bersangkutan yang bilang? Apa kamu enggak mikir kalau ada kemungkinan yang bersangkutan itu justru malah bohong?”

“Enggak mungkin…”

Itu bohong?

Yang Kiss-Shot katakan itu justru bohong?

Tapi kalau begitu… buat apa dia harus bohong?

“Aku sejak awal memang tak berada di pihak Heart-Under-Blade, jadi biar kukatakan saja agar kau mengerti. Bila ada vampir yang menghisap darah manusia, ada dua pola yang akan terlihat. Satu, manusia tersebut menjadi makanan yang memenuhi kebutuhan gizinya. Dua, manusia tersebut dijadikannya bawahan yang akan menjadi pelayannya secara pribadi.”

Keduanya merupakan hal-hal yang sama sekali berbeda.

Demikian Oshino katakan dengan senyumannya yang biasa.

“Yah, untuk bisa mengubahnya menjadi bawahan, tetap ada gizi dalam jumlah tertentu yang harus dihisap sih. Singkatnya, seandainya dia mengisap darahmu dengan maksud untuk mencukupi kebutuhan gizinya pun, sekalipun pemulihan dirinya secara penuh menjadi suatu hal yang tak mungkin, dia tetap takkan kehilangan kekuatannya sampai sejauh itu.”

“Iya, tapi…”

Mungkin saja begitu.

Tapi, berkenaan hal ini, di bawah lampu jalan itu, memang itu yang Kiss-Shot katakan.

Tindakannya meminum porsi darahku—merupakan sesuatu yang dilakukannya dalam keadaan darurat.

Sosoknya yang saat ini…

Penampilannya yang tampak seperti seorang gadis usia sepuluh tahun…

Apa bisa kubilang—tindakan yang diambilnya memang karena keadaan darurat?

Apa bisa kubilang—tindakan yang diambilnya memang semata karena ingin memulihkan gizinya?

Tampangnya seperti… anak yang lupa makan.

“Nampaknya, dirinya yang saat ini hanya punya kemampuan pemulihan diri. Seluruh kekuatannya telah dihabiskannya untuk mewujudkan tubuh itu. Kelihatannya, dirinya bahkan telah kehilangan kemampuan dasarnya untuk menghisap darah.”

“Eh? Serius?”

“Serius. Wujudnya yang sekarang ini adalah hasil dari sesuatu yang dilakukannya karena keadaan darurat. Dengan mengorbankan sejumlah kemampuan yang dia miliki, dia berhasil mempertahankan kekuatan hidup yang dia punya. Mempertimbangkan apa yang seharusnya masih bisa dilakukannya dalam keadaan sesudah mengalami empat kali amputasi, dirinya benar-benar kepayahan. Jujur saja, seandainya waktu itu dirinya menghisap darahmu untuk ‘makan’, keadaannya akan jauh lebih baik daripada keadaannya yang sekarang ini.”

“Jadi…”

Aku bercermin kembali lewat kata-kata Oshino.

Dengan pikiranku yang tak terlalu pintar ini, memaksakan kecerdasan yang tak benar-benar ada di sana, aku sekuat tenaga mencoba bercermin.

Aku berusaha melihatnya dengan cara yang masuk akal.

“… … Demi bisa mendapatkan kembali tungkai-tungkainya yang hilang, sekalipun itu berarti harus kehilangan sebagian besar kemampuannya—termasuk kemampuan untuk menghisap darah, apa memang ada suatu alasan yang mengharuskan dia buat mengubahku jadi bawahannya?”

“Enggak, enggak ada.”

Oshino melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan.

“Kalaupun ada, pastinya dia bakal bilang seandainya kau coba tanya. Tapi alasannya kurasa memang sesuatu yang baru dia putuskan belakangan. Heart-Under-Blade pada akhirnya tak sampai tega membunuhmu… kurasa.”

“… … …”

“Para vampir, terutama Heart-Under-Blade, sebenarnya tak suka menciptakan bawahan. Sekalipun mereka sekarat dan hampir mati, mereka takkan terdorong untuk mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri dengan menciptakan seorang bawahan. Heart-Under-Blade merupakan hati di bawah pedang. Dalam cerita-cerita yang kudengar, dirinya kelihatannya adalah seorang vampir yang teramat berbeda dibandingkan kaumnya yang lain. Dirinya sekarat, dan karena berupaya untuk tak membunuhmu, dirinya tak memiliki pilihan selain mengubahmu menjadi bawahannya.”

Penyelamat nyawa, ya.

Kalau dipandang dengan cara seperti itu, maka Kiss-Shot pastinya adalah penyelamat nyawaku.

Benar juga.

Sejak awal, tatkala Kiss-Shot memanggilku pada malam itu, dirinya tak perlu memiliki keinginan untuk mengubahku menjadi bawahannya.

Yang dia butuhkan cuma asupan gizi. Niatnya semula hanyalah untuk mendapatkan makanan.

Yang dilakukannya adalah tindakan darurat semata.

Namun begitu…

‘Terima kasih.’ Itu yang dia ucapkan.

Dia bilang itu padaku yang pada dasarnya tak berharga sebagai manusia.

Kepadaku, orang yang telah dengan sukarela menawarkan lehernya.

“Araragi, waktu kau terbangun di sini, Heart-Under-Blade sedang tidur juga di dekatmu kan? Dia pakai lenganmu sebagai bantal. Kau tak sadar sepanjang waktu itu dia terus menjagamu dengan penuh perhatian?”

“Maksudmu?”

“Karena resko untuk tiba-tiba mengamuk tanpa terkendali selalu ada pada mereka yang baru diubah menjadi vampir bawahan. Heart-Under-Blade nampaknya tak rela bila itu sampai kau alami. Mungkin lebih pas jika kubilang, dirinya sebenarnya mengawasimu. Dan ada itu juga… waktu sesudah itu, untuk menyelamatkanmu, yang dengan begonya malah munculin tubuh di bawah sinar matahari, dirinya tanpa ragu ikut menyusulmu dan menarikmu kembali dengan resiko ikut terbakar.”

Demikian, Oshino menambahkan.

“Mungkin perhatiannya terhadapmu tak lebih dari perhatian dari yang akan manusia berikan ke binatang peliharaan. Tapi setidaknya, kurasa, Heart-Under-Blade menaruh kepercayaannya kepadamu.”

“Kepercayaan, ya.”

“Makanya, kalau kau justru tak mempercayainya, bagiku itu menyedihkan. Bukannya sudah kubilang sebelumnya? Hal terpenting dalam sebuah hubungan adalah adanya rasa saling percaya. Araragi, jangan kuatir. Kau pasti nanti akan bisa kembali jadi manusia. Masalahnya kupikir justru sesudah itu.

“…Sesudah itu?”

“Jika kau mulai memandang dirimu sebagai ‘korban’ atau semacamnya. Bersikap seolah cuma kamu semata yang rugi dan lepas tanggung jawab dari semua yang terjadi—aku takkan tahan jika kau mulai melakukannya.”

Itu kata-kata yang keras.

Tapi aku juga terkesima karena hal tersebut ia ungkit.

“Bukannya aku mau menjilat, tapi aku sama sekali enggak pernah berpikir buat bersikap sebagai ‘korban’ di sini.”

“Kalau gitu, buatku, itu sudah cukup. Asal kau jangan lupa apa yang baru kau ucapkan, Araragi. Gimanapun dari sudut pandangku, kau masih terlalu dua puluh.”            *廿い ‘niju’*

“Dua puluh?”

“Ah, sori. Maksudku naif.”           *甘い ‘amai’*

Oshino meralat ucapannya sendiri.

Salah ngomong macam apa itu? Salah ngomong kayak gitu mestinya enggak mungkin terjadi.

“Soal kenapa fenomena ganjil ini bisa terjadi—maksudku dalam hal ini, kenapa kau, Araragi, bisa bertemu sesosok vampir—kurasa ada baiknya kau berpikir lebih dalam tentangnya.”

“Hah? Tapi, bukannya itu… karena kebetulan semata ‘kan?”

