Posts tagged ‘Gainax’

24/07/2013

Kare Kano

Kareshi Kanojo no Jijou, biasa disingkat Kare Kano, atau dikenal juga sebagai His and Her Circumstances (kira-kira berarti ‘keadaan si cewek dan keadaan si cowok’) merupakan salah satu seri shoujo pertama yang pernah kuikuti. Seri ini berawal dari manga yang dibuat oleh Tsuda Masami. Durasinya cukup panjang (21 buku), dan bertahun-tahun lalu (2007?) sudah diterbitkan sampai di sini sampai tamat oleh MnC. Genre ceritanya drama komedi romantis. Tapi seiring perkembangan cerita, entah disengaja atau enggak, muncul muatan psikologis lumayan banyak di dalamnya, yang secara menonjol bisa membuat ceritanya jadi lumayan gelap. Penerbit aslinya Hakusensha dan selama di Jepang diserialisasikan di majalah komik LaLa mulai tahun 1996.

Aku sendiri pertama kenal judul ini lewat tayangan animenya.

Animenya sendiri, yang keluar di sekitar tahun 1998 terbilang agak istimewa. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Gainax dan disutradarai tak lain oleh Anno Hideaki yang saat itu telah terkenal sebagai sutradara anime Neon Genesis Evangelion (dan kemudian oleh Tsurumaki Kazuya, soal ini akan kubahas di bawah). Terkait dengan muatan psikologisnya tadi, ditemukan lumayan banyak elemen penyutradaraan yang serupa dengan yang ditemukan pada anime seri TV orisinil Evangelion. Cerita animenya sendiri dengan patuh lumayan mengikuti cerita di manganya, sehingga inti ceritanya, anehnya, menurutku enggak beda-beda amat; sekalipun dengan rasa dan nuansa Evangelion yang dimiliki di dalamnya.

“Catatan: Dalam beberapa detik lagi, bersiaplah buat ngebaca cepet, dan maksudku di sini bener-bener cepet.”

Cerita dibuka dengan diperkenalkannya kita terhadap dua orang siswa yang hanya dapat digambarkan sebagai murid teladan sekaligus idola sekolah: Miyazawa Yukino dan Arima Soichirou. Dua orang yang seakan ‘sempurna’ baik dalam hal penampilan, pergaulan, maupun nilai-nilai pelajaran ini merupakan siswa kelas satu baru di SMA mereka, yang seketika menarik perhatian dan kekaguman para siswa lain.

Walau begitu, di balik semua kesempurnaannya, Yukino sebenarnya orang yang manja, berantakan, serta keras kepala bila di rumah. Kesehariannya hanya dipakai untuk belajar habis-habisan demi mempertahankan nilai-nilainya. Bagi Yukino, memperoleh nilai bagus akan mendatangkan pujian dari lingkungannya, dan pujian-pujian dari orang-orang di sekitarnya ini yang ia merasa perlukan untuk ‘bertahan hidup.’

Walau demikian, meski telah berusaha keras, untuk pertama kali dalam hidupnya, Yukino mendapati dirinya tersingkir dari posisi rangking satu oleh Arima. Merasa kegagalannya memperoleh rangking satu sebagai celaan terhadap harga dirinya, Yukino (di belakang punggung semua orang) kemudian bersumpah untuk menjatuhkan Arima dan merebut kembali posisi rangking satu darinya.

Tapi kemudian, sesuatu yang tak ia sangka terjadi. Arima tiba-tiba saja menyatakan rasa sukanya terhadap Yukino.

Yukino, yang sama sekali tak memperhitungkan hal ini, pada awalnya mengira bahwa dengan berhasil membuatnya jatuh cinta, dirinya telah berhasil ‘menundukkan’ Arima. Tapi di saat yang sama, ia juga mulai ragu tentang apa sesungguhnya yang ia rasakan terhadap dirinya.

Sebuah omongan basa-basi dari Yukino secara konyol berujung pada bagaimana Arima kemudian mengetahui rahasia kelakuan Yukino yang sesungguhnya. Arima kemudian memanfaatkan pengetahuannya ini untuk memaksanya ikut membantu-bantu menangani urusannya di Dewan Siswa.

Hubungan di antara mereka menegang. Sebab Yukino merasa dimanfaatkan sekaligus dipermainkan.

Tapi pada titik ini pula, Yukino juga mulai menyadari bahwa Arima sendiri mungkin sebenarnya bukan pribadi seperti yang semua orang bayangkan…

Dari sana, hubungan antara keduanya, dan teman-teman mereka, kemudian bermula.

Aku Belum Mati Wooi!

Mungkin ini terdengar aneh. Tapi aku sempat lupa dengan keberadaan seri ini pada beberapa tahun terakhir. Padahal Kare Kano termasuk salah satu seri yang paling mempengaruhi pola pikirku dulu, dan sedikit banyak mengubahku menjadi aku yang sekarang.

Aku teringat soal seri ini sesudah menulis soal Evangelion tempo hari. Lalu kalau mengingat lagi apa yang disampaikan dalam seri itu sekarang, jujur saja aku merasa agak terbebani. Soalnya Kare Kano memaparkan orang-orang muda yang menjalani hidup mereka secara penuh dan akhirnya berhasil mewujudkan mimpi-mimpi mereka setelah melampaui berbagai rintangan. Baru di usia sekarang aku menyadari betapa hebatnya tokoh-tokoh di seri ini, dan terus terang saja, itu menyebalkan.

Itu teramat sangat luar biasa menyebalkan.

Bicara soal ceritanya sendiri, ada lumayan banyak hal yang tak disangka di dalamnya sih. Kemudian tokoh-tokohnya bertambah, kemudian ceritanya terus berkembang dan berkembang. Sehingga walau sempat ke mana-mana untuk mengklarifikasi hal-hal tertentu tentang tokoh-tokoh lain di sekitar Yukino dan Arima, semuanya akan kembali berpusar pada mereka berdua, dan cerita berakhir dengan lumayan memuaskan lewat pemaparan nasib mereka sekitar 15 tahun sesudah pertemuan pertama keduanya.

Kembali bicara soal cerita, Arima, seperti Yukino, rupanya sama sekali jauh dari imej sempurna yang orang-orang lain bayangkan terhadapnya. Arima rupanya diangkat anak oleh pamannya sendiri, sesudah kekacauan hubungan yang terjadi antara ayahnya yang meninggalkannya dan ibunya yang abusif.

Masa lalu yang dialami Arima dulu itu bener-bener enggak enak. Dan karenanya wajar sekaligus aneh saat Arima secara perlahan menjadi semakin dingin dan posesif.

Sial. Kayaknya aku mending enggak bicara lebih banyak. Soalnya kayaknya sayang bila ceritanya ku-spoiler.

…Aku berusaha mikir apakah memang akunya yang mungkin terlalu lebay dalam menanggapi isi ceritanya. Tapi kurasa enggak. Aku memang jarang mengikuti perkembangan seri-seri shoujo. Tapi kayaknya memang hingga sekarang aku belum pernah nemuin yang seri shoujo lain yang nampilin kebagusan perkembangan cerita serta bobot karakter seperti Kare Kano.

Cerita Kare Kano itu sebenarnya… gelap. Beneran bisa gelap. Kaitannya ke soal gimana para karakternya bersama-sama berusaha melepas diri dari ikatan dan kekangan masa lalu.

