Posts tagged ‘bishoujo’

22/02/2015

Seikoku no Dragonar

Ada beberapa teman dekatku yang kaget waktu tahu kalau aku mengikuti Madan no Ou to Vanadis. Ya, aku termasuk orang yang suka. Kurasa mereka kaget karena biasanya aku bukan orang yang menyukai anime-anime yang berat di sisi fanservice seperti ini. Untuk kasus Madan no Ou, alasan aku suka mungkin ada kaitannya dengan gimana ada fase tertentu di masa kecilku ketika aku menganggap kalau ‘orang yang jago memanah itu keren!’

Tapi sesudah kejadian tersebut, sebenarnya sempat timbul kekhawatiran lain. Sebab sebelum Madan no Ou, aku secara diam-diam juga sempat mengikuti perkembangan Seikoku no Dragonar, atau yang juga dikenal sebagai Seikoku no Ryuukishi atau Dragonar Academy, yang pertama tayang sebanyak 12 episode pada musim semi 2014 lalu.

Kasusnya sebenarnya enggak jauh beda. Tapi menjelaskannya dari sana, kayaknya agak susah.

Terlepas dari itu, Seikoku no Dragonar diangkat dari seri light novel buatan Mizushi Shiki dengan ilustrasi yang dibuat Shimesaba Kohada, yang diterbitkan Media Factory di bawah label MF Bunko J. Animenya sendiri kalau tak salah mengadaptasi cerita dari buku 1-4, dengan sekitar 16 buku yang sudah terbit sampai sejauh ini, dengan produksi animasi dibuat oleh C-Station.

Crepes and Pal

Seikoku no Dragonar (mungkin berarti ‘Dragonar/Ksatria Naga yang Bertanda Bintang’) berlatar di Negeri Ksatria Lautreamont. Di negeri ini, naga dari beragam ras dilahirkan dari Breeder yang telah ditandai oleh Seikoku, yakni lambang berbentuk bintang naga di tubuh mereka. Untuk mendidik para Breeder, terdapat Akademi Dragonar Ansarivan tempat para pemuda-pemudi dididik dalam membesarkan dan menunggangi naga-naga.

Di Akademi ini, ada seorang remaja bernama Ash Blake yang karena suatu alasan, masih belum juga memiliki pasangan naganya yang disebut Pal, sekalipun di tangan kirinya terdapat lambang Seikoku mengesankan yang merupakan pertanda bahwa dirinya seorang Breeder.

Lalu sesudah suatu mimpi aneh (yang di dalamnya, Ash mendapati badannya ‘diteliti’) naga Pal yang menjadi pasangan Ash akhirnya muncul. Namun daripada kadal, naga bernama Eco tersebut ternyata berwujud seorang gadis kecil yang memiliki tanduk, yang bahkan memandang Ash sebagai pelayannya, dan bukan sebaliknya.

Singkatnya, cerita berkembang lebih jauh tentang pemaparan soal siapa jati diri Eco dan peran apa yang sebenarnya dimilikinya bersama Ash. Meskipun hubungan mereka di awal canggung, lambat laun Ash bisa juga berteman dengan Eco serta mengetahui kesukaannya terhadap crepes.

Lalu ada ancaman yang secara berkala datang dari seorang pria misterius bernama Milgaus, yang membangkitkan jasad naga-naga yang tewas sebagai naga zombie yang disebut Necromancia, dan nampak memiliki rencana terhadap Eco. Dirinya mungkin saja berasal dari Kekaisaran Zepharos yang bermaksud menguasai dunia.

Karakter-karakter lain yang banyak berperan di seri ini meliputi:

  • Silvia Lautreamont, putri keempat dari Kerajaan Lautreamont yang karena satu dan lain hal, menjadi putri yang nantinya mewarisi tahta. Pal miliknya adalah naga Maestro putih bernama Lancelot. Dirinya termasuk karakter yang paling banyak disorot dalam cerita ini, dengan suatu kejadian masa silam yang sebenarnya menghubungkan dirinya dan Ash.
  • Rebecca Randall, kepala Dewan Siswa di sekolah Ash, yang kemudian menjadikan Ash salah satu bawahannya untuk melindungi kepentingan Ash juga. Naga pal miliknya adalah naga Maestro Cu Chulainn.
  • Veronica Lautreamont, kakak perempuan Silvia, yang semenjak tidak terpilih sebagai Breeder, melatih badannya siang dan malam menjadi ksatria yang teramat tangguh. Dirinya menolak mewarisi tahta dan mempercayakan hal tersebut pada Silvia. Terlepas dari sikap kerasnya, dirinya sangat menyayangi adiknya.
  • Anya, seorang gadis berkulit coklat dan kepala suku Tantalos yang sangat setia kepada Milgaus.

…Aku baru sadar kalau kebanyakan karakter yang penting selain Ash memang karakter wanita. Tapi memang masih ada lumayan banyak karakter lain yang belum kusebut sih. Lalu setelah kupikir lagi, untuk ukuran anime berdurasi segini, jumlah karakternya lumayan banyak.

The Return of the Silver Knight

Sekali ini, aku enggak yakin apa aku bisa menjabarkan anime ini secara baik. Soalnya setelah kupikir ulang, aku enggak yakin apa aku benar-benar ngerti apa-apa yang terjadi di dalam ceritanya.

Maksudku, aku paham garis besar ceritanya sih. Cuma…

…Cuma, dari awal sampai akhir—sekalipun ceritanya berkembang secara konsisten ke arah yang lumayan—ada begitu banyak distraksi di dalanya, baik pada adegan-adegannya atau pada desain karakternya.

Jadi, para naga yang ada hanya dapat ditunggangi oleh orang-orang yang memiliki ikatan astral dengan mereka, yang terbentuk melalui lambang Seikoku. Hanya Ash seorang yang jadi pengecualian dari hal ini, yang meski tak punya naganya sendiri di awal, bisa menunggangi naga-naga milik orang lain selama diizinkan oleh naga yang bersangkutan.

Lalu ada… baju zirah yang disebut Arch, yang ‘diberikan’ oleh para naga kepada partner penunggangnya, dan memiliki kekuatan luar biasa. Ini terus terang merupakan salah satu konsep terkeren yang dimiliki seri ini.

Ada misteri di balik identitas Milgaus, yang secara enggak kusangka terungkap di penghujung seri. Ada intrik politik antar negara. Ada adegan-adegan pertarungan antar naga di udara. Lalu ada sosok perempuan cantik bernama Navi, yang muncul dalam dunia bawah sadar Ash dan memberikan bimbingan pada dirinya dan Eco. Ada banyak benang cerita yang sebenernya emang menarik.

Tapi ini semua kayak… kerap kali diselingi oleh aspek fanservice-nya yang termasuk berat, sehingga poin-poin yang sebenarnya menarik dalam ceritanya kerap kali tersamarkan.

Gimana ya?

Kadar fanservice­-nya sedemikian beratnya, sampai bisa membuatmu lupa soal apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku enggak tahu cara menjelaskannya. Karena kalau aku nyoba membandingkannya dengan beberapa seri fanservice lain yang pernah kutonton juga, seperti Hyakka Ryouran Samurai Girls atau bahkan Maken-Ki!, belum ada yang efeknya bener-bener kayak gini.

Kayak, kamu nyadar ada cerita yang dituturkan di dalamnya. Kamu nyadar kalau ceritanya sebenarnya lumayan. Tapi di penghujungnya, kamu enggak yakin ceritanya beneran ada apa enggak.

Begitu.

Terlepas dari itu, dari aspek teknis, ini termasuk anime yang punya visual yang beneran bagus. Dengan menampilkan naga-naga yang terbang dan bisa ditunggangi saja, anime ini sudah menarik perhatian. Ditambah dengan desain zirah-zirah Arch-nya yang notabene memang keren—bahkan rasanya aneh karena para pembuatnya tak memberikan adegan-adegan aksi yang lebih banyak.

Dari segi suara… ada beberapa keputusan pengarahan yang lumayan dipertanyakan. Tapi enggak jelek juga kok. Jadi kita batasi saja bahasannya sampai situ.

Tapi sial, aku jadi merasa agak berdosa kalau enggak membahasnya.

Singkatnya, saat kau melihat opening anime ini, mungkin kau akan agak terkesima. Kualitas animasi digitalnya emang termasuk bagus. Lalu meski enggak merasa suka, belakangan bahkan aku tanpa sadar menyenandungkan lagunya. Tapi saat kau mencapai lagu ending-nya—sekalipun kau bisa merasakan ‘maksud baik’ para pembuatnya—besar kemungkinan kau bakal agak terdiam. Karena agak… timpang nuansanya gitu.

Tiada yang Kumiliki

Akhir kata, kalau kau suka naga, suka karakter-karakter yang mendapat penekanan di bagian dada, suka baju-baju zirah keren dan tertarik dengan latar fantasi kayak gini, dan enggak keberatan dengan tentakel, bisa jadi kau akan sangat suka seri ini.