“Mungkin memang kebetulan. Tapi yang perlu kau sungguh-sungguh dalami adalah kenapa kebetulan seperti itu bisa terjadi. …Yah, buat sekarang, mungkin lebih baik kalau kau mikir soal bagaimana memperoleh tungkai-tungkainya Heart-Under-Blade kembali dulu. Aku tak punya keharusan apa-apa di sini buat mencemaskanmu, Araragi. Tapi caramu bertarung itu terus terang saja agak membuatku khawatir.”

“Habis… mau gimana lagi? Tapi sudahlah. Serahkan saja padaku.”

Mengesampingkan hal itu.

Jika sang spesialis Oshino sudah berkata begitu—aku beneran jadi mikir apakah aku benar-benar akan baik-baik saja.

Tapi benar juga sih.

Meski pembawaannya kayak gitu, kurasa memang benar bahwa Kiss-Shot memiliki rasa percayanya terhadapku. Dia memanggilku pelayannya, tapi itu karena dirinya berpikir kepada dirinya, aku berhutang nyawa.

Kalau kasusnya memang begitu, maka kurasa aku juga sebaiknya tak mengecewakannya.

Membalas kepercayaan dengan kepercayaan. Seperti itulah hubungan yang dilandasi oleh rasa percaya.

“Kurasa, mestinya dia sudah selesai makan sekarang.”

“Oh? Oya. Aku juga masih mesti tanya-tanya soal lawanku selanjutnya, Episode.”

Kami membuka pintunya dan kembali memasuki ruang kelas.

Benar juga. Wujud Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade telah berubah, dari seorang gadis kecil yang terlihat berusia sepuluh tahun, menjadi seorang gadis kecil yang kini terlihat berusia dua belas tahun.

Dia tumbuh.

Tanpa kami sadari, dirinya telah tumbuh sedemikian besar.

————————————————————

Catatan:

‘Keberpihakan politis’ saat Araragi membicarakan desain kemeja Oshino kayaknya agak mengacu gimana masyarakat terbagi ke dalam golongan-golongan dengan warna-warna kaos tertentu saat menjelang pemilu.

Soal creative dance ini, aku enggak ngerti sama sekali. Maaf. Semacam SKJ?

Anime ya anime (rasanya aneh bila kau baca ini tapi enggak tahu itu apa). Drama CD, bagi yang belum tahu, itu semacam sandiwara radio yang mengadopsi para tokoh suatu seri dalam cerita lepas, cuma dijual dalam bentu satu CD. Cuma suara dan bunyi. Biasanya cerita lepasan. Kadang disertai penjelasan teks dan ilustrasi di dalam kemasannya. Bila suatu seri manga atau novel populer, sebelum diangkat ke bentuk anime, kadang ‘dicoba’ dengan dijadikan drama CD dulu.

Mashin Hero Wataru, anime super robot buatan Sunrise keluaran pertengahan 1988. Tentang anak 9 tahun bernama Wataru yang dipanggil ke dunia Soukaizan untuk menyelamatkan dunia. Bergenre aksi petualangan dan komedi. Punya banyak elemen RPG di dalamnya. Sangat terkenal pada masanya. Tapi karena jadul, Araragi protes karena perumpamaan itu jadinya enggak bisa dipakai buat dia.

Kyocera, perusahaan yang awalnya bergulat di bidang material keramik tapi kemudian merambah ke bidang-bidang lain, termasuk telekomunikasi. Leluconnya di sini adalah Kyocera sudah berdiri lama (dari tahun 1959) dan jadinya juga merupakan sesuatu yang jadul.

“Jangan seenaknya bikin iklan enggak langsung!” Leluconnya di sini adalah Oshino seakan punya maksud (bisnis) terselubung dengan menyebutkan merk-merk tersebut.

Sejujurnya, ungkapan ‘hati di bawah pedang’ agak susah dijelasin. Tapi intinya itu kode etik yang mengutamakan harga diri dan pelunasan hutang budi daripada perasaan atau keinginan pribadi. Konteksnya sebenernya berhubungan dengan cara hidup seorang samurai atau ninja.

Maksud lelucon saat Oshino meralat ucapannya sendiri itu, kalau kau perhatiin jumlah garis yang dipakai untuk menyusun hurufnya, jelas itu lebih mungkin diakibatkan karena salah tulis daripada salah ucap.

28/04/2012

Kizumonogatari – IND (008)

Kayaknya… ini bab terpanjang yang udah kuterjemahin sejauh ini.

Maaf agak lama. Banyak hal yang lagi terjadi dalam hidup.

——————————————————————————————————–

008

Untuk upaya pengusiran vampir, tempat dan waktu bukanlah sesuatu yang bisa kau pilih.

Tanpa terpengaruh oleh waktu, tempat, ataupun situasi, sekedar menemukan lokasi  vampir sasaran berada dan kemudian mengenyahkannya; seperti itulah cara mereka bekerja. Namun, seandainya saja mereka menjalankan doktrin praktek yang teramat menyusahkan sekaligus membahayakan itu di tengah kota Jepang modern terpencil seperti ini, hasilnya pasti bakal kacau.

Karena itu, masalah perantaraan antara kami dan mereka…

Sebagai persiapan untuk menghadapi yang terburuk. Pantas saja Oshino memilih medan pertempuran yang jauh dari orang banyak. Dengan begitu, diharapkan takkan ada siapapun yang akan menyadari suatu pertarungan tengah terjadi.

Lapangan olahraga sekolahku sendiri. Bila kupikirkan sekarang, tempat itu kurasa sama sekali bukanlah pilihan buruk.

Sebuah bangunan sekolah pada malam hari bisa dibilang semacam titik buta.

Tempat yang sangat ramai pada siang hari, tapi berubah sepenuhnya saat malam—pada waktu segitu, takkan ada lagi orang di sana. Tak diragukan lagi, tempat ini benar-benar cocok sebagai lokasi pengusiran vampir.

Gedung utamanya sendiri tentu saja terkunci. Karenanya, aku takkan bisa memasukinya.

Mengingat bangunan ini memiliki ruangan-ruangan yang berpotensi menjadi sasaran tindak pencurian, seperti ruang tata usaha dan ruang guru, sudah sewajarnya ada lembaga pengamanan yang turut memegang andil dalam menjaga fasilitas sekolah ini.

Tapi, kalau hanya sekedar memanjati gerbang sekolah yang tertutup, lapangan olahraga itu saja sudah bisa aku masuki.

Karenanya…

…asalkan pertarungannya tak berlangsung lama—takkan ada saksi mata yang akan sampai melihat.

Benar-benar pilihan medan tempur yang bagus.

“…Tapi kenapa harus SMA Naoetsu?”

“Karena ini sekolahmu sendiri.” Demikian Oshino menjawab saat aku mengajukan pertanyaan di atas. “Supaya jadi lebih gampang buatmu, Araragi! Yang kau akan hadapi adalah seorang spesialis pengusiran vampir. Sementara kau sendiri jadi vampir baru belum lama ini, dan kamu sekarang malah harus bertarung dengannya! Bukannya lebih baik kau punya sedikit chi no ri?”

Chinori—Darah palsu? Aku enggak tahu cara pakai tipuan kayak gitu. Kalau cat saja bisa?”

“Aku bilang chi no ri—keunggulan di sisi medan!”

Sebab kalau tidak, maka kedudukan kami berdua takkan bisa dipastikan seimbang.

Anggap saja layanan gratis—itulah yang Oshino kemukakan.

Aku memang mengerti maksud pemikirannya—tapi tetap saja, melakukan kegiatan mencurigakan begini, di lingkungan sekolahku sendiri, rasanya agak…

Yah, sudahlah.

Mengulang adegan pembukaannya dari awal—mari kita lakukan Gakuen Inou Batoru ini!

“…Sudah lama menunggu?”

Untuk suatu alasan, sapaan berkesan sok itu tahu-tahu terlontar dari mulutku.

Alasannya, mengingat orang yang perlu kutemui sudah datang terlebih dahulu, sekalipun aku tak terlambat, aku jadi merasa harus mengatakannya.

Di pusat lapangan olahraga itu—seorang lelaki berotot kekar tengah duduk bersila.

Mulut dan kedua matanya terkatup rapat, seolah-olah sedang bermeditasi.