Sempat ada kabar kalau Tsuda-sensei merasa kurang sreg dengan bagaimana adaptasi animenya dipaparkan. Tapi kalau melihat cerita Kare Kano secara menyeluruh, aku enggak heran soal gimana orang-orang di Gainax kemudian jadi menghadirkan ceritanya ala Evangelion.

Maksudku, bahkan dalam surat-surat pembaca yang diterima Tsuda-sensei, konon ibu-ibu yang baca Kare Kano sampai merasa bisa lebih memahami situasi anak-anak remaja mereka ketimbang sebelumnya.

Bicara soal animenya, adaptasinya lumayan keren. Agak abstrak sih, dan pada beberapa titik lumayan mengganggu. Tapi enggak bisa dipungkiri lumayan menarik. Eksekusinya lebih diberatkan di dialog, dan sempat apa yang ditampilkan lebih kayak simbolisme-simbolisme gitu. Jumlah kata-kata yang mengalir bisa lumayan ramai. Tapi eksekusi adegan-adegan komedinya benar-benar pas. Penggambaran adegan penentuan saat Arima mengetahui rahasia Yukino benar-benar klasik dan patut dikenang. Animenya memaparkan cerita dari buku 1 hingga 7, dan berakhir lumayan menggantung di saat sedang ramai. Total episodenya sendiri padahal sebanyak 26.

Hal-hal yang membuat Kare Kano patut diingat:

  • Pero-pero
  • Komedinya
  • Adanya karakter yang sepenuhnya berhasil merubah dirinya yang gemuk dan pendek menjadi kurus dan tinggi
  • Kerealistisan kasus-kasus yang mungkin terjadi di dalamnya
  • Akhir cerita yang bisa bahagia

Akhir kata, sebenarnya aku ingin menulis lebih banyak tentang seri ini. Terutama soal karakter-karakter lain yang muncul. Tapi di sisi lain aku ngerasa itu enggak akan banyak gunanya. Soalnya, bila situasi yang berlangsung antara Arima dan Yukino tak cukup buat membuatmu tertarik, maka kemungkinan besar apa yang berlangsung sesudahnya juga enggak akan kau pandang menarik.

Soal animenya, kemungkinan yang suka Evangelion bakal tertarik untuk melihat alur pemaparannya juga sih. Tapi animenya, dalam jangka panjang, bisa terasa agak “Uuh…” karena kita agak enggak jelas bakal diseret ke mana. Ini terutama terasa pada episode-episode ke sananya, saat Anno-sensei memilih berhenti menjadi sutradara (kemungkinan karena ungkapan kurang sregnya Tsuda-sensei). Tapi sekali lagi, ini seri yang menarik.

Sesuatu yang mungkin ingin kau lihat saat kau ingin berpikir ulang soal apa-apa yang terjadi di masa lalu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B

Iklan
27/09/2010

Sindrom Makinami Mari (2)

Project no Youkoso!

Apa yang sebenarnya terjadi di akhir seri? Apa enggak ada penjelasan yang masuk akal tentang semua kegejean ini?

Meski berulangkali disebut-sebut sebagai inti permasalahan dalam Neon Genesis Evangelion, hingga akhir seri TV dan dua movie aslinya, detil persisnya dari Human Instrumentality Project tak bisa dikatakan telah dijelaskan secara gamblang. Yang pasti sih, proyek ini ceritanya merupakan rencana rahasia yang hendak dicanangkan kelompok terselubung  SEELE melalui organisasi paramiliter NERV, yang melibatkan keseluruhan unit Evangelion–termasuk unit-unit yang muncul belakangan sebagai hasil produksi massal.

Para petinggi SEELE yang diprakarsai Keele Lorenz singkatnya ingin ‘menyatukan’ seluruh umat manusia menjadi suatu entitas yang setara dengan sebuah ‘dewa’ (sesuatu yang mirip para Angel). Mungkin alasan mereka melakukan itu adalah karena mereka serakah atau sudah putus asa terhadap kehidupan atau karena alasan tipikal lainnya. ‘Penyatuan’ tersebut ceritanya dilakukan melalui pencetusan Third Impact; tapi untuk mencapai penyatuan yang mereka harapkan, ada sejumlah kriteria tertentu yang terlebih dulu harus mereka penuhi. Keberadaan masing-masing unit Evangelion merupakan bagian dari kriteria-kriteria tersebut. Segala informasi terkait ‘penyatuan’ (atau dalam bahasa kerennya, instrumentality) ini ceritanya didapatkan SEELE melalui gulungan naskah kuno yang dikenal dengan sebutan ‘Dead Sea Scrolls‘ (‘naskah laut mati’).

Beberapa teori menyebutkan pula bahwa Second Impact yang memporakporandakan dunia sendiri sebenarnya merupakan sebuah upaya ‘penyatuan’ yang gagal. Atau semacam simulasi. Yah, pokoknya sesuatu yang enggak berakhir sebagaimana mestinya.

Menjelang akhir cerita, SEELE menyadari bahwa Gendou berniat membangkang dengan tidak menjalankan instrumentasi sesuai rencana mereka. Gendou ingin melakukan sesuatu yang sepertinya berhubungan dengan niatnya untuk bertemu kembali dengan almarhumah istrinya, Yui. Sebagai akibatnya, pangkalan NERV di Tokyo-3 diserang pasukan gabungan PBB yang digerakkan SEELE dengan menggunakan unit-unit Evangelion produksi massal, yang semula direncanakan hanya akan menjadi sendi-sendi mendasar instrumentalisasi.

Untuk memicu Third Impact, Gendou ‘sepertinya’ memaksakan roh Lilith untuk masuk ke dalam raga embrio Adam.

Raga Ayanami Rei sesungguhnya tidak lain merupakan klon raga Yui, yang menjelaskan kemiripan fisik mereka. Meski roh Ayanami sendiri sesungguhnya adalah roh Lilith.

Sementara roh Yui sendiri konon bersemayam di dalam Eva Unit 01 yang dikemudikan Shinji.

Third Impact lalu terjadi. Meski dikepung pasukan PBB, Gendou pada akhirnya berhasil memicunya. Seluruh umat manusia kembali ke wujud dasar mereka sebagai sup primordial:  larutan LCL.

Tapi wujud dewa yang tercipta serta penciptaan ulang dunia tidak berakhir baik seperti yang Gendou maupun SEELE bayangkan. Sebab berlawanan dengan bayangan Gendou, Adalah Shinji–yang tengah terpuruk akibat kematian semua orang–di Eva-01 yang kemudianAyanami Rei tempatkan di puncak sephirot instrumentalisasi, memberinya kuasa penuh untuk menentukan bagaimana wujud akhir dunia.

Di akhir cerita seri asli, Shinji akhirnya memilih untuk mengembalikan semuanya seperti awal lagi.

Maka di fajar dunia yang baru, ia bertemu lagi dengan Asuka(?) di tepi pantai lautan LCL, dengan kesadaran bahwa siapapun yang memiliki cukup keyakinan atas dirinya akan mampu mewujud kembali seperti semula lagi.

…Haah. Enggak jelas?

