Lanjut ke konten
Iklan

Posts tagged ‘comedy’

Anime-Gataris

Apa pernah kalian merasa sesuatu itu aneh, tapi kalian enggak yakin alasannya apa? Semua tampak wajar di permukaan. Tak ada yang kelihatan tak normal. Namun, sesudah menggali lebih jauh, terkuak ternyata beneran ada yang aneh dan firasat kalian ternyata enggak salah?

Itulah yang aku alami dengan Anime-Gataris.

Anime-Gataris tayang pada musim gugur (Oktober-Desember) tahun 2017, pada masa-masa ketika aku baru tunangan dan semakin sibuk enggak jelas.  Anime ini dibuat oleh studio animasi Wao World (yang aku asumsikan adalah pemain baru) dengan bekerjasama dengan DMM Pictures. Jumlah episodenya sebanyak 12.

Aku sedang tak selera menonton apapun di masa-masa itu. Sedikit sekali anime yang menarik perhatianku waktu itu. Namun, ada ‘sesuatu’ tentang key visual Anime-Gataris yang membuatku penasaran. Bahkan, terus membuatku kepikiran agak lama sesudahnya.

Kata Sandi

Ringkasnya, Anime-Gataris merupakan suatu anime drama komedi.

Judulnya kira-kira berarti ‘obrolan(-obrolan) seputar anime.’ Selain key visual yang terbilang sederhana (tapi masih enak dilihat), judulnya membuatku tertarik karena terasa seperti apa yang aku coba lakukan lewat blog ini.

Ceritanya berlatar di SMA Sakaneko, yang sekilas terlihat seperti sekolah biasa-biasa saja.

Pada awal tahun ajaran, seorang murid baru bernama Asagaya Minoa—yang tidak tahu apa-apa tentang anime—berkenalan dengan Kamiigusa Arisu, teman sekelasnya yang seorang ojou-sama sekaligus penggemar anime berat (dengan menjentikkan jari, Arisu bisa men-summon butler-nya dalam sekejap di manapun dia berada).

Begitu mengetahui hobi Arisu, Minoa spontan bertanya tentang sebuah  anime yang kebetulan pernah dilihatnya sewaktu kecil. Minoa sempat melihat hanya satu episode saja di TV, tidak ingat/tahu apa judulnya, tapi sedemikian terkesannya oleh anime tersebut sampai-sampai bisa mendeskripsikan adegan-adegannya secara jelas. Anime itu bahkan berulangkali telah sampai terbawa mimpi. Minoa pernah berusaha mencari tahu sendiri tentang anime ini, tapi upayanya tak berhasil.

Arisu bingung dengan anime yang Minoa berusaha deskripsikan. (Sesuatu sesuatu tentang robot raksasa, nyanyian, sesuatu dari tepi danau, dsb.) Tapi, Arisu kemudian terinspirasi untuk meracuni memperkenalkan berbagai judul anime lain pada Minoa agar tertarik dunia anime lebih jauh. Dengan senang hati, Arisu kemudian meminjamkan koleksi DVD/BD anime yang dipunyainya! Lalu sejak saat itu, persahabatan antara mereka terjalin.

Hobi baru Minoa tersebut berujung pada upaya Arisu dan Minoa untuk membentuk kembali Klub Anime SMA Sakaneko yang nampaknya dulu dikenal, tapi kini telah bubar. Mereka mulai mengumpulkan anggota, mengurus perizinan, memeriksa bekas ruang klub yang misterius, dsb. Namun, usaha ini membuat mereka bentrok dengan para pengurus Dewan Siswa, yang secara janggal berusaha dengan segala cara untuk mencegah klub anime kembali.

Ternyata, memang ada suatu konspirasi besar di balik dibubarkannya Klub Anime. Bahkan rahasia ini berhubungan dengan anime misterius yang pernah Minoa tonton tersebut. Gilanya, itu masih bukanlah hal terbesar yang terjadi di seri ini.

Minoa, Katharsis

Anime-Gataris agaknya merupakan proyek pribadi Morii Kenshirou. Beliau berperan sebagai sutradara anime ini, konon berdasarkan pengalaman-pengalaman beliau sendiri semasa mengikuti klub anime semasa sekolah.

Konsepnya kudengar sebenarnya berawal dari rangkaian anime pendek (jadi, kurasa, OVA) berjudul Anime-Gatari (tanpa ‘s’) yang ditayangkan sebagai intermengso film-film animasi Toho Cinemas di Shinjuku dari tahun 2015-2016. Yang ditonjolkan tak lain adalah obrolan kilat seputar anime yang dilakukan para anggota menarik di klub anime di Universitas Tokyo. Produksi seri anime pendek ini dilakukan oleh W-Toon Studio.

Ceritanya juga dapat dipandang sebagai semacam prekuel(?) dari Anime-Gataris karena menampilkan dua karakter Asagaya Maya (kakak kandung Minoa yang berbeda sekolah, yang diam-diam adalah otaku) dan Aoyama Erika (kakak kelas Minoa, yang kemudian menjabat sebagai ketua Klub Anime yang Minoa dan Arisu kembali bentuk) sewaktu mereka SMP.

Karenanya, meski ada misteri, drama, sedikit (sekali) bumbu romansa, dan bahkan maskot kucing yang bisa berbicara (dan tahu tentang seluk-beluk dunia anime!) bernama Neko-senpai di dalamnya, sebagian besar bahasan Anime-Gataris benar-benar seputar dunia anime dan turunannya. Ada bahasan tentang beragamnya jenis anime. Ada bahasan tentang manga. Ada bahasan tentang light novel. Ada bahasan tentang cosplay. Ada bahasan tentang kalangan penggemar di luar negeri. Ada soal comiket, ada soal yaoi dan yuri, soal situasi produksinya saat ini, dsb.

Itu semua dituangkan lewat para karakter yang kemudian menjadi sesama anggota Klub Anime. Erika, sang ketua yang modis, diam-diam menekuni dunia cosplay dan bahkan terkenal namanya. Teman sekelas Minoa dan Arisu yang penyendiri, Kouenji Miko, ternyata penyuka light novel dan ingin bisa menulis novelnya sendiri. Kakak kelas Musashisakai Kai atau Kaikai yang agak chuunibyou adalah penyuka manga. Kakak kelas Mitsuteru Nakano alias Aurora yang tampan dan populer ternyata penyuka seri-seri idol.

Kalau dipikir, banyaknya tema yang berhasil anime ini angkat dalam kurun waktu 12 episode lumayan gila juga.

Semua bahasan ini sayangnya  kurang berujung ke mana-mana, karena ditutup dengan konspirasi misterius seputar anime di sekolah di atas. Tapi, apa yang seri ini coba paparkan kurasa terbilang berkesan karena saking… anehnya.

Yuicching!

Soal teknis, visual seri ini kurang menonjol, tapi enak dilihat. Jelas terlihat bagaimana pengarahannya kuat. Ini didukung dengan audio lumayan, baik dari segi seiyuu maupun BGM.

Kalau ada yang kurang dari anime ini, maka itu kurasa masalah naskah? Anime ini seperti ingin menjadi banyak hal dan akhirnya… enggak jadi apa-apa?

Tapi, serius, meski berakhir berantakan, aku terkesan dengan apa yang anime ini coba bidik. Konsepnya menarik. Karakter-karakternya memang kurang berkembang, tapi enak diikuti. Bahkan hal-hal absurd yang terjadi di sekeliling mereka (seperti bagaimana Obata Yui, sahabat Minoa di Klub Atletik, yang sebenarnya tak punya peran khusus, berulangkali ditampilkan sebagai karakter fanservice) bisa dimaklumi. Dan, meski aku bukan penyuka genre idol, aku enggak bisa enggak sedikit terkesan sama animasi CG penutup di mana Minoa, Arisu, dan Miko sama-sama berperan sebagai idol.

Pokoknya, begitu aku mendengar lagu pembuka “Aikotoba” yang dibawakan Garnidelia, lalu melihat animasi Neko-senpai jadi DJ, aku enggak bisa enggak merasa, wow, ini seri ini pasti punya sesuatu, meski aku enggak tahu ‘sesuatu’ itu apa.

Naskahnya ditulis oleh Hirota Mitsutaka. Musik ditangani oleh Hoashi Keigo dan Takahashi Kuniyuki. Semuanya adalah nama-nama yang enggak aku kenal.

Menelisik lebih jauh, aku sadari kalau ini satu lagi anime yang diproduksi bersama antara Jepang dan Tiongkok. Meski begitu, kesan segala sesuatunya cukup rapi. Kalau kalian bertahan mengikuti seri ini, mungkin… kalian juga bakal agak terkesima dengan arah perkembangannya.

Oke. Mungkin kalian juga bakal dafuq. Jujur aku katakan, ini anime yang berakhir dengan tamat Gainax Ending yang mirip seri TV Neon Genesis Evangelion. Mari kita kesampingkan itu saja dulu. (Setelah aku pikir, ini anime terkini yang mirip kasus Samurai Flamenco? Argh, sudahlah.)

Tapi, serius, sebagai orang yang pernah berkarya kreatif, susah bagiku buat enggak menyukainya. Ada banyak sekali referensi anime terselubung di dalamnya. Aku lumayan lemah dengan referensi-referensi macam begini. Kalau kalian penggemar anime lawas, mungkin akan ada sejumlah hal menarik yang bisa kalian temukan dari anime ini.

Akhir kata, ini kolaborasi langka antara Jepang dan Cina yang aku sukai, tapi bukan karena alasan yang lazim. Aku takkan merekomendasikannya kecuali kalian penggemar anime lawas. Terlepas dari segala keanehannya, kalau kalian memutuskan mengikutinya, mungkin kalian bisa mendapat gambaran lebih utuh, dunia anime itu seperti apa.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: C+; Audio: B; Perkembangan: X; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: X

Iklan

Hinamatsuri

Aku samar-samar merasa pernah membaca tentang manga Hinamatsuri karya Outake Masao, tapi belum pernah sampai tertarik mengikutinya. Ketika animenya diumumkan keluar pada April 2018, yang membuatku tertarik justru nama penerbit dan staf produksi animenya.

Hinamatsuri (selain mengacu pada nama si tokoh utama, judulnya mereferensikan hina-matsuri, perayaan boneka di Jepang untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan setiap 3 Maret, sesuai tema berkelanjutan yang seri ini punya) diserialisasikan di majalah komik seinen Harta milik Kadokawa dan Enterbrain sejak tahun 2010. Dengan demikian, serialisasi manga Hinamatsuri sudah berlangsung lumayan lama, bahkan semenjak majalah tersebut masih bernama Fellows!.

Jadi, majalah komik Harta terus terang sangat aku ingat. Di samping karena terbit dalam jadwal enggak biasa, seri-seri yang mereka usung selalu unik dan agak ajaib. Nama majalahnya sendiri kudengar benar-benar diambil dari Bahasa Indonesia (Iya, kata ‘harta’ kayak yang ada di ‘harta karun’). Ditambah lagi, ini majalah yang menserialisasikan seri populer Dungeon Meshi. Ya jelas aku bakal ingat.

Reputasi Harta sudah sedemikian dikenal sebagai wadah komik-komik eksentrik, dan aku jarang mendengar ada anime yang diangkat darinya. Makanya, begitu diumumkan, anime Hinamatsuri lumayan jadi kejutan.

Staf produksinya dipimpin Oikawa Kei, yang langsung aku kenali sebagai sutradara anime Outbreak Company yang bagiku sangat wah pada tahun 2013. Produksinya dilakukan studio feel. yang pada tahun-tahun belakangan semakin piawai menangani seri-seri drama. Naskahnya sendiri ditangani Ouchi Keiichirou. Musiknya ditangani Misawa Yasuhiro. Jumlah episodenya sebanyak 12.

Nah, tentang anime Hinamatsuri sendiri…

Singkat cerita, ini seri drama komedi paling ajaib yang pernah aku tahu.

Hidup Adalah Soal Bertahan HIdup

Hinamatsuri berkisah tentang keseharian seorang yakuza bernama Nitta Yoshifumi dengan Hina, anak perempuan yang kemudian diangkat Nitta sebagai anak, meski ia tak pernah benar-benar yakin soal dari mana asal Hina.

Soalnya, Hina secara harfiah benar-benar tiba-tiba muncul begitu saja di apartemen Nitta.

Hina adalah gadis yang lumayan aneh. Ekspresi wajah dan suaranya senantiasa datar. Selain itu, perilakunya juga agak-agak (maaf) bodoh. Tapi Hina memiliki kekuatan supernatural. Dia bisa(?) teleportasi. Dia bisa telekinesis. Dia bisa terbang. Lalu, dengan kekuatan itu, Hina sedikit banyak “mengancam” Nitta untuk… uh, memberinya makan (yang intinya, kemudian jadi berlanjut ke mengasuhnya).

Siapa Hina? Dari mana dia berasal? Siapa pula anak-anak perempuan lain berkekuatan supernatural yang belakangan ikut muncul dan mencari-cari dia? Untuk apa mereka ada?

ITU SEMUA TAK PENTING!

Lupakan itu semua!

Ada banyak urusan lebih penting lain dalam hidup yang harusnya kita perhatikan!

Seperti, soal sekolah. Soal… cita-cita. Soal masa depan! Soal apakah teman sekelasmu yang disiplin kerja sambilan di bidang asusila atau tidak. Soal apakah perempuan cantik kenalan kamu single atau tidak. Soal… kesejahteraan sosial? Soal bagaimana caranya bisa selamat kalau anak perempuan angkat kamu menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada gimana kamu hampir mati. Dan lain sebagainya.

Intinya, yang mau aku katakan, sangat susah buat cerita soal Hinamatsuri tanpa membeberkan apa-apa yang terjadi.

Aku cuma bisa bilang, Hinamatsuri berhasil menyajikan porsi drama dan porsi komedinya secara luar biasa seimbang. Dramanya benar-benar menyentuh dan bisa membuat mikir, tapi tanpa membuat kita merasa terbebani dalam mengikutinya. Komedinya sendiri adalah jenis yang sebenarnya agak absurd gitu, yang hebatnya disajikan dalam latar realistis.

Sehingga, kayak, seri ini seakan menonjolkan bagaimana reality can be stranger than fiction gitu. Itu bahkan tanpa menyinggung soal kekuatan-kekuatan ajaib yang Hina punyai.

Hinamatsuri itu seri tentang kehidupan. Tentang tumbuh besar. Tentang menjadi dewasa dan memahami tanggung jawab (sekalipun kalian tetap saja jadi orang enggak bertanggung jawab.) Iya, ada yakuzanya. Iya, ada soal sekolahnya. Iya, ada komentar-komentar sosialnya. Makanya, karena cakupannya yang multidimensi juga, aku sangat merekomendasikannya.

Bagaikan Sungai Mengalir

Bicara soal teknis, visual Hinamatsuri mempertahankan gaya gambar khas Outake-sensei. Gaya gambar beliau itu… punya kesan sederhana. Tidak dibikin agar terlihat berkesan. Cukup sekedar menyajikan apa yang mau ditampilkan. Tapi, jadinya efektif dalam menyajikan nuansa sureal yang mau dicapai. Dengan begitu, sebagai anime, Hinamatsuri tak punya visual yang wah. Tak membuat kita terkesima atau gimana. Tapi, sama sekali enggak jelek.

Audionya lebih menonjol karena berhasil dalam mengeksekusi kombinasi komedi dan dramanya. Hasilnya termasuk brilian. Serupa dengan visualnya, audionya tak sampai membuat kita takjub gitu. Tapi, hanya sebatas benar-benar sesuai dengan apa yang mau disajikan.

Karena menampilkan cuplikan-cuplikan kehidupan, yang terkadang bukan dari sudut pandang Nitta maupun Hina, tak ada perkembangan plot dramatis yang terus tumbuh. Jadi, tak perlu kuatir soal itu.

