Posts tagged ‘Akiyuki Shinbo’

15/09/2013

Puella Magi Madoka Magica Movie 1+2

Ngebahas soal main stage AFA ID 2013 lalu, pada dua hari pertama sempat diputar kedua film dari proyek Mahou Shoujo Madoka Magica Gekijouban. Film pertama bertajuk Hajimari no Monogatari atau Beginnings (‘awal mula’). Sedangkan film kedua bersubjudul Eien no Monogatari, atau Eternal (‘abadi’ atau ‘keabadian’). Kedua film berdurasi rata-rata dua jam dan cakupan ceritanya bila digabung sepenuhnya meliputi ketiga belas episode seri TV yang ditayangkan pada awal tahun 2011 lalu.

Bagi yang belum tahu (walau aku agak susah percaya kalau ada yang belum tahu), seri Mahou Shoujo Madoka Magica adalah anime bergenre mahou shoujo yang dengan sukses mendobrak segala pakem mahou shoujo yang sebelumnya ada. Proyek besar studio SHAFT ini dibuat lewat kerjasama antara sutradara Shinbo Akiyuki (yang telah dikenal karena sentuhan narasinya yang nyentrik), penulis skenario Urobuchi Gen (yang menuai ketenaran sebagai penulis cerita Fate/Zero), serta desainer karakter Ume Aoki (yang membuat seri manga Hidamari Sketch).

Seri ini mempunyai segala elemen yang lazimnya ada dalam cerita mahou shoujo, tapi berakhir begitu berbeda dari seri mahou shoujo manapun yang pernah ada. Para karakternya imut, adegan-adegan aksinya keren, visualisasinya menyeramkan serta ceritanya gelap dan bahkan tragis. Lalu akhir ceritanya benar-benar memuaskan sekaligus menyentuh.

Aku sudah mengulas tentang seri ini sebelumnya. Jadi aku agak malas membahas soal ceritanya lagi. Tapi keseluruhan ceritanya enggak berubah, dan pastinya, semua karakter lama: Kaname Madoka, Akemi Homura, Tomoe Mami, Miki Sayaka, serta Sakura Kyoko; sama-sama tampil kembali.

Tapi walau ceritanya masih sama, aku tetap akan merekomendasikan untuk menonton kedua film layar lebar ini, soalnya kedua film ini bukanlah film kompilasi.

Sekali lagi, kedua film ini bukan film kompilasi!

Ini kali pertama aku merasa begini. Ceritanya sama. Alur adegan-adegannya sama. Tapi aku merasa seperti sedang melihat sebuah tontonan yang sama sekali baru dan belum pernah kulihat sebelumnya. Hampir seluruh animasinya terasa seperti dibuat dari awal.  Lalu walau aku sudah tahu soal apa-apa selanjutnya yang akan terjadi, kedua film ini tetap benar-benar bisa kunikmati. Ini persis seperti penceritaan ulang sebuah cerita yang sama tapi dengan cara yang berbeda.

Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan telah lamanya sejak aku menonton seri TV-nya juga sih…

Kalau boleh dikatakan, kedua film ini bisa semacam versi extended dari seri TV-nya. Adegan-adegannya agak diperpanjang dan diperbaiki agar lebih jelas penyampaiannya. Lalu sejumlah adegannya diperkeren dan dijabarkan agar lebih gamblang (walau aku sempat bingung soal kenapa adegan mimpi Madoka yang teramat keren di awal seri TV jadi ditiadakan dan hanya disebut selintas untuk versi ini).

Pada film kedua, karakter Madoka dan Mami sama-sama tampil lebih banyak. Jadi ada kepuasan tersendiri menyaksikan aksi lebih banyak dari Madoka dengan busur dan panahnya. (Fufu, kalian yang sudah mengikuti seri TV-nya pasti tahu maksudku.)

Beginnings memaparkan cerita sampai ke pertengahan konflik seputar Miki Sayaka, dan berakhir menggantung dengan cara keren dengan diiringi lagu ‘Magia’-nya Kalafina. Seperti yang terkesan di lagu pembuka baru untuk kedua film ini yang dibawakan duo ClariS, kedua film ini juga seakan mengangkat lebih dalam seputar hubungan Madoka dengan sang murid pindahan misterius yang menjadi tokoh antagonis, Akemi Homura.

Tapi ada suatu kesan tertentu yang bikin aku merasa kalau tetap lebih baik jika kalian mengikuti seri TV-nya dulu sebelum menonton kedua film layar lebar ini. Walau enggak harus juga sih. Soalnya sepanjang seri TV, kita kayak dibikin bertanya-tanya soal cerita ini sebenarnya tentang apa dan bakal dibawa ke mana. Sedangkan pada kedua film ini, jawaban pertanyaan-pertanyaan itu sudah disiratkan sejak awal, dan makanya bagi penonton baru jadinya mungkin enggak sekeren itu lagi.

(Sekali lagi, seluruh adegannya terasa berbeda. Tapi sekali lagi juga, mungkin itu cuma aku.)

Alasan sesungguhnya kenapa proyek film ini dibuat terletak pada dibuatnya film ketiga, Hangyaku no Monogatari, atau Rebellion (‘pemberontakan’), yang akan membeberkan kelanjutan kisah sekaligus kepastian nasib para Mahou Shoujo di atas. Film ketiga ini baru muncul di bioskop-bioskop Jepang pada bulan-bulan ini dan cerita pada film ketiga itu jelas sama sekali baru.

