Posts tagged ‘fantasy’

31/10/2017

Isekai wa Smartphone to Tomo ni

Isekai wa Smartphone to Tomo ni, atau yang juga berjudul In Another World With My Smartphone (‘di dunia lain bersama ponsel pintarku’), adalah seri yang agak anomali.

Isekai Smartphone berawal dari seri web novel yang dikarang Fuyuhara Patora dari tahun 2013. Mulai tahun 2015, seri ini diterbitkan resmi oleh Hobby Japan dengan ilustrasi buatan Usatsuka Eiji. Pada awal tahun ini, tahu-tahu saja seri ini diadaptasi ke bentuk anime oleh Production Reed. Sutradaranya Yanase Takeyuki. Naskah ditangani oleh Takahashi Natsuko. Musik dikomposisi oleh Exit Tunes. Jumlah episodenya sebanyak 12 dan animenya pertama tayang pada musim panas tahun 2017.

Masih di sekitar awal 2017, seri ini juga mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan format e-book oleh J-Novel Club. Terjemahan mereka beneran bagus. Dari forum JNC-lah, aku mulai benar-benar tahu tentang Isekai Smartphone.

Jadi, Isekai Smartphone termasuk salah satu dari sekian banyak seri bertema isekai yang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Tak hanya itu. Seri ini konon dipandang sebagai salah satu contoh seri isekai yang paling generik. ‘Generik’ dalam artian enggak terlalu jelek tapi juga enggak terlalu bagus.

Sangat biasa.

Semua yang lazim ada dalam suatu seri isekai ada di seri ini. Ada tokoh utama cowok yang imba. Ada dunia lain. Ada harem yang terdiri atas cewek-cewek cantik. Yah, kalian tahu.

Makanya, saat animenya diumumkan, ini sempat mengherankan banyak pihak. “Wut? Di antara begitu banyak seri isekai di luar sana, kok malah seri ini yang dipilih buat jadi anime sih?” Soalnya, ada banyak pilihan seri isekai lain yang jauh lebih mencolok. Seperti Kumo desu ga, nani ka?, misalnya. Atau Desumachi. (Produksi anime Desumachi sudah diumumkan btw, tapi kabar-kabar kemajuan proses produksinya sejauh ini agak bikin fansnya harap-harap cemas. …Di samping itu, Tate Yuusha no Nariagari, seri isekai lain yang sudah menarik simpati banyak fans, juga sudah dikerjakan proyek adaptasinya.)

Bahkan di forum JNC yang aku sebut di atas, saat perusahaan mereka masih belum lama berdiri dan mereka masih sedang mencari judul-judul baru untuk dilisensi, pendiri JNC menyatakan bahwa Isekai Smartphone menjadi seri yang ‘disodorkan’ padanya. Seolah pihak penerbit aslinya kelihatan yakin sekali dengan seri ini. Dengan kata lain, di negara asalnya, seri ini lumayan populer dan punya basis fans kuat.

Semula, aku juga bukan penggemar Isekai Smartphone. Bahkan dari semenjak terjemahan bahasa Inggris WNnya tersedia dikerjakan fans, aku tidak menaruh perhatian terhadapnya. Namun, semenjak animenya diumumkan, aku mulai penasaran.

Alasan pertama: aku memperhatikan kalau yang memproduksi animenya adalah Production Reed. Aku langsung mengerti kalau hasilnya ternyata tidak wah. Dalam benakku, mereka studio ‘tidak besar’ yang sebelumnya mengerjakan seri-seri sederhana macam Onsen Yousei Hakone-chan dan Niji-iro Days. Meski begitu, aku simpati. Isekai Smartphone seolah menjadi langkah terobosan mereka dalam menangani proyek-proyek lebih besar.

Belakangan aku tahu, Production Reed ternyata tidak sepenuhnya baru. Mereka ‘reinkarnasi’ Ashi Productions, studio sangat veteran yang dulu menangani sejumlah anime terkenal macam seri mahou shoujo legendaris Magical Princess Minky Momo, seri Macross 7 yang masih menjadi seri Macross terpanjang sejauh ini, dan anime super robot lawas dan serius Dancouga. Sebelum tampil kembali sebagai Production Reed di tahun 2015, Ashi Productions rupanya ‘mati suri’ lumayan lama semenjak proyek Dancouga Nova mereka di tahun 2007.

Alasan kedua: meski tanggapan sebagian besar orang terhadapnya animenya lumayan negatif, ternyata ada sejumlah kenalanku yang benar-benar menyukainya. Bahkan sepupuku, yang mendalami seluk-beluk ilmu perfilman, menjadi salah satunya. Aku terus mikir, pasti ada sesuatu tentang anime ini yang menarik perhatian dia ‘kan? Tapi apa?

God’s in His Heaven, all’s right with the world!

Isekai Smartphone berkisah tentang remaja lelaki bernama Mochizuki Touya yang tersambar petir pada suatu hari saat pulang sekolah, lalu mendapati diri dihidupkan kembali oleh Dewa di suatu dunia lain. Alasan dia dihidupkan di dunia lain itu karena sudah jadi ketentuan kalau dirinya tak bisa dihidupkan lagi di dunianya yang semula.

Dewa menawarkan untuk memberi kompensasi pada Touya karena telah mematikannya tanpa sengaja. Karena tak merasa perlu apa-apa yang khusus, Touya kemudian sekedar meminta agar smartphone-nya masih bisa ia gunakan di dunia lain tersebut. Entah terkesan dengan kesederhanaan Touya atau bagaimana, selain memungkinkan smartphone-nya ditenagai kekuatan sihir agar tetap bekerja (dan bisa tersambung ke Internet(!) meski Touya tidak diperbolehkan memposting apa-apa), Dewa kemudian sekalian memberi Touya berbagai keistimewaan lain yang tidak langsung tampak. (Belakangan diketahui itu termasuk afinitas ke semua elemen sihir, peningkatan kemampuan fisik, serta kekuatan sihir laten yang sangat besar.)

Sekalian, Dewa memasukkan info kontaknya ke dalam ponsel Touya agar Touya bisa langsung menghubunginya seandainya ia perlu apa-apa.

Touya lalu mendapati diri berada di wilayah pinggiran Kerajaan Belfast, di mana dia kemudian bertemu bermacam orang dan tanpa sengaja terlibat dengan bermacam urusan konyol sekaligus serius. Berkenalan dengan teman-teman baru, dia mulai bekerja sebagai petualang. Dia mulai belajar tentang sihir. Dia mulai membantu-bantu orang. Berbekal fitur-fitur smartphone-nya yang sudah canggih dan diperkuat, dia juga mencoba menciptakan berbagai barang dan masakan dari dunianya lama agar bisa dipakai di dunianya yang baru.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Brunhilde (Yang Penuh Tawa dan Air Mata)

Cerita Isekai Smartphone lebih digerakkan oleh karakter. Ceritanya ringan dan lumayan bernuansa komedi. Meski ada elemen aksi dan petualangannya, Isekai Smartphone sebenarnya lebih dekat ke cerita keseharian. Di dalamnya, Touya mengetahui beragam hal baru tentang dunianya yang baru.

Isekai Smartphone tidak memiliki struktur plot yang perlahan-lahan membangun konflik. Ceritanya lebih seperti rangkaian cuplikan adegan keseharian yang saling terhubung dan berkesinambungan. Agaknya, hal ini juga yang sempat mematikan minat sebagian orang.

Kalau aku ceritain begini, kedengarannya emang kurang menarik. Dalam bentuk anime, bahkan dengan genrenya yang komedi, jadinya tetap aneh. Tapi, kalau kau coba menepis semua pengharapanmu, dan bersabar dengan bagaimana ceritanya dituturkan, ada hal-hal tertentu tentang Isekai Smartphone yang bisa membuatmu terkesan.

Ada dunia baru yang diperkenalkan. Ada hal-hal baru yang dipelajari. Ada teman-teman baru yang dikenal. Seperti yang bisa diharapkan dari suatu seri isekai, Touya serba bisa. Tapi, Isekai Smartphone juga punya sisi konyol konsisten yang jarang dipunyai seri-seri sejenisnya. Kesan akhirnya lumayan unik.

Terlepas dari itu, mereka yang sudah dikonfirmasi(?) termasuk dalam harem Touya (meski dia sendiri sama sekali semula tidak merencanakan hal ini) meliputi:

  • Elze Silhoueska; onee-chan dari pasangan gadis kembar Silhoueska yang sama-sama berambut perak. Dia salah satu orang pertama yang Touya kenal ketika baru tiba di dunia baru. Berambut panjang, memiliki bawaan bersemangat yang mendahulukan bertindak sebelum berpikir. Meski begitu, terkadang dia bisa tiba-tiba saja merasa rendah diri. Elze memiliki kemampuan Null Magic bernama Boost yang meningkatkan untuk sementara parameter-parameter fisiknya. Elze beraksi dengan sepasang gauntlet raksasa yang digunakannya bersama ilmu bela diri. Dirinya tidak memiliki afinitas dengan elemen-elemen sihir lain. Dalam perkembangan cerita, Elze berstatus sebagai tunangan ketiga
  • Linze Silhoueska; yang lebih muda dari pasangan gadis kembar Silhoueska, sekaligus yang lebih pendiam. Berbeda dari kakaknya, Linze memiliki afinitas elemen yang konvensional, dan karenanya beraksi dengan mengandalkan serangan-serangan sihir. Linze-lah yang mengajari Touya tentang sihir di dunia ini (ada enam elemen, dengan sihir non-elemen Null Magic yang bersifat pribadi dan menjadi kemampuan khusus penggunanya, yang ternyata bisa digunakan sepenuhnya oleh Touya). Linze juga yang mengajari Touya soal cara menulis dan membaca. Elemen-elemen yang Linze kuasai meliputi cahaya, api, dan air. Dalam perkembangan cerita, Linze berstatus tunangan kedua
  • Kokonoe Yae; gadis samurai yang datang dari negeri Eashen yang jauh di timur (yang nuansanya sangat mirip Jepang, dan karenanya, Touya juga kerap disangka berasal dari sana.). Bersenjatakan sepasang katana. Yae sedang dalam perjalanan untuk mengasah kemampuan berpedangnya. Yae sempat ditolong kelompok Touya saat kelaparan sesudah bekal perjalanannya hilang. Yae berbicara dengan cara sedikit aneh. Makannya juga banyak. Meski Yae tidak berbakat sihir, Touya belajar banyak soal ilmu bela diri darinya. Dalam perkembangan cerita, Yae berstatus sebagai tunangan keempat
  • Yumina Urnea Belfast; putri mahkota Kerajaan Belfast yang menjadi teman Touya sesudah Touya secara kebetulan menolong ayahnya. Memiliki sepasang mata berbeda warna yang salah satunya memiliki kemampuan untuk membaca ‘sifat’ masing-masing orang (kemampuan ini, bagian Null Magic-nya, ternyata tidak ada hubungannya dengan warna matanya yang berbeda). Dari ‘penglihatannya,’ Yumina kemudian memilih Touya untuk menjadi calon suaminya. Berbeda dari teman-teman Touya yang lain, Yumina lebih muda beberapa tahun, tapi sifatnya justru yang paling dewasa. Mulai ikut tinggal bersama Touya sebagai petualang, dengan mengandalkan sihir sekaligus kemampuan memanah. Elemen-elemen sihir yang dapat digunakannya mencakup tanah, angin, dan kegelapan. Dalam perkembangan cerita, Yumina berstatus sebagai tunangan pertama (Semenjak pertama berhubungan, Touya kerap dibujuk secara tidak langsung oleh ayah Yumina untuk bersedia mengambil alih mahkota kerajaan.) Yumina juga tidak berkeberatan dengan poligami karena memang itu kebiasaan para raja di dunia ini. (Keluarga Yumina saja yang tidak lazim.)
  • Sushie Urnea Ortlinde; adik sepupu Yumina yang kebetulan sempat ditolong Touya dalam suatu kesempatan terpisah. Anak perempuan dari saudara laki-laki sang raja. Masih anak-anak. Belum banyak berperan di anime ini, tapi aku sebutkan saja karena dia termasuk yang ditonjolkan dalam animasi penutupnya. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Sushie menjadi tunangan keenam Touya karena sedikit isu politik yang melibatkan suatu negara lain.)
  • Leen; gadis mungil yang ternyata berusia ratusan tahun dan merupakan kepala suku peri di negara tetangga Kerajaan Mismede. Memiliki penampilan gothic loli, senantiasa ditemani seekor boneka beruang ‘hidup’ yang dinamainya Paula. Dari Leen, Touya belajar Null Magic Program yang memungkinkannya mengendalikan benda-benda. Leen juga adalah guru penyihir kerajaan di Belfast, Charlotte, dan menjadi tertarik dengan Touya semenjak mengetahui tentangnya. Dari Leen, Touya mengetahui lebih banyak tentang keberadaan puing-puing kuno. Belakangan, Leen menjadi duta besar baru bagi Mismede untuk Belfast. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Leen menjadi tunangan kedelapan)

Selain mereka, Touya juga jadi berteman dengan para pembesar Belfast, dengan keluarga pemilik penginapan tempat mereka dulu menumpang (sebelum mereka punya rumah mereka sendiri di ibukota), dengan pengusaha pakaian yang maniak dengan desan pakaian baru, dengan seorang pemilik toko senjata, dengan pemimpin Kerajaan Mismede yang dihuni beastmen, lalu belakangan… dengan manusia buatan bernama Cesca yang mengakui Touya sebagai pewaris sejumlah artefak kuno yang melayang-layang di angkasa.

Jumlah tokoh yang diperkenalkan seri ini lumayan banyak. Di luar dugaan, kesemuanya juga banyak berperan dalam keseharian Touya.

Pulau-pulau Babylon

Membahas soal teknis, anime Isekai Smartphone mengangkat cerita dari sekitar buku pertama sampai ketiga dari seri novelnya. Dari segi alur, adaptasi ceritanya, secara mengesankan, lumayan setia dengan novel. Yang enggak aku sangka, cerita-cerita sampingan yang ada di novel-novelnya (meski tidak semua) ternyata juga ikut diadaptasi. Penempatannya lumayan mulus. Terasa bagaimana cerita-cerita sampingan itu menyatu dengan cerita utamanya.

Sisi buruknya, cerita utamanya enggak berkembang sejauh yang aku harap. Beberapa karakter yang tampil di animasi pembuka luput terjelaskan peranannya. Ada beberapa benang alur yang berakhir tak terselesaikan. (Seperti soal monster-monster Fraze/Phrase, yang sempat disinggung mungkin akan mendatangkan hancurnya dunia.) Kalau dipikir, keputusan ini masih wajar sih. Cerita-cerita sampingan itu memang lumayan memaparkan kekhasan seri ini. Meski begitu, adaptasi anime ini tetap berhasil mengemas ceritanya agar berakhir di titik yang enak. Dalam artian, tanpa menutup kemungkinan ceritanya masih berlanjut.

Soal visual, kualitasnya tidak istimewa, tapi tetap bisa menarik. Pemilihan warnanya yang beragam lumayan selaras dengan nuansa cerah yang seri ini bawakan. Meski tidak sampai detil, penggambaran berbagai latar tempatnya juga terbilang indah dan beragam. Ada puing-puing ibukota lama (yang di bawahnya mereka pertama menemukan monster berbahaya penyerap sihir Fraze/Phrase secara tanpa sengaja), ada kota petualang Reflet tempat Touya pertama kali tiba, ada ibukota Belfast yang lokasinya benar-benar enak. Meski tidak berat di soal perjalanan, nuansa perjalanan yang seri ini punya lumayan terasa.

Animasinya juga biasa saja sih. Mungkin malah ada yang akan menganggapnya sangat kurang. (Ada sedikit proporsi badan aneh, ada adegan menebas yang dibikin tak mencolok, ada gerakan pertarungan yang bisa dibikin jauh lebih baik.) Tapi, sepupuku sempat menyinggung bagaimana dia terkesan dengan cara adegan-adegannya dibawakan. Dengan kata lain, kalau soal menyampaikan narasi, seri ini sebenarnya enggak punya kekurangan. (Meski, narasi yang dibawakannya memang enggak istimewa sih.)

Mungkin perlu kusinggung, seri ini juga punya beberapa karakter… uh, maskot. Jadi, meski ada fanservice-nya (serta beberapa dialog yang agak menjurus), ada juga semacam aspek imut dan lucu yang seri ini punya. Selain beruang Paula yang sudah aku sebut di atas, juga ada Kohaku, harimau putih kecil yang sesungguhnya adalah White Monarch, salah satu dari empat makhluk sihir terkuat yang berkuasa di alam. Dalam perkembangan cerita di novel, agaknya, jumlah karakter-karakter maskot ini juga terus bertambah.

Bicara soal audio, kesan Isekai Smartphone lebih campur aduk. Musik pembuka dan penutupnya tak buruk. (Lagu penutup “Junjou Emotion” bahkan dinyanyikan bergantian oleh para heroine.) Para seiyuu juga secara umum juga berperan dengan baik. (Kecuali Touya, tapi nanti aku bahas lebih lanjut soal itu.) Tapi, musik latarnya… sebagian ada yang pas dan sebagian lagi enggak. Secara umum, semuanya enak didengar sih. Aku suka dengan penekanannya terhadap alat-alat musik tiup. Namun di beberapa bagian, tetap terasa ada yang agak aneh.

Intinya, dari segi teknis, menurutku lumayan terasa bagaimana Production Reed masih meraba-raba cara terbaik dalam menjalankan usaha mereka. Tapi, serius, hasil akhir Isekai Smartphone menurutku enggak buruk.

Aku masih aneh dengan segmen-segmen komedi di peralihan adegan-adegannya sih. Tapi, kalau menyangkut soal ceritanya sendiri, meski mengikuti detil-detil yang terasa enggak penting agak susah, aku lambat laun berhasil dibuat penasaran soal kelanjutan ceritanya.

Yea, aku jadi penasaran dengan seri-seri novelnya!

Mengingat suatu anime belakangan diproduksi sebagai ‘iklan’ untuk seri aslinya, bisa dibilang misi para produsernya sebenarnya sukses.

Slime Tidak Populer Dengan Wanita

Sesudah mengikuti Isekai Smartphone, aku jadi sedikit mikir: apakah kunci sukses tidaknya kita di dunia sebenarnya ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan ‘dia yang berkuasa’? Tapi, dari sini, kita ada dua pertanyaan. Satu: siapakah yang berkuasa? Dua: bagaimana cara kita bisa dekat dengannya?

Kalau mikir ini lebih jauh, aku jadinya kepikiran soal agama.

Yah, Terlepas dari itu, kayak biasa untuk kasus-kasus begini, meski versi anime tetap punya sisi-sisi baiknya, versi novel Isekai Smartphone masih lebih bagus ketimbang animenya.

Perbedaan paling kentara terdapat pada pribadi Touya sendiri. Meski Touya nyata-nyata emang orang baik—dan alur animenya hampir sama persis dengan yang di novelnya—versi novelnya secara umum diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Lalu, monolog internal Touya inilah yang membuat versi novelnya jadi beneran menarik.

Ceritanya enggak pernah jadi sangat bagus. Tapi, apalagi untuk ukuran novel isekai, versi novel Isekai Smartphone seriusan termasuk gampang dimasuki dan dinikmati. Meski kesan permukaannya datar, reaksi internal Touya terhadap segala sesuatu benar-benar kocak. Iya, aspek romansanya agak maksa. (Dan menarik gimana aspek ini jadi ditonjolkan di animenya.) Tapi, dengan segala kesederhanaannya, ini bacaan fun yang di dalamnya ada saja hal unik yang terjadi. Perlu disinggung elemen per-game-an yang biasa ada di suatu seri isekai juga sama sekali absen di seri ini.

Ngomong-ngomong, Fuyuhara-sensei konon mengetik novel ini menggunakan smartphone-nya juga. Aku seriusan heran gimana orang bisa sampai kayak gini.

Eh? Soal smartphone-nya?

Oh. Iya. Smartphone itu beneran berperan dalam cerita. Dengan menggabungkan dengan Null Magic, Touya jadi menemukan berbagai cara pemakaian kreatif untuk fitur-fitur dan aplikasi ponselnya.  Awal-awalnya memang enggak menonjol. Tapi makin ke sana, jadi makin bagus.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Iklan
15/05/2017

Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou

Belum lama ini, aku jadi anggota J-Novel Club. Intinya, mereka layanan yang menerjemahkan secara resmi seri-seri light novel terbitan Hobby Japan dan Overlap ke Bahasa Inggris.

Keanggotaanku masih biasa sih, bukan premium. Keanggotaan biasa cuma membolehkan baca gratis semua buku yang terjemahannya masih dikerjakan. Dalam artian, buku-buku yang belum terbit digital secara final. (istilahnya, yang masih prepub, atau pre-publikasi) Ada porsi-porsi terjemahan yang mereka sediakan  mingguan. Jadwal rilis per bagiannya sudah mereka atur. Lalu, asal buku itu belum terbit, atau kebetulan sedang ada acara khusus, kita bisa baca bab-bab yang tersedia sepuasnya.

Di sisi lain, buku-buku yang tuntas terjemahan dan pengeditannya dan sudah resmi terbit, selain bab-bab awal yang jadi preview, sifatnya jadi tertutup buat semua anggota. Kalau mau baca, maka kita mesti beli. Kecuali, lagi, dalam kasus-kasus tertentu. (Atau, kalau kalian nyari bajakan.)

Enaknya kalau ada keanggotaan premium, ada kayak kredit yang diberikan tiap bulan gitu. Satu kredit bisa kita pakai untuk beli satu buku yang sudah terbit. Jadinya, kalau dihitung-hitung, bahkan kalau bukan yang premium pun, keanggotaan layanan ini benar-benar balik modal. Yang diterjemahkan di sini bukan versi web novel, melainkan versi light novel yang sudah cetak resmi. Lengkap dengan ilustrasi dan afterword juga. Karena itu, skema bisnis ini benar-benar mendukung para pengarang dan penerbit asli di sana.

Aku sudah menyinggung bagaimana waktu launching, J-Novel Club menggebrak dengan menghadirkan seri novel misteri sains fiksi Occultic;Nine. Animenya baru mulai tayang saat itu. Beberapa judul lain yang menonjol mencakup seri komedi Rokujouma no Shinryakusha?!, fantasi remaja Hai to Gensou no Grimgar, serta Ore ga Heroine o Tasukesugite Sekai ga Little Apocalypse?! yang sudah lumayan lama bikin penasaran sejumlah fans.

Seri novel isekai Smartphone yang animenya akan tayang musim depan juga sudah mereka kerjakan.

Tapi di antara semuanya, satu judul yang kuperhatikan khusus adalah Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou. Ini seri novel isekai agak terkenal karangan Shirakome Ryo. Ilustrasinya buatan Takayaki. Seri ini juga dikenal dengan judul Arifureta – From Commonplace to World’s Strongest. (Terjemahan judulnya kira-kira: ‘dari orang biasa menjadi yang terkuat di dunia.’)

“Apaan Ini?! Ini sampah!”