Sebagai penutup, sekali lagi, aku enggak enak menjabarkan terlalu banyak, karena salah satu keasyikan Hinamatsuri ada dalam usaha kita dalam memahami apa yang terjadi (meski usaha kita enggak sepenuhnya penting juga). Tapi, secara umum, kurasa ini seri tentang tanggung jawab.

Ditampilkan banyak karakter dewasa yang notabene enggak sepenuhnya dewasa (seperti Sabu, bawahan langsung Nitta yang biang masalah; atau wanita pemilik bar Sakura Utako, love interest dan sekaligus, uh, tokoh antagonis di beberapa bagian). Ada banyak karakter anak tanggung usia SMP awal, terutama anak perempuan, yang memerlukan tanggung jawab lebih untuk diasih (seperti Anzu, yang semula mengejar Hina untuk membunuhnya karena dianggap terlalu bahaya, tapi… yah, begitu; Mishima Hitomi yang sebenarnya anak baik tapi terseret perkembangan situasi yang benar-benar absurd; dan Mao, yang tak peduli pada tugasnya dan cuma berharap bisa bertemu lagi dengan Anzu dan Hina.) Kalau dipikir, jumlah karakternya lumayan banyak.

Jadi, intinya, mengikuti anime ini, aku dibawa ke intepretasi salah satu pertanyaan yang sudah mengganggu aku sejak lama: Tanggung jawab… itu apa? Suatu hari, saat aku sedang kerja di kantor, pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas. Dan itu seriusan begitu mengganggu.

Apa itu tanggung jawab?

Kenapa konsep ini bisa ada?

Aku pertama tahu soal tanggung jawab dalam sebuah pelajaran PKK yang tak terlupakan waktu aku kelas III SD. Dan aku masih enggak yakin ini apa sampai aku mengikuti anime ini.

Jadi, intinya, tanggung jawab itu soal integritas. Soal kesesuaian antara apa yang kamu omongin dengan apa yang kamu lakuin.

Jadi, dalam konteks si Nitta, terlepas dia mengeluh kayak gimanapun sebagai orang tua tunggal soal mengasuh Hina (yang semua orang salah pahami sebagai hasil hubungan luar nikah Nitta dengan seorang perempuan tak dikenal), terlepas pada gimana dia iri soal gimana yang dia dapat bukan Anzu yang notabene lebih manis, perhatian, dan bukan biang masalah; menjelang akhir seri, Nitta tetap man up dan terus bertanggung jawab mengasuh Hina karena DIA SUDAH MEMUTUSKAN UNTUK MELAKUKANNYA. Padahal kerugian material besaaar yang sudah Nitta alami gara-gara mengasuh Hina.

Jadi, Nitta enggak plin-plan gitu. Dan walau sebagai yakuza dia termasuk lunak (dia direkrut lebih karena kelihaiannya dalam administrasi), untuk ukuran seorang laki-laki, menurutku dia lelaki sejati.

(Enggak. Maaf. Penulis blog ini terus terang masih belum jadi lelaki sejati. Masih sedang berkutat ke arah sana.)

Man, jalan yang perlu aku tempuh masih panjang.

Aku enggak boleh malas-malasan.

Aku bersyukur mengikuti seri ini. Ini benar-benar seri yang tak tertebak.

Man, suatu hari nanti, aku mesti coba periksa manganya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

Fireworks

Beberapa bulan lalu, aku lupa gimana persisnya, secara kebetulan aku melihat posternya Fireworks saat lagi jalan di mall.

Aku terdiam beberapa lama. Setengah alasannya karena enggak mengira itu akan tayang di Indonesia. Separuh alasannya lagi, karena poster tersebut menurutku memang keren. Berlatar pantai, di waktu menjelang senja. Si tokoh utama cewek menoleh ke belakang sementara si tokoh utama cowok memanggilnya dari kejauhan. Sementara, di langit di atas mereka, kembang api meletus secara meriah dalam beraneka warna.

Meski aku lagi banyak pikiran (atau, justru karena lagi banyak pikiran?) dan kurang begitu punya duit, aku langsung ngerasain suatu dorongan aneh buat menontonnya.

Anime Fireworks punya judul lengkap Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom?, dan judul asli Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka (judulnya secara umum kira-kira berarti, ‘soal kembang api, mending kita lihatnya dari bawah atau samping?’). Sebagai anime, film layar lebar ini termasuk unik karena merupakan pembuatan ulang (sekaligus modernisasi) dari film drama televisi live action berjudul sama yang dibuat Iwai Shunji pada tahun 1993.

Sewaktu pertama membaca berita tentangnya di ANN dulu, aku sempat mencari sedikit info soal film live-action ini. Karena tak ingin di-spoiler, aku hanya sebatas tahu bahwa film aslinya dibintangi oleh Yamazaki Yuta dan Okina Megumi, terbilang bagus, dan mengetengahkan cerita agak aneh yang berhubungan dengan cinta segitiga dan lari dari rumah.

Anime berformat layar lebar ini diproduksi studio Shaft, dengan disutradarai Shinbo Akiyuki (sebagai kepala sutradara) bersama Takeuchi Nobuyuki. Produsernya adalah Kawamura Genki. Naskahnya ditangani oleh Ohne Hitoshi. Musiknya ditangani oleh Kosaki Satoru. Durasinya 90 menit dan pertama dirilis di Jepang pada bulan Agustus 2017.

Moshimo

Fireworks berlatar di awal liburan musim panas, tatkala sekelompok siswa sekolah menengah di sebuah kota di tepi pantai masih harus datang ke sekolah untuk mengikuti pelajaran tambahan. Pada hari yang sama, ada festival musim panas yang ceritanya mau diadakan di kuil. Terus, sebagai puncak festival itu, akan diadakan acara peluncuran kembang api.

Ada dua plot utama yang terjalin. Satu, soal bagaimana sebuah pembicaraan konyol antara sekelompok anak lelaki, yang mencakup Shimada Norimichi dan teman-temannya, berujung pada bagaimana mereka mau mengadakan perjalanan ke mercu suar dekat pantai demi membuktikan apakah letusan kembang api itu ‘bundar’ atau ‘pipih.’ Dua, soal Oikawa Nazuna, seorang siswi populer yang sedikit banyak diidolakan di kelas mereka.

Pada titik ini, ceritanya berkembang jadi agak aneh.

Jadi, sebelum Norimichi dan sahabat dekatnya, Azumi Yuusuke, tiba di ruang kelas dan terlibat pembicaraan konyol seputar kembang api di atas, mereka kebagian tugas untuk membersihkan kolam renang. Tugas ini dengan senang hati mereka emban karena mereka sekalian dibolehkan menggunakan kolam. Lalu di kolam renang itu, secara mengejutkan, mereka kemudian menjumpai Nazuna dalam pakaian renang.

Singkat cerita, Yuusuke sudah lama naksir pada Nazuna. Norimichi juga diam-diam menyukai Nazuna, meski belum sampai mengakuinya. Makanya, saat Nazuna, yang baru selesai berenang, meminta keduanya untuk berlomba renang dengan mempertaruhkan suatu hal, keduanya menurut saja.

Belakangan terungkap, keputusan Nazuna mengajak siapa yang menang lomba tersebut untuk menemaninya pergi ke festival ternyata juga dilandasi pertimbangan lain. Nazuna mengadakan lomba renang itu juga untuk memilih siapa di antara Norimichi dan Yuusuke yang akan diajaknya kawin lari.

“Dunia dengan kembang api pipih itu enggak mungkin ada!”

Film televisi asli Fireworks kabarnya adalah bagian dari seri if moshimo. Tak banyak yang diketahui tentang seri televisi ini di luar Jepang. Tapi, agaknya, premisnya mengeksplorasi jalur-jalur kejadian berbeda yang dialami para karakternya dalam hidup. Andai A yang terjadi, dan bukan B; misalnya.

Mungkin ini mirip film Hollywood lawas Sliding Doors.

Fireworks versi anime juga seperti itu. Titik kejadian ‘berbeda’ yang jadi penentu dalam hal ini (seenggaknya, titik yang ‘utama’ dalam versi animenya) adalah siapa yang memenangkan lomba renang, apakah itu Yuusuke (dalam kejadian asli) atau Norimichi.

Animenya memperkaya premis ini dengan kehadiran batu kristal misterius yang ditemukan Nazuna di tepi laut (yang mungkin berhubungan dengan mendiang ayahnya). Batu kristal ini agaknya memiliki kekuatan aneh untuk memutar balik waktu setiap kali dilempar.

Segala kejadian yang terjadi kemudian dilihat dari sudut pandang Norimichi.

Keinginan Norimichi untuk bisa menolong cewek yang disukainya dieksplorasi. Kemarahan Yuusuke, dengan bagaimana Norimichi tiba-tiba menyembunyikan hal-hal tertentu darinya, juga digali. (Meski, nyatanya, dia ciut sendiri saat kesempatan untuk bersama Nazuna muncul.) Kekecewaan Nazuna terhadap ibunya—yang untuk kesekian kalinya, hendak menikah lagi—juga dipaparkan, membuat kita mengerti landasan berpikirnya, meski sulit untuk bisa menyetujui tindakannya. Penggalian karakter di anime ini benar-benar bagus.

Lalu, mengiringi semua itu, yah… ada soal kembang api.

Soal kembang api—dan bagaimana teman-teman Norimichi pergi ke mercu suar untuk melihat apakah letusan kembang api itu sebenarnya gepeng atau bulat—sebenarnya tak berpengaruh besar dalam cerita. Tapi, secara menarik, awal perjalanan ini seolah menjadi penggerak sejumlah hal.

Perjalanan ke mercu suar berlangsung secara paralel dengan upaya pelarian Norimichi dan Nazuna, menghadirkan sejumlah adegan yang benar-benar menarik. Terutama saat semua karakter di cerita ini (Norimichi, Nazuna, Yuusuke, teman-teman mereka, ibu Nazuna, dan bahkan guru-guru mereka di sekolah) sama-sama bertanya-tanya soal apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Terima kasih Untuk Hari Ini

Bicara soal teknis, kalau kalian mengira studio Shaft telah berganti haluan (mengira arahan visual mereka berganti jadi mirip karya-karya Shinkai Makoto-sensei atau semacamnya), maka kalian salah. Ini tetap anime Shaft murni. Gaya visual khas mereka dengan warna-warna berkesan monoton, ditambah dengan banyaknya close up ke wajah, serta sedikit bumbu fanservice, masih tetap ada.

Jadi, iya.

Segala keanehan normal mereka, sekaligus bawaan mereka buat nge-troll, juga masih ada.

Awalnya, mungkin visualnya akan terkesan kurang menonjol. Tapi, seiring pemaparan cerita, dan melihat sendiri semakin anehnya dunia (mimpi?) yang dijelajahi Norimichi bersama Nazuna, mungkin kalian akan mengerti kenapa Shaft mengangkat cerita ini sebagai proyek film layar lebar mereka.

Secara teknis, film ini seriusan bagus. Bahkan dengan segala nuansa melankolisnya, ini komedi romantis yang benar-benar berkesan. Pertaruhan para produser kelihatannya berhasil. Fireworks tercatat sebagai keluaran Shaft dengan pemasukan paling besar sejauh ini.

Aku sedikit kecewa dengan bagaimana kembang api kurang memainkan peran dalam klimaks cerita. Tapi, ada banyak arahan visual ini film ini yang beneran aku hargai. Adegan pembuka, yang sama-sama menampilkan Norimichi dan Nazuna di dasar air, dengan perkataan “Andaikan…” dari Norimichi yang terus berulang, memberi kesan benar-benar kuat. Perasaan sesal terpendam, ataupun rasa suka, dari para karakternya berhasil dipaparkan.

Lalu, meski kurang memberikan resolusi sekaligus penjelasan yang jelas (yang agaknya, bisa membuat orang-orang penyuka sains fiksi macam mangaka Gantz Hiroya Oku agak ngamuk sesudah menontonnya; hei, bahkan aku sendiri juga agak kecewa sama tamatnya!), aspek terkuat dari film televisi Fireworks yang membuatnya sebegitu dikenal konon kabarnya berhasil didapat.

Aspek terkuat itu apa?

Jawabannya adalah rasa suka. Cinta terpendam di masa muda yang pahit dan manis, dan sekaligus berujung pada rasa penyesalan.

Hal inilah yang digali lewat tema pengulangan waktu serta pilihan-pilihan yang Norimichi ambil.

Jadinya… apa ya? Film ini berakhir mengesankan, tapi dengan cara yang enggak biasa bagi studio Shaft gitu. (Lalu, ambigu, jadi masih tetap nge-troll.)

Soal audio, film ini termasuk mumpuni. Musiknya benar-benar ‘masuk.’ Lalu akting para seiyuu-nya, akting mereka benar-benar bagus. Aktris dan aktor profesional Hirose Suzu dan Suda Masaki (ahem, yang paling aku kenal sebagai pemeran Phillip dalam Kamen Rider W) berperan benar-benar meyakinkan sebagai Nazuna dan Norimichi. Seiyuu andal Miyano Mamoru juga keren dalam menampilkan beragam sisi kepribadian Yuusuke. Yang paling membuatku terkejut, aktris dorama veteran Matsu Takako juga berperan di film ini sebagai ibu Nazuna. Meski peran beliau terbatas, akting beliau di sini benar-benar alami.

Jadi, kalau kalian merasa punya penyesalan dengan cinta masa lalu kalian yang enggak kesampaian, mungkin kalian akan merasakan sesuatu yang ‘dalam’ saat menonton anime ini. Ada sebagian orang berkomentar bahwa pesan terkuat anime ini adalah caranya menjelaskan bagaimana ada beberapa hal tertentu yang memang sudah ditakdirkan untuk tak terjadi.

Cara Agar Tak Menyesal

Jadi, balik ke soal pengalamanku saat menontonnya, ada isu relationship yang kebetulan sedang aku hadapi. Lalu menonton film ini seriusan tak membantuku sama sekali.

Tapi, apa itu berarti aku menyesal karena telah mengeluarkan uang untuk menontonnya?

Jawabannya, tidak! Aku tidak menyesal!

Meski kadang aku senang di-troll oleh Shaft, itu bukan berarti aku maso! Aku hanya jadi dibuat memikirkan sejumlah hal yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Lalu, itulah yang mendorong aku buat jadi lebih berusaha sungguh-sungguh!

Sebagai penutup, membandingkan dengan versi filmya, kudengar versi filmnya hanya mengangkat dua kemungkinan jalur, yang ditentukan oleh balapan renang itu. Selain memodernisasi latar, animenya juga menaikkan usia para karakternya (dari SD, kelihatannya ke SMP) dan sedikit mengubah isu yang Nazuna hadapi (dari yang aslinya perceraian jadi ke pernikahan kembali). Tapi, selebihnya, katanya, hati yang melandasi keduanya tetap sama.

Kalian belum tentu suka dengan film ini. Tapi, kalau kalian sudah jadi penggemar anime-anime keluaran Shaft (seri Monogatari, Sangatsu no Lion, Zaregoto), anime ini sayang untuk dilewati karena menampilkan Shaft pada performa terbaik mereka.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A-;  Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

Isekai wa Smartphone to Tomo ni

Isekai wa Smartphone to Tomo ni, atau yang juga berjudul In Another World With My Smartphone (‘di dunia lain bersama ponsel pintarku’), adalah seri yang agak anomali.

Isekai Smartphone berawal dari seri web novel yang dikarang Fuyuhara Patora dari tahun 2013. Mulai tahun 2015, seri ini diterbitkan resmi oleh Hobby Japan dengan ilustrasi buatan Usatsuka Eiji. Pada awal tahun ini, tahu-tahu saja seri ini diadaptasi ke bentuk anime oleh Production Reed. Sutradaranya Yanase Takeyuki. Naskah ditangani oleh Takahashi Natsuko. Musik dikomposisi oleh Exit Tunes. Jumlah episodenya sebanyak 12 dan animenya pertama tayang pada musim panas tahun 2017.

Masih di sekitar awal 2017, seri ini juga mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan format e-book oleh J-Novel Club. Terjemahan mereka beneran bagus. Dari forum JNC-lah, aku mulai benar-benar tahu tentang Isekai Smartphone.

