Posts tagged ‘horror’

25/09/2017

Phenomeno

Maaf lama enggak nulis.

Aku ngalamin sedikit kecelakaan kerja beberapa minggu lalu. Aku sampai perlu beberapa kali ke rumah sakit segala. Lalu sejak itu, kondisi kesehatanku gampang naik turun. (Selama beberapa hari terakhir, aku bahkan terkapar karena diare.)

Sehubungan dengan itu, aku jadi ingin bahas soal Phenomeno.

Phenomeno sebenarnya judul yang sudah lama ingin aku bahas. Keluarnya pertama kali di sekitar tahun 2012. Tapi aku mengalami kesulitan, berhubung minimnya informasi yang bisa kutemukan tentangnya.

Alasan aku ingin membahas seri ini adalah entah karena kebetulan atau bukan, semenjak aku… uh, kena kecelakaan di atas, aku berkenalan dengan semakin banyak orang aneh. Salah satunya, (yang bukan yang pertama, dan juga kuragukan apakah bakal jadi yang terakhir) adalah seorang mahasiswa depresi(?) di kota lain yang berkeinginan untuk bisa melihat hantu.

Aku bukan penggila hal-hal supernatural. Tapi aku mengakui kalau sisi dunia lain itu ada. (Heh, aku bahkan melihat sendiri bagaimana salah satu pembantu di rumahku sempat kesurupan.)

Aku bertanya soal alasan keinginan aneh(?)nya itu ke dia. Lalu mahasiswa itu memberi jawaban ngawang soal gimana dia ingin tahu bentuk ‘mereka’ kayak gimana. Jujur, dari sejumlah pengalaman orang yang pernah aku denger, keinginan kayak gini biasanya enggak berujung ke hal baik. Tapi, aku putuskan buat coba telaah lebih jauh soal keinginannya itu. Akhirnya dia mengakui kalau sekalipun dia punya alasan, alasan tersebut sudah lama ia lupakan pada titik ini.

Phenomeno, atau yang juga dikenal dengan judul Phenomeno: Mitsurugi Yoishi wa Kowagaranai (subjudulnya mungkin kira-kira berarti: ‘Mitsurugi Yoishi tidak mengenal takut’) bermula dari seri light novel yang dikarang oleh Ninomae Hajime. Ilustrasinya dibuat oleh ABe Yoshitoshi (ilustrator orisinil untuk Serial Experiments Lain dan NHK no Youkoso!) yang sangat dikenal dengan nuansa karakternya yang khas. Ini seri horor supernatural yang sudah tamat dalam enam buku. Walau begitu, daripada takut-takutan ala jump scare, ceritanya lebih berat ke suspens.

Kayak, perasaan berat menggantung yang mengindikasikan adanya sesuatu yang ‘salah,’ tapi kita enggak bisa mengungkapkan apa.

Phenomeno mulai dikenal di luar Jepang berkat versi visual novel-nya yang sempat dibuat Nitroplus. Versi ini mengadaptasi cerita dari babnya yang paling pertama. VN pendek ini memang dimaksudkan untuk mempromosikan seri novelnya; sifatnya freeware. Karenanya, meski sama sekali enggak jelek, juga enggak sepenuhnya bisa dibilang menonjol.

Tapi karena VN ini pula, aku jadi pertama tahu tentang seri ini. Kebetulan, sejumlah fans telah membuatkan patch untuk terjemahan Bahasa Inggrisnya. Lalu semenjak menuntaskannya, aku beberapa kali mencari terjemahan lanjutan ceritanya.

Soalnya, aku penasaran dengan hal-hal menggantung yang ada di dalamnya.

Bukan Untuk Manusia

Ringkasnya, Phenomeno dibuka dengan rangkaian pengalaman supernatural yang disaksikan oleh seorang mahasiswa baru bernama Yamada Nagito.

Seperti mahasiswa kenalanku yang aku sebutkan di atas, Yamada adalah orang yang penasaran tentang keberadaan dunia lain. Dirinya penasaran apakah ‘dunia lain’ itu benar-benar ada atau tidak. Dia kerap mempertanyakan apa mungkin berbagai fenomena aneh tersebut sebenarnya diakibatkan kondisi kejiwaan manusia belaka.

Karena memang punya minat terhadap occult, Yamada sejak dulu adalah pengunjung berkala suatu situs web bernama Ikaigabuchi. Di Ikaigabuchi, para ahli soal bidang supernatural konon berkumpul dan Yamada seperti menjadi semacam penggemar mereka. Mereka kerap membedah berita-berita kasus supernatural, membedakan apakah sesuatu benar-benar terjadi atau tidak.

Di awal, si Yamada ceritanya baru pindah ke perkotaan untuk urusan kuliah. Dia berusaha mencari tempat menginap yang kira-kira murah. Lalu sesudah dia berulangkali ‘diganggu’ lewat bunyi-bunyi aneh dan mimpi-mimpi aneh di rumah kontrakannya yang baru, akhirnya dia terdorong untuk mencari bantuan.

Yamada berusaha mengangkat kasusnya di Ikaigabuchi. Bahkan sempat memberanikan diri datang ke acara kopi darat segala. Sayangnya, dirinya secara menyedihkan kurang mendapat tanggapan. Tapi berkat itu, Yamada kemudian berkenalan dengan seorang gadis remaja sangat aneh bernama Mitusurugi Yoishi.

Singkat cerita, Yoishi adalah seorang gadis asosial yang—menurut pendapatku pribadi—kadang tidak jelas apakah dirinya benar-benar manusia atau bukan. Kulitnya pucat. Postur tubuhnya aneh. Dirinya adalah pengunjung berkala Ikaigabuchi seperti Yamada, tapi tidak ada seorangpun anggota lain yang tahu tentang latar belakangnyanya. Ada kabar-kabar aneh tentang dirinya, seperti soal bagaimana dirinya hanya muncul pada saat-saat yang paling ganjil. Hanya saja, Yoishi pulalah satu-satunya orang yang mempertimbangkan masalah si Yamada secara serius.

Episode pertama Phenomeno membahas tentang rumah kontrakan si Yamada yang konon berhantu. Membahas tentang awal mula berdirinya, kasus-kasus yang pernah terjadi di dalamnya, lalu, pengamatan Yoishi saat mendatanginya secara langsung, dan apa yang disaksikannya di sana lewat kemampuannya untuk melihat hal-hal gaib.

Orang-orang Hilang

Karena hubungannya dengan Yoishi, dan juga karena rasa penasarannya sendiri, si Yamada ujung-ujungnya terbawa dalam berbagai kasus lain. Mereka mengunjungi berbagai tempat seram ‘bersejarah’ lain, seperti rumah sakit angker, dsb. Semua kelihatannya agak berujung pada pembeberan soal siapa Yoishi sebenarnya. (Aku juga penasaran dengan jawaban ini.)

Tapi, perkembangannya enggak cuma sampai sana. Berbagai karakter lain yang tergabung dalam Ikaigabuchi juga sesekali diperkenalkan. Lalu menariknya, sebagian dari mereka juga terungkap memiliki situasi dan kondisi pribadi yang tidak kalah janggal.

Seperti yang bisa kau harapkan dengan tema-tema kayak gini, cerita Phenomeno dan cara pemaparannya tidak benar-benar bisa dibilang nyaman. Tidak ada perkembangan karakter mencolok di dalamnya. Juga tidak ada konflik yang benar-benar jelas. Ceritanya buat kebanyakan orang juga kurasa agak membosankan. Tapi, buat yang suka cerita-cerita begini, tetap ada daya tarik aneh soal kasus-kasus yang diangkatnya.

Seperti pada bagaimana pengarangnya mengangkat pola berpikir ‘berbeda’ yang berujung ke hal-hal yang suram dan seram gitu.

Pastinya, cerita ini yang menyadarkanku bahwa kamu enggak perlu bisa melihat sesuatu hanya untuk sekedar tahu bahwa sesuatu itu ada atau enggak. (Seperti halnya dengan listrik, udara, dsb.) Memperhatikan jejak dan dampaknya saja cukup. Tapi masalahnya, kebanyakan orang susah nerima karena merasa susah berpindah sesudah mengakuinya.

Balik ke soal mahasiswa kenalanku tersebut, aku sempat mempertimbangkan buat mengenalkan Phenomeno kepadanya. Bagaimanapun, kelihatannya dia juga pemerhati kebudayan visual Jepang. Jadi harusnya bukan masalah kalau aku membicarakan soal ini dengannya.

Tapi… pada akhirnya, aku berubah pikiran.

Entah ya. Sukar menjelaskannya.

Intinya, aku tiba-tiba tersadar bahwa kalau dia emang jadi bisa melihat ‘mereka’ pun, masalah-masalah yang sedang dia hadapi tetap saja enggak akan selesai.

Lebih baik menunggu sampai dia bosan sendiri dengan topik ini daripada memanas-manasinya.

Iklan
30/05/2017

Bokurano

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

28/04/2017

Chaos;Child

Pada tahun 2009, gempa bumi dahsyat meluluhlantakkan Shibuya, Tokyo.

Dalam insiden tersebut, beredar kesaksian terlihatnya cahaya putih terang. Gempa tersebut juga menonjol karena terjadi di penghujung rangkaian pembunuhan ganjil Kegilaan New Generation di Shibuya, dan sejumlah teori mencurigai kalau keduanya sebenarnya berhubungan.

Beberapa tahun sesudahnya, kota Shibuya dibangun ulang.

Pada tahun 2015, Miyashiro Takuru, siswa SMA berkacamata sekaligus ketua Klub Surat Kabar di sekolahnya, memperoleh informasi tentang kembali terjadinya pembunuhan-pembunuhan ganjil New Generation di Shibuya. Bersama teman-teman dekatnya, Takuru memulai penyeldikan. Ini berujung pada bagaimana ia menyadari kalau kasus-kasus pembunuhan New Generation  yang baru selalu terjadi pada tanggal yang sama dengan kasus-kasus pembunuhan yang lama.

Mata itu adalah mata Dewa

Anime Chaos;Child mengudara pada Januari 2017. Anime ini menjadi cukup diantisipasi karena diadaptasi dari salah satu game science adventure produksi 5pb., yang sebelumnya mencakup seri Chaos;Head (prekuel langsung Chaos;Child), Steins;Gate, dan Robotics;Notes.

Game Chaos;Child pertama keluar di konsol Xbox One di Jepang pada penghujung tahun 2014. Perilisan ini disusul port untuk konsol PS3, PS4, dan PS Vita pada pertengahan 2015. Versi Windows keluar pada musim semi 2016. Versi iOS juga dilepas pada awal tahun ini.

Gamenya disutradarai Wakabayashi Kanji dengan diproduseri Matsubara Tatsuya. Naskahnya ditangani bersama oleh Hayashi Naotaka, penulis awal Chaos;Head, yang kini dibantu Umehara Eiji, Takimoto Masashi, dan Yasumoto Tooru. Musiknya diaransemen komposer veteran waralaba ini, Abo Takeshi. Visualnya ditangani oleh Sasaki Mutsumi, Matsuo Yukihiro, dan dibantu Choco untuk desain, uh, persenjataannya.

Sayangnya, berbeda dari Steins;Gate (dan midkuelnya yang baru-baru ini rilis, Steins;Gate 0) yang menjadi ‘saudara’-nya, versi VN dari Chaos;Child masih belum dirilis dalam Bahasa Inggris pada saat ini aku tulis.

Animenya sendiri diproduksi Silver Link. Jumlah episode totalnya sebanyak 13, dengan tambahan satu episode spesial yang masih akan menyusul. Penyutradaraannya dilakukan Jinbo Masato, yang sekarang dikenal berkat arahan beliau dalam setiap season anime Fate/kaleid liner Prisma Illya. Selain gubahan Abo-san dari game yang dipakai kembali, Onoken juga turut membantu menangani musik.

Karena aku sempat mengikuti prekuelnya, Chaos;Head, aku penasaran cerita Chaos;Child berkembang ke arah mana. Aku pribadi antusias dengan anime ini. Apalagi penayangannya langsung menyusul adaptasi anime Occultic;Nine pada musim gugur lalu.

Sayangnya, ada banyak hal tentang anime Chaos;Child yang ternyata baiknya dibahas…

Digital Native

Untuk yang belum tahu, seluruh game science adventure 5pb. saling berhubungan. Meski mengangkat tema-tema sains fiksi berbeda, semuanya bercerita tentang orang-orang biasa yang tahu-tahu terjebak dalam intrik besar yang mengancam dunia.

Berlatar di tahun 2015, Chaos;Child adalah sekuel langsung Chaos;Head, game science adventure yang pertama. Meski mengetengahkan tokoh-tokoh berbeda, cerita Chaos;Child mengangkat tema-tema hampir sama—yakni soal delusi mental dan persepsi kenyataan—di samping cerita yang berhubungan langsung dengan pendahulunya.

Perlu kukatakan, versi game Chaos;Child konon benar-benar bagus. Kata seorang kenalanku yang memainkannya (dalam Bahasa Jepang), ceritanya punya karakterisasi dan misteri yang bisa sangat melarutkanmu gitu. Karenanya, kita bisa sedemikian terpengaruh oleh perkembangan-perkembangan gelap yang menimpa para karakternya.

Kebagusan Chaos;Child juga konon karena dianggap memperbaiki kekurangan-kekurangan Chaos;Head. Dengan elemen-elemen cerita yang tak seimbang dan sejumlah aspek presentasi bermasalah, sebagai game science adventure 5pb. pertama, Chaos;Head memang tak sebagus seri-seri yang menyusulnya. Mungkin karena itu pula, pengharapan terhadap anime Chaos;Child terbilang besar.

