Lanjut ke konten
Iklan

Posts tagged ‘drama’

Darling in the Franxx

Kehilangan tujuan hidup itu menakutkan.

Mungkin itu enggak kebayang kalau kalian masih remaja. Tapi, jujur, itu suatu hal yang mengerikan.

Kehilangan tujuan hidup berujung pada retaknya identitas.

Retaknya identitas berujung pada hilangnya makna/arti keberadaan.

Bila tak berarti, kau tak lagi diperlukan.

Kalau kau tak diperlukan, kau ada atau enggak, enggak ada bedanya.

Kau hidup atau mati, enggak ada bedanya.

Kau tiba-tiba mati pun tak apa-apa.

Pikiran yang berlangsung itu kira-kira kayak gitu. Itulah alasan kenapa kasus-kasus PHK dan tuna wisma (terutama di luar negeri) bisa menjadi musibah besar. (Dan disusul kasus-kasus bunuh diri.)

Darling in the Franxx adalah anime yang dengan apik sempat berhasil memaparkan soal kehilangan tujuan hidup.

Darling in the Franxx merupakan proyek anime mecha drama romansa orisinil, diproduksi lewat kolaborasi Studio Trigger dan CloverWorks. (Sebelumnya, A-1 Pictures; studio cabang A-1 Pictures yang menangani seri ini berubah status menjadi independen di pertengahan masa produksi.) Berjumlah total 24 episode dan ditayangkan dalam dua cour, seri ini lumayan menarik perhatian (kontroversial) pada paruh awal 2018.

Sutradara Darling in the Franxx adalah Nishigori Atsushi (sebelumnya dikenal lewat IDOLM@STER). Naskahnya dikerjakan Nishigori-san barengan bersama Hayashi Naotaka, Ohtsuka Masahiko, Yamazaki Rino, dan Seko Hiroshi (secara bersama menggunakan nama Code:000). Musiknya ditangani Tachibana Asami.

Ada adaptasi manga juga, dengan kualitas lebih bagus dari dugaan, yang dibuat Yabuki Kentaro (mangaka To-Love-Ru!). Ada juga manga lepasan 4-kotak bergenre komedi yang dibuat oleh Mato.

Karena keberhasilannya memaparkan soal kehilangan tujuan hidup di awal cerita, aku langsung merasa bahwa kayak gimanapun hasilnya ntar, Darifura pasti punya ‘sesuatu’ yang bagus.

Aku enggak salah sih.

Tapi, bagus enggaknya seri ini ternyata lumayan patut diperdebatkan.

Selain soal pemaparan temanya, lagu pembukanya, “Kiss of Death”, yang dinyanyikan Nakashima Mika, ngemunculin nuansa yang jarang kamu temuin di anime-anime lain. Secara mencolok, lagu itu diproduksi Hyde. Hyde adalah musisi Jepang ternama yang menjadi pentolan band L’Arc-en-Ciel. Perlu kuakui, sebagian daya tarik seri ini juga berasal dari lagu tersebut.

Jadiiiii, meski mengangkat tema demikian, berhubung Studio Trigger yang memproduksi, pasti ada elemen komedi mirip kartun khas mereka ‘kan? Elemen komedinya itu ada, tapi itu dibarengi dengan porsi drama yang sangaaaat banyak.

Kalau boleh jujur, sewaktu Darifura pertama diumumkan di panel AX 2017, kebanyakan pemerhati tak yakin bagaimana harus bereaksi. Di satu sisi, isu yang diangkat itu kayaknya serius. Di sisi lain, mengenal kecendrungan Trigger, kita sebagai fans juga pengen teriak, “Kalian tuh serius enggak sih?!”

Kesan meragukan tersebut ternyata tetap bertahan bahkan sesudah seri ini tayang.

Sangkar Burung

Darifura dibuka dengan perkenalan terhadap Hiro.

Hiro, yang secara resmi dikenal dengan nama Code:016, adalah anak remaja yang merupakan satu dari sekian banyak anak Parasite yang hidup dan dibesarkan bersama. Anak-anak Parasite diindikasikan tercipta melalui proses rekayasa genetik (jadi, bukan dilahirkan secara alami). Bersama, mereka dibesarkan di suatu instansi rumah taman bernama Mistilteinn.

Di awal cerita, Hiro sedang memikirkan nasibnya karena gagal dalam suatu ujian yang instansi berikan. Sementara, semua temannya yang lain lulus.

…Agak, susah menceritakan detilnya.

Pokoknya, adegan pembuka ini, yang secara puitis memaparkan perasaan Hiro, kayak bisa mengingatkan kamu sama sejumlah hal berbeda, tergantung kamu orang yang kayak gimana (makanya, anime ini berakhir jadi sesuatu yang kontroversial). Tren ini berlanjut di sepanjang seri (baik dalam arti baik maupun buruk). Maka dari itu, terlepas dari apa kau bisa menyukainya atau enggak, Darifura tetap bisa berakhir jadi sesuatu yang berkesan.

Meski galau dan bimbang, di permukaan, Hiro terbilang tenang. Dia sangat tenang dan tetap sopan. Dia tak marah. Dia tak meledak-ledak. Dia hanya… sangat kecewa, mungkin? Jadinya, dia secara halus menolak simpati teman-temannya, dan kemudian memutuskan untuk menyendiri. Sehingga, walau kita belum terlalu kenal Hiro, ada nuansa manusiawi (yang di awal) lumayan berhasil dipaparkan.

Pemaparan psikologis dan suasananya itu keren.

Mirip gaya arahan di Neon Genesis Evangelion.

Hiro ingin menyendiri. Kemudian, di tengah hutan, dia kebetulan berjumpa sesosok gadis lebih tua berambut pink bernama Zero Two. Lalu, dari sanalah, cerita ini berjalan.

Singkat cerita, latar Darifura adalah dunia pasca bencana di mana tanah di seluruh dunia kering kerontang. Umat manusia hanya bisa hidup dalam kota-kota besar berkubah yang terus berpindah bernama Plantation.

Plantation bergerak dengan mengandalkan sesuatu yang disebut magma energy. Namun, untuk bisa menggunakan magma energy, umat manusia harus berhadapan dengan makhluk-makhluk buas yang disebut Klaxosaur (Kyoryuu).

Di sinilah anak-anak Parasite itu berperan.

Untuk menghadapi Klaxosaur, yang dapat diandalkan hanyalah mecha-mecha raksasa Franxx (yang nyata-nyata digambarkan lebih mirip perempuan raksasa ketimbang mesin). Franxx ini hanya bisa dikemudikan berpasangan oleh anak-anak Parasite, seperti Hiro dan kawan-kawannya.

Karena gagal dalam ujian kelulusan penentuan untuk bisa memiloti Franxx ini, Hiro—yang sebelumnya dipandang sebagai murid paling berpotensi di antara teman-temannya—menjadi merana. Hiro tak bisa mencapai tingkat sinkronisasi yang dibutuhkan dengan partnernya, Naomi (Code:703) untuk bisa mengendalikan Franxx. Karena dinilai gagal, keduanya akhirnya mau dikesampingkan dan “dipindahkan” ke luar Plantation.

Namun, sesudah bertemu Zero Two, dan ada Klaxosaur tiba-tiba menyerang, Hiro ternyata terbukti masih bisa memiloti Franxx, asalkan partnernya adalah Zero Two.

Situasipun berubah.

Keputusan Hiro untuk dipindahkan dari Mistilteinn pun tertunda.

Penyebabnya, yang sekaligus jadi akar masalah utama seri ini, adalah bagaimana kemudian terungkap juga bahwa dari pengalaman lalu-lalu, siapapun yang berpartner dengan Zero Two sebagai pilot Franxx pada akhirnya akan tewas lebih awal dari waktunya.

Itu nasib agaknya akan kelak dialami Hiro juga bila bersikeras berpartner dengan Zero Two.

Mati Dengan Arti Lebih Baik Ketimbang Hidup Tanpa Arti

Membahas soal teknis dulu (karena itu yang paling gampang diangkat), presentasi Darifura benar-benar keren. Kalau menilai dari key visual-nya saja memang enggak terlalu kelihatan. Apalagi, dengan gaya desain karakter yang dipakai. Tapi, kalau melihatnya dalam bentuk animasi, Darifura memiliki visual apik dengan pemilihan warna yang selalu pas. Desain karakternya simpel, tapi dengan kuat menunjukkan identitas masing-masing karakter sekaligus beragam ekspresi mereka.

Kerasa bagaimana ada banyak simbolisme ditampilkan dalam adegan-adegannya, yang sekali lagi, mengingatkan pada anime-anime psikologis lawas dari Gainax (yang menjadi awal mula Trigger), macam Neon Genesis Evangelion atau Kareshi Kanojo no Jijou. Baik dalam nuansa warnanya, penataan audionya, dan sebagainya. (Tapi, tidak sampai kayak di Shoujo Kakumei Utena.)

Saking udah lamanya enggak ada lagi anime (mecha) psikologis kayak begini, aku seriusan susah mengatakan Darifura sebagai anime yang jelek.

Mengecewakan? Mungkin iya.

Aneh? Agak mesum? Jelas!

Tapi jelek? Kayaknya enggak.

Salah satu hal berkesan dari presentasi Darifura adalah pada bagaimana pada adegan-adegan dramatis tertentu, visualnya akan mendadak berubah jadi layar lebar gitu. Bagian atas dan bawahnya dipotong, sehingga cakupan pandangan kita dipersempit secara vertikal dan diperlebar secara horizontal. Efeknya secara emosional benar-benar keren. Terutama dengan beragamnya tema yang seri ini berusaha angkat.

Tema-tema Darifura setahuku meliputi:

  • Soal menjalani hidup panjang tanpa makna atau menjalani hidup pendek dengan makna.
  • Soal menerima kenyataan dan keikhlasan melepas hubungan masa lalu.
  • Soal makna peradaban manusia.
  • Soal membesarkan anak dan makna punya keturunan.
  • Soal seksualitas dan mengenal lawan jenis.
  • Soal pelampiasan amarah bila masa lalu kamu enggak enak, dsb.

Sayangnya, meski sangat apik menghadirkan hal-hal tersebut per episode, dalam gambaran besarnya, Darifura kurang berhasil menyatukan itu semua. Jadinya, Darifura di akhir berkesan kayak proyek yang enggak benar-benar jelas mau tentang apa. Ini terjadi meski berhasil memaparkan semua temanya secara baik (dan bahkan sampai berulangkali menuai kontroversi dan meme segala).

Namun, kalau membayangkan apa yang seri ini berhasil capai, menurutku ini tetap seri yang berhasil kok. Maksudku, sangat jarang ada anime kolaborasi dua studio yang berakhir sebagus ini. (Terlepas dari sejumlah penundaan yang episode-episodenya alami.)

Di samping itu, dengan luasnya cakupan tema yang ada, seakan sudah terjamin sejak awal bahwa akhir ceritanya memang takkan memuaskan.

