Posts tagged ‘drama’

11/09/2017

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Edmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi, Tekkadan juga tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan untuk berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menghalangi dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu tersebut juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season pertama. Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Iklan
28/06/2017

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

30/05/2017

Bokurano

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

28/12/2016

Uchouten Kazoku

Ossu.

Berhubung season keduanya sudah akan diproduksi, bahasan kali ini soal Uchouten Kazoku.

Uchouten Kazoku, atau yang juga dikenal dengan judul The Eccentric Family (‘keluarga yang nyentrik’) berawal dari novel buatan Morimi Tomohiko. Seri ini sekilas terkesan seperti cerita komedi ringan. Tapi sebenarnya ini termasuk seri drama bertema keluarga yang menggugah dengan cara yang tak biasa.

Pertama diterbitkan pada September 2007 oleh penerbit Gentosha, Uchouten Kazoku mulai lebih dikenal semenjak adaptasi anime TV-nya dibuat studio P.A.Works pada pertengahan 2013. Penyutradaraannya dilakukan oleh Yoshihara Masayuki. Naskah ceritanya ditangani oleh Suga Shoutarou. Musiknya dikomposisi oleh Fujisawa Yoshiaki. Lalu jumlah episodenya sebanyak 13.

Ada dua alasan kenapa aku tertarik pada Uchouten Kazoku. Pertama, karena statusnya sebagai karya Morimi-sensei. Beliau penulis asli cerita Yojou-han Shinwa Taikei, yang pada tahun 2011 diadaptasi ke bentuk anime oleh studio Madhouse. Seri drama aneh yang juga berbagi latar dengan Uchouten Kazoku ini berakhir menjadi salah satu seri favoritku.

Alasan kedua, karena desain karakter orisinil untuk anime ini dibuat oleh Kumeta Kouji. Kumeta-sensei adalah pengarang manga komedi satir Sayonara, Zetsubou-sensei. Meski karya-karya beliau tak pernah bisa sepenuhnya aku sukai, gaya gambar beliau yang terkesan sederhana selalu punya kesan atraktif. Sayonara, Zetsubou-sensei dulu cukup populer untuk diadaptasi sampai tiga season oleh studio SHAFT. Makanya, begitu proyek anime Uchouten Kazoku diumumkan, aku berpikir, kapan lagi gaya gambar Kumeta-sensei akan dianimasikan lagi? (Maksudku, yang tanpa diiringi keluhan-keluhan khas beliau soal zaman sekarang.)

Singkat kata, aku jadi merasa Uchouten Kazoku satu anime yang benar-benar perlu aku ikuti.

Noryo-Yuka no Megami

Walau mengangkat tema keluarga, Uchouten Kazoku agak susah dijelaskan tentang apa.

Latarnya di Kyoto, di zaman modern. Lalu ceritanya berfokus pada suka duka keluarga tanuki (semacam musang) marga Shimogamo yang berasal dari wilayah sekitar kuil Shinto bernama sama. Seperti dalam cerita-cerita rakyat, makhluk-makhluk tanuki tersebut memiliki kemampuan berubah wujud. Mereka dapat berubah baik menjadi benda hidup maupun benda mati. Lalu berbekal kemampuan berubah wujud inilah, mereka menjalani hidup di tengah keselarasan tak biasa antara komunitas tanuki mereka sendiri, peradaban manusia, dan kalangan tengu.

…Sekali lagi, buat kalian yang masih belum sepenuhnya terbayang, ada tiga jenis ras yang saling berinteraksi, yakni:

  • Tanuki
  • Manusia
  • Tengu (Siluman… gagak berhidung panjang? Dengan kemampuan mereka untuk terbang dan berubah ke wujud manusia juga, mereka dipandang keramat dan dalam mitologi sering dianggap sebagai utusan dewata.)

Ketiga ras tersebut sama-sama tinggal di Kyoto.

Semua tanuki dan tengu tahu tentang keberadaan ras-ras lain. Namun dari kalangan manusia, hanya individu-individu tertentu saja yang tahu tentang adanya tanuki dan tengu di tengah-tengah mereka.

Salah satu individu tertentu tersebut adalah seorang wanita sangat cantik yang dikenal dengan sebutan Benten.

Benten, yang bernama asli Suzuki Satomi, adalah perempuan muda yang bukan hanya disegani, tapi juga bahkan agak ditakuti oleh orang-orang yang mengenalnya dari ketiga pihak. Selain cantik bagaikan dewi, ada kekuatan supernatural juga yang Benten punyai, yang membuatnya bisa terbang seperti halnya para tengu. Di samping itu, Benten juga teramat cerdas, dan hampir tak ada orang yang benar-benar tahu tentang maksud di balik berbagai tindakan dan ucapannya.

Keluarga Shimogamo sendiri adalah salah satu keluarga tanuki paling dikenal di Kyoto. Alasannya karena mendiang pemimpin keluarga tersebut, Shimogamo Souichirou, sewaktu memegang jabatan sebagai Nise-emon, berhasil menyelesaikan konflik antar para klan tanuki sekaligus mempersatukan mereka. Beliau orang yang dikenal dengan karisma dan wibawanya. Namun demikian, pada suatu titik, Souichirou meninggalkan keluarganya dan menghilang tanpa kabar. Lalu sesudah bertahun-tahun, dirinya kini diyakini sudah meninggal.

Anggota-anggota keluarga yang Souichirou tinggalkan antara lain:

  • Ibu Shimogamo, istri mendiang Souichirou yang kini mendedikasikan hidupnya untuk kesejahteraan anak-anaknya. Hobinya (yang sebenarnya juga caranya mengatasi duka) adalah mewujudkan kecintaannya terhadap pentas teater Takarazuka dengan crossdress sebagai lelaki. Nama aslinya sampai akhir tak pernah terungkap.
  • Shimogamo Yaichirou, putra pertama yang kini menjabat sebagai pemimpin keluarga. Ingin bisa mengikuti jejak ayahnya sebagai Nise Emon, namun ia belum cukup matang dari segi kepribadian, kemampuan, maupun pikiran.
  • Shimogamo Yajirou; putra kedua, yang karena suatu alasan, telah kehilangan kemampuannya untuk berubah wujud. Kini berwujud katak dan menjalani hidupnya di dasar sebuah sumur, sembari sesekali memberikan nasihat-nasihat kehidupan pada orang-orang yang datang berkunjung.
  • Shimogamo Yosaburou, putra ketiga sekaligus tokoh utama cerita. Simpatik, cerdas, namun memiliki kepribadian bebas yang tak mau terikat tanggung jawab. Meski demikian, pada saat yang sama, Yosaburou juga yang secara umum dipandang punya paling banyak kemiripan dengan mendiang ayahnya.
  • Shimogamo Yashirou, putra keempat yang masih anak-anak. Masih sangat kecil saat ayahnya menghilang dan kurang begitu ingat tentangnya. Masih belum ahli dalam mempertahankan perubahan wujudnya, dan bila sedang gugup, wujud ekor dan telinga aslinya dapat tiba-tiba muncul.

Dari sudut pandang Yosaburou, kita secara bertahap diperlihatkan berbagai isu menyangkut keluarga Shimogamo. Isu-isu ini mencakup:

  • Keterpikatan terpendam Yosaburou terhadap Benten dan semacam hubungan persahabatan yang terjalin antara keduanya.
  • Hubungan lama Benten dengan guru anak-anak Shimogamo, yakni seorang tengu tua yang disebut Akadama-sensei (alias Nyoigatake Yakushibou) yang masih belum sudi melepasnya.
  • Permusuhan anak-anak Shimogamo dengan keluarga tanuki lain bernama Ebisugawa.
  • Soal Kaisei, satu-satunya anak perempuan Ebisugawa Soun, yang menjadi satu-satunya anggota yang berhubungan baik dengan keluarga Shimogamo.
  • Bagaimana Yosaburou pernah dijodohkan dengan Kaisei, namun Kaisei tak pernah sekalipun mau memperlihatkan sosoknya kepada Yosaburou.
  • Adanya sekelompok manusia bernama Friday Fellows (Kinyou Kurabu) yang hobi menyantap daging tanuki setiap akhir tahun.
  • Pemilihan Nise Emon baru dan bagaimana Yaichirou terlibat di dalamnya.
  • Pusaka-pusaka berkekuatan ajaib yang dahulu dimiliki Akadama-sensei namun kini dipegang Benten.
  • Penyebab Yajirou terjebak di wujudnya yang sekarang.
  • Penyebab Benten, bahkan dengan segala yang telah dimilikinya, dalam kesendiriannya terkadang menampakkan kesedihan.
  • Kemungkinan adanya pihak tertentu yang dengan sengaja hendak mencelakakan anggota-anggota keluarga Shimogamo…

Mencoba Lagi Lebih Keras

Aku mengikuti Uchouten Kazoku terutama karena berusaha memahami apa-apa yang dipaparkan di dalamnya. Bukan dalam artian narasinya jelek. Tapi, lebih dalam artian, bahwa apa-apa yang disampaikan di dalamnya adalah hal-hal yang terasa ‘dekat’ denganku, namun asing dan tak sepenuhnya aku pahami pada saat yang sama.

Ini bukan jenis seri yang dengan mudah bisa aku rekomendasikan. Tapi kalau misalnya aku ditanya apakah ini seri yang bagus atau tidak, maka jawaban singkatnya, tanpa keraguan sedikitpun, ini bagus.

Melalui mata Yosaburou, kita mulai menjelajah hal-hal tersembunyi dalam masa lalu keluarga Shimogamo, yang kesemuanya berakar dari hilangnya Souichirou, sang ayah. Maksudku, ini terasa seperti pengalaman yang bisa dilalui siapa saja yang pernah kehilangan anggota keluarga mereka sendiri. Yosaburou bertanya-tanya pada orang-orang yang dia kenal, berbagai kerabat dan saudara yang dia kenal, soal apa-apa yang mereka lihat dan tahu soal mendiang ayahnya. Intinya jadi ke soal menggali sisi lain orang-orang dekat yang kita sangka sudah kita kenal gitu. Lalu walau prosesnya terlihat menakutkan, hasil akhirnya akan kembali memperkuat kita sebagai keluarga.

Gampangnya, ini seri yang lumayan sukses membuatku berpikir soal anggota-anggota keluargaku sendiri. Soal apa-apa yang telah mereka lalui, soal sejauh mana mereka telah kita kenal. Lalu yang paling bagus adalah saat seri ini membawa kita ke momen ketika kita mikir, “Aku enggak bisa percaya kalo ternyata si A dulu pernah melakukan ini!”

Serius, itu pengalaman yang aku tak sangka akan dapatkan dari menonton anime.

Aku mengerti bahwa kemampuan kita menyelami ‘sampah’ dan sisi gelap orang lain ada batasnya. Makanya, salah satu alasan lain yang membuat Uchouten Kazoku bagus adalah keseimbangan aneh yang dimiliki aspek komedi dan dramanya, yang memuncak dengan keonaran yang lumayan mengguncang pada penghujung cerita.

Kau Cuma Perlu Membuatnya Menarik

Bicara soal teknis, visual seri ini jelas berbeda dari gaya visual Yojou-Han Shinwa Taikei. Iya, sekalipun yang ditampilkan tetap pemandangan kota Kyoto dengan subjek-subjek latar yang itu-itu juga. Gaya gambar Uchouten Kazoku lebih berkesan dua dimensi dengan lebih menonjolkan warna-warni gitu. Tapi itu tak berarti gambar-gambar pemandangan khas P.A. Works absen di seri ini. Pemandangan-pemandangan itu secara mengesankan tetap ada, hanya saja dengan gaya visual yang berbeda saja.

Secara audio, seri ini pun kuat. Grup musk Fhana membawakan lagu penutup yang pas dengan nuansa pengharapan seri ini. Aku perlu menyinggung khusus seiyuu veteran Noto Mamiko dalam perannya sebagai Benten, yang kembali meyakinkanku bahwa kemampuan mengisi suara seiyuu veteran bisa sedemikian jauhnya dari orang normal.

Kalau membahas soal eksekusi, ceritanya kelihatannya mengikuti dengan patuh alur cerita di novelnya. Kita tak pernah bisa-bisa menebak apa selanjutnya yang akan Yosaburou dan keluarganya temui pada episode berikut yang kita lihat.

Aku mengerti kalau temanya bukan jenis yang dengan mudah diikuti oleh kebanyakan orang. Aku juga mengerti kalau Uchouten Kazoku juga tak berakhir sebagai seri yang menonjol. Tapi untuk para penggemarnya, dan kebanyakan penggemar karya Morimi-sensei lain, ada sesuatu di dalamnya yang terasa sangat berarti secara pribadi.

Kalian tahu, jenis hal pribadi yang tak perlu kau ungkapkan pada orang lain.

Oh. Iya juga.

Meski penyelesaian ceritanya dibeberkan kepada kita, kelihatannya memang sengaja ada banyak pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab. Apalagi, setelah kita memikirkannya, bahasannya bisa mengarah ke wilayah yang cenderung gelap.

Maksudku, sesuatu yang benar-benar gelap untuk ukuran seri dengan banyak warna seperti ini.

Yah, mungkin musim tayang keduanya kelak akan memberi lebih banyak jawaban.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A- ; Kepuasan Akhir: B+

11/12/2016

Kimi no Na wa

Aku baru menonton Kimi no Na wa.

Mungkin bisa dibilang, ini anime paling dibicarakan di tahun 2016.

Hanya beberapa bulan sesudah penayangannya di Jepang, film ini mulai diputar di negara-negara lain. Di Indonesia, kau bisa melihatnya di jaringan bioskop CGV Blitz. Film ini harusnya masih tersedia saat tulisan ini aku terbitkan. Cuma, mungkin kau perlu pandai-pandai merencanakan acara nontonnya berhubung pengaturan jadwalnya agak aneh. Mungkin karena tergantung wilayah.

Juga dikenal dengan judul Your Name (‘namamu’), walau mungkin aku berlebihan dengan berpikir begini, Kimi no Na wa susah untuk enggak kuanggap sebagai magnum opus Shinkai Makoto. Disutradarai sekaligus dipenai secara langsung oleh beliau, beliau seolah mengukuhkan namanya sebagai salah satu sutradara animasi paling ternama lewat film ini. Kalau kau baca-baca berita tentang besarnya pemasukan dan berbagai penghargaan yang film ini raih, mungkin kau juga akan berasumsi sama. Tapi kalau kau menontonnya sendiri, maka kau seolah lebih mempercayainya.

Mempercayainya dengan mata kepalamu sendiri.

Susah menjelaskannya. Tapi, Kimi no Na wa itu kualitasnya gila. Terutama kalau kau menontonnya dengan mindset yang tepat. Film ini… apa ya? Bagus sih bagus. Tapi ‘bagus’ bukan kata yang tepat. ‘Keren’ juga bukan. Ini kayak… bisa kena menghantammu secara telak gitu, tapi dalam artian positif. Kena ke titik sasaran, tapi bukan secara berlebihan juga.