Aku enggak pernah menggemari versi novelnya, meski terjemahannya sudah bisa kau temukan di BT. Tapi memang ada sejumlah aspek yang teramat menarik dengan seri ini. Yah, ada sejumlah aspek lainnya yang aneh serta perkembangan cerita yang meragukan sih, seperti karakterisasi Veronica dan Silvia. Ditambah aspek nudity-nya yang enggak sedikit. Tapi di sisi lain juga, ada beberapa adegannya yang menurutku benar-benar berkesan, walau terasa agak… timpang dan kurang.

…Aku enggak memberitahu siapa-siapa kalau aku mengikuti seri ini. Tapi ada banyak hal di dalamnya yang terlanjur bikin aku penasaran.

Soal fanservice-nya terutama, aku sempat mikir panjang tentang apa preferensi si pengarang sesungguhnya adalah oppai atau pettan. Soal bagaimana semua karakter selain heroine utamanya merupakan tipe oppai, sedangkan Eco adalah tipe pettan. Maksudku, Eco sebagai karakter utama sudah jelas yang akhirnya akan menang! Tapi ada sesuatu tentang ini yang bagiku susah diterima akal!

Jawabannya pada akhirnya kutemukan saat mengetahui bahwa di novelnya sudah dibeberkan kalau sosok Navi yang saat ini adalah wujud yang pasti akan dimiliki Eco pada saat ia dewasa nanti.

Tapi, intinya, alasan aku membahas ini sebenarnya karena enggak pernah menyangka akan ada seri di mana aku akan lebih mempermasalahkan soal tentakel ketimbang nudity. Sementara di saat yang sama ini jenis seri yang… jelas-jelas enggak jelek dan kerasa kerja keras pembuatnya masuk ke dalamnya.

Ini sesuatu yang… terasa memberi konflik gitu. Karena agak sayang, sebenarnya. Lalu, yeah, aku mesti agak berjuang demi membereskannya.

Tapi sudahlah. Untuk sesuatu yang kayak gini pasti ada pihak-pihak tertentu yang menyukainya.

Penilaian

Konsep: D+, Visual: A-, Audio: B-, Perkembangan: B; Eksekusi: B+, Kepuasan Akhir: B

Iklan
26/06/2013

Date A Live

Ini terdengar agak memalukan. Tapi belum lama ini aku mengikuti musim tayang pertama dari anime Date A Live sampai tamat.

Seri ini diangkat dari light novel berjudul sama karya Tachibana Koushi dengan ilustrasi buatan Tsunako. Animenya sendiri dibuat oleh studio AIC PLUS+, berdurasi 12 episode, dan pertama ditayangkan pada musim semi tahun 2013.

Aku pertama mendengar tentang seri ini pada tahun 2011. Padahal seri ini sendiri pertama berjalan pada bulan Maret tahun 2011 di majalah Dragon Magazine terbitan Fujimi Fantasia Bunko. Waktu itu, aku pikir, apa pengumuman kemunculan anime buat seri ini enggak terlalu cepat?

Tapi kalau kupikir lagi, mungkin juga akunya yang salah tahun. Mungkin justru seri ini pertama kudengar tahun 2012.

Sudahlah.

Terlepas dari itu, inti cerita seri ini adalah seputar bagaimana dunia yang agak di masa depan terancam oleh bahaya akibat gempa angkasa (space quake) yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Yang kebanyakan orang tak tahu, fenomena gempa angkasa ini sebenarnya disebabkan oleh makhluk-makhluk yang disebut Seirei (Spirit)—sebutan untuk makhluk-makhluk humanoid perempuan yang nampaknya muncul dari dimensi lain dengan kekuatan supernatural teramat sangat dahsyat yang menyebabkan kehancuran dan kerusakan ke manapun mereka pergi.

Ditambah lagi, suatu perang rahasia sebenarnya selama ini berlangsung antara para Seirei dan pasukan pemburu khusus Seirei yang disebut AST (Anti-Spirit Team) dari Japan Ground Self Defense Force (JGSDF). Pasukan ini terdiri atas gadis-gadis muda yang menggunakan unit-unit peralatan baju khusus canggih Realizer yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan secara nyata apa yang ada di pikiran. Namun, meski diyakini memiliki potensi untuk mengimbangi kekuatan para Seirei, sejauh ini perang yang mereka canangkan selalu berat sebelah dengan mereka di sisi yang kalah.

Kenyataan tentang semua ini baru diketahui oleh sang tokoh utama, seorang remaja lelaki bernama Itsuka Shidou, tatkala dirinya dengan panik berusaha mencari adik perempuannya semata wayang di usia SMP, Itsuka Kotori, yang tiba-tiba tak dapat dihubunginya sewaktu panggilan untuk evakuasi gempa angkasa berlangsung.

Namun pada kenyataannya, Kotori sebenarnya adalah pemimpin kapal induk Fraxinus yang menjadi markas organisasi rahasia Ratatoskr yang bertujuan untuk menangani masalah Seirei secara alternatif tanpa melibatkan perlawanan!

Sekali lagi.

Namun pada kenyataannya, Kotori sebenarnya adalah pemimpin kapal induk Fraxinus yang menjadi markas organisasi rahasia Ratatoskr yang bertujuan untuk menangani masalah Seirei secara alternatif tanpa melibatkan perlawanan!

Sejujurnya, waktu aku pertama mengetahui ini, reaksiku seketika adalah, “A… APAAAA?!?”

Lalu kunci dari rencana mereka tak lain berada di tangan Shido.

Bagaimana rencananya?

Shido hanya perlu melewatkan waktu bersama para Seirei demi bisa mengajarkan pada mereka arti kehidupan dan kasih sayang.

Save the World

Terus terang, waktu aku pertama mendengar tentang Date A Live (judulnya kelihatannya merupakan pelesatan dari ungkapan ‘dead or alive’), aku benar-benar terkesan pada premisnya. Seri ini secara kocak jelas-jelas memasukkan berbagai hal yang lazimnya cuma kau temukan dalam game-game dating sim, tapi kini dengan keselamatan seisi dunia sebagai taruhan.

…Enggak, kalau kau berusaha mencari saran nyata soal bagaimana cara PDKT ke cewek, aku enggak yakin kamu bakal menemukannya di seri ini sih. Ujung-ujungnya, dalam perkembangannya, Date A Live juga seakan menjadi sebuah seri harem seperti kebanyakan anime sejenisnya. Tapi ada plot yang lumayan menarik dari premis Date A Live. Belum lagi ada adegan-adegan pertempuran menghebohkan antara para Seirei melawan AST.

Secara garis besar, elemen-elemen ceritanya lumayan absurd. Tapi menurutku ini tetap seri menarik yang dengan agak tongue-in-cheek menampilkan banyak hal mengejutkan dari tipikal latar harem yang biasa kita lihat.

Secara teknis, kualitas presentasinya termasuk biasa-biasa saja, baik dari segi visual maupun audio. Desain karakternya terlihat menarik dalam ilustrasi awal di novelnya, tapi menurutku kurang terbawa ‘wah’-nya dalam bentuk anime. Terutama untuk ukuran anime harem. Namun walau begitu, mungkin karena pembawaannya, ada yang terasa kayak ‘baru’ di seri ini gitu.

Ini semuanya konyol dan enggak guna-guna banget buat diikuti. Tapi rasa penasaran mengalahkanku, dan aku akhirnya mengikuti keseluruh episode musim tayang pertama seri ini sampai akhir. Lalu lama-lama, aku beneran berhasil dibuat ketawa dengan aspek-aspek komedi yang seri ini punya.

…Sial, aku jadi malu sendiri.

Save My Heart

Target pertama Shido adalah Seirei bernama kode Princess yang belakangan dinamainya Yatogami Tohka. Tapi cerita semakin berkembang dengan kemunculan Seirei-Seirei yang lain, yang biasanya melibatkan twist-twist agak mengejutkan berkenaan sifat-sifat dan kemampuan mereka yang berkaitan dengan perkembangan cerita.

Sedikit memperumit situasi Shido adalah kehadiran Tobiichi Origami, teman sekelas Shido yang cantik, bintang kelas, dan selalu berekspresi datar, yang sejak awal karena suatu alasan telah memendam rasa suka terhadap Shido, namun menyembunyikan jati diri sebagai salah satu anggota AST. Origami rupanya dilanda dendam terhadap para Seirei, karena mengingat di tangan salah seorang Seirei-lah kedua orangtuanya dahulu tewas.

Season pertama anime Date A Live merangkum cerita dari buku pertama sampai keempat. Terlepas dari segala kekonyolan dan keabsurdannya, plotnya terkadang-kadang bisa menjadi menarik dengan cara-cara agak tak disangka.

Bagaimana Shido ternyata memiliki kemampuan untuk menyegel kekuatan para Seirei masih menjadi pertanyaan. Demikian pula soal masa lalu dan latar belakang keluarganya bersama Kotori.

