Posts tagged ‘Gonzo’

30/05/2017

Bokurano

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

Iklan
06/07/2016

NHK ni Youkoso!

Dunia ini suram. Sudah tak lagi ada harapan. Jangankan bertatap muka dengan orang, buat melangkah ke pintu saja aku ketakutan.

Kenapa? Kenapa aku bisa berakhir begini? Aku… tak bisa berhenti gemetaran. Mereka menertawakanku. Aku tahu kalau mereka pasti sebenarnya menertawakanku! Aku selalu jadi aneh kalau harus berbicara. Bahkan sekedar berada di sana, aku bisa merasakan sorot mata merendahkan dari orang-orang!

Tapi tidak… tidak mungkin sesuatu seperti ini bisa semata terjadi karena salahku.

Ya!

Ini pasti terjadi karena mereka! Bagaimana mungkin hal seabsurd ini bisa tahu-tahu terjadi begitu saja? Tak mungkin sesuatu seperti ini bisa terjadi dengan sendirinya!

Hanya ada satu kemungkinannya.

Tanpa kusadari, rupanya aku telah menjadi korban dari sebuah KONSPIRASI.

Mimpi-mimpi dan Harapan

Pada pertengahan dekade 2000an, ada semacam ketidakpastian aneh soal dunia akan bergerak ke arah mana. Itu adalah zaman ketika Internet sudah ada, tapi berbagai aplikasi dan media sosial masih belum merambah kehidupan kita seperti sekarang. Lalu seiring dengan datangnya Internet tersebut, muncul pula berbagai metode yang memungkinkan kita untuk bisa memenuhi barang-brang kebutuhan kita tanpa ke luar rumah.

Hm, mungkin dari sana sindrom hikikomori berasal.

Untuk yang belum tahu, hikikomori adalah sebutan bagi orang-orang yang mengurung diri mereka di dalam rumah atau bahkan kamar mereka. Karena satu dan lain sebab, mereka tahu-tahu menolak segala bentuk interaksi sosial. Mereka berhenti bekerja atau bersekolah. Lalu sebagai akibat dari terlalu lama mengurung diri tersebut, mereka jadi merasakan keengganan atau bahkan ketakutan luar biasa kalau seandainya harus membawa diri ke lingkungan luar.

Fenomena ini mulai mencuat ke permukaan publik Jepang pada dekade 2000an dan tetap mendapat banyak sorotan sampai awal-awal dekade 2010an. Sekarang, pada saat ini aku tulis, fenomenanya sudah agak memudar sih, walau orang-orang yang menderitanya masih ada.

Di sekitaran zaman itu, mulai muncul istilah yang menyebut suatu golongan masyarakat sebagai NEET (not under employment, education, or training). Istilah ini intinya mengacu pada lapisan masyarakat yang tidak memegang pekerjaan tetap, tidak sedang menempuh pendidikan, dan juga tidak sedang menjalani pelatihan. Lalu para hikikomori ini merupakan salah satu subset dari mereka.

NHK ni Youkoso! atau Welcome to the N.H.K. (‘selamat datang ke NHK’) yang dipenai oleh Takimoto Tatsuhiko merupakan seri yang menyoroti tema tersebut. Ceritanya pertama terbit dalam bentuk novel dari Kadokawa Shoten dengan ilustrasi buatan Yoshitoshi ABe yang dikenal lewat ilustrasi beliau di NiEA Under 7 dan Serial Experiments Lain.

Semula, aku dengar novel ini terlahir sebagai semacam karya semi-otobiografi dari Takimoto-sensei sendiri saat menjadi seorang ‘hikikomori dalam pemulihan.’ Versi awal ceritanya kalau tak salah sempat muncul dalam situs cerita Boiled Eggs sebelum diterbitkan secara resmi. (Sayangnya, bahkan setelah menerbitkan ini, Takimoto-sensei konon sempat lama vakum dan tak mengeluarkan karya apa-apa lagi, dan hanya hidup serampangan dengan hasil honor penerbitan yang diperolehnya, karena penyakit hikikomori-nya masih belum sembuh). Tapi kemudian aku juga dengar kalau ide ceritanya konon berasal dari rembukan malam-malam dadakan di suatu family restaurant bersama sahabatnya sesama pengarang, Sato Yuya (Sato Yuya yang membuat novel Dendera itu?!), karena dia sedang kehabisan ide cerita pas dia juga harus berhadapan dengan perwakilan Kadokawa esok harinya.

Pada tahun 2004, seri ini kemudian diadaptasi ke bentuk manga yang dibuat oleh Oiwa Kendi (kalau tak salah, beliau yang membuat adaptasi manga dari seri drama pembunuhan remaja GOTH) dengan naskah yang (sepertinya) masih dipenai Takimoto-sensei. Serialisasinya berlangsung selama tiga tahun di majalah Monthly Shonen Ace punya Kadokawa Shoten, sebelum tamat dengan cerita sebanyak delapan buku.

