Posts tagged ‘Kawahara Reki’

03/04/2017

Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale

Akhir pekan lalu, aku menonton Sword Art Online: Ordinal Scale di salah satu cabang CGV Blitz.

Ordinal Scale (kira-kira berarti ‘skala ordinal’, ‘ordinal’ mengacu kepada ‘angka ordinal’ yang menyatakan peringkat/kedudukan seperti ‘pertama’ dan ‘kedua puluh’ dsb., berbeda dari ‘angka cardinal’ yang menyatakan nilai/kuantitas; sebenernya ada lagi jenis angka nominal yang menyatakan nama/identitas seperti barcode) adalah film layar lebar pertama dari seri Sword Art Online yang terkenal. Masih diangkat dari seri novel fenomenal karangan Kawahara Reki, film layar lebar ini berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua animenya. Jadi, Ordinal Scale berlangsung sesudah bab Mother’s Rosario, tapi sebelum bab Alicization yang sudah didesas-desuskan akan menjadi inti season ketiga anime SAO yang akan datang.

Salah satu daya tarik movie ini bagi para penggemar SAO adalah sifatnya yang orisinil. Cerita yang dipaparkan movie ini tak berasal dari novel. Seperti halnya film layar lebar Mahouka Koukou no Rettousei yang akan tayang pertengahan tahun ini nanti, ada rentang waktu kosong dalam linimasa cerita asli di seri novelnya yang jadinya dilengkapi.

Berdurasi lumayan lama, sekitar pas dua jam, produksi Ordinal Scale masih dilakukan oleh A-1 Pictures . Penyutradaraannya kembali dilakukan Ito Tomohiko. Naskahnya disusun bersama oleh Ito-san berdasarkan konsep cerita yang disusun Kawahara-sensei sendiri. Penayangan film layar lebar ini di Indonesia pun terbilang cepat, hanya sekitar sebulan sesudah movie ini pertama tayang di Jepang.

Sedikit curhat dulu: aku semula tak berencana menonton film ini.

Sekali lagi, aku menggemari versi novel SAO. Tapi aku sebenarnya tak sebegitu antusias terhadap animenya.

Sempat terlintas di benakku kalau aku mungkin akan nonton Ordinal Scale. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar secara khusus meniatkannya karena mengira film ini penayangannya akan terbatas, baik secara waktu dan tempat. Belum lagi sempat ada berita pula kalau distribusinya di Indonesia bakal ditunda. Kusangka ini paling cepat adanya April. Lalu, yah, kesibukanku belakangan rada susah diprediksi (aku sering sekali menyinggung soal gimana aku sibuk, sampai-sampai aku sendiri merasa aku belakangan terdengar kayak bohong).

Tapi akhir pekan lalu, tiba-tiba ada sahabat lamaku, yang sekarang domisilinya di kota lain, tahu-tahu ngontak soal bagaimana hari itu dia mau menonton ini (dan kalau bisa, langsung dilanjutkan dengan Kong: Skull Island). Lalu, saat aku dengar Ordinal Scale sudah tayang, reaksiku adalah: “FUUUUUUGGGGHHHG!!!!!”

Semula, aku merasa temanku itu yang selama ini stres. Sama sepertiku, dia juga masih lajang. Lalu dia lagi sendirian di rumah setelah ditinggal keluarganya touring. Dia menghubungiku juga sambil sesekali mengirim foto kemajuan gambar yang sedang dia buat untuk mengasah kembali skill gambarnya yang sudah tumpul. (Dia punya bakat menggambar bishoujo.)

Tapi menilai reaksiku, aku tersadar bahwa aku juga butuh menonton film ini. Rupanya aku juga lagi stres.

Akhirnya, aku tak peduli apakah hasilnya akan jelek atau bagus. Aku perlu menonton Ordinal Scale.

Sesudah bertekad demikian, aku memutuskan ke luar rumah. Aku bahkan sampai membujuk-bujuk temanku untuk tetap cabut sekalipun cuacanya kelihatannya memburuk. Singkat cerita, aku dan sahabatku yang beda kota ini akhirnya masuk bioskop pada waktu kurang lebih sama, demi menonton film yang sama.

Kami lalu saling bertukar komentar sesudah menonton.

Was it worth it?

Yah. Pada akhirnya, Ordinal Scale tetap SAO. Kalau kalian mengerti maksudku.

“…Switch.”

Ordinal Scale dibuka dengan pemaparan tentang berkembangnya perangkat teknologi baru berbasis augmented reality bernama Augma. Memiliki bentuk berupa kombinasi visor, headphone lalu kamera sekaligus aksesoris tangan, Augma digandrungi karena menjadi alternatif untuk perangkat virtual reality Amusphere (penerus perangkat VR NervGear yang menjadi salah satu penyebab tragedi VMMORPG Sword Art Online beberapa tahun silam).

Untuk kalian yang awam, berbeda dengan virtual reality yang merupakan realitas buatan yang membawa penggunanya ke ‘dunia’ lain, teknologi augmented reality adalah teknologi yang ‘memperkaya’ realitas kita saat ini. Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling saja, ada berbagai informasi tambahan yang bisa kita peroleh terkait apa yang kita lihat. Kita masih bergerak dengan badan sendiri. Tapi apa yang kita lihat, dengar, dan bahkan sentuh telah diperkaya karena ‘informasi’ yang Augma berikan turut menimpa persepsi dunia nyata kita. Dunia bisa terlihat semakin berwarna dan menarik. Ada berbagai aplikasi Augma yang bisa dimanfaatkan, mulai untuk olahraga, bertukar pesan, peluang mendapatkan kupon diskon, membantu diet, info lalu lintas real time, menampilkan peta, membantu menunjukkan arah kalau tersesat, dsb. Bahkan, ada suatu permainan massal berbasis Augma bernama Ordinal Scale yang belakangan menyedot perhatian para penggemar VMMORPG ALfheim Online dan Gun Gale Online.

Melalui Augma, kita juga bisa menyaksikan pesona figur idola virtual Yuna yang konon adalah kecerdasan buatan. Dengan kepribadiannya yang cerah, acara-acara konser Yuna—yang dapat berlangsung nyaris di mana saja—menjadi hal yang banyak diminati dan menjadi satu lagi faktor kesuksesan Augma.

Fitur-fitur baru Augma juga tengah digandrungi teman-teman Kirigaya Kazuto.

Sebagai salah satu yang selamat dari peristiwa SAO, dan bahkan menjadi yang telah menuntaskannya, Kazuto, yang juga dikenal sebagai Kirito, sudah beberapa kali terlibat dalam sejumlah insiden berbahaya di dunia virtual. Mungkin karena itu perasaannya terhadap Augma masih ambivalen.

Di sisi lain, teman-teman lama Kirito—bahkan termasuk mereka yang juga selamat dari peristiwa SAO, seperti Shinozaki Rika (Lizbeth) dan Ayano Keiko (Silica), serta kekasih Kirito sendiri, Yuuki Asuna; terutama karena pembagian perangkat Augma gratis untuk para anggota kepanitiaan di sekolah rehabilitasi mereka—juga menggandrungi Augma sekaligus Ordinal Scale. Teman Kirito yang sudah dewasa, Klein, juga sering ikut serta dalam berbagai event Ordinal Scale bersama teman-teman guild-nya yang bertema samurai, Fuurinkazan. Lalu manfaat lain Augma bagi Kirito dan Asuna, yang mau tak mau harus mereka akui, adalah bagaimana kecerdasan buatan yang menjadi ‘putri’ mereka sesudah insiden SAO, Yui, jadi bisa secara lebih bebas berada di dunia nyata.

Meski masih kurang nyaman dengan Augma, sebagai seorang gamer, Kirito tentu saja juga tertarik dengan Ordinal Scale. Dari sekedar mencoba mengikuti acara Ordinal Scale bersama Asuna, Kirito mulai mendengar sebuah rumor yang mulai mengusiknya: bahwa sejumlah lawan yang dikenali sebagai floor boss dari Sword Art Online telah muncul dalam eventevent Ordinal Scale.

Lalu yang menyadari hal ini hanya para veteran SAO yang pernah terlibat di garis depan.

Trauma Therapy

Sebelum masuk soal bagaimana Kirito, Asuna, dan kawan-kawan mereka jadi diingatkan soal pengalaman di garis depan SAO, baiknya aku menyinggung sedikit dulu tentang Ordinal Scale.

Jelas terinspirasi dari berbagai permainan augmented reality yang belakangan berkembang (salah satunya mungkin demam Pokemon Go), Ordinal Scale sederhananya adalah semacam permainan aksi memburu monster yang mengharuskan para pemainnya keluar rumah (dengan memakai Augma) dan mendatangi berbagai tempat di kota.