Lalu karena itu juga… sempat ada spekulasi-spekulasi negatif saat anime Chaos;Child dikonfirmasi hanya satu cour. Meski durasi gamenya lebih panjang, ini membuat animenya hanya punya durasi yang sama dengan durasi anime Chaos;Head.

Lalu sesudah mengudara, yah, sesuai perkiraan, para penggemar gamenya ternyata benar-benar mengamuk.

Pengkhianatan

Sebelum membahas ceritanya lebih lanjut, perlu disebut kalau anime Chaos;Child secara teknis sebenarnya lumayan. Visual dan audionya termasuk bagus. Akting para seiyuu-nya meyakinkan. Beberapa BGM-nya keren. Lalu ada episode-episode tertentu yang sempat membuatku terkesima dengan cara adegannya dibawakan.

Masalahnya ada di… naskah.

Naskah animenya terlalu maksa. Gampangnya, versi anime Chaos;Child, kalau mengacu ke perkataan kenalanku tersebut, hanya sekedar menyambungkan titik-titik alur penting pada gamenya tanpa memaparkan apa-apa yang membuatnya jadi bagus.

Karakterisasinya, secara relatif, hancur. Pribadi Takuru di versi game yang menyebalkan misalnya, dengan bawaannya yang cenderung sombong karena selalu ingin bisa menjadi yang paling tahu (karena mengusung moto bahwa ‘pengetahuan adalah kekuatan’), kurang tersampaikan. Padahal Chaos;Child justru dipandang bagus karena memaparkan perkembangan kepribadian Takuru menjadi orang lebih baik.

Di samping itu, ada beberapa pembeberan mengejutkan yang jadi berantakan urutannya. Karenanya lagi, kenalanku sampai bilang, kalau dalam waktu dekat kalian berpikiran untuk memainkan game Chaos;Child, kalian sangat tidak direkomendasikan untuk mengikuti anime ini. (Edit: Perilisan gamenya ke Bahasa Inggris sudah dikonfirmasi.)

Kalau kupikir, anime Chaos;Head yang dibuat oleh Madhouse dulu juga mengadaptasi cerita dengan cara begini. Tapi selain lebih berhasil karena game Chaos;Head punya durasi lebih pendek, anime Chaos;Child juga jadi begini karena punya struktur cerita yang agak-agak… beda.

Apa kalian melihat cahaya?

Masuk ke soal cerita, agak sulit merunutkannya karena banyaknya hal yang terjadi secara bersamaan.

Miyashiro Takuru dikisahkan satu dari sejumlah yatim piatu korban gempa bumi besar yang menimpa Shibuya enam tahun silam. Takuru kehilangan kedua orangtuanya dalam insiden itu. Tapi orangtuanya wafat bukan dalam gempa itu sendiri, melainkan sesuatu yang secara tragis berlangsung sesudahnya.

Sesudah insiden itu, Takuru sempat dibesarkan oleh Sakuma Wataru, dokter umum ceria yang membesarkan sejumlah anak yatim piatu lain di kliniknya. Keluarga angkat ini mencakup Kurusu Nono, gadis seusia Takuru yang menjadi semacam kakak perempuan angkatnya; lalu dua adik angkat di usia SD, Tachibana Yui dan Tachibana Yuuto. Hanya saja, menjelang remaja, Takuru tak lagi kerasan dengan mereka, dan memutuskan keluar dari rumah dokter Sakuma dan hidup sendiri.

Di sekolah, meski sesekali bertemu Nono yang aktif sebagai pengurus Dewan Siswa, Takuru lebih dekat dengan sesama anggota Klub Surat Kabar. Mereka mencakup Onoe Serika, seorang gadis manis berambut pendek yang merupakan teman sejak kecil Takuru; Itou Shinji yang supel, orang ramah dan pedulian yang menjadi teman sesama cowok paling dekat dengan Takuru saat ini; serta Kazuki Hana, gadis mungil berkacamata sangat pendiam yang handal dalam pekerjaannya, tapi sehari-harinya lebih banyak memainkan MMORPG di komputer klub bila sedang tak ada kerjaan.

Dalam penyelidikan mereka, Takuru dan Serika memperkirakan TKP pembunuhan yang berikutnya adalah sebuah love hotel. Keduanya gagal mencegah pembunuhan yang terjadi. Tapi di sana, mereka menjumpai gadis berkuncir dua bernama Arimura Hinae, adik kelas mereka yang didapati pingsan, yang agaknya menjadi saksi pembunuhan tersebut. Hinae yang bermulut pedas semula sangsi terhadap Takuru. Tapi ia lalu, secara membingungkan, memperingatkan Takuru kalau dirinya berpotensi menjadi salah satu korban.

Pada titik ini, Takuru menyadari keberadaan banyaknya gambar-gambar tempel Sumo Sticker (rikishi seal) di setiap TKP. Gambar-gambar tempel ini berwujud seperti muka-muka pesumo yang dikali tiga dan ditempelkan secara ganjil dengan satu sama lain, menyerupai wujud guci. Meski diketahui ada beberapa variasi, kesemuanya bermunculan secara misterius di sejumlah tempat di Shibuya semenjak beberapa tahun silam.

Secara ganjil merasa diawasi oleh gambar-gambar tempel ini, Takuru mulai menduga ada kaitan antara semua Sumo Sticker ini dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.

Tanpa Takuru dan Serika ketahui di awal, Shinjou Takeshi, polisi muda yang menginterogasi Hinae, menggunakan cara-caranya sendiri untuk menyelidiki. Shinjou ternyata menjalin kontak dengan seorang ilmuwan sangat muda bernama Kunosato Mio, yang ternyata juga menjadi kakak kelas di sekolah Takuru.

Kunosato—yang membenci manusia secara umum—mendalami penelitian saraf. Ia rupanya mengetahui ada sesuatu yang lebih besar di balik pembunuhan-pembunuhan New Generation. Karena suatu alasan tertentu, Kunosato terobsesi mengungkapkan kebenarannya, yang agaknya berhubungan dengan keberadaan suatu Komite.

Dengan memanfaatkan topengnya sebagai narasumber Internet bernama Kei, Kunosato membajak teori Sumo Sticker yang berhasil Takuru rumuskan dan menyebarkannya ke khalayak luas. Perhatian massal terhadap Sumo Sticker kemudian terpicu. Ini berujung pada desas-desus bahwa penciptanya ternyata seorang pasien di RSU AH Tokyo yang secara rahasia dirawat di sana sesudah menderita koma.

Ada seorang wartawan terkemuka bernama Watabe yang juga menyelidiki kasus ini. Watabe diundang sebagai narasumber untuk kegiatan festival sekolah Takuru.

Takuru untuk sementara mematuhi permintaan Nono yang mengkhawatirkan keadaannya semenjak penyelidikan dimulai. Namun di hari festival, Watabe justru menjadi korban berikutnya yang tewas. Ia meninggal secara misterius di depan umum dengan memuntahkan Sumo Sticker dalam jumlah tak terhitung.

Tak lagi bisa diam sesudah kematian Watabe, pada malam harinya, Takuru, Serika dan Shinji akhirnya nekat menginfiltrasi RSU AH Tokyo untuk menemukan kebenaran di balik gambar-gambar tempel Sumo Sticker.

Di luar dugaan, mereka menemukan instalasi bawah tanah tersembunyi di rumah sakit itu. Di sana, ada sejumlah orang yang nampak sudah hilang akal dipenjara dalam ruangan-ruangan khusus. Di sana pula, Takuru dan kawan-kawannya bersimpangan jalan lagi dengan Kunosato Mio.

Kunosato, yang rupanya memiliki maksud sama dengan mereka, kemudian mengungkapkan tentang eksperimentasi kejam dan rahasia yang rupanya pernah berlangsung sampai enam tahun silam. Tujuan eksperimentasi manusia tersebut untuk menghasilkan manusia-manusia istimewa yang disebut Gigalomaniacs. Menurut Kunosato, para Gigalomaniacs sangat berbahaya karena memiliki kemampuan untuk mewujudkan apa-apa yang mereka khayalkan menjadi nyata.

Lalu di instalasi bawah tanah rahasia itulah, mereka konon diciptakan.

Re-Real Booting

Sesudah terungkapnya keberadaan para Gigalomaniacs—orang-orang yang sampai lingkup tertentu, mampu memproyeksikan delusi menjadi kenyataan melalui proses yang disebut Real Booting—apalagi sesudah Hinae, atas permintaan Kunosato, memperlihatkan pada Takuru demonstrasi kekuatannya secara langsung; cerita Chaos;Child berkembang dengan bagaimana Takuru dan kawan-kawannya berusaha lolos dari pembunuh New Generation baru yang kini mengincar mereka.

Alasannya? Karena korban-korban pembunuhan sebelumnya rupanya adalah Gigalomaniacs.

Takuru, dan orang-orang lain yang melihat ‘cahaya’ pada hari terjadinya gempa, ternyata juga adalah Gigalomaniacs. Takuru sendiri belakangan mengetahui bahwa dorongannya untuk mengungkapkan kebenaran menyebabkan kekuatan Gigalomaniacs-nya bermanifestasi sebagai kemampuan psikokinesis untuk membuka segala jenis kunci.

Dengan kata lain, ada suatu pihak yang bermaksud melenyapkan para Gigalomaniacs dari muka bumi. Tapi pihak itu tidak diketahui siapa.

Dugaan sejauh ini jatuh pada Minamisawa Senri, seorang gadis remaja seusia Takuru, yang merupakan satu-satunya korban percobaan yang hilang tanpa ditemukan jasadnya. Apalagi sesudah Takuru dan Hinae sempat diserang seorang pengguna kekuatan api yang berwajah mirip dengan Senri.

Chaos;Child gampangnya bercerita tentang fallout yang berlangsung sesudah apa-apa yang terjadi dalam Chaos;Head. Persisnya, dampak apa-apa yang terjadi sesudah para tokoh utama Chaos;HeadNishijou Takumi dan kawan-kawannya—menghentikan upaya perusahaan jahat Nozomi sekaligus mengungkap pelaku pembunuhan berantai New Generation yang pertama. Dalam anime Chaos;Child, apa yang terjadi di Chaos;Head sedikit banyak diungkapkan melalui episode nolnya yang menjadi prolog cerita.

Game Chaos;Child dianggap istimewa katanya karena caranya menutupi bagian-bagian ‘bolong’ dari cerita Chaos;Head sembari menuturkan ceritanya sendiri. Ceritanya tak kalah ganjil dan gelap. Tapi berbeda dari Chaos;Head yang secara umum mengikuti hanya satu rute (dengan dua potensi akhir cerita), game Chaos;Child mempunyai lima rute karakter ditambah satu rute final yang hanya bisa dibuka sesudah semua rute sebelumnya kita jalani.

Jadi, meski sistem permainannya kurang lebih sama, kalian bisa bayangkan besarnya ekspansi yang diberikan Chaos;Child. Buat yang mau tahu, masing-masing rute Chaos;Child meliputi:

  • Rute utama, atau rute Onoe Serika, teman masa kecil Takuru. Bersama Serika, Takuru pernah menyaksikan bagaimana Minamisawa Senri dieksperimentasi sewaktu kecil, dan terpaksa melarikan diri tanpa sempat menolongnya. Serika semula menyembunyikannya, tapi kemampuan khusus miliknya adalah semacam telepati. Anime Chaos;Child secara umum mengikuti cerita rute ini, meski ada elemen-elemen rute Nono yang masuk juga.
  • Rute Kurusu Nono, saudara perempuan angkat Takuru yang sedikit lebih tua, yang belakangan mengakui kalau Senri adalah teman masa kecilnya. Karenanya, Nono tak bisa percaya kalau Senrilah pelaku semua pembunuhan itu. Nono semula juga enggan mengakuinya, tapi kemampuan khusus miliknya adalah kekuatan menyamarkan diri.
  • Rute Kazuki Hana, yang disebut merupakan rute yang paling ‘beda sendiri’ karena tak memaparkan misteri pembunuhan (karenanya, peran Hana di anime lumayan terbatas). Kemampuan khusus Hana, yang masih sulit dikendalikannya, berkaitan dengan alasan kenapa ia jarang berbicara. Cerita rutenya membeberkan informasi lebih jauh tentang keberadaan Komite, yang ternyata sangat dekat kehadirannya dengan keseharian para tokoh utama.
  • Rute Arimura Hinae, yang membawa Takuru lebih jauh ke latar belakang keluarga Arimura sehubungan kematian kakak lelaki Hinae enam tahun silam. Keinginan Hinae untuk mengungkap kebenaran kata-kata terakhir kakaknya membuatnya punya kemampuan untuk secara absolut membedakan kebenaran dan kebohongan. Cerita rutenya berkutat soal misteri pembunuhan yang terus berlanjut meski pelakunya harusnya sudah tertangkap. Secara pribadi, Hinae adalah karakter favoritku di seri ini.
  • Rute Yamazoe Uki, gadis kecil yang ditemukan Kunosato dan Takuru di instalasi bawah tanah RSU AH Tokyo, dan diduga telah hidup di sana sembari merawat pasien-pasien lainnya selama bertahun-tahun. Cerita rutenya memaparkan hidup yang berlanjut di dunia bahagia sesudah ia diadopsi keluarga angkat Takuru, yang sayangnya, tak seperti yang terlihat.
  • Rute Chaos Child, rute penutup, yang merupakan akhir cerita sesungguhnya yang memaparkan apa yang terjadi sesudah akhir rute utama. Mengisahkan tentang sindrom misterius yang menimpa para remaja Gigalomaniac yang memperoleh kekuatan mereka sesudah gempa enam tahun silam. Pihak sesungguhnya yang bermaksud menghapus keberadaan mereka sekali lagi terungkap di rute ini.