Di pertengahan cerita, muncul anggota AST khusus bernama Takamiya Mana—satu-satunya anggota AST yang pernah mengalahkan Seirei—yang menyatakan diri sebagai adik perempuan sesungguhnya dari Shido, namun ia tak bisa memastikan fakta tersebut karena ia telah kehilangan ingatannya. Lalu dari sana muncul pula indikasi bahwa ada kemungkinan ingatan masa lalu yang Shido dan Kotori miliki sama-sama bukanlah ingatan asli.

Beberapa Seirei lain yang muncul selain Tohka meliputi Yoshino, seorang gadis kecil pendiam yang sebelumnya kesepian. Kekuatannya berupa boneka kelinci raksasa berkekuatan es yang ia sebut sebagai Yoshinon.

Selain dirinya, hadir pula Tokisaki Kurumi, seorang Seirei yang tiba-tiba muncul sebagai murid pindahan di SMA Raizen tempat Shido bersekolah. Kurumi kemudian terungkap sebagai Seirei yang di masa lalu menjadi buruan Mana… dsb dsb.

Memang tak begitu berbobot. Tapi untuk ukuran anime sejenisnya, cerita dan perkembangan karakternya termasuk menarik. Ada lumayan banyak karakter yang diperuntukkan untuk faktor komedi di sini. Ada beberapa perkembangan yang mungkin bagi beberapa orang menganggu. Tapi sejak awal ini memang bukan seri yang terlampau serius. Ada suatu narasi dramatis aneh yang berubah-ubah di awal pembuka setiap episode yang hampir selalu membuatku ngakak karena kekonyolannya. Kualitas fanservice-nya juga tak sampai sebagus itu. Ada satu karakter yang dari awal hingga akhir kelihatannya selalu hanya mengatakan satu hal saja. Kota Tengu dan SMU Raizen yang menjadi latar terkesan seakan dicomot dari sebuah dating sim. Ada semacam tim pendukung melalui radio ala Metal Gear Solid yang mendukung Shido dari balik layar terkait pilihan-pilihan jawaban yang harus ia ambil di setiap misi kencannya bersama masing-masing Seirei. Lalu ada suatu rincian ekstensif tentang kekuatan para Seirei yang sebenarnya cukup menarik kalau dibahas.

Maksudku, ini kayaknya contoh anime yang berhasil lebih karena konten ketimbang aspek presentasinya. Lalu kenyataan itulah yang kurasa ‘menang’ dari Date A Live.

Season keduanya sudah dikonfirmasikan ada. Sehingga walau ditutup dengan cukup lumayan, ceritanya masih akan berlanjut.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C+

16/04/2012

Tokimeki Memorial Only Love

Kenapa ya, tiba-tiba aku kepengen nulis tentang ini?

Tokimeki Memorial Only Love adalah anime komedi romantis keluaran studio AIC ASTA yang mengudara pada akhir tahun 2006. Anime ini diangkat dari game Tokimeki Memorial Online yang belum lama itu diluncurkan oleh pihak produsen game Konami (server game-nya aktif dari paruh akhir tahun 2005 sampai ditutup pada tahun 2007).

Aku dulu… menontonnya benar-benar semata-mata karena iseng. Karena semenjak dulu, aku memang telah mempunyai ketertarikan terhadap waralaba Tokimeki Memorial punya Konami. Cuma, karena jenis permainannya pada waktu-waktu itu bukan genre yang ada peminatnya di barat, aku akhirnya jadi agak merana karena game-gamenya tak pernah kesampaian untuk diterjemahkan.

Lalu adaptasi anime dari gamenya yang paling pertama, meski menarik, sebenarnya… oke, sebenarnya juga pada akhirnya itu pun enggak sempat kutonton.

Terlepas dari itu, buat yang belum tahu, Tokimeki Memorial (‘kenangan yang membuat hati berdebar’) adalah waralaba dating simulation sangat terkenal yang telah mulai dirilis Konami semenjak tahun 1994. Ini agak berbeda dari game klik-klik biasa yang mungkin kalian bayangin. Tokimeki Memorial bukan visual novel simpel di mana kalian tinggal milih percabangan rute yang tepat untuk ngedapetin si cewek.

TokiMemo merupakan game bernuansa romantis di mana kalian (pemain cowok, kecuali jika yang kalian mainkan adalah versi Girl’s Side…) mensimulasikan tiga tahun kehidupan masa SMA. Kalian mesti membangun parameter statistik kalian dengan rajin belajar, berolahraga, mengikuti ekskul, dsb. serta berinteraksi dan membangun hubungan dengan banyak sekali tokoh lain yang mewarnai tiga tahun kehidupan masa SMA kalian. (Perbandingan paling gampang buatnya di masa sekarang adalah game-game Persona 3 dan Persona 4, hanya saja tanpa elemen dungeon crawling serta rentang waktu yang lebih dari hanya satu tahun.) Lalu barulah ceritanya menjelang kelulusan, karakter cewek yang paling berhasil kau dekati akan menyatakan cinta.

Permainannya terbilang benar-benar chaste dan relatif bersih dari hal-hal yang nakal. Tapi nuansa yang ditawarkannya benar-benar menarik, dan juga dengan elemen-elemen RPG bertebaran di dalamnya gitu. (Kalian yang sempat mengikuti Boku wa Tomodachi ga Sukunai! pada beberapa waktu lalu juga akan punya sedikit gambaran tentangnya.)

Eniwei, kembali ke anime yang kita bahas, mengingat nuansa episodik yang diusungnya, singkat cerita, anime ini berkisah tentang seorang murid pindahan cowok bernama Aoba Riku, yang karena sejumlah kebetulan bertubi, menjadi menarik perhatian banyak sekali orang di SMA Tsugumi yang baru dimasukinya.

Cowok perhatian, baik hati, yang sebenarnya tak ingin terlalu menarik perhatian ini, kemudian terlibat hubungan dengan tiga orang cewek sekaligus: Amamiya Sayuri, teman sekelas Riku yang anggun dan sangat populer; Kasuga Tsukasa, gadis tomboi anggota tim bola voli yang secara tak sengaja pernah ditabraknya; serta Mina Yayoi, adik kelas pemalu dari klub renang yang pernah ditemuinya di perpustakaan. Seluruh karakter lainnya di anime ini pada dasarnya merupakan karakter-karakter orisinil dari game-nya juga.

Anime ini sendiri berkisah seputar beragam drama dan petualangan yang Riku jalani (terutama saat ia dilibatkan dalam berbagai event aneh yang diadakan oleh sang ketua dewan siswa yang eksentrik, Sakurai Haru) dalam rentang waktu satu tahun saat ia bersekolah di SMA Tsugumi.

Motto sukoushi… atta sukoushi…

Aku tak bisa bilang anime ini memiliki plot cerita yang jelas. Fokusnya lebih ke segala ‘ketidaklaziman’ yang Riku hadapi sehari-hari sih. Memang ada aspek drama antar karakter. Tapi aspek dramanya tak benar-benar bisa dibilang realistis. Nuansa romantisnya yang kukira menjadi daya tarik utamanya… hmm, kita katakan saja nuansa romantisnya enggak selalu hadir di setiap episode. Hahahaha.

Tapi, entah ya, ada sesuatu tentang anime ini yang membuatmu perlahan suka asalkan kau tahan menontonnya. Semua tokohnya itu mempunyai daya tarik anehnya masing-masing, sehingga kau bila terlanjur kenal tak bisa tak sedikit penasaran tentang apa selanjutnya yang terjadi. Ada berandalan berbadan super besar bernama Doujima Kyouhei yang belum apa-apa sudah mendeklarasikan diri sebagai pelindung Amamiya Sayuri. Tapi belum apa-apa juga Doujima sudah dihajar oleh seekor anak ayam bernama Hiyokokko yang dengan segera berteman dengan Riku, dalam adegan terkenal yang membuktikan bahwa dirinya bukanlah nomor satu terkuat di sekolah. Lalu teman-teman sekelas cowok Riku mempunyai kebiasaan aneh untuk bercerita tentang serangkaian legenda tentang Amamiya Sayuri yang konon sudah tersebar secara internasional. Ada beragam guru, beragam kakak kelas, serta banyak tokoh berarti(?) lain yang kerap hanya muncul dalam satu episode. Pokoknya, begitulah. It’s amusing in a strange way.

Rasanya enggak banyak hal penting yang terjadi sampai dua pertiga durasi cerita. Tapi tahu-tahu saja menjelang akhir udah kerasa bagaimana ada banyak hubungan yang udah terjalin. Dan dinamika antara Riku dengan ketiga cewek di atas (dengan cara aneh juga) kemudian benar-benar menjadi sorotan utama seri ini. Meski bagaimana persisnya rasa suka antara mereka pertama terbangun kurang begitu jelas, para tokoh utamanya benar-benar tahu-tahu telah berhasil meraih simpati. Dan mengingat Riku pada akhirnya cuma akan memilih seseorang, rasanya benar-benar heartbreaking bagi dua cewek yang lain.

