Lanjut ke konten
Iklan

Posts tagged ‘action’

Berserk

Berserk membuatku merasa seperti orang kecanduan waktu aku pertama kali membacanya.

Aku pertama dengar tentangnya sewaktu masih SMA, tapi aku baru benar-benar melihat dan membacanya sekitar sepuluh tahun lalu. Aku masih mahasiswa di kala itu. Itu adalah masa ketika komik-komik josei dan seinen masih terbatas penerbitannya di Indonesia. Level Comics baru akan ada beberapa tahun kemudian. Jadi, sewaktu aku diperkenalkan pada Berserk bersama seabrek manga bergenre seinen lainnya (yang diterjemahkan oleh fans), yang termasuk di antaranya Blame!, Homunculus, dan MPD Psycho, aku benar-benar terkesima. Temuan itu benar-benar kayak harta karun pada masa itu. Soalnya, mengingat komik-komik yang dominan di Indonesia saat itu adalah genre shonen dan shoujo, komik-komik seperti itu belum pernah kutemui sebelumnya.

Di antara temuan tersebut, Berserk adalah yang paling menonjol. Aku terpukau oleh ceritanya. Ilustrasi-ilustrasi latar dan pemandangannya benar-benar indah dan membuatku sampai menahan nafas. Lalu latar dunia abad pertengahannya lumayan kena ke titik lemahku. Tentu saja, adegan-adegan aksi dan kekerasannya membuatku sampai lebih sesak nafas lagi.

Pada awalnya, Berserk memang sekilas berkesan seperti cerita yang sekedar menonjolkan adegan-adegan kekerasannya saja (sama kayak gimana Maken-Ki! hanya menonjolkan soal fanservice, misalnya) . Kekerasannya benar-benar sadis. Monster-monsternya kerap menjijikkan. Lalu apa-apa yang terjadi di dalamnya ditampilkan mengerikan, dan buatku di awal, lumayan menguji batas ketahanan. Lalu dalam perkembangannya, tiba-tiba saja ceritanya jadi bagus.  Tahu-tahu saja ada banyak adegan dialog bermakna mendalam yang bahkan hingga sekarang kadang membuatku berpikir.

Berserk sudah terbit sekitar 20-an buku di masa itu. Pertama terbit tahun 80an, ceritanya termasuk sudah jauh tapi masih belum ada tanda-tanda bakal tamat. Selama sekitar dua minggu (atau mungkin sebulan, kalau dihitung bersama beberapa judul komik lain; iya juga, MPD Psycho juga kabarnya mau tamat), kerjaan utama yang benar-benar aku ingat hanyalah membaca Berserk.

Aku seriusan kecanduan.

Meski ada pelajaran-pelajaran soal kehidupan yang aku dapat dari membaca Berserk (dan manga-manga lainnya di masa itu), aku jadi lumayan mengabaikan soal kuliah. Tapi kalau misalnya aku ditanya apa aku merasa buang-buang waktu dengan membacanya, maka jawabannya kurasa adalah enggak.

Manusia Takkan Bisa Melawan Takdir

…Yah, sedikit bahas soal latar belakangnya dulu.

Berserk adalah manga fantasi gelap karya Miura Kentarou (dengan dibantu Studio Gaga) yang terbit sejak tahun 1989. Penerbitannya dilakukan melalui Hakusensha. Genrenya seinen, dan seri ini dikenal sebagai salah satu manga dark fantasy paling menonjol dan berpengaruh yang pernah dibuat.

Materi ceritanya… sekali lagi, benar-benar untuk dewasa.

Di dalamnya, ada banyak adegan kekerasan yang sampai berulangkali bisa bikin orang berjengit (seperti adegan kepala remuk dan bola mata sampai meloncat keluar). Ditambah lagi, karena dunianya yang memiliki aspek barbar, ada lumayan banyak kekerasan seksual yang digambarkan terjadi di dalam ceritanya.

(Seriusan, mending kamu jangan membacanya kalau kamu belum cukup umur.)

Tapi di antara semua darah yang tertumpah, dan semua tragedi serta kehilangan, ada saat-saat introspeksi yang mengandung makna yang mendalam. Terlepas dari kekerasannya, yang tertuang lewat adegan-adegan aksi dan horornya, kerap ada pembahasan soal falsafah hidup juga. Lalu ada kajian tentang kondisi-kondisi kejiwaan para karakternya. Lalu ada tema berulang soal cita-cita, soal pantang menyerah meski di ambang keputusasaan. Jadi kalau kalian memang belum waktunya untuk memahami hal-hal kayak gini, besar kemungkinan ke sananya kalian tetap bakalan enggak ngerti (dan akhirnya kalian cuma jadi teracuni oleh adegan-adegan kekerasannya saja).

Saat ini kutulis, seri ini telah terbit sebanyak 37 buku dengan bab-bab yang diterbitkan secara agak tak beratur semenjak tahun 2006. Ceritanya sekarang sudah berkembang sangat jauh, dan masih belum benar-benar jelas tamatnya kira-kira kapan. (Selain karena ceritanya yang kompleks, serta artwork-nya yang kedetilannya memukau, salah satu alasan serialisasinya lama konon karena sempat ada masa ketika Miura-sensei tergila-gila main The Idolm@ster.)

Selain manganya, sempat ada adaptasi anime dalam bentuk seri TV yang tayang pada tahun 1997-1998 sebanyak 25 episode. Seri ini dikenal sebagai Berserk: Kenpuu Denki (subjudulnya kira-kira berarti ‘kisah-kisah angin pedang’). Produksinya dilakukan studio Oriental Light and Magic (OLM), Inc. Seri ini disutradarai Takahashi Naohito (sutradara Figure 17 dan Koutetsu Tenshi Kurumi). Naskahnya secara mencolok disusun oleh Imagawa Yasuhiro. Sedangkan musiknya ditangani oleh Hirasawa Susumu (yang musik gubahannya yang bernuansa eksperimental memang menjadi salah satu inspirasi Miura-sensei selama membuat Berserk). Meski ceritanya memodifikasi banyak aspek dari manganya (terutama penekanan lebih ke tema ambisi dan persahabatan ketimbang supernatural, dan hilangnya satu karakter yang menonjol di manganya) berhubung status manganya yang masih berjalan, anime ini tetap menjadi media pertama yang memperkenalkan Berserk ke banyak orang.

Setelah satu dasawarsa lebih, pada tahun 2012-2013, barulah ada adaptasi anime dari Berserk dibuat lagi. Kali ini dalam format trilogi film layar lebar, Berserk: The Golden Age Arc, mengadaptasi bagian cerita paling terkenal dari manganya yang mengetengahkan masa lalu para tokoh utamanya. Anime ini menonjol karena mengimplementasi CG modelling untuk menggambarkan adegan-adegan peperangannya yang kolosal (walau porsi CG-nya yang masih belum sempurna berkurang drastis pada film kedua dan ketiganya). Produksinya kali ini dilakukan Studio 4°C. Sutradaranya adalah Kubooka Toshiyuki. Naskahnya dibuat oleh Okouchi Ichirou. Musiknya kini ditangani Sagisu Shirou dengan masih dibantu Hirasawa Susumu.

Selebihnya, selama pertengahan dekade 90an, ada beberapa adaptasi ke dalam bentuk game yang ceritanya lebih berstatus side story. Kalau tak salah, semuanya muncul di konsol Sega Saturn. Tapi dalam waktu dekat, akan ada game baru lagi yang dibuat oleh Koei Tecmo berjudul Berserk Musou yang bergaya Dynasty Warriors.

Saat ini kutulis, ada adaptasi ke bentuk seri TV baru yang mulai ditayangkan pada musim panas tahun 2016. Akhirnya, ceritanya merupakan kelanjutan dari bab masa lalu yang ditampilkan dalam dua adaptasi sebelumnya. Produksinya diprakarsai oleh Liden Films, dan ditangani lewat kerjasama animasi antara GEMBA dan Millepensee. Sutradaranya kali ini adalah Itagaki Shin (yang sebelumnya paling dikenal sebagai sutradara Basquash!). Naskahnya ditangani oleh Fukami Makoto dan Yamashita Takashi. Lalu musiknya kembali ditangani Sagisu Shirou.

…Tapi Manusia Bisa Terus Menentangnya, Selama yang Mereka Mau

Berlatar di suatu dunia abad pertengahan yang selama bertahun-tahun telah dilanda perang, Berserk berkisah tentang perjalanan seorang ahli pedang misterius bernama Guts.

Guts, yang dikenal sebagai ‘ahli pedang hitam,’ adalah pria besar dan kekar yang senantiasa berzirah gelap dengan jubah berwarna hitam. Mata kanannya senantiasa terpejam, mengindikasikan bola mata yang telah remuk. Tangan kirinya adalah tangan palsu yang terbuat dari logam, yang selain dapat dipasangkan busur otomatis, juga dapat berfungsi sebagai meriam. Di dadanya, tersampir seperangkat pisau lontar. Lalu di punggungnya, Guts membawa sebilah pedang raksasa berukuran sebesar tubuhnya yang ‘terlalu besar, terlalu kasar, dan terlalu berat untuk bisa disebut pedang.’

Karena selalu menyendiri dan bersikap kasar dan kejam, Guts ditakuti orang awam. Lalu konon, ia juga selalu terlihat di tempat-tempat di mana kekacauan pernah terjadi.

Tanpa sepengetahuan banyak orang, di bagian belakang leher Guts, tertoreh sebuah lambang yang dari waktu ke waktu akan nyeri dan berdarah. Terutama terasa saat malam menjelang, lambang tersebut akan mengundang makhluk-makhluk halus dari dimensi kegelapan untuk mencoba memangsa Guts, yang menjadi alasan Guts menyandang pedang raksasanya tersebut. Sayangnya, sedikit sekali saksi mata yang bertahan hidup sesudah menyaksikan langsung hal ini.

Di awal cerita, mengikuti naluri, kabar-kabar burung, serta rasa nyeri yang terasa pada lambang di lehernya, Guts berkelana memburu monster-monster berwujud manusia yang disebut Apostle. Apostle adalah sosok-sosok pemanga manusia, yang sebenarnya telah menjual kemanusiaan mereka untuk bisa berwujud monster-monster menjijikkan.

Siapa sebenarnya Guts, dari mana ia berasal, dan apa sebenarnya yang ia hadapi, merupakan pertanyaan-pertanyaan berulang di bagian-bagian awal cerita. Perlahan terungkap bahwa yang Guts kejar sebenarnya adalah lima sosok misterius yang disebut God Hand, sosok-sosok di atas kaum Apostle yang telah memberikan kekuatan pada mereka, bersemayam di dalam suatu dunia yang lain, dan konon bahkan berkuasa atas takdir.

Kisah Berserk terbagi ke dalam beberapa bagian cerita besar (arc). Masing-masing bagian mengusung periode waktu tertentu, dan terbagi dalam bab-bab lain yang lebih pendek. Sejauh saat ini kutulis, bagian-bagian tersebut adalah:

  • Black Swordsman Arc. Bagian cerita ini memperkenalkan tokoh Guts, wataknya, serta musuh-musuh macam apa yang ia hadapi. Bagian ini juga yang memaparkan pertemuan pertama Guts dengan si peri kecil (elf) Puck yang mulai sering mengikutinya ke mana ia pergi. Bagian ini yang memperkenalkan kita pada latar Kerajaan Midland, serta pada keberadaan pusaka-pusaka Behelit yang berwujud telur dengan fitur-fitur wajah, yang konon digunakan para Apostle untuk memperoleh kekuatan mereka. Bagian cerita ini sempat sedikit ditampilkan dalam adaptasi anime tahun 1997.
  • Golden Age Arc. Bagian cerita ini memaparkan asal-usul Guts sebagai bayi yang dipungut oleh sekelompok tentara bayaran dari bekas medan perang, dan menggambarkan perasaan kompleksnya sebagai anak-anak terhadap Gambino, figur yang menjadi ayah angkatnya, namun menyalahkan Guts atas kematian istrinya. Bagian ini berlanjut dengan memaparkan pertemuan Guts dengan kelompok tentara bayaran legendaris Band of the Hawk (Taka no Dan, kira-kira berarti ‘pasukan elang’) yang berperan besar dalam menuntaskan Perang Seratus Tahun antara Kerajaan Midland dengan Kekaisaran Chudor. Bagian ini memperkenalkan kita pada dua orang yang menjadi sosok paling berarti dalam hidup Guts, yakni Griffith, pemimpin sangat cerdas sekaligus karismatik dari Band of the Hawk yang berasal dari rakyat jelata; serta Casca, perwira perempuan dari Band of the Hawk yang menjadi kekasih Guts. Tokoh-tokoh lain yang diperkenalkan mencakup: Judeau, anggota Band of the Hawk yang merupakan bekas anggota sirkus; Pippin, anggota Band of the Hawk berbadan besar yang merupakan seorang bekas penambang; Corkus, anggota Band of the Hawk merupakan seorang bekas bandit; serta Rickert, salah satu anggota Band of the Hawk paling lama yang sekaligus salah satu yang berusia paling muda. Bagian ini yang juga memperkenalkan Nosferatu Zodd, seorang prajurit bayaran legendaris yang telah hidup sangat lama, yang kemudian memberi ramalan mengerikan tentang jalan takdir yang akan ditempuh oleh Griffith dan Guts. Bagian cerita ini mendapat pemaparan signifikan pada versi anime 1997, serta menjadi basis dari trilogi layar lebar The Golden Age Arc. Bagian cerita ini juga yang dipandang sebagian besar orang sebagai bagian terbaik dari Berserk, karena kompleksitas tema yang diangkat di dalamnya.
  • Conviction Arc. Bagian ini menceritakan kelanjutan perjalanan Guts dan Puck, serta awal diburunya Guts oleh Holy Iron Chain Knights (‘ksatria-ksatria rantai besi suci’) yang telah diutus pihak Gereja, menyusul datangnya tanda-tanda akan berakhirnya dunia. Cerita ini berlanjut dengan perjalanan Guts dan Puck menuju tanah suci Albion di mana menara penghakiman berdiri, demi menelusuri jejak Casca yang hilang. Beberapa tokoh baru signifikan yang diperkenalkan di bagian ini meliputi: Farnese, pemimpin dari Holy Iron Chain Knights (yang secara tradisional dipilih adalah wanita) yang goyah keyakinannya semenjak bertemu Guts; Serpico, pelayan sekaligus pengawal Farnese yang lihai dan tertutup; dan Isidro, seorang bocah lelaki yang terkagum-kagum oleh kekuatan Guts dan mulai mengikutinya dengan harapan bisa diangkat sebagai murid. Secara pribadi, ini merupakan bagian cerita favoritku. Bagian cerita ini yang menjadi basis adaptasi anime tahun 2016 yang sedang tayang saat ini kutulis.
  • Falcon of the Millennium Empire Arc. Bagian cerita yang berlangsung seiring terjadinya invasi Kekaisaran Kushan sebagai puncak suatu konflik agama atas Midland, menyusul masa damai tapi penuh penderitaan yang berlangsung hanya beberapa tahun. Bagian ini menandai munculnya Band of the Hawk baru pimpinan Griffith yang juga tersusun atas anggota-anggota baru. Pada waktu yang sama, Guts dan kawan-kawannya memulai perjalanan ke Elfhelm, kampung halaman Puck, di mana pemimpinnya, Flower Storm King (‘raja badai bunga’), diyakini bukan hanya dapat memberi perlindungan pada Casca, melainkan juga menyembuhkannya. Karakter-karakter penting baru yang diperkenalkan mencakup Schierke, anak perempuan yang menjadi murid satu-satunya dari sang penyihir Spirit Mansion, Flora, yang telah lama menantikan Guts; peri yang menemani Schierke, Ivarella; serta Sonia, seorang gadis muda dengan kekuatan meramal yang sebelumnya telah menyaksikan akan datangnya sosok juru selamat. Bagian ini menonjol karena menjadi awal kesadaran Guts bahwa ia tak lagi bisa berkelana seorang diri, dan mulai menerima kehadiran teman-teman barunya sebagai kawan seperjalanan. Bagian ini juga yang pertama memperkenalkan zirah pusaka Berserker Armor yang kemudian diberikan pada Guts, yang semakin melimpahinya kekuatan luar biasa namun dengan bayaran teramat mahal. Sedikit lebih banyak tentang Skull Knight, sosok ksatria tengkorak berkuda yang selama bertahun-tahun telah mengawasi dan menolong Guts, juga diceritakan pada bagian ini. Demikian juga dengan sesosok anak lelaki tanpa suara yang mulai muncul hanya pada malam-malam bulan purnama.
  • Fantasia Arc. Bagian yang memaparkan berubahnya dunia beserta seluruh hukum alam, lewat bercampurnya dunia khayal dan dunia nyata, seiring kekalahan Kaisar Ganishka di tangan Griffith. Bagian cerita ini masih berlanjut saat ini kutulis. Ceritanya terutama mengisahkan perjalanan laut menuju Elfhelm yang akhirnya bisa ditempuh Guts dan kawan-kawannya berkat bantuan Roderick, bangsawan pelaut dari negeri Ys yang menempatkan diri sebagai tunangan Farnese. Bagian ini terutama menonjol karena semakin banyaknya masuk elemen high fantasy ke dalam cerita.

Orang-orang di Garis Tepi

Ada empat elemen yang bagiku membuat Berserk benar-benar memikat:

  • Perjuangan mati-matian manusia untuk melampaui tantangan-tantangan yang seakan tak mungkin dihadapi.
  • Tentang impian dan cita-cita, serta makna pencapaiannya.
  • Tentang dualitas kebaikan dan keburukan dalam diri manusia.
  • Tentang kausalitas, dan apakah segala sesuatu benar-benar telah mutlak ditakdirkan.

Selain plot utama, juga terdapat banyak subplot yang saling jalin-menjalin, semisal soal pengkhianatan dan persekongkolan antar bangsawan, makna sesungguhnya dari bekerja untuk meraih cita-cita, perbedaan antara orang-orang miskin dan orang-orang berada, tentang keyakinan, tentang makna hidup, tentang persaudaraan dan persahabatan. Semuanya dihiasi dengan artwork yang termasuk gila pada masanya dan masih terbilang gila untuk masa sekarang.

Gaya gambarnya itu dibuat dengan penuh detail. Penggambaran nuansa abad pertengahannya benar-benar kuat. Meski gaya gambar Miura-sensei tentu saja juga berevolusi selama bertahun-tahun pengerjaannya (beliau tak lagi sesuram dulu misalnya, mungkin berkat pengaruh Amami Haruka dan kawan-kawannya?), ada ciri khas konsisten yang bertahan. Lalu terkadang ada gambar-gambar panorama yang menampilkan betapa luas dan kolosalnya pemandangan dalam satu panel.

Ini jenis manga yang berhasil menghadirkan nuansa perjalanan yang dilalui para karakternya. Bahkan tempat-tempat singgah sementara yang tak penting: seperti puing-puing tempat Guts dan Casca pernah beristirahat, atau hutan penuh daun berguguran tempat Farnese dan Casca pernah saling menemani, atau jalan berliku di mana Guts dan kelompok tentara bayarannya yang lama pernah berhadapan dengan tentara yang berlari; tak kalah berkesannya dari kota pelabuhan besar Vritanis atau suram dan rumitnya Windham, ibukota Midland.

Singkatnya, Berserk secara visual benar-benar keren. Miura-sensei mengambil banyak inspirasi dari berbagai sumber, termasuk karya-karya seni tertentu, sehingga berhasil menampilkan dunia yang benar-benar hidup (dan kerap kali menakutkan).

Selain Guts dan orang-orang di sekelilingnya, kerap pula hadir karakter-karakter sampingan yang memainkan peranan mereka sendiri, yang kadang baru tampil kembali setelah hilang lama. Semisal Jendral Laban dan Owen, bangsawan Midland yang menjadi dua dari sekian sedikit bangsawan yang tidak memusuhi Band of the Hawk lama, sebelum kelompok tersebut menghilang secara misterius sesudah dicap sebagai penjahat negara; bekas perdana menteri Foss, yang tahu sejauh apa Griffith dapat bertindak; Mule, keturunan keluarga ksatria yang kerap pusing dengan tugasnnya mengawasi Sonia; Tuan Putri Charlotte, pewaris tahta Midland yang hatinya telah tertambat pada Griffith; Luca, pimpinan pemberani dari kelompok perempuan tuna susila yang sempat menampung Casca; sampai ke ksatria tongkat maut Azan yang berkumis; Silat, pemimpin klan pembunuh Bakiraka asal Kushan yang sempat menjadi rival Guts; Godo, pandai besi penyepi yang kebetulan pernah Guts temui, yang kemudian mempercayakan pedang raksasa Dragonslayer pada Guts (dan nantinya menjadi guru Rickert); Daiva, penyihir Kushan tangan kanan Ganishka; dan Isma, gadis penyelam sebatang kara yang ditemui Isidro di pulau yang mereka singgahi.

Ceritanya kerap suram dan penuh kesedihan. Lalu ini terutama tergambar lewat bagaimana Guts hampir tiap malam terus dibayang-bayangi makhluk gelap dan mimpi buruk, seperti monster gaib kecil bermata satu yang senantiasa memandanginya lama, sosok Skull Knight misterius (yang mungkin saja adalah sosok Kaisar Gaiseric yang namanya disebut pada awal berdirinya Midland, sebelum ia dihukum oleh langit lewat lima ‘malaikat’); sampai sosok serupa anjing hitam bermata merah yang merupakan manifestasi dari murka dan nafsu Guts yang terpendam.

Tapi Miura-sensei memasukkan banyak comic relief untuk mengimbangi ini, berupa humor yang dihadirkan karakter-karakter seperti Puck, Isidro, dan Ivarella. Ada sebagian orang yang berpendapat kehadiran aspek humornya (yang kadang breaking the fourth wall) agak mengganggu alur ceritanya (yang juga menjadi alasan Puck dihilangkan sama sekali dari anime versi 1997). Tapi aku pribadi merasa kehadiran mereka penting karena ceritanya memang sesuram itu.

“Tak pernah kukhianati cita-citaku.”

Sedikit bicara soal adaptasi-adaptasi animenya, mungkin karena cakupannya yang sedemikian kompleks, sebenarnya sampai sekarang masih belum ada adaptasi anime Berserk yang bisa dikatakan berhasil.

Sebenarnya, ada lumayan banyak penggemar yang juga heran dengan hal ini.

Ada yang bilang bahwa cara terbaik untuk mengikuti Berserk adalah dengan mengikuti dulu versi anime tahun 1997, karena ini versi yang paling berhasil menyorot hubungan Guts dan Griffith. Lalu baru sesudah itu kau mengikuti versi manganya. Tapi aku pribadi merasa mengikuti manganya secara langsung tetap yang terbaik. Meski dengan beberapa perubahan cerita di dalamnya, seri TV tahun 1997 ini sebenarnya masih termasuk adaptasi yang lumayan. Sekalipun demikian, ada seorang sahabatku yang tetap ternyata lumayan membenci versi ini.

Trilogi film layar lebar The Golden Age Arc terbilang solid, walau memang tak sempurna. Yang terutama menonjol adalah bagaimana pemakaian animasi CG-nya cukup berhasil menghidupkan nuansa kolosal dalam peperangannya. Walau begitu, ada perdebatan lumayan panas di kalangan penggemar soal CG ini. Ada lumayan banyak orang yang kurang setuju dengan penggunaannya. Memang goyah di awal, tapi adaptasi ini ke sana-sananya masih bisa dibilang semakin bagus.

Sedangkan untuk seri TV tahun 2016 yang sedang tayang, meski secara teknis seriusan enggak bisa kubilang jelek, ada lumayan banyak hal di dalamnya yang berulangkali membuat facepalm para penggemarnya. Untuk suatu alasan yang tak bisa dipahami, teknologi CG yang serupa dengan yang di trilogi movie-nya kembali dipakai. Porsi pemakaiannya agak berlebih, dan membuat aneh karena bahkan dipakai dalam adegan-adegan dialog biasa. Di samping itu, ada pemadatan cerita yang meski mungkin takkan dipermasalahkan para penggemar baru, sempat membuat tak nyaman para penggemar lama. Setidaknya, animasi CG ini berhasil menghadirkan pergerakan dinamis yang belum terlihat sebelumnya dalam adegan-adegan aksinya.

Bagaimanapun, aku membuat ini sebagai bentuk peringatan atas tayangnya anime baru ini. Jadi kurasa aku takkan terlalu memprotes.

Sekali lagi, ada banyak adegan berkesan di Berserk. Seperti bagaimana Guts dan Casca mencuri dengar pembicaraan Griffith dengan Putri Charlotte tentang cita-cita, yang secara tak langsung menjadi pemicu kepergian Guts. Atau, yang membuatku sadar betapa ceritanya lebih dalam dari yang terlihat, adegan penutup di akhir arc pertama saat Puck memprotes kenapa Guts harus bersikap sedemikian kejam dan menyakiti orang, sebelum ia tiba-tiba menyadari bagaimana ekspresi muka Guts seperti hendak menangis.

Adegan-adegan tersebut sayangnya belum benar-benar berhasil tersampaikan sebagus seperti yang di komik.

Mungkin masih lama sampai Berserk berakhir. Tapi di dalamnya sudah ada begitu banyak hal menggugah yang aku dapat.

Aku kerap kepikiran tentang manga ini seiring semakin dewasanya aku belakangan.

Mungkin memang sebatas khayalan. Tapi ini satu judul yang akan terus kuingat karena terus mengingatkan untuk terus bangkit dan menjadi kuat, demi mengejar suatu arti dari keberadaan kita.

Yah, kalau ada perkembangan, mungkin ini akan kutambahkan lagi.