Maka dari itu, kurasa wajar bila film ini sukses karena temanya tak seberat ataupun semisterius film-film Shinkai-sensei yang biasa, namun dengan kualitas visual, arahan, serta bobot cerita yang tetap sama.

Begitu beres menonton, yang terus terbayang di kepalaku adalah betapa film ini seolah menandai ‘puncak’ kemampuan Shinkai-sensei sebagai animator. Mungkin kelak beliau akan membuat film lain dengan mengangkat tema lain yang juga mengandung makna kuat yang mendalam. Namun aku sangat sulit membayangkan keluaran beliau dan studio CoMix Wave Fims sesudahnya akan bisa menandingi kekuatan film ini.

Mimpi yang Nyata dan Tak Jelas Kapan Akan Berakhir

Kimi no Na wa pada dasarnya adalah cerita boy meets girl. Cerita soal cewek ketemu cowok. Premisnya melibatkan pertukaran tubuh.

Agak susah buat menjelaskan kebagusan anime ini secara sederhana. Soalnya, aspek yang membuat ceritanya benar-benar kuat adalah beragam motif dan tema di dalamnya.

Cerita dibuka dengan pemandangan tengah jatuhnya ‘sesuatu’ dari langit. Lalu dengan beberapa kilasan maju mundur, kita secara bergantian diperkenalkan pada kedua tokoh utama: seorang gadis pedesaan yang sebal dengan kehidupannya bernama Miyamizu Mitsuha; dan seorang siswa SMA di Tokyo bernama Tachibana Taki.

Muak dengan betapa terkekangnya kehidupannya di desa—terutama sehubungan ayahnya yang hendak kembali menjabat sebagai walikota, hubungan kurang harmonis Mitsuha dengannya, serta statusnya sendiri sebagai miko kuil Shinto di wilayah tempat tinggalnya, Itomori—Mitsuha secara ceplas-ceplos berujar kalau dirinya ingin jadi seorang cowok tampan di Tokyo dalam kehidupannya yang berikutnya. Lalu tak lama sesudah itu, Mitsuha dan Taki, yang semula tak saling mengenal, secara ajaib mulai sering bertukar tubuh.

Prosesnya bagi mereka terasa seperti mimpi. Ingatan mereka menjadi agak tersamar setiap kali hal itu terjadi. Tapi dari kesaksian orang-orang di sekeliling mereka, fenomena itu tak bisa mereka bantah. Jadilah Mitsuha dan Taki saling berkoordinasi lewat penerapan bermacam aturan dan kesepakatan melalui pesan-pesan yang mereka tinggalkan. Baik lewat catatan-catatn harian ataupun coret-coretan di tubuh mereka masing-masing.

Fenomena ini berlangsung untuk beberapa lama. Dimulai setiap kali mereka bangun dan diakhiri setiap kali mereka tidur. Namun tak ada pola jelas pada kemunculannya.

Sebagai satu sama lain, mimpi Mitsuha untuk bisa menjalani hidup di Tokyo akhirnya terwujud, terutama lewat pengalamannya untuk berkunjung ke sebuah kafe. Mitsuha menjadi berkenalan dengan dua sahabat dekat Taki, yakni Fujii Tsukasa yang berkacamata dan telah lama dekatnya, serta Takagi Shinta yang berbadan besar dan selalu siap membantu. Tak dinyana, Mitsuha, dengan sisi femininnya, juga berhasil mendekatkan Taki dengan senior yang lama ditaksirnya di tempat kerja sambilan, seorang mahasiswi mandiri bernama Okudera Miki yang dikagumi banyak orang. Mitsuha bahkan berhasil mengatur janji kencan dengannya.

Taki sendiri, di dalam tubuh Mitsuha, mulai berkenalan dengan dua sahabat Mitsuha sejak kecil, yakni Natori Sayaka, gadis pemalu yang menjadi anggota Klub Siaran; serta Teshigawara Katsuhiko, remaja berbadan kekar yang menjadi putra pengusaha kontraktor di desanya, rekan kerja ayah Mitsuha, dan karenanya sedikit banyak mengerti beban yang Mitsuha rasakan. Taki, dengan bawaan agresif dan kepandaian motoriknya, sedikit banyak mengubah citra Mitsuha di sekolah yang sebelumnya kurang populer karena status ayahnya.

Taki juga mulai mengenal dua anggota keluarga yang tinggal bersama Mitsuha, yakni: Miyamizu Hitoha, nenek Mitsuha yang bijak, yang karena suatu persoalan di masa lalu telah memutus hubungan dengan ayah Mitsuha, Miyamizu Toshiki; serta adik perempuan Mitsuha berusia SD yang selalu membangunkannya setiap pagi, Miyamizu Yotsuha, yang juga mulai melihat pola bahwa bila kakaknya bangun dengan meraba-raba dadanya sendiri, itu tandanya untuk seharian ia akan berkelakuan aneh.

Memandang ke kehidupan satu sama lain, di tempat dan lingkungan yang jauh berbeda, mata Mitsuha dan Taki seperti dibuka akan hal-hal menyangkut diri mereka masing-masing. Taki, khususnya, mulai mengenal tradisi upacara-upacara Shinto yang dijaga keluarga Mitsuha secara turun-temurun, yang meski telah terlupakan maknanya akibat suatu bencana kebakaran pada satu titik, masih dijaga bentuknya hingga sekarang.

Namun pada suatu ketika, singkat cerita, fenomena pertukaran tubuh ini terhenti. Terhenti tanpa pernah terjadi lagi. Sehingga dimulailah perjalanan panjang Taki dan Mitsuha untuk bisa saling menemukan kembali satu sama lain.

Lalu dalam upaya tersebut, sejumlah hal mengejutkan terungkap. Hal-hal yang menjelaskan mengapa upaya mereka dalam menghubungi satu sama lain secara langsung sejauh ini telah gagal.

Musubi

Minat kuat Shinkai-sensei terhadap benda-benda langit kembali tertuang di Kimi no Na wa, kali ini lewat kehadiran komet terang Tiamat, yang bisa jadi merupakan penyebab fenomena aneh yang Mitsuha dan Taki alami. Ceritanya, diberitakan secara luas bahwa komet tersebut akan melintas dengan jarak dekat ke bumi. Lalu pemandangan lintasannya akan terlihat jelas pada acara festival musim panas yang akan dilangsungkan di tempat tinggal Mitsuha.

Seperti yang bisa diharapkan dari sebuah film keluaran CoMix Wave, kualitas presentasi film ini benar-benar kuat. Faktor pemandangan kembali berperan, dan kita kembali disuguhi berbagai pemandangan indah baik dari dalam maupun luar ruangan. Permainan cahaya, yang awalnya begitu menjadi ciri arahan Shinkai-sensei, tentu saja ada, tapi kini turut diiringi oleh penggambaran latar yang kuat serta eksekusi adegan-adegan yang benar-benar mulus.

Musik di film ini ditangani oleh grup rock RADWIMPS, yang menghadirkan alunan musik ringan yang mudah didengar. Mungkin karena tema film ini yang begitu menyangkut masa muda, pembawaannya pas dan cocok dengan cara yang agak berbeda dibandingkan film-film Shinkai-sensei yang sebelumnya. Jadi… bukan cuma nyambung, tapi sekalian juga melengkapi? Aku terus terang awam soal musik, jadi aku tak pernah bisa bahas banyak soal aspek ini.

Tapi yang membuat aku benar-benar terpikat pada Kimi no Na wa, yang kurasa sulit dipahami kalau tak kalian lihat secara langsung, pertama terdapat pada tema cerita, dan kedua pada cara eksekusinya.

Cerita soal pertukaran tubuh beberapa kali pernah diangkat. Dalam bentuk anime, seri Kokoro Connect menjadikan itu tema utamanya. Lalu untuk manga, Boku wa Mari no Naka karya Oshimi Shuzou yang sekarang masih lanjut setahuku bahkan menjadi salah satu inspirasinya. (Bahkan ada kenalanku yang membandingkannya dengan visual novel misteri klasik Remember 11. Dia menyangkal soal bagaimana kehadiran karakter pembunuh sadis menjadi penentu rasa sukanya.)  Tapi di Kimi no Na wa, Shinkai-sensei mengungkapkan tema di atas lewat bagaimana jiwa-jiwa manusia dan alam seakan terus bertemu dan berpadu seiring berjalannya aliran waktu. Menyadarkan posisi kita di alam semesta, apa peranan kita, serta apa-apa yang mungkin akan kita temui di masa-masa mendatang.

Ada sesuatu tentang pengungkapan itu yang enggak bisa aku jabarkan secara mudah.

Eksekusinya bagus dalam artian penceritaannya jenis yang berhasil membuatmu terus bertanya-tanya. Apa yang akan mereka perbuat? Apa selanjutnya yang akan terjadi? Bahkan saat membahas konsep agak ‘ajaib’ pun, tak ada saat-saat lambat yang membuat ceritanya susah dimasuki. Ditambah lagi, para karakternya benar-benar simpatik. Dunianya juga benar-benar terasa ‘jadi.’ Kimi no Na wa berhasil mempertahankan minat yang timbul karena saat-saat takjub dari awal sampai akhir, meskipun di awal kita belum sepenuhnya yakin cerita ini akan tentang apa.

Dari segi teknis pun, film ini benar-benar solid.

Kataware-doki

Terus terang, aku menonton Kimi no Na wa hampir tanpa tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku hanya tahu kalau ini karya paling sukses Shinkai-sensei sejauh ini. Lalu ceritanya ada kaitannya dengan pertukaran tubuh.

Ungkapan ‘paling sukses’ di sinilah yang buatku menarik perhatian.

Aku sudah lama jadi pengagum karya-karya beliau, tapi aku bukan penikmat beratnya. Aku pertama kenal Shinkai-sensei lewat film Kumo no Mukou, Yakusoku no Bashou (atau Beyond the Cloud) yang temanya teramat menarik perhatianku. Aku sempat juga melihat 5 cm per Second. Lalu aku tahu juga ada novel-novel yang kerap melengkapi karya-karya beliau buat. (Novel 5 cm per Second kalau tak salah sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Maaf aku belum baca. Sesudah melihat versi animenya, aku ternyata tak kuat dengan temanya.) Tapi pada satu titik, meski senantiasa dibuat kagum dengan keindahannya, aku merasa tema-tema yang beliau angkat dalam film-film beliau hanya sedikit yang ada relevansinya denganku.

Namun ya itu. Membaca berita-berita tentang berbagai pujian dan penghargaan yang diterima Kimi no Na wa, aku penasaran. Lalu benar juga. Ini film beliau yang mungkin paling nyambung denganku sejauh ini. (Di samping, ehem, 5 cm per Second. Tapi mari kita tak bahas luka-luka mental masa laluku.)

Begitu aku beres menonton Kimi no Na wa, aku tersadar dengan kenapa Jepang bisa menjadi negara dengan banyak dewa. Diumpamakan lewat kesenian anyaman tali yang dilakukan keluarga Mitsuha, aku seperti jadi memahami keyakinan mereka akan banyak dewa tersebut mungkin berasal dari budaya mereka dalam bekerja.

Jadi tak seperti di kebanyakan negara, orang-orang Jepang dikenal memiliki kebanggaan terhadap hasil kerja mereka. Sekecil apapun. Kebanggaan terhadap karya dan hasil kerja tersebut bukan cuma berasal dari ketekunan, tapi juga dari semacam kekhusyuan. Yang kumaksud itu kayak semacam kombinasi dari keikhlasan dan rasa syukur gitu. Karena dalam bidang kerja apapun yang mereka geluti, selalu ada suatu filosofi yang seperti berusaha mereka gali. Suatu filosofi yang membuat mereka terkesan agak berbau spiritual. Suatu ilmu. Suatu cara. Suatu ‘jalan.’ Istilahnya do.

Kalau di Air Gear, ini umpamanya adalah road yang terbentuk dari hasil latihan Air Trek berulang yang dilakukan para karakternya.

Filosofi dalam berkarya itu mereka gali karena dengan terus menggalinya, mereka bisa semakin mengenal diri sendiri. Lalu mungkin kalian pernah dengar ungkapan soal bagaimana untuk mengenal Tuhan, maka yang harus kalian kenali itu diri kalian sendiri? Sehingga kupikir wajar jadinya bila Jepang ujung-ujungnya menjadi masyarakat yang seperti mengenal banyak dewa.

Alasannya mungkin karena mereka telah sedemikian berusahanya dalam mengenal diri mereka sendiri lewat karya-karya mereka.

Meski mungkin penggambarannya abstrak, budaya mereka akhirnya jadi menanamkan keyakinan yang besar akan keberadaan hal-hal gaib. Kalian tahu, baik itu dalam bentuk dewa ataupun youkai? Lalu karena merasakan adanya hal-hal di luar lingkup kuasa mereka, mereka secara tradisional jadi bangsa yang terdorong untuk mementingkan keselarasan . Apalagi karena secara geografis, negara mereka adalah negara yang rentan bencana alam.

Yah. Susah menjelaskannya.

Contoh yang lebih gamblangnya, aku jadi ingat pengalaman-pengalamanku sendiri dalam berlatih kendo semasa kuliah. Ada sensei yang datang dari Jepang dalam rangka mengawasi ujian kenaikan tingkat. Lalu saat aku dan para seniorku minta diberi wejangan, kami diberi semacam kata-kata mutiara yang pada waktu itu, memang terasa agak-agak lebay. Kami semua tak benar-benar yakin itu artinya apa. Aku lupa apa persisnya kata-kata itu. Hanya saja kalau dibaca, rasanya agak-agak menggelikan. Tapi memikirkannya lagi sekarang, aku mulai mengerti kenapa dituturkannya dengan cara demikian. Alasannya karena… ya, karena memang itu bener. Memang seperti demikian ilmunya.

Kau hanya bisa memahaminya sesudah kau cukup menggalinya demi mengenal dirimu sendiri.

Kita Semua Pengarung Waktu

Karena aku menonton ini lebih dengan mindset sebagai penikmat magic realism, aku tak terlalu memperhatikan aspek-aspek sains fiksinya. Tapi walau begitu, sisi sains fiksi Kimi no Na wa kalau mau dibahas itu ada. Lalu kalau mau digali, semua yang terjadi itu kayaknya ada penjelasannya.

Melihat itu, aku jadi mengerti kenapa versi novelnya bisa menjadi salah satu buku paling laku di pasar Jepang di sepanjang tahun ini.

Jadi, tak seperti kebanyakan cerita pertukaran tubuh begini, apa yang Mitsuha dan Taki alami bukan kejadian ‘acak’ yang terjadi begitu saja. Dituturkan dari bagaimana Taki mengetahui bahwa fenomena ini telah terjadi secara berulang dalam keluarga Mitsuha, diindikasikan bahwa ada suatu maksud tertentu dari semua ini. Sesuatu yang sudah digariskan sekaligus besar, yang kemudian tertuang pada bagian akhir film.

