Lanjut ke konten
Iklan

Posts tagged ‘action’

Code Geass: Akito the Exiled (OVA 4-5)

Belum lama ini, aku kesampaian mengikuti dua episode terakhir Code Geass: Boukoku no Akito.

Singkat kata, dua episode ini menguatkan kesan kalau seri gaiden Code Geass: Akito the Exiled kurang memberikan apa yang biasanya disajikan dari sebuah seri Code Geass. (Yang aku pakai buat perbandingan bukan cuma seri asli Lelouch of the Rebellion ya, tapi juga beragam seri  lepasan Code Geass lain.) Menurutku enggak jelek. Enggak mengecewakan juga. Cuma… mengejutkan dan di luar dugaan?

Aku dengar sejumlah fans agak kehilangan minat terhadap Akito the Exiled begitu cerita memasuki dua episode ini. Sesudah melihat sendiri, aku langsung mengerti. Ada banyak porsi cerita yang jadinya terkesan ‘ditumpahin’ ke dua episode ini. Penceritaannya bisa lebih baik. Di samping itu, ada banyak… ‘elemen misterius baru’ yang jadi diperkenalkan? Tapi, kalau ditanya apa aku suka tamatnya apa enggak, maka jawabannya aku lumayan suka.

Demokrasi Orang-orang Bodoh

Episode 4, From the Memories of Hatred (‘dari dalam kenangan kebencian’) dan episode 5, To Beloved Ones (‘bagi orang-orang terkasih’) sebaiknya diikuti tanpa jeda. Dua episode ini secara berkelanjutan memaparkan penyerangan terhadap Kastel Weisswolf, markas kesatuan W-0 sekaligus tempat tinggal Leila Malcal dan rekan-rekannya, dan sekaligus menjadi klimaks cerita.

Rinciannya agak membingungkan. Tapi, singkatnya, atasan Leila di kemiliteran Euro Union, Jendral Gene Smilas (yang diselamatkan Leila dan Hyuga Akito di episode 1), mengkhianati Leila dengan ambisinya untuk menjadi kaisar. Smilas membeberkan lokasi markas Leila ke pihak Euro Britannia, dan menjadikan kabar kematian Leila sebagai wacana untuk memanipulasi opini publik. (Terutama, sesudah kekacauan terorisme palsu yang Julius Kingsley timbulkan di episode 3.)

Pertempuran sengit di pedalaman Eropa untuk mempertahankan Weisswolf pun terjadi. Kastel telah dikepung, dan tak ada bala bantuan yang bisa diharapkan akan datang.

Di balik itu semua, tanpa sepengetahuan siapapun, Shin Hyuga Shaing, kakak lelaki Akito yang kini memimpin pasukan Euro Britannia, ternyata punya alasan pribadi untuk merebut kastel ini. Dia bermaksud mengambil alih teknologi peluncuran roket Weissworlf, yang kesatuan W-0 sebelumnya gunakan untuk transpor cepat, dan menggunakannya untuk meluncurkan senjata pemusnah massal ke Pendragon, ibukota Britannia. Serangan ini diyakininya akan memicu perang dunia baru antara tiga negara adikuasa, dan mewujudkan cita-citanya untuk mendatangkan kekacauaan atas dunia.

Pergi Berlibur

Buat ukuran anime mecha, Akito the Exiled enggak biasa karena klimaksnya adalah pertempuran untuk bertahan. Kastel Weisswolf menjadi latar menarik bukan cuma karena tempatnya keren, tapi juga karena ikatan emosional yang tempat itu punyai dengan para karakternya, terutama saat tempat itu terancam menjadi medan perang. Bagaimana sistem pertahanan dan permesinan canggih mendadak muncul dari dalamnya lumayan kontras dengan arsitekturnya yang megah dan klasik. Hasilnya seriusan unik.

Juga, konsisten dengan episode-episode terdahulu, presentasi teknisnya masih keren. Animasi mekanik di dalamnya termasuk salah satu yang paling mulus yang pernah aku lihat. Sudut pandang kamera dinamis yang secara intens mengejar para karakter, diikuti musik latar yang heboh, masih menjadi ciri khas. Bagaimana masing-masing Knightmare Frame melewati pepohonan dan dinding, menghadapi berbagai jenis persenjataan berat ataupun arsenal pertahanan, betulan menarik secara visual. Kalau kau penggemar mecha, mungkin ini saja bisa bikin kamu lumayan puas.

Masalahnya, ada banyak individu yang jadi dilibatkan dalam cerita. Mengikuti semua yang persisnya terjadi mungkin agak susah. Banyak tokoh yang sebelumnya minor yang kemudian mendapat sorotan. Jean Rowe, ksatria wanita di pihak Euro Britannia yang memendam perasaan terhadap Shin, berperan signifikan seiring dengan kelakuan Shin yang semakin menggila. Claus Warwick, wakil Leila yang sejak awal memang mencurigakan, akhirnya juga memperlihatkan kesetiaannya yang sesungguhnya. Bahkan Anna Clément, sahabat jenius Leila yang telah mengembangkan KF Alexander Type-02, serta Oscar Hamel, yang berwenang atas penjagaan Weisswolf, juga kebagian sorotan.

Setelah kupikir, banyak benang plot yang sebenarnya terselesaikan dalam cerita. Tapi, mungkin kalian takkan langsung menyadarinya karena saking banyaknya yang terjadi. Salah satunya, soal teknologi BRS yang tertanam dalam unit-unit Alexander, yang Sophie Randall aslinya kembangkan bersama Joe Wise untuk memulihkan kondisi suaminya. Apa persisnya yang terjadi juga akhirnya diungkap.

Puncak cerita, tentu saja, ada pada konfrontasi antara Akito dan Shin. Duel antara Alexander milik Akito melawan Vercingetorix yang Shin kemudikan akhirnya terjadi di sekitaran Weisswolf. Tapi, seiring dengan terkuaknya masa lalu sebenarnya antara mereka berdua, itupun tak berjalan sepenuhnya sesuai perkiraan.

Adegan aksinya memukau (walau, oke, mungkin masih belum ngalahin intensnya duel terakhir Kallen dan Suzaku di R2). Tapi, dramanya juga dapet. Dan, begitu kau paham apa yang terjadi, aspek dramanya itulah yang sebenarnya lebih muasin ketimbang aksinya.

Itu hal yang lumayan enggak biasa.

Mungkin Kaulah yang Kelak Membantah Pandanganku

Akito the Exiled juga memunculkan banyak tanda tanya terkait semesta Code Geass sehubungan hal-hal baru yang jadi diperkenalkannya. Berbagai pertanyaan baru ini berakhir tak sepenuhnya terjelaskan, dan aku duga bakal jadi bahasan dalam film layar lebar Code Geass: Lelouch of the Resurrection yang akan tayang 2019 nanti. (Cerita Akito the Exiled juga sempat disinggung berada dalam semesta film layar lebar Code Geass, dan bukan seri TV-nya, dan makanya, mungkin ada beberapa detil yang jadinya enggak masuk.)

Kekuatan Geass yang Shin punyai, misalnya. Meski mirip dengan yang dipunyai Lelouch, sifat dan cara kerjanya sebenarnya sangat berbeda. Ada indikasi kalau bahkan Shin sendiri(!) kurang mengerti cara kerjanya. Geass yang Shin punyai diindikasikan bekerja hanya untuk orang-orang yang Shin sayangi—yang kemudian Shin gunakan untuk “membebaskan” orang-orang tersebut dari dunia yang Shin pandang hanya membawa derita. (Jadi, semua orang yang Shin bunuh itu sebenarnya adalah orang-orang yang dia sayang, indikasi terhadap sudah gilanya dia) Kekuatan itu juga Shin peroleh bukan melalui kontrak dengan sosok seperti C.C. dan V.V., melainkan melalui suatu entitas macam roh yang baru sama sekali, yang tahu-tahu muncul di hadapannya begitu sesudah Shin pertama membantai keluarganya.

Sedangkan kekuatan Geass punya Leila… itu juga dijelaskan kalau itu hanya pecahan kekuatan Geass, dan makanya punya warna berbeda. Mirip kasus di atas, Leila mendapat “benih” Geass itu sebagai pemberian, bukan sebagai bagian kontrak. Leila bebas mau menggunakannya atau tidak, tapi disebutkan kalau “benih” itu akan hilang sendiri bila sampai dewasa Leila tak menggunakannya. Saat Leila akhirnya menggunakannya, apa yang termanifestasi (kayaknya) cuma sebagian. Tapi, tetap berperan penting dalam mengakhiri pertempuran. (Buat yang bingung, Geass punya Leila adalah kekuatan untuk menghubungkan ‘hati’ orang.)

Kenapa Geass dari Shin tidak bekerja pada Akito? Itu diindikasikan karena sewaktu menerimanya sewaktu kecil, Akito masih belum sepenuhnya paham tentang konsep kehidupan dan kematian. Jadi, Geass dari Shin itu agaknya sempat bekerja, tapi tidak dengan cara yang Shin harap. (Makanya Akito bilang kalau dirinya sudah pernah mati.) Lalu, sepanjang hidupnya, Akito mungkin menekan efek Geass itu dengan cara yang serupa seperti yang dilakukan Euphemia di seri TV-nya.

Teka-teki terbesar adalah kehadiran tokoh baru Caretaker of Spacetime yang pertama tampil di episode ketiga. Seakan berkuasa melewati ruang dan waktu, sosok ini (kayaknya) adalah manifestasi dari kesadaran kolektif umat manusia yang hanya bisa dilihat orang-orang tertentu. (Sejauh ini, baru Smilas dan Leila.) Aku menduga kalau interaksi dengan sosok ini adalah awal mula bagaimana manusia bisa bersinggungan dengan kekuatan Geass. Tapi, kayak yang aku bilang, mungkin lebih jauh soal dia bakal dibahas dalam film layar lebar Lelouch yang keempat nanti.

Akhir kata, meski berakhir jauh dari pengharapan, aku enggak bisa benci Akito the Exiled. Selain karena standar yang dibidiknya tinggi, hasil akhirnya memang memuaskan… sekalipun mungkin agak susah dicerna.

Jadi, seri ini kurasa tentang cinta di tengah medan pertempuran? Soal, betapa pentingnya berpegang teguh pada harapan meski seisi dunia terlihat suram? Sebagai orang yang normalnya negatif, aneh rasanya bisa sedemikian bersimpati terhadap Shin meski aku jelas sadar kalau dia sudah enggak waras.

Di samping itu, kalau boleh jujur, hal paling mengejutkan dari Akito the Exiled adalah betapa ceritanya berakhir bahagia. Tamatnya beneran happy ending. Itu enggak begitu kerasa kayak Code Geass.

Sebagai tambahan, aku lupa menyinggung kalau Akito the Exiled juga dibarengi perilisan seri lepasan baru Code Geass: Oz the Reflection. Berlatar dalam kurun waktu hampir sama (sesudah season pertama Lelouch), aku dengar Oz punya “nuansa Code Geass” lebih kuat dibandingkan Akito. Ceritanya tentang pasangan saudara kembar Orpheus Zevon (cowok) dan Oldrin Zevon (cewek) yang terpisah dari kecil, dan kini berada di pihak berseberangan dalam konflik antara Britannia dan berbagai organisasi teroris.

Mirip Gundam SEED Astray, Oz dirilis dalam bentuk manga sekaligus photonovel, yang masing-masing media berfokus pada sudut pandang berbeda. Sebagian besar cerita berlatar di seputaran Mediterania, dan berlanjut ke seri sekuel Code Geass: Oz the Reflection O2 yang di dalamnya, Orpheus dan Oldrin saling bertukar posisi, sebelum berakhir agak tragis pada waktu berbarengan dengan klimaks di seri TV R2.

Mungkin Oz juga nanti akan direferensikan dalam film layar lebar baru nanti.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: X; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

Iklan

Gundam Build Divers

Gundam Build Divers, yang tamat belum lama ini, lumayan mengingatkan aku sama Gundam X. Pola ceritanya mirip. Kesan awalnya datar. Masuk pertengahan, kesannya naik. Lalu menjelang akhir, ceritanya dipenuhi aksi lumayan seru. Selain itu, sama kayak Gundam X, meski jumlah penggemarnya enggak banyak, basis penggemarnya sama-sama benar-benar kuat.

Gundam Build Divers tayang semenjak musim semi tahun 2018 dan berjumlah total 25 episode. Meski premisnya mirip, ceritanya tak berkaitan sama sekali dengan Gundam Build Fighters maupun Gundam Build Fighters Try. Statusnya hanya sebatas spiritual successor. Sutradaranya adalah Watada Shinya (yang sebelumnya menangani GBF Try). Naskahnya ditangani pendatang baru Kimura Noboru. Musiknya ditangani Kimura Hideakira. Penyutradaraannya juga dibantu oleh sutradara mecha veteran Obari Masami, yang dihormati karena gaya koreografi super robot (dan fanservice) beliau. Produksinya, kayak biasa, dilakukan oleh Sunrise.

Sebelumnya perlu aku bilang, cerita Gundam Build Divers sebenarnya kurang begitu bagus. Kebanyakan fans Gundam normal mungkin takkan tertarik (atau bahkan tahan) menontonnya. (Sempat ada ulasan soal bagaimana rating TV seri ini kurang bagus.) Tapi, bagi orang-orang tertentu, ada sejumlah hal di GBD yang bisa membuatnya sangat gampang disukai.

Sebuah Dunia Baru

Gundam Build Divers adalah seputar suatu permainan virtual berskala besar bernama Gunpla Battle Nexus (GBN). Para pemainnya menggunakan suatu perangkat canggih untuk memasuki suatu dunia virtual yang mereplika sensasi kelima panca indera (ala Sword Art Online). Mirip GBF, dengan men-scan Gunpla yang mereka buat dan mengkaitkannya ke data ID yang mereka pakai, para pemain juga bisa memiloti Gunpla yang mereka buat di dalamnya. (Berbeda dengan kasus GBF dan GBF Try yang sebatas punya “arena” adu Gunpla, ada semesta luas yang benar-benar bisa dijelajahi dalam GBN.)

Karakter utamanya adalah siswa SMP bernama Mikami Riku. Bersama sahabat dekatnya, Hidaka Yukio, Riku kemudian memasuki GBN sesudah terinspirasi juara dunia Kujo Kyoya yang belum lama itu menang. Sesudah mendaftar dan masuk, Riku dan Yukki berkenalan dengan berbagai kawan dan rival baru, berjuang membangun Force mereka sendiri, lalu mengikuti berbagai event dalam upaya mengejar jejak Kyoya menjadi juara.

Atau, setidaknya, seperti itu awalnya.

Paruh pertama Gundam Build Divers mengetengahkan bagaimana Riku dan kawan-kawannya di tim Build Divers kemudian berhadapan dengan kasus pemakaian perangkat lunak ilegal Break Decal oleh kalangan Mass Diver yang misterius. Buff Decal itu ibarat “narkoba” virtual yang dapat meningkatkan kemampuan Gunpla pemakainya. Pemakaian Break Decal mengacaukan kestabilan sistem GBN dan berpotensi menghancurkannya. Riku dkk berperan dalam upaya menelusuri jejaknya sekaligus menghentikan dampaknya.

Peruh kedua bercerita tentang terungkapnya kenyataan kalau Sarah, gadis manis yang Riku dkk kenali dalam GBN (yang anehnya, tak pernah punya Gunpla sendiri tapi seakan selalu tahu tentang kondisi Gunpla orang lain), ternyata adalah makhluk hidup elektronik yang “terlahir” di dalam GBN. Seperti halnya Break Decal, kehadiran Sarah mengacaukan kestabilan sistem. Pandangan seluruh warga GBN kemudian terbagi soal bagaimana cara menyikapinya, apalagi saat ancaman hancurnya GBN lagi-lagi terjadi.

Jangan Berpikir Terlalu Keras Tentangnya

Bicara teknis, presentasi Gundam Build Divers terbilang bagus. Kira-kira sebanding dengan GBF dan GBF Try. Bahkan, mungkin melebihi dalam beberapa bagian? Enggak sampai sangat bagus, tapi rapi dan konsisten. Desain dan konsep karakternya mungkin kurang menarik bagi sebagian. Tapi, ini dipadu desain dan konsep mekanikal berkesan yang juga membuat adegan-adegan aksinya menarik.

Musik latarnya juga jadi kejutan. Aku suka musik latar di Gundam Build Divers. Terdengar variatif dan enak didengar gitu. Ini sayangnya agak kontras dengan lagu-lagu pembuka dan penutupnya, yang menurutku lumayan standar. (Yang lagi-lagi, jadi hal yang kontras dengan kasus GBF dan GBF Try.)  Selebihnya, audionya diperkuat dengan kualitas seiyuu yang solid. Akting mereka semua kuat, terlepas dari ceritanya yang…

…Hmmm.

Intinya, aku punya banyak keluhan tentang jalan cerita Gundam Build Divers.

Cerita Gundam Build Divers sama sekali enggak sebagus cerita GBF dan GBF Try. Ada terlalu banyak yang enggak masuk akal. Ada banyak plot hole. Ada banyak hal enggak nyaman yang jadi tersirat/diimplikasikan. Para karakter enggak berkembang. Pemaparan terlalu serius. Dramanya terlalu dipaksakan. Tidak ada elemen komedi romantis yang sebelumnya membuat GBF dan GBF Try begitu disukai. Elemen-elemen Gundam-nya juga maksa dan bahkan hampir enggak kerasa dalam cerita. Pokoknya, enggak bagus. Terus terang, aku sangat kecewa terhadap cerita seri ini.

Tapi, di sisi lain, ada banyak hal menarik juga yang Gundam Build Divers punya. Kalau kau mau mengesampingkan kelemahan-kelemahan di segi cerita—apalagi, kalau kamu pada dasarnya penggemar mecha—ini masih bisa jadi seri yang asyik dan menghibur.

Asyiknya di mana?

Yah, pertama… aspek mechanya kuat. Kalau soal animasi aksi mechanya, Gundam Build Divers menurutku melebihi GBF Try. Koreografinya sedemikian rupa sehingga tetap terlihat berkesan meski dalam adegan-adegan tarung paling singkatpun. Ini diperkaya dengan desain mecha variatif, yang mengkombinasikan elemen-elemen real robot dan super robot.

Kedua, pada saat lagi enggak terlalu serius, ceritanya memang bisa seru. Ini terutama terasa sesudah gadis kucing Momo—yang dalam dunia nyata adalah Yashiro Momoka, teman sekolah Riku dan Yukki yang sebelumnya bersikeras merekrut keduanya dalam tim sepakbola—ikut masuk ke dalam cerita.

Ketiga, selalu hadirnya cameo Patrick Colasour dalam setiap episode. Patrick adalah karakter dari Gundam 00 yang menjadi semacam butt monkey yang tak mati-mati di seri tersebut. Menemukan kapan Patrick bakal muncul menjadi semacam hiburan tersendiri bagi fans di tiap episode.

Keempat, yang mungkin agak kontroversial, adalah kehadiran gadis ninja Ayame. Ayame awalnya bergabung dalam Build Divers sebagai anggota tim sementara. Tapi, sebenarnya dia salah satu Mass Diver yang mengacaukan keseimbangan GBN di awal cerita. Desain karakter Ayame—yang di kehidupan nyata adalah siswi SMA Fujisawa Aya yang cantik—telah membuat banyak fans jatuh cinta.

