Posts tagged ‘Gundam’

11/09/2017

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Edmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi, Tekkadan juga tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan untuk berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menghalangi dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu tersebut juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season pertama. Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Iklan
25/03/2017

Mobile Suit Gundam Twilight Axis

Pagi hari dua hari lalu, aku mendengar kabar bahwa setelah tuntasnya proyek animasi Gundam Thunderbolt, seri animasi berikutnya yang berlatar di semesta Universal Century sudah dikonfirmasi adalah Kidou Senshi Gundam Twilight Axis.

Twilight Axis (kira-kira berarti ‘senja/akhir Axis’) merupakan seri photonovel yang dicetus Ark Performance (tim yang membuat seri kapal selam futuristik Aoki Hagane no Arpeggio). Mereka dibantu Nakamura Kojiro. Diterbitkannya melalui penerbit Yatate Bunko yang dimiliki khusus oleh studio Sunrise.

Kabar ini mengejutkan karena Twilight Axis merupakan seri yang terbilang masih sangat baru. Walau begitu, kalau mempertimbangkan bagaimana Twilight Axis berlatar tak sampai setahun di kesudahan Insiden Laplace yang dikisahkan di Gundam Unicorn, ditambah lagi mulai membangun latar ke era Gundam F91, keputusan ini masuk akal.

Penasaran, aku langsung mencari informasi lebih banyak.

Untungnya, para spesialis Gundam di situs Zeonic Republic sudah menerjemahkan beberapa babnya ke Bahasa Inggris. Aku langsung meluangkan waktu luang di kantor untuk membaca.

Mengejar Bayangan Merah

Twilight Axis mengetengahkan dua karakter Danton Hyleg dan Arlette Hyleg.

Danton dan Arlette adalah pasangan ayah dan putrinya yang sekilas pandang, kalau menilai dari kehidupan mereka yang bersahaja di Libot Colony—yang terletak di Riah atau koloni luar angkasa Side 5 (sebelumnya, Side 6)—merupakan keluarga kecil biasa. Mereka membuka usaha binatu dan menjalankan hidup dengan damai. Keseharian Danton paling hanya bermain ke kafe yang dibuka tetangganya. Meski demikian, sebenarnya, keduanya sama sekali tak berhubungan darah. Ditambah lagi, Arlette yang tampak masih remaja sebenarnya jauh lebih tua dari usianya.

Keduanya sebenarnya adalah mantan pilot uji Danton Highleg dan teknisi Arlette Almage, dua orang simpatisan pihak Zeon yang telah bekerja sama sejak akhir Perang Satu Tahun. Mereka berada di bawah pengawasan langsung dari komandan mereka, sosok Char Aznable yang legendaris, yang menghilang secara misterius di penghujung Perang Neo Zeon Kedua. Ditambah lagi, Arlette sebenarnya adalah salah seorang Cyber Newtype yang pernah dihasilkan Institut Flanagan. Entah bagaimana, salah satu efek samping dari percobaan-percobaan yang dilakukan terhadapnya adalah tubuh yang menua dengan sangat lambat. Sebagai akibat dari ini, Danton dan Arlette telah berulangkali berpindah domisili sejak Perang Neo Zeon Kedua berakhir karena tak ingin masyarakat sampai mengetahui asal usul mereka.

Kehidupan damai mereka terusik saat pada suatu hari, datang seorang pria necis tapi ramah bernama Mehmet Merca ke toko mereka. Mehmet datang sebagai wakil suatu lembaga yang disebut Departemen Enam dari Kementrian, yang pada dasarnya merupakan badan intelijen Federasi Bumi. Mereka telah mengetahui identitas Danton dan Arlette yang sesungguhnya dan bahkan telah melacak mereka sampai ke Riah. Mehmet rupanya adalah komandan pasukan khusus Mastema yang khusus mendatangi Libot demi meminta bantuan pada Danton dan Arlette.

Singkat cerita, keterlibatan masa lalu Danton dan Arlette dalam pengembangan teknologi Neo Zeon membuat Mehmet ingin merekrut mereka sebagai pemandu untuk menjelajahi apa yang tersisa dari Axis, asteroid raksasa bekas markas faksi Neo Zeon. Tempat lebih spesifik yang ingin dicapai adalah Institut Penelitian Memorial Maharaja Khan, yang merupakan laboratorium peneltian terakhir pula dari Institut Flanagan di mana Danton dan Arlette sama-sama pernah bernaung.

Dalam Perang Neo Zeon Kedua (yang dikisahkan dalam Char’s Counterattack), Axis sempat hendak diluncurkan Neo Zeon ke arah Bumi untuk menimbulkan bencana musim dingin global, yang selanjutnya akan memicu migrasi manusia ke luar angkasa, dan akhirnya melahirkan lebih banyak manusia Newtype yang diyakini dapat menghapuskan peperangan. Berkat upaya kesatuan gerak cepat Londo Bell, bencana tersebut berhasil dicegah dengan dibelahnya Axis, meski salah satu potongannya tetap akan menabrak Bumi kalau bukan karena pengorbanan berbagai pihak yang terlibat.

Sasaran lebih tepat yang ingin Federasi peroleh adalah sampel dari psycho frame, teknologi MS mutakhir yang sempat dibocorkan Char ke kedua belah pihak di Perang Neo Zeon Kedua melalui perusahaan pemroduksi MS Anaheim Electronics. Teknologi ini yang konon menghasilkan keajaiban terselamatkannya Bumi di akhir perang tersebut.

Potensi sesungguhnya teknologi psycho frame akhirnya diketahui Federasi di kesudahan Insiden Laplace. Meyakini keberadaan sisa-sisa rahasia produksinya di Axis, Federasi Bumi menginginkan sampelnya sebelum teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Danton dan Arlette akhirnya menerima tawaran Mehmet. Di samping imbalan berupa uang yang banyak serta dihapuskannya catatan pelanggaran hukum mereka, Danton dan Arlette juga berharap kunjungan kembali mereka ke Axis dapat memberi petunjuk tentang apa sebenarnya yang telah menimpa Sazabi, MS berteknologi psycho frame yang digunakan Char pada saat ia menghilang.

Dikawal Mehmet dan pasukan Mastema, Danton dan Arlette kembali ke Axis setelah bertahun-tahun.

Namun di luar dugaan, ternyata bukan hanya mereka yang di sana. Mereka juga bersimpangan jalan dengan suatu pasukan bersenjata misterius yang bahkan dikawal sejumlah MS Federasi. Salah satu MS tersebut adalah Gundam AN-01 ‘Tristan’, MS tipe-Gundam baru yang tak dikenali Mehmet.

Kalah jumlah dan kalah senjata, Danton, Arlette, dan Mehmet meyakini bahwa pihak misterius tersebut punya tujuan yang sama dengan mereka. Mengandalkan pengetahuan yang mereka punya tentang Axis, mereka berusaha menemukan cara untuk bertahan hidup.

Recollection

Bahkan dari awal, terlihat betapa Twilight Axis merupakan cerita Gundam yang tidak biasa. Di samping mengambil latar utama di Axis, MS tipe Gundam digunakan bukan oleh para tokoh utama, melainkan oleh pihak antagonis yang memburu mereka.

Meski mewakili pihak Federasi, Denton dan kawan-kawannya sebaliknya jadi menggunakan berbagai tipe MS lama peninggalan Neo Zeon untuk melawan mereka. Pertama, dengan Zaku III Custom berwarna merah yang semula dibuat untuk digunakan oleh Char, dan pernah diuji oleh Danton sendiri. Tipe MS yang pernah digunakan Rakan Dahrakan dalam Gundam ZZ ini dirancang untuk produksi massal dalam Perang Neo Zeon Pertama. Sayangnya, rancangan yang punya ciri khas berupa beam gun di mulut ini kalah pamor oleh Doven Wolf dan jadinya diproduksi hanya dalam jumlah terbatas. MS ini sudah sangat fleksibel dan punya performa sangat baik bahkan dibandingkan tipe-tipe MS milik Federasi dan AEUG. Tapi Zaku III Custom yang dikustomisasi oleh Arlette ini konon memiki performa lebih baik lagi dibandingkan Zaku III lain, dan menjadi lawan yang sepadan bagi Gundam Tristan.

Danton juga sempat menggunakan salah satu R-Jarja, MS pengembangan dari Gyan dari era Neo Zeon, tipe yang sama dengan yang pernah digunakan mendiang Chara Soon. Senjata khasnya adalah beam rifle dengan heat bayonet, di samping beam saber dan flexible shield pada bahu.

Di sisi lawan mereka—yang kemudian terungkap merupakan kesatuan (bayaran?) Birnam Wood—Gundam Tristan, yang dikemudikan pilot Cyber Newtype Quentin Fermo, memiliki bentuk luar yang sangat mengingatkan pada Gundam Alex yang sempat diuji untuk Newtype dalam Gundam 0080: War in the Pocket. Namun lebih banyak tentang asal usulnya masih misteri. Hal yang mencolok lain tentangnya adalah ukurannya yang terbilang kecil untuk produksi MS sejenisnya, yang sebenarnya merupakan foreshadowing terhadap tren pengembangan MS berukuran kecil yang ditampilkan dalam Gundam F91. Di samping itu, Birnam Wood juga dikawal oleh sejumlah MS lain yang tipenya dikenal sebagai milik Federasi, yakni beberapa Jegan Custom serta satu MS kustomisasi Byarlant Isolde yang telah disesuaikan secara khusus untuk digunakan di luar angkasa.

Terlepas dari soal mekanis, terlihat bagaimana Twilight Axis membangun konflik yang menarik. Karakter-karakternya unik. Mulai dari bagaimana Arlette selalu bisa membujuk Danton dengan hubungan aneh yang mereka punyai. Atau bagaimana Mehmet orang sangat santun dan simpatik meski jabatannya menyeramkan. Ditambah lagi, dengan pihak misterius di belakang Birnam Wood.

Keputusan Sunrise untuk mengadaptasi seri ini mulai bisa dimaklumi saat kita memperhatikan betapa banyaknya referensi yang Twilight Axis miliki terhadap seri-seri lain. Bukan hanya seri-seri lama ‘di belakang’ melalui sejarah latar, (Seperti soal bagaimana Axis disinggung pernah dikuasai Haman Karn, putri Maharaja Karn, sebelum yang bersangkutan tewas dalam konflik di Gundam ZZ. Terdesak oleh kepungan pasukan Federasi serta keruntuhan faksi Neo Zeon dari dalam, Haman memilih bunuh diri sesudah duel penentuannya dengan Judau, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Axis sebelum Char akhirnya tampil.) tapi juga dengan seri-seri ‘ke depan’ di era kekuasaan Crossbone Vanguard.

Dikisahkan bahwa pihak yang membeking Birnam Wood sebenarnya adalah keluarga Ronah, yang kelak mendirikan faksi Crossbone Vanguard dan negeri Cosmo Babylonia, yang pada titik ini memiliki kedekatan dengan perdana menteri Federasi Bumi yang tengah menjabat. Birnam Wood digerakkan oleh Meitzer Ronah, yang kita ketahui belakangan akan menjadi kepala keluarga Ronah dalam Gundam F91. Diperkenalkan pula Engeist Ronah, saudara lelaki Meitzer yang menjaga hubungan dengan Federasi; serta Scharnhorst Ronah, ayah Meitzer dan Engeist, kepala keluarga yang mengadopsi kebangsawanan Eropa dan telah mendirikan perusahaan berkuasa Buch Concern hanya dalam satu generasi.

Kelihatannya, Twilight Axis akan melakukan beberapa retcon sejarah lagi. Kasusnya mungkin serupa dengan yang Gundam: The Origin lakukan terhadap seri TV-nya yang asli. Hanya saja, daripada terhadap Zeon, penyesuaiannya akan diberikan terhadap asal usul Crossbone Vanguard yang menjadi tokoh antagonis di Gundam F91.

Kalau mempertimbangkan ini, mulai terbayang alasan mengapa seri manga populer Crossbone Gundam, yang menjadi sekuel Gundam F91, masih belum dianimasikan juga. Mungkin Sunrise ingin membangun kembali latar dunianya dari awal. Sesudah dengan Gundam Unicorn dan Gundam: The Origin, baru mereka kini mulai menjajaki sejarah era Crossbone Vanguard.

Jadi untuk kalian fans Crossbone Gundam, jangan putus harapan.

Akhir kata, aku menyukai Twilight Axis lebih dari yang kukira saat membaca bab-bab awal novelnya. Meski gaya narasinya ringkas, ceritanya langsung dipenuhi aksi dengan banyak intrik yang terjadi. Ada keselarasan dalam berbagai elemennya gitu. Aku terutama suka dengan bagaimana motivasi Char, yang telah lama menjadi perdebatan di kalangan fans Gundam era UC, sempat disinggung juga menjadi teka-teki bahkan di dalam ceritanya sendiri. Aku benar-benar tertarik dengan perkembangannya ke depan. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Kalau ada perkembangan tambahan, mungkin tulisan ini akan aku sesuaikan lagi.

19/08/2016

Mobile Suit Gundam I (Movie)

Aku menyempatkan diri menonton bagian pertama dari trilogi film layar lebar Mobile Suit Gundam atau Kidou Senshi Gundam yang orisinil beberapa waktu lalu. Seperti banyak hal lain dari seri Gundam, aku sudah lama tahu tentang trilogi film layar lebar ini, cuma baru sekarang berkesempatan melihatnya.

Trilogi ini pada dasarnya merupakan kompilasi dari versi seri TV-nya yang berjumlah 43 episode. Ada beberapa penyesuaian di sisi cerita. Tapi lebih lanjut soal itu akan aku bahas nanti.

Untuk yang belum tahu, kalian bisa menonton ini gratis lewat saluran Gundam.info dengan teks bahasa Inggris sampai tanggal 21 September nanti. Kualitas videonya termasuk lumayan, walau tentu saja kalian perlu ingat ini dibuatnya di tahun 1981, dengan footage asli yang dibuat bahkan sebelum 1979. Tapi kualitas audionya di luar dugaan termasuk benar-benar masih bagus.

Sutradaranya, tentu saja, adalah Tomino Yoshiyuki. Desain karakternya dibuat oleh Yasuhiko Yoshikzazu. Desain mekanik dibuat oleh Okawara Kunio. Lalu musik ditangani oleh Watanabe Takeo dan Matsuyama Yuji.

Di Mana Mereka Hidup… dan Mati

Aku tak akan terlalu membahas soal cerita, berhubung rasanya, aku sudah berulangkali melakukannya.

Adaptasi layar lebar dari seri Gundam yang paling pertama ini intinya mengetengahkan perjalanan Amuro Ray dan teman-teman barunya dalam melarikan diri dari pasukan Zeon menggunakan kapal induk baru buatan Federasi Bumi, White Base. Ceritanya berlatar di masa depan tahun 0079 Universal Century, ketika sebagian besar umat manusia telah berpindah dari Bumi ke struktur-struktur raksasa koloni luar angkasa buatan manusia. Demi melindungi teman-temannya dalam perjalanan dari koloni luar angkasa Side 7 ke Bumi, Amuro menggunakan senjata baru Federasi, sebuah mobile suit bernama Gundam, yang dibuat oleh ayahnya dan ternyata memiliki kemampuan luar biasa.

Cerita bagian pertama dari trilogi ini memaparkan awal penyerangan komandan handal Char Aznable beserta anak-anak buahnya ke Side 7. Ini berlanjut ke upaya pelarian White Base yang telah kehilangan sebagian besar awak aslinya dan kini lebih banyak dikemudikan penduduk sipil ke markas luar angkasa Luna II. Ini kemudian diikuti melencengnya rute re-entry atmosfer yang dilakukan White Base, dari yang tadinya mau ke Jaburo, markas besar Federasi di Amerika Selatan, malah jadi ke sekitar Amerika Utara. Lalu konflik White Base dengan Garma Zabi, putra bungsu pemimpin Zeon, Degwin Sodo Zabi, yang sebenarnya diatur oleh Char. Lalu reuni Amuro dengan ibunya. Kemudian baru diakhiri lewat pertemuan Amuro yang telah kelelahan fisik dan mental dengan lawan mereka yang baru, perwira Zeon handal bernama Ranba Ral, di tengah amukan badai petir yang baru kali pertama mereka lihat.

Sebagai orang yang pernah melihat film-film kompilasi yang dibuat Tomino-san (dan telah terbiasa dengan tempo ceritanya yang luar biasa cepat), aku terkesima dengan kenormalan tempo cerita di film ini. Masih terbilang cepat sih. Tapi anehnya, tidak terasa cepat gila-gilaan seperti dalam film-film kompilasi beliau yang lebih belakangan. Mungkin juga karena durasinya yang mendekati hampir dua setengah jam, film ini tak terasa terlalu cepat ataupun terburu-buru.

Agak susah sih menjelaskannya. Tapi intinya, pengaturan temponya bagus.

Aku pernah melihat beberapa episode dari seri TV aslinya. Garis besar perkembangan ceritanya tetap sama. Tapi memang ada feel berbeda yang berusaha dibidik dari trilogi ini, yang belakangan kemudian kita kenal sebagai nuansa real robot.

Intinya, adegan-adegan aksinya masih terbilang seru. Tapi hal-hal yang membuatku terkesima sampai mengangkat alis seperti di seri TV-nya sudah tak ada. Di trilogi ini, hal-hal seperti bola berantai Gundam Hammer, perlengkapan G-Armor, dan beam saber yang bisa diubah menjadi beam javelin sudah dihilangkan. Di atas kertas, aku mengerti hal-hal tersebut dihilangkan karena masih terlalu berbau super robot. Lalu aku juga mengerti bahwa teknologi MS yang tampil dalam trilogi ini adalah apa yang dijadikan acuan dalam seri-seri Gundam berikutnya. Tapi di sisi lain, aku juga akhirnya jadi mengerti bagaimana ada orang-orang yang sempat kecewa dengan trilogi ini, dan lebih memilih seri TV aslinya.

Soalnya… gimana ya?

Aku ingat jelas bagaimana aku merasa ada begitu banyak hal gila yang Amuro lakukan dengan Gundam di seri TV-nya. Ibarat Rambo, meski hanya seorang diri, dia melakukan banyak hal yang belum pernah orang lain lakukan menggunakan MS gitu. Dia lincah lari ke mana-mana, menembak-nembak banyak musuh kayak karakter utama di game FPS, hampir enggak mempan oleh tembakan-tembakan, melakukan adegan-adegan laga yang susah dipercaya, dan berakhir jadi satu-satunya yang tersisa. Tapi di film layar lebar ini, hal tersebut dikurangi. Sisi kemanusiaan Amuro dalam menghadapi lawan-lawannya lebih ditonjolkan. Diperlihatkan bagaimana stres dan kelelahan karena membunuh orang terus menggerogotinya. Walau memang berkat performa Gundam yang sedemikian berbedanya dari MS Zaku dan pesawat-pesawat milik Zeon, Amuro tetap berakhir imba.

Bicara soal mecha, karena aspek aksinya yang agak dikurangi dibandingkan karakterisasinya, robot-robot di seri ini masih tampil menonjol, tapi tak semenonjol di seri TV-nya.

Zaku II merah milik Char, yang memiliki kecepatan tiga kali di atas kecepatan Zaku normal, mendapat porsi sorotan lumayan banyak. Ada beberapa kali ia beradu dengan Gundam, dan dengan kehandalan Char, ia menjadi lawan yang benar-benar setara. Aku suka dengan bagaimana saat Char menyadari sebagian besar senjatanya (senapan mesin dan heat hawk) tak mempan terhadap Gundam, ia jadi lebih banyak memakai serangan fisik. (Untuk kalian yang pernah menonton Gundam Unicorn, kalian bisa melihat ada banyak kemiripan adegan antara pertempuran Amuro melawan Char dengan pertempuran Banagher melawan Full Frontal.)

Guncannon yang dikemudikan Kai Shiden dan Guntank yang dikemudikan bersama oleh Ryu Jose dan Hayato Kobayashi juga masih berperan. Kedua MS tersebut mendapat peran penting dalam melindungi White Base seiring berpindahnya latar cerita ke Bumi. Tapi karakter-karakter yang mengemudikan mereka belum begitu banyak disorot, karena fokus cerita yang masih lebih banyak dilihat dari sudut pandang Amuro.

MS biru Gouf, yang digunakan oleh Ranba Ral, masih menjadi lawan yang lebih dari sepadan bagi Gundam dengan senjata cambuk listriknya. Ral beserta istrinya, Crowley Hamon, memang baru tampil sebentar di film ini. Mereka baru lebih banyak disorot dalam film yang berikutnya.

Bicara soal Gundam sendiri, di sini MS ini lebih diperlihatkan betapa kebalnya ia terhadap persenjataan lawan. Gundam diperlihatkan punya fitur-fitur lain yang tak dimiliki MS lain sebelumnya. Tapi dibandingkan di seri TV-nya, armamennya memang lebih terbatas, mencakup hanya beam rifle, beam saber, serta Hyper Bazooka.

Ketiga MS buatan Federasi Bumi juga menonjolkan desain baru di mana kokpitnya terbentuk dari pesawat tempur Core Fighter. Lalu di samping desain White Base sendiri, itu jadi aspek keren menonjol yang dimiliki seri ini pada masanya.

Musnahnya Separuh Populasi Umat Manusia

Bicara soal teknisnya, terlepas dari animasinya yang sudah berusia, kalau kalian melihatnya sendiri, mungkin kalian bakal sadar. Ada sesuatu yang istimewa tentang Kidou Senshi Gundam. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa kelihatan kalau cuma mengikuti seri-seri sekuelnya. Ada… sesuatu tentang seri ini—khusus tentang seri yang ini—yang benar-benar bisa menarikmu gitu.

Susah menjelaskannya.

Mungkin juga berkat art direction Nakamura Mitsuki, ada banyak visual berkesan di dalamnya. Lalu ini yang kubayangkan pasti telah sedemikian memicu imajinasi orang-orang yang menontonnya di masa lalu. Mulai dari narasi pembuka yang menggambarkan jatuhnya koloni luar angkasa raksasa ke Bumi, adegan jebolnya dinding Side 7 oleh ledakan reaktor MS, rombongan orang mengungsi di dalam bunker, atau pemandangan White Base di latar senja saat meninggalkan ibu Amuro yang berlutut dalam kesedihan. Seriusan, ada banyak adegan di dalamnya yang kalau diperhatikan, benar-benar berkesan.

Mungkin juga itu berkat karakterisasinya. Aku mengerti sekarang soal kenapa ada yang menganggap awak-awak kapal di White Base jauh lebih berkesan ketimbang yang di sekuel-sekuelnya. Ada fokus ke karakterisasi yang kebagusannya bahkan tak kutemui dalam karya-karya Tomino-san yang lebih ke sini.

Bright Noa adalah letnan muda yang menjadi kapten sementara dari White Base. Ia disinggung masih berusia sangat muda (seperti remaja usia akhir), berhubung betapa banyaknya orang dewasa yang sudah tewas dalam Perang Satu Tahun yang di masa itu tengah berlangsung. Bright, yang sudah terbentuk oleh pendidikan militer yang diterimanya, menunjukkan sikap pragmatis di hadapan Amuro berkenaan kepemilikannya atas Gundam. Lalu di awal cerita, hal inilah memicu konflik antara keduanya.

Selain Bright, orang militer yang masih tersisa paling adalah Ryu Jose, seorang pilot dalam pelatihan. Menggunakan Core Fighter, ia banyak membantu Amuro.

Lalu selain Amuro, warga sipil lain yang kemudian direkrut jadi bagian dari militer meliputi:

  • Mirai Yashima, seorang pilot muda yang merupakan putri dari suatu keluarga penerbang. Mirai yang kemudian memegang kemudi atas nahkoda White Base dan menjadi salah satu harapan lain para awaknya untuk selamat.
  • Sayla Mass, murid sekolah medis dengan pribadi proaktif. Dirinya menyimpan rahasia besar sesudah menyadari bahwa Char Aznable ternyata adalah kakak kandungnya yang telah lama hilang. (Seudah melihat sendiri seri ini, aku jadi bisa memaklumi pengharapan sebagian penggemar yang mengharapkan Sayla yang tetap jadi love interest-nya Amuro.)
  • Kai Shiden, seorang remaja sok yang awalnya membuat sebal semua orang dengan sikapnya.
  • Hayato Kobayashi, salah satu teman lama Amuro yang berbadan pendek tapi juga tak terlalu dekat dengannya juga.
  • Frau Bow, teman masa kecil Amuro yang memperhatikannya dari awal sampai akhir. Berkat kata-kata Amuro, Frau menjelma menjadi sosok gadis yang kuat sesudah ia tiba-tiba kehilangan seluruh anggota keluarganya. Lalu karena itu pula ia sedemikian berusaha mendukung Amuro dalam pergulatan batinnya selama memiloti Gundam.

Selebihnya, Char benar-benar ditampilkan sebagai lawan mengerikan dengan kemampuannya untuk berpikir sekian langkah lebih jauh dari orang lain. Urusan logistik menjadi sesuatu yang secara menarik disorot di seri ini, yang di pihak Federasi ditampilkan lewat karakter Matilda Ajan, yang mendukung White Base dengan barang-barang kebutuhan hidup dan menjadi sumber kekaguman Amuro. Matilda juga yang di versi cerita ini membawa kabar tentang desas-desus tentang teori Newtype yang di seri TV aslinya dimunculkan dengan agak tiba-tiba. Lalu para karakter antagonis sukses ditampilkan secara simpatik, khususnya lewat pemaparan hubungan Garma Zabi dengan Icelina Eschonbach yang mencintainya.

Rasanya aneh aku bicara begini. Tapi terus terang aku juga jadi sedikit merasa kalau yang sebenarnya paling mempengaruhi seri-seri Gundam modern sebenarnya bukanlah Kidou Senshi Gundam yang orisinil, melainkan sekuel-sekuel awalnya. Khususnya, Zeta Gundam dan Gundam ZZ. Walau memang berstatus sebagai cerita awalnya, Kidou Senshi Gundam memiliki nuansa yang benar-benar berbeda sendiri. Segala sesuatunya, baik itu MS, kapal induk, atau dunianya, terasa sedemikian besar. Lalu para karakternya juga kayak bisa lebih berdiri sendiri.

Mungkin tema cerita Kidou Senshi Gundam memang takkan pernah basi.

Sekali lagi, audionya benar-benar bagus. Tak ada lagu yang mencolok sih. Tapi penataan segala sesuatu terkait suaranya benar-benar berkesan.

Teks terjemahan bahasa Inggrisnya juga bagus, cuma sayang masih ada banyak istilahnya yang kurang terasa up to date (Jaburo ditulis sebagai Jabrow, misalnya. Lalu daripada Principality of Zeon, mereka disebutnya Duchy of Zeon).

Akhir pekan nanti mau kusempatkan melihat kelanjutannya.

02/04/2016

Mobile Suit Gundam: Iron-Blooded Orphans

(Ini bahasan season pertama yo. Untuk yang kedua, bisa dilihat di sini.)

Aku ingat jelas waktu Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans diumumkan.

Beritanya keluar di awal tahun 2015, tak lama sesudah Gundam Build Fighters Try dan Gundam: Reconguista in G tamat.

GBF Try dan Gundam: Reconguista kunikmati, tapi kusadari keduanya tidak termasuk seri Gundam yang ‘meledak.’ Makanya, aku lumayan kaget ada seri Gundam baru secepat ini. Biasanya ada pertimbangan agak lama soal anggaran, sponsor, masa saturasi pasar, dan sebagainya. Tapi pihak produsen kelihatannya sudah yakin sekali untuk seri satu ini.