Edit, 22 September 2016

Sedikit tambahan berkenaan seri TV-nya yang baru tayang, berhubung aku pasti malas mengulasnya.

Singkat kata: bahkan kualitas produksi yang sangat di batas rata-rata tetap tak mampu menutup kekuatan cerita yang telah Miura-sensei buat. Intinya, anime Berserk tahun 2016 berakhir dengan mengecewakan banyak penggemar manganya. Tapi di sisi lain, kekuatan ceritanya tetap berhasil menarik banyak penggemar baru.

Kelanjutannya sudah diumumkan akan tayang pada musim semi tahun 2017 mendatang.

Mudah-mudahan hasilnya lebih baik.

Iklan

Fate/stay night (2006)

(Ini adalah bahasan tentang seri TV FSN yang paling awal. Bahasan seri TV UBW aku buat di sini.)

Aku pernah ditanya tentang perbedaan apa saja yang seri TV orisinil Fate/stay night buatan Studio DEEN punyai dibandingkan adaptasi ceritanya yang lebih baru, Fate/stay night: Unlimited Blade Works yang dibuat Ufotable pada tahun 2014.

Tentu saja aku menjawab: ‘rute cerita’ yang diambil dari gamenya berbeda.

Seperti yang kebanyakan penggemar sudah tahu, animenya diadaptasi dari game visual novel buatan Type-Moon berjudul sama. Game tersebut memiliki tiga percabangan cerita utama, dengan perkembangan cerita dan tokoh utama wanita yang berbeda pada masing-masing rute. Tiga percabangan cerita tersebut masing-masing adalah Fate, Unlimited Blade Works, dan Heaven’s Feel. Fate dan UBW sudah dianimasikan (UBW bahkan sudah dianimasikan dua kali.). Sedangkan Heaven’s Feel sedang dalam proses dianimasikan dalam bentuk rangkaian film layar lebar oleh Ufotable seperti halnya proyek Kara no Kyoukai dulu.

Hanya saja, berhubung kebanyakan orang yang bertanya juga belum pernah memainkan gamenya, mereka jadi bertanya juga soal perbedaan-perbedaannya secara lebih rinci.

(Aku jadi merasa bego sendiri karena sebelumnya enggak lebih awal menyadari hal ini.)

Sebelum aku bahas lebih lanjut, aku mau singgung apa saja judul seri Fate yang signifikan saat ini kutulis selain Fate/Zero dan Fate/stay night, berhubung kelihatannya banyak yang suka mencari informasi tentang ini. (Signifikan yang kumaksud di sini adalah dari segi cerita ya.)

Judul-judul tersebut antara lain: (Mungkin akan kulengkapi sambil jalan nanti)

  • Fate/hollow ataraxia (format: game): fun disc dari gamenya yang orisinil, dan bisa dibilang semacam sekuel. Mirip seperti Kagetsu Tohya bagi Tsukihime, ceritanya berlatar di semacam dunia mimpi(?) di mana ada hari-hari yang terus berulang, ketika Perang Cawan Suci seharusnya sudah berakhir tapi hal-hal aneh masih terjadi. Karakter utamanya adalah Bazett Fraga McRemitz (Master asli dari Lancer/Chu Chulainn) dan sesosok Servant misterius bernama Avenger (yang seolah ‘menumpangi’ identitas Emiya Shirou) yang sama-sama berusaha untuk bisa membebaskan diri dari siklus tersebut. Meski sifatnya adalah ‘lepasan’ dari seri utama, ada beberapa bagiannya yang memaparkan sejarah beberapa Perang Cawan Suci yang pernah terjadi di Fuyuki.
  • Fate/Prototype (format: anime pendek, novel): konsep cerita asli Fate/stay night di tahap-tahap awal pengembangannya. Mencolok karena memiliki tokoh utama berjenis kelamin perempuan (Sajyou Ayaka) dan karakter Saber yang laki-laki. Latar ceritanya di Tokyo, bukan Fuyuki. Di samping itu, beberapa detil tentang Perang Cawan Suci di dalamnya juga berbeda jauh dari yang kita sudah kenal. Meski ada kemiripan, karakter-karakter Servant dan Master-nya juga berbeda sama sekali. Teaser animasi untuk seri ini disertakan dalam rangkaian seri OVA Carnival Phantasm yang diproduksi studio Lerche.
  • Fate/kaleid liner Prisma Illya (format: anime, manga): cerita lepasan yang menuturkan bagaimana seandainya karakter Illyasviel von Einzbern adalah seorang anak perempuan normal yang kemudian diubah menjadi seorang gadis penyihir (mahou shoujo). Sudah dianimasikan beberapa kali oleh studio Silver Link. Cerita di manganya (bagian ketiga) masih berjalan saat ini kutulis. Meski lebih berat di humor, adegan-adegan aksinya tetap lumayan intens. (Meski berbagi kemiripan, ceritanya berlatar di semesta terpisah dari Fate/stay night dan Fate/Zero)
  • Fate/Extra (format: game, manga, anime sedang diproduksi): game RPG yang dikembangkan bersama Image Epoch dan diterbitkan Marvelous Entertainment. Genrenya kombinasi visual novel dan dungeon crawler. Ceritanya berlatar di masa depan tahun 2032, di suatu semesta terpisah sesudah ‘mana’ di dunia mengering akibat suatu insiden besar tertentu di era 1970an. Karakter utamanya adalah Kishinami Hakuno, murid Perguruan Tsukumihara yang terlibat dalam Perang Cawan Suci sesudah mendapati bahwa dunia yang ditempatinya ternyata adalah dunia virtual. Game ini mendapat sekuel berjudul Fate/Extra CCC yang berperan sebagai sekuel sekaligus pelengkap cerita (semacam rute Heaven’s Feel-nya), yang melanjutkan kisah pelarian Hakuno dan orang-orang yang ditemuinya. Meski sistem permainannya agak tanggung, ceritanya terbilang bagus. Ini seri yang mulai memperkenalkan banyak karakter Servant baru, dengan percabangan cerita salah satunya ditentukan oleh Servant mana yang kita pilih. Seri ini juga menonjolkan karakter Saber ‘merah’ yang identitas aslinya adalah Kaisar Romawi Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus, yang sosoknya mirip dengan Saber yang sudah kita kenal. Adaptasi animenya sudah dikonfirmasi akan diproduksi studio SHAFT. (Meski berbagi banyak kemiripan, seri ini sebenarnya berlatar di semesta terpisah.)
  • Fate/Extella (format: game): game aksi relatif baru yang tak lama lagi akan rilis, yang dikembangkan bersama Koei Tecmo. Gaya permainannya serupa dengan game-game Musou/Dynasty Warriors, dengan latar cerita yang sama dengan seri Fate/Extra.
  • Fate/Apocrypha (format: tadinya game, novel): proyek yang semula direncanakan untuk dijadikan MMO, sebelum batal karena suatu sebab. Konsepnya tentang Perang Cawan Suci Agung yang melibatkan 14 pasangan Master-Servant. Sesudah proyek gamenya batal, konsep ceritanya diadaptasi ke bentuk novel yang tamat dalam lima buku. Ceritanya mengetengahkan klan magus Yggdmillenia yang menyatakan perang terhadap Mages’ Association lewat keinginan mereka untuk memisahkan diri. Ini berujung pada konflik besar antara kubu ‘hitam’ dan kubu ‘merah’ dengan kepemilikan Cawan Suci Agung yang telah lama hilang dari Fuyuki sebagai taruhan. Seri ini juga mencolok karena turut memperkenalkan Servant baru, Ruler (identitas asli: pahlawan wanita Perancis, Jeanne d’Arc), yang didatangkan khusus oleh Cawan Suci sebagai ‘pengawas’ konflik ini. (Seri ini juga berlatar di semesta terpisah.)
  • Fate/Grand Order (format: game): social game untuk ponsel yang dikembangkan dari ide awal Fate/Apocrypha. Berawal dari insiden di Fuyuki di tahun 2004, kita sebagai pemain akan menjumpai dan mengumpulkan berbagai Servant dalam menjelajahi berbagai ‘cawan suci’ di berbagai titik di sepanjang sejarah manusia. Ceritanya melibatkan dunia-dunia yang bercabang. Sampai ini kutulis, layanan permainannya masih aktif walau servernya hanya ada di Jepang. Permainannya lumayan seru. Seri ini memperkenalkan jumlah Servant paling banyak.
  • Fate/strange fake (format: novel): cerita yang semula berawal dari lelucon April Mop buatan Narita Ryohgo-sensei (pengarang Baccano! dan Durarara!!) yang kemudian terbit sebagai novel resmi dari Type-Moon. Ceritanya mengetengahkan Perang Cawan Suci ‘tiruan’ yang berlangsung di kota Snowfield, Amerika Serikat, serta hal-hal aneh yang terjadi di dalamnya, yang salah satunya adalah ketiadaan kelas Saber yang digantikan suatu kelas lain….

Mungkin suatu saat, masing-masing akan aku bahas secara terpisah.

Membiarkan Saat Ini Menjadi Segalanya

Kembali bicara soal seri TV Fate/stay night yang orisinil, produksinya dilakukan oleh Studio DEEN dengan jumlah episode sebanyak 24. Sutradaranya adalah Yamaguchi Yuuji, yang sekarang dikenali sebagai sutradara Angel Links dan Dansai Bunri no Crime Edge. Naskahnya dikerjakan Shimo Fumihiko, yang sebelum ini ikut mengerjakan naskah adaptasi anime dari Air dan Clannad (beliau sekarang dikenal karena menyusun komposisi banyak seri lainnya). Shimo-san turut dibantu untuk komposisi seri oleh Takuya Sato, yang sekarang lebih dikenal sebagai sutradara Wixoss dan Steins;Gate. Musiknya sendiri ditangani oleh Kawai Kenji yang sekarang telah dipandang sebagai komposer veteran.

Pada masanya, menyusul kesuksesan gamenya, hype untuk seri ini terbilang luar biasa. Di atas kertas, staf yang mengerjakan produksi anime ini juga terbilang solid. Lalu ini penting mengingat bagaimana Shingetsutan Tsukihime (yang dipandang kebanyakan orang datar, meski juga diangkat dari game buatan Type-Moon) masih segar dalam ingatan orang.

…Yah, soal Shingetsutan Tsukihime, meski aku memahami berbagai kekurangannya, secara pribadi aku tak sebegitu mempermasalahkannya.

Tapi terkait dengan itu, meski kualitas Fate/stay night sekarang dipandang kalah dibandingkan seri TV Fate/Zero dan Fate/stay night: Unlimited Blade Works, kalau melihat ke belakang, hasil adaptasi ini sebenarnya sama sekali tak jelek. Setidaknya, feel yang ada di gamenya berhasil tersampaikan. Kayak, soal dunia malam di mana hal-hal yang tersembunyi dari mata manusia awam tengah berlangsung, hal-hal ajaib yang merasuk di antara kehidupan perkotaaan modern, serta soal pengharapan akan cita-cita yang telah lama hilang.

Anime ini berhasil membuat Fate/stay night dipandang sebagai semacam dongeng di zaman modern.

Hal yang mencolok adalah bagaimana anime ini menjadi media pertama yang memvisualisasikan aksi antara karakter-karakter Servant. Di gamenya, adegan-adegan aksi ini diceritakan berlangsung dengan benar-benar dahsyat, dan secara visual hanya digambarkan lewat efek-efek garis tebasan dan tusukan gitu. Yamaguchi-san terutama menjadi dikenal karena menggunakan banyak teknik ‘potongan pendek’ untuk memvisualisasikan adegan-adegan berkecepatan tinggi (yang sekarang dengan sebelah mata agak dipandang sebagai cara untuk menekan anggaran). Lalu kalau kupikir sekarang, sebenarnya seri ini punya banyak adegan aksi keren. Hanya saja sebagian berakhir kurang memuaskan karena seolah ada terlalu banyak yang berusaha disampaikan.

Terlepas dari beberapa sentuhan… uh, ‘khusus’ (seperti bagaimana mereka mengadaptasi salah satu adegan di game yang takkan mungkin disiarkan di TV, atau bagaimana nekomimi Kaleido Ruby bisa tiba-tiba kelihatan di satu adegan), seri TV orisinil Fate/stay night mengikuti rute cerita Fate, hanya saja dengan menambah banyak elemen dari rute UBW dan Heaven’s Feel. Hasilnya: seolah ada banyak elemen cerita yang ditampilkan sebatas teaser, yang di akhir tak benar-benar sampai dijelaskan. Ini menjadikan para penonton awam yang belum mengenal gamenya sempat kebingungan dengan sejumlah hal.

Bagaimana Matou Sakura yang lama tidak muncul bisa tiba-tiba masuk lagi dalam cerita, misalnya. Diimplikasikan bahwa dirinya punya suatu keterkaitan terselubung dengan Tohsaka Rin, tapi apa persisnya hubungan itu berakhir tak terjelaskan (poin cerita ini memang dijelaskannya di Heaven’s Feel). Motif beberapa karakternya tak terjelaskan, seperti rasa permusuhan/ingin tahu Illya terhadap Emiya Shirou. Cara kerja kekuatan dan kemampuan masing-masing karakter juga tak benar-benar terjelaskan.

Stafnya seakan… tak rela bila ada elemen-elemen dalam gamenya yang gagal dimasukkan.

Mereka mengupayakan masuknya elemen cerita dari semua rute, terlepas dari berapa banyak durasi episode yang mereka punya. Masalahnya, tak benar-benar (belum?) ada cara untuk bisa memasukkan semuanya secara bagus.

Buatku pribadi, dampaknya seperti pada bagaimana aku—yang kebetulan lebih suka Rin ketimbang Saber—gregetan dengan tumbuhnya kedekatan antara Shirou dan Rin. Berhubung ceritanya akan mengambil jalur cerita Saber, aku kesal karena kedekatan yang tumbuh itu kesannya jadi takkan berujung ke mana-mana.

Atau pada bagaimana Archer mengorbankan diri saat menghadapi Berserker, lalu tetap tewas sekalipun telah menggunakan Reality Marble Unlimited Blade Works. Dalam gamenya, Archer berhasil menaklukkan Berserker sampai enam kali, tapi tak dijelaskan kalau ia sampai menggunakan Reality Marble miliknya (mungkin karena ingatannya belum pulih?). Atau pada bagaimana Archer yang kehilangan ingatannya, tetap menjadi tak jelas identitasnya hingga akhir.

…Atau pada bagaimana Shirou berkat saran Archer pada beberapa titik seakan bakal bisa membuka potensi Reality Marble miliknya, tapi kembali tak jadi.

Rasanya kayak… uuurgh, kayak ada harapan palsu yang terus diiming-imingi di depan kita, yang kita tahu pada akhirnya takkan terwujud

Bagusnya, terlepas dari isu-isu adaptasinya, yang membuat ada plot-plot tangensial yang bolong di mana-mana, cerita di seri TV ini koheren dan terasa tertuntaskan. Fokus ceritanya, yaitu hubungan Shirou dan Saber yang menjadi Servant-nya, lumayan berhasil tergali. Lalu konflik tertutup dengan pembeberan kalau si pendeta Kotomine Kirei sebenarnya orang jahat, dan Saber pernah memiliki hubungan dengan mendiang ayah angkat Shirou, Emiya Kiritsugu, yang darinya Shirou mewarisi idealismenya.

Singkat kata, seri TV ini tetap jadi seri aksi fantasi yang seru.

Mungkin berkat eksekusinya atau bagaimana, begitu episode terakhir usai, ada rasa kecewa yang berhasil timbul karena episodenya tak lebih banyak. Lalu ada kesan kalau sebenarnya materi ceritanya memang ada lebih banyak, hanya saja para pembuatnya sudah kehabisan cara buat menyampaikannya.

Jauh, Jauh di Dalam Hutan

Untuk kalian yang penasaran tentang plot ceritanya; awal ceritanya sama, namun apa yang kemudian terjadi setelah Shirou dan Saber pertama bertemu sedikit berbeda.

Meski sempat dibayang-bayangi oleh Lancer dan Caster, lawan utama pertama yang harus dihadapi Shirou dan Rin adalah teman sekolah Shirou, Matou Shinji (yang baru terungkap sebagai magus) beserta Servant-nya, Rider. Ini diikuti dengan konflik melawan Illya dan Berserker di Puri Einzbern, yang berakhir dengan bagaimana Berserker dikalahkan bersama oleh Shirou dan Saber dengan susah payah. Barulah selanjutnya mereka menghadapi Caster, yang berhasil mengetahui kalau Sakura juga bisa dijadikan ‘wadah’ untuk Cawan Suci. Caster masih didukung oleh Assassin dan guru wali kelas Rin yang misterius, Kuzuki Souichirou. Lalu menjelang akhir, barulah Servant Archer dari Perang Cawan Suci terdahulu, Gilgamesh, menampakkan diri dengan keinginannya untuk bisa ‘memiliki’ Saber, dan membuka jalan bagi Kirei untuk mewujudkan kembali Cawan Suci.

Sekali lagi buat yang penasaran, masing-masing rute juga punya tokoh antagonis utama dan penentu kemenangan sendiri-sendiri. Setiap tokoh antagonis sebenarnya berperan di masing-masing rute sih, hanya saja dalam porsi berbeda-beda.

  • Di Fate, tokoh antagonis utamanya adalah Kotomine Kirei. Penentu kemenangan Shirou adalah penemuan kembali sarung pedang Avalon, pusaka Noble Phantasm terakhir Saber yang telah lama hilang, serta keberhasilan Shirou dalam mereplikanya di hadapan Cawan Suci.
  • Di Unlimited Blade Works, tokoh antagonis utamanya adalah Gilgamesh. Penentu kemenangan Shirou adalah keberhasilannya menguasai Reality Marble Unlimited Blade Works yang dipelajarinya dari Archer untuk menghadapi Gate of Babylon milik Gilgamesh.
  • Di Heaven’s Feel, tokoh antagonis utamanya adalah Matou Zouken, sosok misterius yang merupakan salah satu pemrakarsa asli Perang Cawan Suci. Penentu kemenangannya terdapat pada bagaimana Shirou kehilangan separuh lengannya dalam pertempuran, dan kemudian memperoleh lengan Archer yang akhirnya tewas sebagai pengganti. Lengan tersebut membuat Shirou jadi memperoleh semua pengetahuan Archer, menjadikannya manusia separuh Servant yang memiliki kemampuan bertarung setara dengan mereka, namun dengan timbal balik tubuh yang sekarat karena Reality Marble Archer menggerogotinya dari dalam.

Segmen hiburan Tiger Dojo, yang dibawakan Illya dan Fujimura Taiga-sensei, yang kita temui setiap kali mencapai salah satu akhir cerita dalam gamenya (baik yang good ending maupun bad ending), tentu saja tak dianimasikan. Aku baru sadar kalau mungkin itulah alasan kenapa Illya dan Fuji-nee dibuat sebagai karakter comic relief di anime ini. Aku sempat heran karena adegan-adegan komedi mereka jadinya terasa kontras dengan adegan-adegan serius dan membuat nuansa cerita agak campur aduk.

Setelah aku pikirkan lagi, cuma di rute Fate ini pula Illya memperoleh akhir cerita yang (secara argumentatif) bahagia. Jadi mungkin itu satu lagi alasan yang jadi pertimbangan.

Soal visual, presentasi seri TV ini terbilang benar-benar baik di masanya. Desain karakternya jelas berbeda dari desain karakter versi Ufotable yang sekarang lebih populer. Tapi bahkan hingga sekarang pun anime ini masih termasuk enak dilihat.

Satu kelebihan yang dipunyai hasil adaptasi yang ini dibandingkan yang baru adalah audionya.

Anime ini mempertahankan vokal bertenaga sekaligus merdu Tainaka Sachi yang selain membawakan kembali lagu “Disillusion”  yang merupakan theme song asli dari gamenya, juga membawakan dua lagu lain yaitu lagu pembuka kedua “Kirameku no Namida no Hoshi” dan lagu penutup “Kimi to no Ashita.” Vokal yang beliau bawakan seakan mewujudkan warna khas untuk seri ini.

Lalu  (aku juga baru menyadari ini setelah ada orang lain yang mengatakannya) penataan musik di seri TV orisinil ini sebenarnya lebih baik ketimbang di versi Fate/stay night: Unlimited Blade Works. Aku juga tak benar-benar bisa menjelaskannya. Tapi rasanya seperti momentum cerita di versi ini lebih berhasil dijaga.

Akhir kata, aku gregetan dengan banyak hal yang ada pada anime ini. Ada kelemahan-kelemahan di sana-sini, dengan naskah yang terasa ‘aneh’ di beberapa bagian. (Seperti adegan “Orang akan mati bila terbunuh!” yang sempat menjadi meme. Menurutku itu contoh kendala penerjemahan yang hanya bisa terasa wajar dalam konteks bahasa aslinya. Di adegan itu, Shirou sedang berusaha menekankan sesuatu tentang melawan hukum alam dengan akan adanya korban-korban yang jatuh.) Namun setelah aku pikirkan lagi, hasil segini benar-benar sudah lumayan. Kenyataannya, kayak dengan bagaimana Saber kesampaian menuntaskan duelnya dengan Assassin misalnya, hasil jadinya bisa saja malah lebih enggak memuaskan ketimbang ini.

The Far-Distant Utopia

Sedikit lagi sebelum penutup, kalau kalian menemukan animasi pembuka Fate/stay night yang diiringi musik dari band Earthmind, maka itu adalah animasi pembuka dari versi Realta Nua dari gamenya. Di versi Realta Nua, ada satu episode tambahan yang diberikan di penghujung rute Fate. Di episode itu ditampilkan bagaimana Saber akhirnya bisa berjumpa kembali dengan Shirou di Avalon (Tahta Pahlawan?) setelah penantian selama berabad-abad. Shirou, yang kini secara fisik mirip Archer, diimplikasikan telah berhasil mewujudkan idealisme kepahlawanannya dan diterima sebagai salah seorang Heroic Spirit.

Aku pernah baca kalau sepeninggal Saber, kesudahan cerita rute ini sebenarnya menyamai akhir cerita di rute Unlimited Blade Works, yang mana Shirou ikut ke Clock Tower bersama Rin untuk menuntut ilmu. Tapi selebihnya baiknya dikembalikan saja pada imajinasi masing-masing.

Anime Fate/stay night yang mencampurkan elemen-elemen cerita antar rute ini sebenarnya agak mirip pula dengan adaptasi manganya yang pertama, tapi dengan hasil agak beda. (Sial, aku lupa nama pengarangnya.) Jadi kalau kalian masih belum juga puas dengan cerita Fate/stay night selama ini, masih ada versi manga tersebut.

Mungkin ini cuma aku, tapi anime Fate/stay night awal ini seolah jadi proyek yang ‘memastikan’ begitu banyak hal. Siapa yang mengisi suara inilah, adegan-adegan aksinya sebenarnya kayak apalah, adegan-adegan sihirnya kayak gimana, tempat-tempat ini sebenarnya lengkapnya gimana lah. Jadi meski sekarang mungkin agak dipandang sebelah mata, aku merasa anime satu ini punya signifikasi lumayan besar.

Buatku pribadi, ini media pertama yang mengenalkanku pada Fate/stay night sebelum aku berkesempatan mencoba gamenya.

Bahkan hingga kinipun, ideologi Shirou yang mendorongnya untuk terus berusaha dan pantang menyerah, sekalipun untuk waktu lama tak ada jalan yang benar-benar jelas di hadapannya, masih kerap membuatku tergugah. Lalu dalam adegan saat Sakura membangunkannya yang tertidur di gudang, aku jadi tersadar kalau dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil saja, orang sebenarnya sudah bisa merasa berkecukupan dalam hidup.

Lagu penutup “Kimi to no Ashita” di episode terakhir, yang dibawakan saat Artoria akhirnya menerima jalan hidup yang telah dilaluinya dan mencapai ujung mimpinya, benar-benar menutupnya secara keren.

Mari kita harapkan saja proyek Heaven’s Feel kelak berjalan lancar. (Dan suatu saat akan ada versi cerita yang memberikan akhir yang memuaskan untuk semua karakter.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

Mokushiroku Arisu

Di dalam dunia Mokushiroku Arisu, ada tiga jenis orang yang akan datang mendaftar ke SMA Kichijouji, Tokyo:

  • Mereka yang memerlukan kekuatan, apapun bayarannya.
  • Mereka yang memerlukan uang, apapun bayarannya.
  • Mereka yang ingin menyelamatkan dunia, apapun bayarannya.

Disebut ‘apapun bayarannya’ di sini karena memang yang menjadi murid di sana hanyalah orang-orang yang seakan datang untuk mengantarkan nyawa. Lalu disinggung soal ‘menyelamatkan dunia’ di sini itu karena dunia dalam cerita tersebut memang tengah terancam.

Oleh apa?

Oleh suatu penyakit yang hanya akan menyerang gadis-gadis muda: Penyakit Labirin (Labyrinth Disease), yang mana saat sudah menjangkit, akan secara ajaib memunculkan suatu labirin raksasa ke dunia nyata dari dalam ranah kejiwaan sang gadis. Labirin-labirin ekstradimensional tersebut akan ‘membentuk’ di sekeliling si gadis. Lalu sesudah enam jam, labirin itu kemudian stabil menjadi sebuah ‘eternal labyrinth’ (‘labirin abadi’) dan sesudah mencapai bentuk penuhnya tersebut, dunia sudah tak lagi dapat dikembalikan ke bentuk semula.

Dalam radius yang bisa bervariasi mulai dari dua kilometer sampai sekian ratus kilometer dari si gadis, orang-orang akan meninggal secara seketika. Lalu ketika cerita ini dimulai, seperempat daratan di Bumi telah hilang untuk selama-lamanya akibat penyakit ini.