Apa katamu? Kamu tanya apa empat hal ini aja bisa bikin Gundam Build Divers punya fans segitu kuatnya?

Jawabannya adalah YA.

Ayame Squad

Membahas soal mecha… kebanyakan Gunpla diperoleh para karakter utama dari toko Gunpla Gundam Base di Odaiba (suatu toko yang benar-benar ada di kehidupan nyata), di mana pegawainya, Nanase Nami, telah kenal akrab dengan Riku dan Yukki.

Riku mengawali cerita dengan Gundam 00 Diver yang dikustomisasi dari mecha utama di paruh kedua seri Gundam 00. Aku suka bentuknya yang rapi. Dengan bantuan Nanase Koichi—kakak lelaki Nanami yang kemudian bergabung dalam tim Build Divers dengan nama KO-1—Gunpla ini kemudian Riku kembangkan lagi menjadi Gundam 00 Diver Ace yang lebih lincah dan memiliki energi lebih efisien.

Pada paruh kedua cerita, Riku mengganti Gunpla utamanya dengan Gundam 00 Sky, yang mengkombinasikan elemen-elemen 00 Gundam dengan Destiny Gundam dari Gundam SEED Destiny.  Gunpla ini mencolok karena punya serangan khusus yang mana pedang anti-ship raksasanya dibungkus cahaya dari wings of light di punggungnya, dan dipadu dengan twin drive system, menghasilkan serangan dahsyat.

Yukki menggunakan GM III Beam Master yang dikembangkan dari MS produksi massal GM III dari seri Gundam ZZ dan film layar lebar Char’s Counterattack. Seperti yang namanya indikasikan, seri ini mengandalkan persenjataan beam dan didesain untuk memberi support dari jauh, di samping dilengkapi beragam misil. Kekhasannya adalah Changeling Rifle yang mampu berfungsi sebagai Beam Rifle sekaligus Beam Vulcan. Senapan ini bahkan bisa disambung dengan Buster Binder di pinggang untuk menghasilkan serangan Fusion Beam.

Menjelang akhir cerita, barulah Yukki mengembangkan Gunpla baru Jegan Blast Master yang dikembangkan dari MS produksi massal Jegan dari semesta Universal Century. Gunpla ini mengkombinasikan persenjataan beam dari beragam seri, yang meliputi dari High Mega Cannon milik ZZ Gundam dari Gundam ZZ, Calidus Multi-phase Beam Cannon milik Strike Freedom dari Gundam SEED Destiny, Twin Satellite Cannon dari Gundam X, GN Cannon dari Gundam 00, serta SigMaxiss Cannon milik Gundam AGE-3 dari Gundam AGE. Sebagai akibatnya, konsumsi energinya harus lebih hati-hati.

Momo menggunakan Momokapool yang dikembangkan dari MS bawah air Kapool yang muncul di Turn A Gundam. Desainnya bermotif penguin dan dibidik untuk menghasilkan keimutan maksimal. Dengan tambahan masukan dari Koichi, Gunpla ini menghilangkan beberapa fitur dasar Kapool (cakar dan peluncur misil) yang dianggap tidak imut. Tapi, dengan kelincahan dan pertahanannya yang sangat meningkat, ditambah kekuatan tamparannya, hasilnya tetap lebih kuat dari yang diduga. Apalagi dengan persenjataan beam yang ditambahkan di tangan dan perut. Di dalamnya, ada Gunpla mini Petitkapool yang dapat berfungsi sebagai escape pod. Dalam wujud bolanya, Momo juga merancang suatu serangan gabungan yang dilancarkannya bersama Riku.

Koichi sendiri, selaku anggota dengan pengalaman Gunpla paling banyak, menggunakan Galbaldy Rebake, hasil percobaan berulangnya, yang mengubah Galbaldy β yang lincah dari Zeta Gundam menjadi mecha kokoh dengan keluaran tinggi. Desain dan persenjataannya dipengaruhi desain Gundam Gusion Rebake dari Iron Blooded Orphans dan hasilnya menurutku beneran keren. Mengandalkan persenjataan fisik, ini Gunpla serba bisa yang kokoh buat segala medan.

Perwakilan dari dunia SD Gundam di Build Divers hadir dalam wujud RX-Zeromaru, wujud super-deformed bertema ninja dari Unicorn Gundam yang dibuat Ayame. Ini salah satu mecha paling berkesan di seri ini karena banyak fiturnya yang misterius, termasuk wujud Kakure untuk keperluan stealth. Peralatan yang digunakannya pun banyak bertema ninja. Fitur yang paling mencolok adalah bagaimana ia bergabung dengan robot burung Armed Armor Hattori untuk kemudian menjadi real mode.

Beberapa mecha lain yang mencolok di antaranya adalah:

  • Gundam AGEII Magnum andalan Kujo Kyoya dari Team Avalon, yang mengkombinasikan fitur transformasi pesawat yang Gundam AGE-2 punya dengan berbagai C-bit yang dimiliki Gundam AGE FX. Punya serangan khusus berupa pedang sinar raksasa yang dibentuk dari C-bit.
  • Grimoire Red Beret yang digunakan Rommel dari 7th Panzer Division. Ini salah satu desain favoritku, karena mengubah MS minor dari Reconguista in G menjadi MS militer keren sekaligus referensi terhadap Armored Trooper Votoms. Apalagi dengan bagaimana Rommel yang menjadi saingan Kyoya berwujud binatang ermine yang lucu. (Namanya pun diambil dari jendral terkenal di masa PD II.)
  • Gundam Love Phantom yang bersenjatakan sabit besar dari Gundam Deathscythe dari Gundam Wing, tapi sebenarnya didasarkan pada desain Strike Freedom dari Gundam SEED Destiny. Gunpla aneh tapi kuat ini milik Magee dari Adam’s Apple, yang sejak awal telah menjadi sekutu sekaligus mentor bagi tim Riku.
  • Gundam GP-Rase-Two (dibaca GP-rasetsu) milik Ogre, saingan abadi Riku dari tim Hyakki, menggantikan Ogre GN-X yang sebelumnya ia gunakan. Gunpla ini mengombinasikan badan Gundam Physalis dari Gundam 0083 dengan GN Drive dari Gundam 00, menghasilkan Gunpla kokoh dengan keluaran tenaga besar.
  • Seravee Gundam Scheherazade milik Sharyar dari Simurgh, salah satu perancang Gunpla paling veteran. Sosoknya paling mewakili aspek builder dari GBN. Gunpla dengan keluaran energi besar ini menggabungkan bentuk Seravee Gundam dengan bentuk modular dari kapal induk Ptlomaios, yang sama-sama berasal dari Gundam 00. Bentuknya agak ajaib, tapi masuk akal.
  • Gundam Jiyan Altron milik Tigerwolf dari Toraburyu, sosok yang sangat mewakili aspek fighter dari GBN. Ini Gunpla ganas bermotif melee tangan kosong selayaknya mecha-mecha petarung G Gundam, meski desainnya sendiri didasari Altron Gundam dari Gundam Wing. Memiliki bentuk pelindung bahu menonjol. Punya banyak serangan khusus. Apakah motifnya macan? Apakah motifnya serigala? Haruskah diperdebatkan?
  • Gundam Astray No-Name milik Shiba Tsukasa, kawan lama Koichi sekaligus antagonis utama di paruh pertama cerita. Ini salah satu desain Gunpla yang paling ditonjolkan karena memang konsepnya keren. Dikembangkan dari unit-unit Gundam Astray dari seri Gundam SEED Astray, apa yang terlihat sebagai jubah di sisinya adalah armamen komposit No-Name yang bisa berperan sekaligus sebagai perisai, meriam, dan bahkan unit-unit Blade DRAGOON. Gunpla ini juga memiliki nitro system dari Gundam Delta Kai dari UC-MSV, yang semakin meningkatkan kemampuannya.

…Mungkin kalian bisa lihat sendiri kalau konsep mecha seri ini sebenarnya sangat keren. Tapi, bahkan dengan koreografi bagus pun, kesannya tak maksimal karena kurang diimbangi cerita berbobot.

Ini sangat disayangkan karena ada banyak aksi yang berlangsung di latar unik, seperti di lautan es, pulau tropis, padang bunga, dsb. Bahkan perang besar terakhir seri ini berlangsung di kastil Team Avalon di mana ada pulau-pulau melayang. Apalagi dengan banyaknya cameo MS dari seri-seri Gundam lama.

Selamat Datang di Dunia Kami

Aku tertarik pada Gundam Build Divers karena memang menggemari GBF dan GBF Try. Tapi, yang benar-benar membuatku terpikat di awal adalah episode prolog yang menampilkan final antara Team Avalon dan 7th Panzer Division. Episode itu keren. Potensi yang ditampilkannya banyak. Makanya, aku (dan lumayan banyak fans lain) kecewa saat kelemahan dalam ceritanya benar-benar tampak.

Yang terutama tak aku suka adalah bagaimana pemaparan teknologi di Gundam Build Divers bukan hanya tak masuk akal, tapi juga cenderung menyesatkan. Sikap karakter Game Master sebagai administrator GBN bakal mengherankan siapapun yang pernah berurusan dengan MMORPG. Pemaparannya sangat mengganggu. Merusak suspension of disebelief. Pokoknya, bisa seketika bikin turn off orang.

Di sisi lain, aku suka pemaparannya terhadap dunia perakitan Gunpla. Seri ini menampilkannya sebagai dunia ramah yang bahkan bisa dimasuki amatiran yang belum tahu apa-apa tentang Gundam seperti Momo. Aku memang kecewa karena aspek Gundam-nya kurang menonjol. Tapi, mungkin itu upaya membuat dunia Gunpla lebih menarik bagi pemirsa mainstream. (Aku tak yakin upaya ini berhasil sih, tapi sudahlah.)

Akhir kata, seri ini tak punya nuansa persahabatan yang GBF usung. Seri ini juga tak punya nuansa pantang menyerah dan berbesar hati yang GBF Try punya. Bagi kebanyakan orang, seri ini susah disukai. Tapi, seri ini masih bisa kurekomendasikan kalau kalian benar-benar suka melihat penggambaran animasi mecha dan takkan mempermasalahkan ceritanya.

Sekali lagi, it’s not that bad.

Kalau dibandingkan Gundam AGE yang juga punya reputasi kurang bagus? Hmm. Entah ya. Hal-hal bagus yang Gundam Build Divers punya itu sangat unik sih. Tapi karena kesan datar dan tak masuk akalnya, mungkin sebagian orang akan memposisikannya di bawah Gundam AGE (yang ‘sekedar’ dipadatkan dan mengecewakan).

Aiiih, padahal aku sudah berkhayal orang-orang akhirnya akan bisa merekonstruksi gentingnya pertempuran terakhir di Gate of Zedan lagi!

Yah, mungkin lain kali.

Penilaian

Konsep: D+; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: C+

Hundred

Label light novel GA Bunko dimiliki penerbit SB Creative.

Ketika label tersebut berulang tahun yang kesepuluh, mereka memprakarsai adaptasi anime dari sepuluh seri LN-nya.  Sepuluh anime tersebut diproduksi studio-studio berbeda dalam kurun waktu berbeda pula. Kualitasnya beragam, tapi tetap lumayan berhasil mempromosikan judul-judul keluaran mereka.

Tanpa diurut secara khusus, dan kalau aku enggak salah, kesepuluh seri yang diadaptasi tersebut antara lain adalah:

  • Rakudai Kishi no Chivalry (Seri pertama yang diadaptasi. Lebih bagus dari dugaan.)
  • Dungeon ni Deai o Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka? (Dikenal juga sebagai Danmachi. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)
  • Haiyore! Nyaruko-san (Menarik.)
  • Hundred (Akan dibahas sebagai berikut.)
  • Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de (Lumayan, punya beberapa adegan yang benar-benar bagus.)
  • No-Rin (Relatif bagus.)
  • Oda Nobuna no Yabou (Lebih bagus dari dugaan.)
  • Saijaku Muhai no Bahamut (Lumayan.)
  • Seiken Tsukai no World Break (Menarik.)
  • Danmachi Gaiden: Sword Oratoria (Seri terbaru yang diadaptasi saat aku menulis ini. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)

Di antara semua judul di atas, yang paling menarik perhatianku saat adaptasinya pertama diumumkan adalah Hundred.

Seri ranobe Hundred ditulis oleh Misaki Jun dan diilustrasikan oleh Oukuma Nekosuke (Oukuma-sensei yang juga membuat desain karakter asli untuk Shinmai Maou no Testament). Hundred pertama terbit pada tahun 2012 dan sejauh ini, telah punya buku sebanyak belasan.

Alasan aku tertarik pada Hundred adalah karena sejumlah kemiripan yang Hundred miliki dengan Infinite Stratos, suatu seri populer lain yang diterbitkan penerbit Overlap. Ada persenjataan eksoskeleton yang dipasang di badan (aku akui, sesudah melihatnya sendiri, istilah ‘eksoskeleton’ ini kurang tepat sih). Ada latar dunia yang futuristis. Ada sekolah khusus yang perlu diikuti oleh para karakter utamanya. Ada pihak-pihak yang bermain di belakang layar.

Intinya, ada banyak hal keren di dalamnya yang membuatku tertarik. (Jadi, bukan. Bukan karena fanservice-nya. Walau, berhubung Oukuma-sensei yang merancang, aku memang sedikit tertarik sih.)

Salah satu perbedaan yang Hundred miliki dibandingkan sejumlah seri lain yang ‘mirip’ adalah bagaimana sekolah khusus yang menjadi latar cerita—yakni kapal induk sekaligus kota terapung di tengah laut bernama Little Garden—adalah sekolah campuran untuk cewek dan cowok. Jadi, tidak ada situasi ‘harem ekstrim’ seperti halnya di Infinite Stratos atau di Saijaku Muhai no Bahamut.

Di samping itu, juga adanya ancaman makhluk-makhluk buas misterius bernama Savage terhadap dunia. Monster-monster ini yang konon hanya bisa dilawan menggunakan senjata-senjata istimewa Hundred yang ditonjolkan seri ini.

Anime Hundred pertama keluar pada musim semi tahun 2016. Jumlah episodenya sebanyak 12. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Production IMS. Sutradaranya adalah Kobayashi Tomoki. Naskahnya ditangani Shirane Hideki. Lalu musiknya ditangani oleh Naruse Shuhei.

Sebelum dibahas lebih jauh, Hundred sebenarnya bukan anime yang bagus.

Iya, ini sayangnya bukan judul yang akan aku rekomendasikan. Tapi, ada beberapa hal tentangnya yang sempat lama membuatku penasaran.

“Hundred On!”

Yah, singkat cerita…

Kisaragi Hayato, sang tokoh utama (bentuk Hundred: pedang katana dan pelindung lengan), terpilih masuk ke Little Garden karena memperoleh nilai kecocokan tertinggi sepanjang sejarah dalam tes kecocokan dengan Hundred. Tes kecocokan ini dilakukan untuk mencari bibit-bibit Slayer baru yang akan dididik menggunakan perangkat-perangkat Hundred.

Slayer ceritanya adalah istilah untuk orang-orang yang terlatih menghadapi serangan Savage. Mereka dilengkapi perlengkapan Hundred yang khusus digunakan oleh mereka sendiri.

Savage sendiri… bentuk mereka seperti makhluk-makhluk melata buas berukuran raksasa dengan kulit berwarna gelap dan garis-garis neon. Sejauh yang dipaparkan dalam cerita, belum terungkap dari mana asal mereka.

Hayato, ceritanya, adalah seorang remaja dari negara kepulauan Yamato (yang mirip Jepang). Dia dari sejak awal lumayan terlatih dalam ilmu bela diri. Dirinya juga bersedia menerima tawaran beasiswa di Little Garden karena sekalian bisa mendapatkan fasilitas perawatan mutakhir untuk adik perempuannya yang sakit-sakitan, Kisaragi Karen.

Tapi baru masuk, Hayato langsung mendapat masalah dengan para anggota Dewan Siswa. (Karena Hayato membela sejumlah siswi baru yang hendak langsung dikeluarkan karena terlambat mengikuti upacara.)

Dibeking oleh negara adidaya Liberia (mirip Amerika) yang memprakarsai penelitian terhadap Hundred, para anggota Dewan Siswa ini memiliki otoritas tertinggi di Little Garden. Selain mengatur sekolahan, mereka juga mengatur seluruh aspek komando pertahanan di pulau. Mereka dipimpin seorang perempuan berambut pirang bernama Claire Harvey (bentuk Hundred: drone-drone melayang pemancar sinar, yang bila disatukan bisa membentuk meriam raksasa), yang tidak segan memberi Hayato ‘ujian praktek’ langsung saat ia membangkang.

Untungnya, Hayato sebelumnya berkenalan dengan Emile Crossfode (bentuk Hundred: fleksibel, bisa berubah hampir menjadi bentuk apapun), seorang pemuda rupawan yang menawarkan diri menjadi partner sekaligus teman sekamarnya. Meski seangkatan dengan Hayato, dan berkesan lemah lembut, Emile ternyata seseorang yang sangat ahli dalam menggunakan Hundred.

Emile, bersama Hayato dan bakat alaminya, ternyata bisa menjadi lawan yang sepadan bagi Claire dan rekan-rekannya. Mereka sama-sama berhasil menunjukkan kalau Hayato memang seseorang yang layak dipertahankan.

Sampai ketika… Savage tiba-tiba menyerang. Keadaan darurat terjadi. Lalu, para Slayer harus bersatu karena kurangnya orang.

Lalu dalam aksi yang terjadi, Hayato menyadari kekuatannya yang sesungguhnya sebagai Variant. Lalu, ia memahami pula siapa Emile sesungguhnya…

Teman Lama, Teman Baru

Iya, pembuka ceritanya kurang meyakinkan. Iya, ada kesan “Intinya cuma gini doang?!” Lalu, iya, semua bahan yang diperlukan untuk membuat sesuatu yang rame itu ada, tapi entah gimana, semua jadinya… hanya sebatas demikian.

Ada banyak hal menarik yang terus diperkenalkan dan ditambahkan. Ada karakter-karakter menarik (seperti teman-teman Hayato dan Emile, si penembak jitu Fritz Granz dan teman masa kecilnya yang mungil, Latia Saint-Emillion). Ada teori-teori soal asal-usul Hundred dan manusia-manusia Variant. Ada masa lalu yang dibagi bersama dengan para karakternya (semisal, penyanyi idola Kirishima Sakura, yang ternyata pernah mengenal Hayato dan Karen di masa lalu, sekaligus juga pengguna Hundred). Ada misi-misi ke luar sekolah yang dikerjakan bersama pasukan multilateral. Ada campur tangan orang-orang misterius (seperti Judal Harvey, kakak lelaki Claire, kepala Warsiran Research Facility). Ada rahasia-rahasia yang tersembunyi di bawah Little Garden (seperti soal LiZA, yang konon adalah perwujudan adik perempuan Claire).

Tapi janggalnya, semua itu enggak benar-benar berujung ke mana-mana.

Dengan kata lain, di antara sepuluh anime yang diadaptasi dari seri LN GA Bunko di atas, Hundred adalah yang paling tidak menonjol.

Aku sempat susah menerima ini. Kok bisa sih hal ini terjadi?

Tapi, sesudah melihat perkembangan cerita di episode-episode berikutnya, lalu mengerti kalau ini pasti mengangkat cerita dari seri novelnya, aku kurang lebih jadi mengerti bagaimana staf produksi animenya jadi kurang termotivasi.

