Posts tagged ‘Kazuki Akane’

18/07/2015

Code Geass: Boukoku no Akito OVA 3: The Brightness Falls

Sudah agak lama tertunda, tapi belum lama ini aku berkesempatan melihat episode ketiga seri OVA Code Geass: Akito the Exiled keluaran Sunrise. (Judul episode ini kira-kira berarti: ‘jatuhnya terang’, dengan ‘terang’ di sini sebagai kata benda.)

Sesudah berakhirnya Gundam Unicorn, Code Geass: Akito menjadi OVA yang Sunrise masih garap selain Mobile Suit Gundam: The Origin. Trennya sejauh ini: setiap episode baru lebih memukau dibandingkan episode sebelumnya.

Kalau tanya soal pendapatku, singkat kata, seri ini baguuuuuuuuuuuuuuus! Seandainya aku lebih muda, aku akan mengaku kalau ini seri yang pasti membuatku “Kyaa! Kyaa!” setiap kali dibahas

Pengarahan ceritanya benar-benar keren. Melihat episode ini, aku langsung mengerti alasan para produser memperpanjang jumlah episodenya dari empat menjadi lima. Tapi lebih dari itu, Akito seperti menjadi seri mecha yang paling terasa ‘segar’ buatku dalam tahun-tahun terakhir ini. Ada banyak elemen unik namun familier di dalamnya, yang sudah lama (belum pernah?) kulihat dalam berbagai seri mecha sebelumnya. Ini terutama soal jenis-jenis karakter yang ada serta interaksi di antara mereka.

Hmm. Kelihatannya perkembangan teknologi animasi belakangan benar-benar sedang maju pesat.

The Nomadic Life

Menyinggung soal ceritanya dulu, sesudah berakhirnya misi di Slonim, kesatuan W-0 pimpinan Leila Malcal terjebak di teritori Warsawa karena sebab-sebab yang tak mereka ketahui. Tak diperbolehkan masuk ke markas mereka sendiri, tanda pengenal mereka diblokir, serta tak punya uang tunai, Leila dan kawan-kawannya—Akito Hyuga, Ryo Sayama, serta Yukiya Naruse dan Ayano Kosaka—akhirnya ditampung sekelompok nenek gipsi yang tengah menetap di wilayah tersebut.

Di sinilah, untuk beberapa lama, ada masa tenang bagaikan ‘liburan’ yang mereka lalui bersama. Di tengah masa damai tersebut, mereka juga mulai saling terbuka dan lebih memahami pribadi satu sama lain.

Di sisi lain, penasihat militer Julius Kingsley, yang datang di bawah kawalan Kururugi Suzaku, mulai menjalankan aksinya untuk menyelesaikan status quo antara Euro-Britannia dan Euro Universe. Kelihaian pikiran dan pengambilan keputusan Kingsley dengan segera menuai konflik di kalangan para bangsawan Euro-Britannia sendiri. Lalu di tengah kegentingan yang terjadi, kakak Akito, Shin Hyuga Shaing, mulai menjalankan rencananya untuk membangun kekuasaan bagi dirinya sendiri.

Kutukan dan Peradilan

Animasi seri ini luar biasa memukau.

Man, aku benar-benar mesti mengatakan itu dulu.

Adegan yang paling mencolok adalah saat Suzaku beraksi seorang diri melawan sejumlah Knightmare Frame sekaligus sebelum ia memanggil KF Lancelot miliknya sendiri. Maksudku, itu saja sudah memperlihatkan episode ini sekeren apa.

Kombinasi antara CG dan gambar tangannya benar-benar bagus. Lalu adegan aksinya digambarkan secara benar-benar dinamis, dengan objek yang disorot dan sudut pandang kamera bergerak secara bersamaan, hanya saja dengan koreografi adegan yang bahkan lebih keren dibandingkan yang di episode sebelumnya. Apalagi pada saat adegan ini berlangsung, serangkaian kejutan dalam cerita terkuak juga…

Jadi, kubu Britannia sebenarnya terbagi dua di sini: mereka yang berada di negeri asal mereka di benua Amerika, serta mereka yang berdiam di benua Eropa dan disebut Euro-Britannia. Lalu Euro-Britannia inilah yang tengah berperang melawan konfederasi lain, Euro Universe, di mana Leila dan kesatuan W-0 tergabung. Tapi langkah Kingsley yang datang sebagai perwakilan sang kaisar malah menimbulkan perpecahan antara para bangsawan di Eropa dengan pemerintahan di negeri asalnya. Ini yang dengan lihai kemudian dimanfaatkan Shin untuk merebut kekuasaan.

