Posts tagged ‘AIC A.S.T.A.’

13/03/2016

Aura: Maryuin Kouga Saigo no Tatakai

Sesekali, aku perlu menulis sesuatu secara cepat. Jadi untuk kali ini, aku akan menulis soal ini.

Aura: Maryuuin Kouga Saigo no Tatakai (judulnya kira-kira berarti ‘Aura: perjuangan terakhir Maryuin Kouga’), atau yang juga dikenal dengan judul Aura: Maryuin Koga’s Last War, merupakan film animasi layar lebar keluaran tahun 2013 yang diangkat dari light novel berjudul sama buatan Romeo Tanaka yang aslinya diterbitkan tahun 2008. Seperti yang sebelumnya pernah aku singgung, aku punya perasaan agak gimanaa gitu terhadap karya-karya Romeo Tanaka-sensei, dan itu menjadi sebab utamaku memeriksa film layar lebar ini.

Alasan lainnya karena penyutradaraannya dilakukan oleh Kishi Seiji, dengan komposisi seri yang dibuat Uezu Makoto serta naskah buatan Kumagai Jun. Produksinya dilakukan oleh AIC A.S.T.A. dan susunan staf produksinya waktu itu menurutku benar-benar solid. Durasinya sendiri sekitar satu setengah jam.

Langsung saja ke intinya. Film layar lebar ini punya dua tokoh utama: Satou Ichirou yang disuarai oleh Shimazaki Nobunaga, dan teman sekelasnya(?), Satou Ryoko, yang dihidupkan lewat suara lembut khas milik Hanazawa Kana. Pada dasarnya, film ini bercerita soal bagaimana mereka bertemu dan saling mengenal.

Inti ceritanya adalah… lagi-lagi, tentang chuunibyou.

Dragon Terminals

Sebelumnya mesti kuakui, mulanya, aku enggak tahu kalau tema cerita ini adalah tentang chuunibyou. Aku bukan penggemar seri Chuunibyo demo Koi ga Shitai! (aku mengerti kalau seri itu bagus, jadi tolong jangan pukul aku) yang di sekitaran waktu itu sedang populer season pertamanya. (Buat yang agak lupa, itu keluar di tahun 2012.) Karenanya, pas melihat sendiri filmnya, aku kaget karena ini lagi-lagi cerita tentang anak-anak remaja yang harus bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia khayalan mereka.

Aku semula malah mengira Aura adalah seri bertema sains fiksi yang mengisahkan tentang bagaimana Ichirou, si tokoh utama, mendapati sekolahnya ternyata tempat bersemayamnya gerbang-gerbang ke dunia lain saat ia tanpa sengaja pada suatu malam melihat Ryoko berkeliaran di dalamnya. Ceritanya kemudian berkembang lagi dan lagi, saat kita menyelami lebih banyak ke latar belakang pribadi Ichirou dan Ryoko. Tapi sebelum sampai ke sana, aku benar-benar sempat heran sendiri.

Aku sempat kecewa begitu menyadari ini. Tapi pas menjelang akhir, aku enggak bisa enggak sedikit menyukainya, karena suatu alasan yang enggak begitu kupahami pada saat itu.

Setelah kupikir beberapa waktu kemudian, alasannya karena berbeda dari Chuunikoi yang notabene merupakan komedi romantis, Aura adalah cerita drama yang meski punya beberapa adegan (komedi?) yang bikin “Hah?”-nya, penggarapannya terus terang lebih berbobot dan serius. Ceritanya… bernuansa sedikit lebih suram, gelap, dan lebih to the point.

Mungkin juga itu karena cara pembawaan di materi aslinya yang dibuat Romeo Tanaka. Itu yang kumaksud. Kayak, ada sesuatu yang selalu membuatku penasaran pada cara penceritaan beliau, meski di akhir, cerita jadinya enggak selalu bisa kusukai.

Ada seorang temanku yang kebetulan melihat ini di waktu kurang lebih sama denganku. Lalu di akhir, dia membenci film ini. Mengenal temanku yang sifatnya memang serius, aku enggak kaget dengan reaksinya ini sih. Tapi memikirkannya belakangan, aku jadi sadar: pesan yang disampaikan film ini kayaknya memang bisa disalahpahami/disalahartikan, dan karena itu juga film ini tak terlalu dikenal?