Ada sedikit cuplikan tentangnya pada akhir film kedua, dan telah dipastikan akan adanya kontrak Mahou Shoujo baru yang dibuat Kyubey dengan salah seorang tokoh di sana…

Oya. Aku belum ngebahas soal hal-hal teknisnya.

Keren.

Itu aja.

Efek itungan mundur dan tirai diangkat di awal dan akhir kedua film bener-bener keren. Lalu itu… aktingnya Chiwa Saito di sana… damn. Cara dia ngucapin sejumlah baris dialognya dia di sana aja udah bisa ngaduk emosi buatku dan ngebikin air mataku ngeleleh. (Dirinya menikah belum lama ini btw. Selamat menempuh hidup baru!)

Dramatisasi adegan-adegannya benar-benar dipertahankan. Walau beberapa adegan di film kedua, yakni pembeberan terakhir yang diungkap Madoka soal apa sesungguhnya yang terjadi, serta dilema yang Madoka hadapi berkenaan ibunya, malah jadi muncuat agak tiba-tiba bila dibandingkan dengan di seri TV-nya. Tapi kalau dicermati sampai akhir, maksudnya tetap bisa tersampaikan.

Ngomong-ngomong soal itu juga, bu guru wali kelas Madoka mendapat porsi tayang lebih banyak

Eniwei, ini sekali lagi sebuah tayangan keren yang bikin aku nyesel enggak beli merchandise Madoka apapun selama AFA kemarin. Kalau kau suka Madoka Magica, ini tetap direkomendasikan sekalipun kau pernah mengikuti seri TV-nya.

(Aku agak kaget bila ada yang enggak suka seri ini sih. Tapi ya sudahlah.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: A+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

Iklan
19/03/2012

Nisemonogatari

Berlatar di liburan musim panas sekolah, beberapa minggu sesudah akhir Bakemonogatari, Araragi Koyomi telah dipaksa(?) oleh dua gadis paling berarti dalam hidupnya, Senjougahara Hitagi dan Hanekawa Tsubasa, untuk melewatkan waktunya dengan belajar di rumah. Satu hari dilaluinya di bawah bimbingan Senjougahara. Lalu hari berikutnya akan ia lalui bersama Hanekawa.

Tapi kedamaian yang ia dapatkan berlangsung hanya sementara. Seorang pria asing bernama Kaiki Deishuu kembali hadir di kota. Dan kedatangan pria tersebut hanyalah awal dari serangkaian kesulitan baru yang harus Araragi hadapi terkait urusan-urusan supernatural; dimulai dengan masalah yang dihadapi oleh kedua adik perempuannya: Araragi Karen dan Araragi Tsukihi.

Aku agak malas menjelaskan sisanya. Tapi inti cerita Nisemonogatari (kurang lebih berarti ‘cerita tentang kepalsuan’), yang masih diangkat dari seri light novel karya Nisioisin, memang hanya sebatas itu. Ceritanya benar-benar hanya terkesan sebagai selingan, dan karenanya seri ini jelas tak semenonjol seri pendahulunya.

“Aku pacaran dengan Senjougahara…”

Ada dua bab utama dari seri ini, dengan masing-masing bab memberi fokus pada salah satu adik Araragi (Koyomi), yakni Karen Bee dan Tsukihi Phoenix.

Aku agak heran, karena inti cerita per babnya sebenarnya tak jauh berbeda dari durasi bab-bab di Bakemonogatari. Kalau begitu, apa yang membuat dua bab seri ini bisa sampai sepanjang 11 episode?

Apa iya semua waktu menonton kesebelas episode ini terbuang hanya lewat fanservice semata?

Damn.

Tapi tidak, tidak juga sih. Walau seri ini memang bisa dikatakan fanservice bagi penggemar seri Monogatari Nisioisin (dan pihak studio SHAFT selaku animator tampaknya memahami betul hal ini), dengan hampir semua tokoh lama tampil kembali dan bertingkah, asal kau cermati baik-baik, ada alasan tertentu kenapa semua ditatanya demikian. (Mungkin.)

Sengoku Nadeko yang manis tampil kembali di awal-awal cerita untuk mengingatkan kembali akan kesulitan ular yang dulu ia alami akibat rumor-rumor kutukan yang beredar. Diindikasikan juga bagaimana obsesinya terhadap Araragi memang sedemikian kuatnya, dan kelak menjadi pendorongnya untuk menjadi tokoh antagonis di seri-seri lanjutannya.

Kanbaru Suruga juga tampil kembali di awal-awal dengan memperlihatkan perkembangan keadaannya sesudah roh monyet itu mendiami tangannya. Gadis enerjik ini masih tetap mesum seperti biasa. Tapi diindikasikan bahwa kerabatnya, atau keluarganya, atau bahkan ibunya sendiri, mungkin berkaitan dengan Kaiki di masa lalu…

Hachikuji Mayoi, yang kini tak lagi merupakan roh tersesat, menjadi salah satu sosok yang paling Araragi bisa percayai tentang masalah-masalah supernatural ini, di samping bekas vampir Oshino Shinobu yang kini berdiam di dalam bayangannya. Kita diingatkan kembali akan detil hubungan mereka berdua. Hachikuji juga ditampilkan lebih sering di seri ini dibandingkan sebelumnya.

