Lanjut ke konten
Iklan

Posts tagged ‘Code Geass’

Code Geass: Akito the Exiled (OVA 4-5)

Belum lama ini, aku kesampaian mengikuti dua episode terakhir Code Geass: Boukoku no Akito.

Singkat kata, dua episode ini menguatkan kesan kalau seri gaiden Code Geass: Akito the Exiled kurang memberikan apa yang biasanya disajikan dari sebuah seri Code Geass. (Yang aku pakai buat perbandingan bukan cuma seri asli Lelouch of the Rebellion ya, tapi juga beragam seri  lepasan Code Geass lain.) Menurutku enggak jelek. Enggak mengecewakan juga. Cuma… mengejutkan dan di luar dugaan?

Aku dengar sejumlah fans agak kehilangan minat terhadap Akito the Exiled begitu cerita memasuki dua episode ini. Sesudah melihat sendiri, aku langsung mengerti. Ada banyak porsi cerita yang jadinya terkesan ‘ditumpahin’ ke dua episode ini. Penceritaannya bisa lebih baik. Di samping itu, ada banyak… ‘elemen misterius baru’ yang jadi diperkenalkan? Tapi, kalau ditanya apa aku suka tamatnya apa enggak, maka jawabannya aku lumayan suka.

Demokrasi Orang-orang Bodoh

Episode 4, From the Memories of Hatred (‘dari dalam kenangan kebencian’) dan episode 5, To Beloved Ones (‘bagi orang-orang terkasih’) sebaiknya diikuti tanpa jeda. Dua episode ini secara berkelanjutan memaparkan penyerangan terhadap Kastel Weisswolf, markas kesatuan W-0 sekaligus tempat tinggal Leila Malcal dan rekan-rekannya, dan sekaligus menjadi klimaks cerita.

Rinciannya agak membingungkan. Tapi, singkatnya, atasan Leila di kemiliteran Euro Union, Jendral Gene Smilas (yang diselamatkan Leila dan Hyuga Akito di episode 1), mengkhianati Leila dengan ambisinya untuk menjadi kaisar. Smilas membeberkan lokasi markas Leila ke pihak Euro Britannia, dan menjadikan kabar kematian Leila sebagai wacana untuk memanipulasi opini publik. (Terutama, sesudah kekacauan terorisme palsu yang Julius Kingsley timbulkan di episode 3.)

Pertempuran sengit di pedalaman Eropa untuk mempertahankan Weisswolf pun terjadi. Kastel telah dikepung, dan tak ada bala bantuan yang bisa diharapkan akan datang.

Di balik itu semua, tanpa sepengetahuan siapapun, Shin Hyuga Shaing, kakak lelaki Akito yang kini memimpin pasukan Euro Britannia, ternyata punya alasan pribadi untuk merebut kastel ini. Dia bermaksud mengambil alih teknologi peluncuran roket Weissworlf, yang kesatuan W-0 sebelumnya gunakan untuk transpor cepat, dan menggunakannya untuk meluncurkan senjata pemusnah massal ke Pendragon, ibukota Britannia. Serangan ini diyakininya akan memicu perang dunia baru antara tiga negara adikuasa, dan mewujudkan cita-citanya untuk mendatangkan kekacauaan atas dunia.

Pergi Berlibur

Buat ukuran anime mecha, Akito the Exiled enggak biasa karena klimaksnya adalah pertempuran untuk bertahan. Kastel Weisswolf menjadi latar menarik bukan cuma karena tempatnya keren, tapi juga karena ikatan emosional yang tempat itu punyai dengan para karakternya, terutama saat tempat itu terancam menjadi medan perang. Bagaimana sistem pertahanan dan permesinan canggih mendadak muncul dari dalamnya lumayan kontras dengan arsitekturnya yang megah dan klasik. Hasilnya seriusan unik.

Juga, konsisten dengan episode-episode terdahulu, presentasi teknisnya masih keren. Animasi mekanik di dalamnya termasuk salah satu yang paling mulus yang pernah aku lihat. Sudut pandang kamera dinamis yang secara intens mengejar para karakter, diikuti musik latar yang heboh, masih menjadi ciri khas. Bagaimana masing-masing Knightmare Frame melewati pepohonan dan dinding, menghadapi berbagai jenis persenjataan berat ataupun arsenal pertahanan, betulan menarik secara visual. Kalau kau penggemar mecha, mungkin ini saja bisa bikin kamu lumayan puas.