Sebagai catatan, meski aku pribadi kurang menyukainya, aku juga sempat heran bagaimana Kunosato tak punya rutenya sendiri.

Mungkin menarik kalau kusinggung kalau cerita Chaos;Child tak berakhir dengan sepenuhnya bahagia.

Langit yang Sunyi

Chaos;Child bukan anime yang akan aku rekomendasikan. Kalau kalian penggemar cerita-cerita science adventure 5pb., cukup wajar kalau kalian tertarik mengikutinya. Tapi anime ini bisa sedemikian merusak kesan gamenya, apalagi dengan potensinya yang sedemikian besar, dan karena itu sulit dibilang bagus.

Di animenya, ceritanya jadi kayak… sekedar saling menyambungkan kejutan demi kejutan untuk menghadirkan shock value. Ceritanya jadi berkesan kurang berbobot dan mudah disalahartikan.

Soalnya, hal-hal ‘gelap’ yang terjadi di dalam Chaos;Child itu benar-benar menakutkan dan sakit. Ada temanku yang sampai dibuat berhenti mengikuti pada satu titik karena saking muaknya. Kenalanku, yang pertama sampai di titik bersangkutan lewat gamenya, bahkan sampai dibuat meraung dan menjerit malam-malam saat sampai di bagian itu.

Hasil akhir animenya itu menyakitkan karena sebaliknya, dengan karakterisasinya yang sedemikian kuat, cerita dalam gamenya justru sangat berbobot. Aku pribadi terutama kecewa karena banyaknya motivasi karakter yang jadinya tersamar, gaje, atau tak diungkap.

Mungkin ini mirip kasus anime Shingetsutan Tsukihime yang konon banyak dibenci para penggemar game Tsukihime karena alasan-alasan serupa.

Yah, memang ada banyak hal mengecewakan tentang anime Chaos;Child. Tapi di pembeberan di episode terakhir, bahkan akupun dibuat tercenung dengan apa-apa yang terjadi. Jadi kayak, apa yang terjadi memang enggak segede harapan. Tapi cara semuanya bercampur berakhir lebih rumit dari dugaan. Dengan kata lain, hasil akhirnya enggak sepenuhnya jelek. Tapi sangat mengecewakan karena sedemikian kelihatan bagaimana sebenarnya ini bisa jadi bagus.

Di samping itu, ada banyak referensi terhadap judul-judul science adventure lain. RSU AH Tokyo misalnya, adalah rumah sakit tempat Nishijou Takumi beberapa kali memeriksakan kesehatan kejiwaannya. Partner lain Shinjou, Momose Katsuko yang mengepalai biro detektif swasta Freesia, adalah karakter yang sama dari Chaos;Head, yang sebelumnya membantu penyelidikan Ban Yasuji. Teman Hana di game online, Neithardt, bisa jadi adalah Nishijou Takumi sendiri. Kunosato nampaknya bahkan menjalin kontak dengan para protagonis Steins;Gate dengan upayanya melarikan para tokoh utama ke luar Shibuya. Lalu, Komite yang menjadi dalang ini semua, tak lain adalah Committee of 300 yang merupakan pihak antagonis utama di Robotics;Notes.

Aku sempat sedikit heran. Aku sudah dengar tentang bagaimana Komite berada di balik Nozomi dan SERN. Tapi sekarang, ceritanya, kita jadi melawan mereka lagi? Baru belakangan aku sadar itu karena cerita Chaos;Child berlangsung sebelum cerita Robotics;Notes. Tepatnya, lima tahun sebelum seri tersebut, yang memang berlatar di tahun 2020.

Aku terus terang makin penasaran dengan game Chaos;Child sekarang. Tapi dengan kesibukanku belakangan, sayangnya ada hal-hal lain yang perlu lebih aku dalami dulu.

Soal jalan-jalan keliling Shibuya?

Yah, ada beberapa pemandangan khas wilayah itu yang diperlihatkan dalam anime ini sih. Tapi kesempatan wisata lewat anime kali ini sayangnya enggak segede itu.

Sebagai penutup, aku setuju dengan pandangan Takuru soal bagaimana pengetahuan adalah kekuatan. Banyak-banyaklah baca koran dan mengumpulkan informasi bermanfaat. Tapi jangan sampai besar kepala dan sombong. Gunakan apa yang kau peroleh untuk membangun dirimu sendiri, dan mungkin saja kau juga akan bisa selamat sampai akhir.

(Sedikit trivia: kemunculan Sumo Sticker yang misterius di wilayah Shibuya itu benar-benar pernah terjadi. Tentu saja tak ada kaitannya dengan organisasi rahasia atau konspirasi apapun. Mungkin.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: D-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: C

(Sumber dari Wikipedia dan beberapa situs lain.)

12/03/2017

Shibito no Koe o Kiku ga Yoi

Shibito no Koe o Kiku ga Yoi, atau You Will Hear the Voice of the Dead (‘kau akan mendengar suara orang-orang yang mati’) adalah seri manga horor remaja karangan Hiyodori Sachiko (juga dikenal dengan nama Uguisu Sachiko) yang belakangan menarik perhatian. Diterbitkan sejak tahun 2011 oleh Akita Shoten dan diserialisasikan di majalah Champion Red, perlu kuakui ini salah satu manga horor modern paling menarik buatku.

Premisnya benar-benar sederhana.

Kishida Jun adalah seorang siswa SMA yang memiliki tubuh sakit-sakitan sejak kecil. Sebenarnya, dirahasiakan olehnya sendiri, selain kerap mimisan, Kishida juga sering bisa melihat hantu dan roh orang-orang mati. Tapi Kishida sangat enggan mengakui hal ini. Alasannya karena berdasarkan pengalaman-pengalamannya pribadi, berurusan dengan roh orang-orang mati tak pernah berujung pada hal baik.

Pada suatu ketika, terjadi serangkaian kasus menghilangnya siswa di sekolahnya. Lalu salah satu yang menghilang tersebut adalah Hayakawa Ryoko, seorang siswi cantik yang merupakan teman Kishida semasa kecil. Hayakawa dan Kishida dulu sering sekali bermain sama-sama. Namun pada suatu titik, mereka mulai jarang berbicara. Hayakawa lalu menjadi salah satu yang menghilang. Kemudian sejak saat itu, Kishida mulai sering melihat hantunya.

Mengikuti roh Hayakawa, Kishida akhirnya mengetahui tentang penyebab kematiannya. Namun anehnya, meski kebenarannya terungkap, roh Hayakawa semenjak itu menjadi sering mengikuti Kishida ke manapun ia pergi, senantiasa memperingatkannya dan memberinya petunjuk setiap kali Kishida menghadapi bahaya.

Kelihatannya Mereka Bukan Kappa, Tapi Alien

Semenjak kematian Hayakawa, untuk suatu alasan, Kishida menjadi sering menghadapi kasus-kasus aneh yang berhubungan dengan dunia supernatural. Sebagian alasannya mungkin memang karena Koizumi, teman sekelas Kishida yang gemuk dan realis, telah menyeretnya untuk bergabung dengan klub sejarah (yang belakangan, berubah menjadi klub supernatural) pimpinan Shikino, seorang siswi cantik berkacamata (yang sebenarnya bersifat lumayan egois di balik penampilannya). Tapi keberadaan roh Hayakawa sedikit banyak selalu memungkinkan Kishida dan orang-orang di dekatnya untuk bertahan hidup.

Manga ini menonjol karena pemaparan lewat dialognya yang terbilang minim. Setiap kasus biasanya secara khusus dihadirkan hanya dalam satu bab, walau memang dalam perkembangannya, ada kasus-kasus tertentu yang relatif lebih panjang. Hasilnya, Shibito no Koe o Kiku ga Yoi benar-benar terasa seperti manga yang singkat, padat, dan jelas. Menyenangkan untuk dibaca, mudah untuk dimengerti, dan menarik untuk dibaca lagi, terutama dengan bagaimana Hiyodori-sensei sudah disuruh editornya untuk memastikan selalu ada karakter-karakter perempuan (selain Hayakawa) yang imut di dalamnya.

Menariknya, dalam segala interaksi mereka, Kishida dan Hayakawa tak bisa berbicara dengan satu sama lain sama sekali. Jadi terlepas dari judulnya (yang diakui pengarangnya sendiri terdengar gaje, walau ini mungkin juga foreshadowing terhadap perkembangan cerita ke depan), tak ada suara roh mati apapun yang bisa Kishida dengar.  Kishida dan Hayakawa lebih banyak berinteraksi melalui bahasa tubuh dan pandangan mata. Mimik muka Hayakawa senantiasa datar dan tak ada kata-kata yang ia ucapkan, walau sebaliknya, Hayakawa agaknya bisa memahami apa-apa yang Kishida katakan, dan terkadang ia seperti sengaja bersikap dengan cara-cara tertentu.

Karenanya, kerap kali interaksi di antara kedua tokoh utama berujung jadi lucu secara tak disengaja. Sehingga walau dalam setiap babnya hampir selalu ada adegan-adegan kematian mengerikan (yang tak melulu melibatkan hantu, tapi juga berbagai keanehan supernatural yang lain), ada semacam keriangan polos yang dimilikinya, yang bisa bikin kamu seram tanpa sampai meracuni pikiranmu.

Hal lain yang aku sukai dari seri ini adalah bagaimana kasus-kasus yang lalu juga tak pernah dilupakan. Sedikit banyak, semuanya terasa seperti sedang membangun sesuatu ke arah depan. Itu tetap terasa bahkan dengan pemaparan karakter yang terbatas dan minim.

Bicara soal artwork, gaya gambarnya dipertahankan bernuansa suram dengan warna-warna gelap, tapi bagus. Seriusan, bagus sekaligus rapi. Tak ada fanservice disengaja yang mendistraksi juga. Adegan-adegan kematiannya juga, sekalipun mengerikan, bukanlah jenis yang terlalu berlebihan dalam gore. Penceritaannya, sekali lagi, benar-benar efektif. Ada kedetilan yang benar-benar diperhatikan dalam penggalian latar. Di samping itu, mudah untuk menghargai keragaman temanya yang luas. Hiyodori-sensei seakan telah melakukan riset serius terhadap berbagai cerita aneh sebagai materi karyanya.

Waktu aku pertama tahu tentang manga ini, aku sempat aneh karena belum pernah mendengar tentang Hiyodori-sensei sebelumnya. Aku merasa demikian karena ada sesuatu tentang karyanya yang seakan bisa membuat pembacanya ingin bisa mendukungnya.

Aih, aku berharap judul ini makin dikenal di masa depan nanti.

25/02/2017

Ankoku Joshi

Pada tahun baru kemarin, aku akhirnya membeli novel Girls in the Dark, atau Ankoku Joshi (kira-kira berarti ‘gadis-gadis di tengah kegelapan’), karya Akiyoshi Rikako.

Novel horor misteri ini sebenarnya sudah lama diterbitkan di sini oleh Penerbit Haru (beserta sejumlah novel misteri karangan Akiyoshi-sensei yang lain). Kualitas terjemahan, pengeditan, dan pengemasan Penerbit Haru juga termasuk bagus. Hanya saja, aku sempat tak kunjung juga membelinya untuk waktu lama berhubung sedang dalam kondisi tak ingin membeli novel apa-apa sebelum menelurkan karya baru.

Jadi aku tak kunjung beli bukan karena merasa novel itu jelek, tapi lebih karena sedang merasa belum butuh.

…Yea, aku masih juga mengalami masa-masa itu.

Tapi aku sempatkan beli kali itu karena tiba-tiba teringat kabar kalau novel tersebut mau diangkat ke bentuk film layar lebar yang naskahnya dipenai Okada Mari. Okada Mari, buat kalian yang belum tahu, adalah spesialis drama karakter yang ternama, yang sebelumnya mempenai naskah-naskah seri anime Anohana dan belakangan, Gundam: Iron-Blooded Orphans. Ditambah lagi, stok buku Girls in the Dark belakangan menipis. Ditambah lagi lagi, di edisi kali ini, ada cerita pendek tambahan baru sebagai bonus. Akhirnya, aku jadi berpikir kalau lebih baik aku beli saat itu daripada tidak.

Novel ini awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam majalah novel bulanan Shosetsu Suiri milik penerbit Futabasha dari Desember 2012 sampai Maret 2013. Aku masih belum terlalu mengenal nama Akiyoshi-sensei di masa-masa itu, walau secara pribadi aku telah merasa kalau cerita cetusan beliau sepertinya menarik. Tapi, waktu aku mendengar kalau novel ini akan diangkat jadi film layar lebar, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah “Sial. Aku masih belum sempat baca.”

Suzuran

Girls in the Dark pada dasarnya berkisah tentang siswi-siswi SMA yang tergabung dalam Klub Sastra di Sekolah Putri Santa Maria. (Seibo Maria)

Klub Sastra ini sebelumnya diketuai oleh Shiraishi Itsumi, putri adminstrator sekolah, yang sangat cantik, cerdas, dan dikagumi. Klub Sastra ini, yang memiliki bangunannya tersendiri di sekolah swasta elit tersebut, dan bahkan dilengkapi tempat duduk megah dengan dapur khusus sekaligus interior berkelas, telah dinilai sebagian besar murid sebagai klub pribadi milik Itsumi yang statusnya tertutup, yang mana keanggotaannya konon hanya bisa diperoleh melalui undangan langsung darinya. Klub ini sebenarnya adalah klub tua yang sempat lama dorman karena ketiadaan anggota, sampai Itsumi mengetahui tentang berkas-berkas peninggalannya sesudah SMA, dan memutuskan untuk membangkitkannya kembali.

