alfare

Posts Tagged ‘comedy’

Seiren

In anime on 28/08/2017 at 13:00

Seiren itu aneh.

Aku punya alasan-alasan pribadi untuk mengikuti Seiren (judulnya kira-kira berarti: ‘jujur’, ‘kejujuran’, ‘sungguh-sungguh’), tapi cerita Seiren enggak kusangka bakal seaneh ini. Anehnya itu… mengangkat alis gitu. Jenis yang bikin kamu sedikit enggak nyaman, tapi sekaligus kepikiran di waktu yang sama.

Sedikit info dulu.

Anime orisinil Seiren diproduksi bersama Studio Gokumi dan studio pendatang baru AXsiZ. Pertama tayangnya di musim dingin awal tahun 2017. Aku masih kurang akrab dengan keluaran-keluaran Studio Gokumi, tapi aku tetap antusias saat Seiren diumumkan. Alasannya karena produksinya mengusung nama Takayama Kisai.

Jadi, Takayama-san adalah ilustrator sekaligus salah satu pencetus game romantis Amagami. Adaptasi anime Amagami, Amagami SS dan Amagami SS+, sempat lumayan menarik perhatian beberapa tahun sebelumnya. Agaknya, kesuksesan itu hendak diulang dengan bagaimana Takayama-san mendesain karakter-karakter di Seiren dan sekalian menangani naskah.

Selain beliau, musik seri ini ditangani Nobusawa Nobuaki. Penyutradaraannya juga ditangani Kobayashi Tomoki, sutradara Amagami SS+ yang belakangan lebih dikenal sebagai sutradara anime aksi Akame ga Kill!.

Berbeda dengan Amagami, Seiren murni diproduksi sebagai anime. Sifatnya orisinil. Tidak ada game pendahulu yang padanya ini didasarkan.

Sama halnya Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, Seiren pun mengadopsi format omnibus. Dengan kata lain, meski karakter-karakter utama yang diketengahkannya sama, seri ini terbagi ke dalam bab-bab berbeda yang berpusar pada karakter perempuan utama yang berbeda pula. Cerita dalam satu bab tidak benar-benar berhubungan dengan bab lain (meski ada banyak hal sama di dalamnya). Jadi begitu memasuki bab baru, cerita seolah berulang dari awal dan mengambil arah berbeda.

Musim pertama Seiren sepanjang 12 episode. Dengan tiga heroine utama, mengikuti formula Amagami SS, masing-masing bab di anime ini mendapat durasi empat episode. Tiap bab juga punya lagu penutup berbeda yang dinyanyikan pengisi suara heroine terkait.

Aku menyebutnya musim ‘pertama’ karena direncanakan akan ada musim kedua kalau anime ini sukses. Tapi itupun belum pasti. Jadi lebih banyak soal itu mending aku singgung nanti.

Mungkin perlu disinggung juga. Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+ bisa dibilang romantis dengan sisi-sisi lucu dan aneh. Tapi komedi romantis Seiren itu lebih ke arah… aneh.

Sial. Tetep enggak kepikiran kata lain yang bisa menjabarkannya.

Venison

Seiren berlatar di SMA Kibito, sekolah yang juga menjadi latar Amagami. Bedanya, Seiren berlatar pada masa sembilan tahun sesudahnya. Ada beberapa tempat di Amagami yang bahkan juga dikunjungi lagi di Seiren. Mungkin kau takkan langsung sadar karena arahan visualnya beda, tapi desain seragam para tokohnya itu beneran sama.

Dengan cerita yang berawal di musim panas (berkebalikan dari Amagami, yang lebih banyak berlatar di musim gugur dan musim dingin), Seiren bercerita tentang pengalaman-pengalaman romantis(?) Kamita Shouichi, siswa kelas dua di SMA Kibito yang dihadapkan pada sejumlah perempuan berbeda saat mulai memikirkan tentang masa depannya.

Shouichi ceritanya adalah adik lelaki Kamita Tomoe, siswi kelas tiga populer yang juga bersekolah di sekolah yang sama. Pada tahun sebelumnya, Moe-nee memenangkan juara pertama kontes kecantikan Miss Santa yang diadakan pada Festival Pendiri Sekolah di sekolah mereka. Sifat Moe-nee selalu ramah pada semua orang. Karenanya, berkat hubungannya dengan kakaknya, Shouichi sedikit banyak jadi mulai ikut dikenal di sekolahnya juga.

Di sekolah, Shouichi bersahabat dekat dengan Nanasaki Ikuo, kawannya sejak kecil yang kalem dan pintar (meski dulu sempat dikenal agak liar). Berperan secara konsisten sebagai teman bicara Shouichi, Ikuo juga adalah adik lelaki Nanasaki Ai, salah satu heroine di Amagami yang bisa didekati si tokoh utama.(Untuk kalian yang lupa, Ai itu karakter yang anggota klub renang, gadis cool yang juga salah satu teman dekat Miya, adik perempuan Tachibana Junichi, si tokoh utama. FYI, Junichi juga sempat tampil sebagai cameo di seri ini!)

Karena kegemaran mereka ngegame di game center, Shouichi dan Ikuo juga akrab dengan seorang kakak kelas bernama Araki Tetsuya. Araki-senpai yang tampan banyak dikagumi siswi-siswi di sekolah mereka. Tapi tanpa banyak orang tahu, Araki sebenarnya seorang penyayang binatang. Entah bagaimana, hal itu jadi membuatnya punya sisi kepribadian yang sedikit aneh.

Ada tiga tokoh utama perempuan yang Seiren sajikan (di paruh ini). Masing-masing seolah mewakili angkatan yang berbeda. Sesuai urutan bab mereka, ketiganya adalah:

  • Tsuneki Hikari, teman sekelas sekaligus siswi paling dikenal di angkatan Shouichi. Hikari yang lincah dan memikat menjadi runner up kontes Miss Santa tahun lalu (kalah dari Tomoe, kakak perempuan Shouichi). Sifatnya ceria, senang makan tapi gemar olahraga, dan terkadang keras kepala. Hikari juga diam-diam bekerja paruh waktu sebagai koki dan pelayan di suatu restoran, meski sekolah sebenarnya tidak memperbolehkan. Cerita babnya mengetengahkan bagaimana Hikari dengan enggan mengikuti sekolah musim panas yang juga diikuti Shouichi dan Ikuo. Bagaimana Shouichi tak bisa membiarkan Hikari sendirian lambat laun memunculkan desas-desus tentang mereka. Desas-desus tersebut malah dikompori Hikari sendiri, dan Shouichi akhirnya terdorong untuk bersikap serius tentangnya.
  • Miyamae Toru, kakak kelas dan teman akrab Moe-nee yang diam-diam luar biasa jago ngegame. Meski sering ngegame, nilai-nilai pelajarannya juga terbilang bagus dan ia pun pandai berolahraga. Meski begitu, Toru kerap kesulitan bicara dengan orang kalau tak punya kesamaan. Hal itu ternyata berhubungan dengan suatu pengalamannya di masa lalu. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Toru jadi sering bertukar item dengan Shouichi, Ikuo, dan Araki. Saat Shouichi menjadi partnernya dalam suatu game robot-robotan, Shouichi jadi tertarik lebih jauh dengan kepribadiannya. Toru ternyata pernah akrab dengan Hikari di waktu SMP.
  • Touno Kyouko, adik kelas sekaligus teman sejak kecil Shouichi selain Ikuo. Penampilannya cantik dan manis. Dia murid teladan. Tapi dia juga sangat gemar membaca komik cewek, dan mungkin punya jalan pikiran sedikit kekanakan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Kyouko meminta Shouichi menemaninya makan pancake, yang kemudian mengawali serangkaian kejadian yang membuat keduanya sama-sama mulai mengkaji hubungan mereka.

“Rasanya luar biasa saat kamu menendangku dari belakang.”

Secara konseptual, Seiren menurutku lebih bagus dari Amagami. Dalam perkembangannya, memang ini terkadang dikesampingkan sih. Tapi tema yang diangkat Seiren sebenarnya tentang menghadapi masa depan dan inilah yang membuatnya jadi bagus.

Daripada langsung fokus ke hubungan dengan para karakter heroine-nya, Seiren sempat terasa kayak seri drama kehidupan yang lebih umum. Jadi bukan cuma pertanyaan soal hubungan cinta saja yang diangkat. Tapi diangkat juga berbagai hal lain seperti sekolah, hobi, minat, dsb. dalam kehidupan para tokohnya. Secara mengesankan, ini tertuang dalam berbagai pikiran Shouichi. Jadi kayak, sesuatu yang selalu membayang-bayanginya secara bawah sadar gitu.

Masalahnya… mungkin ada di visi konsepnya yang belum mateng kali ya?

Awal cerita Seiren menurutku lebih menarik dari dugaan. Secara tersirat, berbagai hal tentang kehidupan para karakternya tercermin dari sikap, kebiasaan, dan cara bicara mereka. Seiren sama sekali enggak kelihatan kayak anime dating sim yang biasa. Nuansanya beneran kerasa begitu berbeda dari Amagami.

Sayangnya, di sepanjang dua bab yang pertama (bab Hikari dan Toru), fokus ceritanya kayak gagal kebangun gitu. Aspek hubungan antar karaternya kurang berhasil terjalin.  Akibatnya, daya tarik di awal tersebut jadi menurun dalam pelaksanaannya. Kualitasnya juga tak pernah benar-benar sampai berhasil menyamai kesan kuat Amagami SS.

Menyakitkannya, ini tuh benar-benar murni masalah naskah. Masalah ini mungkin bahkan bakal terhindari seandainya Seiren hasil produksi dari satu studio, dan bukan kolaborasi dari dua. Ceritanya enggak jelek, dan bahkan sangat menarik dari banyak segi. Tapi juga belum bisa dibilang bagus.

Di sisi lain, kalau membahas soal teknis sih, animasi Seiren sebenarnya juga punya banyak saat yang terkesan ‘kaku.’ Kualitasnya termasuk biasa.

Pengarahannya—soal gimana visualnya dipadu dengan dialog dan musik dalam satu adegan—terkadang kayak masih kurang pas. Padahal dari segi audio, seri ini termasuk lumayan. Voice acting-nya enggak buruk. Di samping itu, musiknya lumayan dan sejumlah lagu-lagunya juga terbilang enak didengar.

Soal desain karakter Takayama-san, ada yang berpendapat desain karakter Seiren terlalu mirip dengan satu sama lain. (Ketiga heroine sama-sama kurus dan berambut panjang, misalnya.) Aku memang agak merasa beliau terlalu memasukkan selera pribadi beliau di dalam seri ini sih. Tapi aku juga merasa konsep multidimensi yang Seiren usung soal ‘masa depan’ dan ‘kehidupan’ juga agak berperan.

Susah jelasinnya.

Intinya, aku menduga pembagian kerja antara kedua studio menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi hasil akhir Seiren. Visi para pembuatnya masih belum menyatu. Jadinya, visi tersebut juga kurang berhasil diterjemahkan saat seri ini sudah harus tayang.

Tapi yang mengejutkan dari Seiren, kualitas teknis dan naskahnya tiba-tiba mengalami kenaikan sekitar pertengahan seri. Para staf seakan menemukan momentum mereka lagi. Seiren jadi punya episode-episode terakhir yang lebih berkesan dari episode-episode awal. Babnya Kyouko ternyata jauh lebih berkesan dibandingkan babnya Hikari dan Toru.

Iya, tetap aja ini terasa aneh karena format ceritanya yang omnibus sih.

Nah, bicara soal itu…

“Aku jadi benar-benar gugup saat membayangkan bisa punya keturunan sama kamu.”

Balik lagi soal cerita, Seiren itu… ceritanya aneh.

Seriusan aneh.

Di atas kertas, memadukan elemen-elemen drama komedi dengan soal cita-cita, impian, sekaligus romansa bukan ide buruk. Tapi untuk Seiren, hasilnya itu aneh. Keanehan ini yang justru jadi kekuatan sekaligus kelemahannya yang terbesar.

Kekuatannya karena… enggak ada anime lain yang mirip Seiren. Bahkan Amagami SS juga enggak!

Kelemahannya karena… yah, Seiren jadi cenderung terlalu datar buat sebagian orang. Dengan kata lain, membosankan. Dan itu sesuatu yang enggak semestinya terjadi buat konsep kayak gini.

Sekali lagi, andai Seiren diproduksi sama satu studio, keanehan yang jadi kelemahannya ini kayaknya bakal langsung disadari dan kemudian diperbaiki. Tapi karena diproduksinya oleh dua, keanehan dalam naskahnya itu kayaknya baru ketahuan belakangan.

Jadi ringkasnya, selain plotnya kerap mengawang, selalu ada sesuatu yang ‘ajaib’ di dialognya. Pas kamu dengerin pertama kali, awalnya kamu akan biasa-biasa saja. Karena dituturkannya memang secara biasa. Tapi sedetik berikutnya, pas kamu memikirkannya lagi, reaksi kamu bisa jadi, “Wut? Barusan dia ngomong apa?” karena saking anehnya apa yang diucapkan. Nah, dialog-dialog kayak gini yang jadi kekhasan Seiren. Dan ini konsisten ada di ketiga bab.

Nah, Amagami SS juga punya fanservice yang ‘aneh’ gitu kan? Kamu nanya apa di dalamnya Seiren juga ada apa enggak? Jawabannya: iya, tapi enggak sebanyak Amagami. Cuman, pas ada, keanehan di Seiren itu bisa sekian kali lipat melebihi Amagami. Seiren seriusan patut dipuji karena bisa kepikiran segala macem inuendo kayak gini.

Lalu, soal plotnya…

Satu hal aneh lain tentang Seiren: kalau dalam Amagami misalnya, seorang heroine tidak akan terlalu berperan dalam bab heroine lain. Kalau dalam Seiren, mereka kayak punya peran lebih aktif. Malah kayak bisa ada konflik antar mereka. Jadi, struktur bab yang katanya omnibus tersebut sebenarnya lebih kayak struktur perkembangan cerita di Fate/stay night ketimbang Amagami.

Hal-hal yang dipaparkan di satu bab terus terbangun sampai ke bab berikutnya begitu. (Seperti soal subplot soal cinta terpendam Ikuo.) Tingkat interaksi antar karakter heroine di Seiren emang jadi lebih banyak. (Terutama dengan adanya Hikari.) Lalu kurun waktunya secara kronologis memang Hikari –> Toru –> Kyouko. (Memberi semacam kesan What if? pada masing-masing skenario.) Tapi iya, buat anime yang harusnya romansa kayak Seiren, ini jadi terasa luar biasa aneh.

Sisi baiknya, sekali lagi, adalah gimana bab Kyouko jadi memuaskan sebagai penuntas seri. Ceritanya Kyouko emang berbeda sendiri. Memang terasa seperti ada elemen-elemen cerita yang dicomot dari babnya Rihoko di Amagami SS dan Amagami SS+. Bahkan sampai ada karakter expy dari dua karakter senpai di Klub PKK segala! Tapi kalo aku ditanya akhirnya bagus apa engga, menurutku pribadi, akhirnya termasuk bagus.

Seandainya Seiren dikasih kesempatan lanjut, mungkin saja season keduanya bakal beneran ngejutin.