Aku pertama tahu tentang Arifureta saat mencari bacaan webnovel menjelang akhir 2016 lalu. Aku baru beres membaca bab terkini Kumo desu ga Nani ka?. Aku mau lanjut baca Desumachi, tapi aku masih belum sreg dengan bab-bab awalnya. Makanya, aku berkunjung ke situs novelupdates untuk mencari seri webnovel Jepang lain yang mungkin populer. Dari sana, aku menemukan judul ini.

Mulai ditulis tahun 2013 dan kalau tak salah, sudah tamat di negara asalnya (tapi masih belum tuntas diterjemahkan ke Bahasa Inggris saat ini aku tulis), Arifureta dikarang Shirakome-sensei di situs novel amatir Syosetsuka ni Narou. Nama pena beliau waktu itu Chuuni Suki. Alasan beliau menggunakan nama pena demikian karena beliau, nampaknya, punya gejala-gejala chuunibyou akut. Hal tersebut agaknya terbawa ke tulisan yang beliau buat.

Jadi, buat kalian yang belum tahu, Arifureta agak notorious di kalangan orang-orang yang pernah membacanya. Nuansa ceritanya yang semula edgy terkesan berubah drastis menjelang akhir buku pertamanya. Gampangnya, apa yang semula terkesan gelap dan serius berkembang jadi mengangkat alis dengan hadirnya elemen-elemen keseharian dan harem love comedy. Belum lagi dengan bumbu-bumbu dewasa yang tahu-tahu ada di dalamnya. Ditambah lagi, tokoh utamanya…

Gimana jelasinnya ya.

Intinya, seperti yang judulnya indikasikan, si tokoh utama berubah jadi orang yang sangat kuat. Terlalu kuat, malah. Dia bebas bersikap kayak gimanapun dia mau. Dia bebas membunuh siapapun yang menurut dia menghalangi jalannya. Dia juga bebas memandang rendah siapapun yang minta tolong ke dia (walau ujung-ujungnya, sesudah proses agak berbelit, dia bakal menolong juga.) Intinya, kepribadiannya berubah drastis tapi bukan dengan cara yang berbobot gitu.

Ini membuat segalanya agak aneh. Tema ceritanya di awal, kayaknya, adalah soal hubungan antar karakter dan balas dendam. Tapi, si tokoh utama kemudian berubah jadi orang paling kuat di dunia. Lalu sesudah itu, balas dendam dan hubungan dengan orang kayak bukan lagi jadi hal penting bagi dia. Dia malah berubah jadi terkesan egois dan enggak pedulian kayak sekarang.

Perubahan nuansanya enggak mulus. Makanya, lumayan wajar ada orang-orang yang kecewa dengan perkembangannya. Lalu, ya itu, elemen harem dan komedinya bisa terasa maksa.

Tapi di sisi lain, meski kemampuan penggalian karakter dan pemetaan plot beliau meragukan, ditambah bagaimana ceritanya sebenarnya tak serius pada sejumlah titik, mungkin karena bakat chuunibyou beliau juga, narasi Shirakome-sensei masih terbilang bagus. Ini diperkuat juga dengan pembangunan dunianya yang termasuk menarik.

Begitu cerita dibuka, kita langsung diperkenalkan pada karakter-karakter berjumlah enggak sedikit. Tapi bagusnya, semua karakter tersebut punya konsep yang jelas gitu. Premis ceritanya kuat, yaitu soal bagaimana Nagumo Hajime dan teman-teman sekelasnya tiba-tiba dipanggil ke dunia lain untuk menyelamatkannya dari bahaya. Kita dipaparkan secara runut soal gimana dunianya bekerja. Detil deskripsi latarnya keren. Ini diperkaya dengan konflik hubungan antar karakter yang ada sejak awal. Hasilnya lumayan berkesan.

Dengan kelemahan-kelemahannya, kalau membaca penuturan Shirakome-sensei sendiri, aku jadi memahami kenapa cerita ini sampai perlu ‘diperjuangkan’ oleh editornya untuk bisa terbit. Pada pertengahan 2015, seri ini terbit resmi juga sebagai light novel di bawah bendera Overlap. Penerbitan versi LN setahuku masih berlanjut saat ini kutulis.

Cerita versi LN setahuku tak beda jauh dibandingkan versi WN. Di samping pengeditan lebih rapi, kelebihan utama versi LN adalah adanya bonus cerita-cerita sampingan yang sifatnya tambahan, yang tak terlalu mengubah alur cerita utama.

Dengan kepopulerannya yang lumayan, Arifureta juga memperoleh adaptasi manga yang dibuat RoGa. Seri manganya masih relatif baru, baru mulai terbit pada akhir tahun 2016 (hari Natal?) lalu. Berhubung ilustrasi Takayaki-sensei lebih berfokus ke karakter, adaptasi yang dibuat RoGa-sensei jadi menonjol karena menampilkan desain berbagai monster yang Hajime hadapi.

Aku memutuskan baca Arifureta di J-Novel Club semula karena penasaran. Tapi dari rasa penasaran tersebut, aku lagi-lagi nemu seri yang enggak sepenuhnya bisa dibilang bagus, tapi secara meyakinkan bisa dibilang rame.

Pergi ke Dunia Lain Sana

Arifureta dibuka dengan bagaimana Hajime dikisahkan terjatuh ke dalam jurang gelap yang seolah tak berdasar. Keputusasaan menaungi seiring hilangnya cahaya di depan matanya.

Narasi lalu kembali ke beberapa waktu sebelumnya.

Hari itu adalah hari Senin, waktu yang bikin depresi bagi Nagumo Hajime.

Hajime ceritanya remaja otaku kurus dengan tampang senantiasa mengantuk. Dia sering begadang karena mengutamakan hobi di atas segala-galanya. Ayahnya bekerja di industri game dan ibunya adalah mangaka shoujo. Rencana awalnya dalam hidup adalah untuk bekerja di perusahaan ayahnya atau membantu pekerjaan ibunya. Dia tak gampang terpengaruh orang lain. Pada dasarnya, dia bersifat pendiam. Intinya, dia tipe yang hanya ingin dibiarkan hidup damai.

Masalahnya, Hajime diam-diam dibenci hampir seluruh teman sekelasnya.

Entah kenapa, secara berkelanjutan, sejak pertama kali masuk SMA, Shirasaki Kaori, gadis paling populer di sekolahnya, yang dikenal cantik dan lemah lembut dan baik hati, terus-terusan mendekati Hajime setiap hari.

Kebanyakan orang di sekeliling mereka sulit menerima kenapa orang datar, payah, gagal, dan ‘rendahan’ seperti Hajime bisa-bisanya akrab dengan Kaori. Memang Hajime siapa? Mereka tak bisa membayangkan Kaori benar-benar suka terhadap Hajime. Karenanya, mereka kira Hajime dengan sengaja menyusahkan Kaori agar Kaori mengurusinya setiap hari.

Hanya saja, Hajime juga tak mengerti. Setahunya, dirinya dan Kaori baru kenal pas SMA. Mereka jelas bukan teman masa kecil. Lalu terlepas dari segala isyarat yang coba Hajime berikan, sikap Kaori tak pernah berubah.

Situasi ini membuat Hajime stres karena Kaori merupakan salah satu dari geng empat orang paling menonjol di sekolahnya. Kebetulan, kesemuanya adalah teman sekelas Hajime. Selain Kaori, mereka mencakup:

  • Amanogawa Kouki, cowok paling populer di sekolah. Tampan, pintar, jago olahraga. Seakan sempurna dengan kepribadiannya yang lurus dan caranya membawakan diri. Dirinya juga merasa Hajime keseringan merepotkan Kaori.
  • Sakagami Ryutarou, sahabat Kouki. Sangat jangkung, berbadan besar seperti beruang, dan berdarah panas. Kepribadiannya terbuka dan tak peka. Ia terang-terangan menunjukkan rasa kurang sukanya dengan Hajime yang dianggapnya pemalas.
  • Yaegashi Shizuku, gadis jangkung dan jago kendo, teman dekat Kaori, dan tak kalah populer darinya. Peka terhadap perasaan orang, dan karenanya menjadi satu dari sekian sedikit yang sebenarnya memahami situasi Hajime. Shizuku juga kenal lama dengan Kouki yang pernah berlatih di dojo keluarga Yaegashi, dan mereka berdua pernah sampai ke kejuaraan nasional.

Kedekatan Hajime dengan Kaori juga membuat Hajime diam-diam ditindas oleh geng berandalan di sekolah. Mereka terdiri atas Hiyama Daisuke dan kawan-kawannya: Saitou Yoshiki, Kondou Reichi, dan Nakano Shinji.

Daisuke tak bisa menerima kedekatan Hajime dengan Kaori. Alasannya tentu saja karena Daisuke sendiri diam-diam suka pada Kaori. Daisuke dan gengnya jadi kerap menggencet Hajime dan menjelek-jelekkan namanya.

Hajime di sisi lain tak bisa terang-terangan menolak Kaori. Ia sadar bahwa dengan bagaimana semua orang di sekolah memperhatikan mereka, menyakiti Kaori hanya akan membuat situasinya bertambah runyam.

Hajime sampai-sampai menggerutu. Kalau mereka berempat memang sedemikian sempurnanya, lebih baik mereka dipanggil ke dunia lain sana. Jadi pahlawan atau apa.

Tanpa diduga, ternyata benar-benar itu yang terjadi.

Pas jam homeroom hari itu, tiba-tiba muncul lingkaran sihir bercahaya yang memindahkan mereka semua ke dunia lain.

Esok yang Suram

Hajime dan kawan-kawan sekelasnya, beserta wali kelas mereka yang polos dan masih muda, Hatayama Aiko, tahu-tahu dibawa ke dunia lain bernama Tortus. Di sana, mereka disambut Ishtar Longbard, pria tua yang mewakili gereja suci yang menyembah Ehit, dewa yang melindungi manusia.

Ishtar menjelaskan kalau di Tortus, ada tiga macam ras:

  • ras manusia di utara,
  • ras sihir/iblis di selatan,
  • ras demi-human separuh binatang yang terasing di hutan luas di timur.

Ras manusia dan sihir bermusuhan. Manusia unggul dari segi jumlah karena relatif cepat tumbuh dan berkembang biak. Ras sihir unggul dari segi usia yang panjang dan kekuatan individu. Selama ini, kedudukan mereka seimbang. Tapi belakangan, ras iblis konon menemukan cara untuk menjinakkan monster-monster di alam liar.

Keseimbangan kekuatan antar ras kini terancam. Untuk mengatasinya, dewa Ehit-sama memanggil manusia-manusia dari ‘sebuah dunia lain yang berkedudukan lebih tinggi’ untuk menyeimbangkan kekuatan, yang dalam hal ini adalah Hajime dan kawan-kawannya.

Para remaja SMA pendatang dan guru mereka lalu ditampung di Kerajaan Heileigh. Heileigh adalah salah satu negeri manusia dan adalah negara yang paling dekat hubungannya dengan Gereja Ehit. Kouki yang karismatik dianggap Ishtar sebagai pemimpin. Mereka semua diperlakukan selayaknya tamu kehormatan.

Sesudah sadar bahwa apa yang mereka alami benar-benar terjadi, karena jalan pulang tak ada, Hajime dan kawan-kawannya setuju menjadi pahlawan yang melindungi pihak manusia. Aiko-chan-sensei mengkhawatirkan keselamatan mereka semua, tapi mereka tak punya pilihan. Di samping itu, saat dipanggil ke Tortus, mereka ternyata diberkahi kekuatan-kekuatan luar biasa yang membuat mereka di atas manusia-manusia lain.

Untuk bersiap menghadapi perang, para pendatang kemudian dilatih untuk mengembangkan kekuatan mereka. Mereka dididik Meld Loggins, kapten para ksatria Heileigh yang tegas dan simpatik.

Melalui suatu artefak produksi massal bernama Status Plate, orang bisa mengetahui potensi kekuatan mereka. Setelah ditetesi darah pemiliknya, artefak tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal. Tertera padanya, ada sesuatu yang disebut Job yang mengindikasikan bakat alami si pemilik. Selain memperlihatkan apa saja kemampuan (Skill) yang dikuasai, Status Plate juga memperlihatkan angka-angka parameter:

  • Level (Dalam skala 1-100, 100 mengindikasikan potensi puncak mereka yang tak bisa ditingkatkan lagi. Berbeda dari sejumlah seri isekai lain, orang meningkatkan parameter kekuatan untuk meningkatkan Level, bukan sebaliknya. Jadi Level hanya berfungsi sebagai indikator semata.)
  • Strength (kekuatan fisik, tenaga)
  • Vitality (vitalitas, daya hidup)
  • Defense (pertahanan)
  • Agility (kelincahan, kegesitan)
  • Magic (sihir)
  • Magic Defense (pertahanan sihir)

Orang-orang biasa di Tortus punya angka 10 untuk parameter-parameter tersebut. Tapi Kouki dan yang lain punya angka-angka dalam skala ratusan. Itu sekalipun mereka masih di Level 1!

Kouki pun ternyata memiliki Job Hero yang sangat langka, dengan berbagai macam Skill kuat, yang membuatnya seperti manusia super di antara manusia-manusia super. Kouki jadi persis seperti para tokoh utama dengan kemampuan cheat di seri-seri isekai yang Hajime ketahui.

Karenanya, alangkah terpuruknya Hajime saat mendapati bahwa dia jadi pengecualian atas hal ini. Secara mengherankan, semua parameter Hajime bernilai 10. Selain Skill Language Comprehension yang memungkinkannya memahami semua bahasa—yang lazim dimiliki semua pendatang dari dunia lain—Skill yang Hajime punyai hanya Transmute yang membuatnya bisa mengubah sifat bahan-bahan yang ia sentuh. Job yang dipunyainya adalah Synergist, Job tidak istimewa yang memberi bakat mengolah material seperti halnya pandai-pandai besi.

Bahkan sesudah berlatih dua minggu, kemajuan Hajime tidak signifikan. Sementara, teman-teman Hajime yang sudah di atas dirinya terus saja bertambah kuat. Itu termasuk Kaori. Itu termasuk juga Hiyama Daisuke dan gengnya yang terus menindasnya dengan kekuatan mereka yang baru. Hajime jadi semakin dipandang rendah, bahkan oleh orang-orang Tortus juga. Bahkan Aiko-chan-sensei, yang parameter kekuatannya setara Hajime, ternyata punya Job langka Farmer yang memungkinkannya mempengaruhi iklim dan bentang alam, memberinya kedudukan vital dalam perang yang akan datang.

Puncaknya, untuk membuktikan diri, Hajime nekat mempertaruhkan nyawa  melindungi teman-teman sekelasnya ketika ekskursi mereka ke Orcus Labyrinth—satu dari tujuh labirin misterius penuh monster yang ada di dunia—berjalan tidak semestinya. Namun dalam upayanya tersebut, salah seorang teman sekelas Hajime malah dengan licik menyerangnya dari belakang. Terjatuh ke dalam jurang, bahkan jerit tangis Kaori memudar tatkala Hajime ditelan kegelapan.

Lambung Logam

Porsi awal Arifureta memaparkan perjuangan Hajime selama terdampar di lantai-lantai bawah Labirin Orcus.

Hajime ketakutan setengah mati karena kehilangan sebelah tangan dalam serangan monster-monster buas. Tapi tanpa sengaja, Hajime menemukan kristal murni Divine Crystal (yang belum dikenalinya waktu itu) yang meneteskan cairan penyembuh Ambrosia yang kemudian menyelamatkan nyawanya.

Meski tak mengembalikan sebelah tangannya, Ambrosia menyembuhkan segala luka Hajime. Ambrosia sekaligus juga terus mempertahankan nyawanya, walau rasa laparnya tak hilang dan lambat laun semakin tak tertahankan.

Mengandalkan kemampuan Transmute yang terus diasah, Hajime berhasil membuat jebakan dan membunuh monster. Daging monster buruannya lalu dimakannya mentah-mentah karena saking laparnya. Tapi daging tersebut berdampak fatal bagi manusia. Menelan daging itu memberi Hajime penderitaan luar biasa. Hanya berkat Ambrosia, Hajime masih bertahan hidup.

Peristiwa tersebut memicu perubahan mental dan fisik pada diri Hajime.

Selain perubahan pada sifat dan pola berpikirnya (yang kini dengan amarahnya akan menggunakan segala cara untuk bertahan hidup), kerusakan tubuh berulang dari racun daging yang dimakannya sekaligus penyembuhan berulang berkat Ambrosia membuat tubuhnya makin berisi. Tinggi badannya juga bertambah. Lalu karena syok akibat penderitaannya, warna rambut Hajime dari hitam berubah sepenuhnya menjadi putih.

Membaca perubahan di Status Plate miliknya, Hajime juga mendapati bahwa Skill si monster—kilatan petir hitam Lightning Clad—jadi bisa digunakannya, walau dalam versi lebih lemah. Di samping itu, aura mana Hajime yang semula berwarna biru langit juga berubah menjadi hitam seperti layaknya para monster. Hajime memperoleh kemampuan untuk memanipulasi aliran mana di sekelilingnya secara langsung, tanpa perlu lagi menggunakan mantera dan formasi sihir seperti selayaknya manusia lain.

Kemampuan Transmute Hajime ikut berkembang. Kini dirinya punya Skill turunan untuk mengenali logam dan bijih batuan.

Sesudah percobaan berulang, dengan satu tangan, Hajime berhasil menyusun senjata pertamanya. Melalui Transmute, ia menciptakan pistol revolver yang dinamainya Donner dari bahan-bahan yang diperolehnya dari dasar labirin.  Selain dipicu batu api, peluru yang ditembakkan Donner juga dapat dipercepat secara elektromagnetis menggunakan Lightning Clad, menghasilkan daya hancur dahsyat setara railgun.

Berbekal Donner, Hajime menghabisi satu demi satu monster buas yang ditemuinya di Labirin Orcus.

Perjalanan Hajime di dalam Labirin Orcus lalu berujung pada pertemuannya dengan putri vampir yang telah disegel beratus tahun. Belakangan, sesudah dibebaskan, putri tersebut dinamainya Yue dan kemudian menjadi teman seperjalanannya.

Seperti halnya Hajime, Yue adalah korban pengkhianatan. Namun berkat kemampuan regenerasinya yang dahsyat, Yue tak bisa dibunuh. Akhirnya ia hanya sebatas disegel seorang diri oleh keluarganya, selama berabad-abad, dalam ruangan khusus yang mungkin disiapkan hanya untuknya.

Lolos dari berbagai macam monster, karena tak bisa menemukan jalan ke atas, Hajime dan Yue terus menelusuri jalan ke bawah. Lawan-lawan yang mereka hadapi semakin kuat. Hingga akhirnya, mereka menemukan ruang rahasia tersembunyi di dasar labirin milik Oscar Orcus, sang penciptanya. Di dalamnya, terkuaklah kenyataan tentang dunia Tortus yang sesungguhnya.

Gun Fu

Shirakome-sensei memakai sudut pandang ketiga serba tahu dalam Arifureta. Gaya narasinya tak menonjol, tapi antusiasme beliau dalam menjabarkan berbagai rincian di dalam ceritanya terasa pada setiap kalimat.

Bagi banyak orang, ada banyak hal dalam Arifureta yang bakal bikin mengernyit. Tapi buat yang suka hal-hal kayak gini (dan aku percaya jumlah mereka lumayan banyak), Arifureta termasuk rame. Isi ceritanya belum tentu kamu sukai, tapi cara penyampaiannya yang runut dan detil bisa membuat kamu tertarik.

Aku pribadi merasa Shirakome-sensei tipe yang menikmati proses membuat ceritanya. Iya, ada kesan amatiran dan main-main. Tapi tercermin dalam tulisannya kalau beliau sendiri menyadari hal ini, dan memang ada kalangan pembaca tertentu yang takkan mempermasalahkannya.

Begitu-begitu juga, tetap ada bagian-bagian tertentu di Arifureta yang di luar dugaan bagus. Ada pihak-pihak tersembunyi yang bermain di balik Kouki dan kawan-kawannya. Negeri-negeri manusia tak cuma satu, masih ada Kekaisaran Hoelscher dan Republik Fuhren, dan antara mereka terjadi konflik kepentingan. Ada kejelian mata Shizuku yang membuatnya jadi karakter swordswoman yang sangat moe buat beberapa orang. Lalu ada juga Hajime, yang meski kini tak segan bersikap kejam, tetap menjaga integritasnya, bukti bahwa dirinya masih belum berubah sepenuhnya jadi monster seperti yang ditakutkannya.

Itu semua diiringi dengan kehebatan-kehebatan konyol yang jadi bisa Hajime lakukan. Status Plate Hajime tak bisa lagi membaca potensinya. (Level yang tertera adalah ‘??’) Dengan Transmute dan segala turunannya, Hajime bisa menciptakan bermacam senjata yang seakan tak ada habisnya. Dengan dibantu Yue, Hajime menciptakan (semacam) sepeda motor, menciptakan (semacam) mobil, menemukan cara penghancuran struktur sihir, menciptakan (semacam) kapal selam, menciptakan (semacam) drone UAV, hingga nantinya menciptakan (semacam) satelit yang jadi salah satu serangan terkuatnya.

Mungkin keimbaan ini setara dengan hal-hal serupa yang ada di Desumachi. Hanya saja… mungkin Desumachi masih lebih baik pemaparannya? Perkembangan di Arifureta memang terasa tiba-tiba sih.

Mencari Jalan Pulang

Buat yang penasaran, dalam perkembangan cerita, Hajime dan Yue kemudian mendapati bahwa manusia dan seluruh ras lain yang ada di Tortus hanyalah bidak-bidak permainan para dewa. Di masa silam, tujuh ‘pembelot’ yang menyebut diri mereka sebagai Liberators memimpin pemberontakan untuk mengubah nasib rakyat Tortus. Tapi kekalahan para Liberator di tangan para dewa membuat mereka menyembunyikan diri, yang jadi awal mula tujuh labirin misterius yang tersebar.

Mengetahui kenyataan ini, Hajime memutuskan untuk mengabaikan segala konflik. Persetan dengan Tortus. Ia lebih memilih berfokus menemukan jalan pulang ke Bumi.

Cara pulang ini diindikasikan tersembunyi dalam enam labirin lain yang belum dipastikan lokasinya. Di samping perjalanan Hajime untuk menemukan keenam labirin lain, Arifureta lalu berkembang lewat konflik dengan teman-teman lama Hajime, kepentingan bangsa-bangsa lain, sekaligus para dewa.

Buat kalian yang penasaran soal aspek haremnya, total love interest yang akhirnya ‘jadi’ kudengar ada delapan. Tiga dari mereka berasal dari dunianya yang lama. Tadinya, aku mau memaparkan mereka siapa saja, tapi nanti jadinya terlalu spoiler. Hubungan-hubungan yang terjalin menurutku agak maksa sih (usia mereka beragam!), tapi kurasa itu bukan hal aneh buat seri-seri isekai kayak gini.

Soal Arifureta, aku paling terkesan dengan pembahasan soal integritas Hajime. Dalam hal ini, usahanya menjaga keselarasan antara kata-kata dan perbuatan. Pemaparannya memang konyol, tapi itu hal yang semakin langka di masa-masa sekarang. Karenanya, aku senang bisa melihatnya dalam sesuatu kayak gini.