Sebutan untuk seri ini waktu itu hanya G-Tekketsu (‘tekketsu’ berarti darah besi/logam). Situs webnya hanya menampilkan jam hitungan mundur, sekaligus gambar desain mecha utamanya yang ditutupi siluet. Siluet ini yang lalu secara perlahan terangkat seiring makin dekatnya waktu pengumuman.

Spekulasi bermunculan.

Lalu di pertengahan 2015, judul seri baru ini secara resmi dibeberkan. Bentuk desain mechanya, sekaligus daftar staf yang bekerja di dalamnya, dengan seketika menarik perhatian.

G-Tekketsu atau Mobile Suit Gundam: Iron-Blooded Orphans (subjudulnya kira-kira berarti: ‘anak-anak yatim piatu berdarah besi’) tayang pada perempat akhir tahun 2015 sampai cour pertama 2016. Produksinya tentu saja masih dilakukan studio Sunrise. Jumlah episodenya sebanyak 25, walau ini langsung disusul pengumuman akan ada season baru yang menyusul pada Oktober 2016.

Hal ini membuat situasi penayangannya mirip Gundam 00, yang antara season pertama dan keduanya sempat diselingi penayangan Code Geass: Hangyaku no Lelouch R2 yang juga berlangsung selama dua cour.

Apa yang menarik dari segi staf adalah penyutradaraannya yang dilakukan oleh Nagai Tatsuyuki serta penulisan naskah/komposisi seri yang ditangani oleh Okada Mari. Dua personil ini sebelumnya lebih dikenal berkat kolaborasi mereka dalam anime-anime drama remaja terkenal Toradora!, AnoHana, serta yang terbaru, The Anthem of the Heart. Bukannya mereka tak pernah terlibat pembuatan anime mecha sebelumnya. Hanya saja, keputusan ini bagi banyak orang terbilang mengejutkan.

Aku juga dapat kesan kalau seri ini sebenarnya sudah direncanakan lama. Mungkin bertahun-tahun sebelumnya. Lalu karena sudah ‘matang’ pengembangannya, seri ini langsung diluncurkan pas lagi panas.

Soal pengumuman stafnya, aku mendapat kesan positif. Okada-san belakangan dikenal sebagai penulis skenario yang prolific. Jadi meski beliau beratnya di sisi penggalian konflik antar karakter (dan bukan di hal-hal lain kayak intrik, komedi, konspirasi, misteri, dsb.), selama ada banyak masukan dari pihak Sunrise, kurasa hasilnya takkan sampai jelek. Sedangkan Nagai-san dulu menyutradarai dua season anime To Aru Kagaku no Railgun, yang meski berat di interaksi karakter, menurutku juga menghasilkan adegan-adegan aksi yang benar-benar keren.

Dari segi desain mecha, kalangan penggemar Gunpla langsung memperhatikan desain mecha-mecha G-Tekketsu yang memiliki bentuk pinggang teramat ramping. Nyaris seolah rapuh. Ada perhatian lebih pada ‘rangka’ di dalam MSnya, yang buatku mengingatkan pada filosofi desain Nagano Mamoru dulu.

Karena kesan telanjangnya, ada yang berkomentar bahwa mecha utama yang ditampilkan dalam websitenya sebenarnya masih belum ‘jadi.’ Lalu ada beberapa aspek aneh lain pada desain, yang juga disadari para penggemar awam, tapi tidak langsung dipermasalahkan di awal karena masih sebatas spekulasi.

Aku sendiri lega bukan main. Menilai bentuk bahu yang bundar ketika situs webnya masih tertutup siluet, aku sempat mengira/khawatir ini akan jadi seri berformat turnamen macam G Gundam lagi. (Arah ke sana sangat tidak bijak mengingat perkembangan cerita GBF dan GBF Try.) Syukurlah karena ternyata bukan.

Lalu akhirnya, episode pertamanya tayang dan bisa disaksikan lewat streaming ke seluruh dunia.

Hasilnya… Hasilnya bagus. Kayak, beneran bagus.

Jelas ada orang yang takkan cocok dengannya, dan akan merasa sulit menikmati. Tapi bagi mereka yang cocok dengan G-Tekketsu–dan ini kemungkinannya lumayan besar kalau kau penggemar seri-seri Gundam lama–episode satunya bisa membuatmu kayak terkesima beberapa lama, karena apa yang membuat seri ini bagus lumayan di luar dugaan.

Orang-orang Seperti Mesin Itu

Berlatar di masa Post Disaster 323, sekitar tiga abad sesudah perang sangat besar yang disebut Calamity War (‘perang malapetaka’) terjadi antara Mars dan Bumi, koloni-koloni luar angkasa telah dibangun sebagai tempat hunian manusia, dan permukaan planet Mars telah melewati proses terraform sehingga kini dapat ditinggali secara bebas. Namun demikian, ketimpangan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk antara satu tempat dan tempat lainnya masih ada secara mencolok.

G-Tekketsu berkisah tentang sekelompok anak lelaki yatim piatu di kota Chryse, Mars, yang dipekerjakan sebagai tenaga bayaran oleh perusahaan pengamanan swasta CGS (Chryse Guard Security). Alasan anak-anak ini sampai dipekerjakan adalah karena selain dapat dibayar murah, dan tak ada yang menuntut jaminan sosial bila mereka wafat, ada suatu sistem antarmuka yang disebut Alaya-Vijnana (‘arayashiki’) yang hanya dapat ditanamkan pada tulang belakang anak-anak dan remaja yang masih di usia pertumbuhan. Sistem ini memungkinkan mereka yang memilikinya menggunakan peralatan Mobile Worker tanpa pelatihan.

Karenanya, anak-anak ini disodori tawaran: bila mereka mau menjalani operasi (yang benar-benar menyakitkan, dan oleh sejumlah kalangan dipandang tidak manusiawi) untuk dipasangkan Alaya-Vijnana, maka mereka bakal dikasih tempat berteduh dan makanan; selama mereka mau bekerja sebagai prajurit di bawah naungan CGS. Lalu tawaran ini banyak diambil karena kebanyakan anak terlantar di Chryse sudah tak punya apa-apa lagi.

Cerita dimulai saat putri tunggal keluarga Bernstein yang berkuasa atas Chryse, Kudelia Aina Bernstein, hendak pergi ke Bumi atas undangan Makanai Togonosuke, perdana menteri Arbrau.

Di masa ini, pemerintahan di Bumi terbagi atas empat blok ekonomi. Masing-masing blok ekonomi tersebut memiliki porsi kekuasaannya sendiri, termasuk atas koloni-koloni luar angkasa dan wilayah-wilayah tertentu di Mars. Arbrau misalnya, berkuasa atas Bumi bagian utara yang di masa kini mencakup wilayah-wilayah Russia, Canada, dan Alaska. Lalu di Mars, Chryse termasuk dalam lingkup kekuasaan Arbrau.

Lalu untuk keperluan perjalanan tersebut, CGS, yang dipimpin oleh seorang pria bernama Maruba Arkay, akan ditugaskan untuk mengawal Kudelia.

Terlepas dari keempat blok ekonomi tersebut, sebenarnya ada satu faksi berkuasa lain, yaitu entitas militer tunggal Gjallarhorn. Gjallarhorn secara netral diamanatkan untuk menjaga perdamaian di Bumi, Mars, serta koloni-koloni luar angkasa semenjak Calamity War berakhir. Organisasi militer elit ini mewarisi berbagai teknologi dan peralatan perang dari masa Calamity War, yang di dalamnya termasuk Mobile Worker serta Mobile Suit (MS) dalam jumlah sangat banyak.

Sesudah kedatangan Kudelia di markas CGS, Maruba memberi tanggung jawab pada Orga Itsuka dan kawan-kawannya untuk mengatur soal pengawalannya. Orga adalah salah satu yatim piatu di CGS yang menonjol karena jiwa kepemimpinannya. Karenanya, sebagian besar anak-anak tersebut patuh padanya.

Namun tanpa sepengetahuan banyak orang, maksud Kudelia menemui Makanai—yaitu untuk menegosiasikan perubahan kebijakan pengelolaan sumber daya half metal di Chryse, dengan harapan dapat mensejahterakan penduduk Mars—ternyata dipandang akan memicu gerakan yang dapat mengubah struktur sosial dunia secara besar-besaran. Karenanya, kedatangan Kudelia ke CGS ternyata memang diatur sebagai bagian dari rencana terselubung untuk membunuhnya.

Orang-orang yang terlibat dalam rencana ini mencakup Coral Conrad, kepala cabang Gjallarhorn di Mars, serta Norman Bernstein, ayah Kudelia sendiri.

Hanya saja, rencana ini tak berlangsung mulus karena para personil CGS terlanjur berhasil melacak keberadaan pasukan Gjallarhorn di sekitar markas. Gjallarhorn pun melakukan penyerbuan besar-besaran ke markas CGS lebih cepat dari jadwal untuk mencegah Kudelia lolos.

Maruba dan manajemen CGS lain melarikan diri saat sadar mereka sudah dijadikan tumbal oleh Gjallarhorn, dan sebaliknya mereka pun mengorbankan Orga dan kawan-kawannya yang tengah bertempur agar mereka sendiri bisa kabur.

Merasa terkhianati, anak-anak yatim piatu di CGS di luar dugaan berhasil membalikkan keadaan saat Orga memerintahkan diaktifkannya kembali sebuah MS di ruang bawah tanah markas, yang reaktor Ahab yang terpasang padanya selama ini digunakan sebagai sumber tenaga. Hanya MS pulalah yang dapat menandingi kekuatan MS; karena kedatangan pasukan MS Graze milik Gjallarhorn dengan mudah akan menyingkirkan pasukan Mobile Worker CGS. Untuk peran penting ini, Orga menugaskan partner andalan sekaligus sahabat lamanya sejak kecil, Mikazuki Augus, sebagai menjadi pilot MS tersebut.

MS ini ternyata adalah Gundam Barbatos, satu dari 72 mesin legendaris dengan kerangka Gundam Frame yang konon telah mengakhiri Calamity War tiga abad silam.

Lalu pengaktifan MS ini pula yang menandai berdirinya Tekkadan, badan usaha baru yang Orga dan kawan-kawannya dirikan untuk menggantikan peran CGS dengan mengambil alih aset-asetnya.

Seperti Diarahkan ke Jejak Seorang Teman yang Hilang

Musim tayang pertama Iron-Blooded Orphans bercerita tentang upaya Tekkadan menggantikan peran CGS dalam mengantarkan Kudelia ke Bumi.

Ceritanya lumayan diwarnai ‘nuansa abu-abu,’ dengan bagaimana orang-orang dipaksa melakukan sesuatu yang ‘keras’ atau ‘kejam’ karena tak diberi pilihan. Kecocokan penyampaiannya lumayan relatif untuk masing-masing orang sih. Jadi aku bisa mengerti kalau ada orang-orang yang kurang nyaman dengannya.

Hanya saja, kalau kau penggemar Gundam lama, aku merasa besar kemungkinannya kau bakal suka. Melihat episode pertamanya saja—dan ini diperkuat pada episode-episode ke sana—aku melihat banyak motif dari seri-seri Gundam sebelumnya tertanam dalam Iron-Blooded Orphans. Seperti drama kehidupan serta konflik pandangan dari seri-seri Gundam era Universal Century, nuansa kasar medan perang The 08th MS Team, nuansa aristokratik dari Gundam Wing, sampai nuansa kekeluargaan di Gundam X.

Di samping perbudakan korporat, G-Tekketsu seperti berusaha menyampaikan bagaimana anak-anak bisa sampai dimanfaatkan sedemikian rupa untuk kepentingan orang-orang dewasa. Menariknya, tema ini disampaikan bukan hanya lewat pemaparan para anggota Tekkadan. Ini juga tersampaikan lewat situasi Kudelia, anggota-anggota keluarga yang berkuasa di Gjallarhorn, serta pihak-pihak lain yang bersimpangan jalan dengan mereka.

Dalam perkembangan cerita, Kudelia kembali meminta jasa sponsornya, seorang pria sangat kaya di Mars bernama Nobliss Gordon, untuk membiayai perjalanannya sekaligus perlindungan Tekkadan. Tapi di awal cerita, Kudelia tak menyadari bahwa Noblisslah yang justru menjadi dalang dari rencana pembunuhan atas dirinya.

Di sisi Gjallarhorn cabang Mars sendiri, guncangan terjadi saat tiba-tiba  datang tim audit dari Bumi menjelang pelaksanaan rencana Coral untuk membunuh Kudelia.

Tim audit ini terdiri atas dua perwira elit khusus yang masih berada di usia relatif muda, McGillis Fareed dan Gaelio Bauduin, yang untuk beberapa lama mengambil alih operasional dari Coral yang kini terbukti korup. Keduanya sama-sama kompeten; McGillis dengan karisma dan kecerdasannya, sementara Gaelio dengan ketangguhan dan harga dirinya. Lalu dalam mengusut kasus Kudelia, mereka memantau perjalanan Tekkadan dan beberapa kali menjadi lawan yang menghalangi mereka.

Dikisahkan juga bahwa McGillis dan Gaelio sama-sama berasal dari dua keluarga ternama yang termasuk golongan Seven Stars, dan kelak mereka akan mewarisi posisi kepala keluarga masing-masing. McGillis khususnya, telah dijodohkan dengan adik perempuan Gaelio, Almiria Bauduin, sekalipun nyatanya Almiria jelas-jelas masih anak-anak. Almiria tak berkeberatan dengan McGillis yang merupakan sahabat kakaknya. Namun jelas bahwa perjodohan tersebut dilakukan atas dasar politik, dan McGillis sendiri diceritakan memiliki maksud tertentu lewat perjodohannya ini.

Perkembangan situasi dunia dan karakternya itu benar-benar menarik karena ada fokus besar diberikan terhadapnya. Hal ini memang menjadikan Iron-Blooded Orphans salah satu seri Gundam dengan frekuensi adegan pertempuran terjarang yang aku tahu. Kayak, ada jeda-jeda panjang antara satu adegan MS dengan lainnya. Pernah sampai ada sekitar tiga episode yang tak ada adegan mechanya sama sekali. Tapi pas adegan-adegan aksinya itu ada, aksi dan koreografinya itu benar-benar intens dan seru.

Fokus terbesar tentu saja ada pada Tekkadan pimpinan Orga, yang bergerak di bawah perlindungan Mikazuki yang menggunakan Gundam Barbatos. Mereka berhasil memperoleh media transportasi untuk Kudelia berupa kapal Isaribi yang sebelumnya dimiliki CGS (sebelumnya bernama Will-o-the-Wisp). Tapi tetap saja komposisi terbesar keanggotaan mereka adalah remaja dan anak-anak. Jadi kayak ada konflik yang digali dengan bagaimana keadaan menuntut mereka bersikap lebih matang dan dewasa dari usia mereka.

Hal tersebut merupakan tema klasik dalam seri-seri Gundam. Tapi di sini, itu terutama terpapar lewat hubungan antara Orga dan Mikazuki; yang mana Orga, dengan kepolosan masa kecil mereka, pernah membujuk Mika di masa lalu untuk membunuh seseorang dan membuatnya dengan setia mengikutinya sampai sekarang.

Maka Mikapun semenjak itu senantiasa mengikutinya, menuntutnya lewat tatapan matanya, untuk bisa membawa dirinya sekaligus teman-teman mereka ke suatu ‘tempat’ yang baru…

Bunga Besi yang Lebih Kuat Dari Darah

Berhubung jumlah tokohnya banyak, berikut rekapnya untuk memantau siapa itu siapa.

Setelah lolos dari Gjallarhorn di awal cerita, anggota Tekkadan yang ikut dalam pekerjaan pertama mereka ke Bumi mencakup:

  • Mikazuki Augus; pendiam, pragmatis, dan terkesan berdarah dingin; namun sebenarnya berhati baik dan sangat setia terhadap kawan-kawannya di Tekkadan. Terutama terhadap Orga, yang dengan sangat setia ia patuhi setiap perintahnya. Dikagumi di dalam Tekkadan karena kesungguhan dan ketangguhannya, yang menjadikannya satu-satunya anggota Tekkadan yang mampu menerima dahsyatnya arus umpan balik dari Gundam Barbatos. Seperti kebanyakan anak lain di Tekkadan, di awal cerita Mika masih belum bisa membaca.
  • Orga Itsuka; yang dipercaya dan diangkat sebagai pemimpin Tekkadan oleh teman-temannya. Karenanya, ia terus berjuang untuk bisa membuktikan diri pada orang-orang di sekitarnya dan sekaligus pada dirinya sendiri. Teman sejak kecil Mikazuki yang dipercayainya seperti saudara.
  • Biscuit Griffon; tangan kanan Orga dalam segala urusan terkait administrasi dan negosiasi klien. Meski sedikit gemuk, ia menjadi salah satu anggota Tekkadan paling dikenal karena hatinya yang baik dan tutur katanya yang sopan. Berbeda dari sejumlah anggota Tekkadan lainnya, Biscuit masih memiliki keluarga (seorang nenek yang bekerja sebagai petani, Sakura Pretzel, sekaligus dua adik perempuan kembar yang cerdas dan ceria yang ingin disekolahkannya, Cookie Griffon dan Cracker Griffon), dan sebelumnya ia sukarela bekerja pada CGS untuk menambah pemasukan keluarganya. Biscuit juga pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah.
  • Akihiro Altland; pemuda kekar yang menjadi pemimpin segolongan anak-anak CGS yang berasal dari human debris (‘puing manusia’), istilah yang mengacu pada orang-orang yang diperjualbelikan selayaknya budak di masa ini. Pendiam, tidak terlalu dekat dengan para anggota lain pada awalnya, ditambah punya kecendrungan untuk membahayakan diri. Tapi ia mulai terbuka semenjak Orga memberi Akhiro dan kawan-kawannya sesama human debris tempat bernaung, dan sekaligus mengembalikan harga diri mereka. Dirinya pilot MS paling ahli kedua di Tekkadan sesudah Mikazuki. Awalnya, ia menggunakan MS produksi massal Graze Custom yang Tekkadan berhasil peroleh dari Gjallarhorn. Tapi sesudah konflik melawan kelompok pembajak Brewers (yang dipimpin Brooke Kabayan dan tangan kanannya yang kejam, Kudal Cadel), Akihiro dipercayakan Gundam Gusion milik Brewers yang kemudian dimodifikasi lagi menjadi Gundam Gusion Rebake.
  • Eugene Sevenstark; salah satu sosok menonjol di CGS sebelum Orga menjadi pemimpin Tekkadan. Unggul dalam sejumlah aspek dibandingkan Orga, tapi sedikit lebih gegabah dari Orga yang senantiasa berpikir panjang. Karenanya, Eugene punya kecendrungan besar untuk bisa membuktikan diri. Dalam perkembangannya, Eugene menjadi andalan Orga dalam memanuver Isaribi, sekaligus orang yang ia pilih sebagai wakilnya bila dirinya sedang tak ada di tempat.
  • Norba Shino; pemuda kurus dan ceria yang menjadi personil Tekkadan yang paling ahli dalam pertempuran personil jarak dekat. Ia mengambil alih kemudi Graze Custom menggantikan Akihiro, dan kemudian seenaknya menamainya Ryusei-Go dalam modifikasinya yang lebih lanjut. Mudah akrab dengan orang lain.
  • Takaki Uno; anak-menjelang-remaja yang biasa mengasuh anak-anak yang lebih kecil di Tekkadan. Dari zaman CGS, ia membantu menjalankan berbagai peran, mulai dari utusan sampai pembantu umum. Juga ingin bisa lebih aktif dalam pertempuran.
  • Yamagi Gilmerton; anggota Tekkadan yang tertutup dan pendiam, tapi perhatian terhadap teman-temannya. Pandai membantu dalam urusan mekanis. (Desain karakternya agak gampang terbalik dengan Takaki. Bedanya, mata Yamagi tertutup sebelah oleh poni rambut yang lebih panjang dan ia selalu berkaus tangan.)
  • Ride Mass; bocah berambut merah yang merupakan salah satu anak termuda di Tekkadan. Bicaranya kurang halus, tapi perasaannya terhadap kawan-kawannya tulus. Ia juga selalu ingin bisa membuktikan diri.
  • Chad Chadan; anggota Tekkadan berkulit hitam yang kurang menonjol, yang memiliki masa lalu sebagai human debris seperti halnya Akihiro. Belakangan, ia membantu urusan komunikasi dan navigasi di Isaribi.
  • Dante Mogro; pemuda gempal berambut merah yang juga pernah menjadi human debris bersama Akihiro. Terungkap kalau ia punya keahlian dalam bidang electronic warfare.
  • Nadi Yukinojo Kassapa; pria besar berotot berkulit hitam yang bekerja di CGS sebagai mekanik sebelum dipekerjakan kembali oleh Tekkadan. Aslinya, Yukinojo mendalami Mobile Worker, tapi aktifnya Gundam Barbatos membuatnya harus mulai menangani MS juga. Salah satu orang yang paling memahami kepribadian Orga.
  • Atra Mixta; gadis kecil yang sebelumnya bekerja sebagai penjaga toko kelontong yang sering mengantar pasokan makanan ke CGS. Bisa akrab dengan Mikazuki dan kawan-kawannya karena ia juga yatim piatu. Menyukai Mikazuki. Saat mengetahui bahwa pekerjaan pertama Tekkadan adalah ke Bumi, Atra mengundurkan diri dari pekerjaannya di toko dan mengajukan lamaran pekerjaan ke Tekkadan sebagai koki.

Tugas Tekkadan adalah mengawal Kudelia Aina Bernstein—bersama pelayan wanita Kudelia yang pendiam namun serba bisa, Fumitan Admoss—ke pertemuan dengan Makanai Togonosuke di Arbrau, Bumi.

Dalam perjalanan, Tekkadan bersimpangan jalan dengan keluarga Turbines yang menggunakan kapal Hammerhead (yang secara tak langsung terjadi karena Maruba tak rela semua asetnya diambil). Pertemuan ini menandai awal persekutuan Tekkadan dengan Turbines, yang kemudian memberikan Tekkadan akses ke Teiwaz, perusahaan konglomerat besar yang menguasai jalur-jalur transportasi di wilayah sabuk asteroid di sekitar Mars dan Jupiter, yang sekaligus memiliki kaitan dengan mafia.

Keluarga Turbines meliputi:

  • Naze Turbine; kepala keluarga Turbines yang selalu berpakaian necis. Awalnya hanya tertarik, tapi lambat laun dirinya benar-benar peduli pada Orga dan kemudian menjadikannya saudara angkat. Ia seorang praktisi poligami.
  • Amida Archa; istri Naze sekaligus tangan kanannya di Turbines. Ia wanita cantik berkulit coklat yang memiliki guratan bekas luka besar pada badannya. Panggilannya ‘Ane-san.’ Ia juga seorang pilot MS yang handal.
  • Lafter Frankland; perempuan berambut pirang yang menjadi salah satu istri Naze(?). Di balik bawaan pesoleknya, Lafter salah salah satu pilot MS tertangguh di Turbines. Belakangan ikut turun ke Bumi bersama Tekkadan sebagai bala bantuan dari Turbines.
  • Azee Gurumin, perempuan pendiam berambut kelabu yang menjadi salah satu pilot andalan lain di Turbines. Dirinya ikut ke Bumi bersama Lafter sebagai bala bantuan Tekkadan.
  • Eco Turbine, perempuan berkuncir yang menjadi salah satu anggota lain Turbines yang ikut ke Bumi untuk membantu Tekkadan. Dirinya bala bantuan yang dikirim untuk penanganan MS.

Naze memperkenalkan Orga pada McMurdo Barriston, perwakilan Teiwaz yang tertarik untuk menjadikan Tekkadan salah satu perusahaan di bawahnya. Berkat McMurdo, Tekkadan berhasil menemukan jalur yang memungkinkan mereka menghindari Gjallarhorn, namun dengan syarat mereka juga menyelesaikan sejumlah pekerjaan darinya.

Untuk membantu Orga yang masih awam dalam urusan pengelolaan perusahaan, McMurdo menugaskan seorang wanita handal yang sebelumnya bekerja di sektor perbankan Teiwaz bernama Merribit Stapleton ke Tekkadan. Meski kadangkala bentrok dengan Orga karena perbedaan pendapat, Merribit lambat laun menjadi sosok yang menyadarkan Orga akan segala keterbatasannya dan demikian pula sebaliknya.

Dari sisi antagonis, selain McGillis, Gaelio, dan kelompok Brewers, mereka yang merintangi jalan Tekkadan baik secara langsung maupun tidak langsung meliputi:

  • Crank Zent; perwira Gjallarhorn veteran yang gusar dengan keberadaan tentara anak-anak di Mars.
  • Ein Dalton; bawahan Crank yang sangat setia terhadapnya. Seorang pemuda yang juga mendapat diskiriminasi di Gjallarhorn karena tidak terlahir di Bumi. Dalam perkembangan cerita, ia turut serta di bawah bimbingan Gaelio.
  • Carta Issue, pemimpin armada pengawas orbit Bumi, juga berasal dari salah satu keluarga Seven Stars. Ia perempuan eksentrik yang merupakan kawan masa kecil Gaelio dan McGillis yang sedikit lebih tua. Memiliki cinta lama yang tak berbalas terhadap McGillis sekaligus harga diri tinggi.
  • Iznario Fareed; ayah angkat(?) McGillis yang merupakan salah satu Seven Stars dan kepala keluarga Fareed. Memiliki suatu agenda pribadi dengan Gjallarhorn.
  • Henri Fleurs; seorang wanita yang menjadi lawan politik Makanai, sekaligus kandidat terkuat untuk memperoleh kursi perdana menteri Arbrau. Didukung oleh Iznario.

Sumber Penghidupan Akan Kita Temukan di Medan Perang

Bicara soal mecha, ciri khas desain mecha di Iron-Blooded Orphans ada pada bentuk pinggangnya yang sangat ramping, seolah hanya ditunjang oleh satu batang. Kerangka MS yang sebelumnya bisa terlihat itu kemudian seperti ditutupi oleh berlapis-lapis zirah. Jadi secara visual, bentuknya berbeda jauh dari konsep desain robot ‘tradisional’ yang dibikin berbalok-balok dulu di awal dan baru dirampingkan bila perlu. Jadi dengan melihat sekilas saja, kau akan bisa langsung mengenali apakah sebuah Gunpla berasal dari seri ini atau bukan.

Soal ini, wow, ada banyak yang ingin aku bahas.

Iron-Blooded Orphans memperkenalkan konsep Mobile Worker, kendaraan beroda tiga yang fleksibel dalam menempuh berbagai medan dan dilengkapi sepasang senapan mesin, yang dipakai baik oleh Tekkadan maupun Gjallarhorn. Kalah jauh dibandingkan MS tapi dapat unggul dari segi jumlah, bagian kakinya yang beroda dapat digantikan dengan pendorong untuk kebutuhan di luar angkasa. (Berkat implementasi Alaya-Vijnana, bahkan anak kecil seperti Ride pun dapat mengoperasikannya melalui kabel panjang yang terhubung ke punggung.)

Iron-Blooded Orphans mengadopsi versi tersendiri dari fisika Minovsky dari seri-seri era UC lewat keberadaan reaktor Ahab yang menghambat komunikasi radio. Tapi di dunia IBO, persenjataan sinar seperti Beam Saber dan Beam Rifle, apalagi Beam Shield dan Beam Rotor; seolah sama sekali tak ada. Persenjataan mecha di IBO sepenuhnya berbasis proyektil padat (seperti peluru dan misil) kalau bukan senjata-senjata melee jarak dekat (dalam hal ini, kampak yang dimiliki MS produksi massal Graze atau tombak gada yang dimiliki Gundam Barbatos).