Aku sebenarnya enggak terlalu pandai dalam menilai soal hubungan antar orang gini. Tapi dalam zaman sekarang di mana kebanyakan hubungan antar pribadi menjadi sesuatu yang gampangan dan bergantung materi, hal-hal tulus yang anime ini usung menjadi sesuatu yang lumayan menyegarkan. Aku terus terang memang agak kecewa dengan anime ini. Yah, nuansa romantis penuh pengharapan kayak yang dulu karakter Fujisaki Shiori cerminkan di TokiMemo paling awal mungkin enggak benar-benar ada. Tapi anime ini tetap mempunyai sesuatu yang lain gitu.

Mungkin enggak sebanding dengan durasi yang kau habiskan untuk menontonnya sih. Mengingat ada 25 episode untuk versi siaran TV dengan tambahan 2 episode untuk versi DVD.

Tapi, yah begitulah.

Jadi, bila kau tak berkeberatan dengan tokoh-tokoh yang ‘berwarna-warni’, penonjolan karakter-karakter utama cewek (yang wajar buat anime kayak gini), dan benar-benar mengharapkan suatu nuansa yang cerah tanpa realisme dan drama yang berat, mungkin ini sesuatu yang bisa jadi pilihan. Siapa tahu juga, ada semangat yang bakal bisa kau temukan bila melihatnya.

(Ya, ya, aku jadi keinget juga soal gimana maksud awal ditulisnya blog ini adalah untuk membahas anime-anime lawas. Aku beneran sudah mulai tua. Ya, sudahlah.)

Penilaian

Konsep: X; Visual: B+; Audio: B+; Pengembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B

24/05/2010

Seitokai no Ichizon

(Buat yang belum tahu, ini adalah ulasan untuk adaptasi anime Seitokai no Ichizon yang pertama. Adaptasi anime yang kedua, Seitokai no Ichizon Lv2 yang dibuat oleh studio AIC masih belum aku lihat.)

Di SMA swasta Hekiou yang terletak di pulau Hokkaido, para anggota Dewan Siswa (baca: pengurus OSIS) dipilih berdasarkan voting popularitas. Akibat dari hal itu, para anggota terpilih biasanya terdiri atas cewek-cewek cantik yang paling menonjol di sekolah. Soal apakah mereka memiliki cukup kapasitas untuk mengurusi Dewan Siswa atau tidak, yah, itu urusan belakangan.

Tapi ada satu orang yang mendapatkan pengecualian dari sistem pemilihan ini, yakni dia yang memperoleh peringkat pertama dalam penilaian semua mata pelajaran. Peraturan menetapkan bahwa dia memiliki hak untuk diikutersetakan ke dalam Dewan Siswa sebagai seorang anggota khusus, dan itu berarti sebuah kesempatan bagi para cowok untuk bisa meluangkan waktu hampir setiap hari bersama empat cewek tercantik di sekolah di dalam satu ruangan yang sama.

Dengan sistem pemilihan yang sangat tidak bertanggung jawab ini, maka tidak heran kinerja Dewan Siswa di Hekiou cenderung dipertanyakan oleh sekolah-sekolah lain.

Tapi para anggota Dewan Siswa Hekiou tentunya tidak mau menyerah begitu saja…

Kurang lebih demikianlah gambaran awal dari seri anime 13 episode yang diangkat dari seri light novel berjudul sama(?) karya Sekina Aoi ini. Desain karakter dan ilustrasi aslinya dibuat oleh Kira Inugami, yang sebenarnya merupakan tipikal desain karakter anime biasa.

Yah, judul asli seri ini sebenarnya adalah Hekiou Gakuen Seitokai Gijiroku, yang kurang lebih berarti ‘Catatan Harian Pertemuan Dewan Siswa SMA Hekiou.’ Tapi judul itu dinilai kepanjangan, dan akhirnya seri ini lebih dikenal dengan nama judul novel pertamanya saja: Seitokai no Ichizon, yang kurang lebih berarti ‘Pertimbangan Dewan Siswa,’ yang secara relatif jauh lebih mudah diingat.

Harem End!

Untuk gampangnya, Seitokai no Ichizon pada dasarnya bergenre gag comedy. Kalau kalian tak mengerti maksudnya, bayangkan sesuatu seperti K-On! atau Yandere Kanojo atau Lucky Star, hanya saja lebih… uh, enggak jelas.

Seitokai no Ichizon hampir sepenuhnya bercerita tentang setiap pertemuan Dewan Siswa yang dilangsungkan pada setiap hari kerja sepulang sekolah di SMA Hekiou. Tak ada adegan percakapan di ruang kelas. Tak ada adegan yang terjadi pada jam pelajaran. Sekali lagi, nyaris semua adegan yang ditampilkan di anime ini berlangsung sepulang sekolah di ruang rapat Dewan Siswa SMA Hekiou.

Pada awal setiap episode, sang ketua, gadis mungil kekanakan bernama Sakurano Kurimu (yang berambut merah dan pettanko), akan memproklamirkan sederet kata-kata mutiara yang kemudian ia jadikan topik bahasan rapat untuk satu hari. Biasanya topik percakapan mereka berkembang menjadi ngalor-ngidul, diselingi lelucon-lelucon tak penting, yang ditanggapi dengan reaksi yang agak terlalu berlebihan dari para anggota lainnya. Kemudian sesudah rapat mencapai kesimpulan(?), para cewek akan pulang dan sang tokoh utama, satu-satunya anggota cowok dari Dewan Siswa, dia yang menempati posisi sebagai wakil ketua sekaligus anggota khusus itu, Sugisaki Ken, akan bilang bahwa dirinya akan ‘pulang nanti saja’ dengan alasan bahwa ia masih ingin main komputer mengingat dirinya adalah seorang otaku.

Tapi di balik otaknya yang mesum dan hobinya bermain galge, Sugisaki hampir selalu pulang lebih larut demi menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang semestinya diselesaikan bersama oleh para anggota Dewan Siswa pada siang harinya.

Yea, jadi inti dari anime ini adalah soal keseharian mereka yang senantiasa diisi obrolan-obrolan enggak jelas, dengan Sugisaki yang ujung-ujungnya biasanya menjadi korban. Tapi Sugisaki sama sekali tak berkeberatan dengan perlakuan ini. Sebab ia selalu bersikeras bahwa waktu yang ia lewatkan bersama cewek-cewek itu hendaknya diisi dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan, bukan dengan rutin membosankan dalam menyelesaikan pekerjaan. Ini semua adalah bagian dari cita-citanya untuk memperoleh harem end, yang bagi yang belum paham merupakan istilah dalam game-game dating sim (simulasi kencan) untuk menyebutkan akhir cerita di mana kita sebagai pemain berhasil mendapatkan banyak cewek sekaligus!

Sebagai sesama cowok aku enggak bisa enggak salut atas cita-citanya yang begitu mulia.

Eniwei, di samping sang kaicho, cewek-cewek lain yang membentuk keanggotaan Dewan Siswa adalah: Akaba Chizuru (sekretaris), yang di balik penampilannya yang elegan, tersembunyi kecendrungan untuk memperoleh keuntungan lewat tindakan-tindakan yang status legalitasnya diragukan; Shiina Minatsu (wakil ketua), yang tomboi dan sangat menyukai komik-komik remaja cowok; serta adik Minatsu, Shiina Mafuyu, yang merupakan seorang pecandu game tingkat berat sekaligus penggemar tema-tema boy’s love (baca: cerita-cerita dengan tema homoseksual).

Dengan orang-orang berkarakter seperti ini, rasanya tak aneh jika kredibilitas Dewan Siswa Hekiou sampai diragukan.

Tapi seiring berlangsungnya cerita, mulai terungkap alasan mengapa Sugisaki yang biasanya dipandang sebagai sampah bisa berusaha begitu keras demi keempat cewek ini. Yang dengan demikian membawa kita pada kesimpulan bahwa target untuk mencapai harem end merupakan sumber motivasi yang luar biasa besar bagi para cowok.

…Lho?

I am the kaichou! I am kaichou~!

Terus terang, tak banyak yang bisa dikatakan soal Seitokai no Ichizon, selain kenyataan bahwa ini merupakan anime komedi yang sangat generik. Latar dan karakternya mungkin bisa dibilang memiliki nilai lebih sih. Tapi terus terang saja, tak ada perkembangan cerita berarti yang akan kau temukan pada anime ini.

Soal statusnya sebagai tontonan komedi, hm… entah ya. Anime ini sering sekali melontarkan lelucon berbentuk referensi terhadap anime populer lain, yang meskipun memang lucu, jadinya tak bisa dipahami oleh mereka yang tak mengetahui soal anime lain yang dijadikan referensi tersebut. Di samping itu, untuk suatu alasan, lelucon-leluconnya seringkali dilepas secara beruntun, tanpa jeda waktu ‘pembangunan suasana’ dulu. Sehingga meski kita mengerti leluconnya dan sadar bahwa lelucon itu memang lucu, pas mendengarnya kita tak sampai tertawa karena mendengarnya di saat yang kurang pas.

Tapi mungkin semua itu cuma aku saja. Sebab ada beberapa orang temanku yang terbukti sangat menyukai seri ini. Jadi tak ada salahnya bagi kalian yang merasa sudah menjadi penggemar anime untuk mengambil kesempatan dengan mencoba menontonnya.