Kemudian, menanggapi suaraku, dia—Dramaturgie…

“?????”

…mengatakan itu.

Yah, aku tak memahami apa yang dia katakan.

Tapi lalu…

“…Ah, dalam bahasa lokal—benar juga.”

…dirinya melanjutkan ucapannya dengan kalimat itu, dan kemudian berdiri.

Ukuran tubuh orang ini benar-benar besar… aku sampai merasa kepalanya bisa sampai terantuk bulan seandainya dirinya tak hati-hati.

Eh…?

Kuperhatikan kalau kali ini ia tak membawa sepasang flamberge miliknya, sepasang pedang dengan bilah berlekuk-lekuk itu.

Tak hanya satu, dirinya bahkan tak membawa keduanya?

Apa maksudnya?

“Jangan salah paham, Saudaraku.”

Walau aku kini bebas meragukan apakah lawanku sepenuhnya bertangan kosong, Dramaturgie, dalam bahasa Jepang teramat fasih, memulai pembicaraan.

“Aku tak datang kemari untuk melakukan tindakan pengusiran terhadapmu.”

“… …. ….”

Apa tadi yang dikatakannya?

Secara otomatis, aku serta-merta bersiap siaga.

Dalam pikiranku aku memunculkan kembali daftar isi dari buku ‘Belajar Aikido Dari Nol’ yang kutinggalkan di dalam kantong di luar gerbang. Salah satu teknik yang bisa langsung kugunakan dalam pertarungan sungguhan… emm, apa ya?

Sementara aku berpikir, Dramaturgie mengulangi pernyataannya dengan makna yang sama.

“Orang itu—mematuhi perkataan orang bermulut manis itu–aku datang. Tapi aku datang kemari bukan karena ingin menyingkirkanmu.”

“Jadi alasanmu muncul bukan untuk tugas pengusiran—kalau begitu apa?”

Orang bemulut manis.

Kurasa, tanpa diragukan lagi, yang dibicarakannya adalah Oshino—sebagaimana yang kuduga, bahkan pihak lawan pun memandang dirinya sebagai orang yang jago bicara.

“Aku ingin kamu beralih ke pihakku.”

Dramaturgie mengatakannya dengan tegas dan jelas.

Tanpa basa-basi atau mengikuti prosedur apa-apa, dirinya langsung saja mengangkat topik bahasannya yang utama.

“Aku bertanya, maukah kau mengabdikan dirimu untuk berburu vampir—sepertiku?”

“…Aku enggak paham apa maksudmu.”

Aku menanggapi perkembangan tak terduga ini dengan menggertak.

“Waktu itu, kau menyerangku bahkan sebelum aku sempat ngomong apa-apa—jadi kenapa sekarang kau malah mengajak bicara?”

“Waktu itu, ada Episode dan Guillotine Cutter. Di hadapan mereka, tak mungkin aku bisa membujukmu seperti sekarang ini. Tapi, sosok langka seperti bawahan dari Heart-Under-Blade, sang vampir berdarah-logam berdarah-panas berdarah-dingin—akan sangat disayangkan jika kau dibiarkan berakhir terbunuh.”

“Kalau aku sepakat menjadi kawanmu,” aku bertanya. “itu artinya kamu juga akan menyerahkan kaki kanan Kiss-Shot? Apa perjanjian kita seperti itu?”

“… … …Nyalimu besar untuk menyebut perempuan itu ‘Kiss-Shot’, tapi asumsimu salah. Membunuh Heart-Under-Blade justru akan menjadi tugasmu yang paling pertama.”

“… … …Kalau gitu aku menolak.”

Itu sudah di luar kompromi.

Tujuanku adalah untuk bisa menjadi manusia kembali—tak mungkin aku mau menjadi vampir pembantai sesama.

Dalam berbicara, kau benar-benar harus memilih kata-kata yang sesuai untuk para pendengarmu.

“Begitu. Sayang sekali. Sangat disayangkan. Saat ini, aku memiliki 53 kawan seperjuangan—dan kupikir pengendalian yang tuanmu miliki atasmu lemah, jadi kupikir kau benar-benar cocok untuk dijadikan rekan.”

Pengendalian atasku lemah?

Apa kenyataannya benar-benar seperti itu?

Itu berarti Kiss-Shot tak… tak sungguh-sungguh mengubahku menjadi pelayannya?

“Lima puluh tiga masih jumlah yang besar. Jadi vampir yang bisa membantai sesamanya memang segitu banyak? Kalau begitu pada akhirnya aku mesti setuju dengan kata-kata Kiss-Shot. Kalau memang begitu, seperti yang kau bilang, aku juga bakal harus jadi bawahanmu di urutan kelima puluh empat.”

“Oh salah. Kau akan langsung ditempatkan di urutan pertama.”

Dramaturgie berkata tanpa perubahan ekspresi wajah sama sekali.

“Omong-omong, urutan pertama saat ini tidak lain adalah aku.”

“… … Hmm.”

Semenjak awal aku bisa menduga kalau dirinya bukan orang biasa.

Sejujurnya, aku tak kaget-kaget amat.

Karena tampaknya ia jenis vampir yang begitu bersemangat soal tugas pengusirannya—itu berarti Kiss-Shot benar-benar sesosok makhluk yang luar biasa.

Vampir Berdarah-Logam Berdarah-Dingin Berdarah Panas.

Sang Penakluk Fenomena Ganjil.

Tanpa diragukan lagi.

“Yah, walau kesannya agak bertolak belakang, aku sebenarnya salut dengan upayamu untuk membuatku jadi rekanmu, tapi—lain kali, merayunya lebih ahli dong. Kamu enggak akan pernah bisa dapetin cewek dengan sikap kayak gitu.”

Mengikuti gaya Oshino, tahu-tahu pernyataan sok itu turut terlontar.

Sebab kupikir ini memang adegan di mana aku harusnya menyombong.

“Begitu.”

Jawaban Dramaturgie seakan menandai semacam kesepakatan.

Upayanya berakhir sebagai kegagalan.

Atau, untuk mengatainya secara tepat, upayanya berakhir sebagai aib.

… …Tapi justru, mungkin ini adalah kesempatanku.

Mungkin, dalam maksudnya untuk membujukku, Dramaturgie telah meninggalkan pedang-pedang melengkungnya itu di suatu tempat.

Betapapun aku memahami kalau badannya itu pastinya kebal, senjata-senjata bersisi tajam seperti itu bagiku secara naluriah terasa menakutkan—jadi keadaan ini, asal tahu saja, merupakan hal sangat berarti buatku.

Mungkin apa yang sebelumnya memotong kaki kanan Kiss-Shot pun…

…pedang-pedang panjang milik Dramaturgie itu.

Dari semua tungkainya yang terpotong, hanya luka di situ saja yang terlihat bersih dan halus—luka potong pada kaki kanannya itu.

Dengan pedang-pedang berbilah melengkung itu, memotongnya dengan cara sedemikian rupa sepertinya teramat susah—tapi Dramaturgie kini tak membawa pedang-pedang itu. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Rasanya seperti angin bertiup searah dengan tujuanku—kurang lebih seperti itu.

“Kalau begitu, ayo kita mulai, wahai bocah yang malang, bawahannya Heart-Under-Blade. Seharusnya urusan kita ini tak akan memakan waktu lama, bukan?”

“Tunggu, sebelum itu, aku mau memastikan ulang kesepakatan kita.”

Aku cepat mengutarakan itu ke Dramaturgie yang sudah mulai memutar-mutar lengannya.

“Aku cuma takut ada kesalahpahaman soal apa-apa sudah kita janjikan saja.”

“Boleh. Kalau begitu, ayo kita pastikan ulang.”

“Kalau aku menang—kau akan memberiku kaki kanan Kiss-Shot, benar begitu ‘kan?”

“Lalu kalau aku yang menang, kau akan memberitahuku tempat di mana Kiss-Shot berada?”

“Oke. Aku sepakat kalau begitu.”

“Begitu pula aku.”

Maka dengan itu, kami memulai.

Lengannya berputar—seperti yang sudah kubilang…

…Lalu Dramaturgie melesatkannya ke arahku.