Selain reaktor Ahab, kapal-kapal induk dan MS juga mengandalkan pelapis yang disebut Nano Laminated Armor yang melindungi mereka dari kerusakan serangan secara langsung.

Dikisahkan bahwa setiap Gundam Frame adalah kerangka MS langka yang dilengkapi sepasang reaktor Ahab (mirip dengan twin drive system di Gundam 00), yang membuatnya memiliki keluaran benar-benar besar. Berhubung sulitnya memproduksi sepasang reaktor Ahab yang dapat bekerja secara paralel (dan caranya kelihatannya telah dilupakan sejarah), hanya 72 kerangka ini yang pernah diproduksi di masa Calamity War. Namun demikian, semuanya dirancang sedemikian rupa agar implementasinya fleksibel dan bisa digunakan dalam lingkungan apapun.

Seperti yang disampaikan dalam materi-materi promosinya, Gundam Barbatos melewati beberapa bentuk berbeda di sepanjang seri. Seiring perkembangan cerita, pihak Tekkadan dan Turbines terus melakukan modifikasi terhadapnya sesuai dengan ketersediaan komponen dan senjata saat itu.

Tahapan pengembangannya di season ini kalau tak salah:

  • Bentuk pertama: Bentuk awal Barbatos saat pertama ditemukan oleh Maruba di Mars, ketika reaktor Ahabnya hanya digunakan sebagai generator listrik. Zirahnya sudah mulai rapuh dan hancur sebagian, dan berada dalam kondisi tidak memiliki kokpit. (Kokpitnya terlontar saat pilot lamanya meloloskan diri?) Yukinojo dan Yamagi menyiasati ketiadaan kokpit dengan memasangkan kokpit Mobile Worker padanya. Tombak gada yang menjadi andalan Mika juga ditemukan di markas CGS dan nampaknya merupakan salah satu perlengkapan asli MS ini sejak awal.
  • Bentuk kedua: Bentuk Barbatos yang bagian-bagian bolongnya sudah separuh ditambal dengan suku cadang yang diperoleh dari Graze yang Mika kalahkan. Ditandai dengan bentuk bahunya yang persegi dan berwarna biru. Mulai dilengkapi dengan Smoothbore Gun yang dapat dilipat, yang mampu menembakkan peluru berkecepatan tinggi berdiameter 300mm dan dikhususkan untuk dipakai dalam lingkungan bergravitasi nol.
  • Bentuk ketiga: Bentuk Barbatos yang bagian pelindung tangan kirinya yang rusak telah digantikan dengan Wire Claw (‘cakar kawat’) yang diperoleh dari MS Schwalbe Graze milik Gaelio. Perlengkapan baru ini ternyata berperan vital dalam performa selama bentuk ini digunakan.
  • Bentuk keempat: Bentuk asli Barbatos (atau setidaknya, bentuk yang mendekati bentuk aslinya) yang berhasil dikembalikan para teknisi Teiwaz berkat informasi lama dalam basis data yang mereka simpan. Wujud ini diperoleh Mika dan kawan-kawannya di koloni luar angkasa Saisei. Performanya jauh meningkat dibandingkan sebelumnya, dengan keseimbangan mesin yang lebih stabil dan keluaran serta rentang operasi yang lebih baik. Ditandai oleh bentuk pelindung bahunya yang putih bundar. Mulai bentuk ini, Barbatos dilengkapi pedang katana panjang yang baru Mika kuasai cara pakainya menjelang akhir cerita.
  • Bentuk kelima: Bentuk Barbatos sesudah dilengkapi sejumlah perlengkapan tambahan, yang sebagian disediakan oleh Perusahaan Montag yang misterius. Memiliki pendorong tambahan di pinggang yang diperoleh dari Schwalbe Graze milik Ein, serta pelindung reactive armor yang dipasangkan pada badan untuk menghadapi pola serang berkecepatan tinggi dari Gundam Kimaris milik Gaelio. Setiba di Bumi, bentuk ini disesuaikan lagi, terutama dengan kaki baru yang memudahkan pergerakan di bawah gravitasi.
  • Bentuk keenam: Bentuk final Gundam Barbatos untuk pertempuran terakhir di Edmonton, yang disesuaikan dari variasi tanah bentuk kelima rancangan Eco Turbine. Ciri khasnya ada pada zirah tambahan baru di sekujur tubuhnya serta sepasang pendorong baru di pinggang. Dalam wujud ini, kelincahan Gundam Barbatos berkurang, tapi perlindungan baru yang dimilikinya memungkinkannya beroperasi lebih lama di medan pertempuran. Menggantikan tombak gadanya yang terlepas di luar angkasa, Mika juga jadi mengandalkan gada baru yang diperkuat di bentuk ini.

Sesudah konflik dengan Brewers, Tekkadan memperoleh Gundam Gusion yang sebelumnya digunakan Kudal Cadel. Memiliki keluaran besar serta zirah teramat tebal, Gundam Gusion seperti raksasa hijau gempal yang hanya bisa beroperasi di luar angkasa, dan dilengkapi persenjataan senapan mesin, granat, serta palu raksasa.

Baru sesudah Gundam Gusion jatuh ke tangan Akihiro, keluarga Turbines memodifikasinya ke bentuk Gundam Gusion Rebake yang lebih efisien dengan memanfaatkan suku cadang yang awalnya disediakan untuk Gundam Barbatos. Sistem Alaya-Vijnana ditambahkan. Zirah tebal pada badannya dikurangi, dan aspek pertahanannya dialihkan ke perisai sangat besar yang dapat disimpan di pinggangnya. Pada kepalanya, dilengkapi sensor sangat sensitif yang membuatnya cocok dengan beragam persenjataan jarak jauh. Juga dilengkapi beberapa variasi kampak untuk pertempuran jarak dekat, serta tambahan sub-arms tersembunyi yang diperoleh dari Graze (mirip Seravee Gundam dari Gundam 00?). Ini terus terang menjadikan Gusion Rebake sebuah mecha dengan konsep unik yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Sedangkan untuk MS produksi massal, Graze menjadi MS standar yang digunakan pasukan Gjallarhorn. Ciri khasnya ada pada bentuk kepala mereka yang dapat membuka seperti rahang. Diproduksi dengan teknologi tercanggih Gjallarhorn, MS ini memiliki pilihan senjata banyak sekaligus perlengkapan yang dapat disesuaikan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Variasi Graze mencakup Graze Commander Type (pernah digunakan Coral Conrad) yang ditandai dengan antena tambahan untuk komandan; Graze Ground Type untuk pertempuran dengan gravitasi, yang dilengkapi pedang baja ringan di punggung sera bentuk kaki berbeda dari versi standar; Schwalbe Graze yang dikustomisasi untuk mobilitas tinggi (pernah dipakai McGillis dan Gaelio, dengan variasi yang dipakai Gaelio dilengkapi tombak di tangan kanan); serta Graze Ritter, milik pasukan pengamanan orbit Bumi pimpinan Carta, yang keseimbangan dan mobilitasnya disesuaikan untuk pertempuran di orbit serta dilengkapi pedang tipis di pinggang.

Pihak Turbines menggunakan MS produksi massal Hyakuren (yang sempat dipakai Amida dan Azee). Selain mempunyai senapan dan bilah pedang sebagai senjata utama, Hyakuren juga dapat menggunakan pelindung kepalanya sebagai senjata.

Ada variasinya yang berkecepatan tinggi bernama Hyakuri milik Lafter, yang perlengkapan sistem pendorongnya dapat berubah bentuk dan menjadi kombinasi pelindung dan perisai. Tak terlihat kalau hanya sekilas, tapi dari segi fungsional, Hyakuri punya desain yang benar-benar keren.

Dalam perkembangan cerita, dua unit Hyakuren yang digunakan Lafter dan Azee disertakan ke Bumi bersama Tekkadan. Tapi asal-usul keduanya perlu ditutupi agar aliansi Tekkadan dan Turbines tak diketahui umum. Karenanya, selain dimodifikasi untuk performa di bawah gravitasi, bentuk luarnya dimodifikasi secara drastis, menjadikannya MS baru dengan kerangka sama bernama Rouei.

Selebihnya, ada MS produksi massal Man Rodi yang digunakan Brewers, yang serupa dengan konsep zirah tebal dan keluaran besar berbentuk bulat Gundam Gusion. Man Rodi dilengkapi senapan mesin, palu dan granat. MS ini nampaknya berasal dari hasil modifikasi MS serba guna Spinner Rodi yang aslinya digunakan untuk kebutuhan industri.

Pada pertengahan cerita, Gaelio menggunakan MS pusaka keluarga Bauduin, Gundam Kimaris, yang dilengkapi pendorong punggung tambahan, untuk menandingi Gundam Barbatos. Dilengkapi tombak khusus Gungnir, MS ini mampu melancarkan serangan-serangan jarak dekat berkecepatan tinggi dari berbagai arah yang sempat membuat Mika kewalahan.

Gundam Kimaris selanjutnya disesuaikan lebih lanjut untuk bisa memberikan performa serupa di Bumi, menjadi Gundam Kimaris Trooper. Masih dengan tombak, tapi MS ini kini juga dengan perisai dan pedang, dengan bentuk menyerupai centaur yang telah dilengkapi subarm dan badan yang mampu mengambang. Selain masih berkecepatan tinggi di bawah gravitasi, MS ini juga mampu melancarkan serangan jarak dekat beruntun lewat berbagai senjata yang terpasang padanya.

Melengkapi tim MS di Tekkadan, Shino mengambil alih Graze Custom yang sebelumnya digunakan Akihiro. Berkat kustomisasi dengan bantuan pihak Turbines, Graze Custom dilengkapi perlengkapan tambahan dari Hyakuren, mengubahnya menjadi Graze Custom II yang dinamai Shino sebagai Ryusei-Go. Meski perlengkapannya standar, performa MS ini lebih tinggi dari Graze pada umumnya, dan warnanya sengaja dipilih merah muda oleh Shino dengan alasan untuk menambah semangat tempurnya.

Seperti halnya Gundam Barbatos dan Gundam Gusion Rebake, Ryusei-Go pun dapat terhubung dengan pesawat transportasi berkecepatan tinggi Kutan Sangata (Kutan Type 3) yang diperoleh dari Teiwaz, yang beberapa kali sempat dikemudikan oleh Yukinojo.

Lawan terakhir yang harus dihadapi di season ini adalah MS raksasa Graze Ein, hasil implementasi teknologi terlarang Alaya-Vijnana di sisi Gjallarhorn. Berbentuk seperti Graze, hanya saja berukuran jauh lebih besar dan memiliki kelincahan yang juga jauh di luar dugaan. Kemunculan pertama MS ini mengingatkanku akan kemunculan Psycho Gundam di Zeta Gundam yang langsung menimbulkan kengerian dengan ukurannya yang teramat besar.

Sebagai tambahan, ada satu MS misterius berwarna merah bernama Grimgerde, yang digunakan secara pribadi oleh pria bertopeng logam yang mewakili Perusahaan Montag. MS ini konon menggunakan kerangka Valkyria Frame yang ringan (dan konon digunakan sebagai basis pengembangan Graze?), dan kabarnya baru dikembangkan menjelang penghujung Calamity War sehingga keberadaannya tak diketahui banyak orang. Selain senapan khusus yang ringan, senjatanya hanya sepasang bilah pedang yang tersembunyi di balik perisai yang menutupi kedua lengannya. Kedua bilah berwarna emas ini terbuat dari logam komposit yang sudah tak lagi diketahui cara pembuatannya, yang membuat MS ini jauh lebih mematikan dari kesan pertama.

“Aku tak akan takut pada matamu lagi.”

Bicara soal teknis, kualitas visual maupun audio Iron-Blooded Orphans benar-benar solid.

Pilihan gaya desain karakternya kuakui sempat membuat aneh di awal. Tapi sesudah mengetahui inti ceritanya, gaya desain karakternya bisa dibilang pas dari sisi kepraktisan sekaligus tema. Bukan jenis yang mungkin mau kau buat jadi figur, tapi lebih kayak jenis desain yang terasa bisa diterima oleh semua kalangan yang mungkin berminat terhadap seri ini.

Musik latarnya yang diaransemen Yokoyama Masaru memiliki ciri khas kuat. Track-track awalnya, yang semula mengingatkanku akan nuansa koboi, secara pas memberi bayangan akan padang-padang Mars yang kering dan berbatu.

Lagu pembuka “Raise Your Flag” dari band MAN WITH A MISSION, selain menunjukkan betapa stabilnya kualitas band tersebut selama bertahun-tahun (mereka terutama dikenal karena membawakan lagu “Database” yang menjadi lagu pembuka seri Log Horizon), secara keren juga seakan jadi arc words baru bagi para fans Gundam (sebelumnya yang berasal dari lagu paling hanya “Stand Up to the Victory” dari Victory Gundam).

Soal visual, kualitas animasinya termasuk stabil di sepanjang penayangannya. Ada beberapa teknik pengambilan gambar menarik yang sempat dipakai, seperti bagaimana mereka membuat animasi lagu pembuka pertamanya dengan gambar agak berbulir, memberi kesan bahwa visualnya benar-benar hasil dokumentasi perang yang dibuat langsung.

Lalu yang membuatku terkesan, bagian-bagian animasi mekanisnya, meski tak menonjol, benar-benar berhasil dipresentasikan secara baik. Mulai dari markas luar angkasa Gjallarhorn, gudang penurunan barang di koloni-koloni, sampai rel-rel kereta berpasangan yang melintasi Amerika, penggambaran dunia di seri ini beneran terbilang bagus.

Soal eksekusinya, Nagai-san menunjukkan kemampuannya untuk mengeluarkan yang terbaik dari naskahnya. Untuk yang bisa menikmati, karakterisasinya benar-benar kuat. Tapi aspek karakterisasinya ini berhasil tersampaikan tanpa terlalu mengurangi aspek aksi maupun perkembangan dunianya.

Memang ada sedikit masalah terkait pacing menjelang akhir. Kalau dibandingkan dengan beberapa seri Gundam lain, rasanya seperti ada bagian cerita yang disingkat begitu latarnya masuk ke Bumi. Tapi sebagai salah satu seri Gundam langka yang klimaksnya di Bumi (dan bukan di luar angkasa), kesan kuat yang dibutuhkan di akhir berhasil didapat. …Yah, seperti kebanyakan orang, aku juga sempat berharap aksinya bisa sedikit lebih banyak sih. Tapi aku tak menyesal dengan apa yang kudapat.

…Sebenarnya, ada lebih banyak yang ingin bisa kukomen soal ini. Tapi agak susah menjabarkannya.

Jadi kayak, pada beberapa titik, memang ditampilkan betapa Tekkadan jadi pihak yang disorot dan didukung. Tapi itu dilakukan tanpa melepas ‘kesan abu-abu’ dari tindakan dan perbuatan mereka. Seperti halnya Orga yang dilanda keraguan, kita diperlihatkan betapa ada sisi simpatik juga pada pihak Gjallarhorn. Selalu ada kesan kalau mungkin saja Tekkadan sebenarnya dimanfaatkan dengan naifnya oleh pihak-pihak yang lebih berkepentingan, dan bisa saja merekalah sebenarnya pihak yang salah.

Mikazuki, sebagai tokoh utama, seolah mewakili hal ini. Dirinya terang-terangan, karena alasan pragmatis, bisa bertindak benar-benar kejam. Dari waktu ke waktu, kita bisa melihat bagaimana Orga kadang terganggu melihat Mika telah menjadi orang seperti apa.

Mikazuki menjadi seperti itu karena kata-kata yang membuatnya menjadi tanggung jawab Orga. Tapi Orga sudah terlanjur berjanji padanya dan menyayanginya, serta sepenuhnya sadar bahwa Tekkadan bisa beranjak sejauh ini juga berkat keberadaan Mika. Karenanya, hubungan antara Mika dan Orga, yang disorot pada waktu-waktu tertentu, menghasilkan kesan yang benar-benar enggak biasa.

Sebaliknya, perkembangan karakter Mika lebih banyak digali lewat hubungannya dengan Kudelia dan Atra. Bagi beberapa orang, hubungan mereka benar-benar manis dan terasa kontras dengan aspek-aspek lain seri ini.

Lalu soal Kudelia, yang jadi inti pusaran konflik di seri ini… Berbeda dari Lacus Clyne dari Gundam SEED misalnya, atau Releena Darlian dari Gundam Wing, Kudelia di awal cerita benar-benar ditampilkan sebagai gadis remaja biasa. Ya, dirinya berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ya, dirinya juga punya maksud baik untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat di sekelilingnya. Tapi di awal cerita, Kudelia sebenarnya sama sekali bukan pencetus idelogi revolusioner seperti yang digaungkan Gjallarhorn. Mungkin lebih kayak pelajar sekolah biasa yang suatu hari berkesempatan mempresentasikan karya tulisnya di suatu forum besar?

Seiring perkembangan cerita, ketika Kudelia melihat sendiri dampak keberadaannya bagi masyarakat di koloni-koloni, barulah ia menjadi figur politisi tangguh yang diharapkan Makanai dan ditakutkan Gjallarhorn. Jadi semua tindakan kejam Gjallarhorn justru menghasilkan apa yang mereka takutkan dalam suatu ironi aneh.

(Kontras dengan kondisi sekarang yang komunikasinya dimudahkan dengan Internet, isu reaktor Ahab dan kebutuhan Ariadne membuat jalinan komunikasi antara Bumi dan luar angkasa kurang lancar. Dengan penyebaran berita yang terbatas, meski nama Kudelia mulai tersebar di banyak kalangan, dikisahkan hanya sedikit orang yang tahu tentang profil lengkap dan wajahnya.)

Karenanya, pertemuan Kudelia dengan Mika menjadi awal perubahan banyak hal bagi keduanya. Kudelia disadarkan dari kenaifan dan pikirannya yang pendek. Sedangkan Mika disadarkan bahwa ada ‘cara-cara lain’ di luar bayangannya semula, yang juga membuatnya tersadar pula bahwa Orga dan Kudelia, seperti halnya dirinya, juga sama-sama hanya manusia.

Perkembangan karakternya menurutku salah satu hal terbaik di seri ini. Gagasan untuk menggambarkan para karakternya dengan cara demikian itu benar-benar bagus.

“Ke mana kita pergi sekarang?”

Akhir kata, mungkin Iron-Blooded Orphans enggak termasuk seri Gundam yang ‘rame.’ Tapi aku tetap mesti mengatakan kalau ini termasuk seri Gundam yang bagus. Malah, bagi sebagian orang, mungkin ini seri Gundam terbagus dalam dua dasawarsa terakhir.

Aku bersyukur ceritanya ada lanjutannya. Sebab dengan pembangunan dunianya yang sebagus ini, akan sangat disayangkan kalau ceritanya diputus hanya sampai di sini. (Mungkin terlalu cepat kalau aku berpendapat begini, tapi aku punya firasat aneh kalau seri ini bisa saja mencapai tiga season.)

Sedikit soal adegan pertarungan terakhir, dua episode terakhir IBO menghadirkan adegan-adegan pertarungan jarak dekat yang intens. Lalu ini semua diiringi pembangunan situasi yang semakin genting. Hasil akhirnya menurutku serupa dengan pembangunan konflik terakhir di The Vision of Escaflowne. Sayang, karena banyaknya hal yang terjadi, pembangunan momennya masih kurang sempurna. Di tengah kerennya duel penghabisan antara Mika dan Gaelio misalnya, tiba-tiba ada hal terjadi yang membuat konfrontasi mereka terganggu di tengah.

Ah, lalu terkait para karakter dan hubungan antar mereka. Karakter Carta Issue dengan keeksentrikannya mirip dengan Chara Soon dari Gundam ZZ. Lalu ia dengan pas seolah menggambarkan bagaimana suatu tindakan dengan akibat serius bisa terjadi melalui tangan siapa saja. Hubungan yang terjalin antara McGillis dan Gaelio juga mirip dengan hubungan antara Char Aznable dan Garma Zabi pada seri Gundam orisinil. Jadi itu beberapa elemen karakter lain yang sempat disadari sejumlah penggemar.

Sebagai penutup, ada orang yang, uh, memintaku sekalian membuat terjemahan lirik lagu “Raise Your Flag” Jadi sesuai permintaannya, ini kubuat di bawah.

Kukatakan lagi, IBO termasuk bagus. Ceritanya bagi beberapa orang mungkin susah diikuti. Tapi kalau kalian mengikutinya, kurasa kalian mungkin bisa dapat sesuatu dari ini.

Tak sempurna sih. Tapi masih bagus.

Buatku pribadi, ini seri yang membuatku mempertanyakan ulang tujuanku setiap kali aku ragu. Lalu saat aku ingat, aku kembali akan menguatkan diriku untuk beranjak, sejauh dan sesulit apapun.

Bila untuk orang lain, tak pernah ada perjuangan kita yang benar-benar sia-sia.

 “Raise Your Flag” (by MAN WITH A MISSION)

Under pressure you are waiting for direction

Going on the road without your mind

 

All misleads they give ignoring our decisions

Killing yourself your soul we have inside

 

No one else but you are I’m waiting for

We can start it on just right here right now

 

Fear and circulation

But I am ready now

We can struggle and muzzle the world before it fades away

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

 

kitto itsuka

itsuka dokoka

tadoritsuku to shinjite

 

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

 

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

All mistakes I made are blurring my reflection

And it is more than I achieved so far

 

Taking this ship or not depends on your intention

To be the soldier or one bystandar

 

agakitsuduke taorekujike

haiagatte hashiritsudzukete

 

owari naki

yume no ma to ma

We can struggle and muzzle the world before it fades away

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

 

kitto itsuka

itsuka doko ka

tadoritsuku to shinjite

 

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

 

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

(ins)

 

When is the time?

It’s up to your own decision

 

The time to find

To struggle and prove our vision

 

When is the time?

To end all the false collision

 

The time to find

And we’ll move to the new division

 

When is the time?

It’s up to your own decision

 

The time to find

To struggle and prove our vision

 

So raise your flag

 

So raise your flag

 

So raise your flag

And we’ll move to the new division

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

kitto itsuka

itsuka dokoka

tadoritsuku to shinjite

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

 

Di bawah tekanan kau menantikan arah

Berangkat menempuh jalan dengan pikiran kosong

 

Semua petunjuk salah yang mereka beri mengabaikan keputusan kita

Membunuh dirimu, jiwamu yang kita pendam

 

Tak ada lagi selain kau yang aku tunggu

Kita bisa langsung mulai ini di sini sekarang juga

 

Rasa takut dan perputaran

Tapi aku siap sekarang

Kita bisa berontak dan bungkam dunia sebelum pudar

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

 

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Meyakini kita akan tiba di tujuan itu

 

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

 

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Teruslah bermimpi selama kita berkelana

 

Semua kesalahanku memburamkan refleksiku

Dan itu melampaui yang telah kuraih sekarang

 

Ikut kapal ini atau tidak bergantung pada niatmu

Untuk menjadi sang prajurit atau hanya saksi mata

 

Teruskan perjuangan, dan telanlah saat-saat kau kecewa

Lalu bangkitlah untuk berlari hingga akhir

 

Di sela-sela mimpi yang tiada akhir

Kita bisa berontak dan bungkam dunia sebelum semua sirna

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

 

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Yakinlah kita akan tiba di tujuan itu

 

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

 

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Teruslah bermimpi selama kita berkelana

 

(ins)

 

Kapan waktunya?

Itu terserah keputusanmu

 

Waktu untuk menemukan;

Untuk berjuang dan membuktikan visi kita

 

Kapan waktunya?

Untuk mengakhiri segala bentrokan palsu

 

Waktu untuk menemukan,

Untuk pindah ke pecahan yang baru

 

Kapan waktunya?

Itu terserah keputusanmu

 

Waktu untuk menemukan,

Untuk berjuang dan membuktikan visi kita

 

Jadi kibarkan benderamu

 

Jadi kibarkan benderamu

 

Jadi kibarkan benderamu

Dan kita pindah ke pecahan yang baru

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Yakinlah kita akan tiba di tujuan itu

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Mimpimu berlanjut selama kita berkelana

Penilaian

Konsep: S; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A

(Sumber beberapa info dari situs web resmi G-Tekketsu serta situs web Gundam Wikia. Lirik dan terjemahannya dikutip dari Lyrical Nonsense.)

09/11/2015

Mobile Suit Gundam Thunderbolt

Menjelang akhir Perang Satu Tahun yang dimulai tahun 0079 U.C., Thunderbolt Sector menjadi medan perang strategis yang dapat menentukan arah berkembangnya perang.

Thunderbolt Sector merupakan suatu kawasan shoal zone di Side 4, yang kepadatan bangkai-bangkai kapal dan koloni luar angkasa di dalamnya sampai menghasilkan fenomena listrik statis menyerupai awan-awan petir. Sektor tersebut pada awalnya dikuasai pihak Zeon, yang menggunakannya sebagai salah satu rute logistik utama ke benteng luar angkasa mereka, A Baoa Qu.

Di antara banyaknya puing-puing koloni luar angkasa yang berterbangan, serta kilatan listrik sesekali, Zeon juga menempatkan sejumlah MS Zaku dan Rick Dom yang berperan sebagai sniper untuk memberi penjagaan. Hal tersebut menjadikan Thunderbolt Sector sebagai suatu wilayah yang sangat sulit ditembus.

Seiring dengan memanasnya konflik antara Zeon dan Federasi Bumi, Thunderbolt Sector kemudian menjadi saksi pertumpahan darah antara dua pilot as yang sama-sama memiliki motivasi kuat untuk menaklukkan wilayah tersebut: Perwira Kepala Daryl Lorenz dari Divisi Living Dead (‘Separuh Hidup’) di pihak Zeon; dan Letnan Muda Io Fleming, dari Moore Brotherhood (‘Persaudaraan Moore’) di pihak Federasi Bumi.

Thunderbolt Station, No Border, No War

Kidou Senshi Gundam Thunderbolt, atau Mobile Suit Gundam Thunderbolt, adalah seri manga yang dibuat oleh Ohtagaki Yasuo yang diserialisasikan di majalah Big Comic Superior milik penerbit Shogakukan sejak tahun 2012. Terkait berita penganimasiannya belum lama ini, aku merasa perlu menyempatkan diri untuk membahasnya.

Ohtagaki-sensei sebelumnya dikenal sebagai pengarang seri astronot Moonlight Mile, yang selain manga, juga sempat dianimasikan di tahun 2007 oleh Studio Hibari (sebuah studio lama yang semenjak tahun 2009, kelihatannya tak mengeluarkan proyek orisinil lagi, dan lebih banyak berkarya lewat kerjasama dengan studio lain). Lalu seperti halnya Moonlight Mile, Gundam Thunderbolt juga berakhir sebagai suatu seri ‘aneh’ yang agak enggak biasa, yang jadi alasan kenapa berita penganimasiannya sempat menarik perhatian.

Jadi, Gundam Thunderbolt adalah satu dari sekian banyak manga yang menjadi side story dari Perang Satu Tahun, yakni era yang ditampilkan dalam seri Mobile Suit Gundam yang orisinil. Meskipun anime Mobile Suit Gundam keluarnya tahun 1979 (aku membahas seri paling awal di sini), seri manga yang mengangkat cerita soal era itu masih terus ada dan dibuat sampai sekarang. (Oke, anime Mobile Suit Gundam: The Origin, yang merupakan versi penceritaan ulangnya, belakangan juga diproduksi sih.)