Jadi, Isekai Smartphone termasuk salah satu dari sekian banyak seri bertema isekai yang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Tak hanya itu. Seri ini konon dipandang sebagai salah satu contoh seri isekai yang paling generik. ‘Generik’ dalam artian enggak terlalu jelek tapi juga enggak terlalu bagus.

Sangat biasa.

Semua yang lazim ada dalam suatu seri isekai ada di seri ini. Ada tokoh utama cowok yang imba. Ada dunia lain. Ada harem yang terdiri atas cewek-cewek cantik. Yah, kalian tahu.

Makanya, saat animenya diumumkan, ini sempat mengherankan banyak pihak. “Wut? Di antara begitu banyak seri isekai di luar sana, kok malah seri ini yang dipilih buat jadi anime sih?” Soalnya, ada banyak pilihan seri isekai lain yang jauh lebih mencolok. Seperti Kumo desu ga, nani ka?, misalnya. Atau Desumachi. (Produksi anime Desumachi sudah diumumkan btw, tapi kabar-kabar kemajuan proses produksinya sejauh ini agak bikin fansnya harap-harap cemas. …Di samping itu, Tate Yuusha no Nariagari, seri isekai lain yang sudah menarik simpati banyak fans, juga sudah dikerjakan proyek adaptasinya.)

Bahkan di forum JNC yang aku sebut di atas, saat perusahaan mereka masih belum lama berdiri dan mereka masih sedang mencari judul-judul baru untuk dilisensi, pendiri JNC menyatakan bahwa Isekai Smartphone menjadi seri yang ‘disodorkan’ padanya. Seolah pihak penerbit aslinya kelihatan yakin sekali dengan seri ini. Dengan kata lain, di negara asalnya, seri ini lumayan populer dan punya basis fans kuat.

Semula, aku juga bukan penggemar Isekai Smartphone. Bahkan dari semenjak terjemahan bahasa Inggris WNnya tersedia dikerjakan fans, aku tidak menaruh perhatian terhadapnya. Namun, semenjak animenya diumumkan, aku mulai penasaran.

Alasan pertama: aku memperhatikan kalau yang memproduksi animenya adalah Production Reed. Aku langsung mengerti kalau hasil produksinya ternyata tidak akan wah. Dalam benakku, mereka studio ‘tidak besar’ yang sebelumnya mengerjakan seri-seri sederhana macam Onsen Yousei Hakone-chan dan Niji-iro Days. Meski begitu, aku simpati. Isekai Smartphone seolah menjadi terobosan mereka dalam menangani proyek-proyek lebih besar.

Belakangan aku tahu, Production Reed ternyata tidak sepenuhnya baru. Mereka ‘reinkarnasi’ Ashi Productions, studio sangat veteran yang dulu menangani sejumlah anime terkenal macam seri mahou shoujo legendaris Magical Princess Minky Momo, seri Macross 7 yang masih menjadi seri Macross terpanjang sejauh ini, dan anime super robot lawas dan serius Dancouga. Sebelum tampil kembali sebagai Production Reed di tahun 2015, Ashi Productions rupanya ‘mati suri’ cukup lama semenjak proyek Dancouga Nova mereka di tahun 2007.

Alasan kedua: meski tanggapan sebagian besar orang terhadap animenya lumayan negatif, ternyata ada sejumlah kenalanku yang benar-benar menyukainya. Bahkan sepupuku, yang mendalami seluk-beluk ilmu perfilman, menjadi salah satunya. Aku terus mikir, pasti ada sesuatu tentang anime ini yang menarik perhatian dia ‘kan? Tapi apa?

God’s in His Heaven, all’s right with the world!

Isekai Smartphone berkisah tentang remaja lelaki bernama Mochizuki Touya yang tersambar petir pada suatu hari saat pulang sekolah, lalu mendapati diri dihidupkan kembali oleh Dewa di suatu dunia lain. Alasan dia dihidupkan di dunia lain itu karena sudah jadi ketentuan kalau dirinya tak bisa dihidupkan lagi di dunianya yang semula.

Dewa menawarkan untuk memberi kompensasi pada Touya karena telah mematikannya tanpa sengaja. Karena tak merasa perlu apa-apa yang khusus, Touya kemudian sekedar meminta agar smartphone-nya masih bisa ia gunakan di dunia lain tersebut. Entah terkesan dengan kesederhanaan Touya atau bagaimana, selain memungkinkan smartphone-nya ditenagai kekuatan sihir agar tetap bekerja (dan bisa tersambung ke Internet(!), meski Touya tidak diperbolehkan memposting apa-apa), Dewa kemudian sekalian memberi Touya berbagai keistimewaan lain yang tidak langsung tampak. (Belakangan diketahui itu termasuk afinitas ke semua elemen sihir, peningkatan kemampuan fisik, serta kekuatan sihir laten yang sangat besar.)

Sekalian, Dewa memasukkan info kontaknya ke dalam ponsel Touya agar Touya bisa langsung menghubunginya kalau ada apa-apa.

Touya lalu mendapati diri berada di wilayah pinggiran Kerajaan Belfast, di mana dia kemudian bertemu bermacam orang dan tanpa sengaja terlibat bermacam urusan konyol sekaligus serius. Berkenalan dengan teman-teman baru, Touya mulai bekerja sebagai petualang. Dia mulai belajar tentang sihir. Dia mulai bantu-bantu orang. Berbekal fitur-fitur smartphone-nya yang canggih dan diperkuat, dia juga mencoba menciptakan berbagai barang dan masakan dari dunianya yang lama agar bisa dipakai di dunianya yang baru.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Brunhilde (Yang Penuh Tawa dan Air Mata)

Cerita Isekai Smartphone lebih digerakkan oleh karakter. Ceritanya ringan dan lumayan bernuansa komedi. Meski ada elemen-elemen aksi dan petualangan, Isekai Smartphone sebenarnya lebih dekat ke cerita keseharian.

Isekai Smartphone tidak memiliki struktur plot yang perlahan membangun konflik (pada awalnya). Ceritanya lebih seperti rangkaian cuplikan adegan keseharian yang saling terhubung dan berkesinambungan. Agaknya, hal ini juga yang sempat mematikan minat sebagian orang.

Kalau aku ceritain begini, kedengarannya emang kurang menarik. Dalam bentuk anime, bahkan dengan genrenya yang komedi, jadinya tetap saja aneh. Tapi, kalau kau menepis semua pengharapanmu, dan bersabar dengan bagaimana ceritanya dituturkan, ada hal-hal tertentu tentang Isekai Smartphone yang bisa bikin terkesan.

Ada dunia baru yang diperkenalkan. Ada hal-hal baru yang dipelajari. Ada teman-teman baru yang dikenalkan. Seperti yang bisa diharapkan dari suatu seri isekai, Touya serba bisa. Tapi, yang menjadikannya istimewa dibandingkan seri-seri isekai lain kebanyakan, Isekai Smartphone punya sisi konyol konsisten yang ringan dan menghibur, yang membuatnya cocok sebagai bacaan untuk melepas penat. Kesan akhirnya lumayan unik.

Terlepas dari itu, mereka yang sudah dikonfirmasi(?) termasuk dalam harem Touya (meski dia sendiri sama sekali semula tidak merencanakan hal ini) meliputi:

  • Elze Silhoueska; onee-chan dari pasangan gadis kembar Silhoueska yang sama-sama berambut perak. Dia salah satu orang pertama yang Touya kenal ketika baru tiba di dunia baru. Berambut panjang, memiliki bawaan bersemangat yang mendahulukan bertindak sebelum berpikir. Meski begitu, terkadang dia bisa tiba-tiba saja merasa rendah diri. Elze memiliki kemampuan Null Magic bernama Boost yang meningkatkan untuk sementara parameter-parameter fisiknya. Elze beraksi dengan sepasang gauntlet yang digunakannya bersama ilmu bela diri. Dirinya tidak memiliki afinitas dengan elemen-elemen sihir lain. Dalam perkembangan cerita, Elze berstatus sebagai tunangan ketiga.
  • Linze Silhoueska; yang lebih muda dari pasangan gadis kembar Silhoueska, sekaligus yang lebih pendiam. Berbeda dari kakaknya, Linze memiliki afinitas elemen yang konvensional, dan karenanya beraksi dengan mengandalkan serangan sihir. Linze-lah yang mengajari Touya tentang sihir di dunia ini (ada enam elemen, dengan sihir non-elemen Null Magic yang bersifat pribadi dan menjadi kemampuan khusus penggunanya, yang ternyata bisa digunakan sepenuhnya oleh Touya). Linze juga yang mengajari Touya soal cara menulis dan membaca. Elemen-elemen yang Linze kuasai meliputi cahaya, api, dan air. Dalam perkembangan cerita, Linze berstatus sebagai tunangan kedua.
  • Kokonoe Yae; gadis samurai yang datang dari negeri Eashen yang jauh di timur (yang nuansanya sangat mirip Jepang, dan karenanya, Touya kerap disangka berasal dari sana.). Bersenjatakan sepasang katana. Yae sedang dalam perjalanan untuk mengasah kemampuan berpedangnya. Yae sempat ditolong kelompok Touya saat kelaparan sesudah bekal perjalanannya hilang. Yae berbicara dengan cara sedikit aneh. Makannya juga banyak. Meski Yae tidak berbakat sihir, Touya belajar banyak soal ilmu bela diri dari dia. Dalam perkembangan cerita, Yae berstatus sebagai tunangan keempat.
  • Yumina Urnea Belfast; putri mahkota Kerajaan Belfast yang menjadi teman Touya sesudah Touya secara kebetulan menolong ayahnya. Memiliki sepasang mata berbeda warna yang salah satunya memiliki kemampuan untuk membaca ‘sifat’ masing-masing orang (kemampuan ini adalah bagian Null Magic yang Yumina miliki). Dari ‘penglihatannya,’ Yumina kemudian memilih Touya untuk menjadi pasangannya. Berbeda dari teman-teman Touya yang lain, usia Yumina termasuk yang agak muda, tapi sifatnya justru yang paling dewasa. Mulai ikut tinggal bersama Touya sebagai petualang, dengan mengandalkan sihir sekaligus kemampuan memanah. Elemen-elemen sihir yang dapat digunakannya mencakup tanah, angin, dan kegelapan. Yumina yang pertama mengajari Touya sihir pemanggilan. Dalam perkembangan cerita, Yumina berstatus tunangan pertama. (Semenjak pertama berhubungan, Touya kerap dibujuk oleh ayah Yumina untuk bersedia mengambil alih mahkota kerajaan.) Yumina juga tidak berkeberatan dengan poligami karena memang itu kebiasaan para raja di dunia ini. (Keluarga Yumina saja yang tidak lazim.)
  • Sushie Urnea Ortlinde; adik sepupu Yumina yang kebetulan sempat ditolong Touya dalam kesempatan terpisah. Anak perempuan dari saudara laki-laki raja Belfast. Masih anak-anak. Belum banyak berperan di anime, tapi aku sebutkan saja karena dia termasuk yang ditonjolkan dalam animasi penutup. (Dalam perkembangan cerita di novel, Sushie menjadi tunangan keenam Touya karena sedikit isu politik yang melibatkan suatu negara lain. Dia diyakini akan tumbuh dengan penampilan mirip Yumina kelak.)
  • Leen; gadis mungil yang ternyata berusia ratusan tahun dan merupakan kepala suku peri di negara tetangga Kerajaan Mismede. Memiliki penampilan gothic loli, senantiasa ditemani seekor boneka beruang ‘hidup’ yang dinamainya Paula. Dari Leen, Touya belajar Null Magic Program yang memungkinkannya mengendalikan benda-benda. Leen juga adalah guru penyihir kerajaan di Belfast, Charlotte, dan menjadi tertarik dengan Touya semenjak mengetahui tentangnya. Dari Leen, Touya mengetahui lebih banyak tentang keberadaan puing-puing kuno. Belakangan, Leen menjadi duta besar baru bagi Mismede untuk Belfast. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Leen menjadi tunangan kedelapan.)

Selain mereka, Touya juga jadi berteman dengan para pembesar Belfast, keluarga pemilik penginapan tempat mereka dulu menumpang (sebelum mereka punya rumah mereka sendiri di ibukota), pengusaha pakaian yang maniak dengan desan pakaian baru, seorang pemilik toko senjata, pemimpin Kerajaan Mismede yang dihuni beastmen, lalu belakangan… juga dengan manusia buatan bernama Cesca yang mengakui Touya sebagai pewaris sejumlah artefak kuno yang melayang-layang di angkasa milik mendiang Regina Babylon. (Yang kemudian harus dipersatukan Touya sebagai semacam bentuk ujian baginya sebagai pewaris.)

Jumlah tokoh yang diperkenalkan seri ini lumayan banyak. Di luar dugaan, kesemuanya berperan banyak dalam keseharian Touya. Terutama sesudah Touya diberi wilayah kosong yang kemudian menjadi negeri Brunhilde yang dikelolanya sendiri.

Bagi yang penasaran (sesudah mereka ditampilkan di teaser di akhir anime), dua tunangan Touya lainnya adalah Hilde, ksatria putri dari Kerajaan Ksatria Lestia, yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat Touya kebetulan menolong negerinya dari serangan musuh; dan Sakura, gadis hilang ingatan bersuara jernih, yang sebenarnya adalah putri tersembunyi dari negeri iblis Xenoah. Keduanya diperkenalkan seiring pencarian Touya terhadap artefak-artefak yang melayang di udara di atas, sebelum kemudian ikut tinggal bersama Touya dan keluarganya yang baru di Brunhilde.

Pulau-pulau Babylon

Membahas soal teknis, anime Isekai Smartphone mengangkat cerita dari sekitar buku pertama sampai ketiga dari seri novelnya. Dari segi alur, adaptasi ceritanya, secara mengesankan, lumayan setia dengan novel. Yang enggak aku sangka, cerita-cerita sampingan yang ada di novel-novelnya (meski tidak semua) ternyata juga ikut diadaptasi. Penempatannya lumayan mulus. Terasa bagaimana cerita-cerita sampingan itu menyatu dengan cerita utama.

Sisi buruknya, cerita utama tersebut enggak berkembang sejauh yang aku harap. Beberapa karakter yang tampil di animasi pembuka luput terjelaskan peranannya. Ada beberapa benang alur yang berakhir tak terselesaikan. (Seperti soal monster-monster Fraze/Phrase, yang sempat disinggung mungkin akan mendatangkan hancurnya dunia.)

Kalau dipikir, keputusan ini wajar. Cerita-cerita sampingan itu memang lumayan memaparkan kekhasan seri ini.

Meski begitu, adaptasi anime ini tetap berhasil mengemas ceritanya agar berakhir di titik yang enak, tanpa menutup kemungkinan ceritanya masih berlanjut.

Soal visual, kualitasnya tidak istimewa, tapi tetap menarik. Pemilihan warnanya yang beragam lumayan selaras dengan nuansa cerah yang seri ini bawakan. Meski tidak sampai detil, penggambaran berbagai latar tempatnya juga terbilang indah dan beragam. Ada puing-puing ibukota lama (yang di bawahnya mereka pertama menemukan monster berbahaya penyerap sihir Fraze/Phrase secara tanpa sengaja), ada kota petualang Reflet tempat Touya pertama kali tiba, ada ibukota Belfast yang lokasinya benar-benar enak. Meski tidak berat di soal perjalanan, nuansa perjalanan yang seri ini lumayan terasa.

Animasinya juga biasa sih. Mungkin malah ada yang akan menganggapnya sangat kurang. (Ada proporsi badan aneh, ada adegan menebas yang aneh, ada gerakan pertarungan yang bisa dibikin jauh lebih baik.) Tapi, sepupuku sempat menyinggung bagaimana dia terkesan dengan cara adegan-adegannya dibawakan. Dengan kata lain, kalau soal menyampaikan narasi, seri ini sebenarnya enggak punya kekurangan. (Meski, narasi yang dibawakannya memang enggak istimewa sih.)