Legenda Gudang Pompa

Sebagai penutup, ada lumayan banyak karakter yang berperan dalam Seiren. Tapi tiga karakter berikut yang sebenarnya telah direncanakan sebagai heroine untuk season keduanya.

  • Hiyama Miu, siswi pingitan anggota klub renang SMA Putri Sakuragawa Nishi. Masih awam soal berbagai seluk beluk dunia. Dirinya pertama kali diperkenalkan sebagai sesama peserta sekolah musim panas di bab Hikari.
  • Kamizaki Makoto, siswi kelas satu anggota komite disiplin di Kibito. Teman dekat Kyouko. Dirinya tidak terbiasa berkonfrontasi dengan orang. Dia ditampilkan secara menonjol di bab Toru saat hendak mengambil foto di game center. (Ada indikasi kalau dirinya adalah adik perempuan Kamizaki Risa, karakter rahasia di Amagami.)
  • Sanjou Ruise, ketua komite disiplin yang agak galak, sekaligus atasannya Makoto. Dirinya berperan mencolok di bab Kyouko sebagai sosok yang mendorong Klub PKK untuk membuatkan rancangan hiasan.

Selain mereka, juga ada teman-teman dekat Hikari (yang punya hubungan kompleks dengannya). Ada Nagasawa Shiori, teman Moe-nee dan Toru, yang baik hati membantu dalam hal Comima. Lalu ada… dua orang karakter cowok yang seakan menjadi penggemar para cewek cantik di SMA Kibito. (Sayang mereka enggak lebih banyak berperan.)

Selebihnya, para karakter expy: ada Yoshida Mako di sekolah musim panas yang desainnya hampir sama persis dengan Tanaka Keiko, teman dekat Kaoru di Amagami. Lalu dua kakak kelas Uno Koharu dan Tokioka Nao punya sifat dan tampang yang sama persis dengan Yuzuki Ruriko dan Hiba Manaka di Amagami. Mereka bahkan sama-sama jadi anggota Klub PKK?

…Sejujurnya, aku jadi curiga apakah terjadi perubahan naskah secara mendadak menjelang akhir seri.

Akhir kata, bahkan kalau kau tipe yang minat terhadap anime-anime begini, Seiren mungkin terkesan membosankan. Tapi kalau kau bertahan, yah, ada hal-hal di dalamnya yang enggak akan kamu temukan di tempat lain.

Kalau kau fans Amagami, kamu enggak bener-bener perlu mengikuti Seiren. Tapi kalau kau sudah jadi fans Amagami saat mengikuti Seiren, ada sejumlah hal menarik yang bisa tiba-tiba kau sadari selama mengikutinya.

Sekali lagi, anehnya Seiren bukan aneh gila kayak di seri-seri komedi kocak kayak Excel Saga atau Nichijou gitu. Melainkan ‘aneh’ yang sekilas kelihatan normal, tapi saat kamu nyadar, lambat laun bikin kamu “Hah? Haah? HAAAAAAH?!” gitu.

Itu yang membuatnya jadi menarik.

(Di samping itu, aku lebih dari bersyukur bisa mendengar nyanyian Oku Hanako lagi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

Busou Shoujo Machiavellianism

In anime on 17/07/2017 at 17:38

Belakangan, waktuku tersita oleh naskah yang aku lagi kerjain.

Tapi belum lama ini, aku masih sempat mengikuti perkembangan anime Busou Shoujo Machiavellianism.

Juga dikenal dengan judul Armed Girls Machiavellianism (‘Machiavellianisme gadis-gadis bersenjata’; buat yang belum tahu, ‘Machiavellianisme’ adalah suatu paham yang digagas filsuf sekaligus ahli sejarah Niccolò di Bernardo dei Machiavelli pada awal abad ke-16, yang intinya membolehkan—dan mungkin bahkan menekankan—kepalsuan, pemaksaan, manipulasi, dan amoralitas untuk tercapainya suatu tujuan). Ini seri komedi romantis aksi bernuansa ilmu bela diri yang didasarkan seri manga karya Karuna Kanzaki. Ceritanya sendiri dipenai Kurokami Yuuya. Diserialisasikannya di majalah bulanan Monthly Shonen Ace milik penerbit Kadokawa Shoten, dan saat ini aku tulis, serialisasinya masih berlanjut.

Adaptasi animenya sendiri dikerjakan studio animasi Silver Link. Tachibana Hideki yang menyutradarai. Hasil akhirnya, mengingat beliau sebelumnya menangani Chaos Dragon, H2O: Footprints in the Sand, dan BlazBlue Alter Memory, menurutku terbilang bagus. Naskahnya dikerjakan oleh Shimoyama Kento. Musiknya ditangani Mizutani Hiromi dari Team MAX.

Ditayangkan pada musim semi tahun 2017, jumlah episodenya sebanyak 12.

(Sebenarnya, ada cerita panjang soal lisensi anime ini dan beberapa judul lain pada musim bersangkutan, tapi mungkin soal itu enggak usah aku ceritain.)

Bertingkah Seperti Burung-burung Kecil

Sekilas, Busou Shoujo Machiavellianism terkesan punya cerita yang enggak penting. …Tapi kalau dilihat secara menyeluruh pun, cerita seri ini memang sebenarnya enggak terlalu penting.

Seorang remaja SMA santai bernama Nomura Fudou dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena meng-KO 40 orang dalam suatu tawuran hebat. Tapi kemudian, dia pindah ke Akademi Simbiosis Swasta Aichi (apa ini bener terjemahannya?) yang prestisius dan berasrama, yang ternyata secara harfiah dikuasai oleh para siswi.

Alasan anak-anak perempuan menguasai sekolah ini adalah karena mereka semua diizinkan membawa senjata. Senjata beneran. Perguruan Aichi sebelumnya adalah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga terhormat yang baru pada tahun-tahun belakangan menerima siswa laki-laki. Sebagai langkah untuk melindungi kehormatan para siswi, para siswi diizinkan membawa senjata agar bisa menjaga diri dari para laki-laki.

Lalu entah siapa yang memulai, meski resminya murid-murid laki-laki diterima di sekolah ini, selama bersekolah di perguruan ini, mereka diwajibkan berhenti hidup sebagai laki-laki. Dengan kata lain, mereka semua harus hidup sebagai banci.

Nomura (aksen saat menyebut namanya diberikan pada suku kata pertama) jelas tak bisa menerima aturan ini. Meski mengusung moral yang lurus, Nomura juga menjunjung kebebasan lebih dari apapun. Tapi bahkan sebelum penolakannya, karena prestasinya dalam menghajar 40 orang dalam satu tawuran hanya dengan tangan kosong, Nomura telah menarik perhatian kelompok Tenka Goken (Supreme Five Swords, ‘Lima Pedang Terkuat’).

Tenka Goken adalah kelompok penjaga keamanan yang terdiri atas lima siswi paling kuat di Aichi. Selama bertahun-tahun, mereka menjaga harmoni di perguruan Aichi karena dibolehkan menegakkan aturan dengan membawa pedang sungguhan.

Singkat cerita, meyakini Nomura akan berbuat onar, diprakarsai seorang gadis bertopeng bernama Onigawara Rin yang ternyata menjadi teman sekelas Nomura, masing-masing anggota Tenka Goken memulai langkah-langkah mereka untuk mendisiplinkannya. Sementara di sisi lain, Nomura belakangan mengetahui bahwa untuk memperoleh izin pergi ke luar sekolah, ia perlu melengkapi kartu izin dengan stempel dari kelima anggota Tenka Goken. Karena Nomura ingin memperoleh izin untuk bisa bebas keluar, tanpa dapat dihindari, jalan hidup Nomura dan kelompok ini akhirnya berseberangan.

Namun, meski tak bersenjata apa-apa selain sarung tangan berpelindung yang menjadi andalannya, Nomura ternyata seorang ahli bela diri. Dia telah dididik oleh kakeknya sejak kecil dan digembleng oleh kakeknya untuk menguasai suatu ilmu bela diri tertentu. Hasilnya adalah jurus rahasia yang disebut Madan (‘peluru ajaib’), suatu serangan hentakan telapak dahsyat yang dapat dilepasnya dari kedua belah tangan dari posisi apapun.

Seiring dengan bentrokan demi bentrokan yang terjadi, satu demi satu gadis yang berhadapan dengan Nomura juga lambat laun menyadari kalau dirinya ternyata tidak seburuk yang mereka kira…

Catatan-catatan Skandal

Terlepas dari semuanya, para heroine utama seri ini, yang tergabung dalam Tenka Goken, terdiri atas:

  • Onigawara Rin, gadis berambut hitam pendek yang punya ciri khas berupa separuh topeng oni yang hampir selalu menutupi separuh wajahnya. Rin adalah pemimpin tidak resmi dari Tenka Goken, meski ia berada di kedudukan tersebut lebih karena dirinya yang paling punya inisiatif. Pembawaannya galak. Ia juga selalu lurus dan taat peraturan. Tapi dirinya juga punya sisi rendah diri yang membuatnya terkadang ragu terhadap diri sendiri. Dalam bertarung, Rin menggunakan ilmu pedang aliran Kashima Shinden Jikishinkage-ryuu yang mengutamakan ketepatan bentuk yang dipadukan dengan teknik-teknik pernafasan. Pedangnya berupa katana yang dinamai Onimaru. Adik kelas yang paling dekat dengannya adalah Mozunono Nono, yang kagum terhadap Rin dan menggunakan aliran pedang yang sama, tapi untuk pedang pendek jenis kodachi, meski ia sendiri bersenjatakan baton.
  • Kikakujou Mary, seorang gadis pirang rupawan berdarah campuran Jepang-Perancis. Ke mana-mana, ia senantiasa membawa kamus bahasa Jepang. Ia ahli anggar yang agaknya menggabungkan ilmu pedang konvensional dari Barat dengan ilmu pedang Jepang (aliran Jigen-ryuu?). Dalam bertarung, Mary melancarkan serangan-serangan beruntun yang mengincar titik-titik saraf lawan yang juga dipadukan pengendalian jarak yang lihai. Pedang yang digunakannya sejenis rapier, yang mengutamakan gerakan-gerakan tusukan. Sangat cantik dan anggun meski terkadang pemalu. Dirinya juga bisa bersikap licik saat sedang mau. Adik kelas yang dengan setia mengikutinya adalah si burikko, Chouka U. Baragasaki (bukan nama asli), yang menggunakan senjata cambuk.
  • Hanasaka Warabi, anggota paling senior dalam generasi Tenka Goken saat ini, seorang gadis pendek berambut pirang yang memiliki pembawaan seperti bangsawan. Memiliki seekor beruang peliharaan bernama Kyobo. Sebagai anggota senior, Warabi juga memiliki banyak pengikut serta pengaruh luas. Meski semula berkesan kaku dan tanpa ampun, Warabi bisa menjadi pengertian dan sangat bisa diandalkan kalau sudah kenal. Dalam bertarung, Warabi menggunakan aliran pedang Taisha-ryuu yang menonjolkan serangan kejutan dan gerak tipuan. Pedang yang digunakannya kurasa adalah sejenis nodachi.
  • Tamaba Satori, gadis penyendiri berambut gelap panjang dengan tingkah laku sulit ditebak. Dikenal memiliki perangai sangat aneh dan cenderung berbahaya. Matanya yang membelalak membuatnya pikirannya sulit dibaca. Menaruh rasa permusuhan terhadap Nomura bahkan sebelum mereka pertama berhadapan. (Alasannya ternyata karena ia tak terima bila disamakan dengan Morgan Freeman. Ceritanya panjang.) Dalam bertarung, Satori menggunakan gerakan-gerakan bercabang yang sangat sukar ditebak. Ilmu pedang yang digunakannya sedikit spoiler, tapi pada dasarnya ia merangkai bentuk dan gerakan dari berbagai ilmu pedang lain. Pedang yang digunakannya adalah nihontou polos bergagang dan bersarung kayu, tanpa pelindung tangan. Satori punya masa lalu aneh yang menjadi penyebab ia menjadi seperti demikian.
  • Inaba Tsukuyo, seorang gadis mungil serupa kelinci dengan mata buta yang hampir selalu terpejam. Meski demikian, pendengaran Tsukuyo luar biasa tajam. Hanya dengan mendengar sekelilingnya, Tsukuyo bisa mengintepretasi berbagai kejadian yang terjadi di Aichi. Tsukuyo anggota termuda dari Tenka Goken yang masih duduk di bangku SMP, tapi dirinya sekaligus juga yang paling kuat dengan ilmu pedang paling mengerikan. Gerakan-gerakan kilatnya membuat lawan-lawannya tak mampu berkutik. Ilmu pedang yang digunakannya juga sedikit spoiler. Kalau tak salah, pedang yang digunakannya adalah sejenis tachi. Mungkin karena selalu disegani, diam-diam Tsukuyo terkadang kesepian.

Sebenarnya ada satu heroine lagi, yaitu Amou Kirukiru, seorang gadis jangkung berambut panjang dan sangat cantik yang merupakan murid pindahan seperti halnya Nomura.

Amou di masa lalu dikisahkan berhasil menundukkan Tenka Goken saat mereka berupaya mendisiplinkannya. Dirinya satu-satunya murid di Aichi sebelum Nomura yang tidak bisa Tenka Goken kendalikan. Karenanya, Amou kemudian dikenal dengan julukan Joutei (Empress). Motivasi Amou di sepanjang cerita menjadi tanda tanya besar. Pengetahuannya tentang jurus Madan milik Nomura (dan soal bagaimana aksen diberikan pada suku kata pertama di namanya) mengimplikasikan adanya semacam hubungan masa lalu di antara mereka.

Amou adalah praktisi karate aliran Uechi-Ryu yang menekankan pengerasan tubuh. Setiap gerakan tangannya serupa tebasan pedang. Dalam dirinya telah tertanam teknik Auto Counter yang membuatnya mampu membalas setiap serangan yang ditujukan padanya bahkan secara separuh sadar. Dirinya berperan jadi semacam final boss yang harus Nomura hadapi di penghujung cerita. (Belakangan diimplikasikan Amou terobsesi dengan Nomura karena serangan Nomura bisa memberinya rasa sakit, sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya karena sudah lama mati rasa.)

“Buriburi! Buriburi!”

Sekali lagi, Busou Shoujo Machiavellianism itu… aneh.

Garis besar ceritanya enggak penting. Meski ada aksinya, genrenya yang utama sebenarnya adalah komedi romantis. Tapi romansa yang ada di dalamnya enggak bisa dibilang berat juga. Latar ceritanya terkadang sureal. Perkembangan karakternya terkadang mengangkat alis, dan cenderung konyol. Tapi… ada sesuatu tentangnya yang sulit dijelaskan, yang membuatnya berakhir lebih bagus dari dugaan.

Intinya: siapa sih yang nyangka seri tentang cowok yang berantem dengan cewek-cewek semata-mata agar dapet izin buat bisa keluar sekolah akan meninggalkan kesan sedemikian kuatnya tentang persahabatan dan pemahaman jati diri?

It’s weird.

Komedinya, meski benar-benar aneh, sebenarnya lumayan lucu. Jenisnya lebih ke komedi situasi yang lebih berbasis percakapan ketimbang slapstick. Jenis yang lebih mengandalkan interaksi karakter. …Meski memang perkembangan situasinya terkadang absurd.