Soal aspek presentasinya sendiri… hmm, aku benar-benar enggak bisa berkata banyak.

Tapi jika ada satu hal yang membuatku terkesan dari anime ini, maka itu adalah kesungguhan Sugisaki dalam membuat orang-orang yang disukainya bahagia, yang meski enggak dengan cara yang realistis, semakin terungkap menjelang akhir cerita. Dan itu sebenarnya sudah cukup alasan bagiku untuk tak merasa menyesal karena telah menontonnya.

Sejauh yang bisa kulihat, emang ga bisa dipungkiri seri ini memiliki para penggemarnya tersendiri. Aku akan menulis lebih banyak tentangnya begitu mendapatkan info lebih banyak lagi.

Penilaian

Konsep: B; Visual: B-; Audio: C+; Perkembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C

06/04/2010

B Gata H Kei (preview)

Aku malu mengakuinya, tapi dari semua judul baru yang muncul di musim semi ini, inilah judul baru yang pertama kali aku coba tonton. (Jangan tanya aku, aku juga kurang ngeh judulnya ini maksudnya apaan)

Ceritanya tentang seorang cewek remaja cantik bernama Yamada (nama kecilnya belum diungkap) yang entah karena keingintahuannya yang berlebih atau apa, bercita-cita untuk memiliki 100 teman pria untuk berhubungan intim. Tapi ironisnya, ia tidak percaya diri karena merasa bahwa ‘itu’-nya memiliki bentuk aneh. Maka dari itu ia memutuskan untuk ‘melakukannya’ (100 kali) hanya dengan para perjaka saja(!). Tapi masalah lagi-lagi muncul gara-gara karena terus minder oleh bentuk ‘itu’-nya, ia tumbuh menjadi seorang cewek berkesan dingin yang sama sekali ga tau cara berhubungan dengan cowok.

Tentu saja reaksi pertamaku terhadap premisnya adalah “WTF?! Sampah macam apaan nih?!” Tapi begonya aku tetap saja menonton episode pertama itu karena penasaran.

Pokoknya, cerita kemudian bergulir saat pada suatu hari di toko buku ia bertabrakan dengan seorang cowok berpenampilan datar (cowok biasa ini sebenernya punya nama, cuma saking enggak berkesannya dia, namanya sekarang aku lupa) yang kemudian ia pandang cocok untuk dijadikan ‘mangsa’ pertamanya. Untungnya lagi, si cowok ini ternyata duduk bersebelahan dengannya di kelas (semester baru ceritanya baru dimulai). Maka dimulailah segala upaya si Yamada ini untuk ‘menaklukkan’ si cowok yang sejauh ini berakhir dengan hasil mengerikan dan… aduh, aku ga tau kata apa yang tepat. (Sebagai contoh, si Yamada bahkan telat nyadar bahwa proses ciuman biasanya mendahului hubungan seks)

Si cowok malang yang menjadi targetnya ini  ga punya gambaran sama sekali mengenai apa sebenarnya yang sedang terjadi!

Seumur hidup aku ga pernah ngebayangin ada orang yang bisa kepikiran cerita kayak gini. Apa ini realistis? Udah jelas enggak. Apa ini cuma buat lucu-lucuan? Entah ya, soalnya temanya agak terlalu ‘berat’ buat dijadiin lelucon. Bahkan ada seorang reviewer anime profesional yang secara terang-terangan menyebut idenya aja udah terbilang ofensif. Kalopun ada seorang cewek yang bertekad memetik keperjakaan 100 cowok, aku yakin dia ga akan bakal bersifat kayak si Yamada. Kita enggak bisa ketawa karena adegan-adegannya terlalu vulgar. Kita juga enggak bisa serius karena ide ceritanya saja sudah konyol. Jadilah kita dibuat hanya bisa mendesis-desis “Oh my god…” di sepanjang cerita tanpa tahu lagi harus berbuat apa.

(Aku bahkan sampai kepikiran buat menghubungi hotline Pentagon dan meminta mereka meluncurkan ICBM ke studio anime manapun yang memproduksi ini.)

Tapi meski aku mencaci-maki sekarang, aku akan tertap berusaha objektif dan mencoba memahami apa maksud sebenarnya dari pihak yang membuat ini.

Oh tidaaak. Itu berarti aku akan mengikutinya…

Ya sudahlah. Bagaimana nanti saja.

Ah, soal aspek presentasinya… baik visual maupun animasinya tak terlalu menonjol kok. Emang ga jelek sih, tapi juga ga istimewa. Apalagi dengan konsep awal kayak begini.

31/03/2010

Baka to Testo to Shokanjuu

Sebenarnya aku kurang suka dengan genre love comedy. Serial love comedy terakhir yang kutonton adalah season pertama Nogizaka Haruka no Himitsu, yang hingga sekarang pun masih tak yakin kutonton karena apa. (Apa aku… telah dicuci otak?)

Eniwei, terlepas dari itu, aku mulai nonton Baka to Testo to Shokanjuu (Orang-orang Bodoh dan Tes dan Makhluk-makhluk Panggilan) mengingat betapa tak ada lagi tontonan menarik di musim yang lalu. Meski semula kubayangkan akan berakhir sebagai tontonan love comedy generik, terlepas dari idenya, harus kuakui kalo aku mulai nonton karena menilai episode-episode awalnya lumayan lucu.

Tapi belakangan kudapati pilihan naluriku ternyata tepat. Sesudah aku menontonnya hingga akhir, BakaTesto bisa dibilang berakhir jauh lebih bagus dari apapun yang semula kubayangkan..

Enggak mungkin ada orang sebodoh itu ‘kan?

Diangkat dari seri ranobe karya Kenji Inoue (kalo ga salah), BakaTesto berlatar di Fumizuki Gakuen, di mana selain lewat proses ujian, evaluasi untuk para murid juga dilakukan melalui metode canggih di mana setiap murid, atas seizin seorang guru, bisa memanggil shokanjuu (summoned beings, makhluk panggilan, itu loh, seperti yang di RPG). Shokanjuu ini lucunya berupa versi chibi dari sang murid sendiri. Shokanjuu digunakan dalam pertandingan adu kekuatan melawan shokanjuu murid-murid kelas lain. Kekuatan shokanjuu seorang murid bergantung pada seberapa baik nilai-nilainya pada hasil ujiannya yang terakhir. Sedangkan aApa yang dipertaruhkan lewat acara saling adu shokanjuu ini tak lain adalah fasilitas-fasilitas ruang kelas.

Murid-murid kelas A, yang memiliki nilai-nilai paling bagus ditempatkan, bersekolah setiap hari dengan laptop(!), layar TV plasma(!), bantal-bantal dan sofa empuk(!), dan beraneka minuman dingin yang selalu siap sedia(!).

Sedangkan murid-murid kelas F, yang notabene secara akademis merupakan murid-murid paling goblok di angkatan mereka, harus bertahan hidup di dalam ruang kelas bobrok dengan papan-papan kardus bekas sebagai meja(!), dan sebotol lem serbaguna untuk memperbaiki barang apapun yang tiba-tiba rusak.

Satu babak ‘perang’ antar kelas ini baru dinyatakan berakhir bila shokanjuu ketua murid dari salah satu kelas dinyatakan KO (jadi ada unsur strategi dan pembagian ‘pasukan’ dalam setiap ‘pertempuran’ ini). Mata pelajaran apa yang menjadi acuan, yang menentukan kekuatan shokanjuu, ditentukan berdasarkan guru mata pelajaran apa yang ‘diseret’ para murid untuk menjadi juri. Kelas yang menang dalam adu shokanjuu ini kemudian diperbolehkan  bertukar fasilitas dengan murid-murid kelas yang kalah. Dengan demikian, kompetisi untuk meraih nilai bagus dalam ujian di antara para murid diharapkan akan tetap terjaga.

Kamu bahkan tetap ngarang jawaban ngawur di soal pilihan berganda?!

Sudah bisa ditebak, inti cerita serial ini adalah tentang betapa para murid bodoh dari kelas 2-F berupaya menjatuhkan kelas 2-A dalam adu shokanjuu demi bisa mengambil alih fasilitas mewah mereka. Di bawah kepemimpinan Sakamoto Yuuji, sang ketua murid yang dulu dikenal sebagai bocah jenius tapi belakangan jadi pemalas, murid-murid kelas F bermaksud menuntut keadilan demi Himeji Mizuki yang bertubuh lemah.

Himeji adalah seorang siswi cantik baik hati yang dengan kecerdasannya dan nilai-nilainya yang bagus, sebenarnya bisa masuk kelas A, tapi akhirnya malah masuk kelas F karena kebetulan ia jatuh sakit di hari pelaksanaan ujian penempatan. Para tokoh lain yang menonjol dari kelas F adalah Shimada Minami, seorang gadis berdada rata yang mengalami kesulitan baca kanji gara-gara kelamaan di luar negeri, sehingga nilainya yang bagus cuma ada di mata pelajaran matematika saja; Kinoshita Hideyoshi, seorang cowok berwajah cantik yang kerap diangankan oleh para jomblo di sekelilingnya sebagai seorang cewek; serta Tsuchiya Kouta, fotografer mesum berbakat ninja yang memiliki database semua cewek cantik yang ada di sekolah, di samping nilai bagusnya dalam mata pelajaran kesehatan.

