Posts tagged ‘Brains Base’

01/08/2013

Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa Machigatteiru

(Ini adalah ulasan untuk season 1. Untuk season 2 bisa ditlihat di sini.)

Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa Machigatteiru (kira-kira berarti ‘komedi romantis masa mudaku kacau kayak yang kukira’), atau yang dikenal juga sebagai My Teenage RomCom SNAFU (SNAFU adalah ungkapan bahasa inggris gaul yang kira-kira berarti ‘kondisi yang harusnya biasa/gampang malah jadi parah’, dengan ungkapan lebih parahnya adalah ‘TARFUN’, dan ungkapan lebih parahnya lagi adalah ‘FUBAR’), atau yang dikenal lagi dengan judul harfiahnya My Youth Romantic Comedy Is Wrong As I Expected, kurasa adalah salah satu anime favoritku pada masa tayang musim semi 2013 lalu.

Seperti yang judulnya indikasikan, ceritanya memaparkan situasi ala komedi romantis yang udah ‘gagal’ dari awal dan akhirnya malah jadi lebih berat ke aspek drama (atau komedi). Tapi yang bikin seri ini bagus sebenarnya bukan itu sih…

Ceritanya sendiri diangkat dari seri light novel berjudul sama karangan Wataru Watari dengan ilustrasi yang benar-benar ekspresif buatan Ponkan8. Adaptasi animenya dibikin oleh studio animasi Brain’s Base dan jumlah episode total sebanyak 13.

“Riajuu, bakuhatsu shirou!” (dari sebuah lagu yang dibawakan Hatsune Miku)

Tokoh utama Oregairu adalah Hikigaya Hachiman.

Hikigaya diceritakan merupakan seorang remaja SMA yang memiliki kepribadian ‘busuk.’ Dia tak punya pacar. Dia tak punya teman. Dia meyakini bahwa yang namanya masa muda hanyalah kebohongan semata. Singkat kata, dia orang yang asosial, sinis, sekaligus negatif.

Lalu, membaca tugas esai yang ditulisnya tentang kehidupan SMA, guru bahasa Jepang Hikigaya, seorang perempuan cantik tapi enggak tahu kenapa masih juga lajang bernama Hiratsuka Shizuka, dengan separuh ancaman dan banyak helaan nafas, menyuruh Hikigaya bergabung dalam suatu kegiatan ekskul bernama Klub Sukarela.

Kerjaan klub tersebut kira-kira adalah menerima bantuan minta tolong dari para warga sekolah lain dan membantu menyelesaikan masalah mereka. (…Pada awalnya, aku agak ngebayangin situasinya kayak Sket Dance.) Tapi kemudian, secara agak mengejutkan, Hikigaya mendapati bahwa Klub Sukarela merupakan klub kecil yang sejauh ini diawaki oleh hanya satu orang, yakni siswi seangkatan Hikigaya, Yukinoshita Yukino, yang dipandang sebagai siswi tercantik di sekolahnya.

Dipasangkan buat bekerja setiap hari dalam sebuah ruang klub sepi bersama siswi tercantik di sekolahnya sama sekali tak ditanggapi Hikigaya dengan senang. Sebaliknya, ia sinis. Sebab realitanya memang enggak semulus itu.

Tapi fokus cerita Oregairu ternyata bukan semata pada tumbuhnya hubungan antara Yukino dan Hikigaya sih.

Yukino, dengan segala kecantikan dan kepandaiannya, ternyata merupakan orang yang benar-benar dingin. Dirinya blak-blakan dalam segala sesuatu dan tak segampang itu mentolerir bagaimana kebanyakan orang enggak bisa ngasih performa sebaik dirinya. Jadi, walau keduanya agak bertolak belakang, satu kesamaan yang Hikigaya dan Yukino punya adalah bagaimana keduanya seakan terasing dalam lingkungan sekolah mereka.

Tak lama kemudian, klien pertama mereka muncul: teman sekelas Hikigaya, seorang cewek gaul yang sangat ‘cewek’ bernama Yuigahama Yui yang agak punya kecemasan tentang bagaimana orang lain menerima dirinya.

Seri ini, gampangnya, memaparkan hubungan segitiga ‘separuh terpaksa’ yang kemudian terjalin antara mereka bertiga.

Sesudah dibantu, Yui dengan sukarela kemudian mendaftar untuk menjadi anggota Klub Sukarela juga. Lalu, ia kayak jadi penengah di antara situasi adu hinaan yang kerap Yukino dan Hikigaya lontarkan antar satu sama lain, sekaligus berupaya menyembuhkan kebekuan hati yang sama-sama keduanya punya. Hubungan antara mereka berkembang seiring dengan terselesaikannya satu demi satu kasus masalah yang harus mereka tangani sebagai klub, yang kebanyakan berhubungan dengan komplikasi hubungan antar orang.