Mungkin iya. Agak susah mengomentari apa yang disampaikan secara objektif, terutama bila mempertimbangkan segala ‘kekacauan’ yang melibatkan proses produksi seri ini. Bahasan tentang tamat ini bahkan sampai memicu pertengkaran di berbagai forum semenjak belasan tahun lalu.Tapi mungkin semua ini akan mendapat revisi dengan proyek Rebuild of Evangelion yang baru. Jadi kurasa itu bukan sesuatu yang masih perlu diperdebatkan untuk saat ini.

Kayaknya masih ada sejumlah hal lain yang bisa ditulis. Jadi suatu saat nanti, kurasa tulisan suplemen ini masih akan berlanjut.

15/07/2010

Sindrom Makinami Mari (1)

Ada satu hal yang kusadari waktu aku memperhatikan beberapa adegan tertentu dari Evangelion 2.22: You Can (Not) Advance.

Makinami Mari.

Dia sudah jelas merupakan karater yang menarik. Berita tentang kemunculannya dan gambar-gambar rancangannya saja menuai sensasi bahkan sebelum filmnya dilepas. Tapi keistimewaannya sebenarnya apa sih?!

Evangelion semenjak awal merupakan suatu seri yang menonjolkan kekuatan karakter tokoh-tokohnya dengan isu-isu psikologis yang mereka alami. Penambahan Mari sebagai karakter wanita baru, dalam rangkaian seri animasi proyek Rebuild of Evangelion ini, sempat mendatangkan tanda tanya tentang kepribadian macam apa yang akan ia miliki. Atau mungkin lebih tepatnya, isu psikologis apa yang akan dia hadapi. (tolong jangan perhatiin doujindoujin yang beredar di Internet, mengingat karya-karya doujin seringkali mengintepretasikan sifat karakter dengan agak-agak sesat). Aku tahu dengan mikirin ini aku jadi kedengaran kurang kerjaan banget. Tapi aku enggak tahan buat enggak mikirin! Mungkin karena bawaanku sebagai seorang penulis.

Eniwei, kemarin tiba-tiba saja aku sadar bahwa Mari sejauh ini berperan sebagai ‘orang luar’ yang tidak termasuk ke dalam lingkaran orang-orang yang dekat dengan Shinji (sang tokoh utama). Karena itu, segala tetek-bengek soal bentuk hubungan dan perkembangan hubungan di antara keduanya bisa sepenuhnya kita singkirkan untuk saat ini.

Pilot EVA baru yang misterius itu…

Sejauh yang sudah terlihat soal karakternya sendiri (di samping kenyataan bahwa ia separuh bule, memiliki badan bagus, berkacamata, serta rambutnya dikuncir dua), Mari merupakan seseorang yang pada dasarnya sebisa mungkin berada dalam keadaan having fun pada setiap kegiatan yang ia lakukan. Adegan pembuka film ini jelas memperlihatkan dirinya bernyanyi-nyanyi riang saat mengendalikan Eva di tengah ketegangan yang berlangsung. Lalu komentarnya tentang ‘kerjasama’-nya dengan Kaji pula, mengindikasikan bahwa di balik keriangan pembawaannya, agenda apapun yang sebenarnya hendak dijalankannya tetaplah merupakan suatu agenda yang berbahaya. Meski demikian, ia tetap selalu bergembira dalam apapun yang ia kerjakan.

Disturbing, bukan? Tapi keren.

Lalu entah bagaimana para produser itu melakukannya, tapi Mari di kalangan fans benar-benar berakhir sebagai tokoh yang menarik. Para produser itu telah berhasil memunculkan tokoh baru yang bisa mengimbangi ‘kedalaman’ para tokoh utama yang sebelumnya ada. Yah, dalam beberapa game mereka juga pernah melakukannya sih. Tapi aku bisa bilang bahwa di antara semua tokoh tambahan itu, baru kali ini ada yang semenarik Mari.

Desain Mari sebagai tokoh itu benar-benar merupakan hasil karya seorang jenius…

Sial. Sebenernya aku ngomongin apa sih? Tadinya aku cuma mau bikin semacam tulisan suplemen tentang Eva. Tapi jadinya malah ngomongin soal Mari.

Yah, marilah kita lanjutkan saja ke sajian utama.

Introducing the Angels

Berikut adalah daftar orisinil para Angel yang muncul di keseluruhan seri TV Neon Genesis Evangelion, serta dua film layar lebar penutupnya, Death and Rebirth serta The End of Evangelion. Sebagian di antara mereka diubah detilnya atau bahkan tidak muncul dalam proyek seri film layar lebar Rebuild of Evangelion.

Jumlah total mereka di seri yang asli adalah 18, meski di tahap perancangan awal konon jumlah mereka direncanakan mencapai angka 20an. Perlu diperhatikan pula bahwa jumlah total mereka bervariasi, bergantung pada versi media mana yang diikuti (di proyek Rebuild, jumlah mereka disebutkan hanya sampai 12).

Urutan penomoran mereka juga tak sepenuhnya ‘mutlak’ dan nama bagi masing-masing Angel itu didapat dari serangkaian media tambahan yang melengkapi seri. Jadi kita tidak tahu pasti apakah nomor dan nama masing-masing Angel memang benar adalah nama mereka, atau nama yang diberikan kepada mereka oleh organisasi rahasia SEELE.

Ukuran kesemuanya bervariasi, meski sebagian besar dari mereka berukuran raksasa. Kesemuanya memiliki apa yang disebut sebagai AT Field, yakni semacam medan pelindung berkekuatan dahsyat yang bahkan mampu melindunginya dari letusan bom atom biasa. Unit-unit Eva menjadi satu-satunya tandingan mereka, karena mampu menghasilkan AT Field tandingan yang menegasikan AT Field para Angel.

Lazimnya, masing-masing Angel memiliki ‘inti’ yang menjadi titik lemah mereka. Inti inipun kerap kali tersembunyi di tempat-tempat bervariasi.

Secara berurut berdasarkan penomoran, mereka adalah:

  • Adam

Angel pertama, sekaligus ‘raksasa cahaya’ yang diyakini muncul pada saat berlangsungnya Second Impact. Ditemukan di bawah lapisan es Antarctica, Adam diyakini merupakan asal mula semua Angel lainnya selain Lilith. Ekspedisi Katsuragi yang dikepalai ayah Misato mencoba mengadakan kontak dengan Adam lewat penggunaan artefak Lance of Longinus (tombak Longinus), yang tak dinyana malah memicu terjadinya Second Impact.

Adam kemudian mengkerut ke dalam bentuk ‘embrio’ dan jasadnya yang telah dibekukan kemudian dikirimkan kepada ayah Shinji, kepala NERV, Ikari Gendou, oleh agennya, Kaji Ryoji. Gendou kemudian ‘menanam’ embrio ini ke dalam dirinya sebagai suatu media yang secara harfiah dapat menyatukannya dengan Ayanami Rei.

Sebelumnya, jasad Adam inilah yang digunakan sebagai basis pembangunan semua Evangelion. Konon pula, Nagisa Kaworu merupakan perwujudan dari roh Adam yang sebelumnya menghuni jasad itu.

Disebutkan bahwa Adam, beserta White Moon yang menjadi wadah tempat ia ditemukan, ditanamkan di Bumi sebagai asal mula semua kehidupan oleh bangsa alien(?) kuno yang disebut sebagai ‘Ras Moyang Pertama’ (first ancestral race). Adam dan semua Angel keturunannya juga memiliki apa yang disebut sebagai ‘buah kehidupan’ (alias S2 Engine) yang menjadi sumber dari segala kekuatan serta keabadian mereka.