Walau enggak sampai mengangkat hal-hal pseudo-filosofis seperti berbagai seri bela diri sekolahan lain, di luar dugaan, tetap ada nilai-nilai berbobot yang tersampaikan di ceritanya juga. Ada soal prasangka, ada soal kesetiakawanan. Ada juga soal kerja keras dan pemahaman diri sendiri/penerimaan orang lain.

Iya sih. Ini seri fanservice. Tapi implementasi berbagai elemennya benar-benar efektif. Perkembangan ceritanya juga selalu menarik dan tak selalu gampang ditebak.

Kalau kekurangan, adegan-adegan aksinya lumayan low key sih. Koreografinya sangat sederhana. Sama sekali tidak wah.  Bagaimanapun, ceritanya memang lebih menonjolkan aspek komedi romantisnya. Tapi di sisi lain, seperti ada semacam ‘keaslian’ dalam teknik-teknik bela diri yang digunakan di dalamnya juga.

Makanya, ini aneh.

Awalnya lucu melihat gadis-gadis manis ini melancarkan gerakan-gerakan bela diri yang mungkin saja benar-benar ada di kehidupan nyata. Tapi kalau kau bisa melihat melewati kesan awalnya, kau mungkin bakal ngerasa kalau karakter-karakter di dalamnya itu menarik.

Nomura terutama berhasil mencuri perhatian sebagai karakter utama. Meski lagaknya santai dan semaunya, dia setiakawan dan kuat. Tipe yang tak keberatan bersusah-susah selama itu masih sejalan dengan prinsipnya. Prinsipnya itu yang menggerakkan dia (meski, sekilas, prinsipnya itu kayaknya bener-bener enggak penting) dari awal sampai akhir. Lalu aku terkesan pada gimana dia mengkomunikasikan prinsip itu ke orang lain, menunjukkan posisinya di mana, membuat orang lain ngehargain dia sebagaimana halnya dia juga ngehargain orang lain.

Intinya, dia karakter yang lebih dalam dari yang sekilas terlihat.

Bukti Aku Ada di Sini

Bicara soal teknis, seri ini punya nilai-nilai produksi yang solid.

Visualnya menonjolkan permainan warna-warna cerah dan efek-efek pudar dengan animasi cukup solid. Mungkin kau tak cocok dengan gaya desain karakternya. Tapi secara umum, visual seri ini beneran bagus. Pada setiap adegan aksi, perubahan ekspresi para karakter di luar dugaan menjadi hal yang sangat diperhatikan dan hampir selalu menyiratkan banyak hal.

Dari segi audio, Mizutani-san memberikan good job. BGM-nya keren. Kebanyakan seiyuu-nya juga adalah seiyuu yang belum aku kenal. Tapi kesemuanya menurutku memberikan performa brilian. Mereka berhasil membuat setiap karakter terasa hidup seaneh apapun mereka. Mulai dari tawa khas Warabi sampai nada bicara Satori yang psikopatik, itu juga termasuk teman-teman seasrama Nomura seperti Masuko. Itu lengkap pula dengan nuansa terselubung untuk hal-hal yang semula tak tampak di permukaan.

Aku benar-benar kaget karena sampai dibuat ingin tahu perkembangan seri ini. Soalnya, meski mengetengahkan aksi bela diri, manganya termasuk jenis yang punya dialog banyak. Gimana ya? Jenis yang kesan awalnya sama sekali berbeda dari kesan akhirnya.

Cerita di animenya sendiri berakhir tuntas sih. Kesan akhirnya juga cukup kuat. Tapi yea, manganya masih berlanjut. Ada sejumlah tokoh baru menjelang akhir yang juga sempat ditampilkan sebagai teaser.

Aku tak tahu apa aku akan berkesempatan buat tahu lanjutannya atau tidak sih. Meski animenya terbilang baik, aku tidak melihat gelagat akan dibuatnya season dua soalnya.

Akhir kata, kamu mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari seri ini. Mungkin kamu awalnya enggak akan ngerti karena terselubung. Mungkin itu sesuatu yang sederhana dan enggak penting. Tapi itu tetap sesuatu yang bisa kamu ambil.

Ah, pastinya lagu penutup dan pembukanya keren. Terutama lagu penutup “DECIDE” yang dinyanyikan para seiyuu Tenka Goken. Itu lagu yang sederhana, tapi pas banget dengan nuansa seri ini. Aku jadi berharap Tenka Goken sebagai grup musik bakal bisa terus berkarya.

(Uh, buat kalian yang masih bingung dengan arti judulnya, ringkasnya itu tentang bagaimana Nomura menyikapi pendekatan paksa menghalalkan segala cara ala Machiavelli dari para gadis yang mencoba mendisiplinkannya. Perlu kuakui, judulnya sangat menarik perhatian.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

In anime on 28/06/2017 at 06:57

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou

In novel on 15/05/2017 at 07:59

Belum lama ini, aku jadi anggota J-Novel Club. Intinya, mereka layanan yang menerjemahkan secara resmi seri-seri light novel terbitan Hobby Japan dan Overlap ke Bahasa Inggris.

Keanggotaanku masih biasa sih, bukan premium. Keanggotaan biasa cuma membolehkan baca gratis semua buku yang terjemahannya masih dikerjakan. Dalam artian, buku-buku yang belum terbit digital secara final. (istilahnya, yang masih prepub, atau pre-publikasi) Ada porsi-porsi terjemahan yang mereka sediakan  mingguan. Jadwal rilis per bagiannya sudah mereka atur. Lalu, asal buku itu belum terbit, atau kebetulan sedang ada acara khusus, kita bisa baca bab-bab yang tersedia sepuasnya.

Di sisi lain, buku-buku yang tuntas terjemahan dan pengeditannya dan sudah resmi terbit, selain bab-bab awal yang jadi preview, sifatnya jadi tertutup buat semua anggota. Kalau mau baca, maka kita mesti beli. Kecuali, lagi, dalam kasus-kasus tertentu. (Atau, kalau kalian nyari bajakan.)

Enaknya kalau ada keanggotaan premium, ada kayak kredit yang diberikan tiap bulan gitu. Satu kredit bisa kita pakai untuk beli satu buku yang sudah terbit. Jadinya, kalau dihitung-hitung, bahkan kalau bukan yang premium pun, keanggotaan layanan ini benar-benar balik modal. Yang diterjemahkan di sini bukan versi web novel, melainkan versi light novel yang sudah cetak resmi. Lengkap dengan ilustrasi dan afterword juga. Karena itu, skema bisnis ini benar-benar mendukung para pengarang dan penerbit asli di sana.

Aku sudah menyinggung bagaimana waktu launching, J-Novel Club menggebrak dengan menghadirkan seri novel misteri sains fiksi Occultic;Nine. Animenya baru mulai tayang saat itu. Beberapa judul lain yang menonjol mencakup seri komedi Rokujouma no Shinryakusha?!, fantasi remaja Hai to Gensou no Grimgar, serta Ore ga Heroine o Tasukesugite Sekai ga Little Apocalypse?! yang sudah lumayan lama bikin penasaran sejumlah fans.

Seri novel isekai Smartphone yang animenya akan tayang musim depan juga sudah mereka kerjakan.

Tapi di antara semuanya, satu judul yang kuperhatikan khusus adalah Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou. Ini seri novel isekai agak terkenal karangan Shirakome Ryo. Ilustrasinya buatan Takayaki. Seri ini juga dikenal dengan judul Arifureta – From Commonplace to World’s Strongest. (Terjemahan judulnya kira-kira: ‘dari orang biasa menjadi yang terkuat di dunia.’)

“Apaan Ini?! Ini sampah!”

Aku pertama tahu tentang Arifureta saat mencari bacaan webnovel menjelang akhir 2016 lalu. Aku baru beres membaca bab terkini Kumo desu ga Nani ka?. Aku mau lanjut baca Desumachi, tapi aku masih belum sreg dengan bab-bab awalnya. Makanya, aku berkunjung ke situs novelupdates untuk mencari seri webnovel Jepang lain yang mungkin populer. Dari sana, aku menemukan judul ini.

Mulai ditulis tahun 2013 dan kalau tak salah, sudah tamat di negara asalnya (tapi masih belum tuntas diterjemahkan ke Bahasa Inggris saat ini aku tulis), Arifureta dikarang Shirakome-sensei di situs novel amatir Syosetsuka ni Narou. Nama pena beliau waktu itu Chuuni Suki. Alasan beliau menggunakan nama pena demikian karena beliau, nampaknya, punya gejala-gejala chuunibyou akut. Hal tersebut agaknya terbawa ke tulisan yang beliau buat.

Jadi, buat kalian yang belum tahu, Arifureta agak notorious di kalangan orang-orang yang pernah membacanya. Nuansa ceritanya yang semula edgy terkesan berubah drastis menjelang akhir buku pertamanya. Gampangnya, apa yang semula terkesan gelap dan serius berkembang jadi mengangkat alis dengan hadirnya elemen-elemen keseharian dan harem love comedy. Belum lagi dengan bumbu-bumbu dewasa yang tahu-tahu ada di dalamnya. Ditambah lagi, tokoh utamanya…

Gimana jelasinnya ya.

Intinya, seperti yang judulnya indikasikan, si tokoh utama berubah jadi orang yang sangat kuat. Terlalu kuat, malah. Dia bebas bersikap kayak gimanapun dia mau. Dia bebas membunuh siapapun yang menurut dia menghalangi jalannya. Dia juga bebas memandang rendah siapapun yang minta tolong ke dia (walau ujung-ujungnya, sesudah proses agak berbelit, dia bakal menolong juga.) Intinya, kepribadiannya berubah drastis tapi bukan dengan cara yang berbobot gitu.

Ini membuat segalanya agak aneh. Tema ceritanya di awal, kayaknya, adalah soal hubungan antar karakter dan balas dendam. Tapi, si tokoh utama kemudian berubah jadi orang paling kuat di dunia. Lalu sesudah itu, balas dendam dan hubungan dengan orang kayak bukan lagi jadi hal penting bagi dia. Dia malah berubah jadi terkesan egois dan enggak pedulian kayak sekarang.

Perubahan nuansanya enggak mulus. Makanya, lumayan wajar ada orang-orang yang kecewa dengan perkembangannya. Lalu, ya itu, elemen harem dan komedinya bisa terasa maksa.

Tapi di sisi lain, meski kemampuan penggalian karakter dan pemetaan plot beliau meragukan, ditambah bagaimana ceritanya sebenarnya tak serius pada sejumlah titik, mungkin karena bakat chuunibyou beliau juga, narasi Shirakome-sensei masih terbilang bagus. Ini diperkuat juga dengan pembangunan dunianya yang termasuk menarik.

Begitu cerita dibuka, kita langsung diperkenalkan pada karakter-karakter berjumlah enggak sedikit. Tapi bagusnya, semua karakter tersebut punya konsep yang jelas gitu. Premis ceritanya kuat, yaitu soal bagaimana Nagumo Hajime dan teman-teman sekelasnya tiba-tiba dipanggil ke dunia lain untuk menyelamatkannya dari bahaya. Kita dipaparkan secara runut soal gimana dunianya bekerja. Detil deskripsi latarnya keren. Ini diperkaya dengan konflik hubungan antar karakter yang ada sejak awal. Hasilnya lumayan berkesan.

Dengan kelemahan-kelemahannya, kalau membaca penuturan Shirakome-sensei sendiri, aku jadi memahami kenapa cerita ini sampai perlu ‘diperjuangkan’ oleh editornya untuk bisa terbit. Pada pertengahan 2015, seri ini terbit resmi juga sebagai light novel di bawah bendera Overlap. Penerbitan versi LN setahuku masih berlanjut saat ini kutulis.

Cerita versi LN setahuku tak beda jauh dibandingkan versi WN. Di samping pengeditan lebih rapi, kelebihan utama versi LN adalah adanya bonus cerita-cerita sampingan yang sifatnya tambahan, yang tak terlalu mengubah alur cerita utama.

Dengan kepopulerannya yang lumayan, Arifureta juga memperoleh adaptasi manga yang dibuat RoGa. Seri manganya masih relatif baru, baru mulai terbit pada akhir tahun 2016 (hari Natal?) lalu. Berhubung ilustrasi Takayaki-sensei lebih berfokus ke karakter, adaptasi yang dibuat RoGa-sensei jadi menonjol karena menampilkan desain berbagai monster yang Hajime hadapi.

Aku memutuskan baca Arifureta di J-Novel Club semula karena penasaran. Tapi dari rasa penasaran tersebut, aku lagi-lagi nemu seri yang enggak sepenuhnya bisa dibilang bagus, tapi secara meyakinkan bisa dibilang rame.

Pergi ke Dunia Lain Sana

Arifureta dibuka dengan bagaimana Hajime dikisahkan terjatuh ke dalam jurang gelap yang seolah tak berdasar. Keputusasaan menaungi seiring hilangnya cahaya di depan matanya.

Narasi lalu kembali ke beberapa waktu sebelumnya.

Hari itu adalah hari Senin, waktu yang bikin depresi bagi Nagumo Hajime.

Hajime ceritanya remaja otaku kurus dengan tampang senantiasa mengantuk. Dia sering begadang karena mengutamakan hobi di atas segala-galanya. Ayahnya bekerja di industri game dan ibunya adalah mangaka shoujo. Rencana awalnya dalam hidup adalah untuk bekerja di perusahaan ayahnya atau membantu pekerjaan ibunya. Dia tak gampang terpengaruh orang lain. Pada dasarnya, dia bersifat pendiam. Intinya, dia tipe yang hanya ingin dibiarkan hidup damai.

Masalahnya, Hajime diam-diam dibenci hampir seluruh teman sekelasnya.

Entah kenapa, secara berkelanjutan, sejak pertama kali masuk SMA, Shirasaki Kaori, gadis paling populer di sekolahnya, yang dikenal cantik dan lemah lembut dan baik hati, terus-terusan mendekati Hajime setiap hari.

Kebanyakan orang di sekeliling mereka sulit menerima kenapa orang datar, payah, gagal, dan ‘rendahan’ seperti Hajime bisa-bisanya akrab dengan Kaori. Memang Hajime siapa? Mereka tak bisa membayangkan Kaori benar-benar suka terhadap Hajime. Karenanya, mereka kira Hajime dengan sengaja menyusahkan Kaori agar Kaori mengurusinya setiap hari.

Hanya saja, Hajime juga tak mengerti. Setahunya, dirinya dan Kaori baru kenal pas SMA. Mereka jelas bukan teman masa kecil. Lalu terlepas dari segala isyarat yang coba Hajime berikan, sikap Kaori tak pernah berubah.

Situasi ini membuat Hajime stres karena Kaori merupakan salah satu dari geng empat orang paling menonjol di sekolahnya. Kebetulan, kesemuanya adalah teman sekelas Hajime. Selain Kaori, Mereka mencakup:

  • Amanogawa Kouki, cowok paling populer di sekolah. Tampan, pintar, jago olahraga. Seakan sempurna dengan kepribadiannya yang lurus dan caranya membawakan diri. Dirinya juga merasa Hajime keseringan merepotkan Kaori.
  • Sakagami Ryutarou, sahabat Kouki. Sangat jangkung, berbadan besar seperti beruang, dan berdarah panas. Kepribadiannya terbuka dan tak peka. Ia terang-terangan menunjukkan rasa kurang sukanya dengan Hajime yang dianggapnya pemalas.
  • Yaegashi Shizuku, gadis jangkung dan jago kendo, teman dekat Kaori, dan tak kalah populer darinya. Peka terhadap perasaan orang, dan karenanya menjadi satu dari sekian sedikit yang sebenarnya memahami situasi Hajime. Shizuku juga kenal lama dengan Kouki yang pernah berlatih di dojo keluarga Yaegashi, dan mereka berdua pernah sampai ke kejuaraan nasional.