Pandangan Mata Ikan Busuk yang Kaya Dengan Omega-3

Oregairu kayaknya bukan seri yang bakal bisa disukai kebanyakan orang. Bukan karena ceritanya jelek, tapi lebih karena tema ceritanya memang bukan jenis yang bakal bisa ‘kena’ ke semua orang.

Kalau kau suka cerita-cerita yang temanya seputar relationship, kemungkinannya kau bakal suka seri ini sih. Kalau kau tipe orang yang enggak tahu gimana kayaknya gampang banget dicurhatin oleh orang-orang di sekeliling kamu, ada kemungkinan lumayan gede juga kalau kau bakal nikmatin seri ini. Maksudnya, dengan premis cerita kayak gini, daripada soal komedi atau romansa, seri ini benar-benar lebih banyak soal drama antar orang gitu.

Daripada terungkap secara blak-blakan, kebanyakan perkembangan yang para karakternya alami lebih banyak diperlihatkan lewat hal-hal kecil yang subtle dan tersirat. Kayak, pilihan kata, cara bersikap. Lalu walau salah satu daya tarik unik anime ini memang adalah sejauh apa kita bisa menemukan hal-hal tersirat itu, apa yang bisa bikin seri ini begitu ‘kena’ itu adalah saat kita nyadarin sedalam apa makna hal-hal kecil itu buat perkembangan karakternya.

Hikigaya, misalnya, diceritakan sejak awal emang ngalamin masa-masa sekolah yang lumayan enggak enak. Dia punya semacam ketajaman pengamatan yang membuatnya lebih memahami keadaan daripada kebanyakan orang. Tapi sikap blak-blakan yang dipunyainya, karena hal tersebut, akhirnya malah membuatnya dimusuhi dan dikucilkan.

Mungkin ada yang bilang kalau yang namanya teman sejati mestinya enggak ragu ngasih kritikan atau perbaikan buat kebaikan temannya. Tapi tragisnya pada kasus ini, Hikigaya justru dulu malah jadi kayak kehilangan semuanya karena berbuat demikian.

Yukino ternyata punya kompleks soal keluarganya yang terpandang dan berkuasa. Namun khususnya terhadap kakak perempuannya, Yukinoshita Haruno, yang luar biasa cantik dan memikat tapi sulit disukai Hikigaya karena suatu alasan. Hal ini berujung pada ‘masalah kepercayaan’ yang ia punyai, dan membuatnya jadi sasaran rasa iri dan penghormatan pada saat yang sama.

Yui sendiri perlahan menyadari kepedulian yang sesungguhnya Hikigaya punyai terhadap orang-orang di sekelilingnya dan mulai memendam rasa suka terhadapnya. Tapi ia tercabik semakin ia melihat betapa yang memahami kebekuan dan rasa sakit Hikigaya mungkin cuma Yukino.

Sekilas, memang kejadian-kejadian yang seri ini tampilkan kelihatan sepele. Apalagi secara teknis, baik adegan-adegan maupun para karakternya memang enggak didramatisiin dan cuma ditampilkan apa adanya saja. Tapi kalau kamu bisa nangkep hal-hal tersirat yang terjadi, perkembangan karakter seri ini benar-benar bagus. Selain para anggota Klub Sukarela, ada lumayan banyak tokoh pendukung lain yang secara ngejutin beneran berperan dalam perkembangan cerita (Hayama Hayato, tokoh cowok ganteng, gentle, dan populer di kelas misalnya, ternyata emang beneran orang baik. Walaupun posisinya lebih banyak berseberangan dengan Hikigaya, dan sekalipun ia menyaksikan sendiri betapa handalnya Hikigaya dalam mengatasi masalah meski dengan nyakitin banyak orang sebagai bayarannya). Hal ini kelihatan enggak menonjol sih. Tapi kalau dibalik, kelihatan jelas pelaksanaannya enggak ada cacatnya juga.

Mungkin baru sesudah bergabung dengan Klub Sukarela dan bertemu dengan Yukino dan Yui, Hikigaya, dan juga Yukino dan Yui, jadi merasa punya some place to belong. Tapi berhubung cerita di novelnya masih lanjut mungkin itu juga masih belum jadi sesuatu yang pasti.

The Thaw You Bring…

Membahas hal-hal teknis, seri ini termasuk luar biasa rapi baik secara audio maupun visual.