Dalam perkembangannya, cerita Darifura tak lagi seputar hubungan antar karakter dan rahasia-rahasia yang tersembunyi dari permukaan. Temanya pada suatu titik berubah jadi soal serangan alien! Semua drama dan kegalauan soal cinta dan persahabatan di paruh awal tergantikan dengan kegentingan soal serbuan alien! (Dalam hal ini, ras luar angkasa spiritual VIRM yang dikisahkan pernah menyerang bumi di masa lalu.)

Maksudku, memang ada misteri-misteri yang jadinya terjawab. Tapi, tetap saja, itu jadinya luar biasa aneh ‘kan? Hanya saja, berhubung cerita Darifura memang sudah aneh sejak awal, kita tak jadi benar-benar kaget.

Malah, aku lebih kaget dengan kenyataan bagaimana ceritanya berakhir dengan semacam penghormatan terhadap Gunbuster—anime mecha klasik Gainax yang lain, terkenal karena memaparkan satu robot raksasa di luar angkasa yang melawan sepasukan alien di tempat yang sangat jauh dari Bumi—ketimbang memberikan tamat membingungkan khas Gainax (Gainax Ending) ala seri TV Neon Genesis Evangelion.

Argh. Aku udah ngomong kepanjangan.

Intinya, susah untuk diskusi soal Darifura secara adil. Mungkin kalian suka. Mungkin kalian benci. Potensinya luar biasa besar di awal, tapi semua berakhir dengan… yah, aneh.

Burung-burung Bersayap Satu

Berlanjut ke soal mecha.

Kita tak bisa membahas soal mecha-mecha Darifura tanpa membahas soal para karakternya.

Alasannya karena… uh, ini juga jadi salah satu poin konrtoversial seri ini.

Untuk memiloti, para cewek seakan harus ‘menyatu’ dengan mecha Franxx dan kemudian baju pilot mereka menjadi antarmuka kendali(!) bagi para cowok dalam kokpit sempit yang sama. Pokoknya, jadinya ada kesan benar-benar mesum (karena buat mengendalikan Franxx, para pilot cowok jadi harus memegang pegangan di pantat partner cewek mereka), sekalipun para karakternya dikisahkan sangat awam seputar seks.

Kukatakan saja.

Seluruh perkembangan karakter yang Hiro alami, dengan mechanya sebagai metafora, bahkan bisa dilihat sebagai alegori seorang cowok yang mengalami disfungsi ereksi dan mendapati diri jadi hanya bisa berhubungan bersama seorang cewek yang kelakuannya kurang baik.

Ya, JELAS SAJA jadi kontroversi!

Sayangnya, kalau kita mau mengesampingkan semua itu pun, aspek mecha Darifura sebenarnya tak bisa dibilang memuaskan. Menarik sih. Animasinya lumayan enak dilihat. Hanya saja, karena kesannya yang organik, yang suka visual-visual berbau permesinan akan kecewa berat terhadap seri ini.

Ditambah lagi, pertempuran-pertempuran dengan Klaxosaur, meski terkadang keren, kerap terkesan generik.

Klaxosaur digambarkan sebagai makhluk-makhluk abstrak dengan warna hitam atau biru. Mereka memiliki ‘inti’ yang harus bisa dihancurkan kalau mau dikalahkan.

Frekuensi pertempurannya cukup jarang. Kalaupun ada, sekali lagi, yang disorot lebih seputar dramanya, jadi seri ini kurang disarankan bila kalian meminati aksi. Terutama dengan bagaimana potensi untuk adegan-adegan aksi besar itu sebenarnya ada, tapi berakhir kurang tergali. (Meski kalau dibandingkan seri mecha ‘berat’ macam Gasaraki atau Patlabor, kurasa porsi aksinya tetap lebih banyak ini.)

Terlepas dari itu, mecha-mecha Franxx utama beserta para karakter yang mengendalikannya antara lain:

  • Strelizia, bermotif merah, bersenjatakan tombak raksasa berkawat Queen Pike. Dapat berubah menjadi wujud binatang berkaki empat saat pilot cowoknya tewas/pingsan. Dikemudikan oleh:
    • Hiro, Code:016, tokoh utama yang terkesan kosong karena merasa ada sesuatu yang hilang darinya jauh di masa lalu.
    • Zero Two alias Nine Iota, Code:002. Gadis bertanduk dan berambut pink yang liar dan di awal cerita, membenci sekelilingnya. Tengah mencari seseorang yang dia sebut sebagai darling-nya. (‘darling‘: salah satu panggilan sayang terhadap seseorang dalam Bahasa Inggris)
  • Delphinium, bermotif biru, menggunakan sepasang pedang pendek bernama Envy Shop. Berperan sebagai pemimpin pasukan. Dikemudikan oleh:
    • Ichigo, Code:015, gadis berambut pendek yang sebelumnya sangat dekat dengan Hiro, dan menjadi yang paling terpukul dengan kondisi Hiro sekaligus hubungan barunya dengan Zero Two.
    • Goro, Code:056, pemuda jangkung berkacamata yang baik hati dan merupakan teman terdekat Hiro. Diam-diam menyukai Ichigo, tapi menghormati perasaan yang Ichigo pendam terhadap Hiro.
  • Argantea, bermotif pink, mengutamakan kecepatan, bersenjatakan sepasang cakar pelindung tangan Night Claw. Dikemudikan oleh:
    • Zorome, Code:666, anak lelaki pendek dan berisik yang juga gegabah. Sangat kagum terhadap para orang dewasa di Plantation, terutama sosok bertopeng Papa yang membina mereka, dan berharap suatu hari bisa bergabung dengan mereka kelak.
    • Miku, Code:390, gadis berkuncir dua yang sedikit centil. Menganggap Zorome menyebalkan, tapi menerima partnernya apa adanya.
  • Genista, bermotif hijau gelap, dilengkapi lapisan pelindung berat, bersenjatakan bayonet artileri Rook Sparrow yang dapat menimbulkan kerusakan besar. Di awal cerita, dikemudikan oleh:
    • Futoshi, Code:214, anak gemuk yang sangat suka makan. Baik hati dan ceria. Sangat suka pada partnernya.
    • Kokoro, Code:556, lemah lembut dan feminin, cenderung perhatian terhadap orang lain. Menjadi orang pertama yang menyadari kejanggalan-kejanggalan tentang masa depan mereka.
  • Chlorophytum, bermotif ungu, ramping dan dikhususkan untuk pertempuran jarak jauh, bersenjatakan deretan peluncur Wing Span. Di awal cerita, dikemudikan oleh:
    • Mitsuru, Code:326, anak penyendiri yang berkesan tinggi hati. Pernah akrab dengan Hiro di masa lalu.
    • Ikuno, Code:196, perempuan berkacamata yang rapi dan tertutup. Memendam perasaan istimewa terhadap Ichigo.

Hiro dan kawan-kawannya diawasi keseharian dan pendidikannya oleh dua orang dewasa yang hanya dikenal dengan sebutan Nana (perempuan, ramah dan perhatian) serta Hachi (lelaki, pendiam, bersifat logis).

Nana dan Hachi melapor langsung kepada Dr Franxx, alias Werner Frank, ilmuwan legendaris pencipta Franxx sekaligus ahli di bidang magma energy.

Lalu, seiring perkembangan cerita, terungkap berbagai hal tak biasa tentang Hiro dan kawan-kawannya, bahkan dalam ranah dunianya sendiri.

Keunikan mereka semakin kentara sesudah diperkenalkan anak-anak dari kesatuan-kesatuan lain. Khususnya, dari kesatuan elit Nines pimpinan Nine Alpha, pasukan lama di mana Zero Two pernah tergabung, yang sama sekali berbeda dari Hiro dan kawan-kawannya.

Seiring banyaknya pertanyaan tentang siapa Hiro dan kawan-kawannya, apa yang telah terjadi pada dunia, siapa sebenarnya Zero Two, apa sebenarnya organisasi misterius APE, apa iya Hiro akhirnya bakal mati, apa sebenarnya yang sedang terjadi; kita lalu dibawa ke perjalanan aneh seputar hubungan masa lalu yang manusia punyai dengan Klaxosaur.

Pembeberan ini, ujung-ujungnya… tetap aneh.

Bulan Madu Panjang

Kalau ada satu hal tentang Darifura yang jelas unggul, maka itu adalah bagaimana dinamika karakternya berhasil dipaparkan.

Hubungan yang terjalin kompleks. Ada porsi-porsi masa lalu yang terlupakan. Ada dendam-dendam yang belum terbayar. Pemaparan dinamika karakternya beneran luar biasa. (Hubungan Futoshi dan Kokoro, hubungan Ichigo dan Hiro, sampai hubungan Dr Franxx dengan Code:001 mendiang istrinya?) Pemaparan ini sedemikian bisa kena ke orang, dan karenanya terkadang bisa tak nyaman untuk ditonton.

Karena itu, yah, Darifura lumayan susah direkomendasikan. Apalagi dengan bagaimana paruh akhir ceritanya tak sekuat paruh awalnya.

Emang enggak biasa aku menyebut soal tamatnya begini. Tapi, aku merasa perlu menyinggung bagaimana Darifura berakhir dengan keberhasilan kawan-kawan Hiro menghidupkan lagi dunia, serta reuni kembali Hiro dan Zero Two jauh di masa depan.

Itu tamat yang… enggak jelek, tapi terasa kurang pas? Apalagi, dibandingkan segala yang telah terjadi di sepanjang seri ini.

Soalnya… apa ya?

Darifura jadi terasa kayak… hasil eksperimen yang agak lepas kendali.

Awal ceritanya benar-benar berkesan. Aku sangat menghormatinya dengan kemiripan nuansanya dengan Neon Genesis Evangelion. Tapi, memasuki paruh kedua cerita, meski aku mengerti kenapa mereka jadi membuatnya demikian (mereka kehabisan ide?), kesan kuat yang seri ini sebelumnya punya jadi memudar.

Aku tak lagi terkesima olehnya, tapi aku tak sampai bisa membencinya juga. Hanya sebatas… senang bahwa seri ini akhirnya tamat?

Aku paham kehilangan tujuan hidup itu berat. Tapi, sebagai cowok, punya tujuan hidup di samping punya pasangan itu penting.

Malah, sebagai cowok yang mau nikah, aku dengan ini menyatakan bahwa pasanganku mungkin bahkan enggak akan ngelirik aku andai aku enggak punya tujuan hidup. Bukannya tersanjung, dia bahkan mungkin bakal muntah kalau aku bilang tujuan hidupku adalah untuk nikah sama dia.

Makanya, melihat arti hidup Hiro adalah bersanding dengan Zero Two, oke, mungkin itu agak romantis.

Tapi, itu aneh.

Apalagi dalam konteks realistis yang seri ini angkat.

Hiro memang berjuang melawan VIRM demi masa depan umat manusia. Tapi, dalam ceritanya, dia seperti melakukannya lebih agar bisa bersama Zero Two ketimbang alasan lain. (Zero Two seperti punya alasan lebih kuat untuk bisa bersama Hiro, tapi sudahlah.)