Pembangunan konflik ini benar-benar dilakukan secara baik. Jadi dengan keterbatasan durasi episode, perkembangannya benar-benar terasa sudah jauh. Aku benar-benar mesti mengakui kalau seri Code Geass: Akito mungkin punya kualitas pengeditan cerita paling bagus yang aku tahu.

Julius Kingsley telah dikonfirmasi sebenarnya adalah Lelouch Lamperouge, pangeran ‘buangan’ Britannia, yang tak lain tak bukan juga adalah Zero, pemimpin dari organisasi bayangan Orde Ksatria Hitam yang menciptakan kekacauan di Area 11 (Jepang) beberapa waktu sebelumnya (yang dikisahkan dalam seri TV Code Geass yang pertama). Pada episode ini diperlihatkan betapa Lelouch bisa sekejam apa kalau bukan karena pengaruh Nunnally, adik perempuan yang sangat disayanginya.

Kelihaian Shin, yang jauh melampaui orang-orang di sekitarnya, sepenuhnya diperlihatkan di episode ini. Ada kesan kalau dirinya, melebihi Lelouch, sebenarnya berpotensi mengambil alih kuasa Euro-Britannia bagi dirinya sendiri. Tapi motivasi yang sesungguhnya di balik semua tindakannya yang kejam masih belum terungkap sepenuhnya di episode ini.

Kemudian di antara keduanya, berdiri Suzaku. Pada titik ini, hatinya masih dilanda konflik. Tapi Suzaku kembali diperlihatkan betapa dirinya seakan tak terkalahkan sebagai bagian kesatuan ksatria elit Knights of the Round.

Sepulang Leila dkk, seiring berakhirnya konflik di Euro-Britannia, dan semakin memanasnya kondisi politik di EU akibat intervensi Julius, kembali terlihat jelas rintangan yang belum teratasi dalam perang Britannia atas EU: yakni kesatuan misterius berjulukan ‘Hantu Hannibal‘ yang tak lain adalah kesatuan W-0 pimpinan Leila. Dari sini, cerita kelihatannya mulai bergerak ke arah klimaksnya, seiring semakin dekatnya konfrontasi antara dua saudara yang telah lama terpisah.

“Kita semua akan kembali.”

Beberapa hal menarik lain meliputi soal teknologi baru milik kesatuan W-0 yang membuat mereka istimewa. Dua di antaranya adalah teknologi KF mutakhir yang memungkinkan penggunaan bersama gelombang otak, serta teknologi transportasi sangat cepat yang membuat mereka bisa menjangkau seluruh dunia dalam waktu singkat.

Sedikit lebih banyak tentang Leila juga dibeberkan. Pertama, soal asal-usul serta hubungan Leila dengan kakaknya. Kedua, soal terkuaknya kenyataan bahwa dirinya tenyata memang pernah menjumpai ‘si penyihir’ C.C., dan sebenarnya memiliki kekuatan Geass. Tapi karena diberikan ketika dirinya masih kecil, kekuatan Geass Leila berada dalam keadaan dorman, sehingga bisa saja hilang seandainya tak digunakan.

Perkembangan karakter lain yang agak mengejutkan adalah soal Akito sendiri. Di sini, ia mengungkapkan kekhawatirannya yang terbesar serta alasan kenapa ia mengucilkan diri. Akito juga mengungkapkan bahwa secara harfiah dirinya memang pernah ‘mati’ di tangan kekuatan Geass Shin, tapi entah karena apa dirinya kini hidup lagi. Lalu perkembangan karakter ini menurutku termasuk simpel, tapi benar-benar keren. Ada banyak karakter penyendiri dalam anime, tapi jarang ada yang dipaparkan dengan cara sesimpatik Akito.