Kedekatan Hajime dengan Kaori juga membuat Hajime diam-diam ditindas oleh geng berandalan di sekolah. Mereka terdiri atas Hiyama Daisuke dan kawan-kawannya: Saitou Yoshiki, Kondou Reichi, dan Nakano Shinji.

Daisuke tak bisa menerima kedekatan Hajime dengan Kaori. Alasannya tentu saja karena Daisuke sendiri diam-diam suka pada Kaori. Daisuke dan gengnya jadi kerap menggencet Hajime dan menjelek-jelekkan namanya.

Hajime di sisi lain tak bisa terang-terangan menolak Kaori. Ia sadar bahwa dengan bagaimana semua orang di sekolah memperhatikan mereka, menyakiti Kaori hanya akan membuat situasinya bertambah runyam.

Hajime sampai-sampai menggerutu. Kalau mereka berempat memang sedemikian sempurnanya, lebih baik mereka dipanggil ke dunia lain sana. Jadi pahlawan atau apa.

Tanpa diduga, ternyata benar-benar itu yang terjadi.

Pas jam homeroom hari itu, tiba-tiba muncul lingkaran sihir bercahaya yang memindahkan mereka semua ke dunia lain.

Esok yang Suram

Hajime dan kawan-kawan sekelasnya, beserta wali kelas mereka yang polos dan masih muda, Hatayama Aiko, tahu-tahu dibawa ke dunia lain bernama Tortus. Di sana, mereka disambut Ishtar Longbard, pria tua yang mewakili gereja suci yang menyembah Ehit, dewa yang melindungi manusia.

Ishtar menjelaskan kalau di Tortus, ada tiga macam ras:

  • ras manusia di utara,
  • ras sihir/iblis di selatan,
  • ras demi-human separuh binatang yang terasing di hutan luas di timur.

Ras manusia dan sihir bermusuhan. Manusia unggul dari segi jumlah karena relatif cepat tumbuh dan berkembang biak. Ras sihir unggul dari segi usia yang panjang dan kekuatan individu. Selama ini, kedudukan mereka seimbang. Tapi belakangan, ras iblis konon menemukan cara untuk menjinakkan monster-monster di alam liar.

Keseimbangan kekuatan antar ras kini terancam. Untuk mengatasinya, dewa Ehit-sama memanggil manusia-manusia dari ‘sebuah dunia lain yang berkedudukan lebih tinggi’ untuk menyeimbangkan kekuatan, yang dalam hal ini adalah Hajime dan kawan-kawannya.

Para remaja SMA pendatang dan guru mereka lalu ditampung di Kerajaan Heileigh. Heileigh adalah salah satu negeri manusia dan adalah negara yang paling dekat hubungannya dengan Gereja Ehit. Kouki yang karismatik dianggap Ishtar sebagai pemimpin. Mereka semua diperlakukan selayaknya tamu kehormatan.

Sesudah sadar bahwa apa yang mereka alami benar-benar terjadi, karena jalan pulang tak ada, Hajime dan kawan-kawannya setuju menjadi pahlawan yang melindungi pihak manusia. Aiko-chan-sensei mengkhawatirkan keselamatan mereka semua, tapi mereka tak punya pilihan. Di samping itu, saat dipanggil ke Tortus, mereka ternyata diberkahi kekuatan-kekuatan luar biasa yang membuat mereka di atas manusia-manusia lain.

Untuk bersiap menghadapi perang, para pendatang kemudian dilatih untuk mengembangkan kekuatan mereka. Mereka dididik Meld Loggins, kapten para ksatria Heileigh yang tegas dan simpatik.

Melalui suatu artefak produksi massal bernama Status Plate, orang bisa mengetahui potensi kekuatan mereka. Setelah ditetesi darah pemiliknya, artefak tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal. Tertera padanya, ada sesuatu yang disebut Job yang mengindikasikan bakat alami si pemilik. Selain memperlihatkan apa saja kemampuan (Skill) yang dikuasai, Status Plate juga memperlihatkan angka-angka parameter:

  • Level (Dalam skala 1-100, 100 mengindikasikan potensi puncak mereka yang tak bisa ditingkatkan lagi. Berbeda dari sejumlah seri isekai lain, orang meningkatkan parameter kekuatan untuk meningkatkan Level, bukan sebaliknya. Jadi Level hanya berfungsi sebagai indikator semata.)
  • Strength (kekuatan fisik, tenaga)
  • Vitality (vitalitas, daya hidup)
  • Defense (pertahanan)
  • Agility (kelincahan, kegesitan)
  • Magic (sihir)
  • Magic Defense (pertahanan sihir)

Orang-orang biasa di Tortus punya angka 10 untuk parameter-parameter tersebut. Tapi Kouki dan yang lain punya angka-angka dalam skala ratusan. Itu sekalipun mereka masih di Level 1!

Kouki pun ternyata memiliki Job Hero yang sangat langka, dengan berbagai macam Skill kuat, yang membuatnya seperti manusia super di antara manusia-manusia super. Kouki jadi persis seperti para tokoh utama dengan kemampuan cheat di seri-seri isekai yang Hajime ketahui.

Karenanya, alangkah terpuruknya Hajime saat mendapati bahwa dia jadi pengecualian atas hal ini. Secara mengherankan, semua parameter Hajime bernilai 10. Selain Skill Language Comprehension yang memungkinkannya memahami semua bahasa—yang lazim dimiliki semua pendatang dari dunia lain—Skill yang Hajime punyai hanya Transmute yang membuatnya bisa mengubah sifat bahan-bahan yang ia sentuh. Job yang dipunyainya adalah Synergist, Job tidak istimewa yang memberi bakat mengolah material seperti halnya pandai-pandai besi.

Bahkan sesudah berlatih dua minggu, kemajuan Hajime tidak signifikan. Sementara, teman-teman Hajime yang sudah di atas dirinya terus saja bertambah kuat. Itu termasuk Kaori. Itu termasuk juga Hiyama Daisuke dan gengnya yang terus menindasnya dengan kekuatan mereka yang baru. Hajime jadi semakin dipandang rendah, bahkan oleh orang-orang Tortus juga. Bahkan Aiko-chan-sensei, yang parameter kekuatannya setara Hajime, ternyata punya Job langka Farmer yang memungkinkannya mempengaruhi iklim dan bentang alam, memberinya kedudukan vital dalam perang yang akan datang.

Puncaknya, untuk membuktikan diri, Hajime nekat mempertaruhkan nyawa  melindungi teman-teman sekelasnya ketika ekskursi mereka ke Orcus Labyrinth—satu dari tujuh labirin misterius penuh monster yang ada di dunia—berjalan tidak semestinya. Namun dalam upayanya tersebut, salah seorang teman sekelas Hajime malah dengan licik menyerangnya dari belakang. Terjatuh ke dalam jurang, bahkan jerits tangis Kaori memudar tatkala Hajime ditelan kegelapan.

Lambung Logam

Porsi awal Arifureta memaparkan perjuangan Hajime selama terdampar di lantai-lantai bawah Labirin Orcus.

Hajime ketakutan setengah mati karena kehilangan sebelah tangan dalam serangan monster-monster buas. Tapi tanpa sengaja, Hajime menemukan kristal murni Divine Crystal (yang belum dikenalinya waktu itu) yang meneteskan cairan penyembuh Ambrosia yang kemudian menyelamatkan nyawanya.

Meski tak mengembalikan sebelah tangannya, Ambrosia menyembuhkan segala luka Hajime. Ambrosia sekaligus juga terus mempertahankan nyawanya, walau rasa laparnya tak hilang dan lambat laun semakin tak tertahankan.

Mengandalkan kemampuan Transmute yang terus diasah, Hajime berhasil membuat jebakan dan membunuh monster. Daging monster buruannya lalu dimakannya mentah-mentah karena saking laparnya. Tapi daging tersebut berdampak fatal bagi manusia. Menelan daging itu memberi Hajime penderitaan luar biasa. Hanya berkat Ambrosia, Hajime masih bertahan hidup.

Peristiwa tersebut memicu perubahan mental dan fisik pada diri Hajime.

Selain perubahan pada sifat dan pola berpikirnya (yang kini dengan amarahnya akan menggunakan segala cara untuk bertahan hidup), kerusakan tubuh berulang dari racun daging yang dimakannya sekaligus penyembuhan berulang berkat Ambrosia membuat tubuhnya makin berisi. Tinggi badannya juga bertambah. Lalu karena syok akibat penderitaannya, warna rambut Hajime dari hitam berubah sepenuhnya menjadi putih.

Membaca perubahan di Status Plate miliknya, Hajime juga mendapati bahwa Skill si monster—kilatan petir hitam Lightning Clad—jadi bisa digunakannya, walau dalam versi lebih lemah. Di samping itu, aura mana Hajime yang semula berwarna biru langit juga berubah menjadi hitam seperti layaknya para monster. Hajime memperoleh kemampuan untuk memanipulasi aliran mana di sekelilingnya secara langsung, tanpa perlu lagi menggunakan mantera dan formasi sihir seperti selayaknya manusia lain.

Kemampuan Transmute Hajime ikut berkembang. Kini dirinya punya Skill turunan untuk mengenali logam dan bijih batuan.

Sesudah percobaan berulang, dengan satu tangan, Hajime berhasil menyusun senjata pertamanya. Melalui Transmute, ia menciptakan pistol revolver yang dinamainya Donner dari bahan-bahan yang diperolehnya dari dasar labirin.  Selain dipicu batu api, peluru yang ditembakkan Donner juga dapat dipercepat secara elektromagnetis menggunakan Lightning Clad, menghasilkan daya hancur dahsyat setara railgun.

Berbekal Donner, Hajime menghabisi satu demi satu monster buas yang ditemuinya di Labirin Orcus.

Perjalanan Hajime di dalam Labirin Orcus lalu berujung pada pertemuannya dengan putri vampir yang telah disegel beratus tahun. Belakangan, sesudah dibebaskan, putri tersebut dinamainya Yue dan kemudian menjadi teman seperjalanannya.

Seperti halnya Hajime, Yue adalah korban pengkhianatan. Namun berkat kemampuan regenerasinya yang dahsyat, Yue tak bisa dibunuh. Akhirnya ia hanya sebatas disegel seorang diri oleh keluarganya, selama berabad-abad, dalam ruangan khusus yang mungkin disiapkan hanya untuknya.

Lolos dari berbagai macam monster, karena tak bisa menemukan jalan ke atas, Hajime dan Yue terus menelusuri jalan ke bawah. Lawan-lawan yang mereka hadapi semakin kuat. Hingga akhirnya, mereka menemukan ruang rahasia tersembunyi di dasar labirin milik Oscar Orcus, sang penciptanya. Di dalamnya, terkuaklah kenyataan tentang dunia Tortus yang sesungguhnya.

Gun Fu

Shirakome-sensei memakai sudut pandang ketiga serba tahu dalam Arifureta. Gaya narasinya tak menonjol, tapi antusiasme beliau dalam menjabarkan berbagai rincian di dalam ceritanya terasa pada setiap kalimat.

Bagi banyak orang, ada banyak hal dalam Arifureta yang bakal bikin mengernyit. Tapi buat yang suka hal-hal kayak gini (dan aku percaya jumlah mereka lumayan banyak), Arifureta termasuk rame. Isi ceritanya belum tentu kamu sukai, tapi cara penyampaiannya yang runut dan detil bisa membuat kamu tertarik.

Aku pribadi merasa Shirakome-sensei tipe yang menikmati proses membuat ceritanya. Iya, ada kesan amatiran dan main-main. Tapi tercermin dalam tulisannya kalau beliau sendiri menyadari hal ini, dan memang ada kalangan pembaca tertentu yang takkan mempermasalahkannya.

Begitu-begitu juga, tetap ada bagian-bagian tertentu di Arifureta yang di luar dugaan bagus. Ada pihak-pihak tersembunyi yang bermain di baik Kouki dan kawan-kawannya. Negeri-negeri manusia tak cuma satu, masih ada Kekaisaran Hoelscher dan Republik Fuhren, dan antara mereka terjadi konflik kepentingan. Ada kejelian mata Shizuku yang membuatnya jadi karakter swordswoman yang sangat moe buat beberapa orang. Lalu ada juga Hajime, yang meski kini tak segan bersikap kejam, yang tetap menjaga integritasnya, bukti bahwa dirinya masih belum berubah sepenuhnya jadi monster seperti yang ditakutkannya.

Itu semua diiringi dengan kehebatan-kehebatan konyol yang jadi bisa Hajime lakukan. Status Plate Hajime tak bisa lagi membaca potensinya. (Level yang tertera adalah ‘??’) Dengan Transmute dan segala turunannya, Hajime bisa menciptakan bermacam senjata yang seakan tak ada habisnya. Dengan dibantu Yue, Hajime menciptakan (semacam) sepeda motor, menciptakan (semacam) mobil, menemukan cara penghancuran struktur sihir, menciptakan (semacam) kapal selam, menciptakan (semacam) drone UAV, hingga nantinya menciptakan (semacam) satelit yang jadi salah satu serangan terkuatnya.

Mungkin keimbaan ini setara dengan hal-hal serupa yang ada di Desumachi. Hanya saja… mungkin Desumachi masih lebih baik pemaparannya? Perkembangan di Arifureta memang terasa tiba-tiba sih.

Mencari Jalan Pulang

Buat yang penasaran, dalam perkembangan cerita, Hajime dan Yue kemudian mendapati bahwa manusia dan seluruh ras lain yang ada di Tortus hanyalah bidak-bidak permainan para dewa. Di masa silam, tujuh ‘pembelot’ yang menyebut diri mereka sebagai Liberators memimpin pemberontakan untuk mengubah nasib rakyat Tortus. Tapi kekalahan para Liberator di tangan para dewa membuat mereka menyembunyikan diri, yang jadi awal mula tujuh labirin misterius yang tersebar.

Mengetahui kenyataan ini, Hajime memutuskan untuk mengabaikan segala konflik. Persetan dengan Tortus. Ia lebih memilih berfokus menemukan jalan pulang ke Bumi.

Cara pulang ini diindikasikan tersembunyi dalam enam labirin lain yang belum dipastikan lokasinya. Di samping perjalanan Hajime untuk menemukan keenam labirin lain, Arifureta lalu berkembang lewat konflik dengan teman-teman lama Hajime, kepentingan bangsa-bangsa lain, sekaligus para dewa.

Buat kalian yang penasaran soal aspek haremnya, total love interest yang akhirnya ‘jadi’ kudengar ada delapan. Tiga dari mereka berasal dari dunianya yang lama. Tadinya, aku mau memaparkan mereka siapa saja, tapi nanti jadinya terlalu spoiler. Hubungan-hubungan yang terjalin menurutku agak maksa sih (usia mereka beragam!), tapi kurasa itu bukan hal aneh buat seri-seri isekai kayak gini.

