Posts tagged ‘J.C. Staff’

20/07/2014

A Certain Magical Index Movie: The Miracle of Endymion

Gekijouban To Aru Majutsu no Index: Endymion no Kiseki, atau juga dikenal sebagai A Certain Magical Index Movie: The Miracle of Endymion, sebenarnya agak malas kubahas.

Aku suka sih. Film layar lebar ini terbilang menarik dan memuaskan. Tapi, intinya, pada akhirnya, seluruh isi film ini hanyalah fanservice.

Bukan dalam artian vulgar sih. Tapi lebih ke gimana ini sepenuhnya dibuat semata-mata demi memenuhi pengharapan para penggemar. Kurang substansi. Seri Index memang sudah sangat terkenal sih, jadi kurasa itu wajar. Dan lagi, mempertimbangkan gimana cerita di animenya sudah jauh ketinggalan dibandingkan cerita di novel-novelnya, dibuatnya movie itu juga suatu pilihan yang wajar.

Film ini pertama keluar bulan Februari tahun 2013 lalu, dengan durasi satu setengah jam. Produksinya masih dilakukan oleh studio animasi J.C. Staff dengan dukungan dari banyak sekali pihak. Ceritanya berlatar kira-kira di pertengahan season kedua animenya. Mungkin tepatnya, ceritanya dimulai sesudah konflik yang melibatkan Remnant Tree Diagram (dicirikan lewat luka-luka yang masih diderita Shirai Kuroko sesudah duel mautnya dengan Musujime Awaki), tapi sebelum ajang Daihaseisai yang melibatkan konflik antara Kamijou Touma dan kawan-kawan melawan Oriana Thomson dan Lidvia Lorenzetti.

Rentang waktu ceritanya memang agak panjang. Cerita movie ini sendiri berakhir agak di pertengahan masa Daihaseisai. Tapi berhubung agak memusingkan, lebih banyak soal itu lebih baik enggak terlalu dipikirkan.

Sesuai yang judulnya implikasikan, ceritanya berpusar pada konflik pendirian space elevator Endymion di Distrik 23 Academy City, yang tak dinyana kembali memicu konflik dalam perseteruan panjang antara sisi sains dan sisi sihir.

(Buat kalian yang kebingungan space elevator itu apa, hmm, bayangin sesuatu yang mirip dengan apa yang ada di Gundam 00)

Kau percaya pada keajaiban?

Seperti yang bisa diharapkan dari cerita-cerita di seri Index, agak susah memaparkan konfliknya secara gamblang karena banyaknya hal yang terjadi.

Dikisahkan sekitar tiga tahun sebelumnya, terjadi kecelakaan dahsyat yang melibatkan pesawat luar angkasa Spaceplane Orion buatan perusahaan Orbit Portal Company. Pesawat ini tengah melakukan penerbangan uji pertamanya, dan kecelakaan yang terjadi memaksa mereka kembali ke Bumi. Terdapat 88 orang penumpang dalam pesawat itu. Namun secara ajaib, sang pilot berhasil mendaratkan kembali pesawat, dan kedelapan puluh delapan orang di dalamnya ditemukan selamat. Insiden ini yang kemudian dikenal sebagai Insiden Orion, atau juga dikenal dengan sebutan Miracle 88.

Di masa kini, seorang bintang pop baru bernama Meigo Arisa tengah naik daun sebagai penyanyi di Academy City. Lalu Touma, beserta Index, secara kebetulan berjumpa dan berkenalan dengannya.

Seperti halnya Touma, Arisa ternyata adalah seorang Level 0 yang tak memiliki kekuatan istimewa sebagai esper. Namun dirinya merasa memiliki bakat dan keistimewaan tertentu dalam menyanyi. Karena itu, dirinya menjadikan nyanyian sebagai bidang yang ditekuninya.

Lalu seperti halnya Touma lagi, Arisa juga pernah kehilangan ingatannya. Dirinya tak memiliki ingatan apa-apa sampai sekurangnya tiga tahun lalu. Namun Arisa tak membiarkan hal ini menghalangi upayanya dalam mengejar cita-citanya.

Masalah kemudian timbul saat penyihir api Stiyl Magnus, beserta ketiga muridnya dari Necessarius (karakter-karakter orisinil yang pertama ditampilkan buat film layar lebar ini): Marie Spearhead (pirang, semacam pemimpin bagi kedua kawannya; spesialisasi sihir air melalui sapu), Mallybath Blackball (berambut coklat, serius, namun sedikit ceroboh; spesialisasi sihir tanah yang dilepaskannya lewat pena bulunya), dan Jane Elves (serius, berbadan kecil, mempunyai nekomimi; spesialisasi dalam sihir angin lewat kipas), tiba-tiba saja hadir untuk mengabduksi Arisa.

Menilai kekuatan nyanyian yang Arisa miliki, Kanzaki Kaori kemudian mengungkapkan pada Touma bahwa ada kemungkinan kalau Arisa adalah seorang Saint yang baru ditemukan. Lalu keberadaannya di tengah Academy City akan dapat memicu konflik baru antara kubu sains dan sihir.

Meski Touma dan Index terlibat saat mencoba melindungi Arisa, upaya Stiyl digagalkan oleh Black Crow Unit, salah satu pasukan pengaman swasta Academy City.

Black Crow Unit dipimpin seorang gadis Level 4 bernama Shutaura Sequenzia. Shutaura memiliki kekuatan esper yang disebut Earth Pallete, yang memungkinkannya menyimpan daya ledakan dalam elemen-elemen tanah langka yang disimpan dalam untaian-untaian cakram. Sesudah berhadapan dengan Kanzaki, Shutaura kemudian memperingatkan Touma untuk tak lagi terlibat dengan Arisa untuk alasan yang saat itu tak ia ungkapkan.

Tanpa sepengetahuan publik, meski resminya berada di bawah yuridikasi Academy City, Black Crow Unit sesungguhnya berada di bawah perintah Ladylee Tangleroad, gadis muda yang merupakan CEO terkini dari Orbit Portal Company.

Sebagai bentuk peringatan atas Miracle 88, Orbit Portal Company dalam waktu dekat akan meresmikan space elevator Endymion yang saat itu baru tuntas konstruksinya, di wilayah seputaran tempat pesawat Orion dahulu melakukan pendaratan darurat. Lewat Endymion, tingkat penjelajahan baru atas angkasa luar diyakini akan dapat dilakukan, dengan kemudahan pemindahan material-material konstruksi melalui elevator ini. Mereka hendak mencari talenta penyanyi baru yang akan mengisi bagian seremonial dari ajang peresmian ini.

Ladylee karena suatu alasan kemudian menugaskan Shutaura untuk melindungi Arisa. Sekalipun Shutaura sangat membenci keyakinan-keyakinan soal ‘keajaiban’ yang menjadi tema nyanyian Arisa. Shutaura juga karena suatu alasan selalu mengalami sakit kepala setiap kali ada suara musik diperdengarkan.

Arisa kemudian mengikuti audisi yang Orbit Portal Company laksanakan, dengan ditemani kawan-kawannya: sang Electromaster Level 5 dari sekolah putri Tokiwadai, Misaka Mikoto, dan teman-teman dekat Misaka: Shirai Kuroko, Uiharu Kazari, dan Saten Ruiko yang telah menjadi penggemarnya. Serangkaian hal terjadi, yang menegaskan adanya ancaman terhadap keselamatan Arisa. Lalu lambat laun Touma dan Index pun menyadari betapa besarnya dampak yang akan Endymion berikan terhadap keseimbangan kekuatan antara kubu sains dan sihir.

Meski bernaung di bawah Academy City, Ladylee kemudian diketahui adalah seseorang yang berasal dari sisi sihir. Dirinya memiliki kepentingan tertentu terkait Arisa dalam rencana besarnya yang berkaitan dengan pembangunan Endymion. Lalu saat sudah jelas apa yang sedang terjadi, semua sudah terlambat, dan keselamatan seisi dunia sekali lagi menjadi pertaruhan.

…Is in your heart

Dari segi presentasi, sesuai pengharapan, movie ini benar-benar keren. Dunia Academy City tampil dalam wujud paling kerennya sejauh ini. Ada skyline yang terlihat teramat panjang, serta deretan gedung besar yang menyala setiap malam. Aksi-aksi yang timbul pun berkesan. Secara pribadi aku merasa highlight seri ini dari segi visual adalah permesinan mobile weaponry yang digunakan oleh Black Crow Unit sih, serta pada desain struktur menara Endymion sendiri yang mencapai sekurangnya 35.000 kilometer dari pemukaan Bumi. Desain futuristisnya beneran keren, dengan banyak detil yang kerasa kayak sayang kalau hanya dilihat sebentar.

Di sisi lain, soal ceritanya… hmmm, ceritanya benar-benar khas cerita To Aru Majutsu no Index. Plotnya agak rumit dengan tempo bergerak cepat, karakter-karakter yang banyak, serta penuntasan cerita yang mungkin memerlukan sejumlah deduksi dan pemikiran ulang bagi mereka-mereka yang benar-benar penasaran.

Dengan kata lain, ceritanya—kayak yang bisa diharapkan—berakhir agak lebih ‘dalam’ dari yang mungkin kau kira.

Kerasa ada plothole. Tapi petunjuk-petunjuk untuk mengisinya sepertinya sudah ada. Tapi ini sudah biasa untuk ukuran cerita Index, yang cakupannya memang sudah teramat luas dan panjang. Di samping itu, kayak biasa, bagian-bagian cerita yang belum beres ini seakan nyambung dengan bagian-bagian cerita yang lain. Jadi aku berusaha untuk enggak mempersoalkan soal itu.

Ditambah lagi, ada banyak karakter yang seakan ter-summon ‘turut membantu’ dalam adegan penentuan saat Misaka dan kawan-kawan harus mencegah runtuhnya Endymion, di antaranya meliputi si agen ganda Tsuchimikado Motoharu, klon-klon Misaka yang dibawa Misaka Imouto, serta Level 5 peringkat satu, Accelerator.

Adegan-adegan aksinya terbilang keren. Tapi mungkin bakal terasa agak mengecewakan bagi sebagian orang.

Kita puas sih. Kita bisa melihat Accelerator melayang di udara bersama Last Order dan menciptakan kehancuran massal seketika. Misaka masih mengambil tindakan secara mandiri dan kita bisa melihat tembakan Railgun khasnya. Lalu Kanzaki pun melakukan suatu hal gila yang—kalau mengacu soal timeline cerita novel-novelnya di atas—akan dilakukannya lagi tak lama kemudian.

Tapi terasa seperti ada sesuatu yang agak kurang gitu. Seperti yang paling terasa dalam konfrontasi terakhir antara Touma melawan Shutaura di depan panggung konser Arisa. Rasanya seperti kurang jelas si ini ke sini untuk apa, lalu si itu ke sana sebenarnya dengan maksud apa. Lalu tahu-tahu semuanya terjadi saja.

Agak susah buat menggambarkannya tanpa spoiler. Tapi kemungkinan adegan-adegan aksinya dibuat demikian karena mempertimbangkan dari segi timeline, pada klimaks film ini, Touma masih memulihkan diri dari luka-luka yang dideritanya sesudah melawan Oriana. Demikian pula Accelerator, yang masih belum terbiasa dengan batas waktu baru untuk penggunaan kekuatan espernya, sesudah insiden yang membuatnya nyaris cacat. Lalu, seperti yang sudah disinggung tadi, Kuroko—yang banyak berkontribusi terhadap kerennya adegan-adegan aksi di versi anime To Aru Kagaku no Railgun—pun karena luka-lukanya masih menggunakan kursi roda.

Lalu… euh, soal itu, mengingat posisi ceritanya yang memang agak ‘aneh’ pada linimasa tersebut, saat kau mencoba memikirkannya lagi, memang kerasa kayak… agak gimanaa gitu saat kau mencoba menyusun kepingan-kepingan ceritanya.

Seperti dalam adegan saat Touma keluar dari rumah sakit untuk menolong Arisa. Kalian yang sudah akrab dengan seri ini bisa tiba-tiba menyadari kalau Touma dirawat sebenarnya bukan karena luka-luka yang didapatnya dalam adegan sebelumnya, melainkan karena luka-luka yang didapatkannya dari Oriana dalam cerita di seri TV-nya. Hal serupa terjadi bagi kalian yang mengikuti versi manga To Aru Kagaku no Railgun. Mungkin kalian akan menyadari apa yang Kongou Mitsuko maksud soal pertandingan balap lari tiga kaki yang dilaluinya bersama Misaka. Adegan itulah yang mengindikasikan kalau sebagian film ini berlangsung saat masih Daihaseisai.

Aku tak tahu soal kalian. Tapi kesadaran-kesadaran kayak gini memberiku campuran antara perasaan senang dan sebal.

Yah, ini yang kumaksud sebagai fanservice.

Maka dari itu, kurasa bisa dibilang bahwa yang paling akan menikmati film ini memang adalah mereka yang sudah menjadi penggemar lama seri ini. Para penggemar baru juga mungkin masih akan bisa menikmatinya, tapi ada kemungkinan mereka hilang acuan soal ini siapa dan itu siapa.