Bahkan penayangan SSSS. Gridman di musim ini kini memberikan nuansa Evangelion yang lebih kental dibandingkan Darifura dulu. Sangat disayangkan, karena Darifura menurutku hanya lemah di soal naskah pada bagian-bagian akhir.

Sayang, karakter Hiro tak berkembang lebih jauh.

Aku kecewa dengan bagaimana Hiro tak menamai Zero Two lagi.

Di samping itu, bagaimana Tomatsu Haruka menyuarakan Zero Two juga terasa… tak lazim?

Eniwei, kalau kalian penyuka segala isu soal relationship, mungkin kalian bakal suka Darifura. Kalau tidak, ini bakal jadi seri yang berat untuk dimasuki.

Kayak biasa, apa aku menyesal telah mengikutinya?

Ahahaha.

Kayak biasa, jawabannya enggak.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A;  Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Anime-Gataris

Apa pernah kalian merasa sesuatu itu aneh, tapi kalian enggak yakin alasannya apa? Semua tampak wajar di permukaan. Tak ada yang kelihatan tak normal. Namun, sesudah menggali lebih jauh, terkuak ternyata beneran ada yang aneh dan firasat kalian ternyata enggak salah?

Itulah yang aku alami dengan Anime-Gataris.

Anime-Gataris tayang pada musim gugur (Oktober-Desember) tahun 2017, pada masa-masa ketika aku baru tunangan dan semakin sibuk enggak jelas.  Anime ini dibuat oleh studio animasi Wao World (yang aku asumsikan adalah pemain baru) dengan bekerjasama dengan DMM Pictures. Jumlah episodenya sebanyak 12.

Aku sedang tak selera menonton apapun di masa-masa itu. Sedikit sekali anime yang menarik perhatianku waktu itu. Namun, ada ‘sesuatu’ tentang key visual Anime-Gataris yang membuatku penasaran. Bahkan, terus membuatku kepikiran agak lama sesudahnya.

Kata Sandi

Ringkasnya, Anime-Gataris merupakan suatu anime drama komedi.

Judulnya kira-kira berarti ‘obrolan(-obrolan) seputar anime.’ Selain key visual yang terbilang sederhana (tapi masih enak dilihat), judulnya membuatku tertarik karena terasa seperti apa yang aku coba lakukan lewat blog ini.

Ceritanya berlatar di SMA Sakaneko, yang sekilas terlihat seperti sekolah biasa-biasa saja.

Pada awal tahun ajaran, seorang murid baru bernama Asagaya Minoa—yang tidak tahu apa-apa tentang anime—berkenalan dengan Kamiigusa Arisu, teman sekelasnya yang seorang ojou-sama sekaligus penggemar anime berat (dengan menjentikkan jari, Arisu bisa men-summon butler-nya dalam sekejap di manapun dia berada).

Begitu mengetahui hobi Arisu, Minoa spontan bertanya tentang sebuah  anime yang kebetulan pernah dilihatnya sewaktu kecil. Minoa sempat melihat hanya satu episode saja di TV, tidak ingat/tahu apa judulnya, tapi sedemikian terkesannya oleh anime tersebut sampai-sampai bisa mendeskripsikan adegan-adegannya secara jelas. Anime itu bahkan berulangkali telah sampai terbawa mimpi. Minoa pernah berusaha mencari tahu sendiri tentang anime ini, tapi upayanya tak berhasil.

Arisu bingung dengan anime yang Minoa berusaha deskripsikan. (Sesuatu sesuatu tentang robot raksasa, nyanyian, sesuatu dari tepi danau, dsb.) Tapi, Arisu kemudian terinspirasi untuk meracuni memperkenalkan berbagai judul anime lain pada Minoa agar tertarik dunia anime lebih jauh. Dengan senang hati, Arisu kemudian meminjamkan koleksi DVD/BD anime yang dipunyainya! Lalu sejak saat itu, persahabatan antara mereka terjalin.

Hobi baru Minoa tersebut berujung pada upaya Arisu dan Minoa untuk membentuk kembali Klub Anime SMA Sakaneko yang nampaknya dulu dikenal, tapi kini telah bubar. Mereka mulai mengumpulkan anggota, mengurus perizinan, memeriksa bekas ruang klub yang misterius, dsb. Namun, usaha ini membuat mereka bentrok dengan para pengurus Dewan Siswa, yang secara janggal berusaha dengan segala cara untuk mencegah klub anime kembali.

Ternyata, memang ada suatu konspirasi besar di balik dibubarkannya Klub Anime. Bahkan rahasia ini berhubungan dengan anime misterius yang pernah Minoa tonton tersebut. Gilanya, itu masih bukanlah hal terbesar yang terjadi di seri ini.

Minoa, Katharsis

Anime-Gataris agaknya merupakan proyek pribadi Morii Kenshirou. Beliau berperan sebagai sutradara anime ini, konon berdasarkan pengalaman-pengalaman beliau sendiri semasa mengikuti klub anime semasa sekolah.

Konsepnya kudengar sebenarnya berawal dari rangkaian anime pendek (jadi, kurasa, OVA) berjudul Anime-Gatari (tanpa ‘s’) yang ditayangkan sebagai intermengso film-film animasi Toho Cinemas di Shinjuku dari tahun 2015-2016. Yang ditonjolkan tak lain adalah obrolan kilat seputar anime yang dilakukan para anggota menarik di klub anime di Universitas Tokyo. Produksi seri anime pendek ini dilakukan oleh W-Toon Studio.

Ceritanya juga dapat dipandang sebagai semacam prekuel(?) dari Anime-Gataris karena menampilkan dua karakter Asagaya Maya (kakak kandung Minoa yang berbeda sekolah, yang diam-diam adalah otaku) dan Aoyama Erika (kakak kelas Minoa, yang kemudian menjabat sebagai ketua Klub Anime yang Minoa dan Arisu kembali bentuk) sewaktu mereka SMP.

Karenanya, meski ada misteri, drama, sedikit (sekali) bumbu romansa, dan bahkan maskot kucing yang bisa berbicara (dan tahu tentang seluk-beluk dunia anime!) bernama Neko-senpai di dalamnya, sebagian besar bahasan Anime-Gataris benar-benar seputar dunia anime dan turunannya. Ada bahasan tentang beragamnya jenis anime. Ada bahasan tentang manga. Ada bahasan tentang light novel. Ada bahasan tentang cosplay. Ada bahasan tentang kalangan penggemar di luar negeri. Ada soal comiket, ada soal yaoi dan yuri, soal situasi produksinya saat ini, dsb.

Itu semua dituangkan lewat para karakter yang kemudian menjadi sesama anggota Klub Anime. Erika, sang ketua yang modis, diam-diam menekuni dunia cosplay dan bahkan terkenal namanya. Teman sekelas Minoa dan Arisu yang penyendiri, Kouenji Miko, ternyata penyuka light novel dan ingin bisa menulis novelnya sendiri. Kakak kelas Musashisakai Kai atau Kaikai yang agak chuunibyou adalah penyuka manga. Kakak kelas Mitsuteru Nakano alias Aurora yang tampan dan populer ternyata penyuka seri-seri idol.

Kalau dipikir, banyaknya tema yang berhasil anime ini angkat dalam kurun waktu 12 episode lumayan gila juga.

Semua bahasan ini sayangnya  kurang berujung ke mana-mana, karena ditutup dengan konspirasi misterius seputar anime di sekolah di atas. Tapi, apa yang seri ini coba paparkan kurasa terbilang berkesan karena saking… anehnya.

Yuicching!

Soal teknis, visual seri ini kurang menonjol, tapi enak dilihat. Jelas terlihat bagaimana pengarahannya kuat. Ini didukung dengan audio lumayan, baik dari segi seiyuu maupun BGM.

Kalau ada yang kurang dari anime ini, maka itu kurasa masalah naskah? Anime ini seperti ingin menjadi banyak hal dan akhirnya… enggak jadi apa-apa?

Tapi, serius, meski berakhir berantakan, aku terkesan dengan apa yang anime ini coba bidik. Konsepnya menarik. Karakter-karakternya memang kurang berkembang, tapi enak diikuti. Bahkan hal-hal absurd yang terjadi di sekeliling mereka (seperti bagaimana Obata Yui, sahabat Minoa di Klub Atletik, yang sebenarnya tak punya peran khusus, berulangkali ditampilkan sebagai karakter fanservice) bisa dimaklumi. Dan, meski aku bukan penyuka genre idol, aku enggak bisa enggak sedikit terkesan sama animasi CG penutup di mana Minoa, Arisu, dan Miko sama-sama berperan sebagai idol.

Pokoknya, begitu aku mendengar lagu pembuka “Aikotoba” yang dibawakan Garnidelia, lalu melihat animasi Neko-senpai jadi DJ, aku enggak bisa enggak merasa, wow, ini seri ini pasti punya sesuatu, meski aku enggak tahu ‘sesuatu’ itu apa.

Naskahnya ditulis oleh Hirota Mitsutaka. Musik ditangani oleh Hoashi Keigo dan Takahashi Kuniyuki. Semuanya adalah nama-nama yang enggak aku kenal.

Menelisik lebih jauh, aku sadari kalau ini satu lagi anime yang diproduksi bersama antara Jepang dan Tiongkok. Meski begitu, kesan segala sesuatunya cukup rapi. Kalau kalian bertahan mengikuti seri ini, mungkin… kalian juga bakal agak terkesima dengan arah perkembangannya.

Oke. Mungkin kalian juga bakal dafuq. Jujur aku katakan, ini anime yang berakhir dengan tamat Gainax Ending yang mirip seri TV Neon Genesis Evangelion. Mari kita kesampingkan itu saja dulu. (Setelah aku pikir, ini anime terkini yang mirip kasus Samurai Flamenco? Argh, sudahlah.)

Tapi, serius, sebagai orang yang pernah berkarya kreatif, susah bagiku buat enggak menyukainya. Ada banyak sekali referensi anime terselubung di dalamnya. Aku lumayan lemah dengan referensi-referensi macam begini. Kalau kalian penggemar anime lawas, mungkin akan ada sejumlah hal menarik yang bisa kalian temukan dari anime ini.

Akhir kata, ini kolaborasi langka antara Jepang dan Cina yang aku sukai, tapi bukan karena alasan yang lazim. Aku takkan merekomendasikannya kecuali kalian penggemar anime lawas. Terlepas dari segala keanehannya, kalau kalian memutuskan mengikutinya, mungkin kalian bisa mendapat gambaran lebih utuh, dunia anime itu seperti apa.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: C+; Audio: B; Perkembangan: X; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: X

Code Geass: Akito the Exiled (OVA 4-5)

Belum lama ini, aku kesampaian mengikuti dua episode terakhir Code Geass: Boukoku no Akito.

