Posts tagged ‘feel’

21/04/2016

Dagashikashi

Dagashikashi merupakan salah satu anime yang lumayan menarik perhatian pada awal tahun lalu.

Berlatar di masa liburan musim panas, ini jenis seri komedi yang tayang pada musim yang tak sesuai dengan apa yang ditampilkan di dalamnya (berkebalikan dengan… Flying Witch, misalnya, yang sekarang sedang tayang). Kalian tahu, mungkin dengan maksud agar musim dingin lalu tidak terasa terlalu dingin.

Dagashikashi bercerita tentang keseharian sekelompok teman di sekitar suatu toko permen tradisional Jepang (istilahnya adalah ‘dagashi kashi’ dan ‘permen/cemilan tradisional murah’ ini istilahnya ‘dagashi’) di suatu kota kecil. Tak ada adegan sekolah. Yang ada hanya keseharian selama mereka punya waktu senggang. Lalu keseharian mereka ini selalu menyangkut keberadaan dagashi dalam hidup mereka.

Shikada Kokonotsu (nama panggilannya adalah Coconuts, ‘kelapa’) adalah remaja putra pemilik suatu toko permen, tapi cita-cita yang dikejarnya adalah menjadi manga-ka. Kokonotsu selama ini membantah pengharapan orang yang mengira bahwa ia akan mewarisi toko ini. Sampai suatu hari, datanglah seorang gadis aneh bernama Shidare Hotaru ke tokonya.

Keluarga Shidare dari mana Hotaru berasal merupakan produsen dagashi besar. Hotaru, yang sangat cantik tapi nampak sangat tergila-gila pada dagashi dan dagashi kashi, bermaksud merekrut ayah Kokonotsu, Shikada You (yang juga lumayan eksentrik; kalau sedang sendirian, hobinya adalah nge-rap), ke dalam perusahaan keluarganya. Tapi You ternyata hanya mau direkrut kalau Kokonotsu bersedia menggantikannya sebagai pemilik toko keluarga mereka.

Jadilah, Hotaru semenjak itu mulai sering datang toko Shikada setiap hari, dengan maksud untuk membujuk Kokonotsu agar mau mewarisi toko tersebut sekaligus menunjukkan betapa menakjubkannya dunia dagashi padanya.

Terlalu Banyak Serotonin Mengalir ke Kepalaku!

Ini tak langsung kelihatan sih. Tapi meski para karakternya masih berusia muda, Dagashikashi menonjolkan rasa nostalgia dan kesukaan terhadap toko-toko permen yang ‘logikanya’ dimiliki oleh orang-orang tua.

Mungkin karena ini jenis seri bertema slice of life, tak banyak perkembangan karakter yang ditampilkan di dalamnya. Tapi di sisi lain, seri ini cukup luar biasa dengan caranya menonjolkan suatu dagashi berbeda sebagai inti cerita di setiap episodenya.

Hampir setiap hari Hotaru mendatangi toko Kokonotsu (yang sering dibuat agak deg dengan kemunculannya). Lalu ia akan mengajukan suatu kuis trivia tentang dagashi yang ia beli pada Kokonotsu dan dua sahabat dekatnya yang kerap main ke sana, saudara kembar dari keluarga pemilik kafe langganan penduduk sana, Endou Tou (laki-laki, sering memakai kacamata hitam dan ingin bisa populer) dan Endou Saya (perempuan, cantik dan kurus, diam-diam sejak kecil telah suka pada Kokonotsu).

Mungkin juga karena para karakternya itu, beragam kejadian yang terjadi bisa benar-benar menghibur karena perkembangannya yang benar-benar konyol. Mulai dari berbagai permainan keterampilan yang Hotaru cetuskan (yang entah mengapa selalu dimenangkan Saya), ramalan yang kadang dipakai oleh Tou, sampai saat-saat ketika Hotaru menderita karena sariawan; benar-benar ada banyak yang terjadi di sepanjang seri ini. Lalu bersama setiap kuis Hotaru, makin terlihat betapa Kokonotsu sebenarnya adalah seorang ahli soal dagashi, yang meski banyak mengeluh, memang benar-benar mewarisi banyak keahlian dan keterampilan dari ayahnya.

Jadi, kalau kau ternyata tipe orang yang bisa suka karakter-karakternya ini, walau perkembangannya minim, kau bakal lumayan nyaman dengan Dagashikashi.

Mencicipi Untuk Jatuh Cinta

Produksi anime Dagashikashi (kalau ditulis ‘daga shikashi’, judulnya juga dapat berarti ‘akan tetapi’) dilakukan oleh studio feel., yang sudah lumayan naik daun semenjak kesuksesan mereka menganimasikan season kedua Oregairu. Sutradaranya adalah Takayanagi Shigehito, yang sebelumnya pernah menyutradarai adaptasi anime Tokyo ESP dan The World God Only Knows. Naskahnya dibuat oleh Kamo Yasuko. Jumlah episodenya sebanyak 12.

Dagashikashi sendiri diangkat dari manga karya Kotoyama yang diserialisasikan di majalah Weekly Shonen Sunday milik Shogakukan semenjak pertengahan 2014. Jadi iya, ini seri yang secara relatif terbilang benar-benar baru. Makanya bisa kumaklumi bila cakupan animenya hanya segini.

Meski sempat merasa aneh karena mengira manga Dagashikashi lebih cocok dianimasikan studio SHAFT (terutama karena gaya gambar mata Kotoyama-sensei yang khas; dan karenanya juga, adaptasi desain karakter oleh Kamimoto Kanetoshi di seri ini termasuk sangat keren), studio feel. benar-benar berhasil melakukan kerja bagus di seri ini. Selain dengan menampilkan visual animasi yang benar-benar enak dipandang, mereka berhasil menampilkan sejumlah momen interaksi karakter yang melarutkan.

Eksekusinya juga termasuk bagus. Terlepas dari isu minimnya perkembangan karakter di atas, tetap rasanya menakjubkan betapa banyak yang bisa digali dari perbincangan seputar dagashi.  Animasi penutup yang bertema Alice in Wonderland, yang mana Hotaru dan Saya ditampilkan menari di dalamnya, punya daya tarik psychadelic yang benar-benar keren tanpa menjadi terlalu fanservice-y. Lalu semua ditunjang dengan musik dan performa para seiyuu-nya yang terbilang bagus.