Lalu pada tahun 2006, seri ini kemudian diangkat ke bentuk anime 24 episode dengan produksi yang ditangani GONZO. Sutradaranya adalah Yamamoto Yuusuke, naskahnya ditangani oleh Nishizono Satoru, dan musiknya diaransemen oleh Pearl Brothers.

Ada beberapa perbedaan agak mencolok antara versi-versinya. Versi novel aslinya terutama, yang hanya terdiri atas satu buku, memiliki kesan lebih suram dan gritty. Versi manganya terasa seperti semacam ekspansi dari versi novelnya, dengan pengembangan cerita lebih lanjut, beberapa penyesuaian karakter, serta tampilnya sejumlah tokoh baru. Sedangkan versi animenya semula terasa lebih mengikuti versi manganya, sebelum menjelang tamat agak berubah haluan ke tamat yang lebih dekat ke versi novel.

Mimpi-mimpi dan Konspirasi

Berlatar di wilayah suburban Tokyo, NHK ni Youkoso! berkisah tentang seorang pemuda hikikomori di usia menjelang pertengahan dua puluhan tahun bernama Satou Tatsuhirou yang pada suatu hari berkesimpulan kalau nasibnya yang menyedihkan sebenarnya akibat manipulasi suatu konspirasi besar dan misterius.

Dalang konspirasi ini diyakininya adalah organisasi rahasia NHK, Nihon Hikikomori Kyoukai (‘organisasi hikikomori Jepang’), yang Satou yakini bertujuan untuk menciptakan suatu lapisan masyarakat hikikomori yang akan ditertawakan dan direndahkan oleh lapisan-lapisan masyarakat lain yang lebih unggul. (Iya, salah satu daya tarik seri ini ada pada bagaimana keyakinan konyolnya ini tak punya dasar jelas, tapi terus senantiasa membayanginya di sepanjang cerita.)

Satou telah menganggur selama empat tahun sejak sindrom social withdrawal-nya muncul. Sindrom ini pula yang menyebabkannya sampai drop out dari kuliah dan menjalani kesehariannya tanpa arah jelas. Sehari-hari, ia hanya berdiam di kamar apartemennya (yang dalam manga dan anime, diperlihatkan sebagai sebuah wisma bernama Mita House). Semenjak itu, Satou hidup hanya dengan uang kiriman dari orangtuanya di pedesaan, dan hanya keluar dari apartemennya pada larut malam saat mau membeli barang-barang kebutuhan hidup dari convenience store.

Meski ‘menyadari’ keberadaan konspirasi ini dan telah bertekad untuk melawan pengaruhnya, Satou sayangnya tetap tak mengalami kemajuan.  Sebulan tahu-tahu saja kembali sudah berlalu. Tapi Satou masih saja belum sanggup menguatkan hati untuk keluar kamar.

Sampai suatu ketika… takdir seakan mempertemukan Satou dengan seorang gadis remaja belasan tahun bernama Nakahara Misaki. Sesudah pertemuan pertama mereka (yang mungkin kebetulan tapi mungkin juga bukan), Misaki menyelipkan lewat lubang surat di pintu Satou sebuah undangan sekaligus tawaran kontrak. Isi kontrak itu adalah tawaran untuk bergabung dalam suatu ‘proyek’ seandainya Satou ingin bisa sembuh dari ke-hikikomori-annya.

“Purupurupururin!”

Sebenarnya, bukan hanya pertemuan dengan Misaki saja yang kemudian mengubah hidup Satou. Dalam kurun waktu hampir sama, Satou juga mengetahui bahwa tetangganya yang selama ini membuatnya terganggu dengan menyetel lagu-lagu anime keras-keras tak lain adalah Yamazaki Kaoru, adik kelasnya semasa SMA yang dulu pernah dekat dengannya semasa tergabung di Klub Literatur.

Begitu menyadari bahwa ternyata Satou yang selama ini bertetangga dengannya, Yamazaki langsung bahagia. Alasannya karena semenjak datang ke Tokyo untuk kuliah, dirinya mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman. Bahkan saat Satou tiba-tiba mendobrak masuk ke kamarnya untuk protes soal musiknya yang keras, Yamazaki sebenarnya tengah menangis sedih karena mulai berpikiran untuk pulang ke kampung halaman, yang seketika tergantikan dengan tangisan haru.

Jadilah, lewat pertemuan dengan dua orang ini, dua plot utama NHK ni Youkoso! kemudian terjalin. Satu, hubungan aneh Satou dengan Misaki yang mengklaim kalau dirinya punya kemampuan untuk menyembuhkan Satou (lewat sesi-sesi konseling yang mereka laksanakan malam-malam di taman dekat Mita House). Dua, upaya penuh ketidakpastian Satou dan Yamazaki untuk memberi makna pada hidup mereka dengan menciptakan game erotis terhebat sepanjang masa.