Berbicara soal Shinobu, digambarkan pula bagaimana hubungannya dengan Araragi mengalami perkembangan berarti di seri kali ini.

Oh ya. Berbicara soal judulnya sendiri, tema ‘kepalsuan’ memang memainkan peranan cukup besar dalam kedua bab seri ini. Aku tak tahu apakah itu hanya kebetulan atau memang menjadi sesuatu yang disengaja oleh Nisioisin. (:P) Tapi begaimana plot dan temanya secara apik menyatu pada kedua bab tersebut menurutku merupakan hal yang benar-benar menarik.

“…dan aku sangat suka Hanekawa…”

Kaiki Deishuu yang merupakan seorang penipu ulung menipu teman-teman sekolah Karen dan Tsukihi. Karenanya, Karen dan Tsukihi yang membentuk duo Fire Sisters menghadapinya untuk membuat perhitungan. Tapi hal yang tak mereka sangka terjadi, sehingga Araragi (Koyomi) jadi mesti turun tangan. Lalu dari sana terungkap pula bagaimana Kaiki juga pernah berkaitan dengan kesengsaraan yang dialami oleh keluarga Senjougahara, serta kutukan ular yang pernah menimpa Nadeko.

Bab Karen Bee diakhiri dengan konfrontasi atas Kaiki yang dilakukan bersama oleh Araragi dan Senjougahara. Dialog yang berlangsung pada adegan ini, seperti biasa, menjadi klimaks yang benar-benar menarik. (Walau mungkin tak seberkesan seharusnya sih.)

Bab Tsukihi Phoenix sendiri berkisah seputar identitas sesungguhnya dari Araragi Tsukihi, yang terungkap bersama kedatangan seorang wanita misterius bernama Kagenui Yozoru dan adik perempuannya(?), Ononoki Yotsugi. Pada bab ini juga dibeberkan kaitan yang Kagenui dan Kaiki pernah miliki dengan Oshino.

Tapi walau aku mengatakannya begitu, sebagian besar durasi Nisemonogatari benar-benar hanya diisi dengan fanservice. Fanservice-nya juga bukan tipe yang main-main, melainkan yang benar-benar mengeksploitasi sisi tak tahu malu Koyomi dan membuat para penonton berpikir, “Sial. Aku ingin membunuh orang ini. Aku ingin membunuh Araragi Koyomi. Aku ingin membunuh Nisioisin.”

Begitu.

Terutama sehubungan dengan kelakuan Koyomi terhadap kedua adiknya.

Mungkin Koyomi memang main-main. Mungkin itu semua hanya pembalasan Koyomi atas segala perlakuan buruk yang kedua adiknya pernah lakukan padanya di masa lalu. Tapi, yah, kau tahu maksudku.

Bagusnya, segala hal berarti dalam ceritanya nampaknya memang mereka sampaikan kok. Aku tak sepenuhnya yakin, karena porsi Tsukihi Phoenix jauh lebih sedikit dibandingkan Karen Bee. Tapi cerita utamanya sepertinya tertuntaskan (meski berakhir dengan tulisan ‘bersambung’), dan belum jelas apa akan ada ONA sebagai kelanjutan.

Apa ada alasan tertentu mengapa SHAFT membuatnya begini? Apa iya sebagian besar isi kedua jilid novel Nisemonogatari memang hanya basa-basi belaka?

Aku sampai merasa mereka yang masih mengingat Unlimited Rulebook itu apa di akhir seri layak untuk mendapatkan pujian.

“…tapi yang kelak ingin kunikahi cuma kamu, Hachikujiiiiii!” | “Gyaaaaaaa!”

Berbicara soal hal teknis, bila kalian sudah pernah melihat Bakemonogatari, maka kalian bisa membayangkan sendiri visualisasinya macam apa. Kebanyakan orang mungkin takkan terlalu mempedulikannya karena sisi nakalnya sih. Tapi kalau kuperhatikan baik-baik, kurasa cara SHAFT menangani visualisasi di Nisemonogatari benar-benar keren.

Timing setiap gerakannya itu bagus gitu. Benar-benar pas sesuai dengan suaranya. Efeknya tak terlalu kena ke kita karena ceritanya kayak gitu,tapi mungkin juga karena dunianya terkesan makin aneh, seri ini benar-benar enak dilihat kok. Begitu kau terbiasa dengan gayanya, tampilan Nisemonogatari bisa lumayan mengesankan secara bawah sadar.

Dari segi suara… Aku tak bisa bicara banyak sih. Lagu tema utama seri ini yang berjudul ‘Naisho no Hanashi’ dan memberikan warna ceria(?) dibawakan oleh pasangan duet ClariS. Meski bukan lagu supercell, Ryo yang bertanggung jawab atas aransemennya. Dan jadinya lagu ini memang menarik.

Argh, sudahlah.

Singkatnya, kalau kau penasaran dengan kelanjutan Bakemonogatari, kau takkan punya pilihan selain menonton ini. Memang terkesan agak enggak guna sih. Tapi kalau melihat seri novelnya, seri ini memang akan menjembatani apa-apa yang akan terjadi selanjutnya, dan mungkin saja ada detil cerita (sangat) tersamar di dalamnya yang aku lewatkan.