Sementara si gadis, meski diberkahi kekuatan sihir, mereka menjadi kehilangan kendali atas diri mereka sendiri dan menjadi ‘inti’ dari labirin yang mereka ciptakan.

Demi menyelamatkan dunia, berbagai pemerintahan dan perusahaan besar membentuk tim-tim gerak cepat untuk memasuki labirin-labirin. Sekolah-sekolah khusus seperti Perguruan Kichijouji kemudian dibentuk untuk melatih tim-tim gerak cepat ini dan menangani labirin-labirin dengan batasan usia yang hanya memungkinkan orang-orang di bawah usia 19 tahun untuk memasukinya. Baik apakah mereka telah berpengalaman sebelumnya atau masih anak bawang yang baru lulus SD, tugas mereka semua tetap sama: bunuh si gadis, dan selamatkan dunia.

Kemunculan penyakit ini juga menandai munculnya kekuatan sihir yang terwujud dalam bentuk ‘lagu-lagu terkutuk’ (pengkodean dalam gelombang-gelombang suara tertentu?).

Kekuatan sihir diaktifkan melalui perangkat mirip separuh headset yang disebut Headphone Fuzz (Intra-Cerebral Magic Activators) yang akan memainkan lagu-lagu terkutuk itu dan merangsang area otak yang sensitif terhadap sihir. Bila dipasang di telinga kiri, Headphone Fuzz akan merangsang otak kanan manusia, dan membuatnya lebih mudah digunakan orang-orang yang kekuatan sihirnya lebih dipengaruhi oleh emosi. Sebaliknya, bila di dipasang di telinga kanan, Headphone Fuzz akan merangsang otak bagian kiri untuk sihir yang lebih dimanipulasi pemikiran rasional.

Semua labirin dikelompokkan dalam peringkat mulai dari 0 sampai 666. Begitu labirin biasa menjadi labirin abadi, peringkatnya akan melonjak sampai sekurangnya 10 kali lipat. Lalu pada titik tersebut, labirin itu menjadi sumber daya berharga yang meski berbahaya, dari dalamnya dapat diperoleh berbagai kekuatan sihir baru yang menentukan kekuatan militer suatu negara.

Arisu Shinnosuke kembali ke Jepang setelah berkelana 10 tahun dan mendaftar ke SMA Kichijouji sebagai murid baru. Ia menyatakan bahwa yang diinginkannya hanya satu, yaitu uang. Uang, dan hanya uang. Saat teman-teman sekelasnya dibagi ke dalam tim, Shinnosuke  mempertimbangkan tim mana yang akan ia masuki berdasarkan mana yang tawaran bayarannya paling mahal.

Meski demikian, dengan kemampuan yang dimilikinya, dengan cepat Shinnosuke diakui sebagai salah satu remaja paling menonjol dalam kurikulum yang diperuntukkan untuk anak-anak yang akan menjelajahi labirin.

Tapi lambat laun, kehadiran Shinnosuke seakan menandai bahwa ada satu jenis orang lagi di samping tiga jenis di atas:

  • Mereka yang punya maksud rahasia yang ingin dicapai, apapun bayarannya.

Penyakit Seorang Gadis yang Mengakhiri Dunia

Mokushiroku Arisu, atau yang juga dikenal dengan judul Apocalypse Alice, dikarang oleh Kagami Takaya yang belakangan lebih dikenal sebagai pencetus cerita Owari no Seraph (Seraph of the End), yang ditanganinya bersama Yamamoto Yamato dan Furuya Daisuke. Mokushiroku Arisu sendiri diterbitkan dari tahun 2013 oleh penerbit Fujimi Shobo di bawah label Fujimi Fantasia Bunko, dengan ilustrasi buatan Katou Yuuki dari Arc System Works, yang juga mengerjakan desain karakter untuk seri game tarung BlazBlue.

Sebenarnya, sudah lama aku ingin bahas seri ini.

Mokushiroku Arisu sebenarnya tipikal seri karangan Kagami-sensei. Mulai dari tema soal persahabatan dan rasa saling percaya, lengkap dengan cara bercerita khasnya yang menarik bagi satu orang tapi bisa menyebalkan untuk orang yang lain. Tapi dibandingkan dua karya beliau yang sebelumnya, yakni Densetsu no Yuusha no Densetsu dan Itsuka Tenma no Kuro Usagi, terasa kayak ada sesuatu yang lebih ‘matang’ pada Mokushiroku Arisu dan membuatnya lebih bisa dinikmati. Mungkin ini disebabkan karena beliau mulai terlibat dalam proyek Owari no Seraph pada waktu kurang lebih sama.

Di sisi lain, ini jenis cerita yang serupa dengan yang banyak mengangkat soal penjelajahan dungeon belakangan. Labirin-labirin yang Shinnosuke dan kawan-kawan sekelasnya harus hadapi dengan bertaruh nyawa benar-benar seperti dunia lain yang ajaib. Ada monster-monster yang harus mereka kalahkan, ada harta-harta yang bisa mereka temukan, ada wilayah-wilayah ‘aman’ dan ada pemetaan yang bisa mereka buat. Ada sihir Escape untuk lolos yang wajib dibawa semua orang. Di samping itu, masing-masing karakter memiliki kemampuan, kekuatan, dan kelemahan mereka masing-masing.

Jadi ya, ini cerita yang di dalamnya ada banyak elemen serupa seperti dalam game.

Tentu saja juga ada karakter musuh ‘boss’ yang tak lain adalah gadis-gadis tersebut, yang kini tak dapat mengendalikan keinginan mereka sendiri dan sekaligus berkekuatan dahsyat.

…Sekilas, aku juga awalnya kurang begitu tertarik. Tapi membaca terjemahannya waktu itu, aku mendapati perkembangan ceritanya itu cepat.

Kayak, benar-benar cepat.

Para karakternya semula enggak begitu gampang disukai. Shinnosuke misalnya, di awal cerita digambarkan arogan dan sangat materialistis. Hal ini ditekankan berulangkali sampai dalam porsi agak berlebihan. Lalu kawan-kawan sekolah yang kemudian ditemuinya juga tak benar-benar bisa dibilang ‘baik.’ Mizuiro Gunjou, gadis berbadan relatif mungil yang dikenal sebagai siswa paling tangguh di kelas, dan diandalkan banyak orang sebagai pemimpin, berkesan seenaknya dan sok main perintah, apalagi dengan harga dirinya yang sangat tinggi. Meski bermaksud baik, ia jadi suka main prasangka. Lalu di sisi lain, Hishiro Shiro, seorang pemuda bermata merah yang menjadi satu-satunya orang di kelas yang mau menentang Gunjou, juga terkesan menyebalkan dengan sikapnya yang sok akrab dan tak benar-benar jelas tujuannya apa. Dirinya jelas kayak enggan mengungkapkan semua yang dia tahu.

Ceritanya kayak menampilkan beberapa lapis kebenaran gitu, dengan motif tersembunyi yang dimiliki masing-masing orang. Tapi sedikit demi sedikit semuanya terkuak, hingga akhirnya menjadi cerita yang benar-benar seru.  Walau berkesan agak gimanaa gitu di awalnya, aku serius jadi menyukainya lebih dalam dari yang aku sangka.

Dunia Mokushiroku Arisu digambarkan sebagai dunia yang ‘rusak.’ Bukan hanya dalam arti fisik, tapi juga dalam arti mental. Bagi sebagian besar orang, uang dan kekuasaan benar-benar menjadi hal utama. Kedua hal tersebut kayak diutamakan, bahkan bila perlu dengan mengorbankan nyawa orang lain.

Karena itu, kesannya wajar bila Shinnosuke seakan menunjukkan sikap antisosial dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Lalu karena alasan yang sama, kesannya aneh juga dengan bagaimana orang-orang yang selamat bersamanya dalam penyerbuan labirin mereka yang pertama, pada akhirnya bisa mengenali bagaimana Shinnosuke sebenarnya orang baik.

Bahkan meski dihadapkan dengan keputusasaan sedemikian kuatnya, mereka mengetuk pintu hati Shinnosuke untuk menjalin persahabatan nyata dengannya.

Enam Slot

Mokushiroku Arisu berkisah tentang perjuangan Arisu Shinnosuke dan teman-teman sekolah barunya yang jadi tergabung dalam kelompok Hero Team karena keberhasilan mereka bertahan di dunia kejam ini. Selain Shinnosuke, anggota tim mereka terdiri atas:

  • Mizuiro Gunjou, siswi elit yang terungkap kerapuhan hatinya di bawah besarnya tekanan mental untuk menanggung nyawa teman-teman sekelasnya yang lain. Ada enam slot sihir yang bisa diisi dalam Headphone Fuzz, dan Gunjou mengisi salah satunya dengan sihir khasnya yang dahsyat berupa kincir-kincir roda air terbang.
  • Hishiro Shiro, pemuda berjiwa pemimpin yang mengisi seluruh slot sihirnya dengan sihir ofensif, yang salah satunya berwujud sebilah tombak(?) raksasa. Seperti Shinnosuke, belakangan terungkap bahwa ia pun memiliki misi pribadinya sendiri dalam memasuki labirin.
  • Kiryuu Kiri, seorang gadis cantik dan ramah yang merupakan orang pertama yang Shinnosuke temui di SMA Kichijouji, sekaligus orang pertama pula yang bisa ‘membaca’ dirinya. Ia terampil menggunakan pedang. Semenjak diselamatkan Shinnosuke, ia berulangkali menyatakan kalau ia jatuh cinta pada dirinya.
  • Endou Yousuke, seorang pemuda berkacamata yang setia pada Shiro dan merupakan salah satu anggota tim asalnya. Ia pribadi ramah yang mengisi seluruh slot Headphone Fuzz-nya dengan sihir-sihir pertahanan dan rela menggunakan tubuhnya sebagai taruhan.
  • Yuuyami Himi, seorang gadis pemalu yang juga menjadi anggota tim asal Shiro. Ia mengisi semua slot Headphone Fuzz dengan konfigurasi sihir untuk support. Salah satu sihirnya adalah kekuatan untuk membuat peta.

Sedangkan si tsundere Shinnosuke sendiri, seperti Kiri dan Gunjou, menggunakan konfigurasi sihir ‘seimbang’ hanya saja yang lebih berorientasi ofensif. Dua sihir yang paling utama digunakannya adalah ‘pedang sihir’ yang mengubah pisau lipat yang sering dibawanya menjadi pedang panjang beraura gelap, yang punya sifat ‘Assassinate’ yang memungkinkannya memburu titik kelemahan lawan secara otomatis; serta sihir akselerasi yang memberikannya kecepatan dewa meski hanya dalam satu detik. Kombinasi dua sihir langka ini menjadikan Shinnosuke pribadi yang sangat berbahaya.

Tapi yang kemudian patut dicatat adalah bagaimana salah satu slotnya juga ia isi dengan suatu sihir eksperimentil yang disebut Holy Sword, sihir belum sempurna yang khusus dikembangkan untuk membebaskan para gadis yang menjadi inti labirin tanpa membunuh mereka.

Sepuluh tahun telah Shinnosuke habiskan semata-mata demi bisa memperoleh sihir ini.

Alasannya kenapa? Karena adik perempuan Shinnosuke, Arisu Saki, adalah korban paling pertama dari Penyakit Labirin.

Saki, adik perempuan yang dulu sangat disayanginya, pasti masih hidup. Shinnosuke yakini itu. Karenanya, Shinnosuke akan melakukan segala cara untuk bisa membebaskan Saki dari dalam labirin paling berbahaya sekaligus keji yang tercipta darinya, Apocalypse Alice, labirin paling diincar di seluruh dunia yang memiliki peringkat 666.

Keputusasaan dan Hati Untuk Mempercayai Sahabat

Selain temponya yang cepat, daya tarik terbesar Mokushiroku Arisu ada pada adegan-adegan aksinya, yang entah bagaimana memang benar-benar seru. Meski banyak yang harus dipaparkan, perkembangan ceritanya beneran cepat. Lalu ada banyak twist tak terduga sepanjang jalan yang membuatnya benar-benar asyik diikuti, meski sekaligus membuat penasaran juga. Ada pengkhianatan, ada prasangka, ada pemalsuan informasi, ada pasukan-pasukan militer yang punya maksud misterius, ada kematian di mana-mana yang terjadi secara tragis.

Tapi di sisi lain, meski langka, ada bagian-bagian ketika kekuatan persahabatan akhirnya menang juga. Lalu Shinnosuke dengan enggan pun mesti akui, bahwa memang ada beberapa hal tertentu yang takkan dapat dilakukannya seorang diri.

Sayangnya, ceritanya saat ini tengah menggantung di buku ketiga, yang mungkin disebabkan kesibukan Kagami-sensei dengan beragam proyeknya juga. Padahal cerita sedang seru-serunya juga, dengan bagaimana Shinnosuke dan Gunjou yang sama-sama disangka tewas berhasil memasuki labirin Apocalypse Alice jauh lebih cepat dari dugaan. Lalu mereka berusaha menyusul rombongan Shiro yang telah pergi lebih dulu, untuk mengungkap apa sebenarnya yang dicari Perusahaan Farmasi Taikou, konglomerat riset raksasa yang menjalin kontrak dengan sekolah mereka untuk berbagai serbuan mereka ke labirin.

Beberapa karakter lain yang menonjol mencakup Honjou Tsukasa-sensei, guru sekolah yang selalu memberi mereka arahan setiap kali ada suatu kasus penyakit labirin terjadi (yang bisa jadi adalah psikopat). Lalu Sanae Yayoi, sepupu Shinnosuke yang jatuh cinta padanya, yang merupakan seorang remaja jenius yang memiliki lab penelitiannya sendiri di Taikou (tapi juga memiliki sifat dingin bila dihadapkan pada orang-orang selain Shinnosuke).

Ceritanya aneh di banyak bagian, dan para karakternya kerap melelahkan. Ada kesan kalau Kagami-sensei seperti gemar mempermainkan kita sebagai pembaca. Tapi aku benar-benar tak bisa menyangkal kalau ceritanya seru.

Agak aneh karena meski Owari no Seraph sudah dibuat anime sebanyak dua season (dengan kualitas sangat baik oleh Wit Studio), kepopuleran Mokushiroku Arisu belum banyak terdengar. Mungkin karena seri bukunya lagi hiatus dengan perkembangan menggantung? Padahal sejauh yang aku tahu, para fans yang suka seri ini termasuk orang-orang yang benar-benar suka. Sekali lagi, karena ceritanya memang seru.

Selain novel aslinya, seri ini juga sudah diangkat ke bentuk manga yang digambar oleh Youko. Nuansanya lumayan unik. Selain karena dialognya yang relatif padat, juga karena gaya gambarnya yang benar-benar mencerminkan nuansa muram dari dunianya.

Selebihnya…

Sial. Mungkin benar aku menulis ini sekarang adalah karena sedang berusaha mencari harapan di tengah keputusasaan.

Yah, siapapun tolong kabari aku kalau ternyata seri ini sudah ada perkembangan.

Heavy Object

Heavy Object (harfiahnya berarti ‘benda berat’) merupakan karya kedua dari pengarang light novel Kamachi Kazuma yang diadaptasi ke bentuk anime. Jumlah episodenya sebanyak 24, produksinya dilakukan studio J.C. Staff, dan penyutradaraan dan komposisi serinya masing-masing ditangani oleh staf veteran Watanabe Takashi dan Yoshino Hiroyuki.

Untuk yang belum tahu, Kamachi-sensei adalah pengarang seri Toaru Majutsu no Index yang sangat terkenal di Jepang beserta semua seri lepasannya. Selain itu, yang membuat beliau menakjubkan adalah banyaknya karya beliau dalam kurun waktu relatif pendek, menjadikan beliau salah satu pengarang ranobe paling produktif di masa ini. (Beberapa pengarang produktif lain misalnya Nisio Isin dan Kawahara Reki, tapi mending kita bahas karya mereka di postingan lain.)

Terlepas dari itu, aku jujur terkejut saat mendengar Heavy Object akan dianimasikan. Meski produktif dan unik, cerita-cerita Kamachi-sensei biasanya punya struktur cerita yang agak-agak ajaib, dan karenanya agak ‘menantang’ kalau mau diubah ke bentuk manga atau anime secara bagus.

Makanya, aku lebih terkejut lagi saat mendapati hasil adaptasi anime Heavy Object ternyata beneran bagus. Di samping mempertahankan nuansa khas di novelnya, animenya juga berhasil menutupi kelemahan mencolok di narasi novelnya lewat pemaparan karakter yang benar-benar bagus.

Tayang sepanjang dua cour dari Oktober 2015 sampai Maret 2016, anime Heavy Object mungkin termasuk yang kurang terdengar gaungnya. Premisnya memang hanya cocok dengan sebagian orang. Perkembangan karakternya juga minim, ada porsi fanservice konsisten yang agak mendistraksi meski tak sampai benar-benar mengganggu, dan dialognya lumayan dipenuhi technical jargon. Tapi untuk mereka yang bisa menggemarinya, ini serius termasuk adaptasi yang bisa dinilai berhasil.

Dunia Dengan Geopolitik Kaleidoskop

Heavy Object berlatar jauh di masa depan, ketika balapan senjata antar negara-negara dunia berujung pada terciptanya kendaraan-kendaraan perang kolosal yang kebal terhadap segala bentuk persenjataan yang diciptakan sebelumnya: bom nuklir, persenjataan laser, persenjataan kimia, dan bahkan bom hidrogen(?!). Kendaraan-kendaraan tersebut disebut Object, dan lazimnya memiliki ‘rangka utama’ berupa bola bundar raksasa.

Penemuan Object mengubah paradigma perang dunia. Berhubung semua senjata perang lain seperti tank, pesawat tempur, rudal-rudal ICBM, sudah tak bisa berdampak lagi terhadap Object, dunia memasuki era ‘perang bersih’ di mana yang namanya ‘perang’ pada dasarnya hanya ‘adu Object’ antara negara-negara yang berkepentingan.

Lalu yang namanya militer sudah tak lagi aktif terjun ke medan perang. Mereka jadi lebih kayak tim mekanik yang membantu maintenance Object kayak di pit stop balapan Formula 1.

Namun bahkan di masa ini, perang masih saja sering terjadi. Gara-gara ini, batas-batas negara di dunia jadi cepat sekali berubah. Ini berakibat pada bagaimana dunia kini sebenarnya tak lagi terbagi oleh negara, tapi oleh blok-blok kekuatan besar yang dibedakan oleh paham.

Blok-blok kekuatan tersebut antara lain:

  • Legitimate Kingdom, yang berpaham aristokraktik dan mengutamakan kebangsawanan dan garis keturunan. Dari blok ini para tokoh utama kita berasal.
  • Information Alliance, yang menjunjung tinggi pengetahuan dan mengutamakan pengumpulan informasi di atas segala-galanya.
  • Capitalist Union, yang mengutamakan uang, yang di dalamnya, memberi sumbangan bisa berujung pada penahanan di penjara.
  • Faith Organization, yang bisa dibilang semacam konglomerasi dari hampir semua aliran kepercayaan yang ada di dunia, termasuk dewa-dewa kuno dan yang baru.

Lalu karena dibedakannya oleh paham, masing-masing tidak lagi terkelompok dalam geografis berdekatan. Wilayah setiap blok seperti tersebar secara acak begitu. Tiap kelompok seperti punya wilayah ‘di mana-mana’ yang bisa terisolir dari wilayah-wilayah lainnya, dengan batas-batas yang selalu bisa berubah setiap hari.

Heavy Object berkisah tentang dua tokoh utama, Qwenthur Barbotage dan Havia Winchell yang tergabung dalam 24th Mobile Maintenance Battallion pimpinan komandan wanita muda Frolaytia Capistrano (yang memiliki proporsi badan yang benar-benar bagus). Kedua orang yang belakangan ketahuan sama-sama agak idiot sekaligus nekad ini pada awalnya tak berminat terhadap perang.

Qwenthur (yang menjadi ‘otak’ di antara mereka) adalah pelajar dari kalangan biasa yang memang mendalami desain Object dengan melibatkan diri untuk bekerja di tim mekaniknya. Dia suka pada hasil perkembangan teknologi yang dipakai di Object dan ingin bisa menguasainya.

Sedangkan Havia, yang sebaya dengan Qwenthur (dan menjadi ‘otot’ bagi keduanya, mengingat status Qwenthur sebagai pelajar membuatnya tak boleh membawa senjata api, meskipun ia boleh membawa-bawa peledak Hand Axe), adalah keturunan keluarga bangsawan yang sebenarnya tak perlu terlibat dalam perang. Namun Havia tetap bergabung dalam kemiliteran—dan resminya, berkedudukan sebagai penganalisa radar—karena ingin mengumpulkan ‘pencapaian’ dan tanda jasa yang bisa berguna baginya saat kelak ia menjadi kepala keluarga. (Alasan sebenarnya adalah karena ia ingin bisa menikahi tunangannya yang berasal dari keluarga Vanderbilt, yang nyata-nyata bermusuhan dengan keluarga Winchell.)

Di awal cerita, Qwenthur dan Havia sama-sama merasa bahwa sekalipun telah ada di ‘medan perang,’ keterlibatan mereka bakal minor karena di zaman ini, segala sesuatunya bisa diserahkan pada sang Elite; sebutan bagi para pilot yang mentalnya telah dikondisikan khusus untuk bisa mengendalikan Object.

Elite di pasukan mereka adalah seorang gadis berbadan mungil dan sifat sedikit aneh bernama Milinda Brantini (yang kerap dipanggil ‘Tuan Putri’), yang mengemudikan Object bernama Baby Magnum yang penanganannya dilakukan oleh Battallion ke-24.

Namun dalam misi pertama mereka di Alaska (yang seharusnya gampang), Baby Magnum kalah oleh Object milik pasukan musuh. Kegentingan terjadi karena hanya kematian yang menanti batallion yang Object-nya kalah dan pernyataan menyerah pasukannya tak digubris. Maka dari itu, sang Tuan Putri pun menjadikan dirinya umpan agar anggota-anggota pasukannya bisa lolos.

Meski kini dihadapkan dengan kengerian medan perang, Qwenthur dan Havia, yang secara kebetulan baru bertatap muka dengan Milinda sebelum pertempuran pecah, tak bisa menerima begitu saja hasil ini. Mereka lalu membangkang perintah Frolaytia dan melakukan upaya nekad untuk menyelamatkan Milinda.

Lalu di luar perkiraan semua orang, ternyata mereka berhasil.

“Segala yang diciptakan tangan manusia, pasti bisa dihancurkan dengan tangan manusia.”

Apa yang keren dari Heavy Object ada pada perjuangan untuk membalikkan sesuatu yang semula dianggap tak mungkin. …Uh, biasanya lewat bagaimana kedua tokoh utama saling teriak-teriak dan mengeluh di antara darah dan ledakan.

Konflik utamanya dimulai dari bagaimana keberhasilan Qwenthur dan Havia dalam mengalahkan sebuah Object tanpa Object langsung seolah mengubah paradigma pikiran orang secara besar-besaran di dunia. Intinya, gara-gara mereka, Object jadi tidak lagi dipandang sebagai ancaman yang ‘secara mutlak’ tak mungkin bisa dikalahkan. Ini langsung kembali mengubah bagaimana perang terjadi, karena Object jadi seperti kehilangan ‘nilainya’ sebagai ‘ancaman’ (deterrent).

Qwenthur dan Havia menyangka kesuksesan mereka akan membuat mereka diakui sebagai pahlawan dan bisa membuat mereka santai-santai dan hidup enak. Tapi tidaaak. Justru karena itu, keduanya dikenal ke seluruh dunia sebagai pasangan ‘pembantai naga’ dan malah kembali diterjunkan ke medan perang untuk menangani berbagai urusan terkait Object.

Bukannya santai dan hidup enak seperti yang semula diharapkan, Qwenthur dan Havia malah dikirim ke berbagai penjuru dunia (Alaska, Gibraltar, Kutub Selatan, Amerika Selatan, lalu Alaska lagi) sekalipun mereka jelas-jelas enggan. Lagi dan lagi mereka secara konyol (tapi serius) harus berhadapan dengan bahaya (meski kini merela lebih banyak didukung Milinda yang sudah bersikap lebih ramah terhadap mereka). Tapi protes berulangkali juga takkan ada gunanya karena para bangsawan di negara mereka memang seenaknya.

Apalagi mengingat bagaimana Baby Magnum, suatu Object generasi pertama yang diciptakan untuk segala medan, sebenarnya sudah mulai kalah performanya dibandingkan Object-Object generasi kedua yang lebih dikhususkan untuk medan-medan tertentu.

Anime Heavy Object mengadaptasi cerita dari tiga buku pertama seri novelnya, dan lumayan berhasil memberi kesan kuat dengan menutupnya lewat cerita orisinil. Hasilnya terbilang keren. Meski berkesan panjang dan ada banyak hal yang terjadi, penggambaran dunianya terbilang komplit. Memang perkembangan karakternya minim. Tapi pemaparan situasi perpolitikan antara satu pihak dan pihak lainnya berhasil disajikan dengan benar-benar menarik, lengkap dengan intrik spionase, kehadiran orang penting yang harus dijaga/diawasi, dan sebagainya.

Makanya, aku enggak kaget dengan rumor yang bilang bahwa anime ini semula dimaksudkan hanya 12 episode, tapi jadi dipanjangkan menjadi 24 episode saat cakupan peminatnya mulai kelihatan.

“Aishiteruze, Baby.”

Sedikit bicara soal materi aslinya, seri novelnya diterbitkan oleh ASCII Media Works di bawah label Dengeki Bunko sejak tahun 2009. Bukunya sudah ada 11 pada saat ini kutulis. Lalu agak sama kasusnya dengan seri Toaru Majutsu no Index, meski perkembangan ceritanya terkesan minim, ceritanya sebenarnya berkembang, hanya saja dengan cara yang tidak terlalu kelihatan.