Yang diperlihatkannya adalah kecepatan yang takkan kau sangka akan ada pada badannya yang raksasa—menyerang dengan mengerahkan seluruh bobot badannya, itu sebuah tinju seperti yang akan dihasilkan oleh seorang petinju profesional.

Aku bisa melihatnya.

Dengan sepasang mata vampirku ini, aku berhasil melihatnya.

Meski begitu—meski aku bisa melihatnya, itu tak berarti aku akan bisa mengatasinya.

“Au… ugh.”

Mengikuti detik itu… tahu-tahu saja lengan kiriku melayang.

Bukan patah atau robek.

Tapi benar-benar akibat besarnya gaya yang dihasilkan tinju Dramaturgie, lengan kiriku benar-benar diremukkannya.

“Hi… iiiiiiiiiiiiiiiih?!”

Masalahnya bukan rasa sakitnya.

Seketika, rasa takut dalam sekejap melandaku.

Tubuhku—seperlima bagian dari tubuhku, dalam sekejap dibuat lenyap?!

Aku—secara refleks.

Secara refleks, dan kemudian barulah secara naluriah…

…serta merta melarikan diri dari Dramaturgie.

Namun, nampaknya hanya sesudah dua langkah, aku terantuk kakiku sendiri dan terjatuh di tempat—untungnya itu terjadi, karena di posisi di mana kepalaku berada beberapa saat lalu, sebuah kepalan tinju teramat besar dengan kecepatan mengerikan tiba-tiba melintas.

Dengan tangan kiriku tertumpu ke tanah, dengan suatu cara aku berhasil menahan diri agar tak sampai terguling.

Lalu persis pada saat itu, dengan pikiranku yang bergerak cepat—tangan kiri?

Apa?

Tangan kiriku yang seharusnya remuk—masih ada di sana?

“…………………!”

Ini… kemampuan pemulihan yang dimiliki vampir?

Apa iya prosesnya instan seperti ini?

Proses pemulihannya tak sampai memulihkan pakaianku yang lenyap bersama tangan kiriku—tapi kenyataan lenganku menjadi terbebaskan dari pakaian secara seketika begini memperlihatkan betapa hebatnya kekuatan pemulihan yang dipunyai oleh tubuh vampir.

Aku sudah memastikan secara hati-hati aspek-aspek seperti kekuatan fisik—tapi jelas aku tak memperhitungkan sesuatu seperti kekuatan untuk menyembuhkan diri—rasa terkejutku pada titik ini benar-benar tak tertutupi lagi. Namun, kalau aku memikirkannya lagi sekarang, kalau mengingat kejadian di awal-awal itu, saat aku merasakan neraka saat terkena cahaya matahari—kekuatan pemulihan yang sekarang kupunyai sama sekali bukan hal yang aneh.

“Ada masalah apa? Yang kau lakukan cuma melarikan diri, bawahan Heart-Under-Blade!”

“… …Berhentilah memakai sebutan aneh itu untukku!”

Melihat kekuatan penyembuh yang diperlihatkan tangan kiriku, sekejap berikutnya kepalaku dingin kembali.

Bahkan rasa takut itu lenyap begitu saja—benar.

Benar-benar benar.

Musuhku sekarang seorang monster—tapi aku yang sekarang telah menjadi seorang monster juga.

Jadi kenapa aku harus merasa takut?

“OOOH!”

Aku berteriak—sembari melakukan salto ke belakang.

Seperti yang kuduga, kelincahanku juga telah bertambah.

Dan aku bahkan dulu berpikir kalau bersalto ke belakang, setidaknya tanpa memakai trampolin, atau setidaknya tanpa sedikit efek CG, merupakan hal yang takkan pernah mungkin bisa kulakukan—dan lalu…

…Aku menegang, dan untuk pertama kalinya, aku mendapati diriku dan Dramaturgie telah sepenuhnya berhadap-hadapan.

“Ooh. Kau terlihat percaya diri sekarang.”

“Ya, berkatmu—dan karena itu, kau kumaafkan walau telah merusak pakaianku.”

Sementara aku berbicara, aku berpikir.

Dramaturgie.

Vampir yang membunuh vampir lainnya.

Kiss-Shot bilang kalau akan ada untungnya aku memahami terlebih dahulu sifat-sifat istimewa yang dimiliki para vampir—sifat-sifat istimewa para vampir, kalau aku tak salah ingat—

Mereka lemah terhadap matahari. Mereka membenci bentuk salib. Mereka membenci peluru-peluru yang terbuat dari perak. Mereka membenci air murni. Mereka membenci racun. Mereka akan mati bila ada pasak ditancapkan menembus jantung mereka. Tapi bukannya itu semua justru adalah kelemahan-kelemahan mereka? Kalau membahas sifat-sifat istimewa mereka, barangkali… yah, untuk awalnya, mereka menghisap darah, dan sekaligus menyerap energi pada saat melakukannya. Mereka tak memiliki bayangan, dan sosok mereka tak memiliki pantulan di cermin.

Tentunya Dramaturgie—yang kini disinari cahaya bulan, juga tak memiliki bayangan.

Aku juga sama.

Gigi-gigi yang tajam—atau mungkin lebih tepatnya bertaring.

Karena Dramaturgie yang menjadi lawanku seringnya mengatupkan mulutnya secara rapat selama ini, ini menjadi satu sifat yang tak berhasil aku amati.

Kemudian selain itu—keabadian?

Kemampuan penyembuhan diri yang nyaris tak terhingga?

Sepasang mata yang dapat melihat dengan baik di tengah kegelapan?

Selain itu kemampuan untuk mengubah badan menjadi hal-hal seperti kabut dan bayang-bayang, bahkan ada kekuatan penyembuh di dalam darah para vampir sendiri, kalau tak salah—walau begitu, aku akhirnya sampai ke titik di mana aku merasa tak ada gunanya aku memikirkannya.

Bukannya aku bermaksud meremehkan nasihat Kiss-Shot. Tapi—mengingat kami sama-sama vampir, dalam hal keunggulan dan kelemahan, secara garis besar, kupikir kami seimbang.

Aku punya keabadian, dan dirinya punya keabadian juga.

Kalau sudah begitu—maka pengalaman dan bakat terpendam menjadi apa yang akan menentukan segala-galanya.

Soal pengalaman, aku tak bisa tak mengakui kalau dirinya sudah lebih jauh satu langkah dariku. Tunggu, mungkin hitungannya bahkan sudah melebihi langkah.

Sementara yang sudah kupelajari baru sebatas hasil membaca buku petunjuk aikido beberapa waktu lalu—

“Aargh, sompret!”

Mungkin karena pengaruh Kiss-Shot, sementara aku meneriakkan kata-kata klise yang kukira takkan pernah kugunakan seumur hidupku—aku menyerbu ke arah Dramaturgie.

“Kupikir kau akan menggunakan semacam strategi—tapi secara pribadi kuhargai sikap blak-blakan semacam itu.”

Sembari bicara—Dramaturgie turut melancarkan padaku jenis serangan blak-blakan seperti yang dikatakannya.

Blak-blakan.

Kau bahkan bisa mengatainya mentah.

Tak peduli sebesar apapun ukuran kepalan tangannya, tak peduli semenakutkan apa kecepatan pukulannya itu—bila aku melihat hal yang persis sama sebanyak tiga kali, maka lama-lama aku akan terbiasa juga. Walau pada saat aku masih menjadi manusia mungkin keadaannya akan berbeda, dengan sepasang mata vampir yang kini kumiliki ini—tiga kali saja sudah jauh lebih dari cukup.

Menghadap ke depan.

Aku menghindari kepalan itu dengan tetap menghadap ke depan—kemudian, tanpa penundaan, aku menggenggam lengannya yang setebal batangan pohon—atau mungkin lebih, dari dekat ukurannya terlihat seperti pipa-pipa buat gorong-gorong air.

Kemudian aku memanfaatkan gaya dorong tinju yang dihasilkan oleh lawanku.

Seperti itu—aku mengalirkan sebuah teknik kuncian.

Belajar Aikido Dari Nol!

“(1) Genggam lengan lawan—(2) Tarik dia ke depan—(3) Balas serang dia dengan sekuat tenaga!”