Namun demikian, di awal cerita, Itsumi dikisahkan belum lama meninggal dunia.

Kematian Itsumi, yang sukar dipercaya, diyakini sebagian orang terjadi dalam kondisi tak wajar. Salah satu alasannya karena dalam kematiannya, Itsumi menggenggam setangkai bunga suzuran (sejenis bunga lily yang juga dikenal dengan sebutan lily of the valley) yang menyiratkan adanya suatu makna yang tak mereka ketahui.

Sekitar seminggu setelahnya, Klub Sastra rupanya telah menjadwalkan acara Yami-Nabe yang telah menjadi tradisi tahunan klub mereka. Acara Yami-Nabe ini diputuskan untuk tetap dilakukan meski jadinya tanpa kehadiran Itsumi. Penyelenggaraannya akan dilaksanakan di bawah kepemimpinan Sumikawa Sayuri, wakil Itsumi yang kini menjabat sebagai ketua klub, salah seorang siswi di sekolah tersebut yang tak kalah andalnya, sekaligus sahabat terdekatnya.

Acara Yami-Nabe ini pada dasarnya adalah acara kumpul-kumpul tahunan para anggota, yang mana masing-masing dari mereka membawa bahan masakan sendiri-sendiri (yang tidak selalu makanan) untuk ditambahkan ke dalam kuah nabe (hotpot) yang mereka masak sama-sama. Hanya saja, acara masak bersama ini dilakukan sepenuhnya dalam gelap, pada malam hari, sehingga satu sama lain tak bisa mengetahui apa saja bahan yang ditambahkan oleh masing-masing orang. Mengingat status mereka sebagai Klub Sastra, acara Yami-Nabe juga akan diselingi sesi-sesi pembacaan cerita pendek buatan masing-masing anggota.

Hanya saja, mengejutkan semua anggota, tema cerita pendek yang Sayuri wajibkan untuk acara Yami-Nabe tahun ini ternyata adalah “Kematian Shiraishi Itsumi.”

…Alasannya mungkin sekedar untuk mengenang mendiang ketua mereka yang baru saja meninggal.

Kecantikan Ditentukan Oleh Mata yang Melihat

Girls in the Dark dituturkan melalui sesi-sesi ‘pembacaan’ dalam ajang Yami-Nabe ini. Ceritanya dibuka dengan kata-kata sambutan yang dibawakan oleh Sayuri, sebelum dilanjutkan paragraf-paragraf cerpen yang dibacakan masing-masing anggota. Acara diakhiri dengan cerita yang dibacakan Sayuri, dan baru setelahnya ditutup dengan kata-kata dari Sayuri lagi.

Antara tiap cerita, hadir bagian-bagian intermengso pendek yang juga dituturkan Sayuri. Di bagian-bagian ini, Sayuri menyampaikan kesan-kesannya atas tiap cerita dan juga melakukan penunjukkan atas siapa yang membaca cerita berikutnya. Di tengah-tengah itu semua, kegiatan masak dan memakan nabe terus berlangsung. Walau, ya itu, semua orang hampir tak bisa melihat satu sama lain, memperkuat kesan harap-harap cemas yang acara Yami-Nabe punya.

Bersama setiap cerita, kita, sebagai pembaca, jadi mengetahui lebih banyak tentang kehidupan mendiang Itsumi yang kepadanya, acara ini didedikasikan. Seakan menutup rasa duka, Sayuri membuka acara Yami-Nabe dengan suasana riang. Tapi mungkin karena tersembunyi dalam gelap, reaksi-reaksi dari para anggota lain seperti dengan sengaja tak diungkap dalam narasi.

Hanya saja, seiring berjalannya acara, kita bakal tersadar adanya sejumlah hal aneh yang tersirat. Ada fakta-fakta saling bertentangan. Ada perasaan-perasaan yang sebelumnya terpendam. Semua karena para gadis, melalui cerita pendek mereka masing-masing, jadi menuturkan kembali awal pertemuan dan hubungan mereka dengan Itsumi, bagaimana awal mula mereka bergabung dengan Klub Sastra, seperti apa sosok Itsumi yang mereka kenal, dsb. Lalu setiap cerita, lucunya, ditutup dengan pandangan mereka masing-masing tentang apa yang menjadi penyebab kematian Itsumi.

Pembunuhankah? Bunuh dirikah? Akankah kebenarannya terkuak di akhir acara?

Terlepas dari itu, para anggota Klub Sastra, sesuai urutan pembacaan naskah mereka, adalah:

  • Nitani Mirei (Kelas 1-A), anggota klub termuda dan yang paling baru. Berbeda dari kebanyakan murid Santa Maria, Mirei berasal dari keluarga kurang mampu dan bersekolah dengan bantuan beasiswa dari yayasan sekolah. Cerpen karangannya berjudul “Tempat Berada” dan mengungkapkan hubungan Mirei dengan ibunya yang orangtua tunggal, serta bantuan pekerjaan les privat yang Itsumi berikan untuknya.
  • Kominami Akane (Kelas 2-B), seorang siswi yang mendalami pembuatan kue-kue barat meski berasal dari keluarga pengelola restoran masakan Jepang. Cerpen karangannya berjudul “Macaronage” dan memaparkan awal mula bagaimana Itsumi menawari Akane untuk menggunakan dapur ruang klub.
  • Diana Detcheva (Murid Internasional), seorang murid pertukaran dari Rumania yang memiliki kecantikan bagaikan boneka. Cerpen buatannya berjudul “Balkan di Musim Semi” dan menceritakan pertemuan awalnya dengan Itsumi saat Itsumi datang sebagai murid pertukaran pelajar ke desa tempat tinggalnya, yang berujung pada ketertarikan kuat Diana terhadapnya.
  • Koga Sonoko (Kelas 3-B), seorang siswi serius yang memiliki cita-cita ingin menjadi dokter, dan sedikit banyak juga mengenal keluarga Itsumi. Cerpen buatannya berjudul “Perjamuan Lamia” dan mengisahkan bagaimana Sonoko ikut bersama Itsumi dalam kunjungan Itsumi berikutnya ke Rumania.
  • Takaoka Shiyo (Kelas 2-C), seorang penulis light novel dari usia muda yang karyanya telah sukses besar. Karena profesi orangtuanya, pernah menetap cukup lama di luar negeri. Cerpen buatannya berjudul “Pengebirian Raja Langit” yang menceritakan awal mula bergabungnya Shiyo dalam Klub Sastra meski semula ia tak menyukai Itsumi. Cerpen ini mencolok karena menjadi satu-satunya yang diceritakan dengan gaya bahasa light novel.
  • Sumikawa Sayuri (Ketua Klub), yang merupakan sahabat lama Itsumi dan paling terpercaya, sekalipun sifat mereka pada dasarnya bertentangan. Cerpen yang dituturkannya berjudul “Bisikan dari Kubur.”

Kau Tak Bisa Melihat Dalam Gelap

Di samping fakta-fakta yang saling bertentangan, masing-masing cerpen juga menyinggung bagaimana kesehatan Itsumi terus menurun menjelang kematiannya. Sebagian anggota klub jadi menduga bahwa kematian Itsumi sebenarnya disebabkan oleh sesuatu yang supernatural. Lalu acara Yami-Nabe yang semula berkesan cerah perlahan diselimuti kengerian berhubung tak ada di antara mereka yang boleh keluar sebelum Yami-Nabe berakhir, pintu ruangan klub dikunci, semuanya dalam kondisi gelap, dan ada hujan badai yang tahu-tahu tengah berlangsung di luar.

Meski ada sejumlah aspek cerita yang terasa ‘maksa’ (aku sempat ketawa saat Sayuri tanpa sebab jelas mulai mendeskripsikan seperti apa bangunan Sekolah Santa Maria, padahal semua yang hadir jelas-jelas adalah murid di sana), Girls in the Dark lumayan berhasil membawakan nuansa teka-teki kebenaran menyerupai Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke yang terkenal, tapi tanpa lupa memaparkan solusinya. Hasilnya lumayan keren.

Teka-tekinya memang enggak susah-susah amat. Tapi pemaparan dan perkembangan ceritanya terus terang menarik dan enak disimak.

Bicara soal filmnya sendiri, penyutradaraannya akan dilakukan oleh Yakumo Saiji dan direncanakan akan tayang pada April 2017 nanti. Produksinya dilakukan melalui kerjasama Toei dan Showgate, dengan Shimizu Fumika berperan sebagai Sayuri dan Iitoyo Marie berperan sebagai mendiang Itsumi. Aku terus terang belum bisa memperkirakan kualitas akhirnya, terlebih dengan bagaimana produksinya kelihatan dibuat cepat. Tapi dengan Okada-san menangani naskah, kurasa ceritanya tak akan sampai jelek.

Girls in the Dark menurutku adalah jenis cerita misteri yang kalau kau kaji dengan pendekatan logis cerita-cerita detektif, jadinya malah tak menarik. Aku mungkin merasa begini karena kerap tsukkomi terhadap hal-hal yang berlebihan. Tapi serius, novel ini menarik. Membacanya juga terbilang enak. Aku terkesan dengan bagaimana kualitas ceritanya dipertahankan secara konsisten dari awal sampai akhir.

Yups. Aku tak menyesal membeli. (Walau mungkin perlu kusebut kalau memang sejumlah aspek ceritanya agak dewasa. Novel ini memang lebih ditujukan bagi remaja.)

Mungkin aku akan membacanya lagi suatu hari nanti.

29/11/2016

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare, atau juga dikenal dengan judul Thou Shalt Not Die (kira-kira berarti ‘engkau janganlah mati,’ atau ‘kematianmu janganlah sampai menaklukkanmu;’ kemungkinan judulnya diambil dari puisi klasik Asano Yokiko), sekilas tak terkesan istimewa. Ini seri manga relatif baru dengan cerita yang dibuat Yoko Taro dan digambar oleh Moriyama Daisuke. Ilustrator lepas Kurahana Chinatsu turut berperan sebagai perancang pakaian para karakternya.

Cerita Kimishini, gampangnya, adalah tentang anak-anak remaja yang dilimpahi kekuatan-kekuatan supernatural. Anak-anak remaja ini disuruh berperang menggunakan kekuatan-kekuatan tersebut, di zaman ketika minyak bumi sudah mengering dan sumber daya alam menjadi objek perebutan antar negara.

Seri ini diserialisasikan dari awal tahun 2015 di majalah bulanan Monthly Big Gangan milik Square Enix. Meski relatif baru, dengan perlahan namun pasti seri ini sudah menarik perhatian kalangan-kalangan penggemar tertentu.

Kalangan-kalangan penggemar apa yang aku maksud?

Tentu saja, kalangan-kalangan penggemar Yoko Taro-sensei.

Buat yang belum tahu, Yoko-sensei sebelum ini dikenal sebagai pencetus game-game Drakengard/Drag-On Dragoon yang dikembangkan perusahaan Cavia, biasanya dengan dukungan dari perusahaan Square Enix. Waralaba ini keluarnya di zaman Sony PlayStation 2, jadi kurasa wajar bila kalian tak kenal nama beliau. Drakengard sekilas terlihat seperti  permainan-aksi-satu-orang-melawan-keroyokan-banyak-musuh macam Dynasty Warriors yang dikombinasi dengan aksi-aksi pertempuran udara macam Ace Combat. Banyak yang bilang idenya menarik sih, tapi eksekusinya kelihatan kurang begitu bagus. Namun mereka yang tak mencobanya sendiri, atau tak diberitahu tentangnya, biasanya juga takkan sadar kalau cerita Drakengard itu sebenarnya gelap.

Maksudku, gelap dalam artian lebih dekat ke ‘sakit.’

Cerita game-game Drakengard  biasanya berlatar di dunia dark fantasy muram di mana sedang berlangsung perang yang dapat mengakhiri nasib dunia. Namun segala yang terjadi biasanya berujung jauh lebih aneh dari yang kau bayangkan. Maka dari itu, cerita-cerita beliau amannya kau ikuti kalau kau dewasa dan berpikiran agak terbuka.

Dalam game-game beliau, Yoko-sensei kadang terasa nge-troll. Tapi di balik itu, selalu terkesan kalau dirinya punya maksud yang lebih dalam dari yang terlihat.

Makanya, terlepas dari adaptasi manga bersifat prekuel dari Drakenguard 3 yang belum lama ini juga dibuat, Kimishini bisa dibilang adalah karya manga beliau yang pertama. Atau setidaknya, seri manga pertama di mana beliau terlibat langsung sebagai pencetus cerita. Lalu seperti yang semua penggemar beliau harapkan, hampir semua ciri khas beliau bisa ditemukan di seri ini.

Ciri-ciri khas tersebut biasanya berupa:

  • Perkembangan yang senantiasa segar dan mengejutkan. Pola cerita yang pernah beliau pakai sekali biasanya tak akan beliau pergunakan untuk kedua kalinya.
  • Perkembangan yang lebih ‘dalam’ dari yang terlihat. Terlepas dari apakah itu bagus atau enggak, terlepas dari apakah kau sebagai pemirsa menyukainya atau enggak, selalu ada sesuatu yang tak tampak di permukaan.
  • Karakter-karakter yang kejiwaannya agak sakit.