Dari aspek visual, satu yang benar-benar membuatku terkesan adalah desain bangunan sekolahnya, yang kelihatannya benar-benar detil sekaligus konsisten sebagai latar utama seri ini. Sedangkan hal lainnya, seperti yang aku sebelumnya sebut, adalah desain karakternya. Desain karakternya itu beneran keren lho. Bukan karena mengesankan atau enak dipandang atau apa. Tapi karena kayak beneran berhasil nampilin segala yang perlu ditampilin. Hikigaya di satu titik digambar sebagai karakter brengsek yang bikin ilfil. Tapi di titik lain dia berhasil digambar kayak jadi penyendiri yang keren.

Soal audio, seri ini bener-bener enggak ada masalah. Dialognya enggak menonjol sih. Tapi kayaknya itu emang disengaja biar enggak berlebihan. Lagu pembukanya, ‘Yukitoki’ dibawakan oleh penyanyi yang belakangan naik daun, Yanagi Nagi. Sedangkan ‘Hello, Alone’ yang jadi penutupnya secara pas ngegambarin nuansa patah hati yang dibawa dalam dalam seri ini.

Enggak ada fanservice yang segitunya di anime ini. Kecuali kalau kau menghitung apa yang ditampilkan dalam animasi penutupnya yang buat ukuran sekarang enggak gitu-gitu amat.

Dengan desain karakter yang enggak rumit tapi dengan cerita yang lebih dalam dari yang terlihat, akhir kata, ini seri yang beneran lebih berkesan dari yang semula disangka. Ceritanya memang masih agak menggantung sih. Tapi, perkembangan yang berarti di dalamnya… secara berarti tersampaikan gitu.

Cerita utamanya hanya sampai episode 12. Tepatnya, sampai akhir masa festival budaya sekolah. Sedangkan episode 13 yang mengetengahkan festival olahraga mungkin bisa dibilang hanya episode tambahan.

Sekali lagi. Ini bukan buat semua orang.

Tapi aku enggak bisa enggak berharap seri ini bakal ada lanjutannya. Sayang terjemahan novel-novelnya belum sejauh itu.

(Kayaknya, nama sutradara Yoshimura Ai mulai sekarang perlu kita ingat.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A

Iklan
02/01/2012

Mawaru-Penguindrum

Waktunya adalah menjelang musim panas, tahun 2011. Desas-desus beredar tentang kembalinya seseorang bernama Ikuhara Kunihiko, yang tangan dinginnya telah melahirkan sekaligus membentuk seri anime (aneh) legendaris Shoujo Kakumei Utena. Utena banyak dikenang sebagai sebuah seri yang belum ada duanya hingga saat ini. Mengangkat tema tentang ‘perubahan dunia’ yang secara kontroversial mempertanyakan kembali norma-norma umum yang berlaku saat ini, Utena berakhir sebagai salah satu anime paling artistik sekaligus abstrak pada masanya, dengan intepretasi akhir yang dibiarkan terbuka untuk setiap orang.

Waktu itu, dampak dari Star Driver: Kagayaki no Takuto yang dipenai oleh Enokido Youji, sang penulis skenario Utena, masih belum hilang. Hanya dalam waktu setengah tahun, sebuah seri anime baru lain yang juga mengingatkan akan Utena akan kembali hadir.

Anime tersebut adalah Mawaru-Penguindrum. Anime ini terdiri atas 24 episode dan diproduksi oleh studio animasi Brain’s Base.

Seizon Senryaku Shimashoka!

Mawaru-Penguindrum berkisah tentang tiga bersaudara keluarga Takakura: si sulung Kanba, si tengah Shoma, serta adik perempuan tersayang mereka, Himari. Ketiganya hidup tanpa orangtua mereka. Tetapi mereka rukun dan saling menyayangi satu sama lain. Kanba dan Shoma seumur (kembar, meski mereka tak mirip satu sama lain), dan sama-sama bersekolah di SMA yang sama dan di kelas yang sama. Sedangkan Himari, karena tubuhnya yang lemah telah lama membuatnya sakit-sakitan, sudah lama sekali tak bersekolah.

Pada suatu ketika, penyakit yang menggerogoti Himari akhirnya sampai memakan nyawanya. Meski sempat dibawa ke rumah sakit, Himari pada akhirnya tetap meninggal dunia. Tetapi melalui intervensi sebuah ‘entitas’ ajaib yang hidup dalam topi berbentuk penguin yang merupakan oleh-oleh dari akuarium, Himari kemudian dihidupkan kembali. Entitas ini akan mengendalikan tubuh Himari setiap kali ia mengenakan topi. Tapi nyawa baru yang Himari miliki ini datang dengan syarat:  Kanba dan Shoma mesti mencarikan sesuatu yang disebut Penguin Drum untuk si entitas ini, sebuah benda yang hanya diketahui sebatas nama, yang bentuk dan gunanya saja tidak diketahui.