Serialisasi manganya sudah ada beberapa macam. Biasanya dalam bentuk serialisasi di majalah seinen milik Dengeki karena faktor istilah-istilah teknisnya, dan utamanya dibuat oleh Saitou Sakae.

Dalam salah satu novel, Kamachi-sensei pernah mengungkapkan bagaimana ide-ide cerita yang tak terpakai untuk sisi sains Index jadinya kemudian dipakai di Heavy Object. Membaca itu, aku maklum dengan bagaimana novel awalnya sangat terkesan sebagai novel one-shot. Tapi fakta ini membuat besarnya pembangunan dunia yang beliau masukkan dalam buku-buku berikutnya jadi makin mengesankan.

Karena tema yang dipilihnya, Kamachi-sensei juga memakai suatu gaya penceritaan sedemikian rupa agar seluruh situasi di medan perang bisa kayak tercermin dari dialog antara hanya beberapa orang. Dalam hal ini, yaitu dari dialog antara para tokoh utamanya saja. Ditambah lagi, sering ada penjelasan-penjelasan padat tapi berkepanjangan (yang sesekali diselingi hal-hal tak penting) dalam narasinya. Terutama kalau bahasannya sudah menyangkut beragam aspek teknologi yang dipakai di Object. Lalu para tokoh antagonisnya juga sengaja ditampilkan dalam porsi benar-benar minim, agar perhatian kita bisa lebih terfokus pada aksi antar Object saja.

Ajaibnya, pendekatan bercerita ini ikut terbawa ke animenya, tapi dengan nuansa natural yang terasa pas. Makanya, aku tak bisa bilang kalau hasil adaptasinya jelek.

Membahas soal teknis, ini kembali jadi keluaran studio J.C. Staff yang punya beragamn ciri khas mereka yang menonjol. Aspek audio dan visualnya sama-sama kuat, dengan penggambaran aspek-aspek mekanis serta letusan dan tembakan senjata yang mencolok. Grup band relatif baru ALL OFF tampil secara keren dengan membawakan lagu-lagu pembukanya, yang semuanya bertema soal pantang menyerah.

Waktu aku dengar bagaimana Watanabe-san, yang sebelumnya menangani Ichiban Ushiro no Daimaou dan Boogiepop Phantom, yang akan menyutradarainya, aku sudah bisa membayangkan hasilnya takkan jelek. Tapi tetap saja aku tak menyangka kalau hasilnya bakal sebagus ini.

Buatku pribadi, anime Heavy Object serius cukup melampaui perkiraan.

Hanya saja, ya itu, ini seri yang hanya cocok untuk sebagian orang. Seru sih, cuma relatif susah dimasuki penggemar awam karena beragam istilah teknologinya yang bisa sangat menarik untuk sebagian orang tapi sangat tidak menarik untuk sebagian yang lain.

Selain temanya yang aneh, juga ada nama-nama karakter aneh macam Sladder Honeysuckle (ilmuwan Object jenius berbahaya yang menjadi sasaran kepentingan banyak pihak), Charlotte Zoom (perwira wanita khusus yang mengawasi militer kerajaan), Flide (orang brengsek yang menjadi atasan Frolaytia dan kawan-kawannya), Lendy Farolito (yang ada di pihak Information Alliance), sampai Oh ho ho (Elite saingan Milinda dari Information Alliance yang pada akhirnya tak diungkapkan nama aslinya, yang juga tertarik pada Qwenthur).

Lalu terkadang sebelum masuk ke bagian-bagian yang seru, kita kerap disajikan hal-hal yang (terkesan) tak penting; macam pembicaraan antara Qwenthur, Havia, dan Frolaytia soal pole dancing; atau soal kenapa Qwenthur dan Havia tiba-tiba disuruh bikin igloo yang kemudian dipakai Frolaytia untuk masak. Jadi walau ada banyak hal serius di dalamnya, ini sebenarnya bukan seri yang bisa dibilang serius.

Maksudku, aku ngerti kalau kalian enggak suka. Tapi kalau kalian tipe yang bisa suka, ini seriusan termasuk bagus.

Gimanapun, aku selalu suka hal-hal yang membuatku tak putus harapan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: X; Eksekusi : A; Kepuasan Akhir: A+

Musaigen no Phantom World

Alasan aku mengikuti perkembangan Musaigen no Phantom World, pertama, karena musiknya. Tepatnya, karena lagu pembukanya. Band duo SCREEN mode membawakan lagu dengan irama dan lirik yang menarik.

Alasan kedua, karena di animasi pembuka dan penutup, ditampilkan seekor anjing bersayap dan seekor cumi-cumi/gurita/makhluk-bertentakel-entah-apa. Aku penasaran soal peran kedua makhluk ini. Selama menunggu, tahu-tahu saja aku mulai menikmati cerita Phantom World.

Musaigen no Phantom World, atau Myriad Colors Phantom World (‘dunia Phantom yang berjuta warna’), termasuk anime yang menuai kontroversi musim dingin lalu. Alasannya karena sebagai keluaran studio Kyoto Animation, ceritanya, katanya, tak sebagus anime-anime mereka sebelumnya. Ini terutama terasa sesudah Hibike! Euphonium yang mendahuluinya beberapa waktu lalu.

Singkatnya, ada banyak penggemar studio ini yang jadi menaruh harapan terlalu tinggi. Sementara, KyoAni sendiri sedang memilih mengerjakan sesuatu yang relatif ringan.

Setidaknya, menurut penilaianku sebagai orang awam, terlepas dari ceritanya sendiri, Phantom World masih termasuk seri yang penganimasiannya tereksekusi dengan sangat baik.

Kalau misalnya aku yang ditanya, hasil akhir Phantom World memang di luar ekspektasi. Tapi, di sisi lain, aku enggak akan secara blak-blakan sampai ngatain kalau ini jelek juga.

Jadi, yea. Mungkin berkat anjing bersayap dan cumi-cumi/gurita itu.

Aku berakhir jadi orang yang bisa menikmatinya.

(Diamlah. Beberapa bulan kemarin aku stres karena kerjaan! Aku emang lagi butuh sesuatu yang ringan!)

Berjumlah total 13 episode dan pertama tayang pada perempat awal tahun 2016 (ketika genre misteri sedang ngetren dan ada banyak pilihan anime menarik), Musaigen no Phantom World diangkat dari novel buatan Hatano Soichirou.

Novel ini diterbitkan KA Esma Bunko (jadi, sejak awal, pencetusannya memang telah menarik perhatian pihak KyoAni sendiri) pada tahun 2013 dengan ilustrasi orisinil buatan Shirabi. Jarak penerbitan antar bukunya cukup jauh, dengan buku kedua terbit tahun 2015 dan buku ketiga (terakhir?) terbit tahun 2016 sesudah animenya tayang.

Animenya lebih mengadaptasi bukunya yang pertama. Penyutradaraan dilakukan sutradara ternama Ishihara Tatsuya. Komposisi serinya dibuat oleh Shimo Fumihiko. Musiknya ditangani oleh EFFY.

What is reality

Cerita Phantom World berlatar di dunia di mana khayalan dan kenyataan seakan telah membaur. Ini terjadi akibat suatu insiden misterius di lembaga penelitian Arayashiki belasan tahun sebelumnya.

Phantom adalah istilah untuk menyebut berbagai macam hantu/monster/UMA dan makhluk-makhluk lain sejenis. Mereka pada awalnya dianggap manusia hanya sebatas ilusi, tapi mulai bermunculan dan bisa dilihat dengan mata telanjang semenjak terjadinya insiden itu.

Teorinya (kalau tak salah), Phantom-Phantom ini bermunculan dari dalam collective unconciousness manusia. Mereka jadi bisa tampak dengan mata telanjang sebagai dampak insiden tersebut atas cara kerja sistem saraf kita.

Meski biasanya memiliki hubungan live and let live dengan manusia, terkadang ada Phantom yang keberadaannya memang mengganggu atau bahkan membahayakan.

Karenanya, anak-anak dan remaja-remaja yang tahu-tahu didapati berkemampuan khusus semenjak insiden itu dapat berkontribusi membantu Arayashiki dengan bergabung dalam Klub Perbaikan Kesalahan Neural yang ada di tiap sekolah. Merekalah yang secara khusus menangani masalah-masalah seputar Phantom.

Phantom World berkisah tentang pengalaman-pengalaman siswa kelas satu SMA bernama Ichijou Haruhiko beserta teman-teman sekelompoknya di Perguruan Hosea, dalam menangani berbagai isu seputar Phantom.

Tapi Kalau Kau Ingin Lebih…

Cerita Phantom World memang tak pernah terlalu serius.

Adegan-adegan aksinya juga lebih ke ‘rame’ dan ‘menghebohkan’ ketimbang ‘fantastis’ dan ‘keren.’

Kalau dirangkum, ceritanya memang tak sekeren dan seberbobot bayanganku di awal. Namun entah ya. Ada bagian-bagian tertentu yang buatku sedikit thought provoking, walau sekali lagi, bahasannya tak pernah sampai terlalu serius.

Haruhiko adalah anak remaja yang sangat hobi membaca. Karenanya, ia tahu banyak tentang berbagai hal, walau manfaat pengetahuannya secara praktis agak dipertanyakan. Haruhiko tinggal sendiri. Karenanya, membaca jadi semacam caranya untuk melewatkan keadaan.

Di samping itu, Haruhiko juga jago menggambar. Kemampuan menggambarnya itu yang jadi kekuatan dia dalam menghadapi Phantom. Lewat buku gambar yang selalu ia bawa:

  • Haruhiko bisa menyegel Phantom manapun yang telah berhasil ia gambar.
  • Sebaliknya, Haruhiko juga nantinya mampu memanggil Phantom-Phantom yang digambarnya ulang untuk membantunya.

Karena benar-benar menikmati membaca, harus diakui, Haruhiko agak kurang olahraga.

Ada satu Phantom kecil bertipe peri dengan motif tampilan Timur Tengah bernama Ruru, yang karena suatu alasan, telah lama mengikuti Haruhiko ke mana-mana. Sifat Ruru sedikit cerewet. Karena itu pula, ia bisa jadi akrab dengan orang-orang lain di sekeliling Haruhiko.

Ada kakak kelas bernama Kawakami Mai yang menjadi rekan satu tim Haruhiko di klub. Mai-senpai adalah gadis remaja cantik dengan rambut pirang karena berdarah blasteran. Sifatnya ramah dan bisa diandalkan. Namun karena kecendrungannya untuk bertindak sebelum berpikir, Mai kesulitan menemukan orang-orang yang cocok bekerja sama dengannya dalam menghadapi Phantom.

Selain itu, kemampuan Mai adalah semacam ilmu bela diri kempo yang dipadukan dengan kekuatan-kekuatan elemen air, tanah, api, dan logam yang ‘ditarik’ dari berbagai titik vital di dalam tubuhnya. Karena kemampuannya itu rentan menimbulkan kerusakan pada lingkungan sekitar, kebanyakan orang enggan bekerja dengannya.

Jadilah, di awal cerita, kelompok Mai hanya terdiri atas dirinya dan Haruhiko saja.

Karena suatu alasan, seperti halnya Haruhiko, Mai-senpai pun hidup seorang diri. Balas jasa yang dimintanya dari menangani Phantom di klub selalu adalah kupon-kupon yang bisa ditukar dengan barang kebutuhan pokok.

Lewat perkembangan berbasis karakter, Phantom World mengeksplorasi bertambahnya anggota tim Haruhiko dan Mai-senpai, beserta masalah yang dihadapi masing-masing.

Mulai dari Izumi Reina, murid pindahan yang manis dan sopan (tapi jago aikido) yang tak bergabung dengan klub karena isu orangtua yang mengekang. Padahal Reina mempunyai kemampuan untuk ‘melahap’ Phantom. Dikisahkan juga bahwa kakak perempuan Reina pergi meninggalkan rumah dan menghilang.

Cerita berlanjut ke upaya Haruhiko untuk mengajak bergabung Minase Koito. Koito adalah siswi penyendiri dan cool, yang menangani Phantom lewat kekuatan suaranya yang dahsyat, tapi tak pernah mau terlibat dengan orang lain.

Selain mereka, juga ada murid SD bernama Kumamakura Kurumi yang boneka beruang miliknya, Albrecht, dapat bergerak sendiri dan memiliki tenaga besar. Mai dan Haruhiko pun ingin mengajak Kurumi bergabung; meski Kurumi memiliki sedikit masalah kepercayaan diri.

Seperti yang kubilang, ceritanya tak pernah terlalu berat atau serius. Suasana visualnya dijaga agar selalu cerah. Ini terlihat dari desain berbagai Phantom-nya yang beragam; mulai dari konyol dan unik sampai keren, tapi tak pernah sampai benar-benar menakutkan.

Penanganan Phantom-nya juga tak melulu diakhiri dengan baku hantam.

Walau demikian, kuperhatikan selalu kayak ada bagian-bagian tertentu dari ceritanya yang kalau mau dibahas, sebenarnya enggak bisa dibahas dengan main-main. Ada tema-tema soal perasaan terlantar yang Haruhiko rasakan karena ditinggal ibunya sewaktu kecil, Atau perasaan kompleks Reina yang bisa sampai berpikir kalau keluarganya sebenarnya bukan keluarganya yang asli.

Hal menarik lain adalah bagaimana fenomena-fenomena Phantom–tak seperti bayanganku–tak melulu dimulai dengan sekedar muncul lalu berbuat kekacauan. Kasus-kasusnya juga dapat terjadi lewat beragam fenomena ganjil yang ujung-ujungnya mempengaruhi panca indera dan pikiran manusia.

Jadi, walau perkembangannya tak sedalam ataupun seberbobot yang aku sangka, bagiku, hasil akhir Phantom World tetap menarik.

Kenapa Tak Terus Mencari?

Membahas soal teknis… kita membahas KyoAni di sini, jadi sebenarnya tak banyak yang perlu dibahas.

Apapun kata orang, ini tetap keluaran mereka yang solid. Kelihatan banget sehebat apa mereka sebagai studio bila karya mereka yang ‘terjelek’ saja bisa sebagus ini.

Dari segi konten, seri ini memang agak berat di fanservice. Sebenarnya, bukan fanservice yang biasanya, lewat banyaknya karakter perempuan di sekeliling Haruhiko yang cantik dan manis.

…Entah ya.

Sebagai cowok lajang yang telah menginjak usia om-om, aku enggak bisa mengeluh banyak soal ini.

Satu hal menarik lain adalah bagaimana hampir setiap episode dibuka dengan pemaparan Haruhiko dan Ruru soal tema yang akan sedikit diangkat di episode tersebut.

Dari segi isi, karena tiap episode punya tema bahasan yang berbeda, struktur cerita Phantom World mirip seperti struktur cerita serial TV. Ada tema demikian di episode ini, untuk premis kayak begini. Orang-orang yang menghadapinya nanti adalah para karakter utama yang terdiri atas ini, ini, dan ini. Lalu, terkadang ada ‘karakter tamu’ ini. Satu episode akan sedikit mereferensikan apa yang terjadi di episode berikutnya. Terus, menjelang akhir season, ada perkembangan situasi genting yang penyelesaiannya menjadi penutup cerita.

Seperti yang kusadari dari Chuunikoi dan Kyoukai no Kanata, karena materi aslinya ada di bawah naungan mereka sendiri, KyoAni kayak punya kebebasan lebih soal bagaimana adaptasi animenya akan mereka lakukan.

Jadi, KyoAni tidak seperti studio-studio lain yang mengadaptasi light novel ke bentuk anime dengan tujuan untuk mempromosikan novelnya.

KyoAni berbeda.

KyoAni mengadaptasi novel murni untuk menghasilkan suatu karya anime yang menurut mereka bisa berdiri sendiri. Kalau seri novel yang jadi basisnya tetap laku, ya, itu jadi pemasukan tambahan buat mereka.

Makanya, dalam hal ini, aku merasa kalau kayaknya materi cerita asli di novel karya Hatano-sensei punya bobot perkembangan yang mungkin lebih besar. Dengan sejumlah subplot seperti kakak perempuan Reina yang hilang, atau bagaimana Mai-senpai juga hidup sendiri, serta bagaimana lembaga Arayashiki di animenya hanya disinggung secara selintas, KyoAni mungkin memangkas porsi cerita agak banyak untuk adaptasi anime seri ini.

Satu, mungkin karena cerita di novelnya belum membuka jawaban sampai sejauh sana.

Dua, mungkin juga karena isu durasi dari sponsornya.

Tapi, sekali lagi, itu cuma perasaanku pribadi. Jadi mending jangan terlalu dipermasalahkan.

Terbukalah Dunia Baru!

Ada pelajaran sederhana yang kuperoleh dari mengikuti seri ini: kalau mengembangkan sebuah produk, yang paling perlu kau lakukan bukanlah membuat produk kamu itu bagus, melainkan memastikan bahwa produk kamu memang adalah yang dibutuhkan orang.

Kenyataan bahwa aku suka Musaigen no Phantom World, dan tak terlalu mendalami Hibike! Euphonium misalnya, adalah bukti bahwa KyoAni bisa merasakan adanya konsumen yang belum tersentuh oleh produk mereka sebelumnya. Karenanya, mereka mencoba sesuatu yang lain.

Oke. Komentar satu itu juga agak terlalu seenaknya. Jadi mending jangan terlalu dimasalahin.

(Gyagh! Kalian para fans Hibike! Euphonium jangan ngamuk! Jangan ngamuk!)

Kesimpulannya, Phantom World adalah jenis anime ringan yang kurasa hanya sekedar ‘hidup’ di masanya. Bukan jenis seri yang akan dikenang orang. Karenanya, juga bukan jenis yang akan aku rekomendasikan, kecuali kau benar-benar tertarik pada keanehannya.

Tapi, yeah, aku menikmatinya. Ceritanya pun berakhir cukup mengesankan dengan bagaimana Haruhiko berhadapan dengan sosok Phantom istimewa Enigma yang menyerupai ibunya.

Selama musim kemarin, Phantom World menjadi salah satu hiburanku di hari Kamis, bersama satu seri lain yang sempat menonjol di musim itu. Jadi, aku tak bisa membencinya.

Oh, soal dua makhluk itu? Yeah, akhirnya terungkap kalau keduanya semacam penggambaran imut dari Marchosias dan Cthulhu. Tapi, walau imut, menjelang akhir, wujud mereka yang sesungguhnya terungkap kok.

Penilaian

Konsep: C; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+

Dunia yang Sebenarnya, Edit 2017

Sedikit tambahan.

Cerita di versi novelnya ternyata benar berkembang ke arah yang jauh lebih gelap dibandingkan animenya. Diindikasikan di dalamnya ada lebih banyak kematian dan kehancuran.

Cerita di novelnya memang belum jauh saat animenya diproduksi. Sampai setahunan, kalau enggak salah tiga tahunan, malah baru terbit satu buku? Jadi, pas buku kedua akhirnya keluar, produksi animenya sudah terlanjur berjalan, dan konsepnya terlalu tanggung untuk diubah.

Ruru dan Kurumi merupakan karakter orisinil untuk versi anime btw. Jadi, mereka takkan kau temukan di versi novel.

Aku ingin menulis lebih banyak tentang novelnya, tapi sayang aku belum dapat sumber yang bagus. Mungkin lain kali.

Mobile Suit Gundam: Iron-Blooded Orphans

(Ini bahasan season pertama yo. Untuk yang kedua, bisa dilihat di sini.)

Aku ingat jelas waktu Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans diumumkan. Beritanya keluar di awal tahun 2015, tak lama sesudah Gundam Build Fighters Try dan Gundam: Reconguista in G tamat.

GBF Try dan Reconguista kunikmati, tapi keduanya tidak termasuk seri Gundam yang ‘meledak.’ Makanya, aku kaget sudah ada seri Gundam baru lagi secepat ini. Biasanya, ada pertimbangan agak lama soal anggaran, sponsor, saturasi pasar, dsb. Tapi, pihak produsen kelihatannya yakin sekali untuk seri satu ini. Aku jadi penasaran seri baru satu ini sebenarnya punya apa.

Sebutan untuk seri ini waktu itu hanya G-Tekketsu (‘tekketsu’ berarti darah besi/logam). Situs webnya hanya menampilkan jam hitungan mundur sekaligus gambar desain mecha utamanya yang ditutupi siluet. Siluet ini lalu secara perlahan terangkat seiring makin dekatnya waktu pengumuman.

Spekulasi bermunculan.

Di pertengahan 2015, judul seri baru ini secara resmi dibeberkan. Bentuk desain mechanya, sekaligus daftar staf yang bekerja di dalamnya, dengan seketika menyentak banyak penggemar.

G-Tekketsu atau Mobile Suit Gundam: Iron-Blooded Orphans (subjudulnya kira-kira berarti: ‘anak-anak yatim piatu berdarah besi’) tayang pada perempat akhir tahun 2015 sampai cour pertama 2016. Produksinya masih dilakukan studio Sunrise. Jumlah episodenya sebanyak 25, walau ini langsung disusul pengumuman akan ada season baru yang menyusul pada Oktober 2016. Ini membuat situasi penayangan Tekketsu mirip Gundam 00, yang antara season pertama dan kedua sempat diselingi penayangan Code Geass: Hangyaku no Lelouch R2 selama dua cour.

Apa yang menarik dari segi staf adalah penyutradaraannya yang dilakukan oleh Nagai Tatsuyuki dan penulisan naskah/komposisi seri yang ditangani oleh Okada Mari. Dua personil ini lebih dikenal berkat kolaborasi mereka dalam anime-anime drama remaja terkenal Toradora!, AnoHana, serta yang terbaru, The Anthem of the Heart. Keduanya pernah terlibat pembuatan anime mecha sebelumnya. Namun tetap saja, keputusan ini bagi banyak orang terbilang mengejutkan.

Aku juga dapat kesan kalau produksi Tekketsu sebenarnya sudah direncanakan lama. Mungkin bertahun-tahun sebelumnya. Lalu, karena sudah ‘matang’ konsepnya, seri ini langsung diluncurkan selagi panas.

Soal pengumuman stafnya, aku mendapat kesan positif. Okada-san belakangan dikenal sebagai penulis skenario yang prolific. Jadi, meski beliau beratnya di sisi penggalian konflik antar karakter (dan bukan di hal-hal kayak intrik, komedi, konspirasi, misteri, dsb.), selama ada banyak masukan dari pihak Sunrise, kurasa hasilnya takkan sampai jelek. Sedangkan Nagai-san dulu menyutradarai dua season anime To Aru Kagaku no Railgun yang banyak dipuji, yang meski berat di interaksi karakter, menurutku juga menghasilkan adegan-adegan aksi yang benar-benar keren.

Dari segi desain mecha, kalangan penggemar Gunpla langsung memperhatikan desain mecha-mecha Tekketsu yang memiliki bentuk pinggang teramat ramping. Nyaris seolah rapuh. Ada perhatian lebih pada ‘rangka’ di dalam MS, yang buatku mengingatkan pada filosofi desain Nagano Mamoru. Karena kesan telanjangnya, ada yang berkomentar bahwa bentuk mecha utama yang ditampilkan di websitenya sebenarnya masih belum ‘jadi.’

Ada beberapa aspek aneh lainnya pada desain. Aspek-aspek yang juga disadari bahkan oleh penggemar awam. Namun hal-hal tersebut tidak langsung dipermasalahkan karena masih sebatas spekulasi.

Menilai bentuk bahu yang bundar ketika situs webnya masih tertutup siluet, aku bahkan sempat mengira/khawatir ini akan jadi seri berformat turnamen macam G Gundam lagi. Syukurlah karena ternyata bukan. (Arah ke sana sangat tidak bijak mengingat perkembangan cerita GBF dan GBF Try.)

Akhirnya, episode pertamanya tayang dan bisa disaksikan lewat streaming ke seluruh dunia. Hasilnya… bagus. Kayak, beneran bagus.

Jelas ada orang yang takkan cocok dengannya, dan akan merasa sulit menikmati. Tapi, bagi mereka yang cocok dengan G-Tekketsu–dan ini kemungkinannya besar kalau kau penggemar seri-seri Gundam lama–episode pertamanya bisa membuatmu terkesima karena apa persisnya yang membuat seri ini bagus agak di luar dugaan.

Orang-orang Seperti Mesin Itu

Berlatar di masa Post Disaster 323, sekitar tiga abad sesudah perang sangat besar yang disebut Calamity War (‘perang malapetaka’) antara Mars dan Bumi, koloni-koloni luar angkasa telah dibangun sebagai tempat hunian manusia, dan permukaan planet Mars telah melewati proses terraform sehingga kini dapat ditinggali secara bebas. Namun demikian, ketimpangan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk antara satu tempat dan tempat lainnya masih ada secara mencolok.

Tekketsu berkisah tentang sekelompok anak lelaki yatim piatu di kota Chryse, Mars, yang dipekerjakan sebagai tenaga bayaran oleh perusahaan pengamanan swasta CGS (Chryse Guard Security). Alasan anak-anak ini sampai dipekerjakan adalah karena selain dapat dibayar murah dan tak ada yang menuntut jaminan sosial bila mereka wafat, ada suatu sistem antarmuka yang disebut Alaya-Vijnana (‘arayashiki’) yang hanya dapat ditanamkan pada tulang belakang anak-anak dan remaja yang masih di usia pertumbuhan. Sistem ini memungkinkan mereka yang memilikinya menggunakan peralatan Mobile Worker tanpa pelatihan.