Setiap pemain bebas memilih ingin jadi pemain macam apa. Mereka bebas memilih peralatan yang mereka bawa (yang sebagian agaknya bisa ditemukan dari menjelajah tempat-tempat tertentu di sekitar mereka), mulai dari senjata jarak dekat macam pedang atau yang jarak jauh macam pistol dan senapan (Kirito dan Asuna jelas-jelas lebih memilih menggunakan pedang). Di samping senjata, mereka juga bebas mengenakan pelindung. Dengan berkeliaran sambil mengenakan Augma saja, konon para pemain OS bisa menemukan berbagai barang (item), perlengkapan, serta musuh-musuh yang bisa mereka kalahkan.

Satu hal menarik di OS adalah bagaimana tak ada sistem leveling. Semua pemain bermain menggunakan badan mereka sendiri (jadi bukan badan virtual seperti di Amusphere yang parameternya telah disesuaikan). Parameter kekuatan mereka—meski ada beberapa yang mengalami modifikasi oleh perlengkapan yang mereka kenakan—adalah kemampuan fisik nyata mereka sendiri.

Lalu, untuk memantau siapa-siapa yang unggul dalam permainan ini, digunakan semacam sistem peringkat. Masing-masing pemain bersaing untuk meningkatkan peringkat, dan ada berbagai manfaat yang mereka peroleh seiring dengan bertambahnya peringkat mereka. (Sistem ‘peringkat’ ini belakangan terungkap punya signifikasi di dalam cerita.)

(…Bentar. Setelah kupikir, sistem pengembangan diri berbasis peralatan ini, yang tak ada kaitannya dengan sistem level, lumayan mirip dengan yang ada di waralaba Monster Hunter.)

Salah satu aspek terkeren Ordinal Scale adalah bagaimana saat dijalankan, program tersebut dapat sepenuhnya mengubah persepsi pemainnya akan realita. Dalam sekejap, langsung ada dunia lain yang mereka lihat, tapi dunia tersebut tetap tercipta berdasarkan bentuk dunia nyata. Puncak-puncak gedung tinggi bisa berubah menjadi menara kastil. Tempat-tempat terbuka menjadi teras puri. Warna langit bisa berubah dari siang menjadi malam, lengkap dengan terangnya bulan berwarna. Lalu pakaian yang para pemainnya kenakan akan berubah. Handset yang mereka pegang juga berubah jadi senjata yang mereka pilih. Semua konon terwujud berkat keberadaan sepasukan UAV yang seakan membantu proses pemantauan.

Perubahan dunia pada Ordinal Scale lumayan mengingatkan pada perwujudan Unlimited Neutral Field di Accel World yang juga karangan Kawahara-sensei. Tapi meski sama-sama didasarkan pada bentuk dunia nyata, sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi di latarnya, Ordinal Scale di seri SAO dihasilkan lewat teknologi yang lebih low key. Ditambah dengan bagaimana kenyataannya, Ordinal Scale berlangsungnya masih di dunia nyata.

Terlepas dari itu, dalam salah satu event Ordinal Scale, ketika sejumlah musuh besar yang tak dapat ditangani sendirian muncul, idola virtual Augma, Yuna, tiba-tiba muncul. Melalui nyanyiannya, Yuna memberi buff bagi parameter para pemain, membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan misi. Lalu sesudah itu, Yuna juga mengumumkan lokasi di mana konser live-nya yang banyak ditunggu akan diadakan.

Dari pengalaman tersebut, kembali muncul tanda tanya soal apakah Yuna adalah makhluk sejenis Yui, dalam artian sama-sama kecerdasan buatan. Di samping itu, turut diperkenalkan pula Eiji, pemain dengan peringkat dua di Ordinal Scale, yang Kirito dan Asuna sadari agaknya mungkin pernah mereka jumpai di masa lalu.

Apakah Melupakan Lebih Baik?

Masalah timbul saat rumor-rumor soal kehadiran floor boss SAO di Ordinal Scale ternyata benar. Asuna, bersama Klein, menjadi saksi langsung hal ini. Asuna, berkat pengalamannya, bahkan berhasil menggalang pemain lainnya untuk menaklukkan boss tersebut. Namun rupanya itu hanya awal dari segala masalah.

Singkat cerita, Kirito, yang tak aktif sebagai pemain Ordinal Scale, secara terlambat mengetahui bahwa para veteran SAO yang memainkan Ordinal Scale bisa kehilangan sebagian ingatan mereka. Persisnya, ingatan mereka tentang SAO. Asuna juga adalah salah satu korbannya. Lalu berbeda dari kebanyakan veteran yang memiliki banyak kenangan tak enak tentang SAO, Asuna juga memiliki kenangan-kenangan bahagia karena pertemuannya dengan Kirito. Lalu hilangnya kenangan-kenangan tersebut sedemikian membebani Asuna, walau ia masih bisa ingat siapa Kirito dan berbagai kenangan mereka di kastil Aincrad baru yang kini ada di ALO.

Marah dengan apa yang menimpa Asuna, Kirito bertekad untuk mengungkap apa yang terjadi. Berkat petunjuk sosok berkerudung misterius yang sesekali terlihat hanya melalui Augma, Kirito menjumpai Shigemura Tetsuhiro, pria paruh baya yang merupakan ilmuwan pengembang piranti Augma. Dari sana, Kirito menyimpulkan bahwa ia harus memanjat ke puncak peringkat Ordinal Scale demi mencegah bencana besar yang akan terjadi.

Maka dengan taruhan ingatannya sendiri pula, Kirito juga perlu berhadapan dengan Eiji, yang ternyata menyembunyikan lebih banyak dari apa yang bersedia ia ungkap.

Janji Bonceng Motor

Masuk ke soal teknis, kalau soal presentasi, Ordinal Scale menghadirkan kualitas visual dan suara seperti yang bisa diharapkan dari sebuah seri SAO. Dari sudut itu, ini film yang terlihat dan terdengar bagus.

Aku tak begitu terkesan dengan key visual-nya. Tapi sesudah melihat sendiri, aku kagum dengan betapa banyaknya detil yang telah diberikan untuk menggambarkan dunia Tokyo masa depan. Kesan futuristis yang dipaparkan terasa sangat dekat sekaligus jauh. Masih serasa membumi. Lalu banyaknya detil ini begitu kentara dibandingkan bab-bab cerita SAO yang lain. Walau cerita Ordinal Scale pada akhirnya berkesan ‘SAO’ sekali (lebih banyak soal itu nanti kusinggung di bawah), sebagai orang yang beberapa kali berkecimpung di dunia arsitek dan iptek, aku merasa sudah balik modal menonton film ini hanya demi melihat dunianya saja. Mulai dari soal fitur-fitur AR Augma, pemandangan keseharian kota Tokyo modern, jalan-jalan layang, halaman-halaman dengan ruang terbuka hijau, dan bahkan vending machine, aku puas dengan bagaimana semua itu ditampilkan. Aku kagum dengan pemandangan overhead kota dari atas berulangkali diperlihatkan untuk mengindikasikan bagaimana Kirito berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Soal suara, aku sempat heran dengan bagaimana karakter Yuna ditampilkan. Aku seperti… “Heh? Lagi-lagi karakter idol?” Aku lebih terbiasa melihat penampilan idola futuristis dalam anime Macross. Lalu sesudah movie Toaru Majutsu no Index beberapa tahun lalu, sekarang SAO mau mengangkat soal itu juga? Perasaanku campur aduk soal ini. Tapi aku bersyukur setidaknya tema konser dan nyanyian ini tak sekedar tempelan. Maksudku, ada signifikasinya dalam cerita. Di samping itu, nuansa musik gubahan Kajiura Yuki kembali ada di movie ini. It’s still good.

Jadi, satu hal unik yang Ordinal Scale miliki, kalau dibandingkan bab-bab cerita lain dalam seri SAO, dan yang mungkin menjadi daya tariknya yang terbesar, adalah bagaimana ceritanya berlatar hampir sepenuhnya di dunia nyata. Bagian pendahuluannya, bagian pengenalan masalah, bagian klimaksnya, lalu juga penyelesaiannya. Maksudku, itu hal yang sangat baru bagi SAO.

Sekali lagi, di dunia nyata. Bukan dunia virtual.

Karenanya, di luar dugaan—lagi, terlepas dari kualitas akhirnya sendiri—Ordinal Scale punya cerita yang terasa segar.

Naskah yang Kawahara-sensei dan Ito-san sudah susun itu beneran kuat. Ya, masih ada kelemahan-kelemahan khasnya. Termasuk soal wish fulfillment dan sebagainya. Ya, perlu kuakui juga kalau klimaksnya sedikit mengecewakan. Itu jelas tak semenegangkan standar SAO yang biasa. Tapi kalau menempatkan diri di sudut pandang produser, naskah Ordinal Scale kurasa berhasil memenuhi segala ekspektasi. Ada banyak callback ke hal-hal lalu. (Seperti soal perintah Switch untuk penggantian posisi depan yang normalnya hanya dipahami oleh para veteran SAO.) Secara mengesankan, ada sejumlah foreshadowing juga ke bab Alicization yang akan datang untuk para penggemar novelnya. Semua karakter signifikan dalam waralaba ini—termasuk si gaijin pemilik toko Andrew Gilbert Mills (Agil), jago kendo Kirigaya Suguha (Leafa) yang merupakan sepupu Kirito, ahli tembak Asada Shino (Sinon), dan pegawai pemerintah yang jadi kontak Kirito, Kikuoka Seijurou—tampil dan berperan. Hal-hal imut tentang SAO, kalau kalian suka dengan itu, juga ada. Aku sendiri memperkirakan bobot fanservice dalam film ini mungkin mencapai 35%.