Nah, kalau mengingat bagaimana penjelasannya semestinya menerangkan cara tekniknya bisa dilakukan oleh pemula, kurasa pemilihan kata-katanya agak terlalu disederhanakan, tapi kupikir prinsipnya sendiri memang bekerja.

Raksasa dengan tinggi badan melebihi dua meter, tanpa persiapan pendaratan apapun, jatuh terjerembab begitu saja, kepala lebih dulu, ke atas tanah lapangan olahraga yang selama ini tak terlalu baik dirawat.

Salah—aku membantingnya.

Dan sesudah itu, aku langsung menahan punggung Dramaturgie dengan lututku—dan menarik tulang sendi bahunya hingga ke belakang.

“N-nah, sekarang kau mau apa?”

“… …Cerdas juga.” Dramaturgie berkata, dengan wajah terbenam ke permukaan tanah. “Sifat blak-blakan sangatlah kuhargai—nampaknya kau juga tak kehilangan akal sehatmu dari waktu kau masih menjadi manusia. Memang tak mengherankan—aku bisa paham karena dulunya aku seorang manusia juga.”

“… Apa? Jangan omong kosong, cepat menyerah saja! Sebab jika tidak, tangan ini akan kupatahkaan–!”

Tunggu, apa itu tadi?

Itu secara menakutkan terdengar seperti kata-kata orang yang mau mengancam orang dari belakang.

Walau itu terdengarnya seperti semacam salam perkenalan juga.

… Akal sehat dari waktu aku masih manusia?

Akal sehat—maksudnya, cara berpikir?

“Ah…”

Benar juga—malah persis itu dia.

Aku sudah tuntas melakukan gerakan memiting, tapi terus… sekarang apa?

Habis ini, aku mesti ngapain?

Aku patahkan lengannya… ‘kan?

Tapi sekalipun aku mematahkannya—karena lawanku juga seorang vampir, bukannya dia akan langsung…

“Si-Sial—“

Dan kemudian…

Apa yang Dramaturgie maksudkan ternyata tak terbatas pada kemampuan pemulihannya saja—kurasa sekalipun aku sudah menyadarinya sebelumnya, aku tetap takkan mampu berbuat apa-apa tentangnya. Tapi aku memahami langsung makna yang terselubung di balik kata-katanya sesudah jari-jemariku, bagian-bagian tanganku yang menahan lengannya yang teramat besar itu, tiba-tiba saja teramputasi dengan bunyi berdesir.

Terpotong?

Salah, bukan—malah, aku tanpa sengaja memotong diriku sendiri.

Karena lengan yang kupegang itu tahu-tahu saja berubah wujud menjadi sebilah mata pedang melengkung.

“Gh… guargh!”

Yang kurasakan kali ini jelas-jelas sakit—rasa sakit yang nyata.

Rasa sakit yang tajam.

Mulai sekarang kurasa aku akan memakai metafora ini dengan sepenuhnya memahami apa yang kubicarakan.

Secara naluriah aku melompat ke belakang, menciptakan cukup jarak antara diriku dengan badan Dramaturgie—potongan-potongan tanganku yang terjatuh ke atas tanah mendadak lenyap.

Melihatnya lagi, bagian-bagian yang sebelumnya terpotong itu kini sudah tertanam lagi di pergelanganku.

Terpulihkan.

Kemampuan pemulihan diri ini… … menumbuhkan lengan baru rasanya tak terasa seperti tumbuhnya lagi ekor kadal—secara sederhana lebih seperti ‘sudah ada lagi’ begitu saja.

Lalu kejadian lenyap saat terpotong itu…

Itu bukan lenyap, kesannya lebih seperti ‘menguap’ dan uapnya membentuk kembali apa yang menutupi lukaku.

Kurasa bisa kubilang sistem ini benar-benar praktis.

Dan untungnya aku tak mungkin meninggalkan potongan-potongan tangan di atas lapangan olahraga sekolahku sendiri.

Dramaturgie, tanpa terburu-buru, dengan gerakan yang bisa dikatakan lamban—bangkit berdiri.

Dia tak bisa terburu-buru.

Alasannya—itu karena kedua lengannya kini telah berubah menjadi sepasang bilah pedang melengkung.

“…. … …”

Kemampuan perubahan wujud!

Kemampuan perubahan wujud—yang dimiliki para vampir!

Orang ini—dia mengubah bagian-bagian tubuhnya sendiri ke bentuk senjata!

Waktu itu juga kejadiannya begitu!

Sekalipun kejadiannya malam hari, salah, justru karena saat itu malam hari mata vampirku seharusnya telah melihatnya—tapi aku masih memegang akal sehat yang kupunya saat aku masih menjadi manusia, dan karenanya secara bawah sadar berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin!

Mengira dia sengaja menyimpan pedang-pedangnya, semata-mata untuk bernegosiasi denganku, hanyalah asumsi malasku semata.

Kedua pedang itu sejak awal—memang merupakan suatu kesatuan dengan Dramaturgie.

“…Apa yang terjadi? Sudah mau menyudahi giliran?” Dramaturgie berkata.

Meski posisinya kini jelas di atas angin, ekspresi wajahnya yang keras sama sekali tak terkikis—fokusnya kini bahkan terlihat seakan bertambah.

Tingkat pengalaman yang kami punya—benar-benar terlalu berbeda.

Semenjak awal, perbedaan yang ada terlampau besar.

Sekalipun benar kami berdua sama-sama vampir—aku tak bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan.

Pedang-pedang dengan panjang dan ketebalan seperti yang dimilikinya… jika aku mencoba menghadapinya dalam kondisi seperti ini, kurasa mendekatinya saja aku takkan bisa. Tapi bahkan dalam kondisi saat keduanya tak adapun, sosoknya yang besar itu tampaknya memiliki jangkauan dua atau tiga kali rentang seranganku.

“Aku tanya apa kau sudah mau menyudahi giliran. Mengapa kau tak menjawab? Apa yang tadi baru kau lakukan—itukah ‘judo’ yang jadi kekhasan negara ini?”

Itu aikido.

Tapi sejauh yang bisa aku sendiri katakan, aku sama sekali bukanlah seorang ahli.

Maksudku, teknik aikido yang barusan kulepaskan itu berhasil semata-mata karena kebetulan—bukan cuma karena sejak awal itu bukanlah sesuatu yang bisa kulakukan untuk kedua kali, tapi juga karena aku khawatir akan dibalas dengan cara yang berbeda…!

Sial! Kenapa juga aku dengan begonya malah datang tanpa bawa senjata!

Aku memang tak menyangka pedang-pedang itu merupakan bagian tubuhnya sendiri. Tapi mengesampingkan itu, sejak awal aku sadar lawanku menggunakan pedang, jadi sudah sewajarnya aku terpikir untuk menyiapkan diri dengan senjata juga!

Kalau saja aku sekurangnya punya meriam… heh, atau apapun, dan lagi aku tak punya relasi yang bisa membantuku menyediakan hal-hal semacam itu!

“… …Hm?”

Tunggu… … …bukannya?

Kalau begitu, bukannya… aku masih ada satu siasat?

Kalau begitu, maka—

“… …. ….”

“Begitukah. Kau menyerah—itu bukan masalah buatku, kalau begitu, sekarang giliranku menyerang. Sampai keabadianmu habis—atau sampai kau menjerit ingin mati, tubuhmu secara berulang akan kucincang hingga habis.”

Dramaturgie bergerak—aku bergerak juga.

Hanya saja, bedanya, aku bergerak ke belakang.

Mundur—tujuanku adalah bergerak ke arah berlawanan dari Dramaturgie.

“…! Apa sekarang kau berusaha lari?” Dramaturgie berteriak.

Tapi tindakanku bukanlah pelarian ataupun upaya menyelamatkan diri.

Tindakanku hanyalah sebuah gerakan mundur—yang keras kepala.

Bukan berarti aku sudah punya ide jelas—keadaannya lebih seperti ‘peduli setan!’, aku tak punya waktu lagi buat ragu-ragu—sebab meski masih belum pasti, hanya tersisa siasat ini yang aku punyai.