Mungkin kunci untuk bisa menjaga integritas memang adalah dengan bertambah kuat?

Ada lumayan banyak seri isekai lain yang berusaha memaparkan nuansa edgy seperti Arifureta. Tapi anehnya, hanya sedikit yang benar-benar berhasil. Aku juga tak paham. Mungkin Arifureta memang kasus khusus?

Akhir kata, kurasa aku akan tetap mengikuti perkembangan Arifureta untuk saat ini.

Setidaknya, pembangunan dunianya menarik.

05/05/2017

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! 2

(Ini adalah ulasan untuk musim tayang kedua Konosuba. Ulasan untuk yang pertama bisa dilihat di sini.)

Lagi ada banyak yang kuurusi belakangan. Urusan pribadi (salah satu hubunganku gagal belum lama ini), urusan kantor (ada teman sekantor mau dirumahkan), urusan hubungan sama orang (ada sedikit konflik antar tetangga). Ditambah lagi, belum lama ini komunitas lagi ramai dengan hilangnya salah satu situs paling berarti bagi para penggemar kebudyaan visual Asia. Tapi temanku memintai pendapat soal Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku o! 2 (di samping soal sejumlah hal lain). Lalu aku jadi mikir, mungkin ini waktu tepat untuk mengungkapkannya.

Sebagaimana yang semua penggemar tahu, KONOSUBA – God’s blessing on this wonderful world! 2 adalah musim tayang kedua dari adaptasi anime Konosuba. Ceritanya masih diangkat dari seri novel fantasi komedi karangan Akatsuki Natsume dengan ilustrasi buatan Mishima Kurone. Produksinya masih dibuat Studio DEEN. Staf yang menanganinya juga masih sama; Kanasaki Takaomi sebagai sutradara, Uezu Makoto yang membuat naskah untuk komposisi seri, dan musik oleh Kouda Masato.

Tentu saja, berhubung ini sekuel yang sudah direncanakan, kalau kalian sudah menggemari season pertamanya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal season keduanya.

Paling soal bagaimana Satou Kazuma, sang tokoh utama, jadi dihukum mati atau tidak.

Untuk yang lupa, di akhir musim tayang sebelumnya, Kazuma ditahan sesudah (tanpa sengaja) melakukan sesuatu yang membuatnya dituduh (ehem!) makar. (Ini tuduhan yang populer sekali belakangan.) Tapi dengan cepat kita juga tahu kalau kematian pun bukan sesuatu yang agaknya Kazuma permasalahkan…

Terlepas dari itu, jumah episodenya lagi-lagi hanya sebanyak sepuluh. Dengan kata lain, season kali ini kurang lebih mengadaptasi buku 3 dan 4 dari seri novelnya. Lalu enggak, sayangnya, belum ada konfirmasi soal ada apa enggaknya season 3, walau ada lumayan banyak fans mengharapkannya.

Pengalaman Dengan Bank

Enggak rame kalau aku ceritain. Tapi kalau mau sedikit disinggung, paruh pertama Konosuba 2 tentang bagaimana Kazuma harus membersihkan nama baiknya sesudah dituduh yang aneh-aneh. Dua rekan sekelompoknya, Megumin dan Aqua, sama-sama mencoba. Tapi justru Darkness yang menjadi penentu akhir kasus Kazuma saat dirinya mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya.

Darkness ternyata adalah putri bangsawan keluarga Dustiness yang ternama,  Dustiness Ford Lalatina. Lalu dengan kuasanya sebagai bangsawan, Darkness membantu Kazuma dengan dakwaan yang ditimpakan kepadanya.

Uh, bener ini yang terjadi ‘kan? Darkness membantu Kazuma?

Yah, pada waktu yang hampir sama, ada hal-hal lainnya juga. Ujung-ujungnya, Kazuma dan kawan-kawannya jadi berhadapan dengan Vanir, satu lagi antek Raja Iblis yang merupakan rekan kerja lama Wiz, sang lich pemilik toko.

Paruh keduanya sendiri mengisahkan sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu, yakni keluarnya Kazuma dan kawan-kawannya dari kota Axel, tempat di mana sebagian besar cerita berlatar selama ini, menuju kota lain! Dalam hal ini, kota indah Arcanretia, walau urusan mereka cuma untuk berwisata ke pemandian air panas sih.

Tapi lagi-lagi di sini pun, banyak hal terjadi! Ujung-ujungnya mereka bertemu dengan Hans, satu lagi antek Raja Iblis yang lain!

Seperti yang Kazuma sendiri bilang, dunia game ini benar-benar punya keseimbangan yang buruk.

“Aku tak keberatan dengan pad!”

Bicara soal teknis, meski sebenarnya enggak jauh beda, Konosuba 2 menurutku sedikit lebih bagus dari season sebelumnya. Selain berhasil mengembangkan lebih jauh fondasi yang sudah terbangun dari musim sebelumnya, ceritanya juga dituntaskan dalam titik yang positif.

Warna-warna cerah dan terang masih banyak digunakan dalam visualnya. Ekspresi muka para karakternya yang fleksibel kali ini dikasi fokus lebih banyak, yang lumayan nyambung dengan berbagai lelucon plesetannya. Ini diseimbangkan dengan penggambaran adegan-adegan aksi dramatis yang benar-benar keren. Tentu saja, meliputi ledakan-ledakan biasa yang dibuat Megumin serta aksi-aksi nekat Kazuma. Eksekusi animenya dalam hal ini benar-benar memuaskan, dan membuat kita kayak bisa memaklumi jumlah episodenya yang relatif sedikit.

Soal audio, Machico kembali hadir membawakan lagu pembuka yang tak kalah menariknya dari yang sebelumnya. Lagu penutupnya, seperti halnya “Chiisana Bokensha”, lagi-lagi adalah jenis yang dinyanyikan bersama oleh Aqua, Megumin, dan Darkness, walau perlu kuakui kalau aku sedikit lebih menyukai lagu penutup yang lama. Tapi yang paling berkesan dalam aspek ini, yang lagi-lagi perlu kusinggung khusus, meski seiyuu para karakter lain juga memberi kerja bagus, adalah peran Fukushima Jun sebagai Kazuma. Beliau benar-benar berhasil menjadi kayak penentu keberhasilan keseluruhan seri ini. Lalu dirinya benar-benar memberikan good job.

Rasanya aneh mengatakan ini. Konosuba 2 memperkenalkan banyak karakter baru dan mereka tampil hanya sebentar. Seperti Yun Yun, teman sekampung Megumin yang diperkenalkan kembali dari OVA-nya, yang agaknya kesepian karena tak punya teman. Lalu Sena, juri Kerajaan Belzerg yang menangani kasus Kazuma. Lalu ada juga ayah Darkness, Dustiness Ford Ignis, serta tunangannya, Alexei Barnes Walter. Belum lagi Eris, sang dewi junior Aqua yang kelembutan hatinya membuat hati Kazuma meleleh. (Dugaan sejauh ini adalah bahwa dirinya saat sedang menitis adalah sebagai Chris, sahabat Darkness yang berprofesi sebagai Thief. Itu, yang celana dalamnya pernah Kazuma curi.) Tapi meski demikian, hasil akhir Konosuba 2 tetap memuaskan.

Maksudku, agak tersamar peran para karakter baru ini apa. Kita juga tak benar-benar bisa bilang mereka mengalami banyak perkembangan. (Atau bisa?) Lalu para karakter utama yang kita ikuti nasibnya juga gitu-gitu aja (walau memang sedikit membaik?).Tapi kepuasan saat kita tiba di akhir cerita Konosuba 2 tetap ada.

Berkah Untuk Dunia Ini AND YOU

Akhir kata, mengikuti Konosuba 2, aku belajar bahwa separah apapun keadaan, segimana kayaknya segalanya enggak ada harapan, betapapun kamu merasa enggak ada lagi yang bisa kamu lakukan, segala sesuatu—secara konyol—masih bisa berakhir baik.

Aku suka dengan gimana Kazuma dkk secara rutin jadi mengacungkan jempol tiap kali mereka berhasil membereskan misi.

Tentu saja, semua para karakter lama, seperti Luna, sang penjaga kasir petualang; mendiang Beldia; si berandalan; dan bahkan Mitsurugi Kyouya juga sama-sama tampil kembali. Jadi singkat cerita, secara enggak terduga, kedua musim tayang anime Konosuba benar-benar adalah waktu menyenangkan.

Lumayan wajar bagaimana para penggemar mengharapkan kelanjutannya.

Apa aku jadi kepengin membaca novelnya atau enggak? Hmm. Mungkin saja ya?

Yah, kita lihat nanti.

Yeah, dunia ini suram. Tapi selalu ada berkah yang bisa kalian dapatkan kalau kalian mencarinya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A

15/03/2017

Sekai no Owari no Encore

Satu light novel yang membuatku penasaran dalam beberapa tahun terakhir (selain, mungkin, Tokyo Inroaded) adalah Sekai no Owari no Encore.

Dikenal juga dengan judul Sekai no Owari no Sekairoku (‘rekaman dunia (Encore) di ujung/akhir dunia’) ini lagi-lagi seri relatif baru yang sempat kubaca di situs Baka-Tsuki. Dikarang Sazane Kei dengan ilustrasi buatan Fuyuno Haruaki, serta diterbitkan oleh Media Factory semenjak tahun 2014, Sekai no Owari no Encore adalah seri petualangan fantasi yang sebenarnya lumayan generik.

Baguskah? …Sejujurnya, enggak juga. Bukan berarti jelek sih. Menurutku kualitasnya cenderung biasa.

Apa ini seru? …Kalau ditanya begitu, jawabanku lagi-lagi adalah enggak juga. Tapi di sisi lain, seri ini juga enggak bisa dikatakan membosankan.

Lalu alasan aku penasaran?

Susah menjelaskannya. Intinya, ada sesuatu tentangnya yang semata-mata menarik saja.

Dari detik pertama aku melihat ilustrasi dan membaca premis seri ini, aku langsung tertarik untuk tahu lebih lanjut. Aku lumayan bersemangat saat ada fans mulai menerjemahkannya ke Bahasa Inggris. Tapi pengerjaannya belakangan lambat. (Sekalipun kamu udah jago dalam dua bahasa, kerjaan nerjemahin tetep lumayan susah kalo belum dibiasain.) Lalu tanpa terasa, adaptasi manganya yang dikerjakan Usui Ryuu juga sudah mulai dibuat.

Membaca seri ini, aku pernah berpikir kalau mungkin benar kata mereka. Maksudku, soal gimana untuk mengubah keadaanmu, yang kau perlukan cuma satu ide bagus. Sebuah ide saja mungkin bisa membuat hidupmu jadi jauh lebih bermakna.

Yah, terlepas dari itu, cerita seri ini kurang lebih sebagai berikut.

Pada zaman dahulu kala, seorang pemuda manusia bernama Eleline konon menyelamatkan dunia dari suatu ancaman yang tak diketahui. Meski terlahir sebagai manusia, Eleline sedemikian kuatnya sampai-sampai ia disegani oleh para malaikat sang dewi di langit, para naga, dan juga para iblis. Karenanya, dalam perjalanannya menyelamatkan dunia tersebut, ia ditemani tiga sosok perempuan sangat cantik yang terdiri atas: Kyelse, putri para naga putih yang menjadi salah satu yang termuda namun juga yang terkuat dari spesiesnya; Fear (Phia?), sosok archangel terkuat di Langit, yang bahkan melebihi sang dewi sendiri; dan Elise, sang maou yang menguasai makhluk-makhluk dari Dunia Bawah. Berempat, mereka mengakhiri perang besar antara sesama ras mereka dan sekaligus menuntaskan End War yang nyaris menghancurkan dunia.

Namun karena suatu sebab, di akhir perjalanan, Eleline terpisah dari teman-teman seperjalanannya, dan akhirnya meninggal dunia karena sakit.

Sebelum meninggal, Eleline disebut-sebut telah meninggalkan sebuah catatan yang mengungkap sejarah dunia yang sesungguhnya. Catatan ini disebut Encore, dan konon turut mencantumkan kebenaran dari apa yang terjadi semasa End War. Catatan ini dikabarkan tersembunyi di suatu tempat rahasia. Lalu sedemikian berharganya pengetahuan di dalam catatan ini, berbagai pihak berlomba-lomba untuk menemukannya.

Tiga abad kemudian, Kyelse terbebas dari segel yang mengurungnya dan mendapati dirinya hanya seorang diri, tanpa kehadiran Eleline ataupun kawan-kawannya yang lain. Mulailah ia bergerak untuk mencari jejak kawan-kawan lamanya, sekaligus mengathui apa sebenarnya yang terjadi pada Eleline.

Legenda sang Kaisar Pedang (Palsu)

Tokoh utama seri ini sendiri adalah seorang pemuda bernama Ren E. Maxwell.

Di dunia yang mengingat jasa besar Eleline dalam menyelamatkan dunia tersebut, dan sekaligus telah mengabadikan rupanya dalam bentuk pahatan patung, Ren mendapat nasib kompleks karena terlahir dengan wajah sangat mirip Eleline. Dia beruntung karena jadi dipandang mirip dalam banyak sisi dengan sang pahlawan. Tapi dia juga sial karena jadi dibebani pengharapan keterlaluan untuk bisa menjadi sehebat Eleline. Yang lebih menyebalkan lagi, dirinya memang konon masih garis keturunan keluarga Eleline, walau Ren merasa justifikasi ini konyol karena Eleline meninggal dunia sebelum sempat meninggalkan keturunan. Jadi bisa dibilang dirinya hanyalah keturunan dari kerabat jauh Eleline. Lalu karena hal tersebut, Ren jadi menerima banyak ketidakadilan.

Ren adalah murid di Akademi Perjalanan Suci Fiore, satu dari sekian banyak instansi yang mendidik anak-anak muda untuk membentuk kelompok-kelompok yang akan menjelajah dunia demi mencari Encore.

Ren adalah seorang murid pekerja keras, tapi terbukti punya bakat biasa-biasa saja. Nilai-nilai ujian dan kemampuan prakteknya hanya sedikit di atas rata-rata. Lalu dirinya juga pernah tinggal kelas karena gagal dalam ujian praktek gara-gara dipasangkan dengan orang terkuat di angkatannya, semata-mata karena kemiripannya dengan Eleline.

Hanya satu orang di sekolahnya yang tak mencemooh Ren sebagai orang gagal. Orang itu adalah kakak kelasnya, seorang siswi teladan berambut pirang yang seakan sangat sempurna, baik dalam hal nilai maupun penampilan, Fear Nesphilia. Pada suatu titik, Ren telah menjadi akrab dengan Fear (yang jadi senang menggodanya), murid paling jenius di sekolah tersebut. Dari waktu ke waktu, Fear akan menyapa untuk menanyai kabarnya.

Karena kedekatan mereka, Ren selama ini mengira bahwa dirinya benar-benar akan seorang diri di akademi sesudah Fear lulus di akhir tahun nanti. Dengan kemampuan Fear yang luar biasa, Ren mengira pasti akan mudah untuk menemukan kelompok yang mau menerimanya, sehingga Fear bisa langsung berangkat untuk mencari Encore. Namun di luar dugaan, Fear ternyata memiliki rencana lain. Fear ternyata berencana untuk mengundurkan diri dari sekolah bahkan sebelum lulus.

Tapi sebelum Fear sempat menjelaskan, Ren mengalami sebuah kejadian di kota.

Itu adalah awal pertemuan Ren dengan Kyelse, sang putri naga perak, yang berujung pada pembuktian bahwa semua legenda tentang sang Kaisar Pedang yang disukainya sejak kecil benar-benar adalah nyata.

Lindungi Dirimu, Dengan Kekuatanmu Sendiri

Singkat cerita, Sekai no Owari no Encore adalah tentang perjalanan Ren—yang berwajah mirip dengan Eleline—dengan kawan-kawan seperjalanan lama Eleline dalam mencari Encore. Semula, perjalanannya hanya dengan Kyelse dan Fear-senpai (yang segera terbukti ternyata adalah Fear sang archangel). Tapi tak lama kemudian, mereka juga ditemani Elise, sang maou generasi terdahulu, yang telah mereinkarnasikan tubuhnya dan kini berwujud seperti anak perempuan berkulit coklat berusia 10 tahun, meski ia masih memiliki ingatan dan sebagian kekuatan dari wujudnya yang lama.

Kyelse, Fear, dan Elise sama-sama telah menerima bagaimana Ren hanyalah seseorang yang semata-mata mirip dengan Eleline. Meski tergoda untuk berpikir demikian, Ren bukanlah(?) reinkarnasi Eleline, mengingat kaum manusia tak punya kemampuan tersebut. Tapi ketiganya sama-sama bisa melihat ada sesuatu dalam diri Ren yang sedikit banyak mengingatkan mereka pada Eleline, dan membuatnya dipandang layak untuk berpergian bersama mereka.

Ren, yang notabene paling lemah di antara mereka bertiga, bukannya patah arang, malah jadi semakin terpacu untuk berlatih keras. Meski kemampuannya dipandang menengah untuk ukuran ksatria, ketiga putri tersebut melihat adanya potensi belum tergali dalam diri Ren, yang selama ini tersembunyi karena bias yang orang-orang punya terhadapnya. Mereka berpendapat bahwa kalau dilatih secara benar, mungkin saja Ren bisa tumbuh sampai sekuat(!) Eleline di masa lalu.

Hubungan teman seperjalanan sekaligus guru-murid ini yang menjadi salah satu hal khas Sekai no Owari no Encore. Ketiga gadis tersebut secara bergantian akan melatih dan mengajari Ren. Kyelse akan mengajari ilmu pedang yang diingatnya dari Eleline, sementara Fear dan Elise mengajari ilmu-ilmu lainnya.

…Tentu saja dengan diselingi satu-dua adegan fanservice.

Tapi, itu dia.

Satu hal tak biasa lain yang seri ini miliki adalah bahwa terlepas dari sorotan sesekalinya ke ketiga heroine tersebut, ada cerita latar yang cukup komplit yang dipaparkan. Jadi meski semula sering ada kesan “Aiih, lagi-lagi adegan kayak gini!” Lambat laun, terlepas dari betapa sepelenya cara adegan-adegannya dibuka, percakapan antara Kyelse, Fear, dan Elise biasanya jadi mengungkap lebih jauh soal dunia dan para karakternya.

Segera terungkap bahwa ada perjalanan berkelanjutan yang dilakukan oleh berbagai kelompok (party) yang tak terhitung jumlahnya untuk menemukan Encore. Meski telah ada tiga abad berlalu, dunianya tidak bisa dibilang aman dengan banyaknya monster yang berkeliaran, wilayah-wilayah yang belum terjamah, serta berbagai puing peradaban masa lampau yang menyembunyikan rahasia-rahasia yang telah lama terlupa.

Terungkap pula bahwa meski masih terbilang sangat kuat untuk ukuran manusia biasa, ketiga putri tersebut kini berada dalam kondisi jauh lebih lemah dibandingkan sewaktu mereka bersama Eleline tiga abad lalu. Kyelse tersegel, dan tak dapat lagi mengakses wujud naganya. Fear dan Elise diimplikasikan kehilangan seluruh tubuh mereka, dan harus mewujudkan fisik mereka kembali dari awal. (Elise baru berhasil melakukannya sepuluh tahun sebelum cerita dimulai.)

Mereka juga tak tahu soal apa yang menimpa Eleline dan bahkan tak tahu apa itu Encore sebelum mendengar kabar-kabar burung tentangnya. Namun demikian, mereka meyakini bahwa Encore merupakan semacam wasiat yang Eleline tinggalkan untuk mereka. Karenanya, mereka tak sudi bila itu sampai jatuh ke tangan manusia biasa. Apalagi bila digunakan untuk hal tak baik.

Batu Amber dan Bulu Sayap

Selain memaparkan dunia(-dunia) luas yang belum keseluruhannya terjamah yang dipenuhi puing-puing peradaban kuno, ada semacam sistem job/class yang seri ini tonjolkan.

Jadi, ceritanya, sedemikian banyaknya kelompok yang berangkat untuk mencari Encore, sudah ada semacam ‘penjurusan’ untuk peran masing-masing orang di dalamnya. Pembagian peran ini memudahkan komunikasi untuk menyampaikan kelemahan dan keunggulan sebuah kelompok.

Kesemua peran yang diajarkan dalam akademi, dengan istilah masing-masing (ada permainan furigana di sini, jadi istilah yang ‘dibaca’ adalah yang huruf besar), adalah:

  • MASTER (Knight) — Pengguna segala bentuk persenjataan pedang dan kampak yang berperan dalam menghadapi lawan dalam jarak dekat. Karena peran mereka di garis depan, mereka harus paham terhadap seluruh keadaan di sekeliling mereka, dan karenanya, harus memiliki kemampuan menilai keadaan secara sigap dan dingin. Biasanya terdiri atas orang-orang bertubuh besar dan kekar. Meski tingkatannya masih rendah, dan meski ukuran badannya hanya rata-rata, Ren sebenarnya termasuk dalam golongan ini.
  • ARIA (Caster) —Pengguna ritual-ritual kompleks yang memungkinkan manusia menggunakan sihir dan mantera-mantera serang para Iblis. Ketiga putri—khususnya Elise—mampu menjalankan peran ini, walau mungkin dengan mekanisme yang berbeda dari biasa. Ren berkata dirinya tak punya bakat di bidang ini.
  • SPIRIT (Spiriter) —Pengguna mantera-mantera yang berbasis pada pusaka-pusaka armamen roh, yang mengandung kekuatan para roh alam. Ketiga putri sama-sama punya pengetahuan tentang peran ini, tapi tak mendalaminya. Ren berkata dirinya tak punya bakat di bidang ini, walau anehnya, Elise bisa merasakan adanya aroma roh yang kuat dalam diri Ren.
  • FULLTYPE (Fighter) — Ahli pertempuran jarak dekat yang dengan mengkombinasikan mantera-mantera perlindungan serta tubuh mereka sendiri, mengalahkan musuh menggunakan ilmu bela diri. Mereka dinamai demikian karena beratnya latihan yang harus dijalani agar tak perlu mengandalkan senjata ataupun pelindung berlebih. Di luar dugaan Ren, peran khusus yang Fear-senpai dalami ternyata adalah ini.
  • ENCHANTER (Barrierer) — Pengguna mantera-mantera Malaikat yang mampu menyembunyikan, menyegel, mengintersepsi, dan sekaligus melindungi. Tanpa perlu dikata, Fear-senpai ahli dalam peran ini.
  • HEALER (Curer) — Para penyembuh yang menggunakan mantera-mantera yang mempengaruhi aktivitas tubuh dan regenerasi, di samping obat-obatan dan farmasi. Tak ada di kelompok Ren yang secara khusus mendalami peran ini, tapi semuanya sedikit banyak punya pengetahuan tentangnya.
  • HUNTER (Predator) — Petarung yang memiliki pengetahuan mendalam tentang berbagai makhluk yang menjadi buronan. Mereka mendalami kemampuan untuk menggunakan persenjataan jarak jauh dalam pertempuran.Lagi, tak ada di kelompok Ren yang secara khusus mendalami peran ini, tapi semuanya sedikit banyak punya pengetahuan tentangnya.
  • THIEF (Searcher) — Anggota kelompok yang berperan sebagai otak lapangan sekaligus arkeolog. Tak ada di kelompok Ren yang mendalami peran ini, tapi Elise dapat menjalankan peran ini dengan kemampuan alaminya untuk merasakan niat jahat.