Beberapa anime seperti The 08th MS Team serta MS Igloo juga mengangkat zaman ini. Tapi keduanya proyek orisinil, dan tidak didasarkan seri lain yang sebelumnya sudah ada.

Makanya, begitu produksi anime Gundam Thunderbolt diumumkan, ada sedikit kesan aneh yang fans rasakan. Soalnya, dari sekian banyak seri manga serupa, apalagi yang telah ada selama puluhan tahun, kenapa baru sekarang ada adaptasi anime dari manga yang sifatnya gaiden kayak gini? Kenapa harus Gundam Thunderbolt? Bukannya Crossbone Gundam yang justru selama ini paling penggemar harapkan untuk dianimasikan? (Soal Crossbone, sebenarnya, ada sejumlah faktor pertimbangan tersendiri sih…)

Bahkan Advance of Zeta, yang selama bertahun-tahun membuatku penasaran dengan desain-desain karakter dan mechanya, selama ini terkesan agak dilupakan.

Tapi terlepas dari itu, kalau ditanya soal apakah Gundam Thunderbolt bagus atau tidak, jawabannya jelas. Seri ini bukan seri yang jelek.

Apa seri ini seru atau enggak?

Jawabannya ya, seri ini bisa dibilang seru.

Jazz Akan Terdengar Pada Saat Dia Datang

Ada dua hal menonjol pada Gundam Thunderbolt. Dua hal ini yang membedakannya—dalam artian baik sekaligus buruk—dari beberapa seri gaiden Gundam yang lain.

Pertama, seri ini menonjolkan karakterisasi yang kuat. Gundam Thunderbolt pada dasarnya menceritakan tentang permusuhan antara Io dan Daryl. Keduanya sama-sama pertama kali saling berhadapan di Thunderbolt Sector. Keduanya sama-sama suka musik. Keduanya sama-sama masih muda, dan memiliki kemampuan mengendalikan MS yang jauh melebihi kolega mereka. (Ada kemungkinan yang tak terlalu dielaborasikan kalau keduanya sama-sama Newtype.) Lalu keduanya juga memiliki kompleksitas situasi mereka masing-masing.

Thunderbolt Sector sebenarnya dulunya adalah wilayah koloni luar angkasa Moore, yang telah hancur berkeping-keping akibat serangan Zeon (yang diindikasikan terjadi karena Moore tidak mendukung kampanye mereka dalam menentang Federasi Bumi). Kehancuran Moore sedemikian parahnya, sampai-sampai fenomena listrik statis di antara puing-puing itu terjadi.

Lalu Moore Brotherhood, tempat Io dan kawan-kawannya dari kapal induk kelas-Columbus Bee Hive (‘sarang tawon’) tergabung, adalah orang-orang yang selamat dari insiden kehancuran koloni ini. Mereka melayani Federasi, demi mengalahkan ‘musuh kejam’ yang telah memusnahkan tanah air mereka. Lalu mereka diutus dalam sesuatu yang sebenarnya adalah rangkaian ‘misi bunuh diri’ demi menaklukkan wilayah ini.

Mengawasi Io adalah Cornelius Caca, salah satu teknisi MS di Bee Hive yang sekaligus merupakan sahabat lamanya. Dirinya yang paling bisa memahami sikap eksentrik Io di antara rekan-rekannya.

Memimpin Bee Hive adalah Letnan Komandan Claudia Peer, seorang wanita muda yang berlaku sebagai kapten sementara (acting captain), berhubung pangkatnya yang dinaikkan sesudah sejumlah seniornya meninggal dalam perang. Dirinya tumbuh besar bersama Io dan Cornelius, dan mungkin pernah menjalin hubungan masa lalu dengan Io. Namun seiring perkembangan cerita, tekanan karena harus mengorbankan nyawa anak-anak buahnya semakin menggerogoti mentalnya.

Mewakili Claudia, adalah Graham, seorang pria yang kehilangan istri dan anaknya dalam serangan Zeon, yang juga memiliki dendam terhadap para pejabat elit di pemerintahan Moore karena keputusan yang mereka ambil dulu. Karena itu pula, Graham juga memiliki antipati terhadap Io dan Claudia yang merupakan keturunan keluarga-keluarga tersebut.

Io belakangan terungkap merupakan putra pemimpin koloni Moore yang melakukan bunuh diri sesudah menyebabkan kematian jutaan penduduknya secara tak langsung. Trauma kejadian itu juga yang membuat Io tak benar-benar merasa ‘pulang ke kampung halaman’ setiba mereka di Thunderbolt Sector. Tapi mungkin itu yang justru membuatnya bisa punya pandangan jernih terhadap situasi pertempuran yang terjadi.

Menjaga Thunderbolt Sector adalah suatu unit eksperimental yang disebut Divisi Living Dead, yang sebenarnya dimotori orang-orang Akademi Sains Zeon. Bermarkas di kapal induk kelas-Papua Dried Fish (‘ikan kering’), para anggotanya terdiri atas orang-orang tunadaksa, yang mengaplikasikan suatu teknologi antarmuka baru dari Zeon yang memungkinkan mereka mengemudikan MS sekalipun tak punya tangan atau kaki.

Keluarga Daryl, meski keturunan Zeon, sebenarnya semula tinggal di Bumi karena status mereka sebagai pengusaha. Tapi mereka diasingkan ke luar angkasa sesudah perang pecah. Lalu agar keluarganya diperbolehkan berizin tinggal di koloni, Daryl diharuskan pemerintah untuk terjun ke medan perang. Dalam serbuan pertama Zeon ke Bumi, Daryl kehilangan kedua belah kakinya…

Memimpin Dried Fish adalah seorang kapten tua bernama Burroughs. Tapi kapal mereka lebih digerakkan oleh teknologi baru yang dibawa tim peneliti Akademi Sains Zeon, yang dimotori Professor Kara Mitchum dan J.J. Sexton. Teknologi ini yang memungkinkan Daryl dan kawan-kawannya yang senasib dengannya untuk tetap bisa berperang.

Meski pernah mendapat medali penghargaan karena hasil penelitiannya, Kara adalah wanita muda yang ayahnya ternyata disandera Zeon sebagai tahanan politik karena paham anti perang yang dianutnya. Kara secara pribadi mengawasi Daryl, terutama selepas hubungannya dengan perwira Hoover, kawan lama Daryl. Sedangkan Sexton adalah rekan sesama peneliti Kara, yang mungkin juga menyimpan kekaguman sekaligus perasaan terhadapnya.

“Kenapa aku tak bisa bunuh orang satu ini?!”

Hal kedua yang menonjol tentang Gundam Thunderbolt, adalah aspek mechanya.

Jadi, singkat cerita, seri ini sempat kontroversial di kalangan penggemar Gundam veteran karena menampilkan teknologi yang kelihatan ‘tak sesuai’ dengan zamannya. Meriam sinar jarak jauh Big Gun yang digunakan Zaku dan Rick Dom milik Divisi Living Dead adalah satu hal, karena konon ditenagai oleh generatornya sendiri. Tapi produksi massal Full Armor GM di sisi Federasi? Ledakan-ledakan raksasa bila ada MS meledak? Beam saber berukuran panjang? Senapan sinar laras ganda di balik tameng yang bisa menembak dan membelah secara kontinyu bagaikan pedang?

Haha. Ada fans yang berpendapat teknologinya seolah melompat sepuluh tahun dari seharusnya. Terutama dengan ditampakkannya meriam-meriam MS bertenaga besar serta tembakan-tembakan misil dalam jumlah banyak.

Sebenarnya, ada beberapa penjelasan (yang bisa terasa agak dipaksa) yang masih membuatnya masuk akal sih. Tapi walau penggemar awam mungkin takkan mempermasalahkannya, tetap saja bagi para penggemar veteran, yang akrab dengan seluk-beluk teknologi era Universal Century, it still kinda weirds you out.

Melihatnya bisa membuatmu merasa aneh gitu.

Kerap ada seri MSV yang terkesan melakukan hal ini. Bahkan seri Gundam 0083: Stardust Memory sempat mendapat tanggapan serupa. Tapi, apa ya? ‘Lompatan’ yang ditampilkan di Gundam Thunderbolt memang terasa lebih ekstrim.

Mungkin juga karena bukan cuma satu-dua MS saja, tapi sepasukan MS yang dilengkapi perlengkapan dan persenjataan berat dari kedua belah pihak yang belum pernah terlihat di seri lain. Seakan pihak Moore Brotherhood dan Divisi Living Dead dipersenjatai dengan teknologi tercanggih yang bahkan tak diberikan kepada tentara Federasi atau Zeon yang utama.

Tapi selama kau tak mempermasalahkannya, desain-desain mekanik di seri ini memang keren-keren. Aksinya, di sela-sela porsi dramanya yang intens, benar-benar berkesan. Penggambaran seluk beluk mekaniknya dilakukan dengan cara yang bikin wow yang sudah lama tak kulihat gitu. Dan memang, kalau mau ditelaah, sebenarnya masih bisa dibilang sesuai dengan zamannya (walau terkesan sedikit maksa).

Singkat cerita, tak lama sesudah pertemuan pertama mereka (yang di dalamnya Daryl dkk membantai habis 24 Full Armor GM yang dikirim khusus untuk memburu timnya), Io dipercaya menggunakan MS Full Armor Gundam untuk memburu jejak divisi Daryl sebelum mereka berpindah tempat. MS ini merupakan versi modifikasi eksperimental dari tipe MS yang kemunculannya telah membalikkan arah perkembangan Perang Satu Tahun. Keluaran yang dapat dihasilkannya besar, namun performanya sepertinya tak stabil.Tapi membalikkan perkiraan semua pihak (yang kelihatannya telah mengirim MS yang canggih tapi susah digunakan ini untuk pejuang yang akan dikorbankan), Io berhasil mengeluarkan potensi sesungguhnya dari FA Gundam, dan untuk pertama kalinya menimbulkan ketidakpastian soal siapa yang berkuasa di Thunderbolt Sector.

Desain FA Gundam sangat mirip dengan Gundam orisinil yang digunakan Amuro Ray. Hanya saja MS versi ini dilengkapi dengan lapisan pelindung tambahan pada sekujur badan. Bentuknya agak beda dari desain MSV Full Armor Gundam yang mungkin telah dikenal sebagian orang. Desain Ohtagaki-sensei di sini tampak lebih padat—seperti halnya FA GM yang dilengkapi perisai-perisai ‘menggantung’ untuk menghadapi debris serta serangan dari arah tak terduga—dan dilengkapi dengan pendorong tambahan, sehingga membuatnya memiliki daya serang dan kecepatan yang lebih di atas rata-rata lagi. (Aku lebih baik tak beberkan semuanya agar tak spoiler.)

Menghadapi ancaman FA Gundam milik Io, Divisi Separuh Hidup mempercepat implementasi teknologi antarmuka baru mereka untuk kendali MS melalui sinyal saraf. Sederhananya, seperti semacam versi awal dari teknologi psycommu yang ditampilkan dalam seri-seri Gundam era UC yang lebih lanjut. Hasilnya adalah Psycho Zaku, Zaku dengan mobilitas luar biasa sekalipun dilengkapi persenjataan berat, yang menjadi ancaman baru bagi pihak Persaudaraan Moore.

Namun saat kedua MS ini saling berhadapan, kondisi kedua belah pihak sama-sama sudah di ujung tanduk.

“Selera musikmu jelek.”

Soal artwork-nya, seperti yang sempat kubilang, seri ini juga termasuk enggak biasa.

Sori. Susah menjelaskannya.

Gaya gambar Ohtagaki-sensei seperti bisa bergulir sesuai keadaan. Mulai dari menggunakan garis-garis tebal penuh lekukan untuk menggambarkan nuansa drama yang old school, sampai ke line art rapi dan lurus saat menggambarkan detail-detail mekanis.

Oke. Mungkin kalian perlu melihatnya sendiri agar kebayang.

Intinya, gaya gambarnya agak beda dari yang biasa dilihat orang. Tapi saat kau lihat, kau masih bisa terpukau kok.

Sebenarnya yang menarik adalah gaya penceritaan yang Ohtagaki-sensei gunakan, yang sekilas terasa melompat-lompat atau tersegmentasi, tapi sebenarnya membentuk gambaran utuh begitu kesinambungan antar bab-babnya terjalin.

Pemaparan karakternya agak enggak biasa buat sebuah seri manga Gundam gitu. Ada kesan melankolis dan putus asa di dalam setiap babnya. Selain aspek-aspek mekaniknya, hal ini yang mungkin menjadi salah satu alasan seri ini dipilih untuk diangkat menjadi anime. Apalagi dengan usia para karakter utamanya yang sudah dewasa dan hubungan rumit yang mereka miliki dengan satu sama lain.

Ada suatu stasiun radio bajakan di suatu tempat di Thunderbolt Sector yang kerap memutar jazz, yang sama-sama sering didengar Io dan Daryl lewat radio pribadi mereka masing-masing. Efek listrik di Thunderbolt Sector nampaknya berpengaruh terhadap kepadatan partikel Minovsky, sehingga siarannya sesekali masih bisa tertangkap. Stasiun radio yang berusaha mengusung suara perdamaian itu ironisnya sama-sama kayak malah menjadi BGM konflik antara Io dan Daryl. Apalagi di tengah bentrokan dua armada besar di wilayah tersebut.

Aku suka cara Ohtagaki-sensei mengangkat kebiasaan Io meminta tisu ke Cornelius untuk hidungnya yang meler sebagai penggambaran atas hubungan mereka. Atau bagaimana beliau menggambarkan pemandangan senapan raksasa berjejer di gudang senjata MS, di mana Cornelius dan Claudia berbicara pribadi karena di sana pintu berlapisnya yang raksasa kedap suara.

Tak ketinggalan, armada Mobile Pod Ball (itu loh, benda bulat yang pernah digunakan Shirou Amada di The 08th MS Team) juga masih banyak digunakan dan dipersenjatai untuk pertahanan jarak dekat.

Ditambah juga dengan bagaimana pihak Zeon yang ditampilkan lebih simpatik dalam cerita ini, lewat nasib tragis para karakternya, serta bagaimana sosok Gundam digambarkan sebagai sosok yang begitu membawa mimpi buruk bagi mereka.

Akhir kata, kalau seri ini jadi dianimasikan, aku seriusan penasaran dengan bagaimana hasilnya.

BGM macam apa yang akan mereka gunakan? Apa mereka akan tetap memakai jazz?

Apa ini langkah lanjut dari pihak produsennya untuk me-retcon tahapan perkembangan teknologi MS era UC seiring dengan keluarnya seri The Origin?

Apa masih ada ‘perang’ antar penggemar sesudah mereka melihat bentuk MS-nya sesudah dianimasikan? (Oke, aku takkan menyinggung dulu soal Atlas Gundam. Soalnya, buset, bahkan aku juga saat pertama melihatnya enggak tahu harus berkomentar apa.)

Kalian tahu? Untuk suatu alasan, aku berharap bisa jadi manusia lebih baik begitu animenya keluar. Entahlah. Aku tak merasa bagaimana-bagaimana tentangnya sih. Tapi hal itu terlintas di kepalaku saat melihat betapa serius dan mendalamnya Ohtagaki-sensei dalam menggarapnya, terlepas dari seperti apapun reaksi yang beliau terima.

29/05/2015

Gundam: Reconguista in G

Agak susah mengulas Gundam: G no Reconguista (‘reconguista’ diambil dari kata bahasa Spanyol ‘reconquista’, dengan ‘G’ di sini katanya berarti ground atau tanah).

Alasan pertama: pemaparan ceritanya rumit. Jumlah tokohnya banyak, dengan hubungan di antara mereka yang sering berubah. Ditambah lagi, perkembangan ceritanya enggak selalu ditampilkan. Apa yang terjadi kadang hanya disiratkan melalui adegan-adegan percakapan antar karakternya. Lalu adegan-adegan percakapan ini lucunya kadang enggak selalu ‘nyambung.’ Seakan para karakternya juga enggak benar-benar nangkep soal apa yang sedang terjadi.

Alasan kedua: bias nostalgia terhadap anime-anime mecha 80an.

Soalnya—gimana bilangnya ya?—alasan nostalgia ini ada, dan kenapa seri ini menarik perhatian di awal, adalah karena seri ini menandai kembalinya sang pencipta Gundam, Tomino Yoshiyuki, ke kursi sutradara semenjak trilogi movie Zeta Gundam: A New Translation dibuat di tahun 2005. Apalagi mengingat cerita yang diangkat di sini adalah konsep yang sama sekali baru.

Proyek ini semula cuma dikenal dengan nama kode G-Reko, dan sudah menarik perhatian penggemar sejak diumumkan konsepnya tahun 2007. Ada rumor kalau semula, proyek ini awalnya bahkan tak dimaksudkan menjadi sebuah seri Gundam (mungkin kayak gimana Kamen Rider Hibiki semula enggak dimaksudkan buat menjadi sebuah seri Kamen Rider). Sehingga jadinya agak susah memastikan batasan-batasan ide asalnya sebenarnya sejauh mana.

Konon ada… berbagai isu di proses produksinya juga. Ini paling kelihatan dengan bagaimana animasi pembuka pertama di seri ini kayak dibuat seolah kayak ‘tempel sana, tempel sini’ (padahal lagu ‘Blazing’ yang GARNiDELiA bawakan terbilang lumayan). Sementara hal-hal lainnya seperti animasi penutup dan sesi terpotongnya iklan kayak dibuat dengan sungguh-sungguh, lengkap dengan tema visual dan timing pergerakan segala.

Karena itu, seri ini menjadi salah satu anime dengan perkembangan teknis dan cerita teraneh yang pernah kuikuti. Sebab di balik segala kekurangannya, tetap masih ada gagasan-gagasan memukau yang jarang dilihat sebelumnya.

Universal Standard

Gundam: Reconguista berlatar di tahun 1014 Reguild Century, sekitar satu millenia(!) sesudah berakhirnya penanggalan Universal Century yang banyak digunakan di seri-seri Gundam orisinil.

Umat manusia sudah membangun menara orbital elevator yang terentang sampai ke luar angkasa bernama Capital Tower.

Wilayah di mana menara ini berada (yang kalau kita tebak, mungkin ada di sekitar Amerika Selatan) disebut sebagai Capital Territory, dan merupakan semacam negara dengan pemerintahan tersendiri. Lalu wilayah ini juga merupakan pusat agama SU-Cord, dengan Paus yang menjadi pemimpin agama, dan karenanya dipandang sakral. Tapi alasan wilayah ini dipandang sakral sebenarnya karena Capital Tower menjadi sumber datangnya photon battery (‘batere foton’), satu-satunya sumber energi yang tersedia di masa ini, yang kemudian didistribusikan ke seluruh penjuru dunia.

Ada berbagai larangan yang berkaitan dengan kesakralan ini, yang terangkum dalam sesuatu yang disebut hukum tabu Ag-Tech, yang kalau kita cermati, sebenarnya banyak berpusar pada aspek-aspek pengembangan dan pemakaian teknologi.

Ada suatu kesatuan yang disebut Capital Guard yang menjaga keamanan Capital Tower, dan memastikan lancarnya distribusi photon battery antara luar angkasa dan Bumi. Lalu ada suatu pihak tertentu yang disebut Pirate Corps yang berada di pihak berseberangan dengan Capital Guard, karena berulang kali berupaya membajak elevator Crown yang membawakan photon battery, sebagai bagian upaya mereka untuk menentang monopoli pemerintahan Capital atas pendistribusinya.

Cerita Gundam: Reconguista dimulai saat salah satu kesatuan Capital Guard berhasil menangkap sebuah mobile suit (MS) misterius yang tak diketahui berasal dari negara mana. MS ini belakangan diketahui bernama G-Self. Sementara pilotnya, seorang gadis berkulit coklat dan berambut perak yang untuk sementara dinamai Raraiya Monday karena ditangkap pada hari Senin, mengalami regresi kepribadian dan mental akibat deprivasi oksigen yang dia alami dalam pelariannya.

Rayhunton Code

Raraiya tertangkap sekitar seminggu sebelum G-Self oleh pemimpin kesatuan Capital Guard, Dellensen Samatar. G-Self sewaktu dikemudikan Raraiya, sebenarnya sedang dikejar oleh dua pihak sekaligus, yang sama-sama mengenalinya sebagai suatu MS asing tak dikenal, yaitu Capital Guard pimpinan Dellensen dan Pirate Corps pimpinan Cahill Saint.

Raraiya melompat keluar dari kokpit untuk bisa lolos dari pengejaran dan akhirnya tertangkap oleh Capital Guard. Sementara G-Self yang sudah tak berawak kemudian sempat jatuh ke tangan Pirate Corps.

G-Self baru berhasil diselidiki Capital Guard seminggu berikutnya, sesudah tertangkap bersama pilot barunya dalam suatu insiden penyerangan lain yang Pirate Corps lakukan atas Capital Tower. G-Self ditangkap berkat kepiawaian Bellri Zenam, salah satu anggota baru Capital Guard yang masih muda, yang secara tak terduga berhasil membuka kokpitnya saat tengah beraksi.

Pilot G-Self kali ini adalah seorang perempuan muda cantik yang merupakan bagian dari Pirate Corps, yang mengaku bernama Aida Rayhunton. Meski kepada Aida, Bellri langsung merasakan suatu ketertarikan, segera terungkap pada semua pihak kalau memang ada sesuatu yang aneh dengan G-Self.

G-Self ternyata tidak akan menyala, dan karenanya tak bisa dipakai, kecuali bila salah satu dari Raraiya, Aida, atau Bellri yang menggunakannya. Lalu hal ini juga ditegaskan oleh Aida selama ia menjadi tawanan, bahwa ini membingungkan teman-temannya di Pirate Corps juga. Aida dan Bellri sebelumnya tak saling mengenal. Lalu juga tak pernah ada hubungan antara mereka dan Raraiya.

Dari sini, ceritanya mulai bergerak.

Teka-teki soal asal-usul G-Self selanjutnya berujung pada terkuaknya keberadaan negara-negara manusia lain di angkasa luar. Ada suatu kenyataan tertentu yang pihak Capital berusaha sembunyikan. Lalu ada banyak pihak yang bertabrakan kepentingannya, yang dapat berujung pada kembali terjadinya perang yang nyaris membinasakan umat manusia seperti yang terjadi 1000 tahun lampau.

G Awal Mula

Awalnya mungkin agak susah dimengerti, tapi konsep cerita Gundam: Reconguista di atas kertas sebenarnya keren. Bisa terasa bagaimana Tomino-sensei berhasil mewujudkan sesuatu yang ‘terlepas’ dari pakem seri-seri Gundam yang terdahulu, tapi masih ‘nyambung’ pada saat yang sama. Konsep dunianya memikat. Desain-desain mechanya sangat, sangat beragam. Ditambah lagi, visualisasinya banyak dibuat dengan menggunakan animasi tangan tradisional, sehingga terasa seperti ada nuansa alami pada setiap pergerakannya.

Walau begitu, ada kekurangan besar yang Gundam: Reconguista punya: seri ini seolah dibuat dengan mindset sebuah anime berdurasi 50 episode. Mungkin ini dampak dari staf animatornya yang sebagian besar veteran. Tapi ini sangat terasa dari pengaturan tempo perkembangan ceritanya, yang berhubung jumlah episodenya terbatas, terpaksa lambat laun jadi dipercepat. Sampai menjelang akhir, bahkan ada bagian-bagian di mana ceritanya terasa agak ‘melompat.’ Ada banyak detil cerita yang jadinya berakhir kurang tersampaikan secara jelas.

Ibaratnya, di bagian-bagian awal, Gundam: Reconguista beneran terasa seperti anime-anime mecha dari dekade tahun 80an.

Anime-anime mecha dari zaman tersebut biasanya punya semacam ‘titik balik’ dalam ceritanya. Ini biasanya terjadi sesudah pemaparan tentang latar ceritanya cukup memadai. Tapi karena kekurangan-kekurangan tersebut, dan mungkin juga karena latarnya yang teramat mendetail itu, bagian cerita ketika plotnya mencapai titik balik di Gundam: Reconguista kayak agak… meleset.

Dalam perkembangan cerita, Bellri, Aida, dan Raraiya, dengan ditemani Noredo Nug, teman perempuan yang telah lama dikenal Bellri, akhirnya berpergian meninggalkan Capital Territory dan menemui Gusion Surugan, ayah Aida yang merupakan salah satu petinggi negara Ameria.

Negara Ameria, yang tengah berperang dengan negara lain, yakni Gondwana, ternyata diam-diam membeking Pirate Corps karena mengetahui sesuatu yang pemerintahan Capital sembunyikan. Di sini kemudian ada pembeberan kalau pemerintahan Capital mulai melakukan militerisasi dengan membentuk Capital Army untuk menghadapi suatu ancaman dari angkasa luar yang akan datang ke Bumi.

Ini buatku merupakan salah satu bagian cerita terkeren di seri ini. Seperti akhirnya ada kegentingan terbangun tentang apa berikutnya yang terjadi. Tapi, episode berikutnya kerasa kayak… gagal memanfaatkan momentum itu, sehingga jadinya… seri ini kayak bener-bener enggak jadi ‘serame’ seharusnya.

… … AAAAAAAAARGH! Intinya seperti itu!

Pokoknya, ini sebuah seri yang terlepas dari semua kelemahannya, sebenarnya enggak cukup buat ditonton hanya sekali karena begitu banyaknya cakupan cerita yang dipaksain masuk.

Lalu ceritanya itu bukan cerita yang jelek! Cerita yang jelek biasanya punya perkembangan-perkembangan ngaco yang rada enggak masuk akal. Tapi cerita Gundam: Reconguista terbilang konsisten detil-detilnya dari awal sampai akhir. Cuma kayak ada banyak bagiannya yang berulangkali (kepaksa?) dilompatin!

Karenanya… aku benar-benar jadi penasaran di konsep awalnya ceritanya sebenarnya mau dikembangkan jadi seperti apa.

Meraih Kebanggaan, Meraih Kesuksesan

Bicara soal mecha, Gundam: Reconguista termasuk salah satu yang terkeren kalau dinilai dari sisi mechanya saja.

Sekali lagi, di awal mungkin ini enggak langsung kelihatan. Tapi seiring perkembangan cerita, benar-benar ada banyak desain MS keren yang kemudian ditampilkan di seri ini. Lalu adegan-adegan aksinya—meski sering ada kekonyolan dengan pilot-pilotnya yang kadang payah akibat masyarakat di zaman ini yang tak terbiasa dengan konflik—sebenarnya bisa lumayan keren.

‘Keren’ dalam artian kayak kerennya aksi di anime-anime mecha dekade 80an dulu.

Ada kemiripan nuansa dengan Turn A Gundam yang dibuat oleh Tomino-sensei sebelumnya. Terutama dalam pesan-pesan perdamaian yang disiratkan di dalamnya. Lalu pada bagaimana karakter-karakternya kadang mengambil keputusan tak bijak yang mereka yakini benar. Tapi Gundam: Reconguista secara umum memang memiliki jumlah adegan aksi lebih banyak. Jadi mungkin itu jadi menarik buat beberapa orang.

G-Self, seperti halnya Strike Gundam dari Gundam SEED, memiliki kemampuan untuk mengubah spesialisasinya berdasarkan peralatan punggung yang sedang digunakannya. Mecha ini diceritakan adalah sebuah MS prototipe yang awalnya tidak begitu diminati karena tidak feasible. Tapi dengan fleksibilitas perlengkapannya, serta bakat besar Bellri sebagai pilot yang menggunakannya, segera diperlihatkan bahwa MS ini memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan.