Tempat Tujuan Takdir

Aku tak bisa membeberkan kisahnya lebih dari itu. Bukan hanya karena akan spoiler, tapi juga karena apa-apa yang seterusnya terjadi hingga akhir benar-benar bisa diintepretasi dengan banyak cara oleh masing-masing orang.

Yang pasti, satu-satunya petunjuk yang entitas ajaib tersebut berikan mengenai Penguin Drum hanyalah bahwa Kanba dan Shoma bisa mulai mencarinya dengan menyelidiki Oginome Ringo, seorang siswi cantik di sekolah khusus putri yang sepertinya terobsesi dengan diari yang selalu dibawanya ke mana-mana. Kepada masing-masing dari ketiga bersaudara Takakura juga diberikan tiga ekor penguin(?) yang hanya dapat dilihat oleh mereka. Penguin-penguin yang juga menjadi maskot seri ini akan senantiasa menemani dan membantu mereka dalam melaksanakan tugas ini. (Himari tak memiliki ingatan apapun akan saat tubuhnya diambil alih, karenanya ia juga tak tahu apa-apa soal Penguin Drum dan penguin miliknya lebih banyak membantu dalam mengerjakan urusan-urusan rumah tangga saja.)

Sama halnya seperti Utena, cerita Mawaru-Penguindrum mengandung banyak simbolisme yang mungkin bermakna dan mungkin juga tidak. Seri ini dibuat oleh pencipta Utena! Jadi aku sudah mempersiapkan diri untuk tak menanggapi ceritanya dengan terlalu serius. Tapi tak kusangka, semenjak awal seri, cerita Mawaru-Penguindrum secara mengejutkan terus melemparkan perkembangan-perkembangan plot yang tak terduga. Pengamatan Kanba dan Shoma terhadap Ringo membawa penelusuran mereka terhadap tokoh-tokoh lain. Semakin banyak hal aneh yang kemudian terjadi. Sehingga pada pertengahan seri, saat jalan ceritanya (sesuai dugaanku) bertambah sureal dengan detil-detil cerita yang semakin sulit diikuti, aku sudah enggak peduli lagi dengan segala keanehannya karena sudah terlanjur ‘sayang’ dan ingin tahu terhadap nasib para tokohnya.

Misalnya, di episode pertama, ada adegan di mana ada dua orang anak lelaki secara kebetulan lewat di depan rumah keluarga Takakura, dan membicarakan sesuatu yang secara menakutkan mengimplikasi apa yang kemudian akan dialami oleh para tokoh utama. Adegan ini benar-benar keren dan menumbuhkan rasa penasaran. Dan rasa penasaran ini, meski mungkin takkan sepenuhnya terjawab, pada akhirnya terus bertambah dan bertambah gitu. Makanya, dari pencarian terhadap Penguin Drum, cerita secara mengesankan berkembang menjadi… semacam pengkajian terhadap makna kehidupan tokoh-tokohnya?

Entahlah. Pastinya, kekuatan utama seri ini terletak pada bagaimana nasib para tokohnya dipaparkan secara dramatis ala di panggung teater. Atau meminjam kata-kata Tokikago Yuri, dipaparkan dengan cara yang sangat fabulous max.

Jadi begini, bila kau merasa tak mengerti apa-apa yang sedang terjadi dalam anime ini, maka itu wajar. Karena toh, pada akhirnya, latar belakang setiap tokohnya akan dipertanyakan ulang. Banyak misteri terungkap, semakin banyak pertanyaan bermunculan. Sehingga pada paruh akhir seri, sebagaimana yang sudah harus kau kira, dunia yang dipaparkan sudah sama sekali berbeda dengan apa yang dipaparkan di awal. All is really not as it seems. Dan apa yang sebenarnya terjadi dalam seri ini, dan apa maknanya, (seperti halnya Utena juga) benar-benar tergantung pada intepretasi masing-masing orang.

Kenyataan bahwa tema ceritanya sama sekali tak sekontroversial Utena juga turut membantu. (paling hanya diselingi beberapa episode yang membuatmu ingin berteriak, “Oh my God~~!”)

Dear My Future

Berbicara soal hal teknis, presentasi seri ini keren.