Masalahnya, ada banyak individu yang jadi dilibatkan dalam cerita. Mengikuti semua yang persisnya terjadi mungkin agak susah. Banyak tokoh yang sebelumnya minor yang kemudian mendapat sorotan. Jean Rowe, ksatria wanita di pihak Euro Britannia yang memendam perasaan terhadap Shin, berperan signifikan seiring dengan kelakuan Shin yang semakin menggila. Claus Warwick, wakil Leila yang sejak awal memang mencurigakan, akhirnya juga memperlihatkan kesetiaannya yang sesungguhnya. Bahkan Anna Clément, sahabat jenius Leila yang telah mengembangkan KF Alexander Type-02, serta Oscar Hamel, yang berwenang atas penjagaan Weisswolf, juga kebagian sorotan.

Setelah kupikir, banyak benang plot yang sebenarnya terselesaikan dalam cerita. Tapi, mungkin kalian takkan langsung menyadarinya karena saking banyaknya yang terjadi. Salah satunya, soal teknologi BRS yang tertanam dalam unit-unit Alexander, yang Sophie Randall aslinya kembangkan bersama Joe Wise untuk memulihkan kondisi suaminya. Apa persisnya yang terjadi juga akhirnya diungkap.

Puncak cerita, tentu saja, ada pada konfrontasi antara Akito dan Shin. Duel antara Alexander milik Akito melawan Vercingetorix yang Shin kemudikan akhirnya terjadi di sekitaran Weisswolf. Tapi, seiring dengan terkuaknya masa lalu sebenarnya antara mereka berdua, itupun tak berjalan sepenuhnya sesuai perkiraan.

Adegan aksinya memukau (walau, oke, mungkin masih belum ngalahin intensnya duel terakhir Kallen dan Suzaku di R2). Tapi, dramanya juga dapet. Dan, begitu kau paham apa yang terjadi, aspek dramanya itulah yang sebenarnya lebih muasin ketimbang aksinya.

Itu hal yang lumayan enggak biasa.

Mungkin Kaulah yang Kelak Membantah Pandanganku

Akito the Exiled juga memunculkan banyak tanda tanya terkait semesta Code Geass sehubungan hal-hal baru yang jadi diperkenalkannya. Berbagai pertanyaan baru ini berakhir tak sepenuhnya terjelaskan, dan aku duga bakal jadi bahasan dalam film layar lebar Code Geass: Lelouch of the Resurrection yang akan tayang 2019 nanti. (Cerita Akito the Exiled juga sempat disinggung berada dalam semesta film layar lebar Code Geass, dan bukan seri TV-nya, dan makanya, mungkin ada beberapa detil yang jadinya enggak masuk.)

Kekuatan Geass yang Shin punyai, misalnya. Meski mirip dengan yang dipunyai Lelouch, sifat dan cara kerjanya sebenarnya sangat berbeda. Ada indikasi kalau bahkan Shin sendiri(!) kurang mengerti cara kerjanya. Geass yang Shin punyai diindikasikan bekerja hanya untuk orang-orang yang Shin sayangi—yang kemudian Shin gunakan untuk “membebaskan” orang-orang tersebut dari dunia yang Shin pandang hanya membawa derita. (Jadi, semua orang yang Shin bunuh itu sebenarnya adalah orang-orang yang dia sayang, indikasi terhadap sudah gilanya dia) Kekuatan itu juga Shin peroleh bukan melalui kontrak dengan sosok seperti C.C. dan V.V., melainkan melalui suatu entitas macam roh yang baru sama sekali, yang tahu-tahu muncul di hadapannya begitu sesudah Shin pertama membantai keluarganya.

Sedangkan kekuatan Geass punya Leila… itu juga dijelaskan kalau itu hanya pecahan kekuatan Geass, dan makanya punya warna berbeda. Mirip kasus di atas, Leila mendapat “benih” Geass itu sebagai pemberian, bukan sebagai bagian kontrak. Leila bebas mau menggunakannya atau tidak, tapi disebutkan kalau “benih” itu akan hilang sendiri bila sampai dewasa Leila tak menggunakannya. Saat Leila akhirnya menggunakannya, apa yang termanifestasi (kayaknya) cuma sebagian. Tapi, tetap berperan penting dalam mengakhiri pertempuran. (Buat yang bingung, Geass punya Leila adalah kekuatan untuk menghubungkan ‘hati’ orang.)

Kenapa Geass dari Shin tidak bekerja pada Akito? Itu diindikasikan karena sewaktu menerimanya sewaktu kecil, Akito masih belum sepenuhnya paham tentang konsep kehidupan dan kematian. Jadi, Geass dari Shin itu agaknya sempat bekerja, tapi tidak dengan cara yang Shin harap. (Makanya Akito bilang kalau dirinya sudah pernah mati.) Lalu, sepanjang hidupnya, Akito mungkin menekan efek Geass itu dengan cara yang serupa seperti yang dilakukan Euphemia di seri TV-nya.