Soal Arifureta, aku paling terkesan dengan pembahasan soal integritas Hajime. Dalam hal ini, usahanya menjaga keselarasan antara kata-kata dan perbuatan. Pemaparannya memang konyol, tapi itu hal yang semakin langka di masa-masa sekarang. Karenanya, aku senang bisa melihatnya dalam sesuatu kayak gini.

Mungkin kunci untuk bisa menjaga integritas memang adalah dengan bertambah kuat?

Ada lumayan banyak seri isekai lain yang berusaha memaparkan nuansa edgy seperti Arifureta. Tapi anehnya, hanya sedikit yang benar-benar berhasil. Aku juga tak paham. Mungkin Arifureta memang kasus khusus?

Akhir kata, kurasa aku akan tetap mengikuti perkembangan Arifureta untuk saat ini.

Setidaknya, pembangunan dunianya menarik.

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! 2

In anime on 05/05/2017 at 07:34

(Ini adalah ulasan untuk musim tayang kedua Konosuba. Ulasan untuk yang pertama bisa dilihat di sini.)

Lagi ada banyak yang kuurusi belakangan. Urusan pribadi (salah satu hubunganku gagal belum lama ini), urusan kantor (ada teman sekantor mau dirumahkan), urusan hubungan sama orang (ada sedikit konflik antar tetangga). Ditambah lagi, belum lama ini komunitas lagi ramai dengan hilangnya salah satu situs paling berarti bagi para penggemar kebudyaan visual Asia. Tapi temanku memintai pendapat soal Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku o! 2 (di samping soal sejumlah hal lain). Lalu aku jadi mikir, mungkin ini waktu tepat untuk mengungkapkannya.

Sebagaimana yang semua penggemar tahu, KONOSUBA – God’s blessing on this wonderful world! 2 adalah musim tayang kedua dari adaptasi anime Konosuba. Ceritanya masih diangkat dari seri novel fantasi komedi karangan Akatsuki Natsume dengan ilustrasi buatan Mishima Kurone. Produksinya masih dibuat Studio DEEN. Staf yang menanganinya juga masih sama; Kanasaki Takaomi sebagai sutradara, Uezu Makoto yang membuat naskah untuk komposisi seri, dan musik oleh Kouda Masato.

Tentu saja, berhubung ini sekuel yang sudah direncanakan, kalau kalian sudah menggemari season pertamanya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal season keduanya.

Paling soal bagaimana Satou Kazuma, sang tokoh utama, jadi dihukum mati atau tidak.

Untuk yang lupa, di akhir musim tayang sebelumnya, Kazuma ditahan sesudah (tanpa sengaja) melakukan sesuatu yang membuatnya dituduh (ehem!) makar. (Ini tuduhan yang populer sekali belakangan.) Tapi dengan cepat kita juga tahu kalau kematian pun bukan sesuatu yang agaknya Kazuma permasalahkan…

Terlepas dari itu, jumah episodenya lagi-lagi hanya sebanyak sepuluh. Dengan kata lain, season kali ini kurang lebih mengadaptasi buku 3 dan 4 dari seri novelnya. Lalu enggak, sayangnya, belum ada konfirmasi soal ada apa enggaknya season 3, walau ada lumayan banyak fans mengharapkannya.

Pengalaman Dengan Bank

Enggak rame kalau aku ceritain. Tapi kalau mau sedikit disinggung, paruh pertama Konosuba 2 tentang bagaimana Kazuma harus membersihkan nama baiknya sesudah dituduh yang aneh-aneh. Dua rekan sekelompoknya, Megumin dan Aqua, sama-sama mencoba. Tapi justru Darkness yang menjadi penentu akhir kasus Kazuma saat dirinya mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya.

Darkness ternyata adalah putri bangsawan keluarga Dustiness yang ternama,  Dustiness Ford Lalatina. Lalu dengan kuasanya sebagai bangsawan, Darkness membantu Kazuma dengan dakwaan yang ditimpakan kepadanya.

Uh, bener ini yang terjadi ‘kan? Darkness membantu Kazuma?

Yah, pada waktu yang hampir sama, ada hal-hal lainnya juga. Ujung-ujungnya, Kazuma dan kawan-kawannya jadi berhadapan dengan Vanir, satu lagi antek Raja Iblis yang merupakan rekan kerja lama Wiz, sang lich pemilik toko.

Paruh keduanya sendiri mengisahkan sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu, yakni keluarnya Kazuma dan kawan-kawannya dari kota Axel, tempat di mana sebagian besar cerita berlatar selama ini, menuju kota lain! Dalam hal ini, kota indah Arcanretia, walau urusan mereka cuma untuk berwisata ke pemandian air panas sih.

Tapi lagi-lagi di sini pun, banyak hal terjadi! Ujung-ujungnya mereka bertemu dengan Hans, satu lagi antek Raja Iblis yang lain!

Seperti yang Kazuma sendiri bilang, dunia game ini benar-benar punya keseimbangan yang buruk.

“Aku tak keberatan dengan pad!”

Bicara soal teknis, meski sebenarnya enggak jauh beda, Konosuba 2 menurutku sedikit lebih bagus dari season sebelumnya. Selain berhasil mengembangkan lebih jauh fondasi yang sudah terbangun dari musim sebelumnya, ceritanya juga dituntaskan dalam titik yang positif.

Warna-warna cerah dan terang masih banyak digunakan dalam visualnya. Ekspresi muka para karakternya yang fleksibel kali ini dikasi fokus lebih banyak, yang lumayan nyambung dengan berbagai lelucon plesetannya. Ini diseimbangkan dengan penggambaran adegan-adegan aksi dramatis yang benar-benar keren. Tentu saja, meliputi ledakan-ledakan biasa yang dibuat Megumin serta aksi-aksi nekat Kazuma. Eksekusi animenya dalam hal ini benar-benar memuaskan, dan membuat kita kayak bisa memaklumi jumlah episodenya yang relatif sedikit.

Soal audio, Machico kembali hadir membawakan lagu pembuka yang tak kalah menariknya dari yang sebelumnya. Lagu penutupnya, seperti halnya “Chiisana Bokensha”, lagi-lagi adalah jenis yang dinyanyikan bersama oleh Aqua, Megumin, dan Darkness, walau perlu kuakui kalau aku sedikit lebih menyukai lagu penutup yang lama. Tapi yang paling berkesan dalam aspek ini, yang lagi-lagi perlu kusinggung khusus, meski seiyuu para karakter lain juga memberi kerja bagus, adalah peran Fukushima Jun sebagai Kazuma. Beliau benar-benar berhasil menjadi kayak penentu keberhasilan keseluruhan seri ini. Lalu dirinya benar-benar memberikan good job.

Rasanya aneh mengatakan ini. Konosuba 2 memperkenalkan banyak karakter baru dan mereka tampil hanya sebentar. Seperti Yun Yun, teman sekampung Megumin yang diperkenalkan kembali dari OVA-nya, yang agaknya kesepian karena tak punya teman. Lalu Sena, juri Kerajaan Belzerg yang menangani kasus Kazuma. Lalu ada juga ayah Darkness, Dustiness Ford Ignis, serta tunangannya, Alexei Barnes Walter. Belum lagi Eris, sang dewi junior Aqua yang kelembutan hatinya membuat hati Kazuma meleleh. (Dugaan sejauh ini adalah bahwa dirinya saat sedang menitis adalah sebagai Chris, sahabat Darkness yang berprofesi sebagai Thief. Itu, yang celana dalamnya pernah Kazuma curi.) Tapi meski demikian, hasil akhir Konosuba 2 tetap memuaskan.

Maksudku, agak tersamar peran para karakter baru ini apa. Kita juga tak benar-benar bisa bilang mereka mengalami banyak perkembangan. (Atau bisa?) Lalu para karakter utama yang kita ikuti nasibnya juga gitu-gitu aja (walau memang sedikit membaik?).Tapi kepuasan saat kita tiba di akhir cerita Konosuba 2 tetap ada.

Berkah Untuk Dunia Ini AND YOU

Akhir kata, mengikuti Konosuba 2, aku belajar bahwa separah apapun keadaan, segimana kayaknya segalanya enggak ada harapan, betapapun kamu merasa enggak ada lagi yang bisa kamu lakukan, segala sesuatu—secara konyol—masih bisa berakhir baik.

Aku suka dengan gimana Kazuma dkk secara rutin jadi mengacungkan jempol tiap kali mereka berhasil membereskan misi.

Tentu saja, semua para karakter lama, seperti Luna, sang penjaga kasir petualang; mendiang Beldia; si berandalan; dan bahkan Mitsurugi Kyouya juga sama-sama tampil kembali. Jadi singkat cerita, secara enggak terduga, kedua musim tayang anime Konosuba benar-benar adalah waktu menyenangkan.

Lumayan wajar bagaimana para penggemar mengharapkan kelanjutannya.

Apa aku jadi kepengin membaca novelnya atau enggak? Hmm. Mungkin saja ya?

Yah, kita lihat nanti.

Yeah, dunia ini suram. Tapi selalu ada berkah yang bisa kalian dapatkan kalau kalian mencarinya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A

Wooser no Sono-hi-gurashi

In anime on 13/03/2017 at 23:14

Aku merasa perlu menulis tentang Wooser’s Hand-to-Mouth Life karena hanya itu yang bisa aku tulis untuk sekarang ini.

Juga dikenal dengan judul Wooser no Sono-hi-gurashi, ini merupakan seri anime CG pendek yang sempat dibuat sampai tiga season, masing-masing sepanjang satu cour, semenjak pertama tayang pada Oktober 2012. Season kedua muncul pada Januari 2014. Sedangkan season ketiga muncul secara agak tak terduga pada Juli 2015. Keseluruhannya diproduksi oleh studio Sanzigen Animation Studios, dengan Yamada Toyonori menyutradarai dua musim tayang pertama, dengan naskah buatan Fudeyasu Kazuyuki, serta sutradara ternama Mizushima Seiji (Gundam 00, Fullmetal Alchemist) yang menyutradarai musim tayang ketiga.

Kenapa aku menjadi penggemar seri ini?

Pertama, karena aku memang menyukai hal-hal imut.

Kedua, karena aku simpati(?) pada karakter Wooser sendiri, semacam makhluk ajaib yang hidup di dalam Internet dan suka uang, daging, remaja perempuan, dan baju seragam sekolah remaja perempuan.

Wooser yang bertubuh bulat kuning secara sekilas memang nampak menggemaskan. Tapi jangan tertipu! Besar kemungkinan jiwanya telah korup! Dirinya pemalas, mesum, dan sebagainya, dan sebagainya. Intinya, membuat pasangan gadis kembar Rin dan Len (yang tak kalah imut) yang menampungnya kadang-kadang sebal terhadapnya.

Tapi Wooser punya sisi kerennya juga dengan bagaimana dia…

Dia…

Yah, ditambah lagi dengan bagaimana dirinya punya semacam versi robot tiruan berwarna hitam bernama Darth Wooser! Menurutku itu keren!

Lalu ada lagi Mecha Wooser, robot raksasa milik Wooser dan berbentuk Wooser yang memiliki tangan bor yang pada beberapa episode juga bisa dipiloti Wooser!

…Oke. Sebenarnya, daya tarik terbesar seri ini ada pada bagaimana karakter sekonyol Wooser disuarakan oleh Miyano Mamoru. Tentu saja ada kesan aneh yang tak ada habis-habisnya dengan bagaimana karakter enggak jelas begini dihidupkan dengan suara dalamnya Setsuna F. Seiei.  Seperti sesuatu yang membuat kita geli gitu.

Ketiga.. hmmm, mungkin karena banyaknya cameo dari seri-seri anime lain? Mulai dari Miss Monochrome sampai Ultraman.

Menambah kadar keimutannya, ada dua teman sekolah Rin dan Len yang kadang ikut nimbrung, yakini Yuu dan Miho. Keduanya mungkin tak bisa banyak dikomentari kalau soal kepribadian. Tapi keduanya juga punya rekan binatang(?) mereka masing-masing!

Jadi urutan pasangannya kurasa adalah:

  • Rin dengan Wooser
  • Len dengan Darth Wooser
  • Yuu dengan “Binatang yang namanya tak boleh disebut.” (yang bentuknya seperti burung hantu putih yang murah senyum.)
  • Miho dengan Ajipon (semacam rakun hitam pendiam yang sering menjadi sasaran rasa iri Wooser)

“Sapi, kenapa sih kamu begitu enak?”

Jadi, terlepas dari segalanya, anime ini imut. Musik yang ditangani oleh Sakabe Daisuke dan Watanabe Makoto lumayan berhasil menarik perhatian dengan keenggakjelasannya. Ini dilengkapi dengan berbagai soundtrack keren yang sebagian di antaranya disumbangkan oleh grup Supercell yang terkenal.

Eh? Kenapa bisa?

Alasannya karena… Wooser merupakan karakter ciptaan Usa Yoshiki, salah satu personil Supercell, dengan bantuan ilustrator Fujinoko Tomoko. Keduanya sempat bekerjasama membuat semacam kolom jurnal pendek gitu, dan dari sanalah, Wooser konon terlahir. (‘usa’, ‘wooser’, kelinci, nangkep leluconnya?)

Uh, bicara soal teknis, dengan warna-warninya yang banyak, tentu saja kesan animasinya terbilang terbatas kalau mengingat durasinya. Mulai dari serangan kaijuu sampai pengandaian sehari-hari enggak penting. Tapi ada rasa menghibur aneh yang setiap episode Wooser punyai.

Apa karena musiknya?

Iya juga. Mungkin karena musiknya.

Musim tayang pertama dan keduanya hanya sekedar ‘menarik’ saja, dan terutama terasa memuaskan karena… sekali lagi, musik penutupnya. (Miyano-san membawakan sendiri lagu penutup untuk season kedua.) Tapi perlu aku catat, pada season ketiga, seperti ada semacam lonjakan kualitas yang tak disangka berkat tangan dingin Mizushima-san gitu. Hasilnya benar-benar ramai dan mencolok. Bahkan ada adegan-adegan pertarungannya!

Yah, sudahlah. Biar nanti aku coba tambahkan lagi soal ini.

Aku memang jarang mengikuti seri-seri anime pendek. Tapi Wooser di waktu itu benar-benar menjadi pengecualian. Habisnya, meski kerap gaje, kadang juga ada banyak hal tak terduga terjadi, termasuk hal-hal menyentuh.

Atau sudahlah. Mungkin juga sebenarnya karena jauh di lubuk hati, aku pun sebenarnya punya ketertarikan kuat sama uang, daging, dan gadis-gadis remaja.

Yah, sudahlah.

Uchouten Kazoku

In anime on 28/12/2016 at 11:38

Ossu.

Berhubung season keduanya sudah akan diproduksi, bahasan kali ini soal Uchouten Kazoku.

Uchouten Kazoku, atau yang juga dikenal dengan judul The Eccentric Family (‘keluarga yang nyentrik’) berawal dari novel buatan Morimi Tomohiko. Seri ini sekilas terkesan seperti cerita komedi ringan. Tapi sebenarnya ini termasuk seri drama bertema keluarga yang menggugah dengan cara yang tak biasa.