Sebagaimana yang kuduga, kalau hanya soal bergerak saja, aku masih mengungguli Dramaturgie. Perkiraan kasarnya, Dramaturgie seharusnya memiliki bobot tubuh yang mendekati 200 kg—dan kini dengan sepasang lengannya berbentuk pedang, mungkin malah mendekati 300 kg.

Secepat apa gerakan tinjunya…

…itu tak berarti seluruh badannya dapat bergerak secepat itu juga.

Itu bakal menjadi pergeseran bobot massa paling aneh yang ada di dunia.

Aku sadar kalau kecepatan larinya pastinya melebihi manusia, tapi dengan berat badan dasar sekitar 55 kg, semestinya aku takkan kalah dari Dramaturgie—setidaknya keunggulan ini harus bisa kumanfaatkan sebaik mungkin!

Meski begitu, aku bukan melarikan diri.

Aku bukan sedang menyelamatkan diri tanpa pikiran apa-apa.

Ada sasaran yang tengah kutuju. Sebuah keuntungan medan—chi no ri—seperti yang Oshino bilang.

Meski aku tak belajar secara rajin, tak dinyana sudah ada dua tahun yang kuhabiskan di sekolah ini—jadi sekurangnya aku tahu di mana gudang penyimpanan peralatan olahraga.

Berhasil mengambil jarak lumayan jauh dari Dramaturgie yang mengejar, aku berhasil mencapai gudang itu—kemudian kutendang pintu besinya hingga membuka. Seharusnya pintunya tergembok, tapi sekalipun tidak juga aku tak memiliki waktu untuk membuka selot-selot kuncinya satu per satu.

Dan kemudian—dugaanku tenyata tak meleset.

Tak salah lagi.

Di sekolahku, ada pelajaran bisbol di jam-jam pelajaran olahraga.

Aku spontan meraih satu bola dari tumpukan yang ada di keranjang.

Kemudian aku ingat.

Isi dari buku teks bisbol yang kubeli bersama buku petunjuk aikido itu!

Aku bersyukur karena sesudah membaca manual aikido itu, karena masih ada waktu tersisa, aku membaca-baca buku itu secara iseng—aku enggak bisa membayangkan apa yang sekarang terjadi seandainya justru buku musik klasik yang kubaca waktu itu!

“(1) Angkat secara tinggi—(2) Tempatkan tenaga tubuh bagian bawah ke tubuh bagian atas—(3) Ayun lengannya ke bawah!”

Grah, seperti yang kukira, untuk pemula isi penjelasannya memang masih kurang jelas.

Kurasa aku memang tak punya bakat dalam memilih buku-buku referensi yang bagus.

Namun—bolanya masih tetap melesat dalam satu garis lurus ke arah Dramaturgie.

Untuk cowok sepertiku yang tak punya masa lalu sebagai remaja penggemar bisbol, tentu ini kali pertama aku berhasil melempar bola dengan cara seperti ini (untung saja bisbol di jam pelajaran olahraga adalah bidang olahraga pilihan, secara pribadi biasanya aku memilih sepakbola). Mempertimbangkan jurus aikido yang barusan, aku pastilah orang yang diberkati dengan keberuntungan pemula—bola keras yang kulempar itu secara telak menghantam Dramaturgie di sebelah paru-parunya.

“Guh…”

Gerakan Dramaturgie yang sebelumnya terkesan seperti kebutan sebuah truk tiba-tiba saja berhenti—seketika ia terbungkuk di tempat.

Bolanya masih menggelinding—seperti yang kuduga, bahkan vampir pun memiliki organ-organ tubuh internal yang bekerja dengan cara seperti organ-organ tubuh internal, kelihatannya pernafasannya sendiri menjadi sesak. Memikirkannya sekarang, bila vampir bisa mati saat kau menanamkan pasak ke jantung mereka—kurasa wajar juga bila paru-paru mereka bekerja.

Bila seperti itu, maka serangan-serangan ke panca indera juga akan efektif.

Memang dia punya keabadian, tapi kurasa ada cara-cara yang bisa dipakai untuk menyiasatinya.

Oke, dengan pikiran seperti itu—aku memungut sebuah bola lagi.

Keranjang itu benar-benar penuh sampai payah dengan bola.

Tapi nampaknya kemampuan kendali badanku payah juga.

Keberuntungan pemulaku nampaknya habis, sesudahnya aku melempari lima bola secara berkelanjutan, namun tak ada satupun yang menyentuh Dramaturgie yang masih terbungkuk.

Jelasnya, yang kulakukan hanya menggali lubang di tanah sekelilingnya saja.

Kelihatannya aku menggali lubang-lubang yang cukup dalam sampai-sampai sesudahnya nanti aku perlu meratakan tanah kembali dengan alat penggilas yang kalau tak salah dipunyai klub bisbol. Tapi walau lemparan-lemparanku kuat, bila tak kena maka takkan ada artinya.

Mana dia target berukuran besar lagi…!

Aku tak mungkin menaiki gundukan Major seperti ini!

Memanjati Everest bahkan terkesan lebih mudah!

“Kau benar-benar orang yang mempunyai kecerdasan sekaligus sifat blak-blakan.”

Sembari berbicara, Dramaturgie bangkit kembali.

Lalu sekali lagi—dirinya melesat ke arahku.

“Tapi sekalipun begitu—setiap siasat yang kau lakukan hanya dapat dilakukan satu kali!”

“… …. ….!”

Sekarang jarak antara aku dan Dramaturgie ada sekitar 25 meter… kan? Dengan kakinya… ia menempuh jarak tersebut hanya dalam hitungan tiga detik!

Kalau begini, memasuki gudang peralatan olahraga adalah tindakan buruk… aku takkan bisa lari lagi seandainya aku mau!

Aku dalam keputusasaan!

Sudah berada dalam keadaan separuh menyerah, aku melempari bola yang mungkin akan menjadi lemparan terakhirku…

“Humph! Bola selembut itu, sekalipun aku menerimanya, semestinya jelas sejak awal kalau kau takkan sanggup menghentikanku dengan hanya satu-dua bola!”

Sembari mengatakan itu dengan gerakan yang terus menyerbu maju—bola yang kulempar menghantam telak wajahnya.

Dan bola tersebutlah yang kemudian menghentikan Dramaturgie.

Bukan berarti apa yang baru diucapkannya itu salah.

Dia tak perlu menarik ucapannya kembali atau apa.

Hanya saja, bola terakhir tadi…

Bola terakhir yang kulempar tadi—bukanlah bola lunak.

Melainkan bola keras.

Atau mungkin, malah, bukan bola, melainkan peluru.

Bola logam yang biasanya dipakai untuk latihan tolak peluru.

“…. …. …. ….”

Siapa sih orang yang dengan seenaknya menyimpan peluru di keranjang bola bisbol?!

Seperti yang terlihat, nampaknya yang kali ini benar-benar menghasilkan cedera berarti—Dramaturgie menutupi mulutnya dengan sepasang bilah melengkung itu, dan mengerang.

…Proses penyembuhannya lambat?

Soal luka-luka vampir, luka di tangan kiriku dan di pergelangan tanganku sembuh secara seketika, ‘kan?

Apa karena yang kugunakan barusan itu peluru?

Tunggu, buat awal-awal, kenapa juga peluru itu bisa kena—kalau kuingat, tentunya lemparan itu terlihat terlalu stabil bahkan untukku—atau malah, apa sejak awal aku memang bisa melempar peluru seperti itu?

Apa alasannya—oh, pasti, itu karena beratnya!

Aku seharusnya menyadarinya saat aku menendang pintu besi itu hingga terbuka.

Dengan menjadi vampir—kekuatan fisikku juga meningkat.

Untuk aku yang sekarang, bola keras yang dipergunakan untuk bisbol saja sudah terasa terlalu lunak—dan terlalu ringan. Karenanya, mengesampingkan keberuntungan pemulaku pada lemparanku yang pertama, kendaliku agak kacau.

Sesuatu seperti peluru itu jadinya terasa pas—salah.

Mungkin peluru masih juga agak sedikit terlalu ringan.

Lalu—

“Sekarang kamu lihat!”