Aku terutama terkesan dengan bagaimana Kirito ditampilkan seakan kesetanan saat mengejar peringkat ini. Atau saat Asuna menggalang orang-orang yang belum ia kenal dalam melawan boss. Lalu juga pada bagaimana Suguha melatih ulang fisik Kirito dari jauh berhubung sedang mengikuti kamp pelatihan di luar kota.

Jadi kayak, semua yang sejak dulu ada di SAO berhasil dimasukkan secara seimbang ke film ini. Termasuk elemen-elemennya yang mungkin kurang kau sukai. Aku jadi maklum kenapa movie ini terbilang berhasil di Jepang. Bahkan, kalau dibandingkan Endymion no Kiseki dari seri Index beberapa tahun lalu, kurasa Ordinal Scale jauh lebih bisa aku sukai.

Janji Melihat Bintang

Untuk menyimpulkan, untuk kalian yang sudah cukup menyukai SAO apa adanya, maka kalian juga akan menyukai Ordinal Scale. Untuk kalian yang kurang menyukai SAO, film ini takkan membuat kalian berubah pikiran. Sedangkan untuk kalian yang belum pernah tahu tentang SAO sebelumnya, lalu kebetulan melihat film ini, mungkin kalian akan sedikit bingung dengan banyaknya referensi terhadap kejadian yang lalu. Walau begitu, inti ceritanya masih bisa diikuti, lalu mungkin kalian malah jadi tertarik dengan waralaba utamanya.

Akhir kata, aku enggak bisa menilai Ordinal Scale jelek. Memang ada kekurangan-kekurangannya, tapi itu jenis kekurangan yang benar-benar khas SAO.

SAO dari waktu ke waktu kerap menampilkan hal-hal yang menurutku agak berlebihan dan konyol (sejumlah orang menyebutnya ‘lebay’). Tapi sesuatu yang agaknya hanya bisa SAO lakukan bagiku adalah bagaimana hal-hal berlebihan dan konyol tersebut ditampilkannya selalu dengan cara yang tak pernah bisa sepenuhnya aku tertawakan. Kenapa? Karena meski aku merasa hal-hal tersebut berlebihan dan konyol, pada saat yang sama, hal-hal itu jadi mengingatkanku pada hal-hal lain yang lebih serius dan dalam.

Dalam konteks ini, pada bagaimana hilangnya ingatan Asuna jadi mengingatkan pada penderita Alzheimer gitu. Frustrasi yang dirasakannya bukan hal yang mudah diekspresikan. Menariknya, tak semua korban hilangnya ingatan tersebut memperlihatkan reaksi yang sama. Karena hal-hal seperti di atas, kadang aku merasa SAO lumayan penuh dengan alegori.

Apa lagi ya?

Cerita Ordinal Scale berakhir dengan resmi bertunangannya Kirito dan Asuna. Jadi walau ceritanya lepas, Ordinal Scale agak memperbesar pertaruhan dalam bab Alicization nanti. Ada kemungkinan season ketiga animenya bakal memperbaiki beberapa kelemahan di novelnya. Tapi yeah, itu bukan analisa, cuma pengharapanku pribadi.

Klasik untuk kasus SAO, identitas tokoh antagonisnya bukan teka-teki. Mereka sama-sama punya kaitan dengan insiden SAO. Shigemura-sensei adalah guru mendiang Kayaba Akihiko dan Sugou Nobuyuki. Seperti halnya Sugou, Shigemura sekedar memanfaatkan teknologi cetusan Kayaba melalui piranti Augma hasil kembangannya. Lalu Eiji, atau Nochizawa Eiji, yang sebelumnya memakai nama Nautilus, adalah mantan bawahan Asuna. Dia seorang anggota Knights of the Blood yang dulu kurang dikenal karena tak pernah maju ke garis depan.

Keduanya bukanlah karakter yang kompleks atau berbobot. Tapi cara mereka menjutsifikasi tindakan mereka sebagai penanganan trauma, padahal yang ingin mereka pulihkan adalah luka masa lalu mereka sendiri, lumayan menarik. Dalam hal ini, untuk mendatangkan kembali seseorang bernama Shigemura Yuuna, terlepas dari apa konsekuensi yang harus dihadapi.

Selebihnya, hal-hal paling menarik di Ordinal Scale terjadi dengan tersirat.

Pertama, tentang Kayaba Akihiko. Meski secara fisik telah wafat, sekali lagi dikonfirmasi bahwa dirinya masih ‘hidup’ dengan suatu cara. Janggalnya, Shigemura nampaknya tahu juga tentang ini. Lalu anehnya, ia kelihatan tak menaruh dendam atas peranannya dalam insiden SAO.

Kedua, tentang Kikuoka. Kikuoka, yang mewakili pemerintah Jepang, sekali lagi dimintai bantuan oleh Kirito saat terungkap maksud sesungguhnya dikembangkannya Augma itu apa. Tapi di akhir film, terungkap bahwa Kikuoka membebaskan Shigemura dari segala tuntutan. Kikuoka bahkan memperlihatkan pada Shigemura penemuan baru yang telah dikembangkannya, yang lagi-lagi merupakan foreshadowing terhadap bab Alicization.

Terakhir, tentang Yui. Yui yang mungkin berperan paling vital dalam penyelesaian masalah. Sedemikian besar peranannya, aku sampai berpikir bahwa sebagai rogue AI, Yui bisa sangat berbahaya kalau bukan berkat asuhan dan didikan Asuna dan Kirito. Jadi, begitu terungkap bahwa sebenarnya Augma adalah hasil modifikasi dari NervGear, segala solusinya, begitu saja, langsung terlihat di mata Yui. (Ini juga jadi salah satu alasan kenapa klimaks film ini kurang memuaskan.)

Terkait ini, beberapa kali pernah diimplikasikan bahwa Kirito tak sepenuhnya mempercayai Kikuoka. Keduanya sama-sama belum membuka seluruh kartu masing-masing. Lalu lewat film ini, lagi-lagi kita diingatkan bahwa Kikuoka mungkin masih belum juga diberitahu Kirito tentang asal-usul Yui yang sesungguhnya… yang mungkin tanpa disadarinya telah berdampak pada apa-apa yang nanti akan terjadi.

Yah, demikian deh. Kita pantau saja terus perkembangan waralaba ini ke depan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Iklan
20/03/2014

Accel World – FBiS + BSoD

Sesudah melihat adaptasi anime Accel World sampai tamat, aku membaca kelanjutan cerita di versi novelnya belum lama ini.

Terjemahan bahasa Inggrisnya, seperti yang sebelumnya pernah kubilang, bisa ditemukan di situs Baka-Tsuki. Namun berhubung seri LN ini (beserta seri ranobe Sword Art Online yang sama-sama juga dikarang Kawahara Reki) telah dilisensi oleh Yen Press, aku enggak tahu sampai kapan terjemahan tersebut akan bertahan di sana. Karena itu, sesudah menunda-nunda untuk sekian lama, aku akhirnya memotivasi diriku untuk baca selagi sempat.

…Mungkin sebelumnya aku pernah bilang. Saat-saat aku lama enggak ngepost itu biasanya dikarenakan aku disibukkan karena satu dan lain hal. Lalu saat-saat aku sibuk itu, aku biasanya baca-baca apa yang ada di situs Baka-Tsuki lewat hape. Dan, yah, lanjutan cerita Accel World menjadi salah satu dari sejumlah hal yang aku baca belakangan ini.

Adaptasi animenya yang dulu pernah kuulas mencakup cerita dari buku 1 sampai buku 4 (ditambah sejumlah cerita pendek yang dimuat di buku 10 yang secara kronologis berlangsung di waktu yang sama). Jadi kubaca saja apa-apa yang sudah diterjemahkan mulai dari buku 5 sampai buku 8. Terjemahan untuk buku 6 dan buku 7 pada akhirnya enggak tuntas. Jadi yang kubaca sampai ‘tuntas’ cuma buku 5 dan buku 8.

Buku 5 bersubjudul Floating Bridge in Starlight (‘jembatan terapung di bawah cahaya bintang’) ini berlatar waktu tak lama sesudah klimaks konfrontasi Legion Nega Nebulas melawan Dusk Taker. Sedangkan buku 8 yang bersubjudul Binary Star of Destiny (‘bintang biner takdir’; ‘biner’ bisa diartikan ‘berpasangan’) ternyata berlangsung benar-benar tak lama sesudahnya.