Mungkin perlu kusinggung, seri ini juga punya beberapa karakter… uh, maskot. Jadi, meski ada fanservice-nya (serta beberapa dialog yang agak menjurus), ada juga semacam aspek imut dan lucu yang seri ini punya. Selain beruang Paula yang sudah aku sebut di atas, juga ada Kohaku, harimau putih kecil yang sesungguhnya adalah White Monarch, salah satu dari empat makhluk sihir terkuat yang berkuasa di alam. Dalam perkembangan cerita di novel, jumlah karakter-karakter maskot ini nanti terus bertambah.

Soal audio, kesan Isekai Smartphone lebih campur aduk. Musik pembuka dan penutupnya tak buruk. (Lagu penutup “Junjou Emotion” dinyanyikan bergantian oleh para heroine.) Para seiyuu juga secara umum juga berperan baik. (Kecuali Touya, tapi nanti aku bahas lebih lanjut soal itu.) Tapi, musik latarnya… sebagian ada yang pas dan sebagian lagi enggak. Secara umum, semuanya enak didengar sih. Aku suka dengan penekanannya terhadap alat-alat musik tiup. Namun di beberapa bagian, tetap terasa ada yang sesuatu yang kurang.

Intinya, dari segi teknis, menurutku lumayan terasa bagaimana Production Reed masih meraba-raba cara terbaik dalam proses mereka. Tapi, serius, hasil akhir Isekai Smartphone menurutku enggak buruk.

Aku masih aneh dengan segmen-segmen komedi di peralihan adegan-adegannya sih. Tapi, kalau menyangkut soal ceritanya sendiri, meski mengikuti detil-detil yang terasa enggak penting agak susah, aku lambat laun berhasil dibuat penasaran soal kelanjutan ceritanya.

Yea, aku jadi penasaran dengan seri-seri novelnya!

Mengingat suatu anime belakangan diproduksi sebagai ‘iklan’ untuk seri aslinya, bisa dibilang misi para produsernya sebenarnya sukses.

Lalu, kalau boleh jujur, meski ada bagian-bagian cerita yang kualitasnya meragukan, seri novelnya secara umum asyik. Kayak ringan dan gampang diikuti gitu. Benar-benar hiburan yang pas buat melepas stres. Ceritanya juga lambat laun berkembang dan menjadi lebih serius.

Sesudah menyatukan seluruh bagian Babylon, Touya harus memikirkan cara untuk menghalau serbuan Phrase. Langkah yang dia lakukan adalah membangun robot-robot raksasa Frame Gear. Namun, langkahnya diperumit saat ada dewa liar membagi kekuatan dewatanya bersama musuhnya, dan sebagainya. Ceritanya semakin menarik saat dewa-dewa lain tertarik pada Touya dan mulai tampil sebagai “anggota-anggota keluarganya.”

Slime Tidak Populer Dengan Wanita

Sesudah mengikuti Isekai Smartphone, aku jadi sedikit mikir: apakah kunci sukses kita di dunia sebenarnya ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan ‘dia yang berkuasa’? Tapi, dari sini, kita ada dua pertanyaan. Satu: siapakah yang berkuasa? Dua: bagaimana cara kita bisa dekat dengannya?

Kalau mikir ini lebih jauh, aku jadinya kepikiran soal agama.

…Yah, Terlepas dari itu, kayak biasa untuk kasus-kasus begini, meski versi anime punya sisi-sisi baiknya, versi novel Isekai Smartphone masih lebih bagus ketimbang animenya.

Perbedaan paling kentara terdapat pada cara pemaparan pribadi Touya sendiri. Meski Touya nyata-nyata memang orang baik—dan alur animenya hampir sama persis dengan yang di novelnya—versi novelnya secara umum diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Monolog internal Touya inilah yang membuat versi novelnya jadi beneran menarik, karena Touya ternyata punya sedikit sisi nyinyir dan sinis yang kurang berhasil ditampilkan di anime.

Ceritanya enggak pernah jadi sangat bagus. Tapi, untuk ukuran novel isekai, versi novel Isekai Smartphone seriusan termasuk yang gampang dinikmati. Meski kesan permukaannya datar, reaksi internal Touya terhadap segala sesuatu benar-benar kocak. Iya, aspek romansanya agak maksa. (Menarik gimana malah aspek ini yang justru jadi ditonjolkan di animenya.) Namun, dengan segala kesederhanaannya, ini bacaan fun yang di dalamnya ada saja hal unik yang terjadi.

Perlu disinggung elemen per-game-an yang biasa ada di suatu seri isekai juga sama sekali absen di seri ini.

Ngomong-ngomong, Fuyuhara-sensei konon mengetik novel ini menggunakan smartphone-nya juga. Aku seriusan heran gimana orang bisa sampai kayak gini.

Eh? Soal smartphone Touya?

Oh. Iya.

Smartphone nanti beneran berperan dalam cerita. Dengan menggabungkan fungsi-fungsinya dengan Null Magic, Touya jadi menemukan berbagai cara kreatif untuk fitur-fitur dan aplikasi ponselnya.  Awal-awalnya memang enggak menonjol. Tapi, makin ke sana, jadi makin menarik.

Eh? Cowok misterius yang muncul di akhir itu jadinya siapa?

Namanya Ende, pengelana dari dunia lain yang kehadirannya terkait dengan ancaman serangan Phrase akibat sesuatu-sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan cintanya. Ende lebih banyak berperan sebagai sekutu bagi Touya ketimbang musuh sih. (Salah satu mecha raksasa Frame Gear yang Touya dapatkan nantinya dikasih ke dia.) Kalau anime ini dapat season baru, mungkin dia bakal dapat porsi lebih banyak.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Seiren

Seiren itu aneh.

Aku punya alasan pribadi untuk mengikuti Seiren (judulnya kira-kira berarti: ‘kejujuran’, ‘sungguh-sungguh’), tapi cerita Seiren enggak kusangka bakal seaneh ini.

Sedikit info dulu.

Seiren diproduksi bersama oleh Studio Gokumi dan AXsiZ. Pertama tayangnya di musim dingin awal tahun 2017.

Aku antusias saat Seiren diumumkan. Alasannya, karena produksinya mengusung nama Takayama Kisai.

Takayama-san adalah ilustrator sekaligus pencetus game Amagami. Adaptasi anime Amagami, Amagami SS dan Amagami SS+, sempat menarik perhatian beberapa tahun lalu. Aku sempat suka. Lalu begitu tahu kesuksesan itu hendak diulang dengan bagaimana Takayama-san mendesain karakter sekaligus menangani naskah Seiren, aku tentu saja jadi tertarik.

Selain beliau, musik ditangani Nobusawa Nobuaki. Penyutradaraannya ditangani Kobayashi Tomoki yang belakangan dikenal berkat anime aksi Akame ga Kill!.

Berbeda dengan Amagami, Seiren murni diproduksi sebagai anime. Tidak ada game pendahulu yang padanya ini didasarkan.

Meski begitu, sama halnya Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, Seiren mengadopsi format omnibus. Seri ini terbagi ke dalam bab-bab berbeda yang berpusar pada karakter perempuan utama yang berbeda pula. Cerita dalam satu bab tidak berhubungan dengan bab lain (meski ada banyak hal yang sama di dalamnya). Jadi begitu memasuki bab baru, cerita seolah berulang dari awal dengan arah perkembangan yang berbeda.

Musim pertama Seiren sepanjang 12 episode. Dengan tiga heroine utama, mengikuti formula Amagami SS, masing-masing bab mendapat durasi empat episode. Tiap bab juga punya lagu penutup berbeda yang dinyanyikan pengisi suara heroine terkait.

Aku menyebutnya ‘musim pertama’ karena direncanakan ada musim kedua kalau anime ini sukses. Tapi lebih banyak soal itu mending aku singgung nanti.

Sekali lagi, Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, adalah komedi romantis dengan sisi-sisi lucu dan unik. Tapi komedi romantis di Seiren itu lebih ke arah… aneh.

Aneh… gimana ya?

Enggak kepikiran kata lain yang bisa menjabarkannya.

Venison

Seiren berlatar di SMA Kibito, sekolah yang juga menjadi latar Amagami. Bedanya, Seiren berlatar pada masa sembilan tahun sesudahnya. Ada beberapa tempat di Amagami yang bahkan dikunjungi lagi di Seiren. Mungkin kau takkan langsung sadar, tapi desain seragam para tokohnya juga sama.

Seiren bercerita tentang pengalaman-pengalaman romantis(?) Kamita Shouichi, siswa kelas dua di SMA Kibito yang dihadapkan pada sejumlah perempuan berbeda saat mulai memikirkan tentang masa depan.

Shouichi ceritanya adalah adik lelaki Kamita Tomoe, siswi kelas tiga populer yang juga bersekolah di Kibito.

Moe-nee adalah pemenang kontes kecantikan Miss Santa pada Festival Pendiri Sekolah tahun sebelumnya. Karenanya, berkat hubungannya dengan kakaknya, Shouichi sedikit banyak mulai ikut dikenal juga.

Di sekolah, Shouichi bersahabat dekat dengan Nanasaki Ikuo, kawan sejak kecilnya yang kalem dan pintar.

Meski enggak blak-blakan diungkapkan, Ikuo ceritanya adalah adik lelaki Nanasaki Ai, salah satu heroine di Amagami. Jadi lagi-lagi ada sedikit keterhubungan di sini. (Untuk kalian yang lupa, Ai itu yang anggota klub renang, gadis cool salah satu teman dekat Miya, adik perempuan Tachibana Junichi, si tokoh utama. FYI, Junichi juga sempat tampil sebagai cameo.)

Karena kegemaran mereka ke game center, Shouichi dan Ikuo juga akrab dengan seorang kakak kelas bernama Araki Tetsuya. Araki-senpai yang tampan banyak dikagumi siswi-siswi di sekolah mereka. Tapi tanpa banyak orang tahu, Araki sebenarnya penyayang binatang. Entah bagaimana, hal itu jadi membuatnya punya sisi kepribadian yang sedikit aneh.

Ada tiga tokoh utama perempuan yang Seiren sajikan (di paruh ini). Masing-masing seolah mewakili angkatan yang berbeda. Sesuai urutan bab mereka, ketiganya adalah:

  • Tsuneki Hikari, teman sekelas sekaligus siswi paling dikenal di angkatan Shouichi. Hikari yang lincah dan memikat menjadi runner up kontes Miss Santa tahun lalu (kalah dari Tomoe, kakak perempuan Shouichi). Sifatnya ceria, senang makan tapi gemar olahraga, dan terkadang keras kepala. Hikari juga diam-diam bekerja paruh waktu sebagai koki dan pelayan di suatu restoran, meski sekolah sebenarnya tidak memperbolehkan. Cerita babnya mengetengahkan bagaimana Hikari dengan enggan mengikuti sekolah musim panas yang juga diikuti Shouichi dan Ikuo. Bagaimana Shouichi tak bisa membiarkan Hikari sendirian lambat laun memunculkan desas-desus tentang mereka. Desas-desus tersebut malah dikompori Hikari sendiri, mendorong Shouichi untuk bersikap serius tentang hubungan mereka.
  • Miyamae Toru, kakak kelas dan teman akrab Moe-nee yang diam-diam jago ngegame. Meski sering ngegame, nilai-nilai pelajarannya juga terbilang bagus dan ia pun pandai berolahraga. Meski begitu, Toru kerap kesulitan bicara dengan orang kalau tak punya kesamaan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Toru jadi sering bertukar item dengan Shouichi, Ikuo, dan Araki. Saat Shouichi menjadi partnernya dalam suatu game robot-robotan, Shouichi jadi tertarik lebih jauh dengan kepribadiannya. Toru ternyata pernah akrab dengan Hikari di waktu SMP.
  • Touno Kyouko, adik kelas sekaligus teman sejak kecil Shouichi selain Ikuo. Penampilannya cantik dan manis. Dia murid teladan. Tapi dia juga gemar membaca komik cewek dan punya jalan pikiran sedikit kekanakan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Kyouko meminta Shouichi menemaninya makan pancake. Ini mengawali serangkaian kejadian yang membuat keduanya sama-sama mulai mengkaji hubungan mereka.

“Rasanya luar biasa saat kamu menendangku dari belakang.”

Secara konseptual, Seiren menurutku lebih bagus dari Amagami.

Dalam perkembangannya, memang ini terkadang dikesampingkan sih. Tapi tema yang diangkat Seiren sebenarnya tentang menghadapi masa depan. Inilah yang kemudian membuatnya jadi bagus.

Daripada soal hubungan dengan para heroine-nya, Seiren sempat terasa kayak seri drama kehidupan yang lebih umum. Jadi bukan cuma soal hubungan cinta saja yang diangkat. Diangkat juga berbagai hal lain seperti sekolah, hobi, minat, dsb. dalam kehidupan para tokohnya.

Secara mengesankan, ini tertuang dalam berbagai pikiran Shouichi. Jadi kayak, sesuatu yang selalu membayang-bayanginya secara bawah sadar gitu.

Masalahnya… mungkin ada di visi konsepnya yang belum mateng kali ya?

Awal cerita Seiren menurutku lebih menarik dari dugaan. Secara tersirat, berbagai hal tentang kehidupan para karakternya tercermin dari sikap, kebiasaan, dan cara bicara mereka.

Seiren sama sekali enggak kelihatan kayak anime dating sim yang biasa. Nuansanya beneran kerasa begitu berbeda dari Amagami.

Sayangnya, di sepanjang dua bab pertama (bab Hikari dan Toru), fokus ceritanya kayak gagal kebangun gitu. Aspek hubungan antar karaternya kurang berhasil terjalin. Akibatnya, daya tarik di awal tersebut jadi menurun dalam pelaksanaannya. Kualitasnya tak pernah benar-benar sampai berhasil menyamai kesan kuat Amagami SS.

Menyakitkannya, ini tuh benar-benar murni masalah naskah. Masalah ini juga mungkin terhindari seandainya Seiren hasil produksi dari satu studio, dan bukan kolaborasi dari dua.

Kalau membahas soal teknis sih, animasi Seiren sebenarnya punya banyak saat yang terkesan ‘kaku.’ Kualitasnya termasuk biasa. Pengarahannya—soal gimana visualnya dipadu dengan dialog dan musik dalam satu adegan—terkadang kayak masih kurang pas.

Padahal dari segi audio, seri ini termasuk lumayan. Voice acting-nya enggak buruk. Di samping itu, musiknya lumayan dan sejumlah lagu-lagunya juga terbilang enak didengar.

Soal desain karakter Takayama-san, ada yang berpendapat desain karakter Seiren terlalu mirip dengan satu sama lain. (Ketiga heroine sama-sama kurus dan berambut panjang, misalnya.)

Aku memang agak merasa beliau terlalu memasukkan selera pribadi beliau di dalam seri ini sih. Tapi aku juga merasa konsep multidimensi yang Seiren usung soal ‘masa depan’ dan ‘kehidupan’ juga agak berperan.

Susah jelasinnya.

Intinya, aku menduga pembagian kerja antara kedua studio menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi hasil akhir Seiren. Visi para pembuatnya masih belum menyatu. Jadinya, visi tersebut juga kurang berhasil diterjemahkan saat seri ini sudah harus tayang.

Tapi yang mengejutkan dari Seiren, kualitas teknis dan naskahnya tiba-tiba mengalami kenaikan sekitar pertengahan seri. Para staf seakan menemukan momentum mereka lagi.

Seiren jadi punya episode-episode terakhir yang lebih berkesan dari episode-episode awal. Babnya Kyouko ternyata jauh lebih berkesan dibandingkan babnya Hikari dan Toru.

Iya, tetap aja ini terasa aneh karena format ceritanya yang omnibus sih.

Nah, bicara soal itu…

“Aku jadi benar-benar gugup saat membayangkan bisa punya keturunan sama kamu.”

Balik lagi soal cerita, Seiren itu… ceritanya aneh.

Seriusan aneh.