Sebelum Dramaturgie sanggup mengangkat kepalanya…

…aku sempatkan menyeret keluar dari gudang—yang digunakan untuk meratakan tanah, penggilas yang terbuat dari beton.

Itu roller yang digunakan oleh klub bisbol.

Memegangnya dengan satu tangan dan kemudian mengangkatnya… aku secara megah mengacungkannya.

“Kalau aku tak bisa mengenai sasaran berukuran besar… aku cukup menggunakan bola yang lebih besar saja!”

Kemudian, aku menempatkan kekuatan tubuh bagian bawahku ke tubuh bagian atas dan—mengayunkan lenganku hingga ke bawah!

“… … … … …!”

Atau setidaknya, aku nyaris mengayunkannya sampai ke bawah.

Dramaturgie, walau lemparan itu masih belum mengenainya, telah bersimpuh di tempat, membungkuk dalam-dalam—melihat kedua lengan pedangnya terarah hingga ke langit, aku menghentikan ayunanku pada saat paling terakhir, dan melemparkan penggilas yang kupegang ke tanah.

Ada retakan menakutkan yang tercipta di tanah.

Aku nyaris meremukkan ujung-ujung jari kakiku sendiri…

“Dramaturgie. Itu pose macam apa?”

“Seperti yang terlihat. Aku menyerah.”

Tanpa ekspresi wajahnya yang keras terkikis—dengan nada suara yang sama dengan yang digunakannya sampai sekarang, Dramaturgie berkata demikian.

“Dihantam dengan benda seukuran itu dengan tenagamu, itu bukanlah sesuatu yang sanggup kutanggung—lukanya akan memerlukanku dua hari untuk pulih.”

“Eh… …?”

“Nampaknya kau telah salah paham—vampir tak memiliki kemampuan untuk memulihkan luka secara seketika. Yah, terlepas dari itu, garis keturunanku memang salah satu yang lemah dalam hal pemulihan diri—walau demikian, garis keturunanmu memang termasuk istimewa. Pastilah karena kau menjadi bawahan dari Heart-Under-Blade.”

Be… begitukah?

Bagaimanapun aku, tanpa memakan kata-kata Dramaturgie bulat-bulat, sama sekali tak menurunkan penjagaan. Seketika aku tanpa suara merentangkan tangan ke alat penggilas yang telah kubanting ke bawah.

“Bukannya sudah kukatakan? Kaulah yang akan menjadi peringkat pertama.”

“… … …”

“Sekalipun aku kalah karena bakat mentahku, kukira aku masih mempunyai peluang menang berkat pengalaman—tapi nampaknya tak mungkin. Kau tak dapat kuburu.”

“Yang—benar—saja.”

Walau aku memang lebih rendah bila dilihat dari pengalaman—aku berkedudukan di atas angin semata-mata karena bakat mentah.

Aku sama sekali tak berpikir itu mungkin—bahkan hingga kini pun sensasinya masih belum ada.

“Mungkin kau akan lebih memilih jika kukatakan begini. Aku takkan melawanmu lagi, cukup ampuni nyawaku sekarang.”

Dramaturgie berkata begitu tanpa sedikitpun membuat senyuman. Luka yang didapatnya dari lemparan peluruku tampaknya pulih—tapi nampaknya dia masih belum cukup siap untuk bertarung kembali.

Berhenti di sini saat ia sadar sudah harus berhenti—benar-benar selayaknya sikap seorang pro.

Profesional.

Tatkala kami berdua masih cukup sehat dan memiliki nyawa—

“…Kaki kanan Kiss-Shot. Kau akan menyerahkannya padaku.”

“Baik.”

Dramaturgie mengangguk, dan kemudian…

…ia mengubah wujud lengan pedangnya, kembali ke bentuk semula.

“Saat ini kusembunyikan di tempat tertentu—tapi akan kuserahkan pada pria bermulut manis itu. Apa itu tak apa-apa?”

“…Ya.”

“Kalau begitu kita sepakat.”

Dia berkata demikian dan—tiba-tiba, wujudnya mulai memburam.

Semula kupikir itu ilusi optik, tapi ternyata bukan.

Bahkan kalaupun mata vampir bisa salah, yang kulihat bukanlah ilusi.

Tubuhnya sungguh-sungguh tengah melebur ke kegelapan.

Kekuatan perubahan wujud.

Dia mengubah tubuhnya menjadi kabut—dan seperti itu…

Dramaturgie lenyap. Namun, sesudah sosoknya lenyap tak berbekas, hanya suaranya saja, yang kemudian menggema di tanah lapang.

“Bawahan Heart-Under-Blade.”

“…Apa?”

Aku menjawab kegelapan itu.

“Akan kutanyakan sekali lagi. Maukah kau menjadi kawan kami?”

“Tak mungkin.”

Kujawab secara jelas.

Mau berapa kalipun dia bertanya, jawabanku tetap takkan berubah.

“Aku tak punya ketertarikan terhadap hal semacam itu.”

“… … … …. ….”

“Satu kali Gakuen Inou Batoru sudah cukup.”

Aku tak mendapat balasan.

Nampaknya dia sudah tuntas melebur ke dalam gelap.

Apa orang itu akan menepati janjinya?

Aku menjadi agak cemas, tapi aku kemudian berubah pikiran dan berpikir bahwa pasti akan baik-baik saja. Karena Oshino akan bekerja untuk memastikan janji itu ditepati.

Walau begitu, sekalipun tanpa itu, aku punya firasat kalau Dramaturgie sang vampir akan tetap menepati janjinya.

Blak-blakan dan sederhana.

Vampir yang dulunya manusia juga ya?

Jika mungkin, aku ingin bertanya lagi lebih jauh padanya soal itu—aku benar-benar berpikir demikian, tapi rasanya absurd.

Kami tak cocok dengan satu sama lain.

Pihaknya mencoba untuk menyingkirkanku dan Kiss-Shot—sedangkan pihakku hanya ingin memperoleh kembali tungkai-tungkai yang hilang itu dari mereka bertiga.

Makanya…

“… … … Oh ya. Ngomong-ngomong, kaki kanan, GET!”

Dengan ini, seperempat urusan beres.

Kalau aku melihat jam, baru ada beberapa menit berlalu, tapi aku entah mengapa merasa seperti sudah menjalani hidup sebanyak lima kali—seabadi apapun tubuhku sekarang, rasanya tetap sulit.

Walau sulit—masih ada tiga perempat bagian perjalanan lagi.

Kalau begitu, sebaiknya aku kembali buat beres-beres…

Di samping memiliki kemampuan penyembuhan diri, aku tak merasakan lelah fisik yang selazimnya aku rasakan, tapi secara mental aku benar-benar lelah. Aku merapikan kembali bola-bola itu dan meratakan tanah kembali… tapi bagaimana soal pintu gudang ini?

Tadi aku menendangnya sampai terbuka.

…Yah, kalau begitu tak ada lagi yang bisa kuperbuat.

Aku memasangnya kembali ke posisi semula.

“Hmm. Oke. Aku sudah memungut semua bola yang berserakan, kan?”

Lalu kemudian, hal itu terjadi persis saat mengangkat wajah.

Mungkin hal ini terdengar basi sekarang, tapi semuanya berkat mata vampirku. Aku menyadari kehadirannya dari jarak jauh sekali dari gudang. Ada seseorang yang tengah bersembunyi dari balik gedung sekolah di sisi seberang lapangan.

Seseorang—tapi siapa?

Itu bukan Dramaturgie… …kalau begitu, salah seorang dari dua yang lain?

Episode? Atau Guillotine Cutter?

Tapi masa sih… mereka sudah sepakat untuk baru menjadi lawanku nanti. Atau… mungkinkah Oshino?

Walau lagaknya dia tidak berpihak, pada kenyataannya dia diam-diam mengawasiku persis seperti tokoh sesepuh yang mendampingi sang tokoh utama dalam komik-komik cowok?

Tapi hei, perasaan kau belum mengangkatku menjadi murid!

Walau itu membuatku merasa agak senang juga sih. Tapi tunggu.

Sepertinya aku salah paham. Orang tersebut bahkan bukan Oshino. Demi melihat bayangan bangunan sekolah lebih jelas, aku sedikit mengubah sudut pandangku dan mengambil sepuluh langkah mendekat, hingga mataku akhirnya dapat secara jelas melihat sosok itu.