Berhubung sudah ada beberapa bab yang telah diterjemahkan pada buku 6 dan 7, menghubungkan ‘titik-titik yang hilang’ lumayan mudah. Lalu pada setiap bab, Kawahara-sensei (karena tuntutan format majalah?) secara singkat mengungkapkan apa-apa yang telah terjadi di bab-bab terdahulu, sehingga pikiran pembaca enggak keputus begitu saja tanpa tahu ceritanya telah nyampe mana. Jadi proses membaca secara sporadis ini ternyata enggak sesusah bayanganku.

New Stages

Floating Bridge in Starlight mengetengahkan soal sebuah event khusus yang terjadi di dunia yang dipercepat, sehubungan dengan  diiekspornya teknologi social camera yang sebelumnya digunakan di Jepang untuk aplikasi di orbital elevator Hermes Cord yang untuk beberapa waktu telah dibangun.

Di akhir cerita pada buku sebelumnya, Sky Raker alias Kurasaki Fuuko, salah satu anggota inti dari Legion hitam yang terdahulu, atas dorongan sang tokoh utama, Arita Haruyuki, berhasil dibujuk Kuroyukihime untuk kembali bergabung dalam Nega Nebulas. Tapi bergabung kembalinya Raker masih belum berarti telah pulihnya trauma dan rasa bersalah yang membebaninya sebelumnya, yang tercermin pada masih cacatnya kaki Duel Avatarnya.

Haruyuki secara tak disangka menyimpulkan secara tepat kalau ekspor teknologi social camera di atas ternyata dapat berdampak pada Brain Burst. Lalu, begitu mengetahui bahwa dengan ini, dunia yang dipercepat dapat merambah sampai ke luar angkasa, ia mendapat gagasan tentang bagaimana cara memperbaiki hubungan Fuuko dan Kuroyukihime kembali…

Tapi dalam prosesnya, sesuatu terjadi.

Kemudian, sesuatu tersebut membawa Haruyuki dan teman-temannya berhadapan kembali dengan Acceleration Research Society, orang-orang misterius yang turut memiliki andil dalam terlahirnya monster bernama Dusk Taker.

Incarnation

Buku 5 sebenarnya bisa dibilang merupakan awal sebuah arc besar baru di Accel World, berhubung cerita buku 6 sampai buku 8 secara mulus sambung-menyambung. Dunia para Burst Linker—yang mampu mempercepat kinerja pikiran berkat game misterius Brain Burst yang tertanam dalam Neuro Link mereka—secara bertahap terus digambarkan semakin membesar. Hubungan-hubungan lama yang pernah ada antar para karakter kemudian terungkap. Lalu aku benar-benar salut terhadap Kawahara-sensei dengan semua penggambaran ini.

Aku agak enggak enak bila mengungkapkan ceritanya di sini. Soalnya menurutku pribadi, ceritanya benar-benar keren.

Pemaparan tentang teknologinya benar-benar menarik. Padahal itu dipaparkan dengan cara yang menurutku termasuk sederhana.

Aku akhirnya ngeh terhadap sejumlah tema aneh yang beliau sampaikan dalam buku-buku sebelumnya. Ada para karakter yang kepribadiannya terkesan tak wajar karena mereka berada pada keadaan psikologis abu-abu antara anak-anak dan dewasa sebagai dampak dari Brain Burst. Lalu ada tema tentang anak-anak yang terlantar dan kehilangan kasih sayang karena terlalu dipercayakan pada perkembangan teknologi. Lalu tentu saja, resiko sebenarnya dari kehilangan semua ingatan terkait Brain Burst apabila poinnya habis, yang meliputi regresi kepribadian mereka yang telah dipercepat pendewasaannya, serta kemungkinan hilangnya hubungan-hubungan persahabatan yang telah mereka bentuk di dunia yang dipercepat ini.

Satu misteri besar yang diperkenalkan adalah mulai disinggungnya ketiadaan social camera di kompleks Istana Kekaisaran, yang memunculkan teka-teki soal apakah lokasi counterpart-nya di Unlimited Neutral Field di dunia yang dipercepat sebenarnya dapat dimasuki atau tidak.

Pada buku-buku 6 ke atas disinggung pula soal bagaimana keempat pintu masuk ke lokasi Istana dijaga oleh empat sosok Enemy yang hanya bisa digambarkan sebagai semacam superboss pada game-game biasa (mereka terdiri atas Genbu, Seiryu, Suzaku, dan Byakko—diambil dari nama hewan-hewan legendaris penjaga empat mata angin). Lalu ternyata pernah ada rumor-rumor mencuat kalau kemungkinan lain untuk menuntaskan Brain Burst tak lain adalah keberhasil memasuki lokasi ini. Nega Nebulas generasi pertama ternyata hancur dalam upaya penyerbuan mereka ke Istana ini, yang terjadi sebagai reaksi para anggotanya atas tindak pemberontakan yang Kuroyukihime lakukan sebagai Black Lotus. Lalu para Elements, empat sosok Burst Linker yang dikenal ‘legendaris’ karena seakan mewakili empat unsur dasar di alam, rupanya juga adalah wakil-wakil pemimpin yang pernah tergabung di bawah Black Lotus. Sky Raker rupanya pernah dikenal sebagai salah satu dari mereka. Lalu meski ingatan Haruyuki tentangnya disamarkan, Aqua Current, yang dikisahkan sempat menjadi bodyguard Haruyuki, juga merupakan salah satu dari mereka.

Perkembangan yang sudah agak tertebak di klimaks buku 5 tentunya adalah pengungkapan kalau enhanced armament Disaster Armor—yang  dulu menuai kekacauan di Legion merah, Prominence—ternyata kini tertanam dalam diri Silver Crow, alias Haruyuki. Tapi apa yang benar-benar mengejutkanku adalah dampak perkembangan tersebut, yang melandasi keseluruhan arc ini.

Sebagai satu-satunya orang yang pernah berhasil melawan pengaruh negatif yang dibawa Disaster Armor, Haruyuki diberi kesempatan hidup oleh para Raja Warna Murni (Seven Kings of Pure Colour), yang memberi tenggat waktu bagi Silver Crow untuk menyingkirkan Disaster Armor yang mengutukinya. Kuroyukihime telah memiliki gagasan untuk membantunya dalam hal ini, dan itulah yang melandasi pertemuan Haruyuki dengan Shinomiya Utai alias Ardor Maiden, seorang anak kelas 3 SD tuna wicara berpembawaan mandiri, yang merupakan satu lagi anggota lama Nega Nebulas yang pernah tergabung di dalam Elements.

Namun, pada akhir penyerbuan ke Istana Kekaisaran tiga tahun lampau, Ardor Maiden—seperti Aqua Current dan anggota Element terakhir—ternyata terperangkap dalam fenomena kematian berulang akibat takluk di Unlimited Neutral Field persis di hadapan gerbang Suzaku. Sehingga, untuk bisa menggunakan kekuatan purifikasi khususnya demi menyingkirkan Disaster Armor, Silver Crow, Black Lotus, Sky Raker, Cyan Pile (alias Mayuzumi Takumu) dan Lime Bell (alias Kurashima Chiyuri) harus melakukan misi penyelamatan hidup mati dengan menyerang gerbang yang dijaga Suzaku dan, memanfaatkan kemampuan terbang yang dimiliki Silver Crow, entah bagaimana meloloskan Ardor Maiden dari sana.

Pada saat yang sama, keberadaan Incarnate System—yang memungkinkan peningkatan kemampuan sebuah Duel Avatar dengan menggunakan tekad, imajinasi, serta emosi sekaligus trauma sebagai bahan bakar; yang secara diam-diam dikuasai dan dirahasiakan oleh para Raja—akhirnya terbeberkan secara luas sesudah insiden di Hermes Cord. Lalu ada suatu pihak misterius yang secara diam-diam mulai membagi-bagikan jalan pintas untuk menggunakan sistem ini, dan sekali lagi mendatangkan kekacauan pada dunia yang dipercepat…

Di masa saat mereka masih dikenal sebagai ‘pemain’…

Begitu aku tiba di akhir menggantung di buku kedelapan, aku tiba pada kesimpulan yang mengejutkan: aku enggak pernah menyangka kalau aku akan menyukai Accel World sedalam ini.

Aku pernah bilang kalau aku lebih suka Accel World dibandingkan Sword Art Online karena implikasi ke dunia nyatanya lebih banyak. Tapi alasannya enggak cuma itu.

Accel World bagiku itu seriusan, teramat sangat keren.