Tentu saja, semua itu bergantung pada perjuangan Satou untuk bisa lepas dari jerat konspirasi NHK.

“Pururu-in!”

Perlu diperhatikan kalau versi novel NHK ni Youkoso! bersifat one shot.  Jadi bukan berseri. Sedangkan versi manganya bisa dibilang semacam versi ‘ekspansi’ yang di dalamnya, Satou dan kawan-kawannya (entah gimana) seakan jadi ‘mengeksplorasi’ satu demi satu bentuk alternatif ‘melarikan diri dari kenyataan’ yang bisa mereka temukan (turut tercakup di dalamnya: soal mendalami BDSM dan hidup sebagai gelandangan). Cerita di manganya lebih panjang. Karakterisasi para tokohnya agak beda. Di samping itu, juga ada lumayan banyak tokoh baru bersifat tambahan.

Adaptasi animenya sendiri semula seperti akan lebih mengangkat cerita versi manganya ini. Ditandai dengan pertemuan kembali Satou dengan Kashiwa Hitomi, kakak kelas cantik yang dengannya Satou sempat menjalin hubungan singkat saat yang bersangkutan patah hati, dan hingga kini ternyata masih dilanda depresi (dia juga karakter menonjol); sampai pertemuan Satou dengan Kobayashi Megumi, bekas ketua kelasnya yang kini menjadi front untuk suatu bisnis MLM mencurigakan. Tapi menjelang akhir, terasa ada sedikit haluan berganti. Lalu akhir ceritanya kembali jadi lebih dekat ke versi novelnya dengan fokus kembali pada misteri latar belakang Misaki yang akhirnya berhasil Satou ketahui.

Bicara soal kualitas teknis animenya, Gonzo sedang terkenal-terkenalnya sebagai studio spesialias animasi CG pada masa itu. Karenanya, bagaimana animasi 2D dan permainan warna lebih banyak ditonjolkan di NHK ni Youkoso! menjadi kejutan yang bagiku mencolok. Gaya visualnya sedehana, tapi memaparkan banyak detil latarnya secara baik. Lalu ini dihiasi dengan penataan audio yang benar-benar bagus.

Satu hal menarik adalah bagaimana paruh awal animenya, yang masih banyak diselingi bumbu komedi, banyak menggunakan warna-warna cerah. Tapi nuansa ini perlahan berubah seiring dengan datangnya musim dingin, yang menandai semakin gelapnya perkembangan cerita. Mulai dari Yamazaki yang tak lagi bisa menolak panggilan ortunya untuk pulang kampung, serta semakin terkuaknya hal-hal yang Satou dan Misaki selama ini sembunyikan dari satu sama lain.

Cerita NHK ni Youkoso! menurutku seriusan bagus. Terlepas dari berbagai hal gila dan mencurigakan dan sesat yang tersirat di dalamnya (seperti bagaimana semua halusinasi Satou, tentang alat-alat rumah tangganya yang berulangkali bisa berbicara dan memberinya nasihat, sebenarnya lebih disebabkan oleh zat-zat halusinogenik ‘legal’ yang dikonsumsinya bersama Yamazaki), ceritanya mengandung pesan moral yang lumayan kuat.

Intinya, mungkin soal… keinginan untuk bisa menjadi lebih baik ‘kan?

Terlepas dari seberat dan sesakit apapun?

Semua karakter, baik sentral maupun sampingan, sama-sama mempunyai kelemahan dan masalah mereka masing-masing. Satou dengan semua delusi dan prasangkanya. Yamazaki dengan egonya dan bawaannya untuk memandang rendah orang. Lalu Misaki dengan masalah ketergantungannya terhadap orang lain, yang berakar dari kondisi keluarganya yang buruk di masa lalu.

Tema-tema yang diangkat juga seputar hubungan-hubungan pribadi, kecendrungan-kecendrungan sosial, sampai falsafah hidup. Lalu semua disampaikan dalam bentuk komedi yang sebenarnya agak ‘hitam’ untuk ditertawakan.

Soal aspek audionya yang beneran keren, BGM yang dibawakan Pearl Brothers lumayan berhasil mencakup beragam emosi. Mulai dari hari-hari lesu di Mita House sampai ke saat-saat penuh suspens ketika Satou harus berhadapan dengan orang asing dan kegugupannya mencengkram. Seri ini juga salah satu yang menonjolkan bakat seiyuu Makino Yui yang sedang tenar-tenarnya di masa itu, walau para seiyuu lainnya juga berperan dengan benar-benar baik. Lagu “Puzzle” yang dibawakan Round Table ft Nino menjadi pembuka yang gampang didengar dengan temanya yang tentang adanya suatu hal tersamar yang harus dipecahkan. Sedangkan lagu penutup pertama “Odoru Akachan Ningen” yang dibawakan Ohtsuki Kenji dan Kitsu Fumihiko adalah lagu yang paling kuat mencerminkan nuansa khas seri ini tentang orang-orang stres dan putus asa.