Baliknya, mungkin ke soal apa kita tunduk pada pengharapan orang lain atau enggak. Tapi entah ya.

Kalau bisa, aku tak ingin terlalu berdebat soal pesannya, dan lebih ingin menekankan kalau ada sesuatu yang ‘kudapat’ dari film ini ketimbang sebaliknya.

Menara Meja

Bicara soal teknis, sekali lagi, ada nuansa ‘suram’ yang film ini tampilkan. Mungkin karena kuatnya nuansa kelabu yang ada dalam visualnya, yang berupaya menonjolkan nuansa keseharian yang biasa. Di sisi lain, ada kesan kuat yang diperlihatkan pada adegan-adegan ‘menakjubkan’ ketika Ryoko muncul, serta pada desain karakternya sendiri. Tapi meski tak benar-benar ada yang bisa dibilang jelek, kalau dipikir ulang, secara umum animasi visualnya tak kuat juga. Meski demikian, sekalipun jumlah karakter yang bernama notabene agak banyak, fokus selalu kayak berhasil terarah pada Ichirou dan Ryoko. Jadi karenanya, aku cuma bisa bilang hasilnya beneran efektif.

Suara Hanazawa-san sebagai Ryoko di sini seriusan juga menjadi daya tarik bagi sebagian orang. Soalnya, ini salah satu perannya di mana ia memperlihatkan suara lembut khasnya yang telah membuat banyak penggemar jatuh hati.

Satu hal lain yang patut kusinggung, lagu penutup “Bokura no Sekai” ternyata dinyanyikan CooRie, yang sebelumnya lumayan banyak terdengar pada pertengahan dekade 2000an lewat lagu-lagunya di Midori no Hibi dan School Days. Rasanya agak mengejutkan mendengar suaranya lagi.

Akhir kata, ini film anime yang termasuk solid kalau kalian suka tema-tema drama remaja begini. Tak terlalu ringan dan tak terlalu berat juga, dengan cerita yang langsung tuntas dengan sekali jadi. Untuk kalian yang tertarik dengan tema-tema begini (atau kalau kalian sepertiku, tertarik dengan karya-karya Romeo Tanaka), kusarankan untuk kalian memeriksanya.

Eh? Terus Maryuin Kouga yang ada di judulnya itu siapa?

Ah, itu sosok di masa lalu Ichirou yang harus dipanggilnya kembali untuk satu pertempuran terakhir di masa sekarang.

(Eh? Soal aura? Kalo ga salah itu sesuatu yang disinggung tokoh utamanya sebagai sesuatu yang dapat membedakan mana orang normal dan mana yang bukan.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

 

 

 

Iklan
24/09/2012

Jinrui wa Suitai Shimashita

Mungkin enggak ada gunanya aku mengatakan ini, tapi sebagai penulis, aku sempat tertarik dengan apa yang namanya visual novel. Bukan apa-apa ya. Cuma, dengan kesederhanaan fitur, media visual novel itu bisa mendatangkan pengalaman memasuki dunia lain yang sedikit beda dengan apa yang dihadirkan lewat film atau buku. Argh, gimana mengatakannya ya?

Yah, sebut saja, di samping fitur keinteraktifannya, plus ditambah adanya gambar dan suara, kita enggak pernah benar-benar bisa yakin kapan cerita yang kita baca dalam sebuah visual novel bakalan berakhr. Soalnya enggak ada indikasi berapa jumlah halaman tersisa, berapa sisa durasi waktunya, dan sebagainya.

Yah, lalu, pada masa-masa aku sedang meneliti perkembangan visual novel yang bagus dari Jepang tersebut (situs VNDB lumayan banyak membantu buat hal ini; asal tahu saja, ada banyak judul yang ditampilkan di dalamnya yang bersifat NSFW), tentu saja aku sampai pada berbagai rekomendasi judul visual novel yang dianggap yang terbaik sepanjang masa.  Salah satunya, yang dipandang temanku sebagai VN terbaik favoritnya, adalah Cross Channel, dan itulah kali pertama aku mengenal nama Romeo Tanaka.