Kimi no Na wa memang sangat terasa seperti cerita novel. Kalau ada kelemahan di versi animenya, itu ada pada beberapa elemen cerita latar yang kurang tergali memuaskan, seperti soal ayah Taki yang hanya muncul sebentar, atau teman-teman sekolah Mitsuha yang awalnya diperlihatkan menaruh antipati secara gamblang terhadapnya. Karena itu, versi novelnya mungkin bisa benar-benar melengkapinya.

Moga-moga saja suatu saat nanti novelnya akan ada yang menerbitkan di sini.

Akhir kata, kalau kalian berkesempatan, aku sangat sarankan untuk sempatkan menonton Kimi no Na wa di bioskop. Mungkin akan ada yang berpendapat sebaliknya, tapi aku merasa ini adalah mahakarya Shinkai-sensei. Lalu kapan lagi kita bisa melihat sesuatu sebagus ini di layar besar?

Ditambah lagi, teks terjemahannya bagus! Kayak diterjemahkan dari bahasa Jepangnya yang asli! Semua lagu temanya pun diberikan liriknya karena lirik-liriknya memang seakan melengkapi cerita. Terima kasih untuk siapapun kalian yang telah mengusahakan agar film ini bisa tayang di bioskop sini!

Aku jadi merasa nonton ini mungkin enggak cukup sekali.

Apa?

Iya, ini masih jadi film beliau yang sangat menonjolkan nuansa cinta dalam artian kerinduan dan pengharapan. Kalau soal itu, itu tak berubah kok. Lalu juga, soal bagaimana kita semua sedemikian bergantung pada ingatan.

Itulah hal berharga yang kita ‘bagi’ dengan sedemikian banyak orang.

Kalau dipikir, manusia benar-benar makhluk yang rapuh.

(Iya, itu bu guru yang sama dari yang di Kotonoha no Niwa.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

(Edit: Terima kasih khusus untuk FA yang sudah memperbaiki kualitas teks terjemahan Indonesianya!)

14/10/2016

Kingsglaive: Final Fantasy XV

Aku agak sibuk belakangan. Karenanya, aku lagi susah fokus buat nulis.

Tapi terlepas dari itu, beberapa waktu bulan lalu, aku menonton Kingsglaive: Final Fantasy XV bersama sepupuku. Ada pekerjaan yang harusnya kubereskan hari itu. Tapi aku malah melarikan diri dari kenyataan dan menonton film ini. …Mungkin karena aku khawatir tayangnya cuma sebentar di CGV Blitz.

Hal-hal yang mendorongku menonton film ini antara lain:

  • Karena sejak dulu aku memang penggemar waralaba Final Fantasy.
  • Karena aku tak tahu kapan aku akan kesampaian main Final Fantasy XV nanti di Sony PlayStation 4. (Kayaknya aku dan imouto-ku akan memprioritaskan Persona 5.)
  • Adegan-adegan aksinya kayaknya bakal keren, walau ceritanya mungkin tak terlalu bisa diharapkan.
  • Sepupuku memang perlu nonton.
  • Pihak Square Enix yang memproduksi benar-benar niat dengan film ini. Mereka sampai membayar jasa aktor-aktor Hollywood sebagai pengisi suara segala.

Terlepas dari itu, Kingsglaive adalah film animasi CG yang dibuat sebagai pelengkap game Final Fantasy XV yang akan rilis bulan November nanti.

Dalam Final Fantasy XV, kita akan berperan sebagai pangeran muda Noctis Lucis Caelum yang kehilangan negara asalnya dalam suatu invasi serangan militer. Bersama tiga orang pengawal yang sudah seperti saudara-saudara dekatnya (Gladiolus Amicitia, Prompto Argentum, dan Ignis Scientia), Noctis melakukan perjalanan panjang (dengan mobil pusaka mereka yang canggih, Regalia) untuk memperoleh warisan yang telah menjadi haknya dan merebut tahtanya kembali.

Kingsglaive berperan sebagai semacam prolog bagi gamenya, yang memaparkan insiden jatuhnya negara asal Noctis, Kerajaan Lucis, saat yang bersangkutan tak ada di tempat.

Sebagaimana yang mungkin kalian tahu, proyek Final Fantasy XV berawal dari proyek Final Fantasy Versus XIII yang pertama diumumkan sepuluh tahun lalu. Kingsglaive adalah bagian cerita dari konsep asalnya yang berakhir tak dimasukkan ke dalam game. Tapi karena menarik, bagian cerita Kingsglaive dibuat dalam media terpisah (film) sebagai semacam bentuk ‘pengenalan’ terhadap semesta Final Fantasy XV untuk pemirsa awam.

Seperti halnya Final Fantasy: The Spirits Within dan Final Fantasy VII: Advent Children, Kingsglaive menjadi film animasi CG ketiga yang diprakarsai Square Enix. Jadi kau bisa harapkan visual yang benar-benar wah di dalamnya. (Walau sekali lagi, kau tak perlu berharap banyak soal cerita.)

Bicara soal stafnya, Nozue Takeshi yang menyutradarai. Naskah dibuat oleh Hasegawa Takashi, berdasarkan cerita yang sebelumnya dibuat oleh Nojima Kazushige dan Itamuro Saori. Produksinya sendiri dilakukan Visual Works dengan bantuan dari Digic Pictures dan Image Engine.

Seperti yang kusinggung di atas, Kingsglaive mencolok juga karena para tokoh utamanya diperankan oleh sejumlah bintang besar Hollywood. Disulihsuarakan dalam Bahasa Inggris, terlepas dari kualitas ceritanya secara umum, secara mengesankan, mereka benar-benar menjalankan peran mereka secara profesional.

Perwira khusus Nyx Ulric, yang penuh kesetiaan dan kesungguhan, disuarakan oleh Aaron Paul, pemeran pemuda kepepet Jesse Pinkman dalam seri drama TV sangat terkenal Breaking Bad. Mengingat peran Nyx sebagai tokoh utama, ada semacam ‘kewajaran’ dalam suaranya yang benar-benar tak kusangka di film ini.

Khusus film ini, tokoh utama perempuan FF XV, Lunafreya Nox Fleureth, tunangan Noctis yang cantik dan penuh tekad, dihidupkan oleh suara berwibawa Lena Headey, yang namanya mencuat sebagai pemeran karakter ibu tangguh Sarah Connor dalam seri TV Terminator: The Sarah Connor Chronicles. Beliau sekarang lebih dikenal sebagai pemeran ratu kejam Cersei Lannister dalam seri TV fenomenal Game of Thrones sih.

Lalu Sean Bean, yang belakangan paling diingat berkat perannya sebagai Ned Stark dalam seri Game of Thrones (serta berbagai karakter menonjol lain yang akhirnya meninggal dunia), menyuarakan Regis Lucis Caelum CXIII, raja negeri Lucis sekaligus ayah dari Noctis, tokoh utama yang kita mainkan dalam game. Serius, beliau memainkan perannya di sini dengan jauh lebih keren dari yang kuduga. Aku semakin terkesan soal ini mengingat usia karakter Regis dibuat lebih tua dari konsep awalnya.

Mengingat ini… film CG yang diprakarsai Square Enix, kau mungkin berlebihan kalau berharap hasil akhirnya bakal ‘bagus.’ Mungkin ada di antara kalian yang ingat bagaimana The Spirits Within menjadi mimpi buruk finansial. Lalu Advent Children juga pada akhirnya hanya diterima di kalangan terbatas.

Tapi serius, itu tak berarti kau takkan menemukan alasan untuk menyaksikan film ini.

Ceritanya memang berakhir kurang mengesankan sih. Tapi film ini punya sisi-sisi baiknya kok. Tetap ada saat-saat tertentu ketika para penggemar Final Fantasy veteran akan sempat dibikin “Wow.” Lalu setidaknya, film ini menjadi milestone yang menandai pencapaian teknologi animasi manusia sudah sejauh mana.

Tembok dan Tembok

Aku benci mengatakan ini, tapi memang susah membahas cerita Kingsglaive tanpa membuatnya terdengar membosankan.

Singkat cerita, ada dua pihak yang sedang berperang: Kerajaan Lucis (yang baik) dan Kekaisaran Niflheim (yang jahat dan mengembangkan mesin-mesin perang raksasa berbasis magitek).

Ceritanya, di dunia Final Fantasy XV yang modern dan ajaib yang bernama Eos, masing-masing negara pada awalnya diberkahi (oleh dewata?) sebuah kristal yang menjadi semacam sumber kekuatan bagi negara-negara tersebut. Namun kemudian Niflheim datang, melancarkan agresi ke negara-negara lain, dan merebut (menghancurkan?) satu demi satu kristal dari masing-masing negara.

Lucis ceritanya adalah negara terakhir yang kristalnya masih tersisa.

Kingsglaive (‘glaive’ adalah sebutan untuk sejenis tombak bermata pedang) adalah nama pasukan elit Lucis yang ditenagai oleh kekuatan kristal yang disalurkan pada para anggotanya atas izin sang raja. Mereka ceritanya menjadi andalan terakhir negara dalam menangkal serangan Niflheim.

Di samping mampu menggunakan sihir, manuver khas para Kingsglaive adalah bagaimana dengan kekuatan ‘pinjaman’ tersebut, mereka bisa berteleportasi ke manapun pisau-pisau khusus mereka terlontar. (Istilahnya kalau tak salah adalah Warp Strike?) Jadi hanya dengan melontarkan pisau, mereka bisa dalam sekejap bisa berpindah-pindah gitu. Mereka menangkap kembali pisau mereka untuk dilontarkan lagi dan berpindah lagi, dan sebagainya; membuat gerakan mereka sangat lincah dan sulit tertebak.

Nyx Ulric, bersama dua kawan lamanya, Libertus Ostium yang berbadan besar dan Crowe Altius, salah satu dari sekian sedikit anggota yang perempuan, ceritanya adalah anggota dari pasukan elit ini. Di awal cerita, mereka baru saja mundur dari pertempuran yang di dalamnya mereka kembali terdesak.

Persoalan timbul saat Niflheim, di luar dugaan, menyusul akhir salah satu pertempuran yang di dalamnya pihak Lucis kalah, tiba-tiba mengutus salah satu orang sangat penting mereka, penasihat flamboyan Ardyn Izunia, untuk menawarkan perjanjian damai. Niflheim akan mengakui kedaulatan negara Lucis dengan syarat semua wilayah di luar ibukota Lucis, kota kerajaan Insomnia (iya, benar itu nama kotanya), diserahkan kepemilikannya pada Niflheim. Persyaratan ini masuk akal, mengingat di sekeliling Insomnia, ada suatu tembok medan pelindung yang ditenagai kristal yang akan sangat sulit ditembus pasukan Niflheim. Namun di saat yang sama, permintaan ini juga aneh karena status Niflheim yang sedang di atas angin.

Masalahnya, seluruh anggota Kingsglaive adalah orang-orang yang dipilih dari tempat-tempat di luar Insomnia. Makanya, kesepakatan damai yang akhirnya disetujui Raja Regis tersebut malah memicu perpecahan di kalangan mereka, karena itu berarti mereka semua akan kehilangan kampung halaman mereka seandainya perjanjian itu terwujud.

Kunci untuk mengetahui apa maksud Niflheim yang sebenarnya diduga tersirat dalam persyaratan mereka yang kedua: putra mahkota Kerajaan Lucis, Noctis (sekali lagi, yang kita mainkan dalam game)—yang kebetulan saat itu telah disusupkan ke luar Insomnia—akan harus dinikahkan dengan teman masa kecilnya, Lunafreya, putri dari negeri Tenebrae yang telah menjadi negara boneka Niflheim. Karena itu, suatu misi rahasia yang diprakarsai Raja Regis kemudian dijalankan untuk memastikan nasib Luna yang telah lama tak ada kabarnya.

Namun singkat cerita, misi rahasia ini berakhir buruk.

Sangat buruk.

Lalu Nyx tahu-tahu menjadi satu-satunya anggota Kingsglaive tersisa yang dapat menyelamatkan sang putri sekaligus negaranya dari kehancuran.

Kekuatan Dunia

Sebelum menonton Kingsglaive, aku masih belum yakin apa aku akan ‘mengusahakan’ main Final Fantasy XV. Seperti yang sempat kusinggung dalam tulisanku soal Final Fantasy XIII, aku merasa ada terlalu banyak hal dalam industrinya yang sudah berubah. Di samping itu, usiaku sudah bertambah. (Semakin banyak orang mencemaskan soal kapan aku akan nikah.) Lalu konsep Final Fantasy XV sendiri, sekilas, terus terang saja, memang memberikan kesan aneh.

Maksudku, kita main sebagai empat cowok tampan yang ke mana-mana naik mobil dan punya stereotip kepribadian masing-masing? Kesannya sangat boyband sekali.

Ketika video permainan Final Fantasy XV yang lebih ke sini sudah keluar (itu loh, yang durasinya sudah lebih dari setengah jam?), aku tetap masih ambivalen. Aku agak kecewa karena visualnya tak semegah bayanganku. Ide soal dunia mafia dan nuansa Romeo and Juliet yang membuat konsep asli Final Fantasy Versus XIII begitu menarik juga sudah dikesampingkan. Tapi mesti kuakui, pandanganku berubah begitu melihat bagaimana pembangunan dunianya kayaknya sudah ‘bener’ (seenggaknya, game kali ini bener ada NPC yang bisa kita ajak ngobrol), aksi permainannya kelihatannya seru, serta, terutama, melihat kerennya adegan pembuka di mana kita menyaksikan sosok Noctis yang telah lebih matang dan dewasa duduk di kursi tahta.

Lalu setelah menonton Kingsglaive, aku berubah pikiran: aku (dan sepupuku) ingin bisa main Final Fantasy XV.

Daripada karena penasaran pada ceritanya (yang kayaknya sengaja dibuat menggantung) di Kingsglaive, alasannya buatku lebih karena diperlihatkannya Tenebrae di dalam cerita. Aku ingin berkunjung ke Tenebrae. Aku ingin menjelajahinya. Kayaknya, di semua video Final Fantasy XV yang telah keluar sebelumnya, negeri Tenebrae tempat asal Luna belum pernah disorot. Baru di Kingsglaive kita diperlihatkan Tenebrae kayak gimana. Lalu aku berpikir, kalau Tenebrae, atau tempat-tempat lain yang setara keindahannya, akan bisa kita jelajahi di Final Fantasy XV, aku benar-benar akan tertarik mencobanya.

Buat yang belum tahu, waralaba Final Fantasy sempat dikenal karena tempat-tempatnya yang wah. Meski visualnya indah, nuansa perjalanan ke tempat-tempat eksotis ini agak absen di trilogi Final Fantasy XIII. Makanya, melihat Tenebrae, aku berhasil diyakinkan bahwa Square Enix masih belum kehilangan sentuhan mereka dalam mendesain tempat-tempat kayak begini.

Eh? Soal Tenebrae kayak gimana?

Yah, sederhananya, seperti negeri di tengah hutan hijau.