Aku serius terkesan dengan para seiyuu-nya. Peran kunci Hotaru dipegang oleh Taketatsu Ayana yang kurasa sekarang benar-benar sudah dikenal. Selain menyuarakan Hotaru—yang merupakan karakter yang bisa berkesan bijaksana dan idiot pada waktu yang sama—Taketatsu-san menyanyikan lagu penutup ‘Hey! Calorie Queen’ dengan nada suara benar-benar berbeda. Abe Atsushi, yang paling dikenal dengan perannya sebagai Kamijou Touma dalam seri Toaru Majutsu no Index, menampilkan tingkat keseimbangan antara canggung dan tsukkomi yang pas, yang pada saat-saat tertentu membuat maklum mengapa Saya bisa suka pada karakternya. Tou dan Saya diperankan secara pas oleh dua nama yang sedang naik daun, masing-masing oleh Tatsuhisa Suzuki dan Numakura Manami. Bahkan suara You-chan yang berkesan dalam tapi seringkali enggak penting itu dihidupkan pas oleh suara veteran Fujiwara Keiji.

Pada akhir tahun lalu, aku mengira Dagashikashi akan menjadi ‘kuda hitam’ di musim tersebut. Aku ternyata salah (yang menjadi ‘kuda hitam’ ternyata Konosuba). Tapi tetap saja, Dagashikashi menjadi seri menonjol dengan kualitas produksi yang benar-benar bagus. Memang tak memuaskan. Tapi di sisi lain, termasuk berkesan. Terutama dengan caranya menggambarkan bagaimana sekelompok teman ‘bermain’ tanpa terlalu terikat pada pesona gadget dan social media.

Wow. Memandang ke belakang, musim dingin 2016 kurasa benar-benar musim tayang yang solid.

Pastinya, semenjak mengikuti seri ini, aku jadi semakin menghargai produk-produk lokal yang murah.

Aku serius jadi kagum pada Jepang sebagai negara, bila mereka sampai mampu menumbuhkan nostalgia terhadap produk-produk komersil mereka begini. Itu tandanya mereka punya cinta dan kebanggaan terhadap produk dalam negeri!

Yeah, kualitas, semangat berkarya, dan kerja keras pada akhirnya kayak jadi penentu banyak hal.

(Ini kayak jadi kenyataan yang bikin iri karena kebanyakan pekerjaan di Indonesia kayak enggak banyak mendatangkan kepuasan.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: C; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+

Iklan
Tag: ,
12/04/2016

Oshiete! Galko-chan

Oshiete! Galko-chan atau Please Tell Me! Galko-chan diangkat dari manga karya Suzuki Kenya yang diterbitkan Kadokawa. Ini seri animasi pendek (sekitar 7 menit per episode) yang pada musim dingin lalu sempat lumayan menarik perhatianku. Disutradarai Kawaguchi Keiichiro yang juga menangani komposisi seri, produksi animasinya dibuat oleh studio feel.. Hasilnya lumayan bagus.

Kalau dibilang… kurasa ini seri komedi?

Premis dasarnya, di suatu SMA, ada tiga orang siswi yang berteman: Galko, seorang gyaru berbadan bongsor yang terlepas dari penampilannya yang menarik perhatian, sebenarnya orang yang hatinya masih pure; Otako, seorang siswi berkacamata berbadan kurus dan relatif kecil yang duduk berdekatan dengan Galko, dan bisa dibilang semacam sahabatnya; lalu Ojou, seorang siswi anak orang kaya yang sopan dan pintar (meski agak lambat), yang karena suatu alasan tertarik pada dua orang ini dan ingin bisa lebih dekat dengan mereka.

(Sedikit informasi, semua karakter di seri ini tak dibeberkan nama aslinya. Semua karakter selalu memanggil dan menyebut satu sama lain dengan nama panggilan masing-masing. Ini juga berlaku buat para karakter sampingan selain ketiga karakter di atas.)

Interaksi mereka di awal cerita biasanya dimulai dengan bagaimana Otako dengan jahil menanyai Galko sesuatu yang punya konotasi sedikit nakal. Pertanyaannya biasanya ditanggapi Galko dengan cara-cara tak terduga yang ujungnya biasanya lucu.

Sesederhana itu.

Aku awalnya tak berharap banyak. Malah, aku sempat mengira ini jenis seri seinen yang sengaja dibuat untuk memberi efek titilasi. Itu tak salah sih. Tapi di luar dugaan, seperti halnya Galko sendiri, ada beberapa bagian di dalamnya yang benar-benar terasa tulus dan lumayan membuatku berpikir.

Apa benar…?

Kurasa aku belum pernah menyinggung kalau satu-satunya seri anime pendek yang sepenuhnya kusukai adalah Wooser’s Hand-to-Mouth Life. Aku jelas tak bisa bilang itu seri yang bagus sih. Hanya sekedar ada sesuatu tentangnya yang ‘cocok’ denganku saja.

Tapi berbeda kasusnya dengan Wooser (dengan pengecualian season ketiganya yang disutradarai Mizushima Seiji), ada sesuatu tentang Galko-chan yang seriusan bisa aku bilang bagus. Persisnya itu apa, aku tak bisa menjelaskan. Tapi intinya, kalau kalian menyukai komedi-komedi pendek berbasis dialog kayak begini, ada kemungkinan lumayan besar kalau ini akan jadi sesuatu yang kalian suka.

Eh? Bahasan kali ini cuma ini doang?

Uh, iya. Kali ini cuma segini doang.

Oh. Iya. Berhubung temanya yang kayak begini, materi bahasannya memang bisa agak lumayan berbau dewasa. Jadi jangan terlalu memaksakan diri.

Tag: ,
29/06/2015

Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa Machigatteiru. Zoku

(Ini adalah pembahasan untuk season 2 seri ini. Pembahasan untuk season 1 bisa ditemukan di sini.)

Belakangan, ada beberapa orang yang menanyaiku soal apa sebenarnya yang terjadi di Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa Machigatteiru. Zoku (‘zoku’ mungkin kira-kira berarti ‘kelanjutan’). Tapi berhubung aku belum baca novelnya, dan aku hanya tahu soal ceritanya dari animenya seperti mereka, terus terang aku juga enggak bisa bilang banyak.

Anime yang juga dikenal dengan judul My Teen Romantic Comedy SNAFU TOO! (‘too’ di sini berarti ‘juga’, walau dalam konteks ini merupakan plesetan homofon dari kata ‘dua’), merupakan season kedua dari adaptasi anime Oregairu yang diangkat dari seri light novel karangan Wataru Watari, dengan ilustrasi buatan Ponkan8. Anime ini tayang di sepanjang musim semi 2015 lalu, dengan total jumlah episode sebanyak 13.