Di sisi lain, kalau kau tak sebegitu maniaknya terhadap Bakemonogatari, maka seri ini takkan terlalu kurekomendasikan. Detil-detil soal apa yang berlangsung di dalamnya bisa kau cari di media lain, kalau-kalau suatu saat kelak ada lanjutannya yang akan menarik minatmu.

Hei, setidaknya kedua bab seri ini tetap berakhir manis.

Meski mereka tak banyak berperan di dalamnya, tampilan baru Senjougahara dan Hanekawa sesudah musim panas menjadi daya tarik lebih.

Lalu di akhir cerita, Senjougahara pun telah memotong rambutnya, menampakkan senyumannya, pertanda bahwa kepribadian dan perasaannya telah pulih seperti sedia kala.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C-; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

21/02/2012

Nisemonogatari – Karen Bee (news)

Jadi, bab pertama dari Nisemonogatari, Karen Bee, belum lama ini berakhir pada episode ketujuh. Seperti yang kuperkirakan sebelumnya, dua bab seri ini sepertinya menjadi semacam penghubung bagi paruh cerita seri Monogatari yang berikutnya. Nyaris semua tokoh yang berperan dalam musim tayang sebelumnya (Bakemonogatari) tampil kembali di sepanjang bab ini. Lalu secara tersamar (gara-gara banyaknya fanservice!) dibeberkan lumayan banyak petunjuk dan foreshadowing tentang masalah-masalah yang para tokoh ini akan hadapi dalam perkembangan cerita ke depan. Maksudku, bila kita memperhatikan cerita dari novel-novel aslinya yang ditulis oleh Nisio Isin, apa-apa yang akan mereka alami sesudah cerita Nisemonogatari ini berakhir.

Kesanku sejauh ini? Aku agak merasa tim animator di studio animasi SHAFT kali ini sudah berlaku agak terlalu seenaknya. Ada banyak adegan fanservice dan referensi acak terhadap anime lain (mulai dari Akira sampai ke Hokuto no Ken) yang secara tiba-tiba dilontarkan ke dalam cerita. Dan hal ini, kayak yang mungkin aku pernah bilang, menjadi distraksi yang menjadikan banyak sekali hal penting tentang ceritanya menjadi tersamar.

Sebenarnya, hal serupa terjadi juga di Bakemonogatari sih. Gara-gara cara penyampaian ceritanya melalui dunia yang terkesan sureal ini. Tapi hal tersebut di Nisemonogatari terasa lebih lagi, dan membuat ceritanya jadi terkesan tak berbobot—walau hal itu sebenarnya bisa agak dimaklumi, mengingat luasnya cakupan cerita, serta gimana ‘sajian utama’ yang sebenarnya masih bakal dihadirkan nanti. (Satu detil penting yang gampang terlupakan oleh penonton adalah bagaimana Senjougahara  turut kehilangan ‘kemampuannya untuk merasa’ saat berat badannya hilang oleh si kepiting di Bakemonogatari, dan alasan tersebut menjelaskan mengapa kepribadiannya bisa aneh dan ekstrim pada cerita sejauh ini.)

Eniwei, seperti yang sudah kukatakan juga sebelumnya, Nisemonogatari berfokus pada kedua adik perempuan si tokoh utama, Araragi Koyomi, yakni si enerjik Araragi Karen dan si rumahan Araragi Tsukihi, yang masih duduk di bangku SMP. Sikap naif kedua adiknya dalam bertingkah sebagai pembela kebenaran membawa mereka pada masalah serius saat harus berhadapan dengan Kaiki Deishuu, musuh lama yang telah menjadi salah satu penyebab tak langsung keretakan keluarga Senjougahara Hitagi, sekaligus masalah kutukan ular yang menimpa Sengoku Nadeko dan teman-teman SMP-nya.

Ada kabar bahwa masa tayang Nisemonogatari hanya 11 episode. Sehingga bila melihat bagaimana bab Tsukihi Phoenix yang berikutnya akan hadir, memiliki panjang yang kurang lebih sama dengan Karen Bee, gelagatnya bakal ada episode-episode yang akan dirilis sebagai ONA lagi deh. Tapi soal itu, mari kita lihat saja perkembangannya nanti.

16/09/2011

Nisemonogatari (news)

Pengumuman resmi yang dimuat di situs ANN menyebutkan bahwa Nisemonogatari, sekuel seri horor remaja Bakemonogatari karya Nisio Isin, akan mulai mengudara adaptasi anime-nya pada bulan Januari mendatang, atau tepatnya, pada masa tayang musim dingin 2012. Seri TV baru ini meneruskan pengalaman-pengalaman supernatural siswa SMA sepersepuluh vampir Araragi Koyomi, dengan fokus lebih kepada dua adik perempuannya, Araragi Karen dan Araragi Tsukihi.