Pertama diterbitkan pada September 2007 oleh penerbit Gentosha, Uchouten Kazoku mulai lebih dikenal semenjak adaptasi anime TV-nya dibuat studio P.A.Works pada pertengahan 2013. Penyutradaraannya dilakukan oleh Yoshihara Masayuki. Naskah ceritanya ditangani oleh Suga Shoutarou. Musiknya dikomposisi oleh Fujisawa Yoshiaki. Lalu jumlah episodenya sebanyak 13.

Ada dua alasan kenapa aku tertarik pada Uchouten Kazoku. Pertama, karena statusnya sebagai karya Morimi-sensei. Beliau penulis asli cerita Yojou-han Shinwa Taikei, yang pada tahun 2011 diadaptasi ke bentuk anime oleh studio Madhouse. Seri drama aneh yang juga berbagi latar dengan Uchouten Kazoku ini berakhir menjadi salah satu seri favoritku.

Alasan kedua, karena desain karakter orisinil untuk anime ini dibuat oleh Kumeta Kouji. Kumeta-sensei adalah pengarang manga komedi satir Sayonara, Zetsubou-sensei. Meski karya-karya beliau tak pernah bisa sepenuhnya aku sukai, gaya gambar beliau yang terkesan sederhana selalu punya kesan atraktif. Sayonara, Zetsubou-sensei dulu cukup populer untuk diadaptasi sampai tiga season oleh studio SHAFT. Makanya, begitu proyek anime Uchouten Kazoku diumumkan, aku berpikir, kapan lagi gaya gambar Kumeta-sensei akan dianimasikan lagi? (Maksudku, yang tanpa diiringi keluhan-keluhan khas beliau soal zaman sekarang.)

Singkat kata, aku jadi merasa Uchouten Kazoku satu anime yang benar-benar perlu aku ikuti.

Noryo-Yuka no Megami

Walau mengangkat tema keluarga, Uchouten Kazoku agak susah dijelaskan tentang apa.

Latarnya di Kyoto, di zaman modern. Lalu ceritanya berfokus pada suka duka keluarga tanuki (semacam musang) marga Shimogamo yang berasal dari wilayah sekitar kuil Shinto bernama sama. Seperti dalam cerita-cerita rakyat, makhluk-makhluk tanuki tersebut memiliki kemampuan berubah wujud. Mereka dapat berubah baik menjadi benda hidup maupun benda mati. Lalu berbekal kemampuan berubah wujud inilah, mereka menjalani hidup di tengah keselarasan tak biasa antara komunitas tanuki mereka sendiri, peradaban manusia, dan kalangan tengu.

…Sekali lagi, buat kalian yang masih belum sepenuhnya terbayang, ada tiga jenis ras yang saling berinteraksi, yakni:

  • Tanuki
  • Manusia
  • Tengu (Siluman… gagak berhidung panjang? Dengan kemampuan mereka untuk terbang dan berubah ke wujud manusia juga, mereka dipandang keramat dan dalam mitologi sering dianggap sebagai utusan dewata.)

Ketiga ras tersebut sama-sama tinggal di Kyoto.

Semua tanuki dan tengu tahu tentang keberadaan ras-ras lain. Namun dari kalangan manusia, hanya individu-individu tertentu saja yang tahu tentang adanya tanuki dan tengu di tengah-tengah mereka.

Salah satu individu tertentu tersebut adalah seorang wanita sangat cantik yang dikenal dengan sebutan Benten.

Benten, yang bernama asli Suzuki Satomi, adalah perempuan muda yang bukan hanya disegani, tapi juga bahkan agak ditakuti oleh orang-orang yang mengenalnya dari ketiga pihak. Selain cantik bagaikan dewi, ada kekuatan supernatural juga yang Benten punyai, yang membuatnya bisa terbang seperti halnya para tengu. Di samping itu, Benten juga teramat cerdas, dan hampir tak ada orang yang benar-benar tahu tentang maksud di balik berbagai tindakan dan ucapannya.

Keluarga Shimogamo sendiri adalah salah satu keluarga tanuki paling dikenal di Kyoto. Alasannya karena mendiang pemimpin keluarga tersebut, Shimogamo Souichirou, sewaktu memegang jabatan sebagai Nise-emon, berhasil menyelesaikan konflik antar para klan tanuki sekaligus mempersatukan mereka. Beliau orang yang dikenal dengan karisma dan wibawanya. Namun demikian, pada suatu titik, Souichirou meninggalkan keluarganya dan menghilang tanpa kabar. Lalu sesudah bertahun-tahun, dirinya kini diyakini sudah meninggal.

Anggota-anggota keluarga yang Souichirou tinggalkan antara lain:

  • Ibu Shimogamo, istri mendiang Souichirou yang kini mendedikasikan hidupnya untuk kesejahteraan anak-anaknya. Hobinya (yang sebenarnya juga caranya mengatasi duka) adalah mewujudkan kecintaannya terhadap pentas teater Takarazuka dengan crossdress sebagai lelaki. Nama aslinya sampai akhir tak pernah terungkap.
  • Shimogamo Yaichirou, putra pertama yang kini menjabat sebagai pemimpin keluarga. Ingin bisa mengikuti jejak ayahnya sebagai Nise Emon, namun ia belum cukup matang dari segi kepribadian, kemampuan, maupun pikiran.
  • Shimogamo Yajirou; putra kedua, yang karena suatu alasan, telah kehilangan kemampuannya untuk berubah wujud. Kini berwujud katak dan menjalani hidupnya di dasar sebuah sumur, sembari sesekali memberikan nasihat-nasihat kehidupan pada orang-orang yang datang berkunjung.
  • Shimogamo Yosaburou, putra ketiga sekaligus tokoh utama cerita. Simpatik, cerdas, namun memiliki kepribadian bebas yang tak mau terikat tanggung jawab. Meski demikian, pada saat yang sama, Yosaburou juga yang secara umum dipandang punya paling banyak kemiripan dengan mendiang ayahnya.
  • Shimogamo Yashirou, putra keempat yang masih anak-anak. Masih sangat kecil saat ayahnya menghilang dan kurang begitu ingat tentangnya. Masih belum ahli dalam mempertahankan perubahan wujudnya, dan bila sedang gugup, wujud ekor dan telinga aslinya dapat tiba-tiba muncul.

Dari sudut pandang Yosaburou, kita secara bertahap diperlihatkan berbagai isu menyangkut keluarga Shimogamo. Isu-isu ini mencakup:

  • Keterpikatan terpendam Yosaburou terhadap Benten dan semacam hubungan persahabatan yang terjalin antara keduanya.
  • Hubungan lama Benten dengan guru anak-anak Shimogamo, yakni seorang tengu tua yang disebut Akadama-sensei (alias Nyoigatake Yakushibou) yang masih belum sudi melepasnya.
  • Permusuhan anak-anak Shimogamo dengan keluarga tanuki lain bernama Ebisugawa.
  • Soal Kaisei, satu-satunya anak perempuan Ebisugawa Soun, yang menjadi satu-satunya anggota yang berhubungan baik dengan keluarga Shimogamo.
  • Bagaimana Yosaburou pernah dijodohkan dengan Kaisei, namun Kaisei tak pernah sekalipun mau memperlihatkan sosoknya kepada Yosaburou.
  • Adanya sekelompok manusia bernama Friday Fellows (Kinyou Kurabu) yang hobi menyantap daging tanuki setiap akhir tahun.
  • Pemilihan Nise Emon baru dan bagaimana Yaichirou terlibat di dalamnya.
  • Pusaka-pusaka berkekuatan ajaib yang dahulu dimiliki Akadama-sensei namun kini dipegang Benten.
  • Penyebab Yajirou terjebak di wujudnya yang sekarang.
  • Penyebab Benten, bahkan dengan segala yang telah dimilikinya, dalam kesendiriannya terkadang menampakkan kesedihan.
  • Kemungkinan adanya pihak tertentu yang dengan sengaja hendak mencelakakan anggota-anggota keluarga Shimogamo…

Mencoba Lagi Lebih Keras

Aku mengikuti Uchouten Kazoku terutama karena berusaha memahami apa-apa yang dipaparkan di dalamnya. Bukan dalam artian narasinya jelek. Tapi, lebih dalam artian, bahwa apa-apa yang disampaikan di dalamnya adalah hal-hal yang terasa ‘dekat’ denganku, namun asing dan tak sepenuhnya aku pahami pada saat yang sama.

Ini bukan jenis seri yang dengan mudah bisa aku rekomendasikan. Tapi kalau misalnya aku ditanya apakah ini seri yang bagus atau tidak, maka jawaban singkatnya, tanpa keraguan sedikitpun, ini bagus.

Melalui mata Yosaburou, kita mulai menjelajah hal-hal tersembunyi dalam masa lalu keluarga Shimogamo, yang kesemuanya berakar dari hilangnya Souichirou, sang ayah. Maksudku, ini terasa seperti pengalaman yang bisa dilalui siapa saja yang pernah kehilangan anggota keluarga mereka sendiri. Yosaburou bertanya-tanya pada orang-orang yang dia kenal, berbagai kerabat dan saudara yang dia kenal, soal apa-apa yang mereka lihat dan tahu soal mendiang ayahnya. Intinya jadi ke soal menggali sisi lain orang-orang dekat yang kita sangka sudah kita kenal gitu. Lalu walau prosesnya terlihat menakutkan, hasil akhirnya akan kembali memperkuat kita sebagai keluarga.

Gampangnya, ini seri yang lumayan sukses membuatku berpikir soal anggota-anggota keluargaku sendiri. Soal apa-apa yang telah mereka lalui, soal sejauh mana mereka telah kita kenal. Lalu yang paling bagus adalah saat seri ini membawa kita ke momen ketika kita mikir, “Aku enggak bisa percaya kalo ternyata si A dulu pernah melakukan ini!”

Serius, itu pengalaman yang aku tak sangka akan dapatkan dari menonton anime.

Aku mengerti bahwa kemampuan kita menyelami ‘sampah’ dan sisi gelap orang lain ada batasnya. Makanya, salah satu alasan lain yang membuat Uchouten Kazoku bagus adalah keseimbangan aneh yang dimiliki aspek komedi dan dramanya, yang memuncak dengan keonaran yang lumayan mengguncang pada penghujung cerita.

Kau Cuma Perlu Membuatnya Menarik

Bicara soal teknis, visual seri ini jelas berbeda dari gaya visual Yojou-Han Shinwa Taikei. Iya, sekalipun yang ditampilkan tetap pemandangan kota Kyoto dengan subjek-subjek latar yang itu-itu juga. Gaya gambar Uchouten Kazoku lebih berkesan dua dimensi dengan lebih menonjolkan warna-warni gitu. Tapi itu tak berarti gambar-gambar pemandangan khas P.A. Works absen di seri ini. Pemandangan-pemandangan itu secara mengesankan tetap ada, hanya saja dengan gaya visual yang berbeda saja.

Secara audio, seri ini pun kuat. Grup musk Fhana membawakan lagu penutup yang pas dengan nuansa pengharapan seri ini. Aku perlu menyinggung khusus seiyuu veteran Noto Mamiko dalam perannya sebagai Benten, yang kembali meyakinkanku bahwa kemampuan mengisi suara seiyuu veteran bisa sedemikian jauhnya dari orang normal.

Kalau membahas soal eksekusi, ceritanya kelihatannya mengikuti dengan patuh alur cerita di novelnya. Kita tak pernah bisa-bisa menebak apa selanjutnya yang akan Yosaburou dan keluarganya temui pada episode berikut yang kita lihat.

Aku mengerti kalau temanya bukan jenis yang dengan mudah diikuti oleh kebanyakan orang. Aku juga mengerti kalau Uchouten Kazoku juga tak berakhir sebagai seri yang menonjol. Tapi untuk para penggemarnya, dan kebanyakan penggemar karya Morimi-sensei lain, ada sesuatu di dalamnya yang terasa sangat berarti secara pribadi.

Kalian tahu, jenis hal pribadi yang tak perlu kau ungkapkan pada orang lain.

Oh. Iya juga.

Meski penyelesaian ceritanya dibeberkan kepada kita, kelihatannya memang sengaja ada banyak pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab. Apalagi, setelah kita memikirkannya, bahasannya bisa mengarah ke wilayah yang cenderung gelap.

Maksudku, sesuatu yang benar-benar gelap untuk ukuran seri dengan banyak warna seperti ini.

Yah, mungkin musim tayang keduanya kelak akan memberi lebih banyak jawaban.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A- ; Kepuasan Akhir: B+

Kaguya-sama wa Kokurasetai

In manga, seinen on 24/11/2016 at 11:08

Kaguya-sama wa Kokurasetai – Tensai-tachi no Renai Zunousen (‘Nona Kaguya ingin dinyatakan cinta – perang para jenius dalam cinta dan kecerdasan’) adalah seri manga komedi romantis relatif baru buatan Akasaka Aka. Untuk yang belum tahu, Akasaka-sensei adalah pengarang seri manga ib – Instant Bullet yang termasuk bagus, namun mungkin kurang populer karena temanya yang agak abstrak.

Seri Kaguya-sama wa Kokurasetai awalnya diserialisasikan di majalah bulanan Miracle Jump milik penerbit Shueisha. Namun sekitar setahun sesudah serialisasi (bab 11?), seri ini dipindahkan ke majalah mingguan Shuukan Young Jump. Karena itu, walau settingnya sekolahan, seri ini kurasa masuknya kategori seinen.

Terlepas dari itu, seri ini mungkin belum terlalu dikenal oleh khalayak mainstream. Tapi sejauh yang aku dengar, basis penggemarnya benar-benar kuat.

“Cinta adalah perang… dan dia yang jatuh cinta duluan adalah yang kalah!”

Sebagian besar cerita Kaguya-sama wa Kokurasetai berlatar di Perguruan Shuchi’in.

Perguruan Shuchi’in merupakan sekolah elit dengan standar benar-benar tinggi. Sekolah ini seakan selalu menghasilkan lulusan yang benar-benar terpilih. Karena itu pula, kebanyakan siswa Shuchi’in berasal dari kalangan keluarga-keluarga kaya.

Fokus cerita seri ini terdapat pada dua siswa paling dikenal, yakni sang ketua Dewan Siswa, dan wakilnya yang sedang menjabat, Shirogane Miyuki dan Shinomiya Kaguya.

Shirogane Miyuki adalah murid teladan di angkatannya. Meskipun berasal dari kalangan rakyat biasa (dalam artian, berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah), dirinya diakui sebagai salah satu jenius yang terpilih. Sebagai seorang pekerja keras alami, Miyuki bukan hanya memperoleh nilai paling sempurna dalam setiap ujian sekolah (yang membuatnya mampu meraih beasiswa). Miyuki juga bahkan memiliki sertifikasi yang mengakuinya sebagai insinyur yang mampu menangani bahan-bahan kimia berbahaya. Sertifikasi lain yang dimilikinya kebetulan adalah sebagai seorang pengamat kesehatan ayam ternak. Jadi cakupan keilmuannya benar-benar luas.

Sedangkan Shinomiya Kaguya, yang sangat cantik dan anggun, telah terlatih dalam beragam bentuk kesenian dan keilmuan. Di samping nilai-nilai ujian yang berada di peringkat kedua hanya sesudah Miyuki, Kaguya ahli dalam berbagai jenis tarian serta kesenian tangan.