  • Lilith

Angel kedua, yang disebutkan menjadi asal mula umat manusia. Lilith disebut-sebut merupakan ‘benih kedua’ kiriman Ras Moyang Pertama yang menggantikan kedudukan Adam sebagai sumber segala kehidupan di Bumi. Lilith dan Black Moon yang menjadi wadahnya ditemukan dan disembunyikan di pangkalan bawah tanah NERV di kota Shin Tokyo 3. Black Moon kemudian menjadi apa yang disebut sebagai GeoFront, sedangkan tempat Lilith berada dikenal sebagai Terminal Dogma yang keberadaannya sangat dirahasiakan.

Berbeda dengan Adam dan keturunannya yang memiliki ‘buah kehidupan’, Lilith dan seluruh umat manusia konon memiliki ‘buah pengetahuan’ yang menjadi sumber segala bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki.

Lilith, yang entah mengapa senantiasa berada dalam keadaan tersalib ini, meneteskan cairan LCL secara berkelanjutan dari dalam tubuhnya. Cairan LCL inilah yang digunakan NERV untuk mengisi kokpit pilot ketiga EVA, yang sebenarnya dikatakan juga merupakan ‘sup primordial’ yang menjadi asal-usul segala kehidupan..

Serupa dengan kasus Adam, roh Lilith bersemayam dalam tubuh Ayanami Rei.

  • Sachiel

Angel yang pertama ditampilkan dalam seri. Berbentuk humanoid, bersenjatakan sinar energi jarak jauh yang membentuk pola salib setiap kali meledak. Dari sepasang telapak tangannya dapat dikeluarkan duri-duri untuk menyerang. Intinya terdapat di bagian dada. Di samping itu, memiliki kemampuan regenerasi mencengangkan.

Akhirnya takluk oleh mode berserk Eva-01 yang dipicu oleh Shinji sebagai pilot.

Konon ia dijuluki sebagai Malaikat Air.

  • Shamshel

Angel keempat berbentuk dasar silindris yang melayang-layang di udara secara horisontal. Menyerang dengan menggunakan cambuk-cambuk energi.

Shinji di Eva-01 berhasil menghancurkan intinya hanya beberapa detik sebelum suplai batere yang Eva-01 miliki habis. Karena berhasil dikalahkan dalam keadaan nyaris utuh, Angel ini menjadi spesimen Angel pertama yang berhasil NERV teliti. Darinya NERV memperoleh sampel pertama mereka atas S2 Engine.

Konon ia dijuluki sebagai Malaikat Fajar.

  • Ramiel

Angel kelima yang berbentuk oktahedron bening dan mampu melepaskan sinar partikel proton berkekuatan dahsyat dari jarak sangat jauh. Intinya berada tepat di pusat badan. AT Field yang dimilikinya sangat kuat sampai-sampai membiaskan berkas-berkas cahaya yang melewatinya. Angel ini kemudian mengebor tanah di atas GeoFront dalam upayanya mencapai Terminal Dogma, dan membinasakan dari jarak jauh lawan manapun yang mencoba mendekati.

Ia dikalahkan dalam Operasi Yashima ketika Shinji menghancurkan intinya menggunakan meriam positron yang ditenagai listrik dari seluruh Jepang. Rei yang menggunakan Eva-00 berperan melindungi Eva-01 dari serangan sinarnya lewat penggunaan perisai tahan panas.

Konon ia dijuluki sebagai Malaikat Petir.

  • Gaghiel

Angel keenam berupa makhluk bawah laut berukuran besar dan bertaring tajam. Intinya terletak di dalam mulut. Angel ini menyerang armada laut PBB yang tengah mengirimkan Eva-02 (sekaligus embrio Adam) ke pangkalan NERV di Jepang

Dikalahkan oleh Eva-02 yang secara tak sengaja dikemudikan secara bersama(!) oleh Asuka dan Shinji. Mulutnya berhasil dipaksa membuka agar sejumlah kapal perang yang mengawal armada bisa masuk dan diledakkan di dalamnya.

Konon ia dinamai sebagai Malaikat Ikan.

  • Israfel

Angel ketujuh yang menyerupai Sachiel. Memiliki cakar-cakar tajam dan serangan sinar energi yang relatif lemah, namun memiliki sepasang(!) inti di bagian dada. Angel ini mampu memisahkan diri menjadi dua bagian identik yang menyerang bersamaan secara tersinkron. Kedua bagian ini mesti dikalahkan pada waktu yang sama, sebab masing-masing bagian mampu memulihkan bagian yang lain.

Angel ini dikalahkan secara bersama oleh Shinji di Eva-01 dan Asuka di Eva-02, lewat penggunaan serangan gabungan yang didasarkan pada hafalan gerak tari dan irama musik.

Konon ia dinamai berdasarkan Malaikat Tarian dan Sastra.

  • Sandalphon

Angel kedelapan yang berbentuk menyerupai ikan pipih, ditemukan dalam bentuk embrio oleh NERV di kawah sebuah gunung berapi Asamo. Angel ini dengan segera tumbuh menjadi wujud dewasa saat Asuka diterjunkan untuk menanganinya.

Akhirnya berhasil dikalahkan oleh Asuka berkat inspirasi tentang proses pemuaian yang didapatnya dari Shinji.

Konon disebut pula sebagai Malaikat Janin.

  • Matariel

Angel kesembilan berupa segumpal bulatan gelembung raksasa dengan banyak mata. Bergerak menuju Geofront dengan melepaskan semacam cairan yang mampu melelehakan beton dan baja.

Dikalahkan secara bersama oleh ketiga Eva di tengah krisis ketiadaan listrik misterius yang melanda Tokyo-3.

Konon dikenal pula sebagai Malaikat Hujan.

  • Sahaquiel

Angel kesepuluh memiliki wujud dasar serupa selaput organik raksasa. Menempatkan dirinya di ketinggian orbit rendah (dekat luar angkasa), Angel ini mulai menjatuhkan bagian-bagian tubuhnya ke arah Tokyo-3. Ketepatan ‘pembomanannya’ semakin meningkat seiring dengan waktu. Sesudah berhasil memposisikan dirinya pada koordinat persis di atas tengah-tengah Tokyo-3, barulah ia bermaksud menjatuhkan dirinya secara sekaligus.

Berhasil dikalahkan sesudah ketiga Eva berkerjasama untuk menangkapnya dan menghancurkan intinya pada waktu yang sama.

Konon disebut pula dengan julukan Malaikat Langit.

  • Iruel

Angel kesebelas yang berukuran mikroskopis. Pertama muncul di sistem komputer yang disebut sebagai Pribnow Box yang terletak jauh di dasar GeoFront. Angel yang serupa virus ini melakukan ‘pengikisan’ terhadap jaringan komputer NERV dan mulai ‘berkembang biak’ dan mengambil alih secara paksa sistem-sistem komputer pusat mereka, MAGI.

Ia dikalahkan sesudah Ritsuko berhasil mengakses satu-satunya MAGI yang masih selamat dan mengatur Angel tersebut untuk berevolusi ke bentuk yang akan menghancurkan dirinya sendiri.