Karen dan Tsukihi (yang dijuluki ‘Fire Sisters’ di SMP mereka) pada seri sebelumnya lebih berperan sebagai tokoh minor. Tapi di sini keduanya akan mendapat sorotan dengan episode mereka masing-masing. ‘Karen Bee‘ untuk si tomboi Karen, yang mengisahkan ketika ia disengat sebuah lebah misterius yang membuatnya demam sampai tiga hari. Lalu ‘Tsukihi Phoenix‘ untuk si pemarah Tsukihi, yang mengisahkan bagaimana Tsukihi mendapati hadirnya sebuah entitas supernatural hebat di dalam tubuhnya.

Detil lanjut soal ceritanya, aku masih belum tahu. Tapi yang pasti di seri ini akan diperkenalkan dua dari tiga kolega lama Oshino Meme, yang menggantikan perannya sebagai sang ahli supernatural sepeninggal dirinya di akhir Bakemonogatari, sekaligus memainkan peranan sebagai tokoh-tokoh antagonis: Kaiku Deishuu, sang penjual informasi; serta Kagenui Yozuru, onmyouji wanita yang ditemani shikigami-nya, Ononoki Yotsugi.

Beralih ke soal teknis, studio SHAFT masih akan menangani pengerjaan animasinya, dan Shinbo Akiyuki masih akan menjabat peranan sebagai sutradara.

Hm. Apa lagi yang bisa kukata?

Yay.

12/05/2011

Puella Magi Madoka Magica

Ketika aku mendengar berita bahwa sutradara Akiyuki Shinbo dari studio SHAFT ingin menghasilkan seri anime yang orisinil dan bertema mahou shoujo (gadis penyihir), aku sudah punya perasaan bahwa hasilnya pasti bakal lain dari yang lain. Sekurang-kurangnya layak diperhatikan. Terlebih sesudah mendengar bagaimana beliau mendiskusikannya dengan penulis Urobuchi Gen, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu penulis di perusahaan game Nitroplus sekaligus pengarang seri novel Fate/zero.

Gagasan tentang sebuah anime mahou shoujo yang bertema serius ini (sesuai gaya Urobuchi Gen) saja sudah menarik perhatian. Lalu sesudah mengikutsertakan Ume Aoki, pengarang manga Hidamari Sketch, sebagai desainer karakter awal, tak butuh lama sampai karya yang membuat penasaran para otaku ini keluar: Mahou Shoujo Madoka Magica, atau Puella Magi Madoka Magica, sebuah seri mahou shoujo yang di balik desain imutnya, bernuansa cukup gelap dengan tema cerita lumayan berat.

Bagi yang belum mendengar atau tahu apa-apa tentang orang-orang di balik pembuatannya, promo gencar Madoka mengesankan anime gadis penyihir ringan yang biasanya disukai oleh anak-anak perempuan. Namun pada kenyataannya, ini sebuah seri dramatis dengan adegan-adegan aksi keren yang secara konsisten menampilkan tema-tema pengorbanan dan kepahlawanan, membuatnya mungkin lebih cocok untuk konsumsi masyarakat seinen (cowok-cowok berusia sekitar 20 tahunan).

Seri ini pertama keluar pada masa tayang musim dingin 2011. Namun penayangan dua episode terakhirnya sempat tertunda hingga pertengahan April menyusul terjadinya bencana gempa tsunami di Jepang pada Maret 2011, yang diikuti kegentingan reaktor nuklir Fukushima. Episode-episode terakhir Madoka memang agak bernuansa apokaliptik, sehingga penundaan penayangannya bisa dikatakan masuk akal (terlebih studio SHAFT sendiri kemudian mengakui bahwa mereka memang mengharapkan waktu lebih untuk pengerjaannya). Tapi yang keren dari hal ini adalah desas-desus soal bagaimana dua episode tersebut belakangan menjadi inspirasi para sukarelawan untuk berpartisipasi mempertaruhkan nyawa demi membantu penuntasan permasalahan Fukushima di atas.

Bahkan untuk ukuran anime SHAFT, Madoka jelas bukan anime biasa. Ini benar-benar salah satu seri yang membuatku lebih terkesima dari bayanganku.

Dekonstruksi Genre Mahou Shoujo

Kalau menilik episode-episode awalnya, alur cerita Madoka sekilas memang terkesan seperti tipikal anime mahou shoujo kebanyakan.

Kaname Madoka adalah seorang siswi SMP ceroboh/baik hati/agak rendah diri karena merasa biasa-biasa saja, yang berharap dirinya bisa diandalkan agar dapat lebih membantu orang-orang di sekelilingnya. Sampai suatu pagi, ia terbangun dari sebuah mimpi di mana dirinya memandangi sesosok gadis berambut hitam panjang yang tampak tak asing, yang balas memandanginya dalam suatu lingkungan penuh kehancuran. Secara mengejutkan, gadis tersebut pada hari yang sama muncul dalam kehidupan Madoka sebagai murid pindahan baru yang bernama Akemi Homura.

Madoka yang ketua kelas berupaya berteman dengan Homura, tetapi Homura terbukti bersifat dingin dan menjaga jarak. Madoka bertanya-tanya tentang bagaimana Homura bisa muncul dalam mimpinya sebelumnya, padahal seingatnya baru sekali itu mereka bertemu.