Peralatan-peralatan yang G-Self miliki antara lain:

  • Space Pack, peralatan default untuk manuver di luar angkasa, sepertinya diperoleh dari awal pembuatannya di koloni luar angkasa Towasanga .
  • Atmospheric Pack, peralatan default untuk terbang di atmosfer, kelihatannya juga dikembangkan dari Towasanga.
  • Reflector Pack, salah satu peralatan dengan bentuk terkeren, diperoleh dari Ameria, kelihatannya khusus dikembangkan untuk dipakai di luar angkasa, dan memiliki kemampuan untuk membalikkan dan memantulkan serangan-serangan sinar.
  • Tricky Pack, kelihatannya juga diperoleh dari Ameria, memiliki kemampuan untuk menciptakan ilusi-ilusi holografis, dan merupakan salah satu perlengkapan yang paling sulit dipakai.
  • Assault Pack, juga diperoleh dari Ameria, perlengkapan dengan daya serang terbesar dengan senapan-senapan dan misil-misil yang dikhususkan untuk pertempuran jarak jauh. Bellri selalu merasa kurang nyaman menggunakannya.
  • High Torque Pack, yang kelihatannya diperoleh dari Capital Army, mengkhususkan pada serangan-serangan jarak dekat untuk pertempuran berbasis di darat, membuat G-Self berfungsi seperti tank.
  • Perfect Pack, yang baru diperoleh setelah perjalanan jauh ke gugusan koloni luar angkasa Venus Globe dan dikembangkan dengan teknologi G-IT Lab, secara umum menggabungkan semua(!) kemampuan pack-pack sebelumnya, dan menjadikan G-Self menjadi lawan yang benar-benar imba.

Pack-pack ini tak semata hanya peralatan-peralatan punggung saja. Tapi juga sampai kayak jadi modul eksternal yang G-Self sampai ‘kenakan’ gitu. Secara visual, mungkin tak selalu keren (kerasanya agak kayak gimmick). Tapi konsepnya secara menyeluruh benar-benar berkesan, dan andai saja aspek teknologi ini bisa dieksplorasi secara lebih jauh dengan jumlah episode yang lebih banyak, hasil akhirnya bisa benar-benar menarik.

Pihak Pirate Corps mencoba meniru teknologi baru G-Self, dan hasilnya adalah G-Arcane yang lebih banyak dipakai oleh Aida. G-Arcane setara dengan G-Self, walau tak memiliki kemampuan mengganti peralatan yang sama. MS ini banyak dipakai  Aida yang dengan keras kepala ingin ikut bertempur walau di awal cerita jelas-jelas ditampilkan dirinya belum…  mahir. (Banyak tembakan dari anti-ship riflenya yang meleset.) Tapi wujud akhirnya saat telah memperoleh Full Dress dengan deretan laser cannon di kakinya benar-benar membuatnya patut diperhitungkan. (Kayaknya desainnya juga merupakan homage terhadap desain L-Gaim Mk II dari seri Heavy Metal L-Gaim.)

Buat selebihnya, selain karena banyaknya MS yang ada, tapi juga karena perkembangan ceritanya yang agak rumit, aku agak bingung mengulasnya bagaimana.

Konsep partikel Minovsky yang menghambat proses komunikasi kembali diperkenalkan di seri ini. Selain itu, diperlihatkan juga aspek-aspek teknologi baru seperti photon eye yang memungkinkan pembacaan dan kendali jarak jauh di tengah tebalnya partikel Minovsky; beam curtain yang kayak namanya, menjadi semacam medan/tirai penyerang dengan sinar; sampai fitur unit Minovsky flight yang menghasilkan sayap-sayap cahaya yang membuat mengapung di Megafauna, kapal induk utama seri ini yang dimilikiki Pirate Corps, yang sebelumnya hanya tampil dalam seri-seri Gundam era UC yang lebih ke sini. Ada konsep copy paste shield yang merupakan ‘ubin-ubin’ perisai energi yang dapat dibentuk begitu saja. Sampai plasma field pada beberapa MS yang membuat G-Self seakan mampu melepas tenaga dalam(!).

Lalu seiring dengan masuknya pihak G-IT Corps dalam cerita, seperti ada lompatan pada teknologi MS yang sebelumnya disembunyikan, memunculkan MS-MS dengan teknologi yang lebih gila dan keren. Ada Z’Gocky, yang merupakan pengembangan tak disangka yang keren dari desain MS Z’Gok di masa lampau (Seperti di Turn A Gundam, ada banyak peninggalan MS zaman dulu yang kadang muncul.). Ada Gaeon, yang dikemudikan antagonis Kia Mbeki dari G-IT Corps, yang dilengkapi perlengkapan punggung Big Arm yang menyerupai tangan, sekaligus membuatnya jadi kayak laba-laba, dan masing-masing jarinya dapat terlepas dan menjadi Sword Funnel. Ada MA raksasa Conque de Venus yang kemudian dapat digunakan bersama Gaeon ini. Lalu ada Kabakali, MS terakhir yang harus Bellri hadapi dalam cerita di antara sejumlah MS lain, yang dikemudikan oleh rivalnya dari Capital Army, Kolonel Mask.

Karenanya itu tantangan

Mungkin sekarang kalian sudah agak kebayang setinggi apa seri ini berusaha bidik.

Ada banyak yang terjadi. Ada banyak pihak yang bermain. Lalu keterbatasan jumlah episode membuat semua desain MS keren ini akhirnya jadi kayak kurang terimplementasi maksimal. Meski perkembangan ceritanya menarik, karakterisasinya kurang teroptimasi, yang berujung pada bagaimana para karakter antagonis kurang terjelaskan maksud dan motivasinya.

Cumpa Rusita, sosok dari divisi penelitian dan pengembangan pemerintahan Capital yang menjadi dalang di balik Capital Army (dan sejumlah kejadian lain yang memakan korban), terungkap sebagai seseorang dari angkasa luar yang melakukan serangkaian manipulasi politik untuk sesuatu yang diyakininya benar. Tapi dirinya tak menonjol bahkan sampai menjelang akhir, dan… seakan jadi tokoh enggak berarti.

Noredo, sahabat Bellri yang sangat dekat dengannya, juga tak pernah benar-benar terjabarkan latar belakangnya. Hanya disampaikan kalau dirinya ikut Bellri dan mau mengurusi Raraiya selama yang bersangkutan sedang kehilangan ingatan (bersama ikan peliharaannya, Chuchumy). Belakangan, Noredo juga ikut mendalami soal pengobatan dan cara mengemudikan MS. Tapi meski bernama belakang sama, hubungannya dengan sang paus, Gel Trimedestus Nug, juga tak pernah terjelaskan. Bagaimana dirinya tanpa pikir panjang meninggalkan sekolah dan rumah untuk ikut bersama Bellri dalam petualangan juga tak jelas. Juga soal bagaimana meski ia dekat dengan Bellri, ibu Bellri, Wilmit Zenam, hampir-hampir tak mengenalnya.

Dua tokoh menonjol dari Armada Dorette, perwira wanita Mashner Hume dan kekasihnya yang… lebih muda, Rockpie Geti, tak benar-benar ditampilkan seperti tokoh antagonis walau peran mereka demikian. Tapi mereka mengalami nasib akhir perih yang bikin perasaanku agak campur aduk. Noutu Dorette, atasan Mashner dan Rockpie yang dikisahkan berada di balik penderitaan sejumlah orang di Towasanga, bahkan hanya berakhir kayak karakter sampingan di seri ini.

Mask, ‘sosok bertopeng’ di seri ini, juga tak benar-benar tersampaikan dengan jelas motivasinya. Identitas aslinya sebenarnya adalah Luin Lee, salah satu kawan Bellri di Capital Guard. Hanya diceritakan kalau dirinya bersama kekasihnya, Manny Ambasada, yang merupakan teman sekolah Noredo juga, adalah keturunan suatu ras manusia bernama Kuntala yang ‘direndahkan’ karena di masa silam dikembangbiakkan sebagai ‘makanan.’

Disiratkan bahwa akhir zaman Universal Century ditandai dengan krisis kemanusiaan yang benar-benar sangat parah. Tapi meski ada latar belakang ini, ditambah subplot tentang bagaimana Manny melakukan perjalanan panjang untuk menemukan Luin kembali, alasan kenapa di penghujung cerita mereka memusuhi Bellri dan Aida—sampai Manny mencuri salah satu MS baru dari Megafauna—benar-benar tak terjelaskan. Diskriminasi yang harusnya menjadi pemicu tindakan mereka kurang begitu ditampilkan.

Kita bisa merasakan kalau motivasi-motivasi ini ada. Lalu coba meraba-raba rinciannya. Tapi aku seriusan takkan memahami garis besarnya kalau bukan karena rasa penasaranku membuatku mencari lebih banyak ke web. Aku bahkan merasa semua ‘pengetahuan tentang cara bercerita’ kayak dilempar ke luar jendela buat seri ini. Lalu para pembuatnya bereksperimentasi buat menyajikan suatu cerita dengan cara yang sama sekali baru.

Saking banyaknya hal yang terjadi dibandingkan jumlah episodenya, pemaparannya beneran jadi lumayan bermasalah.

Sisi baiknya, konsep dasar buat sebagian besar karakternya memang menarik. Kapten Megafauna, Donyell Tos, mungkin memang om-om yang tak menonjol. Tapi Gisela yang menjadi bawahannya lumayan banyak tersenyum. Lalu perempuan berkulit hitam Steer, yang menjadi nahkoda Megafauna, merupakan karakter favoritku di seri ini karena gaya bicaranya yang campur aduk antara logat Inggris dan Jepang yang sangat meyakinkan, yang sering bikin aku ketawa. Happa, mekanik utama Megafauna yang serius, juga memiliki interaksi-interaksi kocaknya dengan Bellri.

Dua karakter lain yang mencolok adalah si jenius Klim Nick dan partner wanitanya, Mick Jack, dari pihak Ameria. Kepedean Klim yang teramat besar, yang memang diimbangi dengan keahliannya, membuat kemunculan pertamanya saat mengemudikan MS Montero terbilang berkesan.

…Oh, ditambah Barara Peor! Perwira wanita berbadan mungil yang jadi partner Mask dan mencolok karena sifatnya yang menggoda.

Buat mereka yang agak bingung soal faksi-faksi yang ada, berikut garis besarnya.

  • Capital Territory, yang dipimpin Paus. Di bawahnya, ada Capital Guard dan Capital Army. Dalam perkembangan cerita, sebagian Capital Guard (dengan dimotori senpai Bellri, Kerbes Yoh) membelot ke Pirate Corps dan berada di pihak berseberangan dengan Capital Army. Mask, Barara, dan kemudian Manny, berada di pihak ini.
  • Ameria Army, yang diam-diam membeking Pirate Corps. Mereka tengah berperang dengan Gondwana, dan memerlukan teknologi dan photon battery untuk awal perang yang lebih besar. Di sini ada ayah Aida, Gusion Surugan, serta ayah Klim yang manipulatif, Presiden Zuchini Nicchini. Seiring perkembangan cerita, Pirate Corps di Megafauna mulai bertindak secara terpisah sesudah menyadari maksud politik di balik tindakan-tindakan pihak Ameria.
  • Towasanga, koloni luar angkasa yang dikuasai Armada Dorette. Kembali, ada dua pihak di sini: pihak yang mendukung pemerintahan Dorette; dan pihak yang masih mendukung keluarga Rayhunton yang tak lagi berkuasa sesudah dijatuhkan oleh Dorette dulu. Yang mendukung pemerintahan Dorette ingin lepas dari bayang-bayang Yayasan Hermes yang dulu menetapkan segala aturan Ag-Tech dan agama SU-Cord. Untuk itu, mereka menjalankan kampanye Reconguista untuk bisa menguasai Bumi. Sedangkan pendukung keluarga Rayhunton diwakili oleh pria paruh baya bernama Lorucca Biskes, dan dari pihak merekalah Raraiya—yang nama aslinya Raraiya Akuparl—sebenarnya berasal. Dalam perkembangan cerita, pihak Dorette (di mana Mashner dan Rockpie tergabung) kemudian bersekutu dengan pihak Ameria (di mana ada Klim dan Mick Jack). Di Towasanga juga ada pasukan MS independen Zacks yang dipimpin Gavan Magdala, yang kelihatannya berkedudukan netral.
  • Venus Globe, yang dibentuk dengan lautan artifisial(!) di sekitar Venus, tempat bermukimnya Yayasan Hermes. Dari sini kapal canggih Crescent Ship yang membawakan photon battery ke Towasanga berasal. Pemimpin Yayasan Hermes adalah seorang pria sangat berusia bernama La Gu. Tapi dirinya menghadapi pertentangan dari faksi pengembangan teknologi MS G-IT Lab yang kemudian memberontak membentuk G-IT Corps pimpinan Kia Mbeki (yang juga didukung Chickara Dual yang spesialis beam saber dengan MS Gastima, dan Kun Soon, kekasih Kia yang memakai MS Mazraster). Pihak G-IT Corps juga ingin mengadakan Reconguista, tapi terpisah dari pihak Dorette. Dalam perkembangan cerita, G-IT Corps kemudian bersekutu dengan pihak Mask dan Barara di Capital Army. Di Venus Globe juga ada pasukan kepolisian Rosario Ten yang tak berdaya menghadapi perlawanan pihak G-IT.

Balet dan Reconguista

Akhir kata, ini sayangnya lagi-lagi bukan seri Gundam yang normalnya akan aku rekomendasikan.

Sejujurnya, waktu seri ini berakhir, aku sempat tertegun beberapa lama karena masih enggak bener-bener yakin soal ceritanya. Aku lumayan bisa mengikuti perkembangannya. Tapi aku tetap sempat ragu soal apa saja persisnya yang telah terjadi.

Aku kemudian secara iseng mencari info tentang lirik lagu ‘G no Senkou’ yang menjadi penutupnya. Iramanya yang riang kayak jadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenikmatanku menonton. Lalu aku kebetulan nemu terjemahan liriknya, dan kemudian pas baca, aku kayak ‘deg!’ gitu. Aku langsung mikir, “Oooh! Jadi itu sebenernya yang mau kalian sampaikan?”

Aku langsung kayak pengen ketawa karena seakan jadi ngerti segalanya gitu.

Singkatnya, kalau aku boleh rangkum, terlepas dari tema soal bahaya teknologi yang diangkatnya, Gundam: Reconguista kayak ingin menyampaikan pesan soal bagaimana: ‘Dunia nyata itu enggak enak. Semua orang pasti punya kepentingan. Mereka semua ujung-ujungnya bisa tega nindas kamu. Bukan berarti mereka jahat. Kamu cuma harus sanggup menghadapi mereka dan ngeraih kebahagiaan yang ingin kamu temuin.’

Ini emang sesuatu yang agak abstrak. Tapi ini sesuatu yang bisa aku pahami banget, apalagi sesudah aku dewasa dan masuk dunia profesional. Terutama dengan bagaimana ada banyak situasi enggak enak di tempat kerjaku belakangan. Karenanya, semakin enggak enak saat semakin kerasa betapa para pembuatnya akhirnya gagal dalam menyampaikan apa yang mau mereka sampaikan.

Lebih dari yang ditampilkan di Turn A Gundam, Tomino-sensei sekali lagi kayak berusaha menampilkan berbagai konflik ‘kemasyarakatan’ lewat seri ini. Semua karakter berusaha ditampilkan simpatik, sekalipun kedudukan mereka antagonis; mungkin buat menekankan bahwa enggak ada pribadi yang benar-benar ‘enggak bisa diselamatkan’ (walau di akhir mereka mungkin emang gagal diselamatkan sih). Lalu beliau juga kayak berusaha menunjukkan bahwa sesudah konsekuensi terburuk yang akhirnya benar-benar terjadi, kita masih bisa bangkit dan menemukan kebahagiaan kita.

Tapi sekali lagi, para pembuatnya gagal menyampaikan ini.

Mungkin jadinya akan lain kalau durasi Gundam: Reconguista bisa dibuat sampai 50 episode.

Cuma, yah, mereka gagal.

Tapi mungkin ini sesuatu yang udah ditakdirkan. Kayak gimanapun, aku tetap bisa lumayan menghargai hasil akhirnya. Lalu seandainya seri ini akhirnya diangkat dalam game G Generations atau Super Robot Wars, mungkin cakupan cerita seri ini yang seharusnya pada akhirnya tetap akan bisa kita dapatkan.

Soal karakterisasi Bellri, entah gimana aku bersyukur dia enggak berakhir gila sesudah semua yang terjadi.

Aku juga dengan senang dengan bisa melihat teknologi Core Block System muncul lagi di sebuah MS.

Oh, dan desain karakternya yang mirip di Eureka Seven, dan ditambah juga dengan semua animasi menarinya, beneran termasuk kusukai.

…Sori, aku enggak tahu baiknya berkomentar apa lagi.

Kesimpulannya, kalau kau suka Turn A Gundam, atau anime-anime dekade 80an keluaran Sunrise pada umumnya, ada peluang kau akan tertarik pada anime ini. Tapi untuk selebihnya, mungkin kalian akan perlu perhatian dan kesabaran agak lebih. Ini satu seri yang akhirnya berakhir cacat dan kurang begitu bagus. Tapi tetap ada hal-hal menakjubkan di dalamnya seandainya kau berhasil menikmati.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: A; Audio B+; Perkembangan: B-; Eksekusi X; Kepuasan Akhir: C+

07/04/2015

Gundam Build Fighters Try

Pernah ada masa ketika aku bermasalah dengan kuliah. Lalu di masa itu, aku sering iri bukan main dengan orang-orang yang punya cita-cita.

Perasaan ini mungkin timbul karena aku kebanyakan baca komik. Jadi… yea, bukannya belajar dan beresin tugas-tugas, aku malah sibuk membaca komik sebanyak mungkin buat dijadikan ‘referensi terhadap kehidupan.’ Lalu kesimpulan pertama yang aku dapatkan dari bacaan-bacaanku tersebut adalah rasa iri di atas: dengan punya cita-cita/keinginan/target yang segitu ingin terwujud, orang bisa ‘berubah’ jadi keren!

Buatku, ini sesuatu yang enggak kalah berartinya dengan saat di Naruto disampaikan kalau orang bisa menjadi benar-benar kuat saat ada sesuatu yang ingin dilindungi. Lalu aku merasa bego sekaligus tua pada waktu itu, karena baru menyadari hal ini pada usia segitu.

Terlepas dari itu, aku nyangka Gundam Build Fighters Try tadinya mau mengangkat tema soal suka duka dalam mengejar cita-cita gitu. Seri ini gimanapun merupakan sekuel dari Gundam Build Fighters, yang di luar dugaan cukup sukses pada pertengahan 2014 lalu. Aku pikir, premis yang diangkatnya pasti kurang lebih sama ‘kan?

Aku enggak salah sih. Cuma…

There are no limits…

GBF Try berlatar tujuh tahun sesudah kemenangan Iori Sei dan Reiji dalam kejuaraan dunia Gunpla Battle di seri sebelumnya. Tapi di masa kini, perguruan Seiho tempat Sei bersekolah dulu dikenal agak payah klub Gunpla-nya. Lalu hal ini yang dicoba diubah oleh Hoshino Fumina, seorang siswi kelas tiga SMP penuh semangat yang merupakan satu-satunya anggota klub yang masih tersisa.

Ada seorang adik kelas sekaligus sahabat masa kecil Fumina, Kousaka Yuuma, yang berkacamata dan kalem, yang dulu waktu mereka kecil pernah berjanji untuk menjuarai kejuaraan Gunpla Battle sama-sama. Tapi karena suatu hal, Yuuma sudah sepenuhnya mundur dari dunia Gunpla Battle, agak menjauhkan dirinya dari Fumina, dan kini sepenuhnya berkutat di sisi modelling-nya, hingga bahkan sampai memenangkan Kejuaraan Artistic Gunpla untuk seluruh Jepang. Yuuma sangat enggan untuk membantu Fumina sebagai Gunpla Fighter lagi. Lalu ketentuan kejuaraan Gunpla Battle U-19 yang mengharuskan masing-masing sekolah mengirim perwakilan berupa tim yang terdiri atas tiga anggota benar-benar membuat Fumina kesulitan.

Sampai pada suatu hari, tiba-tiba datang seorang murid pindahan yang sekaligus merupakan praktisi ilmu bela diri Kenpo aliran Jigen Haoh, bernama Kamiki Sekai. Sekai, yang semula kecewa karena tak ada ekskul bela diri di Seiho, kemudian menjadi tertarik dengan Gunpla Battle saat Fumino, sebagai senpai barunya, dengan semangat memperkenalkan soal dunia Gunpla Battle padanya.

Dari sana, segala sesuatunya mulai bergerak. Terutama sesudah Sekai menemukan Gunpla misterius Build Burning Gundam yang tersembunyi di ruang klub mereka, yang seolah-olah tampil kembali dengan sendirinya untuk bisa dipakai oleh Sekai.

Sesudah upaya untuk menyelamatkan klub mereka agar tak sampai bubar, sekaligus mendorong Yuuma untuk berubah pikiran; Fumina, Sekai, dan Yuuma—dengan bimbingan dari si om-om misterius pengguna Gunpla Gouf, Ral-san, yang kemudian menjadi guru pembimbing—kemudian membentuk tim Team Try Fighters untuk sekali lagi menantang kejuaraan Gunpla Battle Nasional U-19.

Untuk Kebahagiaan Tiga Kali Lipat

Mecha utama—atau dalam hal ini, Gunpla utama—yang ditonjolkan dalam seri ini adalah Build Burning Gundam, yang ditemukan Sekai tersembunyi di dalam Gunpla MS-09 Dom yang digunakannya saat mencoba battling pertama kali. Jujur saja, ini hal pertama yang mencolok bagiku dalam seri ini.

Walau mungkin ada yang mengatakan sebaliknya, mecha ini jelas-jelas mengambil konsep Shining Gundam, yang merupakan MS utama di seri G Gundam. Karenanya, Gunpla ini sangat mewadahi gaya bertarung jarak dekat dengan tangan kosong yang Sekai banyak gunakan. (Walaupun pola api membara yang menjadi ciri khas Gunpla ini memang lumayan membuatnya terkategori sebagai desain orisinil sih.)

Dalam cerita kemudian terungkap bahwa Build Burning Gundam sebelumnya dibuat oleh Iori Sei, untuk seorang ‘sahabat yang mungkin takkan dijumpainya lagi.’ Kualitasnya yang sangat bagus dan berkelas dunia kemudian membuatnya menjadi Gunpla andalan Sekai dalam menghadapi lawan-lawan battling mereka.

Yuuma sendiri, yang kelihatannya paling ahli memodif di antara mereka, mengandalkan Lightning Gundam, Gunpla rancangannya sendiri yang merupakan hasil modifikasi dari Gunpla Re-GZ, suatu MS produksi massal yang tampil di film layar lebar Char’s Counterattack. Yuuma berhasil memodifikasinya agar dapat berubah bentuk dari bentuk humanoid ke pesawat secara bolak-balik, dan tak cuma lepas dari back weapon system, dengan fitur BWS kustom yang disebutnya Lightning Back Weapon System. Bisa dibilang ini Gunpla utama yang terbilang konvensional, yang mengandalkan kecepatan tinggi dan persenjataan canggih, walau senjata utamanya adalah senapan beam jarak jauh yang dimilikinya.

Sadar bahwa GM Powered Cardigan buatannya kurang optimal dengan spesialisasinya dalam serangan pendukung jarak jauh, Fumina mencoba mendesain Gunpla baru yang mampu mendukung Gunpla kedua rekannya. Hasilnya adalah Winning Gundam, Gunpla model SD (super deformed) rancangannya sendiri yang memiliki kekhususan dalam memberikan support di segala medan. Kekhasan utamanya adalah bagaimana bagian-bagian tubuhnya dapat terlepas dan kemudian menjadi perlengkapan tambahan yang ‘memperkuat’ serangan dan pertahanan Gunpla kedua rekannya.

Seiring perkembangan cerita, Fumina dan kawan-kawannya harus berhadapan dengan berbagai saingan lain. Mulai dari Sakai Minato, seorang murid aliran Gunpla Shingyo dari Osaka yang merupakan saingan(?) berat Yuuma dalam membangun Gunpla dan telah menjadi builder kelas nasional; Sazaki Kaoruko, siswi dari sekolah putri St. Odessa dari tim Hokusou no Tsubou/Song Dynasty Vase, yang juga dikenal sebagai Gyanko karena kesukaannya menggunakan Gunpla bermotif Gyan (yang merupakan turunan dalam keluarganya, dirinya adik perempuan Sazaki Susumu yang merupakan kenalan Sei dalam season sebelumnya), dan belakangan naksir pada Sekai; serta Izuna Shimon dari tim FAITH, yang menggunakan Gunpla straight build buatan adik lelakinya tersayang, dan mengimbangi kekurangannya dengan keterampilannya sebagai petinju amatir.

Ancaman utama yang Sekai dan kawan-kawannya harus hadapi di paruh awal cerita adalah tim G-Master dari Perguruan Miyazato, yang menjadi juara wilayah Tokyo Barat pada tahun sebelumnya. Pemimpin tim mereka, Sudou Shunsuke, menggunakan Gunpla Mega Shiki hasil rancangan Sakai, yang merupakan modifikasi Gunpla Hyaku Shiki milik Quattro Bageena dari seri Zeta Gundam, yang dilengkapi perlengkapan Mega Ride Launcher yang dapat berfungsi sebagai Mega Rider dan Mega Launcher sekaligus. Apalagi sesudah tim tersebut kedatangan Suga Akira, murid pindahan yang menggunakan Gunpla DELTA G-Bomber, yang selain bertampang sangat mirip karakter Sleggar Law dari seri Mobile Suit Gundam orisinil (ditambah G-Bomber merupakan modifikasi MA G-Fighter), juga mengenal orang lain selain Sekai yang menggunakan aliran Jigen Haoh dalam Gunpla Battle.

Menanti Go Sign

Bicara soal teknis, ada beberapa isu yang layak dibahas.

Pertama, mungkin ini cuma aku, tapi kualitas presentasi seri ini sempat mengalami penurunan dibandingkan pendahulunya. Kualitasnya sempat naik kembali seiring kelanjutan cerita. Tapi ada kesan kalau para staf turut ‘belajar’ seiring dengan masa produksi anime ini, sehingga bagian akhir anime ini lumayan jauh lebih bagus ketimbang bagian awal. Ini paling kerasa dari cara penataan gambar, pemaparan adegan-adegan aksi, serta cara pemaparan cerita. Bagian-bagian awalnya agak… kurang. Sementara bagian-bagian ujung ke sana berakhir lebih bagus dari yang kau sangka, meski memang belum sampai setara dengan kebagusan GBF.

…Sutradaranya memang berganti sih. Watada Shinya yang kini berperan dalam mengarahkan cerita. Naskahnya masih ditangani oleh Kuroda Yousuke, tapi ada kesan aneh kalau naskah kali ini enggak sematang naskah GBF. Jadi, buat sebagian orang yang mengikuti seri ini karena terkesan dengan pendahulunya, rasanya emang jadi agak campur aduk.

Ada beberapa isu yang langsung kelihatan menjadi penyebabnya sih.