Singkatnya, bagiku ini seri yang dari awal sudah pasti bakal berkesan.

“Kalau kau tak melihatnya, kau takkan jatuh cinta. Kalau kau tak jatuh cinta, maka kau tak akan tersakiti.”

Aku pertama kali tahu tentang seri ini dari seorang kenalanku yang membicarakannya lewat Internet. Waktu itu, dia kayak cuma nyerocos tentang berita akan diangkatnya seri ini menjadi anime. Hanya saja, tak ada orang lain di komunitas kami yang waktu itu sudah tahu tentangnya.

Makanya, baru agak belakangan aku tahu tentang kebagusan seri ini.

Karena judulnya aneh, tentu saja aku penasaran. Lalu sesudah menggali info, baru aku tahu kalau referensi stasiun televisi NHK di judulnya memang cuma dijelaskan dalam versi novelnya. (Intinya, Satou heran kenapa stasiun televisi yang sangat terhormat ini menayangkan anime-anime yang visualnya kayaknya diperuntukkan bagi anak-anak di jam-jam dini hari saat anak-anak harusnya belum bangun. Satou kemudian menduga bahwa anime tersebut sebenarnya sejak awal memang diperuntukkan bagi para hikikomori. Lalu dari sana, Satou berkesimpulan secara konyol bahwa stasiun televisi itu memang punya peran terselubung untuk menambah jumlah hikikomori di Jepang.)

Yah, soal perbedaan antara versi-versi ceritanya: Satou terpengaruh oleh Yamazaki hingga menjadi seorang otaku kelas berat pada semua versi cerita. Misaki-chan memiliki sisi yang agak manipulatif dalam versi manganya. Versi manganya sendiri memang terasa agak keterlaluan dengan ceritanya yang ke mana-mana (membuat para karakternya berkesan semakin menyedihkan). Lalu… hmm, Hitomi-sempai hanya muncul sekilas di versi novelnya lewat perjumpaan kebetulannya dengan Satou (memberitakan bahwa dirinya baru bertunangan dan sebentar lagi akan menikah), lalu Megumi bahkan tak muncul dalam versi novel sama sekali. Kemudian apa yang kelihatannya adalah referensi ke anime komedi Di Gi Charat kemudian diganti jadi suatu ‘anime dalam anime’ orisinil khusus untuk seri ini yaitu Puru Puru Pururin (lagu temanya sempat menjadi ringtone yang benar-benar terkenal, pengisi suaranya adalah Shishidou Rumi, dan inspirasi soal bagaimana perabotan rumah tangga menjadi hidup kelihatannya datang dari anime ini).

Oh. Berhubung tema ceritanya memang agak ke ranah sana, seri ini memang lebih bisa dimengerti oleh kalangan penggemar berusia lebih dewasa. Jadi, kayak biasa, jangan memaksakan diri.

Sekali lagi, versi novelnya lebih suram dan edgy. Lebih terasa kegilaan dan stres para karakternya pada versi ini. Pemikiran-pemikiran para karakternya juga paling terasa masuk. Sedangkan manganya lebih terasa seperti komedi yang ke mana-mana.

Jadi iya, versi animenya, yang seakan menyeimbangkan semuanya, menurutku yang paling berkesan. Eksekusinya seriusan bagus. Kayak, kita enggak pernah benar-benar tahu selanjutnya kita bakal dibawa ke mana. Tapi kita enggak bisa lepas karena penasaran ingin tahu apa selanjutnya yang bisa terjadi. Lalu semuanya juga kayak berhasil diakhiri di saat yang tepat.

“Tanpa jaminan pangan, sandang, dan papan, kecuali kau sudah siap mati, maka kau tak punya pilihan selain bekerja.”

Yah, akhir kata, sebagai orang yang sedikit banyak pernah depresi, aku mendapat sejumlah pelajaran dari seri ini.

Melihat Satou, yang sebenarnya bukan orang bego dan sebenarnya punya bakat, menjadi menderita berkepanjangan seperti ini benar-benar kayak menggugah beberapa hal. Lalu kayak yang kemudian aku pelajari belakangan dari main Persona 3, benar bahwa makna kita hidup sebenarnya adalah untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Saat menghadapi kematian, kita semua pada akhirnya pasti akan kembali sendirian. Di tengah kesendirian, mungkin kita bakal merasa utuh dan alami. Tapi tanpa orang lain, hidup kita takkan memiliki arti. Jadi wajar saja bila sesudah semua yang terjadi, Misaki tetap memutuskan untuk bergantung pada Satou, dan demikian pula sebaliknya.