Indikasi bahwa ada sesuatu yang ajaib pada diri Homura terbukti saat Madoka, bersama sahabat sekelasnya, Miki Sayaka, ketika membeli CD sepulang sekolah, tiba-tiba mendengar suatu panggilan telepatis memohon bantuan dari sesosok makhluk ajaib imut yang bernama Kyubey. Upaya Madoka dan Sayaka untuk menemukan dan menolong Kyubey membawa mereka sampai terperangkap dalam dimensi lain yang dikuasai seorang majou (‘wanita penyihir’, witch, kasarnya, ‘nenek sihir’), satu dari makhluk-makhluk jahat dari kegelapan yang bertanggung jawab atas segala bentuk pembunuhan dan keputusasaan. Hanya berkat pertolongan Tomoe Mami saja, kakak kelas mereka yang seorang mahou shoujo, keduanya bisa selamat. Pada kesempatan yang sama, terungkap pula bahwa Homura seperti Mami adalah seorang mahou shoujo, dan ternyata sosok misterius yang sebelumnya mengejar-ngejar Kyubey tidak lain adalah Homura sendiri!

Pada Madoka dan Sayaka, Mami kemudian menjelaskan segala sesuatunya tentang Kyubey dan mahou shoujo. Dengan satu permohonan yang dapat dikabulkan secara ajaib sebagai imbalan, Kyubey dapat menjalin kontrak dengan gadis-gadis seusia mereka untuk menjadikan mereka mahou shoujo yang bertugas memburu para majou. Madoka terkesan dengan kehebatan Mami sebagai mahou shoujo dan berharap bisa menjadi satu seperti dirinya. Sebaliknya, Mami menasehati Madoka dan Sayaka untuk memikirkan baik-baik permohonan apa yang akan mereka minta pada Kyubey.

Madoka, yang terlahir dalam keluarga sederhana yang sangat berkecukupan dan bahagia, sempat kebingungan dengan permohonan apa yang sebaiknya ia minta. Namun Homura, mengetahui hubungan baru mereka dengan Mami, secara misterius menentang minat Madoka dan Sayaka untuk menjadi mahou shoujo juga. Cerita kemudian berkembang dengan terungkapnya satu demi satu konsekuensi dari kontrak yang dilakukan dengan Kyubey, yang ternyata sama sekali tak ‘seindah’ bayangan para tokoh utama. Pertanyaan tentang siapa sebenarnya Homura, bagaimana hubungan antar sesama mahou shoujo, asal usul para majou, mewarnai semakin gelapnya seri ini.

Tetapi meski mengetahui kebenaran segalanya, Madoka, yang masih belum menemukan permohonannya, mendapati diri tak mampu mengalihkan mata saat mengetahui bahwa Walpurgisnacht, majou terkuat, tak lama lagi akan mendatangi kota mereka. Kebimbangan Madoka semakin memuncak seiring dengan semakin kuatnya godaan Kyubey yang menyatakan bahwa Madoka telah ditakdirkan untuk menjadi mahou shoujo terkuat sepanjang masa…

Tamerai wo nomohoshite! Kimi ga nozomu MONO ha nani? Konna…

Madoka memang lebih berat ke aspek drama dan misteri. Tapi saat ada adegan-adegan aksi, adegan-adegan aksinya itu benar-benar keren kok. Dibandingkan anime-anime keluaran SHAFT lain, pada banyak bagian, visualisasinya terbilang sedikit lebih cerah. Daya tarik visual Madoka terutama tampak pada penggambaran bangunan-bangunannya serta eksekusi adegan-adegan aksinya, yang biasa terjadi dalam dimensi para majou yang secara eksotis dianimasikan dalam bentuk potongan-potongan kertas dan kolase.

Yuki Kajiura, yang terkenal dengan komposisi-komposisi dramatisnya, turut dipilih untuk menangani aransemen musik. Grup musik yang beliau gawangi, Kalafina, berkontribusi pula dengan menyanyikan lagu penutup berjudul ‘Magia’ yang menurutku secara pribadi sangat menggambarkan intisari cerita seri ini. Animasi pembukanya sendiri diiringi lagu ‘Connect’ yang dinyanyikan Claris. Berlawanan dengan kesan umum seri, animasi pembuka ini bernuansa cerah sampai setidaknya detik-detik terakhir yang menampilkan Madoka dan Homura saling berhadap di puncak sebuah bangunan, yang menurutku memberi kesan luar biasa keren.

Singkat kata, meski mungkin agak berat untuk penonton awam dan tak akan cocok dengan sebagian orang, Madoka benar-benar seri yang layak ditonton. Ada pesan berharga agar kita berpantang menyerah sekalipun saat dihadapkan pada keputusasaan, dan pesan tersebut dipaparkan dengan cara yang benar-benar berkesan. Pengaturan tempo ceritanya benar-benar gila. Sekalipun hanya 12 episode, ceritanya luar biasa padat dan benar-benar dituturkan secara efektif.

Yah, tak dapat disangkal, ada ke-moe-an tingkat tinggi di dalamnya sih. Tapi kurasa untuk sekali ini hal tersebut bisa kuterima tanpa banyak masalah.