  • Format pertandingan yang menjadi antar tim, dan bukan lagi perorangan, sehingga fokus cerita jadi kesebar ke lebih banyak karakter, dengan durasi cerita yang masih sama. Ini kenanya ke aspek perkembangan karakter.
  • Cakupan cerita yang menjadi berskala nasional, dan bukan dunia, sehingga kita enggak lagi melihat beragam karakter menarik dari berbagai negara kayak di GBF. (Sehingga, walau mecha utamanya lebih mirip dengan mecha utama di G Gundam, nuansa ceritanya justru enggak lagi kayak di G Gundam, berbeda jauh dari seri GBF)
  • Sasaran cerita yang mungkin ditujukan lebih ke kalangan pemirsa yang lebih kasual.

Meski aku sangat suka lagu-lagu yang dibawakan band BACK-ON, lumayan kelihatan perbedaan kualitas animasi pembuka pertama GBF Try dibandingkan pembuka keduanya. Bukannya jelek, dan lagi lagu ‘Cerulean’ itu terbilang keren. Tapi apa yang ditampilin kayak kurang bisa nyajiin apa sebenernya yang ada di dalam ceritanya.

Rada susah ngejelasinnya.

Jadi format cerita ala kompetisi  harusnya menjadikan GBF Try sebagai seri dengan bentuk cerita ala seri-seri olahraga. Tapi kenyataannya enggak jadi gitu. Lalu rasanya jadi salah.

Dengan banyaknya karakter yang ada, ceritanya juga kayak sebisa mungkin berusaha masukin bobot dramatisasi selagi bisa. Lalu ini kenanya ke aspek humor yang jadi hal menonjol di seri pendahulunya. Para karakter sebisa mungkin berusaha dikasi spotlight masing-masing. Jadinya, ceritanya kerasa enggak se-fun sebelumnya. Humor di GBF yang hampir selalu ada di tiap episode jadi hanya sesekali munculnya.

Baru pada paruh kedua cerita, seri ini kayak menemukan momentumnya kembali, lewat perkenalan tim Celestial Sphere dari Perguruan Gunpla yang telah menjadi juara nasional selama enam tahun berturut-turut. (FYI, Meijin Kawaguchi III yang karismatik berhasil menjadi juara dunia selama tiga tahun berturut-turut.) Animasinya jadi keren kembali. Koreografi aksinya jadi lebih berkesan. Lalu kekonyolan-kekonyolan yang ada di seri pendahulunya agak-agak mulai muncul kembali.

Tim ini yang menjadi sasaran yang Sudou Shunsuke ingin kalahkan. Lalu ternyata menjadi sekolah asal Suga Akira sebelum yang bersangkutan keluar dari sana.

Tim ini diawasi oleh Allan Adams, yang dulu menjadi mentor Meijin Kawaguchi III, dari masa ketika PPSE masih berdiri. Di tim ini hadir Kijima Wilfrid, keponakan Allan, yang menjadi rival terbesar Sekai dengan Gunpla Transient Gundam miliknya, yang merupakan hasil modifan Gundam Exia milik Setsuna F. Seiei dari seri Gundam 00 dengan mengandalkan senjata tombak GN Partisan (yang dapat berubah jadi lance bit!).

Selain itu hadir juga Adou Saga, dengan Gunpla Gundam The End yang bergaya western dan penuh senjata rahasia (kombinasi Regnant dari Gundam 00 dengan Master Gundam dari G Gundam?), yang dengan hobinya menghancurkan Gunpla lawan ternyata menjadi penyebab traumanya Yuuma dulu; serta Kijima Shia, adik perempuan Wilfrid yang teramat manis, pengguna G-Portent, modifikasi workloader produksi massal Sakibure (yang setara MS) dari seri manga Gundam 00I 2134, yang lincah dan memiliki kemampuan langka untuk mereparasi diri sendiri, dan belakangan juga menjadi rival Fumina (dan Gyanko) dalam meraih perhatian Sekai.

Second Coming

Di satu sisi, agak disesalkan gimana GBF Try kurang berhasil mengimbangi keajaiban yang GBF miliki.

Enggak ada tokoh antagonis yang benar-benar menjadi ‘lawan’ di cerita ini. Peran PPSE sebagai panitia turnamen (yang menjadi ‘musuh’ di seri sebelumnya) telah digantikan oleh perusahaan Yajima Trading, sesudah ilmuwan muda jenius Nils Nielsen bersama Caroline Yajima menemukan kembali cara menghasilkan partikel Plavsky di penghujung seri sebelumnya. (Keduanya kini telah menikah btw, dengan Nils yang telah dewasa kini bernama Nils Yajima dan mengepalai pusat penelitiannya, Nielsen Labs, yang menjadi lokasi ‘latihan musim panas’ berbagai tim Gunpla.)

Lalu apa yang membuat dunia Gunpla menarik juga kurang ditampilkan kecintaannya. Di seri GBF, ditampilkan berbagai otaku Gundam dari berbagai kalangan, dan ditampilkan jelas apa yang membuat mereka begitu suka. Tapi di seri GBF Try, kecintaan tersebut lebih dipaparkan pada keunikan cara modif dan membangunnya, dan lebih dipaparkan secara mild gitu.

Adegan-adegan pertarungannya juga, meski seru buat diikuti, lebih banyak berujung pada pertunjukan ‘adu kekuatan’ ketimbang ‘adu taktik’ seperti yang banyak diperlihatkan pada sejumlah seri anime di masa lampau. (Ini terus terang agak mengingatkanku pada seri Crush Gear Turbo Fighter yang dulu juga dibuat Sunrise.) Ini membuatku merasa agak gimanaa gitu, terutama kalau membandingkannya dengan konfrontasi-konfrontasi di seri sebelumnya yang tahapan-tahapan pertandingannya bisa kita breakdown dan analisa

Tapi di sisi lain, terlepas dari semua kelemahan itu, ada beberapa keistimewaan khas yang seri ini punya.

GBF Try menampilkan banyak referensi enggak disangka terhadap seri-seri Sunrise lain yang non-Gundam. Cakupannya meliputi seri Brave/Yuusha mereka yang dulu terkenal tapi sekarang dorman (melalui desain Gunpla Gundam Tryon 3 yang cukup mencengangkan), Metal Armor Dragonar yang dulu pernah disangka sebagai klon Gundam (terlihat dari jenis spesialisasi Gunpla yang digunakan tim SRSC), Armored Trooper VOTOMS yang terkenal karena sangat real robot (lewat pemilihan warna Gunpla Hi-Mock yang sempat tampil sekilas), sampai Space Runaway Ideon di mana semua karakternya beneran mati (dari pemilihan warna Gundam Amazing Red Warrior milik Meijin, yang dimodifikasi dari Perfect Gundam III “Red Warrior” dari seri Plamo Kyoshiro, yang merupakan manga tahun 80an yang pertama mengenalkan ide adu Gunpla dengan simulator)

Lalu GBF Try juga menampilkan sejumlah desain favorit dan keren yang sebelumnya dikhawatirkan terlupakan karena berasal dari seri yang kurang dikenal. Ini meliputi Gunpla Destiny Gundam milik Shinn Asuka dari Gundam SEED Destiny, yang secara langsung digunakan Shimon untuk membuat adiknya yang bertubuh lemah senang (dan nanti, Destiny Impulse Gundam, yang merupakan prototip pendahulunya, dari salah satu seri Astray yang aku lupa yang mana; buat yang mau tahu, MS ini ceritanya adalah Impulse Gundam yang dilengkapi perlengkapan Destiny Pack, yang maksudnya untuk mewadahi semua fitur dari semua pack sebelumnya, tapi dinilai kurang efisien dan disimpulkan buat mending bikin ulang MS baru sekalian); Crossbone Gundam X-1 Full Cloth, mecha utama dari seri manga Crossbone Gundam: Steel 7, yang digunakan oleh Lucas Kankaansyrjä, atau yang lebih dikenal sebagai Lucas Nemesis, yang di seri sebelumnya adalah anak kecil cucu pemilik Team Nemesis yang kini telah tumbuh jadi Fighter yang tangguh; R-Gyagya yang penuh perisai yang digunakan Gyanko, yang diadaptasi dari R-Jarja milik Chara Soon dari Gundam ZZ; desain-desain variasi Gunpla Zaku II berkecepatan tinggi yang dipelopori team White Wolf pimpinan Matsunaga Kenshou (yang dirinya sendiri jelas merupakan referensi terhadap karakter pejuang Zeon veteran Shin Matsunaga dari seri Gundam MSV, yang agak sayang karena karakternya tak lebih menonjol); sampai ke variasi Vagan Gear K, modifikasi dari boss terakhir dari Gundam AGE, yang dibuat oleh Karima Kei yang di sepanjang cerita ditampilkan sebagai karakter yang konyolnya… menonjol karena gagal menonjol.

Tapi yang paling kelihatan dibandingkan seri sebelumnya, GBF Try menampilkan jauh lebih banyak Gunpla model SD. Seakan buat minta maaf ke kalangan penggemar Gunpla SD yang dalam seri sebelumnya terkesan agak terlupakan.

Selain Winning Gundam yang Fumina gunakan, beberapa yang menonjol meliputi: trio Snibal Gundam, Dragonagel Gundam, Giracanon Gundam, yang digunakan oleh kembar tiga bersaudara ShikiToshiya, Nobuya, dan Kazuya—dari Team SD-R yang agak misterius; Devil Dragon Blade Zero Gundam dari seri Shin SD Gundam Gaiden: Knight Gundam Story, yang sempat digunakan oleh partner wanita Meijin, Lady Kawaguchi; sampai Kouki Gundam yang sempat digunakan Sakai Minato melawan Sekai.

Pantat yang Gatal

Beberapa karakter lain menonjol dalam seri ini meliputi Kamiki Mirai, kakak perempuan Sekai yang cantik, sopan, dan ditampilkan selalu membuat kyun siapapun yang bertemu dengannya. Lalu Kousaka China, sahabat dekat(?) Sei yang merupakan kakak perempuan Yuuma, juga tampil kembali; diceritakan bahwa dirinya kini hidup bersama dengan Sei di Perancis. Kemudian, tentu saja, Lady Kawaguchi, partner Meijin, yang sebelumnya merupakan sosok yang ingin Fumina kejar. (Lady dan Meijin di seri ini benar-benar suka berpose keren.)

Sei dan Reiji sendiri, meski disinggung dalam cerita, sebenarnya sampai akhir enggak ditampilkan. Jadi mungkin itu agak mengecewakan buat kalian yang ingin melihat versi dewasa mereka.

Tapi selebihnya, ada guru bela diri Sekai yang kerap ditampilkan dalam kilas balik; yang tampang, pembawaan, serta pakaiannya agak terlalu mirip Domon Kasshu, tokoh utama dari G Gundam. Serta kemudian ada Inose Junya, kakak seperguruan Sekai yang salah jalan, yang memberi pelajaran berarti bagi Sekai dalam konfrontasinya dengan Denial Gundam. (Lalu, yeah, mereka semua sama-sama menjalani latihan mereka di dataran tinggi Guiana, satu lagi referensi terhadap G Gundam.)

Sebenarnya, sempat kudengar ada cerita menarik tentang Denial Gundam ini. Aslinya, ini bernama Cathedral Gundam, yang dirancang oleh Meijin Kawaguchi II sebelum yang bersangkutan meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Tapi Junya kemudian memperoleh Gunpla tersebut dari pelatihnya, yang kemudian ia modifikasi agar sesuai gaya bertarung tangan kosongnya dia. Itu alasan kenapa Gunpla misterius ini bisa mirip sekaligus sangat mengimbangi Gunpla milik Sekai yang notabene juga hasil rancangan kelas dunia.

Menutup pembahasan soal mecha, Sekai kemudian meng-upgrade sendiri Gunpla-nya dengan bantuan Yuuma dan Fumina, menghasilkan Try Burning Gundam yang semakin mewadahi fitur particle burst yang menjadi keunggulan utamanya, yang berkaitan juga dengan jurus-jurus api yang Sekai banyak pakai.

Yuuma menutup sendiri kelemahan Lightning Gundam miliknya dengan mengubahnya menjadi Lightning Gundam Full Burnern, yang dilengkapi Lightning BWS Mk II. Upgrade ini memberikan Gunpla miliknya kecepatan maksimum yang luar biasa (Ini referensi terhadap Gundam GP01 “Zephyranthes” Full Burnern dari Gundam 0083: Stardust Memory, btw.) dan juga menandai perubahan mindset Yuuma dari seorang sniper yang menyerang dengan hati-hati dari jauh ke seseorang yang takkan segan melakukan konfrontasi langsung.

Winning Gundam oleh Fumina kemudian diubah menjadi Star Winning Gundam berkat nasihat yang diterimanya dari Lady, dan mungkin mengubahnya menjadi Gunpla dengan fitur-fitur paling mengangkat alis di seri ini. Bukan hanya dilengkapi perlengkapan armor dan thruster tambahan, di samping fitur-fitur lamanya, Gunpla ini kini memiliki berbagai jenis funnel dan satu mode baru yang beneran menakjubkan kalau berhasil dibikin. (Serta jurus terakhir Winning Beam.)

Akhir kata, seri ini… ukh, yeah, sebenarnya agak mengecewakan. Tapi enggak semengecewakan itu juga. Buatku, ini tetap seri paling fun yang dengan setia kuikuti streaming-nya dari situs Gundam.info tiap minggu.

Rasanya agak gimanaa gitu, berdiam di kantor setiap Rabu malam, sesudah semua teman yang lain pulang, cuma buat menonton setiap episode barunya keluar. Mungkin memang enggak bagus, dan keju, dan berlebihan, dan jelas sebenarnya bukan yang aku harapkan. Tapi tetap lumayan refreshing untuk ukuran anime musim dingin yang lalu. Di samping itu, ada banyak mecha yang bisa dilihat. Adegan-adegan aksinya enggak buruk… meski, yeah, kadang kurang detil ditampilkannya, dan bisa agak berlebihan. Lalu terkadang suka ada adegan komedi yang menarik.

Jadi, meski kalah banget bobotnya dibandingkan pendahulunya—dan tema cita-cita dan kerja keras yang kuharapkan jujur aja agak gagal tersampaikan—ini tetap jadi suatu seri yang punya ciri khasnya sendiri.

Tetap ada beberapa hal penting yang kusadari berkat seri ini:

  • Satu, kalau aku tahu-tahu saja telah jadi penggemar grup musik StylipS.
  • Dua, kalau kayaknya menarik kalau bisa jadi orang berusia dua puluh tahunan dengan identitas misterius dan berkacamata hitam yang dari waktu ke waktu harus berpose keren sambil mengeluarkan kata-kata membahana dari tempat-tempat tinggi.

Penilaian

Konsep: D; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

(Oya, aku lupa menyinggung soal sedikit fanservice di paruh awal seri terkait spats yang suka dipakai Fumina.)

(Oke. Mending enggak usah kukomentari deh.)

04/03/2015

Mobile Suit Gundam: The Origin I

Mungkin kalian sudah pada tahu.

Dibuat dalam rangka untuk menyambut ulang tahun ke-35 dari waralaba terkenal ini, selepas berakhirnya seri OVA Mobile Suit Gundam Unicorn, episode pertama dari seri OVA baru Mobile Suit Gundam: The Origin keluaran Sunrise tayang selama dua hari pada tanggal 28 Februari-1 Maret 2015. Bertajuk Aoi Hitomi no Casval/The Blue-eyed Casval (‘Casval yang bermata biru’), sebelum dirilis BD/DVD-nya pada sekitar April nanti, episode ini tayang secara bersamaan pada sejumlah bioskop terbatas di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, yakni di bioskop-bioskop Platinum Cineplex dan Blitz Megaplex.

Kebetulan aku berkesempatan menontonnya dalam dua hari itu.

Seri ini diadaptasi dari seri manga karya Yasuhiko Yoshikazu, yang merupakan penceritaan ulang dari seri anime orisinil Kidou Senshi Gundam yang pertama dibuat tahun 1979.

Dari Munzo ke Granada

Mungkin akan aku ceritakan sedikit tentang pengalaman aku menontonnya dulu.

…Sebenarnya, aku sempat ragu apa aku bakal menonton. Selain karena enggak sempat memesan tiket di jauh hari (aku seriusan belum berpengalaman dengan sistem depositnya dsb.), aku capek bukan main pada pagi harinya. Aku pulang malam terus sepanjang minggu dengan kerjaan yang enggak jelas kemajuannya. Ditambah lagi, ditayangkannya cuma dua hari. Lalu waktu aku cek jadwalnya, jamnya kebilang enggak enak. Kalau misalnya aku enggak kebagian yang jatah pagi hari, penayangan berikutnya dijadwalkan sore. Lalu karena jam sore aku enggak akan bisa, aku pasti harus mengambil yang malam. Ditambah, di kotaku, lokasi bioskopnya lumayan jauh dari rumah.

Tapi aku berubah pikiran, karena seminggu menjelang penayangannya, aku juga ikut terbawa hype dari situs-situs berita yang aku ikuti. Lalu walau aku jarang berkesempatan menonton anime di bioskop—terakhir adalah saat aku berkesempatan menonton anime balap Redline keluaran Madhouse saat festival film INAFF—pengalaman nonton anime di sana hampir selalu kebilang memuaskan.

Apa ya? Emang ada sesuatu yang beda di pengalaman nontonnya, dan enggak selalu terkait dengan kualitas filmnya sendiri.

Singkatnya, aku berangkat dari rumah sesudah memaksakan diri bangun. Agak pagi. Aku agak tegang, karena ‘penayangan terbatas’ kupikir akan langsung berhubungan dengan ‘tiket terbatas.’ Dan aku belum pesen. Jadi aku mikir kalo aku mesti berjuang!

Intinya kayak gitu.

Makanya, aku sempat tegang waktu aku seangkutan umum dengan seseorang yang entah gimana aku tahu kayaknya pergi buat tujuan yang sama denganku! Entah ada sesuatu pada tampangnya ato kekalemannya ato gimana. Pokoknya, aku mikir, shit, dia juga berangkat agak pagi! Lalu dia bahkan di dalam tasnya juga bawa bekal makanan dan minuman buat sarapan segala! Aku mikir, sial, kalo misalnya dia belum pesen tiket juga, berarti dia sainganku dalam ngedapetin tiket!

Maka aku lalu mulai bersiap untuk mengantisipasi ini. Kebetulan aku tahu jalan pintas yang bisa sangat membantu kalau lalu lintas macet. Aku berpikir buat turun dari kendaraan separuh jalan, melewati jalan ini, lalu sampai di bioskop—di mall yang pada jam segitu notabene kebanyakan tokonya pasti pada belum buka—sekitar 10-15 menit berikutnya.

Namun kemudian ada seorang cewek yang menarik perhatianku yang masuk ke dalam angkot. Aku penasaran dengan di mana dia bakal turun. Sampai aku ngelewatin tempat pemberhentianku, dan terus terbawa karena lalu lintas yang ‘tanggung’ sampai ke tempat di mana orang biasanya turun kalau mau ke bioskop itu.

Maafkan aku. Aku memang enggak keren.

(Kalau kalian tanya seperti apa ceweknya, aku tertarik karena dia cewek yang slender. No pun intended sekalipun aku memang penyuka Wooser.)

Waktu aku turun, aku kemudian sadar kalau orang dengan tampang Gunota yang kubilang tadi ternyata beneran mengenakan jaket yang bertuliskan hal-hal kayak ‘Gundam Unicorn’ dan ‘Anaheim Electronics.’ Dan aku langsung kayak, “FUUUUUU-! TERNYATA DIA EMANG SAINGANKU!”

Pada akhirnya, meski ngos-ngosan, aku berhasil sampai di loket tiket dan mengambil posisi sebelum banyak yang mengantri. Tapi bahkan walau loket belum buka, sudah ada kerumunan di depan studio. Karena mereka kelihatan akrab satu sama lain, kayaknya ada yang mengorganisir nobar, dan kesemua yang di sana pasti sudah pesan tiket duluan. Jumlah mereka lumayan banyak, dan aku sempat kuatir enggak akan kebagian kursi.

Paranoiaku karena pernah gagal nonton film pertama Rebuild of Evangelion di bioskop ini juga agaknya berpengaruh.

Tapi syukurlah. Aku kebagian. Dan selebihnya semua berlangsung tanpa masalah.

Age Discrepancies

Tentang episodenya sendiri, mungkin sebelumnya perlu kulurusin.

Seri OVA Mobile Suit Gundam: The Origin direncanakan terdiri atas empat episode, yang memaparkan bab kilas balik tentang awal mula berdirinya faksi Zeon dan asal usul karakter bertopeng Char Aznable. Jadi, ya, ini diangkat dari seri manga berjudul sama karya Yasu-sensei di atas. Tapi enggak semua dari manganya akan dianimasikan. Cuma bab kilas balik tentang Char saja.

Kalau kita beruntung, mungkin dalam 2-3 tahun ke depan sisa cerita manganya—tentang perjalanan Amuro Ray dan kawan-kawannya di kapal White Base—juga akan dianimasikan. Moga-moga aja dalam format serial TV. Tapi untuk saat ini, rencananya setahuku masih belum sampai ke sana.

Karenanya, seri OVA ini benar-benar lebih ditujukan bagi para penggemar berat seri Gundam orisinil. Bukan hanya dari soal apa yang diceritakannya. Tapi juga karena cara penceritaannya gitu.

Di samping itu, walau episode ini dibuka dengan adegan pertempuran luar angkasa dahsyat yang melibatkan mobile suit (MS), fokus ceritanya benar-benar lebih pada para karakternya. Jadi para pencari adegan aksi mungkin akan kurang terpuaskan dari segi ini.

Cerita dibuka dengan adegan berlangsungnya Battle of Loum pada tahun 0079 UC, yang sebelumnya hanya pernah dianimasikan dalam MS Igloo. Di pertempuran antar armada kapal ini, faksi Zeon untuk pertama kalinya membalikkan keadaan pertempuran lewat implementasi MS baru ciptaan pertama mereka: Zaku dan Zaku II.

Setelah perkenalan singkat terhadap Char, barulah cerita kemudian kembali ke masa lalu, ke tahun 0068 UC, ketika di Side 3, Republik Munzo masih berdiri.

Zeon Zum Deikun, pemimpin karismatik yang hendak mencetuskan ideologi baru terkait hubungan antara kaum Earthnoid (yang bertempat di Bumi) dan kaum Spacenoid (yang bertempat di koloni-koloni luar angkasa) meninggal secara mendadak saat akan menyampaikan pidato penting. Pidato yang akan disampaikannya diyakini akan berpengaruh besar terhadap hubungan antara Munzo dengan Federasi Bumi, dan karenanya ada kecurigaan bahwa dirinya sebenarnya dibunuh.

Segera, ketiga anggota keluarga Deikun yang ditinggalkan: istrinya, Astraia Tor Deikun, serta kedua anak mereka, Casval Rem Deikun dan Artesia Som Deikun; terjebak dalam pusaran persaingan politik antara pihak-pihak yang berkepentingan terhadap mereka.

Secara garis besar, ada tiga pihak utama yang berkepentingan: Federasi Bumi, yang punya kepentingan untuk menanamkan kuasanya atas Munzo; keluarga Zabi, yang dipimpin Degwin Sodo Zabi, yang merupakan orang nomor dua di Munzo sesudah Zeon; dan keluarga Ral, yang dipimpin Jinba Ral, yang mencurigai keluarga Zabi sebagai dalang kematian Zeon dan bukan Federasi Bumi.

Sepeninggal Zeon, kerusuhan semakin banyak terjadi akibat tekanan ekonomi yang Munzo hadapi. Seiring dengan memanasnya situasi perpolitikan sesudah serangan-serangan yang berlangsung, Jinba Ral lambat laun tenggelam oleh paranoianya terhadap ancaman-ancaman dari keluarga Zabi. Namun Jinba mempunyai anak lelaki, Ramba Ral, yang merupakan perwira kompeten dalam angkatan bersenjata Munzo.

Memahami bahwa pengasingan terhadap Astraia—baik oleh Federasi maupun keluarga Zabi—tidak dapat dihindari, episode ini berfokus pada upaya Ramba Ral bersama kontak wanitanya, Crowley Hamon, untuk setidaknya dapat meloloskan Jimba Ral, bersama Casval dan Artesia, ke Bumi demi menyelamatkan nyawa mereka.

Di tengah itu semua, hampir tidak ada yang menyadari bahwa sekalipun masih berusia 11 tahun, dendam yang Casval punyai tehadap orang-orang yang menewaskan ayahnya sudah mulai membara.

Seratus Purnama

Bicara soal teknis, adegan pembuka yang menampilkan terpukul mundurnya armada Tianem di awal benar-benar luar biasa. Satu, berkesan karena animasinya seriusan keren. Dua, karena nuansanya betul-betul pas sesuai hitungan zamannya.

Maksudku, kalau dibandingkan dengan era Gundam Unicorn yang berlangsung hampir dua dekade sesudah Perang Satu Tahun, teknologi MS yang ditampilkan di pertempuran ini seharusnya terlihat kuno. Tapi seperti halnya dalam manganya, episode ini tetap menampilkan MS-MS tersebut dengan suatu kesan ‘canggih’ yang sama sekali enggak berlebihan.

Ya, sekalipun persenjataannya kebanyakan artileri dan tanpa beam!

Ya, sekalipun masih jadi teka-teki gimana Char bisa jadi pilot yang sedemikian hebatnya dengan mengendalikan MS yang bergerak tiga kali lebih cepat dari MS standar tanpa normal suit!

Apa yang beneran patut dipuji dari adaptasi ini adalah pemaparan nuansanya itu. Ada kesan futuristik di Munzo pada tahun 0068 U.C. Tapi pada saat yang sama, ada juga kesan miskin akibat resesi ekonomi di sana yang banyak mengingatkan nuansa tahun 1960an.

Lalu di penceritaannya, ada adegan-adegan komikal yang secara berkala ditampilkan di sela-sela tema cerita yang agak berat seperti yang banyak ada di manga-manga jadul. Berhubung aku belum baca manganya, kurasa itu suatu hal yang aslinya emang di sana, dan diputuskan untuk dipertahanin daripada dibuang.

Audionya terbilang keren, walau mungkin enggak terlalu terasa karena ini anime yang banyak percakapan. Tapi walau banyak percakapan, tak benar-benar ada saat yang membosankan, karena narasinya beneran ditampilkan dinamis gitu, dengan banyak hal yang kerasa terjadi dalam waktu singkat asal kau bisa ngikutin.

Sayangnya, terus terang aja, teks terjemahan bahasa Indonesia yang digunakan pas tayang kurang begitu bagus sih. Kayak si penerjemahnya lebih banyak melakukan terjemahan kata per kata, tanpa nyadar bahwa karena konteks kalimatnya, makna dalam kata-katanya bisa ada yang berbeda.

…Tapi terlepas dari itu, sekali lagi, adegan-adegan aksi di pembuka beneran keren. Selain Char, dua bawahan terpercayanya, Slender dan Denim, juga muncul. Lalu tim Black Tri Stars yang orisinil dengan MS Zaku II mereka yang dipersenjatai beda-beda juga tampil. Semua proporsinya pas secara keren. Adegan-adegan aksinya itu saking ramainya sampai-sampai kamu merasa enggak cukup buat melihatnya hanya sekali.

Karena itu, mungkin sempat ada kesan agak ‘timpang’ dengan gimana pada klimaks episode ini, enggak banyak adegan aksi MS yang terjadi.

Apa boleh buat. Itu enggak bisa dihindari karena di settingnya, pada zaman itu, teknologi MS memang belum banyak berkembang. MS yang ada ‘hanya’ RTX-65 Guntank Early Type milik Federasi Bumi, yang masih berukuran beneran besar dan agak ‘kagok’ untuk digunakan.