Kita bisa melihat bahwa desain para tokohnya ‘cantik.’ Tapi bukan dengan cara yang membuat kita merasa muak. Dan lagipula, desain karakter cantik ini dikontraskan dengan latar belakang dunia yang bermotif jaringan kereta subway Tokyo, di mana para tokoh yang tak penting tak digambar wajahnya, melainkan hanya digambar sebagai latar belakang. Lalu meski sekilas terlihat biasa, detil visual seri ini sebenarnya banyak. Menurut pendapatku, salah satu hal terbaik dari seri ini adalah bagaimana ia menggambarkan nuansa perkotaan Tokyo sebagai semacam dunia lain yang… entahlah, enggak biasa. Banyak desain aneh dan bentuk yang kalau dipikir-pikir abstrak. Dan cara masing-masing frame dipresentasikan, sesuai dengan dialog atau narasi yang tengah berlangsung, benar-benar memikat mata dan bisa membuatmu terpana selama beberapa jenak.

Musiknya, man, musiknya agak susah dijelaskan. Tapi nuansanya benar-benar cocok dengan nuansa aneh seri ini. Dan lambat laun, musiknya lumayan jadi enak didengar setelah kau terbiasa. Yang pasti, ada dua nama yang perlu disebut, yakni Yakushimaru Etsuko yang membawakan dua lagu pembukanya yang bagai dongeng serta grup girl band fiktif Triple H yang sedikit banyak juga memiliki peranan dalam cerita.

Aspek presentasi seri ini membangun nuansanya yang menyerupai semacam dongeng sureal. Lalu kesurealan seri ini benar-benar nyata, karena dikisahkan ada hal-hal tertentu dalam dunia seri ini yang agak… takkan langsung dimengerti sekalipun dikatakan (semisal: broiler anak-anak). Nuansanya benar-benar sesuai dengan tema ceritanya yang berhubungan soal… yah, hal-hal filosofis yang mendasar tapi berat.

Semua elemennya benar-benar menyatu seiring dengan memuncaknya cerita, saat Takakura bersaudara mengingat kembali masa lalu mereka yang nyaris terlupakan dalam kedamaian serta berupaya mengubah takdir penuh kesedihan yang mereka jalani.

Ah, aku beneran ga bisa berkata banyak soal aspek itu, karena lebih baik kalian lihat saja sendiri.

Eh? Intepretasiku sendiri soal ceritanya? Hmm, mungkin di postingan lain. Soalnya beneran ribet. Soalnya menyangkut dosa keluarga Takakura, hubungan mereka dengan keluarga Oginome, hubungan mereka dengan gadis misterius yang nampak juga mengejar Penguin Drum bernama Natsume Masako, serta sosok supernatural misterius yang nampak berupaya mempermainkan nasib mereka. Oh, belum lagi jika membahas simbolismenya! (Aku pribadi merasa Triple H merupakan representasi dari tiga dewi takdir…)

Akhir kata, ini tontonan alternatif yang keren dan menghibur. Temanya memang agak berat, mengenai makna takdir, pengorbanan, kehilangan, serta cinta. Tapi asal kau tak terlalu serius mendalami ceritanya dan tak mengharapkan aksi terlalu banyak, kurasa kau bisa lumayan menyukainya. Oh ya. Ketiga penguin itu juga jadi daya tarik dengan tingkah mereka yang ada-ada saja.

Penilaian

Konsep; X; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: B+

06/07/2010

Durarara!! (end)

Adaptasi anime Durarara!! (atau dikenal juga sebagai Dulalala!! atau bahkan DRRR!!) berakhir masa tayangnya di episode 24. Anime ini  sepenuhnya mengukuhkan diri sebagai sebuah cerita sederhana tentang kehidupan dan persahabatan.

Di luar dugaan, anime ini tak beranjak keluar dari lingkaran drama. Padahal pada banyak adegan, Durarara!! berpotensi menjadi sesuatu yang gelap, suram, psychotic, dan penuh aksi.  Tapi identitasnya sebagai drama kehidupan sama sekali tak hilang. Sayang sekali di sisi lain, nuansa ‘komedi kerasnya’ tak sekuat yang kuharapkan.

Aku jadi penasaran novel aslinya (yang dikarang Ryohgo Narita) sebenarnya sebagus apa. Novelnya kayaknya memiliki nuansa ‘ketidakpastian’ yang jauh lebih kuat dibandingin manga ataupun anime-nya. Dugaanku ini juga telah diperkuat oleh pendapat beberapa orang lain.

Maksudnya, salah satu daya tarik terbesar novelnya adalah bahwa dengan membacanya, kita dibuat sama sekali enggak bisa berhenti mikirin  tentang worst case scenario yang bakal terjadi. Memang pada akhirnya worst case scenario itu sejauh ini tak pernah sampai benar-benar terjadi. Tapi di novel, kita dibikin supaya terus memikirkannya. Sehingga kita jadinya terkejut waktu semuanya ternyata berakhir bahagia!