Kedengarannya biasa, tapi daya tariknya jadi menonjol kalau dibandingkan dengan video-video permainan yang ada selama ini, yang lebih menonjolkan warna-warna abu-abu dan hitam yang dominan di jam-jam awal permainan.

Lalu soal ceritanya juga… meski mengangkat tema-tema yang mungkin masih akan bikin aku mengernyit, kayaknya Final Fantasy XV lebih ‘jadi’ karakterisasinya ketimbang Final Fantasy XIII. Jadi iya, pengharapanku berhasil dibuat naik.

Speedy Chocobo

Balik ke soal Kingsglaive, film ini punya lumayan banyak kelemahan dari segi cerita. Dari segi eksekusi teknis, memang tak buruk sih. Tapi dari segi struktur dan penyampaian, ada lumayan banyak hal yang terasa aneh.

Di awal, cerita Kingsglaive secara mengejutkan kelihatannya akan mengangkat tema-tema berbobot. Beberapa di antaranya mencakup diskriminasi antar golongan (antara masyarakat berkecukupan di Insomnia dan orang-orang kurang mampu yang terjebak di luarnya) dan makna di balik perjuangan. Tapi sayangnya, ini semua berakhir kurang tergali (aku memakai eufimisme di sini). Sehingga meski tetap ada hal-hal di dalamnya yang bisa kusukai, akhir film ini tetap meninggalkan rasa yang kurang enak.

Jadi seperti… gimana ya?

Seperti ada banyak yang tak seimbang? Omongannya banyak dan aksinya juga banyak. Tapi adegan-adegan aksinya, meski memang keren, enggak terasa berkontribusi terhadap cerita.

Hmm. Susah menjelaskannya.

Adegan-adegan aksinya sendiri, meski keren, sebenarnya juga bermasalah. Seperti dalam kasus Advent Children, aku rekomendasikan menonton Kingsglaive lebih untuk aksi-aksi visualnya ketimbang ceritanya. Masalahnya (dan entah karena ini isu teknis video/proyektor atau bagaimana), adegan-adegan aksi yang keren secara visual indah tersebut kayaknya hanya bisa kalian nikmati kalau penglihatan kinetik kalian bagus.

Penglihatan kinetik itu apa?

Gampangnya, itu kemampuan untuk melihat dan mencerna secara jelas benda-benda yang berada dalam kondisi bergerak. Seperti, seberapa mampu kalian bisa membaca sebuah iklan yang tertera di badan bus yang bergerak ke arah berlawanan dengan kendaraan yang kalian tumpangi. Biasanya, penglihatan kinetik yang bagus dimiliki oleh para olahragawan, karena memang bisa dilatih.

Balik ke soal Kingsglaive, bila penglihatan kinetik kalian kurang bagus, otak kalian kayak bakal kesulitan menangkap berbagai informasi yang disampaikan lewat visualnya. Akhirnya, kalian jadi enggak bisa mencerna apa-apa, dan akhirnya, kalian malah jadi merasa tontonannya membosankan.

Ibaratnya, kalian bosan karena mendengar obrolan-obrolan yang tak kalian mengerti gitu, hanya saja prosesnya terjadinya lewat mata.

Soalnya, animasinya memang segila itu. Ada begitu banyak hal yang bisa dilihat pada setiap frame. Lalu di saat yang sama, kayak ada begitu banyak detil tersirat dalam adegan-adegan yang ditampilkan. Tapi karena saking banyaknya, otak kita bisa sampai nge-hang karena enggak bisa menentukan titik fokus pas untuk mulai mencernanya. Bahkan aku, yang merasa penglihatan kinetikku termasuk lumayan berkat latihan kendo, beberapa kali kesusahan mencerna adegan-adegannya secara utuh. Apalagi orang awam. Sehingga wajar saja bila tak sedikit yang menganggap Kingsglaive membosankan.

Kuakui, karena alasan tersebut, pengalamanku menonton Kingsglaive di CGV Blitz waktu itu terbilang lumayan aneh.

Selamat Datang di Eos

Merangkum, hal-hal yang kusukai dari Kingsglaive antara lain:

  • Adegan-adegan lompat-lompatan sembari teleportasi via melempar-lempar pisau para anggota Kingsglaive. (Yang kelincahannya lumayan mengingatkan kita akan manuver-manuver para karakter di waralaba Assassin’s Creed.)
  • Visualnya yang sangat wah. Ada terlalu banyak detil yang bisa dilihat dalam satu detik!
  • Betapa flamboyannya Ardyn Izunia. Meski banyak hal tentang dirinya yang belum jelas, aku tetap terkesan oleh pembawaannya. Kuakui, meski gaje, konsep karakternya menarik.
  • Koreografi adegan-adegannya yang keren. Salah satunya, konfrontasi antara Raja Regis dan Kaisar Iedolas Aldercapt menjelang penandatanganan perjanjian, ketika semua yang hadir serta-merta saling mencabut senjata dalam gerakan lambat.
  • Pemaparan lebih jauh tentang dunia Final Fantasy XV. Terutama soal tempat-tempat lain yang belum diperlihatkan dalam demo-demo permainan. (Tenebrae.)
  • Sulih suara dalam Bahasa Inggris yang keren. Maksudku di sini benar-benar keren. Kayak, jauh lebih keren dari yang diperkirakan.
  • Lunafreya. Meski banyak tindakannya yang kurang kumengerti, daya pikatnya yang karismatik bagiku tetap kuat. (Aku agak lemah terhadap tipe-tipe cewek kayak gini.)
  • Crowe. Daya pikatnya juga lumayan kuat. Maka dari itu, perasaanku agak campur aduk soal ini. (Aku agak lemah terhadap tipe-tipe cewek kayak gini juga.)
  • Berbagai elemen Final Fantasy yang menarik perhatian para veteran, mulai dari iklan soal Chocobo sampai percakapan soal Cactuar (pas adegan makan!). Khusus perlu disebut adalah cameo Ultros dari game lawas Final Fantasy VI yang tampil dalam wujud sangat sangar di film ini. Mengingat seperti apa dia aslinya, kemunculannya menjadi kejutan terbesar bagi para penggemar Final Fantasy lama.
  • Si petugas penjaga perbatasan yang tahu-tahu muncul begitu saja di saat-saat terakhir untuk membantu Nyx. Kemunculannya di tengah-tengah pengejaran genting itu serta-merta membuatku ngakak.
  • Ditampilkannya Stella, heroine yang semula didesain sebagai pasangan Noctis untuk Final Fantasy Versus XIII (sebelum digantikan oleh desain Lunafreya), sebagai model produk kecantikan di salah satu papan iklan. (…Aku bisa komentar lebih banyak soal pergantian ini, tapi intinya, yang bisa kukatakan hanyalah bahwa pengembangan konsep ceritanya akhirnya memaksa perubahan konsep karakternya. Itu suatu proses kreatif yang kurang lebih bisa kumengerti.)
  • Adanya karakter Jenderal Glauca yang berzirah dan sangat kuat. Dirinya seperti Darth Vader dalam Star Wars. Atau, kalau dalam lingkup Final Fantasy, seperti Golbez di Final Fantasy IV atau para Judges di Final Fantasy XII. Aku benar-benar merasa sayang bila karakter seperti dia tak ada dalam game. Aku bahkan sampai merasa balik modal nonton Kingsglaive semata-mata demi melihat desain Jenderal Glauca. Dirinya tokoh antagonis utama di film ini btw, dan menjadi final boss yang Nyx harus bisa kalahkan.
  • Sosok mesin raksasa penghancur mengerikan milik Niflheim yang disebut Daemon, yang wujudnya sangat mirip dengan Diamond Weapon di Final Fantasy VII yang sempat membuat para pemain terpaku di masanya.
  • Subplot tentang keberadaan kaum mistis Lucii serta pertemuan Nyx dengannya, yang mirip dengan kaum misterius Occuria yang muncul di Final Fantasy XII. Kurasa, dalam gamenya nanti, Noctis telah ditakdirkan akan bertemu mereka juga.
  • Bagaimana summon Knights of the Round, makhluk panggilan terkuat di Final Fantasy VII, ternyata menjadi para penjaga rahasia di Insomnia. Ini sesuatu yang keren, tapi seperti banyak hal lainnya di film ini, tidak diceritakan secara baik.
  • Bagaimana filmnya diakhiri dengan after credits yang menampilkan tiba-tiba mogoknya mobil Regalia yang sedang dinaiki Noctis dan kawan-kawan, menandai bagaimana ceritanya langsung menyambung dengan adegan pembuka di gamenya nanti.

Hal-hal yang tidak kusukai adalah hampir segala hal selain yang di atas. Tapi beberapa yang perlu kusebut khusus kurasa meliputi:

  • Motivasi para penjahat yang tak jelas. (Kristal-kristal itu dipakai buat apa? Kenapa ada orang-orang yang mendukung mereka? Meski keren, kenapa pula si kaisarnya cuma terkesan numpang muncul?!)
  • Rencana para penjahat yang juga kurang jelas. (Maksud siasat perjanjian damai itu akhirnya apa? Masa iya cuma demi mematahkan Kingsglaive?)
  • Keputusan-keputusan Luna yang kurang jelas. Terutama di adegan penutup, pada bagaimana ia memilih berkelana seorang diri tanpa pengawalan.
  • Segala soal kakak lelaki Luna, Ravus Nox Fleuret, yang bukannya membenci Kekaisaran yang telah menginvasi negaranya, tapi malah benci pada Raja Regis dan garis keturunannya karena gagal menolong keluarganya di masa lalu. Kurasa kehadirannya dimaksudkan untuk klimaks urusan pusaka rahasia Cincin Lucii yang perlu dikirim ke Noctis. Tapi tetap saja karakterisasinya kurang bagus. Aku juga dapat perasaan aneh kalau dia ditambahkan cuma untuk menambah jumlah karakter bishonen di film ini.

Selebihnya, kurasa kesanggupan kalian menikmati Kingsglaive bergantung pada seberapa besar minat kalian terhadap Final Fantasy XV dan waralaba Final Fantasy. Kalau kalian cukup tertarik, mungkin kalian masih bakal menikmati. Tapi kalau tak ada apapun di dalamnya yang menurut kalian keren, lebih baik jangan memaksakan diri. Soalnya, maksud utama Kingsglaive memang lebih sebagai pengenalan terhadap Final Fantasy XV saja kok. Ceritanya memang lumayan berdiri sendiri, tapi juga tak bisa dibilang signifikan. Untuk sekedar bisa menikmati Final Fantasy XV nanti, melihat Kingsglaive menurutku bukan sesuatu yang wajib.

Tapi terkait dengan itu, selain Kingsglaive, beberapa waktu lalu juga sempat dirilis seri ONA 5 episode Brotherhood: Final Fantasy XV, yang juga punya posisi kurang lebih sama. Berperan sebagai perkenalan lain terhadap dunia Final Fantasy XV dan diproduksi oleh studio A-1 Pictures, ceritanya mengetengahkan Noctis dan ketiga pengawalnya di tahap-tahap awal perjalanan mereka.

Pengarahan Brotherhood dilakukan oleh Masui Sochi dengan naskah yang ditangani Ayana Yuniko. Musiknya ditangani bersama oleh Akizuki Susumi dan Inoue Yasuhisa. Kolaborasi dengan A-1 Pictures ini seperti mengulang kolaborasi multimedia dalam proyek Compilation of Final Fantasy VII yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya.

Cerita Brotherhood sendiri mengambil alur maju-mundur, dimulai sekitar waktu kejatuhan Insomnia, ketika Noctis dan kawan-kawannya masih mengira mereka hanya perlu ke Tenebrae untuk menemui Luna yang baru menjadi tunangan Noctis. Tiap episodenya akan berfokus ke hubungan Noctis dengan salah satu kawan seperjalanannya (Gladiolus yang kekar dan tangguh, Ignis yang kalem dan cerdas, serta Prompto yang ceria dan perhatian).

Cerita Brotherhood secara umum juga tak wajib diikuti, karena tak langsung terkait dengan cerita di game. Statusnya lebih kayak gaiden atau side story. Tapi banyaknya kilas balik memberi lebih banyak gambaran seputar karakter masing-masing. Di samping itu, yang menurutku menarik adalah bagaimana Brotherhood juga memberi lebih banyak informasi soal latar gamenya, terutama dengan memunculkan karakter-karakter sampingan baru yang akan muncul dalam versi final game tapi belum diperkenalkan dalam versi-versi demo.

Kualitas Brotherhood sendiri sebenarnya lumayan menengah sih. Karena bisa disaksikan gratis, dan diproduksi dalam episode-episode pendek, tak banyak yang bisa dikatakan tentangnya dari segi teknis. Tapi ada campuran aksi dan drama dalam porsi-porsi pendek. Lalu kualitas per episodenya menurutku cenderung meningkat.

(Iya. Kayaknya Brotherhood contoh klasik kasus Square Enix ketika cerita yang terlanjur sudah mereka buat menjadi susah dimasukkan ke dalam game.)

Kudengar, versi Ultimate Collectors Edition yang nanti dirilis dari Final Fantasy XV akan menyertakan episode keenam Brotherhood yang akan berfokus pada Lunafreya. …Mungkin episode terakhir ini akan lebih menonjol dari yang lain.

Mata yang Melihat Pudarnya Jiwa-jiwa

Akhir kata, aku tak menyesal menonton Kingsglaive. Tapi perlu kukatakan bahwa ada banyak hal tak disangka yang aku alami saat menontonnya.

Jumlah penontonnya lebih banyak dari yang kusangka. Teks terjemahannya adalah Bahasa Melayu… yang sayangnya kurang bagus. (Yang kemudian memberi indikasi bagaimana kondisi perbioskopan kita enggak pernah sepenuhnya bisa dibilang sehat.) Lalu yang paling menggangguku, tema khas yang game-game Final Fantasy biasa usung ternyata tak benar-benar berhasil tersampaikan.

Tapi sudahlah soal itu.

Kurasa Kingsglaive cukup berhasil kalau sekedar memancing keingintahuan. Dalam tahun-tahun belakangan, keingintahuan saja, dan bukan ‘rasa tertarik’ sendiri, sebenarnya sudah cukup buatku untuk mendalami lebih banyak.

Terlepas dari semuanya, kalau dalam perkembangan ceritanya nanti Noctis benar-benar dibuat semakin matang sebagai raja, maka itu sudah lebih dari cukup alasan buatku untuk memainkan FF XV. Belakangan aku suka tema-tema soal tanggung jawab dan kepemimpinan gitu soalnya.

Nanti kalau aku benar berkesempatan main, mungkin FF XV kelak akan aku ulas.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: C+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B

26/09/2016

Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu

Pikiranku tersita belakangan. Tapi kalau ada satu seri anime baru yang benar-benar aku rekomendasikan untuk tahun ini, maka itu adalah Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu, atau yang juga dikenal dengan judul Re: Zero –Starting Life in Another World- atau juga Re: Life in a different world from zero. (Judulnya kira-kira berarti: ‘memulai hidup baru di dunia lain dari nol’).