Berbeda dari season sebelumnya yang dianimasikan oleh Brain’s Base, musim tayang kali ini diproduksi oleh studio Feel, dengan Oikawa Kei (yang sebelumnya secara apik menangani Outbreak Company) sebagai sutradara, dan naskah yang masih dikerjakan oleh Suga Shoutarou. Meski nuansanya agak berubah, dan desain karakternya yang dibuat Shindou Yuu juga sedikit berbeda, para seiyuu yang sama masih kembali, dan kualitas ceritanya juga masih sesolid sebelumnya.

Menyinggung desain karakter, berhubung itu salah satu aspek yang paling mencolok, aku pribadi merasa lebih suka gaya desain karakter di season sebelumnya. Tapi memang ada sesuatu dengan gaya desain karakter di season ini yang kayak lebih sesuai dengan temanya, karena seakan menegaskan kesamaan hubungan dan situasi antara para tokoh utamanya.

Sebelum aku melanjutkan, tahun 2014 bisa dibilang merupakan tahunnya Oregairu. Season 1 animenya benar-benar diminati di Jepang, dan sangat mendorong popularitas dari seri light novel-nya. Karenanya, bisa dibilang kalau kelanjutannya ini lumayan disambut.

…Malah, kayaknya Oregairu.Zoku disambut agak lebih antusias dari yang kukira?

Jadi mungkin popularitasnya untuk saat ini masih akan terus berlanjut.

Jurusan yang Dipilih

Oregairu.Zoku mengetengahkan kelanjutan drama kehidupan si remaja pemurung Hikigaya Hachiman, beserta dua teman perempuannya di Klub Sukarela SMA Soubu, Yukinoshita Yukino yang dikenal sebagai salah satu murid perempuan tercantik dan terpandai di sekolahnya; serta Yuigahama Yui, teman sekelas Hachiman yang ramah dan selalu ceria.

Berlatar sesudah festival budaya, sesudah masuknya musim gugur dan menjelang musim dingin, hubungan di antara ketiganya sudah agak berubah dibandingkan sebelumnya. Ada tanda-tanda saling mengakui yang telah ada, di tengah kesibukan kegiatan klub mereka dalam membantu masalah-masalah pribadi orang lain. Yukino setidaknya, sudah tak lagi sering adu hinaan dengan Hikigaya.

Tapi selama karyawisata ke Kyoto, Klub Sukarela menerima satu permintaan dari salah satu teman sekelas Hikigaya dan Yui, Tobe Kakeru, terkait Ebina Hina, yang kemudian diselesaikan Hikigaya dengan cara yang menghasilkan dampak jangka panjang terhadap hubungannya dengan orang-orang terdekatnya.

Hikigaya—dengan kecendrungannya untuk menjadikan diri sebagai pihak yang ‘berkorban’ setiap kali ia berusaha menyelesaikan masalah—akhirnya menuai akibat jangka panjang dari caranya mengatasi persoalan di season ini. Lalu akibat tersebut akan mendatangkan perpecahan pada kedekatan Klub Sukarela yang sudah terbangun.

Apa Ini Benar Atau Salah

Pada season ini, daripada masalah-masalah lepas yang didatangkan Hiratsuka-sensei kepada mereka, Hikigaya dan kawan-kawannya menghadapi persoalan-persoalan yang ujung-ujungnya berbalik pada masalah pribadi mereka masing-masing. Hikigaya dengan pandangan negatifnya terhadap orang lain dan membuatnya seakan tak peduli, Yukinoshita dengan pengharapan yang orang lain berikan atas dirinya, serta Yuigahama yang terutama hanya ingin menjaga keselarasan hubungan di antara mereka.

Makanya… kalau kau tanya soal apa persisnya yang terjadi, seri ini justru bagus karena tak menampilkan soal itu dengan benar-benar jelas. Karena ini soal hal-hal yang para karakternya juga tak benar-benar pahami sendiri.

Tema utama seri ini, yaitu soal ‘memahami dan mengerti apa yang ada di hati dan pikiran orang lain,’ berhasil tersampaikan dengan lumayan telak. Jadi ini semua soal persepsi dan kesubjektifan gitu. Aku sendiri sempat lumayan tertegun pada beberapa bagian, begitu menyadari “Oh, hubungan dengan si ini ternyata sudah sampai sini.” atau “Ah. Jadi dia tipe orang yang dulu pernah ngalamin hal kayak gitu.”

Beberapa hal yang patut dicatat adalah bagaimana season ini memperkenalkan karakter penting baru, seorang adik kelas atraktif bernama Iroha Isshiki, yang semula minta bantuan ke Hikigaya dan kawan-kawannya karena terseret menjadi salah satu calon Ketua OSIS/Dewan Siswa yang akan menggantikan Shiromeguri-sempai yang sudah mau lulus. Iroha yang populer dinominasikan oleh sebagian besar siswa cowok. Tapi Iroha pribadi merasa dirinya takkan mampu, dan berharap untuk bisa menemukan cara untuk mengundurkan diri tanpa menyinggung perasaan orang-orang yang (dengan seenaknya) telah mencalonkan dirinya.

Tapi kasus yang dibawa Iroha kemudian berbalik pada dampak akhir penyelesaian kasus karyawisata sebelumnya, yang berkaitan dengan persahabatan(?) geng Hayama Hayato dan kawan-kawannya di kelas Hikigaya, di mana Tobe dan Ebina tergabung. Salah satunya terutama karena sebagai salah satu manajer di Klub Sepakbola di mana Hayama menjadi pemain as, Iroha juga ternyata menaruh perasaan terhadap Hayato.

Salah satu jalan keluar adalah apabila Yukino yang telah memiliki citra baik di kalangan para guru ikut mencalonkan diri. Tapi alternatif tersebut tak disetujui oleh Hikigaya dan Yui, karena keberlangsungan Klub Sukarela tanpa adanya Yukino sebaliknya akan terancam; indikasi kalau tempat tersebut telah menjadi sesuatu yang lebih berarti dari yang mereka kira.

Di sisi lain, semua urusan yang terkait dengan Hayato—berhubung dirinya salah satu orang paling dikenal di SMA Soubu—juga berujung pada pertemuan kembali Hikigaya dengan gadis yang dulu pernah menolaknya waktu SMP dulu…

Apa Ini Asli Atau Tidak

Apa yang paling tak disangka dari perkembangan cerita di season ini kurasa ada pada bagaimana semua masalah seakan terjadi pada waktu bersamaan, dan lama-lama menghasilkan dampak yang seakan makin mengerucut.

Berbeda dari season sebelumnya, bahkan dengan kejelian matanya sekalipun, Hikigaya kali ini dibuat ‘bulan-bulanan’ oleh situasi-situasi yang dihadapinya. Sebab meski ia lebih memahami apa yang terjadi dibandingkan kebanyakan orang, ia tetap jadi disadarkan dengan segala keterbatasan (dan kemunafikan?) yang dimilikinya, yang membuatnya jadi tak berdaya.