Karenanya, anak-anak ini disodori tawaran: bila mereka mau menjalani operasi (yang benar-benar menyakitkan, dan oleh sejumlah kalangan dipandang tidak manusiawi) untuk dipasangkan Alaya-Vijnana, maka mereka bakal dikasih tempat berteduh dan makanan; selama mereka mau bekerja sebagai prajurit di bawah naungan CGS. Lalu tawaran ini banyak diambil karena kebanyakan anak terlantar di Chryse sudah tak punya apa-apa lagi.

Cerita dimulai saat putri tunggal keluarga Bernstein yang berkuasa atas Chryse, Kudelia Aina Bernstein, hendak pergi ke Bumi atas undangan Makanai Togonosuke, perdana menteri Arbrau.

Di masa ini, pemerintahan di Bumi terbagi atas empat blok ekonomi. Masing-masing blok ekonomi tersebut memiliki porsi kekuasaannya sendiri, termasuk atas koloni-koloni luar angkasa dan wilayah-wilayah tertentu di Mars. Arbrau misalnya, berkuasa atas Bumi bagian utara yang di masa kini mencakup wilayah-wilayah Russia, Kanada, dan Alaska. Lalu di Mars, Chryse termasuk dalam lingkup kekuasaan Arbrau.

Lalu untuk keperluan perjalanan tersebut, CGS, yang dipimpin oleh seorang pria bernama Maruba Arkay, akan ditugaskan untuk mengawal Kudelia.

Terlepas dari keempat blok ekonomi tersebut, sebenarnya ada satu faksi berkuasa lain, yaitu entitas militer tunggal Gjallarhorn. Gjallarhorn secara netral diamanatkan untuk menjaga perdamaian di Bumi, Mars, serta koloni-koloni luar angkasa semenjak Calamity War berakhir. Organisasi militer elit ini mewarisi berbagai teknologi dan peralatan perang dari masa Calamity War, yang di dalamnya termasuk Mobile Worker serta Mobile Suit (MS) dalam jumlah sangat banyak.

Sesudah kedatangan Kudelia di markas CGS, Maruba memberi tanggung jawab pada Orga Itsuka dan kawan-kawannya untuk mengatur soal pengawalannya. Orga adalah salah satu yatim piatu di CGS yang menonjol karena jiwa kepemimpinannya. Karenanya, sebagian besar anak-anak tersebut patuh padanya.

Namun tanpa sepengetahuan banyak orang, maksud Kudelia menemui Makanai—yaitu untuk menegosiasikan perubahan kebijakan pengelolaan sumber daya half metal di Chryse, dengan harapan dapat mensejahterakan penduduk Mars—ternyata dipandang akan memicu gerakan yang dapat mengubah struktur sosial dunia secara besar-besaran. Karenanya, kedatangan Kudelia ke CGS ternyata memang diatur sebagai bagian dari rencana terselubung untuk membunuhnya. Orang-orang yang terlibat dalam rencana ini mencakup Coral Conrad, kepala cabang Gjallarhorn di Mars, serta Norman Bernstein, ayah Kudelia sendiri.

Hanya saja, rencana ini tak berlangsung mulus karena para personil CGS terlanjur berhasil melacak keberadaan pasukan Gjallarhorn di sekitar markas. Gjallarhorn pun melakukan penyerbuan besar-besaran ke markas CGS lebih cepat dari jadwal untuk mencegah Kudelia lolos. Maruba dan manajemen CGS lain melarikan diri saat sadar mereka sudah dijadikan tumbal oleh Gjallarhorn, dan sebaliknya mereka pun mengorbankan Orga dan kawan-kawannya yang tengah bertempur agar mereka sendiri bisa kabur.

Merasa terkhianati, anak-anak yatim piatu di CGS di luar dugaan berhasil membalikkan keadaan saat Orga memerintahkan diaktifkannya kembali sebuah MS di ruang bawah tanah markas, yang reaktor Ahab yang terpasang padanya selama ini digunakan sebagai sumber tenaga. Hanya MS pulalah yang dapat menandingi kekuatan MS; karena kedatangan pasukan MS Graze milik Gjallarhorn dengan mudah akan menyingkirkan pasukan Mobile Worker CGS. Untuk peran penting ini, Orga menugaskan partner andalan sekaligus sahabat lamanya sejak kecil, Mikazuki Augus, sebagai menjadi pilot MS tersebut.

MS ini ternyata adalah Gundam Barbatos, satu dari 72 mesin legendaris dengan kerangka Gundam Frame yang konon telah mengakhiri Calamity War tiga abad silam.

Lalu pengaktifan MS ini pula yang menandai berdirinya Tekkadan, badan usaha baru yang Orga dan kawan-kawannya dirikan untuk menggantikan peran CGS dengan mengambil alih aset-asetnya.

Seperti Diarahkan ke Jejak Seorang Teman yang Hilang

Musim tayang pertama Iron-Blooded Orphans bercerita tentang upaya Tekkadan menggantikan peran CGS dalam mengantarkan Kudelia ke Bumi.

Ceritanya lumayan diwarnai ‘nuansa abu-abu,’ dengan bagaimana orang-orang dipaksa melakukan sesuatu yang ‘keras’ atau ‘kejam’ karena tak diberi pilihan. Kecocokan penyampaiannya lumayan relatif untuk masing-masing orang sih. Jadi aku bisa mengerti kalau ada orang-orang yang kurang nyaman dengannya.

Hanya saja, kalau kau penggemar Gundam lama, aku merasa kemungkinannya besar kau bakal suka. Melihat episode pertamanya saja—dan ini diperkuat pada episode-episode ke sana—aku melihat banyak motif dari seri-seri Gundam sebelumnya tertanam dalam Iron-Blooded Orphans. Seperti drama kehidupan serta konflik pandangan dari seri-seri Gundam era Universal Century, nuansa kasar medan perang The 08th MS Team, nuansa aristokratik dari Gundam Wing, sampai nuansa kekeluargaan di Gundam X.

Di samping perbudakan korporat, G-Tekketsu seperti berusaha menyampaikan bagaimana anak-anak bisa sampai dimanfaatkan sedemikian rupa untuk kepentingan orang-orang dewasa. Menariknya, tema ini disampaikan bukan hanya lewat pemaparan para anggota Tekkadan. Ini juga tersampaikan lewat situasi Kudelia, anggota-anggota keluarga yang berkuasa di Gjallarhorn, serta pihak-pihak lain yang bersimpangan jalan dengan mereka.

Dalam perkembangan cerita, Kudelia kembali meminta jasa sponsornya, seorang pria sangat kaya di Mars bernama Nobliss Gordon, untuk membiayai perjalanannya sekaligus perlindungan Tekkadan. Tapi di awal cerita, Kudelia tak menyadari bahwa Noblisslah yang justru menjadi dalang dari rencana pembunuhan atas dirinya.

Di sisi Gjallarhorn cabang Mars sendiri, guncangan terjadi saat tiba-tiba  datang tim audit dari Bumi menjelang pelaksanaan rencana Coral untuk membunuh Kudelia.

Tim audit ini terdiri atas dua perwira elit khusus yang masih berada di usia relatif muda, McGillis Fareed dan Gaelio Bauduin, yang untuk beberapa lama mengambil alih operasional dari Coral yang kini terbukti korup. Keduanya sama-sama kompeten; McGillis dengan karisma dan kecerdasannya, sementara Gaelio dengan ketangguhan dan harga dirinya. Lalu dalam mengusut kasus Kudelia, mereka memantau perjalanan Tekkadan dan beberapa kali menjadi lawan yang menghalangi mereka.

Dikisahkan juga bahwa McGillis dan Gaelio sama-sama berasal dari dua keluarga ternama yang termasuk golongan Seven Stars, dan kelak mereka akan mewarisi posisi kepala keluarga masing-masing. McGillis khususnya, telah dijodohkan dengan adik perempuan Gaelio, Almiria Bauduin, sekalipun nyatanya Almiria jelas-jelas masih anak-anak. Almiria tak berkeberatan dengan McGillis yang merupakan sahabat kakaknya. Namun jelas bahwa perjodohan tersebut dilakukan atas dasar politik, dan McGillis sendiri diceritakan memiliki maksud tertentu lewat perjodohannya ini.

Perkembangan situasi dunia dan karakternya itu benar-benar menarik karena ada fokus besar diberikan terhadapnya. Hal ini memang menjadikan Iron-Blooded Orphans salah satu seri Gundam dengan frekuensi adegan pertempuran terjarang yang aku tahu. Kayak, ada jeda-jeda panjang antara satu adegan MS dengan lainnya. Pernah sampai ada sekitar tiga episode yang tak ada adegan mechanya sama sekali. Tapi pas adegan-adegan aksinya itu ada, aksi dan koreografinya itu benar-benar intens dan seru.

Fokus terbesar tentu saja ada pada Tekkadan pimpinan Orga, yang bergerak di bawah perlindungan Mikazuki yang menggunakan Gundam Barbatos. Mereka berhasil memperoleh media transportasi untuk Kudelia berupa kapal Isaribi yang sebelumnya dimiliki CGS (sebelumnya bernama Will-o-the-Wisp). Tapi tetap saja komposisi terbesar keanggotaan mereka adalah remaja dan anak-anak. Jadi kayak ada konflik yang digali dengan bagaimana keadaan menuntut mereka bersikap lebih matang dan dewasa dari usia mereka.

Hal tersebut merupakan tema klasik dalam seri-seri Gundam. Tapi di sini, itu terutama terpapar lewat hubungan antara Orga dan Mikazuki; yang mana Orga, dengan kepolosan masa kecil mereka, pernah membujuk Mika di masa lalu untuk membunuh seseorang dan membuatnya dengan setia mengikutinya sampai sekarang.

Maka Mikapun semenjak itu senantiasa mengikutinya, menuntutnya lewat tatapan matanya, untuk bisa membawa dirinya sekaligus teman-teman mereka ke suatu ‘tempat’ yang baru…

Bunga Besi yang Lebih Kuat Dari Darah

Berhubung jumlah tokohnya banyak, berikut rekapnya untuk memantau siapa itu siapa.

Setelah lolos dari Gjallarhorn di awal cerita, anggota Tekkadan yang ikut dalam pekerjaan pertama mereka ke Bumi mencakup:

  • Mikazuki Augus; pendiam, pragmatis, dan terkesan berdarah dingin; namun sebenarnya berhati baik dan sangat setia terhadap kawan-kawannya di Tekkadan. Terutama terhadap Orga, yang dengan sangat setia ia patuhi setiap perintahnya. Dikagumi di dalam Tekkadan karena kesungguhan dan ketangguhannya, yang menjadikannya satu-satunya anggota Tekkadan yang mampu menerima dahsyatnya arus umpan balik dari Gundam Barbatos. Seperti kebanyakan anak lain di Tekkadan, di awal cerita Mika masih belum bisa membaca.
  • Orga Itsuka; yang dipercaya dan diangkat sebagai pemimpin Tekkadan oleh teman-temannya. Karenanya, ia terus berjuang untuk bisa membuktikan diri pada orang-orang di sekitarnya dan sekaligus pada dirinya sendiri. Teman sejak kecil Mikazuki yang dipercayainya seperti saudara.
  • Biscuit Griffon; tangan kanan Orga dalam segala urusan terkait administrasi dan negosiasi klien. Meski sedikit gemuk, ia menjadi salah satu anggota Tekkadan paling dikenal karena hatinya yang baik dan tutur katanya yang sopan. Berbeda dari sejumlah anggota Tekkadan lainnya, Biscuit masih memiliki keluarga (seorang nenek yang bekerja sebagai petani, Sakura Pretzel, sekaligus dua adik perempuan kembar yang cerdas dan ceria yang ingin disekolahkannya, Cookie Griffon dan Cracker Griffon), dan sebelumnya ia sukarela bekerja pada CGS untuk menambah pemasukan keluarganya. Biscuit juga pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah.
  • Akihiro Altland; pemuda kekar yang menjadi pemimpin segolongan anak-anak CGS yang berasal dari human debris (‘puing manusia’), istilah yang mengacu pada orang-orang yang diperjualbelikan selayaknya budak di masa ini. Pendiam, tidak terlalu dekat dengan para anggota lain pada awalnya, ditambah punya kecendrungan untuk membahayakan diri. Tapi ia mulai terbuka semenjak Orga memberi Akhiro dan kawan-kawannya sesama human debris tempat bernaung, dan sekaligus mengembalikan harga diri mereka. Dirinya pilot MS paling ahli kedua di Tekkadan sesudah Mikazuki. Awalnya, ia menggunakan MS produksi massal Graze Custom yang Tekkadan berhasil peroleh dari Gjallarhorn. Tapi sesudah konflik melawan kelompok pembajak Brewers (yang dipimpin Brooke Kabayan dan tangan kanannya yang kejam, Kudal Cadel), Akihiro dipercayakan Gundam Gusion milik Brewers yang kemudian dimodifikasi lagi menjadi Gundam Gusion Rebake.
  • Eugene Sevenstark; salah satu sosok menonjol di CGS sebelum Orga menjadi pemimpin Tekkadan. Unggul dalam sejumlah aspek dibandingkan Orga, tapi sedikit lebih gegabah dari Orga yang senantiasa berpikir panjang. Karenanya, Eugene punya kecendrungan besar untuk bisa membuktikan diri. Dalam perkembangannya, Eugene menjadi andalan Orga dalam memanuver Isaribi, sekaligus orang yang ia pilih sebagai wakilnya bila dirinya sedang tak ada di tempat.
  • Norba Shino; pemuda kurus dan ceria yang menjadi personil Tekkadan yang paling ahli dalam pertempuran personil jarak dekat. Ia mengambil alih kemudi Graze Custom menggantikan Akihiro, dan kemudian seenaknya menamainya Ryusei-Go dalam modifikasinya yang lebih lanjut. Mudah akrab dengan orang lain.
  • Takaki Uno; anak-menjelang-remaja yang biasa mengasuh anak-anak yang lebih kecil di Tekkadan. Dari zaman CGS, ia membantu menjalankan berbagai peran, mulai dari utusan sampai pembantu umum. Juga ingin bisa lebih aktif dalam pertempuran.
  • Yamagi Gilmerton; anggota Tekkadan yang tertutup dan pendiam, tapi perhatian terhadap teman-temannya. Pandai membantu dalam urusan mekanis. (Desain karakternya agak gampang terbalik dengan Takaki. Bedanya, mata Yamagi tertutup sebelah oleh poni rambut yang lebih panjang dan ia selalu berkaus tangan.)
  • Ride Mass; bocah berambut merah yang merupakan salah satu anak termuda di Tekkadan. Bicaranya kurang halus, tapi perasaannya terhadap kawan-kawannya tulus. Ia juga selalu ingin bisa membuktikan diri.
  • Chad Chadan; anggota Tekkadan berkulit hitam yang kurang menonjol, yang memiliki masa lalu sebagai human debris seperti halnya Akihiro. Belakangan, ia membantu urusan komunikasi dan navigasi di Isaribi.
  • Dante Mogro; pemuda gempal berambut merah yang juga pernah menjadi human debris bersama Akihiro. Terungkap kalau ia punya keahlian dalam bidang electronic warfare.
  • Nadi Yukinojo Kassapa; pria besar berotot berkulit hitam yang bekerja di CGS sebagai mekanik sebelum dipekerjakan kembali oleh Tekkadan. Aslinya, Yukinojo mendalami Mobile Worker, tapi aktifnya Gundam Barbatos membuatnya harus mulai menangani MS juga. Salah satu orang yang paling memahami kepribadian Orga.
  • Atra Mixta; gadis kecil yang sebelumnya bekerja sebagai penjaga toko kelontong yang sering mengantar pasokan makanan ke CGS. Bisa akrab dengan Mikazuki dan kawan-kawannya karena ia juga yatim piatu. Menyukai Mikazuki. Saat mengetahui bahwa pekerjaan pertama Tekkadan adalah ke Bumi, Atra mengundurkan diri dari pekerjaannya di toko dan mengajukan lamaran pekerjaan ke Tekkadan sebagai koki.

Tugas Tekkadan adalah mengawal Kudelia Aina Bernstein—bersama pelayan wanita Kudelia yang pendiam namun serba bisa, Fumitan Admoss—ke pertemuan dengan Makanai Togonosuke di Arbrau, Bumi.

Dalam perjalanan, Tekkadan bersimpangan jalan dengan keluarga Turbines yang menggunakan kapal Hammerhead (yang secara tak langsung terjadi karena Maruba tak rela semua asetnya diambil). Pertemuan ini menandai awal persekutuan Tekkadan dengan Turbines, yang kemudian memberikan Tekkadan akses ke Teiwaz, perusahaan konglomerat besar yang menguasai jalur-jalur transportasi di wilayah sabuk asteroid di sekitar Mars dan Jupiter, yang sekaligus memiliki kaitan dengan mafia.

Keluarga Turbines meliputi:

  • Naze Turbine; kepala keluarga Turbines yang selalu berpakaian necis. Awalnya hanya tertarik, tapi lambat laun dirinya benar-benar peduli pada Orga dan kemudian menjadikannya saudara angkat. Ia seorang praktisi poligami.
  • Amida Archa; istri Naze sekaligus tangan kanannya di Turbines. Ia wanita cantik berkulit coklat yang memiliki guratan bekas luka besar pada badannya. Panggilannya ‘Ane-san.’ Ia juga seorang pilot MS yang handal.
  • Lafter Frankland; perempuan berambut pirang yang menjadi salah satu istri Naze(?). Di balik bawaan pesoleknya, Lafter salah salah satu pilot MS tertangguh di Turbines. Belakangan ikut turun ke Bumi bersama Tekkadan sebagai bala bantuan dari Turbines.
  • Azee Gurumin, perempuan pendiam berambut kelabu yang menjadi salah satu pilot andalan lain di Turbines. Dirinya ikut ke Bumi bersama Lafter sebagai bala bantuan Tekkadan.
  • Eco Turbine, perempuan berkuncir yang menjadi salah satu anggota lain Turbines yang ikut ke Bumi untuk membantu Tekkadan. Dirinya bala bantuan yang dikirim untuk penanganan MS.

Naze memperkenalkan Orga pada McMurdo Barriston, perwakilan Teiwaz yang tertarik untuk menjadikan Tekkadan salah satu perusahaan di bawahnya. Berkat McMurdo, Tekkadan berhasil menemukan jalur yang memungkinkan mereka menghindari Gjallarhorn, namun dengan syarat mereka juga menyelesaikan sejumlah pekerjaan darinya.

Untuk membantu Orga yang masih awam dalam urusan pengelolaan perusahaan, McMurdo menugaskan seorang wanita handal yang sebelumnya bekerja di sektor perbankan Teiwaz bernama Merribit Stapleton ke Tekkadan. Meski kadangkala bentrok dengan Orga karena perbedaan pendapat, Merribit lambat laun menjadi sosok yang menyadarkan Orga akan segala keterbatasannya dan demikian pula sebaliknya.

Dari sisi antagonis, selain McGillis, Gaelio, dan kelompok Brewers, mereka yang merintangi jalan Tekkadan baik secara langsung maupun tidak langsung meliputi:

  • Crank Zent; perwira Gjallarhorn veteran yang gusar dengan keberadaan tentara anak-anak di Mars.
  • Ein Dalton; bawahan Crank yang sangat setia terhadapnya. Seorang pemuda yang juga mendapat diskiriminasi di Gjallarhorn karena tidak terlahir di Bumi. Dalam perkembangan cerita, ia turut serta di bawah bimbingan Gaelio.
  • Carta Issue, pemimpin armada pengawas orbit Bumi, juga berasal dari salah satu keluarga Seven Stars. Ia perempuan eksentrik yang merupakan kawan masa kecil Gaelio dan McGillis yang sedikit lebih tua. Memiliki cinta lama yang tak berbalas terhadap McGillis sekaligus harga diri tinggi.
  • Iznario Fareed; ayah angkat(?) McGillis yang merupakan salah satu Seven Stars dan kepala keluarga Fareed. Memiliki suatu agenda pribadi dengan Gjallarhorn.
  • Henri Fleurs; seorang wanita yang menjadi lawan politik Makanai, sekaligus kandidat terkuat untuk memperoleh kursi perdana menteri Arbrau. Didukung oleh Iznario.

Sumber Penghidupan Akan Kita Temukan di Medan Perang

Bicara soal mecha, ciri khas desain mecha di Iron-Blooded Orphans ada pada bentuk pinggangnya yang sangat ramping, seolah hanya ditunjang oleh satu batang. Kerangka MS yang sebelumnya bisa terlihat itu kemudian seperti ditutupi oleh berlapis-lapis zirah. Jadi secara visual, bentuknya berbeda jauh dari konsep desain robot ‘tradisional’ yang dibikin berbalok-balok dulu di awal dan baru dirampingkan bila perlu. Jadi dengan melihat sekilas saja, kau akan bisa langsung mengenali apakah sebuah Gunpla berasal dari seri ini atau bukan.

Soal ini, wow, ada banyak yang ingin aku bahas.

Iron-Blooded Orphans memperkenalkan konsep Mobile Worker, kendaraan beroda tiga yang fleksibel dalam menempuh berbagai medan dan dilengkapi sepasang senapan mesin, yang dipakai baik oleh Tekkadan maupun Gjallarhorn. Kalah jauh dibandingkan MS tapi dapat unggul dari segi jumlah, bagian kakinya yang beroda dapat digantikan dengan pendorong untuk kebutuhan di luar angkasa. (Berkat implementasi Alaya-Vijnana, bahkan anak kecil seperti Ride pun dapat mengoperasikannya melalui kabel panjang yang terhubung ke punggung.)

Iron-Blooded Orphans mengadopsi versi tersendiri dari fisika Minovsky dari seri-seri era UC lewat keberadaan reaktor Ahab yang menghambat komunikasi radio. Tapi di dunia IBO, persenjataan sinar seperti Beam Saber dan Beam Rifle, apalagi Beam Shield dan Beam Rotor; seolah sama sekali tak ada. Persenjataan mecha di IBO sepenuhnya berbasis proyektil padat (seperti peluru dan misil) kalau bukan senjata-senjata melee jarak dekat (dalam hal ini, kampak yang dimiliki MS produksi massal Graze atau tombak gada yang dimiliki Gundam Barbatos).

Selain reaktor Ahab, kapal-kapal induk dan MS juga mengandalkan pelapis yang disebut Nano Laminated Armor yang melindungi mereka dari kerusakan serangan secara langsung.

Dikisahkan bahwa setiap Gundam Frame adalah kerangka MS langka yang dilengkapi sepasang reaktor Ahab (mirip dengan twin drive system di Gundam 00), yang membuatnya memiliki keluaran benar-benar besar. Berhubung sulitnya memproduksi sepasang reaktor Ahab yang dapat bekerja secara paralel (dan caranya kelihatannya telah dilupakan sejarah), hanya 72 kerangka ini yang pernah diproduksi di masa Calamity War. Namun demikian, semuanya dirancang sedemikian rupa agar implementasinya fleksibel dan bisa digunakan dalam lingkungan apapun.

Seperti yang disampaikan dalam materi-materi promosinya, Gundam Barbatos melewati beberapa bentuk berbeda di sepanjang seri. Seiring perkembangan cerita, pihak Tekkadan dan Turbines terus melakukan modifikasi terhadapnya sesuai dengan ketersediaan komponen dan senjata saat itu.

Tahapan pengembangannya di season ini kalau tak salah:

  • Bentuk pertama: Bentuk awal Barbatos saat pertama ditemukan oleh Maruba di Mars, ketika reaktor Ahabnya hanya digunakan sebagai generator listrik. Zirahnya sudah mulai rapuh dan hancur sebagian, dan berada dalam kondisi tidak memiliki kokpit. (Kokpitnya terlontar saat pilot lamanya meloloskan diri?) Yukinojo dan Yamagi menyiasati ketiadaan kokpit dengan memasangkan kokpit Mobile Worker padanya. Tombak gada yang menjadi andalan Mika juga ditemukan di markas CGS dan nampaknya merupakan salah satu perlengkapan asli MS ini sejak awal.
  • Bentuk kedua: Bentuk Barbatos yang bagian-bagian bolongnya sudah separuh ditambal dengan suku cadang yang diperoleh dari Graze yang Mika kalahkan. Ditandai dengan bentuk bahunya yang persegi dan berwarna biru. Mulai dilengkapi dengan Smoothbore Gun yang dapat dilipat, yang mampu menembakkan peluru berkecepatan tinggi berdiameter 300mm dan dikhususkan untuk dipakai dalam lingkungan bergravitasi nol.
  • Bentuk ketiga: Bentuk Barbatos yang bagian pelindung tangan kirinya yang rusak telah digantikan dengan Wire Claw (‘cakar kawat’) yang diperoleh dari MS Schwalbe Graze milik Gaelio. Perlengkapan baru ini ternyata berperan vital dalam performa selama bentuk ini digunakan.
  • Bentuk keempat: Bentuk asli Barbatos (atau setidaknya, bentuk yang mendekati bentuk aslinya) yang berhasil dikembalikan para teknisi Teiwaz berkat informasi lama dalam basis data yang mereka simpan. Wujud ini diperoleh Mika dan kawan-kawannya di koloni luar angkasa Saisei. Performanya jauh meningkat dibandingkan sebelumnya, dengan keseimbangan mesin yang lebih stabil dan keluaran serta rentang operasi yang lebih baik. Ditandai oleh bentuk pelindung bahunya yang putih bundar. Mulai bentuk ini, Barbatos dilengkapi pedang katana panjang yang baru Mika kuasai cara pakainya menjelang akhir cerita.
  • Bentuk kelima: Bentuk Barbatos sesudah dilengkapi sejumlah perlengkapan tambahan, yang sebagian disediakan oleh Perusahaan Montag yang misterius. Memiliki pendorong tambahan di pinggang yang diperoleh dari Schwalbe Graze milik Ein, serta pelindung reactive armor yang dipasangkan pada badan untuk menghadapi pola serang berkecepatan tinggi dari Gundam Kimaris milik Gaelio. Setiba di Bumi, bentuk ini disesuaikan lagi, terutama dengan kaki baru yang memudahkan pergerakan di bawah gravitasi.
  • Bentuk keenam: Bentuk final Gundam Barbatos untuk pertempuran terakhir di Edmonton, yang disesuaikan dari variasi tanah bentuk kelima rancangan Eco Turbine. Ciri khasnya ada pada zirah tambahan baru di sekujur tubuhnya serta sepasang pendorong baru di pinggang. Dalam wujud ini, kelincahan Gundam Barbatos berkurang, tapi perlindungan baru yang dimilikinya memungkinkannya beroperasi lebih lama di medan pertempuran. Menggantikan tombak gadanya yang terlepas di luar angkasa, Mika juga jadi mengandalkan gada baru yang diperkuat di bentuk ini.