Lagipula, hanya karena kita berpisah, itu tak berarti kita takkan bertemu lagi.

Jadi, uh, lawanlah konspirasi itu.

Kau pasti bakal bisa melakukannya kalau demi orang lain! (Mungkin.)

(Ngomong-ngomong, ini seri pertama yang juga membuatku menyadari kalau Gonzo sebenarnya lebih bagus mengadaptasi karya yang sudah ada ketimbang membuat keluaran mereka sendiri.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A: Audio: S; Perkembangan: A-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

07/07/2013

Gantz

Manga aksi sains fiksi Gantz karangan Oku Hiroya berakhir belum lama ini.

Aku agak skeptis kalau seri ini bisa dilisensi. Jadi mungkin ada perlunya juga kalau ini kusempetin dibahas. (Kalau kupikir, dalam rentang waktu antara tahun 2012-2013 ini, ada banyak banget seri manga populer dan panjang yang akhirnya berakhir. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan, bahkan Naruto pun akan menyusul sebagai salah satunya.)

Ketenaran Gantz sempat mencuat beberapa kali di sepanjang masa serialisasinya. Pertama, di tahun-tahun awal waktu manganya baru mulai terbit (di majalah Weekly Young Jump milik Shueisha, di awal banget dari dekade 2000an). Kedua, pada tahun-tahun saat adaptasi animenya mengudara (yang dibuat Gonzo di tahun 2004, dua season, dengan total 24 episode, dengan Itano Ichiro yang terkenal berkat adegan-adegan mecha beliau sebagai sutradara). Ketiga, saat dua film layar lebar live action-nya dibuat pada tahun 2011.

Gantz pertama-tama mencolok karena  cara Oku-sensei membuatnya. Daripada menggambarnya begitu saja, sesudah membuat name per halaman, beliau menciptakan model 3D dari para karakter dan latar belakangnya menggunakan komputer. Sesudahnya baru beliau menambahkan tone, render, balon kata serta efek suara. Prosesnya memang ribet dan enggak gampang, tapi dengan begitu beliau kayak menciptakan semacam kedinamisan sekaligus konsistensi antar panelnya gitu. Terutama terkait latar dan rincian permesinan yang rumit.

Teknik ini kurang berhasil pada manga beliau sebelumnya, Zero One. Tapi dalam implementasinya di Gantz, hasilnya sama sekali enggak buruk.

Ngomong-ngomong soal itu, aku termasuk orang yang pertama tahu tentang Gantz dari animenya. Saat animenya diumumkan, orang-orang di forum yang dulu kudatangi ramai membandingkannya dengan versi manganya. Berhubung aku belum pernah dengar tentangnya waktu itu (Internet waktu itu belum semudah sekarang), aku tentu aja nanya kalau seri ini tentang apa. Terus konyolnya, enggak ada satupun jawaban jelas yang kuterima dari orang-orang yang di sana.

“Pokoknya ada orang-orang mati, terus pake baju item, bawa senjata, terus ngeburu alien! Pokoknya gila gitu deh!”

Reaksi yang kudapat intinya kira-kira kayak gitu.

Tapi pada waktu itu, ada dua hal yang seenggaknya berhasil kutangkap: Satu, ceritanya eksplisit. Ini jenis cerita dengan tingkat kekerasan dan seksual lumayan tinggi (walau versi manganya kudapati enggak seheboh dengan apa yang dulu temen-temen forumku omongin). Dua, alur ceritanya sendiri emang beneran gila.

Dieeeee! Dieeeeee! Dieeeeee!

Aku enggak terlalu mau masuk ke detil. Tapi intinya, ada dua orang sahabat lama, Kurono Kei dan Katou Masaru, yang terlibat dalam kecelakaan kereta bawah tanah gara-gara berusaha menolong seorang pemabuk. Kurono adalah seorang siswa SMA yang entah karena situasi antar anggota keluarganya atau gimana, tumbuh jadi seorang egois yang agak brengsek. Sedangkan Katou adalah teman lama Kurono yang tinggi besar dan dahulu begitu mengagumi sosok pemberani Kei semasa kecil (suatu hal yang agak enggak kebayang kalau ngelihat keadaan Kurono sekarang).

Keduanya mestinya tewas dalam kecelakaan itu. Tapi entah bagaimana, beberapa saat kemudian, mereka mendapati diri mereka malah berada di sebuah kamar apartemen di bilangan Tokyo (Tokyo Tower terlihat di kejauhan dari jendela). Mereka bukan cuma berada di ruangan itu bersama sekelompok orang lain yang tak mereka kenal—yang kelihatan sama bingungnya soal kenapa mereka semua bisa tiba-tiba berada di ruangan itu. Di ruangan yang kosong dari perabotan itu, yang ada hanya sebuah bola hitam logam besar yang belakangan mereka ketahui disebut Gantz.