Ada satu adegan berkesan ketika Hikigaya akhirnya mau membuka diri pada adik perempuannya yang tersayang, Komachi, soal situasi yang dia hadapi, yang kalau dijabarkan, kira-kira pada bagaimana ‘karena dirinya sudah melakukan ini, maka dirinya juga sudah enggak bisa melakukan itu.’ Lalu ini kemudian secara keren ditanggapi Komachi dengan sesuatu kayak “Kalau begitu, lakukanlah demi aku!”

Tapi itupun hanya solusi sementara terhadap suatu persoalan panjang yang akhirnya Hikigaya sadari soal dirinya sendiri.

Hal serupa juga dialami oleh Yukino dan Yui, terutama sesudah kasus pemilihan ketua OSIS yang sempat membuat suasana di antara mereka menjadi enggak enak (yang sebagian juga diakibatkan oleh tumbuhnya perasaan dari keduanya terhadap Hikigaya, yang untuk saat ini sama-sama masih mereka pendam).

Yukino disadarkan dengan bagaimana selama ini dirinya mungkin telah bersikap, baik secara langsung atau enggak langsung, hanya untuk memenuhi kemauan dan pengharapan orang lain. Baik dengan bagaimana ia berprestasi dan menjaga jarak. Tapi terutama dalam mengikuti jejak kakak perempuannya yang cantik dan populer, Yukinoshita Haruno, yang berlawanan dengan segala perkembangan yang Yukino alami belakangan, kini secara terang-terangan menunjukkan keenggaksukaan (dengki?) yang ia punyai terhadap adiknya.

Kepasrahan yang Yukino punyai, sesudah segala yang terjadi, benar-benar berhasil diperlihatkan secara pas menjelang pertengahan seri ini. Ini berhasil ditampilkan secara alami, sehingga mungkin ini sesuatu yang enggak langsung kau sadari kalau tak mengingat betapa dominannya Yukino di awal cerita.

Sedangkan Yui, apa-apa yang terjadi akhirnya membuka mata Hikigaya bahwa mungkin Yui yang pendapatnya paling benar di antara mereka bertiga. Sementara, Yui sendiri telah terlanjur sangat menyayangi kedua sahabatnya. Tapi ia tak bisa tak merasa dirinya akan ditinggalkan sesudah menyaksikan betapa Yukino, dengan segala persoalan pribadinya, yang mungkin lebih membutuhkan keberadaan Hikigaya daripada dirinya, sekalipun Yui notabene telah tahu tentang kebaikan Hachiman lebih lama.

Iroha sendiri, yang semula ditampilkan hanya punya satu sisi, ternyata adalah karakter kompleks yang punya isu-isunya sendiri. Meski ia semula—seperti kebanyakan orang—memandang Hikigaya dengan sebelah mata, tapi lambat laun pendapatnya pun berubah sesudah melihat Hikigaya sesungguhnya seperti apa. Lalu ia pun jadi salah satu orang yang secara langsung menyaksikan dan menyadari (atau mungkin juga enggak…) perubahan yang terjadi dalam hal hubungan manusia antara Hikigaya dan orang-orang di dekatnya.

Lalu satu yang secara khusus perlu disebut adalah soal Hayato. Dia karakter yang tahu-tahu saja telah punya kedudukan sensitif di hati banyak orang di sekelilingnya. Seiring dengan akan berakhirnya tahun ajaran, waktu yang dia punya untuk ‘membereskan apa-apa yang belum terselesaikan’ semakin sedikit. Lalu ada sesuatu dalam diri Hayato yang membuatnya tak tahan membiarkan Hikigaya terus-terusan merugikan diri seperti sekarang ini.

Tapi situasi semakin kompleks saat ketenaran Hayato bahkan telah dikenal sampai ke sekolah-sekolah lain, dan keluarganya juga terungkap telah lama memiliki hubungan dengan keluarga Yukinoshita…

Totsuka Route

Bicara soal teknis, kau bisa merasakan adanya perubahan gaya pengarahan di musim tayang ini. Tapi gaya pengarahannya masih keren kok. Lalu yang benar-benar patut dipuji, para pembuatnya berhasil membuat agar arahan ceritanya tetap ‘nyambung’ dengan apa-apa yang dipaparkan di season sebelumnya (yang notabene dibuat pihak lain), dengan referensi-referensi ke kejadian lampau, serta pada bagaimana variasi dua soundtrack di season sebelumnya, ‘Yukitoki’ dan ‘Hello Alone’ sesekali kembali dimainkan.

Dari segi presentasi, seri ini benar-benar tak ada masalah. Visual dan audionya terbilang keren. Bahkan ada beberapa adegan yang secara khusus kuingat karena ‘ketersiratannya’ benar-benar kuat; adegan saat Hikigaya mengantarkan kembali Yukino pulang ke hotel sambil menjaga jarak, sampai ke cara polos Iroha dalam menanggapi situasi-situasi di luar dugaan.

Kalau ada sesuatu yang menurutku agak kurang dalam eksekusinya, mungkin pada adegan-adegan ketika Haruno tampil. Kerap kali ditampilkan ekspresi kegusaran yang mencolok sebagai reaksi atas kata-kata Haruno. Pada saat ini terjadi, meski wajar pada diri Yukino, menurutku masih ada yang agak kurang mulus penyampaiannya bila melibatkan karakter-karakter lain, sehingga kita kayak dibuat sedikit ambigu tentang apa-apa yang baru terjadi.

Mungkin memang ada isu pada penataan bahasa tubuh juga. Tapi ini kekurangan yang terbilang minor, yang mungkin bahkan enggak akan disadari orang. Tapi lagian emang enggak gampang menata itu secara bagus.

Selebihnya, hampir semua karakter lama kembali tampil di season ini. Yaps, termasuk Zaimokuza Yoshiteru dan Totsuka Saika, dan bahkan beberapa karakter minor lain.

Yanagi Nagi kembali membawakan lagu pembuka yang baru dengan suara merdunya. Lalu pengisi suara Yukino dan Yui , Hayami Saori dan Toyama Nao, secara bersama dan bergantian kembali membawakan lagu penutup untuk seri ini.