Aku enggak bisa ngebayangin isi kepala Tanaka-sensei saat beliau menulis naskah Cross Channel itu gimana. Cerita dan gaya narasinya itu… beneran aneh. Inti ceritanya tentang sekelompok remaja yang diasingkan dari masyarakat di dalam sebuah kota terpencil akibat ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial. Lalu karena suatu alasan misterius, ingatan mereka sesudah waktu seminggu akan selalu d-reset ulang. Lalu ceritanya, sebagian dari mereka yang tergabung dalam klub penyiaran berupaya memperbaiki menara pemancar yang rusak untuk sekedar bisa mengetahui masih adakah orang-orang lain yang tersisa di dunia selain mereka. Tokoh utamanya itu seorang karakter cowok yang meski maksudnya mungkin baik, tingkat kemesuman otaknya sudah benar-benar di luar nalar. Dan mungkin karena aku belum cukup bisa sabar atau gimana, aku tak tahan membaca VN itu sampai selesai.

Lalu pada musim panas 2012 ini, anime Jinrui wa Suitai Shimashita (‘umat manusia telah mengalami kemunduran’) yang diangkat dari seri novel karya Tanaka-sensei mengudara. Lalu untuk beberapa lama aku tak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Di akhir, aku tetap bersyukur karena bertahan mengikutinya sih.

Maksudku di sini, aku beneran bersyukur.

Itu Terlalu Negatif

Di masa depan, peradaban manusia telah kehilangan kejayaannya. Apa yang tersisa di dunia hanyalah puing-puing dari segala prestasi yang dulu umat manusia capai. Teknologi dan ilmu pengetahuan secara berangsur menghilang. Namun demikian, walau populasi mereka sudah tidak lagi sebanyak dulu, walau hidup harus mereka jalani dengan serba keterbatasan, manusia di zaman ini telah hidup dalam kedamaian.

Mungkin premis yang mengingatkanku akan Yokohama Kaidashi Kikou menjadi daya tarik utama seri ini bagiku. Tapi fokus cerita ini sebenarnya bukan berbagai persoalan zaman. Melainkan kaum peri, yang pada suatu ketika tiba-tiba saja muncul, dan diyakini hadir di Bumi untuk menggantikan manusia sebagai ‘umat manusia yang baru’ …

Kaum peri ini… kecil. Sebesar, mungkin, ibu jari. Pakaian mereka cerah. Wujud mereka imut. Mereka tak menampakkan diri kepada semua orang. Tapi saat mereka menampakkan diri… yah, intinya, fenomena-fenomena yang mereka timbulkan menjadi hal paling awal yang tampak sih. Dan fenomena-fenomena yang kumaksud di sini adalah berbagai tingkah dan ulah yang mereka lakukan. Karena mereka sangat suka bergembira (di samping kue-kue dan makanan manis), jadi ide baru apapun yang terlihat menggembirakan bagi mereka dengan cepat akan menyebar sebagai semacam tren yang muncul secara seketika. Lalu mereka didukung oleh kemampuan dan teknologi membangun yang sudah di luar daya pemahaman manusia—seperti sihir! Dan, yea, fenomena-fenomena yang mereka ciptakan acapkali menimbulkan kehebohan.

Karena itu, organisasi PBB mewadahi secara khusus orang-orang yang dipandang bisa berhubungan baik dengan mereka, yang pada dasarnya menjadi duta antara kaum manusia dan peri.

Tokoh utama cerita ini adalah seorang gadis yang menjadi salah satu duta itu. Bersama kakeknya yang menjadi atasannya, beserta seorang anak lelaki handal namun sangat pendiam yang menjadi asistennya, berbagai pengalaman bersama kaum peri mereka alami—yang sedikit banyak memberikan banyak renungan tentang sifat dan arti keberadaan manusia di muka bumi.

OMG, Rotinya! Rotinyaaaaa!

Sial. Susah menggambarkan seri ini secara baik.

Meski bernuansa dongeng fantasi, ada terlalu banyak hal yang—sekilas—keji dan agak terlalu berlebihan yang ditampilkan di dalamnya (walau ditampilkannya juga secara main-main).  Maksudku, meski maksudnya komedi ada elemen-elemen absurditas dan satir di dalamnya! Makanya (kayak Cross Channel juga) ini jelas bukan sesuatu yang bakalan bisa disukai semua orang. Tapi berbeda dari Cross Channel, aku bisa suka seri ini. Karena… gimana ya? Mungkin karena aspek-aspek khusus dewasanya berkurang? Mungkin karena seri ini memang lucu dan menyentuh hati dengan cara yang sama?

Aku juga sebenarnya enggak yakin.