Singkat kata, dua episode ini menguatkan kesan kalau seri gaiden Code Geass: Akito the Exiled kurang memberikan apa yang biasanya disajikan dari sebuah seri Code Geass. (Yang aku pakai buat perbandingan bukan cuma seri asli Lelouch of the Rebellion ya, tapi juga beragam seri  lepasan Code Geass lain.) Menurutku enggak jelek. Enggak mengecewakan juga. Cuma… mengejutkan dan di luar dugaan?

Aku dengar sejumlah fans agak kehilangan minat terhadap Akito the Exiled begitu cerita memasuki dua episode ini. Sesudah melihat sendiri, aku langsung mengerti. Ada banyak porsi cerita yang jadinya terkesan ‘ditumpahin’ ke dua episode ini. Penceritaannya bisa lebih baik. Di samping itu, ada banyak… ‘elemen misterius baru’ yang jadi diperkenalkan? Tapi, kalau ditanya apa aku suka tamatnya apa enggak, maka jawabannya aku lumayan suka.

Demokrasi Orang-orang Bodoh

Episode 4, From the Memories of Hatred (‘dari dalam kenangan kebencian’) dan episode 5, To Beloved Ones (‘bagi orang-orang terkasih’) sebaiknya diikuti tanpa jeda. Dua episode ini secara berkelanjutan memaparkan penyerangan terhadap Kastel Weisswolf, markas kesatuan W-0 sekaligus tempat tinggal Leila Malcal dan rekan-rekannya, dan sekaligus menjadi klimaks cerita.

Rinciannya agak membingungkan. Tapi, singkatnya, atasan Leila di kemiliteran Euro Union, Jendral Gene Smilas (yang diselamatkan Leila dan Hyuga Akito di episode 1), mengkhianati Leila dengan ambisinya untuk menjadi kaisar. Smilas membeberkan lokasi markas Leila ke pihak Euro Britannia, dan menjadikan kabar kematian Leila sebagai wacana untuk memanipulasi opini publik. (Terutama, sesudah kekacauan terorisme palsu yang Julius Kingsley timbulkan di episode 3.)

Pertempuran sengit di pedalaman Eropa untuk mempertahankan Weisswolf pun terjadi. Kastel telah dikepung, dan tak ada bala bantuan yang bisa diharapkan akan datang.

Di balik itu semua, tanpa sepengetahuan siapapun, Shin Hyuga Shaing, kakak lelaki Akito yang kini memimpin pasukan Euro Britannia, ternyata punya alasan pribadi untuk merebut kastel ini. Dia bermaksud mengambil alih teknologi peluncuran roket Weissworlf, yang kesatuan W-0 sebelumnya gunakan untuk transpor cepat, dan menggunakannya untuk meluncurkan senjata pemusnah massal ke Pendragon, ibukota Britannia. Serangan ini diyakininya akan memicu perang dunia baru antara tiga negara adikuasa, dan mewujudkan cita-citanya untuk mendatangkan kekacauaan atas dunia.

Pergi Berlibur

Buat ukuran anime mecha, Akito the Exiled enggak biasa karena klimaksnya adalah pertempuran untuk bertahan. Kastel Weisswolf menjadi latar menarik bukan cuma karena tempatnya keren, tapi juga karena ikatan emosional yang tempat itu punyai dengan para karakternya, terutama saat tempat itu terancam menjadi medan perang. Bagaimana sistem pertahanan dan permesinan canggih mendadak muncul dari dalamnya lumayan kontras dengan arsitekturnya yang megah dan klasik. Hasilnya seriusan unik.

Juga, konsisten dengan episode-episode terdahulu, presentasi teknisnya masih keren. Animasi mekanik di dalamnya termasuk salah satu yang paling mulus yang pernah aku lihat. Sudut pandang kamera dinamis yang secara intens mengejar para karakter, diikuti musik latar yang heboh, masih menjadi ciri khas. Bagaimana masing-masing Knightmare Frame melewati pepohonan dan dinding, menghadapi berbagai jenis persenjataan berat ataupun arsenal pertahanan, betulan menarik secara visual. Kalau kau penggemar mecha, mungkin ini saja bisa bikin kamu lumayan puas.

Masalahnya, ada banyak individu yang jadi dilibatkan dalam cerita. Mengikuti semua yang persisnya terjadi mungkin agak susah. Banyak tokoh yang sebelumnya minor yang kemudian mendapat sorotan. Jean Rowe, ksatria wanita di pihak Euro Britannia yang memendam perasaan terhadap Shin, berperan signifikan seiring dengan kelakuan Shin yang semakin menggila. Claus Warwick, wakil Leila yang sejak awal memang mencurigakan, akhirnya juga memperlihatkan kesetiaannya yang sesungguhnya. Bahkan Anna Clément, sahabat jenius Leila yang telah mengembangkan KF Alexander Type-02, serta Oscar Hamel, yang berwenang atas penjagaan Weisswolf, juga kebagian sorotan.

Setelah kupikir, banyak benang plot yang sebenarnya terselesaikan dalam cerita. Tapi, mungkin kalian takkan langsung menyadarinya karena saking banyaknya yang terjadi. Salah satunya, soal teknologi BRS yang tertanam dalam unit-unit Alexander, yang Sophie Randall aslinya kembangkan bersama Joe Wise untuk memulihkan kondisi suaminya. Apa persisnya yang terjadi juga akhirnya diungkap.

Puncak cerita, tentu saja, ada pada konfrontasi antara Akito dan Shin. Duel antara Alexander milik Akito melawan Vercingetorix yang Shin kemudikan akhirnya terjadi di sekitaran Weisswolf. Tapi, seiring dengan terkuaknya masa lalu sebenarnya antara mereka berdua, itupun tak berjalan sepenuhnya sesuai perkiraan.

Adegan aksinya memukau (walau, oke, mungkin masih belum ngalahin intensnya duel terakhir Kallen dan Suzaku di R2). Tapi, dramanya juga dapet. Dan, begitu kau paham apa yang terjadi, aspek dramanya itulah yang sebenarnya lebih muasin ketimbang aksinya.

Itu hal yang lumayan enggak biasa.

Mungkin Kaulah yang Kelak Membantah Pandanganku

Akito the Exiled juga memunculkan banyak tanda tanya terkait semesta Code Geass sehubungan hal-hal baru yang jadi diperkenalkannya. Berbagai pertanyaan baru ini berakhir tak sepenuhnya terjelaskan, dan aku duga bakal jadi bahasan dalam film layar lebar Code Geass: Lelouch of the Resurrection yang akan tayang 2019 nanti. (Cerita Akito the Exiled juga sempat disinggung berada dalam semesta film layar lebar Code Geass, dan bukan seri TV-nya, dan makanya, mungkin ada beberapa detil yang jadinya enggak masuk.)

Kekuatan Geass yang Shin punyai, misalnya. Meski mirip dengan yang dipunyai Lelouch, sifat dan cara kerjanya sebenarnya sangat berbeda. Ada indikasi kalau bahkan Shin sendiri(!) kurang mengerti cara kerjanya. Geass yang Shin punyai diindikasikan bekerja hanya untuk orang-orang yang Shin sayangi—yang kemudian Shin gunakan untuk “membebaskan” orang-orang tersebut dari dunia yang Shin pandang hanya membawa derita. (Jadi, semua orang yang Shin bunuh itu sebenarnya adalah orang-orang yang dia sayang, indikasi terhadap sudah gilanya dia) Kekuatan itu juga Shin peroleh bukan melalui kontrak dengan sosok seperti C.C. dan V.V., melainkan melalui suatu entitas macam roh yang baru sama sekali, yang tahu-tahu muncul di hadapannya begitu sesudah Shin pertama membantai keluarganya.

Sedangkan kekuatan Geass punya Leila… itu juga dijelaskan kalau itu hanya pecahan kekuatan Geass, dan makanya punya warna berbeda. Mirip kasus di atas, Leila mendapat “benih” Geass itu sebagai pemberian, bukan sebagai bagian kontrak. Leila bebas mau menggunakannya atau tidak, tapi disebutkan kalau “benih” itu akan hilang sendiri bila sampai dewasa Leila tak menggunakannya. Saat Leila akhirnya menggunakannya, apa yang termanifestasi (kayaknya) cuma sebagian. Tapi, tetap berperan penting dalam mengakhiri pertempuran. (Buat yang bingung, Geass punya Leila adalah kekuatan untuk menghubungkan ‘hati’ orang.)

Kenapa Geass dari Shin tidak bekerja pada Akito? Itu diindikasikan karena sewaktu menerimanya sewaktu kecil, Akito masih belum sepenuhnya paham tentang konsep kehidupan dan kematian. Jadi, Geass dari Shin itu agaknya sempat bekerja, tapi tidak dengan cara yang Shin harap. (Makanya Akito bilang kalau dirinya sudah pernah mati.) Lalu, sepanjang hidupnya, Akito mungkin menekan efek Geass itu dengan cara yang serupa seperti yang dilakukan Euphemia di seri TV-nya.

Teka-teki terbesar adalah kehadiran tokoh baru Caretaker of Spacetime yang pertama tampil di episode ketiga. Seakan berkuasa melewati ruang dan waktu, sosok ini (kayaknya) adalah manifestasi dari kesadaran kolektif umat manusia yang hanya bisa dilihat orang-orang tertentu. (Sejauh ini, baru Smilas dan Leila.) Aku menduga kalau interaksi dengan sosok ini adalah awal mula bagaimana manusia bisa bersinggungan dengan kekuatan Geass. Tapi, kayak yang aku bilang, mungkin lebih jauh soal dia bakal dibahas dalam film layar lebar Lelouch yang keempat nanti.

Akhir kata, meski berakhir jauh dari pengharapan, aku enggak bisa benci Akito the Exiled. Selain karena standar yang dibidiknya tinggi, hasil akhirnya memang memuaskan… sekalipun mungkin agak susah dicerna.

Jadi, seri ini kurasa tentang cinta di tengah medan pertempuran? Soal, betapa pentingnya berpegang teguh pada harapan meski seisi dunia terlihat suram? Sebagai orang yang normalnya negatif, aneh rasanya bisa sedemikian bersimpati terhadap Shin meski aku jelas sadar kalau dia sudah enggak waras.

Di samping itu, kalau boleh jujur, hal paling mengejutkan dari Akito the Exiled adalah betapa ceritanya berakhir bahagia. Tamatnya beneran happy ending. Itu enggak begitu kerasa kayak Code Geass.

Sebagai tambahan, aku lupa menyinggung kalau Akito the Exiled juga dibarengi perilisan seri lepasan baru Code Geass: Oz the Reflection. Berlatar dalam kurun waktu hampir sama (sesudah season pertama Lelouch), aku dengar Oz punya “nuansa Code Geass” lebih kuat dibandingkan Akito. Ceritanya tentang pasangan saudara kembar Orpheus Zevon (cowok) dan Oldrin Zevon (cewek) yang terpisah dari kecil, dan kini berada di pihak berseberangan dalam konflik antara Britannia dan berbagai organisasi teroris.