Konon dikenal sebagai Malaikat Teror

  • Leliel

Angel keduabelas yang secara harfiah muncul sebagai semacam makhluk dua dimensi. Bentuk awalnya berupa bola melayang dengan pola hitam-putih, sebelum tiba-tiba ‘mengembang’ menjadi semacam bayangan hitam, dan mengubah bentuknya menjadi luar biasa pipih. Memiliki ‘badan’ dengan luas permukaan sangat luas pada tingkat peregangannya yang paling besar, namun tebal permukaan ‘badan’ tersebut tak melebihi 3 nanometer(!). Karena ‘terbalik’, alih-alih ‘mementalkan’, AT Field yang dimilikinya ‘menyerap’ segala hal yang diterimanya dan ‘memenjarakannya’ di semacam dunia lain yang tampaknya menjadi bagian dari badannya.

Leliel hancur sesudah Eva-01 yang ia ‘serap’ tiba-tiba berserk dan merobek-robek tubuhnya dari dalam, persis beberapa saat sebelum ia hendak dibombardir dengan sisa persediaan bom N2.

Konon dinamai pula sebagai Malaikat Malam.

  • Bardiel

Angel ketigabelas ‘merasuki’ Eva-03 pada saat unit tersebut diuji di pangkalan Matsushiro. Sesudah mengambil alih unit tersebut, ia memutasikannya sedemikian rupa agar dapat bergerak tanpa sumber tenaga luar dan membuatnya memiliki kemampuan untuk meregangkan kedua tangannya sebagai senjata.

Berhasil dikalahkan saat Eva-01, yang menjadi satu-satunya Eva yang masih bertahan, di bawah kendali sistem Dummy Plug, mematahkan lehernya dan mencabik-cabik tubuhnya hingga nyaris tak bersisa.

Namanya juga disebut sebagai Malaikat Kabut Panas.

  • Zeruel

Angel keempatbelas yang menjadi satu-satunya Angel yang berhasil mencapai ruang kendali Central Dogma dari luar GeoFront. Berbentuk menyerupai wujud tengkorak Sachiel, namun melayang di udara dengan tungkai-tungkai berbuku yang dapat difungsikan sebagai cambuk. Memiliki serangan sinar serupa Sachiel, namun dengan kekuatan berlipat-lipat. Berbeda dari Angel lainnya, sinar tersebut pun dapat ia tembakkan secara berturut-turut. Meskipun AT Field-nya bisa ditembus, inti yang dimilikinya masih dapat terjaga berkat keberadaan semacam membran pelindung.

Shinji di Eva-01 berhasil menyeretnya ke salah satu landasan peluncuran, yang membawa mereka kembali ke luar GeoFront. Namun ia baru dikalahkan sesudah Eva-01 kembali berserk saat synchro rate Shinji mencapai 400%. Sesudah dilumpuhkan, Angel tersebut secara harfiah dimakan oleh Eva-01 dan S2 Engine yang dimilikinya diambil alih.

Ia dikenal juga dengan nama Malaikat Kekuatan.

  • Arael

Angel kelimabelas berupa makhluk bersayap bercahaya yang berukuran raksasa. Sesudah muncul di orbit rendah Bumi, di suatu posisi yang relatif tak terjangkau, ia menyerang dengan menggunakan seberkas sinar terang yang mempu meruntuhkan pertahanan mental siapapun yang menjadi sasaran.

Rei mengalahkannya sesudah diperintahkan untuk menggunakan Lance of Longinus. Dengan Eva-00, tombak tersebut dicabutnya dari badan Lilith dan kemudian dilontarkannya tepat ke Arael. Meski Arael berhasil dikalahkan, tombak tersebut mendarat di Bulan dan tak dapat diambil kembali.

Arael dijuluki pula sebagai Malaikat Burung.

  • Armisael

Angel keenambelas berbentuk menyerupai plasmid yang melayang-layang dan dapat berubah ke bentuk double helix pada saat menyerang. Dengan badannya yang menyerupai tali, ia mencambukkan dirinya ke badan lawan dan menyerang pertahanan mental mereka.

Ia dilumpuhkan saat Rei membalikkan AT Field Eva-00 agar Angel tersebut tak melakukan fusi dengan inti Eva-01 juga. Rei kemudian meledakkan Eva-00, memusnahkan unit tersebut bersama sang Angel sekaligus tubuhnya yang ‘kedua’.

Ia disebut pula dengan nama Malaikat Rahim.

  • Tabris

Angel ketujuh belas, sekaligus lawan Angel terakhir yang mesti Shinji hadapi sebagai pilot Eva-01. Di dalam dirinya terkandung roh Adam, meski fisik yang ia miliki bisa jadi merupakan ciptaan SEELE. Wujudnya adalah anak manusia bernama Nagisa Kaworu, yang diajukan untuk menjadi pilot Eva-02 menggantikan Asuka, yang selama beberapa waktu berteman dekat dengan Shinji. Ia memiliki AT Field terkuat di antara semua Angel, yang bahkan mampu mementahkan cahaya, gelombang magnet, serta partikel-partikel subatomik. AT Field ini pula yang memungkinkannya mengendalikan unit-unit Eva lain tanpa perlu memasuki kokpit, dengan synchro rate yang dapat ia atur sendiri. Kenyataan inilah menjadikannya lawan yang teramat berbahaya.

Namun sesudah membajak unit Eva-02 dan membawanya ke Terminal Dogma, Kaworu kemudian menyadari bahwa berlawanan dengan prasangka kebanyakan orang, yang berada di Terminal Dogma bukanlah Adam, melainkan Lilith. Karenanya, sesudah melingkupi Shinji di Eva-01 dengan AT Field-nya dan memisahkannya dari dunia luar, Kaworu menyatakan keengganannya memusnahkan umat manusia lewat pemicuan Third Impact, dan akhirnya meminta Shinji untuk membunuhnya.

Bentuk penamaan yang diberikan padanya berbeda dari bentuk penamaan bagi sebagian besar Angel. Ia dikenal pula sebagai Malaikat Kehendak Bebas dan Alternatif.

  • Lilim

Angel kedelapan belas, yang pada dasarnya merupakan umat manusia sendiri, yang muncul ke dunia sebagai keturunan dari Lilith. Di sebagian materi, beberapa tokoh menyatakan bahwa Angel ini—atau dengan kata lain, umat manusia sendiri—tak semestinya dilahirkan ke dunia.

Sebenarnya diyakini juga memiliki AT Field. Namun berbeda dari para Angel yang mampu memanifestasinya dalam kehidupan nyata, AT Field manusia hanya sebatas pemisah satu manusia dengan manusia lainnya, yang menciptakan perbedaan antar individu.

Dengan demikian terjelaskan pula betapa masing-masing Angel merupakan perwujudan kemungkinan dari mahluk dominan yang akan menjadi penghuni Bumi.

(segini dulu, artikel suplemen ini masih akan berlanjut)

(disadur dari Wikipedia dan sejumlah sumber lain)

13/06/2010

Evangelion 2.22: You Can (Not) Advance

Berkat intervensi sepupuku, aku berkesempatan menonton edisi DVD dari keluaran film layar lebar kedua dari proyek Rebuild of Evangelion ini. Dua angka dua di belakang titik pada judul Evangelion 2.22: You Can (Not) Advance mengacu pada sedikit perbedaan minor yang dimiliki versi DVD ini dibandingkan versi bioskopnya. sedangkan subjudulnya bisa dibilang mengacu pada adegan konfrontasi antara unit mecha Eva-01 yang dikemudikan sang tokoh utama, Ikari Shinji, melawan unit Eva-03 yang lepas kendali.