Fanservice kembali tetap ada, dengan cara yang efektif, dalam bentuk pakaian pilot Ayano yang lumayan ‘kekecilan’ serta baju perempuan yang dipakaikan pada Yukiya. Tapi itu minim, dan tak benar-benar dijadikan fokus.

Lalu curve ball terbesar dari episode ini adalah kemunculan sosok perempuan misterius (serupa C.C.?) di hadapan Jenderal Smilas, atasan Leila, yang kelihatannya mampu memanipulasi ruang dan waktu. Damn, siapa lagi namanya? Aku terus terang jadi merasa kalau adegan ini yang menjadi alasan utama kenapa jumlah episodenya jadi diperbanyak.

Di kedua season seri TV Code Geass: Hangyaku no Lelouch, bahkan dengan terkuaknya masa lalu C.C. pun, asal-usul kekuatan Geass serta aliran kepercayaan yang memprakarsainya tak banyak dibeberkan. Tapi dengan adegan di atas, aku jadi merasa hal tersebut mungkin akan coba dieksplorasi dalam beberapa episode ke depan. Ini juga yang membuatku merasa kalau Code Geass: Akito mungkin bukan lagi sekedar gaiden dari cerita di seri TV Code Geass, melainkan menjadi suatu seri lain yang berdiri sendiri dalam satu waralaba yang sama.

Dengan kata lain, mungkin Sunrise untuk ke depannya mau membuat seri Code Geass menjadi lebih seperti Gundam? Tapi sudahlah. Kita lihat saja dulu untuk ke depannya.

Sekali lagi, ini adalah satu episode yang memuaskan. Bukan hanya karena aksi dan intrik yang menjadi kekhasan Code Geass, tapi juga karena drama dan interaksi karakter di dalamnya.

Aku benar-benar suka para tokoh utamanya. Ahaha, mereka membuatku merasa muda.

Hanya tinggal dua episode lagi yang tersisa.

Aku jadi tak bisa tak merasa kalau mungkin akan ada pengumuman besar terkait seri ini pada awal tahun 2016 nanti.

Iklan
22/06/2014

Code Geass: Boukoku no Akito OVA 2: The Wyvern Divided

Aku akhirnya kesampaian melihat episode kedua dari seri OVA Code Geass: Akito the Exiled belum lama ini. Setelah penantian lumayan lama dari tahun 2012, rasanya memuaskan bisa melihat Akito Hyuga dan Leila Malkal lagi.

Sebagaimana yang sudah kuharapkan, hasil akhirnya benar-benar keren. Tapi alisku lumayan keangkat karena berbeda dari yang kubayangkan, cakupan ceritanya belum sepanjang yang aku harap.

…Mungkin juga ini hanya masalah di persepsiku. Aku sudah sedemikian terkesannya terhadap seri ini, sehingga rasanya sulit menerima kalau jumlah episodenya cuma sampai empat. Tapi soal itu mending kita singgung lain kali.

Tapi serius, kelihatannya cakupan plot cerita ini akan lebih meluas dari yang dikira?

Episode kedua berjudul The Wyvern Divided (‘sang wyvern terbagi,’ dengan ‘wyvern’ kira-kira berarti sejenis ‘naga berdiri’, dalam hal ini mengacu pada lambang kesatuan yang dipimpin Leila). Ceritanya mengetengahkan kelanjutan sepak terjang unit W-0 sesudah bergabungnya Ryo Sayama dan kedua rekannya, Yukiya Naruse dan Ayano Kosaka, dan berfokus pada ancaman perpecahan yang melanda mereka.

Ryo dan kedua kawannya masih belum bersedia tunduk pada Leila, yang pada episode sebelumnya telah diangkat Jenderal Gene Smilas sebagai pemimpin kesatuan ini, menggantikan Komandan Anou yang kejam. Ryo dan kelompoknya merencanakan suatu tindak pemberontakan yang akan mereka lakukan dalam misi mereka yang berikutnya. Namun Leila bersikeras meneruskan rencana, sekalipun telah mengetahui soal niat mereka, lagi-lagi dengan harapan akan bisa memenangkan kepercayaan Ryo.