Kesemua golongan tersebut juga ada tingkatan-tingatan penguasaannya. Mulai dari tingkat III yang paling rendah, naik menjadi tingkat II, kemudian I, lalu gelar Sword King untuk seorang MASTER, misalnya, hingga akhirnya Sword Emperor seperti halnya Eleline dulu.

Dalam perkembangan cerita, sebenarnya ada satu peran lagi yang tak diajarkan secara formal karena sedemikian langkanya bakat untuk menjalankannya. Peran tersebut adalah ANCIENTER, pengguna mantera-mantera hilang, yakni orang-orang yang punya kemampuan untuk berbicara langsung dengan para roh alam sekaligus memanggil dan meminjam kekuatan mereka.

Ren, tanpa disadarinya sendiri, sebenarnya termasuk dalam golongan ini.

Dari waktu ke waktu, semenjak hari-harinya di Akademi, ternyata ada roh api Salamander yang akan muncul dan menemaninya saat ia sedang sendiri. Roh ini pun rupanya ikut menemani dalam perjalanan mereka mencari Encore.

Kenyataan ini sedemikian mengejutkan ketiga putri. Berbeda dari para manusia, kaum naga, Malaikat, dan Iblis memandang bahwa roh-roh alamlah yang sebenarnya punya kedudukan paling tinggi di alam semesta.  Bahkan sebelum Ren, disebut bahwa hanya ada satu orang di dunia yang punya kemampuan ini, yakni sang petinggi di Tanah Suci Canaan. Tapi besarnya kekuatan yang peran ini miliki tak tersebar luas karena sedemikian langka penguasaannya.

Ini satu-satunya bidang ilmu yang tak bisa diajarkan ketiga putri secara langsung kepada Ren. Karenanya, upaya untuk mempertemukan Ren dengan roh-roh alam lain belakangan menjadi salah satu tujuan tambahan dalam perjalanan mereka.

Nyanyikan, Gerbang Dunia

Karena meyakini Encore adalah wasiat khusus dari Eleline untuk mereka, ketiga putri yakin bahwa Encore berada di tempat yang tak terjangkau oleh manusia biasa. Dugaan ini diperkuat dengan bagaimana keberadaannya masih belum ditemukan meski sudah berabad-abad.

Ren dan kawan-kawan barunya menelusuri satu demi satu petunjuk yang mereka miliki tentang Encore, yang sebagian di antaranya terdapat pada hubungan-hubungan masa lalu yang dimiliki ketiga putri.

Di saat yang sama, mereka juga harus berhadapan dengan kepentingan kelompok-kelompok lain. Ini terutama karena tersebarnya berita tentang mereka seolah menandai terlahirnya kembali Sword Emperor Brigade yang dulu pernah Eleline pimpin. Ren dan kawan-kawannya, yang kini dijuluki kelompok Reincarnated Knight (atau Knight of Reincarnation), jadi mengundang perhatian pihak-pihak seperti Elmekia Dusk, kelompok pencari Encore dengan keanggotaan terbesar di dunia; Saint Eyries, pada pencari dari tanah Canaan yang didorong oleh keyakinan keagamaan mereka; serta Spirit Inspectors, kelompok penelusur jejak para roh di mana Shion, ahli pedang terkuat di zaman ini yang disebut berada paling dekat dengan tingkatan Eleline, tergabung.

Melihatnya sekarang, kurasa tak bisa disangkal bagaimana premis seri ini terdengar sederhana tapi sekaligus begitu menjanjikan.

Secara menyeluruh, Sekai no Owari no Encore, sekali lagi, tak benar-benar bisa dikatakan bagus. Deskripsi dunianya dipertahankan minim. Alur ceritanya terbilang ringan. Perkembangan karakternya juga tak mendalam. Struktur pemaparan ceritanya juga terkadang tak lazim. Ada kesan aneh bahwa Sazane-sensei mengarang cerita ini saat masih remaja. Tapi sekali lagi pula, ada sesuatu tentang ceritanya yang membuat penasaran.

Meski pemaparannya sederhana, ada tema-tema soal persahabatan dan kerja keras. Para tokoh utama wanita, meski kerap bersikap ingin diperhatikan, sepenuhnya mandiri dan tak begitu saja jatuh cinta pada si tokoh utama. Intinya, cerita ini seperti berhasil menumbuhkan keingintahuan soal ke depannya nanti para karakternya akan di bawa ke mana.

Walau secara anatomi mungkin tak cocok dengan sebagian orang, ilustrasi Fuyuno-sensei juga terbilang cantik. Seperti elegan, tanpa terlalu condong ke seksi ataupun imut. Gaya desain beliau mungkin masih belum terlalu variatif. Tapi terasa ada perhatian yang beliau terhadap detil. Hal ini agaknya juga dipunyai Usui-sensei yang mengadaptasinya ke bentuk manga.

Hasilnya, seri ini seperti punya kesan umum ‘netral’ yang membuatnya mudah dinikmati banyak kalangan sekalipun popularitasnya takkan meledak.

Belakangan, perhatian terhadap seri ini mulai tumbuh dan sudah ada kelompok fans yang mulai menerjemahkan lagi.

Yah, nanti kalau ada perkembangan, mungkin akan aku kabar-kabari lagi.

Tag:
29/01/2017

Big Order

Sebelum membahas Big Order, ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan.

Aku pernah mengikuti perkembangan Mirai Nikki (Future Diary). Lalu terus terang, aku sulit menjadi penggemar Esuno Sakae-sensei. Sebagaimana yang mungkin kalian tahu, Big Order diangkat dari manga berjudul sama karya Esuno-sensei yang beliau kerjakan sesudah Mirai Nikki. Ada sejumlah aspek Mirai Nikki yang aku suka. Karenanya, sesudah membaca deskripsi ceritanya, lalu mendengar kalau ini diangkat menjadi anime, aku lumayan tertarik pada Big Order.

Tapi…

Bagaimana ya?

Yah, terlepas dari semuanya, sama seperti Mirai Nikki, anime Big Order juga diproduksi studio Asread. Secara agak mengejutkan, penyutradaraannya ditangani Kamanaka Nobuharu. Beliau staf veteran (pernah terlibat dalam berbagai seri, mulai dari Chobits sampai Robotic;Notes) yang sudah berulangkali menjadi sutradara episode, dan kalau tak salah ini menandai debutnya sebagai sutradara seri.

Takayama Katsuhiko yang menangani komposisi seri agaknya juga veteran, namun nama beliau belum terlalu aku kenal. Sudah ada banyak karya yang beliau tangani, seperti Aldnoah.Zero, ef: a tale of memories, Mirai Nikki, Ga-Rei Zero, dan belakangan Ange Vierge. Aku jadi merasa beliau semacam spesialis dalam mengadaptasi naskah dari bentuk-bentuk media lain.

Musiknya ditangani Evan Call. Hasilnya… lumayan unik? Ini dikombinasikan dengan lagu pembuka ‘Disorder’ yang beneran keren, yang dibawakan grup band Yousei Teikoku.

Jumlah episodenya, secara mengejutkan, sebanyak 10.

Bertindaklah Mewakili Mereka, Wahai Penguasa

Singkat cerita, Big Order berkisah tentang Hoshimiya Eiji, seorang remaja yang sepuluh tahun silam, tanpa sepengetahuan banyak orang, menjadi penyebab hancurnya dunia.

Sewaktu Eiji masih kecil, ada seri anak-anak bernama Aku Ranger yang ia gemari. Tokoh utama Aku Ranger dengan sengaja berperan jahat dan mencoba menguasai dunia untuk suatu tujuan mulia. Eiji benar-benar terkesan oleh seri itu. Lalu karenanya, saat secara tiba-tiba muncul sesosok peri(?) bernama DAISY yang menawarkan untuk mengabulkan satu permohonannya, Eiji mengatakan kalau ia ingin menguasai dunia. DAISY memberi Eiji—beserta sejumlah orang lain yang mengajukan permohonan padanya—sebuah kekuatan yang disebut Order untuk mengabulkan permohonannya. Hanya saja, karena terkejut dengan besarnya kekuatan yang ia peroleh (yang Eiji kuasai bukan hanya orang, melainkan segala sesuatu yang ada di dunia, termasuk benda-benda mati), Eiji kehilangan kendali akan kekuatannya dan menyebabkan kerusakan yang maha dahsyat.

Alasan Eiji masih belum bunuh diri dan tak tenggelam dalam rasa bersalah adalah karena ada adik perempuannya, Hoshimiya Sena. Sesudah bencana sepuluh tahun silam, mereka berdua hanya memiliki satu sama lain. Sena menderita suatu penyakit tertentu yang membuat usianya tak panjang. Sena diperkirakan akan meninggal dunia hanya beberapa bulan sesudah awal cerita. Karenanya, Eiji selama ini berpikir bahwa asalkan ia bisa bertahan hidup sampai akhir hayat Sena, maka baru sesudahnya ia akan menebus dosanya dengan mencabut nyawanya sendiri.

Namun pada suatu hari… tiba-tiba muncul seorang gadis cantik bernama Kurenai Rin yang mengetahui rahasia Eiji. Detilnya agak membingungkan. Tapi intinya, Rin kehilangan kedua orangtuanya dalam bencana tersebut. Lalu mengetahui bahwa Eiji penyebabnya, ia ingin membunuh Eiji untuk balas dendam. Upayanya gagal. Namun Rin tak kehilangan nyawanya karena keinginan kerasnya untuk hidup sesudah bencana sepuluh tahun silam memberinya Order yang memungkinkannya untuk bangkit kembali dari luka separah apapun. Meski demikian, dirinya akhirnya takluk oleh Order Eiji, memaksanya untuk mematuhi segala perintahnya, dan tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengincar nyawanya.

Tapi lalu terungkap Rin sebenarnya diutus suatu pihak tertentu yang kemudian menyandera Sena untuk memaksa Eiji untuk mematuhi mereka. Pemimpin pihak tersebut adalah seorang perwira militer muda misterius bernama Hiiragi Yoshitsune (yang memiliki Order dengan batas tak jelas yang memungkinkannya mengubah bermacam hal menjadi ‘kebohongan’). Terbeberlah kenyataan bahwa Eiji-lah pemilik Order yang menghancurkan dunia kepada khalayak umum. Eiji segera menjadi incaran amukan massa. Lalu keinginan Hiiragi dan rekan-rekannya? Dengan menjadikan Eiji sebagai pemimpin, mereka hendak menjatuhkan administrasi Jepang yang saat ini dan menguasai dunia.

Hanya Khayalan yang Melintas Bersama Angin

Big Order punya cerita yang langsung tuntas sesudah 10 episode. Durasinya di luar dugaan jauh lebih pendek ketimbang Mirai Nikki (walau kalau tak salah, versi manganya sendiri belum tamat). Lalu seperti yang bisa kalian perkirakan dari tanggapan umum terhadap versi manganya, Big Order memang kurang bisa mengimbangi pendahulunya.

Memang ada banyak elemen yang mirip antara Big Order dan Mirai Nikki. Ada ketegangan dalam intrik dan adu pikiran di dalamnya. Tapi yang lebih menonjol sebenarnya segala keanehan yang biasa ditemukan dalam karya-karya Esuno-sensei. Intinya…

Yah, intinya, kalau aku harus ungkapkan dalam kata-kataku sendiri,:

  1. Big Order punya kelemahan besar berupa tersamarnya batasan-batasan kekuatan para karakternya. Jadi ada kesan kalau resolusi yang terjadi lebih banyak disodorkan ke kita, daripada dibangun setahap demi setahap.
  2. Tak seperti Mirai Nikki yang punya sejumlah elemen positif yang mengimbangi elemen-elemen negatifnya, Big Order agak… kurang elemen-elemen positifnya. Kelihatannya ini bukan disebabkan karena adaptasi. Anehnya, ini terjadi meski para karakter Big Order relatif lebih bisa kusukai ketimbang para karakter Mirai Nikki.

Ada adegan menarik ketika DAISY membatasi wilayah efektif kekuatan Order Eiji di awal cerita, melalui konsep territory agar ia tak kehilangan kendali atas kekuatannya lagi. Konsep ini agaknya sempat diperhatikan, tapi jadinya kurang tergali. Ada kesan kalau para karakter malah jadinya terbawa-bawa plot yang dibuat Esuno-sensei. Lalu dalam perkembangannya, tahu-tahu saja territory yang Eiji miliki juga sudah meluas tanpa sebab yang benar-benar jelas.

Jadi, kayak ada kesan ‘cerdas’ yang mau dibidik, tapi jadinya enggak juga.

Aku terus terang agak bingung bagaimana mengungkapkannya. Soalnya meski hanya 10 episode, aku tak memahami apa yang terjadi dalam lebih dari separuh durasinya. Semuanya benar-benar terasa abstrak gitu. Perkembangan ceritanya benar-benar aneh. Ditambah dengan bawaan psychadelic yang ditonjolkannya, di awal-awal aku sempat merasa kalau aku sedang ngobat.

Kurasa, intinya, pihak Hiiragi dan kawan-kawannya sebenarnya ingin mengambil alih pemerintahan demi mencegah upaya suatu pihak tertentu mengulang bencana besar sepuluh tahun silam. Hiiragi perlu bantuan Eiji, tapi mereka bersikap manipulatif karena mengetahui Eiji sebagai pemicu bencana sebelumnya, mereka tak benar-benar yakin apakah Eiji bisa berada di pihak mereka atau bukan. Karenanya, mereka lalu bertindak dengan menyandera anggota keluarga Eiji yang masih tersisa, Sena, sesudah keberadaan para Order terungkap ke dunia.

Pihak yang menjadi lawan tandingan mereka, yang mau mengulang bencana ini, ternyata dipimpin oleh Hoshimiya Gennai, ayah Eiji dan Sena yang sebelumnya mereka kira sudah meninggal. Gennai dan Hiiragi sebenarnya pernah bekerjasama dalam meneliti suatu sumber energi yang dimunculkan dari kekuatan mental dan keinginan. Suatu perasaan khusus bahkan pernah tumbuh di dalam Hiiragi terhadap Gennai. Tapi, sesuatu agaknya terjadi yang kemudian membuat penelitian itu justru menjadi bencana.

DAISY muncul kembali. Konflik kembali terjadi menyangkut miko dan jalur energi leyline dalam upaya Gennai menyelesaikan sasaran penelitian tersebut

Puncaknya terjadi saat status Sena sebagai sandera diambil alih oleh Gennai sesudah Rin berkhianat. Karena keyakinan kalau ayah mereka sudah tewas dan tampang Gennai yang berbeda dari yang mereka ingat, Eiji dan Sena semula yakin bahwa orang yang mengaku bernama Gennai ini adalah gadungan. Namun segala bukti yang disodorkan menunjukkan kalau Gennai benar-benar ayah kandung mereka. Ini kemudian berujung pada bagaimana mereka mulai meragukan kebenaran ingatan mereka sendiri.

Hubungkan Seisi Dunia Menjadi Satu

Sebelum membahas soal teknis, perlu kuakui kalau premis Big Order beneran menarik. Kekuatan-kekuatan Order tersebut dimanifestasikan lewat kemunculan sosok-sosok gaib yang disebut Avatar. Order yang Eiji miliki untuk berkuasa atas semua tertuang dalam Avatar bernama Bind Dominator, sosok humanoid yang dapat memanipulasi apapun yang menyentuh ujung ‘kawatnya’ yang berjumlah banyak. Ada keharusan adu kepandaian yang ditonjolkan. Ada rahasia-rahasia dan berbagai keanehan yang diungkap.

Tapi…

Yah, sebut saja hasilnya sangat khas Esuno-sensei sekali.

Intinya, ada begitu banyak perkembangan aneh dan tiba-tiba yang terjadi. Hubungan sebab akibat antara segala sesuatunya benar-benar jadi terasa aneh gitu. Aku tak mengerti bagaimana Iyo, salah satu bawahan Hiiragi yang memiliki Order untuk menghasilkan ramalan akurat, yang juga menjadi satu dari sekian sedikit orang yang bersimpati pada Eiji, ternyata benar-benar jadi hamil setelah hanya tersentuh oleh Eiji. Aku bingung dengan bagaimana Rin seperti semula hendak dijadikan tokoh utama perempuan, tapi malah dikesampingkan pada porsi besar cerita, hanya untuk dimunculkan lagi menjelang akhir. Bagaimana Rin berulangkali hidup, mati, hidup, mati berkat kekuatan Order-nya, dan yang bersangkutan tak keberatan dengannya, juga aneh. Lalu aku mengerti bagaimana suatu hubungan simpatik antara Sena dan Rin hendak dibangun, tapi cara mereka menuangkannya lewat suatu adegan makan bersama itu luar biasa aneh. Aku gagal paham maksud rasa suka Hiiragi terhadap Gennai mau dibawa ke mana. Aku juga tak habis pikir kenapa tiba-tiba saja Gennai jadi jahat. Lalu aku cuma bisa bereaksi dengan “Oh. Oke.” saat hubungan incest antara Eiji dan Sena diimplikasikan, yang selanjutnya seperti mencegah usaha Iyo membuat anak dengan Eiji.

Seakan, persepsiku terhadap realita terguncang dari mengikuti Big Order!

Apalagi dengan begitu banyaknya karakter yang seakan datang dan pergi secara tiba-tiba.

Masalahnya, aspek-aspek teknis Big Order beneran enggak jelek! Pengaturan visual dan audionya termasuk keren. Dunianya yang pernah hancur karena suatu sebab abnormal berhasil digambarkan, aku terutama suka dengan warna langitnya yang aneh. Animasi lagu pembuka dan penutupnya berkesan. (Ini terutama berkat lagunya Yousei Teikoku.) Kau juga bahkan bisa merasakan bagaimana para staf berupaya menghasilkan yang terbaik dengan apa yang ada. Lalu kalau melihatnya sekilas, ada kayak suatu kesan ‘indah’ yang dimilikinya.

Demikian juga dari segi seiyuu. Morita Masakazu, pengisi suara Kurosaki Ichigo dalam Bleach dan berbagai karakter lain, secara hebat bisa berperan meyakinkan sebagai Eiji.  Kuni Misaki, yang belakangan mencuat dengan memerankan karakter-karakter imut seperti Awakusu Akane dalam Durarara!!x2 dan Serara dalam Log Horizon, juga lumayan mengesankan sebagai Sena. Misaki Mari yang belum terlalu dikenal juga menyuarakan suara benar-benar datar DAISY dengan cara aneh.

Oke, sebenarnya beberapa hal terkait audionya juga aneh sih. Kayak, beneran aneh. Ada terompet-terompet yang kayak mau mengarah ke jazz di dalamnya. Hmm, aku tak mengikuti versi anime Mirai Nikki, jadi sayangnya aku tak bisa membandingkannya.

Yah, akhir kata, bagiku, sempat ada sesuatu yang memikat dari Big Order. Ini tertuang dari bagaimana Eiji seakan ditempatkan untuk mengambil alih kuasa di dunia yang berangsur tenggelam dalam hilangnya logika. Ini serius sesuatu yang kerasa berarti bagiku, apalagi sesudah aku masuk dunia kerja. Di dunia sekarang, semua orang kayak hanya bergerak untuk kepentingan masing-masing. Orang-orang kayak udah hampir enggak mau melakukan sesuatu semata buat orang lain lagi. Ujung-ujungnya malah bikin kacau dan bikin susah semua.

Yah, mungkin kayak kondisi politik negeri kita sekarang.

Tapi kalau aku ditanya apa aku akan merekomendasikan Big Order atau tidak, kecuali kau penggemar karya-karya Esuno-sensei, jawabannya adalah “Enggak.” Soalnya, ini kayak seri yang hanya cocok untuk sebagian kecil orang saja.

Ada sejumlah keenggakjelasan yang memang mengusikku. Tapi sesudah melihat akhir bahagia Big Order dan plot twist terakhir yang mengiringinya, itu kayak jadi lembaran yang tak ingin aku buka lagi.

Sekali lagi, kecuali jika kau memang menggemari karya-karya Esuno-sensei.

Penilaian

Konsep: E; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi C+; Kepuasan Akhir: C-

03/01/2017

Fate/Grand Order: First Order

Ini catatan singkat(?), berhubung sekarang masih suasana tahun baru.

Episode spesial Fate/Grand Order: First Order beberapa hari lalu ditayangkan.

Diangkat dari game sosial ponsel Fate/Grand Order yang sekarang terkenal, produksi animasinya dilakukan studio Lay-duce (studio relatif baru yang sebelumnya memproduksi Magi: Adventure of Sinbad, Classroom Crisis), penyutradaraannya dilakukan oleh staff veteran Nanba Hitoshi (Baki the Grappler, Gosick, Heroman) dengan dibantu sutradara episode Tsukada Takurou, serta naskah yang dibuat pendatang baru Sekine Ayumi (Makura no Danshi).

Menyambut sekitar setahun semenjak perilisan gamenya, sekaligus mungkin menyambut tahap penutup Final Order yang dirilis di dalamnya belum lama ini (walau sudah dikonfirmasi akan ada perkembangan cerita baru yang menyusulnya), penganimasian FGO menjadi yang pertama dari rangkaian berita menggembirakan bagi para penggemar waralaba Fate keluaran perusahaan pengembang Type Moon. Selain FGO, bagian pertama dari trilogi film layar lebar Fate/stay night: Heaven’s Feel akhirnya akan rilis, seri anime Fate/Extra: Last Encore yang diproduksi studio SHAFT dengan disutradarai Shinbo Akiyuki sudah dijadwalkan untuk akhir tahun, lalu seri novel Fate/Apocrypha juga dikonfirmasi akan diangkat ke bentuk seri anime TV.

Kayak beberapa kasus sebelumnya, sebenarnya yang menggemari Fate/Grand Order adalah adik perempuanku, bukan aku. Kegemarannya terhadap game ini bahkan sempat mengalihkan perhatiannya dari kegemaran ngegamenya yang biasa. Tapi sejauh yang aku tahu, ini game sosial pertama yang Type Moon kembangkan, yang memang jadinya lumayan sukses.

Garis besar permainannya tak jauh beda dari game-game seluler mobage lain. Di dalamnya, kita jalankan misi-misi dengan karakter-karakter yang punya, memperoleh karakter-karakter baru, meningkatkan level karakter-karakter kita melalui misi-misi baru, dalam proses yang terus berulang hingga akhir cerita. Tentu saja, perolehan karakter barunya, sebagaimana yang kerap terjadi untuk game-game macam begini, kalau tidak kita beli khusus, ya terjadi secara acak (istilahnya: gacha, seperti halnya mesin gachapon). Tapi yang membuat FGO benar-benar istimewa dibandingkan game-game sejenis (macam Chain Chronicle, Rage of Bahamut, atau Final Fantasy Brave Exvius misalnya), kudengar adalah sistem pertempurannya yang bernuansa Perang Cawan Suci (tentu saja, dengan sedikit modifikasi), seluruh karakternya yang mendapat pengisi suara, serta konsep ceritanya yang menarik dan khas Nasu Kinoko-sensei.