Perasaan campur aduk yang kurasakan di akhir episode ini agak terkait dengan itu. Tapi… alasannya sebenarnya bukan hanya karena porsi adegan aksinya yang agak timpang.

Alasannya karena ada Casval yang duduk di kokpit dan karena keadaan, menarik pelatuk.

Ini… bagiku lumayan disturbing lho.

Untuk suatu alasan ini lebih menganggu dibanding kasus Uso Ewin di Victory Gundam, yang sebelumnya dikenal sebagai protagonis seri Gundam yang termuda. Aku mengerti apa yang para pembuatnya mau bidik sih. Terutama dengan mengkontraskan kepribadian Casval dengan kepribadian Artesia. Tapi gimana… di usia segitu… dirinya ditampilkan sebegitu kontrasnya dengan Garma Zabi yang berusia sama dengannya itu, dan sudah cenderung seperti itu bahkan sebelum ayahnya meninggal, benar-benar bikin aku agak terdiam.

Bicara soal keluarga Zabi, penggambaran dinamika hubungan antara mereka menjadi hal lain yang patut dipuji. Gihren Zabi, si anak tertua, ditampilkan sebagai pribadi dingin yang sudah licik dan ambisius semenjak awal. Dozle Zabi ditampilkan simpatik melalui maksud baik sekaligus ketidakberdayaannya. Sedangkan Kycilia Zabi, satu-satunya di antara saudara-saudaranya yang perempuan, terlihat konfliknya dengan bagaimana ia dipandang rendah dalam lingkungan yang didominasi kaum lelaki.

Sorotan utama episode ini sebenarnya tetap dimiliki oleh karakter favorit Ramba Ral, dan Crowley Hamon yang kelak menjadi istrinya. Keduanya benar-benar tokoh berkesan yang karismatik. Oh, dan juga kucing hitam peliharaan Artesia, yang untuk suatu alasan dinamai Lucifer.

Ada beberapa karakter tambahan yang tidak ada dalam seri orisinilnya. Tapi lebih banyak soal ini mending enggak akan kusinggung dulu karena perkenalan terhadap mereka menjadi salah satu daya tarik episode ini.

Kau Akan Bisa Melihat Lautan Bintang

Selebihnya, mungkin perlu kusinggung soal bagaimana seri Gundam: The Origin mengubah beberapa rincian di seri aslinya. Perubahannya meliputi telah hadirnya sebagian teknologi MS Federasi lebih awal (dalam seri asli, ketiga MS Gundam, Guncannon, dan Guntank sama-sama merupakan teknologi baru; sedangkan dalam seri Origin, Guntank telah ada selama sepuluh tahun dan hanya MS Gundam dan GM saja yang terbilang baru), serta perubahan usia pada beberapa karakternya. Misalnya, aku dengar Kycilia dibuat berusia lebih dewasa pada zaman ini, meski detilnya aku sendiri kurang pahami. Tapi spirit asli yang hendak disampaikan lewat seri ini benar-benar kerasa.

Ini jelas seri yang lebih ditujukan untuk para otaku Gundam lama ketimbang baru sih. Tapi dari pengalamanku, itu enggak menghalangi masuknya para penggemar yang lebih muda.

Hei, waktu aku nonton bahkan ada orang yang memakai baju seragam tentara infanteri Zeon. Bahkan ada juga yang membawa-bawa plamo RX-78 Gundam-nya ke dalam bioskop dan bikin aku dalam hati mikir, “Ini film tentang Char, dodol! Di settingnya, Gundam masih belum dibikin! Kalo kamu mau bawa Gunpla ke sini, mestinya kamu bawa Zaku! Zaku!”

Tapi ini seriusan episode yang bagus.

Terlepas dari masalah teksnya, semua yang nonton lumayan bisa menikmati. Ada orang yang duduk di belakangku yang komentar kalau dirinya udah bertekad nonton dua kali. Lalu walau ada beberapa reaksi keheranan dengan berakhirnya film saat kapal Ocean Cargo yang Jinba, Casval, dan Artesia tumpangi tiba di kota bulan Granada, hampir semua bertepuk tangan begitu episodenya berakhir.

(Aku sempat kikuk karena berpapasan lagi dengan ‘sainganku’ yang berjaket Anaheim/Gundam Unicorn itu. Rupanya dia duduk di deret bangku yang sama denganku, dan aku agak menyesal karena enggak nyoba ngajak dia bicara lebih banyak.)

Aku tetap terdiam agak lebih lama dari yang kusangka sih. Tapi aku enggak akan menyangkali kualitasnya yang tinggi.

Sekali lagi, kalau kita beruntung dan sambutan terhadap OVA ini baik, mungkin sisa cerita Gundam: The Origin bisa dianimasikan dalam bentuk seri TV. Tapi sesudah melihat sendiri episode ini, aku bisa memahami kehati-hatian para produsernya. Soalnya nuansa dan cara penceritaan semuanya lumayan old school sih.

Episode berikutnya, Kanashimi no Artesia/Artesia’s Sorrow, sudah diumumkan akan tayang pada musim gugur tahun ini. Aku enggak pernah merasa mengharuskan diri untuk nonton sih. Tapi aku punya perasaan kalau ujung-ujungnya aku tetap akan mendapat pengalaman kayak gini lagi.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: B+

Edit, 5 Maret 2015

Ini enggak terlalu penting sih. Tapi sebenernya, ada satu hal yang terlewat kuceritakan soal usia Casval/Char dibandingkan Uso di atas.

Sewaktu episode ini berakhir, aku tiba-tiba tersadar akan betapa miripnya desain karakter Casval muda dengan desain karakter Uso Ewin. Soal ini, aku jadi teringat kalau pernah ada rumor yang menyebut-nyebut kalau Uso, sang tokoh utama di Victory Gundam, pada satu titik di masa produksi seri tersebut, mungkin pernah dimaksudkan untuk dijadikan keturunan terakhir Char di era Universal Century.

Landasan dari teori ini adalah kesamaan nama keluarga ibu Uso, yaitu Miguel, dengan nama kekasih terakhir Char yang bertahan hidup di penghujung film layar lebar Char’s Counterattack, yakni Nanai Miguel. Landasan lainnya dari teori ini adalah miripnya hubungan antara Uso dan karakter Shakti dengan hubungan antara kedua karakter utama novel Gaia Gear yang dipenai Tomino Yoshiyuki-sensei, yang bercerita tentang klon Char yang diminta untuk jadi pahlawan dalam suatu masa depan alternatif Universal Century (yang sifatnya non-canon).

Tak pernah ada konfirmasi tentang kebenarannya, dan kayaknya aku juga pernah dengar kalau teori ini sempat disangkal. Tapi melihat kemiripan desain karakter antara Casval muda dengan Uso, aku enggak bisa enggak jadi mikir, apa Yasu-sensei secara diam-diam pendukung teori ini? Bagaimanapun, beliau memang terlibat dalam produksi seri Gundam paling awal.

16/12/2014

Gundam SEED Destiny HD Remastered

Belum lama ini, aku menonton sampai habis sepuluh episode terakhir versi HD Remastered dari Kidou Senshi Gundam SEED Destiny. Menyusul selesainya pembuatan versi HD Remastered dari prekuelnya, Kidou Senshi Gundam SEED, seri ini pertama keluar tahun 2013 lalu, dan baru berakhir pengerjaannya (penayangannya?) pada awal tahun 2014 ini.

Kenapa aku baru menontonnya sekarang?

Sebenernya, aku enggak punya alasan yang bener-bener bagus…

Tapi semenjak aku pertama dengar tentangnya, aku memang sudah lama penasaran tentang versi HD ini. Alasannya karena sebagaimana yang kebanyakan penggemar seri Gundam tahu, seri Gundam SEED Destiny merupakan seri yang paling banyak dicecar dan dikritik oleh para pemerhatinya semenjak pertama tayang tahun 2004 lalu (penayangannya berakhir tahun 2005).

Alasannya kenapa?

Ceritanya agak panjang. Tapi pendeknya: ceritanya… kurang begitu bagus.

Itu bukan sekedar menurutku pribadi. Seri ini secara umum dipandang mengecewakan bahkan oleh para penggemarnya. Karenanya, begitu mendengar bahwa versi HD-nya akan dibuat untuk memperingati ulang tahun kesepuluh seri ini, dan dikatakan bahwa akan ada perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan terhadap naskahnya, dan semua episode klip dan kilas balik yang dulu ada akan disingkirkan, ketertarikanku terhadap versi ini sedikit tumbuh.

Ceritanya seriusan akan bisa diperbaiki? Aku skeptis. Tapi ya, aku mulai penasaran.

Format Layar Lebar

Aku agak lupa persisnya kapan, berhubung aku sendiri enggak langsung sadar. Tapi pada pertengahan dekade tahun 2000an, format penayangan anime yang sebelumnya berlayar ‘kotak’ mulai beralih ke format layar lebar berbentuk ‘persegi panjang.’ Gampangnya, proses ‘HD Remastered’ meliputi perubahan format penayangan yang sebelumnya kotak tersebut ke bentuk layar lebar.

Arti aslinya sebenarnya bukan ini sih.

HD sendiri merupakan kependekan dari istilah high-definition (definisi tinggi), yang mengacu pada kepadatan jumlah pixel yang menyusun sebuah gambar digital dibandingkan yang sebelumnya. Intinya: resolusinya lebih baik. Gambarnya (harusnya) lebih tajam! Standar HD kalau enggak salah adalah 720p? Sial, aku enggak yakin juga soal ketentuannya.

Yah, soal teknisnya, ntar aku cari tahu lagi nanti.

Pokoknya, aku ingat banget kalau seri keluaran Sunrise pertama dalam format HD yang aku tahu adalah Code Geass: Hangyaku no Lelouch. Sedangkan seri Gundam pertama yang mendapat perlakuan format demikian adalah Gundam 00. Dan aku pertama sadar soal ini sewaktu menonton kembali episode-episode Eureka Seven setelah sekian lama. Dulu aku terpukau oleh visualisasi Eureka Seven. Tapi sesudah melihatnya lagi, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah “Hah? Layarnya kotak?”

Balik ke soal Gundam SEED dan Gundam SEED Destiny. Di samping perubahan bentuk dan ukuran layar, penggarapan versi HD Remastered di sini juga mencakup perbaikan cara penganimasian sejumlah adegan serta hal-hal teknis secara umum.

Buat versi HD Gundam SEED yang keluar sebelumnya, ini terutama kerasa pada cara penggambaran sejumlah mechanya, yang secara drastis meningkatkan kualitas adegan-adegan aksinya. (Yang juga mencolok di versi ini adalah penganimasian MS Perfect Strike Gundam pada salah satu episode di koloni Mendel, yang memang merupakan varian yang sebelumnya tak ada di serinya yang asli.) Sedangkan buat Gundam SEED Destiny… yah, pada awalnya aku ngerasa perlakuan HD bakal benar-benar dibutuhin karena begitu banyaknya hal yang perlu diperbaiki.

C.E. 73

Masuk ke soal hasilnya sendiri. Hal pertama yang disadari, yang agak mengecewakan, adalah pada bagaimana pembuatan format layar lebar ini enggak mencakup penambahan gambar untuk setiap framenya. Yang mendapat perlakuan kayak gini hanya sebagian frame saja. Kebanyakan frame malah hanya dipotong atas dan bawahnya agar jadi ‘lebar.’

…Seenggaknya, kesan yang kudapat itu kayak gitu sih.

Maksudku, sebagian frame pada versi HD dari Gundam SEED juga cuma digituin, terlepas dari perbaikan adegan dan animasinya.

…Oke, pikirku. Mungkin penggarapannya enggak benar-benar HD. Tapi seenggaknya adegan-adegan aksi dan lainnnya bakal diperbaiki ‘kan? Jadi ya sudah.

Makanya, aku berusaha buat enggak terlalu mempermasalahkan soal ini.

(Kalau ada di antara kalian yang enggak ngerti apa maksudku di sini, sudahlah, jangan terlalu dipikirin.)

Walau aku ngomong demikian, versi HD ini tetap jadi versi yang paling aku rekomendasikan buat kalian-kalian yang baru pertama tertarik terhadap seri Gundam SEED dan sekuelnya. Tapi karena alasan itu juga, aku jadi skeptis dengan hasil penggarapan HD Gundam SEED Destiny. Karena kayaknya, para produsernya enggak segitu berminat melakukan perombakan besar-besaran drastis pada ceritanya, sekalipun mungkin itu yang sebenarnya dibutuhkan.

Dulu Gundam SEED Destiny mendapat banyak cercaan karena kualitas ceritanya ngedrop akibat sakit kronis yang melanda Morosawa Chiaki, sang penulis naskah utama.

Ada lumayan banyak pertanyaan soal apakah cerita Gundam SEED Destiny jadi kayak gini karena ‘keadaan’ membuatnya demikian, atau karena visi awal yang direncanakan untuknya memang kayak gitu. Itu satu pertanyaan yang kuharap bisa terjawab dengan versi HD ini. Terutama karena di awal-awal, Gundam SEED Destiny dianggap semua orang memiliki potensi cerita bagus yang sangat, sangat besar.

Jadi bagaimana hasilnya?

Sebelumnya, seperti yang kubilang di atas, dari total 50 episode untuk versi ini, yang aku lihat kemarin cuma 10 episode terakhir. Alasannya karena episode-episode terakhir ini yang menurutku paling memerlukan perbaikan. Di samping itu, sejauh yang sempat aku lihat sebelumnya, episode-episode awal yang menampilkan Armory One dan Junius Seven memang tak mengalami banyak perubahan signifikan. Ditambah lagi, aku agak malas melihat ulang bab konflik antara ZAFT dan Orb yang menurutku merupakan bagian paling menyakitkan untuk dilihat di seri ini sih.

…Kusampaikan pendapatku dalam poin-poin pendek deh.

  • Untuk suatu alasan, sejumlah frame yang menampilkan nudity atau semi-nudity semakin ditonjolkan dan diperjelas.
  • Ekspresi-ekspresi para karakternya dipertegas emosinya.
  • Ada peningkatan kualitas signifikan dalam penceritaan. Cuma, ya itu, ini ternyata masih tetap cerita Gundam SEED Destiny yang sama.
  • Stock footage yang dipakai berulang masih banyak dan ada. Tapi secara relatif, sekarang stock footage tersebut tertata lebih baik. Pemutaran ulang adegan-adegan ini jadi banyak digunakan untuk menampilkan kilas balik sesaat sekaligus memberi penekanan terhadap konteks pembicaraan para karakternya. Cuma, ya itu, masih tetap banyak.
  • Bicara soal konteks pembicaraan, Sunrise enggak bohong soal adanya penambahan dialog-dialog baru. Dialog-dialog baru ini (buatku, seenggaknya) memperjelas beberapa hal dalam cerita yang sebelumnya memang tersamar. Intinya, dialog-dialog ini menyampaikan konteks lebih baik tentang apa yang terjadi di seri ini. Sebagian percakapan kayaknya bahkan direkam ulang. Ini satu hal yang paling kusyukuri dari versi ini.
  • Adegan-adegan aksinya tertata lebih rapi. Pengaturan temponya lebih baik. Ini paling terasa pada klimaks cerita yang berlangsung pada tiga episode terakhir. Mereka menggabungkan adegan pertempuran dari versi episode spesial Final Plus ke dalam cerita, dan ini yang membuat hitungan jumlah episodenya tetap sama dengan versi TV aslinya.
  • Perbaikan beberapa detil yang sempat diberikan pada versi Special Edition lucunya malah luput masuk di versi ini. Ini paling terlihat pada adegan penemuan surat dan catatan harian Meer Campbell menjelang akhir seri. (Aku ngelihat versi streaming-nya sih, jadi mungkin di versi DVD/BD ini sudah diperbaiki.)
  • Hampir lupa. Musiknya mengalami peningkatan kualitas signifikan. Baik BGM maupun sejumlah soundtrack remix di versi ini beneran enak didengar.

Kalau boleh agak kasar, salah satu kelemahan Gundam SEED Destiny ada pada sejumlah perkembangan ceritanya yang kurang masuk akal. Tapi kalau mengesampingkan itu, bagi yang suka, ini tetap seri aksi mecha yang menarik sih.

Sekarang lebih jelas kalau paruh awal Gundam SEED Destiny kayak memang dimaksudkan untuk menampilkan gimana para karakter yang semula dikira protagonis—dalam hal ini Shinn Asuka dan kawan-kawannya—bisa jatuh ke sisi salah. Lalu baru menjelang paruh kedua seri, para karakter utama dari Gundam SEED—yaitu Kira Yamato dan kawan-kawannya sendiri—sepenuhnya kembali dalam konflik dengan maksud untuk memperbaiki keadaan. Lalu terjebak di tengah semua ini, adalah Athrun Zala, mungkin bisa dibilang tokoh utama sesungguhnya, yang semula memiliki niat mulia untuk menebus kerusakan yang semula dipicu oleh ideologi ayahnya, tapi kemudian malah terseret ke dalam pusaran konflik kepentingan baru yang berdampak ke seluruh dunia.

Jadi enggak. Enggak tahu kenapa para pembuatnya enggak mengadopsi sepenuhnya rute konflik Zeta Gundam seperti mereka dulu mengadopsi alur konflik Kidou Senshi Gundam pada Gundam SEED. Padahal itu opsi yang dengan gampang sekali bisa mereka ambil. Mereka beneran mau mencoba arah perkembangan cerita baru yang memang enggak biasa dan belum pernah dilakukan sebelumnya sih.

Sekarang setelah semua itu jelas, jujur saja, hasilnya buatku kerasa agak aneh. Tapi aku ngerti sekarang, dan kurasa itu bisa kuterima. Jadi, uh, oke.

“Karena sekarang aku punya ‘kemarin,’ aku ingin tahu tentang hari esok…”

Selebihnya, aku perlu menyinggung soal pertempuran terakhir.

Pertempuran terakhir di versi TV asli, di versi episode spesial Final Plus, dan bahkan di versi kompilasi Special Edition juga, sama-sama ditampilkan agak singkat dan beneran berat sebelah. Di versi HD kali ini diperjelas soal apa sebenarnya yang para pembuatnya ingin buat, yaitu soal gimana Kira, Athrun, dan kawan-kawan mereka beneran dikejar waktu untuk mencegah penembakan ulang sebuah senjata penghancur massal, dan untuk itu mereka harus berhadapan dengan pasukan lawan yang membuat mereka benar-benar kalah jumlah.

Pertempuran final di versi HD ini, dengan temponya yang lebih tertata, terasa lebih genting dan seolah berlangsung jauh lebih imbang. Ada proses segmentasi yang diberikan di dalamnya, sehingga semua enggak lagi terasa terjadi sekaligus seperti sebelumnya. Bulan, yang menjadi latar pertempuran terakhir ini, sekaligus lokasi di mana benteng luar angkasa rahasia Messiah milik ZAFT disembunyikan, terasa jauh lebih besar. Juga diperjelas tentang bagaimana Cagalli Yula Atha tak ikut teman-temannya—yang ke luar angkasa, untuk mengumpulkan intelejensi tentang langkah berikutnya ZAFT—karena harus tinggal di Bumi sebagai hampir satu-satunya pemimpin dunia yang masih menentang pemimpin ZAFT, Gilbert Durandal. Ditambah lagi, keputusan ini jadi terasa sangat logis mengingat bagaimana pertempuran terakhir ini ternyata pecah karena perkembangan situasi yang benar-benar dadakan.

(…Kalau kalian membandingkannya dengan Gundam SEED dulu, hal ini memang kerasa agak mengecewakan mengingat bagaimana build up menuju pertempuran klimaks di seri itu benar-benar terasa dalam sepuluh episode terakhir.)

Umm, Yzak Joule dan Dearka Elmsman sama-sama tetap tak mendapat banyak porsi cerita. Mereka malah agak terasa jadi kayak comic relief di bagian-bagian akhir, kalau menilai dari percakapan yang berlangsung di antara mereka.

Lalu Shiho Hahnenfuss, yang berada di antara keduanya, juga masih tetap tak mendapat porsi bicara.

Tapi sekali lagi, pertempurannya lebih seimbang. Kira dengan MS Strike Freedom dan Athrun dengan MS Infinite Justice, serta Neo Roanoke dengan MS Shiranui Akatsuki Gundam, sama-sama dipaksa ‘ke mana-mana’ selama di medan perang karena saking banyaknya lawan mereka. Pasangan Shinn Asuka dengan MS Destiny Gundam dan Rey Za Burrel dengan MS Legend Gundam menjadi lawan tandingan yang lebih dari seimbang bagi Kira dan Athrun, yang keduanya sama-sama harus hadapi.

Rey di sini ditampilkan lebih jelas seperti apa pribadinya. Ada adegan-adegan percakapan ekstensif (agak panjang) antara dirinya dan Shinn menjelang episode terakhir, yang memuncak dengan pembeberan kalau usianya tak lama dan soal bagaimana dirinya adalah seorang klon. Di sini diperkuat kesan kalau Rey memang bermaksud untuk memanipulasi Shinn, tapi enggak lagi dalam artian kalau dirinya sepenuhnya jahat juga. Ada kesan kalau keputusasaan yang Rey sendiri rasakan terhadap keadaannya juga berusaha ditampilkan, dan keputusasaan ini yang membuatnya kayak menaruh harapan pada Shinn. Pilihan yang diambilnya agak sedikit berbeda dari apa yang Rau Le Creuset ambil, sekalipun motivasi yang melandasi keduanya persis sama.

Lalu lucunya, hampir sepenuhnya berlawanan dengan di versi aslinya, di versi HD ini, baik Kira maupun Athrun sama-sama terkesan menang ‘untung-untungan’ atas Rey dan Shinn. Apa yang terjadi di momen penentuan dalam pertarungan masing-masing memang sama dengan versi-versi terdahulu. Tapi entah gimana, penambahan durasi animasi sebelum adegannya malah menghasilkan kesan yang sama sekali beda.

Sesudah kejar-kejaran panjang dan saling adu DRAGOON, di mana keduanya saling menghindari dan menghancurkan DRAGOON satu sama lain, Kira menyadarkan Rey kalau terlepas dari kesamaan keduanya, Rey bukanlah Creuset. Lalu kesempatan yang timbul selama sesaat itu yang memungkinkan Kira untuk mengalahkannya.

It’s kinda weird. Ini sama persis dengan yang berlangsung dengan di versi-versi sebelumnya. Tapi aku menanggapi dan memahaminya dengan cara berbeda. Kalau dipikirin di konteks versi ini, entah gimana it does make some sort of sense. Ucapan itu yang mematahkan mantera yang Gilbert punyai atas Rey, dan yang kemudian melandasi pilihan yang Rey ambil di puncak cerita. Mungkin karena di versi ini, motivasi yang melandasi Rey lebih jelas dikemukakan dibandingkan versi-versi terdahulu.

Di sisi lain, kemenangan Athrun atas Shinn juga tak jauh beda. Intervensi tiba-tiba Lunamaria Hawke dengan MS Force Impulse Gundam (sesudah pertempuran berulang Luna dengan Black Tri-Stars) masih terjadi. Tapi cuma dengan adanya celah itu Athrun dapat bereaksi secepat kilat untuk melumpuhkan Destiny Gundam dalam jarak dekat sekaligus menyelamatkan Luna dari Shinn yang gelap mata. Adegannya kayaknya terasa lebih masuk akal karena sudah diperjelas tekanan apa yang dibebankan pada Shinn akibat manipulasi Rey atas dirinya. Lalu sesudah itu pun keadaan masih genting karena masih ada keperluan yang harus Athrun tangani.

Adegan kejar-kejaran panjang antara dua kapal induk, Archangel yang dipimpin Murrue Ramius, melawan Minerva yang dipimpin Talia Gladys, juga di luar dugaan lumayan kunikmati. Perseteruan dua kapal ini ditampilkan lebih intens, apalagi mengingat seringnya mereka berhadapan di episode-episode sebelumnya. Rivalitas antara dua pemimpin kapal induk menjadi hal agak langka dari sebuah seri Gundam, dan itu lumayan ditonjolkan di seri ini.

Archangel menang karena berhasil melakukan barrel roll yang menghancurkan sisa arnamen yang Minerva miliki, sebelum Athrun berhasil kembali tepat waktu untuk melumpuhkan permesinan Minerva. Tapi pertempurannya beneran nyaris, dengan Archangel yang sempat hampir kalah karena harus melindungi Eternal di mana Lacus Clyne berada, yang menjadi pusat komando seluruh pasukan mereka. Lalu di tengah klimaks itu pun mulai ditampilkan indikasi tentang alasan Talia menyuruh para awak kapalnya menyelamatkan diri sementara dirinya pergi ke tempat Durandal.

Lalu tentang adegan puncak di seri ini, yang menjadi salah satu teka-teki terbesar pada seri yang asli…

Damn. Ini agak menarik.

Tapi mending kalian lewati saja paragraf-paragraf berikut bila benar-benar tak mau di-spoiler. Walau apa yang berlangsung di adegan ini sejak awal memang agak enggak jelas juga sih.

Jadi, buat yang belum tahu, di sepanjang cerita SEED Destiny, diimplikasikan bahwa Talia dan Gilbert Durandal sama-sama pernah memiliki semacam hubungan di masa lalu. Lalu hubungan tersebut kandas karena Talia ingin bisa punya anak. Kaum Coordinator, di balik keunggulan genetik mereka, memang telah dikisahkan mengalami fenomena penurunan kesuburan, walau aku agak lupa persisnya itu dulu diceritakan di bagian mana. Lalu Talia akhirnya meninggalkan Gilbert secara baik-baik untuk menjalin hubungan dengan seorang pria lain, dsb. dan diimplikasikan bahwa akhirnya dia punya anak.

Cuma, yah, sesuatu nampaknya terjadi. Aku enggak yakin persisnya apa. Dan aku juga enggak yakin apakah anak Talia masih ada atau enggak. Sebab, mengingat suatu adegan tertentu di awal seri, dan menilai kepribadiannya, aku juga enggak yakin apa Talia masih berkeluarga. (Ini seriusan memperkuat dugaanku kalau semua perkembangan cerita ini sejak awal memang sudah direncanakan.)

Kalau aku ada info soal ini, nanti aku update deh.

Tapi kayak, tiba-tiba saja terlintas di kepalaku, pada adegan saat Kira menerobos masuk ke dalam Messiah untuk mengkonfrontasi Durandal dengan todongan pistol. Lalu di sana hadir juga Talia, Rey, dan kemudian Athrun. Kemudian semuanya tiba-tiba kayak ‘klik’ di kepalaku begitu saja.

Durandal telah terobsesi dengan Destiny Plan yang dicetuskannya, dan pada puncaknya ia melepaskan tembakan senjata pemusnah massal yang memakan nyawa pasukannya sendiri.

Kira hadir karena kelihatannya ia menyadari latar belakang dari mana Durandal berasal. Tapi selain itu terutama juga karena ancaman berulangkali yang Durandal telah lakukan terhadap nyawa perempuan yang dicintainya.

Rey hadir di sana karena kesadarannya berkat perkataan Kira.

Lalu Talia hadir di sana… untuk suatu alasan. Tapi sesudah tembakan senjata pemusnah massal yang dadakan itu, jelasnya Talia seperti merasa bertanggung jawab dan dilanda perasaan bersalah. Ia merasa dirinyalah pemicu awal mengapa Durandal sampai berubah jadi orang kayak demikian.

Kalau aku ceritainnya kayak gini, jadinya beneran enggak keren sih.