Oh, dan dengan adegan-adegan konsernya, nuansa film ini memang jadi mirip dengan nuansa film layar lebar Macross Frontier. Tapi soal itu kayaknya tak bisa diapa-apakan lagi.

Soal Besok

Akhir kata, ini film yang seru dan menarik kok. Selaku penggemar seri Index, aku merasa lumayan bisa menikmatinya. Walau secara pribadi aku merasa ceritanya tak sememuaskan yang aku harap sih.

Berhubung cerita utama seri Index sudah terlanjur dibuat jauh (seriusan, cerita seri-seri novelnya sudah jauh banget dari animenya), cerita film ini memang agak me-retcon beberapa hal yang sudah terbangun dalam cerita versi novel dan anime Index. Di antaranya, soal tingginya tiang Endymion yang bisa terlihat dari kejauhan—yang secara teratur ‘disesuaikan’ dalam anime To Aru Kagaku no Railgun S. Tapi secara umum ceritanya tak begitu menyinggung versi cerita yang sudah ada.

Soal canon atau enggaknya… berhubung Arisa sempat disinggung dalam salah satu novel New Testament yang belakangan terbit, maka apa-apa yang terjadi di film ini kurasa bisa dikatakan adalah canon.

Ada cerita prekuel lepas untuk seri ini berjudul To Aru Majutsu no Index: Road to Endymion, yang secara umum membeberkan lebih jauh soal sisi politis yang Endymion miliki. Ceritanya terjadi saat sekelompok penyihir lagi-lagi menginfiltrasi Academy City, sebelum status Endymion sebagai space elevator dipublikasikan ke khalayak luas, dan Touma serta Index lagi-lagi terlibat untuk mencegah suatu bencana besar yang mungkin terjadi. Cerita ini termasuk bagian dari salah satu cerita game To Aru Majutsu to Kagaku no Ensemble untuk konsol Sony PSP, yang berlatar beberapa waktu sebelum Daihaseisai, pada kurun waktu sekitar insiden Remnant terjadi. Lalu di dalamnya ada lebih banyak lagi hal gila yang terjadi di belakang layar, melibatkan seorang tokoh bernama Pantagruel dan sistem SNS Rondo Net yang membolak-balikkan antara dunia maya dan realita.

Yeah, cerita di seri Index memang sudah serumit itu.

Aku masih agak malas untuk mendalaminya sih. Tapi secara berkala kurasa aku tetap akan memperhatikan perkembangannya juga.

(Soal apa sebenarnya Arisa? Kurasa soal itu memang sengaja dibiarkan ambigu hingga akhir.)

(Sekolah Arisa? …Kurasa Kirigaoka, mengingat langkanya kemampuannya. Tapi mungkin aku salah.)

(Eh? Soal apa sebenarnya Ladylee? Mengingat nasibnya berakhir di tangan Academy City, kurasa dia sesuatu yang mirip dengan Frauleine Kreatune di novel-novelnya.)

…Sebentar. Setelah kupikirkan lagi, mengingat fanboy di dalam diriku berhasil dibuat menjerit “Saten-saaaaaaaaaaaan!” saat Saten Ruiko akhirnya mendapat kesempatan bicara pertamanya dalam sebuah anime Index, mungkin movie ini sebenarnya bisa dinilai memuaskan?

Hmm. Entahlah.

Aku pribadi sesudah menonton tak mendapat banyak hal baru selain sedikit perenungan soal ini dan itu. Tapi mungkin lebih baik kalian menilai sendiri.

Penilaian

Konsep: B; Visual: S; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

Iklan
02/10/2013

To Aru Kagaku no Railgun S

Jadi, uh, To Aru Kagaku no Railgun S adalah musim tayang kedua dari seri anime To Aru Kagaku no Railgun. Seri ini juga dikenal sebagai A Certain Scientific Railgun, yang didasari manga berjudul sama buatan Kamachi Kazuma dan Fuyukawa Motoi. Total episodenya 24, dengan J.C. Staff kembali sebagai studio yang menangani produksi animasinya.

Kali-kali masih ada juga yang belum tahu, seri ini merupakan gaiden dari seri To Aru Majutsu no Index yang juga dibuat Kamachi-sensei. Ceritanya berbagi latar dan sejumlah tokoh yang sama. Lalu season kali ini sama-sama mengetengahkan bab cerita Sisters yang juga dipaparkan dalam seri tersebut.

Tim produksi yang sama dengan di musim sebelumnya kembali menangani. Nagai Tatsuyuki kembali menjadi sutradara, dan skenario kembali ditulis oleh Minakami Seishi. (Aku beneran mulai penasaran dua orang ini sebenarnya sekeren apa.)

Rumor-rumor

Sebelum membahas soal ceritanya, biar aku sebutkan beberapa hal menarik terkait latar belakang animenya dulu.

Pertama, anime ini dibuat tak lama sesudah usainya produksi film animasi layar lebar dari To Aru Majutsu no Index: Endymion no Kiseki beberapa waktu lalu. Ada suatu teknologi animasi ‘tertentu’ yang pertama diimplementasikan dalam film layar lebar tersebut. Sehingga untuk pertama kalinya teknologi tersebut diterapkan juga pada serial televisi ini. Hasilnya adalah kualitas animasi yang benar-benar terasa mengalami peningkatan dibandingkan seri-seri sebelumnya.

Ini paling terasa dari adegan-adegan aksinya sih. Season pertamanya memang sudah keren. Tapi Railgun S menampilkan banyak adegan pertempuran yang masih lebih keren lagi dibandingkan apa yang ditampilkan dalam musim tayang pertama.

Kedua, berhubung ceritanya yang ‘demikian,’ film layar lebar Endymion no Kiseki jadi menghadirkan menara orbital elevator (bentuknya seperti tiang ramping dengan dasar berpusar yang menjulang hingga ke luar angkasa) di tengah-tengah kota Academy City yang menjadi latar cerita ini. Agak serupa dengan sedikit adegan retcon yang dipaparkan dalam pembukaan Endymion no Kiseki, kini pada adegan-adegan yang menampilkan pemandangan perkotaan Academy City, bentuk menara Endymion akan bisa terlihat dari kejauhan. Tentunya penambahan ini dilakukan seiring dengan bertambahnya pula detil kota Academy City pada adegan-adegan lainnya. (Temanku bahkan sampai ada yang berkomentar, saking bagusnya perombakan animasi ini, maka semestinya mereka sekalian membuat ulang saja seluruh anime To Aru Majutsu no Index dari awal.)

Ketiga, soal masa berlangsungnya cerita ini. Dibandingkan Index, masa berlangsungnya cerita Railgun memang agak tertinggal. Cerita Railgun S bahkan masih belum menyentuh titik awal waktu ketika cerita di musim tayang kedua anime Index terjadi. Memang agak membingungkan. Tapi Railgun S berlangsung kira-kira dari sepertiga awal sampai penghujung bulan Agustus, dengan adegan epilognya terjadi pada minggu-minggu awal September. Kalau membandingkannya dengan perkembangan cerita di Index, maka cerita Railgun S dimulai tak lama sesudah insiden Deep Blood yang melibatkan penyelamatan Himegami Aisa selesai, dan berakhir… beberapa hari sesudah Angel Fall? Pastinya sih, sebelum insiden dengan Kazakiri Hyouka dan penyerangan Sherry Cromwell.

Mungkin.

Sial. Aku juga tak yakin.

Pastinya, Railgun S terdiri atas dua bagian cerita besar: yakni bab cerita Sisters, yang memaparkan awal mula bagaimana Misaka Mikoto mengetahui adanya pihak-pihak tertentu yang memproduksi massal klon dirinya (sedikit me-retcon apa yang dipaparkan dalam prolog buku pertama seri novel To Aru Majutsu no Index); serta bab Silent Party, yang memaparkan revolusi yang akan dilakukan suatu kelompok rahasia bernama STUDY untuk menggulingkan dominasi kaum Esper atas Academy City. Kedua bab ini memiliki fokus cerita yang lumayan terpisah, tapi tetap dengan benang merah yang cukup kuat yang menghubungkan keduanya.

Ngomong-ngomong, sekali lagi, aku lumayan terkesan dengan eksekusinya. Seri anime To Aru Majutsu no Index tak dapat disangkal dari dulu punya pengaturan tempo yang agak bermasalah. Tapi seri To Aru Kagaku no Railgun, sebaliknya, seakan sempurna teknik pacing-nya. Format ceritanya yang kepisah menjadi dua bagian besar, yang sekilas kelihatan kayak sama sekali enggak berhubungan itu, membuatku mengira klimaks cerita di Railgun S mungkin takkan sebagus di season pertama. Bagi beberapa orang, mungkin memang masih belum menyamai sih. Tapi secara ngejutin, buatku hasilnya lumayan mendekati.

Lalu seri Railgun kayaknya telah memberi prioritas lumayan gede terhadap pemberian fanservice bagi para penggemar. Jadi walau enggak sampai menampilkan hal-hal vulgar, ada suatu kesan ‘tertentu’ dengan gimana kesemua karakter cewek muda di seri ini ditampilkan. Kayak, seakan… menonjolkan ‘kemanisan’ dan ‘kemudaan’ yang mereka miliki gitu. Tapi sudahlah. Bahkan dengan kebijakan kayak gitu, ceritanya menurutku tetap seru dan bagus kok.

…Seenggaknya menurutku.

…Walau ini salah satu seri anime yang akan kupuji habis-habisan, lebih baik kalian jangan memaksakan diri menonton bila kalian memang enggak tahan. Itu enggak akan sehat.

(Hei, ada juga kemungkinan kalau bab Silent Party sebenarnya berlangsung di bulan September. Tapi biar ini kuedit lagi saja sesudah ada konfirmasi pasti.)

Onee-sama e

Tak lama sesudah keberhasilan Misaka dan kawan-kawannya mempertemukan kembali Edasaki Banri dengan Haruue Erii di akhir season pertama, rumor mulai beredar tentang terlihatnya Misaka di tempat-tempat yang tak pernah didatanginya. Saten Ruiko kemudian menyebutkan bahwa telah beredar desas-desus pula kalau ada salah seorang Level 5—salah satu dari tujuh orang Esper terkuat di Academy City—yang telah diklon, sekalipun ada traktat internasional yang melarang tindakan-tindakan ilmiah macam demikian.

Misaka, merasakan firasat buruk akan desas-desus ini, menjadi teringat akan sebuah kenangan masa lalu saat ia mendonorkan peta DNA-nya untuk kepentingan suatu penelitian pengobatan penipisan otot. Meski semula berusaha mengesampingkan kekhawatiran ini, dirinya bertemu seseorang yang membawanya ke dalam suatu rangkaian mimpi buruk.

…Bagi mereka yang sudah tak asing dengan cerita To Aru Majutsu no Index, apa yang kemudian terjadi sudah tak perlu kupaparkan ulang sih. Lebih dari separuh pertama Railgun S menceritakan kembali pertemuan Misaka ‘dengan saudara-saudara perempuannya’ dari sejumlah sudut pandang lain, termasuk tentunya, dari sudut pandang Misaka sendiri.

Railgun S menceritakan soal konflik ini lebih mendalam dengan menuturkan pertemuan pertama Misaka dengan Nunotaba Shinobu. Nunotaba adalah gadis remaja sekaligus peneliti jenius yang membeberkan soal kenyataan ini kepadanya. Khususnya soal bagaimana bagaimana saudari-saudarinya, yang semula diciptakan untuk sesuatu yang bernama Radio Noise Project, kemudian dialihkan sebagai sasaran pembantaian dalam Level 6 Shift Project untuk mengubah Accelerator, Esper Level 5 terkuat di Academy City yang sudah sangat menakutkan, menjadi Level 6. Berita ini memicu Misaka untuk melakukan serangkaian aksi terorisme seorang diri ke berbagai lembaga penelitian di Academy City demi mencegah berlanjutnya proyek ini.

Perkembangan ceritanya lumayan sejalan dengan apa-apa yang dipaparkan dalam Index, lengkap sampai ke pilihan kata-kata dalam dialog-dialog yang terjadi. Mungkin memang tak seseru yang diharapkan, karena kita sudah tahu ceritanya sih. Tapi karena dipaparkan dari sudut pandang sejumlah karakter lain, nuansanya terus terang jadi lumayan berbeda. Lalu memang jadinya menarik berhubung ada sejumlah perkembangan yang cuma bisa kita pahami awal mulanya kalau mengikuti Index.

Pertemuan kembali Misaka dengan Kamijou Touma, anak SMA yang sering berpapasan dengannya di jalan dan kemudian akan menyelamatkannya, termasuk salah satu yang beda. Pertemuan kembali mereka sesudah Kamijou kehilangan ingatannya, yang berujung pada keduanya dikejar robot-robot sekuriti, memiliki kesan yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan saat diceritakan dalam Index.