Mungkin ini agak susah kebayang. Tapi aku beneran dapat sejumlah pelajaran hidup yang enggak kusangka dari membaca seri ini. Soal move on dalam menyerima kenyataan. Soal bekerja keras. Soal menerima masa lalu. Soal menanggapi apa yang telah terjadi dengan kebencian atau enggak. Lalu, yang paling berkesan (mungkin karena dibawakan oleh anak manis seperti Utai), soal rasa hormat terhadap makhluk-makhluk lain yang kemudian berujung pada rasa syukur terhadap kehidupan.

Ceritanya, sejujurnya, berkembang jauh lebih dalam dari yang kusangka. Ada pembeberan soal seperti apa interior Istana, yang di dalamnya menyembunyikan sejumlah petunjuk tentang awal mula Brain Burst. Lalu ada kilas balik berkesan tentang awal mula Disaster Armor tujuh tahun sebelumnya, yang terjadi pada masa-masa saat dunia yang dipercepat masih muda.

Narasinya menurutku terbilang enak dibaca. Pembangunan suasananya sesudah kau terbiasa cukup memikat. Lalu adegan pertempuran terakhir melawan Suzaku di batas langit itu kereeeeeeeen!

Man. Memang patut disesalkan bila proyek penerjemahannya diulang lagi dari awal. Tapi aku enggak menyesal membaca apa yang ada sampai sejauh ini.

Mungkin bila bukunya jadi diterbitkan oleh Yen Press, aku akan mencoba memesannya lewat Amazon.

…Kau tahu, aku bersyukur bukan cuma aku saja yang ternyata suka seri ini.

24/03/2013

Sword Art Online

Sebelum musim tayang baru, baiknya aku menuntaskan pembahasan soal ini.

Aku sudah beberapa kali bahas seri novelnya. Tapi untuk kali ini, akan kubahas versi anime Sword Art Online.

Anime ini diangkat dari seri novel hit karangan Kawahara Reki yang diterbitkan ASCII Media Works. Novelnya terbit di bawah label Dengeki Bunko setelah sebelumnya sukses sebagai web novel. Produksi animenya dilakukan oleh studio A-1 Pictures dengan durasi total 25 episode, dan ditayangkan pertama kali pada paruh akhir tahun 2012.

Berlatar beberapa waktu di masa depan (tahun 2022-2024), SAO  berkisah seputar permainan VMMORPG (game online virtual) bernama Sword Art Online yang telah memerangkap jiwa-jiwa para pemainnya dalam suatu permainan hidup-mati. Permainan ini secara misterius diciptakan seorang ilmuwan jenius bernama Kayaba Akihiko, yang juga telah menggagas konsol permainan generasi terbaru fenomenal NerveGear di mana permainan ini dimainkan. Tokoh utamanya adalah seorang pemuda penyendiri (solo player) bernama Kirito, yang menjadi satu dari sekitar enam ribu orang yang masih bertahan hidup dalam dunia virtual ini.

Porsi besar ceritanya memaparkan hubungan Kirito dengan Asuna, wakil komandan dari guild terkuat, Knights of Blood, yang juga merupakan salah satu yang tercantik sekaligus terkuat dari sejumlah kecil pemain wanita yang ada. Pertemuan mereka seakan mengubah takdir Kirito, yang pada akhirnya menjadikannya pahlawan yang akan menuntaskan SAO sekaligus membebaskan mereka semua.

Tersesat di Kedalaman Mimpi

SAO itu pertama terbit tahun… 2009 kalau enggak salah. Aku mulai membaca terjemahan novel-novelnya pada tahun 2010 di situs Baka-Tsuki, dan seri itu benar-benar berkesan buatku.

Alih-alih plotnya, yang menonjol dalam novel-novel SAO adalah pemaparan rinci tentang dunia dan karakternya. Seperti ada temanmu yang bercerita soal game bagus, dan mendengarnya kau jadi ingin main juga. Makanya, saat adaptasi anime untuk SAO (bersama Accel World, seri novel Kawahara-sensei yang lain) diumumkan pada musim gugur tahun 2011, ada banyak sekali perhatian tentang hasil visualisasinya.

Studio animasi A-1 Pictures dikenal sebagai studio yang piawai menangani anime dari berbagai macam jenis. Mulai dari Ookiku Furikabute (tentang bisbol) hingga Senkou no Night Raid (tentang perang di Asia Pasifik). Tapi seri keluaran mereka yang paling mendekati penggambaran dunia fantasi sebelum SAO setahuku cuma Fractale. Makanya, aku sempat merasakan keskeptisan soal bagaimana hasil akhirnya.

Tapi adaptasi anime SAO belakangan terbukti sukses besar. SAO mungkin menjadi anime paling populer di sepanjang tahun 2012. Versi anime ini yang melambungkan ketenaran seri SAO, serta membuka jalan bagi perilisannya di berbagai media lain, terutama game adaptasi SAO pertama, Sword Art Online: Infinity Moment buatan Banpresto, yang belum lama ini juga sukses besar. (Buat yang mau tahu, game ini menyajikan penuntasan 25 lantai sisa dari SAO. Tapi soal itu mending kubahas di lain waktu.)

Pada awalnya, aku tak terkejut dengan perkembangan ini. Maksudku, aku sendiri sadar materi asli di novel-novelnya memang sekeren itu.

Tapi sejujurnya, secara pribadi, episode-episode awal animenya lumayan kurang dalam banyak hal. Desain karakter animenya, misalnya. Aku tahu alasannya mungkin untuk kepraktisan. Tapi desain karakter di animenya kehilangan sisi ‘tajam’ dan ‘keren’ yang ada pada ilustrasi-ilustrasi orisinil buatan abec. Ada kesan… ‘imut’ yang menurutku tak seharusnya ada, dan itu hal paling pertama yang menggangguku.

Kelemahan berikutnya yang kutemukan terdapat pada pemaparan premis SAO sendiri. Pada novel-novelnya, penggambaran dunia kastil raksasa melayang Aincrad, yang menjadi latar permainan, sejak awal terasa seperti sesuatu yang mencengangkan sekaligus bikin stres.

Maksudku, belum apa-apa sudah terasa overwhelming gitu.

Nah, nuansa khas yang yang membuat novel-novel SAO terasa menarik itu yang tiba-tiba saja seakan absen dalam animenya. Premis ceritanya jadi sedikit kurang meyakinkan.

Faktor kontribusi terjadinya hal ini mungkin kebijakan untuk memaparkan cerita SAO secara kronologis sih. Jadi, pada awalnya, novel pertama SAO sendiri sudah memaparkan awal cerita sekaligus penuntasan Aincard. Sedangkan novel keduanya pada dasarnya adalah kumpulan cerita pendek yang berlangsung pada titik-titik waktu berbeda di Aincrad, sebelum dan pada saat cerita di novel pertamanya berlangsung.

Adaptasi animenya memilih untuk mengabaikan pemaparan alur maju-mundur ini. Seluruhnya jadi digantikan dengan alur maju.

Kasusnya mungkin jadi mirip adaptasi film-film layar lebar Berserk yang baru. Atau kayak kalau kau memaksakan diri menonton anime Fate/Zero sebelum Fate/stay-night.

Biasanya alur maju-mundur digunakan agar kejadian-kejadian yang terjadi lebih dahulu justru jadi bisa dimaknai belakangan.  Lalu hal itu yang kayak jadi berdampak pada pembangunan setting di SAO. Kesulitan-kesulitan yang ditemukan dalam cara permainan SAO (adanya pertaruhan nyawa, adanya sistem permainan yang berbeda dari MMORPG pada umumnya, dsb) seakan jadi gagal terpaparkan di episode-episode awal. Kita paham kalau SAO mempertaruhkan nyawa. Tapi alasan kenapa hal itu menjadi such a big deal menjadi kurang tersampaikan.

Hal lain yang mungkin berpengaruh terhadap pengambilan pendekatan ini adalah reboot dari bab Aincrad di novel-novel SAO sendiri, lewat diterbitkannya seri relatif baru Sword Art Online: Progressive. Subseri ini menceritakan ulang sejumlah kisah yang terjadi dalam masa cerita buku satu dan buku dua SAO, namun kali ini secara kronologis. Di dalamnya, terdapat beberapa perbedaan dibandingkan apa yang terdapat pada versi web novel aslinya, dan mungkin itu jadi berdampak pada pembentukan struktur cerita di animenya. (Contoh hal ini adalah dimasukkannya sebagian episode Aria in the Starless Night yang tidak termasuk bagian seri novel utamanya ke dalam cerita di anime.)

Tapi begitu semua episode awal yang ‘tanggung’ ini terlewati–kurang lebih saat plot utama di buku satu SAO dimulai pada episode delapan–para staf seakan menemukan kembali arah mereka. Saat bab Aincrad berakhir dan bab Fairy Dance (yang mengetengahkan VMMORPG baru ALfheim Online atau ALO yang dikembangkan dari teknologi SAO) dimulai, aku akhirnya merasa para pembuatnya managed to do it right.