Kalau melihat lagi ke belakang, pada titik ini seriusan terasa betapa ceritanya telah berkembang jauh. Adegan saat Hikigaya mempertanyakan ulang kesan pertamanya terhadap kedua temannya, tentang Yui merupakan ‘gadis yang baik’ (yang tak terlalu bisa mengekspresikan diri) dan Yukino merupakan ‘gadis yang kuat’ (yang memandang rendah orang lain), benar-benar menyadarkanku akan hal ini. Lalu ini diperkuat pada bagaimana Yui akhirnya berhasil menyerahkan cookie buatannya sendiri, yang kalau diingat, merupakan landasan dari permintaannya pada Klub Sukarela jauh di awal cerita…

Kalau ada kekurangan lain, mungkin pada bagaimana segala sesuatunya terasa masih tersamar, dan betapa akhir cerita di episode terakhir terasa agak menggantung, seakan sedang mengalami peralihan sebelum memasuki babak berikutnya. Lalu juga soal bagaimana bagi Yukino dan Yui, permintaan yang Hachiman ajukan pada mereka berdua, sebagai klien Klub Sukarela, mereka anggap masih berlanjut…

Akhir kata, aku penasaran dengan kelanjutan nasib mereka. Aku ingin tahu apa ada pelajaran lebih banyak yang bisa kuambil dari mengikuti cerita ini.

Walau masih belum jelas, sesudah semua ini, kurasa aman bagi kita untuk mengharapkan adanya season ketiga.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: A; Perkembangan A-; Eksekusi A-; Kepuasan Akhir: A-

Konflik batin utama Hikigaya ada pada bagaimana penolakan Kaori terhadapnya di depan umum, di masa lalu, membuatnya trauma karena sadar bahwa tak mungkin ada dua orang saling menyikapi sesuatu dengan benar-benar sama. Tapi semakin Hikigaya dekat dengan Yui dan Yukino, semakin ia menyadari pula bagaimana ia ternyata tak berbeda dari Hayato dan kawan-kawannya, pada bagaimana ia tak ingin melepas hubungan pertemanan superfisial yang mungkin ada di antara mereka.

Sedangkan konflik utama Yukino ada bagaimana dirinya sedemikian sudah terdiktenya dengan pengharapan orang lain, sehingga dirinya tak lagi mampu memutuskan apa-apa untuk dirinya sendiri. Bahkan saat ia mengganti jalur pilihannya agar bisa tetap sama dengan Hikigaya dan Yui, hal ini pun dilakukannya bukan atas keinginannya sendiri tapi lebih untuk memenuhi pengharapan dua sahabatnya ini, dan hal ini yang tiba-tiba disadari Hikigaya pada saat-saat terakhir cerita.

…Belum lama ini ada seseorang yang berbaik hati menjelaskannya agar lebih jelas.

22/06/2015

Ushinawareta Mirai o Motomete

Aku sudah agak lama ingin menulis tentang Ushinawareta Mirai o Motomete, atau yang judul bahasa Inggrisnya adalah In Search of the Lost Future. Subjudulnya yang berbahasa Perancis, À la recherche du futur perdu, kurang lebih berarti sama, yang kira-kira adalah ‘mencari masa depan yang hilang.’

Sebelumnya, perlu aku sampaikan kalau ini bukan seri yang cocok buat kebanyakan orang. Ada beberapa hal tertentu tentangnya… yang kalau dibahas bisa agak memicu perdebatan.

Terlepas dari semuanya, anime ini diangkat dari game visual novel dewasa berjudul sama buatan Trumple yang keluar tahun 2010 (dan konon merupakan satu-satunya judul yang perusahaan tersebut keluarkan sebelum bubar). Adaptasi animasinya berjumlah 12 episode, diproduksi studio Feel, dan pertama mengudara pada musim gugur tahun 2014.

Pengumuman anime ini secara khusus menarik perhatianku karena nama Hosoda Naoto tercantum sebagai sutradara. Beliau yang mengarahkan seri komedi Hataraku Maou-sama! yang hasil akhirnya benar-benar mengesankan. Karenanya, aku jadi penasaran seperti apa seri-seri berikutnya yang akan beliau tangani.

Alasan lain lagi: desain karakter dalam versi game Waremete sangat memikat.

…Benar-benar sangat memikat. Kata-kata doang enggak cukup buat menjabarkannya. VN-nya kayak jenis yang dengan melihat desain karakternya saja, kau bisa langsung jatuh cinta dan penasaran soal apa ceritanya.

Tapi berhubung aku masih belum tahu banyak, mari kita kesampingkan dulu bahasan versi VN untuk saat ini.

Change the Past and Future

Waremete berlatar di Perguruan Uchihama.

Dikisahkan bangunan lama di sekolah tersebut rencananya akan dirubuhkan dan diganti yang baru. Festival sekolah berikutnya pada tahun itu akan menjadi yang terakhir yang diadakan di sana. Karena itu, para murid sepakat untuk mewujudkan festival yang akan datang ini menjadi yang paling meriah yang pernah ada.

Ceritanya sendiri berfokus pada sekelompok teman yang tergabung dalam Klub (Komunitas?) Astronomi. Meski sekilas terkesan seperti klub biasa, para anggotanya terdiri atas orang-orang yang paling dikenal di Uchihama. Karenanya, mereka sering dimintai tolong saat ada persoalan yang timbul di lingkungan sekolah mereka.

Di awal cerita, para anggotanya terdiri atas:

  • Akiyama Sou; karakter utama, dan mungkin satu-satunya anggota yang benar-benar menekuni astronomi di klub tersebut.
  • Sasaki Kaori; teman masa kecil Sou, yang perhatian tapi sedikit ceroboh, serta diakui sebagai salah satu gadis tercantik di Uchihama.
  • Hasekura Airi; gadis ramping sahabat dekat Sou dan Kaori yang punya bawaan mengurusi orang, memiliki pembawaan atletis yang membuatnya dikenal sebagai salah satu orang ‘terkuat’ di sekolah, dan secara teknis menjabat sebagai ketua klub.
  • Hanamiya Nagisa; satu-satunya kakak kelas di klub, yang berbadan mungil tapi anggun, berasal dari keluarga (sangat) terpandang, dan sangat pengertian dalam mengurusi adik-adik kelasnya.
  • Kenny Eitarou Osafune; sahabat Sou, anak blasteran dari luar negeri yang sering bicara menggunakan dialek asing (terutama tentang kekasihnya di seberang lautan, Jennifer).

Dalam perkembangan cerita—seiring dengan rangkaian kejadian aneh yang dilaporkan terjadi selama persiapan festival, yang mencakup laporan-laporan gempa bumi ‘setempat’ dan kesaksian-kesaksian adanya hantu—Klub Astronomi kemudian kedatangan seorang murid baru bernama Furukawa Yui, gadis berambut perak yang untuk sementara ditampung di rumah Nagisa-sempai, sesudah ditemukan oleh Sou dan Kaori dalam keadaan telanjang dan hilang ingatan sesudah salah satu insiden.

Mengulang-ulang Takdir

Sebelum bahas lebih jauh soal apa yang terjadi, baiknya aku bahas dulu seri ini sebenarnya seperti apa.