Misaka Imouto (alias Misaka 10032), ‘adik’ Misaka yang paling menonjol, meski berperan, tak tampil semenonjol di Index. Cerita Railgun S lebih menghadirkan sejumlah klon Misaka lain dan kejadian-kejadian yang melibatkan mereka.

Bahkan dalam duel penentuan antara Touma dan Accelerator (yang kelihatannya telah sepenuhnya dibuat ulang, sekalipun adegan-adegannya sama), isi pikiran dan masa lalu Accelerator juga diungkapkan sehingga dirinya digambarkan lebih simpatik. Fokus selama pertarungan juga lebih diberikan pada bagaimana Misaka menggalang saudari-saudarinya untuk bersatu dalam satu upaya penghabisan untuk mencoba mengubah nasib mereka.

Menghadang Misaka dalam langkahnya menghancurkan satu per satu lembaga yang mendukung Level 6 Shift Project adalah ITEM (baca: ai-tem, harfiah berarti ‘benda’). Sebagaimana dengan GROUP yang diperkenalkan pada penghujung cerita Index II, ITEM merupakan salah satu kelompok bawah tanah yang bekerja di balik bayang-bayang Academy City.

ITEM beranggotakan empat orang perempuan: Kinuhata Saiai, seorang anak usia SD dengan kemampuan Offense Armor yang mampu mengendalikan lapisan nitrogen secara bebas di udara, dan membuatnya seakan memiliki tenaga dan kemampuan pergerakan luar biasa (dia punya kebiasaan menggunakan kata ‘chou’ atau ‘super’ dalam ucapan-ucapannya); Frenda Seivelun, seorang gadis bule mungil manja dengan kemampuan memanfaatkan goresan kapur dan boneka sebagai peledak; Takitsubo Riko, gadis pendiam berkesan sakit-sakitan dengan kemampuan AIM Tracer yang memungkinnya merasakan pergerakan partikel AIM yang menyertai semua pengguna kekuatan;  serta Mugino Shizuri, gadis modis yang bisa menjadi teramat kejam yang juga dikenal sebagai Meltdowner, Level 5 terkuat keempat di Academy City. Mugino mampu mengeksitasi elektron-elektron di udara ke kondisi tak stabil (antara ‘energi’ dan ‘materi’) hingga berubah menjadi sinar-sinar penghancur, yang daya serangnya mungkin melebihi kemampuan Railgun milik Misaka sendiri.

Berbagai intrik yang Misaka dan Nunotaba hadapi dalam membebaskan klon-klon Misaka, serta konflik mereka dengan ITEM, terus terang menjadi salah satu daya tarik utama Railgun S. Ini terutama terasa berhubung sepanjang bab Sisters, teman-teman Misaka: Shirai Kuroko, Uiharu Kazari, serta Saten Ruiko; seperti bisa dimaklumi, tak tampil sebanyak seperti di dalam musim tayang pertama. Tapi sebagian konflik ini—walau sebagian ceritanya sudah kita tahu—benar-benar tetap seru dan tersampaikan secara baik.

Eh, daripada seru, nuansanya lebih terasa seperti serius dan berat. Hampir enggak kayak nuansa To Aru Kagaku no Railgun yang biasa.

Tapi yah, intinya tetap bagus.

Harapan di Kota Ini

Barulah sesudah memasuki bab Silent Party, nuansa ceritanya kembali seperti biasa.

Berlatar menjelang eksibisi sains di Academy City, Misaka dan kawan-kawannya menjumpai gadis kecil misterius bernama Febrie, yang karena suatu alasan mengenali nama Misaka Mikoto. Seiring dengan upaya mereka mencari tahu soal siapa identitas anak hilang ini, mereka mulai menyadari hal-hal tertentu tentangnya yang sama sekali tak wajar.

Lalu meski ceritanya semula terkesan seperti ‘tempelan’ kalau dibandingkan dengan suramnya bab Sisters, ada lebih banyak ‘kaitan’ yang tak kusangka antara bab ini dengan bab sebelumnya. Baik ITEM, Nunotaba, dan sejumlah karakter kejutan sama-sama berperan kembali. Ditambah lagi, seperti pada season pertama, season ini pun berhasil ditutup dengan adegan-adegan aksi yang beneran seru. Rangkaian theme song dari fripSide yang dimainkan pada interval-interval pendek di episode terakhir memberi kesan yang benar-benar keren.

Seakan menanggapi teriakan para fans, para karakter minor di seri ini menjadi jauh lebih berperan dibanding sebelumnya. Kehadiran ITEM sendiri merupakan suatu hal (mereka bakal berperan dalam kelanjutan cerita seandainya musim tayang ketiga Index jadi dibuat. Perkembangan ceritanya beneran mengejutkan lho. Kalian yang udah baca terjemahan novel-novelnya jangan kasih spoiler kepada yang belum!). Tapi karakter-karakter seperti Kongou Mitsuko, murid pindahan dari keluarga kaya dengan kemampuan Aero Hand, yang sebelumnya memandang dirinya sebagai saingan Misaka; dan Komori Mii, senior Kuroko dan Uiharu di kelompok pengamanan Judgment; menjadi lebih menonjol dari sebelumnya. Kongou kini tak lagi terlalu merasa kesepian karena sudah berteman dengan dua kenalan Misaka dari klub renang: Wannai Kinuho (pemilik Hydro Hand, semacam aquakinesis) dan Awatsuki Maaya (pemilik Float Dial, kemampuan mengendalikan tingkat keterapungan suatu benda). Sedangkan Komori-senpai banyak membantu dalam upaya Misaka dan kawan-kawannya menelusuri identitas Febrie.

Singkat kata, dengan komposisi seri yang kuat serta dukungan audio dan visual yang benar-benar bagus, Railgun S kelihatannya  memenuhi pengharapan penggemar dengan menjadi salah satu seri drama aksi terbaik di musim ini.

Belum ada kejelasan soal kapan franchise ini bakal berlanjut. Pengumuman lebih lanjut soal musim tayang ketiga Index masih juga belum ada saat ini kutulis. Aku curiganya sih mereka menunggu perkembangan cerita di manga Railgun agar bisa lebih menyamai rentang waktu yang telah dicapai di animenya (seri novel Index sudah lama ‘tamat’ btw).

Ngomong-ngomong soal itu, aku sudah membaca novel-novelnya sampai lumayan jauh. Dan melihat perkembangannya, aku memang ngerasa kalau musim tayang baru sepanjang dua cour buat Index mungkin memang enggak akan cukup untuk menampung skala ceritanya.

Aah, satu hal lagi.

Siswi Tokiwadai berambut pirang dan bermata aneh, yang membuat Misaka merasa agak gimanaa gitu pada episode awal dan episode terakhir seri ini, adalah Shokuhou Misaki, Level 5 terkuat kelima di Academy City yang memiliki kemampuan Mental Out, bentuk telepati terkuat yang bisa dimiliki yang bisa sampai memanipulasi ingatan dan kepribadian. Dia salah satu karakter baru yang kayaknya bakalan lebih banyak berperan dalam cerita-cerita ke sana.

(Bagi yang sempat memperhatikan, baik Amai Ao maupun Kihara Gensei juga sama-sama sempat tampil kembali. The Railgun series really is fanservice bliss.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

16/07/2013

Hentai Ouji to Warawanai Neko

Mungkin… memang akunya yang lemah terhadap suaranya Tamura Yukari belakangan.

Hentai Ouji to Warawanai Neko, atau The “Hentai” Prince and the Stony Cat, diangkat dari seri light novel karangan Sagara Sou dengan ilustrasi buatan Kantoku. Seri komedi romantis (enggak biasa) ini diterbitkan sejak tahun 2010 melalui label MF Bunko J milik penerbit Media Factory. Adaptasi anime-nya yang berjumlah 12 episode dibuat pada tahun 2013 oleh J.C. Staff.

Ini sebenarnya bukan seri yang kupikir akan kuminati. Perkembangan animenya kuikuti sampai tuntas pada musim lalu. Tapi aku tak pernah merasa suka terhadapnya atau apa.

Alasan aku tertarik, pada awalnya, mungkin cuma karena lagu pembukanya saja. Aku beritahu saja ini di awal. Kalau kau ‘tahan’ terhadap lagu pembuka dan animasinya, ada peluang kau akan suka anime ini. Tapi sebaliknya, kalau kau tak tahan terhadap lagu ataupun animasinya, tak sanggup menyaksikan dosis keimutannya yang sengaja dibikin agak berlebih, lupakan saja. Kayaknya Ini bukan seri yang bakal kau suka.

Selebihnya, untuk kasusku sendiri, aku ternyata cukup suka dengan lagu pembukanya. Tapi aku setengah mati tak tahan terhadap lagu penutupnya.

…Jadi mungkin dampaknya fifty-fifty buatku.

(Sial, aku ingin ngomongin apa sih?)

Bicara soal serinya sendiri, aku tertarik karena begitu aku pertama kali melihatnya, yang pertama terlintas di pikiranku adalah kata-kata, “…Ini apaan?”

Anime ini enggak nampilin sesuatu yang gila atau dahsyat atau kontroversial gitu. Tapi seri ini serius kayak… bikin aku enggak bisa bertanya-tanya kalo ini anime soal apa. Kayak, sesuatu yang maksudnya enggak langsung bisa kupahamin gitu. Lalu ternyata, sesudah melihatnya sendiri, enggak kayak biasanya buat anime dalam genre kayak gini, ini memang bukan anime yang apa-apa yang terjadi di dalamnya bisa segampang itu dipahami.

Aku langsung dibuat penasaran oleh apa-apa yang terjadi di dalamnya. Ceritanya memang nampilin hal-hal imut, kayak segi cinta pertama segitiga. Ditambah dengan sedikit bumbu-bumbu supernatural. Tapi dengan cara yang aneh, ceritanya berkembang menjadi agak lebih dalam dan ruwet daripada itu. Mungkin jadi agak kayak cerita misteri…

Aku tahu kalau Ushiromiya Kyrie dari seri Umineko no Naku Koro Ni pernah mengatakan bahwa cerita-cerita misteri terbesar sesungguhnya adalah drama-drama cinta. Tapi sudahlah. Mari kita tak membawa bahasan kita ke arah sana.

…Enggak. Alasan aku ngatain itu bukan karena hingga sekarang aku masih juga single.

Siapa yang Kau Cintai Akan Mengubah Masa Depanmu

Henneko mengetengahkan seputar kehidupan remaja puber bernama Yokodera Youto.

Yokodera, singkat kata, memiliki otak yang mesum. Tapi kesadarannya akan pandangan orang lain terhadap dirinya—dalam hal ini, façade-nya—membuat dirinya kesulitan mengungkapkan hal ini. Apalagi setelah ‘Kotetsu no Ou’ (‘raja baja’), kakak kelas perempuan berdada besar yang menjadi kapten klub atletik yang diikutinya di sekolah, yang sehari-harinya luar biasa disiplin dan galak, menilai kerajinan Yokodera melakukan squat (persis di depan kaca jendela gedung kolam renang) membuatnya pantas dipandang sebagai kandidat kapten klub baru yang kelak akan menggantikan dirinya.

Merasa tertekan oleh kepalsuan yang ia perlihatkan, Yokodera kemudian curhat soal hal ini pada sahabatnya, Ponta. Di luar dugaan, Ponta kemudian meminta Yokodera untuk datang ke rumahnya agar ia bisa mewarisi koleksi buku porno yang telah Ponta kumpulkan! Ponta rupanya telah menghilangkan sifat mesumnya, dan kini ingin mengabdikan hidupnya untuk urusan kemanusiaan anak-anak terlantar korban perang di seluruh dunia!

Yokodera bertanya tentang bagaimana Ponta berhasil melakukan ini. Ponta kemudian bercerita soal patung kucing Warawanai Neko (the Stony Cat, kadang disebut juga sebagai Nekogami alias ‘Dewa Kucing’), yang terletak di bukit dengan satu pohon di tepi kota mereka. Patung kucing itu konon dapat mengabulkan permohonan siapapun yang berdoa di sana, dengan mengambil suatu barang persembahan tertentu sebagai imbalan.

Malam harinya, Yokodera memutuskan untuk mencoba sendiri kemujaraban patung kucing tersebut.

Di sana, Yokodera kemudian berjumpa  Tsustukakushi Tsukiko, gadis mungil yang ternyata merupakan adik kelasnya. Tsukiko rupanya juga ingin memohon pada Nekogami agar dirinya dijadikan orang yang tak terlampau mudah menunjukkan perasaannya.

Bersama, keduanya menyampaikan permohonan mereka. Lalu…

Intinya, ada resiko tertentu yang tak mereka sangka yang harus mereka bayar.

Menjadi Anjing

Nekogami rupanya mengabulkan permohonan dengan ‘mengambil’ apa yang tak diinginkan dari diri orang yang memohon. Nekogami kemudian (dengan agak seenaknya) ‘memberikan’ apa yang tak diingini tersebut pada orang lain yang dirasa memerlukan apa yang tak diinginkan itu.