Akhir bahagia di seri anime ini memang sama sekali tak terkesan dibuat-buat sih. Bahkan pemaparan akhir bahagia ini bisa dibilang lumayan realistis. Hanya saja, yah, jadinya terasa ada efek anti-klimaks gitu.

Itupun dengan menyisakan sejumlah teka-teki yang berpotensi untuk dibahas dalam sekuel.

Mengikuti Durarara!! itu pengalaman yang aneh. Tapi seperti Baccano!!, karya Narita-sensei yang mendahuluinya, pengalaman itu tanpa bisa disangkal tetap agak sulit untuk dilupakan.

“Aku cinta, cinta, cinta, cinta, padamu Shizuo!”

Paruh kedua Durarara!! mengalihkan fokus dari pencarian kepala sang dullahan manis, Celty Sturluson, ke masalah lain yang timbul akibat implikasi keberadaannya. Enam bulan setelah ‘pertemuan besar’ pertama geng misterius Dollars, gejolak kembali melanda wilayah Ikebukuro akibat munculnya katana keramat pencari cinta, Saika, yang ternyata tak lain merupakan senjata yang digunakan oleh sang Slasher pada insiden-insiden enam bulan lalu.

Tak ada yang menyadari bahwa segala kehebohan yang Saika timbulkan dipicu tak lain oleh sang informan brengsek, Orihara Izaya, untuk memanas-manasi situasi antara Dollars dan geng Syal Kuning dan menciptakan bentrokan di antara mereka.

Inilah masalah yang kemudian mengikat ketiga tokoh utama: Ryuugamine Mikado, Sonohara Anri, dan Kida Masaomi dalam suatu konflik pelik yang menguji persahabatan mereka.  Mikado yang tak lain adalah pendiri Dollars mendapat tekanan saat anggota-anggotanya mulai diserang. Masaomi juga mendapat tekanan karena ia diminta kembali sebagai pemimpin geng Syal Kuning yang sebelumnya sempat mundur sesudah pacarnya dipatahkan kedua kakinya dalam bentrokan antar geng. Sedangkan Anri mulai mempertanyakan makna keberadaan dua anak lelaki yang selalu menemaninya ini, tatkala ia menyadari bahwa ‘anak-anak’-nyalah yang menjadi penyebab dari semua masalah yang terjadi.

Saika yang dipakai sang Slasher ternyata memiliki kemampuan aneh untuk beranak-pinak. Dan pemilik Saika yang asli, yang menciptakan penderitaan bagi pemiliknya sendiri, tak lain adalah Anri sendiri, yang belakangan menyadari bahwa dirinya masih mungkin bisa mencintai sekalipun seluruh anggota keluarganya kini telah tiada.

Tentunya, para penghuni Ikebukuro lainnya ikut terseret ke dalam semua masalah yang berlangsung.

“Kau lapar? Lapar itu bikin kau marah. Berkelahi itu juga tidak baik. Lebih baik kau makan sushi!” (dengan aksen Rusia)

Perkembangan ceritanya cukup lambat, terlebih bila mengingat kita bisa membayangkan bahwa bentrokan besar itu pasti akan terjadi. Tapi pemaparan detilnya dan narasinya lumayan top. Apalagi bersama setiap narasi, kita juga mendapatkan pemahaman lebih tentang  sifat tokoh yang sedang berperan sebagai narator. Bersama setiap episode, kita juga semakin menyelami kehidupan macam apa yang para karakternya jalani. Terutama tentang Masaomi dan Anri, mengingat kecilnya peranan mereka pada paruh sebelumnya.

Cuma sayangnya, masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab di akhir seri. Seperti asal-usul si pedagang Sushi Rusia Simon Brezhnev. Atau tentang kelanjutan teka-teki tentang kepala Celty yang dibawa oleh Kishitani Shingen, dan sebagainya. Kita merasa, ada karakter-karakter yang sudah keren-keren diperkenalkan yang masih belum berperan. Sehingga penyelaman kehidupan ini terasa menggantung, dan rasa menggantung itulah yang menjadi alasan mengapa bagian akhir seri ini masih terasa kurang memuaskan.

Perasaan kayak, ‘ini pasti masih ada lanjutannya!’ gitu. Dan memang sih seri pertama ini baru mencakup 3 dari 7 buah buku.

Tapi akhir seri ini cukup bagus kok, sekalipun bersifat antiklimaks dibandingkan bagian-bagian awalnya yang penuh suspens. Masalah-masalah para karakter sentral terselesaikan. Ada sejumlah perkembangan tak disangka yang tetap menarik. Lalu pesan ‘kehidupan terus berlanjut’ yang seri ini tunjukkan merupakan akhir yang pantas untuk seri ini.