Sesudah konflik dengan Brewers, Tekkadan memperoleh Gundam Gusion yang sebelumnya digunakan Kudal Cadel. Memiliki keluaran besar serta zirah teramat tebal, Gundam Gusion seperti raksasa hijau gempal yang hanya bisa beroperasi di luar angkasa, dan dilengkapi persenjataan senapan mesin, granat, serta palu raksasa.

Baru sesudah Gundam Gusion jatuh ke tangan Akihiro, keluarga Turbines memodifikasinya ke bentuk Gundam Gusion Rebake yang lebih efisien dengan memanfaatkan suku cadang yang awalnya disediakan untuk Gundam Barbatos. Sistem Alaya-Vijnana ditambahkan. Zirah tebal pada badannya dikurangi, dan aspek pertahanannya dialihkan ke perisai sangat besar yang dapat disimpan di pinggangnya. Pada kepalanya, dilengkapi sensor sangat sensitif yang membuatnya cocok dengan beragam persenjataan jarak jauh. Juga dilengkapi beberapa variasi kampak untuk pertempuran jarak dekat, serta tambahan sub-arms tersembunyi yang diperoleh dari Graze (mirip Seravee Gundam dari Gundam 00?). Ini terus terang menjadikan Gusion Rebake sebuah mecha dengan konsep unik yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Sedangkan untuk MS produksi massal, Graze menjadi MS standar yang digunakan pasukan Gjallarhorn. Ciri khasnya ada pada bentuk kepala mereka yang dapat membuka seperti rahang. Diproduksi dengan teknologi tercanggih Gjallarhorn, MS ini memiliki pilihan senjata banyak sekaligus perlengkapan yang dapat disesuaikan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Variasi Graze mencakup Graze Commander Type (pernah digunakan Coral Conrad) yang ditandai dengan antena tambahan untuk komandan; Graze Ground Type untuk pertempuran dengan gravitasi, yang dilengkapi pedang baja ringan di punggung sera bentuk kaki berbeda dari versi standar; Schwalbe Graze yang dikustomisasi untuk mobilitas tinggi (pernah dipakai McGillis dan Gaelio, dengan variasi yang dipakai Gaelio dilengkapi tombak di tangan kanan); serta Graze Ritter, milik pasukan pengamanan orbit Bumi pimpinan Carta, yang keseimbangan dan mobilitasnya disesuaikan untuk pertempuran di orbit serta dilengkapi pedang tipis di pinggang.

Pihak Turbines menggunakan MS produksi massal Hyakuren (yang sempat dipakai Amida dan Azee). Selain mempunyai senapan dan bilah pedang sebagai senjata utama, Hyakuren juga dapat menggunakan pelindung kepalanya sebagai senjata.

Ada variasinya yang berkecepatan tinggi bernama Hyakuri milik Lafter, yang perlengkapan sistem pendorongnya dapat berubah bentuk dan menjadi kombinasi pelindung dan perisai. Tak terlihat kalau hanya sekilas, tapi dari segi fungsional, Hyakuri punya desain yang benar-benar keren.

Dalam perkembangan cerita, dua unit Hyakuren yang digunakan Lafter dan Azee disertakan ke Bumi bersama Tekkadan. Tapi asal-usul keduanya perlu ditutupi agar aliansi Tekkadan dan Turbines tak diketahui umum. Karenanya, selain dimodifikasi untuk performa di bawah gravitasi, bentuk luarnya dimodifikasi secara drastis, menjadikannya MS baru dengan kerangka sama bernama Rouei.

Selebihnya, ada MS produksi massal Man Rodi yang digunakan Brewers, yang serupa dengan konsep zirah tebal dan keluaran besar berbentuk bulat Gundam Gusion. Man Rodi dilengkapi senapan mesin, palu dan granat. MS ini nampaknya berasal dari hasil modifikasi MS serba guna Spinner Rodi yang aslinya digunakan untuk kebutuhan industri.

Pada pertengahan cerita, Gaelio menggunakan MS pusaka keluarga Bauduin, Gundam Kimaris, yang dilengkapi pendorong punggung tambahan, untuk menandingi Gundam Barbatos. Dilengkapi tombak khusus Gungnir, MS ini mampu melancarkan serangan-serangan jarak dekat berkecepatan tinggi dari berbagai arah yang sempat membuat Mika kewalahan.

Gundam Kimaris selanjutnya disesuaikan lebih lanjut untuk bisa memberikan performa serupa di Bumi, menjadi Gundam Kimaris Trooper. Masih dengan tombak, tapi MS ini kini juga dengan perisai dan pedang, dengan bentuk menyerupai centaur yang telah dilengkapi subarm dan badan yang mampu mengambang. Selain masih berkecepatan tinggi di bawah gravitasi, MS ini juga mampu melancarkan serangan jarak dekat beruntun lewat berbagai senjata yang terpasang padanya.

Melengkapi tim MS di Tekkadan, Shino mengambil alih Graze Custom yang sebelumnya digunakan Akihiro. Berkat kustomisasi dengan bantuan pihak Turbines, Graze Custom dilengkapi perlengkapan tambahan dari Hyakuren, mengubahnya menjadi Graze Custom II yang dinamai Shino sebagai Ryusei-Go. Meski perlengkapannya standar, performa MS ini lebih tinggi dari Graze pada umumnya, dan warnanya sengaja dipilih merah muda oleh Shino dengan alasan untuk menambah semangat tempurnya.

Seperti halnya Gundam Barbatos dan Gundam Gusion Rebake, Ryusei-Go pun dapat terhubung dengan pesawat transportasi berkecepatan tinggi Kutan Sangata (Kutan Type 3) yang diperoleh dari Teiwaz, yang beberapa kali sempat dikemudikan oleh Yukinojo.

Lawan terakhir yang harus dihadapi di season ini adalah MS raksasa Graze Ein, hasil implementasi teknologi terlarang Alaya-Vijnana di sisi Gjallarhorn. Berbentuk seperti Graze, hanya saja berukuran jauh lebih besar dan memiliki kelincahan yang juga jauh di luar dugaan. Kemunculan pertama MS ini mengingatkanku akan kemunculan Psycho Gundam di Zeta Gundam yang langsung menimbulkan kengerian dengan ukurannya yang teramat besar.

Sebagai tambahan, ada satu MS misterius berwarna merah bernama Grimgerde, yang digunakan secara pribadi oleh pria bertopeng logam yang mewakili Perusahaan Montag. MS ini konon menggunakan kerangka Valkyria Frame yang ringan (dan konon digunakan sebagai basis pengembangan Graze?), dan kabarnya baru dikembangkan menjelang penghujung Calamity War sehingga keberadaannya tak diketahui banyak orang. Selain senapan khusus yang ringan, senjatanya hanya sepasang bilah pedang yang tersembunyi di balik perisai yang menutupi kedua lengannya. Kedua bilah berwarna emas ini terbuat dari logam komposit yang sudah tak lagi diketahui cara pembuatannya, yang membuat MS ini jauh lebih mematikan dari kesan pertama.

“Aku tak akan takut pada matamu lagi.”

Bicara soal teknis, kualitas visual maupun audio Iron-Blooded Orphans benar-benar solid.

Pilihan gaya desain karakternya kuakui sempat membuat aneh di awal. Tapi, sesudah mengetahui inti ceritanya, gaya desain karakternya bisa dibilang pas dari sisi kepraktisan sekaligus tema. Bukan jenis yang mungkin mau kau buat jadi figur mainan, tapi lebih kayak jenis desain yang bisa diterima semua kalangan yang mungkin berminat terhadap seri ini.

Musik latarnya yang diaransemen Yokoyama Masaru memiliki ciri khas kuat. Track-track awalnya, yang semula mengingatkanku akan nuansa koboi, secara pas memberi bayangan akan padang-padang Mars yang kering dan berbatu.

Lagu pembuka “Raise Your Flag” dari band MAN WITH A MISSION, selain menunjukkan betapa stabilnya kualitas band tersebut selama bertahun-tahun (mereka terutama dikenal karena membawakan lagu “Database” yang menjadi lagu pembuka Log Horizon), secara keren seakan jadi arc words baru bagi para fans Gundam (sebelumnya, yang berasal dari lagu paling hanya “Stand Up to the Victory” dari Victory Gundam).

Soal visual, kualitas animasinya termasuk stabil. Bahkan ada beberapa teknik pengambilan gambar menarik yang sempat dipakai, seperti bagaimana animasi lagu pembuka pertama dibuat berbulir, memberi kesan bahwa visualnya benar-benar hasil dokumentasi perang.

Lalu yang membuatku terkesan, bagian-bagian animasi mekanisnya, meski tak menonjol, benar-benar berhasil dipresentasikan secara baik. Mulai dari markas luar angkasa Gjallarhorn, gudang penurunan barang di koloni-koloni, sampai rel-rel kereta berpasangan yang melintasi Amerika, penggambaran dunia di seri ini beneran terbilang bagus.

Soal eksekusinya, Nagai-san berhasil mengeluarkan yang terbaik dari naskahnya. Untuk yang bisa menikmati, karakterisasinya benar-benar kuat. Yang hebat, aspek karakterisasinya berhasil tersampaikan tanpa terlalu mengurangi aspek aksi maupun perkembangan dunianya.

Memang ada sedikit masalah pacing menjelang akhir. Dibandingkan dengan beberapa seri Gundam lain, terasa bagaimana ceritanya dipersingkat begitu latarnya masuk ke Bumi. Namun, sebagai salah satu seri Gundam langka yang klimaksnya di Bumi (dan bukan di luar angkasa), kesan kuat yang dibutuhkan di akhir berhasil didapat. …Seperti kebanyakan orang, aku sempat berharap aksinya bisa sedikit lebih banyak sih. Tapi aku tak menyesal dengan apa yang kudapat.

…Sebenarnya, ada lebih banyak yang ingin bisa kukomen soal ini. Namun, agak susah menjabarkannya. Jadi kayak, pada beberapa titik, memang ditampilkan betapa Tekkadan jadi pihak yang disorot dan didukung. Tapi, itu dilakukan tanpa melepas ‘kesan abu-abu’ dari tindakan dan perbuatan mereka. Seperti halnya Orga yang dilanda keraguan, kita diperlihatkan betapa ada sisi simpatik juga pada pihak Gjallarhorn. Selalu ada kesan kalau mungkin saja Tekkadan sebenarnya dimanfaatkan dengan naifnya oleh pihak-pihak yang lebih berkepentingan, dan bisa saja merekalah sebenarnya pihak yang salah.

Mikazuki, sebagai tokoh utama, seolah mewakili hal ini. Dirinya terang-terangan, karena alasan pragmatis, bisa bertindak benar-benar kejam. Dari waktu ke waktu, kita bisa melihat bagaimana bahkan Orga sendiri kadang terganggu melihat Mika telah menjadi orang seperti apa.

Mikazuki menjadi seperti itu karena kata-kata yang pernah dilontarkan Orga sendiri. Masalahnya, Orga sudah terlanjur berjanji padanya dan menyayanginya, serta sepenuhnya sadar bahwa Tekkadan bisa beranjak sejauh ini berkat keberadaan Mika juga. Karenanya, hubungan antara Mika dan Orga, yang disorot pada waktu-waktu tertentu, menghasilkan kesan yang benar-benar enggak biasa.

Sebaliknya, perkembangan karakter Mika lebih banyak digali lewat hubungannya dengan Kudelia dan Atra. Bagi beberapa orang, hubungan mereka benar-benar manis. Terasa kontras dengan aspek-aspek lain seri ini.

Lalu soal Kudelia, yang jadi inti pusaran konflik di seri ini… Berbeda dari Lacus Clyne dari Gundam SEED misalnya, atau Releena Darlian dari Gundam Wing, Kudelia di awal cerita benar-benar ditampilkan sebagai gadis remaja biasa.

Ya, Kudelia berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ya, dirinya juga punya maksud baik untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat di sekelilingnya. Namun di awal cerita, Kudelia sebenarnya sama sekali bukan pencetus idelogi revolusioner seperti yang digaungkan Gjallarhorn. Mungkin lebih kayak pelajar sekolah biasa yang suatu hari berkesempatan mempresentasikan karya tulisnya di suatu forum besar? Seiring perkembangan cerita, ketika Kudelia melihat sendiri dampak keberadaannya bagi masyarakat di koloni-koloni, barulah ia tumbuh menjadi figur politisi tangguh yang diharapkan Makanai dan ditakutkan Gjallarhorn. Jadi, semua tindakan kejam Gjallarhorn justru menghasilkan apa yang mereka takutkan dalam suatu ironi aneh.

(Kontras dengan kondisi sekarang yang komunikasinya dimudahkan dengan Internet, isu reaktor Ahab dan kebutuhan Ariadne membuat jalinan komunikasi antara Bumi dan luar angkasa kurang lancar. Dengan penyebaran berita yang terbatas, meski nama Kudelia mulai tersebar di banyak kalangan, dikisahkan hanya sedikit orang yang tahu tentang profil lengkap dan wajahnya.)

Karenanya, pertemuan Kudelia dengan Mika menjadi awal perubahan banyak hal bagi keduanya. Kudelia disadarkan dari kenaifan dan pikirannya yang pendek. Sedangkan Mika disadarkan bahwa ada ‘cara-cara lain’ di luar bayangannya semula, yang juga membuatnya tersadar pula bahwa Orga dan Kudelia, seperti halnya dirinya, juga sama-sama hanya manusia.

Perkembangan karakternya menurutku salah satu hal terbaik di seri ini. Gagasan untuk menggambarkan para karakternya dengan cara demikian itu benar-benar bagus.

“Ke mana kita sekarang?”

Akhir kata, mungkin Iron-Blooded Orphans enggak termasuk seri Gundam yang ‘rame.’ Tapi, aku tetap mesti mengatakan kalau ini termasuk seri Gundam yang bagus. Malah, bagi sebagian orang, mungkin ini seri Gundam terbagus dalam dua dasawarsa terakhir.

Selain sisi karakternya, hal berkesan dari Tekketsu adalah bagaimana ceritanya menggambarkan kalau yang terpenting dalam menuntaskan suatu kerjaan bukanlah besar dana atau kualifikasi personil, melainkan niat. Niat, sekaligus tekad. Semacam kesungguhan buat mengejar apa yang kita yakini, tanpa peduli pada orang-orang yang mau mengecilkan kita.

Aku bersyukur ceritanya ada lanjutannya. Sebab dengan pembangunan dunianya yang sebagus ini, akan sangat disayangkan kalau ceritanya diputus hanya sampai di sini. (Mungkin terlalu cepat kalau aku berpendapat begini, tapi aku punya firasat aneh kalau seri ini bisa saja mencapai tiga season.)

Sedikit soal adegan pertarungan terakhir, dua episode terakhir IBO menghadirkan adegan-adegan pertarungan jarak dekat yang intens. Lalu ini semua diiringi pembangunan situasi yang semakin genting. Hasil akhirnya menurutku serupa dengan pembangunan konflik terakhir di The Vision of Escaflowne. Sayang, karena banyaknya hal yang terjadi, pembangunan momennya masih kurang sempurna. Di tengah kerennya duel penghabisan antara Mika dan Gaelio misalnya, tiba-tiba ada hal terjadi yang membuat konfrontasi mereka terganggu di tengah.

Ah, lalu terkait para karakter dan hubungan antar mereka. Karakter Carta Issue dengan keeksentrikannya mirip dengan Chara Soon dari Gundam ZZ. Lalu ia dengan pas seolah menggambarkan bagaimana suatu tindakan dengan akibat serius bisa terjadi melalui tangan siapa saja. Hubungan yang terjalin antara McGillis dan Gaelio juga mirip dengan hubungan antara Char Aznable dan Garma Zabi pada seri Gundam orisinil. Jadi itu beberapa elemen karakter lain yang sempat disadari sejumlah penggemar.

Sebagai penutup, ada orang yang, uh, memintaku sekalian membuat terjemahan lirik lagu “Raise Your Flag” Jadi sesuai permintaannya, ini kubuat di bawah.

Kukatakan lagi, IBO termasuk bagus. Ceritanya bagi beberapa orang mungkin susah diikuti. Tapi kalau kalian mengikutinya, kurasa kalian mungkin bisa dapat sesuatu dari ini.

Tak sempurna sih. Tapi masih bagus.

Buatku pribadi, ini seri yang membuatku mempertanyakan ulang tujuanku setiap kali aku ragu. Lalu saat aku ingat, aku kembali akan menguatkan diriku untuk beranjak, sejauh dan sesulit apapun.

Bila untuk orang lain, tak pernah ada perjuangan kita yang benar-benar sia-sia.

 “Raise Your Flag” (by MAN WITH A MISSION)

Under pressure you are waiting for direction

Going on the road without your mind

 

All misleads they give ignoring our decisions

Killing yourself your soul we have inside

 

No one else but you are I’m waiting for

We can start it on just right here right now

 

Fear and circulation

But I am ready now

We can struggle and muzzle the world before it fades away

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

 

kitto itsuka

itsuka dokoka

tadoritsuku to shinjite

 

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

 

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

All mistakes I made are blurring my reflection

And it is more than I achieved so far

 

Taking this ship or not depends on your intention

To be the soldier or one bystandar

 

agakitsuduke taorekujike

haiagatte hashiritsudzukete

 

owari naki

yume no ma to ma

We can struggle and muzzle the world before it fades away

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

 

kitto itsuka

itsuka doko ka

tadoritsuku to shinjite

 

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

 

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

(ins)

 

When is the time?

It’s up to your own decision

 

The time to find

To struggle and prove our vision

 

When is the time?

To end all the false collision

 

The time to find

And we’ll move to the new division

 

When is the time?

It’s up to your own decision

 

The time to find

To struggle and prove our vision

 

So raise your flag

 

So raise your flag

 

So raise your flag

And we’ll move to the new division

 

Raise your flag

koe no kagiri

koe no kagiri

koe no kagiri sakende

kitto itsuka

itsuka dokoka

tadoritsuku to shinjite

Come on and raise your flag

So just raise your flag

nando kujike mayoedo

iki no kagiri

tsudzuku kagiri

yume o mitsudzuke samayou

 

 

Di bawah tekanan kau menantikan arah

Berangkat menempuh jalan dengan pikiran kosong

 

Semua petunjuk salah yang mereka beri mengabaikan keputusan kita

Membunuh dirimu, jiwamu yang kita pendam

 

Tak ada lagi selain kau yang aku tunggu

Kita bisa langsung mulai ini di sini sekarang juga

 

Rasa takut dan perputaran

Tapi aku siap sekarang

Kita bisa berontak dan bungkam dunia sebelum pudar

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

 

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Meyakini kita akan tiba di tujuan itu

 

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

 

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Teruslah bermimpi selama kita berkelana

 

Semua kesalahanku memburamkan refleksiku

Dan itu melampaui yang telah kuraih sekarang

 

Ikut kapal ini atau tidak bergantung pada niatmu

Untuk menjadi sang prajurit atau hanya saksi mata

 

Teruskan perjuangan, dan telanlah saat-saat kau kecewa

Lalu bangkitlah untuk berlari hingga akhir

 

Di sela-sela mimpi yang tiada akhir

Kita bisa berontak dan bungkam dunia sebelum semua sirna

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

 

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Yakinlah kita akan tiba di tujuan itu

 

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

 

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Teruslah bermimpi selama kita berkelana

 

(ins)

 

Kapan waktunya?

Itu terserah keputusanmu

 

Waktu untuk menemukan;

Untuk berjuang dan membuktikan visi kita

 

Kapan waktunya?

Untuk mengakhiri segala bentrokan palsu

 

Waktu untuk menemukan,

Untuk pindah ke pecahan yang baru

 

Kapan waktunya?

Itu terserah keputusanmu

 

Waktu untuk menemukan,

Untuk berjuang dan membuktikan visi kita

 

Jadi kibarkan benderamu

 

Jadi kibarkan benderamu

 

Jadi kibarkan benderamu

Dan kita pindah ke pecahan yang baru

 

Kibarkan benderamu

Dengan segenap suaramu

Dengan segenap suaramu

Teriakkan dengan segenap suaramu

Pasti suatu waktu

Suatu saat di suatu tempat

Yakinlah kita akan tiba di tujuan itu

Ayo kibarkan benderamu

Jadi kibarkan saja benderamu

Tak peduli berapa kali kita kalah dan hilang arah

Selama kita bernafas

Selama kita terus berjuang

Mimpimu berlanjut selama kita berkelana

Penilaian

Konsep: S; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A

(Sumber beberapa info dari situs web resmi G-Tekketsu serta situs web Gundam Wikia. Lirik dan terjemahannya dikutip dari Lyrical Nonsense.)

Rakudai Kishi no Chivalry

Selain pemanah, aku juga pernah menganggap konsep ksatria berbaju zirah itu benar-benar keren.

Ksatria keren karena mereka harusnya melindungi orang-orang lemah. Mereka bertindak mengikuti kode etik kehormatan yang mengikat. Lalu baju zirah yang mereka kenakan memberi mereka ‘ketahanan’ melampaui manusia biasa. Kayak, kau tahu, Iron Man.

Romantismeku soal ksatria berzirah tentu saja luntur ketika aku belajar lebih jauh tentang sejarah. (Juga, sesudah mengikuti A Song of Ice and Fire karya G. R. R. Martin.) Lalu pada titik ini aku nyadar kalau aku mungkin enggak jauh bedanya dari Kinoko Nasu, Raiku Makoto, dan banyak pengarang Jepang lain yang dengan seenaknya meromantisasi Inggris sebagai negara para ksatria.

Aku teringat kembali akan semua hal di atas sesudah mengikuti perkembangan anime Rakudai Kishi no Chivalry, yang terang-terangan menyebut soal ‘ksatria’ di judulnya. (subjudulnya: A Tale of the Worst One, kira-kira berarti ‘kisah dia yang terburuk’)

Hal yang terlintas di kepalaku: para ‘ksatria’ di sini hampir enggak ada yang pakai armor. Lalu kenyataan tersebut sempat membuatku terdiam untuk beberapa lama.

Terlepas dari itu, Rakudai Kishi no Chivalry (‘chivalry’ ditulis sebagai ‘eiyuutan’, dan karena cara bacanya, kadang judulnya salah ditulis/baca sebagai Rakudai Kishi no Cavalry), atau Chivalry of a Failed Knight (‘kehormatan seorang ksatria gagal’, walau dari cara penulisan aslinya, arti judul yang dimaksudkannya adalah ‘kisah-kisah kepahlawanan seorang ksatria gagal’), berawal dari seri light novel karya Misora Riku dengan ilustrasi yang dibuat Won. Seri ini diterbitkan di bawah label GA Bunko milik penerbit SB Creative sejak pertengahan 2013, dan terbilang berhasil punya pangsa penggemarnya sendiri.

Animenya dibuat studio Silver Link (dengan dibantu Nexus) dan mengudara belum lama ini di cour terakhir tahun 2015. Oonuma Shin yang menyutradarainya dengan dibantu Tamamura Jin. Sedangkan Yasukawa Shogo menangani naskah.

Ada adaptasi manganya juga yang keluar agak lebih awal, dibuat oleh Soramichi Megumu, dan diserialisasikan di Gangan Online milik Square Enix. Saat ini kutulis, manganya telah terbit sebanyak 5 buku.

Tidak Naik Kelas

Cerita Rakudai Kishi no Chivalry berlatar di dunia di mana manusia-manusia berkekuatan supernatural yang disebut Blazer mampu memanifestasikan senjata-senjata yang disebut Device dari dalam jiwa mereka. Mereka yang diakui sebagai ‘ksatria’ kemudian dapat berpartisipasi dalam ajang pertandingan prestisius yang disebut Seven Star Sword Art Festival, yang diadakan oleh tujuh Akademi Mage Knight paling terkemuka di Jepang, untuk menentukan siapa Apprentice Knight terkuat yang akan bergelar Seven Star Sword King.

Garis besar ceritanya sendiri seputar Kurogane Ikki, siswa Blazer F-rank dari Perguruan Hagun, yang pada tahun sebelumnya, secara tidak adil dilarang turut serta dalam pertandingan. Alasan yang diberikan adalah karena kekuatan sihirnya hanya F-rank. Padahal kemampuan bela diri Ikki sebenarnya lebih dari cukup untuk mengimbangi keterbatasan kekuatan sihirnya itu.

Ditambah lagi, ada situasi rumit lain yang mempersulit turut sertanya Ikki dalam pertandingan (yang terkait dengan latar belakang keluarga Kurogane dari mana Ikki berasal). Tapi semua itu berubah pada tahun ajaran baru, seiring dengan pergantian administrasi di Hagun, yang ditandai dengan pertemuan pertama Ikki dengan teman sekamarnya yang baru, Stella Vermilion, seorang Blazer A-rank yang sekaligus merupakan putri (beneran) dari Kerajaan Vermilion.