Teka-teki terbesar adalah kehadiran tokoh baru Caretaker of Spacetime yang pertama tampil di episode ketiga. Seakan berkuasa melewati ruang dan waktu, sosok ini (kayaknya) adalah manifestasi dari kesadaran kolektif umat manusia yang hanya bisa dilihat orang-orang tertentu. (Sejauh ini, baru Smilas dan Leila.) Aku menduga kalau interaksi dengan sosok ini adalah awal mula bagaimana manusia bisa bersinggungan dengan kekuatan Geass. Tapi, kayak yang aku bilang, mungkin lebih jauh soal dia bakal dibahas dalam film layar lebar Lelouch yang keempat nanti.

Akhir kata, meski berakhir jauh dari pengharapan, aku enggak bisa benci Akito the Exiled. Selain karena standar yang dibidiknya tinggi, hasil akhirnya memang memuaskan… sekalipun mungkin agak susah dicerna.

Jadi, seri ini kurasa tentang cinta di tengah medan pertempuran? Soal, betapa pentingnya berpegang teguh pada harapan meski seisi dunia terlihat suram? Sebagai orang yang normalnya negatif, aneh rasanya bisa sedemikian bersimpati terhadap Shin meski aku jelas sadar kalau dia sudah enggak waras.

Di samping itu, kalau boleh jujur, hal paling mengejutkan dari Akito the Exiled adalah betapa ceritanya berakhir bahagia. Tamatnya beneran happy ending. Itu enggak begitu kerasa kayak Code Geass.

Sebagai tambahan, aku lupa menyinggung kalau Akito the Exiled juga dibarengi perilisan seri lepasan baru Code Geass: Oz the Reflection. Berlatar dalam kurun waktu hampir sama (sesudah season pertama Lelouch), aku dengar Oz punya “nuansa Code Geass” lebih kuat dibandingkan Akito. Ceritanya tentang pasangan saudara kembar Orpheus Zevon (cowok) dan Oldrin Zevon (cewek) yang terpisah dari kecil, dan kini berada di pihak berseberangan dalam konflik antara Britannia dan berbagai organisasi teroris.

Mirip Gundam SEED Astray, Oz dirilis dalam bentuk manga sekaligus photonovel, yang masing-masing media berfokus pada sudut pandang berbeda. Sebagian besar cerita berlatar di seputaran Mediterania, dan berlanjut ke seri sekuel Code Geass: Oz the Reflection O2 yang di dalamnya, Orpheus dan Oldrin saling bertukar posisi, sebelum berakhir agak tragis pada waktu berbarengan dengan klimaks di seri TV R2.

Mungkin Oz juga nanti akan direferensikan dalam film layar lebar baru nanti.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: X; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

Iklan

Code Geass: Boukoku no Akito OVA 3: The Brightness Falls

Sudah agak lama tertunda, tapi belum lama ini aku berkesempatan melihat episode ketiga seri OVA Code Geass: Akito the Exiled keluaran Sunrise. (Judul episode ini kira-kira berarti: ‘jatuhnya terang’, dengan ‘terang’ di sini sebagai kata benda.)

Sesudah berakhirnya Gundam Unicorn, Code Geass: Akito menjadi OVA yang Sunrise masih garap selain Mobile Suit Gundam: The Origin. Trennya sejauh ini: setiap episode baru lebih memukau dibandingkan episode sebelumnya.

Kalau tanya soal pendapatku, singkat kata, seri ini baguuuuuuuuuuuuuuus! Seandainya aku lebih muda, aku akan mengaku kalau ini seri yang pasti membuatku “Kyaa! Kyaa!” setiap kali dibahas

Pengarahan ceritanya benar-benar keren. Melihat episode ini, aku langsung mengerti alasan para produser memperpanjang jumlah episodenya dari empat menjadi lima. Tapi lebih dari itu, Akito seperti menjadi seri mecha yang paling terasa ‘segar’ buatku dalam tahun-tahun terakhir ini. Ada banyak elemen unik namun familier di dalamnya, yang sudah lama (belum pernah?) kulihat dalam berbagai seri mecha sebelumnya. Ini terutama soal jenis-jenis karakter yang ada serta interaksi di antara mereka.

Hmm. Kelihatannya perkembangan teknologi animasi belakangan benar-benar sedang maju pesat.