Bagi yang belum tahu, film berdurasi dua jam produksi studio animasi Khara dan Gainax ini merupakan kelanjutan langsung dari film layar lebar pertama: Evangelion 1.01: You Are (Not) Alone. Kedua film ini merupakan bagian dari proyek Rebuild of Evangelion, yang merupakan proyek untuk mendaur ulang (remake) anime TV klasik Neon Genesis Evangelion yang sangat terkenal pada paruh akhir 90an. Inti kisahnya adalah tentang perjuangan umat manusia yang digawangi organisasi paramiliter NERV dalam melawan serbuan makhluk-makhluk raksasa misterius yang disebut Angel, dengan mengandalkan unit-unit mecha humanoid Evangelion yang untuk suatu alasan hanya bisa dikemudikan anak-anak remaja.

Film kedua ini cukup banyak dinanti, karena rumor menyebutkan bahwa di film inilah jalan cerita akan dibuat berbeda dari seri TV aslinya.

Perbedaan itu langsung terlihat di adegan pertama, saat sang tokoh baru, gadis berkacamata dengan rambut diikat dua Makinami Mari, mengemudikan Evangelion Unit 05 untuk menghadapi serangan Angel ketiga (!?)di terowongan-terowongan bawah tanah pangkalan NERV di Bethania Bay. Beberapa lama sesudah insiden itu, agen (ganda) NERV Kaji Ryoji berhasil lolos dari tragedi hancurnya pangkalan tersebut dan tiba di Tokyo-3 di mana ia memperlihatkan pada komandan NERV, Ikari Gendou, Kunci Nebucadnezzar yang berhasil ia bawa.

Para penggemar lama Eva, atau setidaknya, mereka yang tahu sedikit tentangnya, akan langsung bisa menemukan elemen-elemen baru yang ada pada film ini.

Apa itu Kunci Nebucadnezzar? Kenapa Angel yang menyerang itu dihitung sebagai yang ketiga? Bagaimana bisa insiden penyerangan Angel itu dianggap sebagai kecelakaan? Meski semua penggemar lama tahu semua ini akan terkait dengan apa yang disebut sebagai Human Instrumentality Project, yang pada dasarnya merupakan konspirasi internasional besar untuk menyatukan jiwa seluruh umat manusia, sudah jelas para produser akan mengambil pendekatan baru dari arah yang belum tertebak.

Karena sebagian besar porsi cerita film banyak dihabiskan untuk memaparkan dunia yang sudah dikacaukan insiden Second Impact, serta ditambah pengembangan karakter untuk tokoh lama yang baru muncul Shikinami Asuka (nama marganya pada proyek ini diubah dari Souryuu) yang mengemudikan Eva-02, sejauh ini tak banyak yang bisa diungkap mengenai Mari sebagai tokoh baru. Mari digambarkan sebagai semacam femme fatale, yang sesudah lolos dari kehancuran Eva-05, berkat bantuan suatu pihak, berhasil menyusup ke Tokyo 3 untuk suatu tujuan tertentu. Rasanya sedikit aneh karena Mari menjadi satu-satunya tokoh sentral yang tidak disorot sisi kejiwaannya. Kontras dengan para pilot lainnya, ia juga tampil sebagai satu-satunya pilot Eva yang tampaknya ‘tahu lebih banyak’ dibandingkan kebanyakan orang. Sayang sekali interaksi antara dia dengan para tokoh utama lainnya masih belum banyak. Jadi mungkin porsi ceritanya baru akan diberikan pada film-film mendatang.

Dunia digambarkan sudah berubah drastis semenjak Second Impact terjadi di Kutub Selatan. Iklim dan ekosistem rusak. Lautan-lautan berubah warna menjadi merah darah(!?). Serta Jepang kini seakan diliputi cuaca musim panas berkepanjangan. Aku tak ingat apakah nuansa ini digambarkan dengan gamblang pada seri TV-nya, jadi terus terang aku sendiri tak yakin bagaimana harus bereaksi terhadap hal ini.

Berkenaan ceritanya sendiri, meski alurnya kurang lebih sama, ada banyak sekali detil yang diubah. Asuka diceritakan akhirnya tinggal serumah bersama Shinji dan walinya, Katsuragi Misato, dan segera menuai kehebohan dengan berbagai tingkahnya yang menuntut perhatian. Tapi ia digambarkan lebih mudah menerima kehadiran Shinji dan kawan-kawannya, sehingga rasanya agak sayang karena porsi tampilnya tidak lebih banyak sebab konflik-konflik yang melibatkan dirinya pasti akan menarik. Ayanami Rei, gadis pendiam yang menjadi pilot Eva-00, perlahan mulai menghangat dengan apa yang dirasakannya terhadap Shinji. Mengikuti senyuman yang diperlihatkannya pada akhir film pertama, terlihat jelas bahwa Rei merupakan salah satu karakter yang paling banyak berubah pada film ini. Tanda-tanda tentang keberadaan organisasi misterius SEELE yang mengatur Nerv mulai terkuak, namun struktur kerja dan pelaksanaan rencana mereka terkesan sedikit berbeda. Hubungan Shinji dengan ayahnya, Gendou, pun secara agak mengejutkan digambarkan telah mencapai suatu titik saling pengertian, sampai suatu insiden naas di pertengahan film kemudian terjadi…

Singkat kata, film ini benar-benar bisa dibilang memaparkan cerita baru. Cerita baru yang hanya mirip cerita aslinya, tapi sama sekali tidak sama. Yang paling menonjol dari semua ini adalah berkurangnya kadar psychobabble, alias pembicaraan-pembicaraan bertema psikologis yang sulit dimengerti, ke tingkat yang membuat penonton dengan mudah memahami garis besar arah perkembangan cerita. Mereka-mereka yang tahu sekacau apa cerita seri TV-nya akan langsung ngerti betapa besarnya arti perubahan ini! Bahkan Shinji pun tidak lagi digambarkan selemah dan semenyedihkan sebelumnya, sehingga film ini jelas-jelas tidak sedepresif versi-versinya yang terdahulu. Meski demikian, nuansa suramnya yang penuh ketidakpastian masih tetap dipertahankan secara efektif. Yah, aku agak kecewa karena nuansa melankolis yang mewarnai seri TV-nya cukup absen dari film ini, karena fokus lebihnya terhadap intrik yang terjadi. Tapi perubahan ini masih bisa aku terima. Ada beberapa adegan yang penempatannya agak… bikin kita merasa aneh, tapi kurasa lebih baik aku tak bicara banyak soal itu dulu.

Para penggemar yang malas memikirkan soal sisi konspiratifnya yang rumit masih akan mendapat kepuasan dengan bertambahnya kadar fanservice. Adegan-adegan kebuasan ketiga (tambah dua) Eva masih diperlihatkan dengan porsi yang proporsional (meski aku agak menyayangkan berkurangnya sisi teknisnya). Para penggemar cewek juga masih bisa menyaksikan kemunculan kembali si cowok cantik Nagisa Kaworu, yang pada film ini mulai menjalankan peranannya yang entah apa dari luar angkasa(!?) dengan Evangelion Unit 06 yang teramat misterius (buatan SEELE?).