Singkat cerita, semua orang di ruangan itu telah meninggal sebelumnya dalam berbagai keadaan. Lalu mereka semua diberikan kesempatan kedua untuk hidup, dengan syarat mereka menjadi budak Gantz dalam sebuah permainan(?) untuk membasmi alien-alien yang telah masuk ke Bumi…

Aku enggak mau masuk terlalu jauh. Soalnya ada begitu banyak hal tersirat yang Oku-sensei hadirkan dalam premis ceritanya sendiri.

Kurono dan Katou dulu akrab semasa SD. Namun kini mereka sama-sama SMA, dan telah tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang begitu berbeda. Ada cewek cantik berdada besar bernama Kishimoto Kei yang muncul di kamar apartemen Gantz dalam keadaan telanjang. Baru belakangan sesudah diperhatikan, dirinya ternyata telah menyilet pergelangan tangannya sendiri selagi mandi untuk bunuh diri. Ada politisi yang baru meninggal karena sakit. Ada… anjing yang enggak tahu kenapa ikut dipanggil. Ada yakuza. Ada korban-korban yakuza. Ada selebriti. Ada biksu. Lalu tentu saja, ada orang-orang ‘biasa,’ seperti seorang nenek bersama cucunya, atau sepasang suami istri bersama anak mereka yang masih kecil.

Semua orang hidup dengan masalah-masalah mereka sendiri-sendiri. Lalu saat masalah bersama muncul dan secara nyata mengancam mereka semua, sifat dan pribadi mereka yang sesungguhnya kemudian tampak ke permukaan. Terutama dengan rangkaian hal gila, yang kayak keluar langsung dari sebuah film sains-fiksi horor, yang kemudian secara terus-menerus harus mereka hadapi.

Cerita semakin berkembang dengan dibeberkannya fakta-fakta terkait Gantz di masa lalu. Muncul orang-orang seperti si anak SMP sombong Nishi Junichiro dan si super serba bisa Shion Izumi yang ternyata sudah tahu sebelumnya tentang Gantz. Lalu muncul pula indikasi bahwa cakupan pengaruh Gantz mungkin tak sebatas hanya di Tokyo semata…

You need, like, a break…

Salah satu sisi bagus Gantz adalah bagaimana semua ini bisa ditampilkan blak-blakan secara apa adanya gitu.

Gantz kayak punya salah satu narasi komik paling objektif yang pernah kutemuin. Kita enggak bener-bener dikasih tahu soal apa sesuatu itu salah atau benar. Oku-sensei seakan bilang kalau semua terserah kita mengintepretasikannya gimana. Sebab berhubung gaya gambarnya demikian, kita enggak pernah bener-bener tahu apa isi pikiran Oku-sensei saat maparin semua ini.

Seakan-akan kayak, di hadapan kematian, kedudukan manusia ataupun dari mana mereka berasal sebenarnya sama saja. Jadi kalau begitu, pada keadaan demikian, apa sesungguhnya yang membedakan kita?

Tapi terlepas dari sisi-sisi nakal beliau, Oku-sensei kelihatannya kayak orang yang memang peduli terhadap apa-apa yang terjadi di masyarakat. Karya lain beliau, Me-teru no Kimochi, yang beliau serialisasikan di tengah-tengah masa serialisasi Gantz, adalah karya yang kayak menyampaikan isi pikirannya dia.

Jadi, daripada mengungkapkannya secara blak-blakan melalui perkataan atau tindakan para karakternya. Oku-sensei memaparkan apapun yang mau disampaikannya lewat penggambaran nasib akhir para karakternya. Tapi itupun dipaparkan kayak sebagai hasil logis dari tindakan-tindakan yang mereka peroleh sendiri. Kayak, ‘dia sebelumnya kayak gini, sehingga enggak aneh kalo akhirnya dia mati.” gitu. Ada hal-hal enggak disangka yang kerap terjadi di luar perkiraan semula. Soalnya segalanya kayak di luar pakem cerita yang biasanya. Kadang hasil akhirnya bisa terkesan kejam. Tapi mungkin karena itu juga Gantz jadi sesuatu yang bisa diterima oleh orang-orang dari berbagai kalangan.

Salah satu kelemahan Gantz mungkin adalah begitu sedikitnya hal yang sepertinya diceritakan dalam satu babnya. Karena itu orang bisa penasaran dan merana setengah mati saat menunggu kelanjutan ceritanya. Apalagi dengan beberapa kali hiatus agak panjang yang sempat terjadi dalam serialisasinya.