Semenjak ia memohon agar kepalsuannya dilepas, Yokodera mendapati dirinya tak lagi mampu menahan mulut dan isi pikirannya sendiri. Dalam sekejap, ia menjadi orang yang gampang kelepasan bicara soal apapun yang dipikirkannya tentang diri cewek. Walau dia jadi orang yang lebih jujur sih, kemesumannya langsung dikenal seantero sekolah sehingga akhirnya dirinya dikenal dengan sebutan Hentai Ouji.’

Gara-gara hal ini pula, Yokodera, gara-gara kelepasan bicara, menjadi terlibat dengan gadis cantik yang dikenal sebagai semacam ‘nona besar’ yang sulit didekati di sekolahnya, Azuki Azusa.

Tsukiko sendiri, yang sebelumnya cengeng dan agak emosional, berubah menjadi perempuan dengan mimik muka dan suara yang teramat, sangat datar. Agak sulit untuk memahami apapun yang Tsukiko rasakan. Bila ia menjerit, maka pekikan “Kyaa~” yang dilepasnya secara refleks akan dilepasnya dengan nada teramat, sangat datar. Walau demikian, dalam sisi-sisi lain, dirinya tak banyak berubah. Dirinya masih gadis mungil yang gemar makan seperti sebelumnya.

Demi bisa membatalkan permohonannya, Yokodera perlu menemukan kepada siapa Nekogami memberikan kepalsuannya itu. Lalu ia perlu mendorong orang bersangkutan untuk menyampaikan permohonan mereka sendiri pada Nekogami agar kepalsuan tersebut dilepas.

Cerita bertambah rumit saat patung Nekogami didapati ternyata tak hanya sekedar satu. Seiring dengan berkembangnya hubungan antar tokoh, muncul tanda-tanda bahwa Yokodera mungkin telah terlibat dalam urusan patung kucing ini jauh lebih lama dari yang ia duga.

Sekali Lagi…

Henneko adalah jenis cerita yang sebenarnya lebih enak dibaca daripada ditonton. Ini paling terlihat jelas kalau kau memperhatikan adegan-adegan dialognya sih. Apa yang para karakternya ucapkan (dan lakukan) itu kerap begitu konyolnya sehingga terasa agak unreal bila melihatnya dihidupkan secara langsung. Karakterisasinya juga sebenarnya termasuk agak mengikuti stereotip. Tak ada satupun karakternya yang benar-benar terasa wajar. Walau dalam kasus Henneko, itu sebenernya bukan hal buruk sih.

Apa ya?

Pertama, mungkin karena temponya juga, apa-apa yang terjadi dalam ceritanya agak susah diikuti. Kalau kita membaca dan mengkaji pilihan kata yang Tsukiko gunakan, kita bisa mengerti apakah ia sedang marah, sinis, atau sedih. Namun bila kita mendengar dan melihatnya sendiri, mungkin ada hubungannya dengan pola kerja otak kita atau gimana, tapi apa yang tersirat pada akhirnya tak langsung menempel di kepala kita. Hal yang sama juga… agak berlaku pada karakter lainnya. Cara mereka menungkapkan pikiran dan perasaan mereka begitu ala light novel-nya, sehingga jadinya itu benar-benar aneh.

Intrik cerita yang tersamar serta perkembangan-perkembangan situasi yang nyata-nyata ajaib dan aneh (seperti terjadinya badai tiba-tiba karena ada yang memohonnya) juga agak gampang membuat perhatian kita teralih. Terlebih dengan gimana kekuatan Nekogami bisa sampai mempengaruhi ingatan dan sifat orang.

Tapi kalau dibalik, justru itu juga yang membuat seri ini menarik sih.

Bicara lagi soal karakternya, mereka semata karakter-karakter yang luar biasa aneh dan ajaibnya. Tapi ada daya tarik aneh yang mereka punya sehingga kita tak sampai segitu terganggunya oleh mereka.

Beralih ke soal hal teknisnya, dengan warna-warninya yang cerah, seaneh apapun dunia dan karakternya, ini termasuk salah satu seri yang terbilang enak dipandang. Kualitas visualnya cukup konsisten dari awal hingga akhir. Aku lumayan terkesan dengan nuansa kota kecil yang berhasil dipaparkannya. Maksudku, perkembangan cerita di seri ini begitu anehnya, sehingga rasanya menakjubkan melihat latar kota ini secara wajar bisa terlihat ‘masuk.’ Secara audio, sebenarnya tak ada masalah sih. Tapi aku memang agak merasa hasilnya bisa lebih baik lagi. Atau mungkin juga itu karena dengan porsi cerita yang mau dicakup, temponya memang perlu agak dikebut. Sehingga waktu pembangunan suasana dan sebagainya jadi kurang.

Akhir kata, yah, pendapatku kira-kira seperti tadi.

Aku tak yakin ini akan menjadi seri yang akan kurekomendasi sih. Tapi ini seri yang menarik. Benar-benar menarik. Kadar fanservice-nya ada, walau mungkin buat standarku agak enggak terlalu kentara. Dengan kata lain, seri ini enggak separah bayanganku semula. Tapi tetap saja bagi sejumlah orang mungkin enggak cukup nyaman buat dilihat.

Kalau kau tertarik pada cerita-cerita bertema aneh dan sekaligus dengan perkembangan cerita yang agak di luar dugaan, mungkin kau bisa suka pada Henneko. Tapi buat selebihnya, yah, mungkin kau akan lebih nyaman jika membaca daripada menonton. Kalau kau suka pada konsepnya, dan tak terlalu bermasalah dengan banyaknya hal-hal tak masuk akal di dalamnya, lalu mengikutinya hanya sekedar untuk menikmatinya belaka, maka mungkin kau bakal suka. Ada hal-hal ‘dalam’ yang berusaha disampaikan dalam seri ini. Jadi seenggaknya seri ini kelihatan jelas punya ‘hati’ yang mempertahankannya agar enggak jadi buruk-buruk amat.

Eniwei, ranobe-nya konon masih berlanjut. Jadi mungkin pandapatku di masa depan bakal berubah.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: B; Audio: C+; Perkembangan: B+; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C+

15/05/2013

To Aru Majutsu no Index II

Aku mengikuti musim tayang kedua dari anime A Certain Magical Index belakangan, atau yang juga dikenal sebagai To Aru Majutsu no Index II. Aku agak enggak menyangka bakalan suka seri ini sampai segitunya. Memang ada banyak (banyak sekali) kelemahannya. Tapi aku sudah terlanjur cinta dengan para karakternya dan sudah agak terlalu gampang dibuat penasaran dengan perkembangan ceritanya.

Aku sengaja melihat animenya dulu karena aku punya perasaan seri novelnya bakal lebih memuaskan. Di samping itu, aku juga menonton dengan mengingat bagaimana adaptasi anime dari spin-off-nya, To Aru Kagaku no Railgun, belum lama ini juga dibuat lanjutannya.

Perang Rahasia

Musim tayang kedua ini mencakup bagian cerita ketika sang tokoh utama, Kamijou Touma, terlibat lebih jauh dalam segala intrik yang berlangsung di Academy City, terutama dengan bagaimana dirinya mulai diperhitungkan dalam perseteruan politik dari sisi dunia sihir, antara Roman Catholic Church dan British Anglican Church.

Dibuka di awal semester baru sesudah liburan musim panas, Touma (dan secara tak langsung, Index) kembali dihubungi oleh Stiyl Magnus, penyihir api utusan kelompok rahasia Neccessarius dan gereja Inggris, terkait hilangnya seorang biarawati dari pihak Gereja Roma bernama Orsola Aquinas, dan bagaimana itu terkait dengan metode yang konon telah diketemukannya untuk membuka sandi dari salah satu buku sihir terlarang: Book of Law.

Orsola didesas-desuskan diculik oleh para pendukung Gereja Amakusa di Jepang, dan pada waktu yang sama Book of Law dikabarkan juga telah hilang dari perpustakaan Gereja Roma. Insiden ini kembali memicu kegentingan antara kedua belah pihak, dengan diutusnya pasukan biarawati tempur yang dipimpin Sister Agnese ke Jepang. Lalu memperumit situasi adalah kedudukan Kanzaki Kaori, salah satu ‘Saint’ sekaligus anggota Neccessarius yang sebelumnya merupakan pemimpin Gereja Amakusa, yang kini terpaksa menyembunyikan diri.

Cerita kemudian berlanjut dengan pemulihan puing-puing superkomputer Tree Diagram yang disebut Remnant, yang telah dihancurkan Index tanpa sepengetahuannya di season pertama. Misaka Mikoto kembali bertindak sendiri dengan didorong oleh kekhawatiran kalau ini akan memicu dimulai kembalinya ekspresimen yang dulu melibatkan klon-klonnya dan Accelerator. Ini membuat Misaka harus berhadapan dengan Musujime Awaki, teleporter tangguh yang ditugasi untuk memindahkan data dari puing-puing tersebut, yang kemampuannya mengimbangi sahabat Misaka, Shirai Kuroko.

Bab tersebut kemudian disusul dengan berlangsungnya festival olahraga antar sekolah di Academy City, Daihaseisai, serta bagaimana Touma, Stiyl, dan teman sekelas Touma yang siscon dan berprofesi sebagai agen ganda, Tsuchimikado Motoharu, memperoleh informasi tentang adanya suatu transaksi berbahaya yang akan dilangsungkan selama festival ini. Apa yang terjadi kemudian membawa mereka berhadapan dengan seorang perempuan penyihir bernama Oriana Thompson, yang diduga membawa ancaman berupa sebuah pusaka ajaib yang secara seketika dapat membalikkan kekuasaan di Academy City.

Touma selanjutnya—tak seperti biasanya—memenangkan sebuah undian berhadiah untuk mengikuti liburan ke Italia. Tapi sejumlah hal terjadi dalam keberangkatannya bersama Index ke sana… yang kembali mempertemukannya dengan Orsola dan Sister Agnese.

Menjelang akhir cerita, barulah keterlibatan berulangkali Touma dalam penggagalan rencana sejumlah tokoh dari Gereja Roma akhirnya secara nyata membuatnya diburu. Academy City kemudian diserang secara terang-terangan oleh Vento of the Front, salah satu anggota dari kelompok terkuat dari Gereja Roma, God’s Right Seat. Namun sebagai antisipasi serangan tersebut, penguasa sesungguhnya dari Academy City, Aleister Crowley, menjalankan rencana disrupsi partikel AIM-nya melalui sosok FUSE Kazakiri Hyouka, untuk mendatangkan kembali (menciptakan?) sesosok ‘malaikat’ ke dimensi ini. Rencana ini memerlukan keterlibatan Misaka Last Order yang berada di bawah perlindungan Accelerator, dan akhirnya membawa Accelerator berhadapan kembali dengan Kihara Amata, peneliti yang menjadi musuh lamanya, beserta kelompok pemburu Hound Dog yang dipimpinnya.

Ini Pasti Enggak Cuma Aku Aja ‘Kan?

Mungkin ini cuma perasaanku, tapi meski secara teknis musim tayang kali ini lebih baik dibandingkan musim tayang lalu, secara konten kayaknya ada lebih banyak hal yang questionable di dalamnya. Seru sih. Cuma ada beberapa hal dalam ceritanya yang terus terang agak menggangguku.

Ide tentang peseteruan antar gereja itu kupikir merupakan isu yang agak sensitif. Makanya aku agak kaget dengan betapa blak-blakannya itu semua diangkat. Tapi yang membuat aku lebih kaget lagi adalah saat aku (baru dengan telatnya) sadar akan konsep ‘sihir itu dikembangkan oleh gereja.’ Uh, maksudku, ahahaha… bukannya itu agak ‘bertentangan’ dengan konsepsi awal kita di sejarah?

Di samping itu, mungkin akibat banyaknya tokoh perempuan yang menjadi antagonis kali ini, serta bagaimana Sister Agnese dan kawan-kawan biarawatinya beraksi di episode-episode awal musim ini, aku merasa adegan-adegan kekerasan terhadap perempuannya agak berlebih. Aku meringis berulangkali setiap ada adegan saat tinju Touma mengenai muka, karena ngerasa justifikasi dalam ceritanya enggak sepenuhnya tersampaikan secara baik. Maksudku, aku saja yang biasanya agak tolerir dalam hal ini ngerasa kayak begini. Apalagi yang pernah terlibat dalam urusan KDRT. (Soal desain para biarawatinya, sori, aku juga enggak mau komentar.)

Tapi terlepas dari semuanya, musim tayang kali ini (yang dibagi per ‘babak’ seperti musim sebelumnya) masih tetap menghadirkan apa-apa yang membuat Index seru. Tempo cerita yang terus menanjak, adegan-adegan pertarungan yang intens, serta perkembangan-perkembangan plot yang tak tertebak (walau mungkin yang terakhir ini karena cara perkembangannya yang terlalu tiba-tiba juga sih).