The Nomadic Life

Menyinggung soal ceritanya dulu, sesudah berakhirnya misi di Slonim, kesatuan W-0 pimpinan Leila Malcal terjebak di teritori Warsawa karena sebab-sebab yang tak mereka ketahui. Tak diperbolehkan masuk ke markas mereka sendiri, tanda pengenal mereka diblokir, serta tak punya uang tunai, Leila dan kawan-kawannya—Akito Hyuga, Ryo Sayama, serta Yukiya Naruse dan Ayano Kosaka—akhirnya ditampung sekelompok nenek gipsi yang tengah menetap di wilayah tersebut.

Di sinilah, untuk beberapa lama, ada masa tenang bagaikan ‘liburan’ yang mereka lalui bersama. Di tengah masa damai tersebut, mereka juga mulai saling terbuka dan lebih memahami pribadi satu sama lain.

Di sisi lain, penasihat militer Julius Kingsley, yang datang di bawah kawalan Kururugi Suzaku, mulai menjalankan aksinya untuk menyelesaikan status quo antara Euro-Britannia dan Euro Universe. Kelihaian pikiran dan pengambilan keputusan Kingsley dengan segera menuai konflik di kalangan para bangsawan Euro-Britannia sendiri. Lalu di tengah kegentingan yang terjadi, kakak Akito, Shin Hyuga Shaing, mulai menjalankan rencananya untuk membangun kekuasaan bagi dirinya sendiri.

Kutukan dan Peradilan

Animasi seri ini luar biasa memukau.

Man, aku benar-benar mesti mengatakan itu dulu.

Adegan yang paling mencolok adalah saat Suzaku beraksi seorang diri melawan sejumlah Knightmare Frame sekaligus sebelum ia memanggil KF Lancelot miliknya sendiri. Maksudku, itu saja sudah memperlihatkan episode ini sekeren apa.

Kombinasi antara CG dan gambar tangannya benar-benar bagus. Lalu adegan aksinya digambarkan secara benar-benar dinamis, dengan objek yang disorot dan sudut pandang kamera bergerak secara bersamaan, hanya saja dengan koreografi adegan yang bahkan lebih keren dibandingkan yang di episode sebelumnya. Apalagi pada saat adegan ini berlangsung, serangkaian kejutan dalam cerita terkuak juga…

Jadi, kubu Britannia sebenarnya terbagi dua di sini: mereka yang berada di negeri asal mereka di benua Amerika, serta mereka yang berdiam di benua Eropa dan disebut Euro-Britannia. Lalu Euro-Britannia inilah yang tengah berperang melawan konfederasi lain, Euro Universe, di mana Leila dan kesatuan W-0 tergabung. Tapi langkah Kingsley yang datang sebagai perwakilan sang kaisar malah menimbulkan perpecahan antara para bangsawan di Eropa dengan pemerintahan di negeri asalnya. Ini yang dengan lihai kemudian dimanfaatkan Shin untuk merebut kekuasaan.

Pembangunan konflik ini benar-benar dilakukan secara baik. Jadi dengan keterbatasan durasi episode, perkembangannya benar-benar terasa sudah jauh. Aku benar-benar mesti mengakui kalau seri Code Geass: Akito mungkin punya kualitas pengeditan cerita paling bagus yang aku tahu.

Julius Kingsley telah dikonfirmasi sebenarnya adalah Lelouch Lamperouge, pangeran ‘buangan’ Britannia, yang tak lain tak bukan juga adalah Zero, pemimpin dari organisasi bayangan Orde Ksatria Hitam yang menciptakan kekacauan di Area 11 (Jepang) beberapa waktu sebelumnya (yang dikisahkan dalam seri TV Code Geass yang pertama). Pada episode ini diperlihatkan betapa Lelouch bisa sekejam apa kalau bukan karena pengaruh Nunnally, adik perempuan yang sangat disayanginya.

Kelihaian Shin, yang jauh melampaui orang-orang di sekitarnya, sepenuhnya diperlihatkan di episode ini. Ada kesan kalau dirinya, melebihi Lelouch, sebenarnya berpotensi mengambil alih kuasa Euro-Britannia bagi dirinya sendiri. Tapi motivasi yang sesungguhnya di balik semua tindakannya yang kejam masih belum terungkap sepenuhnya di episode ini.

Kemudian di antara keduanya, berdiri Suzaku. Pada titik ini, hatinya masih dilanda konflik. Tapi Suzaku kembali diperlihatkan betapa dirinya seakan tak terkalahkan sebagai bagian kesatuan ksatria elit Knights of the Round.