Anime ini diadaptasi dari seri novel berjudul sama (seperti banyak seri lain belakangan, yang semula web novel, tapi kemudian diterbitkan resmi secara cetak sebagai light novel) terbitan Kadokawa Shoten. Pengarang aslinya adalah Nagatsuki Tappei dan ilustrasi orisinilnya dibuat oleh Otsuka Shinichirou.

Produksi animasinya sendiri dilakukan oleh studio animasi White Fox, dengan penyutradaraan dilakukan oleh  Watanabe Masaharu, komposisi seri dilakukan oleh Yokotani Masahiro, dan musik oleh Suehiro Kenichiro. Total jumlah episodenya sebanyak 25. Tapi kalau kau menghitung jumlah efektif penceritaannya, termasuk episode awal yang berdurasi dua kali lipat yang lain, durasinya secara efektif mungkin mencapai 27 episode anime normal.

Mungkin aku sudah tak perlu mengatakan ini, berhubung kebanyakan fans pasti sudah tahu, tapi jujur, ini termasuk salah satu adaptasi novel ke anime paling bagus yang pernah dibuat dalam tahun-tahun terakhir.

Waiting for your touch

Tanpa terlalu masuk ke detil, cerita Re: Zero dibuka dengan tiba-tiba tersadarnya seorang remaja laki-laki bernama Natsuki Subaru di tengah sebuah pasar di dunia lain. Hal terakhir yang diingatnya adalah bahwa dirinya baru pulang dari convenience store. Pakaian yang dikenakannya adalah track suit biasa yang sering dikenakannya. Lalu di tangannya ada kantong plastik berisi sejumlah belanjaan.

Ide cerita Re: Zero sekilas memang terkesan biasa-biasa saja. Tapi jujur, perkembangannya ternyata bisa ke mana-mana.

‘Dunia lain’ tempat Subaru kini berada rupanya adalah ibukota negeri Lugunica. Seperti tipikal ‘dunia lain’ dalam cerita-cerita macam begini, ada ras-ras manusia dan non-manusia dalam suatu peradaban abad pertengahan. Kotanya sendiri benar-benar besar, dengan gerobak-gerobak dan kereta yang ditarik naga-naga darat dan gang-gang sempit di mana-mana. Ada hal-hal ajaib, yang terwujud dengan kekuatan sihir roh. Subaru langsung kebingungan dengan apa-apa yang telah ada di sekelilingnya, tapi ia mendapati diri tak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya.

Singkat cerita, Subaru mendapati nasibnya seakan terhubung dengan seorang gadis berambut perak berdarah separuh elf bernama Emilia.

Emilia sempat menolong Subaru saat ia terdesak oleh gerombolan penjahat di tengah kota. Lalu untuk membalas budi—dan sekaligus karena terpikat oleh kecantikan dan kebaikannya—Subaru memutuskan membantu Emilia yang saat itu seperti sedang mencari suatu barang hilang.

Urusan ‘membantu mencari barang hilang’ ini ternyata berbuntut panjang.

Terungkap ada suatu pihak tertentu yang hendak menghilangkan nyawa Emilia. Pihak tersebut ikut membuat Subaru terbunuh karena ulah mereka. Tapi terungkap pula bahwa—agak sesuai sekaligus tidak sesuai dengan pengharapan Subaru, yang ternyata tak asing dengan cerita-cerita pindah ke dunia lain kesukaan para otaku—Subaru dihadirkan ke dunia ini dengan kemampuan misterius untuk memutar kembali waktu setiap kali dirinya terbunuh.

Berbekal kemampuan baru itu, Subaru bertekad untuk menemukan jalan keluar demi bisa menolong Emilia.

Sekalipun, itu secara harfiah berarti ia harus mati berulangkali demi gadis yang ia sukai.

Untuk Sekarang, Aku Mengantarmu Pergi

Adaptasi anime Re: Zero mencakup kurang lebih tiga arc-nya yang pertama.

Meski ini tak terlihat di awal, sebenarnya, terutama kalau dibandingkan dengan seri-seri bertema sejenis, struktur dan arah perkembangan cerita Re: Zero terbilang tak biasa. Sesudah kasus yang pertama di ibukota, masih bersama Emilia, Subaru terbawa ke lingkungan baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan dihadapkan pada persoalan-persoalan baru. Tapi persoalan-persoalan ini terus ‘mengambil fondasi’ dari yang sebelum-sebelumnya, dan kerap membawa ceritanya ke arah-arah yang tak terduga.

Ini paling mencolok dari tantangan-tantangan yang Subaru hadapi. Kalau pakai acuan angka, misalnya, tingkat kesulitan yang Subaru hadapi di arc pertama levelnya 2. Tingkat kesulitan yang Subaru temui di arc kedua adalah 4. Tapi pada arc ketiga, yang memakan durasi lebih dari separuh seri, Subaru serta merta menghadapi tingkat kesulitan berlevel 10 yang sedemikian menguras mentalnya; inilah titik ketika sebagian besar pemerhati sudah tak lagi bisa melepas mata mereka dari Re: Zero.

Perkembangan ceritanya, kalau dipikir, sebenarnya tak bisa dibilang besar. Tapi perkembangannya mengambil jalur-jalur yang sedemikian tak disangka—memanfaatkan segala kemisteriusannya yang dijaga—sehingga apa-apa yang terjadi bisa sedemikian melarutkan mereka yang menonton.

Dari mana kekuatan Subaru berasal? Siapa pihak-pihak yang ingin membuat Emilia terbunuh? Lalu, siapa sesungguhnya Satella, sang Jealous Witch (‘penyihir cemburu’) yang sedemikian ditakuti semua orang, yang wujud dan rasnya konon sangat mirip dengan sosok Emilia?

Dampak perkembangan ceritanya sangat terasa karena Re: Zero semula adalah jenis seri yang tertarik atau tidaknya kau terhadapnya bisa sangat hit or miss. Lebih tepatnya, pada bisa atau tidaknya kau mentolerir pribadi Subaru dengan segala tingkah dan kelakuannya.

Ada beberapa hal di awal cerita yang akan langsung terasa janggal oleh mereka yang mencoba mengikuti Re: Zero. Salah satunya misalnya, adalah betapa minimnya Subaru membahas soal kehidupannya di dunia sebelumnya, yang alasannya baru tersirat belakangan. Atau pada bagaimana Subaru berbicara dengan cara sok akrab dan banyak omong sekaligus keotakuan. Normalnya, sikap Subaru tersebut akan membuat kita yang menonton merasa sebal. Tapi bagi para penduduk Lugunica, sikap Subaru yang sangat egaliter justru adalah hal tak biasa sekaligus menarik yang mungkin menjadi alasan mengapa mereka membuka diri.

Ada aspek-aspek menyebalkan di awal cerita. Ada banyak elemen di Re: Zero yang juga terasa tipikal dan seperti dicomot dari seri-seri yang sudah-sudah. Tapi lambat laun, kita mulai menyadari, ada pilihan-pilihan tertentu yang sengaja diambil oleh Nagatsuki-sensei karena ingin memaparkan ide-ide tersebut ke arah yang lumayan berbeda dari yang pernah diambil. Sampai akhir, Subaru tak berkembang menjadi karakter yang sakti, misalnya. Lalu ada hal-hal tertentu lain, seperti asal usul dan masa lalu para karakternya, yang memang sengaja ditahan dulu untuk diungkap pada saat yang tepat.

Rasanya seolah… Nagatsuki-sensei sengaja ingin membuat semacam komentar sosial bagi jenis kalangan yang lazimnya memperhatikan seri semacam Re: Zero. Tapi untuk itu, beliau sebelumnya mencoba berbicara dulu dalam ‘bahasa’ yang tepat.

Beliau seperti sadar bahwa hasilnya tak perlu notabene bagus. Hasilnya hanya perlu… tepat.

Sekali lagi, tanpa terlalu masuk ke detil (karena salah satu daya tarik utama Re: Zero, meski pembangunan dunianya terbatas, terdapat pada berbagai detilnya yang tersamar), bahaya yang Emilia hadapi ternyata berkenaan statusnya sebagai salah satu kandidat penguasa baru dari aristokrasi Lugunica. Ada sejumlah kandidat penguasa yang mau dipilih sesudah nasib misterius yang menimpa keluarga penguasa sebelumnya. Lalu ada hal-hal terkait isu-isu takdir dan hal-hal gaib.

Alasan aku merasa Nagatsuki-sensei seperti mau membuat semacam komentar sosial adalah karena masing-masing kandidat ini mengusung paham yang berbeda-beda. Diperkenalkan menjelang pertengahan seri, kandidat-kandidat untuk tahta Lugunica mencakup:

  • Felt, kandidat paling baru, seorang gadis kecil yatim piatu dengan berkah roh angin (membuatnya sangat lincah) yang sebelumnya hidup terbatas di kawasan kumuh Lugunica, mengusung paham anarki (ketiadaan kekangan, yang lemah bisa dimakan yang kuat) karena keinginannya menggulingkan sistem pemerintahan yang berjalan. Dirinya diusung oleh ksatria Reinhard van Astrea yang menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
  • Crusch Karsten, seorang gadis bangsawan yang mendalami ilmu militer, yang menganut paham meritkorasi. (Dalam paham ini, semua orang harus dihargai sesuai jasa mereka. Namun kelemahannya, latar belakang orang yang berbeda-beda menyebabkan tak semua orang memiliki keleluasaan untuk memberikan kontribusi jasa yang sama.) Dirinya didukung oleh ksatria tua ahli pedang sangat tangguh, Wilhelm van Astrea, serta ksatria pengguna kekuatan air penyembuhan terkuat, Felix “Ferris” Argyle.
  • Priscilla Barielle, perempuan bangsawan sangat cantik yang seakan mampu memikat dan menundukkan semua yang melihatnya. Konon bertanggungjawab atas kematian suami(-suami?)nya. Paham yang diusungnya adalah totalitarian (kediktatoran). Salah satu pendukung andalannya adalah ksatria kekar bertopeng misterius tapi ramah bernama Al.
  • Anastasia Hoshin, seorang gadis muda dengan dialek khas dan rupa manis yang menyembunyikan kecerdasannya. Dirinya menganut paham kapitalis oligarki yang mengutamakan perolehan kekayaan materi. Sebagian pendukungnya termasuk ksatria ahli pedang sekaligus ilmu roh, Julius Euclius, salah satu orang yang paling pertama menantang kehadiran Subaru.
  • Emilia, gadis separuh elf yang mengharapkan kesetaraan derajat semua penduduk Lugunica, dan karenanya mengusung demokrasi. Dirinya ditakuti karena kemiripan rupanya dengan Satella. Selain oleh Subaru, Emilia didukung oleh bangsawan eksentrik Roswaal L. Mathers, yang mendukungnya karena suatu sebab pribadi; serta oleh Puck, makhluk mirip kucing mungil yang sebenarnya adalah roh agung yang telah mengikat kontrak dengan Emilia.

Ide perebutan tahta ini sedemikian menariknya, sampai-sampai adaptasi game Re: Zero yang sedang dikembangkan 5pb. akan dibuat seputar gagasan ini, memungkinkan kita sebagai Subaru mendukung kandidat penguasa yang berbeda-beda.

Agak seperti kasus season kedua Log Horizon, cerita di animenya juga sebenarnya sudah sempat menyusul cerita versi light novel-nya yang sudah terbit. Sedikit bagian akhir ceritanya (sekitar episode 23 ke atas) malah sebenarnya adalah porsi cerita yang belum muncul di versi ranobe (yang kalau tak salah waktu itu baru sampai buku kedelapan). Cerita versi web novel-nya tentu saja sudah lebih jauh, tapi itupun belakangan sudah lumayan tersusul.

Perkembangan ceritanya ngomong-ngomong sudah lumayan gila-gilaan. Tapi kurasa bakal menyakitkan kalau aku mengungkap apa yang kebetulan sudah aku tahu di sini.

Meski demikian, aku perlu singgung bahwa cerita animenya berhasil diakhiri di titik yang bagus. Penyesuaian cerita yang dilakukan staf produksinya tak sia-sia, dengan hasil yang secara langka terbilang memuaskan

Andai Aku Ada di Sana

Membahas soal teknis, Re: Zero termasuk anime yang benar-benar melampaui perkiraan.

Sejak zaman mereka memproduksi Katanagatari, White Fox memang dikenal sebagai studio yang nilai-nilai produksinya di atas rata-rata. Tapi khusus untuk Re: Zero, mereka seakan melampaui batasan-batasan mereka yang terdahulu. Mereka benar-benar terasa all out. Habis-habisan. Seolah seluruh aspek studio telah menyatu hatinya dan berjuang dengan sepenuh jiwa dan raga demi mengerjakan proyek ini.

Bahkan, orang awam soal animasi pun mungkin sudah bisa merasakannya dari episode pertama. Perhatian terhadap detil latar belakang keramaian Lugunica, adegan saat Subaru untuk pertama kalinya menyaksikan Emilia berinteraksi dengan para roh di saat senja, dialog bermakna mendalam antara Subaru dan Rem yang menjadi semacam pesan bagi para pemirsa NEET yang otaku, adegan-adegan pertarungannya yang membuat terbelalak, sampai perjuangan habis-habisan Subaru menjelang akhir … Re: Zero itu jadi seolah… tidak sepenuhnya memberikan apa yang semula kau harapkan, tapi malah kemudian memberikan apa yang tidak kau harapkan, yang ternyata tetap kau nikmati, dalam porsi-porsi besar.

Aku benar-benar puas mengikutinya.

White Fox tak mengadaptasi teknik-teknik animasi yang revolusioner atau canggih atau bagaimana. Mereka hanya mengimplementasikan teknik-teknik animasi yang sudah umum dengan cara seefektif mungkin. Hasilnya benar-benar terasa maksimal.

Luar biasa, malah. Setahuku, belum pernah ada seri light novel yang mendapat perlakuan sedalam ini untuk adaptasi animasinya sebelumnya.

Visualnya indah. Meski jarang, dari waktu-waktu muncul visual yang akan membuatku wow. Musiknya pas, kalau tak bisa dibilang keren. Lalu para seiyuu juga berperan maksimal.

Sedikit bicara soal para seiyuu-nya. Ada beberapa pilihan pengisi suara veteran yang meski tak mengejutkan, menurutku sangat pas dengan karakter yang mereka mainkan. Koyasu Takehito misalnya, berperan sebagai Roswaal L. Mathers yang sisi misterius dan kuatnya (menurutku) menjadikannya karakter yang sangat ‘Koyasu Takehito’ sekali. Lalu ada Arai Satomi, yang berperan sebagai Beatrice, gadis kecil(?) misterius penjaga perpustakaan di kediaman Roswaal yang menjadi semacam sekutu Subaru dalam arc kedua. Peran Beatrice menurutku juga adalah peran yang sangat ‘Arai Satomi’ sekali kalau melihat peran-peran beliau yang telah lalu. Hal yang sama juga bisa kukatakan soal Noto Mamiko yang suara menggodanya, yang sudah agak lama tak kudengar, menghidupkan Elsa Granhilte, karakter antagonis pertama seri ini.