Bicara soal karakter-karakter baru, di samping yang telah disebut di atas, mereka meliputi: Fukiyose Seiri, teman sekelas Touma yang sering mengambil alih peran ketua kelas dari Aogami Pierce, dan menjadi seorang gadis yang lagi-lagi tertarik padanya; Uiharu Kazari, partner Kuroko di kesatuan Judgment, yang secara resmi mendapat peran bicara pertamanya di seri ini; Itsuwa, gadis dari Gereja Amakusa yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Touma (nanti menurut cerita di novel-novelnya konon memainkan peranan besar); keberadaan God’s Right Hand sendiri yang memiliki kemampuan tempur istimewa; serta Laura Stuart, archbishop dari Gereja Inggris yang merupakan atasan langsung Stiyl dan kawan-kawannya. Walau ada nuansa kalau masih ada ‘lebih’ dari yang ditampilkan, menurutku mereka tampil agak ‘seadanya’ di seri ini. Bahkan karakter-karakter baru yang menjadi antagonis tak dipaparkan motivasinya secara gamblang. Aku juga terus terang agak kecewa dengan bagaimana sejumlah karakter dominan dari To Aru Kagaku no Railgun tak tampil dalam seri ini (seperti Saten Ruiko, yang dalam seri tersebut hampir selalu terlihat bersama Uiharu). Tapi di sisi lain, banyak karakter lama yang ditampilkan kembali dan berperan dengan cara mereka masing-masing.

Oya, ada satu adegan bagus saat orangtua Touma dan ibu Misaka, Misaka Misuzu, pertama saling berkenalan.

Di samping itu, meski rasanya agak mengecewakan karena Misaka tak berperan sepenting dalam ceritanya di Railgun, tetap menarik menyaksikan bagaimana perkembangan hubungannya dengan Touma membuatnya menjadi semakin tsundere. (Kuroko akhirnya menjadi karakter yang lebih banyak nge-rage-nya karena hal ini. Tapi apa boleh buat kalau memang perkembangannya begini.)

Kegelapan

Walau penyampaian ceritanya lagi-lagi tak benar-benar bisa dibilang menghanyutkan, Index II secara pas ditutup dengan pemaparan tentang bagaimana dunia telah di ambang perang. Para orangtua yang mengkhawatirkan keselamatan anak-anak mereka mulai mengungsikan banyak siswa dari Academy City. Kemudian suatu pihak bayangan yang diwakili Unabara Mitsuki (gadungan) merekrut Accelerator, Musujima Awaki, dan Tsuchimikado ke dalam suatu kelompok rahasia bernama GROUP yang langkah-langkah awalnya adalah menangani kelompok Skill Out.

Yang bikin terasa istimewa adalah hal-hal kecil dalam ceritanya begitu. Seperti bagaimana tampil kembalinya Hyouka menandai babak akhir cerita seperti halnya di musim tayang lalu. Atau bagaimana karakter sampingan seperti Mitsuki (gadungan) yang dulu menyusahkan Touma dengan rayuannya terhadap Misaka kini hadir kembali sebagai karakter misterius yang tujuannya tak tertebak. Kihara Amata, yang diperlihatkan memiliki rasa permusuhan luar biasa dalam terhadap Accelerator, juga nampaknya memiliki hubungan dengan ‘Kihara’ yang menjadi pihak antagonis di Railgun.

Jadi, kalau kau bisa masuk ke dalam ceritanya, walau aku enggak akan menyebutnya memuaskan, emang segalanya luar biasa menarik gitu.

Secara teknis, kayaknya ada sedikit kecendrungan buat kualitasnya untuk naik turun. Secara visual, aku agak merasa desain karakternya kadang punya lebar bahu agak terlalu sempit sehingga berkesan dengan kepala besar. Tapi dari segi sisanya, kurasa tak apa-apa. Audionya masih oke. Lagu pembuka ‘No Buts!’ berirama cepat tapi anehnya tak sepenuhnya bisa kusukai. Tapi secara garis besar benar-benar tak ada masalah.

Soal eksekusinya, aku dengar memang ada sejumlah adegan penting terkait karakter yang terlewat dalam animenya? Tapi nanti aku bandingkan dulu dengan buku-bukunya deh. Selebihnya, gaya pengarahannya konsisten dari awal sampai akhir, dan aku lumayan suka dengan gimana pembangunan suasananya lebih baik pada beberapa bagian.

Yah, sebagai penutup, aku tak yakin apa ini seri yang akan kurekomendasikan ke banyak orang. Bahkan mereka yang menyukai season pertamanya mungkin akan agak bermasalah dengan cerita pada season ini. Kecuali kalau kau benar-benar suka seri Index, kurasa baru Index II ada layaknya kau perhatikan.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir; B+

30/04/2013

To Aru Kagaku no Railgun

Jadi, ngikutin saran beberapa orang, aku coba ngikutin musim tayang pertama To Aru Kagaku no Railgun ( atau A Certain Scientific Railgun—suatu railgun ilmiah tertentu). Terus, aku tahu udah agak telat buat ngomong gini, tapi, wow, wwwwwwwooooooooooooowwwwwwww

Ini keren, man! Ini salah satu anime terkeren yang pernah aku lihat!

Damn. Buset. Di awal-awal mungkin memang enggak kelihatan terlalu istimewa. Tapi seperti yang bisa dibayangkan dari sesuatu yang dipenai oleh Kamachi Kazuma, perkembangan ceritanya di ujung-ujung bener-bener gila-gilaan. Bahkan saat aku nulis ini sekarang, air mataku masih belum berhenti keluar.

Seri anime ini diproduksi oleh studio animasi J.C. Staff dan didasarkan pada seri manga berjudul sama yang dipenai oleh Kamachi-sensei dan diilustrasi oleh Fuyukawa Motoi. Seri ini merupakan spin off dari seri utama Kamachi-sensei (yang diilustrasi oleh Haimura Kiyotaka), To Aru Majutsu no Index, berlatar di universe yang sama dan berbagi sejumlah karakter yang sama pula.  Adaptasi animenya keluar pertama kali pada musim dingin tahun 2009-2010 dengan jumlah episode total sebanyak 24.

Lalu enggak, kau enggak harus mengikuti To Aru Majutsu no Index dulu untuk mengikuti seri ini. Walau memang disarankan, karena Railgun justru menjelaskan lebih jauh beberapa poin yang diangkat dalam Index sehingga kau akan lebih bisa menikmatinya. Nuansanya sendiri cukup berbeda sih (bicara soal animenya, kedua seri tersebut ditangani oleh sutradara berbeda.)

Lalu…

… …

AKU BINGUNG MAU NGATAIN APA LAGIII!

Memandang Lagi Jalan yang Telah Ditempuh

Aku malas menjelaskan semuanya dari awal. Tapi aku coba saja deh.

Railgun berlatar di Academy City (Gakuentoshi?), semacam kota khusus di tepi laut Tokyo yang dibangun secara khusus untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Karena itu, di samping dipenuhi oleh sekolah dan universitas, tingkat teknologi di kota ini lebih maju beberapa tahun dibandingkan apa yang ada di tempat-tempat lain di dunia. Bidang penelitian khusus yang ada di kota ini adalah pengembangan kekuatan khusus yang berasal dari pikiran, para Esper (Chounouryokusha), seperti teleportasi dan telekinesis.

Railgun mengetengahkan keseharian dan petualangan Misaka Mikoto, salah satu karakter pendukung di Index, yang juga merupakan satu dari sekian sedikit Level 5, sebutan kelompok bagi para Esper terkuat yang Academy City miliki, bersama kawan-kawannya: sahabat dekat/adik kelas/teman sekamarnya di asrama, Shirai Kuroko; partner Kuroko di cabang 177 kelompok pengamanan kota Judgment, Uiharu Kazari; dan sahabat Uiharu dari sekolahnya, Saten Ruiko.

Berlangsung kira-kira sebelum dan pada saat cerita di musim pertama Index terjadi (Touma dan Misaka masih belum terlalu saling mengenal pada titik ini), ceritanya diawali dengan pertemuan pertama antara Misaka-Kuroko dengan Uiharu-Saten (ceritanya mereka bersekolah di SMP berbeda), dan segalanya kemudian berkembang dari sana. Pada episode-episode tertentu, beberapa tokoh sampingan dari Index juga akan muncul. Ceritanya pada dasarnya soal bagaimana suatu rangkaian kasus yang dihadapi oleh Judgment secara perlahan tapi pasti terungkap sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Selama hal tersebut terungkap, Railgun memaparkan juga suka duka di antara Misaka dan kawan-kawannya.

Dibandingkan Index yang ceritanya lebih berat pada elemen aksi, Railgun punya porsi slice-of-life yang lebih besar. Tapi pada saat adegan-adegan genting terjadi, aksi-aksinya masih bisa berkembang menjadi luar biasa keren kok.

Sama halnya dengan kasus Index, aku agak susah menjabarkan secara persis bagusnya cerita Railgun itu di sisi apa. Para karakternya menarik, itu pasti—bukan hanya karena kebanyakan dari mereka cewek. Tapi yang paling terutama adalah karena sepanjang cerita, masing-masing dari mereka memang benar-benar berkembang.

Misaka adalah seorang electromaster, pengguna kekuatan listrik dari dalam tubuh—sehingga secara tak langsung dirinya juga mampu menghasilkan medan-medan elektromagnetik. Teknik khasnya adalah bagaimana dirinya mempercepat secara berkelanjutan suatu benda (biasanya koin) dengan medan elektromagnetik ini, dan mengubah benda tersebut menjadi ‘peluru’ berenergi kinetik luar biasa (dengan begitu, dirinya dijuluki Railgun—yang mengacu pada konsep percepatan ini; prinsipnya berbeda dari senjata-senjata api biasa yang mengandalkan letusan mesiu untuk percepatan peluru).

Misaka ceritanya memperoleh kekuatannya tersebut lewat kerja keras. Sehingga kenyataan bagaimana ia telah bersusah payah meningkatkan statusnya dari Level 1, dan tetap menjadi seseorang yang ramah dan baik hati sekalipun namanya disegani di seantero Academy City menjadi tema yang beberapa kali diangkat dalam cerita.

Kuroko, seorang Level 4, adalah seorang pengagum berat Misaka yang memiliki kemampuan teleportasi. Di samping karena hubungan baiknya dengan Misaka, kemampuannya untuk memindahkan benda/orang lain/dirinya sendiri secara tiba-tiba tersebut teramat bermanfaat dalam tugas-tugasnya sebagai anggota Judgment. (Dirinya juga memiliki khayalan-khayalan yuri terhadap Misaka, tapi sudahlah.)

Judgment adalah semacam kesatuan sukarelawan dari para murid-murid di Academy City yang menjaga keamanan di kota tersebut, di mana Kuroko dan Uiharu tergabung sebagai anggota. Untuk urusan-urusan yang lebih gawat, mereka dibantu kesatuan yang disebut Antiskill, yang merupakan kelompok orang dewasa terlatih semacam SWAT yang menangani penyalahgunaan kekuatan esper dengan peralatan dan persenjataan yang lebih lengkap.

Uiharu, yang mudah dikenali dari mahkota bunga yang selalu ada di kepalanya, adalah gadis bersifat timid dan merupakan rekan Kuroko sekaligus seorang Level 1. Ia juga seseorang yang telah melampaui segala keraguannya sendiri untuk mencapai tempat ia berada.

Lalu Saten, sahabat Uiharu yang lebih terbuka, adalah seorang Level 0, dalam artian dirinya tak memiliki kemampuan Esper apa-apa. Tapi seiring tumbuhnya persahabatan di antara mereka, dirinya juga berkembang menjadi orang yang paling sensible di antara kawan-kawannya.

Aku agak… enggak enak menerangkan apa-apa persisnya yang berlangsung dalam seri ini. Soalnya menurutku semua terlalu rame buat enggak diikutin secara langsung.

Pastinya, daripada aspek WAFF yang biasa ditemui dalam seri-seri slice-of-life lain, Railgun lebih banyak menghadirkan semacam nuansa ‘keren’ khas yang belum pernah kutemui dalam anime manapun sebelumnya. Aku langsung jadi ngerti soal kenapa seri ini jadi hit di masanya. Intrik-intrik plotnya menarik. Interaksi antar karakternya bagus. Walau misterinya tak dalam-dalam amat, dari awal sampai akhir segala perkembangannya tetap asyik buat diikutin. Lalu, terlepas dari semua yang terjadi, kesemuanya masih ‘masuk’ dalam kerangka dunia Index dan hal itu beneran membuatku kagum.

Ada beberapa episode yang bahkan menurutku lumayan thought-provoking dan tereksekusi dengan benar-benar baik.

Oh, dan secara ngejutin, aku enggak ada masalah sama sekali dengan bagaimana kebanyakan karakter utamanya cewek. Mungkin karena eksekusi ceritanya memang sekeren itu.