Sepulang Leila dkk, seiring berakhirnya konflik di Euro-Britannia, dan semakin memanasnya kondisi politik di EU akibat intervensi Julius, kembali terlihat jelas rintangan yang belum teratasi dalam perang Britannia atas EU: yakni kesatuan misterius berjulukan ‘Hantu Hannibal‘ yang tak lain adalah kesatuan W-0 pimpinan Leila. Dari sini, cerita kelihatannya mulai bergerak ke arah klimaksnya, seiring semakin dekatnya konfrontasi antara dua saudara yang telah lama terpisah.

“Kita semua akan kembali.”

Beberapa hal menarik lain meliputi soal teknologi baru milik kesatuan W-0 yang membuat mereka istimewa. Dua di antaranya adalah teknologi KF mutakhir yang memungkinkan penggunaan bersama gelombang otak, serta teknologi transportasi sangat cepat yang membuat mereka bisa menjangkau seluruh dunia dalam waktu singkat.

Sedikit lebih banyak tentang Leila juga dibeberkan. Pertama, soal asal-usul serta hubungan Leila dengan kakaknya. Kedua, soal terkuaknya kenyataan bahwa dirinya tenyata memang pernah menjumpai ‘si penyihir’ C.C., dan sebenarnya memiliki kekuatan Geass. Tapi karena diberikan ketika dirinya masih kecil, kekuatan Geass Leila berada dalam keadaan dorman, sehingga bisa saja hilang seandainya tak digunakan.

Perkembangan karakter lain yang agak mengejutkan adalah soal Akito sendiri. Di sini, ia mengungkapkan kekhawatirannya yang terbesar serta alasan kenapa ia mengucilkan diri. Akito juga mengungkapkan bahwa secara harfiah dirinya memang pernah ‘mati’ di tangan kekuatan Geass Shin, tapi entah karena apa dirinya kini hidup lagi. Lalu perkembangan karakter ini menurutku termasuk simpel, tapi benar-benar keren. Ada banyak karakter penyendiri dalam anime, tapi jarang ada yang dipaparkan dengan cara sesimpatik Akito.

Fanservice kembali tetap ada, dengan cara yang efektif, dalam bentuk pakaian pilot Ayano yang lumayan ‘kekecilan’ serta baju perempuan yang dipakaikan pada Yukiya. Tapi itu minim, dan tak benar-benar dijadikan fokus.

Lalu curve ball terbesar dari episode ini adalah kemunculan sosok perempuan misterius (serupa C.C.?) di hadapan Jenderal Smilas, atasan Leila, yang kelihatannya mampu memanipulasi ruang dan waktu. Damn, siapa lagi namanya? Aku terus terang jadi merasa kalau adegan ini yang menjadi alasan utama kenapa jumlah episodenya jadi diperbanyak.

Di kedua season seri TV Code Geass: Hangyaku no Lelouch, bahkan dengan terkuaknya masa lalu C.C. pun, asal-usul kekuatan Geass serta aliran kepercayaan yang memprakarsainya tak banyak dibeberkan. Tapi dengan adegan di atas, aku jadi merasa hal tersebut mungkin akan coba dieksplorasi dalam beberapa episode ke depan. Ini juga yang membuatku merasa kalau Code Geass: Akito mungkin bukan lagi sekedar gaiden dari cerita di seri TV Code Geass, melainkan menjadi suatu seri lain yang berdiri sendiri dalam satu waralaba yang sama.

Dengan kata lain, mungkin Sunrise untuk ke depannya mau membuat seri Code Geass menjadi lebih seperti Gundam? Tapi sudahlah. Kita lihat saja dulu untuk ke depannya.

Sekali lagi, ini adalah satu episode yang memuaskan. Bukan hanya karena aksi dan intrik yang menjadi kekhasan Code Geass, tapi juga karena drama dan interaksi karakter di dalamnya.

Aku benar-benar suka para tokoh utamanya. Ahaha, mereka membuatku merasa muda.

Hanya tinggal dua episode lagi yang tersisa.

Aku jadi tak bisa tak merasa kalau mungkin akan ada pengumuman besar terkait seri ini pada awal tahun 2016 nanti.

Code Geass: Boukoku no Akito OVA 2: The Wyvern Divided

Aku akhirnya kesampaian melihat episode kedua dari seri OVA Code Geass: Akito the Exiled belum lama ini. Setelah penantian lumayan lama dari tahun 2012, rasanya memuaskan bisa melihat Akito Hyuga dan Leila Malkal lagi.