…Apa lagi ya? Terus terang, belum banyak karya beliau yang telah aku tahu selain itu.

Moriyama Daisuke-sensei sendiri adalah pengarang seri manga aksi eksorsisme Chrno Crusade dan seri sains fiksi World Embryo. Aku belum pernah baca World Embryo, jadi aku tak bisa berkomentar tentang itu. Tapi kalau menilai dari Chrno Crusade, Moriyama-sensei tipe mangaka yang meski karya-karyanya kurang memiliki cerita menonjol, karakter-karakter yang beliau buat selalu seperti punya aura karismatik kuat. Desain-desainnya sekilas tak istimewa, tapi kesemuanya memiliki presence yang kuat dalam konteksnya masing-masing gitu. Hal itu tetap terasa bahkan dengan gaya gambar beliau yang sudah agak berbeda di Kimishini.

Soal Kurahana-san, beliau perancang karakter untuk seri Uta no Prince-sama. Jadi tentu saja rancangan-rancnagan pakaian beliau modis dan bagus.

Tersentuh oleh Perintah Itu

Kimishini bercerita seputar siswa-siswi yang tergabung dalam SMA Swasta Kemampuan Istimewa Nasional. (Iya, disebutnya demikian. Namanya blak-blakan sekali.)

Agak rumit penjelasannya. Tapi intinya, semenjak keringnya pasokan minyak bumi delapan belas tahun sebelumnya, konflik-konflik bersenjata global kemudian melanda dunia. PBB memutuskan untuk mengadakan intervensi-intervensi militer demi memulihkan keadaan di wilayah-wilayah konflik. Lalu Jepang, sebagai salah satu negara paling makmur, terpilih sebagai salah satu negara pelaksananya.

Masalahnya, konstitusi Jepang (semacam undang-undang dasarnya) secara jelas melarang tindakan-tindakan yang menjurus ke arah peperangan dengan negara lain (ini sebagai dampak akhir Perang Dunia II?). Solusi yang kemudian diambil? Gampangnya, kirim saja prajurit-prajurit yang tidak menggunakan senjata api.

Dalam hal ini, prajurit-prajurit yang ditenagai kekuatan-kekuatan supernatural.

Kekuatan-kekuatan seperti telekinesis dan penguatan tubuh ceritanya sudah bisa tercipta lewat penggunaan berbagai obat-obatan. Lalu anak-anak yang dikumpulkan di sekolah tersebut adalah bagian semacam proyek pemerintah untuk pengembangan kekuatan-kekuatan ini.

Resminya, mereka anak-anak remaja yang terpilih sebagai bagian badan amal suatu NGO (organisasi non-pemerintah). Mereka dikirim ke wilayah-wilayah yang dilanda konflik sebagai bentuk ujian atas kekuatan yang telah mereka kembangkan.

Anak-anak ini sendiri pun tahu kenyataannya seperti demikian.

Kenapa remaja-remaja ini yang dikirim, dan bukan orang-orang dewasa yang sudah matang dan lebih terlatih? Alasannya karena kekuatan-kekuatan tersebut konon akan lenyap begitu mereka menginjak usia dua puluh tahun.

Ada lumayan banyak hal yang sebenarnya tersamar pada rinciannya. Terutama dengan bagaimana ceritanya langsung masuk ke porsi adegan-adegan aksi. Tapi sedikit demi sedikit, beragam aspek ceritanya secara perlahan diungkap, memperlihatkan sisi-sisi kenyataan yang lumayan gelap.

Dan Kau Masih Ulurkan Tangan

Cerita Kimishini dibuka di suatu medan perang urban di Amerika Selatan.

Kematian secara brutal terjadi.

Anak-anak sekolahan yang sebelumnya hanya mengenal kedamaian, meski telah dilatih berperang dan membunuh, tiba-tiba harus berhadapan langsung dengan rentetan peluru dan ledakan. Berhubung mereka tak boleh membawa senjata api maupun peledak, selain baju seragam yang mereka gunakan, siswa-siswi tersebut hanya dilengkapi pedang-pedang katana, perbekalan makanan dan minuman, serta peralatan-peralatan komunikasi. Parahnya, kekuatan-kekuatan supernatural yang harusnya bisa mereka andalkan ternyata belum cukup aplikatif untuk dipakai secara nyata. Waktu pengaktifan kekuatan sebagian besar orang masih lamban. Karena itu, meski terlatih sekalipun, mereka masih rentan terhadap kematian.

Remaja-remaja ini menjadi kontingen pertama dari sekolah tersebut yang dicoba di lapangan. Kontingen pertama itu dipimpin para pengurus Dewan Siswa di sekolah itu sendiri.

Para anggota Dewan Siswa itu terdiri atas: Usuki, sang ketua berjiwa pemimpin yang dapat diandalkan (kelas 3, dididik untuk sebagai Gunner, atau pengguna kekuatan jarak jauh, seperti telekinesis); Botan (kelas 3, Attacker, atau pengguna kekuatan jarak dekat, seperti penguatan tubuh), wakil ketua sekaligus kekasih Usuki yang telah bersumpah untuk melindunginya; serta kawan dekat Usuki, seorang cowok berharga diri tinggi bernama Sumi (kelas 3, Scanner, yang memiliki kemampuan jenis pelacakan, seperti penglihatan jarak jauh), yang menjabat sebagai sekretaris.

Selain mereka, cerita perlahan turut mengetengahkan Mashiro, siswi Attacker kelas 1 berambut pendek yang menyimpan perasaan suka terhadap Usuki, yang setidaknya berharap ia bisa menjadi tameng bagi teman-teman sekolahnya yang lain.

Kerap mengitari Mashiro, dan juga sesama Attacker, hadir seorang siswa seangkatannya bernama Kuroi. Kuroi ceritanya pribadi yang agak mistrius. Kuroi, karena suatu alasan, seakan seperti selalu bisa memahami hal-hal yang tak ia ungkap ke orang lain. Karenanya, Mashiro sering mendapati Kuroi tersenyum pada saat-saat yang tak semestinya.

Satu karakter lain yang menonjol adalah seorang siswa kelas dua Scanner berkacamata bernama Asagi. Asagi memiliki kepribadian aneh, karena seringkali seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi, karena ia lupa.

Seluruh karakter yang berperan di Kimishini sejauh ini hanya dikenali dengan satu buah nama. Seakan-akan, sebagaimana yang para karakternya sendiri alami, segalanya hanya diceritakan ‘versi sederhananya’ gitu. Dengan hal-hal yang tak perlu kita ketahui dengan sengaja ditahan.

Karena seri ini pada dasarnya bergenre aksi, tapi diterbitkan bulanan, porsi ceritanya banyak disampaikan melalui dialog-dialog dengan makna terselubung. Kita seperti dibuat mengerti kalau memang ada hal-hal tertentu yang dirahasiakan. Lalu pada bab-bab tertentu, memang ada bagian-bagian eksposisi yang menguak rahasia atau pengetahuan yang dimiliki masing-masing karakter. Tapi tetap saja, dalam jangka panjang, seperti ada benang merah yang benar-benar tak bisa kita tebak gitu.

Benang-benar merah seperti soal tangan prostetik yang Botan miliki setelah ia kehilangan sebelah tangannya, politikus-politikus yang tiba-tiba ditahan, pengetahuan penting yang mungkin Asagi lupakan dari masa lalunya, atau kegilaan terselubung yang Kuroi rasakan terhadap Mashiro karena gadis tersebut seakan telah mengembalikan kemanusiaannya.

Dengan kata lain, benar-benar persis seperti pengharapan kita atas sebuah karya dari Yoko-sensei.

“Tak perlu ingat namaku. Toh, kau takkan melihatku lagi.”

Meski selera dan minat beliau agak aneh, kudengar Yoko-sensei sebenarnya orang yang berwawasan. Beliau mendalami bidang sejarah dan cukup up-to-date dengan perkembangan-perkembangan di bidang kemiliteran. Beliau juga kurang menyukai banyak hal yang umumnya dipandang konvensional. Lalu itu semua benar-benar tercermin dalam topik-topik dan tema yang diangkat dalam Kimishini.

Memang sudah jelas ini genrenya seinen sih. Tapi sekali lagi aku katakan, Kimishini benar-benar lebih cocok untuk dewasa. Pertama, karena berbagai kekerasan sadis yang terjadi di dalamnya. Kedua, adegan-adegan percakapannya juga mungkin membosankan, terutama bagi pembaca awam yang kurang tertarik dialog-dialog penuh ‘ketersiratan’ seperti ini. (Ada satu adegan ketika seorang ilmuwan mengutarakan secara panjang pendapatnya tentang kehebatannya sendiri, sebelum akhirnya tiba-tiba terkuak bagaimana dirinya seorang psikopat.) Lalu, ya, seperti yang mungkin bisa kau bayang, terkadang ada nudity dan bahasan-bahasan yang menyinggung soal seks juga.

Tapi kesemuanya menurutku benar-benar berhasil dipaparkan secara proporsional. Moriyama-sensei seperti berhasil mewujudkan gaya cerita, uh, khasnya Yoko-sensei. Kalau hanya melihatnya sekilas, mungkin aku takkan menyadari kalau manga ini digambar oleh pembuat World Embryo dan Chrno Crusade.

Di samping itu, adegan-adegan dalam ceritanya menurutku kerap benar-benar intens. Disusun sedemikian padatnya, sehingga pada setiap bab terasa ada sesuatu yang tertuntaskan atau terjelaskan.

Mungkin aneh kalau aku bicara begini. Tapi aku baru tersadar sudah betapa lamanya tak ada manga yang membuatku tanpa sadar menahan nafas sampai aku membaca Kimishini.

Kemampuan-kemampuan yang ditampilkan sejauh ini memang terbilang sederhana. Kemampuan ‘umum’ seperti kekuatan mengendalikan api saja tak ada. Mungkin karena terlalu membosankan untuk ukuran Yoko-sensei? Bagaimanapun, dasar kekuatan para karakternya tetap dari sains. Tapi aku tak bisa berkomentar untuk perkembangan-perkembangan cerita ke depan.

Berhubung masih baru, seri ini tentu saja statusnya masih berlanjut saat ini kutulis. Tapi meski jumlah babnya baru belasan, mungkin karena cara ceritanya dipadatkan, rasanya ada begitu banyak hal yang para tokohnya sudah alami.

Aku pribadi tertarik dengan cerita ini karena dari dulu selalu terngiang-ngiang akan jawaban dari Yoko-sensei saat beliau ditanya tentang metode beliau dalam membuat cerita dalam sebuah wawancara. Pada dasarnya, saat sedang bosan—seperti saat sedang berada dalam sebuah rapat, misalnya—beliau sering mengalihkan pikiran dengan mulai memikirkan hal-hal menarik apa saja yang lebih senang ia lakukan.

Dengan kata lain, yang beliau lakukan hanya berusaha membuat apa-apa yang sedang dikerjakannya menjadi menarik.

Sebagai orang yang gampang terseret dalam kemonotonan, aku sebenarnya dibuat cukup terganggu dengan perkataan ini.

Sial. Bahkan hingga kini pun ilmu tersebut masih belum aku kuasai!

Terlepas dari itu lagi, ceritanya mungkin memang terlalu keras untuk ukuran mainstream. Jadi kalau kalian tak suka (karena kalian jadi berasumsi macam-macam, misalnya), jangan paksakan diri.

06/01/2014

Goth

Belum lama ini, di sela-sela kesibukanku(?), melalui situs baca online langgananku, aku membaca versi manga dari Goth karya Otsuichi. Hanya terdiri atas satu buku, ceritanya singkat, padat, dan jelas; sehingga kuanggap cocok untuk mengisi waktu luang.

Oke, mungkin ceritanya sebenarnya memang enggak sejelas itu sih. Aku juga curiga apa sebenarnya ada hal-hal penting tersamar yang tanpa sengaja aku lewatkan.

Tapi terlepas dari semuanya, adaptasi manganya yang dipenuhi artwork hitam putih teramat kontras ini dibuat oleh Oiwa Kenji (apa ini orang yang sama dengan yang membuat adaptasi manga dari NHK ni Youkoso!? Namanya mirip.). Lalu sebagai seri manga pendek yang kurasa diterbitkan di majalah dengan jumlah halaman yang tertentukan, aku lumayan terkesan dengan bagaimana adaptasi ini bisa menyampaikan keseluruhan(?) inti cerita yang kurasa perlu disampaikan dari novelnya.

Alasan aku ngomong gini karena…

Kurasa mending aku menceritakannya dari awal.

Aku lupa persisnya tahun berapa. Kurasa pertengahan tahun 2000an, di situs Baka-Tsuki sempat terpampang upaya untuk menerjemahkan versi novel Goth sebelum judul tersebut dilisensi dan kemudian diterbitkan di Amerika oleh Tokyopop. Aku belum tahu banyak tentang novel tersebut waktu itu. Apalagi seingatku di dalamnya tak ada ilustrasi apa-apa yang ditampilkan. Kalau aku ngelihat ke belakang sekarang, kurasa keputusan pelisensian novel tersebut enggak bisa dibilang buruk—sehubungan selama waktu lumayan lama si penerjemah di Baka-Tsuki kayaknya enggak ngalamin kemajuan apa-apa dalam penerjemahannya.

Terlepas dari semuanya, meski aku lumayan skeptis pada awalnya, aku mencoba membaca satu-satunya bab yang telah diterjemahkan waktu itu.

Bab tersebut juga berjudul Goth. Sesuai nama manga ini.