Soalnya daripada isi ceritanya sendiri, bagaimana ceritanya disampaikan adalah apa yang membikin cerita ini jadi bagus. Para tokohnya enggak benar-benar dibeberkan namanya. Dan kita lebih mengenal mereka karena tampang dan sifatnya daripada karena nama mereka sendiri (seperti si Aku yang menjadi tokoh utama, si Kakek, lalu si Asisten, dsb.). Tapi kita bisa menyukai mereka semua. Tokoh Aku yang membawakan cerita ini beneran gampang kusukai. Komentar-komentar pesimis cerdasnya yang ia selipkan dalam narasi dia kerap bikin aku ngakak. Lalu kaum peri (yang dilahirkan tanpa nama, namun masih punya kemampuan ajaib buat saling membedakan satu sama lain) semuanya benar-benar imut dan menggemaskan (walau mereka sebenarnya enggak kalah pesimisnya dibanding si tokoh utama, mereka selalu digambar dengan senyuman lebar). Salah satu kekonyolan cerita ini adalah bagaimana suatu fenomena aneh bisa terjadi semata-mata karena dorongan keinginan mereka untuk bisa makan yang manis-manis. Di samping itu, alur cerita ini juga kerap maju-mundur, dan memberikan pemahaman lebih dalam terhadap dunianya dengan cara yang sebelumnya tak terbayangkan.

Seri novelnya masih terus berlanjut, tapi animenya diakhiri dengan kesan lumayan kuat. Ada beberapa episode yang tingkat aneh-nya terlampau sukar diikuti orang-orang awam sih. Tapi begitu kau bisa melewati episode-episode itu, sisa episode terakhirnya (bagiku, seenggaknya) beneran luar biasa.

Dengan Ini Secara Resmi Aku Menjadi Penggemar Nakahara Mai

Bicara soal hal-hal teknis, visualisasi latar seri ini dikhususkan berbentuk 2D dengan gaya menyerupai lukisan-lukisan cat air. Pewarnaannya karena itu jadi terkesan terbatas, dan anime ini dari awal sampai akhir (kecuali di episode-episode tentang manga) benar-benar terkesan seperti buku gambar bergerak. Mungkin perlu sedikit waktu buat membiasakan gaya gambar ini sih. Tapi alasan mengapa gaya gambar ini dipilih bisa kupahami. Dan aku enggak bisa habis pikir gimana visual di episode-episode terakhirnya bisa memukauku sekalipun dengan hanya gaya gambar kayak begini.

Para karakternya enggak terlalu digambarkan seperti itu sih. Kesemuanya, baik yang utama maupun sampingan, digambar dengan cara lumayan normal. Semua desain karakternya cukup bisa berkesan tanpa terlalu menonjol, terlebih bila melihat gimana mereka semua pada dasarnya adalah orang-orang biasa.

Soal audionya, damn, aku enggak menyadarinya di awal, tapi aku beneran harus mengakui kalau itu bagian terbaik seri ini. Soalnya, tanpa pengisi suara dan BGM-nya yang bagus ini, seri ini enggak akan ada apa-apanya. Susah menjabarkannya. Mungkin karena seri ini secara menyeluruh bukan jenis yang akan langsung kau suka, but the kind that kinda grows on you. Lagu pembuka dan penutupnya juga bukan jenis yang menonjol pada awalnya.

Singkat kata, sang sutradara, Seiji Kishi, beneran berhasil dalam segala aspek di seri ini. Aku sebelumnya merasa tempo penceritaannya cenderung bermasalah bagiku, menilai dari Angel Beats! dan Persona 4 The Animation yang juga disutradarainya dulu. Tapi dengan ini, aku harus mengakui kalau dia beneran salah satu sutradara anime paling menonjol saat ini. Nama-nama lain yang kurasa layak diingat adalah Uezu Makoto sebagai penulis skenario dan Sakai Kyuuta sebagau sutradara animasi utama.

Bicara sedikit soal publikasinya, seri novel Jinrui pertama terbit tahun 2007 di bawah bendera Gagaga Bunko-nya Shogakukan dan hingga kini masih berlanjut. Ilustratornya sempat berganti dari Yamasaki Tooru ke Tobe Sunaho pada tahun 2011, dan gambar Tobe-sensei yang kemudian dijadikan acuan untuk desain anime ini. Lalu sekurangnya sudah ada tiga adaptasi manga oleh sejumlah pengarang berbeda. Tapi soal ini, kurasa aku tak akan bahas lebih banyak.