Sempat ada fans menerjemahkannya. Jadi aku sempat pula memeriksa versi novelnya seperti apa.

Untuk ukuran LN, narasi Misaki-sensei terbilang lumayan. Ceritanya juga cukup ringan untuk dinikmati. Tapi, sesudah diangkat jadi anime, Hundred memang bermasalah. Soalnya, meski punya banyak elemen menarik, struktur ceritanya kayak emang enggak cocok buat dijadikan anime.

Di samping itu…

Disangka… Demikian

Hundred kurasa semula hendak menonjolkan harem love comedy yang serupa dengan Infinite Stratos. But, it just doesn’t work. Berbagai kekonyolan cinta segi banyak itu enggak bisa ditonjolkan karena para heroine sendiri yang memang enggak(!) dalam posisi untuk terang-terangan memperlihatkan rasa suka mereka.

Oke, Hayato memang bukan karakter yang mencolok. Lalu dia juga bukan karakter yang dibenci juga. Dia archtype biasa untuk tokoh-tokoh LN seperti ini. Tapi, kalau bicara soal para heroine-nya…

Emile, sebagai contoh, memiliki identitas asli sebagai Emilia Hermit, teman masa kecil perempuan Hayato dari masa lampau. Dialah karakter perempuan utama di seri ini. Emile ceritanya pernah bertemu Hayato di masa lalu dan diselamatkan olehnya dalam suatu insiden serangan Savage di Kekaisaran Britannia (yang berujung pada berubahnya biologis tubuh mereka akibat virus Savage menjadi apa yang disebut Variant).

Kenapa Emilia menyamar sebagai lelaki? Aku juga… kurang paham.

Tapi, bukan cuma itu. Emilia juga aslinya adalah Emilia Gudenburg, putri ketiga dari Kekaisaran Gudenburg, suatu negara adidaya di dunia, yang telah disusupkan(?) ke dalam Little Garden. Jadi identitasnya dia itu berlapis tiga!

Di mata kita, sebagai penonton, Emile jelas-jelas perempuan (adegan-adegan fanservice yang menonjolkan Emile bahkan sudah ditampilkan sejak awal!). Tapi di depan umum, di dalam cerita, Emile harus menjaga jaraknya dengan Hayato. (Yang berujung pada bagaimana kedekatan antara mereka berdua membuat mereka terkesan homo.)

Hasilnya jadi… sangat… aneh.

Dia bukan karakter yang bisa kita sukai. Dari kepribadian enggak. Dari fisik, uh, entah, mengingat kebanyakan waktu, dia menyamar sebagai cowok. Tapi, dia juga bukan karakter yang akan kita benci juga. Dia sekedar… membingungkan. Lalu karena itu, jadinya kayak enggak punya daya tarik.

Intinya, kesannya jauh berbeda dari situasi Charlotte Dunois di Infinite Stratos yang untuk beberapa lama juga sempat menyamar sebagai cowok. Kasus Charl lebih berhasil. Aku sempat tak berkeberatan saat mengira dia benar-benar cowok (meski curiga). Tapi, aku juga enggak keberatan saat terungkap kalau dia cewek.

Oke. Aku juga bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Selain Emilia, heroine berikutnya adalah Claire. Claire di mataku jelas lebih berkesan dibandingkan Emilia. Tapi, karena alasan jabatan dsb., dia pun enggak bisa terang-terangan mendekati Hayato. Dia itu kepala pasukan di sana. Dia enggak bisa berat sebelah kepada salah satu orang di dekatnya. Apalagi, dengan bagaimana dia selalu diikuti oleh kedua bawahannya, Liddy Steinberg, sang wakil seitokaicho pertama (bentuk Hundred: tombak dan perisai) yang tak kalah galak; dan Erica Candle, sang wakil seitokaicho kedua (bentuk Hundred: mirip yoyo dan kawat? Kurang efektif untuk melawan Savage berukuran besar) yang spesialis strategi dan sangat menghormati Claire.

Jadi, yah, kalian tahu maksudku.

Kemarahan yang Sulit Dimengerti

Production IMS pertama dikenal karena memproduksi season dua dan juga movie dari anime Date A Live. Mereka juga memproduksi Inari, Konkon, Koi Iroha yang terbilang mengesankan. Jadi, kalau soal kualitas, mereka sebenarnya bisa mengusahakannya.

Mempertimbangkan yang di atas, aku sempat terpaku melihat bagaimana Hundred memiliki kualitas teknis pas-pasan. Sesudah memikirkannya, aku curiga alasannya karena di kurun waktu yang sama, Production IMS juga mengerjakan proyek orisinil mereka, Active Raid, yang sayangnya, juga berakhir kurang begitu meledak.

Bicara soal kualitas teknis, animasi Hundred itu luar biasa standar. Sangat biasa. Tidak sampai jadi aneh atau jelek sih, tapi jelas enggak sekeren yang sempat aku bayang. Bahkan kalau mau bahas soal fanservice juga, tidak ada apapun tentangnya yang terbilang berkesan.

Tapi, di antara semua hal ‘biasa’ tersebut, ada dua aspek menonjol yang Hundred punya. Satu, aspek audio yang lumayan. Dua, adegan-adegan aksi.

Soal audio, efeknya bisa gede. Aku enggak bilang seri ini punya musik bagus. Mungkin levelnya hanya sekedar lumayan. Tapi, terasa ada perhatian yang diberikan terhadapnya gitu. Seri ini secara total memiliki empat lagu penutup, suatu hal menonjol untuk anime 12 episode dengan tema kayak gini. Ada tema idol yang tiba-tiba diangkat di tengah cerita. Rasanya aneh, tapi lumayan memperkaya nuansa yang seri ini bisa punya. Akting para seiyuu terbilang lumayan.

Lalu, soal aksi…

Jujur, inilah yang akhirnya paling membuatku penasaran soal Hundred.

Adegan-adegan aksinya enggak bisa dibilang bagus. Koreografinya biasa saja. Kebanyakan adegan juga berakhir dengan bagaimana Hayato intinya sekedar berhasil menyalurkan kekuatan terpendamnya. Tapi, pas lagi ada—dan mungkin juga ini cuma aku—selalu kayak ada beberapa detik—hanya beberapa detik—ketika intensitasnya benar-benar terasa.

Aku enggak mengerti bagaimana ini terjadi. Mungkin hanya akting para seiyuu-nya yang sekedar bagus. Intensitas tiba-tiba ini secara konsisten ada sampai menjelang akhir seri. Karenanya, aku sampai terdorong mengikuti perkembangan Hundred sampai tuntas.

Di samping itu, dengan berbagai misteri yang diangkatnya, pembangunan dunianya sebenarnya termasuk lumayan.

Merah Darah Kita

Akhir kata, Hundred kurasa bukan seri yang perlu kau pikirkan terlalu jauh. Di dunia ini ada lebih banyak hal yang lebih berarti untuk kita pikirkan. Tapi, buatku pribadi, ini lagi-lagi contoh soal gimana suatu kegagalan bisa lebih ‘mengajari’ kamu ketimbang suatu keberhasilan.

Karakter-karakter antagonis HundredVitaly Tnanov dan anak-anak buahnya: Krovanh Olfred, Nesat Olfred, Nakri Olfred; anak-anak yatim piatu Variant yang sempat menjadi budak—sebenarnya termasuk menarik secara konseptual. Lalu, kalau membaca versi novelnya, aku percaya ada banyak detil menarik soal dunianya yang bisa kita gali juga. (Semisal: nama masing-masing Hundred, kemampuan-kemampuan istimewa mereka, dan sebagainya.)

Hundred membuatku tertarik karena mengkhayalkan hal-hal ginian dalam lingkup yang konsisten dan logis ternyata sulit.

Oke. Melakukan apapun secara konsisten emang sulit. Jadi, pelajarannya mungkin juga ada di sana.

Man, aku lumayan kecewa saat sadar bahwa Claire bukan heroine utama.

Yah, sudahlah.

Penilaian

Konsep: E; Visual: C; Audio: B; Perkembangan:C-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C-

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Edmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi, Tekkadan juga tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan untuk berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menghalangi dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu tersebut juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season pertama. Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Busou Shoujo Machiavellianism

Belakangan, waktuku tersita oleh naskah yang aku lagi kerjain.

Tapi belum lama ini, aku masih sempat mengikuti perkembangan anime Busou Shoujo Machiavellianism.

Juga dikenal dengan judul Armed Girls Machiavellianism (‘Machiavellianisme gadis-gadis bersenjata’; buat yang belum tahu, ‘Machiavellianisme’ adalah suatu paham yang digagas filsuf sekaligus ahli sejarah Niccolò di Bernardo dei Machiavelli pada awal abad ke-16, yang intinya membolehkan—dan mungkin bahkan menekankan—kepalsuan, pemaksaan, manipulasi, dan amoralitas untuk tercapainya suatu tujuan). Ini seri komedi romantis aksi bernuansa ilmu bela diri yang didasarkan seri manga karya Karuna Kanzaki. Ceritanya sendiri dipenai Kurokami Yuuya. Diserialisasikannya di majalah bulanan Monthly Shonen Ace milik penerbit Kadokawa Shoten, dan saat ini aku tulis, serialisasinya masih berlanjut.

Adaptasi animenya sendiri dikerjakan studio animasi Silver Link. Tachibana Hideki yang menyutradarai. Hasil akhirnya, mengingat beliau sebelumnya menangani Chaos Dragon, H2O: Footprints in the Sand, dan BlazBlue Alter Memory, menurutku terbilang bagus. Naskahnya dikerjakan oleh Shimoyama Kento. Musiknya ditangani Mizutani Hiromi dari Team MAX.

Ditayangkan pada musim semi tahun 2017, jumlah episodenya sebanyak 12.

(Sebenarnya, ada cerita panjang soal lisensi anime ini dan beberapa judul lain pada musim bersangkutan, tapi mungkin soal itu enggak usah aku ceritain.)

Bertingkah Seperti Burung-burung Kecil

Sekilas, Busou Shoujo Machiavellianism terkesan punya cerita yang enggak penting. …Tapi kalau dilihat secara menyeluruh pun, cerita seri ini memang sebenarnya enggak terlalu penting.

Seorang remaja SMA santai bernama Nomura Fudou dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena meng-KO 40 orang dalam suatu tawuran hebat. Tapi kemudian, dia pindah ke Akademi Simbiosis Swasta Aichi (apa ini bener terjemahannya?) yang prestisius dan berasrama, yang ternyata secara harfiah dikuasai oleh para siswi.

Alasan anak-anak perempuan menguasai sekolah ini adalah karena mereka semua diizinkan membawa senjata. Senjata beneran. Perguruan Aichi sebelumnya adalah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga terhormat yang baru pada tahun-tahun belakangan menerima siswa laki-laki. Sebagai langkah untuk melindungi kehormatan para siswi, para siswi diizinkan membawa senjata agar bisa menjaga diri dari para laki-laki.

Lalu entah siapa yang memulai, meski resminya murid-murid laki-laki diterima di sekolah ini, selama bersekolah di perguruan ini, mereka diwajibkan berhenti hidup sebagai laki-laki. Dengan kata lain, mereka semua harus hidup sebagai banci.

Nomura (aksen saat menyebut namanya diberikan pada suku kata pertama) jelas tak bisa menerima aturan ini. Meski mengusung moral yang lurus, Nomura juga menjunjung kebebasan lebih dari apapun. Tapi bahkan sebelum penolakannya, karena prestasinya dalam menghajar 40 orang dalam satu tawuran hanya dengan tangan kosong, Nomura telah menarik perhatian kelompok Tenka Goken (Supreme Five Swords, ‘Lima Pedang Terkuat’).

Tenka Goken adalah kelompok penjaga keamanan yang terdiri atas lima siswi paling kuat di Aichi. Selama bertahun-tahun, mereka menjaga harmoni di perguruan Aichi karena dibolehkan menegakkan aturan dengan membawa pedang sungguhan.

Singkat cerita, meyakini Nomura akan berbuat onar, diprakarsai seorang gadis bertopeng bernama Onigawara Rin yang ternyata menjadi teman sekelas Nomura, masing-masing anggota Tenka Goken memulai langkah-langkah mereka untuk mendisiplinkannya. Sementara di sisi lain, Nomura belakangan mengetahui bahwa untuk memperoleh izin pergi ke luar sekolah, ia perlu melengkapi kartu izin dengan stempel dari kelima anggota Tenka Goken. Karena Nomura ingin memperoleh izin untuk bisa bebas keluar, tanpa dapat dihindari, jalan hidup Nomura dan kelompok ini akhirnya berseberangan.

Namun, meski tak bersenjata apa-apa selain sarung tangan berpelindung yang menjadi andalannya, Nomura ternyata seorang ahli bela diri. Dia telah dididik oleh kakeknya sejak kecil dan digembleng oleh kakeknya untuk menguasai suatu ilmu bela diri tertentu. Hasilnya adalah jurus rahasia yang disebut Madan (‘peluru ajaib’), suatu serangan hentakan telapak dahsyat yang dapat dilepasnya dari kedua belah tangan dari posisi apapun.

Seiring dengan bentrokan demi bentrokan yang terjadi, satu demi satu gadis yang berhadapan dengan Nomura juga lambat laun menyadari kalau dirinya ternyata tidak seburuk yang mereka kira…

Catatan-catatan Skandal

Terlepas dari semuanya, para heroine utama seri ini, yang tergabung dalam Tenka Goken, terdiri atas:

  • Onigawara Rin, gadis berambut hitam pendek yang punya ciri khas berupa separuh topeng oni yang hampir selalu menutupi separuh wajahnya. Rin adalah pemimpin tidak resmi dari Tenka Goken, meski ia berada di kedudukan tersebut lebih karena dirinya yang paling punya inisiatif. Pembawaannya galak. Ia juga selalu lurus dan taat peraturan. Tapi dirinya juga punya sisi rendah diri yang membuatnya terkadang ragu terhadap diri sendiri. Dalam bertarung, Rin menggunakan ilmu pedang aliran Kashima Shinden Jikishinkage-ryuu yang mengutamakan ketepatan bentuk yang dipadukan dengan teknik-teknik pernafasan. Pedangnya berupa katana yang dinamai Onimaru. Adik kelas yang paling dekat dengannya adalah Mozunono Nono, yang kagum terhadap Rin dan menggunakan aliran pedang yang sama, tapi untuk pedang pendek jenis kodachi, meski ia sendiri bersenjatakan baton.
  • Kikakujou Mary, seorang gadis pirang rupawan berdarah campuran Jepang-Perancis. Ke mana-mana, ia senantiasa membawa kamus bahasa Jepang. Ia ahli anggar yang agaknya menggabungkan ilmu pedang konvensional dari Barat dengan ilmu pedang Jepang (aliran Jigen-ryuu?). Dalam bertarung, Mary melancarkan serangan-serangan beruntun yang mengincar titik-titik saraf lawan yang juga dipadukan pengendalian jarak yang lihai. Pedang yang digunakannya sejenis rapier, yang mengutamakan gerakan-gerakan tusukan. Sangat cantik dan anggun meski terkadang pemalu. Dirinya juga bisa bersikap licik saat sedang mau. Adik kelas yang dengan setia mengikutinya adalah si burikko, Chouka U. Baragasaki (bukan nama asli), yang menggunakan senjata cambuk.
  • Hanasaka Warabi, anggota paling senior dalam generasi Tenka Goken saat ini, seorang gadis pendek berambut pirang yang memiliki pembawaan seperti bangsawan. Memiliki seekor beruang peliharaan bernama Kyobo. Sebagai anggota senior, Warabi juga memiliki banyak pengikut serta pengaruh luas. Meski semula berkesan kaku dan tanpa ampun, Warabi bisa menjadi pengertian dan sangat bisa diandalkan kalau sudah kenal. Dalam bertarung, Warabi menggunakan aliran pedang Taisha-ryuu yang menonjolkan serangan kejutan dan gerak tipuan. Pedang yang digunakannya kurasa adalah sejenis nodachi.
  • Tamaba Satori, gadis penyendiri berambut gelap panjang dengan tingkah laku sulit ditebak. Dikenal memiliki perangai sangat aneh dan cenderung berbahaya. Matanya yang membelalak membuatnya pikirannya sulit dibaca. Menaruh rasa permusuhan terhadap Nomura bahkan sebelum mereka pertama berhadapan. (Alasannya ternyata karena ia tak terima bila disamakan dengan Morgan Freeman. Ceritanya panjang.) Dalam bertarung, Satori menggunakan gerakan-gerakan bercabang yang sangat sukar ditebak. Ilmu pedang yang digunakannya sedikit spoiler, tapi pada dasarnya ia merangkai bentuk dan gerakan dari berbagai ilmu pedang lain. Pedang yang digunakannya adalah nihontou polos bergagang dan bersarung kayu, tanpa pelindung tangan. Satori punya masa lalu aneh yang menjadi penyebab ia menjadi seperti demikian.
  • Inaba Tsukuyo, seorang gadis mungil serupa kelinci dengan mata buta yang hampir selalu terpejam. Meski demikian, pendengaran Tsukuyo luar biasa tajam. Hanya dengan mendengar sekelilingnya, Tsukuyo bisa mengintepretasi berbagai kejadian yang terjadi di Aichi. Tsukuyo anggota termuda dari Tenka Goken yang masih duduk di bangku SMP, tapi dirinya sekaligus juga yang paling kuat dengan ilmu pedang paling mengerikan. Gerakan-gerakan kilatnya membuat lawan-lawannya tak mampu berkutik. Ilmu pedang yang digunakannya juga sedikit spoiler. Kalau tak salah, pedang yang digunakannya adalah sejenis tachi. Mungkin karena selalu disegani, diam-diam Tsukuyo terkadang kesepian.

Sebenarnya ada satu heroine lagi, yaitu Amou Kirukiru, seorang gadis jangkung berambut panjang dan sangat cantik yang merupakan murid pindahan seperti halnya Nomura.

Amou di masa lalu dikisahkan berhasil menundukkan Tenka Goken saat mereka berupaya mendisiplinkannya. Dirinya satu-satunya murid di Aichi sebelum Nomura yang tidak bisa Tenka Goken kendalikan. Karenanya, Amou kemudian dikenal dengan julukan Joutei (Empress). Motivasi Amou di sepanjang cerita menjadi tanda tanya besar. Pengetahuannya tentang jurus Madan milik Nomura (dan soal bagaimana aksen diberikan pada suku kata pertama di namanya) mengimplikasikan adanya semacam hubungan masa lalu di antara mereka.

Amou adalah praktisi karate aliran Uechi-Ryu yang menekankan pengerasan tubuh. Setiap gerakan tangannya serupa tebasan pedang. Dalam dirinya telah tertanam teknik Auto Counter yang membuatnya mampu membalas setiap serangan yang ditujukan padanya bahkan secara separuh sadar. Dirinya berperan jadi semacam final boss yang harus Nomura hadapi di penghujung cerita. (Belakangan diimplikasikan Amou terobsesi dengan Nomura karena serangan Nomura bisa memberinya rasa sakit, sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya karena sudah lama mati rasa.)

“Buriburi! Buriburi!”

Sekali lagi, Busou Shoujo Machiavellianism itu… aneh.