Dulu aku pernah menyinggung kalau anime-anime yang diangkat dari VN (galge) biasanya punya kekhasan tertentu. Nah, Waremete menurutku merupakan anime sejenis itu yang ‘kekhasannya’ paling kuat sejauh ini.

Bagaimana seri ini memaparkan dunianya, kerumitan hubungan yang dimiliki para karakternya, serta dorongan untuk mengungkapkan perasaan sekaligus mengubah nasib; hal-hal tersebut terasa sangat kuat di sepanjang cerita. Jadi walau ada beberapa rincian yang tersamar dan tak benar-benar dijelaskan sampai tuntas, nuansa khasnya itu berhasil tersampaikan secara kuat.

Terlepas dari beberapa kelemahan teknis yang seri ini punya (dan beberapa elemen cerita yang terbilang klise untuk genrenya), itu suatu keberhasilan langka yang jarang terlihat pada seri-seri anime bergenre serupa.

…Sori, aku juga enggak yakin bagaimana menjelaskannya. Tapi kekhasan situasi yang kumaksud kira-kira seperti berikut.

Kaori misalnya, memendam perasaan cinta pada Sou, yang kini ikut diasuh oleh keluarga Kaori (yang hanya terdiri atas Kaori dan ibu Kaori, Sasaki Shiori), sehingga situasi mereka sudah kayak sebuah rumah tangga walau nyatanya hubungan mereka belum ke arah sana. Hanya saja, Airi nyatanya juga memendam perasaan yang sama terhadap Sou. Airi enggan mengungkapkannya karena tak ingin merusak hubungan persahabatan yang terlanjur dimilikinya dengan mereka.

Nagisa-sempai, terlepas dari sikap dewasa yang selalu ia perlihatkan, juga punya masalah-masalahnya pribadi. Tapi dengan pengaruh keluarganya yang besar, dirinya tetap mengambil tindakan untuk menolong dan menampung Yui; dan bahkan mendaftarkannya sebagai seorang murid pindahan di Uchihama juga, seolah-olah itu hal mudah baginya.

Kenny… hmm, dia agak aneh.

Tapi intinya, setiap karakter seperti punya ‘cerita’ mereka masing-masing yang perlahan tergali seiring berlalunya waktu. Lalu selama hari-hari persiapan festival ini, ada suatu keseharian membahagiakan dan seakan tidak akan berakhir bagi para anggota Klub Astronomi ini.

…Sampai suatu kecelakaan terjadi, persis menjelang terlaksananya festival. Lalu terungkap bahwa di balik sifat pendiam dan ingatannya yang hilang(?), ada suatu hal tertentu yang Yui harus lakukan apapun yang terjadi.

Kemungkinan Otak adalah Mesin Turing

Perkembangan cerita Waremete sebenarnya lumayan gampang tertebak. Ada elemen-elemen khas galge yang sudah diperlihatkan sejak awal, ditambah unsur-unsur sains fiksi yang sudah diindikasikan sesekali (terutama melalui kubus berbahan misterius yang ditemukan Nagisa). Tapi anehnya, tetap ada daya tarik tertentu yang seri ini punya dibandingkan seri-seri lain sejenisnya.

Membahas soal teknisnya, animenya terus terang gagal mengimbangi daya tarik visual gamenya. Sekejap melihat episode pertamanya saja, aku langsung sadar akan dua hal: satu, anime ini dibuat dengan anggaran sangat ketat, karena itu kelemahan visual anime ini seakan menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari; dua, dalam budget ketat itu, masih juga sempat ada ‘sesuatu’ yang terjadi dalam proses produksinya. Kendala apaa gitu yang membuat produksinya tak optimal.

Aspek visualnya mengalami perbaikan selama penayangannya berlanjut (mungkin ini gelagat kalau stafnya sempat kurang orang). Tapi tetap saja kualitas visualnya tak bisa mengimbangi kualitas CG gamenya yang sekali lagi, sangat luar biasa.

Eksekusinya di sisi lain terbilang bagus.

Kalau kau berpengalaman dalam mengedit video, terlepas dari kualitas naskahnya sendiri, kau mungkin bisa menyadari betapa rapinya pengaturan adegan dan tempo cerita di sepanjang seri ini. Walau animasinya sederhana, dalam satu frame kadang ada beberapa interaksi karakter yang terjadi sekaligus. Jadi selama kau enggak keberatan dengan tema ceritanya, kau enggak bakal benar-benar bisa bilang kalau penceritaannya membosankan.

Sifat para karakter juga lumayan berhasil tercermin bahkan hanya dari bahasa tubuh mereka. Setiap pergantian hari ditandai dengan munculnya angka yang ditimpakan pada keseluruhan frame, yang meski mungkin enggak langsung disadari sebagian orang, tapi sebenarnya sangat membantu untuk memahami apa-apa yang terjadi dalam cerita. (Petunjuk: itu penanda tanggal dan hari.)

Aspek audionya sama sekali tak buruk. Para seiyuu, yang merupakan gabungan dari beberapa nama veteran dan beberapa nama yang belum terlalu kukenal, terbilang melakukan peran mereka dengan sangat, sangat baik. Musik pembuka dan penutupnya terbilang lumayan. Lalu soundtrack latarnya lumayan ‘masuk’ dalam suasana.

Sekali lagi, naskahnya tipikal cerita romansa ala galge. Jadi kalau kau bukan jenis yang mentolerirnya, lebih baik kau jauhi seri ini. Jangan maksain diri. Tapi kalau kau tipe orang sentimentil yang suka dengan hal-hal kayak gini, anime Waremete termasuk yang benar-benar berkesan.

Berkesan dalam artian, bahkan bisa agak ‘menghantui’ kamu pada saat-saat yang enggak kamu duga…

“Besok kita akan bertemu lagi, ‘kan?”

Aku sebenarnya termasuk yang hati-hati dalam memilih seri-seri kayak gini (Penyebabnya karena aku pernah trauma dengan sesuatu berjudul Kimi ga Nozomu Eien.). Tapi walau mengangkat tema-tema yang kadang menurutku stupid, Waremete menurutku berhasil karena menyampaikan tema-tema tersebut dengan cara yang tak membuatku eneg.

Karakter utama, yang biasanya menjadi sumber keenggaksukaanku, termasuk mending di seri ini. Sou punya bawaan tipikal seperti protagonis-protagonis lain dari seri-seri sejenis. Dalam perkembangan cerita, dirinya juga berbuat kesalahan-kesalahan yang serupa. Tapi entah kenapa, aku tak merasa antipati seperti yang biasa kurasakan terhadap karakter-karakter sejenis. Bahkan, sebelum ‘titik balik’ yang dialaminya pun, Sou menurutku karakter yang lumayan simpatik.