Mirip Gundam SEED Astray, Oz dirilis dalam bentuk manga sekaligus photonovel, yang masing-masing media berfokus pada sudut pandang berbeda. Sebagian besar cerita berlatar di seputaran Mediterania, dan berlanjut ke seri sekuel Code Geass: Oz the Reflection O2 yang di dalamnya, Orpheus dan Oldrin saling bertukar posisi, sebelum berakhir agak tragis pada waktu berbarengan dengan klimaks di seri TV R2.

Mungkin Oz juga nanti akan direferensikan dalam film layar lebar baru nanti.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: X; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

Durarara!! x2 Ketsu

Sekitar awal tahun 2018, aku beresin Durarara!! x2 Ketsu (‘ketsu’ di sini kira-kira berarti ‘penyelesaian’).

Aku telat menyadari ini, tapi penayangan Durarara!! x2 membuat seri ini termasuk LN yang hampir seluruh cerita novelnya tuntas diangkat ke bentuk anime. Enggak banyak (sangat sedikit?) LN yang kayak gitu. Ceritanya memang langsung lanjut ke seri sekuel, Durarara!! SH sih. Tapi, itu cerita lain. Di samping itu, trilogi x2 ini kayaknya memang dibuat buat mempromosikan sekuel tersebut.

Sekali lagi, Durarara!! (atau DRRR!!) diangkat dari seri light novel karangan Narita Ryohgo (Baccano!, Fate/strange fake). Ilustrasinya dikerjakan Yasuda Suzuhito (Yozakura Quartet). Penerbitannya dilakukan dari tahun 2004 oleh ASCII Media Works (di bawah Square Enix) dan tamat semenjak Januari 2014. Jumlah totalnya 13 buku.

Ketsu adalah bagian ketiga sekaligus terakhir dari trilogi x2. Trilogi ini adalah kelanjutan anime Durarara!! pertama yang diproduksi Brain’s Base di tahun 2010. Meski studio produksinya beda, hampir seluruh stafnya sama. Karena sudah ngikutin Shou (yang pertama), kemudian Ten (yang kedua), rasanya sayang kalau aku enggak beresin Ketsu. Tanggung. Apalagi jumlah episodenya enggak banyak, cuma 12.

Total keseluruhan episode Durarara!!x2 bersama Shou dan Ten adalah 36, ditambah 3 episode OVA yang berdiri sendiri. Ditambah lagi lagi, intrik ceritanya benar-benar saling berhubungan. Sehingga sayang banget solusi semua keruwetan ini enggak aku tuntasin.

Sedikit catatan soal situasi pribadi aku, Ketsu mengudara pada Januari 2016, persis setahun sesudah Shou. Aku sibuk pada masa-masa itu. Tanpa terasa, beberapa tahun sudah berlalu semenjak terakhir aku menonton. Karena lagi senggang (waktu itu), aku sekalian berusaha beresin hal-hal yang belum tuntas sebelum aku nikah. Salah satunya ya, termasuk nonton ini.

Sekali lagi, komposisi stafnya sendiri masih sama dengan yang sebelumnya. Diproduksi studio animasi Shuka, sutradaranya Omori Takahiro, komposisi serinya dibuat Takagi Noboru, musik ditangani Yoshimori Makoto. Enggak banyak yang bisa selain itu.

Meski demikian… iya sih, secara menyeluruh, memang terasa ada yang beda pada feel-nya.

Dunia Fiksi Jadi Taman Bermain…

Isi cerita yang diangkat dari novel karya Narita-sensei, kayak biasa, agak susah dirangkum. Ada banyak sekali jalinan cerita yang saling berhubungan. Tapi, dalam Ketsu, poin-poin terpenting yang terjadi menurutku adalah:

  • Bagaimana kepala dullahan Celty Sturluson (yang sempat ketemu, tapi kemudian hilang lagi) mau dikembalikan ke badannya oleh suatu pihak misterius.
  • Bagaimana Saika, pedang katana mistis yang bisa membuat korban-korbannya “jatuh cinta,” tahu-tahu “berkembang biak” dan bertambah jumlah penggunanya.
  • Bagaimana geng Dollars, yang menimbulkan kehebohan beberapa waktu sebelumnya karena konflik dengan geng motor, hendak dihancurkan oleh pendirinya sendiri.

Cerita Ketsu benar-benar jadi puncak seluruh cerita Durarara!! sejauh ini. Karena saking banyaknya yang terjadi, memang kadang susah mengikuti semuanya.

Celty datang jauh-jauh ke Jepang untuk mencari kepalanya yang hilang. Celty menelusuri jejak kepalanya sampai ke Ikebukuro. Tapi, dengan pencarian yang semula berakhir buntu, Celty akhirnya malah jadi membangun kehidupannya sendiri sebagai pengantar barang berkekuatan supernatural untuk orang-orang dunia hitam. Celty bahkan menemukan cinta bersama dokter bawah tanah muda bernama Kishitani Shinra.

Shinra semenjak kecil lalu jatuh cinta pada Celty. (Sekalipun kenyataannya Celty tak punya kepala dan jelas bukan manusia.) Bagaimana ini bisa terjadi? Karena Shinra merupakan anak orang yang bertanggung jawab atas hilangnya kepala tersebut.

Shinra adalah anak dari Kishitani Shingen, ilmuwan agak gila yang tertarik atas kepala Celty dan fenomena-fenomena supernatural lain. Bertahun-tahun silam, Shingen memutus ikatan supernatural antara Celty dan kepalanya dengan sebilah pedang kuno bernama Saika.

Saika, yang kita tahu dimiliki siswa SMA Sonohara Anri, adalah pedang katana berkekuatan ajaib yang bersemayam dalam tubuh pemiliknya. Siapapun yang tertebas Saika akan “jatuh cinta” kepada siapa yang menebas. Siapa yang ditebas akan jadi punya Saika lain di dalam tubuh mereka juga.

Dibeberkan bahwa Saika yang dipakai memotong kepala Celty ini lalu dijual Shingen seorang kenalannya, yang merupakan pedagang barang antik. Anri ternyata adalah putri mendiang pedagang ini, yang kemudian jadi punya pedang tersebut sesudah kedua ortunya wafat.

Sebagai akibat berbagai kekacauan yang terjadi di Ikebukuro (yang dipicu, tapi tidak diperkeruh, oleh informan/orang-di-balik-layar Orihara Izaya). Celty akhirnya mengetahui bagaimana Shinra selama ini ternyata merahasiakan lokasi kepalanya yang hilang. Shinra menyembunyikan ini karena khawatir Celty akan pergi bila memperoleh kepalanya lagi. Jadi, di tengah maraknya peredaran obat terlarang, perseturuan geng-geng jalanan, insiden tabrak lari, serangan terhadap markas yakuza, merebaknya zombie Saika, kemunculan pembunuh-pembunuh dari Russia, dsb., akhirnya terjadilah perpecahan antara pasangan kekasih Celty dan Shinra.

Puncak semuanya adalah… yah, saat Celty dan kepalanya akhirnya bersatu lagi.

Itu juga jadi saat ketika pihak-pihak yang selama ini berseteru akhirnya saling berhadapan untuk menuntaskan konflik mereka.

Rasa Bersalah yang Menjadi Tuhan Kamu

Bicara soal teknis, kualitas Ketsu enggak beda jauh dengan dua pendahulunya. Baik visual maupun audionya sama-sama solid. Entah kenapa, enggak sampai sempat bikin wow kayak di season pertamanya, tapi itu dimaklumi karena struktur ceritanya yang emang enggak biasa.

Ceritanya sangat terkesan episodik gitu. Awalnya, kurang kerasa adanya kesinambungan antara satu episode dengan episode lain. Makanya, trilogi ini terus terang mungkin agak susah diikuti oleh kebanyakan penggemar awam.

Mungkin karena itu pula, secara teknis, seri ini jadi punya kesan benar-benar “rapi.” Staf pembuatnya seperti berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan konyol gitu. Ada sejumlah adegan yang kerasa kayak bisa mereka bikin lebih keren asalkan mereka mau, tapi mereka berakhir enggak melakukannya. Enggak sampai ‘jelek.’ Sekedar ‘menarik’, tapi enggak sampai ‘wah’. (Ini paling kerasa dari penataan musiknya sih; yang di anime pertama terasa sangat cocok, tapi di trilogi ini hanya sekedar masuk saja.)

Fokusnya pada karakter juga membuat latar lokal Ikebukuro jadi kurang tertonjolkan. Ini masih terasa kayak latar yang sama, tapi kita jadi banyak dibawa ke sudut-sudut gelapnya yang kita enggak yakin persisnya di mana. Tapi, itu juga masih sejalan dengan ceritanya yang lebih berat sih.

Meski begitu, kesan tanggung itu sepenuhnya berakhir di episode terakhirnya. Episode terakhir Ketsu itu seriusan keren dan memuaskan. Aku beneran terkesan dengan bagaimana semua jalinan plot utama berhasil dibereskan. Si bartender berkekuatan super Heiwajima Shizuo akhirnya melakukan duel mautnya dengan Izaya, dan aksinya beneran keren. Lalu Ryuugamine Mikado juga menyelesaikan konflik pribadinya dengan dukungan teman-teman dekatnya, dan resolusinya pun muasin.

Dunia Fiksi yang Sama Pentingnya Dengan Kenyataan

Salah satu hal paling berkesan di x2 adalah bagaimana tokoh antagonis yang paling ditonjolkan di sepanjang trilogi, Kujiragi Kasane, sekretaris yang bekerja untuk sosok Yodogiri Jinnai yang sangat misterius, ternyata bukanlah tokoh antagonis utama dari seri ini. Tokoh antagonis utamanya itu seseorang yang lain. Seorang tokoh lama, malah.

Bagaimana semua perkiraan itu dibelokkan menjelang akhir cerita itu beneran keren. Apalagi, saat dibeberkan indikasi tentang asal usul Kasane yang ternyata masihberhubungan dengan seorang karakter lain.

Akhir kata, aku lumayan tak menyesal mengikuti trilogi x2. Tapi, ada kesan sangat kuat kalau mengikuti seri novelnya akan jauh lebih memuaskan. Memang agak disayangkan karena x2 tak semulus anime Durarara!! pertama; atau bahkan Baccano!. Tapi, akhir ceritanya—episode terakhirnya banget—yang memuaskan  seakan menutupi hal ini.

Daripada pelajaran atau pesan moral, cerita Durarara!! secara menyeluruh buatku lebih terasa seperti semacam cerita peringatan. Kayak, apapun yang kau lakukan, sesombong apapun kau tentangnya, ujung-ujungnya nanti pasti ada konsekuensi yang kau terima. Lalu, konsekuensi itu bakal muncul dengan cara-cara rumit dan enggak disangka. Di samping itu, konsekuensi itu mungkin hanya disadari orang-orang bersangkutan dan tak diketahui orang lain.

Lumayan cocok dengan zaman sekarang?

Yah, jaga diri, guys.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: B+ ; Kepuasan Akhir: A-

Hinamatsuri

Aku samar-samar merasa pernah membaca tentang manga Hinamatsuri karya Outake Masao, tapi belum pernah sampai tertarik mengikutinya. Ketika animenya diumumkan keluar pada April 2018, yang membuatku tertarik justru nama penerbit dan staf produksi animenya.