Garis besar ceritanya enggak penting. Meski ada aksinya, genrenya yang utama sebenarnya adalah komedi romantis. Tapi romansa yang ada di dalamnya enggak bisa dibilang berat juga. Latar ceritanya terkadang sureal. Perkembangan karakternya terkadang mengangkat alis, dan cenderung konyol. Tapi… ada sesuatu tentangnya yang sulit dijelaskan, yang membuatnya berakhir lebih bagus dari dugaan.

Intinya: siapa sih yang nyangka seri tentang cowok yang berantem dengan cewek-cewek semata-mata agar dapet izin buat bisa keluar sekolah akan meninggalkan kesan sedemikian kuatnya tentang persahabatan dan pemahaman jati diri?

It’s weird.

Komedinya, meski benar-benar aneh, sebenarnya lumayan lucu. Jenisnya lebih ke komedi situasi yang lebih berbasis percakapan ketimbang slapstick. Jenis yang lebih mengandalkan interaksi karakter. …Meski memang perkembangan situasinya terkadang absurd.

Walau enggak sampai mengangkat hal-hal pseudo-filosofis seperti berbagai seri bela diri sekolahan lain, di luar dugaan, tetap ada nilai-nilai berbobot yang tersampaikan di ceritanya juga. Ada soal prasangka, ada soal kesetiakawanan. Ada juga soal kerja keras dan pemahaman diri sendiri/penerimaan orang lain.

Iya sih. Ini seri fanservice. Tapi implementasi berbagai elemennya benar-benar efektif. Perkembangan ceritanya juga selalu menarik dan tak selalu gampang ditebak.

Kalau kekurangan, adegan-adegan aksinya lumayan low key sih. Koreografinya sangat sederhana. Sama sekali tidak wah.  Bagaimanapun, ceritanya memang lebih menonjolkan aspek komedi romantisnya. Tapi di sisi lain, seperti ada semacam ‘keaslian’ dalam teknik-teknik bela diri yang digunakan di dalamnya juga.

Makanya, ini aneh.

Awalnya lucu melihat gadis-gadis manis ini melancarkan gerakan-gerakan bela diri yang mungkin saja benar-benar ada di kehidupan nyata. Tapi kalau kau bisa melihat melewati kesan awalnya, kau mungkin bakal ngerasa kalau karakter-karakter di dalamnya itu menarik.

Nomura terutama berhasil mencuri perhatian sebagai karakter utama. Meski lagaknya santai dan semaunya, dia setiakawan dan kuat. Tipe yang tak keberatan bersusah-susah selama itu masih sejalan dengan prinsipnya. Prinsipnya itu yang menggerakkan dia (meski, sekilas, prinsipnya itu kayaknya bener-bener enggak penting) dari awal sampai akhir. Lalu aku terkesan pada gimana dia mengkomunikasikan prinsip itu ke orang lain, menunjukkan posisinya di mana, membuat orang lain ngehargain dia sebagaimana halnya dia juga ngehargain orang lain.

Intinya, dia karakter yang lebih dalam dari yang sekilas terlihat.

Bukti Aku Ada di Sini

Bicara soal teknis, seri ini punya nilai-nilai produksi yang solid.

Visualnya menonjolkan permainan warna-warna cerah dan efek-efek pudar dengan animasi cukup solid. Mungkin kau tak cocok dengan gaya desain karakternya. Tapi secara umum, visual seri ini beneran bagus. Pada setiap adegan aksi, perubahan ekspresi para karakter di luar dugaan menjadi hal yang sangat diperhatikan dan hampir selalu menyiratkan banyak hal.

Dari segi audio, Mizutani-san memberikan good job. BGM-nya keren. Kebanyakan seiyuu-nya juga adalah seiyuu yang belum aku kenal. Tapi kesemuanya menurutku memberikan performa brilian. Mereka berhasil membuat setiap karakter terasa hidup seaneh apapun mereka. Mulai dari tawa khas Warabi sampai nada bicara Satori yang psikopatik, itu juga termasuk teman-teman seasrama Nomura seperti Masuko. Itu lengkap pula dengan nuansa terselubung untuk hal-hal yang semula tak tampak di permukaan.

Aku benar-benar kaget karena sampai dibuat ingin tahu perkembangan seri ini. Soalnya, meski mengetengahkan aksi bela diri, manganya termasuk jenis yang punya dialog banyak. Gimana ya? Jenis yang kesan awalnya sama sekali berbeda dari kesan akhirnya.

Cerita di animenya sendiri berakhir tuntas sih. Kesan akhirnya juga cukup kuat. Tapi yea, manganya masih berlanjut. Ada sejumlah tokoh baru menjelang akhir yang juga sempat ditampilkan sebagai teaser.

Aku tak tahu apa aku akan berkesempatan buat tahu lanjutannya atau tidak sih. Meski animenya terbilang baik, aku tidak melihat gelagat akan dibuatnya season dua soalnya.

Akhir kata, kamu mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari seri ini. Mungkin kamu awalnya enggak akan ngerti karena terselubung. Mungkin itu sesuatu yang sederhana dan enggak penting. Tapi itu tetap sesuatu yang bisa kamu ambil.

Ah, pastinya lagu penutup dan pembukanya keren. Terutama lagu penutup “DECIDE” yang dinyanyikan para seiyuu Tenka Goken. Itu lagu yang sederhana, tapi pas banget dengan nuansa seri ini. Aku jadi berharap Tenka Goken sebagai grup musik bakal bisa terus berkarya.

(Uh, buat kalian yang masih bingung dengan arti judulnya, ringkasnya itu tentang bagaimana Nomura menyikapi pendekatan paksa menghalalkan segala cara ala Machiavelli dari para gadis yang mencoba mendisiplinkannya. Perlu kuakui, judulnya sangat menarik perhatian.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

Blame! (2017)

Menyambung pembahasan sebelumnya, belakangan aku berkesempatan melihat film layar lebar Blame! buatan Polygon Pictures. Untuk di luar Jepang, film ini menonjol karena didistribusikan lewat saluran berbayar Netflix, seperti halnya seri TV Knights of Sidonia dan Kuromukuro dulu.

Berdurasi sekitar 100 menit, hasil akhirnya terbilang bagus.

Disutradarai Seshita Hiroyuki, dengan naskah buatan Murai Sadayuki, dengan masukan dari pengarang aslinya, Nihei Tsutomu sendiri, kesan film CG ini berbeda dibandingkan manga aslinya. Anime ini merupakan versi cerita yang berdiri sendiri, jadi bukan adaptasi langsung dari manganya. Meski begitu, cerita versi ini menurutku lebih gampang dimasuki oleh penggemar awam.

Buat yang belum tahu, anime ini diadaptasi dari manga berjudul sama (dibacanya sebenarnya ‘buramu’) yang dibuat Nihei-sensei di akhir 1990an sampai awal 2000an. Diserialisasikan di majalah Afternoon punya Kodansha, ulasan lebih jauh soal manganya bisa ditemukan di sini.

Modul Pengamanan

Sebenarnya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal ceritanya. Ada lumayan banyak hal tersirat dalam dialog-dialognya yang rasanya sayang kalau aku ungkap.

Ceritanya masih berlatar di Kota, dunia penuh bangunan yang maha-kolosal. Kota masih terus saja membesar akibat pertumbuhan robot-robot Builder yang tak terkendali, dari satu lantai ke lantai baru. Para Builder bukan hanya terus membangun Kota, tapi juga terus menciptakan robot-robot Builder baru. Apa yang tersisa dari umat manusia hanya bisa ditemukan di tempat-tempat berjauhan. Genetik mereka terkontaminasi/terinfeksi akibat sesuatu yang telah lama mereka lupakan.

Singkat cerita, anime ini pada dasarnya mengadaptasi bab pertemuan si tokoh utama yang pendiam dan misterius tapi sangat tangguh, Killy, dengan komunitas Electro-Fisher (‘nelayan elektrik’) dari manganya. Hanya saja, perkembangan ceritanya berbeda dan lumayan berdiri sendiri.

Karakter gadis remaja muda Zuru dan pria paruh baya Pops (‘Oyaji’) masih ada. Sebagian besar cerita bahkan diambil dari sudut pandang Zuru (dirinya terihat lebih manis di versi ini). Tapi selain Zuru, hadir juga Tae, seorang gadis lain yang memaksakan ikut dengan penjelajahan Zuru untuk bisa membantu adik perempuannya yang sakit; Fusata, seorang remaja cowok yang menaruh hati terhadap Tae; dan Sutezo, salah seorang pejuang andal yang menjadi semacam wakil dari Pops.

Pertemuan Zuru dengan Killy, yang kemudian dibawa ke desa mereka—yang karena suatu alasan, tak bisa dimasuki oleh mesin-mesin Safeguard yang memburu manusia—lalu berlanjut dengan penemuan jasad Cibo, seorang ilmuwan.

Cibo mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kepentingan yang sama dengan Killy, yaitu menemukan Net Terminal Gene yang bisa menghentikan pertumbuhan liar kota, yang mungkin telah berlangsung lebih dari ribuan tahun. (Aku luput menyebut ini sebelumnya, tapi kalau mengacu ke sumber resmi di manganya, ketinggian Kota telah mencapai orbit Jupiter.)

Bagaimana bisa dunia jadi seperti ini? Apa perkataan Cibo benar soal cara untuk menghentikan pertumbuhannya? Bisakah komunitas Zuru bertahan dan menemukan sumber makanan baru?

Seorang Manusia

Bicara soal teknis…

Yah, ini animasi CG ya? CG sepenuhnya.

Jadi, kalau kau pernah mengikuti anime Ajin atau Knights of Sidonia, kalian bisa bayangkan kelemahan-kelemahannya seperti apa. Hanya saja, terlepas dari isu soal frame rate (yang membuat beberapa adegan pergerakan terkesan terpatah-patah), menurutku, mungkin ini anime CG paling bagus yang pernah kulihat sejauh ini.

Visualnya benar-benar keren. Sapuan warna-warnanya tajam. Ada banyak efek cahaya yang muncul dari persenjataan (terutama dari berkas merah Gravitational Beam Emitter), atau pakaian khusus yang dikenakan para Electric Fisher. Aku kagum dengan bagaimana mata Killy memindai genetik orang-orang di hadapannya. Atau soal berbagai fitur virtual ala Iron Man dalam pakaian Zuru dan kawan-kawannya. Cara dunia hasil visualisasi Nihei-sensei diperlihatkan dalam animasi juga benar-benar keren. Warna-warnanya sebelumnya enggak kebayang.

Memang, latarnya mungkin enggak terasa sekolosal dengan di manga. Lingkup ceritanya memang terbilang kecil. Tapi visual film ini tetap lebih keren dari yang aku sangka.

Musiknya ditangani komposer handal Kanno Yugo. Komposisi beliau di film ini menurutku benar-benar keren. Duo Angela menyumbang lagu bernuansa elektronik khas mereka berjudul “Calling You” yang pas untuk film ini. Akting para seiyuu juga memikat dengan sejumlah nama besar bahkan untuk para karakter sampingan. (Akting cool Hanazawa Kana sebagai Cibo terutama, memberi kesan yang benar-benar keren sebagai satu-satunya orang yang bisa membaca maksud Killy.)

Kalau soal eksekusi, maka kesan pertama yang film Blame! berikan adalah western. Atau tepatnya, film-film koboi zaman dulu. Itu loh, yang biasanya mengetengahkan ada masyarakat yang tengah resah. Lalu tahu-tahu hadir pendatang misterius tak dikenal yang kemudian membantu dan membawa perubahan.

Struktur cerita film ini benar-benar terasa seperti itu.

Ajaibnya, dengan sudut pandang penceritaan dipaparkan dari Zuru dan para Electro-Fisher lain, pendekatan ini benar-benar cocok. Ada penggambaran yang cukup buat penjelasan latar belakang. Lalu tanpa banyak cingcong, kita dengan cepat dibawa masuk ke aksi.

Aksinya? Aksinya keren. Mungkin… ini produksi Polygon Pictures dengan aksi terkeren sejauh ini. Aku sedikit kecewa Killy tak beraksi lebih banyak. Tapi sekali lagi, menurutku aksinya keren.

Aku sedikit kecewa dengan bagaimana film berakhir tanpa reuni kembali antara Killy dan Cibo. Akhir ceritanya sendiri cukup keren sih, dengan bagaimana Killy seolah mengorbankan diri, tapi diyakini Zuru masih terus berkelana melanjutkan perjalanannya. Tapi tetap terasa bagaimana film ini hanya mencuil sedikit cerita dari manganya, mengekspansinya sesuai kebutuhan, dan membiarkannya berakhir terbuka. Jadi bisa dilanjutkan dengan sekuel dan bisa juga tidak.

Aksi adu tembak GBE tidak… sedahsyat yang aku harap, meski duel terakhirnya berkesan. Ada robot-robot Exterminator milik para Safeguard. Tapi kaum makhluk silikon dari manganya yang diyakini sebagai biang kerok semua masalah ini tidak ditampilkan. Secara wajar, juga tidak ada tanda-tanda kehadiran Toha Heavy Industries, walau mungkin itu disimpan untuk sekuel nanti.

Di sisi lain, film ini secara tak terduga malah memaparkan beberapa hal yang tidak tersampaikan jelas di manganya. Seperti soal Authority (‘pihak berwenang’) yang berhasil Cibo temui dalam akses terbatasnya ke NetSphere; atau soal jati diri Killy yang Sana-kan blak-blakan ungkapkan berasal dari pihak Safeguard (yang membuat pernyataan Killy kalau dirinya manusia, serta bagaimana ucapannya selalu terpatah-patah, tiba-tiba jadi terasa pahit).

It’s good.

Ini film anime aksi yang benar-benar direkomendasikan.

Kalau ada kekurangan lain… mungkin ada yang akan merasa drama antar manusianya tak ke mana-mana? Perkembangan karakter dan hubungan antar mereka minim sih. Tapi kurasa, bumbu-bumbu drama tersebut memperkaya aspek kemanusiaan di ceritanya.

Yah, mungkin juga akan ada yang mengeluh soal betapa minimnya porsi Sana-kan. Soal itu, aku juga bisa mengerti.

Sebagai penutup, mungkin perlu kusinggung kalau manga Blame! belum lama ini dirilis ulang oleh Kodansha. Dalam beberapa gambar promonya, terlihat jelas bagaimana gaya gambar Nihei-sensei telah lebih berubah dengan penggunaan garis-garis yang lebih luwes.

Berawal dari mengerjakan karya yang bakal diterima enggaknya jelas-jelas enggak jelas, kau kini seolah bisa ngerasain kemajuan kemampuan beliau sebagai pribadi.

Kita beneran ga tau masa depan bakal ngebawa kita ke mana, ya?

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: A; Perkembangan B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou

Belum lama ini, aku jadi anggota J-Novel Club.

Intinya, mereka layanan resmi yang menerjemahkan light novel terbitan Hobby Japan dan Overlap ke Bahasa Inggris.

Keanggotaanku masih biasa sih, bukan premium.

Keanggotaan biasa cuma boleh baca gratis semua buku yang terjemahannya masih dikerjakan. Dalam artian, buku-buku yang belum terbit digital secara final. (istilahnya, yang masih prepub, atau pre-publikasi) Ada porsi-porsi terjemahan yang mereka sediakan  mingguan. Jadwal rilis per bagiannya sudah mereka atur. Lalu, asal buku itu belum terbit, atau kebetulan sedang ada acara khusus, kita bisa baca bab-bab yang tersedia sepuasnya.

Di sisi lain, buku-buku yang tuntas terjemahan dan pengeditannya, dan sudah resmi terbit, selain bab-bab awal yang jadi preview, berubah sifatnya jadi tertutup buat semua anggota. Kalau mau baca, maka kita mesti beli. Kecuali, lagi, dalam kasus-kasus tertentu. (Atau, kalau kalian nyari bajakan.)

Enaknya kalau premium, ada kayak kredit yang diberikan tiap bulan gitu. Satu kredit bisa kita pakai untuk beli satu buku yang sudah terbit.

Jadinya, kalau dihitung-hitung, bahkan kalau bukan premium pun, keanggotaan layanan ini benar-benar balik modal. Yang diterjemahkan bukan versi web novel, melainkan versi light novel yang sudah cetak resmi. Itu lengkap dengan ilustrasi dan afterword. Yang paling utama, skema bisnis ini sekalian mendukung pengarang dan penerbit asli di sana.

Aku sudah menyinggung bagaimana waktu launching, JNC menggebrak dengan menghadirkan seri novel misteri sains fiksi Occultic;Nine. Animenya baru mulai tayang saat itu. Beberapa judul lain yang menonjol mencakup seri komedi Rokujouma no Shinryakusha?!, fantasi remaja Hai to Gensou no Grimgar, serta Ore ga Heroine o Tasukesugite Sekai ga Little Apocalypse?! yang sudah lumayan lama bikin penasaran sejumlah fans.

Seri novel isekai Smartphone yang animenya tayang musim depan juga sudah mereka kerjakan.

Tapi, di antara semuanya, satu judul yang kuperhatikan khusus adalah Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou. Ini seri novel isekai agak terkenal karangan Shirakome Ryo. Ilustrasinya buatan Takayaki. Seri ini juga dikenal dengan judul Arifureta – From Commonplace to World’s Strongest. (Terjemahan judulnya kira-kira: ‘dari orang biasa menjadi yang terkuat di dunia.’)

“Apaan Ini?! Ini sampah!”

Aku pertama tahu Arifureta saat mencari bacaan webnovel menjelang akhir 2016. Aku baru beres baca bab terkini Kumo desu ga Nani ka?. Aku mau lanjut baca Desumachi, tapi belum sreg dengan bab-bab awalnya. Makanya, aku berkunjung ke situs novelupdates untuk mencari seri webnovel Jepang lain. Dari sana, aku menemukan judul ini.

Mulai ditulis tahun 2013 dan kalau tak salah, versi WN sudah tamat di negara asalnya (tapi masih belum tuntas diterjemahkan ke Bahasa Inggris saat ini aku tulis), Arifureta dikarang Shirakome-sensei di situs novel amatir Syosetsuka ni Narou.

Nama pena beliau waktu itu Chuuni Suki. Alasan beliau menggunakan nama pena demikian karena beliau, nampaknya, punya gejala-gejala chuunibyou akut. Hal tersebut agaknya terbawa ke tulisan yang beliau buat.

Jadi, buat kalian yang belum tahu, Arifureta agak notorious karena nuansa ceritanya yang semula edgy terkesan berubah drastis menjelang akhir buku pertamanya. Apa yang semula terkesan gelap dan serius berkembang jadi kocak dan enggak serius dengan hadirnya elemen-elemen keseharian dan harem love comedy. Belum lagi dengan bumbu-bumbu dewasa yang di dalamnya. Ditambah lagi, tokoh utamanya…

Gimana ya.

Intinya, seperti yang judulnya indikasikan, si tokoh utama berubah jadi orang yang sangat kuat.

Terlalu kuat, malah.

Dia bebas bersikap kayak gimanapun dia mau. Dia bebas membunuh siapapun yang menurut dia menghalangi jalan. Dia bebas memandang rendah siapapun yang minta tolong ke dia (walau ujung-ujungnya, sesudah proses berbelit, dia bakal menolong juga.)

Intinya, kepribadiannya berubah drastis, tapi bukan dengan cara yang berbobot gitu.

Ini membuat segalanya agak aneh. Tema ceritanya di awal, kayaknya, adalah soal hubungan antar karakter dan balas dendam. Tapi, si tokoh utama kemudian berubah jadi orang paling kuat di dunia. Lalu, sesudah itu, balas dendam dan hubungan dengan orang kayak bukan lagi jadi hal penting bagi dia. Dia malah berubah jadi terkesan egois dan enggak pedulian.