Sebagaimana yang sudah kuharapkan, hasil akhirnya benar-benar keren. Tapi alisku lumayan keangkat karena berbeda dari yang kubayangkan, cakupan ceritanya belum sepanjang yang aku harap.

…Mungkin juga ini hanya masalah di persepsiku. Aku sudah sedemikian terkesannya terhadap seri ini, sehingga rasanya sulit menerima kalau jumlah episodenya cuma sampai empat. Tapi soal itu mending kita singgung lain kali.

Tapi serius, kelihatannya cakupan plot cerita ini akan lebih meluas dari yang dikira?

Episode kedua berjudul The Wyvern Divided (‘sang wyvern terbagi,’ dengan ‘wyvern’ kira-kira berarti sejenis ‘naga berdiri’, dalam hal ini mengacu pada lambang kesatuan yang dipimpin Leila). Ceritanya mengetengahkan kelanjutan sepak terjang unit W-0 sesudah bergabungnya Ryo Sayama dan kedua rekannya, Yukiya Naruse dan Ayano Kosaka, dan berfokus pada ancaman perpecahan yang melanda mereka.

Ryo dan kedua kawannya masih belum bersedia tunduk pada Leila, yang pada episode sebelumnya telah diangkat Jenderal Gene Smilas sebagai pemimpin kesatuan ini, menggantikan Komandan Anou yang kejam. Ryo dan kelompoknya merencanakan suatu tindak pemberontakan yang akan mereka lakukan dalam misi mereka yang berikutnya. Namun Leila bersikeras meneruskan rencana, sekalipun telah mengetahui soal niat mereka, lagi-lagi dengan harapan akan bisa memenangkan kepercayaan Ryo.

Caranya? Dirinya akan turut serta secara langsung bersama Akito sebagai bagian dari tim dalam misi kali ini ke Slonim. Sekalipun, seperti halnya di Narva, misi yang kesatuan W-0 peroleh lagi-lagi sebuah ‘misi bunuh diri.’

“Aku sudah pernah mati sekali.”

Membahas soal teknisnya dulu, visual dan audio episode kali ini masih memukau seperti sebelumnya. Menurutku, segala elemen terbaik dari dunia Code Geass berhasil dihadirkan dalam episode ini: intrik, nuansa dunia yang aristokratik, karakter-karakter yang lembut, karakter-karakter yang agak sakit. (Belakangan aku sadar absennya aspek ‘sekolahan’ justru berbuah baik buat cerita macam begini.)

Ceritanya berawal dengan agak ringan di kastil di tengah hutan yang menjadi markas W-0. Penggambaran latarnya ini begitu alami, dan kita diperkenalkan lebih jauh pada personil-personil W-0 lain yang lebih berada di balik layar.

Pengarahannya masih keren dan efektif seperti sebelumnya.

Markas di tengah hutan ini benar-benar menarik, karena di balik kerimbunannya tersembunyi segala bentuk teknologi dan fasilitas canggih yang kesatuan W-0 kembangkan. Lalu penggambaran latar perkotaan di Slonim sampai ke stasiun kereta di suatu tempat di Rusia itu benar-benar eksotis.

Adegan-adegan aksinya, pas ada, seriusan memukau. Seri Code Geass sebelumnya mungkin lebih dikenal karena intriknya ketimbang aksinya sendiri. Tapi segala koreografi yang dimunculkan di sini itu benar-benar bikin kita wow. Baik Akito, Ryo, Yukiya, maupun Ayane, sama-sama memperoleh satu unit Knightmare Frame Alexander, dan sosok KMF ini dengan segala manuver akrobatiknya telah dikenal dengan julukan ‘Hantu Hannibal’ semenjak insiden di Narva dan mulai diwaspadai oleh para pasukan di pihak Britannia.

Secara teknis, benar-benar tak ada keluhan yang bisa aku ungkapkan di episode ini. Ada lebih dari dua adegan yang sempat berhasil bikin aku ternganga.

Soal cerita… ada beberapa hal yang ingin kubahas. Tapi aku enggak yakin baiknya mulainya gimana.

Sementara W-0 menghadapi ancaman dari dalam, kakak lelaki Akito yang berada di pihak Britannia, Shin Hyuga Shing, telah berhasil memperoleh kekuasaan sebagai pemimpin Knights of St. Michael berkat kekuatan Geass yang dimilikinya pada akhir episode lalu. Bersamanya, ia memperoleh bawahan-bawahan baru, yang di antaranya termasuk si buas Ashley Ashra. Lalu tanpa dapat dihindari, misi W-0 kali ini berujung pada pertemuan antara mereka berdua.