Hinamatsuri (selain mengacu pada nama si tokoh utama, judulnya mereferensikan hina-matsuri, perayaan boneka di Jepang untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan setiap 3 Maret, sesuai tema berkelanjutan yang seri ini punya) diserialisasikan di majalah komik seinen Harta milik Kadokawa dan Enterbrain sejak tahun 2010. Dengan demikian, serialisasi manga Hinamatsuri sudah berlangsung lumayan lama, bahkan semenjak majalah tersebut masih bernama Fellows!.

Jadi, majalah komik Harta terus terang sangat aku ingat. Di samping karena terbit dalam jadwal enggak biasa, seri-seri yang mereka usung selalu unik dan agak ajaib. Nama majalahnya sendiri kudengar benar-benar diambil dari Bahasa Indonesia (Iya, kata ‘harta’ kayak yang ada di ‘harta karun’). Ditambah lagi, ini majalah yang menserialisasikan seri populer Dungeon Meshi. Ya jelas aku bakal ingat.

Reputasi Harta sudah sedemikian dikenal sebagai wadah komik-komik eksentrik, dan aku jarang mendengar ada anime yang diangkat darinya. Makanya, begitu diumumkan, anime Hinamatsuri lumayan jadi kejutan.

Staf produksinya dipimpin Oikawa Kei, yang langsung aku kenali sebagai sutradara anime Outbreak Company yang bagiku sangat wah pada tahun 2013. Produksinya dilakukan studio feel. yang pada tahun-tahun belakangan semakin piawai menangani seri-seri drama. Naskahnya sendiri ditangani Ouchi Keiichirou. Musiknya ditangani Misawa Yasuhiro. Jumlah episodenya sebanyak 12.

Nah, tentang anime Hinamatsuri sendiri…

Singkat cerita, ini seri drama komedi paling ajaib yang pernah aku tahu.

Hidup Adalah Soal Bertahan HIdup

Hinamatsuri berkisah tentang keseharian seorang yakuza bernama Nitta Yoshifumi dengan Hina, anak perempuan yang kemudian diangkat Nitta sebagai anak, meski ia tak pernah benar-benar yakin soal dari mana asal Hina.

Soalnya, Hina secara harfiah benar-benar tiba-tiba muncul begitu saja di apartemen Nitta.

Hina adalah gadis yang lumayan aneh. Ekspresi wajah dan suaranya senantiasa datar. Selain itu, perilakunya juga agak-agak (maaf) bodoh. Tapi Hina memiliki kekuatan supernatural. Dia bisa(?) teleportasi. Dia bisa telekinesis. Dia bisa terbang. Lalu, dengan kekuatan itu, Hina sedikit banyak “mengancam” Nitta untuk… uh, memberinya makan (yang intinya, kemudian jadi berlanjut ke mengasuhnya).

Siapa Hina? Dari mana dia berasal? Siapa pula anak-anak perempuan lain berkekuatan supernatural yang belakangan ikut muncul dan mencari-cari dia? Untuk apa mereka ada?

ITU SEMUA TAK PENTING!

Lupakan itu semua!

Ada banyak urusan lebih penting lain dalam hidup yang harusnya kita perhatikan!

Seperti, soal sekolah. Soal… cita-cita. Soal masa depan! Soal apakah teman sekelasmu yang disiplin kerja sambilan di bidang asusila atau tidak. Soal apakah perempuan cantik kenalan kamu single atau tidak. Soal… kesejahteraan sosial? Soal bagaimana caranya bisa selamat kalau anak perempuan angkat kamu menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada gimana kamu hampir mati. Dan lain sebagainya.

Intinya, yang mau aku katakan, sangat susah buat cerita soal Hinamatsuri tanpa membeberkan apa-apa yang terjadi.

Aku cuma bisa bilang, Hinamatsuri berhasil menyajikan porsi drama dan porsi komedinya secara luar biasa seimbang. Dramanya benar-benar menyentuh dan bisa membuat mikir, tapi tanpa membuat kita merasa terbebani dalam mengikutinya. Komedinya sendiri adalah jenis yang sebenarnya agak absurd gitu, yang hebatnya disajikan dalam latar realistis.

Sehingga, kayak, seri ini seakan menonjolkan bagaimana reality can be stranger than fiction gitu. Itu bahkan tanpa menyinggung soal kekuatan-kekuatan ajaib yang Hina punyai.

Hinamatsuri itu seri tentang kehidupan. Tentang tumbuh besar. Tentang menjadi dewasa dan memahami tanggung jawab (sekalipun kalian tetap saja jadi orang enggak bertanggung jawab.) Iya, ada yakuzanya. Iya, ada soal sekolahnya. Iya, ada komentar-komentar sosialnya. Makanya, karena cakupannya yang multidimensi juga, aku sangat merekomendasikannya.

Bagaikan Sungai Mengalir

Bicara soal teknis, visual Hinamatsuri mempertahankan gaya gambar khas Outake-sensei. Gaya gambar beliau itu… punya kesan sederhana. Tidak dibikin agar terlihat berkesan. Cukup sekedar menyajikan apa yang mau ditampilkan. Tapi, jadinya efektif dalam menyajikan nuansa sureal yang mau dicapai. Dengan begitu, sebagai anime, Hinamatsuri tak punya visual yang wah. Tak membuat kita terkesima atau gimana. Tapi, sama sekali enggak jelek.

Audionya lebih menonjol karena berhasil dalam mengeksekusi kombinasi komedi dan dramanya. Hasilnya termasuk brilian. Serupa dengan visualnya, audionya tak sampai membuat kita takjub gitu. Tapi, hanya sebatas benar-benar sesuai dengan apa yang mau disajikan.

Karena menampilkan cuplikan-cuplikan kehidupan, yang terkadang bukan dari sudut pandang Nitta maupun Hina, tak ada perkembangan plot dramatis yang terus tumbuh. Jadi, tak perlu kuatir soal itu.

Sebagai penutup, sekali lagi, aku enggak enak menjabarkan terlalu banyak, karena salah satu keasyikan Hinamatsuri ada dalam usaha kita dalam memahami apa yang terjadi (meski usaha kita enggak sepenuhnya penting juga). Tapi, secara umum, kurasa ini seri tentang tanggung jawab.

Ditampilkan banyak karakter dewasa yang notabene enggak sepenuhnya dewasa (seperti Sabu, bawahan langsung Nitta yang biang masalah; atau wanita pemilik bar Sakura Utako, love interest dan sekaligus, uh, tokoh antagonis di beberapa bagian). Ada banyak karakter anak tanggung usia SMP awal, terutama anak perempuan, yang memerlukan tanggung jawab lebih untuk diasih (seperti Anzu, yang semula mengejar Hina untuk membunuhnya karena dianggap terlalu bahaya, tapi… yah, begitu; Mishima Hitomi yang sebenarnya anak baik tapi terseret perkembangan situasi yang benar-benar absurd; dan Mao, yang tak peduli pada tugasnya dan cuma berharap bisa bertemu lagi dengan Anzu dan Hina.) Kalau dipikir, jumlah karakternya lumayan banyak.

Jadi, intinya, mengikuti anime ini, aku dibawa ke intepretasi salah satu pertanyaan yang sudah mengganggu aku sejak lama: Tanggung jawab… itu apa? Suatu hari, saat aku sedang kerja di kantor, pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas. Dan itu seriusan begitu mengganggu.

Apa itu tanggung jawab?

Kenapa konsep ini bisa ada?

Aku pertama tahu soal tanggung jawab dalam sebuah pelajaran PKK yang tak terlupakan waktu aku kelas III SD. Dan aku masih enggak yakin ini apa sampai aku mengikuti anime ini.

Jadi, intinya, tanggung jawab itu soal integritas. Soal kesesuaian antara apa yang kamu omongin dengan apa yang kamu lakuin.

Jadi, dalam konteks si Nitta, terlepas dia mengeluh kayak gimanapun sebagai orang tua tunggal soal mengasuh Hina (yang semua orang salah pahami sebagai hasil hubungan luar nikah Nitta dengan seorang perempuan tak dikenal), terlepas pada gimana dia iri soal gimana yang dia dapat bukan Anzu yang notabene lebih manis, perhatian, dan bukan biang masalah; menjelang akhir seri, Nitta tetap man up dan terus bertanggung jawab mengasuh Hina karena DIA SUDAH MEMUTUSKAN UNTUK MELAKUKANNYA. Padahal kerugian material besaaar yang sudah Nitta alami gara-gara mengasuh Hina.

Jadi, Nitta enggak plin-plan gitu. Dan walau sebagai yakuza dia termasuk lunak (dia direkrut lebih karena kelihaiannya dalam administrasi), untuk ukuran seorang laki-laki, menurutku dia lelaki sejati.

(Enggak. Maaf. Penulis blog ini terus terang masih belum jadi lelaki sejati. Masih sedang berkutat ke arah sana.)

Man, jalan yang perlu aku tempuh masih panjang.

Aku enggak boleh malas-malasan.

Aku bersyukur mengikuti seri ini. Ini benar-benar seri yang tak tertebak.

Man, suatu hari nanti, aku mesti coba periksa manganya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

No Game No Life Zero

Pada suatu akhir pekan, sepupuku mengajak nonton film layar lebar No Game No Life: Zero (juga ditulis No Game No Life: 0 )di bioskop CGV.

Sebenarnya, kami sama-sama lagi kesulitan uang. (Sori, itu juga salah satu alasan aku jarang nulis belakangan.) Tapi, kami tetap memilih menonton karena, yah, ini NGNL. Mungkin tayangnya akan lebih sebentar dibandingkan Thor: Ragnarok. Makanya, perlu diprioritaskan. Terlebih, aku masih trauma dengan gimana aku enggak kesampaian menonton film layar lebar Mahouka beberapa bulan lalu. Di samping itu, sejumlah review yang aku baca sudah menyebut kalau kualitas movie ini bagus.

No Game No Life: Zero mengangkat cerita dari buku keenam dari seri novelnya yang dikarang Kamiya Yuu. Ceritanya memaparkan masa lalu dunia Disboard (sebagaimana dikisahkan oleh sang dewa permainan, Tet) dan karenanya diberi embel-embel ‘zero’ di judulnya. Dengan kata lain, sifatnya prekuel dan enggak sepenuhnya melanjutkan cerita di seri TV. Ceritanya enggak berfokus pada kakak beradik Sora dan Shiro. Meski demikian, pengetahuan tentang seri aslinya tetap akan membuatmu lebih bisa menikmatinya.

No Game No Life: Zero masih diproduksi studio animasi Madhouse. Para staf seri TV-nya kembali hadir untuk menangani. Ishizuka Atsuko kembali memberikan kerja bagus sebagai sutradara. Fujisawa Yoshiaki menangani musik. Naskahnya sendiri kembali ditangani oleh Hanada Jukki. Suzuki Konomi juga kembali buat membawakan lagu penutupnya.