Seri ini… kusuka karena mengingatkanku akan besarnya arti rasa syukur dan kerja keras. Serius, dalam satu dan lain hal, semua tokoh di seri ini pekerja keras, dan sebagai seorang pemalas sejati yang punya pandangan hidup tak kalah pesimisnya dari mereka, sifat mereka benar-benar membuatku tergugah.

Jadi mungkin di akhir, pada akhirnya seri ini kusuka karena memang cocok dengan kepribadianku saja.

Penilaian

Konsep: B+; Visual B+; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A

16/04/2012

Tokimeki Memorial Only Love

Kenapa ya, tiba-tiba aku kepengen nulis tentang ini?

Tokimeki Memorial Only Love adalah anime komedi romantis keluaran studio AIC ASTA yang mengudara pada akhir tahun 2006. Anime ini diangkat dari game Tokimeki Memorial Online yang belum lama itu diluncurkan oleh pihak produsen game Konami (server game-nya aktif dari paruh akhir tahun 2005 sampai ditutup pada tahun 2007).

Aku dulu… menontonnya benar-benar semata-mata karena iseng. Karena semenjak dulu, aku memang telah mempunyai ketertarikan terhadap waralaba Tokimeki Memorial punya Konami. Cuma, karena jenis permainannya pada waktu-waktu itu bukan genre yang ada peminatnya di barat, aku akhirnya jadi agak merana karena game-gamenya tak pernah kesampaian untuk diterjemahkan.

Lalu adaptasi anime dari gamenya yang paling pertama, meski menarik, sebenarnya… oke, sebenarnya juga pada akhirnya itu pun enggak sempat kutonton.

Terlepas dari itu, buat yang belum tahu, Tokimeki Memorial (‘kenangan yang membuat hati berdebar’) adalah waralaba dating simulation sangat terkenal yang telah mulai dirilis Konami semenjak tahun 1994. Ini agak berbeda dari game klik-klik biasa yang mungkin kalian bayangin. Tokimeki Memorial bukan visual novel simpel di mana kalian tinggal milih percabangan rute yang tepat untuk ngedapetin si cewek.

TokiMemo merupakan game bernuansa romantis di mana kalian (pemain cowok, kecuali jika yang kalian mainkan adalah versi Girl’s Side…) mensimulasikan tiga tahun kehidupan masa SMA. Kalian mesti membangun parameter statistik kalian dengan rajin belajar, berolahraga, mengikuti ekskul, dsb. serta berinteraksi dan membangun hubungan dengan banyak sekali tokoh lain yang mewarnai tiga tahun kehidupan masa SMA kalian. (Perbandingan paling gampang buatnya di masa sekarang adalah game-game Persona 3 dan Persona 4, hanya saja tanpa elemen dungeon crawling serta rentang waktu yang lebih dari hanya satu tahun.) Lalu barulah ceritanya menjelang kelulusan, karakter cewek yang paling berhasil kau dekati akan menyatakan cinta.

Permainannya terbilang benar-benar chaste dan relatif bersih dari hal-hal yang nakal. Tapi nuansa yang ditawarkannya benar-benar menarik, dan juga dengan elemen-elemen RPG bertebaran di dalamnya gitu. (Kalian yang sempat mengikuti Boku wa Tomodachi ga Sukunai! pada beberapa waktu lalu juga akan punya sedikit gambaran tentangnya.)

Eniwei, kembali ke anime yang kita bahas, mengingat nuansa episodik yang diusungnya, singkat cerita, anime ini berkisah tentang seorang murid pindahan cowok bernama Aoba Riku, yang karena sejumlah kebetulan bertubi, menjadi menarik perhatian banyak sekali orang di SMA Tsugumi yang baru dimasukinya.

Cowok perhatian, baik hati, yang sebenarnya tak ingin terlalu menarik perhatian ini, kemudian terlibat hubungan dengan tiga orang cewek sekaligus: Amamiya Sayuri, teman sekelas Riku yang anggun dan sangat populer; Kasuga Tsukasa, gadis tomboi anggota tim bola voli yang secara tak sengaja pernah ditabraknya; serta Mina Yayoi, adik kelas pemalu dari klub renang yang pernah ditemuinya di perpustakaan. Seluruh karakter lainnya di anime ini pada dasarnya merupakan karakter-karakter orisinil dari game-nya juga.