…Sekali lagi, alasannya tak  bisa kujelaskan. Lalu aku juga sadar ada banyak orang yang mungkin punya pendapat sebaliknya.

Dengan segala keterbatasannya, Waremete berhasil jadi seri yang konsisten kualitasnya dari awal sampai akhir (kalau bukan agak meningkat di tengah-tengah). Ya, kau mungkin kecewa karena penggalian karakter Kaori ternyata tak lebih dalam dari yang kau harap. Ya, kau juga mungkin agak aneh dengan perkembangan ceritanya yang… memang agak aneh (mungkin ini salah satu tanda kalau ada ‘rute’ berubah. Ini salah satu jenis cerita yang memiliki true ending). Lalu ya, kau juga mungkin aneh—dan agak seram—dengan sebagian aspek sains fiksi yang tahu-tahu saja telah ada di cerita. Mungkin juga kau gimanaa gitu dengan aksen Inggris aneh yang Kenny perlihatkan. Tapi terlepas dari semua keterbatasannya, tetap ada beberapa hal luar biasa yang seri ini punya.

Di akhir, mungkin kau juga enggak benar-benar bakal mengerti beberapa hal terkait ending-nya… Tapi tetap saja, ada sesuatu yang luar biasa!

Aku serius penasaran kenapa Hosoda-san memilih menyutradarai seri ini. Aku juga jadi ingin tahu seperti apa sebenarnya selera pribadi beliau. Tapi terlepas dari itu, aku kagum dengan bagaimana beliau mengerjakan sesuatu yang akan dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, tapi tetap memberikan hasil terbaik yang beliau bisa.

Kau bisa lumayan ‘merasakan’ kalau misalnya ada orang yang enggak suka hasil akhir karyanya sendiri. Tapi dari Waremete, aku enggak merasakan apa-apa seperti itu.

Ini termasuk seri yang tak akan kurekomendasikan. Tapi tetap ada beberapa hal pribadi yang kusadari dari mengikuti ini. Jadi kurasa ini bukan seri yang akan bisa kubenci.

Mohon pendapatnya untuk mereka-mereka yang sudah tahu tentang VN-nya.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B

Update, 5 Januari 2016

Jadi belum lama ini, aku kesampaian melihat episode OVA Waremete, yang bisa dibilang merupakan episode 13. Ceritanya membeberkan closure yang menarik terhadap nasib Yui dengan tiba-tiba menempatkannya bukan di bulan Oktober seperti sebelum-sebelumnya, melainkan di pertengahan musim panas. Jadi ‘kali ini’ Yui diindikasikan tiba di Uchihama lebih awal dari sebelumnya. (Atau… ini musim panas sesudah festival? Kesadaran Yui tiba lebih akhir, yang berarti Nagisa-senpai sudah lulus dan semua tragedi yang sebelumnya terjadi berhasil dihindari?)

Berasumsi bahwa episode ini terjadi sesudah cerita di seri TV-nya, maka kelihatannya episode ini mengindikasikan kalau ada good ending yang akan ia dapat? (Lagi, aku enggak bisa jelasin kenapa aku mikir kayak gini.)

Ceritanya benar-benar tambahan dan bisa dibilang side story, tapi sedikit memberi informasi soal kubus berbahan misterius yang usianya mungkin lebih tua dari yang semula disangka.

Hasilnya menurutku menarik. Seenggaknya cukup memuaskan keinginan untuk bisa melihat lebih banyak soal Sou dan kawan-kawannya.

04/01/2014

Outbreak Company

Outbreak Company: Moe Shinryakusha dibuat berdasarkan seri novel karya Sakaki Ichirou dengan ilustrasi yang dibuat oleh Yuugen. Pertama terbit oleh Kodansha di bawah label Kodansha Ranobe Bunko semenjak Desember 2011, adaptasi animenya dibuat oleh studio Feel dengan jumlah episode sebanyak 12 dan pertama ditayangkan pada musim gugur tahun 2013.

Waktu aku pertama kali tahu tentang seri ini, kesan pertamaku berasal dari nama pengarangnya. Aku kurang begitu tahu tentang karya-karya beliau yang belakangan. Tapi aku tahu tentang Scrapped Princess yang sempat dianimasikan oleh Bones. Di pertengahan awal tahun 2000-an aku sempat lumayan menyukainya. Scrapped Princess punya ide cerita yang menarik, dan perkembangan yang lumayan bikin terkesima pada beberapa bagian.

Makanya, waktu aku dengar tentang premis Outbreak Company, tentang seorang otaku hikkikomori yang dipekerjakan pemerintahan Jepang untuk mempromosikan budaya moe ke dunia lain, aku langsung punya perasaan kalau mungkin ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Studio yang berada di balik produksinya belum pernah aku perhatikan sebelumnya. Namun aku punya perasaan kalau hasil akhir seri ini enggak akan buruk.

…Dalam artian, kayaknya, seri ini takkan sesampah kelihatannya. Dan kenyataannya ternyata memang sama sekali enggak.

Omelette Rice

Outbreak Company mengisahkan tentang pengalaman-pengalaman seorang remaja drop out SMA bernama Kanou Shinichi yang pada suatu hari secara iseng mengikuti suatu proses lamaran kerja online yang agak misterius. Shinichi ceritanya memang memiliki ‘garis keturunan’ seorang otaku, dengan orangtua yang masing-masing bekerja sebagai penulis ranobe dan sekaligus ilustrator galge, dan ia menjadi pemurung yang mengurung diri di kamar tatkala pernyataan cintanya untuk seorang sahabat masa kecilnya ditolak mentah-mentah karena ia dipandang menjijikkan selaku otaku.

Tapi terlepas dari semuanya, mungkin dari penjabaran tokoh utamanya aja kalian sudah ada bayangan seri ini kira-kira bakalan kayak apa.

Shinichi ternyata lulus seleksi pekerjaan itu. Lalu pada saat wawancara kerja, tahu-tahu saja dirinya telah dibius dan dibawa secara rahasia oleh perusahaan Amutech (yang sebenarnya merupakan kedok untuk JSDF) ke sebuah dimensi lain, melalui worm hole yang dikisahkan suatu hari tiba-tiba muncul begitu saja di kedalaman belantara Aokigahara, ke dunia ajaib di mana Kekaisaran Suci Eldant terletak.