Perubahan nuansanya enggak mulus. Makanya, lumayan wajar ada orang-orang yang kecewa dengan perkembangannya. Lalu, ya itu, elemen harem dan komedinya bisa terasa maksa.

Tapi, di sisi lain, meski kemampuan penggalian karakter dan plot beliau meragukan, ditambah bagaimana ceritanya sebenarnya tak serius pada sejumlah titik, mungkin karena bakat chuunibyou beliau juga, narasi Shirakome-sensei terbilang bagus. Pembangunan dunianya juga termasuk menarik.

Begitu cerita dibuka, kita langsung diperkenalkan pada karakter-karakter yang berjumlah enggak sedikit. Bagusnya, semua karakter tersebut punya konsep yang jelas gitu.

Premis ceritanya kuat, yaitu soal bagaimana Nagumo Hajime dan teman-teman sekelasnya tiba-tiba dipanggil ke dunia lain untuk menyelamatkannya dari bahaya. Kita dipaparkan secara runut soal gimana dunianya bekerja. Detil deskripsi latarnya keren. Ini diperkaya dengan konflik hubungan antar karakter yang udah ada sejak awal.

Hasilnya lumayan berkesan.

Dengan kelemahan-kelemahannya, kalau membaca penuturan Shirakome-sensei sendiri, aku jadi memahami kenapa cerita ini sampai perlu ‘diperjuangkan’ editornya untuk bisa terbit.

Pada pertengahan 2015, seri ini terbit resmi juga sebagai light novel di bawah bendera Overlap. Penerbitan versi LN setahuku masih berlanjut saat ini kutulis.

Cerita versi LN setahuku tak beda jauh dibandingkan versi WN. Di samping pengeditan lebih rapi, kelebihan versi LN adalah adanya bonus cerita-cerita sampingan yang tak terlalu mengubah alur cerita utama.

Dengan kepopulerannya yang lumayan, Arifureta juga memperoleh adaptasi manga yang dibuat RoGa. Seri manganya masih relatif baru, baru mulai terbit pada akhir tahun 2016 (hari Natal?) lalu. Berhubung ilustrasi Takayaki-sensei lebih berfokus ke karakter, adaptasi RoGa-sensei jadi menonjol karena menampilkan desain berbagai monster yang Hajime hadapi.

Aku memutuskan baca Arifureta di J-Novel Club semula karena penasaran. Tapi dari rasa penasaran tersebut, aku lagi-lagi nemu seri yang enggak sepenuhnya bisa dibilang bagus, tapi secara meyakinkan bisa dibilang rame.

Pergi ke Dunia Lain Sana

Arifureta dibuka dengan bagaimana Hajime dikisahkan terjatuh ke dalam jurang gelap yang seolah tak berdasar. Keputusasaan menaungi seiring hilangnya cahaya di depan matanya.

Narasi lalu kembali ke beberapa waktu sebelumnya.

Hari itu hari Senin, waktu yang bikin depresi bagi Nagumo Hajime.

Hajime ceritanya remaja otaku kurus dengan tampang senantiasa mengantuk. Dia sering begadang karena mengutamakan hobi di atas segala-galanya. Ayahnya bekerja di industri game dan ibunya adalah mangaka shoujo. Rencana awalnya dalam hidup adalah untuk bekerja di perusahaan ayahnya atau membantu pekerjaan ibunya. Dia tak gampang terpengaruh orang. Pada dasarnya, dia pendiam. Intinya, dia tipe yang hanya ingin dibiarkan hidup damai.

Masalahnya, Hajime diam-diam dibenci hampir seluruh teman sekelasnya.

Entah kenapa, sejak pertama masuk SMA, Shirasaki Kaori, gadis paling populer di sekolahnya, yang dikenal cantik dan lemah lembut dan baik hati, terus-terusan mendekati Hajime setiap hari.

Kebanyakan orang di sekeliling mereka sulit menerima kenapa orang datar, payah, gagal, dan ‘rendahan’ seperti Hajime bisa-bisanya akrab dengan Kaori. Memang Hajime siapa? Mereka tak bisa membayangkan Kaori benar-benar suka terhadap Hajime. Karenanya, mereka kira Hajime dengan sengaja menyusahkan Kaori agar bisa diperhatikan.

Hanya saja, Hajime juga tak mengerti. Setahunya, dirinya dan Kaori baru kenal pas SMA. Mereka jelas bukan teman masa kecil. Lalu, terlepas dari segala isyarat yang coba Hajime berikan, sikap Kaori tak pernah berubah.

Situasi ini membuat Hajime stres. Alasannya karena Kaori salah satu dari geng empat orang paling menonjol di sekolahnya. Kebetulan, kesemuanya adalah teman sekelas Hajime.

Selain Kaori, mereka mencakup:

  • Amanogawa Kouki, cowok paling populer di sekolah. Tampan, pintar, jago olahraga. Seakan sempurna dengan kepribadiannya yang lurus dan caranya membawakan diri. Dirinya juga merasa Hajime keseringan merepotkan Kaori.
  • Sakagami Ryutarou, sahabat Kouki. Sangat jangkung, berbadan besar seperti beruang, dan berdarah panas. Kepribadiannya terbuka dan tak peka. Ia terang-terangan menunjukkan rasa kurang suka terhadap Hajime yang dianggapnya pemalas.
  • Yaegashi Shizuku, gadis jangkung dan jago kendo, teman dekat Kaori, dan tak kalah populer darinya. Peka terhadap perasaan orang, dan karenanya menjadi satu dari sekian sedikit yang sebenarnya memahami situasi Hajime. Shizuku juga kenal lama dengan Kouki karena Kouki pernah berlatih di dojo keluarga Yaegashi, dan sampai ke kejuaraan nasional.

Kedekatan Hajime dengan Kaori juga membuat Hajime diam-diam ditindas oleh geng berandalan di sekolah. Mereka terdiri atas Hiyama Daisuke dan kawan-kawannya: Saitou Yoshiki, Kondou Reichi, dan Nakano Shinji.

Daisuke tak bisa terima kedekatan Hajime dengan Kaori. Alasannya karena Daisuke sendiri diam-diam suka pada Kaori. Tapi, bukannya mendekati Kaori sendiri, Daisuke dan gengnya malah kerap menggencet Hajime dan menjelek-jelekkan namanya.

Di sisi lain, Hajime tak bisa terang-terangan menolak Kaori karena menyakiti Kaori hanya akan membuat situasinya bertambah runyam.

Hajime sampai menggerutu, kalau mereka berempat memang sedemikian sempurnanya, lebih baik mereka dipanggil ke dunia lain sana. Jadi pahlawan atau apa. Tanpa diduga, itulah yang kemudian benar-benar terjadi.

Pas jam homeroom, tiba-tiba muncul lingkaran sihir bercahaya yang memindahkan mereka semua ke dunia lain.

Esok yang Suram

Hajime dan kawan-kawan sekelasnya, beserta wali kelas mereka yang polos dan masih muda, Hatayama Aiko, tahu-tahu dibawa ke dunia lain bernama Tortus.

Di Tortus, mereka sekelas disambut Ishtar Longbard, pria tua yang mewakili gereja suci yang menyembah Ehit, dewa yang melindungi manusia.

Ishtar menjelaskan kalau di Tortus, ada tiga macam ras:

  • ras manusia di utara,
  • ras sihir/iblis di selatan,
  • ras demi-human separuh binatang yang terasing di hutan luas di timur.

Ras manusia dan sihir bermusuhan. Manusia unggul dari segi jumlah karena relatif cepat tumbuh dan berkembang biak. Ras sihir unggul dari segi usia yang panjang dan kekuatan individu. Selama ini, kedudukan mereka seimbang. Tapi belakangan, ras iblis konon menemukan cara untuk menjinakkan monster-monster di alam liar.

Keseimbangan kekuatan kini terancam.

Untuk mengatasinya, dewa Ehit-sama memanggil manusia-manusia dari ‘sebuah dunia lain yang berkedudukan lebih tinggi’ untuk menyeimbangkan kekuatan, yang dalam hal ini adalah Hajime dan kawan-kawannya.

Para remaja SMA pendatang dan guru mereka lalu ditampung di Kerajaan Heileigh. Heileigh adalah salah satu negeri manusia dan adalah negara yang paling dekat hubungannya dengan Gereja Ehit.

Kouki yang karismatik dianggap Ishtar sebagai pemimpin. Mereka semua diperlakukan selayaknya tamu kehormatan.

Sesudah sadar bahwa apa yang mereka alami benar-benar terjadi, karena jalan pulang tak ada, Hajime dan kawan-kawannya setuju menjadi pahlawan yang melindungi pihak manusia. Aiko-chan-sensei mengkhawatirkan keselamatan mereka semua, tapi mereka tak punya pilihan. Di samping itu, saat dipanggil ke Tortus, mereka ternyata diberkahi kekuatan-kekuatan luar biasa yang membuat mereka di atas manusia-manusia lain.

Untuk bersiap menghadapi perang, para pendatang dilatih untuk mengembangkan kekuatan mereka. Mereka dididik Meld Loggins, kapten para ksatria Heileigh yang tegas dan simpatik.

Melalui suatu artefak produksi massal bernama Status Plate, orang bisa mengetahui potensi kekuatan mereka. Setelah ditetesi darah pemiliknya, artefak tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal. Tertera padanya, ada sesuatu yang disebut Job yang mengindikasikan bakat alami si pemilik. Selain memperlihatkan apa saja kemampuan (Skill) yang dikuasai, Status Plate juga memperlihatkan angka-angka parameter:

  • Level (Dalam skala 1-100, 100 mengindikasikan potensi puncak mereka yang tak bisa ditingkatkan lagi. Berbeda dari sejumlah seri isekai lain, orang meningkatkan parameter kekuatan untuk meningkatkan Level, bukan sebaliknya. Jadi Level hanya berfungsi sebagai indikator semata.)
  • Strength (kekuatan fisik, tenaga)
  • Vitality (vitalitas, daya hidup)
  • Defense (pertahanan)
  • Agility (kelincahan, kegesitan)
  • Magic (sihir)
  • Magic Defense (pertahanan sihir)

Orang-orang biasa di Tortus punya angka 10 untuk parameter-parameter tersebut. Tapi, Kouki dan yang lain punya angka-angka dalam skala ratusan. Itu sekalipun mereka masih di Level 1!

Kouki pun ternyata memiliki Job Hero yang sangat langka, dengan berbagai macam Skill kuat, yang membuatnya seperti manusia super di antara manusia-manusia super. Kouki jadi persis seperti para tokoh utama dengan kemampuan cheat di seri-seri isekai yang Hajime ketahui.

Karenanya, alangkah terpuruknya Hajime saat mendapati bahwa dia jadi pengecualian atas hal ini. Secara mengherankan, semua parameter Hajime bernilai 10. Selain Skill Language Comprehension yang memungkinkannya memahami semua bahasa—yang lazim dimiliki semua pendatang dari dunia lain—Skill yang Hajime punyai hanya Transmute yang membuatnya bisa mengubah sifat bahan-bahan yang ia sentuh.

Job yang dipunyai Hajime adalah Synergist, Job tidak istimewa yang memberi bakat mengolah material seperti pandai-pandai besi.

Bahkan sesudah berlatih dua minggu, kemajuan Hajime tidak signifikan. Sementara, teman-teman Hajime terus saja bertambah kuat. Itu termasuk Kaori. Itu termasuk juga Hiyama Daisuke dan gengnya yang terus menindasnya dengan kekuatan mereka yang baru. Hajime jadi semakin dipandang rendah, bahkan oleh orang-orang Tortus juga.

Bahkan Aiko-chan-sensei, yang parameter kekuatannya setara Hajime, ternyata punya Job langka Farmer yang memungkinkannya mempengaruhi iklim dan bentang alam, memberinya kedudukan vital dalam persiapan perang yang akan datang.

Puncaknya, untuk membuktikan diri, Hajime nekat mempertaruhkan nyawa  melindungi teman-teman sekelasnya ketika ekskursi mereka ke Orcus Labyrinth—satu dari tujuh labirin misterius penuh monster yang ada di dunia—berjalan tidak semestinya.

Namun, dalam upayanya tersebut, salah seorang teman sekelas Hajime malah dengan licik menyerangnya dari belakang. Terjatuh ke dalam jurang, bahkan jerit tangis Kaori memudar tatkala Hajime ditelan kegelapan.

Lambung Logam

Porsi awal Arifureta memaparkan perjuangan Hajime selama terdampar di lantai-lantai bawah Labirin Orcus.

Hajime ketakutan setengah mati karena kehilangan sebelah tangan dalam serangan monster buas. Tapi, tanpa sengaja, Hajime menemukan kristal murni Divine Crystal (yang belum dikenalinya waktu itu) yang meneteskan cairan penyembuh Ambrosia yang kemudian menyelamatkan nyawanya.

Meski tak bisa mengembalikan sebelah tangannya, Ambrosia menyembuhkan segala luka Hajime yang lain. Ambrosia sekaligus mempertahankan nyawanya sekalipun ia tak makan, walau rasa laparnya tak hilang dan malah semakin tak tertahankan.

Mengandalkan kemampuan Transmute yang terus diasah, Hajime berhasil membuat untuk membunuh monster. Daging monster buruannya lalu dimakan mentah-mentah karena saking laparnya. Tapi, daging tersebut berdampak fatal bagi manusia dan memakannya memberi Hajime penderitaan luar biasa. Hanya berkat Ambrosia, Hajime masih bertahan hidup.

Peristiwa tersebut memicu perubahan mental dan fisik pada diri Hajime.

Selain perubahan pada sifat dan pola berpikirnya, kerusakan tubuh berulang dari racun daging itu, sekaligus penyembuhan berulang berkat Ambrosia, membuat tubuhnya makin berisi. Tinggi badannya bertambah. Lalu, karena syok akibat penderitaannya, warna rambut Hajime dari hitam berubah sepenuhnya menjadi putih.

Membaca perubahan di Status Plate, Hajime juga mendapati bahwa Skill si monster—kilatan petir hitam Lightning Clad—jadi bisa ia gunakan, walau dalam versi lebih lemah.

Di samping itu, aura mana Hajime yang semula berwarna biru langit juga berubah menjadi hitam seperti layaknya para monster. Hajime memperoleh kemampuan untuk memanipulasi aliran mana di sekelilingnya secara langsung, tanpa perlu lagi menggunakan mantera dan formasi sihir seperti selayaknya manusia lain.

Kemampuan Transmute Hajime ikut berkembang. Kini dirinya punya Skill turunan untuk mengenali logam dan bijih batuan.

Sesudah percobaan Transmute berulang, dengan satu tangan, Hajime menyusun senjata pertamanya. Ia menciptakan pistol revolver yang dinamainya Donner dari bahan-bahan yang diperolehnya dari dasar labirin.  Selain dipicu batu api, peluru yang ditembakkan Donner juga dapat dipercepat secara elektromagnetis menggunakan Lightning Clad, menghasilkan daya hancur dahsyat setara railgun.

Berbekal Donner, Hajime menghabisi satu demi satu monster buas yang ditemuinya di Labirin Orcus.

Perjalanandi Labirin Orcus lalu berujung pada pertemuan Hajime dengan putri vampir yang telah disegel beratus tahun. Sesudah dibebaskan, putri yang Hajime namai Yue tersebut kemudian menjadi teman seperjalanannya.

Seperti Hajime, Yue adalah korban pengkhianatan. Namun berkat kemampuan regenerasinya yang dahsyat, Yue tak bisa dibunuh. Akhirnya ia hanya sebatas disegel seorang diri oleh keluarganya, selama berabad-abad, dalam ruangan khusus yang mungkin disiapkan hanya untuknya.

Lolos dari berbagai macam monster, karena tak bisa menemukan jalan ke atas, Hajime dan Yue terus menelusuri jalan ke bawah. Lawan-lawan yang mereka hadapi semakin kuat. Hingga akhirnya, mereka menemukan ruang rahasia tersembunyi di dasar labirin milik Oscar Orcus, sang penciptanya.

Di dalamnya, terkuaklah kenyataan tentang dunia Tortus yang sesungguhnya.

Gun Fu

Shirakome-sensei memakai sudut pandang ketiga serba tahu dalam Arifureta. Gaya narasinya tak menonjol, tapi antusiasme beliau dalam menjabarkan cerita terasa pada setiap kalimat.

Bagi banyak orang, ada banyak hal dalam Arifureta yang bakal bikin mengernyit. Tapi, buat yang suka hal-hal kayak gini (dan aku percaya jumlah mereka lumayan banyak), Arifureta termasuk rame. Isi ceritanya belum tentu kamu sukai, tapi cara penyampaiannya yang runut dan detil bisa membuat kamu tertarik.

Aku pribadi merasa Shirakome-sensei tipe yang menikmati proses membuat ceritanya. Iya, ada kesan amatiran dan main-main. Tapi, beliau sendiri kelihatan menyadari hal ini, dan memang ada kalangan pembaca tertentu yang takkan mempermasalahkannya.

Begitu-begitu juga, tetap ada bagian-bagian tertentu di Arifureta yang di luar dugaan bagus. Ada pihak-pihak tersembunyi yang bermain di balik Kouki dan kawan-kawan. Negeri-negeri manusia tak cuma satu, masih ada Kekaisaran Hoelscher dan Republik Fuhren, dan antara mereka terjadi konflik kepentingan. Ada kejelian mata Shizuku yang membuatnya jadi karakter swordswoman yang sangat moe. Lalu ada juga Hajime, yang meski kini tak segan bersikap kejam, tetap menjaga integritasnya, bukti bahwa dirinya masih belum berubah sepenuhnya jadi monster seperti yang ditakutkannya.

Itu semua diiringi dengan kehebatan-kehebatan konyol yang jadi bisa Hajime lakukan. Status Plate Hajime tak bisa lagi membaca potensinya. (Level yang tertera adalah ‘??’) Dengan Transmute dan segala turunannya, Hajime bisa menciptakan bermacam senjata yang seakan tak ada habisnya. Dengan dibantu Yue, Hajime menciptakan (semacam) sepeda motor, menciptakan (semacam) mobil, menemukan cara penghancuran struktur sihir, menciptakan (semacam) kapal selam, menciptakan (semacam) drone UAV, hingga nantinya menciptakan (semacam) satelit yang jadi salah satu serangan terkuatnya.

Mungkin keimbaan ini setara dengan hal-hal serupa yang ada di Desumachi. Hanya saja… mungkin Desumachi masih lebih baik pemaparannya? Perkembangan di Arifureta memang terasa tiba-tiba sih.

Mencari Jalan Pulang

Buat yang penasaran, dalam perkembangan cerita, Hajime dan Yue kemudian mendapati bahwa manusia dan seluruh ras lain yang ada di Tortus hanyalah bidak-bidak permainan para dewa.

Di masa silam, tujuh ‘pembelot’ yang menyebut diri mereka Liberators memimpin pemberontakan untuk mengubah nasib rakyat Tortus. Tapi, kekalahan para Liberator di tangan para dewa membuat mereka menyembunyikan diri, yang jadi awal mula tujuh labirin misterius yang tersebar.

Mengetahui kenyataan ini, Hajime memutuskan untuk mengabaikan segala konflik. Persetan dengan Tortus. Ia lebih memilih berfokus menemukan jalan pulang ke Bumi. Cara pulang ini diindikasikan tersembunyi dalam enam labirin lain yang belum dipastikan lokasinya.