Tanpa suara aku memandangi sepasang pupil mata yang kutemukan di sana.

Sosok itu adalah Hanekawa Tsubasa.

“… … … …Eh?”

Eeh?

Kenapa—dia ada di sini?!

Masa sih, dia membuntutiku kemari?

Apa aku meninggalkan jejak?

Walau aku sudah mengusirnya dengan cara sedemikian kasarnya…

Aku kebingungan, tak mampu berbuat apa-apa, hanya berdiri di sana, seperti pajangan, lalu—menebak bahwa aku telah menyadari keberadaannya dari jarak sejauh itu, Hanekawa kemudian berjalan ke arahku.

Cepat.

Aku bahkan sampai mengira bisa mendengar bunyi langkah kakinya.

Urgh…

Untuk suatu alasan aku merasa dirinya tiga kali lebih menakutkan daripada Dramaturgie.

Bagaimana bisa seorang gadis terasa begitu menakutkan seperti ini? Apa karena yang kuhadapi ini adalah Hanekawa?

Sang murid teladan—ketua murid dari semua ketua murid, Hanekawa Tsubasa?

“Yang barusan terjadi itu apa?” Tiba-tiba saja dirinya berkata.

Ekspresi wajah yang diperlihatkannya sepertinya takkan mengizinkanku untuk memakai tipuan yang sempat kupikirkan sebelum Hanekawa mendekat: ‘pura-pura bodoh’.

Aku telah terlihat.

Hanekawa telah melihat… semuanya.

Yakni tepatnya, sekalipun dia baru melihat pada menit terakhir, tetap saja aku ketahuan… aku telah mengangkat alat penggilas yang besar itu dengan hanya satu tangan.

“Sesudah itu, aku sengaja mencari-carimu. Untuk sesaat, aku kehilangan jejak, tapi kemudian aku menemukan kantong ini ditinggalkan di depan gerbang sekolah.”

Sembari berbicara, ia memperlihatkan kantong yang dibawanya di tangan kanannya, yang tak diragukan telah kutinggalkan di gerbang sekolah, yang pastinya berisi buku petunjuk aikido, buku teks bisbol, serta buku rekomendasi musik klasik yang sebelumnya kubeli.

“Aku tak yakin apa kau sampai masuk ke dalam, karena pastinya itu berarti kau memanjati pagar.”

“… … ….”

Sekalipun murid teladan, sikap Hanekawa benar-benar agresif.

Walau begitu—memang aku yang salah telah meninggalkan kantong itu di luar gerbang. Aku benar-benar tak percaya hal ini bisa terjadi, walau tak mungkin juga aku akan sampai mengiranya…

“Hei, Araragi. Aku melihatnya dari jauh, karenanya kurang begitu jelas, tapi… entah gimana, apa kamu… baru saja melakukan sesuatu yang semestinya cuma bisa terjadi di novel-novel petualangan?”

“… … … Itu bukan urusanmu.”

Kukatakan itu dengan sekuat tenaga.

Sial.

Aku akhirnya berhasil mendapatkan kaki Kiss-Shot, dan dengan itu kupikir satu masalah sudah beres, dan aku untuk sesaat bahkan merasa lega—tapi ternyata sekarang…

Tapi ternyata aku masih harus menyakiti perasaan Hanekawa lagi.

“Daripada itu, kenapa kamu membuntutiku? Aku sama sekali enggak paham. Aku sudah nyuruh kamu buat berhenti mengikutiku—enggak usah susah-susah bersikap kayak teman.”

“… …Araragi, kau bukan jenis orang yang akan mengatakan hal-hal seperti itu.”

Matanya Hanekawa—benar-benar menakutkan.

Bukan dingin seperti yang dimiliki Kiss-Shot—tapi kalau harus kujelaskan, mata yang dimilikinya seakan menerawang.

Jenis mata yang menusuk, menembus.

Yang membuatmu menyadari segala kelemahanmu, betapapun tak nyamannya.

“Aku minta maaf karena membuatmu mengatakan hal-hal semacam itu—tapi kenyataannya, sekarang kau berada dalam situasi yang memaksamu mengatakan itu semua meski kau tak menginginkannya, ‘kan, Araragi?”

Hanekawa—menyerahkan kantong yang dibawanya dengan tangan kanannya.

Aku mengambilnya.

Kalau kepentingannya di sini adalah semata untuk mengembalikan barang hilang—maka dia telah melakukannya.

“Aku telat menyadarinya. Maaf ya.” Dia terus melanjutkan perkataannya. “Dan kalau memang begitu, aku harap aku bisa membantu.”

“… … Jangan memaksa.” Aku berkata dengan suara bernada enggan. “Jangan terlalu memikirkannya. Aku cuma sudah bosan denganmu. Aku suka sendirian, kau tahu.”

“Itu bohong. Kau bukan orang yang menyimpan rasa benci atau juga rasa marah terhadap dunia. Kalau cuma sejauh itu, tanpa dibilang juga aku sudah tahu. Araragi, seenggaknya kau senang saat berbicara denganku ‘kan?”

“Itu karena aku mengincar duitmu!”

“Tapi sudah kubilang keluargaku enggak kaya!”

“Kalau begitu aku mengincar Dakaramu!” *sejenis Aqua*

“Kalau kau haus, mestinya bilang aja!”

Ah, aku salah ngomong.

“Maksudku, aku mengincar karadamu!” *badan*

Dakara atau karada, yang mana?!”

Karada!” Aku menjerit.

Aku sudah tak tahu lagi apa yang sedang kuucapkan.

“Makanya, kalau kamu bersedia nunjukin celana dalammu lagi lain waktu, aku bersedia damai denganmu!”

“Baik.”

Menanggapi itu—Hanekawa luar biasa tenang.

Tak terganggu, atau bahkan menggerakkan alis.

Dengan aksi spontan, dirinya kemudian mengangkat rok seragam yang ia kenakan.

Lalu memperlihatkan padaku apa yang tersembunyi di baliknya.

Kali ini celana dalam keabuan gelap bertekstur wol.

Desainnya sederhana tanpa pola atau hiasan apapun, tapi justru karena itu kesan mendasar dari material yang membentuknya terpancar ke luar.

“Puas? Kau sudah melihatnya dengan jelas, Araragi?”

“… … …”

“Kalau kau mau, aku takkan keberatan melepas blusku juga.” Hanekawa… dengan rok terangkat ke atas, dengan suara pelan mengutarakan itu juga.

Ah!

Lalu pada saat itu—untuk pertama kalinya…

…akhirnya, aku benar-benar merasa seperti bertemu Hanekawa.

Tanpa melewatkan satu sama lain—kami berhadapan dengan satu sama lain.

Ya.

Dia orang yang baik. Tapi—bukan cuma itu…

Dia juga kuat.

Orang-orang sepertiku—sama sekali bukanlah tandingannya.

“… ….Maafkan aku karena udah ngucapin hal-hal seperti itu.”

Aku—membungkuk, menundukkan kepala serendah mungkin.

Posisi Hanekawa masih sedang mengangkat roknya, tapi aku tentu saja tak membungkuk hanya karena ingin melihat bagian dalamnya secara lebih jelas.

Itu semua karena aku ingin meminta maaf.

Dan juga karena aku punya permintaan.

“Kumohon, tolong jadi temanku lagi.”

——————-

Catatan:

Gakuen Inou Batoru: aku tak tahu detilnya, tapi dikatakan di sini kalau itu adalah campus superpower battle, sejenis genre light novel yang mengetengahkan adegan-adegan pertarungan dengan kekuatan super dengan latar sekolahan.

Gundukan Major: aku cuma sebatas tahu peraturan bisbol, jadi mungkin aku salah soal ini,  tapi mungkin yang dimaksud adalah sejenis gundukan tanah (mound) yang ditempati pitcher.

Sepertinya ada referensi terhadap Sayonara Zetsubou-sensei di sini, tapi aku enggak yakin.

Ucapan ‘GET’ Koyomi di akhir-akhir itu pada dasarnya semacam pernyataan kemenangan.