Tapi selain mereka, ada beberapa kejutan. Matsuoka Yoshitsugu, pengisi suara Kirito dari Sword Art Online (dan sejumlah karakter sejenis dari seri-seri lain), secara sangat mengesankan berperan sebagai musuh besar Subaru, Betelgeuse Romanee-Conti, dengan kegilaannya yang khas. Gaya pemaparannya menurutku begitu meyakinkan (cukup untuk membuat kita maklum soal mengapa Subaru sampai punya dendam pribadi terhadapnya), para seiyuu lain hanya perlu mengikuti contohnya! Meski awalnya tak mencolok, seiyuu muda Minase Inori melanjutkan daftar peran meyakinkannya sebagai karakter pelayan Rem yang berperan besar bagi Subaru bersama kakak kembarnya, Ram. Suara lembut Takahashi Rie juga sukses menghidupkan karakter Emilia, yang sekaligus sukses meyakinkan para fans sekaligus Subaru soal EMT! (Emilia-tan maji tenshi, ‘Emilia-tan benar-benar adalah bidadari.’) Tapi di antara semuanya, tentu saja kredit terbesar perlu diberikan pada Kobayashi Yuusuke yang berhasil menghidupkan karakter Subaru melalui beragam spektrum emosi.

Grup musik MYTH & ROID, yang mulai dikenal semenjak membawakan lagu penutup anime OverLord tahun lalu, membawakan lagu penutup “STYX HELIX” yang secara pas memberi kombinasi nuansa suram, patah arang, bimbang, namun sekaligus pengharapan dan pantang menyerah yang seri ini usung. Lagu-lagu lainnya tak kalah bagusnya, tapi lagu ini benar-benar mencolok dibandingkan yang lain.

Lumayan mengejutkan bagaimana hasilnya, apalagi mengingat bagaimana ini karya pertama Watanabe-san sebagai sutradara anime berdurasi normal. Kalau melihat track record-nya, beliau memang sudah banyak berkecimpung dalam berbagai posisi staf sih, jadi mungkin kehandalan beliau sejak semula memang tak diragukan.

Kau masih bisa merasakan kelemahan-kelemahan cerita dari konsep asalnya. Tapi kalau kau memang bisa cocok dengan cerita Re: Zero, kau akan memaafkan segala kekurangannya. Lalu kau akan mulai sangat menghargai apa yang telah studionya kerjakan.

Terlebih, novelnya sendiri masih lanjut. Perkembangan ceritanya setahuku juga semakin rumit dengan begitu banyak rahasia yang masih belum terungkap. Lalu edisi baru novelnya, yang akan memaparkan kelanjutan dari cerita di animenya, sudah akan langsung tersedia bulan depan.

Menanti Hari yang Baru

Akhir kata, Re: Zero mungkin anime paling sukses di tahun 2016 sejauh ini. Kesuksesannya seolah menyatukan kalangan penggemar otaku dan penggemar anime kasual, baik yang berasal dari Jepang maupun luar Jepang. Sehingga, seperti Attack on Titan dan One Punch Man, season kedua Re: Zero seperti sudah terjamin bakal ada, dan masalahnya hanya soal kapan.

Belakangan, ada fans yang berupaya mencoba menerjemahkan web novel-nya sih, terlepas seperti apa perkembangan light novel-nya nanti. Versi ranobenya sendiri sudah dilisensi bahasa Inggrisnya, dan kuharap terjemahannya bisa segera menyusul penerbitannya di Jepang.

Tentu saja, bukan berarti ini seri yang cocok buat semua. Di samping kontennya lebih cocok buat pemirsa remaja dan dewasa, ceritanya sebenarnya berdampak paling besar bagi para otaku yang menggemari cerita-cerita tipikal tentang pindah ke dunia lain (isekai). Mereka yang masih kurang mendalami cerita-cerita bertema ini, mungkin takkan merasakan dampak yang sama.

Bagiku sendiri, kurasa aku takkan melupakan saat pertama aku memperhatikan kerumunan orang di sekeliling Subaru pada episode pertama. Itu saat pertama aku menyadari White Fox tak main-main dengan seri ini.

Adegan favoritku? Itu saat menjelang akhir, ketika Emilia berterima kasih pada Subaru karena telah menyelamatkannya lagi, sementara yang tercermin di bola mata Subaru adalah ingatan akan sikap dingin Emilia saat ia pertama menemuinya.

Kalian ngerti? Itu benar-benar membuat kita berpikir ulang alasan kita bersusah payah begini itu sebenarnya buat apa.

Dan tentu saja… sejauh apa sebenarnya kita bisa melangkah.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

19/08/2016

Mobile Suit Gundam I (Movie)

Aku menyempatkan diri menonton bagian pertama dari trilogi film layar lebar Mobile Suit Gundam atau Kidou Senshi Gundam yang orisinil beberapa waktu lalu. Seperti banyak hal lain dari seri Gundam, aku sudah lama tahu tentang trilogi film layar lebar ini, cuma baru sekarang berkesempatan melihatnya.

Trilogi ini pada dasarnya merupakan kompilasi dari versi seri TV-nya yang berjumlah 43 episode. Ada beberapa penyesuaian di sisi cerita. Tapi lebih lanjut soal itu akan aku bahas nanti.

Untuk yang belum tahu, kalian bisa menonton ini gratis lewat saluran Gundam.info dengan teks bahasa Inggris sampai tanggal 21 September nanti. Kualitas videonya termasuk lumayan, walau tentu saja kalian perlu ingat ini dibuatnya di tahun 1981, dengan footage asli yang dibuat bahkan sebelum 1979. Tapi kualitas audionya di luar dugaan termasuk benar-benar masih bagus.

Sutradaranya, tentu saja, adalah Tomino Yoshiyuki. Desain karakternya dibuat oleh Yasuhiko Yoshikzazu. Desain mekanik dibuat oleh Okawara Kunio. Lalu musik ditangani oleh Watanabe Takeo dan Matsuyama Yuji.

Di Mana Mereka Hidup… dan Mati

Aku tak akan terlalu membahas soal cerita, berhubung rasanya, aku sudah berulangkali melakukannya.

Adaptasi layar lebar dari seri Gundam yang paling pertama ini intinya mengetengahkan perjalanan Amuro Ray dan teman-teman barunya dalam melarikan diri dari pasukan Zeon menggunakan kapal induk baru buatan Federasi Bumi, White Base. Ceritanya berlatar di masa depan tahun 0079 Universal Century, ketika sebagian besar umat manusia telah berpindah dari Bumi ke struktur-struktur raksasa koloni luar angkasa buatan manusia. Demi melindungi teman-temannya dalam perjalanan dari koloni luar angkasa Side 7 ke Bumi, Amuro menggunakan senjata baru Federasi, sebuah mobile suit bernama Gundam, yang dibuat oleh ayahnya dan ternyata memiliki kemampuan luar biasa.

Cerita bagian pertama dari trilogi ini memaparkan awal penyerangan komandan handal Char Aznable beserta anak-anak buahnya ke Side 7. Ini berlanjut ke upaya pelarian White Base yang telah kehilangan sebagian besar awak aslinya dan kini lebih banyak dikemudikan penduduk sipil ke markas luar angkasa Luna II. Ini kemudian diikuti melencengnya rute re-entry atmosfer yang dilakukan White Base, dari yang tadinya mau ke Jaburo, markas besar Federasi di Amerika Selatan, malah jadi ke sekitar Amerika Utara. Lalu konflik White Base dengan Garma Zabi, putra bungsu pemimpin Zeon, Degwin Sodo Zabi, yang sebenarnya diatur oleh Char. Lalu reuni Amuro dengan ibunya. Kemudian baru diakhiri lewat pertemuan Amuro yang telah kelelahan fisik dan mental dengan lawan mereka yang baru, perwira Zeon handal bernama Ranba Ral, di tengah amukan badai petir yang baru kali pertama mereka lihat.

Sebagai orang yang pernah melihat film-film kompilasi yang dibuat Tomino-san (dan telah terbiasa dengan tempo ceritanya yang luar biasa cepat), aku terkesima dengan kenormalan tempo cerita di film ini. Masih terbilang cepat sih. Tapi anehnya, tidak terasa cepat gila-gilaan seperti dalam film-film kompilasi beliau yang lebih belakangan. Mungkin juga karena durasinya yang mendekati hampir dua setengah jam, film ini tak terasa terlalu cepat ataupun terburu-buru.

Agak susah sih menjelaskannya. Tapi intinya, pengaturan temponya bagus.

Aku pernah melihat beberapa episode dari seri TV aslinya. Garis besar perkembangan ceritanya tetap sama. Tapi memang ada feel berbeda yang berusaha dibidik dari trilogi ini, yang belakangan kemudian kita kenal sebagai nuansa real robot.

Intinya, adegan-adegan aksinya masih terbilang seru. Tapi hal-hal yang membuatku terkesima sampai mengangkat alis seperti di seri TV-nya sudah tak ada. Di trilogi ini, hal-hal seperti bola berantai Gundam Hammer, perlengkapan G-Armor, dan beam saber yang bisa diubah menjadi beam javelin sudah dihilangkan. Di atas kertas, aku mengerti hal-hal tersebut dihilangkan karena masih terlalu berbau super robot. Lalu aku juga mengerti bahwa teknologi MS yang tampil dalam trilogi ini adalah apa yang dijadikan acuan dalam seri-seri Gundam berikutnya. Tapi di sisi lain, aku juga akhirnya jadi mengerti bagaimana ada orang-orang yang sempat kecewa dengan trilogi ini, dan lebih memilih seri TV aslinya.

Soalnya… gimana ya?

Aku ingat jelas bagaimana aku merasa ada begitu banyak hal gila yang Amuro lakukan dengan Gundam di seri TV-nya. Ibarat Rambo, meski hanya seorang diri, dia melakukan banyak hal yang belum pernah orang lain lakukan menggunakan MS gitu. Dia lincah lari ke mana-mana, menembak-nembak banyak musuh kayak karakter utama di game FPS, hampir enggak mempan oleh tembakan-tembakan, melakukan adegan-adegan laga yang susah dipercaya, dan berakhir jadi satu-satunya yang tersisa. Tapi di film layar lebar ini, hal tersebut dikurangi. Sisi kemanusiaan Amuro dalam menghadapi lawan-lawannya lebih ditonjolkan. Diperlihatkan bagaimana stres dan kelelahan karena membunuh orang terus menggerogotinya. Walau memang berkat performa Gundam yang sedemikian berbedanya dari MS Zaku dan pesawat-pesawat milik Zeon, Amuro tetap berakhir imba.

Bicara soal mecha, karena aspek aksinya yang agak dikurangi dibandingkan karakterisasinya, robot-robot di seri ini masih tampil menonjol, tapi tak semenonjol di seri TV-nya.

Zaku II merah milik Char, yang memiliki kecepatan tiga kali di atas kecepatan Zaku normal, mendapat porsi sorotan lumayan banyak. Ada beberapa kali ia beradu dengan Gundam, dan dengan kehandalan Char, ia menjadi lawan yang benar-benar setara. Aku suka dengan bagaimana saat Char menyadari sebagian besar senjatanya (senapan mesin dan heat hawk) tak mempan terhadap Gundam, ia jadi lebih banyak memakai serangan fisik. (Untuk kalian yang pernah menonton Gundam Unicorn, kalian bisa melihat ada banyak kemiripan adegan antara pertempuran Amuro melawan Char dengan pertempuran Banagher melawan Full Frontal.)

Guncannon yang dikemudikan Kai Shiden dan Guntank yang dikemudikan bersama oleh Ryu Jose dan Hayato Kobayashi juga masih berperan. Kedua MS tersebut mendapat peran penting dalam melindungi White Base seiring berpindahnya latar cerita ke Bumi. Tapi karakter-karakter yang mengemudikan mereka belum begitu banyak disorot, karena fokus cerita yang masih lebih banyak dilihat dari sudut pandang Amuro.

MS biru Gouf, yang digunakan oleh Ranba Ral, masih menjadi lawan yang lebih dari sepadan bagi Gundam dengan senjata cambuk listriknya. Ral beserta istrinya, Crowley Hamon, memang baru tampil sebentar di film ini. Mereka baru lebih banyak disorot dalam film yang berikutnya.

Bicara soal Gundam sendiri, di sini MS ini lebih diperlihatkan betapa kebalnya ia terhadap persenjataan lawan. Gundam diperlihatkan punya fitur-fitur lain yang tak dimiliki MS lain sebelumnya. Tapi dibandingkan di seri TV-nya, armamennya memang lebih terbatas, mencakup hanya beam rifle, beam saber, serta Hyper Bazooka.

Ketiga MS buatan Federasi Bumi juga menonjolkan desain baru di mana kokpitnya terbentuk dari pesawat tempur Core Fighter. Lalu di samping desain White Base sendiri, itu jadi aspek keren menonjol yang dimiliki seri ini pada masanya.

Musnahnya Separuh Populasi Umat Manusia

Bicara soal teknisnya, terlepas dari animasinya yang sudah berusia, kalau kalian melihatnya sendiri, mungkin kalian bakal sadar. Ada sesuatu yang istimewa tentang Kidou Senshi Gundam. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa kelihatan kalau cuma mengikuti seri-seri sekuelnya. Ada… sesuatu tentang seri ini—khusus tentang seri yang ini—yang benar-benar bisa menarikmu gitu.

Susah menjelaskannya.

Mungkin juga berkat art direction Nakamura Mitsuki, ada banyak visual berkesan di dalamnya. Lalu ini yang kubayangkan pasti telah sedemikian memicu imajinasi orang-orang yang menontonnya di masa lalu. Mulai dari narasi pembuka yang menggambarkan jatuhnya koloni luar angkasa raksasa ke Bumi, adegan jebolnya dinding Side 7 oleh ledakan reaktor MS, rombongan orang mengungsi di dalam bunker, atau pemandangan White Base di latar senja saat meninggalkan ibu Amuro yang berlutut dalam kesedihan. Seriusan, ada banyak adegan di dalamnya yang kalau diperhatikan, benar-benar berkesan.

Mungkin juga itu berkat karakterisasinya. Aku mengerti sekarang soal kenapa ada yang menganggap awak-awak kapal di White Base jauh lebih berkesan ketimbang yang di sekuel-sekuelnya. Ada fokus ke karakterisasi yang kebagusannya bahkan tak kutemui dalam karya-karya Tomino-san yang lebih ke sini.

Bright Noa adalah letnan muda yang menjadi kapten sementara dari White Base. Ia disinggung masih berusia sangat muda (seperti remaja usia akhir), berhubung betapa banyaknya orang dewasa yang sudah tewas dalam Perang Satu Tahun yang di masa itu tengah berlangsung. Bright, yang sudah terbentuk oleh pendidikan militer yang diterimanya, menunjukkan sikap pragmatis di hadapan Amuro berkenaan kepemilikannya atas Gundam. Lalu di awal cerita, hal inilah memicu konflik antara keduanya.