Sejauh ini perilisannya hanya di Jepang dan menggunakan bahasa Jepang. Tapi berhubung user interface (UI)-nya dirancang sedemikian rupa agar sangat mudah dinavigasi, ditambah dengan banyaknya penggemarnya, ada banyak juga pemainnya dari negara-negara lain.

Terlepas dari itu, kalau kalian misalnya baca sejauh ini dan tak tahu Perang Cawan Suci itu apa, mungkin kalian nyadar Fate/Grand Order bukan judul tepat untuk memperkenalkan waralaba Fate kepada penggemar-penggemar baru. Soalnya, apa-apa yang ditampilkan dalam game ini mereferensikan hampir seluruh karya yang pernah dikeluarkan Type Moon. Jadi bukan hanya Fate/stay night dan berbagai turunannya, melainkan Kara no Kyoukai dan Tsukihime juga.

Di sisi lain, kalau kalian sudah lumayan tahu tentang semesta Nasuverse buatan Type Moon, dan ingin tahu lebih tentang FGO, maka episode spesial ini mungkin pilihan tepat.

Simulasi Dunia

Berlangsung di linimasa berbeda dari Fate/stay night, FGO mengetengahkan sebuah lembaga rahasia di bawah naungan PBB yang didirikan dengan maksud untuk memastikan keberlangsungan hidup umat manusia. Lembaga tersebut bernama Chaldea Security Organization, dan saat ini dipimpin oleh seorang perempuan bernama Olga Marie Amusphere yang mewarisi jabatan direktur dari mendiang ayahnya.

Urutan apa-apa yang terjadi agak membingungkan. Namun singkat cerita, Chaldea yang dipimpin Olga Marie tersebut, melalui kombinasi sihir dan teknologi, menjalankan suatu simulasi dunia bernama Chaldeas (yang dibangun dengan fondasi ‘roh Dunia’ itu sendiri) yang dengannya, mereka bisa memperkirakan masa depan. Dengan simulasi tersebut, mereka bisa memastikan keberlangsungan umat manusia dalam waktu dekat. Hanya saja pada tahun 2005, terjadi sesuatu yang ganjil. Masa depan yang sebelumnya dapat mereka pandang sampai satu abad ke depan tahu-tahu tersamar. Lalu umat manusia, dan mungkin sekaligus juga dunia, diperkirakan oleh sistem akan berakhir pada bulan Desember 2015.

Apa yang terjadi besar kemungkinan berkaitan dengan suatu wilayah bernama Fuyuki di Jepang pada tahun 2004. Pihak Chaldea memiliki suatu sistem bernama Shiva ciptaan ilmuwan Lev Lainur yang bisa mereka gunakan untuk memantau setiap titik geografis dan waktu di Chaldeas. Namun wilayah dan masa yang dikenal sebagai Singularity F tersebut merupakan area dari sejarah dunia yang entah kenapa tak pernah bisa mereka amati.

Menurut catatan sejarah yang mereka tahu, suatu ritual sihir bernama Perang Cawan Suci konon pernah berlangsung di Fuyuki pada tahun 2004. Lalu bencana kepunahan yang kini manusia hadapi bisa jadi berkaitan dengan artefak Cawan Suci yang didesas-desuskan sanggup mengabulkan permohonan apapun.

Untuk mengatasi masalah ini, ditemukan suatu proses bernama Rayshift yang memungkinkan untuk mengirimkan roh-roh orang-orang masa kini ke masa lalu. Lewat proses ini, kebenaran dari apa yang terjadi akan bisa terkuak.

Chaldea lalu mengumpulkan orang-orang yang memiliki potensi menjadi Master, sebutan untuk para peserta Perang Cawan Suci, untuk kemudian mereka kirim ke masa lalu demi menyelidiki apa yang terjadi dalam Singularity F. Tentu saja, juga untuk memastikan apakah benar sejarah yang mereka kenal telah berubah.

Gudao dan Gudako

Fate/Grand Order: First Order pada dasarnya mencakup cerita yang dipaparkan di prolog game. Meski… sifatnya lumayan berdiri sendiri, cerita First Order benar-benar lebih bersifat perkenalan terhadap para karakter dan dunianya.

Dalam versi game FGO, kita bermain sebagai agen Chaldea yang diutus ke masa lalu. Dalam perkembangan sesudah prolog Singularity F di atas, kita hanya dijelaskan perlu mendatangi berbagai ‘titik anomali’ lain yang tersebar di berbagai zaman, di mana konon konsep Cawan Suci disebut-sebut pernah muncul.

Ada dua avatar yang bisa pemain pilih dalam gamenya, yakni tokoh utama cowok (yang sebelumnya fans sebut Gudao) dan tokoh utama cewek (yang sebelumnya dipanggil Gudako). Tokoh utama untuk adaptasi anime ini dipilih tokoh utama cowok, yang kini memiliki nama resmi Fujimaru Ritsuka.

Sebagai catatan, Gudako (yang berkuncir dan berambut coklat) juga sempat tampil secara cameo sebagai salah satu calon Master potensial. Dirinya karakter yang lumayan populer. Tak ada perbedaan mencolok antara Gudao dan Gudako dari segi cerita. Tapi Gudako konon memang dikenal sebagai pribadi yang lebih… uh, ‘agresif’ di kalangan fans.

Fujimaru Ritsuka sendiri intinya pemuda biasa yang kebetulan terpilih menjadi salah satu Master potensial di Chaldea. Berhubung sifat Ritsuka sebagai ‘pengganti pemain,’ selain kedudukan anehnya di antara para karakter lain, tak banyak latar belakang cerita yang ia punya.

Kalau tak salah, berbeda dari para Master potensial lain, Ritsuka hanya diceritakan belum pernah mendapat pendidikan atau pelatihan khusus sebagai penyihir. Dirinya benar-benar seperti orang biasa. Orang yang kebetulan melihat iklan lowongan pekerjaan, melamar, dan secara tak terduga diterima. Tapi meski sempat membuat Olga Marie marah dengan sikapnya di awal, Ritsuka dipertahankan karena terbatasnya jumlah orang yang berpotensi sebagai Master.

Namun tak dinyana, hukuman Olga Marie padanya justru menyelamatkan Ritsuka dari ledakan misterius yang terjadi di awal misi.

Selain Ritsuka, kita juga diperkenalkan pada Mash Kyrielight (namanya juga sempat diromanisasikan sebagai ‘Matthew’ meski dia perempuan), seorang gadis ramah namun dengan sisi misterius yang memiliki kedudukan agak aneh di Chaldea; Fou, makhluk serupa tupai yang menjadi semacam hewan peliharaan Mash; Olga Marie yang terkesan tinggi hati dan keturunan terakhir keluarga magus ternama Animusphere; Lev Lainur yang necis dan tampak sangat dipercayai Olga Marie; serta Dr. Romani Archaman yang ceria dan menjabat sebagai kepala medis di Chaldea.

Ada sejumlah hal tersamar tentang Chaldea yang masih sebatas diimplikasikan. Tapi porsi besar cerita First Order pada dasarnya tentang bagaimana Ritsuka, Mash, Fou dan Olga Marie justru menjadi harapan terakhir Chaldea untuk mengetahui apa yang terjadi, sesudah mereka terbawa proses Rayshift ke Fuyuki di tahun 2004.

Di sana, mereka menjumpai kota Fuyuki yang telah hancur dengan nyaris tak menyisakan manusia. Perang Cawan Suci, karena suatu sebab, berkembang ke arah yang sepenuhnya berbeda dari yang tercatat di sejarah, dengan bagaimana para Servant yang didatangkan para Master telah lepas kendali. Dengan bantuan Caster, satu-satunya Servant yang masih ‘waras,’ Ritsuka dan kawan-kawannya harus berhadapan dengan Saber Alter, wujud korup dari Saber, sang Servant terkuat, yang menjadi rintangan terakhir mereka untuk menjangkau Cawan Suci.

Unobservable Realm

Cerita episode spesial berdurasi 72 menit ini berakhir menggantung dengan cakupan sangat terbatas. Tapi secara umum, First Order lumayan berhasil menyampaikan premis awal FGO. Soal cerita, aku dengar babak-babak cerita selanjutnya konon akan dianimasikan juga. Jadi kurasa kita tak perlu khawatir soal itu.

Kalau bicara soal teknis, kualitas presentasi First Order memang tak sebagus seri-seri animasi Fate lain sih. Apalagi kalau dibandingkan dengan keluaran-keluarannya Ufotable.

Soal ini… bagaimana bilangnya ya?

Aku dapat kesan aneh bahwa produksi First Order dibuat dengan agak dadakan. Sehingga studio yang Type Moon perlukan bukanlah studio animasi yang bisa memberi hasil ‘bagus,’ tapi studio yang bisa memberi hasil ‘lumayan’ dalam waktu relatif singkat. Lay-duce sendiri, sesudah kasus Classroom Crisis, agaknya bisa dibilang sebagai pilihan yang tepat. Menurut pendapatku, mereka pasti sedang butuh proyek gampang yang pasti laku. Karena itu format episode spesial First Order cocok buat mereka. Makanya, karena itu pula, First Order berakhir dengan kesan yang worksmanship sekali. Terlepas dari kualitas ceritanya, kualitas presentasinya hanya sebatas ‘enggak bagus, tapi enggak jelek juga.’ Ketimpangannya lumayan distraktif, apalagi kalau kalian terbiasa dengan kerennya visual dari anime-anime Fate yang lain. Tapi itu sama sekali tak menutup kemungkinan kualitasnya bisa meningkat di kemudian hari kok. Apalagi dengan kualitas seiyuu dan BGM yang terbilang oke.

Kembali ke soal cerita, sekali lagi, cerita First Order memang kurang begitu menonjol. Alasannya bukan karena adaptasinya jelek, tapi lebih karena di game aslinya, cakupan ceritanya memang baru sebatas itu. Kalau di seri-seri Fate lain, kita belum apa-apa sudah langsung dilarutkan dengan tema cerita yang nampaknya akan ditonjolkan. Kita bisa langsung dibuat tertarik dengan apa yang terjadi. Kita langsung disodorkan koneksi dengan para karakternya. Tapi kalau di FGO, kalau tak salah, pihak Type Moon sendiri pernah mengakui bahwa mereka semula masih meraba-raba karena ini pengalaman pertama mereka membuat mobage. Pada babak-babak permainan yang lebih ke sana, sesudah adanya input dari para pemain, baru pihak Type Moon memberi lampu hijau untuk lebih menitikberatkan cerita. Lalu baru dari sana pula kualitas ceritanya mengalami peningkatan secara drastis.

Apa? Kalau benar ini ada lanjutannya, mulai bagusnya kira-kira nanti episode kapan?

Uh, berhubung aku enggak main gamenya, aku juga enggak tahu. Ahahahaha. Mungkin nanti akan aku tanyakan ke adikku. Menurut adikku, ceritanya mulai bagus pas masuk ke latar London. Jadi kira-kira bab keempat dari tujuh. Mungkin kalo lanjut, maka itu sekitar episode 4-5?

Sekedar klarifikasi beberapa hal sebelum penutup, Perang Cawan Suci di Fuyuki tahun 2004 yang ditampilkan di First Order memang berbeda dari yang berlangsung di Fate/stay night. Ini terlihat dengan bagaimana sejumlah roh pahlawan dipanggil dengan kelas yang berbeda dari yang kita kenal. Roh pahlawan Medusa, yang menjadi Servant Rider di Fate/stay night, di sini ditampilkan menjadi Servant Lancer. Sedangkan Cu Chulainn, sosok Lancer yang kita kenal di Fate/stay night, di sini didatangkan sebagai Caster berkat ia dikisahkan menguasai sihir rune dalam mitologinya. Identitas Archer, Berserker, Assassin, dan Saber tak berubah (Assassin yang tampil di linimasa ini kelihatannya adalah True Assassin dari rute Heaven’s Feel). Aku lumayan penasaran dengan identitas Rider. Kudengar kalau di prolog gamenya, yang menjadi Lancer juga bukanlah Medusa, melainkan Benkei? Tak ada informasi jelas juga tentang para Master, tapi berhubung mereka tak tampil, mungkin mereka memang tak penting.

First Order sendiri lumayan berhasil menonjolkan jalinan hubungan Master-Servant antara Ritsuka dan Mash.

Soal Mash, ringkasnya, gadis manis ini adalah produk dari upaya pemanggilan Servant yang diprakarsai Chaldea untuk meniru sistem Perang Cawan Suci. Tapi upaya ini baru menampakkan hasil sesudah kekacauan yang terjadi dalam misi ke Singularity F. Dengan demikian, Mash menjelma menjadi Demi-Servant, atau manusia yang menjadi wadah dari roh pahlawan yang dipanggil Cawan Suci. Kelasnya adalah kelas istimewa Shielder yang terpisah dari ketujuh kelas Servant yang wajar.

(Uhukdiamanusiabuatanuhuk. UhukuhukuhukGalahaduhukKsatriauhukMejauhukuhukBundaruhuk.)

Kudengar kelas Shielder yang mengandalkan tameng sebenarnya pertama dicetus sebagai karakter orisinil untuk adaptasi anime Fate/stay night yang pertama dari Studio DEEN. Tapi sesudah diputuskan cerita anime tersebut akan mengadaptasi rute Fate, konsepnya terbengkalai, dan baru mencuat kembali sesudah proyek FGO berjalan.

Masih soal Mash, menyusul isu-isu kesehatan yang menerpa seiyuu Taneda Risa yang mengisi suara Mash dalam gamenya, perannya di First Order digantikan oleh Takahashi Rie yang menurutku berhasil memberikan good job. (Aku selalu merasa Taneda-san mendapat peran tersebut karena kebiasaan Mash memanggil orang-orang di sekelilingnya dengan sebutan ‘senpai,’ termasuk pada Ritsuka yang bergabung dengan Chaldea justru sesudah dirinya.)

Ada satu kejadian menarik di First Order tatkala Ritsuka kehilangan salah satu dari tiga command seal-nya. Aku mengira dia mengorbankan satu untuk mengembalikan mereka ke masa kini? Tapi sesudah aku mengikuti beberapa diskusi, nampaknya ada mistranslasi di teks. Ritsuka kelihatannya sebenarnya kehilangan command seal tersebut dalam adegan saat ia tanpa sadar memerintahkan Mash untuk ‘percaya pada diri sendiri.’ Tapi mungkin ini bukan isu penting berhubung di game FGO, command seal yang sudah terpakai nanti akan bisa terpakai kembali seiring dengan waktu.

Akhir kata:

  1. Ya, ini bukan adaptasi yang wah.
  2. Ya, ini bukan seri yang cocok disodorkan buat para penggemar baru waralaba Fate.
  3. Enggak, aku masih belum tertarik buat main FGO.
  4. Ya, kalau nanti ada lanjutannya, aku masih ingin lihat.

Eh? Makhluk apa itu Fou? Kenapa dia perlu ada? Yah, dia punya kaitan dengan Tsukihime dan Fate/Prototype sekaligus. FGO memang sesuatu yang sangat lintas semesta sih.

Mudah-mudahan proyek ini menjadi awal baru bagi Lay-duce untuk menciptakan sebuah hit.

Yah, kita lihat saja nanti.

11/12/2016

Kimi no Na wa

Aku baru menonton Kimi no Na wa.

Mungkin bisa dibilang, ini anime paling dibicarakan di tahun 2016.

Hanya beberapa bulan sesudah penayangannya di Jepang, film ini mulai diputar di negara-negara lain. Di Indonesia, kau bisa melihatnya di jaringan bioskop CGV Blitz. Film ini harusnya masih tersedia saat tulisan ini aku terbitkan. Cuma, mungkin kau perlu pandai-pandai merencanakan acara nontonnya berhubung pengaturan jadwalnya agak aneh. Mungkin karena tergantung wilayah.

Juga dikenal dengan judul Your Name (‘namamu’), walau mungkin aku berlebihan dengan berpikir begini, Kimi no Na wa susah untuk enggak kuanggap sebagai magnum opus Shinkai Makoto. Disutradarai sekaligus dipenai secara langsung oleh beliau, beliau seolah mengukuhkan namanya sebagai salah satu sutradara animasi paling ternama lewat film ini. Kalau kau baca-baca berita tentang besarnya pemasukan dan berbagai penghargaan yang film ini raih, mungkin kau juga akan berasumsi sama. Tapi kalau kau menontonnya sendiri, maka kau seolah lebih mempercayainya.

Mempercayainya dengan mata kepalamu sendiri.

Susah menjelaskannya. Tapi, Kimi no Na wa itu kualitasnya gila. Terutama kalau kau menontonnya dengan mindset yang tepat. Film ini… apa ya? Bagus sih bagus. Tapi ‘bagus’ bukan kata yang tepat. ‘Keren’ juga bukan. Ini kayak… bisa kena menghantammu secara telak gitu, tapi dalam artian positif. Kena ke titik sasaran, tapi bukan secara berlebihan juga.

Maka dari itu, kurasa wajar bila film ini sukses karena temanya tak seberat ataupun semisterius film-film Shinkai-sensei yang biasa, namun dengan kualitas visual, arahan, serta bobot cerita yang tetap sama.

Begitu beres menonton, yang terus terbayang di kepalaku adalah betapa film ini seolah menandai ‘puncak’ kemampuan Shinkai-sensei sebagai animator. Mungkin kelak beliau akan membuat film lain dengan mengangkat tema lain yang juga mengandung makna kuat yang mendalam. Namun aku sangat sulit membayangkan keluaran beliau dan studio CoMix Wave Fims sesudahnya akan bisa menandingi kekuatan film ini.

Mimpi yang Nyata dan Tak Jelas Kapan Akan Berakhir

Kimi no Na wa pada dasarnya adalah cerita boy meets girl. Cerita soal cewek ketemu cowok. Premisnya melibatkan pertukaran tubuh.

Agak susah buat menjelaskan kebagusan anime ini secara sederhana. Soalnya, aspek yang membuat ceritanya benar-benar kuat adalah beragam motif dan tema di dalamnya.

Cerita dibuka dengan pemandangan tengah jatuhnya ‘sesuatu’ dari langit. Lalu dengan beberapa kilasan maju mundur, kita secara bergantian diperkenalkan pada kedua tokoh utama: seorang gadis pedesaan yang sebal dengan kehidupannya bernama Miyamizu Mitsuha; dan seorang siswa SMA di Tokyo bernama Tachibana Taki.

Muak dengan betapa terkekangnya kehidupannya di desa—terutama sehubungan ayahnya yang hendak kembali menjabat sebagai walikota, hubungan kurang harmonis Mitsuha dengannya, serta statusnya sendiri sebagai miko kuil Shinto di wilayah tempat tinggalnya, Itomori—Mitsuha secara ceplas-ceplos berujar kalau dirinya ingin jadi seorang cowok tampan di Tokyo dalam kehidupannya yang berikutnya. Lalu tak lama sesudah itu, Mitsuha dan Taki, yang semula tak saling mengenal, secara ajaib mulai sering bertukar tubuh.

Prosesnya bagi mereka terasa seperti mimpi. Ingatan mereka menjadi agak tersamar setiap kali hal itu terjadi. Tapi dari kesaksian orang-orang di sekeliling mereka, fenomena itu tak bisa mereka bantah. Jadilah Mitsuha dan Taki saling berkoordinasi lewat penerapan bermacam aturan dan kesepakatan melalui pesan-pesan yang mereka tinggalkan. Baik lewat catatan-catatn harian ataupun coret-coretan di tubuh mereka masing-masing.

Fenomena ini berlangsung untuk beberapa lama. Dimulai setiap kali mereka bangun dan diakhiri setiap kali mereka tidur. Namun tak ada pola jelas pada kemunculannya.

Sebagai satu sama lain, mimpi Mitsuha untuk bisa menjalani hidup di Tokyo akhirnya terwujud, terutama lewat pengalamannya untuk berkunjung ke sebuah kafe. Mitsuha menjadi berkenalan dengan dua sahabat dekat Taki, yakni Fujii Tsukasa yang berkacamata dan telah lama dekatnya, serta Takagi Shinta yang berbadan besar dan selalu siap membantu. Tak dinyana, Mitsuha, dengan sisi femininnya, juga berhasil mendekatkan Taki dengan senior yang lama ditaksirnya di tempat kerja sambilan, seorang mahasiswi mandiri bernama Okudera Miki yang dikagumi banyak orang. Mitsuha bahkan berhasil mengatur janji kencan dengannya.

Taki sendiri, di dalam tubuh Mitsuha, mulai berkenalan dengan dua sahabat Mitsuha sejak kecil, yakni Natori Sayaka, gadis pemalu yang menjadi anggota Klub Siaran; serta Teshigawara Katsuhiko, remaja berbadan kekar yang menjadi putra pengusaha kontraktor di desanya, rekan kerja ayah Mitsuha, dan karenanya sedikit banyak mengerti beban yang Mitsuha rasakan. Taki, dengan bawaan agresif dan kepandaian motoriknya, sedikit banyak mengubah citra Mitsuha di sekolah yang sebelumnya kurang populer karena status ayahnya.

Taki juga mulai mengenal dua anggota keluarga yang tinggal bersama Mitsuha, yakni: Miyamizu Hitoha, nenek Mitsuha yang bijak, yang karena suatu persoalan di masa lalu telah memutus hubungan dengan ayah Mitsuha, Miyamizu Toshiki; serta adik perempuan Mitsuha berusia SD yang selalu membangunkannya setiap pagi, Miyamizu Yotsuha, yang juga mulai melihat pola bahwa bila kakaknya bangun dengan meraba-raba dadanya sendiri, itu tandanya untuk seharian ia akan berkelakuan aneh.

Memandang ke kehidupan satu sama lain, di tempat dan lingkungan yang jauh berbeda, mata Mitsuha dan Taki seperti dibuka akan hal-hal menyangkut diri mereka masing-masing. Taki, khususnya, mulai mengenal tradisi upacara-upacara Shinto yang dijaga keluarga Mitsuha secara turun-temurun, yang meski telah terlupakan maknanya akibat suatu bencana kebakaran pada satu titik, masih dijaga bentuknya hingga sekarang.

Namun pada suatu ketika, singkat cerita, fenomena pertukaran tubuh ini terhenti. Terhenti tanpa pernah terjadi lagi. Sehingga dimulailah perjalanan panjang Taki dan Mitsuha untuk bisa saling menemukan kembali satu sama lain.

Lalu dalam upaya tersebut, sejumlah hal mengejutkan terungkap. Hal-hal yang menjelaskan mengapa upaya mereka dalam menghubungi satu sama lain secara langsung sejauh ini telah gagal.

Musubi

Minat kuat Shinkai-sensei terhadap benda-benda langit kembali tertuang di Kimi no Na wa, kali ini lewat kehadiran komet terang Tiamat, yang bisa jadi merupakan penyebab fenomena aneh yang Mitsuha dan Taki alami. Ceritanya, diberitakan secara luas bahwa komet tersebut akan melintas dengan jarak dekat ke bumi. Lalu pemandangan lintasannya akan terlihat jelas pada acara festival musim panas yang akan dilangsungkan di tempat tinggal Mitsuha.