Di atas kertas, memadukan elemen-elemen drama komedi dengan soal cita-cita, impian, sekaligus romansa bukan ide buruk. Tapi untuk Seiren, keanehan ini yang justru jadi kekuatan sekaligus kelemahannya yang terbesar.

Kekuatannya karena… enggak ada anime lain yang mirip Seiren. Bahkan Amagami SS juga enggak!

Kelemahannya karena… Seiren jadi cenderung datar buat sebagian orang. Agak membosankan. Inti ceritanya jadi agak sukar dipahami. Itu sesuatu yang enggak semestinya terjadi buat konsep kayak gini.

Sekali lagi, andai Seiren diproduksi sama satu studio, keanehan yang jadi kelemahannya ini kayaknya bakal langsung disadari dan kemudian diperbaiki. Tapi karena diproduksinya oleh dua, keanehan dalam naskahnya itu kayak baru ketahuan belakangan.

Ringkasnya, selain plotnya kerap mengawang, selalu ada sesuatu yang ‘ajaib’ di dialognya.

Pas kamu dengerin pertama kali, awalnya kamu akan biasa-biasa saja. Tapi sedetik berikutnya, pas kamu memikirkannya lagi, reaksi kamu bisa jadi, “Wut? Barusan dia ngomong apa?” karena saking anehnya apa yang diucapkan.

Nah, dialog-dialog kayak gini yang jadi kekhasan Seiren. Dan ini konsisten ada di ketiga bab.

Amagami SS juga punya fanservice yang ‘aneh’ gitu kan? Kamu nanya apa di dalamnya Seiren juga ada apa enggak? Jawabannya: iya, tapi enggak sebanyak Amagami. Cuman, pas ada, keanehan di Seiren itu bisa sekian kali lipat melebihi Amagami.

Seiren seriusan patut dipuji karena bisa kepikiran segala macem inuendo kayak gini.

Lalu, soal plotnya…

Satu hal aneh lain tentang Seiren: kalau dalam Amagami misalnya, seorang heroine tidak akan terlalu berperan dalam bab heroine lain. Kalau dalam Seiren, mereka kayak punya peran lebih aktif. Malah kayak bisa ada konflik antar mereka.

Jadi, struktur bab yang katanya omnibus tersebut sebenarnya lebih kayak struktur perkembangan cerita di Fate/stay night ketimbang Amagami. Hal-hal yang dipaparkan di satu bab terus terbangun sampai ke bab berikutnya begitu. (Seperti soal subplot soal cinta terpendam Ikuo.)

Tingkatinteraksi antar karakter heroine di Seiren emang jadi lebih banyak. (Terutama dengan adanya Hikari.) Lalu kurun waktunya secara kronologis memang Hikari –> Toru –> Kyouko. (Memberi semacam kesan What if? pada masing-masing skenario.) Tapi iya, buat anime yang harusnya romansa kayak Seiren, ini jadi terasa luar biasa aneh.

Sisi baiknya, sekali lagi, adalah gimana bab Kyouko jadi memuaskan sebagai penuntas seri.

Ceritanya Kyouko emang berbeda sendiri. Memang terasa seperti ada elemen-elemen cerita yang dicomot dari babnya Rihoko di Amagami SS dan Amagami SS+. Bahkan sampai ada karakter expy dari dua karakter senpai di Klub PKK segala! Tapi kalo aku ditanya akhirnya bagus apa engga, menurutku pribadi, akhirnya termasuk bagus.

Seandainya Seiren dikasih kesempatan lanjut, mungkin saja season keduanya bakal beneran ngejutin.

Legenda Gudang Pompa

Sebagai penutup, ada lumayan banyak karakter yang berperan dalam Seiren. Tapi tiga karakter berikut yang sebenarnya telah direncanakan sebagai heroine untuk season keduanya.

  • Hiyama Miu, siswi pingitan anggota klub renang SMA Putri Sakuragawa Nishi. Masih awam soal berbagai seluk beluk dunia. Dirinya pertama kali diperkenalkan sebagai sesama peserta sekolah musim panas di bab Hikari.
  • Kamizaki Makoto, siswi kelas satu anggota komite disiplin di Kibito. Teman dekat Kyouko. Dirinya tidak terbiasa berkonfrontasi dengan orang. Dia ditampilkan secara menonjol di bab Toru saat hendak mengambil foto di game center. (Ada indikasi kalau dirinya adalah adik perempuan Kamizaki Risa, karakter rahasia di Amagami.)
  • Sanjou Ruise, ketua komite disiplin yang agak galak, sekaligus atasannya Makoto. Dirinya berperan mencolok di bab Kyouko sebagai sosok yang mendorong Klub PKK untuk membuatkan rancangan hiasan.

Selain mereka, juga ada teman-teman dekat Hikari (yang punya hubungan kompleks dengannya). Ada Nagasawa Shiori, teman Moe-nee dan Toru, yang baik hati membantu dalam hal Comima. Lalu ada… dua orang karakter cowok yang seakan menjadi penggemar para cewek cantik di SMA Kibito. (Sayang mereka enggak lebih banyak berperan.)

Selebihnya, para karakter expy: ada Yoshida Mako di sekolah musim panas yang desainnya hampir sama persis dengan Tanaka Keiko, teman dekat Tanamichi Kaoru di Amagami. Lalu dua kakak kelas Uno Koharu dan Tokioka Nao punya sifat dan tampang yang sama persis dengan Yuzuki Ruriko dan Hiba Manaka di Amagami. Mereka bahkan sama-sama jadi anggota Klub PKK?

…Sejujurnya, aku jadi curiga apakah terjadi perubahan naskah secara mendadak menjelang akhir seri.

Akhir kata, Seiren mungkin terkesan membosankan. Tapi kalau kau bertahan, yah, ada hal-hal di dalamnya yang enggak akan kamu temukan di tempat lain.

Kalau kau fans Amagami, kamu enggak bener-bener perlu mengikuti Seiren. Tapi kalau kau sudah jadi fans Amagami saat mengikuti Seiren, ada sejumlah hal menarik yang bisa tiba-tiba kau sadari selama mengikutinya.

Sekali lagi, anehnya Seiren bukan aneh gila kayak di seri-seri komedi kocak kayak Excel Saga atau Nichijou gitu. Melainkan ‘aneh’ yang sekilas kelihatan normal, tapi saat kamu nyadar, lambat laun bikin kamu “Hah? Haah? HAAAAAAH?!”

Itu yang membuatnya jadi menarik.

(Di samping itu, aku lebih dari bersyukur bisa mendengar nyanyian Oku Hanako lagi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+

Busou Shoujo Machiavellianism

Belakangan, waktuku tersita oleh naskah yang aku lagi kerjain.

Tapi belum lama ini, aku masih sempat mengikuti perkembangan anime Busou Shoujo Machiavellianism.

Juga dikenal dengan judul Armed Girls Machiavellianism (‘Machiavellianisme gadis-gadis bersenjata’; buat yang belum tahu, ‘Machiavellianisme’ adalah suatu paham yang digagas filsuf sekaligus ahli sejarah Niccolò di Bernardo dei Machiavelli pada awal abad ke-16, yang intinya membolehkan—dan mungkin bahkan menekankan—kepalsuan, pemaksaan, manipulasi, dan amoralitas untuk tercapainya suatu tujuan). Ini seri komedi romantis aksi bernuansa ilmu bela diri yang didasarkan seri manga karya Karuna Kanzaki. Ceritanya sendiri dipenai Kurokami Yuuya. Diserialisasikannya di majalah bulanan Monthly Shonen Ace milik penerbit Kadokawa Shoten, dan saat ini aku tulis, serialisasinya masih berlanjut.

Adaptasi animenya sendiri dikerjakan studio animasi Silver Link. Tachibana Hideki yang menyutradarai. Hasil akhirnya, mengingat beliau sebelumnya menangani Chaos Dragon, H2O: Footprints in the Sand, dan BlazBlue Alter Memory, menurutku terbilang bagus. Naskahnya dikerjakan oleh Shimoyama Kento. Musiknya ditangani Mizutani Hiromi dari Team MAX.

Ditayangkan pada musim semi tahun 2017, jumlah episodenya sebanyak 12.

(Sebenarnya, ada cerita panjang soal lisensi anime ini dan beberapa judul lain pada musim bersangkutan, tapi mungkin soal itu enggak usah aku ceritain.)

Bertingkah Seperti Burung-burung Kecil

Sekilas, Busou Shoujo Machiavellianism terkesan punya cerita yang enggak penting. …Tapi kalau dilihat secara menyeluruh pun, cerita seri ini memang sebenarnya enggak terlalu penting.

Seorang remaja SMA santai bernama Nomura Fudou dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena meng-KO 40 orang dalam suatu tawuran hebat. Tapi kemudian, dia pindah ke Akademi Simbiosis Swasta Aichi (apa ini bener terjemahannya?) yang prestisius dan berasrama, yang ternyata secara harfiah dikuasai oleh para siswi.

Alasan anak-anak perempuan menguasai sekolah ini adalah karena mereka semua diizinkan membawa senjata. Senjata beneran. Perguruan Aichi sebelumnya adalah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga terhormat yang baru pada tahun-tahun belakangan menerima siswa laki-laki. Sebagai langkah untuk melindungi kehormatan para siswi, para siswi diizinkan membawa senjata agar bisa menjaga diri dari para laki-laki.

Lalu entah siapa yang memulai, meski resminya murid-murid laki-laki diterima di sekolah ini, selama bersekolah di perguruan ini, mereka diwajibkan berhenti hidup sebagai laki-laki. Dengan kata lain, mereka semua harus hidup sebagai banci.

Nomura (aksen saat menyebut namanya diberikan pada suku kata pertama) jelas tak bisa menerima aturan ini. Meski mengusung moral yang lurus, Nomura juga menjunjung kebebasan lebih dari apapun. Tapi bahkan sebelum penolakannya, karena prestasinya dalam menghajar 40 orang dalam satu tawuran hanya dengan tangan kosong, Nomura telah menarik perhatian kelompok Tenka Goken (Supreme Five Swords, ‘Lima Pedang Terkuat’).

Tenka Goken adalah kelompok penjaga keamanan yang terdiri atas lima siswi paling kuat di Aichi. Selama bertahun-tahun, mereka menjaga harmoni di perguruan Aichi karena dibolehkan menegakkan aturan dengan membawa pedang sungguhan.

Singkat cerita, meyakini Nomura akan berbuat onar, diprakarsai seorang gadis bertopeng bernama Onigawara Rin yang ternyata menjadi teman sekelas Nomura, masing-masing anggota Tenka Goken memulai langkah-langkah mereka untuk mendisiplinkannya. Sementara di sisi lain, Nomura belakangan mengetahui bahwa untuk memperoleh izin pergi ke luar sekolah, ia perlu melengkapi kartu izin dengan stempel dari kelima anggota Tenka Goken. Karena Nomura ingin memperoleh izin untuk bisa bebas keluar, tanpa dapat dihindari, jalan hidup Nomura dan kelompok ini akhirnya berseberangan.

Namun, meski tak bersenjata apa-apa selain sarung tangan berpelindung yang menjadi andalannya, Nomura ternyata seorang ahli bela diri. Dia telah dididik oleh kakeknya sejak kecil dan digembleng oleh kakeknya untuk menguasai suatu ilmu bela diri tertentu. Hasilnya adalah jurus rahasia yang disebut Madan (‘peluru ajaib’), suatu serangan hentakan telapak dahsyat yang dapat dilepasnya dari kedua belah tangan dari posisi apapun.

Seiring dengan bentrokan demi bentrokan yang terjadi, satu demi satu gadis yang berhadapan dengan Nomura juga lambat laun menyadari kalau dirinya ternyata tidak seburuk yang mereka kira…

Catatan-catatan Skandal

Terlepas dari semuanya, para heroine utama seri ini, yang tergabung dalam Tenka Goken, terdiri atas:

  • Onigawara Rin, gadis berambut hitam pendek yang punya ciri khas berupa separuh topeng oni yang hampir selalu menutupi separuh wajahnya. Rin adalah pemimpin tidak resmi dari Tenka Goken, meski ia berada di kedudukan tersebut lebih karena dirinya yang paling punya inisiatif. Pembawaannya galak. Ia juga selalu lurus dan taat peraturan. Tapi dirinya juga punya sisi rendah diri yang membuatnya terkadang ragu terhadap diri sendiri. Dalam bertarung, Rin menggunakan ilmu pedang aliran Kashima Shinden Jikishinkage-ryuu yang mengutamakan ketepatan bentuk yang dipadukan dengan teknik-teknik pernafasan. Pedangnya berupa katana yang dinamai Onimaru. Adik kelas yang paling dekat dengannya adalah Mozunono Nono, yang kagum terhadap Rin dan menggunakan aliran pedang yang sama, tapi untuk pedang pendek jenis kodachi, meski ia sendiri bersenjatakan baton.
  • Kikakujou Mary, seorang gadis pirang rupawan berdarah campuran Jepang-Perancis. Ke mana-mana, ia senantiasa membawa kamus bahasa Jepang. Ia ahli anggar yang agaknya menggabungkan ilmu pedang konvensional dari Barat dengan ilmu pedang Jepang (aliran Jigen-ryuu?). Dalam bertarung, Mary melancarkan serangan-serangan beruntun yang mengincar titik-titik saraf lawan yang juga dipadukan pengendalian jarak yang lihai. Pedang yang digunakannya sejenis rapier, yang mengutamakan gerakan-gerakan tusukan. Sangat cantik dan anggun meski terkadang pemalu. Dirinya juga bisa bersikap licik saat sedang mau. Adik kelas yang dengan setia mengikutinya adalah si burikko, Chouka U. Baragasaki (bukan nama asli), yang menggunakan senjata cambuk.
  • Hanasaka Warabi, anggota paling senior dalam generasi Tenka Goken saat ini, seorang gadis pendek berambut pirang yang memiliki pembawaan seperti bangsawan. Memiliki seekor beruang peliharaan bernama Kyobo. Sebagai anggota senior, Warabi juga memiliki banyak pengikut serta pengaruh luas. Meski semula berkesan kaku dan tanpa ampun, Warabi bisa menjadi pengertian dan sangat bisa diandalkan kalau sudah kenal. Dalam bertarung, Warabi menggunakan aliran pedang Taisha-ryuu yang menonjolkan serangan kejutan dan gerak tipuan. Pedang yang digunakannya kurasa adalah sejenis nodachi.
  • Tamaba Satori, gadis penyendiri berambut gelap panjang dengan tingkah laku sulit ditebak. Dikenal memiliki perangai sangat aneh dan cenderung berbahaya. Matanya yang membelalak membuatnya pikirannya sulit dibaca. Menaruh rasa permusuhan terhadap Nomura bahkan sebelum mereka pertama berhadapan. (Alasannya ternyata karena ia tak terima bila disamakan dengan Morgan Freeman. Ceritanya panjang.) Dalam bertarung, Satori menggunakan gerakan-gerakan bercabang yang sangat sukar ditebak. Ilmu pedang yang digunakannya sedikit spoiler, tapi pada dasarnya ia merangkai bentuk dan gerakan dari berbagai ilmu pedang lain. Pedang yang digunakannya adalah nihontou polos bergagang dan bersarung kayu, tanpa pelindung tangan. Satori punya masa lalu aneh yang menjadi penyebab ia menjadi seperti demikian.
  • Inaba Tsukuyo, seorang gadis mungil serupa kelinci dengan mata buta yang hampir selalu terpejam. Meski demikian, pendengaran Tsukuyo luar biasa tajam. Hanya dengan mendengar sekelilingnya, Tsukuyo bisa mengintepretasi berbagai kejadian yang terjadi di Aichi. Tsukuyo anggota termuda dari Tenka Goken yang masih duduk di bangku SMP, tapi dirinya sekaligus juga yang paling kuat dengan ilmu pedang paling mengerikan. Gerakan-gerakan kilatnya membuat lawan-lawannya tak mampu berkutik. Ilmu pedang yang digunakannya juga sedikit spoiler. Kalau tak salah, pedang yang digunakannya adalah sejenis tachi. Mungkin karena selalu disegani, diam-diam Tsukuyo terkadang kesepian.