Oh ya, dikabarkan sejumlah spin off tengah dikerjakan berkenaan seri ini. Tapi soal itu lebih baik kuceritakan lagi nanti.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

20/07/2010

Bakemonogatari (end)

Setelah dibuat menunggu selama setengah tahun (atau bahkan lebih?), episode terakhir seri horor remaja yang diangkat dari rangkaian light novel karangan Nisio Isin ini akhirnya keluar juga. Bagian terakhir dari rangkaian tiga episode sisa yang dirilis melalui Internet tersebut menuturkan penyelesaian masalah yang harus sang tokoh utama,Araragi Koyomi, hadapi sebelum mentornya soal hal-hal gaib, Oshino Meme, pergi meninggalkan kota. Bersama dua episode terakhir dari seri TV-nya, bab berjudul ‘Tsubasa Cat’ mengetengahkan permasalahan siluman kucing yang kembali dihadapi teman sekelas Koyomi, Hanekawa Tsubasa.

Sejumlah hal yang terungkap pada episode ini adalah penyebab sesungguhnya stres yang melanda Tsubasa, yang menjadi pemicu dirasukinya ia oleh sang siluman; serta ke mana sesungguhnya vampir ‘majikan’ Koyomi, Oshino Shinobu, menghilang. Hal baru lain yang secara mengejutkan ditampilkan adalah sejumlah adegan kilas balik dari waktu Koyomi baru diserang vampir, di mana ditampilkan pula sosok asli Shinobu (meski waktu itu ia masih belum dinamai ‘Shinobu’) saat masih berwujud dewasa.

Apa ini indikasi bahwa bab Koyomi Vamp dari cerita tambahan Kizumonogatari akan dianimasikan? Siapa tahu. Yang jelas, disebutkan pula dalam iklan bahwa novel sekuel berjudul Nekomonogatari, yang mengetengahkan lebih banyak soal Tsubasa, sudah pasti akan keluar dalam waktu dekat. Sedangkan soal adaptasi anime Nisemonogatari, sekuel langsung seri ini yang mengetengahkan dua adik Koyomi, Karen dan Tsukihi, sama sekali belum ada kabar berita.

Hal lain yang setidaknya sudah pasti adalah bahwa dengan berakhirnya bab Tsubasa Cat ini, maka adaptasi anime Bakemonogatari ini secara resmi pula berakhir.

Seri ini ditutup dengan kunjungan terakhir Koyomi dan teman-temannya ke gedung bimbel terbengkalai, untuk mendapati bahwa Oshino benar-benar telah pergi. Hubungan Koyomi dengan kekasihnya, Senjougahara Hitagi, kembali berlanjut sebagaimana sebelumnya. Demikian pula hubungan Koyomi dan Tsubasa, meski Koyomi tahu mungkin sekarang belum waktunya ia bertanya-tanya tentang penyelesaian luka hati yang Tsubasa rasakan. Festival sekolah berlangsung normal. Lalu sesudah semua yang terjadi, kelas Koyomi menampilkan atraksi rumah hantu.

Perdebatan terakhir antara Koyomi dan si siluman di episode ini menurutku cukup keren. Bagaimana mereka saling menyerang satu sama lain berkenaan segala yang telah terjadi dimulai dengan apik dan ditutup dengan mengesankan. Bagi kalian yang menganggap semua percakapan ini membosankan, maka aku mesti tanya: NGAPAIN JUGA KALIAN NGIKUTIN SERI INI AMPE TAMAT?! Lalu meski adegan penutupnya tidak memberi kesan mendalam seperti adegan terakhir di seri TV—di mana Koyomi dan Hitagi pergi bersama-sama untuk melihat bintang—ada suatu kesan ‘beres’ di episode ini yang bisa dibilang memberikan perasaan ‘tuntas’. Tentu saja masih ada sejumlah materi sekuel yang bisa kita harapkan akan dianimasikan kemudian.

Gaya pengarahan Shinbo Akiyuki masih avant garde seperti sebelumnya. Banyak kilasan teks yang muncul tiba-tiba untuk menggambarkan perasaan Koyomi, serta penggunaan simbolisme tak lazim untuk menggambarkan situasi yang terjadi. Aku jadi bertanya-tanya apa sesungguhnya yang menjadi penyebab lamanya episode ini keluar. Apa iya karena para staf SHAFT sibuk memperbaiki detil untuk versi DVD? Tapi hei, aku enggak berada dalam posisi di mana aku pantas ngeluh! Jadi aku enggak akan komentar lebih lanjut soal itu. Di samping beberapa frame nudity yang sebenarnya tak perlu-perlu amat (karena emang ga berhubungan dengan cerita), maka secara garis besar aku bisa bilang kalau aku puas.

Kuharap nanti akan ada lagi tontonan yang merangsang pikiran seperti ini.

Penilaian

Konsep: B+; Visual:A; Audio: A+; Eksekusi A+; Pengembangan: B; Kepuasan Akhir: A

19/07/2010

Arakawa Under the Bridge

Fuih, akhirnya aku kesempetan nonton ini sampai tamat.

Arakawa Under the Bridge (yang untuk gampangnya berarti ‘di bawah jembatan Arakawa’) adalah seri anime gag comedy keluaran studio SHAFT. Seri ini diangkat dari manga berjudul sama karya pengarang… (aku lupa namanya) dan disutradarai oleh Shinbo Akiyuki yang eksentrik itu.