Mestinya, aku enggak rugi kalo aku sempetin nonton ini ‘kan?

“Saat aku masih muda, aku percaya kalau enggak ada permainan yang enggak mungkin dimenangkan.”

Berlatar 6000 tahun sebelumnya, para dewa (yang kini dikenal dengan sebutan Old Deus) masing-masing mewakili satu ras di Disboard. Lalu, mereka mengadakan perang dengan satu sama lain, yang lambat laun semakin menghancurkan dunia. Tanah runtuh, langit terbelah, hujan beracun, bintang-bintang sirna, makhluk-makhluk buas menyebar, dan dunia seakan mengalami malam yang tiada akhir.

Umat manusia di dunia ini diyakini telah punah. Mereka tak punya keistimewaan khusus. Karenanya, mereka selalu terjebak di tengah adu kekuatan antara ras-ras lain yang lebih kuat. Tapi, kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Di bawah tanah, menyembunyikan diri dari bahaya hujan, dipimpin seorang pemuda bernama Riku, komunitas mereka terus bergulat untuk bertahan hidup.

Singkat cerita, Riku selama ini bekerja mengumpulkan informasi. Sekalipun telah sampai mengorbankan nyawa sejumlah orang, Riku ingin memahami jalannya perang. Tujuannya? Agar dia bisa menemukan cara untuk menghentikannya.

Riku berusaha melengkapi peta dari apa yang masih tersisa dari dunia, lalu memastikan posisi masing-masing pihak ada di mana. Bersama komunitasnya, mereka secara berkelanjutan telah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mengungsi dari satu bahaya ke bahaya lain.

Dalam salah satu kesempatan, saat menjelajahi peninggalan salah satu kota Elf, Riku berjumpa dengan suatu manusia buatan Ex-Machina berbentuk seorang gadis muda, yang kemudian Riku namai Shuvi.

Para Ex-Machina ini bekerja dengan prinsip hive mind. Tapi Shuvi, Ex-Machina satu ini, telah diasingkan dari kesadaran bersama tersebut karena telah dianggap cacat. Alasannya? Karena Shuvi telah berusaha memahami emosi manusia. Shuvi agaknya ingin mengerti rahasia di balik ketangguhan manusia untuk bertahan hidup.

Shuvi kemudian ditampung Riku. Kemudian, dengan keistimewaan-keistimewaan yang Shuvi punyai, keputusan Riku tersebut menjadi awal bagaimana ia memahami latar belakang sesungguhnya di balik perang, dan langkah-langkah yang bisa diambil untuk selamanya menghentikannya.

Asal Aku Bersama Kamu…

Bicara soal teknis, film layar lebar ini seriusan bagus. Visualisasi dunianya benar-benar keren. Pemandangan latar dunia fantasi yang suram beneran keren. Lalu, meski enggak banyak, adegan-adegan aksinya juga wah. Ini diimbangi juga dengan penataan audio yang beneran pas. Kualitas keluaran Madhouse kadang mengalami naik turun aneh, tapi kamu enggak perlu ragu soal yang satu ini.

Satu yang patut disinggung adalah performa Matsuoka Yoshitsugu sebagai pengisi suara Riku. Mempertimbangkan gimana beliau juga berperan sebagai semacam narator, akting beliau di sini seriusan bagus. Ada kayak kombinasi kepercayaan diri, keputusasaan, serta kesedihan dan pengharapan yang berhasil dia gabungin gitu. Mungkin buat selamanya dia bakal dikenal sebagai Kirito dari SAO, tapi kemampuan akting beliau jauh lebih luas dari itu.

Kalian juga mungkin ingat gimana visual seri TV NGNL punya saturasi warna yang khas. Satu hal mencolok yang aku perhatikan adalah gimana saturasi warna itu enggak gitu kelihatan di film ini, sejalan dengan nuansa dunianya yang lebih suram.

Di akhir, aku nyimpulin dua hal sesudah nonton film ini.

  • Meski enggak nampilin ketegangan adu siasat yang aku harapkan dari seri TV-nya, film layar lebar ini tetap bagus.
  • Meski enggak sedalam yang aku harapkan (dan terus terang, nuansanya beda jauh dari seri TV-nya), aspek emosi dari film ini, kalo kamu bisa menikmatinya, terbilang menyentuh.

Jadi, singkat kata, yup, ini direkomendasikan. Apalagi kalau kalian sudah jadi penggemar NGNL sebelumnya.

Kelemahannya ada sih. Mungkin kalian ingat gimana NGNL, bahkan dengan semua kebagusannya, punya fanservice yang sangat berbahaya. Baik itu dari soal adegan maupun desain karakter. Aspek tersebut enggak sepenuhnya sirna di prekuel ini. Aku bahkan di satu titik sempat heran dengan gimana hal ini lolos sensor.

Daripada ‘bagus atau enggak,’ menurutku ini lebih ke kasus ke ‘cocok atau enggak’ sih. Emang mesti diakui, bahkan dengan kebagusan pemaparan dramanya, kita kadang jadi susah menanggapi serius pas kekonyolan-kekonyolan ini muncul. Kalo ngambil istilah pergamean, jadinya lumayan immersion breaking.

Di samping itu, pembangunan dunianya minimum banget. Rasanya kita diperlihatkan hanya segelintir dari keadaan menakjubkan dunia di ambang kehancuran. Ras-ras lain hanya ditampilkan sekilas. Mereka juga berperan hanya secara terbatas pula. Porsinya hanya sebatas ‘cukup’ untuk membawakan plot. Ini mungkin akan terasa gimanaa gitu buat kalian yang suka melihat dunia-dunia fantasi.

Tapi, serius, kalau kalian terlanjur benar-benar suka seri TV NGNL, aku lumayan menyarankan kalian buat melihat NGNL 0. Selama kalian enggak keberatan dengan semua keanehan NGNL (yang emang udah ada dari sananya), film layar lebar ini ngasih insight lumayan mendalam tentang dunia maupun kepribadian para karakternya.

Aku enggak sepenuhnya suka konsepnya, dan aku juga enggak sepenuhnya puas dengan penyelesaian ceritanya. Tapi, sekali lagi, bahkan dengan semua keterbatasan materi aslinya, eksekusi animenya beneran brilian. Aku perlu ngasih pujian semata karena itu.

Lain Kali, Aku Pasti Menang

Terlepas dari sisi-sisi konyolnya, dengan semua drama dan tragedi yang terjadi, NGNL 0 lebih berhasil menekankan pentingnya kegigihan dan perjuangan dibandingkan seri TV-nya. Berbeda dari Sora dan Shiro, Riku dan Shuvi bukanlah sosok-sosok jenius. Mereka hanya sekedar nekad (seriusan nekad) dan pantang menyerah. Ini konsisten bahkan saat mereka dihadapkan pada tantangan-tantangan yang kayaknya enggak mungkin bisa dilewatin.

Di samping itu, semua batasan soal penyelesain konflik lewat permainan (dan tanpa kekerasan) yang Tet atur masih belum ada. Jadi, ada kekejaman sekaligus kematian sekaligus sihir sekaligus senjata-senjata pemusnah massal di sana-sini.

Yea, film ini jadi punya sisi yang agak sadis.

Meski demikian, sekali lagi, itu jadinya memperkuat pesan(?) yang seri ini mungkin punya.

…Aku masih kurang sepenuhnya puas dengan penyelesaiannya sih. (Gimanapun, aku penggemar Liar Game!) Tapi, hasilnya tetap bisa aku terima sekaligus aku hargai.

Ini rada enggak nyambung, tapi mungkin kalian ingat kasus pembajakan menyangkut film ini tempo hari? Aku seriusan marah saat mendengar berita itu. Bila aku sampai ketemu orangnya, aku (dan banyak teman lain) bahkan sampai bersumpah buat nonjok mukanya.

Tapi, agaknya, kasus itu lebih konyol dari yang aku kira. Aku semula ngira itu kasus pembajakan di mana ada yang bawa kamera, terus diam-diam ngerekam buat disebarin di web. Tapi, yang sebenarnya terjadi, yang bersangkutan ternyata sekedar melakukan livestream.

Well, yeah. Prinsipnya secara teknis tetap sama sih, tapi tetap saja, aku lumayan terdiam saat mengetahui ini.

Riku dan Shuvi—dan sekaligus juga Shiro dan Sora—sanggup bertahan karena mereka sadar dengan batasan mereka masing-masing. Tapi, apa kebanyakan orang bahkan tahu soal batasan-batasan mereka sendiri?

Yah, artikel ini (silakan diklik) lumayan mengulas kasus itu secara baik sih. Jadi mending enggak usah kita singgung lagi.

Akhir kata, maaf udah lama ga nulis! Nanti aku nyoba nulis lagi. Mwahahaha.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A-

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Edmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi, Tekkadan juga tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan untuk berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menghalangi dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu tersebut juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season pertama. Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

Bokurano

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

Uchouten Kazoku

Ossu.

Berhubung season keduanya sudah akan diproduksi, bahasan kali ini soal Uchouten Kazoku.

Uchouten Kazoku, atau yang juga dikenal dengan judul The Eccentric Family (‘keluarga yang nyentrik’) berawal dari novel buatan Morimi Tomohiko. Seri ini sekilas terkesan seperti cerita komedi ringan. Tapi sebenarnya ini termasuk seri drama bertema keluarga yang menggugah dengan cara yang tak biasa.

Pertama diterbitkan pada September 2007 oleh penerbit Gentosha, Uchouten Kazoku mulai lebih dikenal semenjak adaptasi anime TV-nya dibuat studio P.A.Works pada pertengahan 2013. Penyutradaraannya dilakukan oleh Yoshihara Masayuki. Naskah ceritanya ditangani oleh Suga Shoutarou. Musiknya dikomposisi oleh Fujisawa Yoshiaki. Lalu jumlah episodenya sebanyak 13.

Ada dua alasan kenapa aku tertarik pada Uchouten Kazoku. Pertama, karena statusnya sebagai karya Morimi-sensei. Beliau penulis asli cerita Yojou-han Shinwa Taikei, yang pada tahun 2011 diadaptasi ke bentuk anime oleh studio Madhouse. Seri drama aneh yang juga berbagi latar dengan Uchouten Kazoku ini berakhir menjadi salah satu seri favoritku.

Alasan kedua, karena desain karakter orisinil untuk anime ini dibuat oleh Kumeta Kouji. Kumeta-sensei adalah pengarang manga komedi satir Sayonara, Zetsubou-sensei. Meski karya-karya beliau tak pernah bisa sepenuhnya aku sukai, gaya gambar beliau yang terkesan sederhana selalu punya kesan atraktif. Sayonara, Zetsubou-sensei dulu cukup populer untuk diadaptasi sampai tiga season oleh studio SHAFT. Makanya, begitu proyek anime Uchouten Kazoku diumumkan, aku berpikir, kapan lagi gaya gambar Kumeta-sensei akan dianimasikan lagi? (Maksudku, yang tanpa diiringi keluhan-keluhan khas beliau soal zaman sekarang.)