Sebelum ada yang salah pengertian, Goth merupakan novel one-shot yang bisa diceritakan merupakan kumpulan cerita pendek yang berdiri sendiri-sendiri seputar hubungan antara si tokoh utama—seorang remaja pria yang aku enggak yakin apa pernah disebut namanya—dengan seorang teman sekolahnya, seorang gadis cantik berambut hitam panjang lurus yang teramat penyendiri (dan diam-diam memiliki sebuah bekas luka sayatan pada pergelangan tangannya), Morino Yoru.

Si tokoh utama, di balik sikap cerianya di hadapan kawan-kawannya dan keluarganya, sebenarnya menyembunyikan jati diri sebagai sosiopat. Lalu orang yang kemudian mengetahui jati dirinya sebagai sosiopat ini, walau mungkin secara enggak langsung, adalah Morino. Besar kemungkinan karena Morino pun adalah orang yang agak sejenis dengannya juga.

Aku bilang agak, soalnya mereka enggak persis kayak gitu juga sih.

Si tokoh utama ceritanya memang kejiwaannya udah kayak ‘gitu’ dari sananya. Kalaupun ada alasannya—berhubung baik novel maupun manganya diceritakan dari sudut pandang dia—keliatannya alasan tersebut sudah sepenuhnya dia lupain. Tapi Morino situasinya agak berbeda.

Kalau diibaratkan, mereka seperti dua orang yang kebetulan berpapasan di tempat yang sama atau dalam arah yang sejalur, tapi masing-masing sebenarnya memiliki tempat asal dan tempat tujuan yang sama sekali berbeda.

Tapi balik lagi ke soal ceritanya, Goth pada dasarnya memaparkan pengalaman-pengalaman si tokoh utama bersama Morino pada saat mereka terlibat dengan pelaku-pelaku kriminal di sekitar mereka.

Kalau aku menceritakannya gitu doang, kayaknya itu belum cukup menarik sih. Tapi aku serius bila mengatakan kalau, saat aku pertama kali membaca terjemahan apa yang ada pada situs Baka-Tsuki waktu itu, ada sesuatu dalam ceritanya yang istimewa. Ada sesuatu dalam narasinya yang gila sekaligus mencekam gitu. Padahal penyampaiannya cuma sebatas melalui kata-kata. Intinya, walau plotnya sederhana, ceritanya memberi efek memukau yang sama sekali enggak disangka.

Efek itu tentunya agak hilang pada versi manganya.

Tapi plotnya, walau kubilang sederhana, pada dasarnya memang menarik. Nuansanya macabre gitu, dan lumayan terkait dengan hal-hal suram sekaligus kematian. Lalu bahkan walau kau sudah membayangkan apa yang akan kau temui pun, tetap saja beberapa bagian cerita Goth akan mengundang pembacanya ke wilayah-wilayah tak disangka yang cuma bisa kubilang benar-benar aneh.

Seperti yang belakangan aku tahu, dengan narasinya yang kayak gitu, pantas saja Goth memenangkan Penghargaan Misteri Honkaku dan nama Otsuichi-sensei kemudian melambung sebagai salah satu penulis horor/fantasi muda paling berbakat di Jepang.

Kalau dilihat dari satu sudut pandang, Goth bahkan bisa dibilang merupakan cerita yang romantis. Morino, karena segala ketertarikannya, secara berulang akan terancam nyawanya di tangan seorang pembunuh berantai, kemudian secara berulang pula si tokoh utama akan jadi pahlawan yang menyelamatkannya. Tapinya, sebagaimana yang bisa dilihat pada bab pembuka manganya, alasan si tokoh utama akhirnya melakukan apa yang dia lakukan sama sekali enggak puitis.

Dengan segala kepura-puraannya, si tokoh utama sebenarnya termasuk karakter keren yang cukup bikin aku terkesan.

Versi manga Goth kelihatannya memang tak memaparkan semua episode yang tercantum di novelnya. Namun plot kronologis digunakan untuk menggantikan alur maju-mundur agak membingungkan di novelnya. Lalu kita pun bisa melihat seperti apa rupa si tokoh utama bersama Morino, beserta imaji-imaji kematian suram yang sanggup mereka lihat di sekeliling mereka.

Efeknya mungkin tak semendalam materi awalnya. Lalu bahkan dalam tahun-tahun belakangan, Goth tetap menjadi sesuatu yang dihargai hanya sebatas oleh kalangan niche yang tahu tentangnya saja. Tapi bagaimana hal-hal sederhana di dalamnya kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang teramat mendalam benar-benar mengesankan.

Makna judulnya sendiri baru disampaikan agak belakangan, dengan cara yang bikin aku tertegun sekaligus mengangkat alis pada saat yang sama.

Buat kalian yang sudah tahu tentang judul ini, aku sebenarnya ingin bertanya. Apa ada di antara kalian yang pernah menjalin hubungan seperti yang tokoh utama miliki dengan Morino?

07/07/2013

Gantz

Manga aksi sains fiksi Gantz karangan Oku Hiroya berakhir belum lama ini.

Aku agak skeptis kalau seri ini bisa dilisensi. Jadi mungkin ada perlunya juga kalau ini kusempetin dibahas. (Kalau kupikir, dalam rentang waktu antara tahun 2012-2013 ini, ada banyak banget seri manga populer dan panjang yang akhirnya berakhir. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan, bahkan Naruto pun akan menyusul sebagai salah satunya.)

Ketenaran Gantz sempat mencuat beberapa kali di sepanjang masa serialisasinya. Pertama, di tahun-tahun awal waktu manganya baru mulai terbit (di majalah Weekly Young Jump milik Shueisha, di awal banget dari dekade 2000an). Kedua, pada tahun-tahun saat adaptasi animenya mengudara (yang dibuat Gonzo di tahun 2004, dua season, dengan total 24 episode, dengan Itano Ichiro yang terkenal berkat adegan-adegan mecha beliau sebagai sutradara). Ketiga, saat dua film layar lebar live action-nya dibuat pada tahun 2011.

Gantz pertama-tama mencolok karena  cara Oku-sensei membuatnya. Daripada menggambarnya begitu saja, sesudah membuat name per halaman, beliau menciptakan model 3D dari para karakter dan latar belakangnya menggunakan komputer. Sesudahnya baru beliau menambahkan tone, render, balon kata serta efek suara. Prosesnya memang ribet dan enggak gampang, tapi dengan begitu beliau kayak menciptakan semacam kedinamisan sekaligus konsistensi antar panelnya gitu. Terutama terkait latar dan rincian permesinan yang rumit.

Teknik ini kurang berhasil pada manga beliau sebelumnya, Zero One. Tapi dalam implementasinya di Gantz, hasilnya sama sekali enggak buruk.

Ngomong-ngomong soal itu, aku termasuk orang yang pertama tahu tentang Gantz dari animenya. Saat animenya diumumkan, orang-orang di forum yang dulu kudatangi ramai membandingkannya dengan versi manganya. Berhubung aku belum pernah dengar tentangnya waktu itu (Internet waktu itu belum semudah sekarang), aku tentu aja nanya kalau seri ini tentang apa. Terus konyolnya, enggak ada satupun jawaban jelas yang kuterima dari orang-orang yang di sana.

“Pokoknya ada orang-orang mati, terus pake baju item, bawa senjata, terus ngeburu alien! Pokoknya gila gitu deh!”

Reaksi yang kudapat intinya kira-kira kayak gitu.

Tapi pada waktu itu, ada dua hal yang seenggaknya berhasil kutangkap: Satu, ceritanya eksplisit. Ini jenis cerita dengan tingkat kekerasan dan seksual lumayan tinggi (walau versi manganya kudapati enggak seheboh dengan apa yang dulu temen-temen forumku omongin). Dua, alur ceritanya sendiri emang beneran gila.

Dieeeee! Dieeeeee! Dieeeeee!

Aku enggak terlalu mau masuk ke detil. Tapi intinya, ada dua orang sahabat lama, Kurono Kei dan Katou Masaru, yang terlibat dalam kecelakaan kereta bawah tanah gara-gara berusaha menolong seorang pemabuk. Kurono adalah seorang siswa SMA yang entah karena situasi antar anggota keluarganya atau gimana, tumbuh jadi seorang egois yang agak brengsek. Sedangkan Katou adalah teman lama Kurono yang tinggi besar dan dahulu begitu mengagumi sosok pemberani Kei semasa kecil (suatu hal yang agak enggak kebayang kalau ngelihat keadaan Kurono sekarang).

Keduanya mestinya tewas dalam kecelakaan itu. Tapi entah bagaimana, beberapa saat kemudian, mereka mendapati diri mereka malah berada di sebuah kamar apartemen di bilangan Tokyo (Tokyo Tower terlihat di kejauhan dari jendela). Mereka bukan cuma berada di ruangan itu bersama sekelompok orang lain yang tak mereka kenal—yang kelihatan sama bingungnya soal kenapa mereka semua bisa tiba-tiba berada di ruangan itu. Di ruangan yang kosong dari perabotan itu, yang ada hanya sebuah bola hitam logam besar yang belakangan mereka ketahui disebut Gantz.

Singkat cerita, semua orang di ruangan itu telah meninggal sebelumnya dalam berbagai keadaan. Lalu mereka semua diberikan kesempatan kedua untuk hidup, dengan syarat mereka menjadi budak Gantz dalam sebuah permainan(?) untuk membasmi alien-alien yang telah masuk ke Bumi…

Aku enggak mau masuk terlalu jauh. Soalnya ada begitu banyak hal tersirat yang Oku-sensei hadirkan dalam premis ceritanya sendiri.

Kurono dan Katou dulu akrab semasa SD. Namun kini mereka sama-sama SMA, dan telah tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang begitu berbeda. Ada cewek cantik berdada besar bernama Kishimoto Kei yang muncul di kamar apartemen Gantz dalam keadaan telanjang. Baru belakangan sesudah diperhatikan, dirinya ternyata telah menyilet pergelangan tangannya sendiri selagi mandi untuk bunuh diri. Ada politisi yang baru meninggal karena sakit. Ada… anjing yang enggak tahu kenapa ikut dipanggil. Ada yakuza. Ada korban-korban yakuza. Ada selebriti. Ada biksu. Lalu tentu saja, ada orang-orang ‘biasa,’ seperti seorang nenek bersama cucunya, atau sepasang suami istri bersama anak mereka yang masih kecil.

Semua orang hidup dengan masalah-masalah mereka sendiri-sendiri. Lalu saat masalah bersama muncul dan secara nyata mengancam mereka semua, sifat dan pribadi mereka yang sesungguhnya kemudian tampak ke permukaan. Terutama dengan rangkaian hal gila, yang kayak keluar langsung dari sebuah film sains-fiksi horor, yang kemudian secara terus-menerus harus mereka hadapi.

Cerita semakin berkembang dengan dibeberkannya fakta-fakta terkait Gantz di masa lalu. Muncul orang-orang seperti si anak SMP sombong Nishi Junichiro dan si super serba bisa Shion Izumi yang ternyata sudah tahu sebelumnya tentang Gantz. Lalu muncul pula indikasi bahwa cakupan pengaruh Gantz mungkin tak sebatas hanya di Tokyo semata…

You need, like, a break…

Salah satu sisi bagus Gantz adalah bagaimana semua ini bisa ditampilkan blak-blakan secara apa adanya gitu.

Gantz kayak punya salah satu narasi komik paling objektif yang pernah kutemuin. Kita enggak bener-bener dikasih tahu soal apa sesuatu itu salah atau benar. Oku-sensei seakan bilang kalau semua terserah kita mengintepretasikannya gimana. Sebab berhubung gaya gambarnya demikian, kita enggak pernah bener-bener tahu apa isi pikiran Oku-sensei saat maparin semua ini.

Seakan-akan kayak, di hadapan kematian, kedudukan manusia ataupun dari mana mereka berasal sebenarnya sama saja. Jadi kalau begitu, pada keadaan demikian, apa sesungguhnya yang membedakan kita?

Tapi terlepas dari sisi-sisi nakal beliau, Oku-sensei kelihatannya kayak orang yang memang peduli terhadap apa-apa yang terjadi di masyarakat. Karya lain beliau, Me-teru no Kimochi, yang beliau serialisasikan di tengah-tengah masa serialisasi Gantz, adalah karya yang kayak menyampaikan isi pikirannya dia.

Jadi, daripada mengungkapkannya secara blak-blakan melalui perkataan atau tindakan para karakternya. Oku-sensei memaparkan apapun yang mau disampaikannya lewat penggambaran nasib akhir para karakternya. Tapi itupun dipaparkan kayak sebagai hasil logis dari tindakan-tindakan yang mereka peroleh sendiri. Kayak, ‘dia sebelumnya kayak gini, sehingga enggak aneh kalo akhirnya dia mati.” gitu. Ada hal-hal enggak disangka yang kerap terjadi di luar perkiraan semula. Soalnya segalanya kayak di luar pakem cerita yang biasanya. Kadang hasil akhirnya bisa terkesan kejam. Tapi mungkin karena itu juga Gantz jadi sesuatu yang bisa diterima oleh orang-orang dari berbagai kalangan.

Salah satu kelemahan Gantz mungkin adalah begitu sedikitnya hal yang sepertinya diceritakan dalam satu babnya. Karena itu orang bisa penasaran dan merana setengah mati saat menunggu kelanjutan ceritanya. Apalagi dengan beberapa kali hiatus agak panjang yang sempat terjadi dalam serialisasinya.