Singkat ceritanya kurang lebih begitu.

Premis cerita Rakudai Kishi no Chivalry sekilas terkesan sederhana. Ikki, dengan ditemani Stella yang nanti menjadi teman terpercaya serta kekasihnya, harus berjuang pada kesempatan barunya untuk mengikuti ajang Seven Star Sword Art Festival ini.

Ini seri aksi fantasi ala LN yang biasa ‘kan? Jenis yang sesekali diselingi fanservice? Sudah ada banyak seri macam begini! Tapi nyatanya, Rakudai Kishi no Chivalry ternyata berakhir menjadi salah satu adaptasi LN langka yang melampaui perkiraan orang.

Yeah, hasilnya secara umum disepakati lebih bagus dari perkiraan.

Adaptasi animenya dengan lumayan setia mengangkat cerita dari buku pertama sampai ketiga. Garis besarnya kurang lebih memaparkan perjuangan Ikki untuk lolos dari babak penyisihan di Hagun, dan membuktikan pada semua orang bagaimana dirinya sosok yang patut diperhtungkan.

Let’s Go Ahead

Perjuangan untuk membuktikan diri adalah tema klasik yang menarik untuk diangkat. Jujur saja, aku sampai sekarang masih yakin kalau justru itu sebenarnya yang membuat Naruto terkenal. Rakudai Kishi no Chivalry kembali mengangkat tema ini, dengan berulangkali memperlihatkan bagaimana Ikki ditempatkan dalam situasi-situasi tak adil. Tapi walaupun begitu, Ikki dengan tekad luar biasa selalu berhasil melampaui semua tantangan itu.

Sebenarnya, ini seri yang sempat agak malas kubahas berhubung ada sejumlah hal di dalamnya yang membuatku enggak sreg (seperti animasi lagu penutupnya, misalnya). Tapi di sisi lain, ada banyak hal di dalamnya yang sedemikian melampaui perkiraan sehingga aku tetap merasa seri ini baiknya aku ulas.

Anime Rakudai Kishi no Chivalry juga menampilkan adegan-adegan aksi yang benar-benar keren. Meski bobot aksinya mungkin tak sebanyak itu, koreografi semuanya benar-benar keren.

Hal ini tercermin dalam animasi pembukanya yang dibawakan dengan nuansa gekiga, diiringi suara vokal Sakai Mikio yang sudah lama sekali enggak kudengar dalam suatu anisong. Kalau kau perhatikan, ada tiga variasi untuk animasi pembuka ini, sesuai jumlah buku yang diangkat dari seri novelnya. Lalu cara pengarahannya memberikan kesan yang benar-benar kuat.

Sebelum animenya keluar, terjemahan LN-nya yang dibuat fans termasuk salah satu yang sempat kulihat. Lalu sejujurnya, alasan pertama aku tertarik dengan Rakudai Kishi no Chivalry sama sekali tak ada hubungannya dengan soal ksatria, aksi, atau lainnya. Alasannya karena pas aku secara iseng membaca terjemahan novelnya itu, aku berhasil dibuat tertawa ngakak oleh leluconnya yang paling pertama.

…Leluconnya agak fanservice-y, jadi tak akan kusinggung biar enggak spoiler.

Tapi dari sana, lambat laun ceritanya memperkenalkan kita kepada para tokoh dan karakternya. Terlepas dari deskripsi karakter Stella yang mungkin agak wish fulfillment, para karakter utama seri ini ternyata memang benar-benar simpatik. Ikki sangat pekerja keras dan pantang menyerah. Adik perempuannya yang A-rank seperti Stella, Kurogane Shizuku, meski di awal berkesan aneh, digambarkan sangat menyayangi kakaknya karena menjadi saksi semua kerja keras Ikki sekaligus semua ketidakadilan yang ditimpakan padanya. Lalu karakter teman sekamar Shizuku, Arisuin Nagi alias Alice, yang merupakan laki-laki yang merasa jiwanya perempuan, juga menjadi karakter tak biasa dengan caranya menempatkan diri di garis-garis tepi, membuatnya perhatian terhadap hal-hal yang tak disadari oleh kebanyakan orang lain.

Karakter-karakter lawan utama yang perlu Ikki hadapi selama ajang penyisihan di Hagun meliputi Kirihara Shizuya, rival lamanya dari tahun sebelumnya; Ayatsuji Ayase, seorang kakak kelas yang ternyata menjadi pewaris ilmu pedang dari orang yang pernah diidolakan Ikki, serta Toudou Touka, siswi yang telah diakui sebagai ksatria terkuat yang pernah dimiliki Hagun.

Intinya, karakterisasi seri ini di luar dugaan benar-benar tak biasa. Memang masih agak hit or miss buat sebagian orang. Tapi untuk seri-seri aksi/fantasi/komedi/adaptasi LN sejenisnya, para karakter di Rakudai Kishi no Chivalry memang terbilang gampang disukai, dan itu menjadi kekuatan seri ini yang terbesar.

Sedikit catatan biar tak lupa:

  • Kusakabe Kagami, siswi berkacamata yang menempatkan diri sebagai wartawan koran sekolah Hagun, dan selalu bekerja keras untuk bisa mendapat scoop.
  • Shinguuji Kurono-sensei, yang dulu pernah menempati peringkat ketiga sedunia, sekaligus kepala sekolah Hagun yang baru. Dirinyalah pribadi yang memberikan kesempatan baru bagi Ikki, dengan syarat bahwa Ikki harus dapat memenagi seluruh pertandingannya. Ia juga yang memecat seluruh staf yang terlibat penghalangan Ikki pada tahun sebelumnya.
  • Oriki Yuri-sensei, wali kelas Ikki yang pertama memberi Ikki kesempatan untuk bersekolah di Hagun. Karena kondisi fisiknya, ia akan memuntahkan seliter darah setiap hari.
  • Kurashiki Kuraudo, alias Sword Eater, seorang saingan Ikki dari sekolah lain.

Takkan Kubiarkan Siapapun Membantah Identitasku

It’s kinda weird.

Rakudai Kishi no Chivalry karena suatu sebab, tayang pada musim yang sama dengan anime Gakusen Toushi Asterisk yang memiliki banyak sekali kemiripan dengannya. Ini sebenarnya cerita tak asing buat mereka yang kebetulan sedang ‘aktif’ mengikuti perkembangan anime di musim bersangkutan, tapi kayaknya ini tetap patut kusinggung.

Berhubung aku sama-sama mengikuti perkembangan terjemahan versi LN dari keduanya, aku sudah lama menyadari kemiripan antara kedua seri ini. Tapi bagaimana keduanya kemudian tayang di musim yang sama, dengan kemiripan tema, dan sebagainya, seriusan memberikan kesan kalau kedua seri ini sedang ‘diadu.’

Beberapa kemiripannya antara lain:

  • Sama-sama mengetengahkan tentang suatu ajang pertandingan yang para pesertanya saling bertarung dengan kekuatan-kekuatan khusus.
  • Memiliki tokoh utama perempuan seorang putri, yang berambut merah, dan memiliki kekuatan api.
  • Lagu pembuka yang dibawakan sama-sama mengandung frasa ‘brave new world
  • Sama-sama dibuka dengan adegan pertemuan berbau fanservice yang sejenis.

Sekali lagi, kalau ini kebetulan, ini kebetulan yang seriusan aneh. Mungkin ini contoh nyata kalau collective unconciousness umat manusia yang dikemukakan Carl Jung memang benar-benar ada.

Terlepas dari itu, secara pribadi, aku berpendapat kalau Gakusen Toushi Asterisk mempunyai cerita dan pembangunan dunia lebih bagus, tetapi Rakudai Kishi no Chivalry lebih unggul dari segi karakter. Makanya saat dibawa ke bentuk anime, terasa bagaimana Rakudai Kishi no Chivalry sepertinya yang lebih bagus di antara keduanya, meski mungkin penilaian ini agak kurang adil berhubung cakupan cerita Asterisk lebih panjang dan durasinya sejak awal direncanakan sebanyak dua cour.

Pastinya, aku awalnya tak berharap banyak pada seri ini. Pada bagian-bagian komedi dan fanservice-nya, tanggapanku juga lumayan biasa. Tapi kemudian aku tersadar betapa ada bagian-bagian tertentu yang berhasil membuatku agak berpikir. Pertamanya, pada adegan-adegan saat Ikki dan Stella berusaha memperjelas keinginan dan perasaan mereka terhadap satu sama lain. Tapi lalu juga pada bagian-bagian ketika Ikki sampai tertelan oleh kelemahan mentalnya sendiri saat berhadapan dengan trauma lamanya; atau ketika ia pada satu titik mulai meragukan kata-kata yang pernah disampaikan Kurogane Ryoma, kakek buyut yang dulu mengajarkannya untuk tak pernah menyerah dan selalu bersikap kuat.

Di akhir, aku benar mesti mengakui kalau seri ini termasuk bagus.

Mereka enggak bercanda. Kalau misalnya aku mau merekomendasikan suatu anime adaptasi LN untuk mereka yang awam dengan genre ini, Rakudai Kishi no Chivalry benar-benar jadi satu pilihan yang ideal.

Dalam Satu Serangan

Adaptasi animenya sekali lagi, berakhir pada sekitaran cerita buku ketiga, tatkala Ikki akhirnya diakui sebagai orang terkuat di Hagun, yang menjadi perwakilan mereka di ajang Seven Star Sword Art Festival. Ceritanya berakhir dengan nuansa positif, dan secara pas menutup character arc yang dijalani Ikki di sepanjang ceritanya.

Tamatnya sebenarnya agak mengejutkan buatku. Selaku pemerhati anime-anime adaptasi LN, instingku seperti mengingatkan ada sesuatu yang enggak biasa.

Lalu pas kuperiksa terjemahan novelnya, ternyata benar juga. Tamatnya agak beda, berhubung cerita pada buku keempatnya akan langsung nyambung dengan bagian cerita berikutnya yang mulai memaparkan tentang masa lalu Alice. Lalu dari sana, ceritanya akan menyambung lagi dengan pembeberan jati diri Kurogane Ouma, kakak lelaki Ikki dan Shizuku yang di masa lalu menghilang tanpa jejak.

Perkembangannya, yang kali ini berlatar di ajang pertandingan Seven Star Sword Art Festival yang sesungguhnya, terbilang menarik. (Ada juga pemaparan soal Edelweiss, Blazer terkuat di dunia yang seorang kriminal, tapi karena saking kuatnya ia tak tersentuh oleh hukum.)

Yah, perkembangan novelnya juga belum kuikuti lagi sih. Jadi biar soal itu kubahas lain kali.

Hmm, apa bakal ada season keduanya atau enggak?

Yah, kayaknya enggak sih. Tapi kita selalu bisa terus berharap.

(Eh? Aku enggak ngebahas sama sekali soal kekuatan para tokohnya? Iya juga ya. Yah, sekali ini enggak usah deh.)

Penilaian

Konsep: C; Visual; A-; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

Shinmai Maou no Testament BURST

Melanjutkan postingan sebelumnya, Shinmai Maou no Testament BURST, atau The Testament of Sister New Devil BURST (‘burst’ artinya kira-kira adalah ‘letusan’), muncul dengan jeda hanya satu cour dari season pertamanya. Tayang pertama kali pada Oktober 2015, berhubung aku terkesan dengan cerita sebelumnya, aku sempat antusias begitu sadar kelanjutannya sudah ada secepat ini.

Seperti yang sempat kusinggung, staf yang memproduksinya di Production IMS (setahuku) masih sama, dengan pengecualian komposisi seri yang kini ditangani Uetake Sumio. Serupa kasus Date A Live II, season kedua ini juga berjumlah hanya 10 episode.

…Enggak, aku juga enggak yakin alasannya apa. Kurasa alasannya ada berbagai macam.

Langsung saja, season kedua ini memaparkan lebih lanjut tentang usaha Toujou Basara melindungi dua (orang yang di permukaan adalah) adik perempuannya yang baru, Naruse Mio dan Naruse Maria. Meski untuk kali ini, Basara tak sendiri. Karena ikut tinggal bersama mereka untuk membantu adalah Nonaka Yuki, teman masa kecilnya dari Klan Pahlawan, yang juga telah memasukkan dirinya dalam kontrak Maria untuk bisa membantu(?) Basara menjaga Mio.

Di Antara Angin yang Bertiup Melalui Medan Perang

Soal cerita, season kali ini terdiri atas dua bagian.

Berlatar sekitar waktu festival olahraga Perguruan Hijirigasaka, bagian pertama menyinggung tentang siapa sebenarnya Hasegawa Chisato, dokter misterius di UKS yang telah diam-diam membantu Basara dan Mio selama mereka di sekolah. Seperti yang pernah disebut, ada tiga pihak yang dalam seri ini mengalami konflik. Lalu di samping menyinggung soal pihak terakhir yang di season terdahulu belum muncul, ceritanya juga membeberkan sifat sebenarnya Brynhildr, pedang pusaka Basara, yang mungkin punya lebih dari sekedar ‘masa lalu’ dengan pemiliknya.

Bagian kedua adalah soal perjalanan Basara dan kawan-kawannya ke dunia sihir/iblis, untuk menemani Mio berhadapan dengan warisan ayahnya, sekaligus mencegah pecahnya konflik lebih besar di sana. Di sini, mereka berhadapan dengan Ramsas, paman Mio yang merupakan pemimpin saat ini dari faksi moderat; serta Leohart, mazoku muda yang kini menjabat sebagai Maou yang menggantikan mendiang Wilbert, yang semula diyakini berada di pihak berseberangan dengan Mio.

Ceritanya dibuka dengan lumayan keren lewat konfrontasi antara ayah Basara, Toujou Jin, dengan Leohart sendiri (yang mana Jin menyimpulkan bahwa yang bengkok sebenarnya bukan Leohart, melainkan orang-orang di sekelilingnya di Majelis). Toujou Jin di season sebelumnya terungkap sebenarnya adalah ‘dewa perang’ dari Klan Pahlawan, yang di ketiga alam telah disegani sebagai pejuang yang luar biasa. Karenanya, adegan pembuka ini berkesan karena akhirnya kita diperlihatkan sebesar apa cakupan kekuatannya.

Namun sayangnya, penceritaan ke sananya sama sekali tak sebagus sebelumnya. Ceritanya juga enggak lagi ‘menyatu’ sebagus dulu. Dua bagian cerita ini kayak… dua potongan yang saling enggak nyambung. Mungkin karena subplot di keduanya belum benar-benar tuntas, dan masih ada banyak hal di masing-masing ‘sisi’ cerita yang belum terjelaskan (terutama, misteri soal identitas dua ibu Basara).

Perumpamaannya, rohnya tiba-tiba berbeda gitu.

Aku tak tahu apa ini karena keterbatasan materi di bukunya. Soalnya, mencari informasi tentang kelanjutan ceritanya di Internet juga agak susah. Tapi mungkin karena akunya juga yang belum sempat menelusurinya.

Perbedaan kualitas yang mencolok ini lumayan mengecewakanku. Kalau mengambil contoh dari fanservice-nya, adegan-adegan ‘berbahaya’ di season sebelumnya masih agak menggambarkan tumbuhnya ikatan antara para tokoh utamanya. Tapi di season ini, adegan-adegan serupa lebih terasa seperti membuang-buang waktu dan sekedar ada karena ‘harus ada.’ Padahal, jumlah tokoh yang terlibat sekarang bertambah, mencakup Zest, yang diselamatkan Basara dari season lalu, serta Nonaka Kurumi, adik perempuan Yuki yang kini sudah mengakhiri konfliknya dengan Basara.

(…Tenang. Sebenarnya aku juga punya keluhan sangat panjang tentang ini. Tapi lebih baik enggak aku ungkapin dulu.)

Namun kalau aku memandang ke belakang, meski aku mungkin agak bias, Shinmai Maou no Testament dari awal sampai akhir seakan selalu punya plot yang lebih dalam dari yang kuharap. Misalnya, dengan pindahnya latar cerita dari dunia normal ke dunia iblis/sihir, aku sempat merasa aliansi Basara dan Lars—yang di season sebelumnya merupakan aspek favoritku dari seri ini—menjadi tak tersorot lagi, tapi ternyata enggak juga. Meski ceritanya jadinya dipadatkan, kedalaman itu tetap ada. Seperti misi Basara untuk seorang diri menyingkirkan Belphegor, pengganti mendiang Zolgear yang tak kalah kejamnya dan menjadi orang terkuat di Majelis; rencana rahasia orang-orang Majelis untuk membantai semua yang menghalangi mereka lewat artefak Eirei yang mereka gali; serta duel pribadi Basara melawan Leohart demi menegaskan posisinya.

Jadi sesudah mengikuti sampai akhir, aku agak bersyukur hasilnya ternyata tak sejelek yang aku kira.

Sesudah Mimpi Tiada Akhir

Jadi, merangkum, beberapa misteri terbesar seri ini:

  • Identitas kedua ibu Basara yang telah diungkapkan Jin padanya.
  • Siapa perempuan yang diselamatkan Jin dan apa perannya.
  • Siapa Basara sesungguhnya, bagaimana ia bisa memiliki kekuatan dari kedua sisi sekaligus.
  • Apa sebenarnya Brynhildr.
  • Siapa sebenarnya Riala (Liara?), kakak perempuan Leohart yang sangat protektif, yang ternyata memiliki kekuatan jauh lebih dahsyat dari yang semua orang kira.

Beberapa hal bagusnya:

  • Banishing Shift yang telah Basara lebih kuasai, kini bisa digunakannya tak hanya sebagai counter.
  • Wujud power up Basara.
  • Lebih banyak tentang masa lalu Lars.
  • Intrik yang lebih bagus dari yang terlihat. (Meski disampaikan dengan cara yang agak bikin kita hanya “Ooh gitu toh.”)

Bicara soal teknis… kira-kira sama.

Sori. Enggak.

Kualitasnya sebenarnya agak kurang dikit dari sisi pengarahan visual. Di samping itu, soundtrack-nya juga kalah mengesankan.

Aku benar-benar heran kenapa lagu pembuka ‘Over the Testament’ yang dibawakan Metamorphose mesti dimainkan dengan versi berbeda di setiap episodenya. Soalnya aku merasa tak semua versinya setara versi orisinilnya.

Soal keluhanku… menjelang akhir, aku merasa Uesu Tetsuto-sensei benar-benar punya fetish aneh. (Oke, bukan fetish aneh untuk dimiliki, tapi fetish aneh untuk dituangkan ke dalam tulisan.) Ini juga sedikit terlihat di karya beliau sebelumnya, Hagure Yuusha no Aesthetica. Aku sedikit paham pas di awal, tapi intinya aku lumayan heran soal kenapa Mio terkadang masih memanggil Basara ‘Onii-chan’ bahkan sesudah rahasianya terungkap. Aku awalnya berusaha tak mempermasalahkan soal ini. Tapi kemudian ketahuan bahwa Hasegawa-sensei bisa jadi mengawasi Basara karena sebenarnya ia adalah saudari dari (salah satu?) ibu Basara. Lalu dalam perkembangannya, dirinya seolah jadi salah satu bagian… uh, haremnya. Terus dugaanku juga diperkuat dalam bentuk hubungan Leohart dengan Riala. Sehingga segalanya pada titik ini jadinya benar-benar aneh!

Lalu semuanya juga sekarang begitu blak-blakan! Rawr! Aku jadi pengen jungkirin mejaaaa!

Argh, dulu waktu hanya ada Mio, Yuki, dan Maria, aku sebatas merasa ini semua amusing. Tapi sesudah Zest dan Kurumi bergabung, aku mulai merasa semuanya sudah agak ‘kebanyakan.’

Aku bicara pada seorang sahabatku yang kadang juga memperhatikan seri-seri macam ini. Lalu pendapatnya tentang BURST ternyata kurang lebih sama (meski dia harus agak dipancing untuk mengakuinya). Apa yang terjadi ya? Ternyata benar yang merasa begini bukan cuma aku. Aku penasaran, karena ketimpangannya terasa lumayan jauh. Kurasa bukan hanya karena faktor naskah saja sih. Aku berpendapat kalau ada alasan yang lainnya juga.

Terlepas dari semuanya, pada akhirnya aku kagum dengan bagaimana Production IMS memutuskan untuk menangani proyek ini. Mereka seriusan mengerjakan dua season di tahun yang sama, dengan juga diselingi Joukamachi no Dandelion di antara keduanya. Mereka berkembang pesat semenjak pertama muncul dan mengesankan orang-orang lewat adaptasi anime Inari, Konkon, Koi Iroha di tahun 2014 dulu. Semenjak mengikuti Shirobako, aku tertarik untuk tahu cerita-cerita di balik proses produksi anime begini. Lalu melihat track record mereka, Production IMS merupakan salah satu studio yang paling membuatku penasaran.

Akhir kata, bahkan di usia segini, masih ada sesuatu yang bisa aku ‘dapatkan’ dari seri ini. Aku sedikit belajar tentang bagaimana selayaknya cowok bersikap. Yeah, aku tahu ini seri macam apa. Aku juga ngerti orang lain mungkin enggak akan menilai dengan cara yang sama. Perasaanku juga campur aduk kenapa fanservice-nya perlu separah ini. Tapi nyatanya, aku sekarang jadi lebih serius buat menambah massa otot.

Kuharap proyek-proyek Production IMS ke depan juga berlangsung lancar.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B; Audio: C+; Perkembangan C+; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C+

Edit, Agustus 2016

Beberapa waktu lalu, aku menemukan sumber yang menjelaskan tentang misteri dua ibu Basara. Tapi aku benar-benar lupa menuliskannya di sini.

Ibu Basara yang pertama, yang menjadi kekasih Toujou Jin, adalah adik perempuan ayah Mio. Karena berbagai komplikasi yang bisa terjadi, Basara dipindahkan saat masih janin ke ibu Basara yang kedua, yang merupakan kerabat (kakak?) Hasegawa-sensei, yang kemudian melahirkannya.

Jadi, melengkapi yang di atas (kalau tak salah, ini dijelaskan di buku kedelapan):

  • Basara benar-benar memiliki kekuatan dari ketiga pihak yang berseberangan.
  • Basara dan Mio sebenarnya adalah sepupu.
  • Mio dan Maria ternyata benar-benar adalah kakak beradik, hanya saja dari ayah yang sama dan ibu yang berbeda.

Mungkin kalian sekarang maklum kenapa aku sempat lupa menulis tentangnya.

Shinmai Maou no Testament

Shinmai Maou no Testament (‘testament’ juga ditulis ‘keiyakusha’, artinya kira-kira ‘perjanjian’ atau ‘kontrak’; ‘shinmai maou’ kira-kira ‘adik-adik perempuan yang menjadi raja iblis/sihir’), atau yang juga dikenal dengan judul The Testament of Sister New Devil, berawal dari seri light novel karangan Uesu Tetsuto (yang sebelumnya mengarang Hagure Yuusha no Aesthetica) dengan ilustrasi buatan Oukuma Nekosuke (yang untuk musim depan juga membuat desain karakter Hundred). Penerbitannya dilakukan di bawah label Kadokawa Sneaker Bunko milik penerbit Kadokawa Shoten, diterbitkan mulai tahun 2012, dan masih belum tamat saat ini kutulis.

Kayak yang mungkin kalian udah tahu, Shinmai Maou no Testament adalah seri aksi fantasi harem dengan porsi fanservice lumayan banyak. Seri ini kurang lebih sejenis dengan High School DxD. Dalam artian, juga menonjolkan aksi-aksi pertarungan mirip yang ada di komik-komik cowok selain aspek ‘itu’-nya. Malah, Shinmai Maou no Testament dianggap ‘lebih serius’ dalam hal ini, sampai ada bahkan menyebutnya ‘borderline hentai.’

Jadi, buat kalian yang sangat anti atau belum cukup umur, aku serius menyarankan untuk menjauhi seri ini.

…Seriusan serius.

Adaptasi animenya dibuat pada awal tahun 2015 sebanyak 12 episode (+1 episode OVA) oleh Production IMS. Lalu ini segera disusul oleh season keduanya pada Oktober 2015, berjudul Shinmai Maou no Testament BURST, yang berjumlah sebanyak 10 episode (+1 episode OVA lagi). Penyutradaraannya dilakukan Saito Hisashi. Naskahnya ditangani Yoshioka Takaou untuk musim pertama, dan Uetake Sumio untuk musim kedua.

Keluarga Baru

Shinmai Maou no Testament dibuka dengan perkataan Toujou Jin, seorang fotografer profesional yang single parent, kepada anak lelakinya yang remaja, Toujou Basara, kalau dirinya akan menikah lagi. Jin menyebutkan calon istrinya yang baru sudah punya dua anak perempuan yang lebih muda dari Basara dari perkawinannya sebelumnya. Lalu Jin berkata bahwa berhubung selama ini Basara ingin punya adik perempuan, maka harusnya dia senang ‘kan? Mengingat selama ini mereka hidup hanya berdua, pengumuman ini lumayan mengejutkan Basara. Meski sedikit kebingungan, ia menghormati keputusan ayahnya.

Sampai tiba hari ketika ia dipertemukan dengan dua calon adik perempuannya yang baru: Naruse Mio yang sebaya Basara, dan Naruse Maria, yang terlihat berusia anak-anak namun bersikap lebih ramah dan terbuka.

Ibu Mio dan Maria dikabarkan sedang dinas di luar negeri, jadi untuk sementara mereka belum bisa bertemu. Tapi untuk sementara, Mio dan Maria akan mulai tinggal serumah dengan Jin dan Basara. Bahkan sampai Jin mengatur agar ia dan Basara pindah ke kota mereka, dan Basara bisa pindah sekolah ke sekolah Mio.