Selain Bright, orang militer yang masih tersisa paling adalah Ryu Jose, seorang pilot dalam pelatihan. Menggunakan Core Fighter, ia banyak membantu Amuro.

Lalu selain Amuro, warga sipil lain yang kemudian direkrut jadi bagian dari militer meliputi:

  • Mirai Yashima, seorang pilot muda yang merupakan putri dari suatu keluarga penerbang. Mirai yang kemudian memegang kemudi atas nahkoda White Base dan menjadi salah satu harapan lain para awaknya untuk selamat.
  • Sayla Mass, murid sekolah medis dengan pribadi proaktif. Dirinya menyimpan rahasia besar sesudah menyadari bahwa Char Aznable ternyata adalah kakak kandungnya yang telah lama hilang. (Seudah melihat sendiri seri ini, aku jadi bisa memaklumi pengharapan sebagian penggemar yang mengharapkan Sayla yang tetap jadi love interest-nya Amuro.)
  • Kai Shiden, seorang remaja sok yang awalnya membuat sebal semua orang dengan sikapnya.
  • Hayato Kobayashi, salah satu teman lama Amuro yang berbadan pendek tapi juga tak terlalu dekat dengannya juga.
  • Frau Bow, teman masa kecil Amuro yang memperhatikannya dari awal sampai akhir. Berkat kata-kata Amuro, Frau menjelma menjadi sosok gadis yang kuat sesudah ia tiba-tiba kehilangan seluruh anggota keluarganya. Lalu karena itu pula ia sedemikian berusaha mendukung Amuro dalam pergulatan batinnya selama memiloti Gundam.

Selebihnya, Char benar-benar ditampilkan sebagai lawan mengerikan dengan kemampuannya untuk berpikir sekian langkah lebih jauh dari orang lain. Urusan logistik menjadi sesuatu yang secara menarik disorot di seri ini, yang di pihak Federasi ditampilkan lewat karakter Matilda Ajan, yang mendukung White Base dengan barang-barang kebutuhan hidup dan menjadi sumber kekaguman Amuro. Matilda juga yang di versi cerita ini membawa kabar tentang desas-desus tentang teori Newtype yang di seri TV aslinya dimunculkan dengan agak tiba-tiba. Lalu para karakter antagonis sukses ditampilkan secara simpatik, khususnya lewat pemaparan hubungan Garma Zabi dengan Icelina Eschonbach yang mencintainya.

Rasanya aneh aku bicara begini. Tapi terus terang aku juga jadi sedikit merasa kalau yang sebenarnya paling mempengaruhi seri-seri Gundam modern sebenarnya bukanlah Kidou Senshi Gundam yang orisinil, melainkan sekuel-sekuel awalnya. Khususnya, Zeta Gundam dan Gundam ZZ. Walau memang berstatus sebagai cerita awalnya, Kidou Senshi Gundam memiliki nuansa yang benar-benar berbeda sendiri. Segala sesuatunya, baik itu MS, kapal induk, atau dunianya, terasa sedemikian besar. Lalu para karakternya juga kayak bisa lebih berdiri sendiri.

Mungkin tema cerita Kidou Senshi Gundam memang takkan pernah basi.

Sekali lagi, audionya benar-benar bagus. Tak ada lagu yang mencolok sih. Tapi penataan segala sesuatu terkait suaranya benar-benar berkesan.

Teks terjemahan bahasa Inggrisnya juga bagus, cuma sayang masih ada banyak istilahnya yang kurang terasa up to date (Jaburo ditulis sebagai Jabrow, misalnya. Lalu daripada Principality of Zeon, mereka disebutnya Duchy of Zeon).

Akhir pekan nanti mau kusempatkan melihat kelanjutannya.

10/08/2016

Kabaneri of the Iron Fortress

Maaf lama tak menulis. Aku baru masuk ke beberapa lingkungan baru, dan jadinya ada banyak pekerjaan yang keteteran. Belum lagi komputer yang kupakai sudah agak tua dan sudah mulai bermasalah.

Terlepas dari itu, Kotetsujou no Kabaneri termasuk yang aku ikuti perkembangannya di musim lalu. Kurasa, itu satu-satunya judul yang aku ikuti yang durasinya satu cour? Aku pertama dengar tentang Kabaneri sekitar setahun (atau dua tahun?) sebelumnya, sewaktu proyeknya pertama diumumkan. Hype-nya waktu itu memang tak terlalu terasa, berhubung konsepnya masih agak tak jelas. Meskipun demikian, nama-nama staf yang terlibat di dalamnya memang menarik perhatian.

Cuma ada dua anime yang menampilkan soal kereta yang terpikirkan olehku. Pertama, adalah Rail Wars! yang beberapa tahun lalu… uh, kayaknya cuma berakhir jadi seri komedi. Kedua, adalah seri aksi steampunk bermotif zombie Kotetsujou no Kabaneri ini, atau yang juga dikenal sebagai Kabaneri of the Iron Fortress, yang akhirnya lumayan menarik perhatian pada musim semi tahun 2016.

Produksinya dilakukan oleh Wit Studio, studio yang menganimasikan Attack on Titan dan Seraph of the End. Penyutradaraannya dilakukan Araki Tetsuro, sutradara Death Note dan Attack on Titan. Naskahnya ditangani oleh Okouchi Ichirou, yang sekali lagi, dikenal dari Code Geass: Hangyaku no Lelouch serta Valvrave the Liberator. Lalu musiknya ditangani Sawano Hiroyuki, yang kini semakin ternama semenjak mengkomposisi musik untuk Gundam Unicorn.

Jumlah episodenya sebanyak 12.

Suara-suara yang Takkan Melewati Sisa Terowongan

Kotetsujou no Kabaneri berlatar di suatu dunia lain, di mana Jepang dikenal sebagai negara kepulauan Hinomoto. Teknologi di dunia ini didominasi oleh mesin-mesin bertenaga uap. Lalu meski negara kepulauan ini terkesan indah, umat manusia hidup di bawah tekanan karena terancam oleh makhluk-makhluk buas bernama Kabane.

Kabane adalah sebutan untuk mayat-mayat hidup yang memiliki jantung menyala di dada. Jantung tersebut sulit ditembus karena terlindung di balik sangkar-sangkar logam. Dengan ketahanan tubuh yang melampaui manusia biasa, Kabane selalu berusaha memburu dan memangsa manusia. Mereka yang tewas dengan gigitan Kabane akan mengalami semacam mutasi biologis dan selanjutnya akan bangkit kembali sebagai Kabane.

Untuk berlindung dari Kabane yang berkeliaran di alam liar, umat manusia di Hinomoto berlindung di balik kota-kota berdinding besar yang disebut Stasiun. Setiap Stasiun terhubung lewat jaringan rel kereta-kereta uap berlapis zirah yang disebut Hayajiro. Umat manusia mempertukarkan barang-barang kebutuhan pokok lewat transportasi melalui Hayajiro ini. Namun demikian, itu tak berarti Hayajiro selalu aman dari ancaman Kabane.

Cerita Kotetsujou no Kabaneri dibuka di sebuah Stasiun bernama Aragane. Ada salah satu Hayajiro yang mereka andalkan terlambat dari jadwal, karena telah jatuh dalam serbuan Kabane. Lalu memanfaatkan kereta yang masih melaju, Kabane berhasil masuk ke balik dinding-dinding Aragane dan menciptakan kepanikan massal.

Di tengah kekacauan, segelintir penduduk memutuskan untuk menyelamatkan diri dalam Kotetsujou, Hayajiro satu lagi milik Aragane yang masih tersisa. Salah satu yang terlibat dalam upaya itu adalah Ikoma, seorang pandai besi uap muda,  yang di samping berhasil membuat penemuan peluru jet yang mungkin bisa membalikkan perang melawan Kabane, tanpa sengaja mengalami sesuatu yang membuat kemanusiaannya diragukan…

Di Tengah Uap di Hari Itu

Kotetsujou no Kabaneri pada dasarnya berkisah tentang bagaimana Ikoma, dan sesama pengungsi lainnya dari Aragane, berusaha menemukan tempat aman dari Kabane, menggunakan kereta Kotetsujou yang mereka tumpangi. Premisnya menarik, walau sedikit soal itu baiknya aku singgung lagi di bawah.

Berhubung ada banyak pihak dari berbagai kalangan, ada banyak konflik yang kemudian pecah. Tapi konflik terbesar terjadi berkenaan status Ikoma sebagai Kabaneri, semacam manusia campuran Kabane, yang diperolehnya sebagai hasil penanganan darurat yang diberikannya pada dirinya sendiri saat ia tergigit Kabane.

Ikoma—yang sebelumnya adalah pemuda lemah berkacamata, yang dipandang agak terlalu banyak omong oleh orang-orang di sekelilingnya—mengetahui kalau dirinya Kabaneri dari seorang anak perempuan misterius bernama Mumei (‘tak bernama’), yang ikut terbawa dalam rombongan yang menyelamatkan diri. Mumei sekilas terlihat seperti anak-anak biasa. Tapi ternyata ia memiliki kekuatan fisik luar biasa yang membuatnya sangat handal dalam menghadapi Kabane. Sebelumnya, berbahaya atau tidaknya Ikoma teramat dicurigai. Orang-orang yang melindungi dirinya hanya sahabatnya sesama pandai besi uap, Takumi, serta gadis remaja kawan lama mereka berdua, Kajika. Tapi berkat pengakuan Mumei, yang membeberkan bahwa Mumei seorang Kabaneri juga, Ikoma akhirnya diterima sebagai bagian dari pengungsi, meski tidak secara mudah.

Mumei sebelumnya tergabung dalam rombongan bangsawan yang datang untuk menemui pemimpin Aragane. Tapi dalam kekacauan yang terjadi, mereka yang tersisa hanyalah Ayame, putri keluarga samurai pemimpin Aragane; serta pengawalnya yang sangat protektif terhadapnya, seorang bushi ahli pedang bernama Kurusu.

Meski kelayakannya sempat dipertentangkan, Ayame tetap diakui sebagai penyatu orang-orang di Kotetsujou selaku statusnya sebagai penyandang kunci mesin lokomotif. Lalu keputusannya yang kontroversial untuk mempercayai kemanusiaan Ikoma dan Mumei, mungkin saja pada akhirnya akan menentukan keselamatan mereka semua.

Lelah oleh Jawaban yang Diperoleh dari Mengikuti Orang

Susah untuk tak terkesima pada Kotetsujou no Kabaneri, terutama pada tujuh episode awalnya. Buatku, bagian awal Kotetsujou no Kabaneri seolah mengisyaratkan ‘kematangan’ dari orang-orang yang terlibat dalam pembuatannya. Aku seperti bisa melihat ‘DNA’ dari karya-karya sebelumnya dari para staf yang terlibat.

Mungkin aku agak berlebihan, tapi beberapa anime yang elemen-elemennya seolah bisa kulihat di Kotetsujou no Kabaneri antara lain:

  • Attack on Titan, yang juga menjadi keluaran pertama dari studio yang memproduksinya, Wit Studio, serta disutradarai oleh Araki Tetsuro.
  • High School of the Dead, yang juga disutradarai Araki-san dan terlihat pada eksekusi adegan-adegan melawan Kabane-nya.
  • Death Note, yang tetap bisa menegangkan meski menonjolkan dialog, yang juga disutradarai Araki-san, dalam bentuk cara pandang para karakternya.
  • Guilty Crown, yang disutradarai Araki-san dan dipenai Okouchi Ichirou yang juga menaskahi seri ini, yang terlihat dari penggalian konfliknya.
  • Valvrave the Liberator, yang naskahnya dipenai Okouchi-san lewat perkembangan perpolitikannya.

Jadi seolah, mereka mewujudkan elemen-elemen khas dari seri-seri tersebut dengan cara yang lebih ‘elok’ dibandingkan sebelumnya. Karenanya, meski aku sempat waswas soal beberapa hal, aku tetap jadi punya pengharapan lumayan terhadap perkembangannya.

Kualitas presentasinya keren. Ini tertuang lewat musiknya yang menggugah serta penganimasiannya yang dinamis. Terutama membuatnya mencolok adalah desain karakter buatan ilustrator veteran Mikimoto Haruhiko yang karya-karya khasnya sudah lama sekali tak terlihat.

Mikimoto-sensei terutama dikenal sebagai desainer karakter dari seri Macross yang orisinil, dan beliau punya goresan garis halus yang benar-benar khas. Karya-karya ilustrasi beliau yang lebih modern, yang ditampilkan dalam seri ini, terlihat benar-benar cantik, dan menampilkan kesan yang belum pernah ditemui dalam seri-seri anime lain.

Sayangnya, bicara soal lima episode sisanya… singkat kata, perkembangan ceritanya kurang sesuai pengharapan kebanyakan orang. Aku takkan sampai bilang kalau ceritanya hancur sih. Tapi besarnya potensi yang episode-episode awalnya miliki memang luar biasa. Sebenarnya, ini yang sempat membuat aku dan sejumlah penggemar lainnya lumayan waswas juga. Dalam durasi episode yang terbilang tak banyak, seri ini membangun pengharapan pemirsa sedemikian rupa sampai kita dibuat ragu apakah stafnya benar-benar mampu mewujudkannya atau tidak.

Ada yang berpendapat bahwa hasil demikian karena stafnya terlanjur ‘kehabisan stamina.’ Tapi entah ya. Aku agak kurang setuju. Aku pribadi lebih mendapat kesan kalau staf produksinya sebenarnya punya rencana untuk mengembangkan ceritanya dan mereka mampu mewujudkannya, tapi pengharapan mereka sirna karena hal-hal di luar kuasa mereka.

Aku membayangkannya:

“Kita jadi lanjut?”

“…Maafkan aku. Pada akhirnya, kita tetap cuma dikasih satu cour! Pihak sponsor tak menyanggupi!”

“Apaaa? Terus? Jumlah episode yang sekarang?”

“…Dua belas. Maafkan aku!”

“Urgh! Sial. Siaaaaaaaaal. Ya sudah. Seenggaknya bukan sebelas!”

Dan akhirnya, mereka memilih rute cerita yang memang sudah mereka siapkan kalau ceritanya harus dituntaskan dalam 12 episode, sekalipun mereka tahu alternatif cerita yang mereka pilih ini tak sebagus alternatif cerita satunya yang sudah mereka siapkan. (Rute yang akhirnya mereka pilih ini menjelaskan siapa Mumei, tapi tak benar-benar menjelaskan dari mana asal mula Kabaneri.)

Aku mendapat kesan demikian karena berbeda dari episode-episode awalnya, ada kesan yang begitu worksmanship pada episode-episode menjelang akhir. Dalam artian, mereka membuatnya dalam cara yang seperti terlalu mengikuti aturan atau buku petunjuk yang mereka tahu. Masih bagus, tapi polesan dan semangat yang sebelumnya ada seakan hilang. Hasil jadinya tetap tak buruk, tapi tetap terasa tak sebagus episode-episode awalnya.