Singkat kata, aku jadi merasa Uchouten Kazoku satu anime yang benar-benar perlu aku ikuti.

Noryo-Yuka no Megami

Walau mengangkat tema keluarga, Uchouten Kazoku agak susah dijelaskan tentang apa.

Latarnya di Kyoto, di zaman modern. Lalu ceritanya berfokus pada suka duka keluarga tanuki (semacam musang) marga Shimogamo yang berasal dari wilayah sekitar kuil Shinto bernama sama. Seperti dalam cerita-cerita rakyat, makhluk-makhluk tanuki tersebut memiliki kemampuan berubah wujud. Mereka dapat berubah baik menjadi benda hidup maupun benda mati. Lalu berbekal kemampuan berubah wujud inilah, mereka menjalani hidup di tengah keselarasan tak biasa antara komunitas tanuki mereka sendiri, peradaban manusia, dan kalangan tengu.

…Sekali lagi, buat kalian yang masih belum sepenuhnya terbayang, ada tiga jenis ras yang saling berinteraksi, yakni:

  • Tanuki
  • Manusia
  • Tengu (Siluman… gagak berhidung panjang? Dengan kemampuan mereka untuk terbang dan berubah ke wujud manusia juga, mereka dipandang keramat dan dalam mitologi sering dianggap sebagai utusan dewata.)

Ketiga ras tersebut sama-sama tinggal di Kyoto.

Semua tanuki dan tengu tahu tentang keberadaan ras-ras lain. Namun dari kalangan manusia, hanya individu-individu tertentu saja yang tahu tentang adanya tanuki dan tengu di tengah-tengah mereka.

Salah satu individu tertentu tersebut adalah seorang wanita sangat cantik yang dikenal dengan sebutan Benten.

Benten, yang bernama asli Suzuki Satomi, adalah perempuan muda yang bukan hanya disegani, tapi juga bahkan agak ditakuti oleh orang-orang yang mengenalnya dari ketiga pihak. Selain cantik bagaikan dewi, ada kekuatan supernatural juga yang Benten punyai, yang membuatnya bisa terbang seperti halnya para tengu. Di samping itu, Benten juga teramat cerdas, dan hampir tak ada orang yang benar-benar tahu tentang maksud di balik berbagai tindakan dan ucapannya.

Keluarga Shimogamo sendiri adalah salah satu keluarga tanuki paling dikenal di Kyoto. Alasannya karena mendiang pemimpin keluarga tersebut, Shimogamo Souichirou, sewaktu memegang jabatan sebagai Nise-emon, berhasil menyelesaikan konflik antar para klan tanuki sekaligus mempersatukan mereka. Beliau orang yang dikenal dengan karisma dan wibawanya. Namun demikian, pada suatu titik, Souichirou meninggalkan keluarganya dan menghilang tanpa kabar. Lalu sesudah bertahun-tahun, dirinya kini diyakini sudah meninggal.

Anggota-anggota keluarga yang Souichirou tinggalkan antara lain:

  • Ibu Shimogamo, istri mendiang Souichirou yang kini mendedikasikan hidupnya untuk kesejahteraan anak-anaknya. Hobinya (yang sebenarnya juga caranya mengatasi duka) adalah mewujudkan kecintaannya terhadap pentas teater Takarazuka dengan crossdress sebagai lelaki. Nama aslinya sampai akhir tak pernah terungkap.
  • Shimogamo Yaichirou, putra pertama yang kini menjabat sebagai pemimpin keluarga. Ingin bisa mengikuti jejak ayahnya sebagai Nise Emon, namun ia belum cukup matang dari segi kepribadian, kemampuan, maupun pikiran.
  • Shimogamo Yajirou; putra kedua, yang karena suatu alasan, telah kehilangan kemampuannya untuk berubah wujud. Kini berwujud katak dan menjalani hidupnya di dasar sebuah sumur, sembari sesekali memberikan nasihat-nasihat kehidupan pada orang-orang yang datang berkunjung.
  • Shimogamo Yosaburou, putra ketiga sekaligus tokoh utama cerita. Simpatik, cerdas, namun memiliki kepribadian bebas yang tak mau terikat tanggung jawab. Meski demikian, pada saat yang sama, Yosaburou juga yang secara umum dipandang punya paling banyak kemiripan dengan mendiang ayahnya.
  • Shimogamo Yashirou, putra keempat yang masih anak-anak. Masih sangat kecil saat ayahnya menghilang dan kurang begitu ingat tentangnya. Masih belum ahli dalam mempertahankan perubahan wujudnya, dan bila sedang gugup, wujud ekor dan telinga aslinya dapat tiba-tiba muncul.

Dari sudut pandang Yosaburou, kita secara bertahap diperlihatkan berbagai isu menyangkut keluarga Shimogamo. Isu-isu ini mencakup:

  • Keterpikatan terpendam Yosaburou terhadap Benten dan semacam hubungan persahabatan yang terjalin antara keduanya.
  • Hubungan lama Benten dengan guru anak-anak Shimogamo, yakni seorang tengu tua yang disebut Akadama-sensei (alias Nyoigatake Yakushibou) yang masih belum sudi melepasnya.
  • Permusuhan anak-anak Shimogamo dengan keluarga tanuki lain bernama Ebisugawa.
  • Soal Kaisei, satu-satunya anak perempuan Ebisugawa Soun, yang menjadi satu-satunya anggota yang berhubungan baik dengan keluarga Shimogamo.
  • Bagaimana Yosaburou pernah dijodohkan dengan Kaisei, namun Kaisei tak pernah sekalipun mau memperlihatkan sosoknya kepada Yosaburou.
  • Adanya sekelompok manusia bernama Friday Fellows (Kinyou Kurabu) yang hobi menyantap daging tanuki setiap akhir tahun.
  • Pemilihan Nise Emon baru dan bagaimana Yaichirou terlibat di dalamnya.
  • Pusaka-pusaka berkekuatan ajaib yang dahulu dimiliki Akadama-sensei namun kini dipegang Benten.
  • Penyebab Yajirou terjebak di wujudnya yang sekarang.
  • Penyebab Benten, bahkan dengan segala yang telah dimilikinya, dalam kesendiriannya terkadang menampakkan kesedihan.
  • Kemungkinan adanya pihak tertentu yang dengan sengaja hendak mencelakakan anggota-anggota keluarga Shimogamo…

Mencoba Lagi Lebih Keras

Aku mengikuti Uchouten Kazoku terutama karena berusaha memahami apa-apa yang dipaparkan di dalamnya. Bukan dalam artian narasinya jelek. Tapi, lebih dalam artian, bahwa apa-apa yang disampaikan di dalamnya adalah hal-hal yang terasa ‘dekat’ denganku, namun asing dan tak sepenuhnya aku pahami pada saat yang sama.

Ini bukan jenis seri yang dengan mudah bisa aku rekomendasikan. Tapi kalau misalnya aku ditanya apakah ini seri yang bagus atau tidak, maka jawaban singkatnya, tanpa keraguan sedikitpun, ini bagus.

Melalui mata Yosaburou, kita mulai menjelajah hal-hal tersembunyi dalam masa lalu keluarga Shimogamo, yang kesemuanya berakar dari hilangnya Souichirou, sang ayah. Maksudku, ini terasa seperti pengalaman yang bisa dilalui siapa saja yang pernah kehilangan anggota keluarga mereka sendiri. Yosaburou bertanya-tanya pada orang-orang yang dia kenal, berbagai kerabat dan saudara yang dia kenal, soal apa-apa yang mereka lihat dan tahu soal mendiang ayahnya. Intinya jadi ke soal menggali sisi lain orang-orang dekat yang kita sangka sudah kita kenal gitu. Lalu walau prosesnya terlihat menakutkan, hasil akhirnya akan kembali memperkuat kita sebagai keluarga.

Gampangnya, ini seri yang lumayan sukses membuatku berpikir soal anggota-anggota keluargaku sendiri. Soal apa-apa yang telah mereka lalui, soal sejauh mana mereka telah kita kenal. Lalu yang paling bagus adalah saat seri ini membawa kita ke momen ketika kita mikir, “Aku enggak bisa percaya kalo ternyata si A dulu pernah melakukan ini!”

Serius, itu pengalaman yang aku tak sangka akan dapatkan dari menonton anime.

Aku mengerti bahwa kemampuan kita menyelami ‘sampah’ dan sisi gelap orang lain ada batasnya. Makanya, salah satu alasan lain yang membuat Uchouten Kazoku bagus adalah keseimbangan aneh yang dimiliki aspek komedi dan dramanya, yang memuncak dengan keonaran yang lumayan mengguncang pada penghujung cerita.

Kau Cuma Perlu Membuatnya Menarik

Bicara soal teknis, visual seri ini jelas berbeda dari gaya visual Yojou-Han Shinwa Taikei. Iya, sekalipun yang ditampilkan tetap pemandangan kota Kyoto dengan subjek-subjek latar yang itu-itu juga. Gaya gambar Uchouten Kazoku lebih berkesan dua dimensi dengan lebih menonjolkan warna-warni gitu. Tapi itu tak berarti gambar-gambar pemandangan khas P.A. Works absen di seri ini. Pemandangan-pemandangan itu secara mengesankan tetap ada, hanya saja dengan gaya visual yang berbeda saja.

Secara audio, seri ini pun kuat. Grup musk Fhana membawakan lagu penutup yang pas dengan nuansa pengharapan seri ini. Aku perlu menyinggung khusus seiyuu veteran Noto Mamiko dalam perannya sebagai Benten, yang kembali meyakinkanku bahwa kemampuan mengisi suara seiyuu veteran bisa sedemikian jauhnya dari orang normal.

Kalau membahas soal eksekusi, ceritanya kelihatannya mengikuti dengan patuh alur cerita di novelnya. Kita tak pernah bisa-bisa menebak apa selanjutnya yang akan Yosaburou dan keluarganya temui pada episode berikut yang kita lihat.

Aku mengerti kalau temanya bukan jenis yang dengan mudah diikuti oleh kebanyakan orang. Aku juga mengerti kalau Uchouten Kazoku juga tak berakhir sebagai seri yang menonjol. Tapi untuk para penggemarnya, dan kebanyakan penggemar karya Morimi-sensei lain, ada sesuatu di dalamnya yang terasa sangat berarti secara pribadi.

Kalian tahu, jenis hal pribadi yang tak perlu kau ungkapkan pada orang lain.

Oh. Iya juga.

Meski penyelesaian ceritanya dibeberkan kepada kita, kelihatannya memang sengaja ada banyak pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab. Apalagi, setelah kita memikirkannya, bahasannya bisa mengarah ke wilayah yang cenderung gelap.

Maksudku, sesuatu yang benar-benar gelap untuk ukuran seri dengan banyak warna seperti ini.

Yah, mungkin musim tayang keduanya kelak akan memberi lebih banyak jawaban.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A- ; Kepuasan Akhir: B+