Semua berlangsung lancar-lancar saja. Sampai hari ketika Jin tiba-tiba perlu pergi karena tugas dinas ke tempat jauh.

Pada Basara, Mio dan Maria tiba-tiba mengungkapkan kalau mereka sebenarnya bukan manusia, melainkan mazoku (iblis, kaum sihir). Semua rencana soal pernikahan itu hanya tipuan. Ibu Mio dan Maria sejak awal tak ada. Jin selama ini sebenarnya berada di bawah pengaruh hipnotis. Memperlihatkan kekuatan sihir mereka pada Basara, keduanya lalu mencoba mengusir Basara dan mengambil alih rumahnya.

Tapi… Basara dan ayahnya ternyata juga bukan manusia biasa.

Basara mampu bertahan dari kekuatan sihir mereka. Lalu semula ia marah. Tapi ia berubah pikiran begitu mengetahui situasi yang Mio dan Maria hadapi dari mulut ayahnya sendiri.

Melindungi Apa yang Berharga Bagimu

Singkat cerita, sesudah Mio dan Maria terungkap bukan manusia, Basara dan ayahnya juga terungkap kalau sebenarnya mereka dulu pernah menjadi bagian dari Suku/Klan Pahlawan, suatu kaum manusia yang telah dipercaya langit untuk menjaga kedamaian bumi dari kaum mazoku. Tapi karena suatu alasan, Basara dan Jin sudah tidak menjadi bagian dari klan tersebut lagi.

Mio ternyata keturunan langsung dari Demon Lord/Maou Wilbert yang belum lama itu meninggal dunia. Kenyataan bahwa dirinya putri dan anak satu-satunya dari Wilbert adalah hal yang belum lama itu juga baru Mio ketahui sendiri. Kedua orangtua Mio, yang semula ia kira hanya orang-orang biasa, ternyata bukan orangtuanya yang asli, melainkan dua orang kepercayaan Wilbert yang telah dipercaya untuk membesarkan Mio.

Semasa hidupnya, meski berkekuatan dahsyat, Wilbert ternyata pemimpin kaum mazoku yang toleran. Dirinya turut memprakarsai perdamaian antara kaum manusia langit dan kaum pahlawan. Karena itu, sepeninggal Wilbert, timbul kekosongan kekuatan di dunia iblis/sihir yang dapat mengacaukan perdamaian antara ketiga pihak.

Masalah terbesar: kekuatan sihir mendiang Wilbert telah ditransfer sepeninggalnya ke Mio. Lalu kekuatan dahsyat yang masih belum termanifestasi sepenuhnya tersebut dapat diambil alih, andai Mio sampai tertangkap pihak-pihak yang menginginkan kekuatannya (yang diduga diutus oleh Maou yang menjabat saat ini).

Padahal, Mio tak menginginkan semua warisan ini. Ia tak ingin tahta Wilbert. Apa yang diinginkannya semula hanya hidup damai bersama keluarganya. Namun kedua orangtua angkatnya pun kini telah meninggal, dan satu-satunya orang yang Mio punya hanyalah Maria, utusan pihak Wilbert yang kemudian membeberkan semuanya padanya.

Menyadari maksud Jin yang berpura-pura untuk jatuh ke perangkap Maria dan Mio, Basara akhirnya bersedia mengambil alih peran sebagai pelindung mereka berdua. Terutama, selaku posisinya sebagai kakak baru mereka.

Sementara itu, Jin ternyata melakukan perjalanan untuk membereskan akar konflik ini, seorang diri ke dalam dunia iblis/sihir.

Hingga Suaramu Hilang

Mungkin ini kedengeran aneh, tapi yang pertama kulihat dari suatu seri fanservice bukan ceweknya, melainkan cowoknya. Kalau karakter utama cowoknya bisa kutolerir, itu biasanya pertanda kalau keseluruhan seri tersebut juga akan bisa kutolerir. (Yang kubicarakan di sini seri fanservice untuk cowok ya. Jadi, uh, tolong jangan salah paham dengan mengira kalau aku suka bishonen.)

Intinya, Shinmai Maou no Testament termasuk seri seperti itu. Basara bukan hanya bisa kutolerir. Dari sudut pandang tertentu, dia bahkan terlihat keren. ‘Keren’ dalam artian maskulin. Enggak lembek. Karena merasa ini hal enggak lazim, hal tersebut menjadi daya tarik pertama seri ini buatku.

Ditambah lagi, berhubung aku punya bawaan buat suka tema-tema kepahlawanan ala Dragon Quest, pembeberan konflik yang terjadi juga menjadi kejutan. Terlepas dari fanservice-nya (yang sedemikian segitunya, sampai-sampai ada pengumuman bahwa versi siarannya bukan hanya mendapat sensor, tapi juga dipotong durasinya), konflik cerita dalam Shinmai Maou no Testament memang tergarap relatif serius.

Sedikit bicara soal teknis dulu, untuk season yang pertama maupun kedua, Shinmai Maou no Testament punya kualitas antara menengah dan di atas rata-rata. Visual karakter dan latarnya kadang sederhana, tapi masih termasuk enak dilihat. Ada beberapa bagian di mana kualitasnya terasa menonjol secara mencolok. Lalu ada juga yang terasa menurun. Tapi selebihnya, seri ini cukup enak dilihat. Lebih banyak soal itu kubahas nanti.

Pada season pertama, audionya termasuk solid. Musik latarnya terbilang tak jelek. Seperti di kasus Date A Live, aku terkesan dengan lagu pembuka yang dibawakan grup Sweet Arms. Animasi pembukanya sempat membuatku terpukau lewat caranya memakai tone kelam untuk memberi penekanan kontras pada bentuk, yang dilanjutkan penggambaran elemen aksi. Ini paling terasa pada penggambaran pertarungan sengit Basara melawan Lars, mazoku bertopeng yang menjadi salah satu lawan paling mencolok di seri ini.

Walau kalau dipikir ada sejumlah hal absurd (gimanapun, ini tetap seri fanservice), tetap ada semacam keseriusan yang menggugah gitu dalam nuansa ceritanya. Jadi kayak, mereka sungguh-sungguh dalam membuat ini gitu.

Ditambah lagi, cerita dan konflik pada musim pertama terstruktur lumayan baik. Season 1 memaparkan cerita hingga akhir konflik Basara dan teman-temannya melawan Zolgear (Zolgia?), mazoku kejam yang juga bertanggung jawab langsung atas kematian kedua orangtua (angkat) Mio. Ada sejumlah intrik juga dalam ceritanya. Mulai dari bagaimana Basara, seorang diri tanpa dukungan ayahnya, perlu menjaga kerahasiaan status kekuatan Mio (salah satunya dari pengawasan Nonaka Yuki, teman masa kecil Basara yang ternyata selama ini telah menjadi teman sekelas Mio—tentu saja selama ini Yuki juga memendam perasaan pada Basara). Kemudian dari sisi kaum mazoku, konfliknya terwujud lewat hubungan gampang goyah antara Basara dan Lars, yang berkembang jadi hal yang paling kusukai dari seri ini.

Adegan-adegan aksinya juga ternyata bukan sekedar tentang saling adu kekuatan. Aku sempat membaca terjemahan buku-buku awal dari novelnya, dan aku terkesan karena ada perhatian terhadap aspek-aspek strategis di dalamnya. Maria misalnya, mengandalkan serangan-serangan fisik lewat tenaganya yang besar (yang tak terlihat dari badannya yang kecil). Karena itu, Maria menjadi semacam kartu kuat yang efektif kalau dimainkan di saat yang tepat. Mio hanya memiliki kekuatan serangan sihir, karenanya harus dijaga ketat agar tak sampai masuk dalam jangkauan serangan lawan. Basara yang punya parameter seimbang yang diandalkan untuk melindungi mereka sekaligus, dan ia juga punya jurus dahsyat yang telah lama disegelnya, Banishing Shift, yang disangkanya takkan pernah mampu digunakannya lagi.

Selain itu, para anggota Klan Pahlawan punya senjata-senjata pusaka yang bisa mereka ‘cabut’ dari udara kosong yang seakan hidup dan memiliki sifat masing-masing. Basara dengan pedang suci melengkung Brynhildr (yang ternyata menjadi penyebab tak langsung ia dan ayahnya meninggalkan desa mereka). Lalu Yuki dengan pedang katana Sakuya. (Perbedaan Basara dari kenalan-kenalan lamanya di Klan Pahlawan ada pada bagaimana ia tak menggunakan zirah mereka lagi. Tapi bahkan tanpa itupun, Basara dan ayahnya sudah terbilang benar-benar kuat.)

Semua elemen ini juga memberi dampak pada bagaimana Uesu-sensei tak segan-segan membiarkan terjadinya one-hit kill dalam aksi-aksinya. Jadi aksinya juga tak pernah sampai bertele-tele.

Intinya, ini seri yang kayak, “Wow. Ini lebih rame dari dugaanku.”

Hanya di Malam Purnama

Makanya, kalau bicara soal adegan-adegan fanservice-nya, aku juga merasa agak berat. Bagaimana ya? Aku normalnya bukan penggemar hal-hal begini. Tapi satu hal yang sempat membedakan Shinmai Maou no Testament dari seri-seri fanservice sejenis ada pada bagaimana adegan-adegan tersebut, senggaknya di awal, terasa punya maksud. Jadi bukan sesuatu yang sekedar ‘ada karena harus ada’ gitu.

Adegan-adegan fanservice di Shinmai Maou no Testament sebagian besar bersumber dari kontrak ‘tuan dan bawahan’ yang Basara dan Mio jalin.

Yeah, buat yang mau tahu, adegan-adegannya sangat… serius. Terlalu serius malah. Malah keterlaluan seriusnya. Hanya bisa sampai disiarkan karena tak sampai ‘itu’ dan penyampaiannya dipenuhi sensor.

Balik lagi, kontrak ini terjalin lewat bantuan kekuatan Maria sebagai succubus, dan hanya dapat mereka lakukan di malam bulan purnama. Jadi, karena, sifat alami Maria sebagai succubus, yah, kau tahu, ada nuansa yang sedikit ero di dalamnya.

Gampangnya sih, ini kontrak yang semula dengan enggan Basara dan Mio jalin. (Kontrak ini yang dimaksud dalam judulnya?!) Semula, maksudnya agar keberadaan satu sama lain dengan mudah dapat mereka lacak sekalipun ada bahaya (ini salah satu efek samping dari terjalinnya kontrak ini). Namun, karena suatu hal (Maria), Mio yang semula harusnya jadi ‘tuan’ di kontrak ini malah jadi ‘pelayan,’ dan karenanya, semenjak kontrak terjalin dan sekurangnya sampai malam purnama berikutnya, dirinya harus bersedia tunduk sepenuhnya pada Basara. (Walau dalam perkembangan cerita, ada manfaat-manfaat lain yang kontrak ini berikan.)

Jadi bila sedikit saja Mio merasakan niat untuk membangkang, maka akan ada ‘hukuman’ yang secara seketika akan Mio rasakan. Lalu hukuman ini, lagi, karena sifat succubus Maria…

Yah, begitulah.

Sudahlah. Aku capek mengetik soal ini.

Intinya, ada saat-saat ketika Basara harus ‘menundukkan’ Mio agar efek-efek kutukan yang menimpanya, yang timbul akibat kontrak ini, bisa mereda. Tapi sekali lagi, sumber fanservice-nya bukan sekedar hanya dari adegan-adegan ini.

Fiuh.

Oke. Sebenarnya, yang ingin kukatakan, yang membuatku terkejut sekali lagi adalah bagaimana di season pertama Shinmai Maou no Testament, adegan-adegan fanservice-nya (yang segitunya pun) bahkan terasa memiliki ‘maksud’ dalam cerita. Bukan hanya menampilkan kecanggungan Basara, tapi juga tekad yang kemudian dikumpulkannya, untuk berbuat sesuatu yang kayaknya perlu untuk adiknya. Namun di sisi lain, ini juga kayak…

Argh.

Tadinya aku menulis ini karena merasa telah belajar sesuatu darinya.

Tapi sudahlah. Kita cukupkan dulu pembahasannya sampai sini. Nanti kulanjutkan di postingan berikut.

Sampai lain waktu.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

Seiken Tsukai no World Break

Seiken Tsukai no World Break sudah agak lama aku minati. Cuma aku agak bingung membahasnya bagaimana.

Diterbitkan sejak tahun 2012 oleh SB Creative di bawah label GA Bunko, seri light novel-nya ditulis oleh Awamura Akamitsu dengan ilustrasi buatan Refeia. Sedangkan adaptasi animenya keluar pada awal tahun 2015 dibuat oleh studio animasi Diomedea, berjumlah 12 episode, dan disutradarai oleh Inagaki Takuya. Naskahnya ditangani oleh Yamaguchi Hiroshi. Musiknya ditangani oleh Sakabe Go.

Seiken Tsukai no World Break, atau yang juga dikenal dengan judul World Break: Aria of Curse for a Holy Swordsman (judul Bahasa Jepang-nya kira-kira berarti: ‘pemecahan dunia si ahli pedang suci’, sedangkan judul Bahasa Inggrisnya kurang lebih berarti: ‘lantunan kutukan bagi si ahli pedang suci’), sekilas terlihat seperti tipikal anime keluaran Diomedea. Dalam artian, kayak tipikal anime yang diangkat dari ranobe berkualitas agak rata-rata, yang agaknya seperti menjadi ciri khas studio ini, semenjak mereka mengadaptasi Astarotte no Omocha! dan Campione! dulu. Kualitas keluaran mereka memang punya kecendrungan untuk naik turun sih. Tapi kasus Seiken Tsukai no World Break kurasa agak unik.

Aku dengar pada masa penayangannya, (dan ini sempat membuat bingung sebagian orang) seri ini termasuk salah satu yang lumayan diperhatikan di Jepang. Mungkin ada kaitannya dengan budaya sih, tapi premis seri ini memang terbilang meyakinkan.

Bahwa anak-anak remaja benar-benar punya kehidupan masa lalu di mana mereka menjadi pahlawan yang menyelamatkan orang-orang (Saviors). Lalu seiring kembalinya ingatan mereka akan masa sebelum reinkarnasi (yang biasanya terjadi pada masa remaja), maka kekuatan lama yang dulu pernah mereka miliki juga akan kembali.

Ini jelas jadi seri yang bakal jadi ‘makanan’ mereka yang punya bakat dan kecendrungan ke arah chuunibyou.

“Tulis!”

Dalam latar cerita World Break, diceritakan kalau ada perguruan-perguruan khusus yang dibentuk untuk mendidik anak-anak yang terbukti pernah punya kehidupan masa lampau ini. Akademi Akane yang terletak di Jepang adalah salah satunya.

Para Savior ini terdiri atas dua macam: yaitu Shirogane dan Kuroma. Shirogane adalah jenis Savior yang mendalami ilmu senjata yang bertarung dengan semacam aura tenaga dalam yang disebut plana, masing-masing biasanya mempunyai senjata pusaka sendiri-sendiri; sedangkan Kuroma adalah jenis Savior yang mendalami kekuatan sihir, yang termanifestasi dalam bentuk mantera-mantera yang diwujudkan lewat tulisan ditenagai mana yang ‘diwujudkan’ di udara.

Musuh bersama para Savior adalah makhluk-makhluk raksasa yang disebut Metaphysical, yang dari waktu ke waktu kerap muncul entah dari mana untuk meneror peradaban. Bergenerasi-generasi Savior dari tiap negara dididik demi mengantisipasi datangnya serangan dari makhluk-makhluk ini.

Fokus cerita World Break terdapat pada seorang remaja pemalu bernama Haimura Moroha, yang belum lama itu ditemukan sebagai orang pertama yang punya dua kehidupan masa lampau. Dalam kasus ini, dirinya memiliki kehidupan masa lalu sebagai Shirogane sekaligus kehidupan masa lalu sebagai Kuroma. Hal ini membuatnya memiliki suatu gabungan kekuatan plana Shirogane (cahaya?) dan mana Kuroma (kegelapan?) yang benar-benar dahsyat.

Namun bersama ini, timbul sedikit komplikasi. Karena pada kedatangannya ke Akademi Akane, Moroha bertemu kembali dengan dua orang dari dua masa lalunya yang berbeda: Ranjou Satsuki, seorang gadis enerjik yang di masa lalunya adalah Sarasha, adik perempuannya saat ia menjadi sang ahli pedang Flaga; dan Urushibara Shizuno, seorang perempuan sangat rupawan yang dahulunya adalah Witch of the Netherworld, yang dulu pernah diselamatkan dan dibesarkan Moroha dalam kehidupannya sebagai sang ahli sihir, Shu Saura. Keduanya sama-sama mengasihi Moroha di masa lalu, dan sama-sama berharap bisa mendapatkan cintanya di masa kini.

Lalu seperti Moroha, keduanya juga sama-sama menjadi korban kemunculan Ancient Dragon di masa lalu, suatu entitas Metaphysical misterius yang telah memburu inkarnasi Moroha dari masa ke masa.

“Aku ingat!”

Anime World Break mengadaptasi cerita dari sekitar buku pertama sampai buku keempat(?). Sori, mungkin aku salah. Tapi tepatnya, sampai ketika Moroha dan teman-temannya dari tim Strikers harus bekerjasama saat si Ancient Dragon akhirnya mengejar Moroha sampai ke masa kini dan menyerang Akademi Akane. Seri novelnya sendiri saat ini kutulis sudah terbit sampai buku keempat belas, jadi memang ada perkembangan lumayan jauh yang belum tergali.

Buat yang suka tema-tema begini, ceritanya lumayan menarik. Cerita dibuka dengan pemaparan akan terkuaknya kasus tak lazim Moroha, yang berlanjut dengan pembeberan bahwa memang ada kekuatan dahsyat yang ia miliki, setara para Savior Rank S, saat ia mencoba menyelamatkan Shizuno dan Satsuki yang terancam bahaya. (Terwujud dari jurus pamungkas yang khusus hanya bisa digunakan olehnya, Yin Yang Kurikara.)

Dari sana, cerita berkembang tentang bagaimana para Savior terkuat di seluruh dunia lain, yang secara kolektif disebut Six Heads, mulai menaruh perhatian terhadap Moroha. Mulai dari Sir Edward Lampard dan pelayannya, Angela Johnson, dari Inggris, yang secara incognito kemudian meninjaunya; sampai ke Vasilisa Yuryevna Mostvaya, yang berjulukan ‘Kaisar Halilintar’, yang secara terbuka dan pribadi menantang perang terhadap Moroha dalam kasus yang melibatkan seorang mata-mata bernama Elena Arshavina.

Meski detilnya kadang aneh, ada intrik lumayan banyak dan aksi-aksi lumayan dahsyat, dengan banyak pihak yang bermain dan berperan. Berbeda dari Shizuno, Satsuki, dan lainnya, Moroha masih belum sepenuhnya memperoleh kembali ingatannya misalnya (dan karenanya ia seakan langsung mendapat power up saat ada sebagian ingatannya yang kembali). Salah satu anggota tim Strikers pimpinan Ishurugi Jin, karakter yang awalnya agak fanservicey Sophie Mertesacker misalnya, terungkap di tengah cerita sebagai ‘mata’ pihak Amerika yang disusupkan ke Akane. Lalu senjata-senjata pusaka dan chant mantera sihirnya keren. Setiap senjata pusaka dapat dipanggil dari mana saja dan memiliki nama yang wah (Katana milik Moroha adalah Saratiga, misalnya; lalu sihir andalannya adalah serangan api hitam Black Gehenna, sihir andalan Shizuno adalah tiupan es Dreadful Blizzard, pedang milik Satsuki adalah Acieal, pedang besar Jin adalah Naivete, dsb.). Saat menyihir, para Kuroma akan ‘menulis di udara’ sembari membacakan mantera-mantera mereka yang panjang. Setiap sihir terbagi atas tingkatan (dengan tingkatan-tingkatan atau step teratas sifatnya terlarang). Lalu semuanya dihadirkan dengan kata-kata kayak “Hancurkan, hancurkan, hancurkan!” atau “Dunia ini…” atau “Aku ingin…” yang kesannya chuuni sekali, tapi entah gimana berhasil masuk feel-nya!

… Oke deh.

Contohnya untuk mantera es Cocytus, kira-kira sebagai berikut. Mohon ingat mantera-mantera begini dibaca dan ditulis secara cepat di bawah hitungan menit.

“Pengakhir, serigala es, pinjami aku nafasmu. Jadikan pembekuanmu lebih sunyi dari maut.

Di dunia ini, bahkan yang makmur kelak tumbang. Ini karma tak terhindar yang ditetapkan langit.

Bagaikan air yang mengalir turun, renggutlah segenap tenaga.

Perlihatkan Dunia di mana segala terhenti, bahkan termasuk waktu.

Tunjukkan kecantikan abadi, puncak yang takkan terkoyak apapun.

Kau yang menentang pemahamanku, kau yang mencari yang absolut.

Betapa buruk rupa.

Janggalnya kehidupan berkumpul, merintih, menyebarkan bau, dan berganda.

Aku tak akui itu. Aku tak memahaminya.

Kuinginkan tanah putih tak ternoda!

Kuinginkan dunia kematian nan indah!

Kuinginkan dunia di mana segala ciptaan tak mulia dikubur dan diikat!

Kuingin semua terhenti! Kuingin segalanya terhenti!

COCYTUS!”

Jadi, yeah, kira-kira seperti itu.

Sial. Pasti Awamura-sensei dapat keasyikan tersendiri dalam menulis kalimat-kalimat kayak gini.

Sejujurnya, World Break buatku punya perkembangan cerita yang lebih menarik dari dugaan. Sekali lagi, ada banyak hal aneh di dalamnya. Lalu ada banyak hal yang juga gagal terjelaskan di animenya, seperti apa sesungguhnya Ancient Dragon yang mengejar Moroha (dan Flaga, dan Shu Saura), apa peranan Shimon Maya (kekuatan khasnya adalah Field of Dreams yang melindungi sekeliling) yang memperoleh ingatan masa lalunya di waktu relatif muda, lalu kenapa Suruga Ando masih termasuk Six Heads bila kerjanya sakit-sakitan? Makanya, lumayan masuk akal kenapa seri ini sempat menarik perhatian di Jepang. Ada banyak detil seperti ini yang bisa bikin begitu penasaran (mereka yang tertarik terhadapnya). Karena, entah ya, adaptasi ini kayak bisa mengangkat pengharapanmu, tapi juga agak mengecewakannya di saat yang sama.

“We are the Swords of Salvation!”

Bicara soal teknis, seri ini termasuk standar. Visualnya menarik sih, walau kualitas tampilannya agak turun naik. Ini terutama terlihat pada adegan-adegan kemunculan Metaphysical. Tapi terlepas dari itu, pada dasarnya seri ini termasuk enak dilihat sih. Kayak, selalu ada ‘sesuatu’ di dalamnya yang bisa menumbuhkan rasa ingin tahu.

Mungkin memang desain karakternya? Soalnya desain karakter orisinil Refeia-san berhasil diadopsi secara benar-benar menarik di seri ini. Shizuno sukses digambarkan sangat cantik dan anggun. Satsuki ditampilkan penuh semangat dan kerap tertawa “Ohohohohoho!” bernada tinggi. Semua karakternya kayak sukses memberi impact (meski kadang secara aneh).

World Break lagi-lagi jenis seri yang punya protagonis overpowered, tapi yang unik adalah faktor pembangunan dunianya yang lebih luas untuk digali. Baik soal apa yang terjadi di dunianya, atau soal karakter-karakter yang ada di sekeliling Moroha. Karena cuma 12 episode, tentu saja pemaparan dunia ini tak begitu banyak optimal. Tapi anime ini termasuk yang terbilang berhasil menumbuhkan minat terhadap seri novelnya, dan dari sudut pandang itu, mungkin bisa dibilang sukses.

Seperti pada anime Toaru Hikuushi e no Koiuta, grup vokal duo Petit Milady tampil dengan membawakan lagu pembuka seri ini. Lalu dua anggotanya, Yuuki Aoi dan Taketatsu Ayana, mengisi suara untuk kedua heroine-nya (Yuuki-san untuk Shizuno dan Taketatsu-san untuk Satsuki). Ada satu episode tertentu ketika Yuuki-san memberi kualitas performa yang benar-benar mengejutkan, yang melampaui kesan episode-episode lainnya.

Musiknya secara umum… buatku kayak lumayan berhasil nempel di kepala. Tentu saja, enggak mulus di semua bagian sih. Tapi kayak anime ini secara umum, ada bagian-bagian tertentu yang bisa tahu-tahu lebih mencolok dari bagian-bagian lainnya.

Tentu saja, mengingat seri ini jelas bernuansa harem, ada porsi fanservice agak lumayan. Tapi porsi tersebut lumayan terbatasi karena soal ‘pemaparan dunia’ di atas, dan mungkin itu yang buatku terasa mengejutkan. Apalagi dengan situasi haremnya yang—terlepas dari kehadiran Shizuno dan Satsuki—sebenarnya agak maksa.

Akhir kata, ini satu seri yang bikin aku merasa kecewa karena tak berdurasi lebih panjang. Untuk suatu alasan, lumayan susah mencari info tentang kelanjutan ceritanya di Internet. Apalagi dengan adaptasi manganya yang juga belum begitu panjang.

Yah, aku tak punya komentar lain tentang seri ini, selain bagaimana aku berharap punya suatu kemampuan imba, atau bagaimana ini lagi-lagi membuatku berpikir aku ingin punya pasangan kayak apa. Untuk sisanya, paling soal misteri-misterinya yang belum terjelaskan.

Sialan. Aku masih penasaran. Ini berarti… sudah ada sebanyak itu orang yang pernah menyelamatkan dunia? Man.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B-; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+