Tapi yang menginisiasi revolusi ini sendiri dan yang sekaligus menjadi tokoh utama, adalah murid yang katanya merupakan yang terbodoh dari yang terbodoh dalam sejarah Fumizuki Gakuen: Yoshii Akihisa, yang sehari-hari hidup dengan larutan gula dan garam karena kiriman uang saku dari kedua orangtuanya senantiasa ia gunakan untuk membeli game dan majalah alih-alih bahan makanan.

Ceritanya, sebagai murid dengan nilai paling jelek dari yang terjelek, sebagai bentuk hukuman, shokanjuu milik si Yoshii ini dianugrahi kelebihan berupa kemampuan untuk bantu-bantu dalam mengerjakan tugas-tugas fisik. Jadi selain bisa dipakai buat bantu-bantu mindah-mindahin barang, bersih-bersihin di tempat sempit, dsb., berbeda dengan shokanjuu murid-murid lain, apapun yang dirasakan oleh shokanjuu Yoshii juga akan dirasakan oleh Yoshii sendiri. Baik itu jotosan pelampiasan, enggak sengaja keinjek, pegal-pegal habis ngangkut-ngangkutin barang, ataupun luka-luka yang didapat dari acara adu shokanjuu sendiri (kalo enggak mana bisa posisi ini disebut sebagai posisi hukuman ‘kaan?). Hal inilah yang kemudian menjadi keunggulan lebih(?) yang dimanfaatkan oleh Yuuji dan para guru dalam menyelesaikan berbagai masalah yang kemudian terjadi.

Yah, intinya, keluguan/kegoblokan/sifat baik Yoshii itulah yang kemudian menjadi salah satu aset vital yang dimiliki kelas F.

…Yah, oke, mungkin enggak persis seperti itu sih.

Pokoknya inti cerita kemudian berkembang dengan mengisahkan tentang segala upaya Yoshii dan teman-temannya untuk bertahan hidup, menjalin hubungan timbal balik dengan para guru, terjalinnya cinta segitiga(?) antara Himeji, Shimada, dan Yoshii, hingga persaingan abadi mereka melawan kelas A yang tak lain tak bukan dipimpin oleh si cantik pendiam Kirishima Shouko.

Konyolnya, Shouko diceritakan adalah teman masa kecil Yuuji yang rupanya telah lama memendam cinta mati terhadapnya. Sifatnya teramat posesif dan ia akan melakukan hal-hal ekstrim demi menjaga agar Yuuji tak melirik cewek-cewek lain. Yang dengan demikian pula, ironisnya, akhirnya malah menjadikannya sering hang out bersama anak-anak kelas F, yang akhirnya pula semakin menegaskan betapa tak jelasnya mana hal yang penting dalam serial ini dan mana yang tidak…

Satu adegan konyol secara berkelanjutan disusul dengan adegan konyol lain, sehingga akhirnya… uh, ya, begitulah. Kau dapatkan tontonan mingguan yang ga jelek-jelek amat.

Ternyata aku memang orang yang sebodoh itu…

Mengenai kualitasnya sendiri, BakaTesto sebenarnya lumayan aneh. Ada beberapa episode yang emang bisa bikin orang nyengir dari awal sampai akhir, sembari sesekali ngakak. Tapi ada episode-episodenya yang lain yang anehnya terasa datar, yang hanya sesekali membuat kita mengernyit sambil mengejap-ngejapkan mata. Karena itulah sepanjang masa tayangnya aku lumayan skeptis dengan kualitas akhir seri ini.

Apalagi aku hampir tak tahu apa-apa soal proses produksinya. Tapi terlepas dari anomali eksekusinya itu, seri ini dari luar sudah terlihat menawan dengan warna-warnanya yang cerah dan kualitas animasinya yang bagus. Para seiyuu yang menyumbang suara pun jelas terkesan seperti having fun dalam pembuatannya, dengan peran-peran yang sepertinya mereka hayati dengan ‘agak terlalu mendalam.’

Baru sesudah menonton episode finalnya saja aku bisa bilang dengan tegas bahwa aku menyukai seri ini. Eksekusinya ternyata memang cukup bagus, karena sejumah hal kecil yang semula kelihatan ga berarti ternyata bisa diimplementasikan dalam pencapaian konklusi akhir cerita.

Terlepas dari itu, kalau kalian lagi ingin menonton sesuatu yang enggak berguna yang ‘beda’ dari apa-apa yang pernah ada (terutama yang punya komedi agak berlebihan dan lelucon-lelucon yang rada homo) maka judul ini akan kurekomendasikan. Kualitas seri ini telah terbukti dengan disepakatinya pembuatan season keduanya.

Seperti halnya love comedy kebanyakan, kau ga perlu berharap akan menemukan suatu pesan bermakna di dalamnya. (Yah, oke, kecuali mungkin pesan yang menyatakan bahwa ‘nilai sekolah itu bukanlah segala-galanya.’) Tapi aku berani menjamin kau akan menemukan suatu tontonan yang ‘beda.’

Cheers.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: B+

12/12/2009

Bakemonogatari

Cerita anime ini agak sulit dijelaskan.

Araragi Koyomi adalah seorang remaja kelas III SMA yang kebetulan saja pernah menjadi vampir.

Sekali lagi, pernah. Sekarang, dia sudah bukan vampir lagi.

Tapi meski kini sudah kembali menjadi seorang remaja ‘manusia’, Koyomi tak pernah sepenuhnya menjadi ‘manusia normal’ kembali. Karena suatu alasan, sepersepuluh bagian dirinya tetaplah seorang vampir. Efek samping hal tersebut meliputi daya pulih tubuh yang dipercepat, indera-indera yang menjadi lebih tajam, serta ketakutan berkala terhadap sinar mentari pagi.

Lalu pada suatu hari, saat datang terlambat ke sekolah, Koyomi secara kebetulan menangkap seorang gadis cantik yang terjatuh dari langit.

“Kau benar-benar tahu segalanya ya, Hanekawa-san!”

Yah, oke. Bukan ‘dari langit’ secara harfiah banget. Lebih tepatnya, dari lantai atas yang Koyomi hendak tuju. Gadis itu terpeleset dari tepi tangga karena tak sengaja menginjak kulit pisang yang dibuang sembarangan. Terkejut, Koyomi bergegas menangkapnya sebelum gadis itu terluka. Tapi kemudian ia menyadari adanya satu hal mengherankan.

Gadis cantik itu, yang bernama Senjougahara Hitagi, yang selama tiga tahun ini telah menjadi teman sekelasnya di SMA,  yang meski demikian belum pernah sekalipun diajaknya bicara karena berbagai alasan, ternyata memiliki tubuh yang secara abnormal teramat sangat ringan.

Senjougahara Hitagi ternyata adalah seorang gadis yang hampir-hampir tak memiliki berat.

Penasaran akan kenyataan mengejutkan ini, sepulang sekolah (mungkin) pada hari yang sama, Koyomi, yang juga menjabat sebagai wakil ketua kelas, kemudian bertanya tentang Hitagi pada salah seorang teman sekelasnya yang lain, si gadis ranking satu sekaligus ketua kelas yang serba tahu, Hanekawa Tsubasa, yang kebetulan pernah satu SMP dengan Hitagi dulu. Hanekawa kemudian menjelaskan apa yang diketahuinya tentang Hitagi. Soal bagaimana gadis populer yang dulu menjadi bintang atletik itu sudah berubah drastis semenjak pertama masuk SMA dulu lah, bagaimana dia dia jadi sering absen dari sekolah karena sakit-sakitan lah, jadi menutup diri dan tak bergaul, dsb dsb.

Merasa sudah terlalu lama berada di sekolah sementara dirinya masih memiliki janji lain, Koyomi kemudian berpamitan pada Tsubasa dan pulang duluan. Tapi begitu ia melangkahkan kaki keluar kelas, sebilah mata pisau cutter tahu-tahu disumpal masuk ke dalam mulutnya. Lalu dengan ngeri Koyomi melihat, berdiri di samping pintu kelas, memelototinya dengan mata mengancam, tak lain tak bukan adalah Senjougahara Hitagi sendiri.

“Bukannya aku tahu segalanya, kebetulan saja aku tahu soal ini.”

Hitagi dengan tegas memperingatkan Koyomi untuk berhenti bertanya-tanya tentang dirinya. Singkatnya, Koyomi ia wajibkan merahasiakan segala sesuatu perihal berat tubuhnya pada orang lain. Sebab jika tidak, Hitagi akan lebih dari sekedar mengiris bagian dalam mulutnya saja.

Tapi Koyomi, yang punya gambaran tentang wujud sesungguhnya dari masalah yang Hitagi alami, kemudian dengan nekat menunjukkan bukti bahwa ia pernah mengalami hal serupa (dalam hal ini, menjadi vampir…). Lalu ia berkata pada Hitagi bahwa dirinya mungkin bisa membantunya menemukan solusi terhadap masalah yang dia hadapi.