Aku tahu tak semua orang suka Evangelion. Tapi bahkan hanya sebagai referensi sekalipun, dengan kualitas presentasinya yang nyaris sempurna, film ini benar-benar layak ditonton.  Aku tak jamin orang-orang akan menyukainya sih. Aku juga belum dapat kabar kapan film berikutnya muncul (konon film ini lama sekali munculnya karena para staf terlalu sibuk mengerjakan versi kompilasi layar lebar Tengen Toppa Gurren Lagann).  Tapi film ini jelas terlalu menarik untuk dilewatkan.

Eh? Pendapatku soal perkembangan cerita yang mungkin terjadi? Aku punya perasaan aneh kalau seri film ini takkan sepenuhnya ‘meniadakan’ tamat seri aslinya. Aku takkan kaget bila ada teori dunia paralel yang tiba-tiba muncul…

Apa? Pendapat singkatku soal Makinami Mari? Yah, yang pasti sebagai cewek dia lumayan oke.

03/05/2010

Neon Genesis Evangelion

Setelah kupikir-pikir, cukup banyak penggemar anime muda yang belum tahu banyak tentang seri ini. Masuk akal, mengingat sekitar 15 tahun sudah berlalu semenjak seri ini pertama keluar. Di sisi lain, aku merasa ini salah satu jenis seri yang “Harusnya SEMUA penggemar sudah tahu tentang ini!” Apalagi  mempertimbangkan kedudukan dan pengaruh besarnya dalam sejarah perkembangan budaya visual modern Jepang.

Kurang lebih karena itu, tulisan ini kemudian aku buat.

Aplocalyptic History Lesson

Pertama kali keluar dalam bentuk serial TV pada tahun 1996, dengan judul lengkap Neon Genesis Evangelion (atau Shin Seiki Evangelion), seri ini secara perlahan tapi pasti menyedot perhatian berbagai kalangan (terutama orang-orang dewasa) karena pemaparan segala sesuatunya yang tidak biasa di dalamnya. Alur cerita yang agak ‘sulit’ untuk diikuti, tema cerita yang ‘sakit’, tokoh-tokoh cerita yang sebenarnya lebih ‘sakit’ lagi, serta tamat ‘menggantung’ serupa metafora yang menuai banyak sekali versi interpretasi sekaligus tanggapan pada masa-masa tatkala seri ini pertama digandrungi.

Evangelion berlatar pada awal abad 21, tatkala sebuah ledakan misterius di Kutub Selatan memicu sebuah bencana global yang memorak-porandakan seisi dunia. Kejadian yang diserupakan dengan jatuhnya meteor raksasa yang mengakibatkan berakhirnya zaman dinosaurus tersebut dikenal dengan nama ‘Second Impact’ (‘First Impact’-nya sudah terjadi dengan punahnya dinosaurus dulu).

Sebagian besar alurnya berkisar seputar remaja lelaki empat belas tahun, Ikari Shinji yang dipanggil oleh ayahnya, Ikari Gendou, ke kota Shin Tokyo 3 untuk menjadi pilot salah satu robot humanoid raksasa yang disebut-sebut merupakan harapan terakhir umat manusia, Evangelion Unit 01.

Shinji memiliki hubungan sangat buruk dengan ayahnya itu. Ia secara praktis telah ‘ditelantarkan’ di usia kecil semenjak ibunya meninggal dalam suatu kecelakaan kerja. Akibatnya, Shinji tumbuh menjadi seorang remaja pendiam yang sangat rendah diri, terutama bila harus berada di hadapan ayahnya itu. Ia tak bisa memahami pola pikiran ayahnya dan tidak bisa menebak maksud dari tindakan-tindakannya. Dari kacamatanya sendiri, Shinji merasa tak disayangi oleh ayahnya dan bahkan dipandang sebagai sampah.

Karena itu, Shinji menolak habis-habisan keinginan ayahnya itu, sekalipun ia telah diberitahu bahwa semenjak insiden Second Impact, nasib umat manusia terancam oleh serangan-serangan makhluk-makhluk raksasa misterius yang disebut Angel, serta satu-satunya pihak yang memiliki kapasitas untuk melawan mereka hanyalah organisasi paramiliter NERV yang dikepalai oleh Gendou sendiri.

Tapi Shinji berubah pikiran saat menyaksikan penderitaan yang harus dialami Ayanami Rei, gadis sebayanya yang menjadi pilot Eva-01 saat itu. Kecantikan dingin sekaligus sikap tak peduli maupun tak keberatan yang menjadi bagian dari sifat Ayanami mengubah pikiran Shinji dan membuatnya bersedia untuk duduk di kokpit Eva-01, sekalipun ia belum menjalani pelatihan atau tutorial apa-apa.

Di bawah petunjuk Mayor Katsuragi Misato, perwira wanita NERV yang belakangan mengajukan diri untuk mengurusi Shinji, Shinji dengan sebisanya mengendalikan Eva. Tapi alasan sesungguhnya mengapa Gendou bersikeras agar Shinji menjadi pilot baru terlihat saat synchro rate Shinji dengan Eva mencapai tingkatan yang sukar dipercaya, sampai-sampai Shinji hilang kesadaran(?), Eva-01 yang dikemudikannya lepas kendali, dan akhirnya dengan mudah menaklukkan Angel yang tengah dihadapinya.

Maka dimulailah kehidupan baru Shinji di Shin Tokyo 3, di mana ia dengan enggan menjadi pelindung kota itu sebagai pilot tetap dari Eva-01 (Ayanami sendiri menjadi pengendali dari unit Evangelion Unit 00, unit prototip yang dibuat sebelum Eva-01 dibangun). Di sana, ia menemukan potongan-potongan jawaban atas persoalan-persoalan pribadi yang tengah dihadapinya, kenalan-kenalan baru yang sesungguhnya menaruh kepedulian padanya, serta teka-teki sebuah konspirasi global yang taruhannya menyangkut keberlansungan hidup seluruh umat manusia.

Berat

Dengan menitikberatkan cerita pada drama kehidupan para karakter alih-alih plot menyeluruh seperti halnya seri-seri mecha lain, Evangelion meramu tema-tema psikologis, simbolisasi-simbolisasi religius, serta elemen-elemen misteri dalam sebuah tontonan yang hampir bisa dipastikan memberikan kesan teramat dalam. Dengan mecha ramping yang eksotis, latar kehidupan realis yang mendekati dunia nyata, karakter-karakter yang sangat hidup dan berkepribadian, serta nuansa konspirasi yang berat,  Evangelion memberi pengaruh besar pada dunia anime dan terus dikenang dan dibuat berbagai produk spin-off-nya bahkan sesudah sepuluh tahun berselang.

Cerita asli NGE itu berat. Sangat, sangat berat. Di sebagian besar episodenya, karena cara penuturannya yang sepotong-sepotong dan tidak selalu ‘verbal’, pemirsa dipastikan mengalami kesulitan mencerna apa-apa sesungguhnya yang tengah terjadi. Tapi karakter-karakternya yang memikat (hasil rancangan ternama dari Sadamoto Yoshiyuki, yang juga membuat adaptasi ceritanya dalam bentuk serialisasi manga, yang mulai terbit beberapa waktu sebelum animenya keluar) secara efektif mengikat penggemar untuk peduli terhadap mereka dan berkeinginan untuk tahu lebih lanjut mengenai apa selanjutnya yang akan terjadi.