Singkat cerita, Miyuki dan Kaguya sebenarnya telah lama saling menyukai satu sama lain. Keduanya bahkan adalah cinta pertama masing-masing. Namun meskipun sama-sama bisa ‘merasakan’ bahwa target mereka sebenarnya juga merasakan suka terhadap mereka, keduanya enggan untuk menjadi yang menyatakan cinta terlebih dulu.

Kenapa? Mereka bilang alasannya karena harga diri!

Keduanya sama-sama hanya mau saling menunggu. Lalu tahu-tahu saja, setengah tahun sudah kembali berlalu dan hubungan mereka hanya jalan di tempat!

Keduanya sadar mereka tak bisa terus membiarkan keadaan begini. Maka dimulailah bermacam adu siasat dan permainan pikiran antara Kaguya dan Miyuki demi memaksa orang yang mereka sukai untuk menyatakan cinta.

Hasil Setiap Putaran

Kaguya-sama wa Kokurasetai ibarat seri macam Code Geass, Liar Game, dan Death Note. Ceritanya senantiasa dipenuhi dengan spekulasi, akal-akalan bulus, muslihat, perencanaan, persiapan, dan tipu-menipu… hanya saja untuk alasan-alasan yang jauh lebih konyol dan egois.

Hasil-hasilnya juga tentu saja kerap konyol dan egois. Kegagalan berulang. Kesalahpahaman. Luka-luka tak disengaja. Pekerjaan-pekerjaan yang bertambah. Dan sebagainya.

Gaya gambar yang Akasaka-sensei gunakan terutama mendukung hal ini. Gaya gambar beliau sekilas agak mirip gaya gambar pengarang manga shoujo, dengan garis-garis relatif tipis dan gaya gambar karakter cowok yang terkesan kaku. (Sudah jadi pengetahuan umum kalau seri manga shoujo kerap kali punya dialog dan tema bahasan yang lebih banyak dibandingkan komik cowok.) Lalu beliau kerap menggunakan warna-warna gelap dan suram dalam tiap panelnya. Warna-warna ini bahkan dikombinasikan dengan berbagai ekspresi muka ‘kosong’ yang biasa digunakan untuk menyiratkan rasa murka atau keputusasaan, sekalipun para karakter yang digambarnya notabene cantik atau imut. Tapi, kalau kau coba membaca dialog atau monolog atau narasi yang beliau gunakan, kau sebagai pembaca sulit buat enggak ngakak.

Nyatanya, meski gagasannya terkesan konyol, temanya yang ajaib itu benar-benar tidak menjadikan seri ini kalah rame.

Kalau hanya sekedar membaca deskripsinya saja, wajar kalau kalian mengira Miyuki dan Kaguya sama-sama sombong dan sulit disukai. Awalnya memang seperti sengaja dikesankan demikian. Tapi lama-kelamaan, mulai terlihat tanda-tanda yang mengindikasikan sebaliknya.

Apa yang memotivasi mereka (diindikasikan) sebenarnya bukan harga diri, melainkan rasa canggung/malu/bingung/rendah diri biasa. Hal-hal biasa yang biasa orang lazimnya rasakan saat jatuh cinta. Apalagi bila keduanya berasal dari lingkungan yang benar-benar berbeda.

Karena ini cinta pertama masing-masing, baik Miyuki maupun Kaguya (kayaknya) sama-sama masih awam dalam pengetahuan soal lawan jenis. Walau mereka diminta nasihat soal hubungan pun, nasihat mereka tak sepenuhnya bisa dibilang valid! Lalu gara-gara kecerdasan dan beragam kepandaian mereka—ditambah lagi dengan bagaimana sikap keseharian mereka dengan sendirinya membuat ‘orang biasa’ terlihat payah—keduanya malah terdorong untuk berasumsi yang aneh-aneh daripada menyatakan perasaan mereka secara langsung.

Miyuki pribadi memiliki semacam kompleks tentang latar belakangnya. Berhubung ia berasal dari kalangan rakyat jelata (di samping belajar, dirinya sibuk dengan berbagai macam kerja sambilan), ia kerap memiliki delusi mengerikan tentang bagaimana Kaguya dengan dingin nantinya akan menertawakannya bila seandainya jati dirinya yang asli ketahuan.

Sedangkan Kayuga sendiri, sebagai semacam ‘nona besar,’ telah sedemikian hidup terpingit. Sehingga Kaguya benar-benar tak tahu banyak tentang cara hidup orang awam karena telah terlalu sering diurusi para pelayannya. Akibatnya, dirinya lemah sekali dalam menghadapi berbagai produk teknologi modern (termasuk smart phone dan Twitter). Lalu dirinya juga awam dalam berbagai proses masyarakat yang ‘normal.’

Tapi terlepas dari berbagai kekonyolan antara Kaguya dan Miyuki, bintang seri ini yang sesungguhnya mungkin adalah Fujiwara Chika.

Fujiwara ceritanya adalah sekretaris Dewan Siswa. Dirinya orang yang senantiasa ceria dan berbadan bagus. Di samping itu, dirinya semacam sahabat sejak kecil Kaguya, telah lama berteman dengannya, tapi anehnya, seperti tak pernah sadar juga dengan seperti apa Kaguya yang sesungguhnya. Sifat Chika yang riang, disertai ketidakpekaannya akan berbagai macam hal, kerap membuatnya jadi ‘faktor x yang tak terduga’ dalam berbagai permainan siasat Miyuki dan Kaguya.

Segala tingkah Fujiwara itu jadi seperti… seakan langsung merebut sorotan perhatian gitu. Mungkin konsep karakter dia yang paling jenius dari seri ini.

Lalu untuk melengkapi, anggota Dewan Siswa yang terakhir adalah seorang pemuda bernuansa emo bernama Ishigami Yuu. Jabatannya sebagai bendahara Dewan Siswa, karena keahliannya dalam mengelola keuangan.

Ishigami diperkenalkan agak lama sesudah cerita berjalan. Dirinya jarang berlama-lama di ruang Dewan Siswa sesudah tugasnya berakhir.

Namun di balik semua alasannya, alasan Ishigami sering langsung pulang yang sesungguhnya karena dirinya satu-satunya orang yang sadar dengan segala ‘perang rahasia’ yang tengah berlangsung antara Miyuki dan Kaguya. (Semua orang di luar Dewan Siswa malah mengira kalau Kaguya dan Miyuki sudah berpacaran). Sebagai satu-satunya adik kelas di ruang Dewan Siswa, secara konyol Ishigami malah jadi yang sering kena batunya saat ia dimintai untuk mendukung salah seorang dari mereka.

Interaksi antara empat orang ini, dengan orang-orang di sekeliling mereka, benar-benar tergarap secara keren. Tapi meski kerap kali ada konflik kepentingan, keempatnya berteman baik kok.

Atau setidaknya, di permukaannya terlihat demikian.

“Berhubung sepertinya aku mulai merasakan gejala-gejala Stockholm Syndrome, aku minta izin pulang duluan!”

Beberapa karakter lain yang berperan meliputi adik perempuan Miyuki (yang juga agak lama ditahan kemunculannya), saudara-saudara perempuan Fujiwara (yang sama cantiknya dengannya), serta mungkin Hayasaka Ai, seorang siswi modis yang nyatanya diam-diam adalah pelayan pribadi Kaguya yang setia tanpa sepengetahuan orang lain.

Bicara soal artwork, semula, seri ini seriusan bernuansa gelap dan suram. Tapi semua itu sebenarnya tipuan (sampai Fujiwara tampil, setidaknya). Karena ceritanya, nyatanya, konyol, meski kerap sering membuatmu berpikir pada saat yang sama. Rasanya mengesankan karena meski dengan latar cerita yang itu-itu saja, Akasaka-sensei bisa mengembangkan ceritanya dengan sedemikian jauh, dengan permainan-permainan pikiran yang senantiasa seru.

Kalau kau bisa mengikutinya, humor dalam seri ini benar-benar kocak. Sehingga tak heran penggemarnya makin ke sini semakin terus bertambah.

Buatku pribadi, ini contoh seri yang mengingatkanmu kalau sepandai dan sepintar apapun kamu, pasti tetap akan ada hal-hal tertentu yang tak kamu tahu. Apalagi bila urusannya soal cinta. Bila ada hal yang kita enggak tahu, kalau mengikuti contoh Kaguya dan Miyuki, maka mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah tetap memberikan yang terbaik.

Aaah, aku pengen muda lagiii.

Karakai Jouzu no Takagi-san

In manga, shonen on 29/09/2016 at 13:32

Aku orang yang lumayan sensitif perasaannya semenjak kecil. Lalu mungkin karena itu, serta pengalaman-pengalaman yang aku alami di masa sekolah, aku tumbuh jadi orang yang lumayan gampang mengatur perasaan sesudah dewasa.

Dengan kata lain, aku bukan orang yang gampang baper.

Aku masih cenderung moody, tapi kelihatannya emosiku tak lagi mempengaruhi penilaianku sesering dulu. Aku masih gampang tersentuh oleh cerita-cerita mengharukan di manga dan anime, tapi aku tak lagi segampang itu merasa depresi atau terngiang-ngiang karenanya.

Sampai suatu hari, aku mengetahui tentang Karakai Jouzu no Takagi-san karya Yamamoto Souichirou yang diserialisasikan sejak pertengahan 2012 di majalah bulanan Gessan milik penerbit Shogakukan.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan sesuatu yang membuatku baper lagi.

Kalau Kau Tersipu, Kau Kalah

Karakai Jouzu no Takagi-san (kira-kira berarti: ‘Takagi-san yang lihai menggoda/menjahili’) berkisah tentang Nishikata dan Takagi, dua orang yang duduk bersebelahan di sebuah ruang kelas sekolah menengah. Nishikata adalah seorang anak lelaki relatif biasa yang… uh, suka sepak bola, tak mau kalah, dan sering dibuat salah tingkah. Sedangkan Takagi adalah siswi perempuan cerdas dan berkesan dewasa yang duduk di sebelah Nishikata dan gemar sekali mengusilinya.

Entah sejak kapan persisnya, Takagi sering sekali mengisengi Nishikata hanya untuk sekedar melihat reaksi-reaksinya. Nishikata berulangkali akan dibuat tersipu dan salah tingkah dengan semua ulah Takagi, yang seketika akan disambut dengan tawa Takagi. Lalu berulang kali Nishikata akan mengatur rencana untuk ‘membalas’-nya, meski kerap kali upayanya tersebut berakhir dengan kegagalan.

Keusilan-keusilan Takagi ini biasanya berupa kata-kata yang memancing-mancing Nishikata. Kadang juga Takagi menjahilinya hal-hal seperti bersembunyi di suatu sudut dan mengagetkannya.

Sebagian besar cerita dituturkan dari sudut pandang Nishikata, yang setiap waktu terus memikirkan siasat untuk membalas Takagi. Meski demikian, buat kita para pembaca, sejak awal sudah terlihat bahwa Takagi memendam rasa suka mendalam terhadap Nishikata, hanya saja Nishikata yang masih belum cukup cermat (dewasa?) untuk menyadari hal tersebut, dan menyadari bahwa dirinya pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Apa yang diceritakan per babnya benar-benar terkesan sederhana. Biasanya hanya menampilkan berbagai interaksi antara Nishikata dan Takagi dalam keseharian mereka di sekolah. Terkadang, meski jarang, muncul karakter-karakter lain, yang memberi kita sedikit acuan soal bagaimana sikon mereka dan hubungan mereka sudah sampai mana.

Aku mengatakannya demikian karena lambat laun, kita akan menyadari bahwa bab-bab ceritanya ternyata tidak selalu dituturkan secara kronologis.  Ada alur maju-mundur yang digunakan. Lalu sedikit demi sedikit, kita akan mulai dibuat penasaran soal apa Nishikata dan Takagi ini pada akhirnya benar-benar akan berakhir bersama atau tidak.

“Karena aku mau pulang sama kamu.”

Jujur saja, alasan aku semula memperhatikan seri ini adalah karena aku iri dengan hubungan yang terjalin antara Nishikata dan Takagi.

Sekali lagi, aku iri.

Mungkin aku perlu menegaskannya kembali. Aku iri dengan hubungan Nishikata dan Takagi.

Yea, sekilas terdengarnya mungkin mirip Tonari no Seki-kun. Tapi hasil akhirnya benar-benar jauh berbeda.

Segala yang dituturkannya terasa begitu… ‘sederhana’ sekaligus ‘berarti’ pada saat yang sama. Gaya gambar yang digunakan Yamamoto-sensei itu bernuansa bersih, ringan dan cerah, memaparkan kehidupan yang seakan tak penting, tapi damai. Lalu kita terus diperlihatkan bagaimana kehidupan Nishikata dan Takagi berlanjut pada berbagai titik yang berbeda. Lalu kita dibuat penasaran setengah mati… soal bagaimana ini semua bakal terjalin dan terbentuk.

Uh, karena aku jarang merasa begini, aku kesusahan mendeskripsikan perasaanku.

Tapi terlepas dari itu, aku mengetahui tentang seri ini saat secara iseng menggugel ‘oniichan’ (yang salah satunya membawaku ke grup translasi oniichanyamete) yang membawaku pada Fudatsuki no Kyoko-chan, salah satu karya Yamamoto-sensei yang lain (tentang seorang anak SMA sangar yang disangka siscon karena berusaha menutupi kenyataan kalau adik perempuannya semacam vampir), yang menampilkan tema keseharian serupa namun dengan nuansa lumayan berbeda. Heh, bahkan gaya gambar beliau di seri ini juga berbeda, padahal keduanya kalau tak salah diserialisasikan sekaligus! Dari sana, aku kemudian mengetahui tentang Yamamoto-sensei, dan akhirnya jadi lumayan penasaran beliau orang seperti apa sampai bisa menghasilkan cerita-cerita macam begini.

Aku terus terngiang lumayan lama dengan seri ini sesudah memeriksanya sendiri.

Lalu karena aku iri, aku memutuskan untuk terus berusaha! Alasannya karena aku tahu seberapa besar rasa penyesalan yang bisa timbul kalau kau menyerah!

Maka dari itu, kalian juga jangan segampang itu menyerah!

Taimadou Gakuen 35 Shiken Shoutai

In anime on 01/08/2016 at 17:48

Aku pertama tahu tentang Taimadou Gakuen 35 Shiken Shoutai atau Anti-Magic Academy: The 35th Test Platoon dari versi light novel-nya.

Beberapa tahun sebelum animenya keluar, terjemahan buku-buku awalnya sempat dibuat di Baka Tsuki. Walau tertarik, sesudah membacanya, aku ternyata kurang sreg dengannya. Nanti aku jelaskan soal kesanku sih. Intinya, aku jadi senang saat dengar kalau animenya akan dibuat, karena ini berarti aku bisa tahu lebih banyak soal ceritanya tanpa perlu membaca novelnya.

35 Shiken Shoutai ditulis oleh Yanagimi Touki dengan ilustrasi buatan Kippu. Penerbitannya dilakukan oleh Fujimi Shobo di bawah label Fujimi Fantasia Bunko sejak tahun 2012. Saat ini kutulis, seri ini telah terbit sebanyak 13 buku.