Tentang Shin, damn, aku sebenarnya lebih ingin mengomentari Knightmare Frame yang digunakannya ketimbang dirinya! Tapi aku masih belum menemukan nama resminya! KMF miliknya itu benar-benar mencolok. Wujudnya humanoid namun tinggi untuk ukuran KMF, ditambah lagi berwarna emas. Tapi saat bergerak, wujudnya berubah menjadi seperti centaur!

Satu hal yang sempat luput kubahas soal episode lalu, yakni kemungkinan bahwa Leila pun sebenarnya memiliki kekuatan Geass, sayangnya tak dibahas pada episode ini. Tapi ada beberapa perkembangan baru, di antaranya meliputi Geass yang melanda Akito, yang ditambah sistem misterius yang tertanam dalam Alexander, yang menyebabkan fenomena misterius yang dialami para anggota W-0 selama di Slonim. Sophie Randall, ketua peneliti W-0, nampaknya menyimpan jawabannya, bersama jasad(?) mendiang kekasihnya yang disembunyikan(!). Lalu Klaus Warwick, pria berkesan serampangan yang menjadi aide-de-camp-nya Leila, kini juga diimplikasikan merupakan seorang mata-mata? Ada tanda-tanda perkembangan karakter saat kita diperlihatkan foto keluarganya, dengan wajah istrinya dicoret tapi wajah putrinya dibiarkan.

Makanya, aku penasaran. Dengan banyaknya hal yang bisa terjadi, apa empat episode berdurasi satu jam benar-benar akan cukup untuk mengulas ini semua?

C.C. tak tampil di episode ini. Tapi seperti cuplikan-cuplikan di episode lalu, Kururugi Suzaku yang telah menjadi salah seorang Knights of the Round kini tampil. Perannya di sini adalah untuk mengawal seorang penasihat militer tak dikenal bernama Julius Kingsley, yang kita lihat dari sudut manapun, buat kita jelas-jelas adalah Lelouch Lamperouge yang telah dimanipulasi ingatannya, sebagaimana yang terungkap dalam awal Code Geass R2.

Mungkinkah mereka yang akan menjadi lawan W-0 dalam episode berikut?

Benar-benar ada banyak yang bisa disukai dari Code Geass: Akito the Exiled. Karakterisasinya termasuk simpel, tapi implementasinya benar-benar efektif.

Leila dan Akito benar-benar pasangan yang menarik untuk diikuti. Leila dengan kepolosan, tapi sekaligus dengan tekad dan kemampuannya. Lalu Akito, dengan ketenangan, dan bahkan rasa hormat tulusnya pada Leila dalam situasi normal; tapi juga dengan sisi haus darahnya setiap kali ia diingatkan akan medan pertempuran.

Hmm. Ke mana lagi cerita akan dibawa ya?

Aku merasa bisa sabar menunggu tapi aku serius juga jadi banyak berpikir.

 

Code Geass: Boukoku no Akito OVA 1: The Wyvern Has Landed

Episode pertama dari seri OVA Code Geass: Akito the Exiled (‘Akito yang terasing’), belum lama ini keluar juga.

Berlatar pada jeda waktu yang berlangsung antara Code Geass: Lelouch of the Rebellion dan Code Geass: Lelouch of the Rebellion R2, ada dua tokoh utama baru yang diketengahkan, Leila Malcal dan Akito Hyuga. Ceritanya berlatar di tempat yang baru pula, yakni di garis depan medan perang antara Euro Universe dengan Kekaisaran Britannia. Leila adalah gadis muda yang menjadi komandan pasukan khusus W-0 yang dimiliki EU. Sedangkan Akito adalah pemuda yang digambarkan sebagai satu-satunya orang yang bertahan hidup dalam sebuah misi genting di awal cerita, yang kemudian diangkat sebagai pengawal Leila.

Dua nama besar di balik penciptaan Code Geass, Taniguchi Goro dan Okouchi Ichirou, tak lagi terlibat dalam seri ini. Tapi peran mereka sebagai sutradara dan penulis skenario masing-masing digantikan oleh dua staf veteran Akane Kazuki dan Asakawa Miya.

W-0 ceritanya adalah sebuah unit yang terdiri atas orang-orang negara lain (dalam hal ini, Jepang, alias Area 11) yang terasing dari tanah air mereka sendiri sesudah pendudukan Britannia atas negara mereka. Mereka dikhususkan dalam misi-misi ‘bunuh diri.’ Sehingga ada semacam dramatisasi rasial yang juga diangkat.