Di samping perjalanan Hajime untuk menemukan keenam labirin lain, Arifureta lalu berkembang lewat konflik dengan teman-teman lama Hajime, kepentingan bangsa-bangsa lain, sekaligus para dewa.

Buat kalian yang penasaran soal aspek haremnya, total love interest yang akhirnya ‘jadi’ kudengar ada delapan. Tiga dari mereka berasal dari dunianya yang lama. Tadinya, aku mau memaparkan mereka siapa saja, tapi nanti jadinya terlalu spoiler. Hubungan-hubungan yang terjalin menurutku agak maksa sih (usia mereka beragam!), tapi kurasa itu bukan hal aneh buat seri-seri isekai kayak gini.

Soal Arifureta, aku paling terkesan dengan pembahasan soal integritas Hajime. Dalam hal ini, usahanya menjaga keselarasan antara kata-kata dan perbuatan. Pemaparannya memang konyol, tapi itu hal yang semakin langka di masa-masa sekarang. Karenanya, aku senang bisa melihatnya dalam sesuatu kayak gini.

Ada lumayan banyak seri isekai lain yang berusaha memaparkan nuansa edgy seperti Arifureta. Tapi anehnya, hanya sedikit yang benar-benar berhasil. Aku juga tak paham. Mungkin Arifureta memang kasus khusus?

Akhir kata, kurasa aku akan tetap mengikuti perkembangan Arifureta untuk saat ini.

Setidaknya, pembangunan dunianya menarik.

FYI, harga versi e-book Bahasa Inggris sekitar dua gelas Frappuccino Starbucks. Kalau harga buku fisiknya mungkin sekitar tiga gelas.

Bagi yang penasaran, ini visual untuk buku pertamanya dengan Yue di sampul.

Buku kedua memperkenalkan gadis kelinci Shea Haulia, teman seperjalanan Hajime dan Yue yang pertama. Shea punya kemampuan aneh untuk melihat masa depan saat sedang dalam bahaya. Anehnya, Shea juga punya warna aura mana hitam yang sama dengan Hajime dan Yue. (Ya, aku sadar kalau pakaian Shea seksi.)

Buku ketiga memperkenalkan Tio, naga kuno bijak yang bisa menjelma ke wujud manusia yang kemudian menjadi pengikut Hajime sesudah menjadi masokis. (Tolong jangan tanya.)

Lalu Kaori dan Shizuku menghiasi sampul buku ketiga dan kelima.

Blame!

Adaptasi anime layar lebarnya sudah mau keluar. Baiknya, aku bahas sedikit tentang Blame!.

Blame! (judul Jepangnya adalah efek suara bu-ra-mu!; jadi cara baca yang sebenarnya mungkin blam dan bukan bleim) adalah seri manga yang sekilas, kayaknya gampang dibahas. Ceritanya minim. Aksinya banyak. Tokoh-tokoh dan latar ceritanya terbilang keren. Tapi kalau mau bahas lebih dari itu, agak susah. Soalnya…

…Yah, soalnya dialognya benar-benar minim.

Kebanyakan dialognya berupa eksposisi, dengan karakter-karakter yang keren tapi tak begitu digali kepribadiannya. Tapi ini bukan dalam arti buruk ya.

Dari dulu itu memang salah satu ciri khas pengarangnya sih.

Datang ke Kotamu

Blame! berawal dari seri manga aksi sains fiksi karangan Nihei Tsutomu (yang belakangan lebih dikenal berkat seri mecha beliau, Knights of Sidonia). Pertama diterbitkan Kodansha di majalah Afternoon, serialisasi Blame! berlangsung dari tahun 1998 sampai 2003. Cerita utamanya sepanjang sepuluh buku. Seri ini sudah tuntas diterbitkan di Indonesia oleh Level Comics, bersama dengan satu buku prekuelnya, NOiSE.

Blame! pertama aku kenal di awal dekade 2000an.  Seperti halnya Berserk, Blame!  salah satu manga seinen pertama yang aku baca. Semua manga seinen yang kubaca di masa itu seakan memperluas wawasan. Tapi Blame! istimewa karena tidak ada apapun yang pernah kulihat yang mirip dengannya.

Sekali lagi, berhubung aku pertama membacanya di masa sebelum Level Comics ada, Blame! meninggalkan kesan kuat. Yang menonjol tentang Blame!, selain soal aksinya, adalah latar ceritanya.

Blame! berlatar di dunia yang sedemikian penuh bangunan dan gedung. Yang bisa terlihat hanya lorong-lorong panjang, tangga-tangga tak berkesudahan, pemandangan gedung-gedung lain, seakan tak ada akhir. Tak ada langit atau matahari. Tak ada awan atau cakrawala. Tak ada(?) kehijauan. Tak ada(?) binatang-binatang yang kita kenal. Kalaupun ada tempat terbuka, kau masih bisa melihat atap logam raksasa di atasmu. Yang kau bisa temukan paling hanya lampu, jaringan-jaringan kabel, dinding, gedung, lorong, tangga-tangga besi, elevator… intinya, labirin logam indoor yang seakan tak ada habisnya.

Di dunia seperti ini, Killy berkelana.

Killy, sang tokoh utama cerita, adalah pria muda dewasa dengan kulit agak pucat. Ekspresi mukanya selalu serius. Sifatnya pendiam. Benar-benar sangat pendiam. Tinggi badannya sedang. Proporsi badannya biasa. Pakaian yang dikenakannya biasanya hitam. Dari luar, penampilan Killy seperti manusia biasa. Di samping itu, tak terlihat ada perbekalan apapun yang dia bawa selain apa-apa yang bisa masuk ke kantong-kantong saku bajunya.

Kalau ditanya, Killy akan menyatakan kalau dirinya sedang dalam perjalanan untuk mencari sesuatu yang disebut Net Terminal Gene.

Siapa sebenarnya Killy tak benar-benar dijelaskan. Ada kemungkinan dirinya sendiri juga tidak tahu. Intinya, Killy adalah agen dari suatu pihak berwenang yang berkepentingan menghentikan pertumbuhan Kota yang tidak terkendali.

Kota yang menjadi latar cerita Blame! adalah kota harfiah yang berukuran maharaksasa. Kota ini terus tumbuh, tanpa terkendali, karena adanya robot-robot Builder yang secara berkelanjutan memperluasnya. Builder-builder baru terus diciptakan. Bangunan-bangunan baru terus dibangun. Lantai-lantai baru terus ditambah. Bahkan sampai ke luar angkasa.

Tak ada yang tahu persis sudah berapa lama Kota ada. Tapi kalau ditelusur, semua konon bermula dari crash yang dialami sistem dunia maya NetSphere yang sebelumnya mengendalikan dunia. Insiden tersebut menyebabkan NetSphere tidak lagi bisa diakses kalau bukan oleh orang yang punya genetik terminal murni—Net Terminal Gene yang Killy cari—padahal, hanya akses resmi ke NetSphere yang bisa menghentikan pertumbuhan Kota yang tak terkendali tersebut.

Sementara, jumlah populasi manusia semakin menipis. Manusia semakin sedikit, dan manusia murni mungkin bahkan sudah punah. Karenanya, ada keraguan besar soal apakah yang Killy cari benar-benar ada atau tidak.

Kehidupan Silikon

Dalam sebagian besar durasi cerita, Killy hanya berbekal satu senjata.

Senjata tersebut adalah pistol berukuran relatif kecil bernama Gravitational Beam Emitter (‘pemancar sinar gravitasi’). Pistol ini menjadi semacam senjata andalannya karena berkekuatan sangat dahsyat.

Salah satu ciri khas Blame! adalah bagaimana dalam adegan-adegan aksinya, Killy bisa sampai terlempar ke sana kemari karena saking dahsyatnya daya dorong pistol ini. Satu tembakan saja dari GBE mampu menghasilkan lubang-lubang besar yang ukurannya berskala kilometer. Persendian bahu Killy bahkan bisa sampai terlepas. Tapi dengan cueknya (memunculkan tanda tanya apakah dirinya benar-benar manusia), Killy selalu seolah bisa bangkit dan memperbaikinya ke posisi semula.

Sedemikian dahsyatnya GBE, senjata tersebut nampaknya adalah satu-satunya yang dapat melubangi lapisan Megastructure yang teramat tebal. Terletak pada titik-titik ketinggian tertentu di Kota, Megastructure adalah lempengan-lempengan raksasa antara tingkatan-tingkatan kota yang agaknya dibangun para Builder(?) dari bahan-bahan yang tidak diketahui. Megastructure menjadi semacam sistem isolasi antar lantai yang membatasi ruang gerak para penghuni Kota.

Bila ada makhluk hidup mendekati Megastructure, kedekatan mereka konon memicu kemunculan penjaga-penjaga kejam yang disebut Safeguard.

Para Safeguard yang mampu berteleportasi ini adalah para penjaga yang semula diciptakan untuk mencegah akses ilegal ke NetSphere. Hanya saja, sesudah sistem tersebut crash, Safeguard cenderung memusuhi siapapun yang tak memiliki NTG, yang dalam hal ini, meliputi hampir(?) semua manusia dan makhluk hidup lain yang masih tersisa. Karenanya, pembantaian kerap terjadi setiap kali Safeguard muncul. Para Safeguard sangat kuat dengan beragam persenjataan canggih yang sulit ditandingi.

Crash yang dialami NetSphere konon terjadi karena ada pihak-pihak tak bertanggungjawab yang berusaha masuk ke dalamnya secara ilegal untuk mencuri teknologi. Hasil akhir dari pencurian tersebut adalah terlahirnya makhluk-makhluk silikon yang meniru fisik Safeguard tapi tidak secara sempurna. Mereka adalah makhluk-makhluk separuh mesin dengan agenda dan komunitas mereka sendiri, yang agaknya punya bawaan memusuhi manusia.

Karena keberadaan mereka yang ilegal, para makhluk silikon ini adalah musuh alami para Safeguard. Tak jelas bagaimana awalnya, tapi makhluk-makhluk ini juga dimusuhi Killy dan terus seakan menjadi duri dalam daging selama perjalanannya.

Seiring perkembangan cerita, pada suatu titik, Killy mulai ditemani Cibo, seorang perempuan jangkung berambut pirang lurus yang bekerja sebagai peneliti.

Berasal dari Ibukota dan sebelumnya bekerja untuk Perusahaan Bio-Elektrik, Cibo punya minat khusus terhadap NTG yang Killy cari karena sebelumnya pernah berupaya mengakses NetSphere menggunakan NTG artifisial ciptaannya sendiri. Upaya Cibo tersebut berujung pada tragedi karena memicu kemunculan Safeguard, yang berujung pada jatuhnya banyak korban jiwa, yang kemudian membuat kesadaran Cibo dipenjarakan untuk waktu sangat lama. Sesudah pertemuannya dengan Killy (dan memperoleh tubuh baru), Cibo memohon pada Killy agar dirinya boleh ikut serta.

Berbeda dari Killy (yang masih saja pendiam), Cibo lebih banyak berbicara. Lalu melalui Cibo-lah sejumlah besar informasi tentang dunia Blame! dipaparkan. Cibo juga tak memiliki petunjuk lebih lanjut tentang NTG karena dirinya, beserta seluruh penduduk lain di masyarakat tempat dia berasal, sudah tak lagi sepenuhnya manusia.

Titik balik terbesar dalam cerita Blame! terjadi saat Killy dan Cibo mengetahui tentang Toha Heavy Industries (nama sebuah perusahaan yang sudah berulangkali muncul dalam karya-karya Nihei-sensei). Wilayah kerja Toha Heavy Industries konon tak berada dalam lingkup pengelolaan NetSphere, dan karenanya pula terbilang aman dari Safeguard, sehingga informasi tentang NTG mungkin saja bisa mereka peroleh andai saja bisa masuk ke dalamnya.

Hanya saja, yang berkepentingan terhadap Toha ternyata bukan hanya mereka.

Di samping berhadapan dengan satu-satunya administrator Toha yang dapat mereka hubungi—suatu kecerdasan buatan bernama Mensab dan manusia pelindungnya yang ahli pedang dan sudah terkikis ingatannya, Seu—para makhluk silikon turut membayangi Killy dan Cibo karena juga mengejar kesempatan untuk bisa mengakses NetSphere. Di sisi lain, meski tak termasuk jurisdiksi mereka, para Safeguard juga mulai menjalankan rencana mereka untuk menginfiltrasi Toha dan menghabisi semua yang di sana.

Pancaran Sinar dan Kecepatan Suara

Sekilas, gaya gambar Blame! terkesan kasar. Ada banyak garis yang terkesan liar. Pewarnaannya terkesan seadanya. Kesan akhirnya benar-benar seperti sketsa. Intinya, visualnya sangat berbeda dibandingkan karya-karya manga lain yang keluar di zamannya. Tapi mungkin berkat latar belakang beliau sebagai arsitek, desain dunia buatan Nihei-sensei tersebut membuat Blame! jadi benar-benar mencolok.

Jadi, di dalam setiap bab Blame! selalu serasa ada sesuatu yang monumental gitu. Terasa demikian dengan bagaimana manusia-manusia yang berukuran kecil seperti dibandingkan dengan dunia teramat besar. Ini berlangsung secara berkelanjutan, selama periode sepuluh buku, dengan diselingi adegan-adegan aksi yang semula agak susah diikuti, tapi sebenarnya berlangsung lumayan keren sesudah kau amati.

Ada banyak latar keren. Ada banyak peralatan yang canggih.  Kudengar, meski agak biasa saja di Jepang, Blame! sangat menarik perhatian para fans manga saat diterbitkan di luar negeri. Apalagi dengan dunianya yang seperti itu ditambah ceritanya yang misterius.

Ceritanya… yah, untuk waktu cukup lama, aku juga sempat kesulitan mencerna ceritanya. Karakter-karakternya kurang tergali. (Bahkan ada banyak karakter yang nama-nama mereka mungkin takkan kita ingat.) Tapi meski banyak detailnya yang hanya sebatas tersirat, Blame! punya alur sains fiksi yang benar-benar menarik.

Killy itu seperti jagoan film aksi yang tak kunjung juga mati terlepas dari betapa seringnya ia mau dibunuh. Adegan-adegan aksinya itu seperti kombinasi tembak-tembakan dan serangan-serangan jarak dekat yang berlangsung dengan kecepatan benar-benar tinggi. Ada aspek-aspek medan pelindung, regenerasi, pergantian tubuh, senjata-senjata suara dan elektromagnetik. Geh, bahkan ada isu dunia paralel yang sempat disinggung juga!

Kalau bicara soal tokoh antagonis, terlepas dari bagaimana setiap tokoh baru hadir dengan afiliasi yang diragukan (seperti Mensab dan Seu di atas, atau seperti Domochovsky dan Iko, yang meski resminya berstatus Safeguard, sama-sama tidak menjadi ancaman terhadap Killy), musuh signifikan pertama yang Killy dan Cibo hadapi adalah Sanakan.

Sanakan, sesosok perempuan berambut hitam pendek, bermula sebagai Safeguard Level 6 yang disusupkan ke Toha untuk memicu pelanggaran yang bisa menyebabkan hilangnya validitas perjanjian antara Toha dan NetSphere. Tapi dalam perkembangannya, suatu hubungan kompleks terjalin antara dirinya dengan pihak Killy dan Cibo. Intinya, Sanakan belakangan jadi sesuatu yang lebih dari sekedar musuh, dan akhirnya berperan besar dalam resolusi cerita.

Singkat cerita, Killy dan Cibo gagal memperoleh apa yang mereka cari di Toha. Tapi di akhir perseteruan di Toha, mereka memperoleh ‘sesuatu’ yang mungkin bisa membantu. Killy dan Cibo kini hanya tinggal mencari cara untuk memanfaatkan ‘sesuatu’ itu. Tapi ‘sesuatu’ tersebut juga membuat mereka dikejar musuh yang baru, yaitu kelompok makhluk silikon pimpinan Davinelulinvega (yang menurutku digambarkan seperti semacam pemimpin sekte). Di sini pula, konflik Killy dan Cibo dengan Sanakan kembali memuncak. Lalu berkat kemampuan meretas Cibo, apa yang belakangan terjadi membuat situasi menjadi benar-benar kompleks…

Ringkasnya, buat yang penasaran, akhir cerita Blame! datang dengan agak tiba-tiba dengan bagaimana Killy dipercaya untuk menjaga peninggalan Cibo dan Sanakan, yakni benih NTG sintetis yang mereka berhasil ciptakan sama-sama. Kini hanya dengan ditemani Mori, semacam kecerdasan peninggalan masyarakat Toha, perjalanan Killy terus berlanjut agar benih tersebut dapat berkembang secara bebas dari kontaminasi Kota.

Komedi Romantis

Blame! sempat beberapa kali diadaptasi menjadi anime, walau bukan dalam format seri TV. Pasar penggemarnya memang lumayan niche, jadi wajar kalau ini tak meledak.

Adaptasi pertama dalam format ONA oleh studio animasi Group TAC. Mereka memproduksi seri enam episode dengan durasi enam menit pada Oktober 2003 dengan disutradarai Inokawa Shintaro. Hasilnya tak menonjol, tapi cukup lumayan dengan nuansa dunianya yang benar-benar sureal. Ada lumayan banyak dialog di dalamnya, tapi garis besar ceritanya masih lumayan menuai tanda tanya.

Kedua, sempat hadir anime CGI Blame! Prologue sebanyak dua episode, masing-masing berdurasi empat menit, pada September 2007. Kali ini, produksinya dilakukan  studio animasi ternama Prodution I.G. Meski ekspresi para karakternya masih kaku dan tak banyak yang dihadirkan selain adegan-adegan aksi, ini berakhir sebagai presentasi lumayan keren.

Ketiga, ehem, Blame! hadir sebagai ‘anime di dalam anime’ yang tayang pada adegan-adegan tertentu di anime Knights of Sidonia beberapa tahun lalu. Hasil akhirnya cukup mencolok. Kudengar episode khususnya disertakan dalam versi DVD Knights of Sidonia.

Selama kurun waktu sesudah tamatnya tersebut, sejumlah materi pelengkap Blame! juga sempat dirilis.

Yang pertama mencolok adalah NOiSE, yang sudah kusinggung di atas. Berlatar di dunia ketika NetSphere masih terkendali, prekuel ini bercerita tentang seorang polwan bernama Musubi Susono yang mengusut suatu kasus pembunuhan, tapi tahu-tahu terjebak dalam konflik kepentingan antara sejumlah pihak. Semuanya terjadi menjelang perilisan NetSphere ke khalayak luas. Karena rupa mereka yang mirip, Musubi diyakini (tapi bisa juga tidak) adalah template kepribadian yang digunakan dalam membentuk Sanakan.

Yang paling menarik selanjutnya adalah Blame! Gakuen, suatu seri spin off yang mengisahkan bagaimana seandainya Killy dan kawan-kawannya para karakter lain adalah remaja-remaja SMA. Di sini, Killy masih pendiam. Cibo jadi semacam sahabat lamanya yang lebih banyak bicara. Sanakan menjadi guru. Lalu para makhluk silikon menjadi semacam teman-teman sekelas. Konyolnya, meski berlatar komedi romantis sekolahan, punya elemen-elemen moe, ditambah dengan baju seragam yang dikenakan para karakternya (meski wujud mereka masih makhluk silikon) dan kelopak-kelopak bunga sakura, hal-hal seperti GBE dan bangunan-bangunan raksasa masih juga ada. Killy juga jadi semacam karakter sial/beruntung yang bisa tiba-tiba kedapatan adegan fanservice dan jadi dihajar para cewek.