Seperti yang bisa diharapkan dari sebuah film keluaran CoMix Wave, kualitas presentasi film ini benar-benar kuat. Faktor pemandangan kembali berperan, dan kita kembali disuguhi berbagai pemandangan indah baik dari dalam maupun luar ruangan. Permainan cahaya, yang awalnya begitu menjadi ciri arahan Shinkai-sensei, tentu saja ada, tapi kini turut diiringi oleh penggambaran latar yang kuat serta eksekusi adegan-adegan yang benar-benar mulus.

Musik di film ini ditangani oleh grup rock RADWIMPS, yang menghadirkan alunan musik ringan yang mudah didengar. Mungkin karena tema film ini yang begitu menyangkut masa muda, pembawaannya pas dan cocok dengan cara yang agak berbeda dibandingkan film-film Shinkai-sensei yang sebelumnya. Jadi… bukan cuma nyambung, tapi sekalian juga melengkapi? Aku terus terang awam soal musik, jadi aku tak pernah bisa bahas banyak soal aspek ini.

Tapi yang membuat aku benar-benar terpikat pada Kimi no Na wa, yang kurasa sulit dipahami kalau tak kalian lihat secara langsung, pertama terdapat pada tema cerita, dan kedua pada cara eksekusinya.

Cerita soal pertukaran tubuh beberapa kali pernah diangkat. Dalam bentuk anime, seri Kokoro Connect menjadikan itu tema utamanya. Lalu untuk manga, Boku wa Mari no Naka karya Oshimi Shuzou yang sekarang masih lanjut setahuku bahkan menjadi salah satu inspirasinya. (Bahkan ada kenalanku yang membandingkannya dengan visual novel misteri klasik Remember 11. Dia menyangkal soal bagaimana kehadiran karakter pembunuh sadis menjadi penentu rasa sukanya.)  Tapi di Kimi no Na wa, Shinkai-sensei mengungkapkan tema di atas lewat bagaimana jiwa-jiwa manusia dan alam seakan terus bertemu dan berpadu seiring berjalannya aliran waktu. Menyadarkan posisi kita di alam semesta, apa peranan kita, serta apa-apa yang mungkin akan kita temui di masa-masa mendatang.

Ada sesuatu tentang pengungkapan itu yang enggak bisa aku jabarkan secara mudah.

Eksekusinya bagus dalam artian penceritaannya jenis yang berhasil membuatmu terus bertanya-tanya. Apa yang akan mereka perbuat? Apa selanjutnya yang akan terjadi? Bahkan saat membahas konsep agak ‘ajaib’ pun, tak ada saat-saat lambat yang membuat ceritanya susah dimasuki. Ditambah lagi, para karakternya benar-benar simpatik. Dunianya juga benar-benar terasa ‘jadi.’ Kimi no Na wa berhasil mempertahankan minat yang timbul karena saat-saat takjub dari awal sampai akhir, meskipun di awal kita belum sepenuhnya yakin cerita ini akan tentang apa.

Dari segi teknis pun, film ini benar-benar solid.

Kataware-doki

Terus terang, aku menonton Kimi no Na wa hampir tanpa tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku hanya tahu kalau ini karya paling sukses Shinkai-sensei sejauh ini. Lalu ceritanya ada kaitannya dengan pertukaran tubuh.

Ungkapan ‘paling sukses’ di sinilah yang buatku menarik perhatian.

Aku sudah lama jadi pengagum karya-karya beliau, tapi aku bukan penikmat beratnya. Aku pertama kenal Shinkai-sensei lewat film Kumo no Mukou, Yakusoku no Bashou (atau Beyond the Cloud) yang temanya teramat menarik perhatianku. Aku sempat juga melihat 5 cm per Second. Lalu aku tahu juga ada novel-novel yang kerap melengkapi karya-karya beliau buat. (Novel 5 cm per Second kalau tak salah sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Maaf aku belum baca. Sesudah melihat versi animenya, aku ternyata tak kuat dengan temanya.) Tapi pada satu titik, meski senantiasa dibuat kagum dengan keindahannya, aku merasa tema-tema yang beliau angkat dalam film-film beliau hanya sedikit yang ada relevansinya denganku.

Namun ya itu. Membaca berita-berita tentang berbagai pujian dan penghargaan yang diterima Kimi no Na wa, aku penasaran. Lalu benar juga. Ini film beliau yang mungkin paling nyambung denganku sejauh ini. (Di samping, ehem, 5 cm per Second. Tapi mari kita tak bahas luka-luka mental masa laluku.)

Begitu aku beres menonton Kimi no Na wa, aku tersadar dengan kenapa Jepang bisa menjadi negara dengan banyak dewa. Diumpamakan lewat kesenian anyaman tali yang dilakukan keluarga Mitsuha, aku seperti jadi memahami keyakinan mereka akan banyak dewa tersebut mungkin berasal dari budaya mereka dalam bekerja.

Jadi tak seperti di kebanyakan negara, orang-orang Jepang dikenal memiliki kebanggaan terhadap hasil kerja mereka. Sekecil apapun. Kebanggaan terhadap karya dan hasil kerja tersebut bukan cuma berasal dari ketekunan, tapi juga dari semacam kekhusyuan. Yang kumaksud itu kayak semacam kombinasi dari keikhlasan dan rasa syukur gitu. Karena dalam bidang kerja apapun yang mereka geluti, selalu ada suatu filosofi yang seperti berusaha mereka gali. Suatu filosofi yang membuat mereka terkesan agak berbau spiritual. Suatu ilmu. Suatu cara. Suatu ‘jalan.’ Istilahnya do.

Kalau di Air Gear, ini umpamanya adalah road yang terbentuk dari hasil latihan Air Trek berulang yang dilakukan para karakternya.

Filosofi dalam berkarya itu mereka gali karena dengan terus menggalinya, mereka bisa semakin mengenal diri sendiri. Lalu mungkin kalian pernah dengar ungkapan soal bagaimana untuk mengenal Tuhan, maka yang harus kalian kenali itu diri kalian sendiri? Sehingga kupikir wajar jadinya bila Jepang ujung-ujungnya menjadi masyarakat yang seperti mengenal banyak dewa.

Alasannya mungkin karena mereka telah sedemikian berusahanya dalam mengenal diri mereka sendiri lewat karya-karya mereka.

Meski mungkin penggambarannya abstrak, budaya mereka akhirnya jadi menanamkan keyakinan yang besar akan keberadaan hal-hal gaib. Kalian tahu, baik itu dalam bentuk dewa ataupun youkai? Lalu karena merasakan adanya hal-hal di luar lingkup kuasa mereka, mereka secara tradisional jadi bangsa yang terdorong untuk mementingkan keselarasan . Apalagi karena secara geografis, negara mereka adalah negara yang rentan bencana alam.

Yah. Susah menjelaskannya.

Contoh yang lebih gamblangnya, aku jadi ingat pengalaman-pengalamanku sendiri dalam berlatih kendo semasa kuliah. Ada sensei yang datang dari Jepang dalam rangka mengawasi ujian kenaikan tingkat. Lalu saat aku dan para seniorku minta diberi wejangan, kami diberi semacam kata-kata mutiara yang pada waktu itu, memang terasa agak-agak lebay. Kami semua tak benar-benar yakin itu artinya apa. Aku lupa apa persisnya kata-kata itu. Hanya saja kalau dibaca, rasanya agak-agak menggelikan. Tapi memikirkannya lagi sekarang, aku mulai mengerti kenapa dituturkannya dengan cara demikian. Alasannya karena… ya, karena memang itu bener. Memang seperti demikian ilmunya.

Kau hanya bisa memahaminya sesudah kau cukup menggalinya demi mengenal dirimu sendiri.

Kita Semua Pengarung Waktu

Karena aku menonton ini lebih dengan mindset sebagai penikmat magic realism, aku tak terlalu memperhatikan aspek-aspek sains fiksinya. Tapi walau begitu, sisi sains fiksi Kimi no Na wa kalau mau dibahas itu ada. Lalu kalau mau digali, semua yang terjadi itu kayaknya ada penjelasannya.

Melihat itu, aku jadi mengerti kenapa versi novelnya bisa menjadi salah satu buku paling laku di pasar Jepang di sepanjang tahun ini.

Jadi, tak seperti kebanyakan cerita pertukaran tubuh begini, apa yang Mitsuha dan Taki alami bukan kejadian ‘acak’ yang terjadi begitu saja. Dituturkan dari bagaimana Taki mengetahui bahwa fenomena ini telah terjadi secara berulang dalam keluarga Mitsuha, diindikasikan bahwa ada suatu maksud tertentu dari semua ini. Sesuatu yang sudah digariskan sekaligus besar, yang kemudian tertuang pada bagian akhir film.

Kimi no Na wa memang sangat terasa seperti cerita novel. Kalau ada kelemahan di versi animenya, itu ada pada beberapa elemen cerita latar yang kurang tergali memuaskan, seperti soal ayah Taki yang hanya muncul sebentar, atau teman-teman sekolah Mitsuha yang awalnya diperlihatkan menaruh antipati secara gamblang terhadapnya. Karena itu, versi novelnya mungkin bisa benar-benar melengkapinya.

Moga-moga saja suatu saat nanti novelnya akan ada yang menerbitkan di sini.

Akhir kata, kalau kalian berkesempatan, aku sangat sarankan untuk sempatkan menonton Kimi no Na wa di bioskop. Mungkin akan ada yang berpendapat sebaliknya, tapi aku merasa ini adalah mahakarya Shinkai-sensei. Lalu kapan lagi kita bisa melihat sesuatu sebagus ini di layar besar?

Ditambah lagi, teks terjemahannya bagus! Kayak diterjemahkan dari bahasa Jepangnya yang asli! Semua lagu temanya pun diberikan liriknya karena lirik-liriknya memang seakan melengkapi cerita. Terima kasih untuk siapapun kalian yang telah mengusahakan agar film ini bisa tayang di bioskop sini!

Aku jadi merasa nonton ini mungkin enggak cukup sekali.

Apa?

Iya, ini masih jadi film beliau yang sangat menonjolkan nuansa cinta dalam artian kerinduan dan pengharapan. Kalau soal itu, itu tak berubah kok. Lalu juga, soal bagaimana kita semua sedemikian bergantung pada ingatan.

Itulah hal berharga yang kita ‘bagi’ dengan sedemikian banyak orang.

Kalau dipikir, manusia benar-benar makhluk yang rapuh.

(Iya, itu bu guru yang sama dari yang di Kotonoha no Niwa.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

(Edit: Terima kasih khusus untuk FA yang sudah memperbaiki kualitas teks terjemahan Indonesianya!)

01/11/2016

Thunderbolt Fantasy

Belum lama ini, aku mengikuti Thunderbolt Fantasy.

Susah buatku untuk tak tertarik pada Thunderbolt Fantasy. Selain mengusung Urobuchi Gen selaku penulis cerita dan Sawano Hiroyuki untuk musik, aku tak pernah bisa benci acara-acara berbasis pertunjukan boneka begini. Meski aku bukan generasi yang besar dengan menonton Si Unyil, aku dulu suka menonton seri-seri ‘marionation’ yang diproduksi Gerry Anderson di Inggris, macam Thunderbirds dan Captain Scarlet. Lalu aku suka Muppets. Di samping itu, aku lumayan menggemari cerita-cerita wuxia.

Diproduksi lewat kerjasama perusahaan-perusahaan Nitroplus dan Good Smile Company dari Jepang dengan perusahaan Pili International Multimedia dari Taiwan, Thunderbolt Fantasy: Touriken Yuuki (subjudulnya kira-kira berarti: ‘pengelanaan pedang dari timur’) merupakan semacam seri pertunjukan boneka tangan yang lagi-lagi sempat memicu perdebatan soal batasan-batasan definisi ‘anime.’ Pertama disiarkan langsung dalam tiga bahasa, Min-Nan Taiwan, Mandarin, dan Jepang, penyutradaraannya dilakukan oleh Chris Huang dan Jia-Shiang Wang. Jumlah episodenya sebanyak 13, dan sudah dikonfirmasi ada sekuelnya yang sedang dibuat.

(Untuk kemudahan pengetikanku, nama-nama yang digunakan dalam ulasan ini adalah nama-nama Jepang.)

Kode Etik Payung

Cerita Thunderbolt Fantasy benar-benar sederhana, dan sekilas terkesan sangat generik.

Kisah dibuka dengan dikejar-kejarnya sepasang kakak beradik dari kelompok penjaga segel Goinshi, Tan Kou dan Tan Hi, dari kejaran orang-orang jahat kelompok Genkishu (‘para iblis onyks’). Meski keduanya sanggup bertahan beberapa lama, terutama berkat kepiawaian Tan Kou dalam bermain pedang, keduanya terdesak saat pemimpin Genkishu, seorang pria bertopeng bernama Betsu Tengai, ikut serta dalam pengejaran.

Betsu Tengai, yang berjulukan Shinra Kokotsu (‘tulang-tulang penciptaan’) berkat penguasaannya atas ilmu bela diri sekaligus ilmu sihir, dengan mudah menaklukkan Tan Kou. Sehingga di ambang kematiannya, Tan Kou kemudian mendorong adik perempuannya, Tan Hi, untuk terjun ke lembah sungai agar melarikan diri.

Singkat cerita, Tan Hi yang masih terguncang oleh kematian kakak laki-lakinya, kemudian bersimpangan jalan dengan dua orang pengelana yang kebetulan juga baru saling bertemu. Yang pertama adalah seorang musafir bernama Shoufukan yang kebetulan sedang lewat. Yang kedua adalah seorang pria tampan berambut perak yang mengaku bernama Kichou, yang kebetulan sedang berteduh di tengah hujan. Karena suatu alasan, Kichou kemudian membujuk Shoufukan yang awalnya ingin menghindar masalah untuk menolong Tan Hi. Tindakan ini tak dinyana malah memaksa Shoufukan terlibat rencana bulus Kichou untuk melawan Genkishu, yang ternyata berkaitan dengan perebutan senjata-senjata pusaka Tankenshi yang telah mengakhiri Kobo no Sen (‘perang senja pudar’) yang berlangsung melawan kaum Iblis beratus tahun lalu.

Dipelopori Kichou, Shoufukan akhirnya terseret dalam upaya membantu Tan Hi, yang berujung pada bagaimana kelompok mereka yang sebanyak tujuh orang menempuh perjalanan melintasi Pegunungan Masekizan (‘tulang punggung iblis’) yang berat, demi mencapai Menara Tujuh Dosa yang menjadi markas kelompok Genkishu.

“Kau ingin berbasa-basi, di saat seperti ini?”

Jadi, sekali lagi, ada tujuh orang yang akhirnya terlibat dalam perseteruan melawan Genkishu. Masing-masing anggotanya semula dipilih karena ada suatu peran tertentu yang Kichou siapkan untuk mereka. Mereka adalah:

  • Kichou, sang pelopor, yang dengan pengaruhnya yang luas, mengundang para anggota kelompoknya yang lain untuk bergabung. Ia menggunakan sebilah pipa yang dengannya, ia bisa menciptakan ilusi.
  • Shoufukan, seorang pengelana dari jauh dengan aksen aneh yang bertemu Kichou secara kebetulan dan karena satu dan lain hal, ikut terseret-seret dalam masalah. Ia bersenjatakan sebilah pedang.
  • Tan Hi, yang akan ditolong. Juga seorang ahli pedang dan kekuatan sihir perlindungan.
  • Shu Unshou, seorang pemanah ternama berjulukan Eigan Senyou (‘ahli tembak bermata tajam’) yang memiliki cakupan penglihatan sangat jauh meski telah kehilangan sebelah matanya.
  • Ken San Un, seorang ahli tombak muda, yang turut bergabung sebagai adik didik Shu Unshou untuk belajar tentang sikap seorang ksatria padanya. Julukannya adalah Kan Kaku (‘ketakjuban beku’).
  • Kei Gai, seorang Iblis wanita yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan jasad orang-orang mati dengan tarian dan nyanyiannya. Julukannya adalah Kyuu Shou (‘malam tangisan’).
  • Setsu Mushou, seorang pembunuh bayaran sekaligus ahli pedang sangat berbahaya, yang ikut bergabung karena mengharapkan kepala Kichou sebagai imbalan. Julukannya adalah Meihou Keisatsu (‘pembantai burung api mengaum’).

Tankenshi yang tengah dicari oleh Betsu Tengai rupanya adalah sebilah pedang bernama Tengyouken. Pedang ini yang rupanya telah disegel oleh kelompok Goinshi. Dua ‘kunci’ untuk melepas segelnya rupanya dibawa oleh kakak beradik Tan Hi dan Tan Kou. Lalu bersama tewasnya Tan Kou, salah satunya telah jatuh ke tangan Betsu Tengai.

Tujuh sekawan pimpinan Kichou ini berhadapan dengan pihak Genkishu, yang sesudah kehilangan salah satu komandannya, Zankyo, di tangan Shoufukan, masih memiliki Betsu Tengai yang dibantu dua bawahannya yang setia, Ryou Mi dan Chou Mei, serta anak-anak buah bertopeng yang tak terhitung jumlahnya.

Ceritanya sekilas terkesan sangat generik, dengan lumayan banyak adegan yang terkesan ‘keju.’ Tapi kalau kalian bisa menikmati yang begini, kalian akan dapati kalau Thunderbolt Fantasy itu bagus.

Seriusan, bagus.

Pada menit-menit awal aku pertama menontonnya, ada rasa takjub aneh karena aku merasa seperti sedang mengikuti sebuah anime, dan bukan acara pertunjukan boneka. Pergerakan kameranya senantiasa dinamis gitu, dengan fokus-fokus yang berpindah. Bahkan ada saat-saat ketika pergerakan kaki digambarkan. Lalu pas ada pertarungan, adegan-adegan aksinya diilustrasikan lewat banyak penggunaan CG gitu.

Terkadang masih terasa batasan-batasan medianya (seperti dalam hal bagaimana hampir semua karakternya kidal karena struktur mekanis untuk pergerakan bonekanya). Tapi dalam berbagai sisi lain, Thunderbolt Fantasy seolah mendobrak batasan-batasan yang semula aku bayangin. Ada karakter-karakter sampingan, seperti banyak penduduk desa, yang muncul. Meski terbatas, pembangunan dunianya beneran terasa jadi. Lalu bahkan ada adegan-adegan minum-minum dengan cairan beneran yang mengalir. Meski lebih condong ke dialog, adegan-adegan aksinya, pas ada, itu seriusan keren. Kadang jurus-jurusnya memang terasa seperti adegan-adegan sihir summon dalam game-game, tapi semua ada penjelasan teknisnya yang bisa kalian gali. Lalu, meski mungkin seri ini dibuat agar bisa cocok untuk anak-anak, sebenarnya ada porsi gore yang lumayan banyak dengan berbagai tangan dan kaki terpotong serta tubuh-tubuh yang meletus (sekali lagi, meletus, bukan meledak).

Soal ceritanya sendiri, meski sentuhan Urobuchi-sensei yang khas sebenarnya terasa sejak awal, kebagusan Thunderbolt Fantasy memang baru terasa sekitar episode delapan. Di sekitar itu, ada momen penentuan ketika terungkap bahwa segala sesuatunya tak persis seperti yang dikira. Sebagian besar karakter utama, yang kita ikuti kisahnya dari awal, ternyata adalah orang-orang brengsek.

Daya tarik itu terutama tertuang lewat konflik yang timbul saat Kichou terungkap sebenarnya adalah Lin Setsuha, berjulukan Ryoufuu Setsujin (kira-kira berarti: ‘pencuri angin’), seorang pencuri legendaris yang padanya, ada banyak orang menaruh dendam. Tapi segala permusuhan terhadapnya tertahan karena tak ada yang tahu siapa Shoufukan sebenarnya, yang secara mengejutkan menyatakan diri berasal dari Seiyuu, negeri yang harusnya telah lama hilang semenjak terpisah dari Tourii selama ratusan tahun semenjak Perang Senja Pudar.

Meski klise, hasil akhirnya beneran keren, dan aku susah buat enggak terkesan karenanya.

Bukan hanya elemen-elemen fantasi generik, elemen-elemen khas wuxia, seperti konflik kepentingan dan harga diri, juga dimiliki Thunderbolt Fantasy, sehingga saat konflik final dengan Betsu Tengai akhirnya terjadi, semuanya berhasil memuncak dengan akhir yang memuaskan.

“Bahkan kau pun tak bisa selamanya menghindari akhirat!”

Kalian tahu, dunia sekarang makin rumit. Ada begitu banyak hal yang tak bisa kita apa-apain tentangnya. Lalu mungkin karena itu, pesan positif yang Thunderbolt Fantasy usung benar-benar ‘kena’ buatku.

Aku suka saat ada karakter-karakter imba yang dengan tegas memperbaiki masalah dan membenarkan yang salah. Lalu aku semakin suka lagi bila karakter-karakter seperti itu bisa muncul dari mana saja, termasuk dari tempat-tempat paling tak disangka.

…Uh, iya. Perkembangan karakternya, agak aneh untuk suatu karya buatan Urobuchi-sensei, tak sebanyak itu sih. Lalu iya, ini bukan seri di mana ada banyak karakter bernama yang mati. (Untuk yang bisa menimbulkan feels yang datang karena death flag gitu, kayaknya kita semua sepakat kalau itu tersedia lewat Gundam: Iron-Blooded Orphans yang sedang tayang season keduanya pas aku ngetik ini. Random shoutout: desain Gundam Vidar itu keren!)

Tapi ini bagus. Seriusan bagus.

Kurasa, siapapun yang tertarik untuk mengikuti Thunderbolt Fantasy pada akhirnya akan menganggapnya bagus sih. Sedangkan mereka yang tidak, akan berpendapat sebaliknya.

Yah, paling baik jika kalian menilainya sendiri.

(Btw, untuk yang mau tahu, cerita wuxia favoritku sepanjang masa adalah The Smiling Proud Wanderer karya Jin Yong, yang di sini dikenal dengan judul Pendekar Hina Kelana.)

Penilaian

(Tidak jadi. Aku bingung bagaimana menilainya.)

14/10/2016

Kingsglaive: Final Fantasy XV

Aku agak sibuk belakangan. Karenanya, aku lagi susah fokus buat nulis.

Tapi terlepas dari itu, beberapa waktu bulan lalu, aku menonton Kingsglaive: Final Fantasy XV bersama sepupuku. Ada pekerjaan yang harusnya kubereskan hari itu. Tapi aku malah melarikan diri dari kenyataan dan menonton film ini. …Mungkin karena aku khawatir tayangnya cuma sebentar di CGV Blitz.

Hal-hal yang mendorongku menonton film ini antara lain:

  • Karena sejak dulu aku memang penggemar waralaba Final Fantasy.
  • Karena aku tak tahu kapan aku akan kesampaian main Final Fantasy XV nanti di Sony PlayStation 4. (Kayaknya aku dan imouto-ku akan memprioritaskan Persona 5.)
  • Adegan-adegan aksinya kayaknya bakal keren, walau ceritanya mungkin tak terlalu bisa diharapkan.
  • Sepupuku memang perlu nonton.
  • Pihak Square Enix yang memproduksi benar-benar niat dengan film ini. Mereka sampai membayar jasa aktor-aktor Hollywood sebagai pengisi suara segala.