Cerita lalu berkembang dengan diperkenalkannya Ryo Sayama dan dua rekannya, Yukiya dan Ayano, yang hendak melakukan semacam revolusi dengan cara mereka sendiri. Upaya mereka menculik Jenderal Smilas, atasan Leila, membuat jalan hidup mereka bersimpangan dengan unit W-0.

Adegan pembukaan seri ini, menggambarkan operasi penyelamatan Narva yang dipimpin Leila, benar-benar keren. Temponya pas dan aksi mechanya frantic sekaligus seru buat dilihat.

Hal pertama yang menarik perhatianku adalah tempo penceritaan seri ini. Berbeda dari Taniguchi-sensei yang padat dan sangat cepat; Akane-sensei, masih dengan gaya khasnya saat menyutradari Escaflowne dan Noein, memainkan tempo dan suara untuk melarutkan pemirsanya, meski penyampaian ceritanya sama sekali tak kalah padat.

Aku sudah enggak lagi berada di usia ketika aku bisa dibikin excited oleh suatu anime. Tapi kayaknya Code Geass bisa dijadikan semacam pengecualian.  Aku ngerasain semacam harap-harap cemas pas akhirnya berkesempatan nonton episode 1 seri ini, dan perasaan itu langsung terbayar lunas begitu episode 1 itu usai.

Kebebasan itu menyakitkan, bukan?

Di episode ini kayak… ada semacam kesungguhan dalam hasil akhirnya yang sudah lama enggak aku lihat. Maksudnya, udah lama aku enggak nemu anime yang bikin aku ingin tahu soal latar dunianya seperti ini.

Terlepas dari nilai-nilai produksinya yang tinggi, kenyataan soal gimana Leila dan Akito adalah dua tokoh yang sama-sama likable benar-benar membantu. Leila yang simpatik dan enggak ‘rasis’ seperti kebanyakan bangsawan digambarkan memiliki latar belakang keluarga rumit yang memotivasinya untuk benar-benar ‘memanjat’ sampai ke posisinya yang sekarang. Sedangkan Akito secara baik digambarkan sebagai seorang pribadi muram yang mencari tempat untuk berpulang. Akito juga digambarkan berada di bawah pengaruh sebuah Geass yang seperti halnya Suzaku Kururugi dalam seri terdahulu, mengubahnya menjadi lawan yang teramat ganas dalam pertempuran.

Dari segi mecha, aku beneran puas. Alexander, jenis Knightmare Frame baru yang digunakan EU dan sempat dipakai Akito, memiliki wujud feminin yang elegan tapi cara pakai yang di awalnya terkesan grotesque. Desainnya bagiku beneran mencolok, terutama dari cara pemakaiannya yang tak mengandalkan kaki beroda seperti Knightmare-Knightmare yang sebelumnya sudah kita lihat.

Seperti biasa, ada tokoh-tokoh dengan desain keren yang tak bertahan hidup lama.

Di samping itu, dipaparkan sedikit lebih jauh pula tentang sejarah dunia Code Geass. Ada nama-nama pahlawan besar seperti Hannibal dan Napoleon Bonaparte yang mencuat. Sempat disinggung juga soal bagaimana kaum aristokrat yang membentuk Britannia pada suatu titik dalam sejarah mengungsi ke benua baru di mana mereka berdiri sekarang.

Episode ini kemudian diakhiri secara misterius dengan adegan dialog antara Lord Manfredi dari Mikhail Knights dengan ajudannya, Shin; yang sedikit banyak menyinggung kekalahan Britannia di Narva, dan mungkin mengandung semacam petunjuk soal asal-usul Akito sendiri…

Jadi, Episode 1 ini benar-benar masih perkenalan terhadap setting yang baru ini. Ada satu-dua referensi terhadap beberapa kejadian yang telah lalu (seperti pembubaran organisasi Ksatria Hitam). Tapi semua tokoh yang muncul di sini benar-benar baru. Baru pada episode berikutnya, beberapa tokoh dari seri lama nampaknya akan muncul; meliputi Suzaku dan C.C..

Kurasa episode ini cukup bagus buat orang awam memasuki seri Code Geass. Dari episode satunya saja malah kelihatan kalau seri OVA ini bisa jadi berakhir lebih bagus dibandingkan kedua seri TV-nya. Hasil akhirnya beneran memuaskan. Terlihat betapa penantian lama semenjak proyek ini diumumkan dalam OVA Kiseki no Birthday bertahun-tahun lalu sepenuhnya terbayar lunas.

(Ya, buat yang bertanya-tanya, bagiku desain karakter Leila sangat moe.)