Sekali lagi. Perkembangan ceritanya itu benar-benar gila. Saking serunya, seorang penggemar cowok yang sudah kecanduan bisa dibikin hampir engga peduli sama hal-hal seksi yang secara berkala Oku-sensei suka tampilkan.

Adegan-adegan aksinya itu intens dan enggak ketebak gitu. Berhubung ceritanya berbasis karakter, setiap karakter yang tampil (meski dia karakter sampingan), kayak selalu punya sisi yang sebelumnya enggak ditampilkan gitu. Kita enggak bisa bayangin skenario gimana seorang tokoh bakal mati. Tapi kita enggak bisa bayangin skenario gimana tokoh yang sama bakal bisa bertahan hidup juga.

Sama kayak adegan-adegan aksinya, ceritanya juga terus berkembang gitu. Kurono dan Katou enggak selamanya jadi tokoh utama. Gantz itu jadi kayak kumpulan potongan kehidupan dari berbagai orang.

Lucunya, sebagai cerita berbasis karakter, kita justru tak dibeberkan tentang nasib para karakternya sesudah cerita berakhir. Di satu sisi, ini agak mengecewakan. Tapi di sisi lain, aku ngerasa kayak Oku-sensei juga lagi berusaha bilang, kalau justru ini yang para karakternya paling anggap berarti.

Last Kiss

Mungkin perlu kusebutin, walau alur dan premis yang dihadirkan serupa, apa-apa yang ditonjolin dalam setiap versi cerita Gantz itu sebenarnya agak berbeda. Versi manga-nya terasa netral. Tapi latar cerita dalam animenya, misalnya, terasa suram dan nihil.

Bicara soal animenya sendiri, animenya kayak lebih menitikberatkan pada tema post-humanismenya. Kayak, soal hakikat kematian dan makna apa yang bisa ditemukan sesudahnya gitu. Adegan saat permesinan dan teknologi asing Gantz beraksi tentu saja menjadi daya tarik utamanya. Lalu adegan-adegan aksinya, walau agak diulur-ulur, harus diakui tergambar dengan teramat sangat luar biasa keren. Efek-efek senjata yang disediakan oleh Gantz tergambar secara jelas kayak gimana. Demikian pula dengan cakupan sesungguhnya dari  kerusakan yang dihasilkan.

Maksudku, jadi walau awal ceritanya kurang lebih sama, tema cerita di manga dan animenya sebenarnya berbeda gitu. Makanya enggak kerasa aneh saat akhir ceritanya dibikin berbeda. (Kasus yang lazim, berhubung saat animenya dibuat, serialisasi manganya secara lamban masih terus berlanjut.)

Omong-omong, cerita di animenya berakhir tak lama sesudah babak pertempuran melawan alien patung Buddha. Di versi ini, ceritanya mengambil jalurnya sendiri, dan secara keren berujung pada bagaimana Kurono membangkangi perintah Gantz dan membuat dirinya diburu oleh rekan-rekannya yang lain.

Ah, soal film layar lebarnya. Ceritanya, terutama pada film kedua (yang mengambil subjudul Perfect Answer), mengambil arah yang berbeda sama sekali. Kadar muatan moral dan kemanusiaan yang dihadirkan dalam anime dan manganya agak berkurang (mungkin malah nyaris hilang?). Mungkin aku perlu membahas ini secara terpisah. Tapi sebagai tontonan aksi sains fiksi yang dipenuhi efek khusus dan CG, walau agak mengecewakan karena karakterisasinya berbeda jauh dari konsep asalnya, kedua film ini termasuk keren.

Masih ada beberapa seri novel tentang Gantz yang kayaknya masih bisa kubahas. Cuma sayang tentangnya aku belum tahu terlalu banyak.

Aku nulis ini karena, seriusan, ini salah satu manga seinen yang menurutku patut diingat. Mungkin akunya saja yang belakangan sibuk. Tapi kayaknya pada saat manganya berakhir akhir Juni lalu, enggak ada seorangpun yang kukenal yang membicarakannya.

Tapi ya sudah deh.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: S; Audio: A; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

Catatan: Perkembangan cerita di versi anime agak terlalu lambat, dan tak beranjak sejauh di manganya.

08/02/2010

Dragonaut: The Resonance

Berkisah tentang Kamishina Jin, seorang remaja yang hidup ‘sebatang kara’ sesudah seluruh anggota keluarganya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, yang suatu ketika bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Toa yang sebenarnya merupakan jelmaan dari seekor naga. Para naga adalah bentuk kehidupan buatan yang diciptakan oleh manusia untuk menghadapi suatu ancaman apokaliptik dari luar angkasa yang mendekati bumi sesudah menghancurkan Pluto. Masing-masing naga membangun sebuah ikatan mental (‘The Resonance,’ cinta?) dengan seorang manusia yang kemudian menjadi penunggangnya, dan Toa entah sejak kapan telah memiliki ikatan tersebut bersama Jin.