Sekali lagi. Perkembangan ceritanya itu benar-benar gila. Saking serunya, seorang penggemar cowok yang sudah kecanduan bisa dibikin hampir engga peduli sama hal-hal seksi yang secara berkala Oku-sensei suka tampilkan.

Adegan-adegan aksinya itu intens dan enggak ketebak gitu. Berhubung ceritanya berbasis karakter, setiap karakter yang tampil (meski dia karakter sampingan), kayak selalu punya sisi yang sebelumnya enggak ditampilkan gitu. Kita enggak bisa bayangin skenario gimana seorang tokoh bakal mati. Tapi kita enggak bisa bayangin skenario gimana tokoh yang sama bakal bisa bertahan hidup juga.

Sama kayak adegan-adegan aksinya, ceritanya juga terus berkembang gitu. Kurono dan Katou enggak selamanya jadi tokoh utama. Gantz itu jadi kayak kumpulan potongan kehidupan dari berbagai orang.

Lucunya, sebagai cerita berbasis karakter, kita justru tak dibeberkan tentang nasib para karakternya sesudah cerita berakhir. Di satu sisi, ini agak mengecewakan. Tapi di sisi lain, aku ngerasa kayak Oku-sensei juga lagi berusaha bilang, kalau justru ini yang para karakternya paling anggap berarti.

Last Kiss

Mungkin perlu kusebutin, walau alur dan premis yang dihadirkan serupa, apa-apa yang ditonjolin dalam setiap versi cerita Gantz itu sebenarnya agak berbeda. Versi manga-nya terasa netral. Tapi latar cerita dalam animenya, misalnya, terasa suram dan nihil.

Bicara soal animenya sendiri, animenya kayak lebih menitikberatkan pada tema post-humanismenya. Kayak, soal hakikat kematian dan makna apa yang bisa ditemukan sesudahnya gitu. Adegan saat permesinan dan teknologi asing Gantz beraksi tentu saja menjadi daya tarik utamanya. Lalu adegan-adegan aksinya, walau agak diulur-ulur, harus diakui tergambar dengan teramat sangat luar biasa keren. Efek-efek senjata yang disediakan oleh Gantz tergambar secara jelas kayak gimana. Demikian pula dengan cakupan sesungguhnya dari  kerusakan yang dihasilkan.

Maksudku, jadi walau awal ceritanya kurang lebih sama, tema cerita di manga dan animenya sebenarnya berbeda gitu. Makanya enggak kerasa aneh saat akhir ceritanya dibikin berbeda. (Kasus yang lazim, berhubung saat animenya dibuat, serialisasi manganya secara lamban masih terus berlanjut.)

Omong-omong, cerita di animenya berakhir tak lama sesudah babak pertempuran melawan alien patung Buddha. Di versi ini, ceritanya mengambil jalurnya sendiri, dan secara keren berujung pada bagaimana Kurono membangkangi perintah Gantz dan membuat dirinya diburu oleh rekan-rekannya yang lain.

Ah, soal film layar lebarnya. Ceritanya, terutama pada film kedua (yang mengambil subjudul Perfect Answer), mengambil arah yang berbeda sama sekali. Kadar muatan moral dan kemanusiaan yang dihadirkan dalam anime dan manganya agak berkurang (mungkin malah nyaris hilang?). Mungkin aku perlu membahas ini secara terpisah. Tapi sebagai tontonan aksi sains fiksi yang dipenuhi efek khusus dan CG, walau agak mengecewakan karena karakterisasinya berbeda jauh dari konsep asalnya, kedua film ini termasuk keren.

Masih ada beberapa seri novel tentang Gantz yang kayaknya masih bisa kubahas. Cuma sayang tentangnya aku belum tahu terlalu banyak.

Aku nulis ini karena, seriusan, ini salah satu manga seinen yang menurutku patut diingat. Mungkin akunya saja yang belakangan sibuk. Tapi kayaknya pada saat manganya berakhir akhir Juni lalu, enggak ada seorangpun yang kukenal yang membicarakannya.

Tapi ya sudah deh.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: S; Audio: A; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

Catatan: Perkembangan cerita di versi anime agak terlalu lambat, dan tak beranjak sejauh di manganya.

04/04/2013

Zekkyou Gakkyuu

Cinta itu beneran bisa membutakan.

jadi, belum lama ini, aku mendengar kabar tentang pembuatan adaptasi live action dari sebuah seri horor berjudul Zekkyou Gakkyuu (screaming lessons; ‘pelajaran menjerit’) karangan Ishikawa Emi. Aku belum tahu apa-apa tentang seri ini sebelumnya. Tapi premisnya terdengar menarik, jadi secara iseng aku kemudian memeriksanya.

Terus, yah, aku semacam jatuh cinta. Zekkyou Gakkyuu benar-benar bagus.

Dulu ada teman yang pernah mencibir soal adanya genre horor dalam bentuk manga. Tapi segala aspek terbaik yang bisa ditemukan dalam sebuah cerita horor benar-benar bisa ditemukan di seri ini. Daripada aspek menakutkannya, Zekkyou Gakkyuu terutama lebih bisa memikat pembaca dengan membuat mereka penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ceritanya sendiri memang tak menakutkan-menakutkan amat. Tapi rasa penasaran soal apa yang terjadi selanjutnya itu loh.

Premis dasarnya kurang lebih begini. Seri ini kumpulan kisah-kisah horor lepas yang ‘dituturkan’ oleh sesosok gadis hantu yang bersemayam di sekolah(-sekolah?) bernama Yomi, yang memiliki wajah dan senyuman yang teramat cantik, namun tak memiliki apa-apa di tubuh bagian bawahnya.

Berhubung ini sebuah manga shoujo yang diserialisasikan (bulanan?) di majalah Ribon Mascot terbitan Shueisha,  ceritanya lebih banyak mengetengahkan anak-anak perempuan sebagai tokoh utama. Kebanyakan tokohnya berusia SD atau SMP, walau ada beberapa cerita yang memaparkan tokoh-tokoh berusia SMA sebagai fokusnya. Biasanya ceritanya berhubungan soal pergaulan antar teman atau timbulnya perasaan suka atau iri dengki. Tema ceritanya tak pernah sampai menjadi berat-berat amat. Tapi seringkali ada semacam faktor moral yang jadi tantangan utama yang harus dihadapi para tokohnya. Selayaknya bisikan-bisikan setan gitu. Lalu terutama yang paling kusukai adalah gimana segala sesuatunya enggak selalu seperti yang pada awalnya terlihat. Ceritanya juga banyak menampilkan sisi ‘dunia lain’ yang seakan emang kelam dan sewaktu-waktu bisa mencelakakan manusia. Ini emang bukan seleraku yang biasa, tapi bukan berarti aku enggak bisa menikmatinya.

Gaya gambar Ishikawa-sensei benar-benar bagus. Rapi, enak dilihat, dan bisa terlihat menakutkan baik secara ekspresif atau konseptual saat benar-benar perlu. Dulu aku pernah bilang kalau komik cewek manapun yang bisa membuat pembaca cowok tertarik dengan desain-desain karakter ceweknya adalah komik cewek yang dipastikan bakal di atas rata-rata. Zekkyou Gakkyuu termasuk salah satu yang seperti itu.

Desain-desain karakter Ishikawa-sensei benar-benar enak dilihat, dan selalu terasa fresh di setiap bab. Ini hal yang menurutku beneran luar biasa, apalagi mengingat sifat seri ini yang episodik. (Mendaur ulang desain karakter dalam sebuah komik adalah hal lumrah dan juga bukan hal salah. Makanya, orang-orang yang bisa terlihat seakan enggak melakukan ini benar-benar luar biasa.)

Salah satu hal menarik lain adalah bagaimana Yomi, dengan mata bulatnya yang besar, selalu digambarkan tersenyum memikat. Yomi bukan karakter jahat atau bagaimana. Tapi.. man, senyuman-terlepas-dari-semua-hal-nakutin-yang-diceritainnya-itu loh (bukan, dia juga bukan karakter loli. Plis deh.).  Lalu di akhir setiap bab, dia selalu dengan ceria lagi ngelakuin sesuatu yang menarik dengan ditemani sosok-sosok bayangan hitam aneh yang sepertinya dengan hati menemaninya.

Rasanya kayak, sebagai cowok, aku enggak bisa jadi enggak ketarik sama karakternya.

Pada saat ini kutulis, seri ini sudah tiga tahun berjalan dan kelihatannya belum akan berhenti.

Makin ke belakang mulai sedikit kerasa nuansa Umezo Kazuo di dalamnya, tapi enggak pernah ampe bener-bener berlebihan. Mulai dari penemuan sebuah konsol game tak berpemilik di pinggir jalan sampai ke cara-cara yang akan seorang cewek lakukan untuk mendapat balasan coklat valentine, cerita-ceritanya juga enggak selalu berakhir dengan bad end sih.

Kalau seri ini sudah dilisensi di sini, siapapun, tolong kabari ya.

EDIT, Februari 2016

Sudah diterjemahkan di sini oleh MnC dengan judul Scary Lessons dan saat ini kuedit, sudah terbit beberapa buku.

(Gyah, kadang kebijakan pemilihan judul penerbit lokal di sini bisa sedikit membingungkan.)

 

Tag: ,
16/05/2012

Catherine

Kesehatan agak terganggu, jadi belakangan enggak sempet nulis.

Tapi mengesampingkan itu, kayaknya aku masih belum juga cerita soal pengalamanku main Catherine.

Jadi ceritanya, sekitar pertengahan akhir tahun 2011 lalu, adikku secara agak mengejutkan membeli konsol PS3.

Trus, waktu itu aku mikir, konsol-konsol game makin canggih dan makin mahal harganya. Kayaknya ribet juga perawatannya. Lalu mengingat usiaku yang sudah dewasa, aku udah nyampe ke tingkat di mana aku udah segan meminta uang kepada orangtua. Jadinya, aku agak mempensiunkan karirku sebagai gamer dan maniak RPG agar waktuku bisa dipake buat hal-hal lain. Tapi adikku, singkatnya, sebagai bentuk hasil jerih payahnya juga, kemudian memperoleh konsol PS3. Yang enggak dimodif(!). Yang kemudian digunakannya untuk main Atelier Rorona. Kemudian dia mempersilakan aku buat main juga (mengingat dulu PS2 yang sering ia mainin adalah punyaku). Dan pada detik itu, aku mikir, ‘Man, rupanya aku memang udah ditakdirin buat main Catherine.’

Yah, kurang lebih gitu.

Heichi Di

Catherine adalah game keluaran Atlus untuk konsol PS3 dan X360. Pertama diumumkan pada tahun… berapa ya? Lumayan lama. Kurasa tahun 2009. Dan pengumumannya langsung menarik perhatian karena menjadi game HD pertama yang dibuat oleh Tim Persona-nya Atlus, yang sebelumnya dikenal telah mengembangkan dua hit Persona 3 dan Persona 4. …Oke, sensasinya sebenarnya lebih karena pernyataan bahwa game-nya bernuansa dewasa sih. Dan sebenarnya, huruf ‘d’ di pengumuman HD itu sengaja dikecilkan untuk mempertegas nuansa dewasa tersebut.

Produsernya adalah Katsura Hashino, dengan musik bernuansa modern yang ditangani Shoji Meguro, serta desain karakter buatan Shigenori Soejima. Ya, ini tim yang sama yang dulu menjadikan Persona 3 dan Persona 4 ngehit. Dan karena untuk sesekalinya aku membeli game orisinil semenjak zaman SNES dulu, ada kepuasan tersendiri saat membaca komentar-komentar mereka di buklet yang disertakan dalam kemasan game ini.

Aku dalam sekejap langsung tertarik akan Catherine karena seperti halnya sebuah game kembangan Atlus, ini nampaknya akan jadi sesuatu yang ‘lain’ dari yang biasanya ada. Jadi bukan, bukan karena aku kesengsem oleh desain karakternya  atau apa kok. …Oke, itu agak bohong. Tapi INTINYA, aku pribadi dulu berjanji bahwa sampai seenggaknya Persona 5 diumumin, baru aku akan memutuskan untuk mempunyai PS3. Dan makanya, meski sangat tertarik, aku enggak banyak menaruh harapan akan bisa memainkan Catherine. Tapi adikku kemudian memperoleh konsol itu dan… yah, kau tahulah.

Soal game-nya sendiri, hmm, singkat kata, Catherine beneran game yang aneh.

Atlus pada awal-awal banyak menggoda kita dengan gambar-gambar desain karakternya yang provokatif, dan teramat mengesankan kalau ini game mesum. Tapi enggak, ini bukan simulasi kencan. Ini semacam ‘puzzle-platformer survival horror‘ yang beneran agak sulit digambarkan. Walau demikian, aspek ceritanya sendiri dan sejenis ‘simulasi kehidupan’ seperti yang Persona 3 dan Persona 4 tawarkan tetap memegang peranan penting.

Sebagai catatan, ya, Catherine tak bisa dikatakan merupakan RPG.

Saat Kau Tiba di Persimpangan Hidup

Berlatar di sebuah kota di Amerika kontemporer, tokoh utama Catherine adalah seorang pemuda–semacam programmer, system analyst–berusia 32 tahun bernama Vincent Brooks. Meski pada dasarnya dirinya pria baik-baik, Vincent mempunyai masalah dalam hal komitmen dan motivasi hidup. Dirinya tak punya ambisi untuk meraih lebih dari apa yang telah dia miliki, dan dirinya juga kayak menunda-nunda bila ditanya soal kelanjutan hubungannya dengan pacar sekaligus teman masa kecilnya semenjak lama, Katherine McBride.