Shinji digambarkan sebagai remaja berpendirian lemah yang secara perlahan semakin digerogoti keputusasaan akibat beratnya tanggung jawab sekaligus konsekuensi yang harus ia tanggung sebagai pilot EVA. Tapi upaya pelariannya yang setengah mati ia urungkan, serta alasan teramat kuat yang menjadikannya seperti ini, menjadi semacam paralel bagi banyak orang tatkala dilanda depresi dan stres berat selama menghadapi kehidupan nyata.

Ayanami yang sangat dingin dan bahkan nyaris hampa oleh emosi menjadi heroine yang mencolok tatkala ia perlahan-lahan berubah semenjak pertemuannya dengan Shinji. Tapi ada banyak sekali misteri seputar asal-usulnya serta hubungannya yang sesungguhnya dengan Gendou, yang memikat perhatian penggemar sekaligus membuat mereka terus bertanya-tanya.

Souryuu Asuka Langley, yang diperkenalkan di pertengahan seri sebagai pilot Evangelion Unit 02, secara efektif menjadi heroine kedua yang ‘menyeimbangkan’ hubungan Ayanami dengan Shinji. Karakternya yang tinggi hati, ceria, dan sangat percaya diri, yang bisa dibilang merupakan antitesis dari Shinji, memberikan suatu kesan ironis karena dirinya pun ternyata memiliki akar masa lalu kelam yang membentuk kepribadiannya menjadi seperti sekarang.

Sedangkan Misato, tokoh ngasal yang sangat profesional di tempat kerja tapi menjadi sangat serampangan dan seenaknya di dalam rumah, anehnya bisa jadi merupakan tokoh dengan pikiran paling sehat di dalam seri ini.

Ada banyak sekali tokoh lain, tapi tokoh-tokoh prinsip bisa dikatakan adalah mereka berempat.

Kelak kemudian terungkap bahwa para pilot Eva yang notabene hanyalah anak-anak tidaklah terpilih secara kebetulan. Suatu pihak misterius yang disebut Marduk konon bertanggung jawab atas terpilihnya mereka. Lalu diperkenalkannya tokoh mantan pacar Misato, Kaji Ryoji, kemudian memunculkan indikasi bahwa NERV sama sekali tidak ‘seterhormat’ seperti yang tampak pada permukaan. Hal ini membawa kita pada pertanyaan soal mengapa para Angel terus-menerus menjadikan Shin Tokyo 3 sebagai sasaran, yang membawa kita pada pertanyaan lain soal apa peran sesungguhnya dari unit-unit Eva, yang bisa jadi sebenarnya bukan sekedar ‘mesin’ belaka.

Semacam Harapan Terakhir

Meski berbagi unsur-unsur yang mirip, NGE sulit untuk dikategorikan sebagai cerita super robot. Ceritanya yang kerapkali intens oleh emosi (atau sepenuhnya sebaliknya) dihias oleh realisme teknologi yang membuatnya lebih mendekati genre real robot. Adegan-adegan pertempuran melawan setiap Angel, serta adegan-adegan pelatihan dan persiapan yang dilakukan sebelumnya, senantiasa memberi kesan karena tingkat kekreatifitasan yang senantiasa ditampilkan di dalamnya. Tapi elemen-elemen aksi tersebut memudar di pertengahan seri saat plot berkembang semakin berat ke arah psikologis, yang seolah berusaha menggambarkan rentannya perasaan yang dialami para tokohnya.

Ide cerita Evangelion yang berat dan aneh berawal dari depresi yang melanda sang sutradara sekaligus pencetus cerita, Anno Hideaki, yang sampai-sampai membuatnya harus dirawat di rumah sakit jiwa. Selama dirawat di RSJ itulah, beliau menyusun konsep cerita Evangelion(!), yang kemudian menjadi harapan terakhir studio animasi Gainax yang akhirnya menyelamatkannya dari kebangkrutan.

Keadaan budget rendah inilah yang menjelaskan kualitas animasi luar biasa setara movie yang Evangelion miliki di episode-episode awal terus menurun hingga menjelang akhir, serta nuansa cerita yang berubah secara radikal seiring dengan kendala-kendala yang dihadapi selama proses produksi (suatu hal yang memicu kontroversi luar biasa dari berbagai penggemar). Akibatnya, versi seri TV Evangelion berakhir dengan cara yang… tidak wajar, yang kemudian menuai kontroversi di kalangan banyak penggemarnya.

Kesuksesan itu pulalah yang kemudian mendorong Gainax untuk meluncurkan dua film layar lebar yang menjadi ‘penuntas’ seri ini, Evangelion: Death and Rebirth serta The End of Evangelion. Death and Rebirth merupakan penceritaan ulang berbentuk kompilasi dari seri TV-nya, dengan bagian akhir cerita yang diubah. Sedangkan The End of Evangelion memaparkan tamat sesungguhnya(?) dari seri ini yang ternyata sangat apokaliptik.

Dari konsep awalnya, yang semula hendak membuat sesuatu yang mirip Space Runaway Ideon, NGE berkembang menjadi sesuatu yang lain sama sekali akibat muatan psikoanalisis dan filsafatnya.

Tapi terlepas dari segala kontroversinya, NGE menuai kesuksesan luar biasa dan menjadi seri pertama yang terpilih sebagai anime favorit selama tiga tahun berturut-turut (sebuah prestasi yang baru bisa disamai bertahun-tahun berikutnya oleh Code Geass). Ayanami dan Asuka hingga kini menjadi tokoh yang populer di kalangan penggemar bahkan sesudah lewatnya satu dasawarsa semenjak kemunculan perdana mereka.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada banyak sekali side-story dan produk sampingan yang dibuat, baik yang memiliki relevansi dengan cerita aslinya atau tidak. Tapi baru pada tahun-tahun belakangan ini saja, franchise ini dirilis ulang sebagai sesuatu yang sama sekali baru, dalam bentuk rangkaian film layar lebar di bawah nama proyek Rebuild of Evangelion, yang merupakan penceritaan ulang dari cerita aslinya dalam nuansa yang diharapkan lebih positif (ya, ceritanya akan berbeda, terutama dengan kemunculan tokoh baru, Makinami Mari Ilustrious).

Detil lebih lanjut tentang seri ini, mungkin lebih baik dicari sendiri.

Sedikit info tambahan, bagi mereka yang mengharapkan penyelesaian cerita secara tuntas, adaptasi manga buatan Sadamoto-sensei adalah versi seri ini yang paling direkomendasikan. Adaptasi ini diterjemahkan di Indonesia oleh penerbit mnc, walau saat tulisan ini kuedit, mencari edisi lengkapnya sudah agak-agak sulit. (Ini terutama mempertimbangkan betapa serialisasi versi manga ini berlangsung sampai belasan tahun.)

Perlu kusinggung juga, versi anime dari seri ini bisa jadi merupakan karya yang ‘cacat’ sebagai cerita, dan mungkin berakhir tak memuaskan bagi sejumlah orang. (Shinji tak benar-benar sepenuhnya berhasil bangkit dari keterpurukannya, misalnya.) Tapi seri ini menggambarkan secara apik suatu kondisi pribadi dengan cara yang sebelumnya tak terbayangkan orang. (Soal depresi kejiwaan.) Lalu karenanya, sampai kinipun, waralabanya terbilang istimewa.