Sebenarnya ada satu heroine lagi, yaitu Amou Kirukiru, seorang gadis jangkung berambut panjang dan sangat cantik yang merupakan murid pindahan seperti halnya Nomura.

Amou di masa lalu dikisahkan berhasil menundukkan Tenka Goken saat mereka berupaya mendisiplinkannya. Dirinya satu-satunya murid di Aichi sebelum Nomura yang tidak bisa Tenka Goken kendalikan. Karenanya, Amou kemudian dikenal dengan julukan Joutei (Empress). Motivasi Amou di sepanjang cerita menjadi tanda tanya besar. Pengetahuannya tentang jurus Madan milik Nomura (dan soal bagaimana aksen diberikan pada suku kata pertama di namanya) mengimplikasikan adanya semacam hubungan masa lalu di antara mereka.

Amou adalah praktisi karate aliran Uechi-Ryu yang menekankan pengerasan tubuh. Setiap gerakan tangannya serupa tebasan pedang. Dalam dirinya telah tertanam teknik Auto Counter yang membuatnya mampu membalas setiap serangan yang ditujukan padanya bahkan secara separuh sadar. Dirinya berperan jadi semacam final boss yang harus Nomura hadapi di penghujung cerita. (Belakangan diimplikasikan Amou terobsesi dengan Nomura karena serangan Nomura bisa memberinya rasa sakit, sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya karena sudah lama mati rasa.)

“Buriburi! Buriburi!”

Sekali lagi, Busou Shoujo Machiavellianism itu… aneh.

Garis besar ceritanya enggak penting. Meski ada aksinya, genrenya yang utama sebenarnya adalah komedi romantis. Tapi romansa yang ada di dalamnya enggak bisa dibilang berat juga. Latar ceritanya terkadang sureal. Perkembangan karakternya terkadang mengangkat alis, dan cenderung konyol. Tapi… ada sesuatu tentangnya yang sulit dijelaskan, yang membuatnya berakhir lebih bagus dari dugaan.

Intinya: siapa sih yang nyangka seri tentang cowok yang berantem dengan cewek-cewek semata-mata agar dapet izin buat bisa keluar sekolah akan meninggalkan kesan sedemikian kuatnya tentang persahabatan dan pemahaman jati diri?

It’s weird.

Komedinya, meski benar-benar aneh, sebenarnya lumayan lucu. Jenisnya lebih ke komedi situasi yang lebih berbasis percakapan ketimbang slapstick. Jenis yang lebih mengandalkan interaksi karakter. …Meski memang perkembangan situasinya terkadang absurd.

Walau enggak sampai mengangkat hal-hal pseudo-filosofis seperti berbagai seri bela diri sekolahan lain, di luar dugaan, tetap ada nilai-nilai berbobot yang tersampaikan di ceritanya juga. Ada soal prasangka, ada soal kesetiakawanan. Ada juga soal kerja keras dan pemahaman diri sendiri/penerimaan orang lain.

Iya sih. Ini seri fanservice. Tapi implementasi berbagai elemennya benar-benar efektif. Perkembangan ceritanya juga selalu menarik dan tak selalu gampang ditebak.

Kalau kekurangan, adegan-adegan aksinya lumayan low key sih. Koreografinya sangat sederhana. Sama sekali tidak wah.  Bagaimanapun, ceritanya memang lebih menonjolkan aspek komedi romantisnya. Tapi di sisi lain, seperti ada semacam ‘keaslian’ dalam teknik-teknik bela diri yang digunakan di dalamnya juga.

Makanya, ini aneh.

Awalnya lucu melihat gadis-gadis manis ini melancarkan gerakan-gerakan bela diri yang mungkin saja benar-benar ada di kehidupan nyata. Tapi kalau kau bisa melihat melewati kesan awalnya, kau mungkin bakal ngerasa kalau karakter-karakter di dalamnya itu menarik.

Nomura terutama berhasil mencuri perhatian sebagai karakter utama. Meski lagaknya santai dan semaunya, dia setiakawan dan kuat. Tipe yang tak keberatan bersusah-susah selama itu masih sejalan dengan prinsipnya. Prinsipnya itu yang menggerakkan dia (meski, sekilas, prinsipnya itu kayaknya bener-bener enggak penting) dari awal sampai akhir. Lalu aku terkesan pada gimana dia mengkomunikasikan prinsip itu ke orang lain, menunjukkan posisinya di mana, membuat orang lain ngehargain dia sebagaimana halnya dia juga ngehargain orang lain.

Intinya, dia karakter yang lebih dalam dari yang sekilas terlihat.

Bukti Aku Ada di Sini

Bicara soal teknis, seri ini punya nilai-nilai produksi yang solid.

Visualnya menonjolkan permainan warna-warna cerah dan efek-efek pudar dengan animasi cukup solid. Mungkin kau tak cocok dengan gaya desain karakternya. Tapi secara umum, visual seri ini beneran bagus. Pada setiap adegan aksi, perubahan ekspresi para karakter di luar dugaan menjadi hal yang sangat diperhatikan dan hampir selalu menyiratkan banyak hal.

Dari segi audio, Mizutani-san memberikan good job. BGM-nya keren. Kebanyakan seiyuu-nya juga adalah seiyuu yang belum aku kenal. Tapi kesemuanya menurutku memberikan performa brilian. Mereka berhasil membuat setiap karakter terasa hidup seaneh apapun mereka. Mulai dari tawa khas Warabi sampai nada bicara Satori yang psikopatik, itu juga termasuk teman-teman seasrama Nomura seperti Masuko. Itu lengkap pula dengan nuansa terselubung untuk hal-hal yang semula tak tampak di permukaan.

Aku benar-benar kaget karena sampai dibuat ingin tahu perkembangan seri ini. Soalnya, meski mengetengahkan aksi bela diri, manganya termasuk jenis yang punya dialog banyak. Gimana ya? Jenis yang kesan awalnya sama sekali berbeda dari kesan akhirnya.

Cerita di animenya sendiri berakhir tuntas sih. Kesan akhirnya juga cukup kuat. Tapi yea, manganya masih berlanjut. Ada sejumlah tokoh baru menjelang akhir yang juga sempat ditampilkan sebagai teaser.

Aku tak tahu apa aku akan berkesempatan buat tahu lanjutannya atau tidak sih. Meski animenya terbilang baik, aku tidak melihat gelagat akan dibuatnya season dua soalnya.

Akhir kata, kamu mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari seri ini. Mungkin kamu awalnya enggak akan ngerti karena terselubung. Mungkin itu sesuatu yang sederhana dan enggak penting. Tapi itu tetap sesuatu yang bisa kamu ambil.

Ah, pastinya lagu penutup dan pembukanya keren. Terutama lagu penutup “DECIDE” yang dinyanyikan para seiyuu Tenka Goken. Itu lagu yang sederhana, tapi pas banget dengan nuansa seri ini. Aku jadi berharap Tenka Goken sebagai grup musik bakal bisa terus berkarya.

(Uh, buat kalian yang masih bingung dengan arti judulnya, ringkasnya itu tentang bagaimana Nomura menyikapi pendekatan paksa menghalalkan segala cara ala Machiavelli dari para gadis yang mencoba mendisiplinkannya. Perlu kuakui, judulnya sangat menarik perhatian.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou

Belum lama ini, aku jadi anggota J-Novel Club.

Intinya, mereka layanan resmi yang menerjemahkan light novel terbitan Hobby Japan dan Overlap ke Bahasa Inggris.

Keanggotaanku masih biasa sih, bukan premium.

Keanggotaan biasa cuma boleh baca gratis semua buku yang terjemahannya masih dikerjakan. Dalam artian, buku-buku yang belum terbit digital secara final. (istilahnya, yang masih prepub, atau pre-publikasi) Ada porsi-porsi terjemahan yang mereka sediakan  mingguan. Jadwal rilis per bagiannya sudah mereka atur. Lalu, asal buku itu belum terbit, atau kebetulan sedang ada acara khusus, kita bisa baca bab-bab yang tersedia sepuasnya.

Di sisi lain, buku-buku yang tuntas terjemahan dan pengeditannya, dan sudah resmi terbit, selain bab-bab awal yang jadi preview, berubah sifatnya jadi tertutup buat semua anggota. Kalau mau baca, maka kita mesti beli. Kecuali, lagi, dalam kasus-kasus tertentu. (Atau, kalau kalian nyari bajakan.)

Enaknya kalau premium, ada kayak kredit yang diberikan tiap bulan gitu. Satu kredit bisa kita pakai untuk beli satu buku yang sudah terbit.

Jadinya, kalau dihitung-hitung, bahkan kalau bukan premium pun, keanggotaan layanan ini benar-benar balik modal. Yang diterjemahkan bukan versi web novel, melainkan versi light novel yang sudah cetak resmi. Itu lengkap dengan ilustrasi dan afterword. Yang paling utama, skema bisnis ini sekalian mendukung pengarang dan penerbit asli di sana.

Aku sudah menyinggung bagaimana waktu launching, JNC menggebrak dengan menghadirkan seri novel misteri sains fiksi Occultic;Nine. Animenya baru mulai tayang saat itu. Beberapa judul lain yang menonjol mencakup seri komedi Rokujouma no Shinryakusha?!, fantasi remaja Hai to Gensou no Grimgar, serta Ore ga Heroine o Tasukesugite Sekai ga Little Apocalypse?! yang sudah lumayan lama bikin penasaran sejumlah fans.

Seri novel isekai Smartphone yang animenya tayang musim depan juga sudah mereka kerjakan.

Tapi, di antara semuanya, satu judul yang kuperhatikan khusus adalah Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou. Ini seri novel isekai agak terkenal karangan Shirakome Ryo. Ilustrasinya buatan Takayaki. Seri ini juga dikenal dengan judul Arifureta – From Commonplace to World’s Strongest. (Terjemahan judulnya kira-kira: ‘dari orang biasa menjadi yang terkuat di dunia.’)

“Apaan Ini?! Ini sampah!”

Aku pertama tahu Arifureta saat mencari bacaan webnovel menjelang akhir 2016. Aku baru beres baca bab terkini Kumo desu ga Nani ka?. Aku mau lanjut baca Desumachi, tapi belum sreg dengan bab-bab awalnya. Makanya, aku berkunjung ke situs novelupdates untuk mencari seri webnovel Jepang lain. Dari sana, aku menemukan judul ini.

Mulai ditulis tahun 2013 dan kalau tak salah, versi WN sudah tamat di negara asalnya (tapi masih belum tuntas diterjemahkan ke Bahasa Inggris saat ini aku tulis), Arifureta dikarang Shirakome-sensei di situs novel amatir Syosetsuka ni Narou.

Nama pena beliau waktu itu Chuuni Suki. Alasan beliau menggunakan nama pena demikian karena beliau, nampaknya, punya gejala-gejala chuunibyou akut. Hal tersebut agaknya terbawa ke tulisan yang beliau buat.

Jadi, buat kalian yang belum tahu, Arifureta agak notorious karena nuansa ceritanya yang semula edgy terkesan berubah drastis menjelang akhir buku pertamanya. Apa yang semula terkesan gelap dan serius berkembang jadi kocak dan enggak serius dengan hadirnya elemen-elemen keseharian dan harem love comedy. Belum lagi dengan bumbu-bumbu dewasa yang di dalamnya. Ditambah lagi, tokoh utamanya…

Gimana ya.

Intinya, seperti yang judulnya indikasikan, si tokoh utama berubah jadi orang yang sangat kuat.

Terlalu kuat, malah.

Dia bebas bersikap kayak gimanapun dia mau. Dia bebas membunuh siapapun yang menurut dia menghalangi jalan. Dia bebas memandang rendah siapapun yang minta tolong ke dia (walau ujung-ujungnya, sesudah proses berbelit, dia bakal menolong juga.)

Intinya, kepribadiannya berubah drastis, tapi bukan dengan cara yang berbobot gitu.

Ini membuat segalanya agak aneh. Tema ceritanya di awal, kayaknya, adalah soal hubungan antar karakter dan balas dendam. Tapi, si tokoh utama kemudian berubah jadi orang paling kuat di dunia. Lalu, sesudah itu, balas dendam dan hubungan dengan orang kayak bukan lagi jadi hal penting bagi dia. Dia malah berubah jadi terkesan egois dan enggak pedulian.

Perubahan nuansanya enggak mulus. Makanya, lumayan wajar ada orang-orang yang kecewa dengan perkembangannya. Lalu, ya itu, elemen harem dan komedinya bisa terasa maksa.

Tapi, di sisi lain, meski kemampuan penggalian karakter dan plot beliau meragukan, ditambah bagaimana ceritanya sebenarnya tak serius pada sejumlah titik, mungkin karena bakat chuunibyou beliau juga, narasi Shirakome-sensei terbilang bagus. Pembangunan dunianya juga termasuk menarik.

Begitu cerita dibuka, kita langsung diperkenalkan pada karakter-karakter yang berjumlah enggak sedikit. Bagusnya, semua karakter tersebut punya konsep yang jelas gitu.

Premis ceritanya kuat, yaitu soal bagaimana Nagumo Hajime dan teman-teman sekelasnya tiba-tiba dipanggil ke dunia lain untuk menyelamatkannya dari bahaya. Kita dipaparkan secara runut soal gimana dunianya bekerja. Detil deskripsi latarnya keren. Ini diperkaya dengan konflik hubungan antar karakter yang udah ada sejak awal.

Hasilnya lumayan berkesan.

Dengan kelemahan-kelemahannya, kalau membaca penuturan Shirakome-sensei sendiri, aku jadi memahami kenapa cerita ini sampai perlu ‘diperjuangkan’ editornya untuk bisa terbit.

Pada pertengahan 2015, seri ini terbit resmi juga sebagai light novel di bawah bendera Overlap. Penerbitan versi LN setahuku masih berlanjut saat ini kutulis.

Cerita versi LN setahuku tak beda jauh dibandingkan versi WN. Di samping pengeditan lebih rapi, kelebihan versi LN adalah adanya bonus cerita-cerita sampingan yang tak terlalu mengubah alur cerita utama.

Dengan kepopulerannya yang lumayan, Arifureta juga memperoleh adaptasi manga yang dibuat RoGa. Seri manganya masih relatif baru, baru mulai terbit pada akhir tahun 2016 (hari Natal?) lalu. Berhubung ilustrasi Takayaki-sensei lebih berfokus ke karakter, adaptasi RoGa-sensei jadi menonjol karena menampilkan desain berbagai monster yang Hajime hadapi.

Aku memutuskan baca Arifureta di J-Novel Club semula karena penasaran. Tapi dari rasa penasaran tersebut, aku lagi-lagi nemu seri yang enggak sepenuhnya bisa dibilang bagus, tapi secara meyakinkan bisa dibilang rame.

Pergi ke Dunia Lain Sana

Arifureta dibuka dengan bagaimana Hajime dikisahkan terjatuh ke dalam jurang gelap yang seolah tak berdasar. Keputusasaan menaungi seiring hilangnya cahaya di depan matanya.

Narasi lalu kembali ke beberapa waktu sebelumnya.

Hari itu hari Senin, waktu yang bikin depresi bagi Nagumo Hajime.

Hajime ceritanya remaja otaku kurus dengan tampang senantiasa mengantuk. Dia sering begadang karena mengutamakan hobi di atas segala-galanya. Ayahnya bekerja di industri game dan ibunya adalah mangaka shoujo. Rencana awalnya dalam hidup adalah untuk bekerja di perusahaan ayahnya atau membantu pekerjaan ibunya. Dia tak gampang terpengaruh orang. Pada dasarnya, dia pendiam. Intinya, dia tipe yang hanya ingin dibiarkan hidup damai.

Masalahnya, Hajime diam-diam dibenci hampir seluruh teman sekelasnya.