Terlepas dari itu, Kingsglaive adalah film animasi CG yang dibuat sebagai pelengkap game Final Fantasy XV yang akan rilis bulan November nanti.

Dalam Final Fantasy XV, kita akan berperan sebagai pangeran muda Noctis Lucis Caelum yang kehilangan negara asalnya dalam suatu invasi serangan militer. Bersama tiga orang pengawal yang sudah seperti saudara-saudara dekatnya (Gladiolus Amicitia, Prompto Argentum, dan Ignis Scientia), Noctis melakukan perjalanan panjang (dengan mobil pusaka mereka yang canggih, Regalia) untuk memperoleh warisan yang telah menjadi haknya dan merebut tahtanya kembali.

Kingsglaive berperan sebagai semacam prolog bagi gamenya, yang memaparkan insiden jatuhnya negara asal Noctis, Kerajaan Lucis, saat yang bersangkutan tak ada di tempat.

Sebagaimana yang mungkin kalian tahu, proyek Final Fantasy XV berawal dari proyek Final Fantasy Versus XIII yang pertama diumumkan sepuluh tahun lalu. Kingsglaive adalah bagian cerita dari konsep asalnya yang berakhir tak dimasukkan ke dalam game. Tapi karena menarik, bagian cerita Kingsglaive dibuat dalam media terpisah (film) sebagai semacam bentuk ‘pengenalan’ terhadap semesta Final Fantasy XV untuk pemirsa awam.

Seperti halnya Final Fantasy: The Spirits Within dan Final Fantasy VII: Advent Children, Kingsglaive menjadi film animasi CG ketiga yang diprakarsai Square Enix. Jadi kau bisa harapkan visual yang benar-benar wah di dalamnya. (Walau sekali lagi, kau tak perlu berharap banyak soal cerita.)

Bicara soal stafnya, Nozue Takeshi yang menyutradarai. Naskah dibuat oleh Hasegawa Takashi, berdasarkan cerita yang sebelumnya dibuat oleh Nojima Kazushige dan Itamuro Saori. Produksinya sendiri dilakukan Visual Works dengan bantuan dari Digic Pictures dan Image Engine.

Seperti yang kusinggung di atas, Kingsglaive mencolok juga karena para tokoh utamanya diperankan oleh sejumlah bintang besar Hollywood. Disulihsuarakan dalam Bahasa Inggris, terlepas dari kualitas ceritanya secara umum, secara mengesankan, mereka benar-benar menjalankan peran mereka secara profesional.

Perwira khusus Nyx Ulric, yang penuh kesetiaan dan kesungguhan, disuarakan oleh Aaron Paul, pemeran pemuda kepepet Jesse Pinkman dalam seri drama TV sangat terkenal Breaking Bad. Mengingat peran Nyx sebagai tokoh utama, ada semacam ‘kewajaran’ dalam suaranya yang benar-benar tak kusangka di film ini.

Khusus film ini, tokoh utama perempuan FF XV, Lunafreya Nox Fleureth, tunangan Noctis yang cantik dan penuh tekad, dihidupkan oleh suara berwibawa Lena Headey, yang namanya mencuat sebagai pemeran karakter ibu tangguh Sarah Connor dalam seri TV Terminator: The Sarah Connor Chronicles. Beliau sekarang lebih dikenal sebagai pemeran ratu kejam Cersei Lannister dalam seri TV fenomenal Game of Thrones sih.

Lalu Sean Bean, yang belakangan paling diingat berkat perannya sebagai Ned Stark dalam seri Game of Thrones (serta berbagai karakter menonjol lain yang akhirnya meninggal dunia), menyuarakan Regis Lucis Caelum CXIII, raja negeri Lucis sekaligus ayah dari Noctis, tokoh utama yang kita mainkan dalam game. Serius, beliau memainkan perannya di sini dengan jauh lebih keren dari yang kuduga. Aku semakin terkesan soal ini mengingat usia karakter Regis dibuat lebih tua dari konsep awalnya.

Mengingat ini… film CG yang diprakarsai Square Enix, kau mungkin berlebihan kalau berharap hasil akhirnya bakal ‘bagus.’ Mungkin ada di antara kalian yang ingat bagaimana The Spirits Within menjadi mimpi buruk finansial. Lalu Advent Children juga pada akhirnya hanya diterima di kalangan terbatas.

Tapi serius, itu tak berarti kau takkan menemukan alasan untuk menyaksikan film ini.

Ceritanya memang berakhir kurang mengesankan sih. Tapi film ini punya sisi-sisi baiknya kok. Tetap ada saat-saat tertentu ketika para penggemar Final Fantasy veteran akan sempat dibikin “Wow.” Lalu setidaknya, film ini menjadi milestone yang menandai pencapaian teknologi animasi manusia sudah sejauh mana.

Tembok dan Tembok

Aku benci mengatakan ini, tapi memang susah membahas cerita Kingsglaive tanpa membuatnya terdengar membosankan.

Singkat cerita, ada dua pihak yang sedang berperang: Kerajaan Lucis (yang baik) dan Kekaisaran Niflheim (yang jahat dan mengembangkan mesin-mesin perang raksasa berbasis magitek).

Ceritanya, di dunia Final Fantasy XV yang modern dan ajaib yang bernama Eos, masing-masing negara pada awalnya diberkahi (oleh dewata?) sebuah kristal yang menjadi semacam sumber kekuatan bagi negara-negara tersebut. Namun kemudian Niflheim datang, melancarkan agresi ke negara-negara lain, dan merebut (menghancurkan?) satu demi satu kristal dari masing-masing negara.

Lucis ceritanya adalah negara terakhir yang kristalnya masih tersisa.

Kingsglaive (‘glaive’ adalah sebutan untuk sejenis tombak bermata pedang) adalah nama pasukan elit Lucis yang ditenagai oleh kekuatan kristal yang disalurkan pada para anggotanya atas izin sang raja. Mereka ceritanya menjadi andalan terakhir negara dalam menangkal serangan Niflheim.

Di samping mampu menggunakan sihir, manuver khas para Kingsglaive adalah bagaimana dengan kekuatan ‘pinjaman’ tersebut, mereka bisa berteleportasi ke manapun pisau-pisau khusus mereka terlontar. (Istilahnya kalau tak salah adalah Warp Strike?) Jadi hanya dengan melontarkan pisau, mereka bisa dalam sekejap bisa berpindah-pindah gitu. Mereka menangkap kembali pisau mereka untuk dilontarkan lagi dan berpindah lagi, dan sebagainya; membuat gerakan mereka sangat lincah dan sulit tertebak.

Nyx Ulric, bersama dua kawan lamanya, Libertus Ostium yang berbadan besar dan Crowe Altius, salah satu dari sekian sedikit anggota yang perempuan, ceritanya adalah anggota dari pasukan elit ini. Di awal cerita, mereka baru saja mundur dari pertempuran yang di dalamnya mereka kembali terdesak.

Persoalan timbul saat Niflheim, di luar dugaan, menyusul akhir salah satu pertempuran yang di dalamnya pihak Lucis kalah, tiba-tiba mengutus salah satu orang sangat penting mereka, penasihat flamboyan Ardyn Izunia, untuk menawarkan perjanjian damai. Niflheim akan mengakui kedaulatan negara Lucis dengan syarat semua wilayah di luar ibukota Lucis, kota kerajaan Insomnia (iya, benar itu nama kotanya), diserahkan kepemilikannya pada Niflheim. Persyaratan ini masuk akal, mengingat di sekeliling Insomnia, ada suatu tembok medan pelindung yang ditenagai kristal yang akan sangat sulit ditembus pasukan Niflheim. Namun di saat yang sama, permintaan ini juga aneh karena status Niflheim yang sedang di atas angin.

Masalahnya, seluruh anggota Kingsglaive adalah orang-orang yang dipilih dari tempat-tempat di luar Insomnia. Makanya, kesepakatan damai yang akhirnya disetujui Raja Regis tersebut malah memicu perpecahan di kalangan mereka, karena itu berarti mereka semua akan kehilangan kampung halaman mereka seandainya perjanjian itu terwujud.

Kunci untuk mengetahui apa maksud Niflheim yang sebenarnya diduga tersirat dalam persyaratan mereka yang kedua: putra mahkota Kerajaan Lucis, Noctis (sekali lagi, yang kita mainkan dalam game)—yang kebetulan saat itu telah disusupkan ke luar Insomnia—akan harus dinikahkan dengan teman masa kecilnya, Lunafreya, putri dari negeri Tenebrae yang telah menjadi negara boneka Niflheim. Karena itu, suatu misi rahasia yang diprakarsai Raja Regis kemudian dijalankan untuk memastikan nasib Luna yang telah lama tak ada kabarnya.

Namun singkat cerita, misi rahasia ini berakhir buruk.

Sangat buruk.

Lalu Nyx tahu-tahu menjadi satu-satunya anggota Kingsglaive tersisa yang dapat menyelamatkan sang putri sekaligus negaranya dari kehancuran.

Kekuatan Dunia

Sebelum menonton Kingsglaive, aku masih belum yakin apa aku akan ‘mengusahakan’ main Final Fantasy XV. Seperti yang sempat kusinggung dalam tulisanku soal Final Fantasy XIII, aku merasa ada terlalu banyak hal dalam industrinya yang sudah berubah. Di samping itu, usiaku sudah bertambah. (Semakin banyak orang mencemaskan soal kapan aku akan nikah.) Lalu konsep Final Fantasy XV sendiri, sekilas, terus terang saja, memang memberikan kesan aneh.

Maksudku, kita main sebagai empat cowok tampan yang ke mana-mana naik mobil dan punya stereotip kepribadian masing-masing? Kesannya sangat boyband sekali.

Ketika video permainan Final Fantasy XV yang lebih ke sini sudah keluar (itu loh, yang durasinya sudah lebih dari setengah jam?), aku tetap masih ambivalen. Aku agak kecewa karena visualnya tak semegah bayanganku. Ide soal dunia mafia dan nuansa Romeo and Juliet yang membuat konsep asli Final Fantasy Versus XIII begitu menarik juga sudah dikesampingkan. Tapi mesti kuakui, pandanganku berubah begitu melihat bagaimana pembangunan dunianya kayaknya sudah ‘bener’ (seenggaknya, game kali ini bener ada NPC yang bisa kita ajak ngobrol), aksi permainannya kelihatannya seru, serta, terutama, melihat kerennya adegan pembuka di mana kita menyaksikan sosok Noctis yang telah lebih matang dan dewasa duduk di kursi tahta.

Lalu setelah menonton Kingsglaive, aku berubah pikiran: aku (dan sepupuku) ingin bisa main Final Fantasy XV.

Daripada karena penasaran pada ceritanya (yang kayaknya sengaja dibuat menggantung) di Kingsglaive, alasannya buatku lebih karena diperlihatkannya Tenebrae di dalam cerita. Aku ingin berkunjung ke Tenebrae. Aku ingin menjelajahinya. Kayaknya, di semua video Final Fantasy XV yang telah keluar sebelumnya, negeri Tenebrae tempat asal Luna belum pernah disorot. Baru di Kingsglaive kita diperlihatkan Tenebrae kayak gimana. Lalu aku berpikir, kalau Tenebrae, atau tempat-tempat lain yang setara keindahannya, akan bisa kita jelajahi di Final Fantasy XV, aku benar-benar akan tertarik mencobanya.

Buat yang belum tahu, waralaba Final Fantasy sempat dikenal karena tempat-tempatnya yang wah. Meski visualnya indah, nuansa perjalanan ke tempat-tempat eksotis ini agak absen di trilogi Final Fantasy XIII. Makanya, melihat Tenebrae, aku berhasil diyakinkan bahwa Square Enix masih belum kehilangan sentuhan mereka dalam mendesain tempat-tempat kayak begini.

Eh? Soal Tenebrae kayak gimana?

Yah, sederhananya, seperti negeri di tengah hutan hijau.

Kedengarannya biasa, tapi daya tariknya jadi menonjol kalau dibandingkan dengan video-video permainan yang ada selama ini, yang lebih menonjolkan warna-warna abu-abu dan hitam yang dominan di jam-jam awal permainan.

Lalu soal ceritanya juga… meski mengangkat tema-tema yang mungkin masih akan bikin aku mengernyit, kayaknya Final Fantasy XV lebih ‘jadi’ karakterisasinya ketimbang Final Fantasy XIII. Jadi iya, pengharapanku berhasil dibuat naik.

Speedy Chocobo

Balik ke soal Kingsglaive, film ini punya lumayan banyak kelemahan dari segi cerita. Dari segi eksekusi teknis, memang tak buruk sih. Tapi dari segi struktur dan penyampaian, ada lumayan banyak hal yang terasa aneh.

Di awal, cerita Kingsglaive secara mengejutkan kelihatannya akan mengangkat tema-tema berbobot. Beberapa di antaranya mencakup diskriminasi antar golongan (antara masyarakat berkecukupan di Insomnia dan orang-orang kurang mampu yang terjebak di luarnya) dan makna di balik perjuangan. Tapi sayangnya, ini semua berakhir kurang tergali (aku memakai eufimisme di sini). Sehingga meski tetap ada hal-hal di dalamnya yang bisa kusukai, akhir film ini tetap meninggalkan rasa yang kurang enak.

Jadi seperti… gimana ya?

Seperti ada banyak yang tak seimbang? Omongannya banyak dan aksinya juga banyak. Tapi adegan-adegan aksinya, meski memang keren, enggak terasa berkontribusi terhadap cerita.

Hmm. Susah menjelaskannya.

Adegan-adegan aksinya sendiri, meski keren, sebenarnya juga bermasalah. Seperti dalam kasus Advent Children, aku rekomendasikan menonton Kingsglaive lebih untuk aksi-aksi visualnya ketimbang ceritanya. Masalahnya (dan entah karena ini isu teknis video/proyektor atau bagaimana), adegan-adegan aksi yang keren secara visual indah tersebut kayaknya hanya bisa kalian nikmati kalau penglihatan kinetik kalian bagus.

Penglihatan kinetik itu apa?

Gampangnya, itu kemampuan untuk melihat dan mencerna secara jelas benda-benda yang berada dalam kondisi bergerak. Seperti, seberapa mampu kalian bisa membaca sebuah iklan yang tertera di badan bus yang bergerak ke arah berlawanan dengan kendaraan yang kalian tumpangi. Biasanya, penglihatan kinetik yang bagus dimiliki oleh para olahragawan, karena memang bisa dilatih.

Balik ke soal Kingsglaive, bila penglihatan kinetik kalian kurang bagus, otak kalian kayak bakal kesulitan menangkap berbagai informasi yang disampaikan lewat visualnya. Akhirnya, kalian jadi enggak bisa mencerna apa-apa, dan akhirnya, kalian malah jadi merasa tontonannya membosankan.

Ibaratnya, kalian bosan karena mendengar obrolan-obrolan yang tak kalian mengerti gitu, hanya saja prosesnya terjadinya lewat mata.

Soalnya, animasinya memang segila itu. Ada begitu banyak hal yang bisa dilihat pada setiap frame. Lalu di saat yang sama, kayak ada begitu banyak detil tersirat dalam adegan-adegan yang ditampilkan. Tapi karena saking banyaknya, otak kita bisa sampai nge-hang karena enggak bisa menentukan titik fokus pas untuk mulai mencernanya. Bahkan aku, yang merasa penglihatan kinetikku termasuk lumayan berkat latihan kendo, beberapa kali kesusahan mencerna adegan-adegannya secara utuh. Apalagi orang awam. Sehingga wajar saja bila tak sedikit yang menganggap Kingsglaive membosankan.

Kuakui, karena alasan tersebut, pengalamanku menonton Kingsglaive di CGV Blitz waktu itu terbilang lumayan aneh.

Selamat Datang di Eos

Merangkum, hal-hal yang kusukai dari Kingsglaive antara lain:

  • Adegan-adegan lompat-lompatan sembari teleportasi via melempar-lempar pisau para anggota Kingsglaive. (Yang kelincahannya lumayan mengingatkan kita akan manuver-manuver para karakter di waralaba Assassin’s Creed.)
  • Visualnya yang sangat wah. Ada terlalu banyak detil yang bisa dilihat dalam satu detik!
  • Betapa flamboyannya Ardyn Izunia. Meski banyak hal tentang dirinya yang belum jelas, aku tetap terkesan oleh pembawaannya. Kuakui, meski gaje, konsep karakternya menarik.
  • Koreografi adegan-adegannya yang keren. Salah satunya, konfrontasi antara Raja Regis dan Kaisar Iedolas Aldercapt menjelang penandatanganan perjanjian, ketika semua yang hadir serta-merta saling mencabut senjata dalam gerakan lambat.
  • Pemaparan lebih jauh tentang dunia Final Fantasy XV. Terutama soal tempat-tempat lain yang belum diperlihatkan dalam demo-demo permainan. (Tenebrae.)
  • Sulih suara dalam Bahasa Inggris yang keren. Maksudku di sini benar-benar keren. Kayak, jauh lebih keren dari yang diperkirakan.
  • Lunafreya. Meski banyak tindakannya yang kurang kumengerti, daya pikatnya yang karismatik bagiku tetap kuat. (Aku agak lemah terhadap tipe-tipe cewek kayak gini.)
  • Crowe. Daya pikatnya juga lumayan kuat. Maka dari itu, perasaanku agak campur aduk soal ini. (Aku agak lemah terhadap tipe-tipe cewek kayak gini juga.)
  • Berbagai elemen Final Fantasy yang menarik perhatian para veteran, mulai dari iklan soal Chocobo sampai percakapan soal Cactuar (pas adegan makan!). Khusus perlu disebut adalah cameo Ultros dari game lawas Final Fantasy VI yang tampil dalam wujud sangat sangar di film ini. Mengingat seperti apa dia aslinya, kemunculannya menjadi kejutan terbesar bagi para penggemar Final Fantasy lama.
  • Si petugas penjaga perbatasan yang tahu-tahu muncul begitu saja di saat-saat terakhir untuk membantu Nyx. Kemunculannya di tengah-tengah pengejaran genting itu serta-merta membuatku ngakak.
  • Ditampilkannya Stella, heroine yang semula didesain sebagai pasangan Noctis untuk Final Fantasy Versus XIII (sebelum digantikan oleh desain Lunafreya), sebagai model produk kecantikan di salah satu papan iklan. (…Aku bisa komentar lebih banyak soal pergantian ini, tapi intinya, yang bisa kukatakan hanyalah bahwa pengembangan konsep ceritanya akhirnya memaksa perubahan konsep karakternya. Itu suatu proses kreatif yang kurang lebih bisa kumengerti.)
  • Adanya karakter Jenderal Glauca yang berzirah dan sangat kuat. Dirinya seperti Darth Vader dalam Star Wars. Atau, kalau dalam lingkup Final Fantasy, seperti Golbez di Final Fantasy IV atau para Judges di Final Fantasy XII. Aku benar-benar merasa sayang bila karakter seperti dia tak ada dalam game. Aku bahkan sampai merasa balik modal nonton Kingsglaive semata-mata demi melihat desain Jenderal Glauca. Dirinya tokoh antagonis utama di film ini btw, dan menjadi final boss yang Nyx harus bisa kalahkan.
  • Sosok mesin raksasa penghancur mengerikan milik Niflheim yang disebut Daemon, yang wujudnya sangat mirip dengan Diamond Weapon di Final Fantasy VII yang sempat membuat para pemain terpaku di masanya.
  • Subplot tentang keberadaan kaum mistis Lucii serta pertemuan Nyx dengannya, yang mirip dengan kaum misterius Occuria yang muncul di Final Fantasy XII. Kurasa, dalam gamenya nanti, Noctis telah ditakdirkan akan bertemu mereka juga.
  • Bagaimana summon Knights of the Round, makhluk panggilan terkuat di Final Fantasy VII, ternyata menjadi para penjaga rahasia di Insomnia. Ini sesuatu yang keren, tapi seperti banyak hal lainnya di film ini, tidak diceritakan secara baik.
  • Bagaimana filmnya diakhiri dengan after credits yang menampilkan tiba-tiba mogoknya mobil Regalia yang sedang dinaiki Noctis dan kawan-kawan, menandai bagaimana ceritanya langsung menyambung dengan adegan pembuka di gamenya nanti.

Hal-hal yang tidak kusukai adalah hampir segala hal selain yang di atas. Tapi beberapa yang perlu kusebut khusus kurasa meliputi:

  • Motivasi para penjahat yang tak jelas. (Kristal-kristal itu dipakai buat apa? Kenapa ada orang-orang yang mendukung mereka? Meski keren, kenapa pula si kaisarnya cuma terkesan numpang muncul?!)
  • Rencana para penjahat yang juga kurang jelas. (Maksud siasat perjanjian damai itu akhirnya apa? Masa iya cuma demi mematahkan Kingsglaive?)
  • Keputusan-keputusan Luna yang kurang jelas. Terutama di adegan penutup, pada bagaimana ia memilih berkelana seorang diri tanpa pengawalan.
  • Segala soal kakak lelaki Luna, Ravus Nox Fleuret, yang bukannya membenci Kekaisaran yang telah menginvasi negaranya, tapi malah benci pada Raja Regis dan garis keturunannya karena gagal menolong keluarganya di masa lalu. Kurasa kehadirannya dimaksudkan untuk klimaks urusan pusaka rahasia Cincin Lucii yang perlu dikirim ke Noctis. Tapi tetap saja karakterisasinya kurang bagus. Aku juga dapat perasaan aneh kalau dia ditambahkan cuma untuk menambah jumlah karakter bishonen di film ini.

Selebihnya, kurasa kesanggupan kalian menikmati Kingsglaive bergantung pada seberapa besar minat kalian terhadap Final Fantasy XV dan waralaba Final Fantasy. Kalau kalian cukup tertarik, mungkin kalian masih bakal menikmati. Tapi kalau tak ada apapun di dalamnya yang menurut kalian keren, lebih baik jangan memaksakan diri. Soalnya, maksud utama Kingsglaive memang lebih sebagai pengenalan terhadap Final Fantasy XV saja kok. Ceritanya memang lumayan berdiri sendiri, tapi juga tak bisa dibilang signifikan. Untuk sekedar bisa menikmati Final Fantasy XV nanti, melihat Kingsglaive menurutku bukan sesuatu yang wajib.

Tapi terkait dengan itu, selain Kingsglaive, beberapa waktu lalu juga sempat dirilis seri ONA 5 episode Brotherhood: Final Fantasy XV, yang juga punya posisi kurang lebih sama. Berperan sebagai perkenalan lain terhadap dunia Final Fantasy XV dan diproduksi oleh studio A-1 Pictures, ceritanya mengetengahkan Noctis dan ketiga pengawalnya di tahap-tahap awal perjalanan mereka.

Pengarahan Brotherhood dilakukan oleh Masui Sochi dengan naskah yang ditangani Ayana Yuniko. Musiknya ditangani bersama oleh Akizuki Susumi dan Inoue Yasuhisa. Kolaborasi dengan A-1 Pictures ini seperti mengulang kolaborasi multimedia dalam proyek Compilation of Final Fantasy VII yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya.