Tugas Shinichi selama di Eldant adalah menjadi ‘misionaris’ yang akan menyebarkan budaya moe di sana—sehubungan bedanya budaya dan bahasa yang ada di Eldant, lalu para penduduk di sana, yang terdiri atas manusia, demi-human, serta elf; hanya memperlihatkan reaksi mencolok terhadap produk-produk anime, manga, dsb. dari Akibahara. Lalu suatu konflik ditakutkan bisa pecah apabila hubungan baik antara dua negara tetangga baru ini tak terjalin secepat mungkin.

Mizugi no Mokushiroku

Outbreak Company sejak awal tampil sebagai anime yang lagi-lagi mengetengahkan soal budaya otaku. Ada seorang temanku—dan kuyakin juga ada orang-orang lain—yang menjadi tak tertarik mengikutinya karena temanya ini. Mungkin karena bosan atau gimana. Tapi terus terang, it’s not that bad. Pada beberapa bagian—yang mungkin bahkan bisa bikin terkesima orang-orang yang menganggap diri mereka otaku sendiri—seri ini bahkan bisa dibilang bagus.

Seperti yang bisa dilihat dari sejumlah key visual-nya, latar dunia Eldant di mana sebagian besar seri ini berlangsung itu kelihatan benar-benar enak dilihat. Arsitektur istana di ibukotanya menurutku benar-benar keren. Maksudku di sini itu benar-benar keren setara level JRPG yang meledak di pasaran.

Ceritanya memang enggak pernah berkembang jauh-jauh dari tempat-tempat yang ada sih; dalam hal ini istana Eldant, sekolah yang dibangun Shinichi, serta rumah besar yang dipercayakan oleh penguasa Eldant, Pertalka Anne Eldant III pada Amutech. Tapi tempat-tempat yang ada itu dioptimalkan sebaik mungkin. Cukup baik sehingga kita sebagai penonton bahkan takkan kesulitan membayangkan denah interior masing-masing tempat dengan berkhayal dikit.

Oya, soal ceritanya sendiri, menyinggung sekolah yang kusebut di atas, situasinya enggak sepelik itu sih. Tapi aku mesti mengakui kalau perkembangannya memang menarik. Rupanya sebagian besar penduduk di Eldant itu buta huruf, dan ada pembagian kasta yang lumayan dominan di sana. Untuk misinya, Shinichi tak punya pilihan selain sekalian saja mengajarkan mereka membaca. Tindakannya ini, kayak situasi di mana pendidikan mulai diberlakukan di koloni-koloni jajahan gitu, dengan segera memicu kontroversi.

Jadi walau seri ini masih mengetengahkan lelucon-lelucon soal ukuran dada, pakaian renang, dan sejumlah hal lain terkait fanservice, Outbreak Company sudah bisa kuterima sebagai seri yang lebih dari lumayan semata-mata karena itu.

Si Shinichi sendiri… sebenarnya dia bukan karakter yang menarik-menarik amat sih. Dirinya itu sangat otaku. Tapi enggak terlalu kelihatan. Pastinya dia bukan jenis karakter yang langsung bikin kamu kimochi warui. Aku juga enggak yakin kenapa aku ngerasa perlu ngomentarin begini. Tapi kesannya kayak… seperti apapun kesan awal kamu terhadap seri ini, suka apa enggaknya kamu tetap bakal tergantung pada sejauh mana kesukaan-kesukaanmu sejalan dengan kesukaan-kesukaan Shinichi!

…Oke. Itu kedengeran aneh. Tapi aku serius merasa begitu.

Sebagai contoh. Ada dua heroine utama di seri ini. Yakni Pertalka yang kusebut di atas dan pelayan pribadi yang ditugaskan mengurusi Shinichi, maid half-elf Myucel Foaran. Dari segi desain karakter, keduanya memiliki ukuran dada di bawah ukuran ideal seleraku! Tapi itu enggak berarti aku enggak bisa menghargai mereka!

Sama seperti soal tema kesetaraan derajat yang seri ini angkat, menonton Outbreak Company mengingatkanku akan betapa pentingnya kita menghargai pendapat dan cara pandang orang lain sekaligus menerima perbedaan-perbedaan di antara kita!

Cuma karena temanku yang suka kappa itu jauh lebih suka pettanko ketimbang cewek-cewek yang lebih berisi, itu enggak berarti aku mesti membenci dia karena terus-terusan ngungkit soal ukuran dada tiap kali kami ngomongin soal cewek!

…Oke. Sebenernya, itu alasan bagus juga buat membenci dia sih.

Tapi intinya, itu enggak berarti aku jadi enggak bisa menghargai daya tarik cewek-cewek dengan ukuran dada yang lebih kecil. Dan mungkin itu yang jadi alasan kenapa Outbreak Company menjadi salah satu seri yang lebih kuhargai pada musim lalu.

Terlepas dari semuanya, hal paling seru dari seri ini adalah pada bagaimana kamu bisa menebak-nebak berbagai referensi yang seri ini buat terhadap seri-seri anime lain. Ada banyak sekali seri-seri yang Amutech impor ke Eldant yang agak dipelesetkan judulnya, baik dalam bentuk poster pajangan maupun jajaran buku di rak di latar belakang. Lalu yang bikin aku terkesan adalah betapa luas cakupan genre yang dipilihnya. Menjelang akhir penayangan, bahkan ada satu referensi yang benar-benar tak kusangka yang tiba-tiba saja muncul.

Pada setiap episode, ada profil karakter yang disampaikan yang membeberkan apa seri anime atau manga serta karakter favorit mereka. Koganuma Minori, perwira JSDF perempuan yang ditugaskan dalam pengawalan Shinichi, sebenarnya adalah fujoshi yang menyukai BL. Dan walau agak merinding, aku enggak bisa enggak ketawa saat kemudian terungkap dia berhasil mempengaruhi Garius En Cordbal, ksatria Eldant sekaligus sepupu Pertalka yang bishonen dan berkesan awal dingin dan serius, untuk mulai tertarik pada BL juga.

Kau memang enggak bisa berharap banyak pada perkembangan ceritanya, mengingat Outbreak Company memang bersifat komedi. Tapi perkembangan apa yang ada itu memang menarik. Visualnya bagus. Audionya lumayan. Seri ini memang terkadang membawa kita pergi ke tempat-tempat aneh. Tapi seenggaknya kita selalu bisa balik dengan selamat.

Kalau kau jenis orang yang merasa sudah mengikuti perkembangan budaya visual Jepang ini sejak lama, maka ada kemungkinan kau bisa menikmati Outbreak Company. Dua belas episode untuk seri sejenis ini biasanya durasi yang pas. Tapi aku enggak bisa enggak berharap untuk sekali ini durasinya lebih panjang.

(Apa? Apa saya enggak ada komentar soal Myucel? Apa kamu minta aku komentar soal desain baju maidnya?)

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: B+; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B