Namun, saat organisasi yang mengakomodasi para penunggang naga (para ‘Dragonaut’ ini) menyadari bahwa Toa bukan salah satu naga mereka, Toa yang dijadikan buruan melarikan diri karena tak ingin menjadi beban bagi Jin. Tak ingin berpisah dari Toa, Jin kemudian memaksa seekor naga lain (jantan) bernama Gio, yang sebenarnya telah membangun(?) sebuah ikatan dengan sahabat lama Jin, Kazuki, untuk mengantarkannya ke luar angkasa. Pada saat yang sama, Tentara Gillard yang berbasis di Mars memulai intervensi untuk memburu Toa juga.

Ini Jelek

Kudengar kebanyakan orang nonton ini karena melihat adanya kemiripan desain karakter dengan Eureka Seven. Tapi perlu dicatat bahwa produsen seri ini adalah pihak yang sama sekali berbeda.

Meskipun konsepnya terdengar menarik, seri ini dieksekusi dengan cara yang benar-benar aneh. Ada banyak sekali karakter yang dibuat tak jelas untuk apa maksudnya, bahkan tampaknya dibuat hanya untuk menawarkan fanservice belaka. Tapi seri ini dengan anehnya malah dibangun dengan suasana yang sepenuhnya serius dan muram. Perkembangan ceritanya begitu tak masuk akal dan sulit dipercaya (bayangin, ada sahabat karibmu melukai perasaanmu sehingga kau sedemikian marahnya sampai kau mengobrak-abik isi kamar; lalu apa selanjutnya yang kau lakukan? Di seri ini, mengubah gaya rambut supaya terlihat lebih menakutkan) . Penyelesaian akhirnya begitu…. begitu konyol sampai membuat mulutmu seketika ternganga. Aku dibuat heran sendiri oleh diriku karena entah bagaimana bisa sampai menonton seri ini ampe tamat.

Kurasa aku penasaran dengan perkembangan bagus apa yang akan seri ini berikan. Tapi nyatanya, perkembangan bagus itu enggak pernah ada. Meski seri ini emang terlihat menarik, aku sangat menyarankan kau meninggalkannya jauh-jauh saja.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: E; Eksekusi: D; Kepuasan Akhir: E

10/04/2009

Tower of Druaga: Sword of Uruk

Oiya. Pada setengah tahun aku mengikuti perkembangan season kedua Gundam 00, aku juga mengikuti perkembangan season kedua anime Tower of Druaga, dengan subtitel Sword of Uruk. Musim tayang yang berlatar enam bulan sesudah akhir season yang pertama ini melanjutkan kembali kisah petualangan Jil dan kawan-kawannya dalam memanjat menara Druaga sekaligus menuntaskan misteri apakah Neeba, kakak tiri Jil, dan Kaaya, love interest Jil, sebelumnya benar-benar mengkhianatinya atau tidak.

Uuh, yang pasti, jalan ceritanya sama sekali tak seringan season pertamanya.

Mereka yang masih tersisa dari kelompok pemanjat Jil dan Neeba membentuk aliansi untuk memanjat Menara Druaga sekali lagi, sesudah seorang gadis kecil misterius yang sangat mirip Kaaya meminta Jil untuk membawanya ke puncak menara tersebut. Ya, bahkan sesudah Druaga dan bayangannya matipun, menara itu masih tetap berdiri. Dan bukan hanya itu. Untuk suatu alasan, Gilgamesh, raja negeri Uruk di mana menara itu terletak, yang sebelumnya bijak dan baik hati secara perlahan tapi pasti semakin tenggelam dalam kekuasaannya sebagai seorang tiran.

Ada… uh, banyak sekali karakter baru yang muncul. Jadi jangan harapkan perkembangan karakter yang bagus di sini. Tapi perkembangan plotnya lumayan seru kok. Bisa dibilang, meski tamatnya sudah bisa ditebak begitu kita sampai di episode terakhir, ada sedikit kepuasan karena semua jalinan plot bisa dituntaskan sekalipun bukan dengan cara yang benar-benar indah.

Hei, keluaran-keluaran studio Gonzo itu emang dikenal karena animasinya! Bukan karena kualitas ceritanya! Tapi menurutku, ToD:SoU bagaimanapun juga termasuk salah satu keluaran Gonzo yang paling mending. Lumayan layak tonton kalo lagi kurang kerjaan.

Tapi sial, apa mereka benar-benar harus sampai mendandani Kaaya sampai terlihat setua itu? Arrrrgh!

 

Penilaian

Konsep: B. Eksekusi: C. Visual: S. Audio: A. Perkembangan B+. Desain: A.

Kepuasan Akhir: C+