Hitagi kemudian dengan enggan mengikuti Koyomi ke sebuah gedung sekolah terbengkalai, untuk menemui Oshino Meme, seorang pria lusuh yang tampangnya sama sekali tak seimut namanya. Tak jauh dari tempat Oshino-san berada, terdapat juga seorang anak perempuan manis berambut pirang bernama Oshino Shinobu. Saat Hitagi bertanya perihal ekspresi aneh gadis itu, Koyomi hanya bilang agar dia tak usah terlalu diperhatikan. Jadi biarlah kita tak membahas Shinobu-chan secara mendalam dulu untuk saat ini.

Ternyata pria misterius yang dipanggil Oshino-san ini  dulu pernah membantu Koyomi dan Tsubasa saat mereka mengalami ‘masalah aneh’ mereka sendiri. Sehingga sesinis apapun sikap dan perilaku Oshino, tetap saja Koyomi merasa hormat dan berhutang budi padanya. Alasan Koyomi membawa Hitagi menemuinya ialah, yah, siapa tahu saja Oshino-san juga punya solusi terhadap ‘masalah berat badan’ yang Hitagi hadapi.

Sesudah mempertimbangkannya untuk beberapa jenak, Hitagi akhirnya setuju untuk membiarkan Oshino-san membantunya. Gadis itu kemudian menjelaskan segala sesuatu tentang awal mula berat badannya menghilang, tentang kepiting misterius yang pada suatu hari ditemuinya di jalan, dan… sedikit banyak tentang masa lalunya yang suram…

“Tadi aku gagap.”

Kalau hanya dari sinopsis singkat itu, agak susah menjelaskan Bakemonogatari itu menariknya di mana. Aku sengaja membatasinya karena tak ingin terlalu memberikan spoiler. Karena daya tarik utama seri ini sebenarnya terdapat pada adegan-adegan percakapannya yang sekilas terlihat biasa-biasa saja.

Bakemonogatari (kombinasi dua kata ‘bakemono‘ + ‘monogatari,‘ yang masing-masing berarti ‘monster, jadi-jadian’ dan ‘cerita’), adalah seri anime yang dibuat berdasarkan light novel karangan Nisio Isin, yang merupakan salah satu penulis LN paling produktif saat ini. Berbeda dari seri detektif Zaregoto yang ditulisnya sebelumnya, dalam Bakemonogatari, Nisio-sensei menghadirkan karater dalam jumlah yang sangaaat minimal. Dengan kata lain, sebenarnya tak banyak yang bisa diceritakan dari ceritanya, karena memang sebenernya tak banyak yang perlu diceritakan. Tapi Nisio-sensei mengoptimalkan keterbatasan karakter ini dengan mengeksplorasi sifat-sifat mereka secara penuh.

Ini memang membuat seri ini terkesan terlalu banyak ‘dialog.’ Tapi kalau kau bisa menikmati dialog-dialog tersebut, maka kurasa kau akan bisa menyukai Bakemonogatari.

Intinya, daya tarik utama seri ini lebih terdapat pada tokoh-tokohnya yang kuat dan dialog-dialog cerdas di antara mereka (sekali lagi, aku beneran enggak kepengen ngebahas lebih lanjut tentang ceritanya karena takutnya terlalu spoiler). Maksudku, bukan pembicaraan-pembicaraan berat yang bikin orang ngerasa kejelimet. Melainkan dialog-dialog yang rada muter-muter ke sana kemari, menyinggung hal-hal yang seringkali enggak perlu terlalu disinggung, diselingi lelucon-lelucon acak yang tiba-tiba nongol, berisi satu-dua sindiran terhadap budaya otaku, sehingga kita, enggak akan bosen ngikutin sekalipun itu cuma percakapan doang.

Dalam perkembangan cerita selanjutnya, plot semakin berkembang dengan diperkenalkannya tokoh-tokoh lain baru yang memiliki masalah-masalah mereka sendiri-sendiri (kebanyakan cewek sih). Sesudah pertemuan Koyomi dengan seorang tokoh baru, Koyomi dengan berpegang pada nasihat Oshino akan membantu mereka menuntaskan masalah supernatural mereka masing-masing. Tapi gaya penceritaan Nisio-sensei yang ‘ajaib’ memberikan Bakemonogatari nuansa tersendiri yang membedakannya dari cerita-cerita lain yang memiliki premis serupa.

Apalagi dengan dipadu dengan gaya visualisasi ‘avant garde’ yang menjadi ciri khas sutradara Akiyuki Shinbo dari studio animasi SHAFT! Hasil yang dicapai ternyata meninggalkan kesan yang lumayan dalam. Padahal tak mudah buatku untuk menerima gaya visualisasi ini pada awalnya loh. Waktu pertama menonton episode pertamanya saja, aku langsung “WTFOMGBBQ?! NAA!” karena langsung teringat pada dua seri anime Ef – A Tale of Melodies dan Sayonara Zetsubou Sensei yang memiliki gaya visualisasi serupa, hanya dalam bentuk yang sedikit lebih disturbing (keduanya dihasilkan oleh studio animasi yang sama, soalnya). Tapi ternyata, gaya penggambaran begini cocok juga untuk memaparkan dunia Bakemonogatari yang memang sengaja dikesankan sepi, seolah hanya dihuni para karakter utama saja.

Nisioisin, terlepas dari hobinya memberi para karakter ceritanya nama-nama yang super-duper aneh, memang seorang ahli dalam meramu plot cerita. Sehingga dengan karakter yang jumlahnya tak melebihi sepuluh orang saja, dia sudah bisa membuat cerita yang benar-benar menarik. Ceritanya sendiri kalo dipikir sebenarnya memiliki tema yang agak berat. Tapi cara penceritaannya yang ringan dan tokoh-tokohnya yang rada ada-ada saja itu dengan gampang bisa membuat kita jatuh cinta setiap kali kita ikutin (aku selalu ngakak tiap kali jambul di kepala Koyomi dipakai sebagai bentuk penggambaran perasaannya).

Yea, emang perlu waktu dikit buat bisa nikmatin mengingat semua anime keluaran SHAFT rada-rada aneh. Tapi kau akan benar-benar menikmatinya begitu kau mulai kebiasa.

Cerita yang Belum Kau Tahu

Bakemonogatari secara menyeluruh terdiri atas 15 episode. Tapi hanya 12 episode saja, yang memaparkan kisah cinta yang terjalin antara Koyomi dan Hitagi, yang ditayangkan di televisi. Tiga episode sisanya, yang dengan demikian berarti tamatnya yang sesungguhnya, dirilis belakangan dalam bentuk ONA melalui Internet.

Keputusan yang aneh, memang. Tapi mungkin lebih baik jika kita tak terlalu pikirkan. Terlebih bila kita mengingat bahwa novel asli Bakemonogatari memiliki rangkaian prekuel dan sekuelnya sendiri. Kizumonogatari misalnya, mengisahkan awal pertemuan Koyomi dengan Shinobu (dalam satu episode panjang yang dinamai ‘Koyomi Vamp’). Novel sekuel Nekomonogatari mengisahkan lebih banyak tentang masalah yang dialami Tsubasa, dan sebagainya. Dari gelagatnya, cerita-cerita tambahan tersebut tampaknya juga akan dianimasikan pada suatu saat nanti.

Dengan banyak lagu pembuka dan satu lagu penutup yang agak sulit kulupakan, Bakemonogatari menjadi salah satu seri paling unik yang pernah aku tonton.

Seri ini juga menjadi yang pertama dari rangkaian kampanye animasi Nisioisin yang dilancarkan penerbit (dsb) Kadokawa. Seri Nisio-sensei selanjutnya yang akan dianimasikan adalah Katanagatari, dijadwalkan untuk tahun 2010.

Terus terang saja, sesudah menonton Bakemonogatari, aku juga jadi tertarik untuk tahu lebih jauh tentang karya-karyanya yang lain.

Bagi mereka-mereka yang lebih merhatiin perkembangan tokoh daripada cerita, Bakemonogatari merupakan sesuatu yang wajib buat ditonton! Ah, tapi itupun kalau kau tak berkeberatan dengan gaya fanservice-nya yang agak aneh.

Penilaian (sampai episode 12)

Konsep: B; Visual: A; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

10/04/2009

Clannad

Pada suatu hari, aku membuka profil seiyuu favoritku, Midorikawa Hikaru, di Wikipedia dan mendapati bahwa sekalipun dirinya jelas-jelas otaku mecha seperti aku (sedemikian suka ia terhadap game-game Super Robot Wars, ia tak berkeberatan bila harus mengerjakan dialog-dialog ekstra tanpa dibayar), anime favoritnya ternyata adalah Clannad.

‘Apa?! Apa itu Clannad?’ Demikian pikirku waktu itu.

Apapun itu, yang jelas itu bukan anime mecha.