Selain dua di atas, ada cerita pendek Net Sphere Engineer yang sempat hadir di majalah Morning Extra dan Blame!2 pada tahun 2008 pada majalah Mandala. Keduanya sama-sama pendek dan menurutku tak terlalu berkontribusi terhadap cerita. Tapi tak dapat dipungkiri, keduanya merangsang imajinasi.

Kalau aku tak salah, bersama beberapa cerita lepasan lain, dua cerita pendek di atas dan dua bab pendek Blame! Gakuen kemudian disatukan dalam satu bundel berjudul Blame! Gakuen and so on. Tankoubon tersebut kurasa menjadi eksperimen Nihei-sensei dalam membuat cerita yang lebih berbasis karakter. Maksudku, sebelum beliau kemudian mengerjakan Knights of Sidonia.

Nelayan Elektrik

Kalau membandingkan Blame! dengan Knights of Sidonia, perkembangan kemampuan Nihei-sensei akan lumayan terlihat. Di samping memiliki artwork lebih bersih, Knights of Sidonia yang lebih baru punya jalinan cerita yang lebih memberi perhatian terhadap karakter.

Iya, itu aja.

Soal karakter itu yang agaknya jadi perbedaan mencolok.

Hasilnya belum sebegitu bagusnya sih, tapi kalau dibandingkan dengan karya-karya lain beliau, seperti Biomega misalnya, Knights of Sidonia adalah yang kayaknya punya kesan paling jauh.

Soal produksi anime Blame! yang akan datang, sebagian besar staf Polygon Pictures yang sebelumnya menangani Knights of Sidonia kudengar akan kembali. Formatnya layar lebar. Seshita Hiroyuki yang akan menangani. Naskahnya dibuat oleh Nihei-sensei sendiri dengan dibantu Murai Sadayuki. Direncanakan tayang pada pertiga akhir Mei 2017 nanti, kudengar ini nanti juga akan tayang di Netflix. Kudengar juga ceritanya akan dirombak habis.

Yah, kita lihat saja nanti.

Akhir kata… ternyata aku bisa menulis lumayan banyak tentang Blame!. Hmm, aneh juga. Aku dari dulu kagum dengan betapa pendiamnya Killy. Maksudku, dia tipe orang yang lebih banyak bertindak daripada ngomong. Berbeda dari kebanyakan orang zaman sekarang.

Man, aku perlu bisa lebih mencontohnya.

Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale

Akhir pekan lalu, aku menonton Sword Art Online: Ordinal Scale di salah satu cabang CGV Blitz.

Ordinal Scale (kira-kira berarti ‘skala ordinal’, ‘ordinal’ mengacu kepada ‘angka ordinal’ yang menyatakan peringkat/kedudukan seperti ‘pertama’ dan ‘kedua puluh’ dsb., berbeda dari ‘angka cardinal’ yang menyatakan nilai/kuantitas; sebenernya ada lagi jenis angka nominal yang menyatakan nama/identitas seperti barcode) adalah film layar lebar pertama dari seri Sword Art Online yang terkenal.

Masih diangkat dari seri novel fenomenal karangan Kawahara Reki, film layar lebar ini berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua animenya. Jadi, Ordinal Scale berlangsung sesudah bab Mother’s Rosario, tapi sebelum bab Alicization yang sudah didesas-desuskan akan menjadi inti season ketiga anime SAO yang akan datang.

Salah satu daya tarik movie ini, terutama bagi penggemar SAO, adalah sifatnya yang orisinil. Cerita movie ini tak berasal dari novel. Seperti halnya film layar lebar Mahouka Koukou no Rettousei yang akan tayangnanti, ada rentang waktu kosong dalam linimasa cerita asli di novelnya yang jadinya dilengkapi.

Berdurasi lumayan lama, sekitar pas dua jam, produksi Ordinal Scale masih dilakukan A-1 Pictures . Penyutradaraannya kembali dilakukan Ito Tomohiko. Naskahnya disusun Ito-san berdasarkan konsep cerita yang disusun Kawahara-sensei sendiri. Penayangannya di Indonesia pun terbilang cepat, hanya sekitar sebulan sesudah movie ini tayang di Jepang.

Sedikit curhat dulu: aku semula tak berencana menonton film ini.

Sekali lagi, aku menggemari versi novel SAO. Tapi, aku sebenarnya tak sebegitu antusias terhadap animenya.

Sempat terlintas di benakku kalau aku mungkin akan nonton Ordinal Scale. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar secara khusus meniatkannya. Aku mengira film ini penayangannya akan terbatas, baik secara waktu dan tempat. Belum lagi sempat ada kabar kalau distribusinya di Indonesia bakal ditunda. Kusangka ini paling cepat adanya April. Lalu, yah, kesibukanku belakangan rada susah diprediksi (aku sering sekali menyinggung soal gimana aku sibuk, sampai-sampai aku sendiri merasa aku belakangan terdengar kayak bohong).

Tapi, akhir pekan lalu, tiba-tiba ada sahabat lamaku, yang sekarang domisilinya di kota lain, tahu-tahu ngontak soal bagaimana hari itu dia mau menonton ini (dan kalau bisa, langsung dilanjutkan dengan Kong: Skull Island). Lalu, saat aku dengar Ordinal Scale sudah tayang, reaksiku adalah: “FUUUUUUGGGGHHHG!!!!!”

Semula, aku merasa temanku itu yang selama ini stres.

Sama sepertiku, dia juga masih lajang. Lalu dia lagi sendirian di rumah setelah ditinggal keluarganya touring. Dia menghubungiku juga sambil sesekali mengirim foto kemajuan gambar yang sedang dia buat untuk mengasah kembali skill gambarnya yang sudah tumpul. (Dia punya bakat menggambar bishoujo.)

Tapi, menilai reaksiku, aku tersadar bahwa aku juga butuh menonton film ini. Rupanya, aku juga lagi stres. Akhirnya, aku tak peduli apakah hasilnya akan jelek atau bagus. Aku perlu menonton Ordinal Scale.

Sesudah bertekad demikian, aku memutuskan ke luar rumah. Aku bahkan sampai membujuk-bujuk temanku untuk tetap cabut sekalipun cuacanya kelihatannya memburuk.

Singkat cerita, aku dan sahabatku yang beda kota ini akhirnya masuk bioskop pada waktu kurang lebih sama, demi menonton film yang sama.

Kami lalu saling bertukar komentar sesudah menonton.

Was it worth it?

Yah. Pada akhirnya, Ordinal Scale tetap SAO. Kalau kalian mengerti maksudku.

“…Switch.”

Ordinal Scale dibuka dengan pemaparan tentang berkembangnya perangkat teknologi baru berbasis augmented reality bernama Augma.

Memiliki bentuk berupa kombinasi visor, headphone lalu kamera sekaligus aksesoris tangan, Augma digandrungi karena menjadi alternatif untuk perangkat virtual reality Amusphere (penerus perangkat VR NervGear yang menjadi salah satu penyebab tragedi VMMORPG Sword Art Online beberapa tahun silam).

Untuk kalian yang awam, berbeda dengan virtual reality yang membawa penggunanya ke ‘dunia’ lain, augmented reality adalah teknologi yang ‘memperkaya’ realitas kita saat ini.

Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling, ada berbagai informasi tambahan yang bisa kita peroleh. Kita masih bergerak dengan badan sendiri. Tapi, apa yang kita lihat, dengar, dan sentuh telah diperkaya ‘informasi’ dari Augma yang turut menimpa persepsi dunia nyata kita. Dunia bisa terlihat semakin berwarna dan menarik.

Ada berbagai aplikasi Augma yang bisa dimanfaatkan. Mulai untuk olahraga, bertukar pesan, peluang mendapatkan kupon diskon, membantu diet, info lalu lintas real time, menampilkan peta, membantu menunjukkan arah kalau tersesat, dsb.

Bahkan, ada suatu permainan massal berbasis Augma bernama Ordinal Scale yang belakangan menyedot perhatian pemain VMMORPG ALfheim Online dan Gun Gale Online.

Melalui Augma, pesona figur idola virtual Yuna yang konon adalah kecerdasan buatan bisa ditonton. Dengan kepribadiannya yang cerah, acara-acara konser Yuna—yang dapat berlangsung nyaris di mana saja—menjadi hal yang banyak diminati dan menjadi satu lagi faktor kesuksesan Augma.

Fitur-fitur baru Augma juga tengah digandrungi teman-teman Kirigaya Kazuto.

Sebagai salah satu yang selamat dari peristiwa SAO, Kazuto, yang juga dikenal sebagai Kirito, sudah beberapa kali terlibat insiden berbahaya di dunia maya. Mungkin karena itu, perasaannya terhadap Augma masih ambivalen.

Di sisi lain, teman-teman lama Kirito—bahkan termasuk mereka yang juga selamat dari SAO, seperti Shinozaki Rika (Lizbeth) dan Ayano Keiko (Silica), serta kekasih Kirito sendiri, Yuuki Asuna; terutama karena pembagian perangkat Augma gratis di sekolah rehabilitasi mereka—juga menggandrungi Augma sekaligus Ordinal Scale.

Teman Kirito yang sudah dewasa, Klein, juga sering ikut serta dalam berbagai event Ordinal Scale bersama teman-teman guild-nya yang bertema samurai, Fuurinkazan.

Manfaat lain Augma bagi Kirito dan Asuna, yang mau tak mau harus mereka akui, adalah bagaimana kecerdasan buatan yang menjadi ‘putri’ mereka sesudah insiden SAO, Yui, juga jadi bisa berinteraksi dengan mereka di dunia nyata.

Meski kurang nyaman dengan Augma, sebagai  gamer, Kirito tentu saja juga tertarik pada Ordinal Scale. Dari sekedar mencoba bersama Asuna, Kirito mulai mendengar rumor yang mulai mengusiknya: bahwa sejumlah lawan yang dikenali sebagai floor boss dari Sword Art Online telah muncul dalam eventevent Ordinal Scale.

Lalu, yang menyadari hal ini hanya para veteran SAO yang pernah terlibat di garis depan.

Trauma Therapy

Sebelum masuk lebih jauh soal cerita, baiknya aku menyinggung sedikit dulu tentang Ordinal Scale.

Jelas terinspirasi dari berbagai permainan augmented reality yang belakangan berkembang (salah satunya, demam Pokemon Go), Ordinal Scale sederhananya adalah semacam permainan aksi memburu monster yang mengharuskan para pemainnya keluar rumah (dengan memakai Augma), dan mendatangi berbagai tempat di kota.

Setiap pemain bebas memilih ingin jadi pemain macam apa. Mereka bebas memilih peralatan yang mereka bawa (yang bisa ditemukan dari menjelajah tempat-tempat tertentu di sekitar mereka), mulai dari senjata jarak dekat macam pedang, atau yang jarak jauh macam pistol dan senapan (Kirito dan Asuna jelas-jelas lebih memilih menggunakan pedang).

Di samping senjata, mereka juga bebas mengenakan pelindung.

Dengan berkeliaran sambil mengenakan Augma saja, konon para pemain OS bisa menemukan berbagai barang (item), perlengkapan, serta musuh-musuh yang bisa mereka kalahkan.

Satu hal menarik di OS adalah bagaimana tak ada sistem leveling. Semua pemain bermain menggunakan badan mereka sendiri (jadi bukan badan virtual seperti di Amusphere yang parameternya disesuaikan). Parameter kekuatan mereka—meski ada yang mengalami modifikasi oleh perlengkapan—adalah kemampuan fisik nyata mereka sendiri.

Lalu, untuk memantau siapa-siapa yang unggul dalam permainan ini, digunakan semacam sistem peringkat. Masing-masing pemain bersaing untuk meningkatkan peringkat. Ditambah lagi, ada berbagai manfaat yang mereka peroleh seiring dengan bertambahnya peringkat mereka. (Sistem ‘peringkat’ ini belakangan terungkap punya signifikasi di dalam cerita.)

(…Bentar. Setelah kupikir, sistem pengembangan diri berbasis peralatan ini, yang tak ada kaitannya dengan level, lumayan mirip dengan yang ada di waralaba Monster Hunter.)

Salah satu aspek terkeren Ordinal Scale adalah bagaimana program tersebut dapat sepenuhnya mengubah persepsi pemainnya akan realita. Dalam sekejap, langsung ada dunia lain yang mereka lihat, tapi dunia tersebut tetap tercipta berdasarkan bentuk dunia nyata. Puncak-puncak gedung tinggi bisa berubah menjadi menara kastil. Tempat-tempat terbuka menjadi teras puri. Warna langit bisa berubah dari siang menjadi malam, lengkap dengan terangnya bulan berwarna.

Lalu, pakaian yang para pemainnya kenakan akan berubah. Handset yang mereka pegang juga berubah jadi senjata yang mereka pilih. Semua konon terwujud berkat keberadaan sepasukan UAV yang seakan membantu proses pemantauan.

Perubahan dunia di Ordinal Scale lumayan mengingatkan pada perwujudan Unlimited Neutral Field di Accel World yang juga karangan Kawahara-sensei. Tapi, meski sama-sama didasarkan pada bentuk dunia nyata, sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi di latarnya, Ordinal Scale di seri SAO dihasilkan lewat teknologi yang lebih low end.

Terlepas dari itu, dalam salah satu event Ordinal Scale, ketika sejumlah musuh besar yang tak dapat ditangani sendirian muncul, idola virtual Augma, Yuna, tiba-tiba muncul.

Melalui nyanyiannya, Yuna memberi buff bagi parameter para pemain, membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan misi. Sesudah itu, Yuna juga mengumumkan lokasi di mana konser live-nya yang banyak ditunggu akan diadakan. Dari pengalaman tersebut, kembali muncul tanda tanya soal apakah Yuna adalah makhluk sejenis Yui.

Di samping itu, turut diperkenalkan pula Eiji, pemain dengan peringkat dua di Ordinal Scale, yang Kirito dan Asuna sadari agaknya mungkin pernah mereka jumpai di masa lalu.

Apakah Melupakan Lebih Baik?

Masalah timbul saat rumor-rumor soal kehadiran floor boss SAO di Ordinal Scale ternyata benar.

Asuna, bersama Klein, menjadi saksi langsung hal ini. Asuna, berkat pengalamannya, bahkan berhasil menggalang pemain lainnya untuk menaklukkan boss tersebut. Namun rupanya itu hanya awal dari segala masalah.

Singkat cerita, Kirito, yang tak aktif sebagai pemain Ordinal Scale, secara terlambat mengetahui bahwa para veteran SAO yang memainkan Ordinal Scale bisa kehilangan sebagian ingatan mereka. Persisnya, ingatan mereka tentang SAO.

Asuna juga adalah salah satu korbannya.

Berbeda dari kebanyakan veteran yang memiliki banyak kenangan tak enak tentang SAO, Asuna juga memiliki kenangan-kenangan bahagia karena pertemuannya dengan Kirito. Karena itu, hilangnya kenangan-kenangan tersebut sedemikian membebani Asuna, meski ia masih bisa mengenal Kirito dan masih menyimpan berbagai kenangan mereka di Aincrad ‘baru’ di ALO.

Marah dengan apa yang menimpa Asuna, Kirito bertekad untuk mengungkap apa yang terjadi.

Berkat petunjuk sosok berkerudung misterius yang sesekali terlihat hanya melalui Augma, Kirito menjumpai Shigemura Tetsuhiro, pria paruh baya yang merupakan ilmuwan pengembang piranti Augma. Dari sana, Kirito menyimpulkan bahwa ia harus memanjat ke puncak peringkat Ordinal Scale demi mencegah bencana besar yang akan terjadi.

Maka dengan taruhan ingatannya sendiri pula, Kirito berhadapan dengan Eiji, yang ternyata menyembunyikan lebih banyak dari apa yang bersedia ia ungkap.

Janji Bonceng Motor

Masuk ke soal teknis, kalau soal presentasi, Ordinal Scale menghadirkan kualitas visual dan suara yang diharapkan dari sebuah seri SAO. Film ini terlihat dan terdengar bagus. Aku tak begitu terkesan dengan key visual-nya. Tapi, sesudah melihat sendiri, aku kagum dengan betapa banyaknya detil yang telah diberikan untuk menggambarkan dunia Tokyo masa depan.

Kesan futuristis yang dipaparkan terasa sangat dekat sekaligus jauh. Masih serasa membumi. Lalu, banyaknya detil ini begitu kentara dibandingkan bab-bab cerita SAO yang lain.

Walau cerita Ordinal Scale pada akhirnya berkesan ‘SAO’ sekali (lebih banyak soal itu nanti kusinggung di bawah), sebagai orang yang beberapa kali berkecimpung di dunia arsitek dan iptek, aku merasa sudah balik modal menonton film ini hanya demi melihat dunianya saja. Mulai dari soal fitur-fitur AR Augma, pemandangan keseharian kota Tokyo modern, jalan-jalan layang, halaman-halaman dengan ruang terbuka hijau, dan bahkan vending machine, aku puas dengan bagaimana semua itu ditampilkan.

Aku terutama kagum dengan pemandangan overhead kota dari atas yang berulangkali diperlihatkan untuk mengindikasikan bagaimana Kirito berpindah dari satu wilayah Tokyo ke wilayah lain.

Soal suara, aku sempat heran dengan bagaimana karakter Yuna ditampilkan. Aku seperti… “Heh? Lagi-lagi karakter idol?” Aku lebih terbiasa melihat penampilan idola futuristis dalam anime Macross. Lalu, sesudah movie Toaru Majutsu no Index beberapa tahun lalu, sekarang SAO mau mengangkat soal itu juga? Perasaanku campur aduk soal ini.

Tapi, aku bersyukur setidaknya tema konser dan nyanyian ini tak sekedar tempelan. Maksudku, ada signifikasinya dalam cerita. Di samping itu, nuansa musik gubahan Kajiura Yuki kembali ada di movie ini. It’s still good.

Jadi, satu hal unik yang Ordinal Scale miliki, kalau dibandingkan bab-bab cerita SAO lainnya, adalah bagaimana ceritanya berlatar hampir sepenuhnya di dunia nyata. Justru inilah yang menjadi daya tariknya yang terbesar. Maksudku, itu hal yang sangat baru bagi SAO.

Sekali lagi, di dunia nyata. Bukan dunia virtual. Karenanya, di luar dugaan—lagi, terlepas dari kualitas akhirnya sendiri—Ordinal Scale terasa segar.

Naskah yang Kawahara-sensei dan Ito-san susun itu beneran kuat. Ya, masih ada kelemahan-kelemahan khasnya. Termasuk soal wish fulfillment dan sebagainya. Ya, perlu kuakui juga kalau klimaksnya sedikit mengecewakan. Itu jelas tak semenegangkan standar SAO yang biasa. Tapi, kalau menempatkan diri di sudut pandang produser, naskah Ordinal Scale kurasa berhasil memenuhi segala ekspektasi.

Ada banyak callback ke hal-hal lalu. (Seperti soal perintah Switch untuk penggantian posisi depan yang normalnya hanya dipahami oleh para veteran SAO.) Secara mengesankan, ada sejumlah foreshadowing juga ke bab Alicization yang akan datang untuk para penggemar novelnya.