Animenya diproduksi oleh studio Silver Link dengan jumlah episode sebanyak 12. Pertama mengudaranya pada perempat akhir tahun 2015 (di masa ketika seri ini kalah menonjol dibandingkan beberapa seri lain). Sutradaranya adalah Kawamura Tomoyuki (nama relatif baru yang sebelum ini paling menyutradarai anime reverse harem Kamigami no Asobi, meski pernah jadi sutradara episode dari bermacam seri), dengan naskah dipenai oleh Shimoyama Kento (lagi, nama yang relatif baru), dan musik ditangani oleh A-bee.

(Sempat ada dua adaptasi manganya juga, yang dibuat dalam dua versi. Satu terbit di majalah shounen sedangkan satunya lagi, yang agak belakangan, terbit di majalah seinen. Tapi aku kurang tahu banyak tentangnya.)

Meski Senyumku Payah

Daya tarik 35 Shiken Shoutai memang tak langsung terlihat. Sekilas, seri ini benar-benar berkesan seperti seri sekolah ajaib/aksi/harem biasa.

Ceritanya berlatar di dunia di mana kekuatan sihir telah bangkit kembali, dan timbul perang terhadap para pengguna sihir menggunakan kekuatan senjata-senjata berbasis teknologi modern seperti pistol dan mesin. Ceritanya berfokus pada remaja lelaki Kusanagi Takeru dan teman-temannya yang tergabung dalam peleton uji ke-35 di Akademi Anti-sihir yang mendidik para pemburu penyihir (inquisitor), sekalipun sebelumnya dipandang sebagai tim yang gagal.

Meski punya elemen komedi romantis, ini salah satu seri LN dengan latar cerita paling suram yang pernah aku tahu. Walau para tokoh utama bersikap ceria, mereka menanggung beban pribadi masing-masing. Ditambah lagi, dunianya seakan dipenuhi ketakutan terhadap pengkhianatan dan perusakan. Kematian sering sekali terjadi, kerap dalam skala besar. Kalaupun ada perdamaian, sifatnya benar-benar sementara. Semua orang seperti hidup di bawah ancaman para penyihir, dan lingkungan para karakternya seperti berada dalam kondisi siaga perang konstan.

Di awal cerita, Takeru dikisahkan adalah orang yang cuma bisa pakai pedang (Jenis senjata yang masa jayanya mendahului masa jaya sihir. Jadi urutannya: pedang -> sihir -> senjata api). Takeru tak bisa pakai senjata api maupun sihir sama sekali, sehingga dirinya tentu saja jadi bulan-bulanan dalam latihan uji karena belum apa-apa dia langsung jadi sasaran tembak semua orang. Walau demikian, Takeru benar-benar jago berpedang. Bila diperlukan, dirinya bisa sampai membelah peluru yang melesat di udara. Lalu dia akan mengamuk bila sampai ada orang yang menghina keterampilannya.

Meski masih tahun pertama, Takeru ditempatkan sebagai pemimpin peleton uji ke-35 yang sudah hampir dibubarkan. Untuk suatu alasan, ini merupakan peleton yang memang bermasalah sejak dulu. (Salah satu anggota lamanya desersi dan akhirnya DO, satu tahu-tahu didapati telah bergabung dalam suatu aliran kepercayaan baru, sedangkan satu lagi tahu-tahu telah terdiagnosa punya penyakit mental.) Lalu agar tak bubar, Takeru perlu memimpin peleton ini dalam menjalani berbagai misi memberantas penyihir dan mengumpulkan poin.

Di peleton ini, Takeru kemudian bertemu kawan lamanya, siswi jenius penyuka lolipop Suginami Ikaruga, yang santai dan sering main-main, yang berperan sebagai teknisi. Lalu Takeru juga bertemu dengan teman Suginami, Saionji Usagi, seorang siswi mungil dari keluarga berada yang memegang posisi sniper, yang meski punya cukup keahlian, memiliki masalah demam panggung yang parah.

Upaya Takeru untuk memimpin peleton ini semula tak banyak membuahkan hasil. (Apalagi dirinya punya masalah emosinya sendiri.) Tapi kondisi kelihatannya mulai berubah saat ahli pistol Ohtori Ouka juga ditempatkan sebagai anggota mereka. Ini keputusan yang mengherankan, karena Ohtori—yang kebetulan juga adalah anak asuh dari kepala sekolah, Ohtori Sougetsu—adalah siswi jenius yang sebenarnya telah lulus awal dan bahkan telah resmi diterima sebagai bagian Inquisition (yang juga pernah mengalahkan Takeru secara telak di masa lalu, meski Takeru tak yakin apakah yang bersangkutan mengingat ini). Namun karena suatu alasan, dirinya kini disekolahkan kembali.

Berhubung poin akademis mereka sudah mencapai nol gara-gara berbagai penalti yang mereka peroleh, Takeru dan kawan-kawannya akhirnya nekat mengambil misi berbahaya, yang akhirnya membuat mereka bersimpangan jalan secara langsung dengan para penyihir jahat dari organisasi teroris Valhalla.

Hentikan Waktu, Sekarang Saatnya Berjuang

Bicara sedikit soal teknisnya dulu, kualitas teknis anime ini di luar dugaan benar-benar bagus. Gaya desainnya memang simpel dan penggunaan CG-nya terus terang saja masih kurang indah. Namun arahan visualnya kuat, dengan warna-warna yang tajam dan menonjol. Eksekusi adegan-adegannya pas. Lalu ini semua didukung dengan kualitas audio yang benar-benar kuat, baik dari segi seiyuu maupun BGM.

Satu keluhan yang aku punya dengan novelnya adalah struktur ceritanya yang terbilang tak biasa. Kita seolah-olah dibeberkan begitu saja dengan segala sesuatu tentang dunia ini, tanpa pengenalan yang benar-benar tuntas. Lalu penceritaannya juga kurang fokus dengan adanya sejumlah subplot yang berjalan sekaligus.  Buku pertama misalnya, memang menonjolkan Ouka dan latar belakanganya sebagai fokus utama. Tapi di saat yang sama, buku satu juga memperkenalkan karakter Nikaido Mari, seorang gadis penyihir baik-baik yang dimanipulasi Valhalla karena mempunyai atribut sihir kuno Aurora yang langka, sehingga ia menjadi salah satu buron yang dikejar peleton Takeru sebelum nantinya bergabung sebagai kawan (meski dengan bom di leher yang dapat meledak sewaktu-waktu bila sampai menggunakan sihir tanpa izin).

Animenya ternyata mengatasi ini lewat keberhasilannya memadatkan segala yang perlu diketahui tentang cerita dari sekitar lima buku dalam hanya 12 episode. Pacing-nya memang jadi kurang bagus. Tapi ini menjadi jenis anime adaptasi yang akhirnya berhasil menyampaikan segala yang mau disampaikan meski secara tidak sempurna. Walau kita mungkin luput soal beberapa detil, kita tetap memahami garis besar cerita. Sehingga rasa puas saat menyadari, “Oo, jadinya begini.” itu tetap ada.

Adegan-adegan aksinya terbilang lemah. Ini sayangnya terasa banget berhubung jumlah adegan aksinya bukan hanya terbilang banyak, tapi juga melibatkan hal-hal kolosal macam tembakan kekuatan dahsyat, perubahan wujud ke armor, monster-monster besar, serta mecha-mecha menakutkan yang disebut dragoon. Namun di sisi lain, kekurangan ini diimbangi dengan adegan-adegan interaksi antar karakternya yang bagus. Lalu dengan adanya plot yang terus berjalan, momentum ceritanya berhasil terus terjaga. Ini tetap seri yang paling memikatku pada musim gugur tahun 2015 lalu, dan aku sempat heran kenapa seri ini tak lebih populer.

Memandang ke belakang sekarang, aku bisa mafhum dengan semua kelemahannya saat mengingat Silver Link memang bukan studio yang dikenal karena adegan-adegan aksinya. Aku kayak, “Perasaan, Silver Link lebih banyak membuat seri komedi? Oh, pantas saja adegan-adegan komedinya bagus.” Tapi aku jadi lebih salut lagi saat mengingat bahwa nama-nama staf kunci di baliknya adalah nama-nama relatif baru.

Ya, masih banyak kelemahannya. Tapi hasilnya buatku masih terbilang mengesankan.

Balik ke soal ceritanya, meski ada adegan-adegan fanservice-nya (ditambah tragedi-tragedi kematian sadis yang di dalamnya nyawa manusia dipandang berharga benar-benar murah)—dan lambat laun, semua teman sekelompoknya memang jatuh cinta pada Takeru—ceritanya mengusung tema soal kesetiakawanan dan pengorbanan yang kuat.

Aku selalu terenyuh setiap kali Takeru, karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin peleton, menawarkan pada para bawahannya untuk berbagi separuh beban mereka. Ceritanya berfokus pada masing-masing karakter anggota peleton secara berurut: Ouka (soal kasus yang membuatnya dikembalikan ke sekolah), Mari (soal hubungannya dengan Valhalla), Saionji (soal isu keluarga yang membuat ia terancam dikeluarkan), Suginami (masa lalunya sebagai produk percobaan suatu perusahaan alkimia), dan baru terakhir, Takeru sendiri (soal hubungannya dengan adik perempuannya, Kusanagi Kiseki, yang berstatus penyihir berbahaya karena badannya dikutuk dengan keberadaan iblis Hyakki Yakou, yang membuatnya tak bisa sekaligus tak ingin mati kalau bukan di tangan Takeru), saat ia balik menerima uluran tangan teman-temannya. Semua karakter utama ternyata memang menanggung rasa bersalah mereka sendiri-sendiri.

Lalu di antara semua ini, masih ada banyak hal lain yang terjadi.

Ada gadis kecil misterius berpakaian gothic lolita berwajah datar yang kerap mengawasi Takeru di awal cerita. Selanjutnya terungkap kalau dirinya perwujudan salah satu pusaka Relic Eater yang digunakan para Inquisitor untuk melawan penyihir. Dalam hal ini, Malleus Malficarum Type-Twilight “Mistilteinn” bernama Lapis, yang mampu mewujudkan senjata berbilah tajam jenis apapun. Lapis rupanya telah dipersiapkan Ohtori Sougetsu untuk melengkapi kemampuan berpedang Takeru, dan di ambang kematiannya, Takeru kemudian menjadi kontraktor dan tuan dari Lapis. (Identitas Lapis selama di sekolah kemudian disamarkan sebagai adik perempuan Takeru, Kusanagi Lapis, sesama anggota peleton ke-35, meski nyatanya tampang mereka tak mirip sama sekali.)

Ada serangan Valhalla ke sekolah melalui sosok Einherjar King Arthur yang memakan banyak nyawa teman-teman sekolah Takeru. Insiden ini didalangi Haunted, mantan pendeta Katolik yang menjadi musuh besar Ouka sekaligus Mari. (Kecintaannya terhadap keputusasaan, dan bagaimana ia terus menjadi duri dalam daging, menjadikannya salah satu karakter antagonis paling menarik yang pernah aku lihat.)

Ada kepulangan kembali pria dingin spesialis pisau dan pistol, Kurogane Hayato, orang nomor dua di Akademi sekaligus pemimpin pasukan elit Inquisitor EXE, yang merupakan keturunan klan yang sama dari Takeru. (Dia sebenarnya salah satu karakter paling kuat di seri ini, dengan statusnya sebagai kontraktor dua Relic Eater sekaligus, yakni Caligula dan Maximilian.)

Ada konflik api dalam sekam antara Takeru dengan kawan lamanya, Kirigaya Kyouya, menyusul tragedi penyerangan Haunted atas sekolah. Perseteruan mereka memuncak dalam kasus yang melibatkan Kiseki.

Ada status tak jelas antara Ouka dan Relic Eater miliknya sendiri yang berbentuk pistol kembar, Vlad, yang dengannya Ouka baru menjalin separuh kontrak. (Salah satu alasannya karena keengganan Ouka untuk berkaitan dengan segala sesuatu berbau sihir, terkait traumanya dengan keluarga aslinya.)

Ditambah lagi, sosok ayah asuh Ouka, Ohtori Soegetsu, yang membimbing Takeru dan kawan-kawannya, sebenarnya bukanlah tokoh yang punya niat yang sepenuhnya baik.

Penceritaannya terbilang benar-benar padat. Tapi itu pun masih dengan beberapa subplot yang masih menggantung di episode terakhir. Walau begitu, hasil akhirnya, sekali lagi, masih terbilang lumayan mengesankan.

(Setelah kupikir lagi, meski tak berlebihan, unsur fanservice-nya terbilang benar-benar dewasa. Jadi baiknya itu satu hal yang juga kalian catat.)

…Dan Bersumpah Melindungi Hingga Akhir

Akhir kata, 35 Shiken Shoutai menghadirkan kombinasi aksi komedi yang berlatar di dunia yang benar-benar suram. Kuakui, memang agak susah untuk ‘masuk’ pada awalnya. Tapi sesudah kau berhasil ‘masuk,’ ceritanya jadi benar-benar menarik.

Porsi karakternya terasa menyentuh. Adegan-adegan komedi haremnya ajaibnya tak terlalu bikin ilfil. Para karakter perempuannya cantik dengan cara mereka masing-masing. Lalu adegan-adegan aksinya, meski menampilkan aspek power level lewat keberadaan Demon Slayer Mode berwujud zirah pada para pengguna Relic Eater, sebenarnya lumayan menonjolkan pentingnya kerjasama tim.

Lagu penutup yang dibawakan Itou Kanako, “Calling My Twilight” menjadi salah satu lagu favoritku bukan hanya karena tema yang dibawakannya. Iramanya kayak, betul-betul pas sebagai penutup tiap episode.

Aku juga lumayan terkesan dengan bagaimana gaya desain wajah bulat buatan Kippu-sensei berhasil ditranslasi secara pas. (Aku agak berharap desain Demon Slayer Mode para karakternya bisa dibuat lebih keren sih. Maksudku, itu benar-benar nuansa tokusatsu banget.)

(…Aku sedikit kecewa dengan wujud Demon Slayer Mode Ouka yang ditampilkan di akhir juga, sebenarnya.)

Aku terus terang bersyukur adaptasi anime dari seri ini ada. Daripada sesuatu yang berantakan atau setengah-setengah (seperti kebanyakan kasus adaptasi anime dari ranobe belakangan), 35 Shiken Shoutai berhasil menjadi sesuatu yang lumayan berkesan. Aku lumayan merekomendasikannya untuk kalian yang suka cerita-cerita aksi fantasi yang agak enggak biasa. …Atau, oke, mereka yang ingin lihat karakter jahat yang beneran jahat, karena Haunted lumayan berkesan walau cuma tampil beberapa kali dalam durasi 12 episode.

Agak panjang bagaimana aku berpikir begini, tapi seri ini sempat membuatku berpikir kalau mungkin orang merasakan kesepian karena mereka tak pernah benar-benar mencoba untuk menjadi ‘kekuatan’ bagi orang lain. Dalam artian, mereka masih terlalu terbawa ego dan belum pernah merasakan kerelaan untuk ikut mengusung beban selain beban mereka sendiri.

Tapi entah deh. Mungkin soal itu akan kusinggung lain waktu.

Mungkin sesudah aku membaca lebih banyak soal ranobenya.

(Aku serius merasa Yanagimi-sensei memasukkan terlalu banyak hal.)

Penilaian

Konsep: B-, Visual: B+; Audio: A; Perkembangan; B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: B+