Memanggil Seseorang di Dunia Nyata Dengan User Name Mereka Kurang Sesuai Sopan Santun

Beralih ke soal teknis, aku kecewa dengan bagaimana jurus-jurus pedang di SAO kurang mendapat sorotan dalam versi anime ini. Dalam novelnya, setiap jurus pedang di SAO mempunyai nama dan efek khas dan dijabarkan dengan cukup lumayan. Dari sana, aku kemudian tersadar bagaimana secara umum, aspek gameplay dari SAO memang kurang begitu gamblang dijabarkan. Adegan-adegan pertempurannya sendiri memang terpaparkan dengan lumayan baik. Aksinya masih terbilang seru. Keganasan pertarungan-pertarungan yang harus Kirito lalui masih lumayan tergambar. Tapi bagiku, tetap serasa ada sesuatu yang sedikit hilang kalau dibandingkan dengan adegan-adegan di novelnya.

Selain adegan aksi, ada beberapa adegan lain (lagi-lagi di episode-episode awal) yang sempat bikin aku mengernyit. Bukan karena ‘jelek,’ tapi mungkin lebih karena seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik lagi.

Tapi itu hanya ada di beberapa episode awal. Ada perbaikan signifikan yang tampak di episode-episode selanjutnya yang cukup membuatku bersyukur.

Soal visual, penggambaran dunianya bagus. Beneran bagus. Cuma, dari seluruh lantai yang Aincrad miliki, hanya segelintir yang pada akhirnya benar-benar tergambar. Mungkin ini menjadi isu lain yang mengecewakan bagi beberapa orang. Tapi kekurangan ini diimbangi di duaperlima akhir cerita, lewat penggambaran dunia dongeng Alfheim yang lumayan memikat.

Dari segi audio, aku sempat lupa kalau yang menangani soundtrack-nya adalah Kajiura Yuki (Beliau pernah menangani soundtrac k untuk anime bertema serupa, yakni .hack//sign). Gaya musiknya lumayan berbeda dibandingkan musik beliau sebelumnya. Tapi gubahan-gubahan beliau tetap cocok dan menggerakkan hati.

Lebih lanjut soal eksekusi, ada perbedaan tone yang lumayan terasa dengan masuknya cerita ke bab Fairy Dance. Di samping pergantian latar cerita dari SAO ke ALfheim Online, karakter Kirigaya Suguha, alias Leafa, turut ditonjolkan sebagai heroine menggantikan Asuna. Ada subplot yang berlangsung di dunia nyata juga. Tapi yang patut dipuji adalah bagaimana semua transisi itu dilakukan dengan bagus.

Ada satu bagian cerita favoritku dari novelnya yang sayangnya terpotong untuk versi anime (tepatnya saat Kirito dan Leafa harus melalui detour melalui ‘dunia bawah’ sebelum bisa sampai ke kota Aln, di mana mereka menemukan mekanisme jalan pintas yang melibatkan monster, sekaligus penemuan sebuah dungeon rahasia). Tapi sekali lagi, eksekusi cerita di bab Fairy Dance terbilang benar-benar bagus jadi ketiadaan bagian tersebut buatku tak terlalu kentara.

Seluruh theme song SAO terbilang cocok dengan nuansa yang A-1 Pictures coba bawakan. Tapi lagu ‘Overfly’ yang dibawakan oleh Haruna Luna sebagai lagu penutup kedua seri ini perlu kusebutkan secara khusus karena kebagusannya dalam memaparkan nuansa dunianya, terutama terkait perkembangan karakter yang dialami Suguha.

(Perlu kusebutkan bahwa belakangan aku telat sadar bagaimana fokus yang diberikan terhadap detil dunia ALO ini agak kurang dibandingkan SAO. Jadinya, mungkin wajar bila mereka yang tahu SAO hanya dari animenya agak ilfil dengan bagian kedua ini.)

Bicara soal kekurangannya, beberapa kelemahan pada versi novelnya secara lucu masih terbawa ke versi anime. Perkembangan hubungan antara Kirito dan Asuna masih agak aneh. Elemen-elemen berbau ‘dewasa’ di novelnya tetap masih dimasukkan (meski sudah agak diperingan). Lalu ada sejumlah aspek sains fiksinya yang akan dipertanyakan oleh beberapa orang. Tapi semuanya masih terasa dalam batas yang bisa diterima.

Fanbase untuk seri novel SAO sebelumnya sudah lumayan besar. Jadi dengan hasil sekarang yang bisa memuaskan para penggemar kasual (sepertiku) saja, hasil akhirnya sudah jadi prestasi besar.

Satu keunggulan dari perombakan urutan penceritaannya adalah bagaimana kita dimudahkan dalam mencerna sejumlah detil plotnya (seperti soal karakter Kibaou dan kudeta yang dilakukannya). Jadi pada akhirnya, kurasa perombakan urutan cerita ini mendatangkan sisi baiknya juga.

Perbedaan lainnya lagi pada adaptasi animenya adalah pada peningkatan signfikan dari jumlah pemain wanitanya (meski jumlah cowok tetap lebih banyak). Tapi yang satu ini kurasa hal minor dan bisa jadi hanya perasaanku.

Progress

SAO itu kusukai karena penggambarannya soal ‘menerima keadaan’ dan ‘menghadapi kenyataan.’ Seberapa sering dalam hidup kita langsung menerima kesusahan yang harus dilalui, tanpa mencari-cari alasan atau melarikan diri?

Akhir kata, versi anime SAO dalam banyak arti memang layak untuk terkenal.

Baik secara sadar atau enggak, ada nilai-nilai di dalamnya yang memang patut dipikirkan atau direnungin. Bab Fairy Dance merupakan salah satu bagian cerita terbaik dari novelnya. Jadi aku enggak tahu apakah season keduanya (bila dibuat) akan bisa menyaingi kualitas season yang ini. Tapi lebih baik itu dipikirkannya nanti.

Toh, bagaimanapun juga, pada saat tulisan ini kubuat, perjalanan Kirito melintasi dunia-dunia virtual dalam novel-novelnya pun masih belum sepenuhnya berakhir.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A+

Edit 13 Jan 2014

Sword Art Online: Extra Edition merupakan episode khusus berdurasi dua jam yang ditayangkan pada pergantian tahun 2013-2014. Episode ini memaparkan ringkasan cerita season pertama SAO melalui dialog penuh kilas balik yang berlangsung antara Kirigaya Kazuto dan si pegawai pemerintahan, Kikuoka Seijurou. Di samping ringkasan cerita tersebut, ada juga sedikit cerita sampingan soal bagaimana kawan-kawan Kirito melatih Suguha berenang.

Musim tayang kedua SAO yang akan berlatar di MMORPG baru, Gun Gale Online, turut diumumkan di akhir penayangannya dan dijadwalkan untuk mulai tayang pada pertengahan 2014.

Sedikit tambahan lagi, belum lama ini aku nyadar soal gimana bagi sebagian (kebanyakan?) orang, episode-episode cerita yang berlatar di SAO dinilai lebih bagus ketimbang yang di ALO. Secara pribadi, aku berpendapat sebaliknya. Tapi mungkin juga aku merasa begini karena sebelumnya sudah tahu cerita lengkap dari novelnya, sehingga yang lebih kuperhatikan itu kualitas teknis adaptasinya aja.

(Ada porsi cerita ALO yang memang tak muncul di animenya, yang memang tak berdampak pada pencarian Kirito atas Asuna, tapi memberi indikasi lumayan mendalam soal bagaimana ALO yang dikembangkan perusahaan RECTO Progress—salah satu divisi dari perusahaan RECTO milik keluarga Asuna yang dikelola tokoh antagonis Sugou Nobuyuki—punya sisi ‘tersembunyi’ di balik permukaannya, seperti halnya SAO.)

Intinya, yang ingin kukatakan: Sword Art Online telah jadi seri yang secara umum memang disukain orang. Tapi alasan mereka suka atau enggak sukanya itu sangat berbeda-beda. Jadi kalau misalnya kau penggemar baru dan mau mencoba masuk ke seri ini, inget-inget aja soal itu dan jangan terlalu mengkhawatirin pendapat orang lain.

24/01/2013

Accel World

Dua puluh empat episode. Dua cour. Lumayan juga.

Jadi, aku coba memeriksa anime Accel World belum lama ini.

Yea, makan waktu agak lama. Belakangan aku kena sindrom di mana aku sulit dipuaskan hanya oleh satu hal.

Setelah kupikir, jangan-jangan itu alasan aku kesulitan ngedapetin cewek? Selama itu, yang kepikiran di kepalaku memang cuma soal gimana cara buat bisa ngedapetin harem ending. Namun akhirnya kedua puluh empat episode itu selesai kubereskan juga.

Err, gimanapun, selaku penggemar seri novel Sword Art Online karya Kawahara Reki, aku sedikit banyak memperhatikan Accel World juga. Dalam beberapa hal, mengingat keduanya banyak menyinggung tema dunia virtual, aku lebih menyukai seri Accel World ketimbang SAO. Alasannya? Mungkin karena implikasi ceritanya terhadap dunia nyata digambarkan lebih kompleks.