Limits Are Meaningless

Membahas soal teknis, dulu aku pernah merasa studio J.C. Staff kurang pandai menangani adegan-adegan aksi. Tapi seri ini sepenuhnya membuktikan sebaliknya. Aku tahu adegan-adegan aksi di season pertama Index sudah keren. Tapi adegan-adegan yang dihadirkan di Railgun, walau dalam porsi lebih dikit, jauh lebih keren lagi. Terlepas dari bagaimana Misaka memakai kekuatan listriknya atau bagaimana Kuroko berpindah tempat ke sana kemari, bahkan adegan-adegan pertarungan tangan kosong sederhana tertata dengan apik.

Visualnya mengalami peningkatan yang lumayan signifikan dibandingkan Index, terlihat dari semakin bertambahnya detil dalam penggambaran dunia Academy City sebagai latar. Aku lupa bilang, Railgun itu juga seakan mengekspansi latar cerita Index dengan pembeberan detil-detil lebih banyak. Berhubung tak ada karakter penyihir tampil, ceritanya sepenuhnya memaparkan seri ‘sains’ dari Academy City.  Lalu itu diwujudkan dengan penggambaran tempat tinggal masing-masing karakter dan tempat-tempat yang sering mereka kunjungi. Berbeda dari Academy City yang terasa agak ‘datar’ di musim pertama Index,  Academy City di Railgun terlihat sebagai tempat yang memang menarik buat dikunjungin.

Bicara soal audio… semuanya keren sih. Lagu pembuka ‘Only My Railgun’ yang dibawakan fripSide sempat menjadi anisong favorit pada masanya. Lagu-lagu lainnya mungkin tak seistimewa, tapi semuanya cocok dengan tema dan nuansa yang seri ini bawakan. … Dan yea, semua seiyuu memainkan peran mereka secara baik, terutama dengan mempertimbangkan segala perkembangan yang para karakternya lalui.

Sudah Kubilang, Dokter Satu Itu Memang Imba

Di samping semua intriknya, seri ini mengangkat juga tema-tema kerja keras, sikap pantang menyerah,  soal gimana kita menerima keadaan lalu orang lain, serta juga soal persahabatan.

Mulanya, aku juga mengira ini bukan seri yang bakal cocok buat kebanyakan orang. Tapi kayaknya aku berubah pikiran.

Ini seri yang beneran bagus.

Ini salah satu anime yang dengan kamu tonton, kamu bisa nyadar tentang satu-dua hal yang sebelumnya enggak kamu sadari, lalu dengannya kamu seterusnya berubah jadi orang lebih baik.

Seri ini jauh melampaui Index dari segi kepuasan menonton, walau kalau kupikir kayaknya aku bisa memahami alasannya. Mungkin karena diangkat dari ranobe, atau mungkin karena masalah eksekusi animasinya juga, terasa seperti ada ‘pembabakan’ dalam episode-episode Index, sehingga apa-apa yang sudah terbangun dalam beberapa rangkaian episode, terasa seakan ‘dikesampingkan’ dalam episode-episode berikutnya. Tapi Railgun sama sekali tak mempunyai masalah ini. Ada kayak momentum yang terus terbangun dari awal hingga akhir hingga ditutup dengan klimaks yang beneran memuaskan. Mungkin faktor karena diangkat dari manga juga sih, sehingga proses adaptasinya bisa lebih mudah.

Ah, belum. Walau memang ada karakter-karakter orisinil baru yang khusus tampil untuk seri ini (seperti teman sekolah Misaka dan Kuroko, Kongou Mitsuko… yang sengaja dihadirkan hanya sebagai figuran?), ada beberapa karakter favorit terkait Misaka seperti Misaka Imouto dan Accelerator masih belum muncul di musim ini.

Maksudku, yang bukan berasal dari seri Index.

Walau begitu tanda-tanda ke arah sana dengan cara agak nakutin sudah agak terlihat sih…

Sudahlah. Pokoknya, coba lihat ini!

Ini salah satu anime yang paling bakal kurekomendasikan!

Penilaian

Konsep: B; Visual: A-; Audio: A-; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A+

22/03/2013

To Aru Majutsu no Index

Anime To Aru Majutsu no Index (atau A Certain Magical Index, ‘suatu indeks sihir tertentu’) produksi J.C. Staff keluar pertama kali di tahun 2008-2009, di masa saat aku sedang vakum sepenuhnya dari memperhatikan perkembangan budaya visual Jepang. Makanya, ini seri yang sempat luput dari perhatianku sepenuhnya, sampai ada teman kerjaku yang secara agak tiba-tiba kemudian merekomendasikannya. (Apalagi sepertinya seri manga Genshiken belum pernah mereferensikannya, tapi mungkin itu cuma aku.)

Seri ini diangkat dari seri light novel super-populer (terjual lebih dari 10 juta kopi di akhir tahun 2010) karya Kamachi Kazuma (yang juga menulis ranobe-ranobe unik lain macam A Simple Survey dan Heavy Object) terbitan ASCII Media Works. Meski gaya penulisan beliau kadang cenderung agak ‘keotakuan’, kemampuan beliau dalam mengembangkan plot dari suatu basis latar dan karakter sederhana benar-benar luar biasa.

Kalau kuperhatikan sekarang, mungkin seri ini juga bisa dibilang salah satu seri ranobe paling berpengaruh sepanjang masa. Sepertinya ada banyak sekali elemen yang pertama ditemukan dalam seri ini yang kemudian muncul dalam seri-seri ranobe lain. Tapi soal itu mungkin lebih baik kubahas lain kali.

Bicara soal animenya lagi, dari segi teknis, menurutku, ini bukan anime yang bisa dibilang bagus. Tapi ini anime yang bagus. Beneran bagus. ‘Bagusnya’ itu bukan sesuatu yang gampang dijelasin. Ini jenis ‘bagus’ yang akan kau maksud kalo ngomong, “Hei, ini bagus juga!” gitu. Mungkin nuansa yang dibawakan lagu pembuka dan lagu penutupnya berdampak. Tapi kurasa karakter-karakter sentral ini, yakni Kamijou Touma, dan kemudian Mikoto Misaka (yang lalu jadi tokoh utama seri gaiden-nya, To Aru Kagaku no Railgun), yang paling memberi kontribusi terhadap bagusnya anime ini. Selebihnya, nilai-nilai produksi untuk anime satu ini kurasa bahkan bisa dikatakan standar. Jadi mungkin memang dampak konsep aslinya sekuat itu.

Even if…

Seri ini berfokus pada rangkaian pengalaman dan petualangan yang dialami oleh seorang remaja SMA bernama Kamijou Touma, yang nampaknya telah ditakdirkan untuk mengalami kesulitan beruntun dalam hidup. Baik disengaja atau tidak, ada saja kejadian ‘sial’ yang akan Touma alami setiap hari. Tapi Touma lama-lama jadi terbiasa dengan rangkaian kesialan ini, meski pada akhirnya dia jadi orang yang hobi menghela nafas sembari meneriakkan kata-kata khasnya, “Fukou daaa!”

Touma ceritanya adalah seorang siswa SMA yang berstatus Level 0 di Academy City. Academy City adalah sebuah subkota di tepi laut Tokyo yang dipenuhi oleh sekolahan dan universitas. Kota ini dikelola secara khusus untuk pengembangan teknologi. Di samping dipenuhi berbagai fasilitias futuristik (seperti pembangkit listrik tenaga angin dan robot-robot pembersih), subjek penelitian khasnya adalah kemampuan supernatural psikis macam ESP dan telekinesis yang datang dari kekuatan pikiran manusia (ada teorinya, cuma penjabarannya secara keren agak susah kutiru di sini).

Touma, sebagai seorang Level 0, singkatnya, adalah seseorang yang punya bakat buat ngebangkitin salah satu jenis kekuatan psikis ini, tapi secara ‘terlihat’ dirinya tak memiliki kekuatan apa-apa. Walau begitu, tanpa disadari kebanyakan orang, tangan kanannya sebenarnya memiliki keistimewaan yang tak dipahaminya sendiri, yakni sesuatu yang dinamai Imagine Breaker, yang mampu menetralkan segala bentuk kekuatan supernatural apapun.

To Aru Majutsu no Index dibuka dengan perkenalan terhadap karakter Touma; gadis SMP yang menjadi rivalnya, pengguna kekuatan Level 5 (tingkat tertinggi), Mikoto Misaka, yang juga dikenal dengan julukan Railgun karena kemampuannya memanipulasi listrik dan elektromagnetik; dan pertemuan pertama Touma dengan gadis mungil berambut perak yang berpakaian seperti biarawati, Index.

Ceritanya agak… susah dijabarin daya tariknya kalau aku ceritain gitu aja.

Pada dasarnya, Index yang kekanakan dan agak naif ternyata berasal dari luar Academy City, dan dirinya diburu oleh suatu pihak misterius karena di dalam ingatannya tertanam Index Librorum Prohibitorum, yakni 103.000 buku sihir terlarang yang telah disingkirkan dari peredaran oleh Gereja, yang dapat memberi akses kepada kekuatan besar bagi siapapun yang memilikinya.

Sihir merupakan suatu kekuatan yang ‘asing’ bagi Touma. Ia pada awalnya tak bisa begitu saja percaya akan adanya jenis kekuatan supernatural lain yang didatangkan lewat ritual dan mantera.

Tapi saat melihat bagaimana Index ternyata benar-benar dikejar oleh orang—dalam hal ini, seorang penyihir api bernama Stiyl Magnus, rasa keadilan yang Touma miliki membuatnya tak bisa membiarkan Index begitu saja. Terlebih saat Touma mendapati bahwa selain kekuatan supernatural psikis seperti yang sudah dikenalnya, Imagine Breaker di tangan kanannya ternyata juga berkemampuan mementahkan kekuatan sihir…

Tahun-tahun Terlupakan

Genre To Aru Majutsu no Index pada dasarnya adalah aksi. Ada banyak adegan-adegan tempur dengan kekuatan-kekuatan dahsyat ala manga shounen di dalamnya. Tapi keistimewaan sesungguhnya dari cerita ini lebih terdapat pada perkembangan cerita dan karakternya.

Jadi—gimana bilangnya ya?—dari perjumpaan pertama Touma dan Index itu, ceritanya kayak… dipenuhi berbagai twist dan kejutan gitu. Mungkin memang kejutannya tak begitu efektif penyampaiannya. Tapi bagaimana segala sesuatunya tampak di awal kemudian bisa menjadi berbeda jauh dibandingkan apa yang tampak di akhir.

Jadi, awal persahabatan Touma dan Index ternyata mengawali serangkaian perubahan yang kemudian terjadi pada dunia. Dunia yang selama ini terbagi menjadi dua kubu yang saling bertolak belakang, yaitu kubu sains dan sihir, mulai bergolak dengan Academy City sebagai pusat konfliknya. Kubu sains dan sihir ini ceritanya saling berseteru dan menjalani semacam perang rahasia antar satu sama lain. Tapi Kamijou—tanpa ia sadari sendiri—kemudian membangun semacam sekutu dari orang-orang antara kedua kubu ini, dan jadinya ia menarik perhatian banyak sekali kepentingan.

Yah, intinya kurang lebih begitu.

Season satu dari anime To Aru Majutsu no Index yang terdiri atas 24 episode ini merangkum buku 1 sampai buku 6 dari novelnya. Perkembangan ceritanya boleh dibilang lamban, soalnya setiap bab cerita terkesan tak berhubungan dengan satu sama lain. Tapi ada dampak-dampak perkembangan cerita berjangka panjang yang baru terasa kemudian.

Mulai dari pembeberan sifat asli Index terhadap Touma dan nasib tragis yang kemudian menimpanya; dilanjutkan dengan bab Deep Blood yang mempertemukan Touma dengan gadis bernama Himegami Aisa, yang memiliki kekuatan yang ‘mungkin’ mematikan vampir; lalu konflik Sisters yang dimulai saat Touma berjumpa dengan saudari kembar Misaka, yang kemudian mempertemukannya dengan Accelarator, Level 5 terkuat di Academy City, yang berkemampuan mengubah arah segala vektor dan kemudian menjadi lawannya (ini menurutku salah satu bab cerita terbaik di sepanjang seri); disusul misteri fenomena Angel Fall yang melibatkan Touma dengan orangtuanya, serta sahabat sekolahnya sendiri, Tsuchimikado Motoharu. Ada beberapa episode khusus yang mengetengahkan Accelarator sebagai tokoh utama, yang menjabarkan lebih jauh tentang karakternya serta percobaan yang sebelumnya ia jalani. Lalu musim tayang ini ditutup dengan bab pertemuan Touma dan Index dengan Kazakiri Hyouka, gadis misterius dari dimensi lain, yang sekaligus menjabarkan konsep partikel AIM yang akan berperan dalam bab-bab cerita ke depan.

Kualitas cerita animenya tentu saja kalah telak dibandingkan novelnya. Pemaparan ekstensif dan terarah yang ada di novel-novelnya menjadi sesuatu yang agak hilang di anime (tunggu, mungkin juga aku memang agak bias dalam hal ini). Tapi bagi beberapa orang yang merasa kurang bisa cocok dengan cara narasi Kamachi-sensei (mulai dari tokoh-tokoh yang bicara dengan gaya aneh sampai ke tokoh-tokoh aneh yang kehadirannya enggak jelas untuk apa), animenya kurasa enggak bisa dibilang buruk. Mungkin juga masalah selera juga sih. Tapi begitulah.