Seistimewa apa sih Clannad sampai-sampai bisa menarik perhatiannya dari anime mecha sebagai pilihan anime favoritnya? Karena penasaran, aku juga mulai mencoba menontonnya. Ada sekitar 20an episode, produksi tahun 2000an. Setelah aku menontonnya sendiri, baru aku memahami mengapa Midorikawa-san bisa sedemikian suka.

Dango, dango, dango, dango, dango daikazoku…

Gampangnya, Clannad adalah anime bishojo yang diangkat dari visual novel berjudul sama. Agak berbeda dari kebanyakan seri pada genre ini, alih-alih percintaan, Clannad lebih berfokus pada hubungan kekeluargaan dan persahabatan, sehingga serial ini memiliki nuansa khas tersendiri yang ramah dan menghangatkan hati..

(Ya, ini sebuah ‘moe anime’, tapi dalam konteks yang agak baik. Kata ‘clannad’ sendiri konon artinya pertalian keluarga gitu dari bahasa Celtic Irlandia, tapi aku ga yakin.)

Yah, inti ceritanya sendiri adalah tentang kehidupan seorang murid SMA berandalan yang sangat setiakawan bernama Okazaki Tomoya yang pada suatu ketika mendapati jalan hidupnya mulai berubah semenjak berkawan dengan seorang gadis bernama Furukawa Nagisa.

Nagisa adalah seorang gadis bertubuh lemah yang sempat tinggal kelas selama setahun karena sakit. Di masa ketika ia akhirnya bisa masuk sekolah kembali dan mendapati sebagian besar temannya telah tak lagi seangkatan dengannya, terjalin hubungan antara dirinya dan Tomoya, dan juga dengan beragam tokoh lain dalam kehidupan mereka.

Seiring dengan perkembangan yang terjadi, Tomoya kemudian bersumpah untuk membantu Nagisa mewujudkan cita-citanya membangkitkan kembali klub teater sekolah mereka yang kini sudah bubar, sebelum berlangsungnya festival musim panas.

Seperti yang bisa ditebak, sebagian besar tokoh dalam seri ini adalah cewek. Tapi cukup meski menonjolkan keimutan sebagai daya tarik, Clannad tak pernah sampai menampilan fanservice dalam kadar yang rada vulgar. Di balik nuansa ceritanya yang ringan, acapkali komedik, dan sering terkesan seperti dongeng, Clannad menampilkan drama kehidupan berbobot antara tokoh-tokoh yang lumayan nyata. Kayak bagaimana Tomoya memperbaiki hubungan dengan bapaknya, atau bagaimana Nagisa yang begitu terbebani oleh besarnya kasih sayang kedua orang tuanya.

Sebenarnya, arti terpenting yang seri ini miliki adalah bagaimana ia mengingatkan kembali akan betapa besarnya arti sebuah keluarga bagi pertumbuhan setiap orang sebagai insan. Aku tak begitu tertarik dengan seri kelanjutannya, Clannad After Story karena sepertinya sedih. Tapi aku sangat tertarik dengan spin-off-nya, Tomoyo After: It’s a Wonderful Life yang menjadikan seorang tokoh lain (Sakagami Tomoyo) sebagai heroine-nya.

Dengan adegan sedih dan komedi yang bergulir dengan teramat mulus, seri ini kudapati benar-benar menghibur.

….Sedikit tambahan, ternyata ada temanku yang merasa enggak puas sama pendapatku ini! Pada akhirnya, dia malah memberiku segepok episode Shuffle! agar aku punya bahan perbandingan. Tapi, meski seri Shuffle! yang diberikannya itu masih belum kutonton, kupikir, pendapatku tentang Clannad sudah dipastikan takkan berubah.

Penilaian

Konsep: A. Eksekusi: B+. Visual: S. Audio: A. Perkembangan B.  Kepuasan Akhir: A

06/06/2008

Bamboo Blade

Apa ada di antara kalian yang memiliki fetish terhadap cewek-cewek ber-hakama? Jika ada, besar kemungkinan tontonan yang satu ini memang cocok untuk Anda. Terlepas dari itu, tontonan ini sangatlah bagus sekalipun intinya tak ada hubungannya dengan kenyataan apakah tokoh-tokoh cewek yang tampil dalam anime ini mengenakan hakama atau tidak.

Mimpi menjadi seorang pembela kebenaran…

Kawazoe Tamaki, alias Tama-chan bagi sahabat kecilnya, Yuji, dan teman-teman dekatnya, adalah seorang anak perempuan kelas satu SMA yang mendalami olahraga Kendo. Alasannya bukan hanya karena rumahnya merangkap sebagai dojo bagi masyarakat di sekitarnya. Namun juga karena Kendo merupakan salah satu bentuk penyaluran atas kesukaannya terhadap serial tokusatsu favoritnya, Blade Braver.

Suatu hari, guru pembimbing klub ekskul Kendo di sekolahnya, Kojiro, sesudah melihat keahliannya secara langsung, berusaha dengan segala cara merekrut Tama ke dalam klubnya. Belakangan Tama mengetahui bahwa Kojiro telah bertaruh dengan salah seorang sempai-nya untuk mengadu anggota-anggota perempuan di klub Kendo masing-masing. Tama saat itu masih belum menyadari bahwa ini akan menjadi awal perkembangan dirinya bukan hanya sebagai Kendo-ka, melainkan juga sebagai seorang manusia.

dan kenyataan.

Bamboo Blade, dari segala sudut pandang, adalah sebuah tontonan drama anime yang teramat ringan. Tapi jangan tertipu dengan desain-desain karakternya yang imut. Serial ini serius menghadirkan salah satu cerita drama paling berbobot yang pernah aku lihat. Maksudku, ada nilai dan pesan yang disampaikan di balik unsur-unsur komedinya yang tak berlebih. Dan penyampaiannya dilakukan secara bagus, gitu.

Inti ceritanya berpusat pada klub Kendo beranggotakan lima orang cewek dan dua orang cowok yang diikuti Tama ini, sekaligus guru pembimbingnya yang enggak begitu bisa diandalkan, serta masalah-masalah yang mereka hadapi. Jadi enggak, ini bukan serial olahraga yang hanya berfokus pada Kendo doang. Meski pada saat-saat serial ini emang membahas tentang Kendo, pembahasannya dilakukan secara benar-benar baik.

Kayak gimana ya ngebandinginnya? Maksudku, salah satu hal baik tentang serial ini adalah ceritanya enggak menggambarkan Kendo secara berlebihan gitu. Semuanya betul-betul ditampilkan secara wajar dan nyata. Agak serupa dengan kayak gimana olahraga basket ditampilkan dalam Slam Dunk. Lalu penggambaran ini dilakukan secara konsisten sehingga ceritanya benar-benar enak untuk diikuti. (Aku mengatakan ini berdasarkan pengalamanku berlatih Kendo di kampus dulu.)

Masa depan dunia anime kini berada di tangan generasi muda!”

Animasinya menggunakan warna-warna cerah yang… uh, mungkin pada beberapa segi agak kerasa kekanak-kanakan. Musiknya juga sama sekali enggak menonjol. Bahkan terasa dibuat seadanya, meski sama sekali bukan berarti jelek. Tapi walau begitu, ini malah semakin memperdalam kesan ringan yang serial ini miliki, sehingga anehnya, kita justru enggak bosen-bosen melihatnya.

Lalu daya tarik utama yang serial ini miliki, sebenarnya terletak pada kemanisan tokoh-tokoh utamanya. Terutama Tama-chan yang pendiam dan pemalu pada saat biasa, namun luar biasa beringas saat memakai bogu dan memegang shinai. Mereka sebagai sebuah klub mengalami hal-hal yang… benar-benar bisa dikatakan menarik, tanpa pernah terlepas dari semangat kepahlawanan yang diperlihatkan Blade Braver. Bahkan ada satu episode tertentu yang nampaknya didedikasikan secara khusus untuk Goro Taniguchi (sutradara serial-serial anime bermutu seperti Planetes, Code Geass) yang ide tentangnya saja sudah membuatku ngakak. Intinya, kalau kamu alergi sama drama-drama olahraga seperti Slam Dunk atau Eyeshield 21, jangan takut mengikuti serial ini.

Penilaian

Konsep: B. Eksekusi: S. Visual: B(?). Audio: B+. Perkembangan: A. Desain: A.

Kepuasan Akhir: A

Komentar: Ini adalah serial animas kedua yang diangkat dari komik Square-Enix yang benar-benar saya hargai. (Yang pertama adalah Fullmetal Alchemist)

Kosa Kata

fetish : rasa kesukaan berlebih terhadap suatu hal yang tak bisa dijabarkan secara sehat

hakama : celana panjang menggelembung dan berlipat yang tampak seperti rok.

anime : animasi Jepang

dojo : sebutan untuk tempat latihan bela diri Jepang

tokusatsu : sebutan untuk tontonan penuh efek khusus dari Jepang

sempai : senior, rekan yang mendalami suatu bidang mendahului kita, kakak kelas

bogu : perangkat pelindung dalam Kendo

shinai : pedang bambu yang digunakan dalam Kendo