Caranya? Dirinya akan turut serta secara langsung bersama Akito sebagai bagian dari tim dalam misi kali ini ke Slonim. Sekalipun, seperti halnya di Narva, misi yang kesatuan W-0 peroleh lagi-lagi sebuah ‘misi bunuh diri.’

“Aku sudah pernah mati sekali.”

Membahas soal teknisnya dulu, visual dan audio episode kali ini masih memukau seperti sebelumnya. Menurutku, segala elemen terbaik dari dunia Code Geass berhasil dihadirkan dalam episode ini: intrik, nuansa dunia yang aristokratik, karakter-karakter yang lembut, karakter-karakter yang agak sakit. (Belakangan aku sadar absennya aspek ‘sekolahan’ justru berbuah baik buat cerita macam begini.)

Ceritanya berawal dengan agak ringan di kastil di tengah hutan yang menjadi markas W-0. Penggambaran latarnya ini begitu alami, dan kita diperkenalkan lebih jauh pada personil-personil W-0 lain yang lebih berada di balik layar.

Pengarahannya masih keren dan efektif seperti sebelumnya.

Markas di tengah hutan ini benar-benar menarik, karena di balik kerimbunannya tersembunyi segala bentuk teknologi dan fasilitas canggih yang kesatuan W-0 kembangkan. Lalu penggambaran latar perkotaan di Slonim sampai ke stasiun kereta di suatu tempat di Rusia itu benar-benar eksotis.

Adegan-adegan aksinya, pas ada, seriusan memukau. Seri Code Geass sebelumnya mungkin lebih dikenal karena intriknya ketimbang aksinya sendiri. Tapi segala koreografi yang dimunculkan di sini itu benar-benar bikin kita wow. Baik Akito, Ryo, Yukiya, maupun Ayane, sama-sama memperoleh satu unit Knightmare Frame Alexander, dan sosok KMF ini dengan segala manuver akrobatiknya telah dikenal dengan julukan ‘Hantu Hannibal’ semenjak insiden di Narva dan mulai diwaspadai oleh para pasukan di pihak Britannia.

Secara teknis, benar-benar tak ada keluhan yang bisa aku ungkapkan di episode ini. Ada lebih dari dua adegan yang sempat berhasil bikin aku ternganga.

Soal cerita… ada beberapa hal yang ingin kubahas. Tapi aku enggak yakin baiknya mulainya gimana.

Sementara W-0 menghadapi ancaman dari dalam, kakak lelaki Akito yang berada di pihak Britannia, Shin Hyuga Shing, telah berhasil memperoleh kekuasaan sebagai pemimpin Knights of St. Michael berkat kekuatan Geass yang dimilikinya pada akhir episode lalu. Bersamanya, ia memperoleh bawahan-bawahan baru, yang di antaranya termasuk si buas Ashley Ashra. Lalu tanpa dapat dihindari, misi W-0 kali ini berujung pada pertemuan antara mereka berdua.

Tentang Shin, damn, aku sebenarnya lebih ingin mengomentari Knightmare Frame yang digunakannya ketimbang dirinya! Tapi aku masih belum menemukan nama resminya! KMF miliknya itu benar-benar mencolok. Wujudnya humanoid namun tinggi untuk ukuran KMF, ditambah lagi berwarna emas. Tapi saat bergerak, wujudnya berubah menjadi seperti centaur!

Satu hal yang sempat luput kubahas soal episode lalu, yakni kemungkinan bahwa Leila pun sebenarnya memiliki kekuatan Geass, sayangnya tak dibahas pada episode ini. Tapi ada beberapa perkembangan baru, di antaranya meliputi Geass yang melanda Akito, yang ditambah sistem misterius yang tertanam dalam Alexander, yang menyebabkan fenomena misterius yang dialami para anggota W-0 selama di Slonim. Sophie Randall, ketua peneliti W-0, nampaknya menyimpan jawabannya, bersama jasad(?) mendiang kekasihnya yang disembunyikan(!). Lalu Klaus Warwick, pria berkesan serampangan yang menjadi aide-de-camp-nya Leila, kini juga diimplikasikan merupakan seorang mata-mata? Ada tanda-tanda perkembangan karakter saat kita diperlihatkan foto keluarganya, dengan wajah istrinya dicoret tapi wajah putrinya dibiarkan.