Lebih Cepat Lagi!

Konon masih memiliki kontinuitas dengan SAO, tapi berlatar lebih jauh di masa depan, Accel World berkisah tentang bagaimana seorang anak SMP pendek gendut bernama Arita Haruyuki, yang sebelumnya menjadi korban penindasan di sekolah, berkenalan dengan sebuah program game(?) misterius bernama Brain Burst, dan mengalami perubahan pada nasibnya.

Program ini ceritanya memiliki fitur untuk memungkinkan orang ‘mempercepat’ (mengakselerasi) kinerja otak mereka. Hal ini menjadikan otak mereka bisa mencerna impuls saraf jauh lebih cepat dari biasa. Sehingga dengan fitur ini, waktu bisa dibuat untuk seakan melambat (ibarat bullet time dalam film The Matrix). Jadi bayangkan saja kalau kau bisa memanfaatkan kemampuan ini untuk urusan kerja dan kuliah.

Tapi Accel World bukan cuma berkisah tentang kemampuan akselerasi otak ini.

Seri ini juga memaparkan dunia masa depan di mana augmented reality telah terhubung secara langsung dengan indera-indera persepsi manusia, melalui sambungan langsung ke sistem saraf lewat perangkat khusus bernama Neuro Link.

Di Accel World, ada perangkat-perangkat social camera yang ditempatkan di distrik-distrik umum, yang seakan memetakan bentang alam dan sekaligus menjaga keamanan warga biasa. Kamera-kamera ini seakan jadi meleburkan batas antara dunia nyata dan virtual lewat teknologi AR ini.

Manusia, dengan hanya menggerak-gerakkan tangan di udara, tanpa perlu ponsel maupun komputer, bisa mengirimkan mail ke orang lain, mengakses global net, menonton file media; singkatnya, dunia virtual secara harfiah benar-benar telah bertumpukan dengan dunia nyata. Pada jam istirahat, manusia bisa memindahkan kesadaran mereka ke semacam ‘dunia lain’ dengan hanya menghubungkan diri ke local network melalui voice command gitu. Di dunia lain itu, mereka bisa bersosialisasi, bermain game, dan sebagainya.

Sekitar lima belas tahun sebelum cerita dimulai, setiap anak yang terlahir mulai diberi implan Neuro Link (di sekitaran leher belakang mereka?) mengikuti semacam regulasi pemerintah.

Di ruang kelas SMP Umesato, Suginami, Tokyo, tempat Haruyuki bersekolah, murid-murid belajar dan menerima pelajaran melalui sistem virtual. Materi pelajaran yang dipampangkan lewat papan tulis dipampangkan secara virtual. Bahkan mereka yang matanya rabun dapat memanfaatkan fitur Neuro Link untuk mengatur apa yang mereka lihat sesuai kemampuan jarak pandang mereka.

Sebagai anak rendah diri yang hanya dibesarkan seorang ibu yang menjadi orangtua tunggal, Haruyuki merasa dunia nyata hanya memberinya penderitaan. Ia sedikit banyak menggunakan dunia virtual sebagai pelariannya. …Sampai kemudian ia bertemu seorang kakak kelas yang hanya dikenal dengan sebutan Kuroyuki-hime, ketua dewan siswa sekaligus siswi tercantik di sekolahnya, yang kemudian memberinya Brain Burst yang selanjutnya mengubah kehidupannya.

A New Challenger Has Appeared!

Brain Burst pada dasarnya semacam game fighting online. Di dalamnya, para penggunanya bertarung satu lawan satu dalam suatu arena virtual yang ‘agak’ disesuaikan dengan lingkungan dunia nyata tempat mereka berada.

Mengingat sifat rahasia dari program Brain Burst, bila ada sesama Burst Linker—pengguna aplikasi Brain Burst—muncul di jaringan tempat kau terhubung, maka kau bisa memilih namanya lewat matching list dan menantangnya untuk bertarung. Tapi identitas mereka yang sesungguhnya di dunia nyata takkan ditampilkan. Jadi benar-benar seperti suatu dunia rahasia yang hanya diketahui segelintir orang.

Brain Burst dibuat sedemikian rupa oleh suatu penciptanya yang misterius agar ter-uninstall secara otomatis apabila penggunanya membocorkan keberadaan aplikasi tersebut ke seorang yang non-pengguna. Untuk mengundang pemain baru, seorang Burst Linker hanya bisa dengan menyalin program aplikasi Brain Burst ke Neuro Link orang bersangkutan—tanpa boleh mengatakan apa-apa—dan melihat sendiri apa orang tersebut menginstall Brain Burst atau tidak.

Sebenarnya, ada konsekuensi lebih besar dari tindakan membocorokan rahasia ini sih. Tapi itu nanti terungkap seiring perkembangan cerita.

Begitu Brain Burst sukses terinstalasi dalam Neuro Linker seseorang (konon ada keadaan yang membuat jenis-jenis orang tertentu tak bisa menginstalnya), sebuah Duel Avatar akan dibentuk berdasarkan analisa terhadap kepribadian dan ingatan penggunanya(!). Duel Avatar ini yang nanti menjadi ‘badan’ sang pengguna program, yang dengan segala kelebihan, kekurangan, dan kemampuannya; kemudian digunakannya dalam kasoku-sekai, ‘dunia lain’ di mana mereka kemudian bertarung.

Pertarungan antara pengguna Brain Burst berlangsung dalam suatu dunia virtual di mana waktu sedetik di sana sebenarnya adalah seperseribu(!) detik dari waktu di dunia nyata. Mengaplikasikan secara langsung kemampuan percepatan otak, mereka yang memiliki Brain Burst dapat menghabiskan waktu teramat lama di ‘dunia yang dipercepat’ ini, sampai mereka bahkan bisa kehilangan korelasi mereka akan apa yang terjadi di dunia nyata dan mengalami perubahan pada kepribadian mereka. (Selama ini berlangsung, tubuh mereka di dunia nyata seakan membeku, sementara mereka bergerak di dunia virtual ini dengan Duel Avatar masing-masing.)

Setiap pertarungan antar Burst Linker ini diberi waktu, dengan semua Burst Linker lain yang berada di wilayah sekitar dapat menjadi penonton pertarungan. Si pemenang akan mendapatkan poin sebagai hadiah, sedangkan dia yang kalah akan kehilangan poin. Poin-poin inilah yang dipakai untuk level up sekaligus juga yang jadi ‘bayaran’ yang setiap Burst Linker harus berikan setiap kali mereka hendak ‘memperlambat waktu di dunia nyata.’

Rinciannya lebih rumit dari itu sih, sebab ‘melambatkan waktu di dunia nyata ini’ ada beberapa jenis. Mulai dari yang paling dasar, dengan hanya avatar online mereka saja yang bebas bergerak (di dunia virtual ‘tiruan’ yang dapat dijelajah, terbentuk berkat implementasi social camera di atas) sementara tubuh asli mereka ikut membeku; sampai yang paling canggih dengan bayaran poin paling mahal, untuk menggerakkan tubuh nyata dengan kecepatan tinggi sesuai perlambatan waktu ini. Tapi intinya kurang lebih begitu.

Burst Linker yang sampai kehilangan seluruh poin mereka, sampai benar-benar nol, juga akan mengalami uninstall paksa dari program Brain Burst mereka. Jadi dalam setiap pertarungan, ada resiko nyata yang benar-benar mereka pertaruhkan.

Ceritanya, Kuroyuki-hime kemudian membantu Haruyuki mengatasi masalah penindasan yang dialaminya. Sebagai balasannya, Haruyuki, dengan Duel Avatar-nya yang baru, bersedia membantu Kuroyuki-hime di kasoku-sekai. Terutama karena setelah menjelma menjadi Burst Linker Silver Crow, Haruyuki segera menimbulkan sensasi karena kemampuan khususnya untuk ‘terbang’ belum pernah dimiliki Burst Linker manapun sebelum dirinya…

Wake up your brain!

Sejujurnya, yang benar-benar ‘kena’ buatku dari Accel World adalah penggambaran karakter Haruyuki. Dari pengecut, pasrah, dan cengeng, Haruyuki berubah jadi orang yang sanggup bangkit dan melakukan sesuatu buat dirinya dan sekelilingnya. Penggambarannya itu segitu alaminya sampai kelihatan keren.

Oke. Mungkin enggak segitunya sih.

Mungkin ini terkait juga dengan bakat Kawahara-sensei dalam membuat karakter-karakter antagonis yang benar-benar terasa kebrengsekannya.

Sehubungan dengan itu, aku sempat agak hilang minat terhadap seri ini saat ceritanya berfokus pada aspek gaming-nya daripada karakternya. Tapi itu enggak berlangsung lama, karena sisi bagus seri ini segera back on track sesudahnya.