Anime ini sendiri berkisah seputar beragam drama dan petualangan yang Riku jalani (terutama saat ia dilibatkan dalam berbagai event aneh yang diadakan oleh sang ketua dewan siswa yang eksentrik, Sakurai Haru) dalam rentang waktu satu tahun saat ia bersekolah di SMA Tsugumi.

Motto sukoushi… atta sukoushi…

Aku tak bisa bilang anime ini memiliki plot cerita yang jelas. Fokusnya lebih ke segala ‘ketidaklaziman’ yang Riku hadapi sehari-hari sih. Memang ada aspek drama antar karakter. Tapi aspek dramanya tak benar-benar bisa dibilang realistis. Nuansa romantisnya yang kukira menjadi daya tarik utamanya… hmm, kita katakan saja nuansa romantisnya enggak selalu hadir di setiap episode. Hahahaha.

Tapi, entah ya, ada sesuatu tentang anime ini yang membuatmu perlahan suka asalkan kau tahan menontonnya. Semua tokohnya itu mempunyai daya tarik anehnya masing-masing, sehingga kau bila terlanjur kenal tak bisa tak sedikit penasaran tentang apa selanjutnya yang terjadi. Ada berandalan berbadan super besar bernama Doujima Kyouhei yang belum apa-apa sudah mendeklarasikan diri sebagai pelindung Amamiya Sayuri. Tapi belum apa-apa juga Doujima sudah dihajar oleh seekor anak ayam bernama Hiyokokko yang dengan segera berteman dengan Riku, dalam adegan terkenal yang membuktikan bahwa dirinya bukanlah nomor satu terkuat di sekolah. Lalu teman-teman sekelas cowok Riku mempunyai kebiasaan aneh untuk bercerita tentang serangkaian legenda tentang Amamiya Sayuri yang konon sudah tersebar secara internasional. Ada beragam guru, beragam kakak kelas, serta banyak tokoh berarti(?) lain yang kerap hanya muncul dalam satu episode. Pokoknya, begitulah. It’s amusing in a strange way.

Rasanya enggak banyak hal penting yang terjadi sampai dua pertiga durasi cerita. Tapi tahu-tahu saja menjelang akhir udah kerasa bagaimana ada banyak hubungan yang udah terjalin. Dan dinamika antara Riku dengan ketiga cewek di atas (dengan cara aneh juga) kemudian benar-benar menjadi sorotan utama seri ini. Meski bagaimana persisnya rasa suka antara mereka pertama terbangun kurang begitu jelas, para tokoh utamanya benar-benar tahu-tahu telah berhasil meraih simpati. Dan mengingat Riku pada akhirnya cuma akan memilih seseorang, rasanya benar-benar heartbreaking bagi dua cewek yang lain.

Aku sebenarnya enggak terlalu pandai dalam menilai soal hubungan antar orang gini. Tapi dalam zaman sekarang di mana kebanyakan hubungan antar pribadi menjadi sesuatu yang gampangan dan bergantung materi, hal-hal tulus yang anime ini usung menjadi sesuatu yang lumayan menyegarkan. Aku terus terang memang agak kecewa dengan anime ini. Yah, nuansa romantis penuh pengharapan kayak yang dulu karakter Fujisaki Shiori cerminkan di TokiMemo paling awal mungkin enggak benar-benar ada. Tapi anime ini tetap mempunyai sesuatu yang lain gitu.

Mungkin enggak sebanding dengan durasi yang kau habiskan untuk menontonnya sih. Mengingat ada 25 episode untuk versi siaran TV dengan tambahan 2 episode untuk versi DVD.

Tapi, yah begitulah.

Jadi, bila kau tak berkeberatan dengan tokoh-tokoh yang ‘berwarna-warni’, penonjolan karakter-karakter utama cewek (yang wajar buat anime kayak gini), dan benar-benar mengharapkan suatu nuansa yang cerah tanpa realisme dan drama yang berat, mungkin ini sesuatu yang bisa jadi pilihan. Siapa tahu juga, ada semangat yang bakal bisa kau temukan bila melihatnya.

(Ya, ya, aku jadi keinget juga soal gimana maksud awal ditulisnya blog ini adalah untuk membahas anime-anime lawas. Aku beneran sudah mulai tua. Ya, sudahlah.)

Penilaian

Konsep: X; Visual: B+; Audio: B+; Pengembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B