Yea, mari kita tunggu season keduanya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: B+; Eksekusi: B+; Pengembangan: B; Kepuasan Akhir: B+

05/04/2010

Durarara!!

Bagaimana cara menjelaskan Durarara!! ? Yah, paling gampang adalah dengan membandingkannya dengan Baccano!!. Keduanya serupa, mengingat novel asli yang mendasari keduanya ditulis oleh pengarang aneh yang sama (Ryohgo Narita).

Jadi ceritanya, selain BakaTesto, pada musim lalu aku juga mengikuti Durarara!!. Aku sebenarnya sudah lama ingin mengulas ini, tapi aku sama sekali enggak yakin mesti memulainya dari mana.Sama halnya dengan Baccano!!, Durarara!! memiliki cerita ‘ajaib’ yang agak sulit dijelaskan secara gamblang.

Ada banyak orang (aneh) yang tinggal di Ikebukuro

Durarara!! berlatar di Ikebukuro, Tokyo, suatu distrik padat penduduk yang setiap hari dilalui banyak orang dari berbagai kalangan dan latar belakang. Mula-mula, kita dibeberkan terhadap berita-berita apa saja yang sedang ‘hangat’ di sana dari sudut pandang seorang remaja desa bernama Ryuugamine Mikado (ya, namanya memang mentereng), yang baru saja pindah ke kota besar untuk mencoba menjalani hidup sendiri.

Ikebukuro ceritanya sedang ramai oleh beberapa desas-desus. Pertama, gosip tentang munculnya ‘pengendara motor hitam’ yang tak terkalahkan dalam pertarungan, yang bukan hanya berpakaian hitam-hitam dari atas ke bawah, kebal terhadap berbagai jenis senjata, dan memiliki semacam kekuatan supernatural, tapi juga menunggang sebuah sepeda motor hitam besar yang nyaris tak bersuara, termasuk suara mesin(!?). Kedua, kabar burung tentang kerap terjadinya kasus orang hilang belakangan. Ketiga, kesaksian sejumlah orang berkenaan terlihatnya sosok slasher yang muncul dan memakan korban pada malam hari. Keempat, adalah tentang Dollars, suatu color gang baru yang meski disebut-sebut sebagai geng terkuat di Ikebukuro saat ini, sama sekali tidak diketahui secara jelas anggota-anggotanya siapa saja ataupun warna apa yang mereka representasikan.

Mikado ceritanya memilih SMA di Ikebukuro atas ajakan sahabat karibnya sewaktu SD, Kida Masaomi, yang belakangan sering kontak dengannya melalui Internet. Sesudah pertemuan kembali mereka setelah sekian lama, Kida-kun yang memiliki ambisi konyol untuk menjadi playboy ini kemudian menasihati bahwa selain hal-hal di atas, ada beberapa orang tertentu di Ikebukuro yang ada baiknya Mikado waspadai.

Orang-orang tersebut meliputi Orihara Izaya, informan muda berwajah licik yang kerap menongkrongi jalanan Ikebukuro; Heiwajima Shizuo, lelaki berpakaian bartender yang di balik penampilannya yang necis, memiliki tenaga luar biasa; serta tentunya sang pengendara hitam itu sendiri yang terkadang terlihat melintas di jalanan, yang di balik helm kuningnya belakangan dikenal sebagai seorang wanita tak berkepala(!!?) bernama Selty Sturluson.

Simon Brezhnev, lelaki berkulit hitam besar yang bekerja di restoran Sushi Rusia (…?!), juga bukan orang yang sebaiknya diajak bertengkar meski sehari-harinya ia bersikap ramah. Mikado juga dinasihatkan untuk tak bersikap menonjolkan diri karena mereka tak pernah tahu kapan dan di mana akan berpapasan dengan anggota-anggota Dollars.

Sesudah penjelasan panjang lebar yang agak-agak mengerikan itu, Mikado juga dikenalkan oleh Kida pada Kadota Kyohei dan teman-teman hang out-nya. Kadota, seorang pendiam berjiwa analitis tapi agak terlalu gampang larut dalam pemikirannya sendiri, menjadi semacam pemimpin bagi ketiga temannya yang lain: pasangan Karihara Erika dan Yumasaki Walker yang sangat menggemari light novel, serta Togusa Saburo, si kalem yang kerap menyupiri mereka dengan menggunakan mobil van-nya.

Selalu ada sisi belakang untuk segala hal.