Tapi intinya, aku nangkepnya bahwa Talia menolak Durandal di masa lalu bukan sekedar hanya karena mereka tak bisa punya anak. Tapi lebih karena gimana Durandal demi punya anak itu, sampai melanggar traktat internasional dan melibatkan diri dalam proyek Ultimate Coordinator, dan berujung pada gimana salah satu klon seperti Creuset, yakni Rey, jatuh di bawah asuhannya. Lalu ada juga kemungkinan soal gimana Talia sempat menjadi surrogate mother bagi Rey ini, dan dia tak tahu pada mulanya, dan setelah segala konflik yang terjadi, mereka akhirnya putus secara baik-baik. Makanya Rey memanggil Talia dengan sebutan “Ibu”, dan karena itu pula baik Gilbert dan Talia sama-sama menanggung suatu luka masa lalu.

Lalu menyaksikan semua yang terjadi, hadir Kira dan Athrun, yang sama seperti kita, dari ekspresi muka mereka saja jelas-jelas kelihatan kalau mereka juga kebingungan dengan apa yang baru terjadi.

Muka mereka, di tengah semua kehancuran yang lagi berlangsung, sama-sama kayak… kehilangan kata-kata gitu. Keduanya, kayak kita, sama-sama nyadar bahwa sesuatu pasti pernah terjadi antara Durandal, Rey, dan Talia. Tapi mereka enggak tahu persisnya apa. Dan ini secara enggak disangka ternyata emang nyambung dengan tema ‘ikatan-ikatan masa lalu’ yang beberapa kali seri ini angkat.

Lalu aku kemudian tiba-tiba nyadar soal makna dimasukannya Athrun ke adegan ini.

Pada versi TV SEED Destiny yang orisinil, hanya Kira seorang yang mengkonfrontasi Durandal. Tapi karena suatu alasan, di versi Final Plus dan Special Edition, Athrun dibuat menyusulnya karena khawatir dengan tindakan yang diambil Kira sendirian.

Alasan Athrun jadi dimunculkan di adegan ini, padahal ujung-ujungnya dia terkesan enggak ngapa-ngapain (di samping karena secara teknis, dirinyalah tokoh utama yang sesungguhnya), kayaknya adalah agar dirinya bisa menyampaikan pesan Talia pada Murrue agar sesekali Murrue menengok anaknya.

Alasan Athrun yang mendapat peran ini tentu saja karena hanya Athrun saja di pihak Terminal yang pernah berinteraksi dengan mereka bertiga.

Lalu kenapa Talia sampai rela ikut mati, alasannya kurasa untuk menebus pilihan masa lalunya yang ternyata membuat Durandal dan Rey sampai ‘jatuh.’ Dan Talia bisa begini karena berada dalam kondisi di mana dirinya sudah tak lagi bisa melihat anaknya. Bisa jadi karena anaknya sudah wafat, dan ‘menengok’ yang dimaksudkannya adalah mengunjungi makam. Tapi kurasa bisa juga karena anaknya telah diadopsi oleh keluarga lain dan bukan ‘anaknya’ lagi.

Sama kayak masa lalu dari orang-orang yang kita sayangi, mungkin memang selalu ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang pada akhirnya takkan pernah bisa kita jawab.

The Chosen Future

Bicara soal mecha, SEED Destiny sayangnya memang termasuk yang agak kurang jelas kasusnya.

Aku enggak termasuk yang mempermasalahkan desain MS Infinite Justice, walau ada sebagian temanku yang memandang desain peralatan punggung Justice yang pertama jauh lebih keren. Tapi menonton SEED Destiny lagi memang membuatku nyadar kalau desain Strike Freedom ternyata benar-benar enggak bisa kuanggap keren. Terlepas dari konsep desainnya sendiri, persendian berwarna keemasan itu buatku agak ‘merusak,’ dan itu masih belum setengah dari keluhanku.

Tapi sudahlah.

…Mending aku enggak memulai perdebatan soal MS di sini.

Dulu pernah ada diskusi panjang tentang konsep desain Strike Freedom yang mencakup performa kecepatannya dibandingkan Destiny Gundam, sayap-sayapnya, persenjataannya, dan sebagainya. Jadi mending enggak kita ulas di sini.

Tapi aku sempat penasaran dengan jumlah tembakan sinar yang dilepas Strike Freedom pada saat Full Burst bila dibandingkan Freedom yang awal. Aku kayak terus menghitungnya berulangkali pada sejumlah adegan, karena konfigurasi persenjataan yang berbeda antara keduanya, dan ini menjadi kayak keisengan tersendiri. (Jawab: bila kedelapan DRAGOON Strike Freedom tak ikut ditembakkan, karena sulit berfungsi selain di luar angkasa, jumlah sinarnya sama-sama lima. Strike Freedom tak punya pasangan meriam bahu seperti Freedom. Tapi MS ini memiliki meriam di dada serta senapan ganda, dengan Beam Shield yang menghilangkan kebutuhan perisai yang semula ada di Freedom.)

Akhir kata, di versi ini pun, ceritanya still kinda sucks. Tapi ini relatif yang terbaik yang bisa kita dapat. Ini versi yang paling kurekomendasikan bila kalian tertarik pada SEED Destiny secara sepenuhnya. Dan aku tetap bersyukur versi ini ada karena aku jadi lebih bisa menghargai ceritanya.

Sutradara Fukuda Mitsuo di musim ini juga kudengar menjadi salah satu pencetus seri Cross Ange, di mana belum apa-apa sudah ada banyak keputusan penyutradaraan yang kontroversial di kalangan penggemar.

Agak susah menilai apakah hal-hal ini disengaja atau tidak, dan aku juga ga yakin apa aku punya kapasitas buat menilai. Tapi kayak… sengaja membuat orang enggak suka, kemudian suka, atau sebaliknya; nekat memanipulasi perasaan kayak gitu… apa boleh/layak dilakukan?

Pastinya, belajar dari karya-karya beliau, seenggaknya aku sadar kalau hal-hal tersebut memang bisa dilakukan.

…Aku masih perlu belajar banyak.

08/06/2014

Gundam Unicorn OVA 7: Over the Rainbow

Setelah masa penantian panjang, belum lama ini adaptasi animasi dari seri novel Kidou Senshi Gundam Unicorn karya Harutoshi Fukui berakhir dengan episodenya yang ketujuh (subjudulnya kira-kira berarti ‘di seberang pelangi’). Masih diproduksi oleh studio animasi Sunrise dan masih pula ditangani oleh staf yang sama, episode terakhir ini menandai akhir dari salah satu seri animasi mecha terkeren yang dimulai dari tahun 2010 (kayaknya ini menandai pula awal serialisasi seri OVA Gundam baru: Kidou Senshi Gundam: The Origin, tapi soal itu kita bahas lain waktu).

Menurutku pribadi, hasil akhirnya bisa dibilang benar-benar bagus.

Kalau ada kekurangannya, seperti yang sebelumnya pernah kusinggung, menurutku itu karena ini bukan jenis cerita yang bisa sepenuhnya dinikmati oleh non penggemar Gundam. Sejumlah bahasan abstrak di dalamnya, seperti soal ‘teori Newtype’ dan ‘pemahaman antar satu sama lain,’ mungkin agak terlalu abstrak bahkan untuk sejumlah penggemar Gundam sendiri. Keabstrakan yang dimaksud di sini itu seriusan abstrak, menyangkut pada perilaku berbagai karakternya serta berbagai keputusan yang akhirnya mereka ambil. Karenanya, aku enggak akan menyalahkan bila ada orang-orang yang merasa kurang sreg dengan sebagian perkembangan cerita di episode-episode akhirnya.

Kalau aku membahas soal itu lebih lanjut, itu bisa berakhir dengan perdebatan. Jadi biar aku tekankan saja kalau menurutku pribadi, enggak ada masalah sama sekali dengan perkembangan ceritanya. Aku lumayan merasa bisa mengerti apa yang terjadi (walau sebenarnya aku sendiri enggak yakin gimana). Lalu aku semakin terkesan pada Gundam Unicorn terutama karena berbeda dengan beberapa seri Gundam lain yang agak mengangkat tema-tema abstrak kayak gini secara maksa, ada sesuatu yang berusaha keras disampaikan oleh para pembuat seri ini. Lalu sesuatu tersebut, sebagaimana yang mungkin bisa dilihat dari beragamnya reaksi orang di Internet, sayangnya bukan sesuatu yang akan bisa tersampaikan secara jelas ke semua orang.

Yeah, persis kayak pertanyaan soal apakah kaum Newtype benar-benar ada apa enggak yang berulangkali digaungkan dalam berbagai seri Gundam berlatar zaman Universal Century.

Gundam Unicorn itu udah kayak seri anime yang membidik suatu bagian kecil dari pangsa pasar yang sudah menyempit, dan membidik suatu pangsa yang lebih sempit lagi dari bagian itu. Kalau ngebayanginnya kayak gitu, rasanya masuk akal bila seri ini diputuskan untuk dibuat dalam format rangkaian OVA dan bukannya sebuah seri TV.

Tapi sekali lagi, secara teknis saja seri ini sudah sedemikian kerennya, sehingga bahkan bisa menarik perhatian kalangan-kalangan yang mungkin sebenarnya tak terlalu berminat pada ceritanya. Lalu tamatnya, buatku seenggaknya, terbilang memuaskan.

Benar-benar memuaskan.

Aku jadi merasa ingin membandingkannya dengan seperti apa ceritanya di novel aslinya.

Warisan dan Peninggalan

Kotak Laplace yang dicari semua pihak akhirnya diketahui berada di koloni luar angkasa Industrial 7, tempat asal di mana semua ini bermula.

Kapal induk Nahel Argama, yang membawa gabungan pecahan dari pasukan Federasi Bumi pimpinan Otto Midas serta pecahan Neo Zeon yang setia pada Zinnerman, beradu cepat dengan pasukan Neo Zeon yang berpusat pada kapal induk Rewloola yang terbentuk oleh mereka yang setia pada sang pria bertopeng, Full Frontal.

Banagher Links, dengan menggunakan MS Full Armor Unicorn Gundam, mendahului teman-temannya untuk bisa tiba lebih awal di tempat tujuan. Namun ia dihadang Riddhe Marcenas, yang tiba-tiba saja telah menyusulnya menggunakan MS Banshee Norn. Riddhe kalut dan tak bisa menerima pilihan yang Audrey Burne ambil terkait apa yang akhirnya akan dilakukannya dengan kotak tersebut, dan menjadi lawan tangguh bagi Banagher. Terlebih saat hambatan ini membuat Nahel Argama sekali lagi berhadapan dengan pasukan Neo Zeon yang datang menyerang mereka di bawah pimpinan Angelo Sauper yang menggunakan MS Rozen Zulu.

Pada saat yang sama, para petinggi Federasi Bumi yang diwakili oleh ayah Riddhe, Ronan Marcenas, dengan ditemani oleh Martha Vist Carbine dan Alberto Vist, bibi dan saudara tiri Banagher, bertolak menuju pangkalan Cheyenne di Amerika Utara, yang menjadi pusat komando untuk sesuatu yang diberi nama kode System. Dari sana, mereka menjalankan rencana mereka untuk menghancurkan Kotak Laplace pada saat kotak tersebut akhirnya akan dibuka.

Cerita mencapai puncaknya saat Banagher dan Audrey tiba di kediaman keluarga Vist di fasilitas pembangun koloni Magallanica, di Industrial 7 yang telah diungsikan dari para penduduknya. Di sana, keduanya akhirnya berhadapan dengan kakek buyut Banagher, Syam Vist, penemu sesungguhnya dari Kotak Laplace. Dalam dialog yang berlangsung, Syam bermaksud mempercayakan nasib manusia yang dapat dipengaruhi Kotak Laplace kepada Banagher dan Audrey, perwakilan generasi baru, sekaligus manusia Newtype yang telah dipertemukan ke kotak tersebut oleh Unicorn Gundam.

Kotak Laplace terungkap sebagai Piagam Universal Century asli yang hilang dalam insiden pemboman stasiun ruang angkasa Laplace pada tahun 0000 UC, yang di dalamnya ternyata tercantum satu pasal terakhir yang telah dihilangkan dan ditutup-tutupi oleh pemerintahan Federasi Bumi. Pasal tersebut mengakui hak ‘manusia yang telah beradaptasi dengan luar angkasa’ untuk berperan serta dalam pemerintahan, dan keberadaan pasal tersebut membawa komplikasi fatal terkait dicetuskannya teori manusia Newtype oleh Zeon Zum Daikun pada beberapa dekade selanjutnya.

Sebelum Banagher dan Audrey dapat memberi keputusan, Full Frontal tiba-tiba saja hadir dan memberi ultimatum agar kotak itu tetap disembunyikan dan digunakan sebagai kartu negosiasi terhadap Federasi Bumi.

Mengetahui bahwa tak ada cara lain untuk menghentikan Full Frontal, yang dengan menggunakan MA raksasa Neo Zeong telah membajak kendali atas Magallanica dari Syam demi memaksakan kehendaknya, Banagher kembali menggunakan Unicorn Gundam untuk satu pertempuran terakhir.

Doa dan Kutukan — Berkeyakinan Pada Sebuah Kemungkinan

Satu hal yang agak susah kupercayai dari seri anime Gundam Unicorn adalah keberhasilannya dalam merangkum dan memaparkan berbagai kompleksitas dari novelnya. Ada banyak sekali nuansa mendalam yang tersirat pada setiap adegan di anime ini, terpapar lewat bahasa tubuh para karakternya serta ungkapan kata-kata yang mereka ambil, yang bisa terasa agak menyentuh sekaligus nostalgis bagi mereka yang paham.

Tapi bagi mereka yang enggak nangkep hal-hal ini, Gundam Unicorn dengan ini kuakui bisa jadi satu tontonan mecha yang mungkin agak membuat frustrasi. Mungkin bakal ada yang merasa bahwa ada yang sesuatu yang kurang ‘mutlak’ dengan seri ini. Atau sesuatu yang terasa mengambang. Atau sesuatu yang mereka anggap omongan gede atau filosofis yang terlalu dibesar-besarkan. Atau sesuatu yang simpelnya, kurang terjelaskan.

…Seriusan, agak susah ngejelasinnya. Tapi menurutku itu wajar saja.

Salah satu hal tertentu yang secara khusus kuperhatikan pada episode ini adalah bagaimana Banagher, seperti halnya Kira Yamato dalam Gundam SEED Destiny, telah menjadi saking hebatnya sehingga mampu untuk selalu melumpuhkan MS lawan-lawannya tanpa membunuh mereka. Tapi ketimbang bikin aku merasa “Wow”, hal ini lebih kayak bikin aku merasa “Hm?”

Soalnya, walau ini kedengeran aneh, ini satu sisi Gundam Unicorn yang malah membuatnya agak seperti Turn A Gundam dalam hal penyelesaian konflik-konfliknya; sebenarnya lebih menekankan tentang pencarian solusi ketimbang konfrontasinya (dalam arti: enggak ada adegan ‘serangan penghabisan terakhir’ yang dilancarkan), sekalipun adegan-adegan aksinya terbilang sangat keren.

Dan yeah, segala aksi yang dihadirkan di episode ini benar-benar luar biasa. Hampir semuanya sudah ‘main’ senjata-senjata remote seperti funnel dan incom, serta I-Field.

Seperti beberapa episode sebelumnya, ada banyak sekali MS dari berbagai jenis yang tampil dan berperan dalam seri ini. Saking banyaknya sampai aku enggak bisa menyebut satu-satu. Dua yang mungkin perlu kusebutkan dari segi MS produksi massal adalah MS Bawoo milik Neo Zeon yang dapat membelah menjadi dua pesawat; serta Jegan milik Conroy, pemimpin tim ECOAS, yang memiliki skema kamera pada muka yang teramat keren, saat menggunakan Mega Bazooka Launcher yang terpasang di atas Nahel Argama.

Karakter Gael Chan, pengawal mendiang ayah Banagher, Cardeas Vist, tampil kembali di episode ini sebagai orang yang merawat Syam Vist sepeninggal Cardeas. Saat Full Frontal muncul menggunakan Neo Zeong, dia melakukan tindakan berani dengan menghadapinya seorang diri menggunakan MS Silver Bullet.

Silver Bullet ini menurutku merupakan salah satu MS terkeren di episode ini. Didasarkan pada MS Doven Wolf milik Neo Zeon (MS yang sempat lama kubenci karena terus-terusan menghajarku di Super Robot Wars 3), namun dengan menggunakan bentuk kepala Gundam, MS ini memiliki persenjataan misil pada bahunya, sepasang incom kawat, dan kepalan tangannya bahkan juga bisa dilepas dengan kawat seperti halnya Zeong.

Tentu saja, tiga MS utama yang menjadi sorotan karena tampil dalam pertempuran terakhir adalah Full Armor Unicorn Gundam, Banshee Norn, serta Neo Zeong sendiri.

Neo Zeong tentu saja didasarkan pada Zeong, MA eksperimental yang digunakan Char Aznable dalam pertarungan terakhirnya melawan Amuro Ray pada Perang Satu Tahun. Tapi di samping memiliki kaki, ukurannya itu jauh, jauh lebih besar. Dengan tembakan-tembakan beam yang dapat dilepas dari semua jarinya, beserta sejumlah senjata berat lain, keberadaannya jadi hampir menyerupai Psyco Gundam yang dikemudikan Four Murasame di seri Zeta Gundam (Oke, atau Destroy Gundam yang digunakan Stella Loussier di seri Gundam SEED Destiny) karena ukurannya yang raksasa. Yang menarik adalah bagaimana MA ini menggunakan Sinanju, MS pribadi Frontal, sebagai ‘inti’-nya. Lalu MA ini dapat bekerja otomatis dan bereaksi terhadap serangan sekalipun Frontal tak berada di dalamnya. Bahkan MA ini dengan kawat-kawatnya dapat membajak MS-MS musuh untuk menjadi ‘funnel’-nya. MA ini memungkinkan Frontal menjadi lawan yang teramat mengerikan bagi Banagher dan kawan-kawannya, sekalipun ia tampil seorang diri di Industrial 7 tanpa kawalan pasukan sama sekali.

Unicorn Gundam dan Banshee Norn sama-sama memperlihatkan tingkat kekuatan baru dengan cahaya psychoframe mereka yang berubah warna. Di episode kali ini, aku mesti akui kalau warna pendaran hijau lebih cocok untuk Unicorn ketimbang merah. Seluruh perisai Full Armor Unicorn Gundam (ada lebih dari satu), yang masing-masing darinya mampu menghasilkan I-Field, juga telah dapat digunakan Banagher sebagai funnel, dan ini membuatnya menjadi lawan yang teramat sangat kuat (funnel-nya ini benar-benar kelihatan lebih kuat dari rangkaian fin funnel yang Nu Gundam miliki). Adegan saat Banagher dan Riddhe bersepakat untuk mengalahkan Frontal benar-benar keren karena MS masing-masing mulai titik itu menghasilkan kekuatan yang belum pernah dilihat sebelumnya.

“Cahaya Ini Tak Hanya Berasal Dari Kita.”

Walau di atas aku bilang kalau aku merasa bisa memahami inti ceritanya, sebenarnya, ada lumayan banyak adegan di episode ini yang membuatku terkesima sekaligus mikir. Perkembangan ceritanya kudengar berbeda dengan perkembangan di seri novelnya, jadi aku lumayan penasaran untuk membandingkannya.

Bright Noa, dari kesatuan Londo Bell, yang mengomandoi kapal induk Ra Cailum, kali ini tampil lebih menonjol di episode ini sesudah tip dari Kai Shiden memberitahunya tentang keberadaan System. Adegan saat ia memimpin pasukannya untuk menyerbu masuk ke Pangkalan Cheyenne, dan mengkonfrontasi orang-orang yang ada di sana, diikuti dengan interaksi karakter yang lumayan menarik sehubungan dengan apa-apa selanjutnya yang terjadi.

System terungkap sebagai Colony Laser dari koloni luar angkasa Gryps 2, yang telah diperbaiki semenjak zaman Zeta Gundam (yang juga menjelaskan mengapa kapal induk General Revil tak mengejar sampai ke Industrial 7). Lalu sekalipun telah ditentang Bright, Ronan Marcenas akhirnya begitu menyesal telah menarik pelatuknya saat ia mengetahui bahwa Riddhe ternyata berada di sana.

Full Frontal sekali lagi ditekankan sebagai semacam manusia buatan yang ‘dibentuk’ untuk menjadi pengganti Char. Tak dibeberkan fasilitas mana dari Zeon yang melandasi penciptaannya. Tapi di mataku kelihatannya diindikasikan bahwa tempat manapun darinya berasal telah menjadi ‘masa lampau.’ Di episode ini dijabarkan keyakinannya bahwa dirinya akan menjadi wadah bagi kehendak kolektif umat manusia, serta soal bagaimana cahaya dan kehangatan yang Banagher perlihatkan lewat psychoframe pada akhirnya takkan mengubah apa-apa, dan pada akhirnya hanya akan membawa semua kembali pada ketiadaan.

Konfrontasi terakhir antara Banagher dan Frontal sendiri juga banyak diwarnai oleh ‘keajaiban’ psychoframe. Neo Zeong dilengkapi dengan lingkar psychoframe berukuran raksasa (yang seketika meletuskan semua senjata yang mengandalkan kekuatan pikiran), yang akhirnya beresonansi dengan psychoframe yang Unicorn Gundam miliki, dan menampilkan visi-visi masa lalu dan masa depan(?) kepada Frontal dan Banagher. Walau tak… semisterius kilasan-kilasan metafisik di Eureka Seven, ini buatku mungkin merupakan adegan paling tak disangka di sepanjang seri ini. Baik Banagher maupun Frontal sama-sama seolah terbawa ke alam lain. Nuansanya menurutku agak miirp dengan apa yang terjadi di Space Runaway Ideon. Lalu semua berakhir di tengah ‘ketiadaan’ saat Banagher seakan berhasil menemukan jalannya kembali.

Bicara soal fenomena Newtype, salah satu adegan terpenting di seri ini, tentu saja, adalah adegan wafatnya Marida Cruz. Baik dirinya maupun MS Kshatriya yang digunakannya telah sama-sama kepayahan, dengan Marida terutama telah kelelahan secara fisik dan mental akibat kendali pikiran yang dialaminya. Namun kematiannya memberi arti saat rohnya berbicara secara langsung dan terdengar oleh hampir semua pihak yang terlibat dalam perseteruan ini. Perpisahannya dengan Zinnerman lumayan terasa berat mengingat perkembangan yang mereka alami pada episode sebelumnya. Tapi setelah segala trauma dan pengalaman keras yang dijalaninya (yang dijabarkan lebih gamblang di novel-novelnya, salah satunya soal bagaimana secara biologis dirinya tak lagi bisa memiliki anak), kematian mungkin merupakan hal yang takkan sulit diterima olehnya. Saat Alberto pun ternyata menangisi Marida, itu juga salah satu adegan yang tak kusangka. Sepertinya dirinya memang telah sungguh-sungguh mencintai Marida, sekalipun pada waktu itu pikiran Marida berada dalam keadaan dikendalikan.

Tentang Alberto, alasan mengapa ia berpihak pada bibinya, dan sampai merencanakan kematian ayahnya sendiri, juga terungkap. Memikirkannya lagi ke belakang, adegan ini seolah mengindikasikan bahwa Cardeas pun tak dari dulu merupakan orang yang baik, dan membuatku bisa membayangkan keadaan apa yang membuatnya kemudian berusaha melepas masa lalunya dengan menikahi Anna. Kata-kata Alberto pulalah yang akhirnya menegaskan kekalahan telak yang harus Martha terima.

Tentang konflik pribadi Riddhe yang alami, ini agak susah dijabarkan. Kalau menurutku, segala pertentangan batin yang dialaminya, menyangkut urusan perpolitikan keluarganya, memuncak seiring dengan insiden Kotak Laplace. Tapi di sisi lain, ia merasa sempat menemukan solace-nya dalam sosok Audrey yang berasal dari latar belakang yang serupa dengannya. Karenanya, ia merasa amat sangat tersakiti saat mengetahui Audrey mau mengambil jalan yang berbeda darinya, sebab ‘harapan’ yang semula ia sangka ada di hadapannya tahu-tahu hilang. …Faktor lainnya, adalah karena keberadaannya sebagai Newtype, yang kesadarannya yang telah ‘memuai’ menjadikannya teramat sangat perasa.

Beberapa hal yang patut aku singgung adalah adegan pembuka dari seri Kidou Senshi Gundam paling awal, yang mengetengahkan Perang Satu Tahun, yang dibuat kembali di episode ini, tentu saja dengan animasi lebih baru. Itu lagi-lagi satu kejutan yang tak aku sangka. Lalu adegan kalahnya Angelo, yang sepertinya ditaklukkan Banagher semata-mata dengan kekuatan Newtype-nya? (Lalu ia melakukan hal yang sama pada seluruh pasukan MS dari General Revil yang mengejar?!) Lalu tentang bagaimana Frontal pun takluk sesudah ia dihadapkan pada roh Char Aznable dan Lalah Sune. Suara Amuro Ray, meski hanya satu kalimat, juga terdengar pada titik ini, yang menyiratkan pada keyakinan soal bagaimana masa depan masih bisa dipercayakan pada generasi baru untuk satu ‘kemungkinan’ yang masih ada.

Soal adegan paling keren? Menurutku saat Banagher bersusah payah melawan hilangnya gravitasi, melayang-layang di udara sekaligus memanjati pepohonan, saat tanah Industrial 7 hancur oleh kemunculan Neo Zeong. Saat dirinya kemudian ‘memanggil’ Unicorn Gundam agar datang padanya benar-benar keren.

Seri Gundam Unicorn akhirnya ditutup dengan keberhasilan Riddhe memanggil kesadaran Banagher kembali dari dalam psychoframe, seiring dengan berakhirnya pidato Audrey, sebagai Mineva Lao Zabi, yang disiarkan dari Magallanica (dengan membajak saluran-saluran telekomunikasi) tentang isi sesungguhnya dari Piagam Universal Century. …Ini mungkin cuma aku, tapi adegan tersebut itu kayak tanggapan terhadap akhir movie Gundam 00 tempo hari. Tapi sekali lagi, mungkin ini cuma aku.

Aku suka akhir yang seri ini bawa. Memaparkan ketidakpastian terhadap masa depan, pertanyaan tentang apakah keputusan Banagher dan Audrey untuk mengikuti amanat mendiang Cardeas sebenarnya berdampak atau tidak, dan soal bagaimana mereka kemudian harus pindah dengan menggerakkan seisi Magallanica menjauh dari kejaran Federasi.

Tapi walau melihat peperangan mungkin masih akan berlanjut di seri-seri UC yang berlatar lebih di depan, kurasa iya. Dengan dibeberkannya Kotak Laplace, kuasa Yayasan Vist atas Federasi lenyap, dan tak akan ada lagi pihak yang mampu memanfaatkannya untuk kepentingan mereka lagi. Lalu mengungkapkan pada para korban, dalam hal ini pihak Zeon, bahwa keadaan buruk yang mereka alami diakibatkan karena suatu ‘kegagalan,’ dan bukan kezaliman yang telah direncanakan sejak awal, kurasa sebenarnya berdampak besar…

Berhubung ini episode terakhir, kurasa ini waktunya aku juga memberi penilaian terhadap seri ini secara menyeluruh.

(…Buat yang ingin tahu, ya, kalau menilai dari adegan-adegan yang terjadi, aku juga berpendapat kalau Mihiro Oiwakken disiratkan telah lama diam-diam mencintai Riddhe.)

Penilaian

Konsep: A+; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: X