Ada daya tarik tertentu pada karakter Touma dan Misaka yang benar-benar sulit dijabarkan. Entah itu ada pada sifat pantang menyerah Touma atau pandangan optimisnya akan hidup, sekalipun ekspresi wajahnya seperti selalu siap menangis karena segala kesialannya. Atau juga pada bagaimana Misaka yang tangguh jauh di lubuk hati sebenarnya tercabik oleh rasa bersalah dan ketakberdayaannya.

Pokoknya, bagaimana ya, ada yang bagus dari anime ini, yang mungkin semata-mata berasal karena ceritanya memang bagus dari awal.

Ceritanya tentu saja masih berlanjut ke season 2 dengan begitu banyak hal masih belum terjelaskan.

Aku tahu ceritanya bahkan tak bisa dibilang adalah jenis cerita yang kusuka. Tapi damn, ceritanya bagus. Jadi ini seri yang mungkin akan kurekomendasiin pada penggemar anime umum yang tak sedang ingin melihat sesuatu yang khusus.

Kau mungkin perlu sedikit minat lebih untuk bisa memasukinya sih. Tapi kalau kau bisa masuk, kau beneran bisa menikmatinya.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B; Audio: B+; Perkembangan: A+; Eksekusi B+; Kepuasan Akhir: B+

21/06/2010

Tsukihime (bag. awal)

Tsukihime (arti harfiahnya kira-kira adalah ‘tuan putri rembulan’) keluar pertama kali menjelang akhir tahun 90an. Bermula dari game doujin dalam format visual novel yang dirilis oleh duo TYPE-MOON (pasangan sahabat Nasu Kinoko sebagai penulis dan Takeuchi Takashi sebagai ilustrator), Tsukihime secara perlahan tapi pasti menarik perhatian banyak sekali penggemar pada saat dirilis secara independen dalam acara comiket musiman di Jepang.

Tampilan visualnya sederhana. Desain karakternya secara sekilas sama sekali tak menonjol. Musiknya, pada versi-versi awalnya, secara pribadi menurutku kurang begitu bagus. Tapi ada nuansa orisinil ‘ajaib’ yang Tsukihime bawa, yang tercermin pada konsepnya yang kuat dan belum pernah ada sebelumnya. Gaya cerita Nasu-sensei khas. Lalu ini diperkuat dengan desain karakter Takeuchi-sensei yang sangat kaya ekspresi di balik kesederhanaan tampak luarnya.

Hasilnya?

Di kalangan penggemar budaya visual modern Jepang, Tsukihime dengan segera menjadi fenomena.

Sebelum aku melanjutkan, ada beberapa hal yang patut dicatat:

  1. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan tentang Tsukihime kepada orang-orang yang tak berkeinginan untuk memainkannya. Jadi ada sejumlah spoiler berbahaya yang akan diulas!
  2. Konten Tsukihime diperuntukkan untuk dewasa. Walau kadang ada adegan-adegan kocaknya, tema Tsukihime yang gelap bisa kurang cocok untuk sebagian orang.

Sebagai tambahan, aku memutuskan untuk menulis ini karena meski pada saat-saat ‘sesat,’ cerita Tsukihime akan bener-bener ‘sesat’; pada saat lurus, ceritanya akan beneran ‘lurus.’ Maksudku, ada nilai-nilai moral berarti yang disampaikan di dalamnya. Jadi meski memiliki serangkaian hal yang ‘disturbing‘, ada banyak pelajaran yang kudapat dari cerita Tsukihime, yang hingga kini masih belum aku lupakan.

Blue blue Glass Moon, under the Crimson Air

Tsukihime diawali dengan prolog dan bab pembuka.

Adegan prolog menggambarkan terbangunnya seorang anak lelaki di tengah hutan pada suatu malam hari. Anak laki-laki itu bertanya-tanya ke mana seluruh anggota keluarganya pergi. Barulah sesudah berjalan beberapa lama, anak itu menyadari warna merah aneh yang dilihatnya di tanah adalah genangan darah dari jasad seluruh anggota keluarganya yang baru saja terbantai. Namun alih-alih takut. Anak itu malah merasakan suatu kekaguman akan pemandangan tersebut, yang disignifikasikan oleh keindahan bulan purnama malam itu yang takkan ia lupakan…

Barulah bertahun-tahun kemudian, cerita beralih ke sudut pandang seorang bocah laki-laki bernama Tohno Shiki.

Shiki ceritanya pada suatu hari terbangun dan mendapati dirinya berada di rumah sakit. Saat ia bertanya pada dokter mengapa ia bisa dirawat di sana (ingatannya untuk suatu alasan terasa begitu samar-samar), sang dokter mengatakan bahwa dirinya baru mengalami kecelakaan lalu lintas. Ada pecahan kaca yang sampai menusuk ke dalam dadanya. Sehingga ia terpaksa harus dioperasi, diopname, dan singkatnya, harus berada di rumah sakit untuk waktu yang lama.

Shiki lalu bertanya mengapa ada guratan-guratan garis aneh pada segala benda yang dilihatnya. Shiki bertanya karena melihat guratan-guratan garis aneh itu senantiasa membuatnya pusing.

Mendengar pertanyaan Shiki, sang dokter dan para koleganya dengan terpaksa menyimpulkan bahwa meski fisiknya telah pulih, sesuatu pasti telah terjadi pada otaknya. Saraf penglihatan Shiki mungkin mengalami cacat, dan ia jadi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Tapi apa yang sebenarnya ada dan tidak kemudian dipertanyakan, saat Shiki secara iseng mencoba menelusuri salah satu berkas garis aneh yang dilihatnya itu dengan pisau buah. Benda yang digoresnya secara ajaib patah dan hancur, hanya sesudah digores dengan menggunakan pisau buah.

Frustrasi karena tak ada orang yang mempercayai kata-katanya tentang garis-garis itu, Shiki pada suatu hari melarikan diri dari rumah sakit. Di suatu padang rumput, Shiki kemudian menjumpai seorang wanita berambut merah ramah, yang sesudah mendengar kekesalannya ditumpahkan, bersedia menjadi teman mengobrolnya selama ia dirawat.

Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Aozaki Aoko. Aoko menyatakan pada Shiki bahwa dirinya adalah seorang penyihir (magus). Lalu ia menjadi teman mengobrol Shiki untuk beberapa lama.

Shiki, dengan maksud untuk membuktikan kata-katanya, kemudian memperlihatkan pada Aoko apa yang bisa diperbuatnya dengan garis-garis itu. Saat itulah Aoko kaget, serta merta menampar Shiki, dan secara tegas memperingatkannya untuk tak pernah lagi berbuat sesuatu yang sembrono dengan garis-garis tersebut.

Aoko menjelaskan bahwa garis-garis yang dilihat Shiki adalah ‘kematian’ dari suatu benda. Garis-garis itu secara supernatural menghubungkan benda bersangkutan dengan ‘sumber’ yang ‘melahirkan’ benda tersebut. Saat garis yang menghubungkan benda dengan ‘sumber’ itu diputus, maka yang terjadi adalah ‘kematian mutlak’ dalam arti sebenar-benarnya.

Aoko memperingatkan Shiki untuk tak pernah lagi bermain-main dengan ‘nyawa’ suatu benda. Sebab apabila Shiki sudah meremehkan ‘nyawa’ dari benda-benda mati, sikap meremehkan Shiki akan beralih ke benda-benda hidup, dan Aoko tak sudi bila itu sampai terjadi.

Kepada Shiki, Aoko mengajarkan berbagai pelajaran lain tentang hidup. Aoko juga menyatakan bahwa boleh saja suatu saat nanti Shiki melanggar pantangan yang Aoko berikan, sebab Aoko percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pastilah terjadi karena suatu alasan. Karena merasa mendapat banyak pelajaran berarti, semenjak itu Shiki memanggil Aoko dengan sebutan ‘Sensei,’ dan Aoko menjadi satu-satunya orang yang Shiki panggil ‘Sensei’ sampai dirinya dewasa.

Sebagai kado perpisahan, Aoko memberi Shiki sebuah kacamata ajaib yang dapat menghilangkan garis-garis itu dari pandangannya. Aoko dan Shiki berpisah sesudah Aoko mengatakan bahwa ia masih punya urusan-urusan lain yang harus diselesaikan. Tapi meski masa perjumpaan mereka singkat, seumur hidupnya, setiap kata yang pernah Aoko ucapkan tak pernah Shiki lupakan.

Inversion Impulse

Sesudah dibebaskan dari rumah sakit, Shiki untuk suatu alasan diperintahkan keluar dari rumah utama kediaman keluarga Tohno yang kaya raya dan terhormat. Dirinya diharuskan tinggal bersama para kerabatnya dari garis keturunan cabang, yakni keluarga Arima, yang notabene adalah keluarga yang biasa-biasa saja.

Barulah sesudah delapan tahun tinggal bersama keluarga Arima, Shiki mendengar berita bahwa ayahnya, Tohno Makihisa, telah wafat. Lalu adik perempuan Shiki, Tohno Akiha, telah ditunjuk sebagai kepala keluarga yang baru. Lalu hal pertama yang Akiha lakukan sebagai kepala keluarga adalah menulis surat yang memerintahkan Shiki untuk kembali tinggal bersamanya di kediaman utama keluarga Tohno.

Meski masih tinggal di kota yang sama, Shiki selama delapan tahun telah diasingkan dari keluarga Tohno tanpa diperbolehkan menjumpai siapapun dari kediaman utama. Shiki notabene—dengan mengesampingkan matanya yang ajaib—telah menjadi ‘orang biasa kebanyakan’ yang berbeda dari adiknya yang pastinya telah tumbuh menjadi seorang lady.

Tapi meski amat menghormati keluarga Arima yang telah begitu lama mengasuhnya, karena Akiha adalah satu dari sekian sedikit hal yang pernah disukainya dari keluarga Tohno, Shiki mematuhi perintah tersebut dan pindah kembali ke rumah tempat ia dibesarkan.

Satu-satunya teman yang Shiki ceritakan tentang kepindahannya itu pada awalnya hanyalah Inui Arihiko, sahabat karibnya di sekolah. Baru belakangan, teman-temannya yang lain mengetahuinya juga: yaitu Ciel-senpai, kakak kelas mereka berdua yang sering hang out(?) bersama mereka, serta Yumizuka Satsuki, teman sekelas Shiki yang populer namun diam-diam memendam rasa suka padanya.

Tiba di rumahnya yang lama, Shiki mendapati sebagian besar orang yang dulu turut menempati rumah itu telah Akiha usir. Mereka yang tersisa hanyalah dua pelayan perempuan yang paling Akiha percayai: si kembar Kohaku dan Hisui.

Akiha berusia setahun lebih muda dari Shiki. Tapi telah diserahi kepemimpinan atas perusahaan besar yang keluarga Tohno miliki. Ia kini memiliki berbagai kesibukan di sekolahnya sendiri, dan tidak lagi bersikap manja dan cengeng seperti dulu. Tapi meski tidak terlihat secara langsung, Shiki menyadari bahwa Akiha masih teramat menyayangi dirinya.

Di sisi lain, Kohaku dan Hisui hanya samar-samar Shiki ingat.

Kohaku, yang mengenakan pita dan berpakaian selayaknya gadis pelayan Jepang tradisional, menangani urusan masakan dan dapur. Sedangkan adiknya, Hisui, yang berpakaian selayaknya gadis pelayan Eropa, menangani urusan kebersihan dan kerapian rumah. Sifat Kohaku yang ceria kontras dengan sifat Hisui yang sangat pendiam dan formal. Sementara Kohaku merupakan pelayan pribadi Akiha, Hisui kemudian Akiha tunjuk sebagai pelayan pribadi Shiki.

Namun tak lama sesudah kehidupan baru Shiki dimulai, serangkaian kejadian yang sangat aneh kemudian terjadi.

Pada suatu hari sepulang sekolah, Shiki berpapasan dengan seorang wanita asing cantik berambut pirang yang untuk suatu alasan, teramat menarik perhatiannya.

Shiki pada saat itu sedang tidak enak badan. Kepalanya terasa sakit. Lalu rasa sakit itu sebelumnya membuatnya sempat ambruk dan pingsan selama pelajaran di kelas. Karena keadaan kota Misaki sedang meresahkan akibat berlangsungnya serangkaian pembunuhan misterius yang belum terpecahkan, Shiki diizinkan pulang lebih awal ke rumah.

Namun melihat wanita itu di tengah jalan, pikiran Shiki tiba-tiba gelap. Tubuh Shiki bergerak mengikuti dorongan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.

Lalu sebelum ia tersadar, Shiki telah membuntuti wanita asing itu pulang ke apartemennya, menekan tombol bel pintu, dan begitu pintu dibuka, dalam sekejap, dengan menggunakan pisau lipat warisan yang belum lama dikirimkan padanya dari kediaman keluarga Arima, Shiki telah mencacah tubuh wanita asing itu menjadi 17 bagian.