Jadi ceritanya, semakin tinggi level seorang Burst Linker, semakin banyak poin yang mereka perlukan untuk level up. Lalu besarnya poin yang dapat dimenangkan bergantung pada perbedaan level kita dengan level lawan. Kuroyuki-hime tidak lain adalah Burst Linker legendaris bernama Black Lotus, salah satu ‘Raja’—satu dari sekian sedikit Burst Linker veteran yang telah mencapai Level 9.

Para Raja ini mampu memiliki ‘pengikut’ dan membentuk kelompok-kelompok mereka sendiri gitu yang disebut Legion (mirip guild kalau dalam MMORPG). Lalu setiap Legion ini bersaing dengan satu sama lain untuk berebut pengaruh di dunia yang dipercepat.

Namun ternyata, bagi para Burst Linker yang telah mencapai level 9, ada perubahan aturan berdampak fatal yang kemudian mengubah banyak sekali hal. Ternyata, kekalahan sekali saja bagi seorang Raja berakibat pada ter-uninstall-nya Brain Burst bagi mereka. Sementara di sisi lain, untuk mencapai level maksimal, yaitu level 10, poin yang didapat dari seseorang yang ‘setara’ dengan mereka akan diperlukan.

Dengan besarnya resiko yang dipertaruhkan, semacam status quo pada akhirnya terjadi antara para Raja dan Legion masing-masing. Padahal, telah beredar desas-desus bahwa tujuan sebenarnya dibuatnya Brain Burst serta siapa pengembangnya hanya akan diperlihatkan kepada mereka yang telah mencapai level 10.

Sebagian besar Burst Linker, dengan kekhawatiran bahwa Brain Burst akan berakhir begitu ada yang mencapai Level 10, lebih menyetujui status quo ini ketimbang konflik antar Raja. Tapi Black Lotus tak bisa menerima kestagnanan ini. Ia akhirnya melakukan sesuatu yang membuatnya secara harfiah diburu oleh para Raja lain, baik di dunia nyata maupun di dunia yang dipercepat.

Hanya sesudah pertemuannya dengan Silver Crow, Black Lotus kemudian menampakkan diri kembali di dunia Burst Linker. Itu dilakukannya sekaligus dengan pernyataan kebangkitan kembali Legion hitam miliknya, Nega Nebulous, dengan Haruyuki sebagai pengikut setianya, yang bermarkas di wilayah Suginami.

Ada banyak persoalan seputar hubungan antar manusia yang diangkat dalam Accel World. Terutama karena Brain Burst dapat digunakan para Burst Linker untuk mengatasi berbagai tantangan kehidupan di dunia nyata. Terlebih dari itu, untuk suatu alasan, kelihatannya hanya mereka yang memiliki semacam ‘trauma masa lalu’ saja yang dapat menginstal Brain Burst.

Dalam hal ini, dituturkan bagaimana Haruyuki menghadapi dampak penindasan yang dulu dialaminya; soal keretakan hubungan persahabatan lamanya dengan dua sahabat masa kecilnya, Kurashima Chiyuri yang dianggapnya terlalu perhatian padanya, dan Mayuzumi Takumu, murid atletis yang telah menjadi pacar Chiyuri; serta bagaimana ia membantu Kuroyuki-hime mengatasi trauma-trauma pribadinya sendiri.

Meski anime ini jelas belum menutupi seluruh cerita yang tertuang dalam seri novelnya, sampai masa tayangnya berakhir, tema utama dari seri ini tetap lumayan tersampaikan dengan baik.

Kecendrungan buruk Kawahara-sensei dengan penggambaran sifat para karakter ceweknya yang ‘aneh’ agaknya, sayangnya, masih ada (dan kayaknya tim produksi agak ngedukung beliau dalam aspek ini). Tapi kayak biasa, aku bertahan ngelewatin itu. Apalagi dengan gaya khas beliau dalam membuat plotnya tak tertebak di bagian-bagian yang paling tak terduga.

It’s a Burst of Sensation

Bicara soal teknis, mengingat wujud setiap Duel Avatar yang agak kayak berlapis logam, waktu aku dengar Accel World dianimasikan, aku sangka render 3D seperti yang Sunrise gunakan di Tiger & Bunny akan ada lagi. Tapi ternyata enggak juga.

Walau begitu, visualisasinya sama sekali enggak buruk kok. Adegan-adegan pertarungannya fluid dan cukup enak diikuti. Dramatisasi pada beberapa bagian kayaknya kurang pas. Tapi aku susah bayangin hasil akhir animenya lebih baik dari ini.

Aku benar-benar suka dengan bagaimana Tokyo masa depan di seri ini digambarkan. Baik dalam bentuk penggambaran sekolah Haruyuki, gedung apartemen tinggi yang dihuninya bersama Takumu dan Chiyuri, sampai interior rumahnya yang cantik.

Visualiasi Brain Burst memang agak tak seperti yang semula kubayangkan sih, dengan life gauge berkesan heavy metal dengan motif api dan rantai. Tapi lama-lama aku terbiasa, dan aku kemudian mikir, ‘Ini boleh juga kok.’

Walau aku ngerti perasaan kalo anime-nya pasti kerasa kalah keren ketimbang isi novelnya, sebenarnya, aku tetap agak ngerasa kalau adaptasi ke bentuk anime Accel World masih lebih berhasil ketimbang SAO. SAO itu agak… bikin mereka yang sebelumnya udah nikmatin cerita dalam novelnya merasa ‘kurang’ atau ‘terasing’. Tapi anime Accel World, mungkin juga karena Sunrise yang bikin, kerasa kayak ‘boleh juga’ buat aku yang udah lumayan baca novelnya. Kejutan-kejutan dunia nyatanya kerasa kurang ngejutin bila dibandingkan dengan di novel. Mungkin karena masalah durasi. Tapi secara umum animenya seenggaknya tetap masih bisa kusukai.

Accel World itu tetap sesuatu yang agak… geekish. Arah perkembangannya juga gaje. Jadi mungkin itu alasan kenapa seri ini kalah terkenal dibanding SAO. Tapi penanganan karakter-karakternya, yang jumlahnya lebih banyak dan bervariatif, menurutku lebih baik. Lalu, meski awalnya gaje, saat ceritanya berkembang, perkembangannya memang menarik. Apa yang kurasa kudapat setelah menontonnya terasa kayak jauh lebih banyak dari yang sebelumnya kusangka. (Soal ini mungkin cuma aku doang sih.)

Karakter Kuroyuki-hime, yang stoic dan ‘dingin’ dalam keadaan biasa, tapi bisa bersikap menggoda bila urusannya menyangkut Haruyuki, menjadi salah satu sorotan yang agak unik buat seri ini.

…Oke, sebenarnya biasa saja sih.

Mungkin yang merasa begitu juga cuma aku saja.

Jadi kurasa ini  emang seri yang agak hit or miss, suka apa enggaknya benar-benar tergantung kamu. Apalagi terkait dengan sejauh mana kau bisa suka (ato ngetawain) sifat cengeng Haruyuki sendiri. Tapi kalau kamu termasuk orang yang bisa ngeh sama Accel World, kayaknya kamu bakal jadi orang yang benar-benar suka.

Selain visualisasi dunia virtual yang detil dan memikat, aspek audio seri ini benaran keren. Semua lagunya, yang kebanyakan punya warna techno, beneran enak didengar. May’n beserta Kotoko sama-sama menyumbang lagu. Para seiyuu pun beneran menampilkan hasil kerja bagus. Ini seri yang lumayan unggul dari segi audio juga.

Akhir kata, kalau kau seorang gamer, pengkhayal teknologi, atau penasaran soal perubahan, atau bahkan sekedar suka melihat karakter-karakter brengsek yang benar-benar bersikap brengsek, ada kemungkinan lumayan kau bakal menikmati Accel World. Meski 24 episode ini hanya mencakup cerita dari buku 1 sampai buku 4, dari 14 buku yang sudah terbit (tepatnya, sampai akhir konfrontasi panjang dengan Dusk Taker), perkembangan ceritanya lumayan kok. Selebihnya, berhubung temanya geekish dan enggak umum, apalagi para karakter cewek kadang ditampilkan agak… yah, kurang riil? Palingan kau hanya bakal berpikir dua kali dalam mempertimbangkan untuk mengikutinya.

Pastinya, kalau kau ingin sesuatu yang ‘lebih’ sesudah SAO, coba periksa Accel World.

Di awal, mungkin kau takkan bisa terlalu serius menanggapinya. Tapi kalau kau bertahan, mungkin kau bakalan terkejut.

(Belakangan ini terbit pula kisah spin off Accel World, yakni Accel World/Dural: Magisa Garden. Ceritanya berlatar setahun sesudah awal cerita Accel World, dan mengetengahkan karakter baru Chigira Chiaki di sekolah baru Akademi Putri Seibi. Mungkin ini kapan-kapan akan kuulas juga.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-