Makanya, aku penasaran. Dengan banyaknya hal yang bisa terjadi, apa empat episode berdurasi satu jam benar-benar akan cukup untuk mengulas ini semua?

C.C. tak tampil di episode ini. Tapi seperti cuplikan-cuplikan di episode lalu, Kururugi Suzaku yang telah menjadi salah seorang Knights of the Round kini tampil. Perannya di sini adalah untuk mengawal seorang penasihat militer tak dikenal bernama Julius Kingsley, yang kita lihat dari sudut manapun, buat kita jelas-jelas adalah Lelouch Lamperouge yang telah dimanipulasi ingatannya, sebagaimana yang terungkap dalam awal Code Geass R2.

Mungkinkah mereka yang akan menjadi lawan W-0 dalam episode berikut?

Benar-benar ada banyak yang bisa disukai dari Code Geass: Akito the Exiled. Karakterisasinya termasuk simpel, tapi implementasinya benar-benar efektif.

Leila dan Akito benar-benar pasangan yang menarik untuk diikuti. Leila dengan kepolosan, tapi sekaligus dengan tekad dan kemampuannya. Lalu Akito, dengan ketenangan, dan bahkan rasa hormat tulusnya pada Leila dalam situasi normal; tapi juga dengan sisi haus darahnya setiap kali ia diingatkan akan medan pertempuran.

Hmm. Ke mana lagi cerita akan dibawa ya?

Aku merasa bisa sabar menunggu tapi aku serius juga jadi banyak berpikir.

 

10/10/2012

Code Geass: Boukoku no Akito OVA 1: The Wyvern Has Landed

Episode pertama dari seri OVA Code Geass: Akito the Exiled (‘Akito yang terasing’), belum lama ini keluar juga.

Berlatar pada jeda waktu yang berlangsung antara Code Geass: Lelouch of the Rebellion dan Code Geass: Lelouch of the Rebellion R2, ada dua tokoh utama baru yang diketengahkan, Leila Malcal dan Akito Hyuga. Ceritanya berlatar di tempat yang baru pula, yakni di garis depan medan perang antara Euro Universe dengan Kekaisaran Britannia. Leila adalah gadis muda yang menjadi komandan pasukan khusus W-0 yang dimiliki EU. Sedangkan Akito adalah pemuda yang digambarkan sebagai satu-satunya orang yang bertahan hidup dalam sebuah misi genting di awal cerita, yang kemudian diangkat sebagai pengawal Leila.

Dua nama besar di balik penciptaan Code Geass, Taniguchi Goro dan Okouchi Ichirou, tak lagi terlibat dalam seri ini. Tapi peran mereka sebagai sutradara dan penulis skenario masing-masing digantikan oleh dua staf veteran Akane Kazuki dan Asakawa Miya.

W-0 ceritanya adalah sebuah unit yang terdiri atas orang-orang negara lain (dalam hal ini, Jepang, alias Area 11) yang terasing dari tanah air mereka sendiri sesudah pendudukan Britannia atas negara mereka. Mereka dikhususkan dalam misi-misi ‘bunuh diri.’ Sehingga ada semacam dramatisasi rasial yang juga diangkat.

Cerita lalu berkembang dengan diperkenalkannya Ryo Sayama dan dua rekannya, Yukiya dan Ayano, yang hendak melakukan semacam revolusi dengan cara mereka sendiri. Upaya mereka menculik Jenderal Smilas, atasan Leila, membuat jalan hidup mereka bersimpangan dengan unit W-0.

Adegan pembukaan seri ini, menggambarkan operasi penyelamatan Narva yang dipimpin Leila, benar-benar keren. Temponya pas dan aksi mechanya frantic sekaligus seru buat dilihat.