Princess of the True Ancestors

Terguncang dengan apa yang telah diperbuatnya, Shiki cepat-cepat kembali ke kediaman keluarga Tohno. Tapi anehnya, tak ada lagi hal tak wajar yang terjadi sepanjang sore itu. Sehingga Shiki akhirnya tak yakin apakah tindakan impulsifnya memotong-motong tubuh wanita asing itu benar-benar adalah kenyataan atau hanya mimpi belaka.

Namun keesokan harinya, dalam perjalanan menuju sekolah, wanita asing berambut pirang itu tahu-tahu saja telah menantikan Shiki di perempatan jalan. Wanita itu dengan riang lalu menyapanya dan memintanya untuk ‘bertanggung jawab’ atas apa yang telah diperbuatnya terhadapnya kemarin.

Shiki ketakutan.

Tapi ketakutannya berubah menjadi kebingungan saat wanita itu dengan riang memperkenalkan diri sebagai Arcueid Brunestud, seorang vampir.

Arcuied menjelaskan bahwa insiden-insiden pembantaian misterius yang terjadi belakangan adalah hasil perbuatan seorang vampir lain. Alasan Arcueid berada di kota ini tak lain adalah untuk memburu vampir tersebut. Tapi Arcuied ternyata sempat ‘terbunuh’ oleh Shiki, dan ini  mengakibatkan Arcueid kehilangan sebagian besar kekuatannya. Alih-alih marah dan menuntut balas dendam, Arcueid malah terkesan, karena belum pernah ada manusia biasa yang mampu membunuhnya sebelumnya. Agar masalah utama tetap bisa terselesaikan, Arcueid lalu ‘meminta’ Shiki untuk membantunya dalam memburu vampir tersebut.

Arcueid kemudian menjelaskan bahwa alasan dirinya tidak mati dan meminum darah adalah karena dirinya salah seorang True Ancestor (Shinsou, ‘leluhur asli’), ras vampir orisinil yang aslinya diciptakan oleh planet Bumi sebagai semacam mekanisme pertahanan diri.

Arcueid diberkahi kekuatan supernatural dahsyat serta keabadian sejati yang bersumber secara langsung dari planet Bumi. Namun para True Ancestor, yang pada mulanya adalah semacam ‘roh suci’ ini, memiliki cacat lahiriah berupa dahaga yang tak tertahankan terhadap darah. Sekali mencicipi darah, para True Ancestor akan berkeinginan untuk meminumnya lagi, dan secara perlahan akan mulai kehilangan kewarasan mereka sekalipun mereka tak membutuhkannya untuk bisa tetap hidup.

Lalu para manusia biasa yang telah diminum darahnya akan mengalami mutasi pada tubuhnya dan mendapatkan kekuatan luar biasa, serta menjadi pengikut True Ancestor bersangkutan sampai mereka bisa membebaskan diri.

Para manusia biasa yang telah turut diubah menjadi vampir ini adalah mereka yang disebut para Dead Apostle (kurang lebih berarti ‘pengikut/utusan mati’). Berbeda dengan para True Ancestor, tubuh para Dead Apostle akan membusuk dan hancur secara alami seiring dengan waktu, dan karenanya mereka secara teratur memerlukan konsumsi darah untuk bisa bertahan hidup.

Salah satu dari Dead Apostle inilah yang tengah Arcueid kejar.

Dengan demikian, perburuan bersama Arcueid dan Shiki akan vampir misterius itupun dimulai. Dari Arcuied pulalah, Shiki mengetahui lebih banyak tentang matanya yang ajaib, yang di luar dugaan menjadikan Shiki ancaman paling besar bagi makhluk-makhluk supernatural seperti Arcueid…

Lunar Eclipse

Daya tarik terbesar Tsukihime, terlepas dari cerita dan para karakternya, sebenarnya terletak pada penceritaannya. Bukan hanya soal pilihan kata-kata yang digunakan untuk menceritakannya. Tapi juga pada bagaimana misterinya secara lambat laun dibeberkan.

Terlepas dari banyaknya keputusan yang pemain mesti ambil di sepanjang cerita (yang akan menentukan apakah Shiki dapat bertahan hidup hingga akhir atau tidak), Tsukihime memiliki lima rute percabangan cerita ‘besar’ yang didasarkan pada siapa yang kita pilih sebagai heroine utama.

Satu rute besar harus terlebih dahulu dituntaskan untuk bisa membuka rute besar baru yang sebelumnya masih ‘terkunci.’ Barulah dengan begitu rute baru itu bisa pemain mainkan pada saat memulai permainan dari awal lagi.

Kelima rute besar itu, secara berurut, adalah rute-rute: Arcueid, Ciel, Akiha, Hisui, dan Kohaku.

Secara garis besar, kelima percabangan di atas dibagi lagi menjadi dua bagian besar: yakni lingkar bulan luar dan lingkar bulan dalam. Rute-rute lingkar bulan luar (yang mencakup rute Arcuied dan rute Ciel) secara efektf bercerita tentang konflik melawan para Dead Apostle. Sedangkan rute-rute lingkar bulan dalam (yang mencakup tiga rute Akiha, Hisui, dan Kohaku) mengisahkan misteri masa lalu keluarga Tohno serta identitas asli Tohno Shiki sebelum ia diadopsi.

Salah satu keunggulan besar Tsukihime (pada masanya) adalah bahwa kelima percabangan di atas memiliki perkembangan cerita yang teramat berbeda. Sekalipun demikian, premis awal cerita tetap sama dan detil-detil kejadian-kejadian pada tiap rute tetap saling melengkapi. Sehingga sebagian penjelasan cerita untuk satu rute bisa ditemukan pada rute lain.

Pada rute Arcuied dan Ciel, Shiki dan Arcueid harus berhadapan dengan sosok vampir Nrvnqsr Chaos, salah satu dari 27 Dead Apostle terkuat, yang memiliki kendali penuh atas berbagai jenis binatang. Kekalahan Nrvnqsr Chaos masih belum menjadi akhir dari cerita, sebab Shiki kemudian mengetahui bahwa Nrvnqsr Chaos bukanlah satu-satunya Dead Apostle yang ada di kota Misaki.

Dalam perkembangan cerita, terkuak bahwa sasaran Arcueid yang sebenarnya bukan Chaos, melainkan  musuh bebuyutan yang sebelumnya telah Arcuied bunuh sebanyak 17 kali: Michael Roa Valdamjong.

Ciel, yang beberapa kali Shiki lihat berkeliaran di malam hari, terungkap adalah salah seorang Executioner dari kelompok misterius Burial Agency yang berada di bawah naungan Gereja. Bersaing dengan Arcueid, Ciel telah menyusup dan melebur ke dalam kehidupan Shiki, selama berhari-hari berperan sebagai sahabat dekat Shiki, dengan memanipulasi ingatannya serta ingatan Arihiko, karena mengejar jejak Roa.

Hal ini dikarenakan Roa memiliki kemampuan untuk bereinkarnasi secara terus menerus dengan merasuki tubuh manusia manapun yang dikehendakinya dan mengambil alih tubuhnya. Roa inilah yang menjadi pemicu awal dahaga Arcueid terhadap darah, dan secara tak langsung pula menjadi penyebab musnahnya para True Ancestor, dan juga orang yang telah menyengsarakan Ciel dalam kehidupannya yang lampau…

Kenyataan terselubung tentang adanya Roa ini merupakan salah satu aspek cerita yang tetap berdampak pada perkembangan cerita di rute-rute lain; walau hal tersebut tak secara eksplisit disebutkan, dan walau Roa tak selalu berkembang menjadi tokoh antagonis utama.

Konfrontasi antara Arcueid dan Roa akhirnya tak terhindarkan sesudah terungkap bahwa keluarga Tohno rupanya pernah mengadopsi seorang anak yang dua tahun kemudian dinyatakan tewas akibat ‘kecelakaan.’ Lalu mengetahui karakteristik khusus Roa, barulah Shiki memahami alasan sesungguhnya mengapa mata miliknya diberkahi padanya, yang kemudian harus digunakannya untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.

…Sekali lagi, perkembangan ceritanya akan lumayan berbeda tergantung rute yang kita mainkan. Walau asal-muasal konflik-konfliknya kurang lebih sama.

Hubungan sesungguhnya yang Shiki miliki dengan Roa sendiri baru sepenuhnya terjelaskan pada masa lalu tersembunyi dari keluarga Tohno, yang baru diungkap pada rute-rute lingkar bulan dalam. Sejumlah teka-teki lain yang masih belum terselesaikan juga baru akan terjawab seiring penyelesaian rute-rute berikutnya.

Menariknya, Arcuied, sang tokoh utama wanita pertama, bahkan hampir tak muncul sama sekali saat kita memainkan rute-rute lingkar bulan dalam, saking berbedanya perkembangan cerita yang ada.

Hanya dengan menuntaskan kelima rute inilah, sang pemain bisa memahami kejadian-kejadian yang terjadi pada setiap rute secara menyeluruh. Pemain akan bisa menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri, dan kemudian memahami pesan sesungguhnya yang hendak disampaikan dari cerita ini.

Barulah sesudahnya pemain disuguhi epilog tentang pertemuan kembali antara Shiki dan Aoko-sensei, sebuah reuni yang padanya Shiki membahas apa yang telah ia dapatkan dalam kehidupannya, yang sepenuhnya menutup tirai pertunjukan Tsukihime.

Melalui epilog ini pula, kemudian terungkap bahwa sekalipun Shiki kemungkinan besar takkan dianugrahi usia panjang akibat ‘kecelakaan’ yang menimpanya, dirinya bersyukur karena telah menjalani kehidupannya secara penuh, serta bisa hidup bahagia bersama orang-orang yang ia kasihi.

Rinne no Hate ni

Tsukihime diadaptasi oleh studio animasi J.C. Staff menjadi sebuah seri anime 13 episode berjudul Shingetsutan Tsukihime, atau Lunar Legend Tsukihime, pada sekitar tahun 2003. Bergenre drama misteri, dengan desain karakter yang dirombak ulang serta musik orkestra yang megah, Shingetsutan Tsukihime bisa dibilang menjadi awal mula dikenalnya Tsukihime sekaligus TYPE-MOON di kalangan masyarakat luas.

Shingetsutan Tsukihime (‘shingetsutan’ kurasa kurang lebih berarti ‘catatan kejadian rembulan sejati’) pada dasarnya merupakan penceritaan ulang dari rute utama Arcueid. Namun ada sejumlah perbedaan detil di seri ini yang menimbulkan sedikit kebingungan di kalangan penggemar dalam memahami jalan cerita.

Inti ceritanya masih tetap sama. Tapi nuansanya secara garis besar dibuat lebih muram dan kelam.

Sifat-sifat para karakternya juga sedikit berbeda: keramahan dan kelembutan hati Shiki misalnya, digantikan dengan sifat serius dan waspada; Arcueid juga digambarkan sebagai seorang wanita yang sepenuhnya bersifat dewasa, alih-alih riang dan kekanak-kanakan; Ciel pun sama sekali tidak memperlihatkan obsesi konyolnya terhadap kare, dan sebagainya.

Detil kemampuan super yang dimiliki para karakternya juga tidak diceritakan jelas, sehingga ada kerancuan tentang apa sesungguhnya yang bisa dilakukan oleh para tokohnya dan apa yang tidak. Sementara di sisi lain, sejumlah pertanyaan tentang ceritanya juga dibiarkan berakhir menggantung.

Di masa sekarang, kekurangan-kekurangan ini kurasa lumayan sering ditemukan pada anime-anime hasil adaptasi game. Tapi ada sesuatu yang sangat ‘mengganggu’ tentangnya pada masa itu, yang mungkin dikarenakan betapa apiknya Shingetsutan Tsukihime sebenarnya secara teknis.

Terlepas dari semuanya, Shingetsutan Tsukihime cukup menonjol karena membeberkan akhir cerita yang berbeda bagi Yumizuka Satsuki, yang telah lama dikabarkan merupakan heroine yang tak jadi digunakan pada versi akhir di VN-nya (agak seperti kasus Ilya di konsep awal Fate/stay night). Lalu ada satu adegan orisnil saat Shiki, Arcueid, Ciel, Akiha, Satsuki, serta Arihiko sama-sama pergi ke taman bermain, yang bisa jadi merupakan salah satu adegan paling menarik perhatian dari seri ini.

Selebihnya, meski sama sekali tak jelek, anime ini kurang bisa menyampaikan keseluruhan nuansa ‘ajaib’ Tsukihime yang membuatnya begitu dicintai para fans. Tapi seri ini tetap cukup lumayan sebagai perkenalan atas dunia Tsukihime serta karya-karya TYPE-MOON berikutnya.

Untuk alasan itu saja seri ini sebenarnya cukup layak untuk ditonton.

Di samping kenyataan bahwa visualisasi cerita pada seri ini jauh lebih enak dipandang.

(bersambung ke bag. akhir, yang bisa ditemukan di sini)