Konflik dimulai saat Katherine–desainer muda menarik yang dewasa dan berkomitmen pada pekerjaannya–dalam salah satu kencan mereka, mengakui pada Vincent kalau belakangan, ada tanda-tanda kalau dirinya sepertinya hamil (ingat, ini Amerika). Di sisi lain, orangtuanya dengan resah sering bertanya padanya soal kapan hubungannya dengan Vincent akan dibawa ke jenjang lebih lanjut.

Vincent, singkat cerita, syok dengan pengakuan ini. Lalu dirinya serta merta galau karena merasa dirinya masih belum memiliki cukup kesiapan untuk bertanggung jawab membangun keluarga sebagai suami, apalagi ayah.

Pada saat yang sama, serangkaian kasus kematian aneh rupanya kerap terjadi di kota. Pemuda-pemuda seusia Vincent kerap ditemukan meninggal dunia di tempat tidur mereka, dengan postur dan ekspresi wajah aneh seakan mereka dihadapkan dengan sesuatu yang mengerikan. Vincent dan kawan-kawan dekatnya yang kerap berkumpul di bar Stray Sheep–duda cerai Orlando Haddick yang juga rekan kerja Vincent; sales mobil Jonathan “Jonny” Ariga yang lajang, keren, tapi punya standar ideal tentang pernikahan; serta Tobias “Toby” Nebbins yang masih muda, idealis tentang cinta, dan menjadi kolega Jonny–semula tak terlalu mempermasalahkan rangkaian kasus aneh ini dan lebih membahas dilema Vincent. Sampai Jonny kemudian menyebutkan bahwa korban terkini dari kasus misterius itu, gosipnya, adalah salah satu kawan lama mereka; dan Erica Anderson, si gadis pelayan bar yang akrab dengan mereka, juga menuturkan soal merebaknya sebuah rumor aneh tentang ‘mimpi jatuh,’ yang bila dari dalamnya orang bersangkutan tak terbangun, maka dirinya akan mati…

Pada malam yang sama, sesudah kawan-kawannya pulang, dan Vincent benar-benar berusaha mabuk demi melupakan pembicaraannya dengan Katherine, muncul seorang gadis muda pirang seksi imut usia dua puluhan tahun yang sangaaat sesuai tipe Vincent yang kemudian mendekati Vincent di bar. Vincent sudah terlalu mabuk untuk mengingat detilnya. Ia jelas-jelas mengalami mimpi buruk yang sangat aneh pada malam harinya. Tapi pada saat ia terbangun di kamar tidur apartemennya keesokan hari, Vincent mendapati gadis asing itu sudah berada dalam keadaan telanjang di sisinya di tempat tidur, dengan dirinya sendiri juga berada dalam keadaan telanjang, tapi sama sekali tanpa dapat mengingat sedikitpun dari apa yang telah terjadi di antara mereka.

Sehingga dengan syok dan frustrasi Vincent menyadari, bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya, sepertinya dirinya telah berselingkuh. Parahnya, persis di hari ketika Katherine justru menyatakan dirinya hamil. Sementara gadis asing itu (yang untuk seterusnya secara terang-terangan terus membayang-bayangi dan menyatakan cintanya pada Vincent) secara serta merta memperkenalkan dirinya sebagai Catherine

Mimpi-mimpi Biri-biri

Porsi utama permainan Catherine terdiri atas dua bagian.

Pertama, yang paling utama, yakni sesi-sesi mimpi Vincent. Jadi ya, pada malam ia pertama bertemu Catherine, Vincent mulai mengalami mimpi-mimpi aneh yang tentunya berkaitan dengan rangkaian kasus kematian misterius itu, yang tentunya juga berhubungan dengan rumor yang Erica bilang soal mimpi yang di dalamnya orang jatuh. Mimpi-mimpi aneh itu sialnya, tak pernah bisa diingatnya setiap kali ia bangun. Meski begitu, ada jejak-jejak kengerian yang tertinggal akibat mimpi-mimpi itu, serta rasa lelah akibat tubuhnya yang sama sekali tak mendapat porsi istirahat. Selama sekitar seminggu, mimpi-mimpi buruk ini akan harus Vincent lalui. Tapi lebih banyak soal itu akan kuterangkan di bawah.

Kedua, pada sesi-sesi saat Vincent berkumpul di bar Stray Sheep bersama teman-temannya sepulang kerja. Di sini Vincent bisa mengobrol dengan para pengunjung lainnya, mengobrol dengan teman-temannya, memainkan game arcade aneh bernama Rapunzel, mendengar sedikit banyak tentang apa-apa yang terjadi dalam kehidupan, dan sebagainya. Walau terkesan minor, sesi ini memiliki peranan lumayan besar dalam cerita, dan apa-apa yang kita lakukan secara langsung maupun enggak akan membentuk kepribadian Vincent dan menentukan tamat yang akan ia dapatkan di akhir permainan.

Kembali bicara soal mimpi, Vincent selama semingguan itu akan bermimpi menjadi domba humanoid yang harus memanjati sebuah dinding yang tersusun atas kubus-kubus besar yang dapat ia gerakkan. Bersamanya, turut memanjat pula domba-domba (jantan) lain. Bila tidak memanjat, maka yang bersangkutan akan ‘tertelan’ oleh bagian bawah dinding tersebut yang secara berkala terus ‘terkikis’ sampai hancur, dan akan terjatuh ke dalam kegelapan tak berdasar. Tak dinyana, mereka yang terjatuh ke kegelapan itu tak lain adalah pria-pria muda yang menjadi korban rangkaian kematian misterius itu.

Sesudah berakhirnya satu mimpi, Vincent akan terbangun di awal hari baru. Lalu akan ada cutscene yang menjabarkan perkembangan cerita dalam satu hari itu. Kemudian malam akan tiba, kita berada di Stray Sheep lagi. Kemudian Vincent akan pulang dan akan kembali bermimpi tentang pengalaman memanjat serupa sebagai domba. Demikian seterusnya hingga malam yang terakhir.

Soal sesi-sesi memanjat dalam mimpi ini, agak susah menjelaskannya tanpa gambar atau video. Intinya: ada dinding raksasa yang tersusun atas kubus-kubus. Vincent hanya bisa memanjat kubus-kubus tersebut satu demi satu. Jadi dengan menarik dan mendorong kubus-kubus itu satu per satu pula, dia (dan para domba lainnya) sedemikian rupa mesti ngebentuk dari tumpukan kubus tersebut jadi semacam anak tangga dan kemudian memanjatinya sampai ke puncak. Cuma, ada hukum fisika aneh yang mengikat kubus-kubus ini: asal tepi-tepinya masih bersambungan sedikit saja dengan kubus yang menumpu di bawahnya, maka kubus bersangkutan takkan jatuh. Jadi secara aneh kayak mengapung di udara gitu. Dan hal yang sekilas terdengar sederhana ini yang ternyata membuat gameplay platforming dari Catherine secara enggak terduga jadi benar-benar dalem. Soalnya menggerakkan kubus-kubus tersebut secara seenaknya bisa tiba-tiba meruntuhkan/mengacaukan tumpukan kubus di atasnya, dan menghilangkan kesempatan kita untuk memanjatnya sama sekali.

Salah seorang dari domba-domba yang Vincent temui ini (yang enggak lama kemudian Vincent sadari adalah manusia juga, sebab di mata para domba lainnya, dirinya pun terlihat seperti domba), yang kemudian ia ketahui bernama Steve, membimbingnya di tahap-tahap awal pemanjatan ini. Seiring perkembangan cerita, tantangan yang dihadapi dalam memanjat bertambah susah. Mulai dari kubus-kubus yang lebih berat dan susah digerakkan dibanding yang biasa, kubus-kubus rapuh yang hanya bisa kita injak beberapa kali, kubus-kubus jebakan yang bisa membunuh, serta kubus-kubus es yang licin dan tak terduga.

Pada beberapa landasan yang bisa dijadikan tempat istirahat, para domba bisa mengobrol dan bertukar informasi soal apa-apa yang mereka ketahui tentang situasi mereka dan teknik-teknik memanjat. Di landasan-landasan ini pula, para domba juga mesti memasuki semacam confessional booth yang diurusi semacam sosok misterius yang berusaha mengungkap keburukan-keburukan mereka dalam menjalin hubungan. Sesudahnya, sesi mimpi dalam satu malam itu biasanya baru berakhir tatkala kita berhadapan dengan suatu karakter boss mengerikan yang secara konstan akan mencoba membunuh kita selagi memanjat.

Kualitas visualnya cukup mengesankan untuk memberikan boss-boss ini kesan yang bikin kita pengen ngomong ‘omaigat!’

Seiring perkembangan cerita pula, Vincent mulai menyadari bahwa domba-domba yang ditemuinya ini bisa jadi adalah orang-orang yang ditemuinya di dunia nyata. Dan bagian kerennya, dengan memahami masalah mereka, kita jadi merasakan semacam sensasi persaudaraan dengan mereka, sebagai rekan perjuangan. Dan jadinya, game ini beneran membangkitkan sejumlah emosi yang terasa pribadi gitu. Beneran agak mempertanyakan kembali cara pandang kita terhadap sikap yang kita pegang terhadap hidup dan hubungan dengan orang lain. Belum lagi saat kita mulai ngerti siapa identitas domba–domba ini di dunia nyata. (Identitas asli Steve terutama, menjadi titik balik yang mengubah pendirian Vincent.)

Barisan Semut Memanjat…

Yah, aku enggak akan bicara banyak soal aspek presentasinya. Mungkin karena game-nya sendiri enggak terlalu panjang, aspek presentasinya beneran dibikin secara optimal. Aku agak aneh karena pada sesi-sesi mimpi, musik upbeat modern yang mewarnai sesi-sesi dunia nyatanya digantikan dengan musik-musik klasik yang telah di-remix. Tapi hasilnya keren kok. Lalu visualnya, model para karakternya beneran keren dan keliatan hidup. Ada beberapa cutscene animasi halus yang kualiasnya nyaris disetarai oleh event-event biasanya sendiri. Buat versi bahasa Inggris-nya, aku beneran kagum dengan kualitas pengisi suaranya.

Game ini terus terang aja, susah. Versi bahasa Inggrisnya lebih gampang dibandingkan versi Jepang-nya, karena di tingkat kesulitan normal, fitur undo jadi dibolehin. Tapi kalo kau mainin game ini di tingkat kesulitan yang semestinya, yakni hard, game ini bisa jadi mimpi buruk dan ampe beneran kebawa mimpi. Apalagi dengan adegan-adegan kematian yang lumayan eksplisit, dengan darah dan daging para domba bercipratan. Damn, susah ngejelasin sensasinya itu persisnya gimana. Soalnya, perasaan memanjat dengan dikejar waktu gitu, sementara sel-sel otak kamu kerja mikirin cara soal apa selanjutnya yang bisa kamu lakuin buat naik ke atas, ini konsep yang beneran simpel tapi anehnya baru kegali di game ini.

Meski pendek, ceritanya sendiri–mungkin karena mengangkat hal-hal yang agak bersifat pribadi–beneran berkesan. Tertebak, tapi bukan dengan cara yang semula kau sangka gitu. Sebab tetap ada beberapa bagian cerita yang perkembangannya agak sulit kau percaya (seperti soal identitas sesungguhnya dari Trish, sang Midnight Venus, dan Erica, misalnya). Dan yang pasti, nuansa kehidupan orang dewasanya beneran kental. Lalu sisi yang ngejabarin soal seksnya itu sebenernya sama sekali enggak berlebihan kok. Malah jinak?

Di samping mode permainan utama, ada juga mode permainan ‘panjat bebas’ Babel di mana kita hanya harus memanjat setinggi mungkin dengan tiga tingkat kesulitan berbeda. Mode permainan ini baru akan terkuak sesudah kita mendapatkan beberapa ‘piala emas’ sebagai bukti kehebatan kita di beberapa tingkat di permainan utama. Mereka yang memainkan versi Amerika game ini bisa mencicipi sisi sadis game ini dengan menantang mode permainan itu. Lupa kubilang, demi mendapatkan piala emas itu, setiap tingkat permainan yang sudah kita taklukkan sebelumnya akan bisa kita mainkan lagi.

Oh ya. Terus game Rapunzel yang sebelumnya kusebutkan itu, itu minigame yang beneran gila.

Hal yang sebenarnya menggangguku waktu aku berhasil menamatkan game ini untuk pertama kali adalah kenyataan bahwa aku enggak dapet tamat di mana Vincent berakhir dengan Katherine maupun Catherine. Yea, ada beberapa bad ending di mana meski Vincent berhasil ngelewatin minggu panjang itu dengan selamat, hubungannya tetap berakhir gagal dengan keduanya. Tapi yang kudapat tak lain adalah neutral ending yang konon paling susah didapet, karena kita mesti benar-benar menyeimbangkan parameter order dan chaos yang diperhitungkan dalam setiap pilihan game ini. Tamat ini keren sih, di mana Vincent berubah jadi orang yang tahu hidupnya mau ia apakan dan malah berhasil menggapai impiannya. Tapi, mungkin karena di usia segini aku masih belum nikah, aku secara bawah sadar sebenernya ngeharapin semacam ‘sesuatu’, dan jadinya ngerasa agak gimana gitu.

Tapi waktu aku menceritakan soal ini ke temanku, dia bilang, “Mungkin itu berarti cewek yang pantes buat kamu emang bukan salah satu dari keduanya.”

Dan sekejap itu juga, kekecewaanku agak langsung terobati.

Tag: ,