Entah kenapa, sejak pertama masuk SMA, Shirasaki Kaori, gadis paling populer di sekolahnya, yang dikenal cantik dan lemah lembut dan baik hati, terus-terusan mendekati Hajime setiap hari.

Kebanyakan orang di sekeliling mereka sulit menerima kenapa orang datar, payah, gagal, dan ‘rendahan’ seperti Hajime bisa-bisanya akrab dengan Kaori. Memang Hajime siapa? Mereka tak bisa membayangkan Kaori benar-benar suka terhadap Hajime. Karenanya, mereka kira Hajime dengan sengaja menyusahkan Kaori agar bisa diperhatikan.

Hanya saja, Hajime juga tak mengerti. Setahunya, dirinya dan Kaori baru kenal pas SMA. Mereka jelas bukan teman masa kecil. Lalu, terlepas dari segala isyarat yang coba Hajime berikan, sikap Kaori tak pernah berubah.

Situasi ini membuat Hajime stres. Alasannya karena Kaori salah satu dari geng empat orang paling menonjol di sekolahnya. Kebetulan, kesemuanya adalah teman sekelas Hajime.

Selain Kaori, mereka mencakup:

  • Amanogawa Kouki, cowok paling populer di sekolah. Tampan, pintar, jago olahraga. Seakan sempurna dengan kepribadiannya yang lurus dan caranya membawakan diri. Dirinya juga merasa Hajime keseringan merepotkan Kaori.
  • Sakagami Ryutarou, sahabat Kouki. Sangat jangkung, berbadan besar seperti beruang, dan berdarah panas. Kepribadiannya terbuka dan tak peka. Ia terang-terangan menunjukkan rasa kurang suka terhadap Hajime yang dianggapnya pemalas.
  • Yaegashi Shizuku, gadis jangkung dan jago kendo, teman dekat Kaori, dan tak kalah populer darinya. Peka terhadap perasaan orang, dan karenanya menjadi satu dari sekian sedikit yang sebenarnya memahami situasi Hajime. Shizuku juga kenal lama dengan Kouki karena Kouki pernah berlatih di dojo keluarga Yaegashi, dan sampai ke kejuaraan nasional.

Kedekatan Hajime dengan Kaori juga membuat Hajime diam-diam ditindas oleh geng berandalan di sekolah. Mereka terdiri atas Hiyama Daisuke dan kawan-kawannya: Saitou Yoshiki, Kondou Reichi, dan Nakano Shinji.

Daisuke tak bisa terima kedekatan Hajime dengan Kaori. Alasannya karena Daisuke sendiri diam-diam suka pada Kaori. Tapi, bukannya mendekati Kaori sendiri, Daisuke dan gengnya malah kerap menggencet Hajime dan menjelek-jelekkan namanya.

Di sisi lain, Hajime tak bisa terang-terangan menolak Kaori karena menyakiti Kaori hanya akan membuat situasinya bertambah runyam.

Hajime sampai menggerutu, kalau mereka berempat memang sedemikian sempurnanya, lebih baik mereka dipanggil ke dunia lain sana. Jadi pahlawan atau apa. Tanpa diduga, itulah yang kemudian benar-benar terjadi.

Pas jam homeroom, tiba-tiba muncul lingkaran sihir bercahaya yang memindahkan mereka semua ke dunia lain.

Esok yang Suram

Hajime dan kawan-kawan sekelasnya, beserta wali kelas mereka yang polos dan masih muda, Hatayama Aiko, tahu-tahu dibawa ke dunia lain bernama Tortus.

Di Tortus, mereka sekelas disambut Ishtar Longbard, pria tua yang mewakili gereja suci yang menyembah Ehit, dewa yang melindungi manusia.

Ishtar menjelaskan kalau di Tortus, ada tiga macam ras:

  • ras manusia di utara,
  • ras sihir/iblis di selatan,
  • ras demi-human separuh binatang yang terasing di hutan luas di timur.

Ras manusia dan sihir bermusuhan. Manusia unggul dari segi jumlah karena relatif cepat tumbuh dan berkembang biak. Ras sihir unggul dari segi usia yang panjang dan kekuatan individu. Selama ini, kedudukan mereka seimbang. Tapi belakangan, ras iblis konon menemukan cara untuk menjinakkan monster-monster di alam liar.

Keseimbangan kekuatan kini terancam.

Untuk mengatasinya, dewa Ehit-sama memanggil manusia-manusia dari ‘sebuah dunia lain yang berkedudukan lebih tinggi’ untuk menyeimbangkan kekuatan, yang dalam hal ini adalah Hajime dan kawan-kawannya.

Para remaja SMA pendatang dan guru mereka lalu ditampung di Kerajaan Heileigh. Heileigh adalah salah satu negeri manusia dan adalah negara yang paling dekat hubungannya dengan Gereja Ehit.

Kouki yang karismatik dianggap Ishtar sebagai pemimpin. Mereka semua diperlakukan selayaknya tamu kehormatan.

Sesudah sadar bahwa apa yang mereka alami benar-benar terjadi, karena jalan pulang tak ada, Hajime dan kawan-kawannya setuju menjadi pahlawan yang melindungi pihak manusia. Aiko-chan-sensei mengkhawatirkan keselamatan mereka semua, tapi mereka tak punya pilihan. Di samping itu, saat dipanggil ke Tortus, mereka ternyata diberkahi kekuatan-kekuatan luar biasa yang membuat mereka di atas manusia-manusia lain.

Untuk bersiap menghadapi perang, para pendatang dilatih untuk mengembangkan kekuatan mereka. Mereka dididik Meld Loggins, kapten para ksatria Heileigh yang tegas dan simpatik.

Melalui suatu artefak produksi massal bernama Status Plate, orang bisa mengetahui potensi kekuatan mereka. Setelah ditetesi darah pemiliknya, artefak tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal. Tertera padanya, ada sesuatu yang disebut Job yang mengindikasikan bakat alami si pemilik. Selain memperlihatkan apa saja kemampuan (Skill) yang dikuasai, Status Plate juga memperlihatkan angka-angka parameter:

  • Level (Dalam skala 1-100, 100 mengindikasikan potensi puncak mereka yang tak bisa ditingkatkan lagi. Berbeda dari sejumlah seri isekai lain, orang meningkatkan parameter kekuatan untuk meningkatkan Level, bukan sebaliknya. Jadi Level hanya berfungsi sebagai indikator semata.)
  • Strength (kekuatan fisik, tenaga)
  • Vitality (vitalitas, daya hidup)
  • Defense (pertahanan)
  • Agility (kelincahan, kegesitan)
  • Magic (sihir)
  • Magic Defense (pertahanan sihir)

Orang-orang biasa di Tortus punya angka 10 untuk parameter-parameter tersebut. Tapi, Kouki dan yang lain punya angka-angka dalam skala ratusan. Itu sekalipun mereka masih di Level 1!

Kouki pun ternyata memiliki Job Hero yang sangat langka, dengan berbagai macam Skill kuat, yang membuatnya seperti manusia super di antara manusia-manusia super. Kouki jadi persis seperti para tokoh utama dengan kemampuan cheat di seri-seri isekai yang Hajime ketahui.

Karenanya, alangkah terpuruknya Hajime saat mendapati bahwa dia jadi pengecualian atas hal ini. Secara mengherankan, semua parameter Hajime bernilai 10. Selain Skill Language Comprehension yang memungkinkannya memahami semua bahasa—yang lazim dimiliki semua pendatang dari dunia lain—Skill yang Hajime punyai hanya Transmute yang membuatnya bisa mengubah sifat bahan-bahan yang ia sentuh.

Job yang dipunyai Hajime adalah Synergist, Job tidak istimewa yang memberi bakat mengolah material seperti pandai-pandai besi.

Bahkan sesudah berlatih dua minggu, kemajuan Hajime tidak signifikan. Sementara, teman-teman Hajime terus saja bertambah kuat. Itu termasuk Kaori. Itu termasuk juga Hiyama Daisuke dan gengnya yang terus menindasnya dengan kekuatan mereka yang baru. Hajime jadi semakin dipandang rendah, bahkan oleh orang-orang Tortus juga.

Bahkan Aiko-chan-sensei, yang parameter kekuatannya setara Hajime, ternyata punya Job langka Farmer yang memungkinkannya mempengaruhi iklim dan bentang alam, memberinya kedudukan vital dalam persiapan perang yang akan datang.

Puncaknya, untuk membuktikan diri, Hajime nekat mempertaruhkan nyawa  melindungi teman-teman sekelasnya ketika ekskursi mereka ke Orcus Labyrinth—satu dari tujuh labirin misterius penuh monster yang ada di dunia—berjalan tidak semestinya.

Namun, dalam upayanya tersebut, salah seorang teman sekelas Hajime malah dengan licik menyerangnya dari belakang. Terjatuh ke dalam jurang, bahkan jerit tangis Kaori memudar tatkala Hajime ditelan kegelapan.

Lambung Logam

Porsi awal Arifureta memaparkan perjuangan Hajime selama terdampar di lantai-lantai bawah Labirin Orcus.

Hajime ketakutan setengah mati karena kehilangan sebelah tangan dalam serangan monster buas. Tapi, tanpa sengaja, Hajime menemukan kristal murni Divine Crystal (yang belum dikenalinya waktu itu) yang meneteskan cairan penyembuh Ambrosia yang kemudian menyelamatkan nyawanya.

Meski tak bisa mengembalikan sebelah tangannya, Ambrosia menyembuhkan segala luka Hajime yang lain. Ambrosia sekaligus mempertahankan nyawanya sekalipun ia tak makan, walau rasa laparnya tak hilang dan malah semakin tak tertahankan.

Mengandalkan kemampuan Transmute yang terus diasah, Hajime berhasil membuat untuk membunuh monster. Daging monster buruannya lalu dimakan mentah-mentah karena saking laparnya. Tapi, daging tersebut berdampak fatal bagi manusia dan memakannya memberi Hajime penderitaan luar biasa. Hanya berkat Ambrosia, Hajime masih bertahan hidup.

Peristiwa tersebut memicu perubahan mental dan fisik pada diri Hajime.

Selain perubahan pada sifat dan pola berpikirnya, kerusakan tubuh berulang dari racun daging itu, sekaligus penyembuhan berulang berkat Ambrosia, membuat tubuhnya makin berisi. Tinggi badannya bertambah. Lalu, karena syok akibat penderitaannya, warna rambut Hajime dari hitam berubah sepenuhnya menjadi putih.

Membaca perubahan di Status Plate, Hajime juga mendapati bahwa Skill si monster—kilatan petir hitam Lightning Clad—jadi bisa ia gunakan, walau dalam versi lebih lemah.

Di samping itu, aura mana Hajime yang semula berwarna biru langit juga berubah menjadi hitam seperti layaknya para monster. Hajime memperoleh kemampuan untuk memanipulasi aliran mana di sekelilingnya secara langsung, tanpa perlu lagi menggunakan mantera dan formasi sihir seperti selayaknya manusia lain.

Kemampuan Transmute Hajime ikut berkembang. Kini dirinya punya Skill turunan untuk mengenali logam dan bijih batuan.

Sesudah percobaan Transmute berulang, dengan satu tangan, Hajime menyusun senjata pertamanya. Ia menciptakan pistol revolver yang dinamainya Donner dari bahan-bahan yang diperolehnya dari dasar labirin.  Selain dipicu batu api, peluru yang ditembakkan Donner juga dapat dipercepat secara elektromagnetis menggunakan Lightning Clad, menghasilkan daya hancur dahsyat setara railgun.

Berbekal Donner, Hajime menghabisi satu demi satu monster buas yang ditemuinya di Labirin Orcus.

Perjalanandi Labirin Orcus lalu berujung pada pertemuan Hajime dengan putri vampir yang telah disegel beratus tahun. Sesudah dibebaskan, putri yang Hajime namai Yue tersebut kemudian menjadi teman seperjalanannya.

Seperti Hajime, Yue adalah korban pengkhianatan. Namun berkat kemampuan regenerasinya yang dahsyat, Yue tak bisa dibunuh. Akhirnya ia hanya sebatas disegel seorang diri oleh keluarganya, selama berabad-abad, dalam ruangan khusus yang mungkin disiapkan hanya untuknya.

Lolos dari berbagai macam monster, karena tak bisa menemukan jalan ke atas, Hajime dan Yue terus menelusuri jalan ke bawah. Lawan-lawan yang mereka hadapi semakin kuat. Hingga akhirnya, mereka menemukan ruang rahasia tersembunyi di dasar labirin milik Oscar Orcus, sang penciptanya.

Di dalamnya, terkuaklah kenyataan tentang dunia Tortus yang sesungguhnya.

Gun Fu

Shirakome-sensei memakai sudut pandang ketiga serba tahu dalam Arifureta. Gaya narasinya tak menonjol, tapi antusiasme beliau dalam menjabarkan cerita terasa pada setiap kalimat.

Bagi banyak orang, ada banyak hal dalam Arifureta yang bakal bikin mengernyit. Tapi, buat yang suka hal-hal kayak gini (dan aku percaya jumlah mereka lumayan banyak), Arifureta termasuk rame. Isi ceritanya belum tentu kamu sukai, tapi cara penyampaiannya yang runut dan detil bisa membuat kamu tertarik.

Aku pribadi merasa Shirakome-sensei tipe yang menikmati proses membuat ceritanya. Iya, ada kesan amatiran dan main-main. Tapi, beliau sendiri kelihatan menyadari hal ini, dan memang ada kalangan pembaca tertentu yang takkan mempermasalahkannya.

Begitu-begitu juga, tetap ada bagian-bagian tertentu di Arifureta yang di luar dugaan bagus. Ada pihak-pihak tersembunyi yang bermain di balik Kouki dan kawan-kawan. Negeri-negeri manusia tak cuma satu, masih ada Kekaisaran Hoelscher dan Republik Fuhren, dan antara mereka terjadi konflik kepentingan. Ada kejelian mata Shizuku yang membuatnya jadi karakter swordswoman yang sangat moe. Lalu ada juga Hajime, yang meski kini tak segan bersikap kejam, tetap menjaga integritasnya, bukti bahwa dirinya masih belum berubah sepenuhnya jadi monster seperti yang ditakutkannya.

Itu semua diiringi dengan kehebatan-kehebatan konyol yang jadi bisa Hajime lakukan. Status Plate Hajime tak bisa lagi membaca potensinya. (Level yang tertera adalah ‘??’) Dengan Transmute dan segala turunannya, Hajime bisa menciptakan bermacam senjata yang seakan tak ada habisnya. Dengan dibantu Yue, Hajime menciptakan (semacam) sepeda motor, menciptakan (semacam) mobil, menemukan cara penghancuran struktur sihir, menciptakan (semacam) kapal selam, menciptakan (semacam) drone UAV, hingga nantinya menciptakan (semacam) satelit yang jadi salah satu serangan terkuatnya.

Mungkin keimbaan ini setara dengan hal-hal serupa yang ada di Desumachi. Hanya saja… mungkin Desumachi masih lebih baik pemaparannya? Perkembangan di Arifureta memang terasa tiba-tiba sih.

Mencari Jalan Pulang

Buat yang penasaran, dalam perkembangan cerita, Hajime dan Yue kemudian mendapati bahwa manusia dan seluruh ras lain yang ada di Tortus hanyalah bidak-bidak permainan para dewa.

Di masa silam, tujuh ‘pembelot’ yang menyebut diri mereka Liberators memimpin pemberontakan untuk mengubah nasib rakyat Tortus. Tapi, kekalahan para Liberator di tangan para dewa membuat mereka menyembunyikan diri, yang jadi awal mula tujuh labirin misterius yang tersebar.

Mengetahui kenyataan ini, Hajime memutuskan untuk mengabaikan segala konflik. Persetan dengan Tortus. Ia lebih memilih berfokus menemukan jalan pulang ke Bumi. Cara pulang ini diindikasikan tersembunyi dalam enam labirin lain yang belum dipastikan lokasinya.