Semua karakter signifikan dalam waralaba ini—termasuk si gaijin pemilik toko Andrew Gilbert Mills (Agil), jago kendo Kirigaya Suguha (Leafa) yang merupakan sepupu Kirito, ahli tembak Asada Shino (Sinon), dan pegawai pemerintah yang jadi kontak Kirito, Kikuoka Seijurou—tampil dan berperan. Hal-hal imut tentang SAO, kalau kalian suka dengan itu, juga ada. Aku sendiri memperkirakan bobot fanservice dalam film ini mungkin mencapai 35%.

Aku terutama terkesan dengan bagaimana Kirito ditampilkan seakan kesetanan saat mengejar peringkat ini. Atau, saat Asuna menggalang orang-orang yang belum ia kenal dalam melawan boss. Lalu, juga pada bagaimana Suguha melatih ulang fisik Kirito dari jauh berhubung sedang mengikuti kamp pelatihan di luar kota.

Jadi, kayak, semua yang sejak dulu ada di SAO berhasil dimasukkan secara seimbang ke film ini. Termasuk elemen-elemennya yang mungkin kurang kau sukai.

Aku jadi maklum kenapa movie ini terbilang berhasil di Jepang. Bahkan, kalau dibandingkan Endymion no Kiseki dari seri Index beberapa tahun lalu, kurasa Ordinal Scale jauh lebih bisa aku sukai.

Janji Melihat Bintang

Untuk menyimpulkan, untuk kalian yang menyukai SAO apa adanya, maka kalian juga akan menyukai Ordinal Scale. Untuk kalian yang kurang menyukai SAO, film ini takkan membuat kalian berubah pikiran. Sedangkan untuk kalian yang belum pernah tahu SAO, banyaknya referensi terhadap kejadian yang lalu mungkin bakal membingungkan.

Meski begitu, film ini secara umum tetap menarik.

Akhir kata, aku enggak bisa menilai Ordinal Scale jelek. Memang ada kekurangan-kekurangannya, tapi itu jenis kekurangan yang benar-benar khas SAO.

SAO dari waktu ke waktu kerap menampilkan hal-hal yang menurutku agak berlebihan dan konyol (sejumlah orang menyebutnya ‘lebay’). Tapi, sesuatu yang agaknya hanya bisa SAO lakukan bagiku adalah bagaimana hal-hal berlebihan dan konyol tersebut ditampilkan dengan cara yang tak pernah bisa sepenuhnya aku tertawakan.

Kenapa?

Karena meski aku merasa hal-hal tersebut berlebihan dan konyol, pada saat yang sama, hal-hal itu jadi mengingatkanku pada hal-hal lain yang lebih serius dan dalam.

Dalam konteks ini, hilangnya ingatan Asuna jadi mengingatkan pada penderita Alzheimer gitu. Frustrasi yang dirasakannya bukan hal yang mudah diekspresikan. Menariknya, tak semua korban hilang ingatan tersebut memperlihatkan reaksi yang sama.

Karena hal-hal seperti di atas, kadang aku merasa SAO lumayan penuh dengan alegori.

Apa lagi ya?

Cerita Ordinal Scale berakhir dengan resmi bertunangannya Kirito dan Asuna. Jadi, walau ceritanya lepas, Ordinal Scale agak memperbesar pertaruhan dalam bab Alicization nanti.

Ada kemungkinan season ketiga animenya bakal memperbaiki beberapa kelemahan di novelnya. Tapi, yeah, itu bukan analisa, cuma pengharapanku pribadi.

Klasik untuk kasus SAO, identitas tokoh antagonisnya bukan teka-teki. Mereka sama-sama punya kaitan dengan insiden SAO.

Shigemura-sensei adalah guru mendiang Kayaba Akihiko dan Sugou Nobuyuki. Seperti halnya Sugou, Shigemura sekedar memanfaatkan teknologi cetusan Kayaba melalui piranti Augma hasil kembangannya.

Lalu Eiji, atau Nochizawa Eiji, yang sebelumnya memakai nama Nautilus, adalah mantan bawahan Asuna. Dia seorang anggota Knights of the Blood yang dulu kurang dikenal karena tak pernah maju ke garis depan.

Baik Eiji maupun Shigemura-sensei bukanlah karakter yang kompleks atau berbobot. Tapi, cara mereka menjutsifikasi tindakan mereka sebagai penanganan trauma, padahal yang ingin mereka pulihkan adalah luka masa lalu mereka sendiri, lumayan menarik. Dalam hal ini, semua adalah untuk ‘mendatangkan kembali’ seseorang bernama Shigemura Yuuna, terlepas dari apa konsekuensi yang nanti dihadapi.

Selebihnya, hal-hal paling menarik di Ordinal Scale terjadi secara tersirat.

Pertama, tentang Kayaba Akihiko. Meski secara fisik telah wafat, sekali lagi dikonfirmasi bahwa dirinya masih ‘hidup’ dengan suatu cara. Janggalnya, Shigemura nampaknya tahu juga tentang ini. Lalu, anehnya, ia kelihatan tak menaruh dendam atas peranan Kayaba dalam insiden SAO.

Kedua, tentang Kikuoka.

Kikuoka, yang mewakili pemerintah Jepang, sekali lagi dimintai bantuan oleh Kirito saat terungkap maksud sesungguhnya dikembangkannya Augma itu apa. Tapi, di akhir film, terungkap bahwa Kikuoka membebaskan Shigemura dari segala tuntutan. Kikuoka bahkan memperlihatkan pada Shigemura penemuan baru yang telah dikembangkannya, yang lagi-lagi merupakan foreshadowing terhadap bab Alicization.

Terakhir, tentang Yui.

Yui yang mungkin berperan paling vital dalam penyelesaian masalah. Sedemikian besar peranannya, aku sampai berpikir bahwa sebagai rogue AI, Yui bisa sangat berbahaya kalau bukan berkat asuhan dan didikan Asuna dan Kirito.

Jadi, begitu terungkap bahwa sebenarnya Augma adalah hasil modifikasi dari NervGear, segala solusinya, begitu saja, langsung terlihat di mata Yui. (Ini juga jadi salah satu alasan kenapa klimaks film ini kurang memuaskan.)

Terkait ini, beberapa kali pernah diimplikasikan bahwa Kirito tak sepenuhnya mempercayai Kikuoka. Keduanya sama-sama belum membuka seluruh kartu masing-masing. Lalu lewat film ini, lagi-lagi kita diingatkan bahwa Kikuoka mungkin masih belum juga diberitahu Kirito tentang asal-usul Yui yang sesungguhnya… yang mungkin tanpa disadarinya telah berdampak pada apa-apa yang nanti akan terjadi.

Yah, demikian deh.

Kita pantau saja terus perkembangan waralaba ini ke depan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Mobile Suit Gundam Twilight Axis

Pagi hari dua hari lalu, aku mendengar kabar bahwa setelah tuntasnya proyek animasi Gundam Thunderbolt, seri animasi berikutnya yang berlatar di semesta Universal Century sudah dikonfirmasi adalah Kidou Senshi Gundam Twilight Axis.

Twilight Axis (kira-kira berarti ‘senja/akhir Axis’) merupakan seri photonovel yang dicetus Ark Performance (tim yang membuat seri kapal selam futuristik Aoki Hagane no Arpeggio). Mereka dibantu Nakamura Kojiro. Diterbitkannya melalui penerbit Yatate Bunko yang dimiliki khusus oleh studio Sunrise.

Kabar ini mengejutkan karena Twilight Axis merupakan seri yang terbilang masih sangat baru. Walau begitu, kalau mempertimbangkan bagaimana Twilight Axis berlatar tak sampai setahun di kesudahan Insiden Laplace yang dikisahkan di Gundam Unicorn, ditambah lagi mulai membangun latar ke era Gundam F91, keputusan ini masuk akal.

Penasaran, aku langsung mencari informasi lebih banyak.

Untungnya, para spesialis Gundam di situs Zeonic Republic sudah menerjemahkan beberapa babnya ke Bahasa Inggris. Aku langsung meluangkan waktu luang di kantor untuk membaca.

Mengejar Bayangan Merah

Twilight Axis mengetengahkan dua karakter Danton Hyleg dan Arlette Hyleg.

Danton dan Arlette adalah pasangan ayah dan putrinya yang sekilas pandang, kalau menilai dari kehidupan mereka yang bersahaja di Libot Colony—yang terletak di Riah atau koloni luar angkasa Side 5 (sebelumnya, Side 6)—merupakan keluarga kecil biasa. Mereka membuka usaha binatu dan menjalankan hidup dengan damai. Keseharian Danton paling hanya bermain ke kafe yang dibuka tetangganya. Meski demikian, sebenarnya, keduanya sama sekali tak berhubungan darah. Ditambah lagi, Arlette yang tampak masih remaja sebenarnya jauh lebih tua dari usianya.

Keduanya sebenarnya adalah mantan pilot uji Danton Highleg dan teknisi Arlette Almage, dua orang simpatisan pihak Zeon yang telah bekerja sama sejak akhir Perang Satu Tahun. Mereka berada di bawah pengawasan langsung dari komandan mereka, sosok Char Aznable yang legendaris, yang menghilang secara misterius di penghujung Perang Neo Zeon Kedua. Ditambah lagi, Arlette sebenarnya adalah salah seorang Cyber Newtype yang pernah dihasilkan Institut Flanagan. Entah bagaimana, salah satu efek samping dari percobaan-percobaan yang dilakukan terhadapnya adalah tubuh yang menua dengan sangat lambat. Sebagai akibat dari ini, Danton dan Arlette telah berulangkali berpindah domisili sejak Perang Neo Zeon Kedua berakhir karena tak ingin masyarakat sampai mengetahui asal usul mereka.

Kehidupan damai mereka terusik saat pada suatu hari, datang seorang pria necis tapi ramah bernama Mehmet Merca ke toko mereka. Mehmet datang sebagai wakil suatu lembaga yang disebut Departemen Enam dari Kementrian, yang pada dasarnya merupakan badan intelijen Federasi Bumi. Mereka telah mengetahui identitas Danton dan Arlette yang sesungguhnya dan bahkan telah melacak mereka sampai ke Riah. Mehmet rupanya adalah komandan pasukan khusus Mastema yang khusus mendatangi Libot demi meminta bantuan pada Danton dan Arlette.

Singkat cerita, keterlibatan masa lalu Danton dan Arlette dalam pengembangan teknologi Neo Zeon membuat Mehmet ingin merekrut mereka sebagai pemandu untuk menjelajahi apa yang tersisa dari Axis, asteroid raksasa bekas markas faksi Neo Zeon. Tempat lebih spesifik yang ingin dicapai adalah Institut Penelitian Memorial Maharaja Khan, yang merupakan laboratorium peneltian terakhir pula dari Institut Flanagan di mana Danton dan Arlette sama-sama pernah bernaung.

Dalam Perang Neo Zeon Kedua (yang dikisahkan dalam Char’s Counterattack), Axis sempat hendak diluncurkan Neo Zeon ke arah Bumi untuk menimbulkan bencana musim dingin global, yang selanjutnya akan memicu migrasi manusia ke luar angkasa, dan akhirnya melahirkan lebih banyak manusia Newtype yang diyakini dapat menghapuskan peperangan. Berkat upaya kesatuan gerak cepat Londo Bell, bencana tersebut berhasil dicegah dengan dibelahnya Axis, meski salah satu potongannya tetap akan menabrak Bumi kalau bukan karena pengorbanan berbagai pihak yang terlibat.

Sasaran lebih tepat yang ingin Federasi peroleh adalah sampel dari psycho frame, teknologi MS mutakhir yang sempat dibocorkan Char ke kedua belah pihak di Perang Neo Zeon Kedua melalui perusahaan pemroduksi MS Anaheim Electronics. Teknologi ini yang konon menghasilkan keajaiban terselamatkannya Bumi di akhir perang tersebut.

Potensi sesungguhnya teknologi psycho frame akhirnya diketahui Federasi di kesudahan Insiden Laplace. Meyakini keberadaan sisa-sisa rahasia produksinya di Axis, Federasi Bumi menginginkan sampelnya sebelum teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Danton dan Arlette akhirnya menerima tawaran Mehmet. Di samping imbalan berupa uang yang banyak serta dihapuskannya catatan pelanggaran hukum mereka, Danton dan Arlette juga berharap kunjungan kembali mereka ke Axis dapat memberi petunjuk tentang apa sebenarnya yang telah menimpa Sazabi, MS berteknologi psycho frame yang digunakan Char pada saat ia menghilang.

Dikawal Mehmet dan pasukan Mastema, Danton dan Arlette kembali ke Axis setelah bertahun-tahun.

Namun di luar dugaan, ternyata bukan hanya mereka yang di sana. Mereka juga bersimpangan jalan dengan suatu pasukan bersenjata misterius yang bahkan dikawal sejumlah MS Federasi. Salah satu MS tersebut adalah Gundam AN-01 ‘Tristan’, MS tipe-Gundam baru yang tak dikenali Mehmet.

Kalah jumlah dan kalah senjata, Danton, Arlette, dan Mehmet meyakini bahwa pihak misterius tersebut punya tujuan yang sama dengan mereka. Mengandalkan pengetahuan yang mereka punya tentang Axis, mereka berusaha menemukan cara untuk bertahan hidup.

Recollection

Bahkan dari awal, terlihat betapa Twilight Axis merupakan cerita Gundam yang tidak biasa. Di samping mengambil latar utama di Axis, MS tipe Gundam digunakan bukan oleh para tokoh utama, melainkan oleh pihak antagonis yang memburu mereka.

Meski mewakili pihak Federasi, Denton dan kawan-kawannya sebaliknya jadi menggunakan berbagai tipe MS lama peninggalan Neo Zeon untuk melawan mereka. Pertama, dengan Zaku III Custom berwarna merah yang semula dibuat untuk digunakan oleh Char, dan pernah diuji oleh Danton sendiri. Tipe MS yang pernah digunakan Rakan Dahrakan dalam Gundam ZZ ini dirancang untuk produksi massal dalam Perang Neo Zeon Pertama. Sayangnya, rancangan yang punya ciri khas berupa beam gun di mulut ini kalah pamor oleh Doven Wolf dan jadinya diproduksi hanya dalam jumlah terbatas. MS ini sudah sangat fleksibel dan punya performa sangat baik bahkan dibandingkan tipe-tipe MS milik Federasi dan AEUG. Tapi Zaku III Custom yang dikustomisasi oleh Arlette ini konon memiki performa lebih baik lagi dibandingkan Zaku III lain, dan menjadi lawan yang sepadan bagi Gundam Tristan.

Danton juga sempat menggunakan salah satu R-Jarja, MS pengembangan dari Gyan dari era Neo Zeon, tipe yang sama dengan yang pernah digunakan mendiang Chara Soon. Senjata khasnya adalah beam rifle dengan heat bayonet, di samping beam saber dan flexible shield pada bahu.

Di sisi lawan mereka—yang kemudian terungkap merupakan kesatuan (bayaran?) Birnam Wood—Gundam Tristan, yang dikemudikan pilot Cyber Newtype Quentin Fermo, memiliki bentuk luar yang sangat mengingatkan pada Gundam Alex yang sempat diuji untuk Newtype dalam Gundam 0080: War in the Pocket. Namun lebih banyak tentang asal usulnya masih misteri. Hal yang mencolok lain tentangnya adalah ukurannya yang terbilang kecil untuk produksi MS sejenisnya, yang sebenarnya merupakan foreshadowing terhadap tren pengembangan MS berukuran kecil yang ditampilkan dalam Gundam F91. Di samping itu, Birnam Wood juga dikawal oleh sejumlah MS lain yang tipenya dikenal sebagai milik Federasi, yakni beberapa Jegan Custom serta satu MS kustomisasi Byarlant Isolde yang telah disesuaikan secara khusus untuk digunakan di luar angkasa.

Terlepas dari soal mekanis, terlihat bagaimana Twilight Axis membangun konflik yang menarik. Karakter-karakternya unik. Mulai dari bagaimana Arlette selalu bisa membujuk Danton dengan hubungan aneh yang mereka punyai. Atau bagaimana Mehmet orang sangat santun dan simpatik meski jabatannya menyeramkan. Ditambah lagi, dengan pihak misterius di belakang Birnam Wood.

Keputusan Sunrise untuk mengadaptasi seri ini mulai bisa dimaklumi saat kita memperhatikan betapa banyaknya referensi yang Twilight Axis miliki terhadap seri-seri lain. Bukan hanya seri-seri lama ‘di belakang’ melalui sejarah latar, (Seperti soal bagaimana Axis disinggung pernah dikuasai Haman Karn, putri Maharaja Karn, sebelum yang bersangkutan tewas dalam konflik di Gundam ZZ. Terdesak oleh kepungan pasukan Federasi serta keruntuhan faksi Neo Zeon dari dalam, Haman memilih bunuh diri sesudah duel penentuannya dengan Judau, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Axis sebelum Char akhirnya tampil.) tapi juga dengan seri-seri ‘ke depan’ di era kekuasaan Crossbone Vanguard.

Dikisahkan bahwa pihak yang membeking Birnam Wood sebenarnya adalah keluarga Ronah, yang kelak mendirikan faksi Crossbone Vanguard dan negeri Cosmo Babylonia, yang pada titik ini memiliki kedekatan dengan perdana menteri Federasi Bumi yang tengah menjabat. Birnam Wood digerakkan oleh Meitzer Ronah, yang kita ketahui belakangan akan menjadi kepala keluarga Ronah dalam Gundam F91. Diperkenalkan pula Engeist Ronah, saudara lelaki Meitzer yang menjaga hubungan dengan Federasi; serta Scharnhorst Ronah, ayah Meitzer dan Engeist, kepala keluarga yang mengadopsi kebangsawanan Eropa dan telah mendirikan perusahaan berkuasa Buch Concern hanya dalam satu generasi.

Kelihatannya, Twilight Axis akan melakukan beberapa retcon sejarah lagi. Kasusnya mungkin serupa dengan yang Gundam: The Origin lakukan terhadap seri TV-nya yang asli. Hanya saja, daripada terhadap Zeon, penyesuaiannya akan diberikan terhadap asal usul Crossbone Vanguard yang menjadi tokoh antagonis di Gundam F91.

Kalau mempertimbangkan ini, mulai terbayang alasan mengapa seri manga populer Crossbone Gundam, yang menjadi sekuel Gundam F91, masih belum dianimasikan juga. Mungkin Sunrise ingin membangun kembali latar dunianya dari awal. Sesudah dengan Gundam Unicorn dan Gundam: The Origin, baru mereka kini mulai menjajaki sejarah era Crossbone Vanguard.

Jadi untuk kalian fans Crossbone Gundam, jangan putus harapan.

Akhir kata, aku menyukai Twilight Axis lebih dari yang kukira saat membaca bab-bab awal novelnya. Meski gaya narasinya ringkas, ceritanya langsung dipenuhi aksi dengan banyak intrik yang terjadi. Ada keselarasan dalam berbagai elemennya gitu. Aku terutama suka dengan bagaimana motivasi Char, yang telah lama menjadi perdebatan di kalangan fans Gundam era UC, sempat disinggung juga menjadi teka-teki bahkan di dalam ceritanya sendiri. Aku benar-benar tertarik dengan perkembangannya ke depan. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Kalau ada perkembangan tambahan, mungkin tulisan ini akan aku sesuaikan lagi.