Kualitas penyajian dan eksekusinya tak perlu diragukan lagi. Penggunaan frame-frame close up, penggunaan filter warna, penggunaan simbolisme(?) aneh ga jelas, semua ciri khas yang ada pada gaya Shinbo tetap ada. Meski demikian, mesti diakui kalau secara garis besar, gaya penyutradaraan Shinbo di seri ini terkesan lebih ‘normal’ daripada biasanya (dibandingkan Bakemonogatari dan seri Sayonara Zetsubou Sensei). Mungkin hal itu dikarenakan tema anime Arakawa ini juga bisa dibilang lebih aneh daripada biasa, sehingga aspek ‘normal’-nya mesti ia tambahkan demi tercapainya ‘keseimbangan’.

‘He’s Frickin Green!’

Ada terlalu banyak adegan komedi bagus/aneh di Arakawa. Jadi aku enggak tega buat ngasih spoiler.

Tapi garis besar ceritanya adalah seputar pengusaha muda jenius yang agak-agak egois bernama Ichinomiya Kou, yang semenjak kecil telah dididik keras oleh ayahnya untuk tidak pernah berutang budi pada orang lain, yang kemudian terjatuh ke sungai Arakawa dari atas jembatan (aku enggak tega nyeritain alasannya kenapa) dan ditolong oleh gadis cantik misterius berambut pirang yang dipanggil Nino-san.

Nah, Kou ini enggak sanggup membiarkan dirinya berhutang budi pada Nino. Baru sesudah dipaksa-paksa, Nino menyebutkan apa yang kira-kira ingin diterimanya sebagai balas budi karena telah menolong Kou. Nino bilang kalau selama ini dia ingin punya pacar, dan jadilah Kou tak punya pilihan lain selain menjadi pacar Nino dan hidup bersamanya di bawah jembatan; mengingat yang namanya kekasih itu selalu bersama-sama bukan?

Tapi Kou kemudian mendapat gelagat buruk tentang peran barunya ini saat Nino dengan cueknya menjelaskan bahwa dirinya adalah ‘pendatang’ yang berasal dari planet Venus, dan karenanya hidup sendiri di bawah jembatan tanpa keluarganya yang lain.

Gelagat buruk yang dirasakan Kou semakin bertambah sesudah ia bertemu sang lurah (aku enggak tega nyeritain lurahnya kayak apa). Sang lurah memberi Kou nama baru sebagai prasyarat untuk tinggal di daerah sungai Arakawa: Recruit, yang seolah mengindikasikan kalau dirinya berada di posisi terbawah dibandingkan para penduduk lain (sebuah penghinaan terhadap ego-nya yang tinggi).

Maka jadilah Kou ‘pindah rumah’ ke bawah jembatan sungai Arakawa. Iapun berkenalan dengan para penghuni lain di bawah jembatan Arakawa yang jelas-jelas bukan manusia normal.

Meski ia diperkenalkan sebagai tokoh yang agak-agak menyebalkan, segala hal aneh yang dilaluinya bersama Nino dan tetangga-tetangganya yang lain secara bertahap mengubahnya menjadi manusia lebih baik.

Sensus Penduduk

Paruh pertama seri membahas tentang perkenalan Recruit dengan tetangga-tetangganya yang baru, yang seringkali dari satu keanehan membawanya ke keanehan yang lain. Karena ceritanya memang ‘aneh’, kelucuan yang ditampakkan seri ini kebanyakan adalah kelucuan karena dihadapkan pada hal-hal absurd. Mulai dari saat Recruit diseret mengikuti misa di gereja di bawah jembatan milik seorang veteran perang bernama Sister, sampai saat Recruit menyadari bahwa di bawah jembatan bahkan ada peternakan, yang diurusi seorang perempuan sadis yang gemar melecehkan orang bernama Maria.

Baru pada paruh kedua seri, karakter ayah Recruit yang pemimpin perusahaan diperkenalkan lebih lanjut, dalam upayanya untuk membangun ulang wilayah di bawah jembatan, yang dengan demikian akan merelokasi para penduduknya ke tempat lain.

Anime ini benar-benar aneh. Jadi besar kemungkinan kau takkan menyukainya bila mengharapkan sebuah tontonan dengan cerita yang ‘jelas’. Tapi semua keanehan di Arakawa tak sampai ke tingkat yang ofensif bagi penonton kok. Bahkan aku yang semula merasa para tokoh tetangganya ini akan menyebalkan jadi terkesan karena hingga akhir seri, aku tak bisa bilang kalau aku bisa membenci mereka.

Season 2 anime ini sudah disetujui dan kini tengah berada dalam proses produksi.

Menonton anime ini, kita akan dibawa ke suatu nuansa surealis yang entah bagaimana membuat kita mempertanyakan makna dan kebenaran norma-norma sosial yang selama ini kebanyakan orang anut. Kilasan-kilasan filsafat yang ditampilkan sebagai pembukanya bisa jadi mengandung makna yang lebih dalam dari yang tersirat.

Soal audio: kualitas musik, pengisi suara, dan latar belakangnya sama sekali tak perlu diragukan. Sakamoto Maaya yang menjadi salah satu seiyuu favoritku mengisi suara Nino, dan sebagainya.

Cukup lumayan bila kau sedang bosan dengan segala tontonan lain yang ada di pasaran.

Penilaian

Konsep: B; Visual: A; Audio: A; Eksekusi: S; Pengembangan: C+: Kepuasan Akhir: A-