Di samping perjalanan Hajime untuk menemukan keenam labirin lain, Arifureta lalu berkembang lewat konflik dengan teman-teman lama Hajime, kepentingan bangsa-bangsa lain, sekaligus para dewa.

Buat kalian yang penasaran soal aspek haremnya, total love interest yang akhirnya ‘jadi’ kudengar ada delapan. Tiga dari mereka berasal dari dunianya yang lama. Tadinya, aku mau memaparkan mereka siapa saja, tapi nanti jadinya terlalu spoiler. Hubungan-hubungan yang terjalin menurutku agak maksa sih (usia mereka beragam!), tapi kurasa itu bukan hal aneh buat seri-seri isekai kayak gini.

Soal Arifureta, aku paling terkesan dengan pembahasan soal integritas Hajime. Dalam hal ini, usahanya menjaga keselarasan antara kata-kata dan perbuatan. Pemaparannya memang konyol, tapi itu hal yang semakin langka di masa-masa sekarang. Karenanya, aku senang bisa melihatnya dalam sesuatu kayak gini.

Ada lumayan banyak seri isekai lain yang berusaha memaparkan nuansa edgy seperti Arifureta. Tapi anehnya, hanya sedikit yang benar-benar berhasil. Aku juga tak paham. Mungkin Arifureta memang kasus khusus?

Akhir kata, kurasa aku akan tetap mengikuti perkembangan Arifureta untuk saat ini.

Setidaknya, pembangunan dunianya menarik.

FYI, harga versi e-book Bahasa Inggris sekitar dua gelas Frappuccino Starbucks. Kalau harga buku fisiknya mungkin sekitar tiga gelas.

Bagi yang penasaran, ini visual untuk buku pertamanya dengan Yue di sampul.

Buku kedua memperkenalkan gadis kelinci Shea Haulia, teman seperjalanan Hajime dan Yue yang pertama. Shea punya kemampuan aneh untuk melihat masa depan saat sedang dalam bahaya. Anehnya, Shea juga punya warna aura mana hitam yang sama dengan Hajime dan Yue. (Ya, aku sadar kalau pakaian Shea seksi.)

Buku ketiga memperkenalkan Tio, naga kuno bijak yang bisa menjelma ke wujud manusia yang kemudian menjadi pengikut Hajime sesudah menjadi masokis. (Tolong jangan tanya.)

Lalu Kaori dan Shizuku menghiasi sampul buku ketiga dan kelima.

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! 2

(Ini adalah ulasan untuk musim tayang kedua Konosuba. Ulasan untuk yang pertama bisa dilihat di sini.)

Lagi ada banyak yang kuurusi belakangan. Urusan pribadi (salah satu hubunganku gagal belum lama ini), urusan kantor (ada teman sekantor mau dirumahkan), urusan hubungan sama orang (ada sedikit konflik antar tetangga). Ditambah lagi, belum lama ini komunitas lagi ramai dengan hilangnya salah satu situs paling berarti bagi para penggemar kebudyaan visual Asia. Tapi temanku memintai pendapat soal Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku o! 2 (di samping soal sejumlah hal lain). Lalu aku jadi mikir, mungkin ini waktu tepat untuk mengungkapkannya.

Sebagaimana yang semua penggemar tahu, KONOSUBA – God’s blessing on this wonderful world! 2 adalah musim tayang kedua dari adaptasi anime Konosuba. Ceritanya masih diangkat dari seri novel fantasi komedi karangan Akatsuki Natsume dengan ilustrasi buatan Mishima Kurone. Produksinya masih dibuat Studio DEEN. Staf yang menanganinya juga masih sama; Kanasaki Takaomi sebagai sutradara, Uezu Makoto yang membuat naskah untuk komposisi seri, dan musik oleh Kouda Masato.

Tentu saja, berhubung ini sekuel yang sudah direncanakan, kalau kalian sudah menggemari season pertamanya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal season keduanya.

Paling soal bagaimana Satou Kazuma, sang tokoh utama, jadi dihukum mati atau tidak.

Untuk yang lupa, di akhir musim tayang sebelumnya, Kazuma ditahan sesudah (tanpa sengaja) melakukan sesuatu yang membuatnya dituduh (ehem!) makar. (Ini tuduhan yang populer sekali belakangan.) Tapi dengan cepat kita juga tahu kalau kematian pun bukan sesuatu yang agaknya Kazuma permasalahkan…

Terlepas dari itu, jumah episodenya lagi-lagi hanya sebanyak sepuluh. Dengan kata lain, season kali ini kurang lebih mengadaptasi buku 3 dan 4 dari seri novelnya. Lalu enggak, sayangnya, belum ada konfirmasi soal ada apa enggaknya season 3, walau ada lumayan banyak fans mengharapkannya.

Pengalaman Dengan Bank

Enggak rame kalau aku ceritain. Tapi kalau mau sedikit disinggung, paruh pertama Konosuba 2 tentang bagaimana Kazuma harus membersihkan nama baiknya sesudah dituduh yang aneh-aneh. Dua rekan sekelompoknya, Megumin dan Aqua, sama-sama mencoba. Tapi justru Darkness yang menjadi penentu akhir kasus Kazuma saat dirinya mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya.

Darkness ternyata adalah putri bangsawan keluarga Dustiness yang ternama,  Dustiness Ford Lalatina. Lalu dengan kuasanya sebagai bangsawan, Darkness membantu Kazuma dengan dakwaan yang ditimpakan kepadanya.

Uh, bener ini yang terjadi ‘kan? Darkness membantu Kazuma?

Yah, pada waktu yang hampir sama, ada hal-hal lainnya juga. Ujung-ujungnya, Kazuma dan kawan-kawannya jadi berhadapan dengan Vanir, satu lagi antek Raja Iblis yang merupakan rekan kerja lama Wiz, sang lich pemilik toko.

Paruh keduanya sendiri mengisahkan sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu, yakni keluarnya Kazuma dan kawan-kawannya dari kota Axel, tempat di mana sebagian besar cerita berlatar selama ini, menuju kota lain! Dalam hal ini, kota indah Arcanretia, walau urusan mereka cuma untuk berwisata ke pemandian air panas sih.

Tapi lagi-lagi di sini pun, banyak hal terjadi! Ujung-ujungnya mereka bertemu dengan Hans, satu lagi antek Raja Iblis yang lain!

Seperti yang Kazuma sendiri bilang, dunia game ini benar-benar punya keseimbangan yang buruk.

“Aku tak keberatan dengan pad!”

Bicara soal teknis, meski sebenarnya enggak jauh beda, Konosuba 2 menurutku sedikit lebih bagus dari season sebelumnya. Selain berhasil mengembangkan lebih jauh fondasi yang sudah terbangun dari musim sebelumnya, ceritanya juga dituntaskan dalam titik yang positif.

Warna-warna cerah dan terang masih banyak digunakan dalam visualnya. Ekspresi muka para karakternya yang fleksibel kali ini dikasi fokus lebih banyak, yang lumayan nyambung dengan berbagai lelucon plesetannya. Ini diseimbangkan dengan penggambaran adegan-adegan aksi dramatis yang benar-benar keren. Tentu saja, meliputi ledakan-ledakan biasa yang dibuat Megumin serta aksi-aksi nekat Kazuma. Eksekusi animenya dalam hal ini benar-benar memuaskan, dan membuat kita kayak bisa memaklumi jumlah episodenya yang relatif sedikit.

Soal audio, Machico kembali hadir membawakan lagu pembuka yang tak kalah menariknya dari yang sebelumnya. Lagu penutupnya, seperti halnya “Chiisana Bokensha”, lagi-lagi adalah jenis yang dinyanyikan bersama oleh Aqua, Megumin, dan Darkness, walau perlu kuakui kalau aku sedikit lebih menyukai lagu penutup yang lama. Tapi yang paling berkesan dalam aspek ini, yang lagi-lagi perlu kusinggung khusus, meski seiyuu para karakter lain juga memberi kerja bagus, adalah peran Fukushima Jun sebagai Kazuma. Beliau benar-benar berhasil menjadi kayak penentu keberhasilan keseluruhan seri ini. Lalu dirinya benar-benar memberikan good job.

Rasanya aneh mengatakan ini. Konosuba 2 memperkenalkan banyak karakter baru dan mereka tampil hanya sebentar. Seperti Yun Yun, teman sekampung Megumin yang diperkenalkan kembali dari OVA-nya, yang agaknya kesepian karena tak punya teman. Lalu Sena, juri Kerajaan Belzerg yang menangani kasus Kazuma. Lalu ada juga ayah Darkness, Dustiness Ford Ignis, serta tunangannya, Alexei Barnes Walter. Belum lagi Eris, sang dewi junior Aqua yang kelembutan hatinya membuat hati Kazuma meleleh. (Dugaan sejauh ini adalah bahwa dirinya saat sedang menitis adalah sebagai Chris, sahabat Darkness yang berprofesi sebagai Thief. Itu, yang celana dalamnya pernah Kazuma curi.) Tapi meski demikian, hasil akhir Konosuba 2 tetap memuaskan.

Maksudku, agak tersamar peran para karakter baru ini apa. Kita juga tak benar-benar bisa bilang mereka mengalami banyak perkembangan. (Atau bisa?) Lalu para karakter utama yang kita ikuti nasibnya juga gitu-gitu aja (walau memang sedikit membaik?).Tapi kepuasan saat kita tiba di akhir cerita Konosuba 2 tetap ada.

Berkah Untuk Dunia Ini AND YOU

Akhir kata, mengikuti Konosuba 2, aku belajar bahwa separah apapun keadaan, segimana kayaknya segalanya enggak ada harapan, betapapun kamu merasa enggak ada lagi yang bisa kamu lakukan, segala sesuatu—secara konyol—masih bisa berakhir baik.

Aku suka dengan gimana Kazuma dkk secara rutin jadi mengacungkan jempol tiap kali mereka berhasil membereskan misi.

Tentu saja, semua para karakter lama, seperti Luna, sang penjaga kasir petualang; mendiang Beldia; si berandalan; dan bahkan Mitsurugi Kyouya juga sama-sama tampil kembali. Jadi singkat cerita, secara enggak terduga, kedua musim tayang anime Konosuba benar-benar adalah waktu menyenangkan.

Lumayan wajar bagaimana para penggemar mengharapkan kelanjutannya.

Apa aku jadi kepengin membaca novelnya atau enggak? Hmm. Mungkin saja ya?

Yah, kita lihat nanti.

Yeah, dunia ini suram. Tapi selalu ada berkah yang bisa kalian dapatkan kalau kalian mencarinya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A

Wooser no Sono-hi-gurashi

Aku merasa perlu menulis tentang Wooser’s Hand-to-Mouth Life karena hanya itu yang bisa aku tulis untuk sekarang ini.

Juga dikenal dengan judul Wooser no Sono-hi-gurashi, ini merupakan seri anime CG pendek yang sempat dibuat sampai tiga season, masing-masing sepanjang satu cour, semenjak pertama tayang pada Oktober 2012. Season kedua muncul pada Januari 2014. Sedangkan season ketiga muncul secara agak tak terduga pada Juli 2015. Keseluruhannya diproduksi oleh studio Sanzigen Animation Studios, dengan Yamada Toyonori menyutradarai dua musim tayang pertama, dengan naskah buatan Fudeyasu Kazuyuki, serta sutradara ternama Mizushima Seiji (Gundam 00, Fullmetal Alchemist) yang menyutradarai musim tayang ketiga.

Kenapa aku menjadi penggemar seri ini?

Pertama, karena aku memang menyukai hal-hal imut.

Kedua, karena aku simpati(?) pada karakter Wooser sendiri, semacam makhluk ajaib yang hidup di dalam Internet dan suka uang, daging, remaja perempuan, dan baju seragam sekolah remaja perempuan.

Wooser yang bertubuh bulat kuning secara sekilas memang nampak menggemaskan. Tapi jangan tertipu! Besar kemungkinan jiwanya telah korup! Dirinya pemalas, mesum, dan sebagainya, dan sebagainya. Intinya, membuat pasangan gadis kembar Rin dan Len (yang tak kalah imut) yang menampungnya kadang-kadang sebal terhadapnya.

Tapi Wooser punya sisi kerennya juga dengan bagaimana dia…

Dia…

Yah, ditambah lagi dengan bagaimana dirinya punya semacam versi robot tiruan berwarna hitam bernama Darth Wooser! Menurutku itu keren!

Lalu ada lagi Mecha Wooser, robot raksasa milik Wooser dan berbentuk Wooser yang memiliki tangan bor yang pada beberapa episode juga bisa dipiloti Wooser!

…Oke. Sebenarnya, daya tarik terbesar seri ini ada pada bagaimana karakter sekonyol Wooser disuarakan oleh Miyano Mamoru. Tentu saja ada kesan aneh yang tak ada habis-habisnya dengan bagaimana karakter enggak jelas begini dihidupkan dengan suara dalamnya Setsuna F. Seiei.  Seperti sesuatu yang membuat kita geli gitu.

Ketiga.. hmmm, mungkin karena banyaknya cameo dari seri-seri anime lain? Mulai dari Miss Monochrome sampai Ultraman.

Menambah kadar keimutannya, ada dua teman sekolah Rin dan Len yang kadang ikut nimbrung, yakini Yuu dan Miho. Keduanya mungkin tak bisa banyak dikomentari kalau soal kepribadian. Tapi keduanya juga punya rekan binatang(?) mereka masing-masing!

Jadi urutan pasangannya kurasa adalah:

  • Rin dengan Wooser
  • Len dengan Darth Wooser
  • Yuu dengan “Binatang yang namanya tak boleh disebut.” (yang bentuknya seperti burung hantu putih yang murah senyum.)
  • Miho dengan Ajipon (semacam rakun hitam pendiam yang sering menjadi sasaran rasa iri Wooser)

“Sapi, kenapa sih kamu begitu enak?”

Jadi, terlepas dari segalanya, anime ini imut. Musik yang ditangani oleh Sakabe Daisuke dan Watanabe Makoto lumayan berhasil menarik perhatian dengan keenggakjelasannya. Ini dilengkapi dengan berbagai soundtrack keren yang sebagian di antaranya disumbangkan oleh grup Supercell yang terkenal.

Eh? Kenapa bisa?

Alasannya karena… Wooser merupakan karakter ciptaan Usa Yoshiki, salah satu personil Supercell, dengan bantuan ilustrator Fujinoko Tomoko. Keduanya sempat bekerjasama membuat semacam kolom jurnal pendek gitu, dan dari sanalah, Wooser konon terlahir. (‘usa’, ‘wooser’, kelinci, nangkep leluconnya?)

Uh, bicara soal teknis, dengan warna-warninya yang banyak, tentu saja kesan animasinya terbilang terbatas kalau mengingat durasinya. Mulai dari serangan kaijuu sampai pengandaian sehari-hari enggak penting. Tapi ada rasa menghibur aneh yang setiap episode Wooser punyai.

Apa karena musiknya?

Iya juga. Mungkin karena musiknya.

Musim tayang pertama dan keduanya hanya sekedar ‘menarik’ saja, dan terutama terasa memuaskan karena… sekali lagi, musik penutupnya. (Miyano-san membawakan sendiri lagu penutup untuk season kedua.) Tapi perlu aku catat, pada season ketiga, seperti ada semacam lonjakan kualitas yang tak disangka berkat tangan dingin Mizushima-san gitu. Hasilnya benar-benar ramai dan mencolok. Bahkan ada adegan-adegan pertarungannya!

Yah, sudahlah. Biar nanti aku coba tambahkan lagi soal ini.

Aku memang jarang mengikuti seri-seri anime pendek. Tapi Wooser di waktu itu benar-benar menjadi pengecualian. Habisnya, meski kerap gaje, kadang juga ada banyak hal tak terduga terjadi, termasuk hal-hal menyentuh.

Atau sudahlah. Mungkin juga sebenarnya karena jauh di lubuk hati, aku pun sebenarnya punya ketertarikan kuat sama uang, daging, dan gadis-gadis remaja.

Yah, sudahlah.