Aku curiga pihak sponsor mengucurkan dana sedemikian dengan harapan seri ini bisa sefenomenal Attack on Titan. Lalu meski tanggapan terhadap seri ini positif, reaksinya tak sebesar yang mereka harapkan. Karenanya, akhirnya para sponsor memilih mundur dan jadi mengendorkan semangat tim produksinya.

…Tapi entahlah. Itu hanya pendapatku pribadi.

Bagaimanapun, Okouchi-san sejak dulu memang punya kecendrungan memasukkan kejutan-kejutan secara tiba-tiba, alih-alih mengembangkan cerita berdasarkan fondasi-fondasi yang sebelumnya dibangun. Jadi jangan terlalu berharap beliau sudah berubah.

Yah, sekali lagi, hasil akhirnya bisa lebih buruk sih.

Kupu-kupu Roh

Selebihnya, terlepas dari semua kelemahannya, ada banyak hal menarik pada Kotetsujou no Kabaneri.

Latar dunianya, yang merupakan gabungan Jepang kuno dengan mesin-mesin uap, memiliki estetis yang khas. Nuansa perjalanan pakai kereta yang sempat dominan memberikan banyak pemandangan alam yang indah. Aku terutama lumayan kecewa pas sadar kalau perjalanan pakai kereta mereka takkan sampai benar-benar mengelilingi Hinomoto.

Karakter-karakternya menarik dan simpatik; ini sebenarnya mencakup juga para tokoh antagonis yang kemunculannya sempat dipandang sebagai ‘perusak’ cerita Kabaneri. Dalam hal ini, Biba, sang putra Shogun yang menginginkan pemberontakan, serta orang-orang yang mendukungnya, yang juga menjadi pihak yang pernah menampung Mumei. Ini cukup mengesankan kalau mengingat durasi kemunculan mereka terbilang terbatas.

Aksinya, yang terwujud lewat kombinasi teknik bela diri, senjata-senjata pedang, dan senapan-senapan bertenaga uap, benar-benar seru. Meski tak sebanyak yang diharapkan, ini terbawa lewat pembangunan suasana yang kuat.

Ada aksi-aksi akrobatik dan permainan pistol Mumei. Ada permainan pedang Kurusu. Ada bagaimana Mumei mengingatkan Ikoma akan mendiang adik perempuannya yang tewas oleh Kabane. Ada ketabahan hati Ikoma yang perubahannya menjadi Kabaneri sekaligus membuatnya sebagai pahlawan. Ada perasaan terpendam Kurusu terhadap Ayame. Ada kesepakatan antara Ayame dengan para Kabaneri untuk keselamatan mereka. Ada teriakan lantang “Rokkon Shoujo!” yang mendatangkan harapan bila terucap (Aku dengar ini istilah yang berasal dari ajaran Shinto? Biasanya diucapkan oleh para pendaki gunung saat mereka sampai ke puncak. Artinya kira-kira ‘pemurnian/pembersihan kembali enam indera’). Ada penyesalan Takumi karena gagal membela Ikoma. Ada calon masinis muda Yukina, seorang perempuan pendiam tapi perkasa, yang harus tampil ke permukaan. Lalu ada semacam asisten Yukina, Sukeri, yang punya masalah sikap tapi tetap kagum dan patuh pada Yukina. Lalu Kabanenya, seiring perkembangan cerita, semakin terlihat sebagai lawan-lawan mengerikan. Sayangnya, semua hal tersebut seperti tak berujung ke kesimpulan yang memuaskan.

Karenanya, mungkin agak susah merekomendasikan judul satu ini. Namun di sisi lain, di dalamnya ada banyak hal menarik yang bisa sangat berkesan.

Tak biasa untuk cerita-cerita Okouchi-san (yang membuatku sempat mengira beliau semakin matang), ada tema-tema soal perjuangan hidup, soal memaafkan, dan soal perbedaan orang-orang yang kuat dan orang-orang yang lemah. Maksudku, aku terkejut dengan kehadiran tema-tema ini, karena seriusan, ini biasanya tak muncul dalam cerita-cerita beliau. Kalaupun muncul, biasanya tak tergali sedalam ini. Namun sekali lagi, ini semua sayangnya agak hilang di sepertiga akhir cerita. Lalu menyakitkannya, ini juga hilang bersama agak sirnanya elemen-elemen aksinya.

Yah, aku tetap berharap ini pertanda tren lebih baik di masa akan datang sih.

Lagu penutup “Ninelie” yang dinyanyikan bersama oleh Aimer dan Chelly benar-benar sesuatu yang melarutkan untuk didengar. Lalu bagi beberapa orang, bisa tahu tentang lagu ini semata sudah jadi cukup alasan untuk tak menyesal dengan seri ini. (Iya, komposisi Sawano-san memang sekeren itu.)

Akhir kata, ini tetap menjadi salah satu seri paling menonjol di musimnya. Jadi meski kurang memuaskan, seri ini tetap patut dilihat bagi yang tertarik.

Bagian akhirnya kurang kuat. Lalu seperti kekhasan Okouchi-san, ada beberapa hal yang terasa sulit masuk akal. Ditambah lagi, tema utamanya agak bergeser. (Walau memang berhasil menjelaskan semua plot ceritanya sih.) Tapi separuh cerita awalnya benar-benar bagus.

Sebagai tambahan, season kedua Attack on Titan sudah direncanakan untuk tahun depan. Kalau mengkaji dari perkembangan cerita di komiknya, hasil akhirnya kelihatannya bisa luar biasa.

Edit, September 2016

Tambahan lainnya.

Sudah diumumkan akan ada dua film layar lebar kompilasi dari Kabaneri yang akan dibuat. Aku agak kecewa karena bukan sekuel, tapi mudah-mudahan versi ini akan memperbaiki sejumlah isu penceritaan di seri TV-nya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

13/07/2016

Date A Live Movie: Mayuri Judgement

Aku belum pernah cerita kalau salah satu hal berkesan buatku di anime Date A Live II adalah peran Zougou Saeko sebagai Itsuka Shiori.

Shiori adalah alter ego si tokoh utama (yang diperkenalkan sebagai kerabat jauhnya), Itsuka Shidou, saat ia harus menyamar sebagai perempuan dalam misinya mendekati penyanyi populer Izayoi Miku. Miku ceritanya waktu itu masih baru diduga sebagai Spirit, dan waktu itu pula dipandang sebagai pembenci laki-laki. Ada misi penyusupan yang harus Shidou lakukan, yang sampai membuatnya terisolir dari teman-temannya. Lalu, baik dalam situasi agak tenang maupun genting, Zougou-san benar-benar berhasil menghidupkan perannya. Suaranya kayak punya nada yang pas gitu, sekilas masih terdengar seperti suara laki-laki, tapi di saat yang sama, juga cocok sebagai suara perempuan.

Aku malah sampai sempat mengira kalau yang menyuarakan Shiori masih adalah Shimazaki Nobunaga saking alaminya nuansa cowok dalam suaranya.

Yah, mungkin itu cuma aku aja.

Terlepas dari itu, aku berkesempatan melihat Gekijouban Date A Live: Mayuri Judgment belum lama ini. Buat yang belum tahu, ini adalah film layar lebar dari seri Date A Live yang merupakan sedikit kelanjutan dari cerita di season kedua animenya.

Buat para penggemarnya, Date A Live II termasuk adaptasi yang agak mengecewakan karena durasinya yang cuma 10 episode. Tapi di sisi lain, season ini juga masih memuaskan karena perkembangannya yang semakin rame. Melihat ke belakang sekarang, waktu itu ceritanya memang berakhir di posisi yang tanggung. Seri novelnya pas baru lagi memasuki perkembangan cerita besar-besaran pada titik itu (ceritanya baru akan memasuki bab tentang Angel baru bernama Natsumi, yang di waktu yang sama menggambarkan konsekuensi dari menumpuknya kekuatan para Spirit dalam tubuh Shidou; lalu baru sesudahnya masuk ke bagian cerita yang sudah lama ditunggu tentang masa lalu Tobiichi Origami). Lalu untuk seri sejenis ini, budget untuk menganimasikan cerita di novelnya sampai sejauh itu pasti dipandang terlalu besar.

Apa Date A Live masih bakal ada season ketiganya? Kemungkinannya kayaknya kecil sih. Tapi kita lihat saja perkembangan ke depan.

Sesuatu di Langit

Mayuri Judgement mempunyai cerita yang lebih sederhana dari perkiraanku.

Berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua, pada suatu hari saat bangun tidur, Shidou dengan terkejut mendapati adanya semacam cakram raksasa yang melayang-layang di langit kota Tengu. Anehnya, cakram tersebut ternyata hanya bisa dilihat oleh Shidou seorang.

Menaruh kecurigaan, adik perempuan Shidou, Itsuka Kotori, menugaskan para stafnya di organisasi Ratatoskr untuk melakukan penyelidikan. Meski nyatanya mereka memang tak bisa melihat apa-apa, mereka menemukan bahwa memang ada sesuatu di sana, yang tersusun oleh gabungan pola gelombang kekuatan roh dari para Spirit yang telah tersegel kekuatannya: Yatogami Tohka, Yoshino, Itsuka Kotori, si kembar Yamai Kaguya dan Yamai Yuzuru, serta Izayoi Miku.

Untuk menstabilkan apapun hal tersebut, dan sekaligus untuk mencegah kemungkinan terjadinya gempa angkasa berkekuatan dahsyat, maka diputuskan bahwa operasi kencan bersama para Spirit harus kembali Shidou lakukan untuk menstabilkan campuran kekuatan ini. Sesudah masing-masing Spirit mengambil undian untuk menentukan urutan, jadwal kemudian disusun dan rencana kembali dijalankan.

Namun anehnya, sesosok gadis tak dikenal, yang kembali seolah hanya bisa dilihat oleh Shidou pada waktu-waktu tertentu, mulai membayang-bayangi kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan.

Invisible Date

Bicara soal teknis, Motonaga Keitaro kembali sebagai sutradara. Naskahnya ditangani Shirane Hideki. Musiknya ditangani oleh Sakabe Go. Mungkin karena itu, baik dari segi audio maupun visual, kualitas film layar lebar ini menurutku sangat mendekati kualitas seri TV season keduanya. Ini sempat membuatku sedikit aneh karena kualitas OVA Date A Live perasaan agak melebihinya dalam beberapa segi. Tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Dari segi ceritanya sendiri, movie ini benar-benar terasa lebih seperti fanservice. Kayak, semacam cerita sampingan yang dibuat sedemikian rupa agar tak merusak alur cerita dan momentum di seri novelnya (yang sekali lagi, memang terputus pas lagi rame-ramenya). Karakter gadis misterius Mayuri (beserta semacam ancaman atas kehancuran dunia yang ditentukan lewat hasil penilaian Mayuri atas Shidou) sempat kupikir akan menjadi sorotan di film ini. Namun nyatanya, dengan konsep ceritanya, setiap karakter terdahulu mendapat porsi sorotannya masing-masing. Lalu walau tak menambahkan apa-apa yang signifikan dari segi substansi, buat para penggemarnya, movie ini masih termasuk menarik untuk dilihat.

Jadi, yeah, ini jenis anime yang memang khusus diperuntukkan bagi para penggemarnya.

Ada kapal induk Fraxinus yang baru. Para Spirit mendapat Astral Dress versi baru yang mereka kenakan dalam klimaks. Adik perempuan kandung Shidou, Takamiya Mana, yang kini berpihak pada Ratatoskr, turut beraksi. Tobiichi Origami, yang masih dirawat di rumah sakit sesudah konflik melawan DEM, tak mau kalah dari para gadis lain. Tokisaki Kurumi—satu-satunya Spirit yang telah muncul tapi belum tersegel—muncul kembali dan menjadi petunjuk kunci(?) bagi Shidou untuk menjalin kontak dengan Mayuri. Teman-teman sekolah Shidou tampil kembali. Shidou terpaksa harus jadi Shiori kembali. Lalu dalam pertempuran terakhir melawan Kerubiel yang lepas kendali (yang terjadi karena emosi bawah sadar yang tak sepenuhnya berada di bawah kendali Mayuri), Tohka melakukan dual wield yang secara dramatis menjadi adegan penentuan.

Dengan kata lain, kalau kau bukan penggemar seri Date A Live, kemungkinannya kecil kau bisa menikmati film ini.

Jadi, uh, yah, begitu.

…Sebenarnya, enggak banyak yang bisa kukomentari juga. Tapi intinya, aku masih termasuk yang lumayan bisa menyukainya.

“Karena menjumpaimu, aku tak lagi terlahir hanya untuk menghilang.”

Sedikit tambahan untuk mereka yang ingin tahu perkembangan seri novelnya: kebencian Origami atas para Spirit terungkap lewat bagaimana ia kemudian menjadi Spirit juga dalam suatu perjalanan ke masa lalu. Lalu dalam bagian cerita terbaru, terungkap pula bahwa sosok yang selama ini Kurumi lacak ternyata adalah Spirit kedua, Honjou Nia, yang selama ini rupanya disegel oleh pihak DEM.

Nia pula yang ternyata satu-satunya orang yang memiliki informasi tentang Spirit pertama yang telah melahirkan para Spirit lainnya, yang pemanggilannya berakibat pada gempa angkasa paling pertama yang mengguncang Asia Tengah di awal cerita. Spirit pertama ini yang rupanya dilacak semua pihak untuk mengungkap tentang asal usul mereka.

Yah, meski Date A Live dari dulu terutama menonjolkan aspek komedi dan haremnya, yang sebenarnya membuatku bertahan mengikutinya adalah kehadiran aksi dan intriknya yang kadang melampaui perkiraan.  Enggak sepenuhnya bisa dibilang bagus. Tapi entah ya, buatku jadinya selalu menarik.

Sebenarnya, ada satu hal lain yang kusadari dari mengikuti anime ini.

Ini enggak penting sih. Tapi meski aku mengerti bagaimana tujuan dari ‘kencan’ adalah meluangkan waktu secara menyenangkan bagi kedua belah pihak, aku tiba-tiba tersadar bahwa prioritas yang lebih utama sebenarnya adalah untuk lebih saling mengenal.

Yah, mengikuti anime ini menjadi semacam pengingat bagiku soal ini.

Jadi, yang terpenting bukan bagaimana menyenangkan lawan bicara kita. Yang terpenting adalah untuk mengenalnya lebih jauh, dan baru kalau bisa kita membuatnya senang. Maksudku, dalam berhubungan sosial, melakukan kesalahan seperti yang sesekali Shidou lakukan juga tak apa-apa. Asal yang terpenting, maksudmu tulus.

Karena aku tak kesampaian mengenal Mayuri lebih jauh, mungkin karena itu juga aku merasa agak terganggu.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B-