Dengan banyaknya karakter yang sudah diperkenalkan sejak awal, mungkin kalian sudah bisa menebak bahwa Durarara!! menampilkan drama yang sangat character-based. Yea, serial ini memang secara khusus berfokus pada tokoh-tokohnya dan cerita apa yang masing-masing bisa sampaikan. Karena itu setiap episode menampilkan tokoh utama yang berbeda-beda dengan fokus dan nuansa yang berbeda-beda pula (meski dari segala perkembangan yang terjadi, bisa dibilang bahwa Mikado-lah yang paling memegang peran sentral dalam serial ini).

Benang merah yang mengikat itu semua adalah pencarian Selty terhadap kepalanya yang hilang, sebab Selty sesungguhnya adalah seorang dullahan, roh/peri pengendara kereta kuda tak berkepala dalam mitologi kuno Eropa—pertanda akan datangnya kematian—yang senantiasa membawa kepalanya yang telah terpenggal(?) pada kedua belah tangannya. Tapi karena suatu sebab, kepala Selty dan sebagian besar ingatan masa lalunya kini hilang, dan selama tahun-tahun panjang hidupnya yang jauh melampaui rentang hidup manusia biasa, Selty terus mencari-cari kepalanya yang hilang hingga akhirnya ia tiba di Ikebukuro.

Awal mula Mikado terseret ke dalam semua ini adalah awal perkenalannya dengan Sonohara Anri, gadis manis berkacamata teman sekelasnya yang sebenarnya tengah mencari-cari teman dekatnya yang sudah lama tak masuk sekolah dan kini diduga hilang: Harima Mika. Kabar terakhir tentang Mika-chan yang Anri ketahui adalah bahwa ia tengah menguntiti (naksir) seorang pemuda bernama Yagiri Seiji, yang menyatakan diri berhenti bersekolah tepat pada hari pertama semester baru dimulai.

Tak ada yang tahu persis alasan Seiji berhenti bersekolah. Tapi orang-orang yang memperhatikan namanya akan tahu bahwa Seiji adalah adik dari Yagiri Namie, perempuan cantik yang menjadi pemimpin perusahaan farmasi Yagiri, yang merupakan salah satu perusahaan besar di kota.

Beragam teka-teki segera mencuat saat kita dibuat untuk mempertanyakan bagaimana persisnya hubungan antar tiap-tiap tokoh dan apa saja yang mereka ketahui dan tidak mereka ketahui. Tapi semua disajikan dalam bentuk drama slice-of-life yang menjadi menarik karena memang tokoh-tokoh yang dipaparkannya menarik.

Di samping persahabatan baru mereka dengan Anri, Mikado dan Kida-kun sudah jelas bersahabat dekat. Tapi terlepas dari segala keterbukaannya, ada sesuatu di masa lalu selama ia dan Mikado terpisah yang enggan Kida ungkap. Rahasia masa lalu Kida sejauh ini tampaknya hanya diketahui oleh Izaya, dan dengan kemampuan mengumpulkan informasinya itu, Izaya terkadang menjadi makelar pekerjaan bagi Selty yang bekerja sebagai pengantar barang. Selty yang belakangan diketahui tinggal bersama seorang dokter ilegal romantis bernama Kishitani Shinra ini memiliki hubungan pertemanan/saling menghargai dengan Shizuo. Tapi Shizuo benci setengah mati terhadap Izaya, dan telah berkali-kali memulai keributan demi mengusir Izaya dari kota. Izaya sendiri tampaknya menjadi satu-satunya orang yang sejak awal mengenal semua tokoh yang berperan dalam kisah ini. Tapi dengan siapakah sesungguhnya Izaya bersahabat? Pergi ke manakah sebenarnya orang-orang yang hilang? Dari mana orang-orang aneh ini berasal? Siapa sebenarnya Dotachin?! Dari apa sebenarnya sushi Rusia dibuat?! Di mana pula kepala Selty sesungguhnya disembunyikan?!?

Yah, kurang lebih nuansa dan kerumitannya seperti itu.

This is one TWISTED love story

Adaptasi anime ini memiliki kesan yang agak sedikit lebih gelap dibandingkan versi novelnya yang cenderung bernarasi kocak. Tapi inti cerita yang disampaikannya tetap sama dan tak berubah.

Segala keenggakjelasan yang terjadi bisa dibilang merupakan daya tarik utama Durarara!!. Barangsiapa yang menyukai cerita-cerita drama; atau misteri; atau sekedar tertarik dengan hal-hal yang membuat kita ngomong “Haah?”; atau lebih gampangnya lagi, mereka-mereka yang menyukai Baccano!!; besar kemungkinan akan bisa menikmati serial ini juga.

Mungkin sulit dipercaya, tapi pada dasarnya ini memang sebuah kisah cinta kok.

Penilaian(sementara)

Konsep: A-; Visual: A-; Audio: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-