Hal pertama yang menarik perhatianku adalah tempo penceritaan seri ini. Berbeda dari Taniguchi-sensei yang padat dan sangat cepat; Akane-sensei, masih dengan gaya khasnya saat menyutradari Escaflowne dan Noein, memainkan tempo dan suara untuk melarutkan pemirsanya, meski penyampaian ceritanya sama sekali tak kalah padat.

Aku sudah enggak lagi berada di usia ketika aku bisa dibikin excited oleh suatu anime. Tapi kayaknya Code Geass bisa dijadikan semacam pengecualian.  Aku ngerasain semacam harap-harap cemas pas akhirnya berkesempatan nonton episode 1 seri ini, dan perasaan itu langsung terbayar lunas begitu episode 1 itu usai.

Kebebasan itu menyakitkan, bukan?

Di episode ini kayak… ada semacam kesungguhan dalam hasil akhirnya yang sudah lama enggak aku lihat. Maksudnya, udah lama aku enggak nemu anime yang bikin aku ingin tahu soal latar dunianya seperti ini.

Terlepas dari nilai-nilai produksinya yang tinggi, kenyataan soal gimana Leila dan Akito adalah dua tokoh yang sama-sama likable benar-benar membantu. Leila yang simpatik dan enggak ‘rasis’ seperti kebanyakan bangsawan digambarkan memiliki latar belakang keluarga rumit yang memotivasinya untuk benar-benar ‘memanjat’ sampai ke posisinya yang sekarang. Sedangkan Akito secara baik digambarkan sebagai seorang pribadi muram yang mencari tempat untuk berpulang. Akito juga digambarkan berada di bawah pengaruh sebuah Geass yang seperti halnya Suzaku Kururugi dalam seri terdahulu, mengubahnya menjadi lawan yang teramat ganas dalam pertempuran.

Dari segi mecha, aku beneran puas. Alexander, jenis Knightmare Frame baru yang digunakan EU dan sempat dipakai Akito, memiliki wujud feminin yang elegan tapi cara pakai yang di awalnya terkesan grotesque. Desainnya bagiku beneran mencolok, terutama dari cara pemakaiannya yang tak mengandalkan kaki beroda seperti Knightmare-Knightmare yang sebelumnya sudah kita lihat.

Seperti biasa, ada tokoh-tokoh dengan desain keren yang tak bertahan hidup lama.

Di samping itu, dipaparkan sedikit lebih jauh pula tentang sejarah dunia Code Geass. Ada nama-nama pahlawan besar seperti Hannibal dan Napoleon Bonaparte yang mencuat. Sempat disinggung juga soal bagaimana kaum aristokrat yang membentuk Britannia pada suatu titik dalam sejarah mengungsi ke benua baru di mana mereka berdiri sekarang.

Episode ini kemudian diakhiri secara misterius dengan adegan dialog antara Lord Manfredi dari Mikhail Knights dengan ajudannya, Shin; yang sedikit banyak menyinggung kekalahan Britannia di Narva, dan mungkin mengandung semacam petunjuk soal asal-usul Akito sendiri…

Jadi, Episode 1 ini benar-benar masih perkenalan terhadap setting yang baru ini. Ada satu-dua referensi terhadap beberapa kejadian yang telah lalu (seperti pembubaran organisasi Ksatria Hitam). Tapi semua tokoh yang muncul di sini benar-benar baru. Baru pada episode berikutnya, beberapa tokoh dari seri lama nampaknya akan muncul; meliputi Suzaku dan C.C..

Kurasa episode ini cukup bagus buat orang awam memasuki seri Code Geass. Dari episode satunya saja malah kelihatan kalau seri OVA ini bisa jadi berakhir lebih bagus dibandingkan kedua seri TV-nya. Hasil akhirnya beneran memuaskan. Terlihat betapa penantian lama semenjak proyek ini diumumkan dalam OVA Kiseki no Birthday bertahun-tahun lalu sepenuhnya terbayar lunas.

(Ya, buat yang bertanya-tanya, bagiku desain karakter Leila sangat moe.)