Cerita Brotherhood sendiri mengambil alur maju-mundur, dimulai sekitar waktu kejatuhan Insomnia, ketika Noctis dan kawan-kawannya masih mengira mereka hanya perlu ke Tenebrae untuk menemui Luna yang baru menjadi tunangan Noctis. Tiap episodenya akan berfokus ke hubungan Noctis dengan salah satu kawan seperjalanannya (Gladiolus yang kekar dan tangguh, Ignis yang kalem dan cerdas, serta Prompto yang ceria dan perhatian).

Cerita Brotherhood secara umum juga tak wajib diikuti, karena tak langsung terkait dengan cerita di game. Statusnya lebih kayak gaiden atau side story. Tapi banyaknya kilas balik memberi lebih banyak gambaran seputar karakter masing-masing. Di samping itu, yang menurutku menarik adalah bagaimana Brotherhood juga memberi lebih banyak informasi soal latar gamenya, terutama dengan memunculkan karakter-karakter sampingan baru yang akan muncul dalam versi final game tapi belum diperkenalkan dalam versi-versi demo.

Kualitas Brotherhood sendiri sebenarnya lumayan menengah sih. Karena bisa disaksikan gratis, dan diproduksi dalam episode-episode pendek, tak banyak yang bisa dikatakan tentangnya dari segi teknis. Tapi ada campuran aksi dan drama dalam porsi-porsi pendek. Lalu kualitas per episodenya menurutku cenderung meningkat.

(Iya. Kayaknya Brotherhood contoh klasik kasus Square Enix ketika cerita yang terlanjur sudah mereka buat menjadi susah dimasukkan ke dalam game.)

Kudengar, versi Ultimate Collectors Edition yang nanti dirilis dari Final Fantasy XV akan menyertakan episode keenam Brotherhood yang akan berfokus pada Lunafreya. …Mungkin episode terakhir ini akan lebih menonjol dari yang lain.

Mata yang Melihat Pudarnya Jiwa-jiwa

Akhir kata, aku tak menyesal menonton Kingsglaive. Tapi perlu kukatakan bahwa ada banyak hal tak disangka yang aku alami saat menontonnya.

Jumlah penontonnya lebih banyak dari yang kusangka. Teks terjemahannya adalah Bahasa Melayu… yang sayangnya kurang bagus. (Yang kemudian memberi indikasi bagaimana kondisi perbioskopan kita enggak pernah sepenuhnya bisa dibilang sehat.) Lalu yang paling menggangguku, tema khas yang game-game Final Fantasy biasa usung ternyata tak benar-benar berhasil tersampaikan.

Tapi sudahlah soal itu.

Kurasa Kingsglaive cukup berhasil kalau sekedar memancing keingintahuan. Dalam tahun-tahun belakangan, keingintahuan saja, dan bukan ‘rasa tertarik’ sendiri, sebenarnya sudah cukup buatku untuk mendalami lebih banyak.

Terlepas dari semuanya, kalau dalam perkembangan ceritanya nanti Noctis benar-benar dibuat semakin matang sebagai raja, maka itu sudah lebih dari cukup alasan buatku untuk memainkan FF XV. Belakangan aku suka tema-tema soal tanggung jawab dan kepemimpinan gitu soalnya.

Nanti kalau aku benar berkesempatan main, mungkin FF XV kelak akan aku ulas.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: C+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B

26/09/2016

Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu

Pikiranku tersita belakangan. Tapi kalau ada satu seri anime baru yang benar-benar aku rekomendasikan untuk tahun ini, maka itu adalah Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu, atau yang juga dikenal dengan judul Re: Zero –Starting Life in Another World- atau juga Re: Life in a different world from zero. (Judulnya kira-kira berarti: ‘memulai hidup baru di dunia lain dari nol’).

Anime ini diadaptasi dari seri novel berjudul sama (seperti banyak seri lain belakangan, yang semula web novel, tapi kemudian diterbitkan resmi secara cetak sebagai light novel) terbitan Kadokawa Shoten. Pengarang aslinya adalah Nagatsuki Tappei dan ilustrasi orisinilnya dibuat oleh Otsuka Shinichirou.

Produksi animasinya sendiri dilakukan oleh studio animasi White Fox, dengan penyutradaraan dilakukan oleh  Watanabe Masaharu, komposisi seri dilakukan oleh Yokotani Masahiro, dan musik oleh Suehiro Kenichiro. Total jumlah episodenya sebanyak 25. Tapi kalau kau menghitung jumlah efektif penceritaannya, termasuk episode awal yang berdurasi dua kali lipat yang lain, durasinya secara efektif mungkin mencapai 27 episode anime normal.

Mungkin aku sudah tak perlu mengatakan ini, berhubung kebanyakan fans pasti sudah tahu, tapi jujur, ini termasuk salah satu adaptasi novel ke anime paling bagus yang pernah dibuat dalam tahun-tahun terakhir.

Waiting for your touch

Tanpa terlalu masuk ke detil, cerita Re: Zero dibuka dengan tiba-tiba tersadarnya seorang remaja laki-laki bernama Natsuki Subaru di tengah sebuah pasar di dunia lain. Hal terakhir yang diingatnya adalah bahwa dirinya baru pulang dari convenience store. Pakaian yang dikenakannya adalah track suit biasa yang sering dikenakannya. Lalu di tangannya ada kantong plastik berisi sejumlah belanjaan.

Ide cerita Re: Zero sekilas memang terkesan biasa-biasa saja. Tapi jujur, perkembangannya ternyata bisa ke mana-mana.

‘Dunia lain’ tempat Subaru kini berada rupanya adalah ibukota negeri Lugunica. Seperti tipikal ‘dunia lain’ dalam cerita-cerita macam begini, ada ras-ras manusia dan non-manusia dalam suatu peradaban abad pertengahan. Kotanya sendiri benar-benar besar, dengan gerobak-gerobak dan kereta yang ditarik naga-naga darat dan gang-gang sempit di mana-mana. Ada hal-hal ajaib, yang terwujud dengan kekuatan sihir roh. Subaru langsung kebingungan dengan apa-apa yang telah ada di sekelilingnya, tapi ia mendapati diri tak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya.

Singkat cerita, Subaru mendapati nasibnya seakan terhubung dengan seorang gadis berambut perak berdarah separuh elf bernama Emilia.

Emilia sempat menolong Subaru saat ia terdesak oleh gerombolan penjahat di tengah kota. Lalu untuk membalas budi—dan sekaligus karena terpikat oleh kecantikan dan kebaikannya—Subaru memutuskan membantu Emilia yang saat itu seperti sedang mencari suatu barang hilang.

Urusan ‘membantu mencari barang hilang’ ini ternyata berbuntut panjang.

Terungkap ada suatu pihak tertentu yang hendak menghilangkan nyawa Emilia. Pihak tersebut ikut membuat Subaru terbunuh karena ulah mereka. Tapi terungkap pula bahwa—agak sesuai sekaligus tidak sesuai dengan pengharapan Subaru, yang ternyata tak asing dengan cerita-cerita pindah ke dunia lain kesukaan para otaku—Subaru dihadirkan ke dunia ini dengan kemampuan misterius untuk memutar kembali waktu setiap kali dirinya terbunuh.

Berbekal kemampuan baru itu, Subaru bertekad untuk menemukan jalan keluar demi bisa menolong Emilia.

Sekalipun, itu secara harfiah berarti ia harus mati berulangkali demi gadis yang ia sukai.

Untuk Sekarang, Aku Mengantarmu Pergi

Adaptasi anime Re: Zero mencakup kurang lebih tiga arc-nya yang pertama.

Meski ini tak terlihat di awal, sebenarnya, terutama kalau dibandingkan dengan seri-seri bertema sejenis, struktur dan arah perkembangan cerita Re: Zero terbilang tak biasa. Sesudah kasus yang pertama di ibukota, masih bersama Emilia, Subaru terbawa ke lingkungan baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan dihadapkan pada persoalan-persoalan baru. Tapi persoalan-persoalan ini terus ‘mengambil fondasi’ dari yang sebelum-sebelumnya, dan kerap membawa ceritanya ke arah-arah yang tak terduga.

Ini paling mencolok dari tantangan-tantangan yang Subaru hadapi. Kalau pakai acuan angka, misalnya, tingkat kesulitan yang Subaru hadapi di arc pertama levelnya 2. Tingkat kesulitan yang Subaru temui di arc kedua adalah 4. Tapi pada arc ketiga, yang memakan durasi lebih dari separuh seri, Subaru serta merta menghadapi tingkat kesulitan berlevel 10 yang sedemikian menguras mentalnya; inilah titik ketika sebagian besar pemerhati sudah tak lagi bisa melepas mata mereka dari Re: Zero.

Perkembangan ceritanya, kalau dipikir, sebenarnya tak bisa dibilang besar. Tapi perkembangannya mengambil jalur-jalur yang sedemikian tak disangka—memanfaatkan segala kemisteriusannya yang dijaga—sehingga apa-apa yang terjadi bisa sedemikian melarutkan mereka yang menonton.

Dari mana kekuatan Subaru berasal? Siapa pihak-pihak yang ingin membuat Emilia terbunuh? Lalu, siapa sesungguhnya Satella, sang Jealous Witch (‘penyihir cemburu’) yang sedemikian ditakuti semua orang, yang wujud dan rasnya konon sangat mirip dengan sosok Emilia?

Dampak perkembangan ceritanya sangat terasa karena Re: Zero semula adalah jenis seri yang tertarik atau tidaknya kau terhadapnya bisa sangat hit or miss. Lebih tepatnya, pada bisa atau tidaknya kau mentolerir pribadi Subaru dengan segala tingkah dan kelakuannya.

Ada beberapa hal di awal cerita yang akan langsung terasa janggal oleh mereka yang mencoba mengikuti Re: Zero. Salah satunya misalnya, adalah betapa minimnya Subaru membahas soal kehidupannya di dunia sebelumnya, yang alasannya baru tersirat belakangan. Atau pada bagaimana Subaru berbicara dengan cara sok akrab dan banyak omong sekaligus keotakuan. Normalnya, sikap Subaru tersebut akan membuat kita yang menonton merasa sebal. Tapi bagi para penduduk Lugunica, sikap Subaru yang sangat egaliter justru adalah hal tak biasa sekaligus menarik yang mungkin menjadi alasan mengapa mereka membuka diri.

Ada aspek-aspek menyebalkan di awal cerita. Ada banyak elemen di Re: Zero yang juga terasa tipikal dan seperti dicomot dari seri-seri yang sudah-sudah. Tapi lambat laun, kita mulai menyadari, ada pilihan-pilihan tertentu yang sengaja diambil oleh Nagatsuki-sensei karena ingin memaparkan ide-ide tersebut ke arah yang lumayan berbeda dari yang pernah diambil. Sampai akhir, Subaru tak berkembang menjadi karakter yang sakti, misalnya. Lalu ada hal-hal tertentu lain, seperti asal usul dan masa lalu para karakternya, yang memang sengaja ditahan dulu untuk diungkap pada saat yang tepat.

Rasanya seolah… Nagatsuki-sensei sengaja ingin membuat semacam komentar sosial bagi jenis kalangan yang lazimnya memperhatikan seri semacam Re: Zero. Tapi untuk itu, beliau sebelumnya mencoba berbicara dulu dalam ‘bahasa’ yang tepat.

Beliau seperti sadar bahwa hasilnya tak perlu notabene bagus. Hasilnya hanya perlu… tepat.

Sekali lagi, tanpa terlalu masuk ke detil (karena salah satu daya tarik utama Re: Zero, meski pembangunan dunianya terbatas, terdapat pada berbagai detilnya yang tersamar), bahaya yang Emilia hadapi ternyata berkenaan statusnya sebagai salah satu kandidat penguasa baru dari aristokrasi Lugunica. Ada sejumlah kandidat penguasa yang mau dipilih sesudah nasib misterius yang menimpa keluarga penguasa sebelumnya. Lalu ada hal-hal terkait isu-isu takdir dan hal-hal gaib.

Alasan aku merasa Nagatsuki-sensei seperti mau membuat semacam komentar sosial adalah karena masing-masing kandidat ini mengusung paham yang berbeda-beda. Diperkenalkan menjelang pertengahan seri, kandidat-kandidat untuk tahta Lugunica mencakup:

  • Felt, kandidat paling baru, seorang gadis kecil yatim piatu dengan berkah roh angin (membuatnya sangat lincah) yang sebelumnya hidup terbatas di kawasan kumuh Lugunica, mengusung paham anarki (ketiadaan kekangan, yang lemah bisa dimakan yang kuat) karena keinginannya menggulingkan sistem pemerintahan yang berjalan. Dirinya diusung oleh ksatria Reinhard van Astrea yang menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
  • Crusch Karsten, seorang gadis bangsawan yang mendalami ilmu militer, yang menganut paham meritkorasi. (Dalam paham ini, semua orang harus dihargai sesuai jasa mereka. Namun kelemahannya, latar belakang orang yang berbeda-beda menyebabkan tak semua orang memiliki keleluasaan untuk memberikan kontribusi jasa yang sama.) Dirinya didukung oleh ksatria tua ahli pedang sangat tangguh, Wilhelm van Astrea, serta ksatria pengguna kekuatan air penyembuhan terkuat, Felix “Ferris” Argyle.
  • Priscilla Barielle, perempuan bangsawan sangat cantik yang seakan mampu memikat dan menundukkan semua yang melihatnya. Konon bertanggungjawab atas kematian suami(-suami?)nya. Paham yang diusungnya adalah totalitarian (kediktatoran). Salah satu pendukung andalannya adalah ksatria kekar bertopeng misterius tapi ramah bernama Al.
  • Anastasia Hoshin, seorang gadis muda dengan dialek khas dan rupa manis yang menyembunyikan kecerdasannya. Dirinya menganut paham kapitalis oligarki yang mengutamakan perolehan kekayaan materi. Sebagian pendukungnya termasuk ksatria ahli pedang sekaligus ilmu roh, Julius Euclius, salah satu orang yang paling pertama menantang kehadiran Subaru.
  • Emilia, gadis separuh elf yang mengharapkan kesetaraan derajat semua penduduk Lugunica, dan karenanya mengusung demokrasi. Dirinya ditakuti karena kemiripan rupanya dengan Satella. Selain oleh Subaru, Emilia didukung oleh bangsawan eksentrik Roswaal L. Mathers, yang mendukungnya karena suatu sebab pribadi; serta oleh Puck, makhluk mirip kucing mungil yang sebenarnya adalah roh agung yang telah mengikat kontrak dengan Emilia.

Ide perebutan tahta ini sedemikian menariknya, sampai-sampai adaptasi game Re: Zero yang sedang dikembangkan 5pb. akan dibuat seputar gagasan ini, memungkinkan kita sebagai Subaru mendukung kandidat penguasa yang berbeda-beda.

Agak seperti kasus season kedua Log Horizon, cerita di animenya juga sebenarnya sudah sempat menyusul cerita versi light novel-nya yang sudah terbit. Sedikit bagian akhir ceritanya (sekitar episode 23 ke atas) malah sebenarnya adalah porsi cerita yang belum muncul di versi ranobe (yang kalau tak salah waktu itu baru sampai buku kedelapan). Cerita versi web novel-nya tentu saja sudah lebih jauh, tapi itupun belakangan sudah lumayan tersusul.

Perkembangan ceritanya ngomong-ngomong sudah lumayan gila-gilaan. Tapi kurasa bakal menyakitkan kalau aku mengungkap apa yang kebetulan sudah aku tahu di sini.

Meski demikian, aku perlu singgung bahwa cerita animenya berhasil diakhiri di titik yang bagus. Penyesuaian cerita yang dilakukan staf produksinya tak sia-sia, dengan hasil yang secara langka terbilang memuaskan

Andai Aku Ada di Sana

Membahas soal teknis, Re: Zero termasuk anime yang benar-benar melampaui perkiraan.

Sejak zaman mereka memproduksi Katanagatari, White Fox memang dikenal sebagai studio yang nilai-nilai produksinya di atas rata-rata. Tapi khusus untuk Re: Zero, mereka seakan melampaui batasan-batasan mereka yang terdahulu. Mereka benar-benar terasa all out. Habis-habisan. Seolah seluruh aspek studio telah menyatu hatinya dan berjuang dengan sepenuh jiwa dan raga demi mengerjakan proyek ini.

Bahkan, orang awam soal animasi pun mungkin sudah bisa merasakannya dari episode pertama. Perhatian terhadap detil latar belakang keramaian Lugunica, adegan saat Subaru untuk pertama kalinya menyaksikan Emilia berinteraksi dengan para roh di saat senja, dialog bermakna mendalam antara Subaru dan Rem yang menjadi semacam pesan bagi para pemirsa NEET yang otaku, adegan-adegan pertarungannya yang membuat terbelalak, sampai perjuangan habis-habisan Subaru menjelang akhir … Re: Zero itu jadi seolah… tidak sepenuhnya memberikan apa yang semula kau harapkan, tapi malah kemudian memberikan apa yang tidak kau harapkan, yang ternyata tetap kau nikmati, dalam porsi-porsi besar.

Aku benar-benar puas mengikutinya.

White Fox tak mengadaptasi teknik-teknik animasi yang revolusioner atau canggih atau bagaimana. Mereka hanya mengimplementasikan teknik-teknik animasi yang sudah umum dengan cara seefektif mungkin. Hasilnya benar-benar terasa maksimal.

Luar biasa, malah. Setahuku, belum pernah ada seri light novel yang mendapat perlakuan sedalam ini untuk adaptasi animasinya sebelumnya.

Visualnya indah. Meski jarang, dari waktu-waktu muncul visual yang akan membuatku wow. Musiknya pas, kalau tak bisa dibilang keren. Lalu para seiyuu juga berperan maksimal.

Sedikit bicara soal para seiyuu-nya. Ada beberapa pilihan pengisi suara veteran yang meski tak mengejutkan, menurutku sangat pas dengan karakter yang mereka mainkan. Koyasu Takehito misalnya, berperan sebagai Roswaal L. Mathers yang sisi misterius dan kuatnya (menurutku) menjadikannya karakter yang sangat ‘Koyasu Takehito’ sekali. Lalu ada Arai Satomi, yang berperan sebagai Beatrice, gadis kecil(?) misterius penjaga perpustakaan di kediaman Roswaal yang menjadi semacam sekutu Subaru dalam arc kedua. Peran Beatrice menurutku juga adalah peran yang sangat ‘Arai Satomi’ sekali kalau melihat peran-peran beliau yang telah lalu. Hal yang sama juga bisa kukatakan soal Noto Mamiko yang suara menggodanya, yang sudah agak lama tak kudengar, menghidupkan Elsa Granhilte, karakter antagonis pertama seri ini.

Tapi selain mereka, ada beberapa kejutan. Matsuoka Yoshitsugu, pengisi suara Kirito dari Sword Art Online (dan sejumlah karakter sejenis dari seri-seri lain), secara sangat mengesankan berperan sebagai musuh besar Subaru, Betelgeuse Romanee-Conti, dengan kegilaannya yang khas. Gaya pemaparannya menurutku begitu meyakinkan (cukup untuk membuat kita maklum soal mengapa Subaru sampai punya dendam pribadi terhadapnya), para seiyuu lain hanya perlu mengikuti contohnya! Meski awalnya tak mencolok, seiyuu muda Minase Inori melanjutkan daftar peran meyakinkannya sebagai karakter pelayan Rem yang berperan besar bagi Subaru bersama kakak kembarnya, Ram. Suara lembut Takahashi Rie juga sukses menghidupkan karakter Emilia, yang sekaligus sukses meyakinkan para fans sekaligus Subaru soal EMT! (Emilia-tan maji tenshi, ‘Emilia-tan benar-benar adalah bidadari.’) Tapi di antara semuanya, tentu saja kredit terbesar perlu diberikan pada Kobayashi Yuusuke yang berhasil menghidupkan karakter Subaru melalui beragam spektrum emosi.

Grup musik MYTH & ROID, yang mulai dikenal semenjak membawakan lagu penutup anime OverLord tahun lalu, membawakan lagu penutup “STYX HELIX” yang secara pas memberi kombinasi nuansa suram, patah arang, bimbang, namun sekaligus pengharapan dan pantang menyerah yang seri ini usung. Lagu-lagu lainnya tak kalah bagusnya, tapi lagu ini benar-benar mencolok dibandingkan yang lain.

Lumayan mengejutkan bagaimana hasilnya, apalagi mengingat bagaimana ini karya pertama Watanabe-san sebagai sutradara anime berdurasi normal. Kalau melihat track record-nya, beliau memang sudah banyak berkecimpung dalam berbagai posisi staf sih, jadi mungkin kehandalan beliau sejak semula memang tak diragukan.

Kau masih bisa merasakan kelemahan-kelemahan cerita dari konsep asalnya. Tapi kalau kau memang bisa cocok dengan cerita Re: Zero, kau akan memaafkan segala kekurangannya. Lalu kau akan mulai sangat menghargai apa yang telah studionya kerjakan.

Terlebih, novelnya sendiri masih lanjut. Perkembangan ceritanya setahuku juga semakin rumit dengan begitu banyak rahasia yang masih belum terungkap. Lalu edisi baru novelnya, yang akan memaparkan kelanjutan dari cerita di animenya, sudah akan langsung tersedia bulan depan.

Menanti Hari yang Baru

Akhir kata, Re: Zero mungkin anime paling sukses di tahun 2016 sejauh ini. Kesuksesannya seolah menyatukan kalangan penggemar otaku dan penggemar anime kasual, baik yang berasal dari Jepang maupun luar Jepang. Sehingga, seperti Attack on Titan dan One Punch Man, season kedua Re: Zero seperti sudah terjamin bakal ada, dan masalahnya hanya soal kapan.

Belakangan, ada fans yang berupaya mencoba menerjemahkan web novel-nya sih, terlepas seperti apa perkembangan light novel-nya nanti. Versi ranobenya sendiri sudah dilisensi bahasa Inggrisnya, dan kuharap terjemahannya bisa segera menyusul penerbitannya di Jepang.

Tentu saja, bukan berarti ini seri yang cocok buat semua. Di samping kontennya lebih cocok buat pemirsa remaja dan dewasa, ceritanya sebenarnya berdampak paling besar bagi para otaku yang menggemari cerita-cerita tipikal tentang pindah ke dunia lain (isekai). Mereka yang masih kurang mendalami cerita-cerita bertema ini, mungkin takkan merasakan dampak yang sama.

Bagiku sendiri, kurasa aku takkan melupakan saat pertama aku memperhatikan kerumunan orang di sekeliling Subaru pada episode pertama. Itu saat pertama aku menyadari White Fox tak main-main dengan seri ini.

Adegan favoritku? Itu saat menjelang akhir, ketika Emilia berterima kasih pada Subaru karena telah menyelamatkannya lagi, sementara yang tercermin di bola mata Subaru adalah ingatan akan sikap dingin Emilia saat ia pertama menemuinya.

Kalian ngerti? Itu benar-benar membuat kita berpikir ulang alasan kita bersusah payah begini itu sebenarnya buat apa.

Dan tentu saja… sejauh